ASAS-ASAS HUKUM
PERKAWINAN
ASAS-ASAS HUKUM PERKAWINAN
Perkawinan sebagai salah satu bentuk perjanjian suci
antara seorang pria dengan seorang wanita, yang
mempunyai segi-segi perdata, berlaku beberapa asas:
(1) kesukarelaan,
(2) persetujuan kedua belah pihak,
(3) kebebasan memilih,
(4) kemitraan suami-isteri,
(5) untuk selama-lamanya dan
(6) monogami relatif.
ASAS-ASAS HUKUM
PERKAWINAN
1. Asas kesukarelaan merupakan asas terpenting
perkawinan Islam. Kesukarelaan itu tidak hanya harus
terdapat antara kedua calon suami isteri, tetapi juga
antara kedua orang tua kedua belah pihak
2. Asas persetujuan kedua belah pihak merupakan
konsekuensi logis dari asas pertama tadi. Ini berarti
bahwa tidak boleh ada paksaan, dan sudah ada
persetujuan dari calon suami-isteri dalam melangsungkan
perkawinan.
Perkawinan yang tidak disetujui oleh para pihak dapat
dibatalkan oleh Pengadilan
ASAS-ASAS HUKUM
PERKAWINAN
3. Asas kebebasan memilih pasangan.
 Seseorang berhak untuk memilih atau
menentukan pasangan hidupnya
 HR Ibnu Abbas tentang Jariyah yang
dinikahi dengan laki-laki yang tidak
disenanginya, dan Rasulullah
memberikan pilihan kepadanya untuk
melanjutkan perkawinannya atau
membatalkannya
4. Asas kemitraan suami-isteri dengan tugas dan fungsi
yang berbeda karena perbedaan kodrat (sifat asal,
pembawaan). (Q.S. an-Nisa (4) : 43 dan al-Baqarah (2)
ayat 187. Kemitraan ini menyebabkan kedudukan suami-
isteri memiliki tugas dan fungsi yang berbeda untuk
mencapai tujuan perkawinan
Suami menjadi kepala keluarga,
istri menjadi kepala dan penanggung jawab pengaturan
rumah tangga.
5. Asas untuk selama-lamanya. Menunjukkan bahwa
perkawinan dilaksanakan untuk melangsungkan keturunan
dan membina cinta serta kasih sayang selama hidup (Q.s.
ar-Rum (30) : 21).
Perceraian mrpkn perbuatan hal yang dibenci Allah
6.ASAS MONOGAMI RELATIF
• Menurut UU No. 1/1974 pasal 3 adalah asas
monogami relatif, artinya boleh sepanjang
hukum dan agamanya mengizinkan. Asas
tersebut sejalan dengan apa yang dimaksud
dengan KHI. Sedangkan KUHPerdata
menganut asas monogami mutlak karena ini
berdasarkankepada doktrin Kristen (Gereja).
Contoh Kasus Beda Agama
Kasus Posisi
Pada tanggal 22 April 1986, Hamid disingkat MD ( ) dan
Eni silistia disingkat ES( ) melangsungkan perkawinan.
Sebelum perkawinan MD beragama Hindu Bali, tetapi
meninggalkannya dan memilih untuk memeluk agama
Islam demi melangsungkan perkawinan dengan ES.
Awalnya, perkawinan mereka berlangsung dengan rukun,
tenteram dan damai, sehingga telah dikaruniai tiga orang
anak, yaitu: (1) Widya Anik ( ) usia 20tahun; (2) Ahmad
Rizal ( ) usia 14 tahun; (3) Kadek Kustanti ( ) usia 5
tahun
Kasus Posisi
• Sekitar bulan Februari 2006 keharmonisan rumah tangga mereka
mulai goyah dan sering terjadi pertengkaran yang disebabkan
karena: (1) suaminya (MD) kembali menjalankan ibadah menurut
agama Hindu Bali; (2) suami cemburu terhadap istrinya tanpa sebab
yang jelas; (3)suami tidak mau, enggan, dan jarang bersilaturahim
dengan keluarga isterinya; (4) suami lebih mementingkan
keluarganya, berbuat tidak adil atau berat sebelah dalam perhatian
terhadap keluarga isterinya dan sering bertindak tanpa kompromi.
• ES sebagai istri, telah berusaha bersikap sabar terhadap perilaku
suaminya guna mempertahankan keutuhan rumah tangga dengan
harapan suatu saat suaminya akan mengubah sifat dan perilakunya.
Namun ternyata tidak ada perubahan perilaku dan bahkan menyakiti
hatinya, sehingga timbul pertengkaran yang memuncak pada tanggal
12 April 2006, ketika itu MD membawa pisau. Untuk menyelamatkan
dirinya, ES pergi dan pindah ke rumah orang tuanya. Sejak
pertengkaran itu, ES dan MD telah “pisah ranjang” atau hidup
terpisah dan juga sudah tidak ada lagi hubungan lahir dan bathin.
Bahkan, MD tidak lagi memberi nafkah atau apapun yang dapat
digunakan sebagai pengganti nafkah.
Analisis Kasus
Peraturan perundang-undangan yang mengatur
perkawinan di Indonesia adalah UU No. 1 Tahun 1974
tentang Perkawinan (UU 1/1974). Ketentuan dalam UU
1/1974 secara tegas menunjuk kepada hukum agama
sebagai syarat keabsahan suatu perkawinan, sebagaimana
diatur dalam Pasal 2 Ayat (1) UU 1/1974. Oleh karena itu,
keberadaan dan keberlakuan hukum Islam dalam
mengatur perkawinan antar umat muslim, harus dijadikan
pedoman dalam menyelesaikan kasus-kasus atau perkara
perkawinan. Ketentuan hukum Islam yang mengatur
perkawinan antara lain terdapat dalam kitab suci Al Qur’an,
Hadis Rasul, dan Kompilasi Hukum Islam Indonesia (KHI).
Analisis Kasus
Perkawinan menurut hukum Islam dapat ditinjau dari tiga
aspek, Pertama, ialah aspek-aspek hukum, sosial, dan
agama. Kedua ditinjau dari aspek hukum, perkawinan
merupakan suatu perjanjian. Ketiga menurut Al Qur’an
Surat An Nisaa, Ayat (21), dinyatakan perkawinan adalah
perjanjian yang sangat kuat, disebut dengan kata-kata “
miitsaaghan ghaliizhan ”. Ditinjau dari aspek sosial,
perkawinan mengubah kedudukan dan status perempuan
di masyarakat sebagaimana diatur dalam Al Qur’an Surat
An Nisaa Ayat (3), berbunyi: “... jika kamu takut tidak akan
dapat berlaku adil maka kawinlah seorang saja”.
Analisis Kasus
Perkawinan antar agama yang terjadi dalam kehidupan
masyarakat, seharusnya tidak terjadi jika dalam hal ini
negara atau pemerintah secara tegas melarangnya dan
menghilangkan sikap mendua dalam mengatur dan
melaksanakan suatu perkawinan bagi rakyatnya. Sikap
ambivalensi pemerintah dalam perkawinan beda agama ini
terlihat dalam praktek bila tidak dapat diterima oleh Kantor
Urusan Agama, dapat dilakukan di Kantor Catatan Sipil
dan menganggap sah perkawinan berbeda agama yang
dilakukan diluar negeri.
Analisis Kasus
Dari kenyataan dalam kehidupan masyarakat bahwa
perkawinan berbeda agama itu terjadi sebagai realitas
yang tidak dipungkiri. Berdasarkan ketentuan perundang-
undangan yang berlaku secara positif di Indonesia, telah
jelas dan tegas menyatakan bahwa sebenarnya
perkawinanantar agama tidak diinginkan, karena
bertentangan dengan hukum yang berlaku di
Indonesia.Tetapi ternyata perkawinan antar agama masih
saja terjadi dan akan terus terjadi sebagai akibat interaksi
sosial diantara seluruh warga negara Indonesia yang
pluralis agamanya.
Analisis Kasus
Banyak kasus-kasus yang terjadi didalam
masyarakat, seperti perkawinan antara artis
Jamal Mirdad dengan Lydia Kandau, Katon
Bagaskara dengan Ira Wibowo, Yuni Shara
dengan Henri Siahaan, Adi Subono dengan
Chrisye, Ari Sihasale dengan Nia
Zulkarnaen, Dedi Kobusher dengan Kalina,
Frans dengan Amara, Sonny Lauwany
dengan Cornelia Agatha,dan masih banyak
lagi
Analisis Kasus
Perkawinan dapat dilangsungkan apabila tidak ada
halangan pada masing-masing mempelai. Halangan
tersebut berupa larangan perkawinan. Dalam Pasal 44KHI
dengan tegas ditentukan bahwa seorang wanita Islam
dilarang melangsungkan perkawinan dengan seorang pria
yang tidak beragama Islam; sedangkan bagi pria Islam
menurut Pasal 40 Huruf c KHI dilarang melangsungkan
perkawinan dengan seorang wanita yang tidak beragama
Islam. Dalam praktiknya, masyarakat menafsirkan
ketentuan dalam UU 1/1974 bahwa perkawinan yang sah
harus dilakukan menurut hukum agama masing-masing
dalam konteks perkawinan beda agama. Pertama, yaitu
dilakukan upacara perkawinan menurut masing-masing
agamanya.
Analisis Kasus
Kedua, Ada perbedaan pendapat dari para ulama tentang
perkawinan beda agama. Sebagian besar ulama
membolehkan pria muslim menikah dengan wanita dari
kalangan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani). Tetapi pakar fikih
dari madzhab Hanafi, Syafi’i, dan sebagian ulama Malikiah
berpendapat Makruh hukumnya perkawinan antara pria
muslim dan wanita ahli kitab. Pendapat yang lebih tegas
dikemukakan secara formal oleh Majelis Ulama Indonesia
(MUI) dalam Musyawarah Nasional II tanggal 26 Mei-1 Juni
1980 (11-17 Rajab 1400 H) menetapkan fatwa yang intinya
menyatakan haram suatu perkawinan antara wanita Islam
dan pria non-Islam, begitu juga dengan pria Islam dan
wanita non-Islam, atas dasar pertimbangan mashlahat
Asas-asas Perkawinan menurut
UU No. 1 Th 1974 (penjelasan butir 4)
a. Tujuan perkawinan membentuk keluarga yang bahagia
dan kekal
b. Perkawinan sah bila dilakukan menurut hukum masing-
masing agama dan kepercayaan, perkawinan hrs
(wajib) dicatat menurut peraturan perUUan yg berlaku.
c. Monogami relatif, artinya boleh sepanjang hukum dan
agamanya mengizinkan. Asas tersebut sejalan dengan
apa yang dimaksud dengan KHI. Sedangkan
KUHPerdata menganut asas monogami mutlak karena
ini berdasarkankepada doktrin Kristen (Gereja).
Asas-asas Perkawinan menurut
UU No. 1 Th 1974 (penjelasan butir 4)
d. Suami isteri harus telah matang jiwa raganya
untuk melangsungkan perkawinan.
e. Mempersukar perceraian.
f. Hak dan kedudukan istri seimbang dgn hak dan
kedudukan suami dlm kehidupan rumah tangga,
dalam pergaulan masyarakat
g. Perkawinan berikut segala sesuatu yg
berhubungan dgn perkawinan yg terjadi sebelum
UU ini berlaku adlh sah

asas perkawinan

  • 1.
  • 2.
    ASAS-ASAS HUKUM PERKAWINAN Perkawinansebagai salah satu bentuk perjanjian suci antara seorang pria dengan seorang wanita, yang mempunyai segi-segi perdata, berlaku beberapa asas: (1) kesukarelaan, (2) persetujuan kedua belah pihak, (3) kebebasan memilih, (4) kemitraan suami-isteri, (5) untuk selama-lamanya dan (6) monogami relatif.
  • 3.
    ASAS-ASAS HUKUM PERKAWINAN 1. Asaskesukarelaan merupakan asas terpenting perkawinan Islam. Kesukarelaan itu tidak hanya harus terdapat antara kedua calon suami isteri, tetapi juga antara kedua orang tua kedua belah pihak 2. Asas persetujuan kedua belah pihak merupakan konsekuensi logis dari asas pertama tadi. Ini berarti bahwa tidak boleh ada paksaan, dan sudah ada persetujuan dari calon suami-isteri dalam melangsungkan perkawinan. Perkawinan yang tidak disetujui oleh para pihak dapat dibatalkan oleh Pengadilan
  • 4.
    ASAS-ASAS HUKUM PERKAWINAN 3. Asaskebebasan memilih pasangan.  Seseorang berhak untuk memilih atau menentukan pasangan hidupnya  HR Ibnu Abbas tentang Jariyah yang dinikahi dengan laki-laki yang tidak disenanginya, dan Rasulullah memberikan pilihan kepadanya untuk melanjutkan perkawinannya atau membatalkannya
  • 5.
    4. Asas kemitraansuami-isteri dengan tugas dan fungsi yang berbeda karena perbedaan kodrat (sifat asal, pembawaan). (Q.S. an-Nisa (4) : 43 dan al-Baqarah (2) ayat 187. Kemitraan ini menyebabkan kedudukan suami- isteri memiliki tugas dan fungsi yang berbeda untuk mencapai tujuan perkawinan Suami menjadi kepala keluarga, istri menjadi kepala dan penanggung jawab pengaturan rumah tangga. 5. Asas untuk selama-lamanya. Menunjukkan bahwa perkawinan dilaksanakan untuk melangsungkan keturunan dan membina cinta serta kasih sayang selama hidup (Q.s. ar-Rum (30) : 21). Perceraian mrpkn perbuatan hal yang dibenci Allah
  • 6.
    6.ASAS MONOGAMI RELATIF •Menurut UU No. 1/1974 pasal 3 adalah asas monogami relatif, artinya boleh sepanjang hukum dan agamanya mengizinkan. Asas tersebut sejalan dengan apa yang dimaksud dengan KHI. Sedangkan KUHPerdata menganut asas monogami mutlak karena ini berdasarkankepada doktrin Kristen (Gereja).
  • 7.
    Contoh Kasus BedaAgama Kasus Posisi Pada tanggal 22 April 1986, Hamid disingkat MD ( ) dan Eni silistia disingkat ES( ) melangsungkan perkawinan. Sebelum perkawinan MD beragama Hindu Bali, tetapi meninggalkannya dan memilih untuk memeluk agama Islam demi melangsungkan perkawinan dengan ES. Awalnya, perkawinan mereka berlangsung dengan rukun, tenteram dan damai, sehingga telah dikaruniai tiga orang anak, yaitu: (1) Widya Anik ( ) usia 20tahun; (2) Ahmad Rizal ( ) usia 14 tahun; (3) Kadek Kustanti ( ) usia 5 tahun
  • 8.
    Kasus Posisi • Sekitarbulan Februari 2006 keharmonisan rumah tangga mereka mulai goyah dan sering terjadi pertengkaran yang disebabkan karena: (1) suaminya (MD) kembali menjalankan ibadah menurut agama Hindu Bali; (2) suami cemburu terhadap istrinya tanpa sebab yang jelas; (3)suami tidak mau, enggan, dan jarang bersilaturahim dengan keluarga isterinya; (4) suami lebih mementingkan keluarganya, berbuat tidak adil atau berat sebelah dalam perhatian terhadap keluarga isterinya dan sering bertindak tanpa kompromi. • ES sebagai istri, telah berusaha bersikap sabar terhadap perilaku suaminya guna mempertahankan keutuhan rumah tangga dengan harapan suatu saat suaminya akan mengubah sifat dan perilakunya. Namun ternyata tidak ada perubahan perilaku dan bahkan menyakiti hatinya, sehingga timbul pertengkaran yang memuncak pada tanggal 12 April 2006, ketika itu MD membawa pisau. Untuk menyelamatkan dirinya, ES pergi dan pindah ke rumah orang tuanya. Sejak pertengkaran itu, ES dan MD telah “pisah ranjang” atau hidup terpisah dan juga sudah tidak ada lagi hubungan lahir dan bathin. Bahkan, MD tidak lagi memberi nafkah atau apapun yang dapat digunakan sebagai pengganti nafkah.
  • 9.
    Analisis Kasus Peraturan perundang-undanganyang mengatur perkawinan di Indonesia adalah UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (UU 1/1974). Ketentuan dalam UU 1/1974 secara tegas menunjuk kepada hukum agama sebagai syarat keabsahan suatu perkawinan, sebagaimana diatur dalam Pasal 2 Ayat (1) UU 1/1974. Oleh karena itu, keberadaan dan keberlakuan hukum Islam dalam mengatur perkawinan antar umat muslim, harus dijadikan pedoman dalam menyelesaikan kasus-kasus atau perkara perkawinan. Ketentuan hukum Islam yang mengatur perkawinan antara lain terdapat dalam kitab suci Al Qur’an, Hadis Rasul, dan Kompilasi Hukum Islam Indonesia (KHI).
  • 10.
    Analisis Kasus Perkawinan menuruthukum Islam dapat ditinjau dari tiga aspek, Pertama, ialah aspek-aspek hukum, sosial, dan agama. Kedua ditinjau dari aspek hukum, perkawinan merupakan suatu perjanjian. Ketiga menurut Al Qur’an Surat An Nisaa, Ayat (21), dinyatakan perkawinan adalah perjanjian yang sangat kuat, disebut dengan kata-kata “ miitsaaghan ghaliizhan ”. Ditinjau dari aspek sosial, perkawinan mengubah kedudukan dan status perempuan di masyarakat sebagaimana diatur dalam Al Qur’an Surat An Nisaa Ayat (3), berbunyi: “... jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil maka kawinlah seorang saja”.
  • 11.
    Analisis Kasus Perkawinan antaragama yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, seharusnya tidak terjadi jika dalam hal ini negara atau pemerintah secara tegas melarangnya dan menghilangkan sikap mendua dalam mengatur dan melaksanakan suatu perkawinan bagi rakyatnya. Sikap ambivalensi pemerintah dalam perkawinan beda agama ini terlihat dalam praktek bila tidak dapat diterima oleh Kantor Urusan Agama, dapat dilakukan di Kantor Catatan Sipil dan menganggap sah perkawinan berbeda agama yang dilakukan diluar negeri.
  • 12.
    Analisis Kasus Dari kenyataandalam kehidupan masyarakat bahwa perkawinan berbeda agama itu terjadi sebagai realitas yang tidak dipungkiri. Berdasarkan ketentuan perundang- undangan yang berlaku secara positif di Indonesia, telah jelas dan tegas menyatakan bahwa sebenarnya perkawinanantar agama tidak diinginkan, karena bertentangan dengan hukum yang berlaku di Indonesia.Tetapi ternyata perkawinan antar agama masih saja terjadi dan akan terus terjadi sebagai akibat interaksi sosial diantara seluruh warga negara Indonesia yang pluralis agamanya.
  • 13.
    Analisis Kasus Banyak kasus-kasusyang terjadi didalam masyarakat, seperti perkawinan antara artis Jamal Mirdad dengan Lydia Kandau, Katon Bagaskara dengan Ira Wibowo, Yuni Shara dengan Henri Siahaan, Adi Subono dengan Chrisye, Ari Sihasale dengan Nia Zulkarnaen, Dedi Kobusher dengan Kalina, Frans dengan Amara, Sonny Lauwany dengan Cornelia Agatha,dan masih banyak lagi
  • 14.
    Analisis Kasus Perkawinan dapatdilangsungkan apabila tidak ada halangan pada masing-masing mempelai. Halangan tersebut berupa larangan perkawinan. Dalam Pasal 44KHI dengan tegas ditentukan bahwa seorang wanita Islam dilarang melangsungkan perkawinan dengan seorang pria yang tidak beragama Islam; sedangkan bagi pria Islam menurut Pasal 40 Huruf c KHI dilarang melangsungkan perkawinan dengan seorang wanita yang tidak beragama Islam. Dalam praktiknya, masyarakat menafsirkan ketentuan dalam UU 1/1974 bahwa perkawinan yang sah harus dilakukan menurut hukum agama masing-masing dalam konteks perkawinan beda agama. Pertama, yaitu dilakukan upacara perkawinan menurut masing-masing agamanya.
  • 15.
    Analisis Kasus Kedua, Adaperbedaan pendapat dari para ulama tentang perkawinan beda agama. Sebagian besar ulama membolehkan pria muslim menikah dengan wanita dari kalangan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani). Tetapi pakar fikih dari madzhab Hanafi, Syafi’i, dan sebagian ulama Malikiah berpendapat Makruh hukumnya perkawinan antara pria muslim dan wanita ahli kitab. Pendapat yang lebih tegas dikemukakan secara formal oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam Musyawarah Nasional II tanggal 26 Mei-1 Juni 1980 (11-17 Rajab 1400 H) menetapkan fatwa yang intinya menyatakan haram suatu perkawinan antara wanita Islam dan pria non-Islam, begitu juga dengan pria Islam dan wanita non-Islam, atas dasar pertimbangan mashlahat
  • 16.
    Asas-asas Perkawinan menurut UUNo. 1 Th 1974 (penjelasan butir 4) a. Tujuan perkawinan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal b. Perkawinan sah bila dilakukan menurut hukum masing- masing agama dan kepercayaan, perkawinan hrs (wajib) dicatat menurut peraturan perUUan yg berlaku. c. Monogami relatif, artinya boleh sepanjang hukum dan agamanya mengizinkan. Asas tersebut sejalan dengan apa yang dimaksud dengan KHI. Sedangkan KUHPerdata menganut asas monogami mutlak karena ini berdasarkankepada doktrin Kristen (Gereja).
  • 17.
    Asas-asas Perkawinan menurut UUNo. 1 Th 1974 (penjelasan butir 4) d. Suami isteri harus telah matang jiwa raganya untuk melangsungkan perkawinan. e. Mempersukar perceraian. f. Hak dan kedudukan istri seimbang dgn hak dan kedudukan suami dlm kehidupan rumah tangga, dalam pergaulan masyarakat g. Perkawinan berikut segala sesuatu yg berhubungan dgn perkawinan yg terjadi sebelum UU ini berlaku adlh sah