NEMATODA
Heni Purmiasih Rahayu,
Amd.AK,SKM
Nemathelminthe
s
Platyhelminthes
Nematoda Usus Nematoda Jaringan
Trematoda Cestoda
Protozoa
Helminth Arthropoda
- Rhizopoda
- Mastigophora = Flagellata
- Ciliophora = Ciliata
- Sporozoa
PARASITOLOGI
Helmintologi
Nemathelminthe
s
Platyhelminthes
Nematoda Usus
Nematoda
Jaringan
Trematod
a
Cestoda
STH Non STH
PENGGOLONGAN
NEMATODA
Menurut Tempat Hidupnya :
1. Nematoda Intestinalis (usus)
2. Nematoda Jaringan/darah
LANJUTAN
1. Nematoda Intestinalis
a. Ascaris lumbricoides (cacing gelang)
b. Trichuris trichura (cacing cambuk)
c. Oxyuris vermicularis (cacing kremi)
d. Ancylostoma duodenale dan Necator
americanus (cacing tambang)
e. Trichinella spiralis (cacing otot)
LANJUTAN
2. Nematoda jaringan/darah
a. Wuchereria bancrofti (cacing filaria)
b. Brugia malayi (cacing filaria malayi)
c. Brugia timori (cacing filaria timori)
d. Manzonella ozzardi
e. Onchocerca volvulus (agent of river
blindness)
f. Loa - loa
LANJUTAN
Nematoda intestinal (usus)
1. STH (soil transmitted helmint)
2. NSTH (non soil trasmitted helmint)
Ascaris lumbricoides
Morfologi
1. Cacing dewasa
Jantan : 10-31 cm
Betina : 22 – 35 cm
2. Cacing betina ovipar
3. Telur :100.000 – 200.000/hari/cacing
Tricuris trichiura
Morfologi
1. Cacing dewasa
Jantan : 4 cm
Betina : 5 cm
2. Produksi telur 3.000 – 10.000/hari
3. Telur : bentuk seperti tempayan
Ancylostoma duodenale
dan Necator americanus
Morfologi
1. Ancylostoma duodenale
a. Panjang 1 cm
b. Bentuk seperti huruf C
c. Cacing betina ovipar dan menghasilkan telur
10.000/hari/cacing
2. Necator americanus
a. Panjang 1 cm
b. Bentuk seperti huruf S
c. Cacing betina ovipar dan menghasilkan telur
9.000/hari/cacing
Strongyloides
stercorallis
Morfologi
1. Cacing betina : 1 mm
2. Cacing jantan : 0,7 mm
3. Bertelur 2 -8/hari sesudah infeksi
4. Telur mirip cacing tambang
5. Bentuk infektif : Larva filariform
LANJUTAN
Risiko untuk terinfeksi cacing gelang akan
meningkat pada aktivitas yang banyak
bersentuhan dengan tanah, seperti:
1. Berjalan tanpa alas kaki
2. Kontak dengan kotoran manusia atau
saluran pembuangan kotoran.
3. Pekerjaan yang membutuhkan kontak
langsung dengan tanah seperti pertanian dan
penambangan batubara
4. Orang yang bepergian ke negara tropis
5. Hidup atau bepergian ke daerah pedesaan,
daerah dengan kondisi sanitasi yang buruk
6. Mempunyai kebersihan diri yang buruk
LANJUTAN
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
1. Aspirasi duodenum. dokter akan mengambil cairan dari usus
dua belas jari (duodenum) dan usus halus. Mereka akan
memeriksa cairan dibawah mikroskop untuk melihat
adanya S stercoralis
2. Kultur dahak. Dokter dapat menggunakan sputum
culture untuk menganalisis cairan dari paru-paru atau saluran
pernafasan untuk mencari S stercoralis
3. Sampel feses untuk mendeteksi telur dan parasit. Dokter
dapat menggunakan sampel feses untuk mengecek
larva S stercoralis di feses. Penderita mungkin harus mengulang
pemeriksaan ini untuk mendapatkan hasil yang akurat
4. Pemeriksaan darah lengkap dan komponen darah
pelengkapnya. Pemeriksaan darah lengkap dengan
komponennya dapat membantu menyingkirkan penyebab
penyakit lainnya.
Ascaris
lumbricoides
Trichuris trichiura (Ancylostoma
duodenale dan
Necator
americanus)
Strongyloides
stercoralis
Hospes: Manusia Hospes : Manusia Hospes : Manusia Hospes :Manusia
Penyakit : askariasis
Habitat : usus halus
Penyakit : trikuriasis
Habitat : usus besar,
sekum dan apendiks
Penyakit :
nekatoriasis dan
ankilostomiasis
Hospes reservoir :
anjing dan primata.
Distribusi geografis :
Kosmopolit didaerah
tropis terutama pada
anak-anak
Di Indonesia
prevalensinya 60
– 90 %
Distribusi Geografis:
Kosmopolit terutama
daerah iklim panas
dan lembab
Distribusi Geografis:
Daerah katulistiwa,
pertambangan dan
perkebunan.
Prevalensi di
Indonesia sekitar
40%
Distribusi Geografis:
Kosmopolit
terutama daerah
iklim panas dan
kelembapan tinggi
Soil Transmitted Helminth
Morfologi
Ascaris
lumbricoides
Trichuris trichiura Ancylostoma
duodenale dan
Necator americanus
Strongyloides
stercorallis
Siklus Hidup Ascaris lumbricoides
LANJUTAN
Telur matang (isi larva) tertelan
menetas di usus halus larva
menembus dinding usus halus
pembuluh darah jantung paru-paru
menembus dinding pembuluh darah
alveolus trakea masuk ke esofagus
usus halus menjadi dewasa
Siklus hidup Trichuris
trichiura
LANJUTAN
Telur infektif tertelan larva masuk
usus halus cacing dewasa menuju
usus besar (sekum dan kolon)
Siklus Hidup Cacing Tambang
LANJUTAN
Telur dikeluarkan bersama
tinja di tanah menetas
menjadi larva rabditiform
larva filariform menembus
kulit kapiler darah
jantung,paru2,bronkus,trakea
laring usus halus
Siklus hidup Strongiloides sercoralis
LANJUTAN
cacing Strongyloides menembus kulit dan masuk ke aliran
darah Cacing bergerak melalui aliran darah dan masuk ke
dalam paru-paru Cacing naik dari paru-paru melalui
kerongkongan hingga ke dalam mulut dan tertelan masuk ke
dalam perut Cacing bergerak menuju usus halus Cacing
bertelur di usus halus yang kemudian menetas menjadi larva
Larva cacing dapat dibuang bersama feses dan menjadi cacing
dewasa yang dapat menginfeksi orang lain
Larva cacing dapat juga masuk kembali dengan menembus kulit
di sekitar anus (autoinfeksi).
Patologi dan gejala klinis
Ascaris
lumbricoides
Trichuris trichiura Cacing tambang Strongyloides
stercoralis
Cacing dewasa:
Gangguan usus ringan
Infeksi ringan : tanpa
gejala
Infeksi berat, terutama
pada anak
Stadium larva : Pada
kulit :
a)spesies dan jumlah
cacing
b)keadaan gizi (Fe
dan protein.
Anemia mikrositer
hipokrom
Larva menembus kulit □
creeping urticarial
eruption, serpiginous
yang disebut larva
currens
Infeksi berat :
malabsorbsi yang
memperberat
malnutrisi
Ileus
Infeksi ektopik ke
Ditemukan cacing di
seluruh colon dan
rektum
Prolapsus rekti
Sindroma disentri
anemia.
Cacing dewasa Ringan□
tanpa gejala
Sedang □ gejala
gastrointestinal.
Pada hyperinfeksi cacing
dewasa dapat ditemukan
di seluruh traktus
empedu, appendix digestivus dan larvanya
atau bronkus. dapat ditemukan di
berbagai alat dalam (paru,
hati, ktg. empedu)---□
disseminata
(imunocompromise)
Pada pemeriksaan darah
□ eosinofilia/
hipereosinofilia.
Infeksi berat □ kematian
Ascaris
lumbricoides
Trichuris trichiura Cacing tambang Strongyloides
stercoralis
Menemukan telur
dalam tinja
■Pada pemeriksaan
langsung
■Pada pemeriksaan
konsentrasi
Menemukan
telur dalam tinja
Menemukan telur
dalam tinja segar
Menemukan larva
rhabditiform dalam
tinja segar, teknik
sedimentasi atau
dalam biakan atau
dalam aspirasi
duodenum.
Diagnosis
Ascaris
lumbricoides
Trichuris trichiura Cacing tambang Strongyloides
stercoralis
Perorangan atau
masal pada
masyarakat
Obat-obat :
Piperasin
Pirantel
pamoat
Mebendazol
Mebendazol
Albendazol
Oksantel
pamoat
Pirantel pamoat
Mebendazol
Albendazol
Mebendazol
Albendazol
Pengobatan
Epidemiologi
Soil Transmitted Helminths
Pola penyebaran hampir sama antara :
❑ Ascaris lumbricoides dan Trichuris
trichiura
❑ Cacing tambang dan Strongyloides
stercoralis
■ Faktor-faktor yang mempengaruhi tingginya
infeksi :
❑ Usia :
■ Golongan rawan : anak balita
■ Termuda :
❑ Infeksi Ascaris : 16 minggu
❑ Infeksi Trichuris : 41 minggu
❑ Lingkungan :
■ Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura□tanah liat
■ Cacing tambang dan Strongyloides stercoralis □ tanah
gembur berpasir.
Pencegahan dan Pemberantasan
1. Memutuskan rantai daur hidup dengan
cara:
● Berdefekasi di kakus
● Menjaga kebersihan
● Pengobatan masal
2. Penyuluhan kepada masyarakat tentang sanitasi
lingkungan.
Non soil transmitted helminth
■ Enterobius(Oxyuris) vermicularis
(cacing keremi)
❑ Hospes : Manusia
❑ Penyakit : Enterobiasis
❑ Penyebaran Geografik :
■ kosmopolit,
■ daerah dingin > daerah panas.
■ Ditunjang oleh hubungan erat antar manusia satu
dengan yang lain.
Morfologi dan Daur Hidup
■ Cacing dewasa:
❑ Pada ujung anterior
ada cephalic alae
❑ Cacing betina : 8-13 mm x
0,4 mm
■ Ekor panjang dan runcing
■ Uterus penuh dengan telur
■ yg gravid
mengandung
11.000-15.000 telur
■ Migrasi ke daerah
perianal untuk bertelur,
lalu mati.
❑ Cacing jantan : 2-5 mm
■ Ekor melingkar
■ Mati setelah kopulasi
(kawin)
■ Cara infeksi :
❑ tertelan telur matang
❑ Retroinfeksi (larva/telur menetas didekat anus dan masuk
kembali kedalam usus besar dan tumbuh dewasa
❑ Autoinfeksi (infeksi yang didapat dan bersumber dari diri
sendiri) contoh :memakan makanan yang mengandung
cacing
■ Waktu untuk daur hidup kira-kira 2 minggu sampai 2 bulan
Daur hidup
Enterobius vermicularis
LANJUTAN
1. infeksi terjadi ketika seseorang menggaruk
daerah anus dan tidak sengaja menelan telur
yang berembrio.
2. Penularan dari manusia ke manusia juga terjadi
melalui pakaian, sprei yang terinfeksi, dan
berbagai cara lainnya.
3. Setelah telur berembrio tertelan, telur tersebut
menetas menjadi larva di usus halus.
4. Larva berkembang menjadi dewasa pada
daerah sekum (kantong pada usus besar dekat
usus buntu).
5. Cacing dewasa yang “hamil” berpindah ke
daerah sekitar anus untuk bertelur saat malam
hari. Saat bertelur inilah yang menimbulkan
rasa gatal pada inang.
Patologi dan gejala klinis
■ Gejala klinis utama : pruritus
lokal (anus.
Perineum,vagina)
Diagnosis
■ Menemukan telur dengan
anal swab
■ Menemukan cacing dewasa
yang keluar anus.
Pengobatan dan prognosis
■ Piperazin
■ Pirvinium pamoat
■ Mebendazol dan pirvinium pamoat efektif thd
semua stadium
■ Pirantel dan piperazin
■ Tiabendazol
Epidemiologi
■ Penyebaran lebih luas daripada cacing lain
■ Penularan terjadi antar keluarga dan
kelompok dalam satu lingkungan yang sama
■ Penularan dipengaruhi oleh :
❑ Penularan dari tangan ke mulut
❑ Debu
❑ Retrofeksi (terjadi jika telur-telur di sekitar anus
menetas dan masuk kembali ke usus besar)
melalui anus
Trichinella spiralis
Morfologi
1. Cacing jantan dewasa
berukuran 1,4 - 1,6 mm x
0,06 mm
2. Cacing betina dapat
mencapai 4 mm.
3. Cacing betina vivipar
4. Penyakit Trikinosis
Usus converted

Usus converted

  • 1.
  • 2.
    Nemathelminthe s Platyhelminthes Nematoda Usus NematodaJaringan Trematoda Cestoda Protozoa Helminth Arthropoda - Rhizopoda - Mastigophora = Flagellata - Ciliophora = Ciliata - Sporozoa PARASITOLOGI
  • 3.
  • 4.
    PENGGOLONGAN NEMATODA Menurut Tempat Hidupnya: 1. Nematoda Intestinalis (usus) 2. Nematoda Jaringan/darah
  • 5.
    LANJUTAN 1. Nematoda Intestinalis a.Ascaris lumbricoides (cacing gelang) b. Trichuris trichura (cacing cambuk) c. Oxyuris vermicularis (cacing kremi) d. Ancylostoma duodenale dan Necator americanus (cacing tambang) e. Trichinella spiralis (cacing otot)
  • 6.
    LANJUTAN 2. Nematoda jaringan/darah a.Wuchereria bancrofti (cacing filaria) b. Brugia malayi (cacing filaria malayi) c. Brugia timori (cacing filaria timori) d. Manzonella ozzardi e. Onchocerca volvulus (agent of river blindness) f. Loa - loa
  • 7.
    LANJUTAN Nematoda intestinal (usus) 1.STH (soil transmitted helmint) 2. NSTH (non soil trasmitted helmint)
  • 8.
    Ascaris lumbricoides Morfologi 1. Cacingdewasa Jantan : 10-31 cm Betina : 22 – 35 cm 2. Cacing betina ovipar 3. Telur :100.000 – 200.000/hari/cacing
  • 9.
    Tricuris trichiura Morfologi 1. Cacingdewasa Jantan : 4 cm Betina : 5 cm 2. Produksi telur 3.000 – 10.000/hari 3. Telur : bentuk seperti tempayan
  • 10.
    Ancylostoma duodenale dan Necatoramericanus Morfologi 1. Ancylostoma duodenale a. Panjang 1 cm b. Bentuk seperti huruf C c. Cacing betina ovipar dan menghasilkan telur 10.000/hari/cacing 2. Necator americanus a. Panjang 1 cm b. Bentuk seperti huruf S c. Cacing betina ovipar dan menghasilkan telur 9.000/hari/cacing
  • 11.
    Strongyloides stercorallis Morfologi 1. Cacing betina: 1 mm 2. Cacing jantan : 0,7 mm 3. Bertelur 2 -8/hari sesudah infeksi 4. Telur mirip cacing tambang 5. Bentuk infektif : Larva filariform
  • 12.
    LANJUTAN Risiko untuk terinfeksicacing gelang akan meningkat pada aktivitas yang banyak bersentuhan dengan tanah, seperti: 1. Berjalan tanpa alas kaki 2. Kontak dengan kotoran manusia atau saluran pembuangan kotoran. 3. Pekerjaan yang membutuhkan kontak langsung dengan tanah seperti pertanian dan penambangan batubara 4. Orang yang bepergian ke negara tropis 5. Hidup atau bepergian ke daerah pedesaan, daerah dengan kondisi sanitasi yang buruk 6. Mempunyai kebersihan diri yang buruk
  • 13.
    LANJUTAN PEMERIKSAAN LABORATORIUM 1. Aspirasiduodenum. dokter akan mengambil cairan dari usus dua belas jari (duodenum) dan usus halus. Mereka akan memeriksa cairan dibawah mikroskop untuk melihat adanya S stercoralis 2. Kultur dahak. Dokter dapat menggunakan sputum culture untuk menganalisis cairan dari paru-paru atau saluran pernafasan untuk mencari S stercoralis 3. Sampel feses untuk mendeteksi telur dan parasit. Dokter dapat menggunakan sampel feses untuk mengecek larva S stercoralis di feses. Penderita mungkin harus mengulang pemeriksaan ini untuk mendapatkan hasil yang akurat 4. Pemeriksaan darah lengkap dan komponen darah pelengkapnya. Pemeriksaan darah lengkap dengan komponennya dapat membantu menyingkirkan penyebab penyakit lainnya.
  • 14.
    Ascaris lumbricoides Trichuris trichiura (Ancylostoma duodenaledan Necator americanus) Strongyloides stercoralis Hospes: Manusia Hospes : Manusia Hospes : Manusia Hospes :Manusia Penyakit : askariasis Habitat : usus halus Penyakit : trikuriasis Habitat : usus besar, sekum dan apendiks Penyakit : nekatoriasis dan ankilostomiasis Hospes reservoir : anjing dan primata. Distribusi geografis : Kosmopolit didaerah tropis terutama pada anak-anak Di Indonesia prevalensinya 60 – 90 % Distribusi Geografis: Kosmopolit terutama daerah iklim panas dan lembab Distribusi Geografis: Daerah katulistiwa, pertambangan dan perkebunan. Prevalensi di Indonesia sekitar 40% Distribusi Geografis: Kosmopolit terutama daerah iklim panas dan kelembapan tinggi Soil Transmitted Helminth
  • 15.
    Morfologi Ascaris lumbricoides Trichuris trichiura Ancylostoma duodenaledan Necator americanus Strongyloides stercorallis
  • 16.
  • 17.
    LANJUTAN Telur matang (isilarva) tertelan menetas di usus halus larva menembus dinding usus halus pembuluh darah jantung paru-paru menembus dinding pembuluh darah alveolus trakea masuk ke esofagus usus halus menjadi dewasa
  • 18.
  • 19.
    LANJUTAN Telur infektif tertelanlarva masuk usus halus cacing dewasa menuju usus besar (sekum dan kolon)
  • 20.
  • 21.
    LANJUTAN Telur dikeluarkan bersama tinjadi tanah menetas menjadi larva rabditiform larva filariform menembus kulit kapiler darah jantung,paru2,bronkus,trakea laring usus halus
  • 22.
  • 23.
    LANJUTAN cacing Strongyloides menembuskulit dan masuk ke aliran darah Cacing bergerak melalui aliran darah dan masuk ke dalam paru-paru Cacing naik dari paru-paru melalui kerongkongan hingga ke dalam mulut dan tertelan masuk ke dalam perut Cacing bergerak menuju usus halus Cacing bertelur di usus halus yang kemudian menetas menjadi larva Larva cacing dapat dibuang bersama feses dan menjadi cacing dewasa yang dapat menginfeksi orang lain Larva cacing dapat juga masuk kembali dengan menembus kulit di sekitar anus (autoinfeksi).
  • 24.
    Patologi dan gejalaklinis Ascaris lumbricoides Trichuris trichiura Cacing tambang Strongyloides stercoralis Cacing dewasa: Gangguan usus ringan Infeksi ringan : tanpa gejala Infeksi berat, terutama pada anak Stadium larva : Pada kulit : a)spesies dan jumlah cacing b)keadaan gizi (Fe dan protein. Anemia mikrositer hipokrom Larva menembus kulit □ creeping urticarial eruption, serpiginous yang disebut larva currens Infeksi berat : malabsorbsi yang memperberat malnutrisi Ileus Infeksi ektopik ke Ditemukan cacing di seluruh colon dan rektum Prolapsus rekti Sindroma disentri anemia. Cacing dewasa Ringan□ tanpa gejala Sedang □ gejala gastrointestinal. Pada hyperinfeksi cacing dewasa dapat ditemukan di seluruh traktus empedu, appendix digestivus dan larvanya atau bronkus. dapat ditemukan di berbagai alat dalam (paru, hati, ktg. empedu)---□ disseminata (imunocompromise) Pada pemeriksaan darah □ eosinofilia/ hipereosinofilia. Infeksi berat □ kematian
  • 25.
    Ascaris lumbricoides Trichuris trichiura Cacingtambang Strongyloides stercoralis Menemukan telur dalam tinja ■Pada pemeriksaan langsung ■Pada pemeriksaan konsentrasi Menemukan telur dalam tinja Menemukan telur dalam tinja segar Menemukan larva rhabditiform dalam tinja segar, teknik sedimentasi atau dalam biakan atau dalam aspirasi duodenum. Diagnosis
  • 26.
    Ascaris lumbricoides Trichuris trichiura Cacingtambang Strongyloides stercoralis Perorangan atau masal pada masyarakat Obat-obat : Piperasin Pirantel pamoat Mebendazol Mebendazol Albendazol Oksantel pamoat Pirantel pamoat Mebendazol Albendazol Mebendazol Albendazol Pengobatan
  • 27.
    Epidemiologi Soil Transmitted Helminths Polapenyebaran hampir sama antara : ❑ Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura ❑ Cacing tambang dan Strongyloides stercoralis
  • 28.
    ■ Faktor-faktor yangmempengaruhi tingginya infeksi : ❑ Usia : ■ Golongan rawan : anak balita ■ Termuda : ❑ Infeksi Ascaris : 16 minggu ❑ Infeksi Trichuris : 41 minggu ❑ Lingkungan : ■ Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura□tanah liat ■ Cacing tambang dan Strongyloides stercoralis □ tanah gembur berpasir.
  • 29.
    Pencegahan dan Pemberantasan 1.Memutuskan rantai daur hidup dengan cara: ● Berdefekasi di kakus ● Menjaga kebersihan ● Pengobatan masal 2. Penyuluhan kepada masyarakat tentang sanitasi lingkungan.
  • 30.
    Non soil transmittedhelminth ■ Enterobius(Oxyuris) vermicularis (cacing keremi) ❑ Hospes : Manusia ❑ Penyakit : Enterobiasis ❑ Penyebaran Geografik : ■ kosmopolit, ■ daerah dingin > daerah panas. ■ Ditunjang oleh hubungan erat antar manusia satu dengan yang lain.
  • 31.
    Morfologi dan DaurHidup ■ Cacing dewasa: ❑ Pada ujung anterior ada cephalic alae ❑ Cacing betina : 8-13 mm x 0,4 mm ■ Ekor panjang dan runcing ■ Uterus penuh dengan telur ■ yg gravid mengandung 11.000-15.000 telur ■ Migrasi ke daerah perianal untuk bertelur, lalu mati.
  • 32.
    ❑ Cacing jantan: 2-5 mm ■ Ekor melingkar ■ Mati setelah kopulasi (kawin) ■ Cara infeksi : ❑ tertelan telur matang ❑ Retroinfeksi (larva/telur menetas didekat anus dan masuk kembali kedalam usus besar dan tumbuh dewasa ❑ Autoinfeksi (infeksi yang didapat dan bersumber dari diri sendiri) contoh :memakan makanan yang mengandung cacing ■ Waktu untuk daur hidup kira-kira 2 minggu sampai 2 bulan
  • 33.
  • 34.
    LANJUTAN 1. infeksi terjadiketika seseorang menggaruk daerah anus dan tidak sengaja menelan telur yang berembrio. 2. Penularan dari manusia ke manusia juga terjadi melalui pakaian, sprei yang terinfeksi, dan berbagai cara lainnya. 3. Setelah telur berembrio tertelan, telur tersebut menetas menjadi larva di usus halus. 4. Larva berkembang menjadi dewasa pada daerah sekum (kantong pada usus besar dekat usus buntu). 5. Cacing dewasa yang “hamil” berpindah ke daerah sekitar anus untuk bertelur saat malam hari. Saat bertelur inilah yang menimbulkan rasa gatal pada inang.
  • 35.
    Patologi dan gejalaklinis ■ Gejala klinis utama : pruritus lokal (anus. Perineum,vagina) Diagnosis ■ Menemukan telur dengan anal swab ■ Menemukan cacing dewasa yang keluar anus.
  • 36.
    Pengobatan dan prognosis ■Piperazin ■ Pirvinium pamoat ■ Mebendazol dan pirvinium pamoat efektif thd semua stadium ■ Pirantel dan piperazin ■ Tiabendazol
  • 37.
    Epidemiologi ■ Penyebaran lebihluas daripada cacing lain ■ Penularan terjadi antar keluarga dan kelompok dalam satu lingkungan yang sama ■ Penularan dipengaruhi oleh : ❑ Penularan dari tangan ke mulut ❑ Debu ❑ Retrofeksi (terjadi jika telur-telur di sekitar anus menetas dan masuk kembali ke usus besar) melalui anus
  • 38.
    Trichinella spiralis Morfologi 1. Cacingjantan dewasa berukuran 1,4 - 1,6 mm x 0,06 mm 2. Cacing betina dapat mencapai 4 mm. 3. Cacing betina vivipar 4. Penyakit Trikinosis