SUHU & KALOR




Drs. Agus Purnomo
aguspurnomosite.blogspot.com
SUHU DAN KALOR

SKALA SUHU DAN KALOR

PEMUAIAN ZAT

KALOR DAN PERUBAHAN WUJUD

PERPINDAHAN KALOR
SKALA SUHU DAN KALOR
• Suhu atau temperatur adalah besaran
  yang menunjukkan derajat panas atau
  dingin suatu benda.

• Beberapa Skala Termometer :
  CELCIUS, KELVIN, REAMUR,
  FAHRENHEIT
SKALA SUHU
SKALA SUHU


100   212     80      373


C 0   F 32   R0     K 273
SKALA SUHU
Perbandingan skala Celcius(C), Kelvin(K), Fahrenheit(F), dan Reamur(R).
    100 --       373--           212--           80-- titik tetap atas(tta)



d     C-- l        K -- g        F-- s     R--
     c      k                f              r
     0 --        273--            32--            0-- titik tetap bawah(ttb)
Konversi Suhu 4 Termometer
•   C = 5p
•   R = 4p
•   F = 9p + 32
•   K = 5p + 273

• p = adalah variabel bebas yang dapat
  bernilai positif/negatif juga
  bulat/pecahan.
PEMUAIAN ZAT PADAT
• PEMUAIAN PANJANG

• PEMUAIAN LUAS

• PEMUAIAN VOLUME
PEMUAIAN PANJANG ZAT PADAT

Pemuaian Panjang Zat Padat :
• L = Lo.. t
• Lt = Lo + L
• Lt = Lo [1 + .t ]
• t = t2 – t1
PEMUAIAN PANJANG ZAT PADAT
•   Keterangan :
•   Lo = panjang mula-mula benda ( m atau cm )
•   Lt = panjang akhir benda ( m atau cm )
•   L = pertambahan panjang benda ( m atau cm
    )
•   t = perubahan suhu benda ( C )
•   t1 = suhu mula-mula benda ( C )
•   t2 = suhu akhir benda ( C )
•    = koefesiem muai panjang benda ( /C )
PEMUAIAN PANJANG ZAT PADAT
• Koefesiem muai panjang zat padat
  adalah bilangan yang menyatakan
  besarnya pemuaian panjang benda setiap
  satuan panjang suatu benda ketika
  suhunya dinaikkan sebesar 1C.
• Koefesiem muai panjang zat padat
  nilainya ditentukan oleh jenis zat padat
  tersebut, dan nilainya berbeda satu sama
  lainnya.
PEMUAIAN PANJANG ZAT PADAT

                       Nilai 
No       Nama Zat   (dalam ( /C )
1    Aluminium        0,000024
2    Tembaga          0,000017
3    Besi             0,000012
4    Baja             0,000011
5    Timah            0,000030
6    Kuningan         0,000018
7    Perak            0,000020
PEMUAIAN LUAS ZAT PADAT
• A = Ao. . t = Ao. 2. t
•  = 2.
• At = Ao + A
• At = Ao [1 + .t ]
• t = t2 – t1
PEMUAIAN LUAS ZAT PADAT
•   Keterangan :
•   Ao = luas mula-mula benda ( m2 atau cm2 )
•   At = luas akhir benda ( m2 atau cm2 )
•   A = pertambahan luas benda ( m2 atau cm2 )
•   t = perubahan suhu benda ( C )
•   t1 = suhu mula-mula benda ( C )
•   t2 = suhu akhir benda ( C )
•    = koefesiem muai luas benda ( /C )
PEMUAIAN VOLUME ZAT PADAT
• V = Vo.. t = Vo.3. t
•  = 3.
• Vt = Vo + V
• Vt = Vo [1 + .t ]
• t = t2 – t1
PEMUAIAN VOLUME ZAT PADAT
Keterangan :
Vo = volume mula-mula benda ( m3 atau
cm3 )
Vt = volume akhir benda ( m3 atau cm3 )
V = pertambahan volume benda ( m3
atau cm3 )
t = perubahan suhu benda ( C )
t1 = suhu mula-mula benda ( C )
t2 = suhu akhir benda ( C )
 = koefesiem muai volume benda ( /C )
PEMUAIAN ZAT CAIR
Zat Cair hanya dapat mengalami
pemuaian volume atau ruang saja,
sehingga rumus-rumus yang digunakan
sama seperti pemuaian volume zat padat
di atas. Tetapi perlu diingat, zat cair hanya
mempunyai koefesiem muai volume saja,
tidak mempunya koefesien muai panjang.
PEMUAIAN ZAT CAIR
Dari hasil percobaan diperoleh :
•   V = vo.. t
•   Vt = Vo + V
•   Vt = Vo [1 + .t ]
•   t = t2 – t1
PEMUAIAN ZAT CAIR
Keterangan :
• Vo = volume mula-mula benda ( m3 atau cm3 )
• Vt = volume akhir benda ( m3 atau cm3 )
• V = pertambahan volume benda ( m3 atau cm3 )
• t = perubahan suhu benda ( C )
• t1 = suhu mula-mula benda ( C )
• t2 = suhu akhir benda ( C )
•  = koefesiem muai volume benda ( /C )
PEMUAIAN ZAT GAS
Pemuaian Gas pada Suhu Tetap (Isotermal)
Pemuaian gas pada suhu tetap berlaku hukum
Boyle, yaitu gas di dalam ruang tertutup yang
suhunya dijaga tetap, maka hasil kali tekanan
dan volume gas adalah tetap. Dirumuskan
sebagai:




Keterangan:
P = tekanan gas (atm)
V = volume gas (L)
PEMUAIAN ZAT GAS
Pemuaian Gas pada Tekanan Tetap (Isobar)
Pemuaian gas pada tekanan tetap berlaku hukum
Gay Lussac, yaitu gas di dalam ruang tertutup
dengan tekanan dijaga tetap, maka volume gas
sebanding dengan suhu mutlak gas. Dalam bentuk
persamaan dapat dituliskan sebagai:
PEMUAIAN ZAT GAS
Pemuaian Gas Pada Volume Tetap (Isokhorik)
Pemuaian gas pada volume tetap berlaku
hukum Boyle-Gay Lussac, yaitu jika volume gas
di dalam ruang tertutup dijaga tetap, maka
tekanan gas sebanding dengan suhu
mutlaknya. Hukum Boyle-Gay Lussac
dirumuskan sebagai :
PEMUAIAN ZAT GAS
Proses Adiabatis :
Dengan menggabungkan hukum boyle dan
hukum Gay Lussac diperoleh persamaan
KALOR
• Kalor atau Panas adalah salah satu
  bentuk energi yang mengalir karena
  adanya perbedaan suhu dan atau
  karena adanya usaha atau kerja yang
  dilakukan pada sistem.
• Kalor mempunyai satuan kalori, satu
  kalori didefinisikan sebagai kalor yang
  dibutuhkan 1 gram air untuk menaikkan
  suhunya 1OC. Dalam sistem SI satuan
  kalor adalah Joule. Satu kalori setara
  dengan 4,18 joule.
KALOR
• Kalor jenis (c) adalah kalor yang
  diperlukan untuk menaikkan
  suhu setiap 1kg massa benda
  dan setiap 1 °C kenaikan suhu.
• Kapasitas kalor ( C ) adalah
  banyaknya kalor yang digunakan
  untuk menaikkan suhu benda
  setiap 1 °C.
KALOR
Dari kenyataan bahwa:
• Kalor yang diberikan pada benda
  sebanding dengan kenaikan suhu.
• Kalor yang diberikan pada benda
  menaikkan suhu sebanding massa
  benda.
• Kalor yang diberikan pada benda
  menaikkan suhu tergantung jenis
  benda.
PERUBAHAN WUJUD ZAT

• Kita kenal ada tiga wujud zat, yaitu
  padat, cair, dan gas.

• Pada umumnya semua zat pada suhu
  dan tekanan tertentu dapat berubah
  dari satu wujud ke wujud yang lain.
  Misalkan H20 pada wujud padat berupa
  es, dalam wujud cair berupa air, dan
  dalam wujud gas berupa uap.
• Jumlah kalor yang
  diperlukan/dilepaskan saat
  perubahan wujud (suhu tetap)
  dinyatakan dengan formula:
 Q=m.L
• Q=jumlah kalor, satuannya joule.
• m=massa zat, satuannya kg.
• L=kalor laten (kalor lebur, kalor
  beku, kalor uap, dan kalor embun)
  satuannya joule/kg.
ASAS BLACK
• Jika ada dua macam zat yang berbeda
  suhunya dicampurkan atau disentuhkan,
  maka zat yang suhunya lebih tinggi akan
  melepas kalor yang sama banyaknya
  dengan kalor yang diserap oleh zat yang
  suhunya lebih rendah.
• Q lepas = Q serap
• Kekekalan energi pada pertukaran kalor
  seperti persamaan diatas pertama kali
  dikemukakan oleh Black seorang
  ilmuwan Inggris.
2. Seratus gram air dengan suhu 30OC dicampur
  dengan 50 gram air bersuhu 80OC, tentukan
  suhu campurannya! (kalor jenis air-1 kal/gr.OC)
                                       Penyelesaian
                 Air panas
                                       Qdiserap=Qdilepas
                 t2= 80OC ;m2= 50 gr
                                       Q1=Q2
                                       m1.c1.ΔT1=m2.c2.ΔT2
            t
                                       100.1.(t-30) = 50.1.(80-t)
                                       2t-60 = 80-t
                                       3t = 140
    Air dingin
                                       t = 46,7 OC
    t1= 30OC ;m1= 100 gr
PERAMBATAN KALOR
1.   Konduksi
     Perambatan kalor secara konduksi terjadi pada logam yang dipanaskan.
     Partikel-partikel logam tidak berpindah, perpindahan kalornya terjadi secara
     berantai oleh partikel yang bergetar semakin cepat pada saat kalor yang
     masuk logam semakin besar dan getaran partikel akan memindahkan kalor
     pada partikel disampingnya, demikian dan seterusnya. (cari contohnya
     perambatan kalor dalam kehidupan sehari-hari, minimal 3 contoh)
     Formula:


     Q       k.A
                    (T 2  T1 )            (Q/t)= laju perpindahan kalor (J/s=W)
     t         L
                                            A   = luas penampang (m2)
                                            L   = panjang bahan (m)
                                            K   = kondusivitas bahan (W/m.K)
                                            Δ T = selisih suhu (OC atau K)
2. Konveksi
       Perpindahan kalor secara konveksi terjadi pada zat
       cair dan gas. Pada perpindahan kalor ini bagian yang
       mendapat kalor partikel-partikelnya akan berpindah
       ke suhu yang lebih rendah, demikian dan seterusnya
       sehingga terjadi arus konveksi. (cari contoh perambatan kalor
       ini dalam kehidupan sehari-hari, minimal 3 contoh)
       Formula:


Q                                            (Q/t)= laju perpindahan kalor (J/s=W)
     h . A .( T 2  T1 )
t                                            A   = luas penampang (m2)
                                             h   = koef. konveksi (W/m2.K)
                                             Δ T = selisih suhu (OC atau K)
Contoh Soal Perpindahan Kalor
1. Balok besi berpenampang kecil dengan suhu
    kedua ujung dibuat tetap yaitu 500OC dan 100OC.
    Jika panjang besi 50 cm. Berapakah laju kalor
    persatuan luas yang melewati balok tersebut.
    (konduksivitas termal besi= 75 W/m.K)
Penyelesaian:
L=50 cm= 0,5 m k= 75 W/m.K           ΔT=400K


     Q         k          75
                  T           400  60000 W / m
                                                     2

    t. A       L          0 ,5
3. Sebuah benda sumber panas mempunyai luas
   permukaan 10 cm2 dan emisivitasnya 0,4 bersuhu
   727OC. Hitung kalor yang dipancarkan benda selama 1
   menit.

Penyelesaian:
  A=10 cm2=0,001 m2            ε= 0,4
  T=727+273=1000K              σ= 5,67.10-8 W/m2.K4
  t=60 sekon                   Q?

 Q= ε.σ.A.T4.t
  = 0,4. 5,67.10-8. 0,001. (1000)4.60
  = 136,08 j
aguspurnomosite.blogspot.com

Suhu dan Kalor

  • 1.
    SUHU & KALOR Drs.Agus Purnomo aguspurnomosite.blogspot.com
  • 2.
    SUHU DAN KALOR SKALASUHU DAN KALOR PEMUAIAN ZAT KALOR DAN PERUBAHAN WUJUD PERPINDAHAN KALOR
  • 3.
    SKALA SUHU DANKALOR • Suhu atau temperatur adalah besaran yang menunjukkan derajat panas atau dingin suatu benda. • Beberapa Skala Termometer : CELCIUS, KELVIN, REAMUR, FAHRENHEIT
  • 4.
  • 5.
    SKALA SUHU 100 212 80 373 C 0 F 32 R0 K 273
  • 6.
    SKALA SUHU Perbandingan skalaCelcius(C), Kelvin(K), Fahrenheit(F), dan Reamur(R). 100 -- 373-- 212-- 80-- titik tetap atas(tta) d C-- l K -- g F-- s R-- c k f r 0 -- 273-- 32-- 0-- titik tetap bawah(ttb)
  • 7.
    Konversi Suhu 4Termometer • C = 5p • R = 4p • F = 9p + 32 • K = 5p + 273 • p = adalah variabel bebas yang dapat bernilai positif/negatif juga bulat/pecahan.
  • 8.
    PEMUAIAN ZAT PADAT •PEMUAIAN PANJANG • PEMUAIAN LUAS • PEMUAIAN VOLUME
  • 9.
    PEMUAIAN PANJANG ZATPADAT Pemuaian Panjang Zat Padat : • L = Lo.. t • Lt = Lo + L • Lt = Lo [1 + .t ] • t = t2 – t1
  • 10.
    PEMUAIAN PANJANG ZATPADAT • Keterangan : • Lo = panjang mula-mula benda ( m atau cm ) • Lt = panjang akhir benda ( m atau cm ) • L = pertambahan panjang benda ( m atau cm ) • t = perubahan suhu benda ( C ) • t1 = suhu mula-mula benda ( C ) • t2 = suhu akhir benda ( C ) •  = koefesiem muai panjang benda ( /C )
  • 11.
    PEMUAIAN PANJANG ZATPADAT • Koefesiem muai panjang zat padat adalah bilangan yang menyatakan besarnya pemuaian panjang benda setiap satuan panjang suatu benda ketika suhunya dinaikkan sebesar 1C. • Koefesiem muai panjang zat padat nilainya ditentukan oleh jenis zat padat tersebut, dan nilainya berbeda satu sama lainnya.
  • 12.
    PEMUAIAN PANJANG ZATPADAT Nilai  No Nama Zat (dalam ( /C ) 1 Aluminium 0,000024 2 Tembaga 0,000017 3 Besi 0,000012 4 Baja 0,000011 5 Timah 0,000030 6 Kuningan 0,000018 7 Perak 0,000020
  • 13.
    PEMUAIAN LUAS ZATPADAT • A = Ao. . t = Ao. 2. t •  = 2. • At = Ao + A • At = Ao [1 + .t ] • t = t2 – t1
  • 14.
    PEMUAIAN LUAS ZATPADAT • Keterangan : • Ao = luas mula-mula benda ( m2 atau cm2 ) • At = luas akhir benda ( m2 atau cm2 ) • A = pertambahan luas benda ( m2 atau cm2 ) • t = perubahan suhu benda ( C ) • t1 = suhu mula-mula benda ( C ) • t2 = suhu akhir benda ( C ) •  = koefesiem muai luas benda ( /C )
  • 15.
    PEMUAIAN VOLUME ZATPADAT • V = Vo.. t = Vo.3. t •  = 3. • Vt = Vo + V • Vt = Vo [1 + .t ] • t = t2 – t1
  • 16.
    PEMUAIAN VOLUME ZATPADAT Keterangan : Vo = volume mula-mula benda ( m3 atau cm3 ) Vt = volume akhir benda ( m3 atau cm3 ) V = pertambahan volume benda ( m3 atau cm3 ) t = perubahan suhu benda ( C ) t1 = suhu mula-mula benda ( C ) t2 = suhu akhir benda ( C )  = koefesiem muai volume benda ( /C )
  • 17.
    PEMUAIAN ZAT CAIR ZatCair hanya dapat mengalami pemuaian volume atau ruang saja, sehingga rumus-rumus yang digunakan sama seperti pemuaian volume zat padat di atas. Tetapi perlu diingat, zat cair hanya mempunyai koefesiem muai volume saja, tidak mempunya koefesien muai panjang.
  • 18.
    PEMUAIAN ZAT CAIR Darihasil percobaan diperoleh : • V = vo.. t • Vt = Vo + V • Vt = Vo [1 + .t ] • t = t2 – t1
  • 19.
    PEMUAIAN ZAT CAIR Keterangan: • Vo = volume mula-mula benda ( m3 atau cm3 ) • Vt = volume akhir benda ( m3 atau cm3 ) • V = pertambahan volume benda ( m3 atau cm3 ) • t = perubahan suhu benda ( C ) • t1 = suhu mula-mula benda ( C ) • t2 = suhu akhir benda ( C ) •  = koefesiem muai volume benda ( /C )
  • 20.
    PEMUAIAN ZAT GAS PemuaianGas pada Suhu Tetap (Isotermal) Pemuaian gas pada suhu tetap berlaku hukum Boyle, yaitu gas di dalam ruang tertutup yang suhunya dijaga tetap, maka hasil kali tekanan dan volume gas adalah tetap. Dirumuskan sebagai: Keterangan: P = tekanan gas (atm) V = volume gas (L)
  • 21.
    PEMUAIAN ZAT GAS PemuaianGas pada Tekanan Tetap (Isobar) Pemuaian gas pada tekanan tetap berlaku hukum Gay Lussac, yaitu gas di dalam ruang tertutup dengan tekanan dijaga tetap, maka volume gas sebanding dengan suhu mutlak gas. Dalam bentuk persamaan dapat dituliskan sebagai:
  • 22.
    PEMUAIAN ZAT GAS PemuaianGas Pada Volume Tetap (Isokhorik) Pemuaian gas pada volume tetap berlaku hukum Boyle-Gay Lussac, yaitu jika volume gas di dalam ruang tertutup dijaga tetap, maka tekanan gas sebanding dengan suhu mutlaknya. Hukum Boyle-Gay Lussac dirumuskan sebagai :
  • 23.
    PEMUAIAN ZAT GAS ProsesAdiabatis : Dengan menggabungkan hukum boyle dan hukum Gay Lussac diperoleh persamaan
  • 24.
    KALOR • Kalor atauPanas adalah salah satu bentuk energi yang mengalir karena adanya perbedaan suhu dan atau karena adanya usaha atau kerja yang dilakukan pada sistem. • Kalor mempunyai satuan kalori, satu kalori didefinisikan sebagai kalor yang dibutuhkan 1 gram air untuk menaikkan suhunya 1OC. Dalam sistem SI satuan kalor adalah Joule. Satu kalori setara dengan 4,18 joule.
  • 25.
    KALOR • Kalor jenis(c) adalah kalor yang diperlukan untuk menaikkan suhu setiap 1kg massa benda dan setiap 1 °C kenaikan suhu. • Kapasitas kalor ( C ) adalah banyaknya kalor yang digunakan untuk menaikkan suhu benda setiap 1 °C.
  • 26.
    KALOR Dari kenyataan bahwa: •Kalor yang diberikan pada benda sebanding dengan kenaikan suhu. • Kalor yang diberikan pada benda menaikkan suhu sebanding massa benda. • Kalor yang diberikan pada benda menaikkan suhu tergantung jenis benda.
  • 30.
    PERUBAHAN WUJUD ZAT •Kita kenal ada tiga wujud zat, yaitu padat, cair, dan gas. • Pada umumnya semua zat pada suhu dan tekanan tertentu dapat berubah dari satu wujud ke wujud yang lain. Misalkan H20 pada wujud padat berupa es, dalam wujud cair berupa air, dan dalam wujud gas berupa uap.
  • 31.
    • Jumlah kaloryang diperlukan/dilepaskan saat perubahan wujud (suhu tetap) dinyatakan dengan formula: Q=m.L • Q=jumlah kalor, satuannya joule. • m=massa zat, satuannya kg. • L=kalor laten (kalor lebur, kalor beku, kalor uap, dan kalor embun) satuannya joule/kg.
  • 32.
    ASAS BLACK • Jikaada dua macam zat yang berbeda suhunya dicampurkan atau disentuhkan, maka zat yang suhunya lebih tinggi akan melepas kalor yang sama banyaknya dengan kalor yang diserap oleh zat yang suhunya lebih rendah. • Q lepas = Q serap • Kekekalan energi pada pertukaran kalor seperti persamaan diatas pertama kali dikemukakan oleh Black seorang ilmuwan Inggris.
  • 33.
    2. Seratus gramair dengan suhu 30OC dicampur dengan 50 gram air bersuhu 80OC, tentukan suhu campurannya! (kalor jenis air-1 kal/gr.OC) Penyelesaian Air panas Qdiserap=Qdilepas t2= 80OC ;m2= 50 gr Q1=Q2 m1.c1.ΔT1=m2.c2.ΔT2 t 100.1.(t-30) = 50.1.(80-t) 2t-60 = 80-t 3t = 140 Air dingin t = 46,7 OC t1= 30OC ;m1= 100 gr
  • 34.
    PERAMBATAN KALOR 1. Konduksi Perambatan kalor secara konduksi terjadi pada logam yang dipanaskan. Partikel-partikel logam tidak berpindah, perpindahan kalornya terjadi secara berantai oleh partikel yang bergetar semakin cepat pada saat kalor yang masuk logam semakin besar dan getaran partikel akan memindahkan kalor pada partikel disampingnya, demikian dan seterusnya. (cari contohnya perambatan kalor dalam kehidupan sehari-hari, minimal 3 contoh) Formula: Q k.A  (T 2  T1 ) (Q/t)= laju perpindahan kalor (J/s=W) t L A = luas penampang (m2) L = panjang bahan (m) K = kondusivitas bahan (W/m.K) Δ T = selisih suhu (OC atau K)
  • 35.
    2. Konveksi Perpindahan kalor secara konveksi terjadi pada zat cair dan gas. Pada perpindahan kalor ini bagian yang mendapat kalor partikel-partikelnya akan berpindah ke suhu yang lebih rendah, demikian dan seterusnya sehingga terjadi arus konveksi. (cari contoh perambatan kalor ini dalam kehidupan sehari-hari, minimal 3 contoh) Formula: Q (Q/t)= laju perpindahan kalor (J/s=W)  h . A .( T 2  T1 ) t A = luas penampang (m2) h = koef. konveksi (W/m2.K) Δ T = selisih suhu (OC atau K)
  • 37.
    Contoh Soal PerpindahanKalor 1. Balok besi berpenampang kecil dengan suhu kedua ujung dibuat tetap yaitu 500OC dan 100OC. Jika panjang besi 50 cm. Berapakah laju kalor persatuan luas yang melewati balok tersebut. (konduksivitas termal besi= 75 W/m.K) Penyelesaian: L=50 cm= 0,5 m k= 75 W/m.K ΔT=400K Q k 75  T  400  60000 W / m 2 t. A L 0 ,5
  • 38.
    3. Sebuah bendasumber panas mempunyai luas permukaan 10 cm2 dan emisivitasnya 0,4 bersuhu 727OC. Hitung kalor yang dipancarkan benda selama 1 menit. Penyelesaian: A=10 cm2=0,001 m2 ε= 0,4 T=727+273=1000K σ= 5,67.10-8 W/m2.K4 t=60 sekon Q? Q= ε.σ.A.T4.t = 0,4. 5,67.10-8. 0,001. (1000)4.60 = 136,08 j
  • 39.