NIAT DAN
NGAJIPENGANTAR KAJIAN RUTIN
PENTINGNYA
NIAT
MAKSUD DAN KEINGINAN HATI
PEMBEDA AMAL DAN TUJUAN
NIAT KARENA ALLAH
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,
‫يدوم‬ ‫وال‬ ‫ينفع‬ ‫ال‬ ‫له‬ ‫يكون‬ ‫ال‬ ‫وما‬
“Segala sesuatu yang tidak didasari ikhlas
karena Allah, pasti tidak bermanfaat dan tidak
akan kekal.”
(Dar-ut Ta’arudh Al ‘Aql wan Naql, 2: 188)
NIAT KARENA ALLAH
Para ulama menyebutkan bahwa Imam
Ibnu Abi Dzi’bi yang semasa dan
senegeri dengan Imam Malik pernah
menulis kitab yang lebih besar dari
Muwatho’. Karena demikian, Imam
Malik pernah ditanya, “Apa faedahnya
engkau menulis kitab yang sama seperti
itu?” Jawaban beliau, “Sesuatu yang
ikhlas karena Allah, pasti akan lebih
langgeng.”
(Ar Risalah Al Mustathrofah, hal. 9. Dinukil
dari Muwatho’ Imam Malik, 3: 521)
IMAM NAWAWI • Nama lengkap beliau
Yahya bin Syaraf bin
Hasan bin Husain An-
Nawawi Ad-Dimasyqiy,
Abu Zakaria.
• Beliau dilahirkan pada
bulan Muharram tahun
631 H di Nawa, sebuah
kampung di daerah
Dimasyq (Damascus)
yang sekarang
merupakan ibukota
Suriah.
• Beliau wafat pada
tanggal 24 Rajab 676 H.
• Umurnya singkat,
namun ilmunya terus
kekal dan langgeng.
Jumlah karyanya sekitar 40 (empat puluh)
kitab, diantaranya:
• Dalam bidang hadits: Arba’in, Riyadhush
Shalihin, Al-Minhaj (Syarah Shahih
Muslim), At-Taqrib wat Taysir fi Ma’rifat
Sunan Al-Basyirin Nadzir.
• Dalam bidang fiqih: Minhajuth Thalibin,
Raudhatuth Thalibin, Al-Majmu’.
• Dalam bidang bahasa: Tahdzibul Asma’
wal Lughat.
• Dalam bidang akhlak: At-Tibyan fi Adab
Hamalatil Qur’an, Bustanul Arifin, Al-
Adzkar.
KARYA IMAM NAWAWI
IMAM NAWAWI
Itu semua dilakukan beliau
karena hanya ingin meraih
ridho Allah, bukan ingin
disebut orang paling cerdas,
bukan ingin pula meraih gelar
mentereng atau ingin
mendapat balasan dunia
semata.
BAHAYA SALAH NIAT:
MUJAHID MASUK NERAKA
Abu Hurairah berkata: Aku telah mendengar Rasulullah saw
bersabda, “Sesungguhnya manusia pertama yang diadili
pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan
Allah. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya
kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia
pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, ‘Amal apakah
yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia
menjawab, ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau
sehingga aku mati syahid.’ Allah berkata, ‘Engkau dusta!
Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah
berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang
dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret
orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu
dilemparkan ke dalam neraka.’
“Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang
menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca
al-Qur-an. Ia didatangkan dan diperlihatkan
kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun
mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya, ‘Amal
apakah yang telah engkau lakukan dengan
kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab, ‘Aku
menuntut ilmu dan mengajarkannya serta aku
membaca al-Qur-an hanyalah karena Engkau.’ Allah
berkata, ‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar
dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan engkau
membaca al-Qur-an supaya dikatakan seorang qari’
(pembaca al-Qur-an yang baik). Memang begitulah
yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian
diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas
mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.’
BAHAYA SALAH NIAT:
ORANG ‘ALIM MASUK NERAKA
“Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang
diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam
harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan
kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun
mengenalinya (mengakuinya). Allah bertanya, ‘Apa
yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat
itu?’ Dia menjawab, ‘Aku tidak pernah meninggalkan
shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai,
melainkan pasti aku melakukannya semata-mata
karena Engkau.’ Allah berkata, ‘Engkau dusta!
Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan
seorang dermawan (murah hati) dan memang
begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’
Kemudian diperintahkan (malaikat) agar
menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya
ke dalam neraka’,” (HR. Muslim)
BAHAYA SALAH NIAT:
ORANG KAYA MASUK NERAKA
BAHAYA SALAH NIAT
َ‫م‬ْ‫ل‬ِ‫ع‬ْ‫ال‬ َ‫ب‬َ‫ل‬َ‫ط‬ ْ‫ن‬َ‫م‬ِ‫ار‬َ‫ج‬ُ‫ي‬ِ‫ل‬َ‫ء‬‫ا‬َ‫م‬َ‫ل‬ُ‫ع‬ْ‫ال‬ ِ‫ه‬ِ‫ب‬ َ‫ى‬
َ‫ه‬َ‫ف‬ُّ‫س‬‫ال‬ ِ‫ه‬ِ‫ب‬ َ‫ى‬ ِ‫ار‬َ‫م‬ُ‫ي‬ِ‫ل‬ ْ‫و‬َ‫أ‬َ‫ء‬‫ا‬ِ‫ه‬ِ‫ب‬ َ‫ف‬ ِ‫ر‬ْ‫ص‬َ‫ي‬ ْ‫و‬َ‫أ‬
ِ‫ه‬ْ‫ي‬َ‫ل‬ِ‫إ‬ ِ‫اس‬َّ‫ن‬‫ال‬ َ‫ه‬‫و‬ُ‫ج‬ ُ‫و‬َ‫ل‬َ‫خ‬ْ‫د‬َ‫أ‬َ‫ار‬َّ‫ن‬‫ال‬ ُ َّ‫اَّل‬ ُ‫ه‬
“Siapa menuntut ilmu untuk
menandingi para ulama, atau
mendebat orang-orang bodoh, atau
memalingkan pandangan-pandangan
manusia kepadanya, maka Allâh akan
memasukkannya ke neraka.”
(HR. At-Tirmidzi, Shahîh at-Targhîb, no. 106)
HARUS KARENA ALLAH
ْ‫ن‬َ‫م‬‫َى‬‫غ‬َ‫ت‬ْ‫ب‬ُ‫ي‬ ‫ا‬َّ‫م‬ِ‫م‬ ‫ا‬ً‫م‬ْ‫ل‬ِ‫ع‬ َ‫م‬َّ‫ل‬َ‫ع‬َ‫ت‬َ‫ج‬ َ‫و‬ َّ‫ز‬َ‫ع‬ ِ َّ‫اَّل‬ ُ‫ه‬ْ‫ج‬ َ‫و‬ ِ‫ه‬ِ‫ب‬َّ‫ل‬
َ‫ال‬ِ‫ه‬ِ‫ب‬ َ‫يب‬ ِ‫ص‬ُ‫ي‬ِ‫ل‬ َّ‫ال‬ِ‫إ‬ ُ‫ه‬ُ‫م‬َّ‫ل‬َ‫ع‬َ‫ت‬َ‫ي‬‫ا‬َ‫ي‬ْ‫ن‬ُّ‫د‬‫ال‬ َ‫ن‬ِ‫م‬ ‫ا‬ًًَ‫ر‬َ‫ع‬
ْ‫م‬َ‫ل‬ْ‫ال‬ َ‫م‬ ْ‫و‬َ‫ي‬ ِ‫ة‬َّ‫ن‬َ‫ج‬ْ‫ال‬ َ‫ف‬ ْ‫ر‬َ‫ع‬ ْ‫د‬ ِ‫ج‬َ‫ي‬ِ‫ة‬َ‫م‬‫ا‬َ‫ي‬ِ‫ق‬
“Siapa menuntut ilmu yang seharusnya ditujukan hanya
mengharap wajah Allâh ‘Azza Wa Jalla, namun
ternyata ia tidak menuntut ilmu kecuali untuk
mendapatkan sedikit dari kenikmatan dunia, maka ia
tidak akan mencium bau surga pada hari Kiamat.
(HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban,
Shahîh ath-Targhib, no. 105)
IKHLAS SEBAB DERAJAT TINGGI
Syaikh Sholih Al-Ushoimi –hafidzahullah-
menasehatkan:
‫وما‬‫السلف‬ ‫من‬ ‫وصل‬ ‫من‬ ‫وصل‬ ‫وال‬ ‫سبقو‬ ‫من‬ ‫سبق‬
‫العالمين‬ ‫رب‬ ‫هلل‬ ‫باالخالص‬ ‫اال‬ ‫الصالحينو‬
Tidaklah para salafussholih itu unggul dan
sampai pada derajat ilmu (yang tinggi),
melainkan karena sebab ikhlasnya mereka saat
menuntut ilmu, karena mengharap pahala
Allah tuhan semesta alam.
(Khulashoh Ta’dhiimil ‘Ilmi, hal. 11)
JATAH ILMU
SEBANYAK KADAR IKHLAS
Syaikh Sholih Al-‘Ushoimi juga mengatakan:
‫وانما‬‫اخالصه‬ ‫قدر‬ ‫على‬ ‫العلم‬ ‫المرء‬ ‫ينال‬
“Seorang itu mendapatkan jatah ilmu,
sebanyak kadar ikhlasnya.”
(Khulashoh Ta’dhiimil ‘Ilmi, hal. 11)
BELAJAR UNTUK IBADAH
DAN MENGAJAR
Imam Ahmad ditanya
mengenai apa niat yang
benar dalam belajar agama.
Beliau menjawab, “Niat
yang benar dalam belajar
adalah apabila belajar
tersebut diniatkan untuk
dapat beribadah pada Allah
dengan benar dan untuk
mengajari yang lainnya.”
KENAPA NGAJI?
THOLABUL ‘ILMI
DIKEHENDAKI KEBAIKAN
Mu’awiyah bin Abi Sufyan ra berkata, aku
mendengar Rasulullah saw bersabda:
‫ا‬ً‫ْر‬‫ي‬َ‫خ‬ ِ‫ه‬ِ‫ب‬ ُ‫هللا‬ ِ‫د‬ ِ‫ر‬ُ‫ي‬ ْ‫ن‬َ‫م‬َ‫ف‬ُ‫ي‬ِ‫ين‬ِِّ‫د‬‫ال‬ ‫ى‬ِ‫ف‬ ُ‫ه‬ْ‫ه‬ِِّ‫ق‬
“Barangsiapa yang Allah kehendaki
baginya kebaikan maka Dia akan
memahamkan baginya agama (Islam).”
(HR al-Bukhari no. 2948 dan
Muslim no. 1037)
FAQIH FIDDIN
Yang dimaksud dengan
pemahaman agama dalam
hadits ini adalah
ilmu/pengetahuan tentang
hukum-hukum agama yang
mewariskan amalan
shaleh, karena ilmu yang
tidak dibarengi dengan
amalan shaleh bukanlah
merupakan ciri kebaikan.
(Miftaahu Daaris Sa’aadah
(1/60))
SURGA, PAHALA BESAR
UNTUK PARA PENUNTUT ILMU
ْ‫ن‬َ‫م‬ْ‫ل‬َ‫ي‬ ‫ا‬ً‫ق‬‫ي‬ ِ‫ر‬َ‫ط‬ َ‫ك‬َ‫ل‬َ‫س‬ْ‫ل‬ِ‫ع‬ ِ‫ه‬‫ي‬ِ‫ف‬ ُ‫س‬ِ‫م‬َ‫ت‬‫ا‬ً‫م‬
َ‫ط‬ ِ‫ه‬ِ‫ب‬ ُ‫ه‬َ‫ل‬ ُ َّ‫اَّل‬ َ‫ل‬َّ‫ه‬َ‫س‬‫ى‬َ‫ل‬ِ‫إ‬ ‫ا‬ً‫ق‬‫ي‬ ِ‫ر‬َ‫ج‬ْ‫ال‬ِ‫ة‬َّ‫ن‬
“Barangsiapa yang
menempuh suatu jalan dalam
rangka menuntut ilmu, maka
Allah akan memudahkan
baginya jalan menuju surga.”
(HR. Muslim no. 7028)
TENTANG SURGA
• Surga (Al Jannah) secara bahasa berarti : kebun
(al bustan), atau kebun yang di dalamnya terdapat
pepohonan.
• Secara istilah, surga ialah nama yang umum
mencakup suatu tempat (yang telah
dipersiapkan oleh Allah bagi mereka yang
menaati-Nya), di dalamnya terdapat segala
macam kenikmatan, kelezatan, kesenangan,
kebahagiaan, dan kesejukan pandangan mata.
• Surga juga disebut dengan berbagai macam nama
selain Al Jannah, diantaranya : Darus Salam
(Negeri Keselamatan;lihat QS. Yunus : 25), Darul
Khuld (Negeri yang Kekal;lihat QS. Qaaf : 34),
Jannatun Na’im (Surga yang Penuh
Kenikmatan;QS. Luqman: 8), Al Firdaus (QS. Al
Kahfi : 108), dan berbagai penamaan lainnya.
(Al Jannatu wa An Naar, Abdurrahman bin Sa’id bin Ali bin
Wahf Al Qahthani rahimahullahu ta’ala, dengan tahqiq :
Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf Al Qahthani hafizhahullah)
MAKNA JALAN UNTUK
MENUNTUT ILMU
1. Menempuh jalan untuk
menuntut ilmu dalam arti yang
sebenarnya, seperti berjalan
kaki menuju majelis-majelis
ilmu.
2. Menempuh jalan atau cara yang
dapat mengantarkan seseorang
untuk memperoleh ilmu syar’i,
seperti membaca, menghapal,
menela’ah, dan sebagainya.
MAKNA ALLAH MEMUDAHKAN
JALANNYA MENUJU SURGA
1. Allah akan memudahkan orang yang
menuntut ilmu semata-mata karena mencari
keridhaan Allah, dapat mengambil manfaat,
dan mengamalkannya, sehingga bisa
memasuki Surga-Nya.
2. Allah akan memudahkan jalan baginya
menuju Surga ketika melewati titian ash-
shirathal mustaqim pada hari Kiamat dan
memudahkannya dari berbagai kengerian
pada sebelum dan sesudahnya.
[Jami’ul ‘Ulum wal Hikam (II/297, Qawa’id wa Fawa’id
minal Arba’in An-Nawawiyyah (hal. 316-317),
Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga (hal. 8-9)]
BEDA ORANG BERILMU
ْ‫ل‬َ‫ه‬َ‫ل‬ْ‫ع‬َ‫ي‬ َ‫ين‬ِ‫ذ‬َّ‫ال‬ ‫ي‬ِ‫و‬َ‫ت‬ْ‫س‬َ‫ي‬َ‫ين‬ِ‫ذ‬َّ‫ال‬ َ‫و‬ َ‫ون‬ُ‫م‬
َ‫ال‬َّ‫ك‬َ‫ذ‬َ‫ت‬َ‫ي‬ ‫ا‬َ‫م‬َّ‫ن‬ِ‫إ‬ َ‫ون‬ُ‫م‬َ‫ل‬ْ‫ع‬َ‫ي‬ِ‫ب‬‫ا‬َ‫ب‬ْ‫ل‬َ ْ‫اَأ‬ ‫و‬ُ‫ل‬‫و‬ُ‫أ‬ ُ‫ر‬
“Katakanlah: “Adakah sama orang-
orang yang mengetahui dengan
orang-orang yang tidak
mengetahui?” Sesungguhnya orang
yang berakallah yang dapat
menerima pelajaran”
(QS. Az-Zumar, 39: 9)
ILMU SEBAGAI PEMBEDA
Rizki halal, rizki haram
Perbuatan baik, perbuatan buruk
Wajib, sunnah, mubah, makruh, haram
Jalan ke surga, jalan ke neraka
Allah ridho, tidak
ILMU, BAHAN PETUNJUK KEBENARAN
• Pahala yang agung bagi
seorang yang berilmu juga
dapat dilihat dari pahala yang
mereka dapatkan ketika
mereka dapat memberikan
petunjuk bagi orang lain
dengan ilmu yang mereka
miliki.
• Dan seseorang tidaklah
mungkin dapat memberikan
petunjuk kebenaran kepada
orang lain kecuali dengan
ilmu.
PAHALA PENUNJUK KEBENARAN
ِ َّ‫اَّل‬ َ‫و‬َ‫ف‬ُ‫ج‬َ‫ر‬ َ‫ك‬ِ‫ب‬ ُ َّ‫اَّل‬ َ‫ى‬ِ‫د‬ْ‫ه‬َ‫ي‬ ْ‫ن‬َ‫َأ‬َ‫ون‬ُ‫ك‬َ‫ي‬ ْ‫ن‬َ‫أ‬ ْ‫ن‬ِ‫م‬ َ‫ك‬َ‫ل‬ ٌ‫ْر‬‫ي‬َ‫خ‬ ً‫ال‬َ‫ك‬َ‫ل‬
ِ‫م‬َ‫ع‬َّ‫ن‬‫ال‬ ُ‫ر‬ْ‫م‬ُ‫ح‬
“Demi Allah, jika Allah memberikan petunjuk kepada satu orang
saja melalui perantaraanmu, itu lebih baik bagimu
dibandingkan dengan unta merah (unta yang paling bagus dan
paling mahal).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Koenigsegg CCXR Terevita dinobatkan sebagai mobil termahal di dunia.
Mobil buatan Swedia ini dibandrol dengan harga 68 Miliar.
(Detikoto, 16 Nov 2019)
SEPERTI BERJIHAD
DI JALAN ALLAH TA’ALA
ْ‫ن‬َ‫م‬َ‫ي‬ِ‫ل‬ ‫ا‬َ‫ذ‬‫ـ‬َ‫ه‬ ‫َا‬‫ن‬َ‫د‬‫ـ‬ ِ‫ج‬ْ‫س‬‫ـ‬َ‫م‬ َ‫ل‬‫َـ‬‫خ‬َ‫د‬‫ا‬ً‫ْر‬‫ي‬َ‫خ‬ َ‫م‬َّ‫ل‬َ‫ع‬َ‫ت‬
َ‫ج‬ُ‫م‬ْ‫ال‬َ‫ك‬ َ‫ان‬َ‫ك‬ ُ‫ه‬َ‫م‬ِِّ‫ل‬َ‫ع‬ُ‫ي‬ِ‫ل‬ ْ‫و‬َ‫أ‬‫ْل‬‫ي‬ِ‫ب‬َ‫س‬ ‫ي‬ِ‫ف‬ ِ‫د‬ِ‫ه‬‫ا‬ِ‫هللا‬
“Barangsiapa yang memasuki masjid
kami ini (masjid Nabawi) dengan tujuan
untuk mempelajari kebaikan atau
mengajarkannya, dia ibarat seorang
yang berjihad di jalan Allah.”
[HR Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Ibnu Abi
Syaibah, dan Al-Hakim, dari Abu Hurairah ra]
SEPERTI BERJIHAD
DI JALAN ALLAH TA’ALA
Abu Darda ra pernah
berkata:
“Barangsiapa yang
berpendapat bahwa
perginya seseorang untuk
menuntut ilmu itu tidak
termasuk jihad, sungguh dia
kurang akalnya.”
[Lihat Al-‘Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu
(hal. 145) dan Menuntut Ilmu Jalan
Menuju Surga (hal. 45)]
DINAUNGI SAYAP-SAYAP PARA MALAIKAT,
DIMOHONKAN AMPUN OLEH
PENDUDUK LANGIT DAN BUMI
َّ‫ن‬ِ‫إ‬ َ‫و‬ْ‫ج‬َ‫أ‬ ُ‫ع‬ًََ‫ت‬َ‫ل‬ َ‫ة‬َ‫ك‬‫ـ‬ِ‫ئ‬َ‫ال‬‫ـ‬َ‫م‬ْ‫ال‬ْ‫ل‬ِ‫ع‬ْ‫ال‬ ِ‫ب‬ِ‫ل‬‫ا‬َ‫ط‬ِ‫ل‬ ‫ا‬َ‫ه‬َ‫ت‬‫ـ‬َ‫ح‬ِ‫ن‬‫ـ‬ِ‫م‬
ِ‫ل‬‫ا‬َ‫ع‬ْ‫ال‬ َّ‫ن‬ِ‫إ‬ َ‫و‬ ،ُ‫ع‬َ‫ن‬ْ‫ص‬َ‫ي‬ ‫ا‬َ‫م‬ِ‫ب‬ ‫ا‬ًً ِ‫ر‬َ‫ل‬ ُ‫ـر‬ِ‫ف‬‫ـ‬ْ‫غ‬َ‫ت‬‫ـ‬ْ‫س‬‫ـ‬َ‫ي‬َ‫ل‬ َ‫م‬ْ‫ن‬َ‫م‬ ُ‫ه‬
ِ‫ض‬ ْ‫ر‬َ‫َأ‬‫ا‬ ‫ي‬ِ‫ف‬ ْ‫ن‬َ‫م‬ َ‫و‬ ِ‫ت‬‫ا‬ َ‫و‬ ‫ـا‬َ‫م‬َّ‫س‬‫ال‬ ‫ي‬ِ‫ف‬ُ‫ـان‬َ‫ت‬ْ‫ي‬‫ـ‬ ِ‫ح‬ْ‫ال‬ ‫ى‬َّ‫ت‬َ‫ح‬
ِ‫ـاء‬َ‫م‬ْ‫ال‬ ‫ي‬ِ‫ف‬.
“Sesungguhnya para Malaikat
membentangkan sayapnya untuk orang yang
menuntut ilmu karena ridha atas apa yang
mereka lakukan. Dan sesungguhnya orang
yang berilmu benar-benar dimintakan ampun
oleh penghuni langit dan bumi, bahkan oleh
ikan-ikan yang berada di dalam air.”
[HR Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Ad-
Darimi, Ibnu Hibban, dari Abu Darda’ ra]
MENUNTUT
ILMU
1. DIBERI TAHU
JALAN KE SURGA
2. DIBERI PAHALA
3. DIHAPUS DOSA
ILMU DICARI UNTUK:
DIAMALKAN, DIDAKWAHKAN, MEMBERI
MANFAAT KEPADA ORANG LAIN
AMAL YANG
TAK PUTUS
‫ا‬َ‫ذ‬ِ‫إ‬َ‫ط‬‫ـ‬َ‫ق‬‫ـ‬ْ‫ن‬‫ا‬ ُ‫ـان‬َ‫س‬ْ‫ن‬ِ ْ‫اْل‬ َ‫ات‬َ‫م‬ُ‫ه‬ُ‫ل‬َ‫م‬‫ـ‬َ‫ع‬ َ‫ع‬‫ـ‬
َّ‫ال‬ِ‫إ‬‫ث‬َ‫ال‬َ‫ث‬ ْ‫ن‬ِ‫م‬:
ٌ‫ة‬َ‫ق‬َ‫د‬َ‫ص‬ُ‫ي‬ ٌ‫م‬ْ‫ل‬ِ‫ع‬ َ‫و‬ ،ٌ‫ة‬َ‫ي‬ ِ‫ار‬َ‫ج‬ِ‫ه‬ِ‫ب‬ ُ‫ع‬‫ـ‬َ‫ف‬ُ‫ت‬‫ـ‬ْ‫ن‬،
ٌ‫ح‬ِ‫ل‬‫ا‬َ‫ص‬ ٌ‫د‬َ‫ل‬ َ‫و‬ َ‫و‬ُ‫ه‬َ‫ل‬‫و‬ُ‫ع‬ْ‫د‬َ‫ي‬
“Apabila seorang manusia
meninggal dunia, amalannya
terputus, kecuali tiga hal (yaitu):
sedekah jariyah, ilmu yang
bermanfaat, dan anak shalih yang
mendo’akannya.”
[HR. Bukhari dan Muslim]
KEUTAMAAN DAN
KEMULIAAN ILMU
Hadits ini adalah dalil terkuat tentang keutamaan dan
kemuliaan ilmu juga besarnya buah dari ilmu yang dimiliki
seseorang. Karena pahala ilmu yang telah diajarkan
kepada orang lain, akan tetap diterima oleh pemiliknya
selama ilmu tersebut diamalkan oleh orang lain. Meskipun
dia telah meninggal dunia dan seluruh amalannya telah
terputus, namun akibat ilmu yang diajarkannya kepada
orang lain membuatnya seolah-olah tetap hidup dan
amalnya tidak terputus. Hal ini selain menjadi kenangan
dan sanjungan bagi pemilik ilmu tersebut, juga menjadi
kehidupan kedua baginya, karena dia tetap merasakan
pahala yang mengalir untuknya ketika semua pahala amal
perbuatan telah terputus darinya.
[Lihat Al-‘Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 242) dan Menuntut Ilmu
Jalan Menuju Surga (hal. 46)]
USIA BIOLOGIS KITA SUATU SAAT
AKAN BERHENTI
TAPI USIA SOSIOLOGIS KITA HARUS
TERUS HIDUP TANPA HENTI
SEBAIK-BAIK ILMU
Syaikh Salim bin ‘Ied Al-
Hilali hafizhahullah berkata:
“Sebaik-baik ilmu adalah
memberikan perhatian penuh
terhadap Kitabullah (yakni Al-
Qur’an dan As-Sunnah sebagai
pendampingnya), membacanya dan
membacakannya (kepada orang
lain), belajar dan mengajarkannya,
memahami dan merenungkan
(kandungannya).”
[Lihat Bahjatun Nazhirin (I/221) dan Syarah
Riyadhush Shalihin Terjemah (I/581)]
ISTIQOMAH NGAJI
ُّ‫ب‬َ‫ح‬َ‫أ‬‫ى‬َ‫ل‬ِ‫إ‬ ِ‫ل‬‫ا‬َ‫م‬ْ‫ع‬َ‫َأ‬‫ا‬َ‫ل‬‫ا‬َ‫ع‬َ‫ت‬ ِ َّ‫اَّل‬‫ى‬
َّ‫ل‬َ‫ق‬ ْ‫ن‬ِ‫إ‬ َ‫و‬ ‫ا‬َ‫ه‬ُ‫م‬ َ‫و‬ْ‫د‬َ‫أ‬
“Amalan yang paling dicintai
oleh Allah Ta’ala adalah
amalan yang kontinu
walaupun itu sedikit.”
(HR. Muslim no. 783)
TANDA DITERIMANYA
SUATU AMALAN
Ibnu Rajab menjelaskan:
“Balasan dari amalan kebaikan adalah
amalan kebaikan selanjutnya. Barangsiapa
melaksanakan kebaikan lalu melanjutkan
dengan kebaikan lainnya, maka itu adalah
tanda diterimanya amalan yang pertama.
Begitu pula barangsiapa yang melaksanakan
kebaikan, namun malah dilanjutkan dengan
amalan kejelekan, maka ini adalah tanda
tertolaknya atau tidak diterimanya amalan
kebaikan yang telah dilakukan.”
(Latho-if Al Ma’arif, hal. 394)
RUTIN BERAMAL, DIJAUHI SYETAN
Al Hasan Al Bashri mengatakan:
“Wahai kaum muslimin, rutinlah dalam
beramal, rutinlah dalam beramal. Ingatlah!
Allah tidaklah menjadikan akhir dari seseorang
beramal selain kematiannya.
Jika syaithon melihatmu kontinu dalam
melakukan amalan ketaatan, dia pun akan
menjauhimu. Namun jika syaithon melihatmu
beramal kemudian engkau meninggalkannya
setelah itu, malah melakukannya sesekali saja,
maka syaithon pun akan semakin tamak untuk
menggodamu.”
(Al Mahjah fii Sayrid Duljah, Ibnu Rajab, hal. 71. Dinukil dari
Tajriidul Ittiba’ fii Bayaani Asbaabi Tafadhulil A’mal, Ibrahim bin
‘Amir Ar Ruhailiy, hal. 86, Daar Al Imam Ahmad, cetakan
pertama, 1428 H.)
TIDAK KAJIAN KARENA UDZUR SYARIE
‫ا‬َ‫ذ‬ِ‫إ‬َ‫ب‬ِ‫ت‬ُ‫ك‬ ، َ‫ر‬َ‫ف‬‫ا‬َ‫س‬ ْ‫و‬َ‫أ‬ ُ‫د‬ْ‫ب‬َ‫ع‬ْ‫ال‬ َ‫ض‬ ِ‫ر‬َ‫م‬ُ‫ل‬َ‫م‬ْ‫ع‬َ‫ي‬ َ‫ان‬َ‫ك‬ ‫ا‬َ‫م‬ ُ‫ل‬ْ‫ث‬ِ‫م‬ ُ‫ه‬َ‫ل‬
‫ا‬ً‫م‬‫ي‬ِ‫ق‬ُ‫م‬‫ا‬ً‫ح‬‫ي‬ ِ‫ح‬َ‫ص‬
“Jika seseorang sakit atau melakukan safar, maka dia akan
dicatat melakukan amalan sebagaimana amalan rutin
yang dia lakukan ketika mukim (tidak bepergian) dan
dalam keadaan sehat.”
(HR. Bukhari no. 2996)
LARANGAN MEMUTUSKAN AMALAN DAN
MENINGGALKANNYA BEGITU SAJA
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash
r.huma, Rasulullah saw berkata
padaku,
‫ا‬َ‫ي‬َ‫ل‬ْ‫ث‬ِ‫م‬ ْ‫ن‬ُ‫ك‬َ‫ت‬ َ‫ال‬ ، ِ َّ‫اَّل‬ َ‫د‬ْ‫ب‬َ‫ع‬ُ‫م‬‫و‬ُ‫ق‬َ‫ي‬ َ‫ان‬َ‫ك‬ ، ‫ن‬َ‫ال‬ُ‫ف‬
ْ‫ي‬َّ‫الل‬ َ‫ام‬َ‫ي‬ِ‫ق‬ َ‫ك‬ َ‫ر‬َ‫ت‬َ‫ف‬ َ‫ل‬ْ‫ي‬َّ‫الل‬ِ‫ل‬
“Wahai ‘Abdullah, janganlah
engkau seperti si fulan. Dulu dia
biasa mengerjakan shalat
malam, namun sekarang dia
tidak mengerjakannya lagi.”
(HR. Bukhari no. 1152)
BERHENTI DARI AMALAN
RUTINNYA, MALAIKAT PUN
BERHENTI MEMBANGUNKAN
BANGUNANNYA DI SURGA
Al Hasan Al Bashri mengatakan,
”Sesungguhnya bangunan di surga
dibangun oleh para Malaikat disebabkan
amalan dzikir yang terus dilakukan. Apabila
seorang hamba mengalami rasa jenuh untuk
berdzikir, maka malaikat pun akan berhenti
dari pekerjaannya tadi. Lantas malaikat pun
mengatakan, ”Apa yang terjadi padamu,
wahai fulan?” Sebab malaikat bisa
menghentikan pekerjaan mereka karena
orang yang berdzikir tadi mengalami
kefuturan (kemalasan) dalam beramal.”
(Fathul Baari lii Ibni Rajab, 1/84)
َّ‫م‬‫ـ‬ُ‫ه‬‫الل‬،ْ‫ي‬ِ‫ن‬َ‫ت‬ْ‫م‬َّ‫ـل‬َ‫ع‬ ‫ـا‬َ‫م‬ِ‫ب‬ ْ‫ي‬ِ‫ن‬‫ـ‬ْ‫ع‬‫ـ‬َ‫ف‬ْ‫ن‬‫ا‬
ْ‫ن‬َ‫ي‬ ‫ا‬َ‫م‬ ْ‫ي‬ِ‫ن‬ْ‫م‬ِِّ‫ـل‬َ‫ع‬ َ‫و‬،ْ‫ي‬ِ‫ن‬‫ـ‬ُ‫ع‬َ‫ف‬‫ـ‬
ْ‫ي‬ِ‫ن‬ْ‫د‬ ِ‫ز‬ َ‫و‬‫ـا‬ً‫م‬ْ‫ـل‬ِ‫ع‬
“Yaa Allah, berikanlah
manfaat kepadaku dengan
apa-apa yang Engkau ajarkan
kepadaku, dan ajarkanlah aku
apa-apa yang bermanfaat
bagiku. Dan tambahkanlah
ilmu kepadaku.”
(HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Mâjah)

Pentingnya Niat dan Ngaji

  • 1.
  • 2.
    NIAT MAKSUD DAN KEINGINANHATI PEMBEDA AMAL DAN TUJUAN
  • 3.
    NIAT KARENA ALLAH IbnuTaimiyah rahimahullah berkata, ‫يدوم‬ ‫وال‬ ‫ينفع‬ ‫ال‬ ‫له‬ ‫يكون‬ ‫ال‬ ‫وما‬ “Segala sesuatu yang tidak didasari ikhlas karena Allah, pasti tidak bermanfaat dan tidak akan kekal.” (Dar-ut Ta’arudh Al ‘Aql wan Naql, 2: 188)
  • 4.
    NIAT KARENA ALLAH Paraulama menyebutkan bahwa Imam Ibnu Abi Dzi’bi yang semasa dan senegeri dengan Imam Malik pernah menulis kitab yang lebih besar dari Muwatho’. Karena demikian, Imam Malik pernah ditanya, “Apa faedahnya engkau menulis kitab yang sama seperti itu?” Jawaban beliau, “Sesuatu yang ikhlas karena Allah, pasti akan lebih langgeng.” (Ar Risalah Al Mustathrofah, hal. 9. Dinukil dari Muwatho’ Imam Malik, 3: 521)
  • 5.
    IMAM NAWAWI •Nama lengkap beliau Yahya bin Syaraf bin Hasan bin Husain An- Nawawi Ad-Dimasyqiy, Abu Zakaria. • Beliau dilahirkan pada bulan Muharram tahun 631 H di Nawa, sebuah kampung di daerah Dimasyq (Damascus) yang sekarang merupakan ibukota Suriah. • Beliau wafat pada tanggal 24 Rajab 676 H. • Umurnya singkat, namun ilmunya terus kekal dan langgeng.
  • 6.
    Jumlah karyanya sekitar40 (empat puluh) kitab, diantaranya: • Dalam bidang hadits: Arba’in, Riyadhush Shalihin, Al-Minhaj (Syarah Shahih Muslim), At-Taqrib wat Taysir fi Ma’rifat Sunan Al-Basyirin Nadzir. • Dalam bidang fiqih: Minhajuth Thalibin, Raudhatuth Thalibin, Al-Majmu’. • Dalam bidang bahasa: Tahdzibul Asma’ wal Lughat. • Dalam bidang akhlak: At-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur’an, Bustanul Arifin, Al- Adzkar. KARYA IMAM NAWAWI
  • 7.
    IMAM NAWAWI Itu semuadilakukan beliau karena hanya ingin meraih ridho Allah, bukan ingin disebut orang paling cerdas, bukan ingin pula meraih gelar mentereng atau ingin mendapat balasan dunia semata.
  • 8.
    BAHAYA SALAH NIAT: MUJAHIDMASUK NERAKA Abu Hurairah berkata: Aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab, ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berkata, ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka.’
  • 9.
    “Berikutnya orang (yangdiadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca al-Qur-an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya, ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab, ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca al-Qur-an hanyalah karena Engkau.’ Allah berkata, ‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan engkau membaca al-Qur-an supaya dikatakan seorang qari’ (pembaca al-Qur-an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.’ BAHAYA SALAH NIAT: ORANG ‘ALIM MASUK NERAKA
  • 10.
    “Berikutnya (yang diadili)adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah bertanya, ‘Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab, ‘Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.’ Allah berkata, ‘Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka’,” (HR. Muslim) BAHAYA SALAH NIAT: ORANG KAYA MASUK NERAKA
  • 11.
    BAHAYA SALAH NIAT َ‫م‬ْ‫ل‬ِ‫ع‬ْ‫ال‬َ‫ب‬َ‫ل‬َ‫ط‬ ْ‫ن‬َ‫م‬ِ‫ار‬َ‫ج‬ُ‫ي‬ِ‫ل‬َ‫ء‬‫ا‬َ‫م‬َ‫ل‬ُ‫ع‬ْ‫ال‬ ِ‫ه‬ِ‫ب‬ َ‫ى‬ َ‫ه‬َ‫ف‬ُّ‫س‬‫ال‬ ِ‫ه‬ِ‫ب‬ َ‫ى‬ ِ‫ار‬َ‫م‬ُ‫ي‬ِ‫ل‬ ْ‫و‬َ‫أ‬َ‫ء‬‫ا‬ِ‫ه‬ِ‫ب‬ َ‫ف‬ ِ‫ر‬ْ‫ص‬َ‫ي‬ ْ‫و‬َ‫أ‬ ِ‫ه‬ْ‫ي‬َ‫ل‬ِ‫إ‬ ِ‫اس‬َّ‫ن‬‫ال‬ َ‫ه‬‫و‬ُ‫ج‬ ُ‫و‬َ‫ل‬َ‫خ‬ْ‫د‬َ‫أ‬َ‫ار‬َّ‫ن‬‫ال‬ ُ َّ‫اَّل‬ ُ‫ه‬ “Siapa menuntut ilmu untuk menandingi para ulama, atau mendebat orang-orang bodoh, atau memalingkan pandangan-pandangan manusia kepadanya, maka Allâh akan memasukkannya ke neraka.” (HR. At-Tirmidzi, Shahîh at-Targhîb, no. 106)
  • 12.
    HARUS KARENA ALLAH ْ‫ن‬َ‫م‬‫َى‬‫غ‬َ‫ت‬ْ‫ب‬ُ‫ي‬‫ا‬َّ‫م‬ِ‫م‬ ‫ا‬ً‫م‬ْ‫ل‬ِ‫ع‬ َ‫م‬َّ‫ل‬َ‫ع‬َ‫ت‬َ‫ج‬ َ‫و‬ َّ‫ز‬َ‫ع‬ ِ َّ‫اَّل‬ ُ‫ه‬ْ‫ج‬ َ‫و‬ ِ‫ه‬ِ‫ب‬َّ‫ل‬ َ‫ال‬ِ‫ه‬ِ‫ب‬ َ‫يب‬ ِ‫ص‬ُ‫ي‬ِ‫ل‬ َّ‫ال‬ِ‫إ‬ ُ‫ه‬ُ‫م‬َّ‫ل‬َ‫ع‬َ‫ت‬َ‫ي‬‫ا‬َ‫ي‬ْ‫ن‬ُّ‫د‬‫ال‬ َ‫ن‬ِ‫م‬ ‫ا‬ًًَ‫ر‬َ‫ع‬ ْ‫م‬َ‫ل‬ْ‫ال‬ َ‫م‬ ْ‫و‬َ‫ي‬ ِ‫ة‬َّ‫ن‬َ‫ج‬ْ‫ال‬ َ‫ف‬ ْ‫ر‬َ‫ع‬ ْ‫د‬ ِ‫ج‬َ‫ي‬ِ‫ة‬َ‫م‬‫ا‬َ‫ي‬ِ‫ق‬ “Siapa menuntut ilmu yang seharusnya ditujukan hanya mengharap wajah Allâh ‘Azza Wa Jalla, namun ternyata ia tidak menuntut ilmu kecuali untuk mendapatkan sedikit dari kenikmatan dunia, maka ia tidak akan mencium bau surga pada hari Kiamat. (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban, Shahîh ath-Targhib, no. 105)
  • 13.
    IKHLAS SEBAB DERAJATTINGGI Syaikh Sholih Al-Ushoimi –hafidzahullah- menasehatkan: ‫وما‬‫السلف‬ ‫من‬ ‫وصل‬ ‫من‬ ‫وصل‬ ‫وال‬ ‫سبقو‬ ‫من‬ ‫سبق‬ ‫العالمين‬ ‫رب‬ ‫هلل‬ ‫باالخالص‬ ‫اال‬ ‫الصالحينو‬ Tidaklah para salafussholih itu unggul dan sampai pada derajat ilmu (yang tinggi), melainkan karena sebab ikhlasnya mereka saat menuntut ilmu, karena mengharap pahala Allah tuhan semesta alam. (Khulashoh Ta’dhiimil ‘Ilmi, hal. 11)
  • 14.
    JATAH ILMU SEBANYAK KADARIKHLAS Syaikh Sholih Al-‘Ushoimi juga mengatakan: ‫وانما‬‫اخالصه‬ ‫قدر‬ ‫على‬ ‫العلم‬ ‫المرء‬ ‫ينال‬ “Seorang itu mendapatkan jatah ilmu, sebanyak kadar ikhlasnya.” (Khulashoh Ta’dhiimil ‘Ilmi, hal. 11)
  • 15.
    BELAJAR UNTUK IBADAH DANMENGAJAR Imam Ahmad ditanya mengenai apa niat yang benar dalam belajar agama. Beliau menjawab, “Niat yang benar dalam belajar adalah apabila belajar tersebut diniatkan untuk dapat beribadah pada Allah dengan benar dan untuk mengajari yang lainnya.”
  • 16.
  • 17.
    DIKEHENDAKI KEBAIKAN Mu’awiyah binAbi Sufyan ra berkata, aku mendengar Rasulullah saw bersabda: ‫ا‬ً‫ْر‬‫ي‬َ‫خ‬ ِ‫ه‬ِ‫ب‬ ُ‫هللا‬ ِ‫د‬ ِ‫ر‬ُ‫ي‬ ْ‫ن‬َ‫م‬َ‫ف‬ُ‫ي‬ِ‫ين‬ِِّ‫د‬‫ال‬ ‫ى‬ِ‫ف‬ ُ‫ه‬ْ‫ه‬ِِّ‫ق‬ “Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan maka Dia akan memahamkan baginya agama (Islam).” (HR al-Bukhari no. 2948 dan Muslim no. 1037)
  • 18.
    FAQIH FIDDIN Yang dimaksuddengan pemahaman agama dalam hadits ini adalah ilmu/pengetahuan tentang hukum-hukum agama yang mewariskan amalan shaleh, karena ilmu yang tidak dibarengi dengan amalan shaleh bukanlah merupakan ciri kebaikan. (Miftaahu Daaris Sa’aadah (1/60))
  • 19.
    SURGA, PAHALA BESAR UNTUKPARA PENUNTUT ILMU ْ‫ن‬َ‫م‬ْ‫ل‬َ‫ي‬ ‫ا‬ً‫ق‬‫ي‬ ِ‫ر‬َ‫ط‬ َ‫ك‬َ‫ل‬َ‫س‬ْ‫ل‬ِ‫ع‬ ِ‫ه‬‫ي‬ِ‫ف‬ ُ‫س‬ِ‫م‬َ‫ت‬‫ا‬ً‫م‬ َ‫ط‬ ِ‫ه‬ِ‫ب‬ ُ‫ه‬َ‫ل‬ ُ َّ‫اَّل‬ َ‫ل‬َّ‫ه‬َ‫س‬‫ى‬َ‫ل‬ِ‫إ‬ ‫ا‬ً‫ق‬‫ي‬ ِ‫ر‬َ‫ج‬ْ‫ال‬ِ‫ة‬َّ‫ن‬ “Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim no. 7028)
  • 20.
    TENTANG SURGA • Surga(Al Jannah) secara bahasa berarti : kebun (al bustan), atau kebun yang di dalamnya terdapat pepohonan. • Secara istilah, surga ialah nama yang umum mencakup suatu tempat (yang telah dipersiapkan oleh Allah bagi mereka yang menaati-Nya), di dalamnya terdapat segala macam kenikmatan, kelezatan, kesenangan, kebahagiaan, dan kesejukan pandangan mata. • Surga juga disebut dengan berbagai macam nama selain Al Jannah, diantaranya : Darus Salam (Negeri Keselamatan;lihat QS. Yunus : 25), Darul Khuld (Negeri yang Kekal;lihat QS. Qaaf : 34), Jannatun Na’im (Surga yang Penuh Kenikmatan;QS. Luqman: 8), Al Firdaus (QS. Al Kahfi : 108), dan berbagai penamaan lainnya. (Al Jannatu wa An Naar, Abdurrahman bin Sa’id bin Ali bin Wahf Al Qahthani rahimahullahu ta’ala, dengan tahqiq : Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf Al Qahthani hafizhahullah)
  • 21.
    MAKNA JALAN UNTUK MENUNTUTILMU 1. Menempuh jalan untuk menuntut ilmu dalam arti yang sebenarnya, seperti berjalan kaki menuju majelis-majelis ilmu. 2. Menempuh jalan atau cara yang dapat mengantarkan seseorang untuk memperoleh ilmu syar’i, seperti membaca, menghapal, menela’ah, dan sebagainya.
  • 22.
    MAKNA ALLAH MEMUDAHKAN JALANNYAMENUJU SURGA 1. Allah akan memudahkan orang yang menuntut ilmu semata-mata karena mencari keridhaan Allah, dapat mengambil manfaat, dan mengamalkannya, sehingga bisa memasuki Surga-Nya. 2. Allah akan memudahkan jalan baginya menuju Surga ketika melewati titian ash- shirathal mustaqim pada hari Kiamat dan memudahkannya dari berbagai kengerian pada sebelum dan sesudahnya. [Jami’ul ‘Ulum wal Hikam (II/297, Qawa’id wa Fawa’id minal Arba’in An-Nawawiyyah (hal. 316-317), Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga (hal. 8-9)]
  • 23.
    BEDA ORANG BERILMU ْ‫ل‬َ‫ه‬َ‫ل‬ْ‫ع‬َ‫ي‬َ‫ين‬ِ‫ذ‬َّ‫ال‬ ‫ي‬ِ‫و‬َ‫ت‬ْ‫س‬َ‫ي‬َ‫ين‬ِ‫ذ‬َّ‫ال‬ َ‫و‬ َ‫ون‬ُ‫م‬ َ‫ال‬َّ‫ك‬َ‫ذ‬َ‫ت‬َ‫ي‬ ‫ا‬َ‫م‬َّ‫ن‬ِ‫إ‬ َ‫ون‬ُ‫م‬َ‫ل‬ْ‫ع‬َ‫ي‬ِ‫ب‬‫ا‬َ‫ب‬ْ‫ل‬َ ْ‫اَأ‬ ‫و‬ُ‫ل‬‫و‬ُ‫أ‬ ُ‫ر‬ “Katakanlah: “Adakah sama orang- orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran” (QS. Az-Zumar, 39: 9)
  • 24.
    ILMU SEBAGAI PEMBEDA Rizkihalal, rizki haram Perbuatan baik, perbuatan buruk Wajib, sunnah, mubah, makruh, haram Jalan ke surga, jalan ke neraka Allah ridho, tidak
  • 25.
    ILMU, BAHAN PETUNJUKKEBENARAN • Pahala yang agung bagi seorang yang berilmu juga dapat dilihat dari pahala yang mereka dapatkan ketika mereka dapat memberikan petunjuk bagi orang lain dengan ilmu yang mereka miliki. • Dan seseorang tidaklah mungkin dapat memberikan petunjuk kebenaran kepada orang lain kecuali dengan ilmu.
  • 26.
    PAHALA PENUNJUK KEBENARAN َِّ‫اَّل‬ َ‫و‬َ‫ف‬ُ‫ج‬َ‫ر‬ َ‫ك‬ِ‫ب‬ ُ َّ‫اَّل‬ َ‫ى‬ِ‫د‬ْ‫ه‬َ‫ي‬ ْ‫ن‬َ‫َأ‬َ‫ون‬ُ‫ك‬َ‫ي‬ ْ‫ن‬َ‫أ‬ ْ‫ن‬ِ‫م‬ َ‫ك‬َ‫ل‬ ٌ‫ْر‬‫ي‬َ‫خ‬ ً‫ال‬َ‫ك‬َ‫ل‬ ِ‫م‬َ‫ع‬َّ‫ن‬‫ال‬ ُ‫ر‬ْ‫م‬ُ‫ح‬ “Demi Allah, jika Allah memberikan petunjuk kepada satu orang saja melalui perantaraanmu, itu lebih baik bagimu dibandingkan dengan unta merah (unta yang paling bagus dan paling mahal).” (HR. Bukhari dan Muslim) Koenigsegg CCXR Terevita dinobatkan sebagai mobil termahal di dunia. Mobil buatan Swedia ini dibandrol dengan harga 68 Miliar. (Detikoto, 16 Nov 2019)
  • 27.
    SEPERTI BERJIHAD DI JALANALLAH TA’ALA ْ‫ن‬َ‫م‬َ‫ي‬ِ‫ل‬ ‫ا‬َ‫ذ‬‫ـ‬َ‫ه‬ ‫َا‬‫ن‬َ‫د‬‫ـ‬ ِ‫ج‬ْ‫س‬‫ـ‬َ‫م‬ َ‫ل‬‫َـ‬‫خ‬َ‫د‬‫ا‬ً‫ْر‬‫ي‬َ‫خ‬ َ‫م‬َّ‫ل‬َ‫ع‬َ‫ت‬ َ‫ج‬ُ‫م‬ْ‫ال‬َ‫ك‬ َ‫ان‬َ‫ك‬ ُ‫ه‬َ‫م‬ِِّ‫ل‬َ‫ع‬ُ‫ي‬ِ‫ل‬ ْ‫و‬َ‫أ‬‫ْل‬‫ي‬ِ‫ب‬َ‫س‬ ‫ي‬ِ‫ف‬ ِ‫د‬ِ‫ه‬‫ا‬ِ‫هللا‬ “Barangsiapa yang memasuki masjid kami ini (masjid Nabawi) dengan tujuan untuk mempelajari kebaikan atau mengajarkannya, dia ibarat seorang yang berjihad di jalan Allah.” [HR Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Ibnu Abi Syaibah, dan Al-Hakim, dari Abu Hurairah ra]
  • 28.
    SEPERTI BERJIHAD DI JALANALLAH TA’ALA Abu Darda ra pernah berkata: “Barangsiapa yang berpendapat bahwa perginya seseorang untuk menuntut ilmu itu tidak termasuk jihad, sungguh dia kurang akalnya.” [Lihat Al-‘Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 145) dan Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga (hal. 45)]
  • 29.
    DINAUNGI SAYAP-SAYAP PARAMALAIKAT, DIMOHONKAN AMPUN OLEH PENDUDUK LANGIT DAN BUMI َّ‫ن‬ِ‫إ‬ َ‫و‬ْ‫ج‬َ‫أ‬ ُ‫ع‬ًََ‫ت‬َ‫ل‬ َ‫ة‬َ‫ك‬‫ـ‬ِ‫ئ‬َ‫ال‬‫ـ‬َ‫م‬ْ‫ال‬ْ‫ل‬ِ‫ع‬ْ‫ال‬ ِ‫ب‬ِ‫ل‬‫ا‬َ‫ط‬ِ‫ل‬ ‫ا‬َ‫ه‬َ‫ت‬‫ـ‬َ‫ح‬ِ‫ن‬‫ـ‬ِ‫م‬ ِ‫ل‬‫ا‬َ‫ع‬ْ‫ال‬ َّ‫ن‬ِ‫إ‬ َ‫و‬ ،ُ‫ع‬َ‫ن‬ْ‫ص‬َ‫ي‬ ‫ا‬َ‫م‬ِ‫ب‬ ‫ا‬ًً ِ‫ر‬َ‫ل‬ ُ‫ـر‬ِ‫ف‬‫ـ‬ْ‫غ‬َ‫ت‬‫ـ‬ْ‫س‬‫ـ‬َ‫ي‬َ‫ل‬ َ‫م‬ْ‫ن‬َ‫م‬ ُ‫ه‬ ِ‫ض‬ ْ‫ر‬َ‫َأ‬‫ا‬ ‫ي‬ِ‫ف‬ ْ‫ن‬َ‫م‬ َ‫و‬ ِ‫ت‬‫ا‬ َ‫و‬ ‫ـا‬َ‫م‬َّ‫س‬‫ال‬ ‫ي‬ِ‫ف‬ُ‫ـان‬َ‫ت‬ْ‫ي‬‫ـ‬ ِ‫ح‬ْ‫ال‬ ‫ى‬َّ‫ت‬َ‫ح‬ ِ‫ـاء‬َ‫م‬ْ‫ال‬ ‫ي‬ِ‫ف‬. “Sesungguhnya para Malaikat membentangkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridha atas apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya orang yang berilmu benar-benar dimintakan ampun oleh penghuni langit dan bumi, bahkan oleh ikan-ikan yang berada di dalam air.” [HR Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Ad- Darimi, Ibnu Hibban, dari Abu Darda’ ra]
  • 30.
    MENUNTUT ILMU 1. DIBERI TAHU JALANKE SURGA 2. DIBERI PAHALA 3. DIHAPUS DOSA
  • 31.
    ILMU DICARI UNTUK: DIAMALKAN,DIDAKWAHKAN, MEMBERI MANFAAT KEPADA ORANG LAIN
  • 32.
    AMAL YANG TAK PUTUS ‫ا‬َ‫ذ‬ِ‫إ‬َ‫ط‬‫ـ‬َ‫ق‬‫ـ‬ْ‫ن‬‫ا‬ُ‫ـان‬َ‫س‬ْ‫ن‬ِ ْ‫اْل‬ َ‫ات‬َ‫م‬ُ‫ه‬ُ‫ل‬َ‫م‬‫ـ‬َ‫ع‬ َ‫ع‬‫ـ‬ َّ‫ال‬ِ‫إ‬‫ث‬َ‫ال‬َ‫ث‬ ْ‫ن‬ِ‫م‬: ٌ‫ة‬َ‫ق‬َ‫د‬َ‫ص‬ُ‫ي‬ ٌ‫م‬ْ‫ل‬ِ‫ع‬ َ‫و‬ ،ٌ‫ة‬َ‫ي‬ ِ‫ار‬َ‫ج‬ِ‫ه‬ِ‫ب‬ ُ‫ع‬‫ـ‬َ‫ف‬ُ‫ت‬‫ـ‬ْ‫ن‬، ٌ‫ح‬ِ‫ل‬‫ا‬َ‫ص‬ ٌ‫د‬َ‫ل‬ َ‫و‬ َ‫و‬ُ‫ه‬َ‫ل‬‫و‬ُ‫ع‬ْ‫د‬َ‫ي‬ “Apabila seorang manusia meninggal dunia, amalannya terputus, kecuali tiga hal (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendo’akannya.” [HR. Bukhari dan Muslim]
  • 33.
    KEUTAMAAN DAN KEMULIAAN ILMU Haditsini adalah dalil terkuat tentang keutamaan dan kemuliaan ilmu juga besarnya buah dari ilmu yang dimiliki seseorang. Karena pahala ilmu yang telah diajarkan kepada orang lain, akan tetap diterima oleh pemiliknya selama ilmu tersebut diamalkan oleh orang lain. Meskipun dia telah meninggal dunia dan seluruh amalannya telah terputus, namun akibat ilmu yang diajarkannya kepada orang lain membuatnya seolah-olah tetap hidup dan amalnya tidak terputus. Hal ini selain menjadi kenangan dan sanjungan bagi pemilik ilmu tersebut, juga menjadi kehidupan kedua baginya, karena dia tetap merasakan pahala yang mengalir untuknya ketika semua pahala amal perbuatan telah terputus darinya. [Lihat Al-‘Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 242) dan Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga (hal. 46)]
  • 34.
    USIA BIOLOGIS KITASUATU SAAT AKAN BERHENTI TAPI USIA SOSIOLOGIS KITA HARUS TERUS HIDUP TANPA HENTI
  • 35.
    SEBAIK-BAIK ILMU Syaikh Salimbin ‘Ied Al- Hilali hafizhahullah berkata: “Sebaik-baik ilmu adalah memberikan perhatian penuh terhadap Kitabullah (yakni Al- Qur’an dan As-Sunnah sebagai pendampingnya), membacanya dan membacakannya (kepada orang lain), belajar dan mengajarkannya, memahami dan merenungkan (kandungannya).” [Lihat Bahjatun Nazhirin (I/221) dan Syarah Riyadhush Shalihin Terjemah (I/581)]
  • 36.
    ISTIQOMAH NGAJI ُّ‫ب‬َ‫ح‬َ‫أ‬‫ى‬َ‫ل‬ِ‫إ‬ ِ‫ل‬‫ا‬َ‫م‬ْ‫ع‬َ‫َأ‬‫ا‬َ‫ل‬‫ا‬َ‫ع‬َ‫ت‬ِ َّ‫اَّل‬‫ى‬ َّ‫ل‬َ‫ق‬ ْ‫ن‬ِ‫إ‬ َ‫و‬ ‫ا‬َ‫ه‬ُ‫م‬ َ‫و‬ْ‫د‬َ‫أ‬ “Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” (HR. Muslim no. 783)
  • 37.
    TANDA DITERIMANYA SUATU AMALAN IbnuRajab menjelaskan: “Balasan dari amalan kebaikan adalah amalan kebaikan selanjutnya. Barangsiapa melaksanakan kebaikan lalu melanjutkan dengan kebaikan lainnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama. Begitu pula barangsiapa yang melaksanakan kebaikan, namun malah dilanjutkan dengan amalan kejelekan, maka ini adalah tanda tertolaknya atau tidak diterimanya amalan kebaikan yang telah dilakukan.” (Latho-if Al Ma’arif, hal. 394)
  • 38.
    RUTIN BERAMAL, DIJAUHISYETAN Al Hasan Al Bashri mengatakan: “Wahai kaum muslimin, rutinlah dalam beramal, rutinlah dalam beramal. Ingatlah! Allah tidaklah menjadikan akhir dari seseorang beramal selain kematiannya. Jika syaithon melihatmu kontinu dalam melakukan amalan ketaatan, dia pun akan menjauhimu. Namun jika syaithon melihatmu beramal kemudian engkau meninggalkannya setelah itu, malah melakukannya sesekali saja, maka syaithon pun akan semakin tamak untuk menggodamu.” (Al Mahjah fii Sayrid Duljah, Ibnu Rajab, hal. 71. Dinukil dari Tajriidul Ittiba’ fii Bayaani Asbaabi Tafadhulil A’mal, Ibrahim bin ‘Amir Ar Ruhailiy, hal. 86, Daar Al Imam Ahmad, cetakan pertama, 1428 H.)
  • 39.
    TIDAK KAJIAN KARENAUDZUR SYARIE ‫ا‬َ‫ذ‬ِ‫إ‬َ‫ب‬ِ‫ت‬ُ‫ك‬ ، َ‫ر‬َ‫ف‬‫ا‬َ‫س‬ ْ‫و‬َ‫أ‬ ُ‫د‬ْ‫ب‬َ‫ع‬ْ‫ال‬ َ‫ض‬ ِ‫ر‬َ‫م‬ُ‫ل‬َ‫م‬ْ‫ع‬َ‫ي‬ َ‫ان‬َ‫ك‬ ‫ا‬َ‫م‬ ُ‫ل‬ْ‫ث‬ِ‫م‬ ُ‫ه‬َ‫ل‬ ‫ا‬ً‫م‬‫ي‬ِ‫ق‬ُ‫م‬‫ا‬ً‫ح‬‫ي‬ ِ‫ح‬َ‫ص‬ “Jika seseorang sakit atau melakukan safar, maka dia akan dicatat melakukan amalan sebagaimana amalan rutin yang dia lakukan ketika mukim (tidak bepergian) dan dalam keadaan sehat.” (HR. Bukhari no. 2996)
  • 40.
    LARANGAN MEMUTUSKAN AMALANDAN MENINGGALKANNYA BEGITU SAJA Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash r.huma, Rasulullah saw berkata padaku, ‫ا‬َ‫ي‬َ‫ل‬ْ‫ث‬ِ‫م‬ ْ‫ن‬ُ‫ك‬َ‫ت‬ َ‫ال‬ ، ِ َّ‫اَّل‬ َ‫د‬ْ‫ب‬َ‫ع‬ُ‫م‬‫و‬ُ‫ق‬َ‫ي‬ َ‫ان‬َ‫ك‬ ، ‫ن‬َ‫ال‬ُ‫ف‬ ْ‫ي‬َّ‫الل‬ َ‫ام‬َ‫ي‬ِ‫ق‬ َ‫ك‬ َ‫ر‬َ‫ت‬َ‫ف‬ َ‫ل‬ْ‫ي‬َّ‫الل‬ِ‫ل‬ “Wahai ‘Abdullah, janganlah engkau seperti si fulan. Dulu dia biasa mengerjakan shalat malam, namun sekarang dia tidak mengerjakannya lagi.” (HR. Bukhari no. 1152)
  • 41.
    BERHENTI DARI AMALAN RUTINNYA,MALAIKAT PUN BERHENTI MEMBANGUNKAN BANGUNANNYA DI SURGA Al Hasan Al Bashri mengatakan, ”Sesungguhnya bangunan di surga dibangun oleh para Malaikat disebabkan amalan dzikir yang terus dilakukan. Apabila seorang hamba mengalami rasa jenuh untuk berdzikir, maka malaikat pun akan berhenti dari pekerjaannya tadi. Lantas malaikat pun mengatakan, ”Apa yang terjadi padamu, wahai fulan?” Sebab malaikat bisa menghentikan pekerjaan mereka karena orang yang berdzikir tadi mengalami kefuturan (kemalasan) dalam beramal.” (Fathul Baari lii Ibni Rajab, 1/84)
  • 42.
    َّ‫م‬‫ـ‬ُ‫ه‬‫الل‬،ْ‫ي‬ِ‫ن‬َ‫ت‬ْ‫م‬َّ‫ـل‬َ‫ع‬ ‫ـا‬َ‫م‬ِ‫ب‬ ْ‫ي‬ِ‫ن‬‫ـ‬ْ‫ع‬‫ـ‬َ‫ف‬ْ‫ن‬‫ا‬ ْ‫ن‬َ‫ي‬‫ا‬َ‫م‬ ْ‫ي‬ِ‫ن‬ْ‫م‬ِِّ‫ـل‬َ‫ع‬ َ‫و‬،ْ‫ي‬ِ‫ن‬‫ـ‬ُ‫ع‬َ‫ف‬‫ـ‬ ْ‫ي‬ِ‫ن‬ْ‫د‬ ِ‫ز‬ َ‫و‬‫ـا‬ً‫م‬ْ‫ـل‬ِ‫ع‬ “Yaa Allah, berikanlah manfaat kepadaku dengan apa-apa yang Engkau ajarkan kepadaku, dan ajarkanlah aku apa-apa yang bermanfaat bagiku. Dan tambahkanlah ilmu kepadaku.” (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Mâjah)

Editor's Notes

  • #3 Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’di berkata, “Niat adalah maksud dalam beramal untuk mendekatkan diri pada Allah, mencari ridha dan pahalaNya.” (Bahjah Quluubil Abraar wa Qurratu ‘Uyuunil Akhyaar Syarah Jawaami’ul Akhbar hal. 5) Tempat niat adalah di dalam hati, dan An Nawawi berkata,”Tidak ada khilaf dalam hal ini.” Al-Hafidz Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah menyebutkan fungsi niat: Pertama, Membedakan antara satu ibadah dengan ibadah lainnya, atau membedakan antara ibadah dengan kebiasaan. Kedua, Membedakan tujuan seseorang dalam beribadah. Jadi apakah seorang beribadah karena mengharap wajah Allah ataukah ia beribadah karena selain Allah, seperti mengharapkan pujian manusia. (Lihat: Jami’ al-‘ulum wal hikam, hal. 67).
  • #12 Anas bin Malik ra. berkata, مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ يُبَاهِي بِهِ الْعُلَمَاءَ ، أَوْ يُمَارِي بِهِ السُّفَهَاءَ ، أَوْ يَصْرِفُ أَعْيُنَ النَّاسِ إِلَيْهِ ، تَبَوَّأَ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ “Barangsiapa menuntut ilmu hanya ingin digelari ulama, untuk berdebat dengan orang bodoh, supaya dipandang manusia, maka silakan ia mengambil tempat duduknya di neraka.” (HR. Hakim dalam Mustadroknya)
  • #27 HR. Bukhari no. 3009, 3701, 4210 dan Muslim no. 6376
  • #28 [Hadits hasan, diriwayatkan oleh Ahmad (II/350, 526-527), Ibnu Majah (no. 227), Ibnu Hibban (no. 87-At-Ta’liqat), Ibnu Abi Syaibah (no. 3306), dan Al-Hakim (I/91), dari Abu Hurairah ra]
  • #30 [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 3641), Tirmidzi (no. 2682), Ibnu Majah (no. 223), Ahmad (V/196), Ad-Darimi (I/98), Ibnu Hibban (88 – Al-Ihsan dan 80 – Al-Mawarid), Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (I/275-276, no. 129), Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil ‘Ilmi (I/174 ,no. 173), dan Ath-Thahawi dalam Musykilul Atsar (I/429), dari Abu Darda’ ra]
  • #33 [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim (no. 1631), Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad (no. 38), Ahmad (II/372), Abu Dawud (no. 2880), An-Nasa’i (VI/251), Tirmidzi (no. 1376), Al-Baihaqi (VI/278), dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil ‘Ilmi (I/103 ,no. 52), dari Abu Hurairah ra]