Modul Logika Informatika @ Mustahal, S.Si 
BAB 3 : ALJABAR BOOLE 
Universitas Islam Lamongan (UNISLA) Page 38 of 55 
PENDAHULUAN 
Aljabar Boole, sebagai salah satu cabang matematika, pertama kali 
dikemukakan oleh George Boole pada tahun 1854. Boole dalam bukunya The 
Law Of Thought, memaparkan aturan-aturan dasar logika (yang dikenal 
dengan logika boolean). Aturan dasar logika ini membentuk Aljabar Boole. 
Pada tahun 1938, Claude Shannon memperlihatkan penggunaan Aljabar 
Boole untuk merancang rangkaian sirkuit listrik yang menerima masukan 0 
dan 1 serta menghasilkan keluaran 0 dan 1 juga. Aljabar Boole telah 
menjadi dasar teknologi komputer digital. Saat ini aljabar boole digunakan 
secara luas dalam rangkaian perancangan pensaklaran, rangkaian digital, 
dan rangkaian IC (Intergrated Circuit) komputer. 
DEFINISI ALJABAR BOOLE 
Aljabar boole merupakan aljabar yang terdiri atas suatu himpunan 
dengan dua operator biner yang didefinisikan pada himpunan tersebut yaitu 
: 
+ (penambahan) ekuivalen dengan Ú (OR) 
• (perkalian) ekuivalen dengan Ù (AND) 
Pada aljabar boole juga berlaku hukum-hukum logika, hanya berubah tanda 
saja yaitu : 
Ù (AND) menjadi * atau • 
Ú (OR) menjadi + 
¬(Negasi) menjadi ’ atau ` dalam aljabar boole disebut komplemen 
Misal : 
• aÙb menjadi a*b atau a.b atau cukup ditulis ab 
• aÚb menjadi a+b 
• ¬a menjadi a’ atau a 
Identitas p.1 º p p+0 º p 
Ikatan P+1 º 1 p.0 º 0 
Idempoten p+p º p p.p º p 
Komplemen p+p’ º 1 p.p’ º 0 
(p’)’ º p 1’=0 dan 0’=1 
Komutatif p+q º q+p p.q º q.p 
Asosiatif (p+q)+r º p+(q+r) (p.q).r º p.(q.r) 
Distributif p+(q.r) º (p+q).(p+r) p.(q+r) º (p.q)+(p.r) 
De Morgan’s (p.q)’ º p’+q’ (p+q)’ º p’ . q’ 
Aborbsi pÙ(pÚq) º p pÚ(pÙq) º p
Modul Logika Informatika @ Mustahal, S.Si 
Terdapat perbedaan antara aljabar boole dengan aljabar biasa untuk 
aritmatika bilangan riil : 
1. Hukum distributif + dan . seperti pada a+(b.c)=(a+b).(a+c) benar unutk 
aljabar boole tetapi tidak benar untuk aljabar biasa. 
2. Aljabar boole tidak memiliki kebalikan perkalian atau penjumlahan 
sehingga tidak ada operasi pembagian dan pengurangan. 
Universitas Islam Lamongan (UNISLA) Page 39 of 55 
DUALITAS 
Dual dari setiap pernyataan S dalam sebuah aljabar boole B adalah 
pernyataan yang didapat dengan mengubah operasi-operasi + dan ., dan 
mengubah elemen identitas yang menghubungkan 0 dan 1 dalam 
pernyataan awal di S. Dalam hal ini berarti mengganti : 
* dengan + 
+ dengan * 
0 dengan 1 
1 dengan 0 
Contoh 3.1: 
Tuliskan dual dari setiap persamaan boolean berikut 
1) (a*1)*(0+a’)=0 
Untuk mencari dual dari persamaan di atas maka : 
• Pada (a.1), ubah * menjadi + dan 1 menjadi 0 
• Ubah * pada (a*1)*(0+a’) menjadi + 
• Pada (0+a’), ubah 0 menjadi 1 dan + menjadi * 
• Komplemen pada a’ tidak berubah 
Sehingga secara keseluruhan dualnya adalah : 
(a * 1) * ( 0 + a’)=0 
(a + 0) + (1 * a’)=1  dual 
2) a+(a’*b)=a+b 
Dengan cara yang sama seperti contoh di atas maka dulanya : 
a*(a’+b)=a*b 
Sekarang, coba Anda cari dual dari persamaan boolen berikut 
3) a(a’+b)=ab 
4) (a+1)(a+0)=a 
5) (a+b)(b+c)=ac+b 
FUNGSI BOOLEAN 
Fungsi Boolean (disebut juga fungsi biner) adalah pemetaan dari Bn 
ke B melalui ekspresi Boolean, kita menuliskannya sebagai 
f : Bn ® B
Modul Logika Informatika @ Mustahal, S.Si 
yang dalam hal ini Bn adalah himpunan yang beranggotakan pasangan 
terurut ganda-n (ordered n-tuple) di dalam daerah asal B. 
Setiap ekspresi Boolean tidak lain merupakan fungsi Boolean. Misalkan 
sebuah fungsi Boolean adalah : 
f(x, y, z) = xyz + x’y + y’z 
Fungsi f memetakan nilai-nilai pasangan terurut ganda-3 (x, y, z) ke 
himpunan {0, 1}. Contohnya, (1, 0, 1) yang berarti x = 1, y = 0, dan z = 1 
sehingga f(1, 0, 1) = 1 × 0 × 1 + 1’ × 0 + 0’× 1 = 0 + 0 + 1 = 1 . 
Contoh-contoh fungsi Boolean yang lain: 
1. f(x) = x 
2. f(x, y) = x’y + xy’+ y’ 
3. f(x, y) = x’ y’ 
4. f(x, y) = (x + y)’ 
5. f(x, y, z) = xyz’ 
Setiap peubah di dalam fungsi Boolean, termasuk dalam bentuk 
komplemennya, disebut literal. 
Fungsi h(x, y, z) = xyz’ pada contoh di atas terdiri dari 3 buah literal, yaitu 
x, y, dan z’. 
Contoh 3.2: 
Diketahui fungsi Booelan f(x, y, z) = xy z’, nyatakan h dalam tabel 
kebenaran. 
Penyelesaian: 
x y z f(x, y, z) = xy z’ 
0 
0 
0 
0 
1 
1 
1 
1 
Universitas Islam Lamongan (UNISLA) Page 40 of 55 
0 
0 
1 
1 
0 
0 
1 
1 
0 
1 
0 
1 
0 
1 
0 
1 
0 
0 
0 
0 
0 
0 
1 
0 
FUNGSI KOMPLEMEN 
Untuk menentukan komplemen dari suatu persamaan boolean, maka 
dapat digunakan prinsip dualitas dan hukum De Morgan. 
1. Cara pertama: menggunakan hukum De Morgan 
Contoh 3.3. Misalkan f(x, y, z) = x(y’z’ + yz), maka 
f ’(x, y, z) = (x(y’z’ + yz))’ 
= x’ + (y’z’ + yz)’ 
= x’ + (y’z’)’ (yz)’ 
= x’ + (y + z) (y’ + z’)
Modul Logika Informatika @ Mustahal, S.Si 
2. Cara kedua: menggunakan prinsip dualitas. 
Tentukan dual dari ekspresi Boolean yang merepresentasikan f, lalu 
komplemenkan setiap literal di dalam dual tersebut. 
Contoh 3.4. 
Misalkan f(x, y, z) = x(y’z’ + yz), maka 
Dual dari f: x + (y’ + z’) (y + z) 
Komplemenkan tiap literalnya: x’ + (y + z) (y’ + z’) = f ’ 
Jadi, f ‘(x, y, z) = x’ + (y + z)(y’ + z’) 
Universitas Islam Lamongan (UNISLA) Page 41 of 55 
BENTUK KANONIK 
Beberapa fungsi boolean mungkin memiliki ekspresi aljabar yang 
berbeda tetapi sebenarnya mempunyai nilai fungsi yang sama. Sebagai 
contoh : f(x,y)=(xy)’ dan h(x,y)=x’+y’, adalah dua buah fungsi yang sama 
(Bisa dibuktikan dengan hukum De Morgan). 
Contoh lain : 
f(x,y,z)=x(y+z’) dan g(x,y,z)=xyz+xyz’+xy’z’ 
adalah dua buah fungsi yang sama. Fungsi f muncul dalam bentuk 
perkalian dari hasil jumlah sedangkan g muncul dalam bentuk 
penjumlahan dari hasil kali. Perhatikan juga bahwa setiap suku (term) 
mengandung literal yang lengkap. Fungsi boolean yang dinyatakan dalam 
bentuk perkalian dari hasil jumlah dan penjumlahan dari hasil kali, dengan 
setiap suku mengandung literal lengkap disebut bentuk KANONIK. 
Ada dua macam bentuk kanonik: 
1. Penjumlahan dari hasil kali (sum-of-product atau SOP) 
2. Perkalian dari hasil jumlah (product-of-sum atau POS) 
Contoh 3.5: 
1. f(x, y, z) = x’y’z + xy’z’ + xyz  SOP 
Setiap suku (term) disebut minterm 
2. g(x, y, z) = (x + y + z)(x + y’ + z)(x + y’ + z’) (x’ + y + z’)(x’ + y’ + z)  POS 
Setiap suku (term) disebut maxterm 
Setiap minterm/maxterm mengandung literal lengkap 
Minterm Maxterm 
x y Suku Lambang Suku Lambang 
0 
0 
x’y’ 
0 
1 
x’y 
1 
0 
xy’ 
1 
1 
x y 
m0 
m1 
m2 
m3 
x + y 
x + y’ 
x’ + y 
x’ + y’ 
M0 
M1 
M2 
M3
Modul Logika Informatika @ Mustahal, S.Si 
Minterm Maxterm 
x y z Suku Lambang Suku Lambang 
0 
0 
0 
0 
1 
1 
1 
1 
Universitas Islam Lamongan (UNISLA) Page 42 of 55 
0 
0 
1 
1 
0 
0 
1 
1 
0 
1 
0 
1 
0 
1 
0 
1 
x’y’z’ 
x’y’z 
x‘y z’ 
x’y z 
x y’z’ 
x y’z 
x y z’ 
x y z 
m0 
m1 
m2 
m3 
m4 
m5 
m6 
m7 
x + y + z 
x + y + z’ 
x + y’+z 
x + y’+z’ 
x’+ y + z 
x’+ y + z’ 
x’+ y’+ z 
x’+ y’+ z’ 
M0 
M1 
M2 
M3 
M4 
M5 
M6 
M7 
Contoh 3.6: Nyatakan tabel kebenaran di bawah ini dalam bentuk kanonik 
SOP dan POS. 
x y z f(x, y, 
z) 
0 
0 
0 
0 
1 
1 
1 
1 
0 
0 
1 
1 
0 
0 
1 
1 
0 
1 
0 
1 
0 
1 
0 
1 
0 
1 
0 
0 
1 
0 
0 
1 
Penyelesaian: 
(a) SOP 
Kombinasi nilai-nilai peubah yang menghasilkan nilai fungsi sama 
dengan 1 adalah 001, 100, dan 111, maka fungsi Booleannya dalam 
bentuk kanonik SOP adalah 
f(x, y, z) = x’y’z + xy’z’ + xyz 
atau (dengan menggunakan lambang minterm), 
f(x, y, z) = m1 + m4 + m7 =  (1, 4, 7) 
(b) POS 
Kombinasi nilai-nilai peubah yang menghasilkan nilai fungsi sama 
dengan 0 adalah 000, 010, 011, 101, dan 110, maka fungsi 
Booleannya dalam bentuk kanonik POS adalah 
f(x, y, z) = (x + y + z)(x + y’+ z)(x + y’+ z’) 
(x’+ y + z’)(x’+ y’+ z) 
atau dalam bentuk lain, 
f(x, y, z) = M0 M2 M3 M5 M6 = Õ(0, 2, 3, 5, 6)
Modul Logika Informatika @ Mustahal, S.Si 
Contoh 3.7: Nyatakan fungsi Boolean f(x, y, z) = x + y’z dalam bentuk 
kanonik SOP dan POS. 
Penyelesaian: 
Universitas Islam Lamongan (UNISLA) Page 43 of 55 
(a) SOP 
x = x(y + y’) 
= xy + xy’ 
= xy (z + z’) + xy’(z + z’) 
= xyz + xyz’ + xy’z + xy’z’ 
y’z = y’z (x + x’) 
= xy’z + x’y’z 
Jadi f(x, y, z) = x + y’z 
= xyz + xyz’ + xy’z + xy’z’ + xy’z + x’y’z 
= x’y’z + xy’z’ + xy’z + xyz’ + xyz 
atau f(x, y, z) = m1 + m4 + m5 + m6 + m7 = S (1,4,5,6,7) 
(b) POS 
f(x, y, z) = x + y’z 
= (x + y’)(x + z) 
x + y’ = x + y’ + zz’ 
= (x + y’ + z)(x + y’ + z’) 
x + z = x + z + yy’ 
= (x + y + z)(x + y’ + z) 
Jadi, f(x, y, z) = (x + y’ + z)(x + y’ + z’)(x + y + z)(x + y’ + z) 
= (x + y + z)(x + y’ + z)(x + y’ + z’) 
atau f(x, y, z) = M0M2M3 = Õ(0, 2, 3) 
KONVERSI BENTUK KANONIK 
Misalkan 
f(x, y, z) = S (1, 4, 5, 6, 7) 
dan f ’adalah fungsi komplemen dari f, 
f ’(x, y, z) = S (0, 2, 3) = m0+ m2 + m3
Modul Logika Informatika @ Mustahal, S.Si 
Dengan menggunakan hukum De Morgan, kita dapat memperoleh fungsi f 
dalam bentuk POS: 
f ’(x, y, z) = (f ’(x, y, z))’ = (m0 + m2 + m3)’ 
= m0’ . m2’ . m3’ 
= (x’y’z’)’ (x’y z’)’ (x’y z)’ 
= (x + y + z) (x + y’ + z) (x + y’ + z’) 
= M0 M2 M3 
= Õ (0,2,3) 
Jadi, f(x, y, z) = S (1, 4, 5, 6, 7) = Õ (0,2,3). Kesimpulan: mj’ = Mj 
Universitas Islam Lamongan (UNISLA) Page 44 of 55 
Contoh 3.8. 
Nyatakan 
f(x, y, z)= Õ (0, 2, 4, 5) dan 
g(w, x, y, z) = S(1, 2, 5, 6, 10, 15) 
dalam bentuk SOP. 
Penyelesaian: 
f(x, y, z) = S (1, 3, 6, 7) 
g(w, x, y, z)= Õ (0, 3, 4, 7, 8, 9, 11, 12, 13, 14) 
Contoh 3.9. 
Carilah bentuk kanonik SOP dan POS dari f(x, y, z) = y’ + xy + x’yz’ 
Penyelesaian: 
(a) SOP 
f(x, y, z) = y’ + xy + x’yz’ 
= y’ (x + x’) (z + z’) + xy (z + z’) + x’yz’ 
= (xy’ + x’y’) (z + z’) + xyz + xyz’ + x’yz’ 
= xy’z + xy’z’ + x’y’z + x’y’z’ + xyz + xyz’ + x’yz’ 
atau f(x, y, z) = m0+ m1 + m2+ m4+ m5+ m6+ m7 
(b) POS 
f(x, y, z) = M3 = x + y’ + z’ 
Bentuk Baku 
Contohnya : 
f(x, y, z) = y’ + xy + x’yz (bentuk baku SOP 
f(x, y, z) = x(y’ + z)(x’ + y + z’) (bentuk baku POS)

Materi aljabar boolean

  • 1.
    Modul Logika Informatika@ Mustahal, S.Si BAB 3 : ALJABAR BOOLE Universitas Islam Lamongan (UNISLA) Page 38 of 55 PENDAHULUAN Aljabar Boole, sebagai salah satu cabang matematika, pertama kali dikemukakan oleh George Boole pada tahun 1854. Boole dalam bukunya The Law Of Thought, memaparkan aturan-aturan dasar logika (yang dikenal dengan logika boolean). Aturan dasar logika ini membentuk Aljabar Boole. Pada tahun 1938, Claude Shannon memperlihatkan penggunaan Aljabar Boole untuk merancang rangkaian sirkuit listrik yang menerima masukan 0 dan 1 serta menghasilkan keluaran 0 dan 1 juga. Aljabar Boole telah menjadi dasar teknologi komputer digital. Saat ini aljabar boole digunakan secara luas dalam rangkaian perancangan pensaklaran, rangkaian digital, dan rangkaian IC (Intergrated Circuit) komputer. DEFINISI ALJABAR BOOLE Aljabar boole merupakan aljabar yang terdiri atas suatu himpunan dengan dua operator biner yang didefinisikan pada himpunan tersebut yaitu : + (penambahan) ekuivalen dengan Ú (OR) • (perkalian) ekuivalen dengan Ù (AND) Pada aljabar boole juga berlaku hukum-hukum logika, hanya berubah tanda saja yaitu : Ù (AND) menjadi * atau • Ú (OR) menjadi + ¬(Negasi) menjadi ’ atau ` dalam aljabar boole disebut komplemen Misal : • aÙb menjadi a*b atau a.b atau cukup ditulis ab • aÚb menjadi a+b • ¬a menjadi a’ atau a Identitas p.1 º p p+0 º p Ikatan P+1 º 1 p.0 º 0 Idempoten p+p º p p.p º p Komplemen p+p’ º 1 p.p’ º 0 (p’)’ º p 1’=0 dan 0’=1 Komutatif p+q º q+p p.q º q.p Asosiatif (p+q)+r º p+(q+r) (p.q).r º p.(q.r) Distributif p+(q.r) º (p+q).(p+r) p.(q+r) º (p.q)+(p.r) De Morgan’s (p.q)’ º p’+q’ (p+q)’ º p’ . q’ Aborbsi pÙ(pÚq) º p pÚ(pÙq) º p
  • 2.
    Modul Logika Informatika@ Mustahal, S.Si Terdapat perbedaan antara aljabar boole dengan aljabar biasa untuk aritmatika bilangan riil : 1. Hukum distributif + dan . seperti pada a+(b.c)=(a+b).(a+c) benar unutk aljabar boole tetapi tidak benar untuk aljabar biasa. 2. Aljabar boole tidak memiliki kebalikan perkalian atau penjumlahan sehingga tidak ada operasi pembagian dan pengurangan. Universitas Islam Lamongan (UNISLA) Page 39 of 55 DUALITAS Dual dari setiap pernyataan S dalam sebuah aljabar boole B adalah pernyataan yang didapat dengan mengubah operasi-operasi + dan ., dan mengubah elemen identitas yang menghubungkan 0 dan 1 dalam pernyataan awal di S. Dalam hal ini berarti mengganti : * dengan + + dengan * 0 dengan 1 1 dengan 0 Contoh 3.1: Tuliskan dual dari setiap persamaan boolean berikut 1) (a*1)*(0+a’)=0 Untuk mencari dual dari persamaan di atas maka : • Pada (a.1), ubah * menjadi + dan 1 menjadi 0 • Ubah * pada (a*1)*(0+a’) menjadi + • Pada (0+a’), ubah 0 menjadi 1 dan + menjadi * • Komplemen pada a’ tidak berubah Sehingga secara keseluruhan dualnya adalah : (a * 1) * ( 0 + a’)=0 (a + 0) + (1 * a’)=1 dual 2) a+(a’*b)=a+b Dengan cara yang sama seperti contoh di atas maka dulanya : a*(a’+b)=a*b Sekarang, coba Anda cari dual dari persamaan boolen berikut 3) a(a’+b)=ab 4) (a+1)(a+0)=a 5) (a+b)(b+c)=ac+b FUNGSI BOOLEAN Fungsi Boolean (disebut juga fungsi biner) adalah pemetaan dari Bn ke B melalui ekspresi Boolean, kita menuliskannya sebagai f : Bn ® B
  • 3.
    Modul Logika Informatika@ Mustahal, S.Si yang dalam hal ini Bn adalah himpunan yang beranggotakan pasangan terurut ganda-n (ordered n-tuple) di dalam daerah asal B. Setiap ekspresi Boolean tidak lain merupakan fungsi Boolean. Misalkan sebuah fungsi Boolean adalah : f(x, y, z) = xyz + x’y + y’z Fungsi f memetakan nilai-nilai pasangan terurut ganda-3 (x, y, z) ke himpunan {0, 1}. Contohnya, (1, 0, 1) yang berarti x = 1, y = 0, dan z = 1 sehingga f(1, 0, 1) = 1 × 0 × 1 + 1’ × 0 + 0’× 1 = 0 + 0 + 1 = 1 . Contoh-contoh fungsi Boolean yang lain: 1. f(x) = x 2. f(x, y) = x’y + xy’+ y’ 3. f(x, y) = x’ y’ 4. f(x, y) = (x + y)’ 5. f(x, y, z) = xyz’ Setiap peubah di dalam fungsi Boolean, termasuk dalam bentuk komplemennya, disebut literal. Fungsi h(x, y, z) = xyz’ pada contoh di atas terdiri dari 3 buah literal, yaitu x, y, dan z’. Contoh 3.2: Diketahui fungsi Booelan f(x, y, z) = xy z’, nyatakan h dalam tabel kebenaran. Penyelesaian: x y z f(x, y, z) = xy z’ 0 0 0 0 1 1 1 1 Universitas Islam Lamongan (UNISLA) Page 40 of 55 0 0 1 1 0 0 1 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 FUNGSI KOMPLEMEN Untuk menentukan komplemen dari suatu persamaan boolean, maka dapat digunakan prinsip dualitas dan hukum De Morgan. 1. Cara pertama: menggunakan hukum De Morgan Contoh 3.3. Misalkan f(x, y, z) = x(y’z’ + yz), maka f ’(x, y, z) = (x(y’z’ + yz))’ = x’ + (y’z’ + yz)’ = x’ + (y’z’)’ (yz)’ = x’ + (y + z) (y’ + z’)
  • 4.
    Modul Logika Informatika@ Mustahal, S.Si 2. Cara kedua: menggunakan prinsip dualitas. Tentukan dual dari ekspresi Boolean yang merepresentasikan f, lalu komplemenkan setiap literal di dalam dual tersebut. Contoh 3.4. Misalkan f(x, y, z) = x(y’z’ + yz), maka Dual dari f: x + (y’ + z’) (y + z) Komplemenkan tiap literalnya: x’ + (y + z) (y’ + z’) = f ’ Jadi, f ‘(x, y, z) = x’ + (y + z)(y’ + z’) Universitas Islam Lamongan (UNISLA) Page 41 of 55 BENTUK KANONIK Beberapa fungsi boolean mungkin memiliki ekspresi aljabar yang berbeda tetapi sebenarnya mempunyai nilai fungsi yang sama. Sebagai contoh : f(x,y)=(xy)’ dan h(x,y)=x’+y’, adalah dua buah fungsi yang sama (Bisa dibuktikan dengan hukum De Morgan). Contoh lain : f(x,y,z)=x(y+z’) dan g(x,y,z)=xyz+xyz’+xy’z’ adalah dua buah fungsi yang sama. Fungsi f muncul dalam bentuk perkalian dari hasil jumlah sedangkan g muncul dalam bentuk penjumlahan dari hasil kali. Perhatikan juga bahwa setiap suku (term) mengandung literal yang lengkap. Fungsi boolean yang dinyatakan dalam bentuk perkalian dari hasil jumlah dan penjumlahan dari hasil kali, dengan setiap suku mengandung literal lengkap disebut bentuk KANONIK. Ada dua macam bentuk kanonik: 1. Penjumlahan dari hasil kali (sum-of-product atau SOP) 2. Perkalian dari hasil jumlah (product-of-sum atau POS) Contoh 3.5: 1. f(x, y, z) = x’y’z + xy’z’ + xyz SOP Setiap suku (term) disebut minterm 2. g(x, y, z) = (x + y + z)(x + y’ + z)(x + y’ + z’) (x’ + y + z’)(x’ + y’ + z) POS Setiap suku (term) disebut maxterm Setiap minterm/maxterm mengandung literal lengkap Minterm Maxterm x y Suku Lambang Suku Lambang 0 0 x’y’ 0 1 x’y 1 0 xy’ 1 1 x y m0 m1 m2 m3 x + y x + y’ x’ + y x’ + y’ M0 M1 M2 M3
  • 5.
    Modul Logika Informatika@ Mustahal, S.Si Minterm Maxterm x y z Suku Lambang Suku Lambang 0 0 0 0 1 1 1 1 Universitas Islam Lamongan (UNISLA) Page 42 of 55 0 0 1 1 0 0 1 1 0 1 0 1 0 1 0 1 x’y’z’ x’y’z x‘y z’ x’y z x y’z’ x y’z x y z’ x y z m0 m1 m2 m3 m4 m5 m6 m7 x + y + z x + y + z’ x + y’+z x + y’+z’ x’+ y + z x’+ y + z’ x’+ y’+ z x’+ y’+ z’ M0 M1 M2 M3 M4 M5 M6 M7 Contoh 3.6: Nyatakan tabel kebenaran di bawah ini dalam bentuk kanonik SOP dan POS. x y z f(x, y, z) 0 0 0 0 1 1 1 1 0 0 1 1 0 0 1 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 0 0 1 0 0 1 Penyelesaian: (a) SOP Kombinasi nilai-nilai peubah yang menghasilkan nilai fungsi sama dengan 1 adalah 001, 100, dan 111, maka fungsi Booleannya dalam bentuk kanonik SOP adalah f(x, y, z) = x’y’z + xy’z’ + xyz atau (dengan menggunakan lambang minterm), f(x, y, z) = m1 + m4 + m7 = (1, 4, 7) (b) POS Kombinasi nilai-nilai peubah yang menghasilkan nilai fungsi sama dengan 0 adalah 000, 010, 011, 101, dan 110, maka fungsi Booleannya dalam bentuk kanonik POS adalah f(x, y, z) = (x + y + z)(x + y’+ z)(x + y’+ z’) (x’+ y + z’)(x’+ y’+ z) atau dalam bentuk lain, f(x, y, z) = M0 M2 M3 M5 M6 = Õ(0, 2, 3, 5, 6)
  • 6.
    Modul Logika Informatika@ Mustahal, S.Si Contoh 3.7: Nyatakan fungsi Boolean f(x, y, z) = x + y’z dalam bentuk kanonik SOP dan POS. Penyelesaian: Universitas Islam Lamongan (UNISLA) Page 43 of 55 (a) SOP x = x(y + y’) = xy + xy’ = xy (z + z’) + xy’(z + z’) = xyz + xyz’ + xy’z + xy’z’ y’z = y’z (x + x’) = xy’z + x’y’z Jadi f(x, y, z) = x + y’z = xyz + xyz’ + xy’z + xy’z’ + xy’z + x’y’z = x’y’z + xy’z’ + xy’z + xyz’ + xyz atau f(x, y, z) = m1 + m4 + m5 + m6 + m7 = S (1,4,5,6,7) (b) POS f(x, y, z) = x + y’z = (x + y’)(x + z) x + y’ = x + y’ + zz’ = (x + y’ + z)(x + y’ + z’) x + z = x + z + yy’ = (x + y + z)(x + y’ + z) Jadi, f(x, y, z) = (x + y’ + z)(x + y’ + z’)(x + y + z)(x + y’ + z) = (x + y + z)(x + y’ + z)(x + y’ + z’) atau f(x, y, z) = M0M2M3 = Õ(0, 2, 3) KONVERSI BENTUK KANONIK Misalkan f(x, y, z) = S (1, 4, 5, 6, 7) dan f ’adalah fungsi komplemen dari f, f ’(x, y, z) = S (0, 2, 3) = m0+ m2 + m3
  • 7.
    Modul Logika Informatika@ Mustahal, S.Si Dengan menggunakan hukum De Morgan, kita dapat memperoleh fungsi f dalam bentuk POS: f ’(x, y, z) = (f ’(x, y, z))’ = (m0 + m2 + m3)’ = m0’ . m2’ . m3’ = (x’y’z’)’ (x’y z’)’ (x’y z)’ = (x + y + z) (x + y’ + z) (x + y’ + z’) = M0 M2 M3 = Õ (0,2,3) Jadi, f(x, y, z) = S (1, 4, 5, 6, 7) = Õ (0,2,3). Kesimpulan: mj’ = Mj Universitas Islam Lamongan (UNISLA) Page 44 of 55 Contoh 3.8. Nyatakan f(x, y, z)= Õ (0, 2, 4, 5) dan g(w, x, y, z) = S(1, 2, 5, 6, 10, 15) dalam bentuk SOP. Penyelesaian: f(x, y, z) = S (1, 3, 6, 7) g(w, x, y, z)= Õ (0, 3, 4, 7, 8, 9, 11, 12, 13, 14) Contoh 3.9. Carilah bentuk kanonik SOP dan POS dari f(x, y, z) = y’ + xy + x’yz’ Penyelesaian: (a) SOP f(x, y, z) = y’ + xy + x’yz’ = y’ (x + x’) (z + z’) + xy (z + z’) + x’yz’ = (xy’ + x’y’) (z + z’) + xyz + xyz’ + x’yz’ = xy’z + xy’z’ + x’y’z + x’y’z’ + xyz + xyz’ + x’yz’ atau f(x, y, z) = m0+ m1 + m2+ m4+ m5+ m6+ m7 (b) POS f(x, y, z) = M3 = x + y’ + z’ Bentuk Baku Contohnya : f(x, y, z) = y’ + xy + x’yz (bentuk baku SOP f(x, y, z) = x(y’ + z)(x’ + y + z’) (bentuk baku POS)