Kerajaan Banten
1. Letak Kerajaan Banten
2. Kehidupan Politik Kerajaan Banten
3. Puncak Kejayaan
4. Sistem Ekonomi
5. Sistem Sosial
6. Kehidupan Budaya Kesultanan Banten
7. Faktor kemajuan
8. Faktor kemunduran
9. Peninggalan kerajaan Banten
1. Letak Kerajaan Banten
Secara geografis, Kerajaan Banten terletak di
propinsi Banten. Wilayah kekuasaan Banten meliputi
bagian barat Pulau Jawa, seluruh wilayah Lampung, dan
sebagian wilayah selatan Jawa Barat. Situs peninggalan
Kerajaan Banten tersebar di beberapa kota seperti
Tangerang, Serang, Cilegon, dan Pandeglang. Pada
mulanya, wilayah Kesultanan Banten termasuk dalam
kekuasaan Kerajaan Sunda.
Dengan posisi yang strategis ini Kerajaan Banten
berkembang menjadi kerajaan besar di Pulau Jawa dan
bahkan menjadi saingan berat bagi VOC di Batavia.
1. Letak Kerajaan Banten
2. Kehidupan Politik Kerajaan Banten
Banten merupakan daerah kekuasaan Kerajaan Pajajaran. Namun pada
tahun 1524 wilayah Banten berhasil dikuasai oleh Kerajaan Demak di bawah
pimpinan Syarif Hidayatullah. Pada waktu Demak terjadi perebutan
kekuasaan, Banten melepaskan diri dan tumbuh menjadi kerajaan besar.
Setelah itu, kekuasaan Banten diserahkan kepada Sultan Hasanudin,
putra Syarif Hidayatullah. Sultan Hasanudin dianggap sebagai peletak dasar
Kerajaan Banten. Banten semakin maju di bawah pemerintahan Sultan
Hasanudin karena didukung oleh faktor-faktor berikut ini:
1. Letak Banten yang strategis terutama setelah Malaka jatuh ke tangan
Portugis, Banten menjadi bandar utama karena dilalui jalur perdagangan
laut.
2. Banten menghasilkan rempah-rempah lada yang menjadi perdagangan
utama bangsa Eropa menuju Asia.
3. Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan
Sultan Ageng Tirtayasa.
2. Kehidupan Politik Kerajaan Banten
Hal-hal yang dilakukan oleh Sultan Ageng Tirtayasa terhadap kemajuan
Kerajaan Banten adalah sebagai berikut:
1. Memajukan wilayah perdagangan yang berkembang sampai ke bagian
selatan Pulau Sumatera dan sebagian wilayah Pulau Kalimantan.
2. Banten dijadikan sebagai tempat perdagangan.
3. Memajukan pendidikan dan kebudayaan Islam sehingga banyak murid
yang belajar agama Islam ke Banten.
4. Melakukan modernisasi bangunan keraton dengan bantuan arsitektur
Lucas Cardeel.
5. Membangun armada laut untuk melindungi perdagangan.
6. Sultan Ageng Tirtayasa merupakan salah satu raja yang gigih menentang
pendudukan VOC di Indonesia. Kekuatan politik dan angkatan perang
Banten maju pesat di bawah kepemimpinannya.
Namun akhirnya VOC menjalankan politik adu domba antara Sultan
Ageng dan putranya, Sultan Haji. Berkat politik adu domba tersebut Sultan
Ageng Tirtayasa kemudian berhasil ditangkap dan dipenjarakan di Batavia
hingga wafat pada tahun 1629 Masehi.
3. Puncak Kejayaan
Kesultanan Banten merupakan kerajaan maritim dan
mengandalkan perdagangan dalam menopang
perekonomiannya. Monopoli atas perdagangan lada di Lampung,
menempatkan penguasa Banten sekaligus sebagai pedagang perantara
dan Kesultanan Banten berkembang pesat, menjadi salah satu pusat
niaga yang penting pada masa itu. Perdagangan laut berkembang ke
seluruh Nusantara, Banten menjadi kawasan multi-etnis. Dibantu orang
Inggris, Denmark dan Tionghoa, Banten berdagang
dengan Persia, India, Siam, Vietnam, Filipina, Cina dan Jepang
Masa Sultan Ageng Tirtayasa (bertahta 1651-1682) dipandang
sebagai masa kejayaan Banten. Di bawah dia, Banten memiliki armada
yang mengesankan, dibangun atas contoh Eropa, serta juga telah
mengupah orang Eropa bekerja pada Kesultanan Banten. Dalam
mengamankan jalur pelayarannya Banten juga mengirimkan armada
lautnya keSukadana atau Kerajaan Tanjungpura (Kalimantan
Barat sekarang) dan menaklukkannya tahun 1661. Pada masa ini Banten
juga berusaha keluar dari tekanan yang dilakukan VOC, yang sebelumnya
telah melakukan blokade atas kapal-kapal dagang menuju Banten.
3. Puncak Kejayaan
Masa Kesultanan
– Maulana Hasanuddin atau Pangeran Sabakingkin memerintah pada tahun 1552 – 1570
– Maulana Yusuf atau Pangeran Pasareyan memerintah pada tahun 1570 – 1585
– Maulana Muhammad atau Pangeran Sedangrana memerintah pada tahun 1585 – 1596
– Sultan Abu al-Mafakhir Mahmud Abdulkadir atau Pangeran Ratu memerintah pada tahun
1596 – 1647
– Sultan Abu al-Ma’ali Ahmad memerintah pada tahun 1647 – 1651
– Sultan Ageng Tirtayasa atau Sultan Abu al-Fath Abdul Fattah memerintah pada
tahun 1651-1682
– Sultan Haji atau Sultan Abu Nashar Abdul Qahar memerintah pada tahun 1683 – 1687
– Sultan Abu Fadhl Muhammad Yahya memerintah pada tahun 1687 – 1690
– Sultan Abul Mahasin Muhammad Zainul Abidin memerintah pada tahun 1690 – 1733
– Sultan Abul Fathi Muhammad Syifa Zainul Arifin memerintah pada tahun 1733 – 1747
– Ratu Syarifah Fatimah memerintah pada tahun 1747 – 1750
– Sultan Arif Zainul Asyiqin al-Qadiri memerintah pada tahun 1753 – 1773
– Sultan Abul Mafakhir Muhammad Aliuddin memerintah pada tahun 1773 – 1799
– Sultan Abul Fath Muhammad Muhyiddin Zainussalihin memerintah pada tahun 1799 – 1803
– Sultan Abul Nashar Muhammad Ishaq Zainulmutaqin memerintah pada tahun 1803 – 1808
– Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin memerintah pada tahun 1809 –
1813
4. Sistem Ekonomi
Kehidupan ekonomi kerajaan Banten bertumpu pada
bidang perdagangan karena memiliki bahan ekspor penting,
yaitu lada sebagai daya tarik yang kuat bagi pedagang asing.
Dalam meletakan dasar pembangunan ekonomi Banten,
selain di bidang perdagangan untuk daerah pesisir, pada
kawasan pedalaman pembukaan sawah mulai diperkenalkan.
Asumsi ini berkembang karena pada waktu itu di beberapa
kawasan pedalaman seperti Lebak, perekonomian
masyarakatnya ditopang oleh kegiatan perladangan,
sebagaimana penafsiran dari
naskah sanghyangsiksakandangkaresian yang menceritakan
adanya istilah pahuma(peladang), panggerek (pemburu)
dan panyadap (penyadap). Ketiga istilah ini jelas lebih kepada
sistem ladang, begitu juga dengan nama peralatanya
seperti kujang, patik, baliung, kored dan sadap.
4. Sistem Ekonomi
Pada masa Sultan Ageng antara 1663 dan 1667 pekerjaan
pengairan besar dilakukan untuk mengembangkanpertanian.
Antara 30 dan 40 km kanal baru dibangun dengan
menggunakan tenaga sebanyak 16 000 orang. Di
sepanjang kanal tersebut, antara 30 dan 40 000 ribu hektar
sawah baru dan ribuan hektar perkebunan kelapa ditanam.
30000-an petani ditempatkan di atas tanah tersebut,
termasuk orang Bugis dan Makasar. Perkebunan tebu, yang
didatangkan saudagar Cina pada tahun 1620-an,
dikembangkan. Di bawah Sultan Ageng, perkembangan
penduduk Banten meningkat signifikan.
Tak dapat dipungkiri sampai pada tahun 1678, Banten
telah menjadi kota metropolitan, dengan jumlah penduduk
dan kekayaan yang dimilikinya menjadikan Banten sebagai
salah satu kota terbesar di dunia pada masa tersebut.
5. Sistem Sosial
Kehidupan sosial rakyat Banten berlandaskan ajaran-
ajaran yang berlaku dalam agama Islam.Pada masa
pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, kehidupan sosial
masyarakat Banten semakin meningkat dengan pesat karena
sultan memperhatikan kesejahteraan rakyatnya.Usaha yang
ditempuh oleh Sultan Ageng Tirtayasa adalah menerapkan
sistem perdagangan bebas dan mengusir VOC dari Batavia.
Menurut catatan sejarah Banten, Sultan Banten termasuk
keturunan Nabi Muhammad SAW sehingga agama Islam
benar-benar menjadi pedoman hidup rakyat. Meskipun
agama Islam mempengaruhi sebagian besar kehidupan
Kesultanan Banten, namun penduduk Banten telah
menjalankan praktek toleransi terhadap keberadaan pemeluk
agama lain. Hal ini dibuktikan dengan dibangunnya sebuah
klenteng di pelabuhan Banten pada tahun 1673.
5. Sistem Sosial
Kerajaan Banten menerapkan sistem timbal balik,
Kerajaan akan membina hubungan baik terhadap Negara
manapun yang ingin membina hubungan baik dengan
Kerajaan, tapi sebaliknya Kerajaan Banten menerapkan sistem
perlawanan terhadap bangsa manapun yang ingin
menganggu kedaulatan Kerajaan. Sayangnya ini hanya
berlangsung pada masa Sultan Ageng Tirtayasa saja, karena
pada masa kepemimpinan Sultan Haji Kerajaan Banten justru
mengalami keruntuhan karena pada masa itu Kerajaan
Banten berada dibawah naungan Belanda yang ingin
menguasai pemerintah dan perekonomian Banten
sepeunuhnya. Sejak kematianSultan Ageng
Tirtayasa pemerintahan Kerajaan Banten mengalami banyak
kemunduran karena terjadi perebutan tahta dan perang
saudara hingga akhirnya Banten dikuasai oleh Belanda.
6. Kehidupan Budaya Kesultanan Banten
Masyarakat yang berada pada wilayah Kesultanan Banten terdiri dari
beragam etnis yang ada di Nusantara, antara lain: Sunda, Jawa, Melayu,
Bugis, Makassar, dan Bali. Beragam suku tersebut memberi pengaruh
terhadap perkembangan budaya di Banten dengan tetap berdasarkan
aturan agama Islam. Pengaruh budaya Asia lain didapatkan dari migrasi
penduduk Cina akibat perang Fujian tahun 1676, serta keberadaan
pedagang India dan Arab yang berinteraksi dengan masyarakat setempat.
Hasil peninggalan kebudayaan yang bersifat materi dari Kerajaan
Banten berupa bangunan-bangunan yang bentuk dan ukirannya
mendapatkan pengaruh dari kebudayaan Islam. Contoh dari peninggalan
tersebut bisa kita lihat pada adanya pembangunan masjid yang pada masa
Kesultanan Banten, masjid dijadikan sebagai tempat untuk melaksanakan
ibadah. Selain masjid hasil peninggalan kebudayaan berupa materi berupa
hasil karya sastra berupa nyanyian-nyanyian bernada islami, teknik
membaca Al-quran, serta hikayat mengenai cerita-cerita bertema islam.
Selain peninggalan satra juga terdapat bangunan peninggalan istana pada
masa Kesultanan Banten. Bangunan-bangunan tersebut adalah peninggalan
materi yang bercorak islam karena dibangun pada masa kekusaan Kerajaan
Banten yang bercorak islam.
6. Kehidupan Budaya Kesultanan Banten
Dalam bidang seni bangunan Banten
meninggalkan seni bangunan Masjid Agung
Banten yang dibangun pada abad ke-16. Selain
itu, Kerajaan Banten memiliki bangunan istana
dan bangunan gapura pada Istana Kaibon yang
dibangun oleh Jan Lucas Cardeel, seorang
Belanda yang telah memeluk agama Islam.
Sejumlah peninggalan bersejarah di Banten saat
ini dikembangkan menjadi tempat wisata sejarah
yang banyak menarik kunjungan wisatawan dari
dalam dan luar negeri.
7. Faktor kemajuan
Beberapa faktor penyebab kemajuaan
kerajaan ini adalah :
1. Letaknya sangat strategis, yaitu di Selat
Sunda,
2. Pelabuhan kerajaan Banten memenuhi
persyaratan yang baik,
3. Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis.
8. Faktor kemunduran
Beberapa faktor penyebab kemunduran
kerajaan ini adalah :
1. Mangkatnya Raja Besar Banten Maulana
Yusuf dan tidak ada yang menggantikannya,
2. Perang saudara antara saudara Maulana
Yusuf dengan pembesar Kerajaan Banten.
9. Peninggalan kerajaan Banten
Di Banten Lama dan sekitarnya kini masih terdapat
beberapa peninggalan kepurbakalaan yang berasal dari
zaman kerajaan Islam Banten (abad XVI – XVIII)
Peninggalan tersebut ada yang masih utuh namun
banyak yang tinggal reruntuhannya saja bahkan tidak
sedikit yang berupa fragmen-fragmen kecil.
Peninggalan berupa artefak –artefak kecil yang
dikumpulkan dalam penelitian dan penggalian
kepurbakalaan kini telah disimpan di Museum Situs
Kepurbakalaan yang terletak di halaman depan bekas
Keraton Surosowan.
9. Peninggalan kerajaan Banten
Komplek Keraton Surosowan
9. Peninggalan kerajaan Banten
Komplek Mesjid Agung
9. Peninggalan kerajaan Banten
Meriam Ki Amuk
9. Peninggalan kerajaan Banten
Mesjid Pacinan Tinggi
9. Peninggalan kerajaan Banten
Komplek Keraton Kaibon
9. Peninggalan kerajaan Banten
Mesjid Koja
9. Peninggalan kerajaan Banten
Kerkhof
9. Peninggalan kerajaan Banten
Benteng Spelwijk
9. Peninggalan kerajaan Banten
Klenteng Cina
9. Peninggalan kerajaan Banten
Watu Gilang
9. Peninggalan kerajaan Banten
Makam Kerabat Sultan
9. Peninggalan kerajaan Banten
Mesjid Agung Kenari
9. Peninggalan kerajaan Banten
Benda-benda purbakala di Museum Banten
9. Peninggalan kerajaan Banten
Pelabuhan Karangantu
9. Peninggalan kerajaan Banten
Tasikardi
9. Peninggalan kerajaan Banten
Sumber
http://isra28blog.blogspot.com/2013/12/letak-
kehidupan-politik-ekonomi-sosial.html
https://ganepm2k.wordpress.com/2013/11/11/
makalah-kerajaan-banten/
http://ridwanaz.com/umum/sejarah/sejarah-
kerajaan-banten-beserta-kehidupan-politik-
sosial-dan-budaya/
Dan-berbagai-web-lain.

Kerajaan Banten

  • 1.
    Kerajaan Banten 1. LetakKerajaan Banten 2. Kehidupan Politik Kerajaan Banten 3. Puncak Kejayaan 4. Sistem Ekonomi 5. Sistem Sosial 6. Kehidupan Budaya Kesultanan Banten 7. Faktor kemajuan 8. Faktor kemunduran 9. Peninggalan kerajaan Banten
  • 2.
    1. Letak KerajaanBanten Secara geografis, Kerajaan Banten terletak di propinsi Banten. Wilayah kekuasaan Banten meliputi bagian barat Pulau Jawa, seluruh wilayah Lampung, dan sebagian wilayah selatan Jawa Barat. Situs peninggalan Kerajaan Banten tersebar di beberapa kota seperti Tangerang, Serang, Cilegon, dan Pandeglang. Pada mulanya, wilayah Kesultanan Banten termasuk dalam kekuasaan Kerajaan Sunda. Dengan posisi yang strategis ini Kerajaan Banten berkembang menjadi kerajaan besar di Pulau Jawa dan bahkan menjadi saingan berat bagi VOC di Batavia.
  • 3.
  • 4.
    2. Kehidupan PolitikKerajaan Banten Banten merupakan daerah kekuasaan Kerajaan Pajajaran. Namun pada tahun 1524 wilayah Banten berhasil dikuasai oleh Kerajaan Demak di bawah pimpinan Syarif Hidayatullah. Pada waktu Demak terjadi perebutan kekuasaan, Banten melepaskan diri dan tumbuh menjadi kerajaan besar. Setelah itu, kekuasaan Banten diserahkan kepada Sultan Hasanudin, putra Syarif Hidayatullah. Sultan Hasanudin dianggap sebagai peletak dasar Kerajaan Banten. Banten semakin maju di bawah pemerintahan Sultan Hasanudin karena didukung oleh faktor-faktor berikut ini: 1. Letak Banten yang strategis terutama setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis, Banten menjadi bandar utama karena dilalui jalur perdagangan laut. 2. Banten menghasilkan rempah-rempah lada yang menjadi perdagangan utama bangsa Eropa menuju Asia. 3. Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa.
  • 5.
    2. Kehidupan PolitikKerajaan Banten Hal-hal yang dilakukan oleh Sultan Ageng Tirtayasa terhadap kemajuan Kerajaan Banten adalah sebagai berikut: 1. Memajukan wilayah perdagangan yang berkembang sampai ke bagian selatan Pulau Sumatera dan sebagian wilayah Pulau Kalimantan. 2. Banten dijadikan sebagai tempat perdagangan. 3. Memajukan pendidikan dan kebudayaan Islam sehingga banyak murid yang belajar agama Islam ke Banten. 4. Melakukan modernisasi bangunan keraton dengan bantuan arsitektur Lucas Cardeel. 5. Membangun armada laut untuk melindungi perdagangan. 6. Sultan Ageng Tirtayasa merupakan salah satu raja yang gigih menentang pendudukan VOC di Indonesia. Kekuatan politik dan angkatan perang Banten maju pesat di bawah kepemimpinannya. Namun akhirnya VOC menjalankan politik adu domba antara Sultan Ageng dan putranya, Sultan Haji. Berkat politik adu domba tersebut Sultan Ageng Tirtayasa kemudian berhasil ditangkap dan dipenjarakan di Batavia hingga wafat pada tahun 1629 Masehi.
  • 6.
    3. Puncak Kejayaan KesultananBanten merupakan kerajaan maritim dan mengandalkan perdagangan dalam menopang perekonomiannya. Monopoli atas perdagangan lada di Lampung, menempatkan penguasa Banten sekaligus sebagai pedagang perantara dan Kesultanan Banten berkembang pesat, menjadi salah satu pusat niaga yang penting pada masa itu. Perdagangan laut berkembang ke seluruh Nusantara, Banten menjadi kawasan multi-etnis. Dibantu orang Inggris, Denmark dan Tionghoa, Banten berdagang dengan Persia, India, Siam, Vietnam, Filipina, Cina dan Jepang Masa Sultan Ageng Tirtayasa (bertahta 1651-1682) dipandang sebagai masa kejayaan Banten. Di bawah dia, Banten memiliki armada yang mengesankan, dibangun atas contoh Eropa, serta juga telah mengupah orang Eropa bekerja pada Kesultanan Banten. Dalam mengamankan jalur pelayarannya Banten juga mengirimkan armada lautnya keSukadana atau Kerajaan Tanjungpura (Kalimantan Barat sekarang) dan menaklukkannya tahun 1661. Pada masa ini Banten juga berusaha keluar dari tekanan yang dilakukan VOC, yang sebelumnya telah melakukan blokade atas kapal-kapal dagang menuju Banten.
  • 7.
    3. Puncak Kejayaan MasaKesultanan – Maulana Hasanuddin atau Pangeran Sabakingkin memerintah pada tahun 1552 – 1570 – Maulana Yusuf atau Pangeran Pasareyan memerintah pada tahun 1570 – 1585 – Maulana Muhammad atau Pangeran Sedangrana memerintah pada tahun 1585 – 1596 – Sultan Abu al-Mafakhir Mahmud Abdulkadir atau Pangeran Ratu memerintah pada tahun 1596 – 1647 – Sultan Abu al-Ma’ali Ahmad memerintah pada tahun 1647 – 1651 – Sultan Ageng Tirtayasa atau Sultan Abu al-Fath Abdul Fattah memerintah pada tahun 1651-1682 – Sultan Haji atau Sultan Abu Nashar Abdul Qahar memerintah pada tahun 1683 – 1687 – Sultan Abu Fadhl Muhammad Yahya memerintah pada tahun 1687 – 1690 – Sultan Abul Mahasin Muhammad Zainul Abidin memerintah pada tahun 1690 – 1733 – Sultan Abul Fathi Muhammad Syifa Zainul Arifin memerintah pada tahun 1733 – 1747 – Ratu Syarifah Fatimah memerintah pada tahun 1747 – 1750 – Sultan Arif Zainul Asyiqin al-Qadiri memerintah pada tahun 1753 – 1773 – Sultan Abul Mafakhir Muhammad Aliuddin memerintah pada tahun 1773 – 1799 – Sultan Abul Fath Muhammad Muhyiddin Zainussalihin memerintah pada tahun 1799 – 1803 – Sultan Abul Nashar Muhammad Ishaq Zainulmutaqin memerintah pada tahun 1803 – 1808 – Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin memerintah pada tahun 1809 – 1813
  • 8.
    4. Sistem Ekonomi Kehidupanekonomi kerajaan Banten bertumpu pada bidang perdagangan karena memiliki bahan ekspor penting, yaitu lada sebagai daya tarik yang kuat bagi pedagang asing. Dalam meletakan dasar pembangunan ekonomi Banten, selain di bidang perdagangan untuk daerah pesisir, pada kawasan pedalaman pembukaan sawah mulai diperkenalkan. Asumsi ini berkembang karena pada waktu itu di beberapa kawasan pedalaman seperti Lebak, perekonomian masyarakatnya ditopang oleh kegiatan perladangan, sebagaimana penafsiran dari naskah sanghyangsiksakandangkaresian yang menceritakan adanya istilah pahuma(peladang), panggerek (pemburu) dan panyadap (penyadap). Ketiga istilah ini jelas lebih kepada sistem ladang, begitu juga dengan nama peralatanya seperti kujang, patik, baliung, kored dan sadap.
  • 9.
    4. Sistem Ekonomi Padamasa Sultan Ageng antara 1663 dan 1667 pekerjaan pengairan besar dilakukan untuk mengembangkanpertanian. Antara 30 dan 40 km kanal baru dibangun dengan menggunakan tenaga sebanyak 16 000 orang. Di sepanjang kanal tersebut, antara 30 dan 40 000 ribu hektar sawah baru dan ribuan hektar perkebunan kelapa ditanam. 30000-an petani ditempatkan di atas tanah tersebut, termasuk orang Bugis dan Makasar. Perkebunan tebu, yang didatangkan saudagar Cina pada tahun 1620-an, dikembangkan. Di bawah Sultan Ageng, perkembangan penduduk Banten meningkat signifikan. Tak dapat dipungkiri sampai pada tahun 1678, Banten telah menjadi kota metropolitan, dengan jumlah penduduk dan kekayaan yang dimilikinya menjadikan Banten sebagai salah satu kota terbesar di dunia pada masa tersebut.
  • 10.
    5. Sistem Sosial Kehidupansosial rakyat Banten berlandaskan ajaran- ajaran yang berlaku dalam agama Islam.Pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, kehidupan sosial masyarakat Banten semakin meningkat dengan pesat karena sultan memperhatikan kesejahteraan rakyatnya.Usaha yang ditempuh oleh Sultan Ageng Tirtayasa adalah menerapkan sistem perdagangan bebas dan mengusir VOC dari Batavia. Menurut catatan sejarah Banten, Sultan Banten termasuk keturunan Nabi Muhammad SAW sehingga agama Islam benar-benar menjadi pedoman hidup rakyat. Meskipun agama Islam mempengaruhi sebagian besar kehidupan Kesultanan Banten, namun penduduk Banten telah menjalankan praktek toleransi terhadap keberadaan pemeluk agama lain. Hal ini dibuktikan dengan dibangunnya sebuah klenteng di pelabuhan Banten pada tahun 1673.
  • 11.
    5. Sistem Sosial KerajaanBanten menerapkan sistem timbal balik, Kerajaan akan membina hubungan baik terhadap Negara manapun yang ingin membina hubungan baik dengan Kerajaan, tapi sebaliknya Kerajaan Banten menerapkan sistem perlawanan terhadap bangsa manapun yang ingin menganggu kedaulatan Kerajaan. Sayangnya ini hanya berlangsung pada masa Sultan Ageng Tirtayasa saja, karena pada masa kepemimpinan Sultan Haji Kerajaan Banten justru mengalami keruntuhan karena pada masa itu Kerajaan Banten berada dibawah naungan Belanda yang ingin menguasai pemerintah dan perekonomian Banten sepeunuhnya. Sejak kematianSultan Ageng Tirtayasa pemerintahan Kerajaan Banten mengalami banyak kemunduran karena terjadi perebutan tahta dan perang saudara hingga akhirnya Banten dikuasai oleh Belanda.
  • 12.
    6. Kehidupan BudayaKesultanan Banten Masyarakat yang berada pada wilayah Kesultanan Banten terdiri dari beragam etnis yang ada di Nusantara, antara lain: Sunda, Jawa, Melayu, Bugis, Makassar, dan Bali. Beragam suku tersebut memberi pengaruh terhadap perkembangan budaya di Banten dengan tetap berdasarkan aturan agama Islam. Pengaruh budaya Asia lain didapatkan dari migrasi penduduk Cina akibat perang Fujian tahun 1676, serta keberadaan pedagang India dan Arab yang berinteraksi dengan masyarakat setempat. Hasil peninggalan kebudayaan yang bersifat materi dari Kerajaan Banten berupa bangunan-bangunan yang bentuk dan ukirannya mendapatkan pengaruh dari kebudayaan Islam. Contoh dari peninggalan tersebut bisa kita lihat pada adanya pembangunan masjid yang pada masa Kesultanan Banten, masjid dijadikan sebagai tempat untuk melaksanakan ibadah. Selain masjid hasil peninggalan kebudayaan berupa materi berupa hasil karya sastra berupa nyanyian-nyanyian bernada islami, teknik membaca Al-quran, serta hikayat mengenai cerita-cerita bertema islam. Selain peninggalan satra juga terdapat bangunan peninggalan istana pada masa Kesultanan Banten. Bangunan-bangunan tersebut adalah peninggalan materi yang bercorak islam karena dibangun pada masa kekusaan Kerajaan Banten yang bercorak islam.
  • 13.
    6. Kehidupan BudayaKesultanan Banten Dalam bidang seni bangunan Banten meninggalkan seni bangunan Masjid Agung Banten yang dibangun pada abad ke-16. Selain itu, Kerajaan Banten memiliki bangunan istana dan bangunan gapura pada Istana Kaibon yang dibangun oleh Jan Lucas Cardeel, seorang Belanda yang telah memeluk agama Islam. Sejumlah peninggalan bersejarah di Banten saat ini dikembangkan menjadi tempat wisata sejarah yang banyak menarik kunjungan wisatawan dari dalam dan luar negeri.
  • 14.
    7. Faktor kemajuan Beberapafaktor penyebab kemajuaan kerajaan ini adalah : 1. Letaknya sangat strategis, yaitu di Selat Sunda, 2. Pelabuhan kerajaan Banten memenuhi persyaratan yang baik, 3. Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis.
  • 15.
    8. Faktor kemunduran Beberapafaktor penyebab kemunduran kerajaan ini adalah : 1. Mangkatnya Raja Besar Banten Maulana Yusuf dan tidak ada yang menggantikannya, 2. Perang saudara antara saudara Maulana Yusuf dengan pembesar Kerajaan Banten.
  • 16.
    9. Peninggalan kerajaanBanten Di Banten Lama dan sekitarnya kini masih terdapat beberapa peninggalan kepurbakalaan yang berasal dari zaman kerajaan Islam Banten (abad XVI – XVIII) Peninggalan tersebut ada yang masih utuh namun banyak yang tinggal reruntuhannya saja bahkan tidak sedikit yang berupa fragmen-fragmen kecil. Peninggalan berupa artefak –artefak kecil yang dikumpulkan dalam penelitian dan penggalian kepurbakalaan kini telah disimpan di Museum Situs Kepurbakalaan yang terletak di halaman depan bekas Keraton Surosowan.
  • 17.
    9. Peninggalan kerajaanBanten Komplek Keraton Surosowan
  • 18.
    9. Peninggalan kerajaanBanten Komplek Mesjid Agung
  • 19.
    9. Peninggalan kerajaanBanten Meriam Ki Amuk
  • 20.
    9. Peninggalan kerajaanBanten Mesjid Pacinan Tinggi
  • 21.
    9. Peninggalan kerajaanBanten Komplek Keraton Kaibon
  • 22.
    9. Peninggalan kerajaanBanten Mesjid Koja
  • 23.
  • 24.
    9. Peninggalan kerajaanBanten Benteng Spelwijk
  • 25.
    9. Peninggalan kerajaanBanten Klenteng Cina
  • 26.
    9. Peninggalan kerajaanBanten Watu Gilang
  • 27.
    9. Peninggalan kerajaanBanten Makam Kerabat Sultan
  • 28.
    9. Peninggalan kerajaanBanten Mesjid Agung Kenari
  • 29.
    9. Peninggalan kerajaanBanten Benda-benda purbakala di Museum Banten
  • 30.
    9. Peninggalan kerajaanBanten Pelabuhan Karangantu
  • 31.
    9. Peninggalan kerajaanBanten Tasikardi
  • 32.
  • 33.