i
MODUL AJAR
Judul Matakuliah
MEKANIKA FLUIDA
Disusun oleh:
Ir. Kutut Suryopratomo, MT, MSc
PROGRAM STUDI FISIKA TEKNIK
JURUSAN TEKNIK FISIKA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA
November 2013
ii
Halaman Pengesahan
A. PENYUSUN
1. Nama : Ir. Kutut Suryopratomo, MT, MSc
2. NIP : 19670620 199303 1 003
3. Pangkat/Golongan : Lektor/IIIc
4. Jabatan sekarang : Penata
B. DESKRIPSI MATAKULIAH
1. Nama Matakuliah : Mekanika Fluida
2. Kode : TNF 2126
3. SKS : 3
4. Semester : 3
5. Sifat : Wajib
6. Matakuliah prasyarat : Mekanika
C. SILABUS MATAKULIAH
Hukum-hukum dasar fisika dalam mekanika fluida. Sifat-sifat fluida. Statika
fluida. Dinamika fluida: aliran dalam saluran tertutup, saluran terbuka dan di
sekitar benda serta metode pengukuran fluida. Similaritas dan analisis dimensi.
Hukum-hukum dasar mekanika dan sifat-sifat fluida
Yogyakarta, 15 November 2013
Penyusun,
Ir. Kutut Suryopratomo, MT, MSc
NIP. 19670620 199303 1 003
iii
Daftar Isi
Halaman Pengesahan________________________________________________ii
Daftar Isi ________________________________________________________ iii
Daftar Gambar____________________________________________________ vi
Daftar Tabel______________________________________________________ xii
MODUL I. KONSEP DAN DEFINISI _________________________________1
A. Cakupan Mekanika Fluida_______________________________________1
B. Konsep Kontinum _____________________________________________3
C. Sifat Fluida di Satu Titik ________________________________________4
D. Medan Tekanan_______________________________________________8
MODUL II. STATIKA FLUIDA_____________________________________12
A. Kerangka Acuan _____________________________________________12
B. Hukum Pascal _______________________________________________13
C. Ragam Tekanan______________________________________________16
D. Tekanan Mutlak, Relatif & Hampa _______________________________19
E. Persamaan Dasar Fluida Statik __________________________________21
F. Pengukuran Tekanan __________________________________________28
G. Gaya Pada Permukaan Terendam ________________________________38
H. Pengapungan ________________________________________________40
MODUL III. SIFAT-SIFAT FLUIDA_________________________________48
A. Definisi Fluida_______________________________________________49
B. Viskositas___________________________________________________52
C. Fluida Newtonian vs. NonNewtonian _____________________________54
D. Tekanan Uap ________________________________________________57
E. Kompresibilitas ______________________________________________59
F. Tegangan Permukaan__________________________________________60
G. Kapilaritas __________________________________________________64
MODUL IV. DESKRIPSI ALIRAN __________________________________72
A. Ragam Cara Pandang Aliran ____________________________________72
B. Kinematika Fluida ____________________________________________79
C. Visualisasi Aliran ____________________________________________86
D. Penyajian Data Aliran _________________________________________93
MODUL V. ANALISIS INTEGRAL ALIRAN _________________________95
iv
A. Pendekatan Analisis __________________________________________95
B. Neraca Integral Massa _________________________________________97
C. Neraca Integral Momentum Linier ______________________________101
D. Neraca Integral Momentum Angular ____________________________109
E. Neraca Integral Energi________________________________________118
MODUL VI. ANALISIS INTEGRAL ALIRAN PADA CV DIFERENSIAL 122
A. CV diferensial silindrik _______________________________________122
B. CV diferensial kubik _________________________________________127
MODUL VII. ANALISIS DIFERENSIAL ALIRAN ____________________131
A. Analisis Diferensial vs. Integral ________________________________131
B. Neraca Diferensial Massa _____________________________________133
C. Neraca Diferensial Momentum _________________________________146
MODUL VIII. ALIRAN INVISID __________________________________167
A. Persamaan Aliran Invisid (Potensial) ____________________________168
B. Solusi Analitik ______________________________________________169
C. Aliran Invisid 2-D ___________________________________________173
D. Solusi Numerik _____________________________________________175
MODUL IX. ALIRAN VISKOS ____________________________________181
A. Aliran Laminer & Turbulen ___________________________________181
B. Lapisan Batas_______________________________________________182
C. Persamaan Lapisan Batas _____________________________________184
D. Penyelesaian Blasius _________________________________________190
E. Analisis Integral Momentum von Kärmän ________________________192
MODUL X. ALIRAN DALAM SALURAN TERTUTUP ________________198
A. Analisis Dimensional ________________________________________198
B. Faktor Gesekan _____________________________________________200
C. Kerugian Head______________________________________________200
D. Macam Persoalan Aliran______________________________________202
E. Pengukuran Aliran___________________________________________202
MODUL XI. ALIRAN DALAM SALURAN TERBUKA ________________214
A. Klasifikasi Aliran ___________________________________________215
B. Aliran Seragam _____________________________________________218
C. Lompatan Hidrolik __________________________________________224
D. Pengukuran Aliran___________________________________________228
MODUL XII. ALIRAN EKSTERNAL _______________________________231
v
A. Aliran Eksternal vs. Internal ___________________________________231
B. Gaya Hambat & Angkat ______________________________________232
MODUL XIII. KESERUPAAN & PEMODELAN ______________________238
A. Dimensi ___________________________________________________238
B. Nirdimensionalisasi __________________________________________239
C. Analisis Dimensi ____________________________________________240
D. Ekstrapolasi Model-Prototipe __________________________________245
vi
Daftar Gambar
Gambar 1. Contoh-contoh terapan mekanika fluida ________________________4
Gambar 2. Densitas di satu titik _______________________________________5
Gambar 3. Gaya pada sebuah elemen fluida ______________________________6
Gambar 4. Elemen dalam fluida statik __________________________________6
Gambar 5. Gelombang kejut di sekitar peluru & ujung senapan ______________8
Gambar 6. Jejak s dalam bidang xy_____________________________________9
Gambar 7. Gaya tekan pada elemen fluida ______________________________14
Gambar 8. Prinsip dongkrak mobil ____________________________________16
Gambar 9. Elemen diferensial tabung-vertikal fluida ______________________17
Gambar 10. Elemen diferensial tabung-horizontal fluida ___________________17
Gambar 11. Tabung berbentuk U _____________________________________18
Gambar 12. Elemen diferensial tabung-miring fluida______________________18
Gambar 13. Tekanan acuan mutlak dan relatif, tekanan terukur, tekanan
vakum dan tekanan mutlak _____________________________________20
Gambar 14. Komponen tekanan pada elemen fluida statis __________________21
Gambar 15. Pengaruh percepatan terhadap medan tekanan sebagaimana
tampak pada perubahan permukaan fluida _________________________23
Gambar 16. Komponen tekanan pada elemen fluida statis dalam kerangka
koordinat dipercepat dengan percepatan angular a ___________________24
Gambar 17. Pengaruh percepatan terhadap medan tekanan sebagaimana
tampak pada perubahan permukaan fluida _________________________25
Gambar 18. Profil permukaan bebas pada beragam rpm (0-480) _____________27
Gambar 19. Barometer fluida ________________________________________28
Gambar 20. Barometer digital________________________________________28
Gambar 21. Piezometer_____________________________________________30
Gambar 22. Manometer U sederhana __________________________________31
Gambar 23. Manometer U Terbalik ___________________________________32
Gambar 24. Manometer 1-kaki besar __________________________________33
Gambar 25. Manometer 2-fluida______________________________________35
Gambar 26. Manometer berkaki miring ________________________________35
Gambar 27. Tabung Bourdon (kiri) dan prinsip kerjanya (kanan) ____________37
Gambar 28. Kombinasi pengukur tekanan gauge dan vakum________________37
Gambar 29. Gaya tekan pada sebidang permukaan terendam _______________39
Gambar 30. Gaya-gaya yang bekerja pada elemen silindrik pada benda _______41
vii
Gambar 31. Benda mengapung, melayang dan tenggelam__________________42
Gambar 32. Gunung es mengapung di permukaan laut karena densitas es
(padat) lebih rendah daripada air laut (cair) ________________________43
Gambar 33. Gaya apung pada benda___________________________________44
Gambar 34. Kestabilan benda celup (immersed body) _____________________45
Gambar 35. Kestabilan benda apung (floating body) ______________________45
Gambar 36. Mahkota sama berat dengan bongkahan emas murni di udara _____46
Gambar 37. Mahkota lebih ringan dari bongkahan emas murni di dalam air ____46
Gambar 38. Dok kapal tenggelam sebagian _____________________________47
Gambar 39. Kapal selam berbobot 6000 ton sedang menjalani perbaikan di
atas dok kapal _______________________________________________47
Gambar 40. Gaya normal dan gaya geser/tangensial ______________________50
Gambar 41. Efek gaya geser pada padatan ______________________________51
Gambar 42. Efek gaya geser pada fluida________________________________52
Gambar 43. Gaya hambat yang dialami seekor burung sewaktu terbang
mencerminkan pengaruh viskositas fluida__________________________53
Gambar 44. Efek Coanda ___________________________________________53
Gambar 45. Variasi viskositas cairan dan gas terhadap suhu ________________54
Gambar 46. Hubungan tegangan geser (shear stress, ) dengan laju
regangan geser (rate of shear strain, du/dy) berbagai macam fluida _____55
Gambar 47. Efek perubahan mendadak laju geser pada viskositas semu
fluida gayut-waktu____________________________________________57
Gambar 48. Kavitasi di ujung baling-baling kapal ________________________58
Gambar 49. Efek kavitasi pada pompa sentrifugal ________________________58
Gambar 50. Efek tegangan permukaan air pada seekor serangga_____________60
Gambar 51. Efek tegangan permukaan pada tetesan air ____________________60
Gambar 52. Gaya-gaya pada molekul fluida di dalam dan di permukaan ______61
Gambar 53. Komponen gaya-gaya pada butiran fluida_____________________62
Gambar 54. Dua permukaan (dalam dan luar) pada gelembung sabun ________63
Gambar 55. Watak pembasahan sebutir fluida pada permukaan padat_________64
Gambar 56. Efek kapilaritas _________________________________________65
Gambar 57. Gaya-gaya yang bekerja pada CV (control volume) kolom
fluida yang mendaki di atas permukaan bebas ______________________66
Gambar 58. Gaya-gaya yang bekerja pada CV (control volume) kolom
fluida yang membenam di bawah permukaan bebas __________________67
Gambar 59. Kenaikan air dan penurunan Hg sebagai fungsi diameter pipa
kapilar _____________________________________________________69
Gambar 60. Efek kapilaritas _________________________________________70
viii
Gambar 61. Dalil Transport Reynolds _________________________________74
Gambar 62. Analisis pergerakan sensor mikron untuk pemantauan
lingkungan global dengan gabungan metode Eulerian-Lagrangian ______76
Gambar 63. Analisis forensik kecelakaan pesawat ulang-alik Columbia
dengan gabungan metode Eulerian-Lagrangian _____________________76
Gambar 64. Operator diferensial total mempertemukan metode Lagrangian
dan Eulerian_________________________________________________78
Gambar 65. Rangkuman berbagai cara pandang pergerakan fluida ___________79
Gambar 66. Ragam gerak yang bisa dialami oleh elemen fluida _____________80
Gambar 67. Deskripsi gerak rotasi elemen fluida _________________________80
Gambar 68. Aliran rotasional di dekat dinding, dan irrotasional di jauh
dinding _____________________________________________________82
Gambar 69. Deskripsi peregangan linier elemen fluida ____________________82
Gambar 70. Deskripsi gerak geser 1-arah pada elemen fluida _______________84
Gambar 71. Deskripsi gerak geser 2-arah pada elemen fluida _______________85
Gambar 72. Visualisasi aliran melalui sebuah bola _______________________87
Gambar 73. Kecepatan dan garis busur streamline ________________________87
Gambar 74. Kontur tekanan dan streamline pada NASCAR ________________88
Gambar 75. Kontur tekanan, streamline, dan streamline permukaan pada
pesawat terbang ______________________________________________88
Gambar 76. Deskripsi pathline _______________________________________89
Gambar 77. Pathline hasil teknik eksperimen particle image velocimetry
(PIV) ______________________________________________________89
Gambar 78. Deskripsi streakline ______________________________________90
Gambar 79. Streakline hasil simulasi pesawat VTOL (Vertical Take-off and
Landing)____________________________________________________90
Gambar 80. Streakline berupa vortex ujung sayap ________________________91
Gambar 81. Streakline berupa vortex Karman di hilir pulau Guadalupe
berketinggian 1,3 km (lokasi di lepas pantai Baja California AS) _______91
Gambar 82. Perbandingan streamline, pathline dan streakline _______________92
Gambar 83. Timelines yang dihasilkan oleh kawat gelembung hidrogen
digunakan untuk memvisualisasikan bentuk profil kecepatan lapisan
batas (boundary layer). ________________________________________93
Gambar 84. Peta Profil kecepatan horizontal sebagai fungsi jarak vertikal
dalam aliran lapisan batas sepanjang plat datar______________________93
Gambar 85. Peta vektor kecepatan ____________________________________94
Gambar 86. Peta kontur tekanan ______________________________________94
Gambar 87. Contoh CV diam ________________________________________96
ix
Gambar 88. Contoh CV bergerak _____________________________________96
Gambar 89. Contoh CV berdeformasi__________________________________97
Gambar 90. Pemilihan batas CV memudahkan evaluasi aliran ______________98
Gambar 91. Aliran melalui CV diam __________________________________99
Gambar 92. Tangki terbuka berisi air _________________________________100
Gambar 93. Aliran fluida steady dan inkompresibel dalam streamtube _______103
Gambar 94. Dorongan gas hasil pembakaran pada roket __________________104
Gambar 95. Sudu turbin air Pelton ___________________________________106
Gambar 96. Struktur lengkap turbin Pelton ____________________________107
Gambar 97. Skema aliran fluida pada turbin Pelton ______________________107
Gambar 98. Hubungan besaran gerak linier dan angular benda kaku_________110
Gambar 99. Kesejajaran besaran linier dan angular ______________________111
Gambar 100. Potongan kompresor aliran radial (kiri) dan turbin aliran
radial (kanan) _______________________________________________112
Gambar 101. Skema turbin aliran radial _______________________________113
Gambar 102. Komponen kecepatan pada sudu turbin_____________________115
Gambar 103. Prinsip kerja turbin Hero ________________________________116
Gambar 104. Daya output dan torsi turbin Hero sebagai fungsi laju putar
turbin _____________________________________________________117
Gambar 105. CV diferensial silindrik aliran fluida dalam pipa bundar _______123
Gambar 106. Profil kecepatan aliran laminer dalam pipa __________________126
Gambar 107. Diagram faktor gesekan sebagai fungsi bilangan Reynolds _____127
Gambar 108. Penurunan tekanan dan faktor friksi sebagai fungsi kecepatan
aliran _____________________________________________________127
Gambar 109. CV diferensial kubik aliran fluida pada bidang miring _________128
Gambar 110. Profil aliran laminer pada bidang miring ___________________130
Gambar 111. Analisis integral (kiri) vs. analisis diferensial (kanan) _________132
Gambar 112. Aliran massa pada CV diferensial_________________________134
Gambar 113. Vortex garis dan spiral _________________________________140
Gambar 114. Gradien garis singgung pada streamline ____________________141
Gambar 115. Makna fisis stream function _____________________________142
Gambar 116. Streamline vortex garis dan stream function_________________143
Gambar 117. Streamline vortex garis spiral ____________________________145
Gambar 118. Tegangan normal dan geser yang bekerja pada permukaan
yang tegak lurus bidang x-y____________________________________148
Gambar 119. Tegangan normal dan geser yang bekerja pada permukaan
yang tegak lurus bidang x-z____________________________________148
x
Gambar 120. Tegangan normal dan geser yang bekerja pada permukaan
yang tegak lurus bidang y-z____________________________________149
Gambar 121. Gradien (beda) tekanan berpengaruh terhadap medan
kecepatan aliran, bukan tekanan ________________________________157
Gambar 122. Syarat batas di antarmuka 2-fluida ________________________159
Gambar 123. Syarat batas di permukaan bebas__________________________159
Gambar 124. Gaya geser dalam aliran Couette berkembang penuh __________163
Gambar 125. Aliran Couette pada viskometer putar______________________163
Gambar 126. Aliran fluida Newtonian, laminer, steady, dan inkompresibel
dalam pipa _________________________________________________165
Gambar 127. Aliran seragam di sekitar silinder tak-hingga berjari-jari a______170
Gambar 128. Medan tekanan aliran invisid di permukaan silinder tak-hingga _173
Gambar 129. Aliran invisid melalui saluran membesar mendadak __________177
Gambar 130. Syarat batas persoalan aliran invisid dalam saluran membesar __178
Gambar 131. Kontur streamline _____________________________________179
Gambar 132. Kontur kecepatan______________________________________179
Gambar 133. Kontur tekanan (10 kPa) dengan tekanan input 100 kPa _______180
Gambar 134. Visualisasi lapisan batas laminer (a) dan turbulen (b) _________183
Gambar 135. Normalisasi kecepatan arah x (u) dan y (v) dalam BL setebal 
terhadap kecepatan aliran bebas (Ue) dan normalisasi jarak arah x dan
y terhadap panjang plat (L) ____________________________________185
Gambar 136. Normalisasi tekanan terhadap tekanan kinetik arus bebas,
waktu terhadap waktu tempuh arus bebas sejarak plat L, dan
viskositas kinematik terhadap arus bebas dikali panjak plat L _________186
Gambar 137. Grafik tebal lapisan batas per x (/x) sebagai fungsi Rex_______192
Gambar 138. Tebal lapisan batas () pada berbagai posisi x dari hulu plat
untuk berbagai kecepatan _____________________________________192
Gambar 139. CV dalam lapisan batas _________________________________193
Gambar 140. Venturimeter _________________________________________203
Gambar 141. Orificemeter__________________________________________205
Gambar 142. Tabung Pitot _________________________________________208
Gambar 143. Setup tabung Pitot _____________________________________209
Gambar 144. Rotameter ___________________________________________210
Gambar 145. Gaya-gaya yang bekerja pada apungan_____________________211
Gambar 146. Macam-macam geometri apungan ________________________213
Gambar 147. CV bergerak mengikuti gelombang permukaan ______________217
Gambar 148. Saluran terbuka _______________________________________219
xi
Gambar 149. Saluran terbuka ragam dinding ___________________________224
Gambar 150. Lompatan hidrolik _____________________________________224
Gambar 151. Aliran tenang (Fr<1) ___________________________________226
Gambar 152. Aliran deras (Fr>1,0) __________________________________227
Gambar 153. Notch berbentuk sembarang _____________________________228
Gambar 154. Notch-V_____________________________________________229
Gambar 155. Notch trapesium ______________________________________230
Gambar 156. Aliran eksternal _______________________________________232
Gambar 157. Pemisahan aliran pada aerofoil ___________________________234
Gambar 158. Efek pemisahan aliran pada koefisien gaya angkat dan hambat
aerofoil____________________________________________________235
Gambar 159. Pertumbuhan lapisan batas dari laminer ke turbulen___________235
Gambar 160. Kurva Cd bola dan silinder ______________________________236
Gambar 161. Model dan prototipe mobil ______________________________241
Gambar 162. Prototipe dam Wanapum di Sungai Columbia AS (a) dan
model fisik dam di Iowa Institute of Hydraulic Research (b) __________243
Gambar 163. Prototipe kapal laut (a) dan model skala 1/20 (b) _____________244
xii
Daftar Tabel
Tabel 1. Nilai tegangan permukaan beberapa cairan .............................................63
Tabel 2. Langkah-langkah kerja analisis aliran secara analitik dan numerik.......133
Tabel 3. Penyelesaian eksak Blasius vs pendekatan von-Kärmän.......................196
Tabel 4. Variabel persoalan aliran turbulen dalam pipa.......................................198
Tabel 5. Koefisien rugi dan panjang ekuivalen....................................................201
1
MODUL I.
KONSEP DAN DEFINISI
Deskripsi
Mekanika Fluida (MF) adalah ilmu yang mempelajari sifat-sifat fluida. Bidang ini
sangat luas penerapannya mengingat fluida adalah bagian dari kehidupan
manusia. Oleh karena itu, modul dibuka dengan ulasan tentang cakupan dari
Mekanika Fluida, lalu diikuti dengan konsep-konsep dasar, peristilahan dan
definisinya, dan ditutup dengan rangkuman.
Seperti halnya ilmu lainnya, bangunan Mekanika Fluida (MF) didirikan di atas
cara-cara pandang dan buah-buah pemikiran (konsep) kolektif ilmuwan tentang
sifat fluida yang dibangun secara sistematis melalui pendekatan ilmiah. Beserta
konsep datang istilah dan definisi. Istilah adalah sekedar sebutan, sedangkan
definisi adalah makna terbatas dari suatu konsep. Pembatasan makna sengaja
dibuat untuk sejauh mungkin menghindari keambiguan atau kerancuan. Dengan
demikian, ilmu bisa secara bersama-sama dikembangkan, dihimpun, dan
dikomunikasikan dengan efektif oleh manusia sedunia sebagai bagian dari
peradaban.
Sasaran belajar:
1. Menjelaskan cakupan Mekanika Fluida (MF)
2. Memberikan gambaran penerapan MF dalam dunia nyata
3. Menjelaskan konsep kontinum dan batas-batas keberlakuannya
4. Menjelaskan konsep partikel fluida
5. Mendefinisikan densitas, tekanan, dan tegangan (stress).
A. CakupanMekanikaFluida
Mekanika Mekanika adalah ilmu fisika yang berurusan dengan benda diam dan
bergerak dalam pengaruh gaya-gaya.
1) Cabang mekanika yang berurusan dengan benda diam disebut
statika, dan
2) Cabang mekanika yang berurusan dengan benda bergerak
disebut dinamika.
Mekanika
Fluida
Mekanika fluida adalah ilmu yang berurusan dengan watak fluida
dalam keadaan diam (statika fluida) atau fluida dalam keadaan
bergerak (dinamika fluida), dan interaksi fluida dengan padatan atau
fluida lain pada permukaan batasnya. Mekanika fluida sering juga
disebut dinamika fluida dengan memandang fluida diam sebagai
kasus khusus dari fluida bergerak dengan kecepatan nol.
Statika Fluida Statika fluida menangani persoalan fluida diam. Contoh: fluida
dalam gelas, fluida dalam bejana bertekanan, fluida dalam waduk,
dll.
Fluida diam berada dalam keadaan setimbang (resultan gaya yang
2
bekerja padanya sama dengan nol). Dalam fluida diam (fluida tidak
mengalir) tidak terdapat tegangan geser (shear stress).
Dinamika
Fluida
Dinamika fluida menangani persoalan fluida bergerak, atau biasa
disebut mengalir. Aliran terjadi akibat resultan gaya yang bekerja
padanya tidak sama dengan nol.
Contoh fenomena aliran bisa ditemui dalam kehidupan sehari-hari,
misalnya:
1) Aliran air di badan sungai.
2) Aliran air bersih dalam sistem pipa di rumah-rumah.
3) Aliran air limbah dalam saluran drainase.
4) Aliran lumpur Sidoarjo, Jawa Timur.
5) Aliran awan panas dan lahar dari gunung Merapi, Jawa
Tengah.
6) Aliran udara (angin) atmosfir bumi.
7) Aliran fluida pada segala fenomena alami dan fenomena
buatan manusia.
Kategori
Mekanika
Fluida
Mekanika fluida dibagi dalam beberapa kategori, menurut riwayat
perkembangannya, yaitu:
1) Hidrodinamika: ilmu tentang gerak fluida yang praktis
inkompresibel semisal cairan, khususnya air, dan gas pada
kecepatan rendah. Subkategori hidrodinamika adalah
hidrolika, yang berurusan dengan aliran cairan dalam pipa
dan kanal terbuka.
2) Dinamika gas: ilmu tentang gerak fluida yang mengalami
perubahan densitas signifikan, semisal aliran gas melalui
nozel pada kecepatan tinggi.
3) Aerodinamika: ilmu tentang gerak gas (khususnya udara)
melalui benda semisal pesawat terbang, roket, dan mobil pada
kecepatan tinggi atau rendah.
4) Kategori khusus lainnya: meteorologi, oseanografi, dan
hidrologi yang berurusan dengan aliran yang terjadi secara
alamiah.
Kepentingan
Mekanika
Fluida
Penguasaan mekanika fluida esensial bagi insinyur teknik (fisika,
kimia, mesin, nuklir, sipil, dan lain-lain) karena banyak persoalan
(desain, operasi atau perawatan) yang ditangani melibatkan aliran zat
dalam fase cair atau gas. Sedikit gambaran tentang persoalan tersebut
adalah aliran pada:
1) Sistem teknik untuk menuai energi dari alam, misalnya:
kincir air, turbin air, turbin angin, dan pemanas air tenaga
surya.
2) Peralatan untuk menggerakkan aliran fluida, misalnya: untuk
cairan adalah pompa dan untuk gas adalah kipas, blower atau
3
kompresor.
3) Sistem pembangkit listrik dengan tenaga air (PLTA), tenaga
uap (PLTU), tenaga gas (PLTG), tenaga uap dan gas
(PLTGU), tenaga panas bumi (PLTPB), dan tenaga nuklir
(PLTN).
4) Kendaraan penumpang atau barang di darat (mobil, truk, bus,
kereta api), di laut (kapal, kapal selam), dan di udara (balon
gas, pesawat udara).
5) Sistem transportasi fluida untuk mendistribusikan air bersih,
menyalurkan bahan bakar minyak dan gas, mengumpulkan air
limbah kota.
6) Sistem proses yang begitu banyak dijumpai dalam industri
kimia yang melibatkan proses-proses pembakaran,
pencampuran, pengadukan, pemanasan, pendinginan,
pemisahan, dll.
B. Konsep Kontinum
Konsep
Kontinum
Fluida, sebagaimana materi lainnya, tersusun dari molekul-molekul
yang jumlahnya fantastis. Dalam 1 cc udara pada keadaan ruang
terdapat sekitar 1020 molekul. Teori apapun yang digunakan untuk
menjelaskan gerak molekul demi molekul akan menjadi sangat-
sangat rumit atau bahkan di luar jangkauan kemampuan kita
sekarang. Pendekatan paling halus saat ini paling-paling hanya
memperhitungkan sekelompok molekul yang bisa dinyatakan
sifatnya secara statistik, bukan memperhitungkan individu molekul.
Kebanyakan urusan keteknikan melibatkan watak curahan fluida
(makroskopik) daripada watak molekul demi molekul (mikroskopik).
Dalam kebanyakan kasus, enaknya fluida diperlakukan sebagai
distribusi tinerus (continuous distribution) dari materi atau sebut
saja kontinum.
Sudah barang tentu, anggapan kontinum tidak berlaku pada segala
keadaan. Konsep kontinum tidak berlaku jika jumlah molekul per
unit volume sangat-sangat sedikit sehingga wataknya menjadi
bergantung pada waktu akibat berubah-ubahnya distribusi molekul
terhadap waktu.
4
Gambar 1. Contoh-contoh terapan mekanika fluida
Perlakuan fluida sebagai kontinum sahih jika dalam volume terkecil
yang dikaji terkandung cukup banyak molekul sehingga sifat rerata
statistiknya mengandung arti. Dalam hal ini sifat makroskopik fluida
dianggap beragam secara tinerus/sinambung dari titik ke titik dalam
ruang, sehingga dengan demikian konsep titik dalam matematika
bisa diterapkan untuk analisis fenomena fluida. Dari sini jelas tampak
bahwa kesahihan konsep kontinum bergantung lebih pada macam
informasi yang diinginkan atau pada cara pandang daripada sifat
alami (nature) fluida itu sendiri.
C. Sifat Fluida di Satu Titik
Densitas
di satu titik/
partikel fluida
Sifat-sifat fluida pada berbagai keadaan beragam dari titik satu ke
titik lain. Berikut kita ulas definisi sejumlah variabel fluida di satu
titik.
Densitas fluida didefinisikan sebagai massa per satuan volume.
Densitas, , pada suatu titik dalam fluida didefinisikan sebagai:
dengan m adalah massa yang terdapat di dalam volume V, dan V
adalah volume terkecil yang melingkupi titik yang di situ rerata
statistik masih memiliki arti, dan besarnya sekitar 1 (m)3. Fluida
seukuran V ini disebut sebagai partikel fluida.
V
m
VV 


 
 lim
5
Gambar 2. Densitas di satu titik
Dalam kaitannya dengan definisi ini, konsep densitas di satu titik
secara matematis yang didefinisikan sebagai:
secara fisik tampak menjadi fiktif atau jadi-jadian. Walaupun
demikian, pendefinisian densitas secara matematis sangatlah
berguna, karena ia memungkinkan penggambaran aliran fluida
sebagai fungsi tinerus (continuous function). Dengan kata lain,
matematika jadi bisa dimanfaatkan untuk menganalisis fenomena
fluida. Oleh karena itu, dalam pendekatan kontinum, pendefinisian
sifat di satu titik secara matematiklah yang kita gunakan dalam
praktiknya.
Tegangan
(stress)
di satu titik
Tegangan (stress) didefinisikan sebagai gaya per satuan luas. Gaya
yang bekerja pada fluida ada 2 macam, yaitu gaya badan (body force)
dan gaya permukaan (surface force). Gaya badan bekerja tanpa
kontak fisik, yaitu akibat pengaruh medan gaya di sekitarnya, apakah
itu medan gravitasi, listrik atau magnet. Gaya permukaan bekerja
melalui kontak fisik di permukaan benda.
Gaya permukaan yang bekerja pada suatu bidang biasa diuraikan
menurut komponen tegak lurus dan komponen sejajar bidang
permukaan. Lihat Gambar 3. Gaya yang tegak lurus permukaan
disebut gaya normal (normal force), Fn, dan gaya yang sejajar
permukaan disebut gaya geser (shear force), Fs. Dengan demikian,
tegangan pun ada 2 macam, yaitu tegangan normal (normal stress)
dan tegangan geser (shear stress).
VV
m
V
Domain
molekuler
Domain
kontinum
V
m
V 


 0
lim
6
Gambar 3. Gaya pada sebuah elemen fluida
Tegangan normal, , di satu titik didefinisikan sebagai:
dan tegangan geser, , di satu titik didefinisikan sebagai:
Tekanan
di satu titik
(Hukum
Pascal)
Untuk fluida statik, tegangan normal di satu titik bisa ditentukan dari
penerapan hukum Newton kedua tentang gerak pada elemen fluida
(Gambar 4) yang volumenya mendekati nol.
Gambar 4. Elemen dalam fluida statik
Untuk benda diam, resultan gaya sama dengan nol.
dA
F
Fs
Fn
A
Fn
A 


 0
lim
A
Fs
A 


 0
lim
Fx
Fs
Fy
x
y
s
z

7
Neraca gaya dalam arah-x adalah:
Pembagian dengan elemen luas yang tegak lurus sumbu-x, yaitu
yz, dan diikuti dengan penciutan volume elemen fluida sampai
menjadi titik, yaitu pada batas (limit) V mendekati nol memberikan:
atau:
.
Menurut konvensi, tegangan normal bernilai positif untuk tarikan
(tension), dan sebaliknya negatif. Dengan kata lain, tegangan normal
adalah gaya tarik per satuan luas. Subskrip pertama pada notasi 
menandakan bidang kerja tegak lurus dengan sumbu-subskrip, dan
subskrip kedua menandakan arah kerja sejajar sumbu-subskrip. Misal
subskrip xx pada xx, x pertama menandakan bidang kerja yang tegak
lurus dengan sumbu-x, dan subskrip kedua menandakan arah kerja
yang sejajar dengan sumbu-x.
Neraca gaya dalam arah-y adalah:
Pembagian dengan elemen luas yang tegak lurus sumbu-y, yaitu
xz, dan diikuti dengan penciutan volume elemen fluida sampai
menjadi titik, yaitu pada batas (limit) V mendekati nol memberikan:
atau:
.
Tegangan normal sebenarnya merupakan besaran tensor yang
mempunyai orientasi. Namun, ungkapan akhir yang diperoleh di atas
tidak membawa informasi sudut . Jadi tegangan normal di satu titik
dalam fluida statik tidaklah tergantung pada arah, dan dengan
demikian ia bisa disederhanakan dengan besaran skalar tekanan.
  0F
  


 0sin
s
y
FFFFF sxsxx 
0lim
0











 zs
F
zy
F sx
V
0 ssxx 
ssxx  
  

 0
2
cos
zyx
gFFF syy 
 




 0
2
zyx
g
s
x
FFF syy 
0
2
lim
0





 







y
g
zs
F
zx
F sy
V

00  ssyy 
ssyy  
8
Karena tegangan normal memperhitungkan gaya tarik, sedangkan
tekanan memperhitungkan gaya tekan, maka keduanya berlawanan
tanda.
Pada fluida statik, tegangan geser tidak ada (karena fluida diam), dan
besarnya tekanan sama dengan tegangan normal tetapi berbeda tanda:
Pada fluida dinamik, adanya tegangan geser menyebabkan
komponen-komponen tegangan normal di satu titik bolehjadi tidak
sama. Walaupun demikian, tekanan satu titik tetap sama dengan
rerata dari komponen-komponen tegangan normalnya:
Perkecualian adalah untuk aliran dalam gelombang kejut (shock
waves) sebagaimana yang ditemukan di sekitar pesawat supersonik
atau di sekitar peluru dan ujung senapan (Gambar 5).
Gambar 5. Gelombang kejut di sekitar peluru & ujung senapan
D. MedanTekanan
Variasi sifat
titik demi titik
Aliran fluida terjadi karena perbedaan tekanan. Oleh karena itu,
deskripsi variasi tekanan dari titik satu ke titik lain (medan tekanan)
sangatlah penting dalam aliran fluida.
Medan tekanan dua dimensi secara umum adalah p = f(x, y).
Perubahan tekanan p antara dua titik dalam daerah yang terpisah
sejauh dx dan dy adalah turunan total dari p:
ssyyxxp  
 
3
ssyyxx
p
 

dy
y
p
dx
x
p
dp






9
Perubahan nilai p sepanjang jejak sembarang s (Gambar 6) adalah:
dan berdasarkan hubungan geometri:
Gambar 6. Jejak s dalam bidang xy
Pada prinsipnya jejak s dalam medan tekanan bisa dipilih secara
bebas, tetapi yang paling bermanfaat adalah:
1) jejak s yang menunjukkan garis tekanan-sama (isobar),
(dp/ds) = 0 dan
2) jejak s yang menunjukkan perubahan-tekanan maksimum,
(dp/ds) = maksimum.
Garis-garis isobar mudah ditentukan dengan menolkan (dp/ds), yaitu:
Dari sini diperoleh
atau
Jadi sepanjang jejak yang kemiringannya didefinisikan oleh
persamaan ini akan didapati bahwa perubahan tekanan, dp = 0.
ds
dy
y
p
ds
dx
x
p
ds
dp






    sincos
y
p
x
p
ds
dp






x
y
dx
ds
dy
Jejak s

    0sincos 





 
y
p
x
p
ds
dp
  
 
 yp
xp
dsdp


0
tan 
 
 
 yp
xp
dx
dy
dsdp 


0
10
Jejak dengan (dp/ds) = maksimum bisa ditentukan dengan menolkan
turunan (dp/ds) terhadap sudut , yaitu:
Dari sini diperoleh
yang secara grafis bisa digambarkan sebagai berikut:
Apabila nilai sinus dan cosinus dalam ungkapan (dp/ds) diambil pada
sudut  di mana jejak (dp/ds) = maksimum, maka diperoleh:
Hubungan terakhir ini setara dengan besarnya vektor (dp/ds) dengan
komponen arah-x (dp/dx) dan komponen arah-y (dp/dy); ini berarti
bahwa turunan tekanan ke arah maksimum bisa dituliskan dalam
notasi vektor berikut:
Operator
Gradien
Hubungan ini sering dijumpai sehingga diberi nama khusus sebagai
Gradien atau Grad dengan lambang , yang dalam koordinat
Cartesian 3D berarti:
dengan
Selain itu patut diperhatikan bahwa:
    0cossin 












 y
p
x
p
ds
dp
d
d
  
 
 xp
yp
maksdsdP



tan
x
p


y
p


22
















y
p
x
p

 
   
 
   
   22
2222
ypxp
ypxp
yp
y
p
ypxp
xp
x
p
ds
dp
maks











y
p
j
x
p
i
ds
dp
maks 





z
k
y
j
x
iGrad









 
z
p
k
y
p
j
x
p
ippGrad









11
Ini berarti: jejak dengan (dp/ds) = maksimum tegak lurus dengan
garis isobar.
Rangkuman
Mekanika Fluida (MF) mempelajari sifat dan watak fluida diam atau bergerak
dalam interaksinya dengan benda sekitarnya. Aplikasinya dalam industri sangat
luas, misal di industri kimia, industri petrokimia, pembangkit listrik, industri
minyak dan gas, industri makanan, dll. Fluida dalam bidang aplikasi tersebut jika
dilihat atau diraba tidak berkesan terpisah-pisah/diskrit layaknya butiran pasir. Di
sini fluida dipandang sebagai zat kontinum (biasa disebut sebagai cara pandang
makroskopik). Sudah tentu, konsep ini tidak sahih lagi bilamana kesan
Walaupun demikian, fluida biasa dianggap tersusun dari titik-titik partikel fluida.
Konsep partikel fluida lebih ditentukan oleh aspek pengukuran sifat fluida
daripada ukuran molekulnya. Partikel fluida adalah fluida dalam volume terkecil
yang memberikan hasil pengukuran sifat yang konsisten secara statistik. Konsep
titik partikel fluida bisa dipertemukan dengan konsep titik dalam matematika.
Bedanya, volume titik matematik mendekati nol, sedangkan titik partikel fluida
mendekati 1 (m)3. Dalam cara pandang makroskopik, partikel fluida dapat
diperlakukan sebagai titik dalam matematika. Dengan demikian, matematika
dapat dipakai sebagai alat analisis dalam MF.
  
  
 
 
 
 
1tantan 0






 
xp
yp
yp
xp
maksdsdPdsdP

12
MODUL II.
STATIKA FLUIDA
Deskripsi
Fluida diam, walaupun terkesan jinak, bisa menimbulkan risiko besar jika volume
yang harus ditangani sangat banyak. Fluida diam dengan volume besar bisa
dijumpai misalnya dalam tangki penampung bahan bakar minyak di depo-depo
dan dalam bendungan (waduk). Volume fluida yang besar akan menimbulkan
gaya-gaya tekan yang besar pula.
Statika Fluida dalam modul ini mempelajari nasib fluida diam dan interaksinya
dengan tempat penampungnya. Variabel terpenting dalam kasus ini adalah
tekanan. Dengan memanfaatkan matematika, medan tekanan (distribusi tekanan)
dalam badan fluida bisa ditentukan. Dari sini, besar dan arah gaya-gaya yang
harus ditanggung oleh struktur penyimpan fluida diam bisa ditentukan. Informasi
gaya-gaya fluida statik ini berguna untuk perancangan struktur yang aman untuk
menampung fluida. Dalam modul ini juga diulas manometri (pengukuran tekanan
berdasarkan sifat fluida statik) dan pengapungan.
Sasaran belajar:
1. Menuliskan persamaan atur medan tekanan dalam fluida statik
2. Menerapkan persamaan atur medan tekanan fluida statik dalam analisis
3. Membedakan tekanan relatif (gage), tekanan vakum dan tekanan mutlak
4. Menyatakan tekanan dalam ukuran relatif dan mutlak
5. Menentukan nilai pembacaan tekanan dengan manometer
6. Menghitung gaya apung
7. Menghitung gaya yang bekerja pada permukaan terendam
A. KerangkaAcuan
Diam &
Bergerak
Istilah diam dan bergerak adalah relatif. Gerak hanya bisa
didefinisikan relatif terhadap kerangka acuan yang didefinisikan oleh
pengamat.
1) Benda dikatakan diam jika koordinat semua titik dalam
sebuah benda tak berubah terhadap waktu dan terhadap
kerangka acuannya.
2) Benda dikatakan bergerak jika koordinat semua titik dalam
sebuah benda berubah terhadap waktu dan terhadap kerangka
acuannya.
Kerangka acuan itu sendiri bergerak dengan kecepatan tetap tertentu
atau bahkan nol/diam (percepatan = 0), atau bergerak dengan
kecepatan berubah (percepatan  0).
Kerangka
Acuan
Inersial &
Kerangkan acuan dengan percepatan nol disebut inersial, sedangkan
dengan percepatan tidak nol disebut noninersial.
13
Noninersial Kerangka acuan inersial disebut juga kerangka acuan Galilean atau
Newtonian. Hukum-hukum fisika bisa ditransfer dari satu kerangka
acuan inersial satu ke lainnya tanpa perubahan. Dengan kata lain,
hukum-hukum fisika yang sama berlaku baik bagi pengamat yang
diam maupun bagi pengangat yang bergerak dengan kecepatan tetap.
Keadaan berbeda dijumpai pada kerangka acuan noninersial. Benda
bermasa m yang diam relatif terhadap kerangka acuan inersial akan
mengalami gaya sebesar nol. Namun, bagi pengamat dalam kerangka
acuan noninersial (dengan percepatan a) benda akan tampak seolah-
olah mengalami gaya sebesar –ma. Gaya yang sebenarnya tidak
sungguh ada pada benda tetapi seolah ada akibat percepatan kerangka
acuan disebut gaya fiktif atau gaya semu.
Sebagai kerangka acuan standar enaknya diambil bintang tetap di
langit, tetapi sayangnya ini tidak selalu praktis untuk berbagai
keperluan. Oleh karena itu, untuk praktisnya maka bumi diambil
sebagai kerangka acuan inersial. Walaupun bumi sendiri bergerak,
pengaruh gerak putar bumi pada sumbunya pada banyak kasus bisa
diabaikan. Hal ini bergantung pada eksperimen yang akan dilakukan
atau pada fenomena yang diamati apakah bumi bisa diambil sebagai
kerangka acuan atau tidak.
Secara umum, untuk fenomena dalam skala kecil, bumi bisa dianggap
sebagai kerangka acuan inersial. Namun, untuk fenomena dalam
skala besar semisal pergerakan udara atmosfir, bumi tidak bisa
dianggap sebagai kerangka acuan inersial karena efek percepatan
semu akan menyebabkan gaya Corriolis yang signifikan.
B. Hukum Pascal
Hk. Pascal:
Tekanan
di 1 titik
Sifat dasar dari fluida adalah tekanan. Tekanan biasa dikenali sebagai
gaya tegak lurus permukaan per satuan luas yang dikenai oleh fluida
pada dinding bejana. Tekanan juga berada di setiap titik di dalam
volume fluida.
Dalam fluida statik, sebagaimana ditunjukkan oleh analisis berikut,
tekanan (gaya tekan per satuan luas) di satu titik tidak bergantung
pada arah.
14
Gambar 7. Gaya tekan pada elemen fluida
Perhatikan sebuah elemen fluida diferensial (berukuran sangat kecil)
berbentuk prisma segitiga dalam keadaan setimbang (Gambar 7.
Gaya tekan pada elemen fluida). Mengacu pada elemen ini bisa
ditentukan hubungan antara gaya tekan pxAx ke arah x, pyAy ke arah y,
dan psAs ke arah tegak lurus terhadap bidang bersudut kemiringan
sembarang .
 px.Ax bekerja tegak lurus pada bidang Ax = dy.dz
 py.Ay bekerja tegak lurus pada bidang Ay = dx.dz, dan
 ps.As bekerja tegak lurus pada bidang As = ds.dz.
Karena tidak ada gaya geser pada fluida diam, dan tidak akan ada
gaya pemercepat, jumlah gaya-gaya dalam suatu arah pasti sama
dengan nol. Gaya-gaya yang bekerja adalah gaya-gaya tekan dan
gaya gravitasi.
Resultan gaya arah-x adalah nol sehingga:
Pembagian dengan dy.dz menghasilkan:
Begitu volume elemen fluida diciutkan sampai batas titik, atau secara
matematik pada batas atau limit dV = dx.dy.dz  0, ungkapannya
tetap seperti ini.
px.Ax
ps.As
py.Ay
dx
dy
ds
dz

Ax = dy.dz
Ay = dx.dz
As = ds.dz
  0sin(  ssxxx ApApF
0... 
ds
dy
dzdspdzdyp sx
dzdypdzdyp sx .. 
sx pp 
15
Resultan gaya arah-y adalah nol sehingga:
Pembagian dengan dx.dz menghasilkan:
Begitu volume elemen fluida diciutkan sampai batas titik, atau secara
matematik pada batas atau limit dV = dx.dy.dz  0, diperoleh hasil:
Dengan demikian maka:
artinya, gaya tekan per satuan luas di satu titik sama besar ke segala
arah. Inilah yang disebut hukum Pascal. Pernyataan ini berlaku untuk
fluida diam.
Penerapan hukum Pascal bisa dijumpai, misalnya, pada alat dongkrak
dan pada mesin press untuk pencetakan plat logam. Arah gaya
dongkrak dan gaya tekan adalah tegak lurus dengan bidang dongkrak
dan bidang press piston. Sejalan dengan bergeraknya piston, maka
fluida bergerak pula (tidak statik lagi). Walaupun demikian, dinamika
fluida pada alat dongkrak dan mesin press bisa didekati sebagai
rangkaian keadaan statik.
Dongkrak Dua titik pada ketinggian yang sama dalam fluida diam (sinambung)
memiliki tekanan yang sama. Tekanan yang diberikan pada fluida
dalam wadah tertutup akan menaikkan tekanan di seluruh badan
fluida dengan kenaikan yang sama.
Pada Gambar 8, piston 1 dan 2 pada ketinggian yang sama. Jadi
tekanan pada piston 1 dan 2 sama besar.
Namun, karena piston 2 berluas penampang A2 lebih besar daripada
piston 1 berluas penampang A1, maka gaya F1 akan diperkuat sebesar
(A2/A1) kali menjadi F2.
atau:
Nisbah disebut faktor penguatan mekanik ideal (ideal mechanical
advantage).
  0..cos 2
1
 dzdydxgApApF ssyyy 
0.... 2
1
 dzdydxg
ds
dx
dzdspdzdxp sy 
dygpp sy 2
1

sy pp 
syx ppp 
21 pp 
2
2
1
1
A
F
A
F

1
1
2
2 F
A
A
F 
16
Gambar 8. Prinsip dongkrak mobil
C. Ragam Tekanan
Ragam p
arah vertikal
Pertimbangkanlah sebuah elemen fluida diferensial (berukuran sangat
kecil) vertikal dengan luas irisan sebesar A dan tinggi Z2 – Z1
(Gambar 9).
Karena tidak ada gaya geser pada fluida diam, dan tidak akan ada
gaya pemercepat, jumlahan gaya-gaya dalam suatu arah pasti sama
dengan nol. Gaya-gaya yang bekerja adalah gaya-gaya tekan dan
gaya gravitasi.
Resultan gaya arah-z adalah nol:
atau:
Jadi di dalam fluida yang mengalami percepatan gravitasi, tekanan
berkurang sejalan dengan pertambahan ketinggian ke arah atas.
  01221  gzzAApAp 
 gzzpp 1212  
17
Gambar 9. Elemen diferensial tabung-vertikal fluida
Gambar 10. Elemen diferensial tabung-horizontal fluida
Ragam p
arah
horizontal
Selanjutnya pertimbangkan pula sebuah elemen fluida diferensial
(berukuran sangat kecil) horizontal (Gambar 10). Resultan gaya arah-
x akan sama dengan nol:
atau:
Artinya, tekanan fluida pada level sama adalah sama besar.
Kenyataan yang sama juga berlaku pada fluida dalam bejana U.
p pada level
sama
Tekanan pada level yang sama (Gambar 11) dalam badan fluida
kontinu akan sama besar, walaupun tidak terdapat jejak horizontal
langsung antara P dan Q.
Dari bahasan sebelumnya diketahui bahwa pR = pS. Karena
Fluida
dengan
densitas 
p2.A
p1.A
.A(z2z1)g
z2
z1
Fluida dengan
densitas p1.A p2.A
mg
021  ApApFx
21 pp 
ghpp
ghpp
QS
PR




18
maka dari kedua persamaan ini dapat diketahui bahwa pP = pQ.
Gambar 11. Tabung berbentuk U
Gambar 12. Elemen diferensial tabung-miring fluida
Ragam p
arah miring
Sekarang akan ditinjau variasi tekanan pada sebuah elemen fluida
diferensial yang lebih umum dengan posisi miring (gabungan
komponen vertikal dan horizontal).
Gaya-gaya yang bekerja pada elemen fluida diferensial memberikan
kesetimbangan sbb:
atau (pada batas ds  0):
Dalam arah vertikal,  = 0, sehingga
P Q
SR
h
pA
(p+dp)A
ds
z z+dz

(Ads)gcos()
      0cos.   gAdsAdpppAF
  0cos.   gdsdp
  cosg
ds
dp

19
Persamaan ini memperkirakan laju penurunan tekanan per kenaikan
posisi vertikal sebanding dengan densitas setempat.
D. Tekanan Mutlak,Relatif & Hampa
Satuan
Tekanan
Satuan tekanan adalah N/m2, dan biasa disebut satu pascal (Pa).
Karena satuan Pa sangat kecil untuk tekanan yang biasa dijumpai
dalam praktik, maka lebih banyak dipakai satuan kilopascal (1 kPa =
103 Pa) dan megapascal (1 MPa = 106 Pa).
Satuan tekanan lainnya meliputi bar, atm, kgf/cm2, psi atau lbf/in2.
 1 bar = 105 Pa = 0.1 MPa = 100 kPa
 1 atm = 101,325 Pa = 101,325 kPa = 1,01325 bar
 1 kgf/cm2 = 9,807 N/cm2 = 9,807.104 N/m2 = 9,807.104 Pa =
0,9807 bar = 0,9679 atm
 1 atm = 14,696 psi.
 1 kgf/cm2 = 14,223 psi.
TEKANAN
Mutlak,
Relatif &
Hampa
Di ruang angkasa yang hampa gas, tekanan praktis nol. Kondisi
seperti ini bisa dihampiri di laboratorium apabila sebuah pompa
vakum digunakan untuk menghampakan sebuah bejana. Tekanan di
dalam kehampaan disebut nol mutlak, dan semua tekanan yang
mengacu pada nilai ini disebut tekanan mutlak. Dengan kata lain,
tekanan mutlak (absolute pressure) adalah tekanan aktual di satu
titik.
Tekanan
Relatif (gage
pressure)
Kebanyakan alat pengukuran tekanan dikalibrasi untuk membaca nol
di dalam atmosfir lokal, dan karenanya menunjukkan pembacaan
tekanan relatif (gage pressure), pgage = pabs - patm.
Misalnya, alat ukur tabung-Bourdon hanya menunjukkan perbedaan
tekanan dalam fluida di mana Bourdon dipasang dengan tekanan
atmosfir. Dalam hal ini, tekanan acuannya adalah tekanan atmosfir –
bukan nol mutlak. Tekanan yang diperoleh dengan cara ini disebut
tekanan relatif (gage pressure).
Misal, jika tekanan terukur menggunakan alat yang diacukan ke
atmosfir adalah 50 kPa dan tekanan atmosfir adalah 101 kPa, maka
tekanan terukur bisa dinyatakan dalam dua cara, yaitu:
p = 50 kPa gage (relatif)
p = 101+50 = 151 kPa absolut
g
ds
dp
vertikal

20
Tekanan
Hampa
(vakum)1
Dengan tekanan atmosfir lokal sebagai acuan, maka tekanan terukur
bisa positif bisa pula negatif. Tekanan di bawah tekanan atmosfir
disebut tekanan vakum, pvakum = patm - pabs. Jadi, jika sebuah alat
pengukur tekanan dipasang pada sebuah tangki dan menunjukkan
tekanan vakum sebesar 31 kPa, artinya tekanan dalam tangki 31 kPa
di bawah tekanan atmosfir lokal. Jika tekanan atmosfir lokal adalah
101 kPa absolut maka tekanan aktualnya adalah (101-31) kPa = 70
kPa absolut.
Tekanan
atmosfir
standar
Tekanan atmosfir standar didefinisikan sebagai tekanan yang
dihasilkan oleh kolom air raksa setinggi 760 mm (29.92 inHg atau
10.3 m-air ) pada suhu 0°C (Hg = 13,595 kg/m3) dalam pengaruh
percepatan gravitasi standar (g = 9,807 m/s2). Tekanan 1 atm = 760
torr dan 1 torr = 133,3 Pa.
Gambar 13. Tekanan acuan mutlak dan relatif, tekanan terukur,
tekanan vakum dan tekanan mutlak
1 Otto von Guericke melakukan eksperimen spektakuler dengan pompa udara. Tahun 1654,
Guericke menangkupkan dua belahan setengah bola (Magdeburg hemispheres) menjadi bola
berdiameter 35.5 cm (14 inches). Setelah udara didalamnya dikeluarkan dengan pompa, dua
kelompok yang terdiri dari delapan kuda tidak mampu memisahkan tangkupan setengah bola
walaupun bola hanya ditahan oleh udara sekitarnya. Inilah saat pertama diperagakan betapa
besarnya tekanan yang dihasilkan udara. Sumber: http://chem.ch.huji.ac.il/history/guericke.html
Acuan mutlak
p = 0 (abs)
Tekanan mutlak
p = patm + pukur (abs)
Tekanan gauge
p = pukur (relatif)
Tekanan mutlak
p = patm + pukur (abs)
Tekanan
barometrik
p = patm
Tekanan vakum
p = pukur (relatif)Tekanan atm. standar:
p = 131,325 kPa (abs)
p = 14,696 psia
p = 760 mmHg (a)
p = 29,92 inHg (a)
Tekanan atm. lokal:
p = patm
21
E. Persamaan DasarFluida Statik
Persamaan
Fluida Statik
Elemen fluida yang dilukiskan pada (Gambar 14) mewakili fluida
statik dalam kerangka acuan tanlembam (non-inertial) di mana
percepatan badan fluida, a = 0.
Resultan gaya yang bekerja pada elemen fluida bervolume  =
xyz adalah:
Gambar 14. Komponen tekanan pada elemen fluida statis
Gaya-gaya yang bekerja pada elemen fluida terdiri dari gaya badan
(body force) karena berat dan gaya permukaan (surface force) karena
tekanan, yaitu:
Dengan demikian resultan gaya F menjadi:
dan setelah dibagi volume elemen  = xyz diperoleh:
yang pada batas (limit)   0 atau xyz  0 menjadi:
00  amF fluidabadan
P|z+z.Az
P|z.Az
P|y.Ay
P|y+y.Ay
P|x+x.AxP|x.Ax
z
x
y
x
y
z
Ax = y.z
Ay = z.x
Az = x.y
      zyxbadan gkgjgiF  
   
  yxPPk
zxPPjzyPPiF
zzz
yyyxxxpermukaan




      
   
  0




yxPPk
zxPPjzyPPi
gkgjgi
zzz
yyyxxx
xyx
      
z
PP
k
y
PP
j
x
PP
i
gkgjgi
zzzyyyxxx
zyx











22
dan dalam notasi vektor ditulis:
dengan g = i.gx + j.gy + k.gz dan p = gradien tekanan. Persamaan ini
mempunyai arti fisis berikut:
1) Perubahan tekanan terbesar (p) adalah searah dengan vektor
gravitasi.
2) Garis-garis isobar (termasuk permukaan fluida) tegak lurus
dengan p; artinya garis-garis isobar tegak lurus pula dengan
vektor gravitasi.
Persamaan
Fluida Statik
Semu –
Kerangka
acuan
noninersial
linier
Apabila kerangka acuan analisis fluida mengalami percepatan (a  0),
maka fluida akan mengalami gaya yang menyebabkannya bergerak
(Gambar 15). Namun, karena geraknya masih seperti gerak benda
padat (solid body), maka analisisnya masih seperti pada fluida statik.
Oleh karena itulah fluida dikatakan berada dalam keadaan statik
semu (atau boleh juga disebut bergerak semu).
Dalam hal percepatannya linier, maka resultan gaya yang bekerja
pada elemen fluida adalah:
Gaya-gaya yang bekerja pada elemen fluida terdiri dari gaya badan
(body force) karena berat dan gaya permukaan (surface force) karena
tekanan, yaitu:
Dengan demikian resultan gaya F menjadi:
dan setelah dibagi  = xyz diperoleh:
yang pada saat volume elemen diciutkan sampai menjadi titik, atau
pada batas (limit)   0 atau xyz  0, menjadi:
      
z
P
k
y
P
j
x
P
igkgjgi zyx









Pg 
aamF fluidabadan  
      zyxbadan gkgjgiF  
   
 
  rrppi
zrppizrppiF
zzzz
rrrrrrpermukaan





 
      
   
  ayxppk
zxppjzyppi
gkgjgi
zzz
yyyxxx
xyx







      
z
pp
k
y
pp
j
x
pp
i
agkgjgi
zzzyyyxxx
zyx











23
dan dalam notasi vektor ditulis:
dengan g = i.gx + j.gy + k.gz, a = i.ax + j.ay + k.az dan p = gradien
tekanan. Persamaan ini mempunyai arti fisis berikut:
1) Perubahan tekanan terbesar (p) adalah searah dengan
resultan vektor: g – a.
2) Garis-garis isobar (termasuk permukaan fluida) tegak lurus
dengan p; artinya garis-garis isobar tegak lurus pula dengan
resultan vektor: g – a.
Terapan dari persamaan yang diturunkan di sini bisa dikaitkan
dengan persoalan semisal fluida dalam tangki bahan bakar saat
kendaraan mengalami percepatan (lihat Gambar 15).
Gambar 15. Pengaruh percepatan terhadap medan tekanan
sebagaimana tampak pada perubahan permukaan fluida
Persamaan
Fluida Statik
Semu –
Kerangka
acuan
noninersial
angular
Kasus berikut menggambarkan apa yang dialami fluida dalam wadah
yang diputar sumbu tegaknya pada kecepatan angular tetap.
Akibatnya, permukaan bebas fluida yang semula datar menjadi
cekung. Ini dikenal sebagai gerakan vortex paksa (forced vortex).
Setelah masa transien lewat (terhitung sejak putaran dimulai), fluida
akan bergerak bersama-sama dengan wadahnya layaknya benda padat
(rigid body). Tidak ada deformasi, dan karenanya tidak ada pula
tegangan geser, dan setiap partikel fluida dalam wadah bergerak
dengan kecepatan putar yang sama.
Secara skematik, fenomena ini dilukiskan pada Gambar 16. Resultan
gaya yang bekerja pada fluida adalah:
Kasus ini, mengingat geometri persoalannya, akan lebih mudah
dianalisis dalam kerangka koordinat silinder.
Gaya-gaya yang bekerja pada elemen fluida terdiri dari gaya badan
      
z
p
k
y
p
j
x
p
iagkgjgi zyx








 
  pag 
aamF fluidabadan  
24
(body force) karena berat dan gaya permukaan (surface force) karena
tekanan, yaitu:
Gambar 16. Komponen tekanan pada elemen fluida statis
dalam kerangka koordinat dipercepat dengan percepatan angular a
Dengan demikian resultan gaya F menjadi:
dan setelah dibagi  = rrz diperoleh:
yang pada batas (limit)   0 atau rrz  0 menjadi:
dan dalam notasi vektor ditulis:
dengan g = ir.gr + i.g + iz.gz, a = ir.ar + i.a + iz.az dan p = gradien
      zzrrbadan gigigiF  
 
 
 
  rrPPi
zrPPi
zrPPiF
zzzz
rr
rrrrpermukaan









P|r.Ar
P|r+r.Ar
P|z.Az
P|z+z.Az
P|r.A
P|r(+).A
r
r
z
r
z


r
Ar = r.z
A = z.r
Az = r.r
      
   
 
  arrPPi
zrPPizrPPi
gigigi
zzzz
rrrrrr
zzrr










      
 
z
PP
i
r
PP
i
r
PP
i
agigigi
zzz
z
rrrrr
r
zzrr















      
z
P
i
r
P
i
r
P
iagigigi zrzzrr










 
  Pag 
25
tekanan. Persamaan ini mempunyai arti fisis berikut:
1) Perubahan tekanan terbesar (p) adalah searah dengan
resultan vektor: g – a.
2) Garis-garis isobar (termasuk permukaan fluida) tegak lurus
dengan p; artinya garis-garis isobar tegak lurus pula dengan
resultan vektor: g – a.
Terapan dari persamaan yang diturunkan di sini bisa dikaitkan
dengan persoalan semisal fluida dalam tabung yang diputar dengan
kecepatan putar  radian/detik (lihat Gambar 17).
Gambar 17. Pengaruh percepatan terhadap medan tekanan
sebagaimana tampak pada perubahan permukaan fluida
Dalam gerak putar, percepatan angular a = V dengan V = r
sehingga a = (r) atau a = ir.(2r) + i.(0) + iz.(0). Dengan
vektor gravitasi g = ir.(0) + i.(0) + iz.gz, maka persamaan atur untuk
persoalan ini menjadi:
atau
(a)
(b)
(c)
Integrasi persamaan (a) memberikan:
.
g
gg
a a
g g-ag-a
Kerangka acuan
(wadah) diam, a=0
Kerangka acuan
(wadah) bergerak, a0

             
z
p
i
r
p
i
r
p
i
iirigiii
zr
zrzzr












 0000 2
r
r
p 2



0


r
p
zg
z
p



   zfrzrp ,,, 22
2
1
 
26
Persamaan (b) mengharuskan turunan parsial dari p(r,,z) terhadap 
sama dengan nol; ini hanya bisa terpenuhi apabila:
tetapi
sehingga:
.
Selanjutnya, turunan parsial dari p(r,z) terhadap z harus sama dengan
persamaan (c) sehingga
atau
dan p(r,z) menjadi
.
Tetapan C bisa ditentukan dengan menetapkan nilai tekanan pada
sebuah titik, katakanlah p(r=0,z=0) = p0 sehingga penyelesaiannya
menjadi:
.
Dari persamaan ini bisa diketahui bagaimanakah bentuk permukaan
fluida statik yang mengalami percepatan angular. Caranya adalah
dengan menyusun ungkapan ini untuk ketinggian z, yaitu:
.
Cara lainnya adalah dengan memanfaatkan kenyataan adanya isobar.
Pada isobar, perubahan tekanan nol sehingga:
atau:
atau:
Ketinggian isobar yang mudah dievaluasi adalah di tengah-tengah
(r=0) permukaan bebas; katakanlah tinggi fluida di sini adalah hc,
sehingga persamaan menjadi:
    fzf ,    zfzf ,
     zfrzrpzrp  22
2
1
,,, 
 
zg
dz
zdf
z
P



  Czgzf z  
  Czgrzrp z   22
2
1
,
  22
2
1
0, rzgpzrp z  
 
parabolapersbrar
gg
zrpp
z
zz
.
2
, 22
2
0





02
 rdrdzgdp z 
rdr
g
dz
z
isobar
2


Cr
g
z
z
isobar  2
2
2

c
z
isobar hr
g
z  2
2
2

27
Nilai hc bisa ditentukan berdasarkan neraca massa. Jika tinggi fluida
sebelum diputar adalah h0, maka volume fluida dalam wadah
silindrik berjari-jari R adalah:
Volume ini sama dengan volume paraboloid fluida berputar:
sehingga dari kedua persamaan terakhir diperoleh:
z
c
g
R
hh
4
22
0


Dengan demikian maka persamaan ketinggian isobar – berarti juga
permukaan bebas – menjadi:
 2
2
12
2
0
2
Rr
g
hz
z
isobar 

Gambar 18. Profil permukaan bebas pada beragam rpm (0-480)
0
2
hRV 
  











 




c
z
Rr
r
c
z
Rr
r
h
g
R
Rrdrhr
g
rdrrzV
4
2
2
2
22
2
0
2
2
0




Permukaan bebas pada beragam rpm
0
5
10
15
20
25
30
35
40
-5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5
r (cm)
z(cm)
0
120
240
360
480
28
F. Pengukuran Tekanan
Barometer Barometer (Gambar 19) adalah alat yang digunakan untuk mengukur
tekanan atmosfir. Sebuah barometer sederhana terdiri dari tabung
sepanjang 76 cm lebih yang berisi air-raksa dan dipasang terbalik
pada sebuah bejana terbuka yang juga berisi air-raksa.
Ruang di atas tabung sesungguhnya tidak benar-benar hampa karena
terdapat uap air-raksa pada tekanan uap jenuhnya. Akan tetapi,
tekanan uap Hg pada suhu ruang sangatlah rendah, yaitu 0,173 Pa
pada suhu 20 oC.
Tekanan atmosfir dihitung menggunakan hubungan: patmosfir = gh,
dengan  densitas fluida di dalam barometer.
Gambar 20 memperlihatkan barometer digital modern.
Gambar 19. Barometer fluida
Gambar 20. Barometer digital
29
Tekanan
Fluida
Dalam fluida diam tekanan diteruskan sama ke segala arah dan
disebut sebagai tekanan statik.
Dalam fluida bergerak,
1) Tekanan statik diteruskan pada bidang yang paralel dengan
arah gerak.
2) Tekanan fluida yang diteruskan pada bidang tegak lurus arah
aliran lebih besar daripada tekanan statik karena gerak fluida
akan memberikan efek tambahan tekanan yang sebanding
dengan energi kinetik fluida (sehingga disebut tekanan
kinetik). Besarnya tekanan kinetik tidak dapat diukur secara
terpisah dari tekanan statik.
Jika tekanan statik dari fluida bergerak akan ditentukan, permukaan
pengukuran harus paralel dengan arah gerak aliran sehingga di situ
tidak ada energi kinetik fluida yang dikonversi menjadi energi
tekanan.
Jika fluidanya mengalir dalam pipa bundar maka permukaan
pengukuran harus tegak lurus terhadap arah radial. Penghubung
tekanan, dikenal sebagai tabung piezometer, harus rata dengan
dinding pipa sehingga aliran tidak terganggu: tekanannya kemudian
diukur dekat dinding di mana kecepatan fluida minimum dan
pembacaannya hanya akan mengalami sedikit kesalahan andaikan
permukaannya ternyata tidak betul-betul paralel dengan arah aliran.
Tekanan statik harus selalu diukur pada jarak tidak kurang dari 50
diameter dari belokan, sambungan, atau hambatan lainnya sehingga
garis-garis aliran nyaris paralel dengan dinding tabung.
Untuk keadaan dengan arus-lintas (cross-currents) atau pusaran
(eddies) perlu digunakan cincin piezometer (piezometer ring). Ini
terdiri dari 4 titik ukur tekanan (pressure tapping) yang dipasang
melingkar tabung masing-masing sejauh 900; keempatnya
dihubungkan oleh sebuah tabung melingkar yang dihubungkan
dengan piranti pengukuran tekanan. Dengan cara demikian,
pembacaan keliru karena aliran tak beraturan bisa dihindari, karena
kenaikan tekanan pada satu sisi biasanya disertai dengan penurunan
di sisi seberangnya; jadi dengan cincin piezometer diperoleh nilai
rata-rata tekanan.
30
Gambar 21. Piezometer
Piezometer Piezometer (Gambar 21) adalah alat yang digunakan untuk mengukur
tekanan fluida di dalam bejana atau pipa. Alat ini berupa sebuah
tabung yang dipasang pada dinding bejana/pipa di mana cairan
berada sehingga cairan naik dalam tabung.
Tekanan gage bisa dihitung dari rumus: p1 = gh. Untuk mencegah
efek kapilaritas, tabung piezometer harus berdiameter ½ inch atau
lebih. Untuk mencegah pembacaan keliru, mulut tabung haruslah
tangensial terhadap gerak fluida.
Manometer Manometer adalah juga alat untuk mengukur tekanan fluida.
Manometer terdiri dari sebuah tabung lengkung yang berisikan satu
atau lebih cairan dengan densitas berbeda dan bersifat tidak
bercampur.
Manometer bisa digunakan untuk mengukur tekanan aktual (biasanya
relatif terhadap acuan atmosfir). Dalam hal ini, tekanan yang
diketahui nilainya (bisa jadi tekanan atmosfir) diberikan pada satu
ujung tabung manometer dan tekanan yang akan diukur dipasang
pada ujung lainnya.
Akan tetapi, manometer bisa juga digunakan untuk mengukur beda
tekanan. Jadi, tekanan ujung-ujung tabung manometerlah yang ingin
diukur daripada tekanan aktual di salah satunya. Manometer yang
digunakan untuk menentukan tekanan diferensial ini dikenal sebagai
manometer beda tekanan (diferensial pressure).
Manometer U Manometer tabung-U bermacam-macam bentuknya, yaitu:
1) sederhana
2) terbalik
3) berkaki besar
4) berfluida 2-macam
5) miring
Manometer U
Sederhana
Gambar 22 memperlihatkan konstruksi dasar dari manometer U.
31
Karena X dan Y ada dalam badan fluida kontinyu dan berada pada
level yang sama, maka tekanan di X dan Y adalah sama:
dengan:
sehingga:
Nilai maksimum (p1  p2) yang bisa diukur dibatasi oleh ketinggian
manometer. Untuk mengukur perbedaan tekanan yang lebih besar
bisa dipilih fluida manometer dengan m lebih besar, dan untuk
mengukur perbedaan tekanan yang lebih kecil dengan akurat bisa
dipilih fluida manometer dengan m yang dekat dengan densitas
fluida .
Gambar 22. Manometer U sederhana
YX pp 
 hagppX  1
ghgapp mY   2
  ghgaphagp m  21
 ghpp m   21
1 2
X Y
a
h

m
32
Gambar 23. Manometer U Terbalik
Manometer U
Terbalik
Manometer tabung-U terbalik (Gambar 23) digunakan untuk
mengukur perbedaan tekanan cairan. Ruang di atas cairan di dalam
manometer diisi dengan udara yang bisa dimasukkan atau
dikeluarkan melalui katup di atas tabung guna mengatur level cairan
di dalam manometer. Dengan cara ini, tekanan acuan bisa diatur, dan
tidak terbatas pada 1 nilai tekanan acuan (tekanan atmosfir).
Karena X dan Y ada dalam badan fluida kontinyu dan berada pada
level yang sama, maka tekanan di X dan Y adalah sama:
dengan:
sehingga:
Fluida manometer tabung-U terbalik biasanya udara. Dalam kasus
ini, karena densitas udara (m) jauh lebih kecil daripada densitas
cairan () maka:
Manometer
1 kaki
Dalam industri, manometer tabung-U sederhana mempunyai
kekurangan karena memerlukan pembacaan di kedua kakinya.
Dengan membuat diameter satu kakinya lebih besar (Gambar 24)
1 2
X Y
a
h

m
YX pp 
 hagppX  1
ghgapp mY   2
  ghgaphagp m  21
 ghpp m  21
ghpp  21
33
maka naik-turunnya fluida di kaki ini menjadi sangat kecil – dapat
diabaikan – sehingga hanya diperlukan pembacaan pada kaki lainnya
yang lebih kecil.
Pada Gambar 24, OP mewakili level permukaan cairan saat tekanan
p1 sama dengan p2. Begitu diberi tekanan, level di kaki kanan akan
naik sejauh h dan di kaki kiri turun sejauh h.
Volume fluida yang dipindahkan dari kaki-kiri ke kaki-kanan adalah:
dengan d diameter kaki yang lebih kecil. Sejumlah inilah volume
fluida yang berkurang di sisi kiri sehingga levelnya turun dari O ke X
sebanyak:
dengan D diameter kaki yang lebih besar.
Gambar 24. Manometer 1-kaki besar
Penyamaan tekanan pada level XY (pX = pY) dengan:
memberikan:
2
4 dhV kanankekiri


2
2
4
2
4







D
d
h
D
d
hh 

P
X Y
O
a
h
h
1 2
D d
  














2
11 1
D
d
ghgaphhggappX 
  














2
12 1
D
d
ghgaphhggapp mmY 
34
Dengan membuat d<<D maka nilai suku (d/D)2 akan jauh lebih kecil
dari 1 dan bisa diabaikan sehingga:
dengan h adalah kenaikan fluida manometer di kaki sebelah kanan.
Lebih jauh lagi, jika densitas fluida () jauh lebih kecil daripada
densitas fluida manometer (m) bisa diabaikan terhadap densitas
fluida manometer maka:
Manometer
2-fluida
Perbedaan kecil pada tekanan gas biasa diukur dengan menggunakan
manometer berfluida dua macam sebagaimana diperlihatkan pada
Gambar 25 dengan dengan densitas fluida pertama (1) dan fluida
kedua (2) dengan 2>1.
Dengan analisis serupa seperti sebelumnya, perbedaan tekanan di
titik 1 dan 2 bisa ditentukan dari hubungan berikut:
karena densitas gas jauh lebih rendah dari cairan (g << 1) maka
pengaruhnya bisa diabaikan sehingga persamaan menjadi:
Jika suku pertama di sisi kanan tanda “=” bisa dibuat jauh lebih kecil
dari pada suku maka persamaan bisa disederhanakan lebih lanjut
menjadi:
  














2
21 1
D
d
ghpp m 
 ghpp m   21
ghpp m 21
   ghhgpp g 12121  
 ghhgpp 12121  
 ghpp 1221  
35
Gambar 25. Manometer 2-fluida
Manometer
miring
Manometer dengan kaki miring (Gambar 26) digunakan untuk
mengukur dengan skala ketelitian yang lebih tinggi.
Gambar 26. Manometer berkaki miring
Keterbatasan
manometer
Manometer, dengan berbagai bentuknya, walaupun merupakan alat
yang sangat berguna dalam pengukuran tekanan, tetapi memiliki
beberapa kekurangan berikut:
1 2
h
h
g
1
2
Reservoir
15o
36
1) Manometer, bisa dibuat untuk mengukur perbedaan tekanan
yang sangat kecil, tetapi tidak bisa enak digunakan untuk
perbedaan tekanan yang besar – walaupun bisa saja dibuat
rangkaian sejumlah manometer air-raksa untuk memperlebar
rentang pengukuran.
2) Sejumlah cairan tidak cocok untuk digunakan karena tidak
memberikan meniskus yang jelas. Tegangan permukaan bisa
juga menyebabkan kekeliruan pembacaan karena efek
kapilaritas; walaupun ini bisa dihindari dengan membuat
diameter tabung cukup besar – paling tidak 15 mm atau lebih.
Selain itu perlu diperhatikan bahwa saluran penghubung
manometer dan pipa atau bejana di mana cairan bertekanan
berada haruslah terisi cairan ini pula dan bebas dari
gelembung udara.
3) Respon pembacaan manometer lambat sehingga tidak cocok
untuk pembacaan tekanan yang berubah-ubah (berfluktuasi).
Kelebihannya, manometer tidak harus dikalibrasi terhadap standar
apapun; perbedaan tekanan bisa dihitung dari prinsip pertama (first
principles).
Tabung
Bourdon
Tahun 1849 alat ukur tabung Bourdon dipatenkan di Perancis oleh
Eugene Bourdon2. Tabung Bourdon kini masih sangat luas digunakan
untuk mengukur tekanan beragam cairan dan gas, termasuk uap, air,
dan udara sampai tekanan 100.000 psi. Eugene Bourdon mendirikan
perusahaan Bourdon Sedeme Company untuk membuat
penemuannya.
Gambar 27 (sisi kiri) memperlihatkan alat ukur tekanan bernama
tabung Bourdon. Prinsip kerjanya secara skematik dilukiskan pada
gambar yang sama (sisi kanan). Tekanan yang akan diukur diteruskan
pada tabung lengkung yang bertampang lintang oval. Tekanan
cenderung menyebabkan tabung untuk melurus, dan defleksi ujung
tabung dihubungkan dengan sistem lengan-ayun ke jarum
perekam/penunjuk.
Alat ini luas dipakai untuk uap dan gas bertekanan. Tekanan yang
ditunjukkan adalah perbedaan antara yang terekam oleh sistem dan
tekanan luar (lingkungan), dan biasanya disebut sebagai tekanan
gauge (gauge pressure).
Gambar 28 memperlihatkan tabung Bourdon untuk pengukuran
tekanan relatif positif dan negatif (vakum).
2 Sumber: http://inventors.about.com/library/inventors/blbourdon.htm
37
Gambar 27. Tabung Bourdon (kiri) dan prinsip kerjanya (kanan)
Gambar 28. Kombinasi pengukur tekanan gauge dan vakum
Sisi Indikator
dengan jarum & skala
Sisi Mekanik
dengan tabung Bourdon
38
G. Gaya Pada Permukaan Terendam
Gaya tekan
horizontal
Penentuan gaya tekan horizontal pada permukaan terendam
(misalnya dinding bejana bertekanan, pintu air, dinding waduk)
sering dilakukan dalam statika fluida. Informasi ini penting dalam
proses perancangan struktur agar ia mampu menahan gaya tersebut
dengan aman.
Karena nilai tekanan beragam terhadap kedalaman, maka gaya tekan
pada suatu bidang bisa diperoleh dari integrasi tekanan pada seluruh
luasan bidang.
Mengacu Gambar 29, besarnya gaya tekan yang bekerja pada elemen
bidang yang diarsir sejauh y dari permukaan adalah:
 dAgdAgydF .sin.  
Gaya yang bekerja pada seluruh bidang adalah integral dari dF:
    
AA
dAgdAgF  sinsin
Mengingat definisi pusat massa, G:

A
G dA
A

1
maka persamaan gaya bisa ditulis menjadi:
  AgF G sin
Ini berarti, gaya tekan horizontal pada bidang adalah hasil kali dari
tekanan di pusat massa, gsin()G, dan luas bidang, A. Gaya ini
bekerja di suatu titik yang dinamakan titik pusat tekanan, P.
39

Penampang A-A
A
A
y

G
P
Gambar 29. Gaya tekan pada sebidang permukaan terendam
Titik pusat
tekanan
Letak titik pusat tekanan, P, bisa ditentukan berdasarkan neraca
momen. Dengan permukaan bebas sebagai acuan, maka:
   
   





A
GP
A
GP
A
P
dAgAg
dAgAg
dFF
2
sinsin
sinsin



atau:
A
I
dA
A GAG
P



 021
 
Momen inersia luasan, I, lebih enak dihitung dengan acuan bukan
permukaan bebas melainkan pusat massa, karena letak pusat massa
adalah bawaan dari bidang. Momen luasan terhadap permukaan
bebas, I0, oleh karena itu dipindahkan terhadap pusat massa, IG,
dengan menggunakan teorema sumbu paralel:
AII GGO
2

Dengan demikian maka letak titik pusat tekanan adalah:
40
G
G
G
P
A
I


 
Jadi, pusat tekanan terletak di bawah pusat massa sejauh IG/(GA).
Nilai IG beberapa luasan adalah sebagai berikut:
 Persegi-empat dengan lebar b, tinggi h: A = bh dan IG =
bh3/12.
 Lingkaran berjari-jari R: A = R2 dan IG = R4/4.
Untuk permukaan yang tidak datar, perhitungan gaya tekan sama
seperti yang telah diuraikan sebelumnya. Perhitungan letak titik pusat
tekanan walaupun rumit (dan tidak dibahas di sini), tetapi prinsipnya
sama.
H. Pengapungan
Prinsip
Archimedes
Prinsip Archimedes menyatakan bahwa: gaya angkat pada benda =
berat fluida yang dipindahkan benda.
Prinsip ini bisa dijelaskan berdasarkan persamaan dasar fluida statik
sebagai berikut.
Gambar 30 memperlihatkan sebuah benda dengan densitas massa b
tenggelam dalam fluida statik dengan densitas massa . Pada elemen
silindrik fluida setinggi h searah sumbu-y dengan luas penampang dA
bekerja:
1) gaya badan karena gravitasi,
2) gaya tekan ke bawah pada permukaan atas, dan
3) gaya tekan ke atas pada permukaan bawah.
Besarnya resultan gaya diferensial yang bekerja pada elemen fluida
adalah:
atau:
karena maka:
.
Besarnya gaya total pada benda adalah jumlah dari resultan gaya
diferensial, dengan kata lain:
Nilai tidak lain adalah volume benda, Vb, sehingga:
    ghdAdSpdSpdF by   222111 coscos
 dAghppdFy  21
ghpp  21
 ghdAdF by  
      hdAgdAghF bby 
hdA
41
.
Persamaan ini menunjukkan bahwa resultan gaya arah-y terdiri dari 2
bagian, yaitu gaya apung (gVb) dan gaya berat (bgVb). Besarnya
gaya apung (gVb) di sini tampak sama dengan berat fluida yang
dipindahkan oleh benda.
Gambar 30. Gaya-gaya yang bekerja pada elemen silindrik pada benda
Ada tiga kemungkinan yang bisa terjadi jika sebuah benda dilepas
dari posisi awal terbenam dalam fluida:
1) Jika <b, maka benda akan mengalami resultan gaya negatif
sehingga benda akan bergerak turun sampai tenggelam di
dasar fluida.
2) Jika =b, maka resultan gaya pada benda nol sehingga ia
tetap tinggal melayang dalam fluida.
3) Jika >b (densitas fluida lebih besar daripada densitas
benda), maka benda akan mengalami resultan gaya positif
sehingga benda akan bergerak naik sampai ke permukaan
fluida lalu mengapung.
Untuk benda mengapung, volume benda yang tercelup bisa
ditentukan berdasarkan kesetimbangan gaya, di mana gaya apung
seimbang dengan gaya berat:
  bby gVF  
p2.dS2.cos(2)
x
y
z
2
1
2
1
dA
p1.dS1.cos(1)
Bidang x-z
h
ghdA
42
atau:
atau:
.
Jadi, es dengan densitas kira-kira 0,9 densitas air akan tercelup 90%
volumenya dalam cairan (Gambar 32).
Gambar 31. Benda mengapung, melayang dan tenggelam
0 beratapung FFF
0 bbcelup gVgV 
b
b
celup VV



b<
b=
b>
Fluida, 
Benda
mengapung
Benda melayang
(mengapung netral)
Benda
tenggelam
43
Gambar 32. Gunung es mengapung di permukaan laut
karena densitas es (padat) lebih rendah daripada air laut (cair)
Benda
mengapung
Dalam keadaan mengapung, sebagian volume benda (V1) tercelup
dalam fluida berdensitas 1, dan volume sisanya (V2) tercelup dalam
fluida berdensitas 2 (Gambar 33), maka:
 Gaya angkat pada bagian atas, , bekerja melalui
titik berat V1 di G1.
 Gaya angkat pada bagian bawah, , bekerja melalui
titik berat V2 di G2.
 Gaya angkat total,
Benda pada Gambar 33 dalam posisi tidak setimbang karena G1 dan
G2 tidak berada pada garis vertikal yang sama. Momen gaya yang
bekerja padanya akan menyebabkan benda bergerak putar ke kiri
sampai keadaan setimbang tercapai di mana pusat pengapungan
keseluruhan benda melalui titik berat benda itu.
gVF 111 
gVF 222 
gVgVFFFtotal 221121  
44
Gambar 33. Gaya apung pada benda
Stabilitas
benda celup
& apung
Kestabilan putar penting diperhatikan dalam rancang bangun kapal
(atas air atau bawah air) supaya ia bisa tetap (kembali) tegak di atas
atau di dalam air saat mengalami gangguan (kecil) karena angin,
gelombang, atau arus laut.
Kestabilan putar bergantung pada letak relatif G, yaitu pusat gaya
berat (center of gravity) benda, terhadap B, yaitu pusat gaya apung
(center of buoyancy).
Pada benda celup (Gambar 34), seperti kapal selam:
1) Jika G di bawah B: benda stabil.
2) Jika G di atas B: benda tidak stabil.
3) Jika G berhimpitan dengan B: benda stabil netral.
Pada benda apung, seperti kapal laut atau :
1) Jika G di bawah B: benda selalu stabil.
2) Jika G di atas B: benda bisa stabil bisa tidak (Gambar 35).
Dalam kasus G di atas B, benda akan stabil jika gangguan kecil yang
menyebabkan benda miring diikuti oleh pergeseran letak G yang
menimbulkan momen pemulihan.
Kestabilannya ditentukan oleh tinggi metasentrik GM, yaitu jarak
antara titik G dan titik metasentrik M, yaitu titik perpotongan antara
garis perpanjangan vektor gaya apung dan garis simetri benda.
 Jika M di atas G (GM positif), benda stabil.
 Jika M di bawah G (GM negatif) maka benda tidak stabil.
Fluida berdensitas 1
Fluida berdensitas 2
V1 G1
V2 G2
F1
F2
45
Gambar 34. Kestabilan benda celup (immersed body)
Gambar 35. Kestabilan benda apung (floating body)
Mahkota
Emas Hiero
II, Raja
Syracuse
Hiero (306-215 B.C.) mendengar desas-desus bahwa tukang emasnya
telah mengganti sebagian emas mahkotanya dengan perak. Hiero
minta Archimedes (287-212 B.C.) memastikan apakah mahkotanya
emas murni atau bukan.
Archimedes harus mengembangkan metode pengujian yang tidak
merusak (nondestructive test). Berdasarkan prinsip pengapungan,
Archimedes menyeimbangkan mahkota dengan sebongkah emas
murni menggunakan neraca gantung di udara (Gambar 36).
1) Jika mahkota terbuat dari emas murni, maka volume
keduanya pasti sama.
2) Jika mahkota terbuat dari campuran perak maka volumenya
akan lebih besar.
Archimedes kemudian menimbang lagi keduanya menggunakan
neraca gantung, tetapi sekarang bukan di udara melainkan di dalam
air. Ternyata, neraca tidak seimbang, mahkota lebih ringan dari
bongkahan emas murni (Gambar 37). Dengan demikian terbuktilah
46
bahwa tukang emas sang raja telah berlaku tidak jujur.
Gambar 36. Mahkota sama berat dengan bongkahan emas murni di udara
Gambar 37. Mahkota lebih ringan dari bongkahan emas murni di dalam air
Dok Kapal
Laut
Dok kapal laut (Gambar 38), tempat di mana pekerjaan perawatan
dan perbaikan dilakukan, juga menerapkan prinsip Archimedes.
Dengan prinsip pengapungan, kapal selam berbobot 6000 ton bisa
diangkat (Gambar 39) untuk dirawat/diperbaiki.
47
Gambar 38. Dok kapal tenggelam sebagian
Gambar 39. Kapal selam berbobot 6000 ton
sedang menjalani perbaikan di atas dok kapal
Rangkuman
Variabel penting dalam fluida diam adalah tekanan. Distribusi tekanan dalam
fluida diam dapat digambarkan oleh persamaan medan tekanan fluida statik
Persamaan ini bisa diterapkan untuk analisis manometri, gaya-gaya tekan fluida
pada permukaan terendam, dan gaya apung. Efek kapilaritas dalam manometri
bisa dikoreksi dengan memperhitungan efek tegangan permukaan.
  pag 
48
MODUL III.
SIFAT-SIFAT FLUIDA
Deskripsi
Fluida biasa dipahami sebagai zat cair atau gas. Namun, pengertian ini secara
ilmiah belum memadai karena tidak bisa dinyatakan dalam ukuran kefluidaan
suatu zat. Sebagai gantinya diperkenalkanlah suatu definisi fluida yang
memungkinkan pengukuran sifat kefluidaan zat. Sifat itu dikenal dengan sebutan
viskositas. Viskositas merupakan sifat unik fluida yang tidak akan dijumpai pada
zat padat. Selain viskositas, fluida memiliki beragam sifat-sifat lainnya, yaitu:
tekanan uap, koefisien kompresibilitas, dan tegangan permukaan.
Sasaran belajar:
1. Mendefinisikan fluida
2. Mengenali fluida newton dan non-newton berdasarkan grafik tegangan
geser lawan laju deformasi
3. Menuliskan persamaan viskositas newton berikut nama dan satuan
variabel-variabel di dalamnya
4. Menjelaskan pengertian tekanan uap, koefisien kompresibilitas, dan
tegangan permukaan beserta satuannya
Fluida:
2 di antara
beragam fase
di alam
Dalam kehidupan sehari-hari biasa dikenal ada tiga macam keadaan
benda: padatan, cairan, dan gas. Walaupun sebenarnya ada satu
keadaan lagi yang justru keberadaannya di alam jauh lebih banyak,
yaitu fase plasma.
Walaupun cairan dan gas memiliki perbedaan dalam berbagai hal,
keduanya memiliki kesamaan sifat yang membedakannya dari
padatan. Cairan dan gas bersifat fluid (bersifat mengalir) karena tidak
mempunyai kemampuan untuk menahan gaya secara tetap seperti
halnya padatan.
Sifat Fluida Segala karakteristik yang dimiliki suatu zat dan bisa diukur
disebut sifat. Di antara sifat yang sangat dikenal adalah tekanan p,
suhu T, volume V dan massa m, dan yang kurang dikenal adalah
viskositas, konduktivitas termal, modulus elastisitas, koefisien
ekspansi termal, tekanan uap dan tegangan permukaan.
Sifat biasa digolongkan intensif dan ekstensif.
Sifat intensif nilainya tidak tergantung pada jumlah zat. Contoh:
suhu, tekanan, dan densitas. Sifat ekstensif nilainya tergantung pada
ukuran zat. Contoh: massa, volume, momentum, dan energi.
Sifat spesifik adalah sifat ekstensif per satuan jumlah zat. Contoh:
volume spesifik (v = V/m), densitas massa ( = m/V) dan energi
spesifik (e = E/m).
49
A. Definisi Fluida
Pentingnya
Definisi
Dalam masyarakat ilmiah, segala kerancuan makna dalam
penggunaan istilah harus dihindari. Untuk itu setiap istilah ilmiah
diperkenalkan beserta definisinya. Definisi memang bersifat
membatasi pengertian, tetapi dengan demikian definisi membuat
makna istilah bisa menjadi lebih jelas.
Selain itu, ini yang lebih penting, pendefinisian istilah atau konsep itu
harus memungkinkan pengukuran sehingga manfaatnya secara
keilmuan dan dalam terapan menjadi luas.
Jadi, walaupun secara awam fluida telah dimengerti sebagai zat cair
atau gas, namun pengertian ini tidak cukup. Kita memerlukan definisi
yang memungkinkan kuantifikasi atau pengukuran yang terkait
dengan kefluidaan suatu zat.
Pendekatan
makroskopik
(kontinum)
Pendefinisian yang kita anut di sini akan mengambil pendekatan
pada skala makroskopik, yang jauh lebih besar dari skala
mikroskopik atau atomik atau molekuler.
Alih-alih dipandang sebagai atom-atom atau molekul-molekul diskrit
yang terpisah-pisah oleh jarak, fluida dipandang sebagai kontinum
tanpa jarak pisah, sebagaimana kesan yang kita tangkap melalui indra
fisik kita. Cara pikir makroskopik demikian disebut pendekatan
kontinum.
Kebanyakan fenomena yang dijumpai dalam mekanika fluida, baik
yang melibatkan cairan maupun gas, masuk dalam domain kontinum.
Dalam pendekatan kontinum, apa yang dikatakan sebagai sifat zat
menggambarkan karakteristik sekumpulan besar atom atau molekul
dalam skala yang jauh jauh lebih besar dari jarak antaratom atau
antarmolekul. Dengan anggapan kontinum ini maka sifat-sifat fluida
seperti densitas, tekanan, suhu, kecepatan dan lain-lain dianggap:
 terdefinisi pada titik-titik yang kecil tak berhingga, dan
 beragam secara kontinyu dari satu titik ke lain titik.
Watak molekuler & diskritnya diabaikan. Dengan demikian, sifat
fluida bisa dinyatakan sebagai fungsi tinerus/sinambung (continuous
function) dalam ruang dan waktu:
 densitas: ρ(r,t)
 kecepatan aliran: v(r,t)
 tekanan: p(r,t)
 suhu: T(r,t)
sehingga matematika bisa diterapkan untuk mendeskripsikan dan
menganalisis fluida..
Definisi
Fluida
Fluida didefinisikan sebagai bahan yang mengalami deformasi
terus-menerus akibat gaya geser yang bekerja padanya.
Istilah “deformasi terus-menerus” dalam bahasa keseharian disebut
50
“aliran”. Pemilihan gaya geser dalam definisi ini didasarkan pada
efek beda yang dialami fluida dari padatan saat menerima gaya geser.
Jadi, dengan definisi ini fluida bisa dibedakan dari padatan.
Secara matematik, definisi operasional fluida bisa dituliskan sebagai:
dengan:
  adalah tegangan geser, yaitu gaya geser per satuan luas
(N/m2)
  adalah viskositas, yaitu ukuran hambatan internal fluida
terhadap aliran (Pa.s)
 adalah gradien kecepatan yang mewakili laju regangan
geser (1/s)
Gaya &
Tegangan:
Geser &
Normal
Besarnya gaya per satuan luas disebut tegangan (stress). Menurut
komponen gayanya, tegangan dibagi menjadi dua macam, yaitu:
1) tegangan normal (normal stress) yang merupakan gaya
normal atau tegak lurus permukaan per satuan luas
permukaan, dan
2) tegangan geser (shear stress) yang merupakan gaya geser atau
tangensial permukaan per satuan luas permukaan.
Lihat Gambar 40.
Pada fluida diam, besarnya tegangan normal sama dengan tekanan,
tetapi pada fluida bergerak, besarnya tegangan normal tidak sama
dengan tekanan.
Gambar 40. Gaya normal dan gaya geser/tangensial
Tegangan
geser pada
fluida
mengalir
Pada fluida diam tidak ada tegangan geser.
Tegangan geser muncul apabila fluida bergerak akibat gaya netto
yang bekerja padanya, tidak peduli apakah itu gaya geser atau bukan.
dy
du
 
dydu
Fnormal
(tegak lurus permukaan dA)
Ftangensial
(sejajar permukaan dA)
F
dA
51
 Jika partikel-partikel fluida bergerak relatif terhadap lainnya,
berarti kecepatannya berbeda-beda sehingga bentuk asalnya
berubah.
 Jika kecepatan fluida di setiap titik sama, tidak akan ada
tegangan geser yang dihasilkan karena partikel-partikel fluida
satu terhadap lainnya relatif diam.
Fluida vs.
Padatan
Perbedaan watak antara fluida dan padatan sebagai tanggapan
terhadap gaya adalah sbb:
 Untuk padatan, regangan (strain) sebanding dengan tegangan
yang dideritanya (applied stress) selama batas elastiknya
tidak terlampaui. Untuk fluida, bukan regangan yang
sebanding dengan tegangan yang dideritanya melainkan laju
regangan (rate of strain).
 Regangan padatan, dalam batas elastisitasnya, sebanding
dengan tegangan yang dideritanya tetapi tidak bergantung
pada durasi pemberian gaya. Deformasi pada padatan bersifat
sementara, sehingga begitu gaya geser ditiadakan maka
deformasi pun lenyap dan padatan akan kembali ke bentuk
asalnya. Fluida tidak demikian. Deformasi yang dialaminya
bersifat terus-menerus selama gaya geser dikenakan padanya.
Deformasi juga bersifat permanen sehingga begitu gaya geser
ditiadakan maka fluida tidak akan kembali ke bentuk semula.
Dengan kata lain, padatan mampu menahan gaya geser atau shear
force dengan berdeformasi (berubah bentuk) – lihat Gambar 41.
Besarnya gaya geser F per satuan luas kontak A (disebut tegangan
geser atau shear stress, ) sebanding dengan regangan geser (shear
strain, ).

Gambar 41. Efek gaya geser pada padatan
Fluida tidak mampu menahan gaya geser sehingga ia berdeformasi
 
A
F
Padatan
berubah bentuk
(berdeformasi)
sementara
Gaya Geser, F
Regangan geser, 
Tegangan geser,
A
F

52
terus-menerus (mengalir) selama gaya geser masih terus
mengenainya – lihat Gambar 42. Besarnya gaya geser per satuan
luas (tegangan geser atau shear stress, ) sebanding dengan laju
regangan geser (shear strain rate, d/dt).

Gambar 42. Efek gaya geser pada fluida
B. Viskositas
Viskositas Viskositas () sebuah fluida menggambarkan hambatan internal
fluida untuk mengalir. Burung terbang atau ikan berenang (Gambar
43) mengalami hambatan yang berlawanan arah dengan arah
geraknya. Hambatan ini disebut gaya hambat (drag force) yang
besarnya bergantung pada faktor bentuk benda dan viskositas fluida.
Efek Coanda Pengaruh viskositas juga tampak pada fenomena efek Coanda di
mana arus aliran memperlihatkan kecenderungan mengikuti bentuk
benda yang dilaluinya (Gambar 44).
Satuan
Viskositas
Satuan viskositas adalah kg/(m.detik), dan g/(cm.detik) (juga dikenal
sebagai poise yang dilambangkan dengan P).
 1 centipoise (cP) = poise.
 1 centipoise (cP) = 103 Pa.s.
Centipoise juga merupakan satuan yang enak dipakai karena
viskositas air pada suhu ruang kira-kira sebesar 1 centipoise.
Viskositas
dinamik &
kinematik
Viskositas () sering juga disebut sebagai viskositas dinamik.
Perbandingan viskositas dinamik () dan densitas () disebut sebagai
viskositas kinematik ():
h
V
dt
d
A
F


 
Fluida berubah
bentuk terus-
menerus &
permanen
Gaya Geser, F
Laju regangan geser,
d/dt = V/h
Tegangan geser,
h
V
dt
d
A
F


 
h
Plat atas bergerak
secepat V
Plat bawah diam
100
1


 
53
Besaran ini akan menjadi penting saat gaya viskos dan gaya gravitasi
yang signifikan ada bersamaan.
Gambar 43. Gaya hambat yang dialami seekor burung sewaktu terbang
mencerminkan pengaruh viskositas fluida
Gambar 44. Efek Coanda
Viskositas
Cairan
Viskositas cairan secara umum berkurang sejalan dengan
peningkatan suhu. Viskositas cairan umumnya kira-kira berubah
dengan suhu T menurut hubungan:
Viskositas
Gas
Viskositas gas secara umum bertambah sejalan dengan peningkatan
suhu. Viskositas berbagai macam gas kira-kira berubah dengan suhu
T menurut hubungan:
dengan T adalah suhu mutlak, 0 adalah viskositas pada suhu mutlak
   Tba ln.ln 
n
T
T







0
0
54
acuan T0, dan n adalah pangkat empiris yang paling cocok dengan
data eksperimen.
Viskositas gas ideal tidaklah tergantung pada tekanan, tetapi
viskositas gas riil dan cairan biasanya bertambah sejalan dengan
peningkatan tekanan.
Viskositas cairan biasanya dua orde lebih besar daripada viskositas
gas pada tekanan atmosfir. Misal, pada 250C, air = 1 cP dan udara =
10–2 cP.
Gambar 45. Variasi viskositas cairan dan gas terhadap suhu
C. Fluida Newtonian vs. NonNewtonian
Fluida
Newtonian
Fluida Newtonian adalah fluida yang memenuhi hukum viskositas
Newton, yaitu:
dengan:
  adalah tegangan geser atau shear stress (N/m2).
  adalah viskositas dinamik fluida (Pa.s).
 (du/dy) = laju regangan geser, rate of strain, atau gradien
kecepatan (1/s).
Semua gas dan kebanyakan fluida yang memiliki rumus molekul
sederhana dan berat molekul ringan seperti air, benzena, etil-alkohol,
CCl4, heksana, dan kebanyakan larutan dari molekul sederhana
adalah fluida Newtonian.
Fluida non-
Newtonian
Fluida non-Newtonian adalah fluida yang tidak memenuhi hukum
viskositas Newton. Umumnya fluida non-Newtonian merupakan
Suhu
Viskositas
Cairan
Gas
h
V
dy
du
dt
d


 
55
campuran kompleks: lumpur, pasta, kecap, gel, larutan polimer, dll.
Fluida non-Newtonian (Gambar 46) banyak ragamnya dan sering
harus dihadapi oleh insinyur kimia/proses. Oleh karena itu,
berkembanglah bidang ilmu khusus yang mempelajari watak fluida
non-Newtonian yang dikenal sebagai rheologi.
Setiap garis dalam Gambar 46 bisa diwakili oleh persamaan
berbentuk:
dengan A, B dan n konstanta. Untuk fluida Newtonian A = 0, B = 
dan n = 1.
Gambar 46. Hubungan tegangan geser (shear stress, ) dengan laju regangan
geser (rate of shear strain, du/dy) berbagai macam fluida
Dalam Gambar 46 tertera adanya fluida ideal. Sesuai namanya,
fluida ini tidak nyata/riil, karena memang tidak ada fluida yang
memiliki viskositas nol. Fluida ideal adalah sekedar konsep yang
dibuat untuk memudahkan penyelesaian secara teoritik dengan cara
mengidealkan persoalan praktik.
Perilaku
Fluida Non-
Newtonian
Fluida non-Newton memperlihatkan beragam perilaku:
 Watak tak-tergantung-waktu. Sifat fluida di sini tidak
tergantung pada durasi geseran bekerja.
n
dy
du
BA 






Tegangan geser
(shear stress), 
Laju regangan geser
(shear strain rate), du/dy
Dilatan
Newton
Plastik semu
Plastik Bingham
Plastik
Fluida ideal,  = 0
56
 Plastik: tegangan geser harus mencapai nilai minimum
tertentu sebelum aliran mulai terjadi.
 Plastik-Bingham: seperti plastik, fluida ini menahan
tegangan geser yang kecil tetapi mengalir dengan mudah
begitu menderita tegangan geser yang besar. Contoh: pasta
gigi, jelli, dan sejumlah lumpur (misalnya lumpur IPAL –
Instalasi Pengolah Air Limbah).
 Plastik-semu (pseudo-plastic fluid): tiada tegangan geser
minimum yang diperlukan untuk terjadinya aliran dan. fluida
ini viskositasnya berkurang sejalan kenaikan gradien
kecepatan (rate of strain). Kebanyakan fluida non-Newton
masuk dalam kelompok ini. Contoh: larutan polimer, darah
dan bahan kolloid semisal tanah-liat, susu, dan semen.
Fluida plastik-semu juga disebut sebagai fluida bergeseran-melemah
(shear-thinning fluid). Pada laju geseran rendah (du/dy) fluida
bergeseran-melemah lebih viskos (kental) daripada fluida Newton,
dan pada laju geseran tinggi menjadi kurang viskos.
 Fluida dilatan (dilatant fluid): fluida ini viskositasnya
bertambah dengan kenaikan gradien kecepatan. Fluida
semacam ini tidaklah lazim, tetapi suspensi kanji dan pasir
berperilaku demikian. Fluida dilatan disebut juga sebagai
fluida bergeseran-menguat (shear-thickening fluid).
 Watak tergantung-waktu. Sifat fluida di sini tergantung
pada durasi geseran bekerja.
 Fluida Thixotropik: fluida ini viskositas dinamiknya
bertambah sejalan dengan waktu di mana gaya geser bekerja.
Contoh: cat jelli thixotropik (Gambar 47).
 Fluida Rheopektik: fluida ini viskositas dinamiknya
bertambah sejalan dengan waktu di mana gaya geser bekerja.
Contoh: suspensi gips dalam air (Gambar 47).
 Fluda visko-elastik: fluida ini memiliki sifat elastik yang
memungkinkannya berwatak seperti pegas. Wataknya mirip
dengan fluida Newton tetapi jika dikenai geseran besar secara
tiba-tiba fluida ini berwatak seperti plastik. Contoh: putih
telur.
57
Gambar 47. Efek perubahan mendadak laju geser pada viskositas semu
fluida gayut-waktu
D. Tekanan Uap
Pengertian Tekanan, pada suhu tertentu, di mana suatu cairan akan mendidih
disebut tekanan uap. Tekanan uap tergantung pada suhu (tekanan uap
bertambah sejalan dengan kenaikan suhu).
Tekanan Uap
Air
Dalam konteks ini, hal yang biasa dipikirkan adalah suhu di mana
pendidihan terjadi. Misal, pada tekanan 1 atm (absolut) air mendidih
pada suhu 1000C atau lebih.
Namun, terkait dengan tekanan uap, alur pemikirannya dibalik. Pada
suhu 1000C air mendidih (berubah fase menjadi uap) pada tekanan 1
atm (absolut) atau kurang.
Mudah dipahami bahwa pendidihan pada suhu jauh di bawah 100 oC
bisa terjadi apabila tekanan pada air diturunkan sampai tekanan
uapnya. Contoh, tekanan uap air pada 10 oC adalah 0,01 atm. Oleh
karena itu, jika tekanan air pada suhu tersebut (10 oC) diturunkan
sampai nilai itu atau lebih rendah ( 0,01atm) maka air akan
mendidih.
Kavitasi Pendidihan pada suhu lingkungan ini sering terjadi dalam fluida yang
mengalir, misalnya pada sisi hisap sebuah pompa. Apabila
pendidihan semacam ini terjadi dalam cairan yang mengalir,
gelembung uap akan mulai tumbuh di daerah setempat yang
bertekanan sangat rendah dan kemudian lenyap (collapse) di daerah
hilir yang bertekanan tinggi. Fenomena ini dikenal sebagai kavitasi
(cavitation).
Kavitasi bisa terjadi misalnya pada katup, turbin, dan pompa.
Efeknya selain menimbulkan suara berisik dan menimbulkan getaran
Viskositas semu
(apparent viscosity)
Waktu
Thixotropic
Rheopectic
Saat laju geser
dinaikkan
58
kavitasi juga bisa merusak geometri alat. Gambar 48 memperlihatkan
kavitasi yang terjadi di ujung baling-baling kapal, dan Gambar 49
memperlihatkan efek kavitasi pada rumah (casing) pompa
sentrifugal.
Kavitasi biasa muncul karena desain yang kurang bagus, karena
tertutupnya katup di hulu atau sisi isap pompa, atau karena
tersumbatnya penyaring.
Gambar 48. Kavitasi di ujung baling-baling kapal
Gambar 49. Efek kavitasi pada pompa sentrifugal
59
E. Kompresibilitas
Kompresi-
bilitas
Volume spesifik, v, suatu bahan, apakah itu padatan, cairan atau gas
bisa berubah karena faktor suhu, T, dan tekanan, p. Jadi secara
umum,
dT
T
v
dp
p
v
dv
pT

















atau biasa ditulis ulang sebagai:
vdTvdpdv  
dengan
T
p
v
v 








1

adalah koefisien kompresibilitas (isotermal) yang memainkan
peranan sangat penting dalam mekanika fluida, dan
pT
v
v









1

adalah koefisien ekspansi volume isobarik.
Hubungan antara tekanan dan volume gas lebih enak diperoleh dari
persamaan sifat gas. Untuk gas ideal:
pppv
RT
p
RT
pvp
v
v TT
1111

























Jadi, kompresibilitas gas mengecil seiring dengan membesarnya
tekanan. Untuk udara pada tekanan 1 atm, nilai  = 1/atm = 10-5 m2/N
= 10-5/Pa.
Kompresibilitas cairan jauh lebih rendah daripada gas. Pada suhu 20
oC, untuk:
 Air  = 4610-11 m2/N ≈ 4610-6/atm.
 Hg  = 410-11 m2/N ≈ 410-6/atm.
 Benzena  = 9510-11 m2/N ≈ 9510-6/atm.
Bandingkan nilai-nilai ini dengan angka kompresibilitas tembaga
yang hanya 0,77610-11 m2/N.
 cairan &
gas
Untuk cairan, perubahan tekanan yang terjadi dalam berbagai
permasalahan mekanika fluida tidaklah cukup besar untuk
menimbulkan perubahan densitas. Sebagai gambaran, untuk
memampatkan volume air sebesar 1% diperlukan kenaikan tekanan
sebesar 1% dibagi 4610-6/atm yaitu 217 atm. Angka yang luar biasa
besar. Oleh karena itu, sudah menjadi kebiasaan bahwa efek
kompresibilitas diabaikan dan cairan dianggap sebagai fluida
inkompresibel.
60
Gas bisa juga diperlakukan sebagai fluida inkompresibel bila
perubahan tekanannya sangat kecil, tetapi efek kompresibilitas
biasanya tidak dapat diabaikan. Secara umum, efek kompresibilitas
menjadi penting apabila kecepatan fluidanya mencapai kira-kira
sepertiga kecepatan gelombang tekanan (kecepatan suara) di dalam
fluida.
Kecepatan suara di udara kira-kira 300an m/s, sepertiganya adalah
100-an m/s. Pada kecepatan sebesar ini, kenaikan tekanan yang
terlibat bisa mencapai 6000 Pa. Dengan udara sebesar 10-5/Pa berarti
perubahan volumenya mencapai 600010-5 = 0,06 atau 6%.
Gambar 50. Efek tegangan permukaan air pada seekor serangga
F. TeganganPermukaan
Fenomena
Alam
Fenomena fisik yang memperlihatkan efek tegangan permukaan
diperlihatkan pada gambar berikut – seekor serangga dapat hinggap
di atas permukaan air (Gambar 50). Fenomena ini juga diperlihatkan
oleh terbentuknya tetes-tetes air dari kran (Gambar 51).
Gambar 51. Efek tegangan permukaan pada tetesan air
61
Resultan
gaya di
permukaan
Fenomena ini dapat dijelaskan dengan membayangkan apa yang
terjadi pada permukaan fluida dibandingkan dengan yang terjadi di
dalam fluida (Gambar 52).
Molekul di dalam fluida mengalami gaya-gaya tarik ke segala arah
dan resultan gayanya sama dengan nol, tetapi tidak demikian halnya
molekul di permukaan fluida.
Molekul di permukaan fluida mengalami gaya kohesi netto yang
tegak lurus dengan permukaan. Molekul di permukaan memiliki
energi lebih besar daripada yang di dalam fluida. Oleh karenanya
diperlukan kerja untuk menggerakkan molekul-molekul di
permukaan untuk mengatasi gaya kohesi tersebut.
Tegangan
permukaan
Tegangan permukaan (, sigma) suatu fluida adalah kerja yang harus
diberikan untuk membawa molekul dari dalam ke permukaan fluida
untuk membentuk satu satuan luasan permukaan baru (J/m2 = N/m).
Tegangan permukaan sering pula dinyatakan dalam satuan dyne per
cm (1 dyne/cm = 0,001 N/m).
Surfaktan Tegangan permukaan suatu zat bisa sangat berubah akibat
penambahan zat yang disebut surfaktan (surfactants) semisal sabun
dan deterjen. Sabun dan deterjen bekerja menurunkan tegangan
permukaan air dan memungkinkannya menembus sela-sela di antara
serat pakaian sehingga pencucian lebih efektif.
Butiran fluida Tegangan permukaan adalah kecenderungan permukaan fluida untuk
berlaku seperti membran elastik teregang. Secara alamiah, cairan
cenderung meminimalkan luas permukaannya. Oleh karenanya,
butiran setetes cairan cenderung membentuk bulatan untuk
meminimalkan luas permukaannya. Untuk butir kecil ini, tegangan
permukaan akan menyebabkan kenaikan tekanan internal p untuk
mengimbangi gaya permukaan.
Gambar 52. Gaya-gaya pada molekul fluida di dalam dan di permukaan
Permukaan bebas
(free surface)
Cairan
Gas
Resultan gaya
kohesi tegak lurus
permukaan bebas.
Resultan gaya
kohesi nol.
62
Gambar 53. Komponen gaya-gaya pada butiran fluida
Besarnya selisih tekanan di dalam butir dan tekanan luar p = (p –
pluar), bisa dihitung berdasarkan kesetimbangan gaya-gaya pada
setengah bola:
sehingga
Semburan
cairan
Kesetimbangan gaya serupa bisa juga dibuat untuk jet (semburan)
cairan silindris, hasilnya:
Gelembung
sabun
Perlakuan serupa bisa juga dilakukan untuk gelembung sabun yang
mempunyai dua permukaan bebas seperti diperlihatkan pada Gambar
54.
.2r
2.r
(ppluar).r2
Tekanan gas di luar
butiran = pluar
Tekanan cairan di
dalam butiran = p
   
02
0permukaanGayatekanGaya
0
2



rrp
Fy

r
p
2

r
p


63
Gambar 54. Dua permukaan (dalam dan luar) pada gelembung sabun
Dengan demikian kesetimbangan gaya-gayanya menjadi:
sehingga:
Permukaan
bebas
Tegangan permukaan biasanya muncul hanya dalam situasi yang
melibatkan permukaan bebas (batas cairan/gas atau cairan/padatan)
atau antarmuka (batas cairan/cairan). Tegangan pada antarmuka
cairan/cairan biasa disebut sebagai tegangan antarmuka (interfacial
tension).
Tabel berikut menyajikan nilai tegangan permukaan sejumlah cairan
pada suhu 200C dalam kontak dengan udara atau uapnya (nilai di
antara keduanya biasanya kecil saja).
Tabel 1. Nilai tegangan permukaan beberapa cairan
No Cairan Tegangan permukaan,  (dyne/cm)
1 Air 72,75
2 Air raksa 435,50
3 Benzena 23,70
4 Etanol 22,75
.2r
2.r
(ppluar).r2 Tekanan gas di luar
gelembung = pluar
Tekanan gas di dalam
gelembung = p
Selaput cairan
dengan 2 permukaan
(luar + dalam)
 
  04
022
0
0
2






rrpp
rAppA
FFF
F
luar
luar
dalamluar
permukaan
luardari
tekan
dalamdari
tekan
y


 
r
ppp luar
4

64
No Cairan Tegangan permukaan,  (dyne/cm)
5 Gliserol 63,40
6 Metanol 22,61
7 n-Oktana 21,78
G. Kapilaritas
Adhesi
& Kohesi
Cairan naik atau turun di dalam tabung kapilar disebabkan oleh
tegangan permukaan. Tinggi naik/turunnya tergantung pada besar
relatif dari kohesi cairan dan adhesi cairan ke dinding bejana.
 Cairan naik dalam tabung bila basah (adhesi > kohesi), dan
 Cairan turun bila tidak basah (kohesi > adhesi).
Pembasahan
dan sudut
kontak
Fluida membasahi sejumlah padatan dan tidak membasahi lainnya.
Gambar 55 melukiskan sejumlah watak pembasahan yang mungkin
terjadi sewaktu sebutir cairan diteteskan pada permukaan padatan
horizontal. Sisa permukaan padatan ditutupi dengan udara sehingga
kedua fluida ada bersamaan.
Sudut kontak Gambar 55 (a) mewakili kasus cairan yang tidak membasahi
permukaan padatan. Misalnya adalah air di atas teflon atau air-raksa
di atas gelas bersih. Jika pembasahan tepat nol maka  = 1800. Akan
tetapi, gaya gravitasi pada butiran cairan akan menekan dan
meratakannya sehingga sudut 1800 tidak pernah teramati.
Gambar (c) mewakili kasus cairan yang membasahi permukaan
padatan, misalnya air pada permukaan tembaga bersih. Sudut 
diukur di dalam cairan antara tepi permukaan cairan dan permukaan
padatan. Sudut ini disebut sudut kontak dan merupakan ukuran dari
kualitas pembasahan. Untuk pembasahan sempurna, di mana cairan
menyebar sebagai lapisan tipis seluas permukaan padatan,  = nol.
Dalam kebiasaan sehari-hari, cairan dikatakan membasahi permukaan
bila  kurang dari 900 dan tidak membasahi jika  lebih dari 900.
Nilai  kurang dari 200 mewakili pembasahan kuat, dan nilai  lebih
dari 1400 mewakili non-pembasahan kuat.
Gambar 55. Watak pembasahan sebutir fluida pada permukaan padat
 
b ca
65
Pentingnya
kapilaritas
Kapilaritas penting diperhatikan dalam pengukuran fluida bilamana
diameter tabung yang digunakan dalam pengukuran kurang dari
10mm
Kenaikan atau penurunan kapilar (h) dalam sebuah tabung (Gambar
56) bisa dihitung berdasarkan kesetimbangan gaya-gaya. Gaya-gaya
yang bekerja adalah gaya tegangan permukaan, gaya tekan, dan gaya
gravitasi.
Kenaikan
kapilar
Pada kasus pertama di mana fluida mendaki lebih tinggi dari
permukaan bebas, komponen arah vertikal gaya-gaya yang bekerja
pada CV (control volume) kolom fluida setinggi h diperlihatkan pada
Gambar 57.
Gambar 56. Efek kapilaritas
d dh


h
A B
66
Gambar 57. Gaya-gaya yang bekerja pada CV (control volume) kolom fluida
yang mendaki di atas permukaan bebas
Analisis
kenaikan
kapilar
Gambar 57 melukiskan gaya-gaya yang bekerja pada CV (control
volume) kolom kapilar fluida yang mendaki di atas permukaan bebas.
Resultan gaya arah vertikal yang bekerja pada CV adalah:
dengan:
 Gaya tekan ke atas:
 Gaya permukaan:
dengan  adalah sudut pembasahan
atau sudut kontak. (Jika tabung terbuat dari gelas dan
keadaannya bersih maka  = 0 untuk air dan sekitar 1400
untuk air-raksa)
 Gaya berat:
dengan  adalah densitas cairan.
 Gaya tekan ke bawah:
Karena gaya tekan ke atas dan ke bawah saling meniadakan karena
sama besar & berlawanan arah, maka kesetimbangan gayanya
menjadi:
dh







 2
4
dPF atmtekan

ghdFberat 





 2
4

    cosdFpermukaan 






 2
4
dPF atmtekan

CV
  0
bawahke
tekanberatpermukaan
ataske
tekany FFFFF
2
4
dPAPF atmatm
ataske
tekan


    cosdFpermukaan 
ghdmgFberat 





 2
4


2
4
dPAPF atmatm
bawahke
tekan


67
atau:
sehingga ungkapan untuk kenaikan kapilar h menjadi:
Penurunan
kapilar
Pada kasus kedua di mana fluida membenam lebih rendah dari
permukaan bebas, komponen arah vertikal gaya-gaya yang bekerja
pada CV (control volume) kolom fluida setinggi h diperlihatkan pada
Gambar 58.
Gambar 58. Gaya-gaya yang bekerja pada CV (control volume) kolom fluida
yang membenam di bawah permukaan bebas
Analisis
penurunan
kapilar
Gambar 58 melukiskan gaya-gaya yang bekerja pada CV (control
volume) kolom kapilar fluida yang membenam di bawah permukaan
bebas. Resultan gaya arah vertikal yang bekerja pada CV adalah:
dengan:
 Gaya tekan ke atas:
  0beratpermukaany FFF
    0
4
cos 2






 ghdd


 
gd
h

 cos4

d

h
B
gHdFberat 





 2
4

    cosdFpermukaan 






 2
4
dPF atmtekan

CVH
   2
4
dHhgPF atmtekan

 
  0
bawahke
tekanberatpermukaan
ataske
tekany FFFFF
68
 Gaya permukaan: dengan  adalah
sudut pembasahan atau sudut kontak. Tanda minus
diperkenalkan supaya nilai besarnya gaya positif, sedangkan
arahnya sudah diperhitungkan dalam persamaan neraca gaya.
 Gaya berat: dengan  adalah
densitas cairan.
 Gaya tekan ke bawah:
Kesetimbangan gayanya menjadi:
atau:
sehingga ungkapan untuk penurunan kapilar h menjadi:
      2
4
dHhgPAHhgPF atmatm
ataske
tekan

 
    cosdFpermukaan 
gHdmgFberat 





 2
4


2
4
dPAPF atmatm
bawahke
tekan


       0
44
cos
4
222






 dPgHdddHhgP atmatm




    0cos
4
2
 

 ddgh
 
gd
h

 cos4

69
Gambar 59. Kenaikan air dan penurunan Hg
sebagai fungsi diameter pipa kapilar
Koreksi efek
kapilaritas
Gambar 59 dan Gambar 60 melukiskan pentingnya efek kapilaritas,
terutama ketika melakukan pengukuran tekanan menggunakan
piezometer. Artinya, hasil pembacaan harus dikoreksi dengan efek
kapilar supaya diperoleh data yang akurat.
Pada manometer 2-kaki efek ini ada di kedua kakinya sehingga saling
meniadakan. Berbeda halnya pada manometer 1-kaki, efek kapilaritas
di kaki kiri dan kanan berbeda besarnya sehingga perlu
diperhitungkan untuk koreksi pembacaan.
-10
-5
0
5
10
15
20
25
30
0 2,5 5 7,5 10 12,5 15 17,5 20
diameter pipa kapiler (mm)
efekkapilaritas(mm)
Hg Air
70
Gambar 60. Efek kapilaritas
Contoh:
gelembung
udara
Udara dialirkan melalui nozel ke dalam sebuah tangki air untuk
menghasilkan arus gelembung. Jika gelembung diinginkan agar
berdiameter 2 mm, hitung berapa besar kelebihan tekanan udara pada
ujung nozel dibandingkan tekanan air sekelilingnya. Anggaplah
bahwa nilai tegangan permukaan antara udara dan air adalah
72,7.103 N/m.
Data:
Tegangan permukaan () = 72,7.103 N/m.
Jari-jari gelembung (r) = 1 mm.
Rumus:
Perhitungan:
Jadi, tekanan udara di ujung nozel harus lebih besar dari tekanan air
sekelilingnya sebanyak 145,4 N/m2.
Contoh:
gelembung
sabun
Sebuah gelembung sabun berdiameter 50 mm berisikan tekanan 2 bar
(di atas tekanan atmosfir). Tentukan tegangan permukan pada saput
(film) sabun.
Data:
Jari-jari gelembung sabun (r) = 25 m = 0,025 m
r
p
2

2
3
5,145
1
10.7,7222
m
N
mmr
p m
N





71
p = 2 bar = 2.105 N/m2
Rumus tekanan di dalam gelembung sabun dan tegangan permukaan
() terkait oleh rumus:
Perhitungan:
Contoh:
sudut kontak
Air mempunyai tegangan permukaan sebesar 0,4 N/m. Dalam sebuah
tabung vertikal berdiameter 3 mm, air naik setinggi 6 mm di atas
permukaan air di luar tabung. Hitung sudut kontaknya.
Data:
Tegangan permukaan () = 0,4 N/m
Diameter tabung (d) = 3 mm = 0,003 m
Kenaikan kapilar (h) = 6 mm = 0,006 m
Rumus kenaikan kapilar karena tegangan permukaan diberikan oleh
persamaan:
Perhitungan:
Jadi sudut kontaknya adalah  = 83,70.
Rangkuman
Fluida didefinisikan sebagai zat yang terus mengalami deformasi selama
menanggung tegangan geser. Konstanta kesebandingan antara tegangan geser dan
laju deformasi mewakili sifat khas fluida yang disebut sebagai viskositas. Fluida
bisa digolongkan ke dalam kelompok fluida newton dan non-newton. Sifat fluida
newton bisa diwakili oleh persamaan viskositas newton.
Dalam aliran, tekanan lokal fase cair bisa saja lebih rendah dari tekanan uap
jenuhnya (pada suhu tertentu). Akibatnya, fluida berubah fase dari cair menjadi
uap. Fenomena ini (biasa disebut kavitasi) bisa menyebabkan kerusakan
permukaan padat dari alat keteknikan.
r
p
4

m
Nmrp m
N
1250
4
025,010.2
4
2
5





 
gd
h

 cos4

  11,0
4,04
003,0812,91000006,0
4
cos
3




m
N
m
kg
mmgdh



72
MODUL IV.
DESKRIPSI ALIRAN
Deskripsi
Berbeda dari zat padat yang memiliki bentuk tetap, fluida sangat mudah
mengalami deformasi yang terus-menerus. Akibatnya ragam gerak yang
dialaminya bisa sangat banyak – sebagaimana tercermin dari pola aliran fluida
yang terkesan rumit. Walaupun demikian, gerak rumit tersebut bisa diurai sebagai
tersusun dari gerak-gerak dasar. Sebagian anasir gerak tersebut sama seperti pada
zat padat (translasi, rotasi, deformasi linier), bedanya pada fluida ada unsur gerak
tambahan, yaitu deformasi geser. Modul ini mengulas penggambaran anasir gerak
dasar tersebut dalam ungkapan matematik tanpa memperhitungkan penyebab
pergerakan (kinematika fluida). Selain itu, karena bentuknya mudah berubah-
ubah, maka untuk mempelajari fluida lebih enak diambil ruang tertentu (control
volume, CV) sebagai basis analisis, bukan massa tertentu (control mass, CM)
seperti saat mempelajari zat padat. Namun, hukum alam dirumuskan menurut
basis CM. Oleh karena itu, persamaan dasar neraca massa, momentum, dan energi
harus diubah bentuknya supaya berlaku dalam pendekatan CV yang berbasis
ruang. Pengubahan tersebut mudah dilakukan dengan menerapkan dalil transport
Reynolds.
Sasaran belajar:
1. Menuliskan persamaan neraca massa dalam pendekatan CM dan CV
dalam bentuk laju perubahannya terhadap waktu
2. Mendefinisikan CV yang memudahkan analisis
3. Melakukan analisis integral pada kasus aliran yang sangat sederhana
A. Ragam Cara PandangAliran
Hukum dasar
Fisika &
Hubungan
konstitutif
Ada 3 hukum dasar fisika yang berlaku dalam aliran fluida, kecuali
untuk fenomena relativistik & nuklir, yaitu:
 Hukum kekekalan massa
 Hukum kedua Newton tentang gerak
 Hukum pertama termodinamika
yang rumusan matematikanya berturut-turut adalah:
 Persamaan kontinuitas
 Persamaan momentum
 Persamaan energi
Hukum fisika berlaku umum untuk segala bahan. Oleh karena itu,
penerapan hukum fisika pada suatu fenomena yang melibatkan bahan
tertentu memerlukan pengetahuan sifat bahan itu.
Sifat bahan biasanya dinyatakan dalam hubungan sifat-sifat, yang
73
sayangnya sering disebut dengan istilah hukum juga, misal:
 hukum gas ideal (seharusnya hubungan sifat gas ideal),
 hukum viskositas newton (seharusnya hubungan sifat fluida
newtonian).
Hubungan sifat ini biasanya disebut hubungan konstitutif.
Jadi ingat-ingat, hukum berlaku untuk segala bahan, apakah itu
hukum kekekalan massa, hukum kedua Newton tentang gerak, atau
hukum pertama termodinamika. Sementara, hubungan konstitutif
berlaku untuk suatu bahan tertentu saja, misal:
 Hubungan sifat gas ideal,
 Hubungan sifat fluida Newtonian,
 Hubungan sifat fluida non-Newtonian, dll.
Kinematika
Fluida
Pengungkapan hukum-hukum fisika dalam bentuk matematik
memungkinkan pengembangan penggambaran analitik aliran fluida.
Modul ini akan mengulas penggambaran gerak fluida secara
matematik tanpa perlu memperhitungkan gaya-gaya dan momen-
momen penyebabnya.
Ilmu penggambaran gerak seperti ini disebut Kinematika Fluida.
Ragam Cara
Pandang
Aliran
Aliran, atau gerak fluida, bisa digambarkan dengan beragam cara
pandang, yaitu:
1) Cara pandang Integral:
a) cara pandang CM (control mass),
b) cara pandang CV (control volume),
2) Cara pandang Diferensial:
a) cara pandang Lagrangian, dan
b) cara pandang Eulerian.
Cara pandang integral dan diferensial berbeda dalam hal skala
pandang. Skala pandang berkaitan dengan resolusi atau kedetilan atau
kerincian pemandangan. Cara pandang integral melibatkan fluida
dalam skala besar (atau kerincian rendah), sedangkan cara pandang
diferensial melibatkan fluida dalam skala kecil/titik (kerincian
tinggi).
Cara pandang CM sepadan dengan Lagrangian, dan cara pandang CV
sepadan dengan Eulerian. Masing-masing berbeda hanya dalam skala
pandang.
Obyek pandang CM dan Lagrangian adalah massa, sedangkan obyek
pandang CV dan Eulerian adalah ruang.
Sistem (CM) Hukum-hukum dasar fisika bisa diterapkan langsung pada sistem
karena perumusan aslinya memang untuk sistem. Apa yang dimaksud
dengan istilah sistem adalah sejumlah massa beridentitas tetap atau
74
control mass (CM). Massa tidak bisa menembus batas sistem.
Transformasi
CM ke CV
Mengingat fluida mudah berubah bentuk dan bercampur-baur, kajian
lebih enak dilakukan pada suatu volume atau ruang (control volume-
CV) tertentu di mana fluida bisa mengalir keluar-masuk melaluinya.
Jadi berbeda dengan pada sistem (CM), massa pada CV dibiarkan
bisa menembus batas CV.
Perbedaan pendekatan antara CV dan CM menyebabkan hukum-
hukum fisika (yang aslinya dirumuskan untuk CM) tidak bisa
diterapkan begitu saja untuk CV. Ungkapan hukum dasar fisika perlu
ditransformasi dari rumusan untuk sistem (CM) ke rumusan untuk
CV. Ini ditempuh dengan Dalil Transport Reynolds (Reynolds
Transport Theorem - RTT).
Dalil
Transport
Reynolds
Ungkapan Dalil Transport Reynolds untuk melakukan transformasi
besaran B dari untuk sistem (CM) ke untuk CV adalah:
  



CSCV
CM
dAnvbbdV
tdt
dB 

dengan:
B = besaran fisik (bisa massa, momentum, atau energi)
b = B per satuan massa
v = vektor kecepatan
n = vektor satuan normal (tegak lurus) permukaan
V = volume CV
A = luas permukaan
CS = permukaan batas CV
Lihat juga Gambar 61. Jika CV bergerak atau berdeformasi dengan
kecepatan tetap (vCS), maka vektor kecepatan diganti dengan
kecepatan relatif (v - vCS).
Penggambaran
Sistem (CM)
Penggambaran
CV
DTR
Dalil Transport Reynolds (DTR) digunakan untuk
mengubah penggambaran CM (sistem) menjadi
CM untuk analisis integral
  



CS
r
CV
CM
dAnvbbdV
tdt
dB 

Gambar 61. Dalil Transport Reynolds
Deskripsi
Gerak
Gerak fluida bisa digambarkan dengan 2 macam metode, yaitu:
75
 Penggambaran Lagrangian, yang sebutannya diambil dari
nama matematikawan Italia Joseph Louis Lagrange (1736-
1813).
 Penggambaran Eulerian, yang sebutannya diambil dari nama
matematikawan Swiss Leonhard Euler (1707-1783).
Deskripsi
Lagrangian
Dalam pendekatan Lagrangian, posisi & kecepatan partikel
individual atau control mass (CM) dijejaki/ditelusuri. Gerakan
partikel digambarkan berdasarkan hukum-hukum Newton.
Pendekatan ini sulit dipakai untuk analisis aliran karena:
 Secara makroskopik: bentuk badan fluida tidak tetap
karena partikel penyusunnya mudah berpindah.
 Secara mikroskopik: jumlah molekul fluida luar biasa banyak
+ interaksi antarmolekul sulit untuk dimodelkan.
Walaupun demikian, pendekatan ini berguna untuk penerapan
khusus, misalnya dalam analisis aliran semprotan, partikel, dinamika
gelembung, dan gas bertekanan sangat rendah (rarefied gases).
Untuk keperluan tertentu, gabungan metode Eulerian-Lagrangian
menjadi perlu diterapkan, misalnya dalam:
 Pemantauan lingkungan global dengan menggunakan Global
Environmental MEMS Sensors (GEMS). Simulasi pergerakan
sensor skala-mikron ini dilakukan dengan menggunakan
model partikel Lagrangian yang disertakan dalam medan
aliran hasil perhitungan CFD3 Eulerian (Gambar 62).
 Analisis forensik kecelakaan pesawat ulang-alik Columbia.
Pertama, CFD Eulerian digunakan untuk simulasi medan
aliran. Partikel Lagrangian untuk simulasi jejak sampah
serpihan pesawat (Gambar 63).
Deskripsi
Eulerian
Suatu domain aliran atau control volume (CV) didefinisikan di mana
fluida mengalir keluar-masuk. Variabel medan aliran didefinisikan
sebagai fungsi ruang dan waktu.
Medan tekanan, P=P(x,y,z,t)
Medan kecepatan,      ktzyxvjtzyxvitzyxvv zyx .,,,.,,,.,,,  .
Medan percepatan,      ktzyxajtzyxaitzyxaa zyx .,,,.,,,.,,, 
Ungkapan seperti ini pas untuk analisis differensial/rinci.
3 CFD = Computational Fluid Dynamics, yaitu suatu program komputer yang menyelesaikan
persamaan-persamaan aliran fluida, berdasarkan hukum-hukum fisika dan model-model semi-
empirik, untuk memprediksi medan aliran.
76
Gambar 62. Analisis pergerakan sensor mikron untuk pemantauan
lingkungan global dengan gabungan metode Eulerian-Lagrangian
Gambar 63. Analisis forensik kecelakaan pesawat ulang-alik Columbia
dengan gabungan metode Eulerian-Lagrangian
Perbedaan
dasar
Kedua pendekatan sebetulnya berbeda hanya dalam cara menentukan
posisi dalam medan.
 Posisi dalam metode Lagrangian ditentukan secara relatif
berdasarkan Posisi acuan awal (saat t=0). Jadi, posisi dalam
ruang adalah variabel dependen terhadap waktu.
 Posisi dalam metode Eulerian ditentukan berdasarkan Posisi
geometrinya dalam ruang tidak bergantung waktu. Jadi, posisi
77
dalam ruang adalah variabel independen sama seperti waktu.
Lagrangian
vs. Eulerian
Lagrangian:
1) Variabel independen: waktu
2) Variabel dependen:
a) Medan tekanan: p = p(t)
b) Medan kecepatan: v = v(t)
c) dengan posisi acuan: (xo, yo, zo) saat t = to.
Eulerian:
1) Variabel independen: posisi dan waktu
2) Variabel dependen:
a) Medan tekanan: p = p(x,y,z,t)
b) Medan kecepatan: v = v(x,y,z,t)
Titik temu
metode
Lagrangian &
Eulerian
Hukum Newton kedua pada satu partikel fluida adalah:
partikelpartikelpartikel amF 
dengan:
dt
dv
a
partikel
partikel 
Namun, vpartikel di satu titik pada waktu t kapanpun = vfluida
      ttztytxvv partikelpartikelpartikelpartikel ,,,
Turunan waktu diperoleh dengan aturan berantai
dt
t
v
dz
z
v
dy
y
v
dx
x
v
dv partikelpartikelpartikelpartikel












dt
dt
t
v
dt
dz
z
v
dt
dy
y
v
dt
dx
x
v
dt
dv
a
partikelpartikelpartikelpartikel












Kemudian, karena:
z
partikel
y
partikel
x
partikel
v
dt
dz
v
dt
dy
v
dt
dx
 ,,
maka:
z
v
v
y
v
v
x
v
v
t
v
a zyxpartikel












sehingga dalam notasi vektor, ungkapan percepatan ini bisa ditulis:
   vv
t
v
dt
dv
tzyxa 


,,,
78
Suku-suku di sebelah kanan tanda = berarti:
 Suku pertama adalah percepatan lokal, yang nilainya = 0
untuk aliran steady.
 Suku kedua adalah percepatan advektif yg memperhitungkan
efek perpindahan partikel fluida ke lokasi baru dalam aliran di
mana kecepatan berbeda.
Operator turunan total d/dt disebut turunan material dan sering diberi
lambang khusus, D/Dt.
 


 v
tdt
d
Dt
D
Operator ini merupakan sarana transformasi yang mempertemukan
pendekatan Lagrangian dan Eulerian (Gambar 64). Nama lain untuk
turunan material adalah: total, partikel, Lagrangian, Eulerian, dan
substantial. Suku advektif (v) bersifat nonlinier sehingga
persamaan diferensial aliran sulit untuk diselesaikan. Inilah yang
menjadi sumber dari beragam fenomena aliran yang sangat
menantang.
Penggambaran
Lagrangian
Penggambaran
Eulerian
D/Dt
Turunan Material D/Dt digunakan untuk
mengubah penggambaran Lagrangian menjadi
Eulerian untuk analisis differensial
 


 v
tDt
D
Gambar 64. Operator diferensial total mempertemukan
metode Lagrangian dan Eulerian
Rekapitulasi Hasil diskusi tentang berbagai cara pandang terhadap penggambaran
gerak fluida bisa dirangkum dalam satu gambar seperti diperlihatkan
pada Gambar 65. Penggambaran CV untuk analisis integral bisa
diubah menjadi penggambaran diferensial dengan menciutkan CV
menjadi titik.
79
Penggambaran
Lagrangian
Penggambaran
Eulerian
D/Dt
Turunan Material D/Dt mengubah
penggambaran Lagrangian menjadi Eulerian
Analisis Differensial
Penggambaran
Sistem (CM)
Penggambaran
CV
DTR
Analisis Integral
Dalil Transport Reynolds mengubah
penggambaran Sistem (CM) menjadi CV
Untuk CV diferensial (titik)
Gambar 65. Rangkuman berbagai cara pandang pergerakan fluida
B. Kinematika Fluida
Deskripsi
kinematik
Elemen fluida bisa mengalami 4 macam gerak:
1) Translasi
2) Rotasi
3) Peregangan linier
4) Peregangan geser
Lihat pula Gambar 66. Karena fluida terus bergerak, gerakan &
deformasi paling baik digambarkan dalam laju:
1) Kecepatan: laju translasi
2) Kecepatan angular: laju rotasi
3) Laju regang linier
4) Laju regang geser
Laju
Translasi
Vektor laju translasi digambarkan sebagai vektor kecepatan.
Dalam koordinat Cartesian:
kvjvivv zyx ... 
Dengan i, j dan k adalah komponen vektor satuan arah x, y dan z
berturut-turut.
80
Translasi
Peregangan
Geser
Peregangan
Linier
Rotasi
Gambar 66. Ragam gerak yang bisa dialami oleh elemen fluida


Saat t Saat t+t
xyxxy vv 

 yxyyx vv  
/2
x+xx
y+y
y
x+xx
Gambar 67. Deskripsi gerak rotasi elemen fluida
Laju rotasi Laju rotasi di satu titik didefinisikan sebagai laju rotasi rerata dari
dua garis yang semula saling tegak lurus dan berpotongan di titik itu
(Gambar 67). Mengacu pada gambar tersebut, komponen arah z
vektor laju rotasi pada bidang xy dalam koordinat Cartesian bisa
dirumuskan sebagai berikut:
81
 
   







































y
v
x
v
t
y
tvv
t
x
tvv
dt
d
xy
yxyyx
xyxxy
t
z
2
1
0
2
1
2
1
arctanarctan
lim


Komponen arah x dan y vektor laju rotasi pada bidang yz dan zx
dalam koordinat Cartesian bisa ditentukan dengan cara serupa,
sehingga hasil selengkapnya adalah:





































y
v
x
v
x
v
z
v
z
v
y
v
kji
xy
z
zx
y
yz
x
zyx
2
1
2
1
2
1
...




atau, dalam notasi vektor:
 



















zyx
zyx
vvv
kji
v
vcurl
2
1
2
1
2
1

Vortisitas Curl (v) disebut sebagai vortisitas , suatu ukuran rotasi partikel
fluida & besarnya = 2 kali kecepatan angular  partikel fluida.
Ungkapan vortisitas dalam sistem koordinat cartesian adalah:
 



















zyx
zyx
vvv
kji
v
vcurl
dan dalam sistem koordinat silindrik adalah:
82
 



















zr
zrr
zr
vvv
eee
v
vcurl




Di daerah dengan vortisitas  = 0, aliran disebut irrotasional di
tempat lain, alirannya rotasional.
Fenomena aliran rotasional dan irrotasional mudah diamati efeknya
pada dedaunan atau sampah lain yang terbawa aliran sungai. Di dekat
pinggir sungai, dedaunan hanyut sambil berputar, sedangkan di
daerah tengah tidak berputar. Ini menunjukkan bahwa aliran di
daerah pinggir sungai bersifat rotasional, sedangkan di tengah aliran
irrotasional (vortisitas nol). Lihat Gambar 68.
Gambar 68. Aliran rotasional di dekat dinding,
dan irrotasional di jauh dinding
Elemen fluida
Saat t
Elemen fluida
Saat t+t
y
yy 
  tvv
yyyyy 

y
  tvv xxxxx 
x
xx x
Gambar 69. Deskripsi peregangan linier elemen fluida
Laju regang
linier
Laju Regang Linier didefinisikan sebagai laju pertambahan panjang
per satuan panjang. Lihat Gambar 69. Pada bidang xy dalam
83
koordinat Cartesian, laju regang arah x dan y bisa ditentukan sebagai
berikut:
 
 
y
v
t
y
tvv
dt
d
x
v
t
x
tvv
dt
d
y
yyyyy
t
y
yy
x
xxxxx
t
x
xx


















0
0
lim
lim




Dengan cara serupa bisa diperoleh laju regang arah z:
 
z
v
t
z
tvv
dt
d z
zzzzz
t
z
zz








 0
lim


Jadi, dalam koordinat Cartesian:
z
v
y
v
x
v z
zz
y
yy
x
xx








 
Selanjutnya, laju regang volumetrik dalam koordinat Cartesian bisa
ditentukan sebagai berikut:
   
   
 
zyxV
x
tvv
z
y
tvv
y
x
tvv
xV
t
V
V
t
VV
Vdt
VdV
t
zzzzz
yyyyy
xxxxx
tt
t
tt
t
ttt
t
t






















































1
lim
1
lim
00
Hasilnya, laju regang volumetrik menjadi:
 
    volumeanpengembanglaju










vdiv
dt
VdV
v
z
v
y
v
x
v
dt
VdV zyx
zzyyxx 
Dalam aliran inkompresibel, volume elemen fluida adalah tetap,
sehingga laju regang volumetriknya adalah nol.
Laju geser
1-arah
Laju regang geser  di satu titik didefinisikan sebagai laju
pengurangan sudut antara dua garis yang semula saling tegak lurus &
berpotongan di titik itu (Gambar 70). Dalam koordinat Cartesian,
84
pada bidang xy:
   
 
 
dy
dv
y
vv
t
y
tvv
t
ttt
dt
d
x
xy
yxyyx
y
yxyyx
t
t
xy






























0
0
0
lim
2
arctan
2
lim
lim
Elemen fluida
Saat t
Elemen fluida
Saat t+t
y
y+y
  tvv yxyyx 
y
(t) (t+t)
Gambar 70. Deskripsi gerak geser 1-arah pada elemen fluida
Laju geser
2-arah
Laju regang geser  di satu titik ≡ laju rerata pengurangan sudut antara
dua garis yang semula saling tegak lurus & berpotongan di titik itu
(Gambar 71).
Dalam koordinat Cartesian, pada bidang xy, laju regang geser bisa
ditentukan sebagai berikut:
   
   
   













































y
v
x
v
y
vv
x
vv
t
y
tvv
x
tvv
t
ttt
dt
d
xy
xy
yxyyx
y
xyxxy
x
yxyyxxyxxy
t
t
xy
2
1
00
2
1
0
2
1
0
2
1
limlim
2
arctanarctan
2
lim
lim




Analisis laju regang geser bisa diperluas tidak hanya sebatas pada
bidang xy tetapi juga pada bidang yz & zx. Apabila hal tersebut
85
dilakukan, maka hasil akhir keseluruhannya akan menjadi sebagai
berikut:




































x
v
z
v
z
v
y
v
y
v
x
v
zx
zx
yz
yz
xy
xy
2
1
2
1
2
1



Elemen fluida
Saat t
Elemen fluida
Saat t+t
y
y+y
  tvv yxyyx 
y
(t) (t+t)
  tvv
xyxxy 

x
Gambar 71. Deskripsi gerak geser 2-arah pada elemen fluida
Laju regang
dan tegangan
geser
Ungkapan laju regang geser diperlukan untuk mengevaluasi tegangan
geser fluida. Dalam koordinat Cartesian, Hubungan Tegangan & Laju
regang geser adalah sbb:




































x
v
z
v
z
v
y
v
y
v
x
v
zx
zxxzzx
yz
yzzyyz
xy
xyyxxy



2.
2.
2.
Tensor laju
regang (linier
+ geser)
Laju regang linier dan geser bisa digabung jadi satu tensor orde-2
simetrik yang disebut tensor laju-regang. Tensor ini penting untuk
membuat hubungan tegangan & laju regang fluida
86








































































































z
v
y
v
z
v
x
v
z
v
z
v
y
v
y
v
x
v
y
v
z
v
x
v
y
v
x
v
x
v
zzyzx
yzyyx
xzxyx
zzzyzx
yzyyyx
xzxyxx
ij
2
2
2
2
1




Untuk fluida Newtonian, hubungan tegangan permukaan & tensor
laju regang adalah:
 












































































































pv
pv
pv
z
v
y
v
z
v
x
v
z
v
z
v
y
v
y
v
x
v
y
v
z
v
x
v
y
v
x
v
x
v
pv
zzyzx
yzyyx
xzxyx
ijijij





3
2
3
2
3
2
3
2
00
00
00
2
2
2
2.
C. VisualisasiAliran
Ragam
metode
visualisasi
Sementara kajian kuantitatif dinamika fluida menuntut matematika
lanjut, banyak yang bisa dipelajari dari visualisasi aliran. Visualisasi
aliran penting baik dalam eksperimen fisik (Gambar 72) maupun
dalam solusi numerik (CFD).
Ada banyak ragam metode visualisasi, yaitu:
1) Streamlines & streamtubes
2) Pathlines
3) Streaklines
4) Timelines
5) Teknik pembiasan
6) Teknik aliran permukaan
87
Gambar 72. Visualisasi aliran melalui sebuah bola
Streamline
(garisarus)
Streamline adalah kurva yang di mana-mana menyinggung vektor
kecepatan lokal sesaat. Garis busur
kdzjdyidxdr ... 
pada streamline akan parallel dengan vektor kecepatan lokal
kvjvivv zyx ... 
Lihat Gambar 73.
Penalaran geometrik akan membawa keduanya pada satu persamaan
untuk streamline berikut:
zyx v
dz
v
dy
v
dx
v
dr

Lihat contoh-contoh visualisasi aliran menggunakan streamline pada
Gambar 74 dan Gambar 75.
Gambar 73. Kecepatan dan garis busur streamline
88
Gambar 74. Kontur tekanan dan streamline pada NASCAR
Gambar 75. Kontur tekanan, streamline, dan streamline permukaan pada
pesawat terbang
Streamtube
(Tabungarus)
Streamtube terdiri dari seikat streamlines (keduanya sama-sama
besaran sesaat). Fluida dalam streamtube selalu ada di situ & tidak
menembus batas tabungarus. Dalam aliran tak steady, pola streamline
bisa berubah-ubah terhadap waktu, tetapi laju aliran massa melalui
irisan tabungarus tetap sama.
Pathline
(garisjejak)
Pathline adalah jejak aktual yang dilewati oleh partikel fluida
individual sepanjang beberapa periode waktu. Lihat Gambar 76.
Seperti halnya vektor posisi material dari partikel fluida:
      tztytx partikelpartikelpartikel ,,
89
lokasi partikel pada waktu t adalah:
    
t
t
awal
awal
vdttxtx
Teknik eksperimen modern particle image velocimetry (PIV)
menggunakan garisjejak partikel (penjejak) untuk mengukur medan
kecepatan pada sebidang penuh dalam aliran ().
Gambar 76. Deskripsi pathline
Gambar 77. Pathline hasil teknik eksperimen particle image velocimetry
(PIV)
Streakline
(garisuntai)
Streakline adalah untaian lokasi partikel fluida yang telah melalui
suatu titik dalam aliran secara berurutan. Streakline mudah dibuat
dalam eksperimen dengan menggunakan zat warna (dye) dalam
aliran air, atau asap dalam aliran udara. Lihat sampai .
90
Gambar 78. Deskripsi streakline
Gambar 79. Streakline hasil simulasi pesawat VTOL (Vertical Take-off and
Landing)
91
Gambar 80. Streakline berupa vortex ujung sayap
Gambar 81. Streakline berupa vortex Karman di hilir pulau Guadalupe
berketinggian 1,3 km (lokasi di lepas pantai Baja California AS)
Perbandingan
streamline,
pathline &
streakline
Untuk aliran steady, streamlines, pathlines, dan streaklines identik.
Untuk aliran tak steady, ketiganya bisa sangat beda.
1) Streamlines adalah gambaran medan aliran sesaat.
2) Pathlines & Streaklines adalah pola aliran yang membawa
92
riwayat waktu.
a) Streakline: jejak aliran satu-waktu dari untaian-partikel.
b) Pathline: jejak aliran untaian-waktu dari satu-partikel.
Lihat Gambar 82 yang memperlihatkan ketiga macam visualisasi
untuk medan aliran yang digambarkan oleh fungsi kecepatan berikut:
 
 
   jyt
ix
jvivtyxv yx
.8,0sin5,25,1
.8,05,0
..,,




Timeline
(gariswaktu)
Gariswaktu adalah sehimpunan partikel fluida berdekatan yang
awalnya dilepas pada waktu bersamaan. Gariswaktu bisa
dibangkitkan dengan menggunakan kawat gelembung hidrogen.
Gambar 82. Perbandingan streamline, pathline dan streakline
93
Gambar 83. Timelines yang dihasilkan oleh kawat gelembung hidrogen
digunakan untuk memvisualisasikan bentuk profil kecepatan lapisan batas
(boundary layer).
D. PenyajianData Aliran
Peta Aliran Data aliran adalah sajian data sifat aliran yang beragam menurut
ruang dan/atau waktu. Data ini bisa dipetakan dengan beberapa cara,
yaitu:
 Peta Profil yang menunjukkan bagaimana nilai sifat skalar
bervariasi sepanjang arah yang diinginkan dalam medan
aliran.
 Peta Vektor berupa selarik panah yang menandai besar dan
arah sesaat dari sifat vektor.
 Peta Kontur yang memperlihatkan kurva-kurva sifat skalar
bernilai tetap dari besarnya sifat vektor sesaat.
Lihat Gambar 84 sampai Gambar 86.
Gambar 84. Peta Profil kecepatan horizontal sebagai fungsi jarak vertikal
dalam aliran lapisan batas sepanjang plat datar
94
Gambar 85. Peta vektor kecepatan
Gambar 86. Peta kontur tekanan
95
MODUL V.
ANALISIS INTEGRAL ALIRAN
Deskripsi
Analisis aliran dapat, menurut cara pandangnya, bisa dilakukan pada cakupan atau
resolusi yang kasar atau halus. Jika diibaratkan layar penampil, cakupannya bisa
keseluruhan layar atau piksel demi piksel (dalam keseluruhan layar juga). Jika
sasarannya mendapatkan nasib keseluruhan massa, momentum, dan/atau energi
pada suatu CV (control volume), maka dilakukan analisis integral pada modul ini.
Jika sasarannya mendapatkan distribusi sifat massa, momentum dan energi di
dalam suatu CV, maka dilakukan analisis diferensial. Kedua pendekatan berbeda
hanya dalam resolusi penyelesaian. Analisis integral melihat persoalan dari
kacamata keseluruhan, sedangkan analisis diferensial melihat persoalan dari
kacamata kerincian. Walaupun resolusinya tidak rinci, analisis integral sangat
praktis digunakan dalam kegiatan keteknikan harian karena hanya membutuhkan
peralatan hitung sederhana dan dapat dikerjakan dalam orde waktu ½ jam saja.
Sasaran belajar:
4. Menuliskan persamaan neraca massa dalam pendekatan CM dan CV
dalam bentuk laju perubahannya terhadap waktu
5. Mendefinisikan CV yang memudahkan analisis
6. Melakukan analisis integral pada kasus aliran yang sangat sederhana
A. Pendekatan Analisis
Tiga
Pendekatan
Analisis
Kebanyakan masalah teknik bisa dianalisis menggunakan satu dari
tiga pendekatan dasar: eksperimental, CV diferensial, dan CV
integral. Kedudukan relatif ketiga pendekatan analisis itu adalah sbb:
 Pendekatan CV Diferensial: masalah dirumuskan secara
akurat sebagai besaran2 diferensial, dan solusi biasanya
diperoleh dengan mengandalkan metode numerik.
 Pendekatan Eksperimental: bersama2 dengan analisis
dimensional memberikan hasil sangat akurat, walaupun
makan waktu dan mahal.
 Pendekatan CV Integral: masalah dirumuskan cukup akurat
sebagai besaran2 integral, sangat cepat dan sederhana dan
biasanya memberikan jawaban yang cukup akurat untuk
kebanyakan tujuan teknik.
Modul ini membahas pendekatan CV Integral, atau sebut saja CV.
Pemilihan CV Suatu CV (control volume) bisa dipilih sebagai daerah dalam ruang
yang dilalui aliran fluida. Suatu CV dan CS (control surface)
pembatasnya bisa diam, bergerak, dan bahkan berubah bentuk
(berdeformasi) selama aliran berlangsung.
96
CV diam pas untuk analisis aliran yang melalui saluran diam semisal
penyembur air pemadam api (Gambar 87).
CV bergerak pas untuk analisis aliran yang melalui benda bergerak
semisal pesawat terbang (Gambar 88). Jika CV diambil diam, maka
aliran di dalamnya akan menjadi unsteady selama dan beberapa
waktu sesudah pesawat melewatinya. Dengan mengambil CV
bergerak, aliran yang semula unsteady menjadi steady karena pola
aliran setiap waktu menjadi sama.
CV berdeformasi adalah suatu keharusan dalam analisis aliran fluida
seperti yang berlangsung di dalam ruang bakar mesin piston-silinder.
Gerak terus-menerus piston menyebabkan volume di dalamnya
berubah-ubah secara periodik. Gambar 89 hanya memperlihatkan
keadaan CV sesaat, yang setiap saat berubah-ubah posisi secara
periodik.
CV diam, vCS=vCV=0
Gambar 87. Contoh CV diam
CV bergerak, vCS=vCV
Gambar 88. Contoh CV bergerak
97
CV berdeformasi
Gambar 89. Contoh CV berdeformasi
B. Neraca IntegralMassa
Neraca
Integral
Massa
Prinsip kekekalan massa adalah satu dari yang paling dasar di alam.
Massa, seperti energi, adalah sifat yang kekal, dan tak dapat
diciptakan/dimusnahkan selama suatu proses. Namun, massa m dan
energi E bisa saling diubah menurut rumus yang diusulkan Albert
Einstein (1879–1955).
2
mcE 
Untuk sistem tertutup (CM), tersirat kekekalan massa karena massa
sistem tetap selama suatu proses.
Untuk sistem terbuka (CV), massa bisa melewati batas sistem
sehingga jumlah massa yang masuk atau keluar CV harus ditelusuri.
Neraca Massa dalam CM:
CmCM 
atau
0
CMdt
dm
Menurut Dalil Transport Reynolds suku kiri:
  



CSCVCM
dAnvdV
tdt
dm

sehingga, Neraca Massa dalam CV menjadi:
  0


 CSCV
dAnvdV
t

98
Suku pertama mewakili perubahan lokal massa dalam CV. Pada
keadaan steady nilai suku ini sama dengan nol sehingga ungkapan
menjadi:
 
  0
0
0







CS
CSCV
dAnv
dAnvdV
t


 
Suku kedua mewakili laju aliran massa netto keluar-masuk CV. Pada
keadaan steady, laju aliran massa masuk dan keluar seimbang. Jika
selain steady aliran juga inkompresibel maka ungkapan menjadi:
  0CS
dAnv
Penentuan
permukaan
CV
Operasi dot antara vektor kecepatan dan vektor normal paling mudah
dievaluasi jika keduanya sejajar, baik searah (sudut 0o) atau
berlawanan arah (sudut antara keduanya 180o).
Karena vektor normal tegak lurus dengan permukaan CV, maka
permukaan CV (Control Surface) yang dilewati aliran fluida keluar-
masuk CV paling enak dipilih tegak lurus arah aliran sehingga vektor
kecepatan paralel dengan vektor satuan normal. Lihat Gambar 90.
Dengan demikian, maka:
   vnvnv 


1
0cos. pd bagian keluar.
   vnvnv 

 
1
180cos. pd bagian masuk.
Gambar 90. Pemilihan batas CV memudahkan evaluasi aliran
99
Contoh
Analisis
Gambar 91 melukiskan bejana yang mempertemukan dua aliran
fluida menjadi satu. Untuk keperluan analisis, CV telah didefinisikan
dengan batas-batas diam yang diperlihatkan sebagai garis putus-
putus.
Perhatikan, untuk memudahkan analisis, permukaan CV di bagian
keluar-masuknya fluida (posisi 1, 2 dan 3) telah dipilih tegak lurus
dengan arah aliran. Pada keadaan steady neraca massa menjadi:
 
     
213
321
333222111
321
0
0
0
0
mmm
mmm
AvAvAv
dAnvdAnvdAnv
dAnv
CSCSCS
CS












Jika aliran juga inkompresibel, maka densitas tidak berubah atau
tidak berbeda di posisi 1, 2 maupun 3, sehingga persamaan menjadi:
213
321
332211
0
0
QQQ
QQQ
AvAvAv



dengan Q adalah debit aliran.
Gambar 91. Aliran melalui CV diam
Contoh
Analisis
Gambar 92 memperlihatkan sebuah tangki silindrik terbuka (kontak
dengan atmosfir) berdiameter 60cm dengan lubang keluaran
berdiameter 2,5cm.
Berapa waktu yang diperlukan untuk menguras air dari tangki dengan
gravitasi (g) jika tinggi air awalnya adalah 1m (Ho)?
100
Anggaplah kecepatan air keluar tangki bervariasi dengan ketinggian
(h) menurut hubungan Torricelli sebagai akar kuadrat dari 2gh.
H0
A
Gambar 92. Tangki terbuka berisi air
Pertama-tama CV didefinisikan terlebih dahulu. Untuk kasus ini
paling enak CV didefinisikan berdeformasi mengikuti penurunan
level air. Dengan demikian, tidak ada laju aliran massa masuk ke
dalam CV, dan hanya ada laju aliran massa keluar dari CV.
Kedua, permukaan CV dipilih tegak lurus arah aliran sehingga
evaluasi aliran keluar CV menjadi mudah.
Ketiga, menyusun neraca massa dalam CV dengan menggunakan
persamaan neraca massa:
  0


 CSCV
dAnvdV
t

Di sini, besarnya perubahan diferensial volume air dalam CV adalah
dV=A.dh dan air keluar dengan kecepatan vout. Persamaan menjadi:
  00cos 


 outout
CV
AvAdh
t

Densitas air, karena tetap, bisa dikeluarkan dari integral sehingga:
02  outAgh
dt
dh
A 
Integrasi persamaan dengan batas bawah t=0 dan h=Ho=1m dan batas
atas t=t dan h=0 memberikan:
101
   
   
s
m
cmcm
H
g
dD
t
dhh
gA
A
dt
s
m
Hhout
t
t
4,90
10
8,92
360
02
2
2
2
0
0
2
1
2
2
0
0





  


Jadi waktu yang dibutuhkan untuk pengurasan adalah 90,4 detik.
C. Neraca IntegralMomentum Linier
Neraca
Momentum
Linier
Hukum dasar fisika kedua yang penting untuk analisis aliran (gerak
fluida) adalah hukum Newton kedua tentang gerak. Hukum ini bisa
dinyatakan sbb:
Laju perubahan momentum suatu sistem sama dengan gaya netto
yang bekerja pada sistem dan terjadi searah dengan gaya netto.
Pernyataan mengandung dua bagian penting, yaitu: pertama, hukum
ini mengacu pada suatu sistem tertentu, dan kedua, hukum ini
mencakup besar dan arah (besaran vektor). Oleh karena itu, untuk
menggunakan hukum ini pada CV, yang mengandung partikel fluida
beda (berarti sistem beda) sewaktu ditinjau pada waktu beda,
ungkapan perlu diubah bentuknya. Transformasi ungkapan hukum
dari untuk CM (sistem) ke untuk CV ini dilakukan dengan
menggunakan Dalil Transport Reynolds.
Neraca Momentum dalam CM adalah:
 
 luar
CM
F
dt
mvd
Menurut Dalil Transport Reynolds, suku kiri:
    



CSCVCM
dAnvvvdV
tdt
mvd

sehingga, Neraca Momentum dalam CV menjadi:
   


luar
CSCV
FdAnvvvdV
t

Suku pertama mewakili laju perubahan lokal momentum di dalam
CV. Pada keadaan steady, nilai suku ini sama dengan nol sehingga
neraca menjadi:
102
 
  






luar
CS
luar
CSCV
FdAnvv
FdAnvvvdV
t


 
0
Suku kedua mewakili laju netto aliran momentum keluar-masuk
batas-batas CV. Jika aliran selain steady juga inkompresibel, maka
neraca menjadi:
    luar
CS
FdAnvv
Komponen
Cartesian
Dalam sistem koordinat Cartesian, neraca momentum bisa diurai
menurut ketiga komponen arah x, y dan z berturut-turut sbb:
   


x
CS
x
CV
x FdAnvvdVv
t

   


y
CS
y
CV
y FdAnvvdVv
t

   


z
CS
z
CV
z FdAnvvdVv
t

Contoh
Analisis
Gambar 93 memperlihatkan aliran fluida melalui streamtube. Jika
aliran steady, maka streamtube bisa dibayangkan sebagai sebuah
saluran tertutup seperti pipa, di mana tidak ada aliran yang
menembus keluar-masuk streamtube.
Untuk memudahkan analisis, permukaan CV di bagian masuk &
keluar dipilih tegak lurus arah aliran.
Pada kasus ini,
   



luar
CS
steady
CV
FdAnvvvdV
t

 
,0
Gaya luar yang bekerja pada fluida adalah gaya permukaan (akibat
tekanan) dan gaya berat (akibat gravitasi), sehingga neraca menjadi:
     
  outoutout
ininin
Av
outCS
Av
inCS
Agzp
AgzpdAnvvdAnvv
outoutinin




 

    
22
atau:
    ininininoutoutoutout AvgzpAvgzp 22
 
Pada kasus ini, supaya evaluasi integral bisa mudah dilakukan, profil
vin & vout telah dianggap seragam di CS in & out. Namun,
sesungguhnya profil vin & vout pada penampang CS in & out tidaklah
103
seragam, tetapi beragam (bervariasi).
vin
vout
n
n
z=0
zin
zout
  inin
inCS
AvdAnvv 2
 
  outout
outCS
AvdAnvv 2
 
0


CS
vdV
t

Gambar 93. Aliran fluida steady dan inkompresibel dalam streamtube
Apabila profil kecepatannya tidak seragam, maka efek distribusi
kecepatan perlu diperhitungkan dengan memperkenalkan sebuah
faktor koreksi fluks momentum, 
   


dAv
Av
AvgzpAvgzp ininininoutoutoutout
2
2
22
1


Untuk aliran laminer dalam pipa berjari-jari R (profil v paraboloid):
 
vv
R
r
vrv
maks
maks
2
1 2
2








sehingga:
 
 
3
4
0
1
3
3
1
0
1
2
0
2
2
2
2
22
44
212
1



















ydyy
rdr
R
r
v
Rv
y
y
Rr
r
Untuk aliran laminer nilai  jauh dari 1. Untuk aliran turbulen nilai 
104
biasanya mendekati 1 karena profil kecepatannya mendekati
seragam.
Gambar 94. Dorongan gas hasil pembakaran pada roket
Contoh
Analisis
Gambar 94 memperlihatkan roket yang bergerak akibat efek jet
fluida, yaitu semburan gas hasil pembakaran.
Analisis pada jet fluida diperlukan untuk menentukan percepatan
yang dihasilkan saat awal roket dihidupkan. CV didefinisikan sebagai
bahan bakar sampai batas ujung nozel.
Untuk keperluan analisis, diambil tinjauan sesaat, yaitu waktu roket
mulai dihidupkan. Dengan demikian, CV bisa dipandang sesaat diam.
Tidak ada aliran fluida masuk ke CV dan hanya ada yang keluar dari
CV berupa gas hasil pembakaran.
Neraca massa:
 
 
  outout
CV
out
CSCV
mAv
t
m
Av
t
m
dAnvdV
t













0
0
Jadi, laju aliran massa keluar dari CV sama dengan laju pengurangan
massa CV (berarti massa bahan bakar).
105
Neraca momentum:
 
permukaanbadan
luar
CSCV
FF
FdAnvvvdV
t




 
Gaya luar yang bekerja pada CV adalah:
 Gaya badan (berat bahan bakar + gas hasil pembakaran),
sebut saja Fb, dan
 Gaya permukaan (akibat tekanan & geseran oleh dinding
roket yang kontak dengan bahan bakar kepada CV), sebut saja
Fp.
Sebagai pendekatan, anggaplah gaya permukaan bisa diabaikan
terhadap gaya badan sehingga neraca momentum menjadi:
   
 
  outoutbp
pboutout
outCS
Avmv
t
FF
FFAvmv
t
dAnvvmv
t
2
2
0














Ungkapan ini bisa disederhanakan dengan 2 pertimbangan berikut.
Besarnya Fb (berat bahan bakar) biasanya lebih kecil daripada gaya
semburan jet dan di sini dianggap bisa diabaikan. Laju lokal
perubahan momentum dalam CV pada saat yang ditinjau (CV
diam/belum bergerak) bisa diabaikan. Dengan demikian maka gaya
yang bekerja pada CV adalah:
outoutp AvF 2

Akibat gaya aksi (ke bawah) ini, CV memberikan gaya reaksi yang
sama besar tetapi berlawanan arah (ke atas) kepada roket. Gaya
reaksi inilah yang mendorong dan melontarkan roket ke atas.
outoutoutoutpdorong
aksireaksi
vmAvFF
FF


2

Perhatikan, dari neraca massa didapat bahwa laju aliran keluar sama
dengan laju pengurangan bahan bakar. Jadi, gaya dorong roket sama
dengan hasil kali dari:
 laju pembakaran massa bahan bakar, dan
 kecepatan gas hasil pembakaran keluar dari nozel.
106
Gambar 95. Sudu turbin air Pelton
Contoh
Analisis
Salah satu perangkat teknik untuk mengubah energi aliran air
menjadi energi putar poros adalah turbin Pelton. Turbin ini berputar
akibat semburan air yang diarahkan pada bagian lekuk sudu-sudunya
(Gambar 95) yang dipasang radial di sekitar porosnya. Struktur
lengkapnya diperlihatkan pada Gambar 96.
Semburan air dari nozel menumbuk sudu-sudu turbin. Turbin
berputar dengan kecepatan . Dari analisis akan dicari ungkapan
torsi & daya yang dihasilkan turbin. Aliran yang terjadi pada turbin
diperlihatkan pada Gambar 97.
Anggapan analisis: (1) aliran tetap/steady, (2) gerak putar sudu turbin
bisa didekati dengan gerak linier, shg di sini dipakai neraca
momentum linier, dan (3) aliran terbagi dua simetris oleh sudu.
107
Gambar 96. Struktur lengkap turbin Pelton
V0  r
A0
sebelum meninggalkan bilah:
 V1x =  (V0  r).cos()
 V1y = + (V0  r).sin()
sebelum meninggalkan bilah:
 V2x =  (V0  r).cos()
 V2y =  (V0  r).sin()
Sudu bergerak


V0
A0
setelah meninggalkan bilah:
 V1x =  (V0  r).cos() + r
 V1y = + (V0  r).sin()
setelah meninggalkan bilah:
 V2x =  (V0  r).cos() + r
 V2y =  (V0  r).sin()
Jet
r
Gambar 97. Skema aliran fluida pada turbin Pelton
Neraca
Massa &
Momentum
Neraca Massa:
  0


 dAnvdV
t

Suku perubahan massa CV = nol karena aliran tetap (steady):
108
0


 d
t

Suku aliran massa melintas CV:
       
 210
221100
210
QQQ
AvAvAv
dAnvdAnvdAnvdAnv


 



Dari neraca massa diperoleh: Q0 = Q1 + Q2 dengan Q0 = V0A0.
Neraca Momentum arah-x:
   



xx
steady
x FdAnvvdVv
t

  
,0
Suku laju perubahan momentum lokal dalam CV = nol, karena aliran
tetap (steady). Suku laju aliran momentum melintas CV adalah:
       
       
     
     
    
    





cos1
cos.
cos.
cos.
cos.
00
000
21000
220
11000
210





 
rvQ
rrvvQ
QQrrvQv
Avrrv
AvrrvAvv
dAnvvdAnvvdAnvvdAnvv xxxx
Dari sini diperoleh:
     cos100  rvQFx
Neraca Momentum arah-y:
   



yy
steady
y FdAnvvdVv
t

  
,0
Suku laju perubahan momentum lokal dalam CV = nol, karena aliran
tetap (steady). Suku laju aliran momentum melintas CV adalah:
       
       
     
     
0
sin.
sin.
sin.0
210
220
1100
210




 
QQrrv
Avrrv
AvrrvAv
dAnvvdAnvvdAnvvdAnVV yyyy




Dari sini diperoleh:
0yF
Dengan vektor posisi sudu & gaya:
109
     00 krjir 
   00 kjFiFkFjFiF xzyx 
Momen fluida menjadi:
     cos100  rvQrFrFrM xz
sehingga pada turbin:
  

turbinTorsiturbinDaya
MfluidaMomenturbinTorsi z
D. Neraca IntegralMomentum Angular
Ulasan Gerak
Angular
Benda Kaku
Benda kaku (rigid body) bisa mengalami 2 macam gerak, yaitu:
 Translasi pusat massa.
 Rotasi pada pusat massa.
Gerak translasi bisa digambarkan dengan besaran linier semisal:
 Jarak linier l,
 Kecepatan linier v, dan
 Percepatan linier a.
dan bisa dianalisis menggunakan persamaan momentum linier.
Gerak rotasi bisa digambarkan dengan besaran angular semisal:
 Jarak angular ,
 Kecepatan angular , dan
 Percepatan angular .
dan bisa dianalisis menggunakan persamaan momentum angular.
Hubungan besaran-besaran dalam gerak putar dan lurus bisa
dicermati pada Gambar 98.
110





r
dt
d
r
dt
dv
a
r
dt
d
r
dt
dl
v
rddl



rrv  
r
d
dlr
v
va
2






Gambar 98. Hubungan besaran gerak linier dan angular benda kaku
Kekuatan efek rotasi, disebut momen atau torsi. Besarnya momen ini
sebanding dengan nilai gaya yang menyebabkan putaran dan
jaraknya dari sumbu putar. Jarak tegak lurus dari sumbu rotasi ke
garis aksi gaya disebut lengan momen.
Torsi dM yang bekerja pada titik massa dm sejarak tegak lurus r dari
sumbu putar diungkapkan sebagai:
dmrdFrdM 2

Torsi total M yang bekerja pada seluruh massa m menjadi:
   IdmrdMM 2
Besaran I adalah momen inersia benda di sekitar sumbu rotasinya.
Momen inersia adalah ukuran inersia benda terhadap rotasi.
Catatan: tidak seperti massa, inersia rotasional benda bergantung
selain pada nilai juga pada distribusi massa benda terhadap sumbu
rotasinya.
Momentum angular, atau momen momentum, dH dari titik massa dm
yang berputar dengan kecepatan  terhadap sumbu putarnya sejarak r
adalah:
  dmrvdmrdH 2
. 
Vektor momentum angular total H dari benda kaku berputar adalah:
  dmrdHH 2
Vektor kecepatan angular bisa dikeluarkan dari integral karena sama
besar untuk semua titik massa benda kaku, sehingga:
111
   IdmrH  
2
Dalam gerak linier, laju perubahan momentum linier d(mv)/dt adalah
sama dengan gaya F. Analog dengan ini, maka laju perubahan
momentum angular d(I)/dt atau dH/dt adalah sama dengan momen
M, atau:
M
dt
dH

atau:
  Fr
dt
mvrd


Kesejajaran besaran linier dan angular diperlihatkan pada Gambar 99.
Gambar 99. Kesejajaran besaran linier dan angular
Neraca
Momentum
Angular
Neraca Momen Momentum dalam CM adalah:
 





luar
CM
CM
Fr
dt
mvrd
M
dt
dH
Menurut Dalil Transport Reynolds:
       




CSCVCM
dAnvvrdVvr
tdt
mvrd

sehingga, Neraca Momen Momentum dalam CV adalah:
112
      


luar
CSCV
FrdAnvvrdVvr
t

Untuk aliran steady, suku perubahan momen momentum lokal dalam
CV sama dengan nol, sehingga persamaannya menjadi:
    
   






luar
CS
luar
CSCV
FrdAnvvr
FrdAnvvrdVvr
t


  
0
Jika selain steady aliran juga inkompresibel, maka densitas bisa
dikeluarkan dari integral dan persamaannya menjadi:
     luar
CS
FrdAnvvr
Gambar 100. Potongan kompresor aliran radial (kiri)
dan turbin aliran radial (kanan)
Contoh
Analisis
Fluida masuk rumah turbin (volute) untuk menggerakkan sudu-sudu
turbin sehingga berputar dg kecepatan . Daya putar turbin
disalurkan ke kompresor melalui sumbu putar kopelnya (Gambar
100).
Secara skematik, struktur turbin diperlihatkan pada Gambar 101
untuk acuan analisis. Dari analisis akan dicari ungkapan torsi & daya
yang dihasilkan turbin.
Anggapan: (1) aliran tetap/steady, (2) laju gerak putar turbin tetap.
113
Gambar 101. Skema turbin aliran radial
Persamaan neraca massanya adalah:
  0


 dAnvdV
t

Suku pertama pada persamaan neraca massa adalah nol karena aliran
steady:
0


 dV
t

dan suku kedua bisa diuraikan sbb:
     
   
    hrvhrv
AvAv
dAnvdAnvdAnv
rr
rr
2211
2211
21
22 




 
Jadi, dari neraca massa diperoleh hasil:
mmm
rvrv rr
 

21
2211 22 
Persamaan neraca momen momentumnya adalah:
       


FrdAnvvrdvr
t

Suku pertama sama dengan nol karena aliran steady. Evaluasi suku
kedua memerlukan informasi vektor posisi, kecepatan dan normal
sbb:
zr
zr
eeerr
eeerr
.0.0.
.0.0.
22
11




114
zrr
zrr
eevevv
eevevv
.0..
.0..
222
111




zr
zr
eeen
eeen
.0.0.1
.0.0.1
2
1




Suku kedua menjadi:
           
    
    
    
    
    mvrvre
mvrmvre
AvvrAvvre
Avvreee
Avvreee
dAnvvrdAnvvrdAnvvr
z
z
rrz
rzr
rzr


2211
222111
22221111
2222
1111
21
.0.0
.0.0














 
Dari sini diperoleh, momen yang bekerja pada fluida adalah:
    mvrvrM z
2211  
Momen reaksi yang bekerja pada turbin, dengan demikian, menjadi:
    mvrvrMT z
2211  
Nilai r1.v1 bisa ditentukan dari laju aliran & sudut sudu pengarah.
Evaluasi nilai r2.v2 memerlukan informasi kondisi aliran pada sudu.
Nilai v2 bisa ditentukan dg analisis segitiga kecepatan (Gambar 102).
Dari gambar tampak bahwa:
  sin.'
222 vrv 
Dari segitiga kecepatan dan neraca massa bisa ditentukan bahwa:
    cos
1
2cos 2
2'
2
hr
mv
v r 

sehingga:
 

 tan
2 2
22
hr
m
rv


Dengan demikian maka torsi turbin menjadi:
  m
hr
m
rrvrT 



















2
2211
2
tan.
dan daya turbin adalah:
TP 
115
Gambar 102. Komponen kecepatan pada sudu turbin
Contoh
Analisis
Turbin Hero bekerja dengan prinsip yang sama dengan penciprat air
taman (Gambar 103). Jika air dialirkan 20 liter per detik melalui
empat nozel berdiameter 1 cm yang terletak 60 cm dari sumbu putar,
tentukan daya poros turbin?
Anggapan: (1) aliran tetap/steady, (2) gerak putar turbin tetap.
Neraca Massa:
  0
,0



 dAnvd
t
steady

 
Suku pertama nol karena aliran steady, sedangkan suku kedua adalah:
     
jetsumbu
jetsumbuz
jetsumbu
QQ
AvAv
dAnvdAnvdAnv






 
4
4
116
Gambar 103. Prinsip kerja turbin Hero
Dari neraca massa diperoleh:
  s
mmenit
cc
jet
jet
jet
menit
cc
menit
liter
sumbujet
cmA
Q
v
QQ
66,63
1
5000
500020
2
4
4
1
4
1



Neraca Momen Momentum:
       



FrdAnvvrdvr
t
steady

  
,0
Suku pertama nol karena aliran steady. Suku kedua memerlukan
informasi vektor-vektor berikut:
zr
zr
eeerr
eeer
.0.0.
.0.0.0
22
1




zr
zzr
eevev
eveev
.0..0
..0.0
22
1




zr
zr
eeen
eeen
.0.1.0
.1.0.0
2
1




Suku kedua (laju netto aliran momen momentum) menjadi:
117
        
 
 
 
  s
Nm
cc
m
s
cc
s
m
m
kg
zjet
z
m
eQrvr
eAvrvr
dAnvvrdAnvvrdAnvvr
6,0.66,6312
50006,0.66,636,01000.4
.4
.4
4
1000000
222
22222
21
3
3











 
Dari neraca momen momentum akhirnya diperoleh torsi yang bekerja
pada CV atau fluida adalah:
  s
Nm
zM 6,0.66,6312 
Jadi torsi T dan daya turbin adalah:
 
 WTDaya
NmMT z


6,066,63.12.
6,066,63.12


Persamaan ini dilukiskan pada Gambar 104.
Gambar 104. Daya output dan torsi turbin Hero sebagai fungsi laju putar
turbin
Lokasi puncak daya bisa ditentukan dengan menolkan turunan daya
terhadap laju putar:
0
3
6
9
12
15
18
21
0 200 400 600 800 1000
Laju putar turbin (rpm)
Dayaoutput(kW)
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Hundreds
Torsiturbin(Nm)
Daya Torsi
118
  
  06,0266,6312
06,066,6312
0







d
d
Daya
d
d
atau:
rpm
menit
s
rad
rotasi
s
rad
507
60
26,02
66,63





E. Neraca IntegralEnergi
Neraca
Energi
Neraca Energi dalam CM adalah:
WQ
dt
dE
CM

Menurut Dalil Transport Reynolds:
  



CSCVCM
dAnveedV
tdt
dE

sehingga Neraca Massa dalam CV menjadi:
  WQdAnveedV
t CSCV



 
Untuk aliran steady, suku laju perubahan lokal energi menjadi nol:
 
  WQdAnvv
WQdAnveedV
t
CS
CSCV


 









0
Untuk aliran steady sekaligus inkompresibel, persamaannya adalah:
  WQdAnve
CS

Bentuk-
bentuk energi
Energi spesifik, e adalah energi E per satuan massa m yang dibawa
oleh materi.
Ragam bentuk energi yang dibawa oleh massa materi antara lain:
1) Energi INTERNAL
a) Energi termal (terkait dengan gerak atom/molekul)
b) Energi tekanan (terkait dengan tekanan)
c) Energi kimia (terkait dengan reaksi kimia)
119
d) Energi nuklir (terkait dengan reaksi nuklir)
e) dll.
2) Energi POTENSIAL (efek medan gaya luar)
a) Energi potensial gravitasi
b) Energi potensial listrik
c) Energi potensial magnetik
3) Energi INERSIAL (kinetik)
Aliran steady
inkompresibel
fluida ideal
Untuk aliran steady inkompresibel fluida ideal (tanpa gesekan) dalam
pipa atau saluran tertutup tanpa melibatkan aliran kalor & kerja,
neraca massanya adalah:
 
   
outoutinin
outoutinin
outin
outCSinCS
CSCV
AvAv
AvAv
vAvA
dAnvdAnv
dAnvdV
t














0
0
0
0
 
Neraca energinya adalah:
 
    0
0
0







outCSinCS
CSCV
dAnvedAnve
WQdAnveedV
t

 

 
Densitas bisa dikeluarkan dari integral karena aliran inkompresibel.
Jika profil kecepatan bisa dianggap seragam, maka persamaan
menjadi:
      02
2
12
2
1

outin
vAgzvpuvAgzvpu 
atau:
outoutoutoutinininin gzvpugzvpu  2
2
12
2
1

Suhu fluida di hulu dan hilir biasanya praktis sama, sehingga uin =
uout dan persamaan akhirnya menjadi:
outoutoutininin gzvpgzvp   2
2
12
2
1
yang tidak lain adalah persamaan Bernoulli yang terkenal itu.
Aliran steady
inkompresibel
fluida ideal
Untuk aliran steady inkompresibel fluida riil (dengan gesekan) dalam
pipa atau saluran tertutup tanpa melibatkan aliran kalor, neraca
massanya adalah:
120
 
   
outoutinin
outin
outCSinCS
CSCV
AvAv
vAvA
dAnvdAnv
dAnvdV
t













0
0
0
0
 
Neraca energinya adalah:
  
    gesekan
outCSinCS
gesekan
CSCV
WdAnvedAnve
WQdAnveedV
t


 









0
0
Densitas bisa dikeluarkan dari integral karena aliran inkompresibel.
Jika profil kecepatan bisa dianggap seragam, maka persamaan
menjadi:
  
   gesekanout
in
WvAgzvpu
vAgzvpu


2
2
1
2
2
1


atau:
    gesekanoutin
Wgzvpumgzvpum   2
2
12
2
1

atau:
m
W
gzvpugzvpu
gesekan
outoutoutoutinininin


 2
2
12
2
1

Suhu fluida di hulu dan hilir biasanya praktis sama, sehingga uin =
uout dan persamaan akhirnya menjadi:


m
W
gzvpgzvp
gesekan
outoutoutininin


 2
2
12
2
1
Suku  mWgesekan
 pasti berdimensi sama dengan tekanan, sehingga
bisa disebut sebagai tekanan gesekan. Namun, istilah yang lebih
populer daripada tekanan gesekan adalah tekanan rugi gesekan
(pressure friction loss) atau lebih singkatnya tekanan rugi (pressure
loss).
Dengan demikian persamaan akhirnya menjadi:
rugioutoutoutininin pgzvpgzvp   2
2
12
2
1
Persamaan ini disebut sebagai persamaan Bernoulli ubahan (modified
Bernoulli equation).
121
Tekanan rugi Besarnya kerugian tekanan (prugi) secara umum tidak bisa ditentukan
secara analitik, kecuali pada kasus aliran yang sangat sederhana,
yaitu aliran laminer.
Oleh sebab itu, besarnya kerugian tekanan harus ditentukan secara
eksperimen. Untungnya, perencanaan, pelaksanaan, pengolahan data
eksperimen menjadi lebih mudah berkat bantuan metode analisis
nondimensional.
Contoh
Analisis
Tinjau kembali contoh pengurasan air dari tangki.
h
A
1
2
Dalam contoh tersebut kecepatan aliran keluar dianggap mengikuti
hubungan Torricelli sebagai akar kuadrat dari 2gh.
Keberlakuan anggapan ini bisa dijelaskan secara teoritik dengan
persamaan Bernoulli sebagai berikut.
1
2
12
1
12
2
22
1
2 gzvpgzvp  
Dari neraca massa, 2211 AvAv  , kecepatan di posisi 1 bisa
dinyatakan sebagai   2121 vAAv  , sehingga persamaan menjadi:
   
  h
zzgpp
A
A
v








 21
0
21
1
1
22
22
1
1 
Nilai A2/A1 bisa diabaikan terhadap 1, nilai p1 & p2 praktis sama
dengan tekanan atmosfir patm sehingga selisih keduanya sama dengan
nol, dan beda ketinggian z1 dan z2 adalah h. Dengan demikian,
persamaan di atas bisa disusun untuk mendapatkan ungkapan
kecepatan di posisi 2 sbb:
ghv 22 
122
MODUL VI.
ANALISIS INTEGRAL ALIRAN
PADA CV DIFERENSIAL
Deskripsi
Analisis aliran, apakah integral atau diferensial, yang dipakai pada suatu persoalan
dipilih berdasarkan pertimbangan sasaran yang ingin dicapai. Jika sasarannya
mendapatkan neraca keseluruhan massa, momentum, dan/atau energi pada suatu
CV (control volume), maka dilakukan analisis integral seperti yang diperkenalkan
pada modul sebelum ini. Jika sasarannya mendapatkan distribusi sifat massa,
momentum dan energi di dalam suatu CV, maka dilakukan analisis diferensial.
Kedua pendekatan berbeda hanya dalam resolusi penyelesaian. Analisis integral
melihat persoalan dari kacamata keseluruhan, sedangkan analisis diferensial
melihat persoalan dari kacamata kerincian. Jika diibaratkan layar penampil, yang
dipandang dalam analisis integral keseluruhan layar, sedangkan dalam analisis
diferensial piksel demi piksel dalam keseluruhan layar. Jadi, manakala domain
analisis integral diperkecil dari CV (layar) menjadi CV-diferensial (piksel), maka
kedua pendekatan bertemu. Artinya, analisis integral pada CV-diferensial adalah
sama dengan analisis diferensial, demikian pula hasilnya.
Sasaran belajar:
7. Membedakan analisis diferensial dari integral dalam hal kegunaan dan
hasil analisis
8. Melakukan analisis integral pada CV diferensial pada kasus aliran yang
sangat sederhana
A. CV diferensialsilindrik
Deskripsi
persoalan
Aliran fluida dalam pipa dimungkinkan oleh adanya perbedaan
tekanan (gradien tekanan) di hulu dan hilir pipa. Dalam persoalan ini
akan ditentukan dua hal:
 Agihan kecepatan radial.
 Gradien tekanan.
Untuk ini diperlukan pendekatan diferensial dengan CV sebagaimana
diperlihatkan pada Gambar 105. Anggapan:
 Aliran steady, berkembang penuh (fully developed), artinya
profil kecepatan radial-angular sepanjang pipa adalah tetap.
 Fluidanya Newtonian.
 Fluida inkompresibel,  = tetap.
 Fluida mengalir ke arah aksial semata, atau v(x,r,) = tetap
dan vr(x,r,) = tetap.
123
Gambar 105. CV diferensial silindrik aliran fluida dalam pipa bundar
Alat analisis Alat analisis:
Neraca Momentum (aliran arah-x saja)
 
    






x
outCS
x
inCS
x
luar
CS
steadyaliran
CV
FdAnvvdAnvv
FdAnvvvdV
t


 
)(0
Hubungan Konstitutif Fluida Newtonian
dy
dvx
yx  
Neraca
Momentum
Suku-suku dalam neraca momentum bisa diuraikan sebagai berikut:
   
   rrxrrrx
xxx
rrxrrrxxxxx
xrxr
rrPrrP
AAAPAPF









22
22
..
     
   
penuhberkembangaliran
AvvAvv
dAnvvdAnvvdAnvv
xxxxxxx
xxxxxx
,0






 

  
  x
CS
x FdAnvv
Hasilnya:
124
        02222   rrxrrrxxxx
xrxrrrprrp 
Per satuan volume elemen 2rrx, persamaannya adalah:
0
... .






 
r
rr
x
rprp rrxrrrxxxx

Untuk CV yang diciutkan volumenya hingga batas titik (limit volume
elemennya mendekati nol), persamaan menjadi:
  0. 





 r
dr
d
dx
dP
r rx
atau:
  rdr
dx
dP
rd rx 





.
Dalam persamaan ini,
 tekanan hanya fungsi x saja, p = p(x), dan karena aliran
dianggap berkembang-penuh maka gradien tekanan (dP/dx) =
tetap.
 tegangan geser hanya fungsi r saja, rx = rx(r).
Integral persamaan memberikan:
r
C
dx
dPr
rx
1
2







Syarat batas untuk persamaan ini adalah:
1) Tegangan geser minimum (= 0) di tengah-tengah pipa (r = 0).
2) Kecepatan aliran = nol di permukaan pipa (r = R).
Penerapan syarat batas pertama mensyaratkan C1 = 0 sehingga







dx
dPr
rx
2

Penerapan syarat batas kedua membutuhkan hubungan konstitutif
sehingga tegangan geser bisa dinyatakan sebagai fungsi kecepatan:







dx
dPr
dr
dvx
2

Dengan penyelesaian umum:
2
2
4
C
dx
dPr
vx 







Penerapan syarat batas kedua mensyaratkan:







dx
dPR
C
4
2
2
125
sehingga:
 

































2222
1
444 R
r
dx
dPR
dx
dPR
dx
dPr
rvx

Persamaan menunjukkan bahwa kecepatan aliran maksimum di pusat
saluran (r = 0):







dx
dPR
vmaks
4
2
sehingga persamaan akhirnya bisa ditulis sebagai:
 















2
1
R
r
vrv maksx
Lihat Gambar 106. Dengan profil kecepatan paraboloid (putaran
parabola) seperti ini, maka kecepatan reratanya bisa ditentukan sbb:
 
maks
Rr
r
maks
Rr
r
maks
x
v
R
r
r
R
v
rdr
R
r
v
R
dArv
A
v
2
1
0
2
3
4
22
2
0
2
2
21
1
1
































Jadi:







dx
dPR
vv maks
4
2
2
1
2
1
126
Gambar 106. Profil kecepatan aliran laminer dalam pipa
Persamaan
Hagen-
Poiseuille
Dari ungkapan 






dx
dPR
vv maks
4
2
2
1
2
1
bisa disusun persamaan
untuk mengevaluasi gradien tekanan:
22
328
D
v
R
v
dx
dP 







Inilah persamaan Hagen-Poiseuille yang terkenal itu.
Dengan persamaan ini, besarnya penurunan tekanan yang dialami
oleh fluida yang mengalir laminer dalam pipa sepanjang L bisa
dihitung sbb:
L
D
v
dx
D
v
P
Lx
x
2
0
2
3232 
 


Persamaan ini bisa disusun-ulang menjadi:
2
2
12
2
12
2
1
Re
6464
v
D
L
fv
D
L
v
D
L
P Dv




dengan faktor friksi laminer
Re
64
f .
Faktor friksi lazim disajikan dalam bentuk diagram f sebagai fungsi
Re sebagaimana disajikan pada Gambar 107. Diagram f selengkapnya
untuk aliran laminer dan turbulen dikenal sebagai diagram Moody.
Lihat pula Gambar 108 yang melukiska penurunana tekanan vs.
kecepatan aliran.
Aliran laminer Air, pipa 1cm (jari2)
-1
-0,75
-0,5
-0,25
0
0,25
0,5
0,75
1
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
Kecepatan (cm/s)
Posisiradial(cm)
dP/dx=1Pa/m, Re 500 dP/dx=4Pa/m, Re 2000
127
Gambar 107. Diagram faktor gesekan sebagai fungsi bilangan Reynolds
Gambar 108. Penurunan tekanan dan faktor friksi
sebagai fungsi kecepatan aliran
B. CV diferensialkubik
Deskripsi
persoalan
Aliran fluida pada bidang miring dimungkinkan oleh adanya gaya
gravitasi. Dalam persoalan ini akan ditentukan Agihan kecepatan
radial. Untuk mudahnya, sumbu x diambil sejajar dengan bidang
miring.
Anggapan:
 Aliran steady, berkembang penuh (fully developed), artinya
profil kecepatan radial-angular sepanjang pipa adalah tetap.
0,001
0,01
0,1
1
1,E+02 1,E+03 1,E+04 1,E+05 1,E+06 1,E+07 1,E+08
Re
f=64/Re
Pdrop Aliran Laminer Air - Pipa 2cm (dia.)
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
0 1 2 3 4 5 6
Kecepatan aliran (cm/s)
Paper100mpipa
0,00
0,05
0,10
0,15
0,20
0,25
0,30
0,35
Faktorfriksi
128
 Fluidanya fluida Newton.
 Fluida incompressible,  = tetap.
 Fluida mengalir ke arah x semata, atau Vy(x,y,z) = tetap dan
Vz(x,y,z) = tetap.
yx|y
P|x+x
P|x
x
y

L
yx|y+y
Gambar 109. CV diferensial kubik aliran fluida pada bidang miring
Alat analisis Alat analisis:
Neraca Momentum (aliran arah-x saja)
 
    






x
outCS
x
inCS
x
luar
CS
steadyaliran
CV
FdAnvvdAnvv
FdAnvvvdV
t


 
)(0
Hubungan Konstitutif Fluida Newtonian
dy
dvx
yx  
Neraca
momentum
Suku-suku dalam neraca momentum bisa diurai sebagai berikut:
     
   
penuhberkembangaliran
AvvAvv
dAnvvdAnvvdAnvv
xxxxxxx
xxxxxx
,0






 

  
  x
CS
x FdAnvv
 
 

sin....
sin.....
gyxxx
gAAAPAPF
yyxyyyx
yyxyyyxxxx




129
Hasilnya:
  0sin.... 

 gyxxx
yyxyyyx
Dibagi dg volume elemen xy:
  0sin.. 





g
y
yyxyyyx
Diciutkan volumenya hingga batas titik (limit volume elemennya
mendekati nol):
  0sin..   g
dy
d
yx
Di sini, tegangan geser hanya fungsi y saja, yx = yx(y) sehingga hasil
integrasinya adalah:
  1.sin.. Cygyx  
Syarat batas untuk persamaan ini adalah:
1) Tegangan geser minimum (= 0) di permukaan bebas (y=L).
2) Kecepatan aliran = nol di dinding (y=0).
Penerapan syarat batas pertama memberikan:
 
 LgC
Cyg
.sin..
.sin..0
1
1




Penerapan syarat batas kedua membutuhkan hubungan konstitutif
sehingga tegangan geser bisa dinyatakan sebagai fungsi kecepatan:
  




L
y
Lg
dy
dvx
1sin.. 
dengan penyelesaian umum:
   
2
2
2
sin..
C
L
y
y
Lg
yvx 








Syarat batas kedua mensyaratkan C2 = 0, sehingga hasil akhirnya
menjadi:
   
 






















2
2
1
2
2
sin..
2
sin..
L
y
L
yLg
L
y
y
Lg
yvx




Di permukaan (y/L=1), kecepatan aliran bernilai maksimum (vx,maks):
 

 sin.. 2
2
1
,
Lg
v maksx 
130
Dari sini persamaan kecepatan bisa juga ditulis:
 















2
2
1
2
L
y
L
y
vyv makxx
Profil kecepatan menurut persamaan ini dilukiskan pada Gambar 110.
Gambar 110. Profil aliran laminer pada bidang miring
Profil kecepatan pd bidang miring
0,0
0,2
0,4
0,6
0,8
1,0
0,0 0,5 1,0 1,5 2,0 2,5
Kecepatan aliran (m/s)
y(mm)
10 20 30 derajat
131
MODUL VII.
ANALISIS DIFERENSIAL ALIRAN
Deskripsi
Analisis aliran, apakah integral atau diferensial, yang dipakai pada suatu persoalan
dipilih berdasarkan pertimbangan sasaran yang ingin dicapai. Jika sasarannya
mendapatkan neraca keseluruhan massa, momentum, dan/atau energi pada suatu
CV (control volume), maka dilakukan analisis integral seperti yang diperkenalkan
pada modul sebelum ini. Jika sasarannya mendapatkan distribusi sifat massa,
momentum dan energi di dalam suatu CV, maka dilakukan analisis diferensial.
Informasi distribusi sifat aliran memberikan gambaran apakah pola aliran yang
terjadi sesuai harapan untuk suatu kebutuhan atau tidak. Sifat ini membuat analisis
diferensial sangat berguna dalam proses penciptaan dan perbaikan rancangan
keteknikan. Namun, mengingat kerumitan sifat aliran geometri keteknikan,
analisis diferensial membutuhkan sumber daya yang besar. Oleh karena itu, dalam
praktiknya, analisis diferensial dilakukan secara numerik menggunakan perangkat
lunak CFD.
Sasaran belajar:
9. Membedakan analisis diferensial dari integral dalam hal kegunaan dan
hasil analisis
10. Menuliskan dan menjelaskan makna suku-suku dalam persamaan
diferensial aliran massa, momentum dan energi
11. Melakukan analisis diferensial pada kasus aliran yang sangat sederhana
A. Analisis Diferensialvs. Integral
Analisis
Diferensial
vs. Integral
Analisis integral berguna untuk menentukan efek keseluruhan dalam
CV. Namun, analisis ini tidak bisa memberikan pengetahuan rinci
tentang medan aliran dalam CV. Artinya, analisis integral tidak bisa
memberikan pengetahuan tentang distribusi tekanan, kecepatan dan
besaran aliran lainnya dalam CV. Lihat Gambar 111. Inilah
pentingnya analisis diferensial seperti yang telah diperlihatkan pada
modul sebelumnya.
132
Gambar 111. Analisis integral (kiri) vs. analisis diferensial (kanan)
Persamaan
Diferensial
Persamaan atur aliran fluida dalam analisis diferensial berbentuk
persamaan diferensial. PD aliran bisa diperoleh dengan tiga cara:
1) Menerapkan persamaan integral aliran pada CV diferensial –
seperti telah diperagakan pada modul sebelumnya.
2) Menerapkan dalil divergensi (Gauss/Divergence Theorem)
pada persamaan integral aliran.
3) Menerapkan operator material.
Cara pertama ditempuh dengan menggunakan dalil limit, yaitu
dengan menciutkan CV menjadi sekecil-kecilnya sampai batas
menjadi titik. Cara kedua ditempuh dengan menggunakan dalil
divergensi:
 

 

Vpermukaanlewat
nettoGpenambahan
A
volumedalam
Ganpengembang
V
dAnGdVG  
Dalil divergensi ini memungkinkan transformasi integral volume
dari divergensi suatu vektor menjadi integral luasan yang menyapu
seluruh permukaan CV, atau sebaliknya.
Cara ketiga ditempuh dengan menggunakan operator material:
 


 v
tDt
D
Persamaan diferensial yang diperoleh pada prinsipnya bisa
diselesaikan secara analitik atau numerik (dengan bantuan komputer).
Namun, dalam praktiknya hanya sedikit persoalan yang bisa
diselesaikan secara analitik. Oleh sebab itu, dan berkat berkat
semakin ampuhnya perangkat komputer, maka penyelesaian secara
133
numerik dengan CFD4 kini memainkan peranan penting dalam
analisis aliran fluida.
Garis besar langkah kerja analisis secara analitik dan numerik hampir
sama. Ini bisa dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Langkah-langkah kerja analisis aliran secara analitik dan numerik
Langkah Dinamika Fluida Analitik
(Analytical Fluid Dynamics)
Dinamika Fluida Numerik
(Computational Fluid
Dynamics)
1 Menyiapkan persoalan & geometri, mengidentifikasi semua dimensi
dan parameter
2 Mendaftar semua anggapan, pendekatan, penyederhanaan, dan syarat-
batas
3 Menyederhanakan PDE Membuat grid / diskritisasi PDE
4 Mengintegralkan persamaan Menyelesaikan sistem persamaan
aljabar, termasuk syarat awal dan
batas5 Menerapkan syarat awal & batas
untuk menyelesaikan konstanta
integrasi.
6 Memeriksa & mengolah hasil Memeriksa & mengolah hasil
B. Neraca DiferensialMassa
Neraca
diferensial
massa
Persamaan neraca diferensial massa biasa disebut persamaan
kontinuitas. Berikut akan ditunjukkan penurunan persamaan
kontinuitas ini dengan kedua cara secara bergantian.
Cara pertama. Penurunan persamaan kontinuitas pada CV diferensial
diawali dengan mempertimbangkan neraca massa pada CV yang
sangat kecil. Lihat Gambar 112.
Neraca massa integral pada CV ini adalah:
  0


 CSCV
dAnvdV
t

4 CFD adalah kependekan dari Computational Fluid Dynamics. Istilah CFD kini biasa dipakai
sebagai sebutan untuk programkomputer untuk prediksi aliran fluida.
134
vz|z+z.Az
vz|z.Az
vy|y.Ay
vy|y+y.Ay
vx|x+x.Axvx|x.Ax
z
x
y
x
y
z
Ax = y.z
Ay = z.x
Az = x.y
Gambar 112. Aliran massa pada CV diferensial
Dalam batas titik, V = x.y.z  0, neraca massa per satuan
volume menjadi:
 
      0lim
0
1
lim
0
0
0
0


































 
z
vv
y
vv
x
vv
t
dAnvdV
tV
zzzzzyyyyy
xxxxx
z
y
x
CSCV
V


atau:
 
0












  
vvdiv
zyx v
z
v
y
v
xt



atau:
0


v
t


Persamaan ini bisa juga disajikan dalam bentuk berbeda dengan
menguraikan persamaan:
0











zyx v
z
v
y
v
xt


lalu mengumpulkan suku-suku uraiannya:

 
0




























  
  
  
vvdiv
volumepereganganlaju
zyx
totalataumaterialldiferensia
fluidagerakkarenadensitasperubahanlaju
zyx
lokaldensitas
perubahanlaju
z
v
y
v
x
v
z
v
y
v
x
v
t
Dt
D
dt
d



135
sehingga diperoleh:
0 v
Dt
D


Cara kedua. Suku kedua dalam persamaan neraca massa integral pada
CV
  0


 CSCV
dAnvdV
t

adalah integral luasan vektor v. Berdasarkan dalil divergensi, integral
luasan ini bisa diubah menjadi integral volume menggunakan identitas
berikut:
  
Vpermukaanlewat
nettoGpenambahan
A
volumedalam
Ganpengembang
V
ndAGGdV  
Dengan G = v, penerapan dalil ini pada persamaan neraca massa
menghasilkan:
  0


 CSCV
dVvdV
t

atau:
  0


 CVCV
dVvdV
t


atau:
  0








CV
dVv
t


Integral ini berlaku untuk CV sembarang, berarti:
  0


v
t


136
Penggambaran
Lagrangian
Penggambaran
Eulerian
D/Dt
Turunan Material D/Dt mengubah
penggambaran Lagrangian menjadi Eulerian
Analisis Differensial (Resolusi Tinggi)
Penggambaran
Sistem (CM)
Penggambaran
CV
DTR
Analisis Integral (Resolusi Rendah)
Dalil Transport Reynolds mengubah penggambaran
Sistem (CM) menjadi CV
CV ke Titik RuangTitik Massa ke CM
Cara ketiga. Kedua cara pertama diturunkan dari persamaan neraca
integral, dari ruang (CV) ke titik ruang (CV diferensial, Eulerian).
Cara ketiga diturunkan dari titik massa (Lagrangian) ke titik ruang
(Eulerian) menggunakan menggunakan operator diferensial material.
Untuk titik massa m persamaan neraca massanya adalah:
0
Dt
Dm
Untuk titik ruang V, persamaan menjadi:
  0


mv
t
m
dengan m=V. Penyulihan m ke dalam persamaan ini menghasilkan:
     0


Vv
t
V


Penguraian persamaan ini memberikan:
    0







vVVv
t
V
t
V
Pembagian dengan volume dan sedikit manipulasi menghasilkan:
    0













vVv
t
V
Vt
dtdV
  
dengan suku kedua adalah diferensial material dari V. Dari uraian
dalam modul tentang kinematika telah dijelaskan bahwa:
 
dt
VdV
dt
dV
V

1
adalah laju regang volumetrik yang besarnya sama dengan divergen
137
kecepatan sehingga persamaan menjadi:
    0




vv
t
Persamaan ini bisa dibawa ke dalam 2 bentuk, yaitu:
   
 
  0
0







v
t
vv
t v





  
atau:
   
0
0




v
tD
D
vv
t
Dt
D





  
Pada keadaan steady,     0.   vv . Jika  v positif
maka  v negatif dan sama besarnya, dan begitu pula sebaliknya.
Jadi secara fisik bisa dibuat penafsiran berikut. Dengan pemahaman
bahwa  v menggambarkan laju pengembangan volume, maka
 v mungkin bisa dipahami sebagai laju perpindahan volume.
Rekapitulasi
Neraca
Massa
Neraca massa Integral
  0


 CSCV
dAnvdV
t

Neraca massa Diferensial
  0


v
t


0 v
Dt
D


Secara umum, persamaan diferensial massa, biasa disebut persamaan
kontinuitas, tidak bisa sendirian digunakan untuk menyelesaikan
medan aliran. Akan tetapi, persamaan ini bisa digunakan untuk:
 Mencari komponen kecepatan yang kurang.
 Menentukan apakah medan kecepatan inkompresibel atau
tidak.
Sistem
Koordinat
Silindrik
Dalam sistem koordinat silindrik, ungkapan neraca massa (persamaan
kontinuitas) adalah sebagai berikut:
138
 
 
      0
11
0
11
0
































zr
zzrrzr
v
z
v
r
vr
rrt
eveveve
z
e
r
re
rrt
v
t











Bentuk
khusus
Untuk aliran steady kompresibel, persamaan kontinuitas menjadi:

 
  0
0
0





v
v
t



atau:
     
      )(...0
11
)(...0
silindrikv
z
v
r
vr
rr
cartesianv
x
v
x
v
x
zr
zyx























Untuk aliran inkompresibel ( = tetap), persamaan kontinuitas
menjadi:

0
0
0
0




v
v
v
tD
D



atau:
     
      )(...0
11
)(...0
silindrikv
z
v
r
vr
rr
cartesianv
x
v
x
v
x
zr
zyx




















Contoh
analisis
Dua dari 3 komponen kecepatan medan aliran 3-D steady
inkompresibel diketahui:
 vx = ax2 + by2 + cz2
 vz = axz + byz2
dengan a, b, dan c konstan. Bagaimanakan ungkapan vy?
Untuk aliran steady inkompresibel berlaku:

0
&
,0


v
Dt
D
belinkompresi
steadykarena


Jadi:
139
























z
v
x
v
y
v
z
v
y
v
x
v
v
zxy
zyx
0
0
atau:
 byzaxax
y
vy
22 


dan hasilnya adalah:
 zxfzbyaxyvy ,3 2

Contoh
analisis
Komponen tangensial dari kecepatan medan aliran 2-D
inkompresibel berpusar adalah v = K/r dengan K konstan.
Bagaimanakan ungkapan kecepatan radial vr?
Untuk aliran steady inkompresibel berlaku:
0 v
atau:

0
0
11
2,0



























r
rv
r
Kv
r
rv
z
vv
rr
rv
r
r
r
D
zr




dan hasilnya:
 
r
C
v
tfrv
r
C
r



,
Jika C=0 (berarti vr=0) pola alirannya berbentuk vortex garis. Jika
C0 (berarti vr0) pola alirannya berbentuk vortex spiral; jika positif
arah spiral ke luar, dan sebaliknya ke dalam.
140
Vortex garis Vortex garis berspiral
Gambar 113. Vortex garis dan spiral
Stream
Function
Dalam matematika diferensial, untuk sebuah fungsi sinambung
(x,y) berlaku hubungan:
xyyx 







 
atau:
0









xyyx

Perbandingan ungkapan ini dengan persamaan kontinuitas 2D
inkompresibel:
0





yx v
y
v
x
menunjukkan hubungan:
x
vdan
y
v yx







Mengingat sepanjang streamline gradien garis singgungnya adalah:
0 dxvdyvatau
v
v
dx
dy
yx
x
y
(lihat Gambar 114), maka dari sini diperoleh hubungan:
0
0









d
dx
y
dy
y
Ini berarti  = konstan sepanjang streamline, sehingga  disebut
141
stream function.
Gambar 114. Gradien garis singgung pada streamline
Makna Fisis
Stream
Function
Neraca massa untuk aliran steady inkompresibel adalah:
  0  dQdAnv atau  dAnvdQ 
Mengacu Gambar 115, di mana fluida mengalir melalui elemen luas
dA per satuan kedalaman (= ds), komponen vektor yang terlibat
adalah:
j
x
i
y
jvivv yx







   jijninn yx  sincos 
sehingga:
 
   
dx
x
dy
y
ds
x
ds
y
dAnvdQ
dxdy



















  
sincos
Hasilnya,
ddQ  atau Q
Dengan kata lain, selisih nilai stream function  = debit aliran.
142

dx
ds dy
CS

v

n
Gambar 115. Makna fisis stream function
Stream
Function
dalam
Koordinat
Silindrik
Dalam sistem koordinat silindrik, persamaan kontinuitas adalah:
      0
11









zr v
z
v
r
vr
rr


Stream Function dalam bidang r :





r
vr dan
r
v





Stream Function dalam bidang rz :
zr
vr



1
dan
rr
vz



1
Vortisitas Hubungan stream function dan kecepatan memungkinkan evaluasi
vortisitas aliran. Dengan:
x
vdan
y
v yx







maka vortisitas aliran menjadi:


















yxy
v
x
v xy
z


22
2
Untuk aliran irrotasional, misalnya pada aliran invisid fluida ideal
(=0), vortisitas  =0, sehingga:
0
0
2
2
2
2
2









yx
Jadi,  mengikuti persamaan Laplace.
Contoh
analisis
Tinjaulah vortex garis pada aliran inkompresibel, planar, steady.
Komponen kecepatan alirannya adalah:
143
 ur = 0
 u = K/r
dengan K konstan. Bagaimanakah ungkapan stream function  (r, )?
Penyelesaian:
   


frK
r
K
r
v





ln
dan:
 
  Cf
f
r
r
vr










0
1
0
1
sehingga:
 





 



K
C
er
CrK

 ln
Grafik dari kedua fungsi ini dilukiskan dalam Gambar 116.
Gambar 116. Streamline vortex garis dan stream function
r untuk beragam stream function (C=0, K=2)
-2,0
-1,5
-1,0
-0,5
0,0
0,5
1,0
1,5
2,0
-2,0 -1,5 -1,0 -0,5 0,0 0,5 1,0 1,5 2,0
x
y
0 1 2 3 4 Stream Function
144
Contoh
analisis
Tinjaulah vortex garis spiral pada aliran inkompresibel, planar,
steady. Komponen kecepatan alirannya adalah:
 ur = C/r
 u = K/r
dengan C dan K konstan. Tentukan ungkapan stream function  (r,
).
Penyelesaian:
   


frK
r
K
r
v





ln
dan:
 
  



Cf
Cf
r
C
r
vr






1
sehingga:
 





 



K
C
er
CrK

 ln
Grafik dari kedua fungsi ini dilukiskan dalam Gambar 117.
145
Gambar 117. Streamline vortex garis spiral
Fungsi
Potensial
Kecepatan
Kurva  konstan adalah streamline dari aliran.
Dalam pokok bahasan statika fluida diperoleh pengetahuan bahwa
garis isobar (tekanan konstan) tegak lurus dengan gradien tekanan
yang sejajar dengan potensial gravitasi.
Analog dengan ini, menarik untuk diketahui suatu fungsi yang tegak
lurus dengan streamline. Karena streamline menggambarkan
kecepatan, maka sebutlah fungsi yang tegak lurus dengannya sebagai
fungsi potensial kecepatan, .
Pada  konstan,
x
y
C v
v
dx
dy


Menurut geometri, garis  = C tegak lurus dengan  = C jika:
1
 CC dx
dy
dx
dy

atau:
  y
x
xyCC v
v
vvdxdydx
dy


11

r untuk stream function = 0, 1 & 2 (C=1, K=11)
-30
-20
-10
0
10
20
30
-30 -20 -10 0 10 20 30
x
y
0 1 2 v-tangensial
146
Jadi, pd  konstan:
 
0

dyvdxv
v
v
dxdy
yx
y
x
C
dan
 
0







dy
y
dx
x
d
yx vv


Dengan demikian, maka vektor kecepatan bisa dituliskan sebagai:









v
j
y
i
x
jvivv yx ....
Selanjutnya, dari neraca massa diperoleh:
0
0
0
2





v
Rekapitulasi Satu fungsi arus  menggantikan dua variabel kecepatan vx dan vy.
Sekali  diketahui, maka vx dan vy bisa dihitung.
Potensial kecepatan  tegak lurus dengan . Potensial kecepatan
berlaku dalam 2D dan 3D, sedangkan stream function hanya ada
dalam 2D.
Kepentingan fisik:
 Kurva  konstan adalah streamline dari aliran.
 Selisih  antar streamline sama dengan laju aliran antara
streamline.
 Nilai  meningkat ke kiri arah aliran dalam bidang xy,
“konvensi sisi-kiri.”
C. Neraca Diferensial Momentum
Persamaan neraca diferensial massa biasa disebut persamaan Navier-
Stokes (N-S). Berikut akan ditunjukkan penurunan persamaan N-S
ini dengan kedua cara secara bergantian.
Cara pertama. Penurunan persamaan N-S pada CV diferensial diawali
dengan mempertimbangkan neraca massa pada CV yang sangat kecil.
Neraca integral momentum pada CV adalah:
147
   


FdAnvvvd
t

Dalam batas titik, V = x.y.z  0, neracanya adalah:
   
     
1
0
2
0
3
0
limlimlim





 





 
suku
V
suku
V
suku
V V
F
V
dAnvv
V
vdt 
Suku pertama melibatkan gaya-gaya eksternal yang bekerja pada CV,
yaitu gaya badan karena gravitasi dan gaya permukaan. Gaya
permukaan per satuan luas (tegangan) normal dan geser dilukiskan
pada Gambar 118 sampai Gambar 120.
Mengacu pada gambar-gambar tersebut maka suku pertama menjadi:
zyx
g
zyx
g
V
FF
zyx
F
zxyxxx
x
zzxzzzxyyxyyyx
xxxxxxx
x
V
permukaanbadan
V
x
V












































0
00
lim
limlim
zyx
g
zyx
g
zyx
F
zyyyxy
y
zzyzzzyyyyyyyy
xxyxxxy
y
V
y
V


































00
limlim
zyx
g
zyx
g
zyx
F
zzyzxz
z
zzzzzzzyyzyyyz
xxzxxxz
z
V
z
V


































00
limlim
148
yy|y+y
yx|y+y
xx|x+x
xy|x+x
yx|y
yy|y
xx|x
xy|x x
y
x
y
Gambar 118. Tegangan normal dan geser yang bekerja
pada permukaan yang tegak lurus bidang x-y
zz|z+z
zx|z+z
xx|x+x
xz|x+x
zx|z
zz|z
xx|x
xz|x x
z
x
z
Gambar 119. Tegangan normal dan geser yang bekerja
pada permukaan yang tegak lurus bidang x-z
149
zz|z+z
zy|z+z
yy|y+y
yz|y+y
zy|z
zz|z
yy|y
yz|y y
z
y
z
Gambar 120. Tegangan normal dan geser yang bekerja
pada permukaan yang tegak lurus bidang y-z
Hasilnya adalah:
ij
V
g
zyx
F
 


 0
lim
dengan:
     
     
     







































zyx
zyx
zyx
k
z
j
y
i
x
tegangantensor
zyyzxz
zyyyxy
zxyxxx
zzyzxz
zyyyxy
zxyxxx
ij
ij








Suku kedua (fluks momentum netto) adalah:
150
         
   
 













































































z
v
v
y
v
v
x
v
v
t
v
z
v
v
y
v
v
x
v
v
z
v
y
v
x
v
v
z
vv
y
vv
x
vv
z
vvvv
y
vvvv
x
vvvv
zyx
dAnvv
zyx
zyx
massaneracadari
t
v
zyx
zyx
zzzzz
z
yyyyy
y
xxxxx
xV









  
)(
0
000
lim
limlimlim
Suku ketiga (laju perubahan momentum lokal) adalah:
    
 
t
v
t
v
v
t
zyx
zyxvt
zyx
vdt
V





















0
00
lim
limlim
Gabungan ketiga suku dalam persamaan utuh menjadi:
ij
Dt
Dv
materialtotalldiferensia
zyx
ijzyx
nol
g
z
v
v
y
v
v
x
v
v
t
v
g
z
v
v
y
v
v
x
v
v
t
v
t
v
t
v














































  
  
/
atau:
ijg
Dt
Dv
 
Cara kedua. Suku kedua dalam persamaan neraca momentum integral
pada CV
   


FdAnvvvd
t

adalah integral luasan vektor vv. Berdasarkan dalil divergensi,
151
integral luasan ini bisa diubah menjadi integral volume menggunakan
identitas berikut:
  
Vpermukaanlewat
nettoGpenambahan
A
volumedalam
Ganpengembang
V
ndAGGdV  
Dengan G = vv, penerapan dalil ini pada suku kedua menghasilkan:
 
VA
vvdVndAvv 
sehingga persamaan neraca momentum menjadi:
   
   













CV
ij
CV
CV
ij
CVCSCV
dVgdVvv
t
dAngdVdAnvvvdV
t



Karena integral ini berlaku untuk CV sembarang, maka integran di kiri
sama dengan di kanan:
  ijgvv
t





(Ungkapan ini dikenal juga sebagai persamaan Cauchy.) Persamaan ini
bisa disusun ke dalam bentuk ungkapan sebagaiman diperoleh dari cara
penurunan pertama sbb:
 
   
   
ij
massaneraca
Dt
Dv
ij
g
Dt
Dv
v
t
vvv
t
v
vvvv
t
v
t
v
gvv
t
v




































    
)(0
Tensor
tegangan
&
regangan
Tensor tegangan merupakan fungsi dari tensor regangan, seperti halnya
tegangan geser fluida merupakan fungsi laju regang geser. Hubungan
keduanya bisa dinyatakan sbb:
152
 










































zzyzxz
zyyyxy
zxyxxx
ij
kji
j
i
i
j
ij
ij
ijijij
vp
vp
vp
turutberturutzyxxxx
x
v
x
v
regangantensor
deltafungsi
vp







2
00
00
00
)(,,,,
2
3
2
3
2
3
2
2
1
3
2
Penjelasan
tambahan
Ungkapan tegangan normal di atas dirumuskan berdasarkan penalaran
berikut ini. Analog dengan tegangan geser, tegangan normal dipandang
berasal dari tekanan statik dan hubungan viskositas dengan peregangan
linier dan volumetrik:
 
 
 vp
vp
vp
zzzz
yyyy
xxxx






2
2
2
Dengan  merupakan bawaan modulus curah fluida. Tegangan normal
rata-ratanya adalah:
 
 
 
Dt
D
p
vp
zzyyxx





1
32
32
3
1



Jika dianggap tekanan hanya bergantung pada densitas , dan tidak
bergantung pada laju perubahan densitas D/Dt, maka (2+3) haruslah
bernilai nol, sehingga =2/3. Oleh karena itulah maka ungkapan
tegangan normal menjadi:
   
   
    zzzzzz
yyyyyy
xxxxxx
vpvp
vpvp
vpvp



22
22
22
3
2
3
2
3
2
3
2
3
2
3
2



atau ringkasnya:
  iiii vp  23
2

Persamaa
n N-s
Fluida
Newtonian
Untuk fluida Newtonian, divergen tegangannya adalah:
153











































































































































    
z
v
zzz
z
v
zyx
yyyzyx
xxxzyx
ij
z
v
zy
v
yx
v
xz
v
zz
v
yz
v
x
v
zz
p
z
v
zy
v
yx
v
xy
v
zy
v
yy
v
x
v
yy
p
z
v
zy
v
yx
v
xx
v
zx
v
yx
v
x
v
xx
p






3
2
3
2
3
2
.
atau:















































z
y
x
ij
v
z
v
v
zz
p
v
y
v
v
yy
p
v
x
v
v
xx
p




3
2
3
2
3
2
.
Dengan demikian, persamaan N-S menjadi:
zz
z
yy
y
xx
x
v
z
v
v
zz
p
g
Dt
Dv
v
y
v
v
yy
p
g
Dt
Dv
v
x
v
v
xx
p
g
Dt
Dv

































3
2
3
2
3
2
atau:
   vvvpg
Dt
Dv
  3
2
Persamaan
N-s Fluida
Newtonian
 konstan
Untuk fluida Newtonian dengan viskositas konstan, divergen
tegangannya adalah:






























































 
   zv
z
v
z
v
z
y
x
ij
v
z
v
v
zz
p
v
y
v
v
yy
p
v
x
v
v
xx
p
2
3
2
3
2
3
2
.






atau:
154


























































z
y
x
ij
vv
xz
p
vv
yy
p
vv
xx
p
2
3
1
2
3
1
2
3
1
.




Dengan demikian persamaan N-S menjadi:







































zz
z
yy
y
xx
x
vv
zz
p
g
Dt
Dv
vv
yy
p
g
Dt
Dv
vv
xx
p
g
Dt
Dv
2
3
1
2
3
1
2
3
1



atau:
  vvpg
Dt
Dv 2
3
1
 
Persamaan
N-s Fluida
Newtonian
 konstan
 konstan
Untuk fluida Newtonian dengan viskositas konstan dan densitas
konstan, divergen tegangannya adalah:
 





































































z
y
x
z
C
y
x
ij
v
z
p
v
y
p
v
x
p
vv
zz
p
vv
yy
p
vv
xx
p
2
2
2
,0
3
1
3
1
3
1
.








Dengan demikian persamaan N-S menjadi:
zz
z
yy
y
xx
x
v
z
p
g
Dt
Dv
v
y
p
g
Dt
Dv
v
x
p
g
Dt
Dv
2
2
2















atau:
vpg
Dt
Dv 2
 
Persamaan ini bisa juga dituliskan dalam ungkapan vortisitas:
  vpg
Dt
Dv
 
155
Persamaan
Euler: N-s
Newtonian
 = 0
 konstan
Persamaan Euler adalah bentuk khusus persamaan N-S Newtonian
densitas konstan dengan viskositas nol ( = 0) atau vortisitas nol
((v) = 0):
z
p
g
Dt
Dv
y
p
g
Dt
Dv
x
p
g
Dt
Dv
z
z
y
y
x
x












atau:
pg
Dt
Dv
 
Perhatikan:
Jika fluida bergerak dipercepat seperti benda padat, maka persamaan
ini menjadi:
pga  
atau:
 agp  
Jika fluidanya diam, ungkapan ini menjadi persamaan fluida statik:
gp 
4 Persamaan
4 variabel
Sistem Pers. N-S (massa & momentum) terdiri dari 4 persamaan
dengan
4 variabel (p, vx, vy dan vz). Dengan ini bisa dihitung:
1) Tekanan (p) untuk medan kecepatan yang diketahui.
2) Kecepatan (vx, vy, vz) dan tekanan (p) untuk geometri, syarat
batas (boundary conditions, BC), dan syarat awal (initial
conditions, IC) yang diketahui.
zz
z
yy
y
xx
x
v
z
p
g
Dt
Dv
v
y
p
g
Dt
Dv
v
x
p
g
Dt
Dv
v
2
2
2
0
















Contoh Berikut adalah contoh menentukan medan tekanan dari medan
kecepatan. Andai diketahui medan kecepatan steady, 2-D,
inkompresibel:
   jaycxibaxjvivv yx 
Dari sini bisa ditentukan medan tekanan sbb. Periksa dulu
156
pemenuhan persamaan kontinuitas:
  
0
2,0











aa
z
v
y
v
x
v
v
D
z
a
y
a
x
Sesuai.
Lalu ditinjau komponen arah x & y dari persamaan Navier–Stokes.
Komponen kecepatan arah-x:
  

  



   













































D
xxx
x
D
x
z
x
aycx
y
a
x
bax
x
steady
x
z
v
y
v
x
v
x
p
g
y
v
v
y
v
v
x
v
v
t
v
2,0
2
2
0
2
2
0
2
2
0
2,00,0



atau:
 
 
   yfabxxap
abxa
x
p
x
p
abax







2
2
12
2



Komponen kecepatan arah-y:
  

  



















































D
yyy
y
D
y
z
a
y
aycx
y
c
y
bax
x
steady
y
z
v
y
v
x
v
y
p
g
z
v
v
y
v
v
x
v
v
t
v
2,0
2
2
0
2
2
0
2
2
2,0,0


atau:
    
 yabcg
y
p
y
p
gaaycxcbax
y
y
2








Solusi arah-y:
 yabcg
y
p
y
2




harus sama dengan turunan terhadap y dari solusi arah-x:
157
   yfabxxap  2
2
12

atau:
   
     Cyaybcgyf
yabcg
y
yf
y
y





2
2
12
2
0


Hasil akhirnya adalah persamaan medan tekanan sbb:
     Cyxaabxybcgp y  222
2
1

Perhatikan, medan kecepatan dalam aliran inkompresibel
 tidak terpengaruh oleh nilai konstanta C dalam medan
tekanan atau oleh nilai tekanan mutlak,
 tetapi dipengaruhi oleh beda atau gradien tekanan.
Ini tampak dari persaman N-S:
vpg
Dt
Dv 2
 
Untuk menentukan konstanta C dalam persamaan medan tekanan
diperlukan acuan nilai p dalam medan aliran, atau dengan kata lain
diperlukan BC tekanan. Lihat contoh CFD berikut (Gambar 121).
Kedua kasus pada gambar tersebut identik (termasuk gradien
tekanan) kecuali nilai tekanannya. Medan kecepatan & pola
streamline yang diperoleh memperlihatkan bahwa medan kecepatan
dipengaruhi oleh gradien tekanan.
Gambar 121. Gradien (beda) tekanan berpengaruh
terhadap medan kecepatan aliran, bukan tekanan
Penyelesaian
Eksak N-S
Ada ±80 penyelesaian eksak persamaan N-S. Penyelesaian linier
(suku konvektif = nol,   0 vv ) & nonlinear (suku konvektif 
nol,   0 vv ).
158
Penyelesaian menurut bentuk geometri:
1) Couette shear flows
2) Steady duct/pipe flows
3) Unsteady duct/pipe flows
4) Flows with moving boundaries
5) Similarity solutions
6) Asymptotic suction flows
7) Wind-driven Ekman flows
Prosedur
Penyelesaian
N-S
Prosedur penyelesaian persamaan N-S pada prinsipnya sama dengan
penyelesaian persamaan diferensial umumnya, yaitu:
1) Rumuskan persoalan & geometri, kenali semua dimensi &
parameter terkait.
2) Buat anggapan, pendekatan, penyederhanaan dan BC (syarat
batas) selayaknya.
3) Sederhanakan PD sebanyak mungkin.
4) Integralkan persamaan.
5) Terapkan BC untuk menentukan tetapan integrasi.
6) Periksa hasil.
BC kritis dalam penyelesaian eksak, hampiran, & numerik. Dalam
penyelesaian analitik:
 No-slip BC.
 Interface BC
Dalam penyelesaian numerik (CFD), keduanya juga dipakai, plus
sejumlah BC yang muncul karena hal-hal khusus dalam pemodelan
CFD
 Inflow & outflow BC
 Symmetry & periodic BC
No-slip BC adalah syarat di mana fFluida yang menyentuh dinding
padat memiliki kecepatan sama dengan kecepatan dinding itu, atau
dindingfluida vv  .
Interface BC adalah berkenaan dengan keadaan saat dua fluida
bertemu di antarmuka (Gambar 122). Di antarmuka, kecepatan dan
tegangan geser harus sama di kedua muka.
BmukaAmukaBfluidaAfluida danvv ,,,,  
Jika efek tegangan permukaan sangat kecil & permukaan hampir
datar, maka:
BA pp 
159
Gambar 122. Syarat batas di antarmuka 2-fluida
Bentuk khusus antarmuka adalah permukaan bebas cairan.
0



















air
udaraair
udaraair
udaraair
dy
du
dy
du
dy
du
vv

Karena udara << air. Seperti umumnya antarmuka, jika efek
tegangan permukaan sangat kecil & permukaan hampir datar maka:
BA pp 
Gambar 123. Syarat batas di permukaan bebas
Contoh:
Aliran
Berikut diberikan contoh analisis pada aliran Couette berkembang
160
Couette penuh (fully developed). Untuk geometri dan BC yang diberikan,
hitunglah medan kecepatan & aliran, dan taksirlah gaya geser per
satuan luas yang bekerja pada plat bawah.
Langkah 1: Geometri, dimensi, dan sifat
Langkah 2: Anggapan dan Syarat Batas
Anggapan
1) 2D, vz=0, /z = 0
2) Aliran steady, /t = 0
3) Aliran paralel hanya ke arah-x, vy=0
4) Plat tak berhingga dalam arah x & z
5) Inkompresibel, Newtonian, laminer, sifat konstan
6) Gradien tekanan arah aliran = nol
7) Gravitasi bekerja dalam arah-y,
Boundary conditions
1) Plat bawah (y=0) diam: vx=0, vy=0, vz=0
2) Plat atas (y=h) bergerak: vx=v, vy=0, vz=0
Langkah 3: Penyederhanaan
Neraca massa

 

0
0
2,0,0
,0












x
v
v
Dt
D
x
z
v
y
v
x
v
belinkompresi
D
z
paralel
yx


Berarti aliran berkembang penuh
Neraca momentum arah-x:
161
   

 
02
2
2,0
2
2
2
2
0
2
2
0
0
2
,0
,0,0

















































y
v
z
v
y
v
x
v
x
p
g
z
v
v
y
v
v
x
v
v
t
v
x
D
xxx
x
D
x
z
x
paralel
y
penuhbang
berkem
x
x
steady
x



Neraca momentum arah-y:
 
y
D
y
paralel
aliran
yy
y
D
y
z
paralel
aliran
y
y
paralel
aliran
y
x
steady
y
g
y
p
z
v
y
v
x
v
y
p
g
z
v
v
y
v
v
x
v
v
t
v

























































  

2,0
2
2
,0
2
2
2
2
2,0,0
,0,0
Langkah 4: Integrasi Neraca Massa:
 yvv
x
v
xx
x



0
Integrasi Neraca momentum arah-x:
212
2
0 CyCv
y
v
x
x



Integrasi Neraca momentum arah-y:
33 CgyCygpg
y
p
yy 



Langkah 5: Penerapan Syarat Batas
 Di plat bawah (y=0) vx=0 sehingga C2=0
 Di plat atas (y=h) vx=v sehingga C1=v/h
Dengan demikian maka:
h
y
vvx 
162
Untuk tekanan, tidak ada BC khusus sehingga bisa diambil
suatu nilai acuan di posisi sembarang yang diketahui, misal di y=0,
p=p0 (C3 dinamai p0)
gypp  0
Dari sini tampak bahwa:
1) Besarnya tekanan sama dengan tekanan hidrostatik.
2) Tekanan bekerja secara independen dari aliran.
Langkah 6: Pemeriksaan ulang dengan menyulihkan solusi:
kji
h
y
v
kvjvivvSolusi zyx
00
,


ke dalam persamaan kontinuitas:
0000 








z
v
y
v
x
v zyx
Berarti persamaan kontinuitas terpenuhi.
Pemeriksaan ulang dengan menyulihkan solusi ke dalam persamaan
momentum arah-x:
 000000000
2
2
2
2
2
2











































h
v
h
y
v
z
v
y
v
x
v
x
p
g
z
v
v
y
v
v
x
v
v
t
v xxx
x
x
z
x
y
x
x
x
Berarti persamaan momentum juga terpenuhi. Dengan demikian solusi
yang diperoleh memang ternyata benar merupakan jawaban dari
persoalan yang diselesaikan.
Gaya geser Gaya geser per satuan luas (tegangan geser) yang bekerja pada fluida
di permukaan plat bawah (di bidang tegak lurus sb-y ke arah-x)
adalah:
h
v
h
v
x
v
y
v
A
F yx
yxyx
geser
 
















 02
Lihat Gambar 124. Tegangan geser yang bekerja pada plat, menurut
hukum Newton ketiga, sama besar ttp berlawanan arah dg tegangan
geser fluida:
h
v
A
F
yxw
plat
 
163
Gambar 124. Gaya geser dalam aliran Couette berkembang penuh
Gambar 125. Aliran Couette pada viskometer putar
Viskometer
Putar
Viskometer meter adalah alat ukur viskositas fluida yang terdiri dari
silinder konsentrik sepanjang L, silinder dalam pejal berjari2 Ri dan
silinder luar berongga berjari2 Ro.
Lebar celah antara silinder sempit, sehingga (Ro-Ri) << Ri.
Aliran Couette terjadi pada celah sempit antarsilinder pada
Viskometer Putar ini. Dengan demikian, maka analisisnya sama
seperti telah dilakukan di atas.
164
Tegangan geser viskos yang bekerja pada elemen fluida di sebelah
silinder dalam kira-kira sama dengan:
io
i
io
yx
RR
R
RR
v






Torsi searah-jam total yang bekerja pada dinding silinder dalam
karena viskositas fluida adalah:
  ii
io
i
iyx RLR
RR
R
ART 

 2


Dalam kondisi steady, torsi searah-jam akibat viskositas T ini
diimbangi oleh torsi selawan-jam yang diberikan Tlawan.
  ii
io
i
iyxlawan RLR
RR
R
ART 

 2


Oleh karena itu, viskositas fluida adalah:
LR
RR
T
i
io
lawan 3
2



Contoh:
Aliran
Poiseuille
Aliran Poiseuille Berkembang Penuh adalah aliran laminer Fluida
Newtonian dalam keadaan steady dan inkompressibel dalam pipa
bundar panjang tak-hingga berradius R = D/2.
Dalam analisis, pengaruh gravitasi diabaikan dan gradien tekanan
sepanjang aliran P/x adalah konstan.
Langkah 1: Geometri, dimensi, dan sifat
Lihat Gambar 126.
Langkah 2: Anggapan dan Syarat Batas
Anggapan
1) Aliran steady, /t = 0
2) Inkompresibel, Newtonian, laminer, sifat konstan
3) Pipa panjang tak-hingga dalam arah-x.
4) Aliran paralel ke arah-x saja, vr = nol.
5) Gradien tekanan konstan bekerja dalam arah-x
6) Medan kecepatan simetri-sumbu tanpa pusingan, v = 0 dan
turunan parsial terhadap  adalah nol.
7) Efek gravitasi bisa diabaikan.
Syarat batas:
1) Di dinding (r=R) fluida diam: vr=0, v =0, vz=0
2) Di tengah (r=0) tegangan geser (gradien kecepatan) nol.
165
Gambar 126. Aliran fluida Newtonian, laminer, steady,
dan inkompresibel dalam pipa
Langkah 3: Penyederhanaan
Neraca massa


0
0
,0,0
11
,0












x
v
v
Dt
D
x
x
vv
rr
rv
rbelinkompresi
x
simetriparalel
r
 



Berarti aliran berkembang penuh, dan hanya merupakan fungsi r.
Neraca momentum arah-x:
  

 













































0
2
2
,0
2
2
2
0
0,0,0,0
11
x
vv
rr
v
r
rrx
p
g
x
v
v
r
v
v
r
v
v
t
v
x
simetri
xx
x
x
x
simetri
x
paralel
x
r
steady
x
 




 
atau:
x
p
r
v
r
rr
x








11
Dengan cara serupa, neraca momentum arah-r menghasilkan:
 xpp
r
p



0
Artinya, p hanya bergantung pada x. Neraca momentum arah-
adalah nol.
166
Langkah 4: Integrasi Neraca Massa:
 rvv
x
v
xx
x



0
Integrasi Neraca momentum arah-x:
  21
2
1
2
ln
4
2
11
CrC
dx
dpr
v
C
dx
dpr
r
v
r
dx
dp
r
v
r
rr
x
x
x












Langkah 5: Penerapan Syarat Batas
1) Di tengah (r=0) gradien vx=0 sehingga C1=0
2) Di dinding (r=R) vx=0 sehingga C1=(R2/4).(dp/dx)
Dengan demikian maka:
 22
4
1
Rr
dx
dp
vx 

Langkah-6, yaitu verifikasi, bisa anda lakukan sendiri.
167
MODUL VIII.
ALIRAN INVISID
Deskripsi
Semua fluida bersifat viskos, atau memiliki viskositas. Akibatnya, bilamana fluida
bersentuhan dengan permukaan padat di atap kendaraan molekul-molekul fluida
akan melekat pada permukaan padatan. Lekatnya fluida pada permukaan padat
disebut kondisi nirgelincir (no-slip condition). Lapisan-lapisan fluida diatasnya
akan terhambat, tetapi semakin jauh dari permukaan padat semakin kecil
hambatannya. Daerah di mana aliran fluida berubah dari kecepatan arus-bebas
sampai kecepatan nol pada dinding padat disebut sebagai Lapisan Batas
(Boundary Layer). Di luar Lapisan Batas keadaan aliran fluida bisa dipandang
ideal atau invisid (tanpa viskositas). Aliran di luar lapisan batas bersifat invisid
dan akan diulas dalam modul ini, sedangkan aliran di dalam lapisan batas bersifat
viskos dan akan diulas dalam modul berikutnya.
Sasaran belajar:
12. Membedakan zona aliran viskos dan invisid
13. Mengungkapkan secara tertulis persamaan aliran fluida invisid
14. Mengenal hubungan persamaan aliran invisid dan persamaan Bernoulli
Aliran invisid Aliran invisid adalah aliran fluida ideal, atau aliran fluida yang tidak
memiliki viskositas ( = 0) sehingga tidak ada gaya viskos atau gaya
gesekan fluida.
Aliran fluida riil dengan viskositas   0 tidaklah invisid. Namun,
pengaruh viskositas terutama terasa di daerah dekat dinding dan tidak
begitu terasa di daerah yang jauh dari dinding. sehingga watak
alirannya sama seperti aliran tanpa viskositas (aliran invisid).
Ini bisa dipahami karena pengaruh viskositas sebagaimana diwakili
oleh gaya viskos adalah fungsi dari viskositas dan gradien kecepatan.
Nilai gradien kecepatan besar di dekat dinding, dan kecil atau bahkan
nol di jauh dinding. Oleh karena itu, pengaruh viskositas di jauh
dinding praktis nihil, bukan karena viskositasnya nol melainkan
karena gradien kecepatannya nol (berarti vortisitasnya juga nol atau
irrotasional).
Secara matematik, apakah gaya viskos bernilai nol
 karena viskositas nol, atau
 karena gradien kecepatan nol
tidak ada bedanya. Oleh karena itu, aliran fluida riil (dengan
viskositas   0) di daerah jauh dari dinding bisa digambarkan
wataknya sama dengan aliran invisid.
Zona aliran Kenyataan inilah yang membawa Ludwig Prandtl pada konsep
lapisan batas. Dalam konsep ini, aliran dibagi menjadi dua zona,
168
yaitu:
1) zona lapisan batas (boundary layer) berupa lapisan tipis
fluida di dekat dinding, yang semakin tipis sejalan dengan
semakin besarnya bilangan Reynolds, dan
2) zona invisid di luar lapisan batas.
Dalam zona invisid, pengaruh viskositas praktis nihil karena
vortisitas aliran praktis nol, dan persamaan diferensial aliran menjadi
sangat sederhana dan bisa diselesaikan secara analitik.
Subjek aliran invisid memiliki penerapan khusus dalam aerodinamika
dan hidrodinamika dan penerapan umum dalam aliran di sekitar
benda (external flow).
Aliran invisid biasa disebut juga aliran potensial karena persamaan
atur medan kecepatannya v merupakan fungsi dari potensial
kecepatan .
A. Persamaan Aliran Invisid (Potensial)
Persamaan
aliran invisid
steady dan
inkompresibel
Untuk aliran invisid dan aliran irrotasional steady dan inkompresibel,
persamaan kontinuitas atau neraca massanya adalah:
0 v
dan persamaan neraca momentumnya adalah:
pg
Dt
Dv
 
Persamaan terakhir biasa disebut juga sebagai persamaan Euler.
Persamaan kontinuitas, seperti telah ditunjukkan dalam modul
sebelumnya, bisa diubah bentuknya menjadi 2 fungsi baru dengan
hanya satu variabel dependen, yaitu fungsi arus (stream function, )
dan fungsi potensial kecepatan (velocity potential function, ) yang
saling tegak lurus satu sama lain. Dari sini persamaan kontinuitas
bisa ditulis menjadi:
02
  dengan
x
vdan
y
v yx







dan
02
  dengan
y
vdan
x
v yx







yang mudah penyelesaiannya.
Persamaan Euler bisa disederhanakan dengan menggunakan identitas
vektor berikut:
   vvv
t
v
Dt
Dv



 2
2
1
169
yang dalam kasus steady dan irrotasional di sini menjadi:

     2
2
1
0
2
2
1
0
vvvv
t
v
Dt
Dv





Penyulihan ke dalam persamaan Euler memberikan:
  pgv   2
2
1
dan karena nilai percepatan gravitasi adalah –g dan g adalah gradien
dari gy maka persamaan bisa ditulis:
   
  02
2
1
2
2
1


gyvp
pgyv


atau:
Cgyvp   2
2
1
yang tidak lain adalah persamaan Bernoulli.
Rekapitulasi Dengan demikian, maka penyelesaian aliran invisid (atau
irrotasional) steady inkompresibel bisa diperoleh dengan
menyelesaikan:
 persamaan fungsi arus atau fungsi potensial kecepatan untuk
mendapatkan medan kecepatan aliran, dan
 persamaan Bernoulli untuk mendapatkan medan tekanan
aliran.
B. SolusiAnalitik
Contoh Berikut akan diperlihatkan bagaimana medan aliran bisa diperoleh
untuk aliran di sekitar silinder diam sepanjang tak-hingga (Gambar
127). Persamaan neraca massa sebagai fungsi arus dalam koordinat
silinder adalah:
02
  atau 0
11
2
2
22
2











rrrr
dengan
r
vdan
r
vr










1
Persamaan bisa diselesaikan dengan syarat batas berikut:
1) Lingkaran r = a adalah streamline. Kecepatan tegak lurus
streamline adalah nol sehingga di r = a berlaku 0rv dan
  0  .
2) Garis  = 0, berdasarkan sifat simetri aliran, jugalah
streamline. Dengan demikian, di  = 0 berlaku 0v dan
170
  0 r .
3) Kecepatan arus bebas (di lokasi jauh dari silinder di mana
medan aliran praktis tidak terpengaruh oleh keberadaan
silinder), atau secara matematik di r = , sudut berapapun,
nilai v = konstan.

r
x
y
v
r=a
Gambar 127. Aliran seragam di sekitar silinder tak-hingga berjari-jari a
Solusi:
Pemisahan
Variabel
Persamaan diferensial fungsi arus bisa diselesaikan secara analitik
dengan menerapkan metode pemisahan variabel. Di sini solusi
dianggap merupakan gabungan dari 2 fungsi terpisah yang masing-
masing bergantung hanya pada satu variabel bebas, radial saja dan
angular saja. Katakanlah solusinya adalah:
      GrFr ,
Penyulihan ungkapan ini ke dalam persamaan diferensial
memberikan:
 
 
 
 
 
 
22









G
G
rF
rF
r
rF
rF
r
Karena sisi kiri fungsi r saja dan sisi kanan fungsi  saja, maka
supaya penyelesaian ada untuk semua r dan  maka kedua sisi
haruslah konstan, yaitu sebesar katakanlah 2. Dari sini persamaan
diferensial bisa diurai menjadi 2 persamaan dengan variabel bebas
yang terpisah:
    02
  GG
sebuah persamaan diferensial linier orde-2 sederhana, dan
      022
 rFrFrrFr 
sebuah persamaan diferensial Euler. Solusinya keduanya adalah:
     
  




DrCrrF
BAG cossin
171
Syarat batas pertama di r = a, yaitu   0  memberikan:
     





2
0
0.cossin
CaD
DaCaBA



 
  
sehingga
       





 



r
a
rCBAr
2
.cossin,
Syarat batas kedua di  = 0, yaitu   0 r mengharuskan B = 0,
karena sin() = 0 sehingga:
    





 



r
a
rCAr
2
sin,
Syarat batas ketiga di r = , sudut berapapun, mensyaratkan nilai
v = konstan atau
  222
lim 

 vvvr
r

atau
    2
2
1
2
12
2
1
2
12222
sincoslim 

























 v
r
a
r
r
a
rCA
r 






Limit ini berhingga hanya jika  = 1 sehingga dengan demikian maka
AC = v dan fungsi arus menjadi:
      











  2
22
1sinsin,
r
a
rv
r
a
rvr 
Dari sini maka bisa ditentukan komponen medan kecepatan aliran
sbb:
  








  2
2
1cos
1
r
a
v
r
vr 


dan
  








  2
2
1sin
r
a
v
r
v 


Medan kecepatan alirannya adalah:
   evevrv rr ,
Titik stagnasi Di permukaan silinder (r = a), nilai komponen kecepatannya adalah:
  sin2
0


vv
vr
Di permukaan silinder besarnya kecepatan radial adalah nol
172
permukaan adalah sebuah streamline. Besarnya kecepatan di titik
permukaan pada sudut  = 180o (di depan) dan  = 0o (di belakang)
adalah nol. Titik-titik ini disebut titik stagnasi.
Medan
tekanan
Medan tekanan aliran selanjutnya bisa dihitung menggunakan
persamaan Bernoulli:
Cgyvp   2
2
1
Jika efek ketinggian bisa diabaikan, seperti misalnya dalam kasus
aliran udara di sekitar sayap pesawat, maka persamaan menjadi:
Cvp  2
2
1

Pada arus bebas, tekanan dan kecepatannya adalah p dan v
sehingga:
0
2
2
12
2
1
pvpvp   
berarti di mana-mana dalam medan aliran invisid (juga aliran
irrotasional), tekanan stagnasi p0 adalah konstan.
Di permukaan silinder, di mana 0rv dan   sin2  vv ,
tekanan bisa ditentukan sbb:
   
 


22
0
2
2
1
0
2
2
1
0
sin2
sin20





vp
vp
vpp
atau bisa juga ditulis:
   22
2
1
sin41  vpp
sehingga koefisien tekanannya (Cp) menjadi:
  

2
2
2
1
sin41




v
pp
Cp
Lihat Gambar 128.
173
Gambar 128. Medan tekanan aliran invisid di permukaan silinder tak-hingga
C. Aliran Invisid 2-D
Aliran invisid
2D
Persamaan Laplacian fungsi arus  dan potensial kecepatan  bersifat
linier. Artinya, berbagai macam solusi bisa digabungkan menjadi
solusi lainnya. Misalkan 1 dan 2 adalah solusi terpisah:
01
2
  dan 02
2
 
maka jumlahannya adalah solusi juga:
  021
2
 
Dengan menggunakan prinsip superposisi ini maka sejumlah
persoalan aliran invisid/potensial yang menarik bisa diperoleh dari
tiga macam solusi dasar, yaitu:
1) Arus seragam
2) Sumber atau isapan arus
3) Vortex
Solusi Arus
Seragam
Untuk arus seragam dengan kecepatan konstan U searah sumbu-x:
yx
v
xy
Uv
y
x











 


0
Integrasinya menghasilkan:
-4
-3
-2
-1
0
1
2
0306090120150180
Sudut
KoefisienTekanan,Cp
174
2
1
CxU
CyU






Karena kecepatan adalah diferensial dari kedua fungsi ini dan
tekanan diperoleh berdasarkan kecepatan, maka berapapun nilai C1
dan C2 tidak akan berpengaruh terhadap kecepatan dan tekanan
dalam aliran. Oleh karena itu kedua konstanta bisa diambil nol,
sehingga hasilnya:
xU
yU






Dalam koordinat polar, persamaan ini menjadi:
 
 

cos
sin
rU
rU




Secara umum, arus seragam bisa membentuk sudut  sembarang
terhadap sumbu-x sehingga:
 
 
yx
Uv
xy
Uv
y
x


















sin
cos
Integrasinya akan menghasilkan:
    
    

sincos
sincos
yxU
xyU




Persamaan ini berguna dalam persoalan sudut terbang (angle of
attack) pada airfoil.
Solusi
sumber atau
isapan arus
garis
Arus konstan bisa dibayangkan menyebar dari (atau mengumpul ke)
garis (bukan titik) di pusat radial sepasang plat berjarak tetap.
Dengan demikian, kecepatan radial pada posisi r sembarang
berbanding terbalik dengan r dan kecepatan angular nol, atau:


















rr
v
rrr
m
vr
1
0
1
Garis sumber/isapan adalah adalah singularitas dengan kecepatan
radial tak-hingga, dan  serta  tak terdefinisi. Dengan m adalah
suatu konstanta yang jika nilainya positif menggambarkan kekuatan
sumber arus, dan jika nilainya negatif menggambarkan kekuatan
isapan arus. Integrasinya memberikan:
 rm
m
ln



Dalam koordinat polar, persamaan ini menjadi:
175
 22
1
ln
tan
yxm
x
y
m







 


Solusi vortex
garis
Jika kedudukan vr dan v dalam sumber dan isapan garis
dipertukarkan maka diperoleh vortex garis:


















rrr
K
v
rr
vr
1
1
0
Integrasinya menghasilkan:
 


K
rK

 ln
Kekuatan vortex K di sini mempunyai dimensi yang sama dengan
kekuatan sumber atau isapan m, yaitu kecepatan dikali panjang.
Aliran vortex garis bersifat irrotasional di mana-mana kecuali di
pusat di mana vortisitasnya tak-hingga. Artinya, sirkulasi fluida di
sekitar pusat vortex tidak nihil.
Sirkulasi Sirkulasi didefinisikan sebagai integral garis selawan-jam dari busur
sepanjang ds, mengitari kurva tertutup C, dikalikan dengan
komponen kecepatan yang menyinggung kurva tersebut.
  
C
zyx
C
dzvdyvdxvdsv
D. SolusiNumerik
Analisis
Numerik
Penyelesaian analitik seperti yang telah dilakukan pada alinea
sebelumnya bisa mudah dilakukan hanya bila geometri persoalan
relatif sederhana. Jika geometri persoalan mulai menjadi rumit maka
penyelesaian secara analitik akan menjadi sulit atau bahkan tidak
mungkin didapatkan.
Untungnya, sejalan dengan keampuhan komputer, persoalan dengan
geometri serumit apapun bisa diselesaikan secara numerik. Dalam
analisis numerik, persamaan diferensial dalam domain kontinum
diubah menjadi persamaan aljabar dalam domain diskrit. Proses
pengubahan ini, biasa disebut diskritisasi, bisa ditempuh dengan
berbagai macam metode, antara lain, finite difference, finite volume,
finite element, boundary element, dlsb. Di sini hanya akan
diperlihatkan contoh penerapan metode beda hingga (finite
difference) dalam aliran invisid/potensial 2D (dua dimensi).
Persamaan Laplace fungsi arus dalam domain kontinum:
176
02
2
2
2
2







yx


Suku-suku diferensial pada dasarnya adalah fungsi limit berikut:
 2
,,,
0
,,,,
0
,,
02
2
2
lim
lim
lim
x
x
xx
x
xx
x
yxxyxyxx
x
yxxyxyxyxx
x
yxyxx
x





























dan
 2
,,,
02
2 2
lim
yy
yyxyxyyx
x 



 


Sebagai pendekatan, alih-alih kecil tak-berhingga (mendekati nol), x
dan y diambil kecil berhingga sehingga diperoleh ungkapan:
 2
,,,
2
2 2
xx
yxxyxyxx




 

dan
 2
,,,
2
2 2
yy
yyxyxyyx




 

Dengan demikian persamaan fungsi arus bisa didekati dengan
ungkapan:
   
0
22
2
,,,
2
,,,





 
yx
yyxyxyyxyxxyxyxx

Dengan  = (x/y), persamaan ini bisa disusun menjadi ungkapan
untuk menghitung  di posisi (x,y) berikut:
 
 2
,,
2
,,
,
12 





 yyxyyxyxxyxx
yx
Jika diambil  = 1, berarti x = y, maka persamaan menjadi sangat
sederhana:
4
,,,,
,
yyxyyxyxxyxx
yx





Dalam ungkapan sederhana, persamaan ini mengatakan bahwa nilai
fungsi arus di suatu lokasi adalah rata-rata dari nilai fungsi arus
177
tetangganya.
2,4m
3,6m
1m
1m
10m/s 5m/s
Gambar 129. Aliran invisid melalui saluran membesar mendadak
Contoh Fluida mengalir melalui saluran membesar mendadak (Gambar 129).
Kecepatan masuk seragam 10 m/s, dan kecepatan keluar seragam
5 m/s. Lebar saluran masuk 1 m, dan saluran keluar 2 m. Pembesaran
saluran terjadi pada lokasi 1,2 m dari hulu.
Berikut akan ditentukan medan aliran menggunakan analisis
numerik.
Dalam analisis numerik ini diambil ukuran sel komputasi yang
lebarnya sama ke arah x dan y, yaitu sebesar 0,2 m seperti tampak
pada gambar. Nilai fungsi arus  di dalam saluran, yaitu di 123 titik
dalam Gambar 130, bisa dihitung serentak dengan menggunakan
persamaan:
4
,,,,
,
yyxyyxyxxyxx
yx





jika keadaan  di batas-batas saluran persoalan diketahui.
Untuk enaknya, di dinding bawah nilai  diambil nol.
Karena selisih dua fungsi arus sama dengan debit, sedangkan debit
masuknya per satuan kedalaman adalah (10 m/s)(1 m) = 10 m2/s,
maka nilai  di dinding atas adalah 10 m2/s.
Karena kecepatan masuk adalah seragam, maka nilai fungsi arus di
situ harus beragam secara linier menurut posisi ketinggiannya:
 
s
m
m
y
y
2
10
1

178
sehingga:
Di y = 1 m   = 10 m2/s
Di y = 0,8 m   = 8 m2/s
Di y = 0,6 m   = 6 m2/s
Di y = 0,4 m   = 4 m2/s
Di y = 0,2 m   = 2 m2/s
Di y = 0   = 0 m2/s
Begitu pula di saluran keluar, fungsi arus juga beragam secara linier
menurut posisi ketinggian:
 
s
m
m
y
y
2
10
2

dengan y = 0 di dinding bawah. Lihat Gambar 130. Hasil perhitungan
diperlihatkan dalam Gambar 131-Gambar 133.
 = 10m2
/s
 = 0m2
/s
 = 0m2
/s
 = 0
 = 2
 = 4
 = 6
 = 8
 = 10
 = 0
 = 2
 = 4
 = 6
 = 8
 = 10
Gambar 130. Syarat batas persoalan aliran invisid dalam saluran membesar
179
Gambar 131. Kontur streamline
Gambar 132. Kontur kecepatan
180
Gambar 133. Kontur tekanan (10 kPa) dengan tekanan input 100 kPa
181
MODUL IX.
ALIRAN VISKOS
Deskripsi
Semua fluida bersifat viskos, atau memiliki viskositas. Akibatnya, bilamana fluida
bersentuhan dengan permukaan padat di atap kendaraan molekul-molekul fluida
akan melekat pada permukaan padatan. Lekatnya fluida pada permukaan padat
disebut kondisi nirgelincir (no-slip condition). Lapisan-lapisan fluida diatasnya
akan terhambat, tetapi semakin jauh dari permukaan padat semakin kecil
hambatannya. Daerah di mana aliran fluida berubah dari kecepatan arus-bebas
sampai kecepatan nol pada dinding padat disebut sebagai Lapisan Batas
(Boundary Layer). Di luar Lapisan Batas keadaan aliran fluida bisa dipandang
ideal atau invisid (tanpa viskositas) sehingga dimungkinkan analisis analitik dan
numerik seperti telah ditunjukkan dalam modul sebelumnya.
Sasaran belajar:
1. Membedakan aliran laminer dan turbulen
2. Menjelaskan efek viskositas pada sifat aliran sewaktu kontak dengan
permukaan padat
3. Menjelaskan konsep lapisan batas
4. Mengenal penyelesaian Blasius dan metode analisis integral momentum
von Karman
A. Aliran Laminer & Turbulen
Macam Aliran
Viskos
Berdasarkan pengamatan sederhana disadari bahwa ada 2 macam
beda aliran viskos. Asap yang mengepul dari sebatang rokok awalnya
memperlihatkan pola aliran halus teratur, tetapi kemudian pola
alirannya berubah sama sekali menjadi sangat tak teratur dan tak
stabil. Watak serupa juga teramati pada air yang mengalir melalui
kran. Aliran dengan pola yang halus teratur disebut laminer,
sedangkan yang tak teratur disebut turbulen.
Percobaan
Reynolds
Walaupun gejala laminer dan turbulen telah disadari sebelumnya,
namun Reynoldslah yang pertama kali menggambarkan fenomena ini
secara kuantitatif dalam tahun 1883. Dalam percobaannya, air
dialirkan melalui pipa tembus pandang. Ke dalam air disuntikkan zat
warna di bagian hulu untuk membekaskan jejak aliran. Dari
percobaan, Reynolds menemukan bahwa apakah jejak aliran halus
teratur atau tidak bergantung selain pada kecepatan juga pada
diameter pipa, densitas fluida, dan viskositas fluida. Keempat
variabel ini digabung dalam satu parameter tak berdimensi:

vD
Re
yang disebut bilangan Reynolds sebagai penghormatan kepada
182
Osborne Reynolds dan sumbangannya dalam mekanika fluida.
Untuk aliran dalam pipa ditemukan bahwa pada Re kurang dari 2300,
aliran bersifat laminer. Pada Re lebih dari 2300, gangguan sedikit
saja pada aliran akan menyebabkan transisi dari laminer ke turbulen,
sedangkan pada Re kurang dari 2300 aliran kebal terhadap gangguan
dan aliran tetap laminer. Dengan demikian, maka bilangan Re kritis
aliran dalam pipa adalah 2300.
B. Lapisan Batas
Konsep
Lapisan
Batas
Aliran laminer kebal terhadap gangguan (stabil) karena viskositas
memainkan peranan dominan dalam badan aliran. Sebaliknya, aliran
turbulen tidak stabil karena peran viskositas sebatas di daerah dekat
dinding saja. Di luar itu, peran inersia mendominasi watak aliran.
Semakin besar Re semakin tipis daerah pengaruh viskositas.
Kenyataan ini menuntun Ludwig Prandtl pada konsep lapisan batas
(boundary layer) pada tahun 1904.
Menurut hipotesis Prandtl, efek gesekan fluida pada bilangan
Reynolds tinggi terbatas hanya pada lapisan tipis dekat batas benda
(sehingga disebut lapisan batas), dan tidak ada perubahan tekanan
yang berarti selintang lapisan batas. Artinya, tekanan di dalam
lapisan batas sama dengan tekanan di luar lapisan batas (daerah aliran
invisid). Teori Prandtl memainkan peranan penting karena
penyederhanaan yang dibuatnya memungkinkan analisis aliran viskos
secara analitik. Tekanan, misalnya, bisa diperoleh dari eksperimen
atau teori aliran invisid, sehingga yang belum diketahui tinggal
komponen kecepatannya saja.
(a) Laminer
183
(b) Turbulen
Gambar 134. Visualisasi lapisan batas laminer (a) dan turbulen (b)
Lapisan batas aliran fluida melalui sebuat lempeng datar bisa dilihat
pada Gambar 134. Pada gambar, gelembung-gelembung hidrogen
dilepaskan secara berkala dan hanyut terbawa aliran fluida. Dari
bentuk jejak alirannya tampak bahwa laju fluida di dekat lempeng,
yaitu dalam lapisan batas, lebih rendah daripada dalam arus bebas
(freestream).
Olakan (eddies) dalam aliran turbulen meningkatkan percampuran
fluida yang memang sebelumnya sudah ada karena viskositas.
Akibatnya, lapisan batas turbulen umumnya lebih tebal daripada
lapisan batas laminer. Ini bisa dilihat dalam contoh di atas yang
melukiskan aliran melalui lempeng datar.
Pentingnya
Lapisan
Batas
Viskositas menyebabkan lekatnya molekul fluida pada dinding dan
akibatnya molekul fluida di dekat permukaan padat mengalami
hambatan – lajunya melambat. Sejalan dengan ini, permukaan
padatan akan mengalami gaya hambat gesekan (friction drag force)
searah aliran… Gaya hambat inilah yang membuat pemahaman
lapisan batas menjadi demikian penting!
Lapisan batas menentukan sifat-sifat hambatan aliran fluida dan
aliran panas benda dalam aliran:
1) lebih banyak bahan bakar dikonsumsi oleh pesawat atau kapal
karena adanya lapisan batas;
2) laju aliran panas ke komponen mesin naik karena lapisan
batas dengan potensi akibat berupa kerusakan atau kegagalan
komponen;
3) jarak tempuh sebuah bola golf terhambat oleh adanya lapisan
batas.
184
C. Persamaan Lapisan Batas
Persamaan
BL
Dalam pasal ini akan diturunkan persamaan lapisan batas (Boundary
Layer – BL) dengan analisis orde nilai (order of magnitude analysis).
Dari pasal sebelumnya sudah diketahui bahwa Lapisan Batas
membantu, misalnya, penentuan hambatan (drag) dari benda di dalam
aliran. Ini memerlukan penaksiran pembentukan lapisan batas pada,
misalnya, lambung kapal. Untuk melakukan ini diperlukan
persamaan yang melukiskan aliran dalam lapisan batas. Persamaan
ini dikenal sebagai persamaan lapisan batas.
Sudah tentu, pada prinsipnya, aliran di mana saja dalam badan fluida
bisa digambarkan oleh persamaan-persamaan aliran yang diturunkan
berdasarkan hukum-hukum dasar fisika, yaitu persamaan kontinuitas,
momentum atau persamaan N-S. Dengan kata lain, apa yang
dikatakan sebagai persamaan BL adalah persamaan N-S dalam
bentuk khusus (yang lebih sederhana) untuk fenomena aliran di dekat
batas saluran.
Persamaan
BL 2-D
Untuk lebih mudah dan jelasnya di sini akan ditinjau aliran 2-D
inkompresibel.
Persamaan Navier-Stokes (NS) untuk aliran 2-D tanpampat
(incompressible) adalah sbb:
1) Kontinuitas:
𝜕𝑢
𝜕𝑥
+
𝜕𝑣
𝜕𝑦
= 0
2) Momentum-x:
𝜌
𝜕𝑢
𝜕𝑡
+ 𝜌𝑢
𝜕𝑢
𝜕𝑥
+ 𝜌𝑣
𝜕𝑢
𝜕𝑦
= −
𝜕𝑝
𝜕𝑥
+ 𝜇 (
𝜕2
𝑢
𝜕𝑥2
+
𝜕2
𝑢
𝜕𝑦2
)
atau
𝜕𝑢
𝜕𝑡
+ 𝑢
𝜕𝑢
𝜕𝑥
+ 𝑣
𝜕𝑢
𝜕𝑦
= −
1
𝜌
𝜕𝑝
𝜕𝑥
+ 𝜐 (
𝜕2
𝑢
𝜕𝑥2
+
𝜕2
𝑢
𝜕𝑦2
)
3) Momentum-y:
𝜌
𝜕𝑣
𝜕𝑡
+ 𝜌𝑢
𝜕𝑣
𝜕𝑥
+ 𝜌𝑣
𝜕𝑣
𝜕𝑦
= −
𝜕𝑝
𝜕𝑥
+ 𝜇 (
𝜕2
𝑣
𝜕𝑥2
+
𝜕2
𝑣
𝜕𝑦2
)
atau
𝜕𝑣
𝜕𝑡
+ 𝑢
𝜕𝑣
𝜕𝑥
+ 𝑣
𝜕𝑣
𝜕𝑦
= −
1
𝜌
𝜕𝑝
𝜕𝑥
+ 𝜐 (
𝜕2
𝑣
𝜕𝑥2
+
𝜕2
𝑣
𝜕𝑦2
)
dengan 𝜐 = ( 𝜇 𝜌⁄ ) adalah viskositas kinematik.
Persamaan-persamaan ini tampak sangar. Persamaan Navier-Stokes
ini mewakili gerak fluida viskos secara eksak.
Pada Lapisan Batas, andil sejumlah suku-suku persamaan NS bernilai
kecil dan pengaruhnya lemah (suku lemah) dibandingkan suku-suku
dominan. Ini mudah dipahami dengan membayangkan gabungan
bobot seekor gajah dan seekor semut di badannya. Bobot seekor
semut RELATIF terhadap gajah tidaklah berarti dan bisa diabaikan
tanpa mengurangi ketelitian. Dengan demikian, persamaan NS bisa
185
diremas menjadi lebih sederhana sehingga menjadi lebih ramah.
Analisis orde
nilai
Untuk bisa mengabaikan suku-suku lemah dalam persamaan Navier-
Stokes diperlukan pengetahuan tentang ukuran nilai tiap-tiap suku
dalam kaitannya dengan yang lain. Ini disebut “analisis orde nilai”.
Akan tetapi, ada satu masalah dengan persamaan dalam bentuknya
kini. Setiap variabel mempunyai dimensi berbeda (yaitu kecepatan,
panjang, waktu dll.) Bagaimana bisa dilakukan pembandingan dari
nilai atau andil tiap-tiap suku?
Mudah, yaitu dengan cara menirdimensikan serta membakukan tiap-
tiap variabel sehingga skala nilai minimun dan maksimunya berada
dalam batas-batas yang sama (yaitu antara 0 dan 1).
Pembakuan
nilai suku-
suku
Untuk membakukan nilai suku-suku maka diambil patokan nilai
untuk sejumlah variabel dasar yang mewakili fenomena aliran.
Patokan-patokan nilai tersebut adalah sbb:
1) untuk panjang adalah L (skala panjang geometri plat),
2) untuk kecepatan adalah Ue (skala kecepatan arus bebas), dan
3) untuk waktu adalah L/Ue (skala waktu arus bebas menempuh
skala panjang geometri).
Gambar 135 merangkum pembakuan atau penirdimensian variabel
kecepatan dan posisi, dan Gambar 136 merangkum pembakuan atau
penirdimensian variabel waktu, viskositas dan tekanan.
Perlu diperhatikan cara penulisannya, variabel nir-dimensi dituliskan
dengan lambang yang sama, tetapi dengan tambahan tanda aksen.
Gambar 135. Normalisasi kecepatan arah x (u) dan y (v) dalam BL setebal 
terhadap kecepatan aliran bebas (Ue) dan normalisasi jarak arah x dan y
terhadap panjang plat (L)
186
Gambar 136. Normalisasi tekanan terhadap tekanan kinetik arus bebas,
waktu terhadap waktu tempuh arus bebas sejarak plat L, dan viskositas
kinematik terhadap arus bebas dikali panjak plat L
Variabel nir-
dimensi
Dari apa yang dilukiskan dalam Gambar 135 dan Gambar 136
akhirnya diperoleh variabel-variabel nir-dimensi berikut:
1) Ruang :
L
x
x ' dan
L
y
y '
2) Waktu :
L
tU
UL
t
t e
e
'
3) Kecepatan :
eU
u
u ' dan
eU
v
v '
4) Viskositas kinematik :
Re
1
' 
LUe


5) Tekanan : 2
2
1
'
eU
p
p


Suku-suku nir-dimensi selanjutnya bisa disulihkan ke dalam
persamaan Navier-Stokes sehingga diperoleh bentuk nir-dimensinya
sebagai berikut:
1) Kontinuitas: 0
'
'
'
'






y
v
x
u
2) Momentum-x: 






















2
2
2
2
'
'
'
'
Re
1
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
y
u
x
u
x
p
y
u
v
x
u
u
t
u
3) Momentum-y: 






















2
2
2
2
'
'
'
'
Re
1
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
y
v
x
v
y
p
y
v
v
x
v
u
t
v
Dari sini tampak bahwa persamaan NS nir-dimensi tidak banyak
187
berbeda bentuknya dari persamaan NS berdimensi.
Di sini juga telah diperkenalkan sebuah parameter nir-dimensi yang
disebut bilangan Reynold (Re = UeL/). Re merupakan ukuran relatif
efek konveksi terhadap efek difusi dalam aliran.
1) Pada Re besar, gesekan aliran tidak menjadi penting (kecuali
di dekat permukaan padatan di mana syarat nirgelincir
memainkan peranan penting).
2) Pada Re kecil, gesekan aliran memainkan peranan penting.
Berikut adalah sejumlah gambaran nilai bilangan Reynolds:
1) Butir air jatuh dalam udara, Re = 0,64
2) Bola golf melayang cepat, Re = 2105
3) Hiu pada kecepatan maksimum, Re = 8106
4) Boeing 747 menjelajah, Re = 7107
Persamaan NS sekarang dalam bentuk nir-dimensi yang
memungkinkan pembandingan langsung ukuran nilai tiap-tiap
sukunya satu sama lain. Berikut akan ditaksir nilai relatif tiap-tiap
suku dalam persamaan tersebut untuk melihat mana saja yang penting
dan kurang penting. Ini disebut analisis orde nilai – yang besar
dipertahankan, yang kecil diabaikan.
Analisis orde
nilai pers.
kontinuitas
Pertama kita tinjau orde nilai suku-suku dalam persamaan
kontinuitas: 0
'
'
'
'






y
v
x
u
1) Orde nilai kecepatan u’ adalah   eUunilaiorde atau
1ee UU . Dalam lapisan batas, nilai u terentang dari 0 di
permukaan plat (syarat nirgelincir) sampai maksimum Ue di
tepi lapisan batas. Karena nilai u paling tinggi adalah sebesar
Ue, maka orde nilai u adalah Ue.
2) Orde nilai (u’/x’) adalah
 
 
1
0
0
'nilaiorde
'nilaiorde
'
'









LL
UU
x
u
x
u ee
.
3) Orde nilai (v’/y’) adalah 1 juga sebab akibat dari
0
'
'
'
'






y
v
x
u
adalah orde nilai (v’/y’) dan (u’/x’) sama
besarnya. Perhatikan, di sini yang penting adalah orde nilai
bukan nilainya itu sendiri. Contoh, andaikan nilai (u’/x’) =
11 = 1,1101/s maka nilai (v’/y’) = 11/s = 1,1101/s. Di
sini, nilai keduanya berbeda karena berlawanan tanda, tetapi
orde nilainya sama-sama 101.
4) Orde nilai kecepatan v’ tidak bisa ditentukan langsung seperti
188
u’. Namun telah diperoleh bahwa (v’/y’) = 1. Dengan tebal
lapisan batas  maka
 
 
1
'
'
/0
/0
'
'







v
L
Uv
y
v e
sehingga orde
nilai v’ adalah ’.
Analisis orde
nilai pers.
Momentum-x
Kedua, kita tinjau orde nilai suku-suku dalam persamaan momentum-
x: 






















2
2
2
2
'
'
'
'
Re
1
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
y
u
x
u
x
p
y
u
v
x
u
u
t
u
1) Orde nilai
 
   
1
0
0
nilaiorde
nilaiorde









ee
ee
ULUL
UU
t
u
t
u
2) Orde nilai suku konveksi u’(u’/x’) adalah 11 = 1.
3) Orde nilai suku konveksi
 
 
1
'
1
'
0
0
'
'
'
' 









L
UU
y
u
v ee
.
4) Orde nilai suku difusi
  1
01
01
'nilaiorde
''nilaiorde
'
'
2
2









x
xu
x
u
5) Orde nilai suku difusi
   
22
2
'
1
0'
0'1
'nilaiorde
''nilaiorde
'
'











y
yu
y
u
6) Orde nilai suku gradien tekanan ditentukan dengan cara
berikut. Di tepi luar lapisan batas, arus mengalir bebas dari
pengaruh viskositas, sehingga andil gaya viskos dalam
persamaan momentum menjadi tidak signifikan atau
     
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
11111
x
p
y
u
v
x
u
u
t
u












.
Karena orde sisi kiri harus harus sama dengan sisi kanan,
maka orde nilai
x
p


pastilah 1 juga.
7) Orde nilai (1/Re) ditentukan dengan cara berikut. Jika gradien
tekanan tidak ada, maka
       2
11
2
2
2
2
11111
Re
1























y
u
x
u
y
u
x
u
u
t
u
. Karena orde sisi kiri
189
= orde sisi kanan persamaan, maka orde 










2
2
2
2
Re
1
y
u
x
u
adalah 1. Jadi, [orde (1/Re)](1+1/’2) = 1 atau [orde (1/Re)]
= ’2 sebab nilai ’2 << 1.
Analisis orde
nilai pers.
Momentum-y
Terakhir, kita tinjau orde nilai suku-suku dalam persamaan
momentum-y: 






















2
2
2
2
'
'
'
'
Re
1
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
y
v
x
v
y
p
y
v
v
x
v
u
t
v
1) Orde nilai (v’/t’) adalah
 
   
'
1
'
0
0
nilaiorde
nilaiorde








 v
ULUL
Uv
t
v
t
v
ee
e
2) Orde nilai suku konveksi '
1
'
1
'
'
' 




x
v
u
3) Orde nilai suku konveksi '1'
'
'
'  


y
v
v
4) Orde nilai suku difusi
  '
01
0'
'nilaiorde
''nilaiorde
'
'
2
2











x
xv
x
v
5) Orde nilai suku difusi
 
'
1
0'
01
'nilaiorde
''nilaiorde
'
'
2
2










y
yv
y
v
6) Orde nilai suku gradien tekanan ditentukan dengan cara
berikut. Di tepi luar lapisan batas, arus mengalir bebas dari
pengaruh viskositas, sehingga andil gaya viskos dalam
persamaan momentum menjadi tidak signifikan atau
     
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'''
y
p
y
u
v
x
v
u
t
v












. Karena orde sisi kiri harus harus
sama dengan sisi kanan, maka orde nilai
'
'
y
p


pastilah ’ juga.
7) Orde nilai (1/Re) telah ditentukan sebesar ’2.
Orde nilai
suku-suku
pers. N-S
Berikut bisa dilihat persamaan nir-dimensi N-S dengan orde nilai
dituliskan dalam tanda kurung di atas tiap-tiap suku:
1) kontinuitas:
   
0
'
'
'
'
11






y
v
x
u
2) momentum-x:
           2
2 11
2
2
2
2
1'
1'111
'
'
'
'
Re
1
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
 























y
u
x
u
x
p
y
u
v
x
u
u
t
u
190
3) momentum-y:
            























1
2
2
2
2
11
'
'
'
'
Re
1
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
2
y
v
x
v
y
p
y
v
v
x
v
u
t
v
Nilai ’ biasanya kurang dari 0,01. Suku-suku dengan orde sebesar ’
atau kurang bisa diabaikan relatif terhadap suku-suku berorde 1.
Untuk lapisan batas plat pada Re = 7 juta:
93
62
3
10
10
10









Jadi, dibandingan dengan suku-suku berorde 1, suku-suku berorde ’
sungguh seumpama semut disanding gajah, dan suku-suku ’ 2 dan
’ 3 bahkan lebih kecil lagi. Dengan demikian, maka:
1) Persamaan kontinuitas bertahan.
2) Persamaan momentum-x berkurang satu suku yaitu suku
difusi arah-x.
3) Persamaan momentum-y bisa dihapus sama sekali.
Apa yang tinggal adalah persamaan lapisan batas yang terkenal itu:
1) Kontinuitas : 0
'
'
'
'






y
v
x
u
2) Momentum-x : 2
2
'
'
Re
1
'
'
'
'
'
'
'
'
'
'
y
u
x
p
y
u
v
x
u
u
t
u














D. Penyelesaian Blasius
Metode
eksak
Persamaan ini pertama kali diselesaikan oleh Blasius5 pada kasus:
1) aliran laminer,
2) paralel di atas plat datar, dan
3) gradien tekanan nol.
Di sini, uraian rinci analisis Blasius tidak disertakan, tetapi hanya
diungkapkan hasilnya saja, yaitu:
1) Ketebalan lapisan batas () pada posisi x dari hulu plat adalah
.
2) Gradien kecepatan di permukaan plat adalah
5 H. Blasius, Grenzshichten in Flüssighkeiten mit kleiner Reibung, Z. Math. U. Phys. Sci., 1, 1908.
xe xUx Re
55




191
.
3) Tegangan geser pada permukaan plat adalah
.
4) Koefisien gesekan permukaan lokal (coefficient of local skin
friction) bisa ditentukan sebagai perbandingan tegangan geser
dan tekanan kinetik aliran bebas:
2
2
1
e
fx
U
C



atau
.
5) Koefisien gesekan permukaan total pada plat selebar W dan
sepanjang L bisa ditentukan sebagai perbandingan gaya gesek
pada plat per satuan luas plat dan tekanan kinetik aliran
bebas:
atau
atau
atau
.
Secara visual, Gambar 137 memperlihatkan hubungan tebal lapisan
batas per jarak x dari hulu plat per x (/x) dengan nilai bilangan Re
lokal (Rex). Dari sini tampak bahwa semakin besar Rex semakin tipis
ketebalan lapisan batas. Gambar 138 memperlihatkan dengan lebih
jelas pengaruh kecepatan aliran terhadap ketebalan lapisan batas.
Dari gambar tampak bahwa semakin tinggi kecepatan, semakin tipis
lapisan batas.
x
U
U
y
u e
e
y






332,0
0
x
U
U
y
u e
e
y


 




332,0
0
xee
e
e
fx
xUU
x
U
U
C
Re
664,0
664,0
332,0
2
2
1










 







Lx
x
fx
e
Lx
x
efx
fL dxC
LWLU
WdxUC
C
0
2
2
1
0
2
2
1
1


dx
xUL
C
Lx
x e
fL 



0
664,0
1


  fx
Lx
x
e
fL Cx
UL
C .22
664,0
0 




L
fLC
Re
328,1

192
Gambar 137. Grafik tebal lapisan batas per x (/x) sebagai fungsi Rex
Gambar 138. Tebal lapisan batas () pada berbagai posisi x dari hulu plat
untuk berbagai kecepatan
E. Analisis IntegralMomentum von Kärmän
Metode Penyelesaian Blasius sangat terbatas dalam penerapannya hanya pada
0
1
2
3
4
5
1 10 100 1.000 10.000 100.000
Re lokal di posisi x, Rex
TebalBL/x
0
1
2
3
4
5
0 200 400 600 800 1000
Posisi x (cm)
TebalBL(cm)
Ve 0,1 cm/s Ve 1 cm/s Ve 10 cm/s
193
pendekatan kasus BL laminer di atas permukaan datar. Namun, metode tersebut
sulit diterapkan pada situasi dengan fenomena yang lebih kompleks.
Untuk mengatasi ini, von Kärmän memperkenalkan sebuah metode
pendekatan yang dikenal sebagai Analisis Integral Momentum.
Sesuai dengan namanya, analisis dilakukan dengan berdasarkan pada
penerapan persamaan integral momentum pada CV lapisan batas
Gambar 139. Analisis berikut dilakukan pada keadaan aliran tunak
(steady), dan untuk tiap satuan kedalaman.

x
BLCV
Daerah
Aliran viskos
Daerah
Aliran invisid
Garis Arus
(Streamline)
x+xx
Gambar 139. CV dalam lapisan batas
Persamaan integral momentum-x pada CV adalah:
   

 Vdu
t
dAnVuFx 

dengan:
  x
pp
pp
FFFFF
xxx
xxx
xxx
geser
atas
tekan
kanan
tekan
kiri
tekanx








 






0
2

  atase
xx
y
yx
y
y
mUdyudyudAnvu 








0
2
0
2
)tunakaliran(0


 dV
t

Ungkapan untuk atasm bisa ditentukan dari neraca massa, dan
hasilnya adalah:
xx
y
yx
y
y
atas udyudym





 


00

Penyulihan suku-suku ini ke dalam persamaan momentum-x dan
194
pembangian hasilnya dengan x memberikan:
x
udyudy
U
x
dyudyu
x
pp
x
pp
xxx
e
xxx
xxxxxxxxx



























000
2
0
2
0
2
Pada batas (limit) volume yang menciut mendekati nol persamaan ini
menjadi:
  









y
y
e
y
y
udy
dx
d
Udyu
dx
d
dx
d
pp
dx
d
00
2
0
atau










y
y
e
y
y
udy
dx
d
Udyu
dx
d
dx
d
p
dx
d
p
dx
dp
00
2
0
atau








y
y
e
y
y
udy
dx
d
Udyu
dx
d
dx
dp
00
2
0
atau
 


00
2
0 udy
dx
d
Udyu
dx
d
dx
dp
e
atau (untuk aliran inkompresibel)
  





0
0
dyuUu
dx
d
dx
dp
e
Inilah ungkapan integral momentum von Kärmän.
Untuk menerapkan persamaan ini diperlukan pengetahuan profil
kecepatan u sebagai fungsi jarak dari permukaan y. Akurasi hasil
akhir bergantung pada seberapa dekat profil kecepatan anggapan
dekat dengan yang sesungguhnya.
Contoh Sebagai contoh, persamaan integral momentum von Kärmän
diterapkan pada kasus yang telah diketahui jawaban eksaknya, yaitu
aliran laminer di atas plat datar yang telah diselesaikan oleh Blasius.
Dalam kasus ini, tekanan dalam aliran adalah seragam sehingga
gradiennya nol sehingga persamaan von Kärmän disederhanakan
menjadi:
  



0
0
dyuUu
dx
d
e
Penyelesaian awal didapat oleh Pohlhausen yang menganggap profil
195
kecepatan sebagai fungsi kubik:
32
dycybyau 
Konstanta a, b, c, dan d bisa diperoleh dari syarat batas yang harus
dipenuhi oleh lapisan batas, yaitu:
1) No-slip condition: 0u di y = 0.
2) Di tepi BL (y = ) fluida mengalir dengan kecepatan arus
bebas: eUu  .
3) Di tepi BL (y = ) gradien kecepatan nol: 0


y
u
.
4) Tekanan di mana-mana seragam, sehingga 02
2



y
u
di y = 0.
Evaluasi keadaan di syarat batas memberikan:
1) Di y = 0, 00.0.0. 32
 dcbau sehingga a = 0.
2) Di y = , eUdcbu  32
...0  .
3) Di y = , 0.3.2 2



 dcb
y
u
.
4) Di y = 0, 00.622
2



dc
y
u
sehingga c = 0.
Nilai b dan d selanjutnya bisa diperoleh dari 2) dan 3), hasilnya:
3
2
eU
d  dan


2
33 2 eU
db  . Jadi profil kecepatannya adalah:
ee U
y
U
y
u
3
2
1
2
3








Penyulihan profil kecepatan ini ke dalam persamaan integral
momentum:
  



0
0
dyuUu
dx
d
e
dengan



 e
y
ee
y
U
U
y
U
dy
du
2
3
0
3
2
2
1
2
3
0
0
31








memberikan:
 
































0
3
2
1
2
3
3
2
1
2
32
2
3
1 dy
yyyy
U
dx
dU
e
e
Integrasi persamaan ini memberikan:
196
  dx
d
UU
dx
dU
ee
e 


 2
280
392
280
39
2
3

atau
dx
U
d
e

 13
140
. 
yang hasil integrasinya adalah:
xee
x
x
xU
x
U Re
2
13
1402
13
140
13
1402
2
1






atau
xx
x Re
64,4
Re
13
280


Dari sini bisa ditentukan koefisien gesekan permukaan lokal:
x
x
xee
e
e
fx
x
xUU
U
U
C
Re
646,0
64,4
Re
Re
1
332
2
1
2
3
2
2
1
0








dan integrasi koefisien ini dalam rentang x dari 0 sampai L
memberikan:
x
fxfL CC
Re
292,1
.2 
Tabel 3 merangkum perbandingan hasil penyelesaian eksak (Blasius)
dan hasil penyelesaian pendekatan (von-Kärmän). Perbandingan ini
menunjukkan bahwa selisih hasil pendekatan  hanyalah sekitar 7%
dan Cf hanyalah sekitar 3%. Selisih ini bisa lebih sedikit jika profil
kecepatan yang dianggapkan bisa lebih mewakili profil aktualnya
dengan lebih akurat. Hasil ini menunjukkan bahwa metode
pendekatan layak digunakan jika metode eksak tidak memungkinkan
untuk dilakukan.
Tabel 3. Penyelesaian eksak Blasius vs pendekatan von-Kärmän
Parameter Penyelesaian
eksak
(Blasius)
Penyelesaian
pendekatan
(von-Kärmän)
Selisih
Ketebalan BL
x
x Re
5


x
x Re
64,4

 7%
Koefisien gesekan
permukaan lokal
x
fxC
Re
664,0

x
fxC
Re
646,0

3%
197
Koefisien gesekan
permukaan
L
fLC
Re
328,1

x
fLC
Re
292,1

3%
198
MODUL X.
ALIRAN DALAM SALURAN TERTUTUP
Deskripsi
Saluran tertutup mewakili perpipaan dan duct. Pipa dan duct sangat banyak
dijumpai penerapannya dalam kehidupan manusia. Akibat gesekan, fluida akan
mengalami penurunan tekanan. Oleh karena itu, untuk mengalirkannya dalam
saluran dibutuhkan penekanan dari luar. Aliran cairan dalam saluran tertutup bisa
digerakkan oleh penekanan akibat gaya gravitasi atau oleh pompa. Aliran gas
dalam saluran tertutup bisa digerakkan oleh penekanan oleh blower atau
kompresor. Dengan demikian, fokus bahasan modul ini adalah menentukan
penurunan tekanan yang dialami oleh fluida sewaktu mengalir dalam saluran
tertutup.
Sasaran belajar:
5. Melakukan analisis dimensional untuk perencanaan eksperimen
6. Mendefinisikan diameter ekuivalen (diameter hidrolik) dan panjang
ekuivalen saluran
7. Menggolongkan sifat aliran dalam saluran tertutup
8. Menghitung penurunan tekanan aliran akibat gesekan dalam saluran
tertutup
9. Menyebutkan dan menjelaskan prinsip kerja alat pengukuran kecepatan
aliran dalam saluran tertutup
A. Analisis Dimensional
Analisis
dimensional
Dalam modul sebelumnya telah dilakukan analisis diferensial aliran
laminer dalam pipa. Hasilnya adalah persamaan Poiseuille yang bisa
digunakan untuk menentukan penurunan tekanan yang dialami oleh
fluida yang mengalir dalam pipa.
Namun, penurunan tekanan aliran turbulen tidak bisa ditentukan
secara analitik. Oleh karena itu, satu-satunya jalan yang harus
ditempuh adalah eksperimen. Efisiensi eksperimen telah sangat
terbantu berkat analisis dimensional yang memungkinkan reduksi
jumlah variabel persoalan yang harus ditangani.
Dalam persoalan aliran dalam pipa, variabel yang terlibat beserta
dimensinya diperlihatkan pada Tabel 4.
Tabel 4. Variabel persoalan aliran turbulen dalam pipa
Variabel Lambang Dimensi
1 Penurunan tekanan P MLt–2
2 Kecepatan v L t–1
199
3 Diameter pipa D L
4 Panjang pipa L L
5 Kekasaran permukaan pipa  L
6 Viskositas fluida  ML–1t–1
7 Densitas fluida  ML–3
Menurut teorema Buckingham, cacah bilangan nirdimensi, , ada
sebanyak selisih #variabel dan #dimensi. Dalam kasus ini, cacah
variabel = 7 seperti tampak pada tabel di atas; dan cacah dimensi = 3
(M, L dan t). Dengan demikian maka cacah  adalah (7–3) = 4.
Karena #dimensi = 3, maka bisa diambil tiga variabel inti untuk
menyusun keempat bilangan nirdimensi . Dalam kasus ini
katakanlah diambil variabel: , V, dan D sebagai variabel ini, maka:
1 = a . Vb . Dc . P
2 = d . Ve . Df . L
3 = g . Vh . Di . 
4 = j . Vk . Dl . 
Dengan menyeragamkan dimensi suku-suku kiri dan kanan maka
akan diperoleh:
1 = 1 . V2 . D0 . P atau 1 = P / (.V2)
2 = 0 . V0 . D1 . L atau 2 = L / D
3 = 0 . V0 . D1 .  atau 3 =  / D
4 = 1 . V1 . D1 .  atau 4 = .V.D/ = Re (bil.
Reynolds)
Keempat bilangan nirdimensi ini bisa dikumpulkan menjadi satu
sebagai:
1 = 1(2, 3, 4)
atau
P / (.V2) = 1((L/D), (/D), Re)
Dari analisis sebelumnya telah diperoleh hubungan: P = .g.hL.
Penyulihan hubungan ini ke dalam persamaan terakhir diperoleh:
hL = (V2/g). 1((L/D), (/D), Re)
atau bila dianggap hL tergantung secara linier terhadap (L/D) maka:
hL = (V2/g).(L/D). 2((/D), Re).
Hasil ini memperlihatkan bahwa persoalan yang melibatkan banyak
variabel bisa diringkas hanya menjadi beberapa variabel penting saja.
Dalam kasus ini yang perlu diukur dalam eksperimen tinggal
hubungan antara hL dan fungsi 2((/D), Re). Fungsi 2((/D), Re)
200
biasa disebut dengan istilah faktor gesekan, f. Dengan demikian
persoalan dipermudah menjadi penentuan nilai faktor gesekan
sebagai fungsi (/D) dan Re – dua variabel bebas saja!
B. Faktor Gesekan
2 macam
faktor
gesekan
Cara penyajian data faktor gesekan ada dua macam, yaitu:
 Faktor gesekan Fanning, fF (= f/2), untuk pemakaian dengan
rumus: hL = 2fF (V2/g).(L/D).
 Faktor gesekan Darcy, fD (= 2f), untuk pemakaian dengan
rumus: hL = fD (V2/2g).(L/D).
Perlu dicatat bahwa:
 fF = Cf (koefisien gesekan kulit – skin friction coefficient).
 fD = 4.fF.
Dengan demikian, di dalam pemakaian data faktor gesekan harus
diperhatikan definisi mana yang dipakai – apakah definisi Fanning
atau Darcy.
C. KerugianHead
Kerugian
pada Pipa
Lurus
Dari analisis neraca energi dan persamaan Hagen-Poiseuille:
hL = 32 VL / (gD2)
atau dalam notasi fF:
hL = 32 [/(VD)] . (L/D) . (V2/g) = (32/Re) . (L/D) . (V2/g)
Pembandingan dengan rumus Fanning menunjukkan bahwa:
(32 / Re) = 2fF
atau
fF = 16 / Re
untuk aliran laminer.
Bagaimana dengan fF untuk aliran turbulen?
Nilai fF bisa ditentukan melalui eksperimen sebagai fungsi (/D) dan
Re. Berikut adalah angkuman faktor gesekan Fanning untuk segala
macam aliran:
Aliran Laminer (Re < 2300):
fF = 16 / Re.
Aliran Turbulen (Pipa halus, Re > 3000):
fF
–(1/2) = 4.0 log10{Re.fF
(1/2)} – 0.40
201
Aliran Turbulen (Pipa kasar, dengan (D/)/(Re.fF
(1/2)) < 0.01):
fF
–(1/2) = 4.0 log10{D/} + 2.28
Aliran Transisi Laminer-Turbulen:
fF
–(1/2) = 4.0 log10{D/} + 2.28 – 4.0 log10{4.67(D/)/(Re.fF
(1/2)) + 1}
Aliran dengan 4104  Re  108 dan 0  Re  0.05:
fF
–(1/2) = –3.6 log10{(6.9/Re) + [/(3.7D)](10/9)}, (teliti  1.5%)
Sejauh ini telah dibicarakan perhitungan rugi-rugi aliran di dalam
pipa lurus, lantas bagaimana dengan bentuk pipa yang tidak lurus
(sambungan, belokan, dan katup)?
Kerugian
pada Fitting
Untuk memperhitungkan rugi-rugi karena bentuk dipakai hubungan
berikut yang sepadan bentuknya dengan rumus Fanning:
hL = 2fF (V2/g).(Leq/D)
dengan Leq = panjang ekuivalen, yaitu panjang pipa lurus yang
menghasilkan rugi-rugi sebesar rugi-rugi karena bentuk saluran; atau
dengan rumus:
hL = P / (.g) = K (V2/g)
dengan K = koefisien rugi-rugi yang tergantung pada macam
sambungan (fitting).
Data-data K dan (Leq/D) untuk beberapa macam sambungan
diperlihatkan pada Tabel 5.
Tabel 5. Koefisien rugi dan panjang ekuivalen
Sambungan (fitting) K Leq/D
Belokan 180o 1.6 75
Belokan 90o baku 0.7 32
Belokan 45o baku 0.35 15
Katup gate, bukaan ¼ 20 900
Katup gate, bukaan ½ 4.4 200
Katup gate, bukaan ¾ 0.85 40
Kerugian
pada Pipa
Penampang
Sembarang
Terakhir, bagaimana perhitungan rugi-rugi untuk saluran yang
penampangnya tidak bundar?
Jawabnya: semua hubungan untuk pipa bundar bisa tetap digunakan
untuk saluan berpenampang sembarang dengan sekedar mengganti
diameter D dalam rumus dengan diameter-ekuivalen Deq yang
didefinisikan sebagai:
Deq = 4  (Luas potongan-melintang aliran) / (Keliling-saluran
yang dibasahi)
202
Keliling-saluran yang dibasahi fluida biasa disebut juga sebagai “jari-
jari hidrolik, Rh.” Contoh perhitungan Deq untuk pipa konsentris
dengan garis-tengah luar Do dan garis-tengah dalam Di adalah:
Luas potongan-melintang aliran = (Do
2 – Di
2)/4
Keliling-saluran yang dibasahi, Rh = (Do + Di)
Deq = 4  [(Do
2 – Di
2)/4] / [(Do + Di)]
 Deq = Do – Di
D. Macam Persoalan Aliran
3 Macam
Persoalan
Faktor gesekan terkait dengan enam parameter aliran, yaitu:
1) Diameter pipa, D
2) Kecepatan rerata, v
3) Densitas fluida, 
4) Viscositas fluida, 
5) Kekasaran pipa, 
6) Rugi-rugi gesekan per satuan massa.
Jadi, jika diketahui 5 dari keenamnya maka satu parameter sisanya
bisa diperoleh dengan menggunakan diagram faktor-gesekan.
Ada tiga macam persoalan yang paling lazim, yaitu:
 Macam 1: Diketahui: D, , , , Q Dicari: hf
 Macam 1: Diketahui: D, , , , hf Dicari: Q
 Macam 1: Diketahui:  , , , hf, Q Dicari: D
Persoalan macam-1 bisa diselesaikan secara langsung, sedangkan
macam-2 dan 3 memerlukan coba-coba (trial and error).
Tiga persoalan dasar yang biasa dijumpai dalam perhitungan aliran-
pipa adalah sebagai berikut. Nilai parameter , , g, dan L sudah
tertentu.
1) Diketahui D, v (atau Q), hitung penurunan tekanan (persoalan
penurunan-tekanan).
2) Diketahui D, P, hitung kecepatan atau laju aliran (persoalan
laju-aliran).
3) Diketahui Q, P, hitung diameter D pipa (persoalan
penentuan ukuran pipa – sizing problem)
E. PengukuranAliran
Venturi meter Dalam alat ukur ini (Gambar 140) fluida dipercepat oleh karena
203
laluannya yang berupa kerucut dengan sudut 1 15-20o. Perbedaan
tekanan antara ujung hulu dan kerongkongan (throat) mewakili laju
aliran fluida.
Fluida kemudian diperlambat pada kerucut dengan sudut yang lebih
kecil 2 5-7o di mana sebagian besar energi kinetik diubah kembali
menjadi energi tekanan. Karena pengurangan luasan yang perlahan
maka tidak terbentuk vena-contracta dan luasan aliran minimum pada
kerongkongan sehingga koefisien kontraksinya sama dengan satu.
Konstruksi alat ukur ini mahal, tetapi sifat pemulihan energinya
tinggi sehingga bisa digunakan walaupun head tekanan yang tersedia
kecil.
Supaya pemulihan tekanannya besar, sudut kerucut hilir dibuat kecil
sehingga separasi lapisan-batas bisa dicegah dan gesekan
diminimalkan. Karena separasi tidak terjadi pada penampang-lintang
mengecil, kerucut hulu bisa dibuat lebih pendek daripada kerucut
hilir dengan hanya sedikit gesekan, sehingga ruang dan bahan bisa
dihemat.
Walaupun venturimeter bisa digunakan untuk pengukuran gas, tetapi
paling biasa digunakan untuk pengukuran cairan. Oleh karena itu,
pembicaraan berikut dibatasi pada fluida inkompresibel.
12
ba
Throat
Gambar 140. Venturimeter
Persamaan
Venturimeter
Persamaan dasar untuk venturimeter bisa diperoleh dari persamaan
Bernoulli untuk fluida inkompresibel antara dua irisan a dan b.
Gesekan diabaikan dan posisi venturimeter dianggap horizontal.
204
Jika Va dan Vb adalah kecepatan rata-rata di hulu dan hilir dan 
adalah densitas fluida, maka
bbbaaa ghVpghVp   2
2
12
2
1
karena ha = hb maka persamaan bisa disusun untuk kecepatan
menjadi:
 

ba
ab
pp
VV


222
Hubungan kecepatan di a dan b bisa diperoleh dari persamaan
kontinuitas:
bbbaaa
ba
AVAV
mm
 
 
untuk aliran inkompresibel a = b sehingga:
bb
a
b
b
a
b
b
a
b
a VV
D
D
V
D
D
V
A
A
V 2
2
2
4
2
4









dengan Da = diameter pipa, Db = diameter kerongkongan (throat),
dan  = rasio diameter (Db/Da). Jika Va dari kedua persamaan
dieliminasi maka:
   

 ba
bb
pp
VV


2222
atau:
 

ba
b
pp
V



2
1
1
4
Persamaan ini berlaku hanya untuk aliran fluida inkompresibel.
Untuk memperhitungkan rugi gesekan di antara lokasi a dan b,
persamaan ini dikoreksi dengan memperkenalkan sebuah faktor
empiris CV. Koefisien CV ditentukan secara eksperimen dan disebut
koefisien venturi.
Jika  < ¼ (atau Db kurang dari Da/4) maka pengaruh  bisa
diabaikan karena suku 4
11  menjadi sangat kecil dan error yang
diakibatkannya kurang dari 0,2 persen.
Untuk venturi berdesain baik, konstanta CV bernilai:
 sekitar 0,98 untuk pipa berdiameter 2 sampai 8 inch dan
 sekitar 0,99 untuk diameter yang lebih besar.
Venturimeter dengan desain yang memadai menghasilkan rugi
tekanan permanen sebesar lk. 10% dari beda tekanan venturi (pa –
pb), dan 90% sisanya terpulihkan.
Laju aliran volumetrik. Kecepatan di kerongkongan venturi Vb
biasanya bukanlah merupakan besaran yang ingin diketahui.
205
Informasi aliran yang berguna secara praktis adalah laju aliran massa
dan volume melalui alat ukur. Laju aliran volume dihitung dari:
bb AVQ 
dan laju aliran massa dihitung sebagai perkalian Q dan densitas:
bb AVQm   .
Berikut adalah dimensi baku dari venturimeter:
 Sudut kerucut masuk (2.1) = 212o
 Sudut kerucut keluar (2.2) = 5 sampai 15o
 Kerongkongan: panjang = diameter
Orificemeter Venturimeter konstruksinya relatif rumit, walaupun memiliki
kelebihan: handal, rugi-rugi tekanannya kecil, dan luas digunakan
(khususnya untuk volume aliran gas dan cairan yang besar). Untuk
jalur pipa kecil, karena rumitnya konstruksi, harga venturimeter
menjadi mahal. Oleh karena itu digunakan alat yang lebih sederhana,
yaitu: orificemeter.
Orificemeter terdiri dari orifice, yaitu sebuah plat datar yang
berlubang lingkar di tengahnya. Gambar 141 memperlihatkan dua
lubang-pencatat tekanan tepat di hulu dan di hilir orifice yang
dipasangi manometer.
Gambar 141. Orificemeter
Penempatan
lubang
pencatat
Ada tiga macam cara penempatan lubang-pencatat (tap) yang
dikenal, dan koefisien orificemeter tergantung pada posisi lubang
pencatat ini.
1) Jenis lubang-pencatat (tap) berupa flange, jarak lubang-
pencatat hulu & hilir sama-sama 1 inch.
2) Jenis lubang-pencatat (tap) berupa vena contracta, jarak
lubang-pencatat di hulu = ukuran diameter dalam pipa & di
206
hilir = 0,3-0,8 diameter dalam pipa.
3) Jenis lubang-pencatat (tap) berupa pipa, jarak lubang-pencatat
di hulu = 2,5 kali diameter pipa nominal & di hilir = 8 kali
diameter pipa nominal.
Prinsip Kerja Prinsip kerja orifice. Prinsipnya identik dengan venturimeter.
Penurunan penampang lintang aliran yang melalui orifice akan
menaikkan head kecepatan yang disertai dengan penurunan head
tekanan, dan penurunan tekanan antara lubang-lubang pencatat
diukur menggunakan manometer.
Persamaan Bernoulli merupakan dasar keterkaitan antara kenaikan
head kecepatan dan penurunan head tekanan.
 

ba
a
b
b
pp
A
A
V









2
1
1
2
Kesulitan dengan orificemeter, yang tidak dijumpai pada
venturimeter, terletak pada rumitnya penentuan Ab (vena contracta).
Luas vena-contracta biasa ditentukan berdasarkan keterkaitannya
dengan penampang lintang orifice (Ao) yang disebut sebagai
koefisien kontraksi Cc:
o
b
c
A
A
C 
Dengan demikian, karena Vo.Ao = Vb.Ab maka Vo = Vb.Cc sehingga
 

ba
a
o
c
c
cbo
pp
A
A
C
C
CVV









2
1
2
2
Namun persamaan ini kurang praktis sehingga diperkenalkan
koefisien discharge Co untuk memperhitungkan (a) parameter Cc, dan
(b) rugi-rugi gesekan dalam alat, sehingga persamaan kecepatan
menjadi lebih sederhana:
 

ba
a
o
o
o
pp
A
A
C
V









2
1
2
atau:
 

bao
o
ppC
V



2
1 4
dengan  = (Do/Da).
Dengan demikian laju aliran Q melalui pipa dihitung dari persamaan:
207
 

baoo
oo
ppAC
AVQ



2
1 4
Co sangat bervariasi dengan rasio (Ao/Aa) dan bilangan Reynolds.
Nilai Co bisa diambil 0,61 untuk alat ukur baku pada bilangan
Reynolds lebih dari 104, walaupun nilai tersebut terasa berubah pada
nilai Reynolds yang lebih rendah.
Pemulihan tekanan orifice. Rugi tekanan permanen bergantung pada
nilai  = (Do/Da). Untuk  = 0,5 rugi tekanan mencapai 73% dari
perbedaan tekanan orifice.
Venturi vs
orifice
Dalam pembandingan kedua alat ukur harus dipertimbangkan pula
biaya instalasi dan biaya operasi.
1) Plat orifice bisa mudah diubah untuk mengakomodasi
berbagai laju aliran yang sangat berbeda, sedangkan diameter
kerongkongan venturi tetap, sehingga rentang laju alirannya
dibatasi oleh batas praktis dari p.
2) Orificemeter menimbulkan kerugian tekanan permanen yang
besar karena adanya olakan pada sisi hilir plat orifice; bentuk
venturimeter mencegak pembentukan olakan sehingga rugi-
rugi permanen bisa dikurangi.
3) Orifice murah dan mudah dipasang. Venturimeter mahal, dan
harus difabrikasi dengan teliti. Orifice buatan sendiri
seringkali sangat memuaskan, sedangkan venturimeter praktis
selalu harus dibeli dari agen instrumen.
4) Kerugian head (berarti pula kerugian daya) pada orifice
berkali-kali lebih besar daripada pada venturi. Jadi, bila
orifice dipasang pada sebuah jaringan yang menyalurkan
fluida secara terus-menerus sepanjang waktu yang lama,
biaya rugi-rugi daya boleh jadi tidak seimbang dengan
penghematan biaya alat. Oleh karena itu, orifice paling baik
digunakan untuk tujuan pengujian atau kasus-kasus lain di
mana kerugian daya bukanlah faktor penting.
5) Orifice, walaupun kerugian dayanya besar, sangat luas
digunakan karena keluwesannya yang lebih besar, karena
pemasangan sebuah plat orifice baru dengan bukaan yang
berbeda mudah dilakukan – venturimeter tidak sedemikian
mudah diubah. Venturimeter digunakan hanya untuk instalasi
permanen.
6) Orificemeter memberikan pembacaan yang lebih tinggi
daripada venturimeter pada kecepatan yang sama.
Tabung pitot Tabung pitot adalah alat untuk mengukur kecepatan lokal sepanjang
sebuah garisarus (streamline). Tabung pitot (Gambar 142)
mempunyai dua tabung: yaitu tabung stagnasi (a) dan tabung statik
(b).
Mulut tabung-stagnasi (a) menantang arah aliran, sedangkan mulut
208
tabung-statik paralel dengan arah aliran. Kedua tabung dihubungkan
dengan manometer atau alat serupa untuk mengukur beda tekanan.
Tabung statik mengukur Pstatik, karena tidak ada komponen kecepatan
yang tegak lurus dengan mulutnya. Tabung stagnasi mengukur Pstatik
+ Pkinetik – atau dalam head, tabung stagnasi mengukur head tekanan
statik plus head kecepatan. Oleh karena itu, bacaan pada manometer
(hm) akan terkait dengan head kecepatan (V2/2g).
Gambar 142. Tabung Pitot
Analisis
tabung Pitot
Analisisnya rincinya demikian. Penerapan persamaan Bernoulli pada
titik a dan b memberikan:
bbbaaa ghVPghVP   2
2
12
2
1
karena di titik stagnasi (a) kecepatan Va = 0, maka persamaan
menjadi:
  gd
PP
hhg
PP
V ba
ba
ba
b 





222
Fluida dalam tabung mulai dari (a) sampai (b) berada dalam keadaan
diam sehingga dari persamaan statika:
bmmma PghghdgP   2
1
atau:
  dgghPP mmba 2
1
 
atau:
gdgh
PP
m
mba








122



Penyulihan ungkapan ini ke dalam ungkapan Vb menghasilkan:
209
m
m
b ghV 





 12


Gambar 143. Setup tabung Pitot
Setup tabung
Pitot
Setup tabung pitot berikut tersusun dari dua tabung konsentrik yang
disusun paralel dengan arah aliran; tekanan stagnasi diukur pada
ujung bukaan tabung bagian dalam. Lihat Gambar 143. Ujung dari
tabung konsentrik luar ditutup rapat dan sederetan orifice pada
permukaan lengkung memberikan indikasi akurat tentang tekanan
statik.
Supaya laju aliran tidak terlalu banyak terganggu, diameter instrumen
tidak boleh lebih dari 1/9 diameter pipa. Pengukuran akurat dari
tekanan stagnasi bisa diperoleh menggunakan sebuah tabung
berdiameter sangat kecil dengan ujung bukaannya tegak lurus dengan
arah aliran.
Tabung pitot mengukur kecepatan hanya pada sebuah filamen cairan,
dan karenanya bisa digunakan untuk memetakan distribusi tekanan
melintang pipa. Jika diinginkan pengukuran aliran total dari fluida
melalui pipa, kecepatan harus diukur pada berbagai jarak dari dinding
dan hasilnya diintegrasikan. Laju aliran total bisa dihitung dari hanya
satu bacaan apabila distribusi kecepatan melintang permukaannya
telah diketahui.
Kecepatan yang diperoleh dari pengukuran dengan tabung pitot yang
sempurna akan memenuhi persamaan:
210
m
m
ghV 





 12


Namun demikian, semua alat harus dikalibrasi dan terhadap hasil
pengukuran dikenakan sebuah faktor koreksi.
Rotameter Pada orificemeter, luasan hambatan (orifice) konstan dan penurunan
tekanan merupakan fungsi dari laju aliran.
Pada rotameter sebaliknya, penurunan tekanan konstan dan luasan
hambatan (orifice) fungsi dari laju aliran.
Rotameter terdiri dari sebuah tabung gelas tapered dengan diameter
terkecil di dasar. Tabung terdiri dari apungan yang bisa bergerak
bebas dengan penyangga pada dasar tabung. Jika fluida mengalir,
apungan menaik sampai beratnya diimbangi oleh gaya dorong fluida,
dan apungan mencapai posisi setimbangnya. Posisi inilah yang
menunjukkan laju aliran dan besarnya bisa dibaca pada skala di
sebelahnya yang biasanya ditorehkan pada tabung gelas.
Apungan distabilkan dengan adanya celukan helik yang membuatnya
berputar – dari sinilah nama rotameter diturunkan.
Bentuk-bentuk apungan lainnya bisa digunakan – termasuk bola pada
alat yang lebih kecil.
Gambar 144. Rotameter
Penurunan tekanan melalui apungan sama dengan beratnya dibagi
dengan penampang-lintang terbesar pada bidang horizontal. Luasan
untuk aliran adalah annulus yang dibentuk antara apungan dan
dinding tabung.
Rotameter, oleh karenanya, biasa dipandang sebagai orificemeter
dengan bukaan/celah beragam, dan rumus yang diturunkan untuk
orificemeter atau venturimeter tetap berlaku dengan hanya sedikit
perubahan.
211
Baik pada orificemeter maupun rotameter penurunan tekanan timbul
karena konversi energi tekanan menjadi energi kinetik (ingat
persamaan Bernoulli) dan rugi-rugi gesekan yang diperhitungkan
dalam koefisien discharge (CD).
Gambar 145. Gaya-gaya yang bekerja pada apungan
Analisis
aliran
Analisis alirannya demikian. Informasi yang ingin dicari adalah
ungkapan untuk menghitung debit aliran di posisi 2. Berdasarkan
persamaan Bernoulli, pada posisi 1 dan 2 (Gambar 145) berlaku
hubungan:
2
2
22
1
21
2
12
1
1 ghVpghVp  
atau:
 
 21
212
1
2
2 22 hh
pp
VV 

 

Suku 2(h1 – h2) bernilai negatif. Jika pengaruh suku ini diabaikan
maka akibatnya prediksi V2 dari persamaan tersebut akan lebih besar
dari seharusnya. Namun, keuntungannya adalah diperolehnya
ungkapan yang lebih sederhana:
 

212
1
2
2 2
pp
VV


Hubungan V1 dengan V2 bisa diperoleh dari persamaan kontinuitas:
2211 AVAV 
dengan A1 penampang tabung dan A2 penampang annulus (luasan di
antara tabung dan apungan), atau:
1
2
21
A
A
VV 
212
sehingga ungkapan untuk V2 menjadi:
 

21
2
1
22
2
2
2 2
pp
A
A
VV








atau:
 
 

21
2
12
2 2
1
1 pp
AA
V



Selanjutnya kita manfaatkan hubungan gaya-gaya yang bekerja pada
apungan:
  0drag
bawahke
tekan
ataske
tekanberatapungy FFFFFF
atau:
02211  dragfff FApApgVgV 
dengan f adalah densitas apungan, dan Vf adalah volume apungan.
Selanjutnya anggaplah A1 = A2 = Af yaitu luasan proyeksi apungan
searah aliran. Dari sini diperoleh ungkapan untuk penurunan tekanan
menjadi:
 
f
drag
f
f
f
A
F
g
A
V
pp  21
Untuk mudahnya pengaruh Fdrag diabaikan, walaupun dengan akibat
prediksi nilai p1 – p2 menjadi lebih besar dari seharusnya, sehingga:
g
A
Vpp
f
ff








121



Penyulihan ungkapan ini ke dalam persamaan kecepatan V2
menghasilkan:
 
g
A
V
AA
V
f
ff








 12
1
1
2
12
2


Ungkapan ini, karena pengabaian-pengabaian yang dilakukan
sewaktu penurunannya, akan memberikan nilai V2 yang lebih besar
dari yang seharusnya. Oleh karena itu, ungkapan debit aliran yang
diperoleh dari perkalian V2.A2 perlu dikoreksi dengan sebuah faktor
menjadi:
 
g
A
V
AA
AC
AVCQ
f
ffD
D 







 12
1
2
12
2
22


dengan CD adalah koefisien hambat aliran dari apungan yang
tergantung pada:
1) bentuk apungan, dan
2) bilangan Reynolds (dihitung berdasarkan kecepatan aliran di
213
annulus dan diameter hidrolik rerata anulus).
Secara umum, apungan yang memberikan koefisien hambat hampir
konstan adalah yang bentuknya menimbulkan arus olakan dan
memberikan nilai CD yang rendah.
Koefisien apungan CD yang konstan timbul karena turbulensi, dan
karena alasan ini koefisien praktis tidak tergantung pada viskositas
fluida. Alat bisa dibuat relatif tidak peka erhadap perubahan densitas
fluida dengan memilih densitas apungan f. Jika densitas apungan
dua kali densitas fluida, maka posisi apungan tidak tergantung pada
densitas fluida.
Pemasangan Rotameter harus dipasang vertikal (dengan tabung-aliran tegak lurus
terhadap lantai) karena bekerja atas dasar gravitasi. Rentang
pengukuran rotameter bisa ditingkatkan dengan mengatur densitas
apungan. Untuk tekanan tinggi, tabung gelas diganti dengan tabung
logam. Jika tabung metal digunakan atau jika cairannya sangat gelap
atau kotor, untuk pembacaan diperlukan indikator eksternal.
Kelebihan rotameter adalah pembacaan visualnya yang langsung,
skalanya hampir linier, dan kerugian head konstan (dan kecil).
Rotameter tidak harus di pasang pada jalur pipa yang lurus di hulu
dan hilirnya.
Gambar 146. Macam-macam geometri apungan
214
MODUL XI.
ALIRAN DALAM SALURAN TERBUKA
Deskripsi
Saluran terbuka mewakili sungai dan kali alami serta kanal buatan manusia.
Aliran dalam saluran terbuka terjadi akibat gaya gravitasi karena perbedaan
ketinggian muka fluida di hulu dan hilir. Dengan demikian, fokus bahasan modul
ini adalah menentukan kecepatan aliran akibat beda ketinggian hulu-hilir.
Sasaran belajar:
10. Membedakan saluran terbuka dari saluran tertutup
11. Mendefinisikan radius hidrolik
12. Menggolongkan sifat aliran fluia dalam saluran terbuka
13. Menghitung kecepatan aliran fluida dalam saluran terbuka
Aliran
Saluran
Terbuka
Aliran saluran terbuka adalah aliran fluida cair dalam saluran dengan
permukaan bebas. Aliran ini pada praktiknya dijumpai pada kanal,
selokan, kali, sungai, dlsb.
Aliran dalam saluran terbuka didominasi oleh pengaruh gravitasi. Di
sini tidak ada pengaruh gradien tekanan, sebagaimana dijumpai pada
saluran dalam saluran tertutup, karena fluida di sepanjang saluran
kontak dengan atmosfir. Keberadaan permukaan bebas, yang
tekanannya di mana-mana atmosferik, membuat analisis menjadi
lebih ringan sekaligus lebih berat. Lebih ringan karena tidak adanya
gradien tekanan menyebabkan gaya-gaya yang bekerja tinggal
gravitasi dan gesekan. Lebih berat karena bentuk permukaan bebas
tidak bisa diketahui di depan, sehingga profil kedalaman menjadi
persoalan tambahan yang harus diselesaikan, khususnya dalam
persoalan yang melibatkan gerakan gelombang.
Karena kerumitan persoalan aliran dalam saluran terbuka, maka
tinjauan dalam modul ini hanya akan bersifat pengenalan saja.
Pendekatan
1-dimensi
Fluida dalam saluran terbuka kontak dengan dinding dasar dan
pinggir saluran di mana berlaku keadaan nir-gelincir (no-slip
condition). Dengan demikian, aliran ke satu arah dalam saluran lurus
akan memiliki distribusi kecepatan tiga-dimensi. Distribusi kecepatan
aliran pada bidang irisan melintang saluran tidaklah sederhana.
Secara teknik biasa diambil pendekatan sangat sederhana dengan
menganggap aliran bersifat satu-dimensi dengan kecepatan v(x) pada
tiap luasan tampang lintang A(x) pada posisi x sepanjang saluran.
Karena densitas praktis konstan, maka berdasarkan persamaan
kontinuitas, debit aliran Q juga konstan sepanjang saluran
Q = v(x).A(x) = konstanta
Untuk aliran steady, persamaan Bernoulli juga bisa diterapkan di sini
dengan serta memperhitungkan efek gesekan. Antara titik 1 di hulu
215
dan 2 di hilir berlaku persamaan:
Lghghvpghvp   2
2
22
1
21
2
12
1
1
Jika kedua titik ada di permukaan bebas, maka tekanan keduanya
sama sehingga persamaan menjadi:
Lghghvghv   2
2
22
1
1
2
12
1
Kerugian head gesekan hL
g
v
D
L
fh
h
L
2
2

sangat mirip dengan pada aliran steady dalam saluran tertutup dan
cukup bisa dikorelasikan dengan rumus Moody untuk aliran turbulen
dengan permukaan kasar:






 2121
Re
51,2
7,3
log0,2
1
f
D
f
h
Bilangan Reynolds Re dievaluasi dengan menggunakan diameter
hidrolik Dh yang besarnya sama dengan 4A/P, dengan A adalah luas
penampang saluran dan P keliling basah saluran.
Pada kebanyakan analisis saluran terbuka, alih-alih diameter hidrolik
Dh digunakan radius hidrolik Rh yang besarnya sama dengan ¼ Dh
P
A
DR hh  4
1
Kelilih basah P hanya memperhitungkan panjang dinding saluran
pada penampang lintang saluran yang kontak dengan fluida,
sedangkan panjang permukaan bebasnya tidak diperhitungkan. Jadi,
pada saluran terbuka persegi selebar b dengan kedalaman air h:
hbbukanhbP
bhA
22:2 

Aliran saluran terbuka biasanya turbulen karena dimensi fisik saluran
yang biasanya besar (dibandingkan pada pipa) dengan air
berviskositas kecil di dalamnya. Aliran laminer paling-paling
dijumpai pada aliran selapis tipis air di permukaan jalan dan landasan
pesawat terbang.
A. KlasifikasiAliran
Klasifikasi
aliran -
berdasarkan
kedalaman
Metode klasifikasi aliran saluran terbuka yang paling lazim adalah
berdasarkan laju perubahan kedalaman permukaan bebas. Kasus
paling sederhana dan paling luas dianalisis adalah aliran seragam,
yaitu aliran steady dengan kedalaman fluida (berarti juga kecepatan
alirannya) konstan.
Keadaan aliran seragam dihampiri sebagai saluran lurus panjang
216
berluas penampang konstan dan slope (kemiringan) konstan. Saluran
dalam aliran seragam disebut bekerja pada kedalaman normal yn,
sebuah parameter desain yang penting.
Jika kemiringan atau penampang lintang saluran berubah atau
terdapat penghalang dalam aliran, kedalaman akan berubah dan aliran
dikatakan beragam. Aliran dikatakan beragam perlahan jika
pendekatan satu-dimensi sahih, dan jika tidak maka aliran dikatakan
beragam cepat.
Dari sini maka klasifikasi aliran bisa dirangkum sbb:
1) Aliran seragam (kedalaman & kemiringan konstan
2) Aliran beragam
a) Beragam perlahan (satu dimensi)
b) Beragam cepat (multidimensi)
Biasanya peralihan dari aliran seragam menjadi aliran beragam cepat,
atau sebaliknya, diperantarai oleh daerah aliran beragam perlahan.
Aliran beragam perlahan bisa dianalisis dengan persamaan diferensial
orde-1, tetapi aliran beragam cepat biasanya membutuhkan
eksperimen atau teori potensial 3-D.
Klasifikasi
aliran –
berdasarkan
bil. Froude
Klasifikasi kedua berdasarkan bilangan tak berdimensi Froude Fr.
Untuk saluran segiempat atau saluran yang sangat lebar:
gy
v
Fr 
dengan y adalah kedalaman fluida. Berdasarkan bilangan ini aliran
dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu:
1) Aliran subkritis, jika Fr < 1,0
2) Aliran kritis, jika Fr = 1,0
3) Aliran superkritis, jika Fr > 1,0
Pengelompokkan seperti ini mirip dengan pada fenomena aliran gas
kompresibel. Pada aliran gas, klasifikasi dilakukan berdasarkan
bilangan Mach dikelompokkan menjadi aliran subsonik, sonik dan
supersonik. Bilangan Mach sendiri merupakan perbandingan antara
kecepatan aliran dan kecepatan rambat gelombang dalam gas
(= kecepatan suara).
Dengan analogi ini maka, Fr bisa ditafsirkan sebagai perbandingan
kecepatan aliran fluida dan kecepatan rambat gelombang permukaan
pada fluida.
1) Pada aliran kritis, kecepatan aliran tepat sama dengan
kecepatan perambatan gelombang permukaan.
2) Pada aliran subkritis, fluida mengalir lebih lambat daripada
kecepatan perambatan gelombang permukaan. Secara fisik,
aliran fluida di permukaan tampak tenang.
3) Pada aliran superkritis, fluida mengalir lebih cepat daripada
217
kecepatan perambatan gelombang permukaan. Secara fisik,
aliran fluida di permukaan tampak deras. Jika aliran fluida di
hilirnya subkritis, maka aliran akan terhambat sehingga fluida
membukit. Fenomena ini disebut sebagai lompatan hidrolik
(hydraulic jump).
c c-vy y+y
Dasar saluran
Gelombang permukaan
CV Bergerak
Gambar 147. CV bergerak mengikuti gelombang permukaan
Analogi Fr
dan Ma
Sesungguhnya bilangan Froude memang analog dengan bilangan
Mach. Uraian penjelasannya adalah sbb. Bayangkan fluida dalam
kanal selebar b. Di permukaan, gelombang setinggi y merambat
dengan kecepatan tetap c ke arah fluida diam (dari kanan ke kiri).
Gelombang permukaan akan mengimbaskan aliran massa fluida
sebesar v ke arah fluida diam.
Fenomena ini lebih mudah dianalisis dengan mengambil CV
bergerak mengikuti gelombang (Gambar 147). Dengan demikian
aliran menjadi steady.
Neraca massa pada CV adalah:
  0
,0



 dAnvdV
t
steady

 
    0  kanankiri
dAnvdAnv 
   
b
yybvcbyc

 10

   0 yyvccy 
  0
0
 yyvyccycy  
218
sehingga:
yy
y
cv





Neraca energi pada CV adalah:
  

  adatdk
steady
WQdAnveedV
t .,0
,0



 
    0  kanankiri
dAnvedAnve 
Integrasi persamaan ini diikuti dengan penyederhanaan &
penganggapan tidak ada gesekan akan menghasilkan persamaan
Bernoulli. Karena tekanan di kiri dan kanan CV sama besar, maka
persamaan Bernoulli tinggal menjadi:
   yygvcgyc  
2
2
12
2
1
yggyvvccgyc   2
2
12
2
12
2
1
ygvvc   2
2
1
Penyulihan v dari neraca massa memberikan:
yg
yy
y
c
yy
y
cc 













2
2
1
yg
yy
y
yy
y
c 












 2
12
1










yy
y
yy
gc



2
1
2
1
Jika usikan gelombang jauh lebih kecil dari kedalaman (y << y)
maka:
gyc 2
atau:
gyc 
Jadi akar kuadrat dari gy tidak lain adalah kecepatan penjalaran
gelombang permukaan.
B. Aliran Seragam
Aliran
seragam
Aliran saluran terbuka seragam adalah aliran dengan kedalaman
fluida dan penampang lintang saluran yang tetap. Jika aliran
diketahui, kedalaman fluida bisa dihitung. Jika kedalaman maksimum
219
yang diijinkan diketahui, aliran maksimum bisa dihitung.
Gambar 148. Saluran terbuka
Persamaan
Chezy
Dalam aliran seragam kedalaman air tetap sebesar kedalaman
normalnya yn dan kecepatan konstan di sepanjang saluran.
Persamaan Bernoulli pada saluran dengan kemiringan (slope)
S = tan() dari hulu 1 ke hilir 2 dengan demikian menjadi:
Lghghgh   21
atau:
hh
h
L
RDdengan
g
v
D
L
fSL
hhh
4
2
2
21


atau:
  21
21
8
SR
f
g
v h






Untuk bentuk dan kekasaran dasar saluran tertentu, nilai (8g/f)1/2
adalah konstan C. Dengan demikian maka persamaan kecepatan (dan
debit) menjadi:
 
vAQ
SRCv h


21
Inilah rumus Chezy yang dikembangkan pertama kalinya oleh
insinyur Perancis Antoine Chezy. Konstanta C disebut koefisien
220
Chezy yang nilainya beragam dari sekitar 30 m1/2/s untuk saluran
kecil kasar sampai 90 m1/2/s untuk saluran besar halus.
Persamaan
Manning
Pada dasarnya, kerugian gesekan dalam aliran saluran seragam tidak
begitu berbeda dari aliran pipa turbulen berkembang penuh dengan
koefisien gesekan:













 
sekalikecil
h
f
D
f 2121
Re
51,2
7,3
log0,2
1 
Saluran terbuka biasanya kasar dan bilangan Reynolds-nya melebihi
106 sehingga suku yang mengandung pembagian dengan Re bisa
diabaikan:







7,3
log0,2
1
21
hD
f

Persamaan ini bisa dicocokkan dengan ungkapan pendekatan yang
lebih sederhana berupa fungsi pemangkatan (bukan log) sbb:
3131
113,018,0 












hh RD
f

Jika faktor gesekan ini disulihkan ke dalam besaran C = (8g/f)1/2
dalam persamaan Chezy, maka:
61
21
31
113,0
8
hR
g
C 







Jika nilai ini disulihkan ke dalam persamaan Chezy maka diperoleh:
 
  2161
21
31
21
113,0
8
SRR
g
SRCv
hh
tertentu
h
  









karena g konstan dan  bergantung hanya pada sifat fisik saluran,
maka persamaan bisa dinyatakan ringkas, untuk sistem metrik,
menjadi:
SR
n
v h
3
21

Inilah persamaan Manning dalam sistem metrik. Koefisien kekasaran
Manning n telah dipilih tak berdimensi dan sama nilainya untuk
sistem metrik maupun Inggris. Akibatnya, jika digunakan sistem
satuan Inggris, persamaan disesuaikan dengan faktor sebesar 1,49.
Faktor ini bisa dipahami melalui pemahaman dimensi berikut:
221
13112
1
3
1
12
1
31
121
31
113,0
8 













tLtL
L
Lt
adalah
g
Dimensi

Di sini dimensi waktu sama-sama bersatuan detik dalam sistem
metrik dan Inggris, tetapi dimensi panjang berbeda. Oleh karena itu,
faktor koreksinya adalah konversi panjang dari m ke ft dipangkatkan
1/3:
 
n
sft
n
sft
n
smg 13113113121
31
49,12808,3
113,0
8 







Dengan demikian, untuk sistem Inggris persamaan Manning menjadi:
SR
n
v h
3
249,1

Dalam persamaan ini,
 Rh adalah radius hidrolik, yaitu perbandingan antara luas
penampang aliran A dan keliling basah kanal P.
 S adalah kemiringan dasar kanal (ft/ft atau m/m).
 n adalah koefisien kekasaran Manning (n = 0,015 untuk
beton, n = 0,03 untuk kanal alami bersih, dan n = 0,01 untuk
kaca).
Debit aliran adalah hasilkali v dan luas penampang saluran A:
vAQ 
Catatan Selain persamaan Manning, sesungguhnya ada banyak persamaan
serupa lainnya, tetapi persamaan Manning adalah yang paling
populer. Walaupun begitu, hasil prediksinya tidak bagus untuk
saluran yang dalam-halus dan saluran dangkal-kasar. Dalam kasus
ini, sebaiknya dipilih rumusan faktor friksi.
Nilai koefisien Manning bisa berubah bergantung kedalaman air,
pertumbuhan vegetasi musiman, dan faktor lain semisal erosi dasar
saluran.
Contoh Kanal beton terbuka persegi panjang (n = 0,015) dirancang untuk
membawa aliran sebesar 2,28 m3/s. Kemiringan kanal (slope, S)
adalah 0,006 m/m (beda ketinggian 6 m tiap jarak sejauh 1000 m).
Lebar kanal adalah 2 meter. Tentukan kedalaman normal yang terjadi
pada kanal ini.
Pertama, menghitung radius hidrolik R:
n
n
y
y
P
A
R
22
2


Kemudian, menggunakan persamaan Manning:
222
006,0
22
2
015,0
1
228,2
1
1
3
2
3
2
3
2










n
n
n
h
h
y
y
y
SR
n
AAvQ
SR
n
v
Hasilnya:
yn = 0,47m
Contoh Banjir bisa terjadi jika air meluap dari tepi kanal. Berapakah aliran
yang diijinkan dalam kanal beton bergeometri trapesium dengan
gambaran sebagai berikut:
Lebar dasar, b = 35 ft
Kedalaman normal, yn = 25 ft
Kemiringan dinding tepi kanal terhadap bidang datar,  = 20o
Kemiringan kanal (slope), S = 0,001 ft/ft
Karena dinding kanal terbuat dari beton, maka n = 0,015. Kemudian,
radius hidrolik Rh, berdasarkan geometri, bisa ditentukan
menggunakan hubungan berikut:
  
 

sin
2
cot
n
nn
h
y
b
yby
P
A
R



atau:
  
 
ftRh 3,14
2,181
2592
20sin
25
235
20cot253525




Dari sini debit aliran bisa dihitung dengan rumus Manning dalam
sistem Inggris:
 
s
ft
SR
n
AAvQ
SR
n
v
h
h
3
3
2
3
2
3
2
27,26
0003,03,14
015,0
49,1
2592
49,1
49,1




Kesimpulannya, aliran maksimum yang diijinkan = 26,27 cfs
Contoh Berapa laju aliran dalam kanal ragam dinding pada Gambar 149?
Untuk menyelesaikan persoalan aliran dalam kanal seperti ini, tiap
223
bagian beda kanal diperlakukan terpisah. Nilai A, R, P dan Q
ditentukan untuk tiap penampang bagian dengan koefisien kekasaran
berbeda.
Penampang berumput:
Penampang berumput ada 2, yaitu di sisi kiri dan kanan kanal. Debit
aliran pada tiap penampang bisa ditentukan sebagai berikut:
 
 
ft
ft
ft
P
A
Rh 88,1
8
15
35
35 2




sehingga:
 
s
ft
SR
n
AQ h
3
3
2
3
2
24,80
005,088,1
03,0
49,1
15
49,1



Jadi debit aliran pada kedua bagian saluran berumput adalah:
cfs
s
ft
Qberumput 48,16024,802
3

Penampang Beton:
 
 
ft
ft
ft
P
A
Rh 72,2
11
30
335
65 2




sehingga:
 
s
ft
SR
n
AQ hbeton
3
3
2
3
2
6,410
005,072,2
015,0
49,1
30
49,1



Dengan demikian maka debit pada seluruh kanal adalah:
Qtotal = 410,6 + 160,48 = 571 cfs
224
Gambar 149. Saluran terbuka ragam dinding
v1 v2y1 y2
CV
Gambar 150. Lompatan hidrolik
C. LompatanHidrolik
Teori
lompatan
hidrolik
Lompatan hidrolik (Gambar 150) terjadi dalam aliran yang
superkritis, yaitu saat fluida mengalir lebih cepat daripada kecepatan
perambatan gelombang permukaan. Berikut ini akan ditinjau teori
lompatan hidrolik (hydraulic jump) paling sederhana, di mana
lompatan dianggap terjadi pada bidang datar. Katakanlah lebar kanal
adalah b.
Neraca massa pada CV adalah:
  0
,0



 dAnvdV
t
steady

 
    0  kanankiri
dAnvdAnv 
02211  byvbyv 
atau:
1122 yvyv 
Neraca energi pada CV adalah:
  

  adatdk
steady
WQdAnveedV
t .,0
,0



 
5’ 5’ 5’
Beton
n = 0,015
S=0,005ft/ft
3’
3’
Rumput
n = 0,3
Rumput
n = 0,3
225
    0  kanankiri
dAnvedAnve 
Integrasi persamaan ini diikuti dengan penyederhanaan &
penganggapan tidak ada gesekan akan menghasilkan persamaan
Bernoulli. Karena tekanan di kiri dan kanan CV sama besar, maka
persamaan Bernoulli tinggal menjadi:
2
2
22
1
21
2
12
1
1 gyvugyvu  
Kerugian head yang terjadi diredam menjadi kenaikan energi internal
sehingga:
  







 21
2
2
2
1
12
2
yy
g
vv
guughrugi 
21
2
2
2
1
2
yy
g
vv
hrugi 


Berdasarkan hasil analisis neraca massa maka:
212
2
2
1
2
1
1
2
yy
y
y
g
v
hrugi 






Neraca momentum pada CV adalah:
   


FdAnvvvdV
t
steady

 
,0
222
1
112
1
222111 byygbyygbyvvbyvv  
 2
2
2
12
1
2
2
21
2
1 yygyvyv 
 2
2
2
12
1
22
1
2
2
1
2
1 yygy
v
v
yv 








Berdasarkan hasil analisis neraca massa, perbandingan v bisa diganti
dengan perbandingan y sehingga:
   
 
 21
1
2
211
2
2
2
12
22
2
2
1
1
2
2
2
1
2
1
4
1
4
1
4
1
2
yy
y
y
yyy
yyy
y
y
y
y
yy
g
v







Hasil ini bisa digunakan ke dalam persamaan head rugi:
226
 
 
 
 
  
3
12
2
212
2
1
3
1
3
2
21
2
212
2
12
2
1
3
1
3
2
2
21
21
212
2
2
1
21
1
2
212
2
2
1
2
1
33
4
1
44
4
1
1
4
1
1
2
yy
rugi
yyyyyy
yy
yyyyyyyyyy
yy
yy
y
y
yy
y
y
yy
y
y
g
v
h

















Jadi rugi dissipasi lompatan hidrolik adalah:
 
21
3
12
4 yy
yy
hrugi


Dari sini tampak bahwa kerugian disipasi terjadi hanya jika y2 > y1,
artinya lompatan hidrolik terjadi hanya jika aliran di hulu superkritis.
Gambar 151. Aliran tenang (Fr<1)
227
Gambar 152. Aliran deras (Fr>1,0)
Klasifikasi
lompatan
hidrolik
Parameter utama yang mempengaruhi lompatan hidrolik adalah
bilangan Froude,   21
11 gyvFr  , aliran hulu. Bilangan Reynolds
dan geometri saluran hanya memberikan pengaruh sekunder. Dalam
aliran tenang (Gambar 151), dicirikan oleh Fr < 1, tidak mungkin
terjadi lompatan hidrolik. Dalam aliran deras (Gambar 152) bisa
terjadi lompatan hidrolik dengan ciri-ciri yang berbeda sesuai nilai
Fr. Berikut adalah salah satu cara klasifikasi lompatan hidrolik:
1) Pada Fr = 1,0 sampai 1,7 terjadi lompatan berayun dengan
gelombang-diam sepanjang kira-kira 4y2; disipasi energinya
rendah (< 5%).
2) Pada Fr = 1,7 sampai 2,5 terjadi lompatan lemah dengan
permukaan naik secara halus dengan gulungan kecil
gelombang; disipasi energinya 5 sampai 10%.
3) Pada Fr = 2,5 sampai 4,5 terjadi lompatan berosilasi tak
stabil; tiap lendutan tak teratur menghasilkan gelombang
besar yang bisa menjalar ke hilir bermil-mil jauhnya, merusak
tanah pinggir saluran dan struktur lainnya. Disipasi energinya
15 sampai 45%, dan kondisi ini tidak dianjurkan untuk desain.
4) Pada Fr = 4,5 sampai 9,0 terjadi lompatan steady, seimbang
baik dan stabil; dipandang sebagai keadaan terbaik untuk
desain dengan disipasi energi 45 sampai 70%.
5) Pada Fr > 9,0 terjadi lompatan kuat yang agak terputus-putus,
tetapi kinerjanya baik dengan disipasi energi 70 sampai 85%.
228
h
dh
b
H
Gambar 153. Notch berbentuk sembarang
D. PengukuranAliran
Pengukuran
aliran
Notch adalah bukaan pada sisi tangki atau tandon pengukuran yang
merentang ke atas sampai permukaan bebas (free surface). Weir
adalah notch pada skala besar, yang digunakan misalnya untuk
mengukur aliran sebuah sungai, dan tepinya dibuat tajam (tipis) atau
memiliki lebar sepanjang arah aliran.
Metode untuk menentukan aliran teoritik melalui notch sama dengan
yang diadopsi untuk orifice besar.
Untuk notch berbentuk sembarang (Gambar 153), dengan pita selebar
b setebal dh pada kedalaman h di bawah permukaan bebas.
Luas pita, dhbdA .
Kecepatan melalui pita, ghV 2
Aliran melalui pita, dhbghdAVdQ  2.
Integrasi aliran dari h = 0 di permukaan bebas sampai h = H di dasar
notch memberikan aliran teoritis total:
dhbhgdhbghdQQ
Hh
h
Hh
h
..2..2
00






Untuk integrasi persamaan ini diperlukan pengetahuan ungkapan b
sebagai fungsi h.
Notch
persegi
Untuk notch persegi dengan lebar b konstan sebesar B, ungkapan
debitnya adalah:
23
3
2
0
2.2 HBgdhhBgQ
Hh
h
 


229

b
H
h
Gambar 154. Notch-V
Notch-V Untuk notch-V dengan sudut  (Gambar 154),
hH
b






 2
1
2
tan

atau:
   2
1
tan2 hHb 
sehingga ungkapan debit alirannya menjadi:
    dhhhHgdhbhgQ
Hh
h
Hh
h
.tan22..2
0
2
1
0





 
atau:
 
Hh
h
hHhgQ







0
2523
2
1
5
2
3
2
tan22 
atau
  25
2
1
tan2
15
8
HgQ 
Dari sini jelas bahwa bentuk hubungan Q dan H yang diinginkan bisa
diatur dengan memilih bentuk notch yang sesuai.
Seperti halnya pada orifice, aliran aktual melalui notch atau weir bisa
ditentukan dengan mengalikan aliran teoritik dengan koefisien aliran
(discharge coefficient) untuk memperhitungkan kerugian energi dan
kontraksi penampang lintang aliran pada dasar dan sisi notch atau
weir.
Kecepatan aliran cairan menghampiri notch bisa dianggap sangat
kecil sehingga energi kinetiknya bisa diabaikan; selain itu bisa juga
diambil anggapan bahwa kecepatan melalui elemen horizontal pada
notch hanya tergantung pada kedalamannya di bawah permukaan
bebas.
Kedua anggapan ini memuaskan untuk aliran pada notch atau weir di
tepi tandon yang besar. Namun bila notch atau weir ditempatkan pada
tepi kanal sempit, kecepatan hampiran pada weir akan cukup berarti
230
dan head h yang menghasilkan aliran akan meningkat akibat energi
kinetik cairan yang menghampirinya pada nilai:
g
V
hx
2
2
1

dengan v1 adalah kecepatan aliran pada kanal hampiran. Nilai v1
diperoleh dari pembagian aliran dengan luas total penampang kanal
itu sendiri (bukan luas notch). Hasilnya, aliran melalui strip menjadi:
dhbgxdQ ..2
½ 
B
H
Gambar 155. Notch trapesium
Notch
Trapesium
Persamaan untuk aliran melalui notch trapesium (Gambar 155)
diperoleh dari persamaan untuk notch persegi dan V, yaitu:
Vpersegitrapesium QQQ 
dengan:
23
3
2
2 HBgQpersegi 
  25
2tan2
15
8
HgQV 
231
MODUL XII.
ALIRAN EKSTERNAL
Deskripsi
Seperti tergambar dari sebutannya, aliran eksternal mewakili fenomena aliran
yang terjadi di sekitar suatu benda apapun. Dalam geraknya relatif terhadap fluida,
suatu benda akan mengalami gaya hambat dan gaya angkat. Modul ini mengulas
cara menentukan besarnya kedua gaya tersebut.
Sasaran belajar:
14. Membedakan aliran eksternal dari aliran internal
15. Menghitung besar dan menentukan arah gaya hambat dan gaya angkat
yang dialami suatu benda dalam pergerakannya di dalam fluida.
A. Aliran Eksternalvs. Internal
Aliran
eksternal vs.
internal
Pada modul-modul sebelumnya pembahasan terbatas pada aliran
fluida yang melalui saluran berupa dinding padat. Saluran dikatakan
tertutup jika aliran dibatasi sepenuhnya oleh permukaan dinding
padat, dan saluran dikatakan terbuka jika aliran dibatasi sebagian
oleh permukaan dinding padat dan sisanya terbuka atau kontak
dengan atmosfir. Semua aliran yang terjadi di sini dikatakan aliran
internal. Aliran internal digerakkan terutama oleh perbedaan tekanan
atau oleh perbedaan ketinggian.
Modul ini akan membahas aliran eksternal, yaitu aliran yang terjadi
di luar atau di sekitar benda yang terendam dalam fluida (Gambar
156). Aliran semacam ini terjadi, misalnya, di sekitar pesawat
terbang, kendaraan darat, kendaraan air, bangunan, dll. Akibat aliran
di sekitarnya, benda akan mengalami dua macam gaya, yaitu gaya
hambat (drag force) searah aliran, dan gaya angkat (lift force)
tegaklurus arah aliran.
Penerapan Pemahaman tentang aliran eksternal memungkinkan analisis gaya
hambat dan angkat pada benda. Ini diperlukan misalnya dalam
mendesain aspek aerodinamik turbin angin, pesawat terbang, mobil,
dlsb; atau aspek hidrodinamik kapal laut, kapal selam dan kendaraan
air lainnya, aliran di luar pipa pendingin kondenser, dll.
232
Gambar 156. Aliran eksternal
B. Gaya Hambat & Angkat
Gaya hambat
dan angkat
Analisis aliran bisa dilakukan dengan menempatkan sistem koordinat
pada benda. Analisis ini diperlukan untuk memperkirakan besarnya
gaya hambat dan angkat yang bekerja pada benda. Analisis analitik
hanya bisa dilakukan pada persoalan yang sangat disederhanakan.
Dalam praktiknya, analisis aliran di sekitar benda, terlebih lagi yang
memiliki geometri rumit, sangat mengandalkan korelasi empirik yang
diturunkan dari data eksperimen.
Sebuah benda yang terndam dalam aliran fluida akan mengalami
gaya-gaya tekan dan geser viskos. Untuk aliran 2D, resultan gaya-
gaya ini bisa diurai menjadi dua komponen: gaya angkat (lift force)
dan gaya hambat (drag force). Besarnya gaya angkat FL dan gaya
hambat FD ini bergantung pada: densitas fluida (), kecepatan aliran
bebas (V), ukuran/luas benda (A), serta bentuk dan orientasi benda
yang diwakili oleh koefisien gaya angkat CL dan koefisien gaya
hambat CD, yaitu:
 
  AVCFCF
AVCFCF
DkinetikDD
LkinetikLL
2
2
1
2
2
1






Koefisien gaya angkat CL dan hambat CD ditentukan dari eksperimen
(menggunakan terowongan angin atau air) berdasarkan perbandingan
gaya-gaya tersebut dengan gaya kinetik:
233
AV
F
F
F
C
AV
F
F
F
C
D
kinetik
L
D
L
kinetik
L
L
2
2
1
2
2
1


















Koefisien gaya angkat CL dan hambat CD selain bergantung pada
geometri juga pada keadaan aliran sebagaimana tercermin dari
bilangan Reynoldsnya.
Ukuran luas geometri benda A ditentukan berdasarkan definisi yang
dibuat saat pengumpulan data dilakukan. Definisi A berbeda-beda
pada objek kajian yang berbeda sehingga perlu dicermati dengan baik
sebelum suatu korelasi digunakan. Misal,
 Pada silinder berdiameter D sepanjang L, A didefinisikan
sebagai luas tampak depan (frontal area) sebagaimana yang
dihadapi oleh aliran; jadi A = DL.
 Pada sayap pesawat, A bukan didefinisikan sebagai luas
tampak depan melainkan luas bentuk datar sayap (planform
area), yaitu hasilkali panjang tali busur (chord, c) airfoil dan
bentang sayap L; jadi A = cL.
Gaya
hambat:
tekanan &
gesekan
Hambatan bentuk benda (profile drag) tersusun dari dua komponen,
yaitu hambatan gesekan (friction drag) akibat gesekan fluida di kulit
permukaan benda, dan hambatan tekanan (pressure drag) akibat
perbedaan tekanan fluida di depan dan belakang benda.
Hambatan gesekan dan hambatan tekanan sangat bergantung pada
bentuk dan orientasi benda. Benda dengan permukaan yang lebih luas
akan mengalami gaya gesekan yang lebih besar. Hambatan tekanan
biasanya dominan untuk benda gemuk (blunt bodies) dan sangat kecil
untuk benda langsing (streamline). Besarnya hambatan tekanan
sebanding dengan perbedaan tekanan di depan dan belakang benda.
234
Gambar 157. Pemisahan aliran pada aerofoil
Pemisahan
aliran
Pada kecepatan yang cukup tinggi, arus fluida bisa lepas dari
permukaan benda sehingga terjadilah pemisahan aliran (flow
separation). Pemisahan aliran terjadi jika aliran dalam lapisan batas
tidak memiliki cukup energi kinetik untuk mengatasi kenaikan
tekanan arushilir. Untuk terjadinya pemisahan aliran diperlukan dua
syarat, yaitu:
 Gradien tekanan positif, (dp/dx) >0, dan
 Pemisahan aliran lapisan batas (boundary layer flow).
Pada aerofoil, jika sudut antara talibusur (chord) dan arus aliran lebih
besar dari nilai tertentu (beberapa belas derajat) maka terjadi
pemisahan aliran. Pemisahan aliran (Gambar 157) menyebabkan:
 Gaya angkat berkurang karena turunnya perbedaan tekanan di
bawah dan atas aerofoil, dan
 Gaya hambat bertambah karena naiknya perbedaan tekanan di
depan dan belakang aerofoil.
Dalam keadaan ini gaya angkat aerofoil anjlok, seakan kehilangan
gaya angkat. Peristiwa ini biasa disebut stall. Lihat Gambar 158.
235
Gambar 158. Efek pemisahan aliran pada koefisien gaya angkat dan hambat
aerofoil
Ulasan
lapisan batas
Pengenalan konsep lapisan batas (1904) telah membawa kemajuan
signifikan dalam mekanika fluida. Konsep ini memungkinkan
pembagian medan aliran melalui dinding dalam dua daerah, yaitu:
 daerah lapisan batas (viskos), dan
 daerah invisid.
Lapisan batas yang terjadi di sekitar dinding permukaan datar tumbuh
makin tebal ke arus hilir. Pada bilangan Reynolds besar, gaya inersia
lebih besar daripada gaya viskos sehingga gaya viskos tidak bisa
mencegah fluktuasi fluida yang acak dan cepat. Akibatnya aliran
menjadi turbulen. Lihat Gambar 159.
Gambar 159. Pertumbuhan lapisan batas dari laminer ke turbulen
236
Gambar 160. Kurva Cd bola dan silinder
Hambatan gesekan dinding jauh lebih besar dalam lapisan batas
turbulen, dibandingkan dalam lapisan batas laminer, karena gradien
kecepatannya lebih besar.
Pada saat yang sama, karena lebih tingginya kecepatan dalam daerah
dekat dinding, lapisan batas turbulen juga lebih mampu menahan
pemisahan aliran. Efek dari mundurnya lokasi pemisahan aliran
adalah lebih rendahnya hambatan tekanan. Ini tampak pada
penurunan mendadak nilai CD pada bilangan Reynolds ~5105 di
mana lapisan batas menjadi turbulen dan lokasi pemisahan aliran
mundur lebih ke belakang benda (Gambar 160). Di sini, ukuran wake
berkurang dan demikian pula hambatan tekanan.
Kenyataan ini bisa dan telah dimanfaatkan, misalnya, untuk menunda
terjadinya pemisahan aliran pada bola golf dengan cara membuat
cekungan-cekungan (dimples) di permukaannya. Efek dari
mundurnya lokasi pemisahan aliran adalah lebih rendahnya hambatan
tekanan, sehingga secara keseluruhan hambatan aliran bola golf
berkurang, dan bola golf bisa menjangkau jarak lebih jauh.
Contoh Suatu parasut dengan porositas rendah berdiameter 10m diameter
digunakan untuk menurunkan beban 100 kg. Berapakah kecepatan
jatuh terminal benda jika diketahui CD sebesar 1,2 dan densitas udara
1,2 kg/m3.
Gaya-gaya yang bekerja pada kasus penjatuhan benda ini adalah gaya
berat dan gaya hambat. Pada saat awal mulai dilepas, parasut dan
benda bergerak dipercepat sampai saat keadaan terminal tercapai.
Setelah itu, karena gaya-gaya yang berkerja seimbang, percepatan
menjadi nol dan benda bergerak dengan kecepatan jatuh tetap
(disebut kecepatan terminal). Pada keadaan ini, neraca gaya arah-y
(arah jatuh):
237
 
0
0

 
beratDrag
y
FF
FmV
dt
d
atau:
02
2
1
 mgAVC jatuhD 
atau:
AC
mg
V
D
jatuh
2
1

Jika dianggap massa parasut adalah 5 kg, maka:
   
   
 sm
mmkg
smkg
Vjatuh 3,42,18
102,12,1
8,9.5100
2
4
3
2
1
2




238
MODUL XIII.
KESERUPAAN & PEMODELAN
Deskripsi
Mekanika dikembangkan melalui pasangan metode teoritik dan eksperimental
yang keduanya saling melengkapi. Eksperimen yang berhasil memerlukan
perencanaan yang baik. Sebagai bagian penting dari perencanaan eksperimen
adalah analisis dimensional. Analisis dimensional memungkinkan reduksi jumlah
variabel berdimensi yang terlibat dalam eksperimen. Dengan demikian
eksperimen bisa dilaksanakan dengan jauh lebih efisien.
Sasaran belajar:
16. Menjelaskan pengertian dimensi, dimensi dasar, dimensi turunan, dan
sistem satuan
17. Menjelaskan kepentingan dan melakukan analisis dimensional
18. Membedakan keserupaan geometrik, kinematik, dinamik, dan keserupaan
total antara model dan prototip
19. Melakukan penskalaan dari model ke prototip
A. Dimensi
Dimensi Dimensi adalah ukuran kuantitas fisis semisal panjang, waktu,
massa. Satuan adalah pemberian angka pada suatu dimensi, misalnya
panjang dalam m, waktu dalam detik, dan massa dalam kg.
Dimensi ada 2 macam, yaitu:
1. Dimensi primer/dasar (fundamental)
2. Dimensi sekunder/turunan
Dimensi
dasar &
turunan
Dimensi dasar ada 7, yaitu:
1. Massa m (kg)
2. Panjang L (m)
3. Waktu t (sec)
4. Suhu T (K)
5. Arus listrik I (A)
6. Jumlah cahaya C (cd)
7. Jumlah materi N (mol)
Ketujuh dimensi dasar ini bisa dikombinasikan untuk membentuk
semua dimensi turunan. Contoh:
 [Kecepatan] = [Panjang/Waktu] = [L/t]
 [Gaya] = [Massa Panjang/Waktu2] = [mL/t2]
Penentuan
dimensi
dasar
Dimensi yang dipandang dasar atau fundamental sebenarnya dipilih
begitu saja. Ilustrasinya demikian. Luas A adalah karakteristik yang
bisa diukur dari suatu objek, dan berarti luas adalah dimensi.
239
Dimensi luas = dimensi panjang dikuadratkan (A=L2).
Namun boleh juga dikatakan:
Dimensi panjang = dimensi luas diakarkuadratkan (L=A1/2)
Jadi, tidak jelas mana dimensi yang lebih dasar daripada lainnya.
Walaupun demikian, sepintas tampak adanya hirarki kegunaan dalam
sehimpunan dimensi yang serupa. Oleh karena itu, sejumlah dimensi
sepakat dipilih begitu saja sebagai dimensi dasar, dan semua dimensi
yang terkait dengan dimensi dasar disebut sebagai dimensi turunan.
Dari sini bisa dipahami kenyataan bahwa kesepakatan tentang
dimensi dasar di dunia ini memang tidak hanya satu, tetapi lebih dari
satu. Ini bisa dilihat dari perbedaan dimensi dasar dalam dua sistem
satuan berikut:
 Sistem MLt – dengan massa sebagai dimensi dasar.
 Sistem FLt – dengan gaya sebagai dimensi dasar.
Satuan, dengan demikian, tidak lebih dari cara untuk mengangkakan
dimensi. Satuan memberikan skala angka yang bisa dipakai untuk
melakukan pengukuran kuantitas dalam suatu dimensi.
Skala angka satuan, berbeda dari dimensi, bersifat sembarang dan
tidak berurusan dengan hukum fisika. Gagasan tentang sistem satuan
lebih merupakan produk budaya atau peradaban silam yang beragam.
Jadi bisa dimengerti jika suatu dimensi memiliki beragamnya satuan
pengukuran. Akibatnya, makna suatu ukuran bergantung pada cara
bagaimana ia diperoleh, yaitu pada macam sistem pengangkaan yang
digunakan.
B. Nirdimensionalisasi
Nirdimensi-
onalisasi
Persamaan fisika yang biasanya berdimensi bisa menjadi tak
berdimensi jika setiap suku diskalakan dengan dimensi primer yang
terdapat dalam persamaan asalnya.
Dalam persoalan aliran fluida setidaknya ada 3 parameter penskala,
yaitu:
1. L,
2. V, dan
3. P0 - P,
sebab sedikitnya ada 3 dimensi primer dalam persoalan umum
(massa, panjang, dan waktu).
Keuntungan nirdimensionalisasi adalah:
1. Meningkatkan insight tentang parameter kunci.
2. Mengurangi jumlah parameter persoalan:
a. Lebih mudah dikomunikasikan,
b. Lebih sedikit eksperimen,
c. Lebih sedikit simulasi.
240
3. Memungkinkan ekstrapolasi hasil ke kondisi yang belum
diuji.
Nirdimensionalisasi bisa dilakukan jika persamaan atur suatu
fenomena sudah diketahui. Namun, dalam banyak persoalan aliran,
persamaan bisa tidak diketahui atau sulit diselesaikan:
1. Eksperimen satu-satunya cara untuk memperoleh informasi
andal.
2. Dalam kebanyakan eksperimen digunakan model skalaan
geometrik (untuk menghemat waktu & uang).
3. Keadaan dan hasil eksperimen harus diskalakan serawajar
sehingga hasilnya penuharti untuk prototip skala penuh.
Untuk itu perlu Analisis Dimensi.
C. Analisis Dimensi
Tujuan Tujuan utama analisis dimensi adalah:
1. Memperoleh parameter tak berdimensi yang membantu dalam
perancangan eksperimen (fisik dan/atau numerik) dan dalam
pelaporan hasil. Parameter tak berdimensi biasa ditandai oleh
lambang .
2. Memperoleh hukum penskalaan sehingga kinerja prototip bisa
diprediksi dari kinerja model.
3. Memperkirakan kecenderungan dalam hubungan antar-
parameter.
Butir-butir ini penting kaitannya dengan pemodelan, karena
eksperimen seringkali dilakukan pada skala model.
Teori Model Ada 3 syarat yang perlu dipenuhi agar terdapat
keserupaan (similarity) penuh antara sebuah model dan prototip.
1. Keserupaan Geometrik – bentuk model sama dengan
prototip. Setiap dimensi diskalakan dengan faktor yang sama.
2. Keserupaan Kinematik – kecepatan di tiap titik dalam
model sebanding dengan dalam prototip sebesar faktor skala
tetap.
3. Keserupaan Dinamik – semua gaya dalam model sebanding
dengan dalam prototip sebesar faktor skala tetap.
4. Keserupaan Total dicapai hanya jika semua 3 syarat di atas
terpenuhi. Ini tidak selalu mungkin diraih, misal: model kapal
& model sungai.
Keserupaan total, dengan kata lain, dipenuhi jika semua parameter
tak berdimensi  independen pada model dan prototipe bernilai
sama. Contoh parameter tak berdimensi  adalah bilangan Reynolds
Re, bilangan Froude Fr, koefisien Drag, CD, dll.
Contoh Tinjaulah eksperimen mobil. Pada kasus ini, yang penting untuk
diperoleh adalah gambaran gaya hambat aerodinamik yang dialami
mobil saat melaju. Secara umum, besarnya hambatan bisa dipikirkan
241
akan merupakan fungsi dari kecepatan udara relatif terhadap mobil,
sifat udara (densitas dan viskositas) serta dimensi mobil.
• Gaya hambat F = f(V,  , L)
• Melalui analisis dimensi, persoalan yang asalnya melibatkan
5 parameter berdimensi bisa direduksi menjadi hanya
melibatkan 2 parameter tak berdimensi  21  f atau
 RefCD  .
Eksperimen biasanya dilakukan dalam skala model (Gambar 161).
Jika dari eksperimen dengan model mobil telah diperoleh hubungan
CD dan Re, maka hambatan aerodinamik dari prototipe pada Re yang
sama bisa diperkirakan sbb:
22
,,
22
,
22
,
model,prototip,





















m
p
m
p
m
p
mDpD
mmm
mD
ppp
pD
DD
L
L
V
V
FF
LV
F
LV
F
CC



Gambar 161. Model dan prototipe mobil
Teori Model
Buckingham
Parameters tak berdimensi  bisa diperoleh dengan sejumlah metode,
salahsatunya adalah Metode Pengulangan Variabel.
Metode ini dipopulerkan oleh Edgar Buckingham (1867–1940) &
pertama dipublikasikan oleh ilmuwan Rusia Dimitri Riabouchinsky
(1882–1962) pada tahun 1911.
Enam langkah:
1. Kenali parameter dlm masalah dan hitung jumlahnya n.
2. Daftarkan dimensi dasar tiap parameter.
242
3. Tentukan banyaknya dimensi dasar yang terlibat j. Gunakan j
sebagai taksiran reduksi #parameter. Hitung k yaitu
#parameter tak berdimensi , k = n - j.
4. Pilih j parameter pengulangan.
5. Susun  sebanyak k, dan otak-atik seperlunya.
6. Tulis hubungan fungsional akhir dan periksa aljabarnya.
Berikut adalah pedoman pemilihan parameter pengulangan:
1. Parameter pengulangan yang dipilih harus mewakili SEMUA
dimensi dasar.
2. Kelompok Parameter pengulangan terpilih sebaiknya tidak
bisa dijadikan tak berdimensi di antara mereka sendiri. Jika
tidak,  sisanya tak bisa dibentuk.
3. Ambil parameter lazim karena bisa muncul pada tiap .
4. Ambil parameter sederhana daripada parameter rumit.
5. Jangan pernah pilih variabel dependen supaya tidak muncul
dalam semua .
6. Jangan pernah ambil parameter yang sudah tak berdimensi.
7. Jangan pernah ambil dua parameter dengan dimensi sama
atau berbeda hanya pada pangkatnya.
8. Pilih konstanta berdimensi daripada variabel berdimensi
sehingga hanya satu  yang mengandung variabel berdimensi
itu.
Keserupaan
Tanlengkap
Keserupaan total, dalam praktiknya bisa sangat sulit untuk dicapai.
Oleh karena itu, seringkali dilakukan eksperimen dengan model yang
tidak serupa sepenuhnya dengan prototipe.
Sebagai contoh, kesulitan ini dijumpai pada aliran dalam saluran
terbuka. Aliran dengan permukaan bebas menghadirkan tantangan
unik dalam penyerupaan dinamika lengkap.
Untuk penerapan hidrolika (Gambar 162), kedalaman sangat kecil
dibandingkan lebar sungai. Jika geometri dibuat serupa, kedalaman
model jadi begitu kecil sehingga muncul masalah
 Efek tegangan permukaan (bilangan Weber) menjadi penting.
 Pengumpulan data menjadi sulit.
Jadi diambil model tak serupa yang membutuhkan koreksi/korelasi
empirik untuk mengekstrapolasi data model ke skala penuh.
243
(a)
(b)
Gambar 162. Prototipe dam Wanapum di Sungai Columbia AS (a) dan
model fisik dam di Iowa Institute of Hydraulic Research (b)
Kesulitan yang sama juga dijumpai dalam pemodelan kapal laut
(Gambar 163). Untuk hidrodinamika kapal, keserupaan Fr
dipertahankan sementara Re dibiarkan berbeda. Hal ini dilakukan
karena keserupaan total, di mana parameter Re dan Fr harus sekaligus
cocok untuk model dan prototipe, tidak mungkin dicapai dalam
praktiknya. Mengapa? Simak keserupaan lengkap berikut:
p
m
p
m
p
m
m
mm
m
p
pp
p
L
L
V
V
atau
LV
Re
LV
Re





:
dan
244
21
p
m
p
m
m
m
m
p
p
p
L
L
V
V
atau
gL
V
Fr
gL
V
Fr










:
sehingga dari keduanya diperoleh syarat:
2
p
m
p
m
L
L
3











Supaya Re & Fr keduanya cocok, viskositas fluida dalam uji model
merupakan fungsi skala:
𝜐 𝑚
𝜐 𝑝
= (
𝐿 𝑚
𝐿 𝑝
)
3 2⁄
. Hal ini jelas tidak selalu bisa
dicapai.
(a)
(b)
Gambar 163. Prototipe kapal laut (a) dan model skala 1/20 (b)
245
D. EkstrapolasiModel-Prototipe
Ekstrapolasi
keserupaan
tanlengkap
Walaupun pencocokan nilai semua  pada model dengan  suaian
pada prototipe tidak selalu bisa dilakukan, untungnya dalam sejumlah
kasus keserupaan tanlengkap seperti ini, ekstrapolasi hasil uji pada
model masih bisa dilakukan untuk memperoleh taksiran pada
prototipe skala penuh.
Contoh: pengukuran gaya hambat model truk dalam terowongan
angin yang memiliki kecepatan maksimum 70 m/s. Model yang
digunakan serupa sageometri berskala 1/16 sepanjang 0,991 m.
Bagian uji terowongan angin cukup besar sehingga efek
penyumbatan (blockage) tidak perlu dirisaukan.
Udara dalam terowongan angin bersuhu dan tekanan sama dengan
udara yang mengalir lewat prototipe. Aliran yang disimulasikan
adalah pada kecepatan prototipe Vp = 60 mi/h (26,8 m/s).
Hal pertama yang dilakukan adalah menyamakan Re:
Dari sini diperoleh kecepatan uji model Vm sebesar:
Angka ini 6 kali lebih besar dari kecepatan maksimum yang bisa
dicapai terowongan angin, dan aliran jadi supersonic (>346 m/s).
Bilangan Mach pada prototipe (0,080) tidak cocok dengan pada
model (1.28). Jelas tidak mungkin bilangan Reynolds pada model
disamakan dengan pada prototipe menggunakan model &
terowongan angin ini. Lalu bagaimana?
246
Pilihan untuk atasi keserupaan tanlengkap:
1. Gunakan terowongan angin lebih besar. Perusahaan
biasanya melakukan uji pada model mobil skala 3/8 dan truk
atau bus skala 1/8 dalam terowongan angin yang sangat besar.
Besarnya model dibuat agar sumbatan/blockage (rasio luas
muka model & tampang lintang saluran uji) < 7,5%.
2. Gunakan fluida beda. Terowongan air bisa mencapai
bilangan Reynolds lebih besar daripada terowongan angin
untuk ukuran yang sama, tetapi biaya instalasi & operasinya
lebih mahal.
3. Naikkan tekanan dan/atau setel suhu udara untuk
menaikkan kemampuan bilangan Reynolds maksimum
(terbatas).
4. Jalankan terowongan angin di dekat kecepatan
maksimum, dan ekstrapolasi hasilnya ke bilangan Reynolds
skala penuh.
Data gaya hambat FD dari hasil uji terowongan angin model truk
skala 1/16 dengan panjang 0,991 m, tinggi 0,257 m, dan lebar 0,159
m diperlihatkan pada tabel.
Akan ditaksir besarnya gaya hambat aerodinamik pada prototip yang
melaju 26,8 m/s.
Anggaplah udara dalam terowongan angin sama dengan yang
mengalir melalui prototipe, suhu 25°C dan tekanan atmosferik.
Besarnya CD dan Re untuk model bisa dihitung berdasarkan data pada
tabel, misal:
247
Dan hasil seluruhnya dalam grafik adalah:
Besarnya bilangan Re prototipe:
Bilangan Reynolds prototipe 6 kali lebih besar daripada model.
Karena Re keduanya tidak sama, maka di sini tidak bisa dicapai
keserupaan dinamik.
Walaupun demikian, dari gambar CD vs. Re tampak bahwa
Ketaktergantungan pada Re bisa dicapai — pada Re > sekitar 5 
105, CD menetap sekitar 0,76.
Dari sini, ekstrapolasi ke prototipe skala penuh bisa dilakukan denga
anggapan CD tetap dengan kenaikan Re sampai nilainya untuk
prototipe.
Taksiran hambatan aerodinamik prototipe adalah:
Ctt: tidak ada jaminan bahwa angka ekstrapolasi ini benar.

Modul mekanika fluida - rev 02

  • 1.
    i MODUL AJAR Judul Matakuliah MEKANIKAFLUIDA Disusun oleh: Ir. Kutut Suryopratomo, MT, MSc PROGRAM STUDI FISIKA TEKNIK JURUSAN TEKNIK FISIKA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS GADJAH MADA November 2013
  • 2.
    ii Halaman Pengesahan A. PENYUSUN 1.Nama : Ir. Kutut Suryopratomo, MT, MSc 2. NIP : 19670620 199303 1 003 3. Pangkat/Golongan : Lektor/IIIc 4. Jabatan sekarang : Penata B. DESKRIPSI MATAKULIAH 1. Nama Matakuliah : Mekanika Fluida 2. Kode : TNF 2126 3. SKS : 3 4. Semester : 3 5. Sifat : Wajib 6. Matakuliah prasyarat : Mekanika C. SILABUS MATAKULIAH Hukum-hukum dasar fisika dalam mekanika fluida. Sifat-sifat fluida. Statika fluida. Dinamika fluida: aliran dalam saluran tertutup, saluran terbuka dan di sekitar benda serta metode pengukuran fluida. Similaritas dan analisis dimensi. Hukum-hukum dasar mekanika dan sifat-sifat fluida Yogyakarta, 15 November 2013 Penyusun, Ir. Kutut Suryopratomo, MT, MSc NIP. 19670620 199303 1 003
  • 3.
    iii Daftar Isi Halaman Pengesahan________________________________________________ii DaftarIsi ________________________________________________________ iii Daftar Gambar____________________________________________________ vi Daftar Tabel______________________________________________________ xii MODUL I. KONSEP DAN DEFINISI _________________________________1 A. Cakupan Mekanika Fluida_______________________________________1 B. Konsep Kontinum _____________________________________________3 C. Sifat Fluida di Satu Titik ________________________________________4 D. Medan Tekanan_______________________________________________8 MODUL II. STATIKA FLUIDA_____________________________________12 A. Kerangka Acuan _____________________________________________12 B. Hukum Pascal _______________________________________________13 C. Ragam Tekanan______________________________________________16 D. Tekanan Mutlak, Relatif & Hampa _______________________________19 E. Persamaan Dasar Fluida Statik __________________________________21 F. Pengukuran Tekanan __________________________________________28 G. Gaya Pada Permukaan Terendam ________________________________38 H. Pengapungan ________________________________________________40 MODUL III. SIFAT-SIFAT FLUIDA_________________________________48 A. Definisi Fluida_______________________________________________49 B. Viskositas___________________________________________________52 C. Fluida Newtonian vs. NonNewtonian _____________________________54 D. Tekanan Uap ________________________________________________57 E. Kompresibilitas ______________________________________________59 F. Tegangan Permukaan__________________________________________60 G. Kapilaritas __________________________________________________64 MODUL IV. DESKRIPSI ALIRAN __________________________________72 A. Ragam Cara Pandang Aliran ____________________________________72 B. Kinematika Fluida ____________________________________________79 C. Visualisasi Aliran ____________________________________________86 D. Penyajian Data Aliran _________________________________________93 MODUL V. ANALISIS INTEGRAL ALIRAN _________________________95
  • 4.
    iv A. Pendekatan Analisis__________________________________________95 B. Neraca Integral Massa _________________________________________97 C. Neraca Integral Momentum Linier ______________________________101 D. Neraca Integral Momentum Angular ____________________________109 E. Neraca Integral Energi________________________________________118 MODUL VI. ANALISIS INTEGRAL ALIRAN PADA CV DIFERENSIAL 122 A. CV diferensial silindrik _______________________________________122 B. CV diferensial kubik _________________________________________127 MODUL VII. ANALISIS DIFERENSIAL ALIRAN ____________________131 A. Analisis Diferensial vs. Integral ________________________________131 B. Neraca Diferensial Massa _____________________________________133 C. Neraca Diferensial Momentum _________________________________146 MODUL VIII. ALIRAN INVISID __________________________________167 A. Persamaan Aliran Invisid (Potensial) ____________________________168 B. Solusi Analitik ______________________________________________169 C. Aliran Invisid 2-D ___________________________________________173 D. Solusi Numerik _____________________________________________175 MODUL IX. ALIRAN VISKOS ____________________________________181 A. Aliran Laminer & Turbulen ___________________________________181 B. Lapisan Batas_______________________________________________182 C. Persamaan Lapisan Batas _____________________________________184 D. Penyelesaian Blasius _________________________________________190 E. Analisis Integral Momentum von Kärmän ________________________192 MODUL X. ALIRAN DALAM SALURAN TERTUTUP ________________198 A. Analisis Dimensional ________________________________________198 B. Faktor Gesekan _____________________________________________200 C. Kerugian Head______________________________________________200 D. Macam Persoalan Aliran______________________________________202 E. Pengukuran Aliran___________________________________________202 MODUL XI. ALIRAN DALAM SALURAN TERBUKA ________________214 A. Klasifikasi Aliran ___________________________________________215 B. Aliran Seragam _____________________________________________218 C. Lompatan Hidrolik __________________________________________224 D. Pengukuran Aliran___________________________________________228 MODUL XII. ALIRAN EKSTERNAL _______________________________231
  • 5.
    v A. Aliran Eksternalvs. Internal ___________________________________231 B. Gaya Hambat & Angkat ______________________________________232 MODUL XIII. KESERUPAAN & PEMODELAN ______________________238 A. Dimensi ___________________________________________________238 B. Nirdimensionalisasi __________________________________________239 C. Analisis Dimensi ____________________________________________240 D. Ekstrapolasi Model-Prototipe __________________________________245
  • 6.
    vi Daftar Gambar Gambar 1.Contoh-contoh terapan mekanika fluida ________________________4 Gambar 2. Densitas di satu titik _______________________________________5 Gambar 3. Gaya pada sebuah elemen fluida ______________________________6 Gambar 4. Elemen dalam fluida statik __________________________________6 Gambar 5. Gelombang kejut di sekitar peluru & ujung senapan ______________8 Gambar 6. Jejak s dalam bidang xy_____________________________________9 Gambar 7. Gaya tekan pada elemen fluida ______________________________14 Gambar 8. Prinsip dongkrak mobil ____________________________________16 Gambar 9. Elemen diferensial tabung-vertikal fluida ______________________17 Gambar 10. Elemen diferensial tabung-horizontal fluida ___________________17 Gambar 11. Tabung berbentuk U _____________________________________18 Gambar 12. Elemen diferensial tabung-miring fluida______________________18 Gambar 13. Tekanan acuan mutlak dan relatif, tekanan terukur, tekanan vakum dan tekanan mutlak _____________________________________20 Gambar 14. Komponen tekanan pada elemen fluida statis __________________21 Gambar 15. Pengaruh percepatan terhadap medan tekanan sebagaimana tampak pada perubahan permukaan fluida _________________________23 Gambar 16. Komponen tekanan pada elemen fluida statis dalam kerangka koordinat dipercepat dengan percepatan angular a ___________________24 Gambar 17. Pengaruh percepatan terhadap medan tekanan sebagaimana tampak pada perubahan permukaan fluida _________________________25 Gambar 18. Profil permukaan bebas pada beragam rpm (0-480) _____________27 Gambar 19. Barometer fluida ________________________________________28 Gambar 20. Barometer digital________________________________________28 Gambar 21. Piezometer_____________________________________________30 Gambar 22. Manometer U sederhana __________________________________31 Gambar 23. Manometer U Terbalik ___________________________________32 Gambar 24. Manometer 1-kaki besar __________________________________33 Gambar 25. Manometer 2-fluida______________________________________35 Gambar 26. Manometer berkaki miring ________________________________35 Gambar 27. Tabung Bourdon (kiri) dan prinsip kerjanya (kanan) ____________37 Gambar 28. Kombinasi pengukur tekanan gauge dan vakum________________37 Gambar 29. Gaya tekan pada sebidang permukaan terendam _______________39 Gambar 30. Gaya-gaya yang bekerja pada elemen silindrik pada benda _______41
  • 7.
    vii Gambar 31. Bendamengapung, melayang dan tenggelam__________________42 Gambar 32. Gunung es mengapung di permukaan laut karena densitas es (padat) lebih rendah daripada air laut (cair) ________________________43 Gambar 33. Gaya apung pada benda___________________________________44 Gambar 34. Kestabilan benda celup (immersed body) _____________________45 Gambar 35. Kestabilan benda apung (floating body) ______________________45 Gambar 36. Mahkota sama berat dengan bongkahan emas murni di udara _____46 Gambar 37. Mahkota lebih ringan dari bongkahan emas murni di dalam air ____46 Gambar 38. Dok kapal tenggelam sebagian _____________________________47 Gambar 39. Kapal selam berbobot 6000 ton sedang menjalani perbaikan di atas dok kapal _______________________________________________47 Gambar 40. Gaya normal dan gaya geser/tangensial ______________________50 Gambar 41. Efek gaya geser pada padatan ______________________________51 Gambar 42. Efek gaya geser pada fluida________________________________52 Gambar 43. Gaya hambat yang dialami seekor burung sewaktu terbang mencerminkan pengaruh viskositas fluida__________________________53 Gambar 44. Efek Coanda ___________________________________________53 Gambar 45. Variasi viskositas cairan dan gas terhadap suhu ________________54 Gambar 46. Hubungan tegangan geser (shear stress, ) dengan laju regangan geser (rate of shear strain, du/dy) berbagai macam fluida _____55 Gambar 47. Efek perubahan mendadak laju geser pada viskositas semu fluida gayut-waktu____________________________________________57 Gambar 48. Kavitasi di ujung baling-baling kapal ________________________58 Gambar 49. Efek kavitasi pada pompa sentrifugal ________________________58 Gambar 50. Efek tegangan permukaan air pada seekor serangga_____________60 Gambar 51. Efek tegangan permukaan pada tetesan air ____________________60 Gambar 52. Gaya-gaya pada molekul fluida di dalam dan di permukaan ______61 Gambar 53. Komponen gaya-gaya pada butiran fluida_____________________62 Gambar 54. Dua permukaan (dalam dan luar) pada gelembung sabun ________63 Gambar 55. Watak pembasahan sebutir fluida pada permukaan padat_________64 Gambar 56. Efek kapilaritas _________________________________________65 Gambar 57. Gaya-gaya yang bekerja pada CV (control volume) kolom fluida yang mendaki di atas permukaan bebas ______________________66 Gambar 58. Gaya-gaya yang bekerja pada CV (control volume) kolom fluida yang membenam di bawah permukaan bebas __________________67 Gambar 59. Kenaikan air dan penurunan Hg sebagai fungsi diameter pipa kapilar _____________________________________________________69 Gambar 60. Efek kapilaritas _________________________________________70
  • 8.
    viii Gambar 61. DalilTransport Reynolds _________________________________74 Gambar 62. Analisis pergerakan sensor mikron untuk pemantauan lingkungan global dengan gabungan metode Eulerian-Lagrangian ______76 Gambar 63. Analisis forensik kecelakaan pesawat ulang-alik Columbia dengan gabungan metode Eulerian-Lagrangian _____________________76 Gambar 64. Operator diferensial total mempertemukan metode Lagrangian dan Eulerian_________________________________________________78 Gambar 65. Rangkuman berbagai cara pandang pergerakan fluida ___________79 Gambar 66. Ragam gerak yang bisa dialami oleh elemen fluida _____________80 Gambar 67. Deskripsi gerak rotasi elemen fluida _________________________80 Gambar 68. Aliran rotasional di dekat dinding, dan irrotasional di jauh dinding _____________________________________________________82 Gambar 69. Deskripsi peregangan linier elemen fluida ____________________82 Gambar 70. Deskripsi gerak geser 1-arah pada elemen fluida _______________84 Gambar 71. Deskripsi gerak geser 2-arah pada elemen fluida _______________85 Gambar 72. Visualisasi aliran melalui sebuah bola _______________________87 Gambar 73. Kecepatan dan garis busur streamline ________________________87 Gambar 74. Kontur tekanan dan streamline pada NASCAR ________________88 Gambar 75. Kontur tekanan, streamline, dan streamline permukaan pada pesawat terbang ______________________________________________88 Gambar 76. Deskripsi pathline _______________________________________89 Gambar 77. Pathline hasil teknik eksperimen particle image velocimetry (PIV) ______________________________________________________89 Gambar 78. Deskripsi streakline ______________________________________90 Gambar 79. Streakline hasil simulasi pesawat VTOL (Vertical Take-off and Landing)____________________________________________________90 Gambar 80. Streakline berupa vortex ujung sayap ________________________91 Gambar 81. Streakline berupa vortex Karman di hilir pulau Guadalupe berketinggian 1,3 km (lokasi di lepas pantai Baja California AS) _______91 Gambar 82. Perbandingan streamline, pathline dan streakline _______________92 Gambar 83. Timelines yang dihasilkan oleh kawat gelembung hidrogen digunakan untuk memvisualisasikan bentuk profil kecepatan lapisan batas (boundary layer). ________________________________________93 Gambar 84. Peta Profil kecepatan horizontal sebagai fungsi jarak vertikal dalam aliran lapisan batas sepanjang plat datar______________________93 Gambar 85. Peta vektor kecepatan ____________________________________94 Gambar 86. Peta kontur tekanan ______________________________________94 Gambar 87. Contoh CV diam ________________________________________96
  • 9.
    ix Gambar 88. ContohCV bergerak _____________________________________96 Gambar 89. Contoh CV berdeformasi__________________________________97 Gambar 90. Pemilihan batas CV memudahkan evaluasi aliran ______________98 Gambar 91. Aliran melalui CV diam __________________________________99 Gambar 92. Tangki terbuka berisi air _________________________________100 Gambar 93. Aliran fluida steady dan inkompresibel dalam streamtube _______103 Gambar 94. Dorongan gas hasil pembakaran pada roket __________________104 Gambar 95. Sudu turbin air Pelton ___________________________________106 Gambar 96. Struktur lengkap turbin Pelton ____________________________107 Gambar 97. Skema aliran fluida pada turbin Pelton ______________________107 Gambar 98. Hubungan besaran gerak linier dan angular benda kaku_________110 Gambar 99. Kesejajaran besaran linier dan angular ______________________111 Gambar 100. Potongan kompresor aliran radial (kiri) dan turbin aliran radial (kanan) _______________________________________________112 Gambar 101. Skema turbin aliran radial _______________________________113 Gambar 102. Komponen kecepatan pada sudu turbin_____________________115 Gambar 103. Prinsip kerja turbin Hero ________________________________116 Gambar 104. Daya output dan torsi turbin Hero sebagai fungsi laju putar turbin _____________________________________________________117 Gambar 105. CV diferensial silindrik aliran fluida dalam pipa bundar _______123 Gambar 106. Profil kecepatan aliran laminer dalam pipa __________________126 Gambar 107. Diagram faktor gesekan sebagai fungsi bilangan Reynolds _____127 Gambar 108. Penurunan tekanan dan faktor friksi sebagai fungsi kecepatan aliran _____________________________________________________127 Gambar 109. CV diferensial kubik aliran fluida pada bidang miring _________128 Gambar 110. Profil aliran laminer pada bidang miring ___________________130 Gambar 111. Analisis integral (kiri) vs. analisis diferensial (kanan) _________132 Gambar 112. Aliran massa pada CV diferensial_________________________134 Gambar 113. Vortex garis dan spiral _________________________________140 Gambar 114. Gradien garis singgung pada streamline ____________________141 Gambar 115. Makna fisis stream function _____________________________142 Gambar 116. Streamline vortex garis dan stream function_________________143 Gambar 117. Streamline vortex garis spiral ____________________________145 Gambar 118. Tegangan normal dan geser yang bekerja pada permukaan yang tegak lurus bidang x-y____________________________________148 Gambar 119. Tegangan normal dan geser yang bekerja pada permukaan yang tegak lurus bidang x-z____________________________________148
  • 10.
    x Gambar 120. Tegangannormal dan geser yang bekerja pada permukaan yang tegak lurus bidang y-z____________________________________149 Gambar 121. Gradien (beda) tekanan berpengaruh terhadap medan kecepatan aliran, bukan tekanan ________________________________157 Gambar 122. Syarat batas di antarmuka 2-fluida ________________________159 Gambar 123. Syarat batas di permukaan bebas__________________________159 Gambar 124. Gaya geser dalam aliran Couette berkembang penuh __________163 Gambar 125. Aliran Couette pada viskometer putar______________________163 Gambar 126. Aliran fluida Newtonian, laminer, steady, dan inkompresibel dalam pipa _________________________________________________165 Gambar 127. Aliran seragam di sekitar silinder tak-hingga berjari-jari a______170 Gambar 128. Medan tekanan aliran invisid di permukaan silinder tak-hingga _173 Gambar 129. Aliran invisid melalui saluran membesar mendadak __________177 Gambar 130. Syarat batas persoalan aliran invisid dalam saluran membesar __178 Gambar 131. Kontur streamline _____________________________________179 Gambar 132. Kontur kecepatan______________________________________179 Gambar 133. Kontur tekanan (10 kPa) dengan tekanan input 100 kPa _______180 Gambar 134. Visualisasi lapisan batas laminer (a) dan turbulen (b) _________183 Gambar 135. Normalisasi kecepatan arah x (u) dan y (v) dalam BL setebal  terhadap kecepatan aliran bebas (Ue) dan normalisasi jarak arah x dan y terhadap panjang plat (L) ____________________________________185 Gambar 136. Normalisasi tekanan terhadap tekanan kinetik arus bebas, waktu terhadap waktu tempuh arus bebas sejarak plat L, dan viskositas kinematik terhadap arus bebas dikali panjak plat L _________186 Gambar 137. Grafik tebal lapisan batas per x (/x) sebagai fungsi Rex_______192 Gambar 138. Tebal lapisan batas () pada berbagai posisi x dari hulu plat untuk berbagai kecepatan _____________________________________192 Gambar 139. CV dalam lapisan batas _________________________________193 Gambar 140. Venturimeter _________________________________________203 Gambar 141. Orificemeter__________________________________________205 Gambar 142. Tabung Pitot _________________________________________208 Gambar 143. Setup tabung Pitot _____________________________________209 Gambar 144. Rotameter ___________________________________________210 Gambar 145. Gaya-gaya yang bekerja pada apungan_____________________211 Gambar 146. Macam-macam geometri apungan ________________________213 Gambar 147. CV bergerak mengikuti gelombang permukaan ______________217 Gambar 148. Saluran terbuka _______________________________________219
  • 11.
    xi Gambar 149. Saluranterbuka ragam dinding ___________________________224 Gambar 150. Lompatan hidrolik _____________________________________224 Gambar 151. Aliran tenang (Fr<1) ___________________________________226 Gambar 152. Aliran deras (Fr>1,0) __________________________________227 Gambar 153. Notch berbentuk sembarang _____________________________228 Gambar 154. Notch-V_____________________________________________229 Gambar 155. Notch trapesium ______________________________________230 Gambar 156. Aliran eksternal _______________________________________232 Gambar 157. Pemisahan aliran pada aerofoil ___________________________234 Gambar 158. Efek pemisahan aliran pada koefisien gaya angkat dan hambat aerofoil____________________________________________________235 Gambar 159. Pertumbuhan lapisan batas dari laminer ke turbulen___________235 Gambar 160. Kurva Cd bola dan silinder ______________________________236 Gambar 161. Model dan prototipe mobil ______________________________241 Gambar 162. Prototipe dam Wanapum di Sungai Columbia AS (a) dan model fisik dam di Iowa Institute of Hydraulic Research (b) __________243 Gambar 163. Prototipe kapal laut (a) dan model skala 1/20 (b) _____________244
  • 12.
    xii Daftar Tabel Tabel 1.Nilai tegangan permukaan beberapa cairan .............................................63 Tabel 2. Langkah-langkah kerja analisis aliran secara analitik dan numerik.......133 Tabel 3. Penyelesaian eksak Blasius vs pendekatan von-Kärmän.......................196 Tabel 4. Variabel persoalan aliran turbulen dalam pipa.......................................198 Tabel 5. Koefisien rugi dan panjang ekuivalen....................................................201
  • 13.
    1 MODUL I. KONSEP DANDEFINISI Deskripsi Mekanika Fluida (MF) adalah ilmu yang mempelajari sifat-sifat fluida. Bidang ini sangat luas penerapannya mengingat fluida adalah bagian dari kehidupan manusia. Oleh karena itu, modul dibuka dengan ulasan tentang cakupan dari Mekanika Fluida, lalu diikuti dengan konsep-konsep dasar, peristilahan dan definisinya, dan ditutup dengan rangkuman. Seperti halnya ilmu lainnya, bangunan Mekanika Fluida (MF) didirikan di atas cara-cara pandang dan buah-buah pemikiran (konsep) kolektif ilmuwan tentang sifat fluida yang dibangun secara sistematis melalui pendekatan ilmiah. Beserta konsep datang istilah dan definisi. Istilah adalah sekedar sebutan, sedangkan definisi adalah makna terbatas dari suatu konsep. Pembatasan makna sengaja dibuat untuk sejauh mungkin menghindari keambiguan atau kerancuan. Dengan demikian, ilmu bisa secara bersama-sama dikembangkan, dihimpun, dan dikomunikasikan dengan efektif oleh manusia sedunia sebagai bagian dari peradaban. Sasaran belajar: 1. Menjelaskan cakupan Mekanika Fluida (MF) 2. Memberikan gambaran penerapan MF dalam dunia nyata 3. Menjelaskan konsep kontinum dan batas-batas keberlakuannya 4. Menjelaskan konsep partikel fluida 5. Mendefinisikan densitas, tekanan, dan tegangan (stress). A. CakupanMekanikaFluida Mekanika Mekanika adalah ilmu fisika yang berurusan dengan benda diam dan bergerak dalam pengaruh gaya-gaya. 1) Cabang mekanika yang berurusan dengan benda diam disebut statika, dan 2) Cabang mekanika yang berurusan dengan benda bergerak disebut dinamika. Mekanika Fluida Mekanika fluida adalah ilmu yang berurusan dengan watak fluida dalam keadaan diam (statika fluida) atau fluida dalam keadaan bergerak (dinamika fluida), dan interaksi fluida dengan padatan atau fluida lain pada permukaan batasnya. Mekanika fluida sering juga disebut dinamika fluida dengan memandang fluida diam sebagai kasus khusus dari fluida bergerak dengan kecepatan nol. Statika Fluida Statika fluida menangani persoalan fluida diam. Contoh: fluida dalam gelas, fluida dalam bejana bertekanan, fluida dalam waduk, dll. Fluida diam berada dalam keadaan setimbang (resultan gaya yang
  • 14.
    2 bekerja padanya samadengan nol). Dalam fluida diam (fluida tidak mengalir) tidak terdapat tegangan geser (shear stress). Dinamika Fluida Dinamika fluida menangani persoalan fluida bergerak, atau biasa disebut mengalir. Aliran terjadi akibat resultan gaya yang bekerja padanya tidak sama dengan nol. Contoh fenomena aliran bisa ditemui dalam kehidupan sehari-hari, misalnya: 1) Aliran air di badan sungai. 2) Aliran air bersih dalam sistem pipa di rumah-rumah. 3) Aliran air limbah dalam saluran drainase. 4) Aliran lumpur Sidoarjo, Jawa Timur. 5) Aliran awan panas dan lahar dari gunung Merapi, Jawa Tengah. 6) Aliran udara (angin) atmosfir bumi. 7) Aliran fluida pada segala fenomena alami dan fenomena buatan manusia. Kategori Mekanika Fluida Mekanika fluida dibagi dalam beberapa kategori, menurut riwayat perkembangannya, yaitu: 1) Hidrodinamika: ilmu tentang gerak fluida yang praktis inkompresibel semisal cairan, khususnya air, dan gas pada kecepatan rendah. Subkategori hidrodinamika adalah hidrolika, yang berurusan dengan aliran cairan dalam pipa dan kanal terbuka. 2) Dinamika gas: ilmu tentang gerak fluida yang mengalami perubahan densitas signifikan, semisal aliran gas melalui nozel pada kecepatan tinggi. 3) Aerodinamika: ilmu tentang gerak gas (khususnya udara) melalui benda semisal pesawat terbang, roket, dan mobil pada kecepatan tinggi atau rendah. 4) Kategori khusus lainnya: meteorologi, oseanografi, dan hidrologi yang berurusan dengan aliran yang terjadi secara alamiah. Kepentingan Mekanika Fluida Penguasaan mekanika fluida esensial bagi insinyur teknik (fisika, kimia, mesin, nuklir, sipil, dan lain-lain) karena banyak persoalan (desain, operasi atau perawatan) yang ditangani melibatkan aliran zat dalam fase cair atau gas. Sedikit gambaran tentang persoalan tersebut adalah aliran pada: 1) Sistem teknik untuk menuai energi dari alam, misalnya: kincir air, turbin air, turbin angin, dan pemanas air tenaga surya. 2) Peralatan untuk menggerakkan aliran fluida, misalnya: untuk cairan adalah pompa dan untuk gas adalah kipas, blower atau
  • 15.
    3 kompresor. 3) Sistem pembangkitlistrik dengan tenaga air (PLTA), tenaga uap (PLTU), tenaga gas (PLTG), tenaga uap dan gas (PLTGU), tenaga panas bumi (PLTPB), dan tenaga nuklir (PLTN). 4) Kendaraan penumpang atau barang di darat (mobil, truk, bus, kereta api), di laut (kapal, kapal selam), dan di udara (balon gas, pesawat udara). 5) Sistem transportasi fluida untuk mendistribusikan air bersih, menyalurkan bahan bakar minyak dan gas, mengumpulkan air limbah kota. 6) Sistem proses yang begitu banyak dijumpai dalam industri kimia yang melibatkan proses-proses pembakaran, pencampuran, pengadukan, pemanasan, pendinginan, pemisahan, dll. B. Konsep Kontinum Konsep Kontinum Fluida, sebagaimana materi lainnya, tersusun dari molekul-molekul yang jumlahnya fantastis. Dalam 1 cc udara pada keadaan ruang terdapat sekitar 1020 molekul. Teori apapun yang digunakan untuk menjelaskan gerak molekul demi molekul akan menjadi sangat- sangat rumit atau bahkan di luar jangkauan kemampuan kita sekarang. Pendekatan paling halus saat ini paling-paling hanya memperhitungkan sekelompok molekul yang bisa dinyatakan sifatnya secara statistik, bukan memperhitungkan individu molekul. Kebanyakan urusan keteknikan melibatkan watak curahan fluida (makroskopik) daripada watak molekul demi molekul (mikroskopik). Dalam kebanyakan kasus, enaknya fluida diperlakukan sebagai distribusi tinerus (continuous distribution) dari materi atau sebut saja kontinum. Sudah barang tentu, anggapan kontinum tidak berlaku pada segala keadaan. Konsep kontinum tidak berlaku jika jumlah molekul per unit volume sangat-sangat sedikit sehingga wataknya menjadi bergantung pada waktu akibat berubah-ubahnya distribusi molekul terhadap waktu.
  • 16.
    4 Gambar 1. Contoh-contohterapan mekanika fluida Perlakuan fluida sebagai kontinum sahih jika dalam volume terkecil yang dikaji terkandung cukup banyak molekul sehingga sifat rerata statistiknya mengandung arti. Dalam hal ini sifat makroskopik fluida dianggap beragam secara tinerus/sinambung dari titik ke titik dalam ruang, sehingga dengan demikian konsep titik dalam matematika bisa diterapkan untuk analisis fenomena fluida. Dari sini jelas tampak bahwa kesahihan konsep kontinum bergantung lebih pada macam informasi yang diinginkan atau pada cara pandang daripada sifat alami (nature) fluida itu sendiri. C. Sifat Fluida di Satu Titik Densitas di satu titik/ partikel fluida Sifat-sifat fluida pada berbagai keadaan beragam dari titik satu ke titik lain. Berikut kita ulas definisi sejumlah variabel fluida di satu titik. Densitas fluida didefinisikan sebagai massa per satuan volume. Densitas, , pada suatu titik dalam fluida didefinisikan sebagai: dengan m adalah massa yang terdapat di dalam volume V, dan V adalah volume terkecil yang melingkupi titik yang di situ rerata statistik masih memiliki arti, dan besarnya sekitar 1 (m)3. Fluida seukuran V ini disebut sebagai partikel fluida. V m VV       lim
  • 17.
    5 Gambar 2. Densitasdi satu titik Dalam kaitannya dengan definisi ini, konsep densitas di satu titik secara matematis yang didefinisikan sebagai: secara fisik tampak menjadi fiktif atau jadi-jadian. Walaupun demikian, pendefinisian densitas secara matematis sangatlah berguna, karena ia memungkinkan penggambaran aliran fluida sebagai fungsi tinerus (continuous function). Dengan kata lain, matematika jadi bisa dimanfaatkan untuk menganalisis fenomena fluida. Oleh karena itu, dalam pendekatan kontinum, pendefinisian sifat di satu titik secara matematiklah yang kita gunakan dalam praktiknya. Tegangan (stress) di satu titik Tegangan (stress) didefinisikan sebagai gaya per satuan luas. Gaya yang bekerja pada fluida ada 2 macam, yaitu gaya badan (body force) dan gaya permukaan (surface force). Gaya badan bekerja tanpa kontak fisik, yaitu akibat pengaruh medan gaya di sekitarnya, apakah itu medan gravitasi, listrik atau magnet. Gaya permukaan bekerja melalui kontak fisik di permukaan benda. Gaya permukaan yang bekerja pada suatu bidang biasa diuraikan menurut komponen tegak lurus dan komponen sejajar bidang permukaan. Lihat Gambar 3. Gaya yang tegak lurus permukaan disebut gaya normal (normal force), Fn, dan gaya yang sejajar permukaan disebut gaya geser (shear force), Fs. Dengan demikian, tegangan pun ada 2 macam, yaitu tegangan normal (normal stress) dan tegangan geser (shear stress). VV m V Domain molekuler Domain kontinum V m V     0 lim
  • 18.
    6 Gambar 3. Gayapada sebuah elemen fluida Tegangan normal, , di satu titik didefinisikan sebagai: dan tegangan geser, , di satu titik didefinisikan sebagai: Tekanan di satu titik (Hukum Pascal) Untuk fluida statik, tegangan normal di satu titik bisa ditentukan dari penerapan hukum Newton kedua tentang gerak pada elemen fluida (Gambar 4) yang volumenya mendekati nol. Gambar 4. Elemen dalam fluida statik Untuk benda diam, resultan gaya sama dengan nol. dA F Fs Fn A Fn A     0 lim A Fs A     0 lim Fx Fs Fy x y s z 
  • 19.
    7 Neraca gaya dalamarah-x adalah: Pembagian dengan elemen luas yang tegak lurus sumbu-x, yaitu yz, dan diikuti dengan penciutan volume elemen fluida sampai menjadi titik, yaitu pada batas (limit) V mendekati nol memberikan: atau: . Menurut konvensi, tegangan normal bernilai positif untuk tarikan (tension), dan sebaliknya negatif. Dengan kata lain, tegangan normal adalah gaya tarik per satuan luas. Subskrip pertama pada notasi  menandakan bidang kerja tegak lurus dengan sumbu-subskrip, dan subskrip kedua menandakan arah kerja sejajar sumbu-subskrip. Misal subskrip xx pada xx, x pertama menandakan bidang kerja yang tegak lurus dengan sumbu-x, dan subskrip kedua menandakan arah kerja yang sejajar dengan sumbu-x. Neraca gaya dalam arah-y adalah: Pembagian dengan elemen luas yang tegak lurus sumbu-y, yaitu xz, dan diikuti dengan penciutan volume elemen fluida sampai menjadi titik, yaitu pada batas (limit) V mendekati nol memberikan: atau: . Tegangan normal sebenarnya merupakan besaran tensor yang mempunyai orientasi. Namun, ungkapan akhir yang diperoleh di atas tidak membawa informasi sudut . Jadi tegangan normal di satu titik dalam fluida statik tidaklah tergantung pada arah, dan dengan demikian ia bisa disederhanakan dengan besaran skalar tekanan.   0F       0sin s y FFFFF sxsxx  0lim 0             zs F zy F sx V 0 ssxx  ssxx        0 2 cos zyx gFFF syy         0 2 zyx g s x FFF syy  0 2 lim 0               y g zs F zx F sy V  00  ssyy  ssyy  
  • 20.
    8 Karena tegangan normalmemperhitungkan gaya tarik, sedangkan tekanan memperhitungkan gaya tekan, maka keduanya berlawanan tanda. Pada fluida statik, tegangan geser tidak ada (karena fluida diam), dan besarnya tekanan sama dengan tegangan normal tetapi berbeda tanda: Pada fluida dinamik, adanya tegangan geser menyebabkan komponen-komponen tegangan normal di satu titik bolehjadi tidak sama. Walaupun demikian, tekanan satu titik tetap sama dengan rerata dari komponen-komponen tegangan normalnya: Perkecualian adalah untuk aliran dalam gelombang kejut (shock waves) sebagaimana yang ditemukan di sekitar pesawat supersonik atau di sekitar peluru dan ujung senapan (Gambar 5). Gambar 5. Gelombang kejut di sekitar peluru & ujung senapan D. MedanTekanan Variasi sifat titik demi titik Aliran fluida terjadi karena perbedaan tekanan. Oleh karena itu, deskripsi variasi tekanan dari titik satu ke titik lain (medan tekanan) sangatlah penting dalam aliran fluida. Medan tekanan dua dimensi secara umum adalah p = f(x, y). Perubahan tekanan p antara dua titik dalam daerah yang terpisah sejauh dx dan dy adalah turunan total dari p: ssyyxxp     3 ssyyxx p    dy y p dx x p dp      
  • 21.
    9 Perubahan nilai psepanjang jejak sembarang s (Gambar 6) adalah: dan berdasarkan hubungan geometri: Gambar 6. Jejak s dalam bidang xy Pada prinsipnya jejak s dalam medan tekanan bisa dipilih secara bebas, tetapi yang paling bermanfaat adalah: 1) jejak s yang menunjukkan garis tekanan-sama (isobar), (dp/ds) = 0 dan 2) jejak s yang menunjukkan perubahan-tekanan maksimum, (dp/ds) = maksimum. Garis-garis isobar mudah ditentukan dengan menolkan (dp/ds), yaitu: Dari sini diperoleh atau Jadi sepanjang jejak yang kemiringannya didefinisikan oleh persamaan ini akan didapati bahwa perubahan tekanan, dp = 0. ds dy y p ds dx x p ds dp           sincos y p x p ds dp       x y dx ds dy Jejak s      0sincos         y p x p ds dp       yp xp dsdp   0 tan       yp xp dx dy dsdp    0
  • 22.
    10 Jejak dengan (dp/ds)= maksimum bisa ditentukan dengan menolkan turunan (dp/ds) terhadap sudut , yaitu: Dari sini diperoleh yang secara grafis bisa digambarkan sebagai berikut: Apabila nilai sinus dan cosinus dalam ungkapan (dp/ds) diambil pada sudut  di mana jejak (dp/ds) = maksimum, maka diperoleh: Hubungan terakhir ini setara dengan besarnya vektor (dp/ds) dengan komponen arah-x (dp/dx) dan komponen arah-y (dp/dy); ini berarti bahwa turunan tekanan ke arah maksimum bisa dituliskan dalam notasi vektor berikut: Operator Gradien Hubungan ini sering dijumpai sehingga diberi nama khusus sebagai Gradien atau Grad dengan lambang , yang dalam koordinat Cartesian 3D berarti: dengan Selain itu patut diperhatikan bahwa:     0cossin               y p x p ds dp d d       xp yp maksdsdP    tan x p   y p   22                 y p x p                 22 2222 ypxp ypxp yp y p ypxp xp x p ds dp maks            y p j x p i ds dp maks       z k y j x iGrad            z p k y p j x p ippGrad         
  • 23.
    11 Ini berarti: jejakdengan (dp/ds) = maksimum tegak lurus dengan garis isobar. Rangkuman Mekanika Fluida (MF) mempelajari sifat dan watak fluida diam atau bergerak dalam interaksinya dengan benda sekitarnya. Aplikasinya dalam industri sangat luas, misal di industri kimia, industri petrokimia, pembangkit listrik, industri minyak dan gas, industri makanan, dll. Fluida dalam bidang aplikasi tersebut jika dilihat atau diraba tidak berkesan terpisah-pisah/diskrit layaknya butiran pasir. Di sini fluida dipandang sebagai zat kontinum (biasa disebut sebagai cara pandang makroskopik). Sudah tentu, konsep ini tidak sahih lagi bilamana kesan Walaupun demikian, fluida biasa dianggap tersusun dari titik-titik partikel fluida. Konsep partikel fluida lebih ditentukan oleh aspek pengukuran sifat fluida daripada ukuran molekulnya. Partikel fluida adalah fluida dalam volume terkecil yang memberikan hasil pengukuran sifat yang konsisten secara statistik. Konsep titik partikel fluida bisa dipertemukan dengan konsep titik dalam matematika. Bedanya, volume titik matematik mendekati nol, sedangkan titik partikel fluida mendekati 1 (m)3. Dalam cara pandang makroskopik, partikel fluida dapat diperlakukan sebagai titik dalam matematika. Dengan demikian, matematika dapat dipakai sebagai alat analisis dalam MF.               1tantan 0         xp yp yp xp maksdsdPdsdP 
  • 24.
    12 MODUL II. STATIKA FLUIDA Deskripsi Fluidadiam, walaupun terkesan jinak, bisa menimbulkan risiko besar jika volume yang harus ditangani sangat banyak. Fluida diam dengan volume besar bisa dijumpai misalnya dalam tangki penampung bahan bakar minyak di depo-depo dan dalam bendungan (waduk). Volume fluida yang besar akan menimbulkan gaya-gaya tekan yang besar pula. Statika Fluida dalam modul ini mempelajari nasib fluida diam dan interaksinya dengan tempat penampungnya. Variabel terpenting dalam kasus ini adalah tekanan. Dengan memanfaatkan matematika, medan tekanan (distribusi tekanan) dalam badan fluida bisa ditentukan. Dari sini, besar dan arah gaya-gaya yang harus ditanggung oleh struktur penyimpan fluida diam bisa ditentukan. Informasi gaya-gaya fluida statik ini berguna untuk perancangan struktur yang aman untuk menampung fluida. Dalam modul ini juga diulas manometri (pengukuran tekanan berdasarkan sifat fluida statik) dan pengapungan. Sasaran belajar: 1. Menuliskan persamaan atur medan tekanan dalam fluida statik 2. Menerapkan persamaan atur medan tekanan fluida statik dalam analisis 3. Membedakan tekanan relatif (gage), tekanan vakum dan tekanan mutlak 4. Menyatakan tekanan dalam ukuran relatif dan mutlak 5. Menentukan nilai pembacaan tekanan dengan manometer 6. Menghitung gaya apung 7. Menghitung gaya yang bekerja pada permukaan terendam A. KerangkaAcuan Diam & Bergerak Istilah diam dan bergerak adalah relatif. Gerak hanya bisa didefinisikan relatif terhadap kerangka acuan yang didefinisikan oleh pengamat. 1) Benda dikatakan diam jika koordinat semua titik dalam sebuah benda tak berubah terhadap waktu dan terhadap kerangka acuannya. 2) Benda dikatakan bergerak jika koordinat semua titik dalam sebuah benda berubah terhadap waktu dan terhadap kerangka acuannya. Kerangka acuan itu sendiri bergerak dengan kecepatan tetap tertentu atau bahkan nol/diam (percepatan = 0), atau bergerak dengan kecepatan berubah (percepatan  0). Kerangka Acuan Inersial & Kerangkan acuan dengan percepatan nol disebut inersial, sedangkan dengan percepatan tidak nol disebut noninersial.
  • 25.
    13 Noninersial Kerangka acuaninersial disebut juga kerangka acuan Galilean atau Newtonian. Hukum-hukum fisika bisa ditransfer dari satu kerangka acuan inersial satu ke lainnya tanpa perubahan. Dengan kata lain, hukum-hukum fisika yang sama berlaku baik bagi pengamat yang diam maupun bagi pengangat yang bergerak dengan kecepatan tetap. Keadaan berbeda dijumpai pada kerangka acuan noninersial. Benda bermasa m yang diam relatif terhadap kerangka acuan inersial akan mengalami gaya sebesar nol. Namun, bagi pengamat dalam kerangka acuan noninersial (dengan percepatan a) benda akan tampak seolah- olah mengalami gaya sebesar –ma. Gaya yang sebenarnya tidak sungguh ada pada benda tetapi seolah ada akibat percepatan kerangka acuan disebut gaya fiktif atau gaya semu. Sebagai kerangka acuan standar enaknya diambil bintang tetap di langit, tetapi sayangnya ini tidak selalu praktis untuk berbagai keperluan. Oleh karena itu, untuk praktisnya maka bumi diambil sebagai kerangka acuan inersial. Walaupun bumi sendiri bergerak, pengaruh gerak putar bumi pada sumbunya pada banyak kasus bisa diabaikan. Hal ini bergantung pada eksperimen yang akan dilakukan atau pada fenomena yang diamati apakah bumi bisa diambil sebagai kerangka acuan atau tidak. Secara umum, untuk fenomena dalam skala kecil, bumi bisa dianggap sebagai kerangka acuan inersial. Namun, untuk fenomena dalam skala besar semisal pergerakan udara atmosfir, bumi tidak bisa dianggap sebagai kerangka acuan inersial karena efek percepatan semu akan menyebabkan gaya Corriolis yang signifikan. B. Hukum Pascal Hk. Pascal: Tekanan di 1 titik Sifat dasar dari fluida adalah tekanan. Tekanan biasa dikenali sebagai gaya tegak lurus permukaan per satuan luas yang dikenai oleh fluida pada dinding bejana. Tekanan juga berada di setiap titik di dalam volume fluida. Dalam fluida statik, sebagaimana ditunjukkan oleh analisis berikut, tekanan (gaya tekan per satuan luas) di satu titik tidak bergantung pada arah.
  • 26.
    14 Gambar 7. Gayatekan pada elemen fluida Perhatikan sebuah elemen fluida diferensial (berukuran sangat kecil) berbentuk prisma segitiga dalam keadaan setimbang (Gambar 7. Gaya tekan pada elemen fluida). Mengacu pada elemen ini bisa ditentukan hubungan antara gaya tekan pxAx ke arah x, pyAy ke arah y, dan psAs ke arah tegak lurus terhadap bidang bersudut kemiringan sembarang .  px.Ax bekerja tegak lurus pada bidang Ax = dy.dz  py.Ay bekerja tegak lurus pada bidang Ay = dx.dz, dan  ps.As bekerja tegak lurus pada bidang As = ds.dz. Karena tidak ada gaya geser pada fluida diam, dan tidak akan ada gaya pemercepat, jumlah gaya-gaya dalam suatu arah pasti sama dengan nol. Gaya-gaya yang bekerja adalah gaya-gaya tekan dan gaya gravitasi. Resultan gaya arah-x adalah nol sehingga: Pembagian dengan dy.dz menghasilkan: Begitu volume elemen fluida diciutkan sampai batas titik, atau secara matematik pada batas atau limit dV = dx.dy.dz  0, ungkapannya tetap seperti ini. px.Ax ps.As py.Ay dx dy ds dz  Ax = dy.dz Ay = dx.dz As = ds.dz   0sin(  ssxxx ApApF 0...  ds dy dzdspdzdyp sx dzdypdzdyp sx ..  sx pp 
  • 27.
    15 Resultan gaya arah-yadalah nol sehingga: Pembagian dengan dx.dz menghasilkan: Begitu volume elemen fluida diciutkan sampai batas titik, atau secara matematik pada batas atau limit dV = dx.dy.dz  0, diperoleh hasil: Dengan demikian maka: artinya, gaya tekan per satuan luas di satu titik sama besar ke segala arah. Inilah yang disebut hukum Pascal. Pernyataan ini berlaku untuk fluida diam. Penerapan hukum Pascal bisa dijumpai, misalnya, pada alat dongkrak dan pada mesin press untuk pencetakan plat logam. Arah gaya dongkrak dan gaya tekan adalah tegak lurus dengan bidang dongkrak dan bidang press piston. Sejalan dengan bergeraknya piston, maka fluida bergerak pula (tidak statik lagi). Walaupun demikian, dinamika fluida pada alat dongkrak dan mesin press bisa didekati sebagai rangkaian keadaan statik. Dongkrak Dua titik pada ketinggian yang sama dalam fluida diam (sinambung) memiliki tekanan yang sama. Tekanan yang diberikan pada fluida dalam wadah tertutup akan menaikkan tekanan di seluruh badan fluida dengan kenaikan yang sama. Pada Gambar 8, piston 1 dan 2 pada ketinggian yang sama. Jadi tekanan pada piston 1 dan 2 sama besar. Namun, karena piston 2 berluas penampang A2 lebih besar daripada piston 1 berluas penampang A1, maka gaya F1 akan diperkuat sebesar (A2/A1) kali menjadi F2. atau: Nisbah disebut faktor penguatan mekanik ideal (ideal mechanical advantage).   0..cos 2 1  dzdydxgApApF ssyyy  0.... 2 1  dzdydxg ds dx dzdspdzdxp sy  dygpp sy 2 1  sy pp  syx ppp  21 pp  2 2 1 1 A F A F  1 1 2 2 F A A F 
  • 28.
    16 Gambar 8. Prinsipdongkrak mobil C. Ragam Tekanan Ragam p arah vertikal Pertimbangkanlah sebuah elemen fluida diferensial (berukuran sangat kecil) vertikal dengan luas irisan sebesar A dan tinggi Z2 – Z1 (Gambar 9). Karena tidak ada gaya geser pada fluida diam, dan tidak akan ada gaya pemercepat, jumlahan gaya-gaya dalam suatu arah pasti sama dengan nol. Gaya-gaya yang bekerja adalah gaya-gaya tekan dan gaya gravitasi. Resultan gaya arah-z adalah nol: atau: Jadi di dalam fluida yang mengalami percepatan gravitasi, tekanan berkurang sejalan dengan pertambahan ketinggian ke arah atas.   01221  gzzAApAp   gzzpp 1212  
  • 29.
    17 Gambar 9. Elemendiferensial tabung-vertikal fluida Gambar 10. Elemen diferensial tabung-horizontal fluida Ragam p arah horizontal Selanjutnya pertimbangkan pula sebuah elemen fluida diferensial (berukuran sangat kecil) horizontal (Gambar 10). Resultan gaya arah- x akan sama dengan nol: atau: Artinya, tekanan fluida pada level sama adalah sama besar. Kenyataan yang sama juga berlaku pada fluida dalam bejana U. p pada level sama Tekanan pada level yang sama (Gambar 11) dalam badan fluida kontinu akan sama besar, walaupun tidak terdapat jejak horizontal langsung antara P dan Q. Dari bahasan sebelumnya diketahui bahwa pR = pS. Karena Fluida dengan densitas  p2.A p1.A .A(z2z1)g z2 z1 Fluida dengan densitas p1.A p2.A mg 021  ApApFx 21 pp  ghpp ghpp QS PR    
  • 30.
    18 maka dari keduapersamaan ini dapat diketahui bahwa pP = pQ. Gambar 11. Tabung berbentuk U Gambar 12. Elemen diferensial tabung-miring fluida Ragam p arah miring Sekarang akan ditinjau variasi tekanan pada sebuah elemen fluida diferensial yang lebih umum dengan posisi miring (gabungan komponen vertikal dan horizontal). Gaya-gaya yang bekerja pada elemen fluida diferensial memberikan kesetimbangan sbb: atau (pada batas ds  0): Dalam arah vertikal,  = 0, sehingga P Q SR h pA (p+dp)A ds z z+dz  (Ads)gcos()       0cos.   gAdsAdpppAF   0cos.   gdsdp   cosg ds dp 
  • 31.
    19 Persamaan ini memperkirakanlaju penurunan tekanan per kenaikan posisi vertikal sebanding dengan densitas setempat. D. Tekanan Mutlak,Relatif & Hampa Satuan Tekanan Satuan tekanan adalah N/m2, dan biasa disebut satu pascal (Pa). Karena satuan Pa sangat kecil untuk tekanan yang biasa dijumpai dalam praktik, maka lebih banyak dipakai satuan kilopascal (1 kPa = 103 Pa) dan megapascal (1 MPa = 106 Pa). Satuan tekanan lainnya meliputi bar, atm, kgf/cm2, psi atau lbf/in2.  1 bar = 105 Pa = 0.1 MPa = 100 kPa  1 atm = 101,325 Pa = 101,325 kPa = 1,01325 bar  1 kgf/cm2 = 9,807 N/cm2 = 9,807.104 N/m2 = 9,807.104 Pa = 0,9807 bar = 0,9679 atm  1 atm = 14,696 psi.  1 kgf/cm2 = 14,223 psi. TEKANAN Mutlak, Relatif & Hampa Di ruang angkasa yang hampa gas, tekanan praktis nol. Kondisi seperti ini bisa dihampiri di laboratorium apabila sebuah pompa vakum digunakan untuk menghampakan sebuah bejana. Tekanan di dalam kehampaan disebut nol mutlak, dan semua tekanan yang mengacu pada nilai ini disebut tekanan mutlak. Dengan kata lain, tekanan mutlak (absolute pressure) adalah tekanan aktual di satu titik. Tekanan Relatif (gage pressure) Kebanyakan alat pengukuran tekanan dikalibrasi untuk membaca nol di dalam atmosfir lokal, dan karenanya menunjukkan pembacaan tekanan relatif (gage pressure), pgage = pabs - patm. Misalnya, alat ukur tabung-Bourdon hanya menunjukkan perbedaan tekanan dalam fluida di mana Bourdon dipasang dengan tekanan atmosfir. Dalam hal ini, tekanan acuannya adalah tekanan atmosfir – bukan nol mutlak. Tekanan yang diperoleh dengan cara ini disebut tekanan relatif (gage pressure). Misal, jika tekanan terukur menggunakan alat yang diacukan ke atmosfir adalah 50 kPa dan tekanan atmosfir adalah 101 kPa, maka tekanan terukur bisa dinyatakan dalam dua cara, yaitu: p = 50 kPa gage (relatif) p = 101+50 = 151 kPa absolut g ds dp vertikal 
  • 32.
    20 Tekanan Hampa (vakum)1 Dengan tekanan atmosfirlokal sebagai acuan, maka tekanan terukur bisa positif bisa pula negatif. Tekanan di bawah tekanan atmosfir disebut tekanan vakum, pvakum = patm - pabs. Jadi, jika sebuah alat pengukur tekanan dipasang pada sebuah tangki dan menunjukkan tekanan vakum sebesar 31 kPa, artinya tekanan dalam tangki 31 kPa di bawah tekanan atmosfir lokal. Jika tekanan atmosfir lokal adalah 101 kPa absolut maka tekanan aktualnya adalah (101-31) kPa = 70 kPa absolut. Tekanan atmosfir standar Tekanan atmosfir standar didefinisikan sebagai tekanan yang dihasilkan oleh kolom air raksa setinggi 760 mm (29.92 inHg atau 10.3 m-air ) pada suhu 0°C (Hg = 13,595 kg/m3) dalam pengaruh percepatan gravitasi standar (g = 9,807 m/s2). Tekanan 1 atm = 760 torr dan 1 torr = 133,3 Pa. Gambar 13. Tekanan acuan mutlak dan relatif, tekanan terukur, tekanan vakum dan tekanan mutlak 1 Otto von Guericke melakukan eksperimen spektakuler dengan pompa udara. Tahun 1654, Guericke menangkupkan dua belahan setengah bola (Magdeburg hemispheres) menjadi bola berdiameter 35.5 cm (14 inches). Setelah udara didalamnya dikeluarkan dengan pompa, dua kelompok yang terdiri dari delapan kuda tidak mampu memisahkan tangkupan setengah bola walaupun bola hanya ditahan oleh udara sekitarnya. Inilah saat pertama diperagakan betapa besarnya tekanan yang dihasilkan udara. Sumber: http://chem.ch.huji.ac.il/history/guericke.html Acuan mutlak p = 0 (abs) Tekanan mutlak p = patm + pukur (abs) Tekanan gauge p = pukur (relatif) Tekanan mutlak p = patm + pukur (abs) Tekanan barometrik p = patm Tekanan vakum p = pukur (relatif)Tekanan atm. standar: p = 131,325 kPa (abs) p = 14,696 psia p = 760 mmHg (a) p = 29,92 inHg (a) Tekanan atm. lokal: p = patm
  • 33.
    21 E. Persamaan DasarFluidaStatik Persamaan Fluida Statik Elemen fluida yang dilukiskan pada (Gambar 14) mewakili fluida statik dalam kerangka acuan tanlembam (non-inertial) di mana percepatan badan fluida, a = 0. Resultan gaya yang bekerja pada elemen fluida bervolume  = xyz adalah: Gambar 14. Komponen tekanan pada elemen fluida statis Gaya-gaya yang bekerja pada elemen fluida terdiri dari gaya badan (body force) karena berat dan gaya permukaan (surface force) karena tekanan, yaitu: Dengan demikian resultan gaya F menjadi: dan setelah dibagi volume elemen  = xyz diperoleh: yang pada batas (limit)   0 atau xyz  0 menjadi: 00  amF fluidabadan P|z+z.Az P|z.Az P|y.Ay P|y+y.Ay P|x+x.AxP|x.Ax z x y x y z Ax = y.z Ay = z.x Az = x.y       zyxbadan gkgjgiF         yxPPk zxPPjzyPPiF zzz yyyxxxpermukaan                  0     yxPPk zxPPjzyPPi gkgjgi zzz yyyxxx xyx        z PP k y PP j x PP i gkgjgi zzzyyyxxx zyx           
  • 34.
    22 dan dalam notasivektor ditulis: dengan g = i.gx + j.gy + k.gz dan p = gradien tekanan. Persamaan ini mempunyai arti fisis berikut: 1) Perubahan tekanan terbesar (p) adalah searah dengan vektor gravitasi. 2) Garis-garis isobar (termasuk permukaan fluida) tegak lurus dengan p; artinya garis-garis isobar tegak lurus pula dengan vektor gravitasi. Persamaan Fluida Statik Semu – Kerangka acuan noninersial linier Apabila kerangka acuan analisis fluida mengalami percepatan (a  0), maka fluida akan mengalami gaya yang menyebabkannya bergerak (Gambar 15). Namun, karena geraknya masih seperti gerak benda padat (solid body), maka analisisnya masih seperti pada fluida statik. Oleh karena itulah fluida dikatakan berada dalam keadaan statik semu (atau boleh juga disebut bergerak semu). Dalam hal percepatannya linier, maka resultan gaya yang bekerja pada elemen fluida adalah: Gaya-gaya yang bekerja pada elemen fluida terdiri dari gaya badan (body force) karena berat dan gaya permukaan (surface force) karena tekanan, yaitu: Dengan demikian resultan gaya F menjadi: dan setelah dibagi  = xyz diperoleh: yang pada saat volume elemen diciutkan sampai menjadi titik, atau pada batas (limit)   0 atau xyz  0, menjadi:        z P k y P j x P igkgjgi zyx          Pg  aamF fluidabadan         zyxbadan gkgjgiF           rrppi zrppizrppiF zzzz rrrrrrpermukaan                     ayxppk zxppjzyppi gkgjgi zzz yyyxxx xyx               z pp k y pp j x pp i agkgjgi zzzyyyxxx zyx           
  • 35.
    23 dan dalam notasivektor ditulis: dengan g = i.gx + j.gy + k.gz, a = i.ax + j.ay + k.az dan p = gradien tekanan. Persamaan ini mempunyai arti fisis berikut: 1) Perubahan tekanan terbesar (p) adalah searah dengan resultan vektor: g – a. 2) Garis-garis isobar (termasuk permukaan fluida) tegak lurus dengan p; artinya garis-garis isobar tegak lurus pula dengan resultan vektor: g – a. Terapan dari persamaan yang diturunkan di sini bisa dikaitkan dengan persoalan semisal fluida dalam tangki bahan bakar saat kendaraan mengalami percepatan (lihat Gambar 15). Gambar 15. Pengaruh percepatan terhadap medan tekanan sebagaimana tampak pada perubahan permukaan fluida Persamaan Fluida Statik Semu – Kerangka acuan noninersial angular Kasus berikut menggambarkan apa yang dialami fluida dalam wadah yang diputar sumbu tegaknya pada kecepatan angular tetap. Akibatnya, permukaan bebas fluida yang semula datar menjadi cekung. Ini dikenal sebagai gerakan vortex paksa (forced vortex). Setelah masa transien lewat (terhitung sejak putaran dimulai), fluida akan bergerak bersama-sama dengan wadahnya layaknya benda padat (rigid body). Tidak ada deformasi, dan karenanya tidak ada pula tegangan geser, dan setiap partikel fluida dalam wadah bergerak dengan kecepatan putar yang sama. Secara skematik, fenomena ini dilukiskan pada Gambar 16. Resultan gaya yang bekerja pada fluida adalah: Kasus ini, mengingat geometri persoalannya, akan lebih mudah dianalisis dalam kerangka koordinat silinder. Gaya-gaya yang bekerja pada elemen fluida terdiri dari gaya badan        z p k y p j x p iagkgjgi zyx             pag  aamF fluidabadan  
  • 36.
    24 (body force) karenaberat dan gaya permukaan (surface force) karena tekanan, yaitu: Gambar 16. Komponen tekanan pada elemen fluida statis dalam kerangka koordinat dipercepat dengan percepatan angular a Dengan demikian resultan gaya F menjadi: dan setelah dibagi  = rrz diperoleh: yang pada batas (limit)   0 atau rrz  0 menjadi: dan dalam notasi vektor ditulis: dengan g = ir.gr + i.g + iz.gz, a = ir.ar + i.a + iz.az dan p = gradien       zzrrbadan gigigiF           rrPPi zrPPi zrPPiF zzzz rr rrrrpermukaan          P|r.Ar P|r+r.Ar P|z.Az P|z+z.Az P|r.A P|r(+).A r r z r z   r Ar = r.z A = z.r Az = r.r                arrPPi zrPPizrPPi gigigi zzzz rrrrrr zzrr                    z PP i r PP i r PP i agigigi zzz z rrrrr r zzrr                       z P i r P i r P iagigigi zrzzrr               Pag 
  • 37.
    25 tekanan. Persamaan inimempunyai arti fisis berikut: 1) Perubahan tekanan terbesar (p) adalah searah dengan resultan vektor: g – a. 2) Garis-garis isobar (termasuk permukaan fluida) tegak lurus dengan p; artinya garis-garis isobar tegak lurus pula dengan resultan vektor: g – a. Terapan dari persamaan yang diturunkan di sini bisa dikaitkan dengan persoalan semisal fluida dalam tabung yang diputar dengan kecepatan putar  radian/detik (lihat Gambar 17). Gambar 17. Pengaruh percepatan terhadap medan tekanan sebagaimana tampak pada perubahan permukaan fluida Dalam gerak putar, percepatan angular a = V dengan V = r sehingga a = (r) atau a = ir.(2r) + i.(0) + iz.(0). Dengan vektor gravitasi g = ir.(0) + i.(0) + iz.gz, maka persamaan atur untuk persoalan ini menjadi: atau (a) (b) (c) Integrasi persamaan (a) memberikan: . g gg a a g g-ag-a Kerangka acuan (wadah) diam, a=0 Kerangka acuan (wadah) bergerak, a0                z p i r p i r p i iirigiii zr zrzzr              0000 2 r r p 2    0   r p zg z p       zfrzrp ,,, 22 2 1  
  • 38.
    26 Persamaan (b) mengharuskanturunan parsial dari p(r,,z) terhadap  sama dengan nol; ini hanya bisa terpenuhi apabila: tetapi sehingga: . Selanjutnya, turunan parsial dari p(r,z) terhadap z harus sama dengan persamaan (c) sehingga atau dan p(r,z) menjadi . Tetapan C bisa ditentukan dengan menetapkan nilai tekanan pada sebuah titik, katakanlah p(r=0,z=0) = p0 sehingga penyelesaiannya menjadi: . Dari persamaan ini bisa diketahui bagaimanakah bentuk permukaan fluida statik yang mengalami percepatan angular. Caranya adalah dengan menyusun ungkapan ini untuk ketinggian z, yaitu: . Cara lainnya adalah dengan memanfaatkan kenyataan adanya isobar. Pada isobar, perubahan tekanan nol sehingga: atau: atau: Ketinggian isobar yang mudah dievaluasi adalah di tengah-tengah (r=0) permukaan bebas; katakanlah tinggi fluida di sini adalah hc, sehingga persamaan menjadi:     fzf ,    zfzf ,      zfrzrpzrp  22 2 1 ,,,    zg dz zdf z P      Czgzf z     Czgrzrp z   22 2 1 ,   22 2 1 0, rzgpzrp z     parabolapersbrar gg zrpp z zz . 2 , 22 2 0      02  rdrdzgdp z  rdr g dz z isobar 2   Cr g z z isobar  2 2 2  c z isobar hr g z  2 2 2 
  • 39.
    27 Nilai hc bisaditentukan berdasarkan neraca massa. Jika tinggi fluida sebelum diputar adalah h0, maka volume fluida dalam wadah silindrik berjari-jari R adalah: Volume ini sama dengan volume paraboloid fluida berputar: sehingga dari kedua persamaan terakhir diperoleh: z c g R hh 4 22 0   Dengan demikian maka persamaan ketinggian isobar – berarti juga permukaan bebas – menjadi:  2 2 12 2 0 2 Rr g hz z isobar   Gambar 18. Profil permukaan bebas pada beragam rpm (0-480) 0 2 hRV                      c z Rr r c z Rr r h g R Rrdrhr g rdrrzV 4 2 2 2 22 2 0 2 2 0     Permukaan bebas pada beragam rpm 0 5 10 15 20 25 30 35 40 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 r (cm) z(cm) 0 120 240 360 480
  • 40.
    28 F. Pengukuran Tekanan BarometerBarometer (Gambar 19) adalah alat yang digunakan untuk mengukur tekanan atmosfir. Sebuah barometer sederhana terdiri dari tabung sepanjang 76 cm lebih yang berisi air-raksa dan dipasang terbalik pada sebuah bejana terbuka yang juga berisi air-raksa. Ruang di atas tabung sesungguhnya tidak benar-benar hampa karena terdapat uap air-raksa pada tekanan uap jenuhnya. Akan tetapi, tekanan uap Hg pada suhu ruang sangatlah rendah, yaitu 0,173 Pa pada suhu 20 oC. Tekanan atmosfir dihitung menggunakan hubungan: patmosfir = gh, dengan  densitas fluida di dalam barometer. Gambar 20 memperlihatkan barometer digital modern. Gambar 19. Barometer fluida Gambar 20. Barometer digital
  • 41.
    29 Tekanan Fluida Dalam fluida diamtekanan diteruskan sama ke segala arah dan disebut sebagai tekanan statik. Dalam fluida bergerak, 1) Tekanan statik diteruskan pada bidang yang paralel dengan arah gerak. 2) Tekanan fluida yang diteruskan pada bidang tegak lurus arah aliran lebih besar daripada tekanan statik karena gerak fluida akan memberikan efek tambahan tekanan yang sebanding dengan energi kinetik fluida (sehingga disebut tekanan kinetik). Besarnya tekanan kinetik tidak dapat diukur secara terpisah dari tekanan statik. Jika tekanan statik dari fluida bergerak akan ditentukan, permukaan pengukuran harus paralel dengan arah gerak aliran sehingga di situ tidak ada energi kinetik fluida yang dikonversi menjadi energi tekanan. Jika fluidanya mengalir dalam pipa bundar maka permukaan pengukuran harus tegak lurus terhadap arah radial. Penghubung tekanan, dikenal sebagai tabung piezometer, harus rata dengan dinding pipa sehingga aliran tidak terganggu: tekanannya kemudian diukur dekat dinding di mana kecepatan fluida minimum dan pembacaannya hanya akan mengalami sedikit kesalahan andaikan permukaannya ternyata tidak betul-betul paralel dengan arah aliran. Tekanan statik harus selalu diukur pada jarak tidak kurang dari 50 diameter dari belokan, sambungan, atau hambatan lainnya sehingga garis-garis aliran nyaris paralel dengan dinding tabung. Untuk keadaan dengan arus-lintas (cross-currents) atau pusaran (eddies) perlu digunakan cincin piezometer (piezometer ring). Ini terdiri dari 4 titik ukur tekanan (pressure tapping) yang dipasang melingkar tabung masing-masing sejauh 900; keempatnya dihubungkan oleh sebuah tabung melingkar yang dihubungkan dengan piranti pengukuran tekanan. Dengan cara demikian, pembacaan keliru karena aliran tak beraturan bisa dihindari, karena kenaikan tekanan pada satu sisi biasanya disertai dengan penurunan di sisi seberangnya; jadi dengan cincin piezometer diperoleh nilai rata-rata tekanan.
  • 42.
    30 Gambar 21. Piezometer PiezometerPiezometer (Gambar 21) adalah alat yang digunakan untuk mengukur tekanan fluida di dalam bejana atau pipa. Alat ini berupa sebuah tabung yang dipasang pada dinding bejana/pipa di mana cairan berada sehingga cairan naik dalam tabung. Tekanan gage bisa dihitung dari rumus: p1 = gh. Untuk mencegah efek kapilaritas, tabung piezometer harus berdiameter ½ inch atau lebih. Untuk mencegah pembacaan keliru, mulut tabung haruslah tangensial terhadap gerak fluida. Manometer Manometer adalah juga alat untuk mengukur tekanan fluida. Manometer terdiri dari sebuah tabung lengkung yang berisikan satu atau lebih cairan dengan densitas berbeda dan bersifat tidak bercampur. Manometer bisa digunakan untuk mengukur tekanan aktual (biasanya relatif terhadap acuan atmosfir). Dalam hal ini, tekanan yang diketahui nilainya (bisa jadi tekanan atmosfir) diberikan pada satu ujung tabung manometer dan tekanan yang akan diukur dipasang pada ujung lainnya. Akan tetapi, manometer bisa juga digunakan untuk mengukur beda tekanan. Jadi, tekanan ujung-ujung tabung manometerlah yang ingin diukur daripada tekanan aktual di salah satunya. Manometer yang digunakan untuk menentukan tekanan diferensial ini dikenal sebagai manometer beda tekanan (diferensial pressure). Manometer U Manometer tabung-U bermacam-macam bentuknya, yaitu: 1) sederhana 2) terbalik 3) berkaki besar 4) berfluida 2-macam 5) miring Manometer U Sederhana Gambar 22 memperlihatkan konstruksi dasar dari manometer U.
  • 43.
    31 Karena X danY ada dalam badan fluida kontinyu dan berada pada level yang sama, maka tekanan di X dan Y adalah sama: dengan: sehingga: Nilai maksimum (p1  p2) yang bisa diukur dibatasi oleh ketinggian manometer. Untuk mengukur perbedaan tekanan yang lebih besar bisa dipilih fluida manometer dengan m lebih besar, dan untuk mengukur perbedaan tekanan yang lebih kecil dengan akurat bisa dipilih fluida manometer dengan m yang dekat dengan densitas fluida . Gambar 22. Manometer U sederhana YX pp   hagppX  1 ghgapp mY   2   ghgaphagp m  21  ghpp m   21 1 2 X Y a h  m
  • 44.
    32 Gambar 23. ManometerU Terbalik Manometer U Terbalik Manometer tabung-U terbalik (Gambar 23) digunakan untuk mengukur perbedaan tekanan cairan. Ruang di atas cairan di dalam manometer diisi dengan udara yang bisa dimasukkan atau dikeluarkan melalui katup di atas tabung guna mengatur level cairan di dalam manometer. Dengan cara ini, tekanan acuan bisa diatur, dan tidak terbatas pada 1 nilai tekanan acuan (tekanan atmosfir). Karena X dan Y ada dalam badan fluida kontinyu dan berada pada level yang sama, maka tekanan di X dan Y adalah sama: dengan: sehingga: Fluida manometer tabung-U terbalik biasanya udara. Dalam kasus ini, karena densitas udara (m) jauh lebih kecil daripada densitas cairan () maka: Manometer 1 kaki Dalam industri, manometer tabung-U sederhana mempunyai kekurangan karena memerlukan pembacaan di kedua kakinya. Dengan membuat diameter satu kakinya lebih besar (Gambar 24) 1 2 X Y a h  m YX pp   hagppX  1 ghgapp mY   2   ghgaphagp m  21  ghpp m  21 ghpp  21
  • 45.
    33 maka naik-turunnya fluidadi kaki ini menjadi sangat kecil – dapat diabaikan – sehingga hanya diperlukan pembacaan pada kaki lainnya yang lebih kecil. Pada Gambar 24, OP mewakili level permukaan cairan saat tekanan p1 sama dengan p2. Begitu diberi tekanan, level di kaki kanan akan naik sejauh h dan di kaki kiri turun sejauh h. Volume fluida yang dipindahkan dari kaki-kiri ke kaki-kanan adalah: dengan d diameter kaki yang lebih kecil. Sejumlah inilah volume fluida yang berkurang di sisi kiri sehingga levelnya turun dari O ke X sebanyak: dengan D diameter kaki yang lebih besar. Gambar 24. Manometer 1-kaki besar Penyamaan tekanan pada level XY (pX = pY) dengan: memberikan: 2 4 dhV kanankekiri   2 2 4 2 4        D d h D d hh   P X Y O a h h 1 2 D d                  2 11 1 D d ghgaphhggappX                   2 12 1 D d ghgaphhggapp mmY 
  • 46.
    34 Dengan membuat d<<Dmaka nilai suku (d/D)2 akan jauh lebih kecil dari 1 dan bisa diabaikan sehingga: dengan h adalah kenaikan fluida manometer di kaki sebelah kanan. Lebih jauh lagi, jika densitas fluida () jauh lebih kecil daripada densitas fluida manometer (m) bisa diabaikan terhadap densitas fluida manometer maka: Manometer 2-fluida Perbedaan kecil pada tekanan gas biasa diukur dengan menggunakan manometer berfluida dua macam sebagaimana diperlihatkan pada Gambar 25 dengan dengan densitas fluida pertama (1) dan fluida kedua (2) dengan 2>1. Dengan analisis serupa seperti sebelumnya, perbedaan tekanan di titik 1 dan 2 bisa ditentukan dari hubungan berikut: karena densitas gas jauh lebih rendah dari cairan (g << 1) maka pengaruhnya bisa diabaikan sehingga persamaan menjadi: Jika suku pertama di sisi kanan tanda “=” bisa dibuat jauh lebih kecil dari pada suku maka persamaan bisa disederhanakan lebih lanjut menjadi:                  2 21 1 D d ghpp m   ghpp m   21 ghpp m 21    ghhgpp g 12121    ghhgpp 12121    ghpp 1221  
  • 47.
    35 Gambar 25. Manometer2-fluida Manometer miring Manometer dengan kaki miring (Gambar 26) digunakan untuk mengukur dengan skala ketelitian yang lebih tinggi. Gambar 26. Manometer berkaki miring Keterbatasan manometer Manometer, dengan berbagai bentuknya, walaupun merupakan alat yang sangat berguna dalam pengukuran tekanan, tetapi memiliki beberapa kekurangan berikut: 1 2 h h g 1 2 Reservoir 15o
  • 48.
    36 1) Manometer, bisadibuat untuk mengukur perbedaan tekanan yang sangat kecil, tetapi tidak bisa enak digunakan untuk perbedaan tekanan yang besar – walaupun bisa saja dibuat rangkaian sejumlah manometer air-raksa untuk memperlebar rentang pengukuran. 2) Sejumlah cairan tidak cocok untuk digunakan karena tidak memberikan meniskus yang jelas. Tegangan permukaan bisa juga menyebabkan kekeliruan pembacaan karena efek kapilaritas; walaupun ini bisa dihindari dengan membuat diameter tabung cukup besar – paling tidak 15 mm atau lebih. Selain itu perlu diperhatikan bahwa saluran penghubung manometer dan pipa atau bejana di mana cairan bertekanan berada haruslah terisi cairan ini pula dan bebas dari gelembung udara. 3) Respon pembacaan manometer lambat sehingga tidak cocok untuk pembacaan tekanan yang berubah-ubah (berfluktuasi). Kelebihannya, manometer tidak harus dikalibrasi terhadap standar apapun; perbedaan tekanan bisa dihitung dari prinsip pertama (first principles). Tabung Bourdon Tahun 1849 alat ukur tabung Bourdon dipatenkan di Perancis oleh Eugene Bourdon2. Tabung Bourdon kini masih sangat luas digunakan untuk mengukur tekanan beragam cairan dan gas, termasuk uap, air, dan udara sampai tekanan 100.000 psi. Eugene Bourdon mendirikan perusahaan Bourdon Sedeme Company untuk membuat penemuannya. Gambar 27 (sisi kiri) memperlihatkan alat ukur tekanan bernama tabung Bourdon. Prinsip kerjanya secara skematik dilukiskan pada gambar yang sama (sisi kanan). Tekanan yang akan diukur diteruskan pada tabung lengkung yang bertampang lintang oval. Tekanan cenderung menyebabkan tabung untuk melurus, dan defleksi ujung tabung dihubungkan dengan sistem lengan-ayun ke jarum perekam/penunjuk. Alat ini luas dipakai untuk uap dan gas bertekanan. Tekanan yang ditunjukkan adalah perbedaan antara yang terekam oleh sistem dan tekanan luar (lingkungan), dan biasanya disebut sebagai tekanan gauge (gauge pressure). Gambar 28 memperlihatkan tabung Bourdon untuk pengukuran tekanan relatif positif dan negatif (vakum). 2 Sumber: http://inventors.about.com/library/inventors/blbourdon.htm
  • 49.
    37 Gambar 27. TabungBourdon (kiri) dan prinsip kerjanya (kanan) Gambar 28. Kombinasi pengukur tekanan gauge dan vakum Sisi Indikator dengan jarum & skala Sisi Mekanik dengan tabung Bourdon
  • 50.
    38 G. Gaya PadaPermukaan Terendam Gaya tekan horizontal Penentuan gaya tekan horizontal pada permukaan terendam (misalnya dinding bejana bertekanan, pintu air, dinding waduk) sering dilakukan dalam statika fluida. Informasi ini penting dalam proses perancangan struktur agar ia mampu menahan gaya tersebut dengan aman. Karena nilai tekanan beragam terhadap kedalaman, maka gaya tekan pada suatu bidang bisa diperoleh dari integrasi tekanan pada seluruh luasan bidang. Mengacu Gambar 29, besarnya gaya tekan yang bekerja pada elemen bidang yang diarsir sejauh y dari permukaan adalah:  dAgdAgydF .sin.   Gaya yang bekerja pada seluruh bidang adalah integral dari dF:      AA dAgdAgF  sinsin Mengingat definisi pusat massa, G:  A G dA A  1 maka persamaan gaya bisa ditulis menjadi:   AgF G sin Ini berarti, gaya tekan horizontal pada bidang adalah hasil kali dari tekanan di pusat massa, gsin()G, dan luas bidang, A. Gaya ini bekerja di suatu titik yang dinamakan titik pusat tekanan, P.
  • 51.
    39  Penampang A-A A A y  G P Gambar 29.Gaya tekan pada sebidang permukaan terendam Titik pusat tekanan Letak titik pusat tekanan, P, bisa ditentukan berdasarkan neraca momen. Dengan permukaan bebas sebagai acuan, maka:              A GP A GP A P dAgAg dAgAg dFF 2 sinsin sinsin    atau: A I dA A GAG P     021   Momen inersia luasan, I, lebih enak dihitung dengan acuan bukan permukaan bebas melainkan pusat massa, karena letak pusat massa adalah bawaan dari bidang. Momen luasan terhadap permukaan bebas, I0, oleh karena itu dipindahkan terhadap pusat massa, IG, dengan menggunakan teorema sumbu paralel: AII GGO 2  Dengan demikian maka letak titik pusat tekanan adalah:
  • 52.
    40 G G G P A I     Jadi, pusattekanan terletak di bawah pusat massa sejauh IG/(GA). Nilai IG beberapa luasan adalah sebagai berikut:  Persegi-empat dengan lebar b, tinggi h: A = bh dan IG = bh3/12.  Lingkaran berjari-jari R: A = R2 dan IG = R4/4. Untuk permukaan yang tidak datar, perhitungan gaya tekan sama seperti yang telah diuraikan sebelumnya. Perhitungan letak titik pusat tekanan walaupun rumit (dan tidak dibahas di sini), tetapi prinsipnya sama. H. Pengapungan Prinsip Archimedes Prinsip Archimedes menyatakan bahwa: gaya angkat pada benda = berat fluida yang dipindahkan benda. Prinsip ini bisa dijelaskan berdasarkan persamaan dasar fluida statik sebagai berikut. Gambar 30 memperlihatkan sebuah benda dengan densitas massa b tenggelam dalam fluida statik dengan densitas massa . Pada elemen silindrik fluida setinggi h searah sumbu-y dengan luas penampang dA bekerja: 1) gaya badan karena gravitasi, 2) gaya tekan ke bawah pada permukaan atas, dan 3) gaya tekan ke atas pada permukaan bawah. Besarnya resultan gaya diferensial yang bekerja pada elemen fluida adalah: atau: karena maka: . Besarnya gaya total pada benda adalah jumlah dari resultan gaya diferensial, dengan kata lain: Nilai tidak lain adalah volume benda, Vb, sehingga:     ghdAdSpdSpdF by   222111 coscos  dAghppdFy  21 ghpp  21  ghdAdF by         hdAgdAghF bby  hdA
  • 53.
    41 . Persamaan ini menunjukkanbahwa resultan gaya arah-y terdiri dari 2 bagian, yaitu gaya apung (gVb) dan gaya berat (bgVb). Besarnya gaya apung (gVb) di sini tampak sama dengan berat fluida yang dipindahkan oleh benda. Gambar 30. Gaya-gaya yang bekerja pada elemen silindrik pada benda Ada tiga kemungkinan yang bisa terjadi jika sebuah benda dilepas dari posisi awal terbenam dalam fluida: 1) Jika <b, maka benda akan mengalami resultan gaya negatif sehingga benda akan bergerak turun sampai tenggelam di dasar fluida. 2) Jika =b, maka resultan gaya pada benda nol sehingga ia tetap tinggal melayang dalam fluida. 3) Jika >b (densitas fluida lebih besar daripada densitas benda), maka benda akan mengalami resultan gaya positif sehingga benda akan bergerak naik sampai ke permukaan fluida lalu mengapung. Untuk benda mengapung, volume benda yang tercelup bisa ditentukan berdasarkan kesetimbangan gaya, di mana gaya apung seimbang dengan gaya berat:   bby gVF   p2.dS2.cos(2) x y z 2 1 2 1 dA p1.dS1.cos(1) Bidang x-z h ghdA
  • 54.
    42 atau: atau: . Jadi, es dengandensitas kira-kira 0,9 densitas air akan tercelup 90% volumenya dalam cairan (Gambar 32). Gambar 31. Benda mengapung, melayang dan tenggelam 0 beratapung FFF 0 bbcelup gVgV  b b celup VV    b< b= b> Fluida,  Benda mengapung Benda melayang (mengapung netral) Benda tenggelam
  • 55.
    43 Gambar 32. Gununges mengapung di permukaan laut karena densitas es (padat) lebih rendah daripada air laut (cair) Benda mengapung Dalam keadaan mengapung, sebagian volume benda (V1) tercelup dalam fluida berdensitas 1, dan volume sisanya (V2) tercelup dalam fluida berdensitas 2 (Gambar 33), maka:  Gaya angkat pada bagian atas, , bekerja melalui titik berat V1 di G1.  Gaya angkat pada bagian bawah, , bekerja melalui titik berat V2 di G2.  Gaya angkat total, Benda pada Gambar 33 dalam posisi tidak setimbang karena G1 dan G2 tidak berada pada garis vertikal yang sama. Momen gaya yang bekerja padanya akan menyebabkan benda bergerak putar ke kiri sampai keadaan setimbang tercapai di mana pusat pengapungan keseluruhan benda melalui titik berat benda itu. gVF 111  gVF 222  gVgVFFFtotal 221121  
  • 56.
    44 Gambar 33. Gayaapung pada benda Stabilitas benda celup & apung Kestabilan putar penting diperhatikan dalam rancang bangun kapal (atas air atau bawah air) supaya ia bisa tetap (kembali) tegak di atas atau di dalam air saat mengalami gangguan (kecil) karena angin, gelombang, atau arus laut. Kestabilan putar bergantung pada letak relatif G, yaitu pusat gaya berat (center of gravity) benda, terhadap B, yaitu pusat gaya apung (center of buoyancy). Pada benda celup (Gambar 34), seperti kapal selam: 1) Jika G di bawah B: benda stabil. 2) Jika G di atas B: benda tidak stabil. 3) Jika G berhimpitan dengan B: benda stabil netral. Pada benda apung, seperti kapal laut atau : 1) Jika G di bawah B: benda selalu stabil. 2) Jika G di atas B: benda bisa stabil bisa tidak (Gambar 35). Dalam kasus G di atas B, benda akan stabil jika gangguan kecil yang menyebabkan benda miring diikuti oleh pergeseran letak G yang menimbulkan momen pemulihan. Kestabilannya ditentukan oleh tinggi metasentrik GM, yaitu jarak antara titik G dan titik metasentrik M, yaitu titik perpotongan antara garis perpanjangan vektor gaya apung dan garis simetri benda.  Jika M di atas G (GM positif), benda stabil.  Jika M di bawah G (GM negatif) maka benda tidak stabil. Fluida berdensitas 1 Fluida berdensitas 2 V1 G1 V2 G2 F1 F2
  • 57.
    45 Gambar 34. Kestabilanbenda celup (immersed body) Gambar 35. Kestabilan benda apung (floating body) Mahkota Emas Hiero II, Raja Syracuse Hiero (306-215 B.C.) mendengar desas-desus bahwa tukang emasnya telah mengganti sebagian emas mahkotanya dengan perak. Hiero minta Archimedes (287-212 B.C.) memastikan apakah mahkotanya emas murni atau bukan. Archimedes harus mengembangkan metode pengujian yang tidak merusak (nondestructive test). Berdasarkan prinsip pengapungan, Archimedes menyeimbangkan mahkota dengan sebongkah emas murni menggunakan neraca gantung di udara (Gambar 36). 1) Jika mahkota terbuat dari emas murni, maka volume keduanya pasti sama. 2) Jika mahkota terbuat dari campuran perak maka volumenya akan lebih besar. Archimedes kemudian menimbang lagi keduanya menggunakan neraca gantung, tetapi sekarang bukan di udara melainkan di dalam air. Ternyata, neraca tidak seimbang, mahkota lebih ringan dari bongkahan emas murni (Gambar 37). Dengan demikian terbuktilah
  • 58.
    46 bahwa tukang emassang raja telah berlaku tidak jujur. Gambar 36. Mahkota sama berat dengan bongkahan emas murni di udara Gambar 37. Mahkota lebih ringan dari bongkahan emas murni di dalam air Dok Kapal Laut Dok kapal laut (Gambar 38), tempat di mana pekerjaan perawatan dan perbaikan dilakukan, juga menerapkan prinsip Archimedes. Dengan prinsip pengapungan, kapal selam berbobot 6000 ton bisa diangkat (Gambar 39) untuk dirawat/diperbaiki.
  • 59.
    47 Gambar 38. Dokkapal tenggelam sebagian Gambar 39. Kapal selam berbobot 6000 ton sedang menjalani perbaikan di atas dok kapal Rangkuman Variabel penting dalam fluida diam adalah tekanan. Distribusi tekanan dalam fluida diam dapat digambarkan oleh persamaan medan tekanan fluida statik Persamaan ini bisa diterapkan untuk analisis manometri, gaya-gaya tekan fluida pada permukaan terendam, dan gaya apung. Efek kapilaritas dalam manometri bisa dikoreksi dengan memperhitungan efek tegangan permukaan.   pag 
  • 60.
    48 MODUL III. SIFAT-SIFAT FLUIDA Deskripsi Fluidabiasa dipahami sebagai zat cair atau gas. Namun, pengertian ini secara ilmiah belum memadai karena tidak bisa dinyatakan dalam ukuran kefluidaan suatu zat. Sebagai gantinya diperkenalkanlah suatu definisi fluida yang memungkinkan pengukuran sifat kefluidaan zat. Sifat itu dikenal dengan sebutan viskositas. Viskositas merupakan sifat unik fluida yang tidak akan dijumpai pada zat padat. Selain viskositas, fluida memiliki beragam sifat-sifat lainnya, yaitu: tekanan uap, koefisien kompresibilitas, dan tegangan permukaan. Sasaran belajar: 1. Mendefinisikan fluida 2. Mengenali fluida newton dan non-newton berdasarkan grafik tegangan geser lawan laju deformasi 3. Menuliskan persamaan viskositas newton berikut nama dan satuan variabel-variabel di dalamnya 4. Menjelaskan pengertian tekanan uap, koefisien kompresibilitas, dan tegangan permukaan beserta satuannya Fluida: 2 di antara beragam fase di alam Dalam kehidupan sehari-hari biasa dikenal ada tiga macam keadaan benda: padatan, cairan, dan gas. Walaupun sebenarnya ada satu keadaan lagi yang justru keberadaannya di alam jauh lebih banyak, yaitu fase plasma. Walaupun cairan dan gas memiliki perbedaan dalam berbagai hal, keduanya memiliki kesamaan sifat yang membedakannya dari padatan. Cairan dan gas bersifat fluid (bersifat mengalir) karena tidak mempunyai kemampuan untuk menahan gaya secara tetap seperti halnya padatan. Sifat Fluida Segala karakteristik yang dimiliki suatu zat dan bisa diukur disebut sifat. Di antara sifat yang sangat dikenal adalah tekanan p, suhu T, volume V dan massa m, dan yang kurang dikenal adalah viskositas, konduktivitas termal, modulus elastisitas, koefisien ekspansi termal, tekanan uap dan tegangan permukaan. Sifat biasa digolongkan intensif dan ekstensif. Sifat intensif nilainya tidak tergantung pada jumlah zat. Contoh: suhu, tekanan, dan densitas. Sifat ekstensif nilainya tergantung pada ukuran zat. Contoh: massa, volume, momentum, dan energi. Sifat spesifik adalah sifat ekstensif per satuan jumlah zat. Contoh: volume spesifik (v = V/m), densitas massa ( = m/V) dan energi spesifik (e = E/m).
  • 61.
    49 A. Definisi Fluida Pentingnya Definisi Dalammasyarakat ilmiah, segala kerancuan makna dalam penggunaan istilah harus dihindari. Untuk itu setiap istilah ilmiah diperkenalkan beserta definisinya. Definisi memang bersifat membatasi pengertian, tetapi dengan demikian definisi membuat makna istilah bisa menjadi lebih jelas. Selain itu, ini yang lebih penting, pendefinisian istilah atau konsep itu harus memungkinkan pengukuran sehingga manfaatnya secara keilmuan dan dalam terapan menjadi luas. Jadi, walaupun secara awam fluida telah dimengerti sebagai zat cair atau gas, namun pengertian ini tidak cukup. Kita memerlukan definisi yang memungkinkan kuantifikasi atau pengukuran yang terkait dengan kefluidaan suatu zat. Pendekatan makroskopik (kontinum) Pendefinisian yang kita anut di sini akan mengambil pendekatan pada skala makroskopik, yang jauh lebih besar dari skala mikroskopik atau atomik atau molekuler. Alih-alih dipandang sebagai atom-atom atau molekul-molekul diskrit yang terpisah-pisah oleh jarak, fluida dipandang sebagai kontinum tanpa jarak pisah, sebagaimana kesan yang kita tangkap melalui indra fisik kita. Cara pikir makroskopik demikian disebut pendekatan kontinum. Kebanyakan fenomena yang dijumpai dalam mekanika fluida, baik yang melibatkan cairan maupun gas, masuk dalam domain kontinum. Dalam pendekatan kontinum, apa yang dikatakan sebagai sifat zat menggambarkan karakteristik sekumpulan besar atom atau molekul dalam skala yang jauh jauh lebih besar dari jarak antaratom atau antarmolekul. Dengan anggapan kontinum ini maka sifat-sifat fluida seperti densitas, tekanan, suhu, kecepatan dan lain-lain dianggap:  terdefinisi pada titik-titik yang kecil tak berhingga, dan  beragam secara kontinyu dari satu titik ke lain titik. Watak molekuler & diskritnya diabaikan. Dengan demikian, sifat fluida bisa dinyatakan sebagai fungsi tinerus/sinambung (continuous function) dalam ruang dan waktu:  densitas: ρ(r,t)  kecepatan aliran: v(r,t)  tekanan: p(r,t)  suhu: T(r,t) sehingga matematika bisa diterapkan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fluida.. Definisi Fluida Fluida didefinisikan sebagai bahan yang mengalami deformasi terus-menerus akibat gaya geser yang bekerja padanya. Istilah “deformasi terus-menerus” dalam bahasa keseharian disebut
  • 62.
    50 “aliran”. Pemilihan gayageser dalam definisi ini didasarkan pada efek beda yang dialami fluida dari padatan saat menerima gaya geser. Jadi, dengan definisi ini fluida bisa dibedakan dari padatan. Secara matematik, definisi operasional fluida bisa dituliskan sebagai: dengan:   adalah tegangan geser, yaitu gaya geser per satuan luas (N/m2)   adalah viskositas, yaitu ukuran hambatan internal fluida terhadap aliran (Pa.s)  adalah gradien kecepatan yang mewakili laju regangan geser (1/s) Gaya & Tegangan: Geser & Normal Besarnya gaya per satuan luas disebut tegangan (stress). Menurut komponen gayanya, tegangan dibagi menjadi dua macam, yaitu: 1) tegangan normal (normal stress) yang merupakan gaya normal atau tegak lurus permukaan per satuan luas permukaan, dan 2) tegangan geser (shear stress) yang merupakan gaya geser atau tangensial permukaan per satuan luas permukaan. Lihat Gambar 40. Pada fluida diam, besarnya tegangan normal sama dengan tekanan, tetapi pada fluida bergerak, besarnya tegangan normal tidak sama dengan tekanan. Gambar 40. Gaya normal dan gaya geser/tangensial Tegangan geser pada fluida mengalir Pada fluida diam tidak ada tegangan geser. Tegangan geser muncul apabila fluida bergerak akibat gaya netto yang bekerja padanya, tidak peduli apakah itu gaya geser atau bukan. dy du   dydu Fnormal (tegak lurus permukaan dA) Ftangensial (sejajar permukaan dA) F dA
  • 63.
    51  Jika partikel-partikelfluida bergerak relatif terhadap lainnya, berarti kecepatannya berbeda-beda sehingga bentuk asalnya berubah.  Jika kecepatan fluida di setiap titik sama, tidak akan ada tegangan geser yang dihasilkan karena partikel-partikel fluida satu terhadap lainnya relatif diam. Fluida vs. Padatan Perbedaan watak antara fluida dan padatan sebagai tanggapan terhadap gaya adalah sbb:  Untuk padatan, regangan (strain) sebanding dengan tegangan yang dideritanya (applied stress) selama batas elastiknya tidak terlampaui. Untuk fluida, bukan regangan yang sebanding dengan tegangan yang dideritanya melainkan laju regangan (rate of strain).  Regangan padatan, dalam batas elastisitasnya, sebanding dengan tegangan yang dideritanya tetapi tidak bergantung pada durasi pemberian gaya. Deformasi pada padatan bersifat sementara, sehingga begitu gaya geser ditiadakan maka deformasi pun lenyap dan padatan akan kembali ke bentuk asalnya. Fluida tidak demikian. Deformasi yang dialaminya bersifat terus-menerus selama gaya geser dikenakan padanya. Deformasi juga bersifat permanen sehingga begitu gaya geser ditiadakan maka fluida tidak akan kembali ke bentuk semula. Dengan kata lain, padatan mampu menahan gaya geser atau shear force dengan berdeformasi (berubah bentuk) – lihat Gambar 41. Besarnya gaya geser F per satuan luas kontak A (disebut tegangan geser atau shear stress, ) sebanding dengan regangan geser (shear strain, ).  Gambar 41. Efek gaya geser pada padatan Fluida tidak mampu menahan gaya geser sehingga ia berdeformasi   A F Padatan berubah bentuk (berdeformasi) sementara Gaya Geser, F Regangan geser,  Tegangan geser, A F 
  • 64.
    52 terus-menerus (mengalir) selamagaya geser masih terus mengenainya – lihat Gambar 42. Besarnya gaya geser per satuan luas (tegangan geser atau shear stress, ) sebanding dengan laju regangan geser (shear strain rate, d/dt).  Gambar 42. Efek gaya geser pada fluida B. Viskositas Viskositas Viskositas () sebuah fluida menggambarkan hambatan internal fluida untuk mengalir. Burung terbang atau ikan berenang (Gambar 43) mengalami hambatan yang berlawanan arah dengan arah geraknya. Hambatan ini disebut gaya hambat (drag force) yang besarnya bergantung pada faktor bentuk benda dan viskositas fluida. Efek Coanda Pengaruh viskositas juga tampak pada fenomena efek Coanda di mana arus aliran memperlihatkan kecenderungan mengikuti bentuk benda yang dilaluinya (Gambar 44). Satuan Viskositas Satuan viskositas adalah kg/(m.detik), dan g/(cm.detik) (juga dikenal sebagai poise yang dilambangkan dengan P).  1 centipoise (cP) = poise.  1 centipoise (cP) = 103 Pa.s. Centipoise juga merupakan satuan yang enak dipakai karena viskositas air pada suhu ruang kira-kira sebesar 1 centipoise. Viskositas dinamik & kinematik Viskositas () sering juga disebut sebagai viskositas dinamik. Perbandingan viskositas dinamik () dan densitas () disebut sebagai viskositas kinematik (): h V dt d A F     Fluida berubah bentuk terus- menerus & permanen Gaya Geser, F Laju regangan geser, d/dt = V/h Tegangan geser, h V dt d A F     h Plat atas bergerak secepat V Plat bawah diam 100 1    
  • 65.
    53 Besaran ini akanmenjadi penting saat gaya viskos dan gaya gravitasi yang signifikan ada bersamaan. Gambar 43. Gaya hambat yang dialami seekor burung sewaktu terbang mencerminkan pengaruh viskositas fluida Gambar 44. Efek Coanda Viskositas Cairan Viskositas cairan secara umum berkurang sejalan dengan peningkatan suhu. Viskositas cairan umumnya kira-kira berubah dengan suhu T menurut hubungan: Viskositas Gas Viskositas gas secara umum bertambah sejalan dengan peningkatan suhu. Viskositas berbagai macam gas kira-kira berubah dengan suhu T menurut hubungan: dengan T adalah suhu mutlak, 0 adalah viskositas pada suhu mutlak    Tba ln.ln  n T T        0 0
  • 66.
    54 acuan T0, dann adalah pangkat empiris yang paling cocok dengan data eksperimen. Viskositas gas ideal tidaklah tergantung pada tekanan, tetapi viskositas gas riil dan cairan biasanya bertambah sejalan dengan peningkatan tekanan. Viskositas cairan biasanya dua orde lebih besar daripada viskositas gas pada tekanan atmosfir. Misal, pada 250C, air = 1 cP dan udara = 10–2 cP. Gambar 45. Variasi viskositas cairan dan gas terhadap suhu C. Fluida Newtonian vs. NonNewtonian Fluida Newtonian Fluida Newtonian adalah fluida yang memenuhi hukum viskositas Newton, yaitu: dengan:   adalah tegangan geser atau shear stress (N/m2).   adalah viskositas dinamik fluida (Pa.s).  (du/dy) = laju regangan geser, rate of strain, atau gradien kecepatan (1/s). Semua gas dan kebanyakan fluida yang memiliki rumus molekul sederhana dan berat molekul ringan seperti air, benzena, etil-alkohol, CCl4, heksana, dan kebanyakan larutan dari molekul sederhana adalah fluida Newtonian. Fluida non- Newtonian Fluida non-Newtonian adalah fluida yang tidak memenuhi hukum viskositas Newton. Umumnya fluida non-Newtonian merupakan Suhu Viskositas Cairan Gas h V dy du dt d    
  • 67.
    55 campuran kompleks: lumpur,pasta, kecap, gel, larutan polimer, dll. Fluida non-Newtonian (Gambar 46) banyak ragamnya dan sering harus dihadapi oleh insinyur kimia/proses. Oleh karena itu, berkembanglah bidang ilmu khusus yang mempelajari watak fluida non-Newtonian yang dikenal sebagai rheologi. Setiap garis dalam Gambar 46 bisa diwakili oleh persamaan berbentuk: dengan A, B dan n konstanta. Untuk fluida Newtonian A = 0, B =  dan n = 1. Gambar 46. Hubungan tegangan geser (shear stress, ) dengan laju regangan geser (rate of shear strain, du/dy) berbagai macam fluida Dalam Gambar 46 tertera adanya fluida ideal. Sesuai namanya, fluida ini tidak nyata/riil, karena memang tidak ada fluida yang memiliki viskositas nol. Fluida ideal adalah sekedar konsep yang dibuat untuk memudahkan penyelesaian secara teoritik dengan cara mengidealkan persoalan praktik. Perilaku Fluida Non- Newtonian Fluida non-Newton memperlihatkan beragam perilaku:  Watak tak-tergantung-waktu. Sifat fluida di sini tidak tergantung pada durasi geseran bekerja. n dy du BA        Tegangan geser (shear stress),  Laju regangan geser (shear strain rate), du/dy Dilatan Newton Plastik semu Plastik Bingham Plastik Fluida ideal,  = 0
  • 68.
    56  Plastik: tegangangeser harus mencapai nilai minimum tertentu sebelum aliran mulai terjadi.  Plastik-Bingham: seperti plastik, fluida ini menahan tegangan geser yang kecil tetapi mengalir dengan mudah begitu menderita tegangan geser yang besar. Contoh: pasta gigi, jelli, dan sejumlah lumpur (misalnya lumpur IPAL – Instalasi Pengolah Air Limbah).  Plastik-semu (pseudo-plastic fluid): tiada tegangan geser minimum yang diperlukan untuk terjadinya aliran dan. fluida ini viskositasnya berkurang sejalan kenaikan gradien kecepatan (rate of strain). Kebanyakan fluida non-Newton masuk dalam kelompok ini. Contoh: larutan polimer, darah dan bahan kolloid semisal tanah-liat, susu, dan semen. Fluida plastik-semu juga disebut sebagai fluida bergeseran-melemah (shear-thinning fluid). Pada laju geseran rendah (du/dy) fluida bergeseran-melemah lebih viskos (kental) daripada fluida Newton, dan pada laju geseran tinggi menjadi kurang viskos.  Fluida dilatan (dilatant fluid): fluida ini viskositasnya bertambah dengan kenaikan gradien kecepatan. Fluida semacam ini tidaklah lazim, tetapi suspensi kanji dan pasir berperilaku demikian. Fluida dilatan disebut juga sebagai fluida bergeseran-menguat (shear-thickening fluid).  Watak tergantung-waktu. Sifat fluida di sini tergantung pada durasi geseran bekerja.  Fluida Thixotropik: fluida ini viskositas dinamiknya bertambah sejalan dengan waktu di mana gaya geser bekerja. Contoh: cat jelli thixotropik (Gambar 47).  Fluida Rheopektik: fluida ini viskositas dinamiknya bertambah sejalan dengan waktu di mana gaya geser bekerja. Contoh: suspensi gips dalam air (Gambar 47).  Fluda visko-elastik: fluida ini memiliki sifat elastik yang memungkinkannya berwatak seperti pegas. Wataknya mirip dengan fluida Newton tetapi jika dikenai geseran besar secara tiba-tiba fluida ini berwatak seperti plastik. Contoh: putih telur.
  • 69.
    57 Gambar 47. Efekperubahan mendadak laju geser pada viskositas semu fluida gayut-waktu D. Tekanan Uap Pengertian Tekanan, pada suhu tertentu, di mana suatu cairan akan mendidih disebut tekanan uap. Tekanan uap tergantung pada suhu (tekanan uap bertambah sejalan dengan kenaikan suhu). Tekanan Uap Air Dalam konteks ini, hal yang biasa dipikirkan adalah suhu di mana pendidihan terjadi. Misal, pada tekanan 1 atm (absolut) air mendidih pada suhu 1000C atau lebih. Namun, terkait dengan tekanan uap, alur pemikirannya dibalik. Pada suhu 1000C air mendidih (berubah fase menjadi uap) pada tekanan 1 atm (absolut) atau kurang. Mudah dipahami bahwa pendidihan pada suhu jauh di bawah 100 oC bisa terjadi apabila tekanan pada air diturunkan sampai tekanan uapnya. Contoh, tekanan uap air pada 10 oC adalah 0,01 atm. Oleh karena itu, jika tekanan air pada suhu tersebut (10 oC) diturunkan sampai nilai itu atau lebih rendah ( 0,01atm) maka air akan mendidih. Kavitasi Pendidihan pada suhu lingkungan ini sering terjadi dalam fluida yang mengalir, misalnya pada sisi hisap sebuah pompa. Apabila pendidihan semacam ini terjadi dalam cairan yang mengalir, gelembung uap akan mulai tumbuh di daerah setempat yang bertekanan sangat rendah dan kemudian lenyap (collapse) di daerah hilir yang bertekanan tinggi. Fenomena ini dikenal sebagai kavitasi (cavitation). Kavitasi bisa terjadi misalnya pada katup, turbin, dan pompa. Efeknya selain menimbulkan suara berisik dan menimbulkan getaran Viskositas semu (apparent viscosity) Waktu Thixotropic Rheopectic Saat laju geser dinaikkan
  • 70.
    58 kavitasi juga bisamerusak geometri alat. Gambar 48 memperlihatkan kavitasi yang terjadi di ujung baling-baling kapal, dan Gambar 49 memperlihatkan efek kavitasi pada rumah (casing) pompa sentrifugal. Kavitasi biasa muncul karena desain yang kurang bagus, karena tertutupnya katup di hulu atau sisi isap pompa, atau karena tersumbatnya penyaring. Gambar 48. Kavitasi di ujung baling-baling kapal Gambar 49. Efek kavitasi pada pompa sentrifugal
  • 71.
    59 E. Kompresibilitas Kompresi- bilitas Volume spesifik,v, suatu bahan, apakah itu padatan, cairan atau gas bisa berubah karena faktor suhu, T, dan tekanan, p. Jadi secara umum, dT T v dp p v dv pT                  atau biasa ditulis ulang sebagai: vdTvdpdv   dengan T p v v          1  adalah koefisien kompresibilitas (isotermal) yang memainkan peranan sangat penting dalam mekanika fluida, dan pT v v          1  adalah koefisien ekspansi volume isobarik. Hubungan antara tekanan dan volume gas lebih enak diperoleh dari persamaan sifat gas. Untuk gas ideal: pppv RT p RT pvp v v TT 1111                          Jadi, kompresibilitas gas mengecil seiring dengan membesarnya tekanan. Untuk udara pada tekanan 1 atm, nilai  = 1/atm = 10-5 m2/N = 10-5/Pa. Kompresibilitas cairan jauh lebih rendah daripada gas. Pada suhu 20 oC, untuk:  Air  = 4610-11 m2/N ≈ 4610-6/atm.  Hg  = 410-11 m2/N ≈ 410-6/atm.  Benzena  = 9510-11 m2/N ≈ 9510-6/atm. Bandingkan nilai-nilai ini dengan angka kompresibilitas tembaga yang hanya 0,77610-11 m2/N.  cairan & gas Untuk cairan, perubahan tekanan yang terjadi dalam berbagai permasalahan mekanika fluida tidaklah cukup besar untuk menimbulkan perubahan densitas. Sebagai gambaran, untuk memampatkan volume air sebesar 1% diperlukan kenaikan tekanan sebesar 1% dibagi 4610-6/atm yaitu 217 atm. Angka yang luar biasa besar. Oleh karena itu, sudah menjadi kebiasaan bahwa efek kompresibilitas diabaikan dan cairan dianggap sebagai fluida inkompresibel.
  • 72.
    60 Gas bisa jugadiperlakukan sebagai fluida inkompresibel bila perubahan tekanannya sangat kecil, tetapi efek kompresibilitas biasanya tidak dapat diabaikan. Secara umum, efek kompresibilitas menjadi penting apabila kecepatan fluidanya mencapai kira-kira sepertiga kecepatan gelombang tekanan (kecepatan suara) di dalam fluida. Kecepatan suara di udara kira-kira 300an m/s, sepertiganya adalah 100-an m/s. Pada kecepatan sebesar ini, kenaikan tekanan yang terlibat bisa mencapai 6000 Pa. Dengan udara sebesar 10-5/Pa berarti perubahan volumenya mencapai 600010-5 = 0,06 atau 6%. Gambar 50. Efek tegangan permukaan air pada seekor serangga F. TeganganPermukaan Fenomena Alam Fenomena fisik yang memperlihatkan efek tegangan permukaan diperlihatkan pada gambar berikut – seekor serangga dapat hinggap di atas permukaan air (Gambar 50). Fenomena ini juga diperlihatkan oleh terbentuknya tetes-tetes air dari kran (Gambar 51). Gambar 51. Efek tegangan permukaan pada tetesan air
  • 73.
    61 Resultan gaya di permukaan Fenomena inidapat dijelaskan dengan membayangkan apa yang terjadi pada permukaan fluida dibandingkan dengan yang terjadi di dalam fluida (Gambar 52). Molekul di dalam fluida mengalami gaya-gaya tarik ke segala arah dan resultan gayanya sama dengan nol, tetapi tidak demikian halnya molekul di permukaan fluida. Molekul di permukaan fluida mengalami gaya kohesi netto yang tegak lurus dengan permukaan. Molekul di permukaan memiliki energi lebih besar daripada yang di dalam fluida. Oleh karenanya diperlukan kerja untuk menggerakkan molekul-molekul di permukaan untuk mengatasi gaya kohesi tersebut. Tegangan permukaan Tegangan permukaan (, sigma) suatu fluida adalah kerja yang harus diberikan untuk membawa molekul dari dalam ke permukaan fluida untuk membentuk satu satuan luasan permukaan baru (J/m2 = N/m). Tegangan permukaan sering pula dinyatakan dalam satuan dyne per cm (1 dyne/cm = 0,001 N/m). Surfaktan Tegangan permukaan suatu zat bisa sangat berubah akibat penambahan zat yang disebut surfaktan (surfactants) semisal sabun dan deterjen. Sabun dan deterjen bekerja menurunkan tegangan permukaan air dan memungkinkannya menembus sela-sela di antara serat pakaian sehingga pencucian lebih efektif. Butiran fluida Tegangan permukaan adalah kecenderungan permukaan fluida untuk berlaku seperti membran elastik teregang. Secara alamiah, cairan cenderung meminimalkan luas permukaannya. Oleh karenanya, butiran setetes cairan cenderung membentuk bulatan untuk meminimalkan luas permukaannya. Untuk butir kecil ini, tegangan permukaan akan menyebabkan kenaikan tekanan internal p untuk mengimbangi gaya permukaan. Gambar 52. Gaya-gaya pada molekul fluida di dalam dan di permukaan Permukaan bebas (free surface) Cairan Gas Resultan gaya kohesi tegak lurus permukaan bebas. Resultan gaya kohesi nol.
  • 74.
    62 Gambar 53. Komponengaya-gaya pada butiran fluida Besarnya selisih tekanan di dalam butir dan tekanan luar p = (p – pluar), bisa dihitung berdasarkan kesetimbangan gaya-gaya pada setengah bola: sehingga Semburan cairan Kesetimbangan gaya serupa bisa juga dibuat untuk jet (semburan) cairan silindris, hasilnya: Gelembung sabun Perlakuan serupa bisa juga dilakukan untuk gelembung sabun yang mempunyai dua permukaan bebas seperti diperlihatkan pada Gambar 54. .2r 2.r (ppluar).r2 Tekanan gas di luar butiran = pluar Tekanan cairan di dalam butiran = p     02 0permukaanGayatekanGaya 0 2    rrp Fy  r p 2  r p  
  • 75.
    63 Gambar 54. Duapermukaan (dalam dan luar) pada gelembung sabun Dengan demikian kesetimbangan gaya-gayanya menjadi: sehingga: Permukaan bebas Tegangan permukaan biasanya muncul hanya dalam situasi yang melibatkan permukaan bebas (batas cairan/gas atau cairan/padatan) atau antarmuka (batas cairan/cairan). Tegangan pada antarmuka cairan/cairan biasa disebut sebagai tegangan antarmuka (interfacial tension). Tabel berikut menyajikan nilai tegangan permukaan sejumlah cairan pada suhu 200C dalam kontak dengan udara atau uapnya (nilai di antara keduanya biasanya kecil saja). Tabel 1. Nilai tegangan permukaan beberapa cairan No Cairan Tegangan permukaan,  (dyne/cm) 1 Air 72,75 2 Air raksa 435,50 3 Benzena 23,70 4 Etanol 22,75 .2r 2.r (ppluar).r2 Tekanan gas di luar gelembung = pluar Tekanan gas di dalam gelembung = p Selaput cairan dengan 2 permukaan (luar + dalam)     04 022 0 0 2       rrpp rAppA FFF F luar luar dalamluar permukaan luardari tekan dalamdari tekan y     r ppp luar 4 
  • 76.
    64 No Cairan Teganganpermukaan,  (dyne/cm) 5 Gliserol 63,40 6 Metanol 22,61 7 n-Oktana 21,78 G. Kapilaritas Adhesi & Kohesi Cairan naik atau turun di dalam tabung kapilar disebabkan oleh tegangan permukaan. Tinggi naik/turunnya tergantung pada besar relatif dari kohesi cairan dan adhesi cairan ke dinding bejana.  Cairan naik dalam tabung bila basah (adhesi > kohesi), dan  Cairan turun bila tidak basah (kohesi > adhesi). Pembasahan dan sudut kontak Fluida membasahi sejumlah padatan dan tidak membasahi lainnya. Gambar 55 melukiskan sejumlah watak pembasahan yang mungkin terjadi sewaktu sebutir cairan diteteskan pada permukaan padatan horizontal. Sisa permukaan padatan ditutupi dengan udara sehingga kedua fluida ada bersamaan. Sudut kontak Gambar 55 (a) mewakili kasus cairan yang tidak membasahi permukaan padatan. Misalnya adalah air di atas teflon atau air-raksa di atas gelas bersih. Jika pembasahan tepat nol maka  = 1800. Akan tetapi, gaya gravitasi pada butiran cairan akan menekan dan meratakannya sehingga sudut 1800 tidak pernah teramati. Gambar (c) mewakili kasus cairan yang membasahi permukaan padatan, misalnya air pada permukaan tembaga bersih. Sudut  diukur di dalam cairan antara tepi permukaan cairan dan permukaan padatan. Sudut ini disebut sudut kontak dan merupakan ukuran dari kualitas pembasahan. Untuk pembasahan sempurna, di mana cairan menyebar sebagai lapisan tipis seluas permukaan padatan,  = nol. Dalam kebiasaan sehari-hari, cairan dikatakan membasahi permukaan bila  kurang dari 900 dan tidak membasahi jika  lebih dari 900. Nilai  kurang dari 200 mewakili pembasahan kuat, dan nilai  lebih dari 1400 mewakili non-pembasahan kuat. Gambar 55. Watak pembasahan sebutir fluida pada permukaan padat   b ca
  • 77.
    65 Pentingnya kapilaritas Kapilaritas penting diperhatikandalam pengukuran fluida bilamana diameter tabung yang digunakan dalam pengukuran kurang dari 10mm Kenaikan atau penurunan kapilar (h) dalam sebuah tabung (Gambar 56) bisa dihitung berdasarkan kesetimbangan gaya-gaya. Gaya-gaya yang bekerja adalah gaya tegangan permukaan, gaya tekan, dan gaya gravitasi. Kenaikan kapilar Pada kasus pertama di mana fluida mendaki lebih tinggi dari permukaan bebas, komponen arah vertikal gaya-gaya yang bekerja pada CV (control volume) kolom fluida setinggi h diperlihatkan pada Gambar 57. Gambar 56. Efek kapilaritas d dh   h A B
  • 78.
    66 Gambar 57. Gaya-gayayang bekerja pada CV (control volume) kolom fluida yang mendaki di atas permukaan bebas Analisis kenaikan kapilar Gambar 57 melukiskan gaya-gaya yang bekerja pada CV (control volume) kolom kapilar fluida yang mendaki di atas permukaan bebas. Resultan gaya arah vertikal yang bekerja pada CV adalah: dengan:  Gaya tekan ke atas:  Gaya permukaan: dengan  adalah sudut pembasahan atau sudut kontak. (Jika tabung terbuat dari gelas dan keadaannya bersih maka  = 0 untuk air dan sekitar 1400 untuk air-raksa)  Gaya berat: dengan  adalah densitas cairan.  Gaya tekan ke bawah: Karena gaya tekan ke atas dan ke bawah saling meniadakan karena sama besar & berlawanan arah, maka kesetimbangan gayanya menjadi: dh         2 4 dPF atmtekan  ghdFberat        2 4      cosdFpermukaan         2 4 dPF atmtekan  CV   0 bawahke tekanberatpermukaan ataske tekany FFFFF 2 4 dPAPF atmatm ataske tekan       cosdFpermukaan  ghdmgFberat        2 4   2 4 dPAPF atmatm bawahke tekan  
  • 79.
    67 atau: sehingga ungkapan untukkenaikan kapilar h menjadi: Penurunan kapilar Pada kasus kedua di mana fluida membenam lebih rendah dari permukaan bebas, komponen arah vertikal gaya-gaya yang bekerja pada CV (control volume) kolom fluida setinggi h diperlihatkan pada Gambar 58. Gambar 58. Gaya-gaya yang bekerja pada CV (control volume) kolom fluida yang membenam di bawah permukaan bebas Analisis penurunan kapilar Gambar 58 melukiskan gaya-gaya yang bekerja pada CV (control volume) kolom kapilar fluida yang membenam di bawah permukaan bebas. Resultan gaya arah vertikal yang bekerja pada CV adalah: dengan:  Gaya tekan ke atas:   0beratpermukaany FFF     0 4 cos 2        ghdd     gd h   cos4  d  h B gHdFberat        2 4      cosdFpermukaan         2 4 dPF atmtekan  CVH    2 4 dHhgPF atmtekan      0 bawahke tekanberatpermukaan ataske tekany FFFFF
  • 80.
    68  Gaya permukaan:dengan  adalah sudut pembasahan atau sudut kontak. Tanda minus diperkenalkan supaya nilai besarnya gaya positif, sedangkan arahnya sudah diperhitungkan dalam persamaan neraca gaya.  Gaya berat: dengan  adalah densitas cairan.  Gaya tekan ke bawah: Kesetimbangan gayanya menjadi: atau: sehingga ungkapan untuk penurunan kapilar h menjadi:       2 4 dHhgPAHhgPF atmatm ataske tekan        cosdFpermukaan  gHdmgFberat        2 4   2 4 dPAPF atmatm bawahke tekan          0 44 cos 4 222        dPgHdddHhgP atmatm         0cos 4 2     ddgh   gd h   cos4 
  • 81.
    69 Gambar 59. Kenaikanair dan penurunan Hg sebagai fungsi diameter pipa kapilar Koreksi efek kapilaritas Gambar 59 dan Gambar 60 melukiskan pentingnya efek kapilaritas, terutama ketika melakukan pengukuran tekanan menggunakan piezometer. Artinya, hasil pembacaan harus dikoreksi dengan efek kapilar supaya diperoleh data yang akurat. Pada manometer 2-kaki efek ini ada di kedua kakinya sehingga saling meniadakan. Berbeda halnya pada manometer 1-kaki, efek kapilaritas di kaki kiri dan kanan berbeda besarnya sehingga perlu diperhitungkan untuk koreksi pembacaan. -10 -5 0 5 10 15 20 25 30 0 2,5 5 7,5 10 12,5 15 17,5 20 diameter pipa kapiler (mm) efekkapilaritas(mm) Hg Air
  • 82.
    70 Gambar 60. Efekkapilaritas Contoh: gelembung udara Udara dialirkan melalui nozel ke dalam sebuah tangki air untuk menghasilkan arus gelembung. Jika gelembung diinginkan agar berdiameter 2 mm, hitung berapa besar kelebihan tekanan udara pada ujung nozel dibandingkan tekanan air sekelilingnya. Anggaplah bahwa nilai tegangan permukaan antara udara dan air adalah 72,7.103 N/m. Data: Tegangan permukaan () = 72,7.103 N/m. Jari-jari gelembung (r) = 1 mm. Rumus: Perhitungan: Jadi, tekanan udara di ujung nozel harus lebih besar dari tekanan air sekelilingnya sebanyak 145,4 N/m2. Contoh: gelembung sabun Sebuah gelembung sabun berdiameter 50 mm berisikan tekanan 2 bar (di atas tekanan atmosfir). Tentukan tegangan permukan pada saput (film) sabun. Data: Jari-jari gelembung sabun (r) = 25 m = 0,025 m r p 2  2 3 5,145 1 10.7,7222 m N mmr p m N     
  • 83.
    71 p = 2bar = 2.105 N/m2 Rumus tekanan di dalam gelembung sabun dan tegangan permukaan () terkait oleh rumus: Perhitungan: Contoh: sudut kontak Air mempunyai tegangan permukaan sebesar 0,4 N/m. Dalam sebuah tabung vertikal berdiameter 3 mm, air naik setinggi 6 mm di atas permukaan air di luar tabung. Hitung sudut kontaknya. Data: Tegangan permukaan () = 0,4 N/m Diameter tabung (d) = 3 mm = 0,003 m Kenaikan kapilar (h) = 6 mm = 0,006 m Rumus kenaikan kapilar karena tegangan permukaan diberikan oleh persamaan: Perhitungan: Jadi sudut kontaknya adalah  = 83,70. Rangkuman Fluida didefinisikan sebagai zat yang terus mengalami deformasi selama menanggung tegangan geser. Konstanta kesebandingan antara tegangan geser dan laju deformasi mewakili sifat khas fluida yang disebut sebagai viskositas. Fluida bisa digolongkan ke dalam kelompok fluida newton dan non-newton. Sifat fluida newton bisa diwakili oleh persamaan viskositas newton. Dalam aliran, tekanan lokal fase cair bisa saja lebih rendah dari tekanan uap jenuhnya (pada suhu tertentu). Akibatnya, fluida berubah fase dari cair menjadi uap. Fenomena ini (biasa disebut kavitasi) bisa menyebabkan kerusakan permukaan padat dari alat keteknikan. r p 4  m Nmrp m N 1250 4 025,010.2 4 2 5        gd h   cos4    11,0 4,04 003,0812,91000006,0 4 cos 3     m N m kg mmgdh   
  • 84.
    72 MODUL IV. DESKRIPSI ALIRAN Deskripsi Berbedadari zat padat yang memiliki bentuk tetap, fluida sangat mudah mengalami deformasi yang terus-menerus. Akibatnya ragam gerak yang dialaminya bisa sangat banyak – sebagaimana tercermin dari pola aliran fluida yang terkesan rumit. Walaupun demikian, gerak rumit tersebut bisa diurai sebagai tersusun dari gerak-gerak dasar. Sebagian anasir gerak tersebut sama seperti pada zat padat (translasi, rotasi, deformasi linier), bedanya pada fluida ada unsur gerak tambahan, yaitu deformasi geser. Modul ini mengulas penggambaran anasir gerak dasar tersebut dalam ungkapan matematik tanpa memperhitungkan penyebab pergerakan (kinematika fluida). Selain itu, karena bentuknya mudah berubah- ubah, maka untuk mempelajari fluida lebih enak diambil ruang tertentu (control volume, CV) sebagai basis analisis, bukan massa tertentu (control mass, CM) seperti saat mempelajari zat padat. Namun, hukum alam dirumuskan menurut basis CM. Oleh karena itu, persamaan dasar neraca massa, momentum, dan energi harus diubah bentuknya supaya berlaku dalam pendekatan CV yang berbasis ruang. Pengubahan tersebut mudah dilakukan dengan menerapkan dalil transport Reynolds. Sasaran belajar: 1. Menuliskan persamaan neraca massa dalam pendekatan CM dan CV dalam bentuk laju perubahannya terhadap waktu 2. Mendefinisikan CV yang memudahkan analisis 3. Melakukan analisis integral pada kasus aliran yang sangat sederhana A. Ragam Cara PandangAliran Hukum dasar Fisika & Hubungan konstitutif Ada 3 hukum dasar fisika yang berlaku dalam aliran fluida, kecuali untuk fenomena relativistik & nuklir, yaitu:  Hukum kekekalan massa  Hukum kedua Newton tentang gerak  Hukum pertama termodinamika yang rumusan matematikanya berturut-turut adalah:  Persamaan kontinuitas  Persamaan momentum  Persamaan energi Hukum fisika berlaku umum untuk segala bahan. Oleh karena itu, penerapan hukum fisika pada suatu fenomena yang melibatkan bahan tertentu memerlukan pengetahuan sifat bahan itu. Sifat bahan biasanya dinyatakan dalam hubungan sifat-sifat, yang
  • 85.
    73 sayangnya sering disebutdengan istilah hukum juga, misal:  hukum gas ideal (seharusnya hubungan sifat gas ideal),  hukum viskositas newton (seharusnya hubungan sifat fluida newtonian). Hubungan sifat ini biasanya disebut hubungan konstitutif. Jadi ingat-ingat, hukum berlaku untuk segala bahan, apakah itu hukum kekekalan massa, hukum kedua Newton tentang gerak, atau hukum pertama termodinamika. Sementara, hubungan konstitutif berlaku untuk suatu bahan tertentu saja, misal:  Hubungan sifat gas ideal,  Hubungan sifat fluida Newtonian,  Hubungan sifat fluida non-Newtonian, dll. Kinematika Fluida Pengungkapan hukum-hukum fisika dalam bentuk matematik memungkinkan pengembangan penggambaran analitik aliran fluida. Modul ini akan mengulas penggambaran gerak fluida secara matematik tanpa perlu memperhitungkan gaya-gaya dan momen- momen penyebabnya. Ilmu penggambaran gerak seperti ini disebut Kinematika Fluida. Ragam Cara Pandang Aliran Aliran, atau gerak fluida, bisa digambarkan dengan beragam cara pandang, yaitu: 1) Cara pandang Integral: a) cara pandang CM (control mass), b) cara pandang CV (control volume), 2) Cara pandang Diferensial: a) cara pandang Lagrangian, dan b) cara pandang Eulerian. Cara pandang integral dan diferensial berbeda dalam hal skala pandang. Skala pandang berkaitan dengan resolusi atau kedetilan atau kerincian pemandangan. Cara pandang integral melibatkan fluida dalam skala besar (atau kerincian rendah), sedangkan cara pandang diferensial melibatkan fluida dalam skala kecil/titik (kerincian tinggi). Cara pandang CM sepadan dengan Lagrangian, dan cara pandang CV sepadan dengan Eulerian. Masing-masing berbeda hanya dalam skala pandang. Obyek pandang CM dan Lagrangian adalah massa, sedangkan obyek pandang CV dan Eulerian adalah ruang. Sistem (CM) Hukum-hukum dasar fisika bisa diterapkan langsung pada sistem karena perumusan aslinya memang untuk sistem. Apa yang dimaksud dengan istilah sistem adalah sejumlah massa beridentitas tetap atau
  • 86.
    74 control mass (CM).Massa tidak bisa menembus batas sistem. Transformasi CM ke CV Mengingat fluida mudah berubah bentuk dan bercampur-baur, kajian lebih enak dilakukan pada suatu volume atau ruang (control volume- CV) tertentu di mana fluida bisa mengalir keluar-masuk melaluinya. Jadi berbeda dengan pada sistem (CM), massa pada CV dibiarkan bisa menembus batas CV. Perbedaan pendekatan antara CV dan CM menyebabkan hukum- hukum fisika (yang aslinya dirumuskan untuk CM) tidak bisa diterapkan begitu saja untuk CV. Ungkapan hukum dasar fisika perlu ditransformasi dari rumusan untuk sistem (CM) ke rumusan untuk CV. Ini ditempuh dengan Dalil Transport Reynolds (Reynolds Transport Theorem - RTT). Dalil Transport Reynolds Ungkapan Dalil Transport Reynolds untuk melakukan transformasi besaran B dari untuk sistem (CM) ke untuk CV adalah:       CSCV CM dAnvbbdV tdt dB   dengan: B = besaran fisik (bisa massa, momentum, atau energi) b = B per satuan massa v = vektor kecepatan n = vektor satuan normal (tegak lurus) permukaan V = volume CV A = luas permukaan CS = permukaan batas CV Lihat juga Gambar 61. Jika CV bergerak atau berdeformasi dengan kecepatan tetap (vCS), maka vektor kecepatan diganti dengan kecepatan relatif (v - vCS). Penggambaran Sistem (CM) Penggambaran CV DTR Dalil Transport Reynolds (DTR) digunakan untuk mengubah penggambaran CM (sistem) menjadi CM untuk analisis integral       CS r CV CM dAnvbbdV tdt dB   Gambar 61. Dalil Transport Reynolds Deskripsi Gerak Gerak fluida bisa digambarkan dengan 2 macam metode, yaitu:
  • 87.
    75  Penggambaran Lagrangian,yang sebutannya diambil dari nama matematikawan Italia Joseph Louis Lagrange (1736- 1813).  Penggambaran Eulerian, yang sebutannya diambil dari nama matematikawan Swiss Leonhard Euler (1707-1783). Deskripsi Lagrangian Dalam pendekatan Lagrangian, posisi & kecepatan partikel individual atau control mass (CM) dijejaki/ditelusuri. Gerakan partikel digambarkan berdasarkan hukum-hukum Newton. Pendekatan ini sulit dipakai untuk analisis aliran karena:  Secara makroskopik: bentuk badan fluida tidak tetap karena partikel penyusunnya mudah berpindah.  Secara mikroskopik: jumlah molekul fluida luar biasa banyak + interaksi antarmolekul sulit untuk dimodelkan. Walaupun demikian, pendekatan ini berguna untuk penerapan khusus, misalnya dalam analisis aliran semprotan, partikel, dinamika gelembung, dan gas bertekanan sangat rendah (rarefied gases). Untuk keperluan tertentu, gabungan metode Eulerian-Lagrangian menjadi perlu diterapkan, misalnya dalam:  Pemantauan lingkungan global dengan menggunakan Global Environmental MEMS Sensors (GEMS). Simulasi pergerakan sensor skala-mikron ini dilakukan dengan menggunakan model partikel Lagrangian yang disertakan dalam medan aliran hasil perhitungan CFD3 Eulerian (Gambar 62).  Analisis forensik kecelakaan pesawat ulang-alik Columbia. Pertama, CFD Eulerian digunakan untuk simulasi medan aliran. Partikel Lagrangian untuk simulasi jejak sampah serpihan pesawat (Gambar 63). Deskripsi Eulerian Suatu domain aliran atau control volume (CV) didefinisikan di mana fluida mengalir keluar-masuk. Variabel medan aliran didefinisikan sebagai fungsi ruang dan waktu. Medan tekanan, P=P(x,y,z,t) Medan kecepatan,      ktzyxvjtzyxvitzyxvv zyx .,,,.,,,.,,,  . Medan percepatan,      ktzyxajtzyxaitzyxaa zyx .,,,.,,,.,,,  Ungkapan seperti ini pas untuk analisis differensial/rinci. 3 CFD = Computational Fluid Dynamics, yaitu suatu program komputer yang menyelesaikan persamaan-persamaan aliran fluida, berdasarkan hukum-hukum fisika dan model-model semi- empirik, untuk memprediksi medan aliran.
  • 88.
    76 Gambar 62. Analisispergerakan sensor mikron untuk pemantauan lingkungan global dengan gabungan metode Eulerian-Lagrangian Gambar 63. Analisis forensik kecelakaan pesawat ulang-alik Columbia dengan gabungan metode Eulerian-Lagrangian Perbedaan dasar Kedua pendekatan sebetulnya berbeda hanya dalam cara menentukan posisi dalam medan.  Posisi dalam metode Lagrangian ditentukan secara relatif berdasarkan Posisi acuan awal (saat t=0). Jadi, posisi dalam ruang adalah variabel dependen terhadap waktu.  Posisi dalam metode Eulerian ditentukan berdasarkan Posisi geometrinya dalam ruang tidak bergantung waktu. Jadi, posisi
  • 89.
    77 dalam ruang adalahvariabel independen sama seperti waktu. Lagrangian vs. Eulerian Lagrangian: 1) Variabel independen: waktu 2) Variabel dependen: a) Medan tekanan: p = p(t) b) Medan kecepatan: v = v(t) c) dengan posisi acuan: (xo, yo, zo) saat t = to. Eulerian: 1) Variabel independen: posisi dan waktu 2) Variabel dependen: a) Medan tekanan: p = p(x,y,z,t) b) Medan kecepatan: v = v(x,y,z,t) Titik temu metode Lagrangian & Eulerian Hukum Newton kedua pada satu partikel fluida adalah: partikelpartikelpartikel amF  dengan: dt dv a partikel partikel  Namun, vpartikel di satu titik pada waktu t kapanpun = vfluida       ttztytxvv partikelpartikelpartikelpartikel ,,, Turunan waktu diperoleh dengan aturan berantai dt t v dz z v dy y v dx x v dv partikelpartikelpartikelpartikel             dt dt t v dt dz z v dt dy y v dt dx x v dt dv a partikelpartikelpartikelpartikel             Kemudian, karena: z partikel y partikel x partikel v dt dz v dt dy v dt dx  ,, maka: z v v y v v x v v t v a zyxpartikel             sehingga dalam notasi vektor, ungkapan percepatan ini bisa ditulis:    vv t v dt dv tzyxa    ,,,
  • 90.
    78 Suku-suku di sebelahkanan tanda = berarti:  Suku pertama adalah percepatan lokal, yang nilainya = 0 untuk aliran steady.  Suku kedua adalah percepatan advektif yg memperhitungkan efek perpindahan partikel fluida ke lokasi baru dalam aliran di mana kecepatan berbeda. Operator turunan total d/dt disebut turunan material dan sering diberi lambang khusus, D/Dt.      v tdt d Dt D Operator ini merupakan sarana transformasi yang mempertemukan pendekatan Lagrangian dan Eulerian (Gambar 64). Nama lain untuk turunan material adalah: total, partikel, Lagrangian, Eulerian, dan substantial. Suku advektif (v) bersifat nonlinier sehingga persamaan diferensial aliran sulit untuk diselesaikan. Inilah yang menjadi sumber dari beragam fenomena aliran yang sangat menantang. Penggambaran Lagrangian Penggambaran Eulerian D/Dt Turunan Material D/Dt digunakan untuk mengubah penggambaran Lagrangian menjadi Eulerian untuk analisis differensial      v tDt D Gambar 64. Operator diferensial total mempertemukan metode Lagrangian dan Eulerian Rekapitulasi Hasil diskusi tentang berbagai cara pandang terhadap penggambaran gerak fluida bisa dirangkum dalam satu gambar seperti diperlihatkan pada Gambar 65. Penggambaran CV untuk analisis integral bisa diubah menjadi penggambaran diferensial dengan menciutkan CV menjadi titik.
  • 91.
    79 Penggambaran Lagrangian Penggambaran Eulerian D/Dt Turunan Material D/Dtmengubah penggambaran Lagrangian menjadi Eulerian Analisis Differensial Penggambaran Sistem (CM) Penggambaran CV DTR Analisis Integral Dalil Transport Reynolds mengubah penggambaran Sistem (CM) menjadi CV Untuk CV diferensial (titik) Gambar 65. Rangkuman berbagai cara pandang pergerakan fluida B. Kinematika Fluida Deskripsi kinematik Elemen fluida bisa mengalami 4 macam gerak: 1) Translasi 2) Rotasi 3) Peregangan linier 4) Peregangan geser Lihat pula Gambar 66. Karena fluida terus bergerak, gerakan & deformasi paling baik digambarkan dalam laju: 1) Kecepatan: laju translasi 2) Kecepatan angular: laju rotasi 3) Laju regang linier 4) Laju regang geser Laju Translasi Vektor laju translasi digambarkan sebagai vektor kecepatan. Dalam koordinat Cartesian: kvjvivv zyx ...  Dengan i, j dan k adalah komponen vektor satuan arah x, y dan z berturut-turut.
  • 92.
    80 Translasi Peregangan Geser Peregangan Linier Rotasi Gambar 66. Ragamgerak yang bisa dialami oleh elemen fluida   Saat t Saat t+t xyxxy vv    yxyyx vv   /2 x+xx y+y y x+xx Gambar 67. Deskripsi gerak rotasi elemen fluida Laju rotasi Laju rotasi di satu titik didefinisikan sebagai laju rotasi rerata dari dua garis yang semula saling tegak lurus dan berpotongan di titik itu (Gambar 67). Mengacu pada gambar tersebut, komponen arah z vektor laju rotasi pada bidang xy dalam koordinat Cartesian bisa dirumuskan sebagai berikut:
  • 93.
    81                                             y v x v t y tvv t x tvv dt d xy yxyyx xyxxy t z 2 1 0 2 1 2 1 arctanarctan lim   Komponen arah x dan y vektor laju rotasi pada bidang yz dan zx dalam koordinat Cartesian bisa ditentukan dengan cara serupa, sehingga hasil selengkapnya adalah:                                      y v x v x v z v z v y v kji xy z zx y yz x zyx 2 1 2 1 2 1 ...     atau, dalam notasi vektor:                      zyx zyx vvv kji v vcurl 2 1 2 1 2 1  Vortisitas Curl (v) disebut sebagai vortisitas , suatu ukuran rotasi partikel fluida & besarnya = 2 kali kecepatan angular  partikel fluida. Ungkapan vortisitas dalam sistem koordinat cartesian adalah:                      zyx zyx vvv kji v vcurl dan dalam sistem koordinat silindrik adalah:
  • 94.
    82                      zr zrr zr vvv eee v vcurl     Di daerahdengan vortisitas  = 0, aliran disebut irrotasional di tempat lain, alirannya rotasional. Fenomena aliran rotasional dan irrotasional mudah diamati efeknya pada dedaunan atau sampah lain yang terbawa aliran sungai. Di dekat pinggir sungai, dedaunan hanyut sambil berputar, sedangkan di daerah tengah tidak berputar. Ini menunjukkan bahwa aliran di daerah pinggir sungai bersifat rotasional, sedangkan di tengah aliran irrotasional (vortisitas nol). Lihat Gambar 68. Gambar 68. Aliran rotasional di dekat dinding, dan irrotasional di jauh dinding Elemen fluida Saat t Elemen fluida Saat t+t y yy    tvv yyyyy   y   tvv xxxxx  x xx x Gambar 69. Deskripsi peregangan linier elemen fluida Laju regang linier Laju Regang Linier didefinisikan sebagai laju pertambahan panjang per satuan panjang. Lihat Gambar 69. Pada bidang xy dalam
  • 95.
    83 koordinat Cartesian, lajuregang arah x dan y bisa ditentukan sebagai berikut:     y v t y tvv dt d x v t x tvv dt d y yyyyy t y yy x xxxxx t x xx                   0 0 lim lim     Dengan cara serupa bisa diperoleh laju regang arah z:   z v t z tvv dt d z zzzzz t z zz          0 lim   Jadi, dalam koordinat Cartesian: z v y v x v z zz y yy x xx           Selanjutnya, laju regang volumetrik dalam koordinat Cartesian bisa ditentukan sebagai berikut:           zyxV x tvv z y tvv y x tvv xV t V V t VV Vdt VdV t zzzzz yyyyy xxxxx tt t tt t ttt t t                                                       1 lim 1 lim 00 Hasilnya, laju regang volumetrik menjadi:       volumeanpengembanglaju           vdiv dt VdV v z v y v x v dt VdV zyx zzyyxx  Dalam aliran inkompresibel, volume elemen fluida adalah tetap, sehingga laju regang volumetriknya adalah nol. Laju geser 1-arah Laju regang geser  di satu titik didefinisikan sebagai laju pengurangan sudut antara dua garis yang semula saling tegak lurus & berpotongan di titik itu (Gambar 70). Dalam koordinat Cartesian,
  • 96.
    84 pada bidang xy:        dy dv y vv t y tvv t ttt dt d x xy yxyyx y yxyyx t t xy                               0 0 0 lim 2 arctan 2 lim lim Elemen fluida Saat t Elemen fluida Saat t+t y y+y   tvv yxyyx  y (t) (t+t) Gambar 70. Deskripsi gerak geser 1-arah pada elemen fluida Laju geser 2-arah Laju regang geser  di satu titik ≡ laju rerata pengurangan sudut antara dua garis yang semula saling tegak lurus & berpotongan di titik itu (Gambar 71). Dalam koordinat Cartesian, pada bidang xy, laju regang geser bisa ditentukan sebagai berikut:                                                          y v x v y vv x vv t y tvv x tvv t ttt dt d xy xy yxyyx y xyxxy x yxyyxxyxxy t t xy 2 1 00 2 1 0 2 1 0 2 1 limlim 2 arctanarctan 2 lim lim     Analisis laju regang geser bisa diperluas tidak hanya sebatas pada bidang xy tetapi juga pada bidang yz & zx. Apabila hal tersebut
  • 97.
    85 dilakukan, maka hasilakhir keseluruhannya akan menjadi sebagai berikut:                                     x v z v z v y v y v x v zx zx yz yz xy xy 2 1 2 1 2 1    Elemen fluida Saat t Elemen fluida Saat t+t y y+y   tvv yxyyx  y (t) (t+t)   tvv xyxxy   x Gambar 71. Deskripsi gerak geser 2-arah pada elemen fluida Laju regang dan tegangan geser Ungkapan laju regang geser diperlukan untuk mengevaluasi tegangan geser fluida. Dalam koordinat Cartesian, Hubungan Tegangan & Laju regang geser adalah sbb:                                     x v z v z v y v y v x v zx zxxzzx yz yzzyyz xy xyyxxy    2. 2. 2. Tensor laju regang (linier + geser) Laju regang linier dan geser bisa digabung jadi satu tensor orde-2 simetrik yang disebut tensor laju-regang. Tensor ini penting untuk membuat hubungan tegangan & laju regang fluida
  • 98.
    86                                                                                                         z v y v z v x v z v z v y v y v x v y v z v x v y v x v x v zzyzx yzyyx xzxyx zzzyzx yzyyyx xzxyxx ij 2 2 2 2 1     Untuk fluida Newtonian,hubungan tegangan permukaan & tensor laju regang adalah:                                                                                                               pv pv pv z v y v z v x v z v z v y v y v x v y v z v x v y v x v x v pv zzyzx yzyyx xzxyx ijijij      3 2 3 2 3 2 3 2 00 00 00 2 2 2 2. C. VisualisasiAliran Ragam metode visualisasi Sementara kajian kuantitatif dinamika fluida menuntut matematika lanjut, banyak yang bisa dipelajari dari visualisasi aliran. Visualisasi aliran penting baik dalam eksperimen fisik (Gambar 72) maupun dalam solusi numerik (CFD). Ada banyak ragam metode visualisasi, yaitu: 1) Streamlines & streamtubes 2) Pathlines 3) Streaklines 4) Timelines 5) Teknik pembiasan 6) Teknik aliran permukaan
  • 99.
    87 Gambar 72. Visualisasialiran melalui sebuah bola Streamline (garisarus) Streamline adalah kurva yang di mana-mana menyinggung vektor kecepatan lokal sesaat. Garis busur kdzjdyidxdr ...  pada streamline akan parallel dengan vektor kecepatan lokal kvjvivv zyx ...  Lihat Gambar 73. Penalaran geometrik akan membawa keduanya pada satu persamaan untuk streamline berikut: zyx v dz v dy v dx v dr  Lihat contoh-contoh visualisasi aliran menggunakan streamline pada Gambar 74 dan Gambar 75. Gambar 73. Kecepatan dan garis busur streamline
  • 100.
    88 Gambar 74. Konturtekanan dan streamline pada NASCAR Gambar 75. Kontur tekanan, streamline, dan streamline permukaan pada pesawat terbang Streamtube (Tabungarus) Streamtube terdiri dari seikat streamlines (keduanya sama-sama besaran sesaat). Fluida dalam streamtube selalu ada di situ & tidak menembus batas tabungarus. Dalam aliran tak steady, pola streamline bisa berubah-ubah terhadap waktu, tetapi laju aliran massa melalui irisan tabungarus tetap sama. Pathline (garisjejak) Pathline adalah jejak aktual yang dilewati oleh partikel fluida individual sepanjang beberapa periode waktu. Lihat Gambar 76. Seperti halnya vektor posisi material dari partikel fluida:       tztytx partikelpartikelpartikel ,,
  • 101.
    89 lokasi partikel padawaktu t adalah:      t t awal awal vdttxtx Teknik eksperimen modern particle image velocimetry (PIV) menggunakan garisjejak partikel (penjejak) untuk mengukur medan kecepatan pada sebidang penuh dalam aliran (). Gambar 76. Deskripsi pathline Gambar 77. Pathline hasil teknik eksperimen particle image velocimetry (PIV) Streakline (garisuntai) Streakline adalah untaian lokasi partikel fluida yang telah melalui suatu titik dalam aliran secara berurutan. Streakline mudah dibuat dalam eksperimen dengan menggunakan zat warna (dye) dalam aliran air, atau asap dalam aliran udara. Lihat sampai .
  • 102.
    90 Gambar 78. Deskripsistreakline Gambar 79. Streakline hasil simulasi pesawat VTOL (Vertical Take-off and Landing)
  • 103.
    91 Gambar 80. Streaklineberupa vortex ujung sayap Gambar 81. Streakline berupa vortex Karman di hilir pulau Guadalupe berketinggian 1,3 km (lokasi di lepas pantai Baja California AS) Perbandingan streamline, pathline & streakline Untuk aliran steady, streamlines, pathlines, dan streaklines identik. Untuk aliran tak steady, ketiganya bisa sangat beda. 1) Streamlines adalah gambaran medan aliran sesaat. 2) Pathlines & Streaklines adalah pola aliran yang membawa
  • 104.
    92 riwayat waktu. a) Streakline:jejak aliran satu-waktu dari untaian-partikel. b) Pathline: jejak aliran untaian-waktu dari satu-partikel. Lihat Gambar 82 yang memperlihatkan ketiga macam visualisasi untuk medan aliran yang digambarkan oleh fungsi kecepatan berikut:        jyt ix jvivtyxv yx .8,0sin5,25,1 .8,05,0 ..,,     Timeline (gariswaktu) Gariswaktu adalah sehimpunan partikel fluida berdekatan yang awalnya dilepas pada waktu bersamaan. Gariswaktu bisa dibangkitkan dengan menggunakan kawat gelembung hidrogen. Gambar 82. Perbandingan streamline, pathline dan streakline
  • 105.
    93 Gambar 83. Timelinesyang dihasilkan oleh kawat gelembung hidrogen digunakan untuk memvisualisasikan bentuk profil kecepatan lapisan batas (boundary layer). D. PenyajianData Aliran Peta Aliran Data aliran adalah sajian data sifat aliran yang beragam menurut ruang dan/atau waktu. Data ini bisa dipetakan dengan beberapa cara, yaitu:  Peta Profil yang menunjukkan bagaimana nilai sifat skalar bervariasi sepanjang arah yang diinginkan dalam medan aliran.  Peta Vektor berupa selarik panah yang menandai besar dan arah sesaat dari sifat vektor.  Peta Kontur yang memperlihatkan kurva-kurva sifat skalar bernilai tetap dari besarnya sifat vektor sesaat. Lihat Gambar 84 sampai Gambar 86. Gambar 84. Peta Profil kecepatan horizontal sebagai fungsi jarak vertikal dalam aliran lapisan batas sepanjang plat datar
  • 106.
    94 Gambar 85. Petavektor kecepatan Gambar 86. Peta kontur tekanan
  • 107.
    95 MODUL V. ANALISIS INTEGRALALIRAN Deskripsi Analisis aliran dapat, menurut cara pandangnya, bisa dilakukan pada cakupan atau resolusi yang kasar atau halus. Jika diibaratkan layar penampil, cakupannya bisa keseluruhan layar atau piksel demi piksel (dalam keseluruhan layar juga). Jika sasarannya mendapatkan nasib keseluruhan massa, momentum, dan/atau energi pada suatu CV (control volume), maka dilakukan analisis integral pada modul ini. Jika sasarannya mendapatkan distribusi sifat massa, momentum dan energi di dalam suatu CV, maka dilakukan analisis diferensial. Kedua pendekatan berbeda hanya dalam resolusi penyelesaian. Analisis integral melihat persoalan dari kacamata keseluruhan, sedangkan analisis diferensial melihat persoalan dari kacamata kerincian. Walaupun resolusinya tidak rinci, analisis integral sangat praktis digunakan dalam kegiatan keteknikan harian karena hanya membutuhkan peralatan hitung sederhana dan dapat dikerjakan dalam orde waktu ½ jam saja. Sasaran belajar: 4. Menuliskan persamaan neraca massa dalam pendekatan CM dan CV dalam bentuk laju perubahannya terhadap waktu 5. Mendefinisikan CV yang memudahkan analisis 6. Melakukan analisis integral pada kasus aliran yang sangat sederhana A. Pendekatan Analisis Tiga Pendekatan Analisis Kebanyakan masalah teknik bisa dianalisis menggunakan satu dari tiga pendekatan dasar: eksperimental, CV diferensial, dan CV integral. Kedudukan relatif ketiga pendekatan analisis itu adalah sbb:  Pendekatan CV Diferensial: masalah dirumuskan secara akurat sebagai besaran2 diferensial, dan solusi biasanya diperoleh dengan mengandalkan metode numerik.  Pendekatan Eksperimental: bersama2 dengan analisis dimensional memberikan hasil sangat akurat, walaupun makan waktu dan mahal.  Pendekatan CV Integral: masalah dirumuskan cukup akurat sebagai besaran2 integral, sangat cepat dan sederhana dan biasanya memberikan jawaban yang cukup akurat untuk kebanyakan tujuan teknik. Modul ini membahas pendekatan CV Integral, atau sebut saja CV. Pemilihan CV Suatu CV (control volume) bisa dipilih sebagai daerah dalam ruang yang dilalui aliran fluida. Suatu CV dan CS (control surface) pembatasnya bisa diam, bergerak, dan bahkan berubah bentuk (berdeformasi) selama aliran berlangsung.
  • 108.
    96 CV diam pasuntuk analisis aliran yang melalui saluran diam semisal penyembur air pemadam api (Gambar 87). CV bergerak pas untuk analisis aliran yang melalui benda bergerak semisal pesawat terbang (Gambar 88). Jika CV diambil diam, maka aliran di dalamnya akan menjadi unsteady selama dan beberapa waktu sesudah pesawat melewatinya. Dengan mengambil CV bergerak, aliran yang semula unsteady menjadi steady karena pola aliran setiap waktu menjadi sama. CV berdeformasi adalah suatu keharusan dalam analisis aliran fluida seperti yang berlangsung di dalam ruang bakar mesin piston-silinder. Gerak terus-menerus piston menyebabkan volume di dalamnya berubah-ubah secara periodik. Gambar 89 hanya memperlihatkan keadaan CV sesaat, yang setiap saat berubah-ubah posisi secara periodik. CV diam, vCS=vCV=0 Gambar 87. Contoh CV diam CV bergerak, vCS=vCV Gambar 88. Contoh CV bergerak
  • 109.
    97 CV berdeformasi Gambar 89.Contoh CV berdeformasi B. Neraca IntegralMassa Neraca Integral Massa Prinsip kekekalan massa adalah satu dari yang paling dasar di alam. Massa, seperti energi, adalah sifat yang kekal, dan tak dapat diciptakan/dimusnahkan selama suatu proses. Namun, massa m dan energi E bisa saling diubah menurut rumus yang diusulkan Albert Einstein (1879–1955). 2 mcE  Untuk sistem tertutup (CM), tersirat kekekalan massa karena massa sistem tetap selama suatu proses. Untuk sistem terbuka (CV), massa bisa melewati batas sistem sehingga jumlah massa yang masuk atau keluar CV harus ditelusuri. Neraca Massa dalam CM: CmCM  atau 0 CMdt dm Menurut Dalil Transport Reynolds suku kiri:       CSCVCM dAnvdV tdt dm  sehingga, Neraca Massa dalam CV menjadi:   0    CSCV dAnvdV t 
  • 110.
    98 Suku pertama mewakiliperubahan lokal massa dalam CV. Pada keadaan steady nilai suku ini sama dengan nol sehingga ungkapan menjadi:     0 0 0        CS CSCV dAnv dAnvdV t     Suku kedua mewakili laju aliran massa netto keluar-masuk CV. Pada keadaan steady, laju aliran massa masuk dan keluar seimbang. Jika selain steady aliran juga inkompresibel maka ungkapan menjadi:   0CS dAnv Penentuan permukaan CV Operasi dot antara vektor kecepatan dan vektor normal paling mudah dievaluasi jika keduanya sejajar, baik searah (sudut 0o) atau berlawanan arah (sudut antara keduanya 180o). Karena vektor normal tegak lurus dengan permukaan CV, maka permukaan CV (Control Surface) yang dilewati aliran fluida keluar- masuk CV paling enak dipilih tegak lurus arah aliran sehingga vektor kecepatan paralel dengan vektor satuan normal. Lihat Gambar 90. Dengan demikian, maka:    vnvnv    1 0cos. pd bagian keluar.    vnvnv     1 180cos. pd bagian masuk. Gambar 90. Pemilihan batas CV memudahkan evaluasi aliran
  • 111.
    99 Contoh Analisis Gambar 91 melukiskanbejana yang mempertemukan dua aliran fluida menjadi satu. Untuk keperluan analisis, CV telah didefinisikan dengan batas-batas diam yang diperlihatkan sebagai garis putus- putus. Perhatikan, untuk memudahkan analisis, permukaan CV di bagian keluar-masuknya fluida (posisi 1, 2 dan 3) telah dipilih tegak lurus dengan arah aliran. Pada keadaan steady neraca massa menjadi:         213 321 333222111 321 0 0 0 0 mmm mmm AvAvAv dAnvdAnvdAnv dAnv CSCSCS CS             Jika aliran juga inkompresibel, maka densitas tidak berubah atau tidak berbeda di posisi 1, 2 maupun 3, sehingga persamaan menjadi: 213 321 332211 0 0 QQQ QQQ AvAvAv    dengan Q adalah debit aliran. Gambar 91. Aliran melalui CV diam Contoh Analisis Gambar 92 memperlihatkan sebuah tangki silindrik terbuka (kontak dengan atmosfir) berdiameter 60cm dengan lubang keluaran berdiameter 2,5cm. Berapa waktu yang diperlukan untuk menguras air dari tangki dengan gravitasi (g) jika tinggi air awalnya adalah 1m (Ho)?
  • 112.
    100 Anggaplah kecepatan airkeluar tangki bervariasi dengan ketinggian (h) menurut hubungan Torricelli sebagai akar kuadrat dari 2gh. H0 A Gambar 92. Tangki terbuka berisi air Pertama-tama CV didefinisikan terlebih dahulu. Untuk kasus ini paling enak CV didefinisikan berdeformasi mengikuti penurunan level air. Dengan demikian, tidak ada laju aliran massa masuk ke dalam CV, dan hanya ada laju aliran massa keluar dari CV. Kedua, permukaan CV dipilih tegak lurus arah aliran sehingga evaluasi aliran keluar CV menjadi mudah. Ketiga, menyusun neraca massa dalam CV dengan menggunakan persamaan neraca massa:   0    CSCV dAnvdV t  Di sini, besarnya perubahan diferensial volume air dalam CV adalah dV=A.dh dan air keluar dengan kecepatan vout. Persamaan menjadi:   00cos     outout CV AvAdh t  Densitas air, karena tetap, bisa dikeluarkan dari integral sehingga: 02  outAgh dt dh A  Integrasi persamaan dengan batas bawah t=0 dan h=Ho=1m dan batas atas t=t dan h=0 memberikan:
  • 113.
    101        s m cmcm H g dD t dhh gA A dt s m Hhout t t 4,90 10 8,92 360 02 2 2 2 0 0 2 1 2 2 0 0           Jadi waktu yang dibutuhkan untuk pengurasan adalah 90,4 detik. C. Neraca IntegralMomentum Linier Neraca Momentum Linier Hukum dasar fisika kedua yang penting untuk analisis aliran (gerak fluida) adalah hukum Newton kedua tentang gerak. Hukum ini bisa dinyatakan sbb: Laju perubahan momentum suatu sistem sama dengan gaya netto yang bekerja pada sistem dan terjadi searah dengan gaya netto. Pernyataan mengandung dua bagian penting, yaitu: pertama, hukum ini mengacu pada suatu sistem tertentu, dan kedua, hukum ini mencakup besar dan arah (besaran vektor). Oleh karena itu, untuk menggunakan hukum ini pada CV, yang mengandung partikel fluida beda (berarti sistem beda) sewaktu ditinjau pada waktu beda, ungkapan perlu diubah bentuknya. Transformasi ungkapan hukum dari untuk CM (sistem) ke untuk CV ini dilakukan dengan menggunakan Dalil Transport Reynolds. Neraca Momentum dalam CM adalah:    luar CM F dt mvd Menurut Dalil Transport Reynolds, suku kiri:         CSCVCM dAnvvvdV tdt mvd  sehingga, Neraca Momentum dalam CV menjadi:       luar CSCV FdAnvvvdV t  Suku pertama mewakili laju perubahan lokal momentum di dalam CV. Pada keadaan steady, nilai suku ini sama dengan nol sehingga neraca menjadi:
  • 114.
    102           luar CS luar CSCV FdAnvv FdAnvvvdV t     0 Suku kedua mewakili laju netto aliran momentum keluar-masuk batas-batas CV. Jika aliran selain steady juga inkompresibel, maka neraca menjadi:     luar CS FdAnvv Komponen Cartesian Dalam sistem koordinat Cartesian, neraca momentum bisa diurai menurut ketiga komponen arah x, y dan z berturut-turut sbb:       x CS x CV x FdAnvvdVv t        y CS y CV y FdAnvvdVv t        z CS z CV z FdAnvvdVv t  Contoh Analisis Gambar 93 memperlihatkan aliran fluida melalui streamtube. Jika aliran steady, maka streamtube bisa dibayangkan sebagai sebuah saluran tertutup seperti pipa, di mana tidak ada aliran yang menembus keluar-masuk streamtube. Untuk memudahkan analisis, permukaan CV di bagian masuk & keluar dipilih tegak lurus arah aliran. Pada kasus ini,        luar CS steady CV FdAnvvvdV t    ,0 Gaya luar yang bekerja pada fluida adalah gaya permukaan (akibat tekanan) dan gaya berat (akibat gravitasi), sehingga neraca menjadi:         outoutout ininin Av outCS Av inCS Agzp AgzpdAnvvdAnvv outoutinin             22 atau:     ininininoutoutoutout AvgzpAvgzp 22   Pada kasus ini, supaya evaluasi integral bisa mudah dilakukan, profil vin & vout telah dianggap seragam di CS in & out. Namun, sesungguhnya profil vin & vout pada penampang CS in & out tidaklah
  • 115.
    103 seragam, tetapi beragam(bervariasi). vin vout n n z=0 zin zout   inin inCS AvdAnvv 2     outout outCS AvdAnvv 2   0   CS vdV t  Gambar 93. Aliran fluida steady dan inkompresibel dalam streamtube Apabila profil kecepatannya tidak seragam, maka efek distribusi kecepatan perlu diperhitungkan dengan memperkenalkan sebuah faktor koreksi fluks momentum,        dAv Av AvgzpAvgzp ininininoutoutoutout 2 2 22 1   Untuk aliran laminer dalam pipa berjari-jari R (profil v paraboloid):   vv R r vrv maks maks 2 1 2 2         sehingga:     3 4 0 1 3 3 1 0 1 2 0 2 2 2 2 22 44 212 1                    ydyy rdr R r v Rv y y Rr r Untuk aliran laminer nilai  jauh dari 1. Untuk aliran turbulen nilai 
  • 116.
    104 biasanya mendekati 1karena profil kecepatannya mendekati seragam. Gambar 94. Dorongan gas hasil pembakaran pada roket Contoh Analisis Gambar 94 memperlihatkan roket yang bergerak akibat efek jet fluida, yaitu semburan gas hasil pembakaran. Analisis pada jet fluida diperlukan untuk menentukan percepatan yang dihasilkan saat awal roket dihidupkan. CV didefinisikan sebagai bahan bakar sampai batas ujung nozel. Untuk keperluan analisis, diambil tinjauan sesaat, yaitu waktu roket mulai dihidupkan. Dengan demikian, CV bisa dipandang sesaat diam. Tidak ada aliran fluida masuk ke CV dan hanya ada yang keluar dari CV berupa gas hasil pembakaran. Neraca massa:       outout CV out CSCV mAv t m Av t m dAnvdV t              0 0 Jadi, laju aliran massa keluar dari CV sama dengan laju pengurangan massa CV (berarti massa bahan bakar).
  • 117.
    105 Neraca momentum:   permukaanbadan luar CSCV FF FdAnvvvdV t      Gaya luar yang bekerja pada CV adalah:  Gaya badan (berat bahan bakar + gas hasil pembakaran), sebut saja Fb, dan  Gaya permukaan (akibat tekanan & geseran oleh dinding roket yang kontak dengan bahan bakar kepada CV), sebut saja Fp. Sebagai pendekatan, anggaplah gaya permukaan bisa diabaikan terhadap gaya badan sehingga neraca momentum menjadi:         outoutbp pboutout outCS Avmv t FF FFAvmv t dAnvvmv t 2 2 0               Ungkapan ini bisa disederhanakan dengan 2 pertimbangan berikut. Besarnya Fb (berat bahan bakar) biasanya lebih kecil daripada gaya semburan jet dan di sini dianggap bisa diabaikan. Laju lokal perubahan momentum dalam CV pada saat yang ditinjau (CV diam/belum bergerak) bisa diabaikan. Dengan demikian maka gaya yang bekerja pada CV adalah: outoutp AvF 2  Akibat gaya aksi (ke bawah) ini, CV memberikan gaya reaksi yang sama besar tetapi berlawanan arah (ke atas) kepada roket. Gaya reaksi inilah yang mendorong dan melontarkan roket ke atas. outoutoutoutpdorong aksireaksi vmAvFF FF   2  Perhatikan, dari neraca massa didapat bahwa laju aliran keluar sama dengan laju pengurangan bahan bakar. Jadi, gaya dorong roket sama dengan hasil kali dari:  laju pembakaran massa bahan bakar, dan  kecepatan gas hasil pembakaran keluar dari nozel.
  • 118.
    106 Gambar 95. Suduturbin air Pelton Contoh Analisis Salah satu perangkat teknik untuk mengubah energi aliran air menjadi energi putar poros adalah turbin Pelton. Turbin ini berputar akibat semburan air yang diarahkan pada bagian lekuk sudu-sudunya (Gambar 95) yang dipasang radial di sekitar porosnya. Struktur lengkapnya diperlihatkan pada Gambar 96. Semburan air dari nozel menumbuk sudu-sudu turbin. Turbin berputar dengan kecepatan . Dari analisis akan dicari ungkapan torsi & daya yang dihasilkan turbin. Aliran yang terjadi pada turbin diperlihatkan pada Gambar 97. Anggapan analisis: (1) aliran tetap/steady, (2) gerak putar sudu turbin bisa didekati dengan gerak linier, shg di sini dipakai neraca momentum linier, dan (3) aliran terbagi dua simetris oleh sudu.
  • 119.
    107 Gambar 96. Strukturlengkap turbin Pelton V0  r A0 sebelum meninggalkan bilah:  V1x =  (V0  r).cos()  V1y = + (V0  r).sin() sebelum meninggalkan bilah:  V2x =  (V0  r).cos()  V2y =  (V0  r).sin() Sudu bergerak   V0 A0 setelah meninggalkan bilah:  V1x =  (V0  r).cos() + r  V1y = + (V0  r).sin() setelah meninggalkan bilah:  V2x =  (V0  r).cos() + r  V2y =  (V0  r).sin() Jet r Gambar 97. Skema aliran fluida pada turbin Pelton Neraca Massa & Momentum Neraca Massa:   0    dAnvdV t  Suku perubahan massa CV = nol karena aliran tetap (steady):
  • 120.
    108 0    d t  Suku aliranmassa melintas CV:          210 221100 210 QQQ AvAvAv dAnvdAnvdAnvdAnv        Dari neraca massa diperoleh: Q0 = Q1 + Q2 dengan Q0 = V0A0. Neraca Momentum arah-x:        xx steady x FdAnvvdVv t     ,0 Suku laju perubahan momentum lokal dalam CV = nol, karena aliran tetap (steady). Suku laju aliran momentum melintas CV adalah:                                            cos1 cos. cos. cos. cos. 00 000 21000 220 11000 210        rvQ rrvvQ QQrrvQv Avrrv AvrrvAvv dAnvvdAnvvdAnvvdAnvv xxxx Dari sini diperoleh:      cos100  rvQFx Neraca Momentum arah-y:        yy steady y FdAnvvdVv t     ,0 Suku laju perubahan momentum lokal dalam CV = nol, karena aliran tetap (steady). Suku laju aliran momentum melintas CV adalah:                             0 sin. sin. sin.0 210 220 1100 210       QQrrv Avrrv AvrrvAv dAnvvdAnvvdAnvvdAnVV yyyy     Dari sini diperoleh: 0yF Dengan vektor posisi sudu & gaya:
  • 121.
    109     00 krjir     00 kjFiFkFjFiF xzyx  Momen fluida menjadi:      cos100  rvQrFrFrM xz sehingga pada turbin:     turbinTorsiturbinDaya MfluidaMomenturbinTorsi z D. Neraca IntegralMomentum Angular Ulasan Gerak Angular Benda Kaku Benda kaku (rigid body) bisa mengalami 2 macam gerak, yaitu:  Translasi pusat massa.  Rotasi pada pusat massa. Gerak translasi bisa digambarkan dengan besaran linier semisal:  Jarak linier l,  Kecepatan linier v, dan  Percepatan linier a. dan bisa dianalisis menggunakan persamaan momentum linier. Gerak rotasi bisa digambarkan dengan besaran angular semisal:  Jarak angular ,  Kecepatan angular , dan  Percepatan angular . dan bisa dianalisis menggunakan persamaan momentum angular. Hubungan besaran-besaran dalam gerak putar dan lurus bisa dicermati pada Gambar 98.
  • 122.
    110      r dt d r dt dv a r dt d r dt dl v rddl    rrv   r d dlr v va 2       Gambar98. Hubungan besaran gerak linier dan angular benda kaku Kekuatan efek rotasi, disebut momen atau torsi. Besarnya momen ini sebanding dengan nilai gaya yang menyebabkan putaran dan jaraknya dari sumbu putar. Jarak tegak lurus dari sumbu rotasi ke garis aksi gaya disebut lengan momen. Torsi dM yang bekerja pada titik massa dm sejarak tegak lurus r dari sumbu putar diungkapkan sebagai: dmrdFrdM 2  Torsi total M yang bekerja pada seluruh massa m menjadi:    IdmrdMM 2 Besaran I adalah momen inersia benda di sekitar sumbu rotasinya. Momen inersia adalah ukuran inersia benda terhadap rotasi. Catatan: tidak seperti massa, inersia rotasional benda bergantung selain pada nilai juga pada distribusi massa benda terhadap sumbu rotasinya. Momentum angular, atau momen momentum, dH dari titik massa dm yang berputar dengan kecepatan  terhadap sumbu putarnya sejarak r adalah:   dmrvdmrdH 2 .  Vektor momentum angular total H dari benda kaku berputar adalah:   dmrdHH 2 Vektor kecepatan angular bisa dikeluarkan dari integral karena sama besar untuk semua titik massa benda kaku, sehingga:
  • 123.
    111   IdmrH   2 Dalam gerak linier, laju perubahan momentum linier d(mv)/dt adalah sama dengan gaya F. Analog dengan ini, maka laju perubahan momentum angular d(I)/dt atau dH/dt adalah sama dengan momen M, atau: M dt dH  atau:   Fr dt mvrd   Kesejajaran besaran linier dan angular diperlihatkan pada Gambar 99. Gambar 99. Kesejajaran besaran linier dan angular Neraca Momentum Angular Neraca Momen Momentum dalam CM adalah:        luar CM CM Fr dt mvrd M dt dH Menurut Dalil Transport Reynolds:             CSCVCM dAnvvrdVvr tdt mvrd  sehingga, Neraca Momen Momentum dalam CV adalah:
  • 124.
    112         luar CSCV FrdAnvvrdVvr t  Untuk aliran steady, suku perubahan momen momentum lokal dalam CV sama dengan nol, sehingga persamaannya menjadi:                luar CS luar CSCV FrdAnvvr FrdAnvvrdVvr t      0 Jika selain steady aliran juga inkompresibel, maka densitas bisa dikeluarkan dari integral dan persamaannya menjadi:      luar CS FrdAnvvr Gambar 100. Potongan kompresor aliran radial (kiri) dan turbin aliran radial (kanan) Contoh Analisis Fluida masuk rumah turbin (volute) untuk menggerakkan sudu-sudu turbin sehingga berputar dg kecepatan . Daya putar turbin disalurkan ke kompresor melalui sumbu putar kopelnya (Gambar 100). Secara skematik, struktur turbin diperlihatkan pada Gambar 101 untuk acuan analisis. Dari analisis akan dicari ungkapan torsi & daya yang dihasilkan turbin. Anggapan: (1) aliran tetap/steady, (2) laju gerak putar turbin tetap.
  • 125.
    113 Gambar 101. Skematurbin aliran radial Persamaan neraca massanya adalah:   0    dAnvdV t  Suku pertama pada persamaan neraca massa adalah nol karena aliran steady: 0    dV t  dan suku kedua bisa diuraikan sbb:               hrvhrv AvAv dAnvdAnvdAnv rr rr 2211 2211 21 22        Jadi, dari neraca massa diperoleh hasil: mmm rvrv rr    21 2211 22  Persamaan neraca momen momentumnya adalah:           FrdAnvvrdvr t  Suku pertama sama dengan nol karena aliran steady. Evaluasi suku kedua memerlukan informasi vektor posisi, kecepatan dan normal sbb: zr zr eeerr eeerr .0.0. .0.0. 22 11    
  • 126.
    114 zrr zrr eevevv eevevv .0.. .0.. 222 111     zr zr eeen eeen .0.0.1 .0.0.1 2 1     Suku kedua menjadi:                                    mvrvre mvrmvre AvvrAvvre Avvreee Avvreee dAnvvrdAnvvrdAnvvr z z rrz rzr rzr   2211 222111 22221111 2222 1111 21 .0.0 .0.0                 Dari sini diperoleh, momen yang bekerja pada fluida adalah:     mvrvrM z 2211   Momen reaksi yang bekerja pada turbin, dengan demikian, menjadi:     mvrvrMT z 2211   Nilai r1.v1 bisa ditentukan dari laju aliran & sudut sudu pengarah. Evaluasi nilai r2.v2 memerlukan informasi kondisi aliran pada sudu. Nilai v2 bisa ditentukan dg analisis segitiga kecepatan (Gambar 102). Dari gambar tampak bahwa:   sin.' 222 vrv  Dari segitiga kecepatan dan neraca massa bisa ditentukan bahwa:     cos 1 2cos 2 2' 2 hr mv v r   sehingga:     tan 2 2 22 hr m rv   Dengan demikian maka torsi turbin menjadi:   m hr m rrvrT                     2 2211 2 tan. dan daya turbin adalah: TP 
  • 127.
    115 Gambar 102. Komponenkecepatan pada sudu turbin Contoh Analisis Turbin Hero bekerja dengan prinsip yang sama dengan penciprat air taman (Gambar 103). Jika air dialirkan 20 liter per detik melalui empat nozel berdiameter 1 cm yang terletak 60 cm dari sumbu putar, tentukan daya poros turbin? Anggapan: (1) aliran tetap/steady, (2) gerak putar turbin tetap. Neraca Massa:   0 ,0     dAnvd t steady    Suku pertama nol karena aliran steady, sedangkan suku kedua adalah:       jetsumbu jetsumbuz jetsumbu QQ AvAv dAnvdAnvdAnv         4 4
  • 128.
    116 Gambar 103. Prinsipkerja turbin Hero Dari neraca massa diperoleh:   s mmenit cc jet jet jet menit cc menit liter sumbujet cmA Q v QQ 66,63 1 5000 500020 2 4 4 1 4 1    Neraca Momen Momentum:            FrdAnvvrdvr t steady     ,0 Suku pertama nol karena aliran steady. Suku kedua memerlukan informasi vektor-vektor berikut: zr zr eeerr eeer .0.0. .0.0.0 22 1     zr zzr eevev eveev .0..0 ..0.0 22 1     zr zr eeen eeen .0.1.0 .1.0.0 2 1     Suku kedua (laju netto aliran momen momentum) menjadi:
  • 129.
    117                 s Nm cc m s cc s m m kg zjet z m eQrvr eAvrvr dAnvvrdAnvvrdAnvvr 6,0.66,6312 50006,0.66,636,01000.4 .4 .4 4 1000000 222 22222 21 3 3              Dari neraca momen momentum akhirnya diperoleh torsi yang bekerja pada CV atau fluida adalah:   s Nm zM 6,0.66,6312  Jadi torsi T dan daya turbin adalah:    WTDaya NmMT z   6,066,63.12. 6,066,63.12   Persamaan ini dilukiskan pada Gambar 104. Gambar 104. Daya output dan torsi turbin Hero sebagai fungsi laju putar turbin Lokasi puncak daya bisa ditentukan dengan menolkan turunan daya terhadap laju putar: 0 3 6 9 12 15 18 21 0 200 400 600 800 1000 Laju putar turbin (rpm) Dayaoutput(kW) 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Hundreds Torsiturbin(Nm) Daya Torsi
  • 130.
    118     06,0266,6312 06,066,6312 0        d d Daya d d atau: rpm menit s rad rotasi s rad 507 60 26,02 66,63      E. Neraca IntegralEnergi Neraca Energi Neraca Energi dalam CM adalah: WQ dt dE CM  Menurut Dalil Transport Reynolds:       CSCVCM dAnveedV tdt dE  sehingga Neraca Massa dalam CV menjadi:   WQdAnveedV t CSCV      Untuk aliran steady, suku laju perubahan lokal energi menjadi nol:     WQdAnvv WQdAnveedV t CS CSCV              0 Untuk aliran steady sekaligus inkompresibel, persamaannya adalah:   WQdAnve CS  Bentuk- bentuk energi Energi spesifik, e adalah energi E per satuan massa m yang dibawa oleh materi. Ragam bentuk energi yang dibawa oleh massa materi antara lain: 1) Energi INTERNAL a) Energi termal (terkait dengan gerak atom/molekul) b) Energi tekanan (terkait dengan tekanan) c) Energi kimia (terkait dengan reaksi kimia)
  • 131.
    119 d) Energi nuklir(terkait dengan reaksi nuklir) e) dll. 2) Energi POTENSIAL (efek medan gaya luar) a) Energi potensial gravitasi b) Energi potensial listrik c) Energi potensial magnetik 3) Energi INERSIAL (kinetik) Aliran steady inkompresibel fluida ideal Untuk aliran steady inkompresibel fluida ideal (tanpa gesekan) dalam pipa atau saluran tertutup tanpa melibatkan aliran kalor & kerja, neraca massanya adalah:       outoutinin outoutinin outin outCSinCS CSCV AvAv AvAv vAvA dAnvdAnv dAnvdV t               0 0 0 0   Neraca energinya adalah:       0 0 0        outCSinCS CSCV dAnvedAnve WQdAnveedV t       Densitas bisa dikeluarkan dari integral karena aliran inkompresibel. Jika profil kecepatan bisa dianggap seragam, maka persamaan menjadi:       02 2 12 2 1  outin vAgzvpuvAgzvpu  atau: outoutoutoutinininin gzvpugzvpu  2 2 12 2 1  Suhu fluida di hulu dan hilir biasanya praktis sama, sehingga uin = uout dan persamaan akhirnya menjadi: outoutoutininin gzvpgzvp   2 2 12 2 1 yang tidak lain adalah persamaan Bernoulli yang terkenal itu. Aliran steady inkompresibel fluida ideal Untuk aliran steady inkompresibel fluida riil (dengan gesekan) dalam pipa atau saluran tertutup tanpa melibatkan aliran kalor, neraca massanya adalah:
  • 132.
    120      outoutinin outin outCSinCS CSCV AvAv vAvA dAnvdAnv dAnvdV t              0 0 0 0   Neraca energinya adalah:        gesekan outCSinCS gesekan CSCV WdAnvedAnve WQdAnveedV t              0 0 Densitas bisa dikeluarkan dari integral karena aliran inkompresibel. Jika profil kecepatan bisa dianggap seragam, maka persamaan menjadi:       gesekanout in WvAgzvpu vAgzvpu   2 2 1 2 2 1   atau:     gesekanoutin Wgzvpumgzvpum   2 2 12 2 1  atau: m W gzvpugzvpu gesekan outoutoutoutinininin    2 2 12 2 1  Suhu fluida di hulu dan hilir biasanya praktis sama, sehingga uin = uout dan persamaan akhirnya menjadi:   m W gzvpgzvp gesekan outoutoutininin    2 2 12 2 1 Suku  mWgesekan  pasti berdimensi sama dengan tekanan, sehingga bisa disebut sebagai tekanan gesekan. Namun, istilah yang lebih populer daripada tekanan gesekan adalah tekanan rugi gesekan (pressure friction loss) atau lebih singkatnya tekanan rugi (pressure loss). Dengan demikian persamaan akhirnya menjadi: rugioutoutoutininin pgzvpgzvp   2 2 12 2 1 Persamaan ini disebut sebagai persamaan Bernoulli ubahan (modified Bernoulli equation).
  • 133.
    121 Tekanan rugi Besarnyakerugian tekanan (prugi) secara umum tidak bisa ditentukan secara analitik, kecuali pada kasus aliran yang sangat sederhana, yaitu aliran laminer. Oleh sebab itu, besarnya kerugian tekanan harus ditentukan secara eksperimen. Untungnya, perencanaan, pelaksanaan, pengolahan data eksperimen menjadi lebih mudah berkat bantuan metode analisis nondimensional. Contoh Analisis Tinjau kembali contoh pengurasan air dari tangki. h A 1 2 Dalam contoh tersebut kecepatan aliran keluar dianggap mengikuti hubungan Torricelli sebagai akar kuadrat dari 2gh. Keberlakuan anggapan ini bisa dijelaskan secara teoritik dengan persamaan Bernoulli sebagai berikut. 1 2 12 1 12 2 22 1 2 gzvpgzvp   Dari neraca massa, 2211 AvAv  , kecepatan di posisi 1 bisa dinyatakan sebagai   2121 vAAv  , sehingga persamaan menjadi:       h zzgpp A A v          21 0 21 1 1 22 22 1 1  Nilai A2/A1 bisa diabaikan terhadap 1, nilai p1 & p2 praktis sama dengan tekanan atmosfir patm sehingga selisih keduanya sama dengan nol, dan beda ketinggian z1 dan z2 adalah h. Dengan demikian, persamaan di atas bisa disusun untuk mendapatkan ungkapan kecepatan di posisi 2 sbb: ghv 22 
  • 134.
    122 MODUL VI. ANALISIS INTEGRALALIRAN PADA CV DIFERENSIAL Deskripsi Analisis aliran, apakah integral atau diferensial, yang dipakai pada suatu persoalan dipilih berdasarkan pertimbangan sasaran yang ingin dicapai. Jika sasarannya mendapatkan neraca keseluruhan massa, momentum, dan/atau energi pada suatu CV (control volume), maka dilakukan analisis integral seperti yang diperkenalkan pada modul sebelum ini. Jika sasarannya mendapatkan distribusi sifat massa, momentum dan energi di dalam suatu CV, maka dilakukan analisis diferensial. Kedua pendekatan berbeda hanya dalam resolusi penyelesaian. Analisis integral melihat persoalan dari kacamata keseluruhan, sedangkan analisis diferensial melihat persoalan dari kacamata kerincian. Jika diibaratkan layar penampil, yang dipandang dalam analisis integral keseluruhan layar, sedangkan dalam analisis diferensial piksel demi piksel dalam keseluruhan layar. Jadi, manakala domain analisis integral diperkecil dari CV (layar) menjadi CV-diferensial (piksel), maka kedua pendekatan bertemu. Artinya, analisis integral pada CV-diferensial adalah sama dengan analisis diferensial, demikian pula hasilnya. Sasaran belajar: 7. Membedakan analisis diferensial dari integral dalam hal kegunaan dan hasil analisis 8. Melakukan analisis integral pada CV diferensial pada kasus aliran yang sangat sederhana A. CV diferensialsilindrik Deskripsi persoalan Aliran fluida dalam pipa dimungkinkan oleh adanya perbedaan tekanan (gradien tekanan) di hulu dan hilir pipa. Dalam persoalan ini akan ditentukan dua hal:  Agihan kecepatan radial.  Gradien tekanan. Untuk ini diperlukan pendekatan diferensial dengan CV sebagaimana diperlihatkan pada Gambar 105. Anggapan:  Aliran steady, berkembang penuh (fully developed), artinya profil kecepatan radial-angular sepanjang pipa adalah tetap.  Fluidanya Newtonian.  Fluida inkompresibel,  = tetap.  Fluida mengalir ke arah aksial semata, atau v(x,r,) = tetap dan vr(x,r,) = tetap.
  • 135.
    123 Gambar 105. CVdiferensial silindrik aliran fluida dalam pipa bundar Alat analisis Alat analisis: Neraca Momentum (aliran arah-x saja)              x outCS x inCS x luar CS steadyaliran CV FdAnvvdAnvv FdAnvvvdV t     )(0 Hubungan Konstitutif Fluida Newtonian dy dvx yx   Neraca Momentum Suku-suku dalam neraca momentum bisa diuraikan sebagai berikut:        rrxrrrx xxx rrxrrrxxxxx xrxr rrPrrP AAAPAPF          22 22 ..           penuhberkembangaliran AvvAvv dAnvvdAnvvdAnvv xxxxxxx xxxxxx ,0               x CS x FdAnvv Hasilnya:
  • 136.
    124        02222   rrxrrrxxxx xrxrrrprrp  Per satuan volume elemen 2rrx, persamaannya adalah: 0 ... .         r rr x rprp rrxrrrxxxx  Untuk CV yang diciutkan volumenya hingga batas titik (limit volume elemennya mendekati nol), persamaan menjadi:   0.        r dr d dx dP r rx atau:   rdr dx dP rd rx       . Dalam persamaan ini,  tekanan hanya fungsi x saja, p = p(x), dan karena aliran dianggap berkembang-penuh maka gradien tekanan (dP/dx) = tetap.  tegangan geser hanya fungsi r saja, rx = rx(r). Integral persamaan memberikan: r C dx dPr rx 1 2        Syarat batas untuk persamaan ini adalah: 1) Tegangan geser minimum (= 0) di tengah-tengah pipa (r = 0). 2) Kecepatan aliran = nol di permukaan pipa (r = R). Penerapan syarat batas pertama mensyaratkan C1 = 0 sehingga        dx dPr rx 2  Penerapan syarat batas kedua membutuhkan hubungan konstitutif sehingga tegangan geser bisa dinyatakan sebagai fungsi kecepatan:        dx dPr dr dvx 2  Dengan penyelesaian umum: 2 2 4 C dx dPr vx         Penerapan syarat batas kedua mensyaratkan:        dx dPR C 4 2 2
  • 137.
    125 sehingga:                                    2222 1 444 R r dx dPR dx dPR dx dPr rvx  Persamaanmenunjukkan bahwa kecepatan aliran maksimum di pusat saluran (r = 0):        dx dPR vmaks 4 2 sehingga persamaan akhirnya bisa ditulis sebagai:                  2 1 R r vrv maksx Lihat Gambar 106. Dengan profil kecepatan paraboloid (putaran parabola) seperti ini, maka kecepatan reratanya bisa ditentukan sbb:   maks Rr r maks Rr r maks x v R r r R v rdr R r v R dArv A v 2 1 0 2 3 4 22 2 0 2 2 21 1 1                                 Jadi:        dx dPR vv maks 4 2 2 1 2 1
  • 138.
    126 Gambar 106. Profilkecepatan aliran laminer dalam pipa Persamaan Hagen- Poiseuille Dari ungkapan        dx dPR vv maks 4 2 2 1 2 1 bisa disusun persamaan untuk mengevaluasi gradien tekanan: 22 328 D v R v dx dP         Inilah persamaan Hagen-Poiseuille yang terkenal itu. Dengan persamaan ini, besarnya penurunan tekanan yang dialami oleh fluida yang mengalir laminer dalam pipa sepanjang L bisa dihitung sbb: L D v dx D v P Lx x 2 0 2 3232      Persamaan ini bisa disusun-ulang menjadi: 2 2 12 2 12 2 1 Re 6464 v D L fv D L v D L P Dv     dengan faktor friksi laminer Re 64 f . Faktor friksi lazim disajikan dalam bentuk diagram f sebagai fungsi Re sebagaimana disajikan pada Gambar 107. Diagram f selengkapnya untuk aliran laminer dan turbulen dikenal sebagai diagram Moody. Lihat pula Gambar 108 yang melukiska penurunana tekanan vs. kecepatan aliran. Aliran laminer Air, pipa 1cm (jari2) -1 -0,75 -0,5 -0,25 0 0,25 0,5 0,75 1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Kecepatan (cm/s) Posisiradial(cm) dP/dx=1Pa/m, Re 500 dP/dx=4Pa/m, Re 2000
  • 139.
    127 Gambar 107. Diagramfaktor gesekan sebagai fungsi bilangan Reynolds Gambar 108. Penurunan tekanan dan faktor friksi sebagai fungsi kecepatan aliran B. CV diferensialkubik Deskripsi persoalan Aliran fluida pada bidang miring dimungkinkan oleh adanya gaya gravitasi. Dalam persoalan ini akan ditentukan Agihan kecepatan radial. Untuk mudahnya, sumbu x diambil sejajar dengan bidang miring. Anggapan:  Aliran steady, berkembang penuh (fully developed), artinya profil kecepatan radial-angular sepanjang pipa adalah tetap. 0,001 0,01 0,1 1 1,E+02 1,E+03 1,E+04 1,E+05 1,E+06 1,E+07 1,E+08 Re f=64/Re Pdrop Aliran Laminer Air - Pipa 2cm (dia.) 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 Kecepatan aliran (cm/s) Paper100mpipa 0,00 0,05 0,10 0,15 0,20 0,25 0,30 0,35 Faktorfriksi
  • 140.
    128  Fluidanya fluidaNewton.  Fluida incompressible,  = tetap.  Fluida mengalir ke arah x semata, atau Vy(x,y,z) = tetap dan Vz(x,y,z) = tetap. yx|y P|x+x P|x x y  L yx|y+y Gambar 109. CV diferensial kubik aliran fluida pada bidang miring Alat analisis Alat analisis: Neraca Momentum (aliran arah-x saja)              x outCS x inCS x luar CS steadyaliran CV FdAnvvdAnvv FdAnvvvdV t     )(0 Hubungan Konstitutif Fluida Newtonian dy dvx yx   Neraca momentum Suku-suku dalam neraca momentum bisa diurai sebagai berikut:           penuhberkembangaliran AvvAvv dAnvvdAnvvdAnvv xxxxxxx xxxxxx ,0               x CS x FdAnvv      sin.... sin..... gyxxx gAAAPAPF yyxyyyx yyxyyyxxxx    
  • 141.
    129 Hasilnya:   0sin....   gyxxx yyxyyyx Dibagi dg volume elemen xy:   0sin..       g y yyxyyyx Diciutkan volumenya hingga batas titik (limit volume elemennya mendekati nol):   0sin..   g dy d yx Di sini, tegangan geser hanya fungsi y saja, yx = yx(y) sehingga hasil integrasinya adalah:   1.sin.. Cygyx   Syarat batas untuk persamaan ini adalah: 1) Tegangan geser minimum (= 0) di permukaan bebas (y=L). 2) Kecepatan aliran = nol di dinding (y=0). Penerapan syarat batas pertama memberikan:    LgC Cyg .sin.. .sin..0 1 1     Penerapan syarat batas kedua membutuhkan hubungan konstitutif sehingga tegangan geser bisa dinyatakan sebagai fungsi kecepatan:        L y Lg dy dvx 1sin..  dengan penyelesaian umum:     2 2 2 sin.. C L y y Lg yvx          Syarat batas kedua mensyaratkan C2 = 0, sehingga hasil akhirnya menjadi:                             2 2 1 2 2 sin.. 2 sin.. L y L yLg L y y Lg yvx     Di permukaan (y/L=1), kecepatan aliran bernilai maksimum (vx,maks):     sin.. 2 2 1 , Lg v maksx 
  • 142.
    130 Dari sini persamaankecepatan bisa juga ditulis:                  2 2 1 2 L y L y vyv makxx Profil kecepatan menurut persamaan ini dilukiskan pada Gambar 110. Gambar 110. Profil aliran laminer pada bidang miring Profil kecepatan pd bidang miring 0,0 0,2 0,4 0,6 0,8 1,0 0,0 0,5 1,0 1,5 2,0 2,5 Kecepatan aliran (m/s) y(mm) 10 20 30 derajat
  • 143.
    131 MODUL VII. ANALISIS DIFERENSIALALIRAN Deskripsi Analisis aliran, apakah integral atau diferensial, yang dipakai pada suatu persoalan dipilih berdasarkan pertimbangan sasaran yang ingin dicapai. Jika sasarannya mendapatkan neraca keseluruhan massa, momentum, dan/atau energi pada suatu CV (control volume), maka dilakukan analisis integral seperti yang diperkenalkan pada modul sebelum ini. Jika sasarannya mendapatkan distribusi sifat massa, momentum dan energi di dalam suatu CV, maka dilakukan analisis diferensial. Informasi distribusi sifat aliran memberikan gambaran apakah pola aliran yang terjadi sesuai harapan untuk suatu kebutuhan atau tidak. Sifat ini membuat analisis diferensial sangat berguna dalam proses penciptaan dan perbaikan rancangan keteknikan. Namun, mengingat kerumitan sifat aliran geometri keteknikan, analisis diferensial membutuhkan sumber daya yang besar. Oleh karena itu, dalam praktiknya, analisis diferensial dilakukan secara numerik menggunakan perangkat lunak CFD. Sasaran belajar: 9. Membedakan analisis diferensial dari integral dalam hal kegunaan dan hasil analisis 10. Menuliskan dan menjelaskan makna suku-suku dalam persamaan diferensial aliran massa, momentum dan energi 11. Melakukan analisis diferensial pada kasus aliran yang sangat sederhana A. Analisis Diferensialvs. Integral Analisis Diferensial vs. Integral Analisis integral berguna untuk menentukan efek keseluruhan dalam CV. Namun, analisis ini tidak bisa memberikan pengetahuan rinci tentang medan aliran dalam CV. Artinya, analisis integral tidak bisa memberikan pengetahuan tentang distribusi tekanan, kecepatan dan besaran aliran lainnya dalam CV. Lihat Gambar 111. Inilah pentingnya analisis diferensial seperti yang telah diperlihatkan pada modul sebelumnya.
  • 144.
    132 Gambar 111. Analisisintegral (kiri) vs. analisis diferensial (kanan) Persamaan Diferensial Persamaan atur aliran fluida dalam analisis diferensial berbentuk persamaan diferensial. PD aliran bisa diperoleh dengan tiga cara: 1) Menerapkan persamaan integral aliran pada CV diferensial – seperti telah diperagakan pada modul sebelumnya. 2) Menerapkan dalil divergensi (Gauss/Divergence Theorem) pada persamaan integral aliran. 3) Menerapkan operator material. Cara pertama ditempuh dengan menggunakan dalil limit, yaitu dengan menciutkan CV menjadi sekecil-kecilnya sampai batas menjadi titik. Cara kedua ditempuh dengan menggunakan dalil divergensi:       Vpermukaanlewat nettoGpenambahan A volumedalam Ganpengembang V dAnGdVG   Dalil divergensi ini memungkinkan transformasi integral volume dari divergensi suatu vektor menjadi integral luasan yang menyapu seluruh permukaan CV, atau sebaliknya. Cara ketiga ditempuh dengan menggunakan operator material:      v tDt D Persamaan diferensial yang diperoleh pada prinsipnya bisa diselesaikan secara analitik atau numerik (dengan bantuan komputer). Namun, dalam praktiknya hanya sedikit persoalan yang bisa diselesaikan secara analitik. Oleh sebab itu, dan berkat berkat semakin ampuhnya perangkat komputer, maka penyelesaian secara
  • 145.
    133 numerik dengan CFD4kini memainkan peranan penting dalam analisis aliran fluida. Garis besar langkah kerja analisis secara analitik dan numerik hampir sama. Ini bisa dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Langkah-langkah kerja analisis aliran secara analitik dan numerik Langkah Dinamika Fluida Analitik (Analytical Fluid Dynamics) Dinamika Fluida Numerik (Computational Fluid Dynamics) 1 Menyiapkan persoalan & geometri, mengidentifikasi semua dimensi dan parameter 2 Mendaftar semua anggapan, pendekatan, penyederhanaan, dan syarat- batas 3 Menyederhanakan PDE Membuat grid / diskritisasi PDE 4 Mengintegralkan persamaan Menyelesaikan sistem persamaan aljabar, termasuk syarat awal dan batas5 Menerapkan syarat awal & batas untuk menyelesaikan konstanta integrasi. 6 Memeriksa & mengolah hasil Memeriksa & mengolah hasil B. Neraca DiferensialMassa Neraca diferensial massa Persamaan neraca diferensial massa biasa disebut persamaan kontinuitas. Berikut akan ditunjukkan penurunan persamaan kontinuitas ini dengan kedua cara secara bergantian. Cara pertama. Penurunan persamaan kontinuitas pada CV diferensial diawali dengan mempertimbangkan neraca massa pada CV yang sangat kecil. Lihat Gambar 112. Neraca massa integral pada CV ini adalah:   0    CSCV dAnvdV t  4 CFD adalah kependekan dari Computational Fluid Dynamics. Istilah CFD kini biasa dipakai sebagai sebutan untuk programkomputer untuk prediksi aliran fluida.
  • 146.
    134 vz|z+z.Az vz|z.Az vy|y.Ay vy|y+y.Ay vx|x+x.Axvx|x.Ax z x y x y z Ax = y.z Ay= z.x Az = x.y Gambar 112. Aliran massa pada CV diferensial Dalam batas titik, V = x.y.z  0, neraca massa per satuan volume menjadi:         0lim 0 1 lim 0 0 0 0                                     z vv y vv x vv t dAnvdV tV zzzzzyyyyy xxxxx z y x CSCV V   atau:   0                vvdiv zyx v z v y v xt    atau: 0   v t   Persamaan ini bisa juga disajikan dalam bentuk berbeda dengan menguraikan persamaan: 0            zyx v z v y v xt   lalu mengumpulkan suku-suku uraiannya:    0                                      vvdiv volumepereganganlaju zyx totalataumaterialldiferensia fluidagerakkarenadensitasperubahanlaju zyx lokaldensitas perubahanlaju z v y v x v z v y v x v t Dt D dt d   
  • 147.
    135 sehingga diperoleh: 0 v Dt D   Carakedua. Suku kedua dalam persamaan neraca massa integral pada CV   0    CSCV dAnvdV t  adalah integral luasan vektor v. Berdasarkan dalil divergensi, integral luasan ini bisa diubah menjadi integral volume menggunakan identitas berikut:    Vpermukaanlewat nettoGpenambahan A volumedalam Ganpengembang V ndAGGdV   Dengan G = v, penerapan dalil ini pada persamaan neraca massa menghasilkan:   0    CSCV dVvdV t  atau:   0    CVCV dVvdV t   atau:   0         CV dVv t   Integral ini berlaku untuk CV sembarang, berarti:   0   v t  
  • 148.
    136 Penggambaran Lagrangian Penggambaran Eulerian D/Dt Turunan Material D/Dtmengubah penggambaran Lagrangian menjadi Eulerian Analisis Differensial (Resolusi Tinggi) Penggambaran Sistem (CM) Penggambaran CV DTR Analisis Integral (Resolusi Rendah) Dalil Transport Reynolds mengubah penggambaran Sistem (CM) menjadi CV CV ke Titik RuangTitik Massa ke CM Cara ketiga. Kedua cara pertama diturunkan dari persamaan neraca integral, dari ruang (CV) ke titik ruang (CV diferensial, Eulerian). Cara ketiga diturunkan dari titik massa (Lagrangian) ke titik ruang (Eulerian) menggunakan menggunakan operator diferensial material. Untuk titik massa m persamaan neraca massanya adalah: 0 Dt Dm Untuk titik ruang V, persamaan menjadi:   0   mv t m dengan m=V. Penyulihan m ke dalam persamaan ini menghasilkan:      0   Vv t V   Penguraian persamaan ini memberikan:     0        vVVv t V t V Pembagian dengan volume dan sedikit manipulasi menghasilkan:     0              vVv t V Vt dtdV    dengan suku kedua adalah diferensial material dari V. Dari uraian dalam modul tentang kinematika telah dijelaskan bahwa:   dt VdV dt dV V  1 adalah laju regang volumetrik yang besarnya sama dengan divergen
  • 149.
    137 kecepatan sehingga persamaanmenjadi:     0     vv t Persamaan ini bisa dibawa ke dalam 2 bentuk, yaitu:         0 0        v t vv t v         atau:     0 0     v tD D vv t Dt D         Pada keadaan steady,     0.   vv . Jika  v positif maka  v negatif dan sama besarnya, dan begitu pula sebaliknya. Jadi secara fisik bisa dibuat penafsiran berikut. Dengan pemahaman bahwa  v menggambarkan laju pengembangan volume, maka  v mungkin bisa dipahami sebagai laju perpindahan volume. Rekapitulasi Neraca Massa Neraca massa Integral   0    CSCV dAnvdV t  Neraca massa Diferensial   0   v t   0 v Dt D   Secara umum, persamaan diferensial massa, biasa disebut persamaan kontinuitas, tidak bisa sendirian digunakan untuk menyelesaikan medan aliran. Akan tetapi, persamaan ini bisa digunakan untuk:  Mencari komponen kecepatan yang kurang.  Menentukan apakah medan kecepatan inkompresibel atau tidak. Sistem Koordinat Silindrik Dalam sistem koordinat silindrik, ungkapan neraca massa (persamaan kontinuitas) adalah sebagai berikut:
  • 150.
    138          0 11 0 11 0                                 zr zzrrzr v z v r vr rrt eveveve z e r re rrt v t            Bentuk khusus Untuk aliran steady kompresibel, persamaan kontinuitas menjadi:      0 0 0      v v t    atau:             )(...0 11 )(...0 silindrikv z v r vr rr cartesianv x v x v x zr zyx                        Untuk aliran inkompresibel ( = tetap), persamaan kontinuitas menjadi:  0 0 0 0     v v v tD D    atau:             )(...0 11 )(...0 silindrikv z v r vr rr cartesianv x v x v x zr zyx                     Contoh analisis Dua dari 3 komponen kecepatan medan aliran 3-D steady inkompresibel diketahui:  vx = ax2 + by2 + cz2  vz = axz + byz2 dengan a, b, dan c konstan. Bagaimanakan ungkapan vy? Untuk aliran steady inkompresibel berlaku:  0 & ,0   v Dt D belinkompresi steadykarena   Jadi:
  • 151.
    139                         z v x v y v z v y v x v v zxy zyx 0 0 atau:  byzaxax y vy 22    danhasilnya adalah:  zxfzbyaxyvy ,3 2  Contoh analisis Komponen tangensial dari kecepatan medan aliran 2-D inkompresibel berpusar adalah v = K/r dengan K konstan. Bagaimanakan ungkapan kecepatan radial vr? Untuk aliran steady inkompresibel berlaku: 0 v atau:  0 0 11 2,0                            r rv r Kv r rv z vv rr rv r r r D zr     dan hasilnya:   r C v tfrv r C r    , Jika C=0 (berarti vr=0) pola alirannya berbentuk vortex garis. Jika C0 (berarti vr0) pola alirannya berbentuk vortex spiral; jika positif arah spiral ke luar, dan sebaliknya ke dalam.
  • 152.
    140 Vortex garis Vortexgaris berspiral Gambar 113. Vortex garis dan spiral Stream Function Dalam matematika diferensial, untuk sebuah fungsi sinambung (x,y) berlaku hubungan: xyyx           atau: 0          xyyx  Perbandingan ungkapan ini dengan persamaan kontinuitas 2D inkompresibel: 0      yx v y v x menunjukkan hubungan: x vdan y v yx        Mengingat sepanjang streamline gradien garis singgungnya adalah: 0 dxvdyvatau v v dx dy yx x y (lihat Gambar 114), maka dari sini diperoleh hubungan: 0 0          d dx y dy y Ini berarti  = konstan sepanjang streamline, sehingga  disebut
  • 153.
    141 stream function. Gambar 114.Gradien garis singgung pada streamline Makna Fisis Stream Function Neraca massa untuk aliran steady inkompresibel adalah:   0  dQdAnv atau  dAnvdQ  Mengacu Gambar 115, di mana fluida mengalir melalui elemen luas dA per satuan kedalaman (= ds), komponen vektor yang terlibat adalah: j x i y jvivv yx           jijninn yx  sincos  sehingga:       dx x dy y ds x ds y dAnvdQ dxdy                       sincos Hasilnya, ddQ  atau Q Dengan kata lain, selisih nilai stream function  = debit aliran.
  • 154.
    142  dx ds dy CS  v  n Gambar 115.Makna fisis stream function Stream Function dalam Koordinat Silindrik Dalam sistem koordinat silindrik, persamaan kontinuitas adalah:       0 11          zr v z v r vr rr   Stream Function dalam bidang r :      r vr dan r v      Stream Function dalam bidang rz : zr vr    1 dan rr vz    1 Vortisitas Hubungan stream function dan kecepatan memungkinkan evaluasi vortisitas aliran. Dengan: x vdan y v yx        maka vortisitas aliran menjadi:                   yxy v x v xy z   22 2 Untuk aliran irrotasional, misalnya pada aliran invisid fluida ideal (=0), vortisitas  =0, sehingga: 0 0 2 2 2 2 2          yx Jadi,  mengikuti persamaan Laplace. Contoh analisis Tinjaulah vortex garis pada aliran inkompresibel, planar, steady. Komponen kecepatan alirannya adalah:
  • 155.
    143  ur =0  u = K/r dengan K konstan. Bagaimanakah ungkapan stream function  (r, )? Penyelesaian:       frK r K r v      ln dan:     Cf f r r vr           0 1 0 1 sehingga:             K C er CrK   ln Grafik dari kedua fungsi ini dilukiskan dalam Gambar 116. Gambar 116. Streamline vortex garis dan stream function r untuk beragam stream function (C=0, K=2) -2,0 -1,5 -1,0 -0,5 0,0 0,5 1,0 1,5 2,0 -2,0 -1,5 -1,0 -0,5 0,0 0,5 1,0 1,5 2,0 x y 0 1 2 3 4 Stream Function
  • 156.
    144 Contoh analisis Tinjaulah vortex garisspiral pada aliran inkompresibel, planar, steady. Komponen kecepatan alirannya adalah:  ur = C/r  u = K/r dengan C dan K konstan. Tentukan ungkapan stream function  (r, ). Penyelesaian:       frK r K r v      ln dan:         Cf Cf r C r vr       1 sehingga:             K C er CrK   ln Grafik dari kedua fungsi ini dilukiskan dalam Gambar 117.
  • 157.
    145 Gambar 117. Streamlinevortex garis spiral Fungsi Potensial Kecepatan Kurva  konstan adalah streamline dari aliran. Dalam pokok bahasan statika fluida diperoleh pengetahuan bahwa garis isobar (tekanan konstan) tegak lurus dengan gradien tekanan yang sejajar dengan potensial gravitasi. Analog dengan ini, menarik untuk diketahui suatu fungsi yang tegak lurus dengan streamline. Karena streamline menggambarkan kecepatan, maka sebutlah fungsi yang tegak lurus dengannya sebagai fungsi potensial kecepatan, . Pada  konstan, x y C v v dx dy   Menurut geometri, garis  = C tegak lurus dengan  = C jika: 1  CC dx dy dx dy  atau:   y x xyCC v v vvdxdydx dy   11  r untuk stream function = 0, 1 & 2 (C=1, K=11) -30 -20 -10 0 10 20 30 -30 -20 -10 0 10 20 30 x y 0 1 2 v-tangensial
  • 158.
    146 Jadi, pd konstan:   0  dyvdxv v v dxdy yx y x C dan   0        dy y dx x d yx vv   Dengan demikian, maka vektor kecepatan bisa dituliskan sebagai:          v j y i x jvivv yx .... Selanjutnya, dari neraca massa diperoleh: 0 0 0 2      v Rekapitulasi Satu fungsi arus  menggantikan dua variabel kecepatan vx dan vy. Sekali  diketahui, maka vx dan vy bisa dihitung. Potensial kecepatan  tegak lurus dengan . Potensial kecepatan berlaku dalam 2D dan 3D, sedangkan stream function hanya ada dalam 2D. Kepentingan fisik:  Kurva  konstan adalah streamline dari aliran.  Selisih  antar streamline sama dengan laju aliran antara streamline.  Nilai  meningkat ke kiri arah aliran dalam bidang xy, “konvensi sisi-kiri.” C. Neraca Diferensial Momentum Persamaan neraca diferensial massa biasa disebut persamaan Navier- Stokes (N-S). Berikut akan ditunjukkan penurunan persamaan N-S ini dengan kedua cara secara bergantian. Cara pertama. Penurunan persamaan N-S pada CV diferensial diawali dengan mempertimbangkan neraca massa pada CV yang sangat kecil. Neraca integral momentum pada CV adalah:
  • 159.
    147      FdAnvvvd t  Dalam batas titik, V = x.y.z  0, neracanya adalah:           1 0 2 0 3 0 limlimlim               suku V suku V suku V V F V dAnvv V vdt  Suku pertama melibatkan gaya-gaya eksternal yang bekerja pada CV, yaitu gaya badan karena gravitasi dan gaya permukaan. Gaya permukaan per satuan luas (tegangan) normal dan geser dilukiskan pada Gambar 118 sampai Gambar 120. Mengacu pada gambar-gambar tersebut maka suku pertama menjadi: zyx g zyx g V FF zyx F zxyxxx x zzxzzzxyyxyyyx xxxxxxx x V permukaanbadan V x V                                             0 00 lim limlim zyx g zyx g zyx F zyyyxy y zzyzzzyyyyyyyy xxyxxxy y V y V                                   00 limlim zyx g zyx g zyx F zzyzxz z zzzzzzzyyzyyyz xxzxxxz z V z V                                   00 limlim
  • 160.
    148 yy|y+y yx|y+y xx|x+x xy|x+x yx|y yy|y xx|x xy|x x y x y Gambar 118.Tegangan normal dan geser yang bekerja pada permukaan yang tegak lurus bidang x-y zz|z+z zx|z+z xx|x+x xz|x+x zx|z zz|z xx|x xz|x x z x z Gambar 119. Tegangan normal dan geser yang bekerja pada permukaan yang tegak lurus bidang x-z
  • 161.
    149 zz|z+z zy|z+z yy|y+y yz|y+y zy|z zz|z yy|y yz|y y z y z Gambar 120.Tegangan normal dan geser yang bekerja pada permukaan yang tegak lurus bidang y-z Hasilnya adalah: ij V g zyx F      0 lim dengan:                                                          zyx zyx zyx k z j y i x tegangantensor zyyzxz zyyyxy zxyxxx zzyzxz zyyyxy zxyxxx ij ij         Suku kedua (fluks momentum netto) adalah:
  • 162.
    150                                                                                             z v v y v v x v v t v z v v y v v x v v z v y v x v v z vv y vv x vv z vvvv y vvvv x vvvv zyx dAnvv zyx zyx massaneracadari t v zyx zyx zzzzz z yyyyy y xxxxx xV             )( 0 000 lim limlimlim Suku ketiga (laju perubahan momentum lokal) adalah:        t v t v v t zyx zyxvt zyx vdt V                      0 00 lim limlim Gabungan ketiga suku dalam persamaan utuh menjadi: ij Dt Dv materialtotalldiferensia zyx ijzyx nol g z v v y v v x v v t v g z v v y v v x v v t v t v t v                                                     / atau: ijg Dt Dv   Cara kedua. Suku kedua dalam persamaan neraca momentum integral pada CV       FdAnvvvd t  adalah integral luasan vektor vv. Berdasarkan dalil divergensi,
  • 163.
    151 integral luasan inibisa diubah menjadi integral volume menggunakan identitas berikut:    Vpermukaanlewat nettoGpenambahan A volumedalam Ganpengembang V ndAGGdV   Dengan G = vv, penerapan dalil ini pada suku kedua menghasilkan:   VA vvdVndAvv  sehingga persamaan neraca momentum menjadi:                      CV ij CV CV ij CVCSCV dVgdVvv t dAngdVdAnvvvdV t    Karena integral ini berlaku untuk CV sembarang, maka integran di kiri sama dengan di kanan:   ijgvv t      (Ungkapan ini dikenal juga sebagai persamaan Cauchy.) Persamaan ini bisa disusun ke dalam bentuk ungkapan sebagaiman diperoleh dari cara penurunan pertama sbb:           ij massaneraca Dt Dv ij g Dt Dv v t vvv t v vvvv t v t v gvv t v                                          )(0 Tensor tegangan & regangan Tensor tegangan merupakan fungsi dari tensor regangan, seperti halnya tegangan geser fluida merupakan fungsi laju regang geser. Hubungan keduanya bisa dinyatakan sbb:
  • 164.
    152                                             zzyzxz zyyyxy zxyxxx ij kji j i i j ij ij ijijij vp vp vp turutberturutzyxxxx x v x v regangantensor deltafungsi vp        2 00 00 00 )(,,,, 2 3 2 3 2 3 2 2 1 3 2 Penjelasan tambahan Ungkapan tegangannormal di atas dirumuskan berdasarkan penalaran berikut ini. Analog dengan tegangan geser, tegangan normal dipandang berasal dari tekanan statik dan hubungan viskositas dengan peregangan linier dan volumetrik:      vp vp vp zzzz yyyy xxxx       2 2 2 Dengan  merupakan bawaan modulus curah fluida. Tegangan normal rata-ratanya adalah:       Dt D p vp zzyyxx      1 32 32 3 1    Jika dianggap tekanan hanya bergantung pada densitas , dan tidak bergantung pada laju perubahan densitas D/Dt, maka (2+3) haruslah bernilai nol, sehingga =2/3. Oleh karena itulah maka ungkapan tegangan normal menjadi:             zzzzzz yyyyyy xxxxxx vpvp vpvp vpvp    22 22 22 3 2 3 2 3 2 3 2 3 2 3 2    atau ringkasnya:   iiii vp  23 2  Persamaa n N-s Fluida Newtonian Untuk fluida Newtonian, divergen tegangannya adalah:
  • 165.
    153                                                                                                                                                z v zzz z v zyx yyyzyx xxxzyx ij z v zy v yx v xz v zz v yz v x v zz p z v zy v yx v xy v zy v yy v x v yy p z v zy v yx v xx v zx v yx v x v xx p       3 2 3 2 3 2 . atau:                                                z y x ij v z v v zz p v y v v yy p v x v v xx p     3 2 3 2 3 2 . Dengan demikian, persamaan N-S menjadi: zz z yy y xx x v z v v zz p g Dt Dv v y v v yy p g Dt Dv v x v v xx p g Dt Dv                                  3 2 3 2 3 2 atau:    vvvpg Dt Dv   3 2 Persamaan N-s Fluida Newtonian  konstan Untuk fluida Newtonian dengan viskositas konstan, divergen tegangannya adalah:                                                                    zv z v z v z y x ij v z v v zz p v y v v yy p v x v v xx p 2 3 2 3 2 3 2 .       atau:
  • 166.
    154                                                           z y x ij vv xz p vv yy p vv xx p 2 3 1 2 3 1 2 3 1 .     Dengan demikian persamaanN-S menjadi:                                        zz z yy y xx x vv zz p g Dt Dv vv yy p g Dt Dv vv xx p g Dt Dv 2 3 1 2 3 1 2 3 1    atau:   vvpg Dt Dv 2 3 1   Persamaan N-s Fluida Newtonian  konstan  konstan Untuk fluida Newtonian dengan viskositas konstan dan densitas konstan, divergen tegangannya adalah:                                                                        z y x z C y x ij v z p v y p v x p vv zz p vv yy p vv xx p 2 2 2 ,0 3 1 3 1 3 1 .         Dengan demikian persamaan N-S menjadi: zz z yy y xx x v z p g Dt Dv v y p g Dt Dv v x p g Dt Dv 2 2 2                atau: vpg Dt Dv 2   Persamaan ini bisa juga dituliskan dalam ungkapan vortisitas:   vpg Dt Dv  
  • 167.
    155 Persamaan Euler: N-s Newtonian  =0  konstan Persamaan Euler adalah bentuk khusus persamaan N-S Newtonian densitas konstan dengan viskositas nol ( = 0) atau vortisitas nol ((v) = 0): z p g Dt Dv y p g Dt Dv x p g Dt Dv z z y y x x             atau: pg Dt Dv   Perhatikan: Jika fluida bergerak dipercepat seperti benda padat, maka persamaan ini menjadi: pga   atau:  agp   Jika fluidanya diam, ungkapan ini menjadi persamaan fluida statik: gp  4 Persamaan 4 variabel Sistem Pers. N-S (massa & momentum) terdiri dari 4 persamaan dengan 4 variabel (p, vx, vy dan vz). Dengan ini bisa dihitung: 1) Tekanan (p) untuk medan kecepatan yang diketahui. 2) Kecepatan (vx, vy, vz) dan tekanan (p) untuk geometri, syarat batas (boundary conditions, BC), dan syarat awal (initial conditions, IC) yang diketahui. zz z yy y xx x v z p g Dt Dv v y p g Dt Dv v x p g Dt Dv v 2 2 2 0                 Contoh Berikut adalah contoh menentukan medan tekanan dari medan kecepatan. Andai diketahui medan kecepatan steady, 2-D, inkompresibel:    jaycxibaxjvivv yx  Dari sini bisa ditentukan medan tekanan sbb. Periksa dulu
  • 168.
    156 pemenuhan persamaan kontinuitas:   0 2,0            aa z v y v x v v D z a y a x Sesuai. Lalu ditinjau komponen arah x & y dari persamaan Navier–Stokes. Komponen kecepatan arah-x:                                                            D xxx x D x z x aycx y a x bax x steady x z v y v x v x p g y v v y v v x v v t v 2,0 2 2 0 2 2 0 2 2 0 2,00,0    atau:        yfabxxap abxa x p x p abax        2 2 12 2    Komponen kecepatan arah-y:                                                           D yyy y D y z a y aycx y c y bax x steady y z v y v x v y p g z v v y v v x v v t v 2,0 2 2 0 2 2 0 2 2 2,0,0   atau:       yabcg y p y p gaaycxcbax y y 2         Solusi arah-y:  yabcg y p y 2     harus sama dengan turunan terhadap y dari solusi arah-x:
  • 169.
    157   yfabxxap  2 2 12  atau:          Cyaybcgyf yabcg y yf y y      2 2 12 2 0   Hasil akhirnya adalah persamaan medan tekanan sbb:      Cyxaabxybcgp y  222 2 1  Perhatikan, medan kecepatan dalam aliran inkompresibel  tidak terpengaruh oleh nilai konstanta C dalam medan tekanan atau oleh nilai tekanan mutlak,  tetapi dipengaruhi oleh beda atau gradien tekanan. Ini tampak dari persaman N-S: vpg Dt Dv 2   Untuk menentukan konstanta C dalam persamaan medan tekanan diperlukan acuan nilai p dalam medan aliran, atau dengan kata lain diperlukan BC tekanan. Lihat contoh CFD berikut (Gambar 121). Kedua kasus pada gambar tersebut identik (termasuk gradien tekanan) kecuali nilai tekanannya. Medan kecepatan & pola streamline yang diperoleh memperlihatkan bahwa medan kecepatan dipengaruhi oleh gradien tekanan. Gambar 121. Gradien (beda) tekanan berpengaruh terhadap medan kecepatan aliran, bukan tekanan Penyelesaian Eksak N-S Ada ±80 penyelesaian eksak persamaan N-S. Penyelesaian linier (suku konvektif = nol,   0 vv ) & nonlinear (suku konvektif  nol,   0 vv ).
  • 170.
    158 Penyelesaian menurut bentukgeometri: 1) Couette shear flows 2) Steady duct/pipe flows 3) Unsteady duct/pipe flows 4) Flows with moving boundaries 5) Similarity solutions 6) Asymptotic suction flows 7) Wind-driven Ekman flows Prosedur Penyelesaian N-S Prosedur penyelesaian persamaan N-S pada prinsipnya sama dengan penyelesaian persamaan diferensial umumnya, yaitu: 1) Rumuskan persoalan & geometri, kenali semua dimensi & parameter terkait. 2) Buat anggapan, pendekatan, penyederhanaan dan BC (syarat batas) selayaknya. 3) Sederhanakan PD sebanyak mungkin. 4) Integralkan persamaan. 5) Terapkan BC untuk menentukan tetapan integrasi. 6) Periksa hasil. BC kritis dalam penyelesaian eksak, hampiran, & numerik. Dalam penyelesaian analitik:  No-slip BC.  Interface BC Dalam penyelesaian numerik (CFD), keduanya juga dipakai, plus sejumlah BC yang muncul karena hal-hal khusus dalam pemodelan CFD  Inflow & outflow BC  Symmetry & periodic BC No-slip BC adalah syarat di mana fFluida yang menyentuh dinding padat memiliki kecepatan sama dengan kecepatan dinding itu, atau dindingfluida vv  . Interface BC adalah berkenaan dengan keadaan saat dua fluida bertemu di antarmuka (Gambar 122). Di antarmuka, kecepatan dan tegangan geser harus sama di kedua muka. BmukaAmukaBfluidaAfluida danvv ,,,,   Jika efek tegangan permukaan sangat kecil & permukaan hampir datar, maka: BA pp 
  • 171.
    159 Gambar 122. Syaratbatas di antarmuka 2-fluida Bentuk khusus antarmuka adalah permukaan bebas cairan. 0                    air udaraair udaraair udaraair dy du dy du dy du vv  Karena udara << air. Seperti umumnya antarmuka, jika efek tegangan permukaan sangat kecil & permukaan hampir datar maka: BA pp  Gambar 123. Syarat batas di permukaan bebas Contoh: Aliran Berikut diberikan contoh analisis pada aliran Couette berkembang
  • 172.
    160 Couette penuh (fullydeveloped). Untuk geometri dan BC yang diberikan, hitunglah medan kecepatan & aliran, dan taksirlah gaya geser per satuan luas yang bekerja pada plat bawah. Langkah 1: Geometri, dimensi, dan sifat Langkah 2: Anggapan dan Syarat Batas Anggapan 1) 2D, vz=0, /z = 0 2) Aliran steady, /t = 0 3) Aliran paralel hanya ke arah-x, vy=0 4) Plat tak berhingga dalam arah x & z 5) Inkompresibel, Newtonian, laminer, sifat konstan 6) Gradien tekanan arah aliran = nol 7) Gravitasi bekerja dalam arah-y, Boundary conditions 1) Plat bawah (y=0) diam: vx=0, vy=0, vz=0 2) Plat atas (y=h) bergerak: vx=v, vy=0, vz=0 Langkah 3: Penyederhanaan Neraca massa     0 0 2,0,0 ,0             x v v Dt D x z v y v x v belinkompresi D z paralel yx   Berarti aliran berkembang penuh Neraca momentum arah-x:
  • 173.
    161       02 2 2,0 2 2 2 2 0 2 2 0 0 2 ,0 ,0,0                                                  y v z v y v x v x p g z v v y v v x v v t v x D xxx x D x z x paralel y penuhbang berkem x x steady x    Neraca momentum arah-y:   y D y paralel aliran yy y D y z paralel aliran y y paralel aliran y x steady y g y p z v y v x v y p g z v v y v v x v v t v                                                              2,0 2 2 ,0 2 2 2 2 2,0,0 ,0,0 Langkah 4: Integrasi Neraca Massa:  yvv x v xx x    0 Integrasi Neraca momentum arah-x: 212 2 0 CyCv y v x x    Integrasi Neraca momentum arah-y: 33 CgyCygpg y p yy     Langkah 5: Penerapan Syarat Batas  Di plat bawah (y=0) vx=0 sehingga C2=0  Di plat atas (y=h) vx=v sehingga C1=v/h Dengan demikian maka: h y vvx 
  • 174.
    162 Untuk tekanan, tidakada BC khusus sehingga bisa diambil suatu nilai acuan di posisi sembarang yang diketahui, misal di y=0, p=p0 (C3 dinamai p0) gypp  0 Dari sini tampak bahwa: 1) Besarnya tekanan sama dengan tekanan hidrostatik. 2) Tekanan bekerja secara independen dari aliran. Langkah 6: Pemeriksaan ulang dengan menyulihkan solusi: kji h y v kvjvivvSolusi zyx 00 ,   ke dalam persamaan kontinuitas: 0000          z v y v x v zyx Berarti persamaan kontinuitas terpenuhi. Pemeriksaan ulang dengan menyulihkan solusi ke dalam persamaan momentum arah-x:  000000000 2 2 2 2 2 2                                            h v h y v z v y v x v x p g z v v y v v x v v t v xxx x x z x y x x x Berarti persamaan momentum juga terpenuhi. Dengan demikian solusi yang diperoleh memang ternyata benar merupakan jawaban dari persoalan yang diselesaikan. Gaya geser Gaya geser per satuan luas (tegangan geser) yang bekerja pada fluida di permukaan plat bawah (di bidang tegak lurus sb-y ke arah-x) adalah: h v h v x v y v A F yx yxyx geser                    02 Lihat Gambar 124. Tegangan geser yang bekerja pada plat, menurut hukum Newton ketiga, sama besar ttp berlawanan arah dg tegangan geser fluida: h v A F yxw plat  
  • 175.
    163 Gambar 124. Gayageser dalam aliran Couette berkembang penuh Gambar 125. Aliran Couette pada viskometer putar Viskometer Putar Viskometer meter adalah alat ukur viskositas fluida yang terdiri dari silinder konsentrik sepanjang L, silinder dalam pejal berjari2 Ri dan silinder luar berongga berjari2 Ro. Lebar celah antara silinder sempit, sehingga (Ro-Ri) << Ri. Aliran Couette terjadi pada celah sempit antarsilinder pada Viskometer Putar ini. Dengan demikian, maka analisisnya sama seperti telah dilakukan di atas.
  • 176.
    164 Tegangan geser viskosyang bekerja pada elemen fluida di sebelah silinder dalam kira-kira sama dengan: io i io yx RR R RR v       Torsi searah-jam total yang bekerja pada dinding silinder dalam karena viskositas fluida adalah:   ii io i iyx RLR RR R ART    2   Dalam kondisi steady, torsi searah-jam akibat viskositas T ini diimbangi oleh torsi selawan-jam yang diberikan Tlawan.   ii io i iyxlawan RLR RR R ART    2   Oleh karena itu, viskositas fluida adalah: LR RR T i io lawan 3 2    Contoh: Aliran Poiseuille Aliran Poiseuille Berkembang Penuh adalah aliran laminer Fluida Newtonian dalam keadaan steady dan inkompressibel dalam pipa bundar panjang tak-hingga berradius R = D/2. Dalam analisis, pengaruh gravitasi diabaikan dan gradien tekanan sepanjang aliran P/x adalah konstan. Langkah 1: Geometri, dimensi, dan sifat Lihat Gambar 126. Langkah 2: Anggapan dan Syarat Batas Anggapan 1) Aliran steady, /t = 0 2) Inkompresibel, Newtonian, laminer, sifat konstan 3) Pipa panjang tak-hingga dalam arah-x. 4) Aliran paralel ke arah-x saja, vr = nol. 5) Gradien tekanan konstan bekerja dalam arah-x 6) Medan kecepatan simetri-sumbu tanpa pusingan, v = 0 dan turunan parsial terhadap  adalah nol. 7) Efek gravitasi bisa diabaikan. Syarat batas: 1) Di dinding (r=R) fluida diam: vr=0, v =0, vz=0 2) Di tengah (r=0) tegangan geser (gradien kecepatan) nol.
  • 177.
    165 Gambar 126. Aliranfluida Newtonian, laminer, steady, dan inkompresibel dalam pipa Langkah 3: Penyederhanaan Neraca massa   0 0 ,0,0 11 ,0             x v v Dt D x x vv rr rv rbelinkompresi x simetriparalel r      Berarti aliran berkembang penuh, dan hanya merupakan fungsi r. Neraca momentum arah-x:                                                    0 2 2 ,0 2 2 2 0 0,0,0,0 11 x vv rr v r rrx p g x v v r v v r v v t v x simetri xx x x x simetri x paralel x r steady x         atau: x p r v r rr x         11 Dengan cara serupa, neraca momentum arah-r menghasilkan:  xpp r p    0 Artinya, p hanya bergantung pada x. Neraca momentum arah- adalah nol.
  • 178.
    166 Langkah 4: IntegrasiNeraca Massa:  rvv x v xx x    0 Integrasi Neraca momentum arah-x:   21 2 1 2 ln 4 2 11 CrC dx dpr v C dx dpr r v r dx dp r v r rr x x x             Langkah 5: Penerapan Syarat Batas 1) Di tengah (r=0) gradien vx=0 sehingga C1=0 2) Di dinding (r=R) vx=0 sehingga C1=(R2/4).(dp/dx) Dengan demikian maka:  22 4 1 Rr dx dp vx   Langkah-6, yaitu verifikasi, bisa anda lakukan sendiri.
  • 179.
    167 MODUL VIII. ALIRAN INVISID Deskripsi Semuafluida bersifat viskos, atau memiliki viskositas. Akibatnya, bilamana fluida bersentuhan dengan permukaan padat di atap kendaraan molekul-molekul fluida akan melekat pada permukaan padatan. Lekatnya fluida pada permukaan padat disebut kondisi nirgelincir (no-slip condition). Lapisan-lapisan fluida diatasnya akan terhambat, tetapi semakin jauh dari permukaan padat semakin kecil hambatannya. Daerah di mana aliran fluida berubah dari kecepatan arus-bebas sampai kecepatan nol pada dinding padat disebut sebagai Lapisan Batas (Boundary Layer). Di luar Lapisan Batas keadaan aliran fluida bisa dipandang ideal atau invisid (tanpa viskositas). Aliran di luar lapisan batas bersifat invisid dan akan diulas dalam modul ini, sedangkan aliran di dalam lapisan batas bersifat viskos dan akan diulas dalam modul berikutnya. Sasaran belajar: 12. Membedakan zona aliran viskos dan invisid 13. Mengungkapkan secara tertulis persamaan aliran fluida invisid 14. Mengenal hubungan persamaan aliran invisid dan persamaan Bernoulli Aliran invisid Aliran invisid adalah aliran fluida ideal, atau aliran fluida yang tidak memiliki viskositas ( = 0) sehingga tidak ada gaya viskos atau gaya gesekan fluida. Aliran fluida riil dengan viskositas   0 tidaklah invisid. Namun, pengaruh viskositas terutama terasa di daerah dekat dinding dan tidak begitu terasa di daerah yang jauh dari dinding. sehingga watak alirannya sama seperti aliran tanpa viskositas (aliran invisid). Ini bisa dipahami karena pengaruh viskositas sebagaimana diwakili oleh gaya viskos adalah fungsi dari viskositas dan gradien kecepatan. Nilai gradien kecepatan besar di dekat dinding, dan kecil atau bahkan nol di jauh dinding. Oleh karena itu, pengaruh viskositas di jauh dinding praktis nihil, bukan karena viskositasnya nol melainkan karena gradien kecepatannya nol (berarti vortisitasnya juga nol atau irrotasional). Secara matematik, apakah gaya viskos bernilai nol  karena viskositas nol, atau  karena gradien kecepatan nol tidak ada bedanya. Oleh karena itu, aliran fluida riil (dengan viskositas   0) di daerah jauh dari dinding bisa digambarkan wataknya sama dengan aliran invisid. Zona aliran Kenyataan inilah yang membawa Ludwig Prandtl pada konsep lapisan batas. Dalam konsep ini, aliran dibagi menjadi dua zona,
  • 180.
    168 yaitu: 1) zona lapisanbatas (boundary layer) berupa lapisan tipis fluida di dekat dinding, yang semakin tipis sejalan dengan semakin besarnya bilangan Reynolds, dan 2) zona invisid di luar lapisan batas. Dalam zona invisid, pengaruh viskositas praktis nihil karena vortisitas aliran praktis nol, dan persamaan diferensial aliran menjadi sangat sederhana dan bisa diselesaikan secara analitik. Subjek aliran invisid memiliki penerapan khusus dalam aerodinamika dan hidrodinamika dan penerapan umum dalam aliran di sekitar benda (external flow). Aliran invisid biasa disebut juga aliran potensial karena persamaan atur medan kecepatannya v merupakan fungsi dari potensial kecepatan . A. Persamaan Aliran Invisid (Potensial) Persamaan aliran invisid steady dan inkompresibel Untuk aliran invisid dan aliran irrotasional steady dan inkompresibel, persamaan kontinuitas atau neraca massanya adalah: 0 v dan persamaan neraca momentumnya adalah: pg Dt Dv   Persamaan terakhir biasa disebut juga sebagai persamaan Euler. Persamaan kontinuitas, seperti telah ditunjukkan dalam modul sebelumnya, bisa diubah bentuknya menjadi 2 fungsi baru dengan hanya satu variabel dependen, yaitu fungsi arus (stream function, ) dan fungsi potensial kecepatan (velocity potential function, ) yang saling tegak lurus satu sama lain. Dari sini persamaan kontinuitas bisa ditulis menjadi: 02   dengan x vdan y v yx        dan 02   dengan y vdan x v yx        yang mudah penyelesaiannya. Persamaan Euler bisa disederhanakan dengan menggunakan identitas vektor berikut:    vvv t v Dt Dv     2 2 1
  • 181.
    169 yang dalam kasussteady dan irrotasional di sini menjadi:       2 2 1 0 2 2 1 0 vvvv t v Dt Dv      Penyulihan ke dalam persamaan Euler memberikan:   pgv   2 2 1 dan karena nilai percepatan gravitasi adalah –g dan g adalah gradien dari gy maka persamaan bisa ditulis:       02 2 1 2 2 1   gyvp pgyv   atau: Cgyvp   2 2 1 yang tidak lain adalah persamaan Bernoulli. Rekapitulasi Dengan demikian, maka penyelesaian aliran invisid (atau irrotasional) steady inkompresibel bisa diperoleh dengan menyelesaikan:  persamaan fungsi arus atau fungsi potensial kecepatan untuk mendapatkan medan kecepatan aliran, dan  persamaan Bernoulli untuk mendapatkan medan tekanan aliran. B. SolusiAnalitik Contoh Berikut akan diperlihatkan bagaimana medan aliran bisa diperoleh untuk aliran di sekitar silinder diam sepanjang tak-hingga (Gambar 127). Persamaan neraca massa sebagai fungsi arus dalam koordinat silinder adalah: 02   atau 0 11 2 2 22 2            rrrr dengan r vdan r vr           1 Persamaan bisa diselesaikan dengan syarat batas berikut: 1) Lingkaran r = a adalah streamline. Kecepatan tegak lurus streamline adalah nol sehingga di r = a berlaku 0rv dan   0  . 2) Garis  = 0, berdasarkan sifat simetri aliran, jugalah streamline. Dengan demikian, di  = 0 berlaku 0v dan
  • 182.
    170   0r . 3) Kecepatan arus bebas (di lokasi jauh dari silinder di mana medan aliran praktis tidak terpengaruh oleh keberadaan silinder), atau secara matematik di r = , sudut berapapun, nilai v = konstan.  r x y v r=a Gambar 127. Aliran seragam di sekitar silinder tak-hingga berjari-jari a Solusi: Pemisahan Variabel Persamaan diferensial fungsi arus bisa diselesaikan secara analitik dengan menerapkan metode pemisahan variabel. Di sini solusi dianggap merupakan gabungan dari 2 fungsi terpisah yang masing- masing bergantung hanya pada satu variabel bebas, radial saja dan angular saja. Katakanlah solusinya adalah:       GrFr , Penyulihan ungkapan ini ke dalam persamaan diferensial memberikan:             22          G G rF rF r rF rF r Karena sisi kiri fungsi r saja dan sisi kanan fungsi  saja, maka supaya penyelesaian ada untuk semua r dan  maka kedua sisi haruslah konstan, yaitu sebesar katakanlah 2. Dari sini persamaan diferensial bisa diurai menjadi 2 persamaan dengan variabel bebas yang terpisah:     02   GG sebuah persamaan diferensial linier orde-2 sederhana, dan       022  rFrFrrFr  sebuah persamaan diferensial Euler. Solusinya keduanya adalah:              DrCrrF BAG cossin
  • 183.
    171 Syarat batas pertamadi r = a, yaitu   0  memberikan:            2 0 0.cossin CaD DaCaBA         sehingga                   r a rCBAr 2 .cossin, Syarat batas kedua di  = 0, yaitu   0 r mengharuskan B = 0, karena sin() = 0 sehingga:                r a rCAr 2 sin, Syarat batas ketiga di r = , sudut berapapun, mensyaratkan nilai v = konstan atau   222 lim    vvvr r  atau     2 2 1 2 12 2 1 2 12222 sincoslim                            v r a r r a rCA r        Limit ini berhingga hanya jika  = 1 sehingga dengan demikian maka AC = v dan fungsi arus menjadi:                     2 22 1sinsin, r a rv r a rvr  Dari sini maka bisa ditentukan komponen medan kecepatan aliran sbb:              2 2 1cos 1 r a v r vr    dan              2 2 1sin r a v r v    Medan kecepatan alirannya adalah:    evevrv rr , Titik stagnasi Di permukaan silinder (r = a), nilai komponen kecepatannya adalah:   sin2 0   vv vr Di permukaan silinder besarnya kecepatan radial adalah nol
  • 184.
    172 permukaan adalah sebuahstreamline. Besarnya kecepatan di titik permukaan pada sudut  = 180o (di depan) dan  = 0o (di belakang) adalah nol. Titik-titik ini disebut titik stagnasi. Medan tekanan Medan tekanan aliran selanjutnya bisa dihitung menggunakan persamaan Bernoulli: Cgyvp   2 2 1 Jika efek ketinggian bisa diabaikan, seperti misalnya dalam kasus aliran udara di sekitar sayap pesawat, maka persamaan menjadi: Cvp  2 2 1  Pada arus bebas, tekanan dan kecepatannya adalah p dan v sehingga: 0 2 2 12 2 1 pvpvp    berarti di mana-mana dalam medan aliran invisid (juga aliran irrotasional), tekanan stagnasi p0 adalah konstan. Di permukaan silinder, di mana 0rv dan   sin2  vv , tekanan bisa ditentukan sbb:         22 0 2 2 1 0 2 2 1 0 sin2 sin20      vp vp vpp atau bisa juga ditulis:    22 2 1 sin41  vpp sehingga koefisien tekanannya (Cp) menjadi:     2 2 2 1 sin41     v pp Cp Lihat Gambar 128.
  • 185.
    173 Gambar 128. Medantekanan aliran invisid di permukaan silinder tak-hingga C. Aliran Invisid 2-D Aliran invisid 2D Persamaan Laplacian fungsi arus  dan potensial kecepatan  bersifat linier. Artinya, berbagai macam solusi bisa digabungkan menjadi solusi lainnya. Misalkan 1 dan 2 adalah solusi terpisah: 01 2   dan 02 2   maka jumlahannya adalah solusi juga:   021 2   Dengan menggunakan prinsip superposisi ini maka sejumlah persoalan aliran invisid/potensial yang menarik bisa diperoleh dari tiga macam solusi dasar, yaitu: 1) Arus seragam 2) Sumber atau isapan arus 3) Vortex Solusi Arus Seragam Untuk arus seragam dengan kecepatan konstan U searah sumbu-x: yx v xy Uv y x                0 Integrasinya menghasilkan: -4 -3 -2 -1 0 1 2 0306090120150180 Sudut KoefisienTekanan,Cp
  • 186.
    174 2 1 CxU CyU       Karena kecepatan adalahdiferensial dari kedua fungsi ini dan tekanan diperoleh berdasarkan kecepatan, maka berapapun nilai C1 dan C2 tidak akan berpengaruh terhadap kecepatan dan tekanan dalam aliran. Oleh karena itu kedua konstanta bisa diambil nol, sehingga hasilnya: xU yU       Dalam koordinat polar, persamaan ini menjadi:      cos sin rU rU     Secara umum, arus seragam bisa membentuk sudut  sembarang terhadap sumbu-x sehingga:     yx Uv xy Uv y x                   sin cos Integrasinya akan menghasilkan:            sincos sincos yxU xyU     Persamaan ini berguna dalam persoalan sudut terbang (angle of attack) pada airfoil. Solusi sumber atau isapan arus garis Arus konstan bisa dibayangkan menyebar dari (atau mengumpul ke) garis (bukan titik) di pusat radial sepasang plat berjarak tetap. Dengan demikian, kecepatan radial pada posisi r sembarang berbanding terbalik dengan r dan kecepatan angular nol, atau:                   rr v rrr m vr 1 0 1 Garis sumber/isapan adalah adalah singularitas dengan kecepatan radial tak-hingga, dan  serta  tak terdefinisi. Dengan m adalah suatu konstanta yang jika nilainya positif menggambarkan kekuatan sumber arus, dan jika nilainya negatif menggambarkan kekuatan isapan arus. Integrasinya memberikan:  rm m ln    Dalam koordinat polar, persamaan ini menjadi:
  • 187.
    175  22 1 ln tan yxm x y m            Solusivortex garis Jika kedudukan vr dan v dalam sumber dan isapan garis dipertukarkan maka diperoleh vortex garis:                   rrr K v rr vr 1 1 0 Integrasinya menghasilkan:     K rK   ln Kekuatan vortex K di sini mempunyai dimensi yang sama dengan kekuatan sumber atau isapan m, yaitu kecepatan dikali panjang. Aliran vortex garis bersifat irrotasional di mana-mana kecuali di pusat di mana vortisitasnya tak-hingga. Artinya, sirkulasi fluida di sekitar pusat vortex tidak nihil. Sirkulasi Sirkulasi didefinisikan sebagai integral garis selawan-jam dari busur sepanjang ds, mengitari kurva tertutup C, dikalikan dengan komponen kecepatan yang menyinggung kurva tersebut.    C zyx C dzvdyvdxvdsv D. SolusiNumerik Analisis Numerik Penyelesaian analitik seperti yang telah dilakukan pada alinea sebelumnya bisa mudah dilakukan hanya bila geometri persoalan relatif sederhana. Jika geometri persoalan mulai menjadi rumit maka penyelesaian secara analitik akan menjadi sulit atau bahkan tidak mungkin didapatkan. Untungnya, sejalan dengan keampuhan komputer, persoalan dengan geometri serumit apapun bisa diselesaikan secara numerik. Dalam analisis numerik, persamaan diferensial dalam domain kontinum diubah menjadi persamaan aljabar dalam domain diskrit. Proses pengubahan ini, biasa disebut diskritisasi, bisa ditempuh dengan berbagai macam metode, antara lain, finite difference, finite volume, finite element, boundary element, dlsb. Di sini hanya akan diperlihatkan contoh penerapan metode beda hingga (finite difference) dalam aliran invisid/potensial 2D (dua dimensi). Persamaan Laplace fungsi arus dalam domain kontinum:
  • 188.
    176 02 2 2 2 2        yx   Suku-suku diferensial padadasarnya adalah fungsi limit berikut:  2 ,,, 0 ,,,, 0 ,, 02 2 2 lim lim lim x x xx x xx x yxxyxyxx x yxxyxyxyxx x yxyxx x                              dan  2 ,,, 02 2 2 lim yy yyxyxyyx x         Sebagai pendekatan, alih-alih kecil tak-berhingga (mendekati nol), x dan y diambil kecil berhingga sehingga diperoleh ungkapan:  2 ,,, 2 2 2 xx yxxyxyxx        dan  2 ,,, 2 2 2 yy yyxyxyyx        Dengan demikian persamaan fungsi arus bisa didekati dengan ungkapan:     0 22 2 ,,, 2 ,,,        yx yyxyxyyxyxxyxyxx  Dengan  = (x/y), persamaan ini bisa disusun menjadi ungkapan untuk menghitung  di posisi (x,y) berikut:    2 ,, 2 ,, , 12        yyxyyxyxxyxx yx Jika diambil  = 1, berarti x = y, maka persamaan menjadi sangat sederhana: 4 ,,,, , yyxyyxyxxyxx yx      Dalam ungkapan sederhana, persamaan ini mengatakan bahwa nilai fungsi arus di suatu lokasi adalah rata-rata dari nilai fungsi arus
  • 189.
    177 tetangganya. 2,4m 3,6m 1m 1m 10m/s 5m/s Gambar 129.Aliran invisid melalui saluran membesar mendadak Contoh Fluida mengalir melalui saluran membesar mendadak (Gambar 129). Kecepatan masuk seragam 10 m/s, dan kecepatan keluar seragam 5 m/s. Lebar saluran masuk 1 m, dan saluran keluar 2 m. Pembesaran saluran terjadi pada lokasi 1,2 m dari hulu. Berikut akan ditentukan medan aliran menggunakan analisis numerik. Dalam analisis numerik ini diambil ukuran sel komputasi yang lebarnya sama ke arah x dan y, yaitu sebesar 0,2 m seperti tampak pada gambar. Nilai fungsi arus  di dalam saluran, yaitu di 123 titik dalam Gambar 130, bisa dihitung serentak dengan menggunakan persamaan: 4 ,,,, , yyxyyxyxxyxx yx      jika keadaan  di batas-batas saluran persoalan diketahui. Untuk enaknya, di dinding bawah nilai  diambil nol. Karena selisih dua fungsi arus sama dengan debit, sedangkan debit masuknya per satuan kedalaman adalah (10 m/s)(1 m) = 10 m2/s, maka nilai  di dinding atas adalah 10 m2/s. Karena kecepatan masuk adalah seragam, maka nilai fungsi arus di situ harus beragam secara linier menurut posisi ketinggiannya:   s m m y y 2 10 1 
  • 190.
    178 sehingga: Di y =1 m   = 10 m2/s Di y = 0,8 m   = 8 m2/s Di y = 0,6 m   = 6 m2/s Di y = 0,4 m   = 4 m2/s Di y = 0,2 m   = 2 m2/s Di y = 0   = 0 m2/s Begitu pula di saluran keluar, fungsi arus juga beragam secara linier menurut posisi ketinggian:   s m m y y 2 10 2  dengan y = 0 di dinding bawah. Lihat Gambar 130. Hasil perhitungan diperlihatkan dalam Gambar 131-Gambar 133.  = 10m2 /s  = 0m2 /s  = 0m2 /s  = 0  = 2  = 4  = 6  = 8  = 10  = 0  = 2  = 4  = 6  = 8  = 10 Gambar 130. Syarat batas persoalan aliran invisid dalam saluran membesar
  • 191.
    179 Gambar 131. Konturstreamline Gambar 132. Kontur kecepatan
  • 192.
    180 Gambar 133. Konturtekanan (10 kPa) dengan tekanan input 100 kPa
  • 193.
    181 MODUL IX. ALIRAN VISKOS Deskripsi Semuafluida bersifat viskos, atau memiliki viskositas. Akibatnya, bilamana fluida bersentuhan dengan permukaan padat di atap kendaraan molekul-molekul fluida akan melekat pada permukaan padatan. Lekatnya fluida pada permukaan padat disebut kondisi nirgelincir (no-slip condition). Lapisan-lapisan fluida diatasnya akan terhambat, tetapi semakin jauh dari permukaan padat semakin kecil hambatannya. Daerah di mana aliran fluida berubah dari kecepatan arus-bebas sampai kecepatan nol pada dinding padat disebut sebagai Lapisan Batas (Boundary Layer). Di luar Lapisan Batas keadaan aliran fluida bisa dipandang ideal atau invisid (tanpa viskositas) sehingga dimungkinkan analisis analitik dan numerik seperti telah ditunjukkan dalam modul sebelumnya. Sasaran belajar: 1. Membedakan aliran laminer dan turbulen 2. Menjelaskan efek viskositas pada sifat aliran sewaktu kontak dengan permukaan padat 3. Menjelaskan konsep lapisan batas 4. Mengenal penyelesaian Blasius dan metode analisis integral momentum von Karman A. Aliran Laminer & Turbulen Macam Aliran Viskos Berdasarkan pengamatan sederhana disadari bahwa ada 2 macam beda aliran viskos. Asap yang mengepul dari sebatang rokok awalnya memperlihatkan pola aliran halus teratur, tetapi kemudian pola alirannya berubah sama sekali menjadi sangat tak teratur dan tak stabil. Watak serupa juga teramati pada air yang mengalir melalui kran. Aliran dengan pola yang halus teratur disebut laminer, sedangkan yang tak teratur disebut turbulen. Percobaan Reynolds Walaupun gejala laminer dan turbulen telah disadari sebelumnya, namun Reynoldslah yang pertama kali menggambarkan fenomena ini secara kuantitatif dalam tahun 1883. Dalam percobaannya, air dialirkan melalui pipa tembus pandang. Ke dalam air disuntikkan zat warna di bagian hulu untuk membekaskan jejak aliran. Dari percobaan, Reynolds menemukan bahwa apakah jejak aliran halus teratur atau tidak bergantung selain pada kecepatan juga pada diameter pipa, densitas fluida, dan viskositas fluida. Keempat variabel ini digabung dalam satu parameter tak berdimensi:  vD Re yang disebut bilangan Reynolds sebagai penghormatan kepada
  • 194.
    182 Osborne Reynolds dansumbangannya dalam mekanika fluida. Untuk aliran dalam pipa ditemukan bahwa pada Re kurang dari 2300, aliran bersifat laminer. Pada Re lebih dari 2300, gangguan sedikit saja pada aliran akan menyebabkan transisi dari laminer ke turbulen, sedangkan pada Re kurang dari 2300 aliran kebal terhadap gangguan dan aliran tetap laminer. Dengan demikian, maka bilangan Re kritis aliran dalam pipa adalah 2300. B. Lapisan Batas Konsep Lapisan Batas Aliran laminer kebal terhadap gangguan (stabil) karena viskositas memainkan peranan dominan dalam badan aliran. Sebaliknya, aliran turbulen tidak stabil karena peran viskositas sebatas di daerah dekat dinding saja. Di luar itu, peran inersia mendominasi watak aliran. Semakin besar Re semakin tipis daerah pengaruh viskositas. Kenyataan ini menuntun Ludwig Prandtl pada konsep lapisan batas (boundary layer) pada tahun 1904. Menurut hipotesis Prandtl, efek gesekan fluida pada bilangan Reynolds tinggi terbatas hanya pada lapisan tipis dekat batas benda (sehingga disebut lapisan batas), dan tidak ada perubahan tekanan yang berarti selintang lapisan batas. Artinya, tekanan di dalam lapisan batas sama dengan tekanan di luar lapisan batas (daerah aliran invisid). Teori Prandtl memainkan peranan penting karena penyederhanaan yang dibuatnya memungkinkan analisis aliran viskos secara analitik. Tekanan, misalnya, bisa diperoleh dari eksperimen atau teori aliran invisid, sehingga yang belum diketahui tinggal komponen kecepatannya saja. (a) Laminer
  • 195.
    183 (b) Turbulen Gambar 134.Visualisasi lapisan batas laminer (a) dan turbulen (b) Lapisan batas aliran fluida melalui sebuat lempeng datar bisa dilihat pada Gambar 134. Pada gambar, gelembung-gelembung hidrogen dilepaskan secara berkala dan hanyut terbawa aliran fluida. Dari bentuk jejak alirannya tampak bahwa laju fluida di dekat lempeng, yaitu dalam lapisan batas, lebih rendah daripada dalam arus bebas (freestream). Olakan (eddies) dalam aliran turbulen meningkatkan percampuran fluida yang memang sebelumnya sudah ada karena viskositas. Akibatnya, lapisan batas turbulen umumnya lebih tebal daripada lapisan batas laminer. Ini bisa dilihat dalam contoh di atas yang melukiskan aliran melalui lempeng datar. Pentingnya Lapisan Batas Viskositas menyebabkan lekatnya molekul fluida pada dinding dan akibatnya molekul fluida di dekat permukaan padat mengalami hambatan – lajunya melambat. Sejalan dengan ini, permukaan padatan akan mengalami gaya hambat gesekan (friction drag force) searah aliran… Gaya hambat inilah yang membuat pemahaman lapisan batas menjadi demikian penting! Lapisan batas menentukan sifat-sifat hambatan aliran fluida dan aliran panas benda dalam aliran: 1) lebih banyak bahan bakar dikonsumsi oleh pesawat atau kapal karena adanya lapisan batas; 2) laju aliran panas ke komponen mesin naik karena lapisan batas dengan potensi akibat berupa kerusakan atau kegagalan komponen; 3) jarak tempuh sebuah bola golf terhambat oleh adanya lapisan batas.
  • 196.
    184 C. Persamaan LapisanBatas Persamaan BL Dalam pasal ini akan diturunkan persamaan lapisan batas (Boundary Layer – BL) dengan analisis orde nilai (order of magnitude analysis). Dari pasal sebelumnya sudah diketahui bahwa Lapisan Batas membantu, misalnya, penentuan hambatan (drag) dari benda di dalam aliran. Ini memerlukan penaksiran pembentukan lapisan batas pada, misalnya, lambung kapal. Untuk melakukan ini diperlukan persamaan yang melukiskan aliran dalam lapisan batas. Persamaan ini dikenal sebagai persamaan lapisan batas. Sudah tentu, pada prinsipnya, aliran di mana saja dalam badan fluida bisa digambarkan oleh persamaan-persamaan aliran yang diturunkan berdasarkan hukum-hukum dasar fisika, yaitu persamaan kontinuitas, momentum atau persamaan N-S. Dengan kata lain, apa yang dikatakan sebagai persamaan BL adalah persamaan N-S dalam bentuk khusus (yang lebih sederhana) untuk fenomena aliran di dekat batas saluran. Persamaan BL 2-D Untuk lebih mudah dan jelasnya di sini akan ditinjau aliran 2-D inkompresibel. Persamaan Navier-Stokes (NS) untuk aliran 2-D tanpampat (incompressible) adalah sbb: 1) Kontinuitas: 𝜕𝑢 𝜕𝑥 + 𝜕𝑣 𝜕𝑦 = 0 2) Momentum-x: 𝜌 𝜕𝑢 𝜕𝑡 + 𝜌𝑢 𝜕𝑢 𝜕𝑥 + 𝜌𝑣 𝜕𝑢 𝜕𝑦 = − 𝜕𝑝 𝜕𝑥 + 𝜇 ( 𝜕2 𝑢 𝜕𝑥2 + 𝜕2 𝑢 𝜕𝑦2 ) atau 𝜕𝑢 𝜕𝑡 + 𝑢 𝜕𝑢 𝜕𝑥 + 𝑣 𝜕𝑢 𝜕𝑦 = − 1 𝜌 𝜕𝑝 𝜕𝑥 + 𝜐 ( 𝜕2 𝑢 𝜕𝑥2 + 𝜕2 𝑢 𝜕𝑦2 ) 3) Momentum-y: 𝜌 𝜕𝑣 𝜕𝑡 + 𝜌𝑢 𝜕𝑣 𝜕𝑥 + 𝜌𝑣 𝜕𝑣 𝜕𝑦 = − 𝜕𝑝 𝜕𝑥 + 𝜇 ( 𝜕2 𝑣 𝜕𝑥2 + 𝜕2 𝑣 𝜕𝑦2 ) atau 𝜕𝑣 𝜕𝑡 + 𝑢 𝜕𝑣 𝜕𝑥 + 𝑣 𝜕𝑣 𝜕𝑦 = − 1 𝜌 𝜕𝑝 𝜕𝑥 + 𝜐 ( 𝜕2 𝑣 𝜕𝑥2 + 𝜕2 𝑣 𝜕𝑦2 ) dengan 𝜐 = ( 𝜇 𝜌⁄ ) adalah viskositas kinematik. Persamaan-persamaan ini tampak sangar. Persamaan Navier-Stokes ini mewakili gerak fluida viskos secara eksak. Pada Lapisan Batas, andil sejumlah suku-suku persamaan NS bernilai kecil dan pengaruhnya lemah (suku lemah) dibandingkan suku-suku dominan. Ini mudah dipahami dengan membayangkan gabungan bobot seekor gajah dan seekor semut di badannya. Bobot seekor semut RELATIF terhadap gajah tidaklah berarti dan bisa diabaikan tanpa mengurangi ketelitian. Dengan demikian, persamaan NS bisa
  • 197.
    185 diremas menjadi lebihsederhana sehingga menjadi lebih ramah. Analisis orde nilai Untuk bisa mengabaikan suku-suku lemah dalam persamaan Navier- Stokes diperlukan pengetahuan tentang ukuran nilai tiap-tiap suku dalam kaitannya dengan yang lain. Ini disebut “analisis orde nilai”. Akan tetapi, ada satu masalah dengan persamaan dalam bentuknya kini. Setiap variabel mempunyai dimensi berbeda (yaitu kecepatan, panjang, waktu dll.) Bagaimana bisa dilakukan pembandingan dari nilai atau andil tiap-tiap suku? Mudah, yaitu dengan cara menirdimensikan serta membakukan tiap- tiap variabel sehingga skala nilai minimun dan maksimunya berada dalam batas-batas yang sama (yaitu antara 0 dan 1). Pembakuan nilai suku- suku Untuk membakukan nilai suku-suku maka diambil patokan nilai untuk sejumlah variabel dasar yang mewakili fenomena aliran. Patokan-patokan nilai tersebut adalah sbb: 1) untuk panjang adalah L (skala panjang geometri plat), 2) untuk kecepatan adalah Ue (skala kecepatan arus bebas), dan 3) untuk waktu adalah L/Ue (skala waktu arus bebas menempuh skala panjang geometri). Gambar 135 merangkum pembakuan atau penirdimensian variabel kecepatan dan posisi, dan Gambar 136 merangkum pembakuan atau penirdimensian variabel waktu, viskositas dan tekanan. Perlu diperhatikan cara penulisannya, variabel nir-dimensi dituliskan dengan lambang yang sama, tetapi dengan tambahan tanda aksen. Gambar 135. Normalisasi kecepatan arah x (u) dan y (v) dalam BL setebal  terhadap kecepatan aliran bebas (Ue) dan normalisasi jarak arah x dan y terhadap panjang plat (L)
  • 198.
    186 Gambar 136. Normalisasitekanan terhadap tekanan kinetik arus bebas, waktu terhadap waktu tempuh arus bebas sejarak plat L, dan viskositas kinematik terhadap arus bebas dikali panjak plat L Variabel nir- dimensi Dari apa yang dilukiskan dalam Gambar 135 dan Gambar 136 akhirnya diperoleh variabel-variabel nir-dimensi berikut: 1) Ruang : L x x ' dan L y y ' 2) Waktu : L tU UL t t e e ' 3) Kecepatan : eU u u ' dan eU v v ' 4) Viskositas kinematik : Re 1 '  LUe   5) Tekanan : 2 2 1 ' eU p p   Suku-suku nir-dimensi selanjutnya bisa disulihkan ke dalam persamaan Navier-Stokes sehingga diperoleh bentuk nir-dimensinya sebagai berikut: 1) Kontinuitas: 0 ' ' ' '       y v x u 2) Momentum-x:                        2 2 2 2 ' ' ' ' Re 1 ' ' ' ' ' ' ' ' ' ' y u x u x p y u v x u u t u 3) Momentum-y:                        2 2 2 2 ' ' ' ' Re 1 ' ' ' ' ' ' ' ' ' ' y v x v y p y v v x v u t v Dari sini tampak bahwa persamaan NS nir-dimensi tidak banyak
  • 199.
    187 berbeda bentuknya daripersamaan NS berdimensi. Di sini juga telah diperkenalkan sebuah parameter nir-dimensi yang disebut bilangan Reynold (Re = UeL/). Re merupakan ukuran relatif efek konveksi terhadap efek difusi dalam aliran. 1) Pada Re besar, gesekan aliran tidak menjadi penting (kecuali di dekat permukaan padatan di mana syarat nirgelincir memainkan peranan penting). 2) Pada Re kecil, gesekan aliran memainkan peranan penting. Berikut adalah sejumlah gambaran nilai bilangan Reynolds: 1) Butir air jatuh dalam udara, Re = 0,64 2) Bola golf melayang cepat, Re = 2105 3) Hiu pada kecepatan maksimum, Re = 8106 4) Boeing 747 menjelajah, Re = 7107 Persamaan NS sekarang dalam bentuk nir-dimensi yang memungkinkan pembandingan langsung ukuran nilai tiap-tiap sukunya satu sama lain. Berikut akan ditaksir nilai relatif tiap-tiap suku dalam persamaan tersebut untuk melihat mana saja yang penting dan kurang penting. Ini disebut analisis orde nilai – yang besar dipertahankan, yang kecil diabaikan. Analisis orde nilai pers. kontinuitas Pertama kita tinjau orde nilai suku-suku dalam persamaan kontinuitas: 0 ' ' ' '       y v x u 1) Orde nilai kecepatan u’ adalah   eUunilaiorde atau 1ee UU . Dalam lapisan batas, nilai u terentang dari 0 di permukaan plat (syarat nirgelincir) sampai maksimum Ue di tepi lapisan batas. Karena nilai u paling tinggi adalah sebesar Ue, maka orde nilai u adalah Ue. 2) Orde nilai (u’/x’) adalah     1 0 0 'nilaiorde 'nilaiorde ' '          LL UU x u x u ee . 3) Orde nilai (v’/y’) adalah 1 juga sebab akibat dari 0 ' ' ' '       y v x u adalah orde nilai (v’/y’) dan (u’/x’) sama besarnya. Perhatikan, di sini yang penting adalah orde nilai bukan nilainya itu sendiri. Contoh, andaikan nilai (u’/x’) = 11 = 1,1101/s maka nilai (v’/y’) = 11/s = 1,1101/s. Di sini, nilai keduanya berbeda karena berlawanan tanda, tetapi orde nilainya sama-sama 101. 4) Orde nilai kecepatan v’ tidak bisa ditentukan langsung seperti
  • 200.
    188 u’. Namun telahdiperoleh bahwa (v’/y’) = 1. Dengan tebal lapisan batas  maka     1 ' ' /0 /0 ' '        v L Uv y v e sehingga orde nilai v’ adalah ’. Analisis orde nilai pers. Momentum-x Kedua, kita tinjau orde nilai suku-suku dalam persamaan momentum- x:                        2 2 2 2 ' ' ' ' Re 1 ' ' ' ' ' ' ' ' ' ' y u x u x p y u v x u u t u 1) Orde nilai       1 0 0 nilaiorde nilaiorde          ee ee ULUL UU t u t u 2) Orde nilai suku konveksi u’(u’/x’) adalah 11 = 1. 3) Orde nilai suku konveksi     1 ' 1 ' 0 0 ' ' ' '           L UU y u v ee . 4) Orde nilai suku difusi   1 01 01 'nilaiorde ''nilaiorde ' ' 2 2          x xu x u 5) Orde nilai suku difusi     22 2 ' 1 0' 0'1 'nilaiorde ''nilaiorde ' '            y yu y u 6) Orde nilai suku gradien tekanan ditentukan dengan cara berikut. Di tepi luar lapisan batas, arus mengalir bebas dari pengaruh viskositas, sehingga andil gaya viskos dalam persamaan momentum menjadi tidak signifikan atau       ' ' ' ' ' ' ' ' ' ' 11111 x p y u v x u u t u             . Karena orde sisi kiri harus harus sama dengan sisi kanan, maka orde nilai x p   pastilah 1 juga. 7) Orde nilai (1/Re) ditentukan dengan cara berikut. Jika gradien tekanan tidak ada, maka        2 11 2 2 2 2 11111 Re 1                        y u x u y u x u u t u . Karena orde sisi kiri
  • 201.
    189 = orde sisikanan persamaan, maka orde            2 2 2 2 Re 1 y u x u adalah 1. Jadi, [orde (1/Re)](1+1/’2) = 1 atau [orde (1/Re)] = ’2 sebab nilai ’2 << 1. Analisis orde nilai pers. Momentum-y Terakhir, kita tinjau orde nilai suku-suku dalam persamaan momentum-y:                        2 2 2 2 ' ' ' ' Re 1 ' ' ' ' ' ' ' ' ' ' y v x v y p y v v x v u t v 1) Orde nilai (v’/t’) adalah       ' 1 ' 0 0 nilaiorde nilaiorde          v ULUL Uv t v t v ee e 2) Orde nilai suku konveksi ' 1 ' 1 ' ' '      x v u 3) Orde nilai suku konveksi '1' ' ' '     y v v 4) Orde nilai suku difusi   ' 01 0' 'nilaiorde ''nilaiorde ' ' 2 2            x xv x v 5) Orde nilai suku difusi   ' 1 0' 01 'nilaiorde ''nilaiorde ' ' 2 2           y yv y v 6) Orde nilai suku gradien tekanan ditentukan dengan cara berikut. Di tepi luar lapisan batas, arus mengalir bebas dari pengaruh viskositas, sehingga andil gaya viskos dalam persamaan momentum menjadi tidak signifikan atau       ' ' ' ' ' ' ' ' ' ' ''' y p y u v x v u t v             . Karena orde sisi kiri harus harus sama dengan sisi kanan, maka orde nilai ' ' y p   pastilah ’ juga. 7) Orde nilai (1/Re) telah ditentukan sebesar ’2. Orde nilai suku-suku pers. N-S Berikut bisa dilihat persamaan nir-dimensi N-S dengan orde nilai dituliskan dalam tanda kurung di atas tiap-tiap suku: 1) kontinuitas:     0 ' ' ' ' 11       y v x u 2) momentum-x:            2 2 11 2 2 2 2 1' 1'111 ' ' ' ' Re 1 ' ' ' ' ' ' ' ' ' '                          y u x u x p y u v x u u t u
  • 202.
    190 3) momentum-y:                                    1 2 2 2 2 11 ' ' ' ' Re 1 ' ' ' ' ' ' ' ' ' ' 2 y v x v y p y v v x v u t v Nilai ’ biasanya kurang dari 0,01. Suku-suku dengan orde sebesar ’ atau kurang bisa diabaikan relatif terhadap suku-suku berorde 1. Untuk lapisan batas plat pada Re = 7 juta: 93 62 3 10 10 10          Jadi, dibandingan dengan suku-suku berorde 1, suku-suku berorde ’ sungguh seumpama semut disanding gajah, dan suku-suku ’ 2 dan ’ 3 bahkan lebih kecil lagi. Dengan demikian, maka: 1) Persamaan kontinuitas bertahan. 2) Persamaan momentum-x berkurang satu suku yaitu suku difusi arah-x. 3) Persamaan momentum-y bisa dihapus sama sekali. Apa yang tinggal adalah persamaan lapisan batas yang terkenal itu: 1) Kontinuitas : 0 ' ' ' '       y v x u 2) Momentum-x : 2 2 ' ' Re 1 ' ' ' ' ' ' ' ' ' ' y u x p y u v x u u t u               D. Penyelesaian Blasius Metode eksak Persamaan ini pertama kali diselesaikan oleh Blasius5 pada kasus: 1) aliran laminer, 2) paralel di atas plat datar, dan 3) gradien tekanan nol. Di sini, uraian rinci analisis Blasius tidak disertakan, tetapi hanya diungkapkan hasilnya saja, yaitu: 1) Ketebalan lapisan batas () pada posisi x dari hulu plat adalah . 2) Gradien kecepatan di permukaan plat adalah 5 H. Blasius, Grenzshichten in Flüssighkeiten mit kleiner Reibung, Z. Math. U. Phys. Sci., 1, 1908. xe xUx Re 55    
  • 203.
    191 . 3) Tegangan geserpada permukaan plat adalah . 4) Koefisien gesekan permukaan lokal (coefficient of local skin friction) bisa ditentukan sebagai perbandingan tegangan geser dan tekanan kinetik aliran bebas: 2 2 1 e fx U C    atau . 5) Koefisien gesekan permukaan total pada plat selebar W dan sepanjang L bisa ditentukan sebagai perbandingan gaya gesek pada plat per satuan luas plat dan tekanan kinetik aliran bebas: atau atau atau . Secara visual, Gambar 137 memperlihatkan hubungan tebal lapisan batas per jarak x dari hulu plat per x (/x) dengan nilai bilangan Re lokal (Rex). Dari sini tampak bahwa semakin besar Rex semakin tipis ketebalan lapisan batas. Gambar 138 memperlihatkan dengan lebih jelas pengaruh kecepatan aliran terhadap ketebalan lapisan batas. Dari gambar tampak bahwa semakin tinggi kecepatan, semakin tipis lapisan batas. x U U y u e e y       332,0 0 x U U y u e e y         332,0 0 xee e e fx xUU x U U C Re 664,0 664,0 332,0 2 2 1                    Lx x fx e Lx x efx fL dxC LWLU WdxUC C 0 2 2 1 0 2 2 1 1   dx xUL C Lx x e fL     0 664,0 1     fx Lx x e fL Cx UL C .22 664,0 0      L fLC Re 328,1 
  • 204.
    192 Gambar 137. Grafiktebal lapisan batas per x (/x) sebagai fungsi Rex Gambar 138. Tebal lapisan batas () pada berbagai posisi x dari hulu plat untuk berbagai kecepatan E. Analisis IntegralMomentum von Kärmän Metode Penyelesaian Blasius sangat terbatas dalam penerapannya hanya pada 0 1 2 3 4 5 1 10 100 1.000 10.000 100.000 Re lokal di posisi x, Rex TebalBL/x 0 1 2 3 4 5 0 200 400 600 800 1000 Posisi x (cm) TebalBL(cm) Ve 0,1 cm/s Ve 1 cm/s Ve 10 cm/s
  • 205.
    193 pendekatan kasus BLlaminer di atas permukaan datar. Namun, metode tersebut sulit diterapkan pada situasi dengan fenomena yang lebih kompleks. Untuk mengatasi ini, von Kärmän memperkenalkan sebuah metode pendekatan yang dikenal sebagai Analisis Integral Momentum. Sesuai dengan namanya, analisis dilakukan dengan berdasarkan pada penerapan persamaan integral momentum pada CV lapisan batas Gambar 139. Analisis berikut dilakukan pada keadaan aliran tunak (steady), dan untuk tiap satuan kedalaman.  x BLCV Daerah Aliran viskos Daerah Aliran invisid Garis Arus (Streamline) x+xx Gambar 139. CV dalam lapisan batas Persamaan integral momentum-x pada CV adalah:       Vdu t dAnVuFx   dengan:   x pp pp FFFFF xxx xxx xxx geser atas tekan kanan tekan kiri tekanx                 0 2    atase xx y yx y y mUdyudyudAnvu          0 2 0 2 )tunakaliran(0    dV t  Ungkapan untuk atasm bisa ditentukan dari neraca massa, dan hasilnya adalah: xx y yx y y atas udyudym          00  Penyulihan suku-suku ini ke dalam persamaan momentum-x dan
  • 206.
    194 pembangian hasilnya denganx memberikan: x udyudy U x dyudyu x pp x pp xxx e xxx xxxxxxxxx                            000 2 0 2 0 2 Pada batas (limit) volume yang menciut mendekati nol persamaan ini menjadi:             y y e y y udy dx d Udyu dx d dx d pp dx d 00 2 0 atau           y y e y y udy dx d Udyu dx d dx d p dx d p dx dp 00 2 0 atau         y y e y y udy dx d Udyu dx d dx dp 00 2 0 atau     00 2 0 udy dx d Udyu dx d dx dp e atau (untuk aliran inkompresibel)         0 0 dyuUu dx d dx dp e Inilah ungkapan integral momentum von Kärmän. Untuk menerapkan persamaan ini diperlukan pengetahuan profil kecepatan u sebagai fungsi jarak dari permukaan y. Akurasi hasil akhir bergantung pada seberapa dekat profil kecepatan anggapan dekat dengan yang sesungguhnya. Contoh Sebagai contoh, persamaan integral momentum von Kärmän diterapkan pada kasus yang telah diketahui jawaban eksaknya, yaitu aliran laminer di atas plat datar yang telah diselesaikan oleh Blasius. Dalam kasus ini, tekanan dalam aliran adalah seragam sehingga gradiennya nol sehingga persamaan von Kärmän disederhanakan menjadi:       0 0 dyuUu dx d e Penyelesaian awal didapat oleh Pohlhausen yang menganggap profil
  • 207.
    195 kecepatan sebagai fungsikubik: 32 dycybyau  Konstanta a, b, c, dan d bisa diperoleh dari syarat batas yang harus dipenuhi oleh lapisan batas, yaitu: 1) No-slip condition: 0u di y = 0. 2) Di tepi BL (y = ) fluida mengalir dengan kecepatan arus bebas: eUu  . 3) Di tepi BL (y = ) gradien kecepatan nol: 0   y u . 4) Tekanan di mana-mana seragam, sehingga 02 2    y u di y = 0. Evaluasi keadaan di syarat batas memberikan: 1) Di y = 0, 00.0.0. 32  dcbau sehingga a = 0. 2) Di y = , eUdcbu  32 ...0  . 3) Di y = , 0.3.2 2     dcb y u . 4) Di y = 0, 00.622 2    dc y u sehingga c = 0. Nilai b dan d selanjutnya bisa diperoleh dari 2) dan 3), hasilnya: 3 2 eU d  dan   2 33 2 eU db  . Jadi profil kecepatannya adalah: ee U y U y u 3 2 1 2 3         Penyulihan profil kecepatan ini ke dalam persamaan integral momentum:       0 0 dyuUu dx d e dengan     e y ee y U U y U dy du 2 3 0 3 2 2 1 2 3 0 0 31         memberikan:                                   0 3 2 1 2 3 3 2 1 2 32 2 3 1 dy yyyy U dx dU e e Integrasi persamaan ini memberikan:
  • 208.
    196   dx d UU dx dU ee e    2 280 392 280 39 2 3  atau dx U d e   13 140 .  yang hasil integrasinya adalah: xee x x xU x U Re 2 13 1402 13 140 13 1402 2 1       atau xx x Re 64,4 Re 13 280   Dari sini bisa ditentukan koefisien gesekan permukaan lokal: x x xee e e fx x xUU U U C Re 646,0 64,4 Re Re 1 332 2 1 2 3 2 2 1 0         dan integrasi koefisien ini dalam rentang x dari 0 sampai L memberikan: x fxfL CC Re 292,1 .2  Tabel 3 merangkum perbandingan hasil penyelesaian eksak (Blasius) dan hasil penyelesaian pendekatan (von-Kärmän). Perbandingan ini menunjukkan bahwa selisih hasil pendekatan  hanyalah sekitar 7% dan Cf hanyalah sekitar 3%. Selisih ini bisa lebih sedikit jika profil kecepatan yang dianggapkan bisa lebih mewakili profil aktualnya dengan lebih akurat. Hasil ini menunjukkan bahwa metode pendekatan layak digunakan jika metode eksak tidak memungkinkan untuk dilakukan. Tabel 3. Penyelesaian eksak Blasius vs pendekatan von-Kärmän Parameter Penyelesaian eksak (Blasius) Penyelesaian pendekatan (von-Kärmän) Selisih Ketebalan BL x x Re 5   x x Re 64,4   7% Koefisien gesekan permukaan lokal x fxC Re 664,0  x fxC Re 646,0  3%
  • 209.
  • 210.
    198 MODUL X. ALIRAN DALAMSALURAN TERTUTUP Deskripsi Saluran tertutup mewakili perpipaan dan duct. Pipa dan duct sangat banyak dijumpai penerapannya dalam kehidupan manusia. Akibat gesekan, fluida akan mengalami penurunan tekanan. Oleh karena itu, untuk mengalirkannya dalam saluran dibutuhkan penekanan dari luar. Aliran cairan dalam saluran tertutup bisa digerakkan oleh penekanan akibat gaya gravitasi atau oleh pompa. Aliran gas dalam saluran tertutup bisa digerakkan oleh penekanan oleh blower atau kompresor. Dengan demikian, fokus bahasan modul ini adalah menentukan penurunan tekanan yang dialami oleh fluida sewaktu mengalir dalam saluran tertutup. Sasaran belajar: 5. Melakukan analisis dimensional untuk perencanaan eksperimen 6. Mendefinisikan diameter ekuivalen (diameter hidrolik) dan panjang ekuivalen saluran 7. Menggolongkan sifat aliran dalam saluran tertutup 8. Menghitung penurunan tekanan aliran akibat gesekan dalam saluran tertutup 9. Menyebutkan dan menjelaskan prinsip kerja alat pengukuran kecepatan aliran dalam saluran tertutup A. Analisis Dimensional Analisis dimensional Dalam modul sebelumnya telah dilakukan analisis diferensial aliran laminer dalam pipa. Hasilnya adalah persamaan Poiseuille yang bisa digunakan untuk menentukan penurunan tekanan yang dialami oleh fluida yang mengalir dalam pipa. Namun, penurunan tekanan aliran turbulen tidak bisa ditentukan secara analitik. Oleh karena itu, satu-satunya jalan yang harus ditempuh adalah eksperimen. Efisiensi eksperimen telah sangat terbantu berkat analisis dimensional yang memungkinkan reduksi jumlah variabel persoalan yang harus ditangani. Dalam persoalan aliran dalam pipa, variabel yang terlibat beserta dimensinya diperlihatkan pada Tabel 4. Tabel 4. Variabel persoalan aliran turbulen dalam pipa Variabel Lambang Dimensi 1 Penurunan tekanan P MLt–2 2 Kecepatan v L t–1
  • 211.
    199 3 Diameter pipaD L 4 Panjang pipa L L 5 Kekasaran permukaan pipa  L 6 Viskositas fluida  ML–1t–1 7 Densitas fluida  ML–3 Menurut teorema Buckingham, cacah bilangan nirdimensi, , ada sebanyak selisih #variabel dan #dimensi. Dalam kasus ini, cacah variabel = 7 seperti tampak pada tabel di atas; dan cacah dimensi = 3 (M, L dan t). Dengan demikian maka cacah  adalah (7–3) = 4. Karena #dimensi = 3, maka bisa diambil tiga variabel inti untuk menyusun keempat bilangan nirdimensi . Dalam kasus ini katakanlah diambil variabel: , V, dan D sebagai variabel ini, maka: 1 = a . Vb . Dc . P 2 = d . Ve . Df . L 3 = g . Vh . Di .  4 = j . Vk . Dl .  Dengan menyeragamkan dimensi suku-suku kiri dan kanan maka akan diperoleh: 1 = 1 . V2 . D0 . P atau 1 = P / (.V2) 2 = 0 . V0 . D1 . L atau 2 = L / D 3 = 0 . V0 . D1 .  atau 3 =  / D 4 = 1 . V1 . D1 .  atau 4 = .V.D/ = Re (bil. Reynolds) Keempat bilangan nirdimensi ini bisa dikumpulkan menjadi satu sebagai: 1 = 1(2, 3, 4) atau P / (.V2) = 1((L/D), (/D), Re) Dari analisis sebelumnya telah diperoleh hubungan: P = .g.hL. Penyulihan hubungan ini ke dalam persamaan terakhir diperoleh: hL = (V2/g). 1((L/D), (/D), Re) atau bila dianggap hL tergantung secara linier terhadap (L/D) maka: hL = (V2/g).(L/D). 2((/D), Re). Hasil ini memperlihatkan bahwa persoalan yang melibatkan banyak variabel bisa diringkas hanya menjadi beberapa variabel penting saja. Dalam kasus ini yang perlu diukur dalam eksperimen tinggal hubungan antara hL dan fungsi 2((/D), Re). Fungsi 2((/D), Re)
  • 212.
    200 biasa disebut denganistilah faktor gesekan, f. Dengan demikian persoalan dipermudah menjadi penentuan nilai faktor gesekan sebagai fungsi (/D) dan Re – dua variabel bebas saja! B. Faktor Gesekan 2 macam faktor gesekan Cara penyajian data faktor gesekan ada dua macam, yaitu:  Faktor gesekan Fanning, fF (= f/2), untuk pemakaian dengan rumus: hL = 2fF (V2/g).(L/D).  Faktor gesekan Darcy, fD (= 2f), untuk pemakaian dengan rumus: hL = fD (V2/2g).(L/D). Perlu dicatat bahwa:  fF = Cf (koefisien gesekan kulit – skin friction coefficient).  fD = 4.fF. Dengan demikian, di dalam pemakaian data faktor gesekan harus diperhatikan definisi mana yang dipakai – apakah definisi Fanning atau Darcy. C. KerugianHead Kerugian pada Pipa Lurus Dari analisis neraca energi dan persamaan Hagen-Poiseuille: hL = 32 VL / (gD2) atau dalam notasi fF: hL = 32 [/(VD)] . (L/D) . (V2/g) = (32/Re) . (L/D) . (V2/g) Pembandingan dengan rumus Fanning menunjukkan bahwa: (32 / Re) = 2fF atau fF = 16 / Re untuk aliran laminer. Bagaimana dengan fF untuk aliran turbulen? Nilai fF bisa ditentukan melalui eksperimen sebagai fungsi (/D) dan Re. Berikut adalah angkuman faktor gesekan Fanning untuk segala macam aliran: Aliran Laminer (Re < 2300): fF = 16 / Re. Aliran Turbulen (Pipa halus, Re > 3000): fF –(1/2) = 4.0 log10{Re.fF (1/2)} – 0.40
  • 213.
    201 Aliran Turbulen (Pipakasar, dengan (D/)/(Re.fF (1/2)) < 0.01): fF –(1/2) = 4.0 log10{D/} + 2.28 Aliran Transisi Laminer-Turbulen: fF –(1/2) = 4.0 log10{D/} + 2.28 – 4.0 log10{4.67(D/)/(Re.fF (1/2)) + 1} Aliran dengan 4104  Re  108 dan 0  Re  0.05: fF –(1/2) = –3.6 log10{(6.9/Re) + [/(3.7D)](10/9)}, (teliti  1.5%) Sejauh ini telah dibicarakan perhitungan rugi-rugi aliran di dalam pipa lurus, lantas bagaimana dengan bentuk pipa yang tidak lurus (sambungan, belokan, dan katup)? Kerugian pada Fitting Untuk memperhitungkan rugi-rugi karena bentuk dipakai hubungan berikut yang sepadan bentuknya dengan rumus Fanning: hL = 2fF (V2/g).(Leq/D) dengan Leq = panjang ekuivalen, yaitu panjang pipa lurus yang menghasilkan rugi-rugi sebesar rugi-rugi karena bentuk saluran; atau dengan rumus: hL = P / (.g) = K (V2/g) dengan K = koefisien rugi-rugi yang tergantung pada macam sambungan (fitting). Data-data K dan (Leq/D) untuk beberapa macam sambungan diperlihatkan pada Tabel 5. Tabel 5. Koefisien rugi dan panjang ekuivalen Sambungan (fitting) K Leq/D Belokan 180o 1.6 75 Belokan 90o baku 0.7 32 Belokan 45o baku 0.35 15 Katup gate, bukaan ¼ 20 900 Katup gate, bukaan ½ 4.4 200 Katup gate, bukaan ¾ 0.85 40 Kerugian pada Pipa Penampang Sembarang Terakhir, bagaimana perhitungan rugi-rugi untuk saluran yang penampangnya tidak bundar? Jawabnya: semua hubungan untuk pipa bundar bisa tetap digunakan untuk saluan berpenampang sembarang dengan sekedar mengganti diameter D dalam rumus dengan diameter-ekuivalen Deq yang didefinisikan sebagai: Deq = 4  (Luas potongan-melintang aliran) / (Keliling-saluran yang dibasahi)
  • 214.
    202 Keliling-saluran yang dibasahifluida biasa disebut juga sebagai “jari- jari hidrolik, Rh.” Contoh perhitungan Deq untuk pipa konsentris dengan garis-tengah luar Do dan garis-tengah dalam Di adalah: Luas potongan-melintang aliran = (Do 2 – Di 2)/4 Keliling-saluran yang dibasahi, Rh = (Do + Di) Deq = 4  [(Do 2 – Di 2)/4] / [(Do + Di)]  Deq = Do – Di D. Macam Persoalan Aliran 3 Macam Persoalan Faktor gesekan terkait dengan enam parameter aliran, yaitu: 1) Diameter pipa, D 2) Kecepatan rerata, v 3) Densitas fluida,  4) Viscositas fluida,  5) Kekasaran pipa,  6) Rugi-rugi gesekan per satuan massa. Jadi, jika diketahui 5 dari keenamnya maka satu parameter sisanya bisa diperoleh dengan menggunakan diagram faktor-gesekan. Ada tiga macam persoalan yang paling lazim, yaitu:  Macam 1: Diketahui: D, , , , Q Dicari: hf  Macam 1: Diketahui: D, , , , hf Dicari: Q  Macam 1: Diketahui:  , , , hf, Q Dicari: D Persoalan macam-1 bisa diselesaikan secara langsung, sedangkan macam-2 dan 3 memerlukan coba-coba (trial and error). Tiga persoalan dasar yang biasa dijumpai dalam perhitungan aliran- pipa adalah sebagai berikut. Nilai parameter , , g, dan L sudah tertentu. 1) Diketahui D, v (atau Q), hitung penurunan tekanan (persoalan penurunan-tekanan). 2) Diketahui D, P, hitung kecepatan atau laju aliran (persoalan laju-aliran). 3) Diketahui Q, P, hitung diameter D pipa (persoalan penentuan ukuran pipa – sizing problem) E. PengukuranAliran Venturi meter Dalam alat ukur ini (Gambar 140) fluida dipercepat oleh karena
  • 215.
    203 laluannya yang berupakerucut dengan sudut 1 15-20o. Perbedaan tekanan antara ujung hulu dan kerongkongan (throat) mewakili laju aliran fluida. Fluida kemudian diperlambat pada kerucut dengan sudut yang lebih kecil 2 5-7o di mana sebagian besar energi kinetik diubah kembali menjadi energi tekanan. Karena pengurangan luasan yang perlahan maka tidak terbentuk vena-contracta dan luasan aliran minimum pada kerongkongan sehingga koefisien kontraksinya sama dengan satu. Konstruksi alat ukur ini mahal, tetapi sifat pemulihan energinya tinggi sehingga bisa digunakan walaupun head tekanan yang tersedia kecil. Supaya pemulihan tekanannya besar, sudut kerucut hilir dibuat kecil sehingga separasi lapisan-batas bisa dicegah dan gesekan diminimalkan. Karena separasi tidak terjadi pada penampang-lintang mengecil, kerucut hulu bisa dibuat lebih pendek daripada kerucut hilir dengan hanya sedikit gesekan, sehingga ruang dan bahan bisa dihemat. Walaupun venturimeter bisa digunakan untuk pengukuran gas, tetapi paling biasa digunakan untuk pengukuran cairan. Oleh karena itu, pembicaraan berikut dibatasi pada fluida inkompresibel. 12 ba Throat Gambar 140. Venturimeter Persamaan Venturimeter Persamaan dasar untuk venturimeter bisa diperoleh dari persamaan Bernoulli untuk fluida inkompresibel antara dua irisan a dan b. Gesekan diabaikan dan posisi venturimeter dianggap horizontal.
  • 216.
    204 Jika Va danVb adalah kecepatan rata-rata di hulu dan hilir dan  adalah densitas fluida, maka bbbaaa ghVpghVp   2 2 12 2 1 karena ha = hb maka persamaan bisa disusun untuk kecepatan menjadi:    ba ab pp VV   222 Hubungan kecepatan di a dan b bisa diperoleh dari persamaan kontinuitas: bbbaaa ba AVAV mm     untuk aliran inkompresibel a = b sehingga: bb a b b a b b a b a VV D D V D D V A A V 2 2 2 4 2 4          dengan Da = diameter pipa, Db = diameter kerongkongan (throat), dan  = rasio diameter (Db/Da). Jika Va dari kedua persamaan dieliminasi maka:       ba bb pp VV   2222 atau:    ba b pp V    2 1 1 4 Persamaan ini berlaku hanya untuk aliran fluida inkompresibel. Untuk memperhitungkan rugi gesekan di antara lokasi a dan b, persamaan ini dikoreksi dengan memperkenalkan sebuah faktor empiris CV. Koefisien CV ditentukan secara eksperimen dan disebut koefisien venturi. Jika  < ¼ (atau Db kurang dari Da/4) maka pengaruh  bisa diabaikan karena suku 4 11  menjadi sangat kecil dan error yang diakibatkannya kurang dari 0,2 persen. Untuk venturi berdesain baik, konstanta CV bernilai:  sekitar 0,98 untuk pipa berdiameter 2 sampai 8 inch dan  sekitar 0,99 untuk diameter yang lebih besar. Venturimeter dengan desain yang memadai menghasilkan rugi tekanan permanen sebesar lk. 10% dari beda tekanan venturi (pa – pb), dan 90% sisanya terpulihkan. Laju aliran volumetrik. Kecepatan di kerongkongan venturi Vb biasanya bukanlah merupakan besaran yang ingin diketahui.
  • 217.
    205 Informasi aliran yangberguna secara praktis adalah laju aliran massa dan volume melalui alat ukur. Laju aliran volume dihitung dari: bb AVQ  dan laju aliran massa dihitung sebagai perkalian Q dan densitas: bb AVQm   . Berikut adalah dimensi baku dari venturimeter:  Sudut kerucut masuk (2.1) = 212o  Sudut kerucut keluar (2.2) = 5 sampai 15o  Kerongkongan: panjang = diameter Orificemeter Venturimeter konstruksinya relatif rumit, walaupun memiliki kelebihan: handal, rugi-rugi tekanannya kecil, dan luas digunakan (khususnya untuk volume aliran gas dan cairan yang besar). Untuk jalur pipa kecil, karena rumitnya konstruksi, harga venturimeter menjadi mahal. Oleh karena itu digunakan alat yang lebih sederhana, yaitu: orificemeter. Orificemeter terdiri dari orifice, yaitu sebuah plat datar yang berlubang lingkar di tengahnya. Gambar 141 memperlihatkan dua lubang-pencatat tekanan tepat di hulu dan di hilir orifice yang dipasangi manometer. Gambar 141. Orificemeter Penempatan lubang pencatat Ada tiga macam cara penempatan lubang-pencatat (tap) yang dikenal, dan koefisien orificemeter tergantung pada posisi lubang pencatat ini. 1) Jenis lubang-pencatat (tap) berupa flange, jarak lubang- pencatat hulu & hilir sama-sama 1 inch. 2) Jenis lubang-pencatat (tap) berupa vena contracta, jarak lubang-pencatat di hulu = ukuran diameter dalam pipa & di
  • 218.
    206 hilir = 0,3-0,8diameter dalam pipa. 3) Jenis lubang-pencatat (tap) berupa pipa, jarak lubang-pencatat di hulu = 2,5 kali diameter pipa nominal & di hilir = 8 kali diameter pipa nominal. Prinsip Kerja Prinsip kerja orifice. Prinsipnya identik dengan venturimeter. Penurunan penampang lintang aliran yang melalui orifice akan menaikkan head kecepatan yang disertai dengan penurunan head tekanan, dan penurunan tekanan antara lubang-lubang pencatat diukur menggunakan manometer. Persamaan Bernoulli merupakan dasar keterkaitan antara kenaikan head kecepatan dan penurunan head tekanan.    ba a b b pp A A V          2 1 1 2 Kesulitan dengan orificemeter, yang tidak dijumpai pada venturimeter, terletak pada rumitnya penentuan Ab (vena contracta). Luas vena-contracta biasa ditentukan berdasarkan keterkaitannya dengan penampang lintang orifice (Ao) yang disebut sebagai koefisien kontraksi Cc: o b c A A C  Dengan demikian, karena Vo.Ao = Vb.Ab maka Vo = Vb.Cc sehingga    ba a o c c cbo pp A A C C CVV          2 1 2 2 Namun persamaan ini kurang praktis sehingga diperkenalkan koefisien discharge Co untuk memperhitungkan (a) parameter Cc, dan (b) rugi-rugi gesekan dalam alat, sehingga persamaan kecepatan menjadi lebih sederhana:    ba a o o o pp A A C V          2 1 2 atau:    bao o ppC V    2 1 4 dengan  = (Do/Da). Dengan demikian laju aliran Q melalui pipa dihitung dari persamaan:
  • 219.
    207    baoo oo ppAC AVQ    2 1 4 Cosangat bervariasi dengan rasio (Ao/Aa) dan bilangan Reynolds. Nilai Co bisa diambil 0,61 untuk alat ukur baku pada bilangan Reynolds lebih dari 104, walaupun nilai tersebut terasa berubah pada nilai Reynolds yang lebih rendah. Pemulihan tekanan orifice. Rugi tekanan permanen bergantung pada nilai  = (Do/Da). Untuk  = 0,5 rugi tekanan mencapai 73% dari perbedaan tekanan orifice. Venturi vs orifice Dalam pembandingan kedua alat ukur harus dipertimbangkan pula biaya instalasi dan biaya operasi. 1) Plat orifice bisa mudah diubah untuk mengakomodasi berbagai laju aliran yang sangat berbeda, sedangkan diameter kerongkongan venturi tetap, sehingga rentang laju alirannya dibatasi oleh batas praktis dari p. 2) Orificemeter menimbulkan kerugian tekanan permanen yang besar karena adanya olakan pada sisi hilir plat orifice; bentuk venturimeter mencegak pembentukan olakan sehingga rugi- rugi permanen bisa dikurangi. 3) Orifice murah dan mudah dipasang. Venturimeter mahal, dan harus difabrikasi dengan teliti. Orifice buatan sendiri seringkali sangat memuaskan, sedangkan venturimeter praktis selalu harus dibeli dari agen instrumen. 4) Kerugian head (berarti pula kerugian daya) pada orifice berkali-kali lebih besar daripada pada venturi. Jadi, bila orifice dipasang pada sebuah jaringan yang menyalurkan fluida secara terus-menerus sepanjang waktu yang lama, biaya rugi-rugi daya boleh jadi tidak seimbang dengan penghematan biaya alat. Oleh karena itu, orifice paling baik digunakan untuk tujuan pengujian atau kasus-kasus lain di mana kerugian daya bukanlah faktor penting. 5) Orifice, walaupun kerugian dayanya besar, sangat luas digunakan karena keluwesannya yang lebih besar, karena pemasangan sebuah plat orifice baru dengan bukaan yang berbeda mudah dilakukan – venturimeter tidak sedemikian mudah diubah. Venturimeter digunakan hanya untuk instalasi permanen. 6) Orificemeter memberikan pembacaan yang lebih tinggi daripada venturimeter pada kecepatan yang sama. Tabung pitot Tabung pitot adalah alat untuk mengukur kecepatan lokal sepanjang sebuah garisarus (streamline). Tabung pitot (Gambar 142) mempunyai dua tabung: yaitu tabung stagnasi (a) dan tabung statik (b). Mulut tabung-stagnasi (a) menantang arah aliran, sedangkan mulut
  • 220.
    208 tabung-statik paralel denganarah aliran. Kedua tabung dihubungkan dengan manometer atau alat serupa untuk mengukur beda tekanan. Tabung statik mengukur Pstatik, karena tidak ada komponen kecepatan yang tegak lurus dengan mulutnya. Tabung stagnasi mengukur Pstatik + Pkinetik – atau dalam head, tabung stagnasi mengukur head tekanan statik plus head kecepatan. Oleh karena itu, bacaan pada manometer (hm) akan terkait dengan head kecepatan (V2/2g). Gambar 142. Tabung Pitot Analisis tabung Pitot Analisisnya rincinya demikian. Penerapan persamaan Bernoulli pada titik a dan b memberikan: bbbaaa ghVPghVP   2 2 12 2 1 karena di titik stagnasi (a) kecepatan Va = 0, maka persamaan menjadi:   gd PP hhg PP V ba ba ba b       222 Fluida dalam tabung mulai dari (a) sampai (b) berada dalam keadaan diam sehingga dari persamaan statika: bmmma PghghdgP   2 1 atau:   dgghPP mmba 2 1   atau: gdgh PP m mba         122    Penyulihan ungkapan ini ke dalam ungkapan Vb menghasilkan:
  • 221.
    209 m m b ghV       12   Gambar 143. Setup tabung Pitot Setup tabung Pitot Setup tabung pitot berikut tersusun dari dua tabung konsentrik yang disusun paralel dengan arah aliran; tekanan stagnasi diukur pada ujung bukaan tabung bagian dalam. Lihat Gambar 143. Ujung dari tabung konsentrik luar ditutup rapat dan sederetan orifice pada permukaan lengkung memberikan indikasi akurat tentang tekanan statik. Supaya laju aliran tidak terlalu banyak terganggu, diameter instrumen tidak boleh lebih dari 1/9 diameter pipa. Pengukuran akurat dari tekanan stagnasi bisa diperoleh menggunakan sebuah tabung berdiameter sangat kecil dengan ujung bukaannya tegak lurus dengan arah aliran. Tabung pitot mengukur kecepatan hanya pada sebuah filamen cairan, dan karenanya bisa digunakan untuk memetakan distribusi tekanan melintang pipa. Jika diinginkan pengukuran aliran total dari fluida melalui pipa, kecepatan harus diukur pada berbagai jarak dari dinding dan hasilnya diintegrasikan. Laju aliran total bisa dihitung dari hanya satu bacaan apabila distribusi kecepatan melintang permukaannya telah diketahui. Kecepatan yang diperoleh dari pengukuran dengan tabung pitot yang sempurna akan memenuhi persamaan:
  • 222.
    210 m m ghV        12   Namundemikian, semua alat harus dikalibrasi dan terhadap hasil pengukuran dikenakan sebuah faktor koreksi. Rotameter Pada orificemeter, luasan hambatan (orifice) konstan dan penurunan tekanan merupakan fungsi dari laju aliran. Pada rotameter sebaliknya, penurunan tekanan konstan dan luasan hambatan (orifice) fungsi dari laju aliran. Rotameter terdiri dari sebuah tabung gelas tapered dengan diameter terkecil di dasar. Tabung terdiri dari apungan yang bisa bergerak bebas dengan penyangga pada dasar tabung. Jika fluida mengalir, apungan menaik sampai beratnya diimbangi oleh gaya dorong fluida, dan apungan mencapai posisi setimbangnya. Posisi inilah yang menunjukkan laju aliran dan besarnya bisa dibaca pada skala di sebelahnya yang biasanya ditorehkan pada tabung gelas. Apungan distabilkan dengan adanya celukan helik yang membuatnya berputar – dari sinilah nama rotameter diturunkan. Bentuk-bentuk apungan lainnya bisa digunakan – termasuk bola pada alat yang lebih kecil. Gambar 144. Rotameter Penurunan tekanan melalui apungan sama dengan beratnya dibagi dengan penampang-lintang terbesar pada bidang horizontal. Luasan untuk aliran adalah annulus yang dibentuk antara apungan dan dinding tabung. Rotameter, oleh karenanya, biasa dipandang sebagai orificemeter dengan bukaan/celah beragam, dan rumus yang diturunkan untuk orificemeter atau venturimeter tetap berlaku dengan hanya sedikit perubahan.
  • 223.
    211 Baik pada orificemetermaupun rotameter penurunan tekanan timbul karena konversi energi tekanan menjadi energi kinetik (ingat persamaan Bernoulli) dan rugi-rugi gesekan yang diperhitungkan dalam koefisien discharge (CD). Gambar 145. Gaya-gaya yang bekerja pada apungan Analisis aliran Analisis alirannya demikian. Informasi yang ingin dicari adalah ungkapan untuk menghitung debit aliran di posisi 2. Berdasarkan persamaan Bernoulli, pada posisi 1 dan 2 (Gambar 145) berlaku hubungan: 2 2 22 1 21 2 12 1 1 ghVpghVp   atau:    21 212 1 2 2 22 hh pp VV      Suku 2(h1 – h2) bernilai negatif. Jika pengaruh suku ini diabaikan maka akibatnya prediksi V2 dari persamaan tersebut akan lebih besar dari seharusnya. Namun, keuntungannya adalah diperolehnya ungkapan yang lebih sederhana:    212 1 2 2 2 pp VV   Hubungan V1 dengan V2 bisa diperoleh dari persamaan kontinuitas: 2211 AVAV  dengan A1 penampang tabung dan A2 penampang annulus (luasan di antara tabung dan apungan), atau: 1 2 21 A A VV 
  • 224.
    212 sehingga ungkapan untukV2 menjadi:    21 2 1 22 2 2 2 2 pp A A VV         atau:      21 2 12 2 2 1 1 pp AA V    Selanjutnya kita manfaatkan hubungan gaya-gaya yang bekerja pada apungan:   0drag bawahke tekan ataske tekanberatapungy FFFFFF atau: 02211  dragfff FApApgVgV  dengan f adalah densitas apungan, dan Vf adalah volume apungan. Selanjutnya anggaplah A1 = A2 = Af yaitu luasan proyeksi apungan searah aliran. Dari sini diperoleh ungkapan untuk penurunan tekanan menjadi:   f drag f f f A F g A V pp  21 Untuk mudahnya pengaruh Fdrag diabaikan, walaupun dengan akibat prediksi nilai p1 – p2 menjadi lebih besar dari seharusnya, sehingga: g A Vpp f ff         121    Penyulihan ungkapan ini ke dalam persamaan kecepatan V2 menghasilkan:   g A V AA V f ff          12 1 1 2 12 2   Ungkapan ini, karena pengabaian-pengabaian yang dilakukan sewaktu penurunannya, akan memberikan nilai V2 yang lebih besar dari yang seharusnya. Oleh karena itu, ungkapan debit aliran yang diperoleh dari perkalian V2.A2 perlu dikoreksi dengan sebuah faktor menjadi:   g A V AA AC AVCQ f ffD D          12 1 2 12 2 22   dengan CD adalah koefisien hambat aliran dari apungan yang tergantung pada: 1) bentuk apungan, dan 2) bilangan Reynolds (dihitung berdasarkan kecepatan aliran di
  • 225.
    213 annulus dan diameterhidrolik rerata anulus). Secara umum, apungan yang memberikan koefisien hambat hampir konstan adalah yang bentuknya menimbulkan arus olakan dan memberikan nilai CD yang rendah. Koefisien apungan CD yang konstan timbul karena turbulensi, dan karena alasan ini koefisien praktis tidak tergantung pada viskositas fluida. Alat bisa dibuat relatif tidak peka erhadap perubahan densitas fluida dengan memilih densitas apungan f. Jika densitas apungan dua kali densitas fluida, maka posisi apungan tidak tergantung pada densitas fluida. Pemasangan Rotameter harus dipasang vertikal (dengan tabung-aliran tegak lurus terhadap lantai) karena bekerja atas dasar gravitasi. Rentang pengukuran rotameter bisa ditingkatkan dengan mengatur densitas apungan. Untuk tekanan tinggi, tabung gelas diganti dengan tabung logam. Jika tabung metal digunakan atau jika cairannya sangat gelap atau kotor, untuk pembacaan diperlukan indikator eksternal. Kelebihan rotameter adalah pembacaan visualnya yang langsung, skalanya hampir linier, dan kerugian head konstan (dan kecil). Rotameter tidak harus di pasang pada jalur pipa yang lurus di hulu dan hilirnya. Gambar 146. Macam-macam geometri apungan
  • 226.
    214 MODUL XI. ALIRAN DALAMSALURAN TERBUKA Deskripsi Saluran terbuka mewakili sungai dan kali alami serta kanal buatan manusia. Aliran dalam saluran terbuka terjadi akibat gaya gravitasi karena perbedaan ketinggian muka fluida di hulu dan hilir. Dengan demikian, fokus bahasan modul ini adalah menentukan kecepatan aliran akibat beda ketinggian hulu-hilir. Sasaran belajar: 10. Membedakan saluran terbuka dari saluran tertutup 11. Mendefinisikan radius hidrolik 12. Menggolongkan sifat aliran fluia dalam saluran terbuka 13. Menghitung kecepatan aliran fluida dalam saluran terbuka Aliran Saluran Terbuka Aliran saluran terbuka adalah aliran fluida cair dalam saluran dengan permukaan bebas. Aliran ini pada praktiknya dijumpai pada kanal, selokan, kali, sungai, dlsb. Aliran dalam saluran terbuka didominasi oleh pengaruh gravitasi. Di sini tidak ada pengaruh gradien tekanan, sebagaimana dijumpai pada saluran dalam saluran tertutup, karena fluida di sepanjang saluran kontak dengan atmosfir. Keberadaan permukaan bebas, yang tekanannya di mana-mana atmosferik, membuat analisis menjadi lebih ringan sekaligus lebih berat. Lebih ringan karena tidak adanya gradien tekanan menyebabkan gaya-gaya yang bekerja tinggal gravitasi dan gesekan. Lebih berat karena bentuk permukaan bebas tidak bisa diketahui di depan, sehingga profil kedalaman menjadi persoalan tambahan yang harus diselesaikan, khususnya dalam persoalan yang melibatkan gerakan gelombang. Karena kerumitan persoalan aliran dalam saluran terbuka, maka tinjauan dalam modul ini hanya akan bersifat pengenalan saja. Pendekatan 1-dimensi Fluida dalam saluran terbuka kontak dengan dinding dasar dan pinggir saluran di mana berlaku keadaan nir-gelincir (no-slip condition). Dengan demikian, aliran ke satu arah dalam saluran lurus akan memiliki distribusi kecepatan tiga-dimensi. Distribusi kecepatan aliran pada bidang irisan melintang saluran tidaklah sederhana. Secara teknik biasa diambil pendekatan sangat sederhana dengan menganggap aliran bersifat satu-dimensi dengan kecepatan v(x) pada tiap luasan tampang lintang A(x) pada posisi x sepanjang saluran. Karena densitas praktis konstan, maka berdasarkan persamaan kontinuitas, debit aliran Q juga konstan sepanjang saluran Q = v(x).A(x) = konstanta Untuk aliran steady, persamaan Bernoulli juga bisa diterapkan di sini dengan serta memperhitungkan efek gesekan. Antara titik 1 di hulu
  • 227.
    215 dan 2 dihilir berlaku persamaan: Lghghvpghvp   2 2 22 1 21 2 12 1 1 Jika kedua titik ada di permukaan bebas, maka tekanan keduanya sama sehingga persamaan menjadi: Lghghvghv   2 2 22 1 1 2 12 1 Kerugian head gesekan hL g v D L fh h L 2 2  sangat mirip dengan pada aliran steady dalam saluran tertutup dan cukup bisa dikorelasikan dengan rumus Moody untuk aliran turbulen dengan permukaan kasar:        2121 Re 51,2 7,3 log0,2 1 f D f h Bilangan Reynolds Re dievaluasi dengan menggunakan diameter hidrolik Dh yang besarnya sama dengan 4A/P, dengan A adalah luas penampang saluran dan P keliling basah saluran. Pada kebanyakan analisis saluran terbuka, alih-alih diameter hidrolik Dh digunakan radius hidrolik Rh yang besarnya sama dengan ¼ Dh P A DR hh  4 1 Kelilih basah P hanya memperhitungkan panjang dinding saluran pada penampang lintang saluran yang kontak dengan fluida, sedangkan panjang permukaan bebasnya tidak diperhitungkan. Jadi, pada saluran terbuka persegi selebar b dengan kedalaman air h: hbbukanhbP bhA 22:2   Aliran saluran terbuka biasanya turbulen karena dimensi fisik saluran yang biasanya besar (dibandingkan pada pipa) dengan air berviskositas kecil di dalamnya. Aliran laminer paling-paling dijumpai pada aliran selapis tipis air di permukaan jalan dan landasan pesawat terbang. A. KlasifikasiAliran Klasifikasi aliran - berdasarkan kedalaman Metode klasifikasi aliran saluran terbuka yang paling lazim adalah berdasarkan laju perubahan kedalaman permukaan bebas. Kasus paling sederhana dan paling luas dianalisis adalah aliran seragam, yaitu aliran steady dengan kedalaman fluida (berarti juga kecepatan alirannya) konstan. Keadaan aliran seragam dihampiri sebagai saluran lurus panjang
  • 228.
    216 berluas penampang konstandan slope (kemiringan) konstan. Saluran dalam aliran seragam disebut bekerja pada kedalaman normal yn, sebuah parameter desain yang penting. Jika kemiringan atau penampang lintang saluran berubah atau terdapat penghalang dalam aliran, kedalaman akan berubah dan aliran dikatakan beragam. Aliran dikatakan beragam perlahan jika pendekatan satu-dimensi sahih, dan jika tidak maka aliran dikatakan beragam cepat. Dari sini maka klasifikasi aliran bisa dirangkum sbb: 1) Aliran seragam (kedalaman & kemiringan konstan 2) Aliran beragam a) Beragam perlahan (satu dimensi) b) Beragam cepat (multidimensi) Biasanya peralihan dari aliran seragam menjadi aliran beragam cepat, atau sebaliknya, diperantarai oleh daerah aliran beragam perlahan. Aliran beragam perlahan bisa dianalisis dengan persamaan diferensial orde-1, tetapi aliran beragam cepat biasanya membutuhkan eksperimen atau teori potensial 3-D. Klasifikasi aliran – berdasarkan bil. Froude Klasifikasi kedua berdasarkan bilangan tak berdimensi Froude Fr. Untuk saluran segiempat atau saluran yang sangat lebar: gy v Fr  dengan y adalah kedalaman fluida. Berdasarkan bilangan ini aliran dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu: 1) Aliran subkritis, jika Fr < 1,0 2) Aliran kritis, jika Fr = 1,0 3) Aliran superkritis, jika Fr > 1,0 Pengelompokkan seperti ini mirip dengan pada fenomena aliran gas kompresibel. Pada aliran gas, klasifikasi dilakukan berdasarkan bilangan Mach dikelompokkan menjadi aliran subsonik, sonik dan supersonik. Bilangan Mach sendiri merupakan perbandingan antara kecepatan aliran dan kecepatan rambat gelombang dalam gas (= kecepatan suara). Dengan analogi ini maka, Fr bisa ditafsirkan sebagai perbandingan kecepatan aliran fluida dan kecepatan rambat gelombang permukaan pada fluida. 1) Pada aliran kritis, kecepatan aliran tepat sama dengan kecepatan perambatan gelombang permukaan. 2) Pada aliran subkritis, fluida mengalir lebih lambat daripada kecepatan perambatan gelombang permukaan. Secara fisik, aliran fluida di permukaan tampak tenang. 3) Pada aliran superkritis, fluida mengalir lebih cepat daripada
  • 229.
    217 kecepatan perambatan gelombangpermukaan. Secara fisik, aliran fluida di permukaan tampak deras. Jika aliran fluida di hilirnya subkritis, maka aliran akan terhambat sehingga fluida membukit. Fenomena ini disebut sebagai lompatan hidrolik (hydraulic jump). c c-vy y+y Dasar saluran Gelombang permukaan CV Bergerak Gambar 147. CV bergerak mengikuti gelombang permukaan Analogi Fr dan Ma Sesungguhnya bilangan Froude memang analog dengan bilangan Mach. Uraian penjelasannya adalah sbb. Bayangkan fluida dalam kanal selebar b. Di permukaan, gelombang setinggi y merambat dengan kecepatan tetap c ke arah fluida diam (dari kanan ke kiri). Gelombang permukaan akan mengimbaskan aliran massa fluida sebesar v ke arah fluida diam. Fenomena ini lebih mudah dianalisis dengan mengambil CV bergerak mengikuti gelombang (Gambar 147). Dengan demikian aliran menjadi steady. Neraca massa pada CV adalah:   0 ,0     dAnvdV t steady        0  kanankiri dAnvdAnv      b yybvcbyc   10     0 yyvccy    0 0  yyvyccycy  
  • 230.
    218 sehingga: yy y cv      Neraca energi padaCV adalah:       adatdk steady WQdAnveedV t .,0 ,0          0  kanankiri dAnvedAnve  Integrasi persamaan ini diikuti dengan penyederhanaan & penganggapan tidak ada gesekan akan menghasilkan persamaan Bernoulli. Karena tekanan di kiri dan kanan CV sama besar, maka persamaan Bernoulli tinggal menjadi:    yygvcgyc   2 2 12 2 1 yggyvvccgyc   2 2 12 2 12 2 1 ygvvc   2 2 1 Penyulihan v dari neraca massa memberikan: yg yy y c yy y cc               2 2 1 yg yy y yy y c               2 12 1           yy y yy gc    2 1 2 1 Jika usikan gelombang jauh lebih kecil dari kedalaman (y << y) maka: gyc 2 atau: gyc  Jadi akar kuadrat dari gy tidak lain adalah kecepatan penjalaran gelombang permukaan. B. Aliran Seragam Aliran seragam Aliran saluran terbuka seragam adalah aliran dengan kedalaman fluida dan penampang lintang saluran yang tetap. Jika aliran diketahui, kedalaman fluida bisa dihitung. Jika kedalaman maksimum
  • 231.
    219 yang diijinkan diketahui,aliran maksimum bisa dihitung. Gambar 148. Saluran terbuka Persamaan Chezy Dalam aliran seragam kedalaman air tetap sebesar kedalaman normalnya yn dan kecepatan konstan di sepanjang saluran. Persamaan Bernoulli pada saluran dengan kemiringan (slope) S = tan() dari hulu 1 ke hilir 2 dengan demikian menjadi: Lghghgh   21 atau: hh h L RDdengan g v D L fSL hhh 4 2 2 21   atau:   21 21 8 SR f g v h       Untuk bentuk dan kekasaran dasar saluran tertentu, nilai (8g/f)1/2 adalah konstan C. Dengan demikian maka persamaan kecepatan (dan debit) menjadi:   vAQ SRCv h   21 Inilah rumus Chezy yang dikembangkan pertama kalinya oleh insinyur Perancis Antoine Chezy. Konstanta C disebut koefisien
  • 232.
    220 Chezy yang nilainyaberagam dari sekitar 30 m1/2/s untuk saluran kecil kasar sampai 90 m1/2/s untuk saluran besar halus. Persamaan Manning Pada dasarnya, kerugian gesekan dalam aliran saluran seragam tidak begitu berbeda dari aliran pipa turbulen berkembang penuh dengan koefisien gesekan:                sekalikecil h f D f 2121 Re 51,2 7,3 log0,2 1  Saluran terbuka biasanya kasar dan bilangan Reynolds-nya melebihi 106 sehingga suku yang mengandung pembagian dengan Re bisa diabaikan:        7,3 log0,2 1 21 hD f  Persamaan ini bisa dicocokkan dengan ungkapan pendekatan yang lebih sederhana berupa fungsi pemangkatan (bukan log) sbb: 3131 113,018,0              hh RD f  Jika faktor gesekan ini disulihkan ke dalam besaran C = (8g/f)1/2 dalam persamaan Chezy, maka: 61 21 31 113,0 8 hR g C         Jika nilai ini disulihkan ke dalam persamaan Chezy maka diperoleh:     2161 21 31 21 113,0 8 SRR g SRCv hh tertentu h             karena g konstan dan  bergantung hanya pada sifat fisik saluran, maka persamaan bisa dinyatakan ringkas, untuk sistem metrik, menjadi: SR n v h 3 21  Inilah persamaan Manning dalam sistem metrik. Koefisien kekasaran Manning n telah dipilih tak berdimensi dan sama nilainya untuk sistem metrik maupun Inggris. Akibatnya, jika digunakan sistem satuan Inggris, persamaan disesuaikan dengan faktor sebesar 1,49. Faktor ini bisa dipahami melalui pemahaman dimensi berikut:
  • 233.
    221 13112 1 3 1 12 1 31 121 31 113,0 8               tLtL L Lt adalah g Dimensi  Di sinidimensi waktu sama-sama bersatuan detik dalam sistem metrik dan Inggris, tetapi dimensi panjang berbeda. Oleh karena itu, faktor koreksinya adalah konversi panjang dari m ke ft dipangkatkan 1/3:   n sft n sft n smg 13113113121 31 49,12808,3 113,0 8         Dengan demikian, untuk sistem Inggris persamaan Manning menjadi: SR n v h 3 249,1  Dalam persamaan ini,  Rh adalah radius hidrolik, yaitu perbandingan antara luas penampang aliran A dan keliling basah kanal P.  S adalah kemiringan dasar kanal (ft/ft atau m/m).  n adalah koefisien kekasaran Manning (n = 0,015 untuk beton, n = 0,03 untuk kanal alami bersih, dan n = 0,01 untuk kaca). Debit aliran adalah hasilkali v dan luas penampang saluran A: vAQ  Catatan Selain persamaan Manning, sesungguhnya ada banyak persamaan serupa lainnya, tetapi persamaan Manning adalah yang paling populer. Walaupun begitu, hasil prediksinya tidak bagus untuk saluran yang dalam-halus dan saluran dangkal-kasar. Dalam kasus ini, sebaiknya dipilih rumusan faktor friksi. Nilai koefisien Manning bisa berubah bergantung kedalaman air, pertumbuhan vegetasi musiman, dan faktor lain semisal erosi dasar saluran. Contoh Kanal beton terbuka persegi panjang (n = 0,015) dirancang untuk membawa aliran sebesar 2,28 m3/s. Kemiringan kanal (slope, S) adalah 0,006 m/m (beda ketinggian 6 m tiap jarak sejauh 1000 m). Lebar kanal adalah 2 meter. Tentukan kedalaman normal yang terjadi pada kanal ini. Pertama, menghitung radius hidrolik R: n n y y P A R 22 2   Kemudian, menggunakan persamaan Manning:
  • 234.
    222 006,0 22 2 015,0 1 228,2 1 1 3 2 3 2 3 2           n n n h h y y y SR n AAvQ SR n v Hasilnya: yn = 0,47m ContohBanjir bisa terjadi jika air meluap dari tepi kanal. Berapakah aliran yang diijinkan dalam kanal beton bergeometri trapesium dengan gambaran sebagai berikut: Lebar dasar, b = 35 ft Kedalaman normal, yn = 25 ft Kemiringan dinding tepi kanal terhadap bidang datar,  = 20o Kemiringan kanal (slope), S = 0,001 ft/ft Karena dinding kanal terbuat dari beton, maka n = 0,015. Kemudian, radius hidrolik Rh, berdasarkan geometri, bisa ditentukan menggunakan hubungan berikut:       sin 2 cot n nn h y b yby P A R    atau:      ftRh 3,14 2,181 2592 20sin 25 235 20cot253525     Dari sini debit aliran bisa dihitung dengan rumus Manning dalam sistem Inggris:   s ft SR n AAvQ SR n v h h 3 3 2 3 2 3 2 27,26 0003,03,14 015,0 49,1 2592 49,1 49,1     Kesimpulannya, aliran maksimum yang diijinkan = 26,27 cfs Contoh Berapa laju aliran dalam kanal ragam dinding pada Gambar 149? Untuk menyelesaikan persoalan aliran dalam kanal seperti ini, tiap
  • 235.
    223 bagian beda kanaldiperlakukan terpisah. Nilai A, R, P dan Q ditentukan untuk tiap penampang bagian dengan koefisien kekasaran berbeda. Penampang berumput: Penampang berumput ada 2, yaitu di sisi kiri dan kanan kanal. Debit aliran pada tiap penampang bisa ditentukan sebagai berikut:     ft ft ft P A Rh 88,1 8 15 35 35 2     sehingga:   s ft SR n AQ h 3 3 2 3 2 24,80 005,088,1 03,0 49,1 15 49,1    Jadi debit aliran pada kedua bagian saluran berumput adalah: cfs s ft Qberumput 48,16024,802 3  Penampang Beton:     ft ft ft P A Rh 72,2 11 30 335 65 2     sehingga:   s ft SR n AQ hbeton 3 3 2 3 2 6,410 005,072,2 015,0 49,1 30 49,1    Dengan demikian maka debit pada seluruh kanal adalah: Qtotal = 410,6 + 160,48 = 571 cfs
  • 236.
    224 Gambar 149. Saluranterbuka ragam dinding v1 v2y1 y2 CV Gambar 150. Lompatan hidrolik C. LompatanHidrolik Teori lompatan hidrolik Lompatan hidrolik (Gambar 150) terjadi dalam aliran yang superkritis, yaitu saat fluida mengalir lebih cepat daripada kecepatan perambatan gelombang permukaan. Berikut ini akan ditinjau teori lompatan hidrolik (hydraulic jump) paling sederhana, di mana lompatan dianggap terjadi pada bidang datar. Katakanlah lebar kanal adalah b. Neraca massa pada CV adalah:   0 ,0     dAnvdV t steady        0  kanankiri dAnvdAnv  02211  byvbyv  atau: 1122 yvyv  Neraca energi pada CV adalah:       adatdk steady WQdAnveedV t .,0 ,0      5’ 5’ 5’ Beton n = 0,015 S=0,005ft/ft 3’ 3’ Rumput n = 0,3 Rumput n = 0,3
  • 237.
    225    0  kanankiri dAnvedAnve  Integrasi persamaan ini diikuti dengan penyederhanaan & penganggapan tidak ada gesekan akan menghasilkan persamaan Bernoulli. Karena tekanan di kiri dan kanan CV sama besar, maka persamaan Bernoulli tinggal menjadi: 2 2 22 1 21 2 12 1 1 gyvugyvu   Kerugian head yang terjadi diredam menjadi kenaikan energi internal sehingga:            21 2 2 2 1 12 2 yy g vv guughrugi  21 2 2 2 1 2 yy g vv hrugi    Berdasarkan hasil analisis neraca massa maka: 212 2 2 1 2 1 1 2 yy y y g v hrugi        Neraca momentum pada CV adalah:       FdAnvvvdV t steady    ,0 222 1 112 1 222111 byygbyygbyvvbyvv    2 2 2 12 1 2 2 21 2 1 yygyvyv   2 2 2 12 1 22 1 2 2 1 2 1 yygy v v yv          Berdasarkan hasil analisis neraca massa, perbandingan v bisa diganti dengan perbandingan y sehingga:        21 1 2 211 2 2 2 12 22 2 2 1 1 2 2 2 1 2 1 4 1 4 1 4 1 2 yy y y yyy yyy y y y y yy g v        Hasil ini bisa digunakan ke dalam persamaan head rugi:
  • 238.
    226           3 12 2 212 2 1 3 1 3 2 21 2 212 2 12 2 1 3 1 3 2 2 21 21 212 2 2 1 21 1 2 212 2 2 1 2 1 33 4 1 44 4 1 1 4 1 1 2 yy rugi yyyyyy yy yyyyyyyyyy yy yy y y yy y y yy y y g v h                  Jadi rugi dissipasi lompatan hidrolik adalah:   21 3 12 4 yy yy hrugi   Dari sini tampak bahwa kerugian disipasi terjadi hanya jika y2 > y1, artinya lompatan hidrolik terjadi hanya jika aliran di hulu superkritis. Gambar 151. Aliran tenang (Fr<1)
  • 239.
    227 Gambar 152. Aliranderas (Fr>1,0) Klasifikasi lompatan hidrolik Parameter utama yang mempengaruhi lompatan hidrolik adalah bilangan Froude,   21 11 gyvFr  , aliran hulu. Bilangan Reynolds dan geometri saluran hanya memberikan pengaruh sekunder. Dalam aliran tenang (Gambar 151), dicirikan oleh Fr < 1, tidak mungkin terjadi lompatan hidrolik. Dalam aliran deras (Gambar 152) bisa terjadi lompatan hidrolik dengan ciri-ciri yang berbeda sesuai nilai Fr. Berikut adalah salah satu cara klasifikasi lompatan hidrolik: 1) Pada Fr = 1,0 sampai 1,7 terjadi lompatan berayun dengan gelombang-diam sepanjang kira-kira 4y2; disipasi energinya rendah (< 5%). 2) Pada Fr = 1,7 sampai 2,5 terjadi lompatan lemah dengan permukaan naik secara halus dengan gulungan kecil gelombang; disipasi energinya 5 sampai 10%. 3) Pada Fr = 2,5 sampai 4,5 terjadi lompatan berosilasi tak stabil; tiap lendutan tak teratur menghasilkan gelombang besar yang bisa menjalar ke hilir bermil-mil jauhnya, merusak tanah pinggir saluran dan struktur lainnya. Disipasi energinya 15 sampai 45%, dan kondisi ini tidak dianjurkan untuk desain. 4) Pada Fr = 4,5 sampai 9,0 terjadi lompatan steady, seimbang baik dan stabil; dipandang sebagai keadaan terbaik untuk desain dengan disipasi energi 45 sampai 70%. 5) Pada Fr > 9,0 terjadi lompatan kuat yang agak terputus-putus, tetapi kinerjanya baik dengan disipasi energi 70 sampai 85%.
  • 240.
    228 h dh b H Gambar 153. Notchberbentuk sembarang D. PengukuranAliran Pengukuran aliran Notch adalah bukaan pada sisi tangki atau tandon pengukuran yang merentang ke atas sampai permukaan bebas (free surface). Weir adalah notch pada skala besar, yang digunakan misalnya untuk mengukur aliran sebuah sungai, dan tepinya dibuat tajam (tipis) atau memiliki lebar sepanjang arah aliran. Metode untuk menentukan aliran teoritik melalui notch sama dengan yang diadopsi untuk orifice besar. Untuk notch berbentuk sembarang (Gambar 153), dengan pita selebar b setebal dh pada kedalaman h di bawah permukaan bebas. Luas pita, dhbdA . Kecepatan melalui pita, ghV 2 Aliran melalui pita, dhbghdAVdQ  2. Integrasi aliran dari h = 0 di permukaan bebas sampai h = H di dasar notch memberikan aliran teoritis total: dhbhgdhbghdQQ Hh h Hh h ..2..2 00       Untuk integrasi persamaan ini diperlukan pengetahuan ungkapan b sebagai fungsi h. Notch persegi Untuk notch persegi dengan lebar b konstan sebesar B, ungkapan debitnya adalah: 23 3 2 0 2.2 HBgdhhBgQ Hh h    
  • 241.
    229  b H h Gambar 154. Notch-V Notch-VUntuk notch-V dengan sudut  (Gambar 154), hH b        2 1 2 tan  atau:    2 1 tan2 hHb  sehingga ungkapan debit alirannya menjadi:     dhhhHgdhbhgQ Hh h Hh h .tan22..2 0 2 1 0        atau:   Hh h hHhgQ        0 2523 2 1 5 2 3 2 tan22  atau   25 2 1 tan2 15 8 HgQ  Dari sini jelas bahwa bentuk hubungan Q dan H yang diinginkan bisa diatur dengan memilih bentuk notch yang sesuai. Seperti halnya pada orifice, aliran aktual melalui notch atau weir bisa ditentukan dengan mengalikan aliran teoritik dengan koefisien aliran (discharge coefficient) untuk memperhitungkan kerugian energi dan kontraksi penampang lintang aliran pada dasar dan sisi notch atau weir. Kecepatan aliran cairan menghampiri notch bisa dianggap sangat kecil sehingga energi kinetiknya bisa diabaikan; selain itu bisa juga diambil anggapan bahwa kecepatan melalui elemen horizontal pada notch hanya tergantung pada kedalamannya di bawah permukaan bebas. Kedua anggapan ini memuaskan untuk aliran pada notch atau weir di tepi tandon yang besar. Namun bila notch atau weir ditempatkan pada tepi kanal sempit, kecepatan hampiran pada weir akan cukup berarti
  • 242.
    230 dan head hyang menghasilkan aliran akan meningkat akibat energi kinetik cairan yang menghampirinya pada nilai: g V hx 2 2 1  dengan v1 adalah kecepatan aliran pada kanal hampiran. Nilai v1 diperoleh dari pembagian aliran dengan luas total penampang kanal itu sendiri (bukan luas notch). Hasilnya, aliran melalui strip menjadi: dhbgxdQ ..2 ½  B H Gambar 155. Notch trapesium Notch Trapesium Persamaan untuk aliran melalui notch trapesium (Gambar 155) diperoleh dari persamaan untuk notch persegi dan V, yaitu: Vpersegitrapesium QQQ  dengan: 23 3 2 2 HBgQpersegi    25 2tan2 15 8 HgQV 
  • 243.
    231 MODUL XII. ALIRAN EKSTERNAL Deskripsi Sepertitergambar dari sebutannya, aliran eksternal mewakili fenomena aliran yang terjadi di sekitar suatu benda apapun. Dalam geraknya relatif terhadap fluida, suatu benda akan mengalami gaya hambat dan gaya angkat. Modul ini mengulas cara menentukan besarnya kedua gaya tersebut. Sasaran belajar: 14. Membedakan aliran eksternal dari aliran internal 15. Menghitung besar dan menentukan arah gaya hambat dan gaya angkat yang dialami suatu benda dalam pergerakannya di dalam fluida. A. Aliran Eksternalvs. Internal Aliran eksternal vs. internal Pada modul-modul sebelumnya pembahasan terbatas pada aliran fluida yang melalui saluran berupa dinding padat. Saluran dikatakan tertutup jika aliran dibatasi sepenuhnya oleh permukaan dinding padat, dan saluran dikatakan terbuka jika aliran dibatasi sebagian oleh permukaan dinding padat dan sisanya terbuka atau kontak dengan atmosfir. Semua aliran yang terjadi di sini dikatakan aliran internal. Aliran internal digerakkan terutama oleh perbedaan tekanan atau oleh perbedaan ketinggian. Modul ini akan membahas aliran eksternal, yaitu aliran yang terjadi di luar atau di sekitar benda yang terendam dalam fluida (Gambar 156). Aliran semacam ini terjadi, misalnya, di sekitar pesawat terbang, kendaraan darat, kendaraan air, bangunan, dll. Akibat aliran di sekitarnya, benda akan mengalami dua macam gaya, yaitu gaya hambat (drag force) searah aliran, dan gaya angkat (lift force) tegaklurus arah aliran. Penerapan Pemahaman tentang aliran eksternal memungkinkan analisis gaya hambat dan angkat pada benda. Ini diperlukan misalnya dalam mendesain aspek aerodinamik turbin angin, pesawat terbang, mobil, dlsb; atau aspek hidrodinamik kapal laut, kapal selam dan kendaraan air lainnya, aliran di luar pipa pendingin kondenser, dll.
  • 244.
    232 Gambar 156. Aliraneksternal B. Gaya Hambat & Angkat Gaya hambat dan angkat Analisis aliran bisa dilakukan dengan menempatkan sistem koordinat pada benda. Analisis ini diperlukan untuk memperkirakan besarnya gaya hambat dan angkat yang bekerja pada benda. Analisis analitik hanya bisa dilakukan pada persoalan yang sangat disederhanakan. Dalam praktiknya, analisis aliran di sekitar benda, terlebih lagi yang memiliki geometri rumit, sangat mengandalkan korelasi empirik yang diturunkan dari data eksperimen. Sebuah benda yang terndam dalam aliran fluida akan mengalami gaya-gaya tekan dan geser viskos. Untuk aliran 2D, resultan gaya- gaya ini bisa diurai menjadi dua komponen: gaya angkat (lift force) dan gaya hambat (drag force). Besarnya gaya angkat FL dan gaya hambat FD ini bergantung pada: densitas fluida (), kecepatan aliran bebas (V), ukuran/luas benda (A), serta bentuk dan orientasi benda yang diwakili oleh koefisien gaya angkat CL dan koefisien gaya hambat CD, yaitu:     AVCFCF AVCFCF DkinetikDD LkinetikLL 2 2 1 2 2 1       Koefisien gaya angkat CL dan hambat CD ditentukan dari eksperimen (menggunakan terowongan angin atau air) berdasarkan perbandingan gaya-gaya tersebut dengan gaya kinetik:
  • 245.
    233 AV F F F C AV F F F C D kinetik L D L kinetik L L 2 2 1 2 2 1                   Koefisien gaya angkatCL dan hambat CD selain bergantung pada geometri juga pada keadaan aliran sebagaimana tercermin dari bilangan Reynoldsnya. Ukuran luas geometri benda A ditentukan berdasarkan definisi yang dibuat saat pengumpulan data dilakukan. Definisi A berbeda-beda pada objek kajian yang berbeda sehingga perlu dicermati dengan baik sebelum suatu korelasi digunakan. Misal,  Pada silinder berdiameter D sepanjang L, A didefinisikan sebagai luas tampak depan (frontal area) sebagaimana yang dihadapi oleh aliran; jadi A = DL.  Pada sayap pesawat, A bukan didefinisikan sebagai luas tampak depan melainkan luas bentuk datar sayap (planform area), yaitu hasilkali panjang tali busur (chord, c) airfoil dan bentang sayap L; jadi A = cL. Gaya hambat: tekanan & gesekan Hambatan bentuk benda (profile drag) tersusun dari dua komponen, yaitu hambatan gesekan (friction drag) akibat gesekan fluida di kulit permukaan benda, dan hambatan tekanan (pressure drag) akibat perbedaan tekanan fluida di depan dan belakang benda. Hambatan gesekan dan hambatan tekanan sangat bergantung pada bentuk dan orientasi benda. Benda dengan permukaan yang lebih luas akan mengalami gaya gesekan yang lebih besar. Hambatan tekanan biasanya dominan untuk benda gemuk (blunt bodies) dan sangat kecil untuk benda langsing (streamline). Besarnya hambatan tekanan sebanding dengan perbedaan tekanan di depan dan belakang benda.
  • 246.
    234 Gambar 157. Pemisahanaliran pada aerofoil Pemisahan aliran Pada kecepatan yang cukup tinggi, arus fluida bisa lepas dari permukaan benda sehingga terjadilah pemisahan aliran (flow separation). Pemisahan aliran terjadi jika aliran dalam lapisan batas tidak memiliki cukup energi kinetik untuk mengatasi kenaikan tekanan arushilir. Untuk terjadinya pemisahan aliran diperlukan dua syarat, yaitu:  Gradien tekanan positif, (dp/dx) >0, dan  Pemisahan aliran lapisan batas (boundary layer flow). Pada aerofoil, jika sudut antara talibusur (chord) dan arus aliran lebih besar dari nilai tertentu (beberapa belas derajat) maka terjadi pemisahan aliran. Pemisahan aliran (Gambar 157) menyebabkan:  Gaya angkat berkurang karena turunnya perbedaan tekanan di bawah dan atas aerofoil, dan  Gaya hambat bertambah karena naiknya perbedaan tekanan di depan dan belakang aerofoil. Dalam keadaan ini gaya angkat aerofoil anjlok, seakan kehilangan gaya angkat. Peristiwa ini biasa disebut stall. Lihat Gambar 158.
  • 247.
    235 Gambar 158. Efekpemisahan aliran pada koefisien gaya angkat dan hambat aerofoil Ulasan lapisan batas Pengenalan konsep lapisan batas (1904) telah membawa kemajuan signifikan dalam mekanika fluida. Konsep ini memungkinkan pembagian medan aliran melalui dinding dalam dua daerah, yaitu:  daerah lapisan batas (viskos), dan  daerah invisid. Lapisan batas yang terjadi di sekitar dinding permukaan datar tumbuh makin tebal ke arus hilir. Pada bilangan Reynolds besar, gaya inersia lebih besar daripada gaya viskos sehingga gaya viskos tidak bisa mencegah fluktuasi fluida yang acak dan cepat. Akibatnya aliran menjadi turbulen. Lihat Gambar 159. Gambar 159. Pertumbuhan lapisan batas dari laminer ke turbulen
  • 248.
    236 Gambar 160. KurvaCd bola dan silinder Hambatan gesekan dinding jauh lebih besar dalam lapisan batas turbulen, dibandingkan dalam lapisan batas laminer, karena gradien kecepatannya lebih besar. Pada saat yang sama, karena lebih tingginya kecepatan dalam daerah dekat dinding, lapisan batas turbulen juga lebih mampu menahan pemisahan aliran. Efek dari mundurnya lokasi pemisahan aliran adalah lebih rendahnya hambatan tekanan. Ini tampak pada penurunan mendadak nilai CD pada bilangan Reynolds ~5105 di mana lapisan batas menjadi turbulen dan lokasi pemisahan aliran mundur lebih ke belakang benda (Gambar 160). Di sini, ukuran wake berkurang dan demikian pula hambatan tekanan. Kenyataan ini bisa dan telah dimanfaatkan, misalnya, untuk menunda terjadinya pemisahan aliran pada bola golf dengan cara membuat cekungan-cekungan (dimples) di permukaannya. Efek dari mundurnya lokasi pemisahan aliran adalah lebih rendahnya hambatan tekanan, sehingga secara keseluruhan hambatan aliran bola golf berkurang, dan bola golf bisa menjangkau jarak lebih jauh. Contoh Suatu parasut dengan porositas rendah berdiameter 10m diameter digunakan untuk menurunkan beban 100 kg. Berapakah kecepatan jatuh terminal benda jika diketahui CD sebesar 1,2 dan densitas udara 1,2 kg/m3. Gaya-gaya yang bekerja pada kasus penjatuhan benda ini adalah gaya berat dan gaya hambat. Pada saat awal mulai dilepas, parasut dan benda bergerak dipercepat sampai saat keadaan terminal tercapai. Setelah itu, karena gaya-gaya yang berkerja seimbang, percepatan menjadi nol dan benda bergerak dengan kecepatan jatuh tetap (disebut kecepatan terminal). Pada keadaan ini, neraca gaya arah-y (arah jatuh):
  • 249.
    237   0 0    beratDrag y FF FmV dt d atau: 02 2 1 mgAVC jatuhD  atau: AC mg V D jatuh 2 1  Jika dianggap massa parasut adalah 5 kg, maka:          sm mmkg smkg Vjatuh 3,42,18 102,12,1 8,9.5100 2 4 3 2 1 2    
  • 250.
    238 MODUL XIII. KESERUPAAN &PEMODELAN Deskripsi Mekanika dikembangkan melalui pasangan metode teoritik dan eksperimental yang keduanya saling melengkapi. Eksperimen yang berhasil memerlukan perencanaan yang baik. Sebagai bagian penting dari perencanaan eksperimen adalah analisis dimensional. Analisis dimensional memungkinkan reduksi jumlah variabel berdimensi yang terlibat dalam eksperimen. Dengan demikian eksperimen bisa dilaksanakan dengan jauh lebih efisien. Sasaran belajar: 16. Menjelaskan pengertian dimensi, dimensi dasar, dimensi turunan, dan sistem satuan 17. Menjelaskan kepentingan dan melakukan analisis dimensional 18. Membedakan keserupaan geometrik, kinematik, dinamik, dan keserupaan total antara model dan prototip 19. Melakukan penskalaan dari model ke prototip A. Dimensi Dimensi Dimensi adalah ukuran kuantitas fisis semisal panjang, waktu, massa. Satuan adalah pemberian angka pada suatu dimensi, misalnya panjang dalam m, waktu dalam detik, dan massa dalam kg. Dimensi ada 2 macam, yaitu: 1. Dimensi primer/dasar (fundamental) 2. Dimensi sekunder/turunan Dimensi dasar & turunan Dimensi dasar ada 7, yaitu: 1. Massa m (kg) 2. Panjang L (m) 3. Waktu t (sec) 4. Suhu T (K) 5. Arus listrik I (A) 6. Jumlah cahaya C (cd) 7. Jumlah materi N (mol) Ketujuh dimensi dasar ini bisa dikombinasikan untuk membentuk semua dimensi turunan. Contoh:  [Kecepatan] = [Panjang/Waktu] = [L/t]  [Gaya] = [Massa Panjang/Waktu2] = [mL/t2] Penentuan dimensi dasar Dimensi yang dipandang dasar atau fundamental sebenarnya dipilih begitu saja. Ilustrasinya demikian. Luas A adalah karakteristik yang bisa diukur dari suatu objek, dan berarti luas adalah dimensi.
  • 251.
    239 Dimensi luas =dimensi panjang dikuadratkan (A=L2). Namun boleh juga dikatakan: Dimensi panjang = dimensi luas diakarkuadratkan (L=A1/2) Jadi, tidak jelas mana dimensi yang lebih dasar daripada lainnya. Walaupun demikian, sepintas tampak adanya hirarki kegunaan dalam sehimpunan dimensi yang serupa. Oleh karena itu, sejumlah dimensi sepakat dipilih begitu saja sebagai dimensi dasar, dan semua dimensi yang terkait dengan dimensi dasar disebut sebagai dimensi turunan. Dari sini bisa dipahami kenyataan bahwa kesepakatan tentang dimensi dasar di dunia ini memang tidak hanya satu, tetapi lebih dari satu. Ini bisa dilihat dari perbedaan dimensi dasar dalam dua sistem satuan berikut:  Sistem MLt – dengan massa sebagai dimensi dasar.  Sistem FLt – dengan gaya sebagai dimensi dasar. Satuan, dengan demikian, tidak lebih dari cara untuk mengangkakan dimensi. Satuan memberikan skala angka yang bisa dipakai untuk melakukan pengukuran kuantitas dalam suatu dimensi. Skala angka satuan, berbeda dari dimensi, bersifat sembarang dan tidak berurusan dengan hukum fisika. Gagasan tentang sistem satuan lebih merupakan produk budaya atau peradaban silam yang beragam. Jadi bisa dimengerti jika suatu dimensi memiliki beragamnya satuan pengukuran. Akibatnya, makna suatu ukuran bergantung pada cara bagaimana ia diperoleh, yaitu pada macam sistem pengangkaan yang digunakan. B. Nirdimensionalisasi Nirdimensi- onalisasi Persamaan fisika yang biasanya berdimensi bisa menjadi tak berdimensi jika setiap suku diskalakan dengan dimensi primer yang terdapat dalam persamaan asalnya. Dalam persoalan aliran fluida setidaknya ada 3 parameter penskala, yaitu: 1. L, 2. V, dan 3. P0 - P, sebab sedikitnya ada 3 dimensi primer dalam persoalan umum (massa, panjang, dan waktu). Keuntungan nirdimensionalisasi adalah: 1. Meningkatkan insight tentang parameter kunci. 2. Mengurangi jumlah parameter persoalan: a. Lebih mudah dikomunikasikan, b. Lebih sedikit eksperimen, c. Lebih sedikit simulasi.
  • 252.
    240 3. Memungkinkan ekstrapolasihasil ke kondisi yang belum diuji. Nirdimensionalisasi bisa dilakukan jika persamaan atur suatu fenomena sudah diketahui. Namun, dalam banyak persoalan aliran, persamaan bisa tidak diketahui atau sulit diselesaikan: 1. Eksperimen satu-satunya cara untuk memperoleh informasi andal. 2. Dalam kebanyakan eksperimen digunakan model skalaan geometrik (untuk menghemat waktu & uang). 3. Keadaan dan hasil eksperimen harus diskalakan serawajar sehingga hasilnya penuharti untuk prototip skala penuh. Untuk itu perlu Analisis Dimensi. C. Analisis Dimensi Tujuan Tujuan utama analisis dimensi adalah: 1. Memperoleh parameter tak berdimensi yang membantu dalam perancangan eksperimen (fisik dan/atau numerik) dan dalam pelaporan hasil. Parameter tak berdimensi biasa ditandai oleh lambang . 2. Memperoleh hukum penskalaan sehingga kinerja prototip bisa diprediksi dari kinerja model. 3. Memperkirakan kecenderungan dalam hubungan antar- parameter. Butir-butir ini penting kaitannya dengan pemodelan, karena eksperimen seringkali dilakukan pada skala model. Teori Model Ada 3 syarat yang perlu dipenuhi agar terdapat keserupaan (similarity) penuh antara sebuah model dan prototip. 1. Keserupaan Geometrik – bentuk model sama dengan prototip. Setiap dimensi diskalakan dengan faktor yang sama. 2. Keserupaan Kinematik – kecepatan di tiap titik dalam model sebanding dengan dalam prototip sebesar faktor skala tetap. 3. Keserupaan Dinamik – semua gaya dalam model sebanding dengan dalam prototip sebesar faktor skala tetap. 4. Keserupaan Total dicapai hanya jika semua 3 syarat di atas terpenuhi. Ini tidak selalu mungkin diraih, misal: model kapal & model sungai. Keserupaan total, dengan kata lain, dipenuhi jika semua parameter tak berdimensi  independen pada model dan prototipe bernilai sama. Contoh parameter tak berdimensi  adalah bilangan Reynolds Re, bilangan Froude Fr, koefisien Drag, CD, dll. Contoh Tinjaulah eksperimen mobil. Pada kasus ini, yang penting untuk diperoleh adalah gambaran gaya hambat aerodinamik yang dialami mobil saat melaju. Secara umum, besarnya hambatan bisa dipikirkan
  • 253.
    241 akan merupakan fungsidari kecepatan udara relatif terhadap mobil, sifat udara (densitas dan viskositas) serta dimensi mobil. • Gaya hambat F = f(V,  , L) • Melalui analisis dimensi, persoalan yang asalnya melibatkan 5 parameter berdimensi bisa direduksi menjadi hanya melibatkan 2 parameter tak berdimensi  21  f atau  RefCD  . Eksperimen biasanya dilakukan dalam skala model (Gambar 161). Jika dari eksperimen dengan model mobil telah diperoleh hubungan CD dan Re, maka hambatan aerodinamik dari prototipe pada Re yang sama bisa diperkirakan sbb: 22 ,, 22 , 22 , model,prototip,                      m p m p m p mDpD mmm mD ppp pD DD L L V V FF LV F LV F CC    Gambar 161. Model dan prototipe mobil Teori Model Buckingham Parameters tak berdimensi  bisa diperoleh dengan sejumlah metode, salahsatunya adalah Metode Pengulangan Variabel. Metode ini dipopulerkan oleh Edgar Buckingham (1867–1940) & pertama dipublikasikan oleh ilmuwan Rusia Dimitri Riabouchinsky (1882–1962) pada tahun 1911. Enam langkah: 1. Kenali parameter dlm masalah dan hitung jumlahnya n. 2. Daftarkan dimensi dasar tiap parameter.
  • 254.
    242 3. Tentukan banyaknyadimensi dasar yang terlibat j. Gunakan j sebagai taksiran reduksi #parameter. Hitung k yaitu #parameter tak berdimensi , k = n - j. 4. Pilih j parameter pengulangan. 5. Susun  sebanyak k, dan otak-atik seperlunya. 6. Tulis hubungan fungsional akhir dan periksa aljabarnya. Berikut adalah pedoman pemilihan parameter pengulangan: 1. Parameter pengulangan yang dipilih harus mewakili SEMUA dimensi dasar. 2. Kelompok Parameter pengulangan terpilih sebaiknya tidak bisa dijadikan tak berdimensi di antara mereka sendiri. Jika tidak,  sisanya tak bisa dibentuk. 3. Ambil parameter lazim karena bisa muncul pada tiap . 4. Ambil parameter sederhana daripada parameter rumit. 5. Jangan pernah pilih variabel dependen supaya tidak muncul dalam semua . 6. Jangan pernah ambil parameter yang sudah tak berdimensi. 7. Jangan pernah ambil dua parameter dengan dimensi sama atau berbeda hanya pada pangkatnya. 8. Pilih konstanta berdimensi daripada variabel berdimensi sehingga hanya satu  yang mengandung variabel berdimensi itu. Keserupaan Tanlengkap Keserupaan total, dalam praktiknya bisa sangat sulit untuk dicapai. Oleh karena itu, seringkali dilakukan eksperimen dengan model yang tidak serupa sepenuhnya dengan prototipe. Sebagai contoh, kesulitan ini dijumpai pada aliran dalam saluran terbuka. Aliran dengan permukaan bebas menghadirkan tantangan unik dalam penyerupaan dinamika lengkap. Untuk penerapan hidrolika (Gambar 162), kedalaman sangat kecil dibandingkan lebar sungai. Jika geometri dibuat serupa, kedalaman model jadi begitu kecil sehingga muncul masalah  Efek tegangan permukaan (bilangan Weber) menjadi penting.  Pengumpulan data menjadi sulit. Jadi diambil model tak serupa yang membutuhkan koreksi/korelasi empirik untuk mengekstrapolasi data model ke skala penuh.
  • 255.
    243 (a) (b) Gambar 162. Prototipedam Wanapum di Sungai Columbia AS (a) dan model fisik dam di Iowa Institute of Hydraulic Research (b) Kesulitan yang sama juga dijumpai dalam pemodelan kapal laut (Gambar 163). Untuk hidrodinamika kapal, keserupaan Fr dipertahankan sementara Re dibiarkan berbeda. Hal ini dilakukan karena keserupaan total, di mana parameter Re dan Fr harus sekaligus cocok untuk model dan prototipe, tidak mungkin dicapai dalam praktiknya. Mengapa? Simak keserupaan lengkap berikut: p m p m p m m mm m p pp p L L V V atau LV Re LV Re      : dan
  • 256.
    244 21 p m p m m m m p p p L L V V atau gL V Fr gL V Fr           : sehingga dari keduanyadiperoleh syarat: 2 p m p m L L 3            Supaya Re & Fr keduanya cocok, viskositas fluida dalam uji model merupakan fungsi skala: 𝜐 𝑚 𝜐 𝑝 = ( 𝐿 𝑚 𝐿 𝑝 ) 3 2⁄ . Hal ini jelas tidak selalu bisa dicapai. (a) (b) Gambar 163. Prototipe kapal laut (a) dan model skala 1/20 (b)
  • 257.
    245 D. EkstrapolasiModel-Prototipe Ekstrapolasi keserupaan tanlengkap Walaupun pencocokannilai semua  pada model dengan  suaian pada prototipe tidak selalu bisa dilakukan, untungnya dalam sejumlah kasus keserupaan tanlengkap seperti ini, ekstrapolasi hasil uji pada model masih bisa dilakukan untuk memperoleh taksiran pada prototipe skala penuh. Contoh: pengukuran gaya hambat model truk dalam terowongan angin yang memiliki kecepatan maksimum 70 m/s. Model yang digunakan serupa sageometri berskala 1/16 sepanjang 0,991 m. Bagian uji terowongan angin cukup besar sehingga efek penyumbatan (blockage) tidak perlu dirisaukan. Udara dalam terowongan angin bersuhu dan tekanan sama dengan udara yang mengalir lewat prototipe. Aliran yang disimulasikan adalah pada kecepatan prototipe Vp = 60 mi/h (26,8 m/s). Hal pertama yang dilakukan adalah menyamakan Re: Dari sini diperoleh kecepatan uji model Vm sebesar: Angka ini 6 kali lebih besar dari kecepatan maksimum yang bisa dicapai terowongan angin, dan aliran jadi supersonic (>346 m/s). Bilangan Mach pada prototipe (0,080) tidak cocok dengan pada model (1.28). Jelas tidak mungkin bilangan Reynolds pada model disamakan dengan pada prototipe menggunakan model & terowongan angin ini. Lalu bagaimana?
  • 258.
    246 Pilihan untuk atasikeserupaan tanlengkap: 1. Gunakan terowongan angin lebih besar. Perusahaan biasanya melakukan uji pada model mobil skala 3/8 dan truk atau bus skala 1/8 dalam terowongan angin yang sangat besar. Besarnya model dibuat agar sumbatan/blockage (rasio luas muka model & tampang lintang saluran uji) < 7,5%. 2. Gunakan fluida beda. Terowongan air bisa mencapai bilangan Reynolds lebih besar daripada terowongan angin untuk ukuran yang sama, tetapi biaya instalasi & operasinya lebih mahal. 3. Naikkan tekanan dan/atau setel suhu udara untuk menaikkan kemampuan bilangan Reynolds maksimum (terbatas). 4. Jalankan terowongan angin di dekat kecepatan maksimum, dan ekstrapolasi hasilnya ke bilangan Reynolds skala penuh. Data gaya hambat FD dari hasil uji terowongan angin model truk skala 1/16 dengan panjang 0,991 m, tinggi 0,257 m, dan lebar 0,159 m diperlihatkan pada tabel. Akan ditaksir besarnya gaya hambat aerodinamik pada prototip yang melaju 26,8 m/s. Anggaplah udara dalam terowongan angin sama dengan yang mengalir melalui prototipe, suhu 25°C dan tekanan atmosferik. Besarnya CD dan Re untuk model bisa dihitung berdasarkan data pada tabel, misal:
  • 259.
    247 Dan hasil seluruhnyadalam grafik adalah: Besarnya bilangan Re prototipe: Bilangan Reynolds prototipe 6 kali lebih besar daripada model. Karena Re keduanya tidak sama, maka di sini tidak bisa dicapai keserupaan dinamik. Walaupun demikian, dari gambar CD vs. Re tampak bahwa Ketaktergantungan pada Re bisa dicapai — pada Re > sekitar 5  105, CD menetap sekitar 0,76. Dari sini, ekstrapolasi ke prototipe skala penuh bisa dilakukan denga anggapan CD tetap dengan kenaikan Re sampai nilainya untuk prototipe. Taksiran hambatan aerodinamik prototipe adalah: Ctt: tidak ada jaminan bahwa angka ekstrapolasi ini benar.