PENJUALAN
ANGSURAN
DEFINISI
penjualan angsuran adalah penjualan yang dilakukan dengan perjanjian dimana pembayaran
dilakukan secara bertahap, yaitu:
a. pada saat barang-barang diserahkan kepada pembeli, penjual menerima pembayaran pertama
sebagai bagian dari harga penjualan (down payment).
b. sisanya dibayar dalam beberapa kali angsuran.
Untuk melindungi kepentingan penjual dari kemungkinan tidak ditepatinya kewajiban-
kewajiban oleh pihak pembeli, maka terdapat beberapa bentuk perjanjian (kontrak)
penjualan angsuran sebagai berikut:
1. Perjanjian penjualan bersyarat (Conditional Sales Contract). Barang telah diserahkan, tetapi hak
atas barang masih berada ditangan penjual sampai pembayaran sunah lunas.
2. Saat perjanjian ditanda-tangani dan pembayaran pertama dilakukan, hak milik dapat diserahkan
kepada pembeli, tetapi dengan menggadaikan atau menghipotikkan untuk bagian harga yang
belum dibayar kepada si penjual.
3. Hak milik atas barang untuk sementara diserahkan kepada suatu badan β€œtrust” sampai
pembayaran sudah dilunasi. Setelah lunas, trustee menyerahkan hak atas barang kepada
pembeli. Perjanjian semacam ini dilakukan dengan membuat akte kepercayaan (trust
deed atau trust indenture).
4. Beli Sewa (lease-purchase). Barang barang telah diserahkan kepada pembeli, pembayaran
angsuran dianggap sewa sampai harga dalam kontrak telah dibayar lunas. Sesudah itu
baru hak milik berpindah kepada pembeli.
Untuk mengurangi atau menghindari kemungkinan kerugian yang terjadi dalam pemilikan
kembali, maka factor-factor yang harus diperhatikan oleh penjual adalah sebagai berikut:
1. Pembayaran uang muka ( down payment ) harus cukup untuk menutup kemungkinan rugi
sebagai turunnya nilai barang selama periode angsuran.
2. Jarak antar angsuran dengan angsuran berikutnya tidak terlalu lama.
3. Jumlah angsuran harus cukup untuk menutup kemungkinan rugi akibat penurunan niali
barang selama jangka waktu tiap – tiap angsuran.
CARA PENGAKUAN LABA KOTOR DALAM PENJUALAN ANGSURAN
1. Laba kotor dianggap terjadi pada periode penjualan.
Pada cara ini transaksi penjualan angsuran diperlakukan seperti hanya transaksi
penjualan kredit. Laba kotor diakui pada saat penyerahan barang dengan ditandai
dengan timbulnya piutang/tagihan kepada langganan.
Apabila prosedur demikian diikuti maka sebagai konsekuensinya pengakuan terhadap
biaya-biaya yang berhubungan dan dapat diidentifikasi dengan pendapatan-
pendapatan yang bersangkutan harus dilakukan. Penggunaan metode ini dipilih
dengan alasan kemungkinan tidak tertagihnya piutang angsuran
sangat rendah.
Ketentuannya:
a. Laba seluruhnya diakui pada tahun dimana penjualan dilakukan
b. Setelah tahun penjualan, hasil penagihan tidak mengakui adanya laba tetapi
hanya mencatat penerimaan kas dan mengurangi piutang
c. Hasil setelah tahun penjualan dianggap pengembalian harga pokok
d. Apabila ada bunga dicatat pendapatan bunga.
2. Laba kotor dianggap terjadi sesuai dengan periode terjadinya
realisasi pembayaran/diterimanya angsuran sesuai
perjanjian.
Pada cara ini laba kotor yang terjadi diakui sesuai dengan jumlah uang
kas dari penjualan angsuran yang direalisasikan dalam periode-periode
yang bersangkutan. Prosedur ini biasanya digunakan untuk kontrak-
kontrak penjualan yang jangka waktunya melampai satu periode
akuntansi. Ada beberapa alternatif prosedur yang bisa dilakukan, prosedur
mana yang dipilih harus benar-benar dipertimbangkan sesuai dengan rencana
penjualan angsuran yang ada, sehingga benar-benar cocok dengan keinginan
dalam mengukur laba rugi yang akan terjadi.
Prosedur yang menghubungkan tingkat keuntungan dengan realisasi
penerimaan angsuran pada penjualan angsuran adalah sebagai berikut:
a.Penerimaan pembayaran pertama dicatat sebagai pengembalian
pokok (cost) dari barang-barang yang dijual atau service yang
diserahkan, sesudah seluruh harga pokok (cost) kembali, maka
penerimaan selanjutnya baru dicatat sebagai keuntungan.
2. Penerimaan pembayaran pertama dicatat sebagai realisasi keuntungan yang
diperoleh sesuai dengan kontrak penjualan, sesudah seluruh keuntungan yang
ada terpenuhi, maka penerimaan selanjutnya dicatat sebagai pengumpulan
kembali/pengembalian harga pokok (cost).
3. Setiap penerimaan pembayaran yang sesuai dengan perjanjian dicatat baik
sebagai pengembalian harga pokok (cost) maupun sebagai realisasi
keuntungan di dalam perbandingan yang sesuai dengan posisi harga pokok dan
keuntungan yang terjadi pada saat perjanjian penjualan angsuran ditanda
tangani. Metode ini memberi peluang untuk mengakui keuntungan
proporsional dengan tingkat penerimaan pembayaran angsuran.
Prosedur inilah yang dikenal dengan metode angsuran atau dasar angsuran
(installment method or installment basis)
PENJUALAN ANGSURAN UNTUL BARANG-
BARANG TAK BERGERAK
Didalam metode angsuran seperti tersebut dalam nomor 3, perbedaan antara harga
penjualan dengan harga pokoknya dicatat sebagai β€œlaba kotor yang belum
direalisasikan”. Pada akhir periode perhitungan jumlah keuntungan yang telah
diralisasikan, yaitu sebesar persentase laba kotor dikalikan dengan jumlah angsuran
yang telah diterima dalam periode yang bersangkutan.
Jumlah laba kotor yang direalisasikan ini diakui dengan memindahkan sebagian saldo
rekening β€œLaba Kotor yang Belum Direalisasikan” ke dalam rekening β€œRealisasi Laba
Kotor”.
Contoh 1:
PT SENTANA, suatu perusahaan yang bergerak dalam bidang jual beli harga tidak
bergerak, menjual sebuah rumah kepada Tuan Hartono dengan harga Rp.2.500.000.
Harga pokok rumah itu menurut pembukuan PT SENTANA sebesar Rp. 1.500.000.
Beberaapa ketentuan yang diatur dalam kontrak penjualan, khususnya yang berhubungan dengan
syarat pembayaran adalah sebagai berikut:
1. Pembayaran pertama sebesar Rp 500.000.
2. Untuk menjamin keamanan kepemilikan rumah tersebut, PT SENTANA dan Tuan Hartono
setuju untuk menghipotikkan rumah tersebut dari Tuan Hartono kepada PT SENTANA sebesar
Rp 2.000.000.
3. Akte Hipotik ditanda tangani pada tanggal 1 September 1980, dibayar dalam jangka waktu 5
tahun dengan pembayaran tiap Β½ tahun @ Rp 200.000.
4. Bunga hipotik sebesar 12% setahun untuk sisa pinjaman hipotik yang belum dibayarkan.
5. Komisi dan biaya-biaya lainnya guna menyelesaikan akte hipotik sejumlah Rp 50.000, telah
dibayarkan tunai oleh PT SENTANA
Jurnal untuk mencatat transaksi pada tahun 1980 dan 1981 dalam buku PT. SENTANA menurut
kedua model
Transaksi-transaksi
Jurnal
Laba diakui pada periode penjualan Laba diakui secara proporsional dengan
jumlah penerimaan angsuran
1 september 1980
1) Dijual sebuah rumah dengan harga :
Rp 2.500.000 harga pokok rumah
sebesar Rp 1.500.000
Piutang (Tuan Hartono)
Rumah
Laba penj rumah
2.500.000
1.500.000
1.000.000
Piutang (tuan Hartono)
Rumah
Laba kotor yang belum
direalisasi
2.500.000
1.500.000
1.000.000
2) Pembayaran pertama sebesar Rp
500.000 dan hipotik U/K untuk saldo
yang belum dibayar sebesar Rp
2.000.000
Kas
Hipotik –U/K
Piutang (tuan Hartono)
500.000
2.000.000
2.500.000
Kas
Hipotik –U/K
Piutang (tuan Hartono)
500.000
2.000.000
2.500.000
3) Pembayaran biaya-biaya : komisi dan
pengurusan akte hipotik dan lain lain
Rp 50.000
Ongkos Penjualan
Kas
50.000
50.000
Ongkos Penjualan
Kas
50.000
50.000
4) 31 Desember 1980
a. Bunga yang masih harus diterima
atas hipotik-UK. 12% untuk
jangka waktu 4 bulan = (4/12 x
12% x 2.000.000 = 80.000)
b. Laba kotor yang direalisasikan
adalah sebagai berikut : laba
kotor = 40% atau (
1.000.000
2.500.000
π‘₯100%)
Penerimaan kas tahun 1980,
sebesar: 500.000. jadi laba
kotor yang direalisasi 40% x
500.000 = 200.000
Bunga hipotok yang akan
diterima
Pendapatan bunga
80.000
80.000
Bunga hipotok yang
akan diterima
Pendapatan bunga
Laba kotor yang belum
direalisasi
Realisasi laba kotor
80.000
80.000
200.000
200.000
5) Menutup rekening-rekening
nominal ke Rugi-Laba
Laba penjualan rumah
Pendapatan bunga
Ongkos penjualan
Rugi - laba
1.000.000
80.000
50.000
Realisasi laba kotor
Pendapatan bunga
Ongkos penjualan
Rugi - laba
200.000
80.000
50.000
6) 1 Januari 1981
Reversal entries untuk bunga
yang akan diterima pada akhir
tahun 1980.
Pendapatan bunga
Bunga hipotik yang
akan diterima
80.000
80.000
Pendapatan bunga
Bunga hipotik yang
akan diterima
80.000
80.000
7) 1 Maret 1981
Diterima pembayaran
angsuran hipotik sebesar
200.000 dan bunga hipotik
sebesar 120.000
Kas
Hipotik U/K
Pendapatan bunga
320.000
200.000
120.000
Kas
Hipotik U/K
Pendapatan bunga
320.000
200.000
120.000
8) 1 September 1981
Diterima pembayaran
angsuran hipotik 200.000 dan
bunga dari pokok hipotik
1.800.000 @12% untuk
jangka waktu 6 bulan =
108.000
Kas
Hipotik U/K
Pendapatan bunga
308.000
200.000
108.000
Kas
Hipotik U/K
Pendapatan bunga
308.000
200.000
108.000
9) 31 Desember 1981
a. Adjustment bunga hipotik dari
pokok : 1.600.000 @12%untuk
jangka waktu 4 bulan =
64.000
b. Laba kotor yang direalisasi =
40 % dan pembayaran
angsuran yang diterima tahun
1981 sebesar 400.000 atau
160.000
Bunga hipotik yang
akan diterima
Pendapatan bunga
64.000
64.000
Bunga hipotik yang
akan diterima
Pendapatan bunga
Laba kotor yang belum
direalisasikan
Realisasi laba kotor
64.000
64.000
160.000
160.000
10)Menutup rekening-rekening
nominal Rugi-Laba
Pendapatan bunga
Rugi-Laba
212.000
212.000
Pendapatan bunga
Realisasi laba kotor
Rugi-Laba
212.000
160.000
372.000
Menurut metode angsuran laba penjualan rumah sebesar 950.000 akan dianggap direalisasikan sebesar
150.000 (200.000-50.000) pada tahun 1980 dan 800.000 akan diakui dalam masa 5 tahun kemudian sesuai
dengan jangka waktu penyesuaian transaksi masing-masing sebesar 160.000 setiap tahun.
Apabila Tuan Hartono tidak dapat memenuhi kewajibannya pada tanggal 1 Maret 1982, maka PT
SENTANA akan menarik kembali saldo hipotiknya sebesar 1.600.000 dan memiliki kembali
rumah. Sedang jumlah pembayaran yang telah dilakukan oleh tuan Hartono sebesar 900.000 tidak
dapat ditarik kembali dan tetap menjadi milik PT SENTANA. Diumpamakan penilaian kembali
atas rumah tersebut pada tanggal 1 Maret 1982 adalah sebesar 1.200.000.
JURNAL
Transaksi Laba diakui pada periode penjualan Laba diakui secara proporsional dengan
penerimaan angsuran
Dimiliki kwmbali
rumah yang dibeli
tuan Hartono dinalai
kembali sebesar
1.200.000. hipotik
yang berjalan ditarik
kembali sebesar
1.600.000
Rumah
Rugi pemilikan kembali
Hipotik U/K
1.200.000
400.000
1.600.000
Rumah
Laba kotor yang belum
direalisasikan
Hipotik direalisasi
Laba pemilikan
kembali
1.200.000
640.000
1.600.000
240.000
Dalam hal ini bunga yang akan diterima pada akhir 1981 sebesar 64.000 harus dicatat sebagai
kerugian, sebab pada tahun 1982 sama sekali tidak bisa diterima. Maka laba tahun 1981 harus
dikoreksi kembali. Laba atau rugi pemilikan kembali pada masing-masing metode
tersebut dapat dibuktikan dengan perhitungan sebagai berikut:
Laba diakui pada
periode penjualan
Laba diakui secara
proporsional dengan jumlah
penerimaan angsuran
Jumlah pembayaran yang telah diterima
Rugi karena penurunan harga :
Harga pokok -1.500.000
Harga penilaian -1.200.000
Laba bersih
Laba yang diakui sebelum pemilikan
kembali
Laba (rugi) dalam pemilikan kembali
900.000
(300.000)
600.000
1.000.000
(400.000)
900.000
(300.000)
600.000
360.000
240.000
Laba diakui pada
periode penjualan
Laba diakui secara
porposional dengan
jumlah penerimaan
angsuran
Jumlah pembayaran yang telah
diterima
Rp 900.000,00 Rp 900.000,00
Rugi karena perununan harga:
Harga pokok -
1.500.000,00
Harga penialaian -
1.200.000,00
(Rp 300.000,00) (Rp 300.000,00)
Laba bersih Rp 600.000,00 Rp 600.000,00
Laba yg diakui sebelum pemilikan
kembali
Rp 1.000.000,00 Rp 360.000,00
Laba (rugi) dalam pemilikan
kembali
(Rp 400.000,00) ( Rp 240.000,00)
PENJUALAN ANGSURAN UNTUK BARANG-
BARANG (BERGERAK)
Prosedur akuntansi untuk penjualan barang dagangan dengan perjanjian angsuran,
pada dasarnya sama dengan cara-cara yang berlaku bagi harta tetap. Untuk dapat
memberikan gambaran tentang proses akuntansi dalam penjualan angsuran dari
penjualan angsuran untuk barang-barang bergerak.
Contoh 2:
PT Karya Bhakti menjual barang dagangannya sebagian atas dasar kontrak penjualan
angsuran untuk masa Β± 3 tahun disamping penjualan secara kredit, sejak beberapa
tahun terakhir. Berikut neraca PT Karya Bhakti pada akhir tahun buku 1980.
PT KARYA BHAKTI, SEMARANG
NERACA, PER 31 DESEMBER 1980
Aktiva Pasiva
Kas Rp 625.000,00
Piutang Dagang (regular) Rp 100.000,00 Hutang Dagang Rp 650.000,00
Piutang penjualan angsuran
1979 Rp 300.000,00 Wesel bayar Rp 100.000,00
Piutang penjualan angsuran
Tahun 1979 Rp 80.000,00
Laba kotor yg blm direalisasi
Tahun 1979 Rp 90.000,00
Persediaan barabg-barang Rp 600.000,00
Laba kotor yg blm direalisasi
Tahun 1979 Rp 20.000,00
Aktiva tetap
Lainnya Rp 1.175.000,00 Modal saham Rp 140.000,00
Akumulasi
Penyusutan Rp 380.000,00
Rp 795.000,00
Jumlah aktiva Rp 2.500.000,00 Jumlah pasiva Rp 2.500.000,00
Terhadap barang dagangan yang dijual atas dasar kontrak penjualan angsuran
perusahaan memperhitungkan tingkat laba kotor masing-masing 30% untuk tahun
1980 dan 25% untuk tahun 1079 dari harga jual yang bersangkutan. Diumpamakan
perusahaan menggunakan metode phisik terhadap administrasi barang-barang
dagangannya. Atas dasar transaksi-transaksi yang terjadi dalam tahun buku 1981
berikut ini, maka pencatatan yang diperlukan oleh PT Karya Bhakti adalah sebagai
berikut:
Penjualan angsuran untuk barang-barang bergerak.
Transaksi-transaksi Jurnal
1 januari – 31 desember 1981
1) Penjualan
Tunai
Kredit
Angsuran
Jumlah
- Rp 1.000.000,00
- Rp 850.000,00
- Rp 600.000,00
Rp 2.450.000,00
Kas
Piutang Dagang
Penjualan
Piutang penjualan angsuran tahun 1981
Penjualan Angsuran
1.000,000,00
850.000,00
600.000,00
1.850.000,00
600.000,00
2) Pembelian barang-barang secara
kredit sebesar Rp 2.500.000,00
Pembelian
Hutang dagang
2.500.000,00
2.500.000,00
3) Penerimaan Kas dari:
- Piutang Dagang
- piutang penjualan
angsuran 1981
1980
1979
Jumlah
: Rp 800.000,00
: Rp 300.000,00
: Rp 200.000,00
: Rp 60.000,00
Rp 1.360.000,00
Kas
Piutang dagang
Piutang penjualan Angsuran 1981
Piutang penjualan Angsuran 1980
Piutang penjualan Angsuran 1979
1.360.000,00
800.000,00
300.000,00
200.000,00
60.000,00
4) Pengeluaran Kas dan Biaya-biaya
Pengeluaran Kas untuk:
- Pembayaran Hutang Dagang
Jumlah
- Macam- macam biaya Usaha
Jumlah pegeluaran kas
- Biaya penyusutan Aktiva Tetap
Rp 100.000,00
Rp 2.450.000,00
Rp 405.000,00
Rp 2.855.000,00
Rp 95.000,00
Hutang Dagang
Macam-macam
Biaya Usaha
Potongan pembelian
Kas
Akumulasi penyusutan Aktiva tetap
2.550.000,00
Rp 500.000,00
100.000,00
2.855.000,00
95.000,00
31 Desember 1981, tutup buku:
5) Mencatat harga pokok barang-barang yang dijual secara
angsuran Rp 390.000,00
Harga Pokok
Penjualan
Angsuran
pengiriman barang-barang
penjualan Angsuran
390.000,00
390.000,00
6) menutup rekening-rekening penjualan angsuran dan harga
pokoknya serta mencatat laba kotor penjualan selama 1981
635% x 600.000,00 = 210.000,00
Penjualan Angsuran
Harga pokok penjualan
angsuran
Laba kotor penjualan yang
belom direalisasi 1981
600.000,00
390.000,00
210.000,00
7) mencatat realisasi laba kotor penjualan angsuran dalam tahun
buku 1981:
Penjualan angsuran:
Th. 1981 = 35% x 300.000,00 = 105.000,00
Th. 1980 = 35% x 200.000,00 = 60.000,00
Th. 1979 = 35% x 60.000,00 = 15.000,00
Jumlah Rp 180.000,00
Laba kotor penjualan angsuran
yang belum direalisasi 1981
Laba kotor penjualan angsuran
yang belum direalisasi 1980
Laba kotor penjualan angsuran
yang belum direalisasi 1979
Realisasi Laba Kotor
Penjualan Angsuran
105.000,00
60.000,00
15.000,00
180.000,00
8) Menutup persediaan awal barang dagangan pembelian barang-
barang, potongan pembelian dan pengiriman barang-barang yang
dijual dengan perjanjian agsuran ke Rekening rugi-laba
Rugi – Laba
Pengiriman barang-barang
penjualan angsuran
Potongan pembelian
Persediaan barang dagangan
(per1-1-1981)
Pembelian
2.610.000,00
390.000,00
100.000,00
600.000,00
2.500.000,00
9) Mencatat persediaan akhir barang dagangan, sesuai dengan stock
opname pada tanggal 31 Desember 1981 sebesar harga pokok
Rp1.210.000,00
Persediaan barang dagangan
(per 31-12-1981)
Rugi - Laba
1.210.000,00
1.210.000,00
10) Menutup Saldo rekening penjualan regular ke rekening Rugi
Laba
Penjualan
Rugi - Laba
1.850.000,00
1.850.000,00
11) Menutup laba kotor yang direalisasi dari hasil penjualan
angsuran tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya ke rekening
Rugi - Laba
Realisasi laba kotor
penjualan angsuran
Rugi – Laba
180.000,0
180.000,00
12) Menutup rekening-rekening biaya usaha ke Rekening
Rugu – Laba
Rugi – Laba
Macam-macam biaya
usaha
500.000,00
500.000,00
13) Mencatat taksiran pajak perseorangan yang akan di bayar
sebesar 20% x laba sebelum dipotong P.Ps. ( 20% x 130.000,00
= 26.000,00)
Pajak perseroan
Taksiran Hutang P.Ps
26.000,00
26.000,00
14) Menutup rekening pajak Perseroan ke Rekening Rugi –
Laba
Rugi – Laba
Pajak perseroan
26.000,00
26.000,00
15) Memindahkan laba bersih ke rekening Laba yang ditahan Rugi – Laba
Laba yang ditahan
(Retained carning)
104.000,00
104.000,00
Apabila perusahaan mempergunakan metode β€œperpetual inventory” maka pembelian-pembelian
harus dcatat langsung ke rekening persediaan (inventory). Pencatatan untuk harga pokok penjualan
angsuran dan penjualan regular harus disusun up to date. Rekening β€œHarga Pokok Penjualan
Angsuran” dan β€œHarga Pokok Penjualan” (Regular), segera didebit dan rekening β€œPersediaan
Barang Dagangan” segera dikredit pada saat barang dikirim kepada pembeli.
Penjualan Angsuran Tahun
1981 1980 1979
Saldo Laba Kotor Yang Belom Direalisasi
(sebelum adjustment)
210.000,00 90.000,00 20.000,00
Laba Kotor yang Belum Direalisasi pada akhir periode:
Untuk penjualan angsuran 1981:
35% x saldo yang belum dibayar (Rp 300.000,00)
105.000,00 - -
Untuk penjualan angsuran 1980:
(30% x Rp 100.000,00) - 30.000,00 -
Untuk penjualan angsuran 1979:
(25% x Rp 20.000,00) - - 5.000,00
Realisasi laba kotor sesuai dengan penerimaan pembayaran
piutang penjualan angsuran selama tahun 1981. 105.000,00 60.000,00 15.000,00
Alternatif prosedur untuk menghitung realisasi laba kotor penjualan angsuran
Cara menghitung laba kotor yang direalisasikan pada contoh PT Karya Bhakti tersebut di muka,
dapat pula ditentukan terlebih dahulu jumlah sisa laba kotor yang belum direalisasi, pada akhir
tahun buku (akhir periode) yang bersangkutan. Adapun perhitungan adalah sebagai berikut:
PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN PADA METODE
ANGSURAN
Untuk β€œLaba Kotor Yang Belum Direalisasi” di dalam neraca dapat dicantumkan ke
dalam salah satu dari ketiga kelompok berikut:
1. Sebagai hutang dan dilaporkan di bawah kelompok β€œPendapatan Yang
Masih Akan Diterima”.
2. Sebagai rekening penilaian dan mengurangi β€œPiutang Penjualan Angsuran”
3. Sebagai rekening modal dan dicatat sebagai bagian dari laba yang ditahan.
LABA KOTOR YANG BELUM DIREALISASI, DAPAT
DIKELOMPOKKAN SEBAGAI TIGA ELEMEN BERIKUT
INI:
1. Suatu cadangan untuk menutup biaya-biaya penagihan piutang penjualan angsuran yang
belum dibayar, termasuk biaya/beban yang timbul karena pembeli gagal melunasi
kewajiban dan berakibat pemilikan kembali oleh si penjual. Cadangan demikian harus
dikurangkan dari saldo piutang penjualan angsuran.
2. Suatu hutang/kewajiban yang akan dibayar untuk pajak perseroan (P.Ps) sesuai dengan
bagian laba kotor yang belum diakui untuk ditarik pembayaran pajaknya. Hutang pajak
semacam ini tidak boleh digabung dengan saldo pajak perseroan yang tekah terhutang
untuk laba yang sudah direalisasi dalam periode yang bersangkutan. Apabila laba kotor
yang bersangkutan sudah direalisasi maka pajaknya diperhitungkan pada tahun
tersebut.
3. Sisanya merupakan laba bersih yang berasal dari transaksi penjualan angsuran tersebut.
Jumlah ini dapat dilaporkan sebagai bagian dari laba yang ditahan secaea khusus yang
tidak bisa dipakai sebagai dasar pembagian deviden sampai piutang penjualan angsuran
direalisasikan.
Dilaporan laba rugi, disajikan secara terpisah antara hasil-hasil penjualan reguler dengan
penjualan angsuran. Suatu ikhtisar mengenai perhitungan realisasi laba kotor dalam tahun
buku yang bersangkutan, biasanya dibuat sebagai lampiran dari laporan perhitungna laba
rugi tersebut.
PT KARYA BHAKTI SEMARANG
Neraca, per 31 Desember 1981
Aktiva Pasiva
Kas 130.000 Hutang dagang 600.000
Piutang dagang 150.000 Wesel bayar 100.000
Piutang penjualan
angsuran
Tahun 1981
Tahun 980
Tahun 1979
300.000
100.000
20.000
Taksiran hutang pajak perseroan 26.000
420.000
Persediaan barang
dagangan 1.210.000
laba kotor yang belum
direalisasi (penjualan angsuran)
Tahun 1981
Tahun 1980
Tahun 1979
105.000
30.000
5.000
Aktiva tetap lainnya 1.175.000 140.000
Akumulasi penyusutan 475.000 Modal saham 1.500.000
700.000 Laba yang ditahna 244.000
PT KARYA BHAKTI SEMARANG
Perhitungan Rugi-Laba untuk periode tahun buku
1981 Penjualan
angsuran
Penjualan
reguler Jumlah
Penjualan 600.000 1.850.000 2.450.000
Harga Pokok Penjualan:
Persediaan per 1 Januari 1981 600.000
pembelian 2.500.000
potongan 100.000
2.400.000
Barang yang tersedia untuk dijual 3.000.000
Persediaan barang per 31 Desember 1981
1.210.000 390.000 1.400.000 1.790.000
Laba Kotor Penjualan 210.000 450.000 660.000
Dikurangi: laba kotor penjualan angsuran
tahun-1981 yang belum direalisasi (lampiran) 105.000 - 105.000
Laba kotor yang direalisasi untuk penjualan tahun 1981 105.000 450.000 555.000
Ditambah: realisasi laba kotor penjualan Angsuran 1980 dan 1979 (lampiran) 75.000
Jumlah realisasi laba kotor dalam tahun 1981 630.000
Macam-macam biaya usaha (termasuk penyusutan) 500.000
Laba bersih sebelum pajak perseroan 130.000
Pajak perseroan 26% 26.000
Laba bersih setelah pajak perseroan 104.000
Tingkat laba kotor untuk penjualan angsuran 1981:
(Laba kotor : Hasil penjualan) x 100% = (210.000 : 600.000) x 100% = 35%
Laba kotor yang belum direalisasi untuk penjualan angsuran tahun 1981:
Piutang penjualan angsuran Rp600.000
Penerimaan pembayaran dalam tahun 1981 (Rp300.000)
Saldo per Desember 1981 Rp300.000
Laba kotor yang belum direalisasi (35% x Rp300.000) Rp105.000
PT. Karya Bhakti Semarang
Lampiran: Perhitungan Rugi- Laba, untuk periode tahun buku 1981.
Realisasi Laba Kotor Penjualan Angsuran
Realisasi laba kotor tahun 1981
MASALAH PERTUKARAN (TRADE IN) DI DALAM
PENJUALAN ANGSURAN
Pertukaran adalah penjual menyerahkan barang-barang baru dengan perjanjian angsuran,
sedang pembayaran pertama dari pembeli berupa penyerahan barang-barang bekas.
Perbedaan antara estimated cost dengan harga pertukaran dicatat dalam rekening
β€œcadangan perbedaan harga pertukaran”.
Contoh:
Seorang pedagang mobil memiliki sebuah mobil baru dengan harga pokok Rp
1.000.000,00 dijual kepada seorang pembeli dengan perjanjian penjualan angsuran
seharga Rp 1.500.000,00. Sebagai pembayaran pertama pembeli menyerahkan sebuah
mobil bekas dan setuju dihargai Rp 400.000,00. Diperkirakan biaya-biaya yang
diperlukan untuk perbaiakna mobil bekas tersebut berjumlah Rp 50.000,00, sedang harga
penjualan normal setelah diperbaiki adalah Rp375.000,00. Pedagang mobil tersebut
mengharapkan laba normal sebesar 25% dari harga penjualan mobil-mobil bekas.
Perhitungan-perhitungan
Harga pertukaran mobil bekas Rp 400.000,00
Harga penilaian terhadap mobil bekas :
Harga jual sesudah diperbaiki Rp
375.000,00
Dikurangi :
Ongkos perbaikan Rp 50.000,00
Laba normal yang diharapkan dalam penjualan kembali
mobil bekas (25% x Rp 375.000,00)
Rp 93.750,00
Rp
143.750,00
Rp 231.250.00
Perbedaan harga pertukaran (terlalu tinggi) Rp 168.750,00
Penjurnalan
Persediaan barang dagangan mobil bekas .............. Rp 231.250
Cadangan perbedaan harga pertukaran
(Over Allowances on installment Sales Trade Ins)
................................................................................. Rp
168.750
Piutang penjualan angsuran.....................................
Rp1.100.000
Penjualan angsuran..................................................................
Rp 1.500.000
Harga pokok penjualan angsuran ........................... Rp
1.000.000
Persediaan barang dagangan mobil baru ................................
Rp 1.000.000
MASALAH PEMBATALAN KONTRAK DAN
PEMILIKAN KEMBALI
Apabila si pembeli gagal untuk memenuhi kewajibannya seperti yang tercantum di dalam
surat pejanjian angsuran, maka barang-barang yang bersangkutan ditarik dan dimiliki oleh
si penjual. Dalam hal ini pencatatan yang harus dilakukan dalam buku-buku si penjual,
akan menyangkut :
a. Pencatatan pemilikan kembali barang dagangan
b. Menghapuskan saldo piutang penjualan
c. Menghapuskan saldo laba kotor yang belum direalisasi
d. Pencatatan keuntungan atau kerugian
Contoh:
Pada tahun 1982, seorang langganan PT Karya Bhaktipada contoh no. 2, telah
gagal dan tidak dapat memenuhi kewajibannya. Langganan tersebut membeli
barang-barang pada tahun 1981 seharga Rp 20.000,00. Dari jumlah harga tersebut
telah dibayar oleh langganan yang bersangkutan sebesar Rp 10.000,00.
Barang-barang kemudian ditarik dan dimiliki kembali oleh PT Karya Bhakti dan
nilainnya ditaksir sebesar Rp 9.000,00 dengan sudah memperhitungkan cadangan
untuk perbaikan-perbaikan dan keuntungan normal diharapkan apabila dijual lagi.
Pencatatan yang dilakukan dalam buku-buku PT Karya Bhakti Semarang, adalah sebagai berikut:
Persediaan barang dagangan pemilikan kembali Rp 9.000,00
Laba kotor yang belum direalisasi tahun 1980 Rp 3.500,00
Laba karena pemilikan kembali Rp 2.500,00
Piutang penjualan angsuran tahun 1981 Rp10.000,00
Perhitungan :
Jumlah kas yang telah diterima ................................................................ Rp 10.000,00
Dik : Rugi penurunan harga
Harga pokok barang dagangan (65% x 20.000,00)
= ........................................................................... Rp 13.000,00
Nilai pada saat pemilikan kembali ...................... Rp 9.000,00
Rp 4.000,00
Laba atas barang yang ditarik kembali .............................................. Rp 6.000,00
Laba yang telah diakui sebelumnya ( 35% x Rp 10.000,00 ) ................... Rp 3.500,00
Laba pemilikan kembali ...................................................................... Rp 2.500,00
MASALAH BUNGA PADA PENJUALAN
ANGSURAN
Dalam perjanjian penjualan angsuran, biasanya penjual di samping memperhitungkan laba juga
memperhitungkan beban bunga terhadap jumlah harga dalam kontrak yang belum dibiayai oleh
pembeli.
Kebijaksanaan pembayaran bunga secara periodik pada umumnya dilakukan dalam bentuk seperti
berikut:
1. Bunga diperhitungkan dari sisa harga kontrak selama jangka waktu angsuran (long end interest).
2. Bunga diperhitungkan dari setiap angsuran yang harus dibayar, terhitung sejak tanggal ditanda-
tangani sampai tanggal jatuh tempo setiap angsuran yang bersangkutan (short end interest).
3. Pembayaran angsuran periodik dilakukan dalam jumlah yang sama, di mana di dalamnya termasuk
angsuran pokok dan bunga yang diperhitungkan dari saldo harga kontrak selama jangka waktu
perjanjian.
4. Bunga secara periodik diperhitungkan berdasar dari (sisa) harga kontrak.
Contoh:
Misalnya pada tanggal 1 januari 1980 telah dijual sebuah mesin dengan harga Rp
1.250.000,00 atas dasar perjanjian penjualan angsuran. Uang muka (down payment)
ditetapkan sebesar Rp 350.000,00 sedang sisanya dibayar dalam waktu 1 tahun dengan 6
kali angsuran (setiap 2 bulan) dan bunga ditetapkan sebesar 12% setahun. Harga pokok
mesin tersebut adalah Rp 750.000,00.
Perhitungan :
PEMBAYARAN YANG AKAN DILAKUKAN SESUAI DENGAN 4
(EMPAT) CARA SEPERTI DITERANGKAN DI DEPAN,AKAN
TERTERA SEPERTI PERHITUNGAN DAN PENCATATAN BERIKUT
INI.
Harga jual mesin
........................................................................
Rp 1.250.000,00
Uang muka (down payment) ..................................................... Rp 350.000,00
Dibayar 6 kali angsuran tiap-tiap 2 bulan Rp 900.000,00
1. Bunga Periodik diperhitungkan dari sisa harga kontrak pada setiap awal periode
angsuran
Pada saat cara ini beban bunga diperhitungkan berdasar jangka waktu yang
sama untuk setiap angsuran, yaitu 2 bulan.
*) 12% Γ—
2
12
Γ— 𝑅𝑝 900.000,00 = 𝑅𝑝 18.000,00
**) 12% Γ—
2
12
Γ— 𝑅𝑝 150.000,00 = 𝑅𝑝 3.000,00
Tanggal
pembayaran
Bunga atas saldo
harga kontrak
pada awal
periode angsuran
Angsuran atas
harga kontrak
Jumlah
pembayran
Sisa harga
kontrak
1 januari 1980 - - - Rp 1.250.000,00
1 januari 1980 - Rp 350.000,00 Rp 350.000,00 Rp 900.000,00
1 maret 1980 Rp 18.000,00 Rp 150.000,00 Rp 168.000,00 Rp 750.000,00
1 mei 1980 Rp 15.000,00 Rp 150.000,00 Rp 165.000,00 Rp 600.000,00
1 juli 1980 Rp 12.000,00 Rp 150.000,00 Rp 162.000,00 Rp 450.000,00
1 september 1980 Rp 9.000,00 Rp 150.000,00 Rp 159.000,00 Rp 300.000,00
1 nopember 1980 Rp 6.000,00 Rp 150.000,00 Rp 156.000,00 Rp 150.000,00
1 desember 1980 Rp 3.000,00 Rp 150.000,00 Rp 153.000,00 NIHIL
Jumlah Rp 63.000,00 Rp 1.250.000,00 Rp 1.313.000,00
Atas dasar perhitungan dalam daftar tersebut maka pencatatan di dalam buku-buku si
pembeli dan si penjual akan ternyata sebagai berikut:
Ttransaski Buku- buku si pembeli Buku-buku si penjual
1 januari 1980
penjualan angsuran
sebuah mesin
seharga Rp
1.250.000,00
dengan uang muka
Rp 350.000,00
1. Mesin-mesin
1.250.000,00
Hutang pembelian
Angsuran
1.250.000,00
1. Hutang pembelian
Angsuran
350.000,00
Kas
350.000,00
1. Piutang penjualan angsuran 1.250.000,00
Penjualan angsa
1.250.000,00
1. Kas
350.000,00
Piutang penjual angsuran 350.000
1. Harga pokok penjualan mesin 750.000
Persediaan mesin-mesin
750.000
1 maret 1980
Pembayaran angsuran
pertama sebesar 150.000
bunga 12% setahun dari
saldo harga kontrak
sebesar 900.000
Hutang pembelian
Angsuran
150.000
Biaya bunga
18.000
Kas
168.000
Kas 168.000
Piutang penjualan angsuran
150.000
Pendapatan bunga
18.000
1 mei 1980 pembayaran
angsuran kedua
sebesar150.000 bunga
12% setahun dari saldo
Hutang pembelian
Angsuran
150.000
Biaya bunga
Kas 165.000
Piutang penjualan Angsuran
150.000
β€˜Pendapatan bunga
2. Bunga diperhitungkan dari setiap angsuran yang harus dibayar atas dasar jangka waktu
angsuran yang bersangkutan
Metode ini merupakan kebalikan metode nomer 1. Pada metode ini bunga diperhitungkan dari
besarnya angsuran yang tetap jumlahnya, sedangkan jangka waktu selalu dihitung dari permulaan
ditandatanganinya/berlakunya perjanjian sampai dengan saat pembayaran angsuran yang bersangkutan.
Pembayaran yang harus dilakukan akan terlihat seperti di dalam draf berikut :
*) 12% Γ—
2
12
Γ— 𝑅𝑝 150.000,00 = 𝑅𝑝 3.000.000,00
**) 12% Γ—
12
12
Γ— 𝑅𝑝 150.000,00 = 𝑅𝑝 18.000,00
Tanggal pembayaran
Harga dari tanggal
transaksi sampai dengan
tanggal pembayaran (1%
per bulan)
Angsuran harga
kontrak
Jumlah pembayaran Sisa harga kontrak
1 januari 1980 - - - Rp1,250.000,00
1 januari 1980 - Rp 350.000,00 Rp 350.000,00 Rp 900.000,00
1 maret 1980 Rp 3.000,00 Rp 150.000,00 Rp 153.000,00 Rp 750.000,00
1 mei 1980 Rp 6.000,00 Rp 150.000,00 Rp 156.000,00 Rp 600.000,00
1 juli 1980 Rp 9.000,00 Rp 150.000,00 Rp 159.000,00 Rp 450.000,00
1 september 1980 Rp 12.000,00 Rp 150.000,00 Rp 162.000,00 Rp 300.000,00
1 nopember 1980 Rp 15.000,00 Rp 150.000,00 Rp 165.000,00 Rp 150.000,00
31 Desember 1980 Rp 18.000,00 Rp 150.000,00 Rp 168.000,00 NIHIL
Jumlah Rp 63.000,00 Rp1.250.000,00 Rp1.313.000,00
Pencatatan di dalam buku-buku si pembeli dan si penjual akan nampak sebagai
berikut :
Transaksi Buku-buku si pembeli Buku-buku si penjual
1 Januari 1990
Penjualan angsuran sebuah
mesin seharga :
Rp. 1.250.000,00 dengan uang
muka :
Rp. 350.000,00
1) Mesin-mesin 1.250.000,00
Hutang Pembelian
Angsuran
1.250.000,00
1) Hutang Pembelian
Angsuran 350.000,00
Kas
350.000,00
1) Piutang Penjualan
Angsuran
1.250.000,00
Penjualan
Angsuran
1.250.000,00
1) Kas 350.000,00
Piutang Penjualan
Angsuran
350.000,-
1) Harga Pokok Penjualan
Mesin 750.000,00
Persediaan
Mesin-mesin
750.000,00
1 Maret 1980
1. Pencatatan bunga yang
masih harus di
perhitungkan (accrued
interest) selama 2 bulan
dari sisa harga kontrak
sebesar : Rp. 900.000,00
1. Buiaya Bunga 18.000,00
Bunga yang Akan
di bayar atas
Pembelian Angsuran
18.000,00
1. Bunga yang akan
diterima atas penjualan
Angsuran 18.000,00
Pendapatan
Bunga 18.000,00
1. Pencatatan pembayaran
angsutan pertama
sebesar :
Rp. 150.000,00 dan
bunga 12% setahun,
selama 2 bulan dari
Angsuran yang
bersangkutan
2. Hutang Pembelian
Angsuran 150.000,00
Bunga yang dibayar
atas pembelian
Angsuran 3.000,00
Kas
153.000,00
1) Kas 153.000,00
Piutang Pen
jualan Angsuran 150.000,00
Bunga yang Akan
Diterima atas
Pemjualan
Angsuran
3.000,00
Perubahan-perubahan daripada saldo bunga uangmasih
diperhitungkan itu dapat diikhtisarkan sebagai berikut (dipandang dari
sudut pembeli):
Tanggal
Pembayaran
Kenaikan bunga
yang
diperhitungkan
(kredit)
Pengurangan
bunga yang
dibayar
(Debit)
Saldo bunga yang
akan dibayar atas
pembelian (angsuran)
1 – 3 – 1980
1 – 5 – 1980
1 – 7 – 1980
1 – 9 – 1980
1 – 11 – 1980
1 – 12 – 1980
Rp. 18.000,00
Rp. 15.000,00
Rp. 12.000,00
Rp. 9.000,00
Rp. 6.000,00
Rp. 3.000,00
Rp. 3.000,00
Rp. 6.000,00
Rp. 9.000,00
Rp.12.000,00
Rp.15.000,00
Rp. 18.000,00
Rp. 15.000,00
Rp. 24.000,00
Rp. 27.000,00
Rp.24.000,00
Rp. 15.000,00
NIHIL
3. Pembayaran angsuran periodik dilakukan dalam jumlah yang sama, dimana
di dalamnya sudah diperhitungkan angsuran pokok dan bunga
Metode ini lebih dikenal dengan nama β€œmetode anuitet”. Jumlah pembayaran
angsuran dari periode ke periode jumlahnya tetap sama. Dalam jumlah tersebut sudah
diperhitungkan:
a. Pembayaran bunga atas sisa Harga kontrak, dan
b. Angsuran atas harga kontrak utu sendiri
Adapun rumus faktor anueter tersebut adalah sebagai berikut :
𝐴
1 βˆ’
1
(1 + 𝑖)𝑛
𝑖
A
i
n
1
(1 + 𝑖)𝑛
=
=
=
=
Anuitet
Tingkat bunga
Jangka waktu berlangsungnya kontrak penjualan
angsuran
Nilai tunai (present value)
Keterangan:
Apabila sudah diketahui faktor anuitetnya, maka jumlah pembayaran cicilannya dihitung sebagai
berikut:
Jumlah pembayaran angsuran=
π‘†π‘–π‘ π‘Ž π»π‘Žπ‘Ÿπ‘”π‘Ž πΎπ‘œπ‘›π‘‘π‘Ÿπ‘Žπ‘˜
πΉπ‘Žπ‘˜π‘‘π‘œπ‘Ÿ 𝐴𝑛𝑒𝑖𝑑𝑒𝑑
Pada contoh di muka, maka dapat dicari faktor anuitetnya sebagai berikut:
𝐴 =
1βˆ’
1
(1+0,02)6
0,02
𝐴 =
1βˆ’0,8879.7135
0,02
= 5,601.431*
Sedang besarnya setiap kali angsuran adalah :
𝑅𝑝. 900.000,00
5.601.431
= 𝑅𝑝. 160.673,00
* Dapat pula dilihat pada tabel anuited di bawah kolom 2% dan pada baris n = 6 (12% setahun sama
dengan 2% setiap bulan).
Daftar pembayaran angsuran dan alokasi setiap pembayaran di antara beban bunga dan
angsuran harga kontrak sebagai berikut :
Tanggal pembayaran
Pembayaran
Angsuran
Bagian pembayaran
yang merupakan
beban bunga yang
diperhitungkan
Bagian pembayaran
yang dipakai untuk
melunasi Harga
Kontrak
Sisa Harga
Kontrak
1 Januari 1980
1 Januari 1980
1 Maret 1980
1 Mei 1980
1 Juli 1980
1September1980
1Nopember 1980
31 Desember 1980
-
350.000
160.673
160.673
160.673
160.673
160.673
160.673
-
-
18.000*)
15.146**)
12.236
9.267
6.239
3.150
-
350.000
142.673
154.527
146.437
151.406
154.434
157.523
1.250.000
900.000
757.327
511.800
463.363
311.957
147.523
NIHIL
Jumlah 1.314.038 64.038 1.250.000
*) 12% x
2
12
x Rp. 900.000,00 = Rp. 18.000,00
**) 12% x
2
12
x Rp. 757.327,00 = Rp. 15.146,00
Dari daftar tersebut, maka pencatatan pembayaran angsurannya akan tertera pada masing-masing buku
pembeli dan penjual antara lain sebagai berikut:
Transaksi Buku-buku si pembeli Buku-buku si penjual
1 Maret 1980
Pembayaran angsuran pertama
sebesar :
Rp. 160.673,00 untuk
pembayaran bunga Rp.
18.000,00 dan pelunasan harga
kontrak sebesar : Rp.
142.673,00
Biaya Bunga 18.000,00
Hutang Pembelian
Angsuran
142.673,00
Kas
160.673,00
Kas160.000,00
Pendapatan
Bunga 18.000,00
Piutang Penjualan
Angsuran 142.673,00
1 Mei 1980
Pembayaran angsuran kedua
sebesar Rp. 160.673,00 untuk
bunga Rp. 15.146,00 dan
pelunasan harga kontrak untuk
:Rp. 145.527,00
Biaya Bunga15.146,00
Hutang Pemberian
Angsuran
142.527,00
Kas
Kas160.673,00
Pendapatan bunga 15.146,00
Piutang Penjualan
Angsuran
145.527,00
4. Bunga secara periodik diperhitungkan berdasar dari sisa harga hontrak
Pada cara yang terakhir tidak banyak menimbulkan persoalan perhitungan yang terperinci. Sebab
besarnya bunga cukup ditentukan sekali saja, selanjutnya pembayaran bunga pada setiap angsuran
besarnya sama. Apabila contoh di muka diterapkan pada metode ini, maka dapatlah disusun daftar
pembayaran angsuran sebagai berikut:Bunga diperhitungan atas dasar (sisa) harga kontrak.
Tanggal pembayaran
Bunga yang
didasarkan atas
harga kontrak
Angsuran atas
harga kontrak
Jumlah
pembayaran
Sisa Harga
Kontrak
1 Januari 1980
1 Januari 1980
1 Maret 1980
1 Mei 1980
1 Juli 1980
1 September 1980
1 Nopember 1980
31 Desember 1980
-
-
18.000
18.000
18.000
18.000
18.000
18.000
-
350.000
150.000
150.000
150.000
150.000
150.000
150.000
-
350.000
168.000
168.000
168.000
168.000
168.000
168.000
1.250.000
900.000
750.000
600.000
450.000
300.000
150.000
NIHIL
Jumlah
Jika dipandang dari sudut pandang penjual, cara terakhir paling menguntungkan karena bunganya
lbh besar daripada ketiga metode sebelumnya. Prosedur pembukuan sama dengan metode-metode
terdahulu.
Daftar Pustaka:
Yunus, Hadori. Harnanto. 2013. Akuntansi Keuangan Lanjutan.
Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.

PENJUALAN ANGSURAN.pptx

  • 1.
  • 2.
    DEFINISI penjualan angsuran adalahpenjualan yang dilakukan dengan perjanjian dimana pembayaran dilakukan secara bertahap, yaitu: a. pada saat barang-barang diserahkan kepada pembeli, penjual menerima pembayaran pertama sebagai bagian dari harga penjualan (down payment). b. sisanya dibayar dalam beberapa kali angsuran. Untuk melindungi kepentingan penjual dari kemungkinan tidak ditepatinya kewajiban- kewajiban oleh pihak pembeli, maka terdapat beberapa bentuk perjanjian (kontrak) penjualan angsuran sebagai berikut: 1. Perjanjian penjualan bersyarat (Conditional Sales Contract). Barang telah diserahkan, tetapi hak atas barang masih berada ditangan penjual sampai pembayaran sunah lunas. 2. Saat perjanjian ditanda-tangani dan pembayaran pertama dilakukan, hak milik dapat diserahkan kepada pembeli, tetapi dengan menggadaikan atau menghipotikkan untuk bagian harga yang belum dibayar kepada si penjual.
  • 3.
    3. Hak milikatas barang untuk sementara diserahkan kepada suatu badan β€œtrust” sampai pembayaran sudah dilunasi. Setelah lunas, trustee menyerahkan hak atas barang kepada pembeli. Perjanjian semacam ini dilakukan dengan membuat akte kepercayaan (trust deed atau trust indenture). 4. Beli Sewa (lease-purchase). Barang barang telah diserahkan kepada pembeli, pembayaran angsuran dianggap sewa sampai harga dalam kontrak telah dibayar lunas. Sesudah itu baru hak milik berpindah kepada pembeli. Untuk mengurangi atau menghindari kemungkinan kerugian yang terjadi dalam pemilikan kembali, maka factor-factor yang harus diperhatikan oleh penjual adalah sebagai berikut: 1. Pembayaran uang muka ( down payment ) harus cukup untuk menutup kemungkinan rugi sebagai turunnya nilai barang selama periode angsuran. 2. Jarak antar angsuran dengan angsuran berikutnya tidak terlalu lama. 3. Jumlah angsuran harus cukup untuk menutup kemungkinan rugi akibat penurunan niali barang selama jangka waktu tiap – tiap angsuran.
  • 4.
    CARA PENGAKUAN LABAKOTOR DALAM PENJUALAN ANGSURAN 1. Laba kotor dianggap terjadi pada periode penjualan. Pada cara ini transaksi penjualan angsuran diperlakukan seperti hanya transaksi penjualan kredit. Laba kotor diakui pada saat penyerahan barang dengan ditandai dengan timbulnya piutang/tagihan kepada langganan. Apabila prosedur demikian diikuti maka sebagai konsekuensinya pengakuan terhadap biaya-biaya yang berhubungan dan dapat diidentifikasi dengan pendapatan- pendapatan yang bersangkutan harus dilakukan. Penggunaan metode ini dipilih dengan alasan kemungkinan tidak tertagihnya piutang angsuran sangat rendah. Ketentuannya: a. Laba seluruhnya diakui pada tahun dimana penjualan dilakukan b. Setelah tahun penjualan, hasil penagihan tidak mengakui adanya laba tetapi hanya mencatat penerimaan kas dan mengurangi piutang c. Hasil setelah tahun penjualan dianggap pengembalian harga pokok d. Apabila ada bunga dicatat pendapatan bunga.
  • 5.
    2. Laba kotordianggap terjadi sesuai dengan periode terjadinya realisasi pembayaran/diterimanya angsuran sesuai perjanjian. Pada cara ini laba kotor yang terjadi diakui sesuai dengan jumlah uang kas dari penjualan angsuran yang direalisasikan dalam periode-periode yang bersangkutan. Prosedur ini biasanya digunakan untuk kontrak- kontrak penjualan yang jangka waktunya melampai satu periode akuntansi. Ada beberapa alternatif prosedur yang bisa dilakukan, prosedur mana yang dipilih harus benar-benar dipertimbangkan sesuai dengan rencana penjualan angsuran yang ada, sehingga benar-benar cocok dengan keinginan dalam mengukur laba rugi yang akan terjadi. Prosedur yang menghubungkan tingkat keuntungan dengan realisasi penerimaan angsuran pada penjualan angsuran adalah sebagai berikut: a.Penerimaan pembayaran pertama dicatat sebagai pengembalian pokok (cost) dari barang-barang yang dijual atau service yang diserahkan, sesudah seluruh harga pokok (cost) kembali, maka penerimaan selanjutnya baru dicatat sebagai keuntungan.
  • 6.
    2. Penerimaan pembayaranpertama dicatat sebagai realisasi keuntungan yang diperoleh sesuai dengan kontrak penjualan, sesudah seluruh keuntungan yang ada terpenuhi, maka penerimaan selanjutnya dicatat sebagai pengumpulan kembali/pengembalian harga pokok (cost). 3. Setiap penerimaan pembayaran yang sesuai dengan perjanjian dicatat baik sebagai pengembalian harga pokok (cost) maupun sebagai realisasi keuntungan di dalam perbandingan yang sesuai dengan posisi harga pokok dan keuntungan yang terjadi pada saat perjanjian penjualan angsuran ditanda tangani. Metode ini memberi peluang untuk mengakui keuntungan proporsional dengan tingkat penerimaan pembayaran angsuran. Prosedur inilah yang dikenal dengan metode angsuran atau dasar angsuran (installment method or installment basis)
  • 7.
    PENJUALAN ANGSURAN UNTULBARANG- BARANG TAK BERGERAK Didalam metode angsuran seperti tersebut dalam nomor 3, perbedaan antara harga penjualan dengan harga pokoknya dicatat sebagai β€œlaba kotor yang belum direalisasikan”. Pada akhir periode perhitungan jumlah keuntungan yang telah diralisasikan, yaitu sebesar persentase laba kotor dikalikan dengan jumlah angsuran yang telah diterima dalam periode yang bersangkutan. Jumlah laba kotor yang direalisasikan ini diakui dengan memindahkan sebagian saldo rekening β€œLaba Kotor yang Belum Direalisasikan” ke dalam rekening β€œRealisasi Laba Kotor”.
  • 8.
    Contoh 1: PT SENTANA,suatu perusahaan yang bergerak dalam bidang jual beli harga tidak bergerak, menjual sebuah rumah kepada Tuan Hartono dengan harga Rp.2.500.000. Harga pokok rumah itu menurut pembukuan PT SENTANA sebesar Rp. 1.500.000. Beberaapa ketentuan yang diatur dalam kontrak penjualan, khususnya yang berhubungan dengan syarat pembayaran adalah sebagai berikut: 1. Pembayaran pertama sebesar Rp 500.000. 2. Untuk menjamin keamanan kepemilikan rumah tersebut, PT SENTANA dan Tuan Hartono setuju untuk menghipotikkan rumah tersebut dari Tuan Hartono kepada PT SENTANA sebesar Rp 2.000.000. 3. Akte Hipotik ditanda tangani pada tanggal 1 September 1980, dibayar dalam jangka waktu 5 tahun dengan pembayaran tiap Β½ tahun @ Rp 200.000. 4. Bunga hipotik sebesar 12% setahun untuk sisa pinjaman hipotik yang belum dibayarkan. 5. Komisi dan biaya-biaya lainnya guna menyelesaikan akte hipotik sejumlah Rp 50.000, telah dibayarkan tunai oleh PT SENTANA
  • 9.
    Jurnal untuk mencatattransaksi pada tahun 1980 dan 1981 dalam buku PT. SENTANA menurut kedua model Transaksi-transaksi Jurnal Laba diakui pada periode penjualan Laba diakui secara proporsional dengan jumlah penerimaan angsuran 1 september 1980 1) Dijual sebuah rumah dengan harga : Rp 2.500.000 harga pokok rumah sebesar Rp 1.500.000 Piutang (Tuan Hartono) Rumah Laba penj rumah 2.500.000 1.500.000 1.000.000 Piutang (tuan Hartono) Rumah Laba kotor yang belum direalisasi 2.500.000 1.500.000 1.000.000 2) Pembayaran pertama sebesar Rp 500.000 dan hipotik U/K untuk saldo yang belum dibayar sebesar Rp 2.000.000 Kas Hipotik –U/K Piutang (tuan Hartono) 500.000 2.000.000 2.500.000 Kas Hipotik –U/K Piutang (tuan Hartono) 500.000 2.000.000 2.500.000 3) Pembayaran biaya-biaya : komisi dan pengurusan akte hipotik dan lain lain Rp 50.000 Ongkos Penjualan Kas 50.000 50.000 Ongkos Penjualan Kas 50.000 50.000
  • 10.
    4) 31 Desember1980 a. Bunga yang masih harus diterima atas hipotik-UK. 12% untuk jangka waktu 4 bulan = (4/12 x 12% x 2.000.000 = 80.000) b. Laba kotor yang direalisasikan adalah sebagai berikut : laba kotor = 40% atau ( 1.000.000 2.500.000 π‘₯100%) Penerimaan kas tahun 1980, sebesar: 500.000. jadi laba kotor yang direalisasi 40% x 500.000 = 200.000 Bunga hipotok yang akan diterima Pendapatan bunga 80.000 80.000 Bunga hipotok yang akan diterima Pendapatan bunga Laba kotor yang belum direalisasi Realisasi laba kotor 80.000 80.000 200.000 200.000 5) Menutup rekening-rekening nominal ke Rugi-Laba Laba penjualan rumah Pendapatan bunga Ongkos penjualan Rugi - laba 1.000.000 80.000 50.000 Realisasi laba kotor Pendapatan bunga Ongkos penjualan Rugi - laba 200.000 80.000 50.000
  • 11.
    6) 1 Januari1981 Reversal entries untuk bunga yang akan diterima pada akhir tahun 1980. Pendapatan bunga Bunga hipotik yang akan diterima 80.000 80.000 Pendapatan bunga Bunga hipotik yang akan diterima 80.000 80.000 7) 1 Maret 1981 Diterima pembayaran angsuran hipotik sebesar 200.000 dan bunga hipotik sebesar 120.000 Kas Hipotik U/K Pendapatan bunga 320.000 200.000 120.000 Kas Hipotik U/K Pendapatan bunga 320.000 200.000 120.000 8) 1 September 1981 Diterima pembayaran angsuran hipotik 200.000 dan bunga dari pokok hipotik 1.800.000 @12% untuk jangka waktu 6 bulan = 108.000 Kas Hipotik U/K Pendapatan bunga 308.000 200.000 108.000 Kas Hipotik U/K Pendapatan bunga 308.000 200.000 108.000
  • 12.
    9) 31 Desember1981 a. Adjustment bunga hipotik dari pokok : 1.600.000 @12%untuk jangka waktu 4 bulan = 64.000 b. Laba kotor yang direalisasi = 40 % dan pembayaran angsuran yang diterima tahun 1981 sebesar 400.000 atau 160.000 Bunga hipotik yang akan diterima Pendapatan bunga 64.000 64.000 Bunga hipotik yang akan diterima Pendapatan bunga Laba kotor yang belum direalisasikan Realisasi laba kotor 64.000 64.000 160.000 160.000 10)Menutup rekening-rekening nominal Rugi-Laba Pendapatan bunga Rugi-Laba 212.000 212.000 Pendapatan bunga Realisasi laba kotor Rugi-Laba 212.000 160.000 372.000 Menurut metode angsuran laba penjualan rumah sebesar 950.000 akan dianggap direalisasikan sebesar 150.000 (200.000-50.000) pada tahun 1980 dan 800.000 akan diakui dalam masa 5 tahun kemudian sesuai dengan jangka waktu penyesuaian transaksi masing-masing sebesar 160.000 setiap tahun.
  • 13.
    Apabila Tuan Hartonotidak dapat memenuhi kewajibannya pada tanggal 1 Maret 1982, maka PT SENTANA akan menarik kembali saldo hipotiknya sebesar 1.600.000 dan memiliki kembali rumah. Sedang jumlah pembayaran yang telah dilakukan oleh tuan Hartono sebesar 900.000 tidak dapat ditarik kembali dan tetap menjadi milik PT SENTANA. Diumpamakan penilaian kembali atas rumah tersebut pada tanggal 1 Maret 1982 adalah sebesar 1.200.000. JURNAL Transaksi Laba diakui pada periode penjualan Laba diakui secara proporsional dengan penerimaan angsuran Dimiliki kwmbali rumah yang dibeli tuan Hartono dinalai kembali sebesar 1.200.000. hipotik yang berjalan ditarik kembali sebesar 1.600.000 Rumah Rugi pemilikan kembali Hipotik U/K 1.200.000 400.000 1.600.000 Rumah Laba kotor yang belum direalisasikan Hipotik direalisasi Laba pemilikan kembali 1.200.000 640.000 1.600.000 240.000
  • 14.
    Dalam hal inibunga yang akan diterima pada akhir 1981 sebesar 64.000 harus dicatat sebagai kerugian, sebab pada tahun 1982 sama sekali tidak bisa diterima. Maka laba tahun 1981 harus dikoreksi kembali. Laba atau rugi pemilikan kembali pada masing-masing metode tersebut dapat dibuktikan dengan perhitungan sebagai berikut: Laba diakui pada periode penjualan Laba diakui secara proporsional dengan jumlah penerimaan angsuran Jumlah pembayaran yang telah diterima Rugi karena penurunan harga : Harga pokok -1.500.000 Harga penilaian -1.200.000 Laba bersih Laba yang diakui sebelum pemilikan kembali Laba (rugi) dalam pemilikan kembali 900.000 (300.000) 600.000 1.000.000 (400.000) 900.000 (300.000) 600.000 360.000 240.000
  • 15.
    Laba diakui pada periodepenjualan Laba diakui secara porposional dengan jumlah penerimaan angsuran Jumlah pembayaran yang telah diterima Rp 900.000,00 Rp 900.000,00 Rugi karena perununan harga: Harga pokok - 1.500.000,00 Harga penialaian - 1.200.000,00 (Rp 300.000,00) (Rp 300.000,00) Laba bersih Rp 600.000,00 Rp 600.000,00 Laba yg diakui sebelum pemilikan kembali Rp 1.000.000,00 Rp 360.000,00 Laba (rugi) dalam pemilikan kembali (Rp 400.000,00) ( Rp 240.000,00)
  • 16.
    PENJUALAN ANGSURAN UNTUKBARANG- BARANG (BERGERAK) Prosedur akuntansi untuk penjualan barang dagangan dengan perjanjian angsuran, pada dasarnya sama dengan cara-cara yang berlaku bagi harta tetap. Untuk dapat memberikan gambaran tentang proses akuntansi dalam penjualan angsuran dari penjualan angsuran untuk barang-barang bergerak. Contoh 2: PT Karya Bhakti menjual barang dagangannya sebagian atas dasar kontrak penjualan angsuran untuk masa Β± 3 tahun disamping penjualan secara kredit, sejak beberapa tahun terakhir. Berikut neraca PT Karya Bhakti pada akhir tahun buku 1980.
  • 17.
    PT KARYA BHAKTI,SEMARANG NERACA, PER 31 DESEMBER 1980 Aktiva Pasiva Kas Rp 625.000,00 Piutang Dagang (regular) Rp 100.000,00 Hutang Dagang Rp 650.000,00 Piutang penjualan angsuran 1979 Rp 300.000,00 Wesel bayar Rp 100.000,00 Piutang penjualan angsuran Tahun 1979 Rp 80.000,00 Laba kotor yg blm direalisasi Tahun 1979 Rp 90.000,00 Persediaan barabg-barang Rp 600.000,00 Laba kotor yg blm direalisasi Tahun 1979 Rp 20.000,00 Aktiva tetap Lainnya Rp 1.175.000,00 Modal saham Rp 140.000,00 Akumulasi Penyusutan Rp 380.000,00 Rp 795.000,00 Jumlah aktiva Rp 2.500.000,00 Jumlah pasiva Rp 2.500.000,00
  • 18.
    Terhadap barang daganganyang dijual atas dasar kontrak penjualan angsuran perusahaan memperhitungkan tingkat laba kotor masing-masing 30% untuk tahun 1980 dan 25% untuk tahun 1079 dari harga jual yang bersangkutan. Diumpamakan perusahaan menggunakan metode phisik terhadap administrasi barang-barang dagangannya. Atas dasar transaksi-transaksi yang terjadi dalam tahun buku 1981 berikut ini, maka pencatatan yang diperlukan oleh PT Karya Bhakti adalah sebagai berikut:
  • 19.
    Penjualan angsuran untukbarang-barang bergerak. Transaksi-transaksi Jurnal 1 januari – 31 desember 1981 1) Penjualan Tunai Kredit Angsuran Jumlah - Rp 1.000.000,00 - Rp 850.000,00 - Rp 600.000,00 Rp 2.450.000,00 Kas Piutang Dagang Penjualan Piutang penjualan angsuran tahun 1981 Penjualan Angsuran 1.000,000,00 850.000,00 600.000,00 1.850.000,00 600.000,00 2) Pembelian barang-barang secara kredit sebesar Rp 2.500.000,00 Pembelian Hutang dagang 2.500.000,00 2.500.000,00 3) Penerimaan Kas dari: - Piutang Dagang - piutang penjualan angsuran 1981 1980 1979 Jumlah : Rp 800.000,00 : Rp 300.000,00 : Rp 200.000,00 : Rp 60.000,00 Rp 1.360.000,00 Kas Piutang dagang Piutang penjualan Angsuran 1981 Piutang penjualan Angsuran 1980 Piutang penjualan Angsuran 1979 1.360.000,00 800.000,00 300.000,00 200.000,00 60.000,00 4) Pengeluaran Kas dan Biaya-biaya Pengeluaran Kas untuk: - Pembayaran Hutang Dagang Jumlah - Macam- macam biaya Usaha Jumlah pegeluaran kas - Biaya penyusutan Aktiva Tetap Rp 100.000,00 Rp 2.450.000,00 Rp 405.000,00 Rp 2.855.000,00 Rp 95.000,00 Hutang Dagang Macam-macam Biaya Usaha Potongan pembelian Kas Akumulasi penyusutan Aktiva tetap 2.550.000,00 Rp 500.000,00 100.000,00 2.855.000,00 95.000,00
  • 20.
    31 Desember 1981,tutup buku: 5) Mencatat harga pokok barang-barang yang dijual secara angsuran Rp 390.000,00 Harga Pokok Penjualan Angsuran pengiriman barang-barang penjualan Angsuran 390.000,00 390.000,00 6) menutup rekening-rekening penjualan angsuran dan harga pokoknya serta mencatat laba kotor penjualan selama 1981 635% x 600.000,00 = 210.000,00 Penjualan Angsuran Harga pokok penjualan angsuran Laba kotor penjualan yang belom direalisasi 1981 600.000,00 390.000,00 210.000,00 7) mencatat realisasi laba kotor penjualan angsuran dalam tahun buku 1981: Penjualan angsuran: Th. 1981 = 35% x 300.000,00 = 105.000,00 Th. 1980 = 35% x 200.000,00 = 60.000,00 Th. 1979 = 35% x 60.000,00 = 15.000,00 Jumlah Rp 180.000,00 Laba kotor penjualan angsuran yang belum direalisasi 1981 Laba kotor penjualan angsuran yang belum direalisasi 1980 Laba kotor penjualan angsuran yang belum direalisasi 1979 Realisasi Laba Kotor Penjualan Angsuran 105.000,00 60.000,00 15.000,00 180.000,00 8) Menutup persediaan awal barang dagangan pembelian barang- barang, potongan pembelian dan pengiriman barang-barang yang dijual dengan perjanjian agsuran ke Rekening rugi-laba Rugi – Laba Pengiriman barang-barang penjualan angsuran Potongan pembelian Persediaan barang dagangan (per1-1-1981) Pembelian 2.610.000,00 390.000,00 100.000,00 600.000,00 2.500.000,00 9) Mencatat persediaan akhir barang dagangan, sesuai dengan stock opname pada tanggal 31 Desember 1981 sebesar harga pokok Rp1.210.000,00 Persediaan barang dagangan (per 31-12-1981) Rugi - Laba 1.210.000,00 1.210.000,00 10) Menutup Saldo rekening penjualan regular ke rekening Rugi Laba Penjualan Rugi - Laba 1.850.000,00 1.850.000,00
  • 21.
    11) Menutup labakotor yang direalisasi dari hasil penjualan angsuran tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya ke rekening Rugi - Laba Realisasi laba kotor penjualan angsuran Rugi – Laba 180.000,0 180.000,00 12) Menutup rekening-rekening biaya usaha ke Rekening Rugu – Laba Rugi – Laba Macam-macam biaya usaha 500.000,00 500.000,00 13) Mencatat taksiran pajak perseorangan yang akan di bayar sebesar 20% x laba sebelum dipotong P.Ps. ( 20% x 130.000,00 = 26.000,00) Pajak perseroan Taksiran Hutang P.Ps 26.000,00 26.000,00 14) Menutup rekening pajak Perseroan ke Rekening Rugi – Laba Rugi – Laba Pajak perseroan 26.000,00 26.000,00 15) Memindahkan laba bersih ke rekening Laba yang ditahan Rugi – Laba Laba yang ditahan (Retained carning) 104.000,00 104.000,00 Apabila perusahaan mempergunakan metode β€œperpetual inventory” maka pembelian-pembelian harus dcatat langsung ke rekening persediaan (inventory). Pencatatan untuk harga pokok penjualan angsuran dan penjualan regular harus disusun up to date. Rekening β€œHarga Pokok Penjualan Angsuran” dan β€œHarga Pokok Penjualan” (Regular), segera didebit dan rekening β€œPersediaan Barang Dagangan” segera dikredit pada saat barang dikirim kepada pembeli.
  • 22.
    Penjualan Angsuran Tahun 19811980 1979 Saldo Laba Kotor Yang Belom Direalisasi (sebelum adjustment) 210.000,00 90.000,00 20.000,00 Laba Kotor yang Belum Direalisasi pada akhir periode: Untuk penjualan angsuran 1981: 35% x saldo yang belum dibayar (Rp 300.000,00) 105.000,00 - - Untuk penjualan angsuran 1980: (30% x Rp 100.000,00) - 30.000,00 - Untuk penjualan angsuran 1979: (25% x Rp 20.000,00) - - 5.000,00 Realisasi laba kotor sesuai dengan penerimaan pembayaran piutang penjualan angsuran selama tahun 1981. 105.000,00 60.000,00 15.000,00 Alternatif prosedur untuk menghitung realisasi laba kotor penjualan angsuran Cara menghitung laba kotor yang direalisasikan pada contoh PT Karya Bhakti tersebut di muka, dapat pula ditentukan terlebih dahulu jumlah sisa laba kotor yang belum direalisasi, pada akhir tahun buku (akhir periode) yang bersangkutan. Adapun perhitungan adalah sebagai berikut:
  • 23.
    PENYAJIAN LAPORAN KEUANGANPADA METODE ANGSURAN Untuk β€œLaba Kotor Yang Belum Direalisasi” di dalam neraca dapat dicantumkan ke dalam salah satu dari ketiga kelompok berikut: 1. Sebagai hutang dan dilaporkan di bawah kelompok β€œPendapatan Yang Masih Akan Diterima”. 2. Sebagai rekening penilaian dan mengurangi β€œPiutang Penjualan Angsuran” 3. Sebagai rekening modal dan dicatat sebagai bagian dari laba yang ditahan.
  • 24.
    LABA KOTOR YANGBELUM DIREALISASI, DAPAT DIKELOMPOKKAN SEBAGAI TIGA ELEMEN BERIKUT INI: 1. Suatu cadangan untuk menutup biaya-biaya penagihan piutang penjualan angsuran yang belum dibayar, termasuk biaya/beban yang timbul karena pembeli gagal melunasi kewajiban dan berakibat pemilikan kembali oleh si penjual. Cadangan demikian harus dikurangkan dari saldo piutang penjualan angsuran. 2. Suatu hutang/kewajiban yang akan dibayar untuk pajak perseroan (P.Ps) sesuai dengan bagian laba kotor yang belum diakui untuk ditarik pembayaran pajaknya. Hutang pajak semacam ini tidak boleh digabung dengan saldo pajak perseroan yang tekah terhutang untuk laba yang sudah direalisasi dalam periode yang bersangkutan. Apabila laba kotor yang bersangkutan sudah direalisasi maka pajaknya diperhitungkan pada tahun tersebut. 3. Sisanya merupakan laba bersih yang berasal dari transaksi penjualan angsuran tersebut. Jumlah ini dapat dilaporkan sebagai bagian dari laba yang ditahan secaea khusus yang tidak bisa dipakai sebagai dasar pembagian deviden sampai piutang penjualan angsuran direalisasikan.
  • 25.
    Dilaporan laba rugi,disajikan secara terpisah antara hasil-hasil penjualan reguler dengan penjualan angsuran. Suatu ikhtisar mengenai perhitungan realisasi laba kotor dalam tahun buku yang bersangkutan, biasanya dibuat sebagai lampiran dari laporan perhitungna laba rugi tersebut. PT KARYA BHAKTI SEMARANG Neraca, per 31 Desember 1981 Aktiva Pasiva Kas 130.000 Hutang dagang 600.000 Piutang dagang 150.000 Wesel bayar 100.000 Piutang penjualan angsuran Tahun 1981 Tahun 980 Tahun 1979 300.000 100.000 20.000 Taksiran hutang pajak perseroan 26.000 420.000 Persediaan barang dagangan 1.210.000 laba kotor yang belum direalisasi (penjualan angsuran) Tahun 1981 Tahun 1980 Tahun 1979 105.000 30.000 5.000 Aktiva tetap lainnya 1.175.000 140.000 Akumulasi penyusutan 475.000 Modal saham 1.500.000 700.000 Laba yang ditahna 244.000
  • 26.
    PT KARYA BHAKTISEMARANG Perhitungan Rugi-Laba untuk periode tahun buku 1981 Penjualan angsuran Penjualan reguler Jumlah Penjualan 600.000 1.850.000 2.450.000 Harga Pokok Penjualan: Persediaan per 1 Januari 1981 600.000 pembelian 2.500.000 potongan 100.000 2.400.000 Barang yang tersedia untuk dijual 3.000.000 Persediaan barang per 31 Desember 1981 1.210.000 390.000 1.400.000 1.790.000 Laba Kotor Penjualan 210.000 450.000 660.000 Dikurangi: laba kotor penjualan angsuran tahun-1981 yang belum direalisasi (lampiran) 105.000 - 105.000 Laba kotor yang direalisasi untuk penjualan tahun 1981 105.000 450.000 555.000 Ditambah: realisasi laba kotor penjualan Angsuran 1980 dan 1979 (lampiran) 75.000 Jumlah realisasi laba kotor dalam tahun 1981 630.000 Macam-macam biaya usaha (termasuk penyusutan) 500.000 Laba bersih sebelum pajak perseroan 130.000 Pajak perseroan 26% 26.000 Laba bersih setelah pajak perseroan 104.000
  • 27.
    Tingkat laba kotoruntuk penjualan angsuran 1981: (Laba kotor : Hasil penjualan) x 100% = (210.000 : 600.000) x 100% = 35% Laba kotor yang belum direalisasi untuk penjualan angsuran tahun 1981: Piutang penjualan angsuran Rp600.000 Penerimaan pembayaran dalam tahun 1981 (Rp300.000) Saldo per Desember 1981 Rp300.000 Laba kotor yang belum direalisasi (35% x Rp300.000) Rp105.000 PT. Karya Bhakti Semarang Lampiran: Perhitungan Rugi- Laba, untuk periode tahun buku 1981. Realisasi Laba Kotor Penjualan Angsuran Realisasi laba kotor tahun 1981
  • 28.
    MASALAH PERTUKARAN (TRADEIN) DI DALAM PENJUALAN ANGSURAN Pertukaran adalah penjual menyerahkan barang-barang baru dengan perjanjian angsuran, sedang pembayaran pertama dari pembeli berupa penyerahan barang-barang bekas. Perbedaan antara estimated cost dengan harga pertukaran dicatat dalam rekening β€œcadangan perbedaan harga pertukaran”. Contoh: Seorang pedagang mobil memiliki sebuah mobil baru dengan harga pokok Rp 1.000.000,00 dijual kepada seorang pembeli dengan perjanjian penjualan angsuran seharga Rp 1.500.000,00. Sebagai pembayaran pertama pembeli menyerahkan sebuah mobil bekas dan setuju dihargai Rp 400.000,00. Diperkirakan biaya-biaya yang diperlukan untuk perbaiakna mobil bekas tersebut berjumlah Rp 50.000,00, sedang harga penjualan normal setelah diperbaiki adalah Rp375.000,00. Pedagang mobil tersebut mengharapkan laba normal sebesar 25% dari harga penjualan mobil-mobil bekas.
  • 29.
    Perhitungan-perhitungan Harga pertukaran mobilbekas Rp 400.000,00 Harga penilaian terhadap mobil bekas : Harga jual sesudah diperbaiki Rp 375.000,00 Dikurangi : Ongkos perbaikan Rp 50.000,00 Laba normal yang diharapkan dalam penjualan kembali mobil bekas (25% x Rp 375.000,00) Rp 93.750,00 Rp 143.750,00 Rp 231.250.00 Perbedaan harga pertukaran (terlalu tinggi) Rp 168.750,00
  • 30.
    Penjurnalan Persediaan barang daganganmobil bekas .............. Rp 231.250 Cadangan perbedaan harga pertukaran (Over Allowances on installment Sales Trade Ins) ................................................................................. Rp 168.750 Piutang penjualan angsuran..................................... Rp1.100.000 Penjualan angsuran.................................................................. Rp 1.500.000 Harga pokok penjualan angsuran ........................... Rp 1.000.000 Persediaan barang dagangan mobil baru ................................ Rp 1.000.000
  • 31.
    MASALAH PEMBATALAN KONTRAKDAN PEMILIKAN KEMBALI Apabila si pembeli gagal untuk memenuhi kewajibannya seperti yang tercantum di dalam surat pejanjian angsuran, maka barang-barang yang bersangkutan ditarik dan dimiliki oleh si penjual. Dalam hal ini pencatatan yang harus dilakukan dalam buku-buku si penjual, akan menyangkut : a. Pencatatan pemilikan kembali barang dagangan b. Menghapuskan saldo piutang penjualan c. Menghapuskan saldo laba kotor yang belum direalisasi d. Pencatatan keuntungan atau kerugian
  • 32.
    Contoh: Pada tahun 1982,seorang langganan PT Karya Bhaktipada contoh no. 2, telah gagal dan tidak dapat memenuhi kewajibannya. Langganan tersebut membeli barang-barang pada tahun 1981 seharga Rp 20.000,00. Dari jumlah harga tersebut telah dibayar oleh langganan yang bersangkutan sebesar Rp 10.000,00. Barang-barang kemudian ditarik dan dimiliki kembali oleh PT Karya Bhakti dan nilainnya ditaksir sebesar Rp 9.000,00 dengan sudah memperhitungkan cadangan untuk perbaikan-perbaikan dan keuntungan normal diharapkan apabila dijual lagi. Pencatatan yang dilakukan dalam buku-buku PT Karya Bhakti Semarang, adalah sebagai berikut: Persediaan barang dagangan pemilikan kembali Rp 9.000,00 Laba kotor yang belum direalisasi tahun 1980 Rp 3.500,00 Laba karena pemilikan kembali Rp 2.500,00 Piutang penjualan angsuran tahun 1981 Rp10.000,00
  • 33.
    Perhitungan : Jumlah kasyang telah diterima ................................................................ Rp 10.000,00 Dik : Rugi penurunan harga Harga pokok barang dagangan (65% x 20.000,00) = ........................................................................... Rp 13.000,00 Nilai pada saat pemilikan kembali ...................... Rp 9.000,00 Rp 4.000,00 Laba atas barang yang ditarik kembali .............................................. Rp 6.000,00 Laba yang telah diakui sebelumnya ( 35% x Rp 10.000,00 ) ................... Rp 3.500,00 Laba pemilikan kembali ...................................................................... Rp 2.500,00
  • 34.
    MASALAH BUNGA PADAPENJUALAN ANGSURAN Dalam perjanjian penjualan angsuran, biasanya penjual di samping memperhitungkan laba juga memperhitungkan beban bunga terhadap jumlah harga dalam kontrak yang belum dibiayai oleh pembeli. Kebijaksanaan pembayaran bunga secara periodik pada umumnya dilakukan dalam bentuk seperti berikut: 1. Bunga diperhitungkan dari sisa harga kontrak selama jangka waktu angsuran (long end interest). 2. Bunga diperhitungkan dari setiap angsuran yang harus dibayar, terhitung sejak tanggal ditanda- tangani sampai tanggal jatuh tempo setiap angsuran yang bersangkutan (short end interest). 3. Pembayaran angsuran periodik dilakukan dalam jumlah yang sama, di mana di dalamnya termasuk angsuran pokok dan bunga yang diperhitungkan dari saldo harga kontrak selama jangka waktu perjanjian. 4. Bunga secara periodik diperhitungkan berdasar dari (sisa) harga kontrak.
  • 35.
    Contoh: Misalnya pada tanggal1 januari 1980 telah dijual sebuah mesin dengan harga Rp 1.250.000,00 atas dasar perjanjian penjualan angsuran. Uang muka (down payment) ditetapkan sebesar Rp 350.000,00 sedang sisanya dibayar dalam waktu 1 tahun dengan 6 kali angsuran (setiap 2 bulan) dan bunga ditetapkan sebesar 12% setahun. Harga pokok mesin tersebut adalah Rp 750.000,00. Perhitungan : PEMBAYARAN YANG AKAN DILAKUKAN SESUAI DENGAN 4 (EMPAT) CARA SEPERTI DITERANGKAN DI DEPAN,AKAN TERTERA SEPERTI PERHITUNGAN DAN PENCATATAN BERIKUT INI. Harga jual mesin ........................................................................ Rp 1.250.000,00 Uang muka (down payment) ..................................................... Rp 350.000,00 Dibayar 6 kali angsuran tiap-tiap 2 bulan Rp 900.000,00
  • 36.
    1. Bunga Periodikdiperhitungkan dari sisa harga kontrak pada setiap awal periode angsuran Pada saat cara ini beban bunga diperhitungkan berdasar jangka waktu yang sama untuk setiap angsuran, yaitu 2 bulan. *) 12% Γ— 2 12 Γ— 𝑅𝑝 900.000,00 = 𝑅𝑝 18.000,00 **) 12% Γ— 2 12 Γ— 𝑅𝑝 150.000,00 = 𝑅𝑝 3.000,00 Tanggal pembayaran Bunga atas saldo harga kontrak pada awal periode angsuran Angsuran atas harga kontrak Jumlah pembayran Sisa harga kontrak 1 januari 1980 - - - Rp 1.250.000,00 1 januari 1980 - Rp 350.000,00 Rp 350.000,00 Rp 900.000,00 1 maret 1980 Rp 18.000,00 Rp 150.000,00 Rp 168.000,00 Rp 750.000,00 1 mei 1980 Rp 15.000,00 Rp 150.000,00 Rp 165.000,00 Rp 600.000,00 1 juli 1980 Rp 12.000,00 Rp 150.000,00 Rp 162.000,00 Rp 450.000,00 1 september 1980 Rp 9.000,00 Rp 150.000,00 Rp 159.000,00 Rp 300.000,00 1 nopember 1980 Rp 6.000,00 Rp 150.000,00 Rp 156.000,00 Rp 150.000,00 1 desember 1980 Rp 3.000,00 Rp 150.000,00 Rp 153.000,00 NIHIL Jumlah Rp 63.000,00 Rp 1.250.000,00 Rp 1.313.000,00
  • 37.
    Atas dasar perhitungandalam daftar tersebut maka pencatatan di dalam buku-buku si pembeli dan si penjual akan ternyata sebagai berikut: Ttransaski Buku- buku si pembeli Buku-buku si penjual 1 januari 1980 penjualan angsuran sebuah mesin seharga Rp 1.250.000,00 dengan uang muka Rp 350.000,00 1. Mesin-mesin 1.250.000,00 Hutang pembelian Angsuran 1.250.000,00 1. Hutang pembelian Angsuran 350.000,00 Kas 350.000,00 1. Piutang penjualan angsuran 1.250.000,00 Penjualan angsa 1.250.000,00 1. Kas 350.000,00 Piutang penjual angsuran 350.000 1. Harga pokok penjualan mesin 750.000 Persediaan mesin-mesin 750.000 1 maret 1980 Pembayaran angsuran pertama sebesar 150.000 bunga 12% setahun dari saldo harga kontrak sebesar 900.000 Hutang pembelian Angsuran 150.000 Biaya bunga 18.000 Kas 168.000 Kas 168.000 Piutang penjualan angsuran 150.000 Pendapatan bunga 18.000 1 mei 1980 pembayaran angsuran kedua sebesar150.000 bunga 12% setahun dari saldo Hutang pembelian Angsuran 150.000 Biaya bunga Kas 165.000 Piutang penjualan Angsuran 150.000 β€˜Pendapatan bunga
  • 38.
    2. Bunga diperhitungkandari setiap angsuran yang harus dibayar atas dasar jangka waktu angsuran yang bersangkutan Metode ini merupakan kebalikan metode nomer 1. Pada metode ini bunga diperhitungkan dari besarnya angsuran yang tetap jumlahnya, sedangkan jangka waktu selalu dihitung dari permulaan ditandatanganinya/berlakunya perjanjian sampai dengan saat pembayaran angsuran yang bersangkutan. Pembayaran yang harus dilakukan akan terlihat seperti di dalam draf berikut : *) 12% Γ— 2 12 Γ— 𝑅𝑝 150.000,00 = 𝑅𝑝 3.000.000,00 **) 12% Γ— 12 12 Γ— 𝑅𝑝 150.000,00 = 𝑅𝑝 18.000,00 Tanggal pembayaran Harga dari tanggal transaksi sampai dengan tanggal pembayaran (1% per bulan) Angsuran harga kontrak Jumlah pembayaran Sisa harga kontrak 1 januari 1980 - - - Rp1,250.000,00 1 januari 1980 - Rp 350.000,00 Rp 350.000,00 Rp 900.000,00 1 maret 1980 Rp 3.000,00 Rp 150.000,00 Rp 153.000,00 Rp 750.000,00 1 mei 1980 Rp 6.000,00 Rp 150.000,00 Rp 156.000,00 Rp 600.000,00 1 juli 1980 Rp 9.000,00 Rp 150.000,00 Rp 159.000,00 Rp 450.000,00 1 september 1980 Rp 12.000,00 Rp 150.000,00 Rp 162.000,00 Rp 300.000,00 1 nopember 1980 Rp 15.000,00 Rp 150.000,00 Rp 165.000,00 Rp 150.000,00 31 Desember 1980 Rp 18.000,00 Rp 150.000,00 Rp 168.000,00 NIHIL Jumlah Rp 63.000,00 Rp1.250.000,00 Rp1.313.000,00
  • 39.
    Pencatatan di dalambuku-buku si pembeli dan si penjual akan nampak sebagai berikut : Transaksi Buku-buku si pembeli Buku-buku si penjual 1 Januari 1990 Penjualan angsuran sebuah mesin seharga : Rp. 1.250.000,00 dengan uang muka : Rp. 350.000,00 1) Mesin-mesin 1.250.000,00 Hutang Pembelian Angsuran 1.250.000,00 1) Hutang Pembelian Angsuran 350.000,00 Kas 350.000,00 1) Piutang Penjualan Angsuran 1.250.000,00 Penjualan Angsuran 1.250.000,00 1) Kas 350.000,00 Piutang Penjualan Angsuran 350.000,- 1) Harga Pokok Penjualan Mesin 750.000,00 Persediaan Mesin-mesin 750.000,00
  • 40.
    1 Maret 1980 1.Pencatatan bunga yang masih harus di perhitungkan (accrued interest) selama 2 bulan dari sisa harga kontrak sebesar : Rp. 900.000,00 1. Buiaya Bunga 18.000,00 Bunga yang Akan di bayar atas Pembelian Angsuran 18.000,00 1. Bunga yang akan diterima atas penjualan Angsuran 18.000,00 Pendapatan Bunga 18.000,00 1. Pencatatan pembayaran angsutan pertama sebesar : Rp. 150.000,00 dan bunga 12% setahun, selama 2 bulan dari Angsuran yang bersangkutan 2. Hutang Pembelian Angsuran 150.000,00 Bunga yang dibayar atas pembelian Angsuran 3.000,00 Kas 153.000,00 1) Kas 153.000,00 Piutang Pen jualan Angsuran 150.000,00 Bunga yang Akan Diterima atas Pemjualan Angsuran 3.000,00
  • 41.
    Perubahan-perubahan daripada saldobunga uangmasih diperhitungkan itu dapat diikhtisarkan sebagai berikut (dipandang dari sudut pembeli): Tanggal Pembayaran Kenaikan bunga yang diperhitungkan (kredit) Pengurangan bunga yang dibayar (Debit) Saldo bunga yang akan dibayar atas pembelian (angsuran) 1 – 3 – 1980 1 – 5 – 1980 1 – 7 – 1980 1 – 9 – 1980 1 – 11 – 1980 1 – 12 – 1980 Rp. 18.000,00 Rp. 15.000,00 Rp. 12.000,00 Rp. 9.000,00 Rp. 6.000,00 Rp. 3.000,00 Rp. 3.000,00 Rp. 6.000,00 Rp. 9.000,00 Rp.12.000,00 Rp.15.000,00 Rp. 18.000,00 Rp. 15.000,00 Rp. 24.000,00 Rp. 27.000,00 Rp.24.000,00 Rp. 15.000,00 NIHIL
  • 42.
    3. Pembayaran angsuranperiodik dilakukan dalam jumlah yang sama, dimana di dalamnya sudah diperhitungkan angsuran pokok dan bunga Metode ini lebih dikenal dengan nama β€œmetode anuitet”. Jumlah pembayaran angsuran dari periode ke periode jumlahnya tetap sama. Dalam jumlah tersebut sudah diperhitungkan: a. Pembayaran bunga atas sisa Harga kontrak, dan b. Angsuran atas harga kontrak utu sendiri Adapun rumus faktor anueter tersebut adalah sebagai berikut : 𝐴 1 βˆ’ 1 (1 + 𝑖)𝑛 𝑖 A i n 1 (1 + 𝑖)𝑛 = = = = Anuitet Tingkat bunga Jangka waktu berlangsungnya kontrak penjualan angsuran Nilai tunai (present value) Keterangan:
  • 43.
    Apabila sudah diketahuifaktor anuitetnya, maka jumlah pembayaran cicilannya dihitung sebagai berikut: Jumlah pembayaran angsuran= π‘†π‘–π‘ π‘Ž π»π‘Žπ‘Ÿπ‘”π‘Ž πΎπ‘œπ‘›π‘‘π‘Ÿπ‘Žπ‘˜ πΉπ‘Žπ‘˜π‘‘π‘œπ‘Ÿ 𝐴𝑛𝑒𝑖𝑑𝑒𝑑 Pada contoh di muka, maka dapat dicari faktor anuitetnya sebagai berikut: 𝐴 = 1βˆ’ 1 (1+0,02)6 0,02 𝐴 = 1βˆ’0,8879.7135 0,02 = 5,601.431* Sedang besarnya setiap kali angsuran adalah : 𝑅𝑝. 900.000,00 5.601.431 = 𝑅𝑝. 160.673,00 * Dapat pula dilihat pada tabel anuited di bawah kolom 2% dan pada baris n = 6 (12% setahun sama dengan 2% setiap bulan).
  • 44.
    Daftar pembayaran angsurandan alokasi setiap pembayaran di antara beban bunga dan angsuran harga kontrak sebagai berikut : Tanggal pembayaran Pembayaran Angsuran Bagian pembayaran yang merupakan beban bunga yang diperhitungkan Bagian pembayaran yang dipakai untuk melunasi Harga Kontrak Sisa Harga Kontrak 1 Januari 1980 1 Januari 1980 1 Maret 1980 1 Mei 1980 1 Juli 1980 1September1980 1Nopember 1980 31 Desember 1980 - 350.000 160.673 160.673 160.673 160.673 160.673 160.673 - - 18.000*) 15.146**) 12.236 9.267 6.239 3.150 - 350.000 142.673 154.527 146.437 151.406 154.434 157.523 1.250.000 900.000 757.327 511.800 463.363 311.957 147.523 NIHIL Jumlah 1.314.038 64.038 1.250.000 *) 12% x 2 12 x Rp. 900.000,00 = Rp. 18.000,00 **) 12% x 2 12 x Rp. 757.327,00 = Rp. 15.146,00
  • 45.
    Dari daftar tersebut,maka pencatatan pembayaran angsurannya akan tertera pada masing-masing buku pembeli dan penjual antara lain sebagai berikut: Transaksi Buku-buku si pembeli Buku-buku si penjual 1 Maret 1980 Pembayaran angsuran pertama sebesar : Rp. 160.673,00 untuk pembayaran bunga Rp. 18.000,00 dan pelunasan harga kontrak sebesar : Rp. 142.673,00 Biaya Bunga 18.000,00 Hutang Pembelian Angsuran 142.673,00 Kas 160.673,00 Kas160.000,00 Pendapatan Bunga 18.000,00 Piutang Penjualan Angsuran 142.673,00 1 Mei 1980 Pembayaran angsuran kedua sebesar Rp. 160.673,00 untuk bunga Rp. 15.146,00 dan pelunasan harga kontrak untuk :Rp. 145.527,00 Biaya Bunga15.146,00 Hutang Pemberian Angsuran 142.527,00 Kas Kas160.673,00 Pendapatan bunga 15.146,00 Piutang Penjualan Angsuran 145.527,00
  • 46.
    4. Bunga secaraperiodik diperhitungkan berdasar dari sisa harga hontrak Pada cara yang terakhir tidak banyak menimbulkan persoalan perhitungan yang terperinci. Sebab besarnya bunga cukup ditentukan sekali saja, selanjutnya pembayaran bunga pada setiap angsuran besarnya sama. Apabila contoh di muka diterapkan pada metode ini, maka dapatlah disusun daftar pembayaran angsuran sebagai berikut:Bunga diperhitungan atas dasar (sisa) harga kontrak. Tanggal pembayaran Bunga yang didasarkan atas harga kontrak Angsuran atas harga kontrak Jumlah pembayaran Sisa Harga Kontrak 1 Januari 1980 1 Januari 1980 1 Maret 1980 1 Mei 1980 1 Juli 1980 1 September 1980 1 Nopember 1980 31 Desember 1980 - - 18.000 18.000 18.000 18.000 18.000 18.000 - 350.000 150.000 150.000 150.000 150.000 150.000 150.000 - 350.000 168.000 168.000 168.000 168.000 168.000 168.000 1.250.000 900.000 750.000 600.000 450.000 300.000 150.000 NIHIL Jumlah Jika dipandang dari sudut pandang penjual, cara terakhir paling menguntungkan karena bunganya lbh besar daripada ketiga metode sebelumnya. Prosedur pembukuan sama dengan metode-metode terdahulu.
  • 47.
    Daftar Pustaka: Yunus, Hadori.Harnanto. 2013. Akuntansi Keuangan Lanjutan. Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.