TUGAS PAPER
PRAKTEK LAPANG MARIKULTUR
“PEMBESARAN IKAN KERAPU, IKAN BANDENG DAN IKAN
BARONANG DI KERAMBA JARING APUNG UPTD PPBLP
KAB. BARRU”
OLEH :
NAMA : FAIZAL
STAMBUK : L221 12 602
KELOMPOK : V (LIMA)
ASISTEN : MUH. FAWZUL KABIR
PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN
JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2015
PEMBAHASAN
1. PEMILIHAN LOKASI KJA
Pada praktik kerja lapang terpadu yang telah dilaksanakan di
Kabupaten Barru, telah dilakukan kegiatan berupa kunjungan di Instansi
Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Budidaya Laut dan Pesisir yang
terletak Malanselase, Kabupaten Barru. Pada instansi ini, kegiatan yang
dilakukan berupa budidaya ikan di Keramba Jaring Apung (KJA) yang
dilakukan sejak tahun 1980 an. Alasan instansi ini menggunakan KJA yaitu
karena mudah dikontrol dan tidak membutuhkan banyak peralatan/teknologi
lainnya karena pada sistem KJA masih berpaparan langsung dengan alam.
Pada budidaya KJA di lokasi ini terdapat 12 buah jumlah petakan KJA
yang berukuran 4 x 4 m untuk 2 buah KJA. Adapun peralatan yang digunakan
pada kegiatan budidaya ini yaitu waring, pelampung, jangkar, pemberat, kayu,
jaring dan perahu. Untuk ukuran mata jaring yang digunakan yaitu 0,5-1 cm
sebanyak 2 lapis dengan kedalaman jaring yaitu 3 m. Pelampung yang
digunakan sebanyak 24 buah. Pelampung berguna agar KJA tetap terapung
dan berada di permukaan. Pemberat dan jangkar berfungsi agar KJA tidak
terbawa oleh arus maupun gelombang. Kayu berfungsi sebagai rangka KJA,
waring berfungsi sebagai wadah untuk organisme yang dibudidayakan dan
perahu digunakan sebagai alat transportasi.
Budidaya KJA memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan
menggunakan KJA yaitu kualitas air budidaya mudah dikontrol namun juga
memiliki kekurangan yaitu rentan terhadap adanya pencemaran yang akan
berdampak langsung terhadap organisme yang dibudidaya.
Untuk perawatan dan pembersihan KJA dilakukan sebanyak 1 kali
dalam seminggu dengan cara menyiapkan kolam kosong untuk memindahkan
organisme budidaya.Setelah ikan-ikan dipindahkan ke wadah yang lain
kemudian jaring diangkat dan disikat kemudian dijemur hingga kering.
Organisme yang dibudidaya ada 3 yaitu Ikan Bandeng, Ikan Baronang
dan Ikan Kerapu Tikus. Alasan instansi ini memilih organisme tersebut untuk
dibudidayakan karena pertumbuhannya cepat serta memiliki nilai ekonomis
tinggi.
Sumber benih berasal dari Bali dan Lampung. Jumlah padat tebar yang
digunakan untuk ikan kerapu yaitu 50-60 ekor/m2
, ikan Baronang 60-80
ekor/m2
sedangkan ikan Bandeng padat tebarnya yaitu 80-100 ekor/m2
. Lama
pemeliharaan untuk ikan kerapu tikus yaitu selama 8 bulan, untuk ikan
Baronang selama 4-5 bulan sedangkan untuk ikan Bandeng selama 4-5 bulan.
Saat budidaya berlangsung biasanya dihadapi kendala-kendala selama
pemeliharaan yaitu pencemaran oleh logam berat seperti besi, Mg dan Fe
selain itu adanya arus yang kuat pada waktu tertentu.
Pakan yang biasa diberikan selama budidaya ada dua yaitu dari jenis
pakan alami dan pakan buatan. Pakan alami yang digunakan berupa ikan
rucah dan pakan buatan berupa pellet dengan merek japfa. Frekuensi
pemberian pakan dilakukan sebanyak 2 kali sehari dengan dosis 15-20% dari
bobot tubuh ikan.
Untuk kualitas air pada media budidaya diantaranya yaitu untuk kisaran
suhu yang digunakan 28-300
C, salinitas 30-32 ppt, oksigen terlarut 4-5 ppm
dan pH air 6-7,5. Adapun hama dan penyakit yang biasa menyerang
organisme budidaya yaitu hama berupa kepiting dan penyakit berupa parasite
dan bakteri. Untuk menangani hal tersebut dapat dilakukan penanggulangan
dengan cara melakukan karantina terhadap ikan yang terinfeksi.
Pada panen dan pemasaran hasil budidaya dilakukan dengan cara
mengangkat jaring pada KJA dan menyerok ikan. Ukuran ikan yang siap untuk
untuk dipanen yaitu dengan berat 200-500 gram/ekor. Target pemasaran yaitu
di pasar local dan untuk kerapu tikus yang masih dalam keadaan hidup
diekspor. Namun biasanya ada masalahyang biasa terjadi selamapemasaran
yaitu produksi yang masih kurang dan harga ikan yang fluktuatif terutama ikan
yang tidak dalam keadaan hidup.
Pada instansi ini, modal yang digunakan untuk KJA kayu biayanya
sebesar 80 juta dan untuk KJA fiber biaya yang digunakan sebesar 200 juta.
Untuk harga ikan yang dipasarkan pada ikan kerapu tikus seharga Rp.
350.000/ekor dalam keadaan hidup dan ikan yang dalam keadaan tidak hidup
seharga Rp.15.000-25.000/ekor. Untuk ikan Bandeng dengan harga Rp
10.000-15.000/kg sedangkan untuk ikan Baronang Rp 15.000-20.000/kg.
2. Keramba Jaring Apung (KJA)
Saran dan prasana pada KJA yaitu :
1). Rakit
Rakit dapat dibuat dari bahan kayu, bambu atau besi yang dilapisi anti karat. Ukuran
bingkai rakit biasanya 6 x 6 m atau 8 x 8 m.
2). Pelampung
Untuk mengapungkan satu unit rakit, diperlukan pelampung yang berasal dari bahan
drum bekas atau drum plastik bervolume 200 liter, styreofoam da drum fiber glass. Kebutuhan
pelampung untuk satu unit rakit ukuran 6x6 m yang dibagi 4 bagian diperlukan 8-9 buah
pelampung dan 12
buah pelampung untuk rakit berukuran 8x8 m.
3). Pengikat
Bahan pengikat rakit bambu dapat digunakan kawat berdiameter 4-5 mm atau tali
plastik polyetheline. Rakit yang terbuat dari kayu dan besi, pengikatannya menggunakan baut.
Untuk mengikat pelampung ke bingkai rakit digunakan tali PE berdiameter 4-6 mm.
4). Jangkar
Untuk menahan rakit agar tidak terbawa arus air, digunakan jangkar yang terbuat dari
besi atau semen blok. Berat dan bentuk jangkar disesuaikan dengan kondisi perairan setempat.
Kebutuhan jangkar per unit keramba minimal 4 buah dengan berat 25 - 50 kg yang
peletakannya dibuat sedemikian rupa sehingga rakit tetap pada posisinya. Tali jangkar yang
digunakan adalah tali plastik/PE berdiameter 0,5 – 1,0 inchi dengan panjang minimal 2 kali
kedalaman perairan.
5). Pemberat
Pemberat berfungsi untuk menahan arus dan menjaga jaring agar tetap simetris.
Pemberat yang terbuat daribatu, timah atau beton dengan berat 2-5 kg per buah, dipasang pada
tiap-tiap sudut keramba/ jaring (Tim Peneliti UNDANA, 2006).
Dari beberapa sarana utama yang harus ada tersebut sudah tersedia di KJA UPTD
Barru tersebut dan sudah dimanfaatkan sesuai dengan fungsi masing-masing yang
membedakan adalah ukuran dari luas KJA, luas petakan dan ukuran mata jaring.
2. Proses Budidaya
- Ikan Kerapu (Epinephelus spp.)
Budidaya ikan kerapu tikus ini, di lakukan menggunakan Keramba Jaring Apung
(KJA). Budidaya ikan kerapu dalam KJA akan berhasil dengan baik (tumbuh cepat dan
kelangsungan hidup tinggi) apabila pemilihan jenis ikan yang dibudidayakan, ukuran benih
yang ditebar dan kepadatan tebaran sesuai.
Pemilihan Benih
Kriteria benih kerapu yang baik, adalah : ukurannya seragam,bebas penyakit, gerakan
berenang tenang serta tidak membuat gerakan yang tidak beraturan atau gelisah tetapi akan
bergerak aktif bila ditangkap, respon terhadap pakan baik, warna sisik cerah, mata terang, sisik
dan sirip lengkap serta tidak cacat tubuh.
Penebaran Benih
Proses penebaran benih sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup benih.
Sebelum ditebarkan, perlu diadaptasikan terlebih dahulu pada kondisi lingkungan budidaya.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalamadaptasi ini, adalah : (a) waktu penebaran
(sebaikanya pagi atau sore hari, atau saat cuaca teduh), (b) sifat kanibalisme yang cenderung
meningkat pada kepadatan yang tinggi, dan (c) aklimatisasi, terutama suhu dan salinitas.
Pendederan
Benih ikan kerapu yang ukuran 4-5 cm yang dipelihara berasaldari Bali dan Lampung,
didederkan terlebih dahulu dalam jaring nylon dengan ukuran mata jarring 0,5-1 cm dengan
luas keramba 4mx4m dan kedalaman 3 m dengan kepadatan 50-60 ekor/m2
. Sebulan
kemudian, dilakuan grading (pemilahan ukuran) dan pergantian jarring serta dipelihara hingga
mencapai ukuran konsumsi (500 gram).
Menurut Tim Peneliti UNDANA(2006) Pemeliharaan ikan kerapu dengan luas jarring
nylon KJA berukuran 1,5x3x3 m dengan kepadatan ± 500 ekor. Ukuran jaringnya tetap, hanya
kepadatannya 250 ekor per jaring sampai mencapai ukuran glondongan (20 – 25 cm atau 100
gram). Setelah itu dipindahkan ke jarring besar ukuran 3x3x3 m dengan kepadatan optimum
500 ekor untuk kemudian dipindahkan ke dalam keramba pembesaransampaimencapaiukuran
konsumsi (500 gram).
Pakan dan Pemberiannya
Biaya pakan merupakan biaya operasional terbesar dalam budidaya ikan kerapu dalam
KJA. Oleh karena itu, pemilihan jenis pakan harus benar-benar tepat dengan
mempertimbangkan kualitas nutrisi, selera ikan dan harganya.. Pada pembesaran ikan kerapu
tikus pakan yang diberikan berupa ikan rucah dan pellet, pemberian pakan dilakukan 2 kali
sehari dengan dosis 15-20% dari biomassa ikan.
Menurut Tim Peneliti UNDANA (2006) pemeliharaan ikan kerapu pada tahap
pendederan, pakan diberikan secara adlibitum (sampai kenyang). Sedangkan untuk
pembesaran adalah 8-10% dari total berat badan per hari. Pemberian pakan sebaiknya pada
pagi dan sore hari. Pakan alami dari ikan kerapu adalah ikan rucah (potongan ikan) dari jenis
ikan tanjan, tembang, dan lemuru. Benih kerapu yang baru ditebar dapat diberi pakan pelet
komersial. Untuk jumlah 1000 ekor ikan dapat diberikan 100 gram pelet per hari. Setelah ± 3-
4 hari, pelet dapat dicampur dengan ikan rucah.
Hama dan Penyakit
Jenis hama yang potensial mengganggu usaha budidaya ikan kerapu dalam KJAadalah
kepiting dan tritip. Penyakit berupa penyakit parasit dan bacteria. Menurut Tim Peneliti
UNDANA (2006), hama yang menyerang berupa ikan buntal, burung, dan penyu. Sedang,
jenis penyakit infeksi yang sering menyerang ikan kerapu adalah : (a) penyakit akibat serangan
parasit, seperti : parasit crustacea dan flatworm, (b) penyakit akibat protozoa, seperti :
cryptocariniasisdan broollynelliasis, (c) penyakit akibat jamur (fungi), seperti : saprolegniasis
dan ichthyosporidosis, (d) penyakit akibat serangan bakteri, (e) penyakit akibat serangan virus,
yaitu VNN (Viral Neorotic Nerveus).
Panen dan Penanganan Pasca Panen
Panen dilakukan saat ikan sudah mencapai ukuran konsumsi yaitu berat 500 gram.
Panen dilakukan pada pagi hari dengan mengangkat jarring kemudin menyerok ikan yang
kemudian di tempatkan pada wadah dan diangkut menggunakan kapal kemudian di packing
untuk kemudian dipasarkan pada skala pasar local dan ekspor.
Menurut Tim Peneliti UNDANA (2006), Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk
menjaga kualitas ikan kerapu yang dibudidayakan dengan KJA, antara lain : penentuan waktu
panen, peralatan panen, teknik panen, serta penanganan pasca panen. Watu panen, biasanya
ditentukan oleh ukuran permintaan pasar. Ukuran super biasanya berukuran 500 – 1000 gram
dan merupakan ukuran yang mempunyai nilai jual tinggi. Panensebaiknya dilakukan pada padi
atau sore hari sehingga dapat mengurangi stress ikan pada saat panen. Peralatan yang
digunakan pada saat panen, berupa : scoop, kerancang, timbangan, alat tulis, perahu, bak
pengangkut dan peralatan aerasi.
Teknik pemanenan yang dilakukan pada usaha budidaya ikan kerapu dalam KJA
dengan metoda panen selektif dan panen total. Panen selektif adalah pemanenan terhadap ikan
yang sudah mencapai ukuran tertentu sesuai keinginan pasar terutama pada saat harga tinggi.
Sedang panen total adalah pemanenan secara keseluruhan yang biasanya dilakukan bila
permintaan pasar sangat besar atau ukuran ikan seluruhnya sudah memenuhi kriteria jual.
Penanganan pasca panen yang utama adalah masalah pengangkutan sampai di tempat
tujuan. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga agar kesegaran ikan tetap dalam kondisi baik. Ini
dilakukan dengan dua cara yaitu pengangkutan terbuka dan pengangkutan tertutup.
Pengangkutan terbuka digunakan untuk jarak angkut dekat atau dengan jalan darat yang waktu
angkutnya maksimal hanya 7 jam. Wadah angkutnya berupa drum plastik atau fiberglass yang
sudah diisi air laut sebanyak ½ sampai 2/3 bagian wadah sesuai jumlah ikan. Suhu laut
diusahakan tetap konstan selama perjalanan yaitu 19-210
C. Selama pengangkutan air perlu
diberi aerasi. Kepadatan ikan sekitar 50kg/wadah.
- Ikan Baronang (Siganus spp.)
Ikan beronang termasuk famili Siginidae, tubuhnya membujur dan memipih latural,
dilindungi oleh sisik-sisik yang kecil, mulut kecil posisinya terminal. Rahangnya dilengkapi
dengan gigi-gigi kecil. Punggungnya dilengkapi oleh sebuah duri yang tajam mengarah ke
depan antara neural pertama dan biasanya tertanam di bawah kulit. Duri-duri ini dilengkapi
dengan kelenjar bisa/racun pada ujungnya.
Benih
Benih yang digunakan untuk budidaya perlu diperhatikan dan diseleksi benih yang
betul-betul sehat. Benih yang sakit akan terhambat pertumbuhannya dan lebih berbahaya lagi
adalah penularannya ke ikan di dalam wadah budidaya. Berdasarkan pengamatan visual secara
umum benih yang sehat antara lain adalah :
* Bentuk badan normal/tidak cacat/tidak sakit;
* Gerakan ikan lincah;
* Mempunyai respon yang tinggi terhadap pakan yang diberikan.
Sampai saat ini benih ikan beronang yang digunakan dalam usaha budidaya berasal
dari hasil penangkapan di alam. Benih ikan beronang dapat diperoleh dalam jumlah besar pada
saatmusim puncak benih. Untuk setiap jenis beronang musim puncaknya akan berlainan setiap
lokasi. Penyediaan benih ikan beronang secara massal dari hatchery sampai saat ini masih
dalam pengkajian walaupun pemijahan untuk beberapa jenis sudah berhasil dilakukan. Benih
sebelum ditebarkan perlu diaklimasikan terlebih dulu, kemudian secara perlahan-lahan
ditebarkan ke dalam wadah budidaya. Penebaran benih sebaiknya dilakukan pada pagi atau
sore hari.
Penanganan dan Transportasi Benih
Benih ikan beronang sangat peka terhadap perubahan lingkungan seperti suhu dan
salinitas, sehingga penanganan benih ikan beronang sangat perlu dijaga hati-hati. Pada saat
pemindahan benih dari suatu wadah ke wadah lain harus selalu diambil bersama airnya.
Pemindahan benih dapat dilakukan sehari setelah pengumpulan dan cukup memberikan
istirahat bagi ikan dan untuk perlakuan selanjutnya disarankan untuk menggunakan seser yang
tidak cekung untuk menghindarkan luka-luka di kulit akibat persentuhan benih satu sama lain.
Pengangkutan benih ikan beronang untuk jarak dekat dapat digunakan keramba dengan
anyaman bambu yang halus dan diapungkan di air. Keramba diseret perlahan-lahan menuju
tempat budidaya. Dan untuk jarak jauh dapat digunakan kantong-kantong plastik atau periuk-
periuk tanah. Benih ikan beronang dengan perlakuan baik dan aklimasi yang cukup dapat
ditransportasi sampai maksimum 48 jam (Tarwiyah, 2001).
Pakan
Salah satu faktor yang sangat penting menentukan pertumbuhan ikan yang dipelihara
adalah faktor ketersediaan pakan yang cukup baik kualitas maupun kuantitas sehingga harus
diperhatikan sebaik-baiknya yaitu harus memenuhi komposisi dan jumlah nutrient/zat
makanan yang dibutuhkan ikan untuk pertumbuhan. Pakan yang diberikan sebaiknya yang
masih baru (pellet) dan segar (ikan rucah).
Pada UPTD BBRLP ini jenis pakan yang diberikan adalah pellet dengan dosis 15-20%
dari berat badan ikan setiap hari sedangkan menurut Tarwiyah (2001) Jenis pakan yang
digunakan pada budidaya ikan beronang adalah pellet kering dengan jumlah sebanyak 2% dari
berat badan ikan setiap hari. Frekuensi pemberian pakan sebanyak 3 kali sehari yaitu pagi,
siang dan sore hari. Konversi pemberian pakan dengan menggunakan pellet biasanya 1 : 4
yang berarti untuk memperoleh berat ikan 1 kg dibutuhkan pellet sebanyak 4 kg
Parameter Kualitas Air
persyaratan kualitas air pada lokasi ini yaitu salinitas 30-32 ppt, suhu 28-300
C, pH 6-
7,5 dan kandungan oksigen terlarut 4 ppm sedangkan menurut Tarwiyah (2001) persyaratan
kualitas air yang baik untuk pertumbuhan ikan seperti: Kadar garam berkisar antara 27-32 ppt,
Suhu air berkisar antara 28 -320
C, O2 (oksigen) berkisar antara 7-8 ppm, Nitrat 0,9- 3,2 ppm
dan phospat 0,2-0,5 ppm.
Panen
Panen pada lokasi ini dilakukan pada 4-5 bulan pemeliharaan dengan mengangkat
jaring kemudian menyerok ikan dan menepatkannya kedalam wadah. Sedangkan menurut
Tarwiyah (2001) Panenikan beronang dilakukan setelah masa pemeliharaan 4 - 6 bulan setelah
penebaran. Panen dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :
- Panen sebagian, dilakukan dengan cara memanen ikan yang telah berukuran tertentu
tergantung kebutuhan pasar dengan menggunakan serok/lampit/alat tangkap.
- Panen seluruhnya, dilakukan dengan cara memanen hasil budidaya sekaligus dengan cara
menarik/mengangkat sebagian jaring ke arah suatu sudut sehingga akan terkumpul pada suatu
tempat dan kemudian diambil dengan menggunakan serok/lambit/alat tangkap.
Hama
Hama yang sering mengganggu budidaya ikan beronang laut adalah berupa
hewan/binatang atau pengganggu lainnya sepertiburung dan lingsang. Hama dapat menyerang
dan membuat kerusakan pada kurungan ikan. Penanggulangan hama dapat dilakukan dengan
cara menutup bagian atas kurungan dengan jaring serta memagar/melingkari kurungan. Selain
itu gangguan karena pencurian oleh manusia perlu juga diwaspadai (Tarwiyah, 2001).
Penyakit
Gejala penyakit untuk ikan yang dibudidayakan dapat dilihat/diamati dengan tanda-
tanda sebagai berikut :
- Ada kelainan tingkah laku : salah satu atau beberapa ikan keluar dari kelompoknya dan cara
berenangnya miring atau "driving"(ikan yang berada di permukaan langsung menuju dasar
dengan cepat). Gejala demikian biasanya disebabkan oleh beberapa penyakit, antara lian :
penyakit insang, penyakit sistem saraf otak, keracunan bahan kimia logam berat, dan
kekurangan vitamin.
- Ikantidak mau makan :perhatikan sudah berapa lama keadaanini terjadi, penyebabnya adalah
: penyakit diabetes (oxydized fatty), kelebihan mineral yang berasal dari pakan dan
kebosanan yang terjadi karena persediaan pakan sedikit.
- Ada kelainan pada bentuk ikan : hal ini terjadi pada rangka ikan dan permukaan tubuh ikan.
- Mata tidak normal : disebabkan oleh bakteri dan parasit tremotoda Giganea sp. (Tarwiyah,
2001).
- Ikan Bandeng (Chanos chanos)
Ikan bandeng memiliki tubuh yang panjang, ramping, padat, pipih, dan oval.
menyerupai torpedo. Perbandingan tinggi dengan panjang total sekitar 1 : (4,0-5,2). Sementara
itu, perbandingan panjang kepala dengan panjang total adalah 1 : (5,2-5,5) (Sudrajat, 2008).
Ukuran kepala seimbang dengan ukuran tubuhnya, berbentuk lonjong dan tidak bersisik.
Bagian depan kepala (mendekati mulut) semakin runcing.
Benih
Benih ikan bandeng pada lokasi ini berasal dari pembudidaya tambak di daerah
pinrang. Benih ikan bendeng juga biasa diperoleh dari hatchery . Kualitas benih sangat
menentukan keberhasilan budidaya ikan. Benih bermutu memenuhi beberapa kriteria antara
lain :
(i) benih dalam kondisi sehat, tidak sakit atau membawa penyakit,
(ii) bentuk tubuh normal, organ tubuh lengkap, tidak cacat,
(iii) gerakan aktif, lincah dan bergerombol,
(iv) responsive terhadap pakan.
Padat tebar untuk kegiatan pembesaran atau penggemukan ini antara 20-25 ekor/m3
atau sekitar 500-600 ekor di setiap lubang KJA yang berukuran luas 3 m x 3 m x 3 m
(Sunaryanto dan Ginting, 2014).
Parameter Kualitas Air
Kondisi Kualitas air pada lokasi ini yaitu salinitas 30-32 ppt, pH 6-7,5, Kandungan
oksigen terlarut 4 ppm dan suhu 28 o
C -30 o
C. Sedangkan menurut Supratno dkk (2008) dalam
Sunaryanto dan Ginting (2014) kondisi kualitas air untuk budidaya ikan bandeng yaitu pH 7,0-
8,5, Salinitas ppt 10-20, Oksigen ppm 3-7, Suhu 28 o
C – 30o
C.
Pemberian Pakan
Pemilihan jenis pakan didasarkan pada selera makan ikan, nutrisi dan harga pakan. p
pakan yang diberikan adalah pakan buatan berupa pellet. Pada awal kegiatan pembesaran,
pemberian pakan perlu dilakukan sesering mungkin sampai ikan benar-benar kenyang,
minimal tiga kali sehari. Selanjutnya waktu dan frekuensi pemberian pakan harus diatur agar
efisien, sebaiknya diberikan dua kali sehari pagi dan sore dengan 3-5 % untuk pakan pellet
(Sunaryanto dan Ginting, 2014).
Monitoring Pertumbuhan
Selain untuk memantau pertambahan berat, monitoring pertumbuhan juga diperlukan
untuk melihat kesehatan ikan dan menentukan berat pakan yang diberikan. Caranya, ikan
diambil secara acak sebanyak 10 %, kemudian ditimbang. Sampling ini sebaiknya dilakukan
sebulan sekali (Sunaryanto dan Ginting, 2014).
Pemisahan Ukuran (Grading)
Ikan yang ukurannya lebih kecil biasanya kalah bersaing dalam perebutan makanan.
Oleh sebab itu, secara rutin perlu dilakukan pemisahan ukuran, dalam lubang jaring yang sama
diupayakan berisi ikan yang berukuran kurang lebih sama besar (Sunaryanto dan Ginting,
2014).
Pengendalian Hama dan Penyakit
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, pencegahan penyakit dan parasit yang dapat
menyerang ikan dilakukan dengan tetap menjaga kualitas air, secara rutin mengamati
kesehatan,pertumbuhan dan tingkah laku ikan serta menjaga kebersihan jaring dan lingkungan
pemeliharaan. Untuk sementara, ikan yang terserang penyakit dapat dipisahkan, kemudian
direndam dalam air tawar selama 10-15 menit. Diharapkan selama perendaman parasit yang
menempel pada tubuh ikan dapat terlepas dan pathogen (organisme penyebab penyakit)
terbunuh (Sunaryanto dan Ginting, 2014).
Pemanenan
Panendilakukan 4-5 bulan pemeliharaan, ukuran ikan yang mendapat harga jual tinggi
pada umumnya berukuran 200-500 gram/ekor. Harga ikan dapat turun jika didapati kondisi
ikan yang kurang baik, ukuran tidak seragamdan cara panenyang tidak benar. Pada umumnya,
hasil produksi budidaya laut ini dipanen dan diangkut dalam keadaanhidup. Waktu panen yang
tepat adalah sore hari karena suhu relatif rendah sehingga mengurangi terjadinya stress pada
ikan dan lebih dekat dengan waktu pengangkutan yang biasanya dilakukan malam hari.
Pemanenan dapat dilakukan secara selektif ataupun total. Panen selektif dilakukan terhadap
ikan yang sudah mencapai ukuran tertentu sesuai permintaan pasar, terutama pada saat harga
jual tinggi. Panentotal dilakukan jika permintaan pasar besaratauukuran ikan seluruhnya telah
memenuhi permintaan pasar (Sunaryanto dan Ginting, 2014).
ANALISIS TEKNIS INVESTASI
1. Perkiraan Modal/Biaya Investasi dan Biaya Produksi
Untuk mendirikan usaha/proyek pengembangan usaha budidaya ikan
kerapu dengan sistem keramba jaring ikat, dibutuhkan sejumlah dana untuk
membiayai investasi dan modal kerja.
Komponen biaya investasi ini, meliputi :
a. Pembuatan rakit berukuran 8 x 8 m
b. Pembuatan waring berukuran 1 x 1 x 1,5 m
c. Pembuatan jaring ukuran 3 x 3 x 3 m
d. Pembuatan rumah jaga
e. Pengadaan sarana kerja
Sedang untuk modal kerja meliputi : biaya pengadaan benih, pakan, bahan bakar,
upah/gaji, dan lain-lain. Adapun jumlah dana untuk membiayai berbagai komponen biaya di
atas, dihitung berdasarkan tingkat harga di wilayah proyek dan beberapa asumsi.
Asumsi-asumsi tersebut, adalah :
1. Umur proyek 5 thun.
2. Sumber dana untuk membiayi kegiatan investasi khusus untuk biaya investasi berasal dari
pinjaman sebesar Rp. 15,000,000,- dengan tingkat bunga 18% per tahun (flat) dalam jangka
waktu 5 tahun.
3. Pajak penghasilan 15 % per tahun.
4. Penyusutan atas aktiva tetap dihitung dengan metoda garis lurus dengan nilai sisa = 0 dan
umur ekonomis dari setiap asset 5 tahun.
5. Benih yang ditebarkan berukuran 4-5 cm sebanyak 2,500 ekor dengan tingkat kehidupan
sampai umur panen 65% dengan berat 450 gram/ekor.
6. Jangka waktu pembesaran atau umur produksi untuk mencapai berat jual/panen adalah 12
bulan (1 tahun).
7. Harga jual Rp. 317,000,000,- per kilogram.
Atas dasar asumsi-asumsi di atas, hasil perkiraan biaya investasi dan biaya variabel,
seperti terlihat pada Tabel 1.
Tabel 1
Perkiraan Biaya Investasi Usaha Penangkapan Ikan Pelagis Kecil
Di kabupaten Kupang
Total besarnya biaya investasi, biaya variabel dan biaya tetap sebesar
Rp.109,288,030,- di mana biaya terbesar adalah biaya variabel mencapai 63% diikuti oleh
biaya investasi 26.2% dari total biaya. Rincian biaya investasi, biaya variabel dan biaya
tetap yang diperlukan untuk usaha budidaya ikan kerapu tikus dengan sistem KJA di
Kabupaten Kupang ini, disajikan pada Lampiran 1 dan Lampiran 2.
2. Analisis Profitability Financial
Analisis ini dilakukan untuk melihat kelayakan dari usaha budidaya ikan kerapu tikus
dengan sistem KJA di Kabupaten Kupang, yang meliputi :
Analisis Proyeksi Rugi Laba
Perhitungan/analisis rugi laba dari usaha budidaya ikan kerapu tikus dengan sistem
KJA di Kabupaten Kupang ini didasarkan pada asumsi-asumsi seperti yang telah dikemukakan
terdahulu. Hasil analisisnya seperti ditunjukkan pada Tabel 2 berikut.
Tabel 2
Analisis Rugi Laba Usaha Budidaya Ikan Kerapu Tikus Dengan Sistem KJA Di Kabupaten
Kupang (Rp.000)
Dari Tabel 2, terlihat bahwa usaha budidaya ikan kerapu tikus selama 5 tahun atau 5
kali siklus produksi memberikan pendapatan bersih setelah pajak sebesar Rp.403,351.80,-
Rinciannya, dapat disimak pada Lampiran 4.
Analisis Cash Flow dan Kelayakan Investasi
Analisis ini menggambarkan proyeksi arus penerimaan dan arus pengeluaran dari
usaha budidaya ikan kerapu tikus dengan sistem KJA selama 5 tahun usaha. Nampak bahwa,
investasi di bidang usaha budidaya ikan kerapu di Kabupaten Kupang dengan teknologi dan
kapasitas produksi yang ada, mampu memberikan adanya surplus pendapatan bagi pihak
investor. Kriteria-kriteria kelayakan finansial dari usaha budidaya ikan kerapu dengan sistem
KJA di Kabupaten Kupang sbb :
Tabel 3
Kriteria Kelayakan Usaha Budidaya Ikan Kerapu Tikus Dengan Sistem KJA Di Kabupaten
Kupang
Analisis Payback Period
Analisis ini dimaksudkan untuk mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk
memperoleh kembali dana/biaya yang telah diinvestasikan untuk usaha budidaya ikan kerapu
di Kabupaten Kupang. Dari Tabel 3, terlihat bahwa dalam jangka waktu kurang dari 2 tahun
atau tepatnya 1.56 kali proses produksi dana yang diinvestasikan itu dapat diperoleh kembali.
Analisis Net Present Value/NPV
Analisis ini menunjukkan nilai uang yang diterima dari dana yang diinvestasikan pada
saat ini. Dari Tabel 3, terlihat bahwa dari total dana yang diinvestasikan untuk usaha budidaya
ikan kerapu tikus dengan sistem KJA di Kabupaten Kupang saat ini, nilai uang yang diterima
selama masa investasi (NPV) sebesar Rp. 441,080,000,- dengan Net B/C Ratio sebesar 3.53
pada tingkat diskonto (DF) 18%. Angka yang ada menunjukkan bahwa kegiatan investasi di
bidang usaha budidaya ikan kerapu tikus di Kabupaten Kupang secara finansial layak atau
memiliki daya keuntungan yang tinggi.
Analisis Internal Rate of Return/IRR
Analisis ini dimaksudkan untuk melihat kekuatan arus perputaran modal di dalam
usaha.Hasil analisis diperoleh IRR sebesar69.4% yang bila dibandingkan dengan tingkat suku
bunga pinjaman 18% per tahun, menunjukkan bahwa investasi di bidang usaha budidaya ikan
kerapu di Kabupaten Kupang adalah layak untuk diusahakan.
Analisis Rate of Return On Investment/ROI
Analisis ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan modal yang diinvestasikan
dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan bagi investor. Hasil analisis
diperoleh nilai ROI untuk investasi usaha budidaya ikan kerapu tikus dengan sistem KJA di
Kabupaten Kupang sebesar 64.3%.
Analisis Break Even Point/BEP
Analisis ini dimaksudkan untuk mengetahui berapa jumlah produk yang harus dijual
atau berapa harga jualnya agar perusahaan itu tidak mengalami kerugian. Hasil analisis
menunjukkan bahwa untuk mencapai BEP, maka jumlah hasil budidaya ikan kerapu tikus ini
setiap tahunnya minimum sebanyak 307.40 kg atau dengan harga jual Rp.144,369,- per
kilogram (Tim Peneliti UNDANA, 2006).
PENUTUP
- KESIMPULAN
Berdasarkan kunjungan lapangan yang dilaksanakan di UPTD BRBLP Barru dapat
disimpulkan bahwa lokasi pembudidayaan sudah tercemar oleh limbah penduduk dan limbah
yang berasaldari laut yang terbawa kesekitar lokasi serta kurangnya pengontrolan pada lokasi
dan spesies yang dibudidayakam serta masih kurangnya keterampilan dalam pembesaran ikan
Kerapu,Bandeng dan Baronang di KJAmenyebabkan UPTDBRBLP masih sering mengalami
kerugian.
- KRITIK DAN SOLUSI
PRAKTEK LAPANG
Praktek lapang yang dilakukan tidak efektif disebabkan lokasi kunjungan suatu
heatchery tidak layak untuk dilakukannya praktek lapang
Sebaiknya memilih lokasi yang baik agar para mahasiswa dengan baik melakukan
praktek.
ASISTEN
Sebaiknya asisten lebih memperhatikan praktek dan mengarahkannya..
Karena kemaren pada saat praktek ada bebrapa praktikan tidak faham apa yang ingin
dikerjakan…
DAFTAR PUSTAKA
Sudradjat, A. 2008. Budidaya 23 Komoditas Laut Menguntungkan. Penebar Swadaya,Jakarta.
Sunaryanto, A. dan Ginting, P. S. 2014. Teknologi Sederhana Budidaya Ikan bagi Masyarakat
Pesisir. Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta.

Tugas paper

  • 1.
    TUGAS PAPER PRAKTEK LAPANGMARIKULTUR “PEMBESARAN IKAN KERAPU, IKAN BANDENG DAN IKAN BARONANG DI KERAMBA JARING APUNG UPTD PPBLP KAB. BARRU” OLEH : NAMA : FAIZAL STAMBUK : L221 12 602 KELOMPOK : V (LIMA) ASISTEN : MUH. FAWZUL KABIR PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN JURUSAN PERIKANAN FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2015
  • 2.
    PEMBAHASAN 1. PEMILIHAN LOKASIKJA Pada praktik kerja lapang terpadu yang telah dilaksanakan di Kabupaten Barru, telah dilakukan kegiatan berupa kunjungan di Instansi Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Budidaya Laut dan Pesisir yang terletak Malanselase, Kabupaten Barru. Pada instansi ini, kegiatan yang dilakukan berupa budidaya ikan di Keramba Jaring Apung (KJA) yang dilakukan sejak tahun 1980 an. Alasan instansi ini menggunakan KJA yaitu karena mudah dikontrol dan tidak membutuhkan banyak peralatan/teknologi lainnya karena pada sistem KJA masih berpaparan langsung dengan alam. Pada budidaya KJA di lokasi ini terdapat 12 buah jumlah petakan KJA yang berukuran 4 x 4 m untuk 2 buah KJA. Adapun peralatan yang digunakan pada kegiatan budidaya ini yaitu waring, pelampung, jangkar, pemberat, kayu, jaring dan perahu. Untuk ukuran mata jaring yang digunakan yaitu 0,5-1 cm sebanyak 2 lapis dengan kedalaman jaring yaitu 3 m. Pelampung yang digunakan sebanyak 24 buah. Pelampung berguna agar KJA tetap terapung dan berada di permukaan. Pemberat dan jangkar berfungsi agar KJA tidak terbawa oleh arus maupun gelombang. Kayu berfungsi sebagai rangka KJA, waring berfungsi sebagai wadah untuk organisme yang dibudidayakan dan perahu digunakan sebagai alat transportasi. Budidaya KJA memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan menggunakan KJA yaitu kualitas air budidaya mudah dikontrol namun juga memiliki kekurangan yaitu rentan terhadap adanya pencemaran yang akan berdampak langsung terhadap organisme yang dibudidaya.
  • 3.
    Untuk perawatan danpembersihan KJA dilakukan sebanyak 1 kali dalam seminggu dengan cara menyiapkan kolam kosong untuk memindahkan organisme budidaya.Setelah ikan-ikan dipindahkan ke wadah yang lain kemudian jaring diangkat dan disikat kemudian dijemur hingga kering. Organisme yang dibudidaya ada 3 yaitu Ikan Bandeng, Ikan Baronang dan Ikan Kerapu Tikus. Alasan instansi ini memilih organisme tersebut untuk dibudidayakan karena pertumbuhannya cepat serta memiliki nilai ekonomis tinggi. Sumber benih berasal dari Bali dan Lampung. Jumlah padat tebar yang digunakan untuk ikan kerapu yaitu 50-60 ekor/m2 , ikan Baronang 60-80 ekor/m2 sedangkan ikan Bandeng padat tebarnya yaitu 80-100 ekor/m2 . Lama pemeliharaan untuk ikan kerapu tikus yaitu selama 8 bulan, untuk ikan Baronang selama 4-5 bulan sedangkan untuk ikan Bandeng selama 4-5 bulan. Saat budidaya berlangsung biasanya dihadapi kendala-kendala selama pemeliharaan yaitu pencemaran oleh logam berat seperti besi, Mg dan Fe selain itu adanya arus yang kuat pada waktu tertentu. Pakan yang biasa diberikan selama budidaya ada dua yaitu dari jenis pakan alami dan pakan buatan. Pakan alami yang digunakan berupa ikan rucah dan pakan buatan berupa pellet dengan merek japfa. Frekuensi pemberian pakan dilakukan sebanyak 2 kali sehari dengan dosis 15-20% dari bobot tubuh ikan. Untuk kualitas air pada media budidaya diantaranya yaitu untuk kisaran suhu yang digunakan 28-300 C, salinitas 30-32 ppt, oksigen terlarut 4-5 ppm dan pH air 6-7,5. Adapun hama dan penyakit yang biasa menyerang organisme budidaya yaitu hama berupa kepiting dan penyakit berupa parasite
  • 4.
    dan bakteri. Untukmenangani hal tersebut dapat dilakukan penanggulangan dengan cara melakukan karantina terhadap ikan yang terinfeksi. Pada panen dan pemasaran hasil budidaya dilakukan dengan cara mengangkat jaring pada KJA dan menyerok ikan. Ukuran ikan yang siap untuk untuk dipanen yaitu dengan berat 200-500 gram/ekor. Target pemasaran yaitu di pasar local dan untuk kerapu tikus yang masih dalam keadaan hidup diekspor. Namun biasanya ada masalahyang biasa terjadi selamapemasaran yaitu produksi yang masih kurang dan harga ikan yang fluktuatif terutama ikan yang tidak dalam keadaan hidup. Pada instansi ini, modal yang digunakan untuk KJA kayu biayanya sebesar 80 juta dan untuk KJA fiber biaya yang digunakan sebesar 200 juta. Untuk harga ikan yang dipasarkan pada ikan kerapu tikus seharga Rp. 350.000/ekor dalam keadaan hidup dan ikan yang dalam keadaan tidak hidup seharga Rp.15.000-25.000/ekor. Untuk ikan Bandeng dengan harga Rp 10.000-15.000/kg sedangkan untuk ikan Baronang Rp 15.000-20.000/kg. 2. Keramba Jaring Apung (KJA) Saran dan prasana pada KJA yaitu : 1). Rakit Rakit dapat dibuat dari bahan kayu, bambu atau besi yang dilapisi anti karat. Ukuran bingkai rakit biasanya 6 x 6 m atau 8 x 8 m. 2). Pelampung Untuk mengapungkan satu unit rakit, diperlukan pelampung yang berasal dari bahan drum bekas atau drum plastik bervolume 200 liter, styreofoam da drum fiber glass. Kebutuhan
  • 5.
    pelampung untuk satuunit rakit ukuran 6x6 m yang dibagi 4 bagian diperlukan 8-9 buah pelampung dan 12 buah pelampung untuk rakit berukuran 8x8 m. 3). Pengikat Bahan pengikat rakit bambu dapat digunakan kawat berdiameter 4-5 mm atau tali plastik polyetheline. Rakit yang terbuat dari kayu dan besi, pengikatannya menggunakan baut. Untuk mengikat pelampung ke bingkai rakit digunakan tali PE berdiameter 4-6 mm. 4). Jangkar Untuk menahan rakit agar tidak terbawa arus air, digunakan jangkar yang terbuat dari besi atau semen blok. Berat dan bentuk jangkar disesuaikan dengan kondisi perairan setempat. Kebutuhan jangkar per unit keramba minimal 4 buah dengan berat 25 - 50 kg yang peletakannya dibuat sedemikian rupa sehingga rakit tetap pada posisinya. Tali jangkar yang digunakan adalah tali plastik/PE berdiameter 0,5 – 1,0 inchi dengan panjang minimal 2 kali kedalaman perairan. 5). Pemberat Pemberat berfungsi untuk menahan arus dan menjaga jaring agar tetap simetris. Pemberat yang terbuat daribatu, timah atau beton dengan berat 2-5 kg per buah, dipasang pada tiap-tiap sudut keramba/ jaring (Tim Peneliti UNDANA, 2006). Dari beberapa sarana utama yang harus ada tersebut sudah tersedia di KJA UPTD Barru tersebut dan sudah dimanfaatkan sesuai dengan fungsi masing-masing yang membedakan adalah ukuran dari luas KJA, luas petakan dan ukuran mata jaring. 2. Proses Budidaya - Ikan Kerapu (Epinephelus spp.) Budidaya ikan kerapu tikus ini, di lakukan menggunakan Keramba Jaring Apung (KJA). Budidaya ikan kerapu dalam KJA akan berhasil dengan baik (tumbuh cepat dan
  • 6.
    kelangsungan hidup tinggi)apabila pemilihan jenis ikan yang dibudidayakan, ukuran benih yang ditebar dan kepadatan tebaran sesuai. Pemilihan Benih Kriteria benih kerapu yang baik, adalah : ukurannya seragam,bebas penyakit, gerakan berenang tenang serta tidak membuat gerakan yang tidak beraturan atau gelisah tetapi akan bergerak aktif bila ditangkap, respon terhadap pakan baik, warna sisik cerah, mata terang, sisik dan sirip lengkap serta tidak cacat tubuh. Penebaran Benih Proses penebaran benih sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup benih. Sebelum ditebarkan, perlu diadaptasikan terlebih dahulu pada kondisi lingkungan budidaya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalamadaptasi ini, adalah : (a) waktu penebaran (sebaikanya pagi atau sore hari, atau saat cuaca teduh), (b) sifat kanibalisme yang cenderung meningkat pada kepadatan yang tinggi, dan (c) aklimatisasi, terutama suhu dan salinitas. Pendederan Benih ikan kerapu yang ukuran 4-5 cm yang dipelihara berasaldari Bali dan Lampung, didederkan terlebih dahulu dalam jaring nylon dengan ukuran mata jarring 0,5-1 cm dengan luas keramba 4mx4m dan kedalaman 3 m dengan kepadatan 50-60 ekor/m2 . Sebulan kemudian, dilakuan grading (pemilahan ukuran) dan pergantian jarring serta dipelihara hingga mencapai ukuran konsumsi (500 gram). Menurut Tim Peneliti UNDANA(2006) Pemeliharaan ikan kerapu dengan luas jarring nylon KJA berukuran 1,5x3x3 m dengan kepadatan ± 500 ekor. Ukuran jaringnya tetap, hanya kepadatannya 250 ekor per jaring sampai mencapai ukuran glondongan (20 – 25 cm atau 100 gram). Setelah itu dipindahkan ke jarring besar ukuran 3x3x3 m dengan kepadatan optimum
  • 7.
    500 ekor untukkemudian dipindahkan ke dalam keramba pembesaransampaimencapaiukuran konsumsi (500 gram). Pakan dan Pemberiannya Biaya pakan merupakan biaya operasional terbesar dalam budidaya ikan kerapu dalam KJA. Oleh karena itu, pemilihan jenis pakan harus benar-benar tepat dengan mempertimbangkan kualitas nutrisi, selera ikan dan harganya.. Pada pembesaran ikan kerapu tikus pakan yang diberikan berupa ikan rucah dan pellet, pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari dengan dosis 15-20% dari biomassa ikan. Menurut Tim Peneliti UNDANA (2006) pemeliharaan ikan kerapu pada tahap pendederan, pakan diberikan secara adlibitum (sampai kenyang). Sedangkan untuk pembesaran adalah 8-10% dari total berat badan per hari. Pemberian pakan sebaiknya pada pagi dan sore hari. Pakan alami dari ikan kerapu adalah ikan rucah (potongan ikan) dari jenis ikan tanjan, tembang, dan lemuru. Benih kerapu yang baru ditebar dapat diberi pakan pelet komersial. Untuk jumlah 1000 ekor ikan dapat diberikan 100 gram pelet per hari. Setelah ± 3- 4 hari, pelet dapat dicampur dengan ikan rucah. Hama dan Penyakit Jenis hama yang potensial mengganggu usaha budidaya ikan kerapu dalam KJAadalah kepiting dan tritip. Penyakit berupa penyakit parasit dan bacteria. Menurut Tim Peneliti UNDANA (2006), hama yang menyerang berupa ikan buntal, burung, dan penyu. Sedang, jenis penyakit infeksi yang sering menyerang ikan kerapu adalah : (a) penyakit akibat serangan parasit, seperti : parasit crustacea dan flatworm, (b) penyakit akibat protozoa, seperti : cryptocariniasisdan broollynelliasis, (c) penyakit akibat jamur (fungi), seperti : saprolegniasis dan ichthyosporidosis, (d) penyakit akibat serangan bakteri, (e) penyakit akibat serangan virus, yaitu VNN (Viral Neorotic Nerveus).
  • 8.
    Panen dan PenangananPasca Panen Panen dilakukan saat ikan sudah mencapai ukuran konsumsi yaitu berat 500 gram. Panen dilakukan pada pagi hari dengan mengangkat jarring kemudin menyerok ikan yang kemudian di tempatkan pada wadah dan diangkut menggunakan kapal kemudian di packing untuk kemudian dipasarkan pada skala pasar local dan ekspor. Menurut Tim Peneliti UNDANA (2006), Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menjaga kualitas ikan kerapu yang dibudidayakan dengan KJA, antara lain : penentuan waktu panen, peralatan panen, teknik panen, serta penanganan pasca panen. Watu panen, biasanya ditentukan oleh ukuran permintaan pasar. Ukuran super biasanya berukuran 500 – 1000 gram dan merupakan ukuran yang mempunyai nilai jual tinggi. Panensebaiknya dilakukan pada padi atau sore hari sehingga dapat mengurangi stress ikan pada saat panen. Peralatan yang digunakan pada saat panen, berupa : scoop, kerancang, timbangan, alat tulis, perahu, bak pengangkut dan peralatan aerasi. Teknik pemanenan yang dilakukan pada usaha budidaya ikan kerapu dalam KJA dengan metoda panen selektif dan panen total. Panen selektif adalah pemanenan terhadap ikan yang sudah mencapai ukuran tertentu sesuai keinginan pasar terutama pada saat harga tinggi. Sedang panen total adalah pemanenan secara keseluruhan yang biasanya dilakukan bila permintaan pasar sangat besar atau ukuran ikan seluruhnya sudah memenuhi kriteria jual. Penanganan pasca panen yang utama adalah masalah pengangkutan sampai di tempat tujuan. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga agar kesegaran ikan tetap dalam kondisi baik. Ini dilakukan dengan dua cara yaitu pengangkutan terbuka dan pengangkutan tertutup. Pengangkutan terbuka digunakan untuk jarak angkut dekat atau dengan jalan darat yang waktu angkutnya maksimal hanya 7 jam. Wadah angkutnya berupa drum plastik atau fiberglass yang sudah diisi air laut sebanyak ½ sampai 2/3 bagian wadah sesuai jumlah ikan. Suhu laut
  • 9.
    diusahakan tetap konstanselama perjalanan yaitu 19-210 C. Selama pengangkutan air perlu diberi aerasi. Kepadatan ikan sekitar 50kg/wadah. - Ikan Baronang (Siganus spp.) Ikan beronang termasuk famili Siginidae, tubuhnya membujur dan memipih latural, dilindungi oleh sisik-sisik yang kecil, mulut kecil posisinya terminal. Rahangnya dilengkapi dengan gigi-gigi kecil. Punggungnya dilengkapi oleh sebuah duri yang tajam mengarah ke depan antara neural pertama dan biasanya tertanam di bawah kulit. Duri-duri ini dilengkapi dengan kelenjar bisa/racun pada ujungnya. Benih Benih yang digunakan untuk budidaya perlu diperhatikan dan diseleksi benih yang betul-betul sehat. Benih yang sakit akan terhambat pertumbuhannya dan lebih berbahaya lagi adalah penularannya ke ikan di dalam wadah budidaya. Berdasarkan pengamatan visual secara umum benih yang sehat antara lain adalah : * Bentuk badan normal/tidak cacat/tidak sakit; * Gerakan ikan lincah; * Mempunyai respon yang tinggi terhadap pakan yang diberikan. Sampai saat ini benih ikan beronang yang digunakan dalam usaha budidaya berasal dari hasil penangkapan di alam. Benih ikan beronang dapat diperoleh dalam jumlah besar pada saatmusim puncak benih. Untuk setiap jenis beronang musim puncaknya akan berlainan setiap lokasi. Penyediaan benih ikan beronang secara massal dari hatchery sampai saat ini masih dalam pengkajian walaupun pemijahan untuk beberapa jenis sudah berhasil dilakukan. Benih sebelum ditebarkan perlu diaklimasikan terlebih dulu, kemudian secara perlahan-lahan ditebarkan ke dalam wadah budidaya. Penebaran benih sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari. Penanganan dan Transportasi Benih
  • 10.
    Benih ikan beronangsangat peka terhadap perubahan lingkungan seperti suhu dan salinitas, sehingga penanganan benih ikan beronang sangat perlu dijaga hati-hati. Pada saat pemindahan benih dari suatu wadah ke wadah lain harus selalu diambil bersama airnya. Pemindahan benih dapat dilakukan sehari setelah pengumpulan dan cukup memberikan istirahat bagi ikan dan untuk perlakuan selanjutnya disarankan untuk menggunakan seser yang tidak cekung untuk menghindarkan luka-luka di kulit akibat persentuhan benih satu sama lain. Pengangkutan benih ikan beronang untuk jarak dekat dapat digunakan keramba dengan anyaman bambu yang halus dan diapungkan di air. Keramba diseret perlahan-lahan menuju tempat budidaya. Dan untuk jarak jauh dapat digunakan kantong-kantong plastik atau periuk- periuk tanah. Benih ikan beronang dengan perlakuan baik dan aklimasi yang cukup dapat ditransportasi sampai maksimum 48 jam (Tarwiyah, 2001). Pakan Salah satu faktor yang sangat penting menentukan pertumbuhan ikan yang dipelihara adalah faktor ketersediaan pakan yang cukup baik kualitas maupun kuantitas sehingga harus diperhatikan sebaik-baiknya yaitu harus memenuhi komposisi dan jumlah nutrient/zat makanan yang dibutuhkan ikan untuk pertumbuhan. Pakan yang diberikan sebaiknya yang masih baru (pellet) dan segar (ikan rucah). Pada UPTD BBRLP ini jenis pakan yang diberikan adalah pellet dengan dosis 15-20% dari berat badan ikan setiap hari sedangkan menurut Tarwiyah (2001) Jenis pakan yang digunakan pada budidaya ikan beronang adalah pellet kering dengan jumlah sebanyak 2% dari berat badan ikan setiap hari. Frekuensi pemberian pakan sebanyak 3 kali sehari yaitu pagi, siang dan sore hari. Konversi pemberian pakan dengan menggunakan pellet biasanya 1 : 4 yang berarti untuk memperoleh berat ikan 1 kg dibutuhkan pellet sebanyak 4 kg Parameter Kualitas Air
  • 11.
    persyaratan kualitas airpada lokasi ini yaitu salinitas 30-32 ppt, suhu 28-300 C, pH 6- 7,5 dan kandungan oksigen terlarut 4 ppm sedangkan menurut Tarwiyah (2001) persyaratan kualitas air yang baik untuk pertumbuhan ikan seperti: Kadar garam berkisar antara 27-32 ppt, Suhu air berkisar antara 28 -320 C, O2 (oksigen) berkisar antara 7-8 ppm, Nitrat 0,9- 3,2 ppm dan phospat 0,2-0,5 ppm. Panen Panen pada lokasi ini dilakukan pada 4-5 bulan pemeliharaan dengan mengangkat jaring kemudian menyerok ikan dan menepatkannya kedalam wadah. Sedangkan menurut Tarwiyah (2001) Panenikan beronang dilakukan setelah masa pemeliharaan 4 - 6 bulan setelah penebaran. Panen dapat dilakukan dengan dua cara yaitu : - Panen sebagian, dilakukan dengan cara memanen ikan yang telah berukuran tertentu tergantung kebutuhan pasar dengan menggunakan serok/lampit/alat tangkap. - Panen seluruhnya, dilakukan dengan cara memanen hasil budidaya sekaligus dengan cara menarik/mengangkat sebagian jaring ke arah suatu sudut sehingga akan terkumpul pada suatu tempat dan kemudian diambil dengan menggunakan serok/lambit/alat tangkap. Hama Hama yang sering mengganggu budidaya ikan beronang laut adalah berupa hewan/binatang atau pengganggu lainnya sepertiburung dan lingsang. Hama dapat menyerang dan membuat kerusakan pada kurungan ikan. Penanggulangan hama dapat dilakukan dengan cara menutup bagian atas kurungan dengan jaring serta memagar/melingkari kurungan. Selain itu gangguan karena pencurian oleh manusia perlu juga diwaspadai (Tarwiyah, 2001). Penyakit Gejala penyakit untuk ikan yang dibudidayakan dapat dilihat/diamati dengan tanda- tanda sebagai berikut :
  • 12.
    - Ada kelainantingkah laku : salah satu atau beberapa ikan keluar dari kelompoknya dan cara berenangnya miring atau "driving"(ikan yang berada di permukaan langsung menuju dasar dengan cepat). Gejala demikian biasanya disebabkan oleh beberapa penyakit, antara lian : penyakit insang, penyakit sistem saraf otak, keracunan bahan kimia logam berat, dan kekurangan vitamin. - Ikantidak mau makan :perhatikan sudah berapa lama keadaanini terjadi, penyebabnya adalah : penyakit diabetes (oxydized fatty), kelebihan mineral yang berasal dari pakan dan kebosanan yang terjadi karena persediaan pakan sedikit. - Ada kelainan pada bentuk ikan : hal ini terjadi pada rangka ikan dan permukaan tubuh ikan. - Mata tidak normal : disebabkan oleh bakteri dan parasit tremotoda Giganea sp. (Tarwiyah, 2001). - Ikan Bandeng (Chanos chanos) Ikan bandeng memiliki tubuh yang panjang, ramping, padat, pipih, dan oval. menyerupai torpedo. Perbandingan tinggi dengan panjang total sekitar 1 : (4,0-5,2). Sementara itu, perbandingan panjang kepala dengan panjang total adalah 1 : (5,2-5,5) (Sudrajat, 2008). Ukuran kepala seimbang dengan ukuran tubuhnya, berbentuk lonjong dan tidak bersisik. Bagian depan kepala (mendekati mulut) semakin runcing. Benih Benih ikan bandeng pada lokasi ini berasal dari pembudidaya tambak di daerah pinrang. Benih ikan bendeng juga biasa diperoleh dari hatchery . Kualitas benih sangat menentukan keberhasilan budidaya ikan. Benih bermutu memenuhi beberapa kriteria antara lain :
  • 13.
    (i) benih dalamkondisi sehat, tidak sakit atau membawa penyakit, (ii) bentuk tubuh normal, organ tubuh lengkap, tidak cacat, (iii) gerakan aktif, lincah dan bergerombol, (iv) responsive terhadap pakan. Padat tebar untuk kegiatan pembesaran atau penggemukan ini antara 20-25 ekor/m3 atau sekitar 500-600 ekor di setiap lubang KJA yang berukuran luas 3 m x 3 m x 3 m (Sunaryanto dan Ginting, 2014). Parameter Kualitas Air Kondisi Kualitas air pada lokasi ini yaitu salinitas 30-32 ppt, pH 6-7,5, Kandungan oksigen terlarut 4 ppm dan suhu 28 o C -30 o C. Sedangkan menurut Supratno dkk (2008) dalam Sunaryanto dan Ginting (2014) kondisi kualitas air untuk budidaya ikan bandeng yaitu pH 7,0- 8,5, Salinitas ppt 10-20, Oksigen ppm 3-7, Suhu 28 o C – 30o C. Pemberian Pakan Pemilihan jenis pakan didasarkan pada selera makan ikan, nutrisi dan harga pakan. p pakan yang diberikan adalah pakan buatan berupa pellet. Pada awal kegiatan pembesaran, pemberian pakan perlu dilakukan sesering mungkin sampai ikan benar-benar kenyang, minimal tiga kali sehari. Selanjutnya waktu dan frekuensi pemberian pakan harus diatur agar efisien, sebaiknya diberikan dua kali sehari pagi dan sore dengan 3-5 % untuk pakan pellet (Sunaryanto dan Ginting, 2014). Monitoring Pertumbuhan Selain untuk memantau pertambahan berat, monitoring pertumbuhan juga diperlukan untuk melihat kesehatan ikan dan menentukan berat pakan yang diberikan. Caranya, ikan diambil secara acak sebanyak 10 %, kemudian ditimbang. Sampling ini sebaiknya dilakukan sebulan sekali (Sunaryanto dan Ginting, 2014). Pemisahan Ukuran (Grading)
  • 14.
    Ikan yang ukurannyalebih kecil biasanya kalah bersaing dalam perebutan makanan. Oleh sebab itu, secara rutin perlu dilakukan pemisahan ukuran, dalam lubang jaring yang sama diupayakan berisi ikan yang berukuran kurang lebih sama besar (Sunaryanto dan Ginting, 2014). Pengendalian Hama dan Penyakit Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, pencegahan penyakit dan parasit yang dapat menyerang ikan dilakukan dengan tetap menjaga kualitas air, secara rutin mengamati kesehatan,pertumbuhan dan tingkah laku ikan serta menjaga kebersihan jaring dan lingkungan pemeliharaan. Untuk sementara, ikan yang terserang penyakit dapat dipisahkan, kemudian direndam dalam air tawar selama 10-15 menit. Diharapkan selama perendaman parasit yang menempel pada tubuh ikan dapat terlepas dan pathogen (organisme penyebab penyakit) terbunuh (Sunaryanto dan Ginting, 2014). Pemanenan Panendilakukan 4-5 bulan pemeliharaan, ukuran ikan yang mendapat harga jual tinggi pada umumnya berukuran 200-500 gram/ekor. Harga ikan dapat turun jika didapati kondisi ikan yang kurang baik, ukuran tidak seragamdan cara panenyang tidak benar. Pada umumnya, hasil produksi budidaya laut ini dipanen dan diangkut dalam keadaanhidup. Waktu panen yang tepat adalah sore hari karena suhu relatif rendah sehingga mengurangi terjadinya stress pada ikan dan lebih dekat dengan waktu pengangkutan yang biasanya dilakukan malam hari. Pemanenan dapat dilakukan secara selektif ataupun total. Panen selektif dilakukan terhadap ikan yang sudah mencapai ukuran tertentu sesuai permintaan pasar, terutama pada saat harga jual tinggi. Panentotal dilakukan jika permintaan pasar besaratauukuran ikan seluruhnya telah memenuhi permintaan pasar (Sunaryanto dan Ginting, 2014).
  • 15.
    ANALISIS TEKNIS INVESTASI 1.Perkiraan Modal/Biaya Investasi dan Biaya Produksi Untuk mendirikan usaha/proyek pengembangan usaha budidaya ikan kerapu dengan sistem keramba jaring ikat, dibutuhkan sejumlah dana untuk membiayai investasi dan modal kerja. Komponen biaya investasi ini, meliputi : a. Pembuatan rakit berukuran 8 x 8 m b. Pembuatan waring berukuran 1 x 1 x 1,5 m c. Pembuatan jaring ukuran 3 x 3 x 3 m d. Pembuatan rumah jaga e. Pengadaan sarana kerja Sedang untuk modal kerja meliputi : biaya pengadaan benih, pakan, bahan bakar, upah/gaji, dan lain-lain. Adapun jumlah dana untuk membiayai berbagai komponen biaya di atas, dihitung berdasarkan tingkat harga di wilayah proyek dan beberapa asumsi. Asumsi-asumsi tersebut, adalah : 1. Umur proyek 5 thun. 2. Sumber dana untuk membiayi kegiatan investasi khusus untuk biaya investasi berasal dari pinjaman sebesar Rp. 15,000,000,- dengan tingkat bunga 18% per tahun (flat) dalam jangka waktu 5 tahun. 3. Pajak penghasilan 15 % per tahun. 4. Penyusutan atas aktiva tetap dihitung dengan metoda garis lurus dengan nilai sisa = 0 dan umur ekonomis dari setiap asset 5 tahun. 5. Benih yang ditebarkan berukuran 4-5 cm sebanyak 2,500 ekor dengan tingkat kehidupan sampai umur panen 65% dengan berat 450 gram/ekor.
  • 16.
    6. Jangka waktupembesaran atau umur produksi untuk mencapai berat jual/panen adalah 12 bulan (1 tahun). 7. Harga jual Rp. 317,000,000,- per kilogram. Atas dasar asumsi-asumsi di atas, hasil perkiraan biaya investasi dan biaya variabel, seperti terlihat pada Tabel 1. Tabel 1 Perkiraan Biaya Investasi Usaha Penangkapan Ikan Pelagis Kecil Di kabupaten Kupang Total besarnya biaya investasi, biaya variabel dan biaya tetap sebesar Rp.109,288,030,- di mana biaya terbesar adalah biaya variabel mencapai 63% diikuti oleh biaya investasi 26.2% dari total biaya. Rincian biaya investasi, biaya variabel dan biaya tetap yang diperlukan untuk usaha budidaya ikan kerapu tikus dengan sistem KJA di Kabupaten Kupang ini, disajikan pada Lampiran 1 dan Lampiran 2. 2. Analisis Profitability Financial Analisis ini dilakukan untuk melihat kelayakan dari usaha budidaya ikan kerapu tikus dengan sistem KJA di Kabupaten Kupang, yang meliputi : Analisis Proyeksi Rugi Laba Perhitungan/analisis rugi laba dari usaha budidaya ikan kerapu tikus dengan sistem KJA di Kabupaten Kupang ini didasarkan pada asumsi-asumsi seperti yang telah dikemukakan terdahulu. Hasil analisisnya seperti ditunjukkan pada Tabel 2 berikut. Tabel 2
  • 17.
    Analisis Rugi LabaUsaha Budidaya Ikan Kerapu Tikus Dengan Sistem KJA Di Kabupaten Kupang (Rp.000) Dari Tabel 2, terlihat bahwa usaha budidaya ikan kerapu tikus selama 5 tahun atau 5 kali siklus produksi memberikan pendapatan bersih setelah pajak sebesar Rp.403,351.80,- Rinciannya, dapat disimak pada Lampiran 4. Analisis Cash Flow dan Kelayakan Investasi Analisis ini menggambarkan proyeksi arus penerimaan dan arus pengeluaran dari usaha budidaya ikan kerapu tikus dengan sistem KJA selama 5 tahun usaha. Nampak bahwa, investasi di bidang usaha budidaya ikan kerapu di Kabupaten Kupang dengan teknologi dan kapasitas produksi yang ada, mampu memberikan adanya surplus pendapatan bagi pihak investor. Kriteria-kriteria kelayakan finansial dari usaha budidaya ikan kerapu dengan sistem KJA di Kabupaten Kupang sbb : Tabel 3 Kriteria Kelayakan Usaha Budidaya Ikan Kerapu Tikus Dengan Sistem KJA Di Kabupaten Kupang
  • 18.
    Analisis Payback Period Analisisini dimaksudkan untuk mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh kembali dana/biaya yang telah diinvestasikan untuk usaha budidaya ikan kerapu di Kabupaten Kupang. Dari Tabel 3, terlihat bahwa dalam jangka waktu kurang dari 2 tahun atau tepatnya 1.56 kali proses produksi dana yang diinvestasikan itu dapat diperoleh kembali. Analisis Net Present Value/NPV Analisis ini menunjukkan nilai uang yang diterima dari dana yang diinvestasikan pada saat ini. Dari Tabel 3, terlihat bahwa dari total dana yang diinvestasikan untuk usaha budidaya ikan kerapu tikus dengan sistem KJA di Kabupaten Kupang saat ini, nilai uang yang diterima selama masa investasi (NPV) sebesar Rp. 441,080,000,- dengan Net B/C Ratio sebesar 3.53 pada tingkat diskonto (DF) 18%. Angka yang ada menunjukkan bahwa kegiatan investasi di bidang usaha budidaya ikan kerapu tikus di Kabupaten Kupang secara finansial layak atau memiliki daya keuntungan yang tinggi. Analisis Internal Rate of Return/IRR Analisis ini dimaksudkan untuk melihat kekuatan arus perputaran modal di dalam usaha.Hasil analisis diperoleh IRR sebesar69.4% yang bila dibandingkan dengan tingkat suku bunga pinjaman 18% per tahun, menunjukkan bahwa investasi di bidang usaha budidaya ikan kerapu di Kabupaten Kupang adalah layak untuk diusahakan. Analisis Rate of Return On Investment/ROI Analisis ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan bagi investor. Hasil analisis diperoleh nilai ROI untuk investasi usaha budidaya ikan kerapu tikus dengan sistem KJA di Kabupaten Kupang sebesar 64.3%. Analisis Break Even Point/BEP
  • 19.
    Analisis ini dimaksudkanuntuk mengetahui berapa jumlah produk yang harus dijual atau berapa harga jualnya agar perusahaan itu tidak mengalami kerugian. Hasil analisis menunjukkan bahwa untuk mencapai BEP, maka jumlah hasil budidaya ikan kerapu tikus ini setiap tahunnya minimum sebanyak 307.40 kg atau dengan harga jual Rp.144,369,- per kilogram (Tim Peneliti UNDANA, 2006). PENUTUP - KESIMPULAN Berdasarkan kunjungan lapangan yang dilaksanakan di UPTD BRBLP Barru dapat disimpulkan bahwa lokasi pembudidayaan sudah tercemar oleh limbah penduduk dan limbah yang berasaldari laut yang terbawa kesekitar lokasi serta kurangnya pengontrolan pada lokasi dan spesies yang dibudidayakam serta masih kurangnya keterampilan dalam pembesaran ikan Kerapu,Bandeng dan Baronang di KJAmenyebabkan UPTDBRBLP masih sering mengalami kerugian. - KRITIK DAN SOLUSI PRAKTEK LAPANG Praktek lapang yang dilakukan tidak efektif disebabkan lokasi kunjungan suatu heatchery tidak layak untuk dilakukannya praktek lapang Sebaiknya memilih lokasi yang baik agar para mahasiswa dengan baik melakukan praktek. ASISTEN Sebaiknya asisten lebih memperhatikan praktek dan mengarahkannya.. Karena kemaren pada saat praktek ada bebrapa praktikan tidak faham apa yang ingin dikerjakan…
  • 20.
    DAFTAR PUSTAKA Sudradjat, A.2008. Budidaya 23 Komoditas Laut Menguntungkan. Penebar Swadaya,Jakarta. Sunaryanto, A. dan Ginting, P. S. 2014. Teknologi Sederhana Budidaya Ikan bagi Masyarakat Pesisir. Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta.