PROGRAMREHABILITASIPESISIRDEYAHRAYA
Peningkatan Ekonomi Masyarakat
Melalui Penanaman Mangrove
Daftar Isi
2	 Pendahuluan
3	 Pemilihan Lokasi Program
6	 Pendekatan Masyarakat
7	 Studi Lingkungan
	  Kondisi kualitas lingkungan
	  Fisik kimia
8	 Penanaman Mangrove
	  Pembibitan
	  Pengangkutan ke tempat penanaman
	  Penanaman mangrove
	  Beberapa hasil penanaman
10	 Bantuan Budidaya Perikanan
12	 Pencapaian Program Rehabilitasi
	  Penanaman mangrove
	  Sosial ekonomi
14	 Pembelajaran
14	 Rekomendasi
3
6
8
12
PROGRAM REHABILITASI PESISIR DEYAH RAYA
Peningkatan Ekonomi Masyarakat
Melalui Penanaman Mangrove
Penulis
Conservation International Indonesia
Foto
Chandrawirawan Arief / Diah Sulistiowati
Desain dan Tata Letak
Rini Sucahyo
P
rogram rehabilitasi pesisir Deyah Raya dilaksanakan oleh Conservation International Indo­
nesia dengan dua pendekatan yaitu pendekatan lingkungan dan pendekatan sosial ekono­
mi masyarakat. Pendekatan lingkungan dilakukan untuk memberikan keyakinan bahwa secara
ekologis mangrove yang ditanam dapat hidup sebaik mungkin dengan tingkat kelangsungan
hidup yang tinggi, serta memberikan dampak positif terhadap perbaikan kualitas lingkungan.
Pendekatan sosial ekonomi masyarakat bertujuan agar penanaman mangrove ini disadari seba­
gai sebuah kebutuhan sehingga mendapat dukungan, bersinergis, serta selaras dengan pro­
gram peningkatan ekonomi masyarakat khususnya budidaya perikanan.
Sedangkan tahapan pelaksana program di Deyah Raya adalah sebagai berikut:
1.	 Idenfikasi Lokasi
a.	 Sosial Masyarakat
b.	 Lingkungan
2.	 Pelaksanaan Kegiatan
a.	 Penanaman Mangrove
b.	 Bantuan Budidaya Perikanan
c.	 Pelatihan/Studi Banding
Pendahuluan
P
enentuan desa lokasi kegiatan di sekitar Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar dila­
kukan pada beberapa lokasi yaitu :
1.	 Desa Tibang Kecamatan Syiah Kuala
Desa Tibang merupakan kawasan tambak yang sebagian besar telah mengalami rehabili­
tasi dan penanaman mangrove, di Desa ini dapat juga kita lihat lokasi-lokasi pembibitan
(Nursery) terutama untuk jenis Bakau (Rizhopora).
Mengingat hal tersebut untuk mencegah terjadinya tumpang tindihnya program kegi­
atan, karena banyaknya NGO yang beraktivitas di kawasan ini dikhawatirkan terjadinya
klaim keberhasilan, sehingga keberhasilan program tidak terjamin. maka perlu adanya
lokasi alternatif dalam kegiatan penanaman mangrove yang menjamin kepastian peker­
jaan dan keberhasilan.
2.	 Kampung Jawa
Kampung Jawa awalnya merupakan kawasan mangrove yang telah mengalami konversi
menjadi areal tambak sebelum terjadinya tsunami. Gelombang tsunami mengakibatkan
rusaknya seluruh areal tambak. Dalam upaya pelaksanaan program penanaman mang­
Pemilihan Lokasi Program
2
3
1. Penanaman di Tibang
2. Pembibitan di Tibang
3. Penanaman di Tibang
1
rove dengan pemberdayaan masyarakat, terdapat beberapa kendala yang cukup besar
yaitu :
a.	 Perlunya rehabilitasi kawasan tambak sesuai dengan kondisi sebelum tsunami.
b.	 Rehabilitasi tambak harus dilakukan sebelum musim penghujan tiba, dikarena­
kan alat berat (excavator) sulit untuk dioperasikan bila kawasan tergenang air.
c.	 Terdapatnya Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) yang memberikan pence­
maran udara dan perairan bagi areal sekitarnya.
3.	 Gampong Deyah Raya Kecamatan Syiah Kuala
a.	 Awalnya merupakan kawasan mangrove.
54
4. Daerah mangrove di Kampung Jawa
5. Kawasan mangrove di Deyah Raya
6. Rehabilitasi tambak pasca tsunami
7. Sisa-sisa tegakan mangrove
8. Bakau Kelapa/Hitam (Rizhopora mucronata)
9. Tanjang (Brugueira)
10. Bakau Serkap (Rhizopora apiculata)
11. Api-api (Avicennia)
6 7 8
9
10 11
b.	 Telah mengalami konversi menjadi tambak dan saat ini telah dilakukan rehabilitasi tambak
pasca tsunami.
c.	 Memiliki sisa tegakan mangrove yang tumbuh baik merupakan indikator bahwa mangrove
dapat tumbuh dengan baik.
d.	 Terdapat beberapa jenis mangrove yang terlihat tumbuh dengan baik.
e.	 Beberapa petani tambak ingin memulai kembali usahanya sehingga peluang untuk peng­
embangan tambak dan penanaman partisipasi masyarakat.
f.	 Berdasarkan informasi Dinas Pertanian, Perkebunan, Perikanan dan Kelautan Kota Banda
Aceh, serta Kepala Desa bahwa lokasi tersebut saat ini tidak dalam penge­lolaan NGO yang
bergerak dalam penanaman mangrove.
Pendekatan Masyarakat
S
etelah menentukan Deyah Raya sebagai lokasi pelaksanaan program rehabilitasi pesisir,
maka perlu adanya pendekatan terhadap masyarakat beserta pemerintahan Desa Deyah
Raya. Pendekatan terhadap masyarakat secara formal melalui pertemuan desa dan kelompok
tambak sedangkan secara informal melalui diskusi-diskusi dengan masyarakat.
14
12. Sosialisasi program
13. Pertemuan dan pembentukan kelompok tambak
14. Pertemuan dan diskusi perencanaan penanaman
13
12
Dari diskusi dengan masyarakat mengenai penanaman mangrove dan usaha pengembangan
budidaya tambak maka untuk pembibitan dilakukan kerjasama dengan Yagasu (Yayasan Gajah
Sumatera) sedangkan untuk pengembangan perikanan Kelompok Tambak Deyah Raya menjadi
mitra CI secara bersama dalam program ini.
1615
15. Loka Budidaya Air Payau Ujung Batee - I
16. Studi biofisik
Studi Lingkungan
Kondisi kualitas lingkungan
K
ualitas lingkungan di Deyah Raya terutama lingkungan tambak di identifikasi melalui be­
berapa pendekatan yaitu Fisik Kimia (perairan dan tanah), dan biota.
Fisik kimia
Fisik kimia lingkungan diukur bekerjasama dengan Balai Budidaya Ujung Batee yang merupakan
balai budidaya air payau di Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Departemen Kelautan dan
Perikanan RI.
Dari hasil uji lingkungan tersebut diketahui bahwa kondisi air dan tanah masih berpotensi untuk
lahan budidaya namun tanah yang juga berpotensi asam memerlukan pengelolaan yang baik
Studi organisme dilakukan dengan pengamatan biota perairan, burung dan vegetasi. Dari
pengamatan tersebut ditemukan beberapa organisme yang dominan ditemui. Selain penga­
matan ikan dan burung disekitar pantai Deyah Raya pada bulan Desember juga dijumpai penyu
hijau yang bertelur, jumlahnya tidak terlalu banyak dan hingga saat ini belum didapatkan do­
kumentasi yang pasti mengenai pendaratan penyu tersebut, umumnya jika ditemukan pen­
daratan penyu maka masyarakat akan berlomba untuk mencari telur dan menjualnya ke pasar
terdekat.
10
Penanaman Mangrove
P
enentuan lokasi penanaman dilakukan melalui musyawarah masyarakat desa terutama pe­
tani tambak, dimana penanaman dilakukan di pelataran tambak dan saluran air.
Penanaman mangrove dilakukan pada bulan Juli 2007 hingga Januari 2008 pada sekitar 60
Ha areal tambak dan 2 km sungai dan saluran air, dengan jumlah bibit mangrove yang telah
ditanam mencapai sekitar 220.000 batang terdiri dari 3 jenis bakau yaitu Rhizopora mucronata,
R. apiculata, dan R. stylosa.
Pengadaan bibit dilakukan melalui kerjasama dengan Yagasu (Yayasan Gajah Sumatera) seba­
nyak 72.000 bibit serta oleh Kelompok Tambak Deyah Raya.
Pembibitan
17
18
17  18. Lokasi dan aktivitas pembibitan
di Tibang
Pengangkutan ke tempat penanaman
19. Pengangkutan dengan perahu19
Penanaman mangrove
21
20
20  21. Peran wanita Deyah Raya dalam
penanaman mangrove
12
Beberapa hasil penanaman
22
23 24
22. Penanaman di pinggir sungai
23. Penanaman di tengah tambak
24. Penanaman di kanal dan saluran air
Bantuan Budidaya Perikanan
T
ahapan awal pemulihan ekonomi melalui budidaya tambak dilakukan melalui uji coba bu­
didaya udang windu. Komoditi ini masih menjadi harapan masyarakat walaupun pada
kenyataannya masih banyak kendala dan belum pernah berhasil lagi dalam budidaya di Aceh
terutama di Banda Aceh.
Kondisi udang windu memasuki usia 2 bulan di tambak yang awalnya sehat mengalami kema­
tian mendadak hal ini di mungkinkan mewabahnya virus white spot (WSV), hal ini menunjukan
perlunya pengelolaan lingkungan tambak yang lebih baik terutama pengelolaan kulaitas air
tambak.
Selain uji coba budidaya udang Conservation International Indonesia membantu kelompok
tambak Deyah Raya dengan perbaikan tambak dengan khususnya pematang dan perbaikan
pintu air.
2726
25
29
28
25. Melihat lokasi pendederan
udang windu (Penaeus
monodon) di Desa Tibang,
Kecamatan Syiah Kuala
26. Kondisi udang yang sehat
berumur 1 bulan
27. Udang yang terkena white
spot
28. Papan penahan di bagian
luar tambak
29. Papan dipasang di bagian
dalam tambak
14
Pencapaian Program Rehabilitasi
Penanaman mangrove
D
ari penanaman mulai dari Juli hingga Desember 2007 telah tertanam sekitar 220000 bibit
mangrove di sekitar 60 Ha tambak dan saluran air (Sungai utama dan saluran air tambak)
dengan tingkat kelangsungan hidup sekitar 75%, namun dari bibit yang kering dan diperki­
rakan mati ternyata menghasilkan daun baru yang diperkirakan akan tumbuh dengan baik.		
Sosial ekonomi
Peningkatan ekonomi masyarakat tidak terlihat secara signifikan dalam program yang dilaku­
kan selama kurang lebih satu tahun ini disebabkan program utama pemberdayaan masyarakat
melalui budidaya tambak baru saja dimulai.
Program Conservation International Indonesia di desa Deyah Raya yang dilakukan secara ber­
sama dengan masyarakat telah menciptakan hubungan yang baik antara CI dengan masyara­
kat, serta pengurus desa Deyah Raya hal ini tergambar dalam peran bersama CI dan masyarakat
pada kegiatan peringatan 3 tahun tsunami di desa Deyah Raya.
Dalam rangkaian program Conservation International Indonesia di Desa Deyah Raya, pada tang­
gal 26 Desember 2007 CI dengan masyarakat Deyah Raya mengadakan kegiatan Renungan dan
Doa Bersama Mengenang 3 Tahun Tsunami dan Kegiatan Penanaman Cemara Pantai di Pantai
Desa Deyah Raya.
	
Peringatan 3 tahun tsunami yang diselenggarakan oleh CI bersama masyarakat Deyah Raya
dihadiri juga oleh beberapa stakeholder seperti perwakilan dari DPRD Kota Banda Aceh, Pusat
Pengendalian Lingkungan dan Konservasi BRR NAD-Nias, BKSDA NAD, dan Komunitas Suzuki
Jimny.
Kualitas ekologi selama program ini berlangsung juga belum menunjukkan perubahan yang
signifikan namun jika dilihat di beberapa lokasi penanaman terutama disekitar aliran sungai
dan saluran air banyak kita jumpai anak ikan belanak, kakap berenang disekitar mangrove.
3635
33
41
39
37
34
40
30 31
32
38
30, 31  32. Bibit yang
diperkirakan mati ternyata
dapat tumbuh dengan baik
33  34. Direktur Terestrial CI Indonesia, Bapak Didy Wurjanto
memberikan sambutan pada acara Doa Bersama di
Mesjid Al-Kawakib Desa Deyah Raya
35. Kegiatan penanaman cemara
36  37. Komunitas Off Road Suzuki Jimny Banda Aceh
38. Perwakilan BRR NAD-Nias
39. Ketua Pemuda Deyah Raya
40. Perwakilan Desa Deyah Raya
41. Perwakilan LANTAK komunitas Off Road Suzuki Jimny
16
Pembelajaran
P
rogram Peningkatan Ekonomi Masyarakat melalui Rehabilitasi Mangrove di Desa Deyah
Raya yang dilakukan selama kurang lebih satu tahun menunjukkan kemajuan yang cukup
baik walaupun tidak beregerak secara drastis dan signifikan, namun keberadaan program ini
mampu untuk merangsang keinginan masyarakat untuk kembali berusaha.
Tidak signifikannya perubahan ini disebabkan perlu adanya pendekatan masyarakat yang cukup
panjang dan waktu yang relatif lama, hal ini dilakukan agar misi dari pelaksanaan program
mampu tersampaikan secara baik dan terciptanya kebersamaan dan kerjasama yang baik an­
tara masyarakat dan CI.
Banyaknya program pemerintah dan LSM lokal maupun asing di awal pasca tsunami yang cen­
derung memberi bantuan modal dan uang tanpa membangun sistem yang baik, menyulitkan
pendekatan terhadap masyarakat yang memiliki orientasi keuntungan semata, tanpa adanya
proses pembangunan sistem kelembagaan.
Peranan kelembagaan pemerintah daerah memang dirasa belum optimal, hal ini disebabkan
program di masing masing instansi dilakukan secara parsial karena menurut informasi BAPEDAL­
DA saat ini belum adanya RTRW yang sempurna. Salah satu program besar di Propinsi NAD
yang terletak tidak jauh dari Deyah Raya adalah pembangunan Pelabuhan Perikanan Samudera
Lampulo yang telah membebaskan lebih dari 50 ha lahan.
Lokasi pembangunan pelabuhan yang sangat dekat dengan Deyah Raya menyebabkan adanya
ketidakjelasan proses rehabilitasi dibeberapa petak tambak di Deyah Raya, dan pembangunan
ini secara langsung akan memberikan beban baru terhadap kualitas lingkungannya.
Rekomendasi
1.	 Perlu adanya payung hukum terhadap pengelolaan mangrove ini terutama terkait pera­
nannya sebagai sabuk hijau, kawasan Deyah Raya dan sekitarnya (Lambaro Skep, Alue
Naga, Tibang) merupakan areal pelidung bagi kota Banda Aceh terutama Kantor Gu­
bernur NAD, POLDA NAD, Dinas Syariah NAD dan beberapa gedung pemerintahan
lainnya­.
2.	 Perlunya peraturan terhadap pengelolaan sumberdaya dalam konteks perlindungan
biodi­versitas seperti burung yang umumnya pada bulan April dan Mei bertelur di Deyah
Raya.
3.	 Pengembangan Desa Deyah Raya sebagai wisata alam terutama mangrove dan pantai
serta kawasan makam Syiah Kuala.
Komplek makam Syiah Kuala setiap bulannya dikunjungi tidak kurang dari 1000 wisata­
wan baik lokal maupun mancanegara belum dikelola secara optimal dan saat ini masih
dalam proses renovasi.
4.	 Perlu adanya studi lanjutan yang lebih komperehensif untuk keberlajutan program reha­
bilitasi mangrove terkait berbagai rencana pengembangan kota Banda Aceh.
5.	 Perlu adanya peningkatan kapasitas kelompok dan aparat desa serta masyarakat dalam
peningkatan ekonomi.
44
42. Kelompok burung Egreeta yang memijah di Deyah Raya
43  44. Pengambilan telur Egreet
42 43
18
45
47
45. Panorama senja di pantai Deyah Raya
46. Wisata pantai di akhir minggu
47. Gerbang komplek makam Syiah Kuala
48. Makam Syiah Kuala
49  50. Pembangunan tanggul laut dan pembangunan pelabuhan samudera Lampulo
49
46
48
50
Untuk informasi lebih lanjut mengenai program
mangrove CI-Indonesia di Aceh, silahkan hubungi:
Jatna Supriatna, PhD
Regional Vice President
Conservation International Indonesia
Jl. Pejaten Barat No. 16 A
Jakarta 12550 Indonesia
T 62 21 7883 8624, 7883 8626
E jsupriatna@conservation.org
Chris Margules
Leader, Indonesia-Pacific Field Division
Conservation International
PO Box 1023
Atherton Q 4883 Australia
T 61 7 4091 8800
E cmargules@conservation.org
20
Jl. Pejaten Barat No. 16 A
Jakarta 12550 Indonesia
T 62 21 7883 8624, 7883 8626
F 62 21 780 0265
www.conservation.org | www.conservation.or.id

mangrove

  • 1.
  • 2.
    Daftar Isi 2 Pendahuluan 3 Pemilihan Lokasi Program 6 Pendekatan Masyarakat 7 Studi Lingkungan  Kondisi kualitas lingkungan  Fisik kimia 8 Penanaman Mangrove  Pembibitan  Pengangkutan ke tempat penanaman  Penanaman mangrove  Beberapa hasil penanaman 10 Bantuan Budidaya Perikanan 12 Pencapaian Program Rehabilitasi  Penanaman mangrove  Sosial ekonomi 14 Pembelajaran 14 Rekomendasi 3 6 8 12 PROGRAM REHABILITASI PESISIR DEYAH RAYA Peningkatan Ekonomi Masyarakat Melalui Penanaman Mangrove Penulis Conservation International Indonesia Foto Chandrawirawan Arief / Diah Sulistiowati Desain dan Tata Letak Rini Sucahyo
  • 3.
    P rogram rehabilitasi pesisirDeyah Raya dilaksanakan oleh Conservation International Indo­ nesia dengan dua pendekatan yaitu pendekatan lingkungan dan pendekatan sosial ekono­ mi masyarakat. Pendekatan lingkungan dilakukan untuk memberikan keyakinan bahwa secara ekologis mangrove yang ditanam dapat hidup sebaik mungkin dengan tingkat kelangsungan hidup yang tinggi, serta memberikan dampak positif terhadap perbaikan kualitas lingkungan. Pendekatan sosial ekonomi masyarakat bertujuan agar penanaman mangrove ini disadari seba­ gai sebuah kebutuhan sehingga mendapat dukungan, bersinergis, serta selaras dengan pro­ gram peningkatan ekonomi masyarakat khususnya budidaya perikanan. Sedangkan tahapan pelaksana program di Deyah Raya adalah sebagai berikut: 1. Idenfikasi Lokasi a. Sosial Masyarakat b. Lingkungan 2. Pelaksanaan Kegiatan a. Penanaman Mangrove b. Bantuan Budidaya Perikanan c. Pelatihan/Studi Banding Pendahuluan P enentuan desa lokasi kegiatan di sekitar Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar dila­ kukan pada beberapa lokasi yaitu : 1. Desa Tibang Kecamatan Syiah Kuala Desa Tibang merupakan kawasan tambak yang sebagian besar telah mengalami rehabili­ tasi dan penanaman mangrove, di Desa ini dapat juga kita lihat lokasi-lokasi pembibitan (Nursery) terutama untuk jenis Bakau (Rizhopora). Mengingat hal tersebut untuk mencegah terjadinya tumpang tindihnya program kegi­ atan, karena banyaknya NGO yang beraktivitas di kawasan ini dikhawatirkan terjadinya klaim keberhasilan, sehingga keberhasilan program tidak terjamin. maka perlu adanya lokasi alternatif dalam kegiatan penanaman mangrove yang menjamin kepastian peker­ jaan dan keberhasilan. 2. Kampung Jawa Kampung Jawa awalnya merupakan kawasan mangrove yang telah mengalami konversi menjadi areal tambak sebelum terjadinya tsunami. Gelombang tsunami mengakibatkan rusaknya seluruh areal tambak. Dalam upaya pelaksanaan program penanaman mang­ Pemilihan Lokasi Program 2 3 1. Penanaman di Tibang 2. Pembibitan di Tibang 3. Penanaman di Tibang 1
  • 4.
    rove dengan pemberdayaanmasyarakat, terdapat beberapa kendala yang cukup besar yaitu : a. Perlunya rehabilitasi kawasan tambak sesuai dengan kondisi sebelum tsunami. b. Rehabilitasi tambak harus dilakukan sebelum musim penghujan tiba, dikarena­ kan alat berat (excavator) sulit untuk dioperasikan bila kawasan tergenang air. c. Terdapatnya Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) yang memberikan pence­ maran udara dan perairan bagi areal sekitarnya. 3. Gampong Deyah Raya Kecamatan Syiah Kuala a. Awalnya merupakan kawasan mangrove. 54 4. Daerah mangrove di Kampung Jawa 5. Kawasan mangrove di Deyah Raya 6. Rehabilitasi tambak pasca tsunami 7. Sisa-sisa tegakan mangrove 8. Bakau Kelapa/Hitam (Rizhopora mucronata) 9. Tanjang (Brugueira) 10. Bakau Serkap (Rhizopora apiculata) 11. Api-api (Avicennia) 6 7 8 9 10 11 b. Telah mengalami konversi menjadi tambak dan saat ini telah dilakukan rehabilitasi tambak pasca tsunami. c. Memiliki sisa tegakan mangrove yang tumbuh baik merupakan indikator bahwa mangrove dapat tumbuh dengan baik. d. Terdapat beberapa jenis mangrove yang terlihat tumbuh dengan baik. e. Beberapa petani tambak ingin memulai kembali usahanya sehingga peluang untuk peng­ embangan tambak dan penanaman partisipasi masyarakat. f. Berdasarkan informasi Dinas Pertanian, Perkebunan, Perikanan dan Kelautan Kota Banda Aceh, serta Kepala Desa bahwa lokasi tersebut saat ini tidak dalam penge­lolaan NGO yang bergerak dalam penanaman mangrove.
  • 5.
    Pendekatan Masyarakat S etelah menentukanDeyah Raya sebagai lokasi pelaksanaan program rehabilitasi pesisir, maka perlu adanya pendekatan terhadap masyarakat beserta pemerintahan Desa Deyah Raya. Pendekatan terhadap masyarakat secara formal melalui pertemuan desa dan kelompok tambak sedangkan secara informal melalui diskusi-diskusi dengan masyarakat. 14 12. Sosialisasi program 13. Pertemuan dan pembentukan kelompok tambak 14. Pertemuan dan diskusi perencanaan penanaman 13 12 Dari diskusi dengan masyarakat mengenai penanaman mangrove dan usaha pengembangan budidaya tambak maka untuk pembibitan dilakukan kerjasama dengan Yagasu (Yayasan Gajah Sumatera) sedangkan untuk pengembangan perikanan Kelompok Tambak Deyah Raya menjadi mitra CI secara bersama dalam program ini. 1615 15. Loka Budidaya Air Payau Ujung Batee - I 16. Studi biofisik Studi Lingkungan Kondisi kualitas lingkungan K ualitas lingkungan di Deyah Raya terutama lingkungan tambak di identifikasi melalui be­ berapa pendekatan yaitu Fisik Kimia (perairan dan tanah), dan biota. Fisik kimia Fisik kimia lingkungan diukur bekerjasama dengan Balai Budidaya Ujung Batee yang merupakan balai budidaya air payau di Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Departemen Kelautan dan Perikanan RI. Dari hasil uji lingkungan tersebut diketahui bahwa kondisi air dan tanah masih berpotensi untuk lahan budidaya namun tanah yang juga berpotensi asam memerlukan pengelolaan yang baik Studi organisme dilakukan dengan pengamatan biota perairan, burung dan vegetasi. Dari pengamatan tersebut ditemukan beberapa organisme yang dominan ditemui. Selain penga­ matan ikan dan burung disekitar pantai Deyah Raya pada bulan Desember juga dijumpai penyu hijau yang bertelur, jumlahnya tidak terlalu banyak dan hingga saat ini belum didapatkan do­ kumentasi yang pasti mengenai pendaratan penyu tersebut, umumnya jika ditemukan pen­ daratan penyu maka masyarakat akan berlomba untuk mencari telur dan menjualnya ke pasar terdekat.
  • 6.
    10 Penanaman Mangrove P enentuan lokasipenanaman dilakukan melalui musyawarah masyarakat desa terutama pe­ tani tambak, dimana penanaman dilakukan di pelataran tambak dan saluran air. Penanaman mangrove dilakukan pada bulan Juli 2007 hingga Januari 2008 pada sekitar 60 Ha areal tambak dan 2 km sungai dan saluran air, dengan jumlah bibit mangrove yang telah ditanam mencapai sekitar 220.000 batang terdiri dari 3 jenis bakau yaitu Rhizopora mucronata, R. apiculata, dan R. stylosa. Pengadaan bibit dilakukan melalui kerjasama dengan Yagasu (Yayasan Gajah Sumatera) seba­ nyak 72.000 bibit serta oleh Kelompok Tambak Deyah Raya. Pembibitan 17 18 17 18. Lokasi dan aktivitas pembibitan di Tibang Pengangkutan ke tempat penanaman 19. Pengangkutan dengan perahu19 Penanaman mangrove 21 20 20 21. Peran wanita Deyah Raya dalam penanaman mangrove
  • 7.
    12 Beberapa hasil penanaman 22 2324 22. Penanaman di pinggir sungai 23. Penanaman di tengah tambak 24. Penanaman di kanal dan saluran air Bantuan Budidaya Perikanan T ahapan awal pemulihan ekonomi melalui budidaya tambak dilakukan melalui uji coba bu­ didaya udang windu. Komoditi ini masih menjadi harapan masyarakat walaupun pada kenyataannya masih banyak kendala dan belum pernah berhasil lagi dalam budidaya di Aceh terutama di Banda Aceh. Kondisi udang windu memasuki usia 2 bulan di tambak yang awalnya sehat mengalami kema­ tian mendadak hal ini di mungkinkan mewabahnya virus white spot (WSV), hal ini menunjukan perlunya pengelolaan lingkungan tambak yang lebih baik terutama pengelolaan kulaitas air tambak. Selain uji coba budidaya udang Conservation International Indonesia membantu kelompok tambak Deyah Raya dengan perbaikan tambak dengan khususnya pematang dan perbaikan pintu air. 2726 25 29 28 25. Melihat lokasi pendederan udang windu (Penaeus monodon) di Desa Tibang, Kecamatan Syiah Kuala 26. Kondisi udang yang sehat berumur 1 bulan 27. Udang yang terkena white spot 28. Papan penahan di bagian luar tambak 29. Papan dipasang di bagian dalam tambak
  • 8.
    14 Pencapaian Program Rehabilitasi Penanamanmangrove D ari penanaman mulai dari Juli hingga Desember 2007 telah tertanam sekitar 220000 bibit mangrove di sekitar 60 Ha tambak dan saluran air (Sungai utama dan saluran air tambak) dengan tingkat kelangsungan hidup sekitar 75%, namun dari bibit yang kering dan diperki­ rakan mati ternyata menghasilkan daun baru yang diperkirakan akan tumbuh dengan baik. Sosial ekonomi Peningkatan ekonomi masyarakat tidak terlihat secara signifikan dalam program yang dilaku­ kan selama kurang lebih satu tahun ini disebabkan program utama pemberdayaan masyarakat melalui budidaya tambak baru saja dimulai. Program Conservation International Indonesia di desa Deyah Raya yang dilakukan secara ber­ sama dengan masyarakat telah menciptakan hubungan yang baik antara CI dengan masyara­ kat, serta pengurus desa Deyah Raya hal ini tergambar dalam peran bersama CI dan masyarakat pada kegiatan peringatan 3 tahun tsunami di desa Deyah Raya. Dalam rangkaian program Conservation International Indonesia di Desa Deyah Raya, pada tang­ gal 26 Desember 2007 CI dengan masyarakat Deyah Raya mengadakan kegiatan Renungan dan Doa Bersama Mengenang 3 Tahun Tsunami dan Kegiatan Penanaman Cemara Pantai di Pantai Desa Deyah Raya. Peringatan 3 tahun tsunami yang diselenggarakan oleh CI bersama masyarakat Deyah Raya dihadiri juga oleh beberapa stakeholder seperti perwakilan dari DPRD Kota Banda Aceh, Pusat Pengendalian Lingkungan dan Konservasi BRR NAD-Nias, BKSDA NAD, dan Komunitas Suzuki Jimny. Kualitas ekologi selama program ini berlangsung juga belum menunjukkan perubahan yang signifikan namun jika dilihat di beberapa lokasi penanaman terutama disekitar aliran sungai dan saluran air banyak kita jumpai anak ikan belanak, kakap berenang disekitar mangrove. 3635 33 41 39 37 34 40 30 31 32 38 30, 31 32. Bibit yang diperkirakan mati ternyata dapat tumbuh dengan baik 33 34. Direktur Terestrial CI Indonesia, Bapak Didy Wurjanto memberikan sambutan pada acara Doa Bersama di Mesjid Al-Kawakib Desa Deyah Raya 35. Kegiatan penanaman cemara 36 37. Komunitas Off Road Suzuki Jimny Banda Aceh 38. Perwakilan BRR NAD-Nias 39. Ketua Pemuda Deyah Raya 40. Perwakilan Desa Deyah Raya 41. Perwakilan LANTAK komunitas Off Road Suzuki Jimny
  • 9.
    16 Pembelajaran P rogram Peningkatan EkonomiMasyarakat melalui Rehabilitasi Mangrove di Desa Deyah Raya yang dilakukan selama kurang lebih satu tahun menunjukkan kemajuan yang cukup baik walaupun tidak beregerak secara drastis dan signifikan, namun keberadaan program ini mampu untuk merangsang keinginan masyarakat untuk kembali berusaha. Tidak signifikannya perubahan ini disebabkan perlu adanya pendekatan masyarakat yang cukup panjang dan waktu yang relatif lama, hal ini dilakukan agar misi dari pelaksanaan program mampu tersampaikan secara baik dan terciptanya kebersamaan dan kerjasama yang baik an­ tara masyarakat dan CI. Banyaknya program pemerintah dan LSM lokal maupun asing di awal pasca tsunami yang cen­ derung memberi bantuan modal dan uang tanpa membangun sistem yang baik, menyulitkan pendekatan terhadap masyarakat yang memiliki orientasi keuntungan semata, tanpa adanya proses pembangunan sistem kelembagaan. Peranan kelembagaan pemerintah daerah memang dirasa belum optimal, hal ini disebabkan program di masing masing instansi dilakukan secara parsial karena menurut informasi BAPEDAL­ DA saat ini belum adanya RTRW yang sempurna. Salah satu program besar di Propinsi NAD yang terletak tidak jauh dari Deyah Raya adalah pembangunan Pelabuhan Perikanan Samudera Lampulo yang telah membebaskan lebih dari 50 ha lahan. Lokasi pembangunan pelabuhan yang sangat dekat dengan Deyah Raya menyebabkan adanya ketidakjelasan proses rehabilitasi dibeberapa petak tambak di Deyah Raya, dan pembangunan ini secara langsung akan memberikan beban baru terhadap kualitas lingkungannya. Rekomendasi 1. Perlu adanya payung hukum terhadap pengelolaan mangrove ini terutama terkait pera­ nannya sebagai sabuk hijau, kawasan Deyah Raya dan sekitarnya (Lambaro Skep, Alue Naga, Tibang) merupakan areal pelidung bagi kota Banda Aceh terutama Kantor Gu­ bernur NAD, POLDA NAD, Dinas Syariah NAD dan beberapa gedung pemerintahan lainnya­. 2. Perlunya peraturan terhadap pengelolaan sumberdaya dalam konteks perlindungan biodi­versitas seperti burung yang umumnya pada bulan April dan Mei bertelur di Deyah Raya. 3. Pengembangan Desa Deyah Raya sebagai wisata alam terutama mangrove dan pantai serta kawasan makam Syiah Kuala. Komplek makam Syiah Kuala setiap bulannya dikunjungi tidak kurang dari 1000 wisata­ wan baik lokal maupun mancanegara belum dikelola secara optimal dan saat ini masih dalam proses renovasi. 4. Perlu adanya studi lanjutan yang lebih komperehensif untuk keberlajutan program reha­ bilitasi mangrove terkait berbagai rencana pengembangan kota Banda Aceh. 5. Perlu adanya peningkatan kapasitas kelompok dan aparat desa serta masyarakat dalam peningkatan ekonomi. 44 42. Kelompok burung Egreeta yang memijah di Deyah Raya 43 44. Pengambilan telur Egreet 42 43
  • 10.
    18 45 47 45. Panorama senjadi pantai Deyah Raya 46. Wisata pantai di akhir minggu 47. Gerbang komplek makam Syiah Kuala 48. Makam Syiah Kuala 49 50. Pembangunan tanggul laut dan pembangunan pelabuhan samudera Lampulo 49 46 48 50 Untuk informasi lebih lanjut mengenai program mangrove CI-Indonesia di Aceh, silahkan hubungi: Jatna Supriatna, PhD Regional Vice President Conservation International Indonesia Jl. Pejaten Barat No. 16 A Jakarta 12550 Indonesia T 62 21 7883 8624, 7883 8626 E jsupriatna@conservation.org Chris Margules Leader, Indonesia-Pacific Field Division Conservation International PO Box 1023 Atherton Q 4883 Australia T 61 7 4091 8800 E cmargules@conservation.org
  • 11.
    20 Jl. Pejaten BaratNo. 16 A Jakarta 12550 Indonesia T 62 21 7883 8624, 7883 8626 F 62 21 780 0265 www.conservation.org | www.conservation.or.id