Politik sebagai libido?
Teologi dan masyarakat menurut Agustinus
Bahan Extension Course Teologi, Kamis, 12 September 2013
A. Bagus Laksana, S. J.
Politik dan Kota sekular
• Kota sebagai lambang keangkuhan 
menara Babel  kota pertama didirikan
Kain untuk Enoch
• Dalam Bab XV dari bukunya De Civitate Dei, Agustinus
menulis bahwa Kain, si pembunuh itu, mendirikan kota
yang pertama di dunia; sedangkan Habel, si peziarah itu,
tidak mendirikan kota apapun karena Kota Para Kudus
ada di surga, tidak di dunia ini, meski kota ini memiliki
warga di dunia ini. Melalui para warga kota yang sedang
hidup di dunia ini, Kota Surgawi berziarah sampai
kepenuhan Kerajaan Allah datang.
Kota Kesombongan
• Menara Babel, menurut Agustinus, adalah kisah pendirian kota-
kota di dunia yang terpecah-pecah karena dosa. Kota
Roma, sebagai Kota Duniawi, juga didirikan melalui kekerasan:
Romulus membunuh Remus, saudaranya.
• Karena merupakan lambang kesombongan, kota-kota
dilengkapi benteng supaya terlindungi dari musuh.
Kesombongan mengundang musuh.
• Kejatuhan manusia dalam dosa memang membuat umat
manusia terpecah-pecah. Perpecahan seperti ini hanya akan
diatasi oleh Kristus yang sanggup menyatukan semua. Warga
Kota Surgawi diambil dari pelbagai kota dan tempat, disatukan
sebagai peziarah, tetapi budaya masing-masing tetap
dipertahankan (De Civitate Dei, XIX.17).
• Hidup urban sekarang sepertinya menggenapi prediksi
tentang Babel dulu: kota menjadi lambang kesombongan
(menara di New York dihancurkan karena ini; lihat juga
perlombaan membangun menara tertinggi di dunia setelah
World Trade Center di Manhattan: Petronas di KL, Burj
al-Khalifa di Dubai).
• Salah satu penyakit patologis politik negara modern
adalah atomisme atau individualisme dari
kewarganegaraan.
New York, September 11, 2001
Burj al-Khalifa, Dubai
Main tennis di ujung langit
Lomba keangkuhan
Baghdad
Damaskus: KINI
DAMASKUS: DULU
Kiamat: damaskus
Kehancuran terhadap Damaskus akhir-akhir ini memicu
debat mengenai nubuat Kitab Suci:
Yesaya 17:1-3
Ucapan ilahi terhadap Damsyik. Sesungguhnya, Damsyik
tidak akan tetap sebagai kota, nanti menjadi suatu
timbunan reruntuhan;
Kampung-kampungnya akan ditinggalkan selama-lamanya
dan menjadi tempat bagi kawanan-kawanan ternak yang
berbaring dengan tidak diganggu oleh siapapun. Kubu-
kubu akan hilang dari Efraim dan kuasa kerajaan akan
lenyap dari Damsyik, juga sisa-sisa Aram, semuanya akan
lenyap sama seperti kemuliaan orang Israel, demikian
firman Tuhan semesta alam.
Aleppo: Dulu
Aleppo: sekarang
Baghdad diserang Bangsa Mongol
Keterpecahan masyarakat menurut Agustinus:
• “Masyarakat manusia yang tersebar dan terserak di seluruh
dunia, dengan keanekaragaman di banyak wilayah—
meskipun juga terhubungkan satu sama lain dalam sejenis
komunitas karena kesamaan kodrat—sebetulnya terpecah-
pecah karena masing-masing kelompok mencari
keuntungannya sendiri. Ini terjadi untuk semua
kelompok, sehingga tidak satu kelompok pun atau tidak
setiap kelompok akan terpuaskan. Akibatnya, masyarakat
manusia terpecah belah dan berkonflik satu sama
lain, yang kuat menindas yang lain..” (Agustinus, De
Civitate Dei, xviii, 2.1)
Akar: Keterpecahan Diri
• Analisis sosio-politik Agustinus didasarkan pada premis dasar
bahwa manusia telah terasingkan dari Tuhan, diri sendiri dan
masyarakat sosialnya (RA Markus, Saeculum, xiv). Dosa
kesombongan yang berakar pada cinta diri (amor sui) dan libido
dominandi (nafsu untuk menindas dan berkuasa) telah
mengasingkan manusia dari Penciptanya, juga dari diri
sendiri, dan sesama serta alam semesta.
• Akar kekacauan sosial: libido dominandi. Libido
dominandi adalah usaha meniru Tuhan tetapi dengan jalan
yang keliru, karena berakar pada kesombongan, sumber
dari segala dosa.
Kejatuhan dalam dosa
• Sesudah jatuh dari dosa, manusia kehilangan
keutuhan dan harmoni yang asali, sesuatu yang
tidak bisa dicapai lagi dalam masyarakat manusia,
melainkan dalam masyarakat para kudus di surga
(heavenly city of the saints).
• Dalam keadaan dosa, masyarakat manusia butuh
pemerintah (lembaga politik) dan hukum yang
bisa memaksa agar tercipta keteraturan.
Hidup Membiara sebagai model
Agustinus menampilkan kehidupan membiara (monastik)
sebagai gambaran dari kehidupan Kota Surgawi. Yang
membedakan biara monastik dengan kehidupan sosial biasa:
1) didasarkan pada pilihan bebas para anggotanya, bukan
keniscayaan atau keterpaksaan sosial.
2) Didasarkan pada saling cinta (mutual love), dan diatur
oleh seorang pemimpin (figur bapak) yang menjalankan
otoritasnya atas dasar kasih, bukan dominasi.
3) Segala tugas dan pekerjaan dalam komunitas biara
dijalankan sebagai tindakan kasih, bukan kewajiban.
• Meskipun lembaga politik itu diperlukan, namun tak akan
mampu mengembalikan keutuhan atau harmoni ini.
Harmoni ini akan dikembalikan di kota Yerusalem
Surgawi, kota para kudus. Di dunia ini kita membutuhkan
sistem politik, pemerintah, mekanisme kontrol yang
memaksa, agar tercipta sebuah kesatuan yang sewajarnya
saja, bukan yang ideal.
• Jemaat Kristiani mesti juga tunduk dan hormat pada
lembaga politik, meski tidak tunduk secara absolut.
De Civitate Dei:
Mengenai Dua Kota
• Agustinus membedakan dua kota: Kota Surgawi,
Jerusalem, dan Kota Duniawi, Babilonia.
• Ia menulis: “Kota Duniawi telah menciptakan ilah-ilah dan
tuhan-tuhan palsu yang mereka sembah dengan korban-
korban; sedangkan, Kota Surgawi yang adalah peziarah di
dunia ini tidak menciptakan ilah-ilah palsu, melainkan ia
sendiri diciptakan oleh Allah yang sejati, di mana korban
yang sejati untuk Allah adalah pengorbanan diri (De
Civitate Dei XVIII.54)
Amor Sui dan Amor Dei
• Dua kota ini juga dibangun di atas dua HASRAT yang
bertentangan:
• Kota Duniawi dibangun oleh CINTA DIRI (AMOR SUI)
sedemikian rupa sehingga menafikan Allah.
• Sedangkan Kota Surgawi dibangun oleh CINTA AKAN
ALLAH (AMOR DEI) yang justru berarti menafikan diri
sendiri.
• Di dalam Kota Duniawi, nafsu untuk menindas dan
menguasai (libido dominandi) telah menjangkiti para
penguasa dan wilayah-wilayahnya. Kota ini mencintai dan
mengagumi kekuatannya sendiri seperti ditampakkan oleh
para pemimpinnya.
• Di dalam kota Surgawi, baik penguasa maupun warga
melayani satu sama lain dalam cinta. Para penguasa
melayani dengan nasehat-nasehat, sedangkan para warga
mencintai dengan ketaatan. Di kota ini, para penghuninya
mengandalkan kekuatan Tuhan lebih dari pada segalanya.
• Dinamika cinta diri (amor sui): mengarah pada kebebasan
pribadi (menekankan privatus yang adalah terpusat pada diri
sendiri). Cinta diri ini akhirnya mengarah pada “atomisme
sosial” yakni kehidupan individualistik yang membuat hidup
seorang terpisah dari hidup orang lain dan komunitas.
Individualisme menghancurkan tata hidup sosial.
• Maka Agustinus memperlawankan antara “komunitas” dan
individualisme. Dalam komunitas hidup bersama, kepentingan
bersama didahulukan daripada kepentingan diri. Tanda dari
kehidupan bersama yang baik (komunitas) adalah adanya
persahabatan, bukan kesombongan yang memisah-misahkan
(De Civitate Dei, XI, 15).
• Agustinus menyadari bahwa manusia itu punya sifat
sosial, tetapi ia juga sadar bahwa sesudah jatuh dari
dosa, manusia tidak lagi bisa mengontrol cinta diri yang
bisa merusak hidup sosial. Dalam kondisi yang seperti
ini, cita-cita sosial masyarakat seperti dalam pengertian res
publica (pengakuan bersama akan hak-hak warga dan
kebaikan bersama) tidak akan tercapai, karena hanya
dalam Kristuslah ada keadilan sejati, di mana kebaikan
bersama itu digunakan semestinya untuk kemuliaan Allah.
• Agustinus tidak menafikan pentingnya tata sosial
dan politik (political and social order) yang bisa
diusahakan oleh pemerintahan sekuler, justru
karena kompleksitas permasalahan masyarakat.
Orang Kristiani mesti mendukung pemerintah.
Namun, harus diingat bahwa peran pemerintah
adalah memelihara keteraturan outward.
Dua prinsip
Dalam kehidupan dunia yang kompleks ini, Agustinus
merumuskan dua prinsip hidup yang menjamin tata
sosial yang damai, yang bisa dilakukan oleh individu
atau warga:
1) Jangan merugikan orang lain
2) Berbuatlah baik sejauh bisa pada siapa pun
Just war theory
• Agustinus bisa memahami “perang yang adil” bagi
orang Kristiani jika keadaan menuntut (necessity).
Namun orang Kristiani perlu berdoa agar terhindar
dari keadaan ini. Perang adalah keadaan ekstrem
yang terjadi karena ketegangan-ketegangan yang
selalu ada dalam kehidupan sosial, dan keadaan di
mana penegakan hukum yang biasa tidak bisa
berjalan lagi. Perang adalah alat pemaksa yang tak
bisa dipisahkan dari kehidupan sosial manusia-
manusia sesudah jatuh dari dosa (Markus, xiii)
Intermezzo: Aquinas
• Thomas Aquinas menyempurnakan teori perang yang
adil (just war theory) dari Agustinus. Agar perang itu adil,
Aquinas memberi syarat:
1) Perang itu mesti dinyatakan oleh lembaga yang
berwenang yang mewakili kebaikan bersama, yakni
terciptanya perdamaian.
2) Perang mesti dilakukan demi kepentingan yang baik
dan adil, bukan demi kepentingan diri, misalnya
kepentingan nasional saja atau sebagai pamer
kekuasaan.
3) Perdamaian mesti menjadi motivasi utama selama
pertempuran perang
Soal Serangan usa ke
syria
Serang syria!
Berdoa bagi kedamaian
• Bagi Agustinus, setiap sistem sosial politik di dunia ini bersifat
sementara. Ketika banyak pemikir Kristiani pada zaman itu
mulai “memberkati” kekaisaran Romawi sebagai “kekaisaran
Kristiani” yang ekspansif (mencampuradukkan politik dan
agama), Agustinus menolak penafsiran ini.
• Bagi Agustinus, Kerajaan Allah tidak bisa seluruhnya
disamakan dengan praktek-praktik politis, historis dan
sosiologis manapun. Kenyataan kongkret Gereja di zaman
apapun tidak bisa disamakan begitu saja dengan pemenuhan
Kerajaan Allah.
• Bagi Agustinus, pencapaian kekaisaran atau lembaga politik
Kristiani juga bersifat ambigu, tidak sepenuhnya bisa
disamakan dengan Kota Surgawi.
Gereja di antara dua kota
• Bagi Agustinus, Gereja adalah juga institusi manusiawi dan
“duniawi” (earthly). Sejauh kehidupan Gereja terarah pada
pujian dan cinta akan Allah, Gereja berperan dalam karya
Tritunggal dan menjadi “Kota Surgawi.”
• Namun Agustinus sadar bahwa mereka yang menjadi warga
Gereja juga digoda oleh keinginan-keinginan yang menggoda
warga Kota Duniawi (civitas terrena).
• Maka, Agustinus membedakan antara “tubuh Kristus yang
sejati” (vero corpus) dan tubuh Kristus yang tercampur di
dunia ini (corpus per mixtum) (De Civitate Dei, III, 32, 45).
• Bagi Agustinus, tidak ada ruang untuk teokrasi.
• Di dunia ini, dua kota itu berinteraksi dan hidup
bersama, bahkan sering tercampur. Mereka
menggunakan bahasa dan istilah-istilah yang sama
(hasrat, hak, hidup bersama-
komunitas, kebaikan, kedamaian dan
sebagainya), namun istilah-istilah dan nilai-nilai ini
digunakan secara berbeda. Di Kota Surgawi, semua
istilah itu bermakna teologis, misalnya kata “hak”
tidak menunjuk pada hak-hak yang dijamin hukum
negara, melainkan hak dan kewajiban manusia di
depan Allah (righteousness). (De Civitate
Dei, XVIII.54).
• Kedua kota itu berada dalam penyelenggaraan Allah,
karena Allah bekerja melalui keduanya bagi tujuan-tujuan
Allah. Keduanya sering berkonflik karena menggunakan
banyak sarana duniawi yang sama, tetapi juga berperan
dalam karya penyelenggaraan Tuhan.
• Keterbatasan Kota Duniawi menjadi kelihatan arti dan
perannya ketika dibandingkan dengan kepenuhan Kota
Surgawi. Di Kota Duniawi, kita melihat pelbagai “tiruan”
(imitasi) yang tak sempurna dari kesempurnaan surgawi
karena kejatuhan manusia. Di Kota Surgawi,
kesempurnaan adalah Amor Dei (cinta akan Allah),
sedangkan cinta ini diubah menjadi cinta diri (amor sui)
di Kota Duniawi.
Interaksi dua kota
• Dua kota, Surgawi dan Duniawi, itu selalu saling
bersentuhan di dunia ini. Namun, Agustinus
memperingatkan agar para warga kota Surgawi tidak ikut
dalam ketamakan, kekerasan yang menandai kota
Duniawi.
• Adalah tugas pemerintah untuk meminimalisir konflik
dalam masyarakat, tetapi pemerintah juga bisa
dihinggapi oleh penyakit yang melanda
masyarakat, libido dominandi dan amor sui. Pemerintah
bisa hanya mengabdi pada kepentingan sekelompok
orang. Maka, Agustinus selalu menolak upaya untuk
“men-Tuhan-kan” atau mengabsolutkan sistem sosial
atau politik.
• Bagi Agustinus, keterpecahan sosial juga berakar
pada keterpecahan diri. Keterpecahan diri yang
paling kelihatan dalam diri manusia adalah soal
seksualitas: di mana libido atau nafsu seksual itu
berjalan tak terkontrol oleh roh (Paulus).
• Keterpecahan manusia juga kelihatan dalam soal
ingatan: kita tidak bisa mengingat apa saja yang
terjadi pada diri kita, juga hal-hal yang sangat
mendalam dan intim, our self is not wholly accesible
to us: I cannot wholly grasp all that I am, I have
become a question to myself.
• Keterpecahan dan keterpisahan manusia dari
lingkungan fisik kelihatan dalam rasa sakit, penyakit
dan kematian. Sedangkan keterasingannya dari
sesamanya kelihatan pada konflik sosial, kegagalan
untuk mewujudkan komunitas dan kasih; ketika
komunikasi diganti dengan dominasi, saling berbagi
diganti dengan eksploitasi.
Melawan kesombongan
• Obat yang bisa menyembuhkan penyakit
kesombongan manusia menurut Agustinus:
tindakan rendah hati Allah.
• Pemandangan di salib harusnya menggugat kita,
terutama optimisme dan kesombongan kita yang
mengaku diri manusia bijak. Di salib, tak ada
kesombongan karena Allah justru telah
merendahkan diri, mengosongkan diri, menjadi
bagian dari penderitaan dan maut yang menimpa
manusia.
SALIB
• Salib mengingatkan kita bahwa dunia ini penuh dengan derita
dan perjuangan. Proyek politik untuk meniadakan penderitaan
di dunia ini dan menciptakan sebuah “kebahagiaan” yang
sempurna adalah ilusi.
• Salib mengundang kita untuk melihat Kristus sebagai
pengantara. Seperti halnya Kristus sendiri telah ditusuk oleh
keterbatasan manusia, orang beriman pun mesti menyadari
keterbatasannya sebagai makhluk yang terikat pada batas
waktu dan tak bisa menghindar dari maut. Betapapun tinggi
kebijaksanaan manusia, keterbatasan ini tak bisa dihindari.
Maka Kristus merendahkan diri supaya bisa merengkuh
manusia. Tanpa proses ini, manusia tak bisa mencapai Kristus
dari dirinya sendiri. Dengan inkarnasi, wafat dan
kebangkitanNya, Kristus mengubah tubuh manusia yang fana
dan terbatas dan mempersembahkannya pada Allah.
Caritas, kasih
• Bagi Agustinus, Salib adalah CARITAS, yakni cinta yang
memberikan diri, yang mengosongkan diri. Caritas
hanya bisa disempurnakan dalam kerendahan hati.
Melalui cinta seperti inilah penyakit manusia, yakni
individualisme dan kedangkalan optimisme-nya, diubah
karena Allah sendiri.
• Dasarnya adalah: 1) Allah mencintai manusia tanpa
batas, 2) cinta tanpa batas ini didasarkan pada belaskasih
(mercy) bukan jasa manusia. Dua hal ini akan
menghindarkan umat beriman dari keputusasaan dan
kesombongan yang menghalangi manusia untuk
mencinta.
• Dua hal ini juga harus diingat oleh komunitas orang
beriman, dan dijalankan dalam tindakan belaskasih
(mercy). Tindakan belaskasih tak lain tak bukan
adalah pengorbanan diri. Tindakan ini akan
menyatukan jemaat. Kalau ini dilakukan dalam
komunitas jemaat, maka seluruh komunitas itu juga
dipersembahkan pada Allah sebagai korban sejati.
Makna ekaristi juga harus dipahami dalam kerangka
pemberian diri seluruh jemaat di altar Tuhan.
Agustinus tentang cinta
• Bedanya “cinta” dan “uang”:
1) Semakin dibagi-bagikan, cinta itu tidak berkurang seperti uang,
melainkan bertambah besar.
2) Kita menjadi lebih tulus dan murah hati ketika kita tidak
mengharapkan uang kita dikembalikan sesudah kita
memberikan uang itu pada orang lain
3) Ketika kita memberi cinta, justru kita harus menuntut agar
cinta itu dikembalikan atau dibalas. Memang, orang yang
memberi cinta itu tetap akan bertumbuh cintanya meski tidak
mendapatkan balasan, namun orang yang telah menerima
cinta itu hanya akan memiliki cinta itu secara lebih penuh bila
ia sanggup membalas cinta itu dengan cinta.
Pertanyaan reflektif
• Bagaimana teori politik Agustinus bisa menerangi
persoalan-persoalan politik Indonesia masa kini?
Mengenai partai politik, korupsi dan sebagainya?
• Kalau meminjam pemikiran politik
Agustinus, bagaimana Gereja (di Indonesia) mesti
berperan dalam kehidupan masyarakat atau politik?
• Dalam pemikiran Agustinus, apakah baik kalau kita
memiliki Partai Katolik? Bagaimana warga Gereja
harus menentukan pilihan politik?

Libido Politik Agustinus

  • 1.
    Politik sebagai libido? Teologidan masyarakat menurut Agustinus Bahan Extension Course Teologi, Kamis, 12 September 2013 A. Bagus Laksana, S. J.
  • 2.
    Politik dan Kotasekular • Kota sebagai lambang keangkuhan  menara Babel  kota pertama didirikan Kain untuk Enoch • Dalam Bab XV dari bukunya De Civitate Dei, Agustinus menulis bahwa Kain, si pembunuh itu, mendirikan kota yang pertama di dunia; sedangkan Habel, si peziarah itu, tidak mendirikan kota apapun karena Kota Para Kudus ada di surga, tidak di dunia ini, meski kota ini memiliki warga di dunia ini. Melalui para warga kota yang sedang hidup di dunia ini, Kota Surgawi berziarah sampai kepenuhan Kerajaan Allah datang.
  • 3.
    Kota Kesombongan • MenaraBabel, menurut Agustinus, adalah kisah pendirian kota- kota di dunia yang terpecah-pecah karena dosa. Kota Roma, sebagai Kota Duniawi, juga didirikan melalui kekerasan: Romulus membunuh Remus, saudaranya. • Karena merupakan lambang kesombongan, kota-kota dilengkapi benteng supaya terlindungi dari musuh. Kesombongan mengundang musuh. • Kejatuhan manusia dalam dosa memang membuat umat manusia terpecah-pecah. Perpecahan seperti ini hanya akan diatasi oleh Kristus yang sanggup menyatukan semua. Warga Kota Surgawi diambil dari pelbagai kota dan tempat, disatukan sebagai peziarah, tetapi budaya masing-masing tetap dipertahankan (De Civitate Dei, XIX.17).
  • 4.
    • Hidup urbansekarang sepertinya menggenapi prediksi tentang Babel dulu: kota menjadi lambang kesombongan (menara di New York dihancurkan karena ini; lihat juga perlombaan membangun menara tertinggi di dunia setelah World Trade Center di Manhattan: Petronas di KL, Burj al-Khalifa di Dubai). • Salah satu penyakit patologis politik negara modern adalah atomisme atau individualisme dari kewarganegaraan.
  • 5.
  • 6.
  • 7.
    Main tennis diujung langit
  • 8.
  • 9.
  • 10.
  • 11.
  • 12.
    Kiamat: damaskus Kehancuran terhadapDamaskus akhir-akhir ini memicu debat mengenai nubuat Kitab Suci: Yesaya 17:1-3 Ucapan ilahi terhadap Damsyik. Sesungguhnya, Damsyik tidak akan tetap sebagai kota, nanti menjadi suatu timbunan reruntuhan; Kampung-kampungnya akan ditinggalkan selama-lamanya dan menjadi tempat bagi kawanan-kawanan ternak yang berbaring dengan tidak diganggu oleh siapapun. Kubu- kubu akan hilang dari Efraim dan kuasa kerajaan akan lenyap dari Damsyik, juga sisa-sisa Aram, semuanya akan lenyap sama seperti kemuliaan orang Israel, demikian firman Tuhan semesta alam.
  • 13.
  • 14.
  • 15.
  • 16.
    Keterpecahan masyarakat menurutAgustinus: • “Masyarakat manusia yang tersebar dan terserak di seluruh dunia, dengan keanekaragaman di banyak wilayah— meskipun juga terhubungkan satu sama lain dalam sejenis komunitas karena kesamaan kodrat—sebetulnya terpecah- pecah karena masing-masing kelompok mencari keuntungannya sendiri. Ini terjadi untuk semua kelompok, sehingga tidak satu kelompok pun atau tidak setiap kelompok akan terpuaskan. Akibatnya, masyarakat manusia terpecah belah dan berkonflik satu sama lain, yang kuat menindas yang lain..” (Agustinus, De Civitate Dei, xviii, 2.1)
  • 17.
    Akar: Keterpecahan Diri •Analisis sosio-politik Agustinus didasarkan pada premis dasar bahwa manusia telah terasingkan dari Tuhan, diri sendiri dan masyarakat sosialnya (RA Markus, Saeculum, xiv). Dosa kesombongan yang berakar pada cinta diri (amor sui) dan libido dominandi (nafsu untuk menindas dan berkuasa) telah mengasingkan manusia dari Penciptanya, juga dari diri sendiri, dan sesama serta alam semesta. • Akar kekacauan sosial: libido dominandi. Libido dominandi adalah usaha meniru Tuhan tetapi dengan jalan yang keliru, karena berakar pada kesombongan, sumber dari segala dosa.
  • 18.
    Kejatuhan dalam dosa •Sesudah jatuh dari dosa, manusia kehilangan keutuhan dan harmoni yang asali, sesuatu yang tidak bisa dicapai lagi dalam masyarakat manusia, melainkan dalam masyarakat para kudus di surga (heavenly city of the saints). • Dalam keadaan dosa, masyarakat manusia butuh pemerintah (lembaga politik) dan hukum yang bisa memaksa agar tercipta keteraturan.
  • 19.
    Hidup Membiara sebagaimodel Agustinus menampilkan kehidupan membiara (monastik) sebagai gambaran dari kehidupan Kota Surgawi. Yang membedakan biara monastik dengan kehidupan sosial biasa: 1) didasarkan pada pilihan bebas para anggotanya, bukan keniscayaan atau keterpaksaan sosial. 2) Didasarkan pada saling cinta (mutual love), dan diatur oleh seorang pemimpin (figur bapak) yang menjalankan otoritasnya atas dasar kasih, bukan dominasi. 3) Segala tugas dan pekerjaan dalam komunitas biara dijalankan sebagai tindakan kasih, bukan kewajiban.
  • 20.
    • Meskipun lembagapolitik itu diperlukan, namun tak akan mampu mengembalikan keutuhan atau harmoni ini. Harmoni ini akan dikembalikan di kota Yerusalem Surgawi, kota para kudus. Di dunia ini kita membutuhkan sistem politik, pemerintah, mekanisme kontrol yang memaksa, agar tercipta sebuah kesatuan yang sewajarnya saja, bukan yang ideal. • Jemaat Kristiani mesti juga tunduk dan hormat pada lembaga politik, meski tidak tunduk secara absolut.
  • 21.
    De Civitate Dei: MengenaiDua Kota • Agustinus membedakan dua kota: Kota Surgawi, Jerusalem, dan Kota Duniawi, Babilonia. • Ia menulis: “Kota Duniawi telah menciptakan ilah-ilah dan tuhan-tuhan palsu yang mereka sembah dengan korban- korban; sedangkan, Kota Surgawi yang adalah peziarah di dunia ini tidak menciptakan ilah-ilah palsu, melainkan ia sendiri diciptakan oleh Allah yang sejati, di mana korban yang sejati untuk Allah adalah pengorbanan diri (De Civitate Dei XVIII.54)
  • 22.
    Amor Sui danAmor Dei • Dua kota ini juga dibangun di atas dua HASRAT yang bertentangan: • Kota Duniawi dibangun oleh CINTA DIRI (AMOR SUI) sedemikian rupa sehingga menafikan Allah. • Sedangkan Kota Surgawi dibangun oleh CINTA AKAN ALLAH (AMOR DEI) yang justru berarti menafikan diri sendiri.
  • 23.
    • Di dalamKota Duniawi, nafsu untuk menindas dan menguasai (libido dominandi) telah menjangkiti para penguasa dan wilayah-wilayahnya. Kota ini mencintai dan mengagumi kekuatannya sendiri seperti ditampakkan oleh para pemimpinnya. • Di dalam kota Surgawi, baik penguasa maupun warga melayani satu sama lain dalam cinta. Para penguasa melayani dengan nasehat-nasehat, sedangkan para warga mencintai dengan ketaatan. Di kota ini, para penghuninya mengandalkan kekuatan Tuhan lebih dari pada segalanya.
  • 24.
    • Dinamika cintadiri (amor sui): mengarah pada kebebasan pribadi (menekankan privatus yang adalah terpusat pada diri sendiri). Cinta diri ini akhirnya mengarah pada “atomisme sosial” yakni kehidupan individualistik yang membuat hidup seorang terpisah dari hidup orang lain dan komunitas. Individualisme menghancurkan tata hidup sosial. • Maka Agustinus memperlawankan antara “komunitas” dan individualisme. Dalam komunitas hidup bersama, kepentingan bersama didahulukan daripada kepentingan diri. Tanda dari kehidupan bersama yang baik (komunitas) adalah adanya persahabatan, bukan kesombongan yang memisah-misahkan (De Civitate Dei, XI, 15).
  • 25.
    • Agustinus menyadaribahwa manusia itu punya sifat sosial, tetapi ia juga sadar bahwa sesudah jatuh dari dosa, manusia tidak lagi bisa mengontrol cinta diri yang bisa merusak hidup sosial. Dalam kondisi yang seperti ini, cita-cita sosial masyarakat seperti dalam pengertian res publica (pengakuan bersama akan hak-hak warga dan kebaikan bersama) tidak akan tercapai, karena hanya dalam Kristuslah ada keadilan sejati, di mana kebaikan bersama itu digunakan semestinya untuk kemuliaan Allah.
  • 26.
    • Agustinus tidakmenafikan pentingnya tata sosial dan politik (political and social order) yang bisa diusahakan oleh pemerintahan sekuler, justru karena kompleksitas permasalahan masyarakat. Orang Kristiani mesti mendukung pemerintah. Namun, harus diingat bahwa peran pemerintah adalah memelihara keteraturan outward.
  • 27.
    Dua prinsip Dalam kehidupandunia yang kompleks ini, Agustinus merumuskan dua prinsip hidup yang menjamin tata sosial yang damai, yang bisa dilakukan oleh individu atau warga: 1) Jangan merugikan orang lain 2) Berbuatlah baik sejauh bisa pada siapa pun
  • 28.
    Just war theory •Agustinus bisa memahami “perang yang adil” bagi orang Kristiani jika keadaan menuntut (necessity). Namun orang Kristiani perlu berdoa agar terhindar dari keadaan ini. Perang adalah keadaan ekstrem yang terjadi karena ketegangan-ketegangan yang selalu ada dalam kehidupan sosial, dan keadaan di mana penegakan hukum yang biasa tidak bisa berjalan lagi. Perang adalah alat pemaksa yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan sosial manusia- manusia sesudah jatuh dari dosa (Markus, xiii)
  • 29.
    Intermezzo: Aquinas • ThomasAquinas menyempurnakan teori perang yang adil (just war theory) dari Agustinus. Agar perang itu adil, Aquinas memberi syarat: 1) Perang itu mesti dinyatakan oleh lembaga yang berwenang yang mewakili kebaikan bersama, yakni terciptanya perdamaian. 2) Perang mesti dilakukan demi kepentingan yang baik dan adil, bukan demi kepentingan diri, misalnya kepentingan nasional saja atau sebagai pamer kekuasaan. 3) Perdamaian mesti menjadi motivasi utama selama pertempuran perang
  • 30.
  • 31.
  • 32.
  • 33.
    • Bagi Agustinus,setiap sistem sosial politik di dunia ini bersifat sementara. Ketika banyak pemikir Kristiani pada zaman itu mulai “memberkati” kekaisaran Romawi sebagai “kekaisaran Kristiani” yang ekspansif (mencampuradukkan politik dan agama), Agustinus menolak penafsiran ini. • Bagi Agustinus, Kerajaan Allah tidak bisa seluruhnya disamakan dengan praktek-praktik politis, historis dan sosiologis manapun. Kenyataan kongkret Gereja di zaman apapun tidak bisa disamakan begitu saja dengan pemenuhan Kerajaan Allah. • Bagi Agustinus, pencapaian kekaisaran atau lembaga politik Kristiani juga bersifat ambigu, tidak sepenuhnya bisa disamakan dengan Kota Surgawi.
  • 34.
    Gereja di antaradua kota • Bagi Agustinus, Gereja adalah juga institusi manusiawi dan “duniawi” (earthly). Sejauh kehidupan Gereja terarah pada pujian dan cinta akan Allah, Gereja berperan dalam karya Tritunggal dan menjadi “Kota Surgawi.” • Namun Agustinus sadar bahwa mereka yang menjadi warga Gereja juga digoda oleh keinginan-keinginan yang menggoda warga Kota Duniawi (civitas terrena). • Maka, Agustinus membedakan antara “tubuh Kristus yang sejati” (vero corpus) dan tubuh Kristus yang tercampur di dunia ini (corpus per mixtum) (De Civitate Dei, III, 32, 45). • Bagi Agustinus, tidak ada ruang untuk teokrasi.
  • 35.
    • Di duniaini, dua kota itu berinteraksi dan hidup bersama, bahkan sering tercampur. Mereka menggunakan bahasa dan istilah-istilah yang sama (hasrat, hak, hidup bersama- komunitas, kebaikan, kedamaian dan sebagainya), namun istilah-istilah dan nilai-nilai ini digunakan secara berbeda. Di Kota Surgawi, semua istilah itu bermakna teologis, misalnya kata “hak” tidak menunjuk pada hak-hak yang dijamin hukum negara, melainkan hak dan kewajiban manusia di depan Allah (righteousness). (De Civitate Dei, XVIII.54).
  • 36.
    • Kedua kotaitu berada dalam penyelenggaraan Allah, karena Allah bekerja melalui keduanya bagi tujuan-tujuan Allah. Keduanya sering berkonflik karena menggunakan banyak sarana duniawi yang sama, tetapi juga berperan dalam karya penyelenggaraan Tuhan. • Keterbatasan Kota Duniawi menjadi kelihatan arti dan perannya ketika dibandingkan dengan kepenuhan Kota Surgawi. Di Kota Duniawi, kita melihat pelbagai “tiruan” (imitasi) yang tak sempurna dari kesempurnaan surgawi karena kejatuhan manusia. Di Kota Surgawi, kesempurnaan adalah Amor Dei (cinta akan Allah), sedangkan cinta ini diubah menjadi cinta diri (amor sui) di Kota Duniawi.
  • 37.
    Interaksi dua kota •Dua kota, Surgawi dan Duniawi, itu selalu saling bersentuhan di dunia ini. Namun, Agustinus memperingatkan agar para warga kota Surgawi tidak ikut dalam ketamakan, kekerasan yang menandai kota Duniawi. • Adalah tugas pemerintah untuk meminimalisir konflik dalam masyarakat, tetapi pemerintah juga bisa dihinggapi oleh penyakit yang melanda masyarakat, libido dominandi dan amor sui. Pemerintah bisa hanya mengabdi pada kepentingan sekelompok orang. Maka, Agustinus selalu menolak upaya untuk “men-Tuhan-kan” atau mengabsolutkan sistem sosial atau politik.
  • 38.
    • Bagi Agustinus,keterpecahan sosial juga berakar pada keterpecahan diri. Keterpecahan diri yang paling kelihatan dalam diri manusia adalah soal seksualitas: di mana libido atau nafsu seksual itu berjalan tak terkontrol oleh roh (Paulus). • Keterpecahan manusia juga kelihatan dalam soal ingatan: kita tidak bisa mengingat apa saja yang terjadi pada diri kita, juga hal-hal yang sangat mendalam dan intim, our self is not wholly accesible to us: I cannot wholly grasp all that I am, I have become a question to myself.
  • 39.
    • Keterpecahan danketerpisahan manusia dari lingkungan fisik kelihatan dalam rasa sakit, penyakit dan kematian. Sedangkan keterasingannya dari sesamanya kelihatan pada konflik sosial, kegagalan untuk mewujudkan komunitas dan kasih; ketika komunikasi diganti dengan dominasi, saling berbagi diganti dengan eksploitasi.
  • 40.
    Melawan kesombongan • Obatyang bisa menyembuhkan penyakit kesombongan manusia menurut Agustinus: tindakan rendah hati Allah. • Pemandangan di salib harusnya menggugat kita, terutama optimisme dan kesombongan kita yang mengaku diri manusia bijak. Di salib, tak ada kesombongan karena Allah justru telah merendahkan diri, mengosongkan diri, menjadi bagian dari penderitaan dan maut yang menimpa manusia.
  • 41.
    SALIB • Salib mengingatkankita bahwa dunia ini penuh dengan derita dan perjuangan. Proyek politik untuk meniadakan penderitaan di dunia ini dan menciptakan sebuah “kebahagiaan” yang sempurna adalah ilusi. • Salib mengundang kita untuk melihat Kristus sebagai pengantara. Seperti halnya Kristus sendiri telah ditusuk oleh keterbatasan manusia, orang beriman pun mesti menyadari keterbatasannya sebagai makhluk yang terikat pada batas waktu dan tak bisa menghindar dari maut. Betapapun tinggi kebijaksanaan manusia, keterbatasan ini tak bisa dihindari. Maka Kristus merendahkan diri supaya bisa merengkuh manusia. Tanpa proses ini, manusia tak bisa mencapai Kristus dari dirinya sendiri. Dengan inkarnasi, wafat dan kebangkitanNya, Kristus mengubah tubuh manusia yang fana dan terbatas dan mempersembahkannya pada Allah.
  • 42.
    Caritas, kasih • BagiAgustinus, Salib adalah CARITAS, yakni cinta yang memberikan diri, yang mengosongkan diri. Caritas hanya bisa disempurnakan dalam kerendahan hati. Melalui cinta seperti inilah penyakit manusia, yakni individualisme dan kedangkalan optimisme-nya, diubah karena Allah sendiri. • Dasarnya adalah: 1) Allah mencintai manusia tanpa batas, 2) cinta tanpa batas ini didasarkan pada belaskasih (mercy) bukan jasa manusia. Dua hal ini akan menghindarkan umat beriman dari keputusasaan dan kesombongan yang menghalangi manusia untuk mencinta.
  • 43.
    • Dua halini juga harus diingat oleh komunitas orang beriman, dan dijalankan dalam tindakan belaskasih (mercy). Tindakan belaskasih tak lain tak bukan adalah pengorbanan diri. Tindakan ini akan menyatukan jemaat. Kalau ini dilakukan dalam komunitas jemaat, maka seluruh komunitas itu juga dipersembahkan pada Allah sebagai korban sejati. Makna ekaristi juga harus dipahami dalam kerangka pemberian diri seluruh jemaat di altar Tuhan.
  • 44.
    Agustinus tentang cinta •Bedanya “cinta” dan “uang”: 1) Semakin dibagi-bagikan, cinta itu tidak berkurang seperti uang, melainkan bertambah besar. 2) Kita menjadi lebih tulus dan murah hati ketika kita tidak mengharapkan uang kita dikembalikan sesudah kita memberikan uang itu pada orang lain 3) Ketika kita memberi cinta, justru kita harus menuntut agar cinta itu dikembalikan atau dibalas. Memang, orang yang memberi cinta itu tetap akan bertumbuh cintanya meski tidak mendapatkan balasan, namun orang yang telah menerima cinta itu hanya akan memiliki cinta itu secara lebih penuh bila ia sanggup membalas cinta itu dengan cinta.
  • 45.
    Pertanyaan reflektif • Bagaimanateori politik Agustinus bisa menerangi persoalan-persoalan politik Indonesia masa kini? Mengenai partai politik, korupsi dan sebagainya? • Kalau meminjam pemikiran politik Agustinus, bagaimana Gereja (di Indonesia) mesti berperan dalam kehidupan masyarakat atau politik? • Dalam pemikiran Agustinus, apakah baik kalau kita memiliki Partai Katolik? Bagaimana warga Gereja harus menentukan pilihan politik?