Pemaknaan ekonomi kelembagaan

3,392 views

Published on

Published in: Technology, Economy & Finance
1 Comment
2 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
3,392
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
122
Comments
1
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Pemaknaan ekonomi kelembagaan

  1. 1. PemaknaanEkonomiKelembagaan<br />Ekonomi Kelembagaan<br />
  2. 2. Keyakinanbahwakelembagaan (institution) dapatmenjadisumberefisiensidankemajuanekonomitelahditerimaolehsebagianbesarekonom, bahkan yang paling liberal sekalipun.<br />Hinggakinimasihbelumterdapatkejelasanmengenaimaknadandefinisidarikelembagaan.<br />Banyakekonom yang mendefinisikankelembagaandenganperspektif yang beranekaragam.<br />Multiragamdefinisiinidikhawatirkanakanmenimbulkankekaburanterhadapkonsepkelembagaanitusendiri.<br />Perluadanyaperumusansecaradefinitifpengertiankelembagaansehinggamendonorkanpanduanbagisiapapun yang berminatuntukmengkajinya.<br />
  3. 3. PerilakudanNilai-nilai Fundamental Manusia<br />Dalamkajianhistoris, akardariteorikelembagaansesungguhnyasudahdimulaisejak lama.<br />Terutamaahlikelembagaandaritadisi AS (American Institutionalist Tradition) seperti:<br />Thorstein Veblen, Wesley Mitchell, John R. Commons, Clarence Ayres<br />Di sampingituadajugavarian lain yang melekatpadaekonomklasikmisalnya:<br />Adam Smith dan John Stuart Mill; Karl Marx, danaliran Marxian lainnya<br />Mazhab Austria sepertiMenger, von Wieser, dan Hayek; Schumpeter<br />Dan tokohneoklasikkhususnya Marshall<br />
  4. 4. Tradisi yang pertama (American institutionalist tradition) kemudiandikenalsebagai “IlmuEkonomiKelembagaan Lama”.<br />Sedangkan yang berikutnya, umumnyadipandangsebagaikelanjutandanperluasandarielemen-elemenkelembagaan yang ditemukandalamaliranekonomkiklasik, neoklasik, danmazhab Austria; biasanyadisebutsebagai: “IlmuEkonomiKelembagaanBaru”<br />Penggunaanistilah “lama” dan “baru” tidakberarti yang lama telahmatidantidakdigunakanlagi, melainkanlebihdalamkontekspembedaantradisiberpikirdankonsentrasiisu.<br />Istilah “New Institutional Economics” diambildari Oliver Williamson (1975). Biasanyadisebutdengan “Mathematical Institutional Economics”, “Theoritical Institutional Economics”, “Modern Institutional Economics” dan “Neo-Institutional Economics” (Shubik, 1975; Schotter, 1981; Coase, 1984) [Rutherford, 1994]<br />
  5. 5. Menyangkutekonomikelembagaan lama sebagianbesarbersumberdariduaproyekpenelitian.<br />PenelitianpertamadipeloporiolehThorstein Veblen (yang kemudiandikembangkandandimodifikasioleh Clarence Ayres)<br />Penelitiankeduadipanduoleh John R. Commons<br />
  6. 6. Veblen memusatkanperhatiannyapadadikotomiantarabisnisdanaspek industrial dalamperekonomian – yang selanjutnyafokuskajianinimengembangkandikotomiantarakelembagaandanteknologi.<br />Dalampenjelasan yang lebihmendalam, risetinidifokuskankepadainvestagiefekteknologibaruterhadapskemakelembagaan, sertamendeskripsikanbagaimanakesepakatan-kesepakatansosial (social conventions) dankelompokkepentingan (vested interest) dimapankanuntukmenolakperubahan.<br />Idetersebutseringdisandingkandenganpandangantentangstrukturekonomi modern yang melihatkekuasaanpolitikdanekonomidarikepentingankorporasibesar.<br />
  7. 7. Commons lebihberkonsentrasikepadahukum, hakkepemilikan (properti rights), danorganisasi yang memilikiimplikasiterhadapkekuatanekonomi, transaksiekonomi, dandistribusipendapatan.<br />Di sini, kelembagaandilihatsebagaipencapaiandariproses formal dan informal dariresolusikonflik.<br />Jikakonfliktersebutbermuarakepadapenciptaan (perubahan) kelembagaan yang memiliki ‘nilaiyang masukakal’ (reasonable value) ataumenghasilkan ‘iramakerja yang salingmenguntungkan’ (workable mutually), makadapatdikatakanprosestersebuttelahberhasil. Demikiansebaliknya.<br />
  8. 8. Kesulitanterbesardalammenjelaskanilmuekonomikelembagaanadalahpada<br />saatmendefinisikankelembagaanitusendiri.<br />Untukmemudahkan, kadang-kadangkelembagaandipandangsebagaikerangkahukumatauhak-hakalamiah (natural rights) yang mengaturtindakanindividu.<br />Padasaat lain kelembagaandimengertisebagaiapa pun yang bernilaitambahanataukritikterhadapilmuekonomiklasikatauhedonik (hedonic economics).<br />Bahkan, kelembagaanjugadimaknaisebagaiapa pun yang berhubungandengan ‘perilakuekonomi’ (economics behavior)<br />
  9. 9. Lebihrumitlagi, apa pun yang berupayauntukmenghadapkanhal-hal yang ‘dinamis’ denganh ‘statis’, ‘proses’ dengan ‘komoditas’, kegiatandenganperasaan, tindakankolektifdenganindividu, manajemendengankeseimbangan, danpengawasandengankebebasan; dilihatsebagaiekonomikelembagaan.<br />Namun, seperti yang dikonsepkanolehBardhan (1989:3), kelembagaanakanlebihakuratbiladidefinisikansebagaiaturan-aturansosial, kesepakatan (conventions), danelemen lain laindaristrukturkerangkakerjainteraksisosial.<br />
  10. 10. Secaradefinitif, kelembagaandapat pula dimaknaisebagairegulasiperilaku yang secaraumumditerimaolehanggotakelompok-kelompoksosial.<br />Baik yang dapatdiawasisendirimaupundimonitorolehotoritasluar (External Authority) [Rutherford, 1994:1].<br />Manig (1991:18) mencatatbahwakelembagaanmerefleksikansistemnilaidannormadalammasyarakat.<br />Ekspresilainnya, North (1994:360) memaknaikelembagaansebagaiaturan-aturan yang membatasiperilakumenyimpangmanusiauntukmembangunstrukturinteraksipolitik, ekonomidansosial.<br />
  11. 11. Melaluirentetansejarah, kelembagaan yang dapatmeminimalisasiperilakumanusia yang menyimpangtelahberhasilmenciptakanketertibandanmengurangiketidakpastiandalammelakukanpertukaran.<br />Dalamkonteksinikelembagaanmemilikitigakomponen, yakni:<br />Aturan Formal (Formal institutions)<br />Aturan Informal (Informal institutions)<br />MekanismePenegakan (enforcement mechanism)<br />
  12. 12. Aturan formal membentuksistempolitik (strukturpemerintahan, hak-hakindividu), sistemekonomi (hakkepemilikandalamkondisikelangkaansumberdaya, kontrak), dansistemkeamanan (peradilan, polisi).<br />Aturan informal meliputipengalaman, nilai-nilaitradisional, agama, danseluruhfaktor yang mempengaruhibentukperspektifsubyektifindividutentangduniatempathidupmereka (Pejovic, 1999:4-5)<br />Mekanismepenegakan – bahwasemuakelembagaantersebuttidakakanefektifapabilatidakdiiringidenganmekanismepenegakan. Adanya UU danupayapemerintahsuatunegaradalammenegakkan UU merupakansalahsatubentukmekanismepenegakan.<br />
  13. 13. Yeager (1999:9) secararingkasmenjelaskankelembagaansebagaiaturan main (rules of the game) dalammasyarakat.<br /><ul><li>Aturan main tersebutmencakupregulasi yang memapankanmasyarakatuntukmelakukaninteraksi.</li></ul>Kelembagaandapatmengurangiketidakpastian yang inherendalaminteraksimanusiamelaluipenciptaanpolaperilaku (Pejovic, 1995:30)<br />Termasukdalamkelembagaanadalahefektivitaspenegakanhakkepemilikan, kontrakdanjaminan formal, trademarks, limited liability, regulasikebangkrutan, organisasikorporasibesardenganstrukturtatakelola yang membatasipersoal-persoalanagency.<br />
  14. 14. Sebagaiabstraksi, Challen (2000:13-14) mengungkapkanbeberapakarakteristik<br />umumdarikelembagaan, yakni:<br />Kelembagaansecarasosialdiorganisasikandandidukung.<br />Kelembagaanadalahaturan-aturan formal dankonvensi informal, sertatataperilaku. [North, 1990]<br />Kelembagaansecaraperlahan-lahanberubahataskegiatan-kegiatan yang telahdipandumaupundihalangi.<br />Kelembagaanjugamengaturlarangan-larangandanpersyaratan-persyaratan[North, 1990]<br />
  15. 15. Ekonomikelembagaanmemfokuskankepadastudimengenaistrukturdanfungsidarisistemhubunganmanusiaataubudaya, yang secaraeksplisitmencakupperilakudankeinginanindividudenganmempertimbangkanperilakukelompokdantujuan-tujuanumummasyarakat (publik)<br />Ekonomikelembagaantidakberupayauntukmempelajariperilakurasionaltetapijugaberusahauntukmengenalibentuk-bentukperilakusepertipolaperilakutradisionaldariindividu-individudankelompok-kelompok – yaknipolamendonorkanstabilitasdankeseragaman yang dapatdilembagakan.<br />Dalamkonteksindustri, kelembagaanmerupakanseperangkataturan yang mempengaruhibagaimanaperusahaanmengorganisasiuntukmemproduksidanmenyediakanbarang/jasamaupunberinteraksidenganpelakuekonomi lain.<br />
  16. 16. SolusiPragmatisdanEvolusiSistemSosial<br />Jikadidasarkanatasdefinisi-definisi yang telahdikemukakanmakaekonomikelembagaantidaklahberhubungandenganbatangpemikiranekonomisebagaimetodeuntukmendekatimasalah-masalahekonomi.<br />Ekonomikelembagaanhanyaberfokuskepadapenyelesaianpersoalanekonomi yang spesifiksehinggadapatmenghasilkanperbaikan yang signifikan.<br />Lebihspesifiklagi – ekonomikelembagaanpedulidenganjawaban-jawaban yang benarataspertanyaan-pertanyaankebijakanpublik.<br />Dalamupayapencarianpenyelesaianatas problem-problem praktis, pendekatanekonomikelembagaanmencobauntukmemberipertimbanganterhadapseluruhaspekdarimasalah-masalahtersebut.<br />
  17. 17. Secarasingkat, ciriekonomikelembagaandapatditandaidaritigakarakteristik<br />Berikut (Kapp, 1988a:99):<br />Adanyakritikumumterhadapanggapanawaldanelemennormatif yang tersembunyidarianalisisekonomitradisional (konvensional).<br />Pandanganumumprosesekonomisebagaisebuahsistemterbukadansebagaibagiandarijaringansosio-kulturalsebuahhubungan (socio-cultural network of relationship).<br />Penerimaanumumatasprinsip ‘aliransebabakibat’ (circular causation) sebagaihipotesisutamauntukmenjelaskandinamikaprosesekonomi, termasukprosesketerbelakangandanpembangunan.<br />
  18. 18. Samuels (1995:573; diikutioleh Prasad, 2003:744-745) menyimpulkan<br />delapanaspekekonomikelembagaansebagaiberikut:<br />Ekonomikelembagaancenderungmenekankankepadaprosesevolusionermelaluipenolakannyateoriekonomiklasik yang percayaterhadapmekanismepenyesuaianotomatis.<br />Ahli-ahlikelembagaanmenolakpandanganneoklasikmengenaipasarbebasdanpasar yang efisien. Merekamengutamakanpandangantentangpandangantentangeksistensikelembagaan yang mengandaikanadanyatindakankolektifdariindividu-individudalammasyarakat. Merekajugaberargumentasibahwasistempasaritumerupakanhasildariperbedaankelembagaan yang telaheksisdalamkurunwaktutertentu.<br />
  19. 19. Idepenting yang dibuatolehekonomikelembagaanadalahbahwafaktorteknologitidaklah “given”. Teknologimerupakanprosesperubahan yang berkesinambungandanhalitumenyebabkanperubahan yang penting pula. Denganpandanganitu, teknologidapatmenentukanketersediaandanketerjangkauansumberdayafisik.<br />Ahlikelembagaanmengkampanyekanpandangan yang menyatakanbahwasumberdayadialokasikanmelaluistrukturkelembagaan yang bermacam-macamdandalamberagamhubungankekuasaan yang hidupdimasyarakat.<br />Menurut Samuels, ‘teorikelembagaanmerupakannilai (value) yang tidakmelihatharga-hargarelatif (relative prices), namunnilaikepentinganterhadapkelembagaan, struktursosialdanperilaku.’<br />
  20. 20. Kulturdankekuasaanmenentukancarabagaimanaindividuberperilaku. Individu-individudiikatolehmasyarakatmelaluinorma-normadannilai-nilaisehinggamerekacenderungbertindaksecarakolektifdaripadapribadi-pribadi.<br />Samuels berpandanganbahwaahliekonomikelembagaanlebih ‘pluralistik’ ataudemokratisdalamorientasinya. Diameyakinibahwapandanganneoklasiksering kali menerimastruktursepertiapaadanyadanberdasarkanhalitumenganggapstruktursosialdankekuasaanjugatelahadadengansendirinya.<br />Akhirnya, ekonomkelembagaanmelihatekonomimerupakancarapandang yang menyeluruh (holistic way) danmencobauntukmenjelaskanaktivitasekonomidalamperspektifmultidisipliner.<br />
  21. 21. EkonomiKelembagaanBaru<br />SecaragarisbesarNew Institutional Economics (NIE) merupakanupaya ‘perlawanan’ terhadapdansekaliguspengembanganideekonomineoklasik (neoclassical economics)<br />NIE menempatkandirisebagaipembangunteorikelembagaannonpasar (non-market institutions) denganfondasiteoriekonomineoklasik.<br />Seperti yang diungkapkan North, NIE masihmemakaidanmenerimaasumsidasardarineoklasikmengenai ‘kelangkaan’ dan ‘kompetisi’ tetapimenanggalkanasumsirasionalitas instrumental (instrumental rationality)<br />NIE mengeksplorasigagasankelembagaannonpasarsebagaijalanuntukmengkompensasikegagalanpasar.<br />
  22. 22. Menurut Williamson, istilah NIE digunakanuntukmemisahkandenganistilah lain yaitu OIE (Old Institutional Economics) yang dipeloporioleh Common dan Veblen.<br />Mazhab OIE berargumentasibahwakelembagaanmerupakanfaktorkuncidalammenjelaskandanmempengaruhiperilakuekonomi, namundengansedikitanalisisdantanpakerangkateoritis yang mumpuni.<br />NIE mencobamemperkenalkanpentingnyaperandarikelembagaan, namuntetapberargumentasibahwapendekataninidapatdipakaidenganmenggunakankerangkaekonomineoklasik.<br />
  23. 23. Pendekatan OIE sangatmemfokuskankajiannyamengenai ‘kebiasaan’. Bagiparaahli OIE, kebiasaan/perilakudianggapsebagaifaktorkrusial yang akanmenentukanformasidansustenancekelembagaan.<br />Sementara NIE lebihmemberikanperhatiankepadakendala yang menghalangiprosespenciptaan/pengondisiankelembagaandanutamanyamemfokuskankepadapentingnyakelembagaansebagaikerangkainteraksiantarindividu (Hodgson, 1998:180-181; Williamson, 1998:75).<br />Karakteristikdariparaahli NIE adalahselalumencobamenjelaskanpentingnyapentingnyakelembagaan (emergency of institutions), sepertiperusahaanataunegara, sebagai model referensibagiperilakuindividu yang rasionaluntukmencegahkemungkinan yang tidakdiinginkandalaminteraksimanusia.<br />
  24. 24. Padaakhirnya, NIE (danekonomibiayatransaksi) membangungagasanbahwakelembagaandanorganisasiberupayamencapaiefisiensi, meminimalisasikanbiayamenyeluruh (bukanhanyabiayaproduksi, seperti yang disuarakanolehpendekatanneoklasik, tetapijugabiayatransaksi).<br />NIE beroperasipadadua level, yaknilingkungankelembagaan/institutional environment (makro level) dankesepakatankelembagaan/instituitonal arrangement (mikro level)<br />Williamson mendeskripsikaninstitutional environmentsebagaiseperangkatstrukturaturanpolitik, sosialdan legal yang memapankankegiatanproduksi, pertukaran, dandistribusi.<br />Sebaliknya, level analisismikroberkutatdenganmasalahtatakelolakelembagaan.<br />
  25. 25. KarakteristikUmumEkonomiKelembagaan:<br />Seluruhkelembagaanmemasukkaninteraksipelakudenganadanyaumpanbalik yang penting.<br />Seluruhkelembagaanmemilikisatuankarakteristik, sertakonsepsidanrutinitasumum.<br />Kelembagaanberlanjutdandilanjutkanoleh, ekspektasidankonsepsi yang terbagi.<br />Meskipunkelembagaantidakabadi, namunmempunyaikemampuanrelatifuntukbertahan (durable), memaksakansendiri (self-enforcing) dankualitaskegigihan.<br />Kelembagaanmemasukkannilai-nilaidanprosesevaluasinormatif. Secarakhusus, kelembagaanmemaksakankembalilegitimasi moral yang dimiliki: bahwadayatahansering kali (benaratausalah) merupakansoalapakahsecara moral diterimaatautidak.<br />
  26. 26. Untuktujuananalisiskelembagaan, beberapaperubahankrusialdiperkenalkan<br />kedalamteoriortodoksmengenaiproduksidanpertukaran (Furubotndan<br />Richter, 1991:4):<br />Metodologiindividualisme (methodological individualism): merupakaninterpretasibaru yang telahdiberikanuntukperanindividusebagaipengambilkeputusandalamsebuahorganisasi. Pusatgagasaniniadalah ‘masyarakat’, ‘negara’, ‘perusahaan’, atau ‘partai’ tidaklahdipahamisebagaientitaskolektif yang menyingkapiaktor-aktorindividu.<br />Maksimisasikegunaan (utility maximization): Individudiasumsikanmencarikeuntunganpribadidanberupayamemaksimalkankepuasanberhadapandenganrintangan-rintangan yang eksisdalamstrukturorganisasi.<br />
  27. 27. Rasionalitasterikat (bounded rationality): mendektaikondisidunianyatamelaluikelembagaansecaradekat. Adalahpentinguntukmemahamiidebahwaindividumemilikiketerbatasankemampuanuntukmendapatkandanmemprosesinformasi.<br />Perilakuoportunistik (opportunistic behavior): Seperti yang dikemukakanoleh Williamson (1975), sementararasionalitasterikat/terbatasmencegahpembuatankontrak yang lengkap, dimanahalituterjadisecaraumumtidaklahmenjadimasalahapabilaseluruhpelakuekonomibertindakjujur.<br />
  28. 28. NIE iniberanjakdarirealitasbahwainformasijarang yang kompletdanmasing-masingindividumemilikiide yang berbeda-bdea.<br />Transaksikemudiandiasosiasikansebagaikeniscayaandalam model dansebaliknyatidakberlakudalam model neoklasik: yaitubiayauntukmencariharga yang relevan, negosiasidanmenyepakatikontrak, sertakemudianmengawasidanmemaksakannya.<br />Secaradefinitifkelembagaanberartiupayauntukmengurangibiayainformasidantransaksitersebut.<br />NIE adalahpengembangandariekonomineoklasik yang memasukkanperanbiayatransaksidalampertukarandanjutgamengambilkelembagaansebagairintangankritisdalamupayamemperolehkinerjaekonomi (Harris, et. al. 1995:3).<br />
  29. 29. SistemKontrakdanMekanismePenegakan<br />Dalampendekatanekonomibiayatransaksi (transaction costs economics/TCE), basis dari unit analisisadalah ‘kontrak’ atautransaksitunggalantaraduapihak (parties) yang melakukanhubunganekonomi.<br />Dalam TCE, badanpenegakankontrakdariluar (external contract-enforcement agency), yang biasadisebutlembagahukum (legal institution) yang mengaturkontrak, diasumsikaneksis, meskipunkadangkalakinerjanyamengalamihambatan-hambatanakibatkesulitanmemverifikasi, baik-burukpelaku-pelaku yang terikatdalamkontrak.<br />Dengankata lain, TCE mengasumsikanbahwakontrakdapatditegakkan (dipaksakan) dalamkoridorlembagahukum yang eksisdanketersediaanhinformasi yang cukup (Dixit, 1996:48).<br />
  30. 30. Konsepkontrakdalam NIE, menurut Richter, sebetulnyaadalahkonsepmengenaihakkepemilikan (property rights) yang dalambanyakhallebihluasdibandingdengankonsephukumtentangkontrak.<br />Asumsidasarnyaadalahmasing-masingjenisdaripertukaranhakkepemilikandapatdimodelkansebagaitransaksi yang mengaturkontraktersebut (Birner, 1999:48).<br />Dalamteoristandar (neoklasik) kontrakbiasanyadisumsikandalamkondisilengkap (complete contract) yang dapatdibuatdanditegakkantanpabiaya (costlessty).<br />Dalamrealitasnya, untukmembuatdanmenegakkankontrak yang kompletsangatlahsulitkarenaadanyabiayatransaksi.<br />Secaraumumtidaklahmungkinuntukmenghitungseluruhpotensiketidakpastiandalammembuatkontrak.<br />Salahsatucara yang mungkinadalahdenganmembuatpermodelanpersoalan-persoalan yang berkaitandenganinformasi yang terbatas – untukkemudiandigunakansebagaibahanreferensiuntukmembuatkontrak yang komplet.<br />
  31. 31. Dalamkenyataannya, kontrakselalutidaklengkapkarenaduaalasan:<br />Adanyaketidakpastian.<br />Kinerjakontrakkhusus – misalnya, menentukanjumlahenergi yang dibutuhkanpekerjauntukmelakukanpekerjaanrumit.<br />Olehkarenaitu, adanyapelanggarankontraksering kali menyulitkanpihakketiga (pengadilan) untukmemberikanbuktisebagaidasarkeputusan.<br />Hampirseluruhkesepakatankontrak yang aktualberisikombinasieksplisitdanimplisitdarimekanismepenegakan.<br />Sebagaitambahan, biayakontrak yang mengandaikanadanyaketidaklengkapandarikontrak yang eksplisit, membutuhkankehadiran ‘biayasemu’ yang dapatdigunakanbagiperusahaanuntukmelakukaninvestasi.<br />
  32. 32. Dalamkegiatanekonomi modern saatini, tipekontraksetidaknyadapat<br />Dipilahdalamtigajenis:<br />Teorikontrakagen (agency-contract theory)<br />Teorikesepakatanotomatis (self-enforcing agreements theory)<br />Teorikontrak-relasional (relational-contract theory)<br />
  33. 33. Teorikontrakagen (agency-contract theory)<br />Terdapatduapelaku yang berhubungan; prinsipaldanagen – dalamposisiduapelakuiniinformasi (setelahkontrakdilakukan) diandaikanasimetriskarena:<br />Tindakanagentidakdapatdiamatisecaralangsungolehprinsipal.<br />Pihakagenmembuatbeberapapengamatan yang tidakdikerjakanolehprinsipal (dalamkasusshare-shopping, misalnyaagentahupersisberapa output yang dihasilkantetapiprinsipaltidakmengetahuinya)<br />Padakasusinisangatmahalbagiprinsipaluntukmengawasitindakan<br />agensecaralangsungataumendapatkanpengetahuan yang lengkap<br />dariinformasi yang diperolehagen.<br />
  34. 34. Teorikesepakatanotomatis (self-enforcing agreements theory)<br />Dalamteoriiniasumsi yang bekerjaadalahtidakseluruhhubunganataupertukarandapatditegakkansecarahukum (Furubotndan Richter, 2000:156-157).<br />Di sinidinyatakanbahwasistemhukumsangatmungkintidaksempurnaatauinformasi yang relevantidakdapatdiverifikasiolehpengadilan.<br />Salahsatukemungkinanbagirelasibisnisdalamjangkapanjangadalahmembuatataumenemukansebuahkontrak yang berisikesepakatan yang dapatditegakkansecaraotomatis.<br />Kontraksemacaminididesainuntukmemastikanbahwakeuntungandariberbuatcurangakanlebihkecildaripadakeuntungan yang didapatdenganmematuhiisikontrak.<br />
  35. 35. Teorikontrak-relasional (relational-contract theory)<br />Kontrakrelasionaldapatdipahamisebagaikontrak yang tidakdapatmenghitungseluruhketidakpastiandimasadepan, tetapihanyaberdasarkankesepakatandimasasilam, saatinidanekspektasiterhadaphubungandimasadepandiantarapelaku-pelaku yang terlibatdalamkontrak (Macneil, 1974; dalamFurubotndan Richter, 2000:158).<br />Olehkarenaitu, kontrakdalampengertianinimengacukepadaderajat yang bersifatimplisit, informal dantanpaikatan<br />
  36. 36. Dari review terhadapberagamstuditentangkontrak yang telahdilakukan,<br />terdapatempataspek yang dapatdisimpulkanmenjadifaktorperedaanjenis<br />kontrak (Menrad, 2000:236):<br />Jangkawaktudarikontrak<br />Derajatkelengkapan – mencakupvariabel-variabelharga, kualitas, aturanketerlambatan (delay), danpenalti.<br />Insentif<br />Prosedurpenegakan yang berlaku.<br />
  37. 37. Dalammasyarakat yang kelembagaanpenegakannyatidakberjalandenganbaik, individu-individudanperusahaan-perusahaancenderungmenghindariuntukmembuatkesepakatan-kesepakatan yang kompleks, yaknitransaksi yang penegakannyatidaksecaraotomatis.<br />Setidaknyaterdapatduatipepenegakan yang eksisdalammasyarakat, yakniaturan formal dan informal<br />Derajataturan-aturan yang mencobauntukmengelolaperilakusangattergantungkepadapenegakantersebut.<br />Penegakansendiridipengaruhiolehkekuasaanpenekanandarinegaraataunorma-normadalammasyarakat.<br />
  38. 38. Kontrakmenghubungakanantarasatupelakudenganmitralainnyakarenaadanyaasassalingmenguntungkan, tetapipadasaat yang samakontrakjugaberesikomelaluipraktekoportunisme.<br />Hasilnyaterdapatgodaanbagisatuataulebihpelakuuntukberbuatmenyimpang.<br />Hal inimembuattugasmengaturhak-hakmenjadiisuutama, denganprosedurpenegakanmenjadikunciuntukmenentukanberhasilatautidaknyasebuahkesepakatan (Ménard, 2000:240).<br />Isu yang utamaadalahmencarikesepakatan yang optimal, yaknikontrakdidesainsebegiturupasehinggapelaku (agents) memilikiinsentif yang memadaiuntukmematuhiataskontrak yang telahdisepakati.<br />

×