Akhmad Mulyadi (17111024110168)
Fitri Wulandari (17111024110195)
Muhammad Kamil (17111024110217)
Resta Revalda Ningsih (17111024110244)
Demam Chikungunya adalah suatu penyakit virus
yang ditularkan melalui nyamuk dan dikenal pasti
pertama kali di Tanzania pada tahun 1952.
Nama chikungunya ini berasal dari kata kerja dasar
bahasa Makonde yang bermaksud “membungkuk”,
mengacu pada postur penderita yang membungkuk
akibat nyeri sendi hebat (arthralgia) (Powers and Logue
2007).
LANJUTANLANJUTAN
Demam chikungunya (demam chik) adalah suatu penyakit menular dengan gejala
utama demam mendadak, nyeri pada persendian, terutama pada sendi lutut, pergelangan,
jari kaki dan tangan serta tulang belakang, serta ruam pada kulit. Demam chik ditularkan
oleh nyamuk Aedes albopictus dan Aedes aegypty yang juga merupakan nyamuk penular
penyakit DBD.
Demam chik dijumpai terutama di daerah tropis/subtropis dan sering menimbulkan
epidemi. Beberapa faktor yang mempengaruhi munculnya demam chik yaitu rendahnya
status kekebalan kelompok masyarakat dan kepadatan populasi nyamuk penular karena
banyaknya tempat perindukan nyamuk yang biasanya terjadi pada musim penghujan.
Selama tahun 2016 terjadi demam chikungunya sebanyak 1.702 kasus di 20
kabupaten/kota dari 4 provinsi yaitu Jawa Barat (1 kabupaten/kota), Jawa Timur (13
kabupaten/kota), Sulawesi Tengah (5 kabupaten/kota), dan Bali (1 kabupaten/kota).
Jumlah kasus demam chikungunya terbanyak terjadi di Jawa Timur sebanyak 1.489
kasus.
Kejadian demam chikungunya mengalami penurunan
kasus yang sangat signifikan pada tahun 2010-2012,
namun kembali meningkat cukup signifikan pada
tahun 2013 dan turun kembali sampai tahun 2016.
Hingga saat ini belum pernah dilaporkan adanya
kematian akibat chikungunya. Faktor penyebab
turunnya kasus antara lain kondisi cuaca yang relatif
kering dengan curah hujan yang rendah, adanya
imunitas pada daerah yang pernah terjangkit,
sebagian daerah tidak melaporkan kasus chikungunya
dan lain-lain
lanjutanlanjutan
Penyakit Demam Chikungunya disebabkan
oleh virus Chikungunya (CHIKV) yang termasuk
keluarga Togaviridae, Genus Alphavirus dan
ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes
albopictus (Kamath, S., Das, A.K., and Parikh,
F.S., 2006).
Gejala yang sering ditimbulkan infeksi virus ini berupa demam
mendadak disertai menggigil selama 2-5 hari. Gejala demam biasanya
timbul mendadak secara tiba-tiba dengan derajat tinggi ( >40ºC). Demam
kemudian menurun setelah 2-3 hari dan bisa kambuh kembali 1 hari
berikutnya. Demam juga sentiasa berhubungan dengan gejala-gejala
lainnya seperti sakit kepala, mual dan nyeri abdomen (Swaroop, A., Jain,
A., Kumhar, M., Parihar, N., and Jain, S., 2007).
Pada kebanyakan penderita , gejala peradangan sendi biasanya
diikuti dengan adanya bercak kemerahan makulopapuler yang
bersifat non-pruritic. Bercak kemerahan ini sering ditemukan pada bagian
tubuh dan anggota gerak tangan dan kaki. Bercak ini akan menghilang
setelah 7-10 hari dan kemudiannya diikuti dengan deskuamasi (Yulfi, H.,
2006)
Penyebab morbiditas yang tertinggi adalah
dehidrasi berat, ketidakseimbangan elektrolit dan
hipoglikemia. Beberapa komplikasi lain yang
dapat terjadi meskipun jarang berupa gangguan
perdarahan, komplikasi neurologis, pneumonia
dan gagal nafas (Swaroop, A., Jain, A., Kumhar,
M., Parihar, N., and Jain, S., 2007)
Pemeriksaan Lab
Deteksi dini dan diagnosis yang teratur memainkan peran
penting dalam mengontrol infeksi virus ini secara efektif.
Pemeriksaan melihat perkembangan IgM melalui enzyme linked
immunosorbent asssay (MAC-ELISA) telah menjadi pemeriksaan
serologi yang major karena teknik pemeriksaan ini sangat cepat dan
reliabel (Sudeep,A .B and Parashar D 2008). Teknik pemeriksaaan
lain yang bisa dilakukan untuk mendeteksi dan mengindentifikasi
antigen virus adalah teknik immunofluorescentant). Reverse
transcription polymerase chain reaction (RT-PCR) juga telah dikenal
sangat berguna dalam mendiagnosa virus chikungunya (CHIKV)
dengan cepat (Sudeep, A .B and Parashar D 2008).
Malah RT-PCR juga merupakan teknik mendeteksi m-
RNA yang paling sensitif. Dibandingkan dengan 2 teknik
lain yang sering digunakan untuk menkuantifikasi m-RNA
level yaitu Northen blot analysis dan Rnase protection
assay, RT-PCR dapat digunakan untuk menkuantifikasi m-
RNA level dari jumlah sampel yang kecil. Malah kombinasi
RT- PCR dan nested PCR terbukti efisien untuk deteksi
spesifik dan mengenotip CHIKV (Yulfi, H., 2006.). ibodi
secara tidak langsung (Sudeep, A .B and Parashar D 2008
Pengobatan
Sehingga kini masih tiada pengobatan spesifik untuk
penyakit ini dan vaksin yang berguna sebagai tindakan preventif
juga belum ditemukan. Pengobatannya hanya bersifat
simptomatis dan supportif seperti pemberian analgesik,
antipiretik, antiinflamasi (Sudeep, A.B. and Parashar,D.2008).
Pemberian aspirin kepada penderita demam chikungunya
ini tidak dianjurkan karena dikuatiri efek aspirin terhadap
platelet.Pemberian chloroquine phosphate sangat efektif untuk
arthritis chikungunya kronis (Abraham,A.S. and Sridharan.
G.2007).
Penularan wabah chikungunya yang semakin berkembang
membuat para peneliti berminat mengembangkan agen antivirus
baru, RNAi.Ianya bertindak mencegah infeksi yang ditimbulkan
virus dengan mengganggu post transcriptional expression
mRNA (Sudeep, A.B. and Parashar, D 2008 ).
Melihat masih tiada kematian karena chikungunya yang
dilaporkan dan tiada pengobatan spesifik dan vaksin yang sesuai,
maka upaya pencegahan sangat dititik beratkan. Upaya ini lebih
menjurus ke arah pemberantasan sarang nyamuk penular dengan cara
membasmi jentik nyamuk. Individu yang menderita demam
chikungunya ini sebaiknya diisolasi sehingga dapat dicegah
penularannya ke orang lain. Tindakan pencegahan gigitan nyamuk
bisa dilakukan dengan menggunakan obat nyamuk dan repelan tetapi
pencegahan yang sebaiknya berupa pemberantasan sarang nyamuk
penular. Pemberantasan sarang nyamuk seharusnya dilakukan pada
seluruh kawasan perumahan bukan hanya pada beberapa rumah
sahaja. Untuk itu perlu diterapkan pendekatan terpadu pengendalian
nyamuk dengan menggunakan metode yang tepat (modifikasi
lingkungan, biologi dan kimiawi) yang aman, murah dan ramah
lingkungan (Depkes RI, 2003).
ASUHAN
KEPERAWATAN
PENGKAJIAN
a) Riwayat Sekarang: Keluhan saat ini, Biasanya demam tinggi timbul
mendadak disertai menggigil dan muka kemerahan, panas tinggi
selama 2–4 hari kemudian kembali normal, Nyeri persendian, Nyeri
otot, Bercak kemerahan (ruam), Sakit kepala, Kejang dan penurunan
kesadaran. dan pembesaran kelenjar getah bening.
b) Riwayat Masa Lalu: apakah ada anggota keluarga maupun tetangga di
sekitar rumah yang pernah atau sedang terkena penyakit dengan
gejala yang sama, bagaimana kondisi lingkungan di sekitar rumah.
c) Pemeriksaan Fisik: inpeksi/lihat adakah kemerahan dan bentuk luka
dikulit, sesak dan palpasi adakah pembengkakan, demam, nyeri
lambung.
d) Pemeriksaan Penunjang: adakah pemeriksaan laboratorium untuk
mengetahui bakteri antraks, dan pemeriksaan radiologi untuk
mengetahui kelainan perdarahan, dan komplikasi.
e) Penatalaksanaan: terapi yang diberikan sesuai intruksi
dokter.
f) Dischart Planning
Pencegahan terbaik adalah membasmi sarang nyamuk
dengan 3 M ( menutup, menguras dan mengubur barang
bekas yang biasa menampung air ), atau menaburkan
bubuk abate pada penampungan air sebagaimana
mencegah demam berdarah
e) Penatalaksanaan: terapi yang diberikan sesuai intruksi
dokter.
f) Dischart Planning
Pencegahan terbaik adalah membasmi sarang nyamuk
dengan 3 M ( menutup, menguras dan mengubur barang
bekas yang biasa menampung air ), atau menaburkan
bubuk abate pada penampungan air sebagaimana
mencegah demam berdarah
1. Nyeri akut
2. Mual
3. Hambatan Rasa Nyaman
4. Hipertermia
5. Ansietas
6. Resiko Ketidakseimbangan Elektrolit
7. Resiko Intoleran Aktivitas
8. Resiko Defisien Volume Cairan
NO DIAGNOSA NOC NIC
1. Nyeri Akut Kontrol Nyeri
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 2 x 24 jam, di
harapkan klien dapat mengontrol
nyeri dengan indikator :
-Mengenali kapan nyeri terjadi (5)
- menggambarkan faktor penyebab
(5)
-Menggunakan tindakan
pencegahan (5)
-Menggunakan tindakan
pengurangan nyeri tanpa analgesik
(5)
-Melaporkan perubahan terhadap
gejala nyeri pada profesional
kesehatan (5)
-Mengenali apa yang terkait dengan
gejala nyeri (5)
-Melaporkan nyeri yang terkontrol
(5)
Manajemen Nyeri
1.1 Lakukan pengkajian nyeri,
meliputi lokasi, durasi,
frekuensi,intensitas atau
beratnya nyeri dan faktor
pencetus
1.2 Pastikan perawatan
analgesik bagi pasien dilakukan
dengan pemantauan yang ketat
1.3 Dorong pasien untuk
memonitor nyeri dan menangani
nyeri dengan tepat
1.4 Ajarkan pasien cara
relaksasi
NO DIAGNOSA NOC NIC
2 Mual Kontrol Mual & Muntah
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 1 x 24
jam, di harapkan klien
dapat menunjukkan hasil
dari skala 1-5 dengan
indikator :
•Mengenali onset mual (5)
•Mengenali pencetus
stimulus [muntah] (5)
•Mendeskripsikan faktor-
faktor penyebab (5)
Manajemen Mual
2.1 Dorong pasien untuk
belajar strategi mengatasi
mual sendiri
2.2 Identifikasi faktor-faktor
yang dapat menyebabkan
Mual
2.3 Kendalikan faktor-faktor
lingkungan yang mungkin
menimbulkan rasa mual
2.4 Pertimbangkan pengaruh
budaya terhadap respon
mual ketika
mengimplementasikan
intervensi
2.5 Monitor keseimbangan
elektrolit
NO DIAGNOSA NOC NIC
3 Hambatan Rasa
nyaman
Tingkat Nyeri
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan
selama 1 x 24 jam, di
harapkan klien dapat
menunjukkan hasil dari
skala 1-5 dengan indikator
:
•Mengerang dan menangis
(5)
•Ekspresi waja nyeri (5)
•Mengeluarkan keringat
(5)
•Berkeringat (5)
Manajemen Nyeri
3.1 Lakukan pengkajian
nyeri, meliputi lokasi, durasi,
frekuensi,intensitas atau
beratnya nyeri dan faktor
pencetus
3.2 Pastikan perawatan
analgesik bagi pasien
dilakukan dengan
pemantauan yang ketat
3.3 Dorong pasien untuk
memonitor nyeri dan
menangani nyeri dengan
tepat
3.4 Ajarkan pasien cara
relaksasi
4. Hipertermia Noc : Termoregulasi
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 3 x 24
jam, di harapkan klien dapat
menunjukkan hasil dengan
indikator :
-Merasa merinding saat
dingin (5)
- berkeringat saat panas (5)
-Menggil saat dingin (5)
- denyut jantung apikal (5)
- denyut nadi radial (5)
-Peningkatan suhu kulit (5)
-Penurunan suhu kulit (5)
-Perubahan warna kulit (5)
Nic : Pengaturan suhu
4.1 monitor suhu paling tidaak
setiap 2 jam, sesuai kebutuhan
4.2 pasang alat monitor suhu inti
secara kontinu, sesuai kebutuhan
4.3 monitor ttv
4.4 Monitor suhu dan warna
kulit
4.5 monitor dan laporkan adanya
tanda dan gejala dari hipotermia
4.6 tingkatkan intake cairan dan
nutrisi adekuat
5. Ansietas Noc : Tingkat kecemasan
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 1 x 24
jam, di harapkan klien dapat
mengurangi tingkat
kecemasan dengan
indikator :
-Tidak dapat beristirahat (5)
-Berjalan mondar-mandir (5)
- perasaan gelisah (5)
- rasa takut yang di
sampaikan secara lisan (5)
-Rasa cemas yang di
sampaikan secara lisan (5)
Nic : Pengurangan kecemasan
5.1 gunakan pendekatan yang
tenang dan menyakinkan
5.2 jelaskan semua prosedur
termasuk sensasi yang akan
dirasakan , yang mungkin akan
dialami klien selama prosedur
di lakukan
5.3 dengarkan klien
Instruksikan klien untuk
relaksasi
5.4 kaji untuk tanda verbal dan
non verbal
NO DIAGNOSA NOC NIC
6 Resiko
Ketidakseimbang
an Elektrolit
Keseimbangan Elektrolit
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan
selama 1 x 24 jam, di
harapkan klien dapat
menunjukkan hasil dari
skala 1-5 dengan indikator
:
•Penurunan serum sodium
(5)
•Penurunan serum
potasium (5)
•Penurunan serum klorida
(5)
•Penurunan serum
kalsium (5)
•Penurunan serum
magnesium (5)
•Penurunan serum posfor
(5)
Manajemen Mual
6.1 Dorong pasien untuk
belajar strategi mengatasi
mual sendiri
6.2 Identifikasi faktor-faktor
yang dapat menyebabkan
Mual
6.3 Kendalikan faktor-faktor
lingkungan yang mungkin
menimbulkan rasa mual
6.4 Pertimbangkan pengaruh
budaya terhadap respon mual
ketika mengimplementasikan
intervensi
6.5 Monitor keseimbangan
elektrolit
NO DIAGNOSA NOC NIC
7 Resiko
Intoleran
Aktivitas
Koordinasi Pergerakan
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan
selama 1 x 24 jam, di
harapkan klien dapat
menunjukkan hasil dari
skala 1-5 dengan indikator
:
•Kontraksi kekeuatan oto
(5)
•Kontrol gerakan (5)
•Keseimbangan gerakan
(5)
Manajemen Energi
7.1 Tentukan jenis dan
banyakanya aktivitas yang
dibutuhkan untuk menjaga
ketahanan
7.2 Pilih intervensi untuk
mengurangi kelelahan baik
secara farmakologis dan
non-farmakologis
7.3 Monitor intake nutrisi
untuk mengetahui sumber
energi yang adekuat
7.4 Konsulkan dengan ahli
gizi mengenai cara
meningkatkan asupan
energi dari makanan
NO DIAGNOSA NOC NIC
8 Resiko Defisien
volume cairan
Keparahan Mual Muntah
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan
selama 1 x 24 jam, di
harapkan klien dapat
menunjukkan hasil dari
skala 1-5 dengan indikator
:
•Frekuensi mual (5)
•Frekuensi muntah (5)
•Intensitas muntah (5)
•Nyeri lambung (5)
Manajemen Mual Muntah
8.1 Dorong pasien untuk
belajar strategi mengatasi
mual sendiri
8.2 Identifikasi faktor-
faktor yang dapat
menyebabkan Mual
8.3 Kendalikan faktor-faktor
lingkungan yang mungkin
menimbulkan rasa mual
8.4 Pertimbangkan
pengaruh budaya terhadap
respon mual ketika
mengimplementasikan
intervensi
8.5 Monitor keseimbangan
elektrolit
Implementasi sesuai intervensi
Evaluasi dilakukan dengan
menggunakan SOAP dan
masalah keperawatan teratasi.
TERIMA KASIH

Askep chikungunya

  • 1.
    Akhmad Mulyadi (17111024110168) FitriWulandari (17111024110195) Muhammad Kamil (17111024110217) Resta Revalda Ningsih (17111024110244)
  • 3.
    Demam Chikungunya adalahsuatu penyakit virus yang ditularkan melalui nyamuk dan dikenal pasti pertama kali di Tanzania pada tahun 1952. Nama chikungunya ini berasal dari kata kerja dasar bahasa Makonde yang bermaksud “membungkuk”, mengacu pada postur penderita yang membungkuk akibat nyeri sendi hebat (arthralgia) (Powers and Logue 2007).
  • 4.
    LANJUTANLANJUTAN Demam chikungunya (demamchik) adalah suatu penyakit menular dengan gejala utama demam mendadak, nyeri pada persendian, terutama pada sendi lutut, pergelangan, jari kaki dan tangan serta tulang belakang, serta ruam pada kulit. Demam chik ditularkan oleh nyamuk Aedes albopictus dan Aedes aegypty yang juga merupakan nyamuk penular penyakit DBD. Demam chik dijumpai terutama di daerah tropis/subtropis dan sering menimbulkan epidemi. Beberapa faktor yang mempengaruhi munculnya demam chik yaitu rendahnya status kekebalan kelompok masyarakat dan kepadatan populasi nyamuk penular karena banyaknya tempat perindukan nyamuk yang biasanya terjadi pada musim penghujan. Selama tahun 2016 terjadi demam chikungunya sebanyak 1.702 kasus di 20 kabupaten/kota dari 4 provinsi yaitu Jawa Barat (1 kabupaten/kota), Jawa Timur (13 kabupaten/kota), Sulawesi Tengah (5 kabupaten/kota), dan Bali (1 kabupaten/kota). Jumlah kasus demam chikungunya terbanyak terjadi di Jawa Timur sebanyak 1.489 kasus.
  • 5.
    Kejadian demam chikungunyamengalami penurunan kasus yang sangat signifikan pada tahun 2010-2012, namun kembali meningkat cukup signifikan pada tahun 2013 dan turun kembali sampai tahun 2016. Hingga saat ini belum pernah dilaporkan adanya kematian akibat chikungunya. Faktor penyebab turunnya kasus antara lain kondisi cuaca yang relatif kering dengan curah hujan yang rendah, adanya imunitas pada daerah yang pernah terjangkit, sebagian daerah tidak melaporkan kasus chikungunya dan lain-lain lanjutanlanjutan
  • 6.
    Penyakit Demam Chikungunyadisebabkan oleh virus Chikungunya (CHIKV) yang termasuk keluarga Togaviridae, Genus Alphavirus dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus (Kamath, S., Das, A.K., and Parikh, F.S., 2006).
  • 7.
    Gejala yang seringditimbulkan infeksi virus ini berupa demam mendadak disertai menggigil selama 2-5 hari. Gejala demam biasanya timbul mendadak secara tiba-tiba dengan derajat tinggi ( >40ºC). Demam kemudian menurun setelah 2-3 hari dan bisa kambuh kembali 1 hari berikutnya. Demam juga sentiasa berhubungan dengan gejala-gejala lainnya seperti sakit kepala, mual dan nyeri abdomen (Swaroop, A., Jain, A., Kumhar, M., Parihar, N., and Jain, S., 2007). Pada kebanyakan penderita , gejala peradangan sendi biasanya diikuti dengan adanya bercak kemerahan makulopapuler yang bersifat non-pruritic. Bercak kemerahan ini sering ditemukan pada bagian tubuh dan anggota gerak tangan dan kaki. Bercak ini akan menghilang setelah 7-10 hari dan kemudiannya diikuti dengan deskuamasi (Yulfi, H., 2006)
  • 9.
    Penyebab morbiditas yangtertinggi adalah dehidrasi berat, ketidakseimbangan elektrolit dan hipoglikemia. Beberapa komplikasi lain yang dapat terjadi meskipun jarang berupa gangguan perdarahan, komplikasi neurologis, pneumonia dan gagal nafas (Swaroop, A., Jain, A., Kumhar, M., Parihar, N., and Jain, S., 2007)
  • 11.
  • 12.
    Deteksi dini dandiagnosis yang teratur memainkan peran penting dalam mengontrol infeksi virus ini secara efektif. Pemeriksaan melihat perkembangan IgM melalui enzyme linked immunosorbent asssay (MAC-ELISA) telah menjadi pemeriksaan serologi yang major karena teknik pemeriksaan ini sangat cepat dan reliabel (Sudeep,A .B and Parashar D 2008). Teknik pemeriksaaan lain yang bisa dilakukan untuk mendeteksi dan mengindentifikasi antigen virus adalah teknik immunofluorescentant). Reverse transcription polymerase chain reaction (RT-PCR) juga telah dikenal sangat berguna dalam mendiagnosa virus chikungunya (CHIKV) dengan cepat (Sudeep, A .B and Parashar D 2008).
  • 13.
    Malah RT-PCR jugamerupakan teknik mendeteksi m- RNA yang paling sensitif. Dibandingkan dengan 2 teknik lain yang sering digunakan untuk menkuantifikasi m-RNA level yaitu Northen blot analysis dan Rnase protection assay, RT-PCR dapat digunakan untuk menkuantifikasi m- RNA level dari jumlah sampel yang kecil. Malah kombinasi RT- PCR dan nested PCR terbukti efisien untuk deteksi spesifik dan mengenotip CHIKV (Yulfi, H., 2006.). ibodi secara tidak langsung (Sudeep, A .B and Parashar D 2008
  • 14.
  • 15.
    Sehingga kini masihtiada pengobatan spesifik untuk penyakit ini dan vaksin yang berguna sebagai tindakan preventif juga belum ditemukan. Pengobatannya hanya bersifat simptomatis dan supportif seperti pemberian analgesik, antipiretik, antiinflamasi (Sudeep, A.B. and Parashar,D.2008). Pemberian aspirin kepada penderita demam chikungunya ini tidak dianjurkan karena dikuatiri efek aspirin terhadap platelet.Pemberian chloroquine phosphate sangat efektif untuk arthritis chikungunya kronis (Abraham,A.S. and Sridharan. G.2007). Penularan wabah chikungunya yang semakin berkembang membuat para peneliti berminat mengembangkan agen antivirus baru, RNAi.Ianya bertindak mencegah infeksi yang ditimbulkan virus dengan mengganggu post transcriptional expression mRNA (Sudeep, A.B. and Parashar, D 2008 ).
  • 16.
    Melihat masih tiadakematian karena chikungunya yang dilaporkan dan tiada pengobatan spesifik dan vaksin yang sesuai, maka upaya pencegahan sangat dititik beratkan. Upaya ini lebih menjurus ke arah pemberantasan sarang nyamuk penular dengan cara membasmi jentik nyamuk. Individu yang menderita demam chikungunya ini sebaiknya diisolasi sehingga dapat dicegah penularannya ke orang lain. Tindakan pencegahan gigitan nyamuk bisa dilakukan dengan menggunakan obat nyamuk dan repelan tetapi pencegahan yang sebaiknya berupa pemberantasan sarang nyamuk penular. Pemberantasan sarang nyamuk seharusnya dilakukan pada seluruh kawasan perumahan bukan hanya pada beberapa rumah sahaja. Untuk itu perlu diterapkan pendekatan terpadu pengendalian nyamuk dengan menggunakan metode yang tepat (modifikasi lingkungan, biologi dan kimiawi) yang aman, murah dan ramah lingkungan (Depkes RI, 2003).
  • 17.
  • 18.
  • 19.
    a) Riwayat Sekarang:Keluhan saat ini, Biasanya demam tinggi timbul mendadak disertai menggigil dan muka kemerahan, panas tinggi selama 2–4 hari kemudian kembali normal, Nyeri persendian, Nyeri otot, Bercak kemerahan (ruam), Sakit kepala, Kejang dan penurunan kesadaran. dan pembesaran kelenjar getah bening. b) Riwayat Masa Lalu: apakah ada anggota keluarga maupun tetangga di sekitar rumah yang pernah atau sedang terkena penyakit dengan gejala yang sama, bagaimana kondisi lingkungan di sekitar rumah. c) Pemeriksaan Fisik: inpeksi/lihat adakah kemerahan dan bentuk luka dikulit, sesak dan palpasi adakah pembengkakan, demam, nyeri lambung. d) Pemeriksaan Penunjang: adakah pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui bakteri antraks, dan pemeriksaan radiologi untuk mengetahui kelainan perdarahan, dan komplikasi.
  • 20.
    e) Penatalaksanaan: terapiyang diberikan sesuai intruksi dokter. f) Dischart Planning Pencegahan terbaik adalah membasmi sarang nyamuk dengan 3 M ( menutup, menguras dan mengubur barang bekas yang biasa menampung air ), atau menaburkan bubuk abate pada penampungan air sebagaimana mencegah demam berdarah
  • 21.
    e) Penatalaksanaan: terapiyang diberikan sesuai intruksi dokter. f) Dischart Planning Pencegahan terbaik adalah membasmi sarang nyamuk dengan 3 M ( menutup, menguras dan mengubur barang bekas yang biasa menampung air ), atau menaburkan bubuk abate pada penampungan air sebagaimana mencegah demam berdarah
  • 22.
    1. Nyeri akut 2.Mual 3. Hambatan Rasa Nyaman 4. Hipertermia 5. Ansietas 6. Resiko Ketidakseimbangan Elektrolit 7. Resiko Intoleran Aktivitas 8. Resiko Defisien Volume Cairan
  • 24.
    NO DIAGNOSA NOCNIC 1. Nyeri Akut Kontrol Nyeri Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam, di harapkan klien dapat mengontrol nyeri dengan indikator : -Mengenali kapan nyeri terjadi (5) - menggambarkan faktor penyebab (5) -Menggunakan tindakan pencegahan (5) -Menggunakan tindakan pengurangan nyeri tanpa analgesik (5) -Melaporkan perubahan terhadap gejala nyeri pada profesional kesehatan (5) -Mengenali apa yang terkait dengan gejala nyeri (5) -Melaporkan nyeri yang terkontrol (5) Manajemen Nyeri 1.1 Lakukan pengkajian nyeri, meliputi lokasi, durasi, frekuensi,intensitas atau beratnya nyeri dan faktor pencetus 1.2 Pastikan perawatan analgesik bagi pasien dilakukan dengan pemantauan yang ketat 1.3 Dorong pasien untuk memonitor nyeri dan menangani nyeri dengan tepat 1.4 Ajarkan pasien cara relaksasi
  • 25.
    NO DIAGNOSA NOCNIC 2 Mual Kontrol Mual & Muntah Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam, di harapkan klien dapat menunjukkan hasil dari skala 1-5 dengan indikator : •Mengenali onset mual (5) •Mengenali pencetus stimulus [muntah] (5) •Mendeskripsikan faktor- faktor penyebab (5) Manajemen Mual 2.1 Dorong pasien untuk belajar strategi mengatasi mual sendiri 2.2 Identifikasi faktor-faktor yang dapat menyebabkan Mual 2.3 Kendalikan faktor-faktor lingkungan yang mungkin menimbulkan rasa mual 2.4 Pertimbangkan pengaruh budaya terhadap respon mual ketika mengimplementasikan intervensi 2.5 Monitor keseimbangan elektrolit
  • 26.
    NO DIAGNOSA NOCNIC 3 Hambatan Rasa nyaman Tingkat Nyeri Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam, di harapkan klien dapat menunjukkan hasil dari skala 1-5 dengan indikator : •Mengerang dan menangis (5) •Ekspresi waja nyeri (5) •Mengeluarkan keringat (5) •Berkeringat (5) Manajemen Nyeri 3.1 Lakukan pengkajian nyeri, meliputi lokasi, durasi, frekuensi,intensitas atau beratnya nyeri dan faktor pencetus 3.2 Pastikan perawatan analgesik bagi pasien dilakukan dengan pemantauan yang ketat 3.3 Dorong pasien untuk memonitor nyeri dan menangani nyeri dengan tepat 3.4 Ajarkan pasien cara relaksasi
  • 27.
    4. Hipertermia Noc: Termoregulasi Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam, di harapkan klien dapat menunjukkan hasil dengan indikator : -Merasa merinding saat dingin (5) - berkeringat saat panas (5) -Menggil saat dingin (5) - denyut jantung apikal (5) - denyut nadi radial (5) -Peningkatan suhu kulit (5) -Penurunan suhu kulit (5) -Perubahan warna kulit (5) Nic : Pengaturan suhu 4.1 monitor suhu paling tidaak setiap 2 jam, sesuai kebutuhan 4.2 pasang alat monitor suhu inti secara kontinu, sesuai kebutuhan 4.3 monitor ttv 4.4 Monitor suhu dan warna kulit 4.5 monitor dan laporkan adanya tanda dan gejala dari hipotermia 4.6 tingkatkan intake cairan dan nutrisi adekuat
  • 28.
    5. Ansietas Noc: Tingkat kecemasan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam, di harapkan klien dapat mengurangi tingkat kecemasan dengan indikator : -Tidak dapat beristirahat (5) -Berjalan mondar-mandir (5) - perasaan gelisah (5) - rasa takut yang di sampaikan secara lisan (5) -Rasa cemas yang di sampaikan secara lisan (5) Nic : Pengurangan kecemasan 5.1 gunakan pendekatan yang tenang dan menyakinkan 5.2 jelaskan semua prosedur termasuk sensasi yang akan dirasakan , yang mungkin akan dialami klien selama prosedur di lakukan 5.3 dengarkan klien Instruksikan klien untuk relaksasi 5.4 kaji untuk tanda verbal dan non verbal
  • 29.
    NO DIAGNOSA NOCNIC 6 Resiko Ketidakseimbang an Elektrolit Keseimbangan Elektrolit Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam, di harapkan klien dapat menunjukkan hasil dari skala 1-5 dengan indikator : •Penurunan serum sodium (5) •Penurunan serum potasium (5) •Penurunan serum klorida (5) •Penurunan serum kalsium (5) •Penurunan serum magnesium (5) •Penurunan serum posfor (5) Manajemen Mual 6.1 Dorong pasien untuk belajar strategi mengatasi mual sendiri 6.2 Identifikasi faktor-faktor yang dapat menyebabkan Mual 6.3 Kendalikan faktor-faktor lingkungan yang mungkin menimbulkan rasa mual 6.4 Pertimbangkan pengaruh budaya terhadap respon mual ketika mengimplementasikan intervensi 6.5 Monitor keseimbangan elektrolit
  • 30.
    NO DIAGNOSA NOCNIC 7 Resiko Intoleran Aktivitas Koordinasi Pergerakan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam, di harapkan klien dapat menunjukkan hasil dari skala 1-5 dengan indikator : •Kontraksi kekeuatan oto (5) •Kontrol gerakan (5) •Keseimbangan gerakan (5) Manajemen Energi 7.1 Tentukan jenis dan banyakanya aktivitas yang dibutuhkan untuk menjaga ketahanan 7.2 Pilih intervensi untuk mengurangi kelelahan baik secara farmakologis dan non-farmakologis 7.3 Monitor intake nutrisi untuk mengetahui sumber energi yang adekuat 7.4 Konsulkan dengan ahli gizi mengenai cara meningkatkan asupan energi dari makanan
  • 31.
    NO DIAGNOSA NOCNIC 8 Resiko Defisien volume cairan Keparahan Mual Muntah Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam, di harapkan klien dapat menunjukkan hasil dari skala 1-5 dengan indikator : •Frekuensi mual (5) •Frekuensi muntah (5) •Intensitas muntah (5) •Nyeri lambung (5) Manajemen Mual Muntah 8.1 Dorong pasien untuk belajar strategi mengatasi mual sendiri 8.2 Identifikasi faktor- faktor yang dapat menyebabkan Mual 8.3 Kendalikan faktor-faktor lingkungan yang mungkin menimbulkan rasa mual 8.4 Pertimbangkan pengaruh budaya terhadap respon mual ketika mengimplementasikan intervensi 8.5 Monitor keseimbangan elektrolit
  • 32.
  • 33.
    Evaluasi dilakukan dengan menggunakanSOAP dan masalah keperawatan teratasi.
  • 34.