BAB 10 
HIDROGRAF SATUAN SINTETIS LIMANTARA 
10.1. Pengertian Hidrograf Satuan Sintetis 
1 
Berdasarkan cara-cara untuk mendapatkan hidrograf satuan pengamatan, 
diperlukan serangkaian data antara lain data tinggi muka air (rekaman AWLR), 
data pengukuran debit, data hujan harian dan data hujan jam-jaman dari ARR. 
Data tersebut seringkali sulit diperoleh atau bahkan tidak tersedia sama sekali. 
Untuk membuat hidrograf banjir pada sungai-sungai yang tidak ada atau 
sedikit sekali dilakukan pengamatan (observasi) hidrograf banjirnya, maka perlu 
dicari karakteristik atau parameter daerah pengaliran tersebut terlebih dahulu. 
Karakteristik atau parameter tersebut antara lain waktu untuk mencapai puncak 
hidrograf, lebar dasar, luas, kemiringan, panjang alur terpanjang, koefisien 
limpasan dan sebagainya. Untuk sungai-sungai yang tidak mempunyai hidrograf 
banjir pengamatan, biasanya digunakan hidrograf-hidrograf sintetis yang telah 
dikembangkan di negara-negara lain, yang parameter-parameternya harus 
disesuaikan terlebih dahulu dengan karakteristik daerah pengaliran yang ditinjau. 
Hidrograf Satuan Sintetis (HSS) yang telah dikembangkan oleh para pakar 
antara lain HSS Snyder, HSS Nakayasu, HSS SCS, HSS Gama I, HSS 
Limantara dan lain-lain. Hidrograf Satuan Sintetis ini dikembangkan berdasarkan 
pemikiran bahwa pengalihragaman hujan menjadi aliran baik akibat pengaruh 
translasi maupun tampungan, dipengaruhi oleh sistem daerah pengalirannya. 
Hidrograf Satuan Sintetis merupakan suatu cara untuk memperkirakan
2 
penggunaan konsep hidrograf satuan dalam suatu perencanaan yang tidak 
tersedia pengukuran-pengukuran langsung mengenai hidrograf banjir. 
Bab ini memaparkan tentang Hidrograf Satuan Sintetis (HSS) Limantara, 
yang asalnya dari Indonesia, ditemukan oleh Lily Montarcih Limantara, 
tahun 2006. Lokasi penelitian di sebagian Indonesia dianggap mewakili: Jawa (6 
DAS, 67 Sub DAS), Bali (2 DAS, 13 Sub DAS), Lombok (1 DAS, 5 Sub DAS) dan 
Kalimantan Timur (1 DAS, 9 Sub DAS). 
10.2. Parameter-parameter fisik DAS 
Parameter DAS yang dipakai dalam Hidrograf Satuan Sintetis Limantara 
ada 5 antara lain 
1. Luas DAS (A) 
2. Panjang sungai utama (L) 
3. Panjang sungai diukur sampai titik terdekat dengan titik berat DAS (Lc) 
4. Kemiringan sungai (S) 
5. Koefisien kekasaran (n) 
Masing-masing parameter tersebut di atas bisa diuraikan sebagai berikut: 
1. Luas DAS (A) 
Luas DAS (A) diperkirakan dengan mengukur daerah itu pada peta DAS. Jika 
dihitung per-satuan luas, banjir yang terjadi di daerah dengan luas yang kecil 
akan lebih besar dibandingkan banjir yang terjadi di sungai dengan DAS yang
3 
lebih luas.. Hal ini disebabkan karena di DAS yang kecil, air hujan mudah 
mencapai sungai sedangkan pada DAS yang luas kemungkinan terdapat danau, 
rawa, kolam, tanah yang porous (misalnya pasir) dan lain-lain, yang dapat 
menahan air hujan. Luas DAS dipandang berpengaruh besar terhadap debit 
puncak. DAS yang kecil memiliki tanggapan yang berbeda dengan DAS yang 
besar, terutama tentang hubungannya dengan peristiwa limpasan. 
2. Panjang sungai utama (L) 
Panjang sungai (L) merupakan jarak dari outlet ke batas daerah aliran, yang 
diukur sepanjang saluran aliran utama. Semakin panjang sungai, maka jarak 
antara tempat jatuhnya hujan dengan outlet semakin besar, sehingga waktu 
yang diperlukan air hujan untuk mencapai outlet lebih lama dan akan 
menurunkan debit banjir. Hal ini disebabkan karena makin panjang sungai makin 
banyak memberikan kesempatan bagi air hujan untuk mengalir sebagai 
limpasan. Dengan demikian jumlah kehilangan air akan semakin besar. 
3. Panjang sungai diukur sampai titik terdekat dengan titik berat DAS (Lc) 
Lc merupakan panjang sungai dari outlet sampai titik berat DAS dan diukur 
sepanjang aliran utama. Parameter ini didasarkan pada penelitian Gupta (1967), 
antara lain dalam upayanya untuk mengaitkan besarnya debit puncak dengan 
faktor-faktor fisik DAS. Untuk DAS yang cenderung menyempit di bagian hilir, 
maka titik berat DAS akan terletak hampir ke hulu. Walaupun Lc cenderung 
panjang, namun dengan kondisi DAS menyempit ke bagian hilir, maka akan 
mempercepat naiknya debit puncak (waktu untuk mencapai debit puncak relatif
4 
singkat). Sebaliknya untuk DAS yang mempunyai lebar cenderung merata dari 
hulu ke hilir, maka titik berat DAS akan terletak hampir di tengah DAS. Dalam hal 
ini walaupun Lc relatif pendek, dengan kondisi DAS yang lebar, akan 
memperlambat naiknya debit puncak (waktu untuk mencapai debit puncak relatif 
lama). 
4. Kemiringan sungai (S) 
Kemiringan sungai (S) merupakan kemiringan sungai utama. Pada umumnya 
hanya sungai utama yang diperhatikan dalam menggambarkan kemiringan DAS 
secara umum. Kemiringan sungai secara rasional berpengaruh terhadap debit 
puncak (Qp). Dengan kemiringan yang curam akan mempercepat waktu untuk 
mencapai puncak banjir karena limpasan semakin cepat masuk ke sungai. 
Kemiringan sungai utama menentukan kecepatan aliran dalam saluran, seperti 
halnya liku resesi hidrograf yang digambarkan oleh pengosongan tampungan. 
Kemiringan sungai yang curam akan mempercepat pengosongan tampungan 
dan akan menghasilkan liku resesi hidrograf yang curam, sehingga menjadikan 
waktu dasar hidrograf menjadi pendek. Dalam banyak kasus, kemiringan DAS 
yang landai justru menghasilkan debit puncak yang lebih besar. Taylor dan 
Cordery (1991) menyarankan cara menghitung kemiringan sungai dengan 
anggapan aliran seragam. Dengan alasan kecepatan berbanding lurus dengan 
akar kemiringan sungai (rumus Manning), maka prosedur perhitungan 
kemiringan sungai adalah dengan membuat seimbang segmen-segmen sungai 
dengan akar kemiringannya. Jadi, jika sungai dengan kekasaran Manning yang 
sama dibagi dengan N segmen dengan kemiringan masing-masing Si (Gambar
2), dengan kecepatan aliran adalah sama (V1 = V2 = V3 = VN), maka indeks 
kemiringan sederhana menjadi: 
S = (SÖSi/N)2 …….. Si » DE / DL 
dengan 
DE = beda elevasi dasar sungai (m) 
DL = panjang segmen sungai (m) 
5. Koefisien kekasaran (n) 
Di dalam DAS terdapat hutan dan beberapa bagian tegalan, sawah, dan 
pemukiman, yang membutuhkan perkiraan koefisien kekasaran (n). Koefisien 
kekasaran (n) untuk lahan pertanian dengan tanaman diperkirakan sebesar 
0,035 sedangkan untuk hutan atau semak belukar sebesar 0,07. Dengan 
persamaan garis linier pada 2 titik yaitu pada kondisi tidak terdapat hutan dan 
kondisi hutan seluruhnya, maka (Chow, 1988): 
n = 0,035 (1 + Af/A) 
dengan 
5
n = koefisien kekasaran DAS 
Af = luas hutan 
A = luas DAS 
Berdasarkan rumus di atas, jika luas hutan 100% (DAS seluruhnya berupa 
hutan), maka akan diperoleh koefisien kekasaran DAS: n = 0,070. Sebaliknya 
jika tidak ada hutan sama sekali (dalam arti Af = 0), maka akan diperoleh 
koefisien kekasaran DAS: n = 0,035. Seperti diketahui, hutan pada umumnya 
ditumbuhi tanaman-tanaman (pohon-pohon) yang besar sehingga 
menggambarkan kekasaran DAS cukup besar, dalam arti akan menghambat 
jalannya air hujan yang melimpas. Sedangkan untuk sawah dan tegalan hanya 
ditumbuhi tanaman yang relatif kecil dan dianggap tidak cukup kuat dalam 
menghambat air hujan yang melimpas. Demikian juga daerah pemukiman, 
dianggap tidak cukup kasar untuk menghambat jalannya air hujan yang 
melimpas. Berdasarkan alasan tersebut, Chow (1988) hanya memasukkan faktor 
luas hutan dalam perhitungan koefisien kekasaran DAS. 
10.3. Persamaan HSS Limantara 
A. Persamaan Debit Puncak 
Qp = 0,042.A0,451.L0,497.Lc0,356.S-0,131.n0,168 
dengan 
Qp = debit puncak banjir hidrograf satuan (m3/dt/mm) 
A = luas DAS (km2) 
L = panjang sungai utama (km) 
6
Lc = panjang sungai dari outlet sampai titik terdekat dengan titik berat 
DAS (km) 
S = kemiringan sungai utama 
n = koefisien kekasaran DAS 
0,042 = koefisien untuk konversi satuan (m0,25/dt) 
B. Persamaan Kurva Naik 
Qn = Qp. [(t/Tp)]1,107 
dengan 
Qn = debit pada persamaan kurva naik (m3/dt/mm) 
Qp = debit puncak hidrograf satuan (m3/dt/mm) 
t = waktu hidrograf (jam) 
Tp = waktu naik hidrograf atau waktu mencapai puncak hidrograf (jam) 
C. Persamaan kurva turun: 
Qt = Qp.100,175(Tp – t) 
dengan 
7 
Qt = debit pada persamaan kurva turun (m3/dt/mm) 
Qp = debit puncak hidrograf satuan (m3/dt/mm) 
Tp = waktu naik hidrograf atau waktu mencapai puncak hidrograf (jam) 
t = waktu hidrograf (jam) 
0,175 = koefisien untuk konversi satuan (dt-1)
10.4. Analisa Dimensi 
A. Persamaan Debit Puncak Banjir (Qp) 
Qp = 0,042.A0,451.L0,497.Lc0,356.S-0,131.n0,168 
analisa dimensinya sbb: 
[ L ]2 [ T ]-1 = [ L ]0,25 [ T ]-1 [ L 2 ]0,451 [ L ]0,492 [ L ]0,356 
[ L ]2 [ T ]-1 = [ L ]0,25 [ T ]-1 [ L ]0,902 [ L ]0,492 [ L ]0,356 
[ L ]2 [ T ]-1 = [ L ]0,25 + 0,902 + 492 +0,356 [ T ]-1 
[ L ]2 [ T ]-1 = [ L ]2 [ T ]-1 
B. Persamaan Kurva Naik (Qn) 
Qn = Qp. [(t/Tp)]1,107 
analisa dimensinya sbb: 
[ L ]2 [ T ]-1 = [ L ]2 [ T ]-1 { [ T ]-1 / [ T ]-1 }1,107 
[ L ]2 [ T ]-1 = [ L ]2 [ T ]-1 x 1 
[ L ]2 [ T ]-1 = [ L ]2 [ T ]-1 
C. Persamaan Kurva Turun (Qt) 
Qt = Qp.e0,175(Tp – t) 
analisa dimensinya sbb: 
ln Qt = 0,175 (Tp – t) x ln Qp 
ln [ L ]2 [ T ]-1 = [ T ]-1 [ T ]1 x ln [ L ]2 [ T ]-1 
ln [ L ]2 [ T ]-1 = 1 x ln [ L ]2 [ T ]-1 
[ L ]2 [ T ]-1 = [ L ]2 [ T ]-1 
8
10.5. Batasan keberlakuan HSS Limantara 
HSS Limantara dapat diterapkan pada DAS lain yang memiliki kemiripan 
karakteristik dengan DAS-DAS di lokasi penelitian. Spesifikasi teknik HSS 
Limantara disajikan pada tabel berikut 
Tabel Spesifikasi Teknik HSS Limantara 
Uraian Notasi Satuan Kisaran 
Luas DAS A km2 0,325 – 1667,500 
Panjang sungai utama L km 1,16 – 62,48 
Jarak titik berat DAS ke outlet Lc km 0,50 – 29,386 
Kemiringan sungai utama S - 0,00040 – 0,14700 
Koefisien kekasaran DAS N - 0,035 – 0,070 
Bobot luas hutan Af % 0,00 - 100 
10.6. Perkiraan Waktu Puncak Banjir (Tp) 
Untuk memperkirakan waktu puncak banjir (Tp) bisa dipakai rumus seperti 
pada Nakayasu sbb: 
Tp = tg + 0,8 tr 
dengan: 
Tp = tenggang waktu (time lag) dari permulaan hujan sampai 
puncak banjir  jam 
tg = waktu konsentrasi hujan  jam 
Cara menentukan tg: 
Jika L ³ 15 km, maka tg = 0,40 + 0,058 L 
L < 15 km, maka tg = 0,21 L0,7 
dengan: 
9
a = parameter hidrograf 
tr = 0,5 x tg sampai 1 x tg 
Contoh Soal 
Parameter Sub DAS Garang (Jawa Tengah) berada dalam kisaran spesifikasi 
teknik HSS Limantara, antara lain: A = 73,5 km2; L = 34,264 km; Lc = 22,16 km; 
S = 0,0129 dan n = 0,0506. Akan dicari HSS nya dan Hidrograf Banjirnya 
Penyelesaian: 
L= 34,264 km 
L ³ 15 km, maka tg = 0,40 + 0,058 L 
tg = 0,40 + 0,058 x 34,264 = 2,387 jam 
Tp = tg + 0,8 tr = 2,387 + 0,8 x 1 = 3,187 jam 
Jadi: 
- Qp = 0,042.A0,451.L0,497.Lc0,356.S-0,131.n0,168 
= 0,042 x 73,50,451 x 34,2640,497 x 22,160,356 x 0,0129-0,131 x 0,05060,168 
= 5,452 
- Untuk t = 0 jam s/d 2 jam, memakai persamaan kurva naik 
 Qn = Qp. [(t/Tp)]1,107 
= 5,452 [(t/3,187)1,107 
- Untuk t > 3,187 jam, memakai persamaan kurva turun 
Qt = Qp.100,175(Tp – t) 
= 5,452 x 100,175(3,187-t) 
Analisa HSS (Limantara) dan Hidrograf Banjir ditabelkan sbb.: 
10
Jam ke- HSS Reff (mm) Qtotal 
(jam) (m^3/dt/mm) 1.64 4.81 13.44 10.32 6.43 (m^3/dt) 
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) 
0.000 0.000 0.000 0.000 
0.750 1.099 1.802 0.000 1.802 
1.500 2.367 3.882 5.286 0.000 9.169 
2.250 3.708 6.082 11.386 14.771 0.000 32.239 
3.000 5.452 8.942 17.837 31.816 11.342 0.000 69.937 
3.750 4.345 7.126 26.226 49.840 24.430 7.067 114.689 
4.500 3.212 5.268 20.901 73.281 38.270 15.221 152.942 
5.250 2.374 3.894 15.450 58.402 56.269 23.845 157.860 
6.000 1.755 2.878 11.420 43.170 44.845 35.059 137.372 
6.750 1.297 2.128 8.442 31.910 33.148 27.941 103.569 
7.500 0.959 1.573 6.240 23.587 24.503 20.653 76.556 
8.250 0.709 1.162 4.612 17.435 18.112 15.267 56.589 
9.000 0.524 0.859 3.409 12.888 13.388 11.285 41.829 
9.750 0.387 0.635 2.520 9.526 9.896 8.341 30.919 
10.500 0.286 0.469 1.863 7.042 7.315 6.166 22.855 
11.250 0.212 0.347 1.377 5.205 5.407 4.558 16.894 
12.000 0.156 0.257 1.018 3.848 3.997 3.369 12.488 
12.750 0.116 0.190 0.752 2.844 2.954 2.490 9.231 
13.500 0.085 0.140 0.556 2.102 2.184 1.841 6.823 
14.250 0.063 0.104 0.411 1.554 1.614 1.361 5.043 
15.000 0.047 0.077 0.304 1.149 1.193 1.006 3.728 
15.750 0.035 0.057 0.225 0.849 0.882 0.743 2.756 
16.500 0.026 0.042 0.166 0.628 0.652 0.550 2.037 
17.250 0.019 0.031 0.123 0.464 0.482 0.406 1.506 
Keterangan: 
Kolom (1): urutan jam hidrograf (tiap ¾ jam) 
Kolom (2): HSS (Limantara), cara analisa lihat sebelum tabel 
Kolom (3): Kolom (2) x Reff kolom 3, geser 1 
Kolom (4): Kolom (2) x Reff kolom 4, geser 2 
Kolom (5): Kolom (2) x Reff kolom 5, geser 3 
Kolom (6): Kolom (2) x Reff kolom 6, geser 4 
Kolom (7): Kolom (2) x Reff kolom 7, geser 5 
Kolom (8): penjumlahan kolom (3) s/d kolom (7) 
11
12
13 
Gambar Hidrograf Banjir DAS Garang 
t (jam) 
Q (m3/dt)
14 
t (jam) 
Q (m3/dt)
15
16

rumus hidrologi hss limantara

  • 1.
    BAB 10 HIDROGRAFSATUAN SINTETIS LIMANTARA 10.1. Pengertian Hidrograf Satuan Sintetis 1 Berdasarkan cara-cara untuk mendapatkan hidrograf satuan pengamatan, diperlukan serangkaian data antara lain data tinggi muka air (rekaman AWLR), data pengukuran debit, data hujan harian dan data hujan jam-jaman dari ARR. Data tersebut seringkali sulit diperoleh atau bahkan tidak tersedia sama sekali. Untuk membuat hidrograf banjir pada sungai-sungai yang tidak ada atau sedikit sekali dilakukan pengamatan (observasi) hidrograf banjirnya, maka perlu dicari karakteristik atau parameter daerah pengaliran tersebut terlebih dahulu. Karakteristik atau parameter tersebut antara lain waktu untuk mencapai puncak hidrograf, lebar dasar, luas, kemiringan, panjang alur terpanjang, koefisien limpasan dan sebagainya. Untuk sungai-sungai yang tidak mempunyai hidrograf banjir pengamatan, biasanya digunakan hidrograf-hidrograf sintetis yang telah dikembangkan di negara-negara lain, yang parameter-parameternya harus disesuaikan terlebih dahulu dengan karakteristik daerah pengaliran yang ditinjau. Hidrograf Satuan Sintetis (HSS) yang telah dikembangkan oleh para pakar antara lain HSS Snyder, HSS Nakayasu, HSS SCS, HSS Gama I, HSS Limantara dan lain-lain. Hidrograf Satuan Sintetis ini dikembangkan berdasarkan pemikiran bahwa pengalihragaman hujan menjadi aliran baik akibat pengaruh translasi maupun tampungan, dipengaruhi oleh sistem daerah pengalirannya. Hidrograf Satuan Sintetis merupakan suatu cara untuk memperkirakan
  • 2.
    2 penggunaan konsephidrograf satuan dalam suatu perencanaan yang tidak tersedia pengukuran-pengukuran langsung mengenai hidrograf banjir. Bab ini memaparkan tentang Hidrograf Satuan Sintetis (HSS) Limantara, yang asalnya dari Indonesia, ditemukan oleh Lily Montarcih Limantara, tahun 2006. Lokasi penelitian di sebagian Indonesia dianggap mewakili: Jawa (6 DAS, 67 Sub DAS), Bali (2 DAS, 13 Sub DAS), Lombok (1 DAS, 5 Sub DAS) dan Kalimantan Timur (1 DAS, 9 Sub DAS). 10.2. Parameter-parameter fisik DAS Parameter DAS yang dipakai dalam Hidrograf Satuan Sintetis Limantara ada 5 antara lain 1. Luas DAS (A) 2. Panjang sungai utama (L) 3. Panjang sungai diukur sampai titik terdekat dengan titik berat DAS (Lc) 4. Kemiringan sungai (S) 5. Koefisien kekasaran (n) Masing-masing parameter tersebut di atas bisa diuraikan sebagai berikut: 1. Luas DAS (A) Luas DAS (A) diperkirakan dengan mengukur daerah itu pada peta DAS. Jika dihitung per-satuan luas, banjir yang terjadi di daerah dengan luas yang kecil akan lebih besar dibandingkan banjir yang terjadi di sungai dengan DAS yang
  • 3.
    3 lebih luas..Hal ini disebabkan karena di DAS yang kecil, air hujan mudah mencapai sungai sedangkan pada DAS yang luas kemungkinan terdapat danau, rawa, kolam, tanah yang porous (misalnya pasir) dan lain-lain, yang dapat menahan air hujan. Luas DAS dipandang berpengaruh besar terhadap debit puncak. DAS yang kecil memiliki tanggapan yang berbeda dengan DAS yang besar, terutama tentang hubungannya dengan peristiwa limpasan. 2. Panjang sungai utama (L) Panjang sungai (L) merupakan jarak dari outlet ke batas daerah aliran, yang diukur sepanjang saluran aliran utama. Semakin panjang sungai, maka jarak antara tempat jatuhnya hujan dengan outlet semakin besar, sehingga waktu yang diperlukan air hujan untuk mencapai outlet lebih lama dan akan menurunkan debit banjir. Hal ini disebabkan karena makin panjang sungai makin banyak memberikan kesempatan bagi air hujan untuk mengalir sebagai limpasan. Dengan demikian jumlah kehilangan air akan semakin besar. 3. Panjang sungai diukur sampai titik terdekat dengan titik berat DAS (Lc) Lc merupakan panjang sungai dari outlet sampai titik berat DAS dan diukur sepanjang aliran utama. Parameter ini didasarkan pada penelitian Gupta (1967), antara lain dalam upayanya untuk mengaitkan besarnya debit puncak dengan faktor-faktor fisik DAS. Untuk DAS yang cenderung menyempit di bagian hilir, maka titik berat DAS akan terletak hampir ke hulu. Walaupun Lc cenderung panjang, namun dengan kondisi DAS menyempit ke bagian hilir, maka akan mempercepat naiknya debit puncak (waktu untuk mencapai debit puncak relatif
  • 4.
    4 singkat). Sebaliknyauntuk DAS yang mempunyai lebar cenderung merata dari hulu ke hilir, maka titik berat DAS akan terletak hampir di tengah DAS. Dalam hal ini walaupun Lc relatif pendek, dengan kondisi DAS yang lebar, akan memperlambat naiknya debit puncak (waktu untuk mencapai debit puncak relatif lama). 4. Kemiringan sungai (S) Kemiringan sungai (S) merupakan kemiringan sungai utama. Pada umumnya hanya sungai utama yang diperhatikan dalam menggambarkan kemiringan DAS secara umum. Kemiringan sungai secara rasional berpengaruh terhadap debit puncak (Qp). Dengan kemiringan yang curam akan mempercepat waktu untuk mencapai puncak banjir karena limpasan semakin cepat masuk ke sungai. Kemiringan sungai utama menentukan kecepatan aliran dalam saluran, seperti halnya liku resesi hidrograf yang digambarkan oleh pengosongan tampungan. Kemiringan sungai yang curam akan mempercepat pengosongan tampungan dan akan menghasilkan liku resesi hidrograf yang curam, sehingga menjadikan waktu dasar hidrograf menjadi pendek. Dalam banyak kasus, kemiringan DAS yang landai justru menghasilkan debit puncak yang lebih besar. Taylor dan Cordery (1991) menyarankan cara menghitung kemiringan sungai dengan anggapan aliran seragam. Dengan alasan kecepatan berbanding lurus dengan akar kemiringan sungai (rumus Manning), maka prosedur perhitungan kemiringan sungai adalah dengan membuat seimbang segmen-segmen sungai dengan akar kemiringannya. Jadi, jika sungai dengan kekasaran Manning yang sama dibagi dengan N segmen dengan kemiringan masing-masing Si (Gambar
  • 5.
    2), dengan kecepatanaliran adalah sama (V1 = V2 = V3 = VN), maka indeks kemiringan sederhana menjadi: S = (SÖSi/N)2 …….. Si » DE / DL dengan DE = beda elevasi dasar sungai (m) DL = panjang segmen sungai (m) 5. Koefisien kekasaran (n) Di dalam DAS terdapat hutan dan beberapa bagian tegalan, sawah, dan pemukiman, yang membutuhkan perkiraan koefisien kekasaran (n). Koefisien kekasaran (n) untuk lahan pertanian dengan tanaman diperkirakan sebesar 0,035 sedangkan untuk hutan atau semak belukar sebesar 0,07. Dengan persamaan garis linier pada 2 titik yaitu pada kondisi tidak terdapat hutan dan kondisi hutan seluruhnya, maka (Chow, 1988): n = 0,035 (1 + Af/A) dengan 5
  • 6.
    n = koefisienkekasaran DAS Af = luas hutan A = luas DAS Berdasarkan rumus di atas, jika luas hutan 100% (DAS seluruhnya berupa hutan), maka akan diperoleh koefisien kekasaran DAS: n = 0,070. Sebaliknya jika tidak ada hutan sama sekali (dalam arti Af = 0), maka akan diperoleh koefisien kekasaran DAS: n = 0,035. Seperti diketahui, hutan pada umumnya ditumbuhi tanaman-tanaman (pohon-pohon) yang besar sehingga menggambarkan kekasaran DAS cukup besar, dalam arti akan menghambat jalannya air hujan yang melimpas. Sedangkan untuk sawah dan tegalan hanya ditumbuhi tanaman yang relatif kecil dan dianggap tidak cukup kuat dalam menghambat air hujan yang melimpas. Demikian juga daerah pemukiman, dianggap tidak cukup kasar untuk menghambat jalannya air hujan yang melimpas. Berdasarkan alasan tersebut, Chow (1988) hanya memasukkan faktor luas hutan dalam perhitungan koefisien kekasaran DAS. 10.3. Persamaan HSS Limantara A. Persamaan Debit Puncak Qp = 0,042.A0,451.L0,497.Lc0,356.S-0,131.n0,168 dengan Qp = debit puncak banjir hidrograf satuan (m3/dt/mm) A = luas DAS (km2) L = panjang sungai utama (km) 6
  • 7.
    Lc = panjangsungai dari outlet sampai titik terdekat dengan titik berat DAS (km) S = kemiringan sungai utama n = koefisien kekasaran DAS 0,042 = koefisien untuk konversi satuan (m0,25/dt) B. Persamaan Kurva Naik Qn = Qp. [(t/Tp)]1,107 dengan Qn = debit pada persamaan kurva naik (m3/dt/mm) Qp = debit puncak hidrograf satuan (m3/dt/mm) t = waktu hidrograf (jam) Tp = waktu naik hidrograf atau waktu mencapai puncak hidrograf (jam) C. Persamaan kurva turun: Qt = Qp.100,175(Tp – t) dengan 7 Qt = debit pada persamaan kurva turun (m3/dt/mm) Qp = debit puncak hidrograf satuan (m3/dt/mm) Tp = waktu naik hidrograf atau waktu mencapai puncak hidrograf (jam) t = waktu hidrograf (jam) 0,175 = koefisien untuk konversi satuan (dt-1)
  • 8.
    10.4. Analisa Dimensi A. Persamaan Debit Puncak Banjir (Qp) Qp = 0,042.A0,451.L0,497.Lc0,356.S-0,131.n0,168 analisa dimensinya sbb: [ L ]2 [ T ]-1 = [ L ]0,25 [ T ]-1 [ L 2 ]0,451 [ L ]0,492 [ L ]0,356 [ L ]2 [ T ]-1 = [ L ]0,25 [ T ]-1 [ L ]0,902 [ L ]0,492 [ L ]0,356 [ L ]2 [ T ]-1 = [ L ]0,25 + 0,902 + 492 +0,356 [ T ]-1 [ L ]2 [ T ]-1 = [ L ]2 [ T ]-1 B. Persamaan Kurva Naik (Qn) Qn = Qp. [(t/Tp)]1,107 analisa dimensinya sbb: [ L ]2 [ T ]-1 = [ L ]2 [ T ]-1 { [ T ]-1 / [ T ]-1 }1,107 [ L ]2 [ T ]-1 = [ L ]2 [ T ]-1 x 1 [ L ]2 [ T ]-1 = [ L ]2 [ T ]-1 C. Persamaan Kurva Turun (Qt) Qt = Qp.e0,175(Tp – t) analisa dimensinya sbb: ln Qt = 0,175 (Tp – t) x ln Qp ln [ L ]2 [ T ]-1 = [ T ]-1 [ T ]1 x ln [ L ]2 [ T ]-1 ln [ L ]2 [ T ]-1 = 1 x ln [ L ]2 [ T ]-1 [ L ]2 [ T ]-1 = [ L ]2 [ T ]-1 8
  • 9.
    10.5. Batasan keberlakuanHSS Limantara HSS Limantara dapat diterapkan pada DAS lain yang memiliki kemiripan karakteristik dengan DAS-DAS di lokasi penelitian. Spesifikasi teknik HSS Limantara disajikan pada tabel berikut Tabel Spesifikasi Teknik HSS Limantara Uraian Notasi Satuan Kisaran Luas DAS A km2 0,325 – 1667,500 Panjang sungai utama L km 1,16 – 62,48 Jarak titik berat DAS ke outlet Lc km 0,50 – 29,386 Kemiringan sungai utama S - 0,00040 – 0,14700 Koefisien kekasaran DAS N - 0,035 – 0,070 Bobot luas hutan Af % 0,00 - 100 10.6. Perkiraan Waktu Puncak Banjir (Tp) Untuk memperkirakan waktu puncak banjir (Tp) bisa dipakai rumus seperti pada Nakayasu sbb: Tp = tg + 0,8 tr dengan: Tp = tenggang waktu (time lag) dari permulaan hujan sampai puncak banjir  jam tg = waktu konsentrasi hujan  jam Cara menentukan tg: Jika L ³ 15 km, maka tg = 0,40 + 0,058 L L < 15 km, maka tg = 0,21 L0,7 dengan: 9
  • 10.
    a = parameterhidrograf tr = 0,5 x tg sampai 1 x tg Contoh Soal Parameter Sub DAS Garang (Jawa Tengah) berada dalam kisaran spesifikasi teknik HSS Limantara, antara lain: A = 73,5 km2; L = 34,264 km; Lc = 22,16 km; S = 0,0129 dan n = 0,0506. Akan dicari HSS nya dan Hidrograf Banjirnya Penyelesaian: L= 34,264 km L ³ 15 km, maka tg = 0,40 + 0,058 L tg = 0,40 + 0,058 x 34,264 = 2,387 jam Tp = tg + 0,8 tr = 2,387 + 0,8 x 1 = 3,187 jam Jadi: - Qp = 0,042.A0,451.L0,497.Lc0,356.S-0,131.n0,168 = 0,042 x 73,50,451 x 34,2640,497 x 22,160,356 x 0,0129-0,131 x 0,05060,168 = 5,452 - Untuk t = 0 jam s/d 2 jam, memakai persamaan kurva naik  Qn = Qp. [(t/Tp)]1,107 = 5,452 [(t/3,187)1,107 - Untuk t > 3,187 jam, memakai persamaan kurva turun Qt = Qp.100,175(Tp – t) = 5,452 x 100,175(3,187-t) Analisa HSS (Limantara) dan Hidrograf Banjir ditabelkan sbb.: 10
  • 11.
    Jam ke- HSSReff (mm) Qtotal (jam) (m^3/dt/mm) 1.64 4.81 13.44 10.32 6.43 (m^3/dt) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) 0.000 0.000 0.000 0.000 0.750 1.099 1.802 0.000 1.802 1.500 2.367 3.882 5.286 0.000 9.169 2.250 3.708 6.082 11.386 14.771 0.000 32.239 3.000 5.452 8.942 17.837 31.816 11.342 0.000 69.937 3.750 4.345 7.126 26.226 49.840 24.430 7.067 114.689 4.500 3.212 5.268 20.901 73.281 38.270 15.221 152.942 5.250 2.374 3.894 15.450 58.402 56.269 23.845 157.860 6.000 1.755 2.878 11.420 43.170 44.845 35.059 137.372 6.750 1.297 2.128 8.442 31.910 33.148 27.941 103.569 7.500 0.959 1.573 6.240 23.587 24.503 20.653 76.556 8.250 0.709 1.162 4.612 17.435 18.112 15.267 56.589 9.000 0.524 0.859 3.409 12.888 13.388 11.285 41.829 9.750 0.387 0.635 2.520 9.526 9.896 8.341 30.919 10.500 0.286 0.469 1.863 7.042 7.315 6.166 22.855 11.250 0.212 0.347 1.377 5.205 5.407 4.558 16.894 12.000 0.156 0.257 1.018 3.848 3.997 3.369 12.488 12.750 0.116 0.190 0.752 2.844 2.954 2.490 9.231 13.500 0.085 0.140 0.556 2.102 2.184 1.841 6.823 14.250 0.063 0.104 0.411 1.554 1.614 1.361 5.043 15.000 0.047 0.077 0.304 1.149 1.193 1.006 3.728 15.750 0.035 0.057 0.225 0.849 0.882 0.743 2.756 16.500 0.026 0.042 0.166 0.628 0.652 0.550 2.037 17.250 0.019 0.031 0.123 0.464 0.482 0.406 1.506 Keterangan: Kolom (1): urutan jam hidrograf (tiap ¾ jam) Kolom (2): HSS (Limantara), cara analisa lihat sebelum tabel Kolom (3): Kolom (2) x Reff kolom 3, geser 1 Kolom (4): Kolom (2) x Reff kolom 4, geser 2 Kolom (5): Kolom (2) x Reff kolom 5, geser 3 Kolom (6): Kolom (2) x Reff kolom 6, geser 4 Kolom (7): Kolom (2) x Reff kolom 7, geser 5 Kolom (8): penjumlahan kolom (3) s/d kolom (7) 11
  • 12.
  • 13.
    13 Gambar HidrografBanjir DAS Garang t (jam) Q (m3/dt)
  • 14.
    14 t (jam) Q (m3/dt)
  • 15.
  • 16.