5
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Meranti Tembaga (Shorea leprosula Miq.)
Meranti tembaga (Shorea leprosula Miq.) salah satu jenis pohon penghasil
kayu utama yang mempunyai nilai ekonomi sangat tinggi, selain itu meranti
tembaga di Kalimantan dinamakan Pelepak Kontoi dan Sumatera Merkuyang.
Meranti tembaga termasuk dalam Kingdom Plantae, Divisi Magnoliophyta, Kelas
Magnoliopsida, Ordo Theales, Famili Dipterocarpaceae, Genus Shorea, Spesies
Shorea leprosula Miq. (Hidayanto, 2006).
Meranti tembaga dapat mencapai tinggi hingga 60 m, batang bebas cabang
hingga 35 m dan berdiameter hingga 175 cm. Tajuk meranti tembaga lebar,
menyebar, hemispherical, atau berbentuk seperti kembang kol, berwarna semi
tembaga (Adriyanti, 2005). Batangnya mempunyai kulit luar yang berwarna abu-
abu atau coklat, sedikit beralur tidak dalam, mengelupas agak besar-besar dan
tebal. Penampangnya berwarna coklat muda sampai merah, bagian dalamnya
kuning muda, kayu gubal berwarna kuning muda sampai kemerah-merahan, kayu
teras berwarna coklat muda sampai merah.
Menurut Heyne (1987) dalam Adriyanti (2005) pohon meranti tembaga
memiliki banir mencapai tinggi hingga 3,50 m, lebar 2,50 m, dan tebal 20 cm.
Cabang-cabangnya besar, tumbuh secara horizontal, jumlahnya tidak banyak dan
cepat gugur. Ranting-rantingnya banyak dan halus, daunnya tunggal berbentuk
bulat telur sampai jorong, panjangnya 8-14 cm dan lebar 3,5-5,5 cm. Tangkai
daun berbulu halus lebat, panjangnya 1-2 cm, permukaan daun bagian bawah
bersisik seperti krim, tangkai utama urat daun dikelilingi domitia terutama pada
6
pohon muda, sedangkan urat daun tersier rapat seperti tangga. Permukaan atas
daun berwarna hijau dan licin, sedangkan permukaan bawah kelabu, coklat atau
kekuning-kuningan serta tertutup oleh bulu yang sangat rapat. Stipula berukuran
sekitar 10 x 3,5 mm, jorong atau berbentuk tombak besar dan tumpul, bila gugur
bekas stipula pendek dan horizontal. Kuncup daun berukuran sekitar 3-5 x 2-3
mm, memipih, bulat telur membesar, agak runcing, berbulu pubescent halus padat
pendek, berwarna kuning tua.
Menurut Hidayanto (2006), meranti tembaga menyebar secara alami di
Indonesia yakni Sumatera, Maluku sampai Kalimatan diantara suhu dan curah
hujan yang relatif tinggi disepanjang tahun. Meranti tembaga tumbuh dan
berkembang pada curah hujan rata-rata berkisar antara 2000 - 2500 mm dengan
temperatur harian antara 22,2°C - 32,28°C.
Menurut Adriyanti (2005), bahwa musim berbunga dan berbuah meranti
tembaga terjadi setiap 2-3 tahun sekali. Pada saat musim berbunga pohon yang
telah mencapai usia dewasa akan menghasilkan bunga yang sangat banyak, bunga
akan mekar menjelang sore hari dan mengeluarkan aroma yang harum. Buah yang
muncul sesudah penyerbukan akan jatuh setelah 14 minggu semenjak berbunga
dimulai. Buah akan masak sekitar Bulan September hingga Bulan Maret.
Bentuk buah meranti tembaga seperti kacang yang terbungkus kelopak
bunga yang membesar. Kelopak ini memanjang dan berbulu jarang dengan 3
cuping memanjang sampai 10 cm dan lebar 2 cm berbentuk sendok 2 cuping
lainnya berukuran panjang 5,5 cm dan lebar 0,3 cm. Panjang benih 2 cm diameter
1,3 cm, bulat telur, berbulu halus dan lancip pada bagian ujung (Anonim, 2002).
7
Pada tahap pertumbuhan semai meranti tembaga memerlukan naungan.
Meranti tembaga termasuk kedalam jenis tanaman yang bersifat semi toleran yang
memerlukan naungan pada tahap awal pertumbuhannya yaitu hingga umur 3-4
tahun atau sampai tanaman mencapai tinggi 1-3 meter (Irwanto, 2006 ).
2.2. Medium Campuran Topsoil dan Kompos
Topsoil merupakan lapisan tanah bagian atas pada umumnya mengandung
bahan organik yang lebih tinggi dibandingkan lapisan tanah di bawahnya. Akibat
akumulasi bahan organik maka lapisan tanah tersebut berwarna gelap dan
merupakan lapisan tanah yang subur, sehingga merupakan bagian tanah yang
sangat penting dalam mendukung pertumbuhan tanaman dan topsoil mempunyai
kedalaman sekitar 20 cm (Supardi dan Goeswono, 1983).
Tanah topsoil sering digunakan sebagai media dalam pembibitan berbagai
jenis tanaman karena topsoil yang kaya akan kandungan bahan organik dan humus
yang bermanfaat diantaranya, mempercepat dekomposisi, granulasi akan
membentuk agregat yang stabil, memperbaiki drainase, infiltrasi air lebih baik,
kapasitas pegang air lebih baik dan kandungan hara yang tinggi. Media topsoil
perlu dilakukan pencampuran dengan kompos untuk media tanam sehingga
menghasilkan bibit yang berkualitas baik (Sembiring, 2007).
Duralhim dan Hendromono (2001), menyatakan bahwa diperlukan media
yang banyak mengandung bahan organik yang telah terdekomposisi dan
mempunyai unsur hara yang diperlukan tanaman untuk pertumbuhan semai.
Penambahan bahan organik dapat dilakukan dengan pemberian kompos pada
media persemaian dengan cara pencampuran media untuk pembibitan. Biasanya
8
untuk media pembibitan kompos sering digunakan dengan perbandingan tertentu
disesuaikan dengan jenis tanaman dan media yang digunakan.
Menurut Hendromono (1994), pada pembibitan tanaman media topsoil
sering digunakan, jika pengambilan topsoil dalam skala besar dapat berdampak
negatif bagi ekosistem di areal tersebut. Selain itu topsoil tidak selalu mempunyai
tingkat kesuburan yang baik sehingga diperlukan campuran bahan organik untuk
menghasilkan bibit berkualitas. Untuk mengatasi masalah tersebut perlu dilakukan
penambahan media topsoil dengan kompos sebagai media pembibitan tanaman.
Penambahan kompos sebagai media dapat diterapkan untuk seluruh jenis tanaman
pada persemaian.
Kompos merupakan bahan organik yang berasal dari limbah organik dapat
berupa sisa tanaman atau hewan yang telah melalui proses dekomposisi. Kompos
dapat berbentuk padat dan cair, yang dapat menyediakan unsur hara bagi tanaman
(Suriadikarta dkk, 2005). Pupuk kompos yang dibuat dengan bantuan EM4
memiliki kandungan nitrogen sekitar 1,5%, P2O5 sekitar 1%, dan K2O sekitar
1,5%. Bokasi merupakan kompos yang salah satu bahan penyusunnya
menggunakan EM4. Pembuatan bokasi harus dilakukan di tempat yang terlindung
dari sinar matahari dan terpaan air hujan. Tempat ideal untuk proses pembuatan
bokasi adalah tempat yang agak luas, memiliki atap, dan lantainya terbuat dari
semen.
Bahan-bahan yang dapat digunakan antara lain serbuk gergaji, sekam padi,
kotoran ternak, penambahan EM4 (efektif mikroorganisme), serta gula kemudian
dilakukan pengomposan pada tempat yang terlindung dari cahaya matahari
langsung. Kompos lebih baik digunakan dalam waktu lebih dari 1 (satu) minggu.
9
Kompos yang terbuat dari sekam padi, serbuk gergaji, dan kotoran ternak serta
penambahan mikroorganisme, kompos akan berwarna kecoklatan dan tidak
memiliki bau yang menyengat inilah yang disebut kompos bokasi (Nasir, 1999).
Menurut Suriawiria (2002), bahwa kompos ibarat multivitamin untuk tanah.
Kompos akan meningkatkan kesuburan tanah dan merangsang perakaran yang
sehat. Kompos dapat memperbaiki struktur tanah, selain itu kompos dapat
menambah kandungan bahan organik didalam tanah dan akan meningkatkan
kemampuan tanah untuk mempertahankan kandungan air tanah. Penambahan
kompos akan meningkatkan aktivitas mikroba tanah yang bermanfaat bagi
tanaman. Aktivitas mikroba ini membantu tanaman untuk menyerap unsur hara
dari tanah dan dapat menambah daya tahan tanaman dari serangan penyakit.
Hartman dkk (2002), menambahkan bahwa media yang digunakan untuk
pembibitan tanaman hutan mempunyai beberapa persyaratan yaitu memiliki sifat
cukup kompak agar kuat menopang tegaknya batang, ketersediaan unsur hara
yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman, mempunyai kapasitas pegang air
yang cukup baik untuk perkembangan tanaman dan tidak terlalu lembab. Apabila
media pada pembibitan terlalu lembab akan merangsang pertumbuhan jamur yang
dapat menyebabkan penyakit tanaman. Selain itu komponen media pembibitan
harus memiliki sifat fisik, sifat kimia dan sifat biologi yang baik. Dengan
penambahan kompos akan dapat memperbaiki sifat fisik, sifat kimia dan sifat
biologi pada media pembibitan.
Menurut Wahyono (2010), penambahan kompos untuk media pembibitan
tanah topsoil dengan perbandingan 1:1 akan meningkatkan ketersediaan air bagi
tanaman sehingga mereduksi jumlah air irigasi. Sedangkan pada media tanah
10
berlempung penambahan kompos akan meningkatkan permeabilitas air dan
meningkatkan infiltrasi. Pembuatan media bibit diperlukan campuran antara tanah
dengan bahan organik, merupakan media terbaik untuk pertumbuhan dan indek
mutu bibit. Hasil penelitian Durahim dan Hendromono (2001), menyatakan
bahwa penggunaan media campuran topsoil dan kompos dengan perbandingan 1:1
meningkatkan pertumbuhan dan mutu morfologi bibit mahoni.
2.3. Naungan
Pemberian naungan pada persemaian ada hal yang harus diketahui terlebih
dahulu yaitu sifat dari jenis semai mengenai kebutuhan cahaya. Dalam praktiknya
naungan tetap diperlukan baik untuk jenis semai yang memerlukan cahaya penuh
dan jenis semai yang bersifat semi toleran. Hanya saja untuk jenis-jenis yang
memerlukan cahaya penuh diberikan naungan ringan sedangkan untuk jenis
tanaman semi toleran harus disesuaikan. Naungan dapat dibuat dari bahan-bahan
seperti paranet, daun kelapa, ilalang dan lain-lain sedangkan dalam pembuatan
naungan tinggi minimal 150 cm (Irwanto, 2006).
Menurut Suhardi dkk (1995), naungan berfungsi untuk menghindari
kerusakan semai dari cahaya langsung dan suhu udara yang berlebihan serta
kerusakan yang disebabkan oleh terpaan air hujan. Tujuan pemberian naungan
ialah untuk mendapatkan semai dengan pertumbuhan yang baik dengan cara
mengatur cahaya serta suhu dengan pemberian naungan sesuai yang dibutuhkan
tanaman. Naungan berhubungan erat dengan temperatur dan evaporasi dengan
adanya naungan maka evaporasi dari semai dapat dikurangi. Beberapa jenis
tanaman menunjukkan sifat yang berbeda pada naungan, ada jenis-jenis tanaman
11
tertentu dapat hidup dengan mudah dengan intensitas cahaya penuh, ada sebagian
spesies menunjukan pertumbuhan tidak optimal.
Menurut Lakitan (2001), bahwa cahaya matahari merupakan faktor yang
menentukan proses fotosintesis. Intensitas cahaya matahari dapat berpengaruh
kepada proses pertumbuhan tanaman. Intensitas cahaya terlalu rendah atau terlalu
tinggi akan menghambat pertumbuhan tanaman, karena intensitas cahaya yang
terlalu rendah akan menghasilkan produk fotosintesa yang tidak maksimal,
sedangkan intensitas cahaya yang terlalu tinggi akan berpengaruh terhadap
aktivitas sel-sel stomata pada daun mengurangi transpirasi.
Menurut Soekotjo (1976) dalam Faridah (1995), untuk setiap jenis pohon
mempunyai toleransi yang berbeda terhadap cahaya matahari. Ada tanaman yang
tumbuh baik ditempat terbuka sebaliknya ada beberapa tanaman yang dapat
tumbuh baik dengan memerlukan naungan. Selain itu ada yang pada fase semai
memerlukan cahaya dengan intensitas rendah dan menjelang sapihan mulai
memerlukan cahaya dengan intensitas tinggi.

Tinjauan pustaka

  • 1.
    5 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Meranti Tembaga (Shorea leprosula Miq.) Meranti tembaga (Shorea leprosula Miq.) salah satu jenis pohon penghasil kayu utama yang mempunyai nilai ekonomi sangat tinggi, selain itu meranti tembaga di Kalimantan dinamakan Pelepak Kontoi dan Sumatera Merkuyang. Meranti tembaga termasuk dalam Kingdom Plantae, Divisi Magnoliophyta, Kelas Magnoliopsida, Ordo Theales, Famili Dipterocarpaceae, Genus Shorea, Spesies Shorea leprosula Miq. (Hidayanto, 2006). Meranti tembaga dapat mencapai tinggi hingga 60 m, batang bebas cabang hingga 35 m dan berdiameter hingga 175 cm. Tajuk meranti tembaga lebar, menyebar, hemispherical, atau berbentuk seperti kembang kol, berwarna semi tembaga (Adriyanti, 2005). Batangnya mempunyai kulit luar yang berwarna abu- abu atau coklat, sedikit beralur tidak dalam, mengelupas agak besar-besar dan tebal. Penampangnya berwarna coklat muda sampai merah, bagian dalamnya kuning muda, kayu gubal berwarna kuning muda sampai kemerah-merahan, kayu teras berwarna coklat muda sampai merah. Menurut Heyne (1987) dalam Adriyanti (2005) pohon meranti tembaga memiliki banir mencapai tinggi hingga 3,50 m, lebar 2,50 m, dan tebal 20 cm. Cabang-cabangnya besar, tumbuh secara horizontal, jumlahnya tidak banyak dan cepat gugur. Ranting-rantingnya banyak dan halus, daunnya tunggal berbentuk bulat telur sampai jorong, panjangnya 8-14 cm dan lebar 3,5-5,5 cm. Tangkai daun berbulu halus lebat, panjangnya 1-2 cm, permukaan daun bagian bawah bersisik seperti krim, tangkai utama urat daun dikelilingi domitia terutama pada
  • 2.
    6 pohon muda, sedangkanurat daun tersier rapat seperti tangga. Permukaan atas daun berwarna hijau dan licin, sedangkan permukaan bawah kelabu, coklat atau kekuning-kuningan serta tertutup oleh bulu yang sangat rapat. Stipula berukuran sekitar 10 x 3,5 mm, jorong atau berbentuk tombak besar dan tumpul, bila gugur bekas stipula pendek dan horizontal. Kuncup daun berukuran sekitar 3-5 x 2-3 mm, memipih, bulat telur membesar, agak runcing, berbulu pubescent halus padat pendek, berwarna kuning tua. Menurut Hidayanto (2006), meranti tembaga menyebar secara alami di Indonesia yakni Sumatera, Maluku sampai Kalimatan diantara suhu dan curah hujan yang relatif tinggi disepanjang tahun. Meranti tembaga tumbuh dan berkembang pada curah hujan rata-rata berkisar antara 2000 - 2500 mm dengan temperatur harian antara 22,2°C - 32,28°C. Menurut Adriyanti (2005), bahwa musim berbunga dan berbuah meranti tembaga terjadi setiap 2-3 tahun sekali. Pada saat musim berbunga pohon yang telah mencapai usia dewasa akan menghasilkan bunga yang sangat banyak, bunga akan mekar menjelang sore hari dan mengeluarkan aroma yang harum. Buah yang muncul sesudah penyerbukan akan jatuh setelah 14 minggu semenjak berbunga dimulai. Buah akan masak sekitar Bulan September hingga Bulan Maret. Bentuk buah meranti tembaga seperti kacang yang terbungkus kelopak bunga yang membesar. Kelopak ini memanjang dan berbulu jarang dengan 3 cuping memanjang sampai 10 cm dan lebar 2 cm berbentuk sendok 2 cuping lainnya berukuran panjang 5,5 cm dan lebar 0,3 cm. Panjang benih 2 cm diameter 1,3 cm, bulat telur, berbulu halus dan lancip pada bagian ujung (Anonim, 2002).
  • 3.
    7 Pada tahap pertumbuhansemai meranti tembaga memerlukan naungan. Meranti tembaga termasuk kedalam jenis tanaman yang bersifat semi toleran yang memerlukan naungan pada tahap awal pertumbuhannya yaitu hingga umur 3-4 tahun atau sampai tanaman mencapai tinggi 1-3 meter (Irwanto, 2006 ). 2.2. Medium Campuran Topsoil dan Kompos Topsoil merupakan lapisan tanah bagian atas pada umumnya mengandung bahan organik yang lebih tinggi dibandingkan lapisan tanah di bawahnya. Akibat akumulasi bahan organik maka lapisan tanah tersebut berwarna gelap dan merupakan lapisan tanah yang subur, sehingga merupakan bagian tanah yang sangat penting dalam mendukung pertumbuhan tanaman dan topsoil mempunyai kedalaman sekitar 20 cm (Supardi dan Goeswono, 1983). Tanah topsoil sering digunakan sebagai media dalam pembibitan berbagai jenis tanaman karena topsoil yang kaya akan kandungan bahan organik dan humus yang bermanfaat diantaranya, mempercepat dekomposisi, granulasi akan membentuk agregat yang stabil, memperbaiki drainase, infiltrasi air lebih baik, kapasitas pegang air lebih baik dan kandungan hara yang tinggi. Media topsoil perlu dilakukan pencampuran dengan kompos untuk media tanam sehingga menghasilkan bibit yang berkualitas baik (Sembiring, 2007). Duralhim dan Hendromono (2001), menyatakan bahwa diperlukan media yang banyak mengandung bahan organik yang telah terdekomposisi dan mempunyai unsur hara yang diperlukan tanaman untuk pertumbuhan semai. Penambahan bahan organik dapat dilakukan dengan pemberian kompos pada media persemaian dengan cara pencampuran media untuk pembibitan. Biasanya
  • 4.
    8 untuk media pembibitankompos sering digunakan dengan perbandingan tertentu disesuaikan dengan jenis tanaman dan media yang digunakan. Menurut Hendromono (1994), pada pembibitan tanaman media topsoil sering digunakan, jika pengambilan topsoil dalam skala besar dapat berdampak negatif bagi ekosistem di areal tersebut. Selain itu topsoil tidak selalu mempunyai tingkat kesuburan yang baik sehingga diperlukan campuran bahan organik untuk menghasilkan bibit berkualitas. Untuk mengatasi masalah tersebut perlu dilakukan penambahan media topsoil dengan kompos sebagai media pembibitan tanaman. Penambahan kompos sebagai media dapat diterapkan untuk seluruh jenis tanaman pada persemaian. Kompos merupakan bahan organik yang berasal dari limbah organik dapat berupa sisa tanaman atau hewan yang telah melalui proses dekomposisi. Kompos dapat berbentuk padat dan cair, yang dapat menyediakan unsur hara bagi tanaman (Suriadikarta dkk, 2005). Pupuk kompos yang dibuat dengan bantuan EM4 memiliki kandungan nitrogen sekitar 1,5%, P2O5 sekitar 1%, dan K2O sekitar 1,5%. Bokasi merupakan kompos yang salah satu bahan penyusunnya menggunakan EM4. Pembuatan bokasi harus dilakukan di tempat yang terlindung dari sinar matahari dan terpaan air hujan. Tempat ideal untuk proses pembuatan bokasi adalah tempat yang agak luas, memiliki atap, dan lantainya terbuat dari semen. Bahan-bahan yang dapat digunakan antara lain serbuk gergaji, sekam padi, kotoran ternak, penambahan EM4 (efektif mikroorganisme), serta gula kemudian dilakukan pengomposan pada tempat yang terlindung dari cahaya matahari langsung. Kompos lebih baik digunakan dalam waktu lebih dari 1 (satu) minggu.
  • 5.
    9 Kompos yang terbuatdari sekam padi, serbuk gergaji, dan kotoran ternak serta penambahan mikroorganisme, kompos akan berwarna kecoklatan dan tidak memiliki bau yang menyengat inilah yang disebut kompos bokasi (Nasir, 1999). Menurut Suriawiria (2002), bahwa kompos ibarat multivitamin untuk tanah. Kompos akan meningkatkan kesuburan tanah dan merangsang perakaran yang sehat. Kompos dapat memperbaiki struktur tanah, selain itu kompos dapat menambah kandungan bahan organik didalam tanah dan akan meningkatkan kemampuan tanah untuk mempertahankan kandungan air tanah. Penambahan kompos akan meningkatkan aktivitas mikroba tanah yang bermanfaat bagi tanaman. Aktivitas mikroba ini membantu tanaman untuk menyerap unsur hara dari tanah dan dapat menambah daya tahan tanaman dari serangan penyakit. Hartman dkk (2002), menambahkan bahwa media yang digunakan untuk pembibitan tanaman hutan mempunyai beberapa persyaratan yaitu memiliki sifat cukup kompak agar kuat menopang tegaknya batang, ketersediaan unsur hara yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman, mempunyai kapasitas pegang air yang cukup baik untuk perkembangan tanaman dan tidak terlalu lembab. Apabila media pada pembibitan terlalu lembab akan merangsang pertumbuhan jamur yang dapat menyebabkan penyakit tanaman. Selain itu komponen media pembibitan harus memiliki sifat fisik, sifat kimia dan sifat biologi yang baik. Dengan penambahan kompos akan dapat memperbaiki sifat fisik, sifat kimia dan sifat biologi pada media pembibitan. Menurut Wahyono (2010), penambahan kompos untuk media pembibitan tanah topsoil dengan perbandingan 1:1 akan meningkatkan ketersediaan air bagi tanaman sehingga mereduksi jumlah air irigasi. Sedangkan pada media tanah
  • 6.
    10 berlempung penambahan komposakan meningkatkan permeabilitas air dan meningkatkan infiltrasi. Pembuatan media bibit diperlukan campuran antara tanah dengan bahan organik, merupakan media terbaik untuk pertumbuhan dan indek mutu bibit. Hasil penelitian Durahim dan Hendromono (2001), menyatakan bahwa penggunaan media campuran topsoil dan kompos dengan perbandingan 1:1 meningkatkan pertumbuhan dan mutu morfologi bibit mahoni. 2.3. Naungan Pemberian naungan pada persemaian ada hal yang harus diketahui terlebih dahulu yaitu sifat dari jenis semai mengenai kebutuhan cahaya. Dalam praktiknya naungan tetap diperlukan baik untuk jenis semai yang memerlukan cahaya penuh dan jenis semai yang bersifat semi toleran. Hanya saja untuk jenis-jenis yang memerlukan cahaya penuh diberikan naungan ringan sedangkan untuk jenis tanaman semi toleran harus disesuaikan. Naungan dapat dibuat dari bahan-bahan seperti paranet, daun kelapa, ilalang dan lain-lain sedangkan dalam pembuatan naungan tinggi minimal 150 cm (Irwanto, 2006). Menurut Suhardi dkk (1995), naungan berfungsi untuk menghindari kerusakan semai dari cahaya langsung dan suhu udara yang berlebihan serta kerusakan yang disebabkan oleh terpaan air hujan. Tujuan pemberian naungan ialah untuk mendapatkan semai dengan pertumbuhan yang baik dengan cara mengatur cahaya serta suhu dengan pemberian naungan sesuai yang dibutuhkan tanaman. Naungan berhubungan erat dengan temperatur dan evaporasi dengan adanya naungan maka evaporasi dari semai dapat dikurangi. Beberapa jenis tanaman menunjukkan sifat yang berbeda pada naungan, ada jenis-jenis tanaman
  • 7.
    11 tertentu dapat hidupdengan mudah dengan intensitas cahaya penuh, ada sebagian spesies menunjukan pertumbuhan tidak optimal. Menurut Lakitan (2001), bahwa cahaya matahari merupakan faktor yang menentukan proses fotosintesis. Intensitas cahaya matahari dapat berpengaruh kepada proses pertumbuhan tanaman. Intensitas cahaya terlalu rendah atau terlalu tinggi akan menghambat pertumbuhan tanaman, karena intensitas cahaya yang terlalu rendah akan menghasilkan produk fotosintesa yang tidak maksimal, sedangkan intensitas cahaya yang terlalu tinggi akan berpengaruh terhadap aktivitas sel-sel stomata pada daun mengurangi transpirasi. Menurut Soekotjo (1976) dalam Faridah (1995), untuk setiap jenis pohon mempunyai toleransi yang berbeda terhadap cahaya matahari. Ada tanaman yang tumbuh baik ditempat terbuka sebaliknya ada beberapa tanaman yang dapat tumbuh baik dengan memerlukan naungan. Selain itu ada yang pada fase semai memerlukan cahaya dengan intensitas rendah dan menjelang sapihan mulai memerlukan cahaya dengan intensitas tinggi.