Anatomi Bunga
              Kelompok 5
   Mukhayyarah (1110016100043)
 Bayuda Luqman A. (1110016100044)
    Risti Ayu T. (1110016100050)
   Eny Rahayu (11110016100052)
 Nisrina Agustama (1110016100069)
     M. Fikri R (1110016100067)
Bunga
 Bunga    merupakan alat perkembangbiakan pada
  tumbuhan Angiospermae.
 Masalah homologi dan evolusi morfologi bunga
  diteliti oleh Wolff dan George (abad 18), serta
  Condolle (abad 19).
 Penelitian lain menyatakan bahw organ bunga
  merupakan turunan langsung dari helaian daun.
Organ Bunga
 Bunga terdiri atas aksis (sumbu), pada sumbu ini muncul
  organ bunga.
 Pedisel, yaitu bagian sumbu yang mempunyai ruas
  (internodus) terdapat tangkai bunga
 Reseptakulum atau Thalamus. yaitu ujung distal dari pedisel
  membengkak dan meluas
4 macam organ bunga (menempel pada reseptakulum)
     Organ paling luar Sepala, yang secara bersama menyusun Kaliks
      (kelopak bunga) yang biasanya berwarna hijau, ditemukan tepat di
      atas reseptakulum.
     Sebelah dalam sepala terdapat Korola (mahkota bunga), yang terdiri
      atas petala yang biasanya berwarna.
     Sepala dan korola bersama-sama membentuk Periantum (perhiasan
      bunga). Jika semua organ periantum sama disebut
Dua organ reproduksi di dalam periantum.
 -Organsebelah luar disebut stamen (benang sari) yang bersama-
 sama membentuk abdroesium.
 - Organ sebelah dalam disebut karpela (daun buah) yang
 membentuk ginoesium.
 Stamen terdiri atas filamen atau tangkai sari dan anthera di
  bagian distalnya.
 Ginoseum tersusun dari karpela bebas (apokarpus) atau
  berlekatan (sinkarpus), yang biasanya terdiri atas 3 bagian
     Ovarium (bakal buah), suatu bulatan yang berisi satu atau lebih
      ovulum (bakal buah).
     Stilus (tangkai putik, yang dihasilkan dari pemanjangan dinsing
      ovarium
     Stigma (kepala putik), merupakan bagian ujung stilus yang
      mempunyai permukaan yang
     memungkinkan terjadinya penyerbukan.
 Ovulum menempel pada daerah penebalan khusus dinding
  karpela yang disebut plasenta.
 Karpela yang ditemukan pada tempat yang lebih tinggi
  daripada sumbu bunga, disebut bunga hipogin dan ovariumnya
  disebut superior.
 Keadaan bila hiasan bunga dan benang sari menempel pada
  tingkat yang sama dengan bakal buah sehingga bakal buah
  setengah terbenam disebut bunga perigin dan ovarium
  disebut intermidiate.
 Bunga Epigin ,yaitu bakal buah tenggelam dan hiasan bunga
  seakan-akan duduk di bagian atasnya.

Histologi Sepala dan Petala
 Struktur luar sepala dan petala seperti struktur daun. Apabila
  bagian dalamnya berwarna hijau, sepala mirip helaian daun,
  sedangkan apabila berwarna, jelas berbeda dengan petala.
 Petala, pada umumnya, mempunyai struktur dalam yang
  mirip dengan helaian daun, yaitu tulang daun dan mesofil
  berkembang dengan baik, memiliki jaringan palisade,
  epidermis tidak mempunyai papila, dan memiliki banyak
  stomata
Stamen (Benang Sari)
 Epidermis  filamen mempunyai kutikula
  dan pada spesies tertentu mempunyai
  trikoma. Filamen terdiri atas parenkim
  dengan vakuola yang berkembang
  baik dan ruang antarsel kecil. Sering
  kali, dalam cairan sel terdapat pigmen.
 Antera umumnya berisi 4 kantong sari
  (mikrosporangia) yang berpasangan
  dalam 2 lobus. Kedua lobus terpisah
  oleh suatu jaringan steril yang disebut
  konektivum.
Lanjutan…
 Tapetum membantu dalam penyaluran makanan
  saat perkembangan sel induk serbuk sari dan butir
  serbuk sari. Tapetum terbentuk sebagai hasil
  diferensiasi bertahap dalam dinding antera. Sel
  tapetum     dapat    membesar,      kaya    dengan
  protoplasma dan mungkin multinukleat atau
  poliploid.
 Tapetum dibedakan menjadi dua tipe:
  ◦ Tapetum sekretori/tapetum kelenjar, apabila sel
    masih tetap dalam posisi aslinya, kemudian
    hancur, isinya diserap oleh sel induk serbuk dan
    butir serbuk yang berkembang.
  ◦ Tapetum amebiod, apabila protoplas dan sel
    tapetum mengadakan pemantakan di antara sel
    induk serbuk dan butir serbuk yang berkembang,
    mereka saling berlekatan membentuk tapetum
    peri plasmodium.
Perkembangan Butir Serbuk Sari
 Berdasarkan pada cara pembentukan dinding dan
  pembelahan meiosis dari sel induk serbuk, ada 2 tipe
  perkembangan butir serbuk sari, yaitu:
  • Tipe suksesif
  • Tipe simultan
 Butir serbuk tiap tetrad terpisah satu dengan yang lain dan
  mereka terletak bebas di dalam kantong sari.
 Butir serbuk sari muda mempunyai vakuola pusat yang
  besar.
 Suatu butir serbuk sari yang masak dikelilingi oleh dinding
  pektoselulosa tipis, yaitu intin (Intin dapat dilewati protein).
  Di sebelah luar intin ada lapisan lain yang disebut eksin.
  Komponen utama dari eksin adalah sporopolenin.
Perkembangan Dinding Butir Serbuk
Sari
 Butir serbuk sari membentuk dinding yang baru,
  yaitu primeksin.
 Perubahan primeksin ke eksin terjadi karena unsur
  primeksin meningkatkan prekursor bakula yang
  seperti batang.
 Bakula yang membentuk seksin membesar, terjadi
  penimbunan sporopolenin dengan cepat dan
  kepala meluas ke arah lateral membentuk tektum.
 Penimbunan sporopolenin dilanjutkan dan seluruh
  dinding butir serbuk meluas ke arah radial dan
  lateral sehingga butir serbuk membesar.
Proses yang Terjadi dalam Tapetum
   Sel tapetum terjadi penebalan
   Bersamaan dengan terbentuknya tetrad, sel
    tapetum antera membesar dan membentuk badan
    sferis spesifik (pro-orbikula)
   Tahap tetrad akhir, badan sferid di antara
    plasmalema dan dinding tapetum hilang.
   Butir serbuk sari Monokotil mempunyai satu
    tingkap, sedangkan Dikotil biasanya mempunyai
    tiga tingkap. membedakan tipe tingkap (apertura)
    menjadi empat, yaitu:
    o Sulkus
    o Kolpa
    o Ruga
    o Porus
Karpela

 Menurut teori telome, tumbuhan pembuluh
 yang paling primitif seluruhnya dibangun
 dari sistem telome. Telome adalah bagian
 paling akhir dari sumbu yang bercabang-
 cabang dikotomi yang menyangga
 sporangium (disebut telome fertil) atau tidak
 menyangga sporangium (disebut telome
 steril)
Lanjut..
 Menurut Wilson (1942). Karpela seperti stamen,
  berkembang dari telome fertil, yaitu telome yang
  membawa sporagium berlekatan membentuk organ
  daun yang membawa ovulum pada bagian tepinya.
 Teori gonofil oleh Melville (1967) mengatakan bahwa
  ovarium terdiri atas daun steril dan cabang pembawa
  ovulum yang biasanya epifil daun. Setiap daun
  bersama dengan cabang fertil dianggap sebagai suatu
  unit yang disebut gonofil sebagai pengganti karpela.
 Teori/konsep lain adalah konsep sui generis, yaitu
  stamen dan karpela tidak homolog dengan daun.
 Menurut penafsiran klasik, karpela merupakan turunan
  dari daun fertil yang membawa ovulum pada bagian
  tepinya. Bagian tepi kemudian berinvolusi dan
  bergabung di antaranya atau dengan bagian tepi
  karpela lainnya.
Histologi karpela
 Pada waktu anthesis, yaitu terjadinya
  pemasakan antera dan ovulum, hanya
  sedikit yang dapat di amati pada dindng
  ovulum.
 Dinding ovarium terdiri atas jaringan
  parenkim dan pembuluh yang di tutupi oleh
  epidermis yang ada kutikulanya.
 Stigma kebanyakan tumbuhan
  mengeluarkan cairan yang terdiri atas
  minyak, gula, dan asam amino.
Lanjut..
 Antara jaringan stigma dan ovarium terdapat
  jaringan khusus, tempat pematangan butir serbuk
  sari yang berkecambah. Jaringan ini memberi
  makanan pada buluh serbuk sari untuk tumbuh
  selama melalui stilus ke ovarium. Jaringan ini di
  sebut jaringan transmiting (pemindah).
 Stilus mungkin kosong atau padat, tergantung
  pada tingkat penutupan perlekatan.
 Stilus kosong dari ginoesium sinkarpi terdiri atas
  saluran tunggal atau beberapa saluran yang
  jumlahnya sama dengan jumlah kerpela.
Lanjut…

 Sebagian besar Angiospermae mempunyai
  stilus padat dan jaringan pemindah berupa
  untaian sel memanjang yang kaya
  sitoplasma.
 Pada stilus kosong, butir serbuk sari
  berkecambah membentuk pembuluh di
  antara papila jaringan pemindah.
 Pada kebanyakan tumbuhan, kutikula pada
  jaringan pemindah tidak tampak sebelum
  penyerbukan dan dinding jaringan
  kelenjarnya halus dan membengkak.
Ovulum
   Ovulum terdiri atas nuselus yang dikelilingi oleh satu atau
    dua integumendan menempel pada plasenta dengan sebuah
    tangkai yang disebut dengan funikulus.
    Pada ujung ovulum yang bebas terdapat celah kecil yang disebut
    mikropil. Daerah tempat integumen berlekatan dengan funikulus
    disebut kalaza. Sel nuselus biasanya terdapat di bawah lapisan
    paling luar pada ujung mikropil, dan disebut sel induk megaspora.
    Karena itu, nuselus dianggap sebagai megasporangium.
   Ovulum dibedakan menjadi 2 tipe utama yaitu ortotropus atau
    atropus dan anatropus.
      Atropus, apabila ujung nuselus pada garis lurus dan
       bersambungan dengan funikulus.
      Anatropus, apabila ujung nuselus diarahkan kebelakang menuju
       dasar funikulus.
Lanjut..
   Diantara kedua bentuk ekstrem tersebut terdapat tahap
    peralihan yang berbeda yaitu sumbu ovulum mengarah
    ke berbagai arah, ada yang disebut hemianatropus,
    kampilotropus dan amfitropus. Pada plumbaginaceae,
    opuntia dan beberapa genus lain dari cactaceae,
    funikulus sangat panjang dan mengelilingi ovulum. Tipe
    ini disebut sirsinotropus.
Tipe ovulum
Penggolongan ovulum :
1. Orthotropus
   Mikropil menghadap ke atas, terletak segaris dengan
   hilus.
2. Anatropus
   Mikropil dan hilus letaknya sangat berdekatan.
3. Kampilotropus
   Ovulum berbentuk kurva
4. Hemianatropus
   Integumen dan nuselus terletak disekitar sudut
   funikulus
5. Amphitropus
   Ovarium berbentuk seperti sepatu kuda
6. Sirsinotropus
Megasporogenesi
s
 Megasporogenesis adalah suatu proses yang
 berlangsung di dalam bagian betina dari suatu
 bunga yang disebut bakal buah atau ovarium
 dan menghasilkan kandung lembaga.
Proses megasporogenesis
MEGASPOROGENESIS
 Pembentukan megaspora melalui
  peristiwa sel induk megaspora.
 Megaspora / kantung embrio akan
  berkecambah dengan terjadinya mitosis
  pada intinya sehingga menjadi kantung
  embrio dewasa berinti delapan yaitu :
  3 sel dekat mikropil adalah 1 sel telur dan 2
  sinergid
 3 sel dekat kalaza disebut sel antipoda
 2 sel di tengah disebut inti polar
Gametofit Jantan

     Gametofit jantan yang sangat
     tereduksi (berada dalam serbuk sari
     dan hanya terdiri dari tiga sel) sangat
     membantu mengurangi waktu
     antara penyerbukan, di saat serbuk
     sari mencapai organ betina,
     dan pembuahan. Selang waktu normal
     antara kedua tahap tersebut biasanya
     12-24 jam.
Pertumbuhan buluh serbuk sari
Lycopersicum peruvianum dibedakan
empat daerah :
    1. Daerah pertumbuhan ujung
        membesar dan berisi sejumlah
        gelembung golgi besar dan kecil,
        dan hanya mempunyai dinding
        pektoselulosa.
    2. Daerah dibawah ujung
          ada 2 lapisan :
             •Luar : pektoselulosa
             •Dalam : kalosa tipis
3. Daerah inti
berisi inti vegetatif dan generatif.
4. Daerah pembentukan sumbat kalosa
banyak terdapat vakuola besar dan dinding
kalosa sangat tebal
GAMETOFIT BETINA
   Pertumbuhan serbuk Lilium ditemukan terbatas pada daerah
    3-5µ dari ujung buluh serbuk.
   Sitoplasma bagian buluh tidak tumbuh, berisi banyak
    mitokondria, amiloplas, badan golgi, retikulum endoplasma,
    badan lemak, dan vesikel.
   Beberapa vesikel berasal dari badan golgi yang memberi
    kontribusi pada pembentukan plasmalema dan dinding bulu
    serbuk.
   Analisis sitokimia menunjukkan bahwa ujung buluh serbuk
    kaya akan RNA, protein dan karbohidrat.
   Megaspora yang hidup akan membesar dan mengalami tiga
    kali pembelahan mitosis berurutan, sehingga kantong embrio
    berisi gametofit betina dengan 8 inti membesar.
Bakal buah
                                                   Bakal biji
                                                  Sel induk megaspora

                                                                meiosis
         inti polar
                                                                          4 mega-
                                                                          spora


                      sel telur
                                                                  3 megaspora
                                                                  mati
pembelahan sitoplasma,
hasilnya: 7 sel, 8 inti                                     1 megaspora
(gametofit betina)                                          berkembang
                                                mitosis 1
                          mitosis 3 mitosis 2


            Perbentukan Gametofit Betina
Kantong embrio Angiospermae terbagi menjadi tiga tipe,
yaitu:
1. Kantong Embrio Monospora

      Kantong embrio monospora adalah kantong embrio yang
       dalam proses megasporogenesis sporogen menghasilkan
       satu inti kantong embrio.

      Meliputi dua tipe, yaitu :

          ◦ Tipe Polygonum, dengan kantong embrio 8 inti.

          ◦ Tipe Oenothera, dengan kantong embrio 4 inti.
2.    Kantong Embrio Bispora
3.    Kantong Embrio Tetraspora
2. Kantong Embrio Bispora
   ◦ Sel sporogen pada pembelahan meiosis pertama
     menghasilkan 2 sel.
   ◦ Kedua sel tersebut membelah, masing-masing membentuk
     dua inti haploid (inti megaspora).
   ◦ Kemudian membelah lagi sehingga menghasilkan 8 inti.
3. Kantong Embrio Tetraspora
       Kantong embrio tetraspora dibedakan menjadi 7
tipe, yaitu :
   1.   Peperomia
   2.   Penaea
   3.   Drusa
   4.   Fritillaria
   5.   Plumbagella
   6.   Plumbago
   7.   Adoxa
Berdasarkan adanya persamaan, maka ketujuh tipe
tersebut dikelompokkan lagi menjadi dua, yaitu:
1.   Tipe Adoxa
2.   Tipe Fritillaria
Pembentukan Endosperm dan Embrio
 Proses   pembentukan endosperm dan embrio
  meliputi proses fertilisasi atau pembuahan
  yang dapat terjadi setelah proses polinasi
  atau penyerbukan.
 Fertilisasi dapat terjadi jika:
   a) butir serbuk sari dan kepala putik berasal
      dari jenis yang sama
   b) butir serbuk sari dan kepala putik sama-
      sama dalam keadaan masak, siap untuk
      fertisasi.
Pembuahan

   Butir serbuk sari berkecambah menghasilkan
    buluh serbuk sari pada stigma.
   Di dalam buluh serbuk terdapat dua gamet
    jantan yang menembus stilus dan mencapai
    ovulum.
   Pada kebanyakan tumbuhan, buluh serbuk
    sari memantak ke dalam ovulum melalui
    mikropil. Pada beberapa tumbuhan buluh
    serbuk sari memantak melalui khalaza, dan
Pembuahan ganda

Pada Angiospermae terjadi pembuahan
ganda, yaitu terjadi dua macam peleburan:
1. Satu dari gamet jantan melebur dengan
   sel telur. Peleburan gamet jantan
   dengan sel telur yang menghasilkan
   zigot yang akan tumbuh menjadi
   embrio.
2. Gamet jantan yang kedua melebur
   dengan inti sekunderPeleburan gamet
   jantan yang lain dengan inti kandung
   lembaga sekunder menghasilkan
   endosperm.
kepala
                                              putik
                                             tangkai polen
                      kantung lembaga        putik inti
                                             tabung generatif
                         inti kutub          polen tabung
sel telur                   nuselus         bakal biji polen
                          integumen                     inti
                                             mikropil vegetatif
      tangkai biji mikropil                   bakal buah
                                                                (b)
                                      (a)

                                                  inti kutub              sel antipoda

                  2 sperma                         inti telur             endosperma


                              inti sperma
                                                                      zigot
             (c) tabung polen               (d)                         (e)


        Pembuahan Ganda pada Angiospermae 1. 21/24
                                        Plant
Perkembangan Endosperm
   Endosperm berkembang dari pembelahan
    mitosis inti endosperm yang dihasilkan dari
    peleburan salah satu gamet jantan dengan
    dua inti kutub atau dengan inti sekunder.
    Perkembangan endosperm berikutnya
    berbeda untuk setiap tumbuhan.
Perkembangan Embrio
•Setelah feretilisasi, zigot terbentuk. Selanjutnya, zigot
mengalami dorman selama periode tertentu.
•Pada saat yang sama, vakuola besar yang terdapat dalam
telur menghilang dan sitoplasma menjadi homogen.
•Zigot membelah setelah pembelahan inti endosperm.


Embrio dikotil
Berdasarkan perbedaan perkembangan proembrio sampai
tahap 4 sel, embrio dikotil dapat dikelompokkan menjadi 5
tipe, yaitu sebagai berikut
(Lanjutan embrio dikotil)


A.   Sel terminal membelah secara longitudinal
     1. Sel basal tidak atau sedikit berperan dalam pembentukan
        embrio, disebut tipe Crucifer.
     2. Sel basal dan sel terminal berperan dalam pembeentukan
        embrio, disebut tipe Asterad.
B.   Sel terminal membelah secara transversal
     1. Sel basal tidak atau sedikit berperan dalam pembentukan
        embrio.
             Sel basal bekembang menjadi suspensor yang terdiri atas 2 aatau lebih
              sel, disebut tipe Solanad.
             Sel basal tidak membelah. Jika ada suspensor berkembang dar isel
              terminal, disebut tipe Caryophylad
     2. Sel basal dan sel terminal berperan dalam pembentukan
        embrio, disebut tipe Chenopodial.
Embrio Monokotil
 Tidak ada perbedaan yang penting pada pembelahan
  pertama embrio dikotil dan monokotil. Namun, pada tahap-
  tahap perkembangan berikutnya terdapat perbedaan yang
  jelas.
 Pada embrio masak hampir semua dikotil, ujung pucuk
  terdapat diantara dasar dua kotiledon.
 Sedangkan pada embrio monokotil, ujung pucuk terdapat
  pada bagian lateral kotiledon tunggal.
Variasi Struktur Suspensor

   Pada kebanyakan tumbuhan, fungsi suspensor hanya
    untuk mendorong embrio kedalam endosperm.
   Namun pada beberapa tumbuhan, suspensor dapat
    berkembang menjadi haustoria yang besar.
   Haustoria ini mengadakan pematangan antara sel
    endosperm dan sel-sel tertentu disekitar endosperm.
Kelenjar madu

Kelenjar madu merupakan bagian yang penting
 pada bunga, karena madu yang dihasilkan
 dapat menarik binatang (serangga) yang sangat
 penting untuk proses penyerbukan.
Berdasarkan asalnya dapat dibedakan menjadi:
  Kelenjar madu yang merupakan suatu bagian
   khusus (suatu alat tambahan) pada bunga
  Kelenjar madu yang terjadi dari salah satu
   satu bagian bunga yang telah mengalami
   metamorfosis dan telah berubah pula
   tugasnya.
Berdasarkan bentuk dan tempatnya
    dibedakan menjadi:
• Diatas bakal buah dan melingkari tangkai
  kepala putik, misalnya pada bunga jeruk
  (Citrus sp.)
• Berbentuk cakram pada dasar bunga, di
  bawah bakal buah.
Kelenjar       madu     yang     merupakan
metamorfosissalah satu bagian bunga dapat
berasal dari:
o Daun mahkota,
o Benang sari,
SEKIAN tararengkyu…

Anatomi bunga dan kelenjar

  • 1.
    Anatomi Bunga Kelompok 5 Mukhayyarah (1110016100043) Bayuda Luqman A. (1110016100044) Risti Ayu T. (1110016100050) Eny Rahayu (11110016100052) Nisrina Agustama (1110016100069) M. Fikri R (1110016100067)
  • 2.
    Bunga  Bunga merupakan alat perkembangbiakan pada tumbuhan Angiospermae.  Masalah homologi dan evolusi morfologi bunga diteliti oleh Wolff dan George (abad 18), serta Condolle (abad 19).  Penelitian lain menyatakan bahw organ bunga merupakan turunan langsung dari helaian daun.
  • 3.
    Organ Bunga  Bungaterdiri atas aksis (sumbu), pada sumbu ini muncul organ bunga.  Pedisel, yaitu bagian sumbu yang mempunyai ruas (internodus) terdapat tangkai bunga  Reseptakulum atau Thalamus. yaitu ujung distal dari pedisel membengkak dan meluas 4 macam organ bunga (menempel pada reseptakulum)  Organ paling luar Sepala, yang secara bersama menyusun Kaliks (kelopak bunga) yang biasanya berwarna hijau, ditemukan tepat di atas reseptakulum.  Sebelah dalam sepala terdapat Korola (mahkota bunga), yang terdiri atas petala yang biasanya berwarna.  Sepala dan korola bersama-sama membentuk Periantum (perhiasan bunga). Jika semua organ periantum sama disebut
  • 4.
    Dua organ reproduksidi dalam periantum. -Organsebelah luar disebut stamen (benang sari) yang bersama- sama membentuk abdroesium. - Organ sebelah dalam disebut karpela (daun buah) yang membentuk ginoesium.
  • 5.
     Stamen terdiriatas filamen atau tangkai sari dan anthera di bagian distalnya.  Ginoseum tersusun dari karpela bebas (apokarpus) atau berlekatan (sinkarpus), yang biasanya terdiri atas 3 bagian  Ovarium (bakal buah), suatu bulatan yang berisi satu atau lebih ovulum (bakal buah).  Stilus (tangkai putik, yang dihasilkan dari pemanjangan dinsing ovarium  Stigma (kepala putik), merupakan bagian ujung stilus yang mempunyai permukaan yang  memungkinkan terjadinya penyerbukan.  Ovulum menempel pada daerah penebalan khusus dinding karpela yang disebut plasenta.  Karpela yang ditemukan pada tempat yang lebih tinggi daripada sumbu bunga, disebut bunga hipogin dan ovariumnya disebut superior.
  • 6.
     Keadaan bilahiasan bunga dan benang sari menempel pada tingkat yang sama dengan bakal buah sehingga bakal buah setengah terbenam disebut bunga perigin dan ovarium disebut intermidiate.  Bunga Epigin ,yaitu bakal buah tenggelam dan hiasan bunga seakan-akan duduk di bagian atasnya. Histologi Sepala dan Petala  Struktur luar sepala dan petala seperti struktur daun. Apabila bagian dalamnya berwarna hijau, sepala mirip helaian daun, sedangkan apabila berwarna, jelas berbeda dengan petala.  Petala, pada umumnya, mempunyai struktur dalam yang mirip dengan helaian daun, yaitu tulang daun dan mesofil berkembang dengan baik, memiliki jaringan palisade, epidermis tidak mempunyai papila, dan memiliki banyak stomata
  • 7.
    Stamen (Benang Sari) Epidermis filamen mempunyai kutikula dan pada spesies tertentu mempunyai trikoma. Filamen terdiri atas parenkim dengan vakuola yang berkembang baik dan ruang antarsel kecil. Sering kali, dalam cairan sel terdapat pigmen.  Antera umumnya berisi 4 kantong sari (mikrosporangia) yang berpasangan dalam 2 lobus. Kedua lobus terpisah oleh suatu jaringan steril yang disebut konektivum.
  • 8.
    Lanjutan…  Tapetum membantudalam penyaluran makanan saat perkembangan sel induk serbuk sari dan butir serbuk sari. Tapetum terbentuk sebagai hasil diferensiasi bertahap dalam dinding antera. Sel tapetum dapat membesar, kaya dengan protoplasma dan mungkin multinukleat atau poliploid.  Tapetum dibedakan menjadi dua tipe: ◦ Tapetum sekretori/tapetum kelenjar, apabila sel masih tetap dalam posisi aslinya, kemudian hancur, isinya diserap oleh sel induk serbuk dan butir serbuk yang berkembang. ◦ Tapetum amebiod, apabila protoplas dan sel tapetum mengadakan pemantakan di antara sel induk serbuk dan butir serbuk yang berkembang, mereka saling berlekatan membentuk tapetum peri plasmodium.
  • 9.
    Perkembangan Butir SerbukSari  Berdasarkan pada cara pembentukan dinding dan pembelahan meiosis dari sel induk serbuk, ada 2 tipe perkembangan butir serbuk sari, yaitu: • Tipe suksesif • Tipe simultan  Butir serbuk tiap tetrad terpisah satu dengan yang lain dan mereka terletak bebas di dalam kantong sari.  Butir serbuk sari muda mempunyai vakuola pusat yang besar.  Suatu butir serbuk sari yang masak dikelilingi oleh dinding pektoselulosa tipis, yaitu intin (Intin dapat dilewati protein). Di sebelah luar intin ada lapisan lain yang disebut eksin. Komponen utama dari eksin adalah sporopolenin.
  • 10.
    Perkembangan Dinding ButirSerbuk Sari  Butir serbuk sari membentuk dinding yang baru, yaitu primeksin.  Perubahan primeksin ke eksin terjadi karena unsur primeksin meningkatkan prekursor bakula yang seperti batang.  Bakula yang membentuk seksin membesar, terjadi penimbunan sporopolenin dengan cepat dan kepala meluas ke arah lateral membentuk tektum.  Penimbunan sporopolenin dilanjutkan dan seluruh dinding butir serbuk meluas ke arah radial dan lateral sehingga butir serbuk membesar.
  • 11.
    Proses yang Terjadidalam Tapetum  Sel tapetum terjadi penebalan  Bersamaan dengan terbentuknya tetrad, sel tapetum antera membesar dan membentuk badan sferis spesifik (pro-orbikula)  Tahap tetrad akhir, badan sferid di antara plasmalema dan dinding tapetum hilang.  Butir serbuk sari Monokotil mempunyai satu tingkap, sedangkan Dikotil biasanya mempunyai tiga tingkap. membedakan tipe tingkap (apertura) menjadi empat, yaitu: o Sulkus o Kolpa o Ruga o Porus
  • 12.
    Karpela Menurut teoritelome, tumbuhan pembuluh yang paling primitif seluruhnya dibangun dari sistem telome. Telome adalah bagian paling akhir dari sumbu yang bercabang- cabang dikotomi yang menyangga sporangium (disebut telome fertil) atau tidak menyangga sporangium (disebut telome steril)
  • 13.
    Lanjut..  Menurut Wilson(1942). Karpela seperti stamen, berkembang dari telome fertil, yaitu telome yang membawa sporagium berlekatan membentuk organ daun yang membawa ovulum pada bagian tepinya.  Teori gonofil oleh Melville (1967) mengatakan bahwa ovarium terdiri atas daun steril dan cabang pembawa ovulum yang biasanya epifil daun. Setiap daun bersama dengan cabang fertil dianggap sebagai suatu unit yang disebut gonofil sebagai pengganti karpela.  Teori/konsep lain adalah konsep sui generis, yaitu stamen dan karpela tidak homolog dengan daun.  Menurut penafsiran klasik, karpela merupakan turunan dari daun fertil yang membawa ovulum pada bagian tepinya. Bagian tepi kemudian berinvolusi dan bergabung di antaranya atau dengan bagian tepi karpela lainnya.
  • 14.
    Histologi karpela  Padawaktu anthesis, yaitu terjadinya pemasakan antera dan ovulum, hanya sedikit yang dapat di amati pada dindng ovulum.  Dinding ovarium terdiri atas jaringan parenkim dan pembuluh yang di tutupi oleh epidermis yang ada kutikulanya.  Stigma kebanyakan tumbuhan mengeluarkan cairan yang terdiri atas minyak, gula, dan asam amino.
  • 15.
    Lanjut..  Antara jaringanstigma dan ovarium terdapat jaringan khusus, tempat pematangan butir serbuk sari yang berkecambah. Jaringan ini memberi makanan pada buluh serbuk sari untuk tumbuh selama melalui stilus ke ovarium. Jaringan ini di sebut jaringan transmiting (pemindah).  Stilus mungkin kosong atau padat, tergantung pada tingkat penutupan perlekatan.  Stilus kosong dari ginoesium sinkarpi terdiri atas saluran tunggal atau beberapa saluran yang jumlahnya sama dengan jumlah kerpela.
  • 16.
    Lanjut…  Sebagian besarAngiospermae mempunyai stilus padat dan jaringan pemindah berupa untaian sel memanjang yang kaya sitoplasma.  Pada stilus kosong, butir serbuk sari berkecambah membentuk pembuluh di antara papila jaringan pemindah.  Pada kebanyakan tumbuhan, kutikula pada jaringan pemindah tidak tampak sebelum penyerbukan dan dinding jaringan kelenjarnya halus dan membengkak.
  • 17.
    Ovulum  Ovulum terdiri atas nuselus yang dikelilingi oleh satu atau dua integumendan menempel pada plasenta dengan sebuah tangkai yang disebut dengan funikulus.  Pada ujung ovulum yang bebas terdapat celah kecil yang disebut mikropil. Daerah tempat integumen berlekatan dengan funikulus disebut kalaza. Sel nuselus biasanya terdapat di bawah lapisan paling luar pada ujung mikropil, dan disebut sel induk megaspora. Karena itu, nuselus dianggap sebagai megasporangium.  Ovulum dibedakan menjadi 2 tipe utama yaitu ortotropus atau atropus dan anatropus.  Atropus, apabila ujung nuselus pada garis lurus dan bersambungan dengan funikulus.  Anatropus, apabila ujung nuselus diarahkan kebelakang menuju dasar funikulus.
  • 18.
    Lanjut..  Diantara kedua bentuk ekstrem tersebut terdapat tahap peralihan yang berbeda yaitu sumbu ovulum mengarah ke berbagai arah, ada yang disebut hemianatropus, kampilotropus dan amfitropus. Pada plumbaginaceae, opuntia dan beberapa genus lain dari cactaceae, funikulus sangat panjang dan mengelilingi ovulum. Tipe ini disebut sirsinotropus.
  • 19.
    Tipe ovulum Penggolongan ovulum: 1. Orthotropus Mikropil menghadap ke atas, terletak segaris dengan hilus. 2. Anatropus Mikropil dan hilus letaknya sangat berdekatan. 3. Kampilotropus Ovulum berbentuk kurva 4. Hemianatropus Integumen dan nuselus terletak disekitar sudut funikulus 5. Amphitropus Ovarium berbentuk seperti sepatu kuda 6. Sirsinotropus
  • 20.
    Megasporogenesi s Megasporogenesis adalahsuatu proses yang berlangsung di dalam bagian betina dari suatu bunga yang disebut bakal buah atau ovarium dan menghasilkan kandung lembaga.
  • 21.
  • 22.
    MEGASPOROGENESIS  Pembentukan megasporamelalui peristiwa sel induk megaspora.  Megaspora / kantung embrio akan berkecambah dengan terjadinya mitosis pada intinya sehingga menjadi kantung embrio dewasa berinti delapan yaitu :  3 sel dekat mikropil adalah 1 sel telur dan 2 sinergid 3 sel dekat kalaza disebut sel antipoda 2 sel di tengah disebut inti polar
  • 23.
    Gametofit Jantan Gametofit jantan yang sangat tereduksi (berada dalam serbuk sari dan hanya terdiri dari tiga sel) sangat membantu mengurangi waktu antara penyerbukan, di saat serbuk sari mencapai organ betina, dan pembuahan. Selang waktu normal antara kedua tahap tersebut biasanya 12-24 jam.
  • 24.
    Pertumbuhan buluh serbuksari Lycopersicum peruvianum dibedakan empat daerah : 1. Daerah pertumbuhan ujung membesar dan berisi sejumlah gelembung golgi besar dan kecil, dan hanya mempunyai dinding pektoselulosa. 2. Daerah dibawah ujung ada 2 lapisan : •Luar : pektoselulosa •Dalam : kalosa tipis
  • 25.
    3. Daerah inti berisiinti vegetatif dan generatif. 4. Daerah pembentukan sumbat kalosa banyak terdapat vakuola besar dan dinding kalosa sangat tebal
  • 26.
    GAMETOFIT BETINA  Pertumbuhan serbuk Lilium ditemukan terbatas pada daerah 3-5µ dari ujung buluh serbuk.  Sitoplasma bagian buluh tidak tumbuh, berisi banyak mitokondria, amiloplas, badan golgi, retikulum endoplasma, badan lemak, dan vesikel.  Beberapa vesikel berasal dari badan golgi yang memberi kontribusi pada pembentukan plasmalema dan dinding bulu serbuk.  Analisis sitokimia menunjukkan bahwa ujung buluh serbuk kaya akan RNA, protein dan karbohidrat.  Megaspora yang hidup akan membesar dan mengalami tiga kali pembelahan mitosis berurutan, sehingga kantong embrio berisi gametofit betina dengan 8 inti membesar.
  • 27.
    Bakal buah Bakal biji Sel induk megaspora meiosis inti polar 4 mega- spora sel telur 3 megaspora mati pembelahan sitoplasma, hasilnya: 7 sel, 8 inti 1 megaspora (gametofit betina) berkembang mitosis 1 mitosis 3 mitosis 2 Perbentukan Gametofit Betina
  • 28.
    Kantong embrio Angiospermaeterbagi menjadi tiga tipe, yaitu: 1. Kantong Embrio Monospora  Kantong embrio monospora adalah kantong embrio yang dalam proses megasporogenesis sporogen menghasilkan satu inti kantong embrio.  Meliputi dua tipe, yaitu : ◦ Tipe Polygonum, dengan kantong embrio 8 inti. ◦ Tipe Oenothera, dengan kantong embrio 4 inti. 2. Kantong Embrio Bispora 3. Kantong Embrio Tetraspora
  • 29.
    2. Kantong EmbrioBispora ◦ Sel sporogen pada pembelahan meiosis pertama menghasilkan 2 sel. ◦ Kedua sel tersebut membelah, masing-masing membentuk dua inti haploid (inti megaspora). ◦ Kemudian membelah lagi sehingga menghasilkan 8 inti. 3. Kantong Embrio Tetraspora Kantong embrio tetraspora dibedakan menjadi 7 tipe, yaitu : 1. Peperomia 2. Penaea 3. Drusa 4. Fritillaria 5. Plumbagella 6. Plumbago 7. Adoxa
  • 30.
    Berdasarkan adanya persamaan,maka ketujuh tipe tersebut dikelompokkan lagi menjadi dua, yaitu: 1. Tipe Adoxa 2. Tipe Fritillaria
  • 31.
    Pembentukan Endosperm danEmbrio  Proses pembentukan endosperm dan embrio meliputi proses fertilisasi atau pembuahan yang dapat terjadi setelah proses polinasi atau penyerbukan.  Fertilisasi dapat terjadi jika: a) butir serbuk sari dan kepala putik berasal dari jenis yang sama b) butir serbuk sari dan kepala putik sama- sama dalam keadaan masak, siap untuk fertisasi.
  • 32.
    Pembuahan  Butir serbuk sari berkecambah menghasilkan buluh serbuk sari pada stigma.  Di dalam buluh serbuk terdapat dua gamet jantan yang menembus stilus dan mencapai ovulum.  Pada kebanyakan tumbuhan, buluh serbuk sari memantak ke dalam ovulum melalui mikropil. Pada beberapa tumbuhan buluh serbuk sari memantak melalui khalaza, dan
  • 33.
    Pembuahan ganda Pada Angiospermaeterjadi pembuahan ganda, yaitu terjadi dua macam peleburan: 1. Satu dari gamet jantan melebur dengan sel telur. Peleburan gamet jantan dengan sel telur yang menghasilkan zigot yang akan tumbuh menjadi embrio. 2. Gamet jantan yang kedua melebur dengan inti sekunderPeleburan gamet jantan yang lain dengan inti kandung lembaga sekunder menghasilkan endosperm.
  • 34.
    kepala putik tangkai polen kantung lembaga putik inti tabung generatif inti kutub polen tabung sel telur nuselus bakal biji polen integumen inti mikropil vegetatif tangkai biji mikropil bakal buah (b) (a) inti kutub sel antipoda 2 sperma inti telur endosperma inti sperma zigot (c) tabung polen (d) (e) Pembuahan Ganda pada Angiospermae 1. 21/24 Plant
  • 35.
    Perkembangan Endosperm  Endosperm berkembang dari pembelahan mitosis inti endosperm yang dihasilkan dari peleburan salah satu gamet jantan dengan dua inti kutub atau dengan inti sekunder. Perkembangan endosperm berikutnya berbeda untuk setiap tumbuhan.
  • 36.
    Perkembangan Embrio •Setelah feretilisasi,zigot terbentuk. Selanjutnya, zigot mengalami dorman selama periode tertentu. •Pada saat yang sama, vakuola besar yang terdapat dalam telur menghilang dan sitoplasma menjadi homogen. •Zigot membelah setelah pembelahan inti endosperm. Embrio dikotil Berdasarkan perbedaan perkembangan proembrio sampai tahap 4 sel, embrio dikotil dapat dikelompokkan menjadi 5 tipe, yaitu sebagai berikut
  • 37.
    (Lanjutan embrio dikotil) A. Sel terminal membelah secara longitudinal 1. Sel basal tidak atau sedikit berperan dalam pembentukan embrio, disebut tipe Crucifer. 2. Sel basal dan sel terminal berperan dalam pembeentukan embrio, disebut tipe Asterad. B. Sel terminal membelah secara transversal 1. Sel basal tidak atau sedikit berperan dalam pembentukan embrio.  Sel basal bekembang menjadi suspensor yang terdiri atas 2 aatau lebih sel, disebut tipe Solanad.  Sel basal tidak membelah. Jika ada suspensor berkembang dar isel terminal, disebut tipe Caryophylad 2. Sel basal dan sel terminal berperan dalam pembentukan embrio, disebut tipe Chenopodial.
  • 39.
    Embrio Monokotil  Tidakada perbedaan yang penting pada pembelahan pertama embrio dikotil dan monokotil. Namun, pada tahap- tahap perkembangan berikutnya terdapat perbedaan yang jelas.  Pada embrio masak hampir semua dikotil, ujung pucuk terdapat diantara dasar dua kotiledon.  Sedangkan pada embrio monokotil, ujung pucuk terdapat pada bagian lateral kotiledon tunggal.
  • 40.
    Variasi Struktur Suspensor  Pada kebanyakan tumbuhan, fungsi suspensor hanya untuk mendorong embrio kedalam endosperm.  Namun pada beberapa tumbuhan, suspensor dapat berkembang menjadi haustoria yang besar.  Haustoria ini mengadakan pematangan antara sel endosperm dan sel-sel tertentu disekitar endosperm.
  • 41.
    Kelenjar madu Kelenjar madumerupakan bagian yang penting pada bunga, karena madu yang dihasilkan dapat menarik binatang (serangga) yang sangat penting untuk proses penyerbukan. Berdasarkan asalnya dapat dibedakan menjadi:  Kelenjar madu yang merupakan suatu bagian khusus (suatu alat tambahan) pada bunga  Kelenjar madu yang terjadi dari salah satu satu bagian bunga yang telah mengalami metamorfosis dan telah berubah pula tugasnya.
  • 42.
    Berdasarkan bentuk dantempatnya dibedakan menjadi: • Diatas bakal buah dan melingkari tangkai kepala putik, misalnya pada bunga jeruk (Citrus sp.) • Berbentuk cakram pada dasar bunga, di bawah bakal buah. Kelenjar madu yang merupakan metamorfosissalah satu bagian bunga dapat berasal dari: o Daun mahkota, o Benang sari,
  • 43.