RANJAU MENTAL, PENGHAMBAT PERKEMBANGAN ANAK


Anak. Karunia terbesar yang diberikan Allah kepada sepasang insan yang Dia percaya agar
menjadikan anak itu mencintai sesama dan mengenal Penciptanya serta patuh pada
aturanNya. Keberhasilan anak juga menjadi bukti keimanan orang tua-nya. Tanpa orang tua
yang tahu dan paham betul bagaimana sang anak seharusnya di didik, anak hanya akan
menjadi pengikut lingkungan atau social society-nya. Jika lingkungannya baik, maka itu
adalah keberuntungan tetapi jika buruk, maka itulah keniscayaan yang hanya bisa dinetralisir
dalam lingkungan keluarga.


Keluarga sendiri diartikan sebagai unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala
keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap
dalam keadaan saling ketergantungan (Depkes 1998). Adanya sifat ketergantungan dalam
keluarga, menunjukkan sebuah keadaan timbal balik dalam proses interkasi keluarga antara
ayah, ibu, dan anak. Bukan searah dari orang dewasa dalam hal ini orang tua ke anak.
Dewasa ini, di tengah sibuknya para orang tua mencukupi kebutuhan hidup yang semakin
tinggi, seringkali banyak orang tua yang terjebak pada keadaan dimana anak hanya mengikuti
“perintah” tanpa diskusi atau intrupsi keputusan orang tua bahkan untuk sesuatu yang
menyangkut dengan diri anak sendiri.


Hal ini di suatu titik mungkin ada benarnya. Karna setiap orang tua pasti menginginkan yang
terbaik untuk sang anak. Tetapi kadang di sisi lain tanpa kita sadari, ke-otoriter-an kita dan
sikap tak ada intrupsi membuat ranjau mental bagi anak yang selanjutnya menjadi aspek yang
justru menjadi penghambat kemajuan dan perkembangan anak. Ada beberapa ranjau mental
yang tidak disadari para orang tua diterapkan dalam interkasi orang tua-anak yang dapat
menjadi penghambat bagi perkembangan anak:


   1. Harus menjadi yang terbaik dalam segala hal. Perangkap atau ranjau mental ini
       tertanam ke dalam benak buah hati setiap kali kita menerima hasil yang kurang
       memuaskan dari aktivitas yang mereka lakukan. Misalnya anak yang dituntut harus
       mendapat nilai 100 untuk setiap ulangan, tidak 100 maka tidak bagus. Apabila ranjau
       mental ini menjadi suatu keyakinan dalam diri anak akan menyebabkan rasa percaya
       diri anak mengalami erosi yang sangat drastis. Sangat tidak mungkin bagi seorang
anak menjadi „yang terbaik‟ dalam segala hal. Sempurna. Bukan hanya karena kita
   „tak mungkin sempurna‟ tapi belajar menghargai proses anak dalam mendapatkan
   hasil juga penting. Anak yang merasa tidak menjadi yang terbaik dengan segera akan
   meyakini bahwa ia telah mengecawakan orang tua dan diri sendiri. Beberapa orang
   dewasa yang telah tertanam ranjau ini pada saat masa kanak-kanaknya sering menjadi
   mudah marah atau depresi ketika merasa tidak mampu memenuhi apa yang
   diharapkan oleh orang lain.


2. Harus Berprestasi. Keyakinan ini terbentuk akibat hasrat orang tua yang
   menginginkan bahkan cenderung memaksakan anak-anak mereka untuk melakukan
   segala hal yang mereka perintahkan. Kita semua tentu menginginkan anak-anak bisa
   dan sukses dan memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Tetapi hal yang penting untuk
   dimengerti adalah anak-anak mengalami kesulitan untuk membedakan antara
   menerima atau menolak. Dengan kata lain, penerimaan dari orang tua terhadap suatu
   prestasi yang dicapai anak bisa diinterpretasikan oleh anak sebagai rasa cinta terhadap
   mereka. Sebaliknya, penolakan terhadap sebuah tindakan dapat diartikan bahwa ia
   tidak dicintai lagi. Terutama bagi anak-anak yang berusia 10 tahun. Terlepas dari
   momen sukses atau gagal, anak-anak memang sangat butuh untuk tahu bahwa orang
   tua mereka mencintai dan menerima mereka. Singkatnya, orang tua harus mampu
   mengkomunikasikan cinta tanpa syarat yang berarti anak-anak mengetahui bahwa tak
   ada sesuatu pun yang pernah membuat orang tua mengambil kembali cinta kita
   kepada mereka. Kita bisa setuju atau tidak setuju dengan perilaku-perilaku tertentu.
   Namun, cinta orang tua terhadap anak tidak pernah berubah. Anak-anak yang secara
   konsisten merasakan cinta tanpa syarat dari orang tuanya akan merasa aman dan
   punya harga diri yang lebih tinggi.


3. Tidak Boleh Meluapkan Emosi Negatif. Orang sering menanam ranjau mental
   emosi-emosi negatif yang buruk dalam diri anak-anak karena mereka sendiri merasa
   tidak nyaman dengan ekspresi emosional tersebut. Akibatnya, orang tua yang
   demikian ini tidak bisa menjadi model atau peran yang baik bagi anak-anaknya.
   Ketidakmampuan mereka untuk mengekspresikan dan merespon dengan baik emosi-
   emosi yang kuat itu juga dikomunikasikan kepada anak-anak mereka. Akibatnya,
   orang tua seperti ini akan menghalangi pengungkapan rasa marah, takut, dan
   kelemahan anak. Kita tentu akrab dengan kalimat: “Anak laki-laki tidak boleh
cengeng”. Kalimat seperti ini sesungguhnya mencegah ekspresi emosional yang
   normal. Kalimat ini juga dapat terkomunikasikan kepada anak-anak bahwa mereka
   tidak punya hak untuk merasakan sebuh emosi atau mengkomunikasikan apa yang
   sedang mereka rasakan karena dianggap tidak terlalu penting.


4. Harus Berbuat Baik agar disukai Semua Orang. Tidak ada yang salah dengan
   mengajari anak anak-anak bersikap baik di depan orang lain. Bahkan sangat penting
   untuk mengajari anak kita agar mampu bergaul dan memenuhi keinginan orang yang
   punya otoritas (ketika itu diperlukan). Masalah akan muncul ketika pengajaran hanya
   sampai    di   situ.   Penting   untuk   mengimbangi     anak   dengan    pemahaman
   mengakomodasikan keinginan orang lain bahwa konflik bisa terjadi dan itu
   merupakan hal yang wajar dan normal terjadi. Lebih jauh, anak-anak kita perlu
   diajarkan cara mengekspresikan perasaan mereka dengan cara yang tepat agar mereka
   memiliki keyakinan pada diri sendiri pada saat mengekspresikan perasaan itu.
   Dampak dari anak-anak yang dibesarkan dengan pola pikir bahwa mereka harus
   menyenangkan semua orang akan dijejali dengan perasaan ragu, tidak percaya diri,
   dan sering merasa gelisah. Rasa harga diri anak selalu akan di bawah kendali orang
   lain. Para orang tua disarankan untk mengkomunikasikan kepada anak bahwa ada
   saatnya, ada konflik yang tidak diinginkan bisa saja terjadi dan kalaupun terjadi harus
   tetap teguh pada pendirian bahwa mereka berada di pihak yang benar.


5. Anak tidak boleh Berbuat Kesalahan. Membuat kesalahan adalah manusiawi.
   Suatu kenyataan yang tidak mengkin berubah sampai kapanpun. Anak-anak yang
   mengerti bahwa melakukan kesalahan adalah hal yang alami dan tidak bisa dihindari
   akan memiliki rasa penerimaan diri yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anak
   yang belum memahami arti kesalahan.


   Kelima ranjau mental ini berkorelasi positif dengan emosi anak. Emosi menjadi salah
   satu faktor penentu keberhasilan anak di segala bidang. Yang riil dapat kita lihat
   adalah mempengaruhi prestasi akademis anak. Kita semua akan tahu, seorang anak
   yang tidak percaya diri, ada dalam kondisi tertekan, dan tidak memiliki penerimaan
   diri yang baik akan sulit untuk belajar dengan baik. Karena motivasi dan semangat
   mereka hanya tertuju pada satu hal: mengikuti perintah orang tua. Bukan keinginan
   mereka.
Semoga arrtikel ini bermanfaat dan semoga kita mampu menjadi orang tua yang
senantiasa membuka komunikasi yang positif dan dua arah dengan anak-anak kita
tercinta.


                                                           Bogor, 02 Juli 2011


                                                           Syifa Fauziah, S.Si
                                          Bimbingan Konseling Bintang Pelajar
                                        Family and Consumer Science, IPB 2006

Ranjau mental

  • 1.
    RANJAU MENTAL, PENGHAMBATPERKEMBANGAN ANAK Anak. Karunia terbesar yang diberikan Allah kepada sepasang insan yang Dia percaya agar menjadikan anak itu mencintai sesama dan mengenal Penciptanya serta patuh pada aturanNya. Keberhasilan anak juga menjadi bukti keimanan orang tua-nya. Tanpa orang tua yang tahu dan paham betul bagaimana sang anak seharusnya di didik, anak hanya akan menjadi pengikut lingkungan atau social society-nya. Jika lingkungannya baik, maka itu adalah keberuntungan tetapi jika buruk, maka itulah keniscayaan yang hanya bisa dinetralisir dalam lingkungan keluarga. Keluarga sendiri diartikan sebagai unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan (Depkes 1998). Adanya sifat ketergantungan dalam keluarga, menunjukkan sebuah keadaan timbal balik dalam proses interkasi keluarga antara ayah, ibu, dan anak. Bukan searah dari orang dewasa dalam hal ini orang tua ke anak. Dewasa ini, di tengah sibuknya para orang tua mencukupi kebutuhan hidup yang semakin tinggi, seringkali banyak orang tua yang terjebak pada keadaan dimana anak hanya mengikuti “perintah” tanpa diskusi atau intrupsi keputusan orang tua bahkan untuk sesuatu yang menyangkut dengan diri anak sendiri. Hal ini di suatu titik mungkin ada benarnya. Karna setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk sang anak. Tetapi kadang di sisi lain tanpa kita sadari, ke-otoriter-an kita dan sikap tak ada intrupsi membuat ranjau mental bagi anak yang selanjutnya menjadi aspek yang justru menjadi penghambat kemajuan dan perkembangan anak. Ada beberapa ranjau mental yang tidak disadari para orang tua diterapkan dalam interkasi orang tua-anak yang dapat menjadi penghambat bagi perkembangan anak: 1. Harus menjadi yang terbaik dalam segala hal. Perangkap atau ranjau mental ini tertanam ke dalam benak buah hati setiap kali kita menerima hasil yang kurang memuaskan dari aktivitas yang mereka lakukan. Misalnya anak yang dituntut harus mendapat nilai 100 untuk setiap ulangan, tidak 100 maka tidak bagus. Apabila ranjau mental ini menjadi suatu keyakinan dalam diri anak akan menyebabkan rasa percaya diri anak mengalami erosi yang sangat drastis. Sangat tidak mungkin bagi seorang
  • 2.
    anak menjadi „yangterbaik‟ dalam segala hal. Sempurna. Bukan hanya karena kita „tak mungkin sempurna‟ tapi belajar menghargai proses anak dalam mendapatkan hasil juga penting. Anak yang merasa tidak menjadi yang terbaik dengan segera akan meyakini bahwa ia telah mengecawakan orang tua dan diri sendiri. Beberapa orang dewasa yang telah tertanam ranjau ini pada saat masa kanak-kanaknya sering menjadi mudah marah atau depresi ketika merasa tidak mampu memenuhi apa yang diharapkan oleh orang lain. 2. Harus Berprestasi. Keyakinan ini terbentuk akibat hasrat orang tua yang menginginkan bahkan cenderung memaksakan anak-anak mereka untuk melakukan segala hal yang mereka perintahkan. Kita semua tentu menginginkan anak-anak bisa dan sukses dan memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Tetapi hal yang penting untuk dimengerti adalah anak-anak mengalami kesulitan untuk membedakan antara menerima atau menolak. Dengan kata lain, penerimaan dari orang tua terhadap suatu prestasi yang dicapai anak bisa diinterpretasikan oleh anak sebagai rasa cinta terhadap mereka. Sebaliknya, penolakan terhadap sebuah tindakan dapat diartikan bahwa ia tidak dicintai lagi. Terutama bagi anak-anak yang berusia 10 tahun. Terlepas dari momen sukses atau gagal, anak-anak memang sangat butuh untuk tahu bahwa orang tua mereka mencintai dan menerima mereka. Singkatnya, orang tua harus mampu mengkomunikasikan cinta tanpa syarat yang berarti anak-anak mengetahui bahwa tak ada sesuatu pun yang pernah membuat orang tua mengambil kembali cinta kita kepada mereka. Kita bisa setuju atau tidak setuju dengan perilaku-perilaku tertentu. Namun, cinta orang tua terhadap anak tidak pernah berubah. Anak-anak yang secara konsisten merasakan cinta tanpa syarat dari orang tuanya akan merasa aman dan punya harga diri yang lebih tinggi. 3. Tidak Boleh Meluapkan Emosi Negatif. Orang sering menanam ranjau mental emosi-emosi negatif yang buruk dalam diri anak-anak karena mereka sendiri merasa tidak nyaman dengan ekspresi emosional tersebut. Akibatnya, orang tua yang demikian ini tidak bisa menjadi model atau peran yang baik bagi anak-anaknya. Ketidakmampuan mereka untuk mengekspresikan dan merespon dengan baik emosi- emosi yang kuat itu juga dikomunikasikan kepada anak-anak mereka. Akibatnya, orang tua seperti ini akan menghalangi pengungkapan rasa marah, takut, dan kelemahan anak. Kita tentu akrab dengan kalimat: “Anak laki-laki tidak boleh
  • 3.
    cengeng”. Kalimat sepertiini sesungguhnya mencegah ekspresi emosional yang normal. Kalimat ini juga dapat terkomunikasikan kepada anak-anak bahwa mereka tidak punya hak untuk merasakan sebuh emosi atau mengkomunikasikan apa yang sedang mereka rasakan karena dianggap tidak terlalu penting. 4. Harus Berbuat Baik agar disukai Semua Orang. Tidak ada yang salah dengan mengajari anak anak-anak bersikap baik di depan orang lain. Bahkan sangat penting untuk mengajari anak kita agar mampu bergaul dan memenuhi keinginan orang yang punya otoritas (ketika itu diperlukan). Masalah akan muncul ketika pengajaran hanya sampai di situ. Penting untuk mengimbangi anak dengan pemahaman mengakomodasikan keinginan orang lain bahwa konflik bisa terjadi dan itu merupakan hal yang wajar dan normal terjadi. Lebih jauh, anak-anak kita perlu diajarkan cara mengekspresikan perasaan mereka dengan cara yang tepat agar mereka memiliki keyakinan pada diri sendiri pada saat mengekspresikan perasaan itu. Dampak dari anak-anak yang dibesarkan dengan pola pikir bahwa mereka harus menyenangkan semua orang akan dijejali dengan perasaan ragu, tidak percaya diri, dan sering merasa gelisah. Rasa harga diri anak selalu akan di bawah kendali orang lain. Para orang tua disarankan untk mengkomunikasikan kepada anak bahwa ada saatnya, ada konflik yang tidak diinginkan bisa saja terjadi dan kalaupun terjadi harus tetap teguh pada pendirian bahwa mereka berada di pihak yang benar. 5. Anak tidak boleh Berbuat Kesalahan. Membuat kesalahan adalah manusiawi. Suatu kenyataan yang tidak mengkin berubah sampai kapanpun. Anak-anak yang mengerti bahwa melakukan kesalahan adalah hal yang alami dan tidak bisa dihindari akan memiliki rasa penerimaan diri yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anak yang belum memahami arti kesalahan. Kelima ranjau mental ini berkorelasi positif dengan emosi anak. Emosi menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan anak di segala bidang. Yang riil dapat kita lihat adalah mempengaruhi prestasi akademis anak. Kita semua akan tahu, seorang anak yang tidak percaya diri, ada dalam kondisi tertekan, dan tidak memiliki penerimaan diri yang baik akan sulit untuk belajar dengan baik. Karena motivasi dan semangat mereka hanya tertuju pada satu hal: mengikuti perintah orang tua. Bukan keinginan mereka.
  • 4.
    Semoga arrtikel inibermanfaat dan semoga kita mampu menjadi orang tua yang senantiasa membuka komunikasi yang positif dan dua arah dengan anak-anak kita tercinta. Bogor, 02 Juli 2011 Syifa Fauziah, S.Si Bimbingan Konseling Bintang Pelajar Family and Consumer Science, IPB 2006