MAKALAH PKN 
“KASUS ABEPURA” 
DI SUSUN OLEH: 
1. Eka Novianti 
2. Umul Amalia Ramdani 
3. Siti Hendrayani 
4. Mira Lesmana 
5. Sri Ariani 
SMA NEGERI 1 RAHA 
2014/2015
BAB I 
PENDAHULUAN 
A. Latar Belakang 
Masalah HAM di Indonesia adalah sesuatu hal yang sering kali di bicarakan dan di bahas 
terutama dalam era reformasi. Selama era reformasi berlangsung kondisi HAM tidak 
menjadi lebih baik di bandingkan ketika rezim Soeharto berkuasa. Aksi-aksi kekerasan 
dan bentuk pelanggaran HAM terus berlangsung sampai sekarang. Banyak pelanggaran 
HAM yang terjadi di Indonesia baik pelanggaran HAM yang berat maupun ringan. 
Misalnnya saja, kasus Abepura merupakan peristiwa pelanggaran HAM yang berat yang 
terjadi setelah di undangkannya UU No. 26 Tahun 2000, yang melatar belakangi kasus 
tersebut tidak dapat dilepaskan dari kebijakan Negara terhadap Papua, di mana kebijakan 
Negara tersebut tertuang dalam rencana Operasi pengkondisian wilayah dan 
pengenbangan jaringan komunikasi dalam menyikapi arah politik Irian Jaya (Papua) 
untuk merdeka dan melepaskan diri dari Negara Kesatuan RI. 
B. Rumusan Masalah 
1. Pengertian Pelanggaran HAM? 
2. Contoh Pelanggaran HAM yang ada di Indonesia dan pengadilan yang berwenang 
mengadalinnya?
C. Tujuan 
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuannya adalah : 
1. Untuk mengetahui pengertian dari Pelanggaran HAM 
2. Untuk mengetahui contoh dari pelanggaran HAM yang ada di Indonesia dan 
pengadilan yang berwenang mengadalinnya.
BAB II 
PEMBAHASAN 
A. Pengertian Pelanggaran HAM 
Pelanggaran HAM adalah perbuatan setiap individu atau kelompok orang baik secara 
sengaja atau tidak sengaja yang secara melawan hukum membatasi, menghalangi, dan 
atau mencabut Hak Asasi Manusia yang di jamin oleh Undang-undang. Dalam UU No. 39 
tahun 1999 Pelanggaran HAM adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang 
termasuk Aparat Negara baik di sengaja maupun tidak di sengaja atau kelalaian yang 
secara melawan hukum, mengurangi, menghalangi, membatasi dan mencabut HAM 
seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh UU ini dan tidak mendapat atau 
dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang adil dan benar 
berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku. 
B. Contoh pelanggaran HAM di Indonesia dan Pengadilan yang Berwenang 
Mengadalinnya 
KASUS ABEPURA 
Kasus Abepura merupakan peristiwa pelanggaran HAM yang berat yang terjadi 
setelah Undang-undang No. 26 tahun 2000. Sedangkan perkara pelanggaran HAM yang 
berat terjadi di Tim-Tim pada pra dan pasca jejak pendapat 1999 merupakan peristiwa 
pelanggaran HAM yang berat yang di adili oleh pengadilan HAM Tanjung Priok yang 
akan di periksa dan di adili oleh pengadilan HAM Ad Hoc Jakarta pusat pada pertengahan 
Agustus.
Peristiwa Abepura berawal pada tanggal 7 Desember 2000 di mana terjadi 
penyerangan yang di lakukan oleh massa yang tidak di kenal terhadap Mapolsek Abepura 
yang mengakibatkan satu orang polisi meninggal dan 3 orang lainnya luka-luka. Setelah 
terjadi peristiwa penyerangan tersebut, Kapolsek Jayapura AKBP Drs. Daud Sihombing 
dengan di bantu oleh Komandan satuan tugas Brimop Polda Irian jaya Kombes pol Drs. 
Johny Wainal Usman, melakukan pengejaran dan penahanan terhadap yang di duga 
sebagai penyerangan tersebut. Pengejaran tersebut di lakukan antara lain terhadap Asrama 
Mahasiswa Ninmin, pemukiman warga Kobakma Mamberamo dan Wamena, Asrama 
Mahasiswa Yapen Waropen, kediaman masyarakat Suku Lani, Suku Yali, Suku Anggruk 
dan terhadap asrama Ikatan Mahasiswa Ilaga. Dalam pengejaran dan penahan terhadap 
kelompok – kelompok tersebut telah terjadi pelanggaran sebagaimana di atur dalam 
Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 dan No. 26 tahun 2000, seperti penyiksaan, 
pembunuhan kilat, penganiayaan, perampasan kemerdekaan, dan kebebasan fisik secara 
sewenang-wenang, pelangggaran atas hak milik. Tanpa melalui prosedur hukum misalnya 
penyelidikan dan mencari tersangka pelaku utama, jajaran kepolisian dalam hal ini 
BRIMOP langsung mengadakan penyisiran, pengangkapan sewenag-wenang, penyiksaan, 
pembunuhan kilat, penahanan tanpa melalui prosedur hukum dan kematian dalam tahanan 
perbuatan aparat Kepolisian tersebut menimbulkan korban sebanyak 105 orang dari 
jumlah tersebut 3 orang meninggal dunia akibat penyiksaan dan satu orang penembakan 
kilat pada waktu penyisiran. Sesuai dengan UU No. 26 2000 tentang pengadilan HAM, 
maka kasus Abepura masuk ke dalam kategori pelanggaran HAM, dan telah di sidang di 
Makassar pada Tahun 2005 dengan dua terdakwa: Komisaris Polisi Daud Sihombing dan 
Kepala Brimop Papua Johny Wainal Usman.
Namun proses pengadilan kasus pelanggaran HAM Abepura hanyalah sandiwara 
politik hukum saja karena ternyata hukum takk mampu menjerat kedua tersangka utama 
tersebut bahkan dengan hukuman ringan sekalipun. Yang terjadi adalh membebasan 
kedua tersangka dala keputusan sidang tanggal 8-9 november 2005. Para pelalaku 
kejahatan kemanusiaan tersebut bebas melenggang keluar dari pengadilan dan mendapat 
promosi ke jabatan yang lebih tinggi di jajaran polisi. 
Para korban Kasus Abepura justru tidak diakui sebagai korban serta sampai 
sekarang negara tidak memberikan pemulihan nama baik terhadap korban dan tidak 
memberikan reparasi bagi korban. Dari proses hukum tersebut ada indikasi stigmatisasi 
terhadap masyarakat tertentu untuk melegalkan kekerasan apparatus Negara terhadap 
warga sipil. Kemudian indikasi kedua adalah bahwa Kasus Abepura yang di mulai dengan 
proses penyerangan terhadap Polsek Abepura sebenarnnya adalah sandiwara aparat 
keamanan yang mengarah pada bisnis militer dengan tujuan memperbesar operasional 
aparat kemanan.
BAB III 
PENUTUPAN 
A. Kesimpulan 
Pelanggaran HAM adalah perbuatan individu atau kelompok orang baik secara sengaja 
atau tidak sengaja yang secara melawan hukum membatasi,menghalang, dan atau 
mencabut Hak Asasi Manusia yang di jamin oleh Undang-undang. Kasus abepura 
merupakan salah satu pelanggaran HAM yang berat terjadi setelah UU No. 26 Tahun 
2000, dimana kasus tersebut mengakibatkan satu orang polisi meninggal dan tiga orang 
lainnya luka-luka. Akan tetapi pelakunnya tidak di jerat hukum. 
B. Saran 
Penulis merasa masih kurang dalam menyelesaikan tugas ini, oleh karena itu dibutuhkan 
kritik dan saran yang sifatnya membangun, guna kesempurnaan berikutnya.

Kasus abepura

  • 1.
    MAKALAH PKN “KASUSABEPURA” DI SUSUN OLEH: 1. Eka Novianti 2. Umul Amalia Ramdani 3. Siti Hendrayani 4. Mira Lesmana 5. Sri Ariani SMA NEGERI 1 RAHA 2014/2015
  • 2.
    BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah HAM di Indonesia adalah sesuatu hal yang sering kali di bicarakan dan di bahas terutama dalam era reformasi. Selama era reformasi berlangsung kondisi HAM tidak menjadi lebih baik di bandingkan ketika rezim Soeharto berkuasa. Aksi-aksi kekerasan dan bentuk pelanggaran HAM terus berlangsung sampai sekarang. Banyak pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia baik pelanggaran HAM yang berat maupun ringan. Misalnnya saja, kasus Abepura merupakan peristiwa pelanggaran HAM yang berat yang terjadi setelah di undangkannya UU No. 26 Tahun 2000, yang melatar belakangi kasus tersebut tidak dapat dilepaskan dari kebijakan Negara terhadap Papua, di mana kebijakan Negara tersebut tertuang dalam rencana Operasi pengkondisian wilayah dan pengenbangan jaringan komunikasi dalam menyikapi arah politik Irian Jaya (Papua) untuk merdeka dan melepaskan diri dari Negara Kesatuan RI. B. Rumusan Masalah 1. Pengertian Pelanggaran HAM? 2. Contoh Pelanggaran HAM yang ada di Indonesia dan pengadilan yang berwenang mengadalinnya?
  • 3.
    C. Tujuan Berdasarkanrumusan masalah di atas maka tujuannya adalah : 1. Untuk mengetahui pengertian dari Pelanggaran HAM 2. Untuk mengetahui contoh dari pelanggaran HAM yang ada di Indonesia dan pengadilan yang berwenang mengadalinnya.
  • 4.
    BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Pelanggaran HAM Pelanggaran HAM adalah perbuatan setiap individu atau kelompok orang baik secara sengaja atau tidak sengaja yang secara melawan hukum membatasi, menghalangi, dan atau mencabut Hak Asasi Manusia yang di jamin oleh Undang-undang. Dalam UU No. 39 tahun 1999 Pelanggaran HAM adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang termasuk Aparat Negara baik di sengaja maupun tidak di sengaja atau kelalaian yang secara melawan hukum, mengurangi, menghalangi, membatasi dan mencabut HAM seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh UU ini dan tidak mendapat atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang adil dan benar berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku. B. Contoh pelanggaran HAM di Indonesia dan Pengadilan yang Berwenang Mengadalinnya KASUS ABEPURA Kasus Abepura merupakan peristiwa pelanggaran HAM yang berat yang terjadi setelah Undang-undang No. 26 tahun 2000. Sedangkan perkara pelanggaran HAM yang berat terjadi di Tim-Tim pada pra dan pasca jejak pendapat 1999 merupakan peristiwa pelanggaran HAM yang berat yang di adili oleh pengadilan HAM Tanjung Priok yang akan di periksa dan di adili oleh pengadilan HAM Ad Hoc Jakarta pusat pada pertengahan Agustus.
  • 5.
    Peristiwa Abepura berawalpada tanggal 7 Desember 2000 di mana terjadi penyerangan yang di lakukan oleh massa yang tidak di kenal terhadap Mapolsek Abepura yang mengakibatkan satu orang polisi meninggal dan 3 orang lainnya luka-luka. Setelah terjadi peristiwa penyerangan tersebut, Kapolsek Jayapura AKBP Drs. Daud Sihombing dengan di bantu oleh Komandan satuan tugas Brimop Polda Irian jaya Kombes pol Drs. Johny Wainal Usman, melakukan pengejaran dan penahanan terhadap yang di duga sebagai penyerangan tersebut. Pengejaran tersebut di lakukan antara lain terhadap Asrama Mahasiswa Ninmin, pemukiman warga Kobakma Mamberamo dan Wamena, Asrama Mahasiswa Yapen Waropen, kediaman masyarakat Suku Lani, Suku Yali, Suku Anggruk dan terhadap asrama Ikatan Mahasiswa Ilaga. Dalam pengejaran dan penahan terhadap kelompok – kelompok tersebut telah terjadi pelanggaran sebagaimana di atur dalam Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 dan No. 26 tahun 2000, seperti penyiksaan, pembunuhan kilat, penganiayaan, perampasan kemerdekaan, dan kebebasan fisik secara sewenang-wenang, pelangggaran atas hak milik. Tanpa melalui prosedur hukum misalnya penyelidikan dan mencari tersangka pelaku utama, jajaran kepolisian dalam hal ini BRIMOP langsung mengadakan penyisiran, pengangkapan sewenag-wenang, penyiksaan, pembunuhan kilat, penahanan tanpa melalui prosedur hukum dan kematian dalam tahanan perbuatan aparat Kepolisian tersebut menimbulkan korban sebanyak 105 orang dari jumlah tersebut 3 orang meninggal dunia akibat penyiksaan dan satu orang penembakan kilat pada waktu penyisiran. Sesuai dengan UU No. 26 2000 tentang pengadilan HAM, maka kasus Abepura masuk ke dalam kategori pelanggaran HAM, dan telah di sidang di Makassar pada Tahun 2005 dengan dua terdakwa: Komisaris Polisi Daud Sihombing dan Kepala Brimop Papua Johny Wainal Usman.
  • 6.
    Namun proses pengadilankasus pelanggaran HAM Abepura hanyalah sandiwara politik hukum saja karena ternyata hukum takk mampu menjerat kedua tersangka utama tersebut bahkan dengan hukuman ringan sekalipun. Yang terjadi adalh membebasan kedua tersangka dala keputusan sidang tanggal 8-9 november 2005. Para pelalaku kejahatan kemanusiaan tersebut bebas melenggang keluar dari pengadilan dan mendapat promosi ke jabatan yang lebih tinggi di jajaran polisi. Para korban Kasus Abepura justru tidak diakui sebagai korban serta sampai sekarang negara tidak memberikan pemulihan nama baik terhadap korban dan tidak memberikan reparasi bagi korban. Dari proses hukum tersebut ada indikasi stigmatisasi terhadap masyarakat tertentu untuk melegalkan kekerasan apparatus Negara terhadap warga sipil. Kemudian indikasi kedua adalah bahwa Kasus Abepura yang di mulai dengan proses penyerangan terhadap Polsek Abepura sebenarnnya adalah sandiwara aparat keamanan yang mengarah pada bisnis militer dengan tujuan memperbesar operasional aparat kemanan.
  • 7.
    BAB III PENUTUPAN A. Kesimpulan Pelanggaran HAM adalah perbuatan individu atau kelompok orang baik secara sengaja atau tidak sengaja yang secara melawan hukum membatasi,menghalang, dan atau mencabut Hak Asasi Manusia yang di jamin oleh Undang-undang. Kasus abepura merupakan salah satu pelanggaran HAM yang berat terjadi setelah UU No. 26 Tahun 2000, dimana kasus tersebut mengakibatkan satu orang polisi meninggal dan tiga orang lainnya luka-luka. Akan tetapi pelakunnya tidak di jerat hukum. B. Saran Penulis merasa masih kurang dalam menyelesaikan tugas ini, oleh karena itu dibutuhkan kritik dan saran yang sifatnya membangun, guna kesempurnaan berikutnya.