PAKAIAN
UMMU FATHMA
SYAR’IKU
FUNGSI PAKAIAN
• Dalam sistem kapitalis pakaian
dianggap sebagai salah satu
ungkapan kepribadian, sebagai
unsur penarik lawan jenis dan
karena itu memiliki nilai
ekonomis.
• Bentuk tubuh seseorang –
apalagi wanita– sangat
berpengaruh terhadap makna
kebahagiaan dan masa depan.
PAKAIAN DALAM ISLAM
• Sebagai ungkapan ketaatan
dan ketundukan kepada
Allah.
• Berpakaian bagi seorang
muslim memiliki nilai
ibadah.
• Karena itu dalam berpakaian
tersebut, seorang muslim
wajib mengikuti aturan
yang telah ditetapkan Allah
SWT.
AURAT LAKI-LAKI
Aurat itu wajib ditutupi dari
pandangan manusia.
(Imam Nawawi, Al Majmu’, 3: 119)
Rasulullah saw bersabda:
َ‫ل‬ِ‫إ‬ ِ‫ة‬َّ‫ر‬ُّ‫س‬‫ال‬ َ‫ت‬ْ‫ح‬َ‫ت‬ ‫ا‬َ‫م‬ َّ‫ن‬ِ‫إ‬َ‫ف‬ََْ‫ال‬ َ‫ن‬ِ‫م‬ ِِِ‫ت‬ََْْ‫ك‬‫ر‬ ‫ ى‬ِ‫ة‬َ‫ر‬ ْ‫ْو‬
“Karena diantara pusar sampai lutut
adalah aurat.” (HR. Ahmad)
AURAT WANITA (1)
Aurat wanita dibagi menjadi
tiga keadaan, yaitu:
(1) DI HADAPAN SUAMI
MEREKA maka wanita
boleh menampakkan
seluruh bagian tubuhnya
(berdasarkan hadits
riwayat Bahz bin Hakim).
AURAT WANITA (2)
• (2) DI HADAPAN MAHROMNYA DAN ORANG-ORANG
YANG DISEBUT DALAM QS. AN-NÛR [24]: 31 DAN QS.
AN-NISÂ’ [4]: 23 maka baginya boleh menampilkan
bagian tertentu dari anggota tubuhnya yang biasa
disebut mahaluzzinah yaitu anggota badan yang
biasanya dijadikan tempat perhiasan, seperti: kepala
seluruhnya, tempat kalung (leher), tempat gelang
tangan (pergelangan tangan) sampai pangkal lengan
dan tempat gelang kaki (pergelangan kaki) sampai
lutut.
• Mahaluzzinah ini biasa tampak ketika wanita memakai
baju dalam rumah (mihnah).
• Aurat yang ada di antara pusar dan lutut tidak boleh
terlihat di hadapan mahromnya dan kaum wanita,
kecuali terhadap suaminya.
Pemahaman mahaluzzinah ini
diambil dari firman Allah SWT:
َ‫َل‬ َ‫ْو‬‫ك‬‫ه‬َ‫ت‬َ‫ن‬‫ي‬ ِ‫ز‬ َ‫ين‬ِ‫د‬َْ‫ك‬‫ي‬َّ‫َل‬ِ‫إ‬ َّ‫ن‬٠٠٠
“…. dan janganlah
menampakkan perhiasan
mereka, kecuali…”
(QS. an-Nûr [24]: 31)
Kata zinah yang secara bahasa
berarti perhiasan, tetapi
bukanlah perhiasan yang biasa
dipakai orang tetapi makna
zinah di sini adalah anggota
badan yang merupakan tempat
perhiasan (mahaluzzinah),
karena illa mâ zhahara
minha yang dimaksud adalah
yang biasa nampak pada saat
itu (saat ayat ini turun) yaitu
muka dan telapak tangan, jadi
menyangkut anggota badan.
(3) DI HADAPAN LAKI-
LAKI SELAIN SUAMI
DAN MAHROMNYA
maka aurat wanita
adalah seluruh tubuh
kecuali wajah dan
telapak tangan.
AURAT WANITA (3)
Dasar dari penentuan aurat
wanita adalah seluruh tubuh
kecuali wajah dan telapak
tangan, yaitu:
َ‫ن‬‫ي‬ ِ‫ز‬ َ‫ين‬ِ‫د‬َْ‫ك‬‫ي‬ َ‫َل‬ َ‫ْو‬َّ‫َل‬ِ‫إ‬ َّ‫ن‬‫ك‬‫ه‬َ‫ت‬‫ا‬َ‫م‬
‫ا‬َ‫ه‬ْ‫ن‬ِ‫م‬ َ‫ر‬َ‫ه‬َ‫ظ‬
“….dan janganlah mereka
menampakkan perhiasan
mereka kecuali yang (biasa)
nampak dari padanya.”
(QS. an-Nûr [24]: 31)
• Yang dimaksud dengan yang biasa nampak
daripadanya adalah wajah dan telapak tangan.
• Karena dua bagian ini yang biasa nampak dari
wanita muslimah di hadapan Rasulullah
Muhammad saw (baik dalam sholat, haji maupun
dalam kehidupan sehari-hari di luar sholat dan haji)
dan Rasulullah saw mendiamkannya sementara
ayat-ayat al-Qu’ran masih turun.
• Ibnu Abbas menyatakan yang dimaksud dengan illa
mâ zhahara minha adalah muka dan tangan.
• Imam Ibnu Jarir ath-Thabari menyatakan
“Pendapat yang paling kuat dalam masalah ini
adalah pendapat yang menyatakan bahwa sesuatu
yang biasa nampak adalah muka dan telapak
tangan.” (Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an, jld. 18,
hal. 94).
Hal tersebut diperkuat dengan
sabda Rasulullah saw kepada
Asma’ binti Abu Bakar:
َ‫أ‬ ْ‫ر‬َ‫م‬ْ‫ال‬ َّ‫ن‬ِ‫إ‬ ‫ك‬‫ء‬‫ا‬َ‫م‬ْ‫س‬َ‫أ‬ ‫ا‬َ‫ي‬ِ‫ت‬َ‫غ‬َ‫ل‬ََ ‫ا‬َ‫ذ‬ِ‫إ‬ َ‫ة‬
ْ‫ح‬‫ك‬‫ل‬ْ‫ص‬َ‫ت‬ ْ‫م‬َ‫ل‬ َ‫يض‬ ِ‫ح‬َ‫م‬ْ‫ال‬َ‫ه‬ْ‫ن‬ِ‫م‬ ‫ى‬َ‫ر‬‫ك‬‫ي‬ ْ‫ن‬َ‫أ‬‫ا‬
‫ ى‬َ‫ل‬ِ‫إ‬ َ‫َار‬‫ش‬َ‫أ‬ َ‫ْو‬ ‫ا‬َ‫ذ‬َ‫ه‬ َ‫ْو‬ ‫ا‬َ‫ذ‬َ‫ه‬ َّ‫َل‬ِ‫إ‬ِ‫ه‬ِ‫ه‬ْ‫ج‬َ‫و‬
ِ‫ه‬ْ‫ي‬َّ‫ف‬َ‫ك‬َ‫و‬
“Wahai Asma’, sesungguhnya
wanita yang telah haid tidak
layak baginya terlihat dari
tubuhnya kecuali ini dan ini.
Beliau menunjuk pada wajah dan
telapak tangannya.”
[HR. Abu Dawud, No. 3580].
SYARAT PAKAIAN BAGI LAKI-LAKI MUSLIM:
(1) MENUTUP AURAT
Nabi saw pernah didatangi oleh seseorang yang menanyakan
perihal aurat yang harus ditutup dan yang boleh
ditampakkan, maka beliau pun menjawab :
ْ‫ظ‬َ‫ف‬ْ‫اح‬َ‫م‬ ‫ا‬َ‫م‬ ْ‫ْو‬َ‫أ‬ َ‫ك‬ ِ‫ج‬ ْ‫ْو‬َ‫ز‬ ْ‫ن‬ِ‫م‬ َّ‫إَل‬ َ‫ك‬َ‫ت‬َ‫ر‬ ْ‫ْو‬َ‫ع‬َ‫ك‬‫ك‬‫ن‬‫ي‬ِ‫م‬َ‫ي‬ ْ‫ت‬ََْ‫ل‬.
Jagalah auratmu kecuali terhadap (penglihatan)
istrimu atau budak yang kamu miliki.
[HR. Abu Dâwud, no.4017; Tirmidzi, no. 2794; Nasa’i dalam kitabnya
Sunan al-Kubrâ, no. 8923; Ibnu Mâjah, no. 1920]
SYARAT PAKAIAN BAGI LAKI-LAKI MUSLIM:
(2) TIDAK TERBUAT DARI EMAS
ATAU SUTERA
Diriwayatkan dari al-Bara’ bin Azib r.a katanya: “Rasulullah saw
melarang kami memakai cincin atau bercincin emas, minum dengan
bekas minuman dari perak, hamparan sutera, pakaian buatan Qasiy
yaitu dari sutera, serta mengenakan pakaian sutera, sutera tebal dan
sutera halus.” [HR. Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu
Majah dan Ahmad, CD Al-Bayan 1212].
SYARAT PAKAIAN
BAGI LAKI-LAKI MUSLIM:
(3) TIDAK MENYERUPAI
PAKAIAN WANITA
ِ َّ‫اَّلل‬ َ‫ل‬‫ْو‬‫ك‬‫س‬َ‫ر‬ َّ‫ن‬َ‫أ‬-‫علي‬ ‫هللا‬ ‫صل ى‬‫ْوسلم‬ ِ-َ‫ن‬َََ‫ل‬
ْ‫ال‬ َ‫ة‬َ‫س‬َْ‫ك‬‫ل‬ ‫ك‬‫س‬ََْ‫ل‬َ‫ي‬ َ‫ل‬‫ك‬‫ج‬َّ‫الر‬ْ‫ل‬َ‫ت‬ َ‫ة‬َ‫أ‬ ْ‫ر‬َ‫م‬ْ‫ال‬ َ‫ْو‬ ِ‫ة‬َ‫أ‬ ْ‫ر‬َ‫م‬‫ك‬‫س‬ََ
ِ‫ل‬‫ك‬‫ج‬َّ‫الر‬ َ‫ة‬َ‫س‬َْ‫ك‬‫ل‬
“Rasulullah saw melaknat laki-laki yang memakai
pakaian wanita, begitu pula wanita yang
memakai pakaian laki-laki” (HR. Ahmad no. 8309, 14:
61. Sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)
SYARAT PAKAIAN
BAGI LAKI-LAKI MUSLIM:
(4) TIDAK MENYERUPAI ORANG-
ORANG KAFIR
ْ‫ن‬َ‫م‬ْ‫ن‬ِ‫م‬ َ‫ْو‬‫ك‬‫ه‬َ‫ف‬ ٍ‫م‬ ْ‫ْو‬َ‫ق‬َِ ََََِّ‫ش‬َ‫ت‬ْ‫م‬‫ك‬‫ه‬
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka
dia termasuk bagian dari mereka.”
(HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031)
Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah saw
bersabda,
َ‫س‬ْ‫ي‬َ‫ل‬‫ا‬َ‫ن‬ ِ‫ر‬ْ‫ي‬َ‫غ‬ِ‫ب‬ َ‫ه‬َّ‫ب‬َ‫ش‬َ‫ت‬ ْ‫ن‬َ‫م‬ ‫ا‬َّ‫ن‬ِ‫م‬
“Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai
selain kami” (HR. Tirmidzi no. 2695)
KEHIDUPAN KHUSUS DAN
KEHIDUPAN UMUM
BAGI MUSLIMAH
• Tempat manusia hidup
bersama individu masyarakat
lainnya seperti di kota, desa,
pasar, jalan, terminal, rumah
sakit, berada di angkutan
umum, sekolah, masjid, dll.
• Tidak perlu ijin ketika
memasuki kehidupan umum.
KEHIDUPAN UMUM
• Tempat manusia hidup di
rumahnya bersama anggota
keluarga lainnya.
• Yang termasuk kehidupan
khusus adalah rumah, kamar,
mobil pribadi.
• Harus ada ijin ketika
memasuki kehidupan khusus.
KEHIDUPAN KHUSUS
AKTIVITAS DI
KEHIDUPAN
KHUSUS
• Interaksi laki-laki asing (bukan
mahram) dengan perempuan di
kehidupan khusus HARAM,
kecuali bersamanya mahram.
• Seorang wanita boleh
membuka jilbabnya dan hanya
memakai mihnahnya, kecuali
jika ada tamu laki-laki non
mahram.
AKTIVITAS DI
KEHIDUPAN KHUSUS
Mihnah adalah pakaian yang biasa dipakai wanita dalam
rumahnya, seperti baju lengan pendek, daster, celana
atau rok.
Mihnah merupakan pakaian yang harus dipakai di dalam
lapisan dari jilbab muslimah ketika keluar rumah.
Wanita hidup bersama mahramnya
ataupun bersama wanita lainnya.
Hanya kepadanya wanita boleh
menampakkan auratnya.
RUMAH BERPENGHUNI
Kontrol dan wewenang ada pada
penghuninya, mau menerima tamu atau
tidak itu hak penghuni, maka harus ada ijin
dari penghuni ketika akan memasukinya.
RUMAH TIDAK BERPENGHUNI
Boleh memasukinya bila ada hajat
PAKAIAN WANITA DI DALAM
KEHIDUPAN UMUM
Dalam kehidupan umum, yaitu pada saat wanita
berada di luar rumahnya, maka seorang wanita
harus menggunakan pakaian secara sempurna, yakni:
1. Menutup aurat;
2. Menetapi jenis dan model yang ditetapkan
syara’ (memakai jilbab, khimar, mihnah dan
memenuhi kriteria irkha’);
3. Tidak tembus pandang;
4. Tidak menunjukkan bentuk dan lekuk
tubuhnya;
5. Tidak tabarruj;
6. Tidak menyerupai pakaian laki-laki;
7. Tidak tasyabbuh terhadap orang kafir.
PERINTAH
MENGENAKAN KERUDUNG
ََْ‫أ‬ ْ‫ن‬ِ‫م‬ َ‫ْن‬‫ض‬‫ك‬‫ض‬ْ‫غ‬َ‫ي‬ ِ‫ت‬‫َا‬‫ن‬ِ‫م‬ْ‫ؤ‬‫ك‬‫م‬ْ‫ل‬ِ‫ل‬ ْ‫ل‬‫ك‬‫ق‬ َ‫ْو‬‫ك‬‫ر‬‫ك‬‫ف‬ َ‫ن‬ْ‫ظ‬َ‫ف‬ْ‫ح‬َ‫ي‬ َ‫ْو‬ َّ‫ن‬ِ‫ه‬ ِ‫ار‬َ‫ص‬َّ‫ن‬‫ك‬‫ه‬َ‫ج‬‫ْو‬
ِ‫م‬ َ‫ر‬َ‫ه‬َ‫ظ‬ ‫ا‬َ‫م‬ َّ‫َل‬ِ‫إ‬ َّ‫ن‬‫ك‬‫ه‬َ‫ت‬َ‫ن‬‫ي‬ ِ‫ز‬ َ‫ين‬ِ‫د‬َْ‫ك‬‫ي‬ َ‫َل‬ َ‫ْو‬‫ك‬‫م‬‫ك‬‫خ‬َِ َ‫ْن‬َ ِ‫ْر‬‫ض‬َ‫ي‬ْ‫ل‬ َ‫ْو‬ ۖ ‫ا‬َ‫ه‬ْ‫ن‬َّ‫ن‬ِ‫ه‬ ِ‫ر‬
َّ‫ن‬ِ‫ه‬َِ‫ْو‬‫ك‬‫ي‬‫ك‬‫ج‬ ٰ‫ ى‬َ‫ل‬َ‫ع‬
“Dan katakanlah kepada wanita yang beriman:
‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan
memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka
menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) nampak
daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan khumur
(kain kerudung) ke juyub (dada)-nya.’”
(QS. An-Nur:31)
TENTANG KHIMAR
• Khumur adalah jama’ dari khimar yaitu
kerudung yang menutupi kepala,
dan juyub adalah jama’ dari kata jaibun
yaitu ujung pakaian (kancing pembuka)
yang ada di sekitar leher dan di atas dada.
• Dengan kata lain khimar adalah kain yang
menutupi kepala tanpa menutupi wajah,
terulur sampai menutupi ujung pakaian
yakni kancing baju di atas dada.
• Dengan demikian untuk bagian atas badan
wanita diwajibkan mengenakan kerudung
yang diulurkan sampai ujung pakaian
(kancing pembuka)/di atas dada.
PERINTAH
MENGENAKAN JILBAB
ََ َ‫ْو‬ َ‫ك‬ ِ‫اج‬ َ‫ْو‬ ْ‫ز‬َ ِ‫ِل‬ ْ‫ل‬‫ك‬‫ق‬ ُّ‫ي‬ََِّ‫ن‬‫ال‬ ‫ا‬َ‫ه‬ُّ‫ي‬َ‫أ‬ ‫ا‬َ‫ي‬َ‫ين‬ِ‫ن‬ِ‫م‬ْ‫ؤ‬‫ك‬‫م‬ْ‫ال‬ ِ‫اء‬َ‫س‬ِ‫ن‬ َ‫ْو‬ َ‫ك‬ِ‫ت‬‫َا‬‫ن‬َ‫ين‬ِ‫ن‬ْ‫د‬‫ك‬‫ي‬
َ‫أ‬ َ‫ك‬ِ‫ل‬َٰ‫ذ‬ ۚ َّ‫ن‬ِ‫ه‬َِ‫ي‬َِ َ‫َل‬َ‫ج‬ ْ‫ن‬ِ‫م‬ َّ‫ن‬ِ‫ه‬ْ‫ي‬َ‫ل‬َ‫ع‬ْ‫ؤ‬‫ك‬‫ي‬ َ‫َل‬َ‫ف‬ َ‫ن‬ْ‫ف‬َ‫ر‬َْ‫ك‬‫ي‬ ْ‫ن‬َ‫أ‬ ٰ‫َ ى‬‫ن‬ْ‫د‬ۗ َ‫ْن‬‫ي‬َ‫ذ‬
‫ا‬ً‫م‬‫ي‬ ِ‫ح‬َ‫ر‬ ‫ا‬ً‫ْور‬‫ك‬‫ف‬َ‫غ‬ ‫ك‬ َّ‫اَّلل‬ َ‫ان‬َْ َ‫ْو‬
“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak
perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: ‘Hendaklah
mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’
Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk
dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah
adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. al-Ahzab [33]: 59).
Ummu ‘Athiyah ra. berkata: Rasulullah memerintahkan
kepada kami, nenek-nenek, wanita yang sedang haid,
wanita pingitan untuk keluar pada hari raya Fitri dan Adha.
Maka bagi wanita yang sedang haid janganlah sholat dan
hendaklah menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum
muslimin. Saya berkata: “Ya Rasulullah salah seorang di
antara kami tidak mempunyai jilbab”, Rasulullah bersabda:
“Hendaklah saudaranya meminjamkan jilbabnya.”
(HR. Muslim, no 1475]
PERINTAH
MENGENAKAN JILBAB
DEFINISI JILBAB
• Dari Ibnu Abbas, dia berkata jilbab
(pada nash tersebut) adalah baju luar
yang berfungsi menutupi tubuh
langsung dari atas sampai bawah
(tanah).
• Dalam kamus arab Al-Muhith, jilbab
bermakna: Pakaian yang lebar bagi
wanita, yang menutupi tsiyab/
mihnah (pakaian harian yang biasa
dipakai ketika berada di dalam
rumah), bentuknya seperti malhafah
(kain penutup dari atas kepala
sampai ke bawah).
• Hadist dari Ummu ‘Athiyah menerangkan
dengan jelas wanita yang keluar rumah
atau berada di hadapan laki-laki non
mahram diwajibkan menggunakan pakaian
yang dipakai diatas pakaian dalam rumah
(mihnah), sebagaimana Ummu ‘Athiyah
berkata kepada Rasulullah saw: “Salah
seorang dari kami tidak mempunyai jilbab”,
maka Rasulullah saw menjawab:
“Hendaklah saudara perempuannya
meminjamkan jilbabnya.”
• Artinya jika seseorang tidak mempunyai
jilbab dan saudaranya tidak meminjami
maka wanita itu tidak boleh keluar.
• Inilah indikasi (qarinah) bahwa perintah
hadits tersebut adalah wajib.
• Jilbab selain harus luas dipersyaratkan harus diulurkan langsung ke
bawah sampai menutupi dua telapak kaki. Hal ini sebagaimana yang
diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra dan juga dapat dipahami dari nash-
nash yudnîna ‘alaihinna min jalabibihinna di sini bukan menunjuk
sebagian tetapi untuk menjelaskan, sedangkan makna yudnîna adalah
yurkhîna ila asfal (mengulurkan sampai ke bawah/kedua kaki). Jadi
kesimpulannya jilbab harus diulurkan langsung ke bawah (tidak
potong-potong/atas bawah) sampai menutup dua telapak kaki (bukan
mata kaki).
• Hal ini diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar. Ibnu
Umar berkata: Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang menyeret
pakaiannya dengan sombong maka Allah tidak akan melihatnya pada
hari kiamat.” Ummu Salamah bertanya: “Bagaimana yang harus
diperbuat para wanita terhadap ujung baju (jilbab) mereka?”
Rasulullah menjawab: “Hendaklah mereka mengulurkan sejengkal.”
Ummu Salamah bertanya lagi: “Kalau demikian terlihat kaki mereka.”
Rasulullah menjawab: “Hendaklah mengulurkan bajunya sehasta dan
jangan lebih dari itu.”
• Dari sini jelas bahwa jilbab tidak
boleh diulurkan bagian per bagian
misalnya baju potongan, tetapi
diulurkannya langsung dari atas ke
bawah.
• Selain itu mengulurkannya harus
sampai telapak kaki (bukan mata
kaki), tidak boleh kurang dari itu.
• Oleh karena itu apabila jilbabnya
terulur sampai mata kaki dan sisanya
(telapak kaki) ditutup dengan kaos
kaki/sepatu, maka hal ini tidak cukup
menggantikan keharusan irkha’
(terulurnya baju sampai ke bawah).
• Dalam hal ini yang perlu diperhatikan
adalah adanya irkha’, yaitu jilbab harus
diulurkan sampai menutupi kedua
telapak kaki sehingga dapat diketahui
dengan jelas bahwa baju itu adalah baju di
kehidupan umum.
• Apabila jilbabnya sudah terulur sampai
ujung kaki tetapi jika berjalan kakinya
masih terlihat sedikit seperti ketika
menerima tamu, berjalan di sekitar
rumah, maka hal ini tidak apa-apa
walaupun tetap dianjurkan
untuk ‘iffah (berhati-hati/menjaga diri).
• Hanya saja apabila aktivitas wanita
tersebut membuat kakinya banyak
terlihat semisal mengendarai sepeda,
motor dan lain-lain maka diwajibkan untuk
menggunakan penutup kaki apa saja
seperti kaos kaki, sepatu dan lain-lain.
BERPAKAIAN TAPI TELANJANG
َ‫م‬ ٌ‫م‬ ْ‫ْو‬َ‫ق‬ ‫ا‬َ‫م‬‫ك‬‫ه‬َ‫ر‬َ‫أ‬ ْ‫م‬َ‫ل‬ ِ‫ار‬َّ‫ن‬‫ال‬ ِ‫ل‬ْ‫ه‬َ‫أ‬ ْ‫ن‬ِ‫م‬ ِ‫ان‬َ‫ف‬ْ‫ن‬ ِ‫ص‬َ‫ق‬ََْ‫ال‬ ِ‫ب‬‫َا‬‫ن‬ْ‫ذ‬َ‫أ‬َْ ٌ‫اط‬َ‫ي‬ِ‫س‬ ْ‫م‬‫ك‬‫ه‬ََِ‫ر‬
‫ا‬َ‫ه‬َِ َ‫ْون‬‫ك‬َ ِ‫ْر‬‫ض‬َ‫ي‬َ‫اس‬َّ‫ن‬‫ال‬‫اء‬َ‫س‬ِ‫ن‬َ‫و‬َ‫ع‬ ‫ات‬َ‫ي‬ِ‫س‬‫ا‬َ‫ك‬‫ات‬َ‫ي‬ ِ‫ار‬ٌ‫ت‬َ‫َل‬ِ‫ئ‬‫ا‬َ‫م‬ ٌ‫ت‬َ‫َل‬‫ي‬ِ‫م‬‫ك‬‫م‬
َ‫َل‬ ِ‫ة‬َ‫ل‬ِ‫ئ‬‫ا‬َ‫م‬ْ‫ال‬ ِ‫ت‬ْ‫خ‬‫ك‬َْ‫ال‬ ِ‫ة‬َ‫م‬ِ‫ن‬ْ‫س‬َ‫أ‬َْ َّ‫ن‬‫ك‬‫ه‬‫ك‬‫س‬‫ْو‬‫ك‬‫ء‬‫ك‬‫ر‬ْ‫د‬ ِ‫ج‬َ‫ي‬ َ‫َل‬ َ‫ْو‬ َ‫ة‬َّ‫ن‬َ‫ج‬ْ‫ال‬ َ‫ن‬ْ‫ل‬‫ك‬‫خ‬ْ‫د‬َ‫ي‬‫ا‬َ‫ه‬َ‫ح‬‫ي‬ ِ‫ر‬ َ‫ن‬
َْ َ‫ْو‬ ‫ا‬َ‫ذ‬َْ ِ‫ة‬َ‫ير‬ِ‫س‬َ‫م‬ ْ‫ن‬ِ‫م‬ ‫ك‬‫د‬َ‫ج‬‫ْو‬‫ك‬‫ي‬َ‫ل‬ ‫ا‬َ‫ه‬َ‫ح‬‫ي‬ ِ‫ر‬ َّ‫ن‬ِ‫إ‬ َ‫ْو‬‫ا‬َ‫ذ‬
“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku
lihat: Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk
memukul manusia dan para wanita yang berpakaian tapi telanjang,
berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring.
Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium
baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan
sekian.” (HR. Muslim no. 2128)
MAKNA BERPAKAIAN TAPI TELANJANG
Wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian
dalam tubuhnya. (Syarah Muslim, 9/240)
Wanita yang memakai pakaian yang tipis yang menggambarkan
bentuk tubuhnya, pakaian tersebut belum menutupi (anggota tubuh
yang wajib ditutupi dengan sempurna).”
(Ibnu ‘Abdil Barr, Jilbab Al Mar’ah Muslimah, 125-126)
JADI PAKAIAN SYAR’I
UNTUK MUSLIMAH ITU
1. PAKAIAN ATAS yaitu
khimar (kerudung)
2. PAKAIAN BAWAH yaitu
jilbab (pakaian luar
yang menjulur ke
bawah tanpa potongan
yang menutupi pakaian
sehari-hari/mihnah)
Pakaian Syar'iku

Pakaian Syar'iku

  • 1.
  • 2.
    FUNGSI PAKAIAN • Dalamsistem kapitalis pakaian dianggap sebagai salah satu ungkapan kepribadian, sebagai unsur penarik lawan jenis dan karena itu memiliki nilai ekonomis. • Bentuk tubuh seseorang – apalagi wanita– sangat berpengaruh terhadap makna kebahagiaan dan masa depan.
  • 3.
    PAKAIAN DALAM ISLAM •Sebagai ungkapan ketaatan dan ketundukan kepada Allah. • Berpakaian bagi seorang muslim memiliki nilai ibadah. • Karena itu dalam berpakaian tersebut, seorang muslim wajib mengikuti aturan yang telah ditetapkan Allah SWT.
  • 4.
    AURAT LAKI-LAKI Aurat ituwajib ditutupi dari pandangan manusia. (Imam Nawawi, Al Majmu’, 3: 119) Rasulullah saw bersabda: َ‫ل‬ِ‫إ‬ ِ‫ة‬َّ‫ر‬ُّ‫س‬‫ال‬ َ‫ت‬ْ‫ح‬َ‫ت‬ ‫ا‬َ‫م‬ َّ‫ن‬ِ‫إ‬َ‫ف‬ََْ‫ال‬ َ‫ن‬ِ‫م‬ ِِِ‫ت‬ََْْ‫ك‬‫ر‬ ‫ ى‬ِ‫ة‬َ‫ر‬ ْ‫ْو‬ “Karena diantara pusar sampai lutut adalah aurat.” (HR. Ahmad)
  • 5.
    AURAT WANITA (1) Auratwanita dibagi menjadi tiga keadaan, yaitu: (1) DI HADAPAN SUAMI MEREKA maka wanita boleh menampakkan seluruh bagian tubuhnya (berdasarkan hadits riwayat Bahz bin Hakim).
  • 6.
    AURAT WANITA (2) •(2) DI HADAPAN MAHROMNYA DAN ORANG-ORANG YANG DISEBUT DALAM QS. AN-NÛR [24]: 31 DAN QS. AN-NISÂ’ [4]: 23 maka baginya boleh menampilkan bagian tertentu dari anggota tubuhnya yang biasa disebut mahaluzzinah yaitu anggota badan yang biasanya dijadikan tempat perhiasan, seperti: kepala seluruhnya, tempat kalung (leher), tempat gelang tangan (pergelangan tangan) sampai pangkal lengan dan tempat gelang kaki (pergelangan kaki) sampai lutut. • Mahaluzzinah ini biasa tampak ketika wanita memakai baju dalam rumah (mihnah). • Aurat yang ada di antara pusar dan lutut tidak boleh terlihat di hadapan mahromnya dan kaum wanita, kecuali terhadap suaminya.
  • 7.
    Pemahaman mahaluzzinah ini diambildari firman Allah SWT: َ‫َل‬ َ‫ْو‬‫ك‬‫ه‬َ‫ت‬َ‫ن‬‫ي‬ ِ‫ز‬ َ‫ين‬ِ‫د‬َْ‫ك‬‫ي‬َّ‫َل‬ِ‫إ‬ َّ‫ن‬٠٠٠ “…. dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali…” (QS. an-Nûr [24]: 31)
  • 8.
    Kata zinah yangsecara bahasa berarti perhiasan, tetapi bukanlah perhiasan yang biasa dipakai orang tetapi makna zinah di sini adalah anggota badan yang merupakan tempat perhiasan (mahaluzzinah), karena illa mâ zhahara minha yang dimaksud adalah yang biasa nampak pada saat itu (saat ayat ini turun) yaitu muka dan telapak tangan, jadi menyangkut anggota badan.
  • 9.
    (3) DI HADAPANLAKI- LAKI SELAIN SUAMI DAN MAHROMNYA maka aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. AURAT WANITA (3)
  • 10.
    Dasar dari penentuanaurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan, yaitu: َ‫ن‬‫ي‬ ِ‫ز‬ َ‫ين‬ِ‫د‬َْ‫ك‬‫ي‬ َ‫َل‬ َ‫ْو‬َّ‫َل‬ِ‫إ‬ َّ‫ن‬‫ك‬‫ه‬َ‫ت‬‫ا‬َ‫م‬ ‫ا‬َ‫ه‬ْ‫ن‬ِ‫م‬ َ‫ر‬َ‫ه‬َ‫ظ‬ “….dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. an-Nûr [24]: 31)
  • 11.
    • Yang dimaksuddengan yang biasa nampak daripadanya adalah wajah dan telapak tangan. • Karena dua bagian ini yang biasa nampak dari wanita muslimah di hadapan Rasulullah Muhammad saw (baik dalam sholat, haji maupun dalam kehidupan sehari-hari di luar sholat dan haji) dan Rasulullah saw mendiamkannya sementara ayat-ayat al-Qu’ran masih turun. • Ibnu Abbas menyatakan yang dimaksud dengan illa mâ zhahara minha adalah muka dan tangan. • Imam Ibnu Jarir ath-Thabari menyatakan “Pendapat yang paling kuat dalam masalah ini adalah pendapat yang menyatakan bahwa sesuatu yang biasa nampak adalah muka dan telapak tangan.” (Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an, jld. 18, hal. 94).
  • 12.
    Hal tersebut diperkuatdengan sabda Rasulullah saw kepada Asma’ binti Abu Bakar: َ‫أ‬ ْ‫ر‬َ‫م‬ْ‫ال‬ َّ‫ن‬ِ‫إ‬ ‫ك‬‫ء‬‫ا‬َ‫م‬ْ‫س‬َ‫أ‬ ‫ا‬َ‫ي‬ِ‫ت‬َ‫غ‬َ‫ل‬ََ ‫ا‬َ‫ذ‬ِ‫إ‬ َ‫ة‬ ْ‫ح‬‫ك‬‫ل‬ْ‫ص‬َ‫ت‬ ْ‫م‬َ‫ل‬ َ‫يض‬ ِ‫ح‬َ‫م‬ْ‫ال‬َ‫ه‬ْ‫ن‬ِ‫م‬ ‫ى‬َ‫ر‬‫ك‬‫ي‬ ْ‫ن‬َ‫أ‬‫ا‬ ‫ ى‬َ‫ل‬ِ‫إ‬ َ‫َار‬‫ش‬َ‫أ‬ َ‫ْو‬ ‫ا‬َ‫ذ‬َ‫ه‬ َ‫ْو‬ ‫ا‬َ‫ذ‬َ‫ه‬ َّ‫َل‬ِ‫إ‬ِ‫ه‬ِ‫ه‬ْ‫ج‬َ‫و‬ ِ‫ه‬ْ‫ي‬َّ‫ف‬َ‫ك‬َ‫و‬ “Wahai Asma’, sesungguhnya wanita yang telah haid tidak layak baginya terlihat dari tubuhnya kecuali ini dan ini. Beliau menunjuk pada wajah dan telapak tangannya.” [HR. Abu Dawud, No. 3580].
  • 13.
    SYARAT PAKAIAN BAGILAKI-LAKI MUSLIM: (1) MENUTUP AURAT Nabi saw pernah didatangi oleh seseorang yang menanyakan perihal aurat yang harus ditutup dan yang boleh ditampakkan, maka beliau pun menjawab : ْ‫ظ‬َ‫ف‬ْ‫اح‬َ‫م‬ ‫ا‬َ‫م‬ ْ‫ْو‬َ‫أ‬ َ‫ك‬ ِ‫ج‬ ْ‫ْو‬َ‫ز‬ ْ‫ن‬ِ‫م‬ َّ‫إَل‬ َ‫ك‬َ‫ت‬َ‫ر‬ ْ‫ْو‬َ‫ع‬َ‫ك‬‫ك‬‫ن‬‫ي‬ِ‫م‬َ‫ي‬ ْ‫ت‬ََْ‫ل‬. Jagalah auratmu kecuali terhadap (penglihatan) istrimu atau budak yang kamu miliki. [HR. Abu Dâwud, no.4017; Tirmidzi, no. 2794; Nasa’i dalam kitabnya Sunan al-Kubrâ, no. 8923; Ibnu Mâjah, no. 1920]
  • 14.
    SYARAT PAKAIAN BAGILAKI-LAKI MUSLIM: (2) TIDAK TERBUAT DARI EMAS ATAU SUTERA Diriwayatkan dari al-Bara’ bin Azib r.a katanya: “Rasulullah saw melarang kami memakai cincin atau bercincin emas, minum dengan bekas minuman dari perak, hamparan sutera, pakaian buatan Qasiy yaitu dari sutera, serta mengenakan pakaian sutera, sutera tebal dan sutera halus.” [HR. Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad, CD Al-Bayan 1212].
  • 15.
    SYARAT PAKAIAN BAGI LAKI-LAKIMUSLIM: (3) TIDAK MENYERUPAI PAKAIAN WANITA ِ َّ‫اَّلل‬ َ‫ل‬‫ْو‬‫ك‬‫س‬َ‫ر‬ َّ‫ن‬َ‫أ‬-‫علي‬ ‫هللا‬ ‫صل ى‬‫ْوسلم‬ ِ-َ‫ن‬َََ‫ل‬ ْ‫ال‬ َ‫ة‬َ‫س‬َْ‫ك‬‫ل‬ ‫ك‬‫س‬ََْ‫ل‬َ‫ي‬ َ‫ل‬‫ك‬‫ج‬َّ‫الر‬ْ‫ل‬َ‫ت‬ َ‫ة‬َ‫أ‬ ْ‫ر‬َ‫م‬ْ‫ال‬ َ‫ْو‬ ِ‫ة‬َ‫أ‬ ْ‫ر‬َ‫م‬‫ك‬‫س‬ََ ِ‫ل‬‫ك‬‫ج‬َّ‫الر‬ َ‫ة‬َ‫س‬َْ‫ك‬‫ل‬ “Rasulullah saw melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita, begitu pula wanita yang memakai pakaian laki-laki” (HR. Ahmad no. 8309, 14: 61. Sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)
  • 16.
    SYARAT PAKAIAN BAGI LAKI-LAKIMUSLIM: (4) TIDAK MENYERUPAI ORANG- ORANG KAFIR ْ‫ن‬َ‫م‬ْ‫ن‬ِ‫م‬ َ‫ْو‬‫ك‬‫ه‬َ‫ف‬ ٍ‫م‬ ْ‫ْو‬َ‫ق‬َِ ََََِّ‫ش‬َ‫ت‬ْ‫م‬‫ك‬‫ه‬ “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031)
  • 17.
    Dari ‘Amr binSyu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah saw bersabda, َ‫س‬ْ‫ي‬َ‫ل‬‫ا‬َ‫ن‬ ِ‫ر‬ْ‫ي‬َ‫غ‬ِ‫ب‬ َ‫ه‬َّ‫ب‬َ‫ش‬َ‫ت‬ ْ‫ن‬َ‫م‬ ‫ا‬َّ‫ن‬ِ‫م‬ “Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami” (HR. Tirmidzi no. 2695)
  • 18.
  • 19.
    • Tempat manusiahidup bersama individu masyarakat lainnya seperti di kota, desa, pasar, jalan, terminal, rumah sakit, berada di angkutan umum, sekolah, masjid, dll. • Tidak perlu ijin ketika memasuki kehidupan umum. KEHIDUPAN UMUM
  • 20.
    • Tempat manusiahidup di rumahnya bersama anggota keluarga lainnya. • Yang termasuk kehidupan khusus adalah rumah, kamar, mobil pribadi. • Harus ada ijin ketika memasuki kehidupan khusus. KEHIDUPAN KHUSUS
  • 21.
  • 22.
    • Interaksi laki-lakiasing (bukan mahram) dengan perempuan di kehidupan khusus HARAM, kecuali bersamanya mahram. • Seorang wanita boleh membuka jilbabnya dan hanya memakai mihnahnya, kecuali jika ada tamu laki-laki non mahram. AKTIVITAS DI KEHIDUPAN KHUSUS
  • 23.
    Mihnah adalah pakaianyang biasa dipakai wanita dalam rumahnya, seperti baju lengan pendek, daster, celana atau rok. Mihnah merupakan pakaian yang harus dipakai di dalam lapisan dari jilbab muslimah ketika keluar rumah.
  • 24.
    Wanita hidup bersamamahramnya ataupun bersama wanita lainnya. Hanya kepadanya wanita boleh menampakkan auratnya.
  • 25.
    RUMAH BERPENGHUNI Kontrol danwewenang ada pada penghuninya, mau menerima tamu atau tidak itu hak penghuni, maka harus ada ijin dari penghuni ketika akan memasukinya.
  • 26.
    RUMAH TIDAK BERPENGHUNI Bolehmemasukinya bila ada hajat
  • 27.
    PAKAIAN WANITA DIDALAM KEHIDUPAN UMUM Dalam kehidupan umum, yaitu pada saat wanita berada di luar rumahnya, maka seorang wanita harus menggunakan pakaian secara sempurna, yakni: 1. Menutup aurat; 2. Menetapi jenis dan model yang ditetapkan syara’ (memakai jilbab, khimar, mihnah dan memenuhi kriteria irkha’); 3. Tidak tembus pandang; 4. Tidak menunjukkan bentuk dan lekuk tubuhnya; 5. Tidak tabarruj; 6. Tidak menyerupai pakaian laki-laki; 7. Tidak tasyabbuh terhadap orang kafir.
  • 28.
    PERINTAH MENGENAKAN KERUDUNG ََْ‫أ‬ ْ‫ن‬ِ‫م‬َ‫ْن‬‫ض‬‫ك‬‫ض‬ْ‫غ‬َ‫ي‬ ِ‫ت‬‫َا‬‫ن‬ِ‫م‬ْ‫ؤ‬‫ك‬‫م‬ْ‫ل‬ِ‫ل‬ ْ‫ل‬‫ك‬‫ق‬ َ‫ْو‬‫ك‬‫ر‬‫ك‬‫ف‬ َ‫ن‬ْ‫ظ‬َ‫ف‬ْ‫ح‬َ‫ي‬ َ‫ْو‬ َّ‫ن‬ِ‫ه‬ ِ‫ار‬َ‫ص‬َّ‫ن‬‫ك‬‫ه‬َ‫ج‬‫ْو‬ ِ‫م‬ َ‫ر‬َ‫ه‬َ‫ظ‬ ‫ا‬َ‫م‬ َّ‫َل‬ِ‫إ‬ َّ‫ن‬‫ك‬‫ه‬َ‫ت‬َ‫ن‬‫ي‬ ِ‫ز‬ َ‫ين‬ِ‫د‬َْ‫ك‬‫ي‬ َ‫َل‬ َ‫ْو‬‫ك‬‫م‬‫ك‬‫خ‬َِ َ‫ْن‬َ ِ‫ْر‬‫ض‬َ‫ي‬ْ‫ل‬ َ‫ْو‬ ۖ ‫ا‬َ‫ه‬ْ‫ن‬َّ‫ن‬ِ‫ه‬ ِ‫ر‬ َّ‫ن‬ِ‫ه‬َِ‫ْو‬‫ك‬‫ي‬‫ك‬‫ج‬ ٰ‫ ى‬َ‫ل‬َ‫ع‬ “Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan khumur (kain kerudung) ke juyub (dada)-nya.’” (QS. An-Nur:31)
  • 29.
    TENTANG KHIMAR • Khumuradalah jama’ dari khimar yaitu kerudung yang menutupi kepala, dan juyub adalah jama’ dari kata jaibun yaitu ujung pakaian (kancing pembuka) yang ada di sekitar leher dan di atas dada. • Dengan kata lain khimar adalah kain yang menutupi kepala tanpa menutupi wajah, terulur sampai menutupi ujung pakaian yakni kancing baju di atas dada. • Dengan demikian untuk bagian atas badan wanita diwajibkan mengenakan kerudung yang diulurkan sampai ujung pakaian (kancing pembuka)/di atas dada.
  • 30.
    PERINTAH MENGENAKAN JILBAB ََ َ‫ْو‬َ‫ك‬ ِ‫اج‬ َ‫ْو‬ ْ‫ز‬َ ِ‫ِل‬ ْ‫ل‬‫ك‬‫ق‬ ُّ‫ي‬ََِّ‫ن‬‫ال‬ ‫ا‬َ‫ه‬ُّ‫ي‬َ‫أ‬ ‫ا‬َ‫ي‬َ‫ين‬ِ‫ن‬ِ‫م‬ْ‫ؤ‬‫ك‬‫م‬ْ‫ال‬ ِ‫اء‬َ‫س‬ِ‫ن‬ َ‫ْو‬ َ‫ك‬ِ‫ت‬‫َا‬‫ن‬َ‫ين‬ِ‫ن‬ْ‫د‬‫ك‬‫ي‬ َ‫أ‬ َ‫ك‬ِ‫ل‬َٰ‫ذ‬ ۚ َّ‫ن‬ِ‫ه‬َِ‫ي‬َِ َ‫َل‬َ‫ج‬ ْ‫ن‬ِ‫م‬ َّ‫ن‬ِ‫ه‬ْ‫ي‬َ‫ل‬َ‫ع‬ْ‫ؤ‬‫ك‬‫ي‬ َ‫َل‬َ‫ف‬ َ‫ن‬ْ‫ف‬َ‫ر‬َْ‫ك‬‫ي‬ ْ‫ن‬َ‫أ‬ ٰ‫َ ى‬‫ن‬ْ‫د‬ۗ َ‫ْن‬‫ي‬َ‫ذ‬ ‫ا‬ً‫م‬‫ي‬ ِ‫ح‬َ‫ر‬ ‫ا‬ً‫ْور‬‫ك‬‫ف‬َ‫غ‬ ‫ك‬ َّ‫اَّلل‬ َ‫ان‬َْ َ‫ْو‬ “Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Ahzab [33]: 59).
  • 31.
    Ummu ‘Athiyah ra.berkata: Rasulullah memerintahkan kepada kami, nenek-nenek, wanita yang sedang haid, wanita pingitan untuk keluar pada hari raya Fitri dan Adha. Maka bagi wanita yang sedang haid janganlah sholat dan hendaklah menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum muslimin. Saya berkata: “Ya Rasulullah salah seorang di antara kami tidak mempunyai jilbab”, Rasulullah bersabda: “Hendaklah saudaranya meminjamkan jilbabnya.” (HR. Muslim, no 1475] PERINTAH MENGENAKAN JILBAB
  • 32.
    DEFINISI JILBAB • DariIbnu Abbas, dia berkata jilbab (pada nash tersebut) adalah baju luar yang berfungsi menutupi tubuh langsung dari atas sampai bawah (tanah). • Dalam kamus arab Al-Muhith, jilbab bermakna: Pakaian yang lebar bagi wanita, yang menutupi tsiyab/ mihnah (pakaian harian yang biasa dipakai ketika berada di dalam rumah), bentuknya seperti malhafah (kain penutup dari atas kepala sampai ke bawah).
  • 33.
    • Hadist dariUmmu ‘Athiyah menerangkan dengan jelas wanita yang keluar rumah atau berada di hadapan laki-laki non mahram diwajibkan menggunakan pakaian yang dipakai diatas pakaian dalam rumah (mihnah), sebagaimana Ummu ‘Athiyah berkata kepada Rasulullah saw: “Salah seorang dari kami tidak mempunyai jilbab”, maka Rasulullah saw menjawab: “Hendaklah saudara perempuannya meminjamkan jilbabnya.” • Artinya jika seseorang tidak mempunyai jilbab dan saudaranya tidak meminjami maka wanita itu tidak boleh keluar. • Inilah indikasi (qarinah) bahwa perintah hadits tersebut adalah wajib.
  • 34.
    • Jilbab selainharus luas dipersyaratkan harus diulurkan langsung ke bawah sampai menutupi dua telapak kaki. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra dan juga dapat dipahami dari nash- nash yudnîna ‘alaihinna min jalabibihinna di sini bukan menunjuk sebagian tetapi untuk menjelaskan, sedangkan makna yudnîna adalah yurkhîna ila asfal (mengulurkan sampai ke bawah/kedua kaki). Jadi kesimpulannya jilbab harus diulurkan langsung ke bawah (tidak potong-potong/atas bawah) sampai menutup dua telapak kaki (bukan mata kaki). • Hal ini diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar. Ibnu Umar berkata: Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang menyeret pakaiannya dengan sombong maka Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.” Ummu Salamah bertanya: “Bagaimana yang harus diperbuat para wanita terhadap ujung baju (jilbab) mereka?” Rasulullah menjawab: “Hendaklah mereka mengulurkan sejengkal.” Ummu Salamah bertanya lagi: “Kalau demikian terlihat kaki mereka.” Rasulullah menjawab: “Hendaklah mengulurkan bajunya sehasta dan jangan lebih dari itu.”
  • 35.
    • Dari sinijelas bahwa jilbab tidak boleh diulurkan bagian per bagian misalnya baju potongan, tetapi diulurkannya langsung dari atas ke bawah. • Selain itu mengulurkannya harus sampai telapak kaki (bukan mata kaki), tidak boleh kurang dari itu. • Oleh karena itu apabila jilbabnya terulur sampai mata kaki dan sisanya (telapak kaki) ditutup dengan kaos kaki/sepatu, maka hal ini tidak cukup menggantikan keharusan irkha’ (terulurnya baju sampai ke bawah).
  • 36.
    • Dalam halini yang perlu diperhatikan adalah adanya irkha’, yaitu jilbab harus diulurkan sampai menutupi kedua telapak kaki sehingga dapat diketahui dengan jelas bahwa baju itu adalah baju di kehidupan umum. • Apabila jilbabnya sudah terulur sampai ujung kaki tetapi jika berjalan kakinya masih terlihat sedikit seperti ketika menerima tamu, berjalan di sekitar rumah, maka hal ini tidak apa-apa walaupun tetap dianjurkan untuk ‘iffah (berhati-hati/menjaga diri). • Hanya saja apabila aktivitas wanita tersebut membuat kakinya banyak terlihat semisal mengendarai sepeda, motor dan lain-lain maka diwajibkan untuk menggunakan penutup kaki apa saja seperti kaos kaki, sepatu dan lain-lain.
  • 37.
    BERPAKAIAN TAPI TELANJANG َ‫م‬ٌ‫م‬ ْ‫ْو‬َ‫ق‬ ‫ا‬َ‫م‬‫ك‬‫ه‬َ‫ر‬َ‫أ‬ ْ‫م‬َ‫ل‬ ِ‫ار‬َّ‫ن‬‫ال‬ ِ‫ل‬ْ‫ه‬َ‫أ‬ ْ‫ن‬ِ‫م‬ ِ‫ان‬َ‫ف‬ْ‫ن‬ ِ‫ص‬َ‫ق‬ََْ‫ال‬ ِ‫ب‬‫َا‬‫ن‬ْ‫ذ‬َ‫أ‬َْ ٌ‫اط‬َ‫ي‬ِ‫س‬ ْ‫م‬‫ك‬‫ه‬ََِ‫ر‬ ‫ا‬َ‫ه‬َِ َ‫ْون‬‫ك‬َ ِ‫ْر‬‫ض‬َ‫ي‬َ‫اس‬َّ‫ن‬‫ال‬‫اء‬َ‫س‬ِ‫ن‬َ‫و‬َ‫ع‬ ‫ات‬َ‫ي‬ِ‫س‬‫ا‬َ‫ك‬‫ات‬َ‫ي‬ ِ‫ار‬ٌ‫ت‬َ‫َل‬ِ‫ئ‬‫ا‬َ‫م‬ ٌ‫ت‬َ‫َل‬‫ي‬ِ‫م‬‫ك‬‫م‬ َ‫َل‬ ِ‫ة‬َ‫ل‬ِ‫ئ‬‫ا‬َ‫م‬ْ‫ال‬ ِ‫ت‬ْ‫خ‬‫ك‬َْ‫ال‬ ِ‫ة‬َ‫م‬ِ‫ن‬ْ‫س‬َ‫أ‬َْ َّ‫ن‬‫ك‬‫ه‬‫ك‬‫س‬‫ْو‬‫ك‬‫ء‬‫ك‬‫ر‬ْ‫د‬ ِ‫ج‬َ‫ي‬ َ‫َل‬ َ‫ْو‬ َ‫ة‬َّ‫ن‬َ‫ج‬ْ‫ال‬ َ‫ن‬ْ‫ل‬‫ك‬‫خ‬ْ‫د‬َ‫ي‬‫ا‬َ‫ه‬َ‫ح‬‫ي‬ ِ‫ر‬ َ‫ن‬ َْ َ‫ْو‬ ‫ا‬َ‫ذ‬َْ ِ‫ة‬َ‫ير‬ِ‫س‬َ‫م‬ ْ‫ن‬ِ‫م‬ ‫ك‬‫د‬َ‫ج‬‫ْو‬‫ك‬‫ي‬َ‫ل‬ ‫ا‬َ‫ه‬َ‫ح‬‫ي‬ ِ‫ر‬ َّ‫ن‬ِ‫إ‬ َ‫ْو‬‫ا‬َ‫ذ‬ “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)
  • 38.
    MAKNA BERPAKAIAN TAPITELANJANG Wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. (Syarah Muslim, 9/240) Wanita yang memakai pakaian yang tipis yang menggambarkan bentuk tubuhnya, pakaian tersebut belum menutupi (anggota tubuh yang wajib ditutupi dengan sempurna).” (Ibnu ‘Abdil Barr, Jilbab Al Mar’ah Muslimah, 125-126)
  • 39.
    JADI PAKAIAN SYAR’I UNTUKMUSLIMAH ITU 1. PAKAIAN ATAS yaitu khimar (kerudung) 2. PAKAIAN BAWAH yaitu jilbab (pakaian luar yang menjulur ke bawah tanpa potongan yang menutupi pakaian sehari-hari/mihnah)