Budidaya
Tanaman
Cabe dan OPT
YUZINOSFRIS, SP
Penyuluh Pertanian Ahli Madya
Pendahuluan
 Tanaman cabe merah (Capsicum annum L)
merupakan salah satu jenis sayuran yang sangat
penting di Sumbar.
 Tanaman cabe dapat ditanam di dataran rendah
sampai dataran tinggi, pada lahan sawah maupun
tegalan.
 Dimanapun daerahnya di Sumatera Barat di
pastikan akan ditemukan petani bertanam cabe baik
itu skala kecil maupun besar
 Selain memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi,
cabe telah menjadi bumbu utama dalam masakan
orang Minang dan Indonesia secara umum, sehingga
sangat potensial secara ekonomis.
 Pemanfaatan cabe sebagai bumbu masak, bahan
baku berbagai industri makanan, minuman dan
obat-obatan, serta pemasarannya dalam bentuk
segar dan olahan menambah pentingnya komoditas
tersebut untuk diusahakan
 Karena permintaan akan cabe sangat tinggi
dan harga yang menjanjikan semua petani
sangat antusias dan berlomba-lomba dalam
melaksanakan budidaya tanaman cabe.
 Disamping itu tanaman cabe adalah salah
satu jenis tanaman sayuran yang sangat
komplek hama dan penyakitnya, mulai dari
persemaian sampai tanaman dewasa
 Karena mengejar produksi yang tinggi,dan
melindungi tanaman cabe dari serangan hama
dan penyakit, kadang-kadang petani tidak lagi
memperhatikan aspek kesehatan, baik itu aspek
kesehatan terhadap petani itu sendiri,
konsumen, maupun kesehatan lingkungan
 Akibatnya pemakaian bahan kimia sintetis
(pupuk kimia, Zat perangsang tumbuh, dan
pestisida) sangat tinggi dalam budidaya tanaman
cabe.
 Untuk itu sangat perlu panduan budidaya
tanaman cabe yang ramah lingkungan yang
menghasilkan buah cabe yang sehat dan tidak
merusak lingkungan yaitu dengan Pengendalian
Hama Terpadu (PHT).
Syarat tumbuh
• Cabe mempunyai daya adaptasi yang
cukup luas. mulai dataran rendah s/d
dataran tinggi sampai ketinggian 1400
mdpl.
• Suhu 25° – 27°C pada siang hari dan 18°
– 20°C pada malam hari, Curah hujan
sekitar 600 – 1200 mm per tahun.
• Dapat tumbuh pada berbagai jenis
tanah asal drainase, aerasi tanah cukup
baik dan air tersedia, Tingkat
kemasaman (pH) tanah yg sesuai
adalah 6
Benih bermutu baik
 Terjaminnya benih yang digunakan tersebut murni
secara genetik, sehat, seragam, daya tumbuhnya baik
dan mempunyai daya adaptasi yang baik di wilayah
yang akan ditanami serta berproduksi tinggi.
 Benih/biji berasal dari tanaman induk yang sehat
dan buah lebat, bentuk buah normal, bewarna
merah sempurna dan diambil dari panen ke 4 – 8.
Selanjunya dari buah tersebut yang diambil biji
untuk benih adalah bagian tengah (1/4 bagian dari
tampuk buah dan 1/3 dari bagian bawah tidak
dipakai).
PHT Pada Tanaman Cabe
 Fase sebelum Semai
 Fase Persemaian
 Fase tanaman dilapangan
Fase Sebelum Semai
1. Pengaturan pola tanam.
 Lahan yang digunakan untuk tanaman cabe
tidak berasal dari bekas tanaman solanase
lainnya seperti tanaman tomat, kentang, kacang
tanah, tembakau, dll, apalagi tanaman cabe.
 Tujuannya adalah agar OPT yang ada pada
pertanaman sebelumnya tidak pindah pada
tanaman cabe.
2. Sanitasi lahan.
 Semua tanaman gulma babadotan (Ageratum
conyzoides) yang menjadi inang penyakit virus
kuning yang ada dilahan dan disekitar lahan
dicabut dan dibenamkan kedalam tanah atau
dibakar.
 Sanitasi dilakukan bukan sekali saja, tetapi
setiap kali ditemukan gulma babadotan segera
dicabut dan dimusnahkan.
Gulma babadotan (Ageratum conyzoides)
3. Persemaian
a.Media tanam : campuran 3 karung tanah, 2 karung
pupuk kandang dan 1 kg Trichoderma, aduk rata lalu
masukan kedalam polibek, biarkan 1 minggu
Di semai di polibek(plastik hitam, bunbunan
daun pisang, botol aqua gelas, plastik es), tanam 2 biji
b.Semai pada bedengan yang lebar 1-1,2 meter,
panjang 4 meter diberi pupuk kandang 2 karung + 1
kg trichoderma atau trichokompos 1 karung, aduk
rata dan biarkan 1 minggu. Lakukan penyemaian
berbentuk barisan, lalu ditutup dengan lapisan tanah
halus.
c.Sebelum biji disemai, baik untuk dipolibek maupun
bedengan direndam dulu dalam air hangat suam-suam
kuku ( 50o
C ) selama 1 jam, jika ada biji yang terapung,
buanglah!
d.Biji yang bernas ditiriskan dengan kain kasa dan biarkan
lagi selama 1 malam, lalu segera rendam dengan PGPR/Pf
(Plant Growth Promoting Rhizobacteria) yaitu bakteri
pemacu pertumbuhan selama lebih kurang 15 menit.
e.Untuk mencegah bibit tertular virus kuning maka
bedengan persemaian atau polibek/bak persemaian
diberi naungan/kurungan dg kain sifon.
f. Lakukan penyiraman, penyiangan serta pengendalian
OPT
Persemaian terisolasi (jauh dari lahan yang terserang OPT).
 Tujuannya adalah untuk menghindari
kontaminasi dengan kutu kebul., dan OPT
lainnya.
4. Persiapan lahan
 Pembersihan lahan dari sisa tanaman dan sampah, gemburkan
lahan dengan cara mencangkul sampai kedalaman 30 – 40 cm,
kemudian lahan dibiarkan terkena sinar matahari selama 2 (dua)
minggu.
 lahan kering/tegalan, pembuatan bedengan dengan lebar 1 – 1,2
m, tinggi 30 cm dengan jarak antar bedengan 80 cm dan panjang
sesuai kondisi.
 Lubang tanam dengan jarak 50 cm x 60 cm, pada tiap bedengan
terdapat 2 baris tanam.
 lahan sawah, pembuatan bedengan dengan lebar 1,5 m dan antar
bedengan dibuat parit sedalam 60 cm dan lebar 50 cm, tanah diatas
bedengan dicangkul sampai gembur.
 Lubang tanam dengan jarak 50 cm x 60 cm, pada tiap bedengan
terdapat 2 baris tanam.
 Pengapuran, apabila kondisi pH tanah kurang dari 6,0 dengan
kaptan/dolomit sebanyak 1,5 ton/ha yang diberikan bersamaan
dengan pengolahan tanah (1 bulan sebelum tanaman).
 Disekeliling lahan dibuat bedengan dengan lebar 1 m untuk
ditanam barrier jagung secara zigzag, sebanyak 3 baris tahap I
yang ditanam bersamaan saat semai benih cabe dan setelah 3
minggu ditanam lagi 3 baris bagian dalam dari tahap I Fungsi
tanaman jagung ini sebagai barrier atau pagar. Tanaman ini juga
dapat diganti dengan tanaman terong bagi daerah yang
bermasalah dengan hama tanaman jagung.
 Pemupukan dasar, diberikan dalam bentuk pupuk kandang sapi
20 ton/ha ditambah 250 kg Trichoderma/ha atau Trichokompos 5
ton/ha yang sudah matang sekitar 2 minggu sebelum tanam.
Pupuk anorganik N, P, K diberikan 5 hari atau 1 minggu sebelum
tanam dengan cara ditebar, disiram lalu ditutup mulsa.
 Pemasangan mulsa plastik hitam perak dengan lebar 90 – 120 cm
Pembuatan lubang tanam pada mulsa berdiameter 10 cm
Menanam tanaman border/barrier.
 Disekeliling lahan tanaman cabe ditanam tanaman
jagung minimal sebanyak 4 -6 baris dengan jarak
tanam (20 cm x 20 cm) yang ditanam secara zigzag.
 Tanaman jagung telah ditanam dilahan 3 minggu
sebelum tanaman cabe ditanam dilahan. Kalau bisa
jenis jagung yang ditanam adalah jagung hibrida.
 Tanaman jagung adalah salah satu jenis tanaman
yang tidak disukai oleh kutu kebul.
 Disamping itu tanaman jagung adalah salah satu
jenis anaman yang disukai oleh kumbang coccinelid
dari spesies Menochillus sexmaculatus yang
merupakan predator dari kutu kebul.

Pengolahan tanah dan pembuatan gulutan untuk border
Tanaman jagung tahap
kedua juga dibuat 3 lapis
25
JAGUNG DITANAM SECARA ZIGZAG
BORDER JAGUNG
POLEN
POLEN
MENGUNDANG
MENGUNDANG
MUSUH ALAMI
MUSUH ALAMI
KUTU KEBUL
KUTU KEBUL
Jagung sebagai
border
masih dapat dipanen/
menghasilkan
4.3.2. Penanaman tanaman perangkap dan perangkap kuning
 Bersamaan dengan penanaman tanaman penghambat, didalam
lahan ditanam tanaman perangkap yaitu tanaman yang disukai
oleh kutu kebul tetapi tidak menjadi inang penyakit virus
kuning seperti tanaman bunga tahi ayam (Tagetes sp),
diharapkan sewaktu tanaman cabe telah pindah kelapangan ,
bunga Tagetes sp telah mengeluarkan bunga warna kuning.
 Bunga Tagetes sp selain berfungsi memerangkap kutu kebul
juga sekaligus dapat membubuh kutu kebul yang
terperangkap.Bunga Tagetes sp dapat ditanam disekeliling
lahan setelah tanaman jagung, juga dapat ditanam pada tiap-
tiap ujung bedengan dan ditengah bedengan. Untuk menambah
keefektifan penangkapan kutu kebul, dapat ditambah dengan
beberapa perangkap kuning (yellow trap).
Penanaman tan. perangkap
(Tagetes sp)
Penggunaan Perangkap Kuning
–Perangkap kuning diletakkan 30 cm
di atas permukaan kanopi
Tumpangsari
 Dari pengamatan lapangan, ternyata tanaman cabe
yang ditanam secara tumpangsari lebih rendah intensitas
penyakit virus kuningnya bila dibandingkan dengan
tanaman cabe yang ditanam secara monokultur.
 Banyak jenis tanaman yang bisa digunakan untuk
tumpangsari seperti tanaman kubis,bawang merah,
bawang putih, bawang daun kacang tanah dan lain-lain.
 Tumpangsari tanman cabe dengan kubis, dapat
menurunkan populasi kutu kebul sampai 60,70 %
dibandingkan kontrol. Yang penting yang harus diingat
adalah tanaman pencampur/tanaman tumpangan tidak
menjadi inang penyakit virus kuning.
Tumpang Sari cabe denan kubis
Tumpang Sari cabe bawang daun dan sawi
Tumpangsari dengan terung (6:1)
Akibat Tanaman Cabe Monokultur dan
tanpa barrier
 5. Pemupukan
 Pupuk buatan/anorganik (N, P, K) Za 200 s/d
300 kg/ha, TSP atau SP-36 100 s/d 150 kg/ha, ZK
atau KCl 150 s/d 200 kg/ha sebagai pupuk dasar
 Pupuk Za 100 s/d 150 kg/ha dan NPK 30 kg/ha
sebagai pupuk susulan dan dicairkan 1,5 kg
dalam 25 liter air untuk 1.000 batang umur 3,6
dan 9 minggu setelah tanam. Untuk
menambah hara Ca dan Mg dengan pemberian
kapur dolomit dan unsur hara mikro dari
pupuk daun.
6. Penanaman
 Benih dipindahkan setelah berumur 3–4 minggu sejak semai atau
sudah mempunyai 4–6 helai daun dengan tinggi 5 –10 cm.
 Benih cabe sebelum tanam celup akar dengan larutan PGPR/Pf
(Plant Growth Promoting Rhizobacteria) yaitu bakteri pemacu
pertumbuhan selama lebih kurang 15 menit, tanam sore hari
 Tanam benih sebatas leher akar atau pada pangkal batang tanpa
mengikut sertakan batangnya dan daun pertama tidak dibuang,
lalu siram.
7. Pemasangan Ajir
 Dilakukan 7 hst, dengan jarak 10 cm dari tanaman, ikat dg rafia
30 – 40 hst
8. Perempelan
 Perempelan tunas air di ketiak daun dimulai 10-12 hst dataran
rendah dan 15-20 hst di dataran tinggi
9. Pengarian
 Menjamin ketersediaan air sesuai kebutuhan
10. Pengendalian OPT
Tujuan :
untuk menghindari kerugian ekonomi berupa
kehilangan hasil, mutu, kesehatan tanaman, kelestarian
lingkungan hidup dan keamanan produksi.
Bahan : Agens hayati, ramuan nabati atau pestisida
(insektisida, fungisida, herbisida) yang terdaftar dan diizinkan
Prosedur : pengamatan secara berkala ( 2 kali seminggu),
dimana 0,1 Ha diambil tanaman sampel 10 tanaman secara
acak mewakili.
Identifikasi gejala serangan, jenis OPT dan Musuh
Alami, perkirakan OPT yang harus diwaspadai.
:
Permasalahan OPT Cabe
1. Pengisap : Kutu daun, trips, tungau dan kutu kebul (vector penyakit
virus kuning
Berada dipermukaan bawah daun, daun muda dan tunas.
Menyebabkan daun tidak normal, keriting atau keriput dan akhirnya
mati.
Pengendalian :
 Secara kultur teknis (menggunakan mulsa plastik, memasang likat kuning, membakar
gulma terserang)
 Biopestisida : Agens hayati (Beauveria), pestisida nabati (ramuan daun-daunan seperti
daun surian), Roma (Ramuan organik Hama), dll
 Kimia : insektisida (sistemik atau kontak, apabila hasil pengamatan intensitas 15 % ) bila
diserang kutu daun atau thrips
 Akarisida untuk tanaman terserang tungau
2. Layu : Disebabkan Bakteri dg gejala layu dimulai dari pucuk
daun,menjalar keseluruh bagian tanaman.
1. Disebabkan cendawan dengan gejala layu dimulai dari bagian
bawah dan anak tulang daun menjadi menguning, jaringan akar dan
batang menjadi coklat.
Pengendalian :
Eradikasi tanaman terserang, cabut dan manfaatkan
mikroba antagonis dan untuk layu oleh cendawankan dilakukan juga
perbaikan pengairan.
3. Menyerang buah
Busuk kering buah oleh Antraknose (Colletotrichum
capsici)
Busuk basah buah oleh lalat buah (Bactocera sp)
Pengendalian : Buah terserang musnahkan dan kendalikan dengan
fungisida dan untuk lalat buah maka pasang perangkap methyl
eugenol.
OPT Penting Pada Tanaman Cabe
 Beberapa gejala serangan Hama.
 Beberapa gejala serangan penyakit .
Gejala Rebah Kecambah oleh cendawan
tanah
Gejala Rebah Kecambah
Busuk Pangkal Batang Sclerotium
Cendawan Sclerotium Pada
Pangkal Batang
Gejala mati ranting oleh Colletotrichum
Antraknosa (Busuk kering)
Gejala penyakit sentik pada cabang/ranting
Cendawan penyebab sentik Choanephora
cucurbitarum
Gejala layu Fusarium di lapang (terlihat
penguningan tajuk)
Gejala layu bakteri/mati gadis
(Pseudomonas solanacearum)
Warna coklat pada pembuluh akibat
serangan Fusarium
Kerusakan oleh kutu daun
Gejala serangan tungau
 Cabe terserang hama tungau
Kutu daun
 Gambar kutu daun
Gejala serangan tungau pada permukaan
bawah daun
Hama tungau
Serangan Tungau Pada Buah
Gejala serangan Thrips pada bunga dan
daun
Bercak daun Cercospora
Gejala buah cabe terserang hama
lalat buah (Busuk basah)
Virus kuning
KUTU KEBUL
KUTU KEBUL
SEBAGAI
SEBAGAI
VEKTOR
VEKTOR
GEJALA
SERANGAN
VIRUS KUNING
Aplikasi agens hayati.
 Aplikasi agens hayati ditujukan untuk
mengendalikan vektor kutu kebul.
 Agens hayati yang diaplikasikan adalah dari
jenis entopatogen yaitu Beauveria bassiana.
 Aplikasi dilakukan sebaiknya sebelum serangga
aktif terbang yaitu dibawah jam 8 pagi.
Pembuatan Insektisida Nabati Untuk Bemisia sp
 Bahan : Daun Mimba 8 kg
Lengkuas 6 kg
Serai wangi 6 kg
Diterjen 20 gr
Air 20 l
 Cara Membuat :
Daun mimba, lengkuas dan serai wangi di tumbuk
atau dihaluskan. Seluruh bahan diaduk merata
dalam 20 l air lalu direndam sehari semalam (24
jam). Keesokan harinya larutan disaring dengan kain
halus. Larutan hasil penyaringan diencerkan, setiap
1 l rendaman dengan 30 l air. Didapatkan Larutan
sebanyak 600 l untuk lahan seluas 1 ha.
Ramuan untuk mengendalikan Bemisia sp
pada tanaman cabai
 Bahan :
Daun Tembakau 50 – 100 lembar
Diterjen atau sabun colek 15 gr.
Air 5 l
 Cara Membuat
Daun Tembakau ditumbuk halus dicampur dengan 5 l
air dan diendapkan semalam. Keesokan harinya larutan
disring dengan kain halus. Setiap 1l larutan hasil
saringan diencerkan dengan 10 – 15 l air.
Ramuan untuk mengendalikan Bemisia sp
pada tanaman cabai
 Bahan :
Daun Sirsak 50 – 100 lembar
Diterjen atau sabun colek 15 gr.
Air 5 l
 Cara Membuat
Daun sirsak ditumbuk halus dicampur dengan 5 l air
dan diendapkan semalam. Keesokan harinya larutan
disring dengan kain halus. Setiap 1l larutan hasil
saringan diencerkan dengan 10 – 15 l air.
Aplikasi Pestisida
Langkah terakhir.
Tepat Sasaran
Tepat jenis
Tepat dosis
Tepat cara
Tepat waktu.
Tepat Mutu
Terima kasih…

BUDIDAYA CABE & OPT_Suardi BPTPH Sumbar.ppt

  • 1.
    Budidaya Tanaman Cabe dan OPT YUZINOSFRIS,SP Penyuluh Pertanian Ahli Madya
  • 2.
    Pendahuluan  Tanaman cabemerah (Capsicum annum L) merupakan salah satu jenis sayuran yang sangat penting di Sumbar.  Tanaman cabe dapat ditanam di dataran rendah sampai dataran tinggi, pada lahan sawah maupun tegalan.  Dimanapun daerahnya di Sumatera Barat di pastikan akan ditemukan petani bertanam cabe baik itu skala kecil maupun besar
  • 3.
     Selain memilikikandungan gizi yang cukup tinggi, cabe telah menjadi bumbu utama dalam masakan orang Minang dan Indonesia secara umum, sehingga sangat potensial secara ekonomis.  Pemanfaatan cabe sebagai bumbu masak, bahan baku berbagai industri makanan, minuman dan obat-obatan, serta pemasarannya dalam bentuk segar dan olahan menambah pentingnya komoditas tersebut untuk diusahakan
  • 4.
     Karena permintaanakan cabe sangat tinggi dan harga yang menjanjikan semua petani sangat antusias dan berlomba-lomba dalam melaksanakan budidaya tanaman cabe.  Disamping itu tanaman cabe adalah salah satu jenis tanaman sayuran yang sangat komplek hama dan penyakitnya, mulai dari persemaian sampai tanaman dewasa
  • 5.
     Karena mengejarproduksi yang tinggi,dan melindungi tanaman cabe dari serangan hama dan penyakit, kadang-kadang petani tidak lagi memperhatikan aspek kesehatan, baik itu aspek kesehatan terhadap petani itu sendiri, konsumen, maupun kesehatan lingkungan
  • 6.
     Akibatnya pemakaianbahan kimia sintetis (pupuk kimia, Zat perangsang tumbuh, dan pestisida) sangat tinggi dalam budidaya tanaman cabe.  Untuk itu sangat perlu panduan budidaya tanaman cabe yang ramah lingkungan yang menghasilkan buah cabe yang sehat dan tidak merusak lingkungan yaitu dengan Pengendalian Hama Terpadu (PHT).
  • 7.
    Syarat tumbuh • Cabemempunyai daya adaptasi yang cukup luas. mulai dataran rendah s/d dataran tinggi sampai ketinggian 1400 mdpl. • Suhu 25° – 27°C pada siang hari dan 18° – 20°C pada malam hari, Curah hujan sekitar 600 – 1200 mm per tahun. • Dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah asal drainase, aerasi tanah cukup baik dan air tersedia, Tingkat kemasaman (pH) tanah yg sesuai adalah 6
  • 8.
    Benih bermutu baik Terjaminnya benih yang digunakan tersebut murni secara genetik, sehat, seragam, daya tumbuhnya baik dan mempunyai daya adaptasi yang baik di wilayah yang akan ditanami serta berproduksi tinggi.  Benih/biji berasal dari tanaman induk yang sehat dan buah lebat, bentuk buah normal, bewarna merah sempurna dan diambil dari panen ke 4 – 8. Selanjunya dari buah tersebut yang diambil biji untuk benih adalah bagian tengah (1/4 bagian dari tampuk buah dan 1/3 dari bagian bawah tidak dipakai).
  • 10.
    PHT Pada TanamanCabe  Fase sebelum Semai  Fase Persemaian  Fase tanaman dilapangan
  • 11.
    Fase Sebelum Semai 1.Pengaturan pola tanam.  Lahan yang digunakan untuk tanaman cabe tidak berasal dari bekas tanaman solanase lainnya seperti tanaman tomat, kentang, kacang tanah, tembakau, dll, apalagi tanaman cabe.  Tujuannya adalah agar OPT yang ada pada pertanaman sebelumnya tidak pindah pada tanaman cabe.
  • 12.
    2. Sanitasi lahan. Semua tanaman gulma babadotan (Ageratum conyzoides) yang menjadi inang penyakit virus kuning yang ada dilahan dan disekitar lahan dicabut dan dibenamkan kedalam tanah atau dibakar.  Sanitasi dilakukan bukan sekali saja, tetapi setiap kali ditemukan gulma babadotan segera dicabut dan dimusnahkan.
  • 13.
  • 14.
    3. Persemaian a.Media tanam: campuran 3 karung tanah, 2 karung pupuk kandang dan 1 kg Trichoderma, aduk rata lalu masukan kedalam polibek, biarkan 1 minggu Di semai di polibek(plastik hitam, bunbunan daun pisang, botol aqua gelas, plastik es), tanam 2 biji b.Semai pada bedengan yang lebar 1-1,2 meter, panjang 4 meter diberi pupuk kandang 2 karung + 1 kg trichoderma atau trichokompos 1 karung, aduk rata dan biarkan 1 minggu. Lakukan penyemaian berbentuk barisan, lalu ditutup dengan lapisan tanah halus.
  • 15.
    c.Sebelum biji disemai,baik untuk dipolibek maupun bedengan direndam dulu dalam air hangat suam-suam kuku ( 50o C ) selama 1 jam, jika ada biji yang terapung, buanglah! d.Biji yang bernas ditiriskan dengan kain kasa dan biarkan lagi selama 1 malam, lalu segera rendam dengan PGPR/Pf (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) yaitu bakteri pemacu pertumbuhan selama lebih kurang 15 menit. e.Untuk mencegah bibit tertular virus kuning maka bedengan persemaian atau polibek/bak persemaian diberi naungan/kurungan dg kain sifon. f. Lakukan penyiraman, penyiangan serta pengendalian OPT
  • 18.
    Persemaian terisolasi (jauhdari lahan yang terserang OPT).  Tujuannya adalah untuk menghindari kontaminasi dengan kutu kebul., dan OPT lainnya.
  • 19.
    4. Persiapan lahan Pembersihan lahan dari sisa tanaman dan sampah, gemburkan lahan dengan cara mencangkul sampai kedalaman 30 – 40 cm, kemudian lahan dibiarkan terkena sinar matahari selama 2 (dua) minggu.  lahan kering/tegalan, pembuatan bedengan dengan lebar 1 – 1,2 m, tinggi 30 cm dengan jarak antar bedengan 80 cm dan panjang sesuai kondisi.  Lubang tanam dengan jarak 50 cm x 60 cm, pada tiap bedengan terdapat 2 baris tanam.  lahan sawah, pembuatan bedengan dengan lebar 1,5 m dan antar bedengan dibuat parit sedalam 60 cm dan lebar 50 cm, tanah diatas bedengan dicangkul sampai gembur.  Lubang tanam dengan jarak 50 cm x 60 cm, pada tiap bedengan terdapat 2 baris tanam.  Pengapuran, apabila kondisi pH tanah kurang dari 6,0 dengan kaptan/dolomit sebanyak 1,5 ton/ha yang diberikan bersamaan dengan pengolahan tanah (1 bulan sebelum tanaman).
  • 20.
     Disekeliling lahandibuat bedengan dengan lebar 1 m untuk ditanam barrier jagung secara zigzag, sebanyak 3 baris tahap I yang ditanam bersamaan saat semai benih cabe dan setelah 3 minggu ditanam lagi 3 baris bagian dalam dari tahap I Fungsi tanaman jagung ini sebagai barrier atau pagar. Tanaman ini juga dapat diganti dengan tanaman terong bagi daerah yang bermasalah dengan hama tanaman jagung.  Pemupukan dasar, diberikan dalam bentuk pupuk kandang sapi 20 ton/ha ditambah 250 kg Trichoderma/ha atau Trichokompos 5 ton/ha yang sudah matang sekitar 2 minggu sebelum tanam. Pupuk anorganik N, P, K diberikan 5 hari atau 1 minggu sebelum tanam dengan cara ditebar, disiram lalu ditutup mulsa.  Pemasangan mulsa plastik hitam perak dengan lebar 90 – 120 cm Pembuatan lubang tanam pada mulsa berdiameter 10 cm
  • 21.
    Menanam tanaman border/barrier. Disekeliling lahan tanaman cabe ditanam tanaman jagung minimal sebanyak 4 -6 baris dengan jarak tanam (20 cm x 20 cm) yang ditanam secara zigzag.  Tanaman jagung telah ditanam dilahan 3 minggu sebelum tanaman cabe ditanam dilahan. Kalau bisa jenis jagung yang ditanam adalah jagung hibrida.  Tanaman jagung adalah salah satu jenis tanaman yang tidak disukai oleh kutu kebul.  Disamping itu tanaman jagung adalah salah satu jenis anaman yang disukai oleh kumbang coccinelid dari spesies Menochillus sexmaculatus yang merupakan predator dari kutu kebul. 
  • 22.
    Pengolahan tanah danpembuatan gulutan untuk border
  • 23.
    Tanaman jagung tahap keduajuga dibuat 3 lapis
  • 25.
  • 26.
  • 28.
  • 29.
    Jagung sebagai border masih dapatdipanen/ menghasilkan
  • 30.
    4.3.2. Penanaman tanamanperangkap dan perangkap kuning  Bersamaan dengan penanaman tanaman penghambat, didalam lahan ditanam tanaman perangkap yaitu tanaman yang disukai oleh kutu kebul tetapi tidak menjadi inang penyakit virus kuning seperti tanaman bunga tahi ayam (Tagetes sp), diharapkan sewaktu tanaman cabe telah pindah kelapangan , bunga Tagetes sp telah mengeluarkan bunga warna kuning.  Bunga Tagetes sp selain berfungsi memerangkap kutu kebul juga sekaligus dapat membubuh kutu kebul yang terperangkap.Bunga Tagetes sp dapat ditanam disekeliling lahan setelah tanaman jagung, juga dapat ditanam pada tiap- tiap ujung bedengan dan ditengah bedengan. Untuk menambah keefektifan penangkapan kutu kebul, dapat ditambah dengan beberapa perangkap kuning (yellow trap).
  • 31.
  • 32.
    Penggunaan Perangkap Kuning –Perangkapkuning diletakkan 30 cm di atas permukaan kanopi
  • 33.
    Tumpangsari  Dari pengamatanlapangan, ternyata tanaman cabe yang ditanam secara tumpangsari lebih rendah intensitas penyakit virus kuningnya bila dibandingkan dengan tanaman cabe yang ditanam secara monokultur.  Banyak jenis tanaman yang bisa digunakan untuk tumpangsari seperti tanaman kubis,bawang merah, bawang putih, bawang daun kacang tanah dan lain-lain.  Tumpangsari tanman cabe dengan kubis, dapat menurunkan populasi kutu kebul sampai 60,70 % dibandingkan kontrol. Yang penting yang harus diingat adalah tanaman pencampur/tanaman tumpangan tidak menjadi inang penyakit virus kuning.
  • 34.
    Tumpang Sari cabedenan kubis
  • 35.
    Tumpang Sari cabebawang daun dan sawi
  • 36.
  • 37.
    Akibat Tanaman CabeMonokultur dan tanpa barrier
  • 38.
     5. Pemupukan Pupuk buatan/anorganik (N, P, K) Za 200 s/d 300 kg/ha, TSP atau SP-36 100 s/d 150 kg/ha, ZK atau KCl 150 s/d 200 kg/ha sebagai pupuk dasar  Pupuk Za 100 s/d 150 kg/ha dan NPK 30 kg/ha sebagai pupuk susulan dan dicairkan 1,5 kg dalam 25 liter air untuk 1.000 batang umur 3,6 dan 9 minggu setelah tanam. Untuk menambah hara Ca dan Mg dengan pemberian kapur dolomit dan unsur hara mikro dari pupuk daun.
  • 39.
    6. Penanaman  Benihdipindahkan setelah berumur 3–4 minggu sejak semai atau sudah mempunyai 4–6 helai daun dengan tinggi 5 –10 cm.  Benih cabe sebelum tanam celup akar dengan larutan PGPR/Pf (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) yaitu bakteri pemacu pertumbuhan selama lebih kurang 15 menit, tanam sore hari  Tanam benih sebatas leher akar atau pada pangkal batang tanpa mengikut sertakan batangnya dan daun pertama tidak dibuang, lalu siram. 7. Pemasangan Ajir  Dilakukan 7 hst, dengan jarak 10 cm dari tanaman, ikat dg rafia 30 – 40 hst 8. Perempelan  Perempelan tunas air di ketiak daun dimulai 10-12 hst dataran rendah dan 15-20 hst di dataran tinggi 9. Pengarian  Menjamin ketersediaan air sesuai kebutuhan
  • 40.
    10. Pengendalian OPT Tujuan: untuk menghindari kerugian ekonomi berupa kehilangan hasil, mutu, kesehatan tanaman, kelestarian lingkungan hidup dan keamanan produksi. Bahan : Agens hayati, ramuan nabati atau pestisida (insektisida, fungisida, herbisida) yang terdaftar dan diizinkan Prosedur : pengamatan secara berkala ( 2 kali seminggu), dimana 0,1 Ha diambil tanaman sampel 10 tanaman secara acak mewakili. Identifikasi gejala serangan, jenis OPT dan Musuh Alami, perkirakan OPT yang harus diwaspadai. :
  • 41.
    Permasalahan OPT Cabe 1.Pengisap : Kutu daun, trips, tungau dan kutu kebul (vector penyakit virus kuning Berada dipermukaan bawah daun, daun muda dan tunas. Menyebabkan daun tidak normal, keriting atau keriput dan akhirnya mati. Pengendalian :  Secara kultur teknis (menggunakan mulsa plastik, memasang likat kuning, membakar gulma terserang)  Biopestisida : Agens hayati (Beauveria), pestisida nabati (ramuan daun-daunan seperti daun surian), Roma (Ramuan organik Hama), dll  Kimia : insektisida (sistemik atau kontak, apabila hasil pengamatan intensitas 15 % ) bila diserang kutu daun atau thrips  Akarisida untuk tanaman terserang tungau
  • 42.
    2. Layu :Disebabkan Bakteri dg gejala layu dimulai dari pucuk daun,menjalar keseluruh bagian tanaman. 1. Disebabkan cendawan dengan gejala layu dimulai dari bagian bawah dan anak tulang daun menjadi menguning, jaringan akar dan batang menjadi coklat. Pengendalian : Eradikasi tanaman terserang, cabut dan manfaatkan mikroba antagonis dan untuk layu oleh cendawankan dilakukan juga perbaikan pengairan. 3. Menyerang buah Busuk kering buah oleh Antraknose (Colletotrichum capsici) Busuk basah buah oleh lalat buah (Bactocera sp) Pengendalian : Buah terserang musnahkan dan kendalikan dengan fungisida dan untuk lalat buah maka pasang perangkap methyl eugenol.
  • 43.
    OPT Penting PadaTanaman Cabe  Beberapa gejala serangan Hama.  Beberapa gejala serangan penyakit .
  • 44.
    Gejala Rebah Kecambaholeh cendawan tanah
  • 45.
  • 46.
  • 47.
  • 48.
    Gejala mati rantingoleh Colletotrichum
  • 49.
  • 50.
    Gejala penyakit sentikpada cabang/ranting
  • 51.
    Cendawan penyebab sentikChoanephora cucurbitarum
  • 52.
    Gejala layu Fusariumdi lapang (terlihat penguningan tajuk)
  • 53.
    Gejala layu bakteri/matigadis (Pseudomonas solanacearum)
  • 54.
    Warna coklat padapembuluh akibat serangan Fusarium
  • 55.
  • 56.
    Gejala serangan tungau Cabe terserang hama tungau
  • 57.
  • 58.
    Gejala serangan tungaupada permukaan bawah daun
  • 59.
  • 60.
  • 61.
    Gejala serangan Thripspada bunga dan daun
  • 62.
  • 63.
    Gejala buah cabeterserang hama lalat buah (Busuk basah)
  • 64.
  • 65.
  • 66.
    Aplikasi agens hayati. Aplikasi agens hayati ditujukan untuk mengendalikan vektor kutu kebul.  Agens hayati yang diaplikasikan adalah dari jenis entopatogen yaitu Beauveria bassiana.  Aplikasi dilakukan sebaiknya sebelum serangga aktif terbang yaitu dibawah jam 8 pagi.
  • 67.
    Pembuatan Insektisida NabatiUntuk Bemisia sp  Bahan : Daun Mimba 8 kg Lengkuas 6 kg Serai wangi 6 kg Diterjen 20 gr Air 20 l  Cara Membuat : Daun mimba, lengkuas dan serai wangi di tumbuk atau dihaluskan. Seluruh bahan diaduk merata dalam 20 l air lalu direndam sehari semalam (24 jam). Keesokan harinya larutan disaring dengan kain halus. Larutan hasil penyaringan diencerkan, setiap 1 l rendaman dengan 30 l air. Didapatkan Larutan sebanyak 600 l untuk lahan seluas 1 ha.
  • 68.
    Ramuan untuk mengendalikanBemisia sp pada tanaman cabai  Bahan : Daun Tembakau 50 – 100 lembar Diterjen atau sabun colek 15 gr. Air 5 l  Cara Membuat Daun Tembakau ditumbuk halus dicampur dengan 5 l air dan diendapkan semalam. Keesokan harinya larutan disring dengan kain halus. Setiap 1l larutan hasil saringan diencerkan dengan 10 – 15 l air.
  • 69.
    Ramuan untuk mengendalikanBemisia sp pada tanaman cabai  Bahan : Daun Sirsak 50 – 100 lembar Diterjen atau sabun colek 15 gr. Air 5 l  Cara Membuat Daun sirsak ditumbuk halus dicampur dengan 5 l air dan diendapkan semalam. Keesokan harinya larutan disring dengan kain halus. Setiap 1l larutan hasil saringan diencerkan dengan 10 – 15 l air.
  • 70.
    Aplikasi Pestisida Langkah terakhir. TepatSasaran Tepat jenis Tepat dosis Tepat cara Tepat waktu. Tepat Mutu
  • 71.