Jurnal Ilmiah MKn Unud April 2012

5,403 views

Published on

Jurnal Ilmiah ini memuat beberapa artikel pilihan dari Mahasiswa Program Magister Kenotariatan Universitas Udayana seperti terkait dengan persoalan Perlindungan Hukum terhadap Notaris dalam melaksanakan kewajiban rahasia jabatan di daerah hukumnya, Pelaksanaan Perjanjian Kredit dengan jaminan fudisia, Analisis kewenangan dan Tanggung Jawab Notaris dalam Pembuatan Akta Keterangan Waris untuk golongan Tionghoa dan artikel lainnya. Artikel tersebut merupakan ringkasan hasil penelitian tesis mahasiswa yang sudah diuji dan dapat dipertahankan oleh mahasiswa dalam sidang ujian dihadapan dewan penguji dan Guru Besar.

Published in: Education
0 Comments
4 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
5,403
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
4
Actions
Shares
0
Downloads
10
Comments
0
Likes
4
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Jurnal Ilmiah MKn Unud April 2012

  1. 1. Denpasar Denpasar Denpasa IIIS S N SSN SSN V o lllu m e 0 3 Vo ume 03 Vo ume 03 H a llla m a n 1 --- 6 5 Ha aman 1 65 Ha aman 1 65 A p rriiilll 2 0 1 2 A p r 2 0 12 Ap 20 2 2 2 5 2 ---3 8 0 X 2252 380 X 2252 380 XKERTHA PERTIWI RT PE TIJ U R N A L IIL M IIA H M A G IIS T E R K E N O T A R IIA T A N U N IIV E R S IIT A S U D A Y A N AJURNAL ILMIAH MAGISTER KENOTARIATAN UNIVERSITAS UDAYANAJURNAL LM A MAG STER KENOTAR ATAN UN ERS TAS UDAYANA AH PROGRAM STUDI MAGISTER KENOTARIATAN PROG AM STUDI MAGISTER KENOTARIATAN GR UNIVERSITAS UDAYANA UN VERSITAS UDAYANA NI 2012 2012
  2. 2. KERTHA PERTIWI Jurnal Ilmiah Magister Kenotariatan (Scientific Journals of The Master of Notary)Volume 03 Periode April 2012 Susunan Organisasi Pengelola Ketua Penyunting Prof. Dr. I Made Arya Utama, SH.,M.Hum. Wakil Ketua Penyunting I Made Tjatra Yasa, SH.,MH. Penyunting Pelaksana I Gusti Ngurah Alit Widana Putra, ST.,M.Eng. I Putu Artha Kesumajaya I Gde Chandra A. W. Petugas Administrasi I Made Suparsa I Ketut Wirasa Alamat Redaksi Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Udayana Jl. Pulau Bali No. 1 Sanglah Denpasar Telp. : (0361)264812. Fax (0361)264812 E-mail : notariat_unud@yahoo.com Website : http://www.fl.unud.ac.id/notariat/ Gambar Cover : Keindahan Alam Indonesia K e r t h a P e r ti wi m e r u p a k a n j u r n a l i l m i a h ya n g d i t e r b i t k a n d u a k a l i s e t a h u n ( A p r i l d a n O k t o b e r ) ya n g m e m u a t i n f o r m a s i t e n t a n g b e r b a g a i a s p e k h u k u m Kenotariatan dari : (1) hasil penelitian, (2) naskah konseptual/opini, (3) r e s e n s i b u k u , d a n i n f o K e n o t a r i a t a n a c t u a l l a i n n ya i
  3. 3. PENGANTAR REDAKSI Om, Swastyastu, Puji syukur kami panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan YangMaha Esa oleh karena atas perkenan dan rahkmat-Nyalah Jurnal Ilmiah Program StudiMagister Kenotariatan Program Pascasarjana Universitas Udayana Tahun 2012 dapatdiselesaikan. Disusunnya Jurnal Ilmiah Prodi M.Kn Unud ini dimaksudkan untuk dapatsebagai referensi dan informasi terkait dengan berbagai persoalan dalam bidang HukumKenotariatan bagi mahasiswa dan dosen dalam proses belajar mengajar pada Program StudiMagister Kenotariatan Universitas Udayana. Jurnal Ilmiah ini memuat beberapa artikel pilihan dari Mahasiswa Program MagisterKenotariatan Universitas Udayana seperti terkait dengan persoalan Perlindungan Hukumterhadap Notaris dalam melaksanakan kewajiban rahasia jabatan di daerah hukumnya,Pelaksanaan Perjanjian Kredit dengan jaminan fudisia, Analisis kewenangan dan TanggungJawab Notaris dalam Pembuatan Akta Keterangan Waris untuk golongan Tionghoa danartikel lainnya. Artikel tersebut merupakan ringkasan hasil penelitian tesis mahasiswa yangsudah diuji dan dapat dipertahankan oleh mahasiswa dalam sidang ujian dihadapan dewanpenguji dan Guru Besar. Dengan diterbitkannya Jurnal Ilmiah 2012 ini diharapkan dapat sebagai bahanevaluasi penyelenggaraan pendidikan didalam mewujudkan visi dan misi serta tujuanpendidikan pada Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Udayana. Kami jugamemberikan kesempatan kepada para pengajar, pengelola, mahasiswa dan alumni ProgramStudi Magister Kenotariatan untuk berpartisipasi dalam menulis artikel ilmiah dengan tetapmentaati semua aturan atau ketentuan yang tercantum dalam Jurnal Ilmiah ini. Akhirnya,semoga Jurnal Ilmiah ini bermanfaat untuk semua pihak.Om, Santih, Santih, Santih, Om. April 2012 Redaksi ii
  4. 4. DAFTAR ISI HlmSusunan Organisasi Pengelola ……………………………………………………………… iPengantar Redaksi ………………………………………………………………………….. iiDaftar isi ………………………………………………………………................................ iiiPerlindungan Hukum Terhadap Notaris Dalam Melaksanakan Kewajiban RahasiaJabatan Di Daerah HukumnyaEleanora M Pangkahila............................................................................................................................... 1Kajian Yuridis Terhadap Akta Otentik Berdasarkan Pasal 77 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas Dalam Kaitannya DenganPasal 16 Ayat (1) Huruf L Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang JabatanNotarisI Gusti Ngurah Agung Sutejo Wiradinata Kepakisan……………………………………………………. 12Pelaksanaan Ketentuan Pasal 157 Ayat (3) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007Tentang Perseroan Terbatas Terhadap Perseroan Yang Telah Memperoleh StatusBadan Hukum(Studi Di Kabupaten Badung)Ni Kade Ayu Budhiartini………………………………………………………………………………… 23Pelaksanaan Perjanjian Kredit Dengan Jaminan FidusiaPada Lembaga Perkriditan Desa (Lpd) “Desa Pakraman Sesetan”Kecamatan Denpasar SelatanEddy Yunianto Sarim.................................................................................................................................. 48Analisis Kewenangan Dan Tanggung Jawab Notaris Dalam Pembuatan AktaKeterangan Waris Untuk Golongan TionghoaI Dewa Gede Wirasatya Purnama………………………………………………………………………... 55Petunjuk Penulisan Artikel iii
  5. 5. PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP NOTARIS DALAM MELAKSANAKAN KEWAJIBAN RAHASIA JABATAN DI DAERAH HUKUMNYA Eleanora M Pangkahila Magister Kenotariatan Universitas Udayana E-Mail : - Supervisors/Co-Supervisors Dr. Jazim Hamidi, SH.,MH. Purwati, SH.,MH. ABSTRACT Eleanora Maria Pangkahila, SH, student of Notary Magister Program 2007, “The Legal Protection forNotarian in Practicing Profesional Obligation of Confidential Secret in their Law Area, First Consultant Mr. Dr.Jazim Hamidi,SH.,MH, Second Consultant : Mrs. Purwari,SH.,MH. Notary is a trusted profession and for public benefit, that a client will rely to trust them. Forward action ofNotarian Job have law impact, it means in any Notaric certificate can be used as a tool of proof, when an event oflitigation or disputes between the parties in the future. This caused profesional confidential secret of notary can keptprovided according to their roles in law proceses. Based on background mentioned above, there are 3 issues whichdiscussed in this theses, namely (1) Law meaning of Notary obligation to keep confidential secretes, (2) Obligationto provide confidential secret of Notary, (3) The legal protection to Notarian in profesional obligation to keepconfidential secret in their law area. The research was be classified into normative legal research with appproached by conceptual and statuteappproach. The legal materials of this research were based on primary, secondary and tertiary legal materials. Thelegal materials was be descripted henceforth to be interpreted, systematization, analysed, evaluated and also givenargument to get conclusion of the problems. Result of the research indicate that (1) The law meaning of Notary obligation to keep confidential secretesis to obey the profesional oath of Notary in providing law protection to all parties which promised by them. Thecertificate that made upon the presence of Notary as an implementation of the provision of Article 16, Verse(1)UUJN jo. Article 332 verse (1) of the KUHAP (2) Obligation to provide confidential secret of Notary hastendency of crossing it due to criminal sanction fines are very low according to article 332, program 1 mentionedthat fine maximum Rp 600,- (six hundreds rupiah) (3) legal protection to Notarian in profesional obligation to keepconfidential secret in their law area, type of legal protection one among others is being accepted the right ofdeniying to what ever written in the certificate they made, as organized in aerticle 1909 verse 2, KUHP civil jo.Article 170 KUHP There is protection MPD through agreement by reason from MPD in the case where Notary iscalled as a witness, determination of Notaric Certificate as a written proof according to arcticle 164 HIR and 1866KUH CivilKey Words : Confidential official, Notary, Legal protection. J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   Page 1 
  6. 6. PENDAHULUAN Pasal 54, menyatakan bahwa :1.1. Latar Belakang Masalah “Notaris hanya dapat memberikan, memperlihatkan, atau memberitahukan isi akta, groose akta, salinan akta Dengan berlakunya Undang-Undang No 30 atau kutipan akta kepada orang yang berkepentinganTahun 2004 tentang Jabatan Notaris, diharapkan dapat langsung pada akta, ahli waris, atau orang yngmemberikan perlindungan hukum baik kepada memperoleh hak, kecuali ditentukan lain oleh peraturanmasyarakat maupun terhadap Notaris itu sendiri. perundang-undang.” Di dalam Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang No. Akhir-akhir ini banyak berita di masa media30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris disebutkan cetak dan elektronik bahwa seorang Notaris diajukan kebahwa Notaris adalah pejabat umum yang berwenang pengadilan sebagai tergugat atau saksi, baik dalamuntuk membuat akta otentik dan kewenangan lainnya perkara perdata maupun pidana. Penyimpangan-sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang. penyimpangan terhadap kewenangan dan kewajibanKemudian berkaitan dengan kewenangan pembuatan yang dilakukan Notaris, memungkinkan Notarisakta otentik Pasal 15 ayat (1) Undang-Undang Jabatan berurusan dengan pertanggungjawaban secara hukum.Notaris menyebutkan; Pertanggungjawaban tersebut dapat berupa pidana, perdata maupun administratif.”Notaris berwenang membuat akta otentik mengenai Fakta menunjukkan bahwa Notaris di dalamsemua perbuatan, perjanjian, dan ketetapan yang melakukan jual beli hak atas tanah, Notaris yang tidakdiharuskan oleh peraturan perundang-undangan merangkap PPAT mengambil pekerjaan PPAT dengandan/atau yang dikehendaki oleh yang berkepentingan meminta penomoran pada PPAT lain. Banyak terjadiuntuk dinyatakan dalam akta otentik, menjamin juga pembuatan akta jual beli dibawa keluar olehkepastian tanggal pembuatan akta, menyimpan akta, pegawainya bukan ditandatangai di hadapan notaris, danmemberikan grosse, salinan dan kutipan akta, semuanya masih banyak lagi perbuatan Notaris tidak sesuaiitu sepanjang pembuatan akta-akta itu juga ditugaskan dengan etika seorang notaris.atau dikecualikan kepada pejabat lain yang ditetapkan Penyimpangan secara administratif umumnyaoleh Undang-Undang.” dilakukan Notaris dengan tanpa mengindahkan ketentuan prosedur dalam pembuatan akta seperti yang Disamping membuat akta otentik, Notaris juga tertuang dalam UUJN maupun perilaku yang melanggarmempunyai wewenang untuk pencatatan/(waarmeking) Kode Etik Profesi. Hal tersebut sering dirasakanterhadap perjanjian. Sesuai dengan pasal 15 ayat 2 merugikan para pihak yang minta bantuan dalamUUJN menyatakan Notaris berwenang: pembuatan akta. Di samping itu adanya upaya-upaya a. Mengesahkan tanda tangan dan menetapkan dari pihak tertentu yang ingin memanfaatkan kelemahan kepastian tanggal surat di bawah tangan dengan seorang Notaris, baik dari sisi personalitas maupun mendaftar dalam buku khusus. profesionalitas. b. Membukukan surat-surat di bawah tangan dengan Oleh karena itu, ketelitian sangat mutlak mendaftar dalam buku khusus. dimiliki oleh seorang Notaris dalam melaksanakan tugas c. Membuat kopi dari asli surat-surat di bawah sebagai Pejabat Umum. Tindak lanjut dari tugas yang tangan berupa salinan yang memuat uraian diemban oleh Notaris mempunyai dampak secara sebagaimana ditulis dan digambarkan dalam surat hukum. Dampak hukum artinya; Bahwa setiap yang bersangkutan. pembuatan akta otentik yang dilakukan oleh Notaris d. Melakukan pengesahan kecocokan fotokopi dapat dijadikan sebagai alat pembuktian di muka sidang dengan surat aslinya. pengadilan apabila terjadi sengketa di antara para pihak. e. Memberikan penyuluhan hukum berhubungan Persengketaan tersebut tidak menutup dengan pembuatan akta. kemungkinan melibatkan Notaris dan atas keterlibatan f. Membuat akta yang berkaitan dengan pertanahan itu Notaris harus bertanggung jawab atas apa yang telah atau, dilakukannya, Oleh karena itu, terhadap tanggung jawab g. Membuat akta risalah lelang. profesi Notaris dalam melaksanakan kewajiban rahasia Selain kewenangan Notaris tersebut di atas, jabatan diperlukan suatu ruang lingkup peraturan yangdi dalam UUJN No. 30 Tahun 2004, pasal 16 ayat (1) jelas.huruf e dan pasal 45 menjelaskan kewajiban yang harus Sehingga Notaris yang telah melaksanakandijalankan oleh seorang Notaris. Penjelasannya sebagai tugas dan kewajibannya sesuai kerangka hukum dapatberikut; terlindungi. Notaris menurut ketentuan hukum tidakPasal 16 ayat (1) huruf e berbunyi : boleh memihak. Ini berarti Notaris dalam membantu para pihak yang merumuskan dalam akta, harus“Merahasiakan segala sesuatu mengenai akta yang memperhatikan kepentingan kedua belah pihak dandibuatnya dan segala keterangan yang diperoleh guna harus merahasiakan yang berhubungan dengan isi aktapembuatan akta sesuai dengan sumpah/janji jabatan, yang dibuatnya. Tertutama apabila terjadi sengketakecuali Undang-Undang menentukan lain.” antara kedua belah pihak yang mengakibatkan adanya peyidikan terhadapap akta Notaris. Tujuan penyidikan adalah mencari dan mengumpulkan bahan–bahan pembuktian. J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   Page 2 
  7. 7. Sanksi terhadap pelanggaran yang dilakukan 1.4. Tujuan PenelitianNotaris terhadap rahasia jabatan ini merupakanpelanggaran rahasia negara. Di dalam UUJN sendiri 1. Tujuan Umumjuga diatur mengenai sanksi tersebut yakni berupa Makna hukum dari kewajiban melaksanakan rahasiateguran lisan, teguran tertulis, pemberitahuan sementara, jabatan notaris.pemberhentian dengan hormat atau pemberhentian Kewajiban melakukan rahasia jabatan notaris adadengan tidak hormat (Pasal 85 UUJN). Selain diatur kecenderugan dilanggar.dalam UUJN, sanksi pelanggaran mengenai rahasia Bentuk perlindungan hukum terhadap notaris dalamjabatan ini juga diatur dalam Pasal 322 Kitab undang- melakukan kewajiban merahasiakan jabatan diUndangn Hukum Pidana (KUHP) tentang Membuka daerah hukumnya.Rahasia. Kewajiban ini mendapat pengecualian 2. Tujuan Khusussebagaimana tercantum dalam Pasal 66 ayat (1) UUJN. Untuk mengetahui makna hukum dari kewajibanKetentuan Pasal 66 ayat (1) UUJN tersebut hingga saat melaksanakan rahasia jabatan notaris itu.ini masih menjadi kendala bagi para Notaris, terutama Untuk mengetahui kewajiban melakukan rahasiabagi Majelis Pengawas Daerah (MPD) dalam jabatan notaries ada kecenderungan dilanggar.memberikan suatu tolok ukur persetujuan terhadap Untuk mengetahui bentuk perlindungan hukumNotaris yang diapanggil sebagai saksi oleh penyidik, terhadap notaris dalam melakukan kewajibanpenuntut umum maupun hakim. Hal ini disebabkan merahasiakan jabatan di daerah hukumnya.karena di satu sisi Notaris harus menjalankankewajibannya yaitu melaksanakan rahasia jabatan dan 1.5. Manfaat Penelitianwajib ingkar terhadap akta yang dibuatnya. Di sisi lainNotaris sebagai Pejabat Umum juga harus Melalui penelitian ini, diharapkan dapat memberikanmengutamakan kepentingan umum. manfaat baik secara teoritis maupun praktis sebagai Hal lain yang masih menjadi kendala adalah berikut;kapasitas dan fungsi dari organisasi Notaris, dalam hal 1. Secara Teoritisini Ikatan Notaris Indonesia (INI) yang akan semakin Diharapkan hasil penelitian ini dapat bergunasulit bertindak secara obyektif. Hal ini disebabkan utnuk menambah dan melengkapi khasanah ilmukarena salah satu unsur Majelis Pengawas diambil dari hukum dalam hal ini khusunya bidang hukum tentangpraktisi. INI yang merupakan organisasi Independent Jabatan Notaris.dan terbebas dari campur tangan pemerintah 2. Secara Praktismempunyai hak untuk melindungi para anggotanya. Diharapakan dengan hasil-hasil penelitian Berdasar pada penjelasan dari latar belakang dapat mejadi masukan bagi para pelaksana hukum dimasalah, kemudian penulis tertarik untuk melakukan lapangan terutama yang menjadi subyek penelitian.penelitian mengenai perlindungan hukum terhadap serta menjadi bahan penelitian lebih lanjut, berkaitanjabatan Notaris dengan mengangkatnya ke dalam dengan rahasia abatan Notaris dan bermanfaat bagisebuah tesis berjudul : “ PERLINDUNGAN HUKUM pihak-pihak yang terkait dengan pelaksanaan kewajibanTERHADAP NOTARIS DALAM MELAKSANAKAN rahasia jabatan Notaris dan bagi masyarakat.KEWAJIBAN RAHASIA JABATAN DI DAERAHHUKUMNYA ” TINJAUAN PUSTAKA1.2. Batasan Masalah 2.1. Tinjauan Umum Tentang Notaris1. Permasalahan pertama mengenai makna hukum dari 2.1.1. Sejarah Perkembangan Notaris kewajiban melaksanakan rahasia Sejarah Notaris di Indonesia pada hakekatnya jabatan Notaris, tidak dapat dipisahkan dari sejarah lembaga di Negara2. Permasalahan kedua mengenai kewajiban melakukan pada umumnya, khususnya di negeri Belanda. Hal rahasia jabatan Notaris yang cenderung tersebut disebabkan karena perundang-undangan di dilanggar, Indonesia di bidang Notariat berakar dari Notariswet,3. Permasalahan ketiga mengenai bentuk perlindungan dari negeri Belanda tanggal 9 Juli 1842 (Ned. Stbl. No. hukum terhadap Notaris dalam melaksanakan 20). Dengan demikian, lembaga kenotariatan baru kewajiban merahasiakan jabatan di daerah dikenal di Indonesia sejak hukum Belanda masuk ke hukumnya. Indonesia. Semula lembaga ini diperuntukan bagi golongan Eropa terutama dalam bidang hukum perdata1.3. Rumusan Masalah yaitu Burgelijk Wetboek. Notariat berasal dari kata Latijne Notariaat, sedangkan Notaris dari Notarius1. Apa makna hukum dari kewajiban melaksanakan (Notarui), adalah orang menjalankan pekerjaan rahasia jabatan notaris? menulis…..2. Mengapa kewajiban melakukan rahasia jabatan notaris ada kecenderungan dilanggar? 2.2.2. Pengertian dan Peranan Notaris bagi3. Bagaimanakah bentuk perlindungan hukum terhadap Masyarakat Notaris dalam melakukan kewajiban Notaris yang dalam profesinya sesungguhnya merahasiakan jabatan di daerah hukumnya? merupakan instansi yang dengan akta-aktanya menimbulkan alat-alat pembuktian tertulis dan mempunyai sifat otentik, menurut pendapat kami dapat J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   Page 3 
  8. 8. berbuat banyak untuk mendorong masyarakat guna alat- b) Notaris dalam menjalankan tugasnya tidakalat pembuktian. boleh mencemarkan nama baik dari korps pengemban profesi hukum.2.2.Tugas dan Wewenang Notaris c) Notarisdalam menjalankan tugasnya tidak Wewenang utama yang dimiliki oleh Notaris boleh mencemarkan nama baik dari lembagaadalah membuat suatu akta otentik sehingga notaris.keotentikannya suatu akta Notaris bersumber dari Pasal d) Karena notaris bekerja dengan menerapkan15 Undang-Undang jabatan Noptaris dan juga Pasal hukum di dalam produk yang dihasilkan, Kode1868 KUHPerdata. Suatu akta otentik yang disebut telah Etik ini diharapkan senantiasa meningkatkanmemenuhi otensitas suatu akta, apabila telah memenuhi jabatannya untuk senantiasa menjunjung tinggi3 unsur, yaitu: keluhuran dari martabat dan tugas jabatannya, a) Akta itu dibuat dalam bentuk yang ditentukan sertya menjalankan tugas dengan memenuhi oleh Undang-Undang. persyaratan yang ditentukan oleh perundang- b) Akata itu harus dibuat oleh (door) atau di undangan. hadapan (ten overstaan) seorang pejabat umum. 2.4. Konsep Negara Hukum c) Pejabat Umum itu mempunyai kewenangan untuk membuat akta. Suatu Negara dapat dikatakan Negara hukum “rechstaat” menurut Burkens, (dalam kutipan Yohanes2.3. Tinjauan Yuridis Akta Notaris Usfan) apabila memenuhi syarat-sayarat29: 1. Azas legalitas. Setiap pihak pemerintahan2.3.1. Akta Notaris sebagai Alat Bukti harus didsarkan atas peraturan perundang- Berdasarkan Pasal 1 ayat (7) Undang-Undang undangan (wettelijke gronslag). DenganJabatan Notaris, yang dimaksud dengan definisi akta landasan ini, undang-undang dalam arti formilNotaris adalah akta otentik yang dibuat oleh atau di dan undang-undang sendiri merupakan temuanhadapan Notaris menurut bentuk dan tata cara yang dasar tindak pemerintahan. Dalam hubunganditetapkan dalam Undang-Undang ini. Akta otentik atau ini pembentukan undang-undang merupakanakta yang dibuat oleh atau di hadapan Notaris bagian penting Negara hukum.merupakan suatu alat bukti sempurna. Alat bukti yang 2. Pembagian kekuasaan. Syarat ini mengandungsah atau diterima dalam suatu perkara, pada dasarnya makna bahwa kekuasaan Negara tidak bolehterdiri dari ucapan dalam bentuk keterangan saksi-saksi, hanya bertumpu pada satu tangan.pengakuan, sumpah, dan tertulis dapat berupa tulisan- 3. Hak-hak dasar (grondrechten), merupakantulisan yang mempunyai nilia pembuktian. Dalam sasaran perlindungan diri pemerintahanperkembangan alat bukti sekarang ini (untuk perkara terhadap rakyat dan sekaligus membatasipidana maupun perkara perdata) telah pula diterima alat kekuasaan pembentuk undang-undang.bukti elektronik atau yang disimpan secara elektronik 4. Pengawasan pengadilan bagi rakyat tersedia.sebagai alat bukti yang sah dalam persidangan di .pengadilan. 2.5. Konsep Kewenangan2.3.2. Syarat Akta Notaris sebagai Alat Bukti. Dalam beberapa sumber menerangkan bahwa Akta yang dibuat olehg atau di hadapan istilah kewenangan (wewenang) disejajarkan dengannotaries berkeduidukan sebagai akta otentik menurut bevoegheid dalam istilah Belanda, menurut Phillipus M.bentuk dan tata cara yang ditetapkan dalm Undang- Hadjon salah seorang guru besar Fakultas Hukum UnairUndang Jabatan Notaris. Menurut Irawan Soerodjo, ada mengatakan bahwa “wewenang terdiri atas sekurang-3 (tiga) unsur esensialia agar terpenuhinya syarat formal kurangnya mempunyai 3 komponen, yaitu: pengaruh,suatu akta otentik, yaitu: dasar hukum dan komformitas hukum”. a) Di dalam bentuk yang telah ditentukan oleh Komponen pengaruh bahwa penggunaan Undang-Undang. wewenang dimaksudkan untuk mengendalikan prilaku b) Dibuat oleh atau di hadapan pejabat umum. subyek hukum; dasar hukum dimaksudkan, bahwa c) Akta yang dibuat oleh atau di hadapan pejabat wewenang itu haruslah mempunyai dasar hukum; umum yang berwenang untuk itu dan di tempat sedangkan komponen komformitas hukum dimaksud di mana akta itu dibuat. bahwa wewenang itu haruslah mempunyai standar. Kewenangan secara teoritik dapat diperoleh3.1. Kode Etik Notaris melalui 3 cara, yaitu atribusi, delelgasi, dan mandate. Dalam melaksanakan tugasnya, seorang notaris Atribut (atribusi) adalah pemberian wewenangharus menerapkan disiplin ilmu hukum di dalam pemerintah oleh pembuat undang-undang kepadamasyarakat. Pelaksanaan jabatan Notaris harus dikontrol organpemerintah; delegasi adalah pelimpahandengan Kode Etik Notaris. Sebagaimana dikatakan oleh wewenang pemerintah dari satu organ pemerintahFrans Hendra Winata, ada beberapa pertimbangan kepada pemerintahan yang lain; sedangkan mandateyuridis yang harus kita perhatikan, antara lain: mandate terjadi ketika organ pemerintahan mengizinkan a) Notarisadalah pejabat public yang bertugas kewenangannya dijalankan oleh organ lain atas untuk melaksanakan jabatan public. namanya. J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   Page 4 
  9. 9. 2.6. Teori Perlindungan Hukum bagaimana penerapannya/pelaksanannya melalui suatu penelitian lapangan yang dilakukan dengan wawancara, Pengertian perlindungan hokum, seperti yang sehingga diperoleh kejelasan tentang hal yang diteliti.apa yang tertulis di dalam kamus bahasa Indonesia Peda penelitan ini yang diteliti pada awalnya adalahKontemporer bahwa “suatu upaya yang menjamin data sekunder, kemudian dilanjutkan dengan penelitianadanya kepastian hokum untuk memperoleh terhadap data primer di lapangan.perlindungan berdasarkan peraturan-peraturan atauundang-undang”. Sedangkan menurut Kamus Hukum 3.2. Spesifikasi PenelitianPerlindungan Hukum adalah: Spesifikasi penelitian dalam penulisan tesis ini“suatu upaya kepastian hukum untuk mendapatkan adalah deskriptif analitis. Deskriptif penelitian ini,perlindungan berdasarkan peraturan-peraturan yang terbatas pada usaha mengungkapkan suatu masalah ataudibuat oelh suatu kekuasaan Negara dan sebagainya keadaan atau perisitwa sebagaimana adanya, sehinggaatau dapat yang berlaku bagi semua orang di suatu bersifat sekedar untuk mengungkpakan fakta. Hasilmasyarakat atau Negara”. penelitian ditekankan pada memberikan gambaran secara obyektif, tentang keadaan sebenarnya dari obyekHadjon menyebutkan, ada 2 macam perlindungan yang diselidiki. Sedangkan istilah analisis mengandunghukum bagi rakyat, yaitu; pengertian mengelompokkan, menghubungkan, 1. Perlindungan Hukum Prefentif membandingkan data-data yang diperoleh baik dari segi Kepada rakyat diberi kesempatan untuk teori maupun dari segi praktek. mengajukan keberatan atau pendapatnya sebelum suatu keputusan pemerintah mendapat bentuk 3.3. Metode Pengumpulan Data yang definitive bertujuan mencegah sengketa. 2. Perlindungan Hukum Represif : bertujuan Secara umum, dalam penelitian biasanya menyelesaikan sengketa. dibedakan antara data yang diperoleh secara langsung Perlindungan hukum preventif sangat besar dari masyarakat dan data dari bahan pustaka. Yang artinya bagi pemerintah yang didasarkan diperoleh langsung dari masyarakat dinamakan data kebebasan bertindak karena dengan adanya primer atau data dasar dan data yang kedua disebut data perlindungan hukum preventif, pemerintah sekunder. Data primer dan data sekunder yang dapat terdorong untuk bersifat hati-hati dalm dipaparkan sebagai berikut; mengambil keputusan yang didasarkan pada 1. Data primer dalam penelitian ini objek penelitian diskresi. Dengan pengertian demikian, itu sendiri yang dikaitkan dengan teori-teori penanganan perlindungan hukum bagi rakyat tertulis yang ada di data sekunder. oleh peradilan umum di Indonesia termasuk 2. Data sekunder, merupakan data yang diperlukan kategori perlindungan hukum represif. untuk melengkapi data primer. Selain berupa peraturan perundang-undangan, data sekunder juga METODE PENELITIAN dapat berupa pendapat pakar yang ahli mengenai . masalah ini, yang disampaikan melalui berbagaiPenelitian hukum pada dasarnya dibagi dua (2) jenis, macam bentuk buku, karya ilmiah, lapornyakni : penelitian,media massa, dan lain-lain. 1. Penelitian normatif merupakan penelitian deng menggunakan data sekunder sehingga Berikut ini beberapa sumber yang akan dijadikan disebut pula dengan penelitian kepustakaan, sebagai data sekunder; 2. Penelitian empiris adalah penelitian a. Undang-Undang Nomor 30 tahun 2004 tentang langsung di masyarakat ada yang melalui jabatan Notaris. kuisioner ataupun wawancara secara b. Kitab Undang-undang Hukum Perdata langsung. (KUHPerdata). c. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Metode penelitian yang digunakan dalam d. Kita Undang-Undang Hukum Acara Pidanapenulisan ini adalah menggunakan kedua metode baik (KUHAP).metode penelitian normative (metode penelitian e. Peraturan Menteri Hukum dan HAM, Nomor :Kualitatif) M.02.PR.08.10 tahun 2004 tentang Tata Cara. Pengangkatan Anggota, Pemberhentian Anggota,3.1. Metode Pendekatan Susunan Organisasi dan Tata Cara Pemeriksaan majelis Pengawas Notaris. Dalam penelitian ini, metode pendekatan yang f. Peraturan Menteri Hukum dan HAM RI. Nomordigunakan termasuk pada penelitian hukum yuridis : M.03HT.03.10 Tahun 2007 tentangempiris, yang terdiri dari penelitian terhadap identifikasi Pengambilan Minuta Akta dan Pemanggilanhukum dan penelitian terhadap efektifitas hukum45. Notaris.Permasalah yang diteliti mencakup bidang yuridis g. Nota Kesepahaman No.Pol. B/1056/V/2006mengatur tentang rahasia jabatan notaris dan sanksinya. Nomor : 01/MoU/PP-INI/V/2006 tentang Metode ini merupakan sautu pendekatan yang Pembinaan dan Peningkatan Profesionalisme dimengacu pada peraturan tertulis atau bahan-bahan Bidang Penegakan Hukum.hukum lainnya yang bersifat sekunder, untuk melihat h. Kamus hukum dan kamus bahasa Indonesia. J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   Page 5 
  10. 10. i. Serta buku-buku teori pendukung yang f. Menjilid akta yang dibuatnya dalam 1 (satu) menyangkut hukum. bulan menjadi buku yang memuat tidak lebih dari 50 (lima puluh) akta, dan jika jumlah akta3.4. Metode Analisa Data tidak dapat dimuat dalam 1 (satu) buku, akta tersebut dapat dijilid menjadi lebih dari 1 (satu) Penelitian ini menggunakan metode analisis buku, dan mencatat jumlah Minuta Akta,data kualitatif. Metode ini memusatkan perhatiannya bulan, dan tahun pembuatannya pada sampulpada prinsip-prinsip umum yang mendasari perwujudan setiap buku.satuan-satuan gejala yang ada dalm kehidupan manusia, g. Membuat daftar dari akta protes terhadap tidakatau pola-pola yang dianalisis gejala-gejala social dibayar atau tidak diterimanya surat berharga.budaya, dengan menggunakan kebudayaan dari h. Membuat daftar akta yang berkenaan denganmasyarakat yang bersangkutan, untuk memperoleh wasiat menurut urutan waktu pembuatan aktagambaran mengenai pola-pola yang berlaku. Alasan setiap bulan.kenapa penelitian ini menggunakan metode anlisis i. Mengirimkan daftar akta sebagaimanadeskriptif kualitatif adalah data yang dikumpul adalah dimaksud dalam huruf h atau daftar nihil yangdata yang berupa kata-kata, kalimat, gambar, catatan, berkenaan dengan wasiat ke daftar Pusatdokumen pribadi atau resmi, videotape, dan data-data Wasiat Departemen yang tugas dantersebut bukan berupa kumpulan angka-angka. tanggungjawabnya di bidang kenotariatan dalam waktu 5 (lima) hari pada minggu HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN pertama setiap bulan berikutnya. j. Mencatat dalam repertorium tanggal Di dalam BAB IV, ada 3 (tiga) pokok pengiriman daftar wasiat pada setiap akhirpermasalahan yang akan dibahas. Dari ketiga pokok bulan.bahasan tersebut adalah (1) Makna Hukum dari k. Mempunyi cap stempel yang memuat lambangKewajiban Melaksanakan Rahasia Jabatan Notaris, (2) Negara Republik Indonesia dan pada ruangKewajiban Melakukan Rahasia Jabatan Notaris Ada yang melingkarinya dituliskan nama, jabatan,Kecenderungan Dilanggar, (3) Bentuk Perlindungan dan tempat kedudukan yang bersangkutan.Hukum Terhadap Notaris Dalam Melakukan Kewajiban l. Membacakan akta di hadapan penghadapMerahasiakan Jabatan di daerah Hukumnya. Berikut ini dihadiri oleh paling sedikit 2 (dua orang saksiadalah pembahasannya. dan ditandatangani pada saat itu juga oleh penghadap, saksi, dan notaris.4.1. Makna Hukum dari Kewajiban Melaksanakan m. Menerima magang calon notaris.Rahasia Jabatan Notaris.     4.1.2. Kewenangan Notaris selaku Pejabat Umum Penafsiran makna hukum dari kewajiban  melaksanakan rahasia jabatan notaris pembahasannya Kewenangan notaris berdasarkan ketentuan Pasal 15dibagi menjadi dalam 3 (tiga) aspek, yaitu; (1) ayat (1) Undang-Undang Jabatan Notaris yaitu:Kewajiban notaris selaku pejabat umum, (2)  Kewenangan notaris selaku pejabat umum, (3) “Notaris berwenang membuat akta otentik mengenaiiTanggung jawab notaris dan kekuatan pembuatan akta. semua perbuatan, perjanjian, dan ketetapan yangPembahasannya sebagai berikut; diharuskan oleh peraturan perundang-undangan dan/atau yang dikehendaki oleh yang berkepentingan4.1.1. Kewajiban Notaris selaku Pejabat Umum untuk dinyatakan dalam akta otentik, menjamin kepastian tanggal pembuatan akta, menyimpan akta, Sesuai dengan Pasal 16 ayat (1) Undang- memberikan grosse, salinan dan kutipan akta, semuanyaUndang Jabatan Notaris menjalankan jabatannya, itu sepanjang pembuatan akta-akta itu juga ditugaskannotaris berkewajiban sebagai berikut; atau dikecualikan kepada pejabat lain yang ditetapkan a. Bertindak jujur, seksama, mandiri, tidak oleh Undang-Undang” berpihak, dan menjaga kepentingan pihak yang terkait dalam pembuatan hukum. 4.1.3. Tanggung Jawab Notaris dan Kekuatan b. Membuat akta dalam bentuk Minuta Akta dan Pembuatan Akta menyimpannya sebagai bagian dari Protokol Notaris. Akta otentik yang dibuat oleh notaris c. Mengeluarkan Grosse Akta, Salinan Akta, atau mengandung arti bahwa akta otentik merupakan bukti Kutipan Akta berdasarkan Minuta Akta. yang sempurna tentang apa yang dibuat di dalamnya. d. Memberikan pelayanan sesuai dengan Akta otentik mempunyai 3 (tiga) macam kekuatan ketentuan dalam Undang-Undang, kecuali ada pembuktian, antara lain; alasan yang menolaknya. a. Kekuatan Pembuktian lahiriah, yaitu kemampuan e. Merahasiakan segala sesuatu mengenai akta dari akta itu sendiri untuk membuktikan dirinya yang dibuatnya dan segala keterangan yang sebagai akta otentik. Jika dilihat dari luar diperoleh guna pembuatan akta sesuai dengan (lahirnya) sebagai akta otentik serta sesuai jumlah/janji jabatan, kecuali Undang-Undang dengan aturan hukum yang sudah ditentukan yang menentukan lain. J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   Page 6 
  11. 11. mengenai syarat akta otentik, sampai terbutki merasa dirugikan atas akta yang dibuat oleh atau sebaliknya, di hadapan notaris. Pengingkaran atau artinya sampai ada yang membuktikan bahwa penyangkalan tersebut harus dilakukan dengan akta tersebut bukan akta otentik secara lahiriah. suatu gugatan ke pengadilan umum, dan Dalam ha ini, beban pembuktian ada pada pihak penggugat harus dapat membuktikan bahwa ada yang menyangkal keotentikan akta notaris. aspek formal yang dilanggar atau tidak sesuai Parameter untuk menentukan akta notaris dalam akta yang bersangkutan. sebagai akta otentik, yaitu tanda tangan dari notaris yang bersangkutan, baik yang ada pada Kekuatan Pembuktian materiil, kepastian tentang Minuta dan Salinan serta adanya awal akta suatu akta sangat penting, bahwa apa yang tersebut sampai akhir akta. Nilai pembuktian akta notaris dalam akta merupakan pembuktian yang sah terhadap dari aspek lahiriah, akta tersebut harus dilihat ada pihak yang membuat akta atau mereka yang mendapat apanya, bukan dilihat ada apa. Secara lahiriah hak dan berlaku untuk umum, kecuali ada pembuktian tidak perlu dipertentangkan dengan alat bukti sebaliknya. Keterangan atau pernyataan yang yang lainnya. Jika ada yang menilik bahwa suatu dituangkan/dimuat dalam akta pejabat, atau keterangan akta notaris tidak memenuhi syarat sebagai akta, para pihak yang diberikan/disampaikan di hadapan maka yang bersangkutan wajib membuktikan notaris dan para pihak harus dinilai benar. Perkataan bahwa akta tersebut secara lahiriah bukan akta yang kemudian dituangkan/dimuat dalam akta berlaku otentik. Penyangkalan atau pengingkaran bahwa sebagai yang benar atau setiap orang yang dating secara lahiriah akta notaris sebagai akta otentik menghadap notaris yang kemudian kemudian atau bukan akata otentik, maka penilaian keterangannya dituangkan/dimuat dalam akta harus pembuktiannya harus didasarkan kepada syarat- dinilai telah benar berkata demikian. Jika ternyata syarat akta notaris sebagai akta otentik. pernyataan/keterangan para penghadap tersebut menjadi Pembuktian semacam ini harus dilakukan tidak benar, maka hal teresbut menjadi tanggung jawab melalui upaya gugatan ke pengadilan. Penggugat para pihak sendiri. Dengan demikian, isi akta notaris harus dapat membuktikan bahwa secara lahiriah mempunyai kepastian sebagai yang sebenarnya, menjadi akta yang menjadi objek gugatan bukan kata butki yang sah untuk di antara para pihak dan para ahli notaris. waris dan para penerima hak mereka. Jika akanb. Kekuatan Pembuktian Formil, akata notaris harus membuktikan aspek materiil dari akta, maka yang memberikan kepastian bahwa suatu kejadian dan bersangkutan harus dapat membuktikan bahwa notaris fakta tersebut dalam akta betul-betul dilakukan tidak menerangkan atau menyatakan yang sebenarnya oleh notaris atau diterangkan oelh pihak-pihak dalam akta, atau para pihak yang telah benar berkata (di yang menghadap pada saat yang tercantum hadapan notaris) menjadi tidak benar berkata, dan harus dalam akta sesuai dengan prosedur yang sudah dilakukan pembuktian terbalik untuk menyangkal aspek ditentukan dalam pembuatan kata. Secara formal materiil dari akta notaris untuk membuktikan kebenaran dan kepastian tentang hari, tanggal, bulan, tahun, pukul (waktu) 4.2. Kewajiban Melakukan Rahasia Jabatan Notaris menghadap, dan para pihak yang menghadap, Ada Kecenderungan Dilanggar. paraf dan tanda tangan para pihak/penghadap,   saksi dan notaris, serta serta membuktikan apa 4.2.1 Rahasia Jabatan yang dilihat, disaksikan, didengar oleh notaris   (pada akta pejabat/berita acara), dan mencatatkan Sesuai dengan isi dari Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang keterangan atau pernyataan para pihak Jabatan Notaris yang berbunyi, bahwa notaris sebelum /penghadap (pada akta pihak). Jika aspek formal menjalankan jabatannya, wajib mengucapkan dipermasalahkan oleh para pihak, maka harus sumpah/janji menurut agamanya di hadapan Menteri dapat membuktikan ketidakbenaran hari, tanggal, dan Pejabat yang ditunjuk. Sedangkan pada ayat (2) bulan, tahun, dan pukul (waktu) menghadap, menyatakan : membuktikan ketidakbenaran mereka yang ”Saya bersumpah/berjanji : menghadap, membuktikan ketidakbenaran apa Bahwa saya akan patuh dan setia kepada Negara yang dilihat, disaksikan, dan didengar oleh Republik Indonesia, Pancasila dan Undang-Undang notaris. Selain itu juga harus dapat membuktikan Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Undang- ketidakbenaran pernyataan atau keterangan para Undang tentang Jabatan Notaris serta peraturan pihak yang diberikan/disampaikan di hadapan perundang-undangan lainnya, notaris, dan ketidakbenaran tanda tangan para Bahwa saya akan menjalankan jabatan saya pihak, saksi, dan notaris atau pun ada prosedur dengan amanah, jujur, seksama, mandiri, dan tidak pembuatan akta yang tidak dilakukan. Dengan berpihak. kata lain, pihak yang mempermasalahkan akta Bahwa saya akan menjaga sikap, tingkah laku tersebut harus melakukan pembuktian terbalik saya, dan menjalankan kewajiban saya sesuai dengan untuk menyangkal aspek formal dari akta notaris. Kode Etik Profesi, kehormatan martabat, dan tanggung Jika tidak mampu membuktikan ketidakbenaran jawab saya sebagai notaris. tersebut, maka akta tersebut harus diterima oleh Bahwa saya akan merahasiakan isi akta dan siapapun. Siapapun boleh melakukan keterangan yang diperoleh dalam pelaksanaan jabatan pengingkaran atau penyangkalan atas aspek saya. formal akta notaris, jika yang bersangkutan J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   Page 7 
  12. 12. Bahwa saya untuk dapat diangkat dalam jabatan tersebut tidak berlaku terhadap mereka, yangini, baik secara langsung, dengan nama atau dalih berdasarkan ketentuan perundang-undangan tidakapapun, tidak pernah dan tidak akan memberikan atau diperbolehkan berbicara, demikian juga tidak berlakumenjajikan sesuatu kepada siapapun” terhadap mereka yang berdasarkan Pasal 1909 ayat (2)   KUHPerdata, dan Pasal 145 HIR, dan Pasal 170 KUHP4.2.2. Ancaman Pelanggarannya dapat menentukan haknya untuk mengundurkan diri   sebagai saksi dengan cara menuntut penggunaan hak4.2.2.1. Ancaman Pidana ingkarnya. Apabila seorang notaris membuka rahasia 4.3.2. Syarat dan Pemanggilan Notarisjabatan yang diamanatkan padanya, maka kepadanyadiancam dengan pidana berdasarkan: Syarat dan tata cara pemanggilan notaris yang Pasal 322 Kitab Undang-Undang Hukum diatur dalam Pasal 14 Peraturan Menteri Hukum danPidana : HAM Republik Indonesia nomor : M.03.HT.03.10 a.1. Barangsiapa dengan sengaja membuka Tahun 2007 menyatakan bahwa : Penyidik, Penuntut rahasia yang wajib disimpannya karena Umum, , maupun Hakim untuk kepentingan dan jabatan atau pencariannya, baik yang kelancaran proses peradilan dapat memanggil notaris sekarang, maupun yang dahulu, sebagai saksi, tersangka, atau pun terdakwa. Untuk diancam dengan penjara paling lama 9 selanjutnya Majelis Pengawas Daerah memberikan (sembilan) bulan atau denda paling persetujuan pemanggillan notaris apabila ada dugaan banyak Rp. 600,- (enam ratus). tindak pidana berkaitan Minuta Akta dan/atau surat- surat yang dilekatkan pada Minuta Akta maupun a.2. Jika kejahatan dilakukan terhadap seorang Protokol Notaris dalam penyimpanan notaris, serta tertentu, maka perbuatan itu hanya dapat belum gugur hak dituntut atas pengaduan orang lain. menuntut berdasarkan ketentuan tentang daluwarsa dalam peraturan perundang-4.2.2.2. Ancaman Perdata undangan di bidang hukum pidana. Untuk persetujuan tersebut diberikan setelah mendengar segala keterangan Apabila akibat dibukanya rahasia seseorang dari notaris yang bersangkutan. Jika Majelis Pengawasoleh notaris atau karyawan notaris, sehingga diketahui Daerah tidak memberikan persetujuannya kepadaoleh masyarakat dan mengakibatkan kerugian bagi Penyidik, Penuntut Umum, maupun Hakim untukorang yang bersangkutan, maka notaris tersebut dapat pemanggilan notaris sebagai saksi, tersangka, atau pundigugat secara perdata berdasarkan : terdakwa apabila tidak memenuhi ketentuan tersebut. Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum Dalam hal kewenangan Majelis Pengawas daerah wajibPerdata menyatakan bahwa : tiap perbuatan melanggar memberikan persetujuan atau tidak memberikanhukum, yang membawa kerugian pada orang lain, persetujuan secara tertulis dalam jangka waktu palingmewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan lama 14 (empat belas) terhitung sejak diterimanya suratkerugian itu, mengganti kerugian tersebut. permohonan pemanggilan notaris. Apa bila jangka waktu tersebut terlampaui, maka Majelis Pengawas4.2.3. Sanksi menurut Undang-Undang Jabatan Daerah dianggap telah menyetujui pemanggilanNotaris tersebut. Merahasiakan segala sesuatu mengenai akta 4.3.3. Pembuktian Perkarayang dibuat dan segala keterangan yang diperoleh gunapembuatan akta merupakan salah satu kewajiban 4.3.3.1. Pembuktian dalam Perkara Perdatanotaris. Pelanggaran terhadap kewajiban menjaga Pasal 164 HIR dan pasal 1866 KUHPerdatakerahasiaan jabatan dapat mengakibatkan notaris menyatakan bahwa alat-alat bukti terdiri atas:dikenakan sanksi oleh Majelis Pengawas Daerah, hal ini a. Bukti tulisan.sesuai dengna Pasal 85 Undang-Undang Jabatan Notaris b. Bukti dengan saksi-saksi.antara lain: c. Persangkaan. a. Teguran lisan. d. Pengakuan b. Teguran tertulis. e. Sumpah c. Pemberhentian sementara. f. Segala sesuatunya dengan mengindahkan d. Pemberhentian dengan hormat. aturan-aturan yang ditetapkan dalam bab e. Pemberhentian dengan tidak hormat oleh berikut. Menteri atas usul Majelis Pengawas Pusat. 4.3.3.2. Pembuktian dalam Perkata Pidana4.3. Bentuk Perlindungan Hukum Terhadap Notaris Alat-alat bukti dan kekuatan pembuktian dalam dalam Melakukan Kewajiban Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) Merahasiakan Jabatan di Daerah Hukumnya. tidak terlalu berbeda dengan yang tercantum dalam4.3.1. Hak Ingkar Notaris. HIR. Pasal 184 KUHAP menyatakan bahwa alat bukti Pasal 1909 KUHPerdata mewajibkan setiap yang adalah:orang yang cakap untuk menjadi saksi, untuk 1. Keterangan saksimemberikan kesaksian di muka pengadilan. Ketentuan 2. Keterangan ahli. J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   Page 8 
  13. 13. 3. Surat. menentukan lain. Kewenangan notaris 4. Petunjuk. berdasarkan ketentuan Pasal 15 ayat (1) Undang- 5. Keterangan terdakwa. Undang Jabatan Notaris yaitu: Notaris berwenang membuat akta otentik mengenaii Suatu pembuktian haruslah dianggap tidak semua perbuatan, perjanjian, dan ketetapan yanglengkap, jika keyakinan hakim didasarkan atas alat-alat diharuskan oleh peraturan perundang-undanganbukti yang tidak mencukupi, umpamanya dengan dan/atau yang dikehendaki oleh yangketerangan hanya dari seorang saksi saja, ataupun berkepentingan untuk dinyatakan dalam aktakarena keyakinan tentang itu sendiri tidak ada. otentik, menjamin kepastian tanggal pembuatan akta, menyimpan akta, memberikan grosse,4.3.4. Kedudukan Notaris sebagai Saksi salinan dan kutipan akta, semuanya itu sepanjang Kehadiran notaris yang membuat akta yang pembuatan akta-akta itu juga ditugaskan ataudijadikan alat bukti dalam suatu perkara bukan sebagai dikecualikan kepada pejabat lain yang ditetapkansaksi biasa melainkan sebagai saksi ahli. yang akan oleh Undang-Undang.menerangkan tentang apa yang saksi ketahui menurut 5.1.2 Berdasarkan ketentuan yang diatur dalam Pasal 4keahlian saksi, berkaitan dengan prosedur baku ayat (1) dan ayat (2) tersebut menyatakan bahwaterbitnya sebuah akta notaris. notaris yang diangkat itu sebelum mengangkat Menurut peraturan perundang-undangan, saksi sumpah tidak diperkenankan untuk melakukanahli dikenal dengan istilah keterangan ahli. Sesuai suatu pekerjaan yang termasuk dalam bidangdengan Pasal 186 KUHP yang menyatakan bahwa Jabatan Notaris . sebelum diadakan sumpahketerangan ahli adalah apa yang seorang ahli jabatan bagi seorang notaris, notaris tidak berhakmenyatakan di siding pengadilan. Penjelasan pasal membuat akta otentik. Apabila seorang notaristersebut menjelaskan keterangan ahli ini dapat diberikan melanggar ketentuan tersebut, maka selainpada waktu pemeriksaan oleh penyidik atau penuntut dikenakan sanksi, akta yang dibuat oleh notarisumum yang dituangkan dalam satu bentuk laporan dan tersebut tidak akan mempunyai sifat otentikdibuat dengan mengikat sumpah di waktu seorang melainkan hanya berlaku sebagai akta di bawahnotaris menerima jabatan atau pekerjaan. Setiap orang tangan, apabila ditandatangani oleh para pihak.menurut hukum acara pidana dapat diangkat sebagai Apabila seorang notaris membuka rahasiasaksi ahli, yaitu mempunyai pengetahuan dan jabatan yang diamanatkan padanya, makapengalaman soal tersebut. kepadanya diancam dengan pidana berdasarkan Seorang notaris adalah pejabat yang berwenang Pasal 322 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.menurut ketentuan peraturan perundang-undangan Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukumuntuk membuat suatu akta yang mencatat segala sesuatu Perdata menyatakan bahwa tiap perbuatanyang disaksikan dan dimintakan untuk dapat dimuat di melanggar hukum, yang membawa kerugiandalamnya oleh para pihak yang berkepentingan, pada orang lain, mewajibkan orang yang karenasehingga kesaksian notaris tentang apa yang dilihat dan salahnya menerbitkan kerugian itu, menggantiapa yang disaksikan oleh notaris dituangkan dalam akta kerugian tersebut.tersebut. 5.1.3. Notaris merupakan pejabat umum yang telah Jadi seorang notaris sebenarnya tidak perlu lagi diberikan sebuah perlindungan hukum olehdipanggil sebagai saksi dalam suatu persidangan untuk Undang-Undang dalam rangka memberikanmenerangkan apa yang disaksikan dan apa yang kesaksian di muka pengadilan. Perlindungandisampaikan kepadanya pada saat pembuatan akta yang hukum yang diberikan Undang-Undang itubersangkutan. adalah dengan adanya hak ingkar. Hak ingkar, atau juga disebut dengan hak tolak atau hak KESIMPULAN untuk minta dibebaskan menjadi saksi, ada pada beberapa jabatan, yang oleh undang-undang Berdasar pada hasil penelitian dan pembahasan diberikan. Penolakan itu tidak hanya sebataspada BAB IV, maka dapat disimpulkan bahwa : pada apa yang tercantum dalam akta yang   dibuatnya, akan tetapi keseluruhan fakta yang5.1.1. Di dalam Undang-Undang Jabatan Notaris dan terkait dengan akta tersebut. Hak ingkar adalah Kode Etik Organisasi Notaris, maka Notaris merupakan konsekuensi dari adanya kewajiban sebagai pejabat umum mempunyai kewajiban merahasiakan sesuatu yang diketahui. dan kewenangan yang berkaitan dengan pembuatan akta. Setelah pengucapan SARAN sumpah/janji pengangkatan jabatan notaris, sesuai Pasal 16 ayat (1) Undang-Undang Jabatan Setelah menyimpulkan dari hasil penelitian dan Notaris menjalankan jabatannya, notaris pembahasan yang dikemukakan di BAB IV, maka ada 2 berkewajiban : bertindak jujur, seksama, mandiri, (dua) saran yang perlu disampaikan bagi profesi notaris, tidak berpihak, dan menjaga kepentingan pihak yaitu; yang terkait dalam pembuatan hukum. 5.2.1. Untuk menjadi notaris yang professional dan Merahasiakan segala sesuatu mengenai akta yang bermartabat menjunjung tinggi penegakan dibuatnya dan segala keterangan yang diperoleh hukum, maka setelah mengucapkan sumpah/janji guna pembuatan akta sesuai dengan jumlah/janji pengangkatan jabatan notaris, diharapkan setiap jabatan, kecuali Undang-Undang yang notaris mampu mengaplikasikan nilai-nilai yang J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   Page 9 
  14. 14. terkandung dalam Undang-Undang Jabatan yang dibuat oleh seorang notaris, diharapkan bisa Notaris dan Kode Etik Profesi untuk menjaga bekerja sama di depan persidangan dalam kerahasiaan setiap akta otentik yang dibuatnya. menyelesaikan perkara/sengketa demi5.2.2 Hak Ingkar yang merupakan bentuk perlindungan terwujudnya penegakan hukum yang hukum bagi profesi notaris, apabila ada bermartabat. perkara/sengketa yang berkaitan dengan akta DAFTAR PUSTAKAAjie, Habib., Sanksi Perdata dan Administratif Terhadap Notaris Sebagai Pejabat Publik, bandung : Pt. Refika Aditama, 2008.-----------, Majelis Pengawas Notaris, Sebagai Pejabat Tata Usaha Negara, Refika Aditama, Bandung, 2011.Ali, Muhmmad, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Moderen, Jakarta : Pustaka Amani, 1995.Andasasmita, Komar., Notaris Selayang Pandang, Bandung : Alumni, 1983.Ashshofa , Burhan., Metode Penelitian Hukum, Jakarta, Rineka Cipta, 2007.Asshiddiqie, Jimly, Pergeseran-pergeseran Kekuasaan Legislatif & Eksekutif, Universitas Indonesia, Jakarta, 2000.Apeldoorn, Van, Pengantar Ilmu Hukum, Pradnya Paramita, Jakarta, 2000Hadjon, Philipus M., dkk., Pengantar Hukum Administratif Indonesia (Introduction to The Indonesia Adinistrative law), Yogyakarta : Gadjah Mada University Press, 2002.Philipus M. Hadjon, Perlindungan Hukum Bagi Rakyat di Indonesia, Sebuah Studi tentang Prinsip-prinsipnya, Penanganannya oleh Pengadilan dalam Lingkungan Peradilan Umum dan Pembentukan Peradilan Administrasi, Peradaban, Surabaya, 2007Hartono, C.F.G. Sunaryati, Penelitian Hukum di Indonesia Pada Akhir Abad Ke-20, Alumni, Bandung, 1994.Koeswadji, Hermien Hadiati., Hak Ingkar dari Notaris dan Hubungannya dengan KUHP, Surabaya : Media Notaris Ikatan Indonesia, 1988.Kohar, A., Notaris Dalam Praktek Hukum, Bandung : Alumni, 1983.-----------, Notaris Berkomunikasi, Bandung : Alumni, 1984Kusumaantmadja, Mochtar dan Arief Sidharta, 2000, Pengantar Ilmu Hukum, Buku 1, Alumni, BandungPeter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2005Ridwan, HR., Hukum Administration Negara, UII-Press, Yogyakarta, 2002.Machmudin, Dudu Duswara, Pengantar Ilmu Hukum, sebuah Sketsa, Refika Aditama, Bandung, 2003.Manan, Bagir, Dasar-Dasar Sistem Ketatanegaraan Indonesia Menurut UUD 1945, Unpad, Bandung, 1995Moleong, Lexy J. 2002. Metode Penilitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.Nawawi, H. hadari., Metode Penelitian Bidang Sosial, Yogyakarta : gadjah mada University Press, 1996.Notodisoerjo, R. Soegondo., Hukum Notariat di Indonesia, Jakarta : PT. Raja Grafindo, 1982.Prakoso, Djoko, Alat Bukti dan Kekuatan Pembuktian di dalam Proses Pidana, Yogyakarta, Liberty, 1988Priyono, Ery Agus., Pengantar Penelitian Hukum, Semarang : Program Magister Kenotariatan UNDIP, 2005.Prodjohamidjojo, Martiman., Penyelidikan dan Penyidikan, Jakarta : Ganesa Indonesia, 1985.Riyanto, Astim, Teori Konstitusi, Penerbit Yapemdo, Bandung, 2006.Sathoni, Abdurrahmat., Metode Penelitian dan Teknik Penyusunan Skripsi, Jakarta : Rineka Cipta, 2005.Soerdjo, Irawan., Kepastian Hukum hak Atas Tanah di Indonesia, Surabaya : Arkola, 2003.Sjaifurrachman dan Habib Adjie, Aspek Pertanggungjawaban Notaris Dalam Pembuatan Akta, Mandar Maju, Bandung, 2011.Soekanto, Soejono dan Sri Mamudji., Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, Jakarta : CV. Rajawali, 1985.Soemitro, Ronny Hanitijo., Metode Penelitian Hukum dan Jurimetri, cet. 3., Jakarta : Ghalia Indonesia, 1990.Soepomo, R., Hukum Acara Perdata Pengadilan Negeri, Cetakan V, Penerbit Pradnya Paramita, Jakarta, 1980Sunggono, Bambang, Metodologi Penelitian Hukum, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, 1997.Surakhmad, Winarno, Pengantar Penelitian Ilmiah, Dasar Metode & Teknik, Tarsito, Bandung, 1972.Sutantio, Retnowulan dan Iskandar Oeripkartawinata., Hukum Acara Perdata dalam Teori dan Praktek, Bandung : CV. Mandar Maju, 2005.Syahrani, Rinduan., Hukum Acara Perdata dalam Lingkungan Peradilan Umum, Jakarta : Pustaka Kartini, 1988.Tedjosaputro, Liliana., Etika Profesi Notaris (dalam Penegakan Hukum Pidana), Yogyakarta : Biografi Publishing, 1995.Thong Kie, Tan., Buku I Studi Notariat Serba-Serbi Praktek Notaris, cet. 2, Jakarta : PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2000.Tobing, G.H.S. Lumban., Peraturan Jabatan Notaris, Jakarta : Erlangga, 1996.Peraturan perundang-undangan :Undang-Undang No 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 117, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4432).Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 10  
  15. 15. Peraturan Menteri dan HAM RI. Nomor : M.02.PR.08.10 Tahun 2004., Pelaksanaan Tugas Majelis Pengawas Notaris dan tat cara Pengnkatan Anggota, Pemberhentian Anggota,Susunan Organisasi, Tata Kerja dan Tata Cara Pemeriksaan Majelis Pengawas Notaris, Jakarta : Dep Hukum danHAM RI, 2004.Peraturan Menteri dan HAM RI. Nomor : M.03.HT.03.10 tahun 2007., Penambilan Minuta Akta dan Pemanggilan Notaris, Jakarta : Dep. Hukum dan HAM RI, 2007.Nota Kesepakatan No.Pol. : B/1056/V/2006 Nomor : 01?MoU/PP-INI/V/2006., Pembinaan dan peningkatan Profesionalisme di Bidang Penegakan Hukum, Jakarta : Kepolisian NegaraRepublik Indonesia dengan Ikatan Notaris Indonesia, 2006.Makalah :Skisno, Joko., Mengkritisi Undang-Undang Jabatan Notaris, Simposium Sosialisasi dan Diskusi UU No. 30 Tahun 2004, Yogyakrta , 5 Maret 2005.Majalah :Majelis Pengawas Pusat Notaris Departemen Hukum dan HAM Republik Indonesia, Pemberian atau Penolakan Persetujuan Pemanggilan Notaris, Renvoi (Oktober 2005) : 63.Winata, Frans Hendra, Persepsi masyarakat Terhadap Profesi Hukum di Indonesia, Renvoi (desember 2005) : 12. J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 11  
  16. 16. KAJIAN YURIDIS TERHADAP AKTA OTENTIK BERDASARKAN PASAL 77 AYAT (1)UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS DALAM KAITANNYA DENGAN PASAL 16 AYAT (1) HURUF L UNDANG-UNDANG NOMOR 30 TAHUN 2004 TENTANG JABATAN NOTARIS I Gusti Ngurah Agung Sutejo Wiradinata Kepakisan Magister Kenotariatan Universitas Udayana E-Mail : - Supervisors/Co-Supervisors Setyo Widagdo, SH.,M.Hum. Putu Gede Arya Sumerta Yasa, SH.,MH. AB STR ACT Law Number 40 of 2007 concerning Limited Liability Company (hereinafter referred to as UUPT)regulating a new thing in convening a General Assembly of Shareholders through teleconference media asregulated in Article 77 paragraph (1) of UUPT. The provision of Article 77 paragraph (1) of UUPT uses as a hightechnology that enables Shareholders to convene a General Assembly of Shareholders without having direct eyecontact or physical presence in a vanue. However, they can still see and listen to one another and participateactively in an assembly through a teleconference media. This is certainly an encouraging movement that facilitateseasier for shareholders to convene a general assembly where in the past they used to physically attend an assembly.Meanwhile, the party who is absent can be represented through a power of attorney by another person nominatedby the relevant party. The technology has made things simpler and more efficient because the parties participatingin a General Assembly of Shareholders (hereinafter referred to as RUPS) do not need to attend physically in anassembly venue. However, they can still see and listen to one another as if they physically attended the assembly. Based on the provision of Article 77 paragraph (1) of UUPT above, a General Assembly of Shareholdersthrough teleconference media brings about problems and questions of how about the status of authentic deedconcerning the minutes of General Assembly of Shareholders and how about the validity of authentic deed ofGeneral Assembly of Shareholders through teleconference media. To answer the said questions, two (2) theorieshave been used, namely legal certainty theory and validity theory. This research is normative law research, it meansthat the case that is studied in the research will always be based at the general observation, it will be normatively orbased on the law expert opinion. Minutes of the RUPS as a result of the RUPS is held by the Limited Liability Companies are not required tobe poured in the form of authentic deed, means the Limited Liability Companies can choose in accordance with theagreement of the shareholders, will be poured into the authentic deed or by deed under hand, but there areexceptions if the result of the RUPS concerning amendment of the consideration base must be poured into anauthentic deed, it is stipulated in Article 21 paragraph (4) UUPT, because the amendment of the consideration basemust receive the approval or informed by, and to the Minister. Minutes of the RUPS through a media teleconferencethat is poured into a deed authenticated by a notary is not valid as an authentic deed, because the notary violatesthe provisions of Article 16 paragraph (1) letter l UUJN requiring physical presence of the parties in the process ofmaking an authentic deed, thus causing an authentic deed it will have the strength of evidence as a deed under thehand as a result of a violation of Article 16 paragraph (1) letter l is.Keyword : General Assembly of Shareholders through teleconference media, Authentic Deed, Legal Validity. J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 12  
  17. 17. PENDAHULUAN teknologi sebagai akibat dari adanya perkembangan teknologi yang semakin cepat, dimana kecanggihan1.1 . Latar Belakang Masalah teknologi tersebut memungkinkan para pemegang saham dalam melakukan atau melaksanakan RUPS Perkembangan dunia telekomunikasi mengalami tanpa harus bertatap muka secara langsung atau secaraperluasan wilayah dengan ditemukannya teknologi fisik yang berada dalam satu tempat, melainkan dapatInterconnection Network (internet) sebagai sarana dilakukan melalui media telekonferensi yangkomunikasi. internet dapat digunakan dalam berbagai memungkinkan para pemegang saham saling melihatbidang kehidupan, sehingga dengan hadirnya internet dan mendengar, serta berpartisipasi aktif dalam rapat.sebagai teknologi informasi membawa 2 (dua) Hal ini merupakan suatu langkah maju yang dapatimplikasi, yaitu pada sektor ekonomi dan pada sektor mempermudah pelaksanaan RUPS dimana padahukum. Pada sektor ekonomi kehadiran internet umumnya RUPS selalu dilaksanakan dengan secaracenderung membawa iklim yang semakin transparan, berhadapan langsung secara fisik diantara para pesertaefektif dan efisien. Sedangkan pada sektor hukum rapat. Pihak yang tidak hadir dapat diwakili ataukehadiran internet menimbulkan berbagai dikuasakan oleh pihak lain yang ditunjuk pihak yangpermasalahan, salah satunya yaitu masalah yang bersangkutan. Hal ini dirasakan lebih simpel dan efisienberkaitan dengan hukum kontrak, dimana hukum karena para pihak yang mengikuti RUPS tidak perlukontrak sebelum adanya internet dilakukan secara datang ke lokasi rapat, karena para pihak dapat salingkonvensional, artinya bahwa dalam pembuatan suatu melihat satu sama lain seakan-akan benar-benar hadirkontrak, para pihak harus saling bertemu dan bertatap dalam rapat yang dihadiri secara fisik.muka dalam pembuatan suatu kontrak, sedangkan Ketentuan yang terdapat dalam Pasal 77 ayat (1)dengan adanya perkembangan teknologi digital yang UUPT tersebut, tentunya akan bertentangan atau konfliksemakin pesat, membuat tidak sepantasnya lagi norma dengan peraturan yang terdapat dalam Undang-dipersyaratkan suatu tatap muka di antara pihak yang Undang Nomor 30 tahun 2004 tentang Jabatan Notarismelakukan kontrak, tetapi cukup memakai internet. (selanjutnya disebut UUJN), apabila risalah RUPSHingga saat ini aturan hukum kontrak konvensional melalui media telekonferensi tersebut akan dituangkanbelum mampu menjangkau sepenuhnya terhadap model ke dalam sebuah akta otentik. Konflik norma tersebutkontrak yang dilakukan secara elektronik (electronic dapat dilihat pada Pasal 16 ayat (1) huruf l UUJN yangcontract). menyatakan kewajiban Notaris adalah : “Membacakan Guna mengatasi permasalahan tersebut, maka akta di hadapan penghadap dengan dihadiri oleh palinglahirlah suatu tatanan hukum/persesuaian hukum sesuai sedikit 2 (dua) orang saksi dan ditandatangani pada saatdengan kemajuan jaman (era globalisasi) sebagai wujud itu juga oleh penghadap, saksi, dan Notaris”.pembaharuan hukum yaitu dengan dikeluarkan dan Dalam penjelasannya ditegaskan bahwa : “Notarisdisahkannya Undang-Undang Republik Indonesia harus hadir secara fisik dan menandatangani akta diNomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi hadapan penghadap dan saksi”. substansi pasal tersebutElektronik (selanjutnya disebut UU ITE). harus dikaitkan dengan pasal 39 ayat (2) yang Sebelum UU ITE lahir dan disahkan, terdapat salah menyebutkan bahwa :satu peraturan/undang-undang yang telah Penghadap harus dikenal oleh Notaris ataumengakomodir kebutuhan masyarakat sesuai dengan diperkenalkan kepadanya oleh 2 (dua) orang saksikemajuan jaman yang disesuaikan dengan kemajuan pengenal yang berumur paling sedikit 18 (delapanteknologi yaitu Undang-Undang No 40 Tahun 2007 belas) tahun atau telah menikah dan cakap melakukantentang Perseroan Terbatas (yang selanjutnya disebut perbuatan hukum atau diperkenalkan oleh 2 (dua)dengan UU PT). penghadap lainnya. Dalam UU PT tersebut terdapat berbagai hal baru, Serta dikaitkan juga dengan ayat (3) yangsalah satunya adalah penyelengaraan RUPS melalui menyatakan bahwa : “pengenalan sebagaimanamedia telekonferensi Menurut pasal 77 ayat 1 UU PT dimaksud pada ayat (2) dinyatakan secara tegas dalammenyatakan bahwa : akta”. Selain penyelengaraan RUPS sebagaimana Dengan melihat ketentuan tersebut, dapat dilihatdimaksud dalam Pasal 76, RUPS dapat juga dilakukan bahwa Notaris harus mengenal para penghadap danmelalui media telekonferensi, video konferensi, atau pengenalan tersebut harus dinyatakan secara tegassarana media elektronik lainnya yang memungkinkan dalam akta, dan untuk saksi pun disebutkan dalam pasalsemua peserta RUPS saling melihat dan mendengar 40 ayat (3) yang menyatakan bahwa : “saksisecara langsung dan berpartisipasi dalam rapat. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dikenal oleh Dapat dilihat dalam ketentuan Pasal 77 ayat (1) Notaris atau diperkenalkan kepada Notaris atauUUPT tersebut, menggunakan pemanfaatan sebuah diterangkan tentang identitas dan kewenangannya J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 13  
  18. 18. kepada Notaris oleh penghadap”, dan juga pada ayat (4) risalah Rapat Umum Pemegang Saham padayang menyatakan : “pengenalan atau pernyataan tentang Perseroan Terbatas dan juga untuk untuk dapatidentitas dan kewenangan saksi dinyatakan secara tegas mengetahui keabsahan akta otentik tentang risalahdalam akta”. Rapat Umum Pemegang Saham melalui media Substansi yang terkandung dalam pasal-pasal telekonferensi pada Perseroan Terbatas.tersebut adalah bahwa baik para penghadap, para saksi, b. Manfaat Praktismaupun Notaris harus dikenal berdasarkan identitasnya Hasil penelitian ini diharapkan dapatyang diperlihatkan kepada Notaris dan berada pada digunakan sebagai acuan ataupun pedoman bagitempat yang sama pada saat itu juga, serta hadir secara para Notaris dan PPAT, yaitu dalam membuat aktafisik, baik para penghadap, para saksi, maupun Notaris. yang didasarkan pada pasal 77 ayat (1) Undang- Dengan perbandingan kedua pasal tersebut dapat Undang Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroandilihat, bahwa dalam Pasal 77 ayat (1) UUPT yang Terbatas.mengatur tentang risalah RUPS, yang dapat dilakukanmelalui media telekonferensi bertentangan atau konflik 1.5. Kerangka Teoritisnorma dengan ketentuan yang tertuang dalam pasal 16 Untuk dapat melakukan kajian terhadapayat (1) huruf l UUJN. permasalahan dalam tesis ini, penulis berpijak pada Hal inilah yang melatarbelakangi penulis untuk beberapa teori hukum, konsep-konsep, dan asas-asasmenulis tesis dengan judul : “Kajian Yuridis Terhadap hukum, serta peraturan perundang-undangan yangAkta Otentik Berdasarkan Pasal 77 ayat (1) Undang- berlaku, diantaranya sebagai berikut :Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan 1.5.1. Teori Kepastian HukumTerbatas Dalam Kaitannya Dengan Pasal 16 ayat (1)huruf l Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Menurut Radbruch dalam Theo Huijbers :Jabatan Notaris” Hubungan antara keadilan dan kepastian hukum perlu diperhatikan. Oleh sebab kepastian hukum1.2 Rumusan Masalah harus dijaga demi keamanan dalam negara, maka Dari uraian latar belakang tersebut dapat hukum positif selalu harus ditaati, pun pula kalau isinyadirumuskan permasalahan sebagai berikut : kurang adil, atau juga kurang sesuai dengan tujuan 1. Bagaimanakah kedudukan akta otentik tentang hukum. Tetapi terdapat kekecualian, yakni bilamana risalah Rapat Umum Pemegang Saham pada pertentangan antara isi tata hukum dan keadilan menjadi Perseroan Terbatas? begitu besar, sehingga tata hukum itu nampak tidak adil 2. Bagaimanakah keabsahan akta otentik tentang pada saat itu tata hukum itu boleh dilepaskan. risalah Rapat Umum Pemegang Saham melalui media telekonferensi pada Perseroan Terbatas? Kepastian hukum merupakan perlindungan yustiabel terhadap tindakan sewenang-wenang, yang1.3. Tujuan Penelitian berarti seseorang akan dapat memperoleh sesuatu yang diharapkan dalam keadaan tertentu. Masyarakata. Tujuan Umum mengaharapkan adanya kepastian hukum, karena 1. Untuk dapat mengetahui kedudukan akta Notaris dengan adanya kepastian hukum masyarakat akan lebih tentang risalah Rapat Umum Pemegang Saham tertib. Hukum bertugas menciptakan kepastian hukum pada Peseroan Terbatas. karena bertujuan ketertiban masyarakat. 2. Untuk dapat mengetahui keabsahan akta otentik Teori ini dikemukakan dengan tujuan untuk tentang risalah Rapat Umum Pemegang Saham membahas dan menganalisis tentang kedudukan akta melalui media telekonferensi pada Perseroan otentik mengenai risalah Rapat Umum Pemegang Terbatas. Saham pada Perseroan Terbatas.b. Tujuan Khusus Untuk melengkapi persyaratan guna 1.5.2. Teori Keabsahan Hukummemperoleh gelar Magister Kenotariatan pada Program Dasar dari teori ini adalah pendekatan pemikiranMagister Ilmu Hukum Kenotariatan Fakultas Hukum Hans Kelsen yang disebut The Pure Theory of LawUniversitas Brawijaya – Udayana. (Teori Hukum Murni). Teori hukum ini melepaskan hukum dari anasir-anasir non-yuridis, seperti unsur1.4. Manfaat Penelitian sosiologis, politis, historis bahkan etis. Jadi hukuma. Manfaat Teoritis adalah suatu keharusan yang mengatur tingkah laku Dapat memberikan sumbangan penelitian manusia sebagai makhluk rasional. Dalam hal ini tidak dalam mengembangkan ilmu hukum terutama untuk mempersoalkan “bagaimana hukum itu seharusnya” dapat mengetahui kedudukan akta Notaris tentang tetapi “apa hukumnya”. Dengan demikian, walaupun J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 14  

×