OM SWASTYASTU
AKUNTANSI KEUANGAN LANJUTAN
KONSINYASI
I.B. NGURAH INDRA PRAMANA
(NIM. 1506305098)
P. SIGIT WAHYUDHI
(NIM. 1506305151)
• Suatu perjanjian dimana salah satu
pihak yang memiliki barang
menyerahkan sejumlah barangnya
kepada pihak tertentu untuk dijual
dengan memberikan komisi
tertentu
Apa itu
Konsinyasi?
Pihak-pihak yang Terlibat
Consignor Consignee
Consignment out Consignment in
Dalam transaksi penjualan hak milik atas barang berpindah kepada pembeli pada
saat penyerahan barang. Di dalam transaksi konsinyasi penyerahan barang dari
consignor kepada consignee tidak diikuti adanya penyerahan hak milik atas barang
yang bersangkutan.
Karakteristik Penjualan Konsinyasi
1
• Barang-barang konsinyasi harus dilaporkan sebagai persediaan oleh pengamanat karena
hak milik atas barang-barang konsinyasi masih berada ditangan pengamanat. Barang-
barang konsinyasi tidak boleh diakui sebagai persediaan oleh pihak komisioner
(consignee).
2
• Pengiriman barang konsinyasi tidak mengakibatkan timbulnya pendapatan baik bagi
pengamanat maupun bagi komisioner sampai barang dagangan dapat dijual kepada pihak
ketiga.
3
• Pihak pengamanat (consignor) sebagai pemilik barang tetap bertanggung jawab
sepenuhnya terhadap semua biaya yang berhubungan dengan barang-barang konsinyasi
sejak saat pengiriman sampai dengan saat komisioner berhasil menjual barang tersebut
kepada pihak ketiga. Kecuali ditentukan lain dalam perjanjian diantara kedua belah pihak.
4
• Komisioner dalam batas kemampuannya mempunyai kewajiban untuk menjaga
keamanan dan keselamatan barang-barang komisi yang diterimanya itu. Oleh karena itu
komisioner perlu menyelenggarakan administrasi yang baik dan tertib.
Kenapa
melakukan
konsinyasi?
CONSIGNOR
Cara untuk lebih memperluas pasaran yang dapat
dijamin oleh seorang produsen, pabrikan,atau
distributor
Resiko-resiko tertentu dapat dihindari oleh
consignor
Harga eceran barang-barang yang bersangkutan
tetap dapat dikontrol oleh consignor
Kenapa
melakukan
konsinyasi?
CONSIGNEE
• Consignee dilindungi dari kemungkinan resiko gagal untuk
memasarkan barang-barang tersebut atau keharusan
menjual dengan rugi
1
• Risiko rusaknya barang dan adanya fluktasi harga dapat
dihindarkan2
• Kebutuhan akan modal kerja dapat dikurangi, sebab
adanya barang-barang konsinyasi yang di titipkan oleh
pengamat
3
• Komisioner tidak mengeluarkan biaya operasional
penjualan konsinyasi karena semua biaya akan
diganti atau ditanggung ole Consignor
4
Kenapa
melakukan
konsinyasi?
CONSIGNEE
• Consignee dilindungi dari kemungkinan resiko gagal untuk
memasarkan barang-barang tersebut atau keharusan
menjual dengan rugi5
• Komisioner berhak menerima pendapatan berupa komisi
dari hasil penjualan konsinyasi.6
6.Hal-hal lain yang dianggap
perlu oleh kedua belah
pihak
Perjanjian antara Consignor dan Consignee
Sistem Operasi Penjualan Konsinyasi
1.Beban-beban pengeluaran komisioner
yang akan ditnggung oleh pengamanat.
5.Garansi yang harus
ditanggung oleh consignor
atas barang-barang yang
telah dijual oleh consignee
2.Kebijaksanaan harga jual dan syarat kredit
yang harus dijalankan oleh komisioner atas
instruksi dari pengamanat.
3.Komisi atau keuntungan yang akan
diberikan oleh pengamanat kepada
consignee.
4.Laporan pertanggung jawaban oleh consignee
kepada consignor dilakukan secara berkala
atas barang-barang yang sudah terjual dan
uang hasil penjualan
Akuntansi untuk Konsinyasi
1. Metode Terpisah.
Dalam metode terpisah laba atau rugi
dari penjualan konsinyasi disajikan
secara terpisah dengan laba atau rugi
penjualan biasa atau penjualan
lainnya. Hal ini dilakukan dengan
tujuan agar pada akhir periode dapat
diketahui berapa laba atau rugi yang
diperoleh dari penjualan konsinyasi
dan berapa laba atau rugi yang
diperoleh dari penjualan lainnya.
2. Metode Tidak Terpisah.
Dalam metode tidak terpisah laba
atau rugi dari penjualan konsinyasi
tidak dipisahkan dengan laba atau
rugi dari penjualan biasa atau
penjualan lainnya. Hal ini akan
mengakibatkan pada akhir periode
perusahaan tidak dapat mengetahui
berapa laba atau rugi yang diperoleh
dari penjualan konsinyasi dan berapa
laba yang diperolah dari penjualan
biasa atau penjualan lainnya.
Metode Terpisah
Kuncinya disini adalah akun yang di debit adalah yang berkaitan dengan biaya yang berhubungan dengan barang konsinyasi dan dikredit
dengan pendapatan yang berhubungan dengan barang konsinyasi. Jadi pendebitan dan pengkreditan terhadap rekening “Barang
Konsinyasi” adalah:
Pendebitan:
a) Harga pokok barang konsinyasi yang dikirim
b) Biaya pengiriman barang-barang konsinyasi
c) Biaya yang berhubungan dengan barang konsinyasi yang dibayar oleh komisioner akan tetapi ditanggung oleh
pengamanat. Termasuk di dalam kelompok ini misalnya komisi, biaya perakitan dan sebagainya.
Pengkreditan : Pengkreditan terhadap rekening barang konsinyasi adalah hasil penjualan barang konsinyasi.
Pada umumnya pencatatan yang dibuat oleh pengamanat hanya mencakup 4 transaksi, yaitu:
1. Pengiriman barang konsinyasi
2. Pembayaran biaya angkut (biaya pengiriman) barang konsinyasi
3. Menerima laporan pertanggungjawaban dari komisioner
4. Menerima pembayaran dari komisioner.
pengamanat
Pada awal tahun 1991 PT ABC mengadakan
perjanjian konsinyasi dengan toko XYZ. Isi perjanjian
tersebut antara lain:
a) PT ABC akan menitipkan barang kepada toko
XYZ
b) Toko XYZ berhak atas komisi sebesar 15% dari
hasil penjualan
c) Semua biaya ditanggung oleh PT ABC
d) Toko XYZ harus membuat pertanggungjawaban
secara bulanan.
Transaksi yang berhubungan dengan perjanjian
konsinyasi tersebut untuk bulan januari 1991 adalah:
a) PT ABC mengirim 100 unit barang yang dalam
keadaan CKD ke toko XYZ. Harga pokok barang
tersebut Rp. 300.000,00 sedangkan harga jual
ditentukan Rp. 500.000,00
b) PT ABC membayar biaya angkut sebesar Rp.
500.000,00
c) Toko XYZ menerima kiriman barang dari PT ABC
dan membayar biaya perakitan sebesar Rp.
200.000,00
d) Toko XYZ berhasil menjual seluruh barang
dagangan secara tunai
e) Toko XYZ mengirimkan laporan hasil penjualan ke
PT ABC
f. Toko XYZ mengirimkan kas yang menjadi hak PT ABC, yaitu:
- Penjualan: 100 x Rp. 500.000,00 = Rp. 50.000.000,00
- Komisi 15% = Rp. 7.500.000,00
- Biaya 200.000,00 + 7.700.000,00
Kas yang dikirim Rp. 42.300.000,00
Jurnalnya
Transaksi 1
Transaksi ini dicatat:
Barang konsinyasi Rp. 30.000.000,00
Persediaan Rp. 30.000.000,00
Transaksi 2
Transaksi ini dicatat:
Barang konsinyasi Rp. 500.000,00
Kas Rp. 500.000,00
Transaksi 5
Transaksi ini dicatat:
Piutang-komisioner Rp. 42.300.000,00
Barang konsinyasi Rp. 7.200.000,00
Barang konsinyasi Rp. 50.000.000,00
Transaksi 3
Transaksi ini tidak dicatat oleh PT ABC
Transaksi 4
Transaksi ini tidak dicatat oleh PT ABC
Transaksi 6
Transaksi ini dicatat:
Kas Rp. 42.300.000,00
Piutang komisioner Rp. 42.300.000,00
Metode Tidak Terpisah pengamanat
Di dalam metode laba atau rugi dari kegiatan konsinyasi tidak dipisahkan
dengan laba (rugi) dari kegiatan yang reguler. Oleh karena itu, biaya dan
pendapatan yang berhubungan dengan kegiatan konsinyasi dicampur dengan
pendapatan dan biaya yang reguler.
Pada umumnya pencatatan yang dibuat oleh pengamanat di dalam metode ini
hanya mencakup 3 transaksi, yaitu:
a) Pembayaran biaya angkut (biaya pengiriman) barang konsinyasi
b) Menerima laporan pertanggungjawaban dari komisioner
c) Menerima pembayaran dari komisioner
1. PT ABC akan menitipkan barang kepada toko XYZ
2. Toko XYZ berhak atas komisi sebesar 15% dari hasil
penjualan
3. Semua biaya ditanggung oleh PT ABC
4. Toko XYZ harus membuat pertanggungjawaban secara
bulanan.
Transaksi yang berhubungan dengan perjanjian konsinyasi
tersebut untuk bulan januari 1991 adalah:
1. PT ABC mengirim 100 unit barang yang dalam keadaan
CKD ke toko XYZ. Harga pokok barang
tersebut Rp. 300.000,00 sedangkan harga jual
ditentukan Rp. 500.000,00
2. PT ABC membayar biaya angkut sebesar Rp. 500.000,00
3. Toko XYZ menerima kiriman barang dari PT ABC dan
membayar biaya perakitan sebesar Rp. 200.000,00
4. Toko XYZ berhasil menjual seluruh barang
dagangan secara tunai
5. Toko XYZ mengirimkan laporan hasil
penjualan ke PT ABC
6. Toko XYZ mengirimkan kas yang menjadi
hak PT ABC, yaitu:
Penjualan: 100 x Rp. 500.000,00 = Rp. 50.000.000,00
- Komisi 15% = Rp. 7.500.000,00
- Biaya 200.000,00 + 7.700.000,00
Kas yang dikirim Rp. 42.300.000,00
Transaksi 2
Transaksi ini dicatat :
Biaya transport Rp. 500.000,00
Kas Rp. 500.000,00
Transaksi 2
Transaksi ini dicatat:
Barang konsinyasi Rp. 500.000,00
Kas Rp. 500.000,00
Transaksi 5
Transaksi ini dicatat:
Piutang-komisioner Rp. 42.300.000,00
Biaya Rp. 7.700.000,00
Harga pokok penjualan Rp. 30.000.000,00
Barang konsinyasi Rp. 50.000.000,00
Persediaan Rp. 30.000.000,00
Transaksi 6
Transaksi ini dicatat:
Kas Rp. 42.300.000,00
Piutang komisioner Rp.42.300.000,00
Transaksi 1
Transaksi ini tidak dicatat
Transaksi 3
Transaksi ini tidak dicatat oleh PT ABC
Transaksi 4
Transaksi ini tidak dicatat oleh PT ABC
Konsinyee
Metode Terpisah
Di dalam metode ini semua laba ataupun rugi yang diperoleh dari kegiatan
konsinyasi akan disajikan secara terpisah dari rugi laba yang biasa. Untuk
memisahkan tersebut maka pendapatan dan biaya yang berhubungan dengan
kegiatan komisioner juga harus dipisahkan . Alat yang digunakan untuk
mengumpulkan pendapatan dan biaya tersebut adalah rekening “Barang
Komisi”. Rekening ini akan didebit dengan biaya yang berhubungan dengan
barang komisi dan dikredit dengan pendapatan yang berhubungan dengan
barang komisi. Jadi pendebitan dan pengkreditan terhadap rekening “Barang
Komisi” adalah
Pada awal tahun 1991 PT ABC mengadakan perjanjian konsinyasi dengan toko XYZ. Isi
perjanjian tersebut antara lain:
1. PT ABC akan menitipkan barang kepada toko XYZ
2. Toko XYZ berhak atas komisi sebesar 15% dari hasil penjualan
3. Semua biaya ditanggung oleh PT ABC
4. Toko XYZ harus membuat pertanggungjawaban secara bulanan.
Transaksi yang berhubungan dengan perjanjian konsinyasi tersebut untuk bulan januari 1991 adalah:
1. PT ABC mengirim 100 unit barang yang dalam keadaan CKD ke toko XYZ. Harga pokok barang tersebut Rp.
300.000,00 sedangkan harga jual ditentukan Rp. 500.000,00
2. PT ABC membayar biaya angkut sebesar Rp. 500.000,00
3. Toko XYZ menerima kiriman barang dari PT ABC dan membayar biaya perakitan sebesar Rp. 200.000,00
4. Toko XYZ berhasil menjual seluruh barang dagangan secara tunai
5. Toko XYZ mengirimkan laporan hasil penjualan ke PT ABC
6. Toko XYZ mengirimkan kas yang menjadi hak PT ABC, yaitu:
- Penjualan: 100 x Rp. 500.000,00 = Rp. 50.000.000,00
- Komisi 15% = Rp. 7.500.000,00
- Biaya 200.000,00 + 7.700.000,00
Kas yang dikirim Rp. 42.300.000,00
Jurnal yang dibuat oleh Toko XYZ adalah:
Transaksi 1
Transaksi ini tidak dicatat
Transaksi 2
Transaksi ini tidak dicatat
Transaksi 3
Transaksi ini dicatat
Barang komisi Rp. 200.000,00
Kas Rp. 200.000,00
Transaksi 4
Transaksi ini dicatat:
Kas Rp. 50.000.000,00
Barang komisi Rp. 50.000.000,00
Transaksi 5
Transaksi ini dicatat:
Barang komisi Rp. 42.300.000,00
Utang pengamanat Rp. 42.300.000,00
Transaksi 6
Transaksi ini dicatat:
Utang pengamanat Rp. 42.300.000,00
Kas Rp. 42.300.000,00
Metode Tidak Terpisah Konsinyee
Di dalam metode ini laba atau rugi dari kegiatan komisioner tidak dipisahkan dengan laba
(rugi) dari kegiatan yang reguler. Oleh karena itu, biaya dan pendapatan yang berhubungan
dengan kegiatan komisioner dicatat seperti halnya pendapatan dan biaya yang reguler.
Pada umumnya pencatatan yang dibuat oleh komisioner di dalam metode ini hanya
mencakup 3 transaksi, yaitu:
1. Membayar biaya angkut / perakitan
2. Menjual barang komisi
3. Mengirim pembayaran kepada pengamanat komisioner
Contoh:
Pada awal tahun 1991 PT ABC mengadakan perjanjian konsinyasi dengan toko XYZ. Isi perjanjian tersebut
antara lain:
1. PT ABC akan menitipkan barang kepada toko XYZ
2. Toko XYZ berhak atas komisi sebesar 15% dari hasil penjualan
3. Semua biaya ditanggung oleh PT ABC
4. Toko XYZ harus membuat pertanggungjawaban secara bulanan.
Transaksi yang berhubungan dengan perjanjian konsinyasi tersebut untuk bulan januari 1991 adalah:
1. PT ABC mengirim 100 unit barang yang dalam keadaan CKD ke toko XYZ. Harga pokok barang
tersebut Rp. 300.000,00 sedangkan harga jual ditentukan Rp. 500.000,00
2. PT ABC membayar biaya angkut sebesar Rp. 500.000,00
3. Toko XYZ menerima kiriman barang dari PT ABC dan membayar biaya perakitan sebesar Rp.
200.000,00
4. Toko XYZ berhasil menjual seluruh barang dagangan secara tunai
5. Toko XYZ mengirimkan laporan hasil penjualan ke PT ABC
6. Toko XYZ mengirimkan kas yang menjadi hak PT ABC, yaitu:
- Penjualan: 100 x Rp. 500.000,00 = Rp. 50.000.000,00
- Komisi 15% = Rp. 7.500.000,00
- Biaya 200.000,00 + 7.700.000,00
Kas yang dikirim Rp. 42.300.000,00
Jurnal yang dibuat oleh Toko XYZ adalah:
Transaksi 1
Transaksi ini tidak dicatat
Transaksi 2
Transaksi ini tidak dicatat
Transaksi 3
Transaksi ini dicatat
Utang pengamanat Rp. 200.000,00
Kas Rp. 200.000,00
Transaksi ini dicatat:
Kas Rp. 50.000.000,00
penjualan Rp. 50.000.000,00
dan
Harga pokok penjualan Rp. 42.500.000,00
Utang pengamanat Rp. 42.500.000,00
Transaksi 5
Transaksi ini tidak dicatat
Transaksi 6
Transaksi ini dicatat:
Utang pengamanat Rp. 42.300.000,00
Kas Rp. 42.300.000,00

5. konsinyasi

  • 1.
  • 2.
    AKUNTANSI KEUANGAN LANJUTAN KONSINYASI I.B.NGURAH INDRA PRAMANA (NIM. 1506305098) P. SIGIT WAHYUDHI (NIM. 1506305151)
  • 3.
    • Suatu perjanjiandimana salah satu pihak yang memiliki barang menyerahkan sejumlah barangnya kepada pihak tertentu untuk dijual dengan memberikan komisi tertentu Apa itu Konsinyasi?
  • 4.
    Pihak-pihak yang Terlibat ConsignorConsignee Consignment out Consignment in Dalam transaksi penjualan hak milik atas barang berpindah kepada pembeli pada saat penyerahan barang. Di dalam transaksi konsinyasi penyerahan barang dari consignor kepada consignee tidak diikuti adanya penyerahan hak milik atas barang yang bersangkutan.
  • 5.
    Karakteristik Penjualan Konsinyasi 1 •Barang-barang konsinyasi harus dilaporkan sebagai persediaan oleh pengamanat karena hak milik atas barang-barang konsinyasi masih berada ditangan pengamanat. Barang- barang konsinyasi tidak boleh diakui sebagai persediaan oleh pihak komisioner (consignee). 2 • Pengiriman barang konsinyasi tidak mengakibatkan timbulnya pendapatan baik bagi pengamanat maupun bagi komisioner sampai barang dagangan dapat dijual kepada pihak ketiga. 3 • Pihak pengamanat (consignor) sebagai pemilik barang tetap bertanggung jawab sepenuhnya terhadap semua biaya yang berhubungan dengan barang-barang konsinyasi sejak saat pengiriman sampai dengan saat komisioner berhasil menjual barang tersebut kepada pihak ketiga. Kecuali ditentukan lain dalam perjanjian diantara kedua belah pihak. 4 • Komisioner dalam batas kemampuannya mempunyai kewajiban untuk menjaga keamanan dan keselamatan barang-barang komisi yang diterimanya itu. Oleh karena itu komisioner perlu menyelenggarakan administrasi yang baik dan tertib.
  • 6.
    Kenapa melakukan konsinyasi? CONSIGNOR Cara untuk lebihmemperluas pasaran yang dapat dijamin oleh seorang produsen, pabrikan,atau distributor Resiko-resiko tertentu dapat dihindari oleh consignor Harga eceran barang-barang yang bersangkutan tetap dapat dikontrol oleh consignor
  • 7.
    Kenapa melakukan konsinyasi? CONSIGNEE • Consignee dilindungidari kemungkinan resiko gagal untuk memasarkan barang-barang tersebut atau keharusan menjual dengan rugi 1 • Risiko rusaknya barang dan adanya fluktasi harga dapat dihindarkan2 • Kebutuhan akan modal kerja dapat dikurangi, sebab adanya barang-barang konsinyasi yang di titipkan oleh pengamat 3 • Komisioner tidak mengeluarkan biaya operasional penjualan konsinyasi karena semua biaya akan diganti atau ditanggung ole Consignor 4
  • 8.
    Kenapa melakukan konsinyasi? CONSIGNEE • Consignee dilindungidari kemungkinan resiko gagal untuk memasarkan barang-barang tersebut atau keharusan menjual dengan rugi5 • Komisioner berhak menerima pendapatan berupa komisi dari hasil penjualan konsinyasi.6
  • 9.
    6.Hal-hal lain yangdianggap perlu oleh kedua belah pihak Perjanjian antara Consignor dan Consignee Sistem Operasi Penjualan Konsinyasi 1.Beban-beban pengeluaran komisioner yang akan ditnggung oleh pengamanat. 5.Garansi yang harus ditanggung oleh consignor atas barang-barang yang telah dijual oleh consignee 2.Kebijaksanaan harga jual dan syarat kredit yang harus dijalankan oleh komisioner atas instruksi dari pengamanat. 3.Komisi atau keuntungan yang akan diberikan oleh pengamanat kepada consignee. 4.Laporan pertanggung jawaban oleh consignee kepada consignor dilakukan secara berkala atas barang-barang yang sudah terjual dan uang hasil penjualan
  • 10.
    Akuntansi untuk Konsinyasi 1.Metode Terpisah. Dalam metode terpisah laba atau rugi dari penjualan konsinyasi disajikan secara terpisah dengan laba atau rugi penjualan biasa atau penjualan lainnya. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar pada akhir periode dapat diketahui berapa laba atau rugi yang diperoleh dari penjualan konsinyasi dan berapa laba atau rugi yang diperoleh dari penjualan lainnya. 2. Metode Tidak Terpisah. Dalam metode tidak terpisah laba atau rugi dari penjualan konsinyasi tidak dipisahkan dengan laba atau rugi dari penjualan biasa atau penjualan lainnya. Hal ini akan mengakibatkan pada akhir periode perusahaan tidak dapat mengetahui berapa laba atau rugi yang diperoleh dari penjualan konsinyasi dan berapa laba yang diperolah dari penjualan biasa atau penjualan lainnya.
  • 11.
    Metode Terpisah Kuncinya disiniadalah akun yang di debit adalah yang berkaitan dengan biaya yang berhubungan dengan barang konsinyasi dan dikredit dengan pendapatan yang berhubungan dengan barang konsinyasi. Jadi pendebitan dan pengkreditan terhadap rekening “Barang Konsinyasi” adalah: Pendebitan: a) Harga pokok barang konsinyasi yang dikirim b) Biaya pengiriman barang-barang konsinyasi c) Biaya yang berhubungan dengan barang konsinyasi yang dibayar oleh komisioner akan tetapi ditanggung oleh pengamanat. Termasuk di dalam kelompok ini misalnya komisi, biaya perakitan dan sebagainya. Pengkreditan : Pengkreditan terhadap rekening barang konsinyasi adalah hasil penjualan barang konsinyasi. Pada umumnya pencatatan yang dibuat oleh pengamanat hanya mencakup 4 transaksi, yaitu: 1. Pengiriman barang konsinyasi 2. Pembayaran biaya angkut (biaya pengiriman) barang konsinyasi 3. Menerima laporan pertanggungjawaban dari komisioner 4. Menerima pembayaran dari komisioner. pengamanat
  • 12.
    Pada awal tahun1991 PT ABC mengadakan perjanjian konsinyasi dengan toko XYZ. Isi perjanjian tersebut antara lain: a) PT ABC akan menitipkan barang kepada toko XYZ b) Toko XYZ berhak atas komisi sebesar 15% dari hasil penjualan c) Semua biaya ditanggung oleh PT ABC d) Toko XYZ harus membuat pertanggungjawaban secara bulanan. Transaksi yang berhubungan dengan perjanjian konsinyasi tersebut untuk bulan januari 1991 adalah: a) PT ABC mengirim 100 unit barang yang dalam keadaan CKD ke toko XYZ. Harga pokok barang tersebut Rp. 300.000,00 sedangkan harga jual ditentukan Rp. 500.000,00 b) PT ABC membayar biaya angkut sebesar Rp. 500.000,00 c) Toko XYZ menerima kiriman barang dari PT ABC dan membayar biaya perakitan sebesar Rp. 200.000,00 d) Toko XYZ berhasil menjual seluruh barang dagangan secara tunai e) Toko XYZ mengirimkan laporan hasil penjualan ke PT ABC f. Toko XYZ mengirimkan kas yang menjadi hak PT ABC, yaitu: - Penjualan: 100 x Rp. 500.000,00 = Rp. 50.000.000,00 - Komisi 15% = Rp. 7.500.000,00 - Biaya 200.000,00 + 7.700.000,00 Kas yang dikirim Rp. 42.300.000,00
  • 13.
    Jurnalnya Transaksi 1 Transaksi inidicatat: Barang konsinyasi Rp. 30.000.000,00 Persediaan Rp. 30.000.000,00 Transaksi 2 Transaksi ini dicatat: Barang konsinyasi Rp. 500.000,00 Kas Rp. 500.000,00 Transaksi 5 Transaksi ini dicatat: Piutang-komisioner Rp. 42.300.000,00 Barang konsinyasi Rp. 7.200.000,00 Barang konsinyasi Rp. 50.000.000,00 Transaksi 3 Transaksi ini tidak dicatat oleh PT ABC Transaksi 4 Transaksi ini tidak dicatat oleh PT ABC Transaksi 6 Transaksi ini dicatat: Kas Rp. 42.300.000,00 Piutang komisioner Rp. 42.300.000,00
  • 14.
    Metode Tidak Terpisahpengamanat Di dalam metode laba atau rugi dari kegiatan konsinyasi tidak dipisahkan dengan laba (rugi) dari kegiatan yang reguler. Oleh karena itu, biaya dan pendapatan yang berhubungan dengan kegiatan konsinyasi dicampur dengan pendapatan dan biaya yang reguler. Pada umumnya pencatatan yang dibuat oleh pengamanat di dalam metode ini hanya mencakup 3 transaksi, yaitu: a) Pembayaran biaya angkut (biaya pengiriman) barang konsinyasi b) Menerima laporan pertanggungjawaban dari komisioner c) Menerima pembayaran dari komisioner
  • 15.
    1. PT ABCakan menitipkan barang kepada toko XYZ 2. Toko XYZ berhak atas komisi sebesar 15% dari hasil penjualan 3. Semua biaya ditanggung oleh PT ABC 4. Toko XYZ harus membuat pertanggungjawaban secara bulanan. Transaksi yang berhubungan dengan perjanjian konsinyasi tersebut untuk bulan januari 1991 adalah: 1. PT ABC mengirim 100 unit barang yang dalam keadaan CKD ke toko XYZ. Harga pokok barang tersebut Rp. 300.000,00 sedangkan harga jual ditentukan Rp. 500.000,00 2. PT ABC membayar biaya angkut sebesar Rp. 500.000,00 3. Toko XYZ menerima kiriman barang dari PT ABC dan membayar biaya perakitan sebesar Rp. 200.000,00 4. Toko XYZ berhasil menjual seluruh barang dagangan secara tunai 5. Toko XYZ mengirimkan laporan hasil penjualan ke PT ABC 6. Toko XYZ mengirimkan kas yang menjadi hak PT ABC, yaitu: Penjualan: 100 x Rp. 500.000,00 = Rp. 50.000.000,00 - Komisi 15% = Rp. 7.500.000,00 - Biaya 200.000,00 + 7.700.000,00 Kas yang dikirim Rp. 42.300.000,00
  • 16.
    Transaksi 2 Transaksi inidicatat : Biaya transport Rp. 500.000,00 Kas Rp. 500.000,00 Transaksi 2 Transaksi ini dicatat: Barang konsinyasi Rp. 500.000,00 Kas Rp. 500.000,00 Transaksi 5 Transaksi ini dicatat: Piutang-komisioner Rp. 42.300.000,00 Biaya Rp. 7.700.000,00 Harga pokok penjualan Rp. 30.000.000,00 Barang konsinyasi Rp. 50.000.000,00 Persediaan Rp. 30.000.000,00 Transaksi 6 Transaksi ini dicatat: Kas Rp. 42.300.000,00 Piutang komisioner Rp.42.300.000,00 Transaksi 1 Transaksi ini tidak dicatat Transaksi 3 Transaksi ini tidak dicatat oleh PT ABC Transaksi 4 Transaksi ini tidak dicatat oleh PT ABC
  • 17.
    Konsinyee Metode Terpisah Di dalammetode ini semua laba ataupun rugi yang diperoleh dari kegiatan konsinyasi akan disajikan secara terpisah dari rugi laba yang biasa. Untuk memisahkan tersebut maka pendapatan dan biaya yang berhubungan dengan kegiatan komisioner juga harus dipisahkan . Alat yang digunakan untuk mengumpulkan pendapatan dan biaya tersebut adalah rekening “Barang Komisi”. Rekening ini akan didebit dengan biaya yang berhubungan dengan barang komisi dan dikredit dengan pendapatan yang berhubungan dengan barang komisi. Jadi pendebitan dan pengkreditan terhadap rekening “Barang Komisi” adalah
  • 18.
    Pada awal tahun1991 PT ABC mengadakan perjanjian konsinyasi dengan toko XYZ. Isi perjanjian tersebut antara lain: 1. PT ABC akan menitipkan barang kepada toko XYZ 2. Toko XYZ berhak atas komisi sebesar 15% dari hasil penjualan 3. Semua biaya ditanggung oleh PT ABC 4. Toko XYZ harus membuat pertanggungjawaban secara bulanan. Transaksi yang berhubungan dengan perjanjian konsinyasi tersebut untuk bulan januari 1991 adalah: 1. PT ABC mengirim 100 unit barang yang dalam keadaan CKD ke toko XYZ. Harga pokok barang tersebut Rp. 300.000,00 sedangkan harga jual ditentukan Rp. 500.000,00 2. PT ABC membayar biaya angkut sebesar Rp. 500.000,00 3. Toko XYZ menerima kiriman barang dari PT ABC dan membayar biaya perakitan sebesar Rp. 200.000,00
  • 19.
    4. Toko XYZberhasil menjual seluruh barang dagangan secara tunai 5. Toko XYZ mengirimkan laporan hasil penjualan ke PT ABC 6. Toko XYZ mengirimkan kas yang menjadi hak PT ABC, yaitu: - Penjualan: 100 x Rp. 500.000,00 = Rp. 50.000.000,00 - Komisi 15% = Rp. 7.500.000,00 - Biaya 200.000,00 + 7.700.000,00 Kas yang dikirim Rp. 42.300.000,00
  • 20.
    Jurnal yang dibuatoleh Toko XYZ adalah: Transaksi 1 Transaksi ini tidak dicatat Transaksi 2 Transaksi ini tidak dicatat Transaksi 3 Transaksi ini dicatat Barang komisi Rp. 200.000,00 Kas Rp. 200.000,00 Transaksi 4 Transaksi ini dicatat: Kas Rp. 50.000.000,00 Barang komisi Rp. 50.000.000,00 Transaksi 5 Transaksi ini dicatat: Barang komisi Rp. 42.300.000,00 Utang pengamanat Rp. 42.300.000,00 Transaksi 6 Transaksi ini dicatat: Utang pengamanat Rp. 42.300.000,00 Kas Rp. 42.300.000,00
  • 21.
    Metode Tidak TerpisahKonsinyee Di dalam metode ini laba atau rugi dari kegiatan komisioner tidak dipisahkan dengan laba (rugi) dari kegiatan yang reguler. Oleh karena itu, biaya dan pendapatan yang berhubungan dengan kegiatan komisioner dicatat seperti halnya pendapatan dan biaya yang reguler. Pada umumnya pencatatan yang dibuat oleh komisioner di dalam metode ini hanya mencakup 3 transaksi, yaitu: 1. Membayar biaya angkut / perakitan 2. Menjual barang komisi 3. Mengirim pembayaran kepada pengamanat komisioner
  • 22.
    Contoh: Pada awal tahun1991 PT ABC mengadakan perjanjian konsinyasi dengan toko XYZ. Isi perjanjian tersebut antara lain: 1. PT ABC akan menitipkan barang kepada toko XYZ 2. Toko XYZ berhak atas komisi sebesar 15% dari hasil penjualan 3. Semua biaya ditanggung oleh PT ABC 4. Toko XYZ harus membuat pertanggungjawaban secara bulanan. Transaksi yang berhubungan dengan perjanjian konsinyasi tersebut untuk bulan januari 1991 adalah: 1. PT ABC mengirim 100 unit barang yang dalam keadaan CKD ke toko XYZ. Harga pokok barang tersebut Rp. 300.000,00 sedangkan harga jual ditentukan Rp. 500.000,00 2. PT ABC membayar biaya angkut sebesar Rp. 500.000,00 3. Toko XYZ menerima kiriman barang dari PT ABC dan membayar biaya perakitan sebesar Rp. 200.000,00
  • 23.
    4. Toko XYZberhasil menjual seluruh barang dagangan secara tunai 5. Toko XYZ mengirimkan laporan hasil penjualan ke PT ABC 6. Toko XYZ mengirimkan kas yang menjadi hak PT ABC, yaitu: - Penjualan: 100 x Rp. 500.000,00 = Rp. 50.000.000,00 - Komisi 15% = Rp. 7.500.000,00 - Biaya 200.000,00 + 7.700.000,00 Kas yang dikirim Rp. 42.300.000,00
  • 24.
    Jurnal yang dibuatoleh Toko XYZ adalah: Transaksi 1 Transaksi ini tidak dicatat Transaksi 2 Transaksi ini tidak dicatat Transaksi 3 Transaksi ini dicatat Utang pengamanat Rp. 200.000,00 Kas Rp. 200.000,00 Transaksi ini dicatat: Kas Rp. 50.000.000,00 penjualan Rp. 50.000.000,00 dan Harga pokok penjualan Rp. 42.500.000,00 Utang pengamanat Rp. 42.500.000,00 Transaksi 5 Transaksi ini tidak dicatat Transaksi 6 Transaksi ini dicatat: Utang pengamanat Rp. 42.300.000,00 Kas Rp. 42.300.000,00