A. MIFTAHUL KHAIR, S.Kep.,Ns
Apakah Toilet Training
 Toilet training adalah usaha orang tua untuk mulai
mengenalkan dan melatih anak untuk bisa buang air,
baik buang air besar (BAB) ataupun buang air kecil
(BAK), secara mandiri.
 Toilet training sering disebut juga Potty training, yaitu
merupakan cara yang dilakukan oleh orangtua untuk
melatih anak balita (di bawah lima tahun) agar
mampu buang air kecil (BAK) dan buang air besar
(BAB) di tempat yang ditentukan
Aspek-aspek Pembelajaran dalam
Toilet Training
 Mengenalkan dan melatih BAK dan BAB secara
mandiri;
 Melatih BAK dan BAB pada tempat yang ditentukan
(toilet)
 Melatih untuk menahan BAK dan BAB.
Kapan Toilet Training Diberikan
 Toilet Training diberikan ketika anak memasuki usia
dua tahun, orangtua mulai mengajarkan mereka untuk
buang air kecil atau besar di toilet;
 Toilet Training diberikan kepada anak pada saat
memasuki usia 18 bulan ketika otot-otot mereka sudah
mampu mengontrol kerja anus dan kantung kemih;
 Masing-masing anak sangat berbeda-beda
tingkat perkembangannya. Ada yang sudah bisa
dimulai pada usia 2 tahun, 3 tahun atau bahkan
4 tahun. Kebanyakan dari anak-anak akan
mampu secara mandiri pada usia 4 tahun.
 Studi teranyar merekomendasikan para
orangtua untuk mulai mengenalkan toilet
training saat anak berusia 27-32 bulan;
Kapan Anak Sudah Siap?
 anak sudah dapat duduk
tegak/mantap;
 mulai dapat mengontrol
kandung kemihnya, misalnya
selama 2-3 jam, popok anak
tetap kering;
 sudah mampu membuka dan
mengenakan celana sendiri;
 dapat menyadari ketika ia mau
BAK atau BAB;
 mampu memahami intruksi
sederhana;
 Anak anda sudah lebih terkontrol jadwal buang
airnya, misalnya BAB setiap pagi hari;
 Sudah memahami kemana ia harus berjalan ketika
BAK atau BAB;
 Memiliki keinginan untuk BAK atau BAB secara
mandiri
 Mampu mengkomunikasikan ketika dia ingin buang
air kecil maupun buang air besar;
 Memahami bila diajak untuk menggunakan toilet;
 Merasa tidak nyaman apabila popoknya basah dan
kotor;
 Mempunyai minat terhadap toilet
Yang Harus Dilakukan Orangtua
 Dr T Berry Brazelton, memberikan gambaran langkah-
langkah pendekatan dilakukan orangtua sebagai berikut:
1. Pilihlah kata-kata yang sesuai untuk berbicara dengan
anak anda, terutama untuk kata seperti kotoran dan air
seni.
2. Belilah pispot duduk untuk anak-anak. Tempatkan
pispot tersebut di tempat yang disenangi anak seperti
misalnya di kamar bermainnya. Jangan lupa untuk
membiarkan anak melihat bagaimana anda
menggunakan toilet agar ia bisa meniru.
3. Coba minta anak untuk duduk di pispot beberapa saat
setiap kali anak selesai makan.
4. Berikan anak dukungan dan minta
ia memberitahu kepada anda kapan
ia merasa ingin BAB atau BAK.
Berikan pujian setiap kali anak telah
sukses melakukan toilet training.
5. Jangan mengharapkan hasil yang
kilat, semua butuh waktu. Jangan
pernah memarahi anak apabila
belum berhasil.
6. Setelah beberapa kali berhasil
melakukan, cobalah untuk
mengganti popoknya dengan
menggunakan celana dalam yang
terbuat dari katun. Buat momen ini
spesial agar anak merasa sudah
besar dan merasa bangga.
Lakukanlah!
 Pujilah keberhasilan. Anda mungkin ingin mencoba
memberikan hadiah berupa cap binatang pada tangan
mereka (anak-anak saya menyukainya!);
 Undanglah mereka untuk duduk di toilet saat anda
menggunakan toilet;
 Gantilah popok dengan pull-up training pants yang
dapat mereka naik dan turunkan sendiri;
 Belilah training pants dengan warna kesukaan mereka
untuk membuat proses toilet training lebih
menyenangkan bagi mereka
 Ajarilah mereka untuk mencuci tangan setelah pergi
dari toilet. Belilah sabun tangan khusus dengan aroma
kesukaan mereka untuk tujuan ini;
 Bersiaplah dengan kecelakaan! Bersabarlah dengan
kecelakaan dan ulangi lagi;
 Ingatkan mereka untuk pergi ke toilet saat mereka
terlalu asyik dengan aktifitas mereka.
Dihindarkan ….
 Jangan menegur atau jika terjadi "kecelakaan".
 Jangan memulai pelatihan toilet ketika ada perubahan
besar yang terjadi dalam keluarga seperti kedatangan
bayi baru atau pindah ke rumah baru;
 Jangan merasa tertekan. Menjaga sikap yang santai.
TIPS….!!!
 Ajari anak tentang kata-kata yang terkait seperti
basah, kotor, `ee`, pipis, kebelet dan lainnya;
 Jelaskan dan beri contoh misalnya bagaimana duduk
di toilet, jongkok dan perlihatkan kotoran yang akan
dibuang di toilet;
 Jangan paksa anak untuk menggunakan toilet apabila
anak merasa enggan menggunakan toilet. Anda dapat
membujuknya pelan-pelan. Anda dapat menggunakan
toilet bersama apabila anak tidak merasa keberatan;
 Biarkan anak asyik dan bermain-main
dengan toilet. Inilah fase anal dimana
anak merasa asyik dan menikmati
produknya sendiri (BAB dan BAK);
 Apabila anak merasa takut dan frustasi,
maka hentikanlah sementara proses
toilet training. Ambillah jeda waktu dan
mulailah kembali supaya anak tidak
merasa trauma;
 Seringkali anak merasa penasaran
untuk melihat ke bawah untuk
mengetahui produknya. Biarkan saja;
 Ajari dan ikut sertakan anak untuk
membersihkan kotoran dan toilet
supaya anak menjadi terbiasa;
 Pastikan bahwa area toilet aman untuk anak. Jauhkan
peralatan mandi maupun peralatan toilet lain dari
jangkauan anak, supaya tidak dipakai mainan yang
mungkin membahayakan;
 Berikan pujian apabila anak berhasil menjalani dan
menggunakan toilet sesuai instruksi yang benar.
Langkah Salah Orangtua
1. Terlalu Dini
 Sebaiknya jangan mengajari si kecil melakukan toilet
training jika memang dia belum siap
2. Memulai di Waktu yang Salah
3. Membuatnya Menjadi Beban
4. Mengikuti Aturan Orang Lain
5. Menghukum Anak
Kenapa Anak Masih Tetap Salah
 Menyalahkan anak adalah tindakan yang keliru
 Perlakuan yang salah dalam pembelajaran akan
mengakibatkan si anak menjadi "trauma, phobia,
paranoid" atau justru si anak cenderung menjadi
pembangkang.
Toilet training

Toilet training

  • 1.
  • 2.
    Apakah Toilet Training Toilet training adalah usaha orang tua untuk mulai mengenalkan dan melatih anak untuk bisa buang air, baik buang air besar (BAB) ataupun buang air kecil (BAK), secara mandiri.  Toilet training sering disebut juga Potty training, yaitu merupakan cara yang dilakukan oleh orangtua untuk melatih anak balita (di bawah lima tahun) agar mampu buang air kecil (BAK) dan buang air besar (BAB) di tempat yang ditentukan
  • 3.
    Aspek-aspek Pembelajaran dalam ToiletTraining  Mengenalkan dan melatih BAK dan BAB secara mandiri;  Melatih BAK dan BAB pada tempat yang ditentukan (toilet)  Melatih untuk menahan BAK dan BAB.
  • 4.
    Kapan Toilet TrainingDiberikan  Toilet Training diberikan ketika anak memasuki usia dua tahun, orangtua mulai mengajarkan mereka untuk buang air kecil atau besar di toilet;  Toilet Training diberikan kepada anak pada saat memasuki usia 18 bulan ketika otot-otot mereka sudah mampu mengontrol kerja anus dan kantung kemih;
  • 5.
     Masing-masing anaksangat berbeda-beda tingkat perkembangannya. Ada yang sudah bisa dimulai pada usia 2 tahun, 3 tahun atau bahkan 4 tahun. Kebanyakan dari anak-anak akan mampu secara mandiri pada usia 4 tahun.  Studi teranyar merekomendasikan para orangtua untuk mulai mengenalkan toilet training saat anak berusia 27-32 bulan;
  • 6.
    Kapan Anak SudahSiap?  anak sudah dapat duduk tegak/mantap;  mulai dapat mengontrol kandung kemihnya, misalnya selama 2-3 jam, popok anak tetap kering;  sudah mampu membuka dan mengenakan celana sendiri;  dapat menyadari ketika ia mau BAK atau BAB;  mampu memahami intruksi sederhana;
  • 7.
     Anak andasudah lebih terkontrol jadwal buang airnya, misalnya BAB setiap pagi hari;  Sudah memahami kemana ia harus berjalan ketika BAK atau BAB;  Memiliki keinginan untuk BAK atau BAB secara mandiri  Mampu mengkomunikasikan ketika dia ingin buang air kecil maupun buang air besar;  Memahami bila diajak untuk menggunakan toilet;  Merasa tidak nyaman apabila popoknya basah dan kotor;  Mempunyai minat terhadap toilet
  • 8.
    Yang Harus DilakukanOrangtua  Dr T Berry Brazelton, memberikan gambaran langkah- langkah pendekatan dilakukan orangtua sebagai berikut: 1. Pilihlah kata-kata yang sesuai untuk berbicara dengan anak anda, terutama untuk kata seperti kotoran dan air seni. 2. Belilah pispot duduk untuk anak-anak. Tempatkan pispot tersebut di tempat yang disenangi anak seperti misalnya di kamar bermainnya. Jangan lupa untuk membiarkan anak melihat bagaimana anda menggunakan toilet agar ia bisa meniru. 3. Coba minta anak untuk duduk di pispot beberapa saat setiap kali anak selesai makan.
  • 9.
    4. Berikan anakdukungan dan minta ia memberitahu kepada anda kapan ia merasa ingin BAB atau BAK. Berikan pujian setiap kali anak telah sukses melakukan toilet training. 5. Jangan mengharapkan hasil yang kilat, semua butuh waktu. Jangan pernah memarahi anak apabila belum berhasil. 6. Setelah beberapa kali berhasil melakukan, cobalah untuk mengganti popoknya dengan menggunakan celana dalam yang terbuat dari katun. Buat momen ini spesial agar anak merasa sudah besar dan merasa bangga.
  • 10.
    Lakukanlah!  Pujilah keberhasilan.Anda mungkin ingin mencoba memberikan hadiah berupa cap binatang pada tangan mereka (anak-anak saya menyukainya!);  Undanglah mereka untuk duduk di toilet saat anda menggunakan toilet;  Gantilah popok dengan pull-up training pants yang dapat mereka naik dan turunkan sendiri;  Belilah training pants dengan warna kesukaan mereka untuk membuat proses toilet training lebih menyenangkan bagi mereka
  • 11.
     Ajarilah merekauntuk mencuci tangan setelah pergi dari toilet. Belilah sabun tangan khusus dengan aroma kesukaan mereka untuk tujuan ini;  Bersiaplah dengan kecelakaan! Bersabarlah dengan kecelakaan dan ulangi lagi;  Ingatkan mereka untuk pergi ke toilet saat mereka terlalu asyik dengan aktifitas mereka.
  • 12.
    Dihindarkan ….  Janganmenegur atau jika terjadi "kecelakaan".  Jangan memulai pelatihan toilet ketika ada perubahan besar yang terjadi dalam keluarga seperti kedatangan bayi baru atau pindah ke rumah baru;  Jangan merasa tertekan. Menjaga sikap yang santai.
  • 13.
    TIPS….!!!  Ajari anaktentang kata-kata yang terkait seperti basah, kotor, `ee`, pipis, kebelet dan lainnya;  Jelaskan dan beri contoh misalnya bagaimana duduk di toilet, jongkok dan perlihatkan kotoran yang akan dibuang di toilet;  Jangan paksa anak untuk menggunakan toilet apabila anak merasa enggan menggunakan toilet. Anda dapat membujuknya pelan-pelan. Anda dapat menggunakan toilet bersama apabila anak tidak merasa keberatan;
  • 14.
     Biarkan anakasyik dan bermain-main dengan toilet. Inilah fase anal dimana anak merasa asyik dan menikmati produknya sendiri (BAB dan BAK);  Apabila anak merasa takut dan frustasi, maka hentikanlah sementara proses toilet training. Ambillah jeda waktu dan mulailah kembali supaya anak tidak merasa trauma;  Seringkali anak merasa penasaran untuk melihat ke bawah untuk mengetahui produknya. Biarkan saja;  Ajari dan ikut sertakan anak untuk membersihkan kotoran dan toilet supaya anak menjadi terbiasa;
  • 15.
     Pastikan bahwaarea toilet aman untuk anak. Jauhkan peralatan mandi maupun peralatan toilet lain dari jangkauan anak, supaya tidak dipakai mainan yang mungkin membahayakan;  Berikan pujian apabila anak berhasil menjalani dan menggunakan toilet sesuai instruksi yang benar.
  • 16.
    Langkah Salah Orangtua 1.Terlalu Dini  Sebaiknya jangan mengajari si kecil melakukan toilet training jika memang dia belum siap 2. Memulai di Waktu yang Salah 3. Membuatnya Menjadi Beban 4. Mengikuti Aturan Orang Lain 5. Menghukum Anak
  • 17.
    Kenapa Anak MasihTetap Salah  Menyalahkan anak adalah tindakan yang keliru  Perlakuan yang salah dalam pembelajaran akan mengakibatkan si anak menjadi "trauma, phobia, paranoid" atau justru si anak cenderung menjadi pembangkang.