PROFESI KEPENDIDIKAN
Guru Sebagai Profesi
Diajukan Sebagai Tugas Pada Mata Kuliah Profesi Kependidikan
Zoni Erdiansyah
1102435
Pendidikan Teknik Otomotif
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2013
GURU SEBAGAI PROFESI
A. Hakekat dan martabat guru
Guru yang ideal dan profesional merupakan dambaan setiap insan
pendidikan, sebab dengan guru yang profesional diharapkan pendidikan
menjadi lebih berkualitas. Apabila penghargaan terhadap guru tersebut tidak
memadai, Maka harapan atau idealisme di atas, bukan merupakan pekerjaan
yang mudah. Hal ini berkaitan erat dengan penghargaan masyarakat atau
negara terhadap profesi guru. Negara-negara maju memberikan penghargaan
yang lebih kepada guru dibanding dengan Indonesia
B. Kompetensi guru
Inti dari pendidikan adalah interaksi antara pendidik (guru) dengan
peserta didik (murid) dalam mencapai tujuan-tujuan pendidikan. Pendidik,
peserta didik dan tujuan pendidikan adalah komponen-komponen pendidikan
yang esensial (utama). Ketiga komponen pendidikan ini membentuk suatu
segitiga, yaitu jika hilang salah satu komponennya, maka akan hilang hakekat
dari pendidikan itu. Sebagai pendidik, tugas guru pada dasarnya adalah
mendidik, yaitu membantu anak didik mengembangkan pribadinya,
memperluas pengetahuannya, dan melatih keterampilannya dalam berbagai
bidang. Untuk melaksanakan tugasnya ini dengan baik (efektif), ada sejumlah
kemampuan yang harus dimiliki oleh guru. Kemampuan yang harus dimiliki
guru itulah yang dengan disebut kompetensi guru.
Bermacam-macam rumusan tentang kompetensi guru telah
dikemukakan oleh para ahli. Raths (1964), mengemukakan 12 kompetensi
guru yang dikembangkan oleh guru, yaitu:
1. Explaining, informing, showing how
2. Instianting, directing, and administering
3. Unifying the group
4. Giving security
5. Claclarifyng attitude, beliefs
6. Diagnosing learning problem
7. Making kurikulum meterials
8. Evaluating, recording, reporting
9. Enriching community activies
10. Organizing and arranging classrum
11. Participating in school activies
12.Partisipatig in professional and civic life
Rumusan lain tentang kompetensi guru juga dikemukakan oleh para
ahli. Sabertian (1994), mengemukakan enam kompetensi guru yang
dikembangkan oleh California Council On Teacher Education, keenam
kompetensi tersebut adalah:
1. Mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan belajar siswa.
2. Membimbing siswa agar mereka mengerti diri mereka sendiri.
3. Menolong siswa mengerti dan mewujudkan nilai-nilai budhaya bangsa
sendiri.
4. Berpartisipasi secara efektif dalam segala kegiatan sekolah.
5. Membantu memelihara hubungan antara sekolah dan masyarakat.
6. Bekerja atas dasar tingkat profesional.
Selain dengan tiga kelompok kompetensi yang dikemukakan oleh Depdikbud,
Syah (1999), juga mengemukakan tiga macam kelompok kompetensi yang
harus dimiliki guru agar sukses dalam tugasnya. Ketiga macam kelompok
kompetensi ini adalah:
a. Kompetensi Kognitif (kecakapan ranah cipta)
Kompetensi ranah cipta ini, menurut Syah (1999), merupakan kompetensi
utama yang wajib harus dimiliki oleh setiap guru yang profesional.
Keterampilan ranah cipta ini meliputi dua katagori keterampilan, yaitu :
1) Kategori pengetahuan kependidikan umum, yang meliputi ilmu
pandidikan, ilmu psikologi pendidikan, administrasi pendidikan, dan
bimbingan konseling dan pengetahuan kependidikan khusus, meliputi
metode mengajar, metode khusus pengajaran materi tertentu dan
teknik evaluasi.
2) Kategori pengetahuan bidang studi, yaitu menguasai materi-materi
dari mata pelajaran yang akan diajarkan kepada siswanya. Penguasaan
guru akan materi-materi yang akan diajarkan mutlak diperlukan. Dan
seyogyanya penguasaan materi tersebut dikaitkan langsung dengan
pengetahuan khusus terutama tentang metode khusus danpraktek
keguruan.
b. Kompetensi Afektif (kecakapan ranah rasa)
Kompetensi ranah afektif ini, menurut syah (1999), meliputi seluruh
fenomena perasaan dan emosi seperti cinta, benci, senang, sedih, dan
sikap-sikap tertantu kepada diri sendiri dan orang lain. Sikap dan perasaan
diri ini meliputi :
1) Self-Concept dan self-esteem (konsep diri dan harga diri). Guru yang
efektif dalah guru yang memiliki Self-Concept dan self-esteem tinggi.
2) Self-efficacy dan contextual efficacy (efikasi diri dan efikasi
kontekstual guru) efikasi guru adalah keyakinan guru terhadap
keefektifan kemampuannya sendiri dalam membangkitkan gairah dan
kegiatan para siswanya. Sedangkan efikasi kontekstual atau efikasi
mengajar adalah keyakinan guru terhadap kemampuannya sendiri
dalam membangkitkan gairah dan kegiatan para siswanya. Sedangkan
efikasi kontekstual atau efikasi mengajar adalah keyakinan guru
terhadap kemampuannya sebagai pengajar profesional dalam
menyajikan materi didepan kelas dan juga dalam mendayagunakan
keterbatasan ruang dan waktu serta peralatan yang berhubungan
dengan proses belajar mengajar.
3) Attitude of self-accepiance and others acceplance (sikap terhadap
penerimaan diri sendiri dan orang lain). Guru yang efektif adalah guru
yang mempunyai sikap penerimaan atau sikap positif terhadap diri
sendiri. Dengan sikap penerimaan dan sikap positif terhadap diri
sendiri, maka akan mudah bagi guru untuk bersikap positif, dan bisa
memahami dan bisa menerima orang lain, khususnya anak didiknya.
c. Kompetensi Psikomotor (kecakapan ranah karsa)
Menurut Syah (1999), kompetensi psikomotor guru meliputi segala
keterampilan atau kecakapan yang bersifat jasmaniah yang berhubungan
dengan pelaksanaan tugasnya sebagai guru. Secara garis besar,
kompetensi ranah karsa ini meliputi :
1) Kecakapan fisik umum, seperti : duduk, berdiri, berjalan, berjabat
tangan dan sebagainya yang berhubungan langsung dengan aktifitas
mengajar.
2) Kecakapan fisik khusus, seperti : keterampilan ekspresi verbal
(berbicara) dan non verbal (contohnya : menulis, memperagakan
proses terjadinya sesuatu, dan memperagakan prosedur melakukan
praktis tertentu sesuai dengan perjalanan verbal).
C. Organisasi Profesional Guru
1. Fungsi Organisasi Profesional Keguruan
Sebagai telah disebutkan bahwa salah satu kriteria jabatan profesional
adalah jabatan profesi harus mempunyai wadah untuk mnyatukan gerak
langkah untuk mengendalikan keseluruhan profesi, yakni organisasi
profesi. Bagi guru-guru di negara kita, wadah ini telah ada yakni Persatuan
Guru Republik Indonesia, lebih dikenal dengan singkatan PGRI. Didirikan
di Surakarta tanggal 25 November 1945. Salah satu tujuan dari PGRI
adalah mempertinggi kesadaran, sikap, mutu, dan kegiatan profesi guru
serta meningkatkan kesejahteraan mereka (Basuni,1986) selain itu basuni
juga menguraikan misi utama PGRI yaitu:
a) Misi politis,/ideologis
b) Misi persatuan/organisatoris
c) Misi profesi
d) Misi kesejahteraan
2. Jenis-jenis organisasi keguruan
Disamping PGRI sebagai satu-satunya organisasi guru-guru sekolah yang
diakui pemerintah saat ini, ada organisasi sekolah yang disebut
Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), yang didirikan atas anjuran
pejabat-pejabat pada Departemen Pendidikan Nasional. Selain dari pada
organisasi tersebut juga ada organisasi resmi di bidang pendidikan, yakni
Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) yang saat ini mempunyai
devisi-devisi, antara lain Asosiasi Bimbingan Dan Konseling Indonesia
(ABKIN), Himpunan Administrasi Pendidikan Indonesia (HISAPIN),
Himpunan Sarjana Bahasa Indonesia (HSPBI) dan lain-lain.
D. Kode Etik Guru
1. Pengertian Kode Etik
Setiap profesi mempunyai kode etik, guru sebagai jabatan profesi juga
mempunyai kode etik. Sama halnya dengan kata profesi, penafsiran tentang
kode etik juga belum memiliki pengertian yang sama. Kode etik suatu
profesi adalah norma-norma yang harus diindahkan oleh setiap anggota
profesi dalam melaksanakan tugas profesinya dan dalam hidupnya
dimasyarakat. Norma-norma tersebut memberikan petunjuk bagi anggota
profesi tantang bagaimana mereka melaksanakan profesinya, dan larangan-
larangan, yaitu ketentuan-ketentuan apa yang boleh dan apa yang tidak
boleh diperbuat atau dilaksanakan oleh mereka tidak sajadalam
melaksanakan tugas profesi mereka, melainkan juga menyangkut tingkah
laku mereka pada umumnya dalam pergaulan sehari-hari di masyarakat
2. Tujuan Kode Etik
Menurut Hermawan (1989) tujuan adanya kode etik adalah sebagai berikut:
a) Untuk menjunjung tinggi martabat profesi.
b) Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggotanya.
c) Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi.
d) Untuk meningkatkan mutu profesi.
e) Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi.
3. Sanksi Pelanggaran Kode Etik
Sanksi yang didapat oleh sesorag yang melanggar kode adalah sanksi moral
yang berupa celaan dari rekan-rekannya, dan sanksi yang dianggap terberat
adalah si pelanggar dikeluarkan dari organisasi profesi
Kode Etik Guru Indonesia
Persatuan Guru Republik Indonesia menyadari bahwa Pendidikan adalah
merupakan suatu bidang Pengabdian terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Bangsa
dan Tanah Air serta kemanusiaan pada umumnya. Guru Indonesia yang
berjiwa Pancasila dan Undang –Undang Dasar 1945 . Maka Guru Indonesia
terpanggil untuk menunaikan karyanya sebagai Guru dengan mempedomani
dasar –dasar sebagai berikut :
1. Guru berbakti membimbing anak didik seutuhnya untuk membentuk
manusia pembangun yang berjiwa Pancasila
2. Guru memiliki kejujuran Profesional dalam menerapkan Kurikulum sesuai
dengan kebutuhan anak didik masing –masing .
3. Guru mengadakan komunikasi terutama dalam memperoleh informasi
tentang anak didik , tetapi menghindarkan diri dari segala bentuk
penyalahgunaan .
4. Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah dan memelihara hubungan
dengan orang tua murid sebaik –baiknya bagi kepentingan anak didik
5. Guru memelihara hubungan dengan masyarakat disekitar sekolahnya
maupun masyarakat yang luas untuk kepentingan pendidikan .
6. Guru secara sendiri – sendiri dan atau bersama – sama berusaha
mengembangkan dan meningkatkan mutu Profesinya .
7. Guru menciptakan dan memelihara hubungan antara sesama guru baik
berdasarkan lingkungan maupun didalam hubungan keseluruhan .
8. Guru bersama –sama memelihara membina dan meningkatkan mutu
Organisasi Guru Profesional sebagai sarana pengapdiannya.
9. Guru melaksanakan segala ketentuan yang merupakan kebijaksanaan
Pemerintah dalam bidang Pendidikan.
E. Sikap Professional Guru
Guru merupakan pendidik yang profesional mempunyai citra yang
baik di masyarakat apabila dapat menunjukkan kepada masyarakat apabila ia
layak menjadi panutan atau teladan bagi masyarakat sekelilingnya. Masyarakat
terutama akan melihat sikap dan perbuatan guru itu sehari-hari, apakah patut
diteladani atau tidak. Bagaimana guru meningkatkan pelayanannya dan
pengetahuannya, memberi arahan dan dorongan kepada anak didiknya, dan
bahkan bagaimana cara guru berpakaian, bergaul dengan siswa, teman-
temannya, serta anggota masyarakat, serta menjadi perhatian masyarakat.
Walaupun segala peilaku guru selalu diperhatikan oleh masyarakat,
tetapi yang akan dibicarakan dalam bagian ini adalah khusus prilaku guru yang
berhubungan daengan profesinya. Hal ini berhubungan denga bagaimana polah
tingkah laku guru dalam memahami, menghayati, serta mengamalkan sikap
kemampuan dan sikap profesionalnya. Yakni sikap sikap profesional keguruan
terhadap :
1. Sikap terhadap peratuan perundang-undangan
Pada butir 9 kode etik guru Indonesia disebutkan bahwa: Guru
melakanakan segala kebijakan pemerintuah untuk bidang pendidikan.”
Kebijakan pendidikan di Negara kita dipegang oleh pemerintah, dalam hal
ini oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.denga mengeluarkan
ketentuan – ketentuan dan peraturan perauran yang merupakan kebijakan
yang akan dilaksanakan oleh apratnya.
2. Sikap terhadap orgaisasi profesi
Guru bersama – sama memelihara dan meningkatkan mutu organisasi
PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdian. PGRI sebagai organisasi
profesi memerlukan pembinaan agar lebih berdaya guna dan berhasil
sebagai wadah untuk membawakan misi dan memantapkan profesi guru.
Maka dari itu setiap orang harus memberikan waktu sebagiannya untuk
kepentingan pembinaan profesinya dan semua waktu dan tenaga yang
diberikan oleh para anggota ini dikoordinasikan oleh para pejabat
organisasi tersebut, sehingga pemanfaatannya mnjadi efektif dan efisien
3. Sikap terhadap teman sejawat
Dalam ayat 7 kode etik gutu disebutkan bahwa guru memelihara hubungan
seprofesi, semangat kekeluargaan, dan kesetiakawanan social. Itu berarti
guru hendaknya kerja dan hendaknya menciptakan dan memelihara
semangat kekeluargaan didalam maupun diluar sekolah.
4. Sikap terhadap anak didik
Telah dijelaskan bahwa guru berbakti membimbing peserta didik untuk
membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa Pancasila. Tujuan
pendidikan nasional dengan jelas dapat dibaca dalam UU No. 2/2989
tentang Sistem Pendidikan Nasional yakni membentuk manusia Indonesia
seutuhnya yang berjiwa Pancasila
5. Sikap terhadap tempat kerja
Suasana yang harmonis disekolah tidak akan terjadi bila personal yang
terlibat didalamnya tidak menjalin hubungan yang baik diantara
sesamanya. Penciptaan suasana kerja menantang harus dilengkapi denagn
terjalinnya hubungan yang baik denagn orang tua dan masyarakat
sekitarnya. Ini dimaksudnya untuk membina peras serta rasa tanggung
jawab bersama terhadap pendidikan
6. Sikap terhadap pemimpin
Dalam kerja sama yang dituntut pemimpin tersebut diberikan berupaya
tuntutan akan kepatuhan dalam melaksanakan arahan dan petunjuk yang
diberikan mereka. Kerja sama juga dapat diberikan dalam bentuk usulan
dan kritis yang membangun demi pencapaian tujuan yang telah digariskan
bahwa sikap seorang guru terhadap pemimpin harus positif, dalam
pengertian harus bekerja sama dalam mensukseskan program yang sudah
disepakati, baik di sekolah maupun diluar sekolah.
7. Sikap terhadap pekerjaan
Kode etik 6 dituntut guru baik secara pribadi maupun secara kelompok
untuk meningkatkan mutu pribadi maupun kelompok untuk selalu
meningkatkan mutu dan martabat profesinya. Profesi guru berhubungan
denagn anak didik yang mempunyai persamaan dan perbedaan yang
melayaninya harus memerlukan kesabaran dan ketelatenan yang tinggi,
terutama bila berhubungan denagn peserta didik yang masih kecil.

Zoni erdiansyah.1102435

  • 1.
    PROFESI KEPENDIDIKAN Guru SebagaiProfesi Diajukan Sebagai Tugas Pada Mata Kuliah Profesi Kependidikan Zoni Erdiansyah 1102435 Pendidikan Teknik Otomotif FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI PADANG 2013
  • 2.
    GURU SEBAGAI PROFESI A.Hakekat dan martabat guru Guru yang ideal dan profesional merupakan dambaan setiap insan pendidikan, sebab dengan guru yang profesional diharapkan pendidikan menjadi lebih berkualitas. Apabila penghargaan terhadap guru tersebut tidak memadai, Maka harapan atau idealisme di atas, bukan merupakan pekerjaan yang mudah. Hal ini berkaitan erat dengan penghargaan masyarakat atau negara terhadap profesi guru. Negara-negara maju memberikan penghargaan yang lebih kepada guru dibanding dengan Indonesia B. Kompetensi guru Inti dari pendidikan adalah interaksi antara pendidik (guru) dengan peserta didik (murid) dalam mencapai tujuan-tujuan pendidikan. Pendidik, peserta didik dan tujuan pendidikan adalah komponen-komponen pendidikan yang esensial (utama). Ketiga komponen pendidikan ini membentuk suatu segitiga, yaitu jika hilang salah satu komponennya, maka akan hilang hakekat dari pendidikan itu. Sebagai pendidik, tugas guru pada dasarnya adalah mendidik, yaitu membantu anak didik mengembangkan pribadinya, memperluas pengetahuannya, dan melatih keterampilannya dalam berbagai bidang. Untuk melaksanakan tugasnya ini dengan baik (efektif), ada sejumlah kemampuan yang harus dimiliki oleh guru. Kemampuan yang harus dimiliki guru itulah yang dengan disebut kompetensi guru. Bermacam-macam rumusan tentang kompetensi guru telah dikemukakan oleh para ahli. Raths (1964), mengemukakan 12 kompetensi guru yang dikembangkan oleh guru, yaitu: 1. Explaining, informing, showing how 2. Instianting, directing, and administering 3. Unifying the group 4. Giving security
  • 3.
    5. Claclarifyng attitude,beliefs 6. Diagnosing learning problem 7. Making kurikulum meterials 8. Evaluating, recording, reporting 9. Enriching community activies 10. Organizing and arranging classrum 11. Participating in school activies 12.Partisipatig in professional and civic life Rumusan lain tentang kompetensi guru juga dikemukakan oleh para ahli. Sabertian (1994), mengemukakan enam kompetensi guru yang dikembangkan oleh California Council On Teacher Education, keenam kompetensi tersebut adalah: 1. Mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan belajar siswa. 2. Membimbing siswa agar mereka mengerti diri mereka sendiri. 3. Menolong siswa mengerti dan mewujudkan nilai-nilai budhaya bangsa sendiri. 4. Berpartisipasi secara efektif dalam segala kegiatan sekolah. 5. Membantu memelihara hubungan antara sekolah dan masyarakat. 6. Bekerja atas dasar tingkat profesional. Selain dengan tiga kelompok kompetensi yang dikemukakan oleh Depdikbud, Syah (1999), juga mengemukakan tiga macam kelompok kompetensi yang harus dimiliki guru agar sukses dalam tugasnya. Ketiga macam kelompok kompetensi ini adalah: a. Kompetensi Kognitif (kecakapan ranah cipta) Kompetensi ranah cipta ini, menurut Syah (1999), merupakan kompetensi utama yang wajib harus dimiliki oleh setiap guru yang profesional. Keterampilan ranah cipta ini meliputi dua katagori keterampilan, yaitu :
  • 4.
    1) Kategori pengetahuankependidikan umum, yang meliputi ilmu pandidikan, ilmu psikologi pendidikan, administrasi pendidikan, dan bimbingan konseling dan pengetahuan kependidikan khusus, meliputi metode mengajar, metode khusus pengajaran materi tertentu dan teknik evaluasi. 2) Kategori pengetahuan bidang studi, yaitu menguasai materi-materi dari mata pelajaran yang akan diajarkan kepada siswanya. Penguasaan guru akan materi-materi yang akan diajarkan mutlak diperlukan. Dan seyogyanya penguasaan materi tersebut dikaitkan langsung dengan pengetahuan khusus terutama tentang metode khusus danpraktek keguruan. b. Kompetensi Afektif (kecakapan ranah rasa) Kompetensi ranah afektif ini, menurut syah (1999), meliputi seluruh fenomena perasaan dan emosi seperti cinta, benci, senang, sedih, dan sikap-sikap tertantu kepada diri sendiri dan orang lain. Sikap dan perasaan diri ini meliputi : 1) Self-Concept dan self-esteem (konsep diri dan harga diri). Guru yang efektif dalah guru yang memiliki Self-Concept dan self-esteem tinggi. 2) Self-efficacy dan contextual efficacy (efikasi diri dan efikasi kontekstual guru) efikasi guru adalah keyakinan guru terhadap keefektifan kemampuannya sendiri dalam membangkitkan gairah dan kegiatan para siswanya. Sedangkan efikasi kontekstual atau efikasi mengajar adalah keyakinan guru terhadap kemampuannya sendiri dalam membangkitkan gairah dan kegiatan para siswanya. Sedangkan efikasi kontekstual atau efikasi mengajar adalah keyakinan guru terhadap kemampuannya sebagai pengajar profesional dalam menyajikan materi didepan kelas dan juga dalam mendayagunakan keterbatasan ruang dan waktu serta peralatan yang berhubungan dengan proses belajar mengajar.
  • 5.
    3) Attitude ofself-accepiance and others acceplance (sikap terhadap penerimaan diri sendiri dan orang lain). Guru yang efektif adalah guru yang mempunyai sikap penerimaan atau sikap positif terhadap diri sendiri. Dengan sikap penerimaan dan sikap positif terhadap diri sendiri, maka akan mudah bagi guru untuk bersikap positif, dan bisa memahami dan bisa menerima orang lain, khususnya anak didiknya. c. Kompetensi Psikomotor (kecakapan ranah karsa) Menurut Syah (1999), kompetensi psikomotor guru meliputi segala keterampilan atau kecakapan yang bersifat jasmaniah yang berhubungan dengan pelaksanaan tugasnya sebagai guru. Secara garis besar, kompetensi ranah karsa ini meliputi : 1) Kecakapan fisik umum, seperti : duduk, berdiri, berjalan, berjabat tangan dan sebagainya yang berhubungan langsung dengan aktifitas mengajar. 2) Kecakapan fisik khusus, seperti : keterampilan ekspresi verbal (berbicara) dan non verbal (contohnya : menulis, memperagakan proses terjadinya sesuatu, dan memperagakan prosedur melakukan praktis tertentu sesuai dengan perjalanan verbal). C. Organisasi Profesional Guru 1. Fungsi Organisasi Profesional Keguruan Sebagai telah disebutkan bahwa salah satu kriteria jabatan profesional adalah jabatan profesi harus mempunyai wadah untuk mnyatukan gerak langkah untuk mengendalikan keseluruhan profesi, yakni organisasi profesi. Bagi guru-guru di negara kita, wadah ini telah ada yakni Persatuan Guru Republik Indonesia, lebih dikenal dengan singkatan PGRI. Didirikan di Surakarta tanggal 25 November 1945. Salah satu tujuan dari PGRI adalah mempertinggi kesadaran, sikap, mutu, dan kegiatan profesi guru serta meningkatkan kesejahteraan mereka (Basuni,1986) selain itu basuni juga menguraikan misi utama PGRI yaitu:
  • 6.
    a) Misi politis,/ideologis b)Misi persatuan/organisatoris c) Misi profesi d) Misi kesejahteraan 2. Jenis-jenis organisasi keguruan Disamping PGRI sebagai satu-satunya organisasi guru-guru sekolah yang diakui pemerintah saat ini, ada organisasi sekolah yang disebut Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), yang didirikan atas anjuran pejabat-pejabat pada Departemen Pendidikan Nasional. Selain dari pada organisasi tersebut juga ada organisasi resmi di bidang pendidikan, yakni Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) yang saat ini mempunyai devisi-devisi, antara lain Asosiasi Bimbingan Dan Konseling Indonesia (ABKIN), Himpunan Administrasi Pendidikan Indonesia (HISAPIN), Himpunan Sarjana Bahasa Indonesia (HSPBI) dan lain-lain. D. Kode Etik Guru 1. Pengertian Kode Etik Setiap profesi mempunyai kode etik, guru sebagai jabatan profesi juga mempunyai kode etik. Sama halnya dengan kata profesi, penafsiran tentang kode etik juga belum memiliki pengertian yang sama. Kode etik suatu profesi adalah norma-norma yang harus diindahkan oleh setiap anggota profesi dalam melaksanakan tugas profesinya dan dalam hidupnya dimasyarakat. Norma-norma tersebut memberikan petunjuk bagi anggota profesi tantang bagaimana mereka melaksanakan profesinya, dan larangan- larangan, yaitu ketentuan-ketentuan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh diperbuat atau dilaksanakan oleh mereka tidak sajadalam melaksanakan tugas profesi mereka, melainkan juga menyangkut tingkah laku mereka pada umumnya dalam pergaulan sehari-hari di masyarakat 2. Tujuan Kode Etik
  • 7.
    Menurut Hermawan (1989)tujuan adanya kode etik adalah sebagai berikut: a) Untuk menjunjung tinggi martabat profesi. b) Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggotanya. c) Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi. d) Untuk meningkatkan mutu profesi. e) Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi. 3. Sanksi Pelanggaran Kode Etik Sanksi yang didapat oleh sesorag yang melanggar kode adalah sanksi moral yang berupa celaan dari rekan-rekannya, dan sanksi yang dianggap terberat adalah si pelanggar dikeluarkan dari organisasi profesi Kode Etik Guru Indonesia Persatuan Guru Republik Indonesia menyadari bahwa Pendidikan adalah merupakan suatu bidang Pengabdian terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Bangsa dan Tanah Air serta kemanusiaan pada umumnya. Guru Indonesia yang berjiwa Pancasila dan Undang –Undang Dasar 1945 . Maka Guru Indonesia terpanggil untuk menunaikan karyanya sebagai Guru dengan mempedomani dasar –dasar sebagai berikut : 1. Guru berbakti membimbing anak didik seutuhnya untuk membentuk manusia pembangun yang berjiwa Pancasila 2. Guru memiliki kejujuran Profesional dalam menerapkan Kurikulum sesuai dengan kebutuhan anak didik masing –masing . 3. Guru mengadakan komunikasi terutama dalam memperoleh informasi tentang anak didik , tetapi menghindarkan diri dari segala bentuk penyalahgunaan . 4. Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah dan memelihara hubungan dengan orang tua murid sebaik –baiknya bagi kepentingan anak didik 5. Guru memelihara hubungan dengan masyarakat disekitar sekolahnya maupun masyarakat yang luas untuk kepentingan pendidikan .
  • 8.
    6. Guru secarasendiri – sendiri dan atau bersama – sama berusaha mengembangkan dan meningkatkan mutu Profesinya . 7. Guru menciptakan dan memelihara hubungan antara sesama guru baik berdasarkan lingkungan maupun didalam hubungan keseluruhan . 8. Guru bersama –sama memelihara membina dan meningkatkan mutu Organisasi Guru Profesional sebagai sarana pengapdiannya. 9. Guru melaksanakan segala ketentuan yang merupakan kebijaksanaan Pemerintah dalam bidang Pendidikan. E. Sikap Professional Guru Guru merupakan pendidik yang profesional mempunyai citra yang baik di masyarakat apabila dapat menunjukkan kepada masyarakat apabila ia layak menjadi panutan atau teladan bagi masyarakat sekelilingnya. Masyarakat terutama akan melihat sikap dan perbuatan guru itu sehari-hari, apakah patut diteladani atau tidak. Bagaimana guru meningkatkan pelayanannya dan pengetahuannya, memberi arahan dan dorongan kepada anak didiknya, dan bahkan bagaimana cara guru berpakaian, bergaul dengan siswa, teman- temannya, serta anggota masyarakat, serta menjadi perhatian masyarakat. Walaupun segala peilaku guru selalu diperhatikan oleh masyarakat, tetapi yang akan dibicarakan dalam bagian ini adalah khusus prilaku guru yang berhubungan daengan profesinya. Hal ini berhubungan denga bagaimana polah tingkah laku guru dalam memahami, menghayati, serta mengamalkan sikap kemampuan dan sikap profesionalnya. Yakni sikap sikap profesional keguruan terhadap : 1. Sikap terhadap peratuan perundang-undangan Pada butir 9 kode etik guru Indonesia disebutkan bahwa: Guru melakanakan segala kebijakan pemerintuah untuk bidang pendidikan.” Kebijakan pendidikan di Negara kita dipegang oleh pemerintah, dalam hal ini oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.denga mengeluarkan ketentuan – ketentuan dan peraturan perauran yang merupakan kebijakan yang akan dilaksanakan oleh apratnya.
  • 9.
    2. Sikap terhadaporgaisasi profesi Guru bersama – sama memelihara dan meningkatkan mutu organisasi PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdian. PGRI sebagai organisasi profesi memerlukan pembinaan agar lebih berdaya guna dan berhasil sebagai wadah untuk membawakan misi dan memantapkan profesi guru. Maka dari itu setiap orang harus memberikan waktu sebagiannya untuk kepentingan pembinaan profesinya dan semua waktu dan tenaga yang diberikan oleh para anggota ini dikoordinasikan oleh para pejabat organisasi tersebut, sehingga pemanfaatannya mnjadi efektif dan efisien 3. Sikap terhadap teman sejawat Dalam ayat 7 kode etik gutu disebutkan bahwa guru memelihara hubungan seprofesi, semangat kekeluargaan, dan kesetiakawanan social. Itu berarti guru hendaknya kerja dan hendaknya menciptakan dan memelihara semangat kekeluargaan didalam maupun diluar sekolah. 4. Sikap terhadap anak didik Telah dijelaskan bahwa guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa Pancasila. Tujuan pendidikan nasional dengan jelas dapat dibaca dalam UU No. 2/2989 tentang Sistem Pendidikan Nasional yakni membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa Pancasila 5. Sikap terhadap tempat kerja Suasana yang harmonis disekolah tidak akan terjadi bila personal yang terlibat didalamnya tidak menjalin hubungan yang baik diantara sesamanya. Penciptaan suasana kerja menantang harus dilengkapi denagn terjalinnya hubungan yang baik denagn orang tua dan masyarakat sekitarnya. Ini dimaksudnya untuk membina peras serta rasa tanggung jawab bersama terhadap pendidikan 6. Sikap terhadap pemimpin Dalam kerja sama yang dituntut pemimpin tersebut diberikan berupaya tuntutan akan kepatuhan dalam melaksanakan arahan dan petunjuk yang diberikan mereka. Kerja sama juga dapat diberikan dalam bentuk usulan
  • 10.
    dan kritis yangmembangun demi pencapaian tujuan yang telah digariskan bahwa sikap seorang guru terhadap pemimpin harus positif, dalam pengertian harus bekerja sama dalam mensukseskan program yang sudah disepakati, baik di sekolah maupun diluar sekolah. 7. Sikap terhadap pekerjaan Kode etik 6 dituntut guru baik secara pribadi maupun secara kelompok untuk meningkatkan mutu pribadi maupun kelompok untuk selalu meningkatkan mutu dan martabat profesinya. Profesi guru berhubungan denagn anak didik yang mempunyai persamaan dan perbedaan yang melayaninya harus memerlukan kesabaran dan ketelatenan yang tinggi, terutama bila berhubungan denagn peserta didik yang masih kecil.