Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Liwa (Bendera) Dan Rayah (Panji) Rasulullah SAW

1,023 views

Published on

Materi Orasi Masirah Panji Rasulullah. Mapara. Tabligh Akbar. Hizbut Tahrir Indonesia. HTI. pidato, seruan, penjelasan, ceramah, kajian, informasi, negarawan, politikus, politisi, pemerintahan, kekuasaan,

Published in: Government & Nonprofit
  • Be the first to comment

Liwa (Bendera) Dan Rayah (Panji) Rasulullah SAW

  1. 1. 1 LIWA RAYAH: PANJI RASULULLAH SAW (Untuk Pembicara Pertama) Bagian ini menekankan pada dalil penggunaan liwa dan rayah, Serta menekankan bahwa liwa dan rayah bukan visual baru bagi Nusantara. A. Liwa Rayah di Era Nabi Muhammad Saw. - Warna: hadits disampaikan Ibnu Abbas, “Rayah Rasulullah Saw. berwarna hitam, dan liwa-nya berwarna putih.” Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Aisyah, Abu Hurairah, Abdullah bin Buraidah, maupun Rasyid bin Saad. - Tulisan: hadits disampaikan Abu Hurairah dan Ibnu Abbas, “Liwa Nabi Saw. tertulis laa ilaaha illaa Allah Muhammad Rasul Allah.” Mahmud Abbas memperkirakan bahan yang digunakan untuk menulis adalah arang hitam atau jelaga yang dicampur dengan getah pohon. - Bentuk: hadits disampaikan Bara bin al-Azib, “Bendera Rasulullah Saw. berwujud segi empat.” Adapun ukuran rayah adalah sehasta kali sehasta (hasta adalah panjang lengan bawah). Adapun liwa berukuran lebih besar. Bendera itu terbuat dari serban, dan ukuran serban lebih dari sehasta kali sehasta. - Penggunaan dalam peperangan: Liwa berada di dekat pemimpin tertinggi atau wakilnya; rayah digunakan untuk komandan bagian. Dalam bahasa militer modern, Abdul Qadim Zallum menyatakan, liwa untuk menandakan komandan resimen, sedangkan rayah dibawa komandan batalion. Dengan demikian, pada sebuah peperangan hanya terdapat sebuah liwa dan dimungkinkan ada beberapa rayah. Ini sesuai dengan hadits yang disampaikan oleh Harits bin Hasan al-Bakri ketika Amir bin Ash baru datang dari peperangan, “… saat itu terdapat rayah-rayah berwarna hitam…”. - Kebanggaan pada panji Rasulullah: Membawa panji Islam adalah kebanggaan para sahabat Nabi. Menjelang perang Khaibar, Rasulullah berkata, “Sungguh, aku akan menyerahkan panji ini besok, kepada laki-laki yang dicintai Allah dan Rasul-Nya.” Malam itu, para sahabat tidak dapat tidur, memikirkan siapa di antara mereka yang akan mendapatkannya. - Mempertahankan panji Rasulullah: Sahabat Nabi mempertahankan panji Islam hingga titik darah penghabisan. Semangat itu tergambarkan dalam peristiwa perang Muktah, perang melawan Romawi. Awalnya, liwa dipegang oleh Zaid bin Haritsah hingga ia tewas tertikam tombak musuh. Lalu, bendera itu diambil Ja‟far bin Abu Thalib. Sejurus kemudian, prajurit Romawi mampu memenggal tangan kanannya yang digunakan untuk mengibarkan liwa. Karena tidak ingin bendera itu terjatuh, Ja‟far memindahnya di tangan kiri. Naas, prajurit Romawi kembali menebasnya. Ia tetap saja tidak mau melepaskan bendera Islam, mendekapnya dengan lengan yang berlumuran darah. Melihat hal itu, musuh membelah tubuh pemuda Arab berusia tiga puluh tahun itu. Sahabat Nabi yang lain tidak membiarkan liwa tumbang. Setelah Ja‟far gugur bendera dikibarkan oleh Abdullah bin Ruwahah. Malang, dia juga terbunuh. Akhirnya, bendera perang diambil Tsabit bin Arqam lalu diserahkan kepada Khalid bin Walid yang diangkat sebagai komandan pasukan baru. Dengan gesit panglima baru ini melompat ke kudanya, mendekap bendera itu dan mencondongkan ke depan. - Penggunaan di luar peperangan: Selain itu, bendera Islam tidak selalu digunakan untuk perang, kadang digunakan saat Rasulullah memerintahkan sahabatnya menghukum orang yang melanggar syariah. Ini sebagaimana hadits yang disampaikan Bara bin Azab. Suatu
  2. 2. 2 ketika, dia bertemu pamannya yang tengah membawa bendera dan bertanya tentang tujuannya. Pamannya menjawab, “Aku diutus Rasulullah Saw. untuk memenggal leher seorang pria dan mengambil hartanya karena telah berzina dengan ibu tirinya.” - Catatan 1: Penggunaan bendera putih dan hitam, tanpa tulisan syahadat, terekam dalam film The Message yang disutradarai Mustapha Akkad; film yang diproduksi tahun 1997 ini mengisahkan perjalanan dakwah Nabi Muhammad. Gambar1. Liwa dan rayah dalam film The Message - Catatan: Philip K. Hitti dalam History of the Arabs menyatakan bahwa bendera Nabi bergambar burung elang. Hal ini tidak tepat, karena burung elang, yang dalam bahasa Arab disebut uqab, bukan gambar (tulisan) bendera Rasulullah tapi nama panjinya. Menurut Ibnu Ishaq dalam Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, bendera Nabi yang berwarna hitam ini disebut al-uqab. Hal ini sesuai dengan hadits yang disampaikan Ibnu Asakir dari Abu Hurairah, “Panji Rasulullah… diberi nama al-uqab.” Sebelum Islam, nama al-uqab juga digunakan sebagai nama bendera suku Qurais. Penyamaan bendera dengan burung memang biasa terjadi di Arab, misalnya, dalam syair jahiliyah disebutkan, ”Bendera bagaikan bayangan burung yang beterbangan.” B. Periode Khulafaur Rasyidin - Penggunaan panji hitam pada masa Khulafaur Rasyidin tetap terjaga. Khalid bin Walid, yang diangkat Abu Bakar sebagai panglima perang di Damaskus, membawa rayah. Pejuang Islam yang mendapat gelar Pedang Allah ini juga mengibarkannya ketika memerangi bani Hanifah dan nabi palsu Musailamah. Demikian juga, saat perang Jamal, Ali membawa panji berwarna hitam. - Peniruan terhadap bendera Nabi Muhammd pada masa ini selaras dengan semangat Khulafaur Rasidin dalam menjaga nilai Islam secara murni. Ajaran Nabi Muhammad Saw. diproyeksikan ke segala segi kehidupan. Maka, periode ini juga disebut sebagai Khilafah 'ala minhajin nubuwwah atau „Khilafah yang menempuh metode kenabian‟. Karen Armstrong, orientalis yang tinggal di London, menyebutnya sebagai, “Periode pemerintahan yang sama formatifnya dengan Nabi.” []
  3. 3. 3 C. Nusantara - Model Rayah di Kesultanan Yogyakarta: Salah satu bendera pusaka Kesultanan Yogyakarta berpola rayah. Warna hitam menjadi bagian dari namanya, yaitu Kanjeng Kyai Tunggul Wulung. Dalam bahasa Jawa, tunggul berarti „bendera‟ dan wulung adalah „hitam-kebiruan‟, sedangkan kanjeng kyai merujuk pada „benda yang dikeramatkan‟. Kain bendera ini berasal dari kiswah atau pembungkus Ka‟bah. Salah satu tulisan yang tertera adalah kalimat syahadat. Namun demikian, bendera ini memiliki fungsi yang jauh berbeda dibandingkan dengan bendera Nabi, yaitu untuk mengusir wabah penyakit. Bendera yang dimandikan setiap bulan Suro ini pernah diarak pada 1932 dan 1948 karena tahun tersebut Yogyakarta terserang wabah. Gambar2 Warna hitam pada bendera Kanjeng Kyai Tunggul Wulung dari Kesultanan Yogyakarta - Pola Liwa Rayah di Bendera Kesultanan Cirebon: Kesultanan Cirebon didirikan pada pertengahan abad ke-16 oleh Nurullah, ulama Aceh yang kelak dikenal dengan nama Sunan Gunung jati. Benderanya yang berjuluk Macan Ali menampakkan kesamaan pola dengan liwa dan rayah. Salah satunya berwarna dasar putih dengan tulisan hitam, bendera yang lain berwarna dasar hitam dengan tulisan putih. Akan tetapi, bendera yang dibuat dengan teknik batik ini tidak berisi tulisan kalimat syahadat.
  4. 4. 4 Gambar3BenderaKesultanan Cirebon, sepertikombinasiwarnaliwa Gambar4 Bendera Kesultanan Cirebon, seperti kombinasi warna rayah - Syahadat pada bendera Kesultanan Bugis: Kalimat syahadat terdapat pada bendera Kesultanan Bugis. Kalimat persaksian itu ditulis di seputar sisi bendera, mengelilingi gambar orang mengendarai kuda bersayap. Gambar5 Syahadat di sekeliling bendera Kesultanan Bugis - Syahadat di bendera Aceh 1: Kalimat syahadat tanpa kalimat lain, namun dengan gambar pedang, terdapat pada bendera Aceh yang kini disimpan di Museum Negeri Aceh. Gambar6 Kalimat syahadat di bendera pasukan Aceh, kini tersimpan di Museum Negeri Aceh - Pola Warna Liwa Rayah di Bendera Aceh: Ground berwarna keputih-putihan, dengan tulisan berwarna hitam, digunakan pasukan Aceh saat pertempuran melawan Belanda di Singkil dan Barus. Kombinasi warna yang hampir sama juga ada pada bendera Aceh yang direbut Belanda di bawah pimpinan Jendral van Heutz pada pertempuran di BateeIlie 3 Februari 1901, bendera ini sekarang ada di Museum Negeri Banda Aceh.
  5. 5. 5 Gambar7 Bendera Pasukan Aceh dengan ground keputih-putihan dan tulisan hitam Gambar8 Bendera Pasukan Aceh dengan ground keputih-putihan dan tulisan hitam
  6. 6. 6 - Rayah di zaman Jepang: Bendera bertuliskan kalimat syahadat pernah digunakan untuk selubung podium di Masjid Kwitang Jakarta tanggal 24 April 1943. Ketika itu, Abdul Muniam Inada, seorang Muslim dari Jepang, berceramah dalam rangka mencari dukungan Perang Asia Timur Raya. Gambar9 Podium berselubung bendera dengan kalimat syahadat di Masjid Kwitang Jakarta, 24 April 1943

×