TUGAS FORMULASI OBAT
KRIM KLORAMFENIKOL & HIDROKORTISON ASETAT
KELOMPOK 6 :
ADE MAYA PUSPITA (2405029)
GUSTI SILVI HANDAYANI (2405030)
FADHILLA ANGGRAINI (2405031)
YESI HAMDANI (2405032)
JENI ARTA (2405033)
PROGRAM PROFESI APOTEKER
SEKOLAH TINGGI FARMASI INDONESIA
YAYASAN PERINTIS PADANG
2017
SIMULASI INDUSTRI FARMASI (SIF)
PROGRAM PROFESI APOTEKER, STIFI-YP
PADANG
KELOMPOK 4 (EMPAT)
ANGKATAN 21
ZAT AKTIF KLORAMFENIKOL & HIDROKORTISON ASETAT
BENTUK SEDIAAN KRIM
PT. STIFI FARMA Tbk
Padang, Sumatra Barat
Pengesahan
No Uraian Nama Tanda Tangan
1. Kepala seksi
Formulasi
Meldawati, S.Farm
Anggota seksi
formulasi
Rahmi Suci, S.
Farm
2. Kepala seksi
kemasan/ registrasi
Yushenridawati, S.
Farm
Anggota seksi
kemasan/ registrasi
Ria Safitri, S. Farm
3. Kepala Seksi
Metoda Analisis/
Uji Stabilitas
Ria Anggreiny, S.
Farm
Anggota Seksi
Metoda Analisis/
Uji Stabilitas
Marlisnawati, S.
Farm
PT. STIFI FARMA Tbk
Padang, Sumatra Barat
FORM 1
STUDI PUSTAKA
Krim adalah bentuk sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih bahan
obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. Istilah ini secara
tradisional telah digunakan untuk sediaan setengah padat yang mempunyai
konsistensi relatif cair diformulasi sebagai emulsi air dalam minyak atau minyak
dalam air. Sekarang ini batasan tersebut lebih diarahkan untuk produk yang terdiri
dari emulsi minyak dalam air atau dispersi mikrokristal asam-asam lemak atau
alkohol berantai panjang dalam air, yang dapat dicuci dengan air dan lebih ditujukan
untuk penggunaan kosmetika dan estetika. Krim dapat digunakan untuk pemberian
obat melalui vaginal (Ditjen POM, 1995).
Krim adalah sediaan setengah padat berupa emulsi kental mengandung tidak
kurang dari 60% air, dimaksudkan untuk pemakaian luar. Tipe krim ada 2 yaitu: krim
tipe air dalam minyak (A/M) dan krim minyak dalam air (M/A). Untuk membuat
krim digunakan zat pengemulsi, umumya berupa surfaktansurfaktan anionik, kationik
dan nonionik (Anief, 2008).
Sifat umum sediaan semi padat terutama krim ini adalah mampu melekat pada
permukaan tempat pemakaian dalam waktu yang cukup lama sebelum sediaan ini
dicuci atau dihilangkan. Krim yang digunakan sebagai obat umumnya digunakan
untuk mengatasi penyakit kulit seperti jamur, infeksi ataupun sebagai anti radang
yang disebabkan oleh berbagai jenis penyakit (Anwar, 2012).
Persyaratan Krim Sebagai obat luar, krim harus memenuhi beberapa
persyaratan berikut:
a. Stabil selama masih dipakai untuk mengobati. Oleh karena itu, krim harus
bebas dari inkompatibilitas, stabil pada suhu kamar.
b. Lunak. Semua zat harus dalam keadaan halus dan seluruh produk yang
dihasilkan menjadi lunak serta homogen.
c. Mudah dipakai. Umumnya, krim tipe emulsi adalah yang paling mudah
dipakai dan dihilangkan dari kulit.
d. Terdistribusi secara merata. Obat harus terdispersi merata melalui dasar krim
padat atau cair pada penggunaan. (Widodo, 2013).
Penggolongan Krim
Krim terdiri dari emulsi minyak dalam air sehingga dapat dicuci dengan air
serta lebih ditujukan untuk pemakaian kosmetik dan estetika. Krim digolongkan
menjadi dua tipe, yakni:
1. Tipe a/m, yakni air terdispersi dalam minyak. Contohnya cold cream. Cold
cream adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk memberi rasa dingin
dan nyaman pada kulit.
2. Tipe m/a, yakni minyak terdispersi dalam air. Contohnya, vanishing cream.
Vanishing cream adalah sediaan kosmetik yang digunakan untuk
membersihkan, melembabkan dan sebagai alas bedak. (Widodo, 2003).
Krim merupakan sistem emulsi sediaan semipadat dengan penampilan tidak
jernih, berbeda dengan salep yang tembus cahaya. Konsistensi dan sifatnya
tergantung pada jenis emulsinya, apakah jenis air dalam minyak atau minyak dalam
air (Lachman, dkk., 1994).
Dasar salep emulsi, ada dua macam yaitu:
1. Dasar salep emulsi tipe A/M seperti lanolin dan cold cream.
2. Dasar salep emulsi tipe M/A seperti vanishing cream dan hydrophilic
ointment. (Anief, 1994)
a. Lanolin cream suatu bentuk emulsi tipe A/M yang mengandung air
25% dan digunakan sebagai pelumas dan penutup kulit dan mudah
dipakai.
b. Cold cream suatu emulsi tipe A/M dibuat dengan pelelehan cera alba,
Cetaceum dan Oleum Amydalarum ditambahkan larutan boraks dalam
air panas, diaduk sampai dingin. Dasar salep ini harus dibuat baru dan
digunakan sebagai pendingin, pelunak dan bahan pembawa obat.
c. Vanishing cream, sebagai dasar untuk kosmetik dengan tujuan
pengobatan kulit. (Anief, 1994)
Metode Pembuatan Krim
Secara umum, pembuatan/peracikan sediaan krim meliputi proses peleburan
dan emulsifikasi. Biasanya, komponen yang tidak tercampur dengan air, seperti
minyak dan lilin, dicairkan bersama-sama didalam penangas air pada suhu 70-75ºC.
Sementara itu, semua larutan berair yang tahan panas dan komponen yang larut dalam
air dipanaskan pada suhu yang sama pada komponen lemak. Kemudian, larutan berair
secara perlahan-lahan ditambahkan kedalam campuran lemak yang cair dan diaduk
secara konstan, sementara temperatur dipertahankan selama 5-10 menit untuk
mencegah kristalisasi dari lilin/lemak. Selanjutnya campuran perlahan-lahan
didinginkan dengan pengandukan yang terus menerus sampai mengental. Bila larutan
berair tidak sama temperaturnya dengan leburan lemak, beberapa lilin akan menjadi
padat, sehingga terjadi pemisahan antara fase lemak dan fase cair (Widodo, 2003).
Pembentukan Krim
Dibawah pengaruh gravitasi, partikel-partikel atau tetesan-tetesan tersuspensi
cenderung meningkat atau mengendap, tergantung pada perbedaan dalam gravitasi
spesifik antar fase tersebut. Jika pembentukan krim berlangsung tanpa agregasi
apapun, emulsi dapat terbentuk kembali dengan pengocokan atau pengadukan.
Pembentukan krim meliputi gerakan sejumlah tetesan heterodispers, dan gerakan
tersebut saling mengganggu satu sama lain dan biasanya menyebabkan rusaknya
tetesan (Lachman, dkk., 1994).
Penyimpanan Krim
Penyimpanan krim biasanya dikemas baik dalam botol atau dalam tube, botol
yang digunakan biasanya berwarna gelap atau buram. Wadah dari gelas buram dan
berwarna berguna untuk krim yang mengandung obat yang peka terhadap cahaya.
Tube bias saja terbuat dari kaleng atau plastik, beberapa diantaranya diberi tambahan
kemasan bila krim akan digunakan untuk penggunaan khusus. Tube dari krim
kebanyakan dikemas dalam tube kaleng dan dapat dilipat yang dapat menampung
(sekitar 8.5 g krim). Tube krim untuk pemakaian topikal lebih sering dari ukuran 5
sampai 15 gram (Ansel, 1989).
1. MONOGRAFI ZAT AKTIF (FI edisi 3)
KLORAMFENIKOL HIDROKORTISON
ASETAT
Struktur molekul
Rumus molekul C11H12Cl2N2O5 C23H32O6
Bobot molekul 323,13 404,50
Pemerian Hablur halus berbentuk jarum
atau lempeng memanjang, putih
sampai putih kelabu atau putih
kekuningan, tidak berbau, rasa
pahit
Serbuk hablur, putih atau
hampir putih, tidak berbau,
rasa tawar kemudian pahit
Kelarutan Sukar larut dalam air, mudah
larut dalam etanol dan
propilenglikol, sukar larut dalam
kloroform dan eter
Praktis tidak larut dalam air,
sukar larut dalam etanol dan
kloroform
Jarak lebur Antara 149o C dan 153o C ± 220o C
Serapan UV Panjang gelombang 278 nm
adalah 0,58-0,61
-
Susut
pengeringan
Tidak lebih dari 1 % Tidak lebih dari 1 %
Sisa pemijaran Tidak lebih 0,1 % -
2. FARMAKOLOGI ZAT AKTIF (Obat-obat penting edisi 5 2002, ISO Vol 47)
KLORAMFENIKOL HIDROKORTISON ASETAT
Farmakokinetik Resorpsi dari usus cepat
dengan bioavailabilitas 75-
90 %, ikatan obat dengan
protein ± 50%, T1/2 plasma
3 jam, dimeabolisme dihari
sebanyak 90 % menjadi
glukoronida aktif, ekskresi
melalui ginjal sekitar 10%
Resorpsi diusus buruk makanya
tidak digunakan secara peroral,
terikat dengan protein
(globulin) 95% pengangkut
transkortin, T1/2 1,5-2 jam,
efek maksimal sesudah 6-8 jam,
ekskresi lewat ginjal sebagai
metabolit 17-keto yang mudah
larut
Farmakodinamik Berkhasiat bersifat
bakteriostatik terhadap
Enterobacter dan Staph.
Aureus berdasarkan
perintangan sintesa
polipeptida kuman dan
bekerja bakterisid terhadap
Kortikosteroid bekerja dengan
mempengaruhi kecepatan
sintesis protein. Molekul
hormone sel memasuki
melewati membrane plasma
secara difusi pasif. Hanya
dijaringan target hormone ini
Str. Pneumonia, Neiss.
Meningitides, dan H.
influenzae
bereaksi dengan reseptor protein
yng spesifik dalam sitoplasma
sel akan membentuk kompleks
reseptor-steroid. Kompleks ini
mengalami perubahan
konformasi, lalu bergerak
menujju nokleus dan berikatan
dengan kromatin. Ikatan ini
berfungsi menstimulasi
transkripsi RNA dan sintesis
protein spesifik. Induksi sintesis
protein ini menghasilkan efek
fisiologik steroid.
Indikasi Infeksi pada kulit yang
disebabkan infeksi gram
negative dan gram positif
khususnya yang sensitive
terhadap kloramfenikol
Nyeri inflamasi dari dermatosis
yang responsive terhadap
kortikosteroid
Kontraindikasi Hipersensitif kloramfenikol Diabetes militus, tukak peptic,
infeksi berat, hipertensi, dan
hipersensitivitas.
Efek samping Gangguan lambung usus,
neuropati optis dan perifer,
radang lidah dan mukosa
mulut, dan yang berbahaya
depresi sum-sum tulang
yang menyebabkan anemia
Gangguan saluran cerna,
osteoporosis, hiperkoagulbilitas,
iritasi kulit, penggunaan lama
yang dihentikan secara tiba-tiba
dapat menyebabkan gejala
demam, myalgia, arthralgia, dan
malaise.
3. MONOGRAFI ZAT TAMBAHAN (FI edisi 3 & Handbook of excipient Ed 6)
A. Asam stearat
a. Rumus molekul : C18H36O2
b. Bobot molekul :284,47
c. Pemerian : zat padat keras mengkilap, hablur putih atau kuning pucat
mirip le,ak lilin
d. Kelarutan : praktis tidak larut dalam air, larut dalam etanol 95%p, mudah
larut dalam kloroforom p dan eter p
e. Suhu lebur : tidak kurang dari 54o C
f. Khasiat : pengemulsi
B. TEA (Trietanolamin)
a. Rumus molekul : C6H15NO3
b. Bobot molekul : 149,19
c. Pemerian : cairan kental, tidak bewrawarna hingga kuning pucat, bau
lemah mirip amoniak, higroskopik
d. Kelarutan : mudah larut dalam air, dan dalam etanol (95%) P, larut dalam
kloroform P.
e. Khasiat : pengemulsi
C. Adeps lanae
a. Rumus molekul : -
b. Bobot Molekul : -
c. Pemerian : zat serupa lemak, liat, lekat, kuning muda atau kuning pucat,
agak tembus cahaya, bau lemah dan khas.
d. Kelarutan : praktis tidak larut dalam air, agak sukar larut ddalam etanol
(95%) P, mudah larut dalam kloroform P dan dalam eter P.
e. Suhu lebur 45-55o C
f. Khasiat : basis krim, emolien
D. Paraffin cair
a. Rumus molekul : -
b. Bobot molekul : -
c. Pemerian : cairan kental jernih, tidak berwarna, tidak memberikan
fluorosensi pada cahaya matahari, hampir tidak berbau.
d. Kelarutan : praktis tidak larut dalam air dan etanol (95%0 )P, larut dalam
kloroform P dan dalam eter P, dapat camur dengan minyak atsiri.
e. Titik didih : > 360oC
f. Khasiat : emulien, lubrikan
E. Aqua destillata
a. Rumus molekul : H2O
b. Bobot molekul : 18,02
c. Pemerian : cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidk mempunyai
rasa.
d. Khasiat : pelarut.
F. Nipagin (Metylparaben)
a. Rumus molekul : C8H8O3
b. Bobot molekul : 152,15
c. Pemerian : serbuk hablur halus, putih, hampir tidak berbau, tidak
mempunyai rasa, agak membakar diikuti rasa kebal.
d. Kelarutan : larut dalam 500 bagian air, dalam 20 bagian air mendididh,
dalam 3,5 bagian etanol (95%) dan dalam 3 bagian aseton P, mudah larut
dalam eter P dan dalam larutan alkali hidroksida, larut dalam 60 again
gliserol P panas dana dalam 40 bagian minyak lemak nabati panas, jika
didinginkan larutan teta jernih.
e. Suhu lebur : 125o-128o
f. Khasiat : antimikroba
G. Nipasol (Propylparaben)
a. Rumus molekul : C10H12O3
b. Bobt molekul : 180,21
c. Pemerian : serbuk hablur putih, tidak berbau, tidak berasa.
d. Kelarutan : sangat lartdalam air, larut dalam 3,5 bagian etanol (95%) P,
dalam 3 bagian aseton P, dalam 140 bagian gliserol P dan dalam 40 bagian
minyak lemak, mudah larut dalam larutan alkali hidroksida.
e. Suhu lebur : 95o C - 98o C
f. Khasiat : antimikroba.
H. Na metabisulfit
a. Rumus molekul : Na2S2O5
b. Bobot molekul : 190,1
c. Pemerian : hablur atau serbuk, yang berbentuk hablur tidak berwarna,
yang berbentuk serbuk berwarna putih atau kuning gading, bau belerang,
rasa asam dan asin.
d. Kelarutan : larut dalam 2 bagian air, sukar larut dalam etanol (95%) P.
e. Titik lebur : 150oC
f. Khasiat : antioksidan, antimikroba
4.Alasan Pemilihan Bentuk Sediaan Dan Zat Aktif Serta Bahan Tambahan
A. Bentuk sediaan obat: Krim
B. Alasan pemilihan Bentuk Sediaan Krim
Kloramfenikol dan hidrokortison asetat tidak larut dalam air sehingga lebih
cocok dibuat dalam bentuk sediaan krim. karena krim dapat memberikan rasa
sejuk dan nyaman pada kulit, dan absorpsi di kulit sangat baik. Sediaan krim juga
selain mudah diserap kulit juga mudah dicuci dengan air
C. Zat aktif
Karna merupakan suatu antibiotika yang memiliki spectrum bakteri yang
luas, berfungsi untuk mengobati infeksi pada kulit, termasuk infeksi sekunder
yang umunya menyertai radang kulit, kloramfenikol tidak larut dalam air
sehingga lebih cocok dibuat dalam bentuk sediaan krim. Rentang dosis untuk
kloramfenikol 2-3%.
Hidrokortison asetat merupakan steroid lemah, masuk dalam daftar obat
essensial menurut WHO. Pada sediaan krim hidrokortison asetat mempuntai
stabilitas yang baik dari pada bentuk lotion, hidrokortison asetat juga merupakan
bahan dengan karakteristik fisik yang tidak higroskopis, volatile, mudah melebur.
Berdasarkan tujuan penggunaan bahan aktif Hidrokortison Asetat sebagai Anti
inflamasi pada kulit maka dipilihlah krim sebagai bentuk sediaan topikal, karena
krim dapat memberikan rasa sejuk dan nyaman pada kulit, dan absorpsi di kulit
sangat baik. Retang dosis dosis untuk hidrokortison asetat 0,1-2,5%.
Kombinasi antara hidrokortison asetat dengan kloramfenikol karena
hidrokortison asetat (kortikosteroid) secara topical dapat menggangu pertahanan
kulit alami terhadap infeksi sehingga perlu dikombinasi dengan antibiotik.
D. Zat tambahan
1. Asam stearat : untuk basis krim dan juga dapat member kesan lembut pada
kulit.
2. TEA (trietanolamin) : Untuk membentuk sabun anionik yang dapat berguna
sebagai pengemulsi untuk membentuk emulsi minyak dalam air yang stabil
(m/a).
3. Adeps lanae : Merupakan basis krim serap sebagai pembawa zat aktif kedalam
kulit (lapisan endodermis)
4. Paraffin liquid : Dapat memperbaiki konsistensi krim dan digunakan sebagai
emolient
5. Nipagin : Dapat larut dalam fase air, merupakan pengawet yang dapat
mencegah pertumbuhan mikroorganisme yang disebabkan fase air. Kadar
yang diperbolehkan rentang 0,12-0,18%
6. Nipasol : Merupakan pengawet yang dapat mencegah pertumbuhan
mikroorganisme yang disebabkan oleh fase minyak. Rentang kadar yang
diperbolehkan 0,02-0,05%
7. Na metabisulfit : Sediaan krim mengandung minyak yang mudah teroksidasi
sehingga perlu ditambahkan antioksidan untuk mencegah terjadinya oksidasi.
Kadar yang diperbolehkan 0,01-1%
5. FORMULA DAN PERHITUNGAN BAHAN
A. Formula Teoritis (ISO Vol 47 Hal 344)
R/ Kloramfenikol 2%
Hidrokortison asetat 2,5%
Basis krim : (Jurnal penelitian)
R/ asam stearat 145 g
TEA 15 g
Adeps lanae 50 g
Paraffin liquid 250 g
Aqua dest 550
Nipagin 0,12%
Nipasol 0,05%
Na metabisulfit 0,1%
B. Formula Direncanakan (master formula)
R/ Kloramfenikol 2%
Hidrokortison asetat 2,5%
Basis krim ad 10 g
C. Perhitungan bahan skala industri
Untuk sediaan 1 batch (1000 tube) (masing – masing tube mengandung 10 g)
 Kloramfenikol 2/100 x 10 g = 0,2 g x 1000 = 200 g
 Hidrokortison asetat 2,5/100 x 10 g = 0,25 g x 1000 = 250 g
 Basis krim 10 g x 1000 = 10.000 g – (200g + 250 g ) =9550
 Asam stearat 145 g/ 1010 g x 9550 g =1371,04 g = 1,371 kg
 TEA 15 g/ 1010 g x 9550 g = 141,83 g = 0,141 kg
 Adeps lanae 50 g/1010 g x 9550 g = 472,77 g = 0,472 kg
 Parafin liquid 250 g/1010 g x 9550 g = 2363,86 g = 2,363 kg
 Nipagin 0,12/100 x 9550 g = 11,46 g = 0,0114 kg
 Nipasol 0,05 / 100 x 9550 g = 4,775 g = 0,00477 kg
 Na metabisulfit 0,1/100 x 9550 g = 9,55 g = 0,00955 kg
 Aqua dest 550/1010 g x 9550 g = 5200,49 ml = 5,2 L
6. METODE PEMBUATAN KRIM :
Prinsip
 Pembuatan sediaan krim meliputi proses peleburan dan proses emulsifikasi.
 Komponen tidak bercampur dengan air seperti minyak dan lilin
dicairkan bersama-sama di penangas air pada suhu 70-75 °C.
Cara kerja :
1. Semua fase air yang tahan panas, komponen yang larut dalam air dipanaskan
pada suhu yang sama dengan komponen lemak.
2. Fase air secara perlahan-lahan ditambahkan ke dalam campuran lemak yang
cair dan diaduk secara konstan, temperatur dipertahankan selama 5-10 menit
untuk mencegah kristalisasi dari lilin/lemak.
3. Campuran perlahan-lahan didinginkan dengan pengadukan yang terus-
menerus sampai campuran mengental.
4. Bila larutan berair tidak sama temperaturnya dengan leburan lemak, maka
beberapa lilin akan menjadi padat, sehingga terjadi pemisahan antara fase
lemak dengan fase cair.
Pembuatan Produk
Studi kelayakan produk : studi pasar (minat pasar dan persaingan)
Studi pustaka : Identifikasi obat, sifat fisikokimia obat, data farmakokinetik dan
farmakodinamik.
Fase minyak:
Asam stearat, adeps lanae,
paraffin liquid, nipasol
Fase air:
TEA, nipagin, Na metabisulfit,
aq dest
Zat aktif : Kloramfenikol dan
Hidrokortison Asetat
peleburan
pelarutan Mixing I
Mixing II
Filling/kemas
Preformulasi Studi kelayakan
produk
Studi pustaka
Rancangan
Formula
Sterilkan alat yang
akan digunakan
Penimbangan
bahan
Evaluasi
7. EVALUASI PRODUK
a. Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui kehomogenan dari zat aktif
dalam basis krim. Dilakukan pengujian dengan mengambil sampel secara acak
pada saat mixing kemudian dilakukan pengujian dengan cara penetapan kadar
dari zat aktif.
b. Organoleptis
Dilakukan pengamatan secara organoleptis yang terdiri dari warna dan bau.
c. pH sediaan
Pemeriksaan pH dilakukan untuk menjaga stabilitas dari sediaan dimana basis
krim yang sebagian besar terdiri dari minyak akan mudah teroksidasi pada pH
yang tinggi. Pengujian dilakukan dengan menggunakan alat pH-meter dengan
nilai pH 7.
d. Stabilitas sediaan
Uji stabilitas dilakukan dengan metode uji stabilitas dipercepat, yaitu
penyimpanan sediaan dalam berbagai suhu (suhu kamar, tinggi dan rendah). Dari
pengujian ini dapat diketahui masa kadaluarsa dari sediaan
e. Uji iritasi kulit
Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui efek iritan dari penggunaan
basis krim. Dilakukan dengan mengolehkan krim pada permukaan kulit dari
hewan coba lalu dilihat reaksi yang terjadi
f. Uji Viskositas
Viskositas sediaan diuji dengan menggunakan viscometer
Brookfield. Pengujian viskositas penting dalam proses pengemasan dan
penggunaan sediaan.
Pengesahan
No Uraian Nama Tanda
tangan
1 Disusun oleh anggota seksi
formulasi
Rahmi Suci, S.
Farm
2 Disetujui oleh kepala seksi
formulasi
Meldawati, S. Farm
PT. STIFI FARMA Tbk.
Padang, Sumatera Barat
FORM 2
Pengembangan Metode Analisis
Output : Metoda Uji Mutu Ruahan
EVALUASI CREAM
A. Organoleptis
 Alat : pengamatan bau, warna, dan terhadap bentuk sediaan.
 Prinsip kerja : Evaluasi yang pertama dilakukan yaitu dengan melakukan
pengamatan terhadap bau, warna dan bentuk sediaan.
B. Pengujian PH
 Alat : pH meter
 Prinsip kerja : Untuk mengatur PH sediaan digunakan PH meter
langsung pada sediaan.
C. Pengujian viskositas
 Alat : Viscotster VT-04
 Prinsip kerja : cairan dimasukkan antara cup dan bob samapai temperature
seimbang. Beban ditempatkan pada penggantung. Catat waktu untuk berputar
100 x ( Remington 348).
D. Pengujian berat jenis
 Alat : piknometer.
 Prinsip kerja : masukkan air pada piknometer dan dihitung beratnya. Setelah
itu masukkan 1 gram zat uji dan masukkan air sampai batas dan ukur
beratnya. Selisih antara berat keduanya merupakan berat jenis dari zat uji.
E. Penetapan kadar
 Alat : Spektrofotometer UV.
 Prinsip kerja : Timbang seksama sampel lalu encerkan dengan etanol lalu
saring, filtrate diencerkan dalam 10 ml etanol lalu ukur serapannya
menggunakan spektrofotometer UV pada daerah panjang gelombang 200-400
nm.
F. Uji daya sebar cream
 Alat: Exitometer.
 Prinsip kerja: Krim sebanyak 1gram diletakkan pada lempeng kaca berskala,
lalu diatasnya ditutup lempeng kaca dan diberi beban 5 gram. Lalu didiamkan
selama 2 menit. Kemudian beban ditambah 5 gram serta amati penyebaran
yang terjadi, ulangi denagn menambah beban hingga 20 g.(Voight R 978).
G. Uji daya lekat cream
 Alat : Object glass
 Letakan cream secukupnya di atas obyek glass yang telah ditentukan luasnya
1. Letakan obyek glass yang lain di atas cream tersebut. Tekan dengan
beban 1 kg selama 5 menit
2. Lepaskan beban seberat 1 kg
3. Pasang obyek glass pada alat uji
4. Catat waktunya hingga kedua obyek glass terlepas
5. Ulangi sebanyak 3 kali
H. Uji kemampuan proteksi
1. Ambilah sepotong kertas saring (10 x 10 cm). Basahi dengan larutan
phenophtalein untuk indikator. Setelah itu kertas dikeringkan
2. Olesilah kertas tersebut dengan cream yang akan dicoba (satu muka) seperti
lazimnya orang mempergunakan cream
3. Sementara itu pada kertas saring yang lain buat satu area (2,5 x 2,5 cm)
dengan pembatas parafin padat yang dilelehkan
4. Tempelkan kertas (3) pada kertas (2)
5. Tetesi atau basahi dengan KOH 0,1 N
6. Amati timbulnya noda kemerahan pada sebelah kertas yang dibasahi dengan
larutan phenolphtalein pada waktu 15; 30; 45; 60 detik, 3; 5 menit.
I. Uji homogenitas krim
 Penentuan partikel droplet
 Alat : mikroskop
 Prinsip kerja: 10 miligram sediaan diambil dari 3 tempat yang berbada. Tiap
sampel diletakkan pada kaca objek, lalu dengan bantuan kaca objek lain
dilihat dibawah mikroskop pada pembesaran 100 kali (Voight R 925).
Pengesahan
No Uraian Nama Tanda
tangan
1 Disusun oleh anggota seksi
formulasi
Rahmi Suci, S.
Farm
2 Disetujui oleh kepala seksi
formulasi
Meldawati, S. Farm
PT. STIFI FARMA Tbk.
Padang, Sumatera Barat
FORM 3
Pengembangan Kemasan
Output : Desain Kemasan
Desain kemasan primer
Etiket kemasan sekunder
Tiap gram Krim mengandung:
Kloramfenikol 2%
Hidrokortison Asetat 2,5%
Indikasi
Lihat brosur
No.reg : DKL1700600129A1
No.Bacth : Z729001
Exp date : 09- 2021
Mfg, date : 09-2017
HET : Rp. 15.250,-
PRIMCOLE®
Kloramfenikol 2% krim Netto 10 g
Hidrokortison Asetat 2,5%
cream Netto 10 g
KDiproduksi oleh
PT.STIFI FARMA Tbk.
Padang, Sumatera
Barat
ATURAN PAKAI
Oleskan tipis pada tempatyang sakit
2-4 kali sehari
Keterangan Lengkap Lihat Brosur
SIMPAN DITEMPAT SEJUK DAN
KERING SERTA TERLINDUNG
DARI CAHAYA
PRIMCOLE®
Kloramfenikol 2% krim Netto 10 g
Hidrokortison Asetat 2,5%
Diproduksi oleh
PT.STIFI FARMA Tbk.
Padang, Sumatera
Barat
K
Tiap gram Krim mengandung:
Kloramfenikol 2%
Hidrokortison Asetat 2,5%
Aturan pakai :
Oleskan tipis pada tempat yang
sakit 2-4 kali sehari
Harus Dengan Resep Dokter
Keterangan Lengkap Lihat
Brosur
HET : Rp. 15.250,-
PRIMCOLE®
krim
Diproduksi oleh
PT. STIFI
FARMA Tbk.
Padang, Sumatera Barat
Netto:10 g
INDIKASI:
Nyeri inflamasi dari Dermatosis
yang responsive terhadap
kortikosteroid 25 dengan
komplikasi infeksi sekunder yang
disebabkan oleh organism yang
peka terhadap kloramfenikol.
No.reg : DKL1700600129A1
No.Bacth : Z729001
Exp date : 09- 2021
Mfg, date :09-2017
BROSUR
PRIMCOLE®
Krim
Komposisi :
Tiap gram krim mengandung :
Kloramfenikol………………….2 %
Hirocortison Asetat………… 2,5 %
Farmakologi :
Kloramfenikol Berkhasiat sebagai bakteriostatik terhadap
Enterobacter dan Staph. Aureus berdasarkan perintangan
sintesa polipeptida kuman dan bekerja bakterisid terhadap
Str. Pneumonia, Neiss. Meningitides, dan H. influenza.
Kortikosteroid bekerja dengan mempengaruhi kecepatan
sintesis protein. Molekul hormone sel memasuki melewati
membrane plasma secara difusi pasif. Hanya dijaringan
target hormone ini bereaksi dengan reseptor protein yng
spesifik dalam sitoplasma sel akan membentuk kompleks
reseptor-steroid. Induksi sintesis protein ini menghasilkan
efek fisiologik steroid.
Indikasi
Inflamasi non infeksi pada kulit seperti dermatitis atopic,
dermatitis kontak, dan reaksi alergi kulit lain yang
responsive terhadap kortikosteroid.
Kontra Indikasi :
Hipersensitivitas terhadap kloramfenikol dan hidrocortison
asetat
Efek samping :
Iritasi kulit.
Aturan pakai :
Oleskan tipis pada tempat yang sakit 2-4 kali sehari
HARUS DENGAN RESEP DOKTER
SIMPAN DITEMPATSEJUK
DAN TERLINDUNG DARI CAHAYA
Kemasan : Tube 10 gram
No.reg : DKL1700600129A1
Diproduksi oleh:
PT. STIFI FARMA Tbk.
Padang, Sumatera Barat
PT. STIFI FARMA Tbk.
Padang, Sumatera Barat
FORM 4
Trial Skala Industri
OutPut : Catatan Pengolahan Bets
PT. ANAM FARMA
Tbk.
Padang, Sumatera Barat
Catatan pengolahan batch No :
Tanggal berlaku :
Menganti,
No :
Tanggal berlaku :
Disusun oleh :
Yushenridawati, S.
Farm
Disetujui oleh :
Meldawati, S. Farm
Seksi Formulasi :
Rahmi Suci, S. Farm
Tanggal : 1 April 2017
Manajer Produksi :
Ria Safitri, S. Farm
Tanggal : 1 April 2017
Manajer QA :
Ria Anggreiny, S. Farm
Tanggal : 1 April 2017
Kode produk/ bentuk
sediaan : A / krim
Nama produk :
PRIMCOLE
No. Bets /besar batch
Z729001 / 1000
Kemasan :
10 g
Tanggal mulai pengolahan
:
Tanggal selesai
pengolahan :
Komposisi
Jumlah yang diperlukan untuk 1 tube dan 1 bets
No Nama zat aktif Tiap 10 g
Tiap 1Batch
(1000 tube)
1. Kloramfenikol 20mg/g 200 mg 200 g
2. Hidrokortison asetat 25mg/g 250 mg 250 g
Basis krim
3. Asam Stearat 145 g 1,37 g 1371 g
4. TEA 15 g 0,14 g 141,83 g
5. Adeps Lanae 50 g 0,472 g 472,7 g
6. Parafin liquid 250 g 2,3638 g 2363 g
7. Nipagin 0,12% 0,011 g 11,46 g
8. Nipasol 0,05% 4,77 mg 4,775 g
9 Na metabisulfit 0,1% 9,55 mg 9,55 g
10 Aquadest 550 ml 5,2 mL 5,2 L
Peralatan
 Timbangan
 Mesin mixing
 Spektrofotometer UV
 Climatic chamber
 Kemasan
 Peralatan ultrasonic
 PH meter
 Viskometer
 Exikometer
 piknometer
Penimbangan
No
Nama zat
aktif
Tiap 10 g
Tiap 1000
Batch
Ditimbang
oleh (Ade
Maya Puspita,
S. Farm)
Diperiksa oleh
(Gusti Silvi
Handayani, S.
Farm)
1. Kloramfeni
kol
20mg 200 mg 200 g
2. Hidrokortis
on asetat
25mg 250 mg 250 g
Basis krim
3. Asam
Stearat
145
g/1010g
1,37 g 1371 g
4. TEA 15
g/1010g
0,14 g 141,83 g
5. Adeps
Lanae
50
g/1010g
0,472 g 472,7 g
6. Parafin
liquid
250
g/1010g
2,3638 g 2363 g
7. Nipagin 0,12% 0,011 g 11,46 g
8. Nipasol 0,05% 4,77 mg 4,775 g
9 Na
metabisulfi
t
0,1% 9,55 mg 9,55 g
10 Aquadest 550
ml/1010
g
5,2 mL 5,2 L
Prosedur Pengolahan
a. Siapkan kondisi ruang produksi kelas E umum.
b. Karyawan daerah harus sehat dan tidak berpenyakit menular, dan sedang tidak
sakit flu, batuk, atau sakit tenggorokan. Bila sakit harus melapor kesupervisor dan
sementara ditempatkan bukan pada daerah steril sampai benar-benar sembuh.
Cuci tangan dengan menggunakan cairan antiseptic khusus, kenakan tutup kepala,
sarung tangan dan masker
c. Siapkan peralatan yang diperlukan, alat sudah dibersihkan dengan aqua, etanol
75% dan aqua kembali. Botol dicuci dengan menggunakan na pyrofosfat 0,5%
dengan mesin cuci otomatis. Cuci dan bilas dengan aquademineralisata, keringkan
dalam tunel dryer suhu 600C selama 2 jam. Dinginkan pada suhu kamar selama 1
jam.
d. Peralatan sesuai cara yang tercantum diatas. Set peralatan sesuai dengan master
formula untuk produk yang akan diproduksi.
e. Bahan baku diambil dari gudang bahan baku. Kirim ke ruang penimbangan kelas
E melalui airlock. Timbang sesuai dengan master formula. Cek oleh kepala regu
dan kepala unit. Setelah OK kirim keruang produksi melalui air lock khusus
bahan baku.
f. Bahan pengemas sekunder diambil dari gudang bahan kemas, sesuai dengan
master formula/ CPOB produk yang akan diproduksi. Kirim keruang packing
sekunder (black). Cetak no batch dan tanggal ED sesuai master formula. Cek oleh
kepala regu dan kepala unit. Setelah itu baru siap untuk dipakai mengemas
produk.
g. Semua bahan baku dan bahan pengemas yang diambil dari gudang penyimpanan
masing-masing telah mengalami QC terlebih dahulu pada masa karantina. Bahan
yang dipakai adalah yang telah lulus QC. Bila tidak memenuhi spesifikasi
standar, maka harus di reject, dimusnahkan langsung atau dirusak terlebih dahulu.
h. Diruang produksi
 Dilakukan pembuatan krim dengan cara dimasukkan kedalam mesin
pencampur.
 Atur/set alat sesuai dengan jumlah/ berat serbuk yang akan diisikan kedalam
tube, isikan tiap tube 10 gram lalu beri label quarantine. Pengisian, penutupan
dan labeling dilakukan pada satu jalur.
i. Evaluasi/ pemeriksaa IPC
 Tingkat kemasan/ pH
 Kadar (sesuai monografi zat aktif)
j. Selesai pegisian, produk yang sudah disusun di rak khusus dikarantina, beri label
“quarantine” lalu lakukan IPC.
 Stabilitas sediaan.
 Pengambilan produk untuk retain sampel.
k. Bila lulus uji produk yang tersusun pada rak khusus dikirim ke packing sekunder.
tube dimasukkan ke iner box lalu masukkan ke auter box. Beri nomor registrasi,
batch da ED pada auter box. Lakukan pemeriksaan akhir.
l. Kirim kegudang produk jadi. Lakukan serah terima dari bagian produksi ke
bagian logistic.
Rekonsiliasi
Rekonsiliasi Hasil Diperiksa oleh Disetujui oleh
Hasil teoritis :
Hasil nyata :
Supervisor Pengolahan
Tanggal :
Manajer Produksi
Tanggal :
Pemeriksaan Proses Pengolahan Peninjauan Catatan Pengolahan bets
Seksi Formulasi Manager Produksi Manager QC
Tanggal: Tanggal: tanggal:
Pengesahan
No Uraian Nama Tanda
tangan
1 Disusun oleh anggota seksi
kemasan/registrasi
Ria Safitri, S. Farm
2 Disetujui oleh kepala seksi
kemasan/registrasi
Yushenridawati, S.
Farm
PT. STIFI FARMA Tbk.
Padang, Sumatera Barat
FORM 5
Trial Skala Industri
OutPut : Catatan Pengemasan Bets
PT. ANAM FARMA
Tbk.
Padang, Sumatera Barat
Catatan pengolahan batch No :
Tanggal berlaku :
Menganti,
No :
Tanggal berlaku :
Disusun oleh :
Ria Safitri, S. Farm
Disetujui oleh :
Yushenridawati, S. Farm
Seksi Formulasi :
Rahmi Suci, S. Farm
Tanggal : 1 April 2017
Manajer Produksi :
Meldawati, S. Farm
Tanggal : 1 April 2017
Manajer QA :
Ria Anggreiny, S. Farm
Tanggal : 1 April 2017
Kode produk/ bentuk
sediaan : A / krim
Nama produk :
NAMCORT
No. Bets /besar batch
Z729001 / 1000
Kemasan :
10 g
Tanggal mulai pengolahan
:
Tanggal selesai
pengolahan :
Penerimaan bahan pengemas
Kode
bahan
Nama
bahan
pengemas
Jumlah
Dibutuhkan
Jumlah
diterima
No
QC
Jumlah
Dibutuhkan
Jumlah
diterima
Paraf
Prosedur pengemasan primer
Prosedur Pengisian Paraf
1. Dihubungkan steker alat dan kompresor dengan
arus 380 V, arus listrik akan tersambung.
2. Stel regulator pengatur pelipat tube pertama
maka tube akan tertutup, stel regulator pelipat
tube kedua maka tube akan terlipat.
3. Stel regulator pemberian No bets dan exp. Date
maka akan terbaca penandaan pada lipatan
tube.
4. Stel pengatur bobot krim yang diisikan. Untuk
menambah bobot krim putar tombol kekiri,
sedangkan bila bobot berlebih untuk
menguranginya putar tombol ke arah kanan.
Maka bobot akan sesuai dengan bobot yang
diinginkan.
5. Putar saklar start ke ON, mesin mulai bekerja
dan berputar.
Prosedur pengemasan sekunder
Prosedur penandaan dan pengawasan Paraf
1. Pencetakkan Kode bets pada label
 Kebersihan mesin cetak diperiksa
 Cetak No. Bets dan tanggal kadaluarsa
pada tiap tabel dengan memakai mesin
pencetak
Pengawasan selama proses:
 Periksa cetakkan No.bets dan tanggal
kadaluarsa
Catat jumlah label yang sudah dicetak dilaporkan
pencetakkan No.bets
2. Pencetakkan Dus lipat
 Kebersihan mesin cetak diperiksa
tanggal….. oleh……
 Cetak No.bets pada tiap dus lipat dengan
memakai mesin pencentak
Pengawasan selama proses
 Periksa cetakkan No.bets danm tanggal
kadaluarsa
Catat jumlah dus lipat yang sudah dicetak
dilaporkan pencentakkan No.bets
3. Melipat Brosur
 Kebersihan mesin cetak diperiksa
tanggal…. Oleh…..
 Cetak No.bets pada tiap dus lipat dengan
memakai mesin pencentak
Pengawasan selam proses
Catat jumlah brosur yang sudah dilipat
dilaporkan pencentakkan No.bets/pelipatan
4. Pencetakan label luar
 Cetak nomor bets dan tanggal kadaluarsa
diatas tiap label luar secara manual
Pengawasan selama proses
 Periksa nomor bets dan tanggal kadarluarsa
pada label luar
Catat jumlah label luar yang sudah di cetak
dilaporkan pencetatakan nomor bets
5. Penanda tube
 Kebersihan mesin label diperiksa
 Tempelkan label pada tube yang sudah
diisi dan ditutup dengan memakai mesin
label
Pengawasan selama proses
Catat jumlah label yang sudah dicetak di laporan
pencetakan no bets
6. Pengiriman ke Gudang
 Catat pengiriman no…….. jumlah….
Tanggal……. Oleh…
Hasil obat jadi
Hasil obat jadi
Hasil Kemasan Jumlah Satuan Paraf
 Untuk dijual tube 10 gram
 Contoh
tertinggal
 Ditolak - - -
Hasil teoritis = 1000 tube
Hasil nyata = 995 tube
Batas
Penjelasan
Pelulusan oleh pengawasan mutu
 Pelulusan akhir obat jadi no tanggal
Catatan …
Pemeriksaan Proses Pengolahan Peninjauan Catatan Pengolahan Bets
Supervisor Pengolahan Manager Produksi Manager QC
Tanggal : Tanggal : Tanggal :
Pengesahan
No Uraian Nama Tanda
tangan
1 Disusun oleh anggota seksi
kemasan/registrasi
Ria Safitri, S. Farm
2 Disetujui oleh kepala seksi
kemasan/registrasi
Yushenridawati, S.
Farm
PT. STIFI FARMA Tbk.
Padang, Sumatera Barat
FORM 6
Uji Stabilitas
Output : Metode Uji Stabilitas
A.Uji dipercepat
1. Elevated temperatur
Setiap kenaikan suhu 10◦C akan mempercepat reaksi 2 sampai 3 kalinya,
namun secara praktis cara ini agak terbatas karena kenyataannya suhu yang
jauh diatas normal akan menyebabkan perubahan yang tidak pernah terjadi
pada suhu normal
2. Elevated humidities
Umumnya uji ini dilakukan untuk menguji kemasan produk. Jika terjadi
perubahan pada produk dalam kemasannya karena pengaruh kelembapan,
maka hal ini menandakan bahwa kemasannya tidak memberikan perlindungan
yang cukup dari atmosfer
3. Cycling test
Tujuan dari uji ini sebagai simulasi adanya perubahan suhu setiap tahun
bahkan setiap harinya. Oleh karena itu, pada uji ini dilakukan pada suhu dan
atau kelembapan pada interval waktu sehingga produk dalam kemasannya
akan mengalami stress yang bervariasi dari pada stress statis
4. Uji mekanik (centrifugal test)
Tujuan dilakukan uji mekanik adalah untuk mengetahui terjadinya pemisahan
fase dari emulsi. Sampel disentrifugasi pada kecepatan 3750 rpm selama 5
jam atau 5000-10000 rpm selama 30 menit. Hal ini dilakukan karena
perlakuan tersebut sama dengan besarnya pengaruh gaya gravitasi terhadap
penyimpanan krim selama setahun
Sebenarnya sentrifugasi pada kecepatan tinggi cenderung dapat mengubah
bentuk globul fase internal yang terdispersi dan memicu terjadinya koalesens
Parameter – parameter yang digunakan dalam uji kestabilan fisik adalah:
 Organoleptis
Bertujuan untuk mengamati adanya perubahan atau pemisahan emulsi,
timbulnya bau atau tidak dan perubahan warna
 Sifat aliran (viskositas)
Kenaikan viskositas dapat meningkatkan kestabilan sediaan
 Ukuran partikel
Perubahan dalam ukuran partikel rata – rata atau distribusi ukuran globul
merupakan tolak ukur penting untuk mengevaluasi emulsi. Dimana pada
emulsi keruh diameter globul berkisar antara 0,5 - 50µm. Ukuran partikel
merupakan indikator utama kecendrungan terjadinya creaming atau
breaking. Terdapat hubungan antara ukuran partikel dengan viskositas
dimana kenaikan viskositas akan meningkatkan stabilitas sediaan.
Semakin tinggi viskositas maka semakin kecil ukuran partikel dan
semakin esar volume rasio
 Pemeriksaan pH.
Krim sebaiknya memiliki Ph yang sesuai dengan pH kulit 4,5 – 6,5
karena jika krim memiliki Ph yang terlalu basa maka dapat menyebabkan
kulit menjadi bersisik, sedangkan jika Ph terlalu asam maka yang terjadi
adalah menimbulkan iritasi kulit.
Pengesahan
No Uraian Nama Tanda
tangan
1 Disusun oleh anggota seksi
metoda Analisis dan uji stabilitas
Ria Anggreiny, S.
Farm
2 Disetujui oleh kepala seksi
metoda Analisis dan uji stabilitas
Marlisnawati, S.
Farm
PT. STIFI FARMA Tbk.
Padang, Sumatera Barat
FORM 7
Uji BE
Output : Protokol Singkat Uji BE
1. PENDAHULUAN
Kloramfenikol merupakan antibiotic yang berkhasiat sebagai bakteriostatik
terhadap Enterobacter dan Staph. Aureus berdasarkan perintangan sintesa
polipeptida kuman dan bekerja bakterisid terhadap Str. Pneumonia, Neiss.
Meningitides, dan H. influenzae
Hidrokortison merupakan obat golongan Kortikosteroid, yang bekerja dengan
mempengaruhi kecepatan sintesis protein. Molekul hormone sel memasuki
melewati membrane plasma secara difusi pasif. Hanya dijaringan target hormone
ini bereaksi dengan reseptor protein yng spesifik dalam sitoplasma sel akan
membentuk kompleks reseptor-steroid. Kompleks ini mengalami perubahan
konformasi, lalu bergerak menujju nokleus dan berikatan dengan kromatin.
Ikatan ini berfungsi menstimulasi transkripsi RNA dan sintesis protein spesifik.
Induksi sintesis protein ini menghasilkan efek fisiologik steroid.
Kombinasi antara hidrokortison asetat dengan kloramfenikol karena
hidrokortison asetat (kortikosteroid) secara topical dapat menggangu pertahanan
kulit alami terhadap infeksi sehingga perlu dikombinasi dengan antibiotik.
2. TUJUAN
 Untuk menjain efikasi, keamanan dan mutu produk obat yang beredar
 Untuk menjamin produk onat copy yang akan mendapatkan izin edar
bioekivalen dengan produk obat inovatornya
 Untuk menentukan bioavabilitas absolute dan relatif suatu zat kimia baru,
serta bioekivalensi zat tersebut dalam forrmulasi untuk uji klinik dan dalam
produk yang akan dipasarkan
3. METODE PENELITIAN
Desain dan pelaksanaan uji bioekivalensi
Dapat dipertimbangkan untuk ;
 Obat dengan kadar plasma atau kecepatan eliminasi intra-subyek yang sangat
bervariasi sehingga tidak memungkinkan untuk menunjukkan bioekivalensi
dengan studi dosis tunggal, sekalipun pada jumlah subyek yang cukup banyak,
dan variasi ini berkurang pada keadaan tunak.
 obat yang metode penetapan kadarnya dalam plasma tidak cukup sensitif
untuk mengukur kadarnya dalam plasma pada pemberian dosis tunggal
(sebagai alternatif dari penggunaan metode penetapan kadar yang lebih
sensitif), mis. loratadin. Pada studi keadaan tunak, jadwal pemberian obat
harus mengikuti aturan dosis lazim yang dianjurkan. Pada studi ini,
menurunnya kadar obat yang pertama terjadi bersamaan dengan meningkatnya
kadar obat yang kedua, sehingga periode washout dapat diperpendek menjadi
sedikitnya 3 x waktu paruh eliminasi obat.
Studi bioekivalensi (BE) adalah studi bioavailabilitas (BA) komparatif yang
dirancang untuk menunjukkan bioekivalensi antara produk uji (suatu produk
obat“copy”) dengan produk obat inovator/ pembandingnya.
Caranya dengan membandingkan profil kadar obat dalam darah atau urin
antara produk-produk obat yang dibandingkan pada subyek manusia.
Karena itu desain dan pelaksanaan studi BE harus mengikuti Pedoman Cara
Uji Klinik yang Baik (CUKB), termasuk harus lolos Kaji Etik (Oleh karena
studi BA / BE dilakukan pada subyek manusia (suatu uji klinik) maka
protokol studi harus lolos Kaji Etik terlebih dahulu sebelum studi dapat
dimulai)
Studi biasanya dilakukan pada subyek yang sama (dengan desain menyilang)
untuk menghilangkan variasi biologik antar subyek (karena setiap subyek
menjadi kontrolnya sendiri), hal ini sangat memperkecil jumlah subyek yang
dibutuhkan. Jadi untuk membandingkan 2 produk obat, dilakukan studi
menyilang 2-way (2 periode untuk pemberian 2 produk obat pada setiap
subyek).
Pemberian produk obat yang pertama harus dilakukan secara acak agar efek
urutan (order effect) maupun efek waktu (period effect), bila ada, dibuat
seimbang.Kedua perlakuan dipisahkan oleh periode washout yang cukup
untuk eliminasi produk obat yang pertama diberikan (biasanya lebih dari 5 x
waktu paruh eliminasi yang dominan dan/atau waktu paruh terminal dari obat,
atau lebih lama jika mempunyai metabolit aktif dengan waktu paruh yang
lebih panjang. Karena itu, untuk obat dengan waktu paruh yang panjang, dapat
dipertimbangkan penggunaan desain 2 kelompok paralel.
Subjek
Sukarelawan : penelitian melibatkan 10 sukarelawan laki-laki sehat, berumur
20-31 tahun, dengan berat badan 49-68 kg. Sukarelawan tidak mempunyai
riwayat gangguan gastrointestinal, penyakit jantung, hepar maupun
ginjal.Pemeriksaan laboratorik terhadap fungsi ginjal, fungsi hepar,
hematologi dan kimia darah menunjukkan hasil yang normal.
4. ANALISIS OBAT
Untuk obat Kloramfenikol Hidrokortison Asetat tidak dilakukan analisis obat.
5. PERHITNUGAN PARAMETER BIOAVAIBLITAS OBAT DALAM
DARAH
Karena analisis obat tidak dapat dilakukan, maka perhitungan parameter ini
tidak dapat juga dilakukan.
Rumus untuk mencari Bioavailabilitas relatif tablet dibandingkan dengan
larutan oral:
F = AUC zat uji = AUC tablet
AUC zat standar AUC larutan oral
F = dosis standar = dosis larutan oral
dosis zat uji dosis tablet
6. ANALISIS STATISTIK
a. Dari data darah
 Parameter bioavailabilitas yang dibandingkan untuk penilaian
bioekivalensi adalah AUC, Cmax dan tmax
 Cara menghitung AUC0→t ; AUC0→∞ ; ke , t½
 Data yang bergantung pada kadar, yakni AUC dan Cmax , harus
ditransformasi logaritmik (ln) terlebih dulu sebelum dilakukan analisis
statistik, karena kinetik obat mengikuti kinetik first order sehingga dalam
skala logaritmik akan diperoleh distribusi yang normal dan varians yang
homogen.
Selanjutnya nilai-nilai ln AUC ke-2 produk dibandingkan menggunakan
analisis varians (ANOVA) untuk desain menyilang 2-way yang
memperhitungkan sumber-sumber variasi berikut :
 produk obat yang dibandingkan (Test dan Reference),
 periode pemberian obat (I dan II),
b. Dari data urin
Parameter yang dibandingkan adalah Ae dan (dAe/dt)max
Pengesahan
No Uraian Nama Tanda
tangan
1 Disusun oleh anggota seksi
metoda Analisis dan uji stabilitas
Marlisnawati, S.
Farm
2 Disetujui oleh kepala seksi
metoda Analisis dan uji stabilitas
Ria Anggreiny, S.
Farm
PT. STIFI FARMA Tbk.
Padang, Sumatera Barat
FORM 8
Registrasi Obat
Outputt : Formulir Registrasi Obat
Pra Registrasi
Penjelasan :
1. Pendaftaran informasi nama obat kepada Kepala Balai POM
2. Penyerahan berkas pra registrasi di loket regristrasi obat
3. Pemeriksaan kelengkapan berkas :
 Tidak lengkap : Berkas dikemblikan dan dilengkapi serta dilakukan
pendaftaran ulang
 Lengkap : Lanjut ketahap berikutnya
4. Dilakukan pendataan
5. Pengkajian, meliputi :
 Kategori registrasi
 Jalur evaluasi
 Dokumen penunjang
 Biaya registrasi sesuai PNBP
6. Konsultasi ke ruang konsultasi
7. Adanya surat HPR ( Hasil Pra Registrasi )
Alur Registrasi
Penjelasan :
1. HPR / Surat Pengantar diberikan ke loket registrasi obat untuk permintaan SPB
(Surat Perintah Bayar) dan pengambilan SPB tersebut
2. Dilakukan pembayaran ke Bank dan pengambilan bukti pembayaran
3. Bukti pembayara, SPB, HPR dan permintaan form elektronik diberikan ke loket
registrasi untuk di install dan keluarlah form elektronik
4. Form elektronik dan form registrasi diserahkan untuk pemeriksaan kelengkapan
berkas
5. Apabila form tidak lengkap dikemblikan kepada pemohon untuk dilengkapi
kembali dan dilakukan pendaftaran ulang
6. Apabila berkas lengkap dilakukan pendataan
7. Dilakukan proses evaluasi dan konsultasi di ruang konsultasi
8. Hasil evaluasi :
 Surat permintaan tambahan data dilakukan pelengkapan data dan setelah
lengkap dilakukan penyerahan tambahan data dan dilakukan evaluasi
kembali.
 Apabila tidak ada surat permintaan tambahan data maka dilanjutkan
tahap selanjutnya
9. Keluar Nomor Izin Edar (NIE) / surat persetujuan dan surat penolakan
10. Nomor izin edar dan persetujuan telah boleh untuk didistribusikan
11. Nomor izin edar yang ditolak dilakukan pendaftaran ulang kembali
BADAN PENGAWASAN OBAT DAN MAKANAN
REPUBLIK INDONESIA
LAMPIRAN I
KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWASAN OBAT DAN MAKANAN RI
NOMOR HK. 03.1.123.10.11.08481 TAHUN 2011
BADAN PENGAWASAN OBAT DAN MAKANAN
REPUBLIK INDONESIA
FORMULIR REGISTRASI OBAT DAN PRODUK BIOLOGI
DOKUMEN RAHASIA
Diisi oleh Badan POM
No . Pendaftaran :
Tanggal Penerimaan :
Kode Evaluasi :
Sub Kode Evaluasi :
A. URAIAN OBAT
Kategori registrasi : Obat Copy dengan Nama Dagang
Jenis obat
Baru :
Copy :
Produk biologi :
Jenis produk
Produk tunggal :
Produk kombinasi :
Golongan obat
Keras :
Bebas :
Bebas terbatas :
Narkotika :
Psikotropika :
Nama obat : PRIMCOLE®
Bentuk sediaan : krim
Kekuatan : 10 gram
Satuan : gram
Kelas terapi : Anti Inflamasi dan antibakteri topikal
Kode ATC :
Kemasan (jenis&deskripsi) : Tube
Besar kemasan : Box (1 tube)
Bentuk sediaan, kekuatan, kemasan lain
Bentuk sediaan : Krim
Kekuatan : 10 gram
Jenis kemasan : tube
Besar kemasan : Box
NIE*) :
Masa laku NIE :
B. KETERANGAN LENGKAP PENDAFTAR
Nama pendaftar : PT. STIFI FARMA Tbk.
Alamat pendaftar
Nama jalan dan nomor : Jl. Adinegoro No. 32
Kota : Padang
Negara : Indonesia
Alamat surat menyurat
Nama jalan dan nomot : Jl. Adinegoro No. 32
Kota : Padang
Negara : Indonesia
Nomor telepon dan fax : (0751) 150814
E-mail : anam_pharm@pharmptt.com
C. STATUS PRODUKSI
Status produksi*)
Produksi dalam negeri :
Produksi sendiri :
Produksi berdasarkan kontrak :
Produksi berdasarkan lisensi :
Impor :
Obat disetujui hanya untuk ekspor*)
Ya :
Tidak :
Produsen
Nama : Medica Farma
Alamat
Nama jalan dan nomor :
Kota : Jakarta
Negara : Indonesia
SMF**) :
CPOB :
Fungsi/peran : Penyedia bahan baku
D. FORMULA
1. Zat aktif
Satuan dosis : tiap gram krim mengandung
Cas NO :
Nama :Kloramfenikol dan Hidrokortison Asetat
Jumlah : 500 gram
Satuan : gram
Sumber hewan/manusia : Tidak
Produsen : Medica Farma
DMF*) :
Negara produsen : Indonesia
2. Zat tambahan
a. Asam stearat
Cas NO :
Jumlah : 2
Satuan : Kg
Sumber hewan/manusia : Tidak
Produsen :
DMF*) :
Negara produsen : Indonesia
b. TEA (trietanolamin)
Cas NO :
Jumlah : 500
Satuan : gram
Sumber hewan/manusia : Tidak
Produsen :
DMF*) :
Negara produsen : Indonesia
c. Adeps Lanae
Cas NO :
Jumlah : 500
Satuan : gram
Sumber hewan/manusia : ya
Produsen : Brataco
DMF*) :
Negara produsen : Indonesia
d. Parafin liquid
Cas NO :
Jumlah : 3
Satuan : Kg
Sumber hewan/manusia : Tidak
Produsen : Brataco
DMF*) :
Negara produsen : Indonesia
e. Nipagin
Cas NO :
Jumlah : 15
Satuan : gram
Sumber hewan/manusia : Tidak
Produsen : Brataco
DMF*) :
Negara produsen : Indonesia
f. Nipasol
Cas NO :
Jumlah : 5
Satuan : gram
Sumber hewan/manusia : Tidak
Produsen : Brataco
DMF*) :
Negara produsen : Indonesia
g. Natrium Metabisulfit
Cas NO :
Jumlah : 10
Satuan : gram
Sumber hewan/manusia : Tidak
Produsen : Brataco
DMF*) :
Negara produsen : Indonesia
h. Aquadest
Cas NO :
Jumlah : 100
Satuan : liter
Sumber hewan/manusia : Tidak
Produsen : Brataco
DMF*) :
Negara produsen : Indonesia
E. INFORMASI OBAT
Pemeriaan obat : Bentuk cream, bewarna putih
Spesifikasi obat : cream
Metode analisis obat :
Konjungtivitis : Pengobatan inflamasi dan antibiotik topikal
Posologi : Diberikan secara topikal 2-4 kali sehari
Rute pemberiaan obat : topikal
F. INFORMASI PRA REGISTRASI
Hasil pra registrasi (HPR)*)
Ada :
Tidak :
Tanggal penerbitan HPR : 04 2017
Kategori registrasi : Obat Copy
Biaya evaluasi
Terbilang : Sepuluh juta lima ratus ribu rupiah
Jumlah evaluasi
300 HK :
150 HK :
100 HK :
40 HK :
G. CARA PENYIMPANAN DAN BATAS KADAKUARSA
Cara penyimpanan : Simpan ditempat kering dan sejuk, dan
terlindung dari cahaya.
Batas kadaluarsa : 04 2021
Batas kadaluarsa setelah : -
Kemasan dibuka/rekonstruksi :
H. STATUS REGISTRASI DINEGARA LAIN
Negara :
Status registrasi :
Tanggal persetujuan :
Golongan obat :
I. INFORMASI PATEN
Judul paten :
Nomor penerimaan paten :
Tanggal penerimaan paten :
J. RIWAYAT REGISTRASI
Kategori registrasi :
Tanggal pengajuan : April 2017
Tanggal persetujuan :
NIE :
Masa berlaku NIE : 3 tahun
K. KETERANGAN SISTEM PENOMORAN BETS
L. INFORMAN HARGA
Kemasan : tube
HNA*) : Rp. 15.250,-
HET*) : Rp. 15.250,-
M. KOMITMEN YANG HARUS DIPENUHI
N. DOKUMEN TEKNIS
Jenis format dokumen*)
ACTD :
ICH CTD :
BAGIAN I
Dokumen administratif dan informasi produk
Jumlah order/map :
Jumlah salinan :
BAGIAAN II
Dokumen mutu
Jumlah order/map :
Jumlah salin :
BAGIAN III
Dokumen nonklinik
Jumlah order/map :
Jumlah salin :
BAGIAN IV
Dokumen administratif dan informasi produk
Jumlah order/map :
Jumlah salin :
O. KETERANGAN PETUGAS REGISTRASI
Nama : Jono Saputra, S.Farm
Jabatan : Staf Registrasi
Alamat : Jl. Adinegoro Permai No 32, Lubuk Buaya, Padang.
Nomor telepon dan Fax : (0751) 150814
Nomor telepon genggam : 085382855115
Email : jono_ff@bpoml.com
KEPALA BADAN PENGAWASAN OBAT DAN
MAKANANREPUBLIK INDONESIA
........................................................
Pengesahan
No. Uraian Nama Tanda Tangan
1.
Disusun oleh anggota bagian
kemasan/registrasi
1.
2.
2. Disetujui oleh Manager R & D
1.
2.

Tugas formulasi obat klp 6

  • 1.
    TUGAS FORMULASI OBAT KRIMKLORAMFENIKOL & HIDROKORTISON ASETAT KELOMPOK 6 : ADE MAYA PUSPITA (2405029) GUSTI SILVI HANDAYANI (2405030) FADHILLA ANGGRAINI (2405031) YESI HAMDANI (2405032) JENI ARTA (2405033) PROGRAM PROFESI APOTEKER SEKOLAH TINGGI FARMASI INDONESIA YAYASAN PERINTIS PADANG 2017
  • 2.
    SIMULASI INDUSTRI FARMASI(SIF) PROGRAM PROFESI APOTEKER, STIFI-YP PADANG KELOMPOK 4 (EMPAT) ANGKATAN 21 ZAT AKTIF KLORAMFENIKOL & HIDROKORTISON ASETAT BENTUK SEDIAAN KRIM PT. STIFI FARMA Tbk Padang, Sumatra Barat Pengesahan No Uraian Nama Tanda Tangan 1. Kepala seksi Formulasi Meldawati, S.Farm Anggota seksi formulasi Rahmi Suci, S. Farm 2. Kepala seksi kemasan/ registrasi Yushenridawati, S. Farm Anggota seksi kemasan/ registrasi Ria Safitri, S. Farm 3. Kepala Seksi Metoda Analisis/ Uji Stabilitas Ria Anggreiny, S. Farm Anggota Seksi Metoda Analisis/ Uji Stabilitas Marlisnawati, S. Farm
  • 3.
    PT. STIFI FARMATbk Padang, Sumatra Barat FORM 1 STUDI PUSTAKA Krim adalah bentuk sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. Istilah ini secara tradisional telah digunakan untuk sediaan setengah padat yang mempunyai konsistensi relatif cair diformulasi sebagai emulsi air dalam minyak atau minyak dalam air. Sekarang ini batasan tersebut lebih diarahkan untuk produk yang terdiri dari emulsi minyak dalam air atau dispersi mikrokristal asam-asam lemak atau alkohol berantai panjang dalam air, yang dapat dicuci dengan air dan lebih ditujukan untuk penggunaan kosmetika dan estetika. Krim dapat digunakan untuk pemberian obat melalui vaginal (Ditjen POM, 1995). Krim adalah sediaan setengah padat berupa emulsi kental mengandung tidak kurang dari 60% air, dimaksudkan untuk pemakaian luar. Tipe krim ada 2 yaitu: krim tipe air dalam minyak (A/M) dan krim minyak dalam air (M/A). Untuk membuat krim digunakan zat pengemulsi, umumya berupa surfaktansurfaktan anionik, kationik dan nonionik (Anief, 2008). Sifat umum sediaan semi padat terutama krim ini adalah mampu melekat pada permukaan tempat pemakaian dalam waktu yang cukup lama sebelum sediaan ini dicuci atau dihilangkan. Krim yang digunakan sebagai obat umumnya digunakan untuk mengatasi penyakit kulit seperti jamur, infeksi ataupun sebagai anti radang yang disebabkan oleh berbagai jenis penyakit (Anwar, 2012). Persyaratan Krim Sebagai obat luar, krim harus memenuhi beberapa persyaratan berikut: a. Stabil selama masih dipakai untuk mengobati. Oleh karena itu, krim harus bebas dari inkompatibilitas, stabil pada suhu kamar. b. Lunak. Semua zat harus dalam keadaan halus dan seluruh produk yang dihasilkan menjadi lunak serta homogen. c. Mudah dipakai. Umumnya, krim tipe emulsi adalah yang paling mudah dipakai dan dihilangkan dari kulit. d. Terdistribusi secara merata. Obat harus terdispersi merata melalui dasar krim padat atau cair pada penggunaan. (Widodo, 2013).
  • 4.
    Penggolongan Krim Krim terdiridari emulsi minyak dalam air sehingga dapat dicuci dengan air serta lebih ditujukan untuk pemakaian kosmetik dan estetika. Krim digolongkan menjadi dua tipe, yakni: 1. Tipe a/m, yakni air terdispersi dalam minyak. Contohnya cold cream. Cold cream adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk memberi rasa dingin dan nyaman pada kulit. 2. Tipe m/a, yakni minyak terdispersi dalam air. Contohnya, vanishing cream. Vanishing cream adalah sediaan kosmetik yang digunakan untuk membersihkan, melembabkan dan sebagai alas bedak. (Widodo, 2003). Krim merupakan sistem emulsi sediaan semipadat dengan penampilan tidak jernih, berbeda dengan salep yang tembus cahaya. Konsistensi dan sifatnya tergantung pada jenis emulsinya, apakah jenis air dalam minyak atau minyak dalam air (Lachman, dkk., 1994). Dasar salep emulsi, ada dua macam yaitu: 1. Dasar salep emulsi tipe A/M seperti lanolin dan cold cream. 2. Dasar salep emulsi tipe M/A seperti vanishing cream dan hydrophilic ointment. (Anief, 1994) a. Lanolin cream suatu bentuk emulsi tipe A/M yang mengandung air 25% dan digunakan sebagai pelumas dan penutup kulit dan mudah dipakai. b. Cold cream suatu emulsi tipe A/M dibuat dengan pelelehan cera alba, Cetaceum dan Oleum Amydalarum ditambahkan larutan boraks dalam air panas, diaduk sampai dingin. Dasar salep ini harus dibuat baru dan digunakan sebagai pendingin, pelunak dan bahan pembawa obat. c. Vanishing cream, sebagai dasar untuk kosmetik dengan tujuan pengobatan kulit. (Anief, 1994) Metode Pembuatan Krim Secara umum, pembuatan/peracikan sediaan krim meliputi proses peleburan dan emulsifikasi. Biasanya, komponen yang tidak tercampur dengan air, seperti minyak dan lilin, dicairkan bersama-sama didalam penangas air pada suhu 70-75ºC. Sementara itu, semua larutan berair yang tahan panas dan komponen yang larut dalam air dipanaskan pada suhu yang sama pada komponen lemak. Kemudian, larutan berair
  • 5.
    secara perlahan-lahan ditambahkankedalam campuran lemak yang cair dan diaduk secara konstan, sementara temperatur dipertahankan selama 5-10 menit untuk mencegah kristalisasi dari lilin/lemak. Selanjutnya campuran perlahan-lahan didinginkan dengan pengandukan yang terus menerus sampai mengental. Bila larutan berair tidak sama temperaturnya dengan leburan lemak, beberapa lilin akan menjadi padat, sehingga terjadi pemisahan antara fase lemak dan fase cair (Widodo, 2003). Pembentukan Krim Dibawah pengaruh gravitasi, partikel-partikel atau tetesan-tetesan tersuspensi cenderung meningkat atau mengendap, tergantung pada perbedaan dalam gravitasi spesifik antar fase tersebut. Jika pembentukan krim berlangsung tanpa agregasi apapun, emulsi dapat terbentuk kembali dengan pengocokan atau pengadukan. Pembentukan krim meliputi gerakan sejumlah tetesan heterodispers, dan gerakan tersebut saling mengganggu satu sama lain dan biasanya menyebabkan rusaknya tetesan (Lachman, dkk., 1994). Penyimpanan Krim Penyimpanan krim biasanya dikemas baik dalam botol atau dalam tube, botol yang digunakan biasanya berwarna gelap atau buram. Wadah dari gelas buram dan berwarna berguna untuk krim yang mengandung obat yang peka terhadap cahaya. Tube bias saja terbuat dari kaleng atau plastik, beberapa diantaranya diberi tambahan kemasan bila krim akan digunakan untuk penggunaan khusus. Tube dari krim kebanyakan dikemas dalam tube kaleng dan dapat dilipat yang dapat menampung (sekitar 8.5 g krim). Tube krim untuk pemakaian topikal lebih sering dari ukuran 5 sampai 15 gram (Ansel, 1989). 1. MONOGRAFI ZAT AKTIF (FI edisi 3) KLORAMFENIKOL HIDROKORTISON ASETAT Struktur molekul Rumus molekul C11H12Cl2N2O5 C23H32O6 Bobot molekul 323,13 404,50
  • 6.
    Pemerian Hablur halusberbentuk jarum atau lempeng memanjang, putih sampai putih kelabu atau putih kekuningan, tidak berbau, rasa pahit Serbuk hablur, putih atau hampir putih, tidak berbau, rasa tawar kemudian pahit Kelarutan Sukar larut dalam air, mudah larut dalam etanol dan propilenglikol, sukar larut dalam kloroform dan eter Praktis tidak larut dalam air, sukar larut dalam etanol dan kloroform Jarak lebur Antara 149o C dan 153o C ± 220o C Serapan UV Panjang gelombang 278 nm adalah 0,58-0,61 - Susut pengeringan Tidak lebih dari 1 % Tidak lebih dari 1 % Sisa pemijaran Tidak lebih 0,1 % - 2. FARMAKOLOGI ZAT AKTIF (Obat-obat penting edisi 5 2002, ISO Vol 47) KLORAMFENIKOL HIDROKORTISON ASETAT Farmakokinetik Resorpsi dari usus cepat dengan bioavailabilitas 75- 90 %, ikatan obat dengan protein ± 50%, T1/2 plasma 3 jam, dimeabolisme dihari sebanyak 90 % menjadi glukoronida aktif, ekskresi melalui ginjal sekitar 10% Resorpsi diusus buruk makanya tidak digunakan secara peroral, terikat dengan protein (globulin) 95% pengangkut transkortin, T1/2 1,5-2 jam, efek maksimal sesudah 6-8 jam, ekskresi lewat ginjal sebagai metabolit 17-keto yang mudah larut Farmakodinamik Berkhasiat bersifat bakteriostatik terhadap Enterobacter dan Staph. Aureus berdasarkan perintangan sintesa polipeptida kuman dan bekerja bakterisid terhadap Kortikosteroid bekerja dengan mempengaruhi kecepatan sintesis protein. Molekul hormone sel memasuki melewati membrane plasma secara difusi pasif. Hanya dijaringan target hormone ini
  • 7.
    Str. Pneumonia, Neiss. Meningitides,dan H. influenzae bereaksi dengan reseptor protein yng spesifik dalam sitoplasma sel akan membentuk kompleks reseptor-steroid. Kompleks ini mengalami perubahan konformasi, lalu bergerak menujju nokleus dan berikatan dengan kromatin. Ikatan ini berfungsi menstimulasi transkripsi RNA dan sintesis protein spesifik. Induksi sintesis protein ini menghasilkan efek fisiologik steroid. Indikasi Infeksi pada kulit yang disebabkan infeksi gram negative dan gram positif khususnya yang sensitive terhadap kloramfenikol Nyeri inflamasi dari dermatosis yang responsive terhadap kortikosteroid Kontraindikasi Hipersensitif kloramfenikol Diabetes militus, tukak peptic, infeksi berat, hipertensi, dan hipersensitivitas. Efek samping Gangguan lambung usus, neuropati optis dan perifer, radang lidah dan mukosa mulut, dan yang berbahaya depresi sum-sum tulang yang menyebabkan anemia Gangguan saluran cerna, osteoporosis, hiperkoagulbilitas, iritasi kulit, penggunaan lama yang dihentikan secara tiba-tiba dapat menyebabkan gejala demam, myalgia, arthralgia, dan malaise. 3. MONOGRAFI ZAT TAMBAHAN (FI edisi 3 & Handbook of excipient Ed 6) A. Asam stearat a. Rumus molekul : C18H36O2 b. Bobot molekul :284,47
  • 8.
    c. Pemerian :zat padat keras mengkilap, hablur putih atau kuning pucat mirip le,ak lilin d. Kelarutan : praktis tidak larut dalam air, larut dalam etanol 95%p, mudah larut dalam kloroforom p dan eter p e. Suhu lebur : tidak kurang dari 54o C f. Khasiat : pengemulsi B. TEA (Trietanolamin) a. Rumus molekul : C6H15NO3 b. Bobot molekul : 149,19 c. Pemerian : cairan kental, tidak bewrawarna hingga kuning pucat, bau lemah mirip amoniak, higroskopik d. Kelarutan : mudah larut dalam air, dan dalam etanol (95%) P, larut dalam kloroform P. e. Khasiat : pengemulsi C. Adeps lanae a. Rumus molekul : - b. Bobot Molekul : - c. Pemerian : zat serupa lemak, liat, lekat, kuning muda atau kuning pucat, agak tembus cahaya, bau lemah dan khas. d. Kelarutan : praktis tidak larut dalam air, agak sukar larut ddalam etanol (95%) P, mudah larut dalam kloroform P dan dalam eter P. e. Suhu lebur 45-55o C f. Khasiat : basis krim, emolien D. Paraffin cair a. Rumus molekul : - b. Bobot molekul : -
  • 9.
    c. Pemerian :cairan kental jernih, tidak berwarna, tidak memberikan fluorosensi pada cahaya matahari, hampir tidak berbau. d. Kelarutan : praktis tidak larut dalam air dan etanol (95%0 )P, larut dalam kloroform P dan dalam eter P, dapat camur dengan minyak atsiri. e. Titik didih : > 360oC f. Khasiat : emulien, lubrikan E. Aqua destillata a. Rumus molekul : H2O b. Bobot molekul : 18,02 c. Pemerian : cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidk mempunyai rasa. d. Khasiat : pelarut. F. Nipagin (Metylparaben) a. Rumus molekul : C8H8O3 b. Bobot molekul : 152,15 c. Pemerian : serbuk hablur halus, putih, hampir tidak berbau, tidak mempunyai rasa, agak membakar diikuti rasa kebal. d. Kelarutan : larut dalam 500 bagian air, dalam 20 bagian air mendididh, dalam 3,5 bagian etanol (95%) dan dalam 3 bagian aseton P, mudah larut dalam eter P dan dalam larutan alkali hidroksida, larut dalam 60 again gliserol P panas dana dalam 40 bagian minyak lemak nabati panas, jika didinginkan larutan teta jernih. e. Suhu lebur : 125o-128o f. Khasiat : antimikroba G. Nipasol (Propylparaben) a. Rumus molekul : C10H12O3 b. Bobt molekul : 180,21
  • 10.
    c. Pemerian :serbuk hablur putih, tidak berbau, tidak berasa. d. Kelarutan : sangat lartdalam air, larut dalam 3,5 bagian etanol (95%) P, dalam 3 bagian aseton P, dalam 140 bagian gliserol P dan dalam 40 bagian minyak lemak, mudah larut dalam larutan alkali hidroksida. e. Suhu lebur : 95o C - 98o C f. Khasiat : antimikroba. H. Na metabisulfit a. Rumus molekul : Na2S2O5 b. Bobot molekul : 190,1 c. Pemerian : hablur atau serbuk, yang berbentuk hablur tidak berwarna, yang berbentuk serbuk berwarna putih atau kuning gading, bau belerang, rasa asam dan asin. d. Kelarutan : larut dalam 2 bagian air, sukar larut dalam etanol (95%) P. e. Titik lebur : 150oC f. Khasiat : antioksidan, antimikroba 4.Alasan Pemilihan Bentuk Sediaan Dan Zat Aktif Serta Bahan Tambahan A. Bentuk sediaan obat: Krim B. Alasan pemilihan Bentuk Sediaan Krim Kloramfenikol dan hidrokortison asetat tidak larut dalam air sehingga lebih cocok dibuat dalam bentuk sediaan krim. karena krim dapat memberikan rasa sejuk dan nyaman pada kulit, dan absorpsi di kulit sangat baik. Sediaan krim juga selain mudah diserap kulit juga mudah dicuci dengan air C. Zat aktif Karna merupakan suatu antibiotika yang memiliki spectrum bakteri yang luas, berfungsi untuk mengobati infeksi pada kulit, termasuk infeksi sekunder yang umunya menyertai radang kulit, kloramfenikol tidak larut dalam air sehingga lebih cocok dibuat dalam bentuk sediaan krim. Rentang dosis untuk kloramfenikol 2-3%.
  • 11.
    Hidrokortison asetat merupakansteroid lemah, masuk dalam daftar obat essensial menurut WHO. Pada sediaan krim hidrokortison asetat mempuntai stabilitas yang baik dari pada bentuk lotion, hidrokortison asetat juga merupakan bahan dengan karakteristik fisik yang tidak higroskopis, volatile, mudah melebur. Berdasarkan tujuan penggunaan bahan aktif Hidrokortison Asetat sebagai Anti inflamasi pada kulit maka dipilihlah krim sebagai bentuk sediaan topikal, karena krim dapat memberikan rasa sejuk dan nyaman pada kulit, dan absorpsi di kulit sangat baik. Retang dosis dosis untuk hidrokortison asetat 0,1-2,5%. Kombinasi antara hidrokortison asetat dengan kloramfenikol karena hidrokortison asetat (kortikosteroid) secara topical dapat menggangu pertahanan kulit alami terhadap infeksi sehingga perlu dikombinasi dengan antibiotik. D. Zat tambahan 1. Asam stearat : untuk basis krim dan juga dapat member kesan lembut pada kulit. 2. TEA (trietanolamin) : Untuk membentuk sabun anionik yang dapat berguna sebagai pengemulsi untuk membentuk emulsi minyak dalam air yang stabil (m/a). 3. Adeps lanae : Merupakan basis krim serap sebagai pembawa zat aktif kedalam kulit (lapisan endodermis) 4. Paraffin liquid : Dapat memperbaiki konsistensi krim dan digunakan sebagai emolient 5. Nipagin : Dapat larut dalam fase air, merupakan pengawet yang dapat mencegah pertumbuhan mikroorganisme yang disebabkan fase air. Kadar yang diperbolehkan rentang 0,12-0,18% 6. Nipasol : Merupakan pengawet yang dapat mencegah pertumbuhan mikroorganisme yang disebabkan oleh fase minyak. Rentang kadar yang diperbolehkan 0,02-0,05% 7. Na metabisulfit : Sediaan krim mengandung minyak yang mudah teroksidasi sehingga perlu ditambahkan antioksidan untuk mencegah terjadinya oksidasi. Kadar yang diperbolehkan 0,01-1%
  • 12.
    5. FORMULA DANPERHITUNGAN BAHAN A. Formula Teoritis (ISO Vol 47 Hal 344) R/ Kloramfenikol 2% Hidrokortison asetat 2,5% Basis krim : (Jurnal penelitian) R/ asam stearat 145 g TEA 15 g Adeps lanae 50 g Paraffin liquid 250 g Aqua dest 550 Nipagin 0,12% Nipasol 0,05% Na metabisulfit 0,1% B. Formula Direncanakan (master formula) R/ Kloramfenikol 2% Hidrokortison asetat 2,5% Basis krim ad 10 g C. Perhitungan bahan skala industri Untuk sediaan 1 batch (1000 tube) (masing – masing tube mengandung 10 g)  Kloramfenikol 2/100 x 10 g = 0,2 g x 1000 = 200 g  Hidrokortison asetat 2,5/100 x 10 g = 0,25 g x 1000 = 250 g  Basis krim 10 g x 1000 = 10.000 g – (200g + 250 g ) =9550  Asam stearat 145 g/ 1010 g x 9550 g =1371,04 g = 1,371 kg  TEA 15 g/ 1010 g x 9550 g = 141,83 g = 0,141 kg  Adeps lanae 50 g/1010 g x 9550 g = 472,77 g = 0,472 kg  Parafin liquid 250 g/1010 g x 9550 g = 2363,86 g = 2,363 kg  Nipagin 0,12/100 x 9550 g = 11,46 g = 0,0114 kg  Nipasol 0,05 / 100 x 9550 g = 4,775 g = 0,00477 kg  Na metabisulfit 0,1/100 x 9550 g = 9,55 g = 0,00955 kg
  • 13.
     Aqua dest550/1010 g x 9550 g = 5200,49 ml = 5,2 L 6. METODE PEMBUATAN KRIM : Prinsip  Pembuatan sediaan krim meliputi proses peleburan dan proses emulsifikasi.  Komponen tidak bercampur dengan air seperti minyak dan lilin dicairkan bersama-sama di penangas air pada suhu 70-75 °C. Cara kerja : 1. Semua fase air yang tahan panas, komponen yang larut dalam air dipanaskan pada suhu yang sama dengan komponen lemak. 2. Fase air secara perlahan-lahan ditambahkan ke dalam campuran lemak yang cair dan diaduk secara konstan, temperatur dipertahankan selama 5-10 menit untuk mencegah kristalisasi dari lilin/lemak. 3. Campuran perlahan-lahan didinginkan dengan pengadukan yang terus- menerus sampai campuran mengental. 4. Bila larutan berair tidak sama temperaturnya dengan leburan lemak, maka beberapa lilin akan menjadi padat, sehingga terjadi pemisahan antara fase lemak dengan fase cair.
  • 14.
    Pembuatan Produk Studi kelayakanproduk : studi pasar (minat pasar dan persaingan) Studi pustaka : Identifikasi obat, sifat fisikokimia obat, data farmakokinetik dan farmakodinamik. Fase minyak: Asam stearat, adeps lanae, paraffin liquid, nipasol Fase air: TEA, nipagin, Na metabisulfit, aq dest Zat aktif : Kloramfenikol dan Hidrokortison Asetat peleburan pelarutan Mixing I Mixing II Filling/kemas Preformulasi Studi kelayakan produk Studi pustaka Rancangan Formula Sterilkan alat yang akan digunakan Penimbangan bahan Evaluasi
  • 15.
    7. EVALUASI PRODUK a.Homogenitas Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui kehomogenan dari zat aktif dalam basis krim. Dilakukan pengujian dengan mengambil sampel secara acak pada saat mixing kemudian dilakukan pengujian dengan cara penetapan kadar dari zat aktif. b. Organoleptis Dilakukan pengamatan secara organoleptis yang terdiri dari warna dan bau. c. pH sediaan Pemeriksaan pH dilakukan untuk menjaga stabilitas dari sediaan dimana basis krim yang sebagian besar terdiri dari minyak akan mudah teroksidasi pada pH yang tinggi. Pengujian dilakukan dengan menggunakan alat pH-meter dengan nilai pH 7. d. Stabilitas sediaan Uji stabilitas dilakukan dengan metode uji stabilitas dipercepat, yaitu penyimpanan sediaan dalam berbagai suhu (suhu kamar, tinggi dan rendah). Dari pengujian ini dapat diketahui masa kadaluarsa dari sediaan e. Uji iritasi kulit Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui efek iritan dari penggunaan basis krim. Dilakukan dengan mengolehkan krim pada permukaan kulit dari hewan coba lalu dilihat reaksi yang terjadi f. Uji Viskositas Viskositas sediaan diuji dengan menggunakan viscometer Brookfield. Pengujian viskositas penting dalam proses pengemasan dan penggunaan sediaan.
  • 16.
    Pengesahan No Uraian NamaTanda tangan 1 Disusun oleh anggota seksi formulasi Rahmi Suci, S. Farm 2 Disetujui oleh kepala seksi formulasi Meldawati, S. Farm
  • 17.
    PT. STIFI FARMATbk. Padang, Sumatera Barat FORM 2 Pengembangan Metode Analisis Output : Metoda Uji Mutu Ruahan EVALUASI CREAM A. Organoleptis  Alat : pengamatan bau, warna, dan terhadap bentuk sediaan.  Prinsip kerja : Evaluasi yang pertama dilakukan yaitu dengan melakukan pengamatan terhadap bau, warna dan bentuk sediaan. B. Pengujian PH  Alat : pH meter  Prinsip kerja : Untuk mengatur PH sediaan digunakan PH meter langsung pada sediaan. C. Pengujian viskositas  Alat : Viscotster VT-04  Prinsip kerja : cairan dimasukkan antara cup dan bob samapai temperature seimbang. Beban ditempatkan pada penggantung. Catat waktu untuk berputar 100 x ( Remington 348). D. Pengujian berat jenis  Alat : piknometer.  Prinsip kerja : masukkan air pada piknometer dan dihitung beratnya. Setelah itu masukkan 1 gram zat uji dan masukkan air sampai batas dan ukur beratnya. Selisih antara berat keduanya merupakan berat jenis dari zat uji. E. Penetapan kadar  Alat : Spektrofotometer UV.  Prinsip kerja : Timbang seksama sampel lalu encerkan dengan etanol lalu saring, filtrate diencerkan dalam 10 ml etanol lalu ukur serapannya
  • 18.
    menggunakan spektrofotometer UVpada daerah panjang gelombang 200-400 nm. F. Uji daya sebar cream  Alat: Exitometer.  Prinsip kerja: Krim sebanyak 1gram diletakkan pada lempeng kaca berskala, lalu diatasnya ditutup lempeng kaca dan diberi beban 5 gram. Lalu didiamkan selama 2 menit. Kemudian beban ditambah 5 gram serta amati penyebaran yang terjadi, ulangi denagn menambah beban hingga 20 g.(Voight R 978). G. Uji daya lekat cream  Alat : Object glass  Letakan cream secukupnya di atas obyek glass yang telah ditentukan luasnya 1. Letakan obyek glass yang lain di atas cream tersebut. Tekan dengan beban 1 kg selama 5 menit 2. Lepaskan beban seberat 1 kg 3. Pasang obyek glass pada alat uji 4. Catat waktunya hingga kedua obyek glass terlepas 5. Ulangi sebanyak 3 kali H. Uji kemampuan proteksi 1. Ambilah sepotong kertas saring (10 x 10 cm). Basahi dengan larutan phenophtalein untuk indikator. Setelah itu kertas dikeringkan 2. Olesilah kertas tersebut dengan cream yang akan dicoba (satu muka) seperti lazimnya orang mempergunakan cream 3. Sementara itu pada kertas saring yang lain buat satu area (2,5 x 2,5 cm) dengan pembatas parafin padat yang dilelehkan 4. Tempelkan kertas (3) pada kertas (2) 5. Tetesi atau basahi dengan KOH 0,1 N 6. Amati timbulnya noda kemerahan pada sebelah kertas yang dibasahi dengan larutan phenolphtalein pada waktu 15; 30; 45; 60 detik, 3; 5 menit.
  • 19.
    I. Uji homogenitaskrim  Penentuan partikel droplet  Alat : mikroskop  Prinsip kerja: 10 miligram sediaan diambil dari 3 tempat yang berbada. Tiap sampel diletakkan pada kaca objek, lalu dengan bantuan kaca objek lain dilihat dibawah mikroskop pada pembesaran 100 kali (Voight R 925). Pengesahan No Uraian Nama Tanda tangan 1 Disusun oleh anggota seksi formulasi Rahmi Suci, S. Farm 2 Disetujui oleh kepala seksi formulasi Meldawati, S. Farm
  • 20.
    PT. STIFI FARMATbk. Padang, Sumatera Barat FORM 3 Pengembangan Kemasan Output : Desain Kemasan Desain kemasan primer Etiket kemasan sekunder Tiap gram Krim mengandung: Kloramfenikol 2% Hidrokortison Asetat 2,5% Indikasi Lihat brosur No.reg : DKL1700600129A1 No.Bacth : Z729001 Exp date : 09- 2021 Mfg, date : 09-2017 HET : Rp. 15.250,- PRIMCOLE® Kloramfenikol 2% krim Netto 10 g Hidrokortison Asetat 2,5% cream Netto 10 g KDiproduksi oleh PT.STIFI FARMA Tbk. Padang, Sumatera Barat ATURAN PAKAI Oleskan tipis pada tempatyang sakit 2-4 kali sehari Keterangan Lengkap Lihat Brosur SIMPAN DITEMPAT SEJUK DAN KERING SERTA TERLINDUNG DARI CAHAYA PRIMCOLE® Kloramfenikol 2% krim Netto 10 g Hidrokortison Asetat 2,5% Diproduksi oleh PT.STIFI FARMA Tbk. Padang, Sumatera Barat K Tiap gram Krim mengandung: Kloramfenikol 2% Hidrokortison Asetat 2,5% Aturan pakai : Oleskan tipis pada tempat yang sakit 2-4 kali sehari Harus Dengan Resep Dokter Keterangan Lengkap Lihat Brosur HET : Rp. 15.250,- PRIMCOLE® krim Diproduksi oleh PT. STIFI FARMA Tbk. Padang, Sumatera Barat Netto:10 g INDIKASI: Nyeri inflamasi dari Dermatosis yang responsive terhadap kortikosteroid 25 dengan komplikasi infeksi sekunder yang disebabkan oleh organism yang peka terhadap kloramfenikol. No.reg : DKL1700600129A1 No.Bacth : Z729001 Exp date : 09- 2021 Mfg, date :09-2017
  • 21.
    BROSUR PRIMCOLE® Krim Komposisi : Tiap gramkrim mengandung : Kloramfenikol………………….2 % Hirocortison Asetat………… 2,5 % Farmakologi : Kloramfenikol Berkhasiat sebagai bakteriostatik terhadap Enterobacter dan Staph. Aureus berdasarkan perintangan sintesa polipeptida kuman dan bekerja bakterisid terhadap Str. Pneumonia, Neiss. Meningitides, dan H. influenza. Kortikosteroid bekerja dengan mempengaruhi kecepatan sintesis protein. Molekul hormone sel memasuki melewati membrane plasma secara difusi pasif. Hanya dijaringan target hormone ini bereaksi dengan reseptor protein yng spesifik dalam sitoplasma sel akan membentuk kompleks reseptor-steroid. Induksi sintesis protein ini menghasilkan efek fisiologik steroid. Indikasi Inflamasi non infeksi pada kulit seperti dermatitis atopic, dermatitis kontak, dan reaksi alergi kulit lain yang responsive terhadap kortikosteroid. Kontra Indikasi : Hipersensitivitas terhadap kloramfenikol dan hidrocortison asetat Efek samping : Iritasi kulit. Aturan pakai : Oleskan tipis pada tempat yang sakit 2-4 kali sehari HARUS DENGAN RESEP DOKTER SIMPAN DITEMPATSEJUK DAN TERLINDUNG DARI CAHAYA Kemasan : Tube 10 gram No.reg : DKL1700600129A1 Diproduksi oleh: PT. STIFI FARMA Tbk. Padang, Sumatera Barat
  • 22.
    PT. STIFI FARMATbk. Padang, Sumatera Barat FORM 4 Trial Skala Industri OutPut : Catatan Pengolahan Bets PT. ANAM FARMA Tbk. Padang, Sumatera Barat Catatan pengolahan batch No : Tanggal berlaku : Menganti, No : Tanggal berlaku : Disusun oleh : Yushenridawati, S. Farm Disetujui oleh : Meldawati, S. Farm Seksi Formulasi : Rahmi Suci, S. Farm Tanggal : 1 April 2017 Manajer Produksi : Ria Safitri, S. Farm Tanggal : 1 April 2017 Manajer QA : Ria Anggreiny, S. Farm Tanggal : 1 April 2017 Kode produk/ bentuk sediaan : A / krim Nama produk : PRIMCOLE No. Bets /besar batch Z729001 / 1000 Kemasan : 10 g Tanggal mulai pengolahan : Tanggal selesai pengolahan : Komposisi Jumlah yang diperlukan untuk 1 tube dan 1 bets No Nama zat aktif Tiap 10 g Tiap 1Batch (1000 tube) 1. Kloramfenikol 20mg/g 200 mg 200 g 2. Hidrokortison asetat 25mg/g 250 mg 250 g Basis krim 3. Asam Stearat 145 g 1,37 g 1371 g 4. TEA 15 g 0,14 g 141,83 g 5. Adeps Lanae 50 g 0,472 g 472,7 g 6. Parafin liquid 250 g 2,3638 g 2363 g 7. Nipagin 0,12% 0,011 g 11,46 g 8. Nipasol 0,05% 4,77 mg 4,775 g 9 Na metabisulfit 0,1% 9,55 mg 9,55 g 10 Aquadest 550 ml 5,2 mL 5,2 L
  • 23.
    Peralatan  Timbangan  Mesinmixing  Spektrofotometer UV  Climatic chamber  Kemasan  Peralatan ultrasonic  PH meter  Viskometer  Exikometer  piknometer Penimbangan No Nama zat aktif Tiap 10 g Tiap 1000 Batch Ditimbang oleh (Ade Maya Puspita, S. Farm) Diperiksa oleh (Gusti Silvi Handayani, S. Farm) 1. Kloramfeni kol 20mg 200 mg 200 g 2. Hidrokortis on asetat 25mg 250 mg 250 g Basis krim 3. Asam Stearat 145 g/1010g 1,37 g 1371 g 4. TEA 15 g/1010g 0,14 g 141,83 g 5. Adeps Lanae 50 g/1010g 0,472 g 472,7 g 6. Parafin liquid 250 g/1010g 2,3638 g 2363 g 7. Nipagin 0,12% 0,011 g 11,46 g 8. Nipasol 0,05% 4,77 mg 4,775 g 9 Na metabisulfi t 0,1% 9,55 mg 9,55 g 10 Aquadest 550 ml/1010 g 5,2 mL 5,2 L
  • 24.
    Prosedur Pengolahan a. Siapkankondisi ruang produksi kelas E umum. b. Karyawan daerah harus sehat dan tidak berpenyakit menular, dan sedang tidak sakit flu, batuk, atau sakit tenggorokan. Bila sakit harus melapor kesupervisor dan sementara ditempatkan bukan pada daerah steril sampai benar-benar sembuh. Cuci tangan dengan menggunakan cairan antiseptic khusus, kenakan tutup kepala, sarung tangan dan masker c. Siapkan peralatan yang diperlukan, alat sudah dibersihkan dengan aqua, etanol 75% dan aqua kembali. Botol dicuci dengan menggunakan na pyrofosfat 0,5% dengan mesin cuci otomatis. Cuci dan bilas dengan aquademineralisata, keringkan dalam tunel dryer suhu 600C selama 2 jam. Dinginkan pada suhu kamar selama 1 jam. d. Peralatan sesuai cara yang tercantum diatas. Set peralatan sesuai dengan master formula untuk produk yang akan diproduksi. e. Bahan baku diambil dari gudang bahan baku. Kirim ke ruang penimbangan kelas E melalui airlock. Timbang sesuai dengan master formula. Cek oleh kepala regu dan kepala unit. Setelah OK kirim keruang produksi melalui air lock khusus bahan baku. f. Bahan pengemas sekunder diambil dari gudang bahan kemas, sesuai dengan master formula/ CPOB produk yang akan diproduksi. Kirim keruang packing sekunder (black). Cetak no batch dan tanggal ED sesuai master formula. Cek oleh kepala regu dan kepala unit. Setelah itu baru siap untuk dipakai mengemas produk. g. Semua bahan baku dan bahan pengemas yang diambil dari gudang penyimpanan masing-masing telah mengalami QC terlebih dahulu pada masa karantina. Bahan yang dipakai adalah yang telah lulus QC. Bila tidak memenuhi spesifikasi standar, maka harus di reject, dimusnahkan langsung atau dirusak terlebih dahulu. h. Diruang produksi  Dilakukan pembuatan krim dengan cara dimasukkan kedalam mesin pencampur.
  • 25.
     Atur/set alatsesuai dengan jumlah/ berat serbuk yang akan diisikan kedalam tube, isikan tiap tube 10 gram lalu beri label quarantine. Pengisian, penutupan dan labeling dilakukan pada satu jalur. i. Evaluasi/ pemeriksaa IPC  Tingkat kemasan/ pH  Kadar (sesuai monografi zat aktif) j. Selesai pegisian, produk yang sudah disusun di rak khusus dikarantina, beri label “quarantine” lalu lakukan IPC.  Stabilitas sediaan.  Pengambilan produk untuk retain sampel. k. Bila lulus uji produk yang tersusun pada rak khusus dikirim ke packing sekunder. tube dimasukkan ke iner box lalu masukkan ke auter box. Beri nomor registrasi, batch da ED pada auter box. Lakukan pemeriksaan akhir. l. Kirim kegudang produk jadi. Lakukan serah terima dari bagian produksi ke bagian logistic. Rekonsiliasi Rekonsiliasi Hasil Diperiksa oleh Disetujui oleh Hasil teoritis : Hasil nyata : Supervisor Pengolahan Tanggal : Manajer Produksi Tanggal : Pemeriksaan Proses Pengolahan Peninjauan Catatan Pengolahan bets Seksi Formulasi Manager Produksi Manager QC Tanggal: Tanggal: tanggal:
  • 26.
    Pengesahan No Uraian NamaTanda tangan 1 Disusun oleh anggota seksi kemasan/registrasi Ria Safitri, S. Farm 2 Disetujui oleh kepala seksi kemasan/registrasi Yushenridawati, S. Farm
  • 27.
    PT. STIFI FARMATbk. Padang, Sumatera Barat FORM 5 Trial Skala Industri OutPut : Catatan Pengemasan Bets PT. ANAM FARMA Tbk. Padang, Sumatera Barat Catatan pengolahan batch No : Tanggal berlaku : Menganti, No : Tanggal berlaku : Disusun oleh : Ria Safitri, S. Farm Disetujui oleh : Yushenridawati, S. Farm Seksi Formulasi : Rahmi Suci, S. Farm Tanggal : 1 April 2017 Manajer Produksi : Meldawati, S. Farm Tanggal : 1 April 2017 Manajer QA : Ria Anggreiny, S. Farm Tanggal : 1 April 2017 Kode produk/ bentuk sediaan : A / krim Nama produk : NAMCORT No. Bets /besar batch Z729001 / 1000 Kemasan : 10 g Tanggal mulai pengolahan : Tanggal selesai pengolahan : Penerimaan bahan pengemas Kode bahan Nama bahan pengemas Jumlah Dibutuhkan Jumlah diterima No QC Jumlah Dibutuhkan Jumlah diterima Paraf
  • 28.
    Prosedur pengemasan primer ProsedurPengisian Paraf 1. Dihubungkan steker alat dan kompresor dengan arus 380 V, arus listrik akan tersambung. 2. Stel regulator pengatur pelipat tube pertama maka tube akan tertutup, stel regulator pelipat tube kedua maka tube akan terlipat. 3. Stel regulator pemberian No bets dan exp. Date maka akan terbaca penandaan pada lipatan tube. 4. Stel pengatur bobot krim yang diisikan. Untuk menambah bobot krim putar tombol kekiri, sedangkan bila bobot berlebih untuk menguranginya putar tombol ke arah kanan. Maka bobot akan sesuai dengan bobot yang diinginkan. 5. Putar saklar start ke ON, mesin mulai bekerja dan berputar. Prosedur pengemasan sekunder Prosedur penandaan dan pengawasan Paraf 1. Pencetakkan Kode bets pada label  Kebersihan mesin cetak diperiksa  Cetak No. Bets dan tanggal kadaluarsa pada tiap tabel dengan memakai mesin pencetak Pengawasan selama proses:  Periksa cetakkan No.bets dan tanggal kadaluarsa Catat jumlah label yang sudah dicetak dilaporkan pencetakkan No.bets 2. Pencetakkan Dus lipat  Kebersihan mesin cetak diperiksa tanggal….. oleh……  Cetak No.bets pada tiap dus lipat dengan memakai mesin pencentak Pengawasan selama proses  Periksa cetakkan No.bets danm tanggal kadaluarsa Catat jumlah dus lipat yang sudah dicetak dilaporkan pencentakkan No.bets 3. Melipat Brosur  Kebersihan mesin cetak diperiksa
  • 29.
    tanggal…. Oleh…..  CetakNo.bets pada tiap dus lipat dengan memakai mesin pencentak Pengawasan selam proses Catat jumlah brosur yang sudah dilipat dilaporkan pencentakkan No.bets/pelipatan 4. Pencetakan label luar  Cetak nomor bets dan tanggal kadaluarsa diatas tiap label luar secara manual Pengawasan selama proses  Periksa nomor bets dan tanggal kadarluarsa pada label luar Catat jumlah label luar yang sudah di cetak dilaporkan pencetatakan nomor bets 5. Penanda tube  Kebersihan mesin label diperiksa  Tempelkan label pada tube yang sudah diisi dan ditutup dengan memakai mesin label Pengawasan selama proses Catat jumlah label yang sudah dicetak di laporan pencetakan no bets 6. Pengiriman ke Gudang  Catat pengiriman no…….. jumlah…. Tanggal……. Oleh… Hasil obat jadi Hasil obat jadi Hasil Kemasan Jumlah Satuan Paraf  Untuk dijual tube 10 gram  Contoh tertinggal  Ditolak - - - Hasil teoritis = 1000 tube Hasil nyata = 995 tube Batas Penjelasan
  • 30.
    Pelulusan oleh pengawasanmutu  Pelulusan akhir obat jadi no tanggal Catatan … Pemeriksaan Proses Pengolahan Peninjauan Catatan Pengolahan Bets Supervisor Pengolahan Manager Produksi Manager QC Tanggal : Tanggal : Tanggal : Pengesahan No Uraian Nama Tanda tangan 1 Disusun oleh anggota seksi kemasan/registrasi Ria Safitri, S. Farm 2 Disetujui oleh kepala seksi kemasan/registrasi Yushenridawati, S. Farm
  • 31.
    PT. STIFI FARMATbk. Padang, Sumatera Barat FORM 6 Uji Stabilitas Output : Metode Uji Stabilitas A.Uji dipercepat 1. Elevated temperatur Setiap kenaikan suhu 10◦C akan mempercepat reaksi 2 sampai 3 kalinya, namun secara praktis cara ini agak terbatas karena kenyataannya suhu yang jauh diatas normal akan menyebabkan perubahan yang tidak pernah terjadi pada suhu normal 2. Elevated humidities Umumnya uji ini dilakukan untuk menguji kemasan produk. Jika terjadi perubahan pada produk dalam kemasannya karena pengaruh kelembapan, maka hal ini menandakan bahwa kemasannya tidak memberikan perlindungan yang cukup dari atmosfer 3. Cycling test Tujuan dari uji ini sebagai simulasi adanya perubahan suhu setiap tahun bahkan setiap harinya. Oleh karena itu, pada uji ini dilakukan pada suhu dan atau kelembapan pada interval waktu sehingga produk dalam kemasannya akan mengalami stress yang bervariasi dari pada stress statis 4. Uji mekanik (centrifugal test) Tujuan dilakukan uji mekanik adalah untuk mengetahui terjadinya pemisahan fase dari emulsi. Sampel disentrifugasi pada kecepatan 3750 rpm selama 5 jam atau 5000-10000 rpm selama 30 menit. Hal ini dilakukan karena perlakuan tersebut sama dengan besarnya pengaruh gaya gravitasi terhadap penyimpanan krim selama setahun Sebenarnya sentrifugasi pada kecepatan tinggi cenderung dapat mengubah bentuk globul fase internal yang terdispersi dan memicu terjadinya koalesens Parameter – parameter yang digunakan dalam uji kestabilan fisik adalah:
  • 32.
     Organoleptis Bertujuan untukmengamati adanya perubahan atau pemisahan emulsi, timbulnya bau atau tidak dan perubahan warna  Sifat aliran (viskositas) Kenaikan viskositas dapat meningkatkan kestabilan sediaan  Ukuran partikel Perubahan dalam ukuran partikel rata – rata atau distribusi ukuran globul merupakan tolak ukur penting untuk mengevaluasi emulsi. Dimana pada emulsi keruh diameter globul berkisar antara 0,5 - 50µm. Ukuran partikel merupakan indikator utama kecendrungan terjadinya creaming atau breaking. Terdapat hubungan antara ukuran partikel dengan viskositas dimana kenaikan viskositas akan meningkatkan stabilitas sediaan. Semakin tinggi viskositas maka semakin kecil ukuran partikel dan semakin esar volume rasio  Pemeriksaan pH. Krim sebaiknya memiliki Ph yang sesuai dengan pH kulit 4,5 – 6,5 karena jika krim memiliki Ph yang terlalu basa maka dapat menyebabkan kulit menjadi bersisik, sedangkan jika Ph terlalu asam maka yang terjadi adalah menimbulkan iritasi kulit. Pengesahan No Uraian Nama Tanda tangan 1 Disusun oleh anggota seksi metoda Analisis dan uji stabilitas Ria Anggreiny, S. Farm 2 Disetujui oleh kepala seksi metoda Analisis dan uji stabilitas Marlisnawati, S. Farm
  • 33.
    PT. STIFI FARMATbk. Padang, Sumatera Barat FORM 7 Uji BE Output : Protokol Singkat Uji BE 1. PENDAHULUAN Kloramfenikol merupakan antibiotic yang berkhasiat sebagai bakteriostatik terhadap Enterobacter dan Staph. Aureus berdasarkan perintangan sintesa polipeptida kuman dan bekerja bakterisid terhadap Str. Pneumonia, Neiss. Meningitides, dan H. influenzae Hidrokortison merupakan obat golongan Kortikosteroid, yang bekerja dengan mempengaruhi kecepatan sintesis protein. Molekul hormone sel memasuki melewati membrane plasma secara difusi pasif. Hanya dijaringan target hormone ini bereaksi dengan reseptor protein yng spesifik dalam sitoplasma sel akan membentuk kompleks reseptor-steroid. Kompleks ini mengalami perubahan konformasi, lalu bergerak menujju nokleus dan berikatan dengan kromatin. Ikatan ini berfungsi menstimulasi transkripsi RNA dan sintesis protein spesifik. Induksi sintesis protein ini menghasilkan efek fisiologik steroid. Kombinasi antara hidrokortison asetat dengan kloramfenikol karena hidrokortison asetat (kortikosteroid) secara topical dapat menggangu pertahanan kulit alami terhadap infeksi sehingga perlu dikombinasi dengan antibiotik. 2. TUJUAN  Untuk menjain efikasi, keamanan dan mutu produk obat yang beredar  Untuk menjamin produk onat copy yang akan mendapatkan izin edar bioekivalen dengan produk obat inovatornya  Untuk menentukan bioavabilitas absolute dan relatif suatu zat kimia baru, serta bioekivalensi zat tersebut dalam forrmulasi untuk uji klinik dan dalam produk yang akan dipasarkan
  • 34.
    3. METODE PENELITIAN Desaindan pelaksanaan uji bioekivalensi Dapat dipertimbangkan untuk ;  Obat dengan kadar plasma atau kecepatan eliminasi intra-subyek yang sangat bervariasi sehingga tidak memungkinkan untuk menunjukkan bioekivalensi dengan studi dosis tunggal, sekalipun pada jumlah subyek yang cukup banyak, dan variasi ini berkurang pada keadaan tunak.  obat yang metode penetapan kadarnya dalam plasma tidak cukup sensitif untuk mengukur kadarnya dalam plasma pada pemberian dosis tunggal (sebagai alternatif dari penggunaan metode penetapan kadar yang lebih sensitif), mis. loratadin. Pada studi keadaan tunak, jadwal pemberian obat harus mengikuti aturan dosis lazim yang dianjurkan. Pada studi ini, menurunnya kadar obat yang pertama terjadi bersamaan dengan meningkatnya kadar obat yang kedua, sehingga periode washout dapat diperpendek menjadi sedikitnya 3 x waktu paruh eliminasi obat. Studi bioekivalensi (BE) adalah studi bioavailabilitas (BA) komparatif yang dirancang untuk menunjukkan bioekivalensi antara produk uji (suatu produk obat“copy”) dengan produk obat inovator/ pembandingnya. Caranya dengan membandingkan profil kadar obat dalam darah atau urin antara produk-produk obat yang dibandingkan pada subyek manusia. Karena itu desain dan pelaksanaan studi BE harus mengikuti Pedoman Cara Uji Klinik yang Baik (CUKB), termasuk harus lolos Kaji Etik (Oleh karena studi BA / BE dilakukan pada subyek manusia (suatu uji klinik) maka protokol studi harus lolos Kaji Etik terlebih dahulu sebelum studi dapat dimulai) Studi biasanya dilakukan pada subyek yang sama (dengan desain menyilang) untuk menghilangkan variasi biologik antar subyek (karena setiap subyek menjadi kontrolnya sendiri), hal ini sangat memperkecil jumlah subyek yang
  • 35.
    dibutuhkan. Jadi untukmembandingkan 2 produk obat, dilakukan studi menyilang 2-way (2 periode untuk pemberian 2 produk obat pada setiap subyek). Pemberian produk obat yang pertama harus dilakukan secara acak agar efek urutan (order effect) maupun efek waktu (period effect), bila ada, dibuat seimbang.Kedua perlakuan dipisahkan oleh periode washout yang cukup untuk eliminasi produk obat yang pertama diberikan (biasanya lebih dari 5 x waktu paruh eliminasi yang dominan dan/atau waktu paruh terminal dari obat, atau lebih lama jika mempunyai metabolit aktif dengan waktu paruh yang lebih panjang. Karena itu, untuk obat dengan waktu paruh yang panjang, dapat dipertimbangkan penggunaan desain 2 kelompok paralel. Subjek Sukarelawan : penelitian melibatkan 10 sukarelawan laki-laki sehat, berumur 20-31 tahun, dengan berat badan 49-68 kg. Sukarelawan tidak mempunyai riwayat gangguan gastrointestinal, penyakit jantung, hepar maupun ginjal.Pemeriksaan laboratorik terhadap fungsi ginjal, fungsi hepar, hematologi dan kimia darah menunjukkan hasil yang normal. 4. ANALISIS OBAT Untuk obat Kloramfenikol Hidrokortison Asetat tidak dilakukan analisis obat. 5. PERHITNUGAN PARAMETER BIOAVAIBLITAS OBAT DALAM DARAH Karena analisis obat tidak dapat dilakukan, maka perhitungan parameter ini tidak dapat juga dilakukan. Rumus untuk mencari Bioavailabilitas relatif tablet dibandingkan dengan larutan oral: F = AUC zat uji = AUC tablet AUC zat standar AUC larutan oral F = dosis standar = dosis larutan oral dosis zat uji dosis tablet
  • 36.
    6. ANALISIS STATISTIK a.Dari data darah  Parameter bioavailabilitas yang dibandingkan untuk penilaian bioekivalensi adalah AUC, Cmax dan tmax  Cara menghitung AUC0→t ; AUC0→∞ ; ke , t½  Data yang bergantung pada kadar, yakni AUC dan Cmax , harus ditransformasi logaritmik (ln) terlebih dulu sebelum dilakukan analisis statistik, karena kinetik obat mengikuti kinetik first order sehingga dalam skala logaritmik akan diperoleh distribusi yang normal dan varians yang homogen. Selanjutnya nilai-nilai ln AUC ke-2 produk dibandingkan menggunakan analisis varians (ANOVA) untuk desain menyilang 2-way yang memperhitungkan sumber-sumber variasi berikut :  produk obat yang dibandingkan (Test dan Reference),  periode pemberian obat (I dan II), b. Dari data urin Parameter yang dibandingkan adalah Ae dan (dAe/dt)max Pengesahan No Uraian Nama Tanda tangan 1 Disusun oleh anggota seksi metoda Analisis dan uji stabilitas Marlisnawati, S. Farm 2 Disetujui oleh kepala seksi metoda Analisis dan uji stabilitas Ria Anggreiny, S. Farm
  • 37.
    PT. STIFI FARMATbk. Padang, Sumatera Barat FORM 8 Registrasi Obat Outputt : Formulir Registrasi Obat Pra Registrasi Penjelasan : 1. Pendaftaran informasi nama obat kepada Kepala Balai POM 2. Penyerahan berkas pra registrasi di loket regristrasi obat 3. Pemeriksaan kelengkapan berkas :
  • 38.
     Tidak lengkap: Berkas dikemblikan dan dilengkapi serta dilakukan pendaftaran ulang  Lengkap : Lanjut ketahap berikutnya 4. Dilakukan pendataan 5. Pengkajian, meliputi :  Kategori registrasi  Jalur evaluasi  Dokumen penunjang  Biaya registrasi sesuai PNBP 6. Konsultasi ke ruang konsultasi 7. Adanya surat HPR ( Hasil Pra Registrasi ) Alur Registrasi
  • 39.
    Penjelasan : 1. HPR/ Surat Pengantar diberikan ke loket registrasi obat untuk permintaan SPB (Surat Perintah Bayar) dan pengambilan SPB tersebut 2. Dilakukan pembayaran ke Bank dan pengambilan bukti pembayaran 3. Bukti pembayara, SPB, HPR dan permintaan form elektronik diberikan ke loket registrasi untuk di install dan keluarlah form elektronik 4. Form elektronik dan form registrasi diserahkan untuk pemeriksaan kelengkapan berkas 5. Apabila form tidak lengkap dikemblikan kepada pemohon untuk dilengkapi kembali dan dilakukan pendaftaran ulang 6. Apabila berkas lengkap dilakukan pendataan 7. Dilakukan proses evaluasi dan konsultasi di ruang konsultasi 8. Hasil evaluasi :  Surat permintaan tambahan data dilakukan pelengkapan data dan setelah lengkap dilakukan penyerahan tambahan data dan dilakukan evaluasi kembali.  Apabila tidak ada surat permintaan tambahan data maka dilanjutkan tahap selanjutnya 9. Keluar Nomor Izin Edar (NIE) / surat persetujuan dan surat penolakan 10. Nomor izin edar dan persetujuan telah boleh untuk didistribusikan 11. Nomor izin edar yang ditolak dilakukan pendaftaran ulang kembali
  • 40.
    BADAN PENGAWASAN OBATDAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN I KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWASAN OBAT DAN MAKANAN RI NOMOR HK. 03.1.123.10.11.08481 TAHUN 2011 BADAN PENGAWASAN OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA FORMULIR REGISTRASI OBAT DAN PRODUK BIOLOGI DOKUMEN RAHASIA Diisi oleh Badan POM No . Pendaftaran : Tanggal Penerimaan : Kode Evaluasi : Sub Kode Evaluasi : A. URAIAN OBAT Kategori registrasi : Obat Copy dengan Nama Dagang Jenis obat Baru : Copy : Produk biologi : Jenis produk Produk tunggal : Produk kombinasi : Golongan obat Keras : Bebas : Bebas terbatas :
  • 41.
    Narkotika : Psikotropika : Namaobat : PRIMCOLE® Bentuk sediaan : krim Kekuatan : 10 gram Satuan : gram Kelas terapi : Anti Inflamasi dan antibakteri topikal Kode ATC : Kemasan (jenis&deskripsi) : Tube Besar kemasan : Box (1 tube) Bentuk sediaan, kekuatan, kemasan lain Bentuk sediaan : Krim Kekuatan : 10 gram Jenis kemasan : tube Besar kemasan : Box NIE*) : Masa laku NIE : B. KETERANGAN LENGKAP PENDAFTAR Nama pendaftar : PT. STIFI FARMA Tbk. Alamat pendaftar Nama jalan dan nomor : Jl. Adinegoro No. 32 Kota : Padang Negara : Indonesia Alamat surat menyurat Nama jalan dan nomot : Jl. Adinegoro No. 32 Kota : Padang Negara : Indonesia
  • 42.
    Nomor telepon danfax : (0751) 150814 E-mail : anam_pharm@pharmptt.com C. STATUS PRODUKSI Status produksi*) Produksi dalam negeri : Produksi sendiri : Produksi berdasarkan kontrak : Produksi berdasarkan lisensi : Impor : Obat disetujui hanya untuk ekspor*) Ya : Tidak : Produsen Nama : Medica Farma Alamat Nama jalan dan nomor : Kota : Jakarta Negara : Indonesia SMF**) : CPOB : Fungsi/peran : Penyedia bahan baku D. FORMULA 1. Zat aktif Satuan dosis : tiap gram krim mengandung Cas NO : Nama :Kloramfenikol dan Hidrokortison Asetat
  • 43.
    Jumlah : 500gram Satuan : gram Sumber hewan/manusia : Tidak Produsen : Medica Farma DMF*) : Negara produsen : Indonesia 2. Zat tambahan a. Asam stearat Cas NO : Jumlah : 2 Satuan : Kg Sumber hewan/manusia : Tidak Produsen : DMF*) : Negara produsen : Indonesia b. TEA (trietanolamin) Cas NO : Jumlah : 500 Satuan : gram Sumber hewan/manusia : Tidak Produsen : DMF*) : Negara produsen : Indonesia c. Adeps Lanae Cas NO : Jumlah : 500 Satuan : gram Sumber hewan/manusia : ya Produsen : Brataco DMF*) :
  • 44.
    Negara produsen :Indonesia d. Parafin liquid Cas NO : Jumlah : 3 Satuan : Kg Sumber hewan/manusia : Tidak Produsen : Brataco DMF*) : Negara produsen : Indonesia e. Nipagin Cas NO : Jumlah : 15 Satuan : gram Sumber hewan/manusia : Tidak Produsen : Brataco DMF*) : Negara produsen : Indonesia f. Nipasol Cas NO : Jumlah : 5 Satuan : gram Sumber hewan/manusia : Tidak Produsen : Brataco DMF*) : Negara produsen : Indonesia g. Natrium Metabisulfit Cas NO : Jumlah : 10 Satuan : gram Sumber hewan/manusia : Tidak
  • 45.
    Produsen : Brataco DMF*): Negara produsen : Indonesia h. Aquadest Cas NO : Jumlah : 100 Satuan : liter Sumber hewan/manusia : Tidak Produsen : Brataco DMF*) : Negara produsen : Indonesia E. INFORMASI OBAT Pemeriaan obat : Bentuk cream, bewarna putih Spesifikasi obat : cream Metode analisis obat : Konjungtivitis : Pengobatan inflamasi dan antibiotik topikal Posologi : Diberikan secara topikal 2-4 kali sehari Rute pemberiaan obat : topikal F. INFORMASI PRA REGISTRASI Hasil pra registrasi (HPR)*) Ada : Tidak : Tanggal penerbitan HPR : 04 2017 Kategori registrasi : Obat Copy Biaya evaluasi Terbilang : Sepuluh juta lima ratus ribu rupiah Jumlah evaluasi
  • 46.
    300 HK : 150HK : 100 HK : 40 HK : G. CARA PENYIMPANAN DAN BATAS KADAKUARSA Cara penyimpanan : Simpan ditempat kering dan sejuk, dan terlindung dari cahaya. Batas kadaluarsa : 04 2021 Batas kadaluarsa setelah : - Kemasan dibuka/rekonstruksi : H. STATUS REGISTRASI DINEGARA LAIN Negara : Status registrasi : Tanggal persetujuan : Golongan obat : I. INFORMASI PATEN Judul paten : Nomor penerimaan paten : Tanggal penerimaan paten : J. RIWAYAT REGISTRASI Kategori registrasi : Tanggal pengajuan : April 2017 Tanggal persetujuan : NIE : Masa berlaku NIE : 3 tahun
  • 47.
    K. KETERANGAN SISTEMPENOMORAN BETS L. INFORMAN HARGA Kemasan : tube HNA*) : Rp. 15.250,- HET*) : Rp. 15.250,- M. KOMITMEN YANG HARUS DIPENUHI N. DOKUMEN TEKNIS Jenis format dokumen*) ACTD : ICH CTD : BAGIAN I Dokumen administratif dan informasi produk Jumlah order/map : Jumlah salinan : BAGIAAN II Dokumen mutu Jumlah order/map : Jumlah salin : BAGIAN III Dokumen nonklinik Jumlah order/map : Jumlah salin : BAGIAN IV
  • 48.
    Dokumen administratif daninformasi produk Jumlah order/map : Jumlah salin : O. KETERANGAN PETUGAS REGISTRASI Nama : Jono Saputra, S.Farm Jabatan : Staf Registrasi Alamat : Jl. Adinegoro Permai No 32, Lubuk Buaya, Padang. Nomor telepon dan Fax : (0751) 150814 Nomor telepon genggam : 085382855115 Email : jono_ff@bpoml.com KEPALA BADAN PENGAWASAN OBAT DAN MAKANANREPUBLIK INDONESIA ........................................................ Pengesahan No. Uraian Nama Tanda Tangan 1. Disusun oleh anggota bagian kemasan/registrasi 1. 2. 2. Disetujui oleh Manager R & D 1. 2.