LEMBAR PENGESAHAN

       Laporan     Lengkap   Praktikum      Pengantar   Bioteknologi    dengan   judul
“Pembuatan Tempe” yang disusun oleh :
           Nama              : Trisnawati
           Nim               : 091404006
           Kelas             : A/ Pend. Biologi
           Kelompok          : II ( Dua )
telah diperiksa dan dikonsultasikan kepada Asisten atau Koordinator Asisten maka
dinyatakan diterima.
                                                        Makassar,      November 2012

 Koordinator Asisten                                                Asisten




Surahman Nur, S.Pd.                                          Abd. Fatta Syam, S.Pd




                                    Mengetahui,
                             Dosen penanggung jawab




                         Hartono, S.Si, S.Pd, M.Biotech.
                         NIP. 1980 06242 2008 12 1 003
BAB I
                              PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
          Perkembangan bioteknologi telah melalui sejarah yang panjang sebelum
   manipulasi genetic mulai berkembang. Bioteknologi telah dikenal dan dilakukan
   oleh masyarakat tradisional, walaupun tanpa sebutan bioteknologi. Bioteknologi
   tradisional merupakan bioteknologi yang memanfaatkan mikroba, proses
   biokimia, dan proses genetic alami seperti mutasi dan rekombinasi genetic. Salah
   satu contoh produk bioteknologi konvensional yang banyak diterapkan oleh
   masyarakat kita adalah pada aspek pangan yakni pembuatan tempe yang berbahan
   dasar kedelai.
          Tempe adalah salah satu makanan hasil fermentasi yang memanfaatkan
   mikroba yaitu kapang dan jamur. Sumber mikroba tersebut berasal dari ragi. Ragi.
   Ragi tempe merupakan media dari bermacam-macam mikrobia misalnya
   Sacharomuces Cerevisiae. Keberhasilan proses fermentasi dalam pembuatan
   tempe sangat ditentukan oleh aktivitas mikrobia-mikrobia dalam ragi tersebut.
          Pembuatan tempe tergolong gampang-gampang susah, hal ini dikarenakan
   bahan yang digunakan mudah untuk kita dapat namun dalam proses
   pembuatannya haruslah se steril mungkin, baik alat-alat dan bahan-bahan yang
   digunakan harus bersih, terutama dari lemak atau minyak. Alat-alat yang
   berminyak jika dipakai untuk mengolah bahan tapai bisa menyebabkan kegagalan
   fermentasi. Air yang digunakan juga harus bersih, menggunakan air hujan bisa
   mengakibatkan tapai tidak berhasil dibuat
          Berdasarkan uraian di atas, maka untuk mengetahui bagaimana mikroba
   dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan suatu makanan, atau menghasilkan
   produk tertentu, maka kegiatan praktikum ini perlu dilakukan untuk mengetahui
   pembuatan Tapai singkong, agar kita sebagai mahasiswa dapat menambah
   keterampilan dalam menghasilkan produk bioteknologi secara konvensional.
B. Rumusan Masalah
  1. Bagaimana cara pembuatan tempe?
  2. Bagaiman peran Rhizopus oligosporus dalam pembuatan tempe?
C. Tujuan Praktikum
  1. Untuk mengetahui cara membuat tempe
  2. Untuk mengetahui peran Rhizopus oligosporus   dalam proses pembuatan
     tempe
D. Manfaat Praktikum
         Manfaat dari praktikum ini adalah mahasiswa dapat mengetahui cara
  pembuatan tape singkong serta mengetahui peran dari Rhizopus oligosporus
  dalam proses pembuatan tempe tersebut.
BAB II
                            TINJAUAN PUSTAKA


       Tempe merupakan makanan tradisional Indonesia yang dikomsumsi oleh
hamper semua lapisan masyarakat, dengan komsumsi rata-rata pertahun 5,2
kg/kapita. Tempe mengandung komponen-komponen gizi yang tinggi, seperti protein
dan vitamin B12 . Bahkan tempe diketahui mengandung senyawa antioksidan yang
diidentifikasi sebagai isoflafon, yakni daidzein, genistein, glisitein. Senyawa-senyawa
ini diyakini mempunyai peranan dalam merendam aktivitas radikal bebas, sehingga
bermanfaat bagi pencegahan kanker seperti halnya karetenoid, vitamin E dan vitamin
C (Subagio, 2002).
       Bioteknologi adalah cabang ilmu yang mempelajari pemanfaatan makhluk
hidup (bakteri, fungi, virus, dan lain-lain) maupun produk dari makhluk hidup
(enzim, alkohol) dalam proses produksi untuk menghasilkan barang dan jasa. Dewasa
ini, perkembangan bioteknologi tidak hanya didasari pada biologi semata, tetapi juga
pada ilmu-ilmu terapan dan murni lain, seperti biokimia, komputer, biologi
molekular, mikrobiologi, genetika, kimia, matematika, dan lain sebagainya. Dengan
kata lain, bioteknologi adalah ilmu terapan yang menggabungkan berbagai cabang
ilmu dalam proses produksi barang dan jasa. Bioteknologi secara umum berarti
meningkatkan kualitas suatu organisme melalui aplikasi teknologi. Aplikasi teknologi
tersebut dapat memodifikasi fungsi biologis suatu organisme dengan menambahkan
gen dari organisme lain atau merekayasa gen pada organisme tersebut.(Galih,2012)
       Kacang-kacangan dan biji-bijian seperti kacang kedelai. Kacang tanah, biji
kecipir, koro dan lain-lain merupakan bahan pangan sumber protein dan lemak nabati
yang sangat penting peranannya dalam kehidupan. Kedelai mengandung ptotein 35%
bahkan pada varietas unggul proteinnya dapat mencapai 40-43%. Dibandingkan
dengan beras, jagung, tepung singkong, kacang hijau, daging, ikan segar, dan telur
ayam, kedelai mempunyai kandungan protein yang lebih tinggi, hamper menyamai
kadar protein susu skim kering (Hartono,&Yusmina Hala, 2012).
        Pembuatan tempe dikenal beberapa macam laru atau inokulum yang dapat
digunakan. Penggunaan laru yang baik sangat penting untuk menghasilkan tempe
menggunakan tempe yang sudah jadi. Tempe diiris-iris tipis, dikeringkan dengan
oven 40-450C atau jamur sampai kering, digiling atau ditumbuk halus dan hasilnya
digunakan sebagai inokulum bubuk. Disamping itu, di beberapa daerah digunakan
juga miselium kapang yang tumbuh di permukaan tempe. Caranya, miselium yang
tumbuh dipermukaan tempe diambil dengan cara mengiris permukaan tempe tersebut,
kemudian irisan permukaan yang diperoleh dijemur, digiling dan digunakan sebagai
inokulum bubuk (Sarwono,1982).
        Menurut Hidayat (2012), Proses fermentasi tempe dapat dibedakan atas tiga
fase yaitu :
1. Fase pertumbuhan cepat (0-30 jam fermentasi) terjadi penaikan jumlah asam
    lemak bebas, penaikan suhu, pertumbuhan jamur cepat, terlihat dengan
    terbentuknya miselia pada permukaan biji makin lama makin lebat, sehingga
    menunjukkan masa yang lebih kompak.
2. Fase transisi (30-50 jam fermentasi) merupakan fase optimal fermentasi tempe
    dan siap untuk dipasarkan. Pada fase ini terjadi penurunan suhu, jumlah asam
    lemak yang dibebaskan dan pertumbuhan jamur hampir tetap atau bertambah
    sedikit, flavor spesifik tempe optimal, dan tekstur lebih kompak.
3. Fase pembusukan atau fermentasi lanjut (50-90 jam fermentasi) terjadi penaikan
    jumlah bakteri dan jumlah asam lemak bebas, pertumbuhan jamur menurun dan
    pada kadar air tertentu pertumbuhan jamur terhenti, terjadi perubahan flavor
    karena degradasi protein lanjut sehingga terbentuk amonia.
BAB III
                         METODE PRAKTIKUM


A. Waktu dan Tempat
   Hari / Tanggal           : Jum’at , 23 November 2012
   Waktu                    : Pukul 08.00 s.d. 12.00 WITA
   Tempat                   : Laboratorium Biologi Lantai II Barat FMIPA UNM
B. Alat dan Bahan
   1. Alat
      a. Kompor                                        e. Toples
      b. Panci                                         f. Sarung
      c. Pengaduk                                      g. Jarum pentul
      d. Talang atau kotak plastik
   2. Bahan
      a. Kedelai yang telah dikupas kulit arinya 2kg
      b. Ragi tempe 4 gram
      c. Air secukupnya
      d. Spritus
      e. Kantong plastic gula
C. Prosedur Kerja
   1. Mencuci bersih kedelai yang telah dikupas kulit arinya sampai 3 kali
   2. Merebus kedelai hingga mendidih, setelah itu mengangkat dan meniriskannya
   3. Setelah dingin mencampurnya dengan ragi tempe
   4. Memasukkan campuran tersebut ke dalam plastic gula kemudian melubangi
      plastic gula tersebut menggunakan jarum pentul
   5. Merekatkan ujung plastic gula menggunakan lilin/ spritus
   6. Memeram tempe selama 2 hari dengan menutupnya menggunakan kain
      sarung.
BAB IV
                       HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil Pengamatan




      1. Proses Pencucian      2. Proses Perebusan    3. Kedelai disaring
             Kedelai




   4. Pemberian Ragi Tempe   5. Masukkan ke dalam    6. merekatkan ujung
                                   Plastik gula           plastic gula




       7. tusuk-tusuk          8. pemeraman
       menggunakan jarum
Tempe telah jadi selama 2 hari

B. Pembahasan
        Berdasarkan hasil praktikum yang telah kami dilakukan, maka pembuatan
   tempe pada kelompok kami berhasil. Ini dilihat dari indikator yaitu bungkusan
   tempe terasa panas ketika pemeraman berlangsung pada hari pertama hal ini
   disebabkan karena dalam pertumbuhannya Rhizopus akan menggunakan Oksigen
   dan menghasilkan CO2 hal inilah yang menjadikan tempe terasa panas. kemudian
   pada hari kedua terlihat adanya sekelompok massa yang berwarna putih yang
   menyeliputi kacang kedelai tersebut yang disebut miselia. Dalam proses
   pembuatan tempe terdapat jamur dan bakteri. Keikutsertaan bakteri dalam proses
   pembuatan tempe tidak dapat dihindari walaupun dalam pembuatannya sudah
   secara higienis dalam laboratorium dan dengan menggunakan inokulum kultur
   murni sebab kontaminasi akan selalu terjadi oleh spora bakteri yang berasal dari
   kedelai.
          Ragi merupakan salah satu faktor penentu dalam pembuatan tempe yang
   optimal bagi pertumbuhan mikrobia khamir dan kapang. Selain itu khamir dan
   kapang juga membutuhkan media tumbuh yang mengandung banyak protein.
   Oleh karena itu dapat digunakan Kacang kedelai sebagai nutrisi atau media
   tumbuh kedua jenis mikroba tersebut.
          Menurut Hidayat (2012), Proses fermentasi tempe dapat dibedakan atas
   tiga fase yaitu : (a). Fase pertumbuhan cepat (0-30 jam fermentasi) terjadi
penaikan jumlah asam lemak bebas, penaikan suhu, pertumbuhan jamur cepat,
terlihat dengan terbentuknya miselia pada permukaan biji makin lama makin
lebat, sehingga menunjukkan masa yang lebih kompak. (b). Fase transisi (30-50
jam fermentasi) merupakan fase optimal fermentasi tempe dan siap untuk
dipasarkan. Pada fase ini terjadi penurunan suhu, jumlah asam lemak yang
dibebaskan dan pertumbuhan jamur hampir tetap atau bertambah sedikit, flavor
spesifik tempe optimal, dan tekstur lebih kompak. (c). Fase pembusukan atau
fermentasi lanjut (50-90 jam fermentasi) terjadi penaikan jumlah bakteri dan
jumlah asam lemak bebas, pertumbuhan jamur menurun dan pada kadar air
tertentu pertumbuhan jamur terhenti, terjadi perubahan flavor karena degradasi
protein lanjut sehingga terbentuk amonia.
BAB V
                                 PENUTUP

A. Kesimpulan
   1. Tempe merupkan salah satu produk bioteknologi terbuat dari singkong yang
      difermentasikan oleh Rhizopus oligosporus.
   2. Peran Rhizopus oligosporus dalam pembutan tempe adalah Rhizopus akan
      menggunakan Oksigen dan menghasilkan CO2 yang akan menghambat
      beberapa organisme perusak. Adanya spora dan hifa juga akan menghambat
      pertumbuhan    kapang   yang   lain.   Jamur   tempe      juga   menghasilkan
      antibiotikayang dapat menghambat pertumbuhan banyak mikrobia.
B. Saran
   1. Sebaiknya dalam praktikum pembuatan tempe ,alat dan bahan yang akan
      digunakan terlebih dahulu dibersihkan dan kemudian disterilkan agar
      pembuatan tempe dapat berhasil kita lakukan.
   2. Sebagai pembaca umum, diharapkan laporan ini dapat menambah wawasan
      anda menjadi lebih luas lagi dalam hal pembuatan tempe.
DAFTAR PUSTAKA


Galih. 2012. Pembuatan Tempe. http://neogalih. blogspot. com/2011/04/laporan -
       bioteknologi-pembuatan-
       tempe.html?showComment=1354114354422#c56713896             1209048253.
       Diakses pada tanggal 25 November 2012.

Nurhidayat. 2012. Tahapan Proses Pembuatan Tempe. http://nurhidayat.lecture .ub
      .ac .id /2009/04/28/tahapan-proses-pembuatan-tempe/#comments. Diakses
      pada tanggal 25 November 2012.

Hartono & Yusmina Hala. 2012. Penuntun Pengantar Bioteknologi. Makassar :
     Jurusan Biologi FMIPA UNM.

Sarwono, B.1982. Laru atau Ragi Tempe. Jakarta : PT. Penebar Swadaya.

Subagio, Achmad dkk. 2002. Kajian Sifat Fisikokimia dan Organoleptik Hidrolisat
      Tempe Hasil Hidrolisis protease. Laboratorium Kimia dan Biokimia Hasil
      Pertanian, Universitas Jember Jawa Timur

Lap3 pembuatan tempe

  • 1.
    LEMBAR PENGESAHAN Laporan Lengkap Praktikum Pengantar Bioteknologi dengan judul “Pembuatan Tempe” yang disusun oleh : Nama : Trisnawati Nim : 091404006 Kelas : A/ Pend. Biologi Kelompok : II ( Dua ) telah diperiksa dan dikonsultasikan kepada Asisten atau Koordinator Asisten maka dinyatakan diterima. Makassar, November 2012 Koordinator Asisten Asisten Surahman Nur, S.Pd. Abd. Fatta Syam, S.Pd Mengetahui, Dosen penanggung jawab Hartono, S.Si, S.Pd, M.Biotech. NIP. 1980 06242 2008 12 1 003
  • 2.
    BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan bioteknologi telah melalui sejarah yang panjang sebelum manipulasi genetic mulai berkembang. Bioteknologi telah dikenal dan dilakukan oleh masyarakat tradisional, walaupun tanpa sebutan bioteknologi. Bioteknologi tradisional merupakan bioteknologi yang memanfaatkan mikroba, proses biokimia, dan proses genetic alami seperti mutasi dan rekombinasi genetic. Salah satu contoh produk bioteknologi konvensional yang banyak diterapkan oleh masyarakat kita adalah pada aspek pangan yakni pembuatan tempe yang berbahan dasar kedelai. Tempe adalah salah satu makanan hasil fermentasi yang memanfaatkan mikroba yaitu kapang dan jamur. Sumber mikroba tersebut berasal dari ragi. Ragi. Ragi tempe merupakan media dari bermacam-macam mikrobia misalnya Sacharomuces Cerevisiae. Keberhasilan proses fermentasi dalam pembuatan tempe sangat ditentukan oleh aktivitas mikrobia-mikrobia dalam ragi tersebut. Pembuatan tempe tergolong gampang-gampang susah, hal ini dikarenakan bahan yang digunakan mudah untuk kita dapat namun dalam proses pembuatannya haruslah se steril mungkin, baik alat-alat dan bahan-bahan yang digunakan harus bersih, terutama dari lemak atau minyak. Alat-alat yang berminyak jika dipakai untuk mengolah bahan tapai bisa menyebabkan kegagalan fermentasi. Air yang digunakan juga harus bersih, menggunakan air hujan bisa mengakibatkan tapai tidak berhasil dibuat Berdasarkan uraian di atas, maka untuk mengetahui bagaimana mikroba dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan suatu makanan, atau menghasilkan produk tertentu, maka kegiatan praktikum ini perlu dilakukan untuk mengetahui pembuatan Tapai singkong, agar kita sebagai mahasiswa dapat menambah keterampilan dalam menghasilkan produk bioteknologi secara konvensional.
  • 3.
    B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana cara pembuatan tempe? 2. Bagaiman peran Rhizopus oligosporus dalam pembuatan tempe? C. Tujuan Praktikum 1. Untuk mengetahui cara membuat tempe 2. Untuk mengetahui peran Rhizopus oligosporus dalam proses pembuatan tempe D. Manfaat Praktikum Manfaat dari praktikum ini adalah mahasiswa dapat mengetahui cara pembuatan tape singkong serta mengetahui peran dari Rhizopus oligosporus dalam proses pembuatan tempe tersebut.
  • 4.
    BAB II TINJAUAN PUSTAKA Tempe merupakan makanan tradisional Indonesia yang dikomsumsi oleh hamper semua lapisan masyarakat, dengan komsumsi rata-rata pertahun 5,2 kg/kapita. Tempe mengandung komponen-komponen gizi yang tinggi, seperti protein dan vitamin B12 . Bahkan tempe diketahui mengandung senyawa antioksidan yang diidentifikasi sebagai isoflafon, yakni daidzein, genistein, glisitein. Senyawa-senyawa ini diyakini mempunyai peranan dalam merendam aktivitas radikal bebas, sehingga bermanfaat bagi pencegahan kanker seperti halnya karetenoid, vitamin E dan vitamin C (Subagio, 2002). Bioteknologi adalah cabang ilmu yang mempelajari pemanfaatan makhluk hidup (bakteri, fungi, virus, dan lain-lain) maupun produk dari makhluk hidup (enzim, alkohol) dalam proses produksi untuk menghasilkan barang dan jasa. Dewasa ini, perkembangan bioteknologi tidak hanya didasari pada biologi semata, tetapi juga pada ilmu-ilmu terapan dan murni lain, seperti biokimia, komputer, biologi molekular, mikrobiologi, genetika, kimia, matematika, dan lain sebagainya. Dengan kata lain, bioteknologi adalah ilmu terapan yang menggabungkan berbagai cabang ilmu dalam proses produksi barang dan jasa. Bioteknologi secara umum berarti meningkatkan kualitas suatu organisme melalui aplikasi teknologi. Aplikasi teknologi tersebut dapat memodifikasi fungsi biologis suatu organisme dengan menambahkan gen dari organisme lain atau merekayasa gen pada organisme tersebut.(Galih,2012) Kacang-kacangan dan biji-bijian seperti kacang kedelai. Kacang tanah, biji kecipir, koro dan lain-lain merupakan bahan pangan sumber protein dan lemak nabati yang sangat penting peranannya dalam kehidupan. Kedelai mengandung ptotein 35% bahkan pada varietas unggul proteinnya dapat mencapai 40-43%. Dibandingkan dengan beras, jagung, tepung singkong, kacang hijau, daging, ikan segar, dan telur
  • 5.
    ayam, kedelai mempunyaikandungan protein yang lebih tinggi, hamper menyamai kadar protein susu skim kering (Hartono,&Yusmina Hala, 2012). Pembuatan tempe dikenal beberapa macam laru atau inokulum yang dapat digunakan. Penggunaan laru yang baik sangat penting untuk menghasilkan tempe menggunakan tempe yang sudah jadi. Tempe diiris-iris tipis, dikeringkan dengan oven 40-450C atau jamur sampai kering, digiling atau ditumbuk halus dan hasilnya digunakan sebagai inokulum bubuk. Disamping itu, di beberapa daerah digunakan juga miselium kapang yang tumbuh di permukaan tempe. Caranya, miselium yang tumbuh dipermukaan tempe diambil dengan cara mengiris permukaan tempe tersebut, kemudian irisan permukaan yang diperoleh dijemur, digiling dan digunakan sebagai inokulum bubuk (Sarwono,1982). Menurut Hidayat (2012), Proses fermentasi tempe dapat dibedakan atas tiga fase yaitu : 1. Fase pertumbuhan cepat (0-30 jam fermentasi) terjadi penaikan jumlah asam lemak bebas, penaikan suhu, pertumbuhan jamur cepat, terlihat dengan terbentuknya miselia pada permukaan biji makin lama makin lebat, sehingga menunjukkan masa yang lebih kompak. 2. Fase transisi (30-50 jam fermentasi) merupakan fase optimal fermentasi tempe dan siap untuk dipasarkan. Pada fase ini terjadi penurunan suhu, jumlah asam lemak yang dibebaskan dan pertumbuhan jamur hampir tetap atau bertambah sedikit, flavor spesifik tempe optimal, dan tekstur lebih kompak. 3. Fase pembusukan atau fermentasi lanjut (50-90 jam fermentasi) terjadi penaikan jumlah bakteri dan jumlah asam lemak bebas, pertumbuhan jamur menurun dan pada kadar air tertentu pertumbuhan jamur terhenti, terjadi perubahan flavor karena degradasi protein lanjut sehingga terbentuk amonia.
  • 6.
    BAB III METODE PRAKTIKUM A. Waktu dan Tempat Hari / Tanggal : Jum’at , 23 November 2012 Waktu : Pukul 08.00 s.d. 12.00 WITA Tempat : Laboratorium Biologi Lantai II Barat FMIPA UNM B. Alat dan Bahan 1. Alat a. Kompor e. Toples b. Panci f. Sarung c. Pengaduk g. Jarum pentul d. Talang atau kotak plastik 2. Bahan a. Kedelai yang telah dikupas kulit arinya 2kg b. Ragi tempe 4 gram c. Air secukupnya d. Spritus e. Kantong plastic gula C. Prosedur Kerja 1. Mencuci bersih kedelai yang telah dikupas kulit arinya sampai 3 kali 2. Merebus kedelai hingga mendidih, setelah itu mengangkat dan meniriskannya 3. Setelah dingin mencampurnya dengan ragi tempe 4. Memasukkan campuran tersebut ke dalam plastic gula kemudian melubangi plastic gula tersebut menggunakan jarum pentul 5. Merekatkan ujung plastic gula menggunakan lilin/ spritus 6. Memeram tempe selama 2 hari dengan menutupnya menggunakan kain sarung.
  • 7.
    BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Pengamatan 1. Proses Pencucian 2. Proses Perebusan 3. Kedelai disaring Kedelai 4. Pemberian Ragi Tempe 5. Masukkan ke dalam 6. merekatkan ujung Plastik gula plastic gula 7. tusuk-tusuk 8. pemeraman menggunakan jarum
  • 8.
    Tempe telah jadiselama 2 hari B. Pembahasan Berdasarkan hasil praktikum yang telah kami dilakukan, maka pembuatan tempe pada kelompok kami berhasil. Ini dilihat dari indikator yaitu bungkusan tempe terasa panas ketika pemeraman berlangsung pada hari pertama hal ini disebabkan karena dalam pertumbuhannya Rhizopus akan menggunakan Oksigen dan menghasilkan CO2 hal inilah yang menjadikan tempe terasa panas. kemudian pada hari kedua terlihat adanya sekelompok massa yang berwarna putih yang menyeliputi kacang kedelai tersebut yang disebut miselia. Dalam proses pembuatan tempe terdapat jamur dan bakteri. Keikutsertaan bakteri dalam proses pembuatan tempe tidak dapat dihindari walaupun dalam pembuatannya sudah secara higienis dalam laboratorium dan dengan menggunakan inokulum kultur murni sebab kontaminasi akan selalu terjadi oleh spora bakteri yang berasal dari kedelai. Ragi merupakan salah satu faktor penentu dalam pembuatan tempe yang optimal bagi pertumbuhan mikrobia khamir dan kapang. Selain itu khamir dan kapang juga membutuhkan media tumbuh yang mengandung banyak protein. Oleh karena itu dapat digunakan Kacang kedelai sebagai nutrisi atau media tumbuh kedua jenis mikroba tersebut. Menurut Hidayat (2012), Proses fermentasi tempe dapat dibedakan atas tiga fase yaitu : (a). Fase pertumbuhan cepat (0-30 jam fermentasi) terjadi
  • 9.
    penaikan jumlah asamlemak bebas, penaikan suhu, pertumbuhan jamur cepat, terlihat dengan terbentuknya miselia pada permukaan biji makin lama makin lebat, sehingga menunjukkan masa yang lebih kompak. (b). Fase transisi (30-50 jam fermentasi) merupakan fase optimal fermentasi tempe dan siap untuk dipasarkan. Pada fase ini terjadi penurunan suhu, jumlah asam lemak yang dibebaskan dan pertumbuhan jamur hampir tetap atau bertambah sedikit, flavor spesifik tempe optimal, dan tekstur lebih kompak. (c). Fase pembusukan atau fermentasi lanjut (50-90 jam fermentasi) terjadi penaikan jumlah bakteri dan jumlah asam lemak bebas, pertumbuhan jamur menurun dan pada kadar air tertentu pertumbuhan jamur terhenti, terjadi perubahan flavor karena degradasi protein lanjut sehingga terbentuk amonia.
  • 10.
    BAB V PENUTUP A. Kesimpulan 1. Tempe merupkan salah satu produk bioteknologi terbuat dari singkong yang difermentasikan oleh Rhizopus oligosporus. 2. Peran Rhizopus oligosporus dalam pembutan tempe adalah Rhizopus akan menggunakan Oksigen dan menghasilkan CO2 yang akan menghambat beberapa organisme perusak. Adanya spora dan hifa juga akan menghambat pertumbuhan kapang yang lain. Jamur tempe juga menghasilkan antibiotikayang dapat menghambat pertumbuhan banyak mikrobia. B. Saran 1. Sebaiknya dalam praktikum pembuatan tempe ,alat dan bahan yang akan digunakan terlebih dahulu dibersihkan dan kemudian disterilkan agar pembuatan tempe dapat berhasil kita lakukan. 2. Sebagai pembaca umum, diharapkan laporan ini dapat menambah wawasan anda menjadi lebih luas lagi dalam hal pembuatan tempe.
  • 11.
    DAFTAR PUSTAKA Galih. 2012.Pembuatan Tempe. http://neogalih. blogspot. com/2011/04/laporan - bioteknologi-pembuatan- tempe.html?showComment=1354114354422#c56713896 1209048253. Diakses pada tanggal 25 November 2012. Nurhidayat. 2012. Tahapan Proses Pembuatan Tempe. http://nurhidayat.lecture .ub .ac .id /2009/04/28/tahapan-proses-pembuatan-tempe/#comments. Diakses pada tanggal 25 November 2012. Hartono & Yusmina Hala. 2012. Penuntun Pengantar Bioteknologi. Makassar : Jurusan Biologi FMIPA UNM. Sarwono, B.1982. Laru atau Ragi Tempe. Jakarta : PT. Penebar Swadaya. Subagio, Achmad dkk. 2002. Kajian Sifat Fisikokimia dan Organoleptik Hidrolisat Tempe Hasil Hidrolisis protease. Laboratorium Kimia dan Biokimia Hasil Pertanian, Universitas Jember Jawa Timur