Aceh and Nias Sea Defence, Flood Protection, Escapes andEarly Warning System Project                                      ...
Aceh Nias Sea Defence, Flood Protection,           Escapes and Early Warning Project            BRR Concept Note / INFRA 3...
Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009                            ...
Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009                            ...
Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009                            ...
Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 20096.2      Tujuan ...............
Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009                            ...
Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009                            ...
Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009  1P        ENDAHULUAN: APA ...
Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009    •    Bappeda: sebagai le...
Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009  2I      DENTIFIKASI       ...
Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009         dengan kegiatan ter...
Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009c.   Rencana Bahasan     •  ...
Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009     •     Bentangkan tabel ...
Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009Mendapatkan data dan infroma...
Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009     •    Rapihkan dan kemud...
Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009Keterangan: L = Laki-laki de...
Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 20093.   Kemudian bentangkan ker...
Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009  3M         ENGOLAH        ...
Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009secara luas dan logis. Penge...
Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009b. TujuanMerancang suatu sis...
Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009                            ...
Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009Protap berbasis masyarakat i...
Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009         1.  Kondisi alam ap...
Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009     Langkah Kerja          ...
Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009     Keluaran        Para pe...
Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009    •    Tabel berikut akan ...
Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009  4M         EMBUAT RENCANA ...
Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009      No     Kegiatan       ...
Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009  5M           ENCARI       ...
Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009    •    Loby dan Advokasi  ...
Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009Sumber dana mandiri ini bisa...
Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 20092.   Membangun kesepakatan d...
Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009  6P        EMANTAUAN6.1 PEN...
Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 20096.6.1 Pemutahiran DataPemuta...
Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009  COLOPHON Name of organisat...
Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009  LIST OF APPENDICESAppendix...
Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009    Appendix A PROSEDUR TETA...
Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009  Appendix B CONTOH         ...
Sdc r-90139- panduan-cbfdrr-_v2
Sdc r-90139- panduan-cbfdrr-_v2
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Sdc r-90139- panduan-cbfdrr-_v2

1,020 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
1,020
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
65
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Sdc r-90139- panduan-cbfdrr-_v2

  1. 1. Aceh and Nias Sea Defence, Flood Protection, Escapes andEarly Warning System Project Royal Netherlands Embassy Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat Panduan untuk Masyarakat November 2009 SDC-R-90139 Sea Defence Consultants
  2. 2. Aceh Nias Sea Defence, Flood Protection, Escapes and Early Warning Project BRR Concept Note / INFRA 300GIPengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat Panduan Rencana Aksi Untuk Masyarakat November 2009 SDC-R-90139 SEA DEFENCE CONSULTANTS
  3. 3. Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009 SUMMARYFlood is the most natural disaster that often happened in the world and more influence for human being andenvironment. This disaster not just inundated the settlement area and agriculture farm, but also disturbingpeople activities and economic system on the effected area.Flood risk reduction community basis is the subject that should be done to minimalism the risk that can behappens because of flood. Community (childrens and women’s) is the vulnerable subject if flood happens. Theywas the first element who respond if any flooding. Their also the most active element to rehabilitated their onlive after disaster. That mean, the community is the key point to success the flood risk reduction program.For the above reason, community need to learn about their task to reduce the risk that will be happens. Thisprogram can be done by related institutional (Bappeda Dinas Pengairan, Satkorlak and other relatedinstitution). They should know what they have to do, their responsibility before following up by otherinstitution (government level).This community will prepare a plan to reduce the risk for their own village, by monitoring the possibility offlood, establish the flood team (tim satgas banjir), and other strategy which have been agree with all stakeholder (village level) for this program.The next stage is the community will compile a program and propose it to related institution regarding theflood risk reduction program to protect and reduce the risk for the next flooding. And the related institutionwill follow up this program into Kabupaten and provincial level in musrenbang.Aceh Nias Sea Defence, Flood Protection, Escapes and Early Warning Project iBRR Concept Note / INFRA 300GISea Defence Consultants
  4. 4. Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009 RINGKASANBanjir merupakan bencana alam yang paling sering terjadi dan paling banyak menimbulkan kerugian bagimanusia dan lingkungan. Bencana banjir tidak hanya mengenangi kawasan pemukiman dan lahan, namun jugamengganggu aktifitas masyarakat dan perekonomian kawasan yang terkena dampak.Pengurangan resiko banjir berbasis masyarakat adalah hal yang perlu dilaksanakan untuk meminimalisir dampakyang akan terjadi akibat adanya bencana banjir. Masyarakat terutama kelompok rentan (termasuk anak-anakdan perempuang) adalah kelompok yang paling dirugikan apabila terjadi banjir. Masyarakat juga merupakanunsur awal yang merespon akan adanya bencana banjir dan pelaku aktif dalam memperbaiki kehidupan merekasetelah terjadinya banjir. Dengan demikian, masyarakat memiliki peran yang sangat besar dalam programpengurangan resiko bencana banjir ini.Untuk mendukung program tersebut, perlu dilakukan pembelajaran kepada masyarakat akan peran merekadalam mengurangi resiko yang akan terjadi. Pembelajaran ini dapat dilakukan oleh dinas dan institusi terkaitdengan kehidupan masyarakat (Bappeda, Dinas Pengairan, Satkorlak, dan lembaga terkait lainnya). Masyarakatdiharapkan dapat mengetahui tugas dan tanggung jawab mereka sebelum ditindaklanjuti oleh lembaga lain yanglebih berwenang.Masyarakat diharapkan dapat menyusun rencana untuk mengurangi resiko banjir pada desa masing-masing,dengan melakukan pemantauan terhadap kemungkinan akan terjadinya banjir, pembentukan tim satgas banjir,serta strategi yang telah disepakati bersama oleh semua pihak terhadap program ini.Selanjutnya, diharapkan agar masyarakat juga dapat menyusun program dan usulan kepada institusi terkait,guna mencegah ataupun mengurangi resiko banjir berikutnya. Dimana diharapakan institusi terkait tersebutakan menindaklanjuti usulan masyarakat tersebut dalam program musrenbang kabupaten atau provinsi. iiAceh Nias Sea Defence, Flood Protection, Escapes and Early Warning ProjectBRR Concept Note / INFRA 300GISea Defence Consultants
  5. 5. Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009 DAFTAR ISISummary ....................................................................................... iRingkasan ...................................................................................... iiDaftar Isi ..................................................................................... iiiDaftar Singkatan ................................................................................ vDaftar Gambar .................................................................................. vLokasi Aceh dan Nias ..........................................................................vi1 Pendahuluan: Apa Itu Banjir?........................................................ 71.1 Pengantar ................................................................................................................ 71.2 Dasar Hukum dan Kebijakan .......................................................................................... 71.3 Memahami Peran Kelembagaan ...................................................................................... 72 Identifikasi Risiko Bencana Banjir .................................................. 92.1 Pengantar ................................................................................................................ 92.2 Tujuan .................................................................................................................... 92.3 Keluaran yang diharapkan............................................................................................. 92.4 Metode yang digunakan................................................................................................ 92.5 Bahan dan Alat .........................................................................................................102.6 Fokus dan Rencana Bahasan .........................................................................................103 Mengolah Data Dan Mengemas Informasi .........................................173.1 Pengantar ...............................................................................................................173.2 Tujuan ...................................................................................................................173.3 Keluaran yang diharapkan............................................................................................173.4 Metode yang digunakan...............................................................................................173.5 Bahan dan Alat .........................................................................................................183.6 Fokus dan Rencana Bahasan .........................................................................................184 Membuat Rencana Gampong ........................................................264.1 Pengantar ...............................................................................................................264.2 Tujuan ...................................................................................................................264.3 Keluaran yang diharapkan............................................................................................264.4 Metode dan Media .....................................................................................................264.5 Bahan dan Alat .........................................................................................................264.6 Fokus dan Rencana Bahasan .........................................................................................265 Mencari Peluang Anggaran ..........................................................285.1 Pengantar ...............................................................................................................285.2 Tujuan ...................................................................................................................285.3 Keluaran yang diharapkan............................................................................................285.4 Metode yang digunakan...............................................................................................285.5 Bahan dan Alat .........................................................................................................295.6 Fokus dan Rencana Bahasan .........................................................................................296 Pemantauan ............................................................................326.1 Pengantar ...............................................................................................................32Aceh Nias Sea Defence, Flood Protection, Escapes and Early Warning Project iiiBRR Concept Note / INFRA 300GISea Defence Consultants
  6. 6. Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 20096.2 Tujuan ...................................................................................................................326.3 Keluaran yang diharapkan............................................................................................326.4 Metode yang digunakan...............................................................................................326.5 Bahan dan Alat .........................................................................................................326.6 Fokus dan Rencana Bahasan .........................................................................................32Colophon .....................................................................................34List of Appendices ............................................................................35Appendix A Prosedur Tetap Banjir Berbasis Masyarakat ..............................361 ( Kasus di Gampong Seulimeum Kecamatan Seulimeum Kabupaten Aceh Besar)............................36Appendix B Contoh struktur organisasi ‘gampong siaga banjir’......................37Appendix C Contoh Skenario Evakuasi Banjir............................................38 ivAceh Nias Sea Defence, Flood Protection, Escapes and Early Warning ProjectBRR Concept Note / INFRA 300GISea Defence Consultants
  7. 7. Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009 DAFTAR SINGKATAN APBD : Anggaran Pembangunan dan Belanja Daerah APBN : Anggaran Pembangunan dan Belanja Negara BAPPEDA : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Regional Planning Board) DPRK : Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Kabupaten : Administrative subdivision of Province Kecamatan : Sub-district, administrative subdivision of Kabupaten LSM : Lembaga Swadaya Masyarakat Musrenbang : Musyawarah Perencanaan Pembangunan NGO : Non Government Organization PMD : Pembangunan Masyarakat Desa PNPM : Program Nasional Pedesaan/Pekotaan Mandiri PPK : Program Pengembangan Kecamatan PRB : Pengurangan Risiko Bencana / Disaster Risk Reduction PRB-BM : Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Masyarakat RAG : Rencana Aksi Gampong / Gampong Action Plan RKG : Rencana Kerja Gampong RPJMD : Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah RPJMG : Rencana Pembangunan Jangka Menengah Gampong RPJP : Rencana Pembangunan Jangka Panjang Satkorlak : Disaster Management Agency (Province), soon to be BPB Satlak : Disaster Management Agency (District) SDC : Sea Defense Consultants SKPD : Satuan Kerja Perangkat Daerah DAFTAR GAMBARGambar 2-1: Pengaruh dan peran lembaga PRBB-BM ....................................................................... 15Gambar 3-1: Alur Proses Komunikasi Sistem Peringatan Dini Gampong.................................................. 20Gambar 3-2: Sistem Peringatan Dini Banjir di Daerah Aliran Sungai ..................................................... 20Aceh Nias Sea Defence, Flood Protection, Escapes and Early Warning Project vBRR Concept Note / INFRA 300GISea Defence Consultants
  8. 8. Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009 LOKASI ACEH DAN NIAS viAceh Nias Sea Defence, Flood Protection, Escapes and Early Warning ProjectBRR Concept Note / INFRA 300GISea Defence Consultants
  9. 9. Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009 1P ENDAHULUAN: APA ITU BANJIR?1.1 PENGANTARBanjir adalah ancaman musiman yang terjadi apabila meluapnya tubuh air dari saluran yang ada danmenggenangi wilayah sekitarnya. Banjir adalah ancaman alam yang paling sering terjadi dan paling banyakmerugikan baik dari segi kemanusiaan maupun ekonomi. Hampir 90% dari kejadian alam (tidak termasukbencana kekeringan) berhubungan dengan banjir (IDEP, 2007).Pengurangan Risiko Bencana adalah merupakan upaya yang dilakukan untuk mengurangi dampak buruk yangmungkin timbul akibat adanya bencana terutama dilakukan dalam situasi sedang tidak terjadi bencana.Kegiatannya meliputi : a) pengenalan dan pemantauan risiko bencana; b) perencanaan partisipatifpenanggulangan bencana; c) pengembangan budaya sadar bencana; d) peningkatan komitmen terhadap pelakupenanggulangan bencana; dan e) penerapan upaya fisik, non-fisik dan pengaturan penanggulangan bencana (UUNo. 24/2007)Mengapa berbasis masyarakat? Seperti diketahui bahwa masyarakat terutama kelompok rentan termasukperempuan dan anak-anak merupakan kelompok yang paling menderita jika terjadi bencana. Berdasarkanpengalaman juga telah menunjukkan bahwa anggota masyarakatlah yang pertama kali merespon saat terjadinyabencana sekaligus pelaku aktif dalam membangun kembali kehidupannya. Sementara itu pengurangan risikobencana merupakan tanggung jawab semua pihak. Oleh karena peran masyarakat menjadi penting dalampengurangan risiko bencana (dalam hal ini banjir).1.2 DASAR HUKUM DAN KEBIJAKAN • Kerangka Aksi Hyogo Pengurangan Risiko Bencana 2005-2015 dalam Membangun Ketahanan Bangsa dan Komunitas Terhadap Bencana. • UU No.24 Tahun 2007, tentang Penanggulangan Bencana • PP No.21 Tahun 2008, Penyelenggaraan penanggulangan bencana • UU No.25 Tahun 2004, tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional1.3 MEMAHAMI PERAN KELEMBAGAANDengan memahami kelembagaan yang berhubungan langsung dengan penanggulangan bencana banjir,diharapkan masyarakat dapat memahami peran dan fungsi dari masing-masing lembaga tersebut. Di bawah iniada beberapa lembaga yang sangat erat hubungannya dengan program pengurangan risiko bencana banjir. • Dinas Pengairan: adalah lembaga yang bertanggung jawab dalam hal pengelolaa sumber daya air. Selanjutnya dengan adana otonomi daerah lembaga ini ada dibawah pemerintah daerah Provinsi. Tugas pokok dan fungsi dari lembaga ini adalah melakukan pengelolaan risiko banjir di wilayah kerjanya. • BWSS: Balai Wilayah Sungai Sumatera adalah lembaga yang mengelola sungai, danau dan waduk yang ada di Sumatra wilayah I. Lembaga ini bertanggung jawab pada pemerintah pusat dalam hal ini PU-CK. • BMKG: Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika. Lembaga ini berperan sebagai lembaga yang mengelah, menganalisis data meteorologi, klimatologi, dan Geofisika yang terkait atau berdampak pada hadirnya sebuah bencana alam. Dari hasil mengolah, menganalisis maka menghasilkan sistem peringatan dini yang amat bermanfaat bagi penentu kebijakan melakukan perintah evakuasi. Sistem peringatan dini inilah yang disebarluaskan pada para pihak yang berkepentingan. 7Aceh Nias Sea Defence, Flood Protection, Escapes and Early Warning ProjectBRR Concept Note / INFRA 300GISea Defence Consultants
  10. 10. Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009 • Bappeda: sebagai lembaga koordinasi dalam melakukan perencanaan dan anggaran pembangunan baik untuk jangka panjang, menengah dan pendek atau tahunan. • DPRK: sebagai lembaga legislatif yang berperan dalam penghubung kepentingan rakyat yang dipilih berdasarkan hasil pemilu. Salah satu tugasnya adalah menyetujui anggaran pembangunan yang diajukan oleh eksekutif sehingga menjadi penting dalam upaya pelaksanaan PRB di masyarakat. Di lain sisi kepentingan untuk ingin terpilih kembali menjadi anggota dewan seringkali menyertai kepentingan utamanya yaitu sebagai lembaga perwakilan rakyat. • Gampong (Keucik): lembaga administrasi terendah dalam pemerintahan yang menjadi ujung tombak dari proses pembangunan baik dari sisi perencanaan dan pelaksanaan tapi kadangkala hanya dijadikan sebagai objek dalam pembangunan padahal pembangunan partisipatif dimulai dari desa/gampong yang merencanakan dan penerima manfaat yang utama. • Kecamatan-Satgas: Satuan Tugas (Satgas) adalah salah satu garis organisasi dalam kecamatan dimana di tingkat kecamatan sudah ada satu penanggung jawab jika terjadi bencana. Melalui satgas inilah penanggulangan bencana akan ditangani di tingkat kecamatan • Puskesmas: Pusat Kesehatan Masyarakat adalah lembaga yang fokus pada bidang kesehatan di masyarakat khususnya pada tingkat kecamatan. Terkait dengan bencana banjir lembaga ini dapat berperan sebagai lembaga pendukung yang membantu penanganan banjir dari sektor kesehatan. Misalnya dalam penyembuhan penyakit gatal dan wabah diare ketika banjir melanda. • Kapolsek: Kepala Polisi Sektor adalah lembaga kepolisian yang fokus pada keamanan masyarakat sipil dengan teritorial setingkat kecamatan. Lembaga ini beroperasi 24 jam 7 hari dan dapat diperbantukan dalam pengnanggulangan bencana banjir di tingkat kecamatan • Koramil: Komando Rayon Militer adalah satuan pengamanan teritorial yang dimiliki oleh TNI yang beroperasi 24 jam 7 hari. Lembaga ini fokus pada hal kemananan negara. Namun ketika situasi normal dan tidak perang, maka lembaga ini juga dapat menjalankan tugas yang bersifat non perang seperti kegiatan pembangunan jembatan, pembuatan jalan setapak. Dalam keadaan banjir, lembaga ini dapat diperbantukan untuk penanggulangan bencana. • LSM/NGO: Lembaga ini banyak jenis dan karakternya. Biasanya lembaga ini pemantau proses pembangunan dan tata kelola pemerintahan di berbagai bidang. Kadang lembaga ini memposisikan menjadi penghubung kepentingan masyarakat, donor, dan pemerintah dalam upaya membantu proses pembangunan yang berpihak ke masyarakat, dan response pada saat tanggap darurat di saat bencana. • Donor: adalah lembaga yang bersifat lokal atau internasional yang concern untuk membantu masyarakat korban banjir dengan berbagai kegiatan seperti logistik, sanitasi, dan rehabiltiasi dan rekonstruksi bangunan yang rusak karena banjir. Lembaga donor ini bukan hanya NGO internasional, juga bisa berupa perusahaan, proyek bantuan bilateral, dan lembaga yang dibawah payung lembaga PBB (United Nation) • Satlak/BPBD: Satlak (satuan pelaksana) Penanggulangan Bencana yang dimasa depan akan berubah namanya menjadi BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) adalah lembaga utama yang menangani bencana di daerah. Jika masih bernama Satlak titik beratnya adalah koordinasi Penanggulangan Bencana, disinilah simpul koordinasi dilakukan. Dan jika sudah berubah menjadi BPBD maka tugas pokok fungsinya adalah menjadi komando operasi penanggulangan bencana. Dikarenakan statusnya bukan lagi Satlak yang awalnya ada di bawah Kesbanglinmaspol (Kesatuan pengamanan bangsa perlindungan masyarakat dan politik), maka sebagai sebuah lembaga, BPBD berdiri sendiri dan memiliki anggaran untuk penanganan bencana. 8Aceh Nias Sea Defence, Flood Protection, Escapes and Early Warning ProjectBRR Concept Note / INFRA 300GISea Defence Consultants
  11. 11. Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009 2I DENTIFIKASI RISIKO BENCANA BANJIR2.1 PENGANTARBerdasarkan UU No.24 Tahun 2007, Risiko bencana adalah potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana(dalam hal ini banjir) pada suatu wilayah dan kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian, luka, sakit,jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi, kerusakan atau kehilangan harta, dan gangguan kegiatanmasyarakat.Pemahaman dan penilaian suatu wilayah terutama bagi masyarakat juga menjadi bagian penting dalammengukur risiko yang diakibatkan oleh banjir. Wilayah rawan banjir harus dapat dikaji dan dipetakan olehmasyarakat agar masyarakat selalu siap siaga dalam mengurangi risiko akibat banjir. Selain itu juga hasilpemetaan dapat dipergunakan sebagai alat informasi dan fakta berbasis masyarakat dalam menggambarkan danmenjelaskan kondisi wilayahnya.Kemampuan masyarakat dalam mengumpulkan, mengelompokkan dan mengkaji informasi dirinya sendiritentang pemetaan dan risiko banjir merupakan kekuatan sekaligus potensi yang dimiliki oleh masyarakat dalammengatasi banjir. Hasil pengukuran dan pemetaan menjadi penting dalam mendukung solusi yang akandimunculkan dalam usulan program atau rencana aksi atau mungkin memecahkan masalah yang muncul dengansegera.2.2 TUJUAN • Masyarakat bisa mengkaji wilayah daerah rawan banjirnya sendiri. • Masyarakat bisa mengeluarkan ide atau solusi dalam mengatasi masalah banjir. • Masyarakat bisa mengukur dampak dari timbulnya banjir di wilayahnya sendiri.2.3 KELUARAN YANG DIHARAPKANTersedianya data dan informasi tentang banjir di tingkat gampong.2.4 METODE YANG DIGUNAKAN • PRA (Participatory Rural Appraisal) atau kajian desa secara partisipatif tentang banjir. PRA merupakan sebuah metode yang dilakukan dalam rangka mengumpulkan data dan informasi dari berbagai pihak agar data atau informasi yang dihasilkan didasarkan atas kepentingan orang banyak dan mewakili semua pihak yang berkepentingan. PRA menjadi sangat efektif jika semua pihak saling memberikan komentar dan bersama-sama mencari solusi yang paling ideal dalam mencapai apa yang dibutuhkan. Mengapa PRA? Karena PRA memberikan kesempatan untuk memahami pengetahuan dan pengalaman serta kemampuan lokal dalam upaya penguatan dan peningkatan kapasitas masyarakat secara langsung melalui proses partisipatifnya. PRA dilakukan dengan cara mengundang beberapa tokoh masyarakat, sebaiknya Pak Keucik atau Sekretaris Desa (Sekdes) berperan sebagai pengundang sekaligus pemandu acara. Tokoh masyarakat yang diundang harus mewakili, aparat gampong (kepala dusun, dewan mesjid, ketua pemuda/i, PKK), organisasi masyarakat lainnya seperti kelompok pengajian/yasinan, kelompok arisan, kelompok tani/nelayan dan kelompok posyandu atau kaum ibu dan anak atau masyarakat umum yang perduli 9Aceh Nias Sea Defence, Flood Protection, Escapes and Early Warning ProjectBRR Concept Note / INFRA 300GISea Defence Consultants
  12. 12. Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009 dengan kegiatan tersebut. Jika terdapat pihak luar yang sedang bekerja di gampong, lebih baik diajak dalam kegiatan PRA. PRA hanya merupakan sebuah cara dalam mengkaji desa sehingga kegiatan PRA bisa saja dilakukan hanya 1 kali untuk menjawab beberapa program atau kegiatan sekaligus karena hasil dari PRA adalah berupa data dan informasi tentang desa berdasarkan pengamatan dan pemahaman serta hasil kesepakatan berbagai pihak yang berperan dalam membangun desa/gampong. • Pengumpulan data sekunder. Data sekunder yang dimaksud adalah memanfaatkan arsip pemerintahan desa/gampong yang dimiliki oleh desa/gampong dan biasanya berada di Keucik atau Sekretaris Desa, seperti: monografi/profil desa, sketsa atau peta desa dan hasil-hasil musyawarah desa atau data-dan informasi yang dimiliki oleh kecamatan. Proses pengumpulan data sekunder dilakukan oleh para aparat gampong dengan melakukan pemilahan data-data yang dibutuhkan dalam mendukung informasi tentang banjir dan dampak yang ditimbulkannya. Data-data tersebut antara lain adalah data jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin dan umur, data tentang mata pencaharian masyarakat, data kelembagaan gampong, dan sejarah gampong serta daftar program pembangunan pedesaan yang sudah, sedang dan akan dilakukan. Program pembangunan desa/gampong bisa dilihat dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Gampong (RPJMG). Kemudian data-data tersebut dituliskan atau diketik menjadi sebuah gambaran gampong secara umum sehingga kumpulan data tersebut bisa menjelaskan kondisi gampong saat ini. • Data-data yang sudah didapatkan kemudian aparat gampong dibantu oleh tokoh masyarakat atau pemuda/pemudi gampong untuk menyusunnya menjadi sebuah dokumen hasil kajian masyarakat terhadap gampong mereka sendiri. Caranya bisa dengan menyalinnya ke dalam kertas HVS atau jika memungkinkan mengetiknya menjadi sebuah dokumen gampong yang diketahui oleh aparat gampong.2.5 BAHAN DAN ALAT • Sketsa/Peta Gampong, Lembar/Tabel kerja, Monografi Gampong, RPJMG • Alat Tulis, seperti : kertas plano, kertas HVS, spidol warna (besar dan kecil)2.6 FOKUS DAN RENCANA BAHASANSecara umum fokus bahasan dari bagian ini adalah bagaimana caranya bisa mengumpulkan data dan informasisebanyak-banyaknya tentang banjir dan dampaknya untuk dijadikan bahan acuan dan pengalaman belajar darimasyarakat dalam mengatasi ancaman banjir.Fokus bahasan pada manual ini hanya membahas 5 point saja yang telah dipilih dan dianggap penting dalammengkaji risiko banjir di tingkat gampong. Bahasan lainnya bisa dikembangkan berdasarkan kebutuhan darimasyarakat gampong sendiri. Ke-lima fokus bahasan itu adalah sebagai berikut:2.6.1 Pemetaan Risiko Banjira. PengertianApa itu pemetaan? Pemetaan risiko banjir adalah suatu kegiatan membuat sebuah ringkasan tentang ruang dantempat-tempat utama, seperti: sarana, manusia dan alam, batas wilayah, jalan-jalan termasuk daerah risikobanjir yang ada di tingkat gampong. Peta risiko banjir dapat melancarkan komunikasi dan merangsang diskusi didalam masyarakat untuk membahas lebih lanjut mengenai risiko banjir.b. TujuanMemberikan gambaran atas kondisi gampong berdasarkan kewilayahan atau tata ruang dengan bantuan petaatau sketsa desa tentang kondisi banjir dan dampaknya. 10Aceh Nias Sea Defence, Flood Protection, Escapes and Early Warning ProjectBRR Concept Note / INFRA 300GISea Defence Consultants
  13. 13. Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009c. Rencana Bahasan • Buatlah sketsa gampong bersama-sama dengan peserta lainnya dengan cara menggambarkan wilayah atau peta dasar gampong secara umum dan sebutkan arah utaranya serta garis perbatasan desa/gampong. • Gambar juga, jalan gampong, sungai, jembatan, daerah pemukiman, lahan pertanian/kebun, sungai, bukit dan lain-lain. Selain itu juga sarana atau fasilitas umum, seperti: tempat ibadah sekolah, balai desa/meunasah, puskesmas, kantor desa, lapangan olahraga, dan seterusnya). • Warnai daerah genangan banjir dengan memakai spidol/pensil warna. • Beri informasi, kira-kira berapa ketinggian air, arah air datang dan frekwensi banjirnya, misalnya: genangan timbul jika hujan 3 hari berturut-turut tidak berhenti, banjir periodik (musim-musim tertentu) dan seterusnya. (jangan lupa memberikan keterangan pada peta tentang simbol atau informasi lainnya) • Gambarkan juga titik-titik lokasi yang biasanya dijadikan tempat mengungsi berikut informasi yang mendukung mengenai lokasi tersebut, misalnya: ada berapa tempat? (termasuk lokasi ternak dan materi lainnya). Syarat pengungsian mudah dijangkau, aman dan luas serta tersedia kebutuhan dasar (air dan lahan). • Berapa orang jumlah pengungsi yang tertampung di bangunan atau wilayah tersebut? • Buat juga jalur yang terbaik ke arah lokasi pengungsian . • Kemudian peta atau sketsa yang dihasilkan menjadi dokumen gampong. Lalu tempelkan hasilnya di tempat yang mudah dilihat seluruh masyarakat sebagai bahan informasi. Hal ini membantu dalam proses awal membangun kesiapsiagaan masyarakat gampong.2.6.2 Kalender Musima. PengertianKalender musim adalah suatu deretan waktu dalam setahun dimana mencerminkan aktifitas yang dilakukan olehmasyarakat dalam urutan waktu. Kalender musim dapat memperlihatkan berbagai peristiwa, pengalaman,kegiatan dan kondisi masyarakat selama satu tahun. Hal ini bisa digunakan sebagai bahan awal dalam mengkajialternatif mata pencaharian masyarakat di saat bencana terjadi dan upaya masyarakat untuk keluar daripermasalahan tersebut.b. TujuanMemberikan informasi tentang aktifitas atau kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat gampong dalam ukuranwaktu setahun.c. Rencana Bahasan • Salin tabel berikut ini dalam kertas plano sebagai panduan dalam mengidentifikasi kegiatan atau aktifitas masyarakat dalam satu tahun 11Aceh Nias Sea Defence, Flood Protection, Escapes and Early Warning ProjectBRR Concept Note / INFRA 300GISea Defence Consultants
  14. 14. Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009 • Bentangkan tabel tersebut dan mulailah berdiskusi untuk mengisi tabel tersebut. Aktivitas/Kegiatan Bulan Keterangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 • Untuk mempermudah proses diskusi, dibuatkan panduan pertanyaan sebagai berikut: 1. Apa saja aktifitas dan kegiatan yang dilakukan masyarakat gampong? (bertani, berkebun, kerja lainnya, gotong royong, kenduri, kegiatan posyandu, kegiatan keagaamaan, pertemuan atau musyawarah desa dan seterusnya) 2. Kapan kegiatan itu biasanya dilakukan ? (Dalam tabel angka 1-12 merupakan deretan bulan dalam 1 tahun) Lalu arsirlah kotak-kotak di bawah angka yang menunjukkan bulan kegiatan tersebut dilakukan. 3. Jika ada uraian yang harus dijelaskan maka diisi di kolom keterangan. Misalnya bila menggunakan kalender Islam, aktifitasnya hanya musiman, merupakan kegiatan utama dari masyarakat gampong dan seterusnya. • Sebaiknya ada pembagian kelompok di dalam mengumpulkan data mengenai kalender musim, yaitu: laki-laki dan perempuan karena aktifitas yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan berbeda sehingga data yang didapatkan akan lebih kaya dan rinci serta mewakili semua pihak yang terlibat di dalam gampong. • Setelah semua terisi lengkap, rapikan. Bisa dengan cara menyalinnya ke dalam kertas HVS yang ditulis tangan atau diketik agar menjadi dokumen desa.2.6.3 Sejarah Banjira. PengertianSejarah banjir merupakan suatu uraian proses dan pengalaman mengenai banjir yang telah terjadi di masa lalu.Dari sejarah banjir dapat terlihat gambaran tentang bahaya banjir yang pernah ada, bagaimana sifatnya,intensitas atau frekwensi kejadiannya, kerugian yang ditimbulkan serta perilaku masyarakat dalam mengatasibanjir tersebut.b. Tujuan 12Aceh Nias Sea Defence, Flood Protection, Escapes and Early Warning ProjectBRR Concept Note / INFRA 300GISea Defence Consultants
  15. 15. Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009Mendapatkan data dan infromasi tentang banjir di masa lalu sehingga masyarakat lebih memahami tentangperubahan yang terjadic. Rencana Bahasan • Salin tabel dibawah ini ke dalam kertas plano. Tahun Kronologis Kerugian Upaya Masyarakat Bantuan • Kemudian bentangkan kepada semua peserta yang ikut dalam memetakan gampong. • Diskusikan dan mulai mengisi tabel tersebut satu persatu. • Dibawah ini merupakan alat bantu (panduan pertanyaa) untuk mempermudah pengisian tabel tersebut. Pertanyaan pembantunya adalah sebagai berikut: 1. Tahun berapa saja banjir terjadi di gampong? 2. Bagaimana kronologisnya? Jenis atau penyebab banjir (luapan air sungai, banjir bandang, akibat hujan terus menerus, banjir musiman dst)?, Jam berapa banjir itu terjadi, Lama genangan (berapa jam/hari)?, Ketinggian air? 3. Kerugian apa saja yang dialami oleh masyarakat gampong? Korban nyawa? Kehilangan ternak? Kematian tanaman pertanian? Kerusakan lahan terutama pertanian? Kerusakan tempat tinggal dan materi lainnya? dan seterusnya. 4. Upaya apa saja yang sudah dilakukan oleh masyarakat? (misalnya: menaikan barang-barang berharga ke para-para, mengemas surat-surat penting ke dalam tas atau plastik tahan air, menyiapkan bahan makanan yang ada untuk dibawa ke tempat pengungsian, menggiring ternak ke kandang atau lahan yang lebih tinggi, memberikan informasi dan bekerjasama dengan pihak kecamatan dan seterusnya). 5. Apakah ada bantuan dari pihak lain selain keswadayaan desa/gampong? Siapa? Jenis bantuan (bahan makanan, perlengkapan, uang, tenaga kebersihan, obat-obatan dan lain-lain). 13Aceh Nias Sea Defence, Flood Protection, Escapes and Early Warning ProjectBRR Concept Note / INFRA 300GISea Defence Consultants
  16. 16. Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009 • Rapihkan dan kemudian kumpulkan semua tabel-tabel yang berisi data dan informasi menjadi sebuah dokumen gampong. Saran: salin dalam kertas yang berukuran sama dan jilid semua hasil data tersebut agar bisa dipergunakan dengan mudah dan kapan saja.2.6.4 Pembagian Peran Dalam Keluargaa. PengertianPembagian peran dalam keluarga dimaksudkan untuk mengetahui gambaran kerja atau kegiatan yang dilakukandalam satu keluarga. Keluarga disini adalah bapak, ibu, anak dan orang lain yang berada dalam 1 keluarga (jikaada).Informasi ini bisa dipakai untuk menyusun prosedur tetap (Protap) pengurangan risiko banjir dalam konteksyang lebih kecil, yaitu: keluarga. Misalnya jika terjadi banjir dan harus melakukan pengungsian maka informasiini dapat dipergunakan sebagai acuan untuk mempermudah atau mempercepat proses karena perannya sudahjelas di dalam keluarga. Dan hal ini bisa juga dijadikan sebagai upaya melatih kesiapsiagaan masyarakat dalammengatasi banjir pada tingkat keluarga.b. TujuanMendapatkan informasi tentang pembagian peran dalam keluarga dalam menghadapi banjir.c. Rencana Bahasan • Salin tabel ini ke dalam kertas plano atau kertas HVS, kemudian diskusikan. • Beri tanda positif/tambah (+) jika kegiatan tersebut dilakukan oleh L (laki-laki) atau P (perempuan) dan untuk A (anak) tuliskan L untuk laki-laki atau P untuk perempuan Kegiatan Sebelum Saat Setelah Keterangan L P A L P A L P AMenyiapkan makanan untuk di pengungsianMenyediakan makananMencari air bersihMencari bahan bakar (kayu/minyak)Belanja ke PasarMembersihkan rumahMencuci pakaian/piringMengurus yang sakitMemberikan pendidikan kesehatanMemperbaiki rumahMenghadiri pertemuan masyarakatMenggambarkan rencana evakuasiMenerima peringatan dini banjirMemberi peringatan evakuasiMenjaga rumahPergi mengungsi/evakuasiMencari modal usahaMenjaga ternakMencari bantuanMengurus anak-anak................................. 14Aceh Nias Sea Defence, Flood Protection, Escapes and Early Warning ProjectBRR Concept Note / INFRA 300GISea Defence Consultants
  17. 17. Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009Keterangan: L = Laki-laki dewasa, dalam hal ini adalah suami atau bapak atau anak laki-laki dewasa P = perempuan dewasa, dalam hal ini adalah istri atau ibu atau anak perempuan dewasa A = Anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan • Diharapkan tabel ini didiskusikan dan diisi oleh kaum laki-laki dan perempuan secara terpisah untuk mengetahui lebih detail kegiatannya. • Masyarakat bisa menambahkan kegiatan-kegiatan lainnya yang dianggap penting dalam pembagian peran keluarga terutama dalam kegiatan mengurangi risiko bencana. • Tabel tersebut akan menjadi bagian dari dokumen penting yang bisa menjadi bahan dasar dalam penyusunan prosedur tetap banjir berbasis masyarakat pada tingkat keluarga.2.6.5 Analisis Kelembagaana. PengertianKegunaan dari analisis kelembagaan untuk mengetahui kewenangan, kepentingan, pengaruh dan peran. Denganmengetahui ini, maka masyarakat bisa mempertimbangkan dengan lembaga mana yang cocok untukbekerjasama dan berkonsultasi terkait dengan bencana banjir.Sebuah lembaga tidak selalu harus lembaga pemerintah yang memiliki pengaruh besar dalam hal banjir,misalnya bisa jadi yang memegang peran dan pengaruh yang penting di Aceh adalah pemimpin non formal. Satkorlak Kel Tuha Peut Kelompok Satlak KecamatanGambar 2-1: Pengaruh dan peran lembaga PRBB-BMMelalui telaah gambar terlihat jelas bahwa peran dan pengaruh lembaga Tuha Peut dalam pengangananmasalah banjir lebih berperan dibandingkan dengan tiga lembaga lainnya seperti Kecamatan, Satlak, danSatkorlak di Provinsi. Ini bukan berarti bahwa lembaga selain Tuha Peut tidak berperan.b. TujuanMasyarakat mengerti tentang kelembagaan gampong beserta perannya masing-masing terutama yangberhubungan dengan pengurangan risiko banjirc. Rencana Bahasan1. Sebutkan nama lembaga/organisasi yang selama ini diketahui berhubungan dengan pengurangan risiko banjir, termasuk didalamnya kelompok-kelompok informal yang ada di dalam masyarakat, misalnya: kelompok arisan ibu-ibu, kelompok pengajian, kelompok pemuda/pemudi, tim sibat (jika ada) dan seterusnya termasuk lembaga formal gampong.2. Buat tabel berikut, dan kemudian masukkan peran dari masing-masing lembaga tersebut pada kolom peran. Dan untuk selanjutnya mengukur seberapa besar lembaga tersebut berperan dalam pengurangan risiko banjir dengan memberikan penilaian 1-5, yaitu: 1= tidak berperan, 2 = sedikit berperan, 3 = berperan, 4 = berperan aktif, 5 = sangat beperan (biasanya yang terlibat dalam pengambilan keputusan). No Nama Lembaga Peran Penilaian Keterangan 15Aceh Nias Sea Defence, Flood Protection, Escapes and Early Warning ProjectBRR Concept Note / INFRA 300GISea Defence Consultants
  18. 18. Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 20093. Kemudian bentangkan kertas plano dan buat lingkaran-lingkaran sesuai dengan penilaiannya dimana besar lingkaran akan makin besar untuk nilai 5. Dari sini kita akan melihat peran dari masing-masing lembaga tersebut dalam penguranga risiko banjir.4. Untuk memperjelas gambar dan informasi bisa juga ditambahkan hubungan antar kelembagaan tersebut dengan memakai tanda panah untuk koordinasi atau digram ven yang merupakan irisan dari kelembagaan yang akan dibangun pada penyusunan program penggurangan risiko banjir.5. Jadikan informasi ini sebagai salah satu gambaran umum masyarakat di Gampong dalam mengantisipasi kegiatan pengurangan risiko banjir. 16Aceh Nias Sea Defence, Flood Protection, Escapes and Early Warning ProjectBRR Concept Note / INFRA 300GISea Defence Consultants
  19. 19. Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009 3M ENGOLAH DATA DAN MENGEMAS INFORMASI3.1 PENGANTARData-data tentang pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki oleh masyarakat gampong tidak akan menjadiinformasi penting jika tidak diolah dan dikemas menjadi suatu bahan informasi yang logis. Informasi yang sudahdikemas diharapkan bisa menjadi pegangan atau pedoman bagi masyarakat gampong dalam berpendapat danmemperjuangkan kebutuhan gampong berdasarkan kepentingan bersama dalam membangun gampong.Upaya pemberdayaan sebenarnya tidak akan muncul dari data tapi dari proses mengenai pengumpulan dananalisis informasi. Dengan memahami proses dan berupaya mengkaji daerahnya sendiri dan menyebarluaskandalam sebuah informasi adalah pemberdayaan itu sendiri. Refleksi kritis terhadap proses sehingga memberikesempatan untuk memahami pengetahuan dan kemampuan lokal.Biasanya data, pengetahuan dan pengalaman bahkan hasil karya gampong jarang sekali ditulis dan dikemasmenjadi sebuah informasi yang berguna bagi gampong padahal proses pengkajian tersebut merupakan salahsatu upaya masyarakat dalam mengurangi risiko terhadap banjir.3.2 TUJUAN • Masyarakat dapat memahami dan mengolah data-data yang dihasilkan secara mandiri . • Masyarakat bisa menjadikan data-data yang dihasilkan menjadi informasi yang logis.3.3 KELUARAN YANG DIHARAPKAN • Adanya daftar solusi yang terinci berdasarkan masalah yang ditimbulkan dari banjir. • Adanya daftar pemangku kepentingan serta peluang kerjasama dengan berbagai pihak terkait.3.4 METODE YANG DIGUNAKANSecara umum proses yang dilakukan dapat dilihat pada gambar di bawah ini: Pengumpulan Data Pengelompokkan Memasukkan ke lembar kerja Mengemas InformasiPengumpulan data adalah apa-apa yang sudah dihasilkan dari Bab II dikumpulkan dan dipilah berdasarkankelompoknya untuk dikaji lebih lanjut agar menjadi sebuah sistem informasi yang utuh dan dapat dipergunakan 17Aceh Nias Sea Defence, Flood Protection, Escapes and Early Warning ProjectBRR Concept Note / INFRA 300GISea Defence Consultants
  20. 20. Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009secara luas dan logis. Pengelompokkan didasarkan akan kebutuhan informasi yang akan dicapai. Hal ini dapatdilakukan dengan cara mencocokannya dengan fokus kegiatan atau kerangka kerja pengurangan risiko bencanaberbasis masyarakat khususnya banjir berdasarkan undang-undang penanggulangan bencana. Setelahdikelompokkan kemudian dimasukkan ke dalam lembar-lembar kerja yang akan dibahas per fokus bahasanberupa tabel pemecahan masalah (solusi) berdasarkan pengelompokkan informasi.Setelah itu baru dibuatkan alur atau diagram yang sesuai dengan kerangka kerja pengurangan risiko bencanayang ada di masyarakat gampong. Dalam hal ini dibagi menjadi 4 fokus bahasan atau kerangka kerja yaitu: 1)Sistem Peringatan Dini, 2) Prosedur Tetap Evakuasi Masyarakat Gampong, 3) Simulasi atau Pelatihan dan 4)Penerapan infrastruktur dalam mitigasi banjir. Dari ke-4 pokok tersebut kemudian diakhir dengan sebuahpenyusunan rencana aksi gampong dalam pengurangan risiko banjir. Masing-masing fokus bahasan akandibicarakan pada Bab ini.Semua kegiatan dapat dilakukan dalam rapat atau pertemuan desa atau diskusi terfokus (focuss groupdisscusion) dengan mengundang beberapa orang masyarakat dalam proses mengolah dan mengemas data daninformasi. Keterwakilan masyarakat terutama laki-laki dan perempuan menjadi penting dalam membangunpartisipasi seluruh masyarakat. Seperti diketahui bahwa kepentingan dan kebutuhan antara laki-laki danperempuan berbeda satu sama lain begitu juga pengalamannya sehingga diperlukan sebuah keseimbangan dankeutuhan dalam membangun masyarakat gampong.Jika dalam memfasilitasi kegiatan ini dirasakan sulit maka pihak gampong bisa saja membangun kerjasamadengan pihak lain, misalnya dengan camat, LSM/NGO, PMI, dan lain sebagainya. Hal ini bisa menjadi alternatifuntuk mempermudah proses pengolahan dan pengemasan informasi sekaligus bisa bertindak sebagai langkahawal membangun kerjasama dengan pihak lain. Penting diketahui bahwa kegiatan ini harus dilakukan olehmasyarakat itu sendiri sehingga pihak luar hanya membantu mempermudah prosesnya saja.3.5 BAHAN DAN ALAT • Bahan yang digunakan, seperti: hasil PRA dan data sekunder • Alat Tulis, seperti : kertas plano, kertas HVS, spidol warna (besar dan kecil)3.6 FOKUS DAN RENCANA BAHASANBerdasarkan pengalaman belajar di beberapa wilayah, fokus bahasan yang dihasilkan dari kegiatan penguranganrisiko banjir berbasis masyarakat adalah sebagai berikut:3.6.1 Sistem Peringatan Dini Banjir Berbasis Masyarakata. PengertianSistem Peringatan dini adalah serangkaian kegiatan pemberian peringatan sesegera mungkin kepada masyarakattentang kemungkinan terjadinya bencana pada suatu tempat oleh lembaga yang berwenang (UU No.24/2007).Sedangkan yang dimaksud peringatan dini banjir berbasis masyarakat disini adalah berbagai kegiatan yang bisaatau biasa dilakukan oleh masyarakat dalam hal ini gampong untuk memberikan peringatan sesegera mungkinkepada masyarakat jika terjadi bencana banjir. Artinya semua kegiatan peringatan dini buat, oleh dan untukmasyarakat gampong itu sendiri.Masyarakat gampong bisa membuatnya berdasarkan pengalaman selama ini dalam mengatasi banjir. Data daninformasi yang didapatkan pada bab sebelumnya merupakan acuan dalam penyusunan peringatan dini banjir.Data yang dibutuhkan dalam menyusun peringatan dini banjir adalah monogafi desa, sketsa/peta gampong yangmemuat tentang tempat dan jalur evakuasi serta jalur komunikasi yang dipergunakan.Sistem Peringatan dini banjir berbasis masyarakat harus besifat memberikan informasi mengenai bahaya yangakan terjadi, menasehati untuk berlindung dan siap siaga serta menginstruksikan dalam melakukan tindakan,misalnya evakuasi. Sistem peringatan dini mempunyai 4 sub-sistem yaitu: peringatan dini, informasi risiko,kesiapsiagaan dan komunikasi. 18Aceh Nias Sea Defence, Flood Protection, Escapes and Early Warning ProjectBRR Concept Note / INFRA 300GISea Defence Consultants
  21. 21. Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009b. TujuanMerancang suatu sistem peringatan dini banjir berbasis masyarakat berdasarkan pengalaman dan hasilpengkajian risiko bersama masyarakat gampong.c. Rencana Bahasan: • Kumpulkan semua bahan atau informasi yang dibutuhkan. Data yang dibutuhkan adalah monografi atau profil desa beserta sarana/fasilitas yang dimiliki oleh gampong terutama transportasi dan komunikasi, analisa kelembagaan dan sejarah banjir serta aktifitas atau respon masyarakat dalam mengatasi banjir selama ini. • Pindahkan pihak-pihak yang berperan dalam memperingatkan masyarakat jika terjadi banjir yang berada dalam tabel atau gambar kelembagaan. Setelah itu masukkan dalam tabel dan lanjutkan dengan mengisi kolom-kolom tabel tersebut. • Salin tabel atau lembar kerja berikut ini: Penanggung Tindakan/Respon Alat Bentuk Keterangan jawab Komunikasi Peringatan Tim Pemantau Mengamati ketinggian air sungai dan Laporan Air Melaporkan kondisi ketinggian air kepada Langsung Keucik Keucik Memutuskan untuk mengungsi Pengeras Koordinasi Mesjid dgn Camat Menghubungi desa yang ada dihilirnya HP/Telp Mengumumkan kondisi aman dan bisa kembali ke gampong Dewan mesjid Mengumumkan kepada warga atas perintah Pengeras keucik Mesjid Catatan : Isian dalam tabel hanya contoh • Untuk mempermudah pengisian lembar kerja tersebut akan dibantu dengan beberapa pertanyaan pembantu, seperti: 1. Siapa yang bertanggung jawab atas peringatan ’bahaya’? 2. Tindakan apa saja yang harus dilakukan oleh keucik? 3. Apa alat yang biasa dijadikan peringatan untuk memberitahukan masyarakat gampong? (nama alat, cara membunyikan, bagaimana nada bunyinya? 4. Dengan cara apa keucik mengumumkan kepada seluruh masyarakat desa? Apa alat bantunya? 5. Siapa lagi yang berperan dalam sistem peringatan dini terhadap banjir? Misalnya yang berperan untuk mengumumkan di pengeras suara mesjid? • Bagian terakhir dari penyusunan sistem peringatan dini adalah membangun kesepakatan bersama dengan seluruh masyarakat gampong. Bisa juga sistem peringatan dini ini disyahkan atau dilegitimasi atas surat keputusan keucik atau kepala desa sehingga bisa ditindaklajuti secara berkelanjutan dan berkesinambungan di kemudian hari. • Dari tabel tersebut bisa juga dibuatkan alur proses berupa gambar untuk mempermudah sistem peringatan dini berbasis masyarakat gampong dalam mengurangi risiko banjir. Contoh alur prosesnya sebagai berikut: 19Aceh Nias Sea Defence, Flood Protection, Escapes and Early Warning ProjectBRR Concept Note / INFRA 300GISea Defence Consultants
  22. 22. Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009 Puskesmas PMI, Rapi Keucik Camat Dusun H l Dusun Tengah Dusun HilirGambar 3-1: Alur Proses Komunikasi Sistem Peringatan Dini Gampong • Dengan begitu sistem peringatan dini antar gampong juga bisa dirancang dengan kerjasama dari masing-masing gampong sepanjang DAS, camat atau Satgas PB dan lain sebagainya. • Berikut ini adalah Sistem Peringatan Dini Banjir pada gampong sekitar DAS (Daerah Aliran Sungai) berdasarkan alur komunikasi dan koordinasi pemerintah bekerjasama dengan masyarakat gampong.Gambar 3-2: Sistem Peringatan Dini Banjir di Daerah Aliran Sungai3.6.2 Prosedur Tetap Banjir Berbasis Masyarakata. PengertianProsedur Tetap atau Protap Banjir Berbasis Masyarakat merupakan sebuah pedoman atau panduan bagai seluruhmasyarakat gampong dalam melakukan tindakan atau respon terhadap banjir baik sebelum, pada saat dansetelah banjir. Protap akan membantu bahkan memandu masyarakat dalam melakukan respon terhadapbencana banjir. 20Aceh Nias Sea Defence, Flood Protection, Escapes and Early Warning ProjectBRR Concept Note / INFRA 300GISea Defence Consultants
  23. 23. Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009Protap berbasis masyarakat ini berarti protap yang dirancang dan disusun oleh masyarakat berdasarkanpengalaman dalam merespon banjir selama ini. Hal ini diharapkan bisa berperan dalam mengurangi risikoterhadap banjir minimal sebelum bantuan datang atau pihak pemerintah sampai di lokasi bencana.Biasanya prosedur tetap ini akan mencakup 3 bidang yaitu: sistem peringatan dini (sudah dibahas sebelumnya),sistem evakuasi dan tanggap darurat (akan di bahas di bagian ini) dan sistem distribusi logistik. Sistem distribusilogistik tidak dibahas secara mendalam dalam buku manual ini karena sistem distribusi logistik lebih banyakdiperankan oleh pemerintah yang lebih tinggi dari gampong. Hanya saja masyarakat menyiapkan sistem logistikkeluarga dalam mengantisipasi kebutuhan logistik selama di pengungsian.b. TujuanMerancang prosedur tetap banjir berbasis masyarakat berdasarkan pengalaman masyarakat untuk dijadikanpanduan gampong dalam mengatasi risiko banjir.c. Rencana Bahasan • Kumpulkan semua bahan atau informasi yang dibutuhkan. Pada bagian ini yang data atau informasi yang diperlukan adalah monografi/profil gampong untuk mengetahui arah arus sungai, batas gampong dan sarana atau fasilitas gampong, peta atau sketsa risiko banjir untuk mengetahui daerah rawan banjir atau genangan, tempat evakuasi dan jalur evakuasi serta analisa kelembagaan untuk mengetahui jalur koordinasi dan komunikasi yang sudah dan selama ini dibangun. • Buat ketiga lembar kerja seperti tabel di bawah ini: (Ketiga tabel tersebut dipisahkan menurut situasi atau status yang ada yaitu: jika akan terjadi bencana, saat bencana terjadi dan setelah bencana terjadi untuk mempermudah proses pemisahan tindakan yang harus dilakukan dan pembagian peran dari berbagai pihak) Sebelum Banjir Kondisi Lokasi Para Pihak Tindakan Keterangan Saat Banjir Kondisi Lokasi Para Pihak Tindakan Keterangan Setelah Banjir Kondisi Lokasi Para Pihak Tindakan Keterangan • Untuk mempermudah proses pengelompokan dan pengisian tabel dibantu dengan beberapa pertanyaan sebagai berikut: 21Aceh Nias Sea Defence, Flood Protection, Escapes and Early Warning ProjectBRR Concept Note / INFRA 300GISea Defence Consultants
  24. 24. Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009 1. Kondisi alam apa yang diketahui oleh masyarakat yang dapat menjadi tanda akan datangnya bahaya banjir? Kondisi yang dimaksud adalah keadaan cuaca, misalnya hujan terus menerus selama 2 hari atau ketinggian air sungai sudah naik 30 cm. 2. Dimana lokasinya? (misalnya hulu sungai dusun A atau di tikungan tempat pertemuan 2 anak sungai dll) 3. Siapa saja yang berperan atau melakukan respon? (Misalnya, tim pemantau air, tim siaga bencana gampong, keucik, kaum ibu dan sebagainya) 4. Apa saja yang dilakukan oleh para pihak tersebut, misalnya: tim pemantau air melaporkan kondisi air ke keucik, kaum ibu menyiapkan logistik, kaum muda menolong kaum rentan dan seterusnya. Isikan dalam kolom tindakan! 5. Kolom keterangan diisi jika ada hal-hal penting yang mendukung tabel tersebut agar lebih informatif dan mudah dipahami lebih lanjut sementara belum tertuang di keempat kolom sebelumnya. • Semua pertanyaan dilakukan di ketiga tabel tersebut yang dibedakan berdasarkan situasi atau status yang ada. Untuk mempermudah pembacaan tabel bisa juga dibuatkan dalam bentuk gambar/diagram seperti pada Lampiran 1.3.6.3 Simulasi Banjira. PengertianSimulasi berasal dari bahasa Latin pertengahan abad 17 dari kata simulat yang berarti mengkopi, mewakili,dari kata kerja simulare, dari kata similis yang berarti ‘menyerupai”. Jadi kata simulasi berarti berperanseolah-olah atau menyerupai seperti sebenarnya.Dalam konteks simulasi banjir disini berarti peserta simulasi seolah-olah melakukan evakuasi banjir seakangampong mereka dilanda oleh banjir. Banjir datang menggenai gampong dan masyarakat bereaksi untukmenyelamatkan diri. Biasanya dalam simulasi sudah ditentukan skenario banjirnya. Dari skenario itulahditentukan tindakan yang harus dilakukan oleh masyarakat.Kadang dalam keseharian kata Simulasi, Drill, Exercise disatukan artinya sungguhpun ketiga kata tersebutmemiliki arti yang berbeda. Pada intinya ketiga kata itu digunakan dalam kegiatan kesiagaan menghadapibencana (disaster preparedness).b. Tujuan • Melatih dan membangun kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bahaya banjir • Melakukan uji prosedur tetap di tingkat gampong untuk memperoleh jaminan keterpaduan tindakan.c. Rencana BahasanKegiatan simulasi banjir tingkat gampong dilaksanakan melalui 3 tahap kegiatan, yaitu:1. Koordinasi awal Koordinasi awal adalah kegiatan duduk bersama antar para pihak untuk mencapai kesepakatan dalam hal ini tentang persiapan dan pelaksanaan simulasi evakuasi banjir. Tujuan • Kooordinasi antar para pihak yang terlibat dalam simulasi • Merancang skenario simulasi banjir • Menyusun tugas dan tanggung jawab para pihak yang terlibat dalam simulasi Keluaran • Terbentuknya tim siaga gampong atau panitia pelaksana simulasi evakuasi banjir • Catatan kegiatan dan dokumentasi 22Aceh Nias Sea Defence, Flood Protection, Escapes and Early Warning ProjectBRR Concept Note / INFRA 300GISea Defence Consultants
  25. 25. Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009 Langkah Kerja 1. Cetak dan Pelajari kembali tentang system peringatan dini banjir dan prosedur tetap banjir tingkat gampong. 2. Siapa saja yang berperan selama ini? Maka undanglah para pihak tersebut. 3. Buat rancangan pembentukan tim siaga atau panitia pelaksana berdasarkan tugas dan tanggung jawab berbagai pihak yang selama ini terlibat dalam penanggulangan banjir. 4. Jika diperlukan, segera keucik mengeluarkan surat keputusan yang berisi tentang pembentukan panitia atau tim siaga banjir di gampong agar bisa dilanjutkan di kemudian hari. Contoh struktur organisasi dapat dilihat pada Lampiran 2. 5. Setelah itu adalah merancang skenario simulasi banjir yang melibatkan berbagai pihak terkait dan tim siaga banjir sebagai panitia pelaksana. Contoh skenario simulasi dapat dilihat pada Lampiran 3. 6. Jika sudah disusun skenarionya, susun juga semua bahan dan alat yang akan dipergunakan dalam simulasi. Kerjasama dengan pihak lain memungkinkan untuk melakukan kagiatan ini. 7. Sepakati waktu penyelenggaraan simulasi di dalam ruangan dengan berbagai pihak untuk melakukan uji coba skenario.2. Simulasi dalam Ruangan (Table Top Simulation) Simulation Table Top, yang dimaksudkan sebagai konsolidasi terhadap berbagai aspek, kesepahaman atau kerjasama dan saling pengertian untuk melaksanakan skenario evakuasi banjir pada kegiatan simulasi. Simulasi dilakukan di dalam ruangan dengan menghadirkan berbagai pihak yang terlibat langsung dalam kegiatan simulasi. Metode yang dilakukan adalah dengan bermain peran sesuai dengan sesungguhnya. Tujuan • Melakukan uji prosedur tetap di tingkat pengambil keputusan untuk memperoleh jaminan keterpaduan tindakan. • Melatih para pihak dalam kesiapsiagaan banjir untuk evakuasi banjir. Keluaran • Hasil evaluasi simulasi dalam ruangan Langkah Kerja 1. Cetak skenario evakuasi banjir yang sudah dihasilkan sebelumnya kemudian bagikan kepada seluruh peserta yang bermain peran. 2. Praktekan semua urutan scenario oleh semua para pihak yang terlibat sesuai dengan perannya masing-masing. 3. Undang beberapa masyarakat sebagai pengamat untuk melihat prosesnya. 4. Evaluasi kegiatan dan perbaiki semua kelemahan. 5. Persiapkan rencana kegiatan untuk simulasi langsung di lapangan. Kapan waktunya, siapa yang akan diundang, berapa masyarakat yang akan terlibat, peralatan apa saja yang dibutuhkan, apakah perlu bekerjasama dengan pihak lain, misalnya: PMI untuk tim kesehatan, RAPI untuk komunikasi dan seterusnya. 6. Tutup acara dan panitia atau tim siaga banjir gampong sudah mulai bekerja untuk mempersiapkan kegiatan selanjutnya3. Simulasi langsung di lapangan (Latihan evakuasi) Pelatihan simulation evakuasi banjir, terdiri dari : start, jalur evakuasi dan tempat evakuasi, peran dari para pihak, yang terdiri dari Tim Siaga Banjir, Tagana, BMKG, Geuchik, Muspika, Puskesmas, Satlak PB., hingga air mulai surut dan penduduk kembali ke desa. Tujuan Melatih dan membangun kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bahaya banjir Melakukan uji prosedur tetap di tingkat gampong untuk memperoleh jaminan keterpaduan tindakan 23Aceh Nias Sea Defence, Flood Protection, Escapes and Early Warning ProjectBRR Concept Note / INFRA 300GISea Defence Consultants
  26. 26. Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009 Keluaran Para pemangku kepentingan mengetahui tugas & kewajiban masing-masing dalam menghadapi banjir. Evaluasi terhadap Standard Operation Procedure (SOP) atau Prosedur Tetap (Protap) Banjir. Target Penduduk gampong sekitar daerah aliran sungai Group Langkah 1. Panitia atau tim siaga mempersiapkan pelaksanaan simulasi evakuasi banjir. Kerja 2. Para pihak memperhatikan semua skenario dan hasil evaluasi simulasi di dalam ruangan. 3. Acara dimulai dan skenario banjir mulai diperagakan. Semua pihak terlibat yang berperan menjalankan kegiatan sesuai dengan petunjuk yang telah disepakati. 4. Tindakan dilakukan dari kondisi sebelum banjir, saat banjir dan setelah banjir sampai pada kondisi masyarakat kembali ke rumah masing-masing. 5. Evaluasi kegiatan sebagai masukan untuk kegiatan selanjutnya dan memperbaiki prosedur tetap menjadi lebih baik. Kebutuhan Alat pengeras suara (toa mesjid, kentongan, dst), peralatan kesehatan dan P3K peralatan serta obat-obatan, kebutuhan makan atau dapur umum untuk logistic peserta (bisa dimaksimalkan kemandirian masyarakat gampong), alat atau rambu-rambu penyelamatan, tenda di tempat pengungsian (jika tidak ada tempat terlindung atau hanya lapangan), perahu karet (jika ada), alat komunikasi lainnya yang biasa dan dimiliki oleh masyarakat gampong seperti: HP, HT atau lainnya.3.6.4 Penerapan Infrastruktur Dalam Mitigasi Banjira. PengertianMitigasi adalah serangkaian upaya mengurangi risiko bencana baik secara struktural melaui pembuatanbangunan fisik maupun non-struktural melalui pendidikan, pelatihan dan lainnya. Mitigasi yang bersifatstruktural akan lebih efektif jika dipadukan dengan program pembangunan daerah khususnya di daerah rawanbencana. Dengan begitu program atau bangunan fisik yang dibuat akan bersifat berkelanjutan danberkesinambungan.Proses mitigasi banjir struktural biasanya membutuhkan kerjasama dari berbagai pihakbaik dari sisi teknismaupun anggaran. Peran masyarakat disini bisa saja sebagai perancang mapun pelaksana dan biasanya untukskala kecil. Sebagai contoh beberapa gampong di Aceh membuat bronjong dengan menggunakan bambu ataumemanfaatkan dana PNPM untuk mengatasi risiko banjir. Penanaman pohon atau tanaman di sepadan sungaibisa juga dilakukan oleh masyarakat.Jika mitigasi struktural ini dilakukan dengan skala besar maka alternatif pemecahaannya bisa dengan bersama-sama pemerintah merencanakan program pembangunan tersebut. Perencanaan akan lebih efektif jikamasyarakat lebih agresif mengajukannya dan pemerintah lebih leluasa untuk memberikan peluang bagimasyarakat dalam menyusun penerapan infrastruktur pada mitigasi banjir.b. Tujuan • Masyarakat dapat menyusun rencana pengurangan risiko bencana banjir tentang mitigasi yang bersifat struktural. • Masyarakat tahu proses penerapan infrasturktur yang penting sebagai langkah mitigasi banjir sehingga dampak risiko banjir dapat dikurangi.c. Rencana Bahasan • Pada bagian ini sebenarnya dimulai dengan membahas permasalahan yang terjadi dalam mengurangi risiko banjir kemudian bersama-sama mengeluarkan solusi atau upaya yang bisa dilakukan untuk mengurangi masalah tersebut. • Setelah keluar semua masalah dan solusinya kemudian kelompokkan berdasarkan struktural maupun non struktural. 24Aceh Nias Sea Defence, Flood Protection, Escapes and Early Warning ProjectBRR Concept Note / INFRA 300GISea Defence Consultants
  27. 27. Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009 • Tabel berikut akan membantu rencana bahasan tersebut: No Masalah Upaya yang dilakukan Kelompok Mitigasi • Untuk mempermudah proses selanjutnya beri keterangan lainnya tentang rencana kerjasama dengan pihak lain. Misalnya dengan pemerintah melalui SKPD-nya (Satuan Kerja Pemerintah Daerah) seperti: Dinas Pengairan, Dinas Pertambangan dan seterusnya. • Tutup dan lanjutkan dengan proses membuat rencana gampong pada Bab selanjutnya. 25Aceh Nias Sea Defence, Flood Protection, Escapes and Early Warning ProjectBRR Concept Note / INFRA 300GISea Defence Consultants
  28. 28. Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009 4M EMBUAT RENCANA GAMPONG4.1 PENGANTARPerencanaan adalah proses menentukan jenis-jenis atau rangkaian kegiatan atau program berserta metode danstrategi pelaksanaanya agar tujuan yang hendak dicapai bisa terwujud.Rencana Gampong merupakan inti dari respon atau tindakan yang biasa dan akan dilakukan oleh masyarakatjika terjadi banjir. Hal ini menjadi penting jika didasarkan akan kebutuhan dan kepentingan dari semua pihakterutama masyarakat gampong sebagai kelompok rentan yang langsung terkena dampak banjir.Rencana Aksi Gampong bisa didasarkan akan upaya struktural dan non struktural yang dapat dirangkai menjadisebuah tindakan terpadu dalam rangka mengurangi risiko banjir pada masyarakat gampong di lokasi rawanbanjir. Upaya penyusunan rencana aksi gampong merupakan upaya masyarakat dalam kesiapsiagaan danmitigasi terhadap banjir.4.2 TUJUAN • Masyarakat bisa menyusun RAG PRB-BM secara mandiri • Masyarakat mampu membuat langkah-langkah dalam melaksanakan rencana tersebut4.3 KELUARAN YANG DIHARAPKANAdanya Rencana Aksi Gampong dalam Pengurangan Risiko Banjir Berbasis Masyarakat yang menjadi bagian dariRencana Pembangunan Jangka Menengah Gampong4.4 METODE DAN MEDIA • Diskusi Formal/Pertemuan Gampong/Duek Pakat • Musyawarah Perencanaan Pembangunan (MUSRENBANG) Tingkat Gampong4.5 BAHAN DAN ALAT • Bahan yang digunakan: Hasil pemetaan bencana banjir gampong dan pengkajian risiko banjir, Format MUSRENBANG Gampong, Lembar kerja • Alat Tulis, seperti : kertas plano, kertas HVS, spidol warna (besar dan kecil)4.6 FOKUS DAN RENCANA BAHASANPembuatan rencana gampong dilaksanakan dengan 4 rencana (langkah) pembahasan, yaitu:1. Tampilkan tabel tersebut dan masukkan semua kegiatan yang berhubungan dengan pengurangan risiko banjir kemudian isikan semua tabel tersebut untuk mempermudah pengajuan program. Buat serinci mungkin.2. Jika mengalami kesulitan ajak seseorang yang bisa menuliskan dan mengisi tabel tersebut untuk mempermudah prosesnya. 26Aceh Nias Sea Defence, Flood Protection, Escapes and Early Warning ProjectBRR Concept Note / INFRA 300GISea Defence Consultants
  29. 29. Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009 No Kegiatan Hasil yang Para pihak yang terlibat Waktu Keterangan diharapkan dan bertanggung jawab3. Kemudian pilih kegiatan atau program yang menjadi prioritas Gampong untuk menjadi target utama bisa diimplementasikan. Dan legitamasikan usulan tersebut dengan dikeluarkannya surat keterangan atau persetujuan dari pihak Gampong sebagai usulan Gampong. Baiknya sampai dikeluarkan kesepakatan bersama dalam mendukung pembangunan pedesaan. Jika sudah masuk dalam proses pembangunan maka dimungkinkan bersifat berkelanjutan.4. Lalu masukkan ke dalam format pengajuan usulan tersebut. Sebagai contoh untuk diajukan ke dalam MUSRENBANG maka tabel berikut bisa membantu proses pengisian sesuai dengan format yang akan diajukan. Konsultasikan kembali dengan pihak kecamatan dan Bappeda agar semua lebih jelas dan masyarakat lebih mengerti prosesnya. Program/ Bidang RPJMG/ Indikator Volume Biaya Kegiatan SKPD Keberhasilan Sumber Jumlah Infrastruktur 1. Pembuatan Mitigasi PU Penyelamatan 200 m APBD 100.000.000 Jalur Evakuasi masyarakat Social Budaya 1. Penyuluhan Mitigasi Kesbang Masyarakat 2 kali APBD 20.000.000 Kesiapsiagaan Terlatih PMI Bencana Swadaya Catatan : Isi tabel merupakan contoh pengisian sajaStrategi pengajuan program akan dibahas dalam Bab V sekaligus berbicara tentang mencari peluang anggaran.Kerjasama antar para pihak baik pemerintah maupun masyarakat merupakan ujung tombak pelaksanaankegiatan pengurangan risiko banjir. 27Aceh Nias Sea Defence, Flood Protection, Escapes and Early Warning ProjectBRR Concept Note / INFRA 300GISea Defence Consultants
  30. 30. Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009 5M ENCARI PELUANG ANGGARAN5.1 PENGANTARAnggaran menjadi penting dalam mendukung pelaksanaan program sehingga perlu dicarikan alternatifpendanaan, apalagi untuk program yang membutuhkan dana yang cukup besar. Pembangunan infrastrukturdalam mitigasi banjir seperti pembuatan bronjong/tebing sungai, jembatan dan seterusnya membutuhkandukungan anggaran yang besar dan keahlian khusus. Kerjasama dengan pihak pemerintah dalam prosespembangunan menjadi alterntif pemecahan masalah.Masyarakat juga diharapkan bisa membangun upaya kemandirian atau keswadayaan dalam mengatasi persoalanbencana banjir. Tentu saja disesuaikan dengan kemampuan dan potensi dari masyarakat gampong. Minimalsebagai alternatif pencegahan atau mitigasi dengan skala kecil untuk mengurangi risiko akibat banjir.5.2 TUJUAN • Masyarakat bisa menyusun dan mencari peluang anggaran dalam melaksanakan program pembangunan tentang pengurangan risiko bencana banjir di tingkat gampong5.3 KELUARAN YANG DIHARAPKANAdanya dukungan pendanaan dari berbagai pihak terkait sehubungan dengan program pengurangan risiko banjirdi tingkat gampong5.4 METODE YANG DIGUNAKAN • Pengumpulan Data Sekunder Kegiatan ini dilakukan oleh pengurus gampong dan para tokoh masyarakat yang biasanya memiliki informasi tentang program-program pembangunan yang sedang dan akan berjalan berikut informasi tentang anggarannya. Semua informasi diidentifikasi dan dipelajari untuk mengetahui peluang anggaran. Tabel di bawah ini membantu proses pengumpulan informasi tersebut: No Kegiatan Nama Program Sumber Tahun Jumlah Kontak/Alamat Biaya Anggaran • Kunjungan kelembagaan dan Diskusi Infromal Kunjungan kelembagaan dilakukan untuk mencari informasi lebih detail tentang cara dan format pengajuan agar sesuai dengan standar penulisan dan pengajuan anggaran. Kontak person menjadi penting untuk memperlancar komunikasi selanjutnya. Diskusi informal merupakan salah satu cara yang cukup efektif dengan kontak person. 28Aceh Nias Sea Defence, Flood Protection, Escapes and Early Warning ProjectBRR Concept Note / INFRA 300GISea Defence Consultants
  31. 31. Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009 • Loby dan Advokasi Proses pengawalan program atas semua program yang diajukan menjadi ujung tombak untuk mendapatkan peluang anggaran. Mengetahui seluk beluk program dan anggaran menjadi bahan penting dalam melakukan loby dan advokasi. Jika masyarakat mengalami kesulitan untuk melakukan loby dan advokasi, menemui beberapa tokoh penting dan ahli/teknis untuk membantu proses pengawalan menjadi langkah alternatif yang cukup efektif dalam mencapai tujuan. Keikutsertaan masyarakat dalam proses pengawalan merupakan upaya peningkatan atau pemberdayaan masyarakat itu sendiri.Secara garis besar alur proses atau langkah kerjanya adalah sebagai berikut: Kumpul Data Analisis Data Kemas Isu Diskusi Cari Tokoh Kunci Loby dan Advokasi Membangun komitmen5.5 BAHAN DAN ALAT • Bahan yang digunakan, seperti: hasil musyawarah gampong tentang program yang akan diajukan berdasarkan hasil kesepakatan, format dan cara pengajuan anggaran. • Alat Tulis dan Kantor.5.6 FOKUS DAN RENCANA BAHASANSecara umum rencana aksi gampong yang akan diajukan, kemudian ditentukan anggaran dan peluang sumberpendanaannya. Tabel berikut akan mempermudah proses pengelompokan sumber pembiayaan berdasarkankegiatan atau program kerja. No Nama Jenis Kegiatan Besarnya Tahun Sumber Biaya Program Anggaran AnggaranDari proses pembelajaran SDC dengan masyarakat minimal ada 3 kelompok sumber pembiayaan yaitu sebagaiberikut:5.6.1 Dana Swadaya MandiriDana yang dimaksud adalah untuk kelompok yang bisa dilakukan secara swadaya oleh Gampong. Contohprogramnya seperti: gotong royong pembersihan saluran sungai, penyediaan logistik untuk tingkat keluarga,pengadaan penyuluhan tentang pengelolaan risiko banjir, simulasi tingkat gampong atau pertemuan gampongdan lain-lain. 29Aceh Nias Sea Defence, Flood Protection, Escapes and Early Warning ProjectBRR Concept Note / INFRA 300GISea Defence Consultants
  32. 32. Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009Sumber dana mandiri ini bisa berasal dari sumbangan sukarela masyarakat gampong. Berdasarkan hasil kajianSDC misalnya, di Langsa salah satu Gampong mempunyai tabungan siaga bencana untuk mengatsi permasalahanbanjir yang sering terjadi di Langsa. Hal ini bisa menjadi contoh dalam membangun keselamatan danperlindungan secara mandiri. Tabungan tersebut selama ini dipergunakan untuk mengatasi logistik minimalsebelum datang bantuan lainnya.Dana Alokasi Gampong juga bisa dipergunakan untuk program pengurangan risiko banjir sejauh programtersebut untuk kepentingan bersama. Keswadayaan masyarakat merupakan upaya kesiapsiagaan masyarakatyang murni dan paling berhasil karena seperti diketahui bahwa risiko dan dampak banjir diterima langsung olehmasyarakat sekitar lokasi rawan bencana.5.6.2 MusrenbangHasil kajian pengelolaan risiko banjir telah mengeluarkan respon (aksi) dari masyarakat dalam mengatasi risikobanjir baik dari sisi struktural maupun non-struktural. Respon masyarakat tersebut dirumuskan menjadi bagiandari rencana aksi masyarakat (gampong) dalam pengurangan risiko bencana yang kemudian dijadikan bagiandari perencanan pembangunan melalui MUSRENBANG baik dari tingkat gampong, kecamatan maupun kabupatenbahkan provinsi dan nasional jika diperlukan.Musyawarah Perencanaan Pembangunan (MUSRENBANG) sesuai dengan Undang – Undang No.25 Tahun 2004Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional mempunyai kedudukan yang sangat strategis dalam rangkaperencanaan pembangunan mulai dari tingkat gampong, kecamatan, kabupaten, propinsi, hingga nasional.Musrenbang merupakan Forum Antar Pelaku Pembangunan dalam rangka menyusun perencanaan partisipatifyang terpadu dan berkelanjutan dengan mengedepankan koordinasi antar unsur terkait dengan konsistensiantara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan pembangunan.Kegiatan dimulai dengan mencari format musrenbang gampong. Informasi ini bisa didapatkan di kecamatan atauBappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah). Mintalah beberapa saran dari pihak kecamatan atauBappeda. Jika memungkinkan cari informasi teknis tentang kegiatan.Alur kegiatan pengelolaan risiko banjir dalam MUSRENBANG dapat dilihat pada gambar berikut ini: Usulan Program Penentuan Program Prioritas Gampong Loby dan Lokakarya Pemangku Kemas Isu Diskusi Negosiasi Kepentingan Cari Tokoh Kunci Komitmen Bersama Pengaruhi Publik melalui MUSRENBANGLangkah-langkah kegiatannya adalah:1. Identifikasi Masalah dan Mengkaji PRB dalam hal ini FRM dan Musrenbang di berbagai level administrasi pemerintahan, dengan melakukan: Pengumpulan data (laporan, hasil musrenbang, rencana gampong, rencana strategis dan hasil musrenbang kecamatan sebelumnya dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah/Kabupaten-RKPD, hasil musrenbang kabupaten tahun lalu, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten-RPJMD dst) dan wawancara dengan pihak gampong (tokoh atau keucik), kecamatan (camat/sekcam atau PMD), kabupaten (Satlak, Bappeda) dan beberapa NGO atau media yang bergerak di bidang perencanaan pembangunan dan Pengurangan Risiko Bencana (PRB). 30Aceh Nias Sea Defence, Flood Protection, Escapes and Early Warning ProjectBRR Concept Note / INFRA 300GISea Defence Consultants
  33. 33. Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 20092. Membangun kesepakatan dan kegiatan loby • Merubah rencana aksi dalam format musrenbang (acuan musrenbang gampong) • Konfirmasi dan legitimasi tingkat gampong untuk melahirkan program prioritas • Hadir dan loby dalam musrenbang kecamatan Legitimasi (Berita acara) • Diskusi Forum SKPD dan Konfirmasi ulang di masing2 SKPD • Sosialisasi dan lobby eksekutif (Bupati/wakil) • Konsolidasi tingkat kabupaten (Kesepakatan bersama3. Partisipasi aktif dari masyarakat gampong melalui tokoh-tokoh kunci dengan pengawalan dari pengurus gampong bekerjasama dengan pihak kecamatan menjadi ujung tombak keberhasilan program dapat diimplementasikan.4. Lembaga teknis, pemerintah daerah baik eksekutif maupun legislatif harus menjadi target masyarakat gampong dalam menyampaikan semua usulan agar mendukung program yang diusulkan. Jika diperlukan kerjasama dengan tim teknis dan media dalam menyebarluaskan kepentingan dan kebutuhan akan program pengurangan risiko banjir.5.6.3 Kerjasama Dengan Pihak KetigaTitik masuk kerjasama dengan pihak ketiga baik melalui program-program pemerintah yang sedang berjalan(PNPM, P2DT, PPK dan seterusnya) ataupun program NGO (lokal maupun international) adalah mengetahui fokusatau prioritas program yang ditawarkan dan cara pengajuannya.Buat semua usulan menjadi format pengajuan sesuai dengan lembaga yang akan diajak kerjasama kemudianIkuti proses dan langkah-langkah kerjanya serta aturan mainnya. Jangan lupa catat semua kontak personnyadan jalin hubungan komunikasi yang intensif dengan pihak yang akan diajak kerjasama sebagai langkahpengawalan juga.Selanjutnya loby dan negosiasi untuk membangun komitmen dari berbagai pihak. Lakukan seperti langkah-langkah di awal Bab ini. 31Aceh Nias Sea Defence, Flood Protection, Escapes and Early Warning ProjectBRR Concept Note / INFRA 300GISea Defence Consultants
  34. 34. Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009 6P EMANTAUAN6.1 PENGANTARPemantauan adalah proses mengamati atau mengawasi jalannya kegiatan yang bertujuan untuk mengetahuiperkembangan yang terjadi, apakah sesuai dengan rencana yang diharapkan atau perlunya melakukanpenyesuaian dan mengatasi perubahan-perubahan yang terjadi selama kegiatan berlangsung.Pemantauan merupakan sebuah langkah maju dalam penyusunan rencana tindak atau respon masyarakatterhadap berbagai masalah. Masyarakat berhak mengkritisi program pembangunan sejak masih dalampenyusunan rencana sampai kepada memantau jalannya program pembangunan.Dengan demikian masyarakat gampong tidak hanya sebagai objek pembangunan tetapi turut menjadi aktorpembangunan itu sendiri. Begitu juga dengan kegiatan pengurangan risiko banjir dimana aktor sebenarnyaadalah masyarakat itu sendiri sedangkan pemerintah berkewajiban melindungi masyarakat dan mempermudahproses pengurangan risiko banjir melalui peraturan, kebijakan yang dikeluarkan dan kegiatan pembangunan fisikyang menggunakan fasilitas dan anggaran pembangunan.6.2 TUJUANMasyarakat bisa memantau program yang diusulkan dan mengevaluasi program yang dilakukan oleh pemerintahdalam program pengurangan risiko banjir.6.3 KELUARAN YANG DIHARAPKANAdanya pemutahiran data dan rencana tindak lanjut secara berkala dan berkelanjutan.6.4 METODE YANG DIGUNAKANDiskusi dan Pemantauan di Lapangan6.5 BAHAN DAN ALAT • Bahan yang digunakan: Hasil pemetaan bencana banjir gampong dan pengkajian risiko banjir, Laporan- laporan pendukung, misalnya laporan pembangunan pedesaan, RPJMG, RPJM Kabupaten, Hasil musrenbang tingkat gampong, kecamatan maupun kebupaten, laporan program dan seterusnya. • Alat Tulis Kantor.6.6 FOKUS DAN RENCANA BAHASANKegiatan ini bisa dilakukan oleh masyarakt secara umum dan minimal dilakukan oleh aparatur gampong atautokoh masyarakat. Pemantauan dilakukan dengan memperhatikan temuan dan fakta yang sudah dan sedangdibuat agar berjalan dengan baik. Masyarakat gampong bisa lebih kritis dan memberikan saran untukkeberlanjutan program ke arah yang lebih baik. Biasanya proses pemantauan minimal dapat dilakukan melalui 3tahapan, yaitu: 32Aceh Nias Sea Defence, Flood Protection, Escapes and Early Warning ProjectBRR Concept Note / INFRA 300GISea Defence Consultants
  35. 35. Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 20096.6.1 Pemutahiran DataPemutahiran data yang dimaksud adalah agar semua data dan informasi terkumpul dengan baik dan selalu diperbaharui dengan data terbaru. Hal ini dilakukan sebagai upaya gampong dalam mempelajari peristiwa banjiratau bencana lainnya sekaligus agar keberlanjutan dan kesinambungan program pengurangan risiko bencanatetap berjalan dengan baik.Caranya adalah melalui penyusunan hasil data, laporan dan hasil-hasil lainnya menjadi arsip gampong yangselalu diperbaharui data jika terjadi perubahan yang signifikan. Misalnya dalam sejarah banjir, data yang dibuatsampai 2008 sementara di akhir tahun 2008 terjadi kembali banjir dan datanya perlu ditambahkan dalamlaporan atau informasi yang pernah dibuat. Atau mungkin pada saat pembuatan prosedur tetap banjir, tim siagabanjir gampong belum terbentuk dan sekarang sudah disyahkan maka bisa ditambahkan informasi tersebutdalam laporan atau informasi gampong.6.6.2 Pelaksanaan PemantauanUmumnya masyarakat sangat minim dalam melakukan pemantauan untuk pelaksanaan program-programpembangunan. Kadangkala hal ini disebabkan karena masyarakat belum siap atau berani memberikan kritik dansaran secara langsung kepada pemerintah atau pelaksana program.Data dan informasi yang dipunyai masyarakat juga minim sehingga menyebabkan masyarakat tidak terlalupercaya diri dalam melakukan pemantauan secara langsung. Padahal masyarakat berhak untuk memberikankritik dan saran atas keberlangsungan program pembangunan karena masyarakat adalah salah satu pemanfaatproses pembangunan.Tahapan yang dilakukan adalah dengan mempelajari usulan programnya, siapa yang melakukan programnya danbisa juga dari sisi keuangan program. Masyarakat dapat juga melakukan konsultasi dengan pihak lain yangmengerti dan paham dkan proses pemantauan. Dari sini diharapkan kegiatan pemantauan bisa terus dilakukanoleh masyarakat.Proses yang juga penting adalah proses pelaporan. Kepada siapa laporan tersebut diajukan serta pengumpulandan pengemasan informasi dalam pengajuan laporan menjadi bagian yang harus diketahui oleh masyarakat.6.6.3 Rencana Tindak LanjutRencana Tindak lanjut merupakan bagian penting dalam melakukan pemantauan. Hal ini sebagai langkahkongkrit dalam melakukan pemantauan. Siapa mengerjakan apanya serta kapan waktu yang tepat akanmenjawab proses pemantauan tersebut. Tabel berikut akan membantu penyusunan rencana tindak lanjut.Makin rinci tindakan dilakukan makin nyata atau kongkit kegiatan pemantauan dilakukan. No Tindakan Nyata Penanggung Jawab WaktuDukungan dan keterbukaan dari berbagai pihak termasuk masyarakat menjadi kunci keberhasilan programpembangunan. Kritik dan saran yang disampaikan menjadi lebih relevan jika didukung data dan informasi yangjelas dan rinci. 33Aceh Nias Sea Defence, Flood Protection, Escapes and Early Warning ProjectBRR Concept Note / INFRA 300GISea Defence Consultants
  36. 36. Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009 COLOPHON Name of organisation Sea Defence Consultants Aceh Nias Sea Defence, Flood Protection, Escapes and Early Warning Name of project Project, (BRR Concept Note / INFRA 300GI) Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Title of document Masyarakat Registration number SDC-R-90139 Document version November 2009 Author Vivi Asmara, Puger Suryono Contributors Team leader Bram van der Boon 34Aceh Nias Sea Defence, Flood Protection, Escapes and Early Warning ProjectBRR Concept Note / INFRA 300GISea Defence Consultants
  37. 37. Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009 LIST OF APPENDICESAppendix A Prosedur Tetap Banjir Berbasis Masyarakat ..............................36Appendix B Contoh struktur organisasi ‘gampong siaga banjir’......................37Appendix C Contoh Skenario Evakuasi Banjir............................................38 35Aceh Nias Sea Defence, Flood Protection, Escapes and Early Warning ProjectBRR Concept Note / INFRA 300GISea Defence Consultants
  38. 38. Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009 Appendix A PROSEDUR TETAP BANJIR BERBASIS MASYARAKAT1 ( KASUS DI GAMPONG SEULIMEUM KECAMATAN SEULIMEUM KABUPATEN ACEH BESAR) Penduduk Seulimum Kembali ke Desa Tanda-tanda alam : Suara bergemuruh, badai, hujan yang terus menerus selama 2 hari dan adanya perubahan ketinggian air di sungai Tahap dampak alam Kaum muda dan Orang lansia, cacat, ibu- Kaum bapak / anggota ibu hamil dan anak-anak Kepala masyarakat keluarga Ibu - ibu Memantau ketinggian Bersiap untuk Mengamankan barang-barang air evakuasi berharga dan hewan ternak Melihat banjir yang Pengumuman yang dikeluarkan oleh pak Menyiapkan makanan/pakaian pertama kali datang di Gheucik untuk tinggalbeberapa waktu warung kopi di tempat pengungsian Tidak Ya Penduduk tetap Pengumuman untuk tinggal di mengungsi ke Meunasah h Kaum muda membantu Mengungsikan Kaum ibu bersama anak-anak kelompok rentan hewan ternak mengungsi dengan membawa perbekalan Mengungsi ke Dayah untuk selama 2 hari Menunggu hingga keadaan kembali normal 36Aceh Nias Sea Defence, Flood Protection, Escapes and Early Warning ProjectBRR Concept Note / INFRA 300GISea Defence Consultants
  39. 39. Pengurangan Risiko Bencana Banjir Berbasis Masyarakat, Panduan Untuk Masyarakat, November 2009 Appendix B CONTOH STRUKTUR ORGANISASI ‘GAMPONG SIAGA BANJIR’ Geuchik Seulimum Ketua Tim Siaga Banjir ( TGK. SANUSI ) Kelompok Kelompok Kelompok Kelompok “Peringatan Dini “Evakuasi “P3K” : “Logistik” : Banjir” : Banjir” : − Zamalia − Nasrudin − Hatta − M. Nasir AW − Rahmi − Nazar − A. Hamid − Nurdin − Pustu Desa − M. Yatim − Amrizal − Muhib − Bidan Desa − Ibu – ibu PKK − Akmal − Hendri − Pramuka − Kelompok − Pramuka Pengajian − PMI − PMI 37Aceh Nias Sea Defence, Flood Protection, Escapes and Early Warning ProjectBRR Concept Note / INFRA 300GISea Defence Consultants

×