Pengembangan Agribisnis sebagai Upaya Penanggulangan Kemiskinan di Kabupaten Pakpak Bharat Provinsi Sumatera Utara dalam Perspektif Ekonomi Kelembagaan Baru Makalah Ekonomika Kelembagaan | by Aryanto Tinambunan | 19202/PS/MEP/06 e-mail : arya@tinambunan.web.id
Pendahuluan “ Jangan tanyakan padaku apa arti kemiskinan karena Anda sudah melihatnya dari luar rumah saya. Lihat rumah ini dan hitung jumlah lubangnya. Lihat perlengkapan yang ada dan pakaian yang saya kenakan. Lihat semua hal dan tuliskan apa yang Anda lihat. Apa yang Anda lihat adalah kemiskinan”. --- Laki-laki Miskin di Negara Kenya (Todaro, 2003)
Lanjutan ... Kebijakan Pemda belum sepenuhnya efektif dalam pemberdayaan potensi ekonomi lokal. Peranan EKB belum efektif diterapkan. Tingkat kesejahteraan masyarakat yang ditopang oleh sektor agribisnis masih rendah yang ditunjukkan dengan 72,18% penduduk tergolong miskin (BPS, 2005)  dan belum adanya LKM di Pakpak Bharat . Gap    Kemiskinan ,     Agribisnis ,     Lembaga Keuangan Mikro ,     Transaction Costs,    Asymetric Information Keyword
Lanjutan ... Dimekarkan berdasarkan UU No. 9/2003 ttg Pembentukan Kab. Humbang Hasundutan, Nias Selatan dan Pakpak Bharat    8 Kec, 47 Desa (2006) H ampir 80 persen w ilayah Pakpak Bharat  lebih berada pada topografi terjal dan curam Potensi utama daerah adalah bidang pertanian    perkebunan    gambir + kemenyan + nilam Pengembangan agribisnis dapat meningkatkan ekonomi masyarakat khususnya komoditi gambir Luas Wilayah 121.830 Ha (1.218,30 km2). Jumlah Penduduk (BPS, 2005) = 36.971 jiwa Menurut BPS (2005) 72,18% penduduk tergolong miskin. Sebagai daerah otonom, kewenangan dalam mengurus pembangunan daerah (UU No. 32/2004 ttg Otonomi Daerah) Kabupaten Pakpak Bharat
Lanjutan ... Permasalahan akses terhadap fasilitas pendidikan dan kesehatan memang merupakan permasalahan besar yang dihadapi kelompok miskin pedesaan, tetapi ada permasalahan lain yang lebih krusial, yaitu pendapatan mereka sangat tergantung pada aktivitas  sektor pertanian  dan perikanan sehingga kondisi alam, iklim, dan cuaca sangat memengaruhi volatilitas pendapatan kelompok ini (LPEM FEUI, PSP IPB, PSEKP UGM  ( 2004)  dalam Dartanto (2006)) .  Problem Kemiskinan
Lanjutan ... Menurut Saragih (2001), Sub-sistem   agribisnis adalah  (1) sub-sistem agribisnis hulu ( upstream agribusiness ), (2) sub-sistem usahatani ( on farm agribusiness ), (3) sub-sistem agribisnis hilir ( down-stream agribusiness ) dan (4)  sub- sistem jasa penunjang agribisnis ( supporting institution ), khususnya untuk pengembangan komoditas perkebunan di Pemerintah Kabupaten Pakpak Bharat . Koperasi agribisnis perlu dibentuk untuk mengembangkan usaha agribisnis skala kecil    aturan formal dan non formal. Dukungan Lembaga Keuangan Mikro dapat mengembangkan koperasi agribisnis. Koperasi agribisnis selanjutnya berhubungan dengan pengusaha besar. Agribisnis
Lanjutan ... Kebijakan pembangunan ekonomi daerah     belum  efektif diterapkan   kesejahteraan masyarakat sulit diwujudkan     kemiskinan tetap ada dan berpotensi untuk bertambah. Perumusan  Permasalahan Ekonomi Kelembagaan Baru (EKB)    peningkatan ekonomi rakyat via Lembaga Keuangan Mikro (LKM)    produktivitas meningkat    tingkat kemiskinan berkurang Peranan EKB
Lanjutan ... Untuk mengetahui perlunya dinamika ekonomi kelembagaan baru dalam meningkatkan perekonomian masyarakat yang pada akhirnya dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah yang dapat menekan angka kemiskinan Tujuan D iharapkan dapat menjadi tambahan masukan guna melengkapi dasar-dasar pertimbangan dalam merumuskan kebijakan pembangunan pada sektor pertanian khususnya sektor agribisnis sejalan dengan pelaksanaan visi dan misi daerah. Manfaat Tujuan & Manfaat &
Lanjutan ... Dilakukan dengan penyebaran survey/kuesioner dan studi komparatif .  Dalam penulisan paper ini dilakukan dengan metode studi komparatif dari berbagai penelitian. Metodologi
Institusi Agribisnis, RUU LKM Aturan Main Koperasi Agribisnis Lingkungan Kelembagaan Susunan Rencana Mengatasi Ketidakpastian Agribisnis Penekanan biaya Transaksi, informasi pasar dan negosiasi Efisiensi Produktivitas Profit Berkesinambunan Peningkatan ekonomi masyarakat Pengurangan Jumlah Kemiskinan Konsep Ekonomi Kelembagaan dalam Agribisnis
Analisis Pendekatan institusional dalam ekonomi, salah satunya dipelopori oleh Douglass C North dalam bukunya Institutions, Institutional Change and Economic Performance .   North  membedakan institusi, organisasi, dan aktor ekonomi dalam membahas perubahan kelembagaan dalam ekonomi. Institusi merupakan konteks (landasan) di mana organisasi bekerja: dia menyangkut aturan yang tampak (hukum) dan yang mengakar (norma). Dalam organisasi para aktor berinteraksi dengan dibatasi oleh aturan hukum dan norma. Interaksi ketiganya (institusi, organisasi, dan aktor ekonomi) akan menentukan kualitas kinerja ekonomi. Ekonomi Kelembagaan Baru
Lanjutan ... Institusi dapat didefinisikan sebagai aturan atau prosedur yang mengatur interaksi antarmanusia (agents) dan organisasi yang mengimplementasikan aturan2 tsb. untuk mencapai tujuan yang diinginkan (Brinkerkoff & Goldsmith (1992) dalam Arsyad (2005)). Konkretnya, memenuhi target  penekanan angka kemiskinan  tidak bisa hanya dengan mengutak-atik indikator makro-ekonomi  daerah . Selain harus merancang aturan formal yang memadai, kebijakan pemerintah  daerah  juga harus memengaruhi tindakan para aktor ekonomi  (koperasi agribisnis) . Korupsi yang masih terus terjadi merupakan bukti, kebijakan pemerintah masih berhenti pada formalitas aturan dan belum sampai memengaruhi tindakan para aktor ekonomi.  Kualitas kelembagaan secara nasional akan memengaruhi kualitas kelembagaan unit-unit organisasi secara individual. Tata kelola  koperasi  tidak pernah tercapai tanpa ada sistem tata kelola secara  organisatoris. Institusi & Organisasi Agribisnis
Lanjutan ... Asian Development Bank (ADB) mendefinisikan LKM sebagai lembaga yang menyediakan jasa penyimpanan ( deposits ), kredit ( loan ), pembayaran berbagai transaksi jasa ( payment services ) serta  money transfer  yang ditujukan bagi masyarakat miskin dan pengusaha kecil. Lembaga Keuangan Mikro atau  Micro Finance Institution  merupakan lembaga yang melakukan kegiatan penyediaan jasa keuangan kepada pengusaha kecil dan mikro serta masyarakat berpenghasilan rendah yang tidak terlayani oleh Lembaga Keuangan formal dan yang telah berorientasi pasar untuk tujuan bisnis . Menurut Adan dan Fitchett (1992) dalam Arsyad (2005), karakteristik LKM adalah sama spt lembaga pendidikan yang dinamis, inovatif dan penyusunan yang fleksibel yang disesuaikan dengan lingkungan ekonomi dan sosial daerah. Fleksibel, transaksi kecil jangka pendek, prosedur yang simpel dan pinjaman didistribusikan dengan cepat merupakan ciri dari LKM P engentasan kemiskinan dapat dilaksanakan melalui banyak sarana dan program, termasuk didalamnya adalah program pangan, kesehatan, pemukiman, pendidikan, keluarga berencana dan tentu saja adalah melalui pinjaman dalam bentuk  micro credi t  ( Marguiret Robinson ,  2000) LKM & Penanggulangan Kemiskinan (1)
Lanjutan ... Menurut  Krisnamurthi  (2003),  Keuangan mikro dapat menjadi faktor kritikal dalam usaha penanggulangan kemiskinan yang efektif.  Peningkatan akses dan pengadaan sarana penyimpanan, pembiayaan dan asuransi yang efisien dapat membangun keberdayaan kelompok miskin dan peluang mereka untuk keluar dari kemiskinan, melalui :  tingkat konsumsi yang lebih pasti dan tidak be r fluktuasi,  mengelola resiko dengan lebih baik,  secara bertahap memiliki kesempatan untuk membangun aset,  mengembangkan kegiatan usaha mikronya,  menguatkan kapasistas perolehan pendapatannya, dan  dapat merasakan tingkat hidup yang lebih baik  LKM & Penanggulangan Kemiskinan (2)
Secara spesifik dalam konteks pembangunan ekonomi pedesaan yang   masih didominasi oleh sektor pertanian, potensi yang dapat diperankan LKM   dalam memacu pertumbuhan ekonomi sangat besar.  Menurut Ashari (2006), s etidaknya ada lima alasan   untuk mendukung argumen tersebut , yaitu : LKM umumnya berada atau   minimal dekat dengan kawasan pedesaan sehingga dapat dengan mudah diakses   oleh petani/pelaku ekonomi di desa.  Petani/masyarakat desa lebih   menyukai proses yang singkat dan tanpa banyak prosedur.  Karakteristik   usahatani umumnya membutuhkan platfond kredit yang tidak terlalu besar   sehingga sesuai dengan kemampuan finansial LKM.  D ekatnya lokasi   LKM dan petani memungkinkan pengelola LKM memahami betul karakteristik   usahatani sehingga dapat mengucurkan kredit secara tepat waktu dan jumlah; dan Adanya keterkaitan socio-cultural serta hubungan yang bersifat personal   emosional   diharapkan dapat mengurangi sifat  moral hazard  dalam pengembalian   kredit.
Referensi Arsyad, Lincolin. 2006. How do Microfinance Institutions Cope with Risk and Uncertainty?. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Volume 21, No. 1, pp. 22 – 36. Arsyad, Lincolin. 2005. Institutions do Really Matter : Lessons from Village Credit Institutions of Bali. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Volume 20, No. 2, pp. 105 – 119. Ashari. 2006. Potensi Lembaga Keuangan Mikro (LKM) dalam Pembangunan Ekonomi Pedesaan dan Kebijakan. Jurnal Analisis Kebijakan Pertanian, Volume 4, No. 2, hal. 146 – 164. BPS. 2005. Pakpak Bharat dalam Angka. BPS, Dairi, Sumut. Jaya, Wihana Kirana. 2006. Peran Institusi dalam Pertumbuhan Ekonomi. PANGSA – Jurnal Ekonomi dan Pembangunan, Edisi 13/XII/2006, hal. 03 – 18. Kurniadi, Titus K.. 2002.  Keuangan Mikro Sebagai Salah Satu Cara Efektif untuk Mengentaskan Kemiskinan dan Menggerakkan Ekonomi Rakyat.  Jurnal Ekonomi Rakyat, Artikel – Th. I – No. 5.  http://www.ekonomirakyat.org Krishnamurti, Bayu. 2003. Pengembangan Keuangan Mikro dan Penanggulangan Kemiskinan. Jurnal Ekonomi Rakyat, Artikel – Th. II – No. 2.  http://www.ekonomirakyat.org   North, Douglas C.. 1991. Institutions. Journal of Economic Perspectives, Volume 5, No. 1, pp. 97 – 112. Saragih, Bungaran. 2001.  Agribisnis : Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian . Editor : Rachmat Pambudy dkk.. Yayasan Mulia Persada Indonesia dan PT. Surveyor Indonesia bekerjasama dengan Pusat Studi Pembangunan IPB, Bogor. Yustika, Ahmad Erani. 2006. Ekonomi Kelembagaan – Definisi, Teori dan Strategi. Edisi Pertama. Bayumedia Publishing, Malang.
Terima Kasih Sekian & Njuah-njuah

Pengembangan Agribisnis sebagai Upaya Penanggulangan Kemiskinan di Kabupaten Pakpak Bharat Provinsi Sumatera Utara dalam Perspektif Ekonomi Kelembagaan Baru

  • 1.
    Pengembangan Agribisnis sebagaiUpaya Penanggulangan Kemiskinan di Kabupaten Pakpak Bharat Provinsi Sumatera Utara dalam Perspektif Ekonomi Kelembagaan Baru Makalah Ekonomika Kelembagaan | by Aryanto Tinambunan | 19202/PS/MEP/06 e-mail : arya@tinambunan.web.id
  • 2.
    Pendahuluan “ Jangantanyakan padaku apa arti kemiskinan karena Anda sudah melihatnya dari luar rumah saya. Lihat rumah ini dan hitung jumlah lubangnya. Lihat perlengkapan yang ada dan pakaian yang saya kenakan. Lihat semua hal dan tuliskan apa yang Anda lihat. Apa yang Anda lihat adalah kemiskinan”. --- Laki-laki Miskin di Negara Kenya (Todaro, 2003)
  • 3.
    Lanjutan ... KebijakanPemda belum sepenuhnya efektif dalam pemberdayaan potensi ekonomi lokal. Peranan EKB belum efektif diterapkan. Tingkat kesejahteraan masyarakat yang ditopang oleh sektor agribisnis masih rendah yang ditunjukkan dengan 72,18% penduduk tergolong miskin (BPS, 2005) dan belum adanya LKM di Pakpak Bharat . Gap  Kemiskinan ,  Agribisnis ,  Lembaga Keuangan Mikro ,  Transaction Costs,  Asymetric Information Keyword
  • 4.
    Lanjutan ... Dimekarkanberdasarkan UU No. 9/2003 ttg Pembentukan Kab. Humbang Hasundutan, Nias Selatan dan Pakpak Bharat  8 Kec, 47 Desa (2006) H ampir 80 persen w ilayah Pakpak Bharat lebih berada pada topografi terjal dan curam Potensi utama daerah adalah bidang pertanian  perkebunan  gambir + kemenyan + nilam Pengembangan agribisnis dapat meningkatkan ekonomi masyarakat khususnya komoditi gambir Luas Wilayah 121.830 Ha (1.218,30 km2). Jumlah Penduduk (BPS, 2005) = 36.971 jiwa Menurut BPS (2005) 72,18% penduduk tergolong miskin. Sebagai daerah otonom, kewenangan dalam mengurus pembangunan daerah (UU No. 32/2004 ttg Otonomi Daerah) Kabupaten Pakpak Bharat
  • 5.
    Lanjutan ... Permasalahanakses terhadap fasilitas pendidikan dan kesehatan memang merupakan permasalahan besar yang dihadapi kelompok miskin pedesaan, tetapi ada permasalahan lain yang lebih krusial, yaitu pendapatan mereka sangat tergantung pada aktivitas sektor pertanian dan perikanan sehingga kondisi alam, iklim, dan cuaca sangat memengaruhi volatilitas pendapatan kelompok ini (LPEM FEUI, PSP IPB, PSEKP UGM ( 2004) dalam Dartanto (2006)) . Problem Kemiskinan
  • 6.
    Lanjutan ... MenurutSaragih (2001), Sub-sistem agribisnis adalah (1) sub-sistem agribisnis hulu ( upstream agribusiness ), (2) sub-sistem usahatani ( on farm agribusiness ), (3) sub-sistem agribisnis hilir ( down-stream agribusiness ) dan (4) sub- sistem jasa penunjang agribisnis ( supporting institution ), khususnya untuk pengembangan komoditas perkebunan di Pemerintah Kabupaten Pakpak Bharat . Koperasi agribisnis perlu dibentuk untuk mengembangkan usaha agribisnis skala kecil  aturan formal dan non formal. Dukungan Lembaga Keuangan Mikro dapat mengembangkan koperasi agribisnis. Koperasi agribisnis selanjutnya berhubungan dengan pengusaha besar. Agribisnis
  • 7.
    Lanjutan ... Kebijakanpembangunan ekonomi daerah  belum efektif diterapkan  kesejahteraan masyarakat sulit diwujudkan  kemiskinan tetap ada dan berpotensi untuk bertambah. Perumusan Permasalahan Ekonomi Kelembagaan Baru (EKB)  peningkatan ekonomi rakyat via Lembaga Keuangan Mikro (LKM)  produktivitas meningkat  tingkat kemiskinan berkurang Peranan EKB
  • 8.
    Lanjutan ... Untukmengetahui perlunya dinamika ekonomi kelembagaan baru dalam meningkatkan perekonomian masyarakat yang pada akhirnya dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah yang dapat menekan angka kemiskinan Tujuan D iharapkan dapat menjadi tambahan masukan guna melengkapi dasar-dasar pertimbangan dalam merumuskan kebijakan pembangunan pada sektor pertanian khususnya sektor agribisnis sejalan dengan pelaksanaan visi dan misi daerah. Manfaat Tujuan & Manfaat &
  • 9.
    Lanjutan ... Dilakukandengan penyebaran survey/kuesioner dan studi komparatif . Dalam penulisan paper ini dilakukan dengan metode studi komparatif dari berbagai penelitian. Metodologi
  • 10.
    Institusi Agribisnis, RUULKM Aturan Main Koperasi Agribisnis Lingkungan Kelembagaan Susunan Rencana Mengatasi Ketidakpastian Agribisnis Penekanan biaya Transaksi, informasi pasar dan negosiasi Efisiensi Produktivitas Profit Berkesinambunan Peningkatan ekonomi masyarakat Pengurangan Jumlah Kemiskinan Konsep Ekonomi Kelembagaan dalam Agribisnis
  • 11.
    Analisis Pendekatan institusionaldalam ekonomi, salah satunya dipelopori oleh Douglass C North dalam bukunya Institutions, Institutional Change and Economic Performance . North membedakan institusi, organisasi, dan aktor ekonomi dalam membahas perubahan kelembagaan dalam ekonomi. Institusi merupakan konteks (landasan) di mana organisasi bekerja: dia menyangkut aturan yang tampak (hukum) dan yang mengakar (norma). Dalam organisasi para aktor berinteraksi dengan dibatasi oleh aturan hukum dan norma. Interaksi ketiganya (institusi, organisasi, dan aktor ekonomi) akan menentukan kualitas kinerja ekonomi. Ekonomi Kelembagaan Baru
  • 12.
    Lanjutan ... Institusidapat didefinisikan sebagai aturan atau prosedur yang mengatur interaksi antarmanusia (agents) dan organisasi yang mengimplementasikan aturan2 tsb. untuk mencapai tujuan yang diinginkan (Brinkerkoff & Goldsmith (1992) dalam Arsyad (2005)). Konkretnya, memenuhi target penekanan angka kemiskinan tidak bisa hanya dengan mengutak-atik indikator makro-ekonomi daerah . Selain harus merancang aturan formal yang memadai, kebijakan pemerintah daerah juga harus memengaruhi tindakan para aktor ekonomi (koperasi agribisnis) . Korupsi yang masih terus terjadi merupakan bukti, kebijakan pemerintah masih berhenti pada formalitas aturan dan belum sampai memengaruhi tindakan para aktor ekonomi. Kualitas kelembagaan secara nasional akan memengaruhi kualitas kelembagaan unit-unit organisasi secara individual. Tata kelola koperasi tidak pernah tercapai tanpa ada sistem tata kelola secara organisatoris. Institusi & Organisasi Agribisnis
  • 13.
    Lanjutan ... AsianDevelopment Bank (ADB) mendefinisikan LKM sebagai lembaga yang menyediakan jasa penyimpanan ( deposits ), kredit ( loan ), pembayaran berbagai transaksi jasa ( payment services ) serta money transfer yang ditujukan bagi masyarakat miskin dan pengusaha kecil. Lembaga Keuangan Mikro atau Micro Finance Institution merupakan lembaga yang melakukan kegiatan penyediaan jasa keuangan kepada pengusaha kecil dan mikro serta masyarakat berpenghasilan rendah yang tidak terlayani oleh Lembaga Keuangan formal dan yang telah berorientasi pasar untuk tujuan bisnis . Menurut Adan dan Fitchett (1992) dalam Arsyad (2005), karakteristik LKM adalah sama spt lembaga pendidikan yang dinamis, inovatif dan penyusunan yang fleksibel yang disesuaikan dengan lingkungan ekonomi dan sosial daerah. Fleksibel, transaksi kecil jangka pendek, prosedur yang simpel dan pinjaman didistribusikan dengan cepat merupakan ciri dari LKM P engentasan kemiskinan dapat dilaksanakan melalui banyak sarana dan program, termasuk didalamnya adalah program pangan, kesehatan, pemukiman, pendidikan, keluarga berencana dan tentu saja adalah melalui pinjaman dalam bentuk micro credi t ( Marguiret Robinson , 2000) LKM & Penanggulangan Kemiskinan (1)
  • 14.
    Lanjutan ... Menurut Krisnamurthi (2003), Keuangan mikro dapat menjadi faktor kritikal dalam usaha penanggulangan kemiskinan yang efektif. Peningkatan akses dan pengadaan sarana penyimpanan, pembiayaan dan asuransi yang efisien dapat membangun keberdayaan kelompok miskin dan peluang mereka untuk keluar dari kemiskinan, melalui : tingkat konsumsi yang lebih pasti dan tidak be r fluktuasi, mengelola resiko dengan lebih baik, secara bertahap memiliki kesempatan untuk membangun aset, mengembangkan kegiatan usaha mikronya, menguatkan kapasistas perolehan pendapatannya, dan dapat merasakan tingkat hidup yang lebih baik LKM & Penanggulangan Kemiskinan (2)
  • 15.
    Secara spesifik dalamkonteks pembangunan ekonomi pedesaan yang masih didominasi oleh sektor pertanian, potensi yang dapat diperankan LKM dalam memacu pertumbuhan ekonomi sangat besar. Menurut Ashari (2006), s etidaknya ada lima alasan untuk mendukung argumen tersebut , yaitu : LKM umumnya berada atau minimal dekat dengan kawasan pedesaan sehingga dapat dengan mudah diakses oleh petani/pelaku ekonomi di desa. Petani/masyarakat desa lebih menyukai proses yang singkat dan tanpa banyak prosedur. Karakteristik usahatani umumnya membutuhkan platfond kredit yang tidak terlalu besar sehingga sesuai dengan kemampuan finansial LKM. D ekatnya lokasi LKM dan petani memungkinkan pengelola LKM memahami betul karakteristik usahatani sehingga dapat mengucurkan kredit secara tepat waktu dan jumlah; dan Adanya keterkaitan socio-cultural serta hubungan yang bersifat personal emosional diharapkan dapat mengurangi sifat moral hazard dalam pengembalian kredit.
  • 16.
    Referensi Arsyad, Lincolin.2006. How do Microfinance Institutions Cope with Risk and Uncertainty?. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Volume 21, No. 1, pp. 22 – 36. Arsyad, Lincolin. 2005. Institutions do Really Matter : Lessons from Village Credit Institutions of Bali. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Volume 20, No. 2, pp. 105 – 119. Ashari. 2006. Potensi Lembaga Keuangan Mikro (LKM) dalam Pembangunan Ekonomi Pedesaan dan Kebijakan. Jurnal Analisis Kebijakan Pertanian, Volume 4, No. 2, hal. 146 – 164. BPS. 2005. Pakpak Bharat dalam Angka. BPS, Dairi, Sumut. Jaya, Wihana Kirana. 2006. Peran Institusi dalam Pertumbuhan Ekonomi. PANGSA – Jurnal Ekonomi dan Pembangunan, Edisi 13/XII/2006, hal. 03 – 18. Kurniadi, Titus K.. 2002. Keuangan Mikro Sebagai Salah Satu Cara Efektif untuk Mengentaskan Kemiskinan dan Menggerakkan Ekonomi Rakyat. Jurnal Ekonomi Rakyat, Artikel – Th. I – No. 5. http://www.ekonomirakyat.org Krishnamurti, Bayu. 2003. Pengembangan Keuangan Mikro dan Penanggulangan Kemiskinan. Jurnal Ekonomi Rakyat, Artikel – Th. II – No. 2. http://www.ekonomirakyat.org North, Douglas C.. 1991. Institutions. Journal of Economic Perspectives, Volume 5, No. 1, pp. 97 – 112. Saragih, Bungaran. 2001. Agribisnis : Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian . Editor : Rachmat Pambudy dkk.. Yayasan Mulia Persada Indonesia dan PT. Surveyor Indonesia bekerjasama dengan Pusat Studi Pembangunan IPB, Bogor. Yustika, Ahmad Erani. 2006. Ekonomi Kelembagaan – Definisi, Teori dan Strategi. Edisi Pertama. Bayumedia Publishing, Malang.
  • 17.
    Terima Kasih Sekian& Njuah-njuah