STIKES PKU-semester 1
Objek Filsafat Aristoteles: Tujuan tertinggi yang ingin dicapai ialah “kebahagiaan” (eudaimonia). Kebahagian ini bukan kebahagian yang subjektif, tetapi suatu keadaan yang sedemikian rupa, sehingga segala sesuatu yang termasuk kedalam bahagia terdapat pada manusia.
Kebahagian manusia yang tertinggi yang dikejar setiap manusia ialah “berfikir murni”. Tapi puncak itu hanya dicapai oleh para dewa, manusia hanya dapat mencoba mendekatinya dengan mengatur keinginannya. Epikorus: Tujuan hidup adalah hedone (kenikmatan, kepuasan), yang tercapai jika batin orang tenang dan tubuhnya sehat. Jikalau orang terpaksa harus memilih diantara macam-macam keinginan, hendaknya dipilih keinginan yang dapat memberi kenikmatan yang mendalam dan lama.
Metode Kritis: Sokrates, Plato Bersifat analisa istilah  &  pendapat merupakan hermeneutika, yg menjelaskan keyakinan  &  memperlihatkan pertentangan. Dgn jln brtny a , mmbdakan, mmbrshkn, menyisihkan, dan menolak, akhirnya ditemukan hakikat. Metode Intuitif: Platinos, Bergson Dgn jln intropeksi pembersihan intelektual (brsma dgn pensucian moral) shg trcpai suatu penerangan pikiran.  Bergson: dengan jalan pembauran antara kesadaran dan proses perubahan, tercapai pemahaman langsung mengenai kenyataan.
Metode Skolastik: Aristoteles, Tomas Aquinas, filsafat abad pertengahan. Bersifat sintetis-deduktif. Dengan bertitik tolak dari definisi atau prinsip yang jelas dengan sendirinya ditarik kesimp ulan. Metode Matematis: Descartes  Melalui analisa mengenai hal-hal kompleks, dicapai intuisi akan hakikat-hakikat sederhana. Dari hakikat itu didedukasikan secara matematis segala pengertian lainnya.
Metode Empiris: Hobbes, Locke, Barkeley, Hume. Hanya pengalamanlah menyajikan pengertian benar, maka semua pengertian  (ide-ide)  dalam introspeksi dibandingkan dengan serapan-serapan  (impressi)  dan kemudian disusun bersama secara geomatris. Metode Transendental: Kant, Neo-Skolastik Bertitik tolak dari tepatnya pengertian tertentu, dengan jalan analisis diselidiki syarat-syarat apriori bagi pengertian sedemikian.
Metode Dialektis: Hegel, Marx Dengan jalan mengikuti dinamika pikiran atau alam sendiri, menurut triade tesis, antitesis dicapai hakikat kenyataan. Metode Fenomenologis: Husserl, eksistensialisme. Dengan jalan beberapa pemotongan sistematis  (reduction)  refleksi atau fenomin dalam kesadaran mencapai penglihatan hakikat-hakikat murni.
Metode Neo-positivisme Kenyataan difahami menurut hakikatnya dengan jalan mempergunakan aturan-aturan seperti berlaku pada ilmu pengetahuan positif  (eksakta). Metode Analitika Bahasa: Wittgenstein Dengan jalan analisis pemakaian bahasa sehari-hari ditentukan sah atau tidaknya ucapan-ucapan filosofis.
Kebenaran yang bersifat umum tidak dibatasi ruang dan waktu, maksudnya berlaku untuk semua ruang dan setiap waktu. Sokrates membuka selubung peraturan dan hukum-hukum sehingga dapat dicapai pengertian yang hakiki. Aristoteles, upaya mencari pengertian universal dilakukan dengan menggunakan logika. Logika merupakan ajaran mengenai berpikir yang benar dan ilmiah. Sebagai bentuk yang berada di dalam kesadaran atau akal Allah, yaitu ide-ide atau pola dasar yang segala yang berada secara konkret di dunia ini.
Sebagai bentuk-bentuk yang telah direalisir dalam kenyataan yang berada sebagai benda. Sebagai bentuk yang dihasilkan oleh roh manusia, yaitu dengan jalan menghasratkannya dari bendanya yang b ermacam-macam itu.
Kata “ilmu” merupakan terjemahan dari kata  “science”,  yang secara etimologi berasal dari kata  “scire”  yang artinya  “to know”  dalam pengertian sempit  science  diartikan untuk menunjukkan ilmu pengetahuan alam yang sifatnya kuantitatif dan objektif.
Titus  ilmu diartikan sebagai  common sense  yang diatur dan diorganisasikan, mengadakan pendekatan terhadap benda-benda atau peristiwa dengan menggunakan metode observasi yang teliti dan kritis.
Ashkey Montagu Ilmu merupakan pengetahuan yang disusun yang berasal dari pengamatan, studi dan pengalaman, untuk menentukan hakikat dan prinsip tentang hal yang sedang dipelajari
Prof. Haryono 1.  Ilmu merupakan akumulasi  pengetahuan yang disistemasikan  atau kesatuan pengetahuan yang  terorganisasikan 2.  Ilmu dapat pula dilihat sebagai  suatu pendekatan terhadap  seluruh dunia empiris yaitu dunia  yang terikat oleh faktor ruang dan  waktu, dunia pada prinsipnya  dapat diamati pancaindra.
Randal (1942) mengemukakan ciri umum dari ilmu: Hasil ilmu sifatnya akumulatif dan merupakan milik bersama. Artinya hasil dari ilmu yang telah lalu dapat dipergunakan untuk penyelidikan dan penemuan hal-hal yang baru.
Hasil ilmu, kebenarannya tidak mutlak dan bisa terjadi kekeliruan karena yang menyelidikinya adalah manusia. Ilmu itu objektif. Artinya prosedur cara penggunaan metode ilmu tidak tergantung kepada yang menggunakannya, tidak tergantung kepada pemahaman secara pribadi.

Logika2

  • 1.
  • 2.
    Objek Filsafat Aristoteles:Tujuan tertinggi yang ingin dicapai ialah “kebahagiaan” (eudaimonia). Kebahagian ini bukan kebahagian yang subjektif, tetapi suatu keadaan yang sedemikian rupa, sehingga segala sesuatu yang termasuk kedalam bahagia terdapat pada manusia.
  • 3.
    Kebahagian manusia yangtertinggi yang dikejar setiap manusia ialah “berfikir murni”. Tapi puncak itu hanya dicapai oleh para dewa, manusia hanya dapat mencoba mendekatinya dengan mengatur keinginannya. Epikorus: Tujuan hidup adalah hedone (kenikmatan, kepuasan), yang tercapai jika batin orang tenang dan tubuhnya sehat. Jikalau orang terpaksa harus memilih diantara macam-macam keinginan, hendaknya dipilih keinginan yang dapat memberi kenikmatan yang mendalam dan lama.
  • 4.
    Metode Kritis: Sokrates,Plato Bersifat analisa istilah & pendapat merupakan hermeneutika, yg menjelaskan keyakinan & memperlihatkan pertentangan. Dgn jln brtny a , mmbdakan, mmbrshkn, menyisihkan, dan menolak, akhirnya ditemukan hakikat. Metode Intuitif: Platinos, Bergson Dgn jln intropeksi pembersihan intelektual (brsma dgn pensucian moral) shg trcpai suatu penerangan pikiran. Bergson: dengan jalan pembauran antara kesadaran dan proses perubahan, tercapai pemahaman langsung mengenai kenyataan.
  • 5.
    Metode Skolastik: Aristoteles,Tomas Aquinas, filsafat abad pertengahan. Bersifat sintetis-deduktif. Dengan bertitik tolak dari definisi atau prinsip yang jelas dengan sendirinya ditarik kesimp ulan. Metode Matematis: Descartes Melalui analisa mengenai hal-hal kompleks, dicapai intuisi akan hakikat-hakikat sederhana. Dari hakikat itu didedukasikan secara matematis segala pengertian lainnya.
  • 6.
    Metode Empiris: Hobbes,Locke, Barkeley, Hume. Hanya pengalamanlah menyajikan pengertian benar, maka semua pengertian (ide-ide) dalam introspeksi dibandingkan dengan serapan-serapan (impressi) dan kemudian disusun bersama secara geomatris. Metode Transendental: Kant, Neo-Skolastik Bertitik tolak dari tepatnya pengertian tertentu, dengan jalan analisis diselidiki syarat-syarat apriori bagi pengertian sedemikian.
  • 7.
    Metode Dialektis: Hegel,Marx Dengan jalan mengikuti dinamika pikiran atau alam sendiri, menurut triade tesis, antitesis dicapai hakikat kenyataan. Metode Fenomenologis: Husserl, eksistensialisme. Dengan jalan beberapa pemotongan sistematis (reduction) refleksi atau fenomin dalam kesadaran mencapai penglihatan hakikat-hakikat murni.
  • 8.
    Metode Neo-positivisme Kenyataandifahami menurut hakikatnya dengan jalan mempergunakan aturan-aturan seperti berlaku pada ilmu pengetahuan positif (eksakta). Metode Analitika Bahasa: Wittgenstein Dengan jalan analisis pemakaian bahasa sehari-hari ditentukan sah atau tidaknya ucapan-ucapan filosofis.
  • 9.
    Kebenaran yang bersifatumum tidak dibatasi ruang dan waktu, maksudnya berlaku untuk semua ruang dan setiap waktu. Sokrates membuka selubung peraturan dan hukum-hukum sehingga dapat dicapai pengertian yang hakiki. Aristoteles, upaya mencari pengertian universal dilakukan dengan menggunakan logika. Logika merupakan ajaran mengenai berpikir yang benar dan ilmiah. Sebagai bentuk yang berada di dalam kesadaran atau akal Allah, yaitu ide-ide atau pola dasar yang segala yang berada secara konkret di dunia ini.
  • 10.
    Sebagai bentuk-bentuk yangtelah direalisir dalam kenyataan yang berada sebagai benda. Sebagai bentuk yang dihasilkan oleh roh manusia, yaitu dengan jalan menghasratkannya dari bendanya yang b ermacam-macam itu.
  • 11.
    Kata “ilmu” merupakanterjemahan dari kata “science”, yang secara etimologi berasal dari kata “scire” yang artinya “to know” dalam pengertian sempit science diartikan untuk menunjukkan ilmu pengetahuan alam yang sifatnya kuantitatif dan objektif.
  • 12.
    Titus ilmudiartikan sebagai common sense yang diatur dan diorganisasikan, mengadakan pendekatan terhadap benda-benda atau peristiwa dengan menggunakan metode observasi yang teliti dan kritis.
  • 13.
    Ashkey Montagu Ilmumerupakan pengetahuan yang disusun yang berasal dari pengamatan, studi dan pengalaman, untuk menentukan hakikat dan prinsip tentang hal yang sedang dipelajari
  • 14.
    Prof. Haryono 1. Ilmu merupakan akumulasi pengetahuan yang disistemasikan atau kesatuan pengetahuan yang terorganisasikan 2. Ilmu dapat pula dilihat sebagai suatu pendekatan terhadap seluruh dunia empiris yaitu dunia yang terikat oleh faktor ruang dan waktu, dunia pada prinsipnya dapat diamati pancaindra.
  • 15.
    Randal (1942) mengemukakanciri umum dari ilmu: Hasil ilmu sifatnya akumulatif dan merupakan milik bersama. Artinya hasil dari ilmu yang telah lalu dapat dipergunakan untuk penyelidikan dan penemuan hal-hal yang baru.
  • 16.
    Hasil ilmu, kebenarannyatidak mutlak dan bisa terjadi kekeliruan karena yang menyelidikinya adalah manusia. Ilmu itu objektif. Artinya prosedur cara penggunaan metode ilmu tidak tergantung kepada yang menggunakannya, tidak tergantung kepada pemahaman secara pribadi.