1
Shinta Minulya
By Pranowo Budi Sulistyo
https://www.facebook.com/pranowobudisulistyo
Jakarta, 10 April 2017
Shinta Minulya Hlm 2
Daftar Isi
Kata Pengantar.................................................................................. 3
Bag-1 Keraguan atas sebuah Kesucian ...................................................... 4
Bag-2 Sebuah Keputusan Pahit ............................................................... 9
Bag-3 Kepasrahan akan pasti ................................................................17
Bag-4 Terpenjara oleh kebimbangan.......................................................24
Bag-5 Lima belas tahun sudah …............................................................30
Bag-6 Aswamedha .............................................................................38
Bag-7 Mungkinkah dia adalah ….............................................................46
Bag-8 Gelap Mulai Tersingkap...............................................................54
Bag-9 Kemenangan Hati Nurani .............................................................60
Bag-10 Upaya mengungkap kebenaran.....................................................66
Bag-11 Saat-saat Mencekam .................................................................71
Bag-12 Pertemuan Ayah Anak ...............................................................77
Bag-13 Akhir Bahagia Sejati ................................................................83
Shinta Minulya Hlm 3
Kata Pengantar
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Salam Budaya
Sebagaimana kita ketahui bahwa pada tanggal 7 November 2003 UNESCO telah
memberikan penghargaan kepada wayang kulit sebagai “Masterpiece of Oral and
Intangible Heritage of Humanity”. Dunia telah mengakuinya, sungguh
keterlaluan bila kita selaku warga negara Indonesia kemudian mengabaikannya.
Namun pada kenyataannya, sungguh jarang kita dapat menikmati, berdiskusi,
mempelajari terkait dengan budaya wayang. Media massa kita dipenuhi oleh
hiburan yang benar-benar konsumtif dan hanya bersenang-senang, cenderung
mengarah kepada hedonisme. Karena seperti itulah yang laku dijual, business
oriented orang menyebutnya.
Sementara oleh banyak kalangan, budaya wayang dianggap sebagai sesuatu yang
sudah tidak layak untuk ditampilkan. Sudah ketinggalan jaman, jadoel katanya.
Mungkin itu adalah kesalahan kita sendiri yang seakan tidak peduli terhadap apa
yang kita miliki.
Sebelum terlambat, sebelum budaya wayang hilang dari bumi pertiwi, sebelum
generasi anak turun kita mencari referensi wayang di negri jiran, sebelum kata
sesal tidak dapat mengembalikan semuanya, maka marilah kita memberikan
perhatian semampu kita. Kontribusi dari masing-masing individu akan menjadi
dorongan dahsyat bagi lestari dan berkembangnya budaya adi luhung ini.
Kepedulian kita akan menjadi tameng dan sekaligus filter terhadap budaya luar
yang menyerbu negri ini.
Cerita tentang Shinta ini jarang di pagelarkan. Biasanya berakhir dengan
tewasnya Rahwanaraja dan kembalinya Shinta ke pangkuan Ramawijaya. Dan
cerita di buku ini ditulis dengan versi yang berbeda dan diimbuhi dengan konten
kekinian. Tulisannya mungkin terkesan tidak teratur dikarenakan awalnya adalah
tulisan bersambung di Facebook yang diketik langsung di share di wall dalam
beberapa kali unggahan. Oleh karenanya mohon dimaafkan apabila tidak
berkenan.
Terima kasih
Bandung, 7 Mei 2016
Pranowo Budi Sulistyo
indonesiawayang.com
Shinta Minulya Hlm 4
Bag-1 Keraguan atas sebuah Kesucian
Sejatinya hidup adalah ladang amal dan ajang cobaan
tak seorangpun yang terbebas lepas tangan
didera kemiskinan dan dilimpahi kekayaan
dikaruniai wajah biasa atau rupawan
saat muda dan tlah tua badan
menjadi rakyat jelata atau bangsawan
semua mengalami tuk jalani kehidupan
menerima atau tidak, tetap saja tak tertahan
dan menyikapinya dengan ikhlas atau melawan
adalah sebuah keniscayaan
Begitupun Shinta si jelita dari Ayodya
istri setia Sang Rama Regawa
setelah mengalami derita tersandera
terkungkung oleh bara cinta Rahwanaraja
dalam sangkar emas dua belas warsa
hingga kemudian suami tercinta menjemputnya
setelah membunuh Sang Dasamuka biang angkara
cobaan pun masih dialaminya
kesetiaan diragukan gurulakinya
hingga kemudian harus dibuktikan sejatinya cinta
Shinta Minulya Hlm 5
Shinta obong nan membuat sesiapa berderai air mata
lantaran rasakan derita cinta teraniaya
Namun duhai para pecinta
lantas kah kemudian bahagia
mengiringi kehidupan meraka?
Ternyata tidak ! hanya sebentar dirasa bahagia
harusnya memang demikian tercipta
saat bersanding dengan orang tercinta
bertabur kasih sayang berselimut rindu membara
palagi setelahnya terdengar kabar gembira
ya ... Shinta tlah hamil muda ternyata
siapakah yang tak harap buah hati hadir di dunia ?
Sumber petaka berawal pada suatu hari
saat sidang paripurna raja dan para mentri
bahas kemakmuran rakyat dan kemulyaan negri
Ayodya diharapkan menjadi gemah ripah loh jinawi
tengah sidang berlangsung serius diliput televisi
tiba tiba terdengar jerit tangis menyayat hati
suara tangis seorang wanita di paseban jawi
beradu argumen dengan prajurit memaksakan diri
tuk menghadap Sang Penguasa negri
Ternyata mereka adalah pasutri dari desa
Ki Angga dan Nyi Angga begitu biasa disapa
Rama kemudian memperkenankan masuk istana
menemui mereka menghadap hendak tahu mengapa
begini dialog jelata dengan rajanya
Maka bertanyalah Raja Ayodya kepada Nyi Angga
“Jeritanmu sungguh sangat keras hingga terdengar olehku dan para mentri
di dalam istana. Apa yang membuatmu menangis dan menjerit seperti itu?”
Dengan masih sesenggukan Nyi Angga menjawab kelu
“Mohon ampun Yang Mulia, hamba meminta keadilan Paduka. Hamba
diperlakukan tidak adil oleh suami sebab dicurigai bertubi tubi”
Shinta Minulya Hlm 6
“Apa yang menyebabkan suamimu menaruh curiga ? Apakah engkau berlaku
selingkuh ?”
“Sungguh suatu hal yang sama sekali hamba tidak pernah lakukan hal itu.
Jangankan melakukan, berfikir untuk selingkuhpun tidak pernah terbersit
dalam benak hamba”
“Lantas hal apa yang menyebabkan suamimu tak hilang kecurigaannya ?”
“Suatu hari hamba pergi menengok orang tua lantaran sudah rindu tlah
lama tak berkunjung. Namun sungguh tak dinyana, ternyata ibu hamba
yang telah renta terbujur lemah di amben karena sakit. Bapak hamba pun
telah renta dan terlihat kerepotan mengurus istrinya. Oleh karenanya
kemudian hamba memutuskan untuk menginap agar dapat melayani
mereka supaya lekas sembuh seperti sedia kala. Rumah orang tua hamba
cukup jauh dari kota dan terpencil. LIstrik belum masuk, apalagi sinyal HP
atau akses internet, sehingga hamba tidak bisa menghubungi suami hamba
untuk mewartakan posisi hamba”
“Apakah engkau telah minta ijin kepada suami sebelumnya ?”
“Tentu Yang Mulia, hamba minta ijin menjenguk orang tua di kampung
satu hari PP. Karena tidak menyangka orang tua dalam keadaan sakit maka
akhirnya hamba baru pulang ke rumah seminggu kemudian. Hamba telah
menjelaskan berulang kali hal tersebut kepada suami hamba namun dia
sungguh keras kepala. Tetap saja dia mengumpat dan menuduh saya
berlaku serong, menyeleweng dan tidak suci lagi. Bahkah dia mengatakan
dengan jumawa bahwa Ki Angga bukanlah Sri Rama, yang begitu saja
menerima permaisurinya yang puluhan tahun disekap dalam sangkar emas
Ngalengka diraja. Bahkan suami saya berkata bahwa seorang lelaki sejati
pabila mengetahui istrinya meninggalkan rumah tanpa ijin sehari saja,
maka sudah patut dijatuhi hukuman pukul kalau perlu talak tilu”
Dengan gelisah dan wajah memerah Sri Rama Bergawa memutar lehernya
menuju Ki Angga berada seraya bertanya
Shinta Minulya Hlm 7
“Benarkah apa yang dikatakan istrimu itu, Ki Angga ?”
Dan sungguh tak disangka, Ki Angga menjawab pertanyaan rajanya itu
dengan jawaban yang tegas dan tanpa takut sedikitpun
“Benar Gusti. Bahkan menurut asumsi saya berdasarkan riset dan hasil
diskusi berbagai kalangan dari warga Ayodya, ternyata sebagian besar
rakyat menyangsikan kesucian Gusti putri Shinta”
Dengan rasa penasaran dan mangkel Sri Rama menyanggahnya
“Tapi bukankah Gustimu Shinta telah dibuktikan kesuciannya lewat hukum
bakar ?”
“Benar Yang Mulia, namun yang menyaksikan peristiwa itu bukankah hanya
Paduka, adik Paduka Laksmana serta seekor kera putih. Mana bisa kera
dipercaya. Bahkan hal tersebut telah menjadi bahan diskusi dan
pergunjingan di antara rakyat Paduka”
Ucapan terakhir Ki Angga bak palu godam memukul keras dada Sang
Narendra. Seketika mukanya memerah menahan kesal dan amarah.
Sigra muntab lir kinetab,
duka yayah sinipi
jojo bang mawingo wengis
Netra kocak ngondar-andir
Idepnya mangala cakra
mrebabak wadananira
pindha kembang wora-wari bang
Sementara para prajurit yang berjaga di sekitar ruang sidang rasanya sudah
ingin segera menyeret dan merajangnya lantaran kesal akan mulut tajam
dan tak tahu dirinya Ki Angga. Namun perintah tiada kunjung datang.
Sri Rama masih duduk diam tak bergerak. Entah apa yang tengah bergejolak
di dadanya. Amarah, rasa malu, ragu, sesal, penasaran, galau mengharu
biru pikiran, berbaur mencipta perasaan tak menentu. Sementara seluruh
peserta sidang paripurnapun tiada berani berucap walau sepatah.
Shinta Minulya Hlm 8
Sunyi … sepi …. mencekam …
Beberapa saat kemudian, Sri Rama yang berpengetahuan luas dan berfikir
global mampu menetapkan hati bahwa tidak ada yang serba “kebetulan”
terjadi di dunia ini. Semua kejadian adalah atas Kehendak dan KuasaNYA,
Tuhan semesta alam. Meskipun semburat kebimbangan masih tersirat di
dasar hatinya, namun ditetapkan untuk menghapuskanya saat ini. Tak
peduli lagi dia akan persidangan agung dengan para mentri, tak di hiraukan
lagi Ki Angga yang masih duduk bersimpuh di tanah bersama istrinya yang
masih tertunduk sedih, maka Sang Nata kemudian beranjak pergi menuju
tempat peristirahatan di dalam istana.
Begitu punggung rajanya telah menghilang selepas pintu, tanpa dikomando
geremengan laksana suara tawon keluar dari mulut para hadirin yang
memenuhi ruangan yang sebelumnya sepi. Saling bisik antara mereka
membicarakan peristiwa yang baru saja terjadi. Tak sedikit dari mereka
asyik merangkai kalimat berdebat antar mereka dalam memperkirakan apa
yang bakal terjadi kemudian. Engkel-engkelan, menang-menangan, sok-
sokan merasa dirinya paling pintar menganalisa dan meramal. Bahkan
kemudian ada yang nyaris baku pukul lantaran beda pendapat terhadap
prediksi yang disampaikan. Lha wong ramalan kok diperebutkan
kebenarannya … dasar punggawa picik tak berguna !
Lantaran asyik dengan kesibukan masing-masing mereka tidak
memperhatikan saat kemudian Ki Angga beringsut menuju pintu keluar
seraya menggandeng tangan istrinya. Tak ada lagi sikap membenci kepada
istrinya, seakan masalah yang disampaikan kepada Sri Rama tadi telah
terselesaikan dengan sendirinya. Solusinya adalah hati lega karena masalah
telah disampaikan, hati senang karena gunjingannya mampu mempengaruhi
jiwa rajanya. Dia yakin bahwa setelah ini maka peristiwa tadi bakal menjadi
trending topic di seantero negri, bahkan lebih cepat lagi akan tersebar ke
social media di dunia maya. Dan setelah melewati gapura kraton maka
dengan mesra digandengnya tangan Nyi Angga untuk dibawa pulang ke
rumah dengan wajah tersenyum seraya menyenandungkan langgam yang
tengah hits didendangkan oleh pesinden terkenal Nyi Srintil dengan judul
“Senandung Kalijodo”.
Shinta Minulya Hlm 9
Bag-2 Sebuah Keputusan Pahit
Ternyata perkataan Ki Angga tidak bisa hilang begitu saja di benak Sri
Rama. Meskipun hati kecilnya menyanggah kebenarannya, namun tetap
saja ego sebagai seorang laki-laki sekaligus kedudukannya sebagai suami,
ditambah jabatannya sebagai Ayodya-1 serta gelarnya sebagai titisan Wisnu
dewa paling sakti di antara anak anak Bathara Guru, membuat keraguan
akan kesucian Shinta istrinya muncul kembali. Perkataan Ki Angga bahwa
seluruh rakyat Ayodya menyangsikan kesucian Shinta seolah menjadi
legitimasi atas prasangka itu. Kembali jiwanya goyah !
Laksmana yang melihat kondisi kakaknya seperti itu, segera mendekati
untuk menenangkannya. Laksmana adalah satu-satunya orang yang
mengerti betul Rama Wijaya. Sejak masih bocah, hingga dewasa Laksmana
selalu bersama dan mengikuti kemana kakaknya berada. Bermain selalu
bersama, belajar olah kejiwaan dan olah kanuraganpun dengan guru yang
sama. Bahkan saat kakaknya Rama dan kakak iparnya Shinta terbuang di
hutanpun, hanya Laksmanalah yang mengiringinya. Laksmanalah yang
selalu menghibur Rama dikala rindu kepada istrinya yang diculik oleh
Rahwanaraja. Laksmanalah yang selalu menguatkan kakaknya untuk terus
Shinta Minulya Hlm 10
berusaha merebut Shinta dari genggaman Raja Alengka itu. Suka duka Rama
adalah suka dukanya juga. Tak heran Laksmana sangat detil faham apa yang
tengah terjadi dalam benak dan hati kakaknya.
"Oh ... Dewata yang Agung, mengapa semua ini terjadi. Dikala hambaMu
ini tengah merasakan ketenangan dan kebahagiaan, mengapa Engkau timpa
dengan masalah yang sungguh pelik ini” tak kuasa derai air mata mengiringi
keluh kesah Sang Raja Ayodya seraya kemudian merangkul adiknya
terkasih.
“Sungguh tak aku duga bahwa diriku menjadi cacian dan bahan tertawaan
seluruh rakyat yang aku pimpin. Sungguh memalukan, seorang raja
memberi contoh yang tidak benar kepada rakyatnya”
Laksmana yang mendengar keluh kesah kakaknya, kemudian menghibur dan
sekaligus memberikan pandangan
“Duhai Kangmas, janganlah engkau percaya sepenuhnya kepada kata-kata
orang yang tidak bertanggung jawab itu”
“Tapi perkataan Ki Angga sungguh tepat, Dimas. Akupun merasa bahwa itu
adalah sebuah kebenaran belaka”
“Berarti Kangmas sebelumnya masih memiliki keraguan akan kesucian
Mbakyu Shinta meskipun sudah terbukti saat hukum obong itu ?”
“Sepertinya demikian, Adikku. Sungguh dua belas tahun bukanlah waktu
yang sebentar untuk seorang wanita dapat mempertahankan kesuciannya.
Dapat aku bayangkan bahwa setiap hari dia dibujuk, dirayu dan digoda oleh
Rahwana. Ibarat kata pepatah, sebuah batu karangpun lama kelamaan
akan berlubang manakala setiap detik ditimpa oleh setitik air dari atasnya.
Apakah dinda Shinta masih kuat mempertahankannya ?”
“Duhai Kangmas Prabu, janganlah beribu prasangka mengangkangi pikiran
Kanda. Tenangkanlah jiwa Kangmas agar dapat berfikir dengan jernih dan
bijak. Dan yang mengetahui dalam hati Mbakyu Shinta tentu Kanda sendiri.
Janganlah engkau diombang ambing oleh serba kekawatiran dan hal hal
yang tidak pasti, sebab yang sudah pasti adalah bahwa kesucian Mbakyu
telah terbukti kebenarannya karena tlah kita saksikan sendiri. Apakah
Shinta Minulya Hlm 11
kakang percaya pada gossip dan berita sampah yang keluar dari mulut
busuk Ki Angga tadi ? Apakah Kangmas lebih percaya kepada kabar yang
beredar dengan validitas kesahihan patut dipertanyakan daripada dengan
kesetiaan Mbakyu Shinta yang telah terbukti secara empiris?”
“Tidak mungkin adikku, aku percaya apa yang dikatakan Ki Angga itu benar
adanya”
Dan Laksmana sadar bahwa segala masukan dan bujukan yang disampaikan
kepada kakaknya bakal sia sia belaka. Dia mengerti betapa “keras kepala”
kakaknya itu meskipun tutur katanya begitu lembut. Kalau sudah meyakini
terhadap sesuatu hal, maka tak ada seorangpun yang mampu
mengubahnya. Laksmana sudah pasrah dan tinggal menanti suatu
keputusan besar yang bakal terjadi.
“Adikku Laksmana, sekarang dengar dan turuti semua perintahku !” Rama
melepaskan rangkulan adiknya
“Ya Kanda”
“Sekarang juga jemputlah Mbakyumu Shinta dan kemudian bawalah dia ke
tengah hutan dan tinggalkanlah dia di sana bersendirian. Biarlah alam yang
akan memberikan keputusan dan keadilan”
“Tapi Kang …”
“Tidak ada tapi-tapian ! Laksanakan perintahku segera !”
Remuk redam perasaan Laksmana mendengar perintah Sang Rama. Sungguh
tak difahaminya pola pikir kakaknya itu. Apakah harus begini menjalani
hidup ? Selalu tercipta dilemma dan opsi yang harus dipilih agar terus hidup?
Dan tidak memilihpun adalah sebuah pilihan. Apakah mengatas namakan
pendapat banyak orang adalah suatu kebenaran yang mutlak ? Pada
kenyataannya kebenaran tidak selalu ditentukan oleh seberapa banyak
orang yang meyakini dan mengamininya.
Sri Rama terpengaruh oleh kata kata Ki Angga bahwa seluruh rakyat Ayodya
mencurigai kejujuran Shinta, namun bukannya menyanggah dan
membuktikan bahwa hal tersebut tidak benar, malah dia memberi stempel
“OK” bahwa dugaan itu memang benar adanya bukan hanya sekedar hasil
Shinta Minulya Hlm 12
rekayasa pikiran merangkai kejadian dan membuat estimasi sebab akibat
secara imajiner. Dan memang tepat dugaan Laksmana akan kebimbangan
yang masih mendekam di hati kakaknya Sri Rama tentang kesucian istrinya.
Hal itulah yang kemudian terungkit lagi oleh “fakta” yang diungkap Ki
Angga, seakan menjadi sebuah sebab untuk muncul kembali seperti pada
peristiwa menjelang Shinta obong.
<<< ooo >>>
“Hendak menuju kemana kita, Dimas ?” suara lembut wanita memecah
keheningan hutan siang itu.
Wanita itu duduk di pelana kuda dan disampingnya seorang pria
mendampingi dengan berkuda juga.
Duhai … sungguh jelita wanita berkuda itu. Wajahnya putih bersinar
memancarkan perbawa keagungan laksana bathari kahyangan turun
ngejawantah ke darat. Meskipun tiada senyum yang tersungging di
wajahnya yang bak rembulan, namun sungguh siapapun yang memandang
niscaya terpesona akan keindahannya.
Matanya memendam sebuah tanya yang sedari tadi hendak diucapkan
kepada pria di sebelahnya yang mengiringinya. Sementara pria itu hanya
tertunduk kelu, wajah muram menyimpan duka. Sepanjang perjalanan
mulut terkunci tiada satu katapun terucap. Benar dia berjalan berkuda,
namun pikirannya melayang mengembara mengenang kenang perjalanan
hidup bersama wanita di sebelahnya yang tiada lain adalah kakak iparnya.
Ya … pria itu adalah Laksmana, sedangkan perempuan itu adalah Dewi
Shinta istri Rama Wijaya raja Ayodya.
Ungkapan tanya lembut Shinta, seakan membangunkan Laksmana dari
mimpi tak mengenakkan. Dan dengan tergagap dia menjawab
Shinta Minulya Hlm 13
“Oh … kita telah sampai, Kanda Dewi. Marilah aku bantu mbakyu turun
dari kuda itu” bergegas Laksmana meloncat dari kudanya dan segera
membantu Sang Putri turun dari kudanya.
Setelah menginjak tanah maka Dewi Shintapun berjalan di tempat yang
agak lapang dan kemudian tangannya ngawe ke Laksmana dengan maksud
untuk berjalan mendekat.
“Sekarang engkau jelaskan dengan sedetil-detilnya mengapa aku dibawa
kesini hanya olehmu. Mengapa Kanda Rama tidak ikut serta bersama kita.
Jangan engkau katakan bahwa kakakmu sedang sibuk ngurus negara
ataupun ada kegiatan penting yang lainnya sehingga tiada waktu untuk
bersamaku. Dia telah tahu bahwa aku tengah mengandung anaknya. Tidak
mungkin tega membiarkanku melakukan perjalanan jauh seperti ini. Tentu
ada alasan kuat sehingga hanya menyuruh engkau saja menemaniku.
Sengaja aku tidak bertanya tentang itu sepanjang perjalanan tadi karena
kulihat wajahmu begitu gelap menyimpan rahasia yang sepertinya sangat
membebanimu. Jujurlah, Dimas !”
Mendengar ketenangan Shinta dalam mengungkapkan isi hati, membuat
hati Laksmana semakin terkoyak. Dewi Shinta telah dianggap sebagai
kakaknya sendiri yang begitu dihormati dan disayangi. Tak kuasa airmata
Laksmana mengalir pelan. Dipandangi sosok di depannya itu dengan penuh
welas asih
Surem … surem …
surem diwangkara kingkin,
lir manusa kang layon,
denya ilang ingkang memanise,
wadananira layung,
kumel kucem rahnya maratani
Suram … sungguh suram
suram cahya sang surya bersedih
laksana manusia yang tlah mati
lantaran tlah hilang indahnya bahagia
jiwanya merana badannya layu
duka derita meyelubungi jiwa raga
Shinta Minulya Hlm 14
“Kanda Dewi, mohon ampun atas ketidakmampuanku mempengaruhi
suamimu dalam memutuskan masalah ini. Adikmu ini telah berusaha
sekuat tenaga menyadarkan Kanda Rama untuk memberikan keputusan
yang benar sesuai dengan hati nurani dan jiwa kemanusiaan. Namun apa
daya, segala kewenangan ada dalam genggaman suamimu. Aku
diperintahkan oleh Sri Rama untuk … untuk …”
Tak kuasa Laksmana melanjutkan kata-katanya, sesak dadanya menahan
gejolak duka yang menguasai hatinya. Namun di pihak lain, Dewi Shinta
terlihat begitu tenang menghadapi situasi seperti ini
“Berterus teranglah Adikku, kakakmu ini telah siap menerima segala yang
telah menjadi ketetapan suamiku sebagai raja Ayodya. Penderitaan telah
menjadi teman yang sangat akrab denganku. Ingatkah engkau, tiga belas
tahun lamanya kita hidup terlunta di hutan Dandaka. Menjalani
pembuangan sekian lama membuat jiwaku semakin kuat. Ditambah lagi
kemudian selama dua belas tahun, aku berada dalam sangkar emas si
Rahwanaraja. Jangan dikira aku hidup nikmat di sana. Taman Argasoka
memang sebuah taman yang indah bak tamannya para Dewata, namun
jiwaku terpidana, cintaku terkurung oleh ruang dan waktu lantaran tak
bersanding dengan cinta sejatiku yaitu diri suamiku. Jangan engkau kira
aku diam saja di kurungan emas itu. Setiap hari cundrik selalu menemaniku
dimanapun aku berada. Hal itu aku lakukan untuk mengabarkan kepada si
Keparat itu bahwa apabila dia menyentuh kulitku sedikit saja, maka
cundrik segera aku hunjamkan di ulu hatiku. Dua belas tahun penuh
kekawatiran, dua belas tahun tidak nyeyak tidurku, dua belas tahun jiwaku
tiada pernah tenang, dan itu membuat jiwaku semakin kuat mengeras.
Oleh karenanya, berterus teranglah, Adikku !”
Laksmana mendongakkan kepalanya kembali dan dengan dikuatkan hatinya
maka berkatalah dia melanjutkan kalimat yang belum selesai tadi
“Aku diperintahkan oleh suamimu untuk … membuangmu di hutan ini” lirih
suara Laksmana namun bagi Dewi Shinta laksana bunyi halilintar di siang
hari bolong. Seketika wajahnya memucat, namun tidak lama kemudian dia
telah mampu menguasai hatinya. Dihirupnya dalam dalam udara segar
hutan ini, dan kemudian dengan pelan pelan dihembuskan lewat mulut
Shinta Minulya Hlm 15
nafas hangatnya. Dilakukan hal itu tiga kali untuk menenangkan emosi dan
mengatur keseimbangan jiwanya.
“Baiklah, adikku. Aku tidak akan bertanya kepadamu mengapa suamiku
tega memerintahkan perbuatan kejam seperti ini. Aku menduga tentu ada
kaitannya dengan peristiwa tahun lalu. Bukankah dia dan engkau telah
menyaksikan sendiri bukti kesucianku di tengah api yang membakar
jasadku ? Apakah engkau percaya itu adikku ?”
“Saya percaya seratus persen, Kanda Dewi !”
“Lalu mengapa suamiku sendiri tidak percaya ?”
“Itu semua karena mulut busuk dari Ki Angga”
“Aku tidak menyalahkan Ki Angga ataupun siapa saja yang meragukan
kesucianku karena mereka tidak menyaksikan sendiri buktinya. Mereka
hanya merangkai sebuah kejadian dari kabar yang diterima walau tidak
tahu validitas kebenarannya. Mereka kemudian menyimpulkan rangkaian
cerita berdasarkan asumsi asumsi pemikiran logis menurut mereka atau
mungkin malah hanya berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya
pribadi. Biarlah hal itu terjadi karena memang kapasitas dan kapabilitas
pemikiran mereka hanya sampai disitu. Namun mengapa kakakmu, yang
adalah seorang terpelajar, seorang raja besar, seorang satria utama
bahkan menurut orang adalah titisan Dewata, mempunyai pemikiran dan
pandangan yang sama dengan mereka ?”
“Adikmu ini telah berusaha mengingatkannya, Kanda Dewi. Namun
semuanya sia sia belaka. Tentu Kanda tahu bagaimana sifat kakakku”
“Aku percaya, Laksmana. Baiklah, sebagai adik yang baik segeralah engkau
tinggalkan aku di sini sesuai dengan perintah yang diberikan oleh Sri Rama
kepadamu”
Dengan perasaan campur aduk, Laksmana memandang sekali lagi sosok
agung di depannya itu. Rasa hormat dan kagum semakin membuncah
kepada istri kakaknya itu. Dewi Shinta terlihat begitu tenang, begitu tegar
dan penuh keyakinan serta waskita dalam bertutur dan bersikap.
“Lalu bagaimana dengan Kanda Dewi nanti ?”
Shinta Minulya Hlm 16
“Tidak usah cengeng ! Aku tidak bersendirian di sini, ada Tuhanku yang
akan menemani dan menolongku. Cepatlah segera tuntaskan tugasmu !”
Dengan kesedihan yang masih menggumpal, Laksmana kemudian menaiki
kudanya seraya mengucapkan kata perpisahan
“Tuhan akan selalu melindungimu, Kanda Dewi. Setiap saat aku akan
berdoa atas keselamatan dan kebahagiaanmu. Jagalah dirimu baik baik”
Shinta Minulya Hlm 17
Bag-3 Kepasrahan akan pasti
Sepeninggalan Laksmana, barulah Sang Dewi menumpahkan segala beban
beratnya. Air matanya mengalir deras memikirkan perlakuan suami
terhadap dirinya. Namun tidak terdengar ratapan menyesali nasib buruk
yang menimpa. Jiwanya telah kebal terhadap penderitaan. Nyaris
sepanjang hidupnya diliputi oleh cobaan hidup yang tiada henti. Kisah
hidupnya adalah kisah kesedihan dan nestapa. Mungkin hanya sepenggal
episode kehidupan dimana dia merasakan bahagia seutuhnya yang dia
pernah rasakan.
Sore menjelang, namun di tengah hutan telah gelap gulita. Di bawah sebuah
pohon yang tinggi besar dan menjulang, sosok perempuan itu bersimpuh
dalam diam. Badannya diam mematung seperti tugu sinukarta. Mata
indahnya terpejam, bulu matanya yang lentik terlihat basah bekas
tangisan. Dadanya sesekali bergerak pelan mengikuti isak kesedihan.
Duhai … sungguh kasihan nasib putri agung ini
bersendirian dalam hutan yang sunyi
tega nian sang gurulaki
Shinta Minulya Hlm 18
menetapkan hukuman hanya karena ego diri
mencampakkan cinta menyiksa istri sendiri
akankah alam dapat menjadi saksi
kesucian cinta dan harkat diri hakiki
duhai Sang Putri …
tetaplah bijak bestari
dhêdhêp tidhêm prabawaning ratri
sasadara wus manjêr kawuryan
tan kuciwa mêmanise
mênggêp srinatèng dalu
siniwaka sanggyaning dasih
aglar nèng cakrawala
winulat ngalangut prandene kabèh kèbêkan
saking kèhing taranggana kang sumiwi
warata tanpa sêla
Sunyi senyap sepi menhadirkan malam nan agung
Bulan tlah menampakan diri bersinar terang
Alangkah indahnya tiada mengecewakan
Terlihat gagah Sang raja diraja malam itu
menghadirkan segala cinta dan harapan terhampar di atas cakrawala
terlihat hampa tak bertepi
namun nyatanya semua tlah penuh sesak oleh bintang gemintang
nan berbinar merata sinarnya tanpa sela
Derita yang telah terjadi tak perlu disesali
menangislah tuk mengurangi beban berat diri
namun meratap tidaklah boleh dan harus dihindari
apalagi menyiksa diri meminta mati
hanya satu yang harus dilakoni
kepada Tuhanmu engkau berserah diri
berharap limpahan kasihNya mohon petunjuk Ilahi
niscaya ketenangan bakal dinikmati
dan semangat hidup trus terpatri
demikian yang slalu diingat Sang Dewi
petuah Sang Ayah Prabu Janaka raja Mantili
Menangis sedih Rekyan Shinta mengenang ayahnya nan jauh di Mantili. Ingin
rasanya saat ini duduk bersimpuh di kaki ayahnya yang sangat lembut dan
bijak mengasihinya. Ingin rasanya dia merasakan damai dalam pelukan
Shinta Minulya Hlm 19
ibunya dan merasakan getar kasih sayang yang sejati kala tangan lembut
sang ibu membelainya. Namun ia kemudian tersadar bahwa semua
keinginan tadi hanyalah godaan agar dia terbuai dalam bayangan semu
belaka. Yang dihadapinya kini adalah saat ini ! Di hutan ini ! Bersendiri
dalam suasana sepi mencekam dan gelap pekat lantaran bintang gemintang
dan dan Sang Chandra tertutup oleh lebatnya hutan.
Sungguh berat takdir yang disandangnya, namun Sang Putri telah sadar
bahwa mengenang segala keindahan yang diinginkan saat ini adalah
perbuatan yang tak berguna dan membuang-buang waktu. Yang haruslah
dilakukan adalah meminta pertolongan Sang Pencipta Alam Semesta dan
berharap petunjuk dan Ilham yang bakal menerangi jalan yang bakal
ditempuh selanjutnya.
Maka berbenahlah Dewi Shinta menuju kepada Tuhannya. Dimeramkan
matanya dan selintas seolah terdengar jelas, sosok Sang Janaka berkata
kata lembut
“Petunjuk atau ilham tidak kasat mata, tidak bisa dilihat dan dirasakan
oleh panca indra manusia. Ilham merupakan wujud kelimpahan rahmat dan
pencerahan Tuhan kepada seseorang sehingga orang yang menerimanya
dikatakan hidupnya akan sejahtera lahir dan batin. Ilham dimaknai akan
mampu merubah sikap dan watak seseorang mengarah kepada kebaikan,
kesuksesan, dan kemasyhuran yang berguna bagi sesama. Namun
perubahan itu tidak terjadi dengan sendirinya, perubahan tersebut
merupakan hasil dari sebuah laku, sebuah olah batin. Laku batin yang
dapat engkau perbuat adalah dengan bertapa, berpuasa, berpantang,
mengurangi tidur, mengurangi keinginan-keinginan duniawi, melakukan
perjalanan spiritual dan sebagainya. Itu semua merupakan wujud
kesungguhan dari usaha manusia dalam mendapatkan apa yang diinginkan
dan dicita-citakan”
Seperti didengarnya lagi
“Ketika batin seseorang tunduk dan bergerak dengan dibarengi laku, maka
bakal menimbulkan energi berkekuatan magnet yang mampu menarik dan
menyerap energi alam semesta. Semakin intens laku batin seseorang, maka
akan semakin cepat putaran yang digerakkan hingga akan semakin kuat
Shinta Minulya Hlm 20
pula daya magnetisnya dalam menyedot energi alam semesta. Maka
jalankanlah laku itu dengan engkau bertapa dan mengheningkan cipta
seraya berharap berkah Tuhan dapat engkau raih”
Semakin mantab Sang Putri terbuai dalam nikmatnya bersapa dengan Yang
Maha Agung. Semakin tenang jiwa dirasakan, tak ingat lagi bahwa saat itu
dia tengah berada di hutan di tengah malam bersendirian. Dan kata-kata
semangat dari ayahnya seperti membimbingnya semakin tunduk dan
berserah.
“Shinta anakku ! Menjalani hidup di dunia ini laksana tengah belajar dalam
sebuah madrasah agung yang bernama kehidupan. Dan layaknya setiap
madrasah maka akan selalu ada ujian-ujian untuk mengevaluasi seberapa
dalam kita mampu menyerap nilai-nilai pembelajaran itu. Dan untuk
menggapai sukses dalam meraih tujuan yang engkau inginkan, maka harus
engkau ingat tiga hal. Yang pertama adalah Kekuatan Tekad, Determinasi
untuk membebaskan diri dari keterikatan dunia. Mulai singkirkanlah
keinginan-keinginan duniawi yang sepertinya indah dipandang mata,
nikmat dirasakan, namun pada kenyataannya hanyalah fatamorgana
belaka. Bukan berarti kita anti terhadap kesenangan-kesenangan duniawi,
namun dalam menyikapi dan menggunakannya, haruslah sewajarnya saja.
Kata orang bijak, dunia harus mampu engkau genggam dan kendalikan,
jangan sampai sebaliknya, dunia yang mengendalikannmu.”
“Yang kedua adalah kekuatan pemahaman, mengembangkan keahlian dan
pengetahuan. Ingat Shinta bahwa diperlukan kerja keras dan cerdas dalam
menuntut ilmu. Juga konsistensi atau ke-istiqomah-an. Ilmu adalah
wahana yang luas tanpa batas. Tak akan mampu engkau meraih semua yang
engkau inginkan, namun bersikap ‘serakahlah’ engkau dalam mencari ilmu.
Jangan beranggapan telah cukup dan merasa puas bila telah bisa
melakukan sesuatu karena ilmu Tuhan berada di setiap sudut alam ini dan
juga di setiap inci dirimu sendiri. Upaya mencari ilmu harus engkau
lakukan kapan saja setiap waktu bahkan saat ajal kan menjemput. Dan
yang ketiga adalah kekuatan laku, melaksanakan semuanya dengan
keceriaan dan keikhlasan. Sebarlah ilmu kesiapa saja yang menginginkan.
Berbagilah ! Jangan ada niat menyembunyikan ilmu hanya untuk diri
sendiri. Manusia yang terbaik adalah orang yang mampu memberikan
Shinta Minulya Hlm 21
banyak manfaat kepada orang lain. Ingat Shinta, selalu berbuat baiklah
dan selalu berbagilah dengan ilmu yang kita miliki. Dengan engkau lakukan
hal itu, maka ilmumu tiada akan berkurang malah akan terus bertambah
dan juga akan membuat dirimu semakin bijaksana dalam menyikapi dan
menjalani hidup dan kehidupan di dunia ini”
Malam semakin sepi
Shinta semakin asyik dalam samadi
tak dirasakan penderitaannya lagi
tak dipikirkan susah hati
kepada Tuhannya tlah diserahkan nasib diri
kepada Ilahi tlah dipasrahkan apa yang bakal terjadi
segala keinginan duniawi adalah nisbi
keselamatan dunia dan alam baka sudah pasti
Kepasrahan jiwa justru mencipta energi luar biasa
alam semesta meresponnya seketika
sinyal sinyal kasih sayang meyebar merata
ke segala pelosok di penjuru dunia
atas kendali Sang Penguasa Semesta
bakal tersambung kepada pemilik frekwensi yang sama
Nun di Wismaloka pertapaan Resi Walmiki
saat sang resi tengah bermeditasi
terlihat olehnya keberadaan Shinta sang dewi
tlah faham sang begawan apa yang terjadi
dipanjatkan doa kepada Suksma Sejati
tuk segera berada di dekat sang Putri
Seakan tiada beda jarak bagi Begawan Walmiki
kala cipta tlah disandarkan kepada Ilahi
berpasrah berserah diri
tuk membantu mengentaskan yang tersakiti
agar bersegera sadar dan percaya diri
bahwa susah sedih bak roda pedati
bahwa bahagia derita bakal silih berganti
bahwa kemuliaan niscaya terpenuhi
pabila mampu pikiran dan hati terkendali
Shinta Minulya Hlm 22
Saat dalam samadi mata mulai terbuka
tlah nyata sosok Shinta di hadapannya
tersenyum bijak penuh kasih Sang Yoga
saksikan Sang Dewi larut dalam hening cipta
Dengan lembut Walmiki menyapa
“Anakku Shinta, bangunlah dari samadimu. Bapa kini ada dihadapanmu,
Nak. Keluh kesahmu telah terdengar hingga ke Wismaloka. Maafkan
perlakuan muridku kepada dirimu yang tlah bertindak tidak adil, anakku.
Percayalah Tuhan pasti akan memberikan kemudahan dalam kesulitan yang
engkau alami seperti saat ini. Yakinlah bahwa Tuhan bakal mengganti jiwa
pasrahmu dengan ganjaran yang jauh lebih indah dari kebahagiaan yang
pernah engkau rasakan di dunia ini. Bangunlah, Nak”
Shinta yang mendengar suara lembut di telinganya, perlahan membuka
matanya. Terkejut dia sesaat melihat seseorang telah berada di depan
duduknya. Seorang tua berpakaian brahmana memberikan senyum lembut
menyapa. Wajah adem itu seketika memaksa benaknya untuk mengingat-
ingat. Dan dalam hitungan mili detik tlah ditemukan nama pemilik wajah
itu di memorinya.
Ya … Shinta mengingatnya bahwa setelah melangsungkan perkawinan
megah di Mantili dan kemudian Rama Wijaya memboyongnya ke Ayodya,
maka tempat pertama yang di singahi adalah pertapaan Wismaloka.
Suaminya memperkenalkan kepada dirinya, pemilik pertapaan itu sebagai
gurunya. Resi Walmiki, seorang brahmana yang begitu terkenal di seantero
Ayodya dan negri-negri di sekitarnya karena kebijaksanaannya, dan dia
adalah guru suaminya.
Segera Shinta merebahkan diri bersujut di kaki Begawan suci itu. Meskipun
hanya sesenggukan tangis dan tiada mampu kata terucap dari mulut Dewi
Sinta, namun Resi Walmiki sangat faham dengan apa yang tengah
bergejolak di dada Shinta.
Segera disentuh pundak Shinta oleh Walmiki agar bangkit dari sujudnya,
kemudian berkata
Shinta Minulya Hlm 23
“Engkau tidak bersendirian lagi dalam menghadapi cobaan yang engkau
alami sekarang. Hilangkanlah segala beban berat yang ada di pikiranmu.
Masih ada kewajiban besar yang harus engkau sandang, yaitu melahirkan
anakmu dan membesarkannya kelak. Maka marilah engkau ikut bersamaku
untuk mencari tempat yang nyaman untuk engkau tinggali. Bapa akan
mempersiapkannya untuk tempat tinggalmu dan anak-anakmu nanti”
Hanya anggukan yang diberikan oleh Shinta sebagai jawaban.
Shinta Minulya Hlm 24
Bag-4 Terpenjara oleh kebimbangan
môngka kanthining tumuwuh
salami mung awas eling
eling lukitaning alam
dadi wiryaning dumadi
supadi niring sangsaya
yèku pangrêksaning urip 1
Oleh karenanya sebagai pegangan hidup
selamanya haruslah awas dan Ingat,
Ingat pada hukum alam
takut kepada kemuliaan makhluk hidup
agar jauh dari segala penderitaan,
itulah cara untuk menjalani hidup.
marma dèn tabêri kulup
angulah lantiping ati
rina wêngi dèn anêdya
pandak-panduking pambudi
bengkas kaardaning driya
supadya dadya utami
1
Tembang di atas adalah pupuh Kinanthi dari Serat Wedhatama
Shinta Minulya Hlm 25
Oleh karenanya rajin-rajinlah anakku,
mengolah tajamnya hati (kesadaran),
siang dan malam berusaha,
mampu meningkatkan kesadaran,
menyingkirkan kekotoran batin,
agar menjadi utama.
pangasahe sêpi samun
aywa êsah ing salami
samôngsa wis kawistara
lêlandhêpe mingis-mingis
pasah wukir rêksa muka
kêkês srabedaning budi
Pengasahnya adalah saat hening,
jangan sampai tergoyahkan selamanya,
jika sudah berhasil akan terlihat,
tajamnya tiada tara,
mampu menghancurkan Gunung Reksamuka 2
bakal hancur segala penghalang kesadaran murni.
Tersentuh hati pria itu mendendangkan lantunan tembang yang telah
dihafalnya di luar kepala. Hatinya perih mengingat lagi kepada kekasih hati
yang tiada lagi berada di sisinya. Seolah jiwanya telah melayang separuh.
Ya … istrinya entah hilang entah mati akibat keputusan dirinya dalam
menegakkan keadilan. Menegakkan keadilan? Ataukah hanya
memperturutkan ego ?
Setelah cukup lama hening, terdengar lagi kelanjutan tembang tadi
dene awas têgêsipun
wêruh warananing urip
miwah wisesaning tunggal
kang atungil rina wêngi
kang mukhitan ing sakarsa
2
Reksa muka adalah nama sebuah gunung yang didaki oleh Werkudara pada
kisah Dewa Ruci dalam mencari tirta prawita mahening suci untuk mencari arti
kehidupan sejati.
Dapat juga diartikan dengan : Gunung yang berarti sebuah penghalang, Reksa –
memfokuskan diri pada, Muka – Wajah, sehingga mempunyai makna “Sebuah
penghalang untuk memfokuskan kesadaran terhadap ego diri sendiri”
Shinta Minulya Hlm 26
gumêlar ngalam sakalir
adapun yang dimaksud AWAS,
faham akan hijab yang menghalangi pandangan,
serta tahu tentang siapa Sang Pemilik Kewenangan Tunggal,
yang menyatu siang dan malam (dengan diri kita),
yang berkehendak tiada batas,
yang melingkupi seluruh alam semesta.
aywa sêmbrana ing kalbu
wawasên wuwusirèki
ing kono yêkti karasa
dudu ucape pribadi
marma dèn sambadèng sêdya
wêwêsên praptaning uwis
Jangan gegabah dalam bersikap,
berhati-hatilah dalam bertutur kata,
sungguh bakal nyata kan terasa,
bukan ucapan pribadi,
harus benar-benar berpedoman niat yang kuat,
peganglah hingga sampai pada tujuan
sirnakna sêmanging kalbu
dèn waspada ing pangèksi
yèku dalaning kasidan
sinuda saking sathithik
pamothahing napsu hawa
linalantih mamrih titih
Hilanghkan segala ragu di hatimu,
waspadalah akan penglihatan kesadaranmu,
itulah jalan kesempurnaan,
kurangilah sedikit demi sedikit,
segala keinginan nafsu angkara,
latihlah kesadaranmu melalui konsistensi.
aywa mêmatuh nalutuh
tanpa tuwas tanpa kasil
kasalibuk ing srabeda
marma dipun ngati-ati
urip kèh rêncananira
sambekala dèn kaliling
Shinta Minulya Hlm 27
Jangan terus dirundung ketidak puasan diri,
bakal tiada akhir dan tanpa hasil,
(tlah jelas) terkena penghalang batin,
oleh karenanya slalu berhati-hatilah,
hidup penuh rencana dan godaan ,
segala penghalang cermatilah.
upamane wong lumaku
marga gawat dèn liwati
lamun kurang ing pangarah
sayêkti kêrèndhèt ing ri
apêse kêsandhung padhas
babak bundhas anêmahi
Seumpama manusia yang tengah berjalan,
melewati jalan berliku dan terjal,
pabila tiada pedoman,
niscaya bakal tertusuk duri,
bahkan terantuk batu padas nan tajam,
terluka pada akhirnya.
Pria itu tertunduk kelu akhiri lantunan tembang
hatinya kosong semangatnya terbang
sepotong wajah ayu terbayang
seulas senyum manis terkenang
aroma badan menyebar wewangian kembang
serasa ingin direngkuh penuh kasih sayang
namun apa daya hanyalah bayang
berurai kesedihan hilang langkah cahya terang
Ya …. pria itu bukanlah orang sembarangan
dialah raja Ayodya berdarah bangsawan
namun kini kelam menyelimuti sekujur badan
berjalan tertatih bersandar keraguan
“Apakah Kanda Rama tengah mengingatnya lagi ?”
Tiba-tiba terdengar suara memecahkan keheningan yang keluar dari mulut
seorang Laksmana yang telah berdiri di muka kakaknya. Laksmana begitu
trenyuh menyaksikan kondisi kakaknya yang begitu lemah dan terlihat
begitu sedih mendalam menanggung beban. Oleh karenanya dia kemudian
Shinta Minulya Hlm 28
memberanikan diri menyapa kakaknya walaupun tidak diperintah
menghadap.
“Apakah Kanda Rama tengah mengingat mbakyu Shinta lagi ?” diulang
pertanyaannya karena cukup lama tak peroleh jawaban
Pelan Rama Wijaya mendongakkan kepalanya dan berusaha memberikan
senyuman atas kehadiran adik yang sangat dicintainya itu. Dengan suara
lemah dijawabnya
“Mengapa engkau tanyakan hal itu lagi. Sudah puluhan kali, bahkan
mungkin ribuan kali engkau bertanya hal yang sama”
“Karena jawaban Kanda tidak tegas, bahkan sering dijawab hanya dengan
gelengan kepala saja. Saya hitung, sudah lima tahun sejak saya
diperintahkan oleh Kanda untuk meninggalkan Mbakyu Shinta di hutan,
apakah Kanda tidak ingin tahu bagaimana nasibnya kini ? Kalau masih
dalam keadaan hidup, maka seharusnya Mbakyu Shinta telah melahirkan
bayinya. Apakah Kanda tidak ingin mengetahui kepastiannya ?”
“Untuk apa aku harus mengetahuinya ?”
“Bukankah anak itu adalah darah daging Kanda ?
“He … Laksmana ! Engkau tidak perlu mencampuri urusanku ! Shita sudah
mati atau masih hidup, Shinta sudah melahirkan atau keguguran, itu bukan
urusanmu ! Aku tidak peduli !” bentakan Rama membuat kaget Laksmana.
Reaksi atas pertanyaan tadi, membuat Laksmana cukup senang karena kini
yakin bahwa kakaknya masih dapat berfikir dan bersikap.
“Mohon maaf Kanda, bukan maksud saya mencampuri urusan Kanda dengan
Mbakyu Shinta, namun perhatian tadi adalah wujud cinta kasih saya
kepada Kanda dan Mbakyu Shinta. BIarlah adikmu ini menderita atau Kanda
putuskan hukuman, yang terpenting bagi diri saya adalah kebahagiaan
Kanda berdua. Sejatinya saya yakin bahwa keraguan hati masih meliputi
diri Kanda sampai dengan saat ini. Keraguan inilah yang menjerumuskan
Kanda dalam lembah penderitaan batin. Akankah ini akan berlangsung
selamanya, Kanda ?” pelan suara Laksmana mewartakan kesedihan
mendalam
Shinta Minulya Hlm 29
Mendengar jawaban itu, dengan lembut tangan Rama kemudian menyentuh
pundak adiknya tersayang seraya berkata
“Terima kasih Adikku, jasamu kepadaku sudah sedemikian besar dan tak
mampu kuhitung. Kasihmu kepadaku tak terbantahkan lagi, namun biarlah
kakakmu ini menanggung semua yang telah terjadi. Sabda pandita ratu,
ucapan dan keputusanku tidak bisa ditarik lagi, ludah tak dapat dijilat lagi.
Apa kata dunia nanti apabila seorang Rama kemudian mengingkari kata-
katanya. Bukankah demikian, adikku ?”
“Namun kita semua tetaplah manusia biasa, Kanda. Seorang manusia tentu
pernah lupa dan salah. Dan kewajiban kita sendirilah untuk
memperbaikinya”
“Kembali kutegaskan bahwa sabda pandita ratu, ucapan dan keputusanku
tidaklah salah dan aku tidak akan pernah menarik kata kataku sendiri”
“Ya sudah kalau memang begitu keyakinan Kanda, saya hanya sekedar
mengingatkan saja”
Shinta Minulya Hlm 30
Bag-5 Lima belas tahun sudah …
Ha … ha … ha …
hi … hi … hi …
“Ayo Kusya ! Engkau kejar kelinci lucu itu ! Cepat …. Sekarang menuju ke
tempatmu !”
“Iyaaaa Lawaa .. kencang sekali larinyaaa !
Suara tawa anak kecil memecahkan keheningan hutan di siang itu. Dua anak
kecil, sepertinya kembar, berlari lari riang mengejar kelinci hutan. Kaki
kaki mungil itu berlari lincah mengikuti jeritan penuh tawa. Sementara
tidak jauh darinya, duduk di akar akar besar melintang di bawah sebuah
pohon besar, tersenyum bahagia wajah wanita jelita menyaksikan tingkah
polah dua anak itu.
Tingkah polah anak kembar membuatnya tersenyum senang
berlari ke sana kemari berteriak girang
mengejar kelinci mengamati belalang
wajah berbinar mulut berceloteh riang
Shinta Minulya Hlm 31
Ya … wanita itu tiada lain adalah Shinta
dan anak kembar itu adalah Lawa Kusya
tlah lima tahun mereka terlahir di dunia
dalam sepi kehidupan hutan belantara
tiada orang lain mereka pernah jumpa
kecuali sang ibunda slalu mengiringi bersama
dan sesekali “kakek” mereka mengunjunginya
tuk pastikan segala berjalan tak terkendala
dan juga bekali pelajaran olah jiwa dan olah krida
Saat Resi Walmiki memilih tempat itu untuk ditinggali guna mempersiapkan
kelahiran bayi yang dikandungnya, Shinta hanya mengiyakan. Dia telah
memasrahkan hidupnya kepada bekas guru Ramawijaya itu.
Menunggu adalah kegiatan yang membosankan. Apalagi bila menunggu
dalam kesendirian dan tanpa teman berbagi. Memang, Begawan Walmiki
telah membuatkan tempat yang nyaman bagi dirinya untuk hidup yang
layak meskipun berada di tengah hutan. Sebuah rumah sederhana yang
mungil telah berdiri kokoh untuk menghindarkan diri dari gangguan
binatang buas saat malam tiba. Tidak jauh dari pondok itu, terdapat telaga
kecil dengan air yang jernih yang cukup untuk memenuhi segala kebutuhan
berkaitan dengan air, minum, memasak, mencuci dan membersihkan diri.
Makanan sehari-hari pun tidak sulit di dapat di sekitarnya, buah-buahan,
daun-daunan sehingga tak ada kekawatiran kelaparan dan kehausan.
Di awal-awal menjalani hidup di pondok itu, masih terbersit harapan bahwa
suatu hari suaminya telah menyesali perbuatannya dan kemudian
menjemputnya untuk di boyong ke Ayodya. Telah ditetapkan hatinya untuk
memberi maaf atas khilaf Sang Rama. Namun disadarinya bahwa rasa cinta
terkadang kalah oleh rasa ego dan pilihan rasio yang terpatri begitu kuat di
dalam hati. Mungkin itu yang tengah dialami oleh jiwa Sang Rama, begitu
harapan tersembunyi Sang Putri.
Namun harapan tinggallah harapan, penantian seolah tak bertepi. Hari
berganti hari, bulanpun tlah berganti. Utusan Sang Suami tiada kunjung
menjemput dan perutnyapun semakin membuncit seiring bayi yang
dikandungnya telah siap tuk lahir ke dunia.
Shinta Minulya Hlm 32
Wanita mana yang tak perih hatinya mengalami kejadian seperti ini.
Perempuan mana yang tak lara di tinggal pergi oleh orang yang dicinta. Istri
mana yang tak nelangsa suami tiada saat buah cinta tlah menjadi nyata
melalui bayi yang bakal terlahir.
Hingga saat melahirkan tiba, hanya kata-kata hiburan dan penguat
semangat dari Sang Walmiki saja yang mampu membuatnya menghadapi
hidup dengan mantap. Kepasrahan kepada Sang Hyang Pencipta Semesta
membantu Sang Dewi menjalani kehidupan mengalir apa adanya. Mulai saat
itu, setelah bayi terlahir dan ternyata dua lelaki kembar, tlah ditancapkan
dalam hati tekad untuk melupakan ayah anak-anak itu. Tlah diyakini dalam
diri bahwa takdir hidupnya kini adalah membesarkan Lawa Kusya, demikian
bayi kembar itu diberi nama, hingga kelak menjadi satriatama.
Dan lima tahun telah berlalu. Bayi bayinya kini telah menjadi bocah-bocah
yang lucu dan menggemaskan. Setidaknya si kembar itulah yang telah
membuat hatinya mekar bahagia melupakan segala derita yang disandang,
menumbuhkan semangat hidup yang sebelumnya layu meredup.
<<< ooo >>>
Sepuluh tahun kemudian ….
Di tanah lapang di tempat mereka bermain dahulu, tengah terjadi
pertempuran seru antara dua orang pria remaja berwajah dan
berperawakan serupa. Sementara tidak jauh darinya, duduk di akar akar
besar melintang di bawah sebuah pohon besar, tersenyum bahagia wajah
wanita setengah tua menyaksikan begitu gagahnya anak-anak kembarnya
tengah berlatih olah krida. Pohon itu semakin menua dan wanita itupun
demikian juga. Sedikit gurat keriput terlihat di kening wanita itu, namun
sungguh … kecantikan tiada pudar di wajah nan indah itu. Malah justru kian
terpancar keagungan dan kebijakan yang semakin matang di wajah nan ayu
itu.
Shinta Minulya Hlm 33
Benar adanya kata kaum bijak bestari bahwa terbentuknya karakter itu
melalui dua hal yaitu sastra dan laku, ilmu dan waktu. Semakin berilmu
seseorang dan kemudian dia mengamalkannya, maka karakter akan
semakin kokoh terbentuk. Defaultnya, semakin tua seseorang harusnya
memiliki kebijaksanaan yang semakin terbentuk karena semakin bertambah
ilmu dan pengalamannya. Apabila ada orang yang telah hidup di dunia
sekian lama namun tingkah polahnya masih layaknya bocah, maka pasti ada
sesuatu yang salah.
Peran Begawan Walmiki terhadap perkembangan Lawa Kusya tidak
diragukan lagi. Tidak hanya olah raga atau olah krida saja yang diajarkan
dan digembleng kepada kedua anak itu, namun olah jiwa dan olah
kebatinan selalu juga menjadi asupan yang diberikan secara seimbang. Dan
karena ketekunan Lawa Kusya dalam belajar dan berlatih, maka hasil yang
diperolehpun sangat memuaskan. Lawa Kusya telah menjadi pemuda-
pemuda yang kuat dan digdaya.
Namun ada hal yang selalu mengganjal dalam benak mereka. Berdasarkan
referensi kitab-kitab sastra yang mereka baca dan pelajari, terdapat hal
ganjil yang mereka alami yaitu tentang keluarga. Segudang tanya meliputi
hati sekian lama. Mengapa hanya seorang ibu yang aku punya ? Siapakah
ayah mereka ? Dimanakah ayah mereka berada kini, sudah tiada atau masih
hidup ? Kalaupun masih hidup, sekarang ada dimana ? Dan saat pertanyaan-
pertanyaan tadi disampaikan kepada ibunya, yang didapat oleh Lawa Kusya
hanya mulut terkunci Shinta dan gelengan kepala belaka. Dan Lawa Kusya
tak mau memaksa lebih jauh ibunya untuk mengungkap informasi dan fakta
tentang keluarga mereka seutuhnya. Lawa Kusya teramat mencintai
ibundanya, tak ingin menyakiti perasaannya walau hanya sekejap.
Seperti layaknya sikap seorang pemuda yang ingin serba tahu, tak kurang
akalnya kemudian Lawa dan Kusya mencari informasi dari “kakek”nya. Ya
selama ini Begawan Walmiki meminta kepada mereka untuk menyebutnya
cukup kakek saja. Namun seolah telah ada kesepakatan antara ibu dan
kakeknya, tidak ada informasi penting yang diperoleh ketika mengorek
keterangan dari sang kakek. Kakeknya hanya menceritakan derita tentang
seorang wanita yang ditinggalkan sendirian di tengah hutan belantara oleh
suaminya hanya karena hasutan dari orang lain tentang perilaku
Shinta Minulya Hlm 34
selingkuhnya. Padahal wanita itu sama sekali tidak melakukannya. Wanita
itu adalah korban iri dengki dari manusia-manusia yang tidak rela melihat
kebahagiaan orang lain.
Hanya penggalan cerita itu yang dituturkan oleh Begawan Walmiki, dan saat
ditanya tentang siapa wanita itu dan siapa suaminya, maka yang diperoleh
Lawa dan Kusya hanya senyuman bijak sang kakek dan kata-kata lembutnya
“Kelak engkau bakal mengetahuinya, Nak. Jadi bersabarlah saja”
Dan Lawa Kusyapun hanya mampu mengiyakan meskipun rasa penasaran
masih mengganjal jiwa mudanya. Satu hal yang diyakini sebagai suatu
kebenaran oleh mereka berdua adalah, bahwa wanita dalam sepenggal
kisah itu tiada lain adalah ibunya sendiri. Dan yang belum diketahuinya
adalah siapakah sebenarnya ayah mereka ?
<<< ooo >>>
Manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Tuhan dengan sempurna dan
diberi mandat sebagai penguasa alam sehingga dilengkapi dengan tools
pendukung yaitu akal dan hati. Akallah yang dipergunakan untuk berfikir
demi mengembangkan hidup dan kehidupannya melalui pengetahuan dan
pemahaman. Berjuta pertanyaan mendorong mereka untuk selalu berfikir
dan menuntaskan masalah yang dihadapi. Solusi kerap dapat dihasilkan
namun adakalanya gagal diperolehnya.
Berdasarkan pengalaman yang telah berulang kali dilakoni, maka kesadaran
akan ‘kekuatan lain’ yang berkuasa atas dirinya, yang tidak sanggup dan
tidak mungkin dilawannya, kerap muncul menyeruak. Akal cenderung
melihat dan menganalisis yang bersifat nyata dan empiris, dan hanya
dengan hati (qolbu) ‘kekuatan lain’ itu dapat dirasakan keberadaannya.
Dan di relung qolbu, tersimpan apa yang dinamakan god spot, titik dimana
Tuhan ‘bersemayam’ di diri manusia. God spot atau “mata hati” dimiliki
oleh setiap insan.
Danah Zahar dan Ian Marshall, pengarang buku best seller SQ (Spiritual
Quotient) Kecerdasan Spiritual, menyatakan adanya ‘God Spot’ atau apa
yang biasa disebut suara hati atau mata hati pada otak manusia.
Shinta Minulya Hlm 35
Berdasarkan penelitian mereka ‘God Spot’ ini terletak diantara jaringan
syaraf otak yang berfungsi sebagai pusat spiritual manusia. Pada ‘God Spot’
inilah sebenarnya terdapat fitrah manusia yang terdalam. Namun
sayangnya temuan mereka ini baru sebatas pada apa yang nyata ada pada
otak manusia. Sesuatu yang menunjukkan akan adanya proses syaraf dalam
otak manusia yang berfungsi menyimpan dan mempersatukan segala
pengalaman hidup manusia dan sekaligus memberinya makna.
Adanya keseimbangan antara ketiga faktor, IQ-EQ-SQ, akan membentuk
suatu pribadi yang tegar, pribadi yang memiliki pandangan yang tidak
sempit yang tidak hanya tertuju kepada kepuasan duniawi namun juga
memiliki dimensi keakhiratan yang penuh ketakwaan, yang pandai
bersyukur dan sabar menghadapi segala tantangan. Sikap inilah yang
nantinya akan melahirkan sikap pantang berkeluh kesah, jauh dari berputus
asa.
Dalam khazanah sastra Jawa, hal tersebut salah satunya diwedarkan bahwa
untuk memperoleh kesempurnaan hidup dibutuhkan “LAKU”
Kauningana, lampah punika wontên kawan prakawis: ingkang sapisan
lampahing raga, ingkang kaping kalih lampahing budi, ingkang kaping tiga
lampahing manah, ingkang kaping sêkawan lampahing rahsa.
Ketahuilah, LAKU itu terdiri dari empat perkara : Laku Raga, Laku Hati,
Laku JIwa dan Laku Rahsa.
Lampahing raga, kêdah rêsikan, kêdah marsudi ing kasarasaning badan,
kêdah susila anor raga, ruruh jatmika, pasêmon sumèh mêrak-ati. Manawi
agami Islam, inggih punika kêdah nglampahi sarengat.
Laku RAGA diantaranya, slalu menjaga kebersihan, mengupayakan hidup
sehat, rendah hati, bersusila sikapnya, wajah slalu bersenyum
menyenangkan hati. Kalau dalam agama Islam yaitu telah melaksanakan
syari’at.
Ingkang kaping kalih, lampahing budi. Kêdah sabar, bèrbudi, lêgawa,
paramarta, sarta kêdah rêmên mêmikir, nglalimbang awon saening
lêlampahan, ingkang awon dipun singkiri, ingkang sae dipun ajêngi, dipun
angge. Punapadene kêdah rêmên ngraos-ngraosakên kodrat, bedanipun
kaliyan iradat. Pikantukipun badhe sumêrêp wêwatêsaning pangawasa
Shinta Minulya Hlm 36
tuwin kawaskithaning Gusti, kaliyan iradat kawicaksananing kawula,
wêkasan lajêng sagêd rumôngsa, nalôngsa, sagêd ngakêni bilih têmên
manawi wontên ingkang murba amisesa. Manawi agami Islam, inggih
punika kêdah nglampahi tarekat.
Yang kedua, laku hati. Harus selalu sabar, bijaksana, legawa, welas asih,
serta terus berfikir dan belajar terhadap baik buruknya kejadian, yang baik
dilanjutkan dan yang buruk disingkirkan. Juga harus berkemauan kuat
untuk memahami kodrat dan iradat. Hasil yang diperoleh adalah
pemahaman akan terbatasnya kemampuan makhluk dan
keMahaKuasaannya Gusti. HIngga kemudian muncul sikap rumôngsa (sadar
diri), nalôngsa (berpengharapan) dan akhirnya meyakini bahwa
sesungguhnyalah hanya Tuhan YME yang menciptakan, menghidupi dan
memelihara alam semesta ini. Dalam agama Islam harus melalui laku
thariqoh.
Ingkang kaping tiga, lampahing manah. Kêdah têmên, mantêp, ngidhêp,
madhêp dhatêng Pangeran Ingkang Maha Kawasa, tuwin ngandêl, winantu
ajêk pangastutinipun, manawi agami Islam kêdah sumêrêp ing ngèlmi
kakekat.
Yang ketiga adalah laku jiwa. Harus bersungguh-sungguh, mantap, pasrah
berserah dalam menghadap kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta slalu
yakin akan limpahan kasihNya kepada setiap makhluk. Dalam agama Islam
harus memahami ilmu hakekat.
Ingkang kaping sakawan, lampahing rahsa. Kêdah nyumêrêpi patitising
panêmbah, inggih punika sumêrêp dunungipun ing panêmbah, tuwin
ingkang sinêmbah, dados sumêrêp pamoring kawula Gusti. Manawi agami
Islam, inggih punika kêdah sumêrêp ing ngèlmi makripat.
Yang ke empat, laku rahsa. Harus memahami lebih dalam tentang berserah
diri, memahami tempat dan saat yang tepat dalam bersembah, juga lebih
dekat kepada yang disembah, sehingga mampu memahami dan larut dalam
“pamor kawula gusti”. Kalau dalam agama Islam mampu memahami ilmu
ma’rifat.
Shinta Minulya Hlm 37
Apa yang kurang pada diri seorang manusia bernama Ramawijaya ?
Kesentosaan raga dan jiwa dia tlah miliki, kekuasaan telah dia punyai,
pengalaman pahit dan manis begitu banyak tlah dia nikmati sehingga
menempa kesentosaan jiwa satrianya. Namun mengapa sekarang menjadi
begini adanya ?
Tiga belas tahun terbuang di hutan bersama istri yang setia menemaninya
serta adiknya Laksmana. Dua belas tahun berjuang membebaskan istrinya
dari kungkungan Rahwanaraja. Dan setelah Shinta terbebas, harusnya
kebahagiaanlah yang direngkuhnya. Namun jiwanya malah di selimuti
kecurigaan terhadap istrinya akan kesucian cinta mereka.
Masuk akalkah selama dua belas tahun di kurung di taman Argasoka,
Rahwanaraja tidak menjamah Shinta ? Logiskah selama dua belas tahun
cinta Shinta tetap konsisten walau digoda oleh keindahan dan kilau harta
duniawi yang ditawarkan Rahwana ? Benarkah selama dua belas tahun
Shinta selalu waspada dan mampu menjaga diri dari jamahan Rahwana ?
Dan Rahwana pun sebenarnya bukan manusia biasa. Walaupun tingkah
lakunya berangasan dan cenderung kejam, namun secara fisik memiliki
segalanya. Kegagahan, kekayaan, kekuasaan dan gairah cinta yang luar
biasa ada pada dirinya.
Shinta Minulya Hlm 38
Bag-6 Aswamedha
Lima belas tahun tlah berlalu
sejak kejadian menyesakkan itu
rasa hatinya selalu gundah galau
hati nurani tiada berdaya terlanjur kelu
menghadapi logika dan ego yang menyatu
antara rasa curiga dan hati nan merindu
Lima belas tahun Sang Rama hanya terpaku
hatinya terluka parah dia tak tahu
jiwanya keras nyaris membatu
segala tindakan dan pikiran penuh ragu
jiwa nelangsa sepanjang waktu
Di awal kejadian itu sempat muncul asa
tuk jemput istrinya dan akui salah kata
segera kembali ke Ayodya
arungi hidup bahagia bersama
sebagai sebuah keluarga sempurna
dalam naungan sejatinya CINTA
Namun egonya menentang dengan pasti
apakah layak seorang Raja menjilat ludah sendiri?
Shinta Minulya Hlm 39
apakah sabda Raja sudah tak berwibawa lagi?
apakah Ramawijaya kalah oleh seorang istri?
apakah rasio terpinggirkan oleh hati nurani?
dan akhirnya … begitulah yang terjadi
lima belas tahun sudah Rama hidup sendiri
menjadi penguasa namun berbalut sepi
menjadi suami tanpa anak dan istri
Hingga suatu saat Sang Regawa bermimpi
bencana menyebar di seantero negri
penyakit misterius datang mengundang ngeri
malam terjangkit .. pagi kemudian mati
pagi tertular … malam-pun tlah pergi
suasana mencekam tak terperi
rakyat resah tak tahu apa yang terjadi
punggawa kerajaan bingung mencari solusi
negri Ayodya yang damai kini diselimuti misteri
Ketika terbangun dari mimpi buruk di tengah malam hari
Sang Rama termenung memikirkan makna arti
adakah ini pertanda dari Dewata yang bakal sebentar terjadi?
segera menuju sanggar pamujan dilangkahkan kaki
tuk lakukan puja heningkan diri
berharap petunjuk datang dari ilahi
peroleh wangsit menguak misteri
beserta langkah yang harus dilakukan sebagai solusi
Namun entah bagaimana passion “kebijaksanaan” Wisnu kini
apakah masih manjing dalam gua garba suci
dalam diri Rama bersama hati nurani
kalau ternyata sulit untuk konsentrasi
bersapa dengan dewata mengadu kesusahan diri
hanya petunjuk samar didapati
Akhirnya di pagi hari berikutnya
dikumpulkan semua kaum bijak dan brahmana
bahas masalah dan mencari simpulan makna
hingga Aswamedha 3
terpilih bersama
3 Aswamedha atau Korban kuda merupakan tradisi ritual Korban yang berasal dari zaman
Veda sebagai symbol representasi kekuatan dan kekuasaan yang tertinggi atas raja-raja
lain, yang merupakan taklukannya. Pada awalnya dilakukan oleh raja yang menginginkan
keturunan. Tetapi kemudian menjadi korban untuk membuktikan kekuasaannya dan
Shinta Minulya Hlm 40
Maka dicarilah kuda-kuda pilihan di seantero negri. Kuda-kuda jantan
berperawakan tinggi dan kekar, bersih dan sehat badannya serta berwarna
putih atau coklat muda keemasan bulunya. Beberapa saat kemudian telah
terkumpul sepuluh kuda terpilih, 5 berwarna putih dan 5 lainnya coklat
muda.
Dan prajurit pengawal yang dipilih adalah Kopasus-nya kerajaan Ayodya
yang merupakan pasukan yang dibentuk dan dilatih secara khusus untuk
menghadapi bencana dan atau serangan musuh. Pasukan itu diberi nama
"Purusotama Dewangkara Bêrgada".
Sesuai dengan protap dan undang-undang kerajaan yang berlaku, ritual
aswamedha di-launching melalui sebuah upacara pelepasan yang dipimpin
oleh Ayodya-1. Sepuluh kuda berjejer rapi didampingi oleh satu batalyon
pasukan Purusotama Dewangkara Bêrgada berjumlah lima ratus orang yang
dipimpin oleh Tumengung Senayudha didampingi oleh Senapati Ayodya,
adik sang raja sendiri yaitu Laksmana. Kata sambutan sang raja disertai
oleh doa dan berkah para brahmana, mengiringi kepergian rombongan kuda
dan pasukan tentara Ayodya. Para kuda dibiarkan bergerak bebas sendirian
sementara rombongan pasukan mengikuti dari belakangnya.
Lah ing kono ta wau budhaling prajurit ing Ayodya
mijil sangking praja ing ngajêng kaya maesa sêsingat,
ing wingking banyu anjog swarane, lir wêrsa canthoka.
apabila seorang raja telah merasakan diri telah berkuasa penuh dalam wilayahnya, maka
ia akan mengadakan korban Aswamedha.
Untuk itu seekor kuda dari warna tertentu (putih atau coklat muda keemas-emasan)
dilepaskan dan diikuti (dijaga oleh sekelompok satria, yang harus melindunginya terhadap
serangan orang atau pencuri). Selama setahun kuda itu berkelana kemanapun ia suka
tanpa diganggu dan dilindungi oleh satu pasukan bersenjata.
Bila ia melewati perbatasan kerajaan lain, rajanya akan melawan berperang atau
menyerah. Setelah kuda itu aman berkeliaran demikian, maka kedudukan raja yang
melepaskannya kuda-kuda itu telah terbukti. Pada akhir tahun kuda itu akan kembali ke
ibu kota dan disambut dengan upacara besar Lalu kuda dikorbankan.
Sumber : https://en.wikipedia.org/wiki/Ashvamedha
Shinta Minulya Hlm 41
Wêrsa udan canthoka kodhok, kaya kodhok kabanyon,
warna-warna pangandikane.
Lampahe agêgolongan, apêpanthan,
swaraning bêndhe sauran,
grêdêging lampah krapyaking watang agathik,
pangêriking kuda panjêriting liman,
kabarung swaraning tambur salomprèt lan suling kaya mêtika talingan,
lir wêrsa cintèki.
wêrsa udan, cintèki pajatèn,
kumrusuk kadi udan sinêmèni.
amindha gêrah masa kapat.
Untaping wadyabala lir wêrdu gangga sasra.
wêrdu lintah gangga banyu, sasra sèwu,
kaya lintah sèwu barêng kumêlap,
lampahing wadyabala kadya sela blêkithi.
sela watu blêkithi sêmut,
kaya sêmut lumaku ing watu.
Mangkana para wadyabala sami ngasokake sarirane.
ana kang ngudhunake bêbrokohe,
ana kang giyak-giyak,
sawênèh ana kang ngimbir-imbirake turanggane,
ana kang ura-ura sinênggaki mring kancane.
kang jirih dadi kêndêl,
kang kêndêl mundhak kuwanène.
Neka-nekaning prabot gêbyaring panganggo kang irêng kumpul padha
irêng
tinon sangking mandrawa,
kadya mêndhung angêndhanu,
kang kuning kaya podhang arêraton,
kang ijo kadya tandur lagi gêmadhung,
kang putih kaya kontul nêba leleran,
kang abang kadya wana kobar.
Môngka kumpul dadi sawiji,
tinoning sangking mandrawa abyor lir sêkar sataman.
Gerakan pasukan Ayodya ternyata telah menjadi viral di dunia maya. Raja-
raja kecil yang bersebelahan dengan perbatasan Ayodya, sudah kuncup
nyalinya dan mempersiapkan surat takluk kepada Ramawijaya. Raja kecil
Shinta Minulya Hlm 42
yang tidak mau tunduk begitu saja, telah mempersiapkan wadya balanya
untuk menghadang pasukan Ayodya apabila ternyata langkah kuda
aswamedha bergerak menuju kearah negaranya. Raja yang merasa
sederajat dengan Ayodya dan enggan untuk menjadi negara jajahan, telah
mempersiapkan pasukan pengawal perbatasan demi mempertahankan
kedaulatan negrinya.
Namun ternyata kuda-kuda aswamedha sangat lamban jalannya. Dan
karena tidak boleh dipaksa dan dikendalikan, maka mereka bergerak sesuka
hatinya. Bahkan malah pernah rombongan kuda tadi seharian bersantai di
padang rerumputuan pinggir hutan. Namanya juga binatang ….
Dalam waktu enam bulan, hanya dua Negara kecil yang disinggahi yaitu
Polanharja dan Diwukjaya. Dan karena rajanya menyadari kekuatan mereka
yang kalah jauh dengan pasukan Ayodya, maka tidak ada pertempuran yang
terjadi. Dua dokumen Berita Acara Penaklukan Negara saja yang
ditandatangani di atas materai enam ribu.
Memasuki bulan ke delapan, ternyata arah kuda menuju sebuah Negara
yang cukup besar yaitu Tanjungsari dengan rajanya yang adalah seorang
raksasa yang cukup terkenal karena kedigdayaannya, bernama Prabu
Similikiti.
Kepercayaan diri Prabu Similikiti terbilang sangat tinggi sehingga meskipun
didaerah perbatasan sudah dikerahkan pasukan mata-mata untuk berjaga,
namun dia tetap berada di istana menuntaskan hobi yang paling di
gemarinya yaitu bobok bobok siang. Sehingga takala suara kentongan
bertalu-talu yang mengabarkan musuh datang menyerang, Sang Prabu
segera meloncat cepat, menyambar pakaian perangnya dan bergegas
berlari keluar guna melihat apa yang tengah terjadi.
Anênggih gantya kocapa, ana gêmpalaning kôndha babakan anglayoni.
Kalêbu têturutane nanging seje caritane. Titahing Hyang Girinata, wontên
ing nagari ingaranan Polanharja ajêjuluk Prabu Similikiti asipat raksasa,
gung luhur pangawak pindha prabata, tutuknya kadya guwa. Yèn sêgu
Shinta Minulya Hlm 43
kadya gêlap, yèn ngandika gumlêgêr kadi gludhug, netra kaya surya
kêmbar.
Rigma gimbal dèn ore, jinamangan sungsun tiga, kinancing ing grudha
mungkur grudha mangarêp, sinôngga ing praba, ulur-ulur naga kang
ngangrangan. Agêgêlang kêlat bahu sarpa raja, akêroncong nagapasa.
Kampuh parangrusak barong sinulam ing prada, ukup renda, calana cindhe
puspita. Tinon lir pendah Bathara Kala rikala arsa nglêbur jagad.
Disaksikan olehnya, puluhan prajurit pengawalnya tergeletak di tanah
bersimbah darah. Entah pingsan, entah sudah kehilangan nyawa.
Sementara ratusan prajurit yang lain telah ditawan atau duduk bersimpuh
tanda menyerah kalah.
Dengan geram dan bersuara menggelegar Sang Prabu berkoar
“Hey … apa yang tengah kalian lakukan terhadap prajurit-prajuritku. Dari
mana kalian ini dan apa yang kalian inginkan. Berani-beraninya membuat
onar di depan mata Prabu Similikiti. Apa kalian belum tahu sedang
berhadapan dengan siapa ?”
Gelegar suara Raja Polanharja tadi setidaknya menggambarkan kekuatan
tenaga dari sang empunya. Namun dengan tenang, pimpinan pasukan asing
itu maju ke depan dan berkata
“Perkenalkan, aku adalah Tumenggung Senayudha dari negri Ayodya. Kami
sedang mengadakan ritual aswamedha dan kebetulan kuda-kuda yang akan
kami korbankan memasuki tempat ini. Dan karena prajurit-prajuritmu
menghalangi langkah kami, maka terpaksa kami beri pelajaran sedikit”
Dengan menahan kemarahan Similikiti berkoar
“Mau aswamedha atau medha-medha yang lain aku tidak peduli. Yang jelas
kalian telah melanggar wilayah negaraku dan itu artinya mencari mati.
Hayo kalau betul kalian berjiwa ksatria, satu persatu maju melawanku.
Akan kucincang kalian semua”
Shinta Minulya Hlm 44
Sementara itu Tumenggung Senayudha yang sudah melangkahkan kakinya
hendak memenuhi tantangan Similikiti, dipegang oleh Laksmana seraya
berkata lembut
“Biar aku saja yang menghadapinya Senayudha”
“Sendika dhawuh, pangeran !”
Dengan tenang kemudian Laksmana berjalan pelan menghampiri raja
raksasa itu
“Bukankah engkau adalah Prabu Similikiti ?”
“Ha ha ha ha … ternyata namaku telah tersohor dimana-mana. Benar …
kamu siapa dan mau apa ?”
“Aku adalah Laksmana, adik dari raja Ayodya kanda Ra ..”
“Oh ya … aku kenal sama Ramawijaya raja Ayodya yang kejam itu kan”
“Jangan sembarang kalau ngomong. Kanda Ramawijaya adalah raja agung
yang bijaksana kekasih dewata”
“Ha ha ha ha … bijaksana bagaimana lha wong istrinya sendiri
ditelantarkan, dibuang tidak memiliki perikemanusiaan. Kalau aku yang
melakukan wajar saja karena aku seorang raksasa dan tidak ada
perikeraksasaan … ha ha ha ha”
“Beraninya engkau menghina kanda prabu !”
“Ha ha ha ha … he Laksmana … engkau sendiri manusia yang lemah, tak
berdaya, tak mempunyai keberanian menentang kakakmu yang berdiri
dalam pihak yang salah. Bukankah engkau yang ditugaskan membuang istri
Rama ke hutan, kan ? Ha ha ha ha … begitu kok mengaku seorang satria …
kalau waria mungkin … ha ha ha ha”
Laksmana yang mendengar ejekan itu serasa ditampar mukanya, laksana
ditusuk jantungnya. Meskipun telah memerah wajahnya, namun dengan
suara dingin dia menantang
Shinta Minulya Hlm 45
“Similikiti ! Tidak usah banyak bacot, ayo kita bertanding satu lawan satu
sampai salah satu menemui ajal. Aku pertaruhkan nyawaku untuk
kemuliaan kanda Ramawijaya dan negri Ayodya. Apabila aku kalah dan
terbunuh maka pasukan Ayodya di belakangku tidak akan cawe-cawe, biar
mereka kembali ke Ayodya dan tidak akan mengganggu negrimu lagi
selamanya. Beranikah engkau mempertaruhkan nyawamu yang tak berguna
itu ?!”
“Ha ha ha ha … siapa takut dengan dirimu. Biarpun kakakmu sekalian yang
begitu terkenal kedigdayaannya dan katanya titisan Wisnu, bersama kamu
mengeroyokkupun, akan aku hadapi dengan senang hati.”
“Sumbarmu seakan memecahkan langit ! Tidak perlu kakakku yang turun
tangan, aku sendiri sanggup untuk mengenyahkanmu ! Ayo kita mulai !”
Shinta Minulya Hlm 46
Bag-7 Mungkinkah dia adalah …
Maka pertempuran sengitpun terjadi. Sebenarnyalah, sumbar Prabu
Similikiti bukan isapan jempol belaka. Kekuatannya memang sungguh luar
biasa. Telah puluhan kali badannya menerima pukulan telak dari Laksmana,
namun sepertinya hanya dirasakan seolah gigitan semut saja. Sebaliknya
Laksmana cukup kewalahan menerima serangan bertenaga besar dari
lawannya dan hanya karena kegesitan dalam bergerak maka pukulan seribu
kati belum pernah menyentuhnya, hanya sambaran angin kencang saja yang
dirasakan. Laksmana sangat berhati-hati dan tak ingin kepalan tangan dan
tendangan kaki raja diyu itu mengenai tubuhnya. Sekali terkena bisa
berakibat fatal bagi dirinya.
Hal itu disadarinya dan setelah ratusan jurus berlangsung maka Laksmana
mulai mengerti apa yang harus dilakukan untuk menyudahi pertempuran
ini. Tipu daya dalam perkelahian untuk memenangkan sebuah pertempuran
lazim dilakukan. Dan Laksmana memutuskan untuk memulai siasat itu.
Tiba-tiba Laksmana terlihat seperti kelelahan dan terus menghindar tanpa
mampu membalas serangan yang dilancarkan oleh Similikiti. Yang dilakukan
Shinta Minulya Hlm 47
hanya mundur dan menghindar setiap bogeman tangan raksasa itu
mengejarnya. Sang diyu merasa gembira dan menyangka bahwa lawannya
telah kehabisan tenaga sehingga hanya mampu mengelak. Merasa di atas
angin maka Prabu Similikiti meningkatkan gempuran dan mendesak
Laksmana hingga suatu saat tiba-tiba tubuh Laksmana terjengkang ke tanah
menerima sambaran tangan lawannya.
Dengan nafsu segera menyudahi pertempuran itu untuk memperoleh
kemenangan maka Similikiti dengan wajah bengis dan gembiranya segera
menubruk Laksmana yang seolah tak berdaya terbaring di tanah. Namun
dalam hitungan detik, saat tubuh besar Similikiti nyaris menyentuhnya,
dengan kecepatan kilat Laksmana meloncat menghindar dan membalikkan
tubuh melayang seraya memukul dengan sekuat tenaga bagian belakang
kepala raja raksasa itu.
Raungan kesakitan sekaligus sinyal kematian terdengar menggelegar
mengenaskan. Dan sesaat kemudian tubuh raksasa itu diam tak bergerak
karena nyawa telah tercabut dari tubuhnya.
Diam sejenak suasana di sekitar namun sesaat kemudian gegap gempita
sorak sorai pecah mengiringi kemenangan Ayodya.
Setelah beberapa hari berdiam sejenak di Polanharja mengurus
pemerintahan dengan menempatkan wakil-wakil dari Ayodya untuk
menjalankan pemerintahan sementara, maka rombongan Ayodya kemudian
melanjutkan perjalanannya.
Seminggu kemudian kuda-kuda aswamedha sampai pada pinggiran sebuah
hutan yang sunyi. Tempatnya sungguh asri dan indah pemandangannya.
Anggota pasukan seolah dikomando, mencari tempat yang nyaman untuk
beristirahat sejenak melepas penat. Dijumpai oleh mereka padang rumput
luas rapih tergelar seperti ada yang memeliharanya. Dan tak jauh dari situ
terdapat sebuah telaga kecil bening dan jernih airnya. Seakan berlomba
berkejaran mereka kemudian berlari menuju telaga dengan maksud untuk
menyegarkan tubuh dan mengobati kehausan. Laksmana dan Senayudha
membiarkan polah tingkah anak buahnya karena ingin membiarkan mereka
menikmati kegembiraan setelah perjalanan jauh yang cukup melelahkan.
Shinta Minulya Hlm 48
Namun belum sempat prajurit-prajurit itu sampai ke tepian telaga, tiba-
tiba terlihat kelebatan orang yang tahu tahu sudah berdiri dihadapan
mereka seraya berkacak pinggang menantang. Ternyata mereka adalah dua
orang pemuda tampan berperawakan dan berwajah serupa.
Keributan yang terjadi di tepi telaga menarik perhatian Senayudha dan
Laksmana. Bergegas mereka menuju ke sana untuk mengetahui apa yang
terjadi. Dari jauh Laksmana menyaksikan ada dua orang berpakaian ala
Bambang (pemuda pegunungan atau pertapaan) tengah dikerubungi oleh
prajurit-prajurit Ayodya. Sepertinya sedang terjadi bantah-bantahan antar
mereka.
Sesampai di tepi telaga, Laksmana dapat menyaksikan dengan jelas sosok
yang membuat onar yang ternyata adalah dua orang pemuda remaja. Sosok
dua pemuda itu terlihat kekar tanda sehat dan terlatih, perawakannya
tidak terlalu tinggi namun juga tidak pendek, dan … Laksmana berdesir
hatinya saat memandang dua wajah pemuda itu yang serupa. Seperti telah
lama dia mengenalnya, seakan wajah itu tidak asing lagi baginya. Apakah
dua orang kembar itu adalah …. ? Laksmana menepis segera kemungkinan
itu.
Menyaksikan kehadiran senapati dan pimpinannya telah hadir maka
prajurit-prajurit Ayodya yang berada di sekitar telaga, diam tanpa
dikomando menunggu apa yang akan dilakukan terhadap dua pemuda itu.
Dengan hati berdebar namun nada bicara tetap tenang Laksmana bertanya
“Siapakah kalian berdua ini, dan mengapa membuat onar dengan prajurit-
prajurit Ayodya ?”
“Ooo … rupanya kalian semua dari negri Ayodya yang terkenal itu ya.
Pantas sombong dan merasa berkuasa sehingga berbuat sesukanya di sini
!” salah seorang dari pemuda kembar itu menjawab dengan ungkapan sinis
Namun Laksmana tidak marah malah tersenyum menanggapi jawaban
nyinyir dari pemuda itu
“Oh kalau begitu aku mewakili mereka mohon maaf telah berbuat salah
kepada kalian dan membuat hati menjadi tidak senang”
Shinta Minulya Hlm 49
“Maaf … maaf … enak saja. Kamu siapa ?!” bentak pemuda yang satunya
lagi
Laksmana masih tetap tenang dan mengerti bahwa karena tinggal di
gunung jauh dari keramaian maka pemuda-pemuda tadi barangkali kurang
mengindahkan tata krama pergaulan.
“Baiklah, perkenalkan bahwa aku adalah Laksmana seorang pangeran dari
Ayodya”
“Pangeran ? Ooo begitu ya, tapi aku tidak akan menyembahmu karena di
sini bukan termasuk wilayah negri Ayodya” kata pemuda yang lainnya
“Tak mengapa kalian tidak melakukan hal itu, lagi pula aku tidak ingin
disembah-sembah. Boleh aku tahu nama kalian dan orang tua kalian?”
“Karena kamu bertutur baik kepada kami, maka kamipun akan membalas
dengan berlaku baik. Perkenalkan, aku Lawa dan ini saudaraku Kusya”
“Kalau boleh tahu siapakah orang tuamu ?”
“Mengapa engkau ingin mengetahui nama orang tuaku ?” berbalik bertanya
si Lawa yang ternyata terlihat lebih dominan omongannya dibanding Kusya.
“Ingin tahu saja, barangkali aku mengenalnya”
“Ibuku berpesan untuk tidak sembarangan memberitahukan namanya
kepada orang asing. Sedangkan ayah, kami tidak punya”
Mendengar jawaban itu, hati Laksmana semakin penasaran
“Bolehkah aku bertemu dengan ibumu?”
“Ibuku tidak ingin bertemu dengan orang asing !”
“Mengapa?”
“Jangan engkau mengejar-ngejar dengan pertanyaan seperti itu. Kalau
ibuku sudah berkata seperti itu, kamipun tidak pernah membantahnya”
“Baiklah kalau begitu, tapi karena kami sedang menjalankan tugas dalam
rangka sesaji aswamedha, maka karena daerah ini tidak termasuk wilayah
Shinta Minulya Hlm 50
Ayodya maka sudilah kiranya kalian tunduk kepada kami. Begitu melihat
kalian, aku sudah merasa sayang. Oleh karenanya ikutlah denganku untuk
kubawa menghadap Raja Ayodya”
“Enak saja ! Memangnya kami seperti barang tanpa jiwa sehingga mudah
dibawa kemana-mana. Lagi pula ibuku dan kakekku tidak akan mau tunduk
kepada orang lain. Kami sudah sekian lama hidup bersendirian disini. Kami
merdeka tanpa dijajah oleh siapapun”
“Siapakah nama kakekmu ?”
“Tidak perlu tahu dan akupun sampai sekarang tidak tahu!”
“Kalian masih bocah dan tidak bakal aku memaksa untuk menuruti
permintaanku”
“Memaksapun tidak mengapa, siapa takut?”
Laksmana bimbang mendengar jawaban pemuda itu yang begitu lugu dan
tanpa mengenal takut, dan dengan pelan berkata
“Aku hanya sekedar melaksanakan tugas”
“Kamipun demikian. Lawanlah kami kalau engkau berani !”
“Baiklah, bagaimana seandainya kalau kalian kalah olehku?”
“Kami tidak akan kalah !”
Laksmana seolah kehabisan kata-kata melawan jawaban-jawaban lugas
dari pemuda kembar di depannya itu. Dalam hati kecilnya, tak hendak dia
mau bertempur dengan mereka, apalagi menyakiti atau membunuhnya.
Suara hatinya mengabarkan bahwa pemuda kembar itu ada kaitannya
dengan peristiwa lima belas tahun yang lalu.
Namun untuk membuktikan apakah sesumbar jumawa mereka tidak hanya
sekedar koar belaka, maka Laksmana bermaksud untuk mengujinya. Maka
dengan tenang dia berkata
“Apakah kalian berani bertempur melawanku ?”
Dengan mata mencorong menatap, Lawa menjawab dengan tegas
Shinta Minulya Hlm 51
“Jangankan satu orang, seluruh pasukan maju untuk membantumu, kami
tidak takut”
Laksmana tersenyum senang menyaksikan keberanian pemuda-pemuda itu
“Apakah kalian punya senjata andalan ?”
“Tidak perlu kami keluarkan senjata sakti kami, kecuali kalau kalian
memaksa”
“Baiklah, sekarang cukup kalian berdua bertanding melawan aku seorang
saja. Tidak perlu menggunakan senjata”
“Huh … sombong sekali ! Karena yang meminta hal ini adalah dirimu sendiri
maka akan kami turuti !” Lawa dengan cerdik memutuskan untuk maju
bersama Kusya karena menyadari bahwa lawan yang berdiri di depannya
itu terlihat begitu tenang dan percaya diri. Menurut nasehat kakeknya,
justru lebih mudah menghadapi orang yang berkoar-koar merasa digdaya
dari pada menghadapi lawan yang diam seolah tiada daya namun
menyimpan kekuatan yang tersembunyi. Ilmu padi, semakin tua semakin
merunduk.
Lawa Kusya-pun tahu diri bahwa mereka belum pernah menghadapi lawan
yang sesungguhnya. Selama ini olah kanuragan yang mereka praktekkan
hanyalah melalui latihan antara mereka sendiri. Namun karena tekun
berlatih setiap hari dan ilmu yang dipelajari adalah ilmu tingkat tinggi
yang diajarkan oleh kakeknya yang sangat berpengalaman, maka
sebenarnyalah Lawa Kusya memang telah sampai kepada tataran tinggi
dalam hal olah kanuragan.
Begitupun dalam olah sastra. Begawan Walmiki telah memberikan
sebagian besar ilmu dan kemampuannya untuk membentuk Lawa Kusya
menjadi satria yang mumpuni jiwa dan raga. Ibarat sebuah bongkah batu
permata yang baru saja ditemukan dari dalam tanah, maka untuk
menjadikannya berbentuk menarik, berkilau dan berharga, dibutuhkan
gosokan-gosokan yang terencana dan teratur. Itulah yang sering disebut
bahwa pengalaman hidup akan membuat ilmu semakin beragam dan
matang, dan orang menjadi semakin berwawasan luas dan bijak.
Shinta Minulya Hlm 52
Maka sesaat kemudian terjadilah pertempuran yang menarik antara
senopati Ayodya yang terkenal digdaya dan sangat berpengalaman terlibat
di berbagai peperangan besar, melawan dua bocah kembar ingusan yang
asal muasalnyapun belum jelas. Serangan kedua anak kembar itu sangat
cepat dan ganas. Sementara Laksmana mampu melayaninya dengan
tenang. Dia cukup terkejut menyaksikan krida lawannya yang ternyata
memang sangat kuat dan memiliki tingkat ilmu kanuragan yang tinggi.
Memang di sisi lain gerakan pemuda kembar itu masih polos dan agak kaku
karena selama ini hanya sebatas melakukan gerakan dalam latihan.
Namun yang membuat Laksmana heran setelah seratus jurus pertempuran
itu berlangsung adalah bahwa kuda-kuda, gerakan tangan kaki dan jurus-
jurus yang diperagakan lawannya hampir semua dikenalnya karena dia
pernah mempelajarinya. Ya …. akhirnya dia menemukan jawaban bahwa
olah kanuragan itu mirip dengan yang dipelajari bersama dengan kakaknya,
Ramawijaya, sewaktu mereka berguru kepada Begawan Walmiki ketika
masih muda dahulu. Apakah kedua pemuda kembar itu cucu dari Walmiki
?
Rasa penasaran semakin mendorong Laksmana meningkatkan serangan
kepada lawannya. Namun ternyata memang Lawa dan Kusya adalah lawan
yang tangguh. Ratusan jurus telah berlalu dan pertempuran masih
berlangsung dengan sengitnya. Walaupun Laksmana cukup banyak
mengalah dan menahan diri untuk tidak menggunakan tipu daya dan jurus-
jurus pamungkas, namun disadarinya bahwa akan sulit mengalahkan kedua
pemuda kembar itu tanpa tertumpahnya darah. Laksmana tidak
menghendaki hal itu, dia menginginkan kedua lawannya kalah namun tidak
terluka. Dan hal itu akan sangat sulit dilakukan. Akhirnya dia telah merasa
cukup menguji kedua pemuda itu dan merencanakan akan menggunakan
cara lain untuk membuat lawannya menyerah. Oleh karenanya kemudian
dia berteriak
“Berhenti !”
Mendengar teriakan itu, otomatis Lawa dan Kusya pun menghentikan
gerakannya. Meskipun sudah ratusan jurus bertempur, nafas mereka tidak
terdengar ngos-ngosan memperlihatkan stamina prima yang dimilikinya.
Dengan nada keheranan Lawa bertanya
Shinta Minulya Hlm 53
“Mengapa engkau menghentikan pertempuran yang belum selesai ini.
Apakah engkau telah merasa kalah ?”
Shinta Minulya Hlm 54
Bag-8 Gelap Mulai Tersingkap
Laksmana menjawab dengan tenang
“Aku belum kalah. Aku akui meskipun masih sangat muda namun kalian
sungguh sangat tangguh. Anggap saja kita imbang, tidak ada yang menang
atau kalah”
“Tidak bisa dong ! Harus ada diantara kita yang menjadi pemenang atau
pecundang, kalau perlu mempertaruhkan nyawa. Dan kami siap untuk
berkalang tanah membela daerah ini yang telah membesarkan kami selama
ini” Lawa menyanggah dengan berapi-api
Laksmana semakin senang dan kagum kepada kedua pemuda kembar ini.
Kembali suara hatinya menggelitik bahwa kedua anak ini sebenarnya
adalah keponakannya sendiri. Namun bagaimana membuktikannya ?
“Baiklah, untuk pertempuran tangan kosong aku mengaku kalah, namun
pertandingan belum selesai. Apakah kalian masih kuat bertanding lagi ?”
Shinta Minulya Hlm 55
“Hai paman yang mengaku pangeran dari Ayodya ! Biar semua orang disini
menjadi saksi, kami pertaruhkan jiwa raga ini untuk kemuliaan ibu dan
kakekku. Daripada hidup menanggung malu sebagai pecundang, lebih baik
mati dikenang sebagai satriatama”
“Oooo … jangan salah sangka anak muda ! Sebenarnyalah tidak ada hasrat
kami untuk menjajah negara atau daerah lain agar tunduk kepada Ayodya.
Apalagi terhadap diri kalian yang masih muda dan gagah perkasa, tentu
ibu dan kakekmu telah mendidik kalian dengan baik. Biarlah kami
melanjutkan perjalanan kami, namun aku masih penasaran terhadap dua
hal. Bolehkah kalian memenuhi rasa penasaranku ini ?”
“Tidak masalah ! Namun seorang satria tidak bakal ingkari janjinya, ibarat
menjilat ludah sendiri sungguh menjijikkan. Apakah setelah ini engkau
akan pergi dan tidak akan mengganggu kami lagi ?”
“Tentu anak muda !”
“Hal apa yang masih mengganjal dalam benakmu paman”
“Pertama, tidakkah kalian tahu siapa sebenarnya ayah kalian?”
“Ibuku tidak mau terus terang dan aku tidak tega untuk memaksanya. Kami
terlalu sayang kepada ibu, tak mau kami menyakiti perasaan ibu.
Begitupun ketika bertanya kepada kakekku, maka senyum dan gelengan
kepala yang kami peroleh, dan itu sudah cukup bagi kami untuk memendam
keingintahuan kami dalam-dalam.”
“Siapakah, nama kakek kalian. Apakah beliau adalah Begawan Walmiki ?”
Tanya Laksmana hati-hati
“Sejujurnya, dua hal itulah yang tidak kami ketahui hingga kini yaitu nama
ayah dan nama kakekku. Ayahku tidak pernah kami tahu, dan juga kakekku
entah dimana tempat tinggal sejatinya karena bersama kami beliau hanya
menginap satu minggu dalam satu bulan untuk mengajari kami berbagai
hal”
“Tentu kakekmu seorang Begawan yang luar biasa sehingga mampu
mendidik kalian menjadi satria yang luar biasa juga. Adapun hal kedua
Shinta Minulya Hlm 56
yang aku ingin tahu adalah kalian tentu telah diberi senjata pusaka berupa
panah sakti oleh kakekmu itu, bukan ?”
Dengan terheran-heran Lawa dan Kusya saling berpandangan. Kemudian
seperti biasa Lawa yang menjadi juru bicaranya
“Engkau sungguh berpenglihatan tajam, paman. Dari mana engkau tahu
hal itu ?”
Dengan tersenyum bijak Laksmana menjawabnya
“Hanya memprediksi saja”
Ingatan Laksmana mengembara saat dirinya dan Rama berguru kepada
Begawan Walmiki di Wismaloka. Pelajaran dan ilmu yang diberikan kepada
mereka oleh gurunya selalu sama, namun ternyata Rama memiliki
kemampuan lebih dibanding adiknya dalam menerapkan ilmu yang
diterima. Menurut gurunya saat Laksmana curhat berdua saja, hal ini
disebabkan karena memang telah menjadi ketetapan dewata bahwa
Laksmana adalah titisan dari Shesa. Shesha adalah ular yang mengabdi
kepada Wisnu dan menjadi pendamping setianya. Adapun avatar Wisnu
pada saat itu adalah Ramawijaya (berdasarkan isi dari kitab Purana). Hal
inilah yang menjadi ketetapan hati Laksmana untuk selamanya “melayani”
Ramawijaya.
Dan Laksmanapun menerima dengan ikhlas takala memperoleh pemberian
senjata pusaka dari gurunya yang pamor dan kesaktiannya tidak mampu
menandingi senjata panah yang diterima oleh Ramawijaya. Dalam hal
silsilah Laksmana lebih muda daripada kakaknya, dalam hal kepandaian
dan kedigdayaan pun dia kalah, sehingga dianggap wajar kalau dalam
senjata andalanpun diberikan sesuai dengan watak dan kemampuan
pemiliknya. Dan hal itulah yang dilakukan oleh Begawan Walmiki.
Ramawijaya memperoleh panah sakti Guwawijaya dan Laksmana
memperoleh Indrasastra.
Tiba-tiba terdengar suara Lawa yang membuyarkan lamunan Laksmana
Shinta Minulya Hlm 57
“Benar kami diberi oleh kakek sebuah senjata panah pusaka yang
diberinama Guwasalya. Kata kakek pamor dan kesaktian senjata ini tidak
ada yang mampu menandinginya dan hanya kalah oleh panah sakti
Guwawijaya yang diberikan kepada murid kakek sebelumnya. Namun kami
belum pernah mencobanya karena takut nanti menghancurkan dan
membunuh orang-orang yang tidak berdosa. Apakah engkau tahu siapa
pemilik panah Guwawijaya itu, paman ?”
Pertanyaan tiba-tiba dari Lawa membuat Laksmana terkejut dan cepat-
cepat menjawab gugup
“Yang aku tahu senjata itu pemiliknya adalah avatar Wisnu”
“Siapa namanya ?”
“Kelak kalian akan mengetahuinya sendiri. Baiklah karena kalian telah
memberi jawaban atas rasa penasaranku maka aku bersama dengan
pasukan Ayodya akan melanjutkan perjalan. Dan kalian tetap bebas
merdeka dan daerah ini tetap menjadi wilayah kalian sendiri”
Dan tanpa menunggu jawaban, segera Laksmana memberi aba-aba kepada
Senayudha untuk memerintahkan pasukan Ayodya meninggalkan daerah
ini.
Setelah agak jauh berjalan, Laksmana memanggil Senayudha dan berkata
“Lanjutkanlah misi ini dan tuntaskan hingga satu tahun perjalanan.
Pimpinlah pasukan dengan sebaik-baiknya, aku akan kembali ke Ayodya
mengabarkan hal ini kepada Prabu Ramawijaya”
Dan tanpa bertanya lebih jauh, Senayudha mengiyakan
“Siap, sendika dhawuh !”
<<< ooo >>>
Cukup lama dua pemuda kembar itu tetap berdiri tegak menyaksikan
rombongan prajurit Ayodya menjauhi telaga dan hutan itu. Serasa mimpi
Lawa dan Kusya masih terkagum-kagum atas peristiwa yang baru saja
terjadi.
Shinta Minulya Hlm 58
“Sebenarnyalah aku menaruh hormat kepada pangeran Laksmana yang
begitu lembut namun sangat digdaya itu” Lawa berkata kepada Kusya
“Akupun demikian Lawa. Kalau paman Laksmana bertempur dengan
sungguh-sungguh, bisa jadi kita berdua mengalami kekalahan. Agaknya ada
sesuatu dibalik sikap aneh pangeran Ayodya itu” Kusya menjawabnya
Mereka kembali memandang ke depan dan rombongan prajurit Ayodya
telah berlalu tidak nampak lagi bayangannya.
“Untung kalian selamat anak-anakku” tiba-tiba terdengar suara lembut
seorang wanita dari belakang mereka berdiri.
Lawa dan Kusya segera berbalik dan melempar senyum kepada perempuan
itu yang ternyata adalah sang ibunda
“Berterima kasihlah kepada dewata yang agung karena kalian
dipertemukan dengan Laksmana” Shinta berkata lembut seraya memeluk
dan mengusap lembut penuh kasih sayang kepala dari kedua anak
kembarnya itu
“Apakah ibu mengenalnya ?” Tanya Lawa
Shinta hanya tersenyum tanpa memberikan jawaban. Dan itu telah cukup
bagi Lawa dan Kusya untuk mengerti dan kemudian tidak melanjutkan
pertanyaan serupa lagi.
“Bersiaplah karena minggu depan kakekmu akan ke sini, anak-anakku”
“Iya ibu !”
<<< ooo >>>
Dengan secepat kilat Laksmana berlari untuk segera mencapai Ayodya.
Pikirannya telah penuh oleh keyakinan yang akan diwartakan kepada
kakaknya, Ramawijaya. Tentang pertemuannya dengan pemuda kembar
hebat, tentang dugaan keberadaan Shinta, tentang dugaan kiprah gurunya
Shinta Minulya Hlm 59
Begawan Walmiki dan tentang harapannya menyaksikan kembali kakaknya
berkumpul bersama istri dan anak-anaknya merenda kebahagiaan yang
telah lama hilang dari negri Ayodya.
Shinta Minulya Hlm 60
Bag-9 Kemenangan Hati Nurani
“Mengapa Dimas datang bersendirian, bukankah belum tepat setahun
engkau kuberi tugas mengawal sesaji aswamedha ?” sambut Ramawijaya
kepada Laksmana ketika menerima kedatangan adiknya di keraton Ayodya
pagi hari itu
“Ada hal yang sangat penting yang hendak aku sampaikan, Kangmas” jawab
Laksmana sembari memeluk kakak yang sangat disayang dan dihormatinya
“Hal apakah itu, adikku ?” bisik Rama di dekat telinga Laksmana
“Tentang Mbakyu Shinta” jawab pelan Laksmana
Seketika Rama melepas rangkulan dan memegang pundak adiknya serta
mengguncangkannya dan berkata ketus
“Beribu kali engkau mengajakku untuk membicarakan istriku yang sudah
tidak suci lagi. Mengapa engkau tidak pernah bosan sedangkan aku sendiri
sudah lama melupakannya”
Shinta Minulya Hlm 61
“Adikmu ini tahu Kangmas, betapa engkau berusaha melupakannya namun
pada kenyataannya tidaklah sanggup. Akankah Kangmas selamanya akan
membohongi hati nurani sendiri bahwa sebenarnya masih mencintai
Mbakyu Shinta ?”
“Tidak perlu ikut campur urusanku !” bentak Rama
“Kali ini saya harus memaksa Kangmas dari buaian tidur panjang yang
selama ini telah melenakanmu. Apakah ego Kangmas begitu besar sehingga
tak mau menerima kenyataan ?”
“Lancang kamu !” setengah berteriak Rama mulai marah
“Biarlah kali ini adikmu ini engkau maki-maki dan kalau perlu di bunuh
sekalian. Namun aku tetap akan mengatakan hal ini” sendu suara Laksmana
menyadarkan Rama telah berlaku keras kepada adiknya yang disayanginya
dan telah berjasa begitu besar terhadap dirinya. Dengan merendahkan
suara dan senyum tersungging, Rama berkata
“Baiklah, adikku. Maafkanlah Kakakmu ini yang telah berlaku keras
kepadamu. Sekarang ceritakan apa yang engkau ketahui tentang Shinta”
“Aku telah menemukannya, Kangmas”
“Dimana ?”
“Di sebuah pertapaan di pinggir hutan yang masuk wilayah Negara tetangga
kita”
“Apakah engkau bertatap muka langsung dengannya ?”
“Tidak, Kangmas ?”
“Bagaimana engkau ini, Laksmana !”
Laksmana kemudian menceritakan pertemuannya dengan dua pemuda
kembar dan tentang bagaimana dia kemudian mencoba kedigdayaan
mereka melalui sebuah pertempuran yang disaksikan oleh para prajurit
Ayodya.
Shinta Minulya Hlm 62
“Dari percakapanku dengan mereka aku sangat yakin bahwa sebenarnya
dua pemuda itu adalah ….” ragu Laksmana menyatakan perkiraan dia
tentang asal muasal kedua pemuda kembar itu
Namun dengan tidak sabar Rama bertanya
“Siapa kedua anak itu ?”
“Menurut perkiraan adikmu ini, Mbakyu Shintalah ibu dari kedua anak
kembar itu”
Terpana Rama mendengar kata-kata Laksmana adiknya. Sebentar
wajahnya memerah sebentar matanya meredup
Kemudian dengan berhati-hati Laksmana melanjutkan
“Melihat dari cara olah kanuragan yang mereka peragakan serta
keterangan yang mereka sampaikan, maka aku yakin bahwa guru mereka
yang katanya dipanggil kakek itu adalah Begawan Walmiki. Dan merangkai
cerita lima belas tahun lalu, menurut perkiraanku beliaulah yang
menolong Mbakyu Shinta pada saat itu, melahirkan dan membesarkan
anak-anaknya yang tak lain adalah …….. anak Kangmas sendiri”
“A .. anakku ! Benarkah itu Laksmana ?” lemas tubuh Rama mendengar
cerita Laksmana tentang Shinta dan anak-anaknya. Dan seakan berbicara
pada diri sendiri, Rama bergumam
“Benarkah kedua anak kembar itu anak-anakku ?”
Dengan lembut Laksmana menjawab keraguan kakaknya
“Apakah Kangmas masih ragu atas kesucian Mbakyu Shinta ? Biarkanlah hati
nurani Kangmas yang menjawabnya. Begitu lama Kangmas dikuasai oleh
keraguan dan ingkar terhadap hati nurani. Sejatinya menuruti hati nurani
adalah mengikuti apa kata Tuhan, Kangmas. Adikmu ini sangat kasihan
kepada Kangmas yang begitu tersiksa selama lima belas tahun ini dalam
kesendirian. Bukankah akan sangat membahagiakan bila bersanding dengan
orang yang dicintai dan anak-anak hasil dari buah cinta.”
Shinta Minulya Hlm 63
Ramawijaya, raja besar Ayodya itu semakin tersudut mendengar kata-kata
Laksmana yang seolah laksana duri yang menusuk-nusuk hatinya. Perih,
sakit, dan nyeri terasakan luka lama terkuak kembali. Akankah dia
menyadari kekhilafannya dahulu ?
“Siapakah nama kedua anak kembar itu, adikku ?”
“Lawa dan Kusya, Kangmas”
Anak adalah harapan yang selalu hadir dalam keinginan pasangan suami
istri di seluruh penjuru dunia ini. Tak ada seorang pria dan wanita yang
menjalin sumpah menjadi pasangan hidup kemudian tiada mengharapkan
buah cinta kasih berupa anak. Anak adalah keturunan yang diharapkan
bakal menjadi penerus nama baik dan kiprah orang tuanya dalam
menjalani kehidupan dunia. Anak adalah darah daging orang tua yang
hubungannya tiada terpisahkan sampai akhir hayatnya. Anak adalah
tumpahan kasih sayang sehingga orang tua mau berkorban apa saja untuk
kebahagiaan dan kemuliaannya. Anak selalu diharap, dinanti, disayang dan
bersamanya adalah kebahagiaan yang tak terkira dan tak tergantikan.
Begitupun seorang Ramawijaya. Mendengar kabar dari Laksmana bahwa
“kemungkinan” anak kembarnya kini masih hidup dan telah beranjak
dewasa, maka semangatnya muncul untuk segera menemui mereka.
Bagaimanapun getar-getar sifat keilahian mampu mengalahkan
keangkuhan sikap yang dikendalikan oleh tangan-tangan setan durjana
apabila dilandasi dengan sikap pasrah kepada Sang Pencipta. Bagaimana
dengan istrinya Shinta yang telah dituduhnya tidak suci lagi cintanya ?
<<< ooo >>>
Di beranda rumah tidak jauh dari telaga itu, suasana pagi ini sungguh
sangat menentramkan hati. Kicauan burung hutan menyambut pagi diiringi
sang bagaskara yang mulai muncul di ufuk timur. Dingin pagi mulai
menguap di terpa sinar sang surya yang masih lembut menyapa. Kedamaian
yang sungguh alami. Alam memberikan kenyamanan bagi semua makhluk
Shinta Minulya Hlm 64
hidup yang mendiaminya. Tak terkecuali penghuni rumah sederhana itu
merasakan betapa selama ini telah memperoleh penghidupan dari
kemurahan alam memenuhi segala kebutuhannya.
Dua orang pemuda yang berwajah dan berperawakan mirip, sedang duduk
di kanan kiri sebuah lincak bambu seraya menyandarkan kepalanya di bahu
seorang wanita yang duduk di tengah-tengahnya. Dengan manja kedua
pemuda itu menyandarkan kepalanya di bahu dan masing-masing
memegang bahu kanan kiri perempuan itu. Perempuan itu tersenyum
bahagia merasakan kasih sayang yang tak terucap dari kedua anaknya itu.
Dan tak kuasa tangannya kemudian membelai lembut rambut di kepala
anak-anaknya itu dengan penuh kasih sayang.
Anak-anaknya bukan bocah lagi namun kerap bermanja-manja saat
bersamanya. Anak-anaknya telah beranjak menjadi pemuda-pemuda yang
gagah dan tampan. Ah …. Perempuan itu mengucapkan syukur kepada
Dewata atas segala kebahagiaan yang dinikmatinya sampai dengan saat ini
walaupun sebenarnya dirasakan tidak utuh dan sempurna karena tidak ada
sosok ayah disamping mereka.
“Oh ya ibu, bukankah hari ini kakek akan datang ke sini ?” tanya pemuda
yang duduk di kiri perempuan itu
“Menurut perhitungan ibu, memang kakekmu akan datang hari ini Lawa”
jawab perempuan itu tenang
“Kira-kira kakek akan membawa kitab apa lagi ya Ibu. Kitab-kitab yang di
bawa kakek sudah semua aku baca dan mengerti” kata pemuda satunya
lagi
“Oh ya … lahap sekali kalian membacanya. Kitab yang terakhir di bawa
kakekmu judulnya apa ya, Kusya” ditolehkan pandangan perempuan itu ke
kanan
“Asmaradahana !” hampir serempak dua pemuda itu menjawabnya
Seraya tertawa kecil sang ibu berkata
“Ha ha ha … kalian kompak sekali !”
Shinta Minulya Hlm 65
“Namanya juga kembar, ibu !”
Dan setelah itu terdengar obrolan yang ramai di antara mereka bertiga.
Sesekali terdengar tawa mereka mewarnai pagi yang semakin ceria.
Nun … tak jauh dari rumah itu, di bawah pohon dekat telaga, berdiri dua
sosok pria yang mengamati tingkah laku ketiga orang yang tengah
bercengkrama itu dari jauh. Salah seorang memandangnya dengan
pandangan takjub. Wajahnya terlihat muram namun sesekali mulutnya
kemudian tersenyum. Entah apa yang tengah bergejolak di hati orang itu.
Cukup lama memperhatikan dari jauh, bayang-bayang kesedihan kemudian
muncul di matanya. Sementara sosok di sebelahnya meskipun pandangan
lurus ke depan menyaksikan pemandangan di depan rumah, sesekali dia
melirik ke orang di sebelahnya ingin mengetahui reaksi dan sikapnya.
Ya … kedua orang itu adalah Rama dan Laksmana yang bermaksud menemui
penghuni rumah di dekat telaga itu. Laksmana akhirnya telah berhasil
meyakinkan kakaknya Rama untuk menemui istri dan kedua anaknya. Dan
mereka berdua melakukan perjalanan dengan cepat sehingga di hari ini
telah sampai ke tujuan.
Shinta Minulya Hlm 66
Bag-10 Upaya mengungkap kebenaran
“Laksmana, kali ini biarkan aku sendiri yang akan menyelesaikan
semuanya. Akulah yang menyebabkan semua ini terjadi, maka selayaknya
aku sendiri yang harus menyelesaikan dan menanggungnya. Oleh karena itu
kuminta dengan sangat, kali ini engkau jangan ikut campur tangan. Apapun
yang aku lakukan, kuharap engkau berdiam diri saja. Ini adalah urusan
keluargaku”
“Baiklah, Kangmas. Demi kebahagiaan yang Kangmas ingin gapai, saya
selalu mendukungnya”
Laksmana paham terhadap apa yang diinginkan kakaknya, sehingga takala
Ramawijaya beranjak dari persembunyian menuju tanah lapang di depan
rumah itu, Laksmana tetap berdiam saja dan berjanji pada diri sendiri
untuk menyerahkan segala sesuatu kepada yang berhak dan memang wajib
untuk menuntaskannya. Toh ini memang adalah masalah keluarga
Ramawijaya. Entah apa yang telah direncanakan kakaknya sekarang ini,
Laksmana hanya menanti saja dengan hati berdebar.
Shinta Minulya Hlm 67
Rama berjalan dengan tenang dan kemudian berdiri tegak laksana tugu
sinukarta. Gagah sekali memang raja Ayodya ini. Wajahnya masih terlihat
tampan dan berwibawa meskipun terlihat sedikit garis garis ketuaan
tersirat di wajahnya. Matanya yang bersinar lembut sepertinya menyimpan
duka yang terpendam namun tiada mengurangi sorot kewibawaan seorang
raja besar. Dan setelah cukup lama mengatur nafas menentramkan hati,
maka terdengar teriakannya yang lantang mengagetkan penghuni hutan.
“He …. Lawa … he … Kusya … aku tahu kalian berada di rumah itu ! Kalau
kalian benar seorang satria sejati, meyingkirlah kalian dari gelendotan
ibumu dan keluarlah menyambutku untuk memenuhi tantanganku !”
Suara lantang Rama bergema di sekliling telaga dan kemudian menyisakan
sepi menunggu jawaban. Cukup lama suasana menjadi sepi karena suara
binatang di sekitar telagapun seolah di komando untuk diam karena ingin
menyaksikan apa yang bakal terjadi.
Namun tidak beberapa lama kemudian melesatlah bayangan dua sosok
orang yang dalam hitungan detik sudah berada di hadapan Rama. Dua sosok
itu tiada lain adalah dua pemuda kembar Lawa dan Kusya. Wajah mereka
memerah karena merasa jengah di tantang oleh orang yang tak di
kenalnya. Dengan geram Lawa kemudian berkata
“Siapakah andika yang telah mengenal kami dan belum-belum sudah
menantang dan menghina ibuku !”
Dengan senyum tipis di bibir Rama menjawab tenang
“Ooo ini tho yang bernama Lawa dan Kusya. Mana yang Lawa dan mana
yang Kusya ?”
“Aku Lawa dan disebelahku ini Kusya. Siapakah andika sebenarnya ?!”
“Orang menyebutku Ramawijaya, raja Ayodya !”
“Oooo ini tho yang bernama Ramawijaya raja Ayodya yang tersohor
senatero dunia itu” seloroh Lawa mengikuti ucapan dan alunan kalimat
yang diungkapkan Rama tadi.
Shinta Minulya Hlm 68
Mau tidak mau Ramapun ikut terbawa kepada keceriaan pemuda di
depannya itu.
“Apakah kalian jerih memenuhi tantanganku tadi ?”
“Oh tentu tidak ! Kata ibu dan kakekku, pantang seorang satria untuk
menghindar dari setiap tantangan yang dilontarkan. Dan saya berani
bertaruh bahwa paduka mengetahui tentang diri kami dari seorang
pangeran yang bernama Laksmana.”
“Cerdik sekali kalian !”
“Tapi mengapa tantangan ini harus ada sedangkan pangeran Laksmana
beberapa waktu yang lalu mengatakan bahwa tidak akan mengusik kami
lagi disini ? Apakah perkataan seorang pejabat Ayodya tidak bisa dipercaya
?”
“Ha ha ha .. pandai sekali kalian memainkan kata-kata.” Suara tawa Rama
terdengar lepas seperti menemukan kegembiraan bercakap-cakap dengan
dua pemuda kembar itu.
Sementara itu di tempat persembunyiannya, Laksmana tersenyum senang
mendengar suara tawa kakaknya yang rasanya tak pernah didengar lagi
setelah peristiwa lima belas tahun yang lalu.
Dingatnya kembali peristiwa waktu itu saat dia kembali dari hutan setelah
melaksanakan perintah Rama untuk meninggalkan Shinta di tengah hutan
sendiri dalam keadaan berbadan dua. Hanya anggukan kecil saja sebagai
pertanda telah diterima laporannya bahwa telah selesai melaksanakan
tugas yang diembannya. Dan setelah itu, setiap kali berbicara dengan
kakaknya Rama dalam berbagai kesempatan, tidak pernah lagi Laksmana
melihat senyum lebar apalagi tawa riang dari raja Ayodya itu.
Laksmana merasa senang dan semakin bersemangat untuk menyaksikan apa
yang bakal terjadi di depan matanya. Ibarat sebuah pertunjukan wayang
yang belum pernah dia tahu akhir cerita dari sebuah lakon yang
dipagelarkan, maka hati Laksmana berdebar keras menyaksikan “wayang-
wayang” yang di peragakan oleh Rama, Lawa dan Kusya dan menunggu
Shinta Minulya Hlm 69
akhir lakon dengan berbagai opsi skenario yang ada dalam benak sang
dalang.
Dan di teras rumah dekat telaga, ada sosok lain yang lebih gundah hatinya.
Wajah penuh kecemasan mewarnai ronanya. Perempuan itu yang tiada lain
adalah Shinta, tiada bisa menyembunyikan hiruk pikuk pikiran dalam
benaknya. Gejolah perasaan berbaur mengaduk-aduk kenangan dan
kenyataan. Menyaksikan suaminya yang sejatinya masih begitu dicintainya
berhadap-hadapan dengan anak-anaknya sendiri, membuat hatinya resah
tiada terkira. Menyaksikan dari jauh sosok suaminya yang begitu
dikenalnya detil, membawanya kembali kepada kenangan masa lalu.
Bahagia dan nestapa, suka dan derita, terpampang jelas dalam
bayangannya. Namun saat kembali diingatnya kembali peristiwa lima belas
tahun yang lalu, luka lama kembali terkoyak. Berderai air mata Shinta
mengkhawatirkan akan nasib anak-anaknya di hadapan ayahnya sendiri
kini.
Apakah kali ini dia harus menyerah setelah lima belas tahun peristiwa itu
terjadi ? Sang Dewi mengeluh pasrah “Mengapa Dewata mempertemukan
aku kembali dengan dia ? Bukankah akan lebih baik bila aku dan anak-
anakku dapat hidup tanpa diganggu oleh kenangan masa lalu yang
menyakitkan ? Bukankah akan lebih tenang bila aku mati tanpa dihantui
bayangan gelap masa lalu ?”
Beribu tanya yang berseliweran membuat pikirannya menjadi keruh.
Namun tempaan hidup yang berat membuat jiwa Rekyan Shinta
terkondisikan menghadapi cobaan hidup dan akhirnya sadar bahwa segala
sesuatu memang telah ada yang mengaturnya. Dan apabila segala sesuatu
diserahkan dan dipasrahkan kepada Sang Pengatur maka ketenangan dan
kemenanganlah yang bakal diperolehnya.
Dengan tenang maka kini dia menyaksikan yang tengah terjadi di depan
matanya. Wajah ayunya kembali menghadirkan kedamaian dan kepasrahan
yang seakan memancarkan cahya putih nan memancarkan kesucian hati.
Kini dia hanya bersandarkan kepada suara nurani yang hakekatnya adalah
kehendak Tuhan belaka.
“Lantas apa yang menjadi kehendak paduka sekarang ?” tantang Lawa
Shinta Minulya Hlm 70
“Jangan salah sangka, aku kemari hanya ingin mengenal kalian lebih
dekat” jawab Rama
“Apakah sebelumnya paduka pernah berjumpa dengan kami ?”
“Baru kali ini kita berjumpa”
“Apakah paduka mengenal ibu kami ?”
Shinta Minulya Hlm 71
Bag-11 Saat-saat Mencekam
Cukup lama Rama berdiam mendengar pertanyaan yang tak disangka-
sangka dari pemuda di hadapannya itu. Dengan suara pelan nyaris seperti
gumaman akhirnya dia menjawab
“Ya, aku mengenalnya”
“Apakah ibuku bukan orang biasa-biasa saja ?”
“Maksudmu ?”
“Apakah beliau adalah seorang putri keturunan raja atau sejenisnya ?”
“Mengapa engkau bertanya hal itu kepadaku ?”
“Hanya ingin tahu saja, tiada mengapa kalau paduka tidak berkenan
menjawabnya. Kalau begitu paduka juga mengenal kakek kami ?”
“Kalau mendengar dari cerita adikku Laksmana, sepertinya aku mengenal
beliau dengan baik. Apakah kalian tidak pernah tahu nama beliau atau
setidaknya mengetahuinya dari orang lain ?”
Shinta Minulya Hlm 72
“Kami tidak pernah ke luar dari tempat ini selain dikunjungi oleh kakek”
“Begitukah ? Dan kalian tidak tahu juga bagaimana kisah ibu kalian dan
juga kakek kalian ?”
“Kami tidak perlu tahu karena mereka enggan untuk memberi tahu.
Bahkan nama ayah dan keberadaannya kamipun tidak tahu dan sepertinya
tidak perlu kami ketahui”
Pikiran rama menjadi gelisah dengan pertanyaan dan jawaban lugas dari
pemuda kembar di hadapannya itu
“Mengapa ?” getir suara Rama bertanya
Dengan santai Lawa, yang juga mewakili Kusya yang hanya berdiri tegak di
sampingnya, menjawab
“Apa gunanya memikirkan orang yang sudah tidak ada di dunia ini.
Menghabiskan waktu dan sia-sia belaka”
“Bagaimana bila ayah kalian masih ada ?”
Meskipun penasaran karena di cecar pertanyaan oleh seorang raja yang
baru dikenalnya itu, Lawa tetap menjawabnya
“Bila memang ternyata demikian, maka hal itu membuat kami semakin
tidak ingin mengenalnya”
Sang Ramawijaya semakin tak nyaman dengan jawaban dari Lawa yang
sebenarnya adalah anaknya sendiri menurut keyakinan Laksmana, namun
dia kembali bertanya ingin mengetahui sikap mereka
“Mengapa sikap kalian begitu tidak peduli terhadap ayah kalian sendiri.
Bukankah kakek kalian tentu telah memberi pengajaran bahwa seorang
satria harus berbakti kepada tiga yang utama yaitu berbakti kepada Tuhan,
kepada orang tua dan saudara tua ?”
“Benar, kami telah mempelajarinya. Kami sangat hormat dan mencintai
ibu kami dengan sepenuh hati. Kalaupun ayah masih ada, berarti dialah
yang salah karena telah meninggalkan ibu dan kami anak-anaknya. Ibu kami
adalah seorang wanita yang sangat baik dan berbudi dan tidak mungkin
Shinta Minulya Hlm 73
melakukan suatu dosa besar sehingga ditinggal atau dibuang oleh
suaminya. Bukankah logika itu sangat masuk akal ? Tapi sudahlah,
bukankah ayah kami memang sudah tidak ada sekarang ini ?”
Mendengar kilah dan alasan Lawa tentang ayah dua pemuda kembar itu,
Rama menjadi semakin gundah. Hendak dikatakan tentang siapa sejatinya
dirinya, namun mulut tak mengijinkannya.
“Mengapa paduka berdiam diri dan tidak mengajukan pertanyaan-
pertanyaan lainnya ?” dengan senyum jenaka Lawa kembali melanjutkan
obrolannya
“Eh … ah … kalau begitu apa mau kalian” jawab Rama agak gugup seolah
di skak mat oleh pertanyaan Lawa
“Lho paduka ini bagaimana, lha wong paduka sendiri yang datang ke sini
dan menantang kami, lha kok sekarang malah bertanya tentang mau kami
apa. Seharusnya kamilah yang bertanya seperti itu”
Kembali senyum yang berkembang di bibir Lawa membuat Sang Rama
semakin tersudut dan membuat dirinya memutar otak untuk menghadapi
“pertempuran” kata-kata ini. Dan dengan menghirup udara dalam-dalam
untuk memenuhi paru-parunya dan menenangkan pikirannya, kemudian
Rama berkata untuk menguasai keadaan kembali
“Baiklah, aku ke sini memang bermaksud untuk mencoba kedigdayaan
kalian. Kalau dengan adikku Laksmana kalian telah memperlihatkan
kemampuan dalam olah kanuragan dan itu ternyata tidak mengecewakan,
maka kali ini aku ingin menguji kalian melalui keampuhan senjata pusaka.
Bukankah kalian memiliki senjata pusaka pemberian kakek kalian ?”
Kali ini Lawa dan Kusya-lah yang gelisah mendengar tantangan ini. Menurut
wejangan kakeknya, senjata pusaka Guwasalya tidak boleh digunakan
sembarangan. Apabila busur dan anak panah telah disatukan untuk di
bidikkan kearah yang dikehendaki, maka musuh yang berjumlah ratusan
yang berada di sekitarnyapun akan habis binasa karena pamor dan
kesaktian pusaka itu. Api dan panas yang ditimbulkannya akan
menghanguskan apa atau siapa saja yang diterjangnya. Dan Lawa Kusya
tidak mengharapkan demikian terjadi seperti wejangan kakek dan petuah
Shinta Minulya Hlm 74
ibunya agar selalu menyayangi jiwa manusia. Apalagi terhadap orang yang
tidak bersalah dan tidak dikenalnya. Dan orang yang berdiri di hadapannya
itu adalah seorang raja yang menurut berita yang di dengar bukanlah
seorang raja yang lalim.
“Kami kawatir akan akibat yang ditimbulkan bila senjata pusaka itu keluar
dari tempatnya” jawab Lawa hati-hati
“Aku akan sanggup menghadapinya !” dengan tenang Rama menjawab
kekhawatiran itu
“Terus terang kami belum pernah mencoba pada pertempuran
sesungguhnya. Kalau dalam latihan pernah kami lakukan dan itu sangat
berbahaya terutama bagi musuh yang tidak memiliki kemampuan
menghadapinya. Kami mengkawatirkan paduka yang baru kami kenal dan
tidak memiliki kesalahan sedikitpun kepada kami di sini”
Ramawijaya tersentuh mendengar kejujuran kedua pemuda kembar itu dan
mengakui bahwa pada dasarnya jiwa satria sejati telah melekat erat
menjadi kepribadian diri meskipun sifat mereka cenderung seenaknya
sendiri dan kurang waspada serta memiliki kepercayaan diri yang terlalu
tinggi dan tak terkendali. Begitulah memang sifat-sifat umum para
pemuda yang belum banyak mengenal dunia seutuhnya.
“Kalian meremehkan kemampuanku, bahkan gunung api-pun aku sanggup
taklukan hanya dengan berdiam diri” sumbar Rama ingin menguji
bagaimana tanggapan Lawa dan Kusya
Dan memang begitulah jiwa muda bertahta, cepat terbakar, tidak mau
dikalahkan, cenderung memamerkan kebisaan dan responsive alias
bertindak dengan cepat tanpa berpikir panjang
Tubuh Lawa dan Kusya seketika tegap kokoh, matanya mencorong serasa
di sulut keberanian dan keperkasaannya. Entah dari mana datangnya, tiba-
tiba di tangan Lawa dan Kusya telah tergenggam busur dan panah pusaka
Guwasalya. Perbawanya memang sungguh beda terasa. Udara panas mulai
menyergap di sekeliling dengan diimbuhi aura magis yang menelusupi
sesiapa yang hadir di sekitarnya.
Shinta Minulya Hlm 75
Tak terkecuali di arah timur tempat Laksmana bersembunyi di bawah
pohon besar dilingkungi belukar. Laksmana yang mendengar dengan samar
pembicaraan antara “ayah dan anak” tadi, seketika disergap rasa
khawatir. Kalau dirinya dulu bertempur melawan kedua anak kembar itu,
namun hanya pertempuran fisik belaka, olah kanuragan mengandalkan
kecepatan, kekuatan dan siasat serta pengalaman. Namun kini di
hadapannya bakal dilihatnya pertempuran yang melibatkan senjata pusaka
dan kekuatan olah cipta yang tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang
kecuali orang yang tekun dan berbakat serta memperoleh bimbingan guru
yang hebat.
Dan Laksmana mengkhawatirkan nasib dari kedua pemuda kembar yang
meskipun telah memiliki senjata yang luar biasa, namun bila di bandingkan
dengan kakaknya Ramawijaya sepertinya masih kalah kuat dan terlebih lagi
kalah dalam pengalaman mengetrapkan ajian sakti. Bukankah kekuatan
suatu karakter tergantung dari ilmu dan amal ? Ilmu dan pengalamanlah
yang menempa dan membentuk karakter seseorang menjadi kuat dan
bijak. Laksmana berharap agar kakaknya mampu mengendalikan jalannya
lakon ini sehingga hal-hal yang buruk tidak terjadi.
Aura panaspun berhembus menuju barat ke arah rumah di pinggir telaga
tempat dimana Shinta-pun menyaksikan dari jauh kearah lapangan.
Jantungnya berdegup keras menunggu apa yang akan terjadi nanti. Tentu
saja Sang Dewi tak berharap anak-anaknya mati sia-sia di tangan ayahnya
sendiri. Disadari bahwa Lawa dan Kusya bukanlah lawan yang sepadan bagi
Sang Penguasa negri Ayodya. Air matanya yang mengalir deras di pipinya,
mengabarkan bagaimana penderitaan batin begitu mengharu biru
menguasai hatinya.
Tak ada yang bisa dilakukan !
Tak ada yang bisa diharapkan kecuali nasib diri dan anak-anaknya kini
diserahkan utuh kepada Gusti Yang Maha Welas. Begitu terjal jalan hidup
yang telah dilaluinya, namun kasihNya selalu menyertai mengentaskan
dalam setiap kesulitan. Haruskah sekarang dirinya menyerah ?
Tidak !
Shinta Minulya Hlm 76
“Biarlah diriku sendiri yang mengalami penderitaan dan sebentar lagi
mungkin kematian bakal menjemputku, namun biarkanlah anak-anakku
memperoleh perlindungan dan kasihMu, Gusti !” jerit hati Sang Dewi
seakan menggetarkan seisi bumi. Terpejam sesaat Sang Putri menahan
perih derita hati seraya berpohon harapannya bakal terwujud.
Shinta Minulya Hlm 77
Bag-12 Pertemuan Ayah Anak
Sementara itu di tengah lapangan, dua kubu tengah berhadapan.
“Apakah paduka tetap ingin melanjutkan tantangan ?” tanya Lawa ingin
memastikan
“Silahkan kalian memulainya anak muda !” jawab Ramawijaya tetap
tenang
“Dengan menggunakan Guwasalya, kami tidak dapat bertempur sendiri-
sendiri. Guwasalya harus dijalankan oleh kami berdua. Apakah paduka
tidak keberatan bila kami maju bersama-sama”
Mendengar perkataan Lawa, Ramawijaya semakin senang atas etika
bertempur ala satria yang tetap dipegang dan tidak ingin melakukan
Shinta Minulya Hlm 78
kecurangan dengan mengeroyok lawan. Dengan tersenyum ringan Sang
Rama berkata
“Aku tidak keberatan karena memang ingin menyaksikan kalian berdua
bertempur dengan bekerja sama”
“Apakah paduka tidak mengeluarkan senjata pusaka untuk melawan kami
?”
“Lihat saja nanti, biar aku hadapi dulu dengan kedua tanganku ini”
Kali ini tanpa banyak cakap karena maklum bahwa lawan yang dihadapi
tentu memiliki kadigdayaan yang mumpuni terbukti dengan ketenangan
yang diperlihatkannya, maka merekapun segera memusatkan cipta
bersama dengan Lawa memegang busur serta Kusya memegang anak panah
di genggaman tangan kanan mereka. Kekuatan cipta mereka semakin
menimbulkan energi panas yang kemudian mengumpul dalam diri mereka
dan siap untuk diledakkan.
Sementara itu Rama mulai merapatkan kedua tapak tangan dengan sikap
seperti menghaturkan sembah seraya mengendapkan semangat dan
konsentrasi sehingga mampu menjadi kekuatan untuk menahan kekuatan
gempuran tenaga dari luar. Kematangan dalam menerapkan ilmunya sudah
tidak diragukan lagi mengingat telah ribuan kali Sang Rama melakukan
pertempuran melawan musuh yang kuat. Ramaparasu atau Ramabargawa
yang fenomenal pernah dikalahkannya, Sang Dasamuka yang sangat
digdayapun mampu dibunuhnya. Demikian pula dengan Resi Subali yang
pernah menjadi guru Dasamuka dan mewariskan aji pancasunya atau
pancasona, mampu dipanahnya hingga mati saat bertempur melawan
Sugriwa. Dan tak terhitung peperangan yang telah dilakoninya sehingga
kekuatan dan kesaktiannya semakin matang. Pada jamannya, nyaris tidak
ada satria yang mampu mengalahkan kesaktian seorang Ramawijaya.
Dan saat yang ditunggu-tunggu tiba. Lawa dan Kusya secara bersamaan
dengan gerak cepat menyerang lawannya yang berdiri di depannya. Dan
memang sungguh hebat gabungan kekuatan kedua pemuda kembar itu
setelah menggunakan senjata pusaka Guwasalya. Dorongan tenaga panas
mendesak kuat ke arah Rama berdiri. Namun dengan tenang Rama
Shinta Minulya Hlm 79
menggerakkan kedua tangan ke depan untuk memapaki datangnya tenaga
raksasa itu sehingga tidak sampai mengenai tubuhnya. Dan akibat
pertemuan dua tenaga besar itu sungguh hebat ! Di tengah-tengah arena
terjadi ledakan dahsyat yang menimbulkan gumpalan api dan aliran udara
panas di sekitarnya. Maka kemudian terjadilah pertempuran hebat yang
mengakibatkan daerah sekitarnya menjadi porak poranda seolah tersapu
terjangan gelombang panas yang membakar.
Cukup lama adu kekuatan terjadi. Bukan adu kekuatan sebenarnya karena
pada dasarnya posisi Rama hanya bertahan sedangkan Lawa dan Kusya
menggempur. Dan lantaran sekian lama tidak berhasil menjatuhkan
lawannya, maka Lawa dan Kusya sepakat untuk menuntaskan pertempuran
dengan menerapkan ajian pamungkas yaitu menggabungkan busur dan anak
panah Guwasalya dan melepaskannya pada sasaran yang dituju. Segera
Lawa dan Kusya mempersiapkan diri dengan posisi bersebelahan
melakukan sikap seperti orang bersemedi. Peluh membasahi sekujur tubuh
mereka dan tiba-tiba badan mereka seperti menjadi bayang-bayang dan
dalam pandangan Rama tubuh dua pemuda kembar itu kemudian seolah
menyatu dalam keadaan telah memegang busur dan siap mengambil anak
panah untuk dipasangkan.
Melihat keadaan itu, Rama maklum bahwa apabila dirinya tetap dalam
keadaan bertangan kosong maka hal itu sangat berbahaya bagi
keselamatannya dan oleh karenanya segera dia mengheningkan cipta dan
sesaat kemudian Guwawijaya, senjata pusaka Rama, telah berada dalam
genggamannya. Sungguh mencekam saat itu karena Rama yang pada
awalnya berniat hanya menguji saja namun setelah bertempur dalam
ratusan jurus menyadari bahwa kekuatan dua pemuda kembar itu tidak
bisa di remehkan. Dan kali ini jurus pamungkas hendak dilakukan oleh
lawannya sehingga mau tidak mau dia harus mengimbanginya dengan
senjata pusaka pula.
Di saat yang gawat bagi keselamatan mereka yang bertempur itu, tiba-tiba
terdengar suara yang sangat jelas di dengar oleh Rama serta Lawa dan
Kusya
“Berhenti Lawa dan Kusya, jangan kalian lakukan itu. Dan engkau Rama,
jangan kau pergunakan Guwawijayamu !”
Shinta Minulya Hlm 80
Suara itu jelas terdengar oleh mereka namun tidak terlihat yang
mengucapkannya. Rama maklum bahwa suara itu dikirim oleh seseorang
dari jarak jauh dengan kekuatan khikang yang sempurna. Dan benar
dugaannya, sesaat kemudian munculnya seorang pendeta renta berjubah
putih yang tiba-tiba telah berdiri di tengah-tengah mereka. Melihat sosok
dan wajah Begawan itu, dengan cepat Rama menghaturkan sembah dengan
bersujud
“Guru, mohon ampun. Sembah sujud saya haturkan kepada Begawan
Walmiki” dengan takjim Rama menghormat orang itu
Dan setelah Lawa dan Kusya kembali seperti semula dan menyaksikan
kehadiran orang di depan mereka, dengan cepat mereka menubruk dan
merangkul penuh sayang
“Selamat datang kembali Kek, sudah lama kami nanti kedatangan kakek.
Ibu telah menyiapkan segala keperluan kakek dan kamipun telah siap
menerima ilmu baru dan kitab-kitab baru, Kek”
“Dasar anak-anak ! Baru saja kalian bertempur hebat mempertaruhkan
nyawa, sekarang malah bermanja-manja” tersenyum lebar kakek itu
menyaksikan kepolosan pemuda kembar itu
“Apa menurut kalian bakal menang melawan musuh kali ini meskipun bakal
menggunakan ilmu pamungkas yang aku ajarkan ? Kalau tidak aku hentikan,
tentu kalian akan celaka dan entah bagaimana aku harus menyampaikan
hal itu kepada ibumu” dengan suara tenang kakek itu menjawab celoteh
cucu-cucunya
“Lawa dan Kusya, tahukah kalian dengan siapa tadi bertempur ?”
“Tentu saja Kek ! Keren Kek, kami baru saja bertempur melawan raja negri
Ayodya” jawab Lawa bangga
“Tahukan kalian, siapakah dia ?”
“Tentu saja Kek ! Beliau adalah Ramawijaya” jawan Kusya yang kali ini
ikut bersuara
Shinta Minulya Hlm 81
“Benar ! Memang dia adalah Ramawijaya raja Ayodya. Dan ketahuilah
cucu-cucuku, Ramawijaya itu juga adalah muridku pada masa mudanya
dulu bersama dengan Laksmana yang sekarang sedang ada di sana, tuh”
kakek itu berkata seraya menunjukkan jari telunjuknya ke arah timur
tempat dimana Laksmana bersembunyi.
Kemudian lanjutnya
“Dan tahukah kalian, siapa sebenarnya Ramawijaya itu ?”
Kali ini Lawa dan Kusya hanya menggeleng pelan. Dan dengan suara tenang
setelah menghirup nafas dalam-dalam, kakek itu kemudian berkata
“Dialah sebenarnya ayah kalian yang selama ini kalian tanya dan harapkan”
Lawa dan Kusya terkejut mendengar penuturan dari kakeknya itu. Seketika
mereka menoleh ke arah Ramawijaya berada yang telah duduk tenang
bersila. Seakan mereka tak percaya atas apa yang baru saja di dengar dari
mulut kakeknya sendiri
“Dan ketahuilah cucu-cucuku. Aku sebenarnya bukan kakek kandungmu.
Aku adalah Walmiki seorang pertapa biasa yang kebetulan pernah menjadi
guru dari ayahmu”
Kemudian Begawan Walmiki memutar tubuhnya menghadap Rama seraya
berkata
“Muridku terkasih, mungkin engkau sudah mengetahui hal ini dari
Laksmana adikmu dan kedatanganmu ke sini tiada lain tentu hendak
memastikan dan meyakinkan dirimu sendiri terhadap keberadaan istri dan
anak-anakmu. Mengapa baru engkau lakukan sekarang setelah sekian lama
mereka menanti kedatanganmu ?”
Tiada jawaban yang keluar dari mulut Sang Rama kecuali linangan air mata
dan wajah penuh kesedihan. Begawan Walmiki-pun mahfum dan
melanjutkan kata-katanya
“Kalau masih ada keraguan di hatimu, segeralah engkau lenyapkan dari
pikiranmu. Aku yakin suara hati nuranimu menyetujui apa yang aku
sampaikan tadi. Dan demi Tuhan Yang Maha Agung yang menciptakan alam
Shinta Minulya Hlm 82
semesta dan berkuasa atasnya, aku yakinkan kepadamu bahwa kedua
pemuda kembar yang baru saja menjadi lawan tandingmu, adalah benar-
benar anak kandungmu, buah kasih antara engkau dan istrimu.”
Tanpa menunggu jawaban Rama kembali Begawan Walmiki mengarahkan
pandangan kepada kedua cucunya seraya berkata
“Tunggu apa lagi cucu-cucuku, segeralah kalian haturkan sembah bakti
kepada ayahmu yang selama ini kalian dambakan”
Tanpa diperintah dua kali, segera Lawa dan Kusya bersegera menuju Rama
dan menghaturkan sembah baktinya. Hati Rama yang sejak kedatangan
gurunya Begawan Walmiki telah basah, dan kini menyaksikan darah
dagingnya menyentuh kakinya, tak kuasa menahan tumpahan haru.
Ditariknya pundak kedua pemuda itu dan di bawanya dalam pelukan penuh
rindu. Tak terdengar ucapan kata-kata tumpahan rasa hati, yang terlihat
oleh Begawan Walmiki hanyalah pertemuan haru nan membahagiakan
antara ayah dan anak yang terwakili oleh derai air mata bahagia dan
pelukan erat penuh kasih sayang.
Walmiki membiarkan sejenak ayah dan anak saling menumpahkan rindu.
Dirinyapun merasa turut berbahagia menyaksikan pertemuan keluarga
yang sudah lama tlah terpisah. Puji syukur dipersembahkan kepada Sang
Hyang Penguasa Alam atas karunia kebahagiaan yang dilimpahkan kepada
kedua pemuda kembar yang tlah dia anggap sebagai cucu-cucunya sendiri.
Setelah merasa cukup, maka kemudian dia berkata kepada Rama
“Cukup muridku, satu masalah telah tersolusikan dengan baik. Engkau dan
anak-anakmu telah saling bertemu dan dapat saling menerima. Kini
hampirilah istrimu Shinta yang telah menunggu kedatanganmu selama lima
belas tahun lebih”
Shinta Minulya Hlm 83
Bag-13 Akhir Bahagia Sejati
“Sendika dawuh Guru, tapi apa yang harus aku lakukan ?” jawab Rama
terlihat bingung menentukan langkah selanjutnya yang akan dilakukannya
Tersenyum bijak Walmiki menjawab
“Engkau adalah seorang satria dan raja besar yang telah begitu banyak
mengenyam pahit manis kehidupan. Tidak perlu aku memberikan saran
sebab tentu engkau tahu apa yang harus dilakukan”
“Sebenarnyalah, sungguh aku malu dan ragu untuk menjumpai istriku,
Guru ?”
“Mengapa harus malu dan ragu apabila kenyataan telah terungkap begitu
nyata di depan matamu, muridku ?”
“Telah lama hatiku membeku”
Shinta Minulya Hlm 84
“Apakah kedua anakmu itu tak mampu untuk membuat hatimu kembali
benderang ? Apakah penjelasanku tentang istrimu, ibu dari Lawa dan
Kusya, tidak engkau terima sepenuhnya ? Apakah kesepian yang engkau
alami selama ini membuat hatimu membatu ?”
“Baiklah, Guru, akan aku temui Shinta sekarang juga !” berupaya Rama
membuang keraguan yang mengganjal langkahnya
“Aku ikut, ayah !” seru Lawa seraya beranjak mendekati Rama yang
kemudian diikuti oleh Kusya
Namun dengan tenang Walmiki memberi saran
“Sebaiknya kalian bersama kakek di sini saja. Biarlah ayah kalian
menyelesaikan masalahnya sendiri” kata Walmiki sambil menggandeng
tangan Lawa dan Kusya untuk menjauh dari Rama
<<< ooo >>>
Duduk terdiam Shinta tetap di lincak itu. Semua kejadian dapat diikuti
dengan tuntas. Sejak kedatangan suaminya hingga munculnya Begawan
Walmiki serta bertemunya anak-anaknya dengan ayah mereka. Entah apa
yang kini tengah dirasakan oleh Sang Dewi. Baginya mungkin menghadapi
derita dan menerima suka adalah sama saja. Meskipun muncul rasa lega
dan senang bahwa Lawa dan Kusya telah bertemu dengan ayahnya, namun
hatinya merasa biasa-biasa saja. Menyaksikan sosok suaminya yang dahulu
sangat dicintai dan dibanggakan, dan mungkin sampai saat inipun masih
begitu, perasaannyapun biasa-biasa saja. Apalagi memperhatikan sikap
Rama yang seolah tidak “membutuhkan” dirinya lagi, semakin membuat
jiwanya datar.
Rentetan penderitaan yang mendera nyaris sepanjang hidupnya, membuat
jiwanya semakin mengkristal untuk abaikan dunia dan keindahannya.
Apakah dunia memang begitu indah untuk diabaikan ?
Shinta Minulya Hlm 85
Dan saat Rama kemudian telah berdiri di hadapannya, sikapnyapun tiada
berubah. Tertunduk Rama berdiri di depan Shinta dengan mulut yang
terkunci. Susah sekali kata keluar dari mulutnya untuk sekedar mengucap
kabar atau tanya.
“Apakah paduka hanya akan berdiri di depan saya saja selamanya ?” ucap
Shinta menyaksikan kebekuan Rama
“Oh … eh … tentu saja tidak. Bagaimana kabarmu, Dinda ?” ungkap Rama
sedikit tergagap
“Paduka lihat sendiri, saya dalam keadaan baik-baik saja” jawab Shinta
dengan tenang
Kembali Rama tiada mampu untuk memulai percakapan di hadapan
istrinya. Rasa sungkan, merasa bersalah, ragu, ditambah egonya sebagai
seorang suami dan seorang raja membuat mulutnya menutup rapat kata-
kata yang hendak keluar.
“Hendak mengapakah paduka menemui saya ?” pertanyaan Shinta
membuat Rama kemudian memandang Shinta dengan hati berdebar keras
“Aku mengajakmu untuk kembali ke Ayodya bersama anak-anak kita”
jawab Rama datar
“Untuk apa ?”
“Bukankah kita adalah suami istri dan orang tua dari Lawa dan Kusya ?”
“Apakah ucapan itu timbul dari kesadaran paduka sendiri ?”
“Mengapa engkau berkata begitu seolah meragukanku”
“Hatiku kini begitu bening, paduka”
“Maksudmu engkau ragu terhadap apa yang telah aku katakan tadi” sedikit
meninggi ucapan Rama lantaran merasa diragukan ketulusan kata-katanya
“Saya kembalikan ke paduka sendiri untuk menilainya” dengan tetap
tenang Shinta menjawab
“Apakah engkau tidak mencintai aku lagi ?”
Shinta Minulya Hlm 86
“Apakah paduka masih mencintai saya ?” dengan berani Shinta balik
bertanya kepada Rama
Rama begitu gemas mengalami percakapan yang sebenarnya tidak
diharapkannya ini. Sosok Shinta yang dahulu begitu diakrabinya, seakan
menjadi sosok asing yang baru saja dikenalnya.
“Jadi sekarang apa maumu” seperti bergumam Rama melontarkan tanya
“Seperti yang tadi saya sampaikan, hati nurani saya mengatakan bahwa
masih ada keraguan di dasar hati paduka terhadap diri saya. Dan ego
paduka masih begitu kuat mencengkeram diri dan hati sehingga rasa sesal
dan kata maafpun tiada bisa terungkap. Saya tidak mengharapkan semua
itu paduka lakukan demi saya selaku istri paduka, namun ketulusan cinta
dan saling percaya sepertinya tidak bisa kembali seperti semula. Biarlah
saya memaknai dan menikmati tulusnya cinta dengan bersendirian”
“Apa maksudmu ?”
“Saya relakan Lawa dan Kusya ikut bersama paduka namun biarkanlah saya
berdiam di sini saja menunggu datangnya kedamaian abadi yang sebentar
lagi bakal menjemput.” Sungguh tenang dan tegas jawaban Shinta atas
keputusannya.
“Apakah itu adalah sebuah keputusan yang baik untuk seorang istri yang
tak mengindahkan permintaan suaminya ?”
“Bagaimana dengan diri istrimu yang engkau abaikan juga selama lebih
dari lima belas tahun ?” bantah Shinta tenang menyerang balik
“Okee … !!! Hal itu adalah kesalahan dariku dan oleh karenanya aku minta
maaf !!! Sedikit berteriak Rama menjawab mengungkapkan kesal
Permintaan maaf yang “terpaksa” dari suaminya membuat Shinta
tersenyum perih
“Baiklah, saya akan ikut dengan paduka. Beri waktu kepada saya untuk
berkemas”
Shinta Minulya Hlm 87
Dan tanpa menunggu jawaban, Shinta segera masuk ke dalam rumah.
Namun bukan menuju kamarnya untuk berbenah, melainkan bergegas
keluar lewat pintu belakang. Setengah berlari Shinta berusaha menjauhi
rumah yang telah dihuni bersama anak-anaknya lima belas tahun lamanya,
untuk menjauhi suaminya. Hatinya telah condong akan keputusan
sebelumnya bahwa kembali bersatu dengan suaminya adalah bukan
keputusan yang baik.
Disadari bahwa kini dirinya merindukan kebahagiaan sejati. Kebahagiaan
yang tak dipengaruhi oleh kasih sayang suami dan anak-anak. Kebahagiaan
yang tak tergantung tingginya kehormatan dunia dan gemerlap harta
benda. Kebahagiaan yang disebabkan lantaran terang bagaskara, semilir
sang bayu dan sejuknya bening air telaga. Ya … Kebahagiaan sejati !
Kedamaian yang selalu dipinta kepada Sang Hyang Penguasa Semesta untuk
segera dinikmatinya.
Terus berjalan membelah hutan Shinta tak peduli keadaan sekitarnya. Tak
peduli arah, tak peduli kemana kaki melangkah. Yang ada dalam pikirannya
hanyalah satu tujuan yang ingin segera digapainya. Dan hati kecilnya
mengatakan bahwa sebentar lagi saat itu segera tiba.
<<< ooo >>>
Sementara itu Rama yang tengah berdiri menunggu di depan rumah, mulai
gelisah. Cukup lama yang ditunggu tak muncul-muncul di ambang pintu.
Masak berbenah memerlukan waktu begitu lama, sih ? Kecurigaan mulai
menghinggapinya. Akhirnya Rama kemudian memasuki rumah setelah
mengucap salam terlebih dahulu. Dan yang di temui adalah rumah yang
kosong ! Tidak ada sosok Shinta di dalamnya. Di palingkan wajahnya
menuju pintu rumah belakang yang terbuka. Dan yakinlah dia bahwa Shinta
telah melarikan diri menghindar darinya lewat pintu belakang itu.
“Sungguh keterlaluan kamu, Shinta ! Teganya dirimu memperdayai
suamimu sendiri !” gumam Rama marah seraya segera meloncat keluar
rumah membuntuti jejak yang ditinggalkan Shinta.
Shinta Minulya Hlm 88
Seberapa cepat sih langkah seorang perempuan ? Apalagi dia berjalan di
hutan dengan tidak bertujuan. Maka tidak lama kemudian Rama telah
mendekati jarak dengan Shinta. Dari jauh terlihat oleh Rama punggung
Shinta yang tengah berjalan lurus. Pandangan tak terhalang karena saat
itu yang dilaluinya adalah sebuah padang rumput yang cukup luas.
Shinta bukan tidak tahu bahwa Rama telah dekat menyusulnya. Namun
anehnya, bukannya gelisah atau kuatir, malah hatinya semakin tenang.
Wajah nan ayu terlihat begitu tenang dan cemerlang, tak ada rasa was-
was barang secuilpun. Jiwanya telah dipasrahkan total kepada Tuhannya.
Tanpa tersisa sedikitpun. Seolah tak ada lagi siapapun selain dirinya
dengan DIA. Dan seolah waktu berhenti beberapa saat untuk memberikan
kesempatan kepada Shinta untuk berpinta dan bermesra dengan Sang
Pencipta.
Dan Ramapun merasakan keanehan yang nyata. Dia telah melihat sosok
Shinta, namun saat berlari cepat untuk mendekat, kenyataannya jarak
dengan istrinya itu tetap saja. Tak mampu dia untuk meraihnya seperti
ada kekuatan gaib yang menahan dirinya mendekati Shinta. Hati Ramapun
gundah. Kekuatan itu seolah menahan gerakannya, bahkan kemudian
dirasakan sekujur tubuhnya menghangat seperti dialiri kekuatan yang
membuka kenangan silam.
Tiba-tiba slide show gambaran kemesraan antara diri dan istrinya kala
terbuang ke hutan Dandaka, bergerak terpampang satu demi satu
bergiliran. Rasa rindu lalu menghunjam. Rasa cinta seketika memenuhi
dada. Dan kemudian muncul kekawatiran akan kehilangan.
Ya … tiba-tiba tanda disadari rasa penyesalan menyeruak ke depan.
Disesali kebodohan diri … duhai apa yang aku lakukan terhadap istriku
sendiri yang begitu mulia sehingga aku semena-mena menyiksanya atas
alasan yang tidak jelas dan mengada-ada !
Sesal berujung harap. Harap untuk mengulang kebahagiaan bersanding
dengan orang yang dicinta. Oleh karena dikerahkan tenaga dan kecepatan
untuk mendekati Shinta seraya bergetar berteriak
“Shinta ! Shinta kekasihku, tunggu aku di sana !”
Shinta Minulya Hlm 89
Dan kini semakin dekat Rama berjalan ke arah Shinta
“Dinda Shinta ! Mari kita merenda cinta kita lagi. Bukankah katamu,
cintamu kepadaku tiada pernah pudar ?
Seperti mendengar suara yang begitu diakrabi dan dinantinya, maka
berbaliklah Shinta menghadap Rama dengan memberikan senyuman yang
luar biasa indahnya
Rama terpana … namun betapa terkejut dirinya saat hendak menggapai
tangan Kekasihnya itu, tiba-tiba dari dalam tanah muncul seperti sepasang
tangan yang secepat kilat menangkap tubuh Shinta dan dalam hitungan
mikro detik telah hilang dalam pandangan …
Awalnya Rama hanya terpaku saja atas kejadian yang luar biasa tadi …
Namun campur aduknya pikiran antara sesal, sedih, rindu, cinta membuat
luapan emosi yang tak tertahan …
Dengan teriakan membahana memecah hutan, dipukulnya tanah tempat
kekasihnya hilang tadi
“Dewata ! Sungguh Engkau tak Adil ! Kau rengut kekasihku tepat di
hadapanku !!!
Lubang besar menganga tercipta dari hantaman tangan seorang manusia
digdaya yang terluka
“Aku memang bodoh ! Aku memang picik ! Aku memang egois ! Dewata,
apakah engkau tidak mengasihaniku ?!
Entah tangisan, entah erangan, entah suara hati yang lara yang terdengar
dari mulut Rama yang terlihat begitu kusut duduk bersimpuh di pinggir
lubang. Badannya lunglai, pandangan matanya kosong, seperti tak
berbekas kewibawaan seorang raja besar Ayodya.
Tiba-tiba seseorang menyentuh lembut pundaknya seraya berujar
“Dewata telah berkehendak demikian. Itu namanya takdir dan engkau
tidak akan pernah mampu merubahnya. Seharusnya engkau berbahagia
karena kekasihmu telah menemui kebahagiaan sejati. Engkaupun kelak
Shinta Minulya Hlm 90
akan memperolehnya, tapi bersabarlah. Kini kewajibanmu adalah
membimbing anak-anakmu menjalani darma satria, menciptakan dan
mendukung kebaikan dunia dan memberantas angkara. Bangkitlah,
muridku !”
Suara lembut orang tua yang ternyata Begawan Walmiki, membawa
kembali pikirannya ke alam nyata. Seketika bersujut dia di kaki Guru yang
begitu dihormatinya itu seraya menumpahkan segala kesedihan,
penyesalan dan deritanya.
(Tancep Kayon)

Wayang - Shinta minulya

  • 1.
    1 Shinta Minulya By PranowoBudi Sulistyo https://www.facebook.com/pranowobudisulistyo Jakarta, 10 April 2017
  • 2.
    Shinta Minulya Hlm2 Daftar Isi Kata Pengantar.................................................................................. 3 Bag-1 Keraguan atas sebuah Kesucian ...................................................... 4 Bag-2 Sebuah Keputusan Pahit ............................................................... 9 Bag-3 Kepasrahan akan pasti ................................................................17 Bag-4 Terpenjara oleh kebimbangan.......................................................24 Bag-5 Lima belas tahun sudah …............................................................30 Bag-6 Aswamedha .............................................................................38 Bag-7 Mungkinkah dia adalah ….............................................................46 Bag-8 Gelap Mulai Tersingkap...............................................................54 Bag-9 Kemenangan Hati Nurani .............................................................60 Bag-10 Upaya mengungkap kebenaran.....................................................66 Bag-11 Saat-saat Mencekam .................................................................71 Bag-12 Pertemuan Ayah Anak ...............................................................77 Bag-13 Akhir Bahagia Sejati ................................................................83
  • 3.
    Shinta Minulya Hlm3 Kata Pengantar Assalamu’alaikum Wr. Wb. Salam Budaya Sebagaimana kita ketahui bahwa pada tanggal 7 November 2003 UNESCO telah memberikan penghargaan kepada wayang kulit sebagai “Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity”. Dunia telah mengakuinya, sungguh keterlaluan bila kita selaku warga negara Indonesia kemudian mengabaikannya. Namun pada kenyataannya, sungguh jarang kita dapat menikmati, berdiskusi, mempelajari terkait dengan budaya wayang. Media massa kita dipenuhi oleh hiburan yang benar-benar konsumtif dan hanya bersenang-senang, cenderung mengarah kepada hedonisme. Karena seperti itulah yang laku dijual, business oriented orang menyebutnya. Sementara oleh banyak kalangan, budaya wayang dianggap sebagai sesuatu yang sudah tidak layak untuk ditampilkan. Sudah ketinggalan jaman, jadoel katanya. Mungkin itu adalah kesalahan kita sendiri yang seakan tidak peduli terhadap apa yang kita miliki. Sebelum terlambat, sebelum budaya wayang hilang dari bumi pertiwi, sebelum generasi anak turun kita mencari referensi wayang di negri jiran, sebelum kata sesal tidak dapat mengembalikan semuanya, maka marilah kita memberikan perhatian semampu kita. Kontribusi dari masing-masing individu akan menjadi dorongan dahsyat bagi lestari dan berkembangnya budaya adi luhung ini. Kepedulian kita akan menjadi tameng dan sekaligus filter terhadap budaya luar yang menyerbu negri ini. Cerita tentang Shinta ini jarang di pagelarkan. Biasanya berakhir dengan tewasnya Rahwanaraja dan kembalinya Shinta ke pangkuan Ramawijaya. Dan cerita di buku ini ditulis dengan versi yang berbeda dan diimbuhi dengan konten kekinian. Tulisannya mungkin terkesan tidak teratur dikarenakan awalnya adalah tulisan bersambung di Facebook yang diketik langsung di share di wall dalam beberapa kali unggahan. Oleh karenanya mohon dimaafkan apabila tidak berkenan. Terima kasih Bandung, 7 Mei 2016 Pranowo Budi Sulistyo indonesiawayang.com
  • 4.
    Shinta Minulya Hlm4 Bag-1 Keraguan atas sebuah Kesucian Sejatinya hidup adalah ladang amal dan ajang cobaan tak seorangpun yang terbebas lepas tangan didera kemiskinan dan dilimpahi kekayaan dikaruniai wajah biasa atau rupawan saat muda dan tlah tua badan menjadi rakyat jelata atau bangsawan semua mengalami tuk jalani kehidupan menerima atau tidak, tetap saja tak tertahan dan menyikapinya dengan ikhlas atau melawan adalah sebuah keniscayaan Begitupun Shinta si jelita dari Ayodya istri setia Sang Rama Regawa setelah mengalami derita tersandera terkungkung oleh bara cinta Rahwanaraja dalam sangkar emas dua belas warsa hingga kemudian suami tercinta menjemputnya setelah membunuh Sang Dasamuka biang angkara cobaan pun masih dialaminya kesetiaan diragukan gurulakinya hingga kemudian harus dibuktikan sejatinya cinta
  • 5.
    Shinta Minulya Hlm5 Shinta obong nan membuat sesiapa berderai air mata lantaran rasakan derita cinta teraniaya Namun duhai para pecinta lantas kah kemudian bahagia mengiringi kehidupan meraka? Ternyata tidak ! hanya sebentar dirasa bahagia harusnya memang demikian tercipta saat bersanding dengan orang tercinta bertabur kasih sayang berselimut rindu membara palagi setelahnya terdengar kabar gembira ya ... Shinta tlah hamil muda ternyata siapakah yang tak harap buah hati hadir di dunia ? Sumber petaka berawal pada suatu hari saat sidang paripurna raja dan para mentri bahas kemakmuran rakyat dan kemulyaan negri Ayodya diharapkan menjadi gemah ripah loh jinawi tengah sidang berlangsung serius diliput televisi tiba tiba terdengar jerit tangis menyayat hati suara tangis seorang wanita di paseban jawi beradu argumen dengan prajurit memaksakan diri tuk menghadap Sang Penguasa negri Ternyata mereka adalah pasutri dari desa Ki Angga dan Nyi Angga begitu biasa disapa Rama kemudian memperkenankan masuk istana menemui mereka menghadap hendak tahu mengapa begini dialog jelata dengan rajanya Maka bertanyalah Raja Ayodya kepada Nyi Angga “Jeritanmu sungguh sangat keras hingga terdengar olehku dan para mentri di dalam istana. Apa yang membuatmu menangis dan menjerit seperti itu?” Dengan masih sesenggukan Nyi Angga menjawab kelu “Mohon ampun Yang Mulia, hamba meminta keadilan Paduka. Hamba diperlakukan tidak adil oleh suami sebab dicurigai bertubi tubi”
  • 6.
    Shinta Minulya Hlm6 “Apa yang menyebabkan suamimu menaruh curiga ? Apakah engkau berlaku selingkuh ?” “Sungguh suatu hal yang sama sekali hamba tidak pernah lakukan hal itu. Jangankan melakukan, berfikir untuk selingkuhpun tidak pernah terbersit dalam benak hamba” “Lantas hal apa yang menyebabkan suamimu tak hilang kecurigaannya ?” “Suatu hari hamba pergi menengok orang tua lantaran sudah rindu tlah lama tak berkunjung. Namun sungguh tak dinyana, ternyata ibu hamba yang telah renta terbujur lemah di amben karena sakit. Bapak hamba pun telah renta dan terlihat kerepotan mengurus istrinya. Oleh karenanya kemudian hamba memutuskan untuk menginap agar dapat melayani mereka supaya lekas sembuh seperti sedia kala. Rumah orang tua hamba cukup jauh dari kota dan terpencil. LIstrik belum masuk, apalagi sinyal HP atau akses internet, sehingga hamba tidak bisa menghubungi suami hamba untuk mewartakan posisi hamba” “Apakah engkau telah minta ijin kepada suami sebelumnya ?” “Tentu Yang Mulia, hamba minta ijin menjenguk orang tua di kampung satu hari PP. Karena tidak menyangka orang tua dalam keadaan sakit maka akhirnya hamba baru pulang ke rumah seminggu kemudian. Hamba telah menjelaskan berulang kali hal tersebut kepada suami hamba namun dia sungguh keras kepala. Tetap saja dia mengumpat dan menuduh saya berlaku serong, menyeleweng dan tidak suci lagi. Bahkah dia mengatakan dengan jumawa bahwa Ki Angga bukanlah Sri Rama, yang begitu saja menerima permaisurinya yang puluhan tahun disekap dalam sangkar emas Ngalengka diraja. Bahkan suami saya berkata bahwa seorang lelaki sejati pabila mengetahui istrinya meninggalkan rumah tanpa ijin sehari saja, maka sudah patut dijatuhi hukuman pukul kalau perlu talak tilu” Dengan gelisah dan wajah memerah Sri Rama Bergawa memutar lehernya menuju Ki Angga berada seraya bertanya
  • 7.
    Shinta Minulya Hlm7 “Benarkah apa yang dikatakan istrimu itu, Ki Angga ?” Dan sungguh tak disangka, Ki Angga menjawab pertanyaan rajanya itu dengan jawaban yang tegas dan tanpa takut sedikitpun “Benar Gusti. Bahkan menurut asumsi saya berdasarkan riset dan hasil diskusi berbagai kalangan dari warga Ayodya, ternyata sebagian besar rakyat menyangsikan kesucian Gusti putri Shinta” Dengan rasa penasaran dan mangkel Sri Rama menyanggahnya “Tapi bukankah Gustimu Shinta telah dibuktikan kesuciannya lewat hukum bakar ?” “Benar Yang Mulia, namun yang menyaksikan peristiwa itu bukankah hanya Paduka, adik Paduka Laksmana serta seekor kera putih. Mana bisa kera dipercaya. Bahkan hal tersebut telah menjadi bahan diskusi dan pergunjingan di antara rakyat Paduka” Ucapan terakhir Ki Angga bak palu godam memukul keras dada Sang Narendra. Seketika mukanya memerah menahan kesal dan amarah. Sigra muntab lir kinetab, duka yayah sinipi jojo bang mawingo wengis Netra kocak ngondar-andir Idepnya mangala cakra mrebabak wadananira pindha kembang wora-wari bang Sementara para prajurit yang berjaga di sekitar ruang sidang rasanya sudah ingin segera menyeret dan merajangnya lantaran kesal akan mulut tajam dan tak tahu dirinya Ki Angga. Namun perintah tiada kunjung datang. Sri Rama masih duduk diam tak bergerak. Entah apa yang tengah bergejolak di dadanya. Amarah, rasa malu, ragu, sesal, penasaran, galau mengharu biru pikiran, berbaur mencipta perasaan tak menentu. Sementara seluruh peserta sidang paripurnapun tiada berani berucap walau sepatah.
  • 8.
    Shinta Minulya Hlm8 Sunyi … sepi …. mencekam … Beberapa saat kemudian, Sri Rama yang berpengetahuan luas dan berfikir global mampu menetapkan hati bahwa tidak ada yang serba “kebetulan” terjadi di dunia ini. Semua kejadian adalah atas Kehendak dan KuasaNYA, Tuhan semesta alam. Meskipun semburat kebimbangan masih tersirat di dasar hatinya, namun ditetapkan untuk menghapuskanya saat ini. Tak peduli lagi dia akan persidangan agung dengan para mentri, tak di hiraukan lagi Ki Angga yang masih duduk bersimpuh di tanah bersama istrinya yang masih tertunduk sedih, maka Sang Nata kemudian beranjak pergi menuju tempat peristirahatan di dalam istana. Begitu punggung rajanya telah menghilang selepas pintu, tanpa dikomando geremengan laksana suara tawon keluar dari mulut para hadirin yang memenuhi ruangan yang sebelumnya sepi. Saling bisik antara mereka membicarakan peristiwa yang baru saja terjadi. Tak sedikit dari mereka asyik merangkai kalimat berdebat antar mereka dalam memperkirakan apa yang bakal terjadi kemudian. Engkel-engkelan, menang-menangan, sok- sokan merasa dirinya paling pintar menganalisa dan meramal. Bahkan kemudian ada yang nyaris baku pukul lantaran beda pendapat terhadap prediksi yang disampaikan. Lha wong ramalan kok diperebutkan kebenarannya … dasar punggawa picik tak berguna ! Lantaran asyik dengan kesibukan masing-masing mereka tidak memperhatikan saat kemudian Ki Angga beringsut menuju pintu keluar seraya menggandeng tangan istrinya. Tak ada lagi sikap membenci kepada istrinya, seakan masalah yang disampaikan kepada Sri Rama tadi telah terselesaikan dengan sendirinya. Solusinya adalah hati lega karena masalah telah disampaikan, hati senang karena gunjingannya mampu mempengaruhi jiwa rajanya. Dia yakin bahwa setelah ini maka peristiwa tadi bakal menjadi trending topic di seantero negri, bahkan lebih cepat lagi akan tersebar ke social media di dunia maya. Dan setelah melewati gapura kraton maka dengan mesra digandengnya tangan Nyi Angga untuk dibawa pulang ke rumah dengan wajah tersenyum seraya menyenandungkan langgam yang tengah hits didendangkan oleh pesinden terkenal Nyi Srintil dengan judul “Senandung Kalijodo”.
  • 9.
    Shinta Minulya Hlm9 Bag-2 Sebuah Keputusan Pahit Ternyata perkataan Ki Angga tidak bisa hilang begitu saja di benak Sri Rama. Meskipun hati kecilnya menyanggah kebenarannya, namun tetap saja ego sebagai seorang laki-laki sekaligus kedudukannya sebagai suami, ditambah jabatannya sebagai Ayodya-1 serta gelarnya sebagai titisan Wisnu dewa paling sakti di antara anak anak Bathara Guru, membuat keraguan akan kesucian Shinta istrinya muncul kembali. Perkataan Ki Angga bahwa seluruh rakyat Ayodya menyangsikan kesucian Shinta seolah menjadi legitimasi atas prasangka itu. Kembali jiwanya goyah ! Laksmana yang melihat kondisi kakaknya seperti itu, segera mendekati untuk menenangkannya. Laksmana adalah satu-satunya orang yang mengerti betul Rama Wijaya. Sejak masih bocah, hingga dewasa Laksmana selalu bersama dan mengikuti kemana kakaknya berada. Bermain selalu bersama, belajar olah kejiwaan dan olah kanuraganpun dengan guru yang sama. Bahkan saat kakaknya Rama dan kakak iparnya Shinta terbuang di hutanpun, hanya Laksmanalah yang mengiringinya. Laksmanalah yang selalu menghibur Rama dikala rindu kepada istrinya yang diculik oleh Rahwanaraja. Laksmanalah yang selalu menguatkan kakaknya untuk terus
  • 10.
    Shinta Minulya Hlm10 berusaha merebut Shinta dari genggaman Raja Alengka itu. Suka duka Rama adalah suka dukanya juga. Tak heran Laksmana sangat detil faham apa yang tengah terjadi dalam benak dan hati kakaknya. "Oh ... Dewata yang Agung, mengapa semua ini terjadi. Dikala hambaMu ini tengah merasakan ketenangan dan kebahagiaan, mengapa Engkau timpa dengan masalah yang sungguh pelik ini” tak kuasa derai air mata mengiringi keluh kesah Sang Raja Ayodya seraya kemudian merangkul adiknya terkasih. “Sungguh tak aku duga bahwa diriku menjadi cacian dan bahan tertawaan seluruh rakyat yang aku pimpin. Sungguh memalukan, seorang raja memberi contoh yang tidak benar kepada rakyatnya” Laksmana yang mendengar keluh kesah kakaknya, kemudian menghibur dan sekaligus memberikan pandangan “Duhai Kangmas, janganlah engkau percaya sepenuhnya kepada kata-kata orang yang tidak bertanggung jawab itu” “Tapi perkataan Ki Angga sungguh tepat, Dimas. Akupun merasa bahwa itu adalah sebuah kebenaran belaka” “Berarti Kangmas sebelumnya masih memiliki keraguan akan kesucian Mbakyu Shinta meskipun sudah terbukti saat hukum obong itu ?” “Sepertinya demikian, Adikku. Sungguh dua belas tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk seorang wanita dapat mempertahankan kesuciannya. Dapat aku bayangkan bahwa setiap hari dia dibujuk, dirayu dan digoda oleh Rahwana. Ibarat kata pepatah, sebuah batu karangpun lama kelamaan akan berlubang manakala setiap detik ditimpa oleh setitik air dari atasnya. Apakah dinda Shinta masih kuat mempertahankannya ?” “Duhai Kangmas Prabu, janganlah beribu prasangka mengangkangi pikiran Kanda. Tenangkanlah jiwa Kangmas agar dapat berfikir dengan jernih dan bijak. Dan yang mengetahui dalam hati Mbakyu Shinta tentu Kanda sendiri. Janganlah engkau diombang ambing oleh serba kekawatiran dan hal hal yang tidak pasti, sebab yang sudah pasti adalah bahwa kesucian Mbakyu telah terbukti kebenarannya karena tlah kita saksikan sendiri. Apakah
  • 11.
    Shinta Minulya Hlm11 kakang percaya pada gossip dan berita sampah yang keluar dari mulut busuk Ki Angga tadi ? Apakah Kangmas lebih percaya kepada kabar yang beredar dengan validitas kesahihan patut dipertanyakan daripada dengan kesetiaan Mbakyu Shinta yang telah terbukti secara empiris?” “Tidak mungkin adikku, aku percaya apa yang dikatakan Ki Angga itu benar adanya” Dan Laksmana sadar bahwa segala masukan dan bujukan yang disampaikan kepada kakaknya bakal sia sia belaka. Dia mengerti betapa “keras kepala” kakaknya itu meskipun tutur katanya begitu lembut. Kalau sudah meyakini terhadap sesuatu hal, maka tak ada seorangpun yang mampu mengubahnya. Laksmana sudah pasrah dan tinggal menanti suatu keputusan besar yang bakal terjadi. “Adikku Laksmana, sekarang dengar dan turuti semua perintahku !” Rama melepaskan rangkulan adiknya “Ya Kanda” “Sekarang juga jemputlah Mbakyumu Shinta dan kemudian bawalah dia ke tengah hutan dan tinggalkanlah dia di sana bersendirian. Biarlah alam yang akan memberikan keputusan dan keadilan” “Tapi Kang …” “Tidak ada tapi-tapian ! Laksanakan perintahku segera !” Remuk redam perasaan Laksmana mendengar perintah Sang Rama. Sungguh tak difahaminya pola pikir kakaknya itu. Apakah harus begini menjalani hidup ? Selalu tercipta dilemma dan opsi yang harus dipilih agar terus hidup? Dan tidak memilihpun adalah sebuah pilihan. Apakah mengatas namakan pendapat banyak orang adalah suatu kebenaran yang mutlak ? Pada kenyataannya kebenaran tidak selalu ditentukan oleh seberapa banyak orang yang meyakini dan mengamininya. Sri Rama terpengaruh oleh kata kata Ki Angga bahwa seluruh rakyat Ayodya mencurigai kejujuran Shinta, namun bukannya menyanggah dan membuktikan bahwa hal tersebut tidak benar, malah dia memberi stempel “OK” bahwa dugaan itu memang benar adanya bukan hanya sekedar hasil
  • 12.
    Shinta Minulya Hlm12 rekayasa pikiran merangkai kejadian dan membuat estimasi sebab akibat secara imajiner. Dan memang tepat dugaan Laksmana akan kebimbangan yang masih mendekam di hati kakaknya Sri Rama tentang kesucian istrinya. Hal itulah yang kemudian terungkit lagi oleh “fakta” yang diungkap Ki Angga, seakan menjadi sebuah sebab untuk muncul kembali seperti pada peristiwa menjelang Shinta obong. <<< ooo >>> “Hendak menuju kemana kita, Dimas ?” suara lembut wanita memecah keheningan hutan siang itu. Wanita itu duduk di pelana kuda dan disampingnya seorang pria mendampingi dengan berkuda juga. Duhai … sungguh jelita wanita berkuda itu. Wajahnya putih bersinar memancarkan perbawa keagungan laksana bathari kahyangan turun ngejawantah ke darat. Meskipun tiada senyum yang tersungging di wajahnya yang bak rembulan, namun sungguh siapapun yang memandang niscaya terpesona akan keindahannya. Matanya memendam sebuah tanya yang sedari tadi hendak diucapkan kepada pria di sebelahnya yang mengiringinya. Sementara pria itu hanya tertunduk kelu, wajah muram menyimpan duka. Sepanjang perjalanan mulut terkunci tiada satu katapun terucap. Benar dia berjalan berkuda, namun pikirannya melayang mengembara mengenang kenang perjalanan hidup bersama wanita di sebelahnya yang tiada lain adalah kakak iparnya. Ya … pria itu adalah Laksmana, sedangkan perempuan itu adalah Dewi Shinta istri Rama Wijaya raja Ayodya. Ungkapan tanya lembut Shinta, seakan membangunkan Laksmana dari mimpi tak mengenakkan. Dan dengan tergagap dia menjawab
  • 13.
    Shinta Minulya Hlm13 “Oh … kita telah sampai, Kanda Dewi. Marilah aku bantu mbakyu turun dari kuda itu” bergegas Laksmana meloncat dari kudanya dan segera membantu Sang Putri turun dari kudanya. Setelah menginjak tanah maka Dewi Shintapun berjalan di tempat yang agak lapang dan kemudian tangannya ngawe ke Laksmana dengan maksud untuk berjalan mendekat. “Sekarang engkau jelaskan dengan sedetil-detilnya mengapa aku dibawa kesini hanya olehmu. Mengapa Kanda Rama tidak ikut serta bersama kita. Jangan engkau katakan bahwa kakakmu sedang sibuk ngurus negara ataupun ada kegiatan penting yang lainnya sehingga tiada waktu untuk bersamaku. Dia telah tahu bahwa aku tengah mengandung anaknya. Tidak mungkin tega membiarkanku melakukan perjalanan jauh seperti ini. Tentu ada alasan kuat sehingga hanya menyuruh engkau saja menemaniku. Sengaja aku tidak bertanya tentang itu sepanjang perjalanan tadi karena kulihat wajahmu begitu gelap menyimpan rahasia yang sepertinya sangat membebanimu. Jujurlah, Dimas !” Mendengar ketenangan Shinta dalam mengungkapkan isi hati, membuat hati Laksmana semakin terkoyak. Dewi Shinta telah dianggap sebagai kakaknya sendiri yang begitu dihormati dan disayangi. Tak kuasa airmata Laksmana mengalir pelan. Dipandangi sosok di depannya itu dengan penuh welas asih Surem … surem … surem diwangkara kingkin, lir manusa kang layon, denya ilang ingkang memanise, wadananira layung, kumel kucem rahnya maratani Suram … sungguh suram suram cahya sang surya bersedih laksana manusia yang tlah mati lantaran tlah hilang indahnya bahagia jiwanya merana badannya layu duka derita meyelubungi jiwa raga
  • 14.
    Shinta Minulya Hlm14 “Kanda Dewi, mohon ampun atas ketidakmampuanku mempengaruhi suamimu dalam memutuskan masalah ini. Adikmu ini telah berusaha sekuat tenaga menyadarkan Kanda Rama untuk memberikan keputusan yang benar sesuai dengan hati nurani dan jiwa kemanusiaan. Namun apa daya, segala kewenangan ada dalam genggaman suamimu. Aku diperintahkan oleh Sri Rama untuk … untuk …” Tak kuasa Laksmana melanjutkan kata-katanya, sesak dadanya menahan gejolak duka yang menguasai hatinya. Namun di pihak lain, Dewi Shinta terlihat begitu tenang menghadapi situasi seperti ini “Berterus teranglah Adikku, kakakmu ini telah siap menerima segala yang telah menjadi ketetapan suamiku sebagai raja Ayodya. Penderitaan telah menjadi teman yang sangat akrab denganku. Ingatkah engkau, tiga belas tahun lamanya kita hidup terlunta di hutan Dandaka. Menjalani pembuangan sekian lama membuat jiwaku semakin kuat. Ditambah lagi kemudian selama dua belas tahun, aku berada dalam sangkar emas si Rahwanaraja. Jangan dikira aku hidup nikmat di sana. Taman Argasoka memang sebuah taman yang indah bak tamannya para Dewata, namun jiwaku terpidana, cintaku terkurung oleh ruang dan waktu lantaran tak bersanding dengan cinta sejatiku yaitu diri suamiku. Jangan engkau kira aku diam saja di kurungan emas itu. Setiap hari cundrik selalu menemaniku dimanapun aku berada. Hal itu aku lakukan untuk mengabarkan kepada si Keparat itu bahwa apabila dia menyentuh kulitku sedikit saja, maka cundrik segera aku hunjamkan di ulu hatiku. Dua belas tahun penuh kekawatiran, dua belas tahun tidak nyeyak tidurku, dua belas tahun jiwaku tiada pernah tenang, dan itu membuat jiwaku semakin kuat mengeras. Oleh karenanya, berterus teranglah, Adikku !” Laksmana mendongakkan kepalanya kembali dan dengan dikuatkan hatinya maka berkatalah dia melanjutkan kalimat yang belum selesai tadi “Aku diperintahkan oleh suamimu untuk … membuangmu di hutan ini” lirih suara Laksmana namun bagi Dewi Shinta laksana bunyi halilintar di siang hari bolong. Seketika wajahnya memucat, namun tidak lama kemudian dia telah mampu menguasai hatinya. Dihirupnya dalam dalam udara segar hutan ini, dan kemudian dengan pelan pelan dihembuskan lewat mulut
  • 15.
    Shinta Minulya Hlm15 nafas hangatnya. Dilakukan hal itu tiga kali untuk menenangkan emosi dan mengatur keseimbangan jiwanya. “Baiklah, adikku. Aku tidak akan bertanya kepadamu mengapa suamiku tega memerintahkan perbuatan kejam seperti ini. Aku menduga tentu ada kaitannya dengan peristiwa tahun lalu. Bukankah dia dan engkau telah menyaksikan sendiri bukti kesucianku di tengah api yang membakar jasadku ? Apakah engkau percaya itu adikku ?” “Saya percaya seratus persen, Kanda Dewi !” “Lalu mengapa suamiku sendiri tidak percaya ?” “Itu semua karena mulut busuk dari Ki Angga” “Aku tidak menyalahkan Ki Angga ataupun siapa saja yang meragukan kesucianku karena mereka tidak menyaksikan sendiri buktinya. Mereka hanya merangkai sebuah kejadian dari kabar yang diterima walau tidak tahu validitas kebenarannya. Mereka kemudian menyimpulkan rangkaian cerita berdasarkan asumsi asumsi pemikiran logis menurut mereka atau mungkin malah hanya berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya pribadi. Biarlah hal itu terjadi karena memang kapasitas dan kapabilitas pemikiran mereka hanya sampai disitu. Namun mengapa kakakmu, yang adalah seorang terpelajar, seorang raja besar, seorang satria utama bahkan menurut orang adalah titisan Dewata, mempunyai pemikiran dan pandangan yang sama dengan mereka ?” “Adikmu ini telah berusaha mengingatkannya, Kanda Dewi. Namun semuanya sia sia belaka. Tentu Kanda tahu bagaimana sifat kakakku” “Aku percaya, Laksmana. Baiklah, sebagai adik yang baik segeralah engkau tinggalkan aku di sini sesuai dengan perintah yang diberikan oleh Sri Rama kepadamu” Dengan perasaan campur aduk, Laksmana memandang sekali lagi sosok agung di depannya itu. Rasa hormat dan kagum semakin membuncah kepada istri kakaknya itu. Dewi Shinta terlihat begitu tenang, begitu tegar dan penuh keyakinan serta waskita dalam bertutur dan bersikap. “Lalu bagaimana dengan Kanda Dewi nanti ?”
  • 16.
    Shinta Minulya Hlm16 “Tidak usah cengeng ! Aku tidak bersendirian di sini, ada Tuhanku yang akan menemani dan menolongku. Cepatlah segera tuntaskan tugasmu !” Dengan kesedihan yang masih menggumpal, Laksmana kemudian menaiki kudanya seraya mengucapkan kata perpisahan “Tuhan akan selalu melindungimu, Kanda Dewi. Setiap saat aku akan berdoa atas keselamatan dan kebahagiaanmu. Jagalah dirimu baik baik”
  • 17.
    Shinta Minulya Hlm17 Bag-3 Kepasrahan akan pasti Sepeninggalan Laksmana, barulah Sang Dewi menumpahkan segala beban beratnya. Air matanya mengalir deras memikirkan perlakuan suami terhadap dirinya. Namun tidak terdengar ratapan menyesali nasib buruk yang menimpa. Jiwanya telah kebal terhadap penderitaan. Nyaris sepanjang hidupnya diliputi oleh cobaan hidup yang tiada henti. Kisah hidupnya adalah kisah kesedihan dan nestapa. Mungkin hanya sepenggal episode kehidupan dimana dia merasakan bahagia seutuhnya yang dia pernah rasakan. Sore menjelang, namun di tengah hutan telah gelap gulita. Di bawah sebuah pohon yang tinggi besar dan menjulang, sosok perempuan itu bersimpuh dalam diam. Badannya diam mematung seperti tugu sinukarta. Mata indahnya terpejam, bulu matanya yang lentik terlihat basah bekas tangisan. Dadanya sesekali bergerak pelan mengikuti isak kesedihan. Duhai … sungguh kasihan nasib putri agung ini bersendirian dalam hutan yang sunyi tega nian sang gurulaki
  • 18.
    Shinta Minulya Hlm18 menetapkan hukuman hanya karena ego diri mencampakkan cinta menyiksa istri sendiri akankah alam dapat menjadi saksi kesucian cinta dan harkat diri hakiki duhai Sang Putri … tetaplah bijak bestari dhêdhêp tidhêm prabawaning ratri sasadara wus manjêr kawuryan tan kuciwa mêmanise mênggêp srinatèng dalu siniwaka sanggyaning dasih aglar nèng cakrawala winulat ngalangut prandene kabèh kèbêkan saking kèhing taranggana kang sumiwi warata tanpa sêla Sunyi senyap sepi menhadirkan malam nan agung Bulan tlah menampakan diri bersinar terang Alangkah indahnya tiada mengecewakan Terlihat gagah Sang raja diraja malam itu menghadirkan segala cinta dan harapan terhampar di atas cakrawala terlihat hampa tak bertepi namun nyatanya semua tlah penuh sesak oleh bintang gemintang nan berbinar merata sinarnya tanpa sela Derita yang telah terjadi tak perlu disesali menangislah tuk mengurangi beban berat diri namun meratap tidaklah boleh dan harus dihindari apalagi menyiksa diri meminta mati hanya satu yang harus dilakoni kepada Tuhanmu engkau berserah diri berharap limpahan kasihNya mohon petunjuk Ilahi niscaya ketenangan bakal dinikmati dan semangat hidup trus terpatri demikian yang slalu diingat Sang Dewi petuah Sang Ayah Prabu Janaka raja Mantili Menangis sedih Rekyan Shinta mengenang ayahnya nan jauh di Mantili. Ingin rasanya saat ini duduk bersimpuh di kaki ayahnya yang sangat lembut dan bijak mengasihinya. Ingin rasanya dia merasakan damai dalam pelukan
  • 19.
    Shinta Minulya Hlm19 ibunya dan merasakan getar kasih sayang yang sejati kala tangan lembut sang ibu membelainya. Namun ia kemudian tersadar bahwa semua keinginan tadi hanyalah godaan agar dia terbuai dalam bayangan semu belaka. Yang dihadapinya kini adalah saat ini ! Di hutan ini ! Bersendiri dalam suasana sepi mencekam dan gelap pekat lantaran bintang gemintang dan dan Sang Chandra tertutup oleh lebatnya hutan. Sungguh berat takdir yang disandangnya, namun Sang Putri telah sadar bahwa mengenang segala keindahan yang diinginkan saat ini adalah perbuatan yang tak berguna dan membuang-buang waktu. Yang haruslah dilakukan adalah meminta pertolongan Sang Pencipta Alam Semesta dan berharap petunjuk dan Ilham yang bakal menerangi jalan yang bakal ditempuh selanjutnya. Maka berbenahlah Dewi Shinta menuju kepada Tuhannya. Dimeramkan matanya dan selintas seolah terdengar jelas, sosok Sang Janaka berkata kata lembut “Petunjuk atau ilham tidak kasat mata, tidak bisa dilihat dan dirasakan oleh panca indra manusia. Ilham merupakan wujud kelimpahan rahmat dan pencerahan Tuhan kepada seseorang sehingga orang yang menerimanya dikatakan hidupnya akan sejahtera lahir dan batin. Ilham dimaknai akan mampu merubah sikap dan watak seseorang mengarah kepada kebaikan, kesuksesan, dan kemasyhuran yang berguna bagi sesama. Namun perubahan itu tidak terjadi dengan sendirinya, perubahan tersebut merupakan hasil dari sebuah laku, sebuah olah batin. Laku batin yang dapat engkau perbuat adalah dengan bertapa, berpuasa, berpantang, mengurangi tidur, mengurangi keinginan-keinginan duniawi, melakukan perjalanan spiritual dan sebagainya. Itu semua merupakan wujud kesungguhan dari usaha manusia dalam mendapatkan apa yang diinginkan dan dicita-citakan” Seperti didengarnya lagi “Ketika batin seseorang tunduk dan bergerak dengan dibarengi laku, maka bakal menimbulkan energi berkekuatan magnet yang mampu menarik dan menyerap energi alam semesta. Semakin intens laku batin seseorang, maka akan semakin cepat putaran yang digerakkan hingga akan semakin kuat
  • 20.
    Shinta Minulya Hlm20 pula daya magnetisnya dalam menyedot energi alam semesta. Maka jalankanlah laku itu dengan engkau bertapa dan mengheningkan cipta seraya berharap berkah Tuhan dapat engkau raih” Semakin mantab Sang Putri terbuai dalam nikmatnya bersapa dengan Yang Maha Agung. Semakin tenang jiwa dirasakan, tak ingat lagi bahwa saat itu dia tengah berada di hutan di tengah malam bersendirian. Dan kata-kata semangat dari ayahnya seperti membimbingnya semakin tunduk dan berserah. “Shinta anakku ! Menjalani hidup di dunia ini laksana tengah belajar dalam sebuah madrasah agung yang bernama kehidupan. Dan layaknya setiap madrasah maka akan selalu ada ujian-ujian untuk mengevaluasi seberapa dalam kita mampu menyerap nilai-nilai pembelajaran itu. Dan untuk menggapai sukses dalam meraih tujuan yang engkau inginkan, maka harus engkau ingat tiga hal. Yang pertama adalah Kekuatan Tekad, Determinasi untuk membebaskan diri dari keterikatan dunia. Mulai singkirkanlah keinginan-keinginan duniawi yang sepertinya indah dipandang mata, nikmat dirasakan, namun pada kenyataannya hanyalah fatamorgana belaka. Bukan berarti kita anti terhadap kesenangan-kesenangan duniawi, namun dalam menyikapi dan menggunakannya, haruslah sewajarnya saja. Kata orang bijak, dunia harus mampu engkau genggam dan kendalikan, jangan sampai sebaliknya, dunia yang mengendalikannmu.” “Yang kedua adalah kekuatan pemahaman, mengembangkan keahlian dan pengetahuan. Ingat Shinta bahwa diperlukan kerja keras dan cerdas dalam menuntut ilmu. Juga konsistensi atau ke-istiqomah-an. Ilmu adalah wahana yang luas tanpa batas. Tak akan mampu engkau meraih semua yang engkau inginkan, namun bersikap ‘serakahlah’ engkau dalam mencari ilmu. Jangan beranggapan telah cukup dan merasa puas bila telah bisa melakukan sesuatu karena ilmu Tuhan berada di setiap sudut alam ini dan juga di setiap inci dirimu sendiri. Upaya mencari ilmu harus engkau lakukan kapan saja setiap waktu bahkan saat ajal kan menjemput. Dan yang ketiga adalah kekuatan laku, melaksanakan semuanya dengan keceriaan dan keikhlasan. Sebarlah ilmu kesiapa saja yang menginginkan. Berbagilah ! Jangan ada niat menyembunyikan ilmu hanya untuk diri sendiri. Manusia yang terbaik adalah orang yang mampu memberikan
  • 21.
    Shinta Minulya Hlm21 banyak manfaat kepada orang lain. Ingat Shinta, selalu berbuat baiklah dan selalu berbagilah dengan ilmu yang kita miliki. Dengan engkau lakukan hal itu, maka ilmumu tiada akan berkurang malah akan terus bertambah dan juga akan membuat dirimu semakin bijaksana dalam menyikapi dan menjalani hidup dan kehidupan di dunia ini” Malam semakin sepi Shinta semakin asyik dalam samadi tak dirasakan penderitaannya lagi tak dipikirkan susah hati kepada Tuhannya tlah diserahkan nasib diri kepada Ilahi tlah dipasrahkan apa yang bakal terjadi segala keinginan duniawi adalah nisbi keselamatan dunia dan alam baka sudah pasti Kepasrahan jiwa justru mencipta energi luar biasa alam semesta meresponnya seketika sinyal sinyal kasih sayang meyebar merata ke segala pelosok di penjuru dunia atas kendali Sang Penguasa Semesta bakal tersambung kepada pemilik frekwensi yang sama Nun di Wismaloka pertapaan Resi Walmiki saat sang resi tengah bermeditasi terlihat olehnya keberadaan Shinta sang dewi tlah faham sang begawan apa yang terjadi dipanjatkan doa kepada Suksma Sejati tuk segera berada di dekat sang Putri Seakan tiada beda jarak bagi Begawan Walmiki kala cipta tlah disandarkan kepada Ilahi berpasrah berserah diri tuk membantu mengentaskan yang tersakiti agar bersegera sadar dan percaya diri bahwa susah sedih bak roda pedati bahwa bahagia derita bakal silih berganti bahwa kemuliaan niscaya terpenuhi pabila mampu pikiran dan hati terkendali
  • 22.
    Shinta Minulya Hlm22 Saat dalam samadi mata mulai terbuka tlah nyata sosok Shinta di hadapannya tersenyum bijak penuh kasih Sang Yoga saksikan Sang Dewi larut dalam hening cipta Dengan lembut Walmiki menyapa “Anakku Shinta, bangunlah dari samadimu. Bapa kini ada dihadapanmu, Nak. Keluh kesahmu telah terdengar hingga ke Wismaloka. Maafkan perlakuan muridku kepada dirimu yang tlah bertindak tidak adil, anakku. Percayalah Tuhan pasti akan memberikan kemudahan dalam kesulitan yang engkau alami seperti saat ini. Yakinlah bahwa Tuhan bakal mengganti jiwa pasrahmu dengan ganjaran yang jauh lebih indah dari kebahagiaan yang pernah engkau rasakan di dunia ini. Bangunlah, Nak” Shinta yang mendengar suara lembut di telinganya, perlahan membuka matanya. Terkejut dia sesaat melihat seseorang telah berada di depan duduknya. Seorang tua berpakaian brahmana memberikan senyum lembut menyapa. Wajah adem itu seketika memaksa benaknya untuk mengingat- ingat. Dan dalam hitungan mili detik tlah ditemukan nama pemilik wajah itu di memorinya. Ya … Shinta mengingatnya bahwa setelah melangsungkan perkawinan megah di Mantili dan kemudian Rama Wijaya memboyongnya ke Ayodya, maka tempat pertama yang di singahi adalah pertapaan Wismaloka. Suaminya memperkenalkan kepada dirinya, pemilik pertapaan itu sebagai gurunya. Resi Walmiki, seorang brahmana yang begitu terkenal di seantero Ayodya dan negri-negri di sekitarnya karena kebijaksanaannya, dan dia adalah guru suaminya. Segera Shinta merebahkan diri bersujut di kaki Begawan suci itu. Meskipun hanya sesenggukan tangis dan tiada mampu kata terucap dari mulut Dewi Sinta, namun Resi Walmiki sangat faham dengan apa yang tengah bergejolak di dada Shinta. Segera disentuh pundak Shinta oleh Walmiki agar bangkit dari sujudnya, kemudian berkata
  • 23.
    Shinta Minulya Hlm23 “Engkau tidak bersendirian lagi dalam menghadapi cobaan yang engkau alami sekarang. Hilangkanlah segala beban berat yang ada di pikiranmu. Masih ada kewajiban besar yang harus engkau sandang, yaitu melahirkan anakmu dan membesarkannya kelak. Maka marilah engkau ikut bersamaku untuk mencari tempat yang nyaman untuk engkau tinggali. Bapa akan mempersiapkannya untuk tempat tinggalmu dan anak-anakmu nanti” Hanya anggukan yang diberikan oleh Shinta sebagai jawaban.
  • 24.
    Shinta Minulya Hlm24 Bag-4 Terpenjara oleh kebimbangan môngka kanthining tumuwuh salami mung awas eling eling lukitaning alam dadi wiryaning dumadi supadi niring sangsaya yèku pangrêksaning urip 1 Oleh karenanya sebagai pegangan hidup selamanya haruslah awas dan Ingat, Ingat pada hukum alam takut kepada kemuliaan makhluk hidup agar jauh dari segala penderitaan, itulah cara untuk menjalani hidup. marma dèn tabêri kulup angulah lantiping ati rina wêngi dèn anêdya pandak-panduking pambudi bengkas kaardaning driya supadya dadya utami 1 Tembang di atas adalah pupuh Kinanthi dari Serat Wedhatama
  • 25.
    Shinta Minulya Hlm25 Oleh karenanya rajin-rajinlah anakku, mengolah tajamnya hati (kesadaran), siang dan malam berusaha, mampu meningkatkan kesadaran, menyingkirkan kekotoran batin, agar menjadi utama. pangasahe sêpi samun aywa êsah ing salami samôngsa wis kawistara lêlandhêpe mingis-mingis pasah wukir rêksa muka kêkês srabedaning budi Pengasahnya adalah saat hening, jangan sampai tergoyahkan selamanya, jika sudah berhasil akan terlihat, tajamnya tiada tara, mampu menghancurkan Gunung Reksamuka 2 bakal hancur segala penghalang kesadaran murni. Tersentuh hati pria itu mendendangkan lantunan tembang yang telah dihafalnya di luar kepala. Hatinya perih mengingat lagi kepada kekasih hati yang tiada lagi berada di sisinya. Seolah jiwanya telah melayang separuh. Ya … istrinya entah hilang entah mati akibat keputusan dirinya dalam menegakkan keadilan. Menegakkan keadilan? Ataukah hanya memperturutkan ego ? Setelah cukup lama hening, terdengar lagi kelanjutan tembang tadi dene awas têgêsipun wêruh warananing urip miwah wisesaning tunggal kang atungil rina wêngi kang mukhitan ing sakarsa 2 Reksa muka adalah nama sebuah gunung yang didaki oleh Werkudara pada kisah Dewa Ruci dalam mencari tirta prawita mahening suci untuk mencari arti kehidupan sejati. Dapat juga diartikan dengan : Gunung yang berarti sebuah penghalang, Reksa – memfokuskan diri pada, Muka – Wajah, sehingga mempunyai makna “Sebuah penghalang untuk memfokuskan kesadaran terhadap ego diri sendiri”
  • 26.
    Shinta Minulya Hlm26 gumêlar ngalam sakalir adapun yang dimaksud AWAS, faham akan hijab yang menghalangi pandangan, serta tahu tentang siapa Sang Pemilik Kewenangan Tunggal, yang menyatu siang dan malam (dengan diri kita), yang berkehendak tiada batas, yang melingkupi seluruh alam semesta. aywa sêmbrana ing kalbu wawasên wuwusirèki ing kono yêkti karasa dudu ucape pribadi marma dèn sambadèng sêdya wêwêsên praptaning uwis Jangan gegabah dalam bersikap, berhati-hatilah dalam bertutur kata, sungguh bakal nyata kan terasa, bukan ucapan pribadi, harus benar-benar berpedoman niat yang kuat, peganglah hingga sampai pada tujuan sirnakna sêmanging kalbu dèn waspada ing pangèksi yèku dalaning kasidan sinuda saking sathithik pamothahing napsu hawa linalantih mamrih titih Hilanghkan segala ragu di hatimu, waspadalah akan penglihatan kesadaranmu, itulah jalan kesempurnaan, kurangilah sedikit demi sedikit, segala keinginan nafsu angkara, latihlah kesadaranmu melalui konsistensi. aywa mêmatuh nalutuh tanpa tuwas tanpa kasil kasalibuk ing srabeda marma dipun ngati-ati urip kèh rêncananira sambekala dèn kaliling
  • 27.
    Shinta Minulya Hlm27 Jangan terus dirundung ketidak puasan diri, bakal tiada akhir dan tanpa hasil, (tlah jelas) terkena penghalang batin, oleh karenanya slalu berhati-hatilah, hidup penuh rencana dan godaan , segala penghalang cermatilah. upamane wong lumaku marga gawat dèn liwati lamun kurang ing pangarah sayêkti kêrèndhèt ing ri apêse kêsandhung padhas babak bundhas anêmahi Seumpama manusia yang tengah berjalan, melewati jalan berliku dan terjal, pabila tiada pedoman, niscaya bakal tertusuk duri, bahkan terantuk batu padas nan tajam, terluka pada akhirnya. Pria itu tertunduk kelu akhiri lantunan tembang hatinya kosong semangatnya terbang sepotong wajah ayu terbayang seulas senyum manis terkenang aroma badan menyebar wewangian kembang serasa ingin direngkuh penuh kasih sayang namun apa daya hanyalah bayang berurai kesedihan hilang langkah cahya terang Ya …. pria itu bukanlah orang sembarangan dialah raja Ayodya berdarah bangsawan namun kini kelam menyelimuti sekujur badan berjalan tertatih bersandar keraguan “Apakah Kanda Rama tengah mengingatnya lagi ?” Tiba-tiba terdengar suara memecahkan keheningan yang keluar dari mulut seorang Laksmana yang telah berdiri di muka kakaknya. Laksmana begitu trenyuh menyaksikan kondisi kakaknya yang begitu lemah dan terlihat begitu sedih mendalam menanggung beban. Oleh karenanya dia kemudian
  • 28.
    Shinta Minulya Hlm28 memberanikan diri menyapa kakaknya walaupun tidak diperintah menghadap. “Apakah Kanda Rama tengah mengingat mbakyu Shinta lagi ?” diulang pertanyaannya karena cukup lama tak peroleh jawaban Pelan Rama Wijaya mendongakkan kepalanya dan berusaha memberikan senyuman atas kehadiran adik yang sangat dicintainya itu. Dengan suara lemah dijawabnya “Mengapa engkau tanyakan hal itu lagi. Sudah puluhan kali, bahkan mungkin ribuan kali engkau bertanya hal yang sama” “Karena jawaban Kanda tidak tegas, bahkan sering dijawab hanya dengan gelengan kepala saja. Saya hitung, sudah lima tahun sejak saya diperintahkan oleh Kanda untuk meninggalkan Mbakyu Shinta di hutan, apakah Kanda tidak ingin tahu bagaimana nasibnya kini ? Kalau masih dalam keadaan hidup, maka seharusnya Mbakyu Shinta telah melahirkan bayinya. Apakah Kanda tidak ingin mengetahui kepastiannya ?” “Untuk apa aku harus mengetahuinya ?” “Bukankah anak itu adalah darah daging Kanda ? “He … Laksmana ! Engkau tidak perlu mencampuri urusanku ! Shita sudah mati atau masih hidup, Shinta sudah melahirkan atau keguguran, itu bukan urusanmu ! Aku tidak peduli !” bentakan Rama membuat kaget Laksmana. Reaksi atas pertanyaan tadi, membuat Laksmana cukup senang karena kini yakin bahwa kakaknya masih dapat berfikir dan bersikap. “Mohon maaf Kanda, bukan maksud saya mencampuri urusan Kanda dengan Mbakyu Shinta, namun perhatian tadi adalah wujud cinta kasih saya kepada Kanda dan Mbakyu Shinta. BIarlah adikmu ini menderita atau Kanda putuskan hukuman, yang terpenting bagi diri saya adalah kebahagiaan Kanda berdua. Sejatinya saya yakin bahwa keraguan hati masih meliputi diri Kanda sampai dengan saat ini. Keraguan inilah yang menjerumuskan Kanda dalam lembah penderitaan batin. Akankah ini akan berlangsung selamanya, Kanda ?” pelan suara Laksmana mewartakan kesedihan mendalam
  • 29.
    Shinta Minulya Hlm29 Mendengar jawaban itu, dengan lembut tangan Rama kemudian menyentuh pundak adiknya tersayang seraya berkata “Terima kasih Adikku, jasamu kepadaku sudah sedemikian besar dan tak mampu kuhitung. Kasihmu kepadaku tak terbantahkan lagi, namun biarlah kakakmu ini menanggung semua yang telah terjadi. Sabda pandita ratu, ucapan dan keputusanku tidak bisa ditarik lagi, ludah tak dapat dijilat lagi. Apa kata dunia nanti apabila seorang Rama kemudian mengingkari kata- katanya. Bukankah demikian, adikku ?” “Namun kita semua tetaplah manusia biasa, Kanda. Seorang manusia tentu pernah lupa dan salah. Dan kewajiban kita sendirilah untuk memperbaikinya” “Kembali kutegaskan bahwa sabda pandita ratu, ucapan dan keputusanku tidaklah salah dan aku tidak akan pernah menarik kata kataku sendiri” “Ya sudah kalau memang begitu keyakinan Kanda, saya hanya sekedar mengingatkan saja”
  • 30.
    Shinta Minulya Hlm30 Bag-5 Lima belas tahun sudah … Ha … ha … ha … hi … hi … hi … “Ayo Kusya ! Engkau kejar kelinci lucu itu ! Cepat …. Sekarang menuju ke tempatmu !” “Iyaaaa Lawaa .. kencang sekali larinyaaa ! Suara tawa anak kecil memecahkan keheningan hutan di siang itu. Dua anak kecil, sepertinya kembar, berlari lari riang mengejar kelinci hutan. Kaki kaki mungil itu berlari lincah mengikuti jeritan penuh tawa. Sementara tidak jauh darinya, duduk di akar akar besar melintang di bawah sebuah pohon besar, tersenyum bahagia wajah wanita jelita menyaksikan tingkah polah dua anak itu. Tingkah polah anak kembar membuatnya tersenyum senang berlari ke sana kemari berteriak girang mengejar kelinci mengamati belalang wajah berbinar mulut berceloteh riang
  • 31.
    Shinta Minulya Hlm31 Ya … wanita itu tiada lain adalah Shinta dan anak kembar itu adalah Lawa Kusya tlah lima tahun mereka terlahir di dunia dalam sepi kehidupan hutan belantara tiada orang lain mereka pernah jumpa kecuali sang ibunda slalu mengiringi bersama dan sesekali “kakek” mereka mengunjunginya tuk pastikan segala berjalan tak terkendala dan juga bekali pelajaran olah jiwa dan olah krida Saat Resi Walmiki memilih tempat itu untuk ditinggali guna mempersiapkan kelahiran bayi yang dikandungnya, Shinta hanya mengiyakan. Dia telah memasrahkan hidupnya kepada bekas guru Ramawijaya itu. Menunggu adalah kegiatan yang membosankan. Apalagi bila menunggu dalam kesendirian dan tanpa teman berbagi. Memang, Begawan Walmiki telah membuatkan tempat yang nyaman bagi dirinya untuk hidup yang layak meskipun berada di tengah hutan. Sebuah rumah sederhana yang mungil telah berdiri kokoh untuk menghindarkan diri dari gangguan binatang buas saat malam tiba. Tidak jauh dari pondok itu, terdapat telaga kecil dengan air yang jernih yang cukup untuk memenuhi segala kebutuhan berkaitan dengan air, minum, memasak, mencuci dan membersihkan diri. Makanan sehari-hari pun tidak sulit di dapat di sekitarnya, buah-buahan, daun-daunan sehingga tak ada kekawatiran kelaparan dan kehausan. Di awal-awal menjalani hidup di pondok itu, masih terbersit harapan bahwa suatu hari suaminya telah menyesali perbuatannya dan kemudian menjemputnya untuk di boyong ke Ayodya. Telah ditetapkan hatinya untuk memberi maaf atas khilaf Sang Rama. Namun disadarinya bahwa rasa cinta terkadang kalah oleh rasa ego dan pilihan rasio yang terpatri begitu kuat di dalam hati. Mungkin itu yang tengah dialami oleh jiwa Sang Rama, begitu harapan tersembunyi Sang Putri. Namun harapan tinggallah harapan, penantian seolah tak bertepi. Hari berganti hari, bulanpun tlah berganti. Utusan Sang Suami tiada kunjung menjemput dan perutnyapun semakin membuncit seiring bayi yang dikandungnya telah siap tuk lahir ke dunia.
  • 32.
    Shinta Minulya Hlm32 Wanita mana yang tak perih hatinya mengalami kejadian seperti ini. Perempuan mana yang tak lara di tinggal pergi oleh orang yang dicinta. Istri mana yang tak nelangsa suami tiada saat buah cinta tlah menjadi nyata melalui bayi yang bakal terlahir. Hingga saat melahirkan tiba, hanya kata-kata hiburan dan penguat semangat dari Sang Walmiki saja yang mampu membuatnya menghadapi hidup dengan mantap. Kepasrahan kepada Sang Hyang Pencipta Semesta membantu Sang Dewi menjalani kehidupan mengalir apa adanya. Mulai saat itu, setelah bayi terlahir dan ternyata dua lelaki kembar, tlah ditancapkan dalam hati tekad untuk melupakan ayah anak-anak itu. Tlah diyakini dalam diri bahwa takdir hidupnya kini adalah membesarkan Lawa Kusya, demikian bayi kembar itu diberi nama, hingga kelak menjadi satriatama. Dan lima tahun telah berlalu. Bayi bayinya kini telah menjadi bocah-bocah yang lucu dan menggemaskan. Setidaknya si kembar itulah yang telah membuat hatinya mekar bahagia melupakan segala derita yang disandang, menumbuhkan semangat hidup yang sebelumnya layu meredup. <<< ooo >>> Sepuluh tahun kemudian …. Di tanah lapang di tempat mereka bermain dahulu, tengah terjadi pertempuran seru antara dua orang pria remaja berwajah dan berperawakan serupa. Sementara tidak jauh darinya, duduk di akar akar besar melintang di bawah sebuah pohon besar, tersenyum bahagia wajah wanita setengah tua menyaksikan begitu gagahnya anak-anak kembarnya tengah berlatih olah krida. Pohon itu semakin menua dan wanita itupun demikian juga. Sedikit gurat keriput terlihat di kening wanita itu, namun sungguh … kecantikan tiada pudar di wajah nan indah itu. Malah justru kian terpancar keagungan dan kebijakan yang semakin matang di wajah nan ayu itu.
  • 33.
    Shinta Minulya Hlm33 Benar adanya kata kaum bijak bestari bahwa terbentuknya karakter itu melalui dua hal yaitu sastra dan laku, ilmu dan waktu. Semakin berilmu seseorang dan kemudian dia mengamalkannya, maka karakter akan semakin kokoh terbentuk. Defaultnya, semakin tua seseorang harusnya memiliki kebijaksanaan yang semakin terbentuk karena semakin bertambah ilmu dan pengalamannya. Apabila ada orang yang telah hidup di dunia sekian lama namun tingkah polahnya masih layaknya bocah, maka pasti ada sesuatu yang salah. Peran Begawan Walmiki terhadap perkembangan Lawa Kusya tidak diragukan lagi. Tidak hanya olah raga atau olah krida saja yang diajarkan dan digembleng kepada kedua anak itu, namun olah jiwa dan olah kebatinan selalu juga menjadi asupan yang diberikan secara seimbang. Dan karena ketekunan Lawa Kusya dalam belajar dan berlatih, maka hasil yang diperolehpun sangat memuaskan. Lawa Kusya telah menjadi pemuda- pemuda yang kuat dan digdaya. Namun ada hal yang selalu mengganjal dalam benak mereka. Berdasarkan referensi kitab-kitab sastra yang mereka baca dan pelajari, terdapat hal ganjil yang mereka alami yaitu tentang keluarga. Segudang tanya meliputi hati sekian lama. Mengapa hanya seorang ibu yang aku punya ? Siapakah ayah mereka ? Dimanakah ayah mereka berada kini, sudah tiada atau masih hidup ? Kalaupun masih hidup, sekarang ada dimana ? Dan saat pertanyaan- pertanyaan tadi disampaikan kepada ibunya, yang didapat oleh Lawa Kusya hanya mulut terkunci Shinta dan gelengan kepala belaka. Dan Lawa Kusya tak mau memaksa lebih jauh ibunya untuk mengungkap informasi dan fakta tentang keluarga mereka seutuhnya. Lawa Kusya teramat mencintai ibundanya, tak ingin menyakiti perasaannya walau hanya sekejap. Seperti layaknya sikap seorang pemuda yang ingin serba tahu, tak kurang akalnya kemudian Lawa dan Kusya mencari informasi dari “kakek”nya. Ya selama ini Begawan Walmiki meminta kepada mereka untuk menyebutnya cukup kakek saja. Namun seolah telah ada kesepakatan antara ibu dan kakeknya, tidak ada informasi penting yang diperoleh ketika mengorek keterangan dari sang kakek. Kakeknya hanya menceritakan derita tentang seorang wanita yang ditinggalkan sendirian di tengah hutan belantara oleh suaminya hanya karena hasutan dari orang lain tentang perilaku
  • 34.
    Shinta Minulya Hlm34 selingkuhnya. Padahal wanita itu sama sekali tidak melakukannya. Wanita itu adalah korban iri dengki dari manusia-manusia yang tidak rela melihat kebahagiaan orang lain. Hanya penggalan cerita itu yang dituturkan oleh Begawan Walmiki, dan saat ditanya tentang siapa wanita itu dan siapa suaminya, maka yang diperoleh Lawa dan Kusya hanya senyuman bijak sang kakek dan kata-kata lembutnya “Kelak engkau bakal mengetahuinya, Nak. Jadi bersabarlah saja” Dan Lawa Kusyapun hanya mampu mengiyakan meskipun rasa penasaran masih mengganjal jiwa mudanya. Satu hal yang diyakini sebagai suatu kebenaran oleh mereka berdua adalah, bahwa wanita dalam sepenggal kisah itu tiada lain adalah ibunya sendiri. Dan yang belum diketahuinya adalah siapakah sebenarnya ayah mereka ? <<< ooo >>> Manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Tuhan dengan sempurna dan diberi mandat sebagai penguasa alam sehingga dilengkapi dengan tools pendukung yaitu akal dan hati. Akallah yang dipergunakan untuk berfikir demi mengembangkan hidup dan kehidupannya melalui pengetahuan dan pemahaman. Berjuta pertanyaan mendorong mereka untuk selalu berfikir dan menuntaskan masalah yang dihadapi. Solusi kerap dapat dihasilkan namun adakalanya gagal diperolehnya. Berdasarkan pengalaman yang telah berulang kali dilakoni, maka kesadaran akan ‘kekuatan lain’ yang berkuasa atas dirinya, yang tidak sanggup dan tidak mungkin dilawannya, kerap muncul menyeruak. Akal cenderung melihat dan menganalisis yang bersifat nyata dan empiris, dan hanya dengan hati (qolbu) ‘kekuatan lain’ itu dapat dirasakan keberadaannya. Dan di relung qolbu, tersimpan apa yang dinamakan god spot, titik dimana Tuhan ‘bersemayam’ di diri manusia. God spot atau “mata hati” dimiliki oleh setiap insan. Danah Zahar dan Ian Marshall, pengarang buku best seller SQ (Spiritual Quotient) Kecerdasan Spiritual, menyatakan adanya ‘God Spot’ atau apa yang biasa disebut suara hati atau mata hati pada otak manusia.
  • 35.
    Shinta Minulya Hlm35 Berdasarkan penelitian mereka ‘God Spot’ ini terletak diantara jaringan syaraf otak yang berfungsi sebagai pusat spiritual manusia. Pada ‘God Spot’ inilah sebenarnya terdapat fitrah manusia yang terdalam. Namun sayangnya temuan mereka ini baru sebatas pada apa yang nyata ada pada otak manusia. Sesuatu yang menunjukkan akan adanya proses syaraf dalam otak manusia yang berfungsi menyimpan dan mempersatukan segala pengalaman hidup manusia dan sekaligus memberinya makna. Adanya keseimbangan antara ketiga faktor, IQ-EQ-SQ, akan membentuk suatu pribadi yang tegar, pribadi yang memiliki pandangan yang tidak sempit yang tidak hanya tertuju kepada kepuasan duniawi namun juga memiliki dimensi keakhiratan yang penuh ketakwaan, yang pandai bersyukur dan sabar menghadapi segala tantangan. Sikap inilah yang nantinya akan melahirkan sikap pantang berkeluh kesah, jauh dari berputus asa. Dalam khazanah sastra Jawa, hal tersebut salah satunya diwedarkan bahwa untuk memperoleh kesempurnaan hidup dibutuhkan “LAKU” Kauningana, lampah punika wontên kawan prakawis: ingkang sapisan lampahing raga, ingkang kaping kalih lampahing budi, ingkang kaping tiga lampahing manah, ingkang kaping sêkawan lampahing rahsa. Ketahuilah, LAKU itu terdiri dari empat perkara : Laku Raga, Laku Hati, Laku JIwa dan Laku Rahsa. Lampahing raga, kêdah rêsikan, kêdah marsudi ing kasarasaning badan, kêdah susila anor raga, ruruh jatmika, pasêmon sumèh mêrak-ati. Manawi agami Islam, inggih punika kêdah nglampahi sarengat. Laku RAGA diantaranya, slalu menjaga kebersihan, mengupayakan hidup sehat, rendah hati, bersusila sikapnya, wajah slalu bersenyum menyenangkan hati. Kalau dalam agama Islam yaitu telah melaksanakan syari’at. Ingkang kaping kalih, lampahing budi. Kêdah sabar, bèrbudi, lêgawa, paramarta, sarta kêdah rêmên mêmikir, nglalimbang awon saening lêlampahan, ingkang awon dipun singkiri, ingkang sae dipun ajêngi, dipun angge. Punapadene kêdah rêmên ngraos-ngraosakên kodrat, bedanipun kaliyan iradat. Pikantukipun badhe sumêrêp wêwatêsaning pangawasa
  • 36.
    Shinta Minulya Hlm36 tuwin kawaskithaning Gusti, kaliyan iradat kawicaksananing kawula, wêkasan lajêng sagêd rumôngsa, nalôngsa, sagêd ngakêni bilih têmên manawi wontên ingkang murba amisesa. Manawi agami Islam, inggih punika kêdah nglampahi tarekat. Yang kedua, laku hati. Harus selalu sabar, bijaksana, legawa, welas asih, serta terus berfikir dan belajar terhadap baik buruknya kejadian, yang baik dilanjutkan dan yang buruk disingkirkan. Juga harus berkemauan kuat untuk memahami kodrat dan iradat. Hasil yang diperoleh adalah pemahaman akan terbatasnya kemampuan makhluk dan keMahaKuasaannya Gusti. HIngga kemudian muncul sikap rumôngsa (sadar diri), nalôngsa (berpengharapan) dan akhirnya meyakini bahwa sesungguhnyalah hanya Tuhan YME yang menciptakan, menghidupi dan memelihara alam semesta ini. Dalam agama Islam harus melalui laku thariqoh. Ingkang kaping tiga, lampahing manah. Kêdah têmên, mantêp, ngidhêp, madhêp dhatêng Pangeran Ingkang Maha Kawasa, tuwin ngandêl, winantu ajêk pangastutinipun, manawi agami Islam kêdah sumêrêp ing ngèlmi kakekat. Yang ketiga adalah laku jiwa. Harus bersungguh-sungguh, mantap, pasrah berserah dalam menghadap kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta slalu yakin akan limpahan kasihNya kepada setiap makhluk. Dalam agama Islam harus memahami ilmu hakekat. Ingkang kaping sakawan, lampahing rahsa. Kêdah nyumêrêpi patitising panêmbah, inggih punika sumêrêp dunungipun ing panêmbah, tuwin ingkang sinêmbah, dados sumêrêp pamoring kawula Gusti. Manawi agami Islam, inggih punika kêdah sumêrêp ing ngèlmi makripat. Yang ke empat, laku rahsa. Harus memahami lebih dalam tentang berserah diri, memahami tempat dan saat yang tepat dalam bersembah, juga lebih dekat kepada yang disembah, sehingga mampu memahami dan larut dalam “pamor kawula gusti”. Kalau dalam agama Islam mampu memahami ilmu ma’rifat.
  • 37.
    Shinta Minulya Hlm37 Apa yang kurang pada diri seorang manusia bernama Ramawijaya ? Kesentosaan raga dan jiwa dia tlah miliki, kekuasaan telah dia punyai, pengalaman pahit dan manis begitu banyak tlah dia nikmati sehingga menempa kesentosaan jiwa satrianya. Namun mengapa sekarang menjadi begini adanya ? Tiga belas tahun terbuang di hutan bersama istri yang setia menemaninya serta adiknya Laksmana. Dua belas tahun berjuang membebaskan istrinya dari kungkungan Rahwanaraja. Dan setelah Shinta terbebas, harusnya kebahagiaanlah yang direngkuhnya. Namun jiwanya malah di selimuti kecurigaan terhadap istrinya akan kesucian cinta mereka. Masuk akalkah selama dua belas tahun di kurung di taman Argasoka, Rahwanaraja tidak menjamah Shinta ? Logiskah selama dua belas tahun cinta Shinta tetap konsisten walau digoda oleh keindahan dan kilau harta duniawi yang ditawarkan Rahwana ? Benarkah selama dua belas tahun Shinta selalu waspada dan mampu menjaga diri dari jamahan Rahwana ? Dan Rahwana pun sebenarnya bukan manusia biasa. Walaupun tingkah lakunya berangasan dan cenderung kejam, namun secara fisik memiliki segalanya. Kegagahan, kekayaan, kekuasaan dan gairah cinta yang luar biasa ada pada dirinya.
  • 38.
    Shinta Minulya Hlm38 Bag-6 Aswamedha Lima belas tahun tlah berlalu sejak kejadian menyesakkan itu rasa hatinya selalu gundah galau hati nurani tiada berdaya terlanjur kelu menghadapi logika dan ego yang menyatu antara rasa curiga dan hati nan merindu Lima belas tahun Sang Rama hanya terpaku hatinya terluka parah dia tak tahu jiwanya keras nyaris membatu segala tindakan dan pikiran penuh ragu jiwa nelangsa sepanjang waktu Di awal kejadian itu sempat muncul asa tuk jemput istrinya dan akui salah kata segera kembali ke Ayodya arungi hidup bahagia bersama sebagai sebuah keluarga sempurna dalam naungan sejatinya CINTA Namun egonya menentang dengan pasti apakah layak seorang Raja menjilat ludah sendiri?
  • 39.
    Shinta Minulya Hlm39 apakah sabda Raja sudah tak berwibawa lagi? apakah Ramawijaya kalah oleh seorang istri? apakah rasio terpinggirkan oleh hati nurani? dan akhirnya … begitulah yang terjadi lima belas tahun sudah Rama hidup sendiri menjadi penguasa namun berbalut sepi menjadi suami tanpa anak dan istri Hingga suatu saat Sang Regawa bermimpi bencana menyebar di seantero negri penyakit misterius datang mengundang ngeri malam terjangkit .. pagi kemudian mati pagi tertular … malam-pun tlah pergi suasana mencekam tak terperi rakyat resah tak tahu apa yang terjadi punggawa kerajaan bingung mencari solusi negri Ayodya yang damai kini diselimuti misteri Ketika terbangun dari mimpi buruk di tengah malam hari Sang Rama termenung memikirkan makna arti adakah ini pertanda dari Dewata yang bakal sebentar terjadi? segera menuju sanggar pamujan dilangkahkan kaki tuk lakukan puja heningkan diri berharap petunjuk datang dari ilahi peroleh wangsit menguak misteri beserta langkah yang harus dilakukan sebagai solusi Namun entah bagaimana passion “kebijaksanaan” Wisnu kini apakah masih manjing dalam gua garba suci dalam diri Rama bersama hati nurani kalau ternyata sulit untuk konsentrasi bersapa dengan dewata mengadu kesusahan diri hanya petunjuk samar didapati Akhirnya di pagi hari berikutnya dikumpulkan semua kaum bijak dan brahmana bahas masalah dan mencari simpulan makna hingga Aswamedha 3 terpilih bersama 3 Aswamedha atau Korban kuda merupakan tradisi ritual Korban yang berasal dari zaman Veda sebagai symbol representasi kekuatan dan kekuasaan yang tertinggi atas raja-raja lain, yang merupakan taklukannya. Pada awalnya dilakukan oleh raja yang menginginkan keturunan. Tetapi kemudian menjadi korban untuk membuktikan kekuasaannya dan
  • 40.
    Shinta Minulya Hlm40 Maka dicarilah kuda-kuda pilihan di seantero negri. Kuda-kuda jantan berperawakan tinggi dan kekar, bersih dan sehat badannya serta berwarna putih atau coklat muda keemasan bulunya. Beberapa saat kemudian telah terkumpul sepuluh kuda terpilih, 5 berwarna putih dan 5 lainnya coklat muda. Dan prajurit pengawal yang dipilih adalah Kopasus-nya kerajaan Ayodya yang merupakan pasukan yang dibentuk dan dilatih secara khusus untuk menghadapi bencana dan atau serangan musuh. Pasukan itu diberi nama "Purusotama Dewangkara Bêrgada". Sesuai dengan protap dan undang-undang kerajaan yang berlaku, ritual aswamedha di-launching melalui sebuah upacara pelepasan yang dipimpin oleh Ayodya-1. Sepuluh kuda berjejer rapi didampingi oleh satu batalyon pasukan Purusotama Dewangkara Bêrgada berjumlah lima ratus orang yang dipimpin oleh Tumengung Senayudha didampingi oleh Senapati Ayodya, adik sang raja sendiri yaitu Laksmana. Kata sambutan sang raja disertai oleh doa dan berkah para brahmana, mengiringi kepergian rombongan kuda dan pasukan tentara Ayodya. Para kuda dibiarkan bergerak bebas sendirian sementara rombongan pasukan mengikuti dari belakangnya. Lah ing kono ta wau budhaling prajurit ing Ayodya mijil sangking praja ing ngajêng kaya maesa sêsingat, ing wingking banyu anjog swarane, lir wêrsa canthoka. apabila seorang raja telah merasakan diri telah berkuasa penuh dalam wilayahnya, maka ia akan mengadakan korban Aswamedha. Untuk itu seekor kuda dari warna tertentu (putih atau coklat muda keemas-emasan) dilepaskan dan diikuti (dijaga oleh sekelompok satria, yang harus melindunginya terhadap serangan orang atau pencuri). Selama setahun kuda itu berkelana kemanapun ia suka tanpa diganggu dan dilindungi oleh satu pasukan bersenjata. Bila ia melewati perbatasan kerajaan lain, rajanya akan melawan berperang atau menyerah. Setelah kuda itu aman berkeliaran demikian, maka kedudukan raja yang melepaskannya kuda-kuda itu telah terbukti. Pada akhir tahun kuda itu akan kembali ke ibu kota dan disambut dengan upacara besar Lalu kuda dikorbankan. Sumber : https://en.wikipedia.org/wiki/Ashvamedha
  • 41.
    Shinta Minulya Hlm41 Wêrsa udan canthoka kodhok, kaya kodhok kabanyon, warna-warna pangandikane. Lampahe agêgolongan, apêpanthan, swaraning bêndhe sauran, grêdêging lampah krapyaking watang agathik, pangêriking kuda panjêriting liman, kabarung swaraning tambur salomprèt lan suling kaya mêtika talingan, lir wêrsa cintèki. wêrsa udan, cintèki pajatèn, kumrusuk kadi udan sinêmèni. amindha gêrah masa kapat. Untaping wadyabala lir wêrdu gangga sasra. wêrdu lintah gangga banyu, sasra sèwu, kaya lintah sèwu barêng kumêlap, lampahing wadyabala kadya sela blêkithi. sela watu blêkithi sêmut, kaya sêmut lumaku ing watu. Mangkana para wadyabala sami ngasokake sarirane. ana kang ngudhunake bêbrokohe, ana kang giyak-giyak, sawênèh ana kang ngimbir-imbirake turanggane, ana kang ura-ura sinênggaki mring kancane. kang jirih dadi kêndêl, kang kêndêl mundhak kuwanène. Neka-nekaning prabot gêbyaring panganggo kang irêng kumpul padha irêng tinon sangking mandrawa, kadya mêndhung angêndhanu, kang kuning kaya podhang arêraton, kang ijo kadya tandur lagi gêmadhung, kang putih kaya kontul nêba leleran, kang abang kadya wana kobar. Môngka kumpul dadi sawiji, tinoning sangking mandrawa abyor lir sêkar sataman. Gerakan pasukan Ayodya ternyata telah menjadi viral di dunia maya. Raja- raja kecil yang bersebelahan dengan perbatasan Ayodya, sudah kuncup nyalinya dan mempersiapkan surat takluk kepada Ramawijaya. Raja kecil
  • 42.
    Shinta Minulya Hlm42 yang tidak mau tunduk begitu saja, telah mempersiapkan wadya balanya untuk menghadang pasukan Ayodya apabila ternyata langkah kuda aswamedha bergerak menuju kearah negaranya. Raja yang merasa sederajat dengan Ayodya dan enggan untuk menjadi negara jajahan, telah mempersiapkan pasukan pengawal perbatasan demi mempertahankan kedaulatan negrinya. Namun ternyata kuda-kuda aswamedha sangat lamban jalannya. Dan karena tidak boleh dipaksa dan dikendalikan, maka mereka bergerak sesuka hatinya. Bahkan malah pernah rombongan kuda tadi seharian bersantai di padang rerumputuan pinggir hutan. Namanya juga binatang …. Dalam waktu enam bulan, hanya dua Negara kecil yang disinggahi yaitu Polanharja dan Diwukjaya. Dan karena rajanya menyadari kekuatan mereka yang kalah jauh dengan pasukan Ayodya, maka tidak ada pertempuran yang terjadi. Dua dokumen Berita Acara Penaklukan Negara saja yang ditandatangani di atas materai enam ribu. Memasuki bulan ke delapan, ternyata arah kuda menuju sebuah Negara yang cukup besar yaitu Tanjungsari dengan rajanya yang adalah seorang raksasa yang cukup terkenal karena kedigdayaannya, bernama Prabu Similikiti. Kepercayaan diri Prabu Similikiti terbilang sangat tinggi sehingga meskipun didaerah perbatasan sudah dikerahkan pasukan mata-mata untuk berjaga, namun dia tetap berada di istana menuntaskan hobi yang paling di gemarinya yaitu bobok bobok siang. Sehingga takala suara kentongan bertalu-talu yang mengabarkan musuh datang menyerang, Sang Prabu segera meloncat cepat, menyambar pakaian perangnya dan bergegas berlari keluar guna melihat apa yang tengah terjadi. Anênggih gantya kocapa, ana gêmpalaning kôndha babakan anglayoni. Kalêbu têturutane nanging seje caritane. Titahing Hyang Girinata, wontên ing nagari ingaranan Polanharja ajêjuluk Prabu Similikiti asipat raksasa, gung luhur pangawak pindha prabata, tutuknya kadya guwa. Yèn sêgu
  • 43.
    Shinta Minulya Hlm43 kadya gêlap, yèn ngandika gumlêgêr kadi gludhug, netra kaya surya kêmbar. Rigma gimbal dèn ore, jinamangan sungsun tiga, kinancing ing grudha mungkur grudha mangarêp, sinôngga ing praba, ulur-ulur naga kang ngangrangan. Agêgêlang kêlat bahu sarpa raja, akêroncong nagapasa. Kampuh parangrusak barong sinulam ing prada, ukup renda, calana cindhe puspita. Tinon lir pendah Bathara Kala rikala arsa nglêbur jagad. Disaksikan olehnya, puluhan prajurit pengawalnya tergeletak di tanah bersimbah darah. Entah pingsan, entah sudah kehilangan nyawa. Sementara ratusan prajurit yang lain telah ditawan atau duduk bersimpuh tanda menyerah kalah. Dengan geram dan bersuara menggelegar Sang Prabu berkoar “Hey … apa yang tengah kalian lakukan terhadap prajurit-prajuritku. Dari mana kalian ini dan apa yang kalian inginkan. Berani-beraninya membuat onar di depan mata Prabu Similikiti. Apa kalian belum tahu sedang berhadapan dengan siapa ?” Gelegar suara Raja Polanharja tadi setidaknya menggambarkan kekuatan tenaga dari sang empunya. Namun dengan tenang, pimpinan pasukan asing itu maju ke depan dan berkata “Perkenalkan, aku adalah Tumenggung Senayudha dari negri Ayodya. Kami sedang mengadakan ritual aswamedha dan kebetulan kuda-kuda yang akan kami korbankan memasuki tempat ini. Dan karena prajurit-prajuritmu menghalangi langkah kami, maka terpaksa kami beri pelajaran sedikit” Dengan menahan kemarahan Similikiti berkoar “Mau aswamedha atau medha-medha yang lain aku tidak peduli. Yang jelas kalian telah melanggar wilayah negaraku dan itu artinya mencari mati. Hayo kalau betul kalian berjiwa ksatria, satu persatu maju melawanku. Akan kucincang kalian semua”
  • 44.
    Shinta Minulya Hlm44 Sementara itu Tumenggung Senayudha yang sudah melangkahkan kakinya hendak memenuhi tantangan Similikiti, dipegang oleh Laksmana seraya berkata lembut “Biar aku saja yang menghadapinya Senayudha” “Sendika dhawuh, pangeran !” Dengan tenang kemudian Laksmana berjalan pelan menghampiri raja raksasa itu “Bukankah engkau adalah Prabu Similikiti ?” “Ha ha ha ha … ternyata namaku telah tersohor dimana-mana. Benar … kamu siapa dan mau apa ?” “Aku adalah Laksmana, adik dari raja Ayodya kanda Ra ..” “Oh ya … aku kenal sama Ramawijaya raja Ayodya yang kejam itu kan” “Jangan sembarang kalau ngomong. Kanda Ramawijaya adalah raja agung yang bijaksana kekasih dewata” “Ha ha ha ha … bijaksana bagaimana lha wong istrinya sendiri ditelantarkan, dibuang tidak memiliki perikemanusiaan. Kalau aku yang melakukan wajar saja karena aku seorang raksasa dan tidak ada perikeraksasaan … ha ha ha ha” “Beraninya engkau menghina kanda prabu !” “Ha ha ha ha … he Laksmana … engkau sendiri manusia yang lemah, tak berdaya, tak mempunyai keberanian menentang kakakmu yang berdiri dalam pihak yang salah. Bukankah engkau yang ditugaskan membuang istri Rama ke hutan, kan ? Ha ha ha ha … begitu kok mengaku seorang satria … kalau waria mungkin … ha ha ha ha” Laksmana yang mendengar ejekan itu serasa ditampar mukanya, laksana ditusuk jantungnya. Meskipun telah memerah wajahnya, namun dengan suara dingin dia menantang
  • 45.
    Shinta Minulya Hlm45 “Similikiti ! Tidak usah banyak bacot, ayo kita bertanding satu lawan satu sampai salah satu menemui ajal. Aku pertaruhkan nyawaku untuk kemuliaan kanda Ramawijaya dan negri Ayodya. Apabila aku kalah dan terbunuh maka pasukan Ayodya di belakangku tidak akan cawe-cawe, biar mereka kembali ke Ayodya dan tidak akan mengganggu negrimu lagi selamanya. Beranikah engkau mempertaruhkan nyawamu yang tak berguna itu ?!” “Ha ha ha ha … siapa takut dengan dirimu. Biarpun kakakmu sekalian yang begitu terkenal kedigdayaannya dan katanya titisan Wisnu, bersama kamu mengeroyokkupun, akan aku hadapi dengan senang hati.” “Sumbarmu seakan memecahkan langit ! Tidak perlu kakakku yang turun tangan, aku sendiri sanggup untuk mengenyahkanmu ! Ayo kita mulai !”
  • 46.
    Shinta Minulya Hlm46 Bag-7 Mungkinkah dia adalah … Maka pertempuran sengitpun terjadi. Sebenarnyalah, sumbar Prabu Similikiti bukan isapan jempol belaka. Kekuatannya memang sungguh luar biasa. Telah puluhan kali badannya menerima pukulan telak dari Laksmana, namun sepertinya hanya dirasakan seolah gigitan semut saja. Sebaliknya Laksmana cukup kewalahan menerima serangan bertenaga besar dari lawannya dan hanya karena kegesitan dalam bergerak maka pukulan seribu kati belum pernah menyentuhnya, hanya sambaran angin kencang saja yang dirasakan. Laksmana sangat berhati-hati dan tak ingin kepalan tangan dan tendangan kaki raja diyu itu mengenai tubuhnya. Sekali terkena bisa berakibat fatal bagi dirinya. Hal itu disadarinya dan setelah ratusan jurus berlangsung maka Laksmana mulai mengerti apa yang harus dilakukan untuk menyudahi pertempuran ini. Tipu daya dalam perkelahian untuk memenangkan sebuah pertempuran lazim dilakukan. Dan Laksmana memutuskan untuk memulai siasat itu. Tiba-tiba Laksmana terlihat seperti kelelahan dan terus menghindar tanpa mampu membalas serangan yang dilancarkan oleh Similikiti. Yang dilakukan
  • 47.
    Shinta Minulya Hlm47 hanya mundur dan menghindar setiap bogeman tangan raksasa itu mengejarnya. Sang diyu merasa gembira dan menyangka bahwa lawannya telah kehabisan tenaga sehingga hanya mampu mengelak. Merasa di atas angin maka Prabu Similikiti meningkatkan gempuran dan mendesak Laksmana hingga suatu saat tiba-tiba tubuh Laksmana terjengkang ke tanah menerima sambaran tangan lawannya. Dengan nafsu segera menyudahi pertempuran itu untuk memperoleh kemenangan maka Similikiti dengan wajah bengis dan gembiranya segera menubruk Laksmana yang seolah tak berdaya terbaring di tanah. Namun dalam hitungan detik, saat tubuh besar Similikiti nyaris menyentuhnya, dengan kecepatan kilat Laksmana meloncat menghindar dan membalikkan tubuh melayang seraya memukul dengan sekuat tenaga bagian belakang kepala raja raksasa itu. Raungan kesakitan sekaligus sinyal kematian terdengar menggelegar mengenaskan. Dan sesaat kemudian tubuh raksasa itu diam tak bergerak karena nyawa telah tercabut dari tubuhnya. Diam sejenak suasana di sekitar namun sesaat kemudian gegap gempita sorak sorai pecah mengiringi kemenangan Ayodya. Setelah beberapa hari berdiam sejenak di Polanharja mengurus pemerintahan dengan menempatkan wakil-wakil dari Ayodya untuk menjalankan pemerintahan sementara, maka rombongan Ayodya kemudian melanjutkan perjalanannya. Seminggu kemudian kuda-kuda aswamedha sampai pada pinggiran sebuah hutan yang sunyi. Tempatnya sungguh asri dan indah pemandangannya. Anggota pasukan seolah dikomando, mencari tempat yang nyaman untuk beristirahat sejenak melepas penat. Dijumpai oleh mereka padang rumput luas rapih tergelar seperti ada yang memeliharanya. Dan tak jauh dari situ terdapat sebuah telaga kecil bening dan jernih airnya. Seakan berlomba berkejaran mereka kemudian berlari menuju telaga dengan maksud untuk menyegarkan tubuh dan mengobati kehausan. Laksmana dan Senayudha membiarkan polah tingkah anak buahnya karena ingin membiarkan mereka menikmati kegembiraan setelah perjalanan jauh yang cukup melelahkan.
  • 48.
    Shinta Minulya Hlm48 Namun belum sempat prajurit-prajurit itu sampai ke tepian telaga, tiba- tiba terlihat kelebatan orang yang tahu tahu sudah berdiri dihadapan mereka seraya berkacak pinggang menantang. Ternyata mereka adalah dua orang pemuda tampan berperawakan dan berwajah serupa. Keributan yang terjadi di tepi telaga menarik perhatian Senayudha dan Laksmana. Bergegas mereka menuju ke sana untuk mengetahui apa yang terjadi. Dari jauh Laksmana menyaksikan ada dua orang berpakaian ala Bambang (pemuda pegunungan atau pertapaan) tengah dikerubungi oleh prajurit-prajurit Ayodya. Sepertinya sedang terjadi bantah-bantahan antar mereka. Sesampai di tepi telaga, Laksmana dapat menyaksikan dengan jelas sosok yang membuat onar yang ternyata adalah dua orang pemuda remaja. Sosok dua pemuda itu terlihat kekar tanda sehat dan terlatih, perawakannya tidak terlalu tinggi namun juga tidak pendek, dan … Laksmana berdesir hatinya saat memandang dua wajah pemuda itu yang serupa. Seperti telah lama dia mengenalnya, seakan wajah itu tidak asing lagi baginya. Apakah dua orang kembar itu adalah …. ? Laksmana menepis segera kemungkinan itu. Menyaksikan kehadiran senapati dan pimpinannya telah hadir maka prajurit-prajurit Ayodya yang berada di sekitar telaga, diam tanpa dikomando menunggu apa yang akan dilakukan terhadap dua pemuda itu. Dengan hati berdebar namun nada bicara tetap tenang Laksmana bertanya “Siapakah kalian berdua ini, dan mengapa membuat onar dengan prajurit- prajurit Ayodya ?” “Ooo … rupanya kalian semua dari negri Ayodya yang terkenal itu ya. Pantas sombong dan merasa berkuasa sehingga berbuat sesukanya di sini !” salah seorang dari pemuda kembar itu menjawab dengan ungkapan sinis Namun Laksmana tidak marah malah tersenyum menanggapi jawaban nyinyir dari pemuda itu “Oh kalau begitu aku mewakili mereka mohon maaf telah berbuat salah kepada kalian dan membuat hati menjadi tidak senang”
  • 49.
    Shinta Minulya Hlm49 “Maaf … maaf … enak saja. Kamu siapa ?!” bentak pemuda yang satunya lagi Laksmana masih tetap tenang dan mengerti bahwa karena tinggal di gunung jauh dari keramaian maka pemuda-pemuda tadi barangkali kurang mengindahkan tata krama pergaulan. “Baiklah, perkenalkan bahwa aku adalah Laksmana seorang pangeran dari Ayodya” “Pangeran ? Ooo begitu ya, tapi aku tidak akan menyembahmu karena di sini bukan termasuk wilayah negri Ayodya” kata pemuda yang lainnya “Tak mengapa kalian tidak melakukan hal itu, lagi pula aku tidak ingin disembah-sembah. Boleh aku tahu nama kalian dan orang tua kalian?” “Karena kamu bertutur baik kepada kami, maka kamipun akan membalas dengan berlaku baik. Perkenalkan, aku Lawa dan ini saudaraku Kusya” “Kalau boleh tahu siapakah orang tuamu ?” “Mengapa engkau ingin mengetahui nama orang tuaku ?” berbalik bertanya si Lawa yang ternyata terlihat lebih dominan omongannya dibanding Kusya. “Ingin tahu saja, barangkali aku mengenalnya” “Ibuku berpesan untuk tidak sembarangan memberitahukan namanya kepada orang asing. Sedangkan ayah, kami tidak punya” Mendengar jawaban itu, hati Laksmana semakin penasaran “Bolehkah aku bertemu dengan ibumu?” “Ibuku tidak ingin bertemu dengan orang asing !” “Mengapa?” “Jangan engkau mengejar-ngejar dengan pertanyaan seperti itu. Kalau ibuku sudah berkata seperti itu, kamipun tidak pernah membantahnya” “Baiklah kalau begitu, tapi karena kami sedang menjalankan tugas dalam rangka sesaji aswamedha, maka karena daerah ini tidak termasuk wilayah
  • 50.
    Shinta Minulya Hlm50 Ayodya maka sudilah kiranya kalian tunduk kepada kami. Begitu melihat kalian, aku sudah merasa sayang. Oleh karenanya ikutlah denganku untuk kubawa menghadap Raja Ayodya” “Enak saja ! Memangnya kami seperti barang tanpa jiwa sehingga mudah dibawa kemana-mana. Lagi pula ibuku dan kakekku tidak akan mau tunduk kepada orang lain. Kami sudah sekian lama hidup bersendirian disini. Kami merdeka tanpa dijajah oleh siapapun” “Siapakah nama kakekmu ?” “Tidak perlu tahu dan akupun sampai sekarang tidak tahu!” “Kalian masih bocah dan tidak bakal aku memaksa untuk menuruti permintaanku” “Memaksapun tidak mengapa, siapa takut?” Laksmana bimbang mendengar jawaban pemuda itu yang begitu lugu dan tanpa mengenal takut, dan dengan pelan berkata “Aku hanya sekedar melaksanakan tugas” “Kamipun demikian. Lawanlah kami kalau engkau berani !” “Baiklah, bagaimana seandainya kalau kalian kalah olehku?” “Kami tidak akan kalah !” Laksmana seolah kehabisan kata-kata melawan jawaban-jawaban lugas dari pemuda kembar di depannya itu. Dalam hati kecilnya, tak hendak dia mau bertempur dengan mereka, apalagi menyakiti atau membunuhnya. Suara hatinya mengabarkan bahwa pemuda kembar itu ada kaitannya dengan peristiwa lima belas tahun yang lalu. Namun untuk membuktikan apakah sesumbar jumawa mereka tidak hanya sekedar koar belaka, maka Laksmana bermaksud untuk mengujinya. Maka dengan tenang dia berkata “Apakah kalian berani bertempur melawanku ?” Dengan mata mencorong menatap, Lawa menjawab dengan tegas
  • 51.
    Shinta Minulya Hlm51 “Jangankan satu orang, seluruh pasukan maju untuk membantumu, kami tidak takut” Laksmana tersenyum senang menyaksikan keberanian pemuda-pemuda itu “Apakah kalian punya senjata andalan ?” “Tidak perlu kami keluarkan senjata sakti kami, kecuali kalau kalian memaksa” “Baiklah, sekarang cukup kalian berdua bertanding melawan aku seorang saja. Tidak perlu menggunakan senjata” “Huh … sombong sekali ! Karena yang meminta hal ini adalah dirimu sendiri maka akan kami turuti !” Lawa dengan cerdik memutuskan untuk maju bersama Kusya karena menyadari bahwa lawan yang berdiri di depannya itu terlihat begitu tenang dan percaya diri. Menurut nasehat kakeknya, justru lebih mudah menghadapi orang yang berkoar-koar merasa digdaya dari pada menghadapi lawan yang diam seolah tiada daya namun menyimpan kekuatan yang tersembunyi. Ilmu padi, semakin tua semakin merunduk. Lawa Kusya-pun tahu diri bahwa mereka belum pernah menghadapi lawan yang sesungguhnya. Selama ini olah kanuragan yang mereka praktekkan hanyalah melalui latihan antara mereka sendiri. Namun karena tekun berlatih setiap hari dan ilmu yang dipelajari adalah ilmu tingkat tinggi yang diajarkan oleh kakeknya yang sangat berpengalaman, maka sebenarnyalah Lawa Kusya memang telah sampai kepada tataran tinggi dalam hal olah kanuragan. Begitupun dalam olah sastra. Begawan Walmiki telah memberikan sebagian besar ilmu dan kemampuannya untuk membentuk Lawa Kusya menjadi satria yang mumpuni jiwa dan raga. Ibarat sebuah bongkah batu permata yang baru saja ditemukan dari dalam tanah, maka untuk menjadikannya berbentuk menarik, berkilau dan berharga, dibutuhkan gosokan-gosokan yang terencana dan teratur. Itulah yang sering disebut bahwa pengalaman hidup akan membuat ilmu semakin beragam dan matang, dan orang menjadi semakin berwawasan luas dan bijak.
  • 52.
    Shinta Minulya Hlm52 Maka sesaat kemudian terjadilah pertempuran yang menarik antara senopati Ayodya yang terkenal digdaya dan sangat berpengalaman terlibat di berbagai peperangan besar, melawan dua bocah kembar ingusan yang asal muasalnyapun belum jelas. Serangan kedua anak kembar itu sangat cepat dan ganas. Sementara Laksmana mampu melayaninya dengan tenang. Dia cukup terkejut menyaksikan krida lawannya yang ternyata memang sangat kuat dan memiliki tingkat ilmu kanuragan yang tinggi. Memang di sisi lain gerakan pemuda kembar itu masih polos dan agak kaku karena selama ini hanya sebatas melakukan gerakan dalam latihan. Namun yang membuat Laksmana heran setelah seratus jurus pertempuran itu berlangsung adalah bahwa kuda-kuda, gerakan tangan kaki dan jurus- jurus yang diperagakan lawannya hampir semua dikenalnya karena dia pernah mempelajarinya. Ya …. akhirnya dia menemukan jawaban bahwa olah kanuragan itu mirip dengan yang dipelajari bersama dengan kakaknya, Ramawijaya, sewaktu mereka berguru kepada Begawan Walmiki ketika masih muda dahulu. Apakah kedua pemuda kembar itu cucu dari Walmiki ? Rasa penasaran semakin mendorong Laksmana meningkatkan serangan kepada lawannya. Namun ternyata memang Lawa dan Kusya adalah lawan yang tangguh. Ratusan jurus telah berlalu dan pertempuran masih berlangsung dengan sengitnya. Walaupun Laksmana cukup banyak mengalah dan menahan diri untuk tidak menggunakan tipu daya dan jurus- jurus pamungkas, namun disadarinya bahwa akan sulit mengalahkan kedua pemuda kembar itu tanpa tertumpahnya darah. Laksmana tidak menghendaki hal itu, dia menginginkan kedua lawannya kalah namun tidak terluka. Dan hal itu akan sangat sulit dilakukan. Akhirnya dia telah merasa cukup menguji kedua pemuda itu dan merencanakan akan menggunakan cara lain untuk membuat lawannya menyerah. Oleh karenanya kemudian dia berteriak “Berhenti !” Mendengar teriakan itu, otomatis Lawa dan Kusya pun menghentikan gerakannya. Meskipun sudah ratusan jurus bertempur, nafas mereka tidak terdengar ngos-ngosan memperlihatkan stamina prima yang dimilikinya. Dengan nada keheranan Lawa bertanya
  • 53.
    Shinta Minulya Hlm53 “Mengapa engkau menghentikan pertempuran yang belum selesai ini. Apakah engkau telah merasa kalah ?”
  • 54.
    Shinta Minulya Hlm54 Bag-8 Gelap Mulai Tersingkap Laksmana menjawab dengan tenang “Aku belum kalah. Aku akui meskipun masih sangat muda namun kalian sungguh sangat tangguh. Anggap saja kita imbang, tidak ada yang menang atau kalah” “Tidak bisa dong ! Harus ada diantara kita yang menjadi pemenang atau pecundang, kalau perlu mempertaruhkan nyawa. Dan kami siap untuk berkalang tanah membela daerah ini yang telah membesarkan kami selama ini” Lawa menyanggah dengan berapi-api Laksmana semakin senang dan kagum kepada kedua pemuda kembar ini. Kembali suara hatinya menggelitik bahwa kedua anak ini sebenarnya adalah keponakannya sendiri. Namun bagaimana membuktikannya ? “Baiklah, untuk pertempuran tangan kosong aku mengaku kalah, namun pertandingan belum selesai. Apakah kalian masih kuat bertanding lagi ?”
  • 55.
    Shinta Minulya Hlm55 “Hai paman yang mengaku pangeran dari Ayodya ! Biar semua orang disini menjadi saksi, kami pertaruhkan jiwa raga ini untuk kemuliaan ibu dan kakekku. Daripada hidup menanggung malu sebagai pecundang, lebih baik mati dikenang sebagai satriatama” “Oooo … jangan salah sangka anak muda ! Sebenarnyalah tidak ada hasrat kami untuk menjajah negara atau daerah lain agar tunduk kepada Ayodya. Apalagi terhadap diri kalian yang masih muda dan gagah perkasa, tentu ibu dan kakekmu telah mendidik kalian dengan baik. Biarlah kami melanjutkan perjalanan kami, namun aku masih penasaran terhadap dua hal. Bolehkah kalian memenuhi rasa penasaranku ini ?” “Tidak masalah ! Namun seorang satria tidak bakal ingkari janjinya, ibarat menjilat ludah sendiri sungguh menjijikkan. Apakah setelah ini engkau akan pergi dan tidak akan mengganggu kami lagi ?” “Tentu anak muda !” “Hal apa yang masih mengganjal dalam benakmu paman” “Pertama, tidakkah kalian tahu siapa sebenarnya ayah kalian?” “Ibuku tidak mau terus terang dan aku tidak tega untuk memaksanya. Kami terlalu sayang kepada ibu, tak mau kami menyakiti perasaan ibu. Begitupun ketika bertanya kepada kakekku, maka senyum dan gelengan kepala yang kami peroleh, dan itu sudah cukup bagi kami untuk memendam keingintahuan kami dalam-dalam.” “Siapakah, nama kakek kalian. Apakah beliau adalah Begawan Walmiki ?” Tanya Laksmana hati-hati “Sejujurnya, dua hal itulah yang tidak kami ketahui hingga kini yaitu nama ayah dan nama kakekku. Ayahku tidak pernah kami tahu, dan juga kakekku entah dimana tempat tinggal sejatinya karena bersama kami beliau hanya menginap satu minggu dalam satu bulan untuk mengajari kami berbagai hal” “Tentu kakekmu seorang Begawan yang luar biasa sehingga mampu mendidik kalian menjadi satria yang luar biasa juga. Adapun hal kedua
  • 56.
    Shinta Minulya Hlm56 yang aku ingin tahu adalah kalian tentu telah diberi senjata pusaka berupa panah sakti oleh kakekmu itu, bukan ?” Dengan terheran-heran Lawa dan Kusya saling berpandangan. Kemudian seperti biasa Lawa yang menjadi juru bicaranya “Engkau sungguh berpenglihatan tajam, paman. Dari mana engkau tahu hal itu ?” Dengan tersenyum bijak Laksmana menjawabnya “Hanya memprediksi saja” Ingatan Laksmana mengembara saat dirinya dan Rama berguru kepada Begawan Walmiki di Wismaloka. Pelajaran dan ilmu yang diberikan kepada mereka oleh gurunya selalu sama, namun ternyata Rama memiliki kemampuan lebih dibanding adiknya dalam menerapkan ilmu yang diterima. Menurut gurunya saat Laksmana curhat berdua saja, hal ini disebabkan karena memang telah menjadi ketetapan dewata bahwa Laksmana adalah titisan dari Shesa. Shesha adalah ular yang mengabdi kepada Wisnu dan menjadi pendamping setianya. Adapun avatar Wisnu pada saat itu adalah Ramawijaya (berdasarkan isi dari kitab Purana). Hal inilah yang menjadi ketetapan hati Laksmana untuk selamanya “melayani” Ramawijaya. Dan Laksmanapun menerima dengan ikhlas takala memperoleh pemberian senjata pusaka dari gurunya yang pamor dan kesaktiannya tidak mampu menandingi senjata panah yang diterima oleh Ramawijaya. Dalam hal silsilah Laksmana lebih muda daripada kakaknya, dalam hal kepandaian dan kedigdayaan pun dia kalah, sehingga dianggap wajar kalau dalam senjata andalanpun diberikan sesuai dengan watak dan kemampuan pemiliknya. Dan hal itulah yang dilakukan oleh Begawan Walmiki. Ramawijaya memperoleh panah sakti Guwawijaya dan Laksmana memperoleh Indrasastra. Tiba-tiba terdengar suara Lawa yang membuyarkan lamunan Laksmana
  • 57.
    Shinta Minulya Hlm57 “Benar kami diberi oleh kakek sebuah senjata panah pusaka yang diberinama Guwasalya. Kata kakek pamor dan kesaktian senjata ini tidak ada yang mampu menandinginya dan hanya kalah oleh panah sakti Guwawijaya yang diberikan kepada murid kakek sebelumnya. Namun kami belum pernah mencobanya karena takut nanti menghancurkan dan membunuh orang-orang yang tidak berdosa. Apakah engkau tahu siapa pemilik panah Guwawijaya itu, paman ?” Pertanyaan tiba-tiba dari Lawa membuat Laksmana terkejut dan cepat- cepat menjawab gugup “Yang aku tahu senjata itu pemiliknya adalah avatar Wisnu” “Siapa namanya ?” “Kelak kalian akan mengetahuinya sendiri. Baiklah karena kalian telah memberi jawaban atas rasa penasaranku maka aku bersama dengan pasukan Ayodya akan melanjutkan perjalan. Dan kalian tetap bebas merdeka dan daerah ini tetap menjadi wilayah kalian sendiri” Dan tanpa menunggu jawaban, segera Laksmana memberi aba-aba kepada Senayudha untuk memerintahkan pasukan Ayodya meninggalkan daerah ini. Setelah agak jauh berjalan, Laksmana memanggil Senayudha dan berkata “Lanjutkanlah misi ini dan tuntaskan hingga satu tahun perjalanan. Pimpinlah pasukan dengan sebaik-baiknya, aku akan kembali ke Ayodya mengabarkan hal ini kepada Prabu Ramawijaya” Dan tanpa bertanya lebih jauh, Senayudha mengiyakan “Siap, sendika dhawuh !” <<< ooo >>> Cukup lama dua pemuda kembar itu tetap berdiri tegak menyaksikan rombongan prajurit Ayodya menjauhi telaga dan hutan itu. Serasa mimpi Lawa dan Kusya masih terkagum-kagum atas peristiwa yang baru saja terjadi.
  • 58.
    Shinta Minulya Hlm58 “Sebenarnyalah aku menaruh hormat kepada pangeran Laksmana yang begitu lembut namun sangat digdaya itu” Lawa berkata kepada Kusya “Akupun demikian Lawa. Kalau paman Laksmana bertempur dengan sungguh-sungguh, bisa jadi kita berdua mengalami kekalahan. Agaknya ada sesuatu dibalik sikap aneh pangeran Ayodya itu” Kusya menjawabnya Mereka kembali memandang ke depan dan rombongan prajurit Ayodya telah berlalu tidak nampak lagi bayangannya. “Untung kalian selamat anak-anakku” tiba-tiba terdengar suara lembut seorang wanita dari belakang mereka berdiri. Lawa dan Kusya segera berbalik dan melempar senyum kepada perempuan itu yang ternyata adalah sang ibunda “Berterima kasihlah kepada dewata yang agung karena kalian dipertemukan dengan Laksmana” Shinta berkata lembut seraya memeluk dan mengusap lembut penuh kasih sayang kepala dari kedua anak kembarnya itu “Apakah ibu mengenalnya ?” Tanya Lawa Shinta hanya tersenyum tanpa memberikan jawaban. Dan itu telah cukup bagi Lawa dan Kusya untuk mengerti dan kemudian tidak melanjutkan pertanyaan serupa lagi. “Bersiaplah karena minggu depan kakekmu akan ke sini, anak-anakku” “Iya ibu !” <<< ooo >>> Dengan secepat kilat Laksmana berlari untuk segera mencapai Ayodya. Pikirannya telah penuh oleh keyakinan yang akan diwartakan kepada kakaknya, Ramawijaya. Tentang pertemuannya dengan pemuda kembar hebat, tentang dugaan keberadaan Shinta, tentang dugaan kiprah gurunya
  • 59.
    Shinta Minulya Hlm59 Begawan Walmiki dan tentang harapannya menyaksikan kembali kakaknya berkumpul bersama istri dan anak-anaknya merenda kebahagiaan yang telah lama hilang dari negri Ayodya.
  • 60.
    Shinta Minulya Hlm60 Bag-9 Kemenangan Hati Nurani “Mengapa Dimas datang bersendirian, bukankah belum tepat setahun engkau kuberi tugas mengawal sesaji aswamedha ?” sambut Ramawijaya kepada Laksmana ketika menerima kedatangan adiknya di keraton Ayodya pagi hari itu “Ada hal yang sangat penting yang hendak aku sampaikan, Kangmas” jawab Laksmana sembari memeluk kakak yang sangat disayang dan dihormatinya “Hal apakah itu, adikku ?” bisik Rama di dekat telinga Laksmana “Tentang Mbakyu Shinta” jawab pelan Laksmana Seketika Rama melepas rangkulan dan memegang pundak adiknya serta mengguncangkannya dan berkata ketus “Beribu kali engkau mengajakku untuk membicarakan istriku yang sudah tidak suci lagi. Mengapa engkau tidak pernah bosan sedangkan aku sendiri sudah lama melupakannya”
  • 61.
    Shinta Minulya Hlm61 “Adikmu ini tahu Kangmas, betapa engkau berusaha melupakannya namun pada kenyataannya tidaklah sanggup. Akankah Kangmas selamanya akan membohongi hati nurani sendiri bahwa sebenarnya masih mencintai Mbakyu Shinta ?” “Tidak perlu ikut campur urusanku !” bentak Rama “Kali ini saya harus memaksa Kangmas dari buaian tidur panjang yang selama ini telah melenakanmu. Apakah ego Kangmas begitu besar sehingga tak mau menerima kenyataan ?” “Lancang kamu !” setengah berteriak Rama mulai marah “Biarlah kali ini adikmu ini engkau maki-maki dan kalau perlu di bunuh sekalian. Namun aku tetap akan mengatakan hal ini” sendu suara Laksmana menyadarkan Rama telah berlaku keras kepada adiknya yang disayanginya dan telah berjasa begitu besar terhadap dirinya. Dengan merendahkan suara dan senyum tersungging, Rama berkata “Baiklah, adikku. Maafkanlah Kakakmu ini yang telah berlaku keras kepadamu. Sekarang ceritakan apa yang engkau ketahui tentang Shinta” “Aku telah menemukannya, Kangmas” “Dimana ?” “Di sebuah pertapaan di pinggir hutan yang masuk wilayah Negara tetangga kita” “Apakah engkau bertatap muka langsung dengannya ?” “Tidak, Kangmas ?” “Bagaimana engkau ini, Laksmana !” Laksmana kemudian menceritakan pertemuannya dengan dua pemuda kembar dan tentang bagaimana dia kemudian mencoba kedigdayaan mereka melalui sebuah pertempuran yang disaksikan oleh para prajurit Ayodya.
  • 62.
    Shinta Minulya Hlm62 “Dari percakapanku dengan mereka aku sangat yakin bahwa sebenarnya dua pemuda itu adalah ….” ragu Laksmana menyatakan perkiraan dia tentang asal muasal kedua pemuda kembar itu Namun dengan tidak sabar Rama bertanya “Siapa kedua anak itu ?” “Menurut perkiraan adikmu ini, Mbakyu Shintalah ibu dari kedua anak kembar itu” Terpana Rama mendengar kata-kata Laksmana adiknya. Sebentar wajahnya memerah sebentar matanya meredup Kemudian dengan berhati-hati Laksmana melanjutkan “Melihat dari cara olah kanuragan yang mereka peragakan serta keterangan yang mereka sampaikan, maka aku yakin bahwa guru mereka yang katanya dipanggil kakek itu adalah Begawan Walmiki. Dan merangkai cerita lima belas tahun lalu, menurut perkiraanku beliaulah yang menolong Mbakyu Shinta pada saat itu, melahirkan dan membesarkan anak-anaknya yang tak lain adalah …….. anak Kangmas sendiri” “A .. anakku ! Benarkah itu Laksmana ?” lemas tubuh Rama mendengar cerita Laksmana tentang Shinta dan anak-anaknya. Dan seakan berbicara pada diri sendiri, Rama bergumam “Benarkah kedua anak kembar itu anak-anakku ?” Dengan lembut Laksmana menjawab keraguan kakaknya “Apakah Kangmas masih ragu atas kesucian Mbakyu Shinta ? Biarkanlah hati nurani Kangmas yang menjawabnya. Begitu lama Kangmas dikuasai oleh keraguan dan ingkar terhadap hati nurani. Sejatinya menuruti hati nurani adalah mengikuti apa kata Tuhan, Kangmas. Adikmu ini sangat kasihan kepada Kangmas yang begitu tersiksa selama lima belas tahun ini dalam kesendirian. Bukankah akan sangat membahagiakan bila bersanding dengan orang yang dicintai dan anak-anak hasil dari buah cinta.”
  • 63.
    Shinta Minulya Hlm63 Ramawijaya, raja besar Ayodya itu semakin tersudut mendengar kata-kata Laksmana yang seolah laksana duri yang menusuk-nusuk hatinya. Perih, sakit, dan nyeri terasakan luka lama terkuak kembali. Akankah dia menyadari kekhilafannya dahulu ? “Siapakah nama kedua anak kembar itu, adikku ?” “Lawa dan Kusya, Kangmas” Anak adalah harapan yang selalu hadir dalam keinginan pasangan suami istri di seluruh penjuru dunia ini. Tak ada seorang pria dan wanita yang menjalin sumpah menjadi pasangan hidup kemudian tiada mengharapkan buah cinta kasih berupa anak. Anak adalah keturunan yang diharapkan bakal menjadi penerus nama baik dan kiprah orang tuanya dalam menjalani kehidupan dunia. Anak adalah darah daging orang tua yang hubungannya tiada terpisahkan sampai akhir hayatnya. Anak adalah tumpahan kasih sayang sehingga orang tua mau berkorban apa saja untuk kebahagiaan dan kemuliaannya. Anak selalu diharap, dinanti, disayang dan bersamanya adalah kebahagiaan yang tak terkira dan tak tergantikan. Begitupun seorang Ramawijaya. Mendengar kabar dari Laksmana bahwa “kemungkinan” anak kembarnya kini masih hidup dan telah beranjak dewasa, maka semangatnya muncul untuk segera menemui mereka. Bagaimanapun getar-getar sifat keilahian mampu mengalahkan keangkuhan sikap yang dikendalikan oleh tangan-tangan setan durjana apabila dilandasi dengan sikap pasrah kepada Sang Pencipta. Bagaimana dengan istrinya Shinta yang telah dituduhnya tidak suci lagi cintanya ? <<< ooo >>> Di beranda rumah tidak jauh dari telaga itu, suasana pagi ini sungguh sangat menentramkan hati. Kicauan burung hutan menyambut pagi diiringi sang bagaskara yang mulai muncul di ufuk timur. Dingin pagi mulai menguap di terpa sinar sang surya yang masih lembut menyapa. Kedamaian yang sungguh alami. Alam memberikan kenyamanan bagi semua makhluk
  • 64.
    Shinta Minulya Hlm64 hidup yang mendiaminya. Tak terkecuali penghuni rumah sederhana itu merasakan betapa selama ini telah memperoleh penghidupan dari kemurahan alam memenuhi segala kebutuhannya. Dua orang pemuda yang berwajah dan berperawakan mirip, sedang duduk di kanan kiri sebuah lincak bambu seraya menyandarkan kepalanya di bahu seorang wanita yang duduk di tengah-tengahnya. Dengan manja kedua pemuda itu menyandarkan kepalanya di bahu dan masing-masing memegang bahu kanan kiri perempuan itu. Perempuan itu tersenyum bahagia merasakan kasih sayang yang tak terucap dari kedua anaknya itu. Dan tak kuasa tangannya kemudian membelai lembut rambut di kepala anak-anaknya itu dengan penuh kasih sayang. Anak-anaknya bukan bocah lagi namun kerap bermanja-manja saat bersamanya. Anak-anaknya telah beranjak menjadi pemuda-pemuda yang gagah dan tampan. Ah …. Perempuan itu mengucapkan syukur kepada Dewata atas segala kebahagiaan yang dinikmatinya sampai dengan saat ini walaupun sebenarnya dirasakan tidak utuh dan sempurna karena tidak ada sosok ayah disamping mereka. “Oh ya ibu, bukankah hari ini kakek akan datang ke sini ?” tanya pemuda yang duduk di kiri perempuan itu “Menurut perhitungan ibu, memang kakekmu akan datang hari ini Lawa” jawab perempuan itu tenang “Kira-kira kakek akan membawa kitab apa lagi ya Ibu. Kitab-kitab yang di bawa kakek sudah semua aku baca dan mengerti” kata pemuda satunya lagi “Oh ya … lahap sekali kalian membacanya. Kitab yang terakhir di bawa kakekmu judulnya apa ya, Kusya” ditolehkan pandangan perempuan itu ke kanan “Asmaradahana !” hampir serempak dua pemuda itu menjawabnya Seraya tertawa kecil sang ibu berkata “Ha ha ha … kalian kompak sekali !”
  • 65.
    Shinta Minulya Hlm65 “Namanya juga kembar, ibu !” Dan setelah itu terdengar obrolan yang ramai di antara mereka bertiga. Sesekali terdengar tawa mereka mewarnai pagi yang semakin ceria. Nun … tak jauh dari rumah itu, di bawah pohon dekat telaga, berdiri dua sosok pria yang mengamati tingkah laku ketiga orang yang tengah bercengkrama itu dari jauh. Salah seorang memandangnya dengan pandangan takjub. Wajahnya terlihat muram namun sesekali mulutnya kemudian tersenyum. Entah apa yang tengah bergejolak di hati orang itu. Cukup lama memperhatikan dari jauh, bayang-bayang kesedihan kemudian muncul di matanya. Sementara sosok di sebelahnya meskipun pandangan lurus ke depan menyaksikan pemandangan di depan rumah, sesekali dia melirik ke orang di sebelahnya ingin mengetahui reaksi dan sikapnya. Ya … kedua orang itu adalah Rama dan Laksmana yang bermaksud menemui penghuni rumah di dekat telaga itu. Laksmana akhirnya telah berhasil meyakinkan kakaknya Rama untuk menemui istri dan kedua anaknya. Dan mereka berdua melakukan perjalanan dengan cepat sehingga di hari ini telah sampai ke tujuan.
  • 66.
    Shinta Minulya Hlm66 Bag-10 Upaya mengungkap kebenaran “Laksmana, kali ini biarkan aku sendiri yang akan menyelesaikan semuanya. Akulah yang menyebabkan semua ini terjadi, maka selayaknya aku sendiri yang harus menyelesaikan dan menanggungnya. Oleh karena itu kuminta dengan sangat, kali ini engkau jangan ikut campur tangan. Apapun yang aku lakukan, kuharap engkau berdiam diri saja. Ini adalah urusan keluargaku” “Baiklah, Kangmas. Demi kebahagiaan yang Kangmas ingin gapai, saya selalu mendukungnya” Laksmana paham terhadap apa yang diinginkan kakaknya, sehingga takala Ramawijaya beranjak dari persembunyian menuju tanah lapang di depan rumah itu, Laksmana tetap berdiam saja dan berjanji pada diri sendiri untuk menyerahkan segala sesuatu kepada yang berhak dan memang wajib untuk menuntaskannya. Toh ini memang adalah masalah keluarga Ramawijaya. Entah apa yang telah direncanakan kakaknya sekarang ini, Laksmana hanya menanti saja dengan hati berdebar.
  • 67.
    Shinta Minulya Hlm67 Rama berjalan dengan tenang dan kemudian berdiri tegak laksana tugu sinukarta. Gagah sekali memang raja Ayodya ini. Wajahnya masih terlihat tampan dan berwibawa meskipun terlihat sedikit garis garis ketuaan tersirat di wajahnya. Matanya yang bersinar lembut sepertinya menyimpan duka yang terpendam namun tiada mengurangi sorot kewibawaan seorang raja besar. Dan setelah cukup lama mengatur nafas menentramkan hati, maka terdengar teriakannya yang lantang mengagetkan penghuni hutan. “He …. Lawa … he … Kusya … aku tahu kalian berada di rumah itu ! Kalau kalian benar seorang satria sejati, meyingkirlah kalian dari gelendotan ibumu dan keluarlah menyambutku untuk memenuhi tantanganku !” Suara lantang Rama bergema di sekliling telaga dan kemudian menyisakan sepi menunggu jawaban. Cukup lama suasana menjadi sepi karena suara binatang di sekitar telagapun seolah di komando untuk diam karena ingin menyaksikan apa yang bakal terjadi. Namun tidak beberapa lama kemudian melesatlah bayangan dua sosok orang yang dalam hitungan detik sudah berada di hadapan Rama. Dua sosok itu tiada lain adalah dua pemuda kembar Lawa dan Kusya. Wajah mereka memerah karena merasa jengah di tantang oleh orang yang tak di kenalnya. Dengan geram Lawa kemudian berkata “Siapakah andika yang telah mengenal kami dan belum-belum sudah menantang dan menghina ibuku !” Dengan senyum tipis di bibir Rama menjawab tenang “Ooo ini tho yang bernama Lawa dan Kusya. Mana yang Lawa dan mana yang Kusya ?” “Aku Lawa dan disebelahku ini Kusya. Siapakah andika sebenarnya ?!” “Orang menyebutku Ramawijaya, raja Ayodya !” “Oooo ini tho yang bernama Ramawijaya raja Ayodya yang tersohor senatero dunia itu” seloroh Lawa mengikuti ucapan dan alunan kalimat yang diungkapkan Rama tadi.
  • 68.
    Shinta Minulya Hlm68 Mau tidak mau Ramapun ikut terbawa kepada keceriaan pemuda di depannya itu. “Apakah kalian jerih memenuhi tantanganku tadi ?” “Oh tentu tidak ! Kata ibu dan kakekku, pantang seorang satria untuk menghindar dari setiap tantangan yang dilontarkan. Dan saya berani bertaruh bahwa paduka mengetahui tentang diri kami dari seorang pangeran yang bernama Laksmana.” “Cerdik sekali kalian !” “Tapi mengapa tantangan ini harus ada sedangkan pangeran Laksmana beberapa waktu yang lalu mengatakan bahwa tidak akan mengusik kami lagi disini ? Apakah perkataan seorang pejabat Ayodya tidak bisa dipercaya ?” “Ha ha ha .. pandai sekali kalian memainkan kata-kata.” Suara tawa Rama terdengar lepas seperti menemukan kegembiraan bercakap-cakap dengan dua pemuda kembar itu. Sementara itu di tempat persembunyiannya, Laksmana tersenyum senang mendengar suara tawa kakaknya yang rasanya tak pernah didengar lagi setelah peristiwa lima belas tahun yang lalu. Dingatnya kembali peristiwa waktu itu saat dia kembali dari hutan setelah melaksanakan perintah Rama untuk meninggalkan Shinta di tengah hutan sendiri dalam keadaan berbadan dua. Hanya anggukan kecil saja sebagai pertanda telah diterima laporannya bahwa telah selesai melaksanakan tugas yang diembannya. Dan setelah itu, setiap kali berbicara dengan kakaknya Rama dalam berbagai kesempatan, tidak pernah lagi Laksmana melihat senyum lebar apalagi tawa riang dari raja Ayodya itu. Laksmana merasa senang dan semakin bersemangat untuk menyaksikan apa yang bakal terjadi di depan matanya. Ibarat sebuah pertunjukan wayang yang belum pernah dia tahu akhir cerita dari sebuah lakon yang dipagelarkan, maka hati Laksmana berdebar keras menyaksikan “wayang- wayang” yang di peragakan oleh Rama, Lawa dan Kusya dan menunggu
  • 69.
    Shinta Minulya Hlm69 akhir lakon dengan berbagai opsi skenario yang ada dalam benak sang dalang. Dan di teras rumah dekat telaga, ada sosok lain yang lebih gundah hatinya. Wajah penuh kecemasan mewarnai ronanya. Perempuan itu yang tiada lain adalah Shinta, tiada bisa menyembunyikan hiruk pikuk pikiran dalam benaknya. Gejolah perasaan berbaur mengaduk-aduk kenangan dan kenyataan. Menyaksikan suaminya yang sejatinya masih begitu dicintainya berhadap-hadapan dengan anak-anaknya sendiri, membuat hatinya resah tiada terkira. Menyaksikan dari jauh sosok suaminya yang begitu dikenalnya detil, membawanya kembali kepada kenangan masa lalu. Bahagia dan nestapa, suka dan derita, terpampang jelas dalam bayangannya. Namun saat kembali diingatnya kembali peristiwa lima belas tahun yang lalu, luka lama kembali terkoyak. Berderai air mata Shinta mengkhawatirkan akan nasib anak-anaknya di hadapan ayahnya sendiri kini. Apakah kali ini dia harus menyerah setelah lima belas tahun peristiwa itu terjadi ? Sang Dewi mengeluh pasrah “Mengapa Dewata mempertemukan aku kembali dengan dia ? Bukankah akan lebih baik bila aku dan anak- anakku dapat hidup tanpa diganggu oleh kenangan masa lalu yang menyakitkan ? Bukankah akan lebih tenang bila aku mati tanpa dihantui bayangan gelap masa lalu ?” Beribu tanya yang berseliweran membuat pikirannya menjadi keruh. Namun tempaan hidup yang berat membuat jiwa Rekyan Shinta terkondisikan menghadapi cobaan hidup dan akhirnya sadar bahwa segala sesuatu memang telah ada yang mengaturnya. Dan apabila segala sesuatu diserahkan dan dipasrahkan kepada Sang Pengatur maka ketenangan dan kemenanganlah yang bakal diperolehnya. Dengan tenang maka kini dia menyaksikan yang tengah terjadi di depan matanya. Wajah ayunya kembali menghadirkan kedamaian dan kepasrahan yang seakan memancarkan cahya putih nan memancarkan kesucian hati. Kini dia hanya bersandarkan kepada suara nurani yang hakekatnya adalah kehendak Tuhan belaka. “Lantas apa yang menjadi kehendak paduka sekarang ?” tantang Lawa
  • 70.
    Shinta Minulya Hlm70 “Jangan salah sangka, aku kemari hanya ingin mengenal kalian lebih dekat” jawab Rama “Apakah sebelumnya paduka pernah berjumpa dengan kami ?” “Baru kali ini kita berjumpa” “Apakah paduka mengenal ibu kami ?”
  • 71.
    Shinta Minulya Hlm71 Bag-11 Saat-saat Mencekam Cukup lama Rama berdiam mendengar pertanyaan yang tak disangka- sangka dari pemuda di hadapannya itu. Dengan suara pelan nyaris seperti gumaman akhirnya dia menjawab “Ya, aku mengenalnya” “Apakah ibuku bukan orang biasa-biasa saja ?” “Maksudmu ?” “Apakah beliau adalah seorang putri keturunan raja atau sejenisnya ?” “Mengapa engkau bertanya hal itu kepadaku ?” “Hanya ingin tahu saja, tiada mengapa kalau paduka tidak berkenan menjawabnya. Kalau begitu paduka juga mengenal kakek kami ?” “Kalau mendengar dari cerita adikku Laksmana, sepertinya aku mengenal beliau dengan baik. Apakah kalian tidak pernah tahu nama beliau atau setidaknya mengetahuinya dari orang lain ?”
  • 72.
    Shinta Minulya Hlm72 “Kami tidak pernah ke luar dari tempat ini selain dikunjungi oleh kakek” “Begitukah ? Dan kalian tidak tahu juga bagaimana kisah ibu kalian dan juga kakek kalian ?” “Kami tidak perlu tahu karena mereka enggan untuk memberi tahu. Bahkan nama ayah dan keberadaannya kamipun tidak tahu dan sepertinya tidak perlu kami ketahui” Pikiran rama menjadi gelisah dengan pertanyaan dan jawaban lugas dari pemuda kembar di hadapannya itu “Mengapa ?” getir suara Rama bertanya Dengan santai Lawa, yang juga mewakili Kusya yang hanya berdiri tegak di sampingnya, menjawab “Apa gunanya memikirkan orang yang sudah tidak ada di dunia ini. Menghabiskan waktu dan sia-sia belaka” “Bagaimana bila ayah kalian masih ada ?” Meskipun penasaran karena di cecar pertanyaan oleh seorang raja yang baru dikenalnya itu, Lawa tetap menjawabnya “Bila memang ternyata demikian, maka hal itu membuat kami semakin tidak ingin mengenalnya” Sang Ramawijaya semakin tak nyaman dengan jawaban dari Lawa yang sebenarnya adalah anaknya sendiri menurut keyakinan Laksmana, namun dia kembali bertanya ingin mengetahui sikap mereka “Mengapa sikap kalian begitu tidak peduli terhadap ayah kalian sendiri. Bukankah kakek kalian tentu telah memberi pengajaran bahwa seorang satria harus berbakti kepada tiga yang utama yaitu berbakti kepada Tuhan, kepada orang tua dan saudara tua ?” “Benar, kami telah mempelajarinya. Kami sangat hormat dan mencintai ibu kami dengan sepenuh hati. Kalaupun ayah masih ada, berarti dialah yang salah karena telah meninggalkan ibu dan kami anak-anaknya. Ibu kami adalah seorang wanita yang sangat baik dan berbudi dan tidak mungkin
  • 73.
    Shinta Minulya Hlm73 melakukan suatu dosa besar sehingga ditinggal atau dibuang oleh suaminya. Bukankah logika itu sangat masuk akal ? Tapi sudahlah, bukankah ayah kami memang sudah tidak ada sekarang ini ?” Mendengar kilah dan alasan Lawa tentang ayah dua pemuda kembar itu, Rama menjadi semakin gundah. Hendak dikatakan tentang siapa sejatinya dirinya, namun mulut tak mengijinkannya. “Mengapa paduka berdiam diri dan tidak mengajukan pertanyaan- pertanyaan lainnya ?” dengan senyum jenaka Lawa kembali melanjutkan obrolannya “Eh … ah … kalau begitu apa mau kalian” jawab Rama agak gugup seolah di skak mat oleh pertanyaan Lawa “Lho paduka ini bagaimana, lha wong paduka sendiri yang datang ke sini dan menantang kami, lha kok sekarang malah bertanya tentang mau kami apa. Seharusnya kamilah yang bertanya seperti itu” Kembali senyum yang berkembang di bibir Lawa membuat Sang Rama semakin tersudut dan membuat dirinya memutar otak untuk menghadapi “pertempuran” kata-kata ini. Dan dengan menghirup udara dalam-dalam untuk memenuhi paru-parunya dan menenangkan pikirannya, kemudian Rama berkata untuk menguasai keadaan kembali “Baiklah, aku ke sini memang bermaksud untuk mencoba kedigdayaan kalian. Kalau dengan adikku Laksmana kalian telah memperlihatkan kemampuan dalam olah kanuragan dan itu ternyata tidak mengecewakan, maka kali ini aku ingin menguji kalian melalui keampuhan senjata pusaka. Bukankah kalian memiliki senjata pusaka pemberian kakek kalian ?” Kali ini Lawa dan Kusya-lah yang gelisah mendengar tantangan ini. Menurut wejangan kakeknya, senjata pusaka Guwasalya tidak boleh digunakan sembarangan. Apabila busur dan anak panah telah disatukan untuk di bidikkan kearah yang dikehendaki, maka musuh yang berjumlah ratusan yang berada di sekitarnyapun akan habis binasa karena pamor dan kesaktian pusaka itu. Api dan panas yang ditimbulkannya akan menghanguskan apa atau siapa saja yang diterjangnya. Dan Lawa Kusya tidak mengharapkan demikian terjadi seperti wejangan kakek dan petuah
  • 74.
    Shinta Minulya Hlm74 ibunya agar selalu menyayangi jiwa manusia. Apalagi terhadap orang yang tidak bersalah dan tidak dikenalnya. Dan orang yang berdiri di hadapannya itu adalah seorang raja yang menurut berita yang di dengar bukanlah seorang raja yang lalim. “Kami kawatir akan akibat yang ditimbulkan bila senjata pusaka itu keluar dari tempatnya” jawab Lawa hati-hati “Aku akan sanggup menghadapinya !” dengan tenang Rama menjawab kekhawatiran itu “Terus terang kami belum pernah mencoba pada pertempuran sesungguhnya. Kalau dalam latihan pernah kami lakukan dan itu sangat berbahaya terutama bagi musuh yang tidak memiliki kemampuan menghadapinya. Kami mengkawatirkan paduka yang baru kami kenal dan tidak memiliki kesalahan sedikitpun kepada kami di sini” Ramawijaya tersentuh mendengar kejujuran kedua pemuda kembar itu dan mengakui bahwa pada dasarnya jiwa satria sejati telah melekat erat menjadi kepribadian diri meskipun sifat mereka cenderung seenaknya sendiri dan kurang waspada serta memiliki kepercayaan diri yang terlalu tinggi dan tak terkendali. Begitulah memang sifat-sifat umum para pemuda yang belum banyak mengenal dunia seutuhnya. “Kalian meremehkan kemampuanku, bahkan gunung api-pun aku sanggup taklukan hanya dengan berdiam diri” sumbar Rama ingin menguji bagaimana tanggapan Lawa dan Kusya Dan memang begitulah jiwa muda bertahta, cepat terbakar, tidak mau dikalahkan, cenderung memamerkan kebisaan dan responsive alias bertindak dengan cepat tanpa berpikir panjang Tubuh Lawa dan Kusya seketika tegap kokoh, matanya mencorong serasa di sulut keberanian dan keperkasaannya. Entah dari mana datangnya, tiba- tiba di tangan Lawa dan Kusya telah tergenggam busur dan panah pusaka Guwasalya. Perbawanya memang sungguh beda terasa. Udara panas mulai menyergap di sekeliling dengan diimbuhi aura magis yang menelusupi sesiapa yang hadir di sekitarnya.
  • 75.
    Shinta Minulya Hlm75 Tak terkecuali di arah timur tempat Laksmana bersembunyi di bawah pohon besar dilingkungi belukar. Laksmana yang mendengar dengan samar pembicaraan antara “ayah dan anak” tadi, seketika disergap rasa khawatir. Kalau dirinya dulu bertempur melawan kedua anak kembar itu, namun hanya pertempuran fisik belaka, olah kanuragan mengandalkan kecepatan, kekuatan dan siasat serta pengalaman. Namun kini di hadapannya bakal dilihatnya pertempuran yang melibatkan senjata pusaka dan kekuatan olah cipta yang tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang kecuali orang yang tekun dan berbakat serta memperoleh bimbingan guru yang hebat. Dan Laksmana mengkhawatirkan nasib dari kedua pemuda kembar yang meskipun telah memiliki senjata yang luar biasa, namun bila di bandingkan dengan kakaknya Ramawijaya sepertinya masih kalah kuat dan terlebih lagi kalah dalam pengalaman mengetrapkan ajian sakti. Bukankah kekuatan suatu karakter tergantung dari ilmu dan amal ? Ilmu dan pengalamanlah yang menempa dan membentuk karakter seseorang menjadi kuat dan bijak. Laksmana berharap agar kakaknya mampu mengendalikan jalannya lakon ini sehingga hal-hal yang buruk tidak terjadi. Aura panaspun berhembus menuju barat ke arah rumah di pinggir telaga tempat dimana Shinta-pun menyaksikan dari jauh kearah lapangan. Jantungnya berdegup keras menunggu apa yang akan terjadi nanti. Tentu saja Sang Dewi tak berharap anak-anaknya mati sia-sia di tangan ayahnya sendiri. Disadari bahwa Lawa dan Kusya bukanlah lawan yang sepadan bagi Sang Penguasa negri Ayodya. Air matanya yang mengalir deras di pipinya, mengabarkan bagaimana penderitaan batin begitu mengharu biru menguasai hatinya. Tak ada yang bisa dilakukan ! Tak ada yang bisa diharapkan kecuali nasib diri dan anak-anaknya kini diserahkan utuh kepada Gusti Yang Maha Welas. Begitu terjal jalan hidup yang telah dilaluinya, namun kasihNya selalu menyertai mengentaskan dalam setiap kesulitan. Haruskah sekarang dirinya menyerah ? Tidak !
  • 76.
    Shinta Minulya Hlm76 “Biarlah diriku sendiri yang mengalami penderitaan dan sebentar lagi mungkin kematian bakal menjemputku, namun biarkanlah anak-anakku memperoleh perlindungan dan kasihMu, Gusti !” jerit hati Sang Dewi seakan menggetarkan seisi bumi. Terpejam sesaat Sang Putri menahan perih derita hati seraya berpohon harapannya bakal terwujud.
  • 77.
    Shinta Minulya Hlm77 Bag-12 Pertemuan Ayah Anak Sementara itu di tengah lapangan, dua kubu tengah berhadapan. “Apakah paduka tetap ingin melanjutkan tantangan ?” tanya Lawa ingin memastikan “Silahkan kalian memulainya anak muda !” jawab Ramawijaya tetap tenang “Dengan menggunakan Guwasalya, kami tidak dapat bertempur sendiri- sendiri. Guwasalya harus dijalankan oleh kami berdua. Apakah paduka tidak keberatan bila kami maju bersama-sama” Mendengar perkataan Lawa, Ramawijaya semakin senang atas etika bertempur ala satria yang tetap dipegang dan tidak ingin melakukan
  • 78.
    Shinta Minulya Hlm78 kecurangan dengan mengeroyok lawan. Dengan tersenyum ringan Sang Rama berkata “Aku tidak keberatan karena memang ingin menyaksikan kalian berdua bertempur dengan bekerja sama” “Apakah paduka tidak mengeluarkan senjata pusaka untuk melawan kami ?” “Lihat saja nanti, biar aku hadapi dulu dengan kedua tanganku ini” Kali ini tanpa banyak cakap karena maklum bahwa lawan yang dihadapi tentu memiliki kadigdayaan yang mumpuni terbukti dengan ketenangan yang diperlihatkannya, maka merekapun segera memusatkan cipta bersama dengan Lawa memegang busur serta Kusya memegang anak panah di genggaman tangan kanan mereka. Kekuatan cipta mereka semakin menimbulkan energi panas yang kemudian mengumpul dalam diri mereka dan siap untuk diledakkan. Sementara itu Rama mulai merapatkan kedua tapak tangan dengan sikap seperti menghaturkan sembah seraya mengendapkan semangat dan konsentrasi sehingga mampu menjadi kekuatan untuk menahan kekuatan gempuran tenaga dari luar. Kematangan dalam menerapkan ilmunya sudah tidak diragukan lagi mengingat telah ribuan kali Sang Rama melakukan pertempuran melawan musuh yang kuat. Ramaparasu atau Ramabargawa yang fenomenal pernah dikalahkannya, Sang Dasamuka yang sangat digdayapun mampu dibunuhnya. Demikian pula dengan Resi Subali yang pernah menjadi guru Dasamuka dan mewariskan aji pancasunya atau pancasona, mampu dipanahnya hingga mati saat bertempur melawan Sugriwa. Dan tak terhitung peperangan yang telah dilakoninya sehingga kekuatan dan kesaktiannya semakin matang. Pada jamannya, nyaris tidak ada satria yang mampu mengalahkan kesaktian seorang Ramawijaya. Dan saat yang ditunggu-tunggu tiba. Lawa dan Kusya secara bersamaan dengan gerak cepat menyerang lawannya yang berdiri di depannya. Dan memang sungguh hebat gabungan kekuatan kedua pemuda kembar itu setelah menggunakan senjata pusaka Guwasalya. Dorongan tenaga panas mendesak kuat ke arah Rama berdiri. Namun dengan tenang Rama
  • 79.
    Shinta Minulya Hlm79 menggerakkan kedua tangan ke depan untuk memapaki datangnya tenaga raksasa itu sehingga tidak sampai mengenai tubuhnya. Dan akibat pertemuan dua tenaga besar itu sungguh hebat ! Di tengah-tengah arena terjadi ledakan dahsyat yang menimbulkan gumpalan api dan aliran udara panas di sekitarnya. Maka kemudian terjadilah pertempuran hebat yang mengakibatkan daerah sekitarnya menjadi porak poranda seolah tersapu terjangan gelombang panas yang membakar. Cukup lama adu kekuatan terjadi. Bukan adu kekuatan sebenarnya karena pada dasarnya posisi Rama hanya bertahan sedangkan Lawa dan Kusya menggempur. Dan lantaran sekian lama tidak berhasil menjatuhkan lawannya, maka Lawa dan Kusya sepakat untuk menuntaskan pertempuran dengan menerapkan ajian pamungkas yaitu menggabungkan busur dan anak panah Guwasalya dan melepaskannya pada sasaran yang dituju. Segera Lawa dan Kusya mempersiapkan diri dengan posisi bersebelahan melakukan sikap seperti orang bersemedi. Peluh membasahi sekujur tubuh mereka dan tiba-tiba badan mereka seperti menjadi bayang-bayang dan dalam pandangan Rama tubuh dua pemuda kembar itu kemudian seolah menyatu dalam keadaan telah memegang busur dan siap mengambil anak panah untuk dipasangkan. Melihat keadaan itu, Rama maklum bahwa apabila dirinya tetap dalam keadaan bertangan kosong maka hal itu sangat berbahaya bagi keselamatannya dan oleh karenanya segera dia mengheningkan cipta dan sesaat kemudian Guwawijaya, senjata pusaka Rama, telah berada dalam genggamannya. Sungguh mencekam saat itu karena Rama yang pada awalnya berniat hanya menguji saja namun setelah bertempur dalam ratusan jurus menyadari bahwa kekuatan dua pemuda kembar itu tidak bisa di remehkan. Dan kali ini jurus pamungkas hendak dilakukan oleh lawannya sehingga mau tidak mau dia harus mengimbanginya dengan senjata pusaka pula. Di saat yang gawat bagi keselamatan mereka yang bertempur itu, tiba-tiba terdengar suara yang sangat jelas di dengar oleh Rama serta Lawa dan Kusya “Berhenti Lawa dan Kusya, jangan kalian lakukan itu. Dan engkau Rama, jangan kau pergunakan Guwawijayamu !”
  • 80.
    Shinta Minulya Hlm80 Suara itu jelas terdengar oleh mereka namun tidak terlihat yang mengucapkannya. Rama maklum bahwa suara itu dikirim oleh seseorang dari jarak jauh dengan kekuatan khikang yang sempurna. Dan benar dugaannya, sesaat kemudian munculnya seorang pendeta renta berjubah putih yang tiba-tiba telah berdiri di tengah-tengah mereka. Melihat sosok dan wajah Begawan itu, dengan cepat Rama menghaturkan sembah dengan bersujud “Guru, mohon ampun. Sembah sujud saya haturkan kepada Begawan Walmiki” dengan takjim Rama menghormat orang itu Dan setelah Lawa dan Kusya kembali seperti semula dan menyaksikan kehadiran orang di depan mereka, dengan cepat mereka menubruk dan merangkul penuh sayang “Selamat datang kembali Kek, sudah lama kami nanti kedatangan kakek. Ibu telah menyiapkan segala keperluan kakek dan kamipun telah siap menerima ilmu baru dan kitab-kitab baru, Kek” “Dasar anak-anak ! Baru saja kalian bertempur hebat mempertaruhkan nyawa, sekarang malah bermanja-manja” tersenyum lebar kakek itu menyaksikan kepolosan pemuda kembar itu “Apa menurut kalian bakal menang melawan musuh kali ini meskipun bakal menggunakan ilmu pamungkas yang aku ajarkan ? Kalau tidak aku hentikan, tentu kalian akan celaka dan entah bagaimana aku harus menyampaikan hal itu kepada ibumu” dengan suara tenang kakek itu menjawab celoteh cucu-cucunya “Lawa dan Kusya, tahukah kalian dengan siapa tadi bertempur ?” “Tentu saja Kek ! Keren Kek, kami baru saja bertempur melawan raja negri Ayodya” jawab Lawa bangga “Tahukan kalian, siapakah dia ?” “Tentu saja Kek ! Beliau adalah Ramawijaya” jawan Kusya yang kali ini ikut bersuara
  • 81.
    Shinta Minulya Hlm81 “Benar ! Memang dia adalah Ramawijaya raja Ayodya. Dan ketahuilah cucu-cucuku, Ramawijaya itu juga adalah muridku pada masa mudanya dulu bersama dengan Laksmana yang sekarang sedang ada di sana, tuh” kakek itu berkata seraya menunjukkan jari telunjuknya ke arah timur tempat dimana Laksmana bersembunyi. Kemudian lanjutnya “Dan tahukah kalian, siapa sebenarnya Ramawijaya itu ?” Kali ini Lawa dan Kusya hanya menggeleng pelan. Dan dengan suara tenang setelah menghirup nafas dalam-dalam, kakek itu kemudian berkata “Dialah sebenarnya ayah kalian yang selama ini kalian tanya dan harapkan” Lawa dan Kusya terkejut mendengar penuturan dari kakeknya itu. Seketika mereka menoleh ke arah Ramawijaya berada yang telah duduk tenang bersila. Seakan mereka tak percaya atas apa yang baru saja di dengar dari mulut kakeknya sendiri “Dan ketahuilah cucu-cucuku. Aku sebenarnya bukan kakek kandungmu. Aku adalah Walmiki seorang pertapa biasa yang kebetulan pernah menjadi guru dari ayahmu” Kemudian Begawan Walmiki memutar tubuhnya menghadap Rama seraya berkata “Muridku terkasih, mungkin engkau sudah mengetahui hal ini dari Laksmana adikmu dan kedatanganmu ke sini tiada lain tentu hendak memastikan dan meyakinkan dirimu sendiri terhadap keberadaan istri dan anak-anakmu. Mengapa baru engkau lakukan sekarang setelah sekian lama mereka menanti kedatanganmu ?” Tiada jawaban yang keluar dari mulut Sang Rama kecuali linangan air mata dan wajah penuh kesedihan. Begawan Walmiki-pun mahfum dan melanjutkan kata-katanya “Kalau masih ada keraguan di hatimu, segeralah engkau lenyapkan dari pikiranmu. Aku yakin suara hati nuranimu menyetujui apa yang aku sampaikan tadi. Dan demi Tuhan Yang Maha Agung yang menciptakan alam
  • 82.
    Shinta Minulya Hlm82 semesta dan berkuasa atasnya, aku yakinkan kepadamu bahwa kedua pemuda kembar yang baru saja menjadi lawan tandingmu, adalah benar- benar anak kandungmu, buah kasih antara engkau dan istrimu.” Tanpa menunggu jawaban Rama kembali Begawan Walmiki mengarahkan pandangan kepada kedua cucunya seraya berkata “Tunggu apa lagi cucu-cucuku, segeralah kalian haturkan sembah bakti kepada ayahmu yang selama ini kalian dambakan” Tanpa diperintah dua kali, segera Lawa dan Kusya bersegera menuju Rama dan menghaturkan sembah baktinya. Hati Rama yang sejak kedatangan gurunya Begawan Walmiki telah basah, dan kini menyaksikan darah dagingnya menyentuh kakinya, tak kuasa menahan tumpahan haru. Ditariknya pundak kedua pemuda itu dan di bawanya dalam pelukan penuh rindu. Tak terdengar ucapan kata-kata tumpahan rasa hati, yang terlihat oleh Begawan Walmiki hanyalah pertemuan haru nan membahagiakan antara ayah dan anak yang terwakili oleh derai air mata bahagia dan pelukan erat penuh kasih sayang. Walmiki membiarkan sejenak ayah dan anak saling menumpahkan rindu. Dirinyapun merasa turut berbahagia menyaksikan pertemuan keluarga yang sudah lama tlah terpisah. Puji syukur dipersembahkan kepada Sang Hyang Penguasa Alam atas karunia kebahagiaan yang dilimpahkan kepada kedua pemuda kembar yang tlah dia anggap sebagai cucu-cucunya sendiri. Setelah merasa cukup, maka kemudian dia berkata kepada Rama “Cukup muridku, satu masalah telah tersolusikan dengan baik. Engkau dan anak-anakmu telah saling bertemu dan dapat saling menerima. Kini hampirilah istrimu Shinta yang telah menunggu kedatanganmu selama lima belas tahun lebih”
  • 83.
    Shinta Minulya Hlm83 Bag-13 Akhir Bahagia Sejati “Sendika dawuh Guru, tapi apa yang harus aku lakukan ?” jawab Rama terlihat bingung menentukan langkah selanjutnya yang akan dilakukannya Tersenyum bijak Walmiki menjawab “Engkau adalah seorang satria dan raja besar yang telah begitu banyak mengenyam pahit manis kehidupan. Tidak perlu aku memberikan saran sebab tentu engkau tahu apa yang harus dilakukan” “Sebenarnyalah, sungguh aku malu dan ragu untuk menjumpai istriku, Guru ?” “Mengapa harus malu dan ragu apabila kenyataan telah terungkap begitu nyata di depan matamu, muridku ?” “Telah lama hatiku membeku”
  • 84.
    Shinta Minulya Hlm84 “Apakah kedua anakmu itu tak mampu untuk membuat hatimu kembali benderang ? Apakah penjelasanku tentang istrimu, ibu dari Lawa dan Kusya, tidak engkau terima sepenuhnya ? Apakah kesepian yang engkau alami selama ini membuat hatimu membatu ?” “Baiklah, Guru, akan aku temui Shinta sekarang juga !” berupaya Rama membuang keraguan yang mengganjal langkahnya “Aku ikut, ayah !” seru Lawa seraya beranjak mendekati Rama yang kemudian diikuti oleh Kusya Namun dengan tenang Walmiki memberi saran “Sebaiknya kalian bersama kakek di sini saja. Biarlah ayah kalian menyelesaikan masalahnya sendiri” kata Walmiki sambil menggandeng tangan Lawa dan Kusya untuk menjauh dari Rama <<< ooo >>> Duduk terdiam Shinta tetap di lincak itu. Semua kejadian dapat diikuti dengan tuntas. Sejak kedatangan suaminya hingga munculnya Begawan Walmiki serta bertemunya anak-anaknya dengan ayah mereka. Entah apa yang kini tengah dirasakan oleh Sang Dewi. Baginya mungkin menghadapi derita dan menerima suka adalah sama saja. Meskipun muncul rasa lega dan senang bahwa Lawa dan Kusya telah bertemu dengan ayahnya, namun hatinya merasa biasa-biasa saja. Menyaksikan sosok suaminya yang dahulu sangat dicintai dan dibanggakan, dan mungkin sampai saat inipun masih begitu, perasaannyapun biasa-biasa saja. Apalagi memperhatikan sikap Rama yang seolah tidak “membutuhkan” dirinya lagi, semakin membuat jiwanya datar. Rentetan penderitaan yang mendera nyaris sepanjang hidupnya, membuat jiwanya semakin mengkristal untuk abaikan dunia dan keindahannya. Apakah dunia memang begitu indah untuk diabaikan ?
  • 85.
    Shinta Minulya Hlm85 Dan saat Rama kemudian telah berdiri di hadapannya, sikapnyapun tiada berubah. Tertunduk Rama berdiri di depan Shinta dengan mulut yang terkunci. Susah sekali kata keluar dari mulutnya untuk sekedar mengucap kabar atau tanya. “Apakah paduka hanya akan berdiri di depan saya saja selamanya ?” ucap Shinta menyaksikan kebekuan Rama “Oh … eh … tentu saja tidak. Bagaimana kabarmu, Dinda ?” ungkap Rama sedikit tergagap “Paduka lihat sendiri, saya dalam keadaan baik-baik saja” jawab Shinta dengan tenang Kembali Rama tiada mampu untuk memulai percakapan di hadapan istrinya. Rasa sungkan, merasa bersalah, ragu, ditambah egonya sebagai seorang suami dan seorang raja membuat mulutnya menutup rapat kata- kata yang hendak keluar. “Hendak mengapakah paduka menemui saya ?” pertanyaan Shinta membuat Rama kemudian memandang Shinta dengan hati berdebar keras “Aku mengajakmu untuk kembali ke Ayodya bersama anak-anak kita” jawab Rama datar “Untuk apa ?” “Bukankah kita adalah suami istri dan orang tua dari Lawa dan Kusya ?” “Apakah ucapan itu timbul dari kesadaran paduka sendiri ?” “Mengapa engkau berkata begitu seolah meragukanku” “Hatiku kini begitu bening, paduka” “Maksudmu engkau ragu terhadap apa yang telah aku katakan tadi” sedikit meninggi ucapan Rama lantaran merasa diragukan ketulusan kata-katanya “Saya kembalikan ke paduka sendiri untuk menilainya” dengan tetap tenang Shinta menjawab “Apakah engkau tidak mencintai aku lagi ?”
  • 86.
    Shinta Minulya Hlm86 “Apakah paduka masih mencintai saya ?” dengan berani Shinta balik bertanya kepada Rama Rama begitu gemas mengalami percakapan yang sebenarnya tidak diharapkannya ini. Sosok Shinta yang dahulu begitu diakrabinya, seakan menjadi sosok asing yang baru saja dikenalnya. “Jadi sekarang apa maumu” seperti bergumam Rama melontarkan tanya “Seperti yang tadi saya sampaikan, hati nurani saya mengatakan bahwa masih ada keraguan di dasar hati paduka terhadap diri saya. Dan ego paduka masih begitu kuat mencengkeram diri dan hati sehingga rasa sesal dan kata maafpun tiada bisa terungkap. Saya tidak mengharapkan semua itu paduka lakukan demi saya selaku istri paduka, namun ketulusan cinta dan saling percaya sepertinya tidak bisa kembali seperti semula. Biarlah saya memaknai dan menikmati tulusnya cinta dengan bersendirian” “Apa maksudmu ?” “Saya relakan Lawa dan Kusya ikut bersama paduka namun biarkanlah saya berdiam di sini saja menunggu datangnya kedamaian abadi yang sebentar lagi bakal menjemput.” Sungguh tenang dan tegas jawaban Shinta atas keputusannya. “Apakah itu adalah sebuah keputusan yang baik untuk seorang istri yang tak mengindahkan permintaan suaminya ?” “Bagaimana dengan diri istrimu yang engkau abaikan juga selama lebih dari lima belas tahun ?” bantah Shinta tenang menyerang balik “Okee … !!! Hal itu adalah kesalahan dariku dan oleh karenanya aku minta maaf !!! Sedikit berteriak Rama menjawab mengungkapkan kesal Permintaan maaf yang “terpaksa” dari suaminya membuat Shinta tersenyum perih “Baiklah, saya akan ikut dengan paduka. Beri waktu kepada saya untuk berkemas”
  • 87.
    Shinta Minulya Hlm87 Dan tanpa menunggu jawaban, Shinta segera masuk ke dalam rumah. Namun bukan menuju kamarnya untuk berbenah, melainkan bergegas keluar lewat pintu belakang. Setengah berlari Shinta berusaha menjauhi rumah yang telah dihuni bersama anak-anaknya lima belas tahun lamanya, untuk menjauhi suaminya. Hatinya telah condong akan keputusan sebelumnya bahwa kembali bersatu dengan suaminya adalah bukan keputusan yang baik. Disadari bahwa kini dirinya merindukan kebahagiaan sejati. Kebahagiaan yang tak dipengaruhi oleh kasih sayang suami dan anak-anak. Kebahagiaan yang tak tergantung tingginya kehormatan dunia dan gemerlap harta benda. Kebahagiaan yang disebabkan lantaran terang bagaskara, semilir sang bayu dan sejuknya bening air telaga. Ya … Kebahagiaan sejati ! Kedamaian yang selalu dipinta kepada Sang Hyang Penguasa Semesta untuk segera dinikmatinya. Terus berjalan membelah hutan Shinta tak peduli keadaan sekitarnya. Tak peduli arah, tak peduli kemana kaki melangkah. Yang ada dalam pikirannya hanyalah satu tujuan yang ingin segera digapainya. Dan hati kecilnya mengatakan bahwa sebentar lagi saat itu segera tiba. <<< ooo >>> Sementara itu Rama yang tengah berdiri menunggu di depan rumah, mulai gelisah. Cukup lama yang ditunggu tak muncul-muncul di ambang pintu. Masak berbenah memerlukan waktu begitu lama, sih ? Kecurigaan mulai menghinggapinya. Akhirnya Rama kemudian memasuki rumah setelah mengucap salam terlebih dahulu. Dan yang di temui adalah rumah yang kosong ! Tidak ada sosok Shinta di dalamnya. Di palingkan wajahnya menuju pintu rumah belakang yang terbuka. Dan yakinlah dia bahwa Shinta telah melarikan diri menghindar darinya lewat pintu belakang itu. “Sungguh keterlaluan kamu, Shinta ! Teganya dirimu memperdayai suamimu sendiri !” gumam Rama marah seraya segera meloncat keluar rumah membuntuti jejak yang ditinggalkan Shinta.
  • 88.
    Shinta Minulya Hlm88 Seberapa cepat sih langkah seorang perempuan ? Apalagi dia berjalan di hutan dengan tidak bertujuan. Maka tidak lama kemudian Rama telah mendekati jarak dengan Shinta. Dari jauh terlihat oleh Rama punggung Shinta yang tengah berjalan lurus. Pandangan tak terhalang karena saat itu yang dilaluinya adalah sebuah padang rumput yang cukup luas. Shinta bukan tidak tahu bahwa Rama telah dekat menyusulnya. Namun anehnya, bukannya gelisah atau kuatir, malah hatinya semakin tenang. Wajah nan ayu terlihat begitu tenang dan cemerlang, tak ada rasa was- was barang secuilpun. Jiwanya telah dipasrahkan total kepada Tuhannya. Tanpa tersisa sedikitpun. Seolah tak ada lagi siapapun selain dirinya dengan DIA. Dan seolah waktu berhenti beberapa saat untuk memberikan kesempatan kepada Shinta untuk berpinta dan bermesra dengan Sang Pencipta. Dan Ramapun merasakan keanehan yang nyata. Dia telah melihat sosok Shinta, namun saat berlari cepat untuk mendekat, kenyataannya jarak dengan istrinya itu tetap saja. Tak mampu dia untuk meraihnya seperti ada kekuatan gaib yang menahan dirinya mendekati Shinta. Hati Ramapun gundah. Kekuatan itu seolah menahan gerakannya, bahkan kemudian dirasakan sekujur tubuhnya menghangat seperti dialiri kekuatan yang membuka kenangan silam. Tiba-tiba slide show gambaran kemesraan antara diri dan istrinya kala terbuang ke hutan Dandaka, bergerak terpampang satu demi satu bergiliran. Rasa rindu lalu menghunjam. Rasa cinta seketika memenuhi dada. Dan kemudian muncul kekawatiran akan kehilangan. Ya … tiba-tiba tanda disadari rasa penyesalan menyeruak ke depan. Disesali kebodohan diri … duhai apa yang aku lakukan terhadap istriku sendiri yang begitu mulia sehingga aku semena-mena menyiksanya atas alasan yang tidak jelas dan mengada-ada ! Sesal berujung harap. Harap untuk mengulang kebahagiaan bersanding dengan orang yang dicinta. Oleh karena dikerahkan tenaga dan kecepatan untuk mendekati Shinta seraya bergetar berteriak “Shinta ! Shinta kekasihku, tunggu aku di sana !”
  • 89.
    Shinta Minulya Hlm89 Dan kini semakin dekat Rama berjalan ke arah Shinta “Dinda Shinta ! Mari kita merenda cinta kita lagi. Bukankah katamu, cintamu kepadaku tiada pernah pudar ? Seperti mendengar suara yang begitu diakrabi dan dinantinya, maka berbaliklah Shinta menghadap Rama dengan memberikan senyuman yang luar biasa indahnya Rama terpana … namun betapa terkejut dirinya saat hendak menggapai tangan Kekasihnya itu, tiba-tiba dari dalam tanah muncul seperti sepasang tangan yang secepat kilat menangkap tubuh Shinta dan dalam hitungan mikro detik telah hilang dalam pandangan … Awalnya Rama hanya terpaku saja atas kejadian yang luar biasa tadi … Namun campur aduknya pikiran antara sesal, sedih, rindu, cinta membuat luapan emosi yang tak tertahan … Dengan teriakan membahana memecah hutan, dipukulnya tanah tempat kekasihnya hilang tadi “Dewata ! Sungguh Engkau tak Adil ! Kau rengut kekasihku tepat di hadapanku !!! Lubang besar menganga tercipta dari hantaman tangan seorang manusia digdaya yang terluka “Aku memang bodoh ! Aku memang picik ! Aku memang egois ! Dewata, apakah engkau tidak mengasihaniku ?! Entah tangisan, entah erangan, entah suara hati yang lara yang terdengar dari mulut Rama yang terlihat begitu kusut duduk bersimpuh di pinggir lubang. Badannya lunglai, pandangan matanya kosong, seperti tak berbekas kewibawaan seorang raja besar Ayodya. Tiba-tiba seseorang menyentuh lembut pundaknya seraya berujar “Dewata telah berkehendak demikian. Itu namanya takdir dan engkau tidak akan pernah mampu merubahnya. Seharusnya engkau berbahagia karena kekasihmu telah menemui kebahagiaan sejati. Engkaupun kelak
  • 90.
    Shinta Minulya Hlm90 akan memperolehnya, tapi bersabarlah. Kini kewajibanmu adalah membimbing anak-anakmu menjalani darma satria, menciptakan dan mendukung kebaikan dunia dan memberantas angkara. Bangkitlah, muridku !” Suara lembut orang tua yang ternyata Begawan Walmiki, membawa kembali pikirannya ke alam nyata. Seketika bersujut dia di kaki Guru yang begitu dihormatinya itu seraya menumpahkan segala kesedihan, penyesalan dan deritanya. (Tancep Kayon)