PSIKOLOGI SOSIAL I
Hakikat Manusia, Pengertian Motivasi dan Pendekatan Dasar
pada Motivasi

Disusun Oleh
Rizki Amelia

461120100

Shofia Nur A

461120100

Novianty Risty Putri A

461120100

Ashilah Adilah Emir P

46112010053

Dyas Putra Pratama

46112010055

Dosen Pengampu:
Laila Meilyandrie Indah Wardani, M.Psi, Dr

Fakultas Psikologi
Universitas Mercu Buana
2012
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat
dan karunia nya kepada kami sehingga berhasil menyelesaikan makalah ini yang tepat pada
waktunya. Makalah ini berisikan tentang Hakikat Manusia, Pengertian Motivasi dan Pendekatan
Dasar pada Motivasi. Diharapkan makalah ini dapat membantu proses belajar mahasiswa.
Kami sadar makalah ini jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak
yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata
kami sampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan
makalah ini. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita.

Jakarta, 18 Januari 2014

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Manusia merupakan ciptaan Tuhan yang memiliki akal sehat, dan memiliki hakikat yang
harus dilalui semasa hidup di dunia ini. Manusia memiliki sifat hakikat yang merupakan
karakteristik mausia yang membedakan dengan makhluk hidup lainnya. Sifat hakikat inilah
yang merupakan landasan dan arah dalam merancang dan melaksanakan komunikasi
transaksional di dalam interaksi edukatif. Pada hal ini penulis akan membahas tentang
hakikat manusia. Tidak hanya membahas hakikat manusia, penulis juga akan membahas
tentang motivasi dan pendekatan dasar pada motivasi.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Hakikat Manusia
Hakikat manusia adalah peran ataupun fungsi yang harus dijalankan oleh setiap
manusia. Individu yang memiliki sifat rasional yang bertanggung jawab atas tingkah laku
intelektual dan sosial. Makhluk yang memiliki tenaga dalam yang dapat menggerakkan
hidupnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.

2.2 Pengertian Motivasi
Wexley & Yukl memberikan batasan mengenai motivasi sebagai “the process by which
behavior is energized and directed”. Ahli yang lain memberikan kesamaan antara motif
dengan needs (dorongan, kebutuhan). Dari batasan diatas bisa disimpulkan bahwa motif
adalah yang melatarbelakangi individu berbuat untuk mencapai tujuan tertentu. Menurut
Wexly & Yukl motivasi adalah pemberian atau penimbulan motif, dapat pula diartikan hal
atau keadaan menjadi motif. Menurut Gray (dalam Winardi, 2002) motivasi merupakan
sejumlah proses, yang bersifat internal, atau eksternal bagi seorang individu, yang
menyebabkan timbulnya sikap antusiasme dan persistensi, dalam hal melaksanakan
kegiatan- kegiatan tertentu. Morgan (dalam Soemanto, 1987) mengemukakan
bahwa motivasi bertalian dengan tiga hal yang sekaligus merupakan aspek- aspek dari
motivasi. Ketiga hal tersebut adalah: keadaan yang mendorong tingkah laku (motivating
states), tingkah laku yang di dorong oleh keadaan tersebut (motivated behavior), dan tujuan
dari pada tingkah laku tersebut (goals or ends of such behavior). Berdasarkan asalnya 2
jenis motif yaitu :
-

Motif Biogenik
Motif ini berasal dari proses fisiologik dalam tubuh yang dasarnya adalah
mempertahankan ekuilibrium (keseimbangan) dalam tubuh sampai batas-batas
tertentu. Proses ini disebut “homeostasis”.

-

Motif Sosiogenik
Motif ini timbul karena perkembangan individu dalam tatanan sosialnya dan
terbentuk karena hubungan antar-pribadi, hubungan antar-kelompok atau nilai-nilai
sosial, dan pranata-pranata. Motif sosiogenik bermula dari motif biogenik. Melalui
proses belajarnya individu memilih mana yang disukai dan mana yang dihindarinya
sesuai dengan pengalaman yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Ego
inilah yang menetapkan.
Adapun ciri –ciri dari motif individu adalah sebagai berikut:
1. Motif adalah majemuk
Dalam suatu perbuatan tidak hanya mempunyai satu tujuan, tetapi beberapa
tujuan yang berlangsung bersama – sama. Misalnya, seorang karyawan yang
melakukan kerja giat, dalam hal ini tidak hanya karena ingin lekas naik pangkat,
tetapi juga ingin diakui atau dipuji, dapat upah yang tinggi dan sebagainya.
2. Motif dapat berubah – ubah
Motif bagi seseorang seringkali mengalami perubahan. Ini disebabkan karena
keinginan manusia selalu berubah – ubah sesuai dengan kebutuhan atau
kepentingannya. Misalnya, seorang karyawan pada suatu ketika menginginkan
gaji yang tinggi, pada waktu yang lain menginginkan pimpinan yang lain, atau
kondisi kerja yang menyenangkan. Dalam hal ini nampak bahwa motif sangat
dinamis dan geraknya mengikuti kepentingan individu.
3. Motif berbeda – beda bagi individu
Dua orang yang melakukan pekerjaan yang sama, tetapi ternyata terdapat
perbedaan motif. Msisalnya, dua orang karyawan yang bekerja pada suatu
mesin yang sama dan pada ruang yang sama pula, tetapi motivasinya bisa
berbeda. Yang seorang menginginkan teman kerja yang baik, sedangkan yang
lain menginginkan kondisi kerja yang menyenangkan.
4. Beberapa motif tidak disadari oleh individu
Banyak tingkah laku manusia yang tidak disadari oleh pelakunya. Sehingga
beberapa dorongan (needs) yang muncul seringkali karena berhadapan dengan
situasi yang kurang menguntungkan lalu ditekan dibawah sadarnya. Dengan
demikian seringkali kalau ada dorongan dari dalam yang kuat sekali menjadikan
individu yang bersangkutan tidak bisa memahami motifnya sendiri.
Motivasi seseorang sangat dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu:
a. Faktor Internal; faktor yang berasal dari dalam diri individu, terdiri atas:
1. Persepsi individu mengenai diri sendiri; seseorang termotivasi atau tidak untuk
melakukan sesuatu banyak tergantung pada proses kognitif berupa persepsi.
Persepsi seseorang tentang dirinya sendiri akan mendorong dan mengarahkan
perilaku seseorang untuk bertindak.
2. Harga diri dan prestasi; faktor ini mendorong atau mengarahkan inidvidu
(memotivasi) untuk berusaha agar menjadi pribadi yang mandiri, kuat, dan
memperoleh kebebasan serta mendapatkan status tertentu dalam lingkungan
masyarakat; serta dapat mendorong individu untuk berprestasi.
3. Harapan; adanya harapan-harapan akan masa depan. Harapan ini merupakan
informasi objektif dari lingkungan yang mempengaruhi sikap dan perasaan
subjektif seseorang. Harapan merupakan tujuan dari perilaku.
4. Kebutuhan; manusia dimotivasi oleh kebutuhan untuk menjadikan dirinya sendiri
yang berfungsi secara penuh, sehingga mampu meraih potensinya secara total.
Kebutuhan akan mendorong dan mengarahkan seseorang untuk mencari atau
menghindari, mengarahkan dan memberi respon terhadap tekanan yang
dialaminya.
5. Kepuasan kerja; lebih merupakan suatu dorongan afektif yang muncul dalam diri
individu untuk mencapai goal atau tujuan yang diinginkan dari suatu perilaku.
b. Faktor Eksternal
Faktor yang berasal dari luar diri individu, terdiri atas jenis dan sifat pekerjaan;
dorongan untuk bekerja pada jenis dan sifat pekerjaan tertentu sesuai dengan objek
pekerjaan yang tersedia akan mengarahkan individu untuk menentukan sikap atau
pilihan pekerjaan yang akan ditekuni. Kondisi ini juga dapat dipengartuhi oleh sejauh
mana nilai imbalan yang dimiliki oleh objek pekerjaan dimaksud:
1. Kelompok kerja dimana individu bergabung; kelompok kerja atau organisasi
tempat dimana individu bergabung dapat mendorong atau mengarahkan perilaku
individu dalam mencapai suatu tujuan perilaku tertentu; peranan kelompok atau
organisasi ini dapat membantu individu mendapatkan kebutuhan akan nilai-nilai
kebenaran, kejujuran, kebajikan serta dapat memberikan arti bagi individu
sehubungan dengan kiprahnya dalam kehidupan sosial.
2. Situasi lingkungan pada umumnya; setiap individu terdorong untuk berhubungan
dengan rasa mampunya dalam melakukan interaksi secara efektif dengan
lingkungannya.
3. Sistem imbalan yang diterima; imbalan merupakan karakteristik atau kualitas dari
objek pemuas yang dibutuhkan oleh seseorang yang dapat mempengaruhi
motivasi atau dapat mengubah arah tingkah laku dari satu objek ke objek lain
yang mempunyai nilai imbalan yang lebih besar. Sistem pemberian imbalan
dapat mendorong individu untuk berperilaku dalam mencapai tujuan; perilaku
dipandang sebagai tujuan, sehingga ketika tujuan tercapai maka akan timbul
imbalan.

*motif adalah istilah generik yang meliputi semua faktor internal yang mengarah ke bebagai jenis perilaku
yang bertujuan. (M. Sheriff & C.W. Sheriff, 1956)
2.3 Pendekatan Dasar pada Motivasi

S.S. Sargent & R.C. Williamson (1966) mencoba menelusuri berbagai pendekatan dan
teori tentang motif, yaitu :
Teori Insting
Teori yang dikembangkan oleh W. James, Mc. Dougall, E.L. Thordike (1920), bahwa
perilaku manusia sangat bervariasi, tergantung dari lingkungan, sehingga tidak dapat
dijelaskan dengan insting secara universal. Insting masih tetap dipakai untuk
perilaku-perilaku yang jelas diturunkan, tidak dipelajari dan universal bagi mahluk
tertentu.
Konsep Dorongan (drive)
Penyebab perilaku pada ketegangan (tension), ketegangan-ketegangan ini
menimbulkan dorongan untuk berperilaku tertentu sehingga dianggap sebagai
perilaku. Umumnya dorongan menyangkut perilaku yang bersifat biologik dan
fisiologik. E. C. Tolman membagi dorongan dalam dua jenis, yaitu hasrat (appetites)
dan pengingkaran (aversion).
Teori Libido
Teori yang bersumber pada stress internal, yang terdiri atas insting dan dorongan
(drive) yang bekerja dalam alam ketidaksadaran manusia. Semua insting dan
dorongan bermuara pada libido sexualis (dorongan seks) yang sebagian besar
tidak dapat dikendalikan oelh orang-orang yang bersangkutan (karena bekerja dalam
alam ketidaksadaran).
Perilaku Purposif dan Konflik
Pengaruh psikologi Gestalt (keseluruhan) terhadap behaviorisme adalah bahwa
orang mulai lebih mementingkan perilaku molar (keseluruhan, seperti makan dan
minum) daripada perilaku molekular (bagian dari perilaku keseluruhan, seperti
mengeluarkan liur dan menggerakan otot). Edward Chase Tolman mengatakan
bahwa perilaku tidak hanya ditentukan oleh rangsangan dari luar atau stimulus akan
tetapi ditentukan oleh organisme atau orang itu sendiri. Jadi, orang bukan hanya
memperhatikan stimulusnya, melainkan memilih sendiri reaksinya. Dengan
demikian, perilaku (molar) selalu bertujuan.
Otonomi Fungsional (Organisme)
Konsep yang dikemukakan oleh G.W. Allport (1961) yaitu, motif pada orang dewasa
yang tumbuh dari sistem-sistem yang mendahuluinya, tetapi berfungsi lepas dari
sistem-sistem. Motif ini berfungsi sesuai dengan tujuannya sendiri, terlepas dari
motif-motif asalnya.
Motif Sentral (Aktualisasi Diri)
Goldstein (1939) mengemukakan akan aktualisasi diri sebagai motif tunggala pada
manusia, menurutnya perilaku didasarkan pada kebutuhan untuk melingdungi diri
(self) dan mengurangi kecemasan sertamencari kemapanan bagi dirinya sendri. A.H.
Maslow (1959) berpendapat bahwa motif aktualisasi diri ditempatkan sebagai motif
yang tertinggi di atas empat motif lain yang tersusun secara hirearkis (motif primer
atau motif fisiologik, motif rasa aman, motif memilki, dan motif harga diri). Teori motif
tunggal lainnya di kemukakan oleh R.W. White (1959) mengatakan bahwa satusatunya motif manusia adalah motif kompetensi. Menurutnya, bahwa manusia selalu
ingin berinteraksi secara efektif dengan lingkungannya.
BAB III
DAFTAR PUSTAKA

http://ejurnal.esaunggul.ac.id/index.php/Psi/issue/view/6
As’ad, Mohamad.1995, Seri Ilmu Sumber Daya Manusia Psikologi Industri Edisi ke – empat.
Liberty Jogjakarta: Jogjakarta.
Taylor, E. Shelly, Letitia Anne Peplau & David O. Sears. (2009) Psikologi Sosial Edisi Kedua
Belas, Jakarta: Prenada Media Group.
Munandar, Suyoto, Ashar. 2001, Psikologi Industri dan Organisasi. Penerbit Universitas
Indonesia (UI-Press): Jakarta.

Kelompok 3

  • 1.
    PSIKOLOGI SOSIAL I HakikatManusia, Pengertian Motivasi dan Pendekatan Dasar pada Motivasi Disusun Oleh Rizki Amelia 461120100 Shofia Nur A 461120100 Novianty Risty Putri A 461120100 Ashilah Adilah Emir P 46112010053 Dyas Putra Pratama 46112010055 Dosen Pengampu: Laila Meilyandrie Indah Wardani, M.Psi, Dr Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana 2012
  • 2.
    KATA PENGANTAR Puji syukurkami panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia nya kepada kami sehingga berhasil menyelesaikan makalah ini yang tepat pada waktunya. Makalah ini berisikan tentang Hakikat Manusia, Pengertian Motivasi dan Pendekatan Dasar pada Motivasi. Diharapkan makalah ini dapat membantu proses belajar mahasiswa. Kami sadar makalah ini jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata kami sampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Jakarta, 18 Januari 2014 Penulis
  • 3.
    BAB I PENDAHULUAN 1.1 LatarBelakang Manusia merupakan ciptaan Tuhan yang memiliki akal sehat, dan memiliki hakikat yang harus dilalui semasa hidup di dunia ini. Manusia memiliki sifat hakikat yang merupakan karakteristik mausia yang membedakan dengan makhluk hidup lainnya. Sifat hakikat inilah yang merupakan landasan dan arah dalam merancang dan melaksanakan komunikasi transaksional di dalam interaksi edukatif. Pada hal ini penulis akan membahas tentang hakikat manusia. Tidak hanya membahas hakikat manusia, penulis juga akan membahas tentang motivasi dan pendekatan dasar pada motivasi.
  • 4.
    BAB II PEMBAHASAN 2.1 HakikatManusia Hakikat manusia adalah peran ataupun fungsi yang harus dijalankan oleh setiap manusia. Individu yang memiliki sifat rasional yang bertanggung jawab atas tingkah laku intelektual dan sosial. Makhluk yang memiliki tenaga dalam yang dapat menggerakkan hidupnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. 2.2 Pengertian Motivasi Wexley & Yukl memberikan batasan mengenai motivasi sebagai “the process by which behavior is energized and directed”. Ahli yang lain memberikan kesamaan antara motif dengan needs (dorongan, kebutuhan). Dari batasan diatas bisa disimpulkan bahwa motif adalah yang melatarbelakangi individu berbuat untuk mencapai tujuan tertentu. Menurut Wexly & Yukl motivasi adalah pemberian atau penimbulan motif, dapat pula diartikan hal atau keadaan menjadi motif. Menurut Gray (dalam Winardi, 2002) motivasi merupakan sejumlah proses, yang bersifat internal, atau eksternal bagi seorang individu, yang menyebabkan timbulnya sikap antusiasme dan persistensi, dalam hal melaksanakan kegiatan- kegiatan tertentu. Morgan (dalam Soemanto, 1987) mengemukakan bahwa motivasi bertalian dengan tiga hal yang sekaligus merupakan aspek- aspek dari motivasi. Ketiga hal tersebut adalah: keadaan yang mendorong tingkah laku (motivating states), tingkah laku yang di dorong oleh keadaan tersebut (motivated behavior), dan tujuan dari pada tingkah laku tersebut (goals or ends of such behavior). Berdasarkan asalnya 2 jenis motif yaitu : - Motif Biogenik Motif ini berasal dari proses fisiologik dalam tubuh yang dasarnya adalah mempertahankan ekuilibrium (keseimbangan) dalam tubuh sampai batas-batas tertentu. Proses ini disebut “homeostasis”. - Motif Sosiogenik Motif ini timbul karena perkembangan individu dalam tatanan sosialnya dan terbentuk karena hubungan antar-pribadi, hubungan antar-kelompok atau nilai-nilai
  • 5.
    sosial, dan pranata-pranata.Motif sosiogenik bermula dari motif biogenik. Melalui proses belajarnya individu memilih mana yang disukai dan mana yang dihindarinya sesuai dengan pengalaman yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Ego inilah yang menetapkan. Adapun ciri –ciri dari motif individu adalah sebagai berikut: 1. Motif adalah majemuk Dalam suatu perbuatan tidak hanya mempunyai satu tujuan, tetapi beberapa tujuan yang berlangsung bersama – sama. Misalnya, seorang karyawan yang melakukan kerja giat, dalam hal ini tidak hanya karena ingin lekas naik pangkat, tetapi juga ingin diakui atau dipuji, dapat upah yang tinggi dan sebagainya. 2. Motif dapat berubah – ubah Motif bagi seseorang seringkali mengalami perubahan. Ini disebabkan karena keinginan manusia selalu berubah – ubah sesuai dengan kebutuhan atau kepentingannya. Misalnya, seorang karyawan pada suatu ketika menginginkan gaji yang tinggi, pada waktu yang lain menginginkan pimpinan yang lain, atau kondisi kerja yang menyenangkan. Dalam hal ini nampak bahwa motif sangat dinamis dan geraknya mengikuti kepentingan individu. 3. Motif berbeda – beda bagi individu Dua orang yang melakukan pekerjaan yang sama, tetapi ternyata terdapat perbedaan motif. Msisalnya, dua orang karyawan yang bekerja pada suatu mesin yang sama dan pada ruang yang sama pula, tetapi motivasinya bisa berbeda. Yang seorang menginginkan teman kerja yang baik, sedangkan yang lain menginginkan kondisi kerja yang menyenangkan. 4. Beberapa motif tidak disadari oleh individu Banyak tingkah laku manusia yang tidak disadari oleh pelakunya. Sehingga beberapa dorongan (needs) yang muncul seringkali karena berhadapan dengan situasi yang kurang menguntungkan lalu ditekan dibawah sadarnya. Dengan demikian seringkali kalau ada dorongan dari dalam yang kuat sekali menjadikan individu yang bersangkutan tidak bisa memahami motifnya sendiri.
  • 6.
    Motivasi seseorang sangatdipengaruhi oleh dua faktor, yaitu: a. Faktor Internal; faktor yang berasal dari dalam diri individu, terdiri atas: 1. Persepsi individu mengenai diri sendiri; seseorang termotivasi atau tidak untuk melakukan sesuatu banyak tergantung pada proses kognitif berupa persepsi. Persepsi seseorang tentang dirinya sendiri akan mendorong dan mengarahkan perilaku seseorang untuk bertindak. 2. Harga diri dan prestasi; faktor ini mendorong atau mengarahkan inidvidu (memotivasi) untuk berusaha agar menjadi pribadi yang mandiri, kuat, dan memperoleh kebebasan serta mendapatkan status tertentu dalam lingkungan masyarakat; serta dapat mendorong individu untuk berprestasi. 3. Harapan; adanya harapan-harapan akan masa depan. Harapan ini merupakan informasi objektif dari lingkungan yang mempengaruhi sikap dan perasaan subjektif seseorang. Harapan merupakan tujuan dari perilaku. 4. Kebutuhan; manusia dimotivasi oleh kebutuhan untuk menjadikan dirinya sendiri yang berfungsi secara penuh, sehingga mampu meraih potensinya secara total. Kebutuhan akan mendorong dan mengarahkan seseorang untuk mencari atau menghindari, mengarahkan dan memberi respon terhadap tekanan yang dialaminya. 5. Kepuasan kerja; lebih merupakan suatu dorongan afektif yang muncul dalam diri individu untuk mencapai goal atau tujuan yang diinginkan dari suatu perilaku. b. Faktor Eksternal Faktor yang berasal dari luar diri individu, terdiri atas jenis dan sifat pekerjaan; dorongan untuk bekerja pada jenis dan sifat pekerjaan tertentu sesuai dengan objek pekerjaan yang tersedia akan mengarahkan individu untuk menentukan sikap atau pilihan pekerjaan yang akan ditekuni. Kondisi ini juga dapat dipengartuhi oleh sejauh mana nilai imbalan yang dimiliki oleh objek pekerjaan dimaksud: 1. Kelompok kerja dimana individu bergabung; kelompok kerja atau organisasi tempat dimana individu bergabung dapat mendorong atau mengarahkan perilaku individu dalam mencapai suatu tujuan perilaku tertentu; peranan kelompok atau organisasi ini dapat membantu individu mendapatkan kebutuhan akan nilai-nilai kebenaran, kejujuran, kebajikan serta dapat memberikan arti bagi individu sehubungan dengan kiprahnya dalam kehidupan sosial.
  • 7.
    2. Situasi lingkunganpada umumnya; setiap individu terdorong untuk berhubungan dengan rasa mampunya dalam melakukan interaksi secara efektif dengan lingkungannya. 3. Sistem imbalan yang diterima; imbalan merupakan karakteristik atau kualitas dari objek pemuas yang dibutuhkan oleh seseorang yang dapat mempengaruhi motivasi atau dapat mengubah arah tingkah laku dari satu objek ke objek lain yang mempunyai nilai imbalan yang lebih besar. Sistem pemberian imbalan dapat mendorong individu untuk berperilaku dalam mencapai tujuan; perilaku dipandang sebagai tujuan, sehingga ketika tujuan tercapai maka akan timbul imbalan. *motif adalah istilah generik yang meliputi semua faktor internal yang mengarah ke bebagai jenis perilaku yang bertujuan. (M. Sheriff & C.W. Sheriff, 1956)
  • 8.
    2.3 Pendekatan Dasarpada Motivasi S.S. Sargent & R.C. Williamson (1966) mencoba menelusuri berbagai pendekatan dan teori tentang motif, yaitu : Teori Insting Teori yang dikembangkan oleh W. James, Mc. Dougall, E.L. Thordike (1920), bahwa perilaku manusia sangat bervariasi, tergantung dari lingkungan, sehingga tidak dapat dijelaskan dengan insting secara universal. Insting masih tetap dipakai untuk perilaku-perilaku yang jelas diturunkan, tidak dipelajari dan universal bagi mahluk tertentu. Konsep Dorongan (drive) Penyebab perilaku pada ketegangan (tension), ketegangan-ketegangan ini menimbulkan dorongan untuk berperilaku tertentu sehingga dianggap sebagai perilaku. Umumnya dorongan menyangkut perilaku yang bersifat biologik dan fisiologik. E. C. Tolman membagi dorongan dalam dua jenis, yaitu hasrat (appetites) dan pengingkaran (aversion). Teori Libido Teori yang bersumber pada stress internal, yang terdiri atas insting dan dorongan (drive) yang bekerja dalam alam ketidaksadaran manusia. Semua insting dan dorongan bermuara pada libido sexualis (dorongan seks) yang sebagian besar tidak dapat dikendalikan oelh orang-orang yang bersangkutan (karena bekerja dalam alam ketidaksadaran). Perilaku Purposif dan Konflik Pengaruh psikologi Gestalt (keseluruhan) terhadap behaviorisme adalah bahwa orang mulai lebih mementingkan perilaku molar (keseluruhan, seperti makan dan minum) daripada perilaku molekular (bagian dari perilaku keseluruhan, seperti mengeluarkan liur dan menggerakan otot). Edward Chase Tolman mengatakan bahwa perilaku tidak hanya ditentukan oleh rangsangan dari luar atau stimulus akan tetapi ditentukan oleh organisme atau orang itu sendiri. Jadi, orang bukan hanya memperhatikan stimulusnya, melainkan memilih sendiri reaksinya. Dengan demikian, perilaku (molar) selalu bertujuan.
  • 9.
    Otonomi Fungsional (Organisme) Konsepyang dikemukakan oleh G.W. Allport (1961) yaitu, motif pada orang dewasa yang tumbuh dari sistem-sistem yang mendahuluinya, tetapi berfungsi lepas dari sistem-sistem. Motif ini berfungsi sesuai dengan tujuannya sendiri, terlepas dari motif-motif asalnya. Motif Sentral (Aktualisasi Diri) Goldstein (1939) mengemukakan akan aktualisasi diri sebagai motif tunggala pada manusia, menurutnya perilaku didasarkan pada kebutuhan untuk melingdungi diri (self) dan mengurangi kecemasan sertamencari kemapanan bagi dirinya sendri. A.H. Maslow (1959) berpendapat bahwa motif aktualisasi diri ditempatkan sebagai motif yang tertinggi di atas empat motif lain yang tersusun secara hirearkis (motif primer atau motif fisiologik, motif rasa aman, motif memilki, dan motif harga diri). Teori motif tunggal lainnya di kemukakan oleh R.W. White (1959) mengatakan bahwa satusatunya motif manusia adalah motif kompetensi. Menurutnya, bahwa manusia selalu ingin berinteraksi secara efektif dengan lingkungannya.
  • 10.
    BAB III DAFTAR PUSTAKA http://ejurnal.esaunggul.ac.id/index.php/Psi/issue/view/6 As’ad,Mohamad.1995, Seri Ilmu Sumber Daya Manusia Psikologi Industri Edisi ke – empat. Liberty Jogjakarta: Jogjakarta. Taylor, E. Shelly, Letitia Anne Peplau & David O. Sears. (2009) Psikologi Sosial Edisi Kedua Belas, Jakarta: Prenada Media Group. Munandar, Suyoto, Ashar. 2001, Psikologi Industri dan Organisasi. Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press): Jakarta.