KALIMAT
Pengertian Kalimat
Kalimat adalah satuan bahasa berupa rangkaian dari kata-kata yang
memiliki makna lengkap serta dapat berdiri sendiri. Kalimat merupakan
satuan bahasa terkecil yang mengungkapkan suatu gagasan baik secara lisan
ataupun tulisan. Sebuah kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri
oleh tanda titik (.) untuk kalimat berita, diakhiri oleh tanda tanya (?) untuk
kalimat pertanyaan dan tanda seru (!) untuk kalimat perintah. Suatu
rangkaian kata-kata baru dapat dikatakan kalimat apabila memiliki
setidaknya Subjek (S) dan Predikat (P). Jika tidak memiliki kedua unsur
tersebut, maka sebuah pernyataan tidak dapat dikatakan sebagai kalimat,
melainkan disebut dengan frasa. Dalam bentuk lisan (diucapkan) maka
kalimat diawali dengan kesenyapan (diam), diiringi alunan titik nada, disela
oleh jeda, dan diakhiri oleh intonasi final serta kesenyapan akhir.
Unsur Kalimat
1. Subjek
Subjek adalah unsur pokok yang terdapat pada sebuah kalimat, di
samping unsur predikat. Dalam pola kalimat bahasa Indonesia, subjek
biasanya terletak sebelum predikat, kecuali jenis kalimat inversi. Ciri-ciri
subjek :
– Jawaban atas pertanyaan ‘apa’ atau ‘siapa’.
– Disertai kata ‘itu’.
– Didahului kata ‘bahwa’.
– Mempunyai keterangan pewatas ‘yang’ (penghubung dengan menggunakan
kata ‘yang’).
– Tidak didahului preposisi seperti ‘dari’, ‘dalam’, ‘di’, ‘ke’, ‘kepada’, ‘pada’.
– Berupa Nomina atau Frasa Nominal
Contoh subjek dalam kalimat:
a. Ayahku sedang melukis.
b. Meja direktur besar.
c. Melaksanakan tugas adalah kewajiban tiap anggota kelompok.
2. Predikat
Predikat juga merupakan unsur utama suatu kalimat di samping subjek
yang merupakan inti dari kalimat. Unsur pengisi predikat suatu kalimat dapat
berupa Kata, misalnya verba, adjektiva, atau nominal, numeral dan
preposisional. Selain itu dapat pula berupa Frasa, misalnya frasa verbal, frasa
adjektival, frasa nominal, frasa numeralia (bilangan). Ciri-ciri predikat :
– Jawaban atas pertanyaan ‘Mengapa’ atau ‘Bagaimana’.
– Dapat berupa kata ‘Adalah’ atau ‘Ialah’.
– Dapat diingkarkan yang diwujudkan oleh kata ‘Tidak’.
– Dapat Disertai Kata-kata Aspek atau Modalitas seperti ‘telah’, ‘sudah’,
‘sedang’, ‘belum’, ‘akan’, ‘ingin’, ‘hendak’, ‘mau’, dll.
Perhatikan beberapa contoh kalimat di bawah ini:
a. Qiqi belajar di kamar.
b. Ibu memasak tumis kangkung.
c. Aldy sedang membaca Koran.
3. Objek
Objek bukan unsur wajib dalam kalimat. Keberadaanya umumnya
terletak setelah predikat yang berkatagori verbal transitif (kalimat aktif
transitif) yang sedikitnya mempunyai tiga unsur utama, subjek, predikat, dan
objek. Objek pada kalimat aktif akan berubah menjadi subjek jika kalimatnya
dipasifkan. Demikian pula, objek pada kalimat pasif akan menjadi subjek jika
kalimatnya dijadikan kalimat aktif. Objek umumnya berkatagori nomina. Ciri-
ciri objek ini sebagai berikut:
– Langsung di belakang predikat.
– Dapat menjadi subjek kalimat pasif.
– Tidak didahului preposisi.
– Didahului kata ‘bahwa’.
Berikut contoh objek dalam kalimat:
a. Adik bermain layangan.
b. Aldy membeli sebuah buku.
c. Kelinci itu memakan wortel.
4. Pelengkap
Pelengkap dan objek memiliki kesamaan. Kesamaan pada ke dua unsur
kalimat ini adalah : bersifat wajib ada karena melengkapi makna verba
predikat kalimat, menempati posisi di belakang predikat dan tidak didahului
preposisi. Perbedaannya terletak pada kalimat pasif. Pelengkap tidak menjadi
subjek dalam kalimat pasif. Jika terdapat objek dan pelengkap dalam kalimat
aktif, objeklah yang menjadi subjek kalimat pasif, bukan pelengkap. Berikut
ciri-ciri pelengkap:
–Di Belakang Predikat
Ciri ini sama dengan objek. Perbedaannya, objek langsung di belakang
predikat, sedangkan pelengkap masih dapat disisipi unsur lain, yaitu objek.
Contohnya terdapat pada kalimat berikut.
a) Anggi mengirimi saya buku baru.
b) Mereka membelikan ayahnya kacamata baru.
Unsur kalimat buku baru dan kacamata baru di atas berfungsi sebagai
pelengkap dan tidak mendahului predikat.
– Tidak Didahului Preposisi
5. Keterangan
Keterangan merupakan unsur kalimat yang memberikan informasi lebih
lanjut tentang suatu yang dinyatakan dalam kalimat; misalnya, memberi
informasi tentang tempat, waktu, cara, sebab, dan tujuan. Keterangan ini
dapat berupa kata, frasa, atau anak kalimat. Keterangan yang berupa frasa
ditandai oleh preposisi, seperti di, ke, dari, dalam, pada, kepada, terhadap,
tentang,oleh, dan untuk. Keterangan yang berupa anak kalimat ditandai
dengan kata penghubung, seperti ketika, karena, meskipun,supaya, jika, dan
sehingga. Berikut ini beberapa ciri unsur keterangan:
– Bukan Unsur Utama (tidak bersifat wajib seperti subjek, predikat, objek dan
pelengkap ).
– Tidak Terikat Posisi (memiliki kebebasan tempat di awal/ di akhir , atau di
antara subjek dan predikat).
Pola Kalimat
1. Kalimat Dasar Berpola S P
Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek dan predikat. Predikat kalimat
untuk tipe ini dapat berupa kata kerja, kata benda, kata sifat, atau kata
bilangan. Misalnya:
o Mereka / sedang berenang.
S P (kata kerja)
o Ayahnya / guru SMA.
S P (kata benda)
o Gambar itu / bagus.
S P (kata sifat)
o Peserta penataran ini / empat puluh orang.
S P (kata bilangan)
2. Kalimat Dasar Berpola S P O
Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, dan objek. subjek
berupa nomina atau frasa nominal, predikat berupa verba transitif, dan objek
berupa nomina atau frasa nominal. Misalnya:
Mereka / sedang menyusun / karangan ilmiah.
S P O
3. Kalimat Dasar Berpola S P Pel.
Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, dan pelengkap. Subjek
berupa nomina atau frasa nominal, predikat berupa verba intransitif atau kata
sifat, dan pelengkap berupa nomina atau adjektiva. Misalnya:
Anaknya / beternak / ayam.
S P Pel.
4. Kalimat Dasar Berpola S P O Pel.
Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, objek, dan pelengkap.
subjek berupa nomina atau frasa nominal, predikat berupa verba intransitif,
objek berupa nomina atau frasa nominal, dan pelengkap berupa nomina atau
frasa nominal. Misalnya:
Dia / mengirimi / saya / surat.
S P O Pel.
5. Kalimat Dasar Berpola S P K
Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, dan harus memiliki
unsur keterangan karena diperlukan oleh predikat. Subjek berupa nomina
atau frasa nominal, predikat berupa verba intransitif, dan keterangan berupa
frasa berpreposisi. Misalnya:
Mereka / berasal / dari Surabaya.
S P K
6. Kalimat Dasar Berpola S P O K
Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, objek, dan keterangan.
subjek berupa nomina atau frasa nomina, predikat berupa verba intransitif,
objek berupa nomina atau frasa nominal, dan keterangan berupa frasa
berpreposisi. Misalnya:
Kami / memasukkan / pakaian / ke dalam lemari.
S P O K
7. Kalimat Dasar Berpola S P Pel. K
Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, pelengkap, dan
keterangan. Subjek berupa nomina atau frasa nominal, predikat berupa verba
intransitif atau kata sifat, pelengkap berupa nomina atau adjektiva, dan
keterangan berupa frasa berpreposisi. Misalnya :
Ungu / bermain / musik / di atas panggung.
S P Pel. K
8. Kalimat Dasar Berpola S P O Pel. K
Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, objek, pelengkap, dan
keterangan. subjek berupa nomina atau frasa nominal, predikat berupa verba
intransitif, objek berupa nomina atau frasa nominal, pelengkap berupa nomina
atau frasa nominal, dan keterangan berupa frasa berpreposisi. Misalnya:
Dia / mengirimi / ibunya / uang / setiap bulan.
S P O Pel. K
Jenis Kalimat
1. Jenis kalimat berdasarkan struktur tata bahasa
A. Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal terdiri dari satu subjek dan satu predikat. Pada
dasarnya, kalau dilihat dari unsur-unsurnya, kalimat-kalimat yang panjang
dalam bahasa Indonesia bisa dikembalikan kepada kalimat-kalimat yang
sederhana.
Kalimat tunggal yang sederhana adalah kalimat yang terdiri dari satu
subjek dan satu predikat. Sehubungan dengan hal itu, kalimat-kalimat yang
panjang dapat pula ditelusuri pola-pola pembentukannya. Pola-pola inilah
yang dimaksud dengan pola kalimat dasar.
B. Kalimat Majemuk
Kalimat majemuk merupakan kalimat yang didalamnya terdapat dua
kalimat dasar atau lebih. Berdasarkan hubungan antara kalimat dasar
tersebut, kalimat majemuk dapat dikelompokkan menjadi kalimat majemuk
setara, kalimat majemuk campuran, dan kalimat majemuk bertingkat.
1) Kalimat Majemuk Setara
Masing-masing bisa berdiri sendiri sebagai kalimat tunggal. Kalimat
majemuk setara terjadi karena dalam satu kalimat terdapat dua kalimat
tunggal. Kalimat majemuk setara dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis,
yaitu :
p
a. Dua kalimat tunggal atau lebih dapat dihubungkan oleh kata serta atau
dan. Jika kedua kalimat tunggal atau lebih itu setara, maka hasilnya akan
membentuk kalimat majemuk setara.
Contoh :
Kami membaca dan mereka menulis
Tanda koma bisa digunakan jika kalimat yang digabungkan itu lebih dari
dua kalimat tunggal.
Contoh :
Direktur tenang, karyawan duduk tenang, dan para nasabah antre.
Kalimat berikut terdiri atas dua kalimat tunggal :
Saya datang, dia pergi.
Kalimat tersebut terdiri dari dua kalimat dasar yaitu saya datang dan dia
pergi. Jika kalimat tunggal pertama ditiadakan, unsur dia pergi masih
dapat berdiri sendiri sebagai kalimat baru.
Demikian pula sebaliknya, jika keduanya mempunyai kedudukan yang
setara. Itulah sebabnya kalimat tersebut disebut sebagai kalimat majemuk
setara.
b. Kedua kalimat yang berbentuk kalimat setara yang dapat dihubungkan
oleh frase atau kata tetapi jika kalimat tersebut menunjukkan
pertentangan, dan hasilnya disebut sebagai kalimat majemuk setara
pertentangan.
Contoh :
Jerman dan Jepang tergolong negara maju, tetapi Indonesia tergolong
negara berkembang.
Kata-kata lain yang dapat digunakan sebagai konjungsi dua kalimat
tunggal dalam kalimat majemuk setara pertentangan adalah kata
sedangkan dan melainkan.
Contoh :
Puspitek terletak di Serpong, sedangkan Industri Pesawat Terbang
Nusantara terletak di Bandung.
Dia bukan pelatih, melainkan pedagang.
c. Dua kalimat tunggal atau lebih dapat dihubungkan oleh kata lalu dan
kemudian jika kejadian atau peristiwa yang dikemukakannya berurutan.
Contoh :
Upacara serah terima jabatan pengurus OSIS telah selesai, lalu Kepala
Sekolah menyampaikan pidato singkatnya.
2) Kalimat Majemuk Bertingkat
Kalimat majemuk bertingkat mengandung satu kalimat tunggal yang
merupakan inti atau induk kalimat dan diantara kalimat dasar berfungsi
sebagai pengisi salah satu unsur kalimat utama. Berikut adalah beberapa
konjungsi dalam kalimat majemuk bertingkat :
a. Hubungan Waktu
Kata penghubung yang dipakai adalah sejak, semenjak, ketika, sebelum,
hingga, sesudah, sementara, tatkala, seraya, selagi, selama, sambil, serta,
sesuai, setelah, jika, sampai, hingga.
Contoh :
Sejak kecil, saya sudah terbiasa hidup sederhana.
b. Hubungan Syarat
Kata penghubung yang dipakai adalah jika, andaikata, seandainya, bilamana.
Contoh :
Jika kamu mau mendengarkannya, saya akan bercerita.
Pembangunan balai desa ini akan berjalan lancar jika seluruh masyarakat
mau berpartisipasi.
c. Hubungan Tujuan
Kata penghubung yang dipakai adalah agar, biar, dan supaya.
Contoh :
Shafira mengerjakan tugas itu sampai malam agar besok pagi dapat
mengumpulkannya.
d. Hubungan Perbandingan
Kata hubung yang dapat dipakai adalah seperti, bagaikan, ibarat, laksana,
alih-alih.
Contoh :
Ibu Ayu menyayangi keponakannya seperti beliau menyayangi anaknya
sendiri.
e. Hubungan Perlawanan
Kata penghubung yang dipakai adalah meskipun, walaupun, kendatipun,
sungguhpun.
Contoh :
Walaupun hatinya sedih, Ayah tidak menangis di depan anak-anaknya.
f. Hubungan Penyebab
Kata penghubung yang dipakai adalah karena, sebab, oleh karena.
Contoh :
Rencana penyelenggaraan pentas seni di sekolah saya tunda karena pengisi
acaranya belum siap.
g. Hubungan Akibat
Kata penghubung yang dipakai adalah sampai, maka, sehingga.
Contoh :
Pada saat ini harga buku memang sangat mahal sehingga kami tidak sanggup
membelinya.
h. Hubungan Cara
Kata penghubung yang dipakai adalah tanpa, dengan.
Contoh :
Ia merangkai bunga-bunga itu dengan penuh kesabaran.
i. Hubungan Sangkalan
Kata penghubung yang dipakai adalah seakan-akan, seolah-olah.
Contoh :
Dia diam saja seolah-olah dia tidak melakukannya.
j. Hubungan Kenyataan
Kata penghubung yang dipakai adalah sedangkan, padahal.
Contoh :
Dia pura-pura tidak tahu, padahal dia tahu banyak tentang berita tersebut.
k. Hubungan Hasil
Kata penghubung yang dipakai adalah makanya.
Contoh :
Wajah Arya cemberut, makanya saya takut untuk mendekatinya.
l. Hubungan Penjelasan
Kata penghubung yang dipakai adalah bahwa.
Contoh :
Ia tidak tahu bahwa ayahnya seorang pegawai teladan.
3) Kalimat Majemuk Campuran
Kalimat majemuk campuran merupakan gabungan antara kalimat majemuk
bertingkat dengan kalimat majemuk setara. Dalam kalimat majemuk
campuran minimal terdapat tiga kalimat tunggal.
Contoh :
Pekerjaan itu telah selesai ketika kakak datang dan ayah selesai membaca
koran.
Kalimat Efektif
Kalimat efektif adalah kalimat yang sesuai dengan kaidah tata bahasa,
baik itu ejaan maupun tanda bacanya. Sehingga kalimat tersebut mudah
dipahami oleh pembaca atau pendengarnya. Selain itu, kalimat efektif juga
dapat menyampaikan gagasan-gagasan atau ide yang ingin disampaikan oleh
penulis, atau pembicara pada pembaca maupun pendengar.
Ciri-ciri kalimat efektif
1. Kesepadanan
Kesapadanan merupakan keseimbangan antara gagasan dan struktur bahasa
yang digunakan. Kesepadanan kalimat bisa terlihat dari kesatuan pokok
pikiran suatu kalimat yang kompak dan kesepadanan pikiran yang baik.
Ciri-ciri kesapadanan struktur suatu kalimat adalah sebagai berikut :
a. Kalimat tersebut harus mempunyai subjek dan predikat yang jelas.
b. Tidak terdapat subjek yang ganda.
c. Kalimat penghubung intrakalimat tidak dipakai pada kalimat tunggal.
d. Predikat kalimat tidak didahului oleh kata penghubung yang.
Contoh :
a. Dalam musyawarah itumenghasilkan lima keputusan (salah)
b. Musyawarah itu menghasilkan lima keputusan (benar)
c. Di Sekolah kami mengadakan lomba baca puisi (salah)
d. Sekolah kami mengadakan lomba baca puisi (benar)
2. Kesejajaran
Kesejajaran adalah kesamaan bentuk kata atau imbuhan yang digunakan
dalam kalimat tersebut. Jika bentuk pertama memakai verba, yang kedua juga
harus memakai verba. Dan apabila kalimat pertama menggunakan kata kerja
berimbuhan me-, maka kalimat selanjutnya juga harus menggunkan kata
kerja berimbuhan me-.
Contoh :
a. Bapak menolong anak itu dengan dipapahnya kepinggir jalan (salah)
b. Bapak menolong anak itu dengan memapahnya kepinggir jalan (benar)
3. Ketegasan
Ketegasan merupakan suatu perlakuan, penekanan, atau penonjolan terhadap
suatu ide pokok dari suatu kalimat. Untuk membuat penekanan dalam suatu
kalimat, ada beberapa cara yang harus dilakukan, yaitu :
a) Meletakkan ide pokok itu didepan kalimat
Contoh :
a. Harapan kami adalah agar soal ini dapat kita bicarakan pada kesempatan
lain (salah)
b. Pada kesempatan lain, kami berharap kita dapat membicarakan lagi soal
ini (benar)
b) Membuat rangkaian kata yang bertahap
Contoh :
a. Tidak seribu, sejuta, atau seratus, tetapi berjuta-juta rupiah telah
disumbangkan kepada anak yatim (salah)
b. Tidak seratus, seribu, atau sejuta, tetapi berjuta-juta rupiah telah
disumbangkan kepada anak yatim (benar)
C) melakukan pengulangan kata (repetisi)
contoh : cerita itu benar-benar menari, cerita itu sangat mengharukan
d) melakukan pertentangan terhadap ide pokok
contoh : Anak itu nakal, tetapi baik
e) menggunkan partikel penegasan, seperti partikel –lah, -pun, dan –kah.
Contoh : dapatkah mereka mengerti maksud perkataanku?
4. Kecermatan
Kecermatan adalah tidak menggunakan kata yang mempunyai banyak makna
atau tafsiran ganda, dan tepat dalam pilihan kata.
Contoh :
a. Siswa kelas 6 yang terkenal itu menerima hadiah (salah)
b. Siswa yang terkenal di kelas 6 itu menerima hadiah (benar)
5. Kehematan
Kehematan adalah menggunakan kata, frasa, atau bentuk lain dengan yang
wajar dan perlu saja. Namun, perlu diingat bahwa tidak menyalahi dengan
kaidah tata bahasa. Penggunaan kata yang berlebihan akan merusak maksud
kalimat. Yang harus diperhatikan dalam penghematan kata, yaitu :
 Menghilangkan pengulangan subjek.
 Menghindari penggunaan kata yang menunjukkan nama taksonomi dan
anggotanya.
 Menghindari sinonim dalam satu kalimat
 Tidak menjamakkan kata-kata yang berbentuk jamak.
Contoh :
a. Dia memakai topi warna putih (salah)
b. Dia memakai topi putih (benar)
6. Kepaduan
Kepaduan adalah menggunakan gabungan kata supaya informasi yang
disampaikan tidak terpecah-pecah dan bisa dipahami. Yang harus
diperhatikan dalam kepaduan kalimat, yaitu :
 Kalimat tidak berkepanjangan dan kagak mencerminkan cara berpikir yang
bukan simetris.
 Kalimat menggunkan bentuk aspek, agen, verbal secara tertib dalam
kalimat-kalimat yang berpredikat pasif pesona.
 Kalimat tidak harus menyelipkan kata seperti dari pada atau tentang
antara predikat kata kerja dan objek penderita.
Contoh :
a. Makalah ini membahas tentang desain interior pada rumah adat (salah).
b. Makalah ini membahas desain interior pada rumah adat (benar).
7. Kelogisan
Kelogisan bisa disebut juga dengan masuk akal atau bisa diterima oleh akal
sehat. Maksud kelogisan dalam kalimat efektif adalah kalimat itu dapat
dengan mudah dipahami, dan penulisannya sesuai dengan Ejaan Bahasa
Indonesia.
Contoh :
a. Saya mengajar mata kuliah Jurnalistik di kampus (salah).
b. Saya mengajarkan mata kuliah Jurnalistik di kampus (benar).

4. kalimat

  • 1.
    KALIMAT Pengertian Kalimat Kalimat adalahsatuan bahasa berupa rangkaian dari kata-kata yang memiliki makna lengkap serta dapat berdiri sendiri. Kalimat merupakan satuan bahasa terkecil yang mengungkapkan suatu gagasan baik secara lisan ataupun tulisan. Sebuah kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri oleh tanda titik (.) untuk kalimat berita, diakhiri oleh tanda tanya (?) untuk kalimat pertanyaan dan tanda seru (!) untuk kalimat perintah. Suatu rangkaian kata-kata baru dapat dikatakan kalimat apabila memiliki setidaknya Subjek (S) dan Predikat (P). Jika tidak memiliki kedua unsur tersebut, maka sebuah pernyataan tidak dapat dikatakan sebagai kalimat, melainkan disebut dengan frasa. Dalam bentuk lisan (diucapkan) maka kalimat diawali dengan kesenyapan (diam), diiringi alunan titik nada, disela oleh jeda, dan diakhiri oleh intonasi final serta kesenyapan akhir. Unsur Kalimat 1. Subjek Subjek adalah unsur pokok yang terdapat pada sebuah kalimat, di samping unsur predikat. Dalam pola kalimat bahasa Indonesia, subjek biasanya terletak sebelum predikat, kecuali jenis kalimat inversi. Ciri-ciri subjek : – Jawaban atas pertanyaan ‘apa’ atau ‘siapa’. – Disertai kata ‘itu’. – Didahului kata ‘bahwa’. – Mempunyai keterangan pewatas ‘yang’ (penghubung dengan menggunakan kata ‘yang’). – Tidak didahului preposisi seperti ‘dari’, ‘dalam’, ‘di’, ‘ke’, ‘kepada’, ‘pada’. – Berupa Nomina atau Frasa Nominal Contoh subjek dalam kalimat: a. Ayahku sedang melukis. b. Meja direktur besar. c. Melaksanakan tugas adalah kewajiban tiap anggota kelompok. 2. Predikat Predikat juga merupakan unsur utama suatu kalimat di samping subjek yang merupakan inti dari kalimat. Unsur pengisi predikat suatu kalimat dapat
  • 2.
    berupa Kata, misalnyaverba, adjektiva, atau nominal, numeral dan preposisional. Selain itu dapat pula berupa Frasa, misalnya frasa verbal, frasa adjektival, frasa nominal, frasa numeralia (bilangan). Ciri-ciri predikat : – Jawaban atas pertanyaan ‘Mengapa’ atau ‘Bagaimana’. – Dapat berupa kata ‘Adalah’ atau ‘Ialah’. – Dapat diingkarkan yang diwujudkan oleh kata ‘Tidak’. – Dapat Disertai Kata-kata Aspek atau Modalitas seperti ‘telah’, ‘sudah’, ‘sedang’, ‘belum’, ‘akan’, ‘ingin’, ‘hendak’, ‘mau’, dll. Perhatikan beberapa contoh kalimat di bawah ini: a. Qiqi belajar di kamar. b. Ibu memasak tumis kangkung. c. Aldy sedang membaca Koran. 3. Objek Objek bukan unsur wajib dalam kalimat. Keberadaanya umumnya terletak setelah predikat yang berkatagori verbal transitif (kalimat aktif transitif) yang sedikitnya mempunyai tiga unsur utama, subjek, predikat, dan objek. Objek pada kalimat aktif akan berubah menjadi subjek jika kalimatnya dipasifkan. Demikian pula, objek pada kalimat pasif akan menjadi subjek jika kalimatnya dijadikan kalimat aktif. Objek umumnya berkatagori nomina. Ciri- ciri objek ini sebagai berikut: – Langsung di belakang predikat. – Dapat menjadi subjek kalimat pasif. – Tidak didahului preposisi. – Didahului kata ‘bahwa’. Berikut contoh objek dalam kalimat: a. Adik bermain layangan. b. Aldy membeli sebuah buku. c. Kelinci itu memakan wortel. 4. Pelengkap Pelengkap dan objek memiliki kesamaan. Kesamaan pada ke dua unsur kalimat ini adalah : bersifat wajib ada karena melengkapi makna verba predikat kalimat, menempati posisi di belakang predikat dan tidak didahului preposisi. Perbedaannya terletak pada kalimat pasif. Pelengkap tidak menjadi
  • 3.
    subjek dalam kalimatpasif. Jika terdapat objek dan pelengkap dalam kalimat aktif, objeklah yang menjadi subjek kalimat pasif, bukan pelengkap. Berikut ciri-ciri pelengkap: –Di Belakang Predikat Ciri ini sama dengan objek. Perbedaannya, objek langsung di belakang predikat, sedangkan pelengkap masih dapat disisipi unsur lain, yaitu objek. Contohnya terdapat pada kalimat berikut. a) Anggi mengirimi saya buku baru. b) Mereka membelikan ayahnya kacamata baru. Unsur kalimat buku baru dan kacamata baru di atas berfungsi sebagai pelengkap dan tidak mendahului predikat. – Tidak Didahului Preposisi 5. Keterangan Keterangan merupakan unsur kalimat yang memberikan informasi lebih lanjut tentang suatu yang dinyatakan dalam kalimat; misalnya, memberi informasi tentang tempat, waktu, cara, sebab, dan tujuan. Keterangan ini dapat berupa kata, frasa, atau anak kalimat. Keterangan yang berupa frasa ditandai oleh preposisi, seperti di, ke, dari, dalam, pada, kepada, terhadap, tentang,oleh, dan untuk. Keterangan yang berupa anak kalimat ditandai dengan kata penghubung, seperti ketika, karena, meskipun,supaya, jika, dan sehingga. Berikut ini beberapa ciri unsur keterangan: – Bukan Unsur Utama (tidak bersifat wajib seperti subjek, predikat, objek dan pelengkap ). – Tidak Terikat Posisi (memiliki kebebasan tempat di awal/ di akhir , atau di antara subjek dan predikat). Pola Kalimat 1. Kalimat Dasar Berpola S P Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek dan predikat. Predikat kalimat untuk tipe ini dapat berupa kata kerja, kata benda, kata sifat, atau kata bilangan. Misalnya: o Mereka / sedang berenang.
  • 4.
    S P (katakerja) o Ayahnya / guru SMA. S P (kata benda) o Gambar itu / bagus. S P (kata sifat) o Peserta penataran ini / empat puluh orang. S P (kata bilangan) 2. Kalimat Dasar Berpola S P O Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, dan objek. subjek berupa nomina atau frasa nominal, predikat berupa verba transitif, dan objek berupa nomina atau frasa nominal. Misalnya: Mereka / sedang menyusun / karangan ilmiah. S P O 3. Kalimat Dasar Berpola S P Pel. Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, dan pelengkap. Subjek berupa nomina atau frasa nominal, predikat berupa verba intransitif atau kata sifat, dan pelengkap berupa nomina atau adjektiva. Misalnya: Anaknya / beternak / ayam. S P Pel. 4. Kalimat Dasar Berpola S P O Pel. Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, objek, dan pelengkap. subjek berupa nomina atau frasa nominal, predikat berupa verba intransitif, objek berupa nomina atau frasa nominal, dan pelengkap berupa nomina atau frasa nominal. Misalnya: Dia / mengirimi / saya / surat. S P O Pel. 5. Kalimat Dasar Berpola S P K Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, dan harus memiliki unsur keterangan karena diperlukan oleh predikat. Subjek berupa nomina atau frasa nominal, predikat berupa verba intransitif, dan keterangan berupa frasa berpreposisi. Misalnya:
  • 5.
    Mereka / berasal/ dari Surabaya. S P K 6. Kalimat Dasar Berpola S P O K Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, objek, dan keterangan. subjek berupa nomina atau frasa nomina, predikat berupa verba intransitif, objek berupa nomina atau frasa nominal, dan keterangan berupa frasa berpreposisi. Misalnya: Kami / memasukkan / pakaian / ke dalam lemari. S P O K 7. Kalimat Dasar Berpola S P Pel. K Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, pelengkap, dan keterangan. Subjek berupa nomina atau frasa nominal, predikat berupa verba intransitif atau kata sifat, pelengkap berupa nomina atau adjektiva, dan keterangan berupa frasa berpreposisi. Misalnya : Ungu / bermain / musik / di atas panggung. S P Pel. K 8. Kalimat Dasar Berpola S P O Pel. K Kalimat dasar tipe ini memiliki unsur subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan. subjek berupa nomina atau frasa nominal, predikat berupa verba intransitif, objek berupa nomina atau frasa nominal, pelengkap berupa nomina atau frasa nominal, dan keterangan berupa frasa berpreposisi. Misalnya: Dia / mengirimi / ibunya / uang / setiap bulan. S P O Pel. K Jenis Kalimat 1. Jenis kalimat berdasarkan struktur tata bahasa A. Kalimat Tunggal Kalimat tunggal terdiri dari satu subjek dan satu predikat. Pada dasarnya, kalau dilihat dari unsur-unsurnya, kalimat-kalimat yang panjang dalam bahasa Indonesia bisa dikembalikan kepada kalimat-kalimat yang sederhana. Kalimat tunggal yang sederhana adalah kalimat yang terdiri dari satu subjek dan satu predikat. Sehubungan dengan hal itu, kalimat-kalimat yang
  • 6.
    panjang dapat puladitelusuri pola-pola pembentukannya. Pola-pola inilah yang dimaksud dengan pola kalimat dasar. B. Kalimat Majemuk Kalimat majemuk merupakan kalimat yang didalamnya terdapat dua kalimat dasar atau lebih. Berdasarkan hubungan antara kalimat dasar tersebut, kalimat majemuk dapat dikelompokkan menjadi kalimat majemuk setara, kalimat majemuk campuran, dan kalimat majemuk bertingkat. 1) Kalimat Majemuk Setara Masing-masing bisa berdiri sendiri sebagai kalimat tunggal. Kalimat majemuk setara terjadi karena dalam satu kalimat terdapat dua kalimat tunggal. Kalimat majemuk setara dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu : p a. Dua kalimat tunggal atau lebih dapat dihubungkan oleh kata serta atau dan. Jika kedua kalimat tunggal atau lebih itu setara, maka hasilnya akan membentuk kalimat majemuk setara. Contoh : Kami membaca dan mereka menulis Tanda koma bisa digunakan jika kalimat yang digabungkan itu lebih dari dua kalimat tunggal. Contoh : Direktur tenang, karyawan duduk tenang, dan para nasabah antre. Kalimat berikut terdiri atas dua kalimat tunggal : Saya datang, dia pergi. Kalimat tersebut terdiri dari dua kalimat dasar yaitu saya datang dan dia pergi. Jika kalimat tunggal pertama ditiadakan, unsur dia pergi masih dapat berdiri sendiri sebagai kalimat baru. Demikian pula sebaliknya, jika keduanya mempunyai kedudukan yang setara. Itulah sebabnya kalimat tersebut disebut sebagai kalimat majemuk setara.
  • 7.
    b. Kedua kalimatyang berbentuk kalimat setara yang dapat dihubungkan oleh frase atau kata tetapi jika kalimat tersebut menunjukkan pertentangan, dan hasilnya disebut sebagai kalimat majemuk setara pertentangan. Contoh : Jerman dan Jepang tergolong negara maju, tetapi Indonesia tergolong negara berkembang. Kata-kata lain yang dapat digunakan sebagai konjungsi dua kalimat tunggal dalam kalimat majemuk setara pertentangan adalah kata sedangkan dan melainkan. Contoh : Puspitek terletak di Serpong, sedangkan Industri Pesawat Terbang Nusantara terletak di Bandung. Dia bukan pelatih, melainkan pedagang. c. Dua kalimat tunggal atau lebih dapat dihubungkan oleh kata lalu dan kemudian jika kejadian atau peristiwa yang dikemukakannya berurutan. Contoh : Upacara serah terima jabatan pengurus OSIS telah selesai, lalu Kepala Sekolah menyampaikan pidato singkatnya. 2) Kalimat Majemuk Bertingkat Kalimat majemuk bertingkat mengandung satu kalimat tunggal yang merupakan inti atau induk kalimat dan diantara kalimat dasar berfungsi sebagai pengisi salah satu unsur kalimat utama. Berikut adalah beberapa konjungsi dalam kalimat majemuk bertingkat : a. Hubungan Waktu Kata penghubung yang dipakai adalah sejak, semenjak, ketika, sebelum, hingga, sesudah, sementara, tatkala, seraya, selagi, selama, sambil, serta, sesuai, setelah, jika, sampai, hingga. Contoh : Sejak kecil, saya sudah terbiasa hidup sederhana. b. Hubungan Syarat
  • 8.
    Kata penghubung yangdipakai adalah jika, andaikata, seandainya, bilamana. Contoh : Jika kamu mau mendengarkannya, saya akan bercerita. Pembangunan balai desa ini akan berjalan lancar jika seluruh masyarakat mau berpartisipasi. c. Hubungan Tujuan Kata penghubung yang dipakai adalah agar, biar, dan supaya. Contoh : Shafira mengerjakan tugas itu sampai malam agar besok pagi dapat mengumpulkannya. d. Hubungan Perbandingan Kata hubung yang dapat dipakai adalah seperti, bagaikan, ibarat, laksana, alih-alih. Contoh : Ibu Ayu menyayangi keponakannya seperti beliau menyayangi anaknya sendiri. e. Hubungan Perlawanan Kata penghubung yang dipakai adalah meskipun, walaupun, kendatipun, sungguhpun. Contoh : Walaupun hatinya sedih, Ayah tidak menangis di depan anak-anaknya. f. Hubungan Penyebab Kata penghubung yang dipakai adalah karena, sebab, oleh karena. Contoh : Rencana penyelenggaraan pentas seni di sekolah saya tunda karena pengisi acaranya belum siap. g. Hubungan Akibat Kata penghubung yang dipakai adalah sampai, maka, sehingga.
  • 9.
    Contoh : Pada saatini harga buku memang sangat mahal sehingga kami tidak sanggup membelinya. h. Hubungan Cara Kata penghubung yang dipakai adalah tanpa, dengan. Contoh : Ia merangkai bunga-bunga itu dengan penuh kesabaran. i. Hubungan Sangkalan Kata penghubung yang dipakai adalah seakan-akan, seolah-olah. Contoh : Dia diam saja seolah-olah dia tidak melakukannya. j. Hubungan Kenyataan Kata penghubung yang dipakai adalah sedangkan, padahal. Contoh : Dia pura-pura tidak tahu, padahal dia tahu banyak tentang berita tersebut. k. Hubungan Hasil Kata penghubung yang dipakai adalah makanya. Contoh : Wajah Arya cemberut, makanya saya takut untuk mendekatinya. l. Hubungan Penjelasan Kata penghubung yang dipakai adalah bahwa. Contoh : Ia tidak tahu bahwa ayahnya seorang pegawai teladan. 3) Kalimat Majemuk Campuran Kalimat majemuk campuran merupakan gabungan antara kalimat majemuk bertingkat dengan kalimat majemuk setara. Dalam kalimat majemuk campuran minimal terdapat tiga kalimat tunggal.
  • 10.
    Contoh : Pekerjaan itutelah selesai ketika kakak datang dan ayah selesai membaca koran. Kalimat Efektif Kalimat efektif adalah kalimat yang sesuai dengan kaidah tata bahasa, baik itu ejaan maupun tanda bacanya. Sehingga kalimat tersebut mudah dipahami oleh pembaca atau pendengarnya. Selain itu, kalimat efektif juga dapat menyampaikan gagasan-gagasan atau ide yang ingin disampaikan oleh penulis, atau pembicara pada pembaca maupun pendengar. Ciri-ciri kalimat efektif 1. Kesepadanan Kesapadanan merupakan keseimbangan antara gagasan dan struktur bahasa yang digunakan. Kesepadanan kalimat bisa terlihat dari kesatuan pokok pikiran suatu kalimat yang kompak dan kesepadanan pikiran yang baik. Ciri-ciri kesapadanan struktur suatu kalimat adalah sebagai berikut : a. Kalimat tersebut harus mempunyai subjek dan predikat yang jelas. b. Tidak terdapat subjek yang ganda. c. Kalimat penghubung intrakalimat tidak dipakai pada kalimat tunggal. d. Predikat kalimat tidak didahului oleh kata penghubung yang. Contoh : a. Dalam musyawarah itumenghasilkan lima keputusan (salah) b. Musyawarah itu menghasilkan lima keputusan (benar) c. Di Sekolah kami mengadakan lomba baca puisi (salah) d. Sekolah kami mengadakan lomba baca puisi (benar) 2. Kesejajaran Kesejajaran adalah kesamaan bentuk kata atau imbuhan yang digunakan dalam kalimat tersebut. Jika bentuk pertama memakai verba, yang kedua juga harus memakai verba. Dan apabila kalimat pertama menggunakan kata kerja berimbuhan me-, maka kalimat selanjutnya juga harus menggunkan kata kerja berimbuhan me-. Contoh : a. Bapak menolong anak itu dengan dipapahnya kepinggir jalan (salah)
  • 11.
    b. Bapak menolonganak itu dengan memapahnya kepinggir jalan (benar) 3. Ketegasan Ketegasan merupakan suatu perlakuan, penekanan, atau penonjolan terhadap suatu ide pokok dari suatu kalimat. Untuk membuat penekanan dalam suatu kalimat, ada beberapa cara yang harus dilakukan, yaitu : a) Meletakkan ide pokok itu didepan kalimat Contoh : a. Harapan kami adalah agar soal ini dapat kita bicarakan pada kesempatan lain (salah) b. Pada kesempatan lain, kami berharap kita dapat membicarakan lagi soal ini (benar) b) Membuat rangkaian kata yang bertahap Contoh : a. Tidak seribu, sejuta, atau seratus, tetapi berjuta-juta rupiah telah disumbangkan kepada anak yatim (salah) b. Tidak seratus, seribu, atau sejuta, tetapi berjuta-juta rupiah telah disumbangkan kepada anak yatim (benar) C) melakukan pengulangan kata (repetisi) contoh : cerita itu benar-benar menari, cerita itu sangat mengharukan d) melakukan pertentangan terhadap ide pokok contoh : Anak itu nakal, tetapi baik e) menggunkan partikel penegasan, seperti partikel –lah, -pun, dan –kah. Contoh : dapatkah mereka mengerti maksud perkataanku? 4. Kecermatan Kecermatan adalah tidak menggunakan kata yang mempunyai banyak makna atau tafsiran ganda, dan tepat dalam pilihan kata. Contoh : a. Siswa kelas 6 yang terkenal itu menerima hadiah (salah) b. Siswa yang terkenal di kelas 6 itu menerima hadiah (benar) 5. Kehematan
  • 12.
    Kehematan adalah menggunakankata, frasa, atau bentuk lain dengan yang wajar dan perlu saja. Namun, perlu diingat bahwa tidak menyalahi dengan kaidah tata bahasa. Penggunaan kata yang berlebihan akan merusak maksud kalimat. Yang harus diperhatikan dalam penghematan kata, yaitu :  Menghilangkan pengulangan subjek.  Menghindari penggunaan kata yang menunjukkan nama taksonomi dan anggotanya.  Menghindari sinonim dalam satu kalimat  Tidak menjamakkan kata-kata yang berbentuk jamak. Contoh : a. Dia memakai topi warna putih (salah) b. Dia memakai topi putih (benar) 6. Kepaduan Kepaduan adalah menggunakan gabungan kata supaya informasi yang disampaikan tidak terpecah-pecah dan bisa dipahami. Yang harus diperhatikan dalam kepaduan kalimat, yaitu :  Kalimat tidak berkepanjangan dan kagak mencerminkan cara berpikir yang bukan simetris.  Kalimat menggunkan bentuk aspek, agen, verbal secara tertib dalam kalimat-kalimat yang berpredikat pasif pesona.  Kalimat tidak harus menyelipkan kata seperti dari pada atau tentang antara predikat kata kerja dan objek penderita. Contoh : a. Makalah ini membahas tentang desain interior pada rumah adat (salah). b. Makalah ini membahas desain interior pada rumah adat (benar). 7. Kelogisan Kelogisan bisa disebut juga dengan masuk akal atau bisa diterima oleh akal sehat. Maksud kelogisan dalam kalimat efektif adalah kalimat itu dapat dengan mudah dipahami, dan penulisannya sesuai dengan Ejaan Bahasa Indonesia. Contoh : a. Saya mengajar mata kuliah Jurnalistik di kampus (salah). b. Saya mengajarkan mata kuliah Jurnalistik di kampus (benar).