DEFINISI KONSEP
1. Pengertian.

   Secara leksikal, “definisi” berarti “pembatasan”. Artinya,
   menentukan batas-batas pengertian yang terkandung
   dalam istilah tertentu, sehingga jelas apa yang
   dimaksudkan, dan dengan demikian dapat dibedakan
   dengan pengertian-pengertian lain.

   Lebih jelas: “Definisi” adalah perumusan yang singkat,
   padat, jelas dan tepat tentang makna (isi dan luas
   pengertian) yang terkandung dalam istilah tertentu,
   sehingga istilah tersebut dapat dibedakan dengan tegas
   dari istilah-istilah lainnya.
2. Jenis-jenis Definisi

  (1) Definisi nominal: hanya memberi keterangan
      dari segi “nama” perihal istilah yang
  didefinisikan (definisi yang bertolak dari kata yang
  memuat konsep tertentu).
      a. Definisi etimologis: usaha memahami suatu
         kata/istilah dengan meneliti asal-usulnya
         kata atau istilah itu beserta artinya dasarnya.
      b. Definisi via sinonim: dengan menggunakan
         padanan dari istilah kata tersebut.
      c. Definisi leksikal: mencari arti kata/istilah itu
         seperti ditemukan dalam kamus.
(2) Definisi realis: Berusaha memberi keterangan
tentang hakekat suatu istilah, sehingga jelas apa
sebenarnya pengertian yang terkandung dalam
istilah yang didefinisikan itu.
    a. Definisi esensial: merupakan definisi “in sensu
    stricto” (dalam arti yang sebenarnya). Dia
    memberikan keterangan tentang sifat khas dari
    hal yang didefinisikan.
    b. Definisi deskriptif : memberikan keterangan
    tentang sifat-sifat yang dimiliki oleh hal yang
    didefinisikan sedemikian rupa, sehingga
    kumpulan sifat-sifat itu mencukupi untuk
    membedakan hal yang didefinisikan itu dengan
    hal-hal lainnya.
c. Definisi kausal:
   • memberikan keterangan dengan menunjukkan
     sebab/ alasan (causa) terjadinya hal yang
     didefinisikan.
d. Definisi final:
   • memberikan keterangan dengan menunjukkan
     maksud tujuan dari hal yang didefinisikan.
e. Definisi genetis:
   • memberikan keterangan dengan menunjukkan
     genesis (proses terjadinya) sesuatu. Ump.: Air
     adalah sesuatu yang terjadi karena gabungan
     dari H2 dan O.
3. Kaidah Penyusunan Definisi.

(1) Definisi harus dapat dibolak-balik dengan hal yang
   didefinisikan.
    – Artinya, luas keduanya haruslah sama. Misalnya:
      “manusia”, yang didefinisikan sebagai “hewan yang
      berakal budi”. Ini dapat dibalik tanpa menambah arti.
      Bandingkan dengan “topi”, yang didefinisikan,
      umpamanya, sebagai “alat untuk menutup kepala”.

(2) Hal yang didefinisikan tidak boleh masuk dalam definisi.
   Kalau itu terjadi, kita jatuh dalam bahaya “circulus in
   definisiendo”.
    – Artinya, sesudah berputar-putar beberapa lamanya, kita
      dibawa kembali ke titik pangkal oleh definisi itu. Kita
      tidak maju sedikit pun. Misalnya: Logika adalah
      pengetahuan yang menerangkan tentang hukum-hukum
      logika.
(3) Definisi tidak boleh dirumuskan secara negatif sejauh
   dapat dirumuskan secara positif.
    – Definisi dimaksudkan untuk mengungkap apa makna
      yang terkandung dalamhal yang didefinisikan, dan bukan
      untuk mengungkapkan apa makna yang tidak terkandung
      dalam hal yang didefinisikan. Kalau terpaksa, boleh
      dirumuskan secara negatif. Umpamanya: “sejajar”, kita
      definisikan sebagai “dua garis yang tidak akan bertemu”

(4) Definisi tidak boleh dinyatakan dalam bahasa yang
   kabur.
    – itu terjadi maka definisi tidak mencapai tujuan. Terjadi
      apa yang disebut “ignotum per ignotius”, yakni orang
      mendefinisikan sesuatu yang tidak diketahui dengan
      pertolongan sesuatu yang lebih tidak diketahui lagi.
(3) Definisi tidak boleh dirumuskan secara negatif sejauh
   dapat dirumuskan secara positif.
    – Definisi dimaksudkan untuk mengungkap apa makna
      yang terkandung dalamhal yang didefinisikan, dan bukan
      untuk mengungkapkan apa makna yang tidak terkandung
      dalam hal yang didefinisikan. Kalau terpaksa, boleh
      dirumuskan secara negatif. Umpamanya: “sejajar”, kita
      definisikan sebagai “dua garis yang tidak akan bertemu”

(4) Definisi tidak boleh dinyatakan dalam bahasa yang
   kabur.
    – itu terjadi maka definisi tidak mencapai tujuan. Terjadi
      apa yang disebut “ignotum per ignotius”, yakni orang
      mendefinisikan sesuatu yang tidak diketahui dengan
      pertolongan sesuatu yang lebih tidak diketahui lagi.

Definisi dan pengertiannya

  • 1.
    DEFINISI KONSEP 1. Pengertian. Secara leksikal, “definisi” berarti “pembatasan”. Artinya, menentukan batas-batas pengertian yang terkandung dalam istilah tertentu, sehingga jelas apa yang dimaksudkan, dan dengan demikian dapat dibedakan dengan pengertian-pengertian lain. Lebih jelas: “Definisi” adalah perumusan yang singkat, padat, jelas dan tepat tentang makna (isi dan luas pengertian) yang terkandung dalam istilah tertentu, sehingga istilah tersebut dapat dibedakan dengan tegas dari istilah-istilah lainnya.
  • 2.
    2. Jenis-jenis Definisi (1) Definisi nominal: hanya memberi keterangan dari segi “nama” perihal istilah yang didefinisikan (definisi yang bertolak dari kata yang memuat konsep tertentu). a. Definisi etimologis: usaha memahami suatu kata/istilah dengan meneliti asal-usulnya kata atau istilah itu beserta artinya dasarnya. b. Definisi via sinonim: dengan menggunakan padanan dari istilah kata tersebut. c. Definisi leksikal: mencari arti kata/istilah itu seperti ditemukan dalam kamus.
  • 3.
    (2) Definisi realis:Berusaha memberi keterangan tentang hakekat suatu istilah, sehingga jelas apa sebenarnya pengertian yang terkandung dalam istilah yang didefinisikan itu. a. Definisi esensial: merupakan definisi “in sensu stricto” (dalam arti yang sebenarnya). Dia memberikan keterangan tentang sifat khas dari hal yang didefinisikan. b. Definisi deskriptif : memberikan keterangan tentang sifat-sifat yang dimiliki oleh hal yang didefinisikan sedemikian rupa, sehingga kumpulan sifat-sifat itu mencukupi untuk membedakan hal yang didefinisikan itu dengan hal-hal lainnya.
  • 4.
    c. Definisi kausal: • memberikan keterangan dengan menunjukkan sebab/ alasan (causa) terjadinya hal yang didefinisikan. d. Definisi final: • memberikan keterangan dengan menunjukkan maksud tujuan dari hal yang didefinisikan. e. Definisi genetis: • memberikan keterangan dengan menunjukkan genesis (proses terjadinya) sesuatu. Ump.: Air adalah sesuatu yang terjadi karena gabungan dari H2 dan O.
  • 5.
    3. Kaidah PenyusunanDefinisi. (1) Definisi harus dapat dibolak-balik dengan hal yang didefinisikan. – Artinya, luas keduanya haruslah sama. Misalnya: “manusia”, yang didefinisikan sebagai “hewan yang berakal budi”. Ini dapat dibalik tanpa menambah arti. Bandingkan dengan “topi”, yang didefinisikan, umpamanya, sebagai “alat untuk menutup kepala”. (2) Hal yang didefinisikan tidak boleh masuk dalam definisi. Kalau itu terjadi, kita jatuh dalam bahaya “circulus in definisiendo”. – Artinya, sesudah berputar-putar beberapa lamanya, kita dibawa kembali ke titik pangkal oleh definisi itu. Kita tidak maju sedikit pun. Misalnya: Logika adalah pengetahuan yang menerangkan tentang hukum-hukum logika.
  • 6.
    (3) Definisi tidakboleh dirumuskan secara negatif sejauh dapat dirumuskan secara positif. – Definisi dimaksudkan untuk mengungkap apa makna yang terkandung dalamhal yang didefinisikan, dan bukan untuk mengungkapkan apa makna yang tidak terkandung dalam hal yang didefinisikan. Kalau terpaksa, boleh dirumuskan secara negatif. Umpamanya: “sejajar”, kita definisikan sebagai “dua garis yang tidak akan bertemu” (4) Definisi tidak boleh dinyatakan dalam bahasa yang kabur. – itu terjadi maka definisi tidak mencapai tujuan. Terjadi apa yang disebut “ignotum per ignotius”, yakni orang mendefinisikan sesuatu yang tidak diketahui dengan pertolongan sesuatu yang lebih tidak diketahui lagi.
  • 7.
    (3) Definisi tidakboleh dirumuskan secara negatif sejauh dapat dirumuskan secara positif. – Definisi dimaksudkan untuk mengungkap apa makna yang terkandung dalamhal yang didefinisikan, dan bukan untuk mengungkapkan apa makna yang tidak terkandung dalam hal yang didefinisikan. Kalau terpaksa, boleh dirumuskan secara negatif. Umpamanya: “sejajar”, kita definisikan sebagai “dua garis yang tidak akan bertemu” (4) Definisi tidak boleh dinyatakan dalam bahasa yang kabur. – itu terjadi maka definisi tidak mencapai tujuan. Terjadi apa yang disebut “ignotum per ignotius”, yakni orang mendefinisikan sesuatu yang tidak diketahui dengan pertolongan sesuatu yang lebih tidak diketahui lagi.