B a g i a n 1
YAYA N B U N YA M I N
“Sesungguhnya jam’iyyah NU ini adalah jam’iyyah yang
memperjuangkan keadilan dan kemaslahatan, membangun kedamaian
dan kebajikan untuk seluruh umat. Maka jam’iyyah NU ini akan terasa
manis di mulut orang-orang yang baik, tetapi terasa menyumbat di
kerongkongan orang-orang yang jahat.
Qanun Asasi Nahdlatul Ulama
Sebelum Nahdlatul Ulama berdiri (hari
Kamis Legi, 16 Rajab 1344 H/31 Januari
1926 M) para ulama pesantren telah
berperan mendirikan beberapa
organisasi/perhimpunan (cikal bakal NU)
dengan KH. Wahab Hasbullah sebagai
inisiatornya seperti:
Nahdlatul Wathan
Nahdlatut Tujjar
Taswirul Afkar
Napak Tilas Berdirinya
NU
Nahdlatul Wathan yang dimaksud di sini bukan Nahdlatul Wathan yang
didirikan oleh Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid di
Lombok pada tahun 1953.
Pada tahun 1916 KH. Wahab Hasbullah mendirikan Nahdlatul Wathan
(Kebangkitan Tanah Air), sebuah lembaga pendidikan untuk
menanamkan nasionalisme di kalangan generasi muda (khususnya para
santri).
KH. Wahab Hasbullah sebagai Pimpinan Dewan Guru, H. Abdul Kahar
sebagai direktur dan KH. Mas Mansur sebagai Kepala Sekolah dibantu
oleh KH. Ridwan Abdullah.
Sebelum memulai kegiatan belajar mengajar para siswa menyanyikan
sebuah lagu yang ditulis oleh KH. Wahab Hasbullah, Ya Ahlal
Wathan/Subbanul Wathan, sebagai sarana menanamkan nasionalisme.
(Choirul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama, hal. 25-
26)
Nahdlatul Wathan
Dua versi lirik Subbanul Wathan
Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan para Pedagang) berdiri atas inisiatif KH.
Wahab Hasbullah (atas restu KH. Hasyim Asy’ari) pada tahun 1918. KH.
Hasyim bertindak sebagai ketua dan KH. Wahab sebagai sekretarisnya.
Nahdlatut Tujjar (NT) ini didirikan karena;
lemahnya kemampuan ekonomi ulama sebagai pendukung suksesnya
dakwah yang dijalankan, sehingga mau tidak mau harus dibentuk
sebuah lembaga ekonomi yang mendukungnya. Alasan lain pendirian
adalah pendidikan yang didominasi sekolah Belanda yang tidak
memberi nilai apa-apa bagi pendidikan agama sehingga perlu dibentuk
lembaga pendidikan Islam yang mampu dibiayai sendiri oleh kalangan
pribumi.
Koperasi inilah yang mengumpulkan dana untuk memberangkatkan
Komite Hijaz kelak. Ketika NU berdiri, maka dengan sendirinya lembaga
ini melebur dalam NU.
Nahdlatut Tujjar
Piagam Nahdlatut Tujjar
Setelah Nahdlatul Wathan tebentuk, KH. Wahab Chasbullah dan KH.
Mas Mansur mendirikan Taswirul Afkar (bertukar pikiran). Sebuah
perkumpulan yang bergerak di bidang sosial, pendidikan, dan dakwah.
KH. Ahmad Dahlan (seorang pengasuh pondok Kebondalem, bukan
sang pendiri Muhammadiyah), dan R. Mangun (anggota perhimpunan
Budi Utomo). Seperti juga namanya, Taswirul Afkar lahir melalui
diskusi-diskusi kecil diantara para pendiri mengenai berbagai masalah
keagamaan dan kemasyarakatan yang timbul kala itu.
Sejak didirikan pada tahun 1918 hingga tahun 1929, nama yang tertulis
di papan pengenal adalah Suryo Sumirat Afdeeling Taswirul Afkar. Ini
menunjukkan bahwa, secara organisatoris pada awal mula Taswirul
Afkar tidak berdiri sendiri, tapi merupakan bagian dari Suryo Sumirat
sebuah perkumpulan yang didirikan oleh anggota perhimpunan Budi
Utomo yang ada di Surabaya.
Taswirul Afkar
Sejak Ibnu Saud, Raja Najed yang beraliran Wahabi, menaklukkan Hijaz
(Mekkah dan Madinah) tahun 1924-1925, aliran Wahabi sangat
dominan di tanah Haram. Kelompok Islam lain dilarang mengajarkan
mazhabnya, bahkan tidak sedikit para ulama yang dibunuh.
Saat itu terjadi eksodus besar-besaran para ulama dari seluruh dunia
yang berkumpul di Haramain, mereka pindah atau pulang ke negara
masing-masing, termasuk para santri asal Indonesia.
Dengan alasan untuk menjaga kemurnian agama dari musyrik dan
bid’ah, berbagai tempat bersejarah, baik rumah Nabi Muhammad dan
sahabat termasuk makam Nabi hendak dibongkar. Dalam kondisi
seperti itu umat Islam Indonesia yang berhaluan Ahlussunnah wal
Jamaah merasa sangat perihatin kemudian mengirimkan utusan
menemui Raja Ibnu Saud. Utusan inilah yang kemudian disebut dengan
Komite Hijaz.
Komite Hijaz
Deklarasi Komite Hijaz
Berangkat dari Komite Hijaz dan berbagai organisasi yang bersifat embrional di
atas, maka setelah itu dirasa perlu untuk membentuk organisasi yang lebih
mencakup dan lebih sistematis, untuk mengantisipasi perkembangan zaman.
Maka setelah berkordinasi dengan berbagai kiai, akhirnya muncul kesepakatan
untuk membentuk organisasi para ulama pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari
1926).
Berdirinya NU
Kala itu setidaknya ada dua usulan untuk nama organisasi ini.
Kedua nama ini secara prinsip sebenarnya sama namun memiliki
implikasi yang berbeda. KH Abdul Hamid dari Sedayu Gresik
mengusulkan nama Nuhudlul Ulama disertai penjelasan bahwa
para ulama mulai bersiap-siap akan bangkit melalui perwadahan
formal tersebut. Pendapat ini disambut oleh KH Mas Alwi bin
Abdul Aziz dengan sebuah sanggahan. Menurutnya, kebangkitan
bukan lagi mulai atau akan bangkit. Melainkan, kebangkitan itu
sudah berlangsung sejak lama hanya saja belum terorganisir
secara rapi.
Melalui argumentasi itu, Kiai Mas Alwi mengajukan usul agar
jam’iyyah ulama itu diberi nama Nahdlatul Ulama (kebangkitan
ulama), yang pengertiannya lebih condong pada “gerakan
serentak para ulama dalam suatu pengarahan, atau, gerakan
bersama-sama yang terorganisasi”. Forum para kiai secara
aklamasi menerima usulan beliau.
NAHDLATUL WATHAN
(kebangkitan Tanah Air)
1916
TASWIRUL AFKAR
1918
NAHDLATUT TUJJAR
1918
KOMITE HIJAZ
Awal
1926
31 Januari 1926
Nama Delegasi Jam’iyah
Nahdlatul Ulama
1926
Alur
Kelahira
n NU
Pengurus Pertama NU
Dua bualan sebelum Muktamar NU ke-2 dilansungkan
(akan dibuka pada hari Ahad tanggal 12 Rabiul Tsani
1346/9 Oktober 1927), panitia meminta KH. Ridwan
Abdullah untuk membuat lambang organisasi para ulama
ini.
KH. Ridwan Abdullah beristikharah, memohon petunjuk
kepada Allah untuk lambang organisasi NU. Seminggu
sebelum pembukaan Muktamar dalam mimpinya beliau
melihat sesuatu yang begitu terbangun dari tidur beliau
membuat sketsa sambil mengingat-ingat gambar yang
beliau lihat dalam mimpi.
Makna Lambang NU
Makna Lambang NU
Pasal 4
Nahdlatul Ulama berpedoman kepada Al- Qur'an, As-Sunnah, Al-Ijma',
dan Al-Qiyas.
Pasal 5
Nahdlatul Ulama beraqidah Islam menurut faham Ahlusunnah wal
Jama'ah dalam bidang aqidah mengikuti madzhab Imam Abu Hasan Al-
Asy'ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi; dalam bidang fiqh
mengikuti salah satu dari Madzhab Empat (Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan
Hanbali); dan dalam bidang tasawuf mengikuti madzhab Imam al-
Junaid al-Bagdadi dan Abu Hamid al-Ghazali.
Pasal 6
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, Nahdlatul
Ulama berasas kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
PEDOMAN, AQIDAH DAN ASAS
Terwujudnya kemaslahatan masyarakat, kemajuan bangsa, dan
ketinggian harkat dan martabat manusia
Berlakunya ajaran Islam yang menganut faham Aswaja untuk
terwujudnya tatanan masyarakat yang berkeadilan demi kemaslahatan,
kesejahteraan umat, dan demi terciptanya rahmat bagi semesta.
Pasal 8
Tujuan NU Didirikan
Untuk mewujudkan tujuan sebagaimana pasal 8 di atas, maka NU melaksanakan
usaha-usaha sebagai berikut:
Di bidang agama, mengupayakan terlaksananya ajaran Islam yang menganut
paham Aswaja.
Di bidang pendidikan, pengajaran dan kebudayaan mengupayakan terwujudnya
penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran serta pengembangan kebudayaan
yang sesuai ajaran Islam untuk membina umat agar menjadi muslim yang
takwa, berbudi luhur, berpengetahuan luas, dan terampil serta berguna bagi
agama, bangsa, dan negara.
Di bidang sosial, mengupayakan dan mendorong pemberdayaan di bidang
kesehatan, kemaslahatan, dan ketahanan keluarga, dan pendampingan
masyarakat yang terpinggirkan (mustadl’afin).
Di bidang ekonomi, mengupayakan peningkatan pendapatan masyarakat dan
lapangan kerja atau usaha untuk kemakmuran yang merata.
Mengembangkan usaha-usaha lain melalui kerjasama dengan pihak dalam
maupun luar negeri yang bermanfaat bagi masyarakat banyak guna terwujudnya
khaira ummah.
Pasal 9
Ikhtiar dalam Mewujudkan Tujuan NU
Struktur Organisasi NU
NASIONAL PBNU
PROPINSI
KABUPATEN
KECAMATAN
DESA
SUB-DESA
PWNU
PCNU
MWC NU
RANTING
NU
ANAK
RANTING
LEMBAGA
MUSLIMAT - FATAYAT -
ANSOR
IPNU - IPPNU -PERGUNU
SARBUMUSI -PAGAR
NUSA – ISNU – PMII –
JATMAN – JQH
LAZISNU, LAKPESDAM,
LWP NU - LBM NU - RMI
- LKNU - LKKNU - LTN
NU
LTM NU - LDNU – LBH
NU – LPNU – LPPNU -
LP MAARIF, LESBUMI -
LPBI - LEMBAGA
FALAKIAH – LPT NU
BANOM
Bagaimana melalui mesin Jam’iyyah kita mampu
menggerakkan jama’ah
Warga
NU
RANTING NU
PBNU
PWNU
PCNU
MWCNU
“Marilah anda semua dan segenap pengikut anda dari
golongan fakir miskin, para hartawan, rakyat jelata, dan orang-
orang kuat berbondong-bondong masuk Jam’iyyah yang
diberi nama Jam’iyyah Nahdlatul Ulama ini. Masuklah dengan
penuh kecintaan, kasih sayang, rukun, bersatu, dan dengan
ikatan jiwa raga”.
(Mukaddimah Qanun Asasi NU)
LANJUT BAGIAN
2

PKD Ke-NU-an 1 Baru.pptx

  • 1.
    B a gi a n 1 YAYA N B U N YA M I N
  • 2.
    “Sesungguhnya jam’iyyah NUini adalah jam’iyyah yang memperjuangkan keadilan dan kemaslahatan, membangun kedamaian dan kebajikan untuk seluruh umat. Maka jam’iyyah NU ini akan terasa manis di mulut orang-orang yang baik, tetapi terasa menyumbat di kerongkongan orang-orang yang jahat. Qanun Asasi Nahdlatul Ulama
  • 3.
    Sebelum Nahdlatul Ulamaberdiri (hari Kamis Legi, 16 Rajab 1344 H/31 Januari 1926 M) para ulama pesantren telah berperan mendirikan beberapa organisasi/perhimpunan (cikal bakal NU) dengan KH. Wahab Hasbullah sebagai inisiatornya seperti: Nahdlatul Wathan Nahdlatut Tujjar Taswirul Afkar Napak Tilas Berdirinya NU
  • 4.
    Nahdlatul Wathan yangdimaksud di sini bukan Nahdlatul Wathan yang didirikan oleh Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid di Lombok pada tahun 1953. Pada tahun 1916 KH. Wahab Hasbullah mendirikan Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air), sebuah lembaga pendidikan untuk menanamkan nasionalisme di kalangan generasi muda (khususnya para santri). KH. Wahab Hasbullah sebagai Pimpinan Dewan Guru, H. Abdul Kahar sebagai direktur dan KH. Mas Mansur sebagai Kepala Sekolah dibantu oleh KH. Ridwan Abdullah. Sebelum memulai kegiatan belajar mengajar para siswa menyanyikan sebuah lagu yang ditulis oleh KH. Wahab Hasbullah, Ya Ahlal Wathan/Subbanul Wathan, sebagai sarana menanamkan nasionalisme. (Choirul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama, hal. 25- 26) Nahdlatul Wathan
  • 5.
    Dua versi lirikSubbanul Wathan
  • 6.
    Nahdlatut Tujjar (Kebangkitanpara Pedagang) berdiri atas inisiatif KH. Wahab Hasbullah (atas restu KH. Hasyim Asy’ari) pada tahun 1918. KH. Hasyim bertindak sebagai ketua dan KH. Wahab sebagai sekretarisnya. Nahdlatut Tujjar (NT) ini didirikan karena; lemahnya kemampuan ekonomi ulama sebagai pendukung suksesnya dakwah yang dijalankan, sehingga mau tidak mau harus dibentuk sebuah lembaga ekonomi yang mendukungnya. Alasan lain pendirian adalah pendidikan yang didominasi sekolah Belanda yang tidak memberi nilai apa-apa bagi pendidikan agama sehingga perlu dibentuk lembaga pendidikan Islam yang mampu dibiayai sendiri oleh kalangan pribumi. Koperasi inilah yang mengumpulkan dana untuk memberangkatkan Komite Hijaz kelak. Ketika NU berdiri, maka dengan sendirinya lembaga ini melebur dalam NU. Nahdlatut Tujjar
  • 7.
  • 8.
    Setelah Nahdlatul Wathantebentuk, KH. Wahab Chasbullah dan KH. Mas Mansur mendirikan Taswirul Afkar (bertukar pikiran). Sebuah perkumpulan yang bergerak di bidang sosial, pendidikan, dan dakwah. KH. Ahmad Dahlan (seorang pengasuh pondok Kebondalem, bukan sang pendiri Muhammadiyah), dan R. Mangun (anggota perhimpunan Budi Utomo). Seperti juga namanya, Taswirul Afkar lahir melalui diskusi-diskusi kecil diantara para pendiri mengenai berbagai masalah keagamaan dan kemasyarakatan yang timbul kala itu. Sejak didirikan pada tahun 1918 hingga tahun 1929, nama yang tertulis di papan pengenal adalah Suryo Sumirat Afdeeling Taswirul Afkar. Ini menunjukkan bahwa, secara organisatoris pada awal mula Taswirul Afkar tidak berdiri sendiri, tapi merupakan bagian dari Suryo Sumirat sebuah perkumpulan yang didirikan oleh anggota perhimpunan Budi Utomo yang ada di Surabaya. Taswirul Afkar
  • 9.
    Sejak Ibnu Saud,Raja Najed yang beraliran Wahabi, menaklukkan Hijaz (Mekkah dan Madinah) tahun 1924-1925, aliran Wahabi sangat dominan di tanah Haram. Kelompok Islam lain dilarang mengajarkan mazhabnya, bahkan tidak sedikit para ulama yang dibunuh. Saat itu terjadi eksodus besar-besaran para ulama dari seluruh dunia yang berkumpul di Haramain, mereka pindah atau pulang ke negara masing-masing, termasuk para santri asal Indonesia. Dengan alasan untuk menjaga kemurnian agama dari musyrik dan bid’ah, berbagai tempat bersejarah, baik rumah Nabi Muhammad dan sahabat termasuk makam Nabi hendak dibongkar. Dalam kondisi seperti itu umat Islam Indonesia yang berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah merasa sangat perihatin kemudian mengirimkan utusan menemui Raja Ibnu Saud. Utusan inilah yang kemudian disebut dengan Komite Hijaz. Komite Hijaz
  • 10.
  • 11.
    Berangkat dari KomiteHijaz dan berbagai organisasi yang bersifat embrional di atas, maka setelah itu dirasa perlu untuk membentuk organisasi yang lebih mencakup dan lebih sistematis, untuk mengantisipasi perkembangan zaman. Maka setelah berkordinasi dengan berbagai kiai, akhirnya muncul kesepakatan untuk membentuk organisasi para ulama pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926). Berdirinya NU Kala itu setidaknya ada dua usulan untuk nama organisasi ini. Kedua nama ini secara prinsip sebenarnya sama namun memiliki implikasi yang berbeda. KH Abdul Hamid dari Sedayu Gresik mengusulkan nama Nuhudlul Ulama disertai penjelasan bahwa para ulama mulai bersiap-siap akan bangkit melalui perwadahan formal tersebut. Pendapat ini disambut oleh KH Mas Alwi bin Abdul Aziz dengan sebuah sanggahan. Menurutnya, kebangkitan bukan lagi mulai atau akan bangkit. Melainkan, kebangkitan itu sudah berlangsung sejak lama hanya saja belum terorganisir secara rapi. Melalui argumentasi itu, Kiai Mas Alwi mengajukan usul agar jam’iyyah ulama itu diberi nama Nahdlatul Ulama (kebangkitan ulama), yang pengertiannya lebih condong pada “gerakan serentak para ulama dalam suatu pengarahan, atau, gerakan bersama-sama yang terorganisasi”. Forum para kiai secara aklamasi menerima usulan beliau.
  • 12.
    NAHDLATUL WATHAN (kebangkitan TanahAir) 1916 TASWIRUL AFKAR 1918 NAHDLATUT TUJJAR 1918 KOMITE HIJAZ Awal 1926 31 Januari 1926 Nama Delegasi Jam’iyah Nahdlatul Ulama 1926 Alur Kelahira n NU
  • 13.
  • 14.
    Dua bualan sebelumMuktamar NU ke-2 dilansungkan (akan dibuka pada hari Ahad tanggal 12 Rabiul Tsani 1346/9 Oktober 1927), panitia meminta KH. Ridwan Abdullah untuk membuat lambang organisasi para ulama ini. KH. Ridwan Abdullah beristikharah, memohon petunjuk kepada Allah untuk lambang organisasi NU. Seminggu sebelum pembukaan Muktamar dalam mimpinya beliau melihat sesuatu yang begitu terbangun dari tidur beliau membuat sketsa sambil mengingat-ingat gambar yang beliau lihat dalam mimpi. Makna Lambang NU
  • 15.
  • 16.
    Pasal 4 Nahdlatul Ulamaberpedoman kepada Al- Qur'an, As-Sunnah, Al-Ijma', dan Al-Qiyas. Pasal 5 Nahdlatul Ulama beraqidah Islam menurut faham Ahlusunnah wal Jama'ah dalam bidang aqidah mengikuti madzhab Imam Abu Hasan Al- Asy'ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi; dalam bidang fiqh mengikuti salah satu dari Madzhab Empat (Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali); dan dalam bidang tasawuf mengikuti madzhab Imam al- Junaid al-Bagdadi dan Abu Hamid al-Ghazali. Pasal 6 Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, Nahdlatul Ulama berasas kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. PEDOMAN, AQIDAH DAN ASAS
  • 17.
    Terwujudnya kemaslahatan masyarakat,kemajuan bangsa, dan ketinggian harkat dan martabat manusia Berlakunya ajaran Islam yang menganut faham Aswaja untuk terwujudnya tatanan masyarakat yang berkeadilan demi kemaslahatan, kesejahteraan umat, dan demi terciptanya rahmat bagi semesta. Pasal 8 Tujuan NU Didirikan
  • 18.
    Untuk mewujudkan tujuansebagaimana pasal 8 di atas, maka NU melaksanakan usaha-usaha sebagai berikut: Di bidang agama, mengupayakan terlaksananya ajaran Islam yang menganut paham Aswaja. Di bidang pendidikan, pengajaran dan kebudayaan mengupayakan terwujudnya penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran serta pengembangan kebudayaan yang sesuai ajaran Islam untuk membina umat agar menjadi muslim yang takwa, berbudi luhur, berpengetahuan luas, dan terampil serta berguna bagi agama, bangsa, dan negara. Di bidang sosial, mengupayakan dan mendorong pemberdayaan di bidang kesehatan, kemaslahatan, dan ketahanan keluarga, dan pendampingan masyarakat yang terpinggirkan (mustadl’afin). Di bidang ekonomi, mengupayakan peningkatan pendapatan masyarakat dan lapangan kerja atau usaha untuk kemakmuran yang merata. Mengembangkan usaha-usaha lain melalui kerjasama dengan pihak dalam maupun luar negeri yang bermanfaat bagi masyarakat banyak guna terwujudnya khaira ummah. Pasal 9 Ikhtiar dalam Mewujudkan Tujuan NU
  • 19.
    Struktur Organisasi NU NASIONALPBNU PROPINSI KABUPATEN KECAMATAN DESA SUB-DESA PWNU PCNU MWC NU RANTING NU ANAK RANTING LEMBAGA MUSLIMAT - FATAYAT - ANSOR IPNU - IPPNU -PERGUNU SARBUMUSI -PAGAR NUSA – ISNU – PMII – JATMAN – JQH LAZISNU, LAKPESDAM, LWP NU - LBM NU - RMI - LKNU - LKKNU - LTN NU LTM NU - LDNU – LBH NU – LPNU – LPPNU - LP MAARIF, LESBUMI - LPBI - LEMBAGA FALAKIAH – LPT NU BANOM
  • 20.
    Bagaimana melalui mesinJam’iyyah kita mampu menggerakkan jama’ah Warga NU RANTING NU PBNU PWNU PCNU MWCNU
  • 21.
    “Marilah anda semuadan segenap pengikut anda dari golongan fakir miskin, para hartawan, rakyat jelata, dan orang- orang kuat berbondong-bondong masuk Jam’iyyah yang diberi nama Jam’iyyah Nahdlatul Ulama ini. Masuklah dengan penuh kecintaan, kasih sayang, rukun, bersatu, dan dengan ikatan jiwa raga”. (Mukaddimah Qanun Asasi NU)
  • 22.