Nama: Nelva Kirana N 
Kelas: XI IA 9 
No: 18 
SMAN 1 Sidoarjo 
2014 
Catatan Seorang Perempuan yang Menunggu 
Nelva Kirana N 
Kekasihnya Datang 
Dear diary…s 
Hari ini aku senang sekali, seorang lelaki yang sedari dulu aku cintai secara diam-diam 
itu, ternyata akan mengajakku bertemu, atau lebih tepatnya semacam kencan pertama. Ia 
mengatakan, bahwa besok jam delapan malam akan mengajakku makan malam di sebuah café 
yang lokasinya tepat berada di jantung kota. Café berlantai dua tingkat dan bila seseorang 
duduk di sana akan tampak jelas terlihat lampu-lampu jalanan yang bisa membuat suasana 
menjadi lebih romantis. Mungkin besok kami akan makan malam dengan memesan hidangan 
yang sulit untuk aku lupakan. Stik kentang saus tomat dan orange juice sepertinya akan 
menjadi hidangan yang cocok untuk mengawali sebuah kencan pertama nanti. Ah, aku tak 
sabar menunggu besok malam tiba. Semoga menyenangkan. 
*** 
Malam. Malam tanggal pertengahan bulan. Rembulan telah matang menggantung di 
langit berbintang. Gigil angin berkesiur menembus setiap inci serat kulitku. Aku masih duduk 
pada salah satu puluhan kursi yang tersedia di café ini. Aku sengaja memesan kursi pojok 
kanan di lantai dua bersebelahan dengan jendea terbuka, di sini ruangannya memang begitu 
pengap dan tampak tak berkelas. Ada banyak meja-meja kayu berwarna coklat kusam tersusun 
rapih dan telah terisi penuh oleh pasangan kekasih yang tengah bercakap entah membicarakan 
persoalan apa, aku tak berniat menguping. Di ruangan pengap inilah, sudah hampir setengah 
jam lebih aku menunggu seorang lelaki yang tak kunjung datang. Telah berkali-kali aku 
meneleponnya, namun tak pernah sekalipun diangkat. Berpuluh-puluh kali aku mengirimkan 
pesan singkat melalui ponsel, tapi tak satu pun kuterima sebuah balasan. Sedang dimanakah 
lelaki itu sekarang? Aku tak tahu! 
Aku mulai dihinggapi perasaan gelisah. Olesan lipstik di bibirku mulai sedikit luntur 
akibat keseringan meminum air putih karena terlalu lama menunggu bercampur dengan 
buncahan rasa marah. Apakah malam ini ia telah membatalkan pertemuan secara sepihak dan 
tak memberikan kabar terlebih dahulu padaku? Sialan! Sia-sia sore tadi aku menguras waktu 
berjam-jam lamanya sekadar memilih gaun busana yang cocok untuk aku kenakan pada malam
ini, atau menghabiskan waktu berdandan hanya untuk sebuah acara pertemuan menyebalkan 
seperti ini. 
“Mau pesan apa Mbak?” tiba-tiba salah seorang pelayan perempuan menyodorkan 
sebuah daftar menu. Entah sudah berapa kali ia bolak-balik ke mejaku menawarkan menu yang 
disediakan di café ini. Dan dari balik sorot tatapannya itu, sepertinya ia menanam perasaan 
kesal padaku. 
“Nanti saja du lu jangan sekarang. Aku masih menunggu seseorang yang akan datang.” 
jawabku mengelak sedikit malu, “Kalau boleh, ambilkan saja untukku segelas air putih lagi,” 
lanjutku kembali dengan rona wajah yang lebih merah dari biasanya. 
“Mohon tunggu sebentar.” jawabnya sedikit ketus. 
Pesanan datang. Entah gelas keberapa air yang kuteguk ini. Rasanya hambar seperti 
suasana mejaku sekarang. Aku membayangkan, pasti perasaan aneh seperti ini akan terasa 
berbeda bila lelaki yang kutunggu itu datang dengan membawa sebuah senyuman di bibirnya. 
Orang-orang di sekitarku mulai menatapku seperti melecehkan. Aku seolah menjadi orang 
asing yang dilucuti dan dipermalukan. Aku merasa mereka telah menganggapku seorang 
perempuan tolol karena telah dikhianati oleh janji busuk seorang lelaki. Tak terasa, waktu di 
jam tanganku telah menunjukan pukul sembilan malam. Ternyata kini lelaki yang tengah 
kutunggu kedatangannya itu telah membuat hatiku berharap cemas selama satu jam tepat. 
Berarti ia telah melakukan suatu kesalahan besar dengan membiarkan aku teronggok sendirian 
seperti potongan bangkai yang dipatuk paruh runcing burung-burung nazar. Hatiku panas. Ingin 
sekali aku meludahi wajahnya yang berbentuk tirus itu, sebab kurasa bahwa menunggu adalah 
suatu hal paling menyebalkan di dunia ini. 
Andaikan saja sekarang ia datang secara tak terduga, pastinya aku bakalan memaafkan 
kesalahannya itu dengan perasaan sangat rumit. Mungkin sebuah keterlambatan bisa 
meluluhkan suasana pertemuan yang menyebalkan, ketimbang tidak datang sama sekali tanpa 
kabar yang jelas. Ah, akan tetapi, mengharapkan suatu hal yang tak jelas pun sama 
menyebalkannya. Ia memang tak jelas apakah bakalan datang atau tidak. Dan mungkin 
sekaranglah waktu yang tepat untuk aku beranjak meninggalkan suasana café menyebalkan ini. 
Tapi, tiba-tiba seorang lelaki berkemaja biru motif kotak-kotak datang ke mejaku, dan duduk 
berhadapan saling menatap denganku. 
“Apakah aku boleh duduk di sini?” tanya le laki itu. “Perkenalkan, namaku Ardi.” 
lanjutnya sambil menyodorkan telapak tangan mengajak bersalaman ke arahku. Ah, rupanya ia 
memiliki nama yang sama dengan nama seorang lelaki yang sedang kutunggu. Wajahnya pun 
hampir mirip. Apa mungkin mereka berdua saudara kembar? Tak mungkin, ia tak pernah 
menceritakan bila ia pernah memiliki saudara kembar. Kebetulan yang sangat luar biasa. Tidak. 
Tak ada yang namanya kebetulan di dunia ini, sebab dalam kehidupan semuanya telah diatur di 
dalam sebuah takdir, meski kita pun ditakdirkan untuk mengubah takdir kita masing-masing.“ 
Maaf, tapi sekarang sudah saatnya aku untuk pulang.” 
Nelva Kirana N
“Loh, kenapa buru-buru? Aku dengar tadi katanya kamu sedang menunggu seorang 
lelaki. Bukankah ia belum datang?” 
“Entahlah, mungkin ia tak bakalan datang menemuiku.” 
“Bodoh sekali le laki itu, membiarkan perempuan cantik sepertimu duduk di café ini 
sendirian.” katanya sambil mengulum senyum. 
Entah itu sebuah kalimat pujian atau sebuah hinaan karena ia mungkin telah 
mengetahui kalau aku termakan janji busuk seorang lelaki, tapi yang jelas aku menyukai cara 
ungkapannya yang menurutku teramat jujur. Harus kuakui, ia memiliki wajah yang polos, dan 
aku pun memang berparas cantik. Menurut semua teman-temanku, aku adalah seorang 
perempuan berpenampilan anggun. Aku memiliki sepasang mata bulat dan bening, belahan 
bibir merah bagaikan capit kepiting, hidung mancung dan tampak kecil, lalu wajah kuning 
langsat sewarna buah pisang yang telah matang. 
“Kalau aku boleh jujur, aku tak bakalan membiarkanmu duduk sendirian.” katanya lagi. 
“Tapi maaf, aku tidak terlalu menyukai le laki yang jujur. Terlihat sangat murahan!” 
kataku sambil berlalu meninggalkannya. 
Nelva Kirana N 
*** 
Dear diary… 
Malam ini perasaanku tidak seperti hari kemarin. Hari kemarin sangat menyenangkan 
karena bisa membuat hatiku berbunga-bunga. Tapi apa boleh buat, bunga hati ini kini telah 
layu, sebab sang kumbang pujaanku tak kunjung datang untuk menghisap sari madu yang 
tumbuh di dalam bunga yang berbentuk hati ini. Aku tak tahu, apakah ia sengaja 
membohongiku, atau memang benar-benar lupa soal janji pertemuannya denganku. Tapi yang 
jelas, ia telah membuat hatiku remuk redam. Aku tak ingin kejadian malam ini terulang 
kembali di hari berikutnya. Semoga saja. 
*** 
Jam sebelas malam. Café tempat yang kujanjikan untuk menemui seorang perempuan 
telah tutup. Jalanan terlihat sepi. Hanya sesekali pengendara jalan yang lewat. Aku tahu, 
kalau perempuan itu telah pulang meninggalkan café ini sambil menahan perasaan kecewa. Ia 
mungkin saja mengutukku dengan sebutan seorang lelaki pembohong. Ah, andaikan saja ia 
mengetahui bahwa tadi aku sempat ditimpa sebuah kecelakaan, mungkin ia akan memaklumi 
kesalahanku. 
Sebelumnya, pada saat jam tujuh malam tadi, sebenarnya aku sudah bersiap-siap untuk 
berangkat menuju café ini. Tidak seperti pada malam-malam biasanya, malam ini aku sengaja 
mengenakan kemeja berwarna biru motif kotak-kotak dan celana jeans hitam panjang. 
Setidaknya dengan berpenampilan elegan seperti itu, mungkin aku bisa meraih hatinya dan ia 
akan terperangah memandangku. Aku selalu ingin tampil sempurna di hadapannya.
Penampilanku sudah sempurna. Tapi waktu telah menunjukan kalau aku bakalan 
terlambat. Aku tak ingin suasana kencan pertamaku dengannya tampak tak sempurna hanya 
gara-gara sebuah keterlambatan. Tak butuh menunggu waktu lama lagi, langsung kupacu 
motorku secepat mungkin. Jalanan lengang. Kurasakan ada sebuah getaran dari dalam kantong 
celanaku. Sepertinya dering ponselku berbunyi. Ternyata dari tadi aku telah mendapatkan 
berpuluh-puluh kiriman pesan singkat. Ah, itu pesan dari seorang perempuan yang tengah 
gelisah menanti kedatanganku. 
Sedang dimana kau sekarang? Sudah hampir setengah jam lebih aku menunggumu. 
Kalau memang kau tak bakalan datang, mungkin sebaiknya aku pulang saat ini juga. Begitu isi 
salah satu pesan singkatnya yang sempat kubaca. 
Tanpa memikirkan apa pun, sambil memacu motorku, aku mencoba membalas 
pesannya itu. Aku tak ingin ia merasa kesal karena terlalu lama menungguku, hanya karena 
sebuah keterlambatan. 
Belum sempat aku mengirimkan balasan atas puluhan pesannya itu, tiba-tiba saja, 
tanpa sepenglihatanku, dari arah berlawanan, sebuah truk besar sudah berada di dalam jalur 
jalan yang kugunakan. Aku tak sempat menghindar dan membelokan motorku untuk 
menghindari tabrakan dengan truk yang salah mengambil jalur. Tapi dari semua yang aku ingat, 
setelah kecelakaan yang tak bisa terhindarkan itu, aku merasakan ruhku melayang dengan dua 
buah sayap di belakang punggungku menuju tempat ini. Café yang kini telah tutup ini. 
Nelva Kirana N 
*** 
Dear diary… 
Hari pertama di bulan baru. Hari ini aku baru mendapatkan sebuah kabar buruk tentang 
kematian Ardi, lelaki yang pernah kutunggu kedatangannya dua minggu lalu. Aku baru 
mengetahuinya setelah salah seorang temanku menceritakan semua kejadian naas itu. Dan, 
aku pun baru tahu jika Ardi bukanlah seorang lelaki pembohong, karena ia mengalami 
kecelakaan maut ketika sedang menuju café tempatku menunggu. Meski kini aku telah berbeda 
dunia dengannya, kuharap ia akan setia menunggu kedatanganku kelak. 
*** 
Wajah keduanya pun hampir mirip. Saat ini, aku ingin kembali menemuinya, bertatap 
muka langsung dengannya. Lama aku menunggu kedatangan lelaki itu, namun harapanku 
tampaknya tak akan terkabul. Dan kini aku yakin, bahwa ia adalah jiwa seorang lelaki yang 
sedang kutunggu waktu itu.
Cerpen 'Catatan Seorang Perempuan yang Menunggu Kekasihnya Datang' 
memiliki..... 
Unsur Intrinsik 
Tema: Percintaan yang sirna 
Latar: 
 Latar Tempat: 
Nelva Kirana N 
Cafe 
Aku masih duduk pada salah satu puluhan kursi yang tersedia di café ini. 
Jalan 
Jalanan terlihat sepi. Hanya sesekali pengendara jalan yang lewat. 
 Latar Waktu 
Malam hari 
Malam. Malam tanggal pertengahan bulan. Rembulan telah matang menggantung di langit 
berbintang. 
Jam tujuh malam 
Sebelumnya, pada saat jam tujuh malam tadi, sebenarnya aku sudah bersiap-siap untuk 
berangkat menuju café ini. 
Jam sebelas malam 
Jam sebelas malam. Café tempat yang kujanjikan untuk menemui seorang perempuan telah 
tutup. 
Hari pertama di bulan baru 
Hari pertama di bulan baru. Hari ini aku baru mendapatkan sebuah kabar buruk tentang 
kematian Ardi, lelaki yang pernah kutunggu kedatangannya dua minggu lalu. 
Dua minggu lalu 
Hari pertama di bulan baru. Hari ini aku baru mendapatkan sebuah kabar buruk tentang 
kematian Ardi, lelaki yang pernah kutunggu kedatangannya dua minggu lalu. 
Alur: Maju 
Karena jalan cerita dijelaskan secara runtut mulai dari pengenalan latar dan masalah sampai 
ke konflik dan di akhir cerita terdapat penyelesaian konflik. 
Penokohan: 
Lelaki (Ardi) 
Ceroboh: 
"Tanpa memikirkan apa pun, sambil memacu motorku, aku mencoba membalas pesannya itu." 
Perfeksionis:
"Penampilanku sudah sempurna. Tapi waktu telah menunjukan kalau aku bakalan terlambat. Aku tak 
ingin suasana kencan pertamaku dengannya tampak tak sempurna hanya gara-gara sebuah 
keterlambatan." 
Perempuan 
Selalu mengeluh: 
"Apakah malam ini ia telah membatalkan pertemuan secara sepihak dan tak memberikan kabar 
terlebih dahulu padaku? Sialan! Sia-sia sore tadi aku menguras waktu berjam-jam lamanya sekadar 
memilih gaun busana yang cocok untuk aku kenakan pada malam ini, atau menghabiskan waktu 
berdandan hanya untuk sebuah acara pertemuan menyebalkan seperti ini." 
Mudah berpikiran buruk 
"Orang-orang di sekitarku mulai menatapku seperti melecehkan. Aku seolah menjadi orang asing 
yang dilucuti dan dipermalukan. Aku merasa mereka telah menganggapku seorang perempuan tolol 
karena telah dikhianati oleh janji busuk seorang lelaki." 
Pelayan Perempuan 
Kurang sabar menghadapi pelanggan 
"Mohon tunggu sebentar.” jawabnya sedikit ketus." 
Sudut Pandang: 
Campuran 
Karena Pengarang menempatkan dirinya bergantian dari satu tokoh ke tokoh lainnya dengan 
sudut pandang yang berbeda-beda menggunakan “Aku” 
Bukti 
 Diungkapkan oleh Lelaki (Ardi): Aku tahu, kalau perempuan itu telah pulang meninggalkan 
café ini sambil menahan perasaan kecewa. 
 Diungkapkan oleh perempuan: Lama aku menunggu kedatangan lelaki itu, namun 
harapanku tampaknya tak akan terkabul. 
Nilai: 
Nilai Moral 
"Tanpa memikirkan apa pun, sambil memacu motorku, aku mencoba membalas pesannya itu. 
Aku tak ingin ia merasa kesal karena terlalu lama menungguku, hanya karena sebuah 
keterlambatan. 
Belum sempat aku mengirimkan balasan atas puluhan pesannya itu, tiba-tiba saja, 
tanpa sepenglihatanku, dari arah berlawanan, sebuah truk besar sudah berada di dalam jalur 
jalan yang kugunakan. Aku tak sempat menghindar dan membelokan motorku untuk 
menghindari tabrakan dengan truk yang salah mengambil jalur. Tapi dari semua yang aku ingat, 
Nelva Kirana N
setelah kecelakaan yang tak bisa terhindarkan itu, aku merasakan ruhku melayang dengan dua 
buah sayap di belakang punggungku menuju tempat ini. Café yang kini telah tutup ini." 
Dari kutipan cerpen tersebut seharusnya kita tidak menggunakan handphone disaat sedang 
berkendara karena kita bisa tidak fokus dan bisa mengalami kecelakaan seperti yang telah Ardi 
lakukan. 
Nilai Perjuangan 
"Aku tak ingin suasana kencan pertamaku dengannya tampak tak sempurna hanya gara-gara 
sebuah keterlambatan. Tak butuh menunggu waktu lama lagi, langsung kupacu motorku 
secepat mungkin. Jalanan lengang." 
Lelaki tersebut berusaha sebaik mungkin agar kencan pertamanya tidak mengecewakan 
perempuan yang akan ditemuinya. 
Amanat 
 Seharusnya kita sebagai manusia tidak mudah berpikiran buruk akan perilaku seseorang, 
karena semua hal pasti ada sebabnya. 
 Kita tidak boleh menggunakan handphone saat sedang berkendara, karena kita akan celaka 
karena tidak fokus untuk menyetir 
Unsur Ektrinsik 
 Latar Kepengarangan Penulis 
Nelva Kirana N 
Penulis menjumpai berbagai reaksi masyarakat saat mereka menerima 
pemberitahuan bahwa ada pesan masuk atau telepon masuk di handphone saat berkendara. 
Dalam cerpen ini, penulis ingin menginspirasi dan memotivasi orang-orang untuk lebih 
berhati-hati dalam berkendara. Lebih baik berhenti terlebih dahulu di tepi jalan untuk 
menjawab atau melihat handphone kita sehingga kita tidak celaka. 
 Keyakinan Penulis 
Penulis yakin bahwa kejadian ini banyak ditemui di masyarakat. Banyak orang yang 
mengalami kecelakaan karena menggunkan handphone disaat berkendara. Oleh karena itu 
penulis menggambarkan situasi tersebut dalam sebuah cerpen. 
 Masyarakat Pembaca 
Pembaca dapat mengambil hikmah dari cerpen ini karena cerpen ini mengandung 
secuplik masalah dalam berkendara yang ada di masyarakat dan masih banyak orang yang 
memiliki masalah yang sama dengan cerpen ini.

Cerpen + analisa

  • 1.
    Nama: Nelva KiranaN Kelas: XI IA 9 No: 18 SMAN 1 Sidoarjo 2014 Catatan Seorang Perempuan yang Menunggu Nelva Kirana N Kekasihnya Datang Dear diary…s Hari ini aku senang sekali, seorang lelaki yang sedari dulu aku cintai secara diam-diam itu, ternyata akan mengajakku bertemu, atau lebih tepatnya semacam kencan pertama. Ia mengatakan, bahwa besok jam delapan malam akan mengajakku makan malam di sebuah café yang lokasinya tepat berada di jantung kota. Café berlantai dua tingkat dan bila seseorang duduk di sana akan tampak jelas terlihat lampu-lampu jalanan yang bisa membuat suasana menjadi lebih romantis. Mungkin besok kami akan makan malam dengan memesan hidangan yang sulit untuk aku lupakan. Stik kentang saus tomat dan orange juice sepertinya akan menjadi hidangan yang cocok untuk mengawali sebuah kencan pertama nanti. Ah, aku tak sabar menunggu besok malam tiba. Semoga menyenangkan. *** Malam. Malam tanggal pertengahan bulan. Rembulan telah matang menggantung di langit berbintang. Gigil angin berkesiur menembus setiap inci serat kulitku. Aku masih duduk pada salah satu puluhan kursi yang tersedia di café ini. Aku sengaja memesan kursi pojok kanan di lantai dua bersebelahan dengan jendea terbuka, di sini ruangannya memang begitu pengap dan tampak tak berkelas. Ada banyak meja-meja kayu berwarna coklat kusam tersusun rapih dan telah terisi penuh oleh pasangan kekasih yang tengah bercakap entah membicarakan persoalan apa, aku tak berniat menguping. Di ruangan pengap inilah, sudah hampir setengah jam lebih aku menunggu seorang lelaki yang tak kunjung datang. Telah berkali-kali aku meneleponnya, namun tak pernah sekalipun diangkat. Berpuluh-puluh kali aku mengirimkan pesan singkat melalui ponsel, tapi tak satu pun kuterima sebuah balasan. Sedang dimanakah lelaki itu sekarang? Aku tak tahu! Aku mulai dihinggapi perasaan gelisah. Olesan lipstik di bibirku mulai sedikit luntur akibat keseringan meminum air putih karena terlalu lama menunggu bercampur dengan buncahan rasa marah. Apakah malam ini ia telah membatalkan pertemuan secara sepihak dan tak memberikan kabar terlebih dahulu padaku? Sialan! Sia-sia sore tadi aku menguras waktu berjam-jam lamanya sekadar memilih gaun busana yang cocok untuk aku kenakan pada malam
  • 2.
    ini, atau menghabiskanwaktu berdandan hanya untuk sebuah acara pertemuan menyebalkan seperti ini. “Mau pesan apa Mbak?” tiba-tiba salah seorang pelayan perempuan menyodorkan sebuah daftar menu. Entah sudah berapa kali ia bolak-balik ke mejaku menawarkan menu yang disediakan di café ini. Dan dari balik sorot tatapannya itu, sepertinya ia menanam perasaan kesal padaku. “Nanti saja du lu jangan sekarang. Aku masih menunggu seseorang yang akan datang.” jawabku mengelak sedikit malu, “Kalau boleh, ambilkan saja untukku segelas air putih lagi,” lanjutku kembali dengan rona wajah yang lebih merah dari biasanya. “Mohon tunggu sebentar.” jawabnya sedikit ketus. Pesanan datang. Entah gelas keberapa air yang kuteguk ini. Rasanya hambar seperti suasana mejaku sekarang. Aku membayangkan, pasti perasaan aneh seperti ini akan terasa berbeda bila lelaki yang kutunggu itu datang dengan membawa sebuah senyuman di bibirnya. Orang-orang di sekitarku mulai menatapku seperti melecehkan. Aku seolah menjadi orang asing yang dilucuti dan dipermalukan. Aku merasa mereka telah menganggapku seorang perempuan tolol karena telah dikhianati oleh janji busuk seorang lelaki. Tak terasa, waktu di jam tanganku telah menunjukan pukul sembilan malam. Ternyata kini lelaki yang tengah kutunggu kedatangannya itu telah membuat hatiku berharap cemas selama satu jam tepat. Berarti ia telah melakukan suatu kesalahan besar dengan membiarkan aku teronggok sendirian seperti potongan bangkai yang dipatuk paruh runcing burung-burung nazar. Hatiku panas. Ingin sekali aku meludahi wajahnya yang berbentuk tirus itu, sebab kurasa bahwa menunggu adalah suatu hal paling menyebalkan di dunia ini. Andaikan saja sekarang ia datang secara tak terduga, pastinya aku bakalan memaafkan kesalahannya itu dengan perasaan sangat rumit. Mungkin sebuah keterlambatan bisa meluluhkan suasana pertemuan yang menyebalkan, ketimbang tidak datang sama sekali tanpa kabar yang jelas. Ah, akan tetapi, mengharapkan suatu hal yang tak jelas pun sama menyebalkannya. Ia memang tak jelas apakah bakalan datang atau tidak. Dan mungkin sekaranglah waktu yang tepat untuk aku beranjak meninggalkan suasana café menyebalkan ini. Tapi, tiba-tiba seorang lelaki berkemaja biru motif kotak-kotak datang ke mejaku, dan duduk berhadapan saling menatap denganku. “Apakah aku boleh duduk di sini?” tanya le laki itu. “Perkenalkan, namaku Ardi.” lanjutnya sambil menyodorkan telapak tangan mengajak bersalaman ke arahku. Ah, rupanya ia memiliki nama yang sama dengan nama seorang lelaki yang sedang kutunggu. Wajahnya pun hampir mirip. Apa mungkin mereka berdua saudara kembar? Tak mungkin, ia tak pernah menceritakan bila ia pernah memiliki saudara kembar. Kebetulan yang sangat luar biasa. Tidak. Tak ada yang namanya kebetulan di dunia ini, sebab dalam kehidupan semuanya telah diatur di dalam sebuah takdir, meski kita pun ditakdirkan untuk mengubah takdir kita masing-masing.“ Maaf, tapi sekarang sudah saatnya aku untuk pulang.” Nelva Kirana N
  • 3.
    “Loh, kenapa buru-buru?Aku dengar tadi katanya kamu sedang menunggu seorang lelaki. Bukankah ia belum datang?” “Entahlah, mungkin ia tak bakalan datang menemuiku.” “Bodoh sekali le laki itu, membiarkan perempuan cantik sepertimu duduk di café ini sendirian.” katanya sambil mengulum senyum. Entah itu sebuah kalimat pujian atau sebuah hinaan karena ia mungkin telah mengetahui kalau aku termakan janji busuk seorang lelaki, tapi yang jelas aku menyukai cara ungkapannya yang menurutku teramat jujur. Harus kuakui, ia memiliki wajah yang polos, dan aku pun memang berparas cantik. Menurut semua teman-temanku, aku adalah seorang perempuan berpenampilan anggun. Aku memiliki sepasang mata bulat dan bening, belahan bibir merah bagaikan capit kepiting, hidung mancung dan tampak kecil, lalu wajah kuning langsat sewarna buah pisang yang telah matang. “Kalau aku boleh jujur, aku tak bakalan membiarkanmu duduk sendirian.” katanya lagi. “Tapi maaf, aku tidak terlalu menyukai le laki yang jujur. Terlihat sangat murahan!” kataku sambil berlalu meninggalkannya. Nelva Kirana N *** Dear diary… Malam ini perasaanku tidak seperti hari kemarin. Hari kemarin sangat menyenangkan karena bisa membuat hatiku berbunga-bunga. Tapi apa boleh buat, bunga hati ini kini telah layu, sebab sang kumbang pujaanku tak kunjung datang untuk menghisap sari madu yang tumbuh di dalam bunga yang berbentuk hati ini. Aku tak tahu, apakah ia sengaja membohongiku, atau memang benar-benar lupa soal janji pertemuannya denganku. Tapi yang jelas, ia telah membuat hatiku remuk redam. Aku tak ingin kejadian malam ini terulang kembali di hari berikutnya. Semoga saja. *** Jam sebelas malam. Café tempat yang kujanjikan untuk menemui seorang perempuan telah tutup. Jalanan terlihat sepi. Hanya sesekali pengendara jalan yang lewat. Aku tahu, kalau perempuan itu telah pulang meninggalkan café ini sambil menahan perasaan kecewa. Ia mungkin saja mengutukku dengan sebutan seorang lelaki pembohong. Ah, andaikan saja ia mengetahui bahwa tadi aku sempat ditimpa sebuah kecelakaan, mungkin ia akan memaklumi kesalahanku. Sebelumnya, pada saat jam tujuh malam tadi, sebenarnya aku sudah bersiap-siap untuk berangkat menuju café ini. Tidak seperti pada malam-malam biasanya, malam ini aku sengaja mengenakan kemeja berwarna biru motif kotak-kotak dan celana jeans hitam panjang. Setidaknya dengan berpenampilan elegan seperti itu, mungkin aku bisa meraih hatinya dan ia akan terperangah memandangku. Aku selalu ingin tampil sempurna di hadapannya.
  • 4.
    Penampilanku sudah sempurna.Tapi waktu telah menunjukan kalau aku bakalan terlambat. Aku tak ingin suasana kencan pertamaku dengannya tampak tak sempurna hanya gara-gara sebuah keterlambatan. Tak butuh menunggu waktu lama lagi, langsung kupacu motorku secepat mungkin. Jalanan lengang. Kurasakan ada sebuah getaran dari dalam kantong celanaku. Sepertinya dering ponselku berbunyi. Ternyata dari tadi aku telah mendapatkan berpuluh-puluh kiriman pesan singkat. Ah, itu pesan dari seorang perempuan yang tengah gelisah menanti kedatanganku. Sedang dimana kau sekarang? Sudah hampir setengah jam lebih aku menunggumu. Kalau memang kau tak bakalan datang, mungkin sebaiknya aku pulang saat ini juga. Begitu isi salah satu pesan singkatnya yang sempat kubaca. Tanpa memikirkan apa pun, sambil memacu motorku, aku mencoba membalas pesannya itu. Aku tak ingin ia merasa kesal karena terlalu lama menungguku, hanya karena sebuah keterlambatan. Belum sempat aku mengirimkan balasan atas puluhan pesannya itu, tiba-tiba saja, tanpa sepenglihatanku, dari arah berlawanan, sebuah truk besar sudah berada di dalam jalur jalan yang kugunakan. Aku tak sempat menghindar dan membelokan motorku untuk menghindari tabrakan dengan truk yang salah mengambil jalur. Tapi dari semua yang aku ingat, setelah kecelakaan yang tak bisa terhindarkan itu, aku merasakan ruhku melayang dengan dua buah sayap di belakang punggungku menuju tempat ini. Café yang kini telah tutup ini. Nelva Kirana N *** Dear diary… Hari pertama di bulan baru. Hari ini aku baru mendapatkan sebuah kabar buruk tentang kematian Ardi, lelaki yang pernah kutunggu kedatangannya dua minggu lalu. Aku baru mengetahuinya setelah salah seorang temanku menceritakan semua kejadian naas itu. Dan, aku pun baru tahu jika Ardi bukanlah seorang lelaki pembohong, karena ia mengalami kecelakaan maut ketika sedang menuju café tempatku menunggu. Meski kini aku telah berbeda dunia dengannya, kuharap ia akan setia menunggu kedatanganku kelak. *** Wajah keduanya pun hampir mirip. Saat ini, aku ingin kembali menemuinya, bertatap muka langsung dengannya. Lama aku menunggu kedatangan lelaki itu, namun harapanku tampaknya tak akan terkabul. Dan kini aku yakin, bahwa ia adalah jiwa seorang lelaki yang sedang kutunggu waktu itu.
  • 5.
    Cerpen 'Catatan SeorangPerempuan yang Menunggu Kekasihnya Datang' memiliki..... Unsur Intrinsik Tema: Percintaan yang sirna Latar:  Latar Tempat: Nelva Kirana N Cafe Aku masih duduk pada salah satu puluhan kursi yang tersedia di café ini. Jalan Jalanan terlihat sepi. Hanya sesekali pengendara jalan yang lewat.  Latar Waktu Malam hari Malam. Malam tanggal pertengahan bulan. Rembulan telah matang menggantung di langit berbintang. Jam tujuh malam Sebelumnya, pada saat jam tujuh malam tadi, sebenarnya aku sudah bersiap-siap untuk berangkat menuju café ini. Jam sebelas malam Jam sebelas malam. Café tempat yang kujanjikan untuk menemui seorang perempuan telah tutup. Hari pertama di bulan baru Hari pertama di bulan baru. Hari ini aku baru mendapatkan sebuah kabar buruk tentang kematian Ardi, lelaki yang pernah kutunggu kedatangannya dua minggu lalu. Dua minggu lalu Hari pertama di bulan baru. Hari ini aku baru mendapatkan sebuah kabar buruk tentang kematian Ardi, lelaki yang pernah kutunggu kedatangannya dua minggu lalu. Alur: Maju Karena jalan cerita dijelaskan secara runtut mulai dari pengenalan latar dan masalah sampai ke konflik dan di akhir cerita terdapat penyelesaian konflik. Penokohan: Lelaki (Ardi) Ceroboh: "Tanpa memikirkan apa pun, sambil memacu motorku, aku mencoba membalas pesannya itu." Perfeksionis:
  • 6.
    "Penampilanku sudah sempurna.Tapi waktu telah menunjukan kalau aku bakalan terlambat. Aku tak ingin suasana kencan pertamaku dengannya tampak tak sempurna hanya gara-gara sebuah keterlambatan." Perempuan Selalu mengeluh: "Apakah malam ini ia telah membatalkan pertemuan secara sepihak dan tak memberikan kabar terlebih dahulu padaku? Sialan! Sia-sia sore tadi aku menguras waktu berjam-jam lamanya sekadar memilih gaun busana yang cocok untuk aku kenakan pada malam ini, atau menghabiskan waktu berdandan hanya untuk sebuah acara pertemuan menyebalkan seperti ini." Mudah berpikiran buruk "Orang-orang di sekitarku mulai menatapku seperti melecehkan. Aku seolah menjadi orang asing yang dilucuti dan dipermalukan. Aku merasa mereka telah menganggapku seorang perempuan tolol karena telah dikhianati oleh janji busuk seorang lelaki." Pelayan Perempuan Kurang sabar menghadapi pelanggan "Mohon tunggu sebentar.” jawabnya sedikit ketus." Sudut Pandang: Campuran Karena Pengarang menempatkan dirinya bergantian dari satu tokoh ke tokoh lainnya dengan sudut pandang yang berbeda-beda menggunakan “Aku” Bukti  Diungkapkan oleh Lelaki (Ardi): Aku tahu, kalau perempuan itu telah pulang meninggalkan café ini sambil menahan perasaan kecewa.  Diungkapkan oleh perempuan: Lama aku menunggu kedatangan lelaki itu, namun harapanku tampaknya tak akan terkabul. Nilai: Nilai Moral "Tanpa memikirkan apa pun, sambil memacu motorku, aku mencoba membalas pesannya itu. Aku tak ingin ia merasa kesal karena terlalu lama menungguku, hanya karena sebuah keterlambatan. Belum sempat aku mengirimkan balasan atas puluhan pesannya itu, tiba-tiba saja, tanpa sepenglihatanku, dari arah berlawanan, sebuah truk besar sudah berada di dalam jalur jalan yang kugunakan. Aku tak sempat menghindar dan membelokan motorku untuk menghindari tabrakan dengan truk yang salah mengambil jalur. Tapi dari semua yang aku ingat, Nelva Kirana N
  • 7.
    setelah kecelakaan yangtak bisa terhindarkan itu, aku merasakan ruhku melayang dengan dua buah sayap di belakang punggungku menuju tempat ini. Café yang kini telah tutup ini." Dari kutipan cerpen tersebut seharusnya kita tidak menggunakan handphone disaat sedang berkendara karena kita bisa tidak fokus dan bisa mengalami kecelakaan seperti yang telah Ardi lakukan. Nilai Perjuangan "Aku tak ingin suasana kencan pertamaku dengannya tampak tak sempurna hanya gara-gara sebuah keterlambatan. Tak butuh menunggu waktu lama lagi, langsung kupacu motorku secepat mungkin. Jalanan lengang." Lelaki tersebut berusaha sebaik mungkin agar kencan pertamanya tidak mengecewakan perempuan yang akan ditemuinya. Amanat  Seharusnya kita sebagai manusia tidak mudah berpikiran buruk akan perilaku seseorang, karena semua hal pasti ada sebabnya.  Kita tidak boleh menggunakan handphone saat sedang berkendara, karena kita akan celaka karena tidak fokus untuk menyetir Unsur Ektrinsik  Latar Kepengarangan Penulis Nelva Kirana N Penulis menjumpai berbagai reaksi masyarakat saat mereka menerima pemberitahuan bahwa ada pesan masuk atau telepon masuk di handphone saat berkendara. Dalam cerpen ini, penulis ingin menginspirasi dan memotivasi orang-orang untuk lebih berhati-hati dalam berkendara. Lebih baik berhenti terlebih dahulu di tepi jalan untuk menjawab atau melihat handphone kita sehingga kita tidak celaka.  Keyakinan Penulis Penulis yakin bahwa kejadian ini banyak ditemui di masyarakat. Banyak orang yang mengalami kecelakaan karena menggunkan handphone disaat berkendara. Oleh karena itu penulis menggambarkan situasi tersebut dalam sebuah cerpen.  Masyarakat Pembaca Pembaca dapat mengambil hikmah dari cerpen ini karena cerpen ini mengandung secuplik masalah dalam berkendara yang ada di masyarakat dan masih banyak orang yang memiliki masalah yang sama dengan cerpen ini.