FLEKSIBELITAS WAKAF DALAM MADHHAB H{ANAFI>
(Telaah Terhadap Kitab Al-Mabsu>t} Karya Al-Sarakhsi>)

MAKALAH
Diajukan Untuk ...
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Wakaf merupakan suatu akad tabarru‘ seperti halnya wasiat, hibah,
memerdekakan budak,...
pelaksanannya terkadang dirasa sempit dan membuat tujuan wakaf kurang
mengena, terutama ketika dikaitkan dengan tema wakaf...
bermadhhab H{anafi>), salah satu tokoh besar yang mempunyai banyak karya
(as}h}a>b al-funu>n). Beliau seorang Imam yang ‘a...
Di antara murid-murid al-Sarakhsi> yaitu Abu> Bakr Muh}ammad bin
Ibra>hi>m al-H{as}i>ri (500 H), Abu> ‘Amr ‘Uthma>n bin ‘A...
dipenjarakan karena pendapatnya pada masalah hukum menyangkut penguasa, ia
mengkritik raja dengan mempertanyakan keabsahan...
Dinamakan dza>hir al-riwa>yah karena karya-karya tersebut diriwayatkan dari
Muh}ammad bin H{asan dengan riwayat yang thiqa...







Kitab-kitab dza>hir al-riwa>yah mencakup, enam kitab dengan riwayat yang tetap.
Ditulis oleh Muh}ammad al-Sh...
Pendektian tersebut mengandalkan ingatan hati al-Sarakhsi dengan tanpa
merujuk pada literatur dan buku pegangan apapun. Ke...
1. Pengertian wakaf (halaman 27).
2. Perdebatan maupun perbedaan pendapat tentang sifat wakaf, apakah
bersifat la>zim (men...
BAB II
FLEKSIBELITAS WAKAF DALAM MADHHAB H{A NAFI

A. Pengertian wakaf.
Wakaf merupakan derivasi dari awqaf - yaqif – i>qa...
pengertian hilangnya hak kepemilikan Si wa>qif atas al-mawqu>f nya.16 Wakaf
yang la>zim hanya terdapat pada tiga hal, yait...
Berangkat dari hal tersebut bahwa orang yang ingin mendekatkan diri
kepada Allah, maka sepantasnya harus memilh harta terb...
samping itu, di dalamnya ada unsur taqarrub (mendekatkan diri kepada
Allah). Bahkan Nabi sendiri pernah melakukan wakaf. 2...
Abu> Yu>suf sependapat dengan pendapat Abu> H{ani>fah, akan tetapi
ketika ia berangkat haji bersama al-Rasyîd (w. 194 H/8...
jelas, ada kemungkinan tujuannya mewakafkan tanah tersebut atas milik
sendiri untuk dipergunakan dalam kebutuhannya atau u...
budak.31 Karena harta sebenarnya hanyalah karunia dan titipan saja dari
Allah SWT, manusia hanya sebagai pengelola ( musta...
menjadi persyaratan na>dhir yang pertama sesuai tujuan wakaf dan tidak
boleh merubahnya.‛35
Bahkan ketika Umar mewakafkan ...
nas}s} al-Qur’an dan al-Sunnah. Oleh karena itu, jika ‘urf bertentangan
dengan nas}s}, maka disebut dengan ‘urf fa>sid (ba...
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Setelah melakukan pembahasan tentang Fleksibelitas Wakaf Dalam

Madhhab H{anafi: telaah ter...
d. Penggantian barang wakaf ada yang membolehkan selama
berorientasi kepada maslahah.
e. Na>dhir boleh siapa saja asalkan ...
DAFTAR PUSTAKA

Al-Sharqa>wi>, ‘Abd Alla>h bin H{ija>ri>. H{a>shiyat al-Sharqa>w i> ‘ala> Tuh}fat aT}ulla>b. vol. II Beiru...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Fleksibelitas wakaf dalam madzhab hanafi miftaqurrohman el qudsy

1,097 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
1,097
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
19
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Fleksibelitas wakaf dalam madzhab hanafi miftaqurrohman el qudsy

  1. 1. FLEKSIBELITAS WAKAF DALAM MADHHAB H{ANAFI> (Telaah Terhadap Kitab Al-Mabsu>t} Karya Al-Sarakhsi>) MAKALAH Diajukan Untuk Menyelesaikan Perkuliahan Mata Kuliah Fiqh ZIS & Wakaf Oleh: MIFTAQURROHMAN, S.H.I NIM. 2121 1 2020 Dosen Pengampu: DR. MIFTAHUL HUDA, M. Ag. PROGRAM PASCASARJANA PROGRAM STUDI EKONOMI SYARI’AH SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PONOROGO 2013 1
  2. 2. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Wakaf merupakan suatu akad tabarru‘ seperti halnya wasiat, hibah, memerdekakan budak, dan iba>h}ah.1 Sebagai akad tabarru‘ (baca: ghoyr tija>ri>, non commercial) wakaf mempunyai unsur tujuan vertikal (qurbah, pendekatan diri kepada Allah) dan horizontal (kepedulian sosial). Karena adanya dua unsur ini wakaf juga dinamakan ‘ibadah ijtima‘iyah (ibadah yang bermuatan nilai sosial). Akan tetapi unsur horizontal lebih dominan, karena memang tujuannya adalah tolong menolong. Sedangkan tujuan hukum Islam tidak terlepas dari tiga pokok, yaitu menjaga al-mas}lah}ah d}aru>ri>yâh, al-mas}lah}ah al-h}a>ji>yah, dan al-mas}lah}ah al- tah}si>nîyah. Agama Islam menjaga kemaslahatan dlarûriyat dengan memberikan kebebasan untuk melaksanakan praktek-praktek ibadah dan ketentuan hukum. Dalam hal ini, wakaf menempati urutan ketiga dari maslahat yang ditawarkan Islam, yaitu mashlahat tahsinîyât.2 Menurut al-Dahlawi> (1986/II: 116), wakaf mengandung kemaslahatan yang tidak dijumpai dalam sedekah yang lain, sebab kadangkala ada orang menggunakan hartanya di jalan Allah tetapi pada akhirnya bendanya habis, padahal masih banyak orang lain yang membutuhkan. Oleh karena itu, tidak ada sedekah yang lebih baik dan bermanfaat bagi orang-orang miskin dan ibn al-sabi>l kecuali harta wakaf yang manfaatnya terus berkembang dan bendanya tetap permanen.3 Dalam tataran teori maupun implementasi, banyak terdapat perbedaan (ikhtila>f) di kalangan madhhab tentang kategori syarat maupun rukun-rukunnya. Ada pendapat yang dirasa longgar dan ada juga yang ketat. Sehingga dalam 1 ‘Abd Alla>h bin H{ija>ri> al-Sharqa>wi>, H{a>shiyat al-Sharqa>wi> ‘ala> Tuh}fat a-T}ulla>b, vol. II (Beirut: Da>r al-Fikr, 2006), 167. 2 Al-Sya>t}ibi>, Al-Muwa>faqa>t, vol. II, (Beirut: Da>r al-Fikr, 1985), 4-6. 3 Al-Dahlawi>, H{ujjat Alla>h al-Ba>lighah, vol. II, (Beirut: Da>r al-Fikr, 1986), 116. 2
  3. 3. pelaksanannya terkadang dirasa sempit dan membuat tujuan wakaf kurang mengena, terutama ketika dikaitkan dengan tema wakaf produktif. Wakaf produktif lebih banyak diakomodasi oleh madhhab H{anafi>, dikarenakan dalam metodologi istinba>t}nya ketika tidak ada dalil mereka menggunakan teori qiya>s. Namun, jika qiya>s tidak bisa digunakan, maka mereka beralih kepada istih}sa>n. Dan jika istih}sa>n tidak bisa digunakan maka mereka kembali kepada‘urf.4 Karena metode ini, madhhab H{anafi dipandang lebih fleksibel dan lebih adaptatif dengan perkembangan situasi dan kondisi, walupun keluwesan yang sama juga bisa didapati dalam madhhab lain semisal madhhab Sha>fi‘i> lewat aplikasi al-qawa>‘id al-fiqhi>yahnya.5 Oleh karena itu, dalam ruang lingkup wakaf yang diharapkan dapat lebih mensejahterakan umat dan mengentaskan kemiskinan ini, maka penulis merasa tertarik untuk membahas tentang Fleksibelitas Wakaf Dalam Madhhab H{anafi: telaah terhadap kitab al-mabsu>t} karya al-sarakhsi>. Kitab ini dipilih karena posisinya sebagai literatur induk (jawa: kitab babon) dan sekaligus sebagai representasi dari madhhab H{anafi>. Dengan harapan semoga bisa menambah wawasan dan pemahaman tentang kajian budaya dan peradaban keislaman kita, terutama tentang wakaf. B. Biografi Shams Al-Di>>n Al-Sarakhsi>6 Beliau bernama Muh}ammad bin Ah}mad bin Abi> Sahl, mempunyai nama samaran (kunyah) Abu> Bakr, dan nama gelar (laqb) Syams al-A’immah alSarakhsi>7 al-Hanafi> (mataharinya para pemimpin dari kota Sarakhs yang 4 Abdullah Ahmed Al-Na’im, Dekontruksi Syariah, terj. Ahmad Suaedy dan Amiruddin Arrani, (Yoyakarta: LKIS, 1994), 53. Lihat juga Muh}ammad al-Khudhari> Bik, Ta>ri>kh al-Tashri>‘ al-Isla>mi> (Beirut: Da>r al-Fikr, t.t.), 128-129. 5 Lihat Abdul Mun‘im Saleh, Hukum Manusia sebagai Hukum Tuhan, Berfikir induktif Menemukan Hakikat Hukum Model al-Qawâ‘id al-Fiqhîyah (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), 98. 6 Diterjemahkan dari biografi Al-Sarakhsi> dalam Al-Shaikh Khalil Almi>s, Faha>ris alMabsu>t li Shams al-Di>n al-Sarakhsi> (Beirut: Da>r al-Ma‘rifah, 1989), 7-8. 7 Sarakhs merupakan nama wilayah yang besar di Negara Khura>sa>n. Cara membaca ejaannya yaitu dengan dibaca fath}ah huruf Si>n dan Ra>’ nya. Huruf Si>n selamanya dibaca fath}ah. Sedangkan huruf Kha>’ ada yang membaca suku>n sehingga menjadi Sarakhsi> dan ada yang fath}ah sehingga menjadi Sarkhasi> (dengan disuku>n Ra>’nya). Sedangkan pendapat yang mu‘tamad dan thiqah adalah jika Ra>’nya difath}ah (baca: Sarakhsi>) maka termasuk bahasa Persi, sedangkan jika disuku>n (baca: Sarkhasi>) maka termasuk bahasa Arab serapan (mu‘arrab). Lihat Shams al-Di>n 3
  4. 4. bermadhhab H{anafi>), salah satu tokoh besar yang mempunyai banyak karya (as}h}a>b al-funu>n). Beliau seorang Imam yang ‘a>lim, argumentator (h}ujjah), teolog, yuris (faqi>h), pakar ilmu us}u>l, ahli debat (muna>dzir) dan seorang mujtahid. Ketika remaja al-Sarakhsi> belajar fikih kepada ‘Abd al-‘Azi>z al-H{alwa>ni> (w. 448 H/1056 M), seorang ahli fikih madhhab H{anafî yang bergelar Syams al- A’immah (matahari para Imam). Setelah belajar pada al-H{a lwa>ni, al-Sarakhsi mengalami perkembangan pesat dalam berbagai bidang ilmu, terutama ilmu fikih. Karena penguasaan yang baik terhadap pengetahuan gurunya tersebut, maka gelar gurunya (Syams al-A’immah) pun menjadi gelar pribadinya. Bahkan jika disebut Syams al-A’immah tanpa keterangan di belakangnya, maka yang dimaksud adalah al-Sarakhsi>. Sebagai bukti ketokohannya dalam madhhab H{anafî, pendapatnya banyak dikutip dalam kitab al-Hida>yah yang merupakan kitab standar fikih madhhab H{anafî yang banyak menjadi referensi. Beliau menjadi pemikir yang paling terkenal pada masanya. 8 Ibn Kama>l Pasha> memasukkannya ke dalam kelompok para mujtahid dalam kasus-kasus yang tidak pernah diriwayatkan oleh pendiri madhhab (Imam Abu> H}ani>fah). Al-Sarakhsi> berada pada peringkat ketiga dalam jajaran ulama pengikut madhhab H{anafî. Peringkat pertama: Imam Abu> Yu>suf dan Imam Muh}ammad bin H{asan al-Shayba>ni>, peringkat kedua: Imam Abu> H{asan ‘Ubayd Alla>h bin H{asan al-Karkhi>. Bahkan menurut ‘Abd al-Hayy al-Laknawi>, pengarang kitab al-Fawa>’id al-Bahi>yah fî al-Tara>jum al-Hanafîyah (sebuah buku biografi ulama mazhab Hanafi), al-Sarakhsi berada di peringkat kedua sejajar dengan tingkatan Abu> Bakr al-Khas}s}a>f, Abu> Ja‘far al-T>ah}a>wi>, Abu> H}asan alKarkhi>, dan Fakhr al-Isla>m al-Bazdawi>. Tingkatan ini menyamai para Murid Imam Abu> H}ani>fah dalam bidang ijtihad. Beliau termasuk ulama’ besar di kawasan ma> wara>’ al-Nahr (Transoxiana)9. Abu> Bakr Muh}ammad bin Abi> Sahl al-Sharakhsi>, Us}u>l al-Sharakhsi>, vol. I. (Beirut: Da>r al-Kutub al-‘ilmi>yah, 1993), 4-5. 8 Almi>s, Faha>ris al-Mabsu>t, 7. 9 Transoxiana adalah nama sebuah wilayah kuno yang terletak di Asia Tengah , antara Sungai Amu Darya dan Sungai Syr Darya. Penggunaan istilah ini harusnya digunakan sampai abad ke 7 tetapi istilah masih digunakan di kalangan sejarawan Barat beberapa abad setelahnya. Nama Transoxiana berasal dari bahasa Latin yang berarti "daerah di sekitar sungai Oxus" , sungai 4
  5. 5. Di antara murid-murid al-Sarakhsi> yaitu Abu> Bakr Muh}ammad bin Ibra>hi>m al-H{as}i>ri (500 H), Abu> ‘Amr ‘Uthma>n bin ‘Ali> al-Bi>kandi>, Abu> H}afs} ‘Umar bin Habi>b, ‘Abd al-‘Azi>z bin ‘Umar bin Ma>z ih, Mah}mu>d bin ‘Abd al‘Azi>z al-U>zjundi>, dan Rukn al-Di>n Mas‘u>d bin H}asan. Pada abad ke-5 al-Sarakhsi> mengomentari kitab al-Ka>fi> dan diberi judul al-Mabsu>t}. Kitab inilah yang dianggap sebagai kitab induk dalam madhhab H}anafi>. Di samping itu, madhhab H}anafi> juga dilestarikan oleh murid Abu> H}ani>fah sendiri, yaitu Imam Abu> Yu>suf dan Imam Muh}ammad bin H{asan alShayba>ni. Dalam pembahasannya di setiap bab dikemukakan juga pendapat mazhab lain dengan argumentasinya, kemudian dikemukakan keunggulan pendapat mazhab Hanafi>. Manuskrip buku tersebut ada di Da>r al-Kutub alMis}r i>yah (Cairo) dan telah dicetak berulang kali. Al-Sarakhsi> terkenal dengan kepandaiannya. Daya ingatannya yang luar biasa terlihat ketika ia mendektikan isi karyanya, al-Mabsu>t, sebuah buku fikih yang besar 15 jilid (berisi 30 volume). Ketika kitab tersebut diterbitkan pada tahun 1409 H/1989 M. oleh penerbit Da>r al-Ma‘rifah Beirut, Syekh Kholil alMais, seorang ulama Libanon menyusun satu jilid indeks (katalog) untuk keleng kapan buku tersebut di samping juga untuk mempermudah mempelajarinya. Di samping terkenal sebagai intelektual, al-Sarakhsi> juga terkenal juga sebagai orang yang tangguh dalam pendirian, berani mengatakan yang dinilai benar sekalipun hal itu berakibat buruk bagi diri sendiri. Sebagai salah satu bukti keberanian dan ketegarannya, ia pernah dimasukkan ke penjara uzjund suatu daerah di Farghanah dalam waktu yang sangat lama akibat dari suatu pendapatnya yang kontra pada penguasa (ami>r al-balad) pada waktu itu. Tidak ada kekhawatiran sama sekali pada penguasa, padahal ia dalam posisi lemah yang sangat mudah dipermainkan oleh penguasa. Dikatakan bahwa al-Sarakhsi> Oxus adalah sebutan kuno dari Sungai Amu Darya. Setelah ditaklukkan Arab pada abad ke 8 , daerah ini dikenal sebagai Ma wara'un Nahr yang artinya dalam bahasa Arab "yang berada di luar sungai". Daerah ini sekarang wilayah yang sebagian besar berada di Uzbekistan , tetapi juga sebagian di selatan Kazakhstan , Tajikistan dan Turkmenistan. Kota-kota bersejarah yang penting di Transoxania yaitu Samarkand dan Bukhara. http://id.wikipedia.org/wiki/Transoxiana diakses pada 05 11 2013. 5
  6. 6. dipenjarakan karena pendapatnya pada masalah hukum menyangkut penguasa, ia mengkritik raja dengan mempertanyakan keabsahan pernikahannya dengan seorang budak wanita. Pendapat yang disampaikannya berbeda dengan dengan mayoritas ulama’ yang hadir pada waktu itu yang melegalkan perbuatan tersebut.10 Setelah dibebaskan, beliau menuju ke Marghinan pada bulan Rabi>‘ alAwwal tahun 480 H. dan disambut oleh para muridnya untuk menyelesaikan karya-karya yang belum diajarkan kepada mereka. Beliau juga mendiktekan kitab Sharh} al-Sayr li Muh}ammad bin al-H}asan dalam dua jilid yang besar. Beliau juga menulis kitab us}u>l al-fiqh yang dicetak dalam dua jilid, Komentar atas kitab alNafaqa>t dan Ada>b al-Qa>dhi> yang keduanya karya al-Khas}s}a>f, Asyra>t} al-Sa>‘ah, alFawa>’id al-Fiqhi>yah, dan Kita>b al-Hayd}. Beliau wafat pada tahun 487 H. Sedangkan tanggal kelahirannya masih belum diketahui. C. Posisi kitab al-Mabsu>t} di antara kitab-kitab Madhhab H{anafi>11 Dalam tradisi para yuris madhhab H{anafi} >, karya-karya yang kredibel (mu‘tabar) dalam bidang yurisprudensi dapat diklasifikasikan ke dalam tiga tingkatan, yaitu: Pertama, masa>’il al-us}u>l (masalah-masalah pokok) yang juga dinamakan dza>hir al-riwa>yah; yaitu permasalahan-permasalahan yang diriwayatkan dari para pendiri madhhab (as}h}a>b al-madhhab), yaitu Abu> H{ani>fah, Abu> Yu>suf, Muh}ammad bin H{asan; disamakan dengan tingkatan mereka yaitu Hasan bin Ziya>d al-Lu’lui> dan orang-orang yang belajar kepada Imam Abu> H{ani>fah. Adapun kitab-kitab yang berkategori dza>hir al-riwa>yah yaitu karya-karya Muh}ammad bin H{asan yang berjumlah enam, yaitu: (1) al-Mabsu>t}, (2) al-Ziya>da>t, (3) al-Ja>mi‘ alkabi>r, (4) al-ja>mi‘ al-Saghi>r, (5) al-Sayr al-Kabi>r dan (6) al-Sayr Saghi>r. 10 Al-Sharakhsi>, Us}u>l al-Sharakhsi>, 5. Lihat juga http://en.wikipedia.org/wiki/ Sarakhsi diakses pada 05 11 2013 11 Diterjemahkan dari katalog dalam Al-Shaikh Khalil Almi>s, Faha>ris al-Mabsu>t} li Shams al-Di>n al-Sarakhsi> (Beirut: Da>r al-Ma‘rifah, 1989), 7-8. 6
  7. 7. Dinamakan dza>hir al-riwa>yah karena karya-karya tersebut diriwayatkan dari Muh}ammad bin H{asan dengan riwayat yang thiqa>t (terpercaya), yaitu riwayat yang tetap (tha>bit), massif (mutawa>tirah), dan populer (mashhu>r) darinya. Kedua, masa>’il al-nawa>dir (masalah-masalah langka), yaitu permasalahan-permasalahan yang diriwayatkan oleh para murid-murid Imam Abu> H{ani>fah (as}h}a>b/tala>midz Abi> H{ani>fah ) pada selain kitab-kitab tersebut, seperti halnya karya Muh}ammad bin H{asan yang lain, yaitu al-Ki>sa>n i>ya>t, al-Ha>ru>ni>ya>t, al-Jurja>ni>ya>t, dan al-Raqi>ya>t; ataupun karya dari murid beliau yang lain seperti al-Muh}arrar karya H{asan bin Ziya>d dan al-Ama>li> karya Abu> Yu>su>f. Kitab-kitab tersebut tidak dinamakan dza>hir al-riwa>yah karena tidak diriwayatkan oleh Muh}ammad bin H{asan dengan secara jelas dan tetap sebagaimana karya-karya pertama. Ketiga, al-Wa>qi‘a>t (masalah-masalah realitas), yaitu permasalahanpermasalahan hasil istinba>t} para mujtahid generasi belakangan ketika mereka ditanya dan tidak mendapatkan suatu riwayat tentangnya. Mereka itu adalah murid-murid dari Muh}ammad bin H{asan dan Abu> Yu>suf dan murid dari muridmurid keduanya dan seterusnya, seperti ‘Is}a>m bin Yu>su>f, Ibn Rustum, Muh}ammad bin Sama>‘ah, Abu> H{afs} al-Bukha>ri>, dan generasi setelahnya seperti Muh}ammad bin Salamah, Muh}ammad bin Muqa>til al-Ra>z i>, Nus}ayr bin Yah}ya>, Abu al-Nas}r al-Qa>s im bin Sala>m. Termasuk dalam kategori masa>’il al-us}u>l adalah kitab al-Ka>fi> karya alH{a>kim al-Sha>hid Abi> al-Fad}l Muh}ammad bin Muh}ammad al-Maru>zi>, yaitu kitab yang menjadi pegangan (mu‘tamad) di dalam meriwayatkan madhhab H{anafi>. Kitab ini banyak dikomentari (Sharh}) oleh para pakar ahli, di antaranya yaitu Imam al-Sarakhsi> dengan karya populernya, al-Mabsu>t}. Al-T{ursu>si> berkata: ‚Al- Mabsu>t} karya al-Sarakhsi> adalah pendapat-pendapat yang ditolak di dalamnya tidak boleh digunakan, tidak boleh membuat rujukan kecuali kepadanya, dan tidak boleh berfatwa kecuali mengambil darinya.‛ Seorang Penyair (al-na>dzim) berkata:  7
  8. 8.        Kitab-kitab dza>hir al-riwa>yah mencakup, enam kitab dengan riwayat yang tetap. Ditulis oleh Muh}ammad al-Shayba>ni>, untuk meregulasi madhhab al-Nu‘ma>ni>. (Yaitu) al-Ja>mi‘ al-S}aghi>r dan al-Kabi>r, (dan) al-Sayr al-Kabi>r dan al-S}aghi>r. Kemudian al-Ziya>da>t dan al-Mabsu>t}, dengan sanad yang terpercaya dan berturut-turut. Begitu juga kasus-kasus yang langka, yang bersanad dalam kitab tidak terpercaya. Kemudian kasus-kasus realita, yang dikeluarkan oleh para pakar dengan dalil-dalil yang ada. Enam kitab terangkum dalam al-Ka>fi>, karya al-Ha>kim al-Sha>hid dan dianggap mencukupi. Komentar yang tinggi seperti Matahari, yaitu al-Mabsu>t} karya Shams al-A’immah al-Sarakhsi>.12 Al-Mabsu>t} karya al-Sarakhsi> merupakan ensiklopedia fikih Madhhab H{anafi> yang memuat masalah-maslah pokok (masa>’il al-usu>l) yang merupakan fikih generasi salaf yang mana dijadikan referensi utama fikih generasi khalaf, yang tidak memungkinkan berpaling darinya. Kitab ini menjadi pegangan dalam berfatwa, yang ditulis dengan redaksi yang mudah, isyarat yang halus, mudah dipelajari dan dibaca bahkan oleh para pemula ( al-mubtadi’i>n). Al-Mabsu>t} tediri dari 15 jilid (berisi 30 volume). Ketika kitab tersebut diterbitkan pada tahun 1409 H/1989 M. oleh penerbit Da>r al-Ma‘rifah Beirut, Syekh Khali>l al-Mi>s , seorang ulama Libanon menambahkan satu jilid indeks (katalog) untuk kelengkapan kitab tersebut di samping juga untuk mempermudah mempelajarinya. Kitab ini didektikan oleh al-Sarakhsi> kepada muridnya ketika ia berada di dalam penjara uzjund di wilayah Farghanah mencapai 14 jilid. 12 Bait-bait ini terdapat dalam sampul kitab al-Mabsu>t} pada tiap jilidnya yang berjumlah tigapuluh. 8
  9. 9. Pendektian tersebut mengandalkan ingatan hati al-Sarakhsi dengan tanpa merujuk pada literatur dan buku pegangan apapun. Ketika mendektikan, muridmuridnya menyimak dari tempat atas karena penjaranya berada dibawah tanah. Di dalam al-Mabsu>t tidak terdapat satu catatan referensipun. Dapat dimaklumi karena hal tersebut masih belum menjadi tradisi pada waktu itu, di samping karena posisi al-Mabsu>t sebagai kitab generasi awal (jawa: kitab babon) yang tentunya menjadi referensi dan rujukan karya-karya generasi selanjutnya. Dari aspek sistematika, al-Mabsu>t} tidak sama dengan buku-buku fikih pada ummnya. Kitab ini dimulai dengan pembicaraan mengenai kebersihan (thahârah) seperti umumnya sistematika kitab-kitab fikih laninya. Pembicaraan pertamanya adalah berkaitan dengan shalat. Hal ini menunjukkan bahwa shalat sebagai sendi yang paling utama bagi keislaman seorang setelah beriman kepada Allah Swt. Pendapat ini berdasarkan pada sebuah hadis Nabi: “Shalat adalah tiang agama dan jihad sebagai tanda amal perbuatan” (H.R. Dailami). D. Anatomi kitab al-Mabsu>t} karya al-Sarakhsi> tentang wakaf. Pembahasan tentang wakaf dalam kitab al-Mabsu>t} karya al-Sarakhsi> diikat dalam satu tema yaitu kita>b al-waqf dengan tanpa diikuti oleh klasifikasi bab maupun sub bab. Tidak seperti pembahasannya dalam kitab al-Fiqh al-Isla>mi> wa Adillatuh karya Doktor Wahbah al-Zuh}ayli yang mencapai 100 halaman, pembahasan wakaf dalam karya al-Sarakhsi> ini hanya menghabiskan 20 halaman, yaitu halaman 27 sampai 47 pada volume ke-12. Jumlah ini lumayan sedikit jika dibandingkan dengan pembahasan lainnya seperti kita>b al-hibah yang menghabiskan 61 halaman dengan klasifikasi 7 bab, maupun kita>b al-fara’id} (warisan) yang menghabiskan 167 halaman yang terdapat pada bagian akhir volume ke 29 dan bagian awal volume 30. Walaupun pembahasan wakaf di sini masih global, artinya hanya diikat oleh satu judul saja berupa kita>b al-waqf, akan tetapi penulis berusaha menemukan sistematika pembahasannya sebagai berikut: 9
  10. 10. 1. Pengertian wakaf (halaman 27). 2. Perdebatan maupun perbedaan pendapat tentang sifat wakaf, apakah bersifat la>zim (mengikat) ataukah ja>’iz (longgar) (halaman 27-30). 3. Landasan hukum wakaf (halaman 31). 4. Si>ghat wakaf (halaman 32). 5. Tujuan waqif (halaman 32-34). 6. Syarat sempurnanya wakaf, meliputi penyerahan ( al-qabd}) dan perwakilan (al-tawki>l) (halaman 35- 41). 7. Durasi waktu wakaf (halaman 41). 8. Penggantian benda wakaf (halaman 41-43). 9. Pengelola wakaf (halaman 43-35). 10. Wakaf harta bergerak (halaman 45) 11. Obyek wakaf (halaman 45-47). Sistematika pembahasan tersebut merupakan tema-tema penting dalam pembahasannya. Berdasarkan data yang ada, penulis belum menemukan referensi yang digunakan rujukan oleh mus}annif dalam kita>b al-waqf. Menurut asumsi penulis, hal itu dikarenakan: Pertama: Pembahasan wakaf termasuk dalam jilid yang didektikan oleh al-Sarakhsi> kepada murid-muridnya di dalam penjara dengan hanya mengandalkan ingatan hatinya. Kedua: Al-Mabsu>t merupakan kitab generasi awal (jawa: kitab babon) yang tentunya menjadi referensi dan rujukan karya-karya generasi selanjutnya. Ketiga: tidak ditemukannya nama kitab yang tercantum dalam index ataupun catalog yang menjadi rujukan kita>b al-waqf pada halaman 27-47 volume ke 12. Walaupun begitu, dalam pembahasan wakaf, al-Sarakhsi mengutip ayat al-Qur’an, beberapa hadis Nabi dan atsar sahabat. 10
  11. 11. BAB II FLEKSIBELITAS WAKAF DALAM MADHHAB H{A NAFI A. Pengertian wakaf. Wakaf merupakan derivasi dari awqaf - yaqif – i>qa>f yaqif – waqf, 13 dan waqaf - secara etimologi (lughah) berarti menahan (al-h}abs) dan mencegah (al-man‘).14 Sebagaimana firman Allah SWT.: Artinya: ‚Dan tahanlah mereka (di tempat perhentian), karena sesungguhnya mereka akan ditanya.‛ (Q.S. Al-S{a>ffa>t: 24) Secara terminologi (syar‘i>) yaitu: ‚Suatu ungkapan yang mengandung penahanan harta yang dimiliki (dengan tidak sampai) memberikan kepemilikan kepada orang lain.‛ 15 Dari definisi di atas Abu> H{ani>fah sendiri tidak memperbolehkan wakaf yang seperti itu. Menurut al-Sarakhsi> bahwa yang dimaksud oleh Abu> H{ani>fah adalah bahwa beliau tidak menjadikan wakaf sebagai sesuatu yang la>zim (mengikat), akan tetapi sebatas akad yang ja>’iz (longgar) seperti halnya dalam ‘a>riyah (pinjam meminjam); artinya Si wa>qif ketika menahan benda miliknya dengan memberikan manfaatnya terhadap tujuan (kebaikan) tertentu kepada fihak lain dia bebas untuk menarik kembali ataupun menjualnya, karena memang benda ( al-mawqu>f) tersebut secara hukum masih menjadi hak miliknya. Wakaf dalam madhhab ini tidak memberikan 13 Wakaf dari derivasi kata ini merupakan bahasa suku Tami>m dan merupakan bahasa yang jelek (radi>’ah), walaupun begitu bahasa inilah yang dipakai oleh orang banyak. Lihat Wahbah al-Zuh}ayli>, Al-Fiqh al-Isla>mi> wa Adillatuh, vol. VIII (Damaskus: Dâr al-Fikr, 2008), 151. 14 Syams al-Di>n Abu> Bakr Muh}ammad bin Abi> Sahl al-Sharakhsi>, Al-Mabsu>t}, vol. XII. (Beyrut: Da>r al-Ma‘rifah, 1989), 27. 15 Ibid. 11
  12. 12. pengertian hilangnya hak kepemilikan Si wa>qif atas al-mawqu>f nya.16 Wakaf yang la>zim hanya terdapat pada tiga hal, yaitu wakaf yang ditentukan oleh hakim, wakaf wasiat dan wakaf untuk masjid. 17 Uraian maupun perdebatan tentang kela>ziman dan keja>’izan wakaf ini –yang di dalamnya menyinggung juga tentang argumentasi tiga hal tersebut- ditulis secara panjang lebar oleh mus}annif dalam empat lembar, yaitu halaman 27 sampai 30. Uraian tersebut hampir keseluruhannya merupakan komentar atas pendapat Sang Imam (Abu> H{anifah). B. Landasan Hukum wakaf. Adapun Nas}s} yang digunakan sebagai landasan hukum wakaf dalam kitab al-Mabsu>t} karya al-Sarakhsi yaitu: ‚Diriwayatkan dari S}akhr bin Juwayri>yah dari Na>fi‘: ‚Sesungguhnya ‘Umar bin al Khattha<b memilki tanah yang dinamakan dengan tsamagh yang berupa pohon-pohon kurma yang sangat indah. Umar berkata, ‚Wahai utusan Allah saya ingin memanfaatkan hartaku yang terbaik, apakah aku bisa menyedekahkannya? Nabi menjawab: ‚Sedekahkanlah pokoknya dengan tidak dijual, dihibahkan, dan diwariskan akan tetapi hendaklah nafakahkan buahnya.‛ Lalu Umar menyedekahkan di jalan Allah, kepada para budak, tamu, orang-orang miskin, ibn sabi>l, dan sanak karabat. Maka tidak berdosa bagi orang yang mengurusnya makan sekedarnya dengan jalan yang baik atau memberi makan kepada temannya sekedarnya.‛ 18 16 Ibid.; Lihat juga al-Zuh}ayli>, Al-Fiqh al-Isla>mi>, 151. Al-Zuh}ayli>, Al-Fiqh al-Isla>mi>, 151-152. 18 Al-Sharakhsi>, Al-Mabsu>t, 31. Lihat Al-Bukha>ri>, S}ahi>h} al-Bukha>ri>, vol. III (Semarang: } Toha Putra, 1981), 196. 17 12
  13. 13. Berangkat dari hal tersebut bahwa orang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah, maka sepantasnya harus memilh harta terbaiknya untuk diwakafkan, sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Ali Imran: 92: “Kamu tidak akan memperoleh kebaikan sehingga kamu menafkahkan sesuatu yang kamu cintai”. Oleh karena itu Umar bin Khatthâb ketika melakukan wakaf selalu memilih hartanya yang terbaik.19 ‚Setiap amal perbuatan manusia akan terputus karena kematian nya kecuali tiga perkara, yaitu: ilmu yang diajarkan kepada masyarakat dan mereka mengamalkan setelah kematiannya, anak saleh yang selalu mendoakannya, dan sedekah yang pahalanya mengalir sampai hari kiamat datang.‛20 Sedekah yang pahalanya mengalir sampai hari kiamat di sini merupakan harapan dan tujuan Si wa>qif.21 Sedekah yang seperti ini mayoritas ulama’ mengarahkan kepada wakaf.22 Legalitas wakaf dalam pandangan ulama yaitu berdasarkan hadis Nabi yang sangat populer, perilaku ‘Umar bin Khattha>b, Uthma>n bin ‘Affa>n, ‘Ali> bin Abi> T{a >lib, T}alh}ah, Zubayr, ‘A>’ishah, H{afs}ah yang melakukan wakaf dan jejaknya masih ada sampai sekarang ini. Demikian pula wakaf yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim As. tetap berlaku sampai sekarang ini.23 Berdasarkan hadis-hadis tersebut maka hukum wakaf adalah sunnah; dikarenakan ada perintah dan anjuran dari al-sya>ri‘ terhadapnya. Di 19 Ibid. Ibid., 32. 21 Ibid. 22 Taqi>y al-di>n Abu> Bakr al-H{is}ni>, Kifa>yat al-Akhya>r, vol. II (Surabaya: Al-Hidayah, t.t.), 319. 23 Al-Sharakhsi>, Al-Mabsu>t, 28. } 20 13
  14. 14. samping itu, di dalamnya ada unsur taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah). Bahkan Nabi sendiri pernah melakukan wakaf. 24 C. Rukun wakaf. Dari beberapa uraian yang tersebar dalam kita>b al-waqf, penulis tidak menemukan redaksi secara eksplisit tentang penentuan dan penyebutan rukun-rukun wakaf. Akan tetapi dari term-term yang ada dengan dicocokkan terhadap referensi lain, penulis mendapati bahwa rukun wakaf ada empat, yaitu: al-wa>qif (subyek wakaf), al-mawqu>f (obyek wakaf), al-mawqu>f ‘alayh (penerima wakaf), al-s}ighah (redaksi transaksi wakaf). D. Fleksibelitas Wakaf Dalam Madhhab H{anafi>. Dalam pembahasan ini, yang dimaksud dengan fleksibelitas adalah kelonggaran-kelonggaran ketentuan wakaf yang didapati dalam madhhab H{anafi>, baik ketentuan tersebut kebetulan menyamai ketentuan dalam madhhab lain ataupun berbeda sama sekali. Di antaranya yaitu: 1. Sifat wakaf. Dari definisi yang ada, Abu> H{ani>fah tidak menjadikan wakaf sebagai sesuatu yang la>zim (mengikat), akan tetapi sebatas akad yang ja>’iz (longgar) seperti halnya dalam ‘a>riyah (pinjam meminjam); sehingga Si wa>qif bebas untuk menarik kembali ataupun menjualnya, karena memang benda (al-mawqu>f) tersebut secara hukum masih menjadi hak miliknya. Wakaf dalam madhhab ini tidak memberikan pengertian hilangnya hak kepemilikan Si wa>qif atas al-mawqu>f nya.25 24 Al-Sharakhsi>, Al-Mabsu>t, 31. } Al-Sharakhsi>, Al-Mabsu>t, 27. Di antara argumentasi tentang ja>’iz nya wakaf yaitu } Menurut al-Sya’bi bahwa Nabi pernah menjual barang wakaf, tetapi wakaf semacam ini termasuk syariat sebelum kita (syar’u man qablanâ) yang sudah dihapus oleh syariat kita (Nabi Saw). Menurut Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbâs bahwa tidak ada penahanan berkaitan dengan kewajiban yang datang dari Allah swt. Hadis ini oleh ulama berkaitan dengan orang-orang Jahiliyah yang dilakukan oleh Bahirah, Saibah, wasilah, dan Hamm dan syariat Islam sudah menghapusnya. Menurut keduanya, jika isim nakiroh terdapat dalam kalimat negatif (nafi), maka menunjukkan lafal ’amm yang mencakup secara umum termasuk di dalamnya warisan, kecuali ada dalil yang men-tahshîsh-nya. Lihat Al-Sharakhsi>, Al-Mabsu>t, 29. } 25 14
  15. 15. Abu> Yu>suf sependapat dengan pendapat Abu> H{ani>fah, akan tetapi ketika ia berangkat haji bersama al-Rasyîd (w. 194 H/809M) dan melihat hasil peninggalan wakaf para sahabat Nabi di Madînah, ia menarik kembali pendapatnya dan kemudian berfatwa bahwa wakaf termasuk akad yang la>zim. Di antara pendapat yang ia dirubah, yaitu: (1) wakaf termasuk akad la>zim, (2) ukuran satu s}a>‘ adalah delapan takaran, dan (3) waktu azan fajar adalah sebelum terbit fajar. Oleh karena itu, Abu> Yu>suf berkata ‚Seandainya hadis ini (hadis Umar) sampai pada Abu> H{ani>fah, niscaya ia mencabut pendapatnya‛(Jaih Mubarak, 2008: 42). Sementara Muh}ammad beranggapan bahwa terlalu jauh pendapat Abu Hanifah tersebut membuat kesimpulan suatu hukum tanpa dasar yang kuat. Oleh karena itu, menurut Muhammad apabila para mujtahid membuat kesimpulan suatu hukum tanpa melalui dasar yang legal baik berupa hadis maupun qiyâs, maka tidak boleh dijadikan pegangan (ditaqli>di).26 2. S}i>ghat wakaf. Dalam kalangan ulama tidak ada perbedaan pendapat tentang orang yang berkata ‚Saya mensedakahkan tanah ini pada orang -orang fakir dan orang-orang miskin,‛ perkataan tersebut bukan termasuk wakaf tetapi masuk nazar, apabila bermaksud mewajibkan. Maka jika mensedakahkan pada obyek tertentu, seperti orang lain, maka dinama kan sedekah dan sekaligus sebagai kepemilikan. Dengan demikian, akad tersebut tidak akan sempurna kecuali diserahkan langsung pada si penerima, karena termasuk akad kepemilikan.27 Jika ada orang mengatakan: ‚Saya mewakafkan tanah ini, saya menahan tanah ini, saya mengharamkan tanah ini, tanah ini diwakafkan, tanah ini ditahan, tanah ini diharamkan ,‛ maka perkataan tersebut adalah batal sesuai kesepakatan ulama. Karena perkataan tersebut tidak 26 27 Ibid., 28. Ibid., 32. 15
  16. 16. jelas, ada kemungkinan tujuannya mewakafkan tanah tersebut atas milik sendiri untuk dipergunakan dalam kebutuhannya atau untuk membayar hutang.28 Menurut al-Ghazâli (1994: 200), wakaf tanpa menyebutkan oyeknya adalah tidak sah, akan tetapi jika hasil dan manfaat wakaf digunkan untuk kebaikan yang lebih penting, maka wakaf itu sah.29 Jika ada orang yang mengatakan pada orang lain, ‚ Saya wakafkan barang ini atau saya menahan barang ini untukmu ‛, maka perkataan tersebut batal, kecuali menurut Abî Yûsuf yang mengatakan bahwa hal itu sebagai kepemilikan yang harus diserahkan sepenuhnya30. Sementara tujuan si wakif agar barang wakaf berjalan manfaatnya sampai kelak . Menurut Abû Yusuf bahwa wakaf menjadi lâzim apabila diumumkan sekalipun tidak diserahkan langsung ke tangan nazhir berbeda dengan Muhammad tidak menjadi lâzim kecuali apabila diserahkan langsung kepada nazhir. Menurut Muhammad adalah jika diserahkan secara langsung akan menimbulkan hilangnya pemilikan dari akad tabarru‘. 3. Durasi waktu wakaf. Menurut Abu> Yu>suf bahwa wakaf disyaratkan harus permanen (ta’bi>d) sehingga apabila ada seseorang mewakafkan barang yang mungkin akan terputus adalah boleh sekalipun pada akhirnya tidak diperuntukkan untuk orang-orang miskin, sebagaimana pendapat Abu> H{ani>fah. Tetapi menurut Muh}ammad wakaf harus bersifat permanen. Jika ada seseorang yang mewakafkan barang tertentu, maka tidak sah apabila pada akhirnya tidak diperuntukkan pada orang miskin, karena wakaf menyebabkan hilangnya pemilikan bukan memilikkan. Oleh karena itu, hal itu bersifat permanen sama dengan memerdekakan 28 Ibid. Abu Hâmid Al-Ghazâli, Al-Wajîz fî Fiqh Madzâhib al-Imâm al-Syâfi‘i> (Beirut: Dâr al-Fikr, 1994), 200. 30 Ibid. 29 16
  17. 17. budak.31 Karena harta sebenarnya hanyalah karunia dan titipan saja dari Allah SWT, manusia hanya sebagai pengelola ( mustakhlaf fi>h). 4. Penggantian barang wakaf. Apabila dalam wakaf disyaratkan diganti dengan tanah yang lain, menurut Abu> Yu>suf adalah boleh. Namun, dalam pandangan Muh}ammad bahwa akad wakafnya sah dan syaratnya tidak sah, karena syarat itu tidak mempengaruhi terhalangnya hilang kepemilikan dan kekalan wakaf tetap ada. Sementara syarat tersebut dengan sendirinya batal dan akad wakafnya adalah sah.32 Apabila tidak ada syarat untuk mengganti, dan kemudian barang wakaf (al-mawqu>f) rusak; maka menurut Abu> Yu>suf tidak boleh dirubah atau diganti, ataupun dipindahkan ke pemilik kedua, akan tetapi al- mawqu>fnya dibiarkan seperti apaadanya. Menurut Muh}ammad almawqu>f tersebut pindah ke pemilik kedua dan ke ahli warisnya.33 Karena pendapat ini, ketika berlewatan dengan pembuangan sampah (mazbalah) Muh}ammad berkata: ‚Inilah masjid Abu> Yu>suf.‛ Begitu juga ketika Abu> Yu>suf lewat di kandang kuda (is}tabl) dia berkata: ‚Inilah masjid Muh}ammad.‛34 5. Na>dhir wakaf. Kedudukan Na>dhir adalah sangat strategis dalam mengembangkan harta wakaf dan harus sesuai dengan tujuan wa>qif, dalam hal ini alSarakhsi> menguraikan: ‚Kedudukan na>dhir sebagai wakil wakif adalah orang yang dapat mengelola harta wakaf sehingga manfaatnya dapat dinikmati oleh al- mawqu>f ‘alayh (objek wakaf), maka apabila ia meniggal dunia lalu diganti dengan orang lain, maka tetap harus melakukan apa yang 31 Ibid., 41. Ibid., 42. 33 Ibid. 34 Ibid., 43. 32 17
  18. 18. menjadi persyaratan na>dhir yang pertama sesuai tujuan wakaf dan tidak boleh merubahnya.‛35 Bahkan ketika Umar mewakafkan tanahnya, ia sebagai na>dhir dan mengelolanya sendiri. Dan setelah meninggal dunia, pengelolaannya diserahkan pada putrinya H{afs}ah, dan setelah itu ditanganai ‘Abd Allah ibn ‘Umar, kemudian keluarganya yang lain.36 Dalam hal ini, Umar sebagai wakif sekaligus na>dhir dan keluarganya tidak pernah melakukan perubahan pada benda wakafnya.37 Wakaf barang yang bisa dipindahkan ( waqf al-manqu>la>t). 6. Barang yang bisa dipindahkan yang menjadi tradisi di kalangan masyarakat hukumnya boleh diwakafkan, karena berdasarkan ‘urf, seperti pakaian jenazah, wadah untuk tempat memandikan mayat, mushaf, pedang untuk perang karena hal itu sudah menjaga kesepakatan pada masa khalifah Umat mewakafkan tiga ratus ekor kuda yang dicatat di pantatnya untuk wakaf di jalan Allah. Ini merupakan dalil yang sudah menjadi tradisi manusia yang tidak satu dalilpun yang membatal kannya.38 Sesuai dengan sabda Nabi: ‚Apa yang dipandang baik oleh orang-orang Islam, maka hal itu adalah baik bagi Allah .‛39 Hal ini senada dengan pendapat al-Sarakhsi dalam keterangan lain ‚Al-tha>bit bi al-‘urf ka al-tha>bit bi al-nas}s.‛ (ketetapan urf sama hukumnya dengan } ketetapan nas}s}). Dengan syarat ‘urf tersebut tidak bertentangan dengan 35 Ibid., 44. Muh}ammad Rawas Qal‘ah Jy, Mausu>‘at Fiqh ‘Umar bin al-Khattha>b (Beirut: Da>r alNafa>’is, 1989), 878. 37 Menurut KH. Sahal Mahfu>dz hal itu terletak pada nazhir yang menjadi penyebabnya. Dengan demikian, ia mengusulkan agar ada dua nazhir, yaitu nazhir syar’i dan nazhir wadl’î. Nazhir sayr’î bersifat perorangan yang ditunjuk oleh wakif. Sedangkan nazhir wadl’î adalah perorangan, badan hukum atau lembaga yang secara sah ditunjuk dalam aturan formal yang ada Oleh karena itu, baik nazhir syar’i maupun nazhir wadh’i harus mengaplikasikan al-qawi dan alamîn, sehingga wakaf menjadi optimal sesuai tujuan pokok wakif. Ahmad Rofiq, Fiqh Kontekstual: Dari Normatif ke Pemaknaan Sosial (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), 336. 38 Ibid., 45. 39 Ah}mad bin H{ambal Al-Shayba>ni>, Al-Musnad, vol. I (Beirut: Al-Maktabah al-Islami> yah, t.t.), 379. 36 18
  19. 19. nas}s} al-Qur’an dan al-Sunnah. Oleh karena itu, jika ‘urf bertentangan dengan nas}s}, maka disebut dengan ‘urf fa>sid (batil) yang tidak dapat legalitas dari syariah (ghayr al-h}ujjah al-syari>yah). Bahkan dalam kalangan Syafi’iyah dibenarkan seseorang melakukan wakaf kuda untuk kepada orang yang berperang untuk jihad, wakaf sapi kepada pelajar untuk diminum susunya atau dijual anaknya untuk keperluan asrama, wakaf domba untuk diambil woll (bulu)nya, wakaf ayam atau bebek, burung, dan sebagainya untuk diambil telurnya, wakaf hewan jantan untuk pengembangbiakan melalui perkawianan dengan hewan-hewan betina.40 Dengan demikian, pada esensinya pendapat Syafi’iyah sama dengan Hanafiyah membolehkan wakaf bergerak termasuk di dalamnya wakaf uang (cash waqf). Pendapat di atas senada dengan pendirian Abu> H{ani>fah yang memperhatiakn muamalah yang mendatangkan maslahat bagi manusia. Jika tidak ada dalil, Abu> H{ani>fah melakukan teori qiya>s. Namun, jika tidak bisa dengan qiya>s, maka menggunakan istihsan selama dapat dilakukakan. Jika tidak bisa dengan istih}sa>n, maka kembali pada ‘urf manusia. Oleh karena itu, wakaf berupa barang yang dapat dipindahkan (al-manqu>la>t) jika tidak ada dasar yang jelas dan qat}‘i> dalam nash alQur’an dan al-Sunnah, maka wakaf tersebut sah secara syar’i dengan teori ‘urf. 40 Al-Bakri>, I‘a>nat al-T}a>libi>n (Kairo: ‘Isa> al-Ba>bi> al-H{alibi>, t.t.), 161; Al-Nawawi>, alRawd}ah, vol. IV (Beirut: Da>r al-Kutub al-‘Ilmi>yah, t.t.), 380. 19
  20. 20. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Setelah melakukan pembahasan tentang Fleksibelitas Wakaf Dalam Madhhab H{anafi: telaah terhadap kitab al-mabsu>t} karya al-sarakhsi>, maka penulis dapat menyimpulkan sebagai berikut: 1. Bahwa wakaf adalah Suatu ungkapan yang mengandung penahanan harta yang dimiliki (dengan tidak sampai) memberikan kepemilikan kepada orang lain. 2. wakaf bersifat ghayr la>zim (tidak mengikat) atau ja>’iz (longgar) seperti halnya dalam ‘a>riyah (pinjam meminjam); oleh karena itu Si wa>qif bebas untuk menarik kembali ataupun menjualnya, karena memang benda ( al- mawqu>f) tersebut secara hukum masih menjadi hak miliknya. 3. Legalitas wakaf dalam pandangan ulama yaitu berdasarkan hadis Nabi dan perilaku para sahabat Beliau. Bahkan dalam satu riwayat Nabi pernah melakukan wakaf. 4. Di antara fleksibelitas wakaf dalam kitab al-mabsu>t} karya al-sarakhsi> adalah: a. Wakaf bersifat ja>’iz (longgar) seperti halnya dalam ‘a>riyah (pinjam meminjam). b. Sighat wakaf harus menyasar dan spesifik. c. Durasi waktu wakaf tidak harus permanen (ta’bi>d), akan tetapi boleh temporal (tawqi>t). 20
  21. 21. d. Penggantian barang wakaf ada yang membolehkan selama berorientasi kepada maslahah. e. Na>dhir boleh siapa saja asalkan mempunyai kemampuan mengelola. f. Wakaf barang yang bisa dipindahkan ( waqf al-manqu>la>t) hukumnya diperbolehkan asalkan tidak bertentangan dengan ‘urf s}ah}i>h}. B. Saran-saran. Sesuai dengan pembahasan yang telah dilakukan, penulis menganggap perlu memberikan saran-saran sebagai berikut: 1. Wakaf merupakan ibadah ijtima‘iyah (ibadah yang bermuatan nilai sosial) yang mempunyai fungsi ganda, oleh karena itu perlu dilestarikan. 2. Kajian-kajian tentang komparasi antar metode istinbâth lingkup lintas madzhab tentang wakaf perlu digalakkan dengan semangat husn al-zhan, karena dengan meneliti secara detail dan jujur akan ditemukan titik temu yang menjawab segala kontradiksi yang ada di dalamnya. 21
  22. 22. DAFTAR PUSTAKA Al-Sharqa>wi>, ‘Abd Alla>h bin H{ija>ri>. H{a>shiyat al-Sharqa>w i> ‘ala> Tuh}fat aT}ulla>b. vol. II Beirut: Da>r al-Fikr, 2006. Al-Sya>t}ibi. Al-Muwa>faqa>t, vol. II. Beirut: Da>r al-Fikr, 1985. Al-Dahlawi>, H{ujjat Alla>h al-Ba>lighah, vol. II. Beirut: Da>r al-Fikr, 1986. Al-Na’im, Abdullah Ahmed. Dekontruksi Syariah , terj. Ahmad Suaedy dan Amiruddin Arrani. Yoyakarta: LKIS, 1994. Bik, Muh}ammad al-Khudhari.> Ta>r i>kh al-Tashri>‘ al-Isla>mi>. Beirut: Da>r alFikr, t.t. Saleh, Abdul Mun‘im. Hukum Manusia sebagai Hukum Tuhan, Berfikir induktif Menemukan Hakikat Hukum Model al-Qawâ‘id alFiqhîyah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009. Almi>s, Al-Shaikh Khalil. Faha>ris al-Mabsu>t li Shams al-Di>n al-Sarakhsi> . Beirut: Da>r al-Ma‘rifah, 1989. Al-Sharakhsi>, Shams al-Di>n Abu> Bakr Muh}ammad bin Abi> Sahl Us}u>l alSharakhsi>. vol. I. Beirut: Da>r al-Kutub al-‘ilmi>yah, 1993. http://id.wikipedia.org/wiki/Transoxiana diakses pada 05 11 2013. Al-Zuh}ayli>, Wahbah. Al-Fiqh al-Isla>mi> wa Adillatuh. vol. VIII. Damaskus: Dâr al-Fikr, 2008. Al-H{is}ni>, Taqi>y al-di>n Abu> Bakr. Kifa>yat al-Akhya>r. vol. II Surabaya: AlHidayah, t.t. Al-Ghazâli, Abu Hâmid. Al-Wajîz fî Fiqh Madzâhib al-Imâm al-Syâfi‘i> Beirut: Dâr al-Fikr, 1994. Qal‘ah Jy, Muh}ammad Rawas. Mausu>‘at Fiqh ‘Umar bin al-Khattha>b . Beirut: Da>r al-Nafa>’is, 1989. Rofiq, Ahmad. Fiqh Kontekstual: Dari Normatif ke Pemaknaan Sosial Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004. Al-Shayba>ni>, Ah}mad bin H{ambal. Al-Musnad, vol. I. Beirut: Al-Maktabah al-Islami> yah, t.t. Al-Bakri>, I‘a>nat al-T}a>libi>n. Kairo: ‘Isa> al-Ba>bi> al-H{alibi>, t.t. Al-Nawawi> . al-Rawd}ah. vol. IV. Beirut: Da>r al-Kutub al-‘Ilmi>yah, t.t. 22

×