1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara terhadap pelaksanaan
pembelajaran biologi di SMP Miftahul Huda yang berada di Kecamatan Ngadirojo,
Kabupaten Pacitan yang dilaksanakan pada bulan Oktober 2007 didapatkan data
bahwa pelajaran Biologi yang ada cenderung “text book oriented”, “teacher
oriented”, pelaksanaan pembelajaran biologi di kelas masih menggunakan metode
ceramah, mencatat, siswa disuruh mengerjakan buku Lembar Kerja Siswa (LKS)
yang disusun tim MGMP kota Pacitan secara individual kemudian dikumpulkan
kepada guru tanpa dibahas. Siswa kurang terlibat pada kegiatan pembelajaran, siswa
takut untuk bertanya maupun mengeluarkan pendapat, siswa kurang bisa bekerja
sama dengan kelompok, siswa kurang menghargai teman yang bukan teman karibnya
sehingga menyebabkan motivasi belajar siswa rendah.
Motivasi belajar siswa yang rendah ditandai dengan prestasi belajar yang
kurang memuaskan. Prestasi belajar siswa kelas VII SMP Miftahul Huda Ngadirojo
Pacitan yang rendah tersebut terlihat dari sebagian besar siswa masih mengikuti
remidi karena skor yang diperoleh belum memenuhi Standar Ketuntasan Minimal
Belajar (SKBM) yang ditetapkan di SMP Miftahul Huda yaitu 65. Siswa
menganggap belajar adalah transfer informasi dari guru ke siswa. Hal ini terlihat dari
pasifnya selama pembelajaran berlangsung, tidak ada keinginan siswa untuk belajar
1
2
mengembangkan pengetahuan dari berbagai sumber dan tukar informasi sesama
teman. Padahal motivasi berperan dalam menumbuhkan dan mengarahkan kegiatan
belajar siswa. Menurut Sardiman (2001:84) peranan motivasi belajar adalah
menumbuhkan gairah, senang, dan semangat untuk belajar. Motivasi menentukan
tingkat keberhasilan atau kegagalan perbuatan belajar murid. Belajar tanpa adanya
motivasi kiranya sulit untuk berhasil (Hamalik, 2004:161). Dengan adanya motivasi
belajar maka prestasi belajar juga cenderung meningkat. Motivasi belajar yang
rendah menurut hasil wawancara dengan siswa disebabkan oleh sarana dan prasarana
pembelajaran yang kurang misalnya tidak adanya laboratorium. Menurut guru
kekurangan tersebut menyebabkan pembelajaran yang monoton.
Kurikulum menurut Permen No. 22 Depdiknas 2006 dalam Rosidah (2007:1)
adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan
pelajaran, serta cara yang digunakan sebagai pedoman kegiatan pembelajaran untuk
mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum pendidikan Indonesia pada tahun 2007
menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pada kurikulum ini
pembelajaran terpusat pada siswa (student oriented). Siswa tidak lagi menjadi obyek
pembelajaran tapi menjadi subyek pembelajaran. KTSP adalah kurikulum yang
posisinya paling dekat dengan sekolah dan satuan pendidikan, sebab kurikulum
disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Sekolah memiliki
full authority dan responsibility serta menetapkan kurikulum dan pembelajaran
dengan visi, misi dan tujuan satuan pendidikan (Mulyasa, 2006:21).
Biologi adalah salah satu cabang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Menurut
BSNP (2006:1) IPA berkaitan dengan mencari tahu (inquiri) tentang alam dengan
sistematis, sehingga IPA bukan hanya untuk penguasaan konsep atau prinsip saja,
3
tapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA menekankan pada
pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan potensi agar peserta didik
menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah, sehingga dapat membantu
siswa memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang dirinya sendiri dan
alam sekitar. Karuru (2007) menyatakan bahwa “IPA bukan sekedar pengetahuan
tapi IPA adalah human enterprise yang melibatkan operasi mental, keterampilan, dan
strategi yang dirancang manusia untuk menemukan hakekat jagat raya”. Berdasarkan
konsep sains yang diungkapkan oleh Richardson (dalam Susanto 1996:27) bahwa
belajar Biologi bukan sekedar usaha untuk mencari dan mengumpulkan pengetahuan
(“body of knowledge”) tentang hidup, melainkan juga usaha untuk menumbuhkan
dan mengembangkan sikap serta kemampuan berpikir, selanjutnya meningkatkan
kemampuan menjalankan metode ilmiah untuk melakukan penyelidikan.
Pembelajaran Biologi terarah pada empat pilar, yaitu learning to do, learning
to know, learning to be, dan learning together. Oleh karena itu siswa hendaknya
diberdayakan agar mampu berbuat untuk memperkaya pengalaman belajarnya.
Untuk mencapai hal itu perlu iklim pembelajaran yang kondusif, seperti yang
tecantum dalam KTSP. Iklim pembelajaran yang kondusif diperlukan bagi
terciptanya suasana yang aman, nyaman dan tertib sehingga proses pembelajaran
dapat berlangsung dengan tenang dan menyenangkan (Mulyasa, 2006:33).
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa permasalahan yang terjadi di
kelas VII SMP Miftahul Huda Kecamatan Ngadirojo Pacitan terletak pada pemberian
pengalaman belajar yang kurang mengaktifkan siswa sehingga menyebabkan
motivasi belajar siswa rendah akibatnya motivasi belajar siswa juga rendah.
Berdasarkan permasalahan yang terjadi di SMP Miftahul Huda Ngadirojo Pacitan,
4
kreativitas guru diperlukan untuk menciptakan pembelajaran yang dapat
meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa. Salah satunya kreativitas guru
dalam memilih model pembelajaran yang sesuai. Model pembelajaran juga
berpengaruh terhadap keefektifan proses belajar mengajar. Oleh karena itu guru
harus memiliki kemampuan untuk memilih model yang tepat agar mampu
menciptakan situasi dan kondisi serta dapat memotivasi siswa belajar dengan
harapan agar proses pembelajaran berjalan baik dan prestasi belajar siswa meningkat.
Model pembelajaran yang baik dalam proses belajar mengajar adalah yang sesuai
dengan keadaan yaitu usia siswa, kelengkapan sarana dan prasarana serta materi
pelajaran. Salah satu model pembelajaran yang diyakini dapat menyelesaikan
masalah tersebut adalah model pembelajaran kooperatif.
Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran
motivasional yang diyakini mampu meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa
karena pembelajaran ini berorientasi pada siswa. Slavin (1995:3) menyatakan bahwa,
dalam pembelajaran kooperatif siswa dilibatkan baik secara emosional, maupun
sosial. Interaksi kooperatif memungkinkan siswa menjadi sumber belajar untuk
sesamanya dan siswa akan lebih mudah belajar serta dapat mengoptimalkan
pencapaian tujuan belajar, siswa bertanggung jawab terhadap proses belajarnya,
terlibat secara aktif dan memiliki usaha lebih besar untuk berprestasi.
Salah satu model pembelajaran kooperatif yang digunakan dalam
pembelajaran adalah Numbered Heads Together (NHT). Model pembelajaran NHT
memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide-ide dan
mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. Selain itu siswa didorong untuk
meningkatkan semangat kerja sama. NHT juga dapat meningkatkan prestasi belajar
5
siswa, mampu memperdalam pemahaman, mengembangkan rasa ingin tahu,
menyenangkan dalam belajar, mengembangkan sikap kepemimpinan, meningkatkan
rasa percaya diri, mengembangkan rasa saling memiliki, serta mengembangkan
keterampilan untuk masa depan serta lebih banyak melibatkan siswa dalam
pembelajaran (Hill, 1993 dalam Arif, 2003:28) NHT juga dapat meningkatkan
motivasi serta pemahaman siswa terhadap materi pelajaran (Madjid, 2006:126).
Kelebihan lain dari model pembelajaran NHT adalah menghindari persaingan antar
siswa dan kegaduhan dalam kelas karena saling berebut untuk menjawab pertanyaan.
Kekurangan dari NHT adalah memerlukan waktu yang cukup lama dan hanya cocok
untuk materi tertentu saja. Oleh karena itu perlu dikembangkan dengan model
pembelajaran lain agar pelaksanaannya berlangsung lebih baik (Rosidah, 2007:81).
Menurut hasil penelitian Rosidah (2007) di kelas X SMAN 4 Malang dan Hamidatus
(2007) di kelas XI A2 SMAN 4 Malang model pembelajaran NHT ini dapat
meningkatkan prestasi dan motivasi belajar biologi siswa untuk materi biologi
tertentu.
Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti ingin melakukan penelitian
tindakan kelas untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar biologi siswa Kelas
VII SMP Miftahul Huda Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan dengan
menggunakan model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together (NHT).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas rumusan masalah pada penelitian adalah
sebagai berikut.
6
1. Apakah model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together dapat
meningkatkan motivasi belajar Biologi siswa kelas VII SMP Miftahul Huda
Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan?
2. Apakah model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together dapat
meningkatkan prestasi belajar Biologi siswa kelas VII SMP Miftahul Huda
Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas tujuan penelitian ini adalah sebagai
berikut.
1. Untuk mengetahui peningkatan motivasi belajar Biologi siswa kelas VII SMP
Miftahul Huda Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan melalui model
pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together.
2. Untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar Biologi siswa kelas VII SMP
Miftahul Huda Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan melalui model
pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together.
D. Hipotesis Tindakan
Hipotesis tindakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Motivasi belajar Biologi siswa kelas VII SMP Miftahul Huda dapat ditingkatkan
melalui penerapan model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together.
2. Prestasi belajar Biologi siswa kelas VII SMP Miftahul Huda dapat ditingkatkan
melalui penerapan model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together.
7
E. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Peneliti
a) Memperluas wawasan tentang hal-hal yang terkait dengan pembelajaran
dengan model pembelajaran NHT.
b) Alternatif model pembelajaran untuk meningkatkan motivasi dan prestasi
belajar biologi siswa SMP.
2. Siswa
a) Membantu siswa meningkatkan motivasi belajar siswa pada pelajaran
Biologi khususnya pokok bahasan Kepadatan Populasi Manusia dan
Pengelolaan Lingkungan.
b) Membantu siswa meningkatkan prestasi belajar siswa pada pelajaran Biologi
khususnya pokok bahasan Kepadatan Populasi Manusia dan Pengelolaan
Lingkungan.
3. Guru
a) Memperkaya guru untuk memilih dan memanfaatkan model pembelajaran
yang sesuai dalam upaya meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa.
b) Dapat meningkatkan dan mengembangkan kemampuan guru dalam
pembelajaran Biologi melalui model pembelajaran Numbered Heads
Together (NHT).
4. Sekolah
a) Bahan pertimbangan untuk menerapkan model pembelajaran lain dalam
upaya meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah.
b) Alternatif pemecahan masalah dalam kegiatan pembelajaran.
8
F. Ruang Lingkup dan Keterbatasan Masalah
1. Penelitian dilaksanakan di SMP Miftahul Huda Kecamatan Ngadirojo Kabupaten
Pacitan kelas VII semester II tahun ajaran 2007/2008 pada pokok bahasan
Kepadatan Populasi Manusia dan Pengelolaan lingkungan.
2. Model pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran kooperatif
struktural Numbered Heads Together.
3. Aspek yang diamati adalah prestasi belajar yang terbatas pada kemampuan
kognitif siswa dilihat dari skor tes setiap akhir siklus dari 2 siklus, dan motivasi
yang dilihat dari aspek minat, konsentrasi, perhatian, dan ketekunan.
G. Definisi Operasional
1. Numbered Heads Together adalah model pembelajaran kooperatif struktural yang
dimulai dengan pemberian nomor masing-masing anggota kelompok dan
penyampaian jawaban dalam diskusi kelas dengan cara mengacak nomor yang
harus menjawab.
2. Prestasi belajar adalah tingkat penguasaan siswa terhadap suatu konsep setelah
mengikuti proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran Numbered
Heads Together yang diukur dengan tes di setiap akhir siklus.
3. Motivasi belajar adalah respon siswa pada saat pembelajaran berlangsung yang
merupakan tenaga pendorong/penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke
satu arah tujuan tertentu. Motivasi diukur dengan mengobservasi selama
pembelajaran berlangsung dan angket siswa dengan menggunakan instrumen
yang dibuat peneliti.

3. bab i

  • 1.
    1 BAB I PENDAHULUAN A. LatarBelakang Masalah Berdasarkan hasil observasi dan wawancara terhadap pelaksanaan pembelajaran biologi di SMP Miftahul Huda yang berada di Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan yang dilaksanakan pada bulan Oktober 2007 didapatkan data bahwa pelajaran Biologi yang ada cenderung “text book oriented”, “teacher oriented”, pelaksanaan pembelajaran biologi di kelas masih menggunakan metode ceramah, mencatat, siswa disuruh mengerjakan buku Lembar Kerja Siswa (LKS) yang disusun tim MGMP kota Pacitan secara individual kemudian dikumpulkan kepada guru tanpa dibahas. Siswa kurang terlibat pada kegiatan pembelajaran, siswa takut untuk bertanya maupun mengeluarkan pendapat, siswa kurang bisa bekerja sama dengan kelompok, siswa kurang menghargai teman yang bukan teman karibnya sehingga menyebabkan motivasi belajar siswa rendah. Motivasi belajar siswa yang rendah ditandai dengan prestasi belajar yang kurang memuaskan. Prestasi belajar siswa kelas VII SMP Miftahul Huda Ngadirojo Pacitan yang rendah tersebut terlihat dari sebagian besar siswa masih mengikuti remidi karena skor yang diperoleh belum memenuhi Standar Ketuntasan Minimal Belajar (SKBM) yang ditetapkan di SMP Miftahul Huda yaitu 65. Siswa menganggap belajar adalah transfer informasi dari guru ke siswa. Hal ini terlihat dari pasifnya selama pembelajaran berlangsung, tidak ada keinginan siswa untuk belajar 1
  • 2.
    2 mengembangkan pengetahuan dariberbagai sumber dan tukar informasi sesama teman. Padahal motivasi berperan dalam menumbuhkan dan mengarahkan kegiatan belajar siswa. Menurut Sardiman (2001:84) peranan motivasi belajar adalah menumbuhkan gairah, senang, dan semangat untuk belajar. Motivasi menentukan tingkat keberhasilan atau kegagalan perbuatan belajar murid. Belajar tanpa adanya motivasi kiranya sulit untuk berhasil (Hamalik, 2004:161). Dengan adanya motivasi belajar maka prestasi belajar juga cenderung meningkat. Motivasi belajar yang rendah menurut hasil wawancara dengan siswa disebabkan oleh sarana dan prasarana pembelajaran yang kurang misalnya tidak adanya laboratorium. Menurut guru kekurangan tersebut menyebabkan pembelajaran yang monoton. Kurikulum menurut Permen No. 22 Depdiknas 2006 dalam Rosidah (2007:1) adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, serta cara yang digunakan sebagai pedoman kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum pendidikan Indonesia pada tahun 2007 menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pada kurikulum ini pembelajaran terpusat pada siswa (student oriented). Siswa tidak lagi menjadi obyek pembelajaran tapi menjadi subyek pembelajaran. KTSP adalah kurikulum yang posisinya paling dekat dengan sekolah dan satuan pendidikan, sebab kurikulum disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Sekolah memiliki full authority dan responsibility serta menetapkan kurikulum dan pembelajaran dengan visi, misi dan tujuan satuan pendidikan (Mulyasa, 2006:21). Biologi adalah salah satu cabang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Menurut BSNP (2006:1) IPA berkaitan dengan mencari tahu (inquiri) tentang alam dengan sistematis, sehingga IPA bukan hanya untuk penguasaan konsep atau prinsip saja,
  • 3.
    3 tapi juga merupakansuatu proses penemuan. Pendidikan IPA menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan potensi agar peserta didik menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah, sehingga dapat membantu siswa memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang dirinya sendiri dan alam sekitar. Karuru (2007) menyatakan bahwa “IPA bukan sekedar pengetahuan tapi IPA adalah human enterprise yang melibatkan operasi mental, keterampilan, dan strategi yang dirancang manusia untuk menemukan hakekat jagat raya”. Berdasarkan konsep sains yang diungkapkan oleh Richardson (dalam Susanto 1996:27) bahwa belajar Biologi bukan sekedar usaha untuk mencari dan mengumpulkan pengetahuan (“body of knowledge”) tentang hidup, melainkan juga usaha untuk menumbuhkan dan mengembangkan sikap serta kemampuan berpikir, selanjutnya meningkatkan kemampuan menjalankan metode ilmiah untuk melakukan penyelidikan. Pembelajaran Biologi terarah pada empat pilar, yaitu learning to do, learning to know, learning to be, dan learning together. Oleh karena itu siswa hendaknya diberdayakan agar mampu berbuat untuk memperkaya pengalaman belajarnya. Untuk mencapai hal itu perlu iklim pembelajaran yang kondusif, seperti yang tecantum dalam KTSP. Iklim pembelajaran yang kondusif diperlukan bagi terciptanya suasana yang aman, nyaman dan tertib sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung dengan tenang dan menyenangkan (Mulyasa, 2006:33). Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa permasalahan yang terjadi di kelas VII SMP Miftahul Huda Kecamatan Ngadirojo Pacitan terletak pada pemberian pengalaman belajar yang kurang mengaktifkan siswa sehingga menyebabkan motivasi belajar siswa rendah akibatnya motivasi belajar siswa juga rendah. Berdasarkan permasalahan yang terjadi di SMP Miftahul Huda Ngadirojo Pacitan,
  • 4.
    4 kreativitas guru diperlukanuntuk menciptakan pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa. Salah satunya kreativitas guru dalam memilih model pembelajaran yang sesuai. Model pembelajaran juga berpengaruh terhadap keefektifan proses belajar mengajar. Oleh karena itu guru harus memiliki kemampuan untuk memilih model yang tepat agar mampu menciptakan situasi dan kondisi serta dapat memotivasi siswa belajar dengan harapan agar proses pembelajaran berjalan baik dan prestasi belajar siswa meningkat. Model pembelajaran yang baik dalam proses belajar mengajar adalah yang sesuai dengan keadaan yaitu usia siswa, kelengkapan sarana dan prasarana serta materi pelajaran. Salah satu model pembelajaran yang diyakini dapat menyelesaikan masalah tersebut adalah model pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran motivasional yang diyakini mampu meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa karena pembelajaran ini berorientasi pada siswa. Slavin (1995:3) menyatakan bahwa, dalam pembelajaran kooperatif siswa dilibatkan baik secara emosional, maupun sosial. Interaksi kooperatif memungkinkan siswa menjadi sumber belajar untuk sesamanya dan siswa akan lebih mudah belajar serta dapat mengoptimalkan pencapaian tujuan belajar, siswa bertanggung jawab terhadap proses belajarnya, terlibat secara aktif dan memiliki usaha lebih besar untuk berprestasi. Salah satu model pembelajaran kooperatif yang digunakan dalam pembelajaran adalah Numbered Heads Together (NHT). Model pembelajaran NHT memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. Selain itu siswa didorong untuk meningkatkan semangat kerja sama. NHT juga dapat meningkatkan prestasi belajar
  • 5.
    5 siswa, mampu memperdalampemahaman, mengembangkan rasa ingin tahu, menyenangkan dalam belajar, mengembangkan sikap kepemimpinan, meningkatkan rasa percaya diri, mengembangkan rasa saling memiliki, serta mengembangkan keterampilan untuk masa depan serta lebih banyak melibatkan siswa dalam pembelajaran (Hill, 1993 dalam Arif, 2003:28) NHT juga dapat meningkatkan motivasi serta pemahaman siswa terhadap materi pelajaran (Madjid, 2006:126). Kelebihan lain dari model pembelajaran NHT adalah menghindari persaingan antar siswa dan kegaduhan dalam kelas karena saling berebut untuk menjawab pertanyaan. Kekurangan dari NHT adalah memerlukan waktu yang cukup lama dan hanya cocok untuk materi tertentu saja. Oleh karena itu perlu dikembangkan dengan model pembelajaran lain agar pelaksanaannya berlangsung lebih baik (Rosidah, 2007:81). Menurut hasil penelitian Rosidah (2007) di kelas X SMAN 4 Malang dan Hamidatus (2007) di kelas XI A2 SMAN 4 Malang model pembelajaran NHT ini dapat meningkatkan prestasi dan motivasi belajar biologi siswa untuk materi biologi tertentu. Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti ingin melakukan penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar biologi siswa Kelas VII SMP Miftahul Huda Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together (NHT). B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas rumusan masalah pada penelitian adalah sebagai berikut.
  • 6.
    6 1. Apakah modelpembelajaran kooperatif Numbered Heads Together dapat meningkatkan motivasi belajar Biologi siswa kelas VII SMP Miftahul Huda Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan? 2. Apakah model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together dapat meningkatkan prestasi belajar Biologi siswa kelas VII SMP Miftahul Huda Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan? C. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah di atas tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Untuk mengetahui peningkatan motivasi belajar Biologi siswa kelas VII SMP Miftahul Huda Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan melalui model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together. 2. Untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar Biologi siswa kelas VII SMP Miftahul Huda Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan melalui model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together. D. Hipotesis Tindakan Hipotesis tindakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Motivasi belajar Biologi siswa kelas VII SMP Miftahul Huda dapat ditingkatkan melalui penerapan model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together. 2. Prestasi belajar Biologi siswa kelas VII SMP Miftahul Huda dapat ditingkatkan melalui penerapan model pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together.
  • 7.
    7 E. Manfaat Penelitian Manfaatdari penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Peneliti a) Memperluas wawasan tentang hal-hal yang terkait dengan pembelajaran dengan model pembelajaran NHT. b) Alternatif model pembelajaran untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar biologi siswa SMP. 2. Siswa a) Membantu siswa meningkatkan motivasi belajar siswa pada pelajaran Biologi khususnya pokok bahasan Kepadatan Populasi Manusia dan Pengelolaan Lingkungan. b) Membantu siswa meningkatkan prestasi belajar siswa pada pelajaran Biologi khususnya pokok bahasan Kepadatan Populasi Manusia dan Pengelolaan Lingkungan. 3. Guru a) Memperkaya guru untuk memilih dan memanfaatkan model pembelajaran yang sesuai dalam upaya meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa. b) Dapat meningkatkan dan mengembangkan kemampuan guru dalam pembelajaran Biologi melalui model pembelajaran Numbered Heads Together (NHT). 4. Sekolah a) Bahan pertimbangan untuk menerapkan model pembelajaran lain dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah. b) Alternatif pemecahan masalah dalam kegiatan pembelajaran.
  • 8.
    8 F. Ruang Lingkupdan Keterbatasan Masalah 1. Penelitian dilaksanakan di SMP Miftahul Huda Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan kelas VII semester II tahun ajaran 2007/2008 pada pokok bahasan Kepadatan Populasi Manusia dan Pengelolaan lingkungan. 2. Model pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran kooperatif struktural Numbered Heads Together. 3. Aspek yang diamati adalah prestasi belajar yang terbatas pada kemampuan kognitif siswa dilihat dari skor tes setiap akhir siklus dari 2 siklus, dan motivasi yang dilihat dari aspek minat, konsentrasi, perhatian, dan ketekunan. G. Definisi Operasional 1. Numbered Heads Together adalah model pembelajaran kooperatif struktural yang dimulai dengan pemberian nomor masing-masing anggota kelompok dan penyampaian jawaban dalam diskusi kelas dengan cara mengacak nomor yang harus menjawab. 2. Prestasi belajar adalah tingkat penguasaan siswa terhadap suatu konsep setelah mengikuti proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran Numbered Heads Together yang diukur dengan tes di setiap akhir siklus. 3. Motivasi belajar adalah respon siswa pada saat pembelajaran berlangsung yang merupakan tenaga pendorong/penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke satu arah tujuan tertentu. Motivasi diukur dengan mengobservasi selama pembelajaran berlangsung dan angket siswa dengan menggunakan instrumen yang dibuat peneliti.