Pengertian informasi adalah

367 views
283 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
367
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
0
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Pengertian informasi adalah

  1. 1. Pengertian informasi adalah: data yang diolah dan dibentuk menjadi lebih berguna dan lebih berartibagi yang menerimanya. Informasi merupakan pengumpulan dan pengolahan data untukmemberikan keterangan atau pengetahuan. Maka dengan demikian sumber informasi adalah data.Data adalah kesatuan yang menggambarkan suatu kejadian atau kesatuan nyata.http://ewawan.com/pengertian-informasi-definisi-informasi.htmlCiri-Ciri Informasi yang BerkualitasMenurut Mc. LoadAkurasiInformasi yang dihasilkan benar-benar akurat, data yang dimasukkan dan proses yang digunakandidalam sistem harus benar sesuai dengan kenyataan atau proses harus sesuai dengan perumusan-perumusan yang sesai.RelevansiInformasi yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan yang berhubungan dengan masalah yangdihadapi, data yang digunakan untuk diproses seharusnya ada hubungannya dengan masalahnyasehingga informasi yang diberikan bisa sesuai dengan masalah yang dihadapai.Ketepatan waktuInformasi yang dihasilkan tepat waktu, kalau saat ini kita membutuhkan suatu informasi makainformasi yang kita butuhkan itulah yang kita dapatkan. Informasi tidak datang waktu yang dahlewat atau sebelumnya.KelengkapanInformasi yang dihasilkan lengkap, informasi yang dihasilan harus lengkap jadi tidak ada kekurangansedikitpun tentang informasi yang dicari.http://ertaufiq.blogspot.com/2010/06/ciri-ciri-sistem.htmlKualitas informasi;Tergantung dari 3 hal, yaitu informasi harus :• Akurat, berarti informasi harus bebas dari kesalahan-kesalahan dan tidak bias atau menyesatkan.Akurat juga berarti informasi harus jelas mencerminkan masudnya.• Tetap pada waktunya, berarti informasi yang datang pada penerima tidak boleh terlambat.• Relevan, berarti informasi tersebut menpunyai manfaat untuk pemakainya. Relevansi informasiuntuk tiap-tiap orang satu dengan yang lainnya berbeda.Metode pengumpulan data / Informasi1. Pengamatan langsung2. Wawancara3. Perkiraan koserponden4. Daftar pertanyaanSekarang ini anak-anak yang tengah gencar memburu ilmu di bangku pendidikan, disisi lain (hampir)tidak pernah dididik secara serius dalam menumbuhkembangkan ranah emosional dan spiritualnya.Ranah kecerdasan spiritual yang amat penting peranannya dalam melahirkan generasi yang utuh danparipurna justru dalam kenyataanya dikebiri dan dimarjinalkan.Selama ini penilaian untuk mengukur kecerdasan anak didik (pelajar) masih terjebak pada sebuahpenilaian pada ranah koqnitif semata. Penilaian tidak pernah menjadikan salah satu anak didik ataupelajar ketika memiliki kepekaan atau kepeduliaan terhadap sesamanya baik dalam lingkungansekolahnya maupun masyarakatnya. Pada hal keadaan seperti ini perlu didorong dalam diri pelajarsebagai bagian dari pencerahan spiritual. Penafian semacam ini dalam penilaian tentunya sangatterkait dengan kebijakan dan kurikulum pendidikan. Kebijakan dan kurikulum belum memberikanruang dan waktu yang cukup berarti untuk memberikan penilaian pada sikap pelajar terkaitkepedulian dan kepekaan siswa/anak didik.
  2. 2. Idealnya, pendidikan harus mampu memberikan proses pencerahan dan katarsis spiritual kepadapeserta didik. Katarsis spiritual yang dimaksud adalah memiliki apresiasi tinggi terhadap masalahkemanusiaan, kejujuran, keadilan, demokratisasi, toleransi, dan kedamaian hidup. Sehingga merekamampu bersikap responsif terhadap segala persoalan yang tengah dihadapi masyarakat danbangsanya.Melalui pencerahan yang berhasil ditimbanya, mereka diharapkan dapat menjadi sosok spiritualyang menciptakan damai di tengah berkecamuknya kebencian. Mampu menawarkan pengampunanbila terjadi penghinaan, atau setidaknya dapat melahirkan manusia yang merasa malu ketikamelakukan kesalahan atau keburukan seperti korupsi yang kita ketahui bersama mewabah di negeriini.Anak yang memiliki kecerdasan spiritual dalam hal ini apresiasi yang tinggi terhadap nilai-nilaikemanusiaan. Mewujudkan diri dalam perikehidupan yang diliputi dengan kesadaran penuh. Perilakuyang berpedomankan hati nurani, penampilan yang enuine tanpa kepalsuan, kepedulian besar akantegaknya etika sosial. Namun sebaliknya bila anak tidak memiliki kecerdasan spiritual; menunjukkandiri dalam ekspresi eksklusif, dan intoleran serta acuh tak acuh terhadap problem masyarakat danbangsanya. Bahkan efeknya seperti apa yang terjadi belakangan ini, yakni konflik atau tawuran antarapelajar, eks bebas, dan pecandu obat-obat terlarang.Dengan adanya berbagai fakta tersebut, bisa dikatakan bahwa kondisi pelajar yang masih jauhmencerminkan sebagai anak terdidik. Dengan demikian pendidikan kita harus bersikap antisipatifdalam bentuk memberikan sentuhan perhatian yang cukup berarti terhadap ranah spiritual siswa.Kurikulum dan kebijakan pendidikan harus benar-benar mengakomodasi ranah spiritual siswa secaraproporsional dan substansial.Mata pelajaran yang terkait dengan pembangunan spiritual anak, selain ditambah alokasi waktunya.Hendaknya juga tidak sekadar mencekoki siswa dengan setumpuk eori dan hafalan, tetapi harusbenar-benar menyentuh kedalaman dan hakikat spiritual yang membuka ruang kesadaran nurani ditengah konteks kehidupan sosial-budaya yang majemuk. Hal itu harus didukung oleh semua gurulintas mata pelajaran dengan mengintegrasikan nilai-nilai kemanusiaan ke dalam materi ajar.Pendidikan yang melahirkan SDM yang mempuni dengan kualitas kemanusiaan yang dimiliki olehanak didik atau pelajar tentunya kita dapat berharap membawa bangsa ini mampu untuk bersaingdengan bangsa yang lain. Dalam menumbuhkan SDM tersebut membutuhkan energi yang besar darisemua elemen pendidikan termasuk pemerintah sebagai penentu kebijakan.http://www.buletinsia.com/2013/04/pendidikan-sarana-mengasah-spiritual.htmlROGOJAMPI – SMP Negeri 1 Rogojampi menerapkan pendidikan yang seimbang antara kecerdasanakademik, fisik, dan spiritual. Begitu diluncurkan, program keseimbangan belajar itu disambut baikseluruh warga sekolah. Dengan belajar seimbang masalah akademik, fi sik, dan spiritual, akanmeningkatkan prestasi siswa.Sepanjang tahun 2012 ini, sudah segudang prestasi baik akademik maupun non akademik yang telahdicapai siswa SMPN 1 Rogojampi. Untuk mendampingi prestasi akademik tersebut,sekolah menyelenggarakan kegiatan spiritual rutin.Kegiatan itu yakni, membaca Alquran dan surat Yasin yang sudah familiar. Selain itu, ada lagikegiatan salat Dhuha secara bergiliran setiap jam istirahat. Tidak ketinggalan, ada Baca Tulis Alquranwajib bagi siswa yang belum bisa setiap Jumat pukul 06.00 – 07.00.
  3. 3. Seluruh warga sekolah melakukan gerakan Jumat Bersih di lingkungan sekitar. Ending dari kegiatantersebut diharapkan dapat membentuk karakter siswa yang siap dan tangguh dalammenghadapi perkembangan global yang tidak bisa terbendung saat ini.Setiap hari di dalam tas sekolah siswa, selain membawa buku mata pelajaran juga didampingi bukusaku surat Yasin. Suatu ikhtiar kita membekaliputra-putri tercinta menyongsong masa depan yanglebih baik. (radar)http://www.kabarbanyuwangi.info/siswa-butuh-keseimbangan-akademik-fisik-dan-spiritual.htmlAntisipasi Kenakalan Remaja, Siswa Butuh TrainingEmotionalDitulis Oleh RedaksiFriday, 14 December 2012PADANG, METRO-Kemerosotan moral serta meningkatnya angka kenakalan pelajar di Kota padang butuhperhatian dari lembaga pendidikan untuk mencari solusi. Hal tersebur tidak terlepas dari peranan seorang guruyang menjadi panutan bagi generasi penerus bangsa.Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Padang, Indang Dewata mengatakan, selain kewajiban seorang gurumembangun kualitas intelektual siswa. Sekolah, katanya, perlu memberikan training emotional kepada pesertadidik. Hal tersebut sama pentingnya dengan pengembangan ilmu teknologi yang kini gencar dilakukan.“Untuk mengimbangi perkembangan teknologi informasi maka para siswa harus dibentengi dengan nilai-nilaibudi pekerti luhur dan nilai-nilai religius lewat pembinaan mental dan spiritual,― ujar Indang kepadaPOSMETRO, Jumat (14/12).Disebutkan, dunia pendidikan punya tanggung jawab terhadap berbagai prilaku menyimpang generasi penerus.Profesi kependidikan, kata dia, harus profesional, mampu memiliki kompetensi sosial, kepribadian sebagaipanutan dalam mengembangkan intelektual tetapi juga budi pekerti.“Sebab dengan budi pekerti serta nilai iman yang baik, bisa membekali para pelajar dari pengaruh negatifperkembangan dunia informasi dan teknologi sekarang, agar tidak terjadi lagi kenakalan pelajar “ ungkapIndang.Ditambahkan Indang, training emotional tersebut merupakan kegiatan positif dan harus diikuti sekolah-sekolahyang lain. Karena pembinaan watak dan mental siswa diharapkan bisa mengubah perilaku siswa menjadi lebihbaik.(cr19)Kemajuan suatu bangsa dapat tercapai ketika semua sektor dalam tatanan negaranya maju. Satu diantara banyak sektor itu adalah pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu sektor paling vitaldalam kehidupan manusia serta kehidupan bernegara, mengapa bisa dikatakan demikian? Contohsaja kemajuan negara Tirai Bambu dalam sektor teknologinya yang canggih, hal ini dikarenakanmereka sangat memperhatikan sektor pendidikan mereka sebelumnya. Dengan majunya sektorpendidikan maka akan menghasilkan SDM yang berkualitas yang kemudian akan menghasilkan karyatekhnologi yang berkualitas pula. Bila teknologi sudah maju dan menumbuhkan daya jual maka akanmenyokong sektor ekonomi, lalu sektor pembangungan, dan sektor-sektor lainnya. Contoh yanglebih sederhana adalah anak yang bisa berbicara padahal belum bisa membaca dan menulis, initerjadi karena orang tua si anak yang mengajarkan, dengan kata lain si anak telah menjalani prosespendidikan berbicara dari orang tuanya. Dari uraian tersebut dapat dikatakan bahwa sekecil apapunperkembangan yang dialami manusia dalam aspek apapun pasti tidak lepas dari peran pendidikan.
  4. 4. Perumpamaan pendidikan seperti mata rantai yang sangat bisa mempengaruhi keutuhan rantai-rantai lannya dalam kehidupan bernegara.Dengan sistemiknya pengaruh pendidikan tersebut, maka akan sangat berbahaya jika sektorpendidikan suatu negara mengalami keterpurukan. Mirisnya, sektor pendidikan di Indonesia saat inisedang mengalami hal tersebut, seperti yang diungkapkan Drs. Mangatur Sinaga M.Hum mengenaiwajah pendidikan di Indonesia dewasa ini “potert pendidikan Indonesia dewasa ini adalahamburadul. Orang-orang yang masuk ke LPDK, seperti FKIP maupun IKIP tidakmemiliki background sebagai guru maupun pendidik(pedagogik), karena kebanyakan mereka berasaldari SMA, SMK, dsb, maka wajar tidak ada kemampuan pedagogik yang dimiliki karna kemampuanini hanya ada dan diajarkan di sekolah khusus untuk menjadi guru, kalaupun ada sangat sedikitsekali, dan tidak cukup untuk dijadikan bekal. Dengan tidak adanya kemampuan pedagogik ini,mereka tidak siap untuk dibina menjadi tenaga pengajar sekaligus pendidik. Seharusnya yang bolehmasuk ke FKIP atau IKIP adalah tamatan dari Sekolah Keguruan seperti SPG yang sudah dibekalikemampuan pedagogik, ….”Banyak faktor yang mempengaruhi kemajuan pendidikan, di antaranya potensi masyarakat, sepertiyang telah disebutkan di atas dan solusinya “…hidupkan kembali sekolah-sekolah guru, apapunnamanya yang penting dirikan lagi, agar orang-orang yang akan dibina dan diasah lagi kemampuanpedagogiknya di LPDK adalah orang-orang yang memang siap” Mangatur menambahkan. Guruadalah penentu pertama bagi murid-muridnya, guru yang berkompeten tentu akan menghasilkanmurid yang berkompeten. Untuk itu perlu adanya pelatihan khusus dalam proses menghasilkantenaga pendidik yang berkompeten, karena mendidik bukan perkara main-main seperti yangdiutarakan Dosen FKIP PBSI ini“mendidik merupakan usaha sadar dan terencana, yang menentukanmau jadi apa nanti seorang anak yang didiknya” dan proses ini tentu saja tidak instan. Proses yanginstan akan mengasilkan guru abal-abal, dan guru abal-abal tentu akan membentuk murid yang abal-abal pula, akan bagaimana masa depan negara ini jika generasi mudanya abal-abal?Selain masyarakat, hal yang paling utama dalam upaya perbaikan sistem pendidikan yang amburadulsaat ini adalah agama. Seperti yang ditambahkan Mangatur“ agama itu seperti benteng. Apa yangbisa menghalangi ketika ada sesorang yang pintar namun dia gunakan kepintarannya itu untukmembuat bom? Agama bukan? Seseorang yang sadar agama tentu tidak akan menggunakankepintarannya dalam melakukan hal-hal yang tidak baik seperti itu” lebih lanjut beliaumenambahkan “secara kognitif bisa dikatakan pendidikan sekarang berhasil, namun secara afektifdan psikomotor belum”.Hal ini membuktikan bahwa pintar saja tidak cukup untuk menghasilkan generasi yang cemerlangyang akan sanggup bersaing dimasa depan sebagai pemegang tampuk pemerintahan dengan negara-negara lain. Tidak bisa dipungkiri bahwa ternyata sistem pendidikan kita telah dirasuki sekulerisme,paham yang memisahkan agama dari kehidupan, khususnya kehidupan berpendidikan, padahalagama adalah pengontrol untuk menjaga seseorang dari kemaksiatan meskipun dia pintar, karenapintar saja tidaklah cukup, harus ada pengontrol kepintarannya. Banyak manusia pintar di Indonesia,namun mereka korupsi, banyak kaum intelektual di Negri ini, namun mereka melakukan seks bebas,aborsi, terorisme, dan tawuran. Ini membuktikan bahwa kaum intelektual hasil sistem pendidikanyang sekuler sekarang ini mengalami krisis moral, padahal pelajaran moral telah diajarkan dalampendidikan. “agama adalah puncak segalanya, kemudian filsafat, barulah yang lainnya..” tambah
  5. 5. Mangatur. “guru perlu agama, gak bisa pintar saja.” lanjut beliau, bila diperhatikan tidak banyaktenaga pendidik yang mengaitkan pelajarannya dengan agama sewaktu mengajar, padahal ini sangatpeniting mengingat agama sebagai pengontrol sikap, selain itu bukankah poin satu dalam Pancasilaadalah Ketuhanan Yang Maha Esa? Dalam perkuliahan matakuliah agama yang hanya 2 SKS samasekali tidak cukup untuk membentuk generasi yang bisa mengontrol kepintarannya. Untuk ituaplikasi dari kesadaran beragama dalam pendidikan harus ditingkatkan.Makna pendidikan sangat luas, seperti yang disebutkan sebelumnya bahwa sekecil apapunperkembangan yang dialami manusia dalam aspek apapun pasti tidak lepas dari peran pendidikan.Cara memperoleh pendidikan sejatinya tidak hanya bisa didapat di lembaga formal seperti sekolahdan perguruan tinggi, namun juga lembaga non formal, yakni keluarga. Apakah permasalahanpendidikan dipengaruhi oleh keluarga? Jelas, karena pendidikan pertama manusia justru berasal darikeluarga. Pembentukan pola pikir dan tindakan anak didik tidak hanya terbentuk saat di sekolah tapijuga saat di rumah. Pekerjaan Rumah(PR)yang merupakan bentuk pendidikan yang diberikan guruagar murid mau belajar dirumah, rajin membaca, dan semangat menuntut ilmu akan terjadi jika adadukungan dari keluarga.Negara juga faktor penentu wajah pendidikan, karena seperti yang katakan Mangatur“ Negaraadalah pelegalisasinya (aturan maupun kurikulum pendidikan)” sistem pendidikan berjalan sesuaikurikulum yang turunkan Dinas Pendidikan, dan Dinas Pendidikan tentu hanya akan mengaturkurikulum yang selaras dengan tujuan maupun sistem Negara, dan Negara yang punya kuasa untukmelegalisasi maupun tidak melegalisasi (menyetujui) apapun yang dikeluarkan Dinas. Sistemikbukan? Dan negara merupakan batang tempat tumbuhnya cabang-cabang seperti pendidikan,cabang ekonomi, cabang budaya, dan banyak lagi cabang lainnya.Mengenai sistem Pendidikan yang ternyata dipengaruhi sistem pemerintahan(negara) maka jika kitatilik ternyata sistem pendidikan sekuler ini telah menghasilkan murid-murid yang study oriented-hanya berfokus pada belajar- untuk menacapai materi saja. Jika ditanya: Untuk apa belajar mati-matian? Tentu jawabannya: biar cepet lulus trus cepet dapat kerja dan cari duit yang banyak.Kapitalistik bukan? Apalagi dengan biaya pendidikan yang tiap tahunnya makin meroket,mempersulit masyarakat untuk meraih pendidikan, tentu apabila contohnya seseorang yang telahbersusah payah mengumpulkan biaya demi kuliah, maka ketika tamat maupun menjelang itu diaakan berusaha mencari cara untuk ‘ganti rugi dana’ yang telah dikeluarkannya. Bisa jadi ini adalahcikal bakal korupsi. Semakin tahun biaya hidup, khususnya pendidikan semakin mahal, seiringdengan itu kasus korupsi pun makin menumpuk, dan yang melakukan itu bukan kaum yang tidakmengecap pendidikan tinggi. Kebanyakan dari mereka justru orang-orang cerdas, namunmenyalahgunakan kecerdasannya. Ironis.Dari uraian tersebut, jelas sudah bahwa problem pendidikan Indonesia sudah sistemik, salingberpaut antara keluarga, masyarakat, negara, serta agama. Akar masalahnya karena pendidikan kitatelah dipengaruhi sistem kapitalis-sekuler, sistem yang menjadikan materi sebagai tujuan hidup yangutama sekaligus membedakan agama dari kehidupan. Jika ingin pendidikan maju dan menghasilkangenerasi yang cemerlang demi masa depan negara yang cerah, sudah saatnya keluarga, masyarakat,dan negara menyadari dan segera meninggalkan sistem kapitalis-sekuler yang menggerayangi sistempendidikan kita dan beralih pada sistem Islam.

×