SEPSIS
KELOMPOK 7
DEFINISI
Sepsis adalah sindroma respons inflamasi sistemik (systemic inflammatory response syndrome)
dengan etiologi mikroba yang terbukti atau dicurigai. Bukti klinisnya berupa suhu tubuh yang
abnormal (>38oC atau <36oC) ; takikardi; asidosis metabolik; biasanya disertai dengan alkalosis
respiratorik terkompensasi dan takipneu; dan peningkatan atau penurunan jumlah sel darah
putih. Sepsis juga dapat disebabkan oleh infeksi virus atau jamur. Sepsis berbeda dengan
septikemia. Septikemia (nama lain untuk blood poisoning) mengacu pada infeksi dari darah,
sedangkan sepsis tidak hanya terbatas pada darah, tapi dapat mempengaruhi seluruh tubuh,
termasuk organ-organ (Setyohadi,2006).
Epidemiologi sepsis
Sepsis menempati urutan ke-10 sebagai penyebab utama kematian di Amerika Serikat dan
penyebab utama kematian pada pasien sakit kritis. Sekitar 80% kasus sepsis berat di unit
perawatan intensif di Amerika Serikat dan Eropa selama tahun 1990-an terjadi setelah pasien
masuk untuk penyebab yang tidak terkait. Kejadian sepsis meningkat hampir empat kali lipat
dari tahun 1979-2000, menjadi sekitar 660.000 kasus (240 kasus per 100.000 penduduk) sepsis
atau syok septik per tahun di Amerika Serikat.
ETIOLOGI SEPSIS
Sepsis biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri (meskipun sepsis dapat disebabkan oleh virus, atau semakin
sering, disebabkan oleh jamur). Mikroorganisme kausal yang paling sering ditemukan pada orang dewasa adalah
Escherichia coli, Staphylococcus aureus, dan Streptococcus pneumonia. Spesies Enterococcus, Klebsiella, dan
Pseudomonas juga sering ditemukan.
Sepsis dapat dipicu oleh infeksi di bagian manapun dari tubuh. Daerah infeksi yang paling sering menyebabkan
sepsis adalah paru-paru, saluran kemih, perut, dan panggul. Jenis infeksi yang sering dihubungkan dengan sepsis
yaitu:
1. Infeksi paru-paru (pneumonia)
2. Flu (influenza)
3. Appendiksitis
4. Infeksi lapisan saluran pencernaan (peritonitis)
5. Infeksi kandung kemih, uretra, atau ginjal (infeksi traktus urinarius)
6. Infeksi kulit, seperti selulitis, sering disebabkan ketika infus atau kateter telah dimasukkan ke dalam tubuh
melalui kulit
7. Infeksi pasca operasi
8. Infeksi sistem saraf, seperti meningitis atau encephalitis.
PATOFISIOLOGI SEPSIS
Perjalanan sepsis akibat bakteri diawali oleh proses infeksi yang ditandai dengan bakteremia selanjutnya
berkembang menjadi systemic inflammatory response syndrome (SIRS) dilanjutkan sepsis, sepsis berat, syok
sepsis dan berakhir pada multiple organ dysfunction syndrome (MODS).
Sepsis dimulai dengan tanda klinis respons inflamasi sistemik (yaitu demam, takikardia, takipnea, leukositosis) dan
berkembang menjadi hipotensi pada kondisi vasodilatasi perifer (renjatan septik hiperdinamik atau “hangat”,
dengan muka kemerahan dan hangat yang menyeluruh serta peningkatan curah jantung) atau vasokonstriksi
perifer (renjatan septik hipodinamik atau “dingin” dengan anggota gerak yang biru atau putih dingin). Pada pasien
dengan manifestasi klinis ini dan gambaran pemeriksaan fisik yang konsisten dengan infeksi, diagnosis mudah
ditegakkan dan terapi dapat dimulai secara dini
TAHAPAN PERKEMBANGAN SEPSIS
Uncomplicate
d sepsis
• disebabkan oleh infeksi, seperti flu atau abses gigi
Sepsis berat
• terjadi ketika respons tubuh terhadap infeksi sudah mulai mengganggu fungsi organ-organ vital,
seperti jantung, ginjal, paru-paru atau hati
Syok septik
• tekanan darah turun ke tingkat yang sangat rendah dan menyebabkan organ vital tidak
mendapatkan oksigen yang cukup.
SYOK SEPSIS
DEFINISI SYOK SEPSIS
Syok septik adalah syok yang disebabkan oleh infeksi yang menyebar luas yang
merupakan bentuk paling umum syok distributif. Pada kasus trauma, syok septik dapat
terjadi bila pasien datang terlambat beberapa jam ke rumah sakit. Syok septik terutama
terjadi pada pasien-pasien dengan luka tembus abdomen dan kontaminasi rongga
peritonium dengan isi usus.
ETIOLOGI SYOK SEPSIS
Mikroorganisme penyebab syok septik adalah bakteri gram negatif. Ketika
mikroorganisme menyerang jaringan tubuh, pasien akan menunjukkan suatu respon
imun. Respon imun ini membangkitkan aktivasi berbagai mediator kimiawi yang
mempunyai berbagai efek yang mengarah pada syok, yaitu peningkatan permeabilitas
kapiler, yang mengarah pada perembesan cairan dari kapiler dan vasodilatasi
Manifestasi Klinis
Pertanda awal dari syok septik sering berupa penurunan kesiagaan mental dan kebingungan,
yang timbul dalam waktu 24 jam atau lebih sebelum tekanan darah turun. Gejala ini terjadi
akibat berkurangnya aliran darah ke otak. Curahan darah dari jantung memang meningkat,
tetapi pembuluh darah melebar sehingga tekanan darah turun. Pernafasan menjadi cepat,
sehingga paru-paru mengeluarkan karbondioksida yang berlebihan dan kadarnya di dalam darah
menurun.
Gejala awal berupa:
menggigil hebat, suhu tubuh yang naik sangat cepat, kulit hangat dan kemerahan, denyut nadi
yang lemah dan tekanan darah yang turun-naik. Produksi air kemih berkurang meskipun curahan
darah dari jantung meningkat. Pada stadium lanjut, suhu tubuh sering turun sampai dibawah
normal.
PATOFISIOLOGI SYOK SEPSIS
Infeksi sistemik yang terjadi biasanya karena kuman Gram negatif yang menyebabkan kolaps
kardiovaskuler. Endotoksin basil Gram negatif ini menyebabkan vasodilatasi kapiler dan
terbukanya hubungan pintas arteriovena perifer. Selain itu, terjadi peningkatan permeabilitas
kapiler. Peningkatan kapasitas vaskuler karena vasodilatasi perifer menyebabkan terjadinya
hipovolemia relatif, sedangkan peningkatan peningkatan permeabilitas kapiler menyebabkan
kehilangan cairan intravaskuler ke intertisial yang terlihat sebagai udem. Pada syok septik
hipoksia, sel yang terjadi tidak disebabkan oleh penurunan perfusi jaringan melainkan karena
ketidakmampuan sel untuk menggunakan oksigen karena toksin kuman. Gejala syok septik yang
mengalami hipovolemia sukar dibedakan dengan syok hipovolemia (takikardia, vasokonstriksi
perifer, produksi urin 0.5 cc/kg/jam, tekanan darah sistolik turun dan menyempitnya tekanan
nadi). Pasien-pasien sepsis dengan volume intravaskuler normal atau hampir normal,
mempunyai gejala takikaridia, kulit hangat, tekanan sistolik hampir normal, dan tekanan nadi
yang melebar.
PENATALAKSANAAN
1. Terapi-terapi definitive
2. Terapi-terapi suportif
3. Terapi-terapi penelitian
Surviving sepsis campaign care bundles
tata cara pengelolaan pasien secara terstruktur menurutSurviving Sepsis
Campaign: International Guidelines for Management of Severe Sepsis and Septic
Shock 2012 :
Terapi yang diarahkan oleh tujuan secara
dini (Early goal directed therapy)
Early goal directed therapy berfokus pada optimalisasi pengiriman oksigen jaringan yang diukur
dengan saturasi oksigen vena, pH, atau kadar laktat arteri. Pendekatan ini telah menunjukkan
peningkatan kelangsungan hidup dibandingkan dengan resusitasi cairan dan pemeliharaan
tekanan darah yang standar.
Tujuan fisiologis selama 6 jam pertama resusitasi sebagai berikut:
1. Tekanan vena sentral (CVP) 8-12mmHg
2. Tekanan arterial rata-rata (MAP) ≥65mmHg
3. Saturasi oksigen vena sentral (SavO2) ≥70%
4. Urine output ≥0,5ml/kg/jam (menggunakan transfusi, agen inotropik, dan oksigen tambahan
dengan atau tanpa ventilasi mekanik)
Tiga kategori untuk memperbaiki
hemodinamik pada sepsis
1. Terapi cairan
2. Terapi vasopressor
3. Terapi inotropic
komplikasi
1. Meningitis
2. Hipoglikemi
3. Aasidosis Gagal ginjal
4. Disfungsi miokard
5. Perdarahan intra cranial
6. Gagal hati
7. Disfungsi system saraf pusat
8. Kematian
9. ARDS
PEMERIKSAAN PENUNJANG
â—¦ Kultur (luka, sputum, urin, darah)
â—¦ SDP.
â—¦ Elektrolit serum.
â—¦ Trombosit
â—¦ PT/PTT
â—¦ Laktat serum
â—¦ Glukosa Serum
â—¦ BUN/Kreatinin
â—¦ GDA
â—¦ EKG
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN SEPSIS
PENGKAJIAN
1. Airway
ď‚§yakinkan kepatenan jalan napas
ď‚§berikan alat bantu napas jika perlu (guedel atau
nasopharyngeal)
ď‚§jika terjadi penurunan fungsi pernapasan segera
kontak ahli anestesi dan bawa segera mungkin ke ICU
2. Breathing
ď‚§kaji jumlah pernasan lebih dari 24 kali per menit
merupakan gejala yang signifikan
ď‚§kaji saturasi oksigen
ď‚§periksa gas darah arteri untuk mengkaji status
oksigenasi dan kemungkinan asidosis
ď‚§berikan 100% oksigen melalui non re-breath mask
ď‚§auskulasi dada, untuk mengetahui adanya infeksi di
dada
ď‚§periksa foto thorak
3. Circulation
â—¦ kaji denyut jantung, >100 kali per menit
merupakan tanda signifikan
â—¦ monitoring tekanan darah, tekanan darah
â—¦ periksa waktu pengisian kapiler
â—¦ pasang infuse dengan menggunakan canul yang
besar
◦ berikan cairan koloid – gelofusin atau
haemaccel
â—¦ pasang kateter
â—¦ lakukan pemeriksaan darah lengkap
â—¦ siapkan untuk pemeriksaan kultur
â—¦ catat temperature, kemungkinan pasien
pyreksia atau temperature kurang dari 36oC
â—¦ siapkan pemeriksaan urin dan sputum
â—¦ berikan antibiotic spectrum luas sesuai
kebijakan setempat.
4. Disability
Bingung merupakan salah satu tanda
pertama pada pasien sepsis padahal
sebelumnya tidak ada masalah (sehat
dan baik). Kaji tingkat kesadaran
dengan menggunakan AVPU.
5. Exposure
Jika sumber infeksi tidak diketahui, cari adanya cidera, luka dan tempat suntikan dan tempat
sumber infeksi lainnya. Tanda ancaman terhadap kehidupan Sepsis yang berat didefinisikan
sebagai sepsis yang menyebabkan kegagalan fungsi organ. Jika sudah menyembabkan ancaman
terhadap kehidupan maka pasien harus dibawa ke ICU, adapun indikasinya sebagai berikut:
ď‚§Penurunan fungsi ginjal
ď‚§Penurunan fungsi jantung
ď‚§Hyposia
ď‚§Asidosis
ď‚§Gangguan pembekuan
ď‚§Acute respiratory distress syndrome (ards)
Hasil Pemeriksaan Diagnostik
ď‚§DPL : SDP biasanya naik dan cepat turun seiring perburukan syok
ď‚§CT Scan : untuk mengidentifikasi tempat potensi terjadinya abses
ď‚§Rangkaian anaisis multiple : hiperglikemia dapat terjadi, diikuti
dengan hipoglikema pada tahap akhir
ď‚§Gas Darah Arteri (GDA)
ď‚§Menunjukkan asidosis metabolik dan hipoksia. Metabolisme
anaerobik terjadi dengan hipoksia yang mengakibatkan akumulasi
asam laktat.
ď‚§Elektrolit Serum
ď‚§Menunjukkan kekurangan cairan dan elektrolit
ď‚§Tes radiologik
ď‚§Radiografi dada dapat memperlihatkan pneumoni dan proses infeksi
pada dada maupun abdomen
ď‚§Pengawasan di Tempat Tidur
ď‚§Tekanan darah normal atau menurun, awalnya terjadi peningkatan
curah jantung (CO) dan indeks jantung (CI), yang berlanjut menjadi
penurunan CO dan CI, penurunan LVSW, penurunan SVR, PCWP
normal atau menurunan CVP, penurunan pengeluaran urin.
ď‚§Pemeriksaan Laboratorium
ď‚§Penurunan natrium dalam urin, peningkatan osmolaritas urin,
terdapat bateremia, biasanya terdapat organisme gram negatif yang
ditunjukkan melalui kultur dara, kulur cairan peritoneal, urin dan
sputum dapat memperlihatkan patogen, peningkatan BUN,
kreatinin serum, glukosa serum.
ď‚§Kadar Laktat : penurunan kadar laktat dalam serum menujukkan
metabolisme anaerob dapat memenuhi kebutuhan energi selular,
sedangkan peningkatan kadar menunjukkan perfusi yang tidak
adekuat dan metabolisme anaerob untuk memenuhi kebutuhan
energi selular.
ď‚§Defisit t basa : peningkatan kadar menunjukkan perfusi yang tidak
adekuat dan metabolisme anaerob
ď‚§ EKG
ď‚§Takikardi. (Morton, Patricia Gonce. et al, 2011)
MASALAH KEPERAWATAN
1. Kerusakan pertukaran gas b.d Ketidakseimbangan ventilasi perfusi
2. Perubahan perfusi jaringan b.d Curah jantung yang tidak mencukupi
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d Respons terhadap septis sakit yang kritis
4. Risiko kerusakan integritas kulit b.d Penurunan perfusi jaringan dan adanya edema.
5. Ansietas b.d Perubahan status kesehatan
INTERVENSI
No Masalah Keperawatan Kriteria hasil Intervensi
1 Kerusakan pertukaran gas b.d
Ketidakseimbangan ventilasi perfusi
Oksigenasi/ ventilasi
ď‚· Kepatenan jalan napas dipelihara
ď‚· Paru bersih pada saat auskultasi
ď‚· Gas darah arteri dalam batas normal
ď‚· Tekanan puncak, rerata, datar dalam batas normal
ď‚· Tidak ada tanda sindrom distres pernapasan akut
(ARDS, acute respiratory distress syndrome)
1. Auskultasi bunyi napas tiap 2-4 jam dan PRN
2. Lakukan penghisapan jalan napas endotrakea
jika tepat
3. Hiperoksigenasi dan hiperventilasi sebelum
dan setelah setiap kali melakukan penghisapan
4. Pantau oksimetri nadi dan tidal akhir CO2
(ETCO2)
5. Pantau gas darah arteri sesuai yang
diindikasikan oleh perubahan parameter non-
invasif
6. Pantau tekanan jalan napas setiap 1-2 jam
7. Miring kiri miring kanan setiap 2 jam
8. Pertimbangkan terapi kinetik
9. Lakukan foto dada harian
2 Perubahan perfusi jaringan b.d
Curah jantung yang tidak
mencukupi
Sirkulasi/ perfusi
ď‚· Tekanan darah, frekuensi jantung, tekanan vena
sentral (CVP, central venous pressure), dan
tekanan arteri pulmonalis dalam batas normal.
ď‚· Tahanan vaskular dalam batas normal
ď‚· Pasokan oksigen > 600 ml O2/m2 dan konsumsi
oksigen > 150 ml O2/m2
ď‚· Laktat serum dalam batas normal
1. Kaji tanda vital setiap 1 jam
2. Kaji tekanan hemodinamik setiap 1 jam jika
pasien terpasang kateter arteri pulmonalis
3. Berikan volume intravaskular sesuai program
untuk mempertahankan preload
4. Kaji SVR dan tahanan vena tepi (PVR,
peripheral venous resistance) setiap 6-12 jam
5. Berikan volume intravaskular dan
vasoreseptor sesuai program
6. Pantau curah jantung, Dao2, dan Vo2 setiap 6-
12 jam
7. Berikan sel darah merah, agens inotropik
positif, infusi koloid sesuai program untuk
meningkatkan pengiriman oksigen
8. Pertimbangkan pemantauan pH mukosa
lambung sebagai panduan untuk mengetahui
perfusi sistemik
9. Pantau laktat serum setiap hari sampai dalam
batas normal
3 Perubahan nutrisi kurang dari
kebutuhan b.d Respons terhadap
septis sakit yang kritis
Nutrisi
ď‚· Asupan kalori dan gizi memenuhi kebutuhan
metabolik per perhitungan (mis, pengeluaran
energi basal)
1. Berikan nutrisi parenteral atau enteral
dalam 24 jam awitan
2. Konsultasi dengan ahli gizi atau layanan
bantuan gizi
3. Pantau asupan lemak
4. Pantau albumin, prealbumin, transferin,
kolesterol, trigliserida, glukosa
4 Risiko kerusakan integritas kulit
b.d Penurunan perfusi jaringan
dan adanya edema
Integritas kulit
ď‚· Kulit tetap utuh
1. Kaji kulit setiap 4 jam dan setiap kali
pasien direposisi
2. Lakukan miring kanan miring kiri setiap
2 jam
3. Pertimbangkan matras pengurang/pereda
tekanan
4. Gunakan skala braden untuk mengkaji
risiko kerusakan kulit
6 Ansietas b.d
Perubahan status
kesehatan
Psikososial
ď‚· Pasien menunjukkan
penurunan kecemasan
1. Kaji tanda vital selama
terapi, diskusi, dan
sebagainya
2. Berikan sedatif dengan
hati-hati
3. Konsultasi dengan layanan
sosial, rohaniawan, dan
sebagainya jika mungkin
4. Berikan istirahat dan tidur
yang adekuat
IMPLEMENTASI
Implementasi adalah tahap ketika perawat mengaplikasikan
rencana asuhan keperawatan ke dalam bentuk intervensi
keperawatan guna membantu klien mencapai tujuan yang
telah ditetapkan (Asmadi, 2008)
EVALUASI
Evaluasi merupakan langkah terakhir dari proses keperawatan. Semua tahap proses
keperawatan (Diagnosa, tujuan untervensi) harus di evaluasi, dengan melibatkan klien,
perawatan dan anggota tim kesehatan lainnya dan bertujuan untuk menilai apakah tujuan dalam
perencanaan keperawatan tercapai atau tidak untuk melakukan perkajian ulang jika tindakan
belum hasil.
Evaluasi dibagi menjadi 2 jenis yaitu sebagai berikut :
â—¦ Evaluasi Formatif
â—¦ Evaluasi Sumatif
PENCEGAHAN
1. Hindarkan trauma pada permukaan mukosa yang biasanya dihuni bakteri
Gram-negatif.
2. Berikan semprotan ( spray) polimiksin pada faring posterior untuk mencegah
pneumonia Gram–negatif ,nasokomial.
3. Lingkungan yang protektif pasien beresiko kurang berhasil karena sebagian
besar infeksi berasal dari dalam ( endogen )
Evidence Based Practice
judul : Sepsis dan Tata Laksana Berdasar Guideline Terbaru
Peneliti : Irvan, Febian dan Suparto
Tahun : 2018
didapatkan Penggunaan kriteria SIRS untuk mengidentifikasi sepsis dianggap tidak membantu lagi. Kriteria SIRS
tidak menggambarkan adanya respon disregulasi yang mengancam jiwa. Disfungsi organ didiagnosis apabila
peningkatan skor SOFA ≥ 2. Dan istilah sepsis berat sudah tidak digunakan. Septik syok didefinisikan sebagai
keadaan sepsis dimana abnormalitas sirkulasi dan metabolik yang terjadi dapat menyebabkan kematian secara
signifikan. Dalam protokol yang dikeluarkan pada tahun 2016, target resusitasi EGDT dihilangkan, dan
merekomendasikan terapi cairan kristaloid minimal sebesar 30 ml/ kgBB dalam 3 jam atau kurang.
Evidence Based Practice
Judul: The impact of evidence-based sepsis guidelines on emergency department clinical
practice: a pre-post medical record audit
Peneliti: Romero, Fry dan Rochie
Tahun: 2017
didapatkan Studi ini menunjukkan pengurangan waktu 230 menit yang signifikan secara statistik
terhadap antibiotik setelah penerapan pedoman.

Tanpa judul

  • 1.
  • 2.
    DEFINISI Sepsis adalah sindromarespons inflamasi sistemik (systemic inflammatory response syndrome) dengan etiologi mikroba yang terbukti atau dicurigai. Bukti klinisnya berupa suhu tubuh yang abnormal (>38oC atau <36oC) ; takikardi; asidosis metabolik; biasanya disertai dengan alkalosis respiratorik terkompensasi dan takipneu; dan peningkatan atau penurunan jumlah sel darah putih. Sepsis juga dapat disebabkan oleh infeksi virus atau jamur. Sepsis berbeda dengan septikemia. Septikemia (nama lain untuk blood poisoning) mengacu pada infeksi dari darah, sedangkan sepsis tidak hanya terbatas pada darah, tapi dapat mempengaruhi seluruh tubuh, termasuk organ-organ (Setyohadi,2006).
  • 3.
    Epidemiologi sepsis Sepsis menempatiurutan ke-10 sebagai penyebab utama kematian di Amerika Serikat dan penyebab utama kematian pada pasien sakit kritis. Sekitar 80% kasus sepsis berat di unit perawatan intensif di Amerika Serikat dan Eropa selama tahun 1990-an terjadi setelah pasien masuk untuk penyebab yang tidak terkait. Kejadian sepsis meningkat hampir empat kali lipat dari tahun 1979-2000, menjadi sekitar 660.000 kasus (240 kasus per 100.000 penduduk) sepsis atau syok septik per tahun di Amerika Serikat.
  • 4.
    ETIOLOGI SEPSIS Sepsis biasanyadisebabkan oleh infeksi bakteri (meskipun sepsis dapat disebabkan oleh virus, atau semakin sering, disebabkan oleh jamur). Mikroorganisme kausal yang paling sering ditemukan pada orang dewasa adalah Escherichia coli, Staphylococcus aureus, dan Streptococcus pneumonia. Spesies Enterococcus, Klebsiella, dan Pseudomonas juga sering ditemukan. Sepsis dapat dipicu oleh infeksi di bagian manapun dari tubuh. Daerah infeksi yang paling sering menyebabkan sepsis adalah paru-paru, saluran kemih, perut, dan panggul. Jenis infeksi yang sering dihubungkan dengan sepsis yaitu: 1. Infeksi paru-paru (pneumonia) 2. Flu (influenza) 3. Appendiksitis 4. Infeksi lapisan saluran pencernaan (peritonitis) 5. Infeksi kandung kemih, uretra, atau ginjal (infeksi traktus urinarius) 6. Infeksi kulit, seperti selulitis, sering disebabkan ketika infus atau kateter telah dimasukkan ke dalam tubuh melalui kulit 7. Infeksi pasca operasi 8. Infeksi sistem saraf, seperti meningitis atau encephalitis.
  • 5.
    PATOFISIOLOGI SEPSIS Perjalanan sepsisakibat bakteri diawali oleh proses infeksi yang ditandai dengan bakteremia selanjutnya berkembang menjadi systemic inflammatory response syndrome (SIRS) dilanjutkan sepsis, sepsis berat, syok sepsis dan berakhir pada multiple organ dysfunction syndrome (MODS). Sepsis dimulai dengan tanda klinis respons inflamasi sistemik (yaitu demam, takikardia, takipnea, leukositosis) dan berkembang menjadi hipotensi pada kondisi vasodilatasi perifer (renjatan septik hiperdinamik atau “hangat”, dengan muka kemerahan dan hangat yang menyeluruh serta peningkatan curah jantung) atau vasokonstriksi perifer (renjatan septik hipodinamik atau “dingin” dengan anggota gerak yang biru atau putih dingin). Pada pasien dengan manifestasi klinis ini dan gambaran pemeriksaan fisik yang konsisten dengan infeksi, diagnosis mudah ditegakkan dan terapi dapat dimulai secara dini
  • 6.
    TAHAPAN PERKEMBANGAN SEPSIS Uncomplicate dsepsis • disebabkan oleh infeksi, seperti flu atau abses gigi Sepsis berat • terjadi ketika respons tubuh terhadap infeksi sudah mulai mengganggu fungsi organ-organ vital, seperti jantung, ginjal, paru-paru atau hati Syok septik • tekanan darah turun ke tingkat yang sangat rendah dan menyebabkan organ vital tidak mendapatkan oksigen yang cukup.
  • 7.
  • 8.
    DEFINISI SYOK SEPSIS Syokseptik adalah syok yang disebabkan oleh infeksi yang menyebar luas yang merupakan bentuk paling umum syok distributif. Pada kasus trauma, syok septik dapat terjadi bila pasien datang terlambat beberapa jam ke rumah sakit. Syok septik terutama terjadi pada pasien-pasien dengan luka tembus abdomen dan kontaminasi rongga peritonium dengan isi usus.
  • 9.
    ETIOLOGI SYOK SEPSIS Mikroorganismepenyebab syok septik adalah bakteri gram negatif. Ketika mikroorganisme menyerang jaringan tubuh, pasien akan menunjukkan suatu respon imun. Respon imun ini membangkitkan aktivasi berbagai mediator kimiawi yang mempunyai berbagai efek yang mengarah pada syok, yaitu peningkatan permeabilitas kapiler, yang mengarah pada perembesan cairan dari kapiler dan vasodilatasi
  • 10.
    Manifestasi Klinis Pertanda awaldari syok septik sering berupa penurunan kesiagaan mental dan kebingungan, yang timbul dalam waktu 24 jam atau lebih sebelum tekanan darah turun. Gejala ini terjadi akibat berkurangnya aliran darah ke otak. Curahan darah dari jantung memang meningkat, tetapi pembuluh darah melebar sehingga tekanan darah turun. Pernafasan menjadi cepat, sehingga paru-paru mengeluarkan karbondioksida yang berlebihan dan kadarnya di dalam darah menurun. Gejala awal berupa: menggigil hebat, suhu tubuh yang naik sangat cepat, kulit hangat dan kemerahan, denyut nadi yang lemah dan tekanan darah yang turun-naik. Produksi air kemih berkurang meskipun curahan darah dari jantung meningkat. Pada stadium lanjut, suhu tubuh sering turun sampai dibawah normal.
  • 11.
    PATOFISIOLOGI SYOK SEPSIS Infeksisistemik yang terjadi biasanya karena kuman Gram negatif yang menyebabkan kolaps kardiovaskuler. Endotoksin basil Gram negatif ini menyebabkan vasodilatasi kapiler dan terbukanya hubungan pintas arteriovena perifer. Selain itu, terjadi peningkatan permeabilitas kapiler. Peningkatan kapasitas vaskuler karena vasodilatasi perifer menyebabkan terjadinya hipovolemia relatif, sedangkan peningkatan peningkatan permeabilitas kapiler menyebabkan kehilangan cairan intravaskuler ke intertisial yang terlihat sebagai udem. Pada syok septik hipoksia, sel yang terjadi tidak disebabkan oleh penurunan perfusi jaringan melainkan karena ketidakmampuan sel untuk menggunakan oksigen karena toksin kuman. Gejala syok septik yang mengalami hipovolemia sukar dibedakan dengan syok hipovolemia (takikardia, vasokonstriksi perifer, produksi urin 0.5 cc/kg/jam, tekanan darah sistolik turun dan menyempitnya tekanan nadi). Pasien-pasien sepsis dengan volume intravaskuler normal atau hampir normal, mempunyai gejala takikaridia, kulit hangat, tekanan sistolik hampir normal, dan tekanan nadi yang melebar.
  • 12.
    PENATALAKSANAAN 1. Terapi-terapi definitive 2.Terapi-terapi suportif 3. Terapi-terapi penelitian
  • 13.
    Surviving sepsis campaigncare bundles tata cara pengelolaan pasien secara terstruktur menurutSurviving Sepsis Campaign: International Guidelines for Management of Severe Sepsis and Septic Shock 2012 :
  • 14.
    Terapi yang diarahkanoleh tujuan secara dini (Early goal directed therapy) Early goal directed therapy berfokus pada optimalisasi pengiriman oksigen jaringan yang diukur dengan saturasi oksigen vena, pH, atau kadar laktat arteri. Pendekatan ini telah menunjukkan peningkatan kelangsungan hidup dibandingkan dengan resusitasi cairan dan pemeliharaan tekanan darah yang standar. Tujuan fisiologis selama 6 jam pertama resusitasi sebagai berikut: 1. Tekanan vena sentral (CVP) 8-12mmHg 2. Tekanan arterial rata-rata (MAP) ≥65mmHg 3. Saturasi oksigen vena sentral (SavO2) ≥70% 4. Urine output ≥0,5ml/kg/jam (menggunakan transfusi, agen inotropik, dan oksigen tambahan dengan atau tanpa ventilasi mekanik)
  • 15.
    Tiga kategori untukmemperbaiki hemodinamik pada sepsis 1. Terapi cairan 2. Terapi vasopressor 3. Terapi inotropic
  • 16.
    komplikasi 1. Meningitis 2. Hipoglikemi 3.Aasidosis Gagal ginjal 4. Disfungsi miokard 5. Perdarahan intra cranial 6. Gagal hati 7. Disfungsi system saraf pusat 8. Kematian 9. ARDS
  • 17.
    PEMERIKSAAN PENUNJANG â—¦ Kultur(luka, sputum, urin, darah) â—¦ SDP. â—¦ Elektrolit serum. â—¦ Trombosit â—¦ PT/PTT â—¦ Laktat serum â—¦ Glukosa Serum â—¦ BUN/Kreatinin â—¦ GDA â—¦ EKG
  • 18.
  • 19.
    PENGKAJIAN 1. Airway ď‚§yakinkan kepatenanjalan napas ď‚§berikan alat bantu napas jika perlu (guedel atau nasopharyngeal) ď‚§jika terjadi penurunan fungsi pernapasan segera kontak ahli anestesi dan bawa segera mungkin ke ICU 2. Breathing ď‚§kaji jumlah pernasan lebih dari 24 kali per menit merupakan gejala yang signifikan ď‚§kaji saturasi oksigen ď‚§periksa gas darah arteri untuk mengkaji status oksigenasi dan kemungkinan asidosis ď‚§berikan 100% oksigen melalui non re-breath mask ď‚§auskulasi dada, untuk mengetahui adanya infeksi di dada ď‚§periksa foto thorak
  • 20.
    3. Circulation ◦ kajidenyut jantung, >100 kali per menit merupakan tanda signifikan ◦ monitoring tekanan darah, tekanan darah ◦ periksa waktu pengisian kapiler ◦ pasang infuse dengan menggunakan canul yang besar ◦ berikan cairan koloid – gelofusin atau haemaccel ◦ pasang kateter ◦ lakukan pemeriksaan darah lengkap ◦ siapkan untuk pemeriksaan kultur ◦ catat temperature, kemungkinan pasien pyreksia atau temperature kurang dari 36oC ◦ siapkan pemeriksaan urin dan sputum ◦ berikan antibiotic spectrum luas sesuai kebijakan setempat. 4. Disability Bingung merupakan salah satu tanda pertama pada pasien sepsis padahal sebelumnya tidak ada masalah (sehat dan baik). Kaji tingkat kesadaran dengan menggunakan AVPU.
  • 21.
    5. Exposure Jika sumberinfeksi tidak diketahui, cari adanya cidera, luka dan tempat suntikan dan tempat sumber infeksi lainnya. Tanda ancaman terhadap kehidupan Sepsis yang berat didefinisikan sebagai sepsis yang menyebabkan kegagalan fungsi organ. Jika sudah menyembabkan ancaman terhadap kehidupan maka pasien harus dibawa ke ICU, adapun indikasinya sebagai berikut: ď‚§Penurunan fungsi ginjal ď‚§Penurunan fungsi jantung ď‚§Hyposia ď‚§Asidosis ď‚§Gangguan pembekuan ď‚§Acute respiratory distress syndrome (ards)
  • 22.
    Hasil Pemeriksaan Diagnostik ď‚§DPL: SDP biasanya naik dan cepat turun seiring perburukan syok ď‚§CT Scan : untuk mengidentifikasi tempat potensi terjadinya abses ď‚§Rangkaian anaisis multiple : hiperglikemia dapat terjadi, diikuti dengan hipoglikema pada tahap akhir ď‚§Gas Darah Arteri (GDA) ď‚§Menunjukkan asidosis metabolik dan hipoksia. Metabolisme anaerobik terjadi dengan hipoksia yang mengakibatkan akumulasi asam laktat. ď‚§Elektrolit Serum ď‚§Menunjukkan kekurangan cairan dan elektrolit ď‚§Tes radiologik ď‚§Radiografi dada dapat memperlihatkan pneumoni dan proses infeksi pada dada maupun abdomen ď‚§Pengawasan di Tempat Tidur ď‚§Tekanan darah normal atau menurun, awalnya terjadi peningkatan curah jantung (CO) dan indeks jantung (CI), yang berlanjut menjadi penurunan CO dan CI, penurunan LVSW, penurunan SVR, PCWP normal atau menurunan CVP, penurunan pengeluaran urin. ď‚§Pemeriksaan Laboratorium ď‚§Penurunan natrium dalam urin, peningkatan osmolaritas urin, terdapat bateremia, biasanya terdapat organisme gram negatif yang ditunjukkan melalui kultur dara, kulur cairan peritoneal, urin dan sputum dapat memperlihatkan patogen, peningkatan BUN, kreatinin serum, glukosa serum. ď‚§Kadar Laktat : penurunan kadar laktat dalam serum menujukkan metabolisme anaerob dapat memenuhi kebutuhan energi selular, sedangkan peningkatan kadar menunjukkan perfusi yang tidak adekuat dan metabolisme anaerob untuk memenuhi kebutuhan energi selular. ď‚§Defisit t basa : peningkatan kadar menunjukkan perfusi yang tidak adekuat dan metabolisme anaerob ď‚§ EKG ď‚§Takikardi. (Morton, Patricia Gonce. et al, 2011)
  • 23.
    MASALAH KEPERAWATAN 1. Kerusakanpertukaran gas b.d Ketidakseimbangan ventilasi perfusi 2. Perubahan perfusi jaringan b.d Curah jantung yang tidak mencukupi 3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d Respons terhadap septis sakit yang kritis 4. Risiko kerusakan integritas kulit b.d Penurunan perfusi jaringan dan adanya edema. 5. Ansietas b.d Perubahan status kesehatan
  • 24.
    INTERVENSI No Masalah KeperawatanKriteria hasil Intervensi 1 Kerusakan pertukaran gas b.d Ketidakseimbangan ventilasi perfusi Oksigenasi/ ventilasi ď‚· Kepatenan jalan napas dipelihara ď‚· Paru bersih pada saat auskultasi ď‚· Gas darah arteri dalam batas normal ď‚· Tekanan puncak, rerata, datar dalam batas normal ď‚· Tidak ada tanda sindrom distres pernapasan akut (ARDS, acute respiratory distress syndrome) 1. Auskultasi bunyi napas tiap 2-4 jam dan PRN 2. Lakukan penghisapan jalan napas endotrakea jika tepat 3. Hiperoksigenasi dan hiperventilasi sebelum dan setelah setiap kali melakukan penghisapan 4. Pantau oksimetri nadi dan tidal akhir CO2 (ETCO2) 5. Pantau gas darah arteri sesuai yang diindikasikan oleh perubahan parameter non- invasif 6. Pantau tekanan jalan napas setiap 1-2 jam 7. Miring kiri miring kanan setiap 2 jam 8. Pertimbangkan terapi kinetik 9. Lakukan foto dada harian
  • 25.
    2 Perubahan perfusijaringan b.d Curah jantung yang tidak mencukupi Sirkulasi/ perfusi ď‚· Tekanan darah, frekuensi jantung, tekanan vena sentral (CVP, central venous pressure), dan tekanan arteri pulmonalis dalam batas normal. ď‚· Tahanan vaskular dalam batas normal ď‚· Pasokan oksigen > 600 ml O2/m2 dan konsumsi oksigen > 150 ml O2/m2 ď‚· Laktat serum dalam batas normal 1. Kaji tanda vital setiap 1 jam 2. Kaji tekanan hemodinamik setiap 1 jam jika pasien terpasang kateter arteri pulmonalis 3. Berikan volume intravaskular sesuai program untuk mempertahankan preload 4. Kaji SVR dan tahanan vena tepi (PVR, peripheral venous resistance) setiap 6-12 jam 5. Berikan volume intravaskular dan vasoreseptor sesuai program 6. Pantau curah jantung, Dao2, dan Vo2 setiap 6- 12 jam 7. Berikan sel darah merah, agens inotropik positif, infusi koloid sesuai program untuk meningkatkan pengiriman oksigen 8. Pertimbangkan pemantauan pH mukosa lambung sebagai panduan untuk mengetahui perfusi sistemik 9. Pantau laktat serum setiap hari sampai dalam batas normal
  • 26.
    3 Perubahan nutrisikurang dari kebutuhan b.d Respons terhadap septis sakit yang kritis Nutrisi ď‚· Asupan kalori dan gizi memenuhi kebutuhan metabolik per perhitungan (mis, pengeluaran energi basal) 1. Berikan nutrisi parenteral atau enteral dalam 24 jam awitan 2. Konsultasi dengan ahli gizi atau layanan bantuan gizi 3. Pantau asupan lemak 4. Pantau albumin, prealbumin, transferin, kolesterol, trigliserida, glukosa 4 Risiko kerusakan integritas kulit b.d Penurunan perfusi jaringan dan adanya edema Integritas kulit ď‚· Kulit tetap utuh 1. Kaji kulit setiap 4 jam dan setiap kali pasien direposisi 2. Lakukan miring kanan miring kiri setiap 2 jam 3. Pertimbangkan matras pengurang/pereda tekanan 4. Gunakan skala braden untuk mengkaji risiko kerusakan kulit
  • 27.
    6 Ansietas b.d Perubahanstatus kesehatan Psikososial ď‚· Pasien menunjukkan penurunan kecemasan 1. Kaji tanda vital selama terapi, diskusi, dan sebagainya 2. Berikan sedatif dengan hati-hati 3. Konsultasi dengan layanan sosial, rohaniawan, dan sebagainya jika mungkin 4. Berikan istirahat dan tidur yang adekuat
  • 28.
    IMPLEMENTASI Implementasi adalah tahapketika perawat mengaplikasikan rencana asuhan keperawatan ke dalam bentuk intervensi keperawatan guna membantu klien mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Asmadi, 2008)
  • 29.
    EVALUASI Evaluasi merupakan langkahterakhir dari proses keperawatan. Semua tahap proses keperawatan (Diagnosa, tujuan untervensi) harus di evaluasi, dengan melibatkan klien, perawatan dan anggota tim kesehatan lainnya dan bertujuan untuk menilai apakah tujuan dalam perencanaan keperawatan tercapai atau tidak untuk melakukan perkajian ulang jika tindakan belum hasil. Evaluasi dibagi menjadi 2 jenis yaitu sebagai berikut : â—¦ Evaluasi Formatif â—¦ Evaluasi Sumatif
  • 30.
    PENCEGAHAN 1. Hindarkan traumapada permukaan mukosa yang biasanya dihuni bakteri Gram-negatif. 2. Berikan semprotan ( spray) polimiksin pada faring posterior untuk mencegah pneumonia Gram–negatif ,nasokomial. 3. Lingkungan yang protektif pasien beresiko kurang berhasil karena sebagian besar infeksi berasal dari dalam ( endogen )
  • 31.
    Evidence Based Practice judul: Sepsis dan Tata Laksana Berdasar Guideline Terbaru Peneliti : Irvan, Febian dan Suparto Tahun : 2018 didapatkan Penggunaan kriteria SIRS untuk mengidentifikasi sepsis dianggap tidak membantu lagi. Kriteria SIRS tidak menggambarkan adanya respon disregulasi yang mengancam jiwa. Disfungsi organ didiagnosis apabila peningkatan skor SOFA ≥ 2. Dan istilah sepsis berat sudah tidak digunakan. Septik syok didefinisikan sebagai keadaan sepsis dimana abnormalitas sirkulasi dan metabolik yang terjadi dapat menyebabkan kematian secara signifikan. Dalam protokol yang dikeluarkan pada tahun 2016, target resusitasi EGDT dihilangkan, dan merekomendasikan terapi cairan kristaloid minimal sebesar 30 ml/ kgBB dalam 3 jam atau kurang.
  • 32.
    Evidence Based Practice Judul:The impact of evidence-based sepsis guidelines on emergency department clinical practice: a pre-post medical record audit Peneliti: Romero, Fry dan Rochie Tahun: 2017 didapatkan Studi ini menunjukkan pengurangan waktu 230 menit yang signifikan secara statistik terhadap antibiotik setelah penerapan pedoman.