• Save
Jurnal Ilmiah MKn Unud April 2012
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

Jurnal Ilmiah MKn Unud April 2012

on

  • 4,144 views

Jurnal Ilmiah ini memuat beberapa artikel pilihan dari Mahasiswa Program Magister Kenotariatan Universitas Udayana seperti terkait dengan persoalan Perlindungan Hukum terhadap Notaris dalam ...

Jurnal Ilmiah ini memuat beberapa artikel pilihan dari Mahasiswa Program Magister Kenotariatan Universitas Udayana seperti terkait dengan persoalan Perlindungan Hukum terhadap Notaris dalam melaksanakan kewajiban rahasia jabatan di daerah hukumnya, Pelaksanaan Perjanjian Kredit dengan jaminan fudisia, Analisis kewenangan dan Tanggung Jawab Notaris dalam Pembuatan Akta Keterangan Waris untuk golongan Tionghoa dan artikel lainnya. Artikel tersebut merupakan ringkasan hasil penelitian tesis mahasiswa yang sudah diuji dan dapat dipertahankan oleh mahasiswa dalam sidang ujian dihadapan dewan penguji dan Guru Besar.

Statistics

Views

Total Views
4,144
Views on SlideShare
4,144
Embed Views
0

Actions

Likes
2
Downloads
0
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Adobe PDF

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

Jurnal Ilmiah MKn Unud April 2012 Jurnal Ilmiah MKn Unud April 2012 Document Transcript

  • Denpasar Denpasar Denpasa IIIS S N SSN SSN V o lllu m e 0 3 Vo ume 03 Vo ume 03 H a llla m a n 1 --- 6 5 Ha aman 1 65 Ha aman 1 65 A p rriiilll 2 0 1 2 A p r 2 0 12 Ap 20 2 2 2 5 2 ---3 8 0 X 2252 380 X 2252 380 XKERTHA PERTIWI RT PE TIJ U R N A L IIL M IIA H M A G IIS T E R K E N O T A R IIA T A N U N IIV E R S IIT A S U D A Y A N AJURNAL ILMIAH MAGISTER KENOTARIATAN UNIVERSITAS UDAYANAJURNAL LM A MAG STER KENOTAR ATAN UN ERS TAS UDAYANA AH PROGRAM STUDI MAGISTER KENOTARIATAN PROG AM STUDI MAGISTER KENOTARIATAN GR UNIVERSITAS UDAYANA UN VERSITAS UDAYANA NI 2012 2012
  • KERTHA PERTIWI Jurnal Ilmiah Magister Kenotariatan (Scientific Journals of The Master of Notary)Volume 03 Periode April 2012 Susunan Organisasi Pengelola Ketua Penyunting Prof. Dr. I Made Arya Utama, SH.,M.Hum. Wakil Ketua Penyunting I Made Tjatra Yasa, SH.,MH. Penyunting Pelaksana I Gusti Ngurah Alit Widana Putra, ST.,M.Eng. I Putu Artha Kesumajaya I Gde Chandra A. W. Petugas Administrasi I Made Suparsa I Ketut Wirasa Alamat Redaksi Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Udayana Jl. Pulau Bali No. 1 Sanglah Denpasar Telp. : (0361)264812. Fax (0361)264812 E-mail : notariat_unud@yahoo.com Website : http://www.fl.unud.ac.id/notariat/ Gambar Cover : Keindahan Alam Indonesia K e r t h a P e r ti wi m e r u p a k a n j u r n a l i l m i a h ya n g d i t e r b i t k a n d u a k a l i s e t a h u n ( A p r i l d a n O k t o b e r ) ya n g m e m u a t i n f o r m a s i t e n t a n g b e r b a g a i a s p e k h u k u m Kenotariatan dari : (1) hasil penelitian, (2) naskah konseptual/opini, (3) r e s e n s i b u k u , d a n i n f o K e n o t a r i a t a n a c t u a l l a i n n ya i
  • PENGANTAR REDAKSI Om, Swastyastu, Puji syukur kami panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan YangMaha Esa oleh karena atas perkenan dan rahkmat-Nyalah Jurnal Ilmiah Program StudiMagister Kenotariatan Program Pascasarjana Universitas Udayana Tahun 2012 dapatdiselesaikan. Disusunnya Jurnal Ilmiah Prodi M.Kn Unud ini dimaksudkan untuk dapatsebagai referensi dan informasi terkait dengan berbagai persoalan dalam bidang HukumKenotariatan bagi mahasiswa dan dosen dalam proses belajar mengajar pada Program StudiMagister Kenotariatan Universitas Udayana. Jurnal Ilmiah ini memuat beberapa artikel pilihan dari Mahasiswa Program MagisterKenotariatan Universitas Udayana seperti terkait dengan persoalan Perlindungan Hukumterhadap Notaris dalam melaksanakan kewajiban rahasia jabatan di daerah hukumnya,Pelaksanaan Perjanjian Kredit dengan jaminan fudisia, Analisis kewenangan dan TanggungJawab Notaris dalam Pembuatan Akta Keterangan Waris untuk golongan Tionghoa danartikel lainnya. Artikel tersebut merupakan ringkasan hasil penelitian tesis mahasiswa yangsudah diuji dan dapat dipertahankan oleh mahasiswa dalam sidang ujian dihadapan dewanpenguji dan Guru Besar. Dengan diterbitkannya Jurnal Ilmiah 2012 ini diharapkan dapat sebagai bahanevaluasi penyelenggaraan pendidikan didalam mewujudkan visi dan misi serta tujuanpendidikan pada Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Udayana. Kami jugamemberikan kesempatan kepada para pengajar, pengelola, mahasiswa dan alumni ProgramStudi Magister Kenotariatan untuk berpartisipasi dalam menulis artikel ilmiah dengan tetapmentaati semua aturan atau ketentuan yang tercantum dalam Jurnal Ilmiah ini. Akhirnya,semoga Jurnal Ilmiah ini bermanfaat untuk semua pihak.Om, Santih, Santih, Santih, Om. April 2012 Redaksi ii
  • DAFTAR ISI HlmSusunan Organisasi Pengelola ……………………………………………………………… iPengantar Redaksi ………………………………………………………………………….. iiDaftar isi ………………………………………………………………................................ iiiPerlindungan Hukum Terhadap Notaris Dalam Melaksanakan Kewajiban RahasiaJabatan Di Daerah HukumnyaEleanora M Pangkahila............................................................................................................................... 1Kajian Yuridis Terhadap Akta Otentik Berdasarkan Pasal 77 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas Dalam Kaitannya DenganPasal 16 Ayat (1) Huruf L Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang JabatanNotarisI Gusti Ngurah Agung Sutejo Wiradinata Kepakisan……………………………………………………. 12Pelaksanaan Ketentuan Pasal 157 Ayat (3) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007Tentang Perseroan Terbatas Terhadap Perseroan Yang Telah Memperoleh StatusBadan Hukum(Studi Di Kabupaten Badung)Ni Kade Ayu Budhiartini………………………………………………………………………………… 23Pelaksanaan Perjanjian Kredit Dengan Jaminan FidusiaPada Lembaga Perkriditan Desa (Lpd) “Desa Pakraman Sesetan”Kecamatan Denpasar SelatanEddy Yunianto Sarim.................................................................................................................................. 48Analisis Kewenangan Dan Tanggung Jawab Notaris Dalam Pembuatan AktaKeterangan Waris Untuk Golongan TionghoaI Dewa Gede Wirasatya Purnama………………………………………………………………………... 55Petunjuk Penulisan Artikel iii
  • PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP NOTARIS DALAM MELAKSANAKAN KEWAJIBAN RAHASIA JABATAN DI DAERAH HUKUMNYA Eleanora M Pangkahila Magister Kenotariatan Universitas Udayana E-Mail : - Supervisors/Co-Supervisors Dr. Jazim Hamidi, SH.,MH. Purwati, SH.,MH. ABSTRACT Eleanora Maria Pangkahila, SH, student of Notary Magister Program 2007, “The Legal Protection forNotarian in Practicing Profesional Obligation of Confidential Secret in their Law Area, First Consultant Mr. Dr.Jazim Hamidi,SH.,MH, Second Consultant : Mrs. Purwari,SH.,MH. Notary is a trusted profession and for public benefit, that a client will rely to trust them. Forward action ofNotarian Job have law impact, it means in any Notaric certificate can be used as a tool of proof, when an event oflitigation or disputes between the parties in the future. This caused profesional confidential secret of notary can keptprovided according to their roles in law proceses. Based on background mentioned above, there are 3 issues whichdiscussed in this theses, namely (1) Law meaning of Notary obligation to keep confidential secretes, (2) Obligationto provide confidential secret of Notary, (3) The legal protection to Notarian in profesional obligation to keepconfidential secret in their law area. The research was be classified into normative legal research with appproached by conceptual and statuteappproach. The legal materials of this research were based on primary, secondary and tertiary legal materials. Thelegal materials was be descripted henceforth to be interpreted, systematization, analysed, evaluated and also givenargument to get conclusion of the problems. Result of the research indicate that (1) The law meaning of Notary obligation to keep confidential secretesis to obey the profesional oath of Notary in providing law protection to all parties which promised by them. Thecertificate that made upon the presence of Notary as an implementation of the provision of Article 16, Verse(1)UUJN jo. Article 332 verse (1) of the KUHAP (2) Obligation to provide confidential secret of Notary hastendency of crossing it due to criminal sanction fines are very low according to article 332, program 1 mentionedthat fine maximum Rp 600,- (six hundreds rupiah) (3) legal protection to Notarian in profesional obligation to keepconfidential secret in their law area, type of legal protection one among others is being accepted the right ofdeniying to what ever written in the certificate they made, as organized in aerticle 1909 verse 2, KUHP civil jo.Article 170 KUHP There is protection MPD through agreement by reason from MPD in the case where Notary iscalled as a witness, determination of Notaric Certificate as a written proof according to arcticle 164 HIR and 1866KUH CivilKey Words : Confidential official, Notary, Legal protection. J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   Page 1 
  • PENDAHULUAN Pasal 54, menyatakan bahwa :1.1. Latar Belakang Masalah “Notaris hanya dapat memberikan, memperlihatkan, atau memberitahukan isi akta, groose akta, salinan akta Dengan berlakunya Undang-Undang No 30 atau kutipan akta kepada orang yang berkepentinganTahun 2004 tentang Jabatan Notaris, diharapkan dapat langsung pada akta, ahli waris, atau orang yngmemberikan perlindungan hukum baik kepada memperoleh hak, kecuali ditentukan lain oleh peraturanmasyarakat maupun terhadap Notaris itu sendiri. perundang-undang.” Di dalam Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang No. Akhir-akhir ini banyak berita di masa media30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris disebutkan cetak dan elektronik bahwa seorang Notaris diajukan kebahwa Notaris adalah pejabat umum yang berwenang pengadilan sebagai tergugat atau saksi, baik dalamuntuk membuat akta otentik dan kewenangan lainnya perkara perdata maupun pidana. Penyimpangan-sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang. penyimpangan terhadap kewenangan dan kewajibanKemudian berkaitan dengan kewenangan pembuatan yang dilakukan Notaris, memungkinkan Notarisakta otentik Pasal 15 ayat (1) Undang-Undang Jabatan berurusan dengan pertanggungjawaban secara hukum.Notaris menyebutkan; Pertanggungjawaban tersebut dapat berupa pidana, perdata maupun administratif.”Notaris berwenang membuat akta otentik mengenai Fakta menunjukkan bahwa Notaris di dalamsemua perbuatan, perjanjian, dan ketetapan yang melakukan jual beli hak atas tanah, Notaris yang tidakdiharuskan oleh peraturan perundang-undangan merangkap PPAT mengambil pekerjaan PPAT dengandan/atau yang dikehendaki oleh yang berkepentingan meminta penomoran pada PPAT lain. Banyak terjadiuntuk dinyatakan dalam akta otentik, menjamin juga pembuatan akta jual beli dibawa keluar olehkepastian tanggal pembuatan akta, menyimpan akta, pegawainya bukan ditandatangai di hadapan notaris, danmemberikan grosse, salinan dan kutipan akta, semuanya masih banyak lagi perbuatan Notaris tidak sesuaiitu sepanjang pembuatan akta-akta itu juga ditugaskan dengan etika seorang notaris.atau dikecualikan kepada pejabat lain yang ditetapkan Penyimpangan secara administratif umumnyaoleh Undang-Undang.” dilakukan Notaris dengan tanpa mengindahkan ketentuan prosedur dalam pembuatan akta seperti yang Disamping membuat akta otentik, Notaris juga tertuang dalam UUJN maupun perilaku yang melanggarmempunyai wewenang untuk pencatatan/(waarmeking) Kode Etik Profesi. Hal tersebut sering dirasakanterhadap perjanjian. Sesuai dengan pasal 15 ayat 2 merugikan para pihak yang minta bantuan dalamUUJN menyatakan Notaris berwenang: pembuatan akta. Di samping itu adanya upaya-upaya a. Mengesahkan tanda tangan dan menetapkan dari pihak tertentu yang ingin memanfaatkan kelemahan kepastian tanggal surat di bawah tangan dengan seorang Notaris, baik dari sisi personalitas maupun mendaftar dalam buku khusus. profesionalitas. b. Membukukan surat-surat di bawah tangan dengan Oleh karena itu, ketelitian sangat mutlak mendaftar dalam buku khusus. dimiliki oleh seorang Notaris dalam melaksanakan tugas c. Membuat kopi dari asli surat-surat di bawah sebagai Pejabat Umum. Tindak lanjut dari tugas yang tangan berupa salinan yang memuat uraian diemban oleh Notaris mempunyai dampak secara sebagaimana ditulis dan digambarkan dalam surat hukum. Dampak hukum artinya; Bahwa setiap yang bersangkutan. pembuatan akta otentik yang dilakukan oleh Notaris d. Melakukan pengesahan kecocokan fotokopi dapat dijadikan sebagai alat pembuktian di muka sidang dengan surat aslinya. pengadilan apabila terjadi sengketa di antara para pihak. e. Memberikan penyuluhan hukum berhubungan Persengketaan tersebut tidak menutup dengan pembuatan akta. kemungkinan melibatkan Notaris dan atas keterlibatan f. Membuat akta yang berkaitan dengan pertanahan itu Notaris harus bertanggung jawab atas apa yang telah atau, dilakukannya, Oleh karena itu, terhadap tanggung jawab g. Membuat akta risalah lelang. profesi Notaris dalam melaksanakan kewajiban rahasia Selain kewenangan Notaris tersebut di atas, jabatan diperlukan suatu ruang lingkup peraturan yangdi dalam UUJN No. 30 Tahun 2004, pasal 16 ayat (1) jelas.huruf e dan pasal 45 menjelaskan kewajiban yang harus Sehingga Notaris yang telah melaksanakandijalankan oleh seorang Notaris. Penjelasannya sebagai tugas dan kewajibannya sesuai kerangka hukum dapatberikut; terlindungi. Notaris menurut ketentuan hukum tidakPasal 16 ayat (1) huruf e berbunyi : boleh memihak. Ini berarti Notaris dalam membantu para pihak yang merumuskan dalam akta, harus“Merahasiakan segala sesuatu mengenai akta yang memperhatikan kepentingan kedua belah pihak dandibuatnya dan segala keterangan yang diperoleh guna harus merahasiakan yang berhubungan dengan isi aktapembuatan akta sesuai dengan sumpah/janji jabatan, yang dibuatnya. Tertutama apabila terjadi sengketakecuali Undang-Undang menentukan lain.” antara kedua belah pihak yang mengakibatkan adanya peyidikan terhadapap akta Notaris. Tujuan penyidikan adalah mencari dan mengumpulkan bahan–bahan pembuktian. J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   Page 2 
  • Sanksi terhadap pelanggaran yang dilakukan 1.4. Tujuan PenelitianNotaris terhadap rahasia jabatan ini merupakanpelanggaran rahasia negara. Di dalam UUJN sendiri 1. Tujuan Umumjuga diatur mengenai sanksi tersebut yakni berupa Makna hukum dari kewajiban melaksanakan rahasiateguran lisan, teguran tertulis, pemberitahuan sementara, jabatan notaris.pemberhentian dengan hormat atau pemberhentian Kewajiban melakukan rahasia jabatan notaris adadengan tidak hormat (Pasal 85 UUJN). Selain diatur kecenderugan dilanggar.dalam UUJN, sanksi pelanggaran mengenai rahasia Bentuk perlindungan hukum terhadap notaris dalamjabatan ini juga diatur dalam Pasal 322 Kitab undang- melakukan kewajiban merahasiakan jabatan diUndangn Hukum Pidana (KUHP) tentang Membuka daerah hukumnya.Rahasia. Kewajiban ini mendapat pengecualian 2. Tujuan Khusussebagaimana tercantum dalam Pasal 66 ayat (1) UUJN. Untuk mengetahui makna hukum dari kewajibanKetentuan Pasal 66 ayat (1) UUJN tersebut hingga saat melaksanakan rahasia jabatan notaris itu.ini masih menjadi kendala bagi para Notaris, terutama Untuk mengetahui kewajiban melakukan rahasiabagi Majelis Pengawas Daerah (MPD) dalam jabatan notaries ada kecenderungan dilanggar.memberikan suatu tolok ukur persetujuan terhadap Untuk mengetahui bentuk perlindungan hukumNotaris yang diapanggil sebagai saksi oleh penyidik, terhadap notaris dalam melakukan kewajibanpenuntut umum maupun hakim. Hal ini disebabkan merahasiakan jabatan di daerah hukumnya.karena di satu sisi Notaris harus menjalankankewajibannya yaitu melaksanakan rahasia jabatan dan 1.5. Manfaat Penelitianwajib ingkar terhadap akta yang dibuatnya. Di sisi lainNotaris sebagai Pejabat Umum juga harus Melalui penelitian ini, diharapkan dapat memberikanmengutamakan kepentingan umum. manfaat baik secara teoritis maupun praktis sebagai Hal lain yang masih menjadi kendala adalah berikut;kapasitas dan fungsi dari organisasi Notaris, dalam hal 1. Secara Teoritisini Ikatan Notaris Indonesia (INI) yang akan semakin Diharapkan hasil penelitian ini dapat bergunasulit bertindak secara obyektif. Hal ini disebabkan utnuk menambah dan melengkapi khasanah ilmukarena salah satu unsur Majelis Pengawas diambil dari hukum dalam hal ini khusunya bidang hukum tentangpraktisi. INI yang merupakan organisasi Independent Jabatan Notaris.dan terbebas dari campur tangan pemerintah 2. Secara Praktismempunyai hak untuk melindungi para anggotanya. Diharapakan dengan hasil-hasil penelitian Berdasar pada penjelasan dari latar belakang dapat mejadi masukan bagi para pelaksana hukum dimasalah, kemudian penulis tertarik untuk melakukan lapangan terutama yang menjadi subyek penelitian.penelitian mengenai perlindungan hukum terhadap serta menjadi bahan penelitian lebih lanjut, berkaitanjabatan Notaris dengan mengangkatnya ke dalam dengan rahasia abatan Notaris dan bermanfaat bagisebuah tesis berjudul : “ PERLINDUNGAN HUKUM pihak-pihak yang terkait dengan pelaksanaan kewajibanTERHADAP NOTARIS DALAM MELAKSANAKAN rahasia jabatan Notaris dan bagi masyarakat.KEWAJIBAN RAHASIA JABATAN DI DAERAHHUKUMNYA ” TINJAUAN PUSTAKA1.2. Batasan Masalah 2.1. Tinjauan Umum Tentang Notaris1. Permasalahan pertama mengenai makna hukum dari 2.1.1. Sejarah Perkembangan Notaris kewajiban melaksanakan rahasia Sejarah Notaris di Indonesia pada hakekatnya jabatan Notaris, tidak dapat dipisahkan dari sejarah lembaga di Negara2. Permasalahan kedua mengenai kewajiban melakukan pada umumnya, khususnya di negeri Belanda. Hal rahasia jabatan Notaris yang cenderung tersebut disebabkan karena perundang-undangan di dilanggar, Indonesia di bidang Notariat berakar dari Notariswet,3. Permasalahan ketiga mengenai bentuk perlindungan dari negeri Belanda tanggal 9 Juli 1842 (Ned. Stbl. No. hukum terhadap Notaris dalam melaksanakan 20). Dengan demikian, lembaga kenotariatan baru kewajiban merahasiakan jabatan di daerah dikenal di Indonesia sejak hukum Belanda masuk ke hukumnya. Indonesia. Semula lembaga ini diperuntukan bagi golongan Eropa terutama dalam bidang hukum perdata1.3. Rumusan Masalah yaitu Burgelijk Wetboek. Notariat berasal dari kata Latijne Notariaat, sedangkan Notaris dari Notarius1. Apa makna hukum dari kewajiban melaksanakan (Notarui), adalah orang menjalankan pekerjaan rahasia jabatan notaris? menulis…..2. Mengapa kewajiban melakukan rahasia jabatan notaris ada kecenderungan dilanggar? 2.2.2. Pengertian dan Peranan Notaris bagi3. Bagaimanakah bentuk perlindungan hukum terhadap Masyarakat Notaris dalam melakukan kewajiban Notaris yang dalam profesinya sesungguhnya merahasiakan jabatan di daerah hukumnya? merupakan instansi yang dengan akta-aktanya menimbulkan alat-alat pembuktian tertulis dan mempunyai sifat otentik, menurut pendapat kami dapat J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   Page 3 
  • berbuat banyak untuk mendorong masyarakat guna alat- b) Notaris dalam menjalankan tugasnya tidakalat pembuktian. boleh mencemarkan nama baik dari korps pengemban profesi hukum.2.2.Tugas dan Wewenang Notaris c) Notarisdalam menjalankan tugasnya tidak Wewenang utama yang dimiliki oleh Notaris boleh mencemarkan nama baik dari lembagaadalah membuat suatu akta otentik sehingga notaris.keotentikannya suatu akta Notaris bersumber dari Pasal d) Karena notaris bekerja dengan menerapkan15 Undang-Undang jabatan Noptaris dan juga Pasal hukum di dalam produk yang dihasilkan, Kode1868 KUHPerdata. Suatu akta otentik yang disebut telah Etik ini diharapkan senantiasa meningkatkanmemenuhi otensitas suatu akta, apabila telah memenuhi jabatannya untuk senantiasa menjunjung tinggi3 unsur, yaitu: keluhuran dari martabat dan tugas jabatannya, a) Akta itu dibuat dalam bentuk yang ditentukan sertya menjalankan tugas dengan memenuhi oleh Undang-Undang. persyaratan yang ditentukan oleh perundang- b) Akata itu harus dibuat oleh (door) atau di undangan. hadapan (ten overstaan) seorang pejabat umum. 2.4. Konsep Negara Hukum c) Pejabat Umum itu mempunyai kewenangan untuk membuat akta. Suatu Negara dapat dikatakan Negara hukum “rechstaat” menurut Burkens, (dalam kutipan Yohanes2.3. Tinjauan Yuridis Akta Notaris Usfan) apabila memenuhi syarat-sayarat29: 1. Azas legalitas. Setiap pihak pemerintahan2.3.1. Akta Notaris sebagai Alat Bukti harus didsarkan atas peraturan perundang- Berdasarkan Pasal 1 ayat (7) Undang-Undang undangan (wettelijke gronslag). DenganJabatan Notaris, yang dimaksud dengan definisi akta landasan ini, undang-undang dalam arti formilNotaris adalah akta otentik yang dibuat oleh atau di dan undang-undang sendiri merupakan temuanhadapan Notaris menurut bentuk dan tata cara yang dasar tindak pemerintahan. Dalam hubunganditetapkan dalam Undang-Undang ini. Akta otentik atau ini pembentukan undang-undang merupakanakta yang dibuat oleh atau di hadapan Notaris bagian penting Negara hukum.merupakan suatu alat bukti sempurna. Alat bukti yang 2. Pembagian kekuasaan. Syarat ini mengandungsah atau diterima dalam suatu perkara, pada dasarnya makna bahwa kekuasaan Negara tidak bolehterdiri dari ucapan dalam bentuk keterangan saksi-saksi, hanya bertumpu pada satu tangan.pengakuan, sumpah, dan tertulis dapat berupa tulisan- 3. Hak-hak dasar (grondrechten), merupakantulisan yang mempunyai nilia pembuktian. Dalam sasaran perlindungan diri pemerintahanperkembangan alat bukti sekarang ini (untuk perkara terhadap rakyat dan sekaligus membatasipidana maupun perkara perdata) telah pula diterima alat kekuasaan pembentuk undang-undang.bukti elektronik atau yang disimpan secara elektronik 4. Pengawasan pengadilan bagi rakyat tersedia.sebagai alat bukti yang sah dalam persidangan di .pengadilan. 2.5. Konsep Kewenangan2.3.2. Syarat Akta Notaris sebagai Alat Bukti. Dalam beberapa sumber menerangkan bahwa Akta yang dibuat olehg atau di hadapan istilah kewenangan (wewenang) disejajarkan dengannotaries berkeduidukan sebagai akta otentik menurut bevoegheid dalam istilah Belanda, menurut Phillipus M.bentuk dan tata cara yang ditetapkan dalm Undang- Hadjon salah seorang guru besar Fakultas Hukum UnairUndang Jabatan Notaris. Menurut Irawan Soerodjo, ada mengatakan bahwa “wewenang terdiri atas sekurang-3 (tiga) unsur esensialia agar terpenuhinya syarat formal kurangnya mempunyai 3 komponen, yaitu: pengaruh,suatu akta otentik, yaitu: dasar hukum dan komformitas hukum”. a) Di dalam bentuk yang telah ditentukan oleh Komponen pengaruh bahwa penggunaan Undang-Undang. wewenang dimaksudkan untuk mengendalikan prilaku b) Dibuat oleh atau di hadapan pejabat umum. subyek hukum; dasar hukum dimaksudkan, bahwa c) Akta yang dibuat oleh atau di hadapan pejabat wewenang itu haruslah mempunyai dasar hukum; umum yang berwenang untuk itu dan di tempat sedangkan komponen komformitas hukum dimaksud di mana akta itu dibuat. bahwa wewenang itu haruslah mempunyai standar. Kewenangan secara teoritik dapat diperoleh3.1. Kode Etik Notaris melalui 3 cara, yaitu atribusi, delelgasi, dan mandate. Dalam melaksanakan tugasnya, seorang notaris Atribut (atribusi) adalah pemberian wewenangharus menerapkan disiplin ilmu hukum di dalam pemerintah oleh pembuat undang-undang kepadamasyarakat. Pelaksanaan jabatan Notaris harus dikontrol organpemerintah; delegasi adalah pelimpahandengan Kode Etik Notaris. Sebagaimana dikatakan oleh wewenang pemerintah dari satu organ pemerintahFrans Hendra Winata, ada beberapa pertimbangan kepada pemerintahan yang lain; sedangkan mandateyuridis yang harus kita perhatikan, antara lain: mandate terjadi ketika organ pemerintahan mengizinkan a) Notarisadalah pejabat public yang bertugas kewenangannya dijalankan oleh organ lain atas untuk melaksanakan jabatan public. namanya. J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   Page 4 
  • 2.6. Teori Perlindungan Hukum bagaimana penerapannya/pelaksanannya melalui suatu penelitian lapangan yang dilakukan dengan wawancara, Pengertian perlindungan hokum, seperti yang sehingga diperoleh kejelasan tentang hal yang diteliti.apa yang tertulis di dalam kamus bahasa Indonesia Peda penelitan ini yang diteliti pada awalnya adalahKontemporer bahwa “suatu upaya yang menjamin data sekunder, kemudian dilanjutkan dengan penelitianadanya kepastian hokum untuk memperoleh terhadap data primer di lapangan.perlindungan berdasarkan peraturan-peraturan atauundang-undang”. Sedangkan menurut Kamus Hukum 3.2. Spesifikasi PenelitianPerlindungan Hukum adalah: Spesifikasi penelitian dalam penulisan tesis ini“suatu upaya kepastian hukum untuk mendapatkan adalah deskriptif analitis. Deskriptif penelitian ini,perlindungan berdasarkan peraturan-peraturan yang terbatas pada usaha mengungkapkan suatu masalah ataudibuat oelh suatu kekuasaan Negara dan sebagainya keadaan atau perisitwa sebagaimana adanya, sehinggaatau dapat yang berlaku bagi semua orang di suatu bersifat sekedar untuk mengungkpakan fakta. Hasilmasyarakat atau Negara”. penelitian ditekankan pada memberikan gambaran secara obyektif, tentang keadaan sebenarnya dari obyekHadjon menyebutkan, ada 2 macam perlindungan yang diselidiki. Sedangkan istilah analisis mengandunghukum bagi rakyat, yaitu; pengertian mengelompokkan, menghubungkan, 1. Perlindungan Hukum Prefentif membandingkan data-data yang diperoleh baik dari segi Kepada rakyat diberi kesempatan untuk teori maupun dari segi praktek. mengajukan keberatan atau pendapatnya sebelum suatu keputusan pemerintah mendapat bentuk 3.3. Metode Pengumpulan Data yang definitive bertujuan mencegah sengketa. 2. Perlindungan Hukum Represif : bertujuan Secara umum, dalam penelitian biasanya menyelesaikan sengketa. dibedakan antara data yang diperoleh secara langsung Perlindungan hukum preventif sangat besar dari masyarakat dan data dari bahan pustaka. Yang artinya bagi pemerintah yang didasarkan diperoleh langsung dari masyarakat dinamakan data kebebasan bertindak karena dengan adanya primer atau data dasar dan data yang kedua disebut data perlindungan hukum preventif, pemerintah sekunder. Data primer dan data sekunder yang dapat terdorong untuk bersifat hati-hati dalm dipaparkan sebagai berikut; mengambil keputusan yang didasarkan pada 1. Data primer dalam penelitian ini objek penelitian diskresi. Dengan pengertian demikian, itu sendiri yang dikaitkan dengan teori-teori penanganan perlindungan hukum bagi rakyat tertulis yang ada di data sekunder. oleh peradilan umum di Indonesia termasuk 2. Data sekunder, merupakan data yang diperlukan kategori perlindungan hukum represif. untuk melengkapi data primer. Selain berupa peraturan perundang-undangan, data sekunder juga METODE PENELITIAN dapat berupa pendapat pakar yang ahli mengenai . masalah ini, yang disampaikan melalui berbagaiPenelitian hukum pada dasarnya dibagi dua (2) jenis, macam bentuk buku, karya ilmiah, lapornyakni : penelitian,media massa, dan lain-lain. 1. Penelitian normatif merupakan penelitian deng menggunakan data sekunder sehingga Berikut ini beberapa sumber yang akan dijadikan disebut pula dengan penelitian kepustakaan, sebagai data sekunder; 2. Penelitian empiris adalah penelitian a. Undang-Undang Nomor 30 tahun 2004 tentang langsung di masyarakat ada yang melalui jabatan Notaris. kuisioner ataupun wawancara secara b. Kitab Undang-undang Hukum Perdata langsung. (KUHPerdata). c. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Metode penelitian yang digunakan dalam d. Kita Undang-Undang Hukum Acara Pidanapenulisan ini adalah menggunakan kedua metode baik (KUHAP).metode penelitian normative (metode penelitian e. Peraturan Menteri Hukum dan HAM, Nomor :Kualitatif) M.02.PR.08.10 tahun 2004 tentang Tata Cara. Pengangkatan Anggota, Pemberhentian Anggota,3.1. Metode Pendekatan Susunan Organisasi dan Tata Cara Pemeriksaan majelis Pengawas Notaris. Dalam penelitian ini, metode pendekatan yang f. Peraturan Menteri Hukum dan HAM RI. Nomordigunakan termasuk pada penelitian hukum yuridis : M.03HT.03.10 Tahun 2007 tentangempiris, yang terdiri dari penelitian terhadap identifikasi Pengambilan Minuta Akta dan Pemanggilanhukum dan penelitian terhadap efektifitas hukum45. Notaris.Permasalah yang diteliti mencakup bidang yuridis g. Nota Kesepahaman No.Pol. B/1056/V/2006mengatur tentang rahasia jabatan notaris dan sanksinya. Nomor : 01/MoU/PP-INI/V/2006 tentang Metode ini merupakan sautu pendekatan yang Pembinaan dan Peningkatan Profesionalisme dimengacu pada peraturan tertulis atau bahan-bahan Bidang Penegakan Hukum.hukum lainnya yang bersifat sekunder, untuk melihat h. Kamus hukum dan kamus bahasa Indonesia. J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   Page 5 
  • i. Serta buku-buku teori pendukung yang f. Menjilid akta yang dibuatnya dalam 1 (satu) menyangkut hukum. bulan menjadi buku yang memuat tidak lebih dari 50 (lima puluh) akta, dan jika jumlah akta3.4. Metode Analisa Data tidak dapat dimuat dalam 1 (satu) buku, akta tersebut dapat dijilid menjadi lebih dari 1 (satu) Penelitian ini menggunakan metode analisis buku, dan mencatat jumlah Minuta Akta,data kualitatif. Metode ini memusatkan perhatiannya bulan, dan tahun pembuatannya pada sampulpada prinsip-prinsip umum yang mendasari perwujudan setiap buku.satuan-satuan gejala yang ada dalm kehidupan manusia, g. Membuat daftar dari akta protes terhadap tidakatau pola-pola yang dianalisis gejala-gejala social dibayar atau tidak diterimanya surat berharga.budaya, dengan menggunakan kebudayaan dari h. Membuat daftar akta yang berkenaan denganmasyarakat yang bersangkutan, untuk memperoleh wasiat menurut urutan waktu pembuatan aktagambaran mengenai pola-pola yang berlaku. Alasan setiap bulan.kenapa penelitian ini menggunakan metode anlisis i. Mengirimkan daftar akta sebagaimanadeskriptif kualitatif adalah data yang dikumpul adalah dimaksud dalam huruf h atau daftar nihil yangdata yang berupa kata-kata, kalimat, gambar, catatan, berkenaan dengan wasiat ke daftar Pusatdokumen pribadi atau resmi, videotape, dan data-data Wasiat Departemen yang tugas dantersebut bukan berupa kumpulan angka-angka. tanggungjawabnya di bidang kenotariatan dalam waktu 5 (lima) hari pada minggu HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN pertama setiap bulan berikutnya. j. Mencatat dalam repertorium tanggal Di dalam BAB IV, ada 3 (tiga) pokok pengiriman daftar wasiat pada setiap akhirpermasalahan yang akan dibahas. Dari ketiga pokok bulan.bahasan tersebut adalah (1) Makna Hukum dari k. Mempunyi cap stempel yang memuat lambangKewajiban Melaksanakan Rahasia Jabatan Notaris, (2) Negara Republik Indonesia dan pada ruangKewajiban Melakukan Rahasia Jabatan Notaris Ada yang melingkarinya dituliskan nama, jabatan,Kecenderungan Dilanggar, (3) Bentuk Perlindungan dan tempat kedudukan yang bersangkutan.Hukum Terhadap Notaris Dalam Melakukan Kewajiban l. Membacakan akta di hadapan penghadapMerahasiakan Jabatan di daerah Hukumnya. Berikut ini dihadiri oleh paling sedikit 2 (dua orang saksiadalah pembahasannya. dan ditandatangani pada saat itu juga oleh penghadap, saksi, dan notaris.4.1. Makna Hukum dari Kewajiban Melaksanakan m. Menerima magang calon notaris.Rahasia Jabatan Notaris.     4.1.2. Kewenangan Notaris selaku Pejabat Umum Penafsiran makna hukum dari kewajiban  melaksanakan rahasia jabatan notaris pembahasannya Kewenangan notaris berdasarkan ketentuan Pasal 15dibagi menjadi dalam 3 (tiga) aspek, yaitu; (1) ayat (1) Undang-Undang Jabatan Notaris yaitu:Kewajiban notaris selaku pejabat umum, (2)  Kewenangan notaris selaku pejabat umum, (3) “Notaris berwenang membuat akta otentik mengenaiiTanggung jawab notaris dan kekuatan pembuatan akta. semua perbuatan, perjanjian, dan ketetapan yangPembahasannya sebagai berikut; diharuskan oleh peraturan perundang-undangan dan/atau yang dikehendaki oleh yang berkepentingan4.1.1. Kewajiban Notaris selaku Pejabat Umum untuk dinyatakan dalam akta otentik, menjamin kepastian tanggal pembuatan akta, menyimpan akta, Sesuai dengan Pasal 16 ayat (1) Undang- memberikan grosse, salinan dan kutipan akta, semuanyaUndang Jabatan Notaris menjalankan jabatannya, itu sepanjang pembuatan akta-akta itu juga ditugaskannotaris berkewajiban sebagai berikut; atau dikecualikan kepada pejabat lain yang ditetapkan a. Bertindak jujur, seksama, mandiri, tidak oleh Undang-Undang” berpihak, dan menjaga kepentingan pihak yang terkait dalam pembuatan hukum. 4.1.3. Tanggung Jawab Notaris dan Kekuatan b. Membuat akta dalam bentuk Minuta Akta dan Pembuatan Akta menyimpannya sebagai bagian dari Protokol Notaris. Akta otentik yang dibuat oleh notaris c. Mengeluarkan Grosse Akta, Salinan Akta, atau mengandung arti bahwa akta otentik merupakan bukti Kutipan Akta berdasarkan Minuta Akta. yang sempurna tentang apa yang dibuat di dalamnya. d. Memberikan pelayanan sesuai dengan Akta otentik mempunyai 3 (tiga) macam kekuatan ketentuan dalam Undang-Undang, kecuali ada pembuktian, antara lain; alasan yang menolaknya. a. Kekuatan Pembuktian lahiriah, yaitu kemampuan e. Merahasiakan segala sesuatu mengenai akta dari akta itu sendiri untuk membuktikan dirinya yang dibuatnya dan segala keterangan yang sebagai akta otentik. Jika dilihat dari luar diperoleh guna pembuatan akta sesuai dengan (lahirnya) sebagai akta otentik serta sesuai jumlah/janji jabatan, kecuali Undang-Undang dengan aturan hukum yang sudah ditentukan yang menentukan lain. J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   Page 6 
  • mengenai syarat akta otentik, sampai terbutki merasa dirugikan atas akta yang dibuat oleh atau sebaliknya, di hadapan notaris. Pengingkaran atau artinya sampai ada yang membuktikan bahwa penyangkalan tersebut harus dilakukan dengan akta tersebut bukan akta otentik secara lahiriah. suatu gugatan ke pengadilan umum, dan Dalam ha ini, beban pembuktian ada pada pihak penggugat harus dapat membuktikan bahwa ada yang menyangkal keotentikan akta notaris. aspek formal yang dilanggar atau tidak sesuai Parameter untuk menentukan akta notaris dalam akta yang bersangkutan. sebagai akta otentik, yaitu tanda tangan dari notaris yang bersangkutan, baik yang ada pada Kekuatan Pembuktian materiil, kepastian tentang Minuta dan Salinan serta adanya awal akta suatu akta sangat penting, bahwa apa yang tersebut sampai akhir akta. Nilai pembuktian akta notaris dalam akta merupakan pembuktian yang sah terhadap dari aspek lahiriah, akta tersebut harus dilihat ada pihak yang membuat akta atau mereka yang mendapat apanya, bukan dilihat ada apa. Secara lahiriah hak dan berlaku untuk umum, kecuali ada pembuktian tidak perlu dipertentangkan dengan alat bukti sebaliknya. Keterangan atau pernyataan yang yang lainnya. Jika ada yang menilik bahwa suatu dituangkan/dimuat dalam akta pejabat, atau keterangan akta notaris tidak memenuhi syarat sebagai akta, para pihak yang diberikan/disampaikan di hadapan maka yang bersangkutan wajib membuktikan notaris dan para pihak harus dinilai benar. Perkataan bahwa akta tersebut secara lahiriah bukan akta yang kemudian dituangkan/dimuat dalam akta berlaku otentik. Penyangkalan atau pengingkaran bahwa sebagai yang benar atau setiap orang yang dating secara lahiriah akta notaris sebagai akta otentik menghadap notaris yang kemudian kemudian atau bukan akata otentik, maka penilaian keterangannya dituangkan/dimuat dalam akta harus pembuktiannya harus didasarkan kepada syarat- dinilai telah benar berkata demikian. Jika ternyata syarat akta notaris sebagai akta otentik. pernyataan/keterangan para penghadap tersebut menjadi Pembuktian semacam ini harus dilakukan tidak benar, maka hal teresbut menjadi tanggung jawab melalui upaya gugatan ke pengadilan. Penggugat para pihak sendiri. Dengan demikian, isi akta notaris harus dapat membuktikan bahwa secara lahiriah mempunyai kepastian sebagai yang sebenarnya, menjadi akta yang menjadi objek gugatan bukan kata butki yang sah untuk di antara para pihak dan para ahli notaris. waris dan para penerima hak mereka. Jika akanb. Kekuatan Pembuktian Formil, akata notaris harus membuktikan aspek materiil dari akta, maka yang memberikan kepastian bahwa suatu kejadian dan bersangkutan harus dapat membuktikan bahwa notaris fakta tersebut dalam akta betul-betul dilakukan tidak menerangkan atau menyatakan yang sebenarnya oleh notaris atau diterangkan oelh pihak-pihak dalam akta, atau para pihak yang telah benar berkata (di yang menghadap pada saat yang tercantum hadapan notaris) menjadi tidak benar berkata, dan harus dalam akta sesuai dengan prosedur yang sudah dilakukan pembuktian terbalik untuk menyangkal aspek ditentukan dalam pembuatan kata. Secara formal materiil dari akta notaris untuk membuktikan kebenaran dan kepastian tentang hari, tanggal, bulan, tahun, pukul (waktu) 4.2. Kewajiban Melakukan Rahasia Jabatan Notaris menghadap, dan para pihak yang menghadap, Ada Kecenderungan Dilanggar. paraf dan tanda tangan para pihak/penghadap,   saksi dan notaris, serta serta membuktikan apa 4.2.1 Rahasia Jabatan yang dilihat, disaksikan, didengar oleh notaris   (pada akta pejabat/berita acara), dan mencatatkan Sesuai dengan isi dari Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang keterangan atau pernyataan para pihak Jabatan Notaris yang berbunyi, bahwa notaris sebelum /penghadap (pada akta pihak). Jika aspek formal menjalankan jabatannya, wajib mengucapkan dipermasalahkan oleh para pihak, maka harus sumpah/janji menurut agamanya di hadapan Menteri dapat membuktikan ketidakbenaran hari, tanggal, dan Pejabat yang ditunjuk. Sedangkan pada ayat (2) bulan, tahun, dan pukul (waktu) menghadap, menyatakan : membuktikan ketidakbenaran mereka yang ”Saya bersumpah/berjanji : menghadap, membuktikan ketidakbenaran apa Bahwa saya akan patuh dan setia kepada Negara yang dilihat, disaksikan, dan didengar oleh Republik Indonesia, Pancasila dan Undang-Undang notaris. Selain itu juga harus dapat membuktikan Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Undang- ketidakbenaran pernyataan atau keterangan para Undang tentang Jabatan Notaris serta peraturan pihak yang diberikan/disampaikan di hadapan perundang-undangan lainnya, notaris, dan ketidakbenaran tanda tangan para Bahwa saya akan menjalankan jabatan saya pihak, saksi, dan notaris atau pun ada prosedur dengan amanah, jujur, seksama, mandiri, dan tidak pembuatan akta yang tidak dilakukan. Dengan berpihak. kata lain, pihak yang mempermasalahkan akta Bahwa saya akan menjaga sikap, tingkah laku tersebut harus melakukan pembuktian terbalik saya, dan menjalankan kewajiban saya sesuai dengan untuk menyangkal aspek formal dari akta notaris. Kode Etik Profesi, kehormatan martabat, dan tanggung Jika tidak mampu membuktikan ketidakbenaran jawab saya sebagai notaris. tersebut, maka akta tersebut harus diterima oleh Bahwa saya akan merahasiakan isi akta dan siapapun. Siapapun boleh melakukan keterangan yang diperoleh dalam pelaksanaan jabatan pengingkaran atau penyangkalan atas aspek saya. formal akta notaris, jika yang bersangkutan J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   Page 7 
  • Bahwa saya untuk dapat diangkat dalam jabatan tersebut tidak berlaku terhadap mereka, yangini, baik secara langsung, dengan nama atau dalih berdasarkan ketentuan perundang-undangan tidakapapun, tidak pernah dan tidak akan memberikan atau diperbolehkan berbicara, demikian juga tidak berlakumenjajikan sesuatu kepada siapapun” terhadap mereka yang berdasarkan Pasal 1909 ayat (2)   KUHPerdata, dan Pasal 145 HIR, dan Pasal 170 KUHP4.2.2. Ancaman Pelanggarannya dapat menentukan haknya untuk mengundurkan diri   sebagai saksi dengan cara menuntut penggunaan hak4.2.2.1. Ancaman Pidana ingkarnya. Apabila seorang notaris membuka rahasia 4.3.2. Syarat dan Pemanggilan Notarisjabatan yang diamanatkan padanya, maka kepadanyadiancam dengan pidana berdasarkan: Syarat dan tata cara pemanggilan notaris yang Pasal 322 Kitab Undang-Undang Hukum diatur dalam Pasal 14 Peraturan Menteri Hukum danPidana : HAM Republik Indonesia nomor : M.03.HT.03.10 a.1. Barangsiapa dengan sengaja membuka Tahun 2007 menyatakan bahwa : Penyidik, Penuntut rahasia yang wajib disimpannya karena Umum, , maupun Hakim untuk kepentingan dan jabatan atau pencariannya, baik yang kelancaran proses peradilan dapat memanggil notaris sekarang, maupun yang dahulu, sebagai saksi, tersangka, atau pun terdakwa. Untuk diancam dengan penjara paling lama 9 selanjutnya Majelis Pengawas Daerah memberikan (sembilan) bulan atau denda paling persetujuan pemanggillan notaris apabila ada dugaan banyak Rp. 600,- (enam ratus). tindak pidana berkaitan Minuta Akta dan/atau surat- surat yang dilekatkan pada Minuta Akta maupun a.2. Jika kejahatan dilakukan terhadap seorang Protokol Notaris dalam penyimpanan notaris, serta tertentu, maka perbuatan itu hanya dapat belum gugur hak dituntut atas pengaduan orang lain. menuntut berdasarkan ketentuan tentang daluwarsa dalam peraturan perundang-4.2.2.2. Ancaman Perdata undangan di bidang hukum pidana. Untuk persetujuan tersebut diberikan setelah mendengar segala keterangan Apabila akibat dibukanya rahasia seseorang dari notaris yang bersangkutan. Jika Majelis Pengawasoleh notaris atau karyawan notaris, sehingga diketahui Daerah tidak memberikan persetujuannya kepadaoleh masyarakat dan mengakibatkan kerugian bagi Penyidik, Penuntut Umum, maupun Hakim untukorang yang bersangkutan, maka notaris tersebut dapat pemanggilan notaris sebagai saksi, tersangka, atau pundigugat secara perdata berdasarkan : terdakwa apabila tidak memenuhi ketentuan tersebut. Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum Dalam hal kewenangan Majelis Pengawas daerah wajibPerdata menyatakan bahwa : tiap perbuatan melanggar memberikan persetujuan atau tidak memberikanhukum, yang membawa kerugian pada orang lain, persetujuan secara tertulis dalam jangka waktu palingmewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan lama 14 (empat belas) terhitung sejak diterimanya suratkerugian itu, mengganti kerugian tersebut. permohonan pemanggilan notaris. Apa bila jangka waktu tersebut terlampaui, maka Majelis Pengawas4.2.3. Sanksi menurut Undang-Undang Jabatan Daerah dianggap telah menyetujui pemanggilanNotaris tersebut. Merahasiakan segala sesuatu mengenai akta 4.3.3. Pembuktian Perkarayang dibuat dan segala keterangan yang diperoleh gunapembuatan akta merupakan salah satu kewajiban 4.3.3.1. Pembuktian dalam Perkara Perdatanotaris. Pelanggaran terhadap kewajiban menjaga Pasal 164 HIR dan pasal 1866 KUHPerdatakerahasiaan jabatan dapat mengakibatkan notaris menyatakan bahwa alat-alat bukti terdiri atas:dikenakan sanksi oleh Majelis Pengawas Daerah, hal ini a. Bukti tulisan.sesuai dengna Pasal 85 Undang-Undang Jabatan Notaris b. Bukti dengan saksi-saksi.antara lain: c. Persangkaan. a. Teguran lisan. d. Pengakuan b. Teguran tertulis. e. Sumpah c. Pemberhentian sementara. f. Segala sesuatunya dengan mengindahkan d. Pemberhentian dengan hormat. aturan-aturan yang ditetapkan dalam bab e. Pemberhentian dengan tidak hormat oleh berikut. Menteri atas usul Majelis Pengawas Pusat. 4.3.3.2. Pembuktian dalam Perkata Pidana4.3. Bentuk Perlindungan Hukum Terhadap Notaris Alat-alat bukti dan kekuatan pembuktian dalam dalam Melakukan Kewajiban Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) Merahasiakan Jabatan di Daerah Hukumnya. tidak terlalu berbeda dengan yang tercantum dalam4.3.1. Hak Ingkar Notaris. HIR. Pasal 184 KUHAP menyatakan bahwa alat bukti Pasal 1909 KUHPerdata mewajibkan setiap yang adalah:orang yang cakap untuk menjadi saksi, untuk 1. Keterangan saksimemberikan kesaksian di muka pengadilan. Ketentuan 2. Keterangan ahli. J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   Page 8 
  • 3. Surat. menentukan lain. Kewenangan notaris 4. Petunjuk. berdasarkan ketentuan Pasal 15 ayat (1) Undang- 5. Keterangan terdakwa. Undang Jabatan Notaris yaitu: Notaris berwenang membuat akta otentik mengenaii Suatu pembuktian haruslah dianggap tidak semua perbuatan, perjanjian, dan ketetapan yanglengkap, jika keyakinan hakim didasarkan atas alat-alat diharuskan oleh peraturan perundang-undanganbukti yang tidak mencukupi, umpamanya dengan dan/atau yang dikehendaki oleh yangketerangan hanya dari seorang saksi saja, ataupun berkepentingan untuk dinyatakan dalam aktakarena keyakinan tentang itu sendiri tidak ada. otentik, menjamin kepastian tanggal pembuatan akta, menyimpan akta, memberikan grosse,4.3.4. Kedudukan Notaris sebagai Saksi salinan dan kutipan akta, semuanya itu sepanjang Kehadiran notaris yang membuat akta yang pembuatan akta-akta itu juga ditugaskan ataudijadikan alat bukti dalam suatu perkara bukan sebagai dikecualikan kepada pejabat lain yang ditetapkansaksi biasa melainkan sebagai saksi ahli. yang akan oleh Undang-Undang.menerangkan tentang apa yang saksi ketahui menurut 5.1.2 Berdasarkan ketentuan yang diatur dalam Pasal 4keahlian saksi, berkaitan dengan prosedur baku ayat (1) dan ayat (2) tersebut menyatakan bahwaterbitnya sebuah akta notaris. notaris yang diangkat itu sebelum mengangkat Menurut peraturan perundang-undangan, saksi sumpah tidak diperkenankan untuk melakukanahli dikenal dengan istilah keterangan ahli. Sesuai suatu pekerjaan yang termasuk dalam bidangdengan Pasal 186 KUHP yang menyatakan bahwa Jabatan Notaris . sebelum diadakan sumpahketerangan ahli adalah apa yang seorang ahli jabatan bagi seorang notaris, notaris tidak berhakmenyatakan di siding pengadilan. Penjelasan pasal membuat akta otentik. Apabila seorang notaristersebut menjelaskan keterangan ahli ini dapat diberikan melanggar ketentuan tersebut, maka selainpada waktu pemeriksaan oleh penyidik atau penuntut dikenakan sanksi, akta yang dibuat oleh notarisumum yang dituangkan dalam satu bentuk laporan dan tersebut tidak akan mempunyai sifat otentikdibuat dengan mengikat sumpah di waktu seorang melainkan hanya berlaku sebagai akta di bawahnotaris menerima jabatan atau pekerjaan. Setiap orang tangan, apabila ditandatangani oleh para pihak.menurut hukum acara pidana dapat diangkat sebagai Apabila seorang notaris membuka rahasiasaksi ahli, yaitu mempunyai pengetahuan dan jabatan yang diamanatkan padanya, makapengalaman soal tersebut. kepadanya diancam dengan pidana berdasarkan Seorang notaris adalah pejabat yang berwenang Pasal 322 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.menurut ketentuan peraturan perundang-undangan Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukumuntuk membuat suatu akta yang mencatat segala sesuatu Perdata menyatakan bahwa tiap perbuatanyang disaksikan dan dimintakan untuk dapat dimuat di melanggar hukum, yang membawa kerugiandalamnya oleh para pihak yang berkepentingan, pada orang lain, mewajibkan orang yang karenasehingga kesaksian notaris tentang apa yang dilihat dan salahnya menerbitkan kerugian itu, menggantiapa yang disaksikan oleh notaris dituangkan dalam akta kerugian tersebut.tersebut. 5.1.3. Notaris merupakan pejabat umum yang telah Jadi seorang notaris sebenarnya tidak perlu lagi diberikan sebuah perlindungan hukum olehdipanggil sebagai saksi dalam suatu persidangan untuk Undang-Undang dalam rangka memberikanmenerangkan apa yang disaksikan dan apa yang kesaksian di muka pengadilan. Perlindungandisampaikan kepadanya pada saat pembuatan akta yang hukum yang diberikan Undang-Undang itubersangkutan. adalah dengan adanya hak ingkar. Hak ingkar, atau juga disebut dengan hak tolak atau hak KESIMPULAN untuk minta dibebaskan menjadi saksi, ada pada beberapa jabatan, yang oleh undang-undang Berdasar pada hasil penelitian dan pembahasan diberikan. Penolakan itu tidak hanya sebataspada BAB IV, maka dapat disimpulkan bahwa : pada apa yang tercantum dalam akta yang   dibuatnya, akan tetapi keseluruhan fakta yang5.1.1. Di dalam Undang-Undang Jabatan Notaris dan terkait dengan akta tersebut. Hak ingkar adalah Kode Etik Organisasi Notaris, maka Notaris merupakan konsekuensi dari adanya kewajiban sebagai pejabat umum mempunyai kewajiban merahasiakan sesuatu yang diketahui. dan kewenangan yang berkaitan dengan pembuatan akta. Setelah pengucapan SARAN sumpah/janji pengangkatan jabatan notaris, sesuai Pasal 16 ayat (1) Undang-Undang Jabatan Setelah menyimpulkan dari hasil penelitian dan Notaris menjalankan jabatannya, notaris pembahasan yang dikemukakan di BAB IV, maka ada 2 berkewajiban : bertindak jujur, seksama, mandiri, (dua) saran yang perlu disampaikan bagi profesi notaris, tidak berpihak, dan menjaga kepentingan pihak yaitu; yang terkait dalam pembuatan hukum. 5.2.1. Untuk menjadi notaris yang professional dan Merahasiakan segala sesuatu mengenai akta yang bermartabat menjunjung tinggi penegakan dibuatnya dan segala keterangan yang diperoleh hukum, maka setelah mengucapkan sumpah/janji guna pembuatan akta sesuai dengan jumlah/janji pengangkatan jabatan notaris, diharapkan setiap jabatan, kecuali Undang-Undang yang notaris mampu mengaplikasikan nilai-nilai yang J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   Page 9 
  • terkandung dalam Undang-Undang Jabatan yang dibuat oleh seorang notaris, diharapkan bisa Notaris dan Kode Etik Profesi untuk menjaga bekerja sama di depan persidangan dalam kerahasiaan setiap akta otentik yang dibuatnya. menyelesaikan perkara/sengketa demi5.2.2 Hak Ingkar yang merupakan bentuk perlindungan terwujudnya penegakan hukum yang hukum bagi profesi notaris, apabila ada bermartabat. perkara/sengketa yang berkaitan dengan akta DAFTAR PUSTAKAAjie, Habib., Sanksi Perdata dan Administratif Terhadap Notaris Sebagai Pejabat Publik, bandung : Pt. Refika Aditama, 2008.-----------, Majelis Pengawas Notaris, Sebagai Pejabat Tata Usaha Negara, Refika Aditama, Bandung, 2011.Ali, Muhmmad, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Moderen, Jakarta : Pustaka Amani, 1995.Andasasmita, Komar., Notaris Selayang Pandang, Bandung : Alumni, 1983.Ashshofa , Burhan., Metode Penelitian Hukum, Jakarta, Rineka Cipta, 2007.Asshiddiqie, Jimly, Pergeseran-pergeseran Kekuasaan Legislatif & Eksekutif, Universitas Indonesia, Jakarta, 2000.Apeldoorn, Van, Pengantar Ilmu Hukum, Pradnya Paramita, Jakarta, 2000Hadjon, Philipus M., dkk., Pengantar Hukum Administratif Indonesia (Introduction to The Indonesia Adinistrative law), Yogyakarta : Gadjah Mada University Press, 2002.Philipus M. Hadjon, Perlindungan Hukum Bagi Rakyat di Indonesia, Sebuah Studi tentang Prinsip-prinsipnya, Penanganannya oleh Pengadilan dalam Lingkungan Peradilan Umum dan Pembentukan Peradilan Administrasi, Peradaban, Surabaya, 2007Hartono, C.F.G. Sunaryati, Penelitian Hukum di Indonesia Pada Akhir Abad Ke-20, Alumni, Bandung, 1994.Koeswadji, Hermien Hadiati., Hak Ingkar dari Notaris dan Hubungannya dengan KUHP, Surabaya : Media Notaris Ikatan Indonesia, 1988.Kohar, A., Notaris Dalam Praktek Hukum, Bandung : Alumni, 1983.-----------, Notaris Berkomunikasi, Bandung : Alumni, 1984Kusumaantmadja, Mochtar dan Arief Sidharta, 2000, Pengantar Ilmu Hukum, Buku 1, Alumni, BandungPeter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2005Ridwan, HR., Hukum Administration Negara, UII-Press, Yogyakarta, 2002.Machmudin, Dudu Duswara, Pengantar Ilmu Hukum, sebuah Sketsa, Refika Aditama, Bandung, 2003.Manan, Bagir, Dasar-Dasar Sistem Ketatanegaraan Indonesia Menurut UUD 1945, Unpad, Bandung, 1995Moleong, Lexy J. 2002. Metode Penilitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.Nawawi, H. hadari., Metode Penelitian Bidang Sosial, Yogyakarta : gadjah mada University Press, 1996.Notodisoerjo, R. Soegondo., Hukum Notariat di Indonesia, Jakarta : PT. Raja Grafindo, 1982.Prakoso, Djoko, Alat Bukti dan Kekuatan Pembuktian di dalam Proses Pidana, Yogyakarta, Liberty, 1988Priyono, Ery Agus., Pengantar Penelitian Hukum, Semarang : Program Magister Kenotariatan UNDIP, 2005.Prodjohamidjojo, Martiman., Penyelidikan dan Penyidikan, Jakarta : Ganesa Indonesia, 1985.Riyanto, Astim, Teori Konstitusi, Penerbit Yapemdo, Bandung, 2006.Sathoni, Abdurrahmat., Metode Penelitian dan Teknik Penyusunan Skripsi, Jakarta : Rineka Cipta, 2005.Soerdjo, Irawan., Kepastian Hukum hak Atas Tanah di Indonesia, Surabaya : Arkola, 2003.Sjaifurrachman dan Habib Adjie, Aspek Pertanggungjawaban Notaris Dalam Pembuatan Akta, Mandar Maju, Bandung, 2011.Soekanto, Soejono dan Sri Mamudji., Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, Jakarta : CV. Rajawali, 1985.Soemitro, Ronny Hanitijo., Metode Penelitian Hukum dan Jurimetri, cet. 3., Jakarta : Ghalia Indonesia, 1990.Soepomo, R., Hukum Acara Perdata Pengadilan Negeri, Cetakan V, Penerbit Pradnya Paramita, Jakarta, 1980Sunggono, Bambang, Metodologi Penelitian Hukum, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, 1997.Surakhmad, Winarno, Pengantar Penelitian Ilmiah, Dasar Metode & Teknik, Tarsito, Bandung, 1972.Sutantio, Retnowulan dan Iskandar Oeripkartawinata., Hukum Acara Perdata dalam Teori dan Praktek, Bandung : CV. Mandar Maju, 2005.Syahrani, Rinduan., Hukum Acara Perdata dalam Lingkungan Peradilan Umum, Jakarta : Pustaka Kartini, 1988.Tedjosaputro, Liliana., Etika Profesi Notaris (dalam Penegakan Hukum Pidana), Yogyakarta : Biografi Publishing, 1995.Thong Kie, Tan., Buku I Studi Notariat Serba-Serbi Praktek Notaris, cet. 2, Jakarta : PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2000.Tobing, G.H.S. Lumban., Peraturan Jabatan Notaris, Jakarta : Erlangga, 1996.Peraturan perundang-undangan :Undang-Undang No 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 117, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4432).Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 10  
  • Peraturan Menteri dan HAM RI. Nomor : M.02.PR.08.10 Tahun 2004., Pelaksanaan Tugas Majelis Pengawas Notaris dan tat cara Pengnkatan Anggota, Pemberhentian Anggota,Susunan Organisasi, Tata Kerja dan Tata Cara Pemeriksaan Majelis Pengawas Notaris, Jakarta : Dep Hukum danHAM RI, 2004.Peraturan Menteri dan HAM RI. Nomor : M.03.HT.03.10 tahun 2007., Penambilan Minuta Akta dan Pemanggilan Notaris, Jakarta : Dep. Hukum dan HAM RI, 2007.Nota Kesepakatan No.Pol. : B/1056/V/2006 Nomor : 01?MoU/PP-INI/V/2006., Pembinaan dan peningkatan Profesionalisme di Bidang Penegakan Hukum, Jakarta : Kepolisian NegaraRepublik Indonesia dengan Ikatan Notaris Indonesia, 2006.Makalah :Skisno, Joko., Mengkritisi Undang-Undang Jabatan Notaris, Simposium Sosialisasi dan Diskusi UU No. 30 Tahun 2004, Yogyakrta , 5 Maret 2005.Majalah :Majelis Pengawas Pusat Notaris Departemen Hukum dan HAM Republik Indonesia, Pemberian atau Penolakan Persetujuan Pemanggilan Notaris, Renvoi (Oktober 2005) : 63.Winata, Frans Hendra, Persepsi masyarakat Terhadap Profesi Hukum di Indonesia, Renvoi (desember 2005) : 12. J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 11  
  • KAJIAN YURIDIS TERHADAP AKTA OTENTIK BERDASARKAN PASAL 77 AYAT (1)UNDANG-UNDANG NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS DALAM KAITANNYA DENGAN PASAL 16 AYAT (1) HURUF L UNDANG-UNDANG NOMOR 30 TAHUN 2004 TENTANG JABATAN NOTARIS I Gusti Ngurah Agung Sutejo Wiradinata Kepakisan Magister Kenotariatan Universitas Udayana E-Mail : - Supervisors/Co-Supervisors Setyo Widagdo, SH.,M.Hum. Putu Gede Arya Sumerta Yasa, SH.,MH. AB STR ACT Law Number 40 of 2007 concerning Limited Liability Company (hereinafter referred to as UUPT)regulating a new thing in convening a General Assembly of Shareholders through teleconference media asregulated in Article 77 paragraph (1) of UUPT. The provision of Article 77 paragraph (1) of UUPT uses as a hightechnology that enables Shareholders to convene a General Assembly of Shareholders without having direct eyecontact or physical presence in a vanue. However, they can still see and listen to one another and participateactively in an assembly through a teleconference media. This is certainly an encouraging movement that facilitateseasier for shareholders to convene a general assembly where in the past they used to physically attend an assembly.Meanwhile, the party who is absent can be represented through a power of attorney by another person nominatedby the relevant party. The technology has made things simpler and more efficient because the parties participatingin a General Assembly of Shareholders (hereinafter referred to as RUPS) do not need to attend physically in anassembly venue. However, they can still see and listen to one another as if they physically attended the assembly. Based on the provision of Article 77 paragraph (1) of UUPT above, a General Assembly of Shareholdersthrough teleconference media brings about problems and questions of how about the status of authentic deedconcerning the minutes of General Assembly of Shareholders and how about the validity of authentic deed ofGeneral Assembly of Shareholders through teleconference media. To answer the said questions, two (2) theorieshave been used, namely legal certainty theory and validity theory. This research is normative law research, it meansthat the case that is studied in the research will always be based at the general observation, it will be normatively orbased on the law expert opinion. Minutes of the RUPS as a result of the RUPS is held by the Limited Liability Companies are not required tobe poured in the form of authentic deed, means the Limited Liability Companies can choose in accordance with theagreement of the shareholders, will be poured into the authentic deed or by deed under hand, but there areexceptions if the result of the RUPS concerning amendment of the consideration base must be poured into anauthentic deed, it is stipulated in Article 21 paragraph (4) UUPT, because the amendment of the consideration basemust receive the approval or informed by, and to the Minister. Minutes of the RUPS through a media teleconferencethat is poured into a deed authenticated by a notary is not valid as an authentic deed, because the notary violatesthe provisions of Article 16 paragraph (1) letter l UUJN requiring physical presence of the parties in the process ofmaking an authentic deed, thus causing an authentic deed it will have the strength of evidence as a deed under thehand as a result of a violation of Article 16 paragraph (1) letter l is.Keyword : General Assembly of Shareholders through teleconference media, Authentic Deed, Legal Validity. J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 12  
  • PENDAHULUAN teknologi sebagai akibat dari adanya perkembangan teknologi yang semakin cepat, dimana kecanggihan1.1 . Latar Belakang Masalah teknologi tersebut memungkinkan para pemegang saham dalam melakukan atau melaksanakan RUPS Perkembangan dunia telekomunikasi mengalami tanpa harus bertatap muka secara langsung atau secaraperluasan wilayah dengan ditemukannya teknologi fisik yang berada dalam satu tempat, melainkan dapatInterconnection Network (internet) sebagai sarana dilakukan melalui media telekonferensi yangkomunikasi. internet dapat digunakan dalam berbagai memungkinkan para pemegang saham saling melihatbidang kehidupan, sehingga dengan hadirnya internet dan mendengar, serta berpartisipasi aktif dalam rapat.sebagai teknologi informasi membawa 2 (dua) Hal ini merupakan suatu langkah maju yang dapatimplikasi, yaitu pada sektor ekonomi dan pada sektor mempermudah pelaksanaan RUPS dimana padahukum. Pada sektor ekonomi kehadiran internet umumnya RUPS selalu dilaksanakan dengan secaracenderung membawa iklim yang semakin transparan, berhadapan langsung secara fisik diantara para pesertaefektif dan efisien. Sedangkan pada sektor hukum rapat. Pihak yang tidak hadir dapat diwakili ataukehadiran internet menimbulkan berbagai dikuasakan oleh pihak lain yang ditunjuk pihak yangpermasalahan, salah satunya yaitu masalah yang bersangkutan. Hal ini dirasakan lebih simpel dan efisienberkaitan dengan hukum kontrak, dimana hukum karena para pihak yang mengikuti RUPS tidak perlukontrak sebelum adanya internet dilakukan secara datang ke lokasi rapat, karena para pihak dapat salingkonvensional, artinya bahwa dalam pembuatan suatu melihat satu sama lain seakan-akan benar-benar hadirkontrak, para pihak harus saling bertemu dan bertatap dalam rapat yang dihadiri secara fisik.muka dalam pembuatan suatu kontrak, sedangkan Ketentuan yang terdapat dalam Pasal 77 ayat (1)dengan adanya perkembangan teknologi digital yang UUPT tersebut, tentunya akan bertentangan atau konfliksemakin pesat, membuat tidak sepantasnya lagi norma dengan peraturan yang terdapat dalam Undang-dipersyaratkan suatu tatap muka di antara pihak yang Undang Nomor 30 tahun 2004 tentang Jabatan Notarismelakukan kontrak, tetapi cukup memakai internet. (selanjutnya disebut UUJN), apabila risalah RUPSHingga saat ini aturan hukum kontrak konvensional melalui media telekonferensi tersebut akan dituangkanbelum mampu menjangkau sepenuhnya terhadap model ke dalam sebuah akta otentik. Konflik norma tersebutkontrak yang dilakukan secara elektronik (electronic dapat dilihat pada Pasal 16 ayat (1) huruf l UUJN yangcontract). menyatakan kewajiban Notaris adalah : “Membacakan Guna mengatasi permasalahan tersebut, maka akta di hadapan penghadap dengan dihadiri oleh palinglahirlah suatu tatanan hukum/persesuaian hukum sesuai sedikit 2 (dua) orang saksi dan ditandatangani pada saatdengan kemajuan jaman (era globalisasi) sebagai wujud itu juga oleh penghadap, saksi, dan Notaris”.pembaharuan hukum yaitu dengan dikeluarkan dan Dalam penjelasannya ditegaskan bahwa : “Notarisdisahkannya Undang-Undang Republik Indonesia harus hadir secara fisik dan menandatangani akta diNomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi hadapan penghadap dan saksi”. substansi pasal tersebutElektronik (selanjutnya disebut UU ITE). harus dikaitkan dengan pasal 39 ayat (2) yang Sebelum UU ITE lahir dan disahkan, terdapat salah menyebutkan bahwa :satu peraturan/undang-undang yang telah Penghadap harus dikenal oleh Notaris ataumengakomodir kebutuhan masyarakat sesuai dengan diperkenalkan kepadanya oleh 2 (dua) orang saksikemajuan jaman yang disesuaikan dengan kemajuan pengenal yang berumur paling sedikit 18 (delapanteknologi yaitu Undang-Undang No 40 Tahun 2007 belas) tahun atau telah menikah dan cakap melakukantentang Perseroan Terbatas (yang selanjutnya disebut perbuatan hukum atau diperkenalkan oleh 2 (dua)dengan UU PT). penghadap lainnya. Dalam UU PT tersebut terdapat berbagai hal baru, Serta dikaitkan juga dengan ayat (3) yangsalah satunya adalah penyelengaraan RUPS melalui menyatakan bahwa : “pengenalan sebagaimanamedia telekonferensi Menurut pasal 77 ayat 1 UU PT dimaksud pada ayat (2) dinyatakan secara tegas dalammenyatakan bahwa : akta”. Selain penyelengaraan RUPS sebagaimana Dengan melihat ketentuan tersebut, dapat dilihatdimaksud dalam Pasal 76, RUPS dapat juga dilakukan bahwa Notaris harus mengenal para penghadap danmelalui media telekonferensi, video konferensi, atau pengenalan tersebut harus dinyatakan secara tegassarana media elektronik lainnya yang memungkinkan dalam akta, dan untuk saksi pun disebutkan dalam pasalsemua peserta RUPS saling melihat dan mendengar 40 ayat (3) yang menyatakan bahwa : “saksisecara langsung dan berpartisipasi dalam rapat. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dikenal oleh Dapat dilihat dalam ketentuan Pasal 77 ayat (1) Notaris atau diperkenalkan kepada Notaris atauUUPT tersebut, menggunakan pemanfaatan sebuah diterangkan tentang identitas dan kewenangannya J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 13  
  • kepada Notaris oleh penghadap”, dan juga pada ayat (4) risalah Rapat Umum Pemegang Saham padayang menyatakan : “pengenalan atau pernyataan tentang Perseroan Terbatas dan juga untuk untuk dapatidentitas dan kewenangan saksi dinyatakan secara tegas mengetahui keabsahan akta otentik tentang risalahdalam akta”. Rapat Umum Pemegang Saham melalui media Substansi yang terkandung dalam pasal-pasal telekonferensi pada Perseroan Terbatas.tersebut adalah bahwa baik para penghadap, para saksi, b. Manfaat Praktismaupun Notaris harus dikenal berdasarkan identitasnya Hasil penelitian ini diharapkan dapatyang diperlihatkan kepada Notaris dan berada pada digunakan sebagai acuan ataupun pedoman bagitempat yang sama pada saat itu juga, serta hadir secara para Notaris dan PPAT, yaitu dalam membuat aktafisik, baik para penghadap, para saksi, maupun Notaris. yang didasarkan pada pasal 77 ayat (1) Undang- Dengan perbandingan kedua pasal tersebut dapat Undang Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroandilihat, bahwa dalam Pasal 77 ayat (1) UUPT yang Terbatas.mengatur tentang risalah RUPS, yang dapat dilakukanmelalui media telekonferensi bertentangan atau konflik 1.5. Kerangka Teoritisnorma dengan ketentuan yang tertuang dalam pasal 16 Untuk dapat melakukan kajian terhadapayat (1) huruf l UUJN. permasalahan dalam tesis ini, penulis berpijak pada Hal inilah yang melatarbelakangi penulis untuk beberapa teori hukum, konsep-konsep, dan asas-asasmenulis tesis dengan judul : “Kajian Yuridis Terhadap hukum, serta peraturan perundang-undangan yangAkta Otentik Berdasarkan Pasal 77 ayat (1) Undang- berlaku, diantaranya sebagai berikut :Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan 1.5.1. Teori Kepastian HukumTerbatas Dalam Kaitannya Dengan Pasal 16 ayat (1)huruf l Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Menurut Radbruch dalam Theo Huijbers :Jabatan Notaris” Hubungan antara keadilan dan kepastian hukum perlu diperhatikan. Oleh sebab kepastian hukum1.2 Rumusan Masalah harus dijaga demi keamanan dalam negara, maka Dari uraian latar belakang tersebut dapat hukum positif selalu harus ditaati, pun pula kalau isinyadirumuskan permasalahan sebagai berikut : kurang adil, atau juga kurang sesuai dengan tujuan 1. Bagaimanakah kedudukan akta otentik tentang hukum. Tetapi terdapat kekecualian, yakni bilamana risalah Rapat Umum Pemegang Saham pada pertentangan antara isi tata hukum dan keadilan menjadi Perseroan Terbatas? begitu besar, sehingga tata hukum itu nampak tidak adil 2. Bagaimanakah keabsahan akta otentik tentang pada saat itu tata hukum itu boleh dilepaskan. risalah Rapat Umum Pemegang Saham melalui media telekonferensi pada Perseroan Terbatas? Kepastian hukum merupakan perlindungan yustiabel terhadap tindakan sewenang-wenang, yang1.3. Tujuan Penelitian berarti seseorang akan dapat memperoleh sesuatu yang diharapkan dalam keadaan tertentu. Masyarakata. Tujuan Umum mengaharapkan adanya kepastian hukum, karena 1. Untuk dapat mengetahui kedudukan akta Notaris dengan adanya kepastian hukum masyarakat akan lebih tentang risalah Rapat Umum Pemegang Saham tertib. Hukum bertugas menciptakan kepastian hukum pada Peseroan Terbatas. karena bertujuan ketertiban masyarakat. 2. Untuk dapat mengetahui keabsahan akta otentik Teori ini dikemukakan dengan tujuan untuk tentang risalah Rapat Umum Pemegang Saham membahas dan menganalisis tentang kedudukan akta melalui media telekonferensi pada Perseroan otentik mengenai risalah Rapat Umum Pemegang Terbatas. Saham pada Perseroan Terbatas.b. Tujuan Khusus Untuk melengkapi persyaratan guna 1.5.2. Teori Keabsahan Hukummemperoleh gelar Magister Kenotariatan pada Program Dasar dari teori ini adalah pendekatan pemikiranMagister Ilmu Hukum Kenotariatan Fakultas Hukum Hans Kelsen yang disebut The Pure Theory of LawUniversitas Brawijaya – Udayana. (Teori Hukum Murni). Teori hukum ini melepaskan hukum dari anasir-anasir non-yuridis, seperti unsur1.4. Manfaat Penelitian sosiologis, politis, historis bahkan etis. Jadi hukuma. Manfaat Teoritis adalah suatu keharusan yang mengatur tingkah laku Dapat memberikan sumbangan penelitian manusia sebagai makhluk rasional. Dalam hal ini tidak dalam mengembangkan ilmu hukum terutama untuk mempersoalkan “bagaimana hukum itu seharusnya” dapat mengetahui kedudukan akta Notaris tentang tetapi “apa hukumnya”. Dengan demikian, walaupun J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 14  
  • hukum itu bersifat keharusan, yang dipakai adalah undang-undang nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroanhukum positif bukan hukum yang dicita-citakan. Terbatas. Teori ini penulis kemukakan dengan tujuan untukmembahas dan menganalisis masalah mengenai sah atau 1.7.3. Sumber Bahan Hukumtidaknya akta yang dibuat oleh Notaris tentang Rapat Penelitian ini menitikberatkan pada penelitianUmum Pemegang Saham melalui media telekonferensi. kepustakaan (library research). Adapun bahan-bahan hukum yang dijadikan sumber penelitian kepustakaan1.6. Desain Penelitian ini meliputi : Latar belakang diangkat dari Problematika yuridis (1) Bahan hukum primer terdiri atas :adalah adanya konflik norma antara peraturan yang a. Kitab Undang-Undang Hukum Perdataterdapat dalam UUPT khususnya mengatur mengenai b. Undang-Undang Nomor 8 tahun 1997 tentangrisalah Rapat Umum Pemegang Saham melalui media Dokumen Perusahaantelekonferensi dengan peraturan yang terdapat dalam c. Undang-Undang Nomor 30 tahun 2004UUJN. Dari latar belakang masalah tersebut penulis tentang Jabatan Notarismerumuskan dua rumusan masalah yaitu mengenai d. Undang-Undang Nomor 40 tahun 2007kedudukan akta otentik tentang risalah Rapat Umum tentang Perseroan TerbatasPemegang Saham pada Perseroan Terbatas dan e. Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008keabsahan akta otentik tentang risalah Rapat Umum tentang Informasi dan Transaksi ElektronikPemegang Saham melalui media telekonferensi pada (2) Bahan hukum sekunder, yaitu bahan yangPerseroan Terbatas. memberikan penjelasan terhadap bahan hukum Untuk menjawab rumusan masalah tersebut, primer.penulis menggunakan Teori Kepastian Hukum dan (3) Bahan hukum tersier, yakni bahan hukum yangTeori Keabsahan yang mana akan diimplikasikan dalam memberikan petunjuk dan penjelasan terhadapmetode penelitian hukum yang bersifat normatif dengan bahan hukum primer dan sekunder.menggunakan pendekatan perundang-undangan (statuteapproach), dengan melakukan pengumpulan bahan 1.7.4. Teknik Pengumpulan Bahan Hukumhukum dan analisa yuridis kualitatif dengan Mengenai teknik yang diterapkan dalammenggunakan logika hukum dalam membahas dan pengumpulan bahan hukum yang diperlukan dalammenganalisis serta mengevaluasi peraturan perundang- penelitian ini adalah melalui teknik telaahanundangan mengenai, kedudukan akta Otentik tentang kepustakaan (study document). Telaahan pustakaRapat Umum Pemegang Saham dan juga Keabsahan dilakukan dengan sistem kartu (card system) yakniakta otentik tentang Rapat Umum Pemegang Saham dengan cara mencatat dan memahami isi dari masing-melalui media telekonferensi, serta kesimpulan dan masing informasi yang diperoleh dari bahan hukumsaran dari hasil penelitian. primer, sekunder, maupun tersier.1.7. Metode Penelitian 1.7.5. Teknik Analisa Bahan Hukum1.7.1. Jenis Penelitian Bahan-bahan hukum yang telah terkumpul Sesuai dengan permasalahan yang dikaji, maka dianalisis dengan menggunakan teknik analisis denganpenelitian ini merupakan penelitian hukum normatif. tahapan sebagai berikut : tahapan pendeskripsianMasalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah tentang dengan menguraikan proposisi-proposisi hukum sesuaipembuatan akta risalah RUPS melalui media pokok permasalahan yang dikaji, untuk selanjutnyatelekonferensi yang terdapat dalam pasal 77 ayat (1) dilakukan interpretasi. Kemudian tahap sistematisasiUndang-Undang Nomor 40 tahun 2007 tentang berupa upaya-upaya mencari kaitan rumusan suatuPerseroan Terbatas, yang terjadi konflik norma dengan konsep hukum atau proposisi hukum antara peraturanpasal 16 ayat (1) huruf l Undang-Undang Nomor 30 perundang-undangan yang sederajat maupun antaratahun 2004 tentang Jabatan Notaris. yang tidak sederajat dan tahapan evaluasi atau analisis adalah dengan memberi penilaian berupa tepat atau1.7.2. Jenis Pendekatan tidak tepat, setuju atau tidak setuju, benar atau salah, Pembahasan terhadap kedua pokok permasalahan syah atau tidak syah oleh peneliti terhadap suatudalam tesis ini didasarkan kepada pendekatan pandangan, proposisi, pernyataan rumusan norma,perundang-undangan (statute approach). Pendekatan keputusan, baik yang tertera dalam bahan hukum primerperundang-undangan (statute approach) dilakukan maupun dalam bahan hukum sekunder. Hasil penerapandengan cara menelaah semua undang-undang dan dari keempat tahapan tersebut kemudian diberikanregulasi yang bersangkut paut atau yang mengatur argumentasi hukum, untuk mendapatkan kesimpulantentang akta otentik berdasarkan pasal 77 ayat (1) J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 15  
  • atas kedua pokok permasalahan yang akan dibahas “Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untukdalam tesis ini. membuat akta otentik dan kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini.”1.7.6. Teknik Penyajian Hasil Penelitian 2.3. Tinjauan Umum Tentang Notaris Setelah semua bahan terkumpul, yang kemudian Notaris merupakan satu-satunya pejabat umumdiidentifikasikan dan diklasifikasikan sesuai dengan dalam sistem hukum Nasional, sedangkan pejabatpermasalahan yang diajukan, maka hasilnya akan lainnya itu yang ditunjuk oleh UU hanya berwenangdisajikan secara deskriptif analisis. membuat akta otentik tertentu yang khusus ditugaskan untuk itu. Sehingga dapat dikatakan bukanlah dan tidak1.8. Sistematika Penulisan dapat disebut sebagai pejabat umum tetapi pejabat yang melaksanakan fungsi jabatan umum.BAB I : Membahas tentang Latar Belakang, Pasal 1 angka (1) Undang-Undang Nomor 30 Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, menyatakan bahwa Manfaat Penelitian, Kerangka Teori, : “Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk Metode Penelitian, dan Sistematika membuat akta otentik dan kewenangan lainnya Penulisan. sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini. 2.4. Tinjauan Umum Tentang Pejabat PembuatBAB II : Membahas tentang Kajian Pustaka yang Akta Tanah (PPAT) menyangkut tentang Pengertian akta Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT), yang dalam otentik, Pengertian Pejabat Umum, pasal 1 angka (1) Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tinjauan Umum Tentang Notaris, Tinjauan Tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat Umum Tentang Pejabat Pembuat Akta Akta Tanah, bahwa yang dimaksud dengan P.P.A.T Tanah (PPAT) serta Tinjauan Umum adalah “pejabat umum yang diberikan kewenangan tentang Perseroan Terbatas. untuk membuat akta-akta otentik mengenai hak atas tanah atau Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun”.BAB III : Membahas tentang Hasil dan Pembahasan 2.5. Tinjauan Umum Tentang Perseroan Terbatas yang menyangkut tentang kedudukan akta Dalam pasal 1 Undang-Undang Nomor 40 Tahun otentik tentang Rapat Umum Pemegang 2007 (selanjutnya disebut UUPT) dapat kita temukan Saham dan juga keabsahan akta otentik definisi tentang Perseroan terbatas yaitu : tentang Rapat Umum Pemegang Saham Perseroan terbatas yang selanjutnya disebut perseroan melalui media telekonferensi. adalah badan hukum yang merupakan persekutuanBAB IV : Merupakan bab penutup yang membahas modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan tentang Kesimpulan terhadap permasalahan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya yang dibahas dalam Bab III dan terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan memberikan saran-saran terhadap Notaris, yang ditetapkan dalam undang-undang ini serta dan kepada masyarakat. peraturan pelaksanaannya. Ketentuan tersebut menambahkan bahwa perseroan KAJIAN PUSTAKA adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal. Selain sebagai badan hukum perseroan, juga Dalam kajian pustaka diuraikan tentang pengertian merupakan tempat para pihak melakukan kerja sama,akta otentik, pengertian pejabat umum, tinjauan umum yaitu melakukan hubungan kontraktual. Kerja sama initentang Notaris, tinjauan umum tentang Pejabat menciptakan badan hukum yang sengaja diciptakan,Pembuat Akta Tanah (PPAT) serta tinjauan umum yaitu perseroan sebagai suatu “artificial person”.tentang Perseroan Terbatas. Dalam operasionalisasinya, Perseroan Terbatas2.1. Pengertian Akta Otentik sebagai Badan Hukum tentu tidak melakukan perbuatan Akta otentik menurut Pasal 1868 B.W., adalah : hukum sendiri, tetapi dalam hal ini perseroan diwakili “Suatu akta yang dibuat dalam bentuk yang oleh organ-organ perseroan, salah satunya adalah RUPSditentukan oleh undang-undang oleh/atau di hadapan yang dalam Pasal 1 angka (4) UUPT menegaskanpejabat umum yang berwenang untuk maksud itu, di bahwa RUPS adalah organ perseroan yang mempunyaitempat di mana akta itu dibuat”. wewenang yang tidak diberikan kepada Direksi atau2.2. Pengertian Pejabat Umum dewan Komisaris dalam batas yang ditentukan dalam Menurut F.M.J Jansen, pejabat adalah orang yang undang-undang ini atau anggaran dasar, RUPS diadakandiangkat untuk menduduki jabatan umum oleh penguasa di tempat kedudukan perseroan. Dalam anggaran dasarumum untuk melakukan tugas negara atau Pemerintah. dapat ditetapkan bahwa RUPS dapat dilakukan di luarDalam pasal 1 angka 1 UUJN, disebutkan bahwa : J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 16  
  • tempat kedudukan perseroan atau kecuali ditentukan RUPS terdiri dari 2 (dua) macam, yaitu RUPSlain dalam anggaran dasar tetapi harus terletak di tahunan dan RUPS lainnya (Pasal 78 ayat 1 UUPT),wilayah negara Republik Indonesia. RUPS tahunan adalah RUPS yang wajib diadakan setiap tahun, dan untuk penyelenggaraannya undang-undang HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN menentukan batas waktu, paling lama 6 (enam) bulan setelah tahun buku berakhir harus sudah3.1. Kedudukan Akta Otentik tentang Rapat Umum diselenggarakan (Pasal 78 ayat 2 UUPT), RUPS iniPemegang Saham. dilakukan guna membahas laporan tahunan yang diajukan oleh Direksi dengan tujuan untuk mengetahui Menurut Pasal 1 angka 1 UUPT 2007, yang perkembangan keadaan Perseroan dibandingkan denganmenyatakan bahwa : tahun sebelumnya. Sedangkan RUPS lainnya adalah Perseroan Terbatas yang selanjutnya disebut RUPS yang dapat diselenggarakan setiap waktu perseroan, adalah badan hukum yang merupakan bergantung pada kebutuhan untuk kepentingan persekutuan modal, didirikan berdasar perjanjian, Perseroan (Pasal 78 ayat 1-4 UUPT). melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang Risalah RUPS yang diselenggarakan oleh suatu seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi Perseroan Terbatas harus dituangkan ke dalam sebuah persyaratan yang ditetapkan dalam undang-undang akta. Risalah RUPS tersebut dapat dituangkan ke dalam ini serta peraturan pelaksanaanya. akta otentik maupun akta di bawah tangan, artinya Perseroan Terbatas tersebut dapat memilih untuk Jika dilihat dari ketentuan tersebut, bahwa suatu dituangkan ke dalam akta otentik ataupun di bawahPerseroan agar mendapat status sebagai badan hukum, tangan sesuai dengan kesepakatan para pemegangharus didirikan melalui proses hukum (created by legal saham, kecuali hasil RUPS mengenai perubahanprocess), yaitu sesuai dengan ketentuan peraturan Anggaran Dasar harus dituangkan ke dalam aktaperundang-undangan untuk memperoleh keputusan otentik, hal ini diatur dalam Pasal 21 ayat (4) UUPT,Pengesahan oleh Pemerintah, yang dalam hal ini karena perubahan anggaran dasar tersebut harusdisahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia. mendapat persetujuan ataupun diberitahukan oleh danHal tersebut ditegaskan dalam ketentuan yang terdapat kepada Menteri.dalam Pasal 7 ayat (2) UUPT yang menyebutkan bahwa Untuk Perseroan Terbatas yang menuangkan hasil: “Perseroan memperoleh status badan hukum pada Keputusan / risalah RUPS nya pada akta otentik yangtanggal diterbitkannya Keputusan Menteri mengenai dibuat oleh pejabat yang berwenang, tentunya aktapengesahan badan hukum Perseroan”. tersebut memiliki kepastian hukum yang sempurna dan Pendirian suatu Perseroan yang melalui proses memiliki kekuatan pembuktian yang sempurna pula.hukum tersebut, harus dibuat dengan akta otentik yang Apabila dikaitkan dengan teori kepastian hukum,dibuat oleh Notaris, hal ini ditegaskan dalam Pasal 7 dimana menurut Radbruch dalam Theo Huijbers yangUUPT yang menyebutkan bahwa : “Perseroan didirikan menyatakan bahwa :oleh dua orang atau lebih dengan akta Notaris yang Hubungan antara keadilan dan kepastian hukumdibuat dalam bahasa Indonesia”. Jika dilihat dalam perlu diperhatikan. Oleh sebab kepastian hukum harusketentuan tersebut bahwa, pembentukan suatu perseroan dijaga demi keamanan dalam negara, maka hukumyang berdasarkan atas perjanjian, dimana didalamnnya positif selalu harus ditaati, pun pula kalau isinya kurangterdiri dari beberapa orang, maka perjanjian tersebut adil, atau juga kurang sesuai dengan tujuan hukum.harus dibuat dengan akta Notaris. Ini berarti bahwa Tetapi terdapat kekecualian, yakni bilamanaperjanjian pendirian Perseroan tersebut tidak dapat pertentangan antara isi tata hukum dan keadilan menjadidibuat secara di bawah tangan, tetapi harus dibuat begitu besar, sehingga tata hukum itu nampak tidak adilsecara otentik. pada saat itu tata hukum itu boleh dilepaskan Suatu Perseroan Terbatas tentunya memiliki organ Dari teori kepastian hukum yang dikemukakanguna mengatur jalannya perusahaan, salah satu organ oleh Radbruch dalam Theo Huijbers tersebut, dapattersebut adalah Rapat Umum Pemegang Saham dilihat bahwa setiap perbuatan hukum yang dilakukan(RUPS), hal ini dapat dilihat dalam Pasal 1 angka 4 harus menjamin kepastian hukumnya. Artinya bahwaUUPT yang menyatakan bahwa : “Rapat Umum setiap perbuatan hukum yang dilakukan diharapkanPemegang Saham yang selanjunya disebut RUPS adalah sesuai dengan apa yang telah diatur dalam undang-organ Perseroan yang mempunyai wewenang yang tidak undang agar ketentraman dan ketertiban dalamdiberikan kepada Direksi atau Dewan Komisaris dalam masyarakat dapat tercapai.batas yang ditentukan dalam undang-undang ini RUPS yang diselenggarakan oleh suatu Perseroandan/atau anggaran dasar”. Terbatas merupakan suatu perbuatan hukum dan risalah RUPS yang dihasilkan harus menjamin kepastian J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 17  
  • hukumnya. Dengan demikian kepastian hukum yang ditandatangani oleh semua peserta RUPS. Berdasardiperoleh dari risalah RUPS yang dituangkan ke dalam ketentuan tersebut, terdapat perbedaan pembuatan danakta otentik, yaitu bahwa keputusan RUPS tersebut : penandatanganan risalah RUPS melalui mediaDibuat oleh atau di hadapan pejabat umum (openbaar telekonferensi dengan RUPS konvensional, serta dalamambtenaar) yang berwenang dan cakap, menggunakan penjelasan dari Pasal 77 ayat (4) UUPT tersebutformat tertentu yang ditetapkan oleh undang-undang, menyebutkan bahwa : “Yang dimaksud dengan disetujuidihadiri saksi-saksi, disertai pembacaan oleh Notaris dan ditandatangani adalah disetujui dan ditandatanganidan selanjutnya ditandatangani. secara fisik atau secara elektronik”. Tanda tangan elektronik seperti yang disyaratkan dalam Pasal 77 ayat3.2. Keabsahan Akta Otentik tentang Rapat (4) UUPT tersebut, diatur dalam peraturan tersendiri, Umum Pemegang Saham Melalui Media yaitu dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Telekonferensi. tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (selanjutnya Dalam UUPT juga memperkenalkan cara disebut UU ITE) yang termuat dalam Pasal 1 angka 12,penyelenggaraan RUPS yang baru, yang disebut RUPS yang dimaksud dengan tanda tangan elektronik adalah :melalui media elektronik, artinya penyelenggaraan “Tanda tangan yang terdiri atas informasi elektronikRUPS dapat juga dilakukan melalui media yang dilekatkan, terasosiasi atau terkait dengantelekonferensi, video konferensi, atau sarana media informasi elektronik lainnya yang digunakan sebagaielektronik lainnya yang memungkinkan semua peserta alat verifikasi dan autentikasi”. Tanda TanganRUPS saling melihat dan mendengar secara langsung Elektronik memiliki kekuatan hukum dan akibat hukumserta berpartisipasi dalam rapat tersebut. Secara lengkap yang sah selama memenuhi persyaratan yang terdapatpengaturan RUPS melalui media telekonferensi dapat dalam Pasal 11 UU ITE.dilihat dalam ketentuan yang terdapat dalam Pasal 77 RUPS yang dilakukan oleh para pemegang sahamUUPT yang menyebutkan bahwa : dengan menggunakan media telekonferensi yang1. Selain penyelenggaraan RUPS sebagaimana berdasarkan Pasal 77 ayat (1) UUPT dan telah dimaksud dalam Pasal 76, RUPS dapat juga ditandatangani secara elektronik tersebut tentunya akan dilakukan melalui media telekonferensi, video menghasilkan suatu dokumen yang disebut dengan konferensi, atau saran media elektronik lainnya yang dokumen elektronik. Dalam UU ITE ketentuan memungkinkan semua peserta RUPS saling melihat mengenai dokumen elektronik dapat dilihat dalam Pasal dan mendengar secara langsung serta berpartisipasi 1 ayat 4. Dokumen elektronik dapat dijadikan sebagai dalam rapat; alat bukti yang sah, hal tersebut dapat dilihat dalam2. Persyaratan kuorum dan persyaratan pengambilan ketentuan Pasal 5 ayat 1 dan 2 yang menyatakan bahwa keputusan adalah persyaratan sebagaimana diatur dokumen elektronik dan/atau hasil cetaknya adalah alat dalam undang-undang ini dan/atau sebagaimana bukti hukum yang sah dan merupakan perluasan dari diatur dalam anggaran dasar Perseroan; alat bukti yang sah sesuai dengan Hukum Acara yang3. Persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berlaku di Indonesia. Agar suatu dokumen elektronik dihitung berdasarkan keikutsertaan peserta RUPS dapat dijadikan alat bukti yang sah, maka harus sebagaimana dimaksud pada ayat(1); memenuhi syarat yang ditentukan oleh undang-undang.4. Setiap penyelenggaraan RUPS sebagaimana Syarat-syarat tersebut telah tercantum dalam UU ITE dimaksud pada ayat (1) harus dibuatkan risalah rapat yaitu pada Pasal 1 angka 4, Pasal 5 ayat (3), Pasal 6 dan yang disetujui dan ditandatangani oleh semua Pasal 7 UU ITE. Pengaturan tentang dokumen peserta RUPS. elektronik sebenarnya telah diakui oleh hukum sebelum berlakunya UU ITE dengan dikeluarkannya UU Nomor RUPS melalui media telekonferensi dapat 8 Tahun 1997 tentang Dokumen Perusahaandibenarkan jika semua peserta memungkinkan untuk (selanjutnya disebut UUDP). Dokumen yang dimilikidapat melihat dan mendengar secara langsung dan dapat perusahaan dapat dialihkan ke dalam media mikrofilmberpartisipasi langsung dalam rapat. Kata “yang atau media lainnya. Setiap pengalihan bentuk tersebutmemungkinkan” pada pasal 77 ayat (1) UUPT tersebut wajib dilegalisasi yang dilakukan oleh pimpinanbersifat imperatif, yang tidak boleh dikesampingkan dan perusahaan atau pejabat yang ditunjuk di lingkungandilanggar apabila akan melaksanakan RUPS melalui perusahaan yang bersangkutan, dengan dibuatkan beritamedia telekonferensi agar para perserta RUPS saling acara, hal tersebut dapat dilihat dalam Bab III tentangmelihat dan mendengar secara langsung dan pengalihan bentuk dokumen perusahaan dan legalisasiberpartisipasi aktif dalam rapat tersebut. Pada Pasal 77 pada Pasal 12 UUDP. Pengalihan dokumen perusahaanayat (4) UUPT tersebut dapat dilihat bahwa, setiap ke dalam bentuk mikrofilm merupakan alat bukti yangpenyelenggaraan RUPS melalui media telekonferensi sah, hal tersebut diatur dalam 15 UUDP yangharus dibuat risalah rapat dan harus disetujui dan menyebutkan bahwa : “Dokumen perusahaan yang telah J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 18  
  • dimuat dalam mikrofilm atau media lainnya 77 ayat (1) UUPT (RUPS melalui mediasebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1) dan atau telekonferensi), maka risalah dari RUPS melalui mediahasil cetaknya merupakan alat bukti yang sah”. telekonferensi tersebut tidak dapat dituangkan ke dalamBerdasarkan beberapa penjelasan di atas, maka akta otentik oleh Notaris karena pembuatan akta otentikdokumen elektronik telah memiliki dasar hukum untuk mengenai risalah RUPS melalui media telekonferensidapat dijadikan sebagai alat bukti, diantaranya yaitu : oleh Notaris tersebut bertentangan dengan Pasal 16 ayat1. Undang - Undang Nomor 8 tahun 1997 tentang (1) huruf l UUJN yang mensyaratkan kehadiran secara Dokumen Perusahaan fisik para pihak / pemegang saham dalam melaksanakan2. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang RUPS. Informasi dan Transaksi Elektronik Kehadiran secara fisik yang diatur dalam Pasal 16 Berdasarkan dasar hukum yang dimiliki oleh ayat (1) huruf l UUJN merupakan syarat dan merupakandokumen elektronik tersebut, maka risalah RUPS prosedur dalam pembuatan suatu akta otentik yangmelalui media telekonferensi diakui sebagai alat bukti harus dilaksanakan dan tidak boleh ditiadakan atauyang sah di pengadilan apabila terjadi permasalahan. dilanggar oleh Notaris. Dengan adanya Pasal 77 ayat (1) RUPS melalui media telekonferensi yang lahir UUPT yang mengatur bahwa RUPS dapat dilakukansebagai pengaruh dari kemajuan teknologi, tentunya melalui media telekonferensi yang tidak mengharuskandiharapkan dapat mempermudah pelaksanaan RUPS kehadiran secara fisik para pemegang saham telahyang biasanya dilakukan secara konvensional yang mengeleminasi ketentuan yang terdapat dalam Pasal 16mengharuskan kehadiran secara fisik para pihak atau ayat (1) huruf l UUJN yang mengharuskan kehadiranpemegang saham, namun terdapat satu benturan antara secara fisik para pihak dalam pembuatan suatu aktaRUPS melalui media telekonferensi yang tertuang otentik.dalam Pasal 77 ayat (1) UUPT tersebut dengan Dilihat dari asas Lex Specialis Derogat Legiperaturan yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor Generali yang memiliki arti bahwa terjadinya30 tahun 2004 tentang Jabatan Notaris (selanjutnya pertentangan peraturan perundang-undangan yangdisebut UUJN), khususnya yang terdapat dalam Pasal secara hierarkis mempunyai kedudukan yang sama akan16 ayat (1) huruf l tentang kewenangan Notaris yang tetapi ruang lingkup materi muatan antara keduamenyatakan bahwa : “Membacakan akta di hadapan peraturan perundang-undangan tersebut tidak samapenghadap dengan dihadiri oleh paling sedikit 2 (dua) yaitu yang satu merupakan pengaturan secara khususorang saksi dan ditandatangani pada saat itu juga oleh dari yang lain, maka risalah RUPS melalui mediapenghadap, saksi, dan Notaris”. Jika dilihat dari telekonferensi yang mengacu pada Pasal 77 ayat (1)ketentuan Pasal 16 ayat (1) huruf l UUJN tersebut, UUPT tersebut tidak dapat dituangkan ke dalam aktamengandung arti bahwa kehadiran secara fisik dalam otentik oleh Notaris. Karena berdasarkan asas tersebut,proses pembuatan sebuah akta otentik merupakan syarat Pasal 16 ayat (1) huruf l UUJN merupakan lex specialismutlak yang tidak boleh ditiadakan. Dimana substansi bagi Notaris dalam suatu pembuatan akta otentik karenayang terkandung dalam pasal tersebut harus dikaitkan UUJN merupakan undang-undang khusus yangdengan beberapa Pasal dalam UUJN yaitu : 39 ayat (2) mengatur tentang pejabat publik yaitu Notaris, sedangandan ayat (3), serta Pasal 40 ayat (3) dan (4) UUJN. Pasal 77 ayat (1) merupakan bagian dari UUPT yangKetiga Pasal tersebut saling terkait dan memiliki termasuk ke dalam Undang-Undang umum / lexsubstansi bahwa baik para penghadap, para saksi harus generali yang mengatur tentang pendirian suatudikenal berdasarkan identitasnya yang diperlihatkan Perseroan Terbatas. Sehingga menurut asas lex specialiskepada Notaris dan berada pada tempat yang sama pada derogat legi generali bahwa Pasal 16 ayat (1) huruf lsaat itu juga, serta hadir secara fisik, baik para yang terdapat dalam UUJN merupakan undang-undangpenghadap, para saksi, maupun Notaris pada saat itu khusus (lex specialis) tentang Jabatan Notaris yangjuga. mengalahkan Pasal 77 ayat (1) yang terdapat dalam Dari penjelasan diatas, dapat dilihat bahwa kedua UUPT yang merupakan undang-undang umum (lexperaturan tersebut yaitu antara Pasal 77 ayat (1) UUPT generalis).dengan Pasal 16 ayat (1) huruf l UUJN tentunya Risalah RUPS melalui media telekonferensi yangmemiliki substansi yang berbeda, dimana pelaksanaan dituangkan ke dalam akta otentik oleh Notaris dilihattugas jabatan Notaris diatur dalam UUJN sedangkan dari segi teori hukum, dalam hal ini teori keabsahanmengenai pendirian suatu Perseroan Terbatas diatur hukum, dimana dasar dari teori ini adalah pendekatandalam UUPT, namun perbedaan substansi yang dimiliki pemikiran Hans Kelsen yang disebut The Pure Theoryoleh kedua peraturan tersebut dapat ditarik suatu benang of Law (Teori Hukum Murni). Teori hukum inimerah yang menyebabkan adanya suatu konflik norma melepaskan hukum dari anasir-anasir non-yuridis,yaitu, apabila suatu Perseroan Terbatas seperti unsur sosiologis, politis, historis bahkan etis.menyelenggarakan RUPS dengan mengacu pada Pasal Jadi hukum adalah suatu keharusan yang mengatur J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 19  
  • tingkah laku manusia sebagai makhluk rasional. Dalam perbuatan hukum yang dilakukan oleh Perseroanhal ini tidak mempersoalkan “bagaimana hukum itu Terbatas itu sesuai dengan apa yang telah diatur danseharusnya” tetapi “apa hukumnya”. Dengan demikian, dicita-citakan oleh undang-undang sehinggawalaupun hukum itu bersifat keharusan, yang dipakai ketentraman dan ketertiban dalam masyarakat dapatadalah hukum positif bukan hukum yang dicita-citakan, tercapai dan harus dijaga demi keamanan dalammaka berdasarkan teori keabsahan hukum tersebut, Negara, serta akta otentik tersebut memilikirisalah RUPS melalui media telekonferensi sebagai hasil kekuatan pembuktian yang sempurna, namundari keputusan RUPS pada suatu perseroan yang terdapat pengecualian apabila hasil RUPS mengenaidituangkan ke dalam akta otentik oleh Notaris tidak sah, perubahan Anggaran Dasar harus dituangkan kekarena berdasarkan teori keabsahan hukum tersebut, dalam akta otentik, hal ini diatur dalam Pasal 21 ayathukum positif merupakan keharusan yang wajib untuk (4) UUPT, karena perubahan anggaran dasar tersebutditaati, apabila dilanggar akan ada sanksi terhadap harus mendapat persetujuan ataupun diberitahukanpelanggaran tersebut. Dalam hal ini Notaris melanggar oleh dan kepada Menteri.ketentuan yang terdapat dalam Pasal 16 ayat (1) huruf l 2. Risalah RUPS melalui media telekonferensi yangUUJN, dimana dalam pembuatan risalah RUPS oleh dituangkan ke dalam akta otentik oleh Notaris tidakNotaris, kehadiran secara fisik para pemegang saham sah sebagai akta otentik, karena Notaris melanggarsangat diharuskan. Apabila ketentuan dalam Pasal 16 ketentuan dalam Pasal 16 ayat (1) huruf l UUJNayat (1) huruf l UUJN tersebut dilanggar oleh Notaris, yang mengharuskan kehadiran secara fisik paramaka kekuatan akta dari risalah RUPS yang dituangkan pihak dalam proses pembuatan akta otentik,ke dalam akta otentik akan memiliki kekuatan sehingga menyebabkan akta otentik tersebut akanpembuktian sebagai akta di bawah tangan, hal tersebut memiliki kekuatan pembuktian sebagai akta diditegaskan dalam Pasal 16 ayat 8 UUJN yang bawah tangan sebagai akibat dari adanyamenyatakan bahwa : “jika salah satu syarat sebagaimana pelanggaran dari Pasal 16 ayat (1) huruf l tersebutdimaksud pada ayat (1) huruf l dan ayat (7) tidak dan dilihat dari teori keabsahan hukum, maka aktadipenuhi, akta yang bersangkutan hanya mempunyai otentik tentang risalah RUPS melalui mediakekuatan pembuktian sebagai akta di bawah tangan”, telekonferensi tidak sah sebagai akta otentik karenabegitu juga dengan akta otentik mengenai risalah RUPS dalam teori tersebut hukum positif merupakanmelalui media telekonferensi yang tidak mengharuskan keharusan yang wajib untuk ditaati, apabilakehadiran secara fisik para pemegang saham dalam dilanggar akan ada sanksi terhadap pelanggaranmeyelenggarakan RUPS akan memiliki kekuatan tersebut, yang dalam hal ini Notaris melanggarpembuktian sebagai akta di bawah tangan karena ketentuang yang terdapat dalam Pasal 16 ayat (1)Notaris melanggar ketentuan yang telah diberikan oleh huruf l UUJN.UUJN dan menyebabkan akta tersebut menjadi tidaksah sebagai akta otentik. 1.2. SARAN-SARAN KESIMPULAN DAN SARAN 1. Mengingat pendirian suatu Perseroan Terbatas melalui proses hukum sehingga menjadi suatu badan1.1. Kesimpulan hukum, maka hendaknya Perseroan Terbatas yang Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan menyelenggarakan RUPS, menuangkan hasil daridapat diambil kesimpulan sebagai berikut : keputusan atau risalah RUPS tersebut ke dalam1. Risalah RUPS sebagai hasil dari RUPS yang sebuah akta otentik agar memiliki kekuatan diselenggarakan Perseroan Terbatas tidak diharuskan pembuktian yang sempurna karena akta otentik untuk dituangkan dalam bentuk akta otentik, artinya diatur dalam undang-undang sehingga menjamin Perseroan Terbatas tersebut dapat memilih sesuai kepastian hukumnya. dengan kesepakatan para pemegang saham, apakah 2. Undang-undang Nomor 30 tahun 2004 tentang akan dituangkan ke dalam akta otentik ataupun Jabatan Notaris (UUJN) hendaknya dijadikan dengan akta di bawah tangan. Untuk Perseroan pedoman bagi seorang Notaris dalam menjalankan Terbatas yang menuangkan Risalah RUPS nya ke jabatannya sebagai pejabat publik dan tidak ada dalam bentuk akta otentik dilihat dari segi teori pelanggaran terhadap ketentuan yang terdapat dalam kepastian hukum, maka perbuatan hukum yang UUJN, sehingga akta otentik yang dihasilkan dilakukan oleh Perseroan Terbatas tersebut telah memiliki kekuatan hukum yang sempurna. terjamin kepastian hukumnya, artinya bahwa J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 20  
  • DAFTAR PUSTAKABuku dan Hasil PenelitianAchmad Ali, Menguak Teori (Legal Theory) dan Teori Peradilan (Judicialprudence) Termasuk Interpretasi Undang-Undang (Legisprudence), Prenada Media Group, Jakarta, 2009.Agus Raharjo, Ilmu Komunikasi, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2002.Arief Mansur, Didik M & Gultom Elisatris, Cyber Law Aspek Hukum Teknologi Informasi, PT Refika Aditama, Bandung, 2005.Barkartullah, Abdul Halim dan Teguh Prasetyo, Bisnis E-Commerce: Studi Keamanan dan Hukum Indonesia, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2005.Binoto Nadapdap, Hukum Perseroan Terbatas, Jala Permata Aksara, Jakarta, 2009.C.S.T. Kansil dan Christine S.T. Kansil, Seluk beluk Perseroan Terbatas Menurut Undang-Undang No. 40 Tahun 2007, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2009.Darji Darmodiharjo dan Shidarta, Pokok Pokok Filsafat Hukum Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2008.Daryanto S.S, Kamus Bahasa Indonesia Lengkap, Apollo, Surabaya, 1997.Ermansjah Djaja, Penyelesaian Sengketa Hukum Teknologi Informasi dan Transaksi Elektrik, Pustaka Timur, Yogyakarta, 2010.Gatot Supramono, Hukum Perseroan Terbatas Edisi Revisi 2009, Djambatan, Jakarta, 2009.G.H.S.Lumban Tobing, Peraturan Jabatan Notaris, Jakarta, Erlangga, 1999.Gunawan Widjaja, 150 Tanya Jawab Tentang Perseroan Terbatas, Jakarta, Forum Sahabat, 2008.Habib Adjie, Sekilas Dunia Notaris & PPAT Indonesia (kumpulan tulisan), CV. Mandar Maju, Bandung, 2009.Habib Adjie, Sanksi Perdata dan Administratif Terhadap Notaris Sebagai Pejabat Publik, Refika Aditama, Bandung, 2008.Habib Adjie, Hukum Notaris Indonesia Tafsir Tematik Terhadap UU No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, Refika Aditama, Bandung, 2008.Handri Raharjo, Hukum Perusahaan , Pustaka Yustisia, Yogyakarta, 2009.Herlien Budiono, Kompilasi Hukum Kenotariatan, Bandung, Citra Aditya Bakti, 2007.Herlien Budiono, Kumpulan Tulisan Hukum Perdata di Bidang Kenotariatan, Bandung, Citra Aditya Bakti, 2007.I.G Rai Widjaya, Hukum Perusahaan Perseroan Terbatas, Kesaint Blanc, Jakarta, 2006.Indonesia Legal Center Publishing, Himpunan Peraturan Perundang-Undangan Jabatan Notaris dan PPAT, Jakarta, CV Karya Gemilang, 2009.Irawan Soerojo, Kepastian Hukum Hak Atas Tanah di Indonesia, Surabaya, Arkola, 2003.Ira Koesoemawati dan Yunirman Rijan, Ke Notaris, Jakarta, Raih Asa Sukses, 2009.Jamin Ginting, Hukum Perseroan Terbatas (UU No 4o Tahun 2007), PT Citra Aditya Bakti, Bandung, 2007.J. Kartini Soedjendro, Perjanjian Peralihan Hak Atas Tanah Yang Berpotensi Konflik, Kanisius, Yokyakarta, 2001.J. Satrio, Hukum Jaminan, Hak Jaminan Kebendaan, Hak Tanggungan Buku 1, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2002.Liliana Tedjosaputro, Etika Profesi Notaris Dalam Penegakan Hukum Pidana, BIGRAF Publishing, Yokyakarta, 1995.Lili Rasjidi dan Ira Thania Rasjidi, Dasar Dasar Filsafat dan Teori Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2007.M. Yahya Harahap, Hukum Perseroan Terbatas, Sinar Grafika, Jakarta, 2009.Munir Fuady, Hukum Bisnis dalam Teori dan Praktek, Bandung, Citra Aditya Bakti, 2006N.G.Yudara, Pokok-pokok Pemikiran, disekitar kedudukan dan fungsi notaris serta akta Notaris Menurut Sistem Hukum Indonesia, Renvoi, Nomor.10.34.III, Tanggal 3 Maret 2006.Nyoman Gede Yudara, dkk, Kapitaselekta Penegakan Hukum di Indonesia, Jakarta, Prestasi Pusataka Publisher, 2006.Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Jakarta: Penerbit Kencana, 2006.Philipus M Hadjon, Eksistensi dan Fungsi Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) serta Figur Hukum Akta PPAT, Makalah Ceramah Fakultas Hukum UNAIR tanggal 22 Pebruari 1996Riyeke Ustadiyanto, framework E-Commerce, Andi, Yogyakarta, 2002Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum (Suatu Pengantar), Liberty, Yogyakarta, 1988.Soesilo dan Pramudjir, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, WIPRESS, 2007.Tan Thong Kie, Studi Notariat & Serba-Serbi Praktek Notaris, PT Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 2007.Theo Huijbers, Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah, Yogyakarta, Kanisius, 1982. J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 21  
  • Internethttp://yahyazein.blogspot.com/2008/07/keadilan-dan-kepastian-hukum.html, selasa, 24 Mei 2011http://www.digilib.ui.edu/opac/themes/libri2/detail.jsp?id=73928&lokasi=lokal, judul artikel, Pemikiran Hans Kelsen dalam Teori Hukum Murni, oleh Bambang Setia Merpati Praptomo.Peraturan Perundang-UndanganRepublik Indonesia. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 30 tahun 2004 tentang Jabatan Notaris.Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria.Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 8 tahun 1997 tentang Dokumen Perusahaan.Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah.Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda- Benda Yang Berkaitan Dengan Tanah.Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun.Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembenntukan Peraturan Perundang- undangan.Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1961 tentang Pendaftaran Tanah.Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.Republik Indonesia. Peraturan Menteri Agraria Nomor 11 Tahun 1961 tentang Bentuk Akta. J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 22  
  • PELAKSANAAN KETENTUAN PASAL 157 AYAT (3) UNDANG-UNDANG NOMOR 40TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS TERHADAP PERSEROAN YANG TELAH MEMPEROLEH STATUS BADAN HUKUM (STUDI DI KABUPATEN BADUNG) Ni Kade Ayu Budhiartini Magister Kenotariatan Universitas Udayana E-Mail : - Supervisors/Co-Supervisors Prof. R.A. Retno Murni, SH.,MH.,Ph.D. Imam Ismanu, SH.,MS. ABSTRACT Act Number 40 year of 2007 concerning Limited Liability Companies, later refers as UUPT valid sincethe date of its publication, which means effectively in force since 16 August 2007, and already included in LembaranNegara Republik Indonesia year 2007 Number 106. In Article 157 section (3) UUPT mentioned “Companies which have already obtained the status of legalentities under legislative regulations shall within 1 (one) year after this Act comes into effect adapt their articles ofassociation to the provisions of this Act.” The Legislative regulations mentioned above refer to book of theCommercial Law and Act Number 1 year of 1995 concerning Limited Liability Companies. For companies whichwill be established tends to have no problem, but for existing companies in some cases might generates legal issues,which if not handled immediately, has potential to harm society interest and also business interest. The issue researched herein is about how the implementation of regulation Article 157 section (3) ActNumber 40 year of 2007 concerning Limited Liability Companies towards the company which has acquired a legalentities in Kabupaten Badung, and what legal consequence for Limited Liability Companies which does not adaptits Article of Association to Act Number 40 year of 2007. This research is using Empirical research method with Sociological empiric as its research approach. Ina form of juridical research, Research location is held in Kabupaten Badung, using Primary Data and Secondarydata. The Primary data obtained by doing open interviews with informants which directly involved to Researchobject. While the secondary Data through Literature research by Documentations study, data analyzing usingDescriptive Analyze Method, and for Theoretical Framework of this research is based on Law Effectivity theory andLegal Entity Theory. The result of this research shows that the time limit, which is 1 (one) year counted from the publisheddate of UUPT, as mentioned in Article 157 section (3) UUPT, given to the Limited Liability Companies which haveacquired the legal entities based on previous regulations, to adapt its article of association evidently not effectivelyapplied. In its applications, there are still a lot of Limited Liability Companies that do not adapt their article ofassociation. The adaptation of Article of Association after the given time period which mentioned in article 157section (3) UUPT turns out to goes smoothly without much obstacle to get the approval from Minister of Law andHuman Rights. The Legal Consequence for Limited liability Company which does not adapt its Article ofAssociation to UUPT for the legal action taken, as long as the Company has not been dissolved based on DistrictCourt decision, in accordance to provisions mentioned in Article 157 section (4) UUPT, the Company existence isstill acknowledged as legal entity, therefore by mean mutatis mutandis, all of the law responsibility also as equal tothe Company which has made adaptation of its article of association, which is the responsibility is limited to theamount of capital which funded into the company as regulated in Article 3 section (1) UUPT.Keywords : Effectivity, Adaptation of Article of Association, Limited Liability Company. J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 23  
  • PENDAHULUAN Manusia (selanjutnya disebut KEMENKUMHAM) dan sejak saat itu PT menjadi subyek hukum yang mampu1.1. Latar Belakang Masalah mendukung hak dan kewajiban dan bertanggung jawab Perseroan Terbatas (selanjutnya disebut PT) secara mandiri terhadap segala akibat yang timbul atassebagai salah satu pilar pembangunan perekonomian perbuatan hukum yang dilakukan.nasional selama ini telah diatur dalam Undang-undang Ini menunjukkan bahwa sebelum suatu PT diakuiNomor 1 Tahun 1995 tentang PT yang menggantikan sebagai badan hukum, maka PT tersebut belum bisaperaturan perundang-undangan yang berasal dari zaman bertindak melakukan perbuatan hukum. Dengan katakolonial. Pembaharuan hukum tersebut dimaksudkan lain tidak bisa melakukan kegiatan transaksi sepertiuntuk menciptakan kesatuan hukum dan sekaligus untuk melakukan jual-beli, membuat perjanjian dan lainmemenuhi kebutuhan hukum yang lebih memacu sebagainya.pembangunan perekonomian nasional. Dengan disahkannya, didaftarkan dan Namun demikian, dalam perkembangannya diumumkannya akta pendirian PT, maka Anggaranketentuan dalam undang-undang tersebut dipandang Dasar PT tidak saja mengikat bagi para pendiritidak lagi memenuhi kebutuhan hukum masyarakat di perusahaan, pemegang saham, pengurus, akan tetapimana keadaan ekonomi, politik, serta kemajuan juga bagi para pihak yang hendak melakukan transaksiteknologi dan informasi sudah berkembang khususnya dengan PT. Mengingat Anggaran Dasar PT adalahdi era globalisasi. Disamping itu, meningkatnya tuntutan hukum positif bagi PT. Disebutkan demikian, karenamasyarakat akan pelayanan yang cepat, kepastian maksud dan tujuan, besarnya modal PT dan hal-halhukum, serta tuntutan akan pengembangan dunia usaha yang menyangkut tentang PT. dijabarkan dalamyang sesuai dengan prinsip-prinsip penyelenggaraan Anggaran Dasar PT.usaha yang baik sehingga semuanya itu menuntut Perkembangan Sistem Hukum di Indonesia,perlunya penyempurnaan terhadap Undang-undang Undang-undang yang mengatur tentang PT yangNomor 1 Tahun 1995 tentang PT. digunakan di Indonesia ini telah mengalami Maka dalam rangka lebih meningkatkan perkembangan atau perubahan beberapa kali, yaitu :pembangunan perekonomian nasional yang sekaligus 1. Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (Wetboekmemberikan landasan yang kokoh bagi dunia usaha van Koophandel – Staatsblad 1847-23), Pasal 36dalam menghadapi perkembangan perekonomian di era sampai dengan Pasal 56, yang perubahannyaglobalisasi pada masa mendatang diberlakukanlah dilakukan dengan Undang-Undang Nomor 4Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang PT yang Tahun 1971, dan juga berhubungan dengan Kitabmerupakan pengganti dari Undang-undang Nomor 1 Undang-Undang Hukum Perdata (BurgelijkTahun 1995 tentang PT. Wetboek) Buku Ketiga tentang Perikatan, Dalam Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 khususnya mulai Bab Kedelapan Tentangdiatur berbagai ketentuan mengenai PT baik berupa Persekutuan, dikatakan :penambahan ketentuan baru, ketentuan perubahan, “Persekutuan adalah suatu persetujuan denganmaupun ketentuan lama yang masih dipertahankan mana dua orang atau lebih mengikatkan dirisepanjang dinilai relevan. Untuk lebih memperjelas untuk memasukkan sesuatu dalam persekutuanhakikat PT. “Perseroan Terbatas atau naamloze dengan maksud untuk membagi keuntunganvennootschap (dalam bahasa Belanda), company limited yang terjadi karenanya”by shares (dalam bahasa Inggris),” menurut Pasal 1 2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1angka 1 Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Tahun 1995 tentang PT, yang diundangkan padaPT, PT, yang selanjutnya disebut perseroan, adalah tanggal 7 Maret 1995, dengan mencabutbadan hukum yang merupakan persekutuan modal, peraturan perundangan yang ada di dalam Kitabdidirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan Undang-Undang Hukum Perdata, dan ini adalahusaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi Undang-Undang tentang PT yang merupakandalam saham dan memenuhi persyaratan yang produk Pemerintah Bangsa Indonesia untukditetapkan dalam undang-undang ini serta peraturan pertama kalinya.pelaksanaannya. 3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Badan Hukum merupakan pendukung hak dan Tahun 2007 tentang PT, yang diundangkan padakewajiban sama seperti manusia pribadi. Sebagai tanggal 16 Agustus 2007, dengan mencabutpendukung hak dan kewajiban dan dapat mengadakan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 tersebut.hubungan bisnis dengan pihak lain. Perubahan Undang-Undang tentang PT ini, Kedudukan PT. sebagai badan hukum semata- tentunya membawa dampak kepada para pelaku usahamata ditentukan oleh pengesahan sebagai badan hukum di Indonesia, dimana setiap ada perubahan Undang-yang diberikan oleh Kementrian Hukum dan Hak Asasi Undang, para pelaku usaha diwajibkan untuk J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 24  
  • menyesuaikan anggaran dasar PTnya, yang diberi waktu tetapi akibatnya banyak sekali, PT-PT yang tidak1 (satu) tahun terhitung sejak diundangkannya melakukan penyesuaian segera setelah UU Nomor 1perundangan tersebut. Demikian juga halnya dengan Tahun 1995 diundangkan menghadapi masalah. SebuahUndang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang PT PT masih beranggaran dasar sebagaimana diatur dalam(selanjutnya disebut UUPT), dimana dalam Ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD) karenaPeralihan, Pasal 157 ayat (3), pelaku usaha diwajibkan tidak adanya kepastian hukum dalam sebuah PT dapatmenyesuaikan anggaran dasar perusahaannya dengan saja terjadi. Dengan adanya ketentuan Pasal 157 ayat (3)Undang-Undang Tentang PT yang baru diterbitkan UUPT, tidak akan ditemukan lagi PT-PT yangdalam batas waktu tertentu, adapun bunyinya sebagai beranggaran dasar berdasarkan ketentuan dalam KUHDberikut : ataupun UU Nomor 1 Tahun 1995. “Perseroan yang telah memperoleh status badan Namun sosialisasi tentang penyesuaian hanya hukum berdasarkan peraturan perundang-undangan, dilakukan oleh Direktorat Jendral Administrasi Hukum dalam jangka waktu 1 (satu) tahun setelah Umum (selanjutnya ditulis Ditjen AHU) berlakunya Undang-Undang ini wajib menyesuaikan KEMENKUMHAM dengan menerbitkan peringatan anggaran dasarnya dengan Undang-Undang ini”. kepada Notaris yang bertugas mengurus perubahan Anggaran Dasar perseroan terbatas untukSanskinya yang cukup berat bagi para pelaku usaha menyampaikan hal tersebut kepada PT yang aktanyaterdapat pada Pasal 157 ayat 4, yang berbunyi : mereka buat, ataupun kepada perseroan yang ada. “Perseroan yang tidak menyesuaikan anggaran Melalui pengumuman tentang batas waktu penyesuaian dasarnya dalam jangka waktu sebagaimana Anggaran Dasar PT dengan Nomor AHU. AH. 01.02-09 dimaksud pada ayat (3) dapat dibubarkan tertanggal 10 September 2008, Ditjen AHU berdasarkan putusan pengadilan negeri atas mengingatkan agar PT segera menyesuaikan Anggaran permohonan kejaksaan atau pihak yang Dasar PT dengan UUPT. Jika melewati batas waktu berkepentingan”. yang telah ditentukan, tepatnya 16 September 2008, perseroan belum juga menyesuaikan Anggaran Dasar Para pelaku usaha yang menjalankan PT harus PT resikonya tidak kecil. Jika PT belum menyesuaikanmenyesuaikan Anggaran Dasarnya dengan UUPT Anggaran Dasar sampai batas waktu yang telahselambat-lambatnya 1 (satu) tahun sejak berlakunya ditentukan maka untuk sementara akses PT melaluiUUPT, atau selambat-lambatnya pada tanggal 16 Format Isian Akta Notaris Daftar Isian Akta NotarisAgustus 2008. Bagaimana eksistensi PT yang tidak (DIAN) II SABH ditutup. Penutupan dilakukan untukmenyesuaikan anggaran dasarnya dalam kurun waktu ketertiban administrasi pelayanan jasa hukum di bidangtersebut?. Apakah PT tersebut masih diijinkan untuk PT. Dengan penutupan ini, untuk sementara Notarismenjalankan usahanya?. Namun oleh karena satu dan tidak bisa meminta pengesahan akta pendirian ataulain hal, PT tersebut, oleh para pelaku usahanya persetujuan akta perubahan Anggaran Dasar ke(pengurusnya) belum atau tidak disesuaikan anggaran KEMENKUMHAM, sebagai tindakan administratifdasarnya. agar tidak berlarut-larut akan tetapi tingkat kepatuhan Ini berarti PT yang telah ada dan yang akan ada perseroan tidak juga meningkat untuk melakukanharus tunduk pada ketentuan UUPT ini. Untuk PT yang penyesuaian Anggaran Dasar PT.akan didirikan, pendiriannya harus didasarkan pada Tujuan dikeluarkan UUPT tersebut, diharapkanketentuan yang ada dalam UUPT, sedangkan PT yang dapat terwujudnya Good Corporate Governmenttelah ada sebelum UUPT ini disahkan harus melakukan (Kepastian Hukum, Effisiensi, akuntabilitas,penyesuaian anggaran dasarnya dengan ketentuan responsibiltas, adil, transparan dan aksesable) gunaUUPT (Pasal 157 ayat (3) UUPT) dalam jangka waktu 1 memenuhi perkembangan hukum dan kebutuhantahun terhitung setelah berlakunya UUPT ini atau masyarakat karena keadaan ekonomi serta kemajuantepatnya adalah sampai tanggal 16 Agustus 2008. Untuk ilmu pengetahuan, teknologi, dan informasi sudahPT-PT yang akan didirikan relative tidak ada masalah berkembang begitu pesat khususnya pada erayang timbul, tetapi untuk PT-PT yang telah globalisasi. Hal mana telah diperkenankan di Indonesiaada/didirikan dalam beberapa hal akan menimbulkan melalui Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2001 tentangproblem-problem hukum yang jika tidak segera diatasi Telematika (Telekomunikasi, Media dan Informatika)akan berpotensi merugikan kepentingan masyarakat dan dalam lampirannya tentang Government On-linekepentingan bisnis. menyebutkan penerapan jaringan informasi Jika dilakukan kilas balik, dalam UUPT dilingkungan pemerintah pusat dan daerah secarasebelumnya (UU Nomor 1 Tahun 1995) ketentuan terpadu telah menjadi prasyarat yang penting untukpenyesuaian ini diatur lebih longgar karena tidak adanya mencapai good governance dalam rangka meningkatkanbatasan waktu sebagaimana dalam UUPT saat ini. Akan transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi masyarakat J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 25  
  • dalam berbagai kegiatan pemerintahan guna antara lain UUPT. Jika perseroan terbatas belummemperbaiki pelayanan publik, meningkatkan efesiensi melakukan hal ini, maka proses pengajuanpelaksanaan otonomi daerah, serta mengurangi berbagai kredit dapat ditolak atau di tunda;kemungkinan kebocoran anggaran, good governance 3. Perseroan Terbatas tidak dapat beroperasitelah diterapkan dalam permohonan untuk memperoleh dengan sebagaimana mestinya;keputusan Menteri mengenai pengesahan badan hukum 4. Efek jangka panjang lainnya apabila tidakmaupun permohonan persetujuan perubahan anggaran menyesuaikan, sewaktu-waktu nama Perseroandasar badan hukum perseroan sebagaimana disebutkan Terbatas tersebut, dapat digunakan oleh pihakdalam ketentuan Pasal 9 UUPT. Untuk mendukung lain karena Perseroan Terbatas tersebut sudahgood government yang online kepada seluruh notaris tidak terdaftar dalam daftar perusahaan didapat mencegah dan menghapus korupsi, kolusi, Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusianepotisme dan suap sekaligus mewujudkan tata kelola Republik Indonesia;pemerintahan yang baik dan bersih (Good and Clean Pada prinsipnya yang diberi wewenang untukGovernment). Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 mengajukan permohonan pengesahan anggaran dasardipandang tidak lagi memenuhi tuntutan masyarakat adalah Direksi Perseroan, dalam penelitian ini yangakan layanan yang cepat, kepastian hukum, serta dijadikan responden oleh penulis, akan tetapi apabilatuntutan akan pengembangan dunia usaha yang sesuai Direksi berhalangan ataupun tidak mengajukan sendiridengan prinsip pengelolaan perusahaan yang baik. karena kesibukannya, maka yang boleh diberi kuasa Karena itu betapa pentingnya pelaku usaha yang untuk mengajukan permohonan pengesahan adalahmenjalankan PT harus menyesuaikan Anggaran seorang Notaris.Dasarnya dengan UUPT, cara untuk melakukanpenyesuaian Anggaran Dasar dengan UUPT adalah para 1.2. Rumusan Masalahpemegang saham melakukan Rapat Umum Pemegang Berdasarkan atas latar belakang tersebut di atasSaham Luar Biasa dengan agenda penyesuaian anggaran maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikutdasar, menurut pasal 21 ayat 4 UUPT perubahan yaitu :anggaran dasar yang dimaksud harus dibuat dalam akta 1. Bagaimanakah pelaksanaan ketentuan pasalnotaris dalam bahasa Indonesia. Menurut pasal 1 157 Ayat (3) Undang-undang Nomor 40 TahunUndang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan 2007 tentang Perseroan Terbatas terhadapNotaris, Notaris adalah Pejabatan Umum yang perseroan yang telah memperoleh status badanberwenang untuk membuat akta otentik dan hukum di Kabupaten Badung?kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam 2. Bagaimanakah akibat Hukum bagi PerseroanUndang-undang ini. Setelah Akta Berita Acara Rapat Tebatas yang tidak menyesuaikan anggaranUmum Luar Biasa Perseroan tersebut dibuat diteruskan dasar perseroan dengan Undang-Undangdengan Persetujuan oleh Menteri Hukum Dan Hak Nomor 40 Tahun 2007 terhadap perbuatanAsasi Manusia Republik Indonesia. Pengesahan atau hukum yang dilakukan?persetujuan Perseroan Terbatas telah dilakukan melaluiinternet dengan tujuan proses pengesahan atau 1.3. Tujuan Penelitianpersetujuan tersebut lebih cepat hal ini dikenal dengan Tujuan penelitian ini dapat dikualifikasikan atasnama SABH (Sistem Administrasi Badan Hukum). tujuan yang bersifat umum dan tujuan yang bersifat Berdasarkan Ketentuan Peralihan dalam UUPT khusus, sebagai berikut :tersebut khususnya Pasal 157 ayat (3), penulis ingin 1.3.1. Tujuan Umummeneliti lebih lanjut ketaatan para pelaku usaha dalam Secara umum penelitian atas kedua masalah dimematuhi aturan tersebut mengingat batas waktu atas adalah untuk pengembangan ilmu hukumpenyesuaian anggaran dasar berakhir pada tanggal 16 khususnya di bidang Hukum Perusahaan yang berkaitanAgustus 2008. Apabila Perseroan Terbatas tidak dengan Perseroan Terbatas yang diatur dengan UUPT.menyesuaikan anggaran dasarnya hal ini mempunyai 1.3.2. Tujuan Khususakibat hukum bagi Perseroan Terbatas tersebut sebagai Untuk menemukan dan mengkaji efektivitasberikut : pelaksanaan ketentuan Pasal 157 Ayat (3) UUPT 1. Dapat dibubarkan berdasarkan putusan terhadap perseroan yang telah memperoleh status badan pengadilan negeri atas permohonan kejaksaan hukum di Kabupaten Badung. atau pihak yang berkepentingan sebagaimana Untuk menemukan dan mengkaji Akibat Hukum diatur dalam ayat (4) Pasal 157 UUPT; bagi Perseroan yang tidak menyesuaikan anggaran dasar 2. Perbankan mensyaratkan bagi perseroan perseroan dengan UUPT terhadap perbuatan hukum terbatas yang mengajukan kredit harus sudah yang dilakukan. menyesuaikan Anggaran Dasarnya dengan   J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 26  
  • 1.4. Manfaat Penelitian Jadi seseorang merupakan subjek hukum selama Setiap penelitian yang dilakukan pasti hidupnya, bahkan sudah mulai, sejak ia berada dalamdiharapkan agar dapat bermanfaat bagi pengembangan kandungan apabila memang kepentingannyailmu pengetahuan maupun kegunaan praktis. menghendaki. Namun, itu tidak berarti bahwa ia dengan Hasil penelitian ini diharapkan dapat diperoleh sendirinya “cakap” untuk melakukan perbuatan hukum.manfaat sebagai berikut : Cakap dalam pengertian hukum disebut bekwaam atau 1. Secara teoritis, hasil penelitian diharapkan mempunya legal capacity, artinya seseorang bisa dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi melakukan perbuatan atau tindakan hukum apabila dia pengembangan ilmu hukum dalam kaitannya sudah “dewasa” dan tidak berada dalam pengampuan terhadap pelaksanaan ketentuan Pasal 157 Ayat atau di bawah perwalian (onder curatele). (3) UUPT terhadap perseroan yang telah Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Pasal memperoleh status badan hukum. 1329 menyebutkan bahwa “Setiap orang adalah cakap 2. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan untuk membuat perikatan-perikatan, jika ia oleh dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi undang-undang tidak dinyatakan tak cakap”. perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas Selanjutnya mengenai hal tersebut Pasal 1330 Kitab agar selalu mengikuti dan melaksanakan Undang-Undang Hukum Perdata berbunyi : Peraturan perundang-undangan yang berlaku “Tak cakap untuk membuat suatu perjanjian saat ini. adalah : 3. Bagi Notaris, memberikan sumbangan 1. Orang-orang yang belum dewasa; pemikiran agar selalu memberikan penyuluhan 2. Mereka yang ditaruh di bawah pengampuan; atau informasi kepada setiap kliennya yang 3. Orang-orang perempuan, dalam hal-hal yang datang, mengenai penerapan Pasal 157 Ayat ditetapkkan oleh undang-undang, dan pada (3) UUPT. umumnya semua orang kepada siapa undang- 4. Bagi peneliti sendiri, disamping untuk undang telah melarang membuat perjanjian- kepentingan penyelesaian studi juga untuk perjanjian tertentu”. menambah pengetahuan serta wawasan di Berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum bidang hukum perusahaan khususnya Perdata seorang istri dianggap tidak cakap, sehingga Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam untuk melakukan tindakan hukum, dia harus mendapat UUPT. izin atau persetujuan tertulis dari suaminya atau dia tidak bisa bertindak sendiri tanpa bantuan suaminya, KAJIAN PUSTAKA sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 108 dan 110 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Namun kemudian2.1. Pengertian Subjek Hukum pada tanggal 14 Agustus 1963 dengan Surat Edaran Subjek hukum adalah sesuatu yang menurut Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 3 Tahun 1963 yanghukum dapat memiliki hak dan kewajiban yang ditujukan kepada Ketua Pengadilan Negeri dan Ketuamemiliki kewenangan untuk bertindak. Yang menjadi Pengadilan Tinggi seluruh Indonesia, bahwa Pasal 108subjek hukum adalah : dan Pasal 110 dinyatakan tidak berlaku lagi. a) “Manusia/orang pribadi (natuurlijke person) Kebelumdewasaan seseorang menurut Pasal 330 yang sehat rohani/jiwanya, tidak di bawah Kitab Undang-Undang Hukum Perdata adalah sebelum pengampuan; seseorang berumur 21 tahun. Seseorang sebelum b) Badan hukum (rechts person).” mencapai usia tersebut bisa dikatakan dewasa apabila Manusia/orang pribadi itu menjadi subjek hukum telah melakukan perkawinan dengan batas usia :adalah sejak dia ada, yaitu di mulai semenjak dia - Untuk pria adalah setelah ia berumur 18 tahun;dilahirkan dan berakhir pada saat dia mati atau - Untuk wanita adalah setelah ia berumur 15meninggal dunia. Bahkan menurut Hukum Perdata tahun.dinyatakan bahwa semenjak si bayi masih dalam Sedangkan batasan menurut Undang-Undangkandungan ibunya pun sudah bisa mengemban hak Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 :sebagai subjek hukum. Mengenai hal ini undang-undang - Untuk Pria adalah setelah ia berumur 19 tahun;menyatakan dalam Kitab Undang-Undang Hukum - Untuk wanita adalah setelah ia berumur 16Perdata Pasal 2 ayat (1) bahwa : tahun. “Anak yang berada dalam kandungan seorang Sedangkan badan hukum sebagai subjek hukum perempuan, dianggap sebagai telah dilahirkan, yang berwenang melakukan tindakan hukum, misalnya, bilamana juga kepentingan si anak mengadakan perjanjian dengan pihak lain, mengadakan menghendakinya. Mati sewaktu dilahirkannya, jual beli, yang dilakukan oleh pengurusnya atas nama dianggaplah ia tak pernah telah ada”. suatu badan hukum. Menurut hukum yang dapat di J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 27  
  • sebut badan hukum harus memenuhi syarat tertentu, harus melakukan kegiatan usaha. Usaha yang dilakukanmisalnya Perseroan Terbatas (PT) dimana akta secara tetap dan terus menerus dengan tujuanpendirian perusahaannya harus di sahkan oleh Menteri memberikan keuntungan kepada perseroan.Hukum dan Hak Asasi Manusia serta diumumkanmelalui Lembaran Berita Negara. 2.3. Syarat Sahnya Perjanjian PT (Perseroan Terbatas) sebagai subjek hukum Syarat sahnya suatu perjanjian atau kontrakterpisah (Separate Personality Doctrine). Dengan status diatur oleh pasal 1320 Kitab Undang-undang HukumPerseroan Terbatas sebagai badan hukum maka sejak Perdata yaitu :saat itu hukum memperlakukkan pemilik atau pemegang a. Syarat subjektif, syarat ini apabila dilanggarsaham dan pengurus atau Direksi, terpisah dari maka perjanjian dapat dibatalkan meliputi :Perseroan Terbatas itu sendiri yang di kenal dengan 1) “Kesepakatan mereka yang mengikatkanistilah “separate legal personality” yaitu sebagai dirinyaindividu yang bediri sendiri. Dengan demikian maka Syarat yang pertama sahnya kontrak adalahpemegang saham tidak mempunyai kepentingan dalam adanya kesepakatan atau consensus parakekayaan Perseroan Terbatas, sehingga oleh sebab itu pihak. Kesepakatan ini diatur dalam Pasaljuga tidak bertanggung jawab atas utang-utang 1320 ayat (1) Kitab Undang-undang Hukumperusahaan atau Perseroan Terbatas. Menurut I. G. Rai Perdata. Yang dimaksud dengan kesepakatanWidjaya, S.H.,M.A. menyatakan bahwa : adalah penyesuaian pernyataan kehendak “Ini dikenal dengan sebutan Corporate Personality, antara satu orang atau lebih dengan pihak yang esensinya adalah suatu perusahaan mempunyai lainnya. Yang sesuai itu adalah pernyataan personalitas atau kepribadian berbeda dari orang karena kehendak itu tidak dapat yang menciptakannya. Maksudnya meskipun bila dilihat/diketahui orang lain. orang yang menjalankan perusahaan terus berganti, 2) Kecakapan untuk membuat kontrak perusahaannya tetap memiliki identitas sendiri Kecakapan bertindak adalah kecakapan atau terlepas dari adanya pergantian para anggota kemampuan untuk melakukan perbuatan pengurus ataupun pemegang sahamnya. Demikian hukum. Perbuatan hukum adalah yang akan pula kepentingan perusahaan tidak berhenti ataupun menimbulkan akibat hukum. Orang-orang diulang kembali setiap terjadi pergantian manager yang melakukan perjanjian haruslah orang- atau perubahan pemegang saham perusahaannya. orang yang cakap dan mempunyai wewenang Perusahaan dengan tanggung jawab terbatas, tidak untuk melakukan perbuatan hukum hanya kepemilikan kekayaan oleh perusahaan saja sebagaimana yang telah ditentukan oleh yang terpisah dengan uang yang dimiliki oleh orang Undang-Undang. Ukuran kedewasaan adalah yang menjalankan perusahaan, melainkan juga telah berumur 21 tahun atau sudah kawin. pemegang saham perusahaan tidak bertanggung Orang yang tidak berwenang untuk jawab atas utang-utang perusahaan atau Perseroan melakukan perbuatan hukum adalah anak Terbatas. Perseroan Terbatas bisa mempunyai harta, dibawah umur dan orang yang ditaruh serta hak dan kewajiban sendiri terlepas atau dibawah pengampuan.” terpisah dari harta serta hak dan kewajiban yang di b. Syarat objektif, syarat ini apabila dilanggar miliki oleh pesero pengurus atau pendiri”. maka perjanjian batal demi hukum, meliputi : 3) “Suatu hal tertentu2.2. Pengertian Perjanjian Objek perjanjian adalah prestasi (pokok Perjanjian yang dalam bahasa Inggrisnya perjanjian). Prestasi adalah apa yang menjadicontracts dan dalam bahasa Belandanya overeenkomest kewajiban debitur dan apa yang menjadi hakdiatur dalam Pasal 1313 KUH Perdata yaitu : kreditur. Prestasi ini terdiri dari perbuatan “Suatu perjanjian adalah suatu perbuatan (hendeling) positif dan negatif. Prestasi terdiri dari dan dalam perbuatan itu seorang atau lebih mengikat memberikan sesuatu, berbuat sesuatu, dan diri terhadap seorang atau lebih lainnya.” tidak berbuat sesuatu (Pasal 1234 Kitab Konsekuensi dari dianutnya pengertian Perseroan Undang-undang Hukum Perdata).Terbatas adalah badan hukum yang didirikan 4) Suatu sebab yang halalberdasarkan perjanjian, maka pendirian mensyaratkan Walaupun para pihak dapat membuatbahwa Perseroan Terbatas harus didirikan oleh dua perjanjian apa saja, namun adaorang atau lebih dengan akta notaris. Orang disini pengecualiannya yaitu sebuah perjanjianadalah dalam arti orang sebagai individu manusia atau tidak boleh bertentangan dengan perundang-badan. Sesuai dengan tujuan pendirian perseroan yaitu undangan ketertiban umum, moral danmendapatkan keuntungan, maka perseroan dalam hal ini kesusilaan”. J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 28  
  • 2.4. Asas Perjanjian pihak yang membuatnya. Dapat pula perjanjian Di dalam hukum kontrak dikenal lima asas diadakan untuk kepentingan pihak ketiga, bilapenting yaitu : suatu perjanjian yang dibuat untuk diri sendiri ataua. Asas Kebebasan Berkontrak dalam Pasal 1338 suatu pemberian kepada orang lain, mengandung ayat (1) Kitab Undang-undang Hukum Perdata suatu syarat semacam itu. yang berbunyi : “Semua perjanjian yang dibuat f. Asas-asas yang lainnya secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi “Selain asas diatas ada juga delapan asas yang mereka yang membuatnya” lainnya yaitu asas kepercayaan, asas persamaanb. Asas Konsensualisme pada Pasal 1320 ayat (1) hukum, asas keseimbangan, asas kepastian hukum, Kitab Undang-undang Hukum Perdata, ditentukan asas moral, asas kepatutan, asas kebiasaan, dan asas bahwa salah satu syarat sahnya perjanjian, yaitu perlindungan”. adanya kesepakatan kedua belah pihak. Asas Konsensualisme merupakan asas yang menyatakan 2.5. Tinjauan Umum Tentang Perseroan bahwa perjanjian pada umumnya tidak diadakan Terbatas. secara formal, tetapi cukup dengan adanya 2.5.1. Pengertian Perseroan Terbatas kesepakatan kedua belah pihak. Kesepakatan Perseroan Terbatas adalah persekutuan modal merupakan persesuaian antara kehendak dan yang oleh undang-undang diberi status badan hukum, pernyataan yang dibuat oleh kedua belah pihak. sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomorc. Asas Pacta Sunt Servanda 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT) Asas ini sering juga disebut dengan kepastian Pasal 1 Ayat (1) jo Pasal 7 Ayat (4), yang berbunyi hukum. Asas ini berkaitan dengan akibat sebagai berikut : perjanjian dimana hakim atau pihak ketiga harus “Perseroan Terbatas, yang selanjutnya disebut menghormati substansi kontrak yang dibuat oleh Perseroan, adalah badan hukum yang merupakan para pihak, sebagaimana layaknya sebuah Undang- persekutuan modal, yang didirikan berdasarkan Undang. Mereka tidak boleh melakukan intervensi perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal terhadap substansi kontrak yang dibuat oleh para dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham-saham pihak. Asas ini dapat dilihat pada Pasal 1338 ayat dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam (1) Kitab Undang-undang Hukum Perdata yang undang-undang ini serta peraturan pelaksanaannya” berbunyi “Perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang”. Dan selanjutnya Pasal 7 Ayat (4) berbunyi :d. Asas Itikad Baik (Goede Trouw) Dalam Pasal 1338 ayat (3) Kitab Undang-undang “Perseroan memperoleh status badan hukum pada Hukum Perdata berbunyi “Suatu Perjanjian harus tanggal diterbitkannya Keputusan Menteri mengenai dilaksanakan dengan itikad baik”. Asas itikad baik pengesahan badan hukum” merupakan asas bahwa para pihak, yaitu pihak Yang dimaksud dengan persekutuan modal kreditur dan debitur harus melaksanakan substansi adalah bahwa modal dasar Perseroan terbagi dalam kontrak berdasarkan kepercayaan atau keyakinan sejumlah saham-saham yang pada dasarnya dapat yang teguh atau kemauan baik dari para pihak. dipindahtangankan (transferable shares). Sehubungan Asas itikad baik dibagi menjadi dua macam yaitu dengan ini perlu ditegaskan bahwa sekalipun semuaitikad baik nisbi yaitu orang memperhatikan sikap dan saham dimiliki oleh 1 (satu) orang, konsep persekutuantingkah laku nyata dari subjek. Kedua itikad baik modal tetap valid karena Perseroan tidak menjadi bubarmutlak yaitu penilaian terletak pada akal sehat dan melainkan tetap berlangsung sebagai subjek hukum.keadilan, dibuat ukuran yang objektif untuk menilai Kebenaran ini dipertegas oleh ketentuan Pasal 7 Ayatkeadaan (penilaian tidak memihak) menurut norma- (7) yang mengatur bahwa 100% saham Persero (BUMNnorma yang objektif. berbentuk Perseroan Terbatas) dapat dimiliki olehe. Asas Kepribadian (Personalitas) Negara dan Perseroan yang mengelola bursa efek, Asas kepribadian merupakan asas yang lembaga kliring dan penjaminan, lembaga penyimpanan menentukan bahwa seseorang yang melakukan dan dan penyelesaian. atau membuat kontrak hanya kepentingan Perbuatan hukum pendirian oleh 2 (dua) atau perseorangan saja. Hal ini dapat dilihat pada pasal lebih pendiri tidak melahirkan perjanjian antara para 1315 Kitab Undang-undang Hukum Perdata yaitu pendiri, melainkan mengakibatkan adanya perjanjian pada umumnya seseorang tidak dapat mengadakan antara semua pendiri di satu pihak dan Perseroan di perikatan dan perjanjian selain untuk dirinya pihak lain. Berdasarkan perjanjian pendirian dimaksud sendiri, pasal 1340 Kitab Undang-undang Hukum para pendiri berhak menerima saham dalam Perseroan Perdata bunyinya perjanjian hanya berlaku antara dan sekaligus mereka wajib melakukan penyetoran J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 29  
  • penuh atas saham yang diambilnya. Dengan demikian Dalam rangka memberikan kemudahan dalamsesungguhnya antara para pendiri di satu pihak dengan permohonan pengesahan badan hukum, persetujuan danPerseroan di lain pihak terjadi hubungan keanggotaan, pemberitahuan perubahan anggaran dasar perseroan,dan oleh karena itu perbuatan hukum pendirian oleh UUPT mengatur mengenai pelayanan satu atap yaitupara pendiri sekaligus mengakibatkan terjadinya mengenai daftar perusahaan dan pengumuman dalampenyertaan oleh semua pendiri dalam Perseroan selaku Berita Negara Republik Indonesia, dimana sebelumnyapersekutuan modal. merupakan kewajiban Direksi atau kuasanya, maka Memperhatikan sifat khas perbuatan hukum menurut UUPT yang baru semuanya ini merupakanpendirian Perseroan tersebut di atas, maka dapat ditarik tugas Menteri, sebagaimana diatur dalam Pasal 29 Ayatkesimpulan bahwa Perseroan Terbatas dapat didirikan 1 yang menyatakan Daftar Perusahaan diselenggarakanoleh 1 (satu) orang. Kebenaran kesimpulan dimaksud oleh Menteri, dan dalam Pasal 30 menyatakan Menteriditegaskan oleh UUPT yang dalam Pasal 7 Ayat (7) di mengumumkan dalam Tambahan Berita Negaraatas mengatur antara lain Negara sebagai pendiri Republik Indonesia :tunggal dapat dengan sah mendirikan BUMN berbentuk a. Akta pendirian Perseroan beserta KeputusanPerseroan Terbatas yang disebut Perusahaan atau Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7Persero. Ayat (3). Berbeda dengan badan usaha bukan badan b. Akta perubahan anggaran dasar perseroanhukum, misalnya Persekutuan Perdata (maatschap), CV, beserta Keputusan Menteri sebagaimanadan Firma, timbulnya perseroan sematas-mata karena dimaksud dalam Pasal 21 Ayat (1).disepakati/diperjanjikan oleh para pendirinya. Dan c. Akta perubahan anggaran dasar yang telahdisini bukanlah berstatus badan hukum, sedangkan diterima pemberitahuannya oleh Menteri.Perseroan Terbatas (PT) karena merupakan badan Status badan hukum Perseroan Terbatashukum maka dibutuhkan adanya suatu persetujuan atau merupakan salah satu daya tarik bagi investor,pengesahan dari instansi yang berwenang, dalam hal ini disamping daya tarik lain dari sebagai suatu asosiasidi Indonesia dipercayakan kepada Departemen Hukum modal. Persoalannya sekarang bahwa mengenai kapandan Hak Asasi Manusia, Direktorat Jendral mulainya status badan hukum Perseroan Terbatas itu?.Administrasi Hukum Umum. Menurut Pasal 7 Ayat (4) UUPT yaitu “Perseroan Karena perkembangan teknologi dan tuntutan memperoleh status badan hukum pada tanggalzaman yang semakin hari semakin canggih dan menuju diterbitkannya Keputusan Menteri mengenaikearah globalisasi, maka Perseroan Terbatas sebagai pengesahan badan hukum perseroan”.salah satu pilar pembangunan perekonomian nasional “Sebagai suatu badan hukum tentu sajaperlu diberikan landasan hukum untuk lebih memacu Perseroan Terbatas juga termasuk subjek hukum, sebabpembangunan nasional yang disusun sebagai usaha subjek hukum adalah segala sesuatu yang dapatbersama berdasarkan asas kekeluargaan. Pemerintah memperoleh hak dan kewajiban dari hukum”. Badanmerasa perlunya memberikan pelayanan yang cepat hukum (rechtspersoon) termasuk subjek hukumdalam bidang usaha demi persaingan dalam disamping manusia (natuurlijk person). “Hukum positipmemperoleh devisa bagi Negara. Sebagaimana yang di semua Negara termasuk Negara kita mengakui dantelah berjalan selama ini, pengesahan atau persetujuan menentukan bahwa manusia dan badan hukum adalahPerseroan Terbatas telah dilakukan melalui media subjek hukum”.komunikasi internet, agar Departemen Hukum dan Hak Badan hukum merupakan konstruksi yuridisAsasi Manusia tersebut tidak perlu di datangi tamu- yang menganggap bahwa “sesuatu” itu dianggaptamu dari seluruh Indonesia. Selain memproses lebih sebagai pendukung hak dan kewajiban. Batasan ataupuncepat juga menghemat biaya, hal ini dikenal dengan definisi dari badan hukum telah banyak dikemukakanSABH (Sistem Administrasi Badan Hukum). oleh para sarjana, tetapi dapatlah disimpulkan tentang Pembuatan akta untuk Badan Hukum Perseroan pengertian badan hukum yang juga sebagai subjekTerbatas ini haruslah akta otentik, yang dipercayakan hukum itu mencakup hal-hal sebagai berikut :kepada Notaris, yaitu seorang Pejabat Umum, yang - “Perkumpulan orang (organisasi);bekerja secara professional. Setelah Akta Pendirian - Dapat melakukan perbuatan hukum dalamPerseroan Terbatas dibuat maka diteruskan dengan hubungan-hubungan hukum;Pengesahan oleh Departemen Hukum dan Hak Asasi - Mempunyai harta kekayaan sendiri;Manusia melalui SABH (Sistem Administrasi Badan - Mempunyai pengurus;Hukum) tersebut melalui internet. Pemeriksaan internet - Mempunyai hak dan kewajiban;selesai dilanjutkan dengan pemeriksaan data fisik yang - Dapat menggugat dan digugat di depandisampaikan oleh Pejabat Umum pembuat akta otentik pengadilan;”tersebut. J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 30  
  • Menurut Riduan Syahrani dimana suatu badan 5. Keberadaannya tidak dibatasi jangka waktunyahukum mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : dan tidak lagi dihubungkan dengan eksistensi 1) “Adanya harta kekayaan yang terpisah; dari pemegang sahamnya; 2) Mempunyai tujuan tertentu; 6. Pertanggungjawaban yang mutlak terbatas, 3) Mempunyai kepentingan sendiri; selama dan sepanjang para pengurus (direksi), 4) Ada organisasi yang teratur;” dewan komisaris dan atau pemegang saham tidak melakukan pelanggaran terhadap hal-hal yang Dari ketentuan tersebut secara eksplisit sangat tidak boleh dilakukan;”jelas disebutkan bahwa Perseroan Terbatas merupakanbadan hukum. Perseroan Terbatas merupakan suatu 2.5.2. Status Badan Hukum danbentuk (legal form) yang didirikan atas fiksi hukum Pertanggungjawab Terbatas dari Perseroan(legal fiction) bahwa perseroan memiliki kapasitas Terbatas.yuridis yang sama dengan yang dimiliki oleh orang Salah satu karakteristik mendasar dari suatuperseorangan (natural person). Apabila dikaitkan perseroan terbatas sebagai corporation adalah sifatdengan unsur-unsur mengenai badan hukum, maka badan hukum dan pertanggungjawaban terbatas dariunsur-unsur yang menandai Perseroan Terbatas sebagai Perseroan Terbatas. Dalam kepustakaan hukumbadan hukum adalah bahwa Perseroan Terbatas Belanda, istilah badan hukum dikenal dengan sebutanmempunyai kekayaan yang terpisah (Pasal 24 Ayat (1) “rechtsperson”, dan dalam kepustakaan tradisi hukumUUPT), mempunyai kepentingan sendiri (Pasal 82 common law seringkali disebut dengan istilah-istilahUUPT), mempunyai tujuan tertentu (Pasal 12 huruf b legal entity, juristic person, atau artificial person.UUPT) dan mempunyai organisasi teratur (Pasal 1 butir Legal entity, dalam Kamus Hukum Ekonomi2 UUPT). diartikan sebagai “badan hukum” yaitu badan atau Pada dasarnya suatu perseroan terbatas organisasi yang oleh hukum diperlukan sebagai subjekmempunyai cirri-ciri sekurang-kurangnya sebagai hukum, yaitu pemegang hak dan kewajiban. Padaberikut : dasarnya badan hukum adalah subjek hukum yang 1. “Memiliki status hukum tersendiri, yaitu sebagai diakui memiliki kapasitas dan kewenangan untuk suatu badan hukum, yaitu subjek hukum bertindak dalam hukum di samping individu manusia, artificial, yang sengaja diciptakan oleh hukum orang perorangan. untuk membentuk kegiatan perekonomian, yang Menurut Subekti, badan hukum adalah “suatu dipersamakan dengan individu manusia orang badan atau perkumpulan yang dapat memiliki hak-hak perorangan; dan melakukan perbuatan seperti seorang manusia, serta 2. Memiliki harta kekayaan tersendiri yang memiliki kekayaan sendiri, dapat digugat atau dicatatkan atas namanya sendiri dan menggugat di depan hakim”. Rochmat Soemitro pertanggungjawaban sendiri atas setiap tindakan, mengatakan bahwa “badan hukum (rechtspersoon) ialah perbuatan, termasuk perjanjian yang dibuat. Ini suatu badan yang dapat mempunyai harta, hak, serta berarti perseroan dapat mengikat dirinya dalam kewajiban seperti orang pribadi”. Selanjutnya Wirjono satu atau lebih perikatan, yang berarti Prodjodikoro mengemukakan pengertian suatu badan menjadikan perseroan sebagai subjek hukum hukum sebagai “badan yang disamping manusia mandiri (persona standi in judicio) yang perseorangan juga dianggap dapat bertindak dalam memiliki kapasitas dan kewenangan untuk dapat hukum dan yang mempunyai hak-hak, kewajiban- menggugat dan digugat di hadapan pengadilan. kewajiban dan perhubungan hukum terhadap orang lain 3. Tidak lagi membebankan tanggung jawabnya atau atau badan lain”. kepada pendiri, atau pemegang sahamnya, Dari rumusan di atas jelaslah bahwa badan melainkan hanya untuk dan atasnama dirinya hukum sebagai suatu subjek hukum mandiri yang sendiri, untuk kerugian dan kepentingan diri dipersamakan di hadapan hukum dengan individu sendiri; pribadi orang perorangan, meskipun dapat menjadi 4. Kepemilikannya tidak digantungkan pada orang penyandang hak dan kewajibannya sendiri, terlepas dari perorangan tertentu, yang merupakan pendiri orang-orang yang mendirikan atau menjadi anggota dari atau pemegng sahamnya. Setiap saat saham badan hukum tersebut, tidaklah seratus persen sama perseroan dapat dialihkan kepada siapapun juga dengan individu pribadi atau perorangan. Badan Hukum menurut ketentuan yang diatur dalam Anggaran hanya dipersamakan dengan individu pribadi orang Dasar dan undang-undang yang berlaku pada perorangan, dalam lapangan hukum benda atau hukum suatu waktu tertentu; perikatan, serta hukum-hukum lain yang merupakan bagian atau pengembangan lebih lanjut dari kedua jenis hukum tersebut, yang juga dikenal dengan nama hukum J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 31  
  • harta kekayaan. Selanjutnya oleh karena badan hukum memberikan manfaat kepada pemegang saham bahwaberada dalam lapangan hukum harta kekayaan, maka tidak setiap kegiatan dari pengurus Perseroan Terbatasbadan hukum sama seperti halnya individu pribadi, memerlukan pengetahuan atau bahkan persetujuan daridapat menggugat dan atau digugat guna memenuhi pendiri atau pemegang saham. Peran ini kemudianperikatannya. Kebendaan yang merupakan milik badan disederhanakan menjadi peran Rapat Umum Pemeganghukum itulah yang menjadi tanggungan bagi Saham, baik Rapat Umum Pemegang Saham Tahunanpemenuhan kewajiban badan hukum itu sendiri. ataupun Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa Uraian-uraian di atas adalah penjelasan Para Pemegang Saham.mengenai subjek hukum secara materiil. Selainpersyaratan materiil tersebut, keberadaan suatu badan 2.5.3. Kedudukan Hukum Perseroan Terbatashukum sebagai subjek hukum mandiri juga harus Berdasarkan kepada UUPT, bahwa status badandidasarkan pada persyaratan formil, yaitu proses hukum suatu Perseroan baru diperoleh pada tanggalpembentukannya yang harus memenuhi formalitas dari diterbitkannya keputusan Menteri mengenai pengesahansuatu peraturan perundang-undangan yang badan hukum Perseroan. Pengesahan dari Menterimengaturnya, hingga diakui sebagai subjek hukum Hukum dan Hak Asasi Manusia ini merupakan satu-mandiri. Dalam Perseroan Terbatas, saat diperolehnya satunya syarat memperoleh status badan hukum bagipengesahan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Perseroan.Manusia itulah yang menjadikan Perseroan Terbatas itu Selama status Perseroan sebagai badan hukumsebagai badan hukum dalam arti formil. belum diperoleh, Perseroan yang bersangkutan tidak Sifat badan hukum Perseroan Terbatas, berbeda dengan firma, persekutuan komanditer atausenantiasa dikaitkan dengan pertanggungjawaban persekutuan perdata, karena para pemegang sahamterbatas. Yang dinamakan dengan dan menjadi tujuan bertanggung jawab secara pribadi terhadap segaladari pertanggungjawaban terbatas ini adalah keberadaan perikatan yang dilakukan oleh Perseroan tersebut.dari suatu perseroan yang telah memperoleh status Dalam pasal 7 Ayat (4) UUPT ditentukan bahwabadan hukum, melahirkan perlindungan harta kekayaan Perseroan memperoleh status badan hukum padapribadi dan pendiri yang kemudian berubah status tanggal diterbitkannya keputusan menteri mengenaimenjadi pemegang saham, dan pengurus perseroan pengesahan badan hukum Perseroan, selanjutnya dalamterbatas, yang di Indonesia dilaksanakan oleh Direksi di Pasal 3 Ayat (2) UUPT, sebelum Perseroan memperolehbawah pengawasan Dewan Komisaris. status badan hukum atau tidak dipenuhinya persyaratan Keberadaan pertanggungjawaban terbatas bagi Perseroan sebagai badan hukum, tanggung jawab parapemegang saham dalam perseroan merupakan suatu hal pemegang saham, Direksi dan Dewan Komisarisyang sudah sejak lama menjadi perdebatan dalam berubah menjadi tidak terbatas. Artinya para pemeganghukum perseroan. Memang tidak dapat disangkal bahwa saham, Direksi dan Dewan Komisaris ikut bertanggungkeberadaan pertanggungjawaban terbatas bagi jawab secara pribadi bila Perseroan mengalami kerugianpemegang saham perseroan ini meningkatkan secara sepanjang belum memperoleh status badan hukum.signifikan penggunaan korporasi sebagai salah satu Setelah Perseroan memperoleh status sebagaimodel usaha. Sifat pertanggunugjawabannya yang badan hukum tanggung jawab pemegang saham, Direksiterbatas itulah yang menyebabkan kemajuan dalam dan Dewan Komisaris menjadi terbatas sebagaimanaberbagai bidang yang ada dalam masyarakat. tercantum dalam pasal 14 Ayat (3) UUPT. Pendiri atau pemegang saham dalam Perseroan Sejak dimulainya persiapan-persiapan untukTerbatas seringkali tidak menjadi pengurus atau mendirikan suatu Perseroan sampai dengan memperolehpengelola dari perseroan yang didirikan, maka pendiri status sebagai badan hukum kedudukan dan tanggungatau pemegang saham ini memerlukan jaminan dan jawab para pendiri atau para pemegang sahamkepastian bahwa harta kekayaan mereka pribadi tidak senantiasa berubah. Pada tahap persiapan, para pendiriakan diganggu gugat sehubungan dengan kegiatan usaha Perseroan belum mempunyai kedudukan apapun karenayang diselenggarakan atau dilaksanakan oleh Perseroan Perseroan belum berdiri, para pendiri bertanggungTerbatas tersebut. Dalam konteks yang demikian jawab secara pribadi atas segala perbuatan hukum yangpertanggungjawaban terbatas pendiri atau pemegang telah dilakukan dalam rangka pendirian Perseroansaham menjadi penting artinya. Pendiri atau pemegang tersebut. Tanggung jawab atas akibat perbuatan hukumsaham hanya akan menanggung kerugian yang tidak yang telah dilakukan ini, yaitu perbuatan hukum yanglebih dari bagian penyertaan yang telah disetujuinya berkaitan dengan kepemilikan saham danuntuk diambil bagian, guna penyelenggaraan dan penyetorannya akan menjadi tanggung jawab pribadipengelolaan jalannya perseroan dengan baik. dari para pendiri Perseroan, kecuali sebagaimana yang Keperluan adanya tanggung jawab terbatas bagi diatur dalam Pasal 12 Ayat (1), (2) dan (3) UUPTharta kekayaan pribadi pendiri atau pemegang saham, perbuatan hukum tersebut dicantumkan dalam akta J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 32  
  • pendirian Perseroan tersebut, maka Perseroan akan 2.5.4. Organ Perseroan Terbatasterikat pada hak dan kewajiban yang timbul akibat dari “Organ Perseroan terdiri atas Rapat Umumperbuatan hukum yang dilakukan oleh calon pendiri Pemegang Saham (RUPS), Direksi dan DewanPerseroan, tetapi apabila hal ini tidak dilakukan maka Komisaris, yang memiliki fungsi, tugas dan wewenangperbuatan hukum dari calon pendiri Perseroan tersebut masing-masing di dalam Perseroan”.tidak menimbulkan hak dan kewajiban bagi Perseroan 1. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)sebagaimana diatur dalam Pasal 4 Ayat (4) UUPT. Dalam UUPT mengeni RUPS diatur dalam Pasal Pada tahap setelah Perseroan berdiri yaitu ketika 75 sampai dengan 91 :akta pendirian telah dibuat oleh Notaris namun belum a) “Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)memperoleh status sebagai badan hukum, kedudukan adalah organ Perseroan yang memegangpara pendiri Perseroan adalah sebagai pemegang saham kekuasaan tertinggi dalam Perseroan dansebagaimana disebutkan dalam Pasal 7 Ayat (2) UUPT memegang segala wewenang yang tidakyang menyatakan bahwa setiap pendiri Perseroan wajib diserahkan kepada Direksi atau Dewanmengambil bagian saham pada saat Perseroan didirikan. Komisaris.Jadi, pada saat pendirian para pendiri adalah pemegang b) RUPS terdiri dari RUPS Tahunan atausaham pada Perseroan yang didirikannya itu, namun RUPS lainnya (sesuai kebutuhanbelum dapat diberlakukan ketentuan dalam Pasal 3 Ayat RUPSLB), RUPS Tahunan diadakan dalam(1) UUPT yang menyatakan bahwa pemegang saham waktu paling lambat 6 bulan setelah tahuntidak bertanggung jawab secara pribadi atas segala buku.perikatan yang dibuat oleh Perseroan, karena Perseroan c) RUPS diadakan antara lain untuk :belum berbadan hukum. Dengan demikian para pendiri Meminta keterangan dariPerseroan pada tahap ini masih harus bertanggung Direksi/Dewan Komisaris;jawab secara pribadi terhadap perbuatan hukum yang Menyetujui laporan tahunan dantelah dilakukannya walaupun perbuatan hukum itu mengesahkan perhitungan tahunan,dilakukan untuk kepentingan Perseroan. Tanggung serta menetapkan cadangan danjawab para pendiri Perseroan menurut Pasal 13 Ayat (1) penggunaan laba;UUPT dapat dialihkan kepada Perseroan dengan syarat Mengangkat Direksi dan Dewanbahwa Perseroan harus terlebih dahulu telah menjadi Komisaris;badan hukum dan apabila RUPS (Rapat Umum Memutuskan pembelian kembaliPemegang Saham) Pertama Perseroan secara tegas saham;menyatakan menerima atau mengambil alih semua hak Menambah atau mengurangi modal;dan kewajiban yang timbul dari perbuatan hukum yangdilakukan oleh calon pendiri atau kuasanya. Apabila Memutuskan penggabungan,Perseroan tidak melakukan hal-hal tersebut, maka peleburan, pengambilalihan,masing-masing calon pendiri Perseroan yang melakukan kepailitan dan pembubaranperbuatan hukum tersebut bertanggung jawab secara Perseroan Terbatas;pribadi atas segala akibat yang timbul sebagaimana Mengalihkan atau menjaminkandiatur dalam Pasal 4 Ayat (4) UUPT. seluruh atau sebagian besar Pada tahap berikutnya, yaitu pada saat Perseroan kekayaan/asset perusahaan”.telah memperoleh status badan hukum, para pendiri 2. Direksi PerseroanPerseroan berkedudukan sebagai pemegang saham Dalam UUPT mengenai Direksi diatur dalamdengan menyetor penuh saham yang menjadi bagiannya Pasal 92 sampai dengan 107 :karena berdasarkan Pasal 33 Ayat (2) UUPT pada saat a) Direksi adalah organ Perseroan yangpengesahan seluruh saham yang dikeluarkan harus bertanggung jawab penuh atas pengurusansudah disetor penuh pada saat pengesahan Perseroan Perseroan untuk kepentingan dan tujuandengan bukti penyetoran yang sah. Pada tahap ini Perseroan serta mewakili Perseroan baik dikedudukan para pendiri Perseroan adalah pemegang dalam maupun di luar pengadilan sesuaisaham dan tidak bertanggung jawab secara pribadi atas dengan ketentuan anggaran dasar;perikatan yang dibuat atas nama Perseroan dan tidak b) Anggota Direksi diangkat oleh RUPS;bertanggung jawab atas kerugian Perseroan melebihi c) Kecuali ditentukan lain, setiap anggotanilai saham yang diambilnya sebagaimana ditentukan Direksi berwenang mewakili;dalam Pasal 3 Ayat (1) UUPT. d) Anggota Direksi tidak dapat mewakili Perseroan Terbatas dalam hal benturan   kepentingan (Pasal 99 Ayat 1);   e) Wajib membuat daftar pemegang saham, daftar khusus, risalah RUPS dan risalah rapat J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 33  
  • Direksi, membuat laporan tahunan, 3. Adanya penetapan pengadilan, berdasarkan memelihara seluruh daftar, risalah dan a) Permohonan kejaksaan berdasarkan dokumen keuangan Perseroan; alasan kuat Perseroan Terbatas f) Setiap anggota Direksi bertanggung jawab melanggar kepentingan umum; penuh secara pribadi jika yang bersangkutan b) Permohonan pemegang saham, Direksi bersalah dan lalai dalam menjalankan tugas atau Dewan Komisaris berdasarkan untuk kepentingan dan usaha Perseroan alasan Perseroan tidak mungkin di Terbatas (Pasal 97 Ayat 2); lanjutkan g) Direksi wajib melaporkan kepada Perseroan c) Permohonan pihak yang berkepentingan Terbatas Saham yang dimiliki yang berdasarkan alasan adanya cacat hukum bersangkutan atau keluarganya; dalam akta pendirian; h) Perseroan Terbatas yang bidang usahanya d) Permohonan kreditor berdasarkan mengerahkan dana masyarakat wajib alasan : mempunyai paling sedikit dua orang Direksi • Perseroan Terbatas tidak mampu (Pasal 92 Ayat 4 ); membayar hutangnya setelah i) Direksi wajib meminta persetujuan RUPS dinyatakan pailit; untuk mengalihkan kekayaan Perseroan atau • Harta kekayaan Perseroan Terbatas menjadikan jaminan utang kekayaan tidak cukup untuk melunasi Perseroan yang merupakan lebih dari 50% seluruh utangnya setelah (Lima Puluh Persen) jumlah kekayaan bersih pernyataan pailit dicabut; atau Perseroan dalam 1 (satu) transaksi atau lebih, Menurut Pasal 147 UUPT setelah Perseroan baik yang berkaitan satu sama lain maupun Terbatas bubar secara “de yure” harus diikuti proses tidak. likuidasi, agar dinyatakan bubar secara “de facto”. Selanjutnya untuk membereskan harta Perseroan3. Dewan Komisaris Terbatas dalam proses likuidasi baik pencatatan dan Dalam UUPT mengenai Dewan Komisaris pengumpulan kekayaan Perseroan, pembayaran kepadadiatur dalam Pasal 108 sampai dengan 121 : para Kreditor, pembayaran sisa kekayaan hasil likuidasi a) Dewan Komisaris adalah organ perseroan kepada pemegang saham, untuk itu ditunjuklah yang bertugas melakukan pengawasan secara likuidator, biasanya Pengadilan Negeri atau Auditor umum dan/atau khusus serta memberikan Terdaftar dari pemerintah. Likuidator dalam waktu nasihat kepada Direksi dalam menjalankan paling lambat 30 hari wajib : Perseroan 1) Mendaftarkan dalam Daftar Perusahaan; b) Tata cara pencalonan, pengangkatan, 2) Mengajukan permohonan untuk diumumkan penggantian dan pemberhentian Dewan dalam Berita Negara; Komisaris diatur dalam Angaran Dasar (Pasal 3) Mengumumkan dalam 2(dua) surat kabar 111 Ayat 4); harian; c) Dewan Komisaris bertanggung jawab secara 4) Memberitahukan kepada Menteri; pribadi apabila yang bersangkutan bersalah dan lalai dalam menjalankan tugasnya (Pasal 2.5.6. Tata Cara Mendirikan Perseroan Terbatas 114 Ayat 3); 1. Didirikan Minimal Dua “Orang” d) Dewan Komisaris wajib melaporkan Kepada “Perseroan Terbatas didirikan berdasarkan Perseroan Terbatas saham yang dimiliki yang perjanjian oleh karena itu sudah selayaknya didirikan bersangkutan atau keluarganya (Pasal 116 oleh 2 (dua) orang atau lebih. Kata “orang” disini Ayat b); apakah hanya “orang” atau “manusia” yang dapat e) Perseroan Terbatas yang bidang usahanya mendirikan perseroan terbatas, ternyata dalam UUPT mengerahkan dana masyarakat wajib kata “orang” harus dipandang sebagai subjek hukum mempunyai paling sedikit 2 (dua) orang dalam arti luas. “Orang” adalah orang perorangan atau Dewan Komisaris (Pasal 108 Ayat 5); badan hukum. Jadi dimungkinkan dalam mendirikan perseroan terbatas, badan hukum dapat melakukan2.5.5. Pembubaran Perseroan Dan Likuidasi perjanjian sehingga tampil sebagai pendiri perseroan”. Berdasarkan Pasal 142 sampai dengan 157 Istilah yang tepat untuk penyebutan “orang”UUPT maka Perseroan dapat di bubarkan atau berakhir, disini adalah “pihak”. Apabila pendirian perseroankarena : dilakukan oleh dua orang, namun mereka adalah suami 1. Keputusan RUPS; isteri, hal ini tidak diperkenankan karena suami isteri 2. Jangka waktu berdirinya telah berakhir; dianggap satu pihak. Kecuali mereka memiliki akta J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 34  
  • pisah harta. Sehingga dapat disimpulkan bahwa yang diatur dalam pasal 5 Ayat (2) dan ayat (3) UUPT, yangtepat adalah kata “pihak” untuk menggantikan kata berbunyi sebagai berikut :“orang” sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 Ayat (1) (1) Perseroan mempunyai alamat lengkap di tempatUUPT. kedudukannya. Pendirian Perseroan Terbatas harus dilakukan (2) Dalam semua surat menyurat, pengumuman yangdalam akta notaris dalam bahasa Indonesia, karena akta diterbitkan oleh Perseroan, barang cetakan, danpendirian tersebut merupakan akta otentik, yang dapat akta dalam hal Perseroan menjadi pihak harusdipandang sebagai alat bukti yang mengikat dan menyebutkan nama dan alamat lengkapsempurna. perseroan”.2. Pemakaian Nama Perseroan Terbatas Tempat kedudukan tersebut, yang dimaksud Penggunaan nama Perseroan Terbatas tidak adalah sekaligus merupakan kantor pusat perseroanboleh merugikan sesama pengusaha dibidang usaha dan tersebut. Sehubungan dengan hal itu, tentang alamatperdagangan dan menimbulkan adanya persaingan tidak yang dipilih sebagai tempat kedudukan Perseroansehat. Pengaturan pemakaian nama perseroan dilakukan Terbatas, undang-undang mengharuskan supaya tempatuntuk memberikan perlindungan hukum kepada kedudukan tersebut disebutkan dalam surat menyurat.pemakai nama perseroan yang beritikad baik, yang Dalam praktek ditemui alamat tersebut diletakkan padasudah memakai nama tersebut secara resmi di dalam kepala surat, dengan maksud agar perseroan mudahakta pendirian dan telah mendapat pengesahan Menteri. dihubungi. Dan oleh Menteri diisyaratkan juga untukUntuk itu tidak diijinkan ada nama yang sama atau melampirkan Surat Keterangan Lurah setempathampir sama untuk pemakaian nama perseroan di mengenai domisili perseroan tersebut, pada saatseluruh Indonesia. pengajuan dokumen fisik untuk memohon persetujuan. Pada hakekatnya, pengaturan Pemakaian NamaPerseroan Terbatas yang diatur dalam Peraturan 4. Akta Pendirian Perseroan TerbatasPemerintah Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 1998, Akta pendirian Perseroan Terbatas memuatmirip dengan ketentuan tentang merek terkenal anggaran dasar dan keterangan lain yang berkaitansebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 19 dengan Perseroan, yang diatur dalam Pasal 8 UUPT,Tahun 1992 tentang Merek berikut perubahannya. Hal Pasal 15 Ayat (1) UUPT mengatur lebih lanjutini dimaksud untuk mencegah pihak-pihak yang mengenai ketentuan yang harus dimuat dalam anggaranberitikad buruk yang dengan jalan pintas ingin dasar suatu perseroan, yaitu :memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya dengan a. “Nama dan tempat kedudukan perseroan;menggunakan merek terkenal sebagai nama usahanya, b. Maksud dan tujuan serta kegiatan usahatanpa seijin pemilik merek terkenal yang bersangkutan. perseroan; Pemakaian nama perseroan harus diajukan c. Jangka waktu berdirinya perseroan;kepada Menteri dengan suatu permohonan guna d. Besarnya jumlah modal dasar, modalmendapat persetujuan. Permohonan tersebut dapat ditempatkan dan modal disetor;diajukan terlebih dahulu sebelum pengajuan e. Jumlah saham, klasifikasi saham apabila adapermohonan pengesahan akta pendirian. Pasal 5 berikut jumlah saham untuk tiap klasifikasi,Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 1998 (sampai hak-hak yang melekat pada setiap saham, dandengan saat ini Peraturan Pemerintah tersebut masih nilai nominal setiap saham;tetap berlaku walaupun telah diberlakukannya UUPT) f. Nama jabatan dan jumlah anggota Direksi danmenentukan permohonan persetujuan pemakaian nama Dewan Komisaris;kepada Menteri ditolak apabila nama tersebut : g. Tata cara pengangkatan, penggantian, a. Telah dipakai secara sah oleh perseroan lain pemberhentian anggota Direksi dan Dewan atau mirip dengan nama perseroan lain. Komisaris; b. Bertentangan dengan ketertiban umum dan h. Tata cara penggunaan laba dan pembagian atau kesusilaan. dividen”.3. Tempat Kedudukan dan Alamat Tetap Tempat kedudukan Perseroan Terbatas 5. Pengesahan Oleh Menteriditentukan dalam Pasal 5 UUPT, yaitu dalam wilayah Yang dimaksud dengan Menteri adalah menteriNegara Republik Indonesia yang ditentukan dalam yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang hukumanggaran dasarnya. Perbedaan dengan UUPT lama dan hak asasi manusia. Dalam mendirikan PerseroanNomor 1 Tahun 1995 adalah kewajiban untuk Terbatas tidak cukup dengan cara membuat aktamencantumkan alamat lengkap perseroan sebagaimana pendirian yang dilakukan dengan akta otentik. Akan tetapi harus diajukan pengesahan kepada Menteri, guna J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 35  
  • memperoleh status badan hukum. Pengajuan sebagaimana dimaksud pada Ayat (3) menjadipengesahan dapat dilakukan oleh Direksi atau kuasanya. gugur.Jika dikuasakan hanya boleh kepada seorang Notaris (8). Dalam hal pernyataan tidak berkeberatandengan hak substitusi. gugur, pemohon sebagaimana dimaksud pada UUPT memberikan kemudahan untuk pengajuan Ayat (5) dapat mengajukan kembalimelalui media elektronik, guna memenuhi tuntutan permohonan untuk memperoleh Keputusanmasyarakat untuk memperoleh layanan yang cepat. Juga Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9menetapkan batas waktu pengajuan pengesahan Ayat (1).sebagaimana diatur dalam Pasal 10 UUPT tersebut, (9). Dalam hal permohonan untuk memperolehyang berbunyi sebagai berikut : Keputusan Menteri tidak diajukan dalam (1). “Permohonan untuk memperolah Keputusan jangka waktu sebagaimana dimaksud pada Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 Ayat (1), akta pendirian menjadi batal sejak Ayat (1) harus diajukan kepada Menteri paling lewatnya jangka waktu tersebut dan Perseroan lambat 60 (enampuluh) hari terhitung sejak yang belum memperoleh status badan hukum tanggal akta pendirian ditandatangani, bubar karena hukum dan pemberesannya dilengkapi keterangan mengenai dokumen dilakukan oleh pendiri. pendukung. (10). Ketentuan jangka waktu sebagaimana (2). Ketentuan mengenai dokumen pendukung dimaksud pada Ayat (1) berlaku juga bagi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur permohonan pengajuan kembali.” dengan Peraturan Menteri. (3). Apabila format isian sebagaimana dimaksud 6. Daftar Perseroan Dan Pengumuman dalam Pasal 9 Ayat (1) dengan keterangan Sebelum diterbitkannya UUPT, kewajiban mengenai dokumen telah sesuai dengan pendaftaran perusahaan adalah kewajiban perseroan, ketentuan peraturan perundang-undangan, dan didaftarkan melalui Departemen Perindustrian dan Menteri langsung menyatakan tidak keberatan Perdagangan setempat. Dengan lahirnya UUPT yang atas permohonan yang bersangkutan secara baru ini, maka Pasal 29 dan Pasal 30 mengatur tentang elektronik. Daftar Perseroan dan Pengumuman. Sehingga saat ini (4). Apabila format isian sebagaimana dimaksud daftar Perseroan diselenggarakan oleh Menteri, dalam Pasal 9 Ayat (1) dan keterangan demikian juga Menteri mengumumkan dalam tambahan mengenai dokumen pendukung sebagaimana Berita Negara Republik Indonesia. Jadi seharusnya dimaksud pada Ayat (1) tidak sesuai dengan penyelenggaraan Daftar Perseroan dan Pengumuman ketentuan peraturan perundang-undangan, bukanlah menjadi tugas direksi atau kuasanya. Namun Menteri langsung memberitahukan penolakan dalam praktek sampai saat ini ketentuan Pasal 30 ini, berserta alasannya kepada pemohon secara belum berjalan dengan sebagaimana mestinya. elektronik. Pengumuman dan Berita Negara Republik (5). Dalam jangka waktu paling lambat 30 Indonesia dan tambahannya sampai saat ini diurus oleh (tigapuluh) hari terhitung sejak tanggal Perseroan melalui Notaris pembuat aktanya. Cetak pernyataan tidak berkeberatan sebagaimana Berita Negara tersebut diajukan kepada Perum dimaksud pada Ayat (3), pemohon yang Percetakan Negara di Jakarta. Dan sebelum permohonan bersangkutan wajib menyampaikan secara fisik pengesahan didahului dengan pembayaran untuk cetak surat permohonan yang dilampiri dokumen Berita Negara Republik Indonesia. pendukung. (6). Apabila semua persyaratan sebagaimana 2.6. Pengaturan Perseroan Terbatas dimaksud pada Ayat (5) telah dipenuhi secara 2.6.1. Pengaturan Berdasarkan Periodenisasi lengkap, paling lambat 14 (empatbelas) hari, Berlakunya. Menteri menerbitkan keputusan tentang A. Kitab Undang-Undang Hukum Dagang pengesahan badan hukum Perseroan yang Sebelum UUPT dilahirkan, di Indonesia ditandatangani secara elektronik. berlaku peraturan Perseroan Terbatas yang berasal dari (7). Apabila persyaratan tentang jangka waktu dan jaman kolonial. Peraturan tersebut sebagaimana diatur kelengkapan dokumen pendukung dalam Kitab Undang-undang Hukum Dagang (Wetboek sebagaimana dimaksud pada Ayat (5) tidak van Koophandel Staatsblad 1847-23) dalam buku dipenuhi, Menteri langsung memberitahukan Kesatu Titel Ketiga Bagian Ketiga Pasal 36 sampai hal tersebut kepada pemohon secara elektronik, dengan Pasal 56, yang perubahannya dilakukan dengan dan pernyataan tidak berkeberatan Undang-undang Nomor 4 Tahun 1971. J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 36  
  • Disamping itu masih terdapat pula badan hukum perundang-undang yang berasal dari Zaman Koloniallain sebagaimana diatur dalam Maskapai Andil sebagaimana diuraikan di atas, hanya berlaku dalamIndonesia (Ordonnantie op de Indonesische kurun waktu 12 tahun. Karena Undang-Undang tersebutMaatschappij op Aandelen, Staatsblad 1939-569 jo dipandang tidak lagi memenuhi perkembangan hukum717). dan kebutuhan masyarakat karena keadaan ekonomi Kedua peraturan ini dirasakan sudah tidak sesuai serta kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dandengan tuntutan jaman dan untuk memenuhi kebutuhan informasi sudah berkembang begitu pesat, khususnyahukum baru yang dapat lebih memacu pembangunan pada era globalisasi. Disamping itu, meningkatnyanasional, terutama menghadapi era globalisasi. tuntutan masyarakat akan layanan yang cepat, kepastianKemudian lahirlah UUPT yang merupakan produk hukum, serta tuntutan akan pengembangan dunia usahaNegara Indonesia sendiri, yaitu Undang-undang Nomor yang sesuai dengan prinsip pengelolaan perusahaan1 Tahun 1995, yang lebih lanjut akan diuraikan dibawah yang baik (good corporate governance) menuntutini. penyempurnaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas.B. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Salah satu perbedaan yang cukup menonjol Tahun 1995 antara UUPT ini dengan peraturan yang digantikannya Salah satu pertimbangan lahirnya Undang- (UU Nomor 1 Tahun 1995) adalah adanya ketentuanundang ini adalah dalam rangka menciptakan kesatuan mengenai Tanggung Jawab Sosial dan Lingkunganhukum, untuk memenuhi kebutuhan hukum baru yang (TJSL) dalam UUPT. Pencantuman TJSL sebagai suatudapat lebih memacu pembangunan nasional, serta untuk syarat yang diwajibkan bagi perseroan sebenarnyamenjamin kepastian dan penegakan hukum. Materi merupakan hal tidak lazim mengingat konsep Corporatehukum yang diperlukan dalam menunjang Social Responsibility (CSR) konsep yang diadaptasipembangunan ekonomi adalah ketentuan-ketentuan di menjadi TJSL dalam UUPT bukanlah ketentuan yangbidang Perseroan Terbatas yang menggantikan mandatory dalam ketentuan tentang perseroan di Negaraketentuan hukum peninggalan zaman kolonial. lain. Dengan lahirnya Undang-undang ini diharapkan Di satu sisi, penerapan syarat TJSL (ditambahPerseroan Terbatas dapat menjadi salah satu pilar ketentuan sanksi atas pelanggarannya) dalam UUPTpembangunan ekonomi nasional yang berasaskan dapat menjadi sarana penekan bagi para pemodal yangkekeluargaan menurut dasar-dasar demokrasi ekonomi selama ini dikenal nakal dalam menjalankan aktivitassebagai pengejewantahan dari Pancasila dan Undang- bisnisnya. Namun di sisi lain, golongan pengusaha yangundang dasar. Ketentuan tentang Perseroan Terbatas selama ini disiplin menerapkan CSR akan merasayang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum kehilangan nilai kesukarelaan dalam setiap aktivitasDagang sudah tidak lagi dapat mengikuti dan memenuhi CSR mereka. Konsep asli CSR sendiri memilikikebutuhan perkembangan perekonomian dan dunia beberapa prinsip, yaitu :usaha yang sangat pesat dewasa ini. Oleh karena itu 1. “transparant;dibutuhkan kebijaksanaan baru, misalnya dalam hal 2. Accountable;devisa, bantuan luar negeri, penanaman modal asing 3. Respect to stake holder;peningkatan kerjasama international, sistem perbankan, 4. Ethically;pasar modal, dan lain sebagainya. 5. Respect to the rule; Dengan diundangkannya UUPT Nomor 1 Tahun 6. Human rights;1995, pada tanggal 7 Maret 1995 oleh Presiden 7. Respect to the international norms.”Republik Indonesia, yang waktu itu adalah (almarhum)Soeharto, maka Buku Kesatu Titel Ketiga Bagian Prinsip-prinsip di atas diharapkan dapatKetiga Pasal 36 sampai dengan Pasal 56 Kitab Undang- diterapkan oleh setiap perseroan dalam melaksanakanUndang Hukum Dagang yang mengatur mengenai CSR. Tidak ada ketentuan yang mewajibkan CSR,Perseroan Terbatas berikut segala perubahannya, namun berbagai macam hal yang harus diperoleh olehterakhir dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1971, perseroan, seperti pencapaian standar tertentu melaluidinyatakan tidak berlaku lagi. Hal ini termuat dalam ISO, menuntut setiap perseroan untuk menerapkan CSR.Ketentuan Penutup, Pasal 128 UUPT Nomor 1 Tahun Konsep Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan1995. (TJSL) di UUPT termuat dalam Pasal 74 UUPT, yang berbunyi :C. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 (1). “Perseroan yang menjalankan kegiatan Tahun 2007 usahanya di bidang dan/atau berkaitan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang dengan sumber daya alam wajibPerseroan Terbatas, yang menggantikan peraturan J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 37  
  • melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan memilih jalan keluar untuk “menghukum” semua Lingkungan. perusahaan walaupun hanya satu perusahaan, yaitu (2). Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Lapindo. Salah satu contoh Perseroan yang telah sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) melaksanakan prinsip TJSL ini adalah “Starbuck Corp” merupakan kewajiban Perseroan yang di Indonesia. dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya Perseroan yang pelaksanaannya HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran. 3.1. Pelaksanaan Ketentuan Pasal 157 Ayat (3) (3). Perseroan yang tidak melaksanakan Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang kewajiban sebagaimana dimaksud pada Perseroan Terbatas Terhadap Perseroan Yang Ayat (1) dikenai sanksi sesuai dengan Telah Memperoleh Status Badan Hukum di ketentuan peraturan perundang-undangan. Kabupaten Badung. (4). Ketentuan lebih lanjut mengenai Tanggung Berdasarkan ketentuan Peralihan dalam Undang- Jawab Sosial dan Lingkungan diatur dengan Undang Nomor 40 Tahun 2007 (UUPT), para pelaku Peraturan Pemerintah.” usaha wajib menyesuaikan anggaran dasar perseroannya dalam waktu 1 (satu) tahun, terhitung sejak tanggal Apabila dikaitkan dengan konsep asli CSR, diundangkannya UUPT, yaitu tanggal 16 Agustus 2007,segala hal yang diwajibkan oleh UUPT kepada sehingga batas waktu penyesuian anggaran dasarperseroan di Indonesia melalui “ketentuan mewajibkan berakhir pada tanggal 16 Agustus 2008, untuk menelitiTanggung Jawab Sosial dan Lingkungannya”, lebih lanjut ketaatan para pelaku usaha dalam mematuhisebenarnya telah tercantum dalam berbagai ketentuan aturan ini, ataupun apa sanksinya jika terlambatperundang-undangan yang sudah ada. Hukum di Negara menyesuaikan anggaran dasar berdasarkan peraturanini telah mengatur hal-hal yang termasuk tujuh isu peralihan UUPT tersebut. Pada prinsipnya yang diberiutama dalam konsep CSR sebagai berikut : wewenang untuk mengajukan permohonan pengesahan 1. “Organisational governance diatur dalam UU anggaran dasar adalah Direksi perseroan, akan tetapi Nomor 28 Tahun 1999 tentang apabila Direksi berhalangan ataupun tidak mengajukan Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan sendiri karena kesibukannya, maka yang boleh diberi Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. kuasa untuk mengajukan permohonan pengesahan 2. Environment diatur dalam UU Nomor 23 adalah seorang pejabat umum pembuat akta otentik Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan tersebut, dalam hal ini seorang notaris. Hidup. Akta otentik sebagai alat bukti terkuat dan 3. Labour practices diatur dalam UU Nomor 13 terpenuh mempunyai peranan penting dalam setiap Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. hubungan hukum dalam kehidupan masyarakat. Dalam 4. Consumer issues diatur dalam UU Nomor 8 berbagai hubungan bisnis, kegiatan di bidang Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. perbankan, pertanahan, kegiatan sosial dan lain-lain, 5. Fair operating practices diatur dalam UU kebutuhan akan pembuktian tertulis berupa akta otentik Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik makin meningkat sejalan dengan berkembangnya Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. tuntutan akan kepastian hukum dalam berbagai 6. Human Rights diatur dalam UU Nomor 39 hubungan ekonomi dan sosial, baik pada tingkat Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. nasional, regional maupun global. Melalui akta otentik 7. Social and economic development diatur antara yang menentukan secara jelas hak dan kewajiban, lain dalam UU Nomor 25 Tahun 2004 tentang menjamin kepastian hukum, dan sekaligus diharapkan Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, pula dapat dihindari terjadinya sengketa. Walaupun UU Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem sengketa tersebut tidak dapat dihindari, dalam proses Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan penyelesaian sengketa tersebut, akta otentik yang Kehutanan dan lain sebagainya.” merupakan alat bukti tertulis terkuat dan terpenuh memberi sumbangan nyata bagi penyelesaian perkara Keberadaan aturan-aturan di atas membuat secara murah dan cepat.pencatuman Pasal 74 dalam UUPT terkesan mubazir Notaris adalah pejabat umum yang berwenangdan dipaksakan. Sekilas terlihat, pembentukan dan untuk membuat akta otentik dan kewenangan lainnyapencatuman pasal ini bersifat “mencari popularitas” sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini,mengingat pembahasan RUU PT ini tidak jauh demikian menurut Pasal 1 Ayat (1) Undang-Undangberselang setelah terjadinya kasus lumpur panas di Jabatan Notaris. Dengan demikian yang berwenangSidoarjo. Melalui Pasal 74 ini, legislator di DPR seperti membuat akta Pendirian Perseroan Terbatas, atau akta J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 38  
  • Perubahan Anggaran Dasar, yang sering disebut akta Proses penyesuaian anggaran dasar PerseroanRisalah Rapat pada saat suatu perseroan mengadakan dilakukan dengan tata cara yang diatur dalam PeraturanRapat Umum Pemegang Saham, adalah seorang Notaris. Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor M-01-Adapun akta yang dibuat, dapat berupa : HT.01-10 Tahun 2007 tentang Tata Cara Pengajuan a. Akta Pendirian Perseroan Terbatas; Permohonan Pengesahan Badan Hukum dan b. Akta Risalah Rapat, yang berisi perubahan Persetujuan Perubahan Anggaran Dasar, Penyampaian anggaran dasar; Pemberitahuan Perubahan Anggaran Dasar dan c. Akta Pernyataan Keputusan Rapat yang berisi Perubahan Data Perseroan yang ditetapkan pada tanggal perubahan anggaran dasar. 21 September 2007, selanjutnya dalam tesisi ini disebut Ibu Evi Susanti Panjaitan, Sarjana Hukum “Peraturan Menteri”.mengatakan Akta Pendirian Perseroan Terbatas Penyesuaian anggaran dasar perseroan dilakukanmemerlukan pengesahan Menteri (dalam hal ini Menteri dengan cara mengubah seluruh anggaran dasarHukum dan Hak Asasi Manusia) yang merupakan syarat Perseroan. Untuk merubah anggaran dasar Perseroansahnya suatu Badan Hukum, sebagaimana dimaksud harus melakukan RUPS karena hanya RUPS yang dapatdalam Pasal 7 ayat (4) UUPT, sedangkan perubahan merubah anggaran dasar dari Perseroan. RUPS harusanggaran dasar juga dibedakan antara perubahan yang dihadiri paling sedikit oleh 2/3 (dua per tiga) bagian darimemerlukan persetujuan Menteri, perubahan yang jumlah seluruh saham dengan hak suara atau diwakilicukup dilaporkan kepada Menteri, dan perubahan yang dalam RUPS dan keputusan RUPS atas perubahancukup dengan pemberitahuan kepada Menteri saja. anggaran dasar menjadi sah apabila disetujui palingPerubahan yang memerlukan persetujuan Menteri sedikit oleh 2/3 (dua per tiga) bagian dari jumlah suaraadalah perubahan yang menyangkut perubahan yang dikeluarkan. Ketentuan tersebut dapat ditentukananggaran dasar, yaitu perubahan pada pasal 1 tentang lain oleh anggaran dasar. Jika ketentuan kuorum gagalNama dan Tempat Kedudukan, Pasal 2 tentang Jangka tercapai pada RUPS pertama, undang-undangWaktu Berdirinya Perseroan, Pasal 3 tentang Maksud menentukan dapat diadakan RUPS kedua dengandan Tujuan serta Kegiatan Usaha dan Pasal 4 tentang ketentuan bahwa paling sedikit dihadiri oleh 3/5 (tigaModal. Sedangkan perubahan yang tidak menyangkut per lima) bagian dari jumlah seluruh saham dengan hakanggaran dasar, hanya memerlukan pelaporan misalnya suara, hadir atau diwakili dalam RUPS dan keputusanperubahan yang menyangkut pengoperan saham antar menjadi sah jika disetujui oleh paling sedikit 2/3 (duasesama pemilik saham, yang tidak merubah modal dasar per tiga) bagian dari jumlah suara yang dikeluarkan.dan modal disetor. Perubahan yang tidak menyangkut Perubahan anggaran dasar dimuat dalam aktaperubahan anggaran dasar, yang cukup dengan Notaris yang dituliskan dalam bahasa Indonesia.pemberitahuan, misalnya merubah susunan pengurus Kemudian perubahan anggaran dasar dalam rangkaperseroan, baik itu susunan Direksi maupun susunan penyesuaian tersebut diajukan oleh Notaris kepadaDewan Komisaris. Baik Pelaporan maupun Menteri atau Pejabat yang ditunjuk untuk memperolehPemberitahuan, ada Surat Jawaban dari Menteri tentang persetujuan melalui sistem administrasi badan hukumtelah diterimanya laporan dan pemberitahuan tersebut (Sisminbakum) dengan cara mengisi format isian aktadan telah dicatat dalam data base sisminbakum”. notariis (FIAN) model II disertai dengan dokumen Sebagai pembanding adalah Pasal 125 ayat (3) pendukung. Perubahan anggaran dasar dalam rangkaUUPT Tahun 1995 dikatakan bahwa semua Perseroan penyesuaian juga harus menyebutkan nama-namayang didirikan dan telah disahkan berdasarkan KUHD pemegang saham dan jumlah saham yang dimilikinya(Wetboek van Koophandel, Staatsblad 1847:23) harus serta nama anggota direksi dan dewan komisaris secaradisesuaikan dengan UUPT Tahun 1995. Dalam UUPT lengkap.dinyatakan bahwa seluruh Perseroan yang telah Dalam rangka penyesuaian anggaran dasarmemperoleh status badan hukum berdasarkan peraturan dibutuhkan juga dokumen pendukung yang antara lainperundang-undangan dalam hal ini masih diakui adanya adalah salinan akta perubahan anggaran dasarPerseroan yang didirikan berdasarkan KUHD belum Perseroan, Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) yangdisesuaikan dengan UUPT Tahun 1995 sehingga semua dilegalisir oleh Notaris, bukti pembayaran penyesuaianperseroan harus melakukan penyesuaian dengan UUPT anggaran dasar, bukti setor modal dari bank atas namaini. Hal ini dikarenakan tidak ada sanksi yang dibuat Perseroan atau neraca Perseroan jika Perseroan jugaoleh UUPT Tahun 1995 mengenai penyesuaian melakukan peningkatan modal, pengumuman dalamanggaran dasar Perseroan. Pernyataan ketentuan surat kabar jika Perseroan juga melakukan penguranganperalihan tersebut bersifat imperative oleh karena itu, modal, surat keterangan alamat lengkap Perseroan dariperseroan wajib melakukan penyesuaian atau perseroan pengelola gedung atau surat pernyataan tentang alamatkehilangan eksistensi dan validitas status hukumnya. lengkap Perseroan dari direksi Perseroan dan dokumen J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 39  
  • pendukung lainnya dari instansi-instansi yang terkait hari dan sejak berdirinya sampai sekarang selaluapabila diperlukan. beroperasi sebagaimana mestinya. Menteri dalam hal ini dilakukan oleh DirekturJendral Peraturan Perundang-Undangan dalam 3.2. Akibat Hukum Bagi Perseroan Tebatas Yangkewenangannya melakukan pengumuman dalam Tidak Menyesuaikan Anggaran DasarTambahan Berita Negara Republik Indonesia. Sehingga Perseroan Dengan Undang-Undang Nomor 40perubahan anggaran dasar beserta keputusan menteri Tahun 2007 terhadap Perbuatan Hukum Yangmengenai persetujuan perubahan anggaran dasar Dilakukan.Perseroan Terbatas juga diumumkan dalam Tambahan Perseroan yang berdiri berdasarkan KUHD danBerita Negara Republik Indonesia. UUPT 1995 setelah lahirnya UUPT diwajibkan Dengan dipenuhinya persyaratan yang melakukan penyesuaian akan tetapi untuk melakukandibutuhkan maka anggaran dasar Perseroan telah penyesuaian dibutuhkan waktu dan ada kemungkinandisesuiakan dan Perseroan telah memenuhi tidak semua perseroan melakukan penyesuaiankewajibannya untuk melakukan penyesuaian anggaran sebagaimana yang diwajibkan oleh undang-undang.dasar. Oleh karena itu, undang-undang memberikan batasan Dari jumlah kumulatif Tanda Daftar Perusahaan waktu untuk melakukan penyesuaian serta akibat hukum(TDP) Yang Diterbitkan Perbentuk Usaha Di Kabupaten yang dapat diterima oleh Perseroan yang tidakBadung sampai dengan tahun 2010, adalah sebanyak melakukan penyesuaian.3.409 perseroan, sedangkan jumlah perseroan yang telah Akibat hukum ialah segala akibat, konsekuensimendaftarkan penyesuaian anggaran dasarnya hanya yang terjadi dari segala perbuatan hukum yangsebanyak 982 perseroan. Berdasarkan data tersebut di dilakukan oleh subjek hukum terhadap objek hukumatas penulis melakukan penelitian pada 7 (tujuh) ataupun akibat-akibat lain yang disebabkan olehPerseroan, masing-masing Perseroan mewakili kegiatan kejadian-kejadian tertentu yang oleh hukum yangusaha yang banyak dijalankan di Kabupaten Badung bersangkutan sendiri telah ditentukan atau dianggapyaitu : sebagai akibat hukum.1. PT. HUU ACQUISITIONS BALI, bergerak di Penyesuaian anggaran dasar oleh Perseroan bidang Bar dan Restaurant. Terbatas harus dilakukan selambat-lambatnya 1 (satu)2. PT. MONTEL RESOR, bergerak di bidang Jasa tahun sejak tanggal ditetapkannya UUPT, sehingga Konsultasi, manajemen, pemasaran serta penjualan penyesuaian harus dilakukan selambat-lambatnya usaha akomodasi bagi waktu dan kamar hotel. sebelum tanggal 16 Agustus 2008. Penyesuaian3. PT. BALI HADIYASA KREASINDO, bergerak di Anggaran Dasar ini bersifat imperatife, memaksa bidang Jasa Desain Grafis. kepada seluruh Perseroan yang dibentuk berdasarkan4. PT. KIDSA GOGO, bergerak di bidang KUHD ataupun UU Nomor 1 Tahun 1995 untuk Perdagangan. merubah seluruh Anggaran Dasarnya dan menyesuaikan5. PT. A ONE PROPERTI INVESTAMA & dengan UUPT. UUPT masih memberikan kesempatan MANAJEMEN, bergerak di bidang Jasa kepada Perseroan Terbatas yang dibentuk berdasarkan Pengelolaan Properti. KUHD untuk ikut menyesuaikan anggaran dasarnya hal6. PT. HANNO BALI, bergerak dalam bidang Jasa ini juga dapat diartikan bahwa pada UU Nomor 1 Tahun Akomodasi (Hotel Bintang 3). 1995 masih ada Perseroan Terbatas yang belum7. PT. ROKU BALI INTERNASIONAL, bergerak melakukan penyesuaian walaupun jangka waktu yang dalam bidang Jasa Akomodasi (villa). diberikan oleh UU Nomor 1 Tahun 1995 cukup panjang Dari hasil penelitian pada 4 (empat) perusahaan untuk melakukan penyesuaian. Undang-undangtersebut di atas sampai dengan saat ini anggaran dasar memberikan tenggang waktu 1(satu) tahun agarperseroannya belum disesuaikan dengan UUPT. Perseroan Terbatas memiliki cukup waktu untukBerdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Sean Lee mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham sertaCheng Kok selaku Direktur dari PT. HUU melakukan seluruh rangkaian proses penyesuaianACQUISITIONS BALI, Bapak I Nyoman Artawa hingga mendapatkan persetujuan Menteri. Untukselaku Direktur PT. MONTEL RESOR, Bapak Brian Perseroan Terbatas yang sudah melakukan penyesuaianAgus Andaru selaku Direktur PT. BALI HADIYASA terhadap anggaran dasarnya, perseroan dapat berjalanKREASINDO, Ibu Gabe Menara Medawaty selaku seperti biasa.Direktur PT. KIDSA GOGO Adapun alasan dari Namun pada kenyataannya tidak semuamasing-masing Direktur perseroan tersebut adalah sama Perseroan Terbatas melakukan penyesuaian anggaranbahwa mereka belum mengetahui adanya peraturan dasarnya, ada Perseroan Terbatas yang tidak melakukanperundang-undangan yang baru. Sedangkan perusahaan- penyesuaian dan ada juga Perseroan Terbatas yangperusahaan tersebut di atas berjalan lancar dari hari ke J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 40  
  • terlambat melakukan penyesuaian dengan berbagai Ikatan Notaris pada tahun 2009 mengajukanalasan yang dialami Perseroan Terbatas tersebut. permohonan kepada Mahkamah Konstitusi untuk Perseroan Terbatas yang tidak melakukan melakukan uji materiil atas pasal 157 ayat (3) dan ayatpenyesuaian terhadap anggaran dasarnya sebagaimana (4) UUPT karena dinilai bertentangan dengan Undang-yang diamanatkan oleh UUPT, berakibat pada suatu Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Uji Materiilkemungkinan pembubaran Perseroan Terbatas oleh ini dimohonkan dengan surat permohonan tertanggal 22keputusan pengadilan. Pembubaran Perseroan Terbatas Januari 2009 dengan nomor registrasi perkara Nomordengan keputusan Pengadilan Negeri dapat dilakukan 2/PUU-VII/2009. Alasan yang diajukan pemohonatas permohonan kejaksaan atau pihak yang adalah dengan diterapkannya Pasal 157 ayat (3) danberkepentingan. Hal ini bersifat ancaman kepada ayat (4) UUPT dianggap bertentangan dengan PasalPerseroan Terbatas dan disatu sisi ada kepentingan 28D UUD 1945 yang berbunyi Setiap orang berhak atasNegara terhadap badan hukum karena pergerakan pengakuan, jaminan, perlindungan dan kepatian hukumPerseroan Terbatas dapat berkaitan dengan berbagai yang adil serta perlakukan yang sama dihadapan hukum.bidang lain dalam pemerintahan seperti penerimaan Dikarenakan mengandung ketidakpastian hukum yaitupajak kepada Negara. jika perseroan tidak dibubarkan, perseroan tetap Perseroan Terbatas tidak serta merta bubar demi menjalankan kegiatannya namun bagaimana pengakuanhukum jika tidak melakukan penyesuaian anggaran secara hukum (status hukum) terhadap akta-akta otentikdasar dalam tenggang waktu yang diberikan oleh perseroan yang telah dibuat oleh notaris dan telah sesuaiUUPT, Perseroan Terbatas dapat dibubarkan demikian dengan ketentuan anggaran dasar perseroan tersebutdinyatakan dalam undang-undang jika terdapat dimana akta dibuat dalam jangka waktu sebelum bataspermohonan untuk membubarkan perseroan. Kata waktu penyesuaian berakhir. Pada permohonan tersebut“dapat” dalam Pasal 157 ayat 4 UUPT dapat diartikan dijelaskan bahwa ketidakjelasan tersebut membawadengan jika tidak ada permohonan dari pihak manapun ketidakpastian hukum yang merugikan notaris selakuuntuk membubarkan Perseroan Terbatas, maka pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta.Perseroan Terbatas tetap diakui eksistensinya. Tenggang Hal yang diminta dalam permohonan tersebutwaktu yang diberikan sejak tanggal 16 Agustus 2008, antara lain Mahkamah Konstitusi diminta menyatakanmerupakan tanda bahwa pengadilan negeri sudah dapat bahwa materi muatan Pasal 157 ayat (3) dan (4) UUPTmemproses permohonan kejaksaan atau pihak ketiga (Lembaran Negara Nomor 106 Tahun 2007, Tambahanyang berkepentingan untuk membubarkan perseroan Lembaran Negara Nomor 4756 Tahun 2007)dengan alasan perseroan belum melakukan penyesuaian bertentangan dengan ketentuan Pasal 28D ayat (1) UUDanggaran dasar. 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Pengajuan penyesuaian anggaran dasar masih Namun pada tanggal 10 Maret 2009, pada sidangterus dilakukan, Kementrian Hukum dan Hak Asasi panel pemeriksaan perbaikan permohonan, permohonanManusia masih menerima dan tetap memproses ditarik kembali dengan alasan adanya perubahan padapengajuan penyesuaian anggaran dasar dan sampai saat pasal UUPT yang dimohon untuk uji materiil.ini dapat diartikan bahwa masih ada Perseroan Terbatas Pengajuan permohonan pembubaran perseroanyang belum melakukan penyesuaian anggaran dasar dan dapat dilakukan oleh dua pihak yaitu kejaksaan danmasih beroperasi seperti biasanya. pihak yang berkepentingan. Mengenai pihak yang Oleh karena itu, harus dicermati dengan benar berkepentingan, UUPT tidak menjelaskan secara jelasmengenai pembubaran Perseroan Terbatas yang belum siapakah yang dimaksud dengan pihak yangmelakukan penyesuaian anggaran dasar. Penyesuaian berkepentingan demikian juga dalam bagian penjelasananggaran dasar ini dalam hal ini tidak bisa dianalogikan pasal tersebut, tidak dijelaskan mengenai siapa yangdengan perolehan status badan hukum oleh Perseroan, disebut sebagai pihak yang berkepentingan. Jikadimana status badan hukum baru timbul sejak memakai apa yang dinyatakan dalam penjelasan Pasal 7diterbitkannya keputusan menteri yang memberi ayat (6) UUPT, yang dimaksud dengan pihak yangpengesahan atas badan hukum perseroan, jika berkepentingan adalah kejaksaan untuk kepentinganpermohonan untuk meminta persetujuan menteri tidak umum, pemegang saham, direksi, dewan komisaris,diajukan dalam jangka waktu 60 (enampuluh) hari, karyawan perseroan, kreditor, dan/atau pemangkumaka akta pendirian menjadi batal dengan lewatnya kepentingan (stake holder) lainnya. Akan tetapi pihakjangka waktu tersebut. Demikian juga halnya dengan yang berkepentingan dalam penjelasan Pasal 7 ayat (6)masa penyesuaian selama 1 (satu) tahun, jika tidak tersebut tidak dapat disamakan dengan pihak yangdilakukan oleh perseroan maka menteri tidak akan berkepentingan dalam pembubaran perseroan karenamemproses permohonan penyesuaian tersebut dan masalah penyesuaian anggaran dasar. Pihak yangperseroan menjadi bubar. berkepentingan dalam hal ini dapat diartikan lebih luas yaitu semua pihak baik pihak yang disebutkan dalam J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 41  
  • penjelasan pasal 7 ayat (6) ditambah dengan masyarakat tujuan perseroan, direksi tidak mempunyai benturanluas. kepentingan dan direksi telah mengambil tindakan Kejaksaan dalam hal ini melakukan permohonan pencegahan timbulnya atau berlanjutnya kerugiandemi kepentingan umum, yang menjadi pertanyaan dari perseroan.mana kejaksaan mendapatkan dasar melakukan Akibat hukum yang diberikan oleh undang-permohonan kepada pengadilan negeri. Apakah undang juga sebagai suatu bentuk paksaan terhadapberdasarkan laporan masyarakat atau berdasarkan perseroan agar melakukan penyesuaian terhadaplaporan dari sisi pemerintah. Hal ini tidak diterangkan anggaran dasarnya. Jangka waktu 2 (dua) tahun untuksecara jelas dalam UUPT, sehingga dapat menimbulkan melakukan penyesuaian pada UUPT 1995 diberikankerancuan bagi kejaksaan serta apa yang diamanatkan tanpa ada konsekuensi bagi perseroan jika tidakoleh Pasal 157 ayat (4) UUPT mungkin saja tidak melakukan penyesuaian mungkin hal ini menjadi dasarpernah terjadi. bagi pemerintah sehingga memberikan ancaman bagi Baik kejaksaan maupun pihak ketiga yang perseroan pada UUPT.berkepentingan mengajukan permohonannya ke Namun demikian, masih banyak perseroan yangPengadilan Negeri karena hanya Pengadilan Negeri tidak melakukan penyesuaian terhadap anggaranyang berwenang untuk membuat keputusan dasarnya, hal ini dibuktikan dengan data pada Dinaspermbubaran perseroan, namun tidak diatur dengan Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Badung.jelas dalam UUPT, apakah permohonan dapat Dalam hal perseroan terbatas yang tidakdimasukkan ke Pengadilan Negeri di mana saja atau menyesuaikan anggaran dasarnya dalam jangka waktuterbatas pada dimana letak kedudukan Perseroan. UUPT yang ditentukan itu ditegaskan dapat dibubarkantidak menyebutkan hal-hal tersebut secara terperinci dan berdasarkan putusan pengadilan atas permohonanjelas, sehingga dapat menimbulkan berbagai persepsi kejaksaan ataupun pihak yang berkepentingan, menurutdan juga pada pelaksanaannya akan timbul Luh Gede Herryani, SH., M.Kn., mengatakan selamapermasalahan baru. pihak-pihak tersebut tidak menggunakan haknya itu, Walaupun demikian, membubarkan suatu maka Perseroan Terbatas tersebut tetap eksis sebagaiperseroan seharusnya tidaklah semudah itu, jika ternyata badan hukum dan tetap dapat menjalankan aktifitasnyayang belum melakukan penyesuaian tersebut adalah sebagai badan hukum sepanjang dilakukan sesuaisebuah perseroan besar, memproduksi kebutuhan hidup dengan ketentuan anggaran dasar dan UUPT. Yangorang banyak dan memberikan pemasukan pajak yang patut diwaspadai adalah hal yang berkaitan dengancukup besar ke dalam kas Negara, kemudian perseroan penggunaan nama Perseroan Terbatas yang belumtersebut dibubarkan hanya karena alasan belum dilakukan penyesuaian, bisa jadi namanya telahmenyesuaikan anggaran dasarnya, maka banyak digunakan oleh Perseroan Terbatas lain, sehingga jikakerugian yang akan diterima bukan hanya oleh Perseroan Terbatas tersebut melakukan perbuatanperseroan tetapi juga Negara dan masyarakat luas. hukum dengan menggunakan nama Perseroan Terbatas Penyesuaian anggaran dasar jika tidak dilakukan yang sama dengan nama yang telah digunakan oleholeh perseroan memang tidak serta merta membuat Perseroan Terbatas lain secara sah, maka Perseroanperseroan tersebut bubar. namun demikian jika karena Terbatas yang anggaran dasarnya belum disesuaikankelalaian ini menyebabkan perseroan menjadi bubar atas tersebut dapat dikategorikan telah menggunakan namaputusan pengadilan negeri maka dalam hal ini pengurus Perseroan Terbatas secara melawan hukum dan dapatperseroan menjadi bertanggung jawab atas bubarnya dimintakan pertanggungjawaban hukumnya berdasarkanperseroan. Direksi perseroan dinyatakan bertanggung perbuatan melawan hukum (Pasal 1365 KUHPerdata).jawab karena kelalaiannya melakukan penyesuaian Perbuatan Hukum yang dilakukan oleh Perseroananggaran dasar, membuat perseroan bubar atas dasar Terbatas dalam hal anggaran dasarnya tidak disesuaikankeputusan pengadilan, karena tugas kepengurusan dengan UUPT menurut Doktoranda Willya Verdianaperseroan sehari-hari berada di tangan direksi perseroan. Wasita mengatakan Bank atau Kreditur tidak terlaluDireksi menjadi bertanggung jawab penuh secara memusingkan kemungkinan adanya gugatan/tuntutanpribadi jikalau penyesuaian tidak dilakukan akibat pembubaran dari pihak yang berkepentingan, namunkelalaian direksi dalam menjalankan tugas dan tanggung sebaliknya apabila dilihat dari sisi Debitur, maka Bankjawabnya. akan kuatir apabila Debiturnya tidak memperbaharui Akan tetapi direksi dapat lepas dari tanggung anggaran dasar Perseroannya, oleh karena itu setiapjawab apabila dapat membuktikan bahwa kerugian Bank (demi keamanan/keterjaminan pengambilan kreditperseroan bukan karena kesalahan atau kelalaiannya, yang dikucurkan) selalu meminta kepada Debiturdireksi telah melakukan pengurusan dengan itikad baik (berupa Perseroan Terbatas) untuk menyesuaiakandan menerapkan prinsip kehati-hatian untuk anggaran dasarnya.kepentingan perseroan dan sesuai dengan maksud dan J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 42  
  • Banyak yang berpendapat bahwa Perseroan yang penyetorannya yang dilakukan oleh calonbelum/tidak menyesuaikan anggaran dasarnya, pendiri sebelum perseroan didirikan, harustanggung jawab hukumnya pada organ perseroan secara dicantumkan dalam akta pendirian (Pasal 12tanggung renteng. Dalam hal ini disamakan dengan ayat (1) UUPT). Dan jika hal tersebut tidakPerseroan Terbatas yang belum memperoleh status dipenuhi, perbuatan hukum tersebut tidakbadan hukum, atau yang baru berdiri. Sehingga semua menimbulkan hak dan kewajiban serta tidakpemilik saham, pengurus, ataupun pendiri bertanggung mengikat Perseroan (Pasal 12 ayat (4) UUPT).jawab renteng apabila ada tindakan hukum yang Jadi untuk mengikat agar perseroandilaksanakan. Namun pendapat ini banyak disanggah bertanggungjawab terhadap hak dan kewajibanoleh para Notaris, dan seperti dikemukakan di atas, yang timbul akibat perbuatan hukum yangPasal 157 ayat (4) UUPT mengatakan Perseroan yang dilakukan calon pendiri pada tahap persiapantidak menyesuaikan anggaran dasarnya dalam jangka pendirian Perseroan Terbatas, maka perbuatanwaktu sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat hukumnya yang berkaitan dengan susunan dandibubarkan berdasarkan putusan pengadilan negeri atas penyetoran modal serta susunan sahampermohonan kejaksaan atau pihak yang berkepentingan. perseroan harus dicantumkan atau dilekatkanSecara a contrario, ditafsirkan bahwa sepanjang belum pada akta pendiriannya. Tanpa hal inidibubarkan berdasarkan Putusan Pengadilan Negeri, dilakukan, maka perbuatan hukum tersebutPerseroan tetap diakui keberadaannya sebagai Badan tidak menimbulkan hak dan kewajiban bagiHukum. perseroan. Menurut pendapat penulis Perseroan Terbatas b. Tahap pada saat Perseroan Terbatas telahyang tidak menyesuaikan anggaran dasarnya dengan didirikan dengan akta notaris tetapi belumUUPT sampai dengan tanggal 16 Agustus 2008, maka disahkan sebagai badan hukum.Perseroan Terbatas tersebut tetap eksis sebagai Badan Pada tahap yang kedua ini, syaratnya adalahHukum dan tidak bubar dengan sendirinya, serta tidak harus ada tindakan dari perseroan untukkehilangan status sebagai Badan Hukum. Pasal 157 ayat menghilangkan tanggung jawab pendiri dan(4) mengatakan Perseroan yang tidak menyesuaikan mengalihkannya pada Perseroan. Dengananggaran dasarnya dalam jangka waktu sebagaimana demikian, berdasarkan Pasal 14 Ayat (1)dimaksud pada ayat (3) dapat dibubarkan berdasarkan UUPT, perbuatan hukum atas nama perseroanputusan pengadilan negeri atas permohonan kejaksaan hanya boleh dilakukan oleh semua anggotaatau pihak yang berkepentingan. Secara a contrario, direksi bersama-sama semua pendiri sertaditafsirkan bahwa sepanjang belum dibubarkan semua anggota dewan komisaris perseroan.berdasarkan Putusan Pengadilan Negeri. Perseroan tetap c. Tahap setelah Perseroan Terbatas mendapatdiakui keberadaannya sebagai Badan Hukum. pengesahan sebagai badan hukum. Jika keberadaannya sebagai Badan Hukum masih Perseroan Terbatas yang telah mendapatdiakui maka secara mutatis mutandis semua tanggung pengesahan dari Menteri Hukum dan Hakjawab hukum juga sama dengan Perseroan Terbatas Asasi Manusia, maka Perseroan Terbatas ituyang telah menyesuaikan anggaran dasarnya, bukan murni bertanggung-jawab sebagai badantanggung jawab renteng, namun tanggung jawabnya hukum, dan sebagai badan hukum, Perseroanadalah terbatas sebesar modal yang telah dimasukkan Terbatas mempunyai kekayaan sendiri yangdalam Perseroan sebagaimana diatur dalam ketentuan terpisah dengan kekayaan pengurusnya. DanPasal 3 ayat (1) UUPT yang berbunyi sebagai berikut sebagai badan hukum, Perseroan Terbatas“Pemegang saham perseroan tidak bertanggung jawab seperti manusia pada umumnya dapat dibebanisecara pribadi atas perikatan yang dibuat atas nama hak dan kewajiban.perseroan dan tidak bertanggung jawab atas kerugian Dengan dimulainya status badan hukumperseroan melebihi saham yang dimiliknya”. Perseroan Terbatas, maka ada beberapa akibat hukum Dalam UUPT sudah diatur tentang kapan yang timbul terhadap beberapa pihak yang terkait diperbuatan hukum dan tanggung-jawab Perseroan dalam Perseroan Terbatas. Akibat hukum tersebutTerbatas telah melekat pada Perseroan Terbatas itu berlaku terhadap pihak-pihak berikut ini :sendiri selaku badan hukum. Perbuatan hukum dan A. Pemegang Saham Perseroan Terbatas.tanggung-jawab itu terbagi dalam beberapa tahap yaitu : Setelah Perseroan Terbatas berstatus sebagai a. Tahap Persiapan Pendirian Perseroan Terbatas. badan hukum, sesuai dengan ketentuan Pasal 3 ayat (1) Ketika Perseroan Terbatas belum berdiri, dan UUPT maka pemegang saham Perseroan Terbatas tidak para pendiri mempersiapkan pendirian suatu bertanggung jawab secara pribadi atas perikatan yang Perseroan Terbatas, maka perbuatan hukum dibuat atas nama Perseroan serta bertanggung jawab yang berkaitan dengan kepemilikan saham dan atas kerugian perseroan melebihi nilai saham yang telah J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 43  
  • diambilnya. Dengan demikian, pertanggungjawaban B. Pendiri Perseroan Terbatas.pemegang saham dalam Perseroan Terbatas itu terbatas, Status badan hukum Perseroan Terbatas jugapemegang saham dalam Perseroan Terbatas secara pasti berpengaruh terhadap keterbatasan tanggung jawab daritidak akan memikul kerugian hutang Perseroan Terbatas para pendiri Perseroan Terbatas. Berdasarkan Pasal 11lebih dari harta kekayaan yang tersedia dalam Perseroan UUPT, setelah Perseroan Terbatas berstatus sebagaiTerbatas. Hal tersebut dikarenakan adanya doktrin badan hukum maka ada dua kemungkinan yang akan“corporate separate legal personality” yang esensinya terjadi terhadap perbuatan hukum yang dilakukan olehbahwa suatu perusahaan, dalam hal ini Perseroan para pendiri Perseroan Terbatas pada masa sebelumTerbatas, mempunyai personalitas atau kepribadian Perseroan Terbatas disahkan sebagai badan hukum,yang berbeda dari orang yang menciptakannya. Doktrin yaitu : pertama, perbuatan hukum tersebut mengikatdasar Perseroan Terbatas adalah bahwa perseroan Perseroan Terbatas setelah menjadi badan hukum,merupakan kesatuan hukum yang terpisah dari subjek dengan persyaratan :hukum pribadi yang menjadi pendiri atau pemegang 1. Perseroan Terbatas secara tegas menyatakansaham dari perseroan tersebut. Ada suatu tabir (Veil) menerima semua perjanjian yang dibuat olehpemisah antara perseroan sebagai badan hukum atau pendiri;legal entity dengan para pemegang saham dari 2. Perseroan Terbatas secara tegas menyatakanperseroan tersebut. Berkaitan dengan keterbatasan mengambil alih semua hak dan kewajibantanggung jawab pemegang saham Perseroan Terbatas yang timbul dari perjanjian yang dibuatseperti tersebut di atas, dalam hal-hal tertentu dapat pendiri walaupun perjanjian tidak dilakukanditembus atau diterobos, sehingga tanggung jawab atas nama Perseroan Terbatas; ataupemegang saham menjadi tidak lagi terbatas. 3. Perseroan Terbatas mengukuhkan secaraPenerobosan atau penyingkapan tabir keterbatasan tertulis semua perbuatan hukum yangtanggung jawab pemegang saham Perseroan Terbatas dilakukan atas nama Perseroan Terbatas.itu dikenal dengan istilah”piercing the corporate veil Kemungkinan yang kedua, perbuatan hukumatau lifting the corporate veil”. Doktrin piercing the tersebut tidak diterima, tidak diambil alih atau tidakcorporate veil yang notabene merupakan doktrin dikukuhkan oleh Perseroan Terbatas, sehingga masing-hukum perseroan di Common Law System itu telah masing pendiri yang melakukan perbuatan hukumdiintegrasikan ke dalam UUPT yang ide dasarnya tersebut bertanggung jawab secara pribadi atas segaladituangkan dalam Pasal 3 Ayat (2) UUPT. Dalam akibat hukum yang timbul. Kalau kemungkinan keduaketentuan tersebut diketahui bahwa untuk terjadinya ini yang terjadi maka pertanggungjawaban dari pendiripiercing the corporate veil dipersyaratkan beberapa hal, terhadap Perseroan Terbatas menjadi tanggung jawabsebagai berikut : pribadi. a. “Persyaratan perseroan sebagai badan hukum belum atau tidak terpenuhi; C. Direksi Perseroan Terbatas. b. Pemegang saham yang bersangkutan, baik Direksi Perseroan Terbatas menurut ketentuan langsung maupun tidak langsung dengan itikad Pasal 1 butir 4 UUPT adalah organ perseroan yang buruk memanfaatkan perseroan untuk bertanggung jawab penuh atas pengurusan perseroan kepentingan pribadi; untuk kepentingan dan tujuan perseroan serta mewakili c. Pemegang saham yang bersangkutan terlibat perseroan baik di dalam maupun di luar pengadilan. dalam perbuatan melawan hukum yang Sebagaimana halnya tanggung jawab terbatas pemegang dilakukan oleh perseroan; atau saham Perseroan Terbatas, keterbatasan tanggung jawab d. Pemegang saham yang bersangkutan, baik itu juga berlaku terhadap anggota Direksi meskipun langsung maupun tidak langsung secara tidak secara tegas dinyatakan dalam pasal-pasal UUPT. melawan hukum menggunakan kekayaan Hal tersebut dapat diketahui dari Pasal 85 Ayat (2) yang perseroan, yang mengakibatkan kekayaan mengatur bahwa setiap anggota Direksi bertanggung perseroan menjadi tidak cukup untuk melunasi jawab penuh secara pribadi apabila yang bersangkutan utang perseroan.” bersalah atau lalai menjalankan tugasnya sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Dari Dari ketentuan Pasal 3 Ayat (2) UUPT itu dapat ketentuan itu secara acontrario dapat diartikan bahwadiketahui bahwa tanggung jawab pemegang saham yang apabila anggota Direksi tidak bersalah dan tidak lalaisifatnya terbatas di dalam Perseroan Terbatas yang menjalankan tugasnya, maka berarti direksi tidaksudah berstatus badan hukum itu menjadi tidak berlaku bertanggungjawab penuh secara pribadi. Selama Direksilagi apabila pemegang saham melakukan hal-hal seperti menjalankan tugas dan kewajibannya dengan penuhtercantum dalam Pasal 3 ayat (2) huruf b sampai dengan tanggung jawab, maka anggota Direksi tetapd seperti tersebut di atas. mempunyai tanggung jawab yang terbatas yang J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 44  
  • merupakan ciri utama dari Perseroan Terbatas. tertentu. Dalam kondisi demikian, maka berlaku semuaSebaliknya, oleh karena menjadi anggota direksi adalah ketentuan mengenai hak, wewenang dan kewajibanberarti menduduki suatu jabatan, maka orang yang Direksi terhadap perseroan dan pihak ketiga. Olehmenduduki jabatan itu harus memikul tanggung jawab karena itu, ketentuan mengenai tanggung jawab terbatasapabila kemudian tugas dan kewajibannya tersebut Direksi juga berlaku terhadap Komisaris tersebut.dilalaikan atau jika wewenangnya disalahgunakan. Secara implisit, tanggung jawab Komisaris juga terbatas Berkaitan dengan hal tersebut, UUPT sudah sebagaimana tercantum dalam pasal 98 Ayat (2) UUPT,mengatur bentuk pertanggungjawaban Direksi atas bahwa atas nama perseroan, pemegang saham yangkelalaian ataupun kesalahannya di dalam menjalankan mewakili paling sedikit 1/10 (satu per sepuluh) bagianpengurusan Perseroan Terbatas, yaitu : dari seluruh saham dengan hak suara yang sah dapat A. Pasal 23 UUPT, yang menyatakan bahwa mengajukan gugatan ke pengadilan negeri terhadap selama pendaftaran dan pengumuman komisaris yang karena kesalahan atau kelalaiannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 dan 22 menimbulkan kerugian pada perseroan. belum dilakukan, maka Direksi secara tanggung renteng bertanggung jawab atas PENUTUP segala perbuatan hukum yang dilakukan 4.1. Kesimpulan perseroan. 4.1.1. Batas waktu 1 (satu) tahun terhitung sejak B. Pasal 85 Ayat (2) UUPT, yang mengatur diundangkan UUPT sebagaimana ditentukan bahwa setiap anggota Direksi bertanggung dalam Pasal 157 Ayat (3) UUPT yang jawab penuh secara pribadi apabila yang diberikan kepada Perseroan Terbatas bersangkutan bersalah atau lalai menjalankan terhadap Perseroan yang telah memperoleh tugasnya sesuai dengan ketentuan sebagaimana status badan hukum berdasarkan peraturan dimaksud dalam Ayat (1). Menurut Pasal 85 perundang-undangan sebelumnya, untuk Ayat (3) UUPT, Direksi atas kesalahan atau menyesuaikan anggaran dasar perseroan kelalaiannya menyebabkan kerugian pada ternyata tidak berlaku efektif. Dalam perseroan bahkan dapat digugat di Pengadilan pelaksanaannya masih banyak Perseroan Negeri oleh pemegang saham yang mewakili Terbatas yang tidak menyesuaikan anggaran paling sedikit 1/10 (satu per sepuluh) bagian dasar perseroannya. Penyesuaian anggaran dari seluruh saham dengan hak suara sah. dasar Perseroan setelah batas waktu yang C. Pasal 90 Ayat (2) UUPT, yang menentukan ditentukan dalam Pasal 157 Ayat (3) UUPT bahwa dalam hal kepailitan terjadi karena ternyata dapat berjalan lancar tanpa hambatan kesalahan atau kelalaian direksi dan kekayaan untuk mendapatkan persetujuan Menteri perseroan tidak cukup untuk menutupi Hukum dan Hak Asasi Manusia. kerugian akibat kepailitan tersebut, maka setiap 4.1.2. Akibat hukum bagi Perseroan Tebatas yang anggota Direksi secara tanggung renteng tidak menyesuaikan Anggaran Dasar bertanggung jawab atas kerugian itu, kecuali Perseroan dengan UUPT terhadap perbuatan apabila Direksi dapat membuktikan bahwa hukum yang dilakukan, sepanjang Perseroan kepailitan bukan kesalahan atau kelalaiannya, belum dibubarkan berdasarkan putusan maka Direksi tidak bertanggungjawab secara pengadilan negeri berdasarkan ketentuan tanggung renteng. Pasal 157 Ayat (4) UUPT, Perseroan tetap D. Komisaris Perseroan Terbatas. diakui keberadaannya sebagai Badan Hukum Status badan hukum Perseroan Terbatas juga maka secara mutatis mutandis semuaberpengaruh terhadap tanggung jawab komisaris tanggung jawab hukum juga sama denganPerseroan Terbatas. Sebagaimana dalam Pasal 97 Perseroan yang telah menyesuaikan anggaranUUPT, Komisaris bertugas mengawasi kebijaksanaan dasarnya yaitu tanggung jawabnya adalahDireksi dalam menjalankan Perseroan serta memberikan terbatas sebesar modal yang telahnasihat kepada Direksi. Sesuai dengan Pasal 100 Ayat dimasukkan dalam Perseroan sebagaimana(1) UUPT, di dalam anggaran dasar juga dapat diatur dalam ketentuan Pasal 3 Ayat 1 UUPT.ditentukan tentang pemberian wewenang kepada 4.2. SaranKomisaris untuk memberikan persetujuan atau bantuan Untuk itu disarankan kepada para praktisi hukumkepada Direksi dalam melakukan perbuatan hukum dan akademisi, bahwa :tertentu. Selain itu, menurut pasal 100 Ayat (2), 4.2.1. Perlu adanya sosialisasi yang lebih gencarberdasarkan anggaran dasar atau keputusan RUPS, lagi tentang lahirnya UUPT, agar semuaKomisaris dapat melakukan tindakan pengurusan pelaku usaha atau pengusaha mengetahuinya,perseroan dalam keadaan tertentu untuk jangka waktu sehingga dengan demikian tidak ada alasan J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 45  
  • Pengusaha untuk mengatakan belum telah tetap. Namun Perseroan bisa suatu saat terancam mengetahuinya. Demikian juga Ketentuan dapat dibubarkan apabila ada pihak yang merasa Peralihan yang ditegaskan dalam Pasal 157 dirugikan karena adanya suatu kelalaian hukum karena Ayat (3) supaya tidak diberlakukan secara tidak adanya penyesuaian yang dimaksud. Besar kaku, karena dalam UUPT tidak diatur bahwa kemungkinan perusahaan bisa terjebak karena adanya setelah lewatnya jangka waktu tersebut, celah hukum yang dapat dimanfaatkan oleh pihak lain Perseroan Terbatas tidak diijinkan untuk karena anggaran dasarnya tidak dilakukan penyesuaian. menyesuaikan anggaran dasarnya. Jadi akan lebih baik bila penyesuaian tersebut segera Bagi Perseroan yang tidak melakukan dilakukan. Hal ini dimaksudkan menghindari celahpenyesuaian walaupun Perseroan tersebut tetap diakui hukum yang dapat merugikan Perseroan itu sendiri.dan dapat berjalan terus apabila status badan hukumnya DAFTAR PUSTAKABuku dan Hasil PenelitianAbdul R.Saliman, Hermansyah, Ahmad Jalis, kata pengantar Kwik Kian Gie, Hukum Bisnis untuk Perusahaan Teori & Contoh Kasus, Rawamangun-Jakarta 13220: Kencana Renada Media Group, 2005.Abdul Saliman, Hukum Bisnis Untuk Perusahaan, Jakarta: Prenada Media, 2005, Cetakan PertamaAhmad Yani dan Gunawan Wijaya, Seri Hukum Bisnis: Perseroan Terbatas, Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 2000Ais Chatamarrasjid, Penerobosan Cadar Perseroan Dan Soal-soal Aktual Hukum Perusahaan, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2009Agus Budiarto, Seri Hukum Perusahaan: Kedudukan Hukum dan Tanggung Jawab Pendiri Perseroan Terbatas, Jakarta: Ghalia Indonesia, 2002Budi Jaya, I Nyoman, 1989, Tinjauan Yuridis Tentang Rdistribusi Tanah Pertanian dalam Rangka Pelaksanaan Landerform. Cetakan I. Yogyakarta : Liberty.C.S.T. Kansil, Christine S.T. Kansil, Modul Hukum Perdata Termasuk Asas-Asas Hukum Perdata , Jakarta: PT. Pradnya Paramita, Cetakan Ketiga, 2000.Chidir Ali, Badan Hukum, Bandung: Alumni, 1991.Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 2002.Frans Satrio Wicaksono, Tanggung Jawab Pemegang saham, Direksi & Komisaris Perseroan Terbatas (PT), Jakarta: Visimedia, 2009Gatot Suparmo, Hukum Perseroan Terbatas, Jakarta: Djambatan, 2007.Gunawan Widjaja, Seri Pemahaman Perseroan Terbatas, Risiko Hukum Sebagai Direksi, Komisaris & Pemilik PT, Jakarta: Praninta Offset, 2008.Hadia Setia Tunggal, Himpunan Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Jabatan Notaris, Jakarta: Harvarindo, 2008.I.G.Rai Widjaya, Hukum Perusahaan, Jakarta – Indonesia: Penerbit Megapoin, Divisi dari Kesaint Blanc, 2007.Jamin Ginting, Hukum Perseroan Terbatas (UU No. 40 Tahun 2004), Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2007.Jehani, Libertus, Pedoman Praktis Menyusun Surat Perjanjian, Jakarta: Visimedia, 2007, Cetakan Kedua.Mariam Darus Badrulzaman, KUH Perdata, Hukum Perikatan dengan Penjelasannya, Alumni Bandung, 1993.Mertokusumo, Mengenal Hukum (Suatu Pengantar), Yogyakarta: Liberty, 1996.Nurjaya, I Nyoman, Metode Penelitian Hukum, Universitas Warmadewa, Denpasar, 2006.Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Jakarta: Kencana, 2008.R. Subekti, R. Tjitrosudibio, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgelijk Wetboek), Jakarta: PT. Pradnya Paramita, 1980.Riduan Syahrani, Seluk Beluk dan Asas-Asas Hukum Perdata, Bandung: Alumni, 2000.Rochmat Soemitro, Penuntutan Perseroan Terbatas dengan Undang-undang Pajak Perseroan, Bandung, PT. Eresco, 1979.Rudhy Prasetya, Kedudukan Mandiri Perseroan Terbatas, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1995.Soerjono Soekamto, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta: UI-Press, 1986.________________, Efektifitas Hukum Dan Penerapan Sanksi, Bandung: CV. Ramadja Karya, 1988.Subekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata, Jakarta: PT. Inter Masa, 1987Sucipto Rahardjo, Ilmu Hukum, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2000.Tan Tong Kie, Studi Notariat dan Serba-Serbi Praktek Notaris, Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve, 2007.Wirjono Prodjodikoro, Azas-azas Hukum Perdata, Bandung: Sumur, 1966.Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, Jakarta: Sinar Grafika, 2009MakalahPieter E. Latumeten, “Yayasan Lama Antara Legal atau Illegal”, Berita Bulanan Notaris&PPAT edisi Desember 2008. J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 46  
  • Tumbuan, Fred B.G. “Tugas dan Wewenang Organ Perseroan Terbatas”. Makalah disampaikan pada acara Sosialisasi UUPT, Jakarta, 22 Agustus 2007Peraturan Perundang UndanganRepublik Indonesia. Undang-Undang Dasar Tahun 1945Republik Indonesia. Undang-Undang Tentang Perseroan Terbatas. UU Nomor 1 Tahun 1995.Republik Indonesia. Undang-Undang Tentang Perseroan Terbatas. UU Nomor 40 Tahun 2007.Republik Indonesia. Peraturan Menteri Hukum Dan Hak Asasi Manusia. Nomor M-01-TH.01-10 Tahun 2007 tentang Tata Cara Pengajuan Permohonan Pengesahan Badan Hukum dan Persetujuan Perubahan Anggaran Dasar, Penyampaian Pemberitahuan Perubahan Anggaran Dasar dan Perubahan Data Perseroan.Internethttp://www.freeskripsi.com/search/konsekwensi-perubahan-undang-undang-perseroan-terbatas-terhadap-eksistensi-perseroan-terbatashttp//www.infogue.com/lingkungan/penerapan_prinsip_tanggung_jawab_sosial_dan_lingkungan_perusahaan/http//www.hukumpedia.com/indek.php?title-Akibat_hukum J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 47  
  • PELAKSANAAN PERJANJIAN KREDIT DENGAN JAMINAN FIDUSIA PADA LEMBAGA PERKRIDITAN DESA (LPD) “DESA PAKRAMAN SESETAN” KECAMATAN DENPASAR SELATAN Eddy Yunianto Sarim Magister Kenotariatan Universitas Udayana E-Mail : - Supervisors/Co-Supervisors Prof. Dr. I Ketut Mertha, SH.,M.H. Ummu Hilmy, SH.,M.S. ABSTRACT This research aims to know the reason why Village Credit Institution gives credit with fiduciary,and also toknow efforts of Village Credit Institution in protecting their interest in case of debitor`s defauld,while VillageCredit Institution is prior to implement un official sale on collateral. This research is an impirical research,that is,focusing on field research which is supported with libraryresearch.It used primary data form the field using interview and quistionnaires as its instrument and secondary dataform liberary research by means of document study.It analysed the data qualitatively,and the reported the resultsdescriptively. The result of this research shows Village Credit Institution gives credit with fiduciary was because VillageCredit Institution had dual function :(1) As Social function,the meaning was it had purpose to help economics of village society by strengthening capital trought giving credit with fiduciary incentives. With the capital,village society can develop their efforts. Be side,the collateral can still be used by debitor for running their efforts.(2) As Economies,the meaning was in its operational practice,Village Credit Institution aims to get profit in the form of intrest loan or payment of administrative loan charged by debitor.There for by those profits it can improve incomes of Village Credit Institution.Then form their clean advantage per year,20% is contributed to culture Sesetan Village as the owner, allocated to village development and to pay the implementation of pray and traditional ceremony in temples belonged to Pakraman Sesetan Village. While efforts of Village Credit Institution in case of debitor default`s were prior to solution in peace,that was un official sale.Key words : Fiducia Security, Un Official Sale,Village Credit Institution. J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 48  
  • PENDAHULUAN (LPD) “DESA PAKRAMAN SESETAN” KECAMATAN DENPASAR SELATANA. Latar Belakang Masalah Desa Pakraman (adat) di Bali merupakan B. Rumusan Masalahmasyarakat hukum adat. Sebab Desa Pakraman (adat) Berdasarkan uraian latar belakang tersebut diadalah kelompok masyarakat yang mempunyai tata atas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:susunan yang tetap, mempunyai pengurus, mempunyai 1. Mengapa Lembaga Perkreditan Desa (LPD) “Desawilayah dan mempunyai kekayaan sendiri serta Pakraman” Sesetan Kecamatanbertindak sebagai satu kesatuan terhadap dunia luar. Denpasar Selatan memberikan kredit dengan Alasan Pemerintah Daerah Propinsi Tingkat I jaminan fidusia pada warga Desa Pakraman (adat)Bali tetap mempertahankan status Lembaga Perkreditan Sesetan dan warga luar Desa Adat Sesetan?Desa (LPD) sebagai badan usaha keuangan milik desa 2. Mengapa dalam rangka melindungiantara lain : kepentingannya, Lembaga Perkreditan Desa (LPD)1. Karena misi Lembaga Perkreditan Desa (LPD) ”Desa Pakraman Sesetan” Kecamatan Denpasaradalah : Selatan memilih penjualan dibawah tangan apabila a. Memberantas ijon, gadai gelap dan lain-lain debitur wansprestasi? yang dipersamakan dengan itu. b. Meningkatkan status sosial ekonomi dan daya C. Tujuan Penelitian beli masyarakat desa. Pada dasarnya tujuan penelitian ini dibedakan c. Melancarkan lalu lintas pembayaran dan menjadi 2(dua) yaitu : Tujuan umum dan tujuan khusus pertukaran di desa. yang dapat dirinci lebih selanjut sebagai berikut : d. Merupakan unit operasional dan berfungsi 1. Tujuan Umum sebagai wadah kekayaan desa a. Untuk mengetahui alasan-alasan yang menjadi pakraman baik berupa uang maupun surat- pertimbangan Lembaga Perkreditan Desa surat berharga dan dimanfaatkan untuk (LPD) “Desa Pakraman Sesetan” Kecamatan kepentingan desa pakraman serta Denpasar Selatan memberikan kredit dengan meningkatkan taraf hidup warganya. jaminan fidusia pada warga Desa Pakraman2. Karena pendirian Lembaga Perkreditan Desa (LPD) (adat) dan warga luar Desa Pakraman (adat) didasarkan pada aspek sosial religius untuk Sesetan. kepentingan desa pakraman antara lain untuk b. Untuk mengetahui upaya-upaya apa saja yang kepentingan perbaikan pura-pura atau tempat dilakukan oleh Lembaga Perkriditan persembahyangan dan melestarikan adat-istiadat Desa (LPD) ”Desa Pakraman Sesetan” dan budaya yang merupakan aset nasional untuk Kecamatan Denpasar selatan untuk melindungi meningkatkan pariwisata dengan tujuan menambah kepentingannya dalam hal debitur Wanprestasi, devisa negara. dimana Lembaga Perkreditan Desa (LPD)3. Karena Lembaga Perkreditan Desa (LPD) sebagai memilih melaksanakan penjualan dibawah lembaga perekonomian pedesaan telah berperan tangan atas benda jaminan fidusia dalam membantu permodalan bagi pengusaha kecil di pedesaan dengan sistem yang mudah, sehingga 2. Tujuan khusus dalam jangka panjang Lembaga Perkreditan Desa Untuk melengkapi persyaratan guna memperoleh (LPD) akan dapat menumbuhkan wiraswasta- gelar Magister Kenotariatan pada Program Magister wiraswasta baru di pedesaan. Ilmu Hukum Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sesuai dengan tujuan dari penelitiaan ini, peneliti Brawijaya-Udayana.lebih menekankan pada usaha Lembaga PerkreditanDesa (LPD) dalam memberikan pinjaman kredit, dan D. MANFAAT PENELITIANsalah satu fasilitas kredit yang tersedia pada Lembaga Dalam suatu penulisan, kegunaan merupakanPerkreditan Desa (LPD) adalah berupa pemberian kredit harapan bagi setiap peneliti baik untuk ilmudengan jaminan fidusia yang ditujukan untuk membantu pengetahuan maupun negara. Adapan kegunaan yangmasyarakat di pedesaan. diharapkan dari penulisan ini adalah sebagai berikut: Berdasarkan hal itulah peneliti tertarik untukmengangkat permasalahan tersebut ke dalam bentuk 1. Manfaat Teoritispenulisan tesis dengan judul “PELAKSANAAN Hasil penelitian ini diharapkan berguna bagiPERJANJIAN KREDIT DENGAN JAMINAN pengembangan ilmu pengetahuan dalam bidang hukumFIDUSIA PADA LEMBAGA PERKREDITAN DESA jaminan, khususnya jaminan fidusia. J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 49  
  • 2. Manfaat Praktis B. Tinjauan Mengenai Kredit Sebagai bahan masukan dan sumbangan 1. Pengertian Kreditpemikiran dalam bidang ilmu hukum khususnya yang Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesiaberhubungan dengan pelaksanaan perjanjian kredit Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1990),dengan menggunakan jaminan fidusia pada Lembaga memberikan pengertian mengenai kredit yaitu pinjamanPerkreditan Desa (LPD) beserta akibat hukumnya, sampai batas jumlah tertentu yang diijinkan oleh banksehingga bermanfaat bagi masyarakat khususnya atau badan lain.pengguna Lembaga Perkreditan Desa (LPD). 2. Unsur-Unsur Kredit TINJAUAN PUSTAKA Berdasarkan pengertian kredit tersebut diatas dapat diketahui ada 4 (empat) unsur yang terkandungA. Tinjauan Mengenai Perjanjian dalam pemberian suatu fasilitas kredit, antara lain :1. Pengertian Perjanjian a. Kepercayaan, Pasal 1313 KUH Perdata memberikan b. Waktu,pengertian mengenai perjanjian yaitu suatu perbuatan c. Resiko,yang terjadi antara satu orang atau lebih yang d. Prestasi,mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih.Namun demikian dari pendapat para ahli hukum 3. Tujuan Kredittersebut diatas, ada kesamaan pendapat mengenai Dalam pemberian suatu fasilitas kredit, adaunsur-unsur yang harus terdapat dalam suatu perjanjian beberapa tujuan yang hendak dicapai antara lain :yaitu : a. Mencari keuntungana. Adanya pihak-pihak (sedikitnya 2 pihak) b. Membantu usaha nasabahb. Adanya kesepakatan diantara para pihak c. Membantu Pemerintahc. Adanya tujuan tertentu yang hendak dicapai 4. Prinsip-Prinsip Pemberian Kredit2 Asas-Asas Perjanjian a. Prinsip kepercayaan Dalam lapangan hukum perdata khususnya b. Prinsip kehati-hatianhukum perjanjian, dikenal beberapa asas yang terdapat c. Prinsip 5C atau The Five Of Credit.dalam perjanjian. Sehingga dengan adanya asas-asas 1) Tentang Watak (Character)dalam perjanjian tersebut, diharapkan perjanjian yang 2) Tentang Modal (Capital)dibuat sesuai dengan apa yang diinginkan oleh para 3) Tentang Kemampuan (Capacity)pihak. 4) Tentang Kondisi Ekonomi (Condition ofekonomic)3. Syarat Sahnya Perjanjian. 5) Tentang Jaminan (Collateral) Syarat sahnya suatu perjanjian secara umumdiatur dalam Pasal 1320 KUHPerdata yang C. Tinjauan Mengenai Perjanjian Kreditmenyebutkan “Untuk sahnya suatu perjanjian 1. Pengertian Perjanjian Kreditdiperlukan 4 (empat) syarat yaitu : Istilah mengenai perjanjian kredit tidak diatur secara khusus dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahuna. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya. 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7b. Kecakapan untuk membuat suatu perjanjian. Tahun 1992 tentang Perbankan. Demikian juga danc. Suatu hal tertentu. berbagai jenis perjanjian yang diatur dalam Bab Vd. Suatu sebab yang halal sampai dengan Bab XIII Buku III KUHPerdata tidak dijumpai pengertian mengenai perjanjian kredit.4. Wanprestasi 2. Fungsi Perjanjian Kredit Dalam kamus hukum (1986) disebutkan Menurut Sutarno perjanjian kredit yang telahwanprestasi berarti “cidera janji, lalai”. Seorang debitur ditandatangani oleh para pihak, mempunyai fungsi-dikalakan wanprestasi apabila tidak memenuhi fungsi sebagai berikut:kewajibannya, terlambat memenuhi kewajibannya, a) Perjanjian kredit sebagai alat bukti bagi krediturmemenuhi kewajibannya tetapi tidak seperti yang dan debitur yang membuktikan adanya hak dandiperjanjikan. kewajiban timbal balik antara bank sebagai kreditur dan debitur. b) Perjanjian kredit dapat digunakan sebagai alat atau sarana pemantauan atau pengawasan kredit yang sudah diberikan, karena perjanjian kredit J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 50  
  • berisi syarat dan ketentuan dalam pemberian kredit E. Landasan Teori dan pengembalian kredit. 1. Teori Perlindungan Hukumc) Perjanjian kredit merupakan perjanjian pokok yang Teori Perlindungan Hukum akan digunakan menjadi dasar dari perjanjian ikutannya yaitu untuk membahas pada rumusan masalah yang kedua. perjanjian pengikatan jaminan.d) Perjanjian kredit hanya sebagai alat bukti biasa 2. Teori Konflik yang membuktikan adanya hutang debitur artinya Teori Konflik digunakan untuk membahas pada perjanjian kredit tidak mempunyai kekuatan rumusan masalah yang pertama. eksekutorial. 3. Tinjauan Mengenai Jaminan3. Berakhirnya Perjanjian Kredit A. Pengertian Jaminan Pasal 1319 KUH Perdata menetapkan “Semua Pengaturan umum tentang jaminan diatur dalamperjanjian baik yang mempunyai nama khusus maupun ketentuan Pasal 1131 KUHPerdata, yang menyebutkanyang tidak dikenal dalam suatu nama tertentu tunduk bahwa :pada peraturan-peraturan umum yang termuat dalam “Segala kebendaan pihak yang berutang, baikbab ini dan bab yang lalu”. yang bergerak maupun yang tak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang baru akan ada di kemudianD. Tinjauan Mengenai Lembaga Perkreditan Desa hari, menjadi tanggungan untuk segala perikatan1. Pengertian dan Tujuan Didirikannya Lembaga perseorangan”. Perkreditan Desa Pengertian Lembaga Perkreditan Desa adalah METODE PENELITIANusaha simpan pinjam berdasarkan atas salingpengertian dan saling percaya di pakraman dalam A. Jenis dan Pendekatan Penelitianwilayah Propinsi Bali Penelitian mengenai Pelaksanaan perjanjian kredit dengan jaminan fidusia pada Lembaga2. Landasan Hukum Lembaga Perkreditan Desa Perkreditan Desa "Desa Pakraman Sesetan" Landasan hukum pendirian Lembaga Perkreditan Kecamatan Denpasar Selatan, merupakan penelitianDesa (LPD) ditetapkan dengan Surat Keputusan empirik yang menggunakan pendekatan yuridisGubernur Kepala Daerah Tingkat I Bali tanggal sosiologis.1 Nopember 1984 Nomor 972 Tahun 1984, yangdiperkuat lagi dengan ditetapkannya Peraturan Daerah B. Lokasi PenelitianPropinsi Tingkat I Bali Nomor 2 Tahun 1988 tentang Lokasi penelitian untuk penulisan tesis iniLembaga Perkreditan Desa (LPD), yang kemudian dilakukan di wilayah kota Denpasar yang meliputidiganti dengan Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2002 Notaris wilayah Denpasar dan pada Lembagatentang Lembaga Perkreditan Desa (LPD). Dan diganti Perkreditan Desa (LPD) ”Desa Pakraman Sesetan”lagi dengan Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2007 Kecamatan Denpasar Selatan.tentang Lembaga Perkreditan Desa. Sehingga LembagaPerkreditan Desa (LPD) telah ada jauh sebelum C. Data yang digunakanpenerapan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 Data yang dipergunakan dalam penelitian initentang Perbankan yang kemudian diganti dengan adalah:Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang 1. Data primer :Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 a. Pengalaman pengurus dan kepala LPDtentang Perbankan. ”Desa Pakraman Sesetan” Kecamatan Denpasar Selatan dalam memberikan Kredit3. Kedudukan Awig-Awig Dalam Perjanjian kepada debitur. Kredit di Lembaga Perkreditan Desa b. Prilaku pengurus dan kepala Lembaga Pelaksanaan hukum adat di Propinsi Bali Perkreditan Desa (LPD) ”Desa Pakramandilaksanakan dalam suatu pengaturan yang disebut Sesetan” Kecamatan Denpasar Selatanawig-awig. Awig-awig merupakan seperangkat aturan membedakan atau tidak membedakan kepadaadat yang pembentukannya dilakukan oleh Krama Desa debitur atau penerima kredit baik yangPakraman melalui musyawarah Desa (paruman) yang berasal dari Desa Pakraman Sesetan maupunmemuat ketentuan mengenai peraturan-peraturan hidup yang berasal dari luar Desa Pakramanyang berlaku diantara Krama Desa untuk mewujudkan Sesetan.kehidupan yang aman, tentram, tertib dan sejahtera di c. Alasan perlakuan pengurus dalamDesa Pakraman. membedakan atau tidak membedakan kepada J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 51  
  • debitur atau penerima kredit baik yang F. Populasi dan Sampel berasal dari Desa Pakraman Sesetan dan Populasi dalam penelitian terdiri dari : debitur yang berasal dari luar Desa 1. Pihak pengurus Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Pakraman Sesetan. ”Desa Pakraman Sesetan” Kecamatan Denpasar d. Pengalaman pengurus Lembaga Perkreditan Selatan. Desa (LPD) dalam menyelesaikan masalah 2. Pihak debitur Lembaga Perkreditan Desa (LPD) ketika debitur wanprestasi. ”Desa Pakraman Sesetan” Kecamatan Denpasar e. Pengalaman penerimaan kredit oleh debitur Selatan, baik debitur yang berasal dari Desa baik yang berasal dari Desa Pakraman Pakraman Sesetan maupun debitur yang berasal Sesetan dan debitur yang berasal dari luar dari luar Desa Pakraman Sesetan. Desa Pakraman Sesetan. Adapun sampel yang diambil dengan tehnik f. Pengalaman debitur baik yang berasal dari Purposive Sampling yang terdiri dari Pihak Lembaga Desa Pakraman Sesetan dan debitur yang Perkreditan Desa (LPD ) Pakrama Sesetan Kecamatan berasal dari luar Desa Pakraman Sesetan Denpasar Selatan. dalam penyelesaian masalah apabila terjadi 1. Ketua Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Desa wanprestasi. Pakraman Sesetan.2. Data Sekunder 2. Kepala bagian kredit Lembaga Perkreditan Desa a. Brosur-brosur penawaran kredit (LPD) Desa Pakraman Sesetan. b. Kontrak standart pemberian kredit 3. Pengurus Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Desa c. Persyaratan pemberian kredit Pakraman Sesetan. d. Standart prosedur tata cara pemberian kredit Sedangkan sampel dari debitur adalah: e. Standart prosedur penyelesaian masalah 1. Debitur dari Desa Pakraman Sesetan yang tidak f. Awig-Awig Desa Pakraman Sesetan wanprestasi. 2. Debitur dari Desa Pakraman Sesetan yangD. Sumber Data wanprestasi.Sumber data dalam penelitian ini adalah: 3. Debitur dari luar Desa Pakraman Sesetan yang tidak1. Data Primer wanprestasi. Sumber data primer adalah semua 4. Debitur dari luar Desa Pakraman Sesetan yang pengurus Lembaga Perkreditan Desa (LPD) ”Desa wanprestasi. Pakraman Sesetan” Kecamatan Denpasar Selatan Selain dari mereka yang menjadi sampel dari beserta debitur baik yang berasal dari ”Desa penelitian ini, maka diperlukan informasi yang akurat Pakraman Sesetan” maupun debitur yang berasal untuk melengkapi data yang ada terdiri dari : dari luar Desa Pakraman Sesetan 1. Notaris di Kota Denpasar.2. Data Sekunder 2. Kepala Desa Sesetan. Sumber data sekunder adalah Lembaga 3. Bendesa Desa Pakraman Sesetan. Perkreditan Desa (LPD) ”Desa Pakraman Sesetan” Kecamatan Denpasar Selatan G. Teknik Pengolahan dan Analisis Data Pengolahan data adalah kegiatan merapikan dataE. Tehnik Pengambilan Data yang dikumpulkan sehingga siap untuk di analisis. 1. Data Primer Dalam penulisan tesis ini pengolahan dan analisis Data primer diambil dengan tehnik wawancara terhadap data yang dihimpun dilakukan dengankepada para narasumber, Pengurus Lembaga menggunakan Analisis Kualititif dan di sajikan secaraPerkreditan Desa (LPD) ”Desa Pakraman Sesetan” diskriptif.Kecamatan Denpasar Selatan 2. Data Sekunder HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Data sekunder diperoleh dengan cara mengkopidokumen yang terdiri dari: A. Pemberian Kredit dengan Jaminan Fidusia oleh Brosur penawaran kredit, kontrak pemberian Lembaga Perkreditan Desa (LPD) "Desakredit, persyaratan pemberian kredit, prosedur Pakraman Sesetan" Kecamatan Denpasarpemberian kredit, tata cara penyelesaian masalah, Awig- Selatan kepada Warga Desa AdatAwig Desa Pakraman Sesetan. Sesetan maupun Warga Luar Desa Adat Sesetan Study dokumen akan dilakukan terhadap semua 1. Untuk meningkatkan keinginandata sekunder yang diperoleh. berwiraswasta terutama bagi krama desa. J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 52  
  • 2. Dengan diberikannya kredit dengan jaminan Sesetan, namun tidak menutup kemungkinan fidusia, benda jaminan masih bisa digunakan Lembaga Perkreditan Desa "Desa Pakraman untuk berusaha oleh debitur. Sesetan" juga memberikan fasilitas kredit 3. Karena tidak semua warga desa memiliki dengan jaminan fidusia kepada warga yang jaminan berupa benda tidak bergerak (tanah berasal dari luar Desa Adat Sesetan, karena hak milik). Lembaga Perkreditan Desa mempunyai fungsi 4. Dengan digunakannya benda bergerak ganda yaitu : sebagai jaminan, maka saat debitur a. Berfungsi ekonomi. wanprestasi, barang-barang jaminan tersebut b. Berfungsi sosial. dapat dijualan dibawah tangan. 2. Upaya yang dilakukan oleh Lembaga Perkreditan Desa "Desa Pakraman Sesetan"B. Upaya yang Dilakukan oleh Lembaga Kecamatan Denpasar Selatan untuk melindungi Perkreditan Desa (LPD) "Desa Pakraman kepentingannya dalam hal debitur wanprestasi Sesetan" Kecamatan Denpasar Selatan untuk adalah menitik beratkan pada penyelesaian Melindungi Kepentingannya dalam Hal Debitur dengan cara damai yaitu dengan melakukan Wanprestasi penjualan dibawah tangan atas benda jaminan fidusia berdasarkan kesepakatan antara debitur Adapun upaya-upaya yang dilakukan oleh dan Lembaga Perkreditan Desa, karena dariLembaga Perkreditan Desa "Desa Pakraman Sesetan" berbagai segi penjualan dibawah tangan dalamKecamatan Denpasar Selatan untuk menyelesaikan dunia bisnis dirasakan lebih menguntungkankredit dengan jaminan fidusia dalam hal debitur kedua belah pihak.wanprestasi : B. Saran1. Pemberian perpanjangan jangka waktu pelunasan 1. Sebaiknya kesepakatan mengenai penjuan kredit kepada debitur. dibawah tangan atas benda jaminan fidusia2. Penjualan benda jaminan dibawah tangan. dilakukan secara tertulis, demi adanya pembuktian dikemudian hari. PENUTUP 2. Sebaiknya untuk biaya pembuatan akta jaminan fidusia dan pendaftaran akta jaminanA. Kesimpulan fidusia di Kantor Pendaftaran Jaminaa Fidusia 1. Walaupun prioritas pemberian kredit oleh dilaksanakan sesuai dengan Peraturan Lembaga Perkreditan Desa "Desa Pakraman Pemerintah Nomor 86 Tahun 2000 tentang Sesetan" ditujukan kepada warga Desa Adat Tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia. DAFTAR PUSTAKA1. BUKU-BUKUArikunto, Suharsini, 1987, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Bina Aksara, Jakarta.Badrulzaman, Mariam Dams, 1994, Aneka Huku.m Bisnis, Alumni, Bandung.Bambang Waluyo, 1996, Penelian hukum dalam Praktek, Cetakan II, Sinar Grafika, Jakarta.Fuady, Munir, 2002, Hukum Perkreditan Kontemporer, PT Citra Aditya Bakti, Bandung.———————, 2003, Jaminan Fidusia, Cetakan ke VII, Citra Aditya Bakti, Bandung.Harahap, Yahya, 1986, Segi-Segi Hukum Perjanjian, Alumni, Bandung.Hay, Marhais, abdul, 1975, Hukum Perbankan di Indonesia, Pradnya Paramita, Bandung.Ibrahim, Johannes, 2004, Cross Default dan Cross Collateral Sebagai Upaya Penyelesaian Kredit Bermasalah, PT Refika Aditarna, Bandung.Kasmir, 2002, Dasar-Dasar Perbankan, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta. Muhammad, Abdulkadir, 1982, Hukum Perikatan, Alumni, Bandung.Mertokusumo, Sudikno, 2001, Penemuan Hukum Cetakan Kedua, Liberty, Yogyakarta.Notodisocrjo, Sugondo, R, 1993, Hukum Notarial Di Indonesia, PT Gravindo Persada, Jakarta.Purwahid, Patrik, 1994, Dasar-Dasar Hukum Perikatan, Penerbit Maju, Bandung.Raliman, Hasanudin, 1998, Aspek-Aspek Hukum Pemberian Kredit Perbankan Di Indonesia, PT Citra Aditya Bakti, Bandung.Satrio.J, 1996, Hukum Jaminan, Hak-Hak Jaminan Kebendaan, Cetakan Ke III, Citra Aditya Bakti, Bandung.————, 2002, Hukum Jaminan, Hak Jaminan Kebendaan Fidusia, PT Cirta Aditya, Bandung.Setiawan, R, 1979, Pokok-Pokok Hukum Perikatan, Cetakan Kedua, Penerbit Putra Abardin, Bandung.Sinungan, Muchdarsyah, 1989, Dasar-Dasar dan Teknik Manajemen Kredit, Bina Aksara, Jakarta.Soekanto, Soerjono dan Mamudji, Sri, 2003, Penelitian Hukum Normatif, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.Soeporno, R, 1997, Bab-Bab Tentang Hukum Adat, Pradnya Paramita, Jakarta. J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 53  
  • Sofwan Masjchoen, Sri Soedewi, 1977, Beberapa Masalah Pelaksanaan Lembaga Jaminan Khususnya Fidusia Di Dalam Praktek dan Pelaksanaannya Di Indonesia, Fakultas Hukum, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.—————————————————, 1980, Hukum Jaminan di Indonesia Pokok-pokok Hukum Jaminan dan Jaminan Perorangan, Liberty, Yogyakarta.Subekri, R, 1979, Pokok-Pokok Hukum Perdata, Cetakan ke XIV, Intermasa, Jakarta.—————, 1982, Aneka Perjanjian, Alumni, Bandung.——————, 1984, Hukum Perjanjian, Intermasa, Jakarta.Sutarno, 2004, Aspek-Aspek Hukum Perkreditan Pada Bank, CV Alfabeta, Bandung.Suwitra, I Made, 1996, Peranan Hukum Adat dalam Penyelesaian Kredit Macet Pada Lembaga Perkreditan Desa, Kerta Wicaksana, Denpasar.TjeAman, Edy Putra, 1985, Kredit Perbankan Suatu Tinjauan Yuridis, Liberty, Yogyakarta.Tiong Hoey, Oey, 1984, Fidusia sebagai Jaminan Unsur-Unsur Perikatan, Ghalia Indonesia, Jakarta.Untung, Budi, 2000, Kredit Perbankan di Indonesia, Cetakan Pertama, Andi, Yogyakarta.Widnyana, I Made, 1993, Kapita Selekta Hukum Pidana adat, Eresco, Bandung.2 Peraturan Perundang-undanganBuegerlijk Wetboek, Staatsblad 1847 No. 23, diterjemahkan Kitab Undang- Undang Hukum Perdata.Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan.Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun J 992 tentang Perbankan.Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia.Peraturan Pemerintah Nomor 86 Tahun 2000 tentang Tata Gara Pendaftaran Jaminan Fidusia dan Biaya pembuatan Akta Jaminan Fidusia.Surat Keputusan Menteri Keuangan Nomor 304/KMK.01/2002 tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang.Surat Keputusan Direktur Jenderal Piutang dan Lelang Negara Nomor 35/PL/2002 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Lelang.Peraturan Daerah Propinsi Bali Nomor 8 Tahun 2002 tentang Lembaga Perkreditan Desa.Peraturan Daerah Propinsi Bali Nomor 3 Tahun 2007 tentang Lembaga Perkreditan Desa.Awig-Awig Desa Pakraman sesetan3. KamusDepartemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1990, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta.Harnzah, Andi, 1986, Kamus Hukum, Ghalia Indonesia, Jakarta.. Puspa, Yan Pramadya, 1977, Kamus Hukum, Edisi Lengkap,Bahasa Belanda, Indonesia, Inggris, Aneka Ilmu, Semarang.Belanda, Indonesia, Inggris, Aneka Ilmu, Semarang. J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 54  
  • ANALISIS KEWENANGAN DAN TANGGUNG JAWAB NOTARIS DALAM PEMBUATAN AKTA KETERANGAN WARIS UNTUK GOLONGAN TIONGHOA I Dewa Gede Wirasatya Purnama Magister Kenotariatan Universitas Udayana E-Mail : - Supervisor/Co-Supervisor Dr. Muchammad Ali Safa’at, SH., M.Hum I Gede Yusa SH., MH. ABSTRACT Dewa Gede Wirasatya Purnama, student of Master of Notary Public, Faculty of Law, BrawijayaUniversity, 2012, “The Analysis of Notary’s Authority and Responsibility in Drafting Legal Heirship Certificate forChinese Ethnic Group”, Supervisor I: Dr. Muchammad Ali Safa’at, SH., M.Hum and Supervisor II: I Gede YusaSH., MH. In this life, people will inevitably experience a legal circumstance called death, in which this legalcircumstance would bring legal effect. The legal effect referred to in this paper is the arrangement on division ofinherited property from the deceased person or testator. Therefore, Letter of Inheritance and Legal HeirshipCertificate for Chinese Ethnic Group are required, the substance of which shall contain the heirs or heiress name orthe legatee of the deceased person. Notary is an official who is authorized to draft any authentic deed to the extent that said deed is not madeby other officials, but the authority of such drafting is not expressly stated in Notary Title Law No. 30 of 2004. Bythe authority attached to the Notary as referred to in Article 15 of the Notary Title Law, and by request of the heirsor heiress, the Notary can make a proof of heirs in partij deed format. By using partij deed format, the legal effect isphysical and the substance of which deed shall be the responsibility of the parties who state and declare it beforethe Notary. Notary shall only responsible for formality and physical format of the deed. This thesis is expected to be agood read, useful, and may enrich its readers’ knowledge.Key words: • Inheritance • Legal Heirship Certificate • partij deed J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 55  
  • PENDAHULUAN 3. Hukum Waris Adat Beraneka, tergantung di lingkungan mana1.1 Latar Belakang masalah warisan itu terbuka. Sebagaimana diketahui di Setiap orang yang meninggal dunia, maka yang Indonesia faktor etnis mempengaruhi berlakunya anekamenjadi masalah adalah tentang harta peninggalan yang hukum adat yang tentunya dalam masalah warisan punditinggalkannya. Pada umumnya dalam pembagian mempunyai corak sendiri-sendiri.harta peninggalan itu dapat diselesaikan secara Berdasarkan Undang-Undang Jabatan Notarismusyawarah, namun apabila timbul sengketa antara ahli Nomor 30 Tahun 2004 (selanjutnya disebut “UUJN”),waris yang satu dengan ahli waris lainnya, maka Pasal 1 ayat (1) menyebutkan bahwa :pembagian harta peninggalan itu baru dapat diselesaikan “Notaris adalah pejabat umum yang berwenangmelalui pengadilan. Menurut Wirjono Prodjodikoro : untuk membuat akta otentik dan kewenangan Apabila seorang manusia meninggal dunia, maka lainnya sebagaimana di maksud dalam Undang-dengan sendirinya timbul pertanyaan, apakah yang akan Undang ini”.terjadi dengan perhubungan-perhubungan hukum yang Penyebutan wewenang notaris yang lebih luasmungkin sekali sangat erat sifatnya pada waktu si berdasarkan Pasal 15 ayat (2) dan (3) UUJN tidakmanusia itu masih hidup. Tidak cukup dikatakan, bahwa menyebutkan secara tegas mengenai wewenang notarisperhubungan-perhubungan hukum itu juga lenyap untuk membuat Akta Keterangan Waris namunseketika itu, oleh karena biasanya pihak yang kewenangan tersebut hanya disebutkan dalam Pasal 111ditinggalkan oleh pihak yang meninggal itu, tidak Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badanmerupakan seorang manusia saja atau sebuah barang Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 Tentangsaja, dan juga oleh karena hidupnya seorang manusia Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24yang meninggal dunia itu, berpengaruh langsung pada Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah, sehinggakepentingan-kepentingan beraneka warna dari berbagai menurut peneliti dibutuhkan suatu analisis terhadaporang lain dari masyarakat, dan kepentingan- wewenang notaris dalam membuat Akta Keterangankepentingan ini, selama hidup orang itu, membutuhkan Waris khususnya setelah berlakunya UUJN.pemeliharaan dan penyelesaian oleh orang itu, kalau Berdasarkan alasan-alasan tersebut, makatidak dikehendaki kegoncangan dalam masyarakat. peneliti berkeinginan untuk menyusun tesis denganMaka dari itu, di tiap-tiap masyarakat dibutuhkan suatu judul : “Analisis Kewenangan dan tanggung jawabperaturan hukum yang mengatur bagaimana cara Notaris dalam pembuatan Akta Keterangan Wariskepentingan-kepentingan dalam masyarakat sendiri untuk golongan Tionghoa”.selamat, selaku tujuan dari segala hukum. Hukum waris menurut para sarjana pada 1.2 Rumusan Masalahpokoknya adalah peraturan yang mengatur perpindahan Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas,kekayaan seorang yang meninggal dunia kepada satu maka peneliti merumuskan permasalahan sebagaiatau beberapa orang lain. Menurut A. Pitlo : berikut : “Hukum waris adalah suatu rangkaian ketentuan- 1. Bagaimanakah dasar pengaturan mengenai ketentuan, dimana, berhubungan dengan wewenang Notaris dalam membuat Akta Keterangan meninggalnya seseorang, akibat-akibatnya di dalam Waris? bidang kebendaan, diatur yaitu : akibat dari 2. Bagaimanakah kekuatan Hukum Akta Keterangan beralihnya harta peninggalan dari seorang yang Waris yang dibuat oleh Notaris? meninggal, kepada ahli waris baik di dalam 3. Bagaimanakah sanksi terhadap notaris dan tanggung hubungannya antara mereka sendiri, maupun jawab notaris apabila keliru dalam membuat Akta dengan pihak ketiga.” Keterangan Waris? Di Indonesia terdapat aneka Hukum Waris yangberlaku bagi warga Negara Indonesia, dalam pengertian 1.3 Tujuan Penelitianbahwa di bidang Hukum Waris dikenal adanya tiga Mengenai tujuan penelitian ini dapat penelitimacam Hukum Waris, yaitu: bedakan menjadi dua tujuan yaitu tujuan penelitian yang1. Hukum Waris Barat bersifat umum dan tujuan yang bersifat khusus. Tertuang di dalam Kitab Undang-undang Hukum a. Tujuan Umum. Perdata Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk2. Hukum Waris Islam mengembangkan ilmu hukum, khususnya bidang hukum Merupakan ketentuan Alquran dan Hadits kenotariatan mengenai kewenangan dan tangung jawab Penggunaan hukum Waris Islam tergantung pada Notaris dalam pembuatan akta keterangan waris. keimanan seseorang, dengan demikian maka keyakinan akan ke-Imanan merupakan faktor utama. J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 56  
  • b. Tujuan Khusus Indroharto mengemukakan, bahwa wewenang 1. Untuk mengetahui dan menganalisis kewenangan diperoleh secara “atribusi”, “delegasi”, dan “mandate”, Notaris dalam pembuatan Akta Keterangan Waris. yang masing-masing dijelaskan sebagai berikut : 2. Untuk Mengetahui dan mengkaji kekuatan Tanpa membedakan secara teknis mengenai pembuktian Akta Keterangan Waris yang dibuat istilah wewenang dan kewenangan, Indroharto oleh Notaris yang atas ahli waris dan Pihak Ketiga. berpendapat dalam arti yuridis : pengertian wewenang 3. Untuk mengetahui dan menganalisis tanggung adalah kemampuan yang diberikan oleh peraturan jawab Notaris dalam pembuatan Akta Keterangan perundang-undangan untuk menimbulkan akibat-akibat Waris. hukum. 1.5.2 Teori Kepastian Hukum1.4 Manfaat Penelitian Teori ini dikemukakan dengan tujuan untuk Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat membahas dan menganalisis masalah tentangbaik secara teoritis maupun secara praktis sebagai ditunjuknya Notaris sebagai pihak yang berwenangberikut : dalam pembuatan Akta Keterangan Waris.a. Manfaat secara teoritis Suatu sistem hukum di di Indonesia dalam Hasil penelitian ini di harapkan dapat bermanfaat bentuk peraturan perundang-undangan terikat padabagi pengembangan Ilmu Hukum pada umumnya dan suatu hirarkis dalam arti peraturan perundang-undanganbidang Hukum Kenotariatan pada khususnya. yang lebih rendah validitasnya ditentukan olehDisamping itu hasil penelitian ini diharapkan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.bermanfaat bagi pengembangan pengetahuan terkait Hal tersebut di kemukakan juga oleh Hanskewenangan dan tanggung jawab Notaris dalam Kelsen dengan Stufenbau Teori yang menyebutkanmelakukan tugasnya selaku pelayan masyarakat. bahwa tatanan hukum itu merupakan system normab. Manfaat secara praktis yang hierarkis atau bertingkat. Susunan kaedah hukum1. Bagi Notaris agar dapat dipakai sebagai acuan dalam ini dimulai dari tingkat yang paling bawah, yaitu 1. pembuatan Akta Keterangan Waris bagi Kaedah individual (konkrit) dari badan-badan golongan/etnis Tionghoa berkaitan dengan pelaksanaan hukum terutama pengadilan, 2.Kaedah wewenang pembuatan dan tanggung jawab jika umum, yaitu peraturan perundang-undangan atau terjadi permasalahan seputar Akta Keterangan Waris hukum kebiasaan dan 3. Kaedah-kaedah dari konstitusi. tersebut. Ketiga kaedah tersebut di sebut kaedah positif. Diatas2. Bagi peneliti memahami dasar hukum dalam konstitusi terdapat kaedah dasar hipotesis yang lebih pembuatan Akta Keterangan Waris oleh Notaris. tinggi yang bukan merupakan kaedah positif dan dsebut Grundnorm. Kaedah-kaedah hukum dari tingkatan yang1.5 Kerangka Teoretik. lebih rendah memperoleh kekuatanya dari kaedah Kerangka teori adalah kerangka pemikian atau hukum yang lebih tinggi.butir-butir pendapat, teori, thesis mengenai suatu kasus Dalam hubungannya dengan tujuan hukumatau permasalahan yang menjadi bahan perbandingan, menurut Achmad Ali ada tiga jenis sudut pandang :pegangan teoritis. Menurut Soerjono Soekanto bahwa 1. Sudut pandang ilmu hukum positif normative ataukontinuitas perkembangan ilmu hukum, selain juridis dogmatif yaitu di mana hukum dititikbergantung pada metodologi, aktifitas penelitian dan beratkan pada segi kepastian hukumnya.imajinasi social sangat ditentukan oleh teori. 2. Sudut pandang filsafat hukum yaitu tujuan hukum1.5.1 Teori Kewenangan dititik beratkan pada segi keadilan. Teori ini peneliti kemukakan dengan maksud 3. Sudut pandang sosiologis hukum yaitu tujuanuntuk membahas dan menganalisis masalah tentang hukum dititik beratkan pada segi kemanfaatanya.kewenangan Notaris dalam pembuatan Akta Keterangan Ketiga sudut pandang tersebut diupayakan salingMewaris. kerjasama dan saling mendukung sehingga dapat Sementara menurut Philipus M. Hadjon, diwujudkan tujuan hukum yang optimal, oleh karena itu“Kewenangan membuat keputusan hanya dapat kondisi optimal itu tercapai dalam hal ketentuan positif-diperoleh dengan dua cara, yaitu dengan atribusi atau normatif menghasilkan kepastian, keadilan dandengan delegasi. Atribusi adalah wewenang yang kemanfaatan.melekat pada suatu jabatan”. Philipus menambahkan Menurut Munir Fuady, tujuan hukum disampingbahwa “Berbicara tentang delegasi dalam hal ada untuk mencapai keadilan, juga bertujuan untukpemindahan/pengalihan suatu kewenangan yang ada. menciptakan kepastian hukum bagi manusia pribadi danApabila kewenangan itu kurang sempurna, berarti masyarakat luas.bahwa keputusan yang berdasarkan kewenangan itu Kepastian Hukum yang dimaksud dalam teori initidak sah menurut hukum”. dimaksudkan agar nantinya setiap perbuatan hukum J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 57  
  • yang dilakukan oleh notaris khususnya dalam pribadi ataukan notaris akan bertanggung jawab selakupembuatan Akta Keterangan Waris harus menjamin pejabat umum.kepastian hukumnya dimana setiap produk yang di buatatau di hasilkan oleh notaris harus memberikan 1.6 Metode Penelitianketentraman bagi masyarakat pengguna jasa notaris Penelitian hukum yang dilakukan dengan caratersebut sehingga peneliti memilih menggunakan teori meneliti bahan pustaka atau data sekunder, dapatHans Kelsen sehubungan dengan pembahasan dinamakan penelitian hukum normatif atau penelitiankewenangan dari notaris tersebut ketika kewenangan hukum kepustakaan (disamping adanya penelitiantersebut dikaitkan dengan sistematikan peraturan hukum sosiologis atau empiris yang terurama menelitiperundang-undangan sebagaimana tersebut dalam data primer).Undang-Undang No. 10 Tahun 2004 Tentang Pada penelitian ini peneliti menggunakan metodePembentukan Peraturan Perundang-Undangan. penelitian hukum normatif yang akan dikaitkan dengan1.5.3 Teori Pertanggungjawaban deduktif, yaitu berangkat dari persoalan yang umum Teori ini peneliti kemukakan dengan tujuan (teori) kepada hal yang khusus sehingga penelitian iniuntuk membahas dan menganalisis masalah tentang harus ada landasan teorinya. Pada penelitian tesis inipertanggung jawaban Notaris sebagai pihak yang peneliti menggunakan metode penelitian sebagai berikutmembuat Akta Keterangan Waris dalam hal Akta :tersebut di sengketakan. 1.6.1 Jenis Penelitian Prinsip tentang tanggung jawab merupakan hal Metode Penelitian yang peneliti pergunakanyang sangat penting dalam hukum perlindungan adalah metode Penelitian Yuridis Normatif, maksudnyakonsumen. Di dalam pelanggaran hak-hak konsumen di adalah menganalisa permasalahan hukum seputarperlukan kehati-hatian dalam menganalisis siapa yang pembuatan Akta Keterangan Waris oleh Notaris yangbertanggung jawab dan seberapa jauh tanggung jawab mana menurut UUJN yang merupakan dasar pijakandapat dibebankan kepada pihak-pihak terkait. Ada dua Notaris dalam menjalankan tugasnya tidak diatur secaraistilah yang menunjuk pada pertanggungjawaban dalam jelas mengenai kewenangan Notaris berkaitan dengankamus hukum, yaitu Liability dan Responsibility. pembuatan Akta Keterangan Waris, sehingga Peneliti Notaris sebagai Pejabat Umum mempunyai menganggap adanya kekaburan Norma dalampertanggungjawaban terhadap perbuatan hukumnya pembuatan Akta Keterangan Waris oleh Notaris.yang dilakukannya. Mengenai persoalan pertanggung 1.6.2 Jenis Pendekatanjawabanya pejabat menurut Kranenburg dan Vertig ada Di dalam penelitian hukum terdapat beberapadua teori yang melandasi yaitu : pendekatan, yakni pendekatan undang-undang (statute a. Teori fautes personalles yaitu teori yang approach), pendekatan kasus (case approach), menyatakan bahwa kerugian terhadap pihak pendekatan historis (historical approach), dan ketiga dibebankan kepada pejabat yang karena pendekatan konseptual (conceptual approach). tindakanya itu telah menimbulkan kerugian. Untuk membahas permasalahan yang peneliti Teori ini beban tanggung jawab di tunjukan kemukakan dalam penelitian tesis ini, peneliti kepada manusia selaku pribadi. menggunakan pendekatan yang berdasar pada : b. Teori fautes de services yaitu teori yang 1. Pendekatan Perundang-undangan (statute menyatakan bahwa kerugian terhadap pihak approach) yaitu dilakukan untuk meneliti ketiga dibebankan pada instansi dari pejabat kewenangan Notaris khususnya Undang-Undang yang bersangkutan. Menurut teori ini tanggung Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris. jawab dibebankan kepada jabatan. Di dalam 2. Pendekatan Konseptual (conceptual approach) penerapanya, kerugian yang timbul itu yaitu pendekatan konsep atau teori-teori tentang disesuaikan pula apakah kesalahan yang kedudukan Notaris Sebagai pejabat public dan dilakukan itu merupakan kesalahan berat atau tanggung jawabnya jika akta yang dibuatnya kesalahan ringan, dimana berat dan ringanya bermasalah. suatu kesalahan berimplikasi pada tanggung 3. Pendekatan Analisis (analitycal approach) yaitu jawab yang harus di tanggung. pendekatan dengan mengetahui maksud istilah Dalam penelitian ini, peneliti akan kedudukan Notaris, kewenangan Notaris, danmenggabungkan antara Liability dan responsibility tanggung jawab Notaris dalam hal Aktadengan teori dari Kranenburg dan Vertig yaitu Teori Keterangan Waris yang dibuatnya.fautes personalles dan Teori fautes de services dimanadiharapkan akan di ketahuinya sisi pertanggung jawabannotaris khususnya dalam pembuatan Akta KeteranganWaris, apakah notaris akan bertanggung jawab secara J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 58  
  • TINJAUAN PUSTAKA g) Tidak berstatus sebagai pegawai negeri, pejabatan negara, advokat atau tidak sedang memangkuA. Tinjauan Umum Tentang“Notaris” jabatan yang lain olehundang-undang dilarang Semakin meningkatnya perkembangan ekonomi, untuk dirangkap dengan jabatan notaris.mengakibatkan peningkatan kebutuhan di bidang 4. Kewenangan, Kewajiban dan Larangan.hukum untuk menunjang perkembangan Ekonomi - Kewenangan.tersebut. Kelancaran dan kepastian hukum suatu usaha Kewenangan notaris diatur oleh Pasal 15 UUJN.masyarakat semakin banyak dan turut ditentukan oleh Kewajiban notaris diatur Pasal 16 UUJN.mutu pelayanan produk hukum yang dihasilkan notaris. 5. Pemberhentian.1) Pengertian “Notaris”. - Diberhentikan sementara dari jabatan Nama “notariat” berasal dari kata “Notarius”. Pasal 3 UUJN mengatur tentang Notaris yangDalam buku-buku hukum dan tulisan Romawi klasik diberhentikan sementara dari jabatannya.ditemukan bahwa nama atau title “notaries”menandakan suatu golongan orang-orang yang telah B. Tinjauan Umum Terhadap “Akta Keteranganmelakukan suatu bentuk pekerjaan tulis menulis. Akan Waris”.tetapi, yang dinamakan “notaries” dahulu tidak sama 1. Pengertian dan Istilahdengan notaris yang dikenal sekarang, hanya namanya Yang dimaksud dengan Akta Keterangan Warissaja yang sama. Arti dari nama “notaries” secara lambat (Verklaring van Erfpacht) menurut R. Soegondolaun berubah dari arti kata semula. Notodisoerjo adalah : UUJN merupakan pengganti Peraturan Jabatan …. Akta keterangan yang dibuat oleh NotarisNotaris (Stb.1860-3) dan Reglement of Het Notaris yang memuat ketentuan siapa yang menurut hukumAmbt in Indonesia (Stb 1860:3) yang merupakan merupakan ahli waris yang sah dari seseorang yangperaturan Pemerintah Kolonial Belanda. meninggal dunia.Menurut Pasal 1 angka 1 UUJN, notaris adalah : Dengan maksud yang sama, beberapa penulis Pejabat umum yang berwenang untuk menyebut “Akta Keterangan Waris” dengan Akta membuat akta otentik dan kewenangan lainnya Keterangan Hak Waris” dan istilah Verklaring van sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini. Erfpacht dengan “Certificaat van Erfpacht”.2) Dasar Hukum. Berdasarkan rumusan tersebut, maka Mengenai notaris sebagai jabatan yang pembicaraan mengenai Akta Keterangan Warismenjalankan profesi dalam pelayanan hukum kepada menyangkut masalah orang yang meninggal duniamasyarakat diatur dalam Undang UUJN yang (pewaris) dan ahli waris.diundangkan tanggal 6 Oktober 2004 dalam Lembaran a. PewarisNegara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 117. Yang dimaksud dengan “pewaris” adalah : Dengan berlakunya undang-undang ini, maka … orang yang meninggal dunia denganReglement op Het Notaris Ambt in Indonesia / Peraturan meninggalkan harta kekayaan.Jabatan Notaris Di Indonesia (Stb. 1860 Nomor 3) Berdasarkan Pasal 877 KUH Perdata, hanyadicabut dan dinyatakan tidak berlaku. kematian sajalah yang menimbulkan pewarisan.3) Syarat Untuk Diangkat Sebagai Notaris Sehingga merupakan hal yang penting untuk Syarat untuk dapat diangkat menjadi notaris oleh mengetahui dan menetapkan dengan teliti saat pewarisMenteri Hukum dan Hak Asasi Manusia diatur oleh meninggal.Pasal 3 UUJN sebagai berikut : b. Ahli Waris a) Warga Negara Indonesia ; Berdasarkan Pasal 835 dan 899 KUH Perdata, b) Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa ; asas pokok untuk menentukan apakah seseorang dapat c) Berumur paling sedikit 27 (dua puluh tujuh) tahun bertindak sebagai ahli waris adalah bahwa ia harus ada ; (sudah lahir) dan hidup pada saat terbukanya warisan. d) Sehat jasmani dan rohani ; Apabila seseorang telah memenuhi syarat tersebut, e) Berijazah Sarjana Hukum dan lulusan jenjang maka Pasal 832 KUH Perdata menentukan yang berhak strata dua kenotariatan ; menjadi ahli waris menurut undang-undang yaitu f) Telah menjalani magang atau nyata-nyata telah terbatas pada : para keluarga sedarah, baik sah maupun bekerja sebagai karyawan notaris dalam waktu 12 luar kawin dan si suami atau istri yang hidup terlama. (dua belas) bulan berturut-turut pada kantor notaris 2. Bentuk Akta Keterangan Waris. atas prakarsa sendiri atau atas rekomendasi Demikian menurut ketentuan umum Bab I Pasal organisasi notaris setelah lulu strata dua 1 angka 7 dalam Undang-undang Republik Indonesia kenotariatan ; dan Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris. J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 59  
  • Berdasarkan Pasal 1867 KUHPerdata yang atau orang lain yang ditetapkan oleh undang-menyatakan bahwa: undang. “Pembuktian dengan tulisan dilakukan (2). Notaris berwenang pula : dengan tulisan-tulisan otentik maupun dengan a. mengesahkan tanda tangan dan menetapkan tulisan-tulisan di bawah tangan “. kepastian tanggal surat di bawah tangan Berdasarkan bunyi pasal tersebut dapat dengan mendaftar dalam buku khusus ;disimpulkan bahwa akta terdiri atas 2 macam akta yaitu b. membubuhkan surat-surat di bawah tanganakta otentik dan akta di bawah tangan. Akta otentik dengan mendaftar dalam buku khusus ;yang dibuat oleh Notaris ada dua macam, yaitu akta c. membuat kopi dari asli surat-surat di bawahotentik yang dibuat oleh pejabat atau yang disebut tangan berupa salinan yang memuat uraiansebagai akta pejabat (ambtelijke acte, proces verbal sebagaimana ditulis dan digambarkanacte) dan akta otentik yang dibuat di hadapan pejabat dalam surat yang bersangkutan ;yang memuat pihak-pihak atau yang disebut sebagai d. melakukan pengesahan kecocokan fotokopiakta para pihak (partij acte). dengan surat aslinya ; Akta pejabat (ambtelijke acte, proces verbal e. memberikan penyuluhan hukumacte) adalah, akta-akta yang dibuat untuk dipakai sehubungan dengan pembuatan akta ;sebagai bukti mengenai perbuatan-perbuatan atau f. membuat akta yang berkaitan dengantindakan-tindakan yang dilakukan di hadapan Notaris pertanahan ; danpada saat dilangsungkan pembuatan akta tersebut. g. membuat akta risalah lelang.Sedangkan yang dimaksud Partij acte adalah, akta-akta (3). Selain kewenangan sebagaimana dimaksud padayang dibuat untuk dipakai sebagai bukti dari pernyataan ayat (1) dan (2), Notaris mempunyaiatau keterangan dari para penghadap. kewenangan lain yang diatur dalam peraturan3. Pejabat Yang Dapat Mengeluarkan Surat perundang-undangan. Keterangan Waris. Dari bunyi Pasal 15 ayat 1 UUJN tersebut, dapat Ada tiga pilihan pihak atau pejabat yang kita analisis bahwa kewenangan Notaris adalahberwenang/berhak untuk membuat keterangan waris: membuat akta otentik untuk semua perbuatan, a. Diserahkan kepada ahli waris yang bersangkutan perjanjian dan ketetapan yang diharuskan oleh peraturan sebagaimana hal pembuatan keterangan waris perundang-undangan dan atau yang dikehendaki oleh untuk pribumi yang selama ini dilakukan; para pihak dimana Pasal ini memberikan kewenangan b. Diserahkan kepada lembaga peradilan; kepada setiap Notaris untuk menuangkan semua c. Diserahkan kepada Notaris. perbuatan, perjanjian dan ketetapan ke dalam akta otentik baik itu yang merupakan kemauan para pihak PEMBAHASAN ataupun karena pembuatan akta otentik itu diharuskan oleh peraturan perundang-undangan.3.1 Dasar Hukum Wewenang Notaris Dalam Pengaturan lain yang menyangkut pembuatan Membuat Akta Keterangan Waris. akta keterangan waris dapat kita jumpai dalam Pasal Sebagaimana telah di bahas di bab terdahulu 111 Peraturan Menteri Negara Agraria/ Kepala Badanbahwa dalam menjalankan tugasnya dalam pembuatan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 tentangAkta Keterangan Waris untuk golongan tionghoa, Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24UUJN yang mengatur tentang hak dan kewajiban Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah yangNotaris tidak mengatur secara jelas kewenangan menyebutkan bahwa :tersebut. c. surat tanda bukti sebagai ahli waris yang dapat Hal tersebut penulis cermati dalam UUJN di berupa :mana dalam pengaturan tentang kewenangan Notaris di 1) wasiat dari pewaris, atauPasal 15 sebutkan sebagai berikut: 2) putusan Pengadilan, atau (1). Notaris berwenang membuat akta otentik 3) penetapan hakim/Ketua Pengadilan, atau mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan 4) -bagi warganegara Indonesia penduduk asli: ketetapan yang diharuskan oleh peraturan surat keterangan ahli waris yang dibuat oleh perundang-undangan dan /atau yang dikehendaki para ahli waris dengan disaksikan oleh 2 (dua) oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan orang saksi dan dikuatkan oleh Kepala dalam akta otentik, menjamin kepastian tanggal Desa/Kelurahan dan Camat tempat tinggal pembuatan akta, menyimpan akta, memberikan pewaris pada waktu meninggal dunia; grosse, salinan dan kutipan akta, semuanya itu -bagi warganegara Indonesia keturunan sepanjang pembuatan akta-akta itu tidak juga Tionghoa: akta keterangan hak mewaris dari ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat lain Notaris, J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 60  
  • - bagi warganegara Indonesia keturunan Timur membuat Akta Keterangan Waris serta membawa Asing lainnya: surat keterangan waris dari dua orang saksi dari keluarga terdekat. Jadi akta Balai Harta Peninggalan. tersebut merupakan rangkuman dari keinginan Berdasarkan pembahasan diatas yang dilandasi para pihak yang datang ke hadapan notarisStufenbau Teori maka peraturan menteri negara agraria/ tersebut.kepala badan pertanahan nasional nomor 3 tahun 1997 Dan disebutkan juga :tentang ketentuan pelaksanaan peraturan pemerintah “…..bahwa Akta Keterangan Warisnomor 24 tahun 1997 tentang pendaftaran tanah dapat di merupakan (wilsovorming) para pihakkategorikan sebagai peraturan perundang-undang seperti untuk membuktikan dirinya sebagai ahliyang disebutkan dalam Pasal 15 ayat 3 UUJN. waris..” Peraturan menteri negara agraria/ kepala badan 2. Akta itu harus dibuat dalam bentuk yangpertanahan nasional nomor 3 tahun 1997 tentang ditentukan oleh undang-undang, karena keinginanketentuan pelaksanaan peraturan pemerintah nomor 24 para pihak yang datang tersebut dinyatakan ditahun 1997 tentang pendaftaran tanah merupakan hadapan Notaris, maka sesuai dengan kewenanganperaturan pelaksana atau mendapat kekuatan dari Notaris sebagaimana tersebut dalam Pasal 15 ayatkaedah hukum yang lebih tinggi dalam hal ini adalah (1) UUJN, maka Notaris wajib untukperaturan pemerintah maka peraturan menteri negara memformulasikanya dalam bentuk Akta Notaris.agraria/ kepala badan pertanahan nasional nomor 3 Dengan demikian Notaris bukan menyalintahun 1997 dapat berlaku dan mengikat sebagaimana pernyataan para pihak, tapi kehendakdisebutkan oleh stufenbau teori bahwa “Kaedah-kaedah (wilsvorming) para pihak sendiri yanghukum dari tingkatan yang lebih rendah memperoleh diformulasikan ke dalam bentuk Akta Keterangankekuatanya dari kaedah hukum yang lebih tinggi” Waris.sehingga menurut peneliti berdasarkan Stufenbau teori 3. Pejabat umum oleh-atau dihadapan siapa akta itumaka Pasal 111 Peraturan Menteri Negara Agraria/ dibuat, harus mempunyai wewenang untukKepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun membuat akta itu, dimana kewenangan ini dalam1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan artian notaris tempat para pihak mengutarakanPemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran keinginanya tersebut haruslah notaris yangTanah dapat dipergunakan oleh Notaris dalam berpraktek di wilayah jabatan notaris tersebutpembuatan akta keterangan waris untuk golongan karena ruang lingkup jabatan seorang notaristionghoa sebagaimana. adalah meliputi satu provinsi, juga tersebut notaris3.2. Kekuatan Hukum Akta Keterangan Waris bukan notaris yang sedang tidak melaksanakan yang dibuat oleh Notaris. tugasnya karena halangan (sakit, cuti atau Akta otentik merupakan alat bukti yang berhalangan sementara) dan notaris tersebut tidaksempurna, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1870 memiliki hubungan kekeluargaan denganKUHPerdata. Akta otentik memberikan diantara para penghadap, baik karena perkawinan maupunpihak termasuk para ahli warisnya atau orang yang hubungan darah dalam harus keturunan lurusmendapat hak dari para pihak itu suatu bukti yang kebawah dan/atau keatas tanpa pembatasansempurna tentang apa yang diperbuat/ dinyatakan di derajat, serta dalam garis ke samping sampaidalam akta ini. Kekuatan pembuktian sempurna yang dengan derajat ketiga, serta menjadi pihak untukterdapat dalam suatu akta otentik merupakan perpaduan diri sendiri, maupun dalam suatu kedudukandari beberapa kekuatan pembuktian dan persyaratan ataupun dengan perantaraan kuasa.yang terdapat padanya. Ketiadaan salah satu kekuatan Jadi Akta Keterangan Waris dikatakan memilikipembuktian ataupun persyaratan tersebut akan kekuatan pembuktian yang sempurna sebagai Partijmengakibatkan suatu akta otentik tidak mempunyai nilai Akta atau Akta Pihak apabila akta tersebut mempunyaikekuatan pembuktian yang sempurna dan mengikat kekuatan pembuktian lahir, formil dan materil, dansehingga akta akan kehilangan keotentikannya dan tidak memenuhi syarat otentisitas sebagaimanalagi menjadi akta otentik. dipersyaratkan dalam UUJN sehingga akta yang telah Jadi berdasarkan pemaparan tersebut diatas, Akta memenuhi semua persyaratan tersebut mempunyaiKeterangan Waris memiliki bentuk sebagai Partij Akta kekuatan pembuktian yang sempurna dan harus dinilaiatau Akta Pihak berdasarkan : benar, sebelum dapat dibuktikan ketidakbenarannya. 1. Akta itu harus dibuat di hadapan (ten overstaan) seorang Notaris, dimana Akta Keterangan Waris tersebut dibuat dihadapan notaris yang dalam prakteknya para penghadap datang kehadapan notaris dan mengutarakan niat mereka untuk J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 61  
  • 3.3 Tanggungjawab Terhadap Akta Keterangan c) Cermat dalam penulisan akta. Waris. d). Cermat dalam pendataan dan pengarsipan dan3.3.1 Tanggung Jawab Notaris Terhadap Akta Yang laporan. Dibuat e). Cermat dalam penyerahan Grosse, Salinan Notaris sebagai pejabat umum (openbaar dan Kutipanambtenaar) yang berwenang membuat akta otentik b. Adanya Keterangan Palsu.dapat dibebani tanggung jawab atas perbuatannya Dalam Akta Keterangan Waris yang berbentuksehubungan dengan pekerjaannya dalam membuat akta Partij Akta, adanya kemungkinan keterangan yangtersebut. Ruang lingkup pertanggung jawaban notaris disampaikan oleh penghadap adalah keterangan palsumeliputi kebenaran materiil atas akta yang dibuatnya. dimana keterangan palsu tersebut akhirnya masukMengenai tanggung jawab notaris selaku pejabat umum menjadi isi dari Akta Keterangan Waris tersebut.yang berhubungan dengan kebenaran materiil, Dalam hal ini notaris tidak dapat dipersalahkan dandibedakan menjadi empat poin, yakni : dikenakan hukuman baik secara perdata maupun 1. Tanggung jawab notaris secara perdata terhadap pidana. kebenaran materiil terhadap akta yang dibuatnya; Oleh karena itu sepanjang Notaris melakukan 2. Tanggung jawab notaris secara pidana terhadap tugasnya sesuai dengan peraturan yang berlaku tidak kebenaran materiil dalam akta yang dibuatnya; perlu khawatir akan terkena sanksi pidana, termasuk 3. Tanggung jawab notaris berdasarkan peraturan juga apabila Notaris membuat Akta Keterangan Waris jabatan notaris (UUJN) terhadap kebenaran seperti bentuk yang telah ditentukan berdasarkan materiil dalam akta yang dibuatnya; bentuk akta otentik yang disyaratkan oleh UUJN, 4. Tanggung jawab notaris dalam menjalankan tugas maka Notaris akan bebas dari segala bentuk tuntutan jabatannya berdasarkan kode etik notaris. Pidana.3.3.2 Akta Keterangan Waris. c. Kesengajaan. Seperti yang telah di bahas di pembahasan Dalam prakteknya dalam pembuatan Aktaterdahulu bahwa Akta Keterangan Waris adalah Akta Keterangan Waris, adanya kemungkinan bahwa notarisyang dibuat “Di hadapan “ notaris atau yang dinamakan membuat kesengajaan dalam Pembuatan Akta“Akta Pihak (Partij Akten)”. Dalam golongan akta ini Keterangan Waris, dimana berdasarkan kesengajaantermasuk akta-akta yang memuat perjanjian Hibah Jual tersebut dapatlah notaris tersebut di mintai pertanggungBeli, Kemauan terakhir (wasiat), kuasa dan lain jawaban baik secara Perdata maupun Pidana sebagaisebagainya yang merupakan kehendak orang- berikut :orang/pihak lain yang datang menghadap di A. Perdata.hadapannya. Mengutip Keeton, Munir Fuady, menyampaikan Oleh karena itu, maka dapat kita kelompokan rumusan-rumusan tentang perbuatan melawan hukumkemungkinan kesalahan-kesalahan yang mungkin jika di hubungan dengan kelalaian dari notaris dalamtimbul dalam pembuatan Akta Keterangan Waris yaitu : menjalankan tugasnya, diantaranya : a. Ketidaktelitian Notaris. Suatu kesalahan perdata (civil wrong) terhadap Notaris sebagai jabatan kepercayaan mana suatu ganti kerugian dapat dituntut yang bukan seharusnya melakukan tugas dan kewajibanya merupakan wanprestasi terhadap kontrak, atau sesuai dengan UUJN yang merupakan dasar pijak wanprestasi terhadap kewajiban trust, atau pun bagi seorang notaries dalam bertindak. wanprestasi terhadap kewajiban equity lainnya. Di dalam suatu pembuatan akta yang A. Kesalahan, Kesengajaan, Kelalaian dilakukan Notaris, setiap kata yang dibuat dalam Kesalahan yang dimaksud oleh Pasal 1365 akta harus terjamin otentisitasnya, maka dalam KUHPerdata mengandung “gradasi” dari mulai proses pembuatan dan pemenuhan persyaratan- perbuatan yang disengaja, sampai perbuatan yang persyaratan pembuatan akta memerlukan tingkat tidak disengaja. Menurut hukum perdata, seseorang itu kecermatan yang memadai. Jika kecermatan itu dapat dikatakan bersalah jika terhadapnya, bahwa ia diabaikan, maka kemungkinan adanya telah melakukan atau tidak melakukan suatu perbuatan faktor‐faktor yang menghilangkan otensitas akta yang seharusnya dihindarkan. Perbuatan yang yang dibuatnya semakin tinggi. seharusnya dilakukan atau tidak dilakukan, tidak Ketentuan‐ketentuan pada Undang‐Undang terlepas dari dapat tidaknya hal itu dikira kirakan. Jabatan Notaris mengenai notaris harus bertindak Dapat dikira kirakan itu harus diukur secara objektif, cermat, adalah dalam hal ini antara lain : artinya manusia normal dapat mengira ngirakan a) Cermat dalam mengenal para penghadap. dalam keadaan tertentu itu perbuatan seharusnya b) Cermat dalam menyerap maksud dan tujuan dilakukan atau tidak dilakukan. Dapat dikirakirakan dari keterangan para pihak. itu juga harus diukur secara subjektif, artinya apa yang J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 62  
  • justru orang itu dalam kedudukannya dapat Nasional Nomor 3 tahun 1997 tentang Ketentuan mengira ngirakan bahwa perbuatan itu seharusnya Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 dilakukan atau tidak dilakukan. tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah yang B. Kerugian Dan Ganti Rugi notabene merupakan peraturan pelaksana Atas kesengajaan yang dilakukan oleh notaris mendapat kekuatan dari kaedah hukum yang lebih seperti tersebut diatas dimana kesengajaan tersebut tinggi dalam hal ini adalah Peraturan Pemerintah menimbulkan kerugian, maka notaris dapat Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran dipaksakan untuk memberikan ganti rugi dimana ganti Tanah. rugi adalah suatu konsekuensi dari perbuatan b. Akta Keterangan Waris yang dari bentuknya kesalahan yang menimbulkan kerugian merupakan Akta Partij atau Akta Pihak dikatakanB. Pidana. memiliki kekuatan pembuktian yang sempurna Terkait dengan kesengajaan yang dilakukan apabila akta tersebut mempunyai kekuatannotaris dalam pembuatan Akta Keterangan Waris, saksi pembuktian lahir, formil dan materil, danpidana yang mungkin dapat dikenakan kepada notaris memenuhi syarat otentisitas sebagaimanaadalah saksi pidana yang berkaitan dengan pemalsuan dipersyaratkan dalam UUJN sehingga akta yangsurat (Pasal 263). telah memenuhi semua persyaratan tersebut Didalam Pasal 264 KUHP ini hanya merupakan mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurnapemberatan dari tindak pidana yang diatur dalam Pasal dan harus dinilai benar, sebelum dapat dibuktikan263 KUHP yaitu hukumannya akan diperberat menjadi ketidakbenarannya.8 (delapan) tahun jika pemalsuan tersebut dilakukan c. Dalam pembuatan Akta Keterangan Waris, notaristerhadap suatu otentik. Karena Notaris adalah pejabat dapat melakukan beberapa kesalahan-kesalahanyang berwenang untuk membuat akta otentik maka yang dapat dikenakan saksi menurut UUJN, KUHPasal 264 KUHP inilah yang kemungkinan besar akan Perdata dan KUHP. Dimana notaris harusdituduhkan kepada Notaris. bertanggung jawab berdasarkan UUJN jika akta Mengenai saksi secara kode etik, dapat yang dibuatnya karena ketidaktelitianyaditerapkan dalam setiap kesalahan yang dilakukan oleh menyebabkan formalitas akta itu tidak sesuainotaris yang melakukan tindakan yang merendahkan dengan UUJN sehingga menyebabkan akta otentikkehormatan dan martabat jabatan notaris. Dalam hal ini tersebut mengalami degradasi menjadi akta bawahyang melakukan pengawas notaris adalah Majelis tangan sehingga dengan kerugian yang dideritaPengawas yang akan memberikan sanksi kepada noatris oleh klienya, maka klienya dapat mengajukandimana Majelis Pengawas tersebut bertindak gugatan secara perdata atas kerugian yangberdasarkan Pasal 70 (huruf a) UUJN. dialaminya. Sedangkan untuk tanggung jawab secara pidana, dalam pembuatan Akta Keterangan PENUTUP Waris notaris hanya dapat dijerat dengan ketentuan Pasal 263 dan 264 KUHP.4.1. Simpulan Dari pembahasan terhadap permasalahan diatas, 4.2. Saran-Sarandapat ditarik kesimpulan : Saran-saran yang dapat diberikan terkait dengana. Kewenangan notaris dalam pembuatan Akta Kewenangan Notaris dalam Pembuatan Akta Keterangan Waris untuk golongan Tionghoa Keterangan Waris adalah : bersumber dari Pasal 15 ayat (3) UUJN dimana Dalam rangka reformasi hukum, sebaiknya setiap pasal tersebut mencakup kewenang lain yang perbuatan hukum yang melibatkan notaris harus dimiliki notaris, salah satunya adalah kewenangan dicantumkan jelas dalam UUJN, sehingga kedepannya yang terdapat dalam Peraturan Menteri Negara dapat memperjelas setiap kewenangan yang dimiliki Agraria/ Kepala Badan Pertanahan Nasional oleh notaris. Hal ini perlu dilakukan karena terkait Nomor 3 tahun 1997 tentang Ketentuan dengan Akta Keterangan Waris pengaturan yang jelas Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 hanyalah diatur dalam Peraturan Menteri Negara tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah dimana Agraria/ Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 peraturan tersebut dapat berlaku dan mengikat tahun 1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan sehingga dapat dipergunakan oleh notaris sebagai Pemerintah Nomor 24 tahun 1997 tentang Pendaftaran dasar dalam pembuatan akta keterangan waris dimana ranah dari peraturan tersebut merupakan untuk golongan tionghoa karena Peraturan peraturan tentang pendaftaran tanah yang merupakan Menteri Negara Agraria/ Kepala Badan Pertanahan bidang yang dimiliki oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah. J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 63  
  • DAFTAR PUSTAKALiteratur :A. Pitlo, Hukum Waris Menurut UU Hukum Perdata Belanda, Intermasa, Jakarta, 1994.Abdul Ghofur, Lembaga Kenotariatan Indonesia: Perspektif Hukum dan Etika, UII Press, Yogyakarta, 2009.Acmad Ali, 2002, Menguak Tabir Hukum, Bogor, Ghalia Indonesia, 2008.Adjie, Habib. Pembuktian Sebagai Ahli Waris dengan Akta Notaris (dalam bentuk Akta Keterangan Ahli Waris), CV. Mandar Maju, Bandung, 2008.Ali Afandi, Hukum Waris, Hukum Keluarga, Hukum Pembuktian, Rineka Cipta, Jakarta, 1997.Burhan Ashshofa, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta : Penerbit Rhineka Cipta, 1996).E.M. Meyers, hal. 1; H.F.A. Vollmar, hal 284; Jac Kalma, Privaatrecht, handeling by the studie van het Nederlands Privaatrecht”, cetakan ketiga.Efendi Perangin, Hukum Waris, Rajawali Pers, Jakarta, 2003.G.H.S. Lumban Tobing, Peraturan Jabatan Notaris, (Jakarta : Penerbit Erlangga, 1999).H. Zainyddin Ali, Pelaksanaan Hukum Waris di Indonesia. (Jakarta: Sinar Grafika, 2008).Habib Adjie, “Hukum Notaris Indonesia - Tafsir Tematik Terhadap UU No.30 tahun 2004 tentang Jabatan Notaris”, PT. Refika Aditama. Bandung, 2008.Habib Adjie, Sekilas Dunia Notaris dan PPAT Indonesia, CV. Mandar Maju, Bandung, 2009.Habib Adjie,Meneropong Khazanah Notaris dan PPAT Indonesia,PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2009.Hadikusuma, Hilman, Metode Pembuatan Kertas kerja Atau Skripsi Ilmu Hukum, Mandar Maju, Bandung, 1995.Hilman Hadikusuma, Hukum Waris Indonesia Menurut : Perundangan Hukum Adat, Hukum Agama Hindu-Islam, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, Cet. II, 1996.Ilhami Bisri, Sistem Hukum Indonesia, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2005.Indroharto, Usaha Memahami Undang-Undang tentang Peradilan Tata Usaha Negara, Jakarta: Pustaka Harapan, 1993).Irawan Soerodjo, Kepastian Hukum Hak Atas Tanah di Indonesia, Arkola, Surabaya, 2003.J. Satrio, Hukum Waris, Alumni, Bandung, 1992.Kie, Tan Thong, Studi Notariat - Serba Serbi Praktik Notaris, Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 2000.Komar Andarsasmita, Notaris Selayang Pandang, Bandung : Penerbit Alumni, 1983.M.Solly Lubis, Ilmu dan Penelitian, Bandung : penerbit Mandar Maju, 1994.Marthalena Pohan, Tanggung Gugat advocat, Dokter dan Notaris, Alumni, Bandung, 1985.Mertokusumo, Sudikno, Beberapa Asas Pembuktian dan Penerapannya Dalam Praktik, Liberty, Yogyakarta, 1980.Munir Fuady, 2003, Aliran Hukum Kritis Paradigma Ketidak Berdayaan Hukum, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung.Munir Fuady, Perbuatan Melawan Hukum, Aditya Bhakti, Bandung. 2002.Munir Fuady, Profesi Mulia (Etika Profesi Hukum bagi Hakim, Jaksa, Advokat,Notaris, Kurator, dan Pengurus), PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2005.N.E Algra, Et. All, Kamus Istilah Hukum Fockema Andreae, Belanda – Indonesia, Bina Cipta, Jakarta, 1983.Nasution, S., Metode Penelitian Naturalistik-Kualitatif Bandung, Tarsito,1992.Nico, Tanggung Jawab Notaris Selaku Pejabat Umum, Penerbit Centre for Documentation and Studies of Business Law, Yogyakarta, 2003.Notodisoerjo, R. Soegondo, Hukum Notaiat Di Indonesia – Suatu Penjelasan, Rajawali Pers, Jakarta, 1982.Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, (Jakarta; Kencana Prenada Media Group, 2006).Philipus M. Hadjon, Formulis Pendaftaran Tanah Bukan Akta Otentik, Surabaya Post, 31 Januari 2001.Philipus M. Hadjon, Pengantar Hukum Administrasi Indonesia, Cetakan ketujuh (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2001).R. Subekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata.(Jakarta: Intermasa, 1977).Ridwan H.R., Hukum Administrasi Negara, Jakarta; PT. Raja Grafindo Persada, 2006.Salim, H.S, Hukum Kontrak : teori & Teknik Penyusunan Kontrak, Sinar Grafika, Jakarta, 2005.Sihidarta, Hukum Perlindungan Konsumen Indonesia, Jakarta; PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, 2006Snelbecker, dikutip dalam Lexy J.Moleong,Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung : Penerbit PT. Remana Rosdakarya, 1990).Soehartono, Irwan, Metode Penelitian Sosial Suatu Teknik Penelitian di Bidang Kesejahteraan Sosial lainya, Bandung, Remaja Rosada Karya,1999.Soekanto, Soerjono dan Mamudji, Sri, Penelitian Hukum Normatif SuatuTinjauan Singkat, Raja Grafindo, Jakarta, 1998.Soekanto, Soerjono, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, Raja Grafindo, Jakarta.Soemitro, Ronny Hanitijo, Soemitro, Ronny Hanitijo, Metodologi Penelitian Hukum dan Yurimetri, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1990.Soerjono Soekanto, Kesadaran Hukum dan Kepatuhan Hukum, (Jakarta; Rajawali, 1982).Soerjono Soekanto, Penelitian Hukum Normatif.Jakarta.PT.Raja Grafindo Persada.2009.Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum. Bandung : penerbit Rhineka Cipta, 1996.Sudikno Mertokusuno, Penemuan Hukum Suatu Pengantar, Yogjakarta, Liberty, 2009.Sugiono, Metode Penelitian Administrasi, Bandung, Alfabeta, 2001.Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian,(Jakarta; CV. Rajawali, 1992). J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 64  
  • Surini Ahlan Sjarif., Intisari Hukum Waris Menurut Burgerlijk Wetboek (Kitab Undang-Undang Hukum Perdata), Ghalia Indonesia, Jakarta, 1986.Sutopo, H.B., Metodologi Penelitian Kualitatif Bagian II, UNS Press, Surakarta, 1988.Tan Thong Kie, Studi Notariat – Serba Serbi Praktik Notaris, Ichtiar Baru Van Hoeven Jakarta 2000.Tedjosaputro, Liliana, Malpraktik Notaris dan Hukum Pidana, Agung,Semarang, 1991.Tim Penyusun Kamus-Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta; Balai Pustaka, 1989Wawan Setiawan, Ciri-ciri Notaris yang ideal, Makalah Refresing – Up Grading Course INI, Jakarta, 1994.Wawan Setiawan, Kedudukan dan Keberadaan Notaris sebagai Pejabat Umum dan PPAR dibandingkan dengan Pejabat Tata Usaha Negara menurut system Hukum Nasional, Makalah diskusi ilmiah, SH Unair dan INI Pengda Jatim, Surayaba.Wirjono Prodjodikoro, Hukum Warisan di Indonesia, Cet. II, Sumur Bandung, Bandung, 1983.WJS. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia,Jakarta; Balai Pustaka, 1987.Peraturan Perundang-UndanganUndang-Undang No. 10 Tahun 2004, Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan.Undang-Undang No. 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris.Peraturan Menteri Negara Agraria/ Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 tahun 1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997 tentang PendaftaranPeraturan Presiden No. 1 tahun 2007 tentang Pengesahan, Pengundangan, dan Penyebarluasan Peraturan Perundang-undangan J u r na l I l mi a h P r o d i M ag i ster K e n o tar i at a n, 2 01 2 - 2 01 3   P a g e 65  
  • PETUNJUK PENULISAN JURNALJurnal Kertha Pertiwi adalah publikasi ilmiah dibidang Kenotariatan. Naskah yang diterima yaitu karya tulisyang merupakan hasil penelitian atau hasil pemikiran (konseptual) yang ada hubungannya dengan Kenotariatandan belum pernah dipublikasikan di media lain.Petunjuk Penulisan1. Penulis bertanggung jawab terhadap isi naskah. Korespondensi mengenai naskah dialamatkan kepada penulis dengan mencantumkan institusi, alamat institusi, dan e-mail salah satu penulis;2. Naskah akan dinilai dari 3 unsur, yang meliputi kebenaran isi, derajat orisinalitas, relevansi isi serta kesesuaian dengan misi jurnal;3. Naskah dapat ditulis dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris;4. Judul Naskah harus ditulis secara ringkas, tetapi cukup informatif untuk menggambarkan isi tulisan;5. Naskah ditulis rapi dengan program Microsoft Word pada kertas berukuran A4 (satu sisi), dan setiap lembar tulisan diberi nomor halaman dengan jumlah halaman maksimal 20. Jarak spasi 1.5 kecuali abstrak dan daftar pustaka yang mempunyai jarak spasi 1. Model huruf yang digunakan adalah Times New Roman dengan font 12 kecuali judul berupa huruf kapital dengan dengan font 14. Margin masing-masing adalah 2.5 cm. naskah diserahkan dalam bentuk soft copy dan hard copy;6. Naskah yang ditulis dalam Bahasa Indonesia mencantumkan abstrak dalam Bahasa Inggris, dan sebaliknya dengan jumlah kata antara 150 sampai 200. Kata kunci harus dipilih untuk menggambarkan isi makalah dan paling sedikit 4 (empat) kata kunci;7. Sistematika artikel hasil penelitian : • Judul, • Nama penulis (tanpa gelar akademik), nama lembaga/institusi, dan email, • Abstrak, • Kata kunci, • Pendahuluan (latar belakang dan dukungan kepustakaan yang diakhiri dengan tujuan penelitian), • Metode, • Hasil, • Pembahasan, • Simpulan dan saran, • Ucapan terima kasih (bila ada), • Daftar rujukan/daftar pustaka (hanya memuat sumber yang dirujuk), dan • Lampiran (bila ada)8. Sistematika artikel hasil pemikiran (artikel konseptual yang argumentatif-ilmiah, sistematis dan logis) meliputi : • Judul, • Nama penulis (tanpa gelar akademik), nama lembaga/institusi, dan email, • Abstrak, • Kata kunci, • Pendahuluan (latar belakang dan dukungan kepustakaan yang diakhiri dengan tujuan atau ruang lingkup tulisan), • Bahasan utama, • Simpulan dan saran, • Ucapan terima kasih (bila ada), • Daftar rujukan/daftar pustaka (hanya memuat sumber yang dirujuk), dan • Lampiran (bila ada)9. Sumber rujukan sedapat mungkin merupakan pustaka mutakhir (terbitan 10 tahun terakhir) dan diutamakan dari sumber data primer berupa artikel-artikel penelitian dalam jurnal atau majalah ilmiah dan/atau laporan penelitian;
  • 10. Daftar rujukan (pustaka) disusun dengan tata cara seperti contoh berikut, dan diurutkan berdasarkan nama penulis secara alfabetis. a) Buku Arsyad, S. 1989. Konservasi Tanah dan Air. IPB Press, Bogor. b) Buku kumpulan artikel Dahuri, R. dan Sulistiono. (eds.). 2004. Metode dan Teknik Analisa Biota Perairan. (edisi ke-2, cetakan ke-1). Lembaga Penelitian IPB, Bogor. c) Artikel dalam buku kumpulan artikel Huffman, G.J., R.F. Adler, D.T. Bolvin, and E.J. Nelkin. 2010. “The TRMM Multi-satellite Precipitation Analysis (TMPA)”. In M. Gebremichael and F. Hossain (Ed.). Satellite Rainfall Applications for Surface Hydrology (pp. 3-22). Springer Verlag, Netherlands. d) Artikel dalam jurnal atau majalah Haylock, M. and J.L. McBridge. 2003. “Spatial coherence and predictability of Indonesian wet season rainfall”. Journal of Climate, 14. 3882-3887. e) Artikel dalam dokumen resmi KLH. 1997. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Kementrian Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Jakarta. f) Buku terjemahan Hempel, L.C. 1996. Pengelolaan Lingkungan: Tantangan Global. Terjemahan oleh Hardoyo dan Jacobs. 2005. Penerbit Kanisius, Yogyakarta. g) Skripsi, tesis, disertasi, laporan penelitian Rastina, I.K. 2004. Studi Kualitas Air Sungai Ho Kabupaten Tabanan, Bali. Tesis. Program Pascasarjana Universitas Udayana, Denpasar. h) Makalah seminar, lokakarya, penataran Waseso, M.G. 2001. “Isi dan Format Jurnal Ilmiah”. Makalah disajikan dalam Seminar Lokakarya Penulisan Artikel dan Pengelolaan Jurnal Ilmiah. Universitas Lambungmangkurat, Banjarmasin tanggal 9-11 Agustus 2001. i) Prosiding Franke, J. and D.D. Lichti. 2008. MillMapper – A Tool for Mill Liner Condition Monitoring and Mill Performance Optimization. Proceedings of the 40th Annual Meeting of the Canadian Mineral Processors. Ottawa-Canada, 22-24 January 2008. 391-400. j) Artikel dalam internet (bahan diskusi) USGS. 2010. Water Quality. http://ga.water.usgs.gov/edu/waterquality.html. diakses tanggal 15 Desember 2010. k) Artikel atau berita dalam koran Bagun, R. 31 Juli 2006. Identitas Budaya Terancam. KOMPAS, hlm 40. Nusa Bali, 31 Juli 2006. Mengukur Kedasyatan Tsunami di Laut Selatan Bali. Hlm. 1 & 11.