SIKLUS AWAN
PROFIL
PROSES
TERJADINYA AWAN
TENTANG AWAN
BENTUK-BENTUK
AWAN
JENIS-JENIS AWAN
KETINGGIAN AWAN
GAMBAR AWAN
SIKLUS AWAN
PENUTUP
PRESENTASI SIKLUS AWAN
Oleh :
1. Inka Aulia Faradita (12)
2. Listia Tyara Devi (16)
3. Shella Nabilla (26)
4. Stefani Rahayu (27)
 Kondensasi adalah proses dimana uap-uap air berubah menjadi
cairan. Kondensasi merupakan proses yang cukup krusial dalam
siklus air, karena tanpa kondensasi, awan tidak akan
terbentuk. Awan-awan yang terbentuk dari proses ini dapat
menghasilkan hujan, yang merupakan jalan utama air untuk
turun ke permukaan bumi dalam siklus air. Kondensasi
merupakan lawan dari penguapan. Meskipun di langit yang
berwarna biru cerah tidak ditemukan awan, langit masih
mengandung air, dalam bentuk uap air dan titik-titik air yang
terlalu kecil untuk dilihat. Tergantung kepada cuaca, molekul
air akan bergabung dengan partikel-partikel kecil dari debu,
garam, dan asap di udara untuk membentuk titik-titik awan,
yang nantinya akan berkembang menajdi awan, bentuk air yang
dapat kita lihat di langit. Titik-titik air memiliki ukuran yang
bervariasi, mulai dari 10 microns, sampai 1 mm, bahkan ada
yang mencapai 5 mm.
 Proses pembentukan titik-titik awan ini lebih sering terjadi di
langit dimana suhu udaranya lebih dingin, dan banyak terjadi
kondensasi. Selagi titik-titik air bergabung satu sama lain dan
membesar, awan tidak hanya berkembang, tapi hujan juga
mungkin terjadi selagi proses pembentukan awan.
 Tidak hanya secara natural, awan juga dapat dibentuk sendiri
oleh manusia, contohnya adalah hal yang biasa kita sebut
dengan jejak atau "bekas" pesawat. Jejak-jejak pesawat
tersebut sebenarnya tidak jauh beda dengan awan yang
terbentuk secara natural, karena dua-duanya sama-sama
terbentuk melalui kondensasi dan sama-sama berasal dari uap
air. Uap air awan buatan ini berasal dari sisa-sisa pembakaran
dari pesawat yang membentuknya.
TENTANG AWAN
 Awan adalah kumpulan partikel air yang tampak di atmosfer. Partikel
air tersebut dapat berupa tetes cair atau kristal es. Awan sendiri dapat di
klasifikasikan menurut beberapa hal, seperti ketinggian awan, dan
menurut bentuknya.
BENTUK-BENTUK AWAN
 Bentuk awan bermacam macam tergantung dari keadaan
cuaca dan ketinggiannya. Tapi bentuk utamanya ada tiga
jenis yaitu, yang berlapis-lapis dalam bahasa latin disebut
stratus, yang bentuknya berserat-serat disebut cirrus, dan
yang bergumpal-gumpal disebut cumulus (ejaan Indonesia:
stratus, sirus, dan kumulus).
 Di daerah rendah (kurang dari 3.000 m) yang terendah,
awan stratus menutupi puncak gunung yang tidak terlalu
tinggi. Di daerah rendah tengah, awan berbentuk strato-
kumulus, dan yang dekat ketinggian 3.000 m awan
berbentuk kumulus. Awan besar dan tebal di daerah rendah
disebut kumulo-nimbus berpotensi menjadi hujan,
menyebabkan terjadinya guruh dan petir.
 Awan pada ketinggian menengah dapat terbentuk di atas
gunung yang tingginya lebih dari 3.000 m, membentuk
payung di atas puncaknya. Misalnya di atas Gunung
Ciremai (3.078 m), di puncak-puncak pegunungan Jaya
Wijaya di Irian yang tingginya antara 4.000-5.000 m,
bahkan selalu diliputi salju. Demikian juga Gunung Fuji
(3.776 m) puncaknya selalu diliputi salju putih cemerlang
sangat indah. Pada ketinggian menengah ini dapat
terbentuk awan alto-stratus yang berderet-deret, alto
kumulus, dan alto-sirus.
 Bagaimana dengan awan di daerah tinggi (di atas 6.000 m)?
Di sana terbentuk awan siro-stratus yang tampak sebagai
teja di sekitar matahari atau bulan. Juga terbentuk awan siro-
kumulus yang bentuknya berkeping keping terhampar luas.
Juga dapat terbentuk awan sirus yang tipis bertebar seperti
asap.
JENIS-JENIS AWAN
 Stratus
Letaknya rendah, berwarna abu-abu dan pinggirnya bergerigi dan
menghasilkan hujan gerimis salju.
 Kumulus
Letaknya rendah, tidak menyatu / terpisah-pisah. Bagian dasarnya
berwarna hitam dan di atasnya putih. Awan ini biasanya
menghasilkan hujan
 Stratokumulus
Letaknya rendah, berwarna putih atau keabua-abuan. Bentuknya
bergelombang dan tidak membawa hujan.
 Kumulonimbus
Letaknya rendah sperti menara, berwarna putih dan hitam,
membawa badai.
 Nimbostratus
Letaknya tidak terlalu tinggi, gelap, lapisannya pekat, bagian bawah
bergerigi serta membawa hujan atau salju.
 Altostratus
Ketinggian sedang, awan berwarna keabu-abuan, tipis,
mengandung hujan.
 Altokumulus
Ketinggian sedang, putih atau abu-abu, bergulung-gulung atau
melingkar seperti makaroni.
 Sirus
Tinggi, putih atau sebagian besar putih seperti sutra tipis, bergaris-
garis
 Sirostratus
Tinggi, putih seperti cadar, bisa juga seperi untaian, luas menutupi
langit
 Sirokumulus
Tinggi, tebal, putih, terpecah-pecah, mengandung butir-butir es
kecil.
 Stratus, di bawah 450 m
 Kumulus, Stratokumulus dan Kumulonimbus berada di
ketinggian 450 - 2000 m
 Nimbostratus, 900 - 3000 m
 Altostratus dan Altokumulus berada di ketinggian
2000 - 7000m
 Sirus, Sirostratus dan Sirokumulus berada di
ketinggian 5000 - 13.500 m
Siklus awan terdapat dalam siklus hidrologi seperti berikut :
Awan

Awan

  • 1.
    SIKLUS AWAN PROFIL PROSES TERJADINYA AWAN TENTANGAWAN BENTUK-BENTUK AWAN JENIS-JENIS AWAN KETINGGIAN AWAN GAMBAR AWAN SIKLUS AWAN PENUTUP
  • 2.
    PRESENTASI SIKLUS AWAN Oleh: 1. Inka Aulia Faradita (12) 2. Listia Tyara Devi (16) 3. Shella Nabilla (26) 4. Stefani Rahayu (27)
  • 3.
     Kondensasi adalahproses dimana uap-uap air berubah menjadi cairan. Kondensasi merupakan proses yang cukup krusial dalam siklus air, karena tanpa kondensasi, awan tidak akan terbentuk. Awan-awan yang terbentuk dari proses ini dapat menghasilkan hujan, yang merupakan jalan utama air untuk turun ke permukaan bumi dalam siklus air. Kondensasi merupakan lawan dari penguapan. Meskipun di langit yang berwarna biru cerah tidak ditemukan awan, langit masih mengandung air, dalam bentuk uap air dan titik-titik air yang terlalu kecil untuk dilihat. Tergantung kepada cuaca, molekul air akan bergabung dengan partikel-partikel kecil dari debu, garam, dan asap di udara untuk membentuk titik-titik awan, yang nantinya akan berkembang menajdi awan, bentuk air yang dapat kita lihat di langit. Titik-titik air memiliki ukuran yang bervariasi, mulai dari 10 microns, sampai 1 mm, bahkan ada yang mencapai 5 mm.
  • 4.
     Proses pembentukantitik-titik awan ini lebih sering terjadi di langit dimana suhu udaranya lebih dingin, dan banyak terjadi kondensasi. Selagi titik-titik air bergabung satu sama lain dan membesar, awan tidak hanya berkembang, tapi hujan juga mungkin terjadi selagi proses pembentukan awan.  Tidak hanya secara natural, awan juga dapat dibentuk sendiri oleh manusia, contohnya adalah hal yang biasa kita sebut dengan jejak atau "bekas" pesawat. Jejak-jejak pesawat tersebut sebenarnya tidak jauh beda dengan awan yang terbentuk secara natural, karena dua-duanya sama-sama terbentuk melalui kondensasi dan sama-sama berasal dari uap air. Uap air awan buatan ini berasal dari sisa-sisa pembakaran dari pesawat yang membentuknya.
  • 5.
    TENTANG AWAN  Awanadalah kumpulan partikel air yang tampak di atmosfer. Partikel air tersebut dapat berupa tetes cair atau kristal es. Awan sendiri dapat di klasifikasikan menurut beberapa hal, seperti ketinggian awan, dan menurut bentuknya.
  • 6.
    BENTUK-BENTUK AWAN  Bentukawan bermacam macam tergantung dari keadaan cuaca dan ketinggiannya. Tapi bentuk utamanya ada tiga jenis yaitu, yang berlapis-lapis dalam bahasa latin disebut stratus, yang bentuknya berserat-serat disebut cirrus, dan yang bergumpal-gumpal disebut cumulus (ejaan Indonesia: stratus, sirus, dan kumulus).  Di daerah rendah (kurang dari 3.000 m) yang terendah, awan stratus menutupi puncak gunung yang tidak terlalu tinggi. Di daerah rendah tengah, awan berbentuk strato- kumulus, dan yang dekat ketinggian 3.000 m awan berbentuk kumulus. Awan besar dan tebal di daerah rendah disebut kumulo-nimbus berpotensi menjadi hujan, menyebabkan terjadinya guruh dan petir.
  • 7.
     Awan padaketinggian menengah dapat terbentuk di atas gunung yang tingginya lebih dari 3.000 m, membentuk payung di atas puncaknya. Misalnya di atas Gunung Ciremai (3.078 m), di puncak-puncak pegunungan Jaya Wijaya di Irian yang tingginya antara 4.000-5.000 m, bahkan selalu diliputi salju. Demikian juga Gunung Fuji (3.776 m) puncaknya selalu diliputi salju putih cemerlang sangat indah. Pada ketinggian menengah ini dapat terbentuk awan alto-stratus yang berderet-deret, alto kumulus, dan alto-sirus.  Bagaimana dengan awan di daerah tinggi (di atas 6.000 m)? Di sana terbentuk awan siro-stratus yang tampak sebagai teja di sekitar matahari atau bulan. Juga terbentuk awan siro- kumulus yang bentuknya berkeping keping terhampar luas. Juga dapat terbentuk awan sirus yang tipis bertebar seperti asap.
  • 8.
    JENIS-JENIS AWAN  Stratus Letaknyarendah, berwarna abu-abu dan pinggirnya bergerigi dan menghasilkan hujan gerimis salju.  Kumulus Letaknya rendah, tidak menyatu / terpisah-pisah. Bagian dasarnya berwarna hitam dan di atasnya putih. Awan ini biasanya menghasilkan hujan  Stratokumulus Letaknya rendah, berwarna putih atau keabua-abuan. Bentuknya bergelombang dan tidak membawa hujan.  Kumulonimbus Letaknya rendah sperti menara, berwarna putih dan hitam, membawa badai.  Nimbostratus Letaknya tidak terlalu tinggi, gelap, lapisannya pekat, bagian bawah bergerigi serta membawa hujan atau salju.
  • 9.
     Altostratus Ketinggian sedang,awan berwarna keabu-abuan, tipis, mengandung hujan.  Altokumulus Ketinggian sedang, putih atau abu-abu, bergulung-gulung atau melingkar seperti makaroni.  Sirus Tinggi, putih atau sebagian besar putih seperti sutra tipis, bergaris- garis  Sirostratus Tinggi, putih seperti cadar, bisa juga seperi untaian, luas menutupi langit  Sirokumulus Tinggi, tebal, putih, terpecah-pecah, mengandung butir-butir es kecil.
  • 10.
     Stratus, dibawah 450 m  Kumulus, Stratokumulus dan Kumulonimbus berada di ketinggian 450 - 2000 m  Nimbostratus, 900 - 3000 m  Altostratus dan Altokumulus berada di ketinggian 2000 - 7000m  Sirus, Sirostratus dan Sirokumulus berada di ketinggian 5000 - 13.500 m
  • 12.
    Siklus awan terdapatdalam siklus hidrologi seperti berikut :