BAB I

                                 PENDAHULUAN




1.1 Latar Belakang

       Guru adalah salah satu unsur manusia dalam proses pendidikan. Dalam proses
pendidikan di sekolah, guru memegang tugas ganda yaitu sebagai pengajar dan
pendidik. Sebagai pengajar guru bertugas menuangkan sejumlah bahan pelajaran ke
dalam otak anak didik, sedangkan sebagai pendidik guru bertugas membimbing dan
membina anak didik agar menjadi manusia susila yang cakap, aktif, kreatif, dan
mandiri. Oleh sebab itu, tugas yang berat dari seorang guru ini pada dasarnya hanya
dapat dilaksanakan oleh guru yang memiliki kompetensi profesional yang tinggi. Untuk
itu profesionalisme para guru hendaknya lebih ditingkatkan lagi, dari masalah inilah
maka kami mengangkat tema ini sebagai bahan makalah kami.



1.2 Rumusan Masalah
    1.2.1 Apa, Mengapa, dan Bagaiamana Pekerjaan Profesi ?
    1.2.2 Bagaimanakah Pengertian dan Ciri-ciri Profesi Keguruan ?


1.3 Tujuan
    1.3.1 Mengetahui tentang Pekerjaan Profesi
    1.3.2 Mengetahui yang dimaksud dengan Profesi Keguruan beserta ciri-cirinya




                                                                                  1
BAB II

                                       PEMBAHASAN




2.1 Apa, Mengapa, dan Bagaiamana Pekerjaan Profesi

        Profesi adalah suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian (expertise)
dari para anggotanya. Artinya, tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang yang tidak
terlatih dan tidak disiapkan secara khusus untuk melakukan pekerjaan itu. Keahlian
diperoleh melaluia apa yang disebut profesionalisasi, yang dilakukan baik sebelum
seseorang menjalani profesi itu maupun setelah menjalani suatu profesi (inservice
training). Ada beberapa istilah lain yang dikembangkan yang bersumber dari istilah
“profesi”    yaitu    istilah   professional,   profesionalisme,   profesionalitas,   dan
profesionaloisasi secara tepat, berikut ini akan diberikan pengkelasan singkat mengeni
pengertian istilah-istilah tersebut.

        “Profesional” mempunyai makna yang mengacu kepada sebutan tentang orang
yang menyandang suatu profesi dan sebutan tentang penampilan seseorang dalam
mewujudkan unjuk kerja sesuai dengn profesinya. Penyandangan dan penampilan
“professional” ini telah mendapat pengakuan, baik segara formal maupun informal.
Pengakuan secara formal diberikan oleh suatu badan atau lembaga yang mempunyai
kewenangan untuk itu, yaitu pemerintah dan atau organisasi profesi. Sedang secara
informal pengakuan itu diberikan oleh masyarakat luas dan para pengguna jasa suatu
profesi.

        “Profesionalisme” adalah sebutan yang mengacu kepada sikap mental dalam
bentuk komitmen dari para anggota suatu profesi untuk senantiasa mewujudkan dan
meningkatkan kualitas profesionalnya.

        “Profesionalitas” adalah sutu sebutan terhadap kualitas sikap para anggota suatu
profesi terhadap profesinya serta derajat pengetahuan dan keahlian yang mereka miliki
untuk dapat melakukan tugas-tugasnya. Dengan demikian, sebutan profesionalitas lebih
menggambarkan suatu “keadaan” derajat keprofesian seseorang dilihat dari sikap,
pengetahuan, dan keahlian yang diperlukan untuk melaksanakan tugasnya.


                                                                                        2
“Profesionalisasi” pada dasarnya adalah serangkaian proses pengembangan
profesional, baik dilakukan melalui pendidikan/latihan. Profesionalisasi adalah sutu
proses menuju kepada perwujudan dan peningkatan profesi dalam mencapai suatu
kriteria yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Oleh karena itu
profesionalisasi merupakan proses sepanjang hayat dan tidak pernah berakhir, selama
seseorang telah menyatakan dirinya sebagai warga suatu profesi.

       Dari definisi yang telah dikemukakan, dapat diangkat beberapa kriteria untuk
menentukan ciri-ciri suatu profesi, yaitu sebagai berikut :

   1. Memiliki standar kerja yang baku atau dengan kata lain memiliki aturan yang
       jelas tentang hal yang dikerjakan.
   2. Anggota profesinya memperoleh pendidikan tinggi yang memberikan dasar
       pengetahuan yang bertanggung jawab
   3. Memiliki lembaga pendidikan khusus yang menghasilkan tenaga profesi yang
       dibutuhkan.
   4. Memiliki organisasi profesi yang memperjuangkan hak – hak anggotanya, serta
       bertanggung jawab untuk meningkatkan profesi yang bersangkutan.
   5. Adanya pengakuan yang layak dari masyarakat
   6. Adanya sistem imbalan yang memadai sehingga anggota profesi dapat hidup
       dari profesinya.
   7. Memiliki kode etik yang mengatur setiap anggota profesi

       Sekarang ini, masyarakat menginginkan semua pelayanan yang diberikannya
adalah yang terbaik. Tuntutan – tuntutan masyarakat inilah yang membuat setiap profesi
untuk dapat memberikan pelayanan yang terbaik. Setiap anggota profesi baik secara
sendiri – sendiri atau dengan cara bersama melalui wadah organisasi profesi dapat
belajar. Belajar yang dimaksud, yaitu belajar untuk mendalami pekerjaan yang sedang
disandangnya dan belajar dari masyarakat apa yang menjadi kebutuhan mereka saat ini
dan saat yang akan datang. Telah dikemukakan pula diawal bahwa profesionalisasi
adalah usaha untuk mengembangkan profesi melalui pendidikan prajabatan dan
pendidikan dalam jabatan, sehingga pelayanan kepada pemakai (klien) akan semakin
meningkat.




                                                                                    3
2.2 Pengertian dan Ciri-ciri Profesi Keguruan

       Pada dasarnya guru belum sepenuhnya dapat dikategorikan sebagai suatu profesi
yang utuh, dan bahkan banyak orang berpendapat bahwa guru hanya jabatan
semiprofesional atau profesi yang baru muncul karena belum semua ciri – ciri di atas
yang dapat dipenuhi. Guru seharusnya dilihat sebagai profesi yang baru muncul, dan
karena itu mempunyai status yang lebih tinggi dari jabatan semiprofesional bahkan
mendekati jabatan profesi penuh. Profesi kependidikan khususnya profesi keguruan
mempunyai tugas utama yaitu melayani masyarakat dalam dunia pendidikan. Sejalan
dengan alasan tersebut jelas kiranya bahwa profesionalisasi dalam bidang keguruan
mengandung arti peningkatan segala daya dan usaha dalam rangka pencapaian secara
optimal layanan yang akan diberikan kepada masyarakat.

       Dalam pendidikan diperlukan adanya profesionalisasi. Sanusi et. al. (1991:23)
mengajukan enam asumsi yang melandasi perlunya profesionalisasi dalam pendidikan,
yakni sebagai berikut :

   1. Subjek pendidikan adalah manusia yang memiliki kemauan, pengetahuan,
       emosi, dan perasaan dan dapat dikembangkan sesuai dengan potensinya;
       sementara itu pendidikan dilandasi oleh nilai – nilai kemanusiaaan yang
       menghargai martabat manusia.
   2. Pendidikan dilakukan secara internasional, yaknin secara sadar bertujuan, maka
       pendidikan menjadi normatif yang didikat oleh norma – norma dan nilai – nilai
       yang baik secara universal, nasional, maupun lokal, yang merupakan acuan para
       pendidik, peserta didik dan pengelola pendidikan.
   3. Teori – teori pendidikan merupakan jawaban kerangka hipotesis dalam
       menjawab permasalahan pendidikan.
   4. Pendidikan bertolak dari asumsi pokok tentang manusia, yakni manusia
       mempunyai potensi yang baik untuk berkembang. Oleh sebab itu, pendidikan itu
       adalah usaha untuk mengembangkan potensi unggul tersebut.
   5. Inti pendidikan terjadi dalam prosesnya, yakni situasi dimana terjadi dialog
       antara peserta didik dengan pendidik yang memungkinkan peserta didik tumbuh
       kearah yang dikehendaki oleh pendidik agar selaras dengan nilai – nilai yang
       dijunjung tinggi masyarakat.


                                                                                  4
6. Seiring terjadinya dilema antara tujuan utama pendidikannya, yaitu menjadikan
       manusia sebagai manusia yang baik (dimensi intrinsik) dengan misi instrumental
       yakni yang merupakan alat untuk perubahan atau mencapai sesuatu.

       Dalam keseluruhan perangkat tenaga penggerak di sektor pendidikan,
nampaknya tenaga pelaksana umumnya, dan guru pada khususnya merupakan salah satu
mata rantai yang cukup lemah. Di banyak tempat, kita masih menemukan guru berada
didalam situasi yang kurang menguntungkan untuk melaksanakan tugas yang
dibebankan kepadanya. Hal ini akan bertambah lebih berat dan kompleks, bilamana
dihadapkan lagi dengan kemajuan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tetapi
dengan dukungan fasilitas yang minim dan dengan iklim kerja yang tidak
menyenangkan. Selain itu beban guru ditambah lagi dengan berbagai tugas non-
mengajar yang banyak menyita waktu dan tenaga para guru.

       Pendidikan yang baik, sebagaimana yang diharapkan oleh masyarakat modern
dewasa ini dan sifatnya yang selalu menantang, mengharuskan adanya pendidik yang
baik. Hal ini berarti bahwa di masyarakat diperlukan pemimpin yang baik, di rumah
diperlukan orang tua yang baik, dan di sekolah diperlukan guru yang baik. Akan tetapi
dengan ketiadaan pegangan tentang persyaratan pendidikan profesional maka hal ini
menyebabkan timbulnya bermacam – macam tafsiran orang tentang arti guru yang baik,
tegasnya guru yang profesional. Berbagai masalah diatas seperti tuntutan akan
perkembangan ilmu, sikap masyarakat terhadap guru, fasilitas yang kurang memadai,
dsb, namun ada hal yang memerlukan perhatian khusus, yaitu disiplin.

       Berdasarkan uraian diatas maka dapat dikemukakan bahwa dalam mencari
jawaban tentang apa dan siapa itu guru yang baik memerlukan suatu tinjauan yang luas
serta melingkupi berbagai segi. Sesudah itu barulah disimpulkan profil guru yang
bagaimana yang dikehendaki. Jawabannya adalah guru yang profesional yang memiliki
kemampuan profesional, personal dan sosial.

       Guru yang professional harus memiliki kompetensi berikut ini.

   1. Kompetensi professional, artinya ia memiliki pengetahuan yang luas serta dalam
       dari subjek matter yang akan diajarkan serta serta penguasaan metodologis
       dalam arti memiliki pengetahuan konsep teoritik, mampu memilih metode yang


                                                                                   5
tepat serta mampu menggunakan berbagai metode dalam proses belajar
       mengajar. Guru pun harus memiliki pengetahuan luas tentang landasan
       kependidikan dan pemahaman terhadap murid.
   2. Kompetensi personal, artinya memiliki sikap kepribadian yang mantap sehingga
       mampu menjadi sumber identifikasi bagi subjek.
   3. Kompetensi social, artinya ia menunjukkan kemampuan berkomunikasi social,
       baik dengan murid-muridnya maupun dengan sesame teman guru, dengan
       kepala sekolah bahkan dengan masyarakat luas.
   4. Kemampuan untuk memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya yang berarti
       mengutamakan nilai kemanusiaan daripada nilai benda material. Apabila
       seorang guru telah memiliki kompetensi tersebut di atas, maka guru tersebut
       telah memiliki hak profesional, karena ia telah dengan nyata memenuhi syarat-
       syarat berikut ini.
       a. Mendapat pengakuan dan perlakuan hukum terhadap batas wewenang
           keguruan yang menjadi tanggung jawabnya.
       b. Memiliki kebebasan untuk mengambil langkah-langkah interaksi edukatif
           dalam batas tanggung jawabnya dan ikut serta dalam prose pengembangan
           pendidikan setempat.
       c. Menikmati kepemimpinan teknis dan dukungan pengelolaan yang efektif
           dan efisien dalam rangka menjalankan tugas sehari-hari
       d. Menerima perlindungan dan penghargaan yang wajar terhadap usaha-usaha
           dan prestasi yang inovatif dalam bidang pengabdiannya.
       e. Menghayati kebebasan mengembangkan kompetensi profesionalnyasecara
           individual maupun secara institusional.



       Guru bertugas membangun manusianya. Hal ini tetntu memerlukan persyaratan
tertentu untuk dapat melaksanakan tugas tersebut yaitu guru sebagai suatu profesi,
sebagai perpaduan antara panggilan, ilmu, teknologi, dan seni, yang bertumpu pada
landasan pengabdian dan sikap kepribadian yang mulia.

       Pada hakikatnya tugas guru tidak hanya diperlukan sebagai suatu tugas yang
professional, tetapi adalah wajar bilamana melihatnya sebagai suatu profesi yang utama,



                                                                                     6
karena mengajar, antara lain berarti berrati turut menyiapkan subjek didik kearah
berbagai profesi. Dikaitkan dengan angkatan kerja maka implikasinya ialah guru
merupakan tenaga yang turut menyiapkan tegan pembangunan lainnya.

       Setelah mengkaji uraian diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa diatas
pundak guru terdapat beban yang menantang, karena memang tugas guru adalah
sedemikian berat dan akan semakin berat dengan majunya masyarakat serta
berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi maka sudah sewajarnya apabila
apabila kepada setiap guru diberikan jaminan supaya ia menghayati haknya sebagai
seorang petugas professional.

CIRI-CIRI PROFESIONAL KEGURUAN

       Ciri-ciri profesionalisasi jabatan guru akan mulai nampak, seperti yang
dikemukakan oleh Robert W. Richey sebagai berikut.

  1.   Para guru akan bekerja hanya semata-mata memberikan pelayanan kemanusiaan
       daripada usaha untuk kepentingan pribadi.
  2.   Para guru secara hokum dituntut untuk memenuhi berbagai persyaratan untuk
       mendapatkan lisensi mengajar serta persyaratan yang ketat untuk menjadi
       anggota organisasi guru.
  3.   Para guru dituntut memiliki pemahaman serta keterampilan yang tinggi dalam
       hal bahan pengajar, metode, anak didik, dan landasan kependidikan.
  4.   Para guru dalam organisasi profesional, memiliki publikasi professional yang
       dapat melayani para guru, sehingga tidak ketinggalan, bahkan selalu mengikuti
       perkembangan yang terjadi.
  5.   Para guru, diusahakan untuk selalu mengikuti kursus-kursus, workshop, seminar,
       konversi serta terlibat secara luas dalam berbagai kegiatan in service.
  6.   Para guru diakui sepenuhnya sebagai suatu karier hidup (a life career).
  7.   Para guru memiliki nilai dan etika yang berfungsi secar nasional maupun secar
       lokal.

       Khusus untuk jabatan guru ini sebenarnya juga sudah ada yang mencoba
menyusun ciri-cirinya. Misalnya National Education Assosiation (NEA) (1948)
menyarankan ciri-ciri sebagai berikut.


                                                                                   7
1.    Jabatan yang melibatkan kegiatan intelektual

               Jelas sekali bahwa jabatan guru memenuhi kriteria ini, karena mengajar
     melibatkan upaya-upaya yang sifatnya sangat didominasi kegiatan intelektual.

2.    Jabatan yang menggeluti batang tubuh ilmu yang khusus

               Semua jabatan mempunyai monopoli pengetahuan yang memisahkan
     anggota mereka dari orang awam yang memungkinkan mereka mengadaka
     pengawasan tentang jabatannya.

3.    Jabatan yang memerlukan persiapan latihan yang lama

               Lagi-lagi terdapat perselisihan pendapat mengenai hal ini. Yang
     membedakan jabatan profesinal dengan nonprofesional antara lain adalah dalam
     penyelesaian pendidikan melalui kurikulum yaitu ada yang diatur universitas/
     institute atau melaui pengalaman praktek dan pemagangan atau pamagangan dan
     kuliah.

4.    Jabatan yang membutuhkan latihan dalam jabatan yang berkesinambungan.

               Jabatan guru cenderung menunjukkan bukti yang kuat sebagai jabatan
      professional, sebab hamper tiap tahun guru melakukan berbagai kegiatan latihan
      professioanal, baik yang mendapatkan penghargaan kredit maupun tanpa kredit.

5.    Jabatan yang menjaanjikan karier hidup dan keanggotaan yang permanen
6.    Jabatan yang menetunkan bakunya sendiri

                Dikarenakan jabatan guru menyangkut hajat hidup orang banyak, maka
      pembakuan jabatan guruini sering tidak diciptakan oleh anggita profesi sendiri
      terutama di Negara kita.

7.    Jabatan yang mementingkan layanan diatas keuntungan pribadi

                Jabatan mengajar adalah jabatan yang mempunyai nilai social yang tinggi,
      tidak perlu diragukan lagi. Guru yang baik akan sangat berperan dalam dalam
      mempengaruhi kehidupan yang lebih baik dari warga Negara masa depan.




                                                                                      8
8.     Jabatan yang mempunyai organisasi professional yang kuat dan terjalin rapat.

               Semua profesi yang dikenal mempunyai organisasi professional yang kuat
        untuk dapat mewadahi tujuan bersama dan melindungi anggotanya.




KODE ETIK GURU

         Setiap profesi memiliki kode etik profesi. Menurut UU No.8/1974 tentang
Pokok-Pokok Kepegawaian, kode etik pegawai negeri sipil adalah pedoman sikap
tingkah laku, dan perbuatan di dalam dan di luar dinas. Kode Etik Guru Indonesia
menurut PGRI (1973) adalah landasan moral dan pedoman tingkah laku guru warga
PGRI dalam melaksanakan panggilan pengabdiannya bekerja sebagai guru.

         Tujuan kode etik profesi adalah untuk kepentingan anggota dan organisasi
profesi itu sendiri, yaitu untuk:

   1.    Menjunjung tinggi martabat profesi;
   2.    Menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggotanya;
   3.    Meningkatkan pengabdian para anggota profesi;
   4.    Meningkatkan mutu profesi;
   5.    Meningkatkan mutu organisasi profesi

         Kode etik ditetapkan oleh anggota profesi. Kode etik guru ditetapkan oleh
anggota profesi guru yang bergabung dalam wadah PGRI. Kode etik ini dijadikan
pedoman bertindak bagi seluruh anggota organisasi atau profesi tersebut.

         Kode etik guru Indonesia ditetapkan dalam Kongres PGRI pada tahun 1973 pada
Kongres ke XIII di Jakarta. Kemudian disempurnakan pada Kongres ke XVI tahun 1989
di Jakarta. Adapun rumusan kode etik guru sebagai berikut.




KODE ETIK GURU INDONESIA

         Guru Indonesia mmenyadari bahwa pendidikan adalah bidang pengabdian
terhadap Tuhan Yang Maha Es. Bangsa dan Negara serta kemanusiaan pada umumnya


                                                                                       9
Guru Indonesia yang berjiwa pancasila dan setia pada Undang-Undang Dasar 1945,
turut bertanggung jawab atas terwujudnya cita-cita Proklamasi Kemerdekaan 17
Agustus 1945. Oleh sebab itu, guru Indonesia untuk menunaikan karyanya dengan
memedomi dasar-dasar sebagai berikut.

  1. Guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia
     seutuhnya yang berjiwa pancasila.
  2. Guru memiliki dan melaksanakn kejujuran professional.
  3. Guru berusaha memperoleh informasi tentang peserta didik sebagai bahan untuk
     melakukan bimbingan dan pembinaan.
  4. Guru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang berhasilnya
     proses belajar mengajar.
  5. Guru memilahar hubungan baik dengan orang tua murid dan masyarakat
     sekitarnya untuk membina peran serta dan rasa tanggung jawab bersama terhadap
     pendidikan.
  6. Guru secara pribadi dan bersama-sam mengembangkan dan meningkatkan mutu
     dan martabat profesinya.
  7. Guru    memelihara       hubungan   seprofesi,   semangat   kekeluargaan,   dan
     kesetiakawanan social.
  8. Guru secara bersama-sam memelihara dan meningkatkan mutu organisasi PGRI
     sebagai sarana perjuangan dan pengabdian.
  9. Guru melaksanakan segala kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan.




                                                                                  10
BAB III

                                       PENUTUP




3.1 Kesimpulan

       Profesi adalah suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian (expertise)
dari para anggotanya. Artinya, tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang yang tidak
terlatih dan tidak disiapkan secara khusus untuk melakukan pekerjaan itu. ciri-ciri suatu
profesi, yaitu sebagai berikut :

   1. Memiliki standar kerja yang baku
   2. Anggota profesinya memperoleh pendidikan tinggi
   3. Memiliki lembaga pendidikan
   4. Memiliki organisasi profesi
   5. Adanya pengakuan yang layak dari masyarakat
   6. Adanya sistem imbalan yang memadai
   7. Memiliki kode etik yang mengatur setiap anggota profesi

       Tuntutan masyarakat yang membuat setiap profesi untuk dapat memberikan
pelayanan yang terbaik. profesionalisasi adalah usaha untuk mengembangakan profesi
melalui pendidikan prajabatan dan pendidikan dalam jabatan, sehingga pelayanan
kepada pemakai (klien) akan semakin meningkat.

       Profesi kependidikan khususnya profesi keguruan mempunyai tugas utama yaitu
melayani masyarakat dalam dunia pendidikan. Sejalan dengan alasan tersebut jelas
kiranya bahwa profesionalisasi dalam bidang keguruan mengandung arti peningkatan
segala daya dan usaha dalam rangka pencapaian secara optimal layanan yang akan
diberikan kepada masyarakat.

       Ciri-ciri profesionalisasi jabatan guru adalah sebagai berikut :

   1. Jabatan yang melibatkan kegiatan intelektual
   2. Jabatan yang menggeluti batang tubuh ilmu yang khusus
   3. Jabatan yang memerlukan persiapan latiha yang lama


                                                                                      11
4. Jabatan yang membutuhkan latihan dalam jabatan yang berkesinambungan.
   5. Jabatan yang menjaanjikan karier hidup dan keanggotaan yang permanen
   6. Jabatan yang menetunkan bakunya sendiri
   7. Jabatan yang mementingkan layanan diatas keuntungan pribadi
   8. Jabatan yang mempunyai organisasi professional yang kuat dan terjalin rapat




3.2 Saran

       Dalam penyusunan ini masih terdapat kesalahan. Semoga kesalahan yang ada
dapat dijadikan pelajaran agar dalam menyusun makalah yang selanjutnya lebih baik.




                                                                                     12

Profesi Kependidikan

  • 1.
    BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Guru adalah salah satu unsur manusia dalam proses pendidikan. Dalam proses pendidikan di sekolah, guru memegang tugas ganda yaitu sebagai pengajar dan pendidik. Sebagai pengajar guru bertugas menuangkan sejumlah bahan pelajaran ke dalam otak anak didik, sedangkan sebagai pendidik guru bertugas membimbing dan membina anak didik agar menjadi manusia susila yang cakap, aktif, kreatif, dan mandiri. Oleh sebab itu, tugas yang berat dari seorang guru ini pada dasarnya hanya dapat dilaksanakan oleh guru yang memiliki kompetensi profesional yang tinggi. Untuk itu profesionalisme para guru hendaknya lebih ditingkatkan lagi, dari masalah inilah maka kami mengangkat tema ini sebagai bahan makalah kami. 1.2 Rumusan Masalah 1.2.1 Apa, Mengapa, dan Bagaiamana Pekerjaan Profesi ? 1.2.2 Bagaimanakah Pengertian dan Ciri-ciri Profesi Keguruan ? 1.3 Tujuan 1.3.1 Mengetahui tentang Pekerjaan Profesi 1.3.2 Mengetahui yang dimaksud dengan Profesi Keguruan beserta ciri-cirinya 1
  • 2.
    BAB II PEMBAHASAN 2.1 Apa, Mengapa, dan Bagaiamana Pekerjaan Profesi Profesi adalah suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian (expertise) dari para anggotanya. Artinya, tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang yang tidak terlatih dan tidak disiapkan secara khusus untuk melakukan pekerjaan itu. Keahlian diperoleh melaluia apa yang disebut profesionalisasi, yang dilakukan baik sebelum seseorang menjalani profesi itu maupun setelah menjalani suatu profesi (inservice training). Ada beberapa istilah lain yang dikembangkan yang bersumber dari istilah “profesi” yaitu istilah professional, profesionalisme, profesionalitas, dan profesionaloisasi secara tepat, berikut ini akan diberikan pengkelasan singkat mengeni pengertian istilah-istilah tersebut. “Profesional” mempunyai makna yang mengacu kepada sebutan tentang orang yang menyandang suatu profesi dan sebutan tentang penampilan seseorang dalam mewujudkan unjuk kerja sesuai dengn profesinya. Penyandangan dan penampilan “professional” ini telah mendapat pengakuan, baik segara formal maupun informal. Pengakuan secara formal diberikan oleh suatu badan atau lembaga yang mempunyai kewenangan untuk itu, yaitu pemerintah dan atau organisasi profesi. Sedang secara informal pengakuan itu diberikan oleh masyarakat luas dan para pengguna jasa suatu profesi. “Profesionalisme” adalah sebutan yang mengacu kepada sikap mental dalam bentuk komitmen dari para anggota suatu profesi untuk senantiasa mewujudkan dan meningkatkan kualitas profesionalnya. “Profesionalitas” adalah sutu sebutan terhadap kualitas sikap para anggota suatu profesi terhadap profesinya serta derajat pengetahuan dan keahlian yang mereka miliki untuk dapat melakukan tugas-tugasnya. Dengan demikian, sebutan profesionalitas lebih menggambarkan suatu “keadaan” derajat keprofesian seseorang dilihat dari sikap, pengetahuan, dan keahlian yang diperlukan untuk melaksanakan tugasnya. 2
  • 3.
    “Profesionalisasi” pada dasarnyaadalah serangkaian proses pengembangan profesional, baik dilakukan melalui pendidikan/latihan. Profesionalisasi adalah sutu proses menuju kepada perwujudan dan peningkatan profesi dalam mencapai suatu kriteria yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Oleh karena itu profesionalisasi merupakan proses sepanjang hayat dan tidak pernah berakhir, selama seseorang telah menyatakan dirinya sebagai warga suatu profesi. Dari definisi yang telah dikemukakan, dapat diangkat beberapa kriteria untuk menentukan ciri-ciri suatu profesi, yaitu sebagai berikut : 1. Memiliki standar kerja yang baku atau dengan kata lain memiliki aturan yang jelas tentang hal yang dikerjakan. 2. Anggota profesinya memperoleh pendidikan tinggi yang memberikan dasar pengetahuan yang bertanggung jawab 3. Memiliki lembaga pendidikan khusus yang menghasilkan tenaga profesi yang dibutuhkan. 4. Memiliki organisasi profesi yang memperjuangkan hak – hak anggotanya, serta bertanggung jawab untuk meningkatkan profesi yang bersangkutan. 5. Adanya pengakuan yang layak dari masyarakat 6. Adanya sistem imbalan yang memadai sehingga anggota profesi dapat hidup dari profesinya. 7. Memiliki kode etik yang mengatur setiap anggota profesi Sekarang ini, masyarakat menginginkan semua pelayanan yang diberikannya adalah yang terbaik. Tuntutan – tuntutan masyarakat inilah yang membuat setiap profesi untuk dapat memberikan pelayanan yang terbaik. Setiap anggota profesi baik secara sendiri – sendiri atau dengan cara bersama melalui wadah organisasi profesi dapat belajar. Belajar yang dimaksud, yaitu belajar untuk mendalami pekerjaan yang sedang disandangnya dan belajar dari masyarakat apa yang menjadi kebutuhan mereka saat ini dan saat yang akan datang. Telah dikemukakan pula diawal bahwa profesionalisasi adalah usaha untuk mengembangkan profesi melalui pendidikan prajabatan dan pendidikan dalam jabatan, sehingga pelayanan kepada pemakai (klien) akan semakin meningkat. 3
  • 4.
    2.2 Pengertian danCiri-ciri Profesi Keguruan Pada dasarnya guru belum sepenuhnya dapat dikategorikan sebagai suatu profesi yang utuh, dan bahkan banyak orang berpendapat bahwa guru hanya jabatan semiprofesional atau profesi yang baru muncul karena belum semua ciri – ciri di atas yang dapat dipenuhi. Guru seharusnya dilihat sebagai profesi yang baru muncul, dan karena itu mempunyai status yang lebih tinggi dari jabatan semiprofesional bahkan mendekati jabatan profesi penuh. Profesi kependidikan khususnya profesi keguruan mempunyai tugas utama yaitu melayani masyarakat dalam dunia pendidikan. Sejalan dengan alasan tersebut jelas kiranya bahwa profesionalisasi dalam bidang keguruan mengandung arti peningkatan segala daya dan usaha dalam rangka pencapaian secara optimal layanan yang akan diberikan kepada masyarakat. Dalam pendidikan diperlukan adanya profesionalisasi. Sanusi et. al. (1991:23) mengajukan enam asumsi yang melandasi perlunya profesionalisasi dalam pendidikan, yakni sebagai berikut : 1. Subjek pendidikan adalah manusia yang memiliki kemauan, pengetahuan, emosi, dan perasaan dan dapat dikembangkan sesuai dengan potensinya; sementara itu pendidikan dilandasi oleh nilai – nilai kemanusiaaan yang menghargai martabat manusia. 2. Pendidikan dilakukan secara internasional, yaknin secara sadar bertujuan, maka pendidikan menjadi normatif yang didikat oleh norma – norma dan nilai – nilai yang baik secara universal, nasional, maupun lokal, yang merupakan acuan para pendidik, peserta didik dan pengelola pendidikan. 3. Teori – teori pendidikan merupakan jawaban kerangka hipotesis dalam menjawab permasalahan pendidikan. 4. Pendidikan bertolak dari asumsi pokok tentang manusia, yakni manusia mempunyai potensi yang baik untuk berkembang. Oleh sebab itu, pendidikan itu adalah usaha untuk mengembangkan potensi unggul tersebut. 5. Inti pendidikan terjadi dalam prosesnya, yakni situasi dimana terjadi dialog antara peserta didik dengan pendidik yang memungkinkan peserta didik tumbuh kearah yang dikehendaki oleh pendidik agar selaras dengan nilai – nilai yang dijunjung tinggi masyarakat. 4
  • 5.
    6. Seiring terjadinyadilema antara tujuan utama pendidikannya, yaitu menjadikan manusia sebagai manusia yang baik (dimensi intrinsik) dengan misi instrumental yakni yang merupakan alat untuk perubahan atau mencapai sesuatu. Dalam keseluruhan perangkat tenaga penggerak di sektor pendidikan, nampaknya tenaga pelaksana umumnya, dan guru pada khususnya merupakan salah satu mata rantai yang cukup lemah. Di banyak tempat, kita masih menemukan guru berada didalam situasi yang kurang menguntungkan untuk melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya. Hal ini akan bertambah lebih berat dan kompleks, bilamana dihadapkan lagi dengan kemajuan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tetapi dengan dukungan fasilitas yang minim dan dengan iklim kerja yang tidak menyenangkan. Selain itu beban guru ditambah lagi dengan berbagai tugas non- mengajar yang banyak menyita waktu dan tenaga para guru. Pendidikan yang baik, sebagaimana yang diharapkan oleh masyarakat modern dewasa ini dan sifatnya yang selalu menantang, mengharuskan adanya pendidik yang baik. Hal ini berarti bahwa di masyarakat diperlukan pemimpin yang baik, di rumah diperlukan orang tua yang baik, dan di sekolah diperlukan guru yang baik. Akan tetapi dengan ketiadaan pegangan tentang persyaratan pendidikan profesional maka hal ini menyebabkan timbulnya bermacam – macam tafsiran orang tentang arti guru yang baik, tegasnya guru yang profesional. Berbagai masalah diatas seperti tuntutan akan perkembangan ilmu, sikap masyarakat terhadap guru, fasilitas yang kurang memadai, dsb, namun ada hal yang memerlukan perhatian khusus, yaitu disiplin. Berdasarkan uraian diatas maka dapat dikemukakan bahwa dalam mencari jawaban tentang apa dan siapa itu guru yang baik memerlukan suatu tinjauan yang luas serta melingkupi berbagai segi. Sesudah itu barulah disimpulkan profil guru yang bagaimana yang dikehendaki. Jawabannya adalah guru yang profesional yang memiliki kemampuan profesional, personal dan sosial. Guru yang professional harus memiliki kompetensi berikut ini. 1. Kompetensi professional, artinya ia memiliki pengetahuan yang luas serta dalam dari subjek matter yang akan diajarkan serta serta penguasaan metodologis dalam arti memiliki pengetahuan konsep teoritik, mampu memilih metode yang 5
  • 6.
    tepat serta mampumenggunakan berbagai metode dalam proses belajar mengajar. Guru pun harus memiliki pengetahuan luas tentang landasan kependidikan dan pemahaman terhadap murid. 2. Kompetensi personal, artinya memiliki sikap kepribadian yang mantap sehingga mampu menjadi sumber identifikasi bagi subjek. 3. Kompetensi social, artinya ia menunjukkan kemampuan berkomunikasi social, baik dengan murid-muridnya maupun dengan sesame teman guru, dengan kepala sekolah bahkan dengan masyarakat luas. 4. Kemampuan untuk memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya yang berarti mengutamakan nilai kemanusiaan daripada nilai benda material. Apabila seorang guru telah memiliki kompetensi tersebut di atas, maka guru tersebut telah memiliki hak profesional, karena ia telah dengan nyata memenuhi syarat- syarat berikut ini. a. Mendapat pengakuan dan perlakuan hukum terhadap batas wewenang keguruan yang menjadi tanggung jawabnya. b. Memiliki kebebasan untuk mengambil langkah-langkah interaksi edukatif dalam batas tanggung jawabnya dan ikut serta dalam prose pengembangan pendidikan setempat. c. Menikmati kepemimpinan teknis dan dukungan pengelolaan yang efektif dan efisien dalam rangka menjalankan tugas sehari-hari d. Menerima perlindungan dan penghargaan yang wajar terhadap usaha-usaha dan prestasi yang inovatif dalam bidang pengabdiannya. e. Menghayati kebebasan mengembangkan kompetensi profesionalnyasecara individual maupun secara institusional. Guru bertugas membangun manusianya. Hal ini tetntu memerlukan persyaratan tertentu untuk dapat melaksanakan tugas tersebut yaitu guru sebagai suatu profesi, sebagai perpaduan antara panggilan, ilmu, teknologi, dan seni, yang bertumpu pada landasan pengabdian dan sikap kepribadian yang mulia. Pada hakikatnya tugas guru tidak hanya diperlukan sebagai suatu tugas yang professional, tetapi adalah wajar bilamana melihatnya sebagai suatu profesi yang utama, 6
  • 7.
    karena mengajar, antaralain berarti berrati turut menyiapkan subjek didik kearah berbagai profesi. Dikaitkan dengan angkatan kerja maka implikasinya ialah guru merupakan tenaga yang turut menyiapkan tegan pembangunan lainnya. Setelah mengkaji uraian diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa diatas pundak guru terdapat beban yang menantang, karena memang tugas guru adalah sedemikian berat dan akan semakin berat dengan majunya masyarakat serta berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi maka sudah sewajarnya apabila apabila kepada setiap guru diberikan jaminan supaya ia menghayati haknya sebagai seorang petugas professional. CIRI-CIRI PROFESIONAL KEGURUAN Ciri-ciri profesionalisasi jabatan guru akan mulai nampak, seperti yang dikemukakan oleh Robert W. Richey sebagai berikut. 1. Para guru akan bekerja hanya semata-mata memberikan pelayanan kemanusiaan daripada usaha untuk kepentingan pribadi. 2. Para guru secara hokum dituntut untuk memenuhi berbagai persyaratan untuk mendapatkan lisensi mengajar serta persyaratan yang ketat untuk menjadi anggota organisasi guru. 3. Para guru dituntut memiliki pemahaman serta keterampilan yang tinggi dalam hal bahan pengajar, metode, anak didik, dan landasan kependidikan. 4. Para guru dalam organisasi profesional, memiliki publikasi professional yang dapat melayani para guru, sehingga tidak ketinggalan, bahkan selalu mengikuti perkembangan yang terjadi. 5. Para guru, diusahakan untuk selalu mengikuti kursus-kursus, workshop, seminar, konversi serta terlibat secara luas dalam berbagai kegiatan in service. 6. Para guru diakui sepenuhnya sebagai suatu karier hidup (a life career). 7. Para guru memiliki nilai dan etika yang berfungsi secar nasional maupun secar lokal. Khusus untuk jabatan guru ini sebenarnya juga sudah ada yang mencoba menyusun ciri-cirinya. Misalnya National Education Assosiation (NEA) (1948) menyarankan ciri-ciri sebagai berikut. 7
  • 8.
    1. Jabatan yang melibatkan kegiatan intelektual Jelas sekali bahwa jabatan guru memenuhi kriteria ini, karena mengajar melibatkan upaya-upaya yang sifatnya sangat didominasi kegiatan intelektual. 2. Jabatan yang menggeluti batang tubuh ilmu yang khusus Semua jabatan mempunyai monopoli pengetahuan yang memisahkan anggota mereka dari orang awam yang memungkinkan mereka mengadaka pengawasan tentang jabatannya. 3. Jabatan yang memerlukan persiapan latihan yang lama Lagi-lagi terdapat perselisihan pendapat mengenai hal ini. Yang membedakan jabatan profesinal dengan nonprofesional antara lain adalah dalam penyelesaian pendidikan melalui kurikulum yaitu ada yang diatur universitas/ institute atau melaui pengalaman praktek dan pemagangan atau pamagangan dan kuliah. 4. Jabatan yang membutuhkan latihan dalam jabatan yang berkesinambungan. Jabatan guru cenderung menunjukkan bukti yang kuat sebagai jabatan professional, sebab hamper tiap tahun guru melakukan berbagai kegiatan latihan professioanal, baik yang mendapatkan penghargaan kredit maupun tanpa kredit. 5. Jabatan yang menjaanjikan karier hidup dan keanggotaan yang permanen 6. Jabatan yang menetunkan bakunya sendiri Dikarenakan jabatan guru menyangkut hajat hidup orang banyak, maka pembakuan jabatan guruini sering tidak diciptakan oleh anggita profesi sendiri terutama di Negara kita. 7. Jabatan yang mementingkan layanan diatas keuntungan pribadi Jabatan mengajar adalah jabatan yang mempunyai nilai social yang tinggi, tidak perlu diragukan lagi. Guru yang baik akan sangat berperan dalam dalam mempengaruhi kehidupan yang lebih baik dari warga Negara masa depan. 8
  • 9.
    8. Jabatan yang mempunyai organisasi professional yang kuat dan terjalin rapat. Semua profesi yang dikenal mempunyai organisasi professional yang kuat untuk dapat mewadahi tujuan bersama dan melindungi anggotanya. KODE ETIK GURU Setiap profesi memiliki kode etik profesi. Menurut UU No.8/1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian, kode etik pegawai negeri sipil adalah pedoman sikap tingkah laku, dan perbuatan di dalam dan di luar dinas. Kode Etik Guru Indonesia menurut PGRI (1973) adalah landasan moral dan pedoman tingkah laku guru warga PGRI dalam melaksanakan panggilan pengabdiannya bekerja sebagai guru. Tujuan kode etik profesi adalah untuk kepentingan anggota dan organisasi profesi itu sendiri, yaitu untuk: 1. Menjunjung tinggi martabat profesi; 2. Menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggotanya; 3. Meningkatkan pengabdian para anggota profesi; 4. Meningkatkan mutu profesi; 5. Meningkatkan mutu organisasi profesi Kode etik ditetapkan oleh anggota profesi. Kode etik guru ditetapkan oleh anggota profesi guru yang bergabung dalam wadah PGRI. Kode etik ini dijadikan pedoman bertindak bagi seluruh anggota organisasi atau profesi tersebut. Kode etik guru Indonesia ditetapkan dalam Kongres PGRI pada tahun 1973 pada Kongres ke XIII di Jakarta. Kemudian disempurnakan pada Kongres ke XVI tahun 1989 di Jakarta. Adapun rumusan kode etik guru sebagai berikut. KODE ETIK GURU INDONESIA Guru Indonesia mmenyadari bahwa pendidikan adalah bidang pengabdian terhadap Tuhan Yang Maha Es. Bangsa dan Negara serta kemanusiaan pada umumnya 9
  • 10.
    Guru Indonesia yangberjiwa pancasila dan setia pada Undang-Undang Dasar 1945, turut bertanggung jawab atas terwujudnya cita-cita Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Oleh sebab itu, guru Indonesia untuk menunaikan karyanya dengan memedomi dasar-dasar sebagai berikut. 1. Guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa pancasila. 2. Guru memiliki dan melaksanakn kejujuran professional. 3. Guru berusaha memperoleh informasi tentang peserta didik sebagai bahan untuk melakukan bimbingan dan pembinaan. 4. Guru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang berhasilnya proses belajar mengajar. 5. Guru memilahar hubungan baik dengan orang tua murid dan masyarakat sekitarnya untuk membina peran serta dan rasa tanggung jawab bersama terhadap pendidikan. 6. Guru secara pribadi dan bersama-sam mengembangkan dan meningkatkan mutu dan martabat profesinya. 7. Guru memelihara hubungan seprofesi, semangat kekeluargaan, dan kesetiakawanan social. 8. Guru secara bersama-sam memelihara dan meningkatkan mutu organisasi PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdian. 9. Guru melaksanakan segala kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan. 10
  • 11.
    BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Profesi adalah suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian (expertise) dari para anggotanya. Artinya, tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang yang tidak terlatih dan tidak disiapkan secara khusus untuk melakukan pekerjaan itu. ciri-ciri suatu profesi, yaitu sebagai berikut : 1. Memiliki standar kerja yang baku 2. Anggota profesinya memperoleh pendidikan tinggi 3. Memiliki lembaga pendidikan 4. Memiliki organisasi profesi 5. Adanya pengakuan yang layak dari masyarakat 6. Adanya sistem imbalan yang memadai 7. Memiliki kode etik yang mengatur setiap anggota profesi Tuntutan masyarakat yang membuat setiap profesi untuk dapat memberikan pelayanan yang terbaik. profesionalisasi adalah usaha untuk mengembangakan profesi melalui pendidikan prajabatan dan pendidikan dalam jabatan, sehingga pelayanan kepada pemakai (klien) akan semakin meningkat. Profesi kependidikan khususnya profesi keguruan mempunyai tugas utama yaitu melayani masyarakat dalam dunia pendidikan. Sejalan dengan alasan tersebut jelas kiranya bahwa profesionalisasi dalam bidang keguruan mengandung arti peningkatan segala daya dan usaha dalam rangka pencapaian secara optimal layanan yang akan diberikan kepada masyarakat. Ciri-ciri profesionalisasi jabatan guru adalah sebagai berikut : 1. Jabatan yang melibatkan kegiatan intelektual 2. Jabatan yang menggeluti batang tubuh ilmu yang khusus 3. Jabatan yang memerlukan persiapan latiha yang lama 11
  • 12.
    4. Jabatan yangmembutuhkan latihan dalam jabatan yang berkesinambungan. 5. Jabatan yang menjaanjikan karier hidup dan keanggotaan yang permanen 6. Jabatan yang menetunkan bakunya sendiri 7. Jabatan yang mementingkan layanan diatas keuntungan pribadi 8. Jabatan yang mempunyai organisasi professional yang kuat dan terjalin rapat 3.2 Saran Dalam penyusunan ini masih terdapat kesalahan. Semoga kesalahan yang ada dapat dijadikan pelajaran agar dalam menyusun makalah yang selanjutnya lebih baik. 12