• Share
  • Email
  • Embed
  • Like
  • Save
  • Private Content
Critical Discourse Analysis (discursive practice)
 

Critical Discourse Analysis (discursive practice)

on

  • 801 views

 

Statistics

Views

Total Views
801
Views on SlideShare
801
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
44
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Upload Details

Uploaded via as Microsoft PowerPoint

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment
  • Connections: texts terhubungdengandengankonteks situational yangterjadi DAN caradimanakoneksidibuatantara bagian2 teks (kohesikalimat)

Critical Discourse Analysis (discursive practice) Critical Discourse Analysis (discursive practice) Presentation Transcript

  • CDA FaircloughDiscursive practice S Kunto Adi Wibowo @wowoxarc
  • Kerangka Analisis CDA
  • Discursive practice• A normal way of using language• Sebuah kalimat menunjukkan keseluruhan bahasa dan sebuah wacana menunjukkan seluruh masyarakat.• Konteks intertekstual mengandaikan bahwa partisipan yang lebih berkuasa mampu mempengaruhi interpretasi partisipan yang lain• Penulis/produsen mengandaikan ‘ideal reader’ dengan pengalaman intertekstual tertentu dalam memproduksi sebuah teks• Fairclough melihat bahwa praanggapan dalam intertekstualitas melayani kekuasaan dengan membentuk common sense
  • Pendekatan• Linguistik – Deskriptif – Texts based evidence – Lebih ‘objektif’• Intertekstual – Interpretatif – Order of discourse (interpretasi kultural yang meletakkan teks di dalam aspek kebudayaan yang dibentuk oleh serangkaian tatanan wacana) – Lebih ‘subjektif’
  • Social order: societal Determination of institutional setting Social order: Institutional Determination of situational settingSituation Discourse typeWhat’s going on? (activity, topic, purpose) ContentsWho’s involved? SubjectsIn what relations? RelationsWhat’s the role of language Connectionsin what’s going on? Situational context and discourse type
  • Interpretation• Konteks: interpretasi apa yang diberikan partisipan dalam konteks situasional dan intertekstual tersebut?• Tipe wacana: tipe wacana apa yang dibentuk (aturan, sistem atau prinsip phonologi, gramatika, kohesi dll)?• Perbedaan dan perubahan: Apakah dua pertanyaan di atas akan memiliki jawaban berbeda untuk partisipan yang berbeda? Dan apakah jawaban tersebut juga berubah seiring dengan interaksi yang terjadi?
  • Produksi teks• Proses wacana – pembentukan nilai relasional, – posisi subjek sang produser, – posisi subjek audiens, – jejak perlawanan antara produser dan lawannya• Proses institusional – Rutinitas institusi – Prosedur editorial – Rutinitas pembaca (ideal reader)
  • Konsumsi teks• Condong ke arah mana interpretasi teks oleh ‘ideal reader’?• Bagaimana interpretasi mereka yang bukan ‘ideal reader’?• Fairclough tidak pernah melakukan interview dalam semua bukunya untuk mengetahui konsumsi teks.
  • Encoding-decoding The mediated communication event as meaningful social discourse ENCODING DECODING1: communication codes 1: communication codes of all kinds of all kinds2: structures and codes 2: structures and codesof medium and of genre of medium and of genre H Frameworks of Knowledge Frameworks of Knowledge I S Social Realm Material Practices T Social Realm Material Practices Social practice Relations of O Social practice Relations ofConcepts of social production R Concepts of social production& personal nature Technical infra- Y & personal nature Technical infra- and relations structure and relations structure Cultural norms Political/economic Cultural norms Political/economic World-view structures World-view structures Conditions of Conditions of production production
  • Order of discourse• Jejaring penggunaan bahasa dalam sebuah institusi sosial atau bidang sosial (sekolah, rumah tangga, pasar, hukum, dll)• Apakah penggunaan bahasa di wilayah sosial yang berbeda bersifat tumpang tindih atau secara ketat dipisahkan?• Penggunaan jargon ekonomi yang masuk ke pendidikan (produk, komoditas, modal dll) merupakan bentuk hegemoni dari kekuasaan/ideologi pasar ke dalam pendidikan
  • Order of Discourse• Choice relations: pilihan penggunaan bahasa dalam sebuah order of discourse (soft news, hard news, talk show)• Chain of relations: proses produksi teks dalam sebuah institusi (dari press release ke berita atau feature) dan keterkaitan antara sebuah wacana dengan wacana yang lain (UN  korupsi)
  • Tipe wacana dan sosio-kultural• Penggunaan tipe wacana konvensional (normatif) ketika praktik sosiokultural stabil dan tetap.• Penggunaan tipe wacana kreatif ketika praktik sosiokultural cair, tidak stabil, dan bergeser.
  • Sociocultural practices• Sebagai konteks terbentuknya wacana dalam 3 aspek utama – Ekonomi – Politik (kekuasaan dan ideologi) – Kultural (nilai dan identitas)
  • Explanation• Determinan sosial: relasi kekuasaan apa pada level situasional, institusional, dan kemasyarakatan membantu pembentukan wacana tersebut?• Ideologi: apa elemen sumber daya/pengetahuan kita yang dibentuk yang memiliki karakter ideologis?• Efek: bagaimana wacana tersebut diposisikan dalam kerangka perlawanan di level situasional, institusional dan kemasyarakatan? Apakah perlawanan tersebut terbuka atau sembunyi-sembunyi? Apakah wacana tersebut berkontribusi dalam mempertahankan relasi kekuasaan atau mentransformasikannya?
  • • Sultan: Presiden Orang Jawa Tak Relevan Lagi• Sabtu, 21 Januari 2012, 18:36 WIB Ismoko Widjaya, Sukirno VIVAnews - Politisi senior Partai Golkar yang juga Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, mengingatkan kepada publik pada 2014 agar jangan tertipu seperti kiasan Beli Kucing dalam Karung. Sultan juga menegaskan bahwa Presiden dari Tanah Jawa tidak relevan lagi. "Itu tergantung rakyat pada saat masuk TPS (Tempat Pemungutan Suara). Yang masuk TPS bukan hanya orang Jawa. Orang seluruh Republik Indonesia yang punya hak pilih. Yang diaspirasikan, ya terserah saat di TPS," kata Sultan. Hal itu disampaikan Sultan dalam acara Orasi budaya "Menyemai Kebhinekaan Indonesia" yang digelar Nurcholish Madjid Society dan Yayasan Kertagama, di Omah Btari Sri, Jalan Ampera Raya, Kemang, Jakarta Selatan, Sabtu 21 Januari 2012. Sultan menuturkan, pemahaman seorang Presiden Indonesia harus dari orang Jawa sudah tidak relevan lagi. Dari etnis apa pun bisa, karena hal itu adalah hak prerogatif warga negara dan pemilih yang akan menentukan. "Tergantung kualifikasi dia, dasarnya kualitatif, keetnikan, atau keagamaan, bisa lain," ujar Sultan. Pertimbangan para pemilih dalam menentukan calonnya, Sultan melanjutkan, bergantung pada kualifikasi dari pemilih itu sendiri. Semua faktor dapat menjadi pertimbangan, misalnya dari kualitas calon, etnis, agama, atau lainnya. Menurut Sultan, partai politik beberapa waktu terakhir hanya menghasilkan para pemimpin dari kalangan berduit. Pada kenyataannya, tidak selalu pemimpin partai menjadi presiden atau gubernur di daerah. "Itu kan tidak identik," kata Sultan. "Itu kepandaian masyarakat, tapi dengan memilih kucing dalam karung atau tidak, itu juga tergantung yang dicalonkan partai. Prosesnya bagaimana, kejujuran itu sudah dilakukan atau belum," kata Sultan. (art) • VIVAnews