PLURALISME AGAMA
STUDI KASUS DALAM KONFLIK –
KONFLIK AGAMA
KELOMPOK 5
DINI INDRA MULIANI
FATWAL ISLAMIAH
SYARIFA NADHRAH M
NURJAYANTI SEKAR ANDINI
INDILA MAULVI
Apakah itu PLURALISME?
Paham yang mentoleransi adanya
keragaman
pemikiran, peradaban, agama, d
an budaya. Bukan hanya
menoleransi adanya keragaman
pemahaman tersebut, tetapi
bahkan mengakui kebenaran
masing-masing pemahaman
konsepPLURALITAS AGAMA
yang mempunyai makna yang luas, berkaitan
dengan penerimaan terhadap agama-agama yang
berbeda, dan dipergunakan dalam cara yang
berlainan
Latar Belakang Munculnya Gerakan
Pluralisme
Paham ini muncul akibat reaksi dari tumbuhnya klaim
kebenaran oleh masing-masing kelompok terhadap
pemikirannya sendiri. Konflik horisantal antar pemeluk
agama hanya akan selesai jika masing-masing agama
tidak menganggap bahwa ajaran agama meraka yang
paling benar. Itulah tujuan akhir dari gerakan
pluralisme yaitu untuk menghilangkan keyakinan akan
klaim kebenaran agama dan paham yang dianut,
sedangkan yang lain salah. Bagi para penggiat
pluralisme dari kalangan kaum muslimin mereka pun
menggunakan ayat-ayat yang mengandung gagasan
pluralisme. Di antara ayat yang sering mereka
gunakan adalah:
256. tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama
(Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar
daripada jalan yang sesat. karena itu Barangsiapa
yang ingkar kepada Thaghut[162] dan beriman
kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah
berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang
tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi
Maha mengetahui.
Bantahan Islam Atas Argumen
Pluralisme
Jika ayat sebelumnya dibaca dengan tuntas maka akan
jelas, tidak ada paksaan karena telah jelas yang benar
dan yang salah, islam itulah yang benar dan yang
lainnya adalah salah. Masing-masing bebas memilih
dengan resiko sendiri-sendiri. Adapun kaum pluralis
dalam memaksakan pemahamannya tak jarang
memotong ayat tidak pada tempatnya sehingga
seolah-olah benar padahal tidak benar. Jika dilihat
ayat 62 surat al-Baqarah, sekilas memang ayat ini
menjelaskan bahwa orang Yahudi jika tetap beriman
dan beramal shaleh akan masuk surga. Orang
Nasrani, orang Shabi’in, selama tetap beriman dan
beramal shaleh ia akan masuk surga.
Surah Ali-Imran (85)

“Barang siapa mencari agama selain Islam, maka
sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)
daripadanya, dan dia di akherat termasuk orang-orang
yang merugi.”
Seandainya ide pluralisme agama ini memang diakui di dalam
Islam, berarti, tidak ada satupun orang yang dikatakan kafir.
Tetapi al-qur’an dengan sangat tegas menyebut orang ahlikitab
yang tidak menerima Islam dengan sebutan kafir. Firman Allah.
Padahal telah disebutkan dalam surah Al-Bayyinah ayat 6 yaitu:

“Sesungguhnya orang-orang kafir dari golongan ahli kitab dan
orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam;
mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburukburuknya mahluk.”
Dalam ajaran Islam, aktivitas kehidupan manusia dalam bentuk
olah akal budi nuraninya harus dibimbing oleh wahyu. Akal budi nurani
manusia memiliki keterbatasan dan dipengaruhi oleh pengalaman, baik
pengalaman pribadi maupun masyarakat.

Sejak awal manusia dilahirkan , Allah Yang Maha Tahu akan
keterbatasan manusia menurunkan wahyu sebagai pembimbing arah
olah akal budi manusia tersebut, agar tidak berkembang dan melahirkan
kebudayaan- peradaban yang bertentangan dengan nilai-nilai universal
kebudayaan yang dianggap menguntungkan sekelompok masyarakat
tertentutetapi merugikan kelompok masyarakat yang lainnya.
Dalam perkembangannya perlu dibimbing oleh wahyu dan
aturan-aturan yang mengikat agar tidak terperangkap pada ambisi yang
bersumber dari nafsu hewani sehingga akan merugikan dirinya sendiri.
Di sini agama berfungsi untuk membimbing manusia dalam
mengembangkan akal budinya sehingga menghasilkan kebudayaan yang
sesuai dengan petunjuk Allah, yang tidak melepaskan diri dari nilai-nilai
ketuhanan yang beradab atau peradaban Islam.
Pluralitas dalam Beragama di
Indonesia
Sebenarnya sejak awal Orde Baru hingga sekarang -baik atas prakarsa pemerintah maupun masyarakat
beragama itu sendiri-- dialog antar umat beragama
telah dibangun, bahkan menjadi agenda nasional demi
terciptanya stabilitas keamanan serta lancarnya
pembangunan
• Pada dekade tahun 1980-an hingga saat ini prakarsa
dialog dalam mewujudkan kerukunan antarumat
beragama dan sosialisasi pemahaman pluralisme ini
pun terus dilakukan, baik oleh para tokoh agama,
intelektual muda maupun pemerintah sendiri
• Tapi kenyataannya sampai sekarang, ketegangan dan
kerusuhan yang disebabkan oleh sentimen
keagamaan (Islam-Kristen) di beberapa daerah
• Dalam rangka membina dan memlihara kerukunan
antar umat beragama di Indonesia, pemerintah telah
mencarikan jalan keluar melalui pelbagai cara dan
upaya, antara lain dengan menyelenggarakan dialog
antartokoh agama; memfungsikan pranata-pranata
agama sebagai media penyalur gagasan dan ide.
Meninggalnya Gus Dur menjadi momen penting
bagi para penyokong ajaran pluralisme untuk kembali
menggiatkan kampanyenya mengusung gagasannya.
Salah satu agenda penting yang akan digoalkan saat ini
adalah menjadikan Gus Dur sebagai pahlawan
Nasional, karena jasa-jasanya dalam membangun
persatuan bangsa. Sebagian lagi menganggapnya
sebagai “Bapak Pluralisme”, tak main-main yang
mengatakan demikian adalah presiden SBY. Padahal, di
sisi lain, MUI telah berfatwa tentang haramnya
pemahaman pluralisme ini.
Realitas di atas menunjukkan bahwa pemikiran
pluralisme semakin diterima secara luas di masyarakat.
Padahal sekali lagi, pemikiran itu tidak sejalan dengan
ajaran islam.
Kesimpulan
Pluralisme adalah paham sesat yang bertentangan dengan
aqidah Islam. Islam mengajarkan keyakinan bahwa islam
sajalah agama yang benar, yang diridhai Allah. Orang yang
masih mencari agama selain Islam, ia akan rugi, karena
amalnya tidak diterima oleh Allah. Siapapun yang mengakui
kebenaran agama selain Islam, atau menyakini bahwa orang
Yahudi dan Nashrani masuk ke surga, maka dia telah
mengingkari ayat-ayat al-Qur’an yang tegas dan jelas.
Pengingkaran tersebut berakibat pada batalnya keislaman
seseorang. Sesungguhnya dalam Islam yang dikenal adalah
istilah saling menghormati antar sesama umat
beragama, bukannya membenarkan semua agama yang ada
seperti Islam. Islam hanya mengakui adanya agama dan
keyakinan di luar agama islam, serta mengakui adanya
identitas agama-agama selain Islam.

Pluralisme agama

  • 1.
    PLURALISME AGAMA STUDI KASUSDALAM KONFLIK – KONFLIK AGAMA
  • 2.
    KELOMPOK 5 DINI INDRAMULIANI FATWAL ISLAMIAH SYARIFA NADHRAH M NURJAYANTI SEKAR ANDINI INDILA MAULVI
  • 3.
    Apakah itu PLURALISME? Pahamyang mentoleransi adanya keragaman pemikiran, peradaban, agama, d an budaya. Bukan hanya menoleransi adanya keragaman pemahaman tersebut, tetapi bahkan mengakui kebenaran masing-masing pemahaman
  • 4.
    konsepPLURALITAS AGAMA yang mempunyaimakna yang luas, berkaitan dengan penerimaan terhadap agama-agama yang berbeda, dan dipergunakan dalam cara yang berlainan
  • 5.
    Latar Belakang MunculnyaGerakan Pluralisme Paham ini muncul akibat reaksi dari tumbuhnya klaim kebenaran oleh masing-masing kelompok terhadap pemikirannya sendiri. Konflik horisantal antar pemeluk agama hanya akan selesai jika masing-masing agama tidak menganggap bahwa ajaran agama meraka yang paling benar. Itulah tujuan akhir dari gerakan pluralisme yaitu untuk menghilangkan keyakinan akan klaim kebenaran agama dan paham yang dianut, sedangkan yang lain salah. Bagi para penggiat pluralisme dari kalangan kaum muslimin mereka pun menggunakan ayat-ayat yang mengandung gagasan pluralisme. Di antara ayat yang sering mereka gunakan adalah:
  • 6.
    256. tidak adapaksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut[162] dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.
  • 7.
    Bantahan Islam AtasArgumen Pluralisme Jika ayat sebelumnya dibaca dengan tuntas maka akan jelas, tidak ada paksaan karena telah jelas yang benar dan yang salah, islam itulah yang benar dan yang lainnya adalah salah. Masing-masing bebas memilih dengan resiko sendiri-sendiri. Adapun kaum pluralis dalam memaksakan pemahamannya tak jarang memotong ayat tidak pada tempatnya sehingga seolah-olah benar padahal tidak benar. Jika dilihat ayat 62 surat al-Baqarah, sekilas memang ayat ini menjelaskan bahwa orang Yahudi jika tetap beriman dan beramal shaleh akan masuk surga. Orang Nasrani, orang Shabi’in, selama tetap beriman dan beramal shaleh ia akan masuk surga.
  • 8.
    Surah Ali-Imran (85) “Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akherat termasuk orang-orang yang merugi.”
  • 9.
    Seandainya ide pluralismeagama ini memang diakui di dalam Islam, berarti, tidak ada satupun orang yang dikatakan kafir. Tetapi al-qur’an dengan sangat tegas menyebut orang ahlikitab yang tidak menerima Islam dengan sebutan kafir. Firman Allah. Padahal telah disebutkan dalam surah Al-Bayyinah ayat 6 yaitu: “Sesungguhnya orang-orang kafir dari golongan ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburukburuknya mahluk.”
  • 10.
    Dalam ajaran Islam,aktivitas kehidupan manusia dalam bentuk olah akal budi nuraninya harus dibimbing oleh wahyu. Akal budi nurani manusia memiliki keterbatasan dan dipengaruhi oleh pengalaman, baik pengalaman pribadi maupun masyarakat. Sejak awal manusia dilahirkan , Allah Yang Maha Tahu akan keterbatasan manusia menurunkan wahyu sebagai pembimbing arah olah akal budi manusia tersebut, agar tidak berkembang dan melahirkan kebudayaan- peradaban yang bertentangan dengan nilai-nilai universal kebudayaan yang dianggap menguntungkan sekelompok masyarakat tertentutetapi merugikan kelompok masyarakat yang lainnya. Dalam perkembangannya perlu dibimbing oleh wahyu dan aturan-aturan yang mengikat agar tidak terperangkap pada ambisi yang bersumber dari nafsu hewani sehingga akan merugikan dirinya sendiri. Di sini agama berfungsi untuk membimbing manusia dalam mengembangkan akal budinya sehingga menghasilkan kebudayaan yang sesuai dengan petunjuk Allah, yang tidak melepaskan diri dari nilai-nilai ketuhanan yang beradab atau peradaban Islam.
  • 11.
    Pluralitas dalam Beragamadi Indonesia Sebenarnya sejak awal Orde Baru hingga sekarang -baik atas prakarsa pemerintah maupun masyarakat beragama itu sendiri-- dialog antar umat beragama telah dibangun, bahkan menjadi agenda nasional demi terciptanya stabilitas keamanan serta lancarnya pembangunan • Pada dekade tahun 1980-an hingga saat ini prakarsa dialog dalam mewujudkan kerukunan antarumat beragama dan sosialisasi pemahaman pluralisme ini pun terus dilakukan, baik oleh para tokoh agama, intelektual muda maupun pemerintah sendiri
  • 12.
    • Tapi kenyataannyasampai sekarang, ketegangan dan kerusuhan yang disebabkan oleh sentimen keagamaan (Islam-Kristen) di beberapa daerah • Dalam rangka membina dan memlihara kerukunan antar umat beragama di Indonesia, pemerintah telah mencarikan jalan keluar melalui pelbagai cara dan upaya, antara lain dengan menyelenggarakan dialog antartokoh agama; memfungsikan pranata-pranata agama sebagai media penyalur gagasan dan ide.
  • 13.
    Meninggalnya Gus Durmenjadi momen penting bagi para penyokong ajaran pluralisme untuk kembali menggiatkan kampanyenya mengusung gagasannya. Salah satu agenda penting yang akan digoalkan saat ini adalah menjadikan Gus Dur sebagai pahlawan Nasional, karena jasa-jasanya dalam membangun persatuan bangsa. Sebagian lagi menganggapnya sebagai “Bapak Pluralisme”, tak main-main yang mengatakan demikian adalah presiden SBY. Padahal, di sisi lain, MUI telah berfatwa tentang haramnya pemahaman pluralisme ini. Realitas di atas menunjukkan bahwa pemikiran pluralisme semakin diterima secara luas di masyarakat. Padahal sekali lagi, pemikiran itu tidak sejalan dengan ajaran islam.
  • 14.
    Kesimpulan Pluralisme adalah pahamsesat yang bertentangan dengan aqidah Islam. Islam mengajarkan keyakinan bahwa islam sajalah agama yang benar, yang diridhai Allah. Orang yang masih mencari agama selain Islam, ia akan rugi, karena amalnya tidak diterima oleh Allah. Siapapun yang mengakui kebenaran agama selain Islam, atau menyakini bahwa orang Yahudi dan Nashrani masuk ke surga, maka dia telah mengingkari ayat-ayat al-Qur’an yang tegas dan jelas. Pengingkaran tersebut berakibat pada batalnya keislaman seseorang. Sesungguhnya dalam Islam yang dikenal adalah istilah saling menghormati antar sesama umat beragama, bukannya membenarkan semua agama yang ada seperti Islam. Islam hanya mengakui adanya agama dan keyakinan di luar agama islam, serta mengakui adanya identitas agama-agama selain Islam.