DEPARTEMEN DALAM NEGERI
            REPUBLIK INDONESIA



     SURAT EDARAN MENTERI DALAM NEGERI
        NOMOR : 050/200/II/BANGDA/2008




                 TENTANG




       PEDOMAN PENYUSUNAN
 RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH
                (RKPD)




DIREKTORAT JENDERAL BINA PEMBANGUNAN DAERAH
          DEPARTEMEN DALAM NEGERI
                     2008
PEDOMAN PENYUSUNAN
RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH
              (RKPD)




  DIREKTORAT JENDERAL BINA PEMBANGUNAN DAERAH
            DEPARTEMEN DALAM NEGERI
                       2008


                       i
ii
DEPARTEMEN DALAM NEGERI
                         REPUBLIK INDONESIA

                                                            Jakarta, 28 Februari 2008

Nomor      :   050/200/II/Bangda                            Kepada Yth.
Sifat      :   SEGERA                                       Sdr. Gubernur
Lampiran   :   1 (Satu) berkas
Hal        :   Pedoman Penyusunan Rencana                   di -
               Kerja Pembangunan Daerah (RKPD)                     Seluruh Indonesia




                               SURAT EDARAN

       Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Peraturan
Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian
dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah pada Pasal 4 Ayat 1, menyatakan
bahwa Rencana Pembangunan Daerah meliputi Rencana Pembangunan Jangka Panjang
(RPJPD), Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) maupun Rencana
Kerja Pembangunan Daerah (RKPD). Rencana Pembangunan Daerah tersebut merupakan
dokumen perencanaan pembangunan yang wajib disusun. Selanjutnya, bahwa salah satu
dokumen perencanaan yaitu Dokumen RKPD mempunyai peranan sangat strategis, karena
menjembatani antara kepentingan perencanaan strategis jangka menengah dengan
perencanaan dan penganggaran tahunan.

       Berdasarkan hal tersebut dan sebagai upaya untuk membantu Pemerintah Daerah
dalam memenuhi kewajibannya sebagaimana diamanatkan dalam peraturan perundangan,
khususnya dalam rangka penyusunan dokumen perencanaan dan penganggaran tahunan
daerah provinsi/kabupaten/kota, maka dipandang perlu menerbitkan Surat Edaran Menteri
Dalam Negeri tentang Pedoman Penyusunan Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD).

       Maksud dan tujuan dari pedoman ini adalah untuk memperjelas tahapan, langkah
dan substansi penyusunan RKPD dan Renja SKPD, termasuk pelaksanaan musyawarah
perencanaan pembangunan mulai dari tingkat desa/kelurahan sampai kabupaten/kota dan
provinsi.

Pedoman terdiri dari 4 (empat) bagian, yaitu:
1. Bagian A: Umum, berisi latar belakang, landasan hukum, fungsi kedudukan dan
   pendekatan RKPD, tujuan, sasaran dan ruang lingkup pedoman, serta sistematika
   pedoman.



                                         iii
iv
2. Bagian B: Proses Penyusunan RKPD, antara lain berisi tentang persiapan dan
   pengorganisasian pemangku kepentingan, penyusunan rancangan awal RKPD, Renja
   SKPD, proses musrenbang, dan pengintegrasian RKPD ke dalam proses penganggaran
   daerah.

3. Bagian C: Teknis Penyusunan Dokumen RKPD (prototype), berisi langkah-langkah dalam
   menyusun dokumen mulai tahap persiapan dan pengorganisasian hingga proses
   penganggaran.

4. Bagian D: Penutup, berisi kaidah dalam menggunakan pedoman.

       Surat edaran ini disampaikan untuk dijadikan pedoman dalam penyusunan Rencana
Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) dan dengan terbitnya pedoman ini diharapkan daerah
dapat menyusun RKPD disesuaikan dengan kondisi dan perkembangan kemampuan
perencanaan di masing-masing daerah dengan tetap mengindahkan prinsip-prinsip yang
terkandung dalam peraturan perundangan dan tata kepemerintahan yang baik.

       Kepada para Gubernur diminta untuk menindaklanjuti Surat Edaran dimaksud dan
selanjutnya memberitahukan dan mensosialisasikan kepada para Bupati dan Walikota di
wilayah masing-masing.

      Demikian untuk menjadi perhatian.




                                    a.n. MENTERI DALAM NEGERI
                          DIREKTUR JENDERAL BINA PEMBANGUNAN DAERAH




                                          H. SYAMSUL ARIEF RIVAI




Tembusan disampaikan kepada Yth:

1. Bapak Menteri Dalam Negeri (Sebagai Laporan)
2. Bapak Menteri Negara PPN/Kepala Bappenas
3. Sdr. Bupati/Walikota Seluruh Indonesia




                                          v
vi
DEPARTEMEN DALAM NEGERI
  DIREKTORAT JENDERAL BINA PEMBANGUNAN DAERAH
            Jalan Taman Makam Pahlawan No. 20 Kalibata - Jakarta Selatan




                               KATA PENGANTAR


       Rencana Kerja Pembangunan Daerah merupakan suatu dokumen perencanaan
pembangunan daerah yang disyaratkan UU No 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah.
Rencana Kerja Pembangunan Daerah, yang selanjutnya disebut RKPD, merupakan
penjabaran dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) untuk jangka
waktu 1 (satu) tahun, yang memuat rancangan kerangka ekonomi daerah, prioritas
pembangunan daerah, rencana kerja dan pendanaannya, baik yang dilaksanakan langsung
oleh pemerintah daerah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat,
dengan mengacu kepada Rencana Kerja Pemerintah (RKP). RKPD selanjutnya menjadi
pedoman penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD).

       Mengingat pentingnya peranan RKPD dalam kerangka perencanaan dan
penganggaran tahunan daerah, yaitu sebagai acuan pelaksanaan program dan kegiatan
pembangunan tahunan dan sebagai pedoman penyusunan RAPBD, maka diperlukan
pedoman penyusunan RKPD untuk menjamin kualitas proses penyusunan dan kualitas
substansi dokumen ini benar-benar memenuhi pendekatan perencanaan serta efektif dan
responsif terhadap aspirasi dan kebutuhan masyarakat.

        Untuk itu, terbitnya SE Mendagri tentang Pedoman Penyusunan Rencana Kerja
Pembangunan Daerah ini menjadi satu hal yang penting dan strategis sebagai pedoman
teknis/operasional penyusunan RKPD. Dengan adanya SE Mendagri ini diharapkan proses
penyusunan dan substansi dokumen RKPD di seluruh provinsi dan kabupaten/kota di Indo-
nesia dapat memenuhi ketentuan tentang sistem, prosedur, dan proses penyusunan RKPD
dan berkontribusi signifikan dalam perbaikan kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah
secara berkelanjutan.



                                                   Jakarta, 28 Februari 2008




                                                      Afriadi S. Hasibuan
                                         Direktur Perencanaan Pembangunan Daerah
                                        Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah
                                                   Departemen Dalam Negeri



                                          vii
viii
DEPARTEMEN DALAM NEGERI
                         REPUBLIK INDONESIA


                                    SAMBUTAN


        Puji dan Syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas terbitnya SE Mendagri tentang
Pedoman Penyusunan Rencana Kerja Pembangunan Daerah ini. Dengan adanya pedoman
ini, Pemerintah Daerah telah dilengkapi dengan suatu pedoman teknis/operasional
penyusunan RKPD, guna mendukung perencanaan tahunan daerah yang memenuhi
peraturan perundangan tentang sistem perencanaan pembangunan nasional serta prinsip-
prinsip tata kelola kepemerintahan yang baik (good governance).

        Pedoman yang ditujukan untuk memperjelas tahapan, langkah-langkah, dan
substansi untuk penyusunan RKPD ini dirancang dengan pendekatan sefleksibel mungkin
sehingga daerah dapat melakukan penyesuaian-penyesuaian sesuai dengan kondisi dan
perkembangan kemampuan perencanaan di masing-masing daerah, namun tetap
mengindahkan ketentuan-ketentuan yang bersifat prinsip sebagaimana terkandung dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang tahapan, tata cara penyusunan,
pengendalian, dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah dan prinsip-prinsip
tata kelola kepemerintahan yang baik.

       Direktorat Perencanaan Ditjen Bangda menyampaikan penghargaan dan terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang telah bekerjasama dalam pengembangan
dan penyusunan pedoman ini, khususnya pihak peserta Konsultasi Regional pada akhir
November 2007, yang telah menyampaikan kritik dan masukannya untuk penyempurnaan
rancangan pedoman ini.

       Semoga pedoman ini dapat memenuhi harapan kita semua untuk perbaikan kualitas
perencanaan daerah dalam rangka perbaikan kinerja penyelenggaraan pemerintahan secara
berkelanjutan.



                                                     Jakarta, 28 Februari 2008




                                                       H. Syamsul Arief Rivai
                                           Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah
                                                     Departemen Dalam Negeri




                                           ix
x
Daftar Isi

SURAT EDARAN ................................................................................................................ iii

KATA PENGANTAR ........................................................................................................... vii

SAMBUTAN ........................................................................................................................ ix

DAFTAR ISI ......................................................................................................................... xi

DAFTAR PERISTILAHAN DAN SINGKATAN .................................................................... xv



BAGIAN A: UMUM .............................................................................................................. 1
1. Latar Belakang ............................................................................................................ 3
2. Landasan Hukum ........................................................................................................ 3
3. Fungsi, Kedudukan, dan Pendekatan RKPD .............................................................. 3
    3.1. Fungsi RKPD ....................................................................................................... 3
    3.2. Kedudukan RKPD dalam Sistem dan Mekanisme Perencanaan dan
         Penganggaran Pembangunan Daerah ................................................................ 4
    3.3. Pendekatan Perencanaan dalam Penyusunan RKPD......................................... 5
    3.4. Tahapan dalam Proses Penyusunan RKPD ........................................................ 7
4. Tujuan, Sasaran, dan Ruang Lingkup Pedoman ......................................................11
    4.1. Tujuan dan Sasaran Pedoman ...........................................................................11
    4.2. Ruang Lingkup dan Substansi Pedoman ...........................................................11
5. Sistimatika Pedoman .................................................................................................11
    A. Umum .................................................................................................................11
    B. Proses Penyusunan RKPD ................................................................................11
    C. Teknis Penyusunan RKPD ................................................................................ 12
    D. Penutup ............................................................................................................. 12

BAGIAN B: PROSES PENYUSUNAN RKPD ................................................................... 13
1. PERSIAPAN DAN PENGORGANISASIAN PEMANGKU KEPENTINGAN .............. 15
    1.1. Orientasi RKPD ................................................................................................. 15
    1.2. Identifikasi Pemangku Kepentingan .................................................................. 15
    1.3. Pembentukan Tim dan Rekrutmen Fasilitator .................................................... 16
    1.4. Penyusunan Agenda Kerja Penyiapan Dokumen ............................................. 17
    1.5. Pengumpulan Data dan Informasi ..................................................................... 17
    1.6. Penyiapan Daftar Isi ........................................................................................... 17
2. PENYUSUNAN RANCANGAN AWAL RKPD ........................................................... 18
    2.1. Prinsip-prinsip Penyusunan Rancangan Awal RKPD ........................................ 18
    2.2. Tata Cara Penyusunan ...................................................................................... 19




                                                                  xi
3.    PENYUSUNAN RANCANGAN RENJA SKPD .......................................................... 20
      3.1. Prinsip-prinsip Penyusunan Rancangan Renja SKPD ...................................... 21
      3.2. Tata Cara Penyusunan ...................................................................................... 22
           3.2.1. Kegiatan Persiapan: ................................................................................ 22
           3.2.2. Kegiatan Analisis dan Pengkajian Dokumen: .......................................... 23
           3.2.3. Kegiatan Penyusunan Rancangan Renja SKPD: .................................... 23
4.    PENYUSUNAN RANCANGAN RKPD ...................................................................... 25
      4.1. Prinsip-prinsip Penyusunan Rancangan RKPD ................................................. 25
      4.2. Tata Cara Penyusunan ...................................................................................... 26
5.    MUSRENBANG ........................................................................................................ 26
      5.1. Musrenbang Desa/Kelurahan ............................................................................ 28
      5.2. Musrenbang Kecamatan .................................................................................... 29
      5.3. Forum SKPD/Gabungan SKPD Kabupaten/Kota .............................................. 30
      5.4. Musrenbang Kabupaten/Kota ............................................................................ 31
      5.5. Forum SKPD/Gabungan SKPD Provinsi ........................................................... 32
      5.6. Musrenbang Provinsi ......................................................................................... 33
      6.7. Diskusi Kelompok Terfokus (Focus Group Discussion/FGD) ............................ 34
6.   PENYUSUNAN RANCANGAN AKHIR RKPD .............................................................. 34
      6.1. Prinsip-prinsip Penyusunan Rancangan Akhir RKPD ....................................... 34
      6.2. Tata Cara Penyusunan Rancangan Akhir RKPD ............................................... 35
7.    PENYUSUNAN RENJA SKPD.................................................................................. 35
      7.1. Prinsip-prinsip Penyusunan Renja SKPD .......................................................... 35
      7.2. Tata Cara Penyusunan Renja SKPD ................................................................. 36
8.    PENYIAPAN DAN PENETAPAN PERATURAN KEPALA DAERAH TENTANG
      RKPD DAN PERATURAN KEPALA SKPD TENTANG RENJA SKPD ...................... 36
      8.1. Penyiapan dan penetapan PERKADA ............................................................... 36
      8.2. Penyiapan dan penetapan PERKA SKPD ......................................................... 37
9.    PENGINTEGRASIAN RKPD KE DALAM PROSES PENGANGGARAN DAERAH .. 37
      9.1. Penyusunan KUA dan PPAS ............................................................................. 38
      9.2. Penyusunan RKA SKPD ................................................................................... 39
      9.3. Penyusunan RAPBD ......................................................................................... 39

BAGIAN C: TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN RKPD (PROTOTYPE) ........................ 41

BAB I.        PENDAHULUAN ............................................................................................... 43
              1.1. Latar Belakang ............................................................................................ 43
              1.2. Landasan Hukum ........................................................................................ 43
              1.3. Maksud dan Tujuan .................................................................................... 43
              1.4. Sistimatika Dokumen RKPD ....................................................................... 43

BAB II. EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH .................................. 43
         2.1. Visi dan Misi Pembangunan Jangka Menengah Daerah ............................ 43
         2.2. Evaluasi Status dan Kedudukan Pencapaian Kinerja Pembangunan
              Daerah ........................................................................................................ 44
         2.4. Isu Strategis dan Masalah Mendesak ........................................................ 44




                                                              xii
BAB III. RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH ............................................. 45
         3.1. Kondisi Ekonomi Daerah Tahun ... (tahun lalu) dan Perkiraan Tahun .... .......
              (tahun berjalan) ........................................................................................... 45
         3.2. Tantangan dan Prospek Perekonomian Daerah Tahun ..... dan Tahun ..... 45
         3.3. Arah Kebijakan Ekonomi Daerah. ............................................................... 45
         3.4. Analisis dan Perkiraan Sumber-sumber Pendanaan Daerah ..................... 46
              3.4.1. Dana Desentralisasi / APBD ............................................................. 46
              3.4.2. Dana Dekonsentrasi / APBN ............................................................. 47
              3.4.3. Dana Tugas Pembantuan / APBN.................................................... 47
              3.4.4. Dana Otonomi Khusus / APBN ......................................................... 47
         3.5. Arah Kebijakan Keuangan Daerah ............................................................. 47
              3.5.1. Arah Kebijakan Pendapatan Daerah ................................................. 48
              3.5.2. Arah Kebijakan Belanja Daerah ........................................................ 48
              3.5.3. Arah Kebijakan Pembiayaan Daerah ................................................ 49

BAB IV. PRIORITAS PEMBANGUNAN DAERAH TAHUN (Tahun Rencana) ................. 49
         4.1. Strategi dan Arah Kebijakan Pembangunan Daerah .................................. 49
         4.2. Prioritas Program dan Kegiatan Pembangunan Daerah ............................. 49

BAB V. RENCANA KERJA DAN PENDANAAN ................................................................ 50

BAB VI. KAIDAH PELAKSANAAN .................................................................................... 50

BAGIAN D. PENUTUP ...................................................................................................... 51




Daftar Bagan
Bagan 1.        Alur Perencanaan Pembangunan Daerah Menurut UU 25/2004 .................... 5
Bagan 2a.       Alur Perencanaan RKPD, Renja SKPD, KUA, PPAS, dan APBD ................... 9
Bagan 2b.       Alur Penyusunan Dokumen RKPD dan Dokumen Renja SKPD ................... 10
Bagan 3.        Proses Penyusunan Dokumen Rancangan Awal RKPD ............................... 20
Bagan 4.        Proses Penyusunan Dokumen Rancangan Renja SKPD.............................. 25




                                                            xiii
Daftar Tabel
Tabel 1.      Contoh Susunan Tim Penyusun RKPD ........................................................... 57
Tabel 2.      Contoh Kalender Penyusunan RKPD dan Renja SKPD ................................. 58
Tabel 3.      Inventarisasi Sumber dan Jenis Data/Informasi untuk Penyusunan RKPD .... 59
Tabel 4.      Evaluasi Kinerja Program dan Kegiatan RKPD Tahun Lalu dan Review
              Pencapaian RPJMD ........................................................................................ 60
Tabel 5.      Format Daftar Rancangan Program dan Kegiatan RKPD/Renja SKPD .......... 61
Tabel 6.      Contoh Prototype Daftar Isi Renja SKPD ........................................................ 62
Tabel 7.      Pengisian RKA-SKPD 2.2.1 dan Penyusunan Prakiraan Maju Berdasarkan
              Biaya Satuan Per Keluaran Kegiatan ............................................................. 63
Tabel 8.      Evaluasi Status dan Kedudukan Pencapaian Kinerja Pembangunan Provinsi/
              Kabupaten/Kota* Tahun....dan Tahun... ........................................................... 64
Tabel 9.      Identifikasi Isu dan Masalah Mendesak di Tingkat Nasional, Provinsi.....dan
              Kab/Kota.......Tahun. ........................................................................................ 65
Tabel 10.     Perkembangan Indikator Makro Ekonomi Prov./Kab./Kota......Tahun........dan
              Tahun..........serta Perubahannya .................................................................... 66
Tabel 11.     Analisis Kondisi Lingkungan Internal dan Eksternal Prov./Kab./Kota .............. 67
Tabel 12.     Realisasi dan Proyeksi Pendapatan, Belanja, Pembiayaan Daerah, dan Pagu
              Anggaran RKPD .............................................................................................. 68
Tabel 13.     Contoh Matrik Prioritas Pembangunan ............................................................ 70
Tabel 14.     Rencana Kerja dan Pendapatan Menurut Bidang Urusan Pemerintahan
              Daerah di Provinsi/Kab./Kota........Tahun.......(tahun rencana) ........................ 70



Daftar Referensi

Referensi R-1. Sasaran dan Indikator Kinerja Pencapaian Pembangunan 2004-2009 .... 73
Referensi R-2. Indikator Kemajuan Otonomi Daerah ........................................................ 75
Referensi R-3. Pengukuran Kinerja Penyelenggaraan Otonomi Daerah .......................... 76
Referensi R-4. Indikator Kinerja Kunci yang digunakan untuk Evaluasi Kinerja
               Penyelenggaraan Otonomi Daerah .......................................................... 77
Referensi R-5. Contoh Tolok Ukur Kinerja Urusan Wajib dan Pilihan Pemerintah
               Daerah Menurut SKPD ............................................................................. 81




                                                            xiv
Daftar Peristilahan dan Singkatan

1) Rencana Pembangunan Jangka Panjang, yang selanjutnya disingkat dengan RPJP
    adalah dokumen perencanaan untuk periode dua puluh (20) tahun.
2) Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah, yang selanjutnya disingkat dengan
    RPJPD adalah dokumen perencanaan Pemerintah Daerah untuk periode dua puluh
    (20) tahun yang memuat visi, misi, dan arah pembangunan Daerah yang mengacu
    pada RPJP Nasional.
3) Rencana Pembangunan Jangka Menengah, yang selanjutnya disingkat dengan RPJM
    adalah dokumen perencanaan untuk periode lima (5) tahun.
4) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, yang selanjutnya disingkat dengan
    RPJMD adalah dokumen perencanaan Pemerintah Daerah untuk periode lima (5) tahun
    yang memuat penjabaran dari visi, misi, dan program Kepala Daerah yang
    penyusunannya berpedoman pada RPJP Daerah dan memperhatikan RPJM Nasional,
    memuat arah kebijakan keuangan daerah, strategi pembangunan Daerah, kebijakan
    umum, dan program Satuan Kerja Perangkat Daerah, lintas Satuan Kerja Perangkat
    Daerah, dan program kewilayahan disertai dengan rencana-rencana kerja dalam
    kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif.
5) Rencana Pembangunan Tahunan Nasional, yang selanjutnya disebut Rencana Kerja
    Pemerintah (RKP) adalah dokumen perencanaan Nasional untuk periode satu (1) tahun.
6) Rencana Kerja Pembangunan Daerah, yang selanjutnya disingkat dengan RKPD adalah
    dokumen perencanaan Pemerintah Daerah untuk periode satu (1) tahun yang merupakan
    penjabaran dari RPJM Daerah dan mengacu pada RKP Nasional, memuat rancangan
    kerangka ekonomi Daerah, prioritas pembangunan Daerah, rencana kerja, dan
    pendanaannya, baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang
    ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat.
7) Satuan Kerja Perangkat Daerah, yang selanjutnya disingkat dengan SKPD adalah
    perangkat daerah pada pemerintah daerah selaku pengguna anggaran.
8) Organisasi adalah unsur pemerintahan daerah yang terdiri dari DPRD, kepala daerah/
    wakil kepala daerah, dan SKPD.
9) Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah, yang selanjutnya disingkat dengan
    RENSTRA SKPD adalah dokumen perencanaan SKPD untuk periode lima (5) tahun,
    yang memuat visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan
    yang disusun sesuai dengan tugas dan fungsi Satuan Kerja Perangkat Daerah serta
    berpedoman kepada RPJM Daerah dan bersifat indikatif.
10) Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah, yang selanjutnya disingkat dengan
    Renja SKPD adalah dokumen perencanaan SKPD untuk periode satu (1) tahun, yang
    memuat kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan baik yang dilaksanakan
    langsung oleh pemerintah daerah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi
    masyarakat.
11) Rencana Kerja dan Anggaran SKPD, yang selanjutnya disingkat dengan RKA SKPD
    adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi program dan kegiatan
    SKPD yang merupakan penjabaran dari RKPD dan Renstra SKPD yang bersangkutan
    dalam satu tahun anggaran, serta anggaran yang diperlukan untuk melaksanakannya.


                                           xv
12) Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah kepada Pemerintah selanjutnya
    disingkat LPPD adalah laporan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah selama
    1 (satu) tahun anggaran berdasarkan Rencana Kerja Pembangunan Daerah yang
    disampaikan oleh kepala daerah kepada Pemerintah.
13) Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Kepala Daerah kepada DPRD yang
    selanjutnya disebut LKPJ adalah laporan yang berupa informasi penyelenggaraan
    pemerintahan daerah selama 1 (satu) tahun anggaran atau akhir masa jabatan yang
    disampaikan oleh kepala daerah kepada DPRD.
14) Informasi Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah yang selanjutnya disingkat
    ILPPD adalah informasi penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada masyarakat
    melalui media yang tersedia di Daerah.
15) Rencana Tata Ruang, yang selanjutnya disingkat dengan RTR adalah dokumen yang
    memuat hasil perencanaan tata ruang.
16) Rencana Tata Ruang Wilayah, yang selanjutnya disingkat dengan RTRW adalah
    dokumen yang memuat hasil perencanaan tata ruang wilayah.
17) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, yang selanjutnya disingkat dengan APBD
    adalah rencana keuangan tahunan pemerintah daerah yang dibahas dan disetujui
    bersama oleh Pemerintah Daerah dan DPRD, dan ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
18) Tim Anggaran Pemerintah Daerah yang selanjutnya disingkat TAPD adalah tim yang
    dibentuk dengan Keputusan Kepala Daerah dan dipimpin oleh Sekretaris Daerah yang
    mempunyai tugas menyiapkan serta melaksanakan kebijakan Kepala Daerah dalam
    rangka penyusunan APBD yang anggotanya terdiri dari pejabat perencana daerah,
    PPKD, dan pejabat lainnya sesuai dengan kebutuhan.
19) Kebijakan Umum APBD, yang selanjutnya disingkat dengan KUA adalah dokumen yang
    memuat kebijakan bidang pendapatan, belanja, dan pembiayaan serta asumsi yang
    mendasarinya untuk periode satu (1) tahun.
20) Pagu indikatif merupakan ancar-ancar pagu anggaran yang diberikan kepada SKPD
    untuk setiap program sebagai acuan dalam penyusunan rencana kerja SKPD.
21) Pagu sementara merupakan pagu anggaran yang didasarkan atas kebijakan umum
    dan prioritas anggaran hasil pembahasan Pemerintah Daerah dengan Dewan Perwakilan
    Rakyat Daerah (DPRD) sebagai acuan dalam penyusunan RKA-SKPD.
22) Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara, yang selanjutnya disingkat dengan PPAS
    adalah rancangan program prioritas dan patokan batas maksimal anggaran yang
    diberikan kepada SKPD untuk setiap program sebagai acuan dalam penyusunan RKA-
    SKPD setelah disepakati dengan DPRD.
23) Rencana Kerja dan Anggaran SKPD yang selanjutnya disingkat RKA-SKPD adalah
    dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi rencana pendapatan, rencana
    belanja program dan kegiatan SKPD serta rencana pembiayaan sebagai dasar
    penyusunan APBD.
24) Prakiraan maju (forward estimate) adalah perhitungan kebutuhan dana untuk tahun
    anggaran berikutnya dari tahun yang direncanakan guna memastikan kesinambungan
    program dan kegiatan yang telah disetujui dan menjadi dasar penyusunan anggaran
    tahun berikutnya.
25) Penganggaran Terpadu (unified budgeting) adalah penyusunan rencana keuangan
    tahunan yang dilakukan secara terintegrasi untuk seluruh jenis belanja guna
    melaksanakan kegiatan pemerintahan yang didasarkan pada prinsip pencapaian efisiensi
    alokasi dana.

                                          xvi
26) Kinerja adalah adalah keluaran/hasil dari kegiatan/program yang akan atau telah dicapai
    sehubungan dengan penggunaan anggaran dengan kuantitas dan kualitas yang terukur.
27) Indikator kinerja adalah alat ukur spesifik secara kuantitatif dan/atau kualitatif untuk
    masukan, proses, keluaran, hasil, manfaat, dan/atau dampak yang menggambarkan
    tingkat capaian kinerja suatu program atau kegiatan.
28) Fungsi adalah perwujudan tugas kepemerintahan di bidang tertentu yang dilaksanakan
    dalam rangka mencapai tujuan pembangunan nasional.
29) Urusan pemerintahan adalah fungsi-fungsi pemerintahan yang menjadi hak dan
    kewajiban setiap tingkatan dan/atau susunan pemerintahan untuk mengatur dan
    mengurus fungsi-fungsi tersebut yang menjadi kewenangannya dalam rangka
    melindungi, melayani, memberdayakan, dan mensejahterakan masyarakat.
30) Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode
    perencanaan.
31) Misi adalah Rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk
    mewujudkan visi.
32) Agenda pembangunan adalah penerjemahan visi ke dalam tujuan-tujuan besar (strate-
    gic goals) yang dapat mempedomani dan memberikan fokus pada penilaian dan
    perumusan strategi, kebijakan dan program.
33) Strategi pembangunan adalah langkah-langkah berisikan program-program indikatif
    untuk mewujudkan visi dan misi.
34) Kebijakan pembangunan adalah arah/tindakan yang diambil oleh Pemerintah Pusat/
    Daerah untuk mencapai tujuan.
35) Program adalah penjabaran kebijakan SKPD dalam bentuk upaya yang berisi satu atau
    lebih kegiatan dengan menggunakan sumber daya yang disediakan untuk mencapai
    hasil yang terukur sesuai dengan misi SKPD.
36) Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau lebih unit kerja
    pada SKPD sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur pada suatu program dan
    terdiri sekumpulan tindakan pengerahan sumber daya baik yang berupa personil (sumber
    daya manusia), barang modal termasuk peralatan dan teknologi, dana, atau kombinasi
    dari beberapa atau kesemua jenis sumber daya tersebut sebagai masukan (input) untuk
    menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang/jasa.
37) Kerangka regulasi adalah rencana kegiatan melalui pengaturan yang mendorong
    partisipasi masyarakat maupun lembaga terkait lainnya untuk mencapai tujuan
    pembangunan kabupaten/kota.
38) Kerangka Anggaran adalah rencana kegiatan pengadaan barang maupun jasa yang
    perlu dibiayai oleh APBD untuk mencapai tujuan pembangunan kabupaten/kota.
39) Sasaran (target) adalah hasil yang diharapkan dari suatu program atau keluaran yang
    diharapkan dari suatu kegiatan.
40) Keluaran (output) adalah barang atau jasa yang dihasilkan oleh kegiatan yang
    dilaksanakan untuk mendukung pencapaian sasaran dan tujuan program dan kebijakan.
41) Hasil (outcome) adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran dari
    kegiatan-kegiatan dalam satu program.
42) Sisa Lebih Perhitungan Anggaran yang selanjutnya disingkat SiLPA adalah selisih lebih
    realisasi penerimaan dan pengeluaran anggaran selama satu periode anggaran.
43) Alokasi Dana Desa, yang selanjutnya disingkat dengan ADD adalah dana yang
    dialokasikan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota untuk desa, yang bersumber dari bagian
    dana perimbangan keuangan pusat dan daerah yang diterima oleh kabupaten/kota.

                                            xvii
44) Stakeholder atau pemangku kepentingan adalah pihak-pihak yang langsung atau tidak
    langsung mendapatkan manfaat atau dampak dari pelaksanaan pembangunan. Stake-
    holder dapat berupa kelompok, organisasi, dan individu yang memiliki kepentingan/
    pengaruh dalam proses pengambilan keputusan/ pelaksanaan pembangunan.
45) Konsultasi Publik adalah kegiatan partisipatif yang bertujuan untuk menghadirkan stake-
    holder dalam rangka mendiskusikan dan memahami isu dan permasalahan strategis
    pembangunan daerah; merumuskan kesepakatan tentang prioritas pembangunan dan
    mencapai konsensus tentang pemecahan masalah-masalah strategis daerah. Konsultasi
    publik dilakukan pada berbagai skala, tahapan dan tingkatan pengambilan keputusan
    perencanaan daerah. Konsultasi publik dapat berupa musrenbangda di peringkat
    kabupaten/kota, konsultasi forum stakeholder atau focus group discussions di peringkat
    SKPD maupun di peringkat lintas SKPD.
46) Musrenbang atau Musyawarah Perencanaan Pembangunan adalah forum antarpelaku dalam
    rangka menyusun rencana pembangunan nasional dan rencana pembangunan daerah.
47) Musrenbang Desa/Kelurahan adalah forum musyawarah tahunan stakeholder desa/
    kelurahan (pihak yang berkepentingan untuk mengatasi permasalahan desa/
    kelurahannya dan pihak yang akan terkena dampak hasil musyawarah) untuk
    menyepakati rencana kegiatan tahun anggaran berikutnya.
48) Musrenbang Kecamatan adalah forum musyawarah stakeholder kecamatan untuk
    mendapatkan masukan prioritas kegiatan dari desa/kelurahan serta menyepakati
    kegiatan lintas desa/kelurahan di kecamatan tersebut sebagai dasar penyusunan
    Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah kabupaten/kota pada tahun berikutnya.
49) Forum SKPD (forum yang berhubungan dengan fungsi/sub fungsi, kegiatan/sektor dan
    lintas sektor) adalah wadah bersama antar pelaku pembangunan untuk membahas
    prioritas kegiatan pembangunan hasil Musrenbang Kecamatan dengan SKPD atau
    gabungan SKPD sebagai upaya mengisi Rencana Kerja SKPD yang tata cara
    penyelenggaraannya difasilitasi oleh SKPD terkait.
50) Musrenbang Kabupaten/Kota adalah musyawarah stakeholder Kabupaten/kota untuk
    mematangkan rancangan RKPD Kabupaten/Kota berdasarkan Renja-SKPD hasil Fo-
    rum SKPD dengan cara meninjau keserasian antara rancangan Renja-SKPD yang
    hasilnya digunakan untuk pemutakhiran Rancangan RKPD.
51) Tim Penyelenggara Musrenbang adalah Tim yang dibentuk untuk melakukan persiapan,
    memfasilitasi pelaksanaan, dan menindaklajuti hasil Musrenbang.
52) Peserta adalah pihak yang memiliki hak pengambilan keputusan dalam Musrenbang
    melalui pembahasan yang disepakati bersama.
53) Fasilitator adalah tenaga terlatih atau berpengalaman dalam memfasilitasi dan memandu
    diskusi kelompok ataupun konsultasi publik. Seorang fasilitator harus memenuhi
    kualifikasi kompetensi teknis/substansi dan memiliki keterampilan dalam penerapan
    berbagai teknik dan instrumen untuk menunjang efektivitas dan partisipatifnya kegiatan.
54) Narasumber adalah pihak pemberi informasi yang perlu diketahui peserta Musrenbang
    untuk proses pengambilan keputusan hasil Musrenbang.
55) Delegasi adalah perwakilan yang disepakati peserta Musrenbang untuk menghadiri
    Musrenbang pada tingkat yang lebih tinggi.
56) NGO adalah singkatan dari Non-Governmental Organization atau Lembaga Swadaya
    Masyarakat/LSM.
57) CBO adalah singkatan dari Community Based Organization (Kelompok Masyarakat Sipil).
58) CSO adalah singkatan dari Civil Society Organization (Organisasi Masyarakat Sipil).

                                           xviii
UMUM




 1
2
BAGIAN A: UMUM


  1. Latar Belakang



U    ndang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan
     Nasional dan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
telah mengamanatkan bahwa setiap daerah diwajibkan untuk menyusun perencanaan
pembangunan daerah untuk jangka panjang 20 tahun (RPJPD), rencana pembangunan
daerah jangka menengah 5 tahun (RPJMD), dan rencana pembangunan jangka pendek/1
tahun (RKPD).

Sebagai suatu dokumen resmi rencana daerah, RKPD mempunyai kedudukan yang strategis,
yaitu menjembatani antara perencanaan strategis jangka menengah dengan perencanaan
dan penganggaran tahunan, untuk itu maka sesuai amanat dalam kedua undang-undang
diatas, Bappeda merupakan institusi yang ditunjuk dan berfungsi sebagai koordinator dalam
penyelenggaraan perencanaan daerah yang juga mengkoordinasikan perencanaan-
perencanaan yang bersifat sektoral di daerah.

 2. Landasan Hukum

Kewajiban daerah untuk menyusun RKPD sebagai dasar dan acuan penyusunan RAPBD
diamanatkan melalui beberapa peraturan perundangan, antara lain:
1. Undang-undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara;
2. Undang-undang Nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan
    Nasional;
3. Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;
4. Peraturan Pemerintah Nomor 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;
5. Peraturan Pemerintah Nomor 72 tahun 2005 tentang Desa;
6. Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan
    Antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaen/
    Kota;
7. Peraturan Pemerintah Nomor 39 tahun 2007 tentang Pengelolaan Keuangan Negara/
    Daerah;
8. Peraturan Pemerintah Nomor 41 tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah
9. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008 tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan
    Pemerintahan Daerah
10. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan,
    Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;
11. Permendagri Nomor 13 tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah;
12. Permendagri Nomor 59 tahun 2007 tentang Perubahan Permendagri Nomor 13 tahun
    2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah




                                           3
3. Fungsi, Kedudukan dan Pendekatan RKPD

 3.1. Fungsi RKPD

Fungsi RKPD mencakup sebagai berikut:
• Menjabarkan rencana strategis ke dalam rencana operasional;
• Memelihara konsistensi antara capaian tujuan perencanaan strategis jangka menengah
   dengan tujuan perencanaan dan penganggaran tahunan pembangunan daerah;
• Mengarahkan proses penyusunan RENJA dan RKA SKPD;
• Menjadi dasar pedoman dalam penyusunan KUA, PPAS, RAPBD dan APBD;
• Instrumen bagi pemerintah daerah untuk mengukur kinerja penyelenggaraan fungsi
   dan urusan wajib dan pilihan pemerintahan daerah;
• Instrumen bagi pemerintah daerah untuk mengukur capaian target kinerja program
   pembangunan jangka menengah;
• Instrumen bagi pemerintah daerah untuk mengukur capaian target standar pelayanan
   minimal dan mengukur kinerja pelayanan SKPD;
• Instrumen bagi pemerintah daerah sebagai acuan LPPD kepada pemerintah, LKPJ
   kepada DPRD dan ILPPD kepada masyarakat.
• Menyediakan informasi bagi pemenuhan Laporan Evaluasi Penyelenggaraan
   Pemerintahan Daerah yang perlu disampaikan kepada Pemerintah Pusat.



 3.2. Kedudukan RKPD dalam Sistem dan Mekanisme Perencanaan dan
      Penganggaran Pembangunan Daerah

RKPD merupakan penjabaran RPJMD untuk jangka waktu 1 (satu) tahun, memuat rancangan
kerangka ekonomi daerah, prioritas pembangunan daerah, rencana kerja dan pendanaannya
dengan mengacu kepada Rencana Kerja Pemerintah (RKP).

RKPD merupakan acuan bagi daerah dalam menyusun Rencana Anggaran Pendapatan
dan Belanja Daerah (RAPBD), dengan demikian Kepala daerah dan DPRD dalam
menentukan Kebijakan Umum APBD (KUA), serta penentuan Prioritas dan Pagu Anggaran
Sementara (PPAS) didasarkan atas dokumen RKPD. KUA dan PPAS yang telah disepakati
selanjutnya digunakan sebagai acuan dalam proses penyusunan APBD.

Dari segi kerangka waktu, penyusunan dokumen RKPD harus diselesaikan pada setiap
bulan Mei, sedangkan dokumen APBD harus sudah disahkan paling lambat tanggal 1
Desember.

Substansi RKPD memuat program dan kegiatan SKPD dan dokumen RKPD merupakan
acuan bagi SKPD dalam menyempurnakan Renja SKPD untuk tahun yang sama. Proses
penyusunan RKPD dilakukan secara paralel dan sifatnya saling memberi masukan dengan
proses penyusunan Rencana Kerja SKPD (Renja SKPD).




                                          4
Pedoman                      Dijabarkan
           RPJP                     RPJM
         NASIONAL                 NASIONAL                            RKP


                          Diperhatikan

                      Pedoman                      Dijabarkan
                                    RPJM                                     Pedoman
           RPJP                                                   RKPD
                                   DAERAH                                    Penyusunan
          DAERAH                                                 DAERAH      RAPBD

          20 Tahun
                           Pedoman
                                                             Diacu


                                   RENSTRA                           RENJA
                                    SKPD           Pedoman           SKPD

                                     5 Tahun                     1 Tahun


Bagan 1. Alur Perencanaan Pembangunan Daerah Menurut UU 25/2004

 3.3. Pendekatan Perencanaan dalam Penyusunan RKPD

Ada lima pendekatan dalam penyusunan RKPD, yaitu pendekatan teknokratis, politis,
partisipatif, top-down, dan bottom-up.

a. Pendekatan Teknokratis (Strategis dan Berbasis Kinerja)
Dokumen RKPD pada dasarnya merupakan suatu proses pemikiran strategis. Kualitas
dokumen RKPD sangat ditentukan oleh kualitas program dan kegiatan yang diusulkan RKPD
dalam mencapai tujuan dan sasaran pembangunan daerah yang disepakati dalam
Musrenbang RKPD. Penyusunan RKPD sangat erat kaitannya dengan kompetensi dalam
menyusun, mengorganisasikan, mengimplementasikan, mengendalikan, dan mengevaluasi
capaian program dan kegiatan.

Pendekatan teknokratis bermakna bahwa RKPD memuat hal-hal sebagai berikut:
1. Review menyeluruh tentang kinerja pembangunan tahun lalu
2. Rumusan status, kedudukan kinerja penyelenggaraan urusan wajib/pilihan pemerintahan
    daerah masa kini
3. Rumusan peluang dan tantangan ke depan yang mempengaruhi penyusunan RKPD
4. Rumusan tujuan, strategi, dan kebijakan pembangunan
5. Pertimbangan atas kendala ketersediaan sumberdaya dan dana (kendala fiskal daerah)
6. Rumusan dan prioritas program dan kegiatan SKPD berbasis kinerja
7. Tolok ukur dan target kinerja capaian program dan kegiatan dengan mempertimbangkan
    Standar Pelayanan Minimal
8. Tolok ukur dan target kinerja keluaran
9. Tolok ukur dan target kinerja hasil
10. Pagu indikatif program dan kegiatan.
11. Prakiraan maju pendanaan program dan kegiatan untuk satu tahun berikutnya
12. Kejelasan siapa bertanggungjawab untuk mencapai tujuan, sasaran dan hasil, serta
    waktu penyelesaian, termasuk review kemajuan pencapaian sasaran


                                               5
b. Pendekatan Demokratis dan Partisipatif
Pendekatan demokratis dan partisipatif bermakna bahwa RKPD memuat hal-hal sebagai berikut:
1. Identifikasi pemangku kepentingan yang relevan untuk dilibatkan dalam proses
    pengambilan keputusan di setiap tahapan penyusunan RKPD
2. Kesetaraan antara para pemangku kepentingan dari unsur pemerintah dan non
    pemerintah dalam pengambilan keputusan
3. Transparasi dan akuntabilitas dalam proses perencanaan
4. Keterwakilan yang memadai dari seluruh segmen masyarakat, terutama kaum
    perempuan dan kelompok marjinal
5. Rasa memiliki masyarakat terhadap RKPD
6. Pelibatan media
7. Pelaksanaan Musrenbang RKPD yang berkualitas dari segi penerapan perencanaan
    partisipatif
8. Konsensus atau kesepakatan pada semua tahapan penting pengambilan keputusan,
    seperti: perumusan prioritas isu dan permasalahan, perumusan tujuan, strategi, dan
    kebijakan dan prioritas program

c. Pendekatan Politis
Pendekatan politis bermakna bahwa RKPD memuat hal-hal sebagai berikut:
1. Konsultasi dengan Kepala Daerah untuk penerjemahan yang tepat, sistematis atas visi,
    misi, dan program Kepala Daerah ke dalam tujuan, strategi, kebijakan, dan program
    pembangunan daerah
2. Keterlibatan aktif DPRD dalam proses penyusunan RKPD
3. Jaring aspirasi masyarakat (reses) oleh DPRD merupakan bagian integral dari proses
    penyusunan RKPD
4. Pokok-pokok pikiran DPRD dalam proses penyusunan RKPD
5. Pembahasan terhadap Rancangan Peraturan Kepala Daerah tentang RKPD yang setelah
    ditetapkan akan mengikat semua pihak sebagai acuan dalam penyusunan RAPBD

d. Pendekatan Bottom-up
Pendekatan bottom-up bermakna bahwa RKPD memuat hal-hal sebagai berikut:
1. Penjaringan aspirasi dan kebutuhan masyarakat untuk melihat konsistensi dengan visi,
    misi, dan program Kepala Daerah Terpilih
2. Memperhatikan hasil proses musrenbang dan kesepakatan dengan masyarakat tentang
    prioritas pembangunan daerah
3. Mempertimbangkan hasil Forum SKPD

e. Pendekatan Top-down
Pendekatan top-down bermakna bahwa RKPD memuat hal-hal sebagai berikut:
1 Sinergi dengan RKP dan RENJA K/L
2 Sinergi dan konsistensi dengan RPJMD maupun RPJPD
3 Sinergi dan konsistensi dengan RTRWD
4 Penanganan masalah dengan pendekatan holistik dan pendekatan sistem.
5 Sinergi dan komitmen pemerintah terhadap tujuan-tujuan pembangunan global seperti
    Millenium Development Goals (MDGs), Sustainable Development, pemenuhan Hak Asasi
    Manusia, pemenuhan standar pelayanan minimal (SPM), dan sebagainya.



                                            6
3.4. Tahapan dalam Proses Penyusunan RKPD

Secara garis besar, tahapan proses penyusunan RKPD dapat dibagi dalam delapan tahapan
utama, yaitu:


 Tahap 1    Persiapan dan             Pada tahap ini dilakukan orientasi mengenai RKPD,
            Pengorganisasian Para     identifikasi para pemangku kepentingan untuk dilibatkan
            Pemangku Kepentingan      dalam proses penyusunan RKPD, pembentukan Tim
                                      Penyusun RKPD, Penyusunan Rencana Kerja Penyiapan
                                      Dokumen, pengumpulan data dan informasi, serta
                                      penyusunan daftar isi RKPD.

 Tahap 2    Penyusunan Rancangan      Tahapan ini mencakup kegiatan-kegiatan review RPJMD,
            Awal RKPD                 review usulan program dan kegiatan SKPD tahun lalu dan
                                      prioritas untuk tahun rencana, analisis isu strategis dan
                                      prioritas pembangunan daerah untuk tahun yang
                                      direncanakan bersama para pemangku kepentingan terkait,
                                      menyusun dokumen rancangan awal RKPD, dan
                                      pembahasan rancangan awal RKPD dengan SKPD.

 Tahap 3    Penyusunan Rancangan      Tahapan ini meliputi kegiatan persiapan penyusunan,
            Renja SKPD                kegiatan analisis dan pengkajian dokumen terkait, dan
                                      kegiatan penyusunan Rancangan Renja SKPD.

 Tahap 4    Penyusunan Rancangan      Pada tahap ini dilakukan penilaian dan pembahasan atas
            RKPD                      rancangan Renja SKPD yang disampaikan Kepala SKPD
                                      kepada Bappeda, pengintegrasian rancangan Renja SKPD
                                      ke dalam Rancangan Awal RKPD untuk menjadi Rancangan
                                      RKPD, pembahasan dengan para pemangku kepentingan
                                      terkait untuk memperoleh masukan dan pertimbangan bagi
                                      rancangan RKPD, penyiapan ringkasan Rancangan RKPD
                                      untuk sebagai bahan pembahasan dalam Musrenbang
                                      tahunan daerah, dan penyampaian tembusan Rancangan
                                      RKPD kepada Bappenas dan Bappeda Provinsi sebagai
                                      masukan dalam penyusunan RKP Nasional dan RKPD
                                      Provinsi.

 Tahap 5    Musrenbang                Tahap ini merupakan pelibatan para pemangku kepentingan
                                      dalam pengambilan keputusan perencanaan, melalui
                                      pelaksanaan Musrenbang sejak tingkat desa/kelurahan,
                                      tingkat kecamatan, Forum SKPD/gabungan SKPD
                                      Kabupaten/Kota, Musrenbang Kabupaten/Kota, Forum
                                      SKPD/Gabungan SKPD Provinsi, dan Musrenbang Provinsi,
                                      sesuai jadwal yang ditetapkan.

 Tahap 6    Penyusunan Rancangan      Pada tahap ini dilakukan penyempurnaan atas Rancangan
            Akhir RKPD/Renja SKPD     RKPD berdasarkan hasil kesepakatan dalam Musrenbang
                                      tahunan daerah dengan tetap memperhatikan rancangan
                                      RKP untuk RKPD Provinsi, dan rancangan RKPD Provinsi
                                      untuk RKPD Kabupaten/Kota.

 Tahap 7    Penyiapan dan Penetapan   Pada tahap ini dilakukan penyiapan dan penetapan
            Peraturan RKPD/Renja      peraturan Kepala Daerah tentang RKPD dan penyiapan dan
            SKPD                      penetapan peraturan Kepala SKPD untuk Renja SKPD.

 Tahap 8    Pengintegrasian RKPD ke   Pada tahap ini RKPD perlu diterjemahkan ke dalam proses
            dalam Proses              penganggaran melalui penyusunan KUA, PPAS, dan RKA
            Penganggaran Daerah       SKPD.




                                           7
Bagan 2A memperlihatkan alur proses penyusunan RKPD, Renja SKPD, KUA, PPAS, dan
APBD. Bagan tersebut menunjukkan kedudukan RKPD dalam proses perencanaan dan
penganggaran tahunan daerah, dimana RKPD merupakan acuan penyusunan KUA, PPAS,
dan APBD.

Bagan 2B memperlihatkan rincian tahapan dan kegiatan dalam proses penyusunan RKPD
dan Renja SKPD




                                        8
PENYUSUNAN RKPD DAN RENJA SKPD                                                                                             PENYUSUNAN KUA DAN APBD
                                                                                                                 Pedoman
                                                                                                             Penyusunan APBD
                 Dokumen                                        RKP
                 RPJM-D
                 (PERDA)                                                                                           Penyusunan
                                        Rancangan                                                                 Rancangan KUA
                                        Awal RKPD
                                                          Rancangan                                                  Penyusunan                                                         Rancangan
                                                                               Rancangan
                                               m- 1 Feb     RKPD                                                   Rancangan PPAS                                                     PERKADA tentang
                                                                               Akhir RKPD
                                                                                                                                                                                      Penjabaran APBD
                                                                                                                                m- 1 Jun
                                                                                     m- 2 Mei
                                                                 m- 1 Mar                                                                                              m- 2 Sept
     Proses                             Rancangan                                      Dokumen RKPD                             Dokumen                                                                       PERKADA
                                        Renja SKPD                                       (Perkada)                           Kebijakan Umum                                                                    tentang
     Tekno-                                                                                                                   APBD (KUA)                          RKA-                                        Penjabaran
     Kratis                                                                                            m- 4 Mei                                                   SKPD                                          APBD
                                                     m- 4 Feb
                                                                                                                                           Dokumen Prioritas
                                                                                                Renja                                                                                                               m- 4 Des
                            Renstra                                                                                                        & Plafon Anggaran
                             SKPD                                                               SKPD                                           Sementara
                                                                                                                                                                                 Rancangan                              PERDA
                           (Peraturan                                                                                                            (PPAS)
                                                                                                                                                                                PERDA tentang                           tentang
                             Kepala
                                                                                                                                                                                   APBD                                  APBD
                             SKPD)                                                            Dokumen
                                                                                             Renja SKPD                                                                                                                        m- 4 Des
                                                                                            (Perka SKPD)

                                                                                                 m- 4 Mei

                                                                                       Penetapan                                 Nota Kesepakatan                                     Pembahasan              Penetapan Kepala
                                                                                                             Pembahasan                                        Penetapan SE         Ranperda APBD
                                                                                     Peraturan Kep.                              Kebijakan Umum                  KaDa ttg                                    Daerah tentang Perda
                                                                                                             KUA & PPAS                                                             oleh Pemda dan
                                                                                    Daerah ttg RKPD                                    APBD                                                                   APBD dan Perkada




9
                                                                                                               (TAPD &                                           Pedoman                 DPRD
                                                                                                m- 4 Mei                                                        Penyusunan                                    Penjabaran APBD
                                                                                                               Panggar
     Proses                                                                             Penetapan                                     Nota Kesepakatan          RKA-SKPD                    m- 2 Okt                           m- 3 Des
                                                                                                                DPRD
     Legis-                                                                           Peraturan Kep.                                        PPAS
                                                                                      SKPD ttg Renja                    m- 2/3 Jul                                   m- 1 Agt            Keputusan            Evaluasi Ranperda
     lasi/                                                                                                                                        m- 4 Jul                             Bersama Kepala
                                                                                          SKPD                                                                                                               APBD dan Ranpekada
     Politis                                                                                                                                                                             Daerah dan
                                                                                                m- 4 Mei                                                                                 DPRD thdp           Penjabaran APBD oleh
                                                                                                                                                                                       Ranperda APBD               Gubernur
                                                                                                                                                                                                m- 1 Des                       m- 2 Des


                                                Pembahasan                   Musrenbang                 Konsultasi dgn Delegasi
                                                                                                                                                                                                Konsultasi Publik
                                                Forum SKPD                  Daerah/RKPD                  Peserta Musrenbang                                                                     Ranperda APBD
     Proses                                                                                                                                                              Sosialisasi
                                                                m- 1 Mar            m- 3 Mar                                                                             Ranperda                  (RAPBD)
     Partisi-                                                                                                                                                             kepada
     patif                                       Musrenbang                                                                                                              Masyarakat
                                                 Kecamatan
                                                                m- 3 Feb
                                                 Musrenbang
                                                  Desa/Kel.
                                                                m- 4 Jan




    Bagan 2A. Alur Penyusunan RKPD, Renja SKPD, KUA, PPAS dan APBD

    Keterangan:
    m      Batas waktu penyelenggaraan pada minggu ke.....
    -----> Konsultatif/Sosialisasi
10
     Bagan 2B. Proses Penyusunan Dokumen Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) dan Dokumen Rencana Kerja SKPD ( Renja SKPD)
4. Tujuan, Sasaran dan Ruang Lingkup Pedoman

 4.1. Tujuan dan Sasaran Pedoman

Pedoman ini dirancang untuk membantu Pemerintah Daerah dalam memenuhi kewajibannya
yang ditentukan oleh peraturan perundangan tentang sistem perencanaan pembangunan
nasional, khususnya dalam rangka penyusunan dokumen perencanaan dan penganggaran
tahunan daerah provinsi/kabupaten/kota. Pedoman ini ditujukan untuk memperjelas tahapan,
langkah-langkah, dan substansi untuk penyusunan RKPD dan Renja SKPD, termasuk
pelaksanaan musyawarah perencanaan pembangunan mulai dari tingkat desa/kelurahan
sampai dengan tingkat kabupaten/kota dan provinsi.

Pedoman ini dirancang dengan pendekatan seluwes mungkin sehingga daerah dapat
melakukan penyesuaian-penyesuaian sesuai dengan kondisi dan perkembangan
kemampuan perencanaan di masing-masing daerah, namun tetap mengindahkan ketentuan-
ketentuan yang bersifat prinsip sebagaimana terkandung dalam Undang-undang 25/2004,
PP-8 tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi
Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah, serta prinsip-prinsip tata kelola
kepemerintahan yang baik (good governance).

 4.2. Ruang Lingkup dan Substansi Pedoman

Pedoman penyusunan RKPD secara umum merupakan pedoman bagi daerah kabupaten/
kota maupun provinsi yang berisikan mengenai tata cara penyusunan dokumen RKPD mulai
dari tahap persiapan, penyiapan dan penetapan RKPD dalam bentuk Peraturan Kepala
Daerah, hingga proses pengintegrasian RKPD ke dalam proses penganggaran tahunan
daerah.

Penyelenggaraan musyawarah perencanaan pembangunan tahunan daerah
(Musrenbangda) merupakan bagian dari proses penyusunan RKPD. Oleh karena itu
pedoman ini mencakup juga hal-hal pokok/prinsip-prinsip dalam pelaksanaan musrenbang
tahunan daerah mulai dari musrenbang desa/kelurahan sampai dengan musrenbang Provinsi.
Pengaturan penyelenggaraan Musrenbang secara lebih lebih terinci akan diatur dalam
Permendagri tersendiri tentang Musrenbang.

 5. Sistimatika Pedoman

Pedoman penyusunan RKPD ini secara garis besar terbagi menjadi 4 (empat) bagian, yaitu:

A. UMUM

Merupakan pengantar bagi pengguna pedoman untuk memahami filosofi dan latar belakang
penyusunan RKPD, substansi utama RKPD, pendekatan perencanaan, serta keterkaitan
dokumen RKPD dengan dokumen lainnya.




                                          11
B. PROSES PENYUSUNAN RKPD

Berisikan penjelasan singkat tentang tahapan-tahapan dalam penyusunan RKPD dilengkapi
dengan bagan alir penyusunan RKPD.

C. TEKNIS PENYUSUNAN RKPD

Berisikan pedoman langkah-langkah dalam rangka menyusun dokumen, mulai dari tahap
persiapan dan pengorganisasian para pemangku kepentingan, penyusunan rancangan
RKPD/Renja SKPD, hal-hal pokok dan prinsip-prinsip penyelenggaraan Musrenbang,
penyusunan Rancangan Akhir RKPD/Renja SKPD, penyiapan dan penetapan RKPD/Renja
SKPD, dan pengintegrasian RKPD ke dalam proses penganggaran daerah.

D. PENUTUP

Berisikan kaidah-kaidah dalam menggunakan pedoman penyusunan dokumen RKPD.
Pedoman teknis penyusunan RKPD diupayakan agar lebih bersifat operasional, sehingga
mudah diikuti para pengguna, untuk keperluan itu juga dilengkapi dengan lampiran-lampiran
teknis dan matriks/tabel-tabel untuk mempermudah kajian.




                                           12
PROSES PENYUSUNAN RKPD




          13
14
BAGIAN B: PROSES PENYUSUNAN RKPD

 1. PERSIAPAN DAN PENGORGANISASIAN PEMANGKU KEPENTINGAN



K    ualitas suatu perencanaan akan dipengaruhi oleh sejauhmana kematangan dalam tahap
     persiapan, sedangkan legitimasinya dari sisi partisipasi ditentukan oleh seberapa jauh
keterlibatan para pemangku kepentingan. Tahapan persiapan dan pengorganisasian
pemangku kepentingan meliputi : orientasi mengenai RKPD, identifikasi para pemangku
kepentingan untuk dilibatkan dalam proses penyusunan RKPD, pembentukan Tim Penyusun
RKPD, Penyusunan Rencana Kerja Penyiapan Dokumen RKPD, pengumpulan data dan
informasi, serta penyusunan daftar isi RKPD.

  1.1. Orientasi RKPD

Kesamaan pemahaman merupakan salah satu syarat pencapaian kesepakatan untuk tujuan
bersama. Oleh karena itu, maka dalam penyusunan RKPD perlu dilakukan orientasi bagi
pihak-pihak yang terkait, baik yang menyangkut proses dan pendekatan perencanaan
maupun berkaitan dengan substansi perencanaan itu sendiri.

Adapun proses orientasi mengenai RKPD, adalah sebagai berikut:
Langkah-1 : Membentuk tim inti penyusun RKPD yang anggotanya berasal dari unsur
             Bappeda
Langkah-2 : Mempelajari peraturan perundangan yang terkait dengan penyusunan RKPD
Langkah-3 : Menyusun jadwal/agenda, bahan presentasi dan narasumber untuk kegiatan
             orientasi RKPD (dari unsur Bappeda, atau bila dipandang perlu dapat
             mengundang narasumber dari luar daerah yang memahami betul tentang
             RKPD).
Langkah-4 : Melakukan lokakarya/workshop orientasi dengan mengundang seluruh SKPD,
             DPRD, Perguruan Tinggi dan unsur LSM yang relevan untuk mengikuti
             orientasi.
Langkah 5 : Menyusun kesepakatan bersama mengenai pokok-pokok yang perlu
             dilakukan dalam penyusunan RKPD, baik yang menyangkut proses
             penyusunan, substansi utama, pendekatan RKPD, maupun rancangan
             sementara agenda penyusunan dokumen RKPD.

 1.2. Identifikasi Pemangku Kepentingan

Identifikasi para pemangku kepentingan dimaksudkan untuk mencari siapa dan dari unsur
mana yang memiliki kompetensi untuk dilibatkan secara aktif dalam proses penyusunan
RKPD. Untuk itu, langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut:

Langkah-1 :   Menyusun inventarisasi daftar perguruan tinggi, asosiasi-asosiasi, LSM dan
              individu yang memiliki kompetensi dalam perencanaan pembangunan. Data
              dapat bersumber dari Bappeda sendiri, Kesatuan Bangsa, atau sumber
              lainnya.



                                            15
Langkah-2 :   Melakukan kajian pengalaman dari institusi atau individu yang terdaftar dan
              selanjutnya menentukan siapa individu atau institusi yang cocok untuk
              dilibatkan sebagai tim penyusun, fasilitator, narasumber, advisor atau sebagai
              mitra diskusi, dan juga menentukan keterlibatan masing-masing dalam
              keseluruhan proses penyusunan RKPD.
Langkah-3 :   Menyiapkan surat permintaan resmi dari Bappeda atau Kepala Daerah untuk
              pelibatan para pemangku kepentingan dalam proses penyusunan RKPD
              sesuai peran yang dikehendaki.
Langkah-4 :   Mengundang para pemangku kepentingan yang relevan dan sesuai perannya
              dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka penyusunan
              dokumen RKPD.

 1.3. Pembentukan Tim dan Rekrutmen Fasilitator

Mengingat RKPD merupakan rencana tahunan daerah yang mencakup seluruh bidang
pembangunan di daerah, maka tim penyusun sebaiknya juga melibatkan unsur para
pemangku kepentingan di luar Bappeda, misalnya unsur perguruan tinggi, unsur asosiasi/
LSM, dan unsur SKPD lain yang sangat terkait dengan kepentingan RKPD. Untuk lebih
efektifnya kerja tim, maka tim penyusun dibagi dalam kelompok-kelompok kerja (POKJA).

Dengan demikian, tim penyusun akan terdiri atas Tim Inti dan Kelompok Kerja. Tim Inti
sendiri terbagi habis di dalam POKJA. Pembagian pokja perlu diatur berdasarkan fungsi
pemerintahan daerah atau gabungan beberapa fungsi yang mempunyai keterterkaitan erat,
serta sesuai dengan kebutuhan daerah, sehingga setiap pokja-dalam proses pematangan
konsepnya-dapat melakukan diskusi masing-masing secara terpisah.

Langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut:
Langkah-1 : Menentukan pilihan calon-calon anggota kelompok kerja/tim penyusun RKPD
             dan calon individu/kelompok mitra diskusi yang dinilai potensial berdasarkan
             hasil kajian identifikasi para pemangku kepentingan.
Langkah-2 : Menyusun surat permintaan kesediaan kepada calon terpilih anggota
             kelompok kerja tim penyusun RKPD melalui atasan calon tersebut, untuk
             bergabung menjadi anggota kelompok kerja tim penyusun RKPD.
Langkah-3 : Untuk hal yang sama, menyusun surat permintaan kesediaan pada calon
             individu/kelompok untuk dapat berperanserta dalam diskusi-diskusi terfokus
             yang akan dilaksanakan selama proses penyusunan dokumen RKPD.
Langkah-4: Merekrut fasilitator yang kompeten dari unsur pemerintah/non pemerintah,
             guna memastikan terdapatnya kualitas hasil kesepakatan dan pengambilan
             keputusan dalam diskusi kelompok terfokus, konsultasi publik, dan
             musrenbang.


  Tabel 1 memperlihatkan contoh pengorganisasian dan susunan Tim Penyusun RKPD.




                                            16
1.4. Penyusunan Agenda Kerja Penyiapan Dokumen

Penyusunan rencana kerja perlu dilakukan sebagai acuan bagi tim penyusun dalam proses
penyiapannya. Rencana kerja mengatur rincian kegiatan apa yang perlu dilakukan (termasuk
seluruh kegiatan musrenbang dan forum SKPD), siapa yang melakukan, metoda
pelaksanaannya bagaimana, serta kapan kegiatan tersebut akan dilakukan.

Langkah-langkah penyusunan rencana kerja secara umum adalah sebagai berikut:
Langkah-1 : Menyusun rincian agenda kegiatan yang harus dilakukan dalam proses
            penyusunan dokumen RKPD dan memberi catatan batas waktu (deadline)
            pada kegiatan-kegiatan yang telah ditentukan berdasarkan peraturan
            perundangan. Lihat Lampiran 1 Contoh Kalender Penyusunan RKPD dan
            Renja SKPD
Langkah-2 : Merumuskan keluaran/output serta metoda pelaksanaan dari setiap rincian
            kegiatan tersebut.
Langkah-3 : Menyusun matrik rencana kerja yang berisikan rincian kegiatan, keluaran,
            metoda dan jadwal pelaksanaan
Langkah-4 : Menjabarkan rencana kerja penyusunan RKPD tersebut oleh masing-masing
            Pokja

    Tabel 2 memperlihatkan contoh Kalender Penyusunan RKPD dan Renja SKPD.



 1.5. Pengumpulan Data dan Informasi

Setiap usulan program dan kegiatan perlu didukung dengan data dan informasi yang memadai
dan akurat dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Data/informasi yang
dikumpulkan sedemikian rupa sehingga memperlihatkan secara jelas status, kedudukan,
capaian kinerja penyelenggaraan urusan wajib/pilihan pemerintahan daerah.

Langkah-1: Menyusun daftar data/informasi yang dibutuhkan bagi penyusunan RKPD
           dan menuangkannya dalam bentuk matrik (check list) untuk memudahkan
           pemantauan.
Langkah-2: Melakukan pengumpulan data/informasi dari sumber-sumber yang dapat
           dipertanggungjawabkan
Langkah-3: Menyiapkan tabel-tabel/matrik kompilasi data yang sesuai dengan kebutuhan
           analisis.



  Tabel 3 memperlihatkan contoh check list untuk inventarisasi sumber dan jenis data/
               informasi yang diperlukan dalam penyusunan RKPD.




                                          17
1.6. Penyiapan Daftar Isi

Dokumen RKPD merupakan dokumen yang menjabarkan rencana jangka menengah daerah
ke dalam rencana tahunan dan mengimplementasikannya dalam program dan kegiatan
tahunan, sehingga akan dijadikan acuan bagi proses penyusunan RAPBD, mulai dari
perumusan Kebijakan Umum APBD, penetapan Prioritas dan Plafon Anggaran hingga
penyusunan RKA-SKPD dan RAPBD. Oleh karena itu substansi RKPD seyogyanya mampu
menjawab kebutuhan materi bagi proses perencanaan dan penganggaran selanjutnya.

 2. PENYUSUNAN RANCANGAN AWAL RKPD

Rancangan Awal RKPD merupakan kunci penting dalam menentukan kualitas seluruh proses
penyusunan RKPD. Rancangan Awal menginformasikan rancangan kerangka ekonomi
daerah, arah kebijakan keuangan daerah, arah prioritas pembangunan daerah dan rencana
keja program dan kegiatan yang dilengkapi dengan rancangan pagu indikatif untuk setiap
SKPD untuk tahun yang direncanakan sebagai acuan bagi setiap SKPD dalam menyiapkan
rancangan Renja SKPD. Rancangan Awal RKPD berfungsi sebagai koridor perencanaan
pembangunan indikatif untuk tahun yang direncanakan.

Arah kebijakan keuangan daerah di dalam Rancangan Awal RKPD Provinsi memuat indikasi
belanja bagi hasil pemerintah provinsi kepada pemerintah kabupaten/kota, indikasi belanja
dana dekonsentrasi, indikasi belanja dana sektoral, serta indikasi belanja tugas pembantuan
pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota dan kepada pemerintahan desa, sedangkan
arah kebijakan keuangan daerah dalam Rancangan Awal RKPD Kabupaten/Kota memuat
indikasi belanja bagi hasil pemerintah kabupaten/kota kepada pemerintah desa serta indikasi
bantuan keuangan pemerintah kabupaten/kota kepada pemerintah desa. Informasi ini sangat
berguna sebagai acuan desa dalam menyusun rancangan RKT (Rencana Kerja Tahunan)
desa.

Di dalam penyusunan rancangan awal RKPD dilakukan review RPJMD, review usulan
program dan kegiatan SKPD dari usulan tahun lalu dan prioritas pembangunan untuk tahun
rencana, kajian terhadap RKP, analisis isu strategis dan prioritas pembangunan daerah
untuk tahun yang direncanakan bersama para pemangku kepentingan yang terkait,
merumuskan rancangan awal RKPD, dan pembahasan rancangan awal RKPD dengan
SKPD.

Penyusunan Rancangan Awal RKPD merupakan tanggung jawab Kepala Bappeda, untuk
itu Bappeda membentuk tim penyusun RKPD yang bertugas melaksanakan seluruh proses
penyusunan dokumen RKPD.

 2.1. Prinsip-prinsip Penyusunan Rancangan Awal RKPD

Hal prinsip yang harus diperhatikan dalam penyusunan rancangan awal RKPD adalah:
1. Penyusunan Rancangan Awal RKPD berpedoman pada hasil review RPJMD dan capaian
    kinerja penyelenggaraan urusan wajib/pilihan pemerintahan daerah, hasil review
    terhadap usulan-usulan SKPD yang tertuang dalam prakiraan maju yang diajukan tahun
    sebelumnya, serta memperhatikan perkiraan kemampuan keuangan daerah .

                                            18
2. Substansi utama yang termuat dalam rancangan awal RKPD, meliputi
   a. Evaluasi pelaksanaan RKPD tahun lalu
   b. Rancangan kerangka ekonomi daerah
   c. Arah kebijakan keuangan daerah, termasuk indikasi belanja bagi hasil dan belanja
       bantuan keuangan.
   d. Prioritas dan sasaran pembangunan daerah
   e. Rencana program dan kegiatan prioritas serta pagu indikatif SKPD
3. Informasi pagu indikatif bagi setiap SKPD dan indikasi belanja bagi hasil serta belanja
   bantuan keuangan merupakan informasi yang harus disampaikan dalam rancangan
   awal RKPD. Ketersediaan informasi ini akan sangat dibutuhkan oleh setiap SKPD (dan
   desa untuk RKPD kabupaten/kota) sebagai acuan dalam merumuskan rancangan
   rencana kerja SKPD (dan rencana kerja tahunan desa). Pagu indikatif SKPD dan indikasi
   belanja hibah dan belanja bantuan keuangan tersebut juga berfungsi sebagai koridor
   pendanaan dalam pembahasan forum SKPD maupun dalam pelaksanaan musrenbang
   desa dan musrenbang kecamatan, sehingga proses pelaksanaan musrenbang menjadi
   lebih efektif dan efisien.
4. Pengalokasian besaran pagu indikatif berorientasi pada asas pemenuhan kebutuhan,
   efisiensi, keadilan, dan penilaian kinerja, serta sinergi sumber-sumber pendanaan.
5. Perhitungan pagu indikatif anggaran program dan kegiatan yang dialokasikan bagi setiap
   SKPD didasarkan pada kebutuhan SKPD untuk melaksanakan urusan wajib/pilihan
   pemerintah daerah prioritas sesuai tingkat dan sasaran pelayanan program dan kegiatan.
6. Penyusunan rancangan awal RKPD dilakukan oleh Tim Inti Penyusunan RKPD dibawah
   tanggung jawab Bappeda, yang prosesnya dilakukan secara partisipatif.
7. Penyusunan rancangan awal RKPD dapat dimulai segera setelah dicapainya persetujuan
   bersama DPRD dan Kepala Daerah terhadap Ranperda APBD untuk pelaksanaan tahun
   sebelumnya (sekitar bulan Desember). Selanjutnya, paling lambat pada Minggu ke-3
   bulan Januari Rancangan Awal RKPD sudah selesai disusun dan disebarkan kepada
   setiap SKPD dan unit kegiatan.

 2.2.   Tata Cara Penyusunan

Langkah-langkah yang dilakukan dalam penyusunan rancangan awal RKPD adalah sebagai
berikut:
1. Bappeda melakukan review RPJMD untuk melihat seberapa jauh pencapaian target
    kinerja program; isu dan permasalahan yang dihadapi; dan indikasi prioritas program
    pada tahun rencana
2. Bappeda melakukan kompilasi rancangan program/kegiatan setiap SKPD untuk tahun
    rencana. Kompilasi rancangan program/kegiatan setiap SKPD ini diambil dari prakiraan
    maju RKA-SKPD tahun (n+1) dari usulan tahun sebelumnya untuk dikonfirmasi kembali
    kepada setiap SKPD.
3. Bappeda menyiapkan konsep Surat Edaran Kepala Daerah yang ditujukan kepada
    seluruh SKPD, berisikan permintaan agar setiap SKPD mengkonfirmasi, mereview atau
    memperbaiki usulan atas rencana program dan kegiatan tahun rencana yang diajukan
    pada tahun sebelumnya, dengan memperhatikan prioritas daerah.
4. Kepala Daerah mengeluarkan Surat Edaran untuk seluruh SKPD dengan dilengkapi
    dengan formulir-formulir isian/matriks rencana program dan kegiatan SKPD yang telah


                                           19
disiapkan Bappeda, disertai batas waktu pengembalian formulir isian tersebut kepada
      Bappeda.
5.    Bappeda menerima pengembalian formulir isian rencana program dan kegiatan yang
      telah dikonfirmasi/ direview/ dievaluasi atau usulan perubahan dari masing-masing SKPD.
6.    Bappeda melakukan pengecekan dan perbaikan terhadap matriks-matriks program setiap
      SKPD berdasarkan pengembalian formulir isian dari SKPD yang disesuaikan dengan
      hasil review RPJMD, serta hasil monitoring dan evaluasi kinerja pencapaian tahun lalu.
7.    Dalam melaksanakan langkah (1), (2), (3), (4) dan (5), secara simultan Bappeda melalui
      Tim Intinya menyiapkan dokumen Rancangan Awal RKPD secara lengkap dengan
      menggunakan pedoman sebagaimana dijelaskan dalam Bagian-C.
8.    Bappeda bersama Sekda mengundang seluruh Kepala SKPD untuk pembahasan
      rancangan awal RKPD, guna disepakati sebagai pedoman penyusunan rancangan
      Renja-SKPD.
9.    Bappeda mengirimkan rancangan awal RKPD yang disertai dengan jadwal kalender
      perencanaan daerah untuk tahun yang direncanakan kepada seluruh SKPD sebagai
      bahan bagi SKPD untuk menyusun Rancangan Renja SKPD. Rancangan awal RKPD
      Kabupaten/Kota juga merupakan bahan acuan bagi desa/kelurahan dan kecamatan
      untuk melakukan Musrenbang desa/kelurahan dan musrenbang kecamatan.
10.   Pengiriman rancangan awal RKPD tersebut disertai dengan catatan agar setiap SKPD
      menyerahkan rancangan Renja SKPD kepada Bappeda sesuai dengan kalender
      perencanaan yang disampaikan.
.
Secara diagramatis dapat digambarkan sebagai berikut :


       Abalisis Kondisi dan            Perkiraan Kemampuan
       Permasalahan Daerha             Keuangan Daerah
       Mutakhir


      Review RPJMD                                                   Rumusan Kebijakan
      - Prioritas dan Target            Penyiapan Rumusan            Keuangan Daerah;
        Program                          Rancangan Awal              Prioritas Program dan
      - Perkiraaan Capaian                    RKPD                   Kegiatan; serta Pagu
                                                                     Indikatif

       Review Usulan
       Program dan Kegiatan
       dari RKA-SKPD Tahun
       Sebelumnya
                               Bagan 3. Proses Penyusunan Rancangan Awal RKPD



      Tabel 4 memperlihatkan contoh format yang dapat digunakan untuk mereview
      realisasi target capaian kinerja RPJMD. Format ini dapat digunakan untuk mengana-
      lisis kesenjangan pencapaian program/kegiatan, faktor-faktor penyebabnya, dan
      mengidentifikasi kebutuhan prioritas program dan kegiatan tahun rencana.

      Tabel 5 kolom 5, 6 dan 7 memperlihatkan contoh format yang dapat digunakan
      untuk mereview usulan program dan kegiatan SKPD serta prioritas tahun rencana
      berdasarkan prakiraan maju (n+1) RKPD tahun berjalan.


                                              20
3. PENYUSUNAN RANCANGAN RENJA SKPD

Rancangan Renja SKPD merupakan rancangan program dan kegiatan yang akan
dilaksanakan oleh masing-masing SKPD pada tahun yang direncanakan sesuai dengan
tugas pokok dan fungsinya dalam rangka menunjang pencapaian visi dan misi kepala daerah
terpilih. Program dan kegiatan dalam rancangan Renja SKPD masih bersifat indikatif yang
diselaraskan dengan program dan kegiatan prioritas daerah. Pada tahap ini dilakukan kegiatan
persiapan penyusunan, kegiatan analisis dan pengkajian dokumen terkait, dan kegiatan
penyusunan Rancangan Renja SKPD.

Penyusunan rancangan Renja SKPD merupakan tanggung jawab masing-masing kepala
SKPD yang proses penyusunannya mengacu pada rancangan awal RKPD, untuk itu masing-
masing SKPD perlu membentuk tim penyusun Renja SKPD yang bertugas melaksanakan
seluruh proses penyusunan dokumen Renja SKPD sampai dengan penyusunan RKA-SKPD.

 3.1. Prinsip-prinsip Penyusunan Rancangan Renja SKPD

Prinsip-prinsip di dalam penyusunan rancangan Renja SKPD, adalah sebagai berikut:
1. Berpedoman pada Renstra SKPD dan mengacu pada rancangan awal RKPD.
2. Penyusunan Renja SKPD bukan kegiatan yang berdiri sendiri, melainkan merupakan
    rangkaian kegiatan yang simultan dengan penyusunan RKPD, serta merupakan bagian
    dari rangkaian kegiatan penyusunan APBD.
3. Substansi rancangan Renja SKPD memuat evaluasi status, kedudukan kinerja
    penyelenggaraan urusan wajib/pilihan SKPD terhadap Renstra SKPD; evaluasi
    pelaksanaan Renja SKPD tahun lalu; rumusan tujuan, sasaran, program dan kegiatan;
    dana indikatif serta sumber dananya dan prakiraan maju.
4. Penyusunan program dan kegiatan SKPD untuk tahun yang direncanakan mengacu
    pada ketentuan SPM (Standar Pelayanan Minimal) dan mempertimbangkan capaian
    kinerja SPM yang ada (jika SPM untuk kegiatan dimaksud tersedia).
5. Rumusan program/kegiatan di dalam renja SKPD didasarkan atas pertimbangan urutan
    urusan pelayanan wajib/pilihan pemerintahan daerah yang memerlukan prioritas
    penanganan dan mempertimbangkan pagu indikatif masing-masing SKPD.
6. Progam/kegiatan dalam RKPD Provinsi dirinci menurut sumber pendanaan yang
    diusulkan untuk didanai APBD Provinsi, APBN dan sumber lainnya, sedangkan untuk
    RKPD Kabupaten/Kota dirinci menurut sumber dana APBD Kabupaten/Kota, APBD
    Provinsi, APBN dan sumber dana lainnya.
7. Program dan kegiatan yang direncanakan memuat tolok ukur dan target capaian kinerja,
    keluaran, biaya satuan per keluaran, total kebutuhan dana, baik untuk tahun n dan
    tahun n+1.
8. Dibentuknya forum SKPD sebagai forum diskusi, tidak hanya ditujukan untuk
    pembahasan program dan kegiatan tahunan saja, melainkan juga sebagai sarana diskusi
    dalam pembahasan berbagai persoalan pembangunan yang terkait dengan bidang SKPD
    masing-masing. Untuk itu pemilihan peserta forum SKPD harus yang betul-betul memiliki
    komitmen, serta sesuai dengan kapasitas dan kompetensi menurut bidangnya.
9. Rancangan Renja SKPD Kabupaten/Kota selesai disusun dan disampaikan kepada
    Kepala Daerah melalui Bappeda paling lambat pada minggu ke-4 bulan Februari,
    sedangkan untuk Renja SKPD Provinsi paling lambat pada minggu pertama bulan Maret.

                                            21
10. Program dan kegiatan di dalam Renja SKPD Kabupaten/Kota yang diusulkan untuk
    didanai melalui APBD Provinsi dan APBN, dan/atau usulan program/kegiatan
    dekonsentrasi, tugas pembantuan dan DAK. Tembusannya disampaikan oleh SKPD
    Kabupaten/Kota kepada SKPD Provinsi dan Kementerian/Lembaga yang sesuai.
11. SKPD Provinsi melakukan pengkajian terhadap usulan program/kegiatan yang
    disampaikan SKPD terkait dari kabupaten/kota yang ada di provinsi, selanjutnya dibahas
    bersama SKPD-SKPD kabupaten/kota tersebut dalam forum SKPD Provinsi untuk
    menentukan kesepakatan prioritas terhadap program/kegiatan yang diusulkan untuk
    didanai APBD Provinsi dan/atau APBN.



   Tabel 5 kolom 1, 2, 3, 4, 8 sampai dengan 14 memperlihatkan contoh format yang
 dapat digunakan untuk menyusun rancangan program dan kegiatan RKPD/Renja SKPD



 3.2. Tata Cara Penyusunan

 3.2.1. Kegiatan Persiapan:

Kegiatan penyusunan rancangan Renja SKPD dapat dilakukan sebelum Rancangan Awal
RKPD diterima SKPD, atau segera setelah RAPBD tahun sebelumnya disahkan menjadi
APBD (awal Desember).

Langkah-langkah pada Kegiatan Persiapan mencakup:
1. Melakukan identifikasi para pemangku kepentingan
   Identifikasi dan seleksi para pemangku kepentingan yang akan dilibatkan sebagai peserta
   forum SKPD, dan/atau yang akan dipilih sebagai anggota Tim Penyusun Renja SKPD,
   mencakup individu ataupun lembaga yang dinilai kompeten, relevan, dan representa-
   tive. Jika kegiatan ini telah dilakukan pada waktu penyusunan Renja tahun sebelumnya,
   maka pada langkah ini cukup mereview dan melakukan perubahan yang diperlukan
   berdasarkan masukan tahun sebelumnya.
2. Pembentukan Tim Penyusun Renja SKPD
   Pada langkah ini selain membentuk Tim Penyusun Renja SKPD disarankan pula untuk
   menetapkan fasilitator untuk membantu proses pelaksanaan perencanaan partisipatif
   yang efektif dan efisien. Tim yang dibentuk diusahakan melibatkan anggota dari unsur
   LSM yang memiliki kompetensi dan komitmen. Tim penyusun Renja SKPD, dapat
   dibentuk untuk masa waktu beberapa tahun, dan dapat juga sekaligus dirangkap/
   merangkap Tim penyusun Renstra SKPD. Jika tim telah terbentuk pada tahun
   sebelumnya, maka jika diperlukan dapat direview kembali.
3. Penyiapan Kelembagaan Forum SKPD
   Pada langkah ini dilakukan penyiapan kelembagaan forum SKPD yang pesertanya
   merupakan perwakilan para para pemangku kepentingan yang memiliki relevansi dan
   kompetensi khusus serta punya komitmen dengan SKPD yang bersangkutan. Jika
   kelembagaan forum SKPD ini sudah terbentuk, maka tinggal dilanjutkan.
4. Pengisian Formulir (Isian)
   Pada langkah ini Tim Penyusun Renja SKPD melakukan konfirmasi terhadap formulir



                                           22
isian/matrik yang disampaikan oleh Kepala Daerah tentang usulan program dan kegiatan
   yang diajukan SKPD tahun sebelumnya dalam rangka prakiraan maju serta menyerahkan
   formulir isian yang telah dilengkapi dan telah direview kepada Bappeda.
5. Penyusunan Rencana Kerja Tim untuk Penyusunan Renja SKPD
   Tim Penyusun Renja SKPD menyusun rencana kerja untuk penyusunan Renja SKPD
   serta menyiapkan outline atau daftar isi Renja SKPD dengan lampiran berupa format
   kegiatan yang akan dianggarkan. Format kegiatan yang akan dianggarkan tersebut
   menggunakan format sesuai ketentuan yang diatur dalam PERMENDAGRI No 59/2007
   tentang Perubahan atas Permendagri Nomor 13/2006.
6. Kompilasi Informasi/Konsultasi dengan Kementrian/Lembaga (K/L) Terkait
   Tim Penyusun Renja SKPD meminta/mengumpulkan informasi atau berkonsultasi
   dengan K/L sehubungan dengan rancangan Renja K/L untuk bidang/sektor terkait di
   provinsi dan kabupaten/kota.
7. Kompilasi Informasi/Konsultasi dengan Provinsi Terkait
   Tim Penyusun Renja SKPD kabupaten/kota meminta/mengumpulkan informasi atau
   berkonsultasi sehubungan dengan rancangan Renja SKPD Provinsi untuk bidang/sektor
   terkait.

         Tabel 6 memperlihatkan Prototype Daftar Isi Rancangan Renja SKPD



 3.2.2. Kegiatan Analisis dan Pengkajian Dokumen:

Merupakan kegiatan pengkajian terhadap dokumen program/kegiatan yang terkait langsung
dengan penyusunan Renja SKPD dalam rangka koordinasi dan sinergi program/kegiatan
SKPD. Kegiatan dapat dilaksanakan sebelum rancangan awal RKPD diterima.

Langkah-langkah pada kegiatan analisis dan pengkajian dokumen ini mencakup:
1. Melakukan Kajian terhadap Rancangan Awal RKP Nasional (dan RKPD Provinsi)
   Langkah ini dimaksudkan untuk melihat arahan dan prioritas program/kegiatan yang
   terkait SKPD yang bersangkutan.
2. Review RPJM Nasional dan RPJM Provinsi
   Melakukan identifikasi arahan dan prioritas RPJM Nasional untuk diakomodasikan dalam
   penyusunan Renja SKPD Provinsi. Untuk Renja SKPD Kabupaten/Kota juga perlu
   mengidentifikasi arahan dan prioritas RPJM Provinsi atau dari Renja SKPD Provinsi
   tahun yang direncanakan (jika telah disusun), untuk diakomodasikan dan disinergikan
   dalam penyusunan Renja SKPD Kabupaten/Kota. Jika belum diperoleh informasi untuk
   tahun yang direncanakan, maka dapat diidentifikasi dari RKP/RKPD Provinsi tahun lalu.
3. Kajian terhadap RPJM Daerah dan Renstra SKPD
   Melakukan evaluasi status capaian kinerja penyelenggaraan urusan wajib/pilihan SKPD
   terhadap RPJM Daerah dan program dan kegiatan dalam Renstra SKPD pada tahun
   rencana, sesuai Tupoksi SKPD dalam rangka mencapai sasaran hasil pembangunan
   tahun rencana
4. Kajian dan Evaluasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan SKPD
   Melakukan kajian dan evaluasi pelaksanaan program dan kegiatan SKPD tahun lalu
   dan tahun berjalan, evaluasi pencapaian SPM serta review terhadap kebutuhan pro-


                                          23
gram dan kegiatan yang diusulkan tahun sebelumnya dalam rangka prakiraan maju
   pada program/ kegiatan (n + 1)
5. Meminta/menerima Rancangan Awal RKPD secara resmi dari Bappeda

 3.2.3. Kegiatan Penyusunan Rancangan Renja SKPD:

Kegiatan ini dilaksanakan setelah SKPD menerima secara resmi dokumen Rancangan Awal
RKPD dari Bappeda.

Langkah-langkah pada kegiatan penyusunan rancangan Renja SKPD mencakup:
1. Mengidentifikasi realisasi target capaian kinerja program dan kegiatan SKPD tahun lalu
   dan dibandingkan terhadap sasaran dan target Renstra SKPD dan RPJMD pada tahun
   bersangkutan.
2. Merumuskan program/kegiatan pelayanan wajib/pilihan SKPD sesuai skala prioritasnya
   untuk pencapaian sasaran dan target Renstra SKPD maupun RPJMD.
3. Mengkaji rancangan awal RKPD program/kegiatan apa saja yang sesuai dengan
   kebutuhan dan lakukan pengecekan apakan program/kegiatan yang merupakan kegiatan
   lanjutan dan/atau prioritas SKPD sudah termuat dalam rancangan awal RKPD. Jika
   belum termuat, maka perlu diberi catatan penting pada rancangan awal tersebut.
4. Mengidentifikasi program dan kegiatan RKPD yang bersifat lintas SKPD dan memerlukan
   koordinasi dalam penyusunan program dan kegiatan.
5. Memasukkan usulan kegiatan hasil Musrenbang Kecamatan yang terkait dengan SKPD
   ke dalam rancangan Renja SKPD Kabupaten/Kota, sedangkan untuk rancangan Renja
   SKPD Provinsi, dilakukan kajian atas usulan yang disampaikan dari SKPD kabupaten/
   kota dengan mempertimbangkan hasil kesepakatan Musrenbang Kabupaten/Kota.
6. Merumuskan perubahan atau revisi atas program dan kegiatan SKPD yang tertulis dalam
   RKPD dengan merinci tambahan atau koreksi terhadap rencana kegiatan SKPD yang
   tercantum dalam rancangan awal RKPD.
7. Menyiapkan Forum SKPD atau Forum Gabungan SKPD untuk mendapatkan
   kesepakatan susunan prioritas kegiatan dan program dalam format rencana kerja RKPD
   bagi setiap SKPD. Dalam keadaan terdapat kegiatan usulan masyarakat yang mendesak
   dan tidak atau belum termasuk dalam salah satu program dan kegiatan RKPD yang
   sudah dirancang maka kepala SKPD menambahkan program dan kegiatan tambahan
   ke dalam Renja SKPD yang sudah dirancang tersebut. Hal ini dilakukan dengan
   mempertimbangkan besaran pagu indikatif setiap SKPD yang ditentukan dalam
   rancangan awal RKPD.
8. Merumuskan kembali usulan program dan kegiatan SKPD untuk tahun yang
   direncanakan dalam bentuk rancangan Renja SKPD, dengan memperhatikan prioritas
   daerah, kesinambungan program dan kegiatan SKPD serta pagu indikatif yang telah
   dicanangkan dalam rancangan awal RKPD. Format usulan memperhatikan format RKA-
   SKPD.
9. Rancangan Renja SKPD Provinsi memuat hasil identifikasi program dan kegiatan, dirinci
   menurut kabupaten, kecamatan, dan desa/kelurahan serta perkiraan alokasi sumber
   pendanaan dari APBD kabupaten/kota, APBD Provinsi, APBN dan sumber pendanaan
   lainnya.




                                           24
10. Rancangan Renja SKPD kabupaten/kota juga memuat hasil identifikasi program dan
    kegiatan SKPD Provinsi yang berasal dari RPJM Propinsi dan/atau dari Renja SKPD
    Provinsi untuk tahun rencana atau dari prakiraan maju APBD Provinsi tahun sebelumnya.
11. Tembusan rancangan Renja SKPD kabupaten/kota disampaikan kepada SKPD Provinsi
    dan Kementerian/Lembaga terkait, khususnya daftar program dan kegiatan prioritas
    yang diusulkan untuk ditangani dan/atau dibiayai provinsi dan pemerintah pusat melalui
    dana APBN (dana dekonsentrasi, dana tugas pembantuan, DAK dan Dana Otsus), dan/
    atau APBD Provinsi.
12. Untuk Renja SKPD provinsi, tembusannya disampaikan kepada Kemeterian/Lembaga
    terkait, khususnya daftar program dan kegiatan prioritas yang diusulkan untuk ditangani
    dan/atau dibiayai pemerintah pusat melalui dana APBN (dana dekonsentrasi, dana tugas
    pembantuan, DAK dan Dana Otsus).

Skematis proses penyusunan Rancangan Renja SKPD dapat digambarkan sebagai
berikut :




                                              Review
                                             Rancangan
            Review                           Awal RKPD
            Renstra
             SKPD                                                 Identifikasi Program/
                                                                 Kegiatan terkait SKPD



      Evaluasi Capaian            Program/Kegiatan
      Kinerja Pelayanan           SKPD Berdasarkan                      Rumusan
         Wajib/Pilihan              Skala Prioritas                    Rancangan
       SKPD terhadap                                                   Renja SKPD
       Target Renstra
            SKPD

                                    Usulan Hasil                Identifikasi Program
                                   Musrenbang dan                dan Kegiatan yang
                                       Forum                      ditangani Pusat




Bagan 4. Proses Penyusunan Rancangan Renja SKPD




                                            25
4. PENYUSUNAN RANCANGAN RKPD

Merupakan tahap lanjutan, berupa kajian dan pembahasan atas rancangan Renja SKPD
yang diintegrasikan dengan Rancangan Awal RKPD untuk disperbaiki menjadi Rancangan
RKPD, pembahasan dengan para pemangku kepentingan terkait untuk memperoleh masukan
dan pertimbangan bagi rancangan RKPD, penyiapan ringkasan Rancangan RKPD sebagai
bahan pembahasan dalam Musrenbang tahunan daerah. Ringkasan rancangan RKPD
Provinsi disampaikan kepada Bappenas, sedangkan ringkasan RKPD Kabupaten/Kota
disampaikan kepada Bappenas dan Bappeda Provinsi sebagai masukan dalam penyusunan
RKP Nasional dan/atau RKPD Provinsi.

Rancangan RKPD merupakan integrasi dan harmonisasi antara rancangan awal RKPD
dengan rancangan Renja setiap SKPD yang telah mendapatkan konfirmasi dan review dari
setiap SKPD.

Penyusunan Rancangan RKPD merupakan tanggung jawab Kepala Bappeda, dan materi
program/kegiatan yang termuat merupakan bahan utama dalam penyelenggaraan
musrenbang tahunan daerah.

 4.1. Prinsip-prinsip Penyusunan Rancangan RKPD

Prinsip-prinsip penyusunan Rancangan RKPD mencakup:
1. Merupakan proses tindak lanjut dan kesinambungan dari penyusunan rancangan awal
    RKPD dan penyusunan Renja SKPD.
2. Substansi pokok rancangan RKPD meliputi : evaluasi pelaksanaan RKPD tahun
    sebelumnya; rancangan kerangka ekonomi daerah; arah kebijakan keuangan daerah;
    prioritas dan sasaran pembangunan daerah; rencana program dan kegiatan prioritas
    yang dilengkapi dengan pagu indikatif.
3. Menjamin konsistensi program dan kegiatan SKPD terhadap pencapaian visi dan misi
    Kepala Daerah dan prioritas pembangunan daerah.
4. Setiap prioritas pembangunan daerah memiliki maksud mencapai sasaran hasil
    pembangunan jangka menengah daerah yang terukur dan jelas indikatornya.
5. Menjamin kesinambungan, efisiensi dan efektifitas program/kegiatan yang telah dibangun
    pada tahun-tahun sebelumnya.
6. Penyelesaian dokumen Rancangan RKPD paling lambat pada minggu ke-2 bulan
    Maret.

 4.2. Tata Cara Penyusunan

Tata cara penyusunan Rancangan RKPD adalah sebagai berikut:
1. Bappeda menerima secara resmi naskah rancangan Renja-SKPD yang disampaikan
    oleh Kepala SKPD
2. Menilai dan membahas konsistensi rancangan Renja-SKPD dengan SKPD yang
    bersangkutan terhadap tugas dan fungsinya, serta terhadap prioritas pembangunan
    daerah yang sudah dicanangkan.
3. Mengidentifikasi program-program dan kegiatan-kegiatan yang merupakan lintas SKPD



                                           26
dan lintas wilayah, khususnya yang terkait dengan penanganan isu strategis daerah,
     kemudian memberi catatan agar program/kegiatan tersebut dapat bersinergi.
4.   Mereview kembali besaran program, anggaran yang dibutuhkan, indikator kinerja, dan
     target kinerja yang hendak dicapai dari setiap program dan kegiatan.
5.   Mengintegrasikan rancangan Renja-SKPD ke dalam rancangan awal RKPD menjadi
     rancangan RKPD, dengan memperhatikan prioritas daerah maupun nasional, prioritas
     program dan kegiatan SKPD, serta perkembangan informasi ketersediaan dana
     pembangunan.
6.   Melakukan beberapa diskusi kelompok terfokus menurut bidang bahasan dengan
     berbagai kalangan para pemangku kepentingan yang relevan dalam rangka memperoleh
     masukan dan pertimbangan terhadap draft rancangan RKPD.
7.   Menyelesaikan dokumen rancangan RKPD serta menyiapkan ringkasan (summary) atau
     pokok-pokok materi sebagai bahan pembahasan dalam kegiatan musrenbang tahunan
     daerah.
8.   Menyampaikan tembusan ringkasan rancangan RKPD kepada Bappenas dan/atau
     Bappeda Provinsi sebagai masukan dalam penyusunan RKP Nasional dan/atau RKPD
     Provinsi.

 5. MUSRENBANG

Pelibatan masyarakat dalam penyusunan RKPD adalah melalui kegiatan musyawarah
perencanaan pembangunan/Musrenbang, forum SKPD/Gabungan SKPD, serta kegiatan
Diskusi Kelompok Terfokus (FGD).

Musrenbang tahunan dan forum SKPD dilaksanakan pada setiap tahun perencanaan yang
penyelenggaraannya merupakan tanggung jawab daerah, dan pelaksanaannya
dikoordinasikan oleh Kepala Bappeda.

Musrenbang tahunan daerah merupakan forum konsultasi dengan para pemangku
kepentingan pembangunan untuk membahas rencana pembangunan daerah dan
mengalokasikan kegiatan tersebut menurut prioritasnya kepada pihak yang berwenang atau
bertanggungjawab pada kegiatan tersebut, maupun pihak-pihak yang berkomitmen untuk
melaksanakannya, dibawah koordinasi Kepala Bappeda. Agar dalam pelaksanaan
musrenbang dapat menghasilkan keluaran yang optimal serta menjamin keterlibatan
masyarakat yang lebih intensif, maka dalam setiap tahapan musrenbang dari mulai persiapan
sampai dengan paska musrenbang perlu difasilitasi oleh fasilitator yang memadai.

Musrenbang tahunan atau musrenbang RKPD dan forum SKPD juga berfungsi untuk
menjembatani kepentingan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dengan
kepentingan masyarakat (top-down dan bottom-up approach), serta mendapatkan komitmen/
kesepakatan para pemangku kepentingan untuk penyempurnaan rencana kerja
pembangunan daerah untuk tahun yang direncanakan.

Panyelenggaraan musrenbang tahunan daerah dilakukan secara berjenjang mulai dari
musrenbang desa/kelurahan, musrenbang kecamatan, forum SKPD atau forum gabungan
SKPD Kabupaten/Kota, Musrenbang Kabupaten/Kota, Forum SKPD atau Gabungan SKPD


                                           27
Provinsi, dan Musrenbang Provinsi. Hasil Musrenbang Kabupaten/Kota sendiri menjadi
masukan bagi provinsi dan pusat untuk bahan musrenbang provinsi, musrenbang pusat
dan musrenbang nasional maupun dalam rangka penyusunan rancangan akhir RKPD.

Penyelenggaraan musrenbang desa/kelurahan, musrenbang kecamatan, forum SKPD atau
gabungan SKPD dan musrenbang kabupaten/kota dikoordinasikan dan difasilitasi oleh
Bappeda Kabupaten/Kota yang pendanaannya dibebankan pada APBD Kabupaten /Kota,
sedangkan forum SKPD/gabungan SKPD dan musrenbang provinsi dibebankan pada APBD
Provinsi.

Keseluruhan penyelenggaraan musrenbang tahunan yang berjenjang mulai dari tingkat desa
sampai dengan tingkat nasional, dilaksanakan dengan jadwal sebagai berikut:
1) Musrenbang Desa/Kelurahan; dilaksanakan sepanjang bulan Januari, dan paling lambat
   akhir bulan Januari seluruh desa/kelurahan telah melaksanakannya.
2) Musrenbang Kecamatan; dilaksanakan sekitar bulan Februari, dan paling lambat akhir
   minggu ke-3 bulan Februari seluruh kecamatan sudah selesai melaksanakan
   musrenbang kecamatan.
3) Forum SKPD/Gabungan SKPD Kabupaten/kota; dilaksanakan antara minggu ke-2
   Februari sampai dengan akhir minggu ke-1 bulan Maret.
4) Musrenbang Daerah Kabupaten/Kota dilaksanakan sepanjang bulan Maret.
5) Musrenbang Pusat (Musrenbangpus) dilaksanakan pada akhir bulan Maret.
6) Forum SKPD/Gabungan SKPD Provinsi dilaksanakan paling lambat minggu ke-2 bulan
   Maret.
7) Musrenbang Provinsi dilaksanakan paling lambat akhir bulan Maret.
8) Musrenbang Nasional (Musrenbangnas) dilaksanakan pada akhir bulan April.

Musrenbang harus dilakukan dengan memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Inklusif. Memastikan keterlibatan dan keterwakilan para pemangku kepentingan.
2. Relevan. Melibatkan para pemangku kepentingan yang relevan yaitu yang memiliki
   kepedulian, kompetensi serta peranan (termasuk pengaruh) dalam proses pemecahan
   permasalahan penyelenggaraan fungsi dan urusan wajib/pilihan pemerintahan daerah
3. Sensitif gender. Memastikan bahwa baik laki-laki maupun perempuan mempunyai akses
   yang sama pada pengambilan keputusan perencanaan daerah
4. Partisipatif dan interaktif; proses pembahasan melibatkan seluruh para pemangku
   kepentingan secara seimbang, baik dalam penyampaian informasi, analisis, interpretasi
   informasi, dan pengembangan kesepakatan untuk pengambilan keputusan.

 5.1. Musrenbang Desa/Kelurahan

Musrenbang Desa/Kelurahan merupakan forum musyawarah tahunan para pemangku
kepentingan tingkat desa/kelurahan untuk menyepakati rencana kegiatan tahun anggaran
berikutnya. Penyelenggaraan musrenbang desa/ kelurahan menjadi tanggung jawab kepala
desa/lurah, dan difasilitasi/disupervisi oleh camat yang bersangkutan di bawah koordinasi
kepala Bappeda.




                                           28
Prinsip-prinsip penyelenggaraan Musrenbang Desa/kelurahan:
1. Musrenbangdes/kel ditujukan untuk membahas seluruh rencana kegiatan pembangunan
    di wilayah desa/kelurahan untuk tahun rencana yang pendanaannya berasal dari
    berbagai sumber (PADes, ADD/dana bagi hasil, Bantuan desa/kelurahan, PPK/P2KP,
    swadaya masyarakat, dan sumber dana lainnya).
2. Untuk menjamin pemahaman dan kajian mendalam, maka bahan/materi musrenbang
    desa/kelurahan sudah dibagikan bersamaan ketika mengantarkan surat undangan
    kepada peserta yang memiliki kompetensi memadai.
3. Peserta mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengkaji, mendiskusikan,
    mengusulkan dan mengambil kesepakatan bersama terhadap rumusan hasil
    musrenbang desa/kelurahan.
4. Mekanisme pembahasan menggunakan fasilitator yang kompeten untuk memandu
    pembahasan dan penyepakatan hasil musrenbang desa/kelurahan, serta melibatkan
    narasumber yang sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan.
5. Adanya kejelasan informasi dari Pemda Kabupaten/Kota tentang indikasi Alokasi Dana
    Desa yang akan diberikan kepada desa untuk tahun anggaran direncanakan serta
    sumber pendanaan program/kegiatan lainnya.
6. Adanya kesepakatan urutan prioritas isu/permasalahan pembangunan desa/kelurahan
    dan urutan faktor penyebabnya
7. Adanya kesepakatan urutan prioritas fungsi/urusan wajib/pilihan pemerintahan daerah
    untuk menangani isu/permasalahan pembangunan desa/kelurahan
8. Adanya kesepakatan rancangan program dan kegiatan dengan memperhatikan rencana
    pembangunan jangka menengah desa/kelurahan (RPJMdes/RPJMkel).
9. Keluaran musrenbang desa/kelurahan berupa :
    a. Daftar prioritas kegiatan pembangunan skala desa/kelurahan dengan tolok ukur
        capaian kinerjanya, yang akan didanai melalui dana bagi hasil/Alokasi Dana Desa,
        bantuan keuangan desa/kelurahan, dana swadaya masyarakat, dan sumber dana
        program/ kegiatan lainnya.
    b. Daftar prioritas kegiatan pembangunan lengkap dengan tolok ukur capaian kinerjanya
        yang diusulkan untuk dilaksanakan melalui SKPD dan/atau kecamatan, namun masih
        akan dibahas dalam musrenbang kecamatan dan/atau forum SKPD dan musrenbang
        kabupaten/kota.
    c. Daftar nama delegasi untuk mengikuti musrenbang kecamatan
    d. Berita Acara Musrenbang Desa/Kelurahan
10. Paling lambat pada akhir bulan Januari seluruh desa dan kelurahan telah selesai
    melaksanakan musrenbang desa/kelurahan.

 5.2. Musrenbang Kecamatan

Musrenbang kecamatan merupakan forum musyawarah pembangunan bersama para
pemangku kepentingan tingkat kecamatan. Penyelenggaraannya menjadi tanggung jawab
Camat yang bersangkutan dan dikoordinasikan oleh Kepala Bappeda Kabupaten/Kota.




                                           29
Prinsip-prinsip penyelenggaraan Musrenbang Kecamatan:
1. Sasaran musyawarah untuk menghasilkan kesepakatan didasarkan atas prinsip-prinsip
    transparansi, demokratis/partisipatif, akuntabilitas, efisiensi, efektivitas, fokus serta
    mengarah pada pemecahan masalah dengan kebersamaan.
2. Pelaksanaan musrenbang kecamatan perlu dipandu oleh fasilitator kecamatan yang
    memahami teknik-teknik fasilitasi dan mengerti tentang mekanisme perencanaan
    pembangunan di daerah.
3. Peserta musrenbang kecamatan sekurang-kurangnya terdiri atas: delegasi hasil
    musrenbang desa/kelurahan, institusi/lembaga/organisasi masyarakat tingkat
    kecamatan; pengusaha/ asosiasi dan lembaga pendidikan yang ada di kecamatan
    tersebut, serta tokoh-tokoh masyarakat kecamatan setempat.
4. Setiap peserta memperoleh bahan/materi yang lengkap, serta mempunyai kesempatan
    yang sama untuk menyampaikan pemikiran dan gagasannya terhadap materi bahasan.
5. Narasumber meliputi Bappeda, perwakilan SKPD kabupaten/kota, kepala-kepala cabang
    SKPD dan kepala unit pelayanan di kecamatan, anggota DPRD yang berasal dari daerah
    pemilihan kecamatan bersangkutan, camat, aparat kecamatan dan para ahli/profesional
    yang dibutuhkan.
6. Mekanisme pembahasan menggunakan fasilitator yang kompeten untuk memandu
    pembahasan dan penyepakatan hasil musrenbang kecamatan.
7. Pokok bahasan dalam musrenbang kecamatan adalah mensinergikan hasil musrenbang
    desa/kelurahan tentang usulan daftar prioritas kegiatan pembangunan yang akan
    dilaksanakan melalui SKPD dan/atau kecamatan, serta rancangan kerja pembangunan
    kecamatan.
8. Rumusan kesepakatan prioritas program dan kegiatan yang direncanakan harus terukur
    dan jelas indikator kinerjanya.
9. Adanya kesepakatan urutan prioritas isu/permasalahan pembangunan kecamatan dan
    urutan faktor penyebabnya
10. Adanya kesepakatan urutan prioritas fungsi/urusan wajib/pilihan pemerintahan daerah
    untuk menangani isu/permasalahan pembangunan kecamatan
11. Adanya kesepakatan rancangan program dan kegiatan dengan memperhatikan rencana
    pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD).
12. Keluaran musrenbang kecamatan meliputi :
    a. Daftar prioritas kegiatan pembangunan di wilayah kecamatan menurut fungsi/SKPD
        yang siap dibahas pada forum SKPD dan Musrenbang Kabupaten/Kota, yang
        diusulkan untuk didanai melalui APBD Kabupaten /Kota maupun sumber pendanaan
        lainnya.
    b. Daftar delegasi kecamatan untuk mengikuti forum SKPD dan Musrenbang Kabupaten/
        Kota.
    c. Berita Acara Musrenbang Tahunan Kecamatan
13. Adanya sosialisasi kembali oleh delegasi desa/kelurahan kepada masyarakat yang
    diwakilinya tentang hasil musrenbang kecamatan, sehingga masyarakat dapat
    mengetahui apa yang disepakati dan apa yang tidak disepakati di tingkat kecamatan.
14. Paling lambat pada minggu ke-3 bulan Februari seluruh kecamatan telah selesai
    melaksanakan musrenbang kecamatan.




                                             30
5.3. Forum SKPD/Gabungan SKPD Kabupaten/Kota

Merupakan wahana pembahasan dan konsolidasi program/kegiatan untuk memperoleh
kesepakatan bersama mengenai program/kegiatan yang akan dilaksanakan pada tahun
yang direncanakan termasuk prioritas dan cara penanganannya, dengan cara membahas
dan mensinergikan antara prioritas kegiatan pembangunan hasil musrenbang kecamatan
dengan rancangan Renja SKPD yang bersumber dari Renstra SKPD.

Pada dasarnya setiap SKPD perlu mempunyai forum diskusi masing-masing, namun jika
belum memungkinkan, maka beberapa SKPD yang bidang tugasnya saling mempunyai
keterkaitan erat dapat juga membentuk forum gabungan SKPD.

Prinsip-prinsip penyelenggaraan forum SKPD/gabungan SKPD Kabupaten/Kota:
1. Forum SKPD/gabungan SKPD merupakan forum pembahasan strategis yang
    mempertemukan pendekatan teknokratis dan top-down dengan pendekatan partisipatif
    dan bottom-up.
2. Forum SKPD/gabungan SKPD membahas daftar prioritas kegiatan pembangunan di
    wilayah kecamatan menurut fungsi/SKPD atau gabungan SKPD, yang akan didanai
    melalui APBD Kabupaten/Kota maupun sumber pendanaan lainnya.
3. Peserta terdiri dari para delegasi kecamatan, perwakilan institusi/organisasi/ perguruan
    tinggi atau kelompok masyarakat tingkat kabupaten/kota yang terkait langsung dengan
    fungsi/SKPD atau gabungan SKPD yang bersangkutan, serta anggota forum SKPD.
4. Narasumber meliputi kepala SKPD kabupaten/kota, kepala dan para pejabat Bappeda,
    anggota DPRD dari komisi pasangan kerja masing-masing SKPD, ahli/profesional baik
    yang berasal dari kalangan praktisi maupun akademisi.
5. Mekanisme pembahasan menggunakan fasilitator yang kompeten untuk memandu
    pembahasan dan penyepakatan hasil Forum SKPD.
6. Forum SKPD dapat digunakan DPRD baik secara perorangan maupun atas nama komisi
    terkait untuk menyampaikan pokok-pokok pikiran hasil kegiatan reses dan usulan pro-
    gram dan kegiatannya dalam forum SKPD/ gabungan SKPD untuk dibahas dan
    memperoleh kesepakatan bersama.
7. Keluaran forum SKPD/gabungan SKPD Kabupaten/Kota, meliputi:
a. Rancangan Renja-SKPD berdasarkan hasil Forum-SKPD yang memuat kerangka
    regulasi dan kerangka anggaran SKPD.
b. Prioritas kegiatan yang sudah dipilah menurut sumber pendanaan APBD setempat,
    APBD Provinsi maupun APBN yang termuat dalam rancangan Renja-SKPD disusun
    menurut kecamatan dan desa. Selanjutnya, hasil kesepakatan prioritas kegiatan per
    kecamatan disampaikan kepada masing-masing kecamatan oleh para delegasi
    kecamatan.
c. Terpilihnya delegasi SKPD yang berasal dari organisasi dan/atau kelompok-kelompok
    masyarakat untuk mengikuti musrenbang daerah kabupaten/kota.
8. Penyelenggaraan Forum SKPD/gabungan SKPD paling lambat pada minggu ke-1 bulan
    Maret telah selesai dilaksanakan seluruhnya.




                                            31
5.4. Musrenbang Kabupaten/Kota

Musrenbang kabupaten/kota adalah musyawarah para pemangku kepentingan di tingkat
kabupaten/kota untuk mematangkan rancangan RKPD kabupaten/kota berdasarkan Renja-
SKPD hasil forum SKPD dengan cara meninjau keserasian antara rancangan Renja-SKPD
yang hasilnya digunakan untuk pemutakhiran rancangan RKPD.

Prinsip-prinsip penyelenggaraan Musrenbang Kabupaten/Kota:
1. Musrenbang kabupaten/kota memperhatikan hasil pembahasan forum SKPD atau fo-
    rum gabungan SKPD, hasil musrenbang kecamatan, RPJMD atau Renstra Daerah (bagi
    daerah yang belum melakukan Pilkada), hasil evaluasi kinerja pembangunan tahun
    berjalan dan masukan dari para peserta.
2. Hasil musrenbang kabupaten/kota adalah prioritas kegiatan yang dipilah menurut sumber
    pendanaan dari APBD setempat, APBD Provinsi dan APBN sebagai bahan pemutakhiran
    rancangan RKPD Kabupaten/Kota untuk menjadi dasar dan rujukan utama dalam
    penyusunan anggaran tahunan (RAPBD).
3. Peserta musrenbang kabupaten/kota adalah delegasi dari musrenbang kecamatan,
    delegasi dari forum SKPD/gabungan SKPD dan perwakilan institusi/organisasi/
    perguruan tinggi yang bekerja di kabupaten/kota.
4. Narasumber terdiri atas: SKPD kabupaten/kota, DPRD, Perguruan Tinggi, perwakilan
    Bappeda Provinsi, Tim Penyusun RKPD, Tim Anggaran Eksekutif maupun Panitia
    Anggaran DPRD.
5. Mekanisme pembahasan menggunakan fasilitator yang kompeten untuk memandu
    pembahasan dan penyepakatan hasil musrenbang kabupaten/kota.
6. Adanya kesepakatan urutan prioritas isu/permasalahan pembangunan kabupaten/kota
    dan urutan faktor penyebabnya
7. Adanya kesepakatan urutan prioritas fungsi/urusan wajib/pilihan pemerintahan daerah
    untuk menangani isu/permasalahan pembangunan kabupaten/kota
8. Adanya kesepakatan rancangan program dan kegiatan dengan memperhatikan rencana
    pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD).
9. Keluaran dari pelaksanaan musrenbang kabupaten/kota adalah kesepakatan tentang
    rumusan yang menjadi masukan utama untuk memutakhirkan rancangan RKPD dan
    rancangan Renja-SKPD, yang meliputi:
a) Penetapan arah kebijakan, prioritas pembangunan, dan pagu indikatif menurut fungsi/
    SKPD.
b) Daftar kegiatan prioritas dengan tolok ukur capaian kinerjanya yang sudah dipilah menurut
    sumber pembiayaan dari APBD kabupaten/kota, APBD Provinsi, APBN, dan sumber
    pendanaan lainnya.
c) Daftar usulan kebijakan/regulasi pada tingkat pemerintah Kabupaten/Kota, Provinsi dan/
    atau Pusat.
d) Rancangan belanja bagi hasil pemerintah provinsi kepada pemerintah kabupaten/kota,
    serta indikasi belanja bantuan keuangan pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota
    dan kepada pemerintahan desa (untuk RKPD Provinsi).
e) Rancangan belanja bagi hasil pemerintah kabupaten/kota kepada pemerintah desa serta
    indikasi bantuan keuangan pemerintah kabupaten/kota kepada pemerintah desa (untuk
    RKPD Kabupaten/Kota).



                                            32
f)  Daftar delegasi musrenbang kabupaten/kota untuk mengikuti proses penyusunan APBD
    dan proses musrenbang provinsi.
g) Berita Acara pelaksanaan musrenbang kabupaten/kota.
10. Paling lambat pada akhir bulan Maret, musrenbang kabupaten/kota sudah selesai
    dilaksanakan.



 5.5. Forum SKPD/Gabungan SKPD Provinsi

Merupakan wahana pembahasan dan konsolidasi untuk memperoleh kesepakatan bersama
mengenai program/kegiatan yang akan dilaksanakan oleh SKPD Provinsi pada tahun yang
direncanakan termasuk prioritas dan cara penanganannya, dengan cara membahas dan
mensinergikan antara prioritas kegiatan pembangunan hasil forum musrenbang kabupaten/
kota dengan rancangan renja SKPD Provinsi yang bersumber dari Renstra SKPD Provinsi.

Setiap SKPD perlu memiliki forum diskusi masing-masing, namun dapat pula membentuk
forum gabungan SKPD untuk beberapa SKPD yang bidang tugasnya mempunyai saling
keterkaitan erat.

Prinsip-prinsip penyelenggaraan Forum SKPD/gabungan SKPD Provinsi:
1. Merupakan forum pembahasan strategis yang mempertemukan pendekatan teknokratis
    dan top-down dengan pendekatan partisipatif dan bottom-up.
2. Membahas daftar prioritas kegiatan pembangunan di wilayah provinsi menurut fungsi/
    SKPD atau gabungan SKPD, yang akan didanai melalui APBD Provinsi, APBN maupun
    sumber pendanaan lainnya.
3. Peserta terdiri dari para delegasi kabupaten/kota, SKPD kabupaten/kota terkait se-
    provinsi, perwakilan institusi/organisasi/perguruan tinggi tingkat provinsi yang terkait
    langsung dengan fungsi/SKPD atau gabungan SKPD yang bersangkutan, serta anggota
    forum SKPD.
4. Narasumber meliputi kepala SKPD provinsi, kepala/pejabat Bappeda, anggota DPRD
    dari komisi pasangan kerja masing-masing SKPD, para ahli/ profesional baik yang berasal
    dari kalangan praktisi maupun akademisi.
5. Forum SKPD dapat digunakan DPRD baik secara perorangan maupun atas nama komisi
    terkait untuk menyampaikan pokok-pokok pikiran hasil kegiatan reses dan usulan pro-
    gram dan kegiatannya dalam forum SKPD/gabungan SKPD untuk dibahas dan
    memperoleh kesepakatan bersama.
6. Mekanisme pembahasan menggunakan fasilitator yang kompeten untuk memandu
    pembahasan dan penyepakatan hasil forum SKPD/gabungan SKPD provinsi.
7. Keluaran forum SKPD/gabungan SKPD provinsi, meliputi :
a. Rancangan Renja-SKPD berdasarkan hasil forum-SKPD yang memuat kerangka regulasi
    dan kerangka anggaran SKPD.
b. Prioritas kegiatan yang sudah dipilah menurut sumber pendanaan APBD Provinsi maupun
    APBN yang termuat dalam rancangan Renja-SKPD
7. Penyelenggaraan forum SKPD/gabungan SKPD provinsi paling lambat pada minggu
    ke-2 bulan Maret sudah selesai dilaksanakan seluruhnya.




                                            33
5.6. Musrenbang Provinsi

Musrenbang provinsi adalah musyawarah pemangku kepentingan di tingkat provinsi untuk
menyempurnakan rancangan RKPD provinsi berdasarkan masukan hasil forum SKPD
Provinsi dan hasil musrenbang kabupaten/kota.

Prinsip-prinsip penyelenggaraan Musrenbang Provinsi:
1. Musrenbang provinsi membahas kesepakatan bersama prioritas program/kegiatan
    provinsi dengan memperhatikan hasil forum SKPD atau forum gabungan SKPD provinsi,
    hasil musrenbang kabupaten/kota, RPJMD/ Renstra Daerah Provinsi, hasil evaluasi
    kinerja pembangunan tahun berjalan dan masukan dari para peserta.
2. Peserta musrenbang adalah para delegasi kabupaten/kota, para kepala Bappeda dan
    perwakilan sekda kabupaten/kota se-provinsi, perwakilan institusi/ organisasi/ perguruan
    tinggi tingkat provinsi, dan anggota forum SKPD atau gabungan SKPD.
3. Narasumber terdiri atas: Kepala Bappeda dan para kepala SKPD provinsi, DPRD,
    Perguruan Tinggi, perwakilan Kementerian/Lembaga pusat, Tim Penyusun RKPD, Tim
    Anggaran Eksekutif maupun Panitia Anggaran DPRD.
4. Mekanisme pembahasan menggunakan fasilitator yang kompeten untuk memandu
    pembahasan dan penyepakatan hasil musrenbang provinsi.
5. Adanya kesepakatan urutan prioritas isu/permasalahan pembangunan provinsi dan
    urutan faktor penyebabnya
6. Adanya kesepakatan urutan prioritas fungsi/urusan wajib/pilihan pemerintahan daerah
    untuk menangani isu/permasalahan pembangunan provinsi
7. Adanya kesepakatan rancangan program dan kegiatan dengan memperhatikan rencana
    pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD Provinsi).
8. Keluaran musrenbang berupa kesepakatan rumusan yang menjadi masukan utama
    untuk memutakhirkan rancangan RKPD dan rancangan Renja-SKPD, yang meliputi:
    a) Penetapan arah kebijakan, prioritas pembangunan, dan pagu indikatif menurut fungsi/
        SKPD.
    b) Daftar kegiatan prioritas dengan tolok ukur capaian kinerjanya yang sudah dipilah
        menurut sumber pembiayaan APBD Provinsi, APBN, dan sumber pendanaan lainnya.
    c) Daftar usulan kebijakan/regulasi pada tingkat pemerintah Provinsi dan/atau Pusat.
    d) Rancangan belanja bagi hasil dari pemerintah provinsi kepada pemerintah kabupaten/
        kota.
    e) Rancangan bantuan keuangan provinsi untukpemerintah kabupaten/kota dan untuk
        pemerintah desa.
    f) Daftar delegasi musrenbang provinsi untuk mengikuti proses penyusunan APBD
        Provinsi
    g) Berita Acara pelaksanaan musrenbang provinsi.
9. Paling lambat pada akhir bulan April, musrenbang provinsi sudah selesai dilaksanakan.

 5.7. Diskusi Kelompok Terfokus (Focus Group Discussion/FGD)

Pelibatan masyarakat dalam penyusunan RKPD/Renja SKPD juga dilakukan melalui
serangkaian Diskusi Kelompok Terfokus (FGD/ Focus Group Discussion). Diskusi kelompok




                                            34
terfokus bertujuan untuk mempertajam substansi Rancangan RKPD/Renja SKPD
berdasarkan analisis dan kesepakatan para pemangku kepentingan yang ahli/berpengaruh.

Pelaksanaan FGD menggunakan fasilitator yang kompeten untuk memandu pembahasan
dan penyepakatan hasil FGD.

 6. PENYUSUNAN RANCANGAN AKHIR RKPD

Pada tahap ini dilakukan penyempurnaan atas Rancangan RKPD berdasarkan hasil
kesepakatan dalam Musrenbang tahunan daerah dengan tetap mengacu pada rancangan
RKP, sedangkan untuk RKPD Kabupaten/Kota juga memperhatikan rancangan RKPD
Provinsi.

Penyusunan rancangan akhir RKPD merupakan tanggung jawab Kepala Bappeda dengan
masukan utama hasil kesepakatan Musrenbang Tahunan Daerah untuk disampaikan kepada
Kepala Daerah, dan selanjutnya diproses untuk ditetapkan dalam Peraturan Kepala Daerah.

 6.1. Prinsip-prinsip Penyusunan Rancangan Akhir RKPD

Prinsip-prinsip penyusunan Rancangan Akhir RKPD meliputi:
1. Rancangan akhir RKPD wajib mengakomodasikan hasil-hasil kesepakatan musrenbang
    RKPD.
2. Dalam rancangan akhir RKPD tidak diperkenankan memasukkan program/kegiatan baru
    yang tidak melalui proses musrenbang, kecuali apabila setelah pelaksanaan musrenbang
    RKPD kemudian muncul kebutuhan program/kegiatan baru yang bersifat darurat,
    misalnya karena ada bencana alam, wabah, atau kerusuhan yang perlu segera ditangani.
    Untuk itu, maka perlu didiskusikan dan mendapat kesepakatan dengan delegasi
    musrenbang.
3. Rancangan Akhir RKPD merupakan dokumen final RKPD yang telah mengalami
    serangkaian proses sinergitas dan harmonisasi berbagai pendekatan perencanaan
    (teknokratis, politis, demokratis/patisipatif, bottom-up dan top-down).
4. Dokumen rancangan akhir yang kemudian ditetapkan menjadi PERKADA merupakan
    dokumen acuan dalam perumusan Kebijakan Umum APBD dan penetapan Prioritas
    dan Plafon Anggaran Sementara (KUA dan PPAS), serta dalam penyusunan RAPBD.
5. Rancangan Akhir RKPD ditetapkan menjadi Peraturan Kepala Daerah, paling lambat
    pada akhir bulan Mei.
6. Nota kesepakatan KUA dan PPAS merupakan acuan bagi kepala daerah dalam
    menyusun pedoman penyusunan RKA-SKPD dan penyusunan RAPBD.

 6.2. Tata Cara Penyusunan Rancangan Akhir RKPD

Tata cara penyusunan Rancangan Akhir RKPD adalah sebagai berikut:
1. Penyusunan rancangan akhir RKPD Provinsi memuat kesepakatan hasil Musrenbang
    tahunan daerah dan memperhatikan rancangan RKP, sedangkan untuk RKPD
    kabupaten/kota harus memperhatikan juga rancangan RKPD Provinsi, khususnya




                                          35
tentang program dan kegiatan K/L serta program dan kegiatan provinsi yang akan
   dilaksanakan di kabupaten/kota.
2. Menyusun naskah rancangan peraturan kepala daerah tentang RKPD dibantu oleh
   kepala SKPD yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan tugas dan fungsi hukum.
3. Menyampaikan rancangan akhir RKPD beserta naskah Perkada dan naskah
   kesepakatan hasil Musrenbang Tahunan Daerah kepada Kepala Daerah.
4. Menginformasikan secara luas rancangan akhir RKPD kepada masyarakat melalui media
   resmi pemerintah daerah

 7. PENYUSUNAN RENJA SKPD

Renja SKPD merupakan penyempurnaan dari rancangan Renja SKPD yang berisikan pro-
gram dan kegiatan yang telah disepakati melalui pembahasan forum SKPD/gabungan SKPD
dan musrenbang kabupaten/kota untuk dilaksanakan oleh masing-masing SKPD pada tahun
yang direncanakan sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya dalam rangka menunjang
pencapaian visi dan misi kepala daerah terpilih. Program dan kegiatan dalam Renja SKPD
bersifat definitif.

Penyempurnaan Renja SKPD merupakan tanggung jawab masing-masing kepala SKPD
yang proses penyusunannya mengacu pada dokumen RKPD yang telah ditetapkan menjadi
Peraturan Kepala Daerah.

 7.1. Prinsip-prinsip Penyusunan Renja SKPD

Prinsip-prinsip penyusunan Renja SKPD adalah sebagai berikut:
1. Mengacu pada RKPD yang telah ditetapkan menjadi Peraturan Kepala Daerah dan
    perlu dipastikan secara resmi bahwa RKPD yang diterima masing-masing kepala SKPD
    adalah dokumen resmi yang disampaikan oleh Kepala Daerah melalui bagian hukum;
2. Substansi Renja SKPD merupakan perbaikan dari materi Rancangan Renja SKPD yang
    disesuaikan dengan Perkada RKPD;
3. Program dan kegiatan dirinci menurut sumber pendanaan yang diusulkan (APBD
    Kabupaten/kota, APBD Provinsi, APBN dan sumber lainnya);
4. Program dan kegiatan yang direncanakan memuat tolok ukur kinerja keluaran, target
    capaian program/kegiatan, target keluaran kegiatan pada n dan pada n+1, biaya satuan
    per keluaran kegiatan pada n dan n+1, dan total dana yang diperlukan kegiatan pada n
    dan n+1.
5. Renja SKPD merupakan dokumen resmi program dan kegiatan SKPD yang akan
    dilaksanakan dalam tahun rencana dan merupakan acuan dalam penyusunan RKA-
    SKPD setelah memperhatikan nota kesepakatan Kebijakan Umum APBD (KUA) serta
    Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS).
6. Renja SKPD ditetapkan dengan Peraturan Kepala SKPD paling lambat sebelum
    pembahasan Kerangka Umum APBD dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah dan DPRD
    (atau sekitar akhir bulan Mei). Peraturan Kepala SKPD tentang Renja SKPD dapat
    juga menjadi dokumen pelengkap dalam kerjasama pembangunan antar daerah atau
    antar SKPD.




                                          36
7.2. Tata Cara Penyusunan Renja SKPD

Tata cara penyusunan mencakup hal-hal sebagai berikut:
1. Menyempurnakan rancangan Renja SKPD menjadi Renja SKPD berpedoman pada
    Perkada RKPD serta memperhatikan Renja K/L. Untuk Renja SKPD kabupaten/kota
    memperhatikan juga RKPD Provinsi dan Renja SKPD Provinsi;
2. Memasukkan informasi judul kegiatan, kodefikasi, prakiraan maju, tolok ukur dan target
    kinerja masukan, keluaran, dan hasil program dan prioritas kegiatan kedalam format-
    format RKA-SKPD;
3. Menyusun prakiraan maju berdasarkan perhitungan biaya satuan per keluaran kegiatan
    (Activity Based Cost) dan dengan memperhatikan target capaian keluaran kegiatan
    pada tahun n dan tahun n+1.
4. Menyerahkan rancangan akhir Renja SKPD kepada Kepala Daerah, melalui Kepala
    Bappeda;



 Tabel 7 memperlihatkan contoh penyusunan prakiraan maju berdasarkan perhitungan
             biaya satuan per keluaran kegiatan (Activity Based Cost)



 8. PENYIAPAN DAN PENETAPAN PERATURAN KEPALA DAERAH TENTANG
    RKPD DAN PERATURAN KEPALA SKPD TENTANG RENJA SKPD

Pada tahap ini dilakukan penyiapan dan penetapan peraturan Kepala Daerah tentang RKPD
serta penyiapan dan penetapan peraturan Kepala SKPD untuk Renja SKPD, sehingga
dokumen RKPD menjadi dokumen resmi yang digunakan sebagai rujukan dalam penyusunan
Renja SKPD maupun kelanjutannya dalam proses penyusunan APBD, demikian pula
dokumen Renja SKPD menjadi dokumen resmi sebagai rujukan dalam penyusunan RKA-
SKPD.

 8.1. Penyiapan dan Penetapan PERKADA

Prinsip-prinsip Perkada RKPD adalah sbb:
1. Substansi Perkada adalah rancangan akhir RKPD
2. Naskah Perkada mengacu pada ketentuan teknis dan legislasi yang berlaku.
3. Perkada RKPD adalah dokumen resmi yang menjadi acuan penyempurnaan rancangan
    renja SKPD dan pedoman dalam penyusunan KUA, PPAS dan RAPBD

Dalam penyiapan dan penetapan Perkada tentang RKPD, langkah-langkahnya adalah
sebagai berikut:
1. Kepala Daerah menerima secara resmi naskah Peraturan Kepala Daerah tentang RKPD
2. Kepala Daerah melakukan pengecekan atas substansi dan kebijakan pembangunan
   yang akan diterapkan pada tahun rencana;
3. Kepala Daerah melakukan pengecekan atas kesesuaian rancangan akhir RKPD dengan
   Berita Acara hasil musrenbang provinsi/kabupaten/kota.
4. Kepala Daerah memberikan pengantar dan arahan menggunakan RKPD;


                                           37
5. Kepala Daerah menandatangani dan menyerahkan naskah kepada SKPD yang
   bertanggungjawab di bidang hukum untuk disebarluaskan kepada SKPD melalui
   Sekretariat Daerah.
6. Kepala daerah membentuk TAPD dengan memasukkan perwakilan delegasi
   musrenbang povinsi/kabupaten/kota sebagai mitra kerja TAPD.

Kegiatan tindak lanjut pasca ditetapkannya RKPD dengan Peraturan Kepala Daerah
mencakup:
1. Perwakilan delegasi musrenbang provinsi/kabupaten/kota membantu TAPD dalam
   mempersiapkan penyusunan Kebijakan Umum APBD (KUA) dan penyusunan Prioritas
   dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS), untuk dibahas bersama DPRD;
2. Pembahasan bersama KUA dan PPAS diikuti oleh perwakilan delegasi musrenbang.

 8.2. Penyiapan dan Penetapan PERKA SKPD

Supaya Renja SKPD menjadi dokumen resmi yang digunakan sebagai salah satu rujukan
dalam penyusunan RKA-SKPD, maka Renja SKPD perlu ditetapkan dengan Peraturan
Kepala SKPD.
Prinsip-prinsip Perka SKPD tentang Renja SKPD adalah sebagai berikut:
1. Substansi Perka adalah Renja SKPD
2. Naskah Perka mengacu pada ketentuan teknis dan legislasi yang berlaku.
3. Perka SKPD adalah dokumen resmi yang menjadi acuan penyelenggaraan program
    dan kegiatan SKPD pada tahun rencana dan pedoman dalam penyusunan RKA-SKPD

Langkah-langkah dalam penyiapan dan penyusunan Perka SKPD adalah sebagai berikut:
1. SKPD menyusun naskah rancngan Peraturan Kepala SKPD tentang Renja SKPD dibantu
   atau berkonsultasi dengan Kepala SKPD yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan
   tugas dan fungsi hukum
2. Bila diperlukan melakukan konsultasi naskah rancangan Peraturan Kepala SKPD tentang
   Renja SKPD kepada Bappeda dan Sekretaris Daerah
3. Menerbitkan Peraturan Kepala SKPD tentang Renja SKPD;
4. Menyampaikan Peraturan Kepala SKPD tentang Renja SKPD, beserta naskah
   kesepakatan hasil Forum SKPD kepada Kepala Daerah melalui Bappeda

 9. PENGINTEGRASIAN RKPD KE DALAM PROSES PENGANGGARAN DAERAH

Pengintegrasian RKPD ke dalam proses penganggaran tahunan daerah dilakukan melalui
3 (tiga) hal, yaitu: penyusunan KUA dan PPAS, penyusunan RKA-SKPD, dan penyusunan
RAPBD.

Penyusunan KUA dan PPAS, serta penyusunan RKA-SKPD memiliki fungsi penting dan
sangat fundamental karena menjembatani proses penerjemahan rencana ke dalam
penganggaran yang disusun untuk memastikan bahwa kesepakatan para pemangku
kepentingan atas tujuan, sasaran, dan target perencanaan dapat direalisasikan. Oleh karena
itu sangat perlu diperhatikan konsistensi dokumen perencanaan seperti RKPD dan Renja
SKPD dengan KUA, PPAS, dan RKA SKPD.



                                           38
Uraian pada tahap ini lebih ditujukan untuk menjelaskan hal-hal pokok/esensial dan prinsip-
prinsip penyusunan KUA, PPAS, dan RKA SKPD serta penyusunan RAPBD.

 9.1. Penyusunan KUA dan PPAS

Penyusunan rancangan Kebijakan Umum APBD (KUA), serta rancangan Prioritas dan Plafon
Anggaran Sementara (PPAS) merupakan tanggung jawab Kepala Daerah yang dalam
penyusunannya dibantu oleh TAPD. Penyusunan rancangan KUA dan PPAS mengacu pada
Peraturan Kepala Daerah tentang RKPD dan berpedoman pada Pedoman penyusunan
APBD yang ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri setiap tahun.

Prinsip-prinsip penyusunan KUA dan PPAS adalah sebagai berikut:
1. Rancangan KUA disusun mengacu pada dokumen RKPD
2. Rancangan KUA berisikan antara lain:
    a. Latar belakang penyusunan KUA, tujuan penyusunan KUA dan Dasar hukum KUA.
    b. Kerangka Ekonomi Makro Daerah, yang menguraikan perkembangkann indikator
        ekonomi makro daerah pada tahun sebelumnya dan rencana target ekonomi makro
        pada tahun perencanaan.
    c. Asumsi-asumsi dasar dalam penyusunan RAPBD yang mengacu pada asumsi dasar
        yang digunakan APBN, laju inflasi, pertumbuhan PDRB dan asumsi lainnya.
    d. Kebijakan Pendapatan, Belanja dan Pembiayaan daerah
    e. Format KUA diatur dalam Permendagri 59/2007
3. Rancangan PPAS disusun secara simultan dengan penyusunan KUA.
4. PPAS memuat substansi tentang latar belakang dan tujuan penyusunan PPAS, Rencana
    pendapatan dan penerimaan pembiayaan daerah, prioritas belanja daerah, serta plafon
    anggaran sementara berdasarkan urusan pemerintahan dan program/kegiatan.
5. Rancangan KUA dan PPAS tersebut disampaikan kepada DPRD untuk dibahas bersama.
6. Rancangan KUA dan PPAS dibahas bersama Pemda dengan DPRD
7. Pembahasan PPAS melalui langkah-langkah berikut :
    a. Menentukan skala prioritas dalam urusan wajib dan urusan pilihan.
    b. Menentukan urutan program dalam masing-masing urusan
    c. Menyusun plafon anggaran sementara untuk masing-masing program
8. Pembahasan KUA dan PPAS paling lambat dilaksanakan pada minggu kedua bulan
    Juli, yang setelah disepakati, kemudian dituangkan dalam Nota Kesepakatan Bersama
    Pemerintah dengan DPRD.

 9.2. Penyusunan RKA SKPD

RKA SKPD adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi rencana
pendapatan, rencana belanja program, dan kegiatan SKPD serta rencana pembiayaan
sebagai dasar penyusunan APBD.

RKA SKPD disusun dengan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Kepala SKPD dibantu tim penyusun Renja SKPD menyusun RKA-SKPD mengacu pada
   pedoman penyusunan RKA-SKPD yang ditetapkan Kepala Daerah termasuk lampirannya




                                            39
yang mencakup KUA, PPA, kode rekening APBD, format RKA-SKPD, analisis standar
   belanja, standar satuan harga, serta mempertimbangkan standar pelayanan minimal
   (SPM)
2. RKA SKPD yang disusun menggunakan pendekatan kerangka pengeluaran jangka
   menengah daerah, penganggaran terpadu dan penganggaran berdasarkan prestasi
   kinerja.
3. RKA-SKPD berisikan :
   • Ringkasan Anggaran Pendapatan, Belanja dan Pembiayaan SKPD;
   • Rincian anggaran pendapatan SKPD ;
   • Rincian anggaran biaya tidak langsung SKPD (periodik atau non kegiatan);
   • Rekapitulasi rincian anggaran belanja langsung menurut program dan kegiatan SKPD
      untuk tahun rencana dan tahun berikutnya (n+1);
   • Rincian penerimaan pembiayaan daerah;
   • Rincian pengeluaran pembiayaan daerah;

Uraian lebih lengkap serta format yang digunakan diatur di dalam Permendagri 59/2007

 9.3. Penyusunan RAPBD

Penyusunan RAPBD merupakan tahap akhir dalam penyusunan perencanaan dan
penganggaran tahunan daerah, yang disusun bersama TAPD dengan Panitia Anggaran
DPRD sebagai bahan pembahasan paripurna DPRD untuk ditetapkan dalam Peraturan
Daerah dan menjadi dasar pelaksanaan pembangunan daerah untuk tahun yang
direncanakan.




                                          40
TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN RKPD
           (PROTOTYPE)




              41
42
BAGIAN C: TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN RKPD
                   (PROTOTYPE)


R     KPD merupakan penjabaran dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah
      yang memuat rancangan kerangka ekonomi daerah, kebijakan keuangan daerah,
prioritas pembangunan daerah, serta rencana kerja dan pendanaan. Penyusunan RKPD
juga mengacu pada RKP Nasional, terutama dalam sinkronisasi dan sinergitas program
dan kegiatan antara pembangunan nasional dengan pembangunan daerah.

Adapun sistimatika/susunan serta garis besar isi dari dokumen RKPD dapat diuraikan
sebagai berikut:

 BAB I. PENDAHULUAN

 1.1. Latar Belakang

Mengemukakan pengertian ringkas tentang RKPD, proses penyusunan RKPD, kedudukan
RKPD tahun rencana dalam periode dokumen dokumen RPJMD, keterkaitan antara dokumen
RKPD dengan dokumen RPJMD, Renstra SKPD, Renja SKPD serta tindaklanjutnya dengan
proses penyusunan RAPBD.

 1.2. Landasan Hukum

Memberikan uraian ringkas tentang dasar hukum yang digunakan dalam penyusunan RKPD,
baik yang berskala nasional, maupun lokal. Dalam hal ini kalau di daerah telah diterbitkan
Peraturan Daerah atau Peraturan Kepala Daerah yang mengatur tentang perencanaan dan
penganggaran ataupun tentang tata cara penyusunan dokumen perencanaan dan
pelaksanaan musrenbang, perlu dicantumkan. Pada subbab ini tidak perlu semua peraturan-
perundangan dicantumkan, melainkan cukup pada peraturan-perundangan yang memuat
ketentuan secara langsung terkait dengan penyusunan RKPD

 1.3. Maksud dan Tujuan

Menjelaskan maksud dan tujuan penyusunan RKPD tahun rencana dalam kaitannya dengan
dokumen RPJMD dan isu strategis serta kaitannya dengan Visi dan Misi Kepala Daerah.

 1.4. Sistimatika Dokumen RKPD

Mengemukakan organisasi penyusunan dokumen RKPD terkait dengan pengaturan bab
serta garis besar isi setiap bab di dalamnya.

 BAB II. EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH

 2.1. Visi dan Misi Pembangunan Jangka Menengah Daerah



                                           43
Mendeskripsikan kedudukan program dan kegiatan tahun rencana dalam rangka pencapaian
visi dan misi pembangunan daerah jangka menengah sebagaimana tertuang dalam RPJMD.

 2.2. Evaluasi Status dan Kedudukan Pencapaian Kinerja Pembangunan Daerah

Mengemukakan tentang status dan kedudukan pencapaian kinerja pembangunan daerah
berdasarkan indikator-indikator makro pembangunan daerah dan penyelenggaraan urusan
wajib/pilihan pemerintahan daerah. Hal ini dilakukan untuk:
1) Mengetahui sejauh mana kemajuan yang telah dicapai terhadap target kinerja yang
    diharapkan menurut RPJMD, target pembangunan nasional (RPJM Nasional) maupun
    sektoral (Renstra K/L)
2) Mengetahui kendala dan tingkat pemanfaatan potensi yang ada
3) Menentukan langkah-langkah atau kebijakan yang diperlukan

   Tabel 8 memperlihatkan contoh format evaluasi status dan kedudukan pencapaian
                    kinerja pembangunan provinsi/kabupaten/kota



Di dalam bagian referensi dari pedoman ini, diberikan contoh indikator-indikator kinerja yang
dapat juga digunakan oleh pemerintah daerah sebagai acuan untuk mengevaluasi kinerja
pembangunan daerah.

 2.3. Evaluasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan RKPD Tahun Lalu

Mengemukakan hasil evaluasi pelaksanaan program dan kegiatan pembangunan daerah
tahun lalu. Evaluasi meliputi seluruh program dan kegiatan yang dikelompokkan menurut
kategori urusan wajib/pilihan pemerintahan daerah, menyangkut realisasi capaian target
kinerja keluaran kegiatan dan realisasi target capaian kinerja program tahun lalu terhadap
RPJMD.

Evaluasi mencakup:
1) Realisasi program/kegiatan yang tidak memenuhi target kinerja keluaran yang diharapkan
2) Faktor-faktor penyebab tidak tercapainya target kinerja keluaran program/kegiatan
3) Implikasi yang timbul terhadap target capaian program RPJMD
4) Kebijakan/tindakan perencanaan dan penganggaran yang perlu diambil untuk mengatasi
   faktor-faktor penyebab tersebut.

 2.4. Isu Strategis dan Masalah Mendesak

Untuk RKPD Kabupaten/Kota, bagian ini mengemukakan isu strategis dan permasalahan
tingkat daerah (hasil Musrenbang Desa/Kelurahan, Kecamatan, forum SKPD, dan
Musrenbang Kabupaten/Kota) dan keterkaitannya dengan isu strategis dan permasalahan
tingkat provinsi dan tingkat nasional.

Untuk RKPD Provinsi, bagian bagian ini mengemukakan isu strategis dan permasalahan
tingkat provinsi (hasil Musrenbang Kabupaten Kota, forum SKPD Provinsi, dan Musrenbang
Provinsi) dan keterkaitannya dengan isu strategis dan permasalahan tingkat nasional.

                                             44
Tabel 9 memperlihatkan contoh format identifikasi isu strategis dan permasalahan mendesak

 BAB III. RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH

Mengemukakan tentang kondisi ekonomi tahun lalu dan perkiraan tahun berjalan, yang
antara lain mencakup: a) Indikator Pertumbuhan Ekonomi Daerah; b) Sumber-sumber
Pendapatan dengan perincian, sumber pendapatan tahun lalu dan satu tahun sebelumnya,
tahun berjalan, tahun rencana dan satu tahun setelah tahun rencana sebagai prakiraan
maju pendapatan; dan c) Kebijakan Pemerintah Daerah yang diperlukan dalam Pembangunan
Perekonomian Daerah meliputi Pendapatan Daerah, Belanja Daerah dan Pembiayaan Daerah,
yang dituangkan dalam Kebijakan Umum Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.

  3.1. Kondisi Ekonomi Daerah Tahun ...(tahun lalu) dan Perkiraan Tahun ....
       (tahun berjalan)

Mengemukakan kondisi dan analisis data statistik Perekonomian Daerah, yang antara lain
mencakup: Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), Tingkat Inflasi, Sumbangan Sektoral,
Tingkat Investasi (termasuk PMA dan PMDN), Ekspor, dan Indikator Pembangunan Daerah
Bidang Ekonomi yang tersedia di Daerah. Hasil analisis tersebut dapat diilustrasikan dalam
grafik/bagan agar mudah dipahami.

   Tabel 10 memperlihatkan contoh format untuk mendokumentasikan perkembangan
               indicator makro ekonomi provinsi dan kabupaten/kota



 3.2. Tantangan dan Prospek Perekonomian Daerah Tahun ..... dan Tahun .....

Mengidentifikasi tantangan dan prospek perekonomian daerah, khususnya pada tahun
rencana (tahun n) dan 1 (satu) tahun setelah tahun rencana ( tahun n+1), dengan terlebih
dahulu mengadakan analisis atas Kondisi Internal (kekuatan dan kelemahan) dan juga Kondisi
Eksternal (peluang dan ancaman) terhadap pencapaian tujuan-tujuan pembangunan daerah.

Hasil analisis digunakan sebagai masukan dalam menentukan arah kebijakan ekonomi
daerah, misalnya dalam menentukan fokus pembangunan ekonomi, identifikasi sektor yang
perlu dipercepat perkembangannya, tindakan apa yang perlu diperankan pemerintah daerah
dalam mengatasi permasalahan dan mendorong pembangunan ekonomi daerah dan
kebijakan ekonomi daerah lainnya.

     Tabel 11 memperlihatkan contoh format untuk menganalisis kondisi lingkungan
                  internal dan eksternal provinsi/kabupaten/kota.



 3.3. Arah Kebijakan Ekonomi Daerah

Berisikan misalnya: arahan nasional di bidang ekonomi yang bersumber dari dokumen RKP
(Nasional), RKPD Regional (Provinsi) dan juga kebijakan di bidang ekonomi dalam dokumen

                                           45
RPJMD. Berdasar pada berbagai dokumen tersebut diturunkan ke kebijakan pengembangan
sektoral, regional dan sebagainya.

Arah Kebijakan Ekonomi Daerah ditujukan untuk mengimplementasikan program dan
mewujudkan visi dan misi kepala daerah, serta isu strategis daerah, sebagai payung untuk
perumusan prioritas program dan kegiatan pembangunan yang akan dilaksanakan pada
tahun rencana.

 3.4. Analisis dan Perkiraan Sumber-sumber Pendanaan Daerah

Pada dasarnya penyelenggaraan pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah dibiayai
dari APBD, sedang penyelenggaraan kewenangan pemerintahan yang menjadi tanggung
jawab Pemerintah dibiayai dari APBN, baik kewenangan Pusat yang didekonsentrasikan
kepada Gubernur atau ditugaskan kepada Pemerintah Daerah dan/atau Desa atau sebutan
lainnya dalam rangka Tugas Pembantuan.

Sumber pendapatan daerah meliputi Pendapatan Asli Daerah (PAD), Pendapatan Transfer,
dan Lain-lain Pendapatan Yang Sah.

Sumber pendapatan daerah yang berasal dari PAD, meliputi :
a. Pendapatan pajak daerah,
b. Pendapatan retribusi daerah,
c. Pendapatan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan ,
d. Lain-lain PAD yang sah,

Sedangkan pendapatan transfer, meliputi :
a. Dana perimbangan, yang terdiri :
   • Dana Bagi Hasil Pajak
   • Dana Bagi Hasil Bukan Pajak (Sumber daya Alam)
   • Dana Alokasi Umum
   • Dana Alokasi Khusus
b. Transfer Pemerintah Pusat lainnya, terdiri :
   • Dana Otonomi Khusus (hanya untuk Provinsi Aceh dan Provinsi Papua)
   • Dana Penyesuaian

Lain-lain Pendapatan yang sah, meliputi :
a. Pendapatan Hibah
b. Pendapatan dana darurat
c. Pendapatan lainnya

 3.4.1. Dana Desentralisasi / APBD

Dana Desentralisasi adalah dana yang berasal dari APBD Provinsi / Kabupaten / Kota sebagai
konsekuensi atas penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada Daerah
Otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan sendiri dalam sistem Negara
Kesatuan Republik Indonesia.



                                            46
Dalam analisis dan perkiraan sumber-sumber pendanaan daerah untuk RKPD provinsi,
maka perkiraan belanja tidak langsung harus tergambarkan secara jelas indikasi besaran
belanja bagi hasil pemerintah provinsi kepada pemerintah kabupaten/kota, dan besaran
bantuan keuangan pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota dan kepada pemerintah desa,
sedangkan dalam RKPD Kabupaten/Kota memuat perkiraan bagi hasil pemerintah
kabupaten/kota kepada pemerintah desa, dan besaran bantuan keuangan pemerintah
kabupaten/kota kepada pemerintah desa.

 3.4.2. Dana Dekonsentrasi / APBN

Dana Dekonsentrasi pada dasarnya adalah dana yang berasal dari adanya pelimpahan
wewenang dari Pemerintah (Kementerian / Lembaga) kepada Gubernur sebagai wakil
Pemerintah, yang dananya bersumber dari APBN, dengan demikian maka analisis dan
perkiraan sumber dana dekonsentrasi hanya dilakukan dalam rangka penyusunan RKPD
Provinsi.

Informasi mengenai dana dekonsentrasi yang lokasi kegiatannya berada pada kabupaten/
kota, perlu diakomodasi dalam dokumen RKPD Kabupaten/Kota yang bersangkutan.

 3.4.3. Dana Tugas Pembantuan / APBN

Dana Tugas Pembantuan adalah dana yang berasal dari penugasan Pemerintah
(Kementerian / Lembaga) kepada Daerah (Gubernur / Bupati / Walikota) dan/atau Desa
atau sebutan lain dengan kewajiban melaporkan dan mempertanggungjawabkan
pelaksanaannya kepada yang menugaskan, yang dananya bersumber dari APBN.

 3.4.4. Dana Otonomi Khusus / APBN

Dana Otonomi Khusus adalah dana yang berasal dari bagi hasil Minyak Bumi dan Gas
Alam di 2 (dua) provinsi di Indonesia, yaitu Provinsi NAD (Nanggroe Aceh Darussalam) dan
Provinsi Papua, sebagai konsekuensi dari penetapan Undang-Undang Nomor 11 Tahun
2006 tentang Pemerintahan Aceh bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam dan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi
Khusus bagi Propinsi Papua.

         Tabel 12 memperlihatkan contoh format yang dapat digunakan untuk:

 1) Mendokumentasikan realisasi pendapatan, belanja, dan pembiayaan daerah
    dalam 3 tahun terakhir
 2) Memproyeksikan pendapatan, belanja, dan pembiayaan daerah berdasarkan (a)
 3) Memproyeksikan pagu anggaran RKPD pada tahun n dan tahun n+1

 3.5. Arah Kebijakan Keuangan Daerah

Berdasar pada hasil analisis dan perkiraan sumber-sumber pendanaan daerah, selanjutnya
dirumuskan kebijakan di bidang keuangan daerah, yang pada dasarnya menjadi acuan/
kerangka dalam pengelolaan APBD.

                                          47
3.5.1. Arah Kebijakan Pendapatan Daerah

Berisikan uraian mengenai kebijakan yang akan ditempuh oleh Pemerintah Daerah, mini-
mal yang terkait langsung dengan pos-pos Pendapatan Daerah dalam APBD. Arah kebijakan
pendapatan daerah meliputi :
a. Kebijakan perencanaan pendapatan daerah yang akan dilakukan pada tahun anggaran
    berkenaan;
b. Target pendapatan daerah meliputi Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Perimbangan,
    dan Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah;
c. Upaya-upaya pemerintah daerah dalam mencapai target.

Arah kebijakan pendapatan daerah dapat mempertimbangkan realisasi dan proyeksi
pendapatan sebagaimana ditampilkan pada Bagian A Tabel 12.

 3.5.2. Arah Kebijakan Belanja Daerah

Berisikan uraian mengenai kebijakan yang akan dilakukan oleh Pemerintah Daerah, mini-
mal yang terkait langsung dengan pengelolaan Belanja (Belanja Langsung maupun Belanja
Tidak Langsung) dalam APBD. Informasi penting yang sangat dibutuhkan dari dokumen
RKPD bagi proses penyusunan APBD pemerintahan lainnya, yang terkait dengan kebijakan
Belanja Tidak Langsung adalah:
• Besaran Belanja Bagi Hasil pemerintah provinsi kepada pemerintah kabupaten/kota,
• Besaran Bantuan Keuangan pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota dan kepada
    pemerintah desa,
• Besaran Belanja Bagi Hasil pemerintah kabupaten/kota kepada pemerintah desa, dan
• Besaran Bantuan Keuangan pemerintah kabupaten/kota kepada pemerintah desa.

Ketentuan yang berkaitan dengan besaran belanja bagi hasil pemerintah provinsi kepada
pemerintah kabupaten/kota dan pemerintahan desa, maupun belanja bagi hasil pemerintah
kabupaten/kota terhadap pemerintahan desa mengacu pada ketentuan Peraturan Pemerintah
Nomor 55 tahun 2005 tentang Dana Perimbangan dan Peraturan Pemerintah Nomor 72
tahun 2005 tentang Desa.

Kebijakan belanja daerah memprioritaskan terlebih dahulu pos belanja yang wajib
dikeluarkan, antara lain belanja pegawai, belanja bunga dan pembayaran pokok pinjaman,
belanja subsidi, serta belanja barang dan jasa yang wajib dikeluarkan pada tahun yang
bersangkutan. Selisih antara perkiraan dana yang tersedia dengan jumlah belanja yang
wajib dikeluarkan merupakan potensi dana yang dapat dialokasikan untuk pagu indikatif
setiap SKPD.

Arah kebijakan belanja daerah mencakup :
a. Kebijakan terkait perencanaan belanja daerah meliputi total perkiraan belanja daerah;
b. Kebijakan belanja pegawai, bunga, subsidi, hibah, bantuan sosial, belanja bagi hasil,
   bantuan keuangan; dan belanja tidak terduga;
c. Kebijakan pembangunan daerah, kendala yang dihadapi, strategi dan prioritas
   pembangunan daerah yang disusun secara terintegrasi dengan kebijakan dan prioritas
   pembangunan nasional yang akan dilaksanakan di daerah.

                                          48
d. Kebijakan belanja berdasarkan :
   - Urusan pemerintahan daerah (urusan wajib dan urusan pilihan)
   - Satuan kerja perangkat daerah (SKPD).

Arah kebijakan belanja daerah dapat mempertimbangkan realisasi dan proyeksi belanja
daerah sebagaimana ditampilkan pada Bagian D Tabel 12.

 3.5.3. Arah Kebijakan Pembiayaan Daerah

Berisikan uraian mengenai kebijakan yang akan dilakukan terkait dengan kondisi keuangan
Daerah, apakah cenderung mengalami Defisit Anggaran ataukah dalam kondisi Surplus
Anggaran. Dalam hal ada kecenderungan terjadinya Defisit Anggaran, harus diantisipasi
kebijakan-kebijakan yang akan berdampak pada pos Penerimaan Pembiayaan Daerah,
sebaliknya jika ada kecenderungan akan terjadinya Surplus Anggaran, harus diantisipasi
kebijakan-kebijakan yang akan berdampak pada pos Pengeluaran Pembiayaan Daerah.

Arah kebijakan pembiayaan daerah meliputi :
a. Kebijakan penerimaan pembiayaan;
b. Kebijakan pengeluaran pembiayaan.

Berdasarkan kerangka dan arah kebijakan yang terkait dengan pengelolaan pembiayaan,
selanjutnya dirumuskan target penerimaan pembiayaan dan target pengeluaran pembiayaan
daerah, yang dituangkan dalam tabel berikut:

Arah kebijakan pembiayaan daerah dapat mempertimbangkan realisasi dan proyeksi
penerimaan dan pengeluaran pembiayaan daerah sebagaimana ditampilkan pada Bagian
E dan Bagian F Tabel 12.

 BAB IV. PRIORITAS PEMBANGUNAN DAERAH TAHUN …. (Tahun Rencana)

Mengemukakan secara eksplisit prioritas pembangunan daerah yang disusun berdasarkan
evaluasi pembangunan tahunan, kedudukan tahun rencana dan capaian kinerja yang
direncanakan dalam RPJMD, serta aspirasi masyarakat yang disepakati dalam hasil
Musrenbang Tahunan Daerah.

 4.1. Prioritas dan Sasaran Pembangunan Daerah

Mengemukakan tentang prioritas dan sasaran pembangunan untuk tahun rencana,
didasarkan atas hasil analisis atas capaian kinerja, masalah dan tantangan pembangunan,
serta isu dan masalah mendesak di daerah.

 4.2. Prioritas Program dan Kegiatan Pembangunan Daerah

Mengemukakan program-program yang memerlukan prioritas, berdasarkan pada sasaran
yang harus dicapai dalam dokumen RPJMD, pencapaian kinerja, masalah dan tantangan
pokok pembangunan, serta tema, tujuan, dan arah kebijakan pembangunan daerah.


                                          49
Pada bagian ini dirumuskan:
- Kriteria Penyusunan Prioritas
- Prioritas isu-isu pembangunan daerah untuk tahun rencana
- Prioritas pembangunan daerah
- Sasaran pembangunan daerah
- Urutan prioritas urusan wajib/pilihan pemerintahan daerah
- Urutan prioritas program pada masing-masing prioritas urusan wajib/pilihan pemerintahan
   daerah
- SKPD yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan program



     Tabel 13 memperlihatkan contoh format penyusunan matriks prioritas program



 BAB V. RENCANA KERJA DAN PENDANAAN

Mengemukakan rincian program dan kegiatan pokok RKPD tahun rencana, instansi
pelaksana/SKPD, indikator capaian masing-masing program dan kegiatan serta pagu
indikatifnya.

    Tabel 14 memperlihatkan contoh format yang dapat digunakan untuk menyusun
      rencana kerja dan pendanaan menurut bidang urusan pemerintahan daerah
                             di provinsi/kabupaten/kota.



 BAB VI. KAIDAH PELAKSANAAN

Bagian ini memuat arahan Kepala Daerah bagi SKPD dalam rangka menyusun dokumen
Renja SKPD.

Bagian ini dapat memuat antara lain:
1) Prinsip-prinsip penyusunan dan pelaksanaan Renja SKPD untuk mencapai tujuan-tujuan
   pembangunan daerah dalam RKPD
2) Keterpaduan dan sinkronisasi penyusunan program dan kegiatan di dalam dan di antara
   SKPD dengan memperhatikan peran/tanggung jawab/tugas SKPD
3) Keterpaduan dan sinkronisasi program dan kegiatan dilakukan melalui Musrenbang,
   FGD, dan forum-forum konsultasi publik
4) Peranan masyarakat dan dunia usaha dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan
   dan evaluasi kebijakan, program, dan kegiatan RKPD
5) Penegasan RKPD sebagai acuan penyusunan Kebijakan Publik dan APBD
6) Penegasan tentang kewajiban pemerintah daerah untuk mengevaluasi pelaksanaan
   program RKPD




                                           50
PENUTUP




   51
52
BAGIAN D: PENUTUP

P   edoman ini disusun dengan tujuan untuk membantu Pemerintah Daerah dalam
    memenuhi kewajibannya yang ditentukan oleh peraturan perundangan tentang sistem
perencanaan pembangunan nasional, khususnya dalam rangka penyusunan dokumen
perencanaan dan penganggaran tahunan daerah provinsi/kabupaten/kota. Pedoman ini telah
mencoba untuk memperjelas pengertian, ruang lingkup, pendekatan, proses, tahapan,
langkah-langkah, dan substansi untuk penyusunan RKPD dan Renja SKPD, termasuk
pelaksanaan musyawarah perencanaan pembangunan mulai dari tingkat desa/kelurahan
sampai dengan tingkat kabupaten/kota dan provinsi.

Pedoman ini telah dirancang dengan pendekatan seluwes mungkin sehingga daerah dapat
melakukan penyesuaian-penyesuaian sesuai dengan kondisi dan perkembangan kemampuan
dan kapasitas perencanaan di masing-masing daerah, namun tetap mengindahkan ketentuan-
ketentuan yang bersifat prinsip sebagaimana terkandung dalam Undang-undang 25/2004 dan
prinsip-prinsip tata kelola kepemerintahan yang baik (good governance).

Agar pedoman ini dapat digunakan secara efektif, Pemerintah Daerah dapat (1)
mensosialisasikan Pedoman ini di lingkungan SKPD, DPRD, dan Organisasi Masyarakat
Sipil; (2) menyusun Peraturan Kepala Daerah tentang Penyusunan RKPD/Renja SKPD; (3)
menyusun Kalender Perencanaan dan Penganggaran Tahunan Pembangunan Daerah.




                                         53
54
Tabel/Format berikut ini dirancang untuk membantu Bappeda dan SKPD untuk
mengorganisasikan penyusunan dokumen RKPD agar lebih efektif. Tabel/for-
mat dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan daerah; ketersediaan
data dan informasi; serta ketersediaan sumber daya dan dana untuk
melaksanakannya.




                                   55
56
Tabel 1: Contoh Susunan Tim Penyusun RKPD
 No               Jabatan dalam Tim                            Nama                              Lembaga
 (1)                     (2)                                    (3)                                (3)

  1    Penanggung jawab                           ....................................   Gubernur/Bupati/Walikota
  2    Pengarah                                   ....................................   Sekretaris Daerah
  3    Ketua Tim                                  ....................................   Kepala Bappeda
  4    Sekretaris                                 ....................................   ............................

  5    Kelompok Kerja (Pokja) A : Fungsi          1. ...............................
       Pelayanan Umum, Ketertiban dan             2. ...............................
       Keamanan                                   dst. .............................

  6    Pokja B : Fungsi Ekonomi                   1. ................................
                                                  2. ................................
                                                  dst. .............................

  7    Pokja C : Lingkungan Hidup, Perumahan      1. ...............................
       dan Fasilitas Umum                         2. ...............................
                                                  dst. ............................

  8    Pokja D : Fungsi Kesehatan                 1. ...............................
                                                  2. ................................
                                                  dst. ..............................

  9    Pokja E : Fungsi Pendidikan, Budaya dan    1. ................................
       Pariwisata                                 2. ................................
                                                  dst. .............................

 10    Pokja F: Fungsi Perlindungan Sosial        1. ...............................
                                                  2. ...............................
                                                  dst. .............................

Catatan: Pokja dapat merupakan gabungan beberapa fungsi




                                                 57
Tabel 2. Contoh Kalender Penyusunan RKPD dan Renja SKPD




                                      58
Tabel 3. Inventarisasi Sumber dan Jenis Data/Informasi untuk Penyusunan RKPD

 Kode    Dokumen Sumber Data/        Data yang dibutuhkan      Tahun Data    Sumber       Keterangan
              Informasi

   1    RPJMD                      Program untuk tahun                      Bappeda
                                   rencana

                                   Pencapaian kinerja
                                   program

   2    RKPD tahun lalu            Isu prioritas, prioritas
                                   pembangunan, sasaran
                                   pembangunan, dan target
                                   program prioritas

   3    Laporan hasil evaluasi     Evaluasi capaian program
        RKPD tahun lalu (LPPD,     dan kegiatan
        LKPJ)                      pembangunan tahun lalu

                                   Perkembangan kinerja
                                   makro pembangunan
                                   daerah

   4    APBD tahun lalu            Realisasi capaian program
                                   dan kegiatan, pendapatan,
                                   belanja, dan pembiayaan
                                   pembangunan daerah

   5    RKA SKPD tahun berjalan    Kompilasi kegiatan dan
                                   belanja langsung untuk
                                   tahun n dan n+1

   6    APBD tahun berjalan
        yang telah disahkan

   7    Kabupaten/Kota dalam       Data makro ekonomi          BPS/Kantor
        Angka                                                  Statistik

   8    Laporan SKPD               Data realiasi program,      SKPD
                                   kegiatan, dan anggaran

                                   Perkembangan kinerja
                                   penyelenggaraan urusan
                                   wajib/pilihan SKPD

   9

  10    dst

* bagi daerah yang belum memiliki RPJMD dapat menggunakan Rencana Strategis Daerah yang
  masih berlaku




                                                59
Tabel 4. Evaluasi Kinerja Program dan Kegiatan RKPD Tahun Lalu dan Review Pencapaian RPJMD

      No       Bidang Urusan Pemerintahan         Indikator/   Sasaran/ target   Target kinerja   Realisasi      Tingkat      Realisasi target     Tingkat Realisasi     Organisasi
                         Daerah                   tolok ukur   kinerja capaian     keluaran       Kegiatan     Realisasi     capaian program         target capaian      Pelaksana
                                                    kinerja        program         kegiatan                     terhadap     (RPJMD) sampai       program (RPJMD)
                                                                  (RPJMD)           (RKPD)                        target       dengan tahun      sampai dengan tahun
                                                                                                              kegiatan (%)     lalu (tahun...)     lalu (tahun...) (%)

      1                          2                    3              4                 5             6           7=6/5              8                   9=8/4               10

      1    PENDIDIKAN
           Program...............
           Kegiatan .............
           Kegiatan ..................
           dst...........
           Program...............
           Kegiatan .........
           dst..........

      2    KESEHATAN




60
           Program.............
           Kegiatan .............
           Kegiatan ..................
           dst...........
           Program ............
           Kegiatan.........
           dst..........

      3    PEKERJAAN UMUM
           Program: Rehabilitasi/Pemeliharaan
           jalan/jembatan
           Kegiatan: Pemeliharaan jalan hotmix   Km (panjang      500 km            100 km         85 km         85%             200 km                  40%               Dinas
           kabupaten/kota                          jalan)                                                                                                                Pekerjaan
                                                                                                                                                                          Umum
           Kegiatan ..................
           dst...........
Tabel 5. Format Daftar Rancangan Program dan Kegiatan RKPD/Renja SKPD

                                                 Review Usulan Kegiatan (n+1)           Penyusunan Target Kinerja Keluaran Kegiatan dan Perkiraan Pagu Indikatif Program
                                                  pada RKPD tahun berjalan                                    dan Kegiatan pada tahun n dan n+1


             Program              Target      Target      Anggaran        Kategori      Target      Target      Biaya         Biaya          Pagu        Pagu      Organi-
      Code              Tolok
               dan                Kinerja     Kinerja      Kegiatan      Prioritas**    Kinerja     Kinerja   Satuan Per    Satuan Per     Indikatif   Indikatif    sasi
                        Ukur
             Kegiatan* Kinerja   Program     Keluaran      pada n+1                    Keluaran    Keluaran    Keluaran      Keluaran        Pada        Pada
                                 RPJMD       Kegiatan    RKPD tahun                      pada        pada      Kegiatan      Kegiatan      Tahun n      Tahun
                                             pada n+1    berjalan (Rp)                 Tahun n    Tahun n+1   pada Tahun       pada          (Rp)      n+1 (Rp)
                                            RKPD tahun                                                           n (Rp      Tahun n+1
                                             berjalan                                                                          (Rp)




         1      2         3        4            5             6             7            8          9             10          11          12            13         14




61
              Jumlah

     Sumber: Tabel Target Pencapaian Kinerja yang Terukur dari Setiap Urusan Pemerintahan Daerah-Lampiran A-X Permendagri 13/2006
     Catatan: * Dilengkapi dengan kode (B) sebagai kegiatan baru, (R) sebagai kegiatan replikasi, (L) sebagai kegiatan lanjutan
              ** Kategori prioritas: tinggi, sedang, rendah ditinjau dari tingkat relevansi terhadap pencapaian visi, misi RPJMD
              *** n adalah tahun rencana, n + 1 adalah satu tahun setelah tahun rencana
Tabel 6. Contoh Prototype Daftar Isi Renja SKPD



   BAB I.      PENDAHULUAN

   BAB II.     PERKEMBANGAN DAN PERMASALAHAN
               2.1. Kondisi Umum Pelayanan SKPD
               2.2. Kajian Renstra dan Prioritas Program Renstra SKPD
               2.3. Evaluasi Pencapaian Program tahun Lalu dan Perkiraan
                    Tahun Berjalan
               2.4. Identifikasi Masalah (masalah dan tantangan utama
                    pelayanan SKPD pada tahun rencana)
               2.5. Identifikasi Program dan Kegiatan Pusat dan Provinsi
                    Tahun Rencana
               2.6. Hasil-hasil Forum SKPD

   BAB III.    TUJUAN DAN SASARAN PEMBANGUNAN SKPD
               3.1. Tujuan dan sasaran program jangka menengah (out
                    come 5 tahun)
               3.2. Sasaran dan indikator kinerja kelompok sasaran SKPD
                    Tahun Rencana

   BAB IV.     PROGRAM DAN KEGIATAN TAHUN RENCANA
               4.1 Prioritas Program dan Kegiatan SKPD
               4.2 Program dan Kegiatan SKPD, Target Kinerja Capaian
                   Program, Target Kinerja Keluaran Kegiatan, Target
                   Kinerja Hasil, dan Anggaran

   BAB V.     PENUTUP




                                      62
Tabel 7 : Pengisian RKA-SKPD 2.2.1 dan Penyusunan Prakiraan maju Berdasarkan
         Biaya Satuan Per Keluaran Kegiatan
                                                Langkah                          Uraian

                                                    1     Isi kode urusan pemerintahan, kode organisasi, kode
                                                          program dan kode kegiatan berdasarkan klasifikasi
                                                          kode dan kegiatan yang telah ditentukan dalam
                                                          Lampiran A.VII PERMENDAGRI 13/2006.

                                                    2     Isi tolok ukur dan target kinerja capaian program,
                                                          keluaran, hasil dan masukan.
                                                          Tolok ukur kinerja program adalah alat ukur spesifik
                                                          secara kuantitatif dan/atau kualitatif untuk
                                                          menggambarkan tingkat capaian kinerja suatu
                                                          program.
                                                          Tolok ukur kinerja keluaran adalah alat ukur spesifik
                                                          secara kuantitatif dan/atau kualitatif untuk
                                                          menggambarkan tingkat capaian kinerja keluaran
                                              Jumlah      kegiatan.
                                              Keluaran    Tolok ukur kinerja hasil adalah alat ukur spesifik
                                              Kegiatan    secara kuantitatif dan/atau kualitatif untuk
                                                          menggambarkan tingkat capaian kinerja hasil
                                                          kegiatan.
                                                          Tolok ukur kinerja masukan adalah jumlah dana yang
                                                          dibutuhkan untuk mencapai target kinerja keluaran
                                                          kegiatan. Target kinerja capaian program adalah total
                                                          target keluaran yang akan dihasilkan selama program
                                              Jumlah      tsb dilaksanakan.
                                              Belanja     Target kinerja keluaran adalah keluaran yang
                                              Langsung    diharapkan dari suatu kegiatan.
                                              Kegiatan    Target kinerja hasil adalah hasil (short term outcome)
                                                          yang diharapkan dicapai setelah keluaran kegiatan
                                                          diperoleh.Target kinerja masukan adalah jumlah dana
                                                          yang dibutuhkan untuk mencapai target keluaran
                                                          kegiatan.

                                                    3     Isi tolok ukur kinerja penerima manfaat kegiatan.
                                                          Tolok ukur kinerja penerima manfaat kegiatan adalah
                                                          penjelasan tentang karakteristik kelompok sasaran
                                                          penerima manfaat kegiatan.

                                                    4     Ini berkaitan dengan informasi tentang:
                                                          (1) Komposisi dan jumlah sumber daya (personil,
                                                              tenaga, peralatan, material) yang digunakan untuk
                                                              melaksanakan kegiatan dan menghasilkan
                                                              keluaran kegiatan
                                                          (2) Waktu kerja (jam orang, jam peralatan) yang
                                                              digunakan
                                                          (3) Biaya satuan masing-masing - sumberdaya
                                                          (4) Total belanja kegiatan
                                                          Untuk pelayanan wajib yang dilakukan berulang
                                                          (kegiatan rutin pelayanan) diharapkan dapat
                                                          dikembangkan :
                                                          (1) Standar pelaksanaan kegiatan yang memuat
                                                              informasi tentang standar komposisi sumber daya
                                                              untuk menghasilkan keluaran kegiatan tertentu dan
                                                          (2) Standar belanja kegiatan (perlu direview setiap
                                                              tahun sesuai dengan perkembangan biaya
                                                              satuan sumber daya)

                                                    5     Untuk dapat menyusun pagu indikatif kegiatan dan
                                                          perkiraan maju diperlukan informasi tentang biaya per
                                                          satuan keluaran kegiatan.

                                                          Biaya per satuan keluaran kegiatan diperoleh dengan
                                                          cara membagi total jumlah belanja langsung
                                                          kegiatan terhadap jumlah keluaran kegiatan.

                                                    6     Apabila kegiatan berkesinambungan, maka untuk
                                                          dasar penyusunan kebutuhan anggaran tahun n+1,
                                                          dapat digunakan informasi yang disediakan pada
                                                          langkah (5) diatas, dengan cara mengalikan target
                                                          kinerja keluaran kegiatan pada n+ 1 dengan biaya per
                                                          satuan keluaran kegiatan (setelah mempertim-
                                                          bangkan eskalasi biaya dan inflasi)




                                         63
Tabel 8. Evaluasi Status dan Kedudukan Pencapaian Kinerja Pembangunan
         Prov./Kab./Kota ................Tahun ..... dan Tahun......

    No       Urusan Wajib/Pilihan                     Indikator*                Kondisi   Kondisi
             Pemerintahan Daerah                                                Tahun….   Tahun….   Perubahan


    1     Indikator Makro Ekonomi     •     Pertumbuhan PDRB

          Daerah                      •     Laju inflasi Prov/Kab/Kota

                                      •     PDRB per kapita
                                      •     Indeks Gini
                                      •     Pemerataan pendapatan

                                      •     Indeks ketimpangan regional
                                      •     Persentase penduduk di bawah
                                            garis kemiskinan

                                      •     dll

    2     Urusan Pendidikan           •     Angka melek huruf
                                      •     Angka rata-rata lama sekolah

                                      •     Angka partisipasi murni
                                      dll

    3     Urusan Kesehatan            •     Angka kelangsungan hidup bayi

                                      •     Angka usia harapan hidup
                                      •     Persentase balita gizi buruk
                                      dll

    4     Urusan Pemberdayaan         •     Persentase jumlah tenaga kerja di

          Perempuan dan Anak                bawah umur
                                      •     Persentase jumlah perempuan di

                                            lembaga pemerintah
                                      dll

    5     Urusan Ketenagakerjaan      •     Angka partisipasi angkatan kerja

                                      •     Tingkat pengangguran terbuka
                                      dll

    6     Urusan ........

Catatan :
•    Jenis indikator disesuaikan dengan ketersediaan data di daerah, namun yang dapat mencerminkan
     indikator kinerja pembangunan di daerah
•    Jenis indikator yang digunakan dapat mengacu pada bagian referensi pedoman ini.




                                                          64
Tabel 9. Identifikasi Isu dan Masalah Mendesak di Tingkat Nasional, Provinsi ..........dan
Kab./Kota............. Tahun ..............

                                       Urutan Isu dan Masalah Mendesak
   No
                Tingkat Nasional*             Tingkat Provinsi**             Tingkat Kab/Kota***

   (1)                 (2)                            (3)                            (4)




Keterangan:
* Dapat mengacu pada rancangan RKP yang, antara lain juga dapat diakses melalui situs resmi Bappenas:
    www.bappenas.go.id
** Dapat mengacu pada rancangan RKPD Provinsi
*** Dapat mengacu pada RPJMD atau hasil-hasil pelaksanaan Musrenbang




                                                 65
Tabel 10. Perkembangan Indikator Makro Ekonomi Prov./Kab./Kota ...... Tahun ....
          dan Tahun.... serta Perubahannya


  No      Indikator Makro             Tahun ....        Tahun .....       Tahun ......   Perubahan

  (1)          (2)                      (3)               (4)               (5)             (6)




Keterangan:

 Kolom (1)     Diisi sesuai dengan nomor urut Indikator Makro Ekonomi yang tersedia.

 Kolom (2)     Diisi dengan nama Indikator Makro Ekonomi Daerah yang diambilkan dari data
               yang tersedia di Daerah, yang antara lain mencakup:
               a. PDRB (Harga Berlaku dan Harga Konstan)
               b. Tingkat Pertumbuhan Ekonomi / PDRB Harga Konstan tahun tertentu
               c. Tingkat Inflasi
               d. Struktur PDRB Pendekatan Produksi atau Sektoral
               e. Produktivitas Sektoral, yang merupakan rasio antara Nilai Tambah Bruto (NTB)
                  setiap sektor terhadap Jumlah tenaga kerja di sektor yang bersangkutan
               f. Struktur PDRB Pendekatan Pengeluaran (Konsumsi Rumah Tangga,
                  Konsumsi Pemerintah, Investasi, dan Kegiatan Perdagangan Luar Negeri)
               g. Besaran ICOR (Incremental Capital Output Ratio)
               h. Jumlah Penduduk Miskin
               i. Tingkat Pengangguran
               j. Disparitas Pendapatan Regional yang dilihat dari perbedaan:
                  - Pendapatan Perkapita
                  - Kemampuan Investasi
                  - Besaran Indeks Gini (Gini Ratio Index)
                  - Besaran IPM (Indeks Pembangunan Manusia)
                  - Dan sebagainya
               k. Berbagai macam besaran rasio dan perbandingan-perbandingan
                  - Pajak Daerah terhadap PDRB
                  - Biaya pendidikan, kesehatan, penelitian dan sebagainya terhadap PDRB
                  - Perbandingan Penerimaan Pemerintah Daerah (PAD dan
                  - Dana Perimbagan terhadap PDRB
                  - Struktur Pembiayaan Pembangunan Daerah
                  - Dan sebagainya.

  Kolom (3)    Diisi dengan data tahun sebelumnya sesuai dengan Indikator Makro Ekonomi
               yang tersedia,

  Kolom (4)    Diisi dengan data tahun sebelumnya sesuai dengan Indikator Makro Ekonomi
               yang tersedia,

  Kolom (5)    Diisi dengan data tahun sebelumnya sesuai dengan Indikator Makro Ekonomi
               yang tersedia,

  Kolom (6)    Diisi dengan rata-rata perubahan dari kolom 3, 4, dan 5.




                                                   66
Tabel 11 . Analisis Kondisi Lingkungan Internal dan Eksternal Prov./Kab./Kota ......

                       Kondisi Internal Daerah                             Kondisi Eksternal Daerah

  No             Kekuatan               Kelemahan                     Peluang                 Ancaman

  (1)                (2)                     (3)                          (4)                      (5)

          Faktor..............       Faktor..............        Faktor..............      Faktor..............




                                            ANALISIS S W O T

   Analisis SWOT pada dasarnya ditujukan untuk mengembangkan ‘road map’ untuk memandu
   pemerintah daerah menuju masa depan. SWOT itu sendiri merupakan analisis atas keadaan internal
   pemerintahan daerah (kekuatan dan kelemahan) dan eksternal (peluang dan ancaman)

   Analisis SWOT mencakup:
   1) identifikasi atas berbagai kekuatan (potensi) signifikan daerah (ekonomi, sosial dsb) yang dapat
      mendorong pencapaian tujuan-tujuan. Kekuatan lazimnya adalah yang sudah dilakukan dengan
      baik oleh daerah yang perlu dipelihara, ditingkatkan untuk menghasilkan ‘competitive advantage’
   2) identifikasi atas berbagai kelemahan signifikan utama daerah- dampak perkembangan eksternal
      yang dapat menghambat pencapaian tujuan-tujuan. Kelemahan adalah sesuatu yang tidak dapat
      dilakukan dengan baik dan memerlukan upaya untuk mengatasinya, untuk meminimalkan dampak
      negatifnya sehingga tidak akan mengurangi ‘competitive disadvantage’
   3) identifikasi berbagai peluang-peluang signifikan utama daerah-dampak perkembangan eksternal
      yang dapat mendorong pencapaian tujuan-tujuan. Peluang adalah potensi situasi yang
      menguntungkan yang perlu dioptimasikan dan diprioritaskan untuk mendapatkan manfaat yang
      sebesar-besarnya
   4) identifikasi berbagai ancaman signifikan terhadap pengembangan daerah, dampak
      perkembangan eksternal yang dapat menghambat pencapaian tujuan-tujuan. Ancaman adalah
      potensi situasi yang kurang menguntungkan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan
      kesejahteraan. Ancaman perlu diatasi agar dapat menjamin kelangsungan perkembangan daerah

   Beberapa tips dalam melakukan SWOT:
   (1) ada dokumentasi informasi keadaan internal dan external
   (2) gunakan kerangka berfikir, checklist
   (3) ada masukan dari para pemangku kepentingan
   (4) pastikan bahwa SWOT mencerminkan keadaan/situasi sekarang
   (5) individu terlibat dalam analisis SWOT mengetahui posisi dan peranan masing-masing

   Langkah-langkah:
   (1) Review lingkungan internal dan eksternal
   (2) Identifikasi elemen-elemen penting/utama, baik internal maupun eksternal
   (3) Identifikasi kekuatan dan kelemahan internal- buat matrix dan isi kolom sejauh mungkin dengan
        fakta dan angka-angka
   (4) Identifikasi peluang dan ancaman eksternal
   (5) Libatkan semaksimal mungkin para pemangku kepentingan untuk mendapatkan masukan ’issues’
   (6) Analisis masing-masing isu dan kategorikan kedalam isu penting dan isu ’mendesak’
   (7) Fasilitasi terdapatnya konsensus atas 3-5 isu penting dan susun urutan prioritasnya
   (8) Issues sedemikian rupa sehingga tidak terlalu ‘sempit’ atau terlalu ‘luas’
   (9) Tangani isu-isu yang diperkirakan dapat diselesaikan
   (10) Ubah isu menjadi tujuan
   (11) Identifikasi kemungkinan strategi untuk pencapaian tujuan




                                                            67
Tabel 12 . Realisasi dan Proyeksi Pendapatan, Belanja, Pembiayaan Daerah, dan
          Pagu Anggaran RKPD
                                                        Jumlah                              Bertambah/
                                                                                            (Berkurang)
  No              Uraian
                                     Reali-   Reali-    Tahun    Proyeksi Proyek-      Rp             %
                                       sasi     sasi     Berja- pada Tahun si pada                  (9) =
                                     Tahun    Tahun    lan (n-1) Renca-na Tahun
                                      (n-3)    (n-2)                (n)     (n+1)

                                      (3)      (4)       (5)       (6)       (7)     (8)= 6-5    100*(8)/(5)
    1    PENDAPATAN DAERAH

   1.1   Pendapatan asli daerah
 1.1.1   Pajak daerah
 1.1.2   Retribusi daerah
 1.1.3   Hasil pengelolaan
         kekayaan daerah yang
         dipisahkan
 1.1.4   Lain-lain pendapatan asli
         daerah yang sah

   1.2   Dana perimbangan
 1.2.1   Dana bagi hasil pajak/
 1.2.2   Bagi hasil bukan pajak
 1.2.3   Dana alokasi umum
         Dana alokasi khusus

  1.3    Lain-lain pendapatan
         daerah yang sah
 1.3.1   Hibah
 1.3.2   Dana darurat
 1.3.3   Bagi hasil pajak dari
         provinsi dan dari
         pemerintah daerah
         lainnya
 1.3.4   Dana Penyesuaian dan
         Otonomi Khusus
 1.3.5   Bantuan Keuangan dari
         provinsi pemerintah
         daerah lainnya

    A    JUMLAH PENDAPATAN

    2    BELANJA DAERAH

   2.1   Belanja Tidak Langsung
 2.1.1   Belanja pegawai
 2.1.2   Belanja bunga
 2.1.3   Belanja subsidi
 2.1.4   Belanja hibah
 2.1.5   Belanja bantuan sosial
 2.1.6   Belanja bagi hasil
         kepada Provinsi/
         Kabupaten/Kota dan
         Pemerintah Desa
 2.1.7   Belanja Bantuan
         Keuangan kepada
         Provinsi/Kabupaten/Kota
         dan Pemerintahan Desa
 2.1.8   Belanja tidak terduga

    B    JUMLAH BELANJA
         TIDAK LANGSUNG

   2.2   Belanja Langsung
 2.2.1   Belanja pegawai
 2.2.2   Belanja barang dan jasa
 2.2.3   Belanja modal



                                                       68
Lanjutan Tabel 12..............

                                                   Jumlah                            Bertambah/
                                                                                     (Berkurang)
  No             Uraian
                                 Reali-   Reali- Tahun    Proyeksi  Proyek-     Rp            %
                                   sasi     sasi  Berja- pada Tahun si pada                  (9) =
                                 Tahun    Tahun lan (n-1) Renca-na   Tahun
                                  (n-3)    (n-2)             (n)     (n+1)

                                  (3)      (4)     (5)      (6)       (7)     (8)= 6-5    100*(8)/(5)

   C    JUMLAH BELANJA
        LANGSUNG

   D    TOTAL JUMLAH
        BELANJA

        Surplus/(Defisit)

   3    PEMBIAYAAN DAERAH

  3.1   Penerimaan
        pembiayaan
3.1.1   Sisa lebih perhitungan
        anggaran tahun
        sebelumnya (SILPA)
3.1.2   Pencairan Dana
        Cadangan
3.1.3   Hasil penjualan
        kekayaan daerah yang
        dipisahkan
3.1.4   Penerimaan pinjaman
        daerah
3.1.5   Penerimaan kembali
        pemberian pinjaman
3.1.6   Penerimaan piutang
        daerah

   E    JUMLAH
        PENERIMAAN
        PEMBIAYAAN

  3.2   Pengeluaran
        pembiayaan
3.2.1   Pembentukan dana
        cadangan
3.2.2   Penyertaan modal
        (Investasi) daerah
3.2.3   Pembayaran pokok
        utang
3.2.4   Pemberian pinjaman
        daerah

   F    JUMLAH
        PENGELUARAN
        PEMBIAYAAN

        Pembiayaan neto

   G    SISA LEBIH
        PEMBIAYAAN
        ANGGARAN TAHUN
        BERKENAAN (SILPA)



   H    PAGU ANGGARAN
        RKPD = [G + A + E] –
        (B+F)

Referensi: Permendagri 13/2006

                                                  69
Tabel 13 . Contoh Matriks Prioritas Pembangunan

 No      Isu Prioritas       Prioritas        Sasaran           Urutan Prioritas Urusan   Urutan Prioritas
           Daerah          Pembangunan      Pembangunan              Wajib/Pilihan           Program
                                                                Pemerintahan Daerah

     1                     1.                                   1.                        1.

                                                                                          2.

                                                                2.                        1.

                                                                                          2.

                           2.                                   1.                        1.

                                                                                          2.

                                                                2.                        1.

 dst                                                                                      2.




Tabel 14 . Rencana Kerja dan Pendanaan Menurut Bidang Urusan Pemerintahan Daerah
           di Provinsi / Kab./Kota ............... Tahun ....... (tahun rencana)

 Kode       Bidang Urusan          Sasaran Program/       Target     Biaya Satuan   Pagu       Organisasi
          Pemerintah Daerah            Kegiatan            (%)       Per Keluaran Indikatif
                                                                       Kegiatan   (Juta Rp)

     1              2                      3                4             5          6=3x5          7

1.        Urusan Wajib

1. 01     Pendidikan

          Program Dikdas 9        200 unit ruang kelas
          Tahun                   selama x tahun

          Kegiatan                50 unit ruang kelas     50/200      Rp 25 juta     1,250       Dinas
          Penambahan Ruang                               atau 25%                              Pendidikan
          Kelas

          Dst………………




2.        Urusan Pilihan

                         Jumlah




                                                    70
Referensi berikut ini berisikan indikator/tolok ukur kinerja yang dapat digunakan
untuk memperlihatkan dan menganalisis status, kedudukan dan kemajuan
kinerja pembangunan daerah dan penyelenggaraan fungsi/urusan wajib dan
pilihan pemerintahan daerah baik di tingkat provinsi/kabupaten/kota maupun
di tingkat SKPD.




                                       71
72
Referensi R-1
Sasaran dan Indikator Kinerja Pencapaian
Pembangunan 2004-2009

   Sasaran RPJM Nasional 2004-2009                 Indikator Kinerja yang Berhubungan
                                                              dengan Daerah

                                    AGENDA AMAN DAN DAMAI

  1. Menurunnya konflik                       1. Jumlah konflik etnis dan sosial
  2. Menurunnya kriminalitas                  2. HDI dan HPI wilayah konflik
  3. Menurunnya kejahatan di lautan dan       3. Indeks kriminalitas dan rasio penyelesaian kasus
     lintas batas                                kriminalitas
  4. Tertanganinya separatisme                4. Jumlah pecandu narkoba
  5. Tertanganinya terorisme                  5. Angka illegal logging dan illegal trading
  6. Berperannya Indonesia dalam              6. Sosialisasi dan upaya perlindungan masyarakat
     menciptakan perdamaian dunia                terhadap aksi terorisme
  7. Terjaganya kedaulatan NKRI

                                  AGENDA ADIL DAN DEMOKRATIS

  1. Meningkatnya keadilan hukum dan          1. Peraturan daerah yang spesifik mengenai
     penegakan hukum                             mekanisme dan koordinasi dana dekonsentrasi
  2. Terciptanya sistem hukum yang            2. Perbaikan proses penyelenggaraan Musrenbang
     konsekuen dan tidak diskriminatif        3. Tingkat Partisipasi Politik Masyarakat dalam
     serta yang memberikan perlindungan          Pilkada
     dan penghormatan terhadap hak            4. Angka Gender-related Development Index (GDI);
     asasi manusia                               dan
  3. Meningkatnya pelayanan masyarakat        5. Angka Gender Empowerment Measurement
  4. Meningkatnya penyelenggaraan                (GEM)
     otonomi daerah
  5. Terpeliharanya konsolidasi demokrasi    Kesejahteraan anak
                                              6. Angka Partisipasi Sekolah (APS)
                                              7. Status gizi balita buruk
                                              8. Persalinan bayi oleh tenaga kesehatan

                                             Perlindungan anak
                                              9. Pekerja anak (%)
                                             10. Jumlah anak yang memiliki akte Kelahiran

                      AGENDA MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN RAKYAT

  1. Menurunnya jumlah penduduk miskin       Ekonomi
     menjadi 8,2% pada tahun 2009             1. Pertumbuhan PDRB
  2. Terciptanya lapangan kerja untuk         2. Struktur PBRB dan PDRB per kapita
     mengurangi pengangguran terbuka          3. Kesempatan Kerja dan Tingkat Pengangguran
     menjadi 5,1 persen pada tahun 2009          Terbuka
  3. Angka pertumbuhan rata-rata 6,6          4. Jumlah penduduk miskin
     persen pertahun                          5. Investasi dan aktivitas ekspor impor
  4. Berkurangnya kesenjangan                 6. Peningkatan peran UKM
     pendapatan dan kesenjangan daerah
  5. Meningkatnya kualitas manusia           Pendidikan
     dengan terpenuhinya hak sosial           7. Angka Buta Aksara penduduk usia 15 tahun ke
     rakyat                                      atas
  6. Membaiknya mutu lingkungan hidup         8. Angka Partisipasi Kasar (APK) untuk setiap
  7. Meningkatnya dukungan infrastruktur.        jenjang pendidikan




                                             73
Lanjutan Referensi R-1 .......................................

     Sasaran RPJM Nasional 2004-2009                             Indikator Kinerja yangBerhubungan
                                                                            dengan Daerah


                                                         9. Angka Partisipasi Sekolah (APS) untuk setiap
                                                            kelompok usia sekolah
                                                        10. Angka Melanjutkan Sekolah
                                                        11. Angka Putus Sekolah
                                                        12. Angka Mengulang Kelas
                                                        13. Rata-rata Lama Penyelesaian Pendidikan

                                                        Kesehatan
                                                        14. Umur Harapan Hidup (UHH)
                                                        15. Angka Kematian Bayi (AKB)
                                                        16. Angka Kematian Ibu (AKI)
                                                        17. Prevalensi Gizi Kurang

                                                        Kependudukan dan KB
                                                        18. Laju pertumbuhan penduduk (%)
                                                        19. Unmet need KB (%)
                                                        20. Total Fertility Rate/TFR (per perempuan)
                                                        21. Partisipasi laki-laki dalam ber-KB (%)
                                                        22. Contraceptive Prevalence Rate/CPR (%)

                                                        Lingkungan Hidup
                                                        23. Kualitas air permukaan dan air tanah
                                                        24. Tingkat Pencemaran Pesisir dan Laut
                                                        25. Angka Illegal Logging
                                                        26. Luas lahan kritis

                                                        Prasarana dan Sarana
                                                        27. Peningkatan kapasitas dan kualitas pelayanan
                                                            berbagai prasarana dan sarana



Sumber: Handbook SPPN RI, Bappenas 2006




                                                        74
Referensi R-2
Indikator Kemajuan Otonomi Daerah

 No        Parameter               Indikator                        Sub Indikator

  1     Skala Kehidupan           Pertumbuhan         Pertumbuhan pendapatan
        Ekonomi                                       Pertumbuhan investasi
                                                      Pertumbuhan kesempatan kerja

                                  Pemerataan          Distribuís pendapatan
                                                      Pemerataan akses modal

                                 Kesinambungan        Daya dukung lingkungan
                                                      Daya dukung manusia berkeahlian

                                 Pemberdayaan         Pemberdayaan ekonomi lemah
                                                      Pemberdayaan ekonomi lokal

  2     Layanan Publik              Efisiensi         Keterpaduan birokrasi
                                                      Sanitari birokrasi

                                   Sufisiensi         Ketersediaan kebutuhan dana sosial
                                                      Ketersediaan infrastruktur

                                    Fasilitasi        Fasilitasi partisipasi sosial
                                                      Kesetaraan gender
                                                      Fasilitasi resolusi konflik

  3     Resiko-resiko              Keamanan           Keamanan hak sipil
        lokal                                         Keamanan hak politik
                                                      Keamanan hak ekonomi

                                    Stabilitas        Kesinambungan politik
                                                      Kesehatan makro ekonomi
                                                      Integrasi sosial

                                   Demokrasi          Supremasi hukum
                                                      Kontrol dan pertimbangan
                                                      Pertanggungjawaban politik
                                                      Kebebasan pers

                                    Otonomi           Kemandirian daerah
                                                      Lokalisme lokal

Sumber: Handbook SPPN RI, Bappenas 2006




                                                 75
Referensi R-3
Pengukuran Kinerja Penyelenggaraan Otonomi Daerah

 No
            Parameter Umum                                    Indikator

  1   Derajat         Ekonomi         Pertumbuhan ekonomi daerahTingkat pendapatan rata-rata per
      kesejahteraan                   kapita per tahun (PDRB atau Net Income)
      umum

                      Sosial          -   Penurunan angka pengangguran terbuka
                                      -   Kenaikan angka partisipasi kerja
                                      -   Penurunan Indeks Kemiskinan Manusia (IKM)
                                      -   Kenaikan Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

  2   Derajat         Infrastruktur   Jaringan Jalan:
      Pelayanan                       - Rasio panjang jalan dengan luas wilayah
      Publik                          - Rasio panjang jalan dengan kondisi tidak rusak per panjang
                                         jalan keseluruhan
                                      - Rasio panjang jalan dengan jumlah kendaraan umum roda
                                         empat
                                      Sanitasi
                                      - Penurunan presentasi penduduk tanpa akses terhadap
                                         sanitasi

                      Kebutuhan       Kesehatan:
                      dasar           - Penurunan angka kematian bayi
                                      - Penurunan angka kematian ibu
                                      - Rasio jumlah penduduk dengan jumlah rumah sakit dan
                                         fasilitas kesehatan lainnya
                                      Pendidikan:
                                      - Rasio jumlah murid per jumlah sekolah
                                      - Rasio jumlah murid per jumlah guru
                                      - Rasio jumlah guru per jumlah sekolah
                                      Angka partisipasi sekolah
                                      - Penurunan angka putus sekolah
                                      - Nilai rata-rata Ebta Murni/UAN
                                      Air bersih:
                                      - Akses terhadap air bersih
                                      Transportasi umum:
                                      - Rasio jumlah kendaraan umum roda 4 per 10.000 penduduk

                      Pemerintahan    Kepegawaian :
                                      Rasio jumlah penduduk dengan jumlah PNS PemdaKeuangan :
                                      - Rasio PAD dengan jumlah penduduk

  3   Derajat         Politik         Pemilu:
      kehidupan                       - Rasio jumlah pemilih yang melakukan pemilihan dengan
      demokrasi                         jumlah penduduk yang mempunyai hak pilih
      lokal                           Komposisi partai politik dalam Pemilu
                                      - Rasio jumlah partai politik pemenang Pemilu Lokal yang
                                        memperoleh kursi di Legislatif dengan jumlah seluruh Partai
                                        Politik peserta Pemilu Lokal
                                      Angka Kejadian Politik Praktis
                                      - Kejadian politik praktis
                                      - Massa/demo dalam satu tahun


Sumber: Handbook SPPN RI, Bappenas 2006




                                                76
Referensi R-4
Indikator Kinerja Kunci yang digunakan untuk Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan
Otonomi Daerah



A. ASPEK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

      Parameter Umum                                         Indikator

 1. Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi
 Pertumbuhan ekonomi            a. Pertumbuhan PDRB

 Laju Inflasi                   b. Laju inflasi provinsi

 Pendapatan per kapita          c. PDRB per kapita

 Ketimpangan kemakmuran         d. Indeks Gini

 Pemerataan pendapatan          e. Pemerataan pendapatan versi Bank Dunia

 Ketimpangan regional           f. Indeks ketimpangan Williamson (Indeks Ketimpangan Regional)
  2. Kesejahteraan Sosial Pendidikan
 Pendidikan                     a.   Angka melek huruf
                                b.   Angka rata-rata lama sekolah
                                c.   Angka partisipasi murni
                                d.   Angka partisipasi kasar
                                e.   Angka pendidikan yang ditamatkan

 Kesehatan                      f. Angka kelangsungan hidup bayi
                                g. Angka usia harapan hidup
                                h. Persentase balita gizi buruk

 Kemiskinan                     i. Persentase penduduk diatas garis kemiskinan

 Kepemilikan tanah              j. Persentase penduduk yang memiliki lahan

 Kesempatan kerja               k. Rasio penduduk yang bekerja

 Kriminalitas                   l. Angka kriminalitas yang tertangani
 3. Seni Budaya dan Olah Raga
 Grup kesenian                  a. Jumlah grup kesenian

 Gedung kesenian                b. Jumlah gedung kesenian

 Klub olahraga                  c. Jumlah klub olahraga

 Gedung Olah Raga               d. Jumlah gedung olah raga




                                                 77
B. ASPEK PELAYANAN UMUM

     Parameter Umum                                    Indikator

 1. Pelayanan Dasar
 Pendidikan               Pendidikan dasar:
                          a. Angka partisipasi sekolah
                          b. Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah
                          c. Rasio guru/murid
                          d. Rasio guru/murid per kelas rata-rata
                          Pendidikan menengah:
                          e. Angka partisipasi sekolah
                          f. Rasio ketersediaan sekolah terhadap penduduk usia sekolah
                          g. Rasio guru terhadap murid
                          h. Rasio guru terhadap murid per kelas rata-rata

 Kesehatan                i. Rasio posyandu per satuan balita
                          j. Rasio puskesmas, poliklinik, pustu per satuan penduduk
                          k. Rasio Rumah Sakit per satuan penduduk
                          l. Rasio dokter per satuan penduduk
                          m. Rasio tenaga medis per satuan penduduk

 Lingkungan hidup         n. Persentase penanganan sampah
                          o. Persentase penduduk berakses air minum
                          p. Persentase luas permukiman yang tertata

 Sarana dan Prasarana     q.   Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik
 Umum                     r.   Rasio jaringan irigasi
                          s.   Rasio tempat ibadah per satuan penduduk
                          t.   Persentase rumah tinggal bersanitasi
                          u.   Rasio tempat pemakaman umum per satuan pendudukv
                          .    Rasio tempat pembuangan sampah (TPS) per satuan penduduk
                          w.   Rasio rumah layak huni
                          x.   Rasio permukiman layak huni

 Penataan ruang           y. Rasio ruang terbuka hijau per satuan luas wilayah ber HPL/HGB
                          z. Rasio bangunan ber-IMB per satuan bangunan

 Perhubungan              aa.   Jumlah arus penumpang angkutan umum
                          ab.   Rasio ijin trayek
                          ac.   Jumlah uji kir angkutan umum
                          ad.   Jumlah pelabuhan laut/udara/terminal bis
 2. Pelayanan Penunjang
 Penanaman modal          a. Jumlah investor berskala nasional (PMDN/PMA)
                          b. Jumlah nilai investasi berskala nasional (PMDN/PMA)
                          c. Rasio daya serap tenaga kerja

 KUKM                     d. Persentase koperasi aktif
                          e. Jumlah UKM non BPR/LKM UKM
                          f. Jumlah BPR/LKM

 Kependudukan dan         g. Rasio penduduk berKTP per satuan penduduk
 catatan sipil            h. Rasio bayi berakte kelahiran
                          i. Rasio pasangan berakte nikah

 Ketenagakerjaan          j. Angka partisipasi angkatan kerja
                          k. Angka sengketa pengusaha-pekerja per tahun

 Pemberdayaan             l. Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah
 perempuan dan            m. Partisipasi perempuan di lembaga swasta
 perlindungan anak        n. Rasio KDRT
                          o. Persentase jumlah tenaga kerja dibawah umur



                                         78
Parameter Umum                                             Indikator


 KB dan KS                       p.    Rata-rata jumlah anak per keluarga
                                 q.    Rasio akseptor KB

 Komunikasi dan informatika      r.    Jumlah jaringan komunikasi
                                 s.    Rasio wartel/warnet terhadap penduduk
                                 t.    Jumlah surat kabar nasional/lokal
                                 u.    Jumlah penyiaran radio/TV lokal

 Pertanahan                      v.    Persentase luas lahan bersertifikat

 Pemberdayaan masyarakat         w. Rata-rata jumlah kelompok binaan lembaga pemberdayaan
 dan desa                           masyarakat (LPM)
                                 x. Rata-rata jumlah kelompok binaan PKK
                                 y. Jumlah LSM

 Perpustakaan                    z. Jumlah perpustakaan
                                 aa. Jumlah pengunjung perpustakaan per tahun

 Penyelenggaraan Keamanan        ab. Rasio jumlah Polisi Pamong Praja per 10.000 penduduk
 dan Ketertiban Masyarakat       ac. Jumlah Linmas per Jumlah 10.000 Penduduk
                                 ad. Rasio Pos Siskamling per jumlah desa/kelurahan

 Pemuda dan olahraga             ae.   Jumlah organisasi pemuda
                                 af.   Jumlah organisasi olahraga
                                 ag.   Jumlah kegiatan kepemudaan
                                 ah.   Jumlah kegiatan olahraga




C. ASPEK DAYA SAING DAERAH

      Parameter Umum                                            Indikator

 1. Kemampuan Ekonomi Daerah
 Pengeluaran konsumsi             a. Angka konsumsi RT per kapita
 rumah tangga per kapita

 Nilai tukar petani               b. Perbandingan faktor produksi dengan produk

 Pengeluaran konsumsi             c. Persentase Konsumsi RT untuk non pangan
 non pangan perkapita

 Produktivitas total daerah       d. Dihitung produktivitas daerah setiap sektor pada 9 sektor:
                                     1) Pertanian
                                     2) Pertambangan dan penggalian
                                     3) Industri pengolahan
                                     4) Listrik
                                     5) Bangunan
                                     6) Perdagangan
                                     7) Pengangkutan dan komunikasi
                                     8) Keuangan
                                     9) Jasa
 2. Fasilitas Wilayah/Infrastruktur
 Aksesibilitas daerah             a. Rasio panjang jalan per jumlah kendaraan
                                  b. Jumlah orang/ barang yang terangkut angkutan umum
                                  c. Jumlah orang/barang melalui dermaga/bandara/ terminal per
                                     tahun



                                                  79
Parameter Umum                                            Indikator


  Penataan wilayah                d.   Ketaatan terhadap RTRW
                                  e.   Luas wilayah produktif
                                  f.   Luas wilayah industri
                                  g.   Luas wilayah kebanjiran
                                  h.   Luas wilayah kekeringan
                                  i.   Luas wilayah perkotaan

  Fasilitas bank dan non          j. Jenis dan jumlah bank dan cabang-cabangnya
  bank                            k. Jenis dan jumlah perusahaan asuransi dan cabang-cabangnya

  Ketersediaan air bersih         l. Persentase Rumah Tangga (RT) yang menggunakan air bersih

  Fasilitas listrik dan telepon   m. Rasio ketersediaan daya listrik
                                  n. Persentase rumah tangga yang menggunakan listrik
                                  o. Persentase penduduk yang menggunakan HP/telepon

  Ketersediaan restoran           p. Jenis, kelas, dan jumlah restoran

  Ketersediaan penginapan         q. Jenis, kelas, dan jumlah penginapan/ hotel

   3. Iklim Berinvestasi

  Keamanan dan ketertiban         a. Angka kriminalitas
                                  b. Jumlah demo

  Kemudahan perijinan             c. Lama proses perijinan

  Pengenaan pajak daerah          d. Jumlah dan macam pajak dan retribusi daerah

  Perda                           e. Jumlah Perda yang mendukung iklim usaha

  Status desa                     f. Persentase desa berstatus swasembada terhadap total desa

   4. Sumberdaya Manusia

  Kualitas tenaga kerja           a. Rasio lulusan S1/S2/S3

  Tingkat ketergantungan          b. Rasio ketergantungan


Sumber: Lampiran PP No 6/2008 tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah




                                                 80
Referensi R-5
Contoh Tolok Ukur Kinerja Urusan Wajib dan Pilihan
Pemerintah Daerah Menurut SKPD

 Kode Urusan      Fungsi dan       Tolok Ukur Kinerja sebagai Referensi Penilaian Kinerja
 Wajib/Pilihan:   Urusan           Penyelenggaraan Urusan
 1. Urusan        Pemerintah
    Wajib         Daerah
 2. Urusan
    Pilihan
                  Pelayanan Umum

       1          Perencanaan      • Tingkat ketersediaan dan validitas informasi perencanaan
                  Pembangunan        pembangunan
                                   • Jumlah kerjasama pembangunan antar daerah
                                   • Tingkat disparitas pembangunan antar subwilayah
                                   • Tingkat kelengkapan rencana wilayah strategis
                                   • Tingkat kelengkapan rencana kawasan cepat tumbuh
                                   • Tingkat penanganan perencanaan wilayah tertinggal
                                   • Tingkat penanganan wilayah strategis
                                   • Tingkat penanganan wilayah cepat tumbuh
                                   • Tingkat penanganan perkembangan pusat-pusat kegiatan
                                     wilayah
                                   • Tingkat kesesuaian antara perencanaan pusat kegiatan
                                     dengan perkembangan actual
                                   • Tingkat penerapan perencanaan partisipatif
                                   • Tingkat partisipasi masyarakat dalam perencanaan daerah
                                   • Tingkat kapasitas kelembagaan perencanaan
                                     pembangunan daerah
                                   • Tingkat ketersediaan dokumen perencanaan daerah
                                   • Tingkat implementasi dokumen perencanaan daerah
                                   • Kualitas pelaksanaan Musrenbang*

       1          Pemerintahan     •   Tingkat kapasitas aparatur
                  Umum             •   Tingkat pelayanan penyelenggaraan administrasi daerah
                                   •   Tingkat kapasitas pengelolaan keuangan daerah
                                   •   Tingkat professionalisme dan kompetensi staff
                                   •   Jumlah kasus penyalahgunaan wewenang
                                   •   Jumlah kasus KKN
                                   •   Tingkat pelayanan pengaduan masyarakat
                                   •   Jumlah kerjasama antar pemerintah daerah
                                   •   Jumlah peraturan daerah yang disusun
                                   •   Tingkat partisipasi politik dalam Pilkada*
                                   •   Peraturan Daerah mengenai mekanisme dan koordinasi
                                       dana dekonsentrasi*

       1          Kepegawaian      • Tingkat kapasitas sumber daya aparatur
                                   • Tingkat keterampilan dan aparatur
                                   • Tingkat profesionalisme aparatur

       1          Statistik        •   Tingkat ketersediaan data/informasi dan statistic daerah
                                   •   Tingkat penggunaan teknologi informasi untuk statistik daerah
                                   •   Tingkat validitas dan kemutakhiran data dan informasi daerah
                                   •   Tingkat kemudahan akses informasi




                                              81
Lanjutan Referensi R-5...........

  Kode Urusan      Fungsi dan          Tolak Ukur Kinerja sebagai Referensi Penilaian Kinerja
  Wajib/Pilihan:   Urusan              Penyelenggaraan Urusan
  1. Urusan        Pemerintah
     Wajib         Daerah
  2. Urusan
     Pilihan

       1           Kearsipan           • Tingkat kelengkapan administrasi kearsipan
                                       • Tingkat penerapan teknologi informasi dalam administrasi
                                         kearsipan
                                       • Tingkat penerapan teknologi informasi dalam pengelolaan
                                         pelestarian dokumen/arsip daerah
                                       • Tingkat pelayanan informasi kearsipan daerah
                                       • Tingkat keterbukaan informasi kearsipan daerah bagi
                                         masyarakat

       1           Komunikasi dan      • Tingkat perkembangan media lokal dalam penyebarluasan
                   Informatika           informasi pembangunan daerah
                                       • Tingkat perkembangan media lokal dalam penyebarluasan
                                         informasi penyelenggaraan pemerintah daerah
                                       • Tingkat kapasitas SDM bidang komunikasi dan informasi
                                       • Akses masyarakat kepada informasi publik

                   Ketertiban dan Ketentraman

       1           Kesatuan Bangsa     •   Tingkat kriminalitas
                   dan Politik Dalam   •   Jumlah kasus kriminalitas yang dapat diselesaikan
                   Negeri              •   Jumlah konflik etnis dan social*
                                       •   HDI dan HPI wilayah konflik*
                                       •   Sosialisasi dan upaya perlindungan masyarakat terhadap
                                           terorisme*
                                       •   Tingkat ancaman konflik antar kelompok masyarakat
                                       •   Jumlah kasus pelanggaran PERDA
                                       •   Jumlah kasus peredaran narkoba
                                       •   Jumlah kasus penyalahgunaan narkoba
                                       •   Jumlah kasus illegal logging
                                       •   Tingkat pendidikan politik masyarakat
                                       •   Ada/tidaknya sistem penanggulangan korban bencana alam

                   Ekonomi

       1           Perhubungan         • Pertumbuhan dan kontribusi PDRB sektor perhubunganq
                                         Tingkat ketersediaan prasarana dan sarana/fasilitas
                                         perhubungan
                                       • Tingkat pelayanan prasarana dan sarana/fasilitas
                                         perhubunganq Tingkat pelayanan prasarana dan fasilitas
                                         LLAJ
                                       • Tingkat pelayanan prasarana dan sarana angkutan umum
                                       • Tingkat pelayanan prasarana dan sarana angkutan
                                         penumpang dan barang (darat, laut, udara)
                                       • Tingkat keselamatan/keamanan lalu lintas transportasi (darat,
                                         laut, udara)
                                       • Tingkat kecelakaan lalu lintas transportasi

       1           Tenaga Kerja        •   Tingkat pengangguran terbuka
                                       •   Jumlah pekerja formal perdesaan/perkotaan
                                       •   Jumlah pekerja pada lapangan kerja kurang produktif
                                       •   Tingkat kesempatan kerja
                                       •   Kapasitas Balai Latihan Kerja
                                       •   Proporsi Tenaga Kerja Indonesia Terdidik
                                       •   Jumlah kasus pelanggaran/penyimpangan regulasi
                                           ketenagakerjaan




                                                  82
Lanjutan Referensi R-5............

  Kode Urusan      Fungsi dan        Tolak Ukur Kinerja sebagai Referensi Penilaian Kinerja
  Wajib/Pilihan:   Urusan            Penyelenggaraan Urusan
  1. Urusan        Pemerintah
     Wajib         Daerah
  2. Urusan
     Pilihan

       1           Koperasi dan      •   Pertumbuhan dan kontribusi PDRB sektor KUKM
                   Usaha Kecil       •   Tingkat kepastian usaha dan perlindungan hukum
                   Menengah          •   Laju pertumbuhan UMKM
                                     •   Laju pertumbuhan nilai ekspor produk UMKM
                                     •   Tingkat keterampilan SDM Usaha Mikro
                                     •   Akses ke permodalan pasar
                                     •   Kapasitas usaha dan keterampilan pengelolaan usaha kecil

       1           Penanaman         •   Tingkat investasi dalam PDRB
                   Modal             •   Laju pertumbuhan investasi
                                     •   Ada/tidaknya sistem informasi penanaman modal
                                     •   Jangka waktu pengurusan prosedur perijinan start up
                                         dan operasi bisnis

       1           Pemberdayaan      •   Tingkat keberdayaan masyarakat perdesaan
                   Masyarakat dan    •   Tingkat perkembangan lembaga ekonomi perdesaan
                   Desa              •   Tingkat partisipasi masyarakat dalam pembangunan desa
                                     •   Tingkat kapasitas aparatur pemerintahan desa
                                     •   Tingkat kontribusi perempuan dalam pembangunan
                                         perdesaan

       2           Pertanian         •   Pertumbuhan dan kontribusi PDRB sektor pertanian
                                     •   Kualitas SDM pertanian di perdesaan
                                     •   Cakupan bantuan beras bersubsidi pada keluarga miskin
                                     •   Akses terhadap kredit usaha pertanian dan sumberdaya
                                         permodalan
                                     •   Tingkat ketahanan pangan kelompok miskin
                                     •   Tingkat produksi bahan pangan protein hewani dan hasil
                                         ternak dan ikan
                                     •   Tingkat produksi padi/beras
                                     •   Tingkat sarana hasil produksi pertanian
                                     •   Cakupan lahan beririgasi
                                     •   Kualitas pengelolaan Daerah Aliran Sungai
                                     •   Cakupan sistem penyuluhan
                                     •   Tingkat penggunaan teknologi tepat guna
                                     •   Nilai tambah hasil pertanian, peternakan, dan perikananq
                                         Tingkat infrastruktur perdesaan

       2           Kehutanan         •   Pertumbuhan dan kontribusi PDRB sektor kehutanan
                                     •   Laju pertumbuhan luas hutan produksi
                                     •   Laju pertumbuhan luas Hutan Tanaman Industri
                                     •   Laju deforestasi
                                     •   Nilai tambah hasil hutan kayu
                                     •   Nilai tambah hasil hutan non kayu
                                     •   Cakupan sistem pengelolaan hutan yang berkelanjutan
                                     •   Cakupan penetapan kawasan hutan dalam tata ruang

       2           Energi dan        • Pertumbuhan dan kontribusi PDRB sektor listrik, gas (dan air
                   Sumberdaya          bersih)
                   Mineral           • Ketersediaan regulasi untuk pembinaan dan pengawasan
                                       bidang pertambangan
                                     • Ketersediaan sistem pengawasan dan penertiban kegiatan
                                       rakyat yang berpotensi merusak lingkungan
                                     • Cakupan pelayanan kelistrikan




                                                83
Lanjutan Referensi R-5............

  Kode Urusan      Fungsi dan         Tolak Ukur Kinerja sebagai Referensi Penilaian Kinerja
  Wajib/Pilihan:   Urusan             Penyelenggaraan Urusan
  1. Urusan        Pemerintah
     Wajib         Daerah
  2. Urusan
     Pilihan

        2          Kelautan dan       • Pertumbuhan dan kontribusi PDRB sektor kelautan dan
                   Perikanan            perikanan
                                      • Tingkat perkembangan budidaya perikanan
                                      • Tingkat perkembangan perikanan tangkap
                                      • Ketersediaan sistem penyuluhan perikanan
                                      • Tingkat pengelolaan produksi perikanan
                                      • Tingkat pemasaran produksi perikanan
                                      • Tingkat perkembangan kawasan budidaya laut, air payau, dan
                                        air tawar
                                      • Tingkat illegal fishing

        2          Perdagangan        •   Pertumbuhan dan kontribusi PDRB sektor perdagangan
                                      •   Ketersediaan program perlindungan konsumen
                                      •   Jumlah kerjasama perdagangan internasional/regional
                                      •   Tingkat pertumbuhan nilai ekspor
                                      •   Tingkat pertumbuhan nilai impor
                                      •   Tingkat efisiensi dan efektivitas pelayanan ekspor-impor
                                      •   Tingkat pertumbuhan realisasi omzet perdagangan per tahun
                                      •   Ketersediaan sistem pembinaan pedagang sektor informal

        2          Perindustrian      •   Pertumbuhan dan kontribusi PDRB sektor perindustrian
                                      •   Tingkat kapasitas Iptek sistem Produksi
                                      •   Tingkat penerapan standardisasi produk industri
                                      •   Laju pertumbuhan industri kecil dan menengah
                                      •   Tingkat penyerapan tenaga kerja sektor industri
                                      •   Volume ekspor produk industri dalam total ekspor daerah
                                      •   Ketersediaan kebijakan pengelolaan sentra-sentra industri
                                          potensial

        2          Transmigrasi       • Tingkat perkembangan areal transmigrasi
                                      • Jumlah transmigran yang berhasil dimukimkan
                                      • Akses transmigran kepada pelayanan pendidikan dan
                                        kesehatan
                                      • Ketersediaan program penyuluhan bagi transmigrasi lokal/
                                        regional

                   Lingkungan Hidup

        1          Penataan Ruang     • Tingkat kelengkapan Rencana Tata Ruang (mulai RTRW
                                        sampai dengan RDTR)
                                      • Tingkat pemanfaatan rencana tata ruang sebagai acuan
                                        koordinasi dan sinkronisasi pembangunan antar sektor dan
                                        antar subwilayah
                                      • Tingkat pengendalian pemanfaatan ruang
                                      • Jumlah konflik pemanfaatan ruang antar stakeholder
                                        setempat, antar instansi pemerintah, maupun antar
                                        kewenangan tingkatan pemerintahan
                                      • Perkembangan rasio luas kawasan lindung terhadap luas total
                                        wilayah
                                      • Proporsi rasio luas kawasan kritis terhadap luas total wilayah
                                      • Laju pertumbuhan luas kawasan bersifat kota
                                      • Tingkat penanganan kawasan terisolir
                                      • Tingkat partisipasi masyarakat dalam pengendalian
                                        pemanfaatan ruang




                                                 84
Lanjutan Referensi R-5............

  Kode Urusan      Fungsi dan         Tolak Ukur Kinerja sebagai Referensi Penilaian Kinerja
  Wajib/Pilihan:   Urusan             Penyelenggaraan Urusan
  1. Urusan        Pemerintah
     Wajib         Daerah
  2. Urusan
     Pilihan

        1          Lingkungan Hidup   •   Tingkat pemanfaatan sumber daya alam
                                      •   Cakupan sistem pengelolaan persampahan
                                      •   Tingkat pencemaran lingkungan (air, tanah, udara)
                                      •   Tingkat pelanggaran dan perusakan sumber daya alam dan
                                          lingkungan hidup
                                      •   Tingkat rehabilitasi/pemulihan sumber daya alam
                                      •   Jumlah kasus kebakaran hutan
                                      •   Jumlah DAS berkondisi kritis
                                      •   Cakupan kawasan konservasi laut
                                      •   Tingkat pengelolaan ekosistem pesisir-laut
                                      •   Ketersediaan Early Warning System/Pernyataan Dini
                                          Bencana)
                                      •   Jumlah kasus illegal fishing
                                      •   Jumlah kasus illegal sand mining
                                      •   Jumlah kasus illegal logging
                                      •   Kualitas air permukaan dan air tanah*
                                      •   Tingkat pencemaran pesisir dan laut*
                                      •   Luas lahan kritis*

        1          Pertanahan         • Luas daerah yang telah tercakup dalam sistem pendaftaran
                                        tanah
                                      • Cakupan informasi pertanahan
                                      • Tingkat penerapan teknologi informasi pertanahan
                                      • Jangka waktu penyelesaian administrasi pertanahan
                                      • Tingkat penyelesaian konflik-konflik pertanahan

                   Perumahan dan Fasilitas Umum

        1          Pekerjaan Umum     •   Tingkat aksesibilitas wilayah
                                      •   Tingkat mobilitas orang/barang
                                      •   Tingkat kondisi prasarana transportasi
                                      •   Tingkat resiko dan periode genangan banjir
                                      •   Jumlah kejadian bencana kekeringan
                                      •   Tingkat ketersediaan jaringan prasarana dan pengelolaan air
                                          baku
                                      •   Tingkat pemenuhan kebutuhan air untuk berbagai keperluan
                                          (rumah tangga, permukiman, pertanian, industri)
                                      •   Tingkat pengelolaan dan konservasi sumber daya air
                                      •   Tingkat pelayanan air minum
                                      •   Tingkat pelayanan air limbah bagi masyarakat miskin
                                      •   Tingkat pengendalian potensi konflik air
                                      •   Tingkat pengendalian pemanfaatan air tanah
                                      •   Tingkat perlindungan daerah pantai dari abrasi air laut
                                      •   Tingkat kesiagaan penanganan bencana alam

        1          Perumahan Rakyat   •   Pertumbuhan dan kontribusi PDRB sektor perumahan
                                      •   Luas dan sebaran kawasan kumuh
                                      •   Jumlah rumah tangga yang belum memiliki rumah
                                      •   Tingkat kemampuan penyediaan prasarana dan sarana rumah
                                      •   Tingkat kemantapan penyelenggaraan pembangunan
                                          perumahan dan permukiman
                                      •   Tingkat pelayanan air bersih
                                      •   Tingkat pelayanan sanitasi
                                      •   Tingkat pelayanan penyehatan lingkungan (air limbah)
                                      •   Tingkat kesiagaan dan pencegahan bahaya kebakaran
                                      •   Tingkat ketersediaan sarana dan prasarana pemakaman



                                                85
Lanjutan Referensi R-5............

  Kode Urusan      Fungsi dan          Tolak Ukur Kinerja sebagai Referensi Penilaian Kinerja
  Wajib/Pilihan:   Urusan              Penyelenggaraan Urusan
  1. Urusan        Pemerintah
     Wajib         Daerah
  2. Urusan
     Pilihan
                   Kesehatan

        1          Kesehatan          •    Umur harapan hidup
                                      •    Angka kematian bayi
                                      •    Angka kematian ibu melahirkan
                                      •    Persalinan bayi oleh tenaga kesehatan*
                                      •    Tingkat prevalensi/kejadian gizi kurang pada anak balita*
                                      •    Angka kasus anemia gizi besi pada ibu hamil
                                      •    Tingkat ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan
                                      •    Tingkat pemerataan obat dan perbekalan kesehatan
                                      •    Tingkat ketersediaan unit pelayanan kesehatan
                                      •    Tingkat keterjangkauan pelayanan kesehatan
                                      •    Jumlah kasus akibat pangan dan bahan berbahaya
                                      •    Jumlah kasus/kejadian penyakit menular
                                      •    Jumlah kasus penyakit malaria, DBD
                                      •    Tingkat prevalensi HIV/AIDS
                                      •    Persentase perilaku hidup sehat
                                      •    Akses penduduk terhadap sanitasi dasar
                                      •    Tingkat kunjungan penduduk miskin ke Puskesmas
                                      •    Cakupan pelayanan kesehatan dasar masyarakat miskin
                                      •    Akses masyarakat kawasan perbatasan pada pelayanan
                                           kesehatan
                                      •    Proporsi tenaga dokter di Puskesmas
                                      •    Pemerataan tenaga kesehatan
                                      •    Tingkat pelayanan kesehatan Ibu dan bayi*
                                      •    Tingkat pelayanan kesehatan anak pra sekolah dan usia
                                           sekolah*
                                      •    Cakupan peserta KB aktif*
                                      •    Cakupan pelayanan imunisasi*
                                      •    Cakupan pelayanan kesehatan jiwa
                                      •    Cakupan pelayanan gawat darurat
                                      •    Tingkat pencegahan/pemberantasan penyakit polio, TB Paru,
                                           dan ISPA*
                                      •    Jumlah institusi binaan untuk pelayanan kesehatan
                                           lingkungan*
                                           *beberapa contoh dari SPM bidang Kesehatan di Kab/kota.
                                           Selengkapnya dapat dilihat dalam KepMenKes No 1457/
                                           MenKes/SK/X/2003 tentang Standard Pelayanan Minimal
                                           Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota

        1          Keluarga           •    Laju pertumbuhan penduduk
                   Berencana          •    Tingkat kelahiran
                                      •    Total Fertility Rate/TFR (per perempuan)*
                                      •    Tingkat pelayanan kontrasepsi
                                      •    Kapasitas institusi daerah dalam pelaksanaan KB

                   Pariwisata dan Budaya

        1          Kebudayaan         • Ketersediaan kebijakan tentang pelestarian budaya lokal
                                        daerah
                                      • Jumlah program pengembangan kesenian dan kebudayaan
                                        daerah




                                                 86
Lanjutan Referensi R-5...........

  Kode Urusan      Fungsi dan        Tolak Ukur Kinerja sebagai Referensi Penilaian Kinerja
  Wajib/Pilihan:   Urusan            Penyelenggaraan Urusan
  1. Urusan        Pemerintah
     Wajib         Daerah
  2. Urusan
     Pilihan

        2          Pariwisata       • Pertumbuhan dan kontribusi PDRB sektor pariwisata
                                    • Tingkat perkembangan kontribusi sektor pariwisata dalam
                                      PDRB
                                    • Tingkat perkembangan jumlah obyek wisata
                                    • Tingkat perkembangan jumlah wisatawan
                                    • Tingkat perkembangan kerjasama/kemitraan pemasaran
                                      pariwisata

                   Pendidikan

        1          Pendidikan       • Cakupan pelayanan pendidikan usia dini
                                    • Persentase penduduk yang selesai Program Wajib Belajar
                                      Pendidikan Dasar 9 Tahun
                                    • Angka partisipasi kasar penduduk yang mengikuti
                                      pendidikan menengah
                                    • Angka partisipasi kasar penduduk yang mengikuti
                                      pendidikan tinggi
                                    • Tingkat mutu pendidik dan tenaga kependidikan pada jalur
                                      pendidikan formal/non formal
                                    • Angka buta aksara penduduk usia >15 th*
                                    • Angka melanjutkan sekolah*
                                    • Angka putus sekolah*
                                    • Angka mengulang kelas*
                                    • Rata-rata lama menyelesaikan pendidikan*
                                    • Persentase penduduk miskin menyelesaikan Program Wajib
                                      Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun
                                    • Tingkat cakupan pendidikan formal terhadap penduduk
                                      miskin
                                    • Pemerataan pendidikan
                                    • Tingkat efektivitas manajemen berbasis sekolah
                                    • Jumlah anggaran pendidikan dari APBN/D
                                    • Tingkat partisipasi masyarakat dalam pembangunan
                                      pendidikan
                                    • Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan dasar 9 tahun*
                                    • Angka Partisipasi Sekolah (APS) pada pendidikan
                                      sekolahdasar/sederajat*
                                    • APS pada pendidikan sekolah menengah pertama/
                                      sederajat*
                                    • APS pada pendidikan sekolah menengah atas/sederajat*
                                      *beberapa contoh dari SPM bidang Pendidikan.
                                      Selengkapnya dapat dilihat dalam KepMenDikNas No 129a/
                                      U/2004 tentang Standard Pelayanan Minimal Bidang
                                      Pendidikan

        1          Pemuda dan       • Tingkat kualitas pemuda (15-35 tahun)
                   Olah Raga        • Sports Development Index (SDI)
                                    • Prestasi olahraga dalam event-event internasionalq
                                      Ada/tidaknya kebijakan pengelolaan prestasi olahraga
                                      daerah
                                    • Tingkat ketersediaan prasarana dan sarana olahraga




                                              87
Lanjutan Referensi R-5............

  Kode Urusan      Fungsi dan            Tolak Ukur Kinerja sebagai Referensi Penilaian Kinerja
  Wajib/Pilihan:   Urusan                Penyelenggaraan Urusan
  1. Urusan        Pemerintah
     Wajib         Daerah
  2. Urusan
     Pilihan
                   Perlindungan Sosial

       1           Kependudukan        • Ketersediaan system administrasi kependudukan
                   dan Catatan Sipil   • Jumlah anak yang memiliki akte kelahiran*
                                       • Akses mayarakat terhadap pelayanan administrasi dan
                                         kependudukan
                                       • Keterjangkauan biaya pelayanan administrasi dan
                                         kependudukan
                                       • Lama (waktu) pelayanan administrasi dan kependudukan
                                       • Tingkat ke-mutakhir-an data administrasi dan kependudukan

       1           Pemberdayaan        • Jumlah kebijakan daerah untuk peningkatan kualitas anak
                   Perempuan             dan perempuan
                                       • Tingkat kesenjangan antara HDI dan GDI*
                                       • Jumlah kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan
                                       • Akses perempuan terhadap pendidikan
                                       • Persentase penduduk perempuan berusia 10 th ke atas yang
                                         tidak/belum pernah sekolah
                                       • Persentase penduduk perempuan yang buta huruf
                                       • Akses perempuan terhadap layanan kesehatan
                                       • Angka Gender Empowerment Measurement* (mengukur
                                         ketimpangan gender di bidang ekonomi (perempuan dalam
                                         angkatan kerja dan rata-rata upah di sektor non-pertanian),
                                         politik (perempuan di parlemen) dan pengambilan keputusan
                                         (perempuan pekerja profesional, pejabat tinggi, dan manajer))
                                       • Akses perempuan untuk terlibat dalam kegiatan public
                                       • Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan
                                       • Tingkat keterwakilan perempuan di lembaga legislatif
                                       • Persentase perempuan dalam jabatan publik (PNS)
                                       • Jumlah (persentase) pekerja anak*
                                       • Tingkat perlindungan perempuan

       1           Keluarga            • Tingkat kesehatan bagi ibu, bayi, dan anak
                   Sejahtera           • Tingkat/kualitas tumbuh kembang anak
                                       • Cakupan pelayanan pasangan usia subur yang tergolong
                                         masyarakat miskin

       1           Sosial              • Cakupan pembinaan gelandangan, pengemis, dan PMKS,
                                         anak jalanan, dan anak cacat
                                       • Akses kepada pelayanan sosial dasar bagi masyarakat miskin
                                       • Jumlah tenaga pelayanan social untuk berbagai jenis
                                         kecacatan
                                       • Peluang mengakses pelayanan umum
                                       • Persentase penurunan jumlah fakir miskin dan keluarga
                                         rentan social
                                       • Persentase jumlah penduduk miskin*


Keterangan:
1 Kode Urusan Wajib
2 Kode Urusan Pilihan
* Tolok ukur kinerja pencapaian pembangunan 2004-2009

Referensi:
1. Sasaran dan Indikator Kinerja Pencapaian Pembangunan 2004-2009, Handbook SPPN RI, Bappenas, 2006
2. Indikator Kemajuan Otonomi Daerah, Handbook SPPN RI, Bappenas, 2006
3. Lampiran A 1, Lampiran A VI, dan Lampiran A-VII Permendagri 13/2006



                                                 88

Pedoman Penyusunan Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD)

  • 1.
    DEPARTEMEN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA SURAT EDARAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR : 050/200/II/BANGDA/2008 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) DIREKTORAT JENDERAL BINA PEMBANGUNAN DAERAH DEPARTEMEN DALAM NEGERI 2008
  • 2.
    PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA KERJAPEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) DIREKTORAT JENDERAL BINA PEMBANGUNAN DAERAH DEPARTEMEN DALAM NEGERI 2008 i
  • 3.
  • 4.
    DEPARTEMEN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA Jakarta, 28 Februari 2008 Nomor : 050/200/II/Bangda Kepada Yth. Sifat : SEGERA Sdr. Gubernur Lampiran : 1 (Satu) berkas Hal : Pedoman Penyusunan Rencana di - Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Seluruh Indonesia SURAT EDARAN Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah pada Pasal 4 Ayat 1, menyatakan bahwa Rencana Pembangunan Daerah meliputi Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJPD), Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) maupun Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD). Rencana Pembangunan Daerah tersebut merupakan dokumen perencanaan pembangunan yang wajib disusun. Selanjutnya, bahwa salah satu dokumen perencanaan yaitu Dokumen RKPD mempunyai peranan sangat strategis, karena menjembatani antara kepentingan perencanaan strategis jangka menengah dengan perencanaan dan penganggaran tahunan. Berdasarkan hal tersebut dan sebagai upaya untuk membantu Pemerintah Daerah dalam memenuhi kewajibannya sebagaimana diamanatkan dalam peraturan perundangan, khususnya dalam rangka penyusunan dokumen perencanaan dan penganggaran tahunan daerah provinsi/kabupaten/kota, maka dipandang perlu menerbitkan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri tentang Pedoman Penyusunan Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD). Maksud dan tujuan dari pedoman ini adalah untuk memperjelas tahapan, langkah dan substansi penyusunan RKPD dan Renja SKPD, termasuk pelaksanaan musyawarah perencanaan pembangunan mulai dari tingkat desa/kelurahan sampai kabupaten/kota dan provinsi. Pedoman terdiri dari 4 (empat) bagian, yaitu: 1. Bagian A: Umum, berisi latar belakang, landasan hukum, fungsi kedudukan dan pendekatan RKPD, tujuan, sasaran dan ruang lingkup pedoman, serta sistematika pedoman. iii
  • 5.
  • 6.
    2. Bagian B:Proses Penyusunan RKPD, antara lain berisi tentang persiapan dan pengorganisasian pemangku kepentingan, penyusunan rancangan awal RKPD, Renja SKPD, proses musrenbang, dan pengintegrasian RKPD ke dalam proses penganggaran daerah. 3. Bagian C: Teknis Penyusunan Dokumen RKPD (prototype), berisi langkah-langkah dalam menyusun dokumen mulai tahap persiapan dan pengorganisasian hingga proses penganggaran. 4. Bagian D: Penutup, berisi kaidah dalam menggunakan pedoman. Surat edaran ini disampaikan untuk dijadikan pedoman dalam penyusunan Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) dan dengan terbitnya pedoman ini diharapkan daerah dapat menyusun RKPD disesuaikan dengan kondisi dan perkembangan kemampuan perencanaan di masing-masing daerah dengan tetap mengindahkan prinsip-prinsip yang terkandung dalam peraturan perundangan dan tata kepemerintahan yang baik. Kepada para Gubernur diminta untuk menindaklanjuti Surat Edaran dimaksud dan selanjutnya memberitahukan dan mensosialisasikan kepada para Bupati dan Walikota di wilayah masing-masing. Demikian untuk menjadi perhatian. a.n. MENTERI DALAM NEGERI DIREKTUR JENDERAL BINA PEMBANGUNAN DAERAH H. SYAMSUL ARIEF RIVAI Tembusan disampaikan kepada Yth: 1. Bapak Menteri Dalam Negeri (Sebagai Laporan) 2. Bapak Menteri Negara PPN/Kepala Bappenas 3. Sdr. Bupati/Walikota Seluruh Indonesia v
  • 7.
  • 8.
    DEPARTEMEN DALAM NEGERI DIREKTORAT JENDERAL BINA PEMBANGUNAN DAERAH Jalan Taman Makam Pahlawan No. 20 Kalibata - Jakarta Selatan KATA PENGANTAR Rencana Kerja Pembangunan Daerah merupakan suatu dokumen perencanaan pembangunan daerah yang disyaratkan UU No 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah. Rencana Kerja Pembangunan Daerah, yang selanjutnya disebut RKPD, merupakan penjabaran dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) untuk jangka waktu 1 (satu) tahun, yang memuat rancangan kerangka ekonomi daerah, prioritas pembangunan daerah, rencana kerja dan pendanaannya, baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah daerah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat, dengan mengacu kepada Rencana Kerja Pemerintah (RKP). RKPD selanjutnya menjadi pedoman penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD). Mengingat pentingnya peranan RKPD dalam kerangka perencanaan dan penganggaran tahunan daerah, yaitu sebagai acuan pelaksanaan program dan kegiatan pembangunan tahunan dan sebagai pedoman penyusunan RAPBD, maka diperlukan pedoman penyusunan RKPD untuk menjamin kualitas proses penyusunan dan kualitas substansi dokumen ini benar-benar memenuhi pendekatan perencanaan serta efektif dan responsif terhadap aspirasi dan kebutuhan masyarakat. Untuk itu, terbitnya SE Mendagri tentang Pedoman Penyusunan Rencana Kerja Pembangunan Daerah ini menjadi satu hal yang penting dan strategis sebagai pedoman teknis/operasional penyusunan RKPD. Dengan adanya SE Mendagri ini diharapkan proses penyusunan dan substansi dokumen RKPD di seluruh provinsi dan kabupaten/kota di Indo- nesia dapat memenuhi ketentuan tentang sistem, prosedur, dan proses penyusunan RKPD dan berkontribusi signifikan dalam perbaikan kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah secara berkelanjutan. Jakarta, 28 Februari 2008 Afriadi S. Hasibuan Direktur Perencanaan Pembangunan Daerah Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah Departemen Dalam Negeri vii
  • 9.
  • 10.
    DEPARTEMEN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN Puji dan Syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas terbitnya SE Mendagri tentang Pedoman Penyusunan Rencana Kerja Pembangunan Daerah ini. Dengan adanya pedoman ini, Pemerintah Daerah telah dilengkapi dengan suatu pedoman teknis/operasional penyusunan RKPD, guna mendukung perencanaan tahunan daerah yang memenuhi peraturan perundangan tentang sistem perencanaan pembangunan nasional serta prinsip- prinsip tata kelola kepemerintahan yang baik (good governance). Pedoman yang ditujukan untuk memperjelas tahapan, langkah-langkah, dan substansi untuk penyusunan RKPD ini dirancang dengan pendekatan sefleksibel mungkin sehingga daerah dapat melakukan penyesuaian-penyesuaian sesuai dengan kondisi dan perkembangan kemampuan perencanaan di masing-masing daerah, namun tetap mengindahkan ketentuan-ketentuan yang bersifat prinsip sebagaimana terkandung dalam Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang tahapan, tata cara penyusunan, pengendalian, dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah dan prinsip-prinsip tata kelola kepemerintahan yang baik. Direktorat Perencanaan Ditjen Bangda menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang telah bekerjasama dalam pengembangan dan penyusunan pedoman ini, khususnya pihak peserta Konsultasi Regional pada akhir November 2007, yang telah menyampaikan kritik dan masukannya untuk penyempurnaan rancangan pedoman ini. Semoga pedoman ini dapat memenuhi harapan kita semua untuk perbaikan kualitas perencanaan daerah dalam rangka perbaikan kinerja penyelenggaraan pemerintahan secara berkelanjutan. Jakarta, 28 Februari 2008 H. Syamsul Arief Rivai Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah Departemen Dalam Negeri ix
  • 11.
  • 12.
    Daftar Isi SURAT EDARAN................................................................................................................ iii KATA PENGANTAR ........................................................................................................... vii SAMBUTAN ........................................................................................................................ ix DAFTAR ISI ......................................................................................................................... xi DAFTAR PERISTILAHAN DAN SINGKATAN .................................................................... xv BAGIAN A: UMUM .............................................................................................................. 1 1. Latar Belakang ............................................................................................................ 3 2. Landasan Hukum ........................................................................................................ 3 3. Fungsi, Kedudukan, dan Pendekatan RKPD .............................................................. 3 3.1. Fungsi RKPD ....................................................................................................... 3 3.2. Kedudukan RKPD dalam Sistem dan Mekanisme Perencanaan dan Penganggaran Pembangunan Daerah ................................................................ 4 3.3. Pendekatan Perencanaan dalam Penyusunan RKPD......................................... 5 3.4. Tahapan dalam Proses Penyusunan RKPD ........................................................ 7 4. Tujuan, Sasaran, dan Ruang Lingkup Pedoman ......................................................11 4.1. Tujuan dan Sasaran Pedoman ...........................................................................11 4.2. Ruang Lingkup dan Substansi Pedoman ...........................................................11 5. Sistimatika Pedoman .................................................................................................11 A. Umum .................................................................................................................11 B. Proses Penyusunan RKPD ................................................................................11 C. Teknis Penyusunan RKPD ................................................................................ 12 D. Penutup ............................................................................................................. 12 BAGIAN B: PROSES PENYUSUNAN RKPD ................................................................... 13 1. PERSIAPAN DAN PENGORGANISASIAN PEMANGKU KEPENTINGAN .............. 15 1.1. Orientasi RKPD ................................................................................................. 15 1.2. Identifikasi Pemangku Kepentingan .................................................................. 15 1.3. Pembentukan Tim dan Rekrutmen Fasilitator .................................................... 16 1.4. Penyusunan Agenda Kerja Penyiapan Dokumen ............................................. 17 1.5. Pengumpulan Data dan Informasi ..................................................................... 17 1.6. Penyiapan Daftar Isi ........................................................................................... 17 2. PENYUSUNAN RANCANGAN AWAL RKPD ........................................................... 18 2.1. Prinsip-prinsip Penyusunan Rancangan Awal RKPD ........................................ 18 2.2. Tata Cara Penyusunan ...................................................................................... 19 xi
  • 13.
    3. PENYUSUNAN RANCANGAN RENJA SKPD .......................................................... 20 3.1. Prinsip-prinsip Penyusunan Rancangan Renja SKPD ...................................... 21 3.2. Tata Cara Penyusunan ...................................................................................... 22 3.2.1. Kegiatan Persiapan: ................................................................................ 22 3.2.2. Kegiatan Analisis dan Pengkajian Dokumen: .......................................... 23 3.2.3. Kegiatan Penyusunan Rancangan Renja SKPD: .................................... 23 4. PENYUSUNAN RANCANGAN RKPD ...................................................................... 25 4.1. Prinsip-prinsip Penyusunan Rancangan RKPD ................................................. 25 4.2. Tata Cara Penyusunan ...................................................................................... 26 5. MUSRENBANG ........................................................................................................ 26 5.1. Musrenbang Desa/Kelurahan ............................................................................ 28 5.2. Musrenbang Kecamatan .................................................................................... 29 5.3. Forum SKPD/Gabungan SKPD Kabupaten/Kota .............................................. 30 5.4. Musrenbang Kabupaten/Kota ............................................................................ 31 5.5. Forum SKPD/Gabungan SKPD Provinsi ........................................................... 32 5.6. Musrenbang Provinsi ......................................................................................... 33 6.7. Diskusi Kelompok Terfokus (Focus Group Discussion/FGD) ............................ 34 6. PENYUSUNAN RANCANGAN AKHIR RKPD .............................................................. 34 6.1. Prinsip-prinsip Penyusunan Rancangan Akhir RKPD ....................................... 34 6.2. Tata Cara Penyusunan Rancangan Akhir RKPD ............................................... 35 7. PENYUSUNAN RENJA SKPD.................................................................................. 35 7.1. Prinsip-prinsip Penyusunan Renja SKPD .......................................................... 35 7.2. Tata Cara Penyusunan Renja SKPD ................................................................. 36 8. PENYIAPAN DAN PENETAPAN PERATURAN KEPALA DAERAH TENTANG RKPD DAN PERATURAN KEPALA SKPD TENTANG RENJA SKPD ...................... 36 8.1. Penyiapan dan penetapan PERKADA ............................................................... 36 8.2. Penyiapan dan penetapan PERKA SKPD ......................................................... 37 9. PENGINTEGRASIAN RKPD KE DALAM PROSES PENGANGGARAN DAERAH .. 37 9.1. Penyusunan KUA dan PPAS ............................................................................. 38 9.2. Penyusunan RKA SKPD ................................................................................... 39 9.3. Penyusunan RAPBD ......................................................................................... 39 BAGIAN C: TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMEN RKPD (PROTOTYPE) ........................ 41 BAB I. PENDAHULUAN ............................................................................................... 43 1.1. Latar Belakang ............................................................................................ 43 1.2. Landasan Hukum ........................................................................................ 43 1.3. Maksud dan Tujuan .................................................................................... 43 1.4. Sistimatika Dokumen RKPD ....................................................................... 43 BAB II. EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH .................................. 43 2.1. Visi dan Misi Pembangunan Jangka Menengah Daerah ............................ 43 2.2. Evaluasi Status dan Kedudukan Pencapaian Kinerja Pembangunan Daerah ........................................................................................................ 44 2.4. Isu Strategis dan Masalah Mendesak ........................................................ 44 xii
  • 14.
    BAB III. RANCANGANKERANGKA EKONOMI DAERAH ............................................. 45 3.1. Kondisi Ekonomi Daerah Tahun ... (tahun lalu) dan Perkiraan Tahun .... ....... (tahun berjalan) ........................................................................................... 45 3.2. Tantangan dan Prospek Perekonomian Daerah Tahun ..... dan Tahun ..... 45 3.3. Arah Kebijakan Ekonomi Daerah. ............................................................... 45 3.4. Analisis dan Perkiraan Sumber-sumber Pendanaan Daerah ..................... 46 3.4.1. Dana Desentralisasi / APBD ............................................................. 46 3.4.2. Dana Dekonsentrasi / APBN ............................................................. 47 3.4.3. Dana Tugas Pembantuan / APBN.................................................... 47 3.4.4. Dana Otonomi Khusus / APBN ......................................................... 47 3.5. Arah Kebijakan Keuangan Daerah ............................................................. 47 3.5.1. Arah Kebijakan Pendapatan Daerah ................................................. 48 3.5.2. Arah Kebijakan Belanja Daerah ........................................................ 48 3.5.3. Arah Kebijakan Pembiayaan Daerah ................................................ 49 BAB IV. PRIORITAS PEMBANGUNAN DAERAH TAHUN (Tahun Rencana) ................. 49 4.1. Strategi dan Arah Kebijakan Pembangunan Daerah .................................. 49 4.2. Prioritas Program dan Kegiatan Pembangunan Daerah ............................. 49 BAB V. RENCANA KERJA DAN PENDANAAN ................................................................ 50 BAB VI. KAIDAH PELAKSANAAN .................................................................................... 50 BAGIAN D. PENUTUP ...................................................................................................... 51 Daftar Bagan Bagan 1. Alur Perencanaan Pembangunan Daerah Menurut UU 25/2004 .................... 5 Bagan 2a. Alur Perencanaan RKPD, Renja SKPD, KUA, PPAS, dan APBD ................... 9 Bagan 2b. Alur Penyusunan Dokumen RKPD dan Dokumen Renja SKPD ................... 10 Bagan 3. Proses Penyusunan Dokumen Rancangan Awal RKPD ............................... 20 Bagan 4. Proses Penyusunan Dokumen Rancangan Renja SKPD.............................. 25 xiii
  • 15.
    Daftar Tabel Tabel 1. Contoh Susunan Tim Penyusun RKPD ........................................................... 57 Tabel 2. Contoh Kalender Penyusunan RKPD dan Renja SKPD ................................. 58 Tabel 3. Inventarisasi Sumber dan Jenis Data/Informasi untuk Penyusunan RKPD .... 59 Tabel 4. Evaluasi Kinerja Program dan Kegiatan RKPD Tahun Lalu dan Review Pencapaian RPJMD ........................................................................................ 60 Tabel 5. Format Daftar Rancangan Program dan Kegiatan RKPD/Renja SKPD .......... 61 Tabel 6. Contoh Prototype Daftar Isi Renja SKPD ........................................................ 62 Tabel 7. Pengisian RKA-SKPD 2.2.1 dan Penyusunan Prakiraan Maju Berdasarkan Biaya Satuan Per Keluaran Kegiatan ............................................................. 63 Tabel 8. Evaluasi Status dan Kedudukan Pencapaian Kinerja Pembangunan Provinsi/ Kabupaten/Kota* Tahun....dan Tahun... ........................................................... 64 Tabel 9. Identifikasi Isu dan Masalah Mendesak di Tingkat Nasional, Provinsi.....dan Kab/Kota.......Tahun. ........................................................................................ 65 Tabel 10. Perkembangan Indikator Makro Ekonomi Prov./Kab./Kota......Tahun........dan Tahun..........serta Perubahannya .................................................................... 66 Tabel 11. Analisis Kondisi Lingkungan Internal dan Eksternal Prov./Kab./Kota .............. 67 Tabel 12. Realisasi dan Proyeksi Pendapatan, Belanja, Pembiayaan Daerah, dan Pagu Anggaran RKPD .............................................................................................. 68 Tabel 13. Contoh Matrik Prioritas Pembangunan ............................................................ 70 Tabel 14. Rencana Kerja dan Pendapatan Menurut Bidang Urusan Pemerintahan Daerah di Provinsi/Kab./Kota........Tahun.......(tahun rencana) ........................ 70 Daftar Referensi Referensi R-1. Sasaran dan Indikator Kinerja Pencapaian Pembangunan 2004-2009 .... 73 Referensi R-2. Indikator Kemajuan Otonomi Daerah ........................................................ 75 Referensi R-3. Pengukuran Kinerja Penyelenggaraan Otonomi Daerah .......................... 76 Referensi R-4. Indikator Kinerja Kunci yang digunakan untuk Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Otonomi Daerah .......................................................... 77 Referensi R-5. Contoh Tolok Ukur Kinerja Urusan Wajib dan Pilihan Pemerintah Daerah Menurut SKPD ............................................................................. 81 xiv
  • 16.
    Daftar Peristilahan danSingkatan 1) Rencana Pembangunan Jangka Panjang, yang selanjutnya disingkat dengan RPJP adalah dokumen perencanaan untuk periode dua puluh (20) tahun. 2) Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah, yang selanjutnya disingkat dengan RPJPD adalah dokumen perencanaan Pemerintah Daerah untuk periode dua puluh (20) tahun yang memuat visi, misi, dan arah pembangunan Daerah yang mengacu pada RPJP Nasional. 3) Rencana Pembangunan Jangka Menengah, yang selanjutnya disingkat dengan RPJM adalah dokumen perencanaan untuk periode lima (5) tahun. 4) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, yang selanjutnya disingkat dengan RPJMD adalah dokumen perencanaan Pemerintah Daerah untuk periode lima (5) tahun yang memuat penjabaran dari visi, misi, dan program Kepala Daerah yang penyusunannya berpedoman pada RPJP Daerah dan memperhatikan RPJM Nasional, memuat arah kebijakan keuangan daerah, strategi pembangunan Daerah, kebijakan umum, dan program Satuan Kerja Perangkat Daerah, lintas Satuan Kerja Perangkat Daerah, dan program kewilayahan disertai dengan rencana-rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. 5) Rencana Pembangunan Tahunan Nasional, yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Pemerintah (RKP) adalah dokumen perencanaan Nasional untuk periode satu (1) tahun. 6) Rencana Kerja Pembangunan Daerah, yang selanjutnya disingkat dengan RKPD adalah dokumen perencanaan Pemerintah Daerah untuk periode satu (1) tahun yang merupakan penjabaran dari RPJM Daerah dan mengacu pada RKP Nasional, memuat rancangan kerangka ekonomi Daerah, prioritas pembangunan Daerah, rencana kerja, dan pendanaannya, baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. 7) Satuan Kerja Perangkat Daerah, yang selanjutnya disingkat dengan SKPD adalah perangkat daerah pada pemerintah daerah selaku pengguna anggaran. 8) Organisasi adalah unsur pemerintahan daerah yang terdiri dari DPRD, kepala daerah/ wakil kepala daerah, dan SKPD. 9) Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah, yang selanjutnya disingkat dengan RENSTRA SKPD adalah dokumen perencanaan SKPD untuk periode lima (5) tahun, yang memuat visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan yang disusun sesuai dengan tugas dan fungsi Satuan Kerja Perangkat Daerah serta berpedoman kepada RPJM Daerah dan bersifat indikatif. 10) Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah, yang selanjutnya disingkat dengan Renja SKPD adalah dokumen perencanaan SKPD untuk periode satu (1) tahun, yang memuat kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah daerah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. 11) Rencana Kerja dan Anggaran SKPD, yang selanjutnya disingkat dengan RKA SKPD adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi program dan kegiatan SKPD yang merupakan penjabaran dari RKPD dan Renstra SKPD yang bersangkutan dalam satu tahun anggaran, serta anggaran yang diperlukan untuk melaksanakannya. xv
  • 17.
    12) Laporan PenyelenggaraanPemerintahan Daerah kepada Pemerintah selanjutnya disingkat LPPD adalah laporan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah selama 1 (satu) tahun anggaran berdasarkan Rencana Kerja Pembangunan Daerah yang disampaikan oleh kepala daerah kepada Pemerintah. 13) Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Kepala Daerah kepada DPRD yang selanjutnya disebut LKPJ adalah laporan yang berupa informasi penyelenggaraan pemerintahan daerah selama 1 (satu) tahun anggaran atau akhir masa jabatan yang disampaikan oleh kepala daerah kepada DPRD. 14) Informasi Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah yang selanjutnya disingkat ILPPD adalah informasi penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada masyarakat melalui media yang tersedia di Daerah. 15) Rencana Tata Ruang, yang selanjutnya disingkat dengan RTR adalah dokumen yang memuat hasil perencanaan tata ruang. 16) Rencana Tata Ruang Wilayah, yang selanjutnya disingkat dengan RTRW adalah dokumen yang memuat hasil perencanaan tata ruang wilayah. 17) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, yang selanjutnya disingkat dengan APBD adalah rencana keuangan tahunan pemerintah daerah yang dibahas dan disetujui bersama oleh Pemerintah Daerah dan DPRD, dan ditetapkan dengan Peraturan Daerah. 18) Tim Anggaran Pemerintah Daerah yang selanjutnya disingkat TAPD adalah tim yang dibentuk dengan Keputusan Kepala Daerah dan dipimpin oleh Sekretaris Daerah yang mempunyai tugas menyiapkan serta melaksanakan kebijakan Kepala Daerah dalam rangka penyusunan APBD yang anggotanya terdiri dari pejabat perencana daerah, PPKD, dan pejabat lainnya sesuai dengan kebutuhan. 19) Kebijakan Umum APBD, yang selanjutnya disingkat dengan KUA adalah dokumen yang memuat kebijakan bidang pendapatan, belanja, dan pembiayaan serta asumsi yang mendasarinya untuk periode satu (1) tahun. 20) Pagu indikatif merupakan ancar-ancar pagu anggaran yang diberikan kepada SKPD untuk setiap program sebagai acuan dalam penyusunan rencana kerja SKPD. 21) Pagu sementara merupakan pagu anggaran yang didasarkan atas kebijakan umum dan prioritas anggaran hasil pembahasan Pemerintah Daerah dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) sebagai acuan dalam penyusunan RKA-SKPD. 22) Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara, yang selanjutnya disingkat dengan PPAS adalah rancangan program prioritas dan patokan batas maksimal anggaran yang diberikan kepada SKPD untuk setiap program sebagai acuan dalam penyusunan RKA- SKPD setelah disepakati dengan DPRD. 23) Rencana Kerja dan Anggaran SKPD yang selanjutnya disingkat RKA-SKPD adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi rencana pendapatan, rencana belanja program dan kegiatan SKPD serta rencana pembiayaan sebagai dasar penyusunan APBD. 24) Prakiraan maju (forward estimate) adalah perhitungan kebutuhan dana untuk tahun anggaran berikutnya dari tahun yang direncanakan guna memastikan kesinambungan program dan kegiatan yang telah disetujui dan menjadi dasar penyusunan anggaran tahun berikutnya. 25) Penganggaran Terpadu (unified budgeting) adalah penyusunan rencana keuangan tahunan yang dilakukan secara terintegrasi untuk seluruh jenis belanja guna melaksanakan kegiatan pemerintahan yang didasarkan pada prinsip pencapaian efisiensi alokasi dana. xvi
  • 18.
    26) Kinerja adalahadalah keluaran/hasil dari kegiatan/program yang akan atau telah dicapai sehubungan dengan penggunaan anggaran dengan kuantitas dan kualitas yang terukur. 27) Indikator kinerja adalah alat ukur spesifik secara kuantitatif dan/atau kualitatif untuk masukan, proses, keluaran, hasil, manfaat, dan/atau dampak yang menggambarkan tingkat capaian kinerja suatu program atau kegiatan. 28) Fungsi adalah perwujudan tugas kepemerintahan di bidang tertentu yang dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan pembangunan nasional. 29) Urusan pemerintahan adalah fungsi-fungsi pemerintahan yang menjadi hak dan kewajiban setiap tingkatan dan/atau susunan pemerintahan untuk mengatur dan mengurus fungsi-fungsi tersebut yang menjadi kewenangannya dalam rangka melindungi, melayani, memberdayakan, dan mensejahterakan masyarakat. 30) Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan. 31) Misi adalah Rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi. 32) Agenda pembangunan adalah penerjemahan visi ke dalam tujuan-tujuan besar (strate- gic goals) yang dapat mempedomani dan memberikan fokus pada penilaian dan perumusan strategi, kebijakan dan program. 33) Strategi pembangunan adalah langkah-langkah berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi. 34) Kebijakan pembangunan adalah arah/tindakan yang diambil oleh Pemerintah Pusat/ Daerah untuk mencapai tujuan. 35) Program adalah penjabaran kebijakan SKPD dalam bentuk upaya yang berisi satu atau lebih kegiatan dengan menggunakan sumber daya yang disediakan untuk mencapai hasil yang terukur sesuai dengan misi SKPD. 36) Kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan oleh satu atau lebih unit kerja pada SKPD sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur pada suatu program dan terdiri sekumpulan tindakan pengerahan sumber daya baik yang berupa personil (sumber daya manusia), barang modal termasuk peralatan dan teknologi, dana, atau kombinasi dari beberapa atau kesemua jenis sumber daya tersebut sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk barang/jasa. 37) Kerangka regulasi adalah rencana kegiatan melalui pengaturan yang mendorong partisipasi masyarakat maupun lembaga terkait lainnya untuk mencapai tujuan pembangunan kabupaten/kota. 38) Kerangka Anggaran adalah rencana kegiatan pengadaan barang maupun jasa yang perlu dibiayai oleh APBD untuk mencapai tujuan pembangunan kabupaten/kota. 39) Sasaran (target) adalah hasil yang diharapkan dari suatu program atau keluaran yang diharapkan dari suatu kegiatan. 40) Keluaran (output) adalah barang atau jasa yang dihasilkan oleh kegiatan yang dilaksanakan untuk mendukung pencapaian sasaran dan tujuan program dan kebijakan. 41) Hasil (outcome) adalah segala sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran dari kegiatan-kegiatan dalam satu program. 42) Sisa Lebih Perhitungan Anggaran yang selanjutnya disingkat SiLPA adalah selisih lebih realisasi penerimaan dan pengeluaran anggaran selama satu periode anggaran. 43) Alokasi Dana Desa, yang selanjutnya disingkat dengan ADD adalah dana yang dialokasikan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota untuk desa, yang bersumber dari bagian dana perimbangan keuangan pusat dan daerah yang diterima oleh kabupaten/kota. xvii
  • 19.
    44) Stakeholder ataupemangku kepentingan adalah pihak-pihak yang langsung atau tidak langsung mendapatkan manfaat atau dampak dari pelaksanaan pembangunan. Stake- holder dapat berupa kelompok, organisasi, dan individu yang memiliki kepentingan/ pengaruh dalam proses pengambilan keputusan/ pelaksanaan pembangunan. 45) Konsultasi Publik adalah kegiatan partisipatif yang bertujuan untuk menghadirkan stake- holder dalam rangka mendiskusikan dan memahami isu dan permasalahan strategis pembangunan daerah; merumuskan kesepakatan tentang prioritas pembangunan dan mencapai konsensus tentang pemecahan masalah-masalah strategis daerah. Konsultasi publik dilakukan pada berbagai skala, tahapan dan tingkatan pengambilan keputusan perencanaan daerah. Konsultasi publik dapat berupa musrenbangda di peringkat kabupaten/kota, konsultasi forum stakeholder atau focus group discussions di peringkat SKPD maupun di peringkat lintas SKPD. 46) Musrenbang atau Musyawarah Perencanaan Pembangunan adalah forum antarpelaku dalam rangka menyusun rencana pembangunan nasional dan rencana pembangunan daerah. 47) Musrenbang Desa/Kelurahan adalah forum musyawarah tahunan stakeholder desa/ kelurahan (pihak yang berkepentingan untuk mengatasi permasalahan desa/ kelurahannya dan pihak yang akan terkena dampak hasil musyawarah) untuk menyepakati rencana kegiatan tahun anggaran berikutnya. 48) Musrenbang Kecamatan adalah forum musyawarah stakeholder kecamatan untuk mendapatkan masukan prioritas kegiatan dari desa/kelurahan serta menyepakati kegiatan lintas desa/kelurahan di kecamatan tersebut sebagai dasar penyusunan Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah kabupaten/kota pada tahun berikutnya. 49) Forum SKPD (forum yang berhubungan dengan fungsi/sub fungsi, kegiatan/sektor dan lintas sektor) adalah wadah bersama antar pelaku pembangunan untuk membahas prioritas kegiatan pembangunan hasil Musrenbang Kecamatan dengan SKPD atau gabungan SKPD sebagai upaya mengisi Rencana Kerja SKPD yang tata cara penyelenggaraannya difasilitasi oleh SKPD terkait. 50) Musrenbang Kabupaten/Kota adalah musyawarah stakeholder Kabupaten/kota untuk mematangkan rancangan RKPD Kabupaten/Kota berdasarkan Renja-SKPD hasil Fo- rum SKPD dengan cara meninjau keserasian antara rancangan Renja-SKPD yang hasilnya digunakan untuk pemutakhiran Rancangan RKPD. 51) Tim Penyelenggara Musrenbang adalah Tim yang dibentuk untuk melakukan persiapan, memfasilitasi pelaksanaan, dan menindaklajuti hasil Musrenbang. 52) Peserta adalah pihak yang memiliki hak pengambilan keputusan dalam Musrenbang melalui pembahasan yang disepakati bersama. 53) Fasilitator adalah tenaga terlatih atau berpengalaman dalam memfasilitasi dan memandu diskusi kelompok ataupun konsultasi publik. Seorang fasilitator harus memenuhi kualifikasi kompetensi teknis/substansi dan memiliki keterampilan dalam penerapan berbagai teknik dan instrumen untuk menunjang efektivitas dan partisipatifnya kegiatan. 54) Narasumber adalah pihak pemberi informasi yang perlu diketahui peserta Musrenbang untuk proses pengambilan keputusan hasil Musrenbang. 55) Delegasi adalah perwakilan yang disepakati peserta Musrenbang untuk menghadiri Musrenbang pada tingkat yang lebih tinggi. 56) NGO adalah singkatan dari Non-Governmental Organization atau Lembaga Swadaya Masyarakat/LSM. 57) CBO adalah singkatan dari Community Based Organization (Kelompok Masyarakat Sipil). 58) CSO adalah singkatan dari Civil Society Organization (Organisasi Masyarakat Sipil). xviii
  • 20.
  • 21.
  • 22.
    BAGIAN A: UMUM 1. Latar Belakang U ndang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah telah mengamanatkan bahwa setiap daerah diwajibkan untuk menyusun perencanaan pembangunan daerah untuk jangka panjang 20 tahun (RPJPD), rencana pembangunan daerah jangka menengah 5 tahun (RPJMD), dan rencana pembangunan jangka pendek/1 tahun (RKPD). Sebagai suatu dokumen resmi rencana daerah, RKPD mempunyai kedudukan yang strategis, yaitu menjembatani antara perencanaan strategis jangka menengah dengan perencanaan dan penganggaran tahunan, untuk itu maka sesuai amanat dalam kedua undang-undang diatas, Bappeda merupakan institusi yang ditunjuk dan berfungsi sebagai koordinator dalam penyelenggaraan perencanaan daerah yang juga mengkoordinasikan perencanaan- perencanaan yang bersifat sektoral di daerah. 2. Landasan Hukum Kewajiban daerah untuk menyusun RKPD sebagai dasar dan acuan penyusunan RAPBD diamanatkan melalui beberapa peraturan perundangan, antara lain: 1. Undang-undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara; 2. Undang-undang Nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional; 3. Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah; 4. Peraturan Pemerintah Nomor 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah; 5. Peraturan Pemerintah Nomor 72 tahun 2005 tentang Desa; 6. Peraturan Pemerintah Nomor 38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaen/ Kota; 7. Peraturan Pemerintah Nomor 39 tahun 2007 tentang Pengelolaan Keuangan Negara/ Daerah; 8. Peraturan Pemerintah Nomor 41 tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah 9. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008 tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah 10. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah; 11. Permendagri Nomor 13 tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah; 12. Permendagri Nomor 59 tahun 2007 tentang Perubahan Permendagri Nomor 13 tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah 3
  • 23.
    3. Fungsi, Kedudukandan Pendekatan RKPD 3.1. Fungsi RKPD Fungsi RKPD mencakup sebagai berikut: • Menjabarkan rencana strategis ke dalam rencana operasional; • Memelihara konsistensi antara capaian tujuan perencanaan strategis jangka menengah dengan tujuan perencanaan dan penganggaran tahunan pembangunan daerah; • Mengarahkan proses penyusunan RENJA dan RKA SKPD; • Menjadi dasar pedoman dalam penyusunan KUA, PPAS, RAPBD dan APBD; • Instrumen bagi pemerintah daerah untuk mengukur kinerja penyelenggaraan fungsi dan urusan wajib dan pilihan pemerintahan daerah; • Instrumen bagi pemerintah daerah untuk mengukur capaian target kinerja program pembangunan jangka menengah; • Instrumen bagi pemerintah daerah untuk mengukur capaian target standar pelayanan minimal dan mengukur kinerja pelayanan SKPD; • Instrumen bagi pemerintah daerah sebagai acuan LPPD kepada pemerintah, LKPJ kepada DPRD dan ILPPD kepada masyarakat. • Menyediakan informasi bagi pemenuhan Laporan Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah yang perlu disampaikan kepada Pemerintah Pusat. 3.2. Kedudukan RKPD dalam Sistem dan Mekanisme Perencanaan dan Penganggaran Pembangunan Daerah RKPD merupakan penjabaran RPJMD untuk jangka waktu 1 (satu) tahun, memuat rancangan kerangka ekonomi daerah, prioritas pembangunan daerah, rencana kerja dan pendanaannya dengan mengacu kepada Rencana Kerja Pemerintah (RKP). RKPD merupakan acuan bagi daerah dalam menyusun Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD), dengan demikian Kepala daerah dan DPRD dalam menentukan Kebijakan Umum APBD (KUA), serta penentuan Prioritas dan Pagu Anggaran Sementara (PPAS) didasarkan atas dokumen RKPD. KUA dan PPAS yang telah disepakati selanjutnya digunakan sebagai acuan dalam proses penyusunan APBD. Dari segi kerangka waktu, penyusunan dokumen RKPD harus diselesaikan pada setiap bulan Mei, sedangkan dokumen APBD harus sudah disahkan paling lambat tanggal 1 Desember. Substansi RKPD memuat program dan kegiatan SKPD dan dokumen RKPD merupakan acuan bagi SKPD dalam menyempurnakan Renja SKPD untuk tahun yang sama. Proses penyusunan RKPD dilakukan secara paralel dan sifatnya saling memberi masukan dengan proses penyusunan Rencana Kerja SKPD (Renja SKPD). 4
  • 24.
    Pedoman Dijabarkan RPJP RPJM NASIONAL NASIONAL RKP Diperhatikan Pedoman Dijabarkan RPJM Pedoman RPJP RKPD DAERAH Penyusunan DAERAH DAERAH RAPBD 20 Tahun Pedoman Diacu RENSTRA RENJA SKPD Pedoman SKPD 5 Tahun 1 Tahun Bagan 1. Alur Perencanaan Pembangunan Daerah Menurut UU 25/2004 3.3. Pendekatan Perencanaan dalam Penyusunan RKPD Ada lima pendekatan dalam penyusunan RKPD, yaitu pendekatan teknokratis, politis, partisipatif, top-down, dan bottom-up. a. Pendekatan Teknokratis (Strategis dan Berbasis Kinerja) Dokumen RKPD pada dasarnya merupakan suatu proses pemikiran strategis. Kualitas dokumen RKPD sangat ditentukan oleh kualitas program dan kegiatan yang diusulkan RKPD dalam mencapai tujuan dan sasaran pembangunan daerah yang disepakati dalam Musrenbang RKPD. Penyusunan RKPD sangat erat kaitannya dengan kompetensi dalam menyusun, mengorganisasikan, mengimplementasikan, mengendalikan, dan mengevaluasi capaian program dan kegiatan. Pendekatan teknokratis bermakna bahwa RKPD memuat hal-hal sebagai berikut: 1. Review menyeluruh tentang kinerja pembangunan tahun lalu 2. Rumusan status, kedudukan kinerja penyelenggaraan urusan wajib/pilihan pemerintahan daerah masa kini 3. Rumusan peluang dan tantangan ke depan yang mempengaruhi penyusunan RKPD 4. Rumusan tujuan, strategi, dan kebijakan pembangunan 5. Pertimbangan atas kendala ketersediaan sumberdaya dan dana (kendala fiskal daerah) 6. Rumusan dan prioritas program dan kegiatan SKPD berbasis kinerja 7. Tolok ukur dan target kinerja capaian program dan kegiatan dengan mempertimbangkan Standar Pelayanan Minimal 8. Tolok ukur dan target kinerja keluaran 9. Tolok ukur dan target kinerja hasil 10. Pagu indikatif program dan kegiatan. 11. Prakiraan maju pendanaan program dan kegiatan untuk satu tahun berikutnya 12. Kejelasan siapa bertanggungjawab untuk mencapai tujuan, sasaran dan hasil, serta waktu penyelesaian, termasuk review kemajuan pencapaian sasaran 5
  • 25.
    b. Pendekatan Demokratisdan Partisipatif Pendekatan demokratis dan partisipatif bermakna bahwa RKPD memuat hal-hal sebagai berikut: 1. Identifikasi pemangku kepentingan yang relevan untuk dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan di setiap tahapan penyusunan RKPD 2. Kesetaraan antara para pemangku kepentingan dari unsur pemerintah dan non pemerintah dalam pengambilan keputusan 3. Transparasi dan akuntabilitas dalam proses perencanaan 4. Keterwakilan yang memadai dari seluruh segmen masyarakat, terutama kaum perempuan dan kelompok marjinal 5. Rasa memiliki masyarakat terhadap RKPD 6. Pelibatan media 7. Pelaksanaan Musrenbang RKPD yang berkualitas dari segi penerapan perencanaan partisipatif 8. Konsensus atau kesepakatan pada semua tahapan penting pengambilan keputusan, seperti: perumusan prioritas isu dan permasalahan, perumusan tujuan, strategi, dan kebijakan dan prioritas program c. Pendekatan Politis Pendekatan politis bermakna bahwa RKPD memuat hal-hal sebagai berikut: 1. Konsultasi dengan Kepala Daerah untuk penerjemahan yang tepat, sistematis atas visi, misi, dan program Kepala Daerah ke dalam tujuan, strategi, kebijakan, dan program pembangunan daerah 2. Keterlibatan aktif DPRD dalam proses penyusunan RKPD 3. Jaring aspirasi masyarakat (reses) oleh DPRD merupakan bagian integral dari proses penyusunan RKPD 4. Pokok-pokok pikiran DPRD dalam proses penyusunan RKPD 5. Pembahasan terhadap Rancangan Peraturan Kepala Daerah tentang RKPD yang setelah ditetapkan akan mengikat semua pihak sebagai acuan dalam penyusunan RAPBD d. Pendekatan Bottom-up Pendekatan bottom-up bermakna bahwa RKPD memuat hal-hal sebagai berikut: 1. Penjaringan aspirasi dan kebutuhan masyarakat untuk melihat konsistensi dengan visi, misi, dan program Kepala Daerah Terpilih 2. Memperhatikan hasil proses musrenbang dan kesepakatan dengan masyarakat tentang prioritas pembangunan daerah 3. Mempertimbangkan hasil Forum SKPD e. Pendekatan Top-down Pendekatan top-down bermakna bahwa RKPD memuat hal-hal sebagai berikut: 1 Sinergi dengan RKP dan RENJA K/L 2 Sinergi dan konsistensi dengan RPJMD maupun RPJPD 3 Sinergi dan konsistensi dengan RTRWD 4 Penanganan masalah dengan pendekatan holistik dan pendekatan sistem. 5 Sinergi dan komitmen pemerintah terhadap tujuan-tujuan pembangunan global seperti Millenium Development Goals (MDGs), Sustainable Development, pemenuhan Hak Asasi Manusia, pemenuhan standar pelayanan minimal (SPM), dan sebagainya. 6
  • 26.
    3.4. Tahapan dalamProses Penyusunan RKPD Secara garis besar, tahapan proses penyusunan RKPD dapat dibagi dalam delapan tahapan utama, yaitu: Tahap 1 Persiapan dan Pada tahap ini dilakukan orientasi mengenai RKPD, Pengorganisasian Para identifikasi para pemangku kepentingan untuk dilibatkan Pemangku Kepentingan dalam proses penyusunan RKPD, pembentukan Tim Penyusun RKPD, Penyusunan Rencana Kerja Penyiapan Dokumen, pengumpulan data dan informasi, serta penyusunan daftar isi RKPD. Tahap 2 Penyusunan Rancangan Tahapan ini mencakup kegiatan-kegiatan review RPJMD, Awal RKPD review usulan program dan kegiatan SKPD tahun lalu dan prioritas untuk tahun rencana, analisis isu strategis dan prioritas pembangunan daerah untuk tahun yang direncanakan bersama para pemangku kepentingan terkait, menyusun dokumen rancangan awal RKPD, dan pembahasan rancangan awal RKPD dengan SKPD. Tahap 3 Penyusunan Rancangan Tahapan ini meliputi kegiatan persiapan penyusunan, Renja SKPD kegiatan analisis dan pengkajian dokumen terkait, dan kegiatan penyusunan Rancangan Renja SKPD. Tahap 4 Penyusunan Rancangan Pada tahap ini dilakukan penilaian dan pembahasan atas RKPD rancangan Renja SKPD yang disampaikan Kepala SKPD kepada Bappeda, pengintegrasian rancangan Renja SKPD ke dalam Rancangan Awal RKPD untuk menjadi Rancangan RKPD, pembahasan dengan para pemangku kepentingan terkait untuk memperoleh masukan dan pertimbangan bagi rancangan RKPD, penyiapan ringkasan Rancangan RKPD untuk sebagai bahan pembahasan dalam Musrenbang tahunan daerah, dan penyampaian tembusan Rancangan RKPD kepada Bappenas dan Bappeda Provinsi sebagai masukan dalam penyusunan RKP Nasional dan RKPD Provinsi. Tahap 5 Musrenbang Tahap ini merupakan pelibatan para pemangku kepentingan dalam pengambilan keputusan perencanaan, melalui pelaksanaan Musrenbang sejak tingkat desa/kelurahan, tingkat kecamatan, Forum SKPD/gabungan SKPD Kabupaten/Kota, Musrenbang Kabupaten/Kota, Forum SKPD/Gabungan SKPD Provinsi, dan Musrenbang Provinsi, sesuai jadwal yang ditetapkan. Tahap 6 Penyusunan Rancangan Pada tahap ini dilakukan penyempurnaan atas Rancangan Akhir RKPD/Renja SKPD RKPD berdasarkan hasil kesepakatan dalam Musrenbang tahunan daerah dengan tetap memperhatikan rancangan RKP untuk RKPD Provinsi, dan rancangan RKPD Provinsi untuk RKPD Kabupaten/Kota. Tahap 7 Penyiapan dan Penetapan Pada tahap ini dilakukan penyiapan dan penetapan Peraturan RKPD/Renja peraturan Kepala Daerah tentang RKPD dan penyiapan dan SKPD penetapan peraturan Kepala SKPD untuk Renja SKPD. Tahap 8 Pengintegrasian RKPD ke Pada tahap ini RKPD perlu diterjemahkan ke dalam proses dalam Proses penganggaran melalui penyusunan KUA, PPAS, dan RKA Penganggaran Daerah SKPD. 7
  • 27.
    Bagan 2A memperlihatkanalur proses penyusunan RKPD, Renja SKPD, KUA, PPAS, dan APBD. Bagan tersebut menunjukkan kedudukan RKPD dalam proses perencanaan dan penganggaran tahunan daerah, dimana RKPD merupakan acuan penyusunan KUA, PPAS, dan APBD. Bagan 2B memperlihatkan rincian tahapan dan kegiatan dalam proses penyusunan RKPD dan Renja SKPD 8
  • 28.
    PENYUSUNAN RKPD DANRENJA SKPD PENYUSUNAN KUA DAN APBD Pedoman Penyusunan APBD Dokumen RKP RPJM-D (PERDA) Penyusunan Rancangan Rancangan KUA Awal RKPD Rancangan Penyusunan Rancangan Rancangan m- 1 Feb RKPD Rancangan PPAS PERKADA tentang Akhir RKPD Penjabaran APBD m- 1 Jun m- 2 Mei m- 1 Mar m- 2 Sept Proses Rancangan Dokumen RKPD Dokumen PERKADA Renja SKPD (Perkada) Kebijakan Umum tentang Tekno- APBD (KUA) RKA- Penjabaran Kratis m- 4 Mei SKPD APBD m- 4 Feb Dokumen Prioritas Renja m- 4 Des Renstra & Plafon Anggaran SKPD SKPD Sementara Rancangan PERDA (Peraturan (PPAS) PERDA tentang tentang Kepala APBD APBD SKPD) Dokumen Renja SKPD m- 4 Des (Perka SKPD) m- 4 Mei Penetapan Nota Kesepakatan Pembahasan Penetapan Kepala Pembahasan Penetapan SE Ranperda APBD Peraturan Kep. Kebijakan Umum KaDa ttg Daerah tentang Perda KUA & PPAS oleh Pemda dan Daerah ttg RKPD APBD APBD dan Perkada 9 (TAPD & Pedoman DPRD m- 4 Mei Penyusunan Penjabaran APBD Panggar Proses Penetapan Nota Kesepakatan RKA-SKPD m- 2 Okt m- 3 Des DPRD Legis- Peraturan Kep. PPAS SKPD ttg Renja m- 2/3 Jul m- 1 Agt Keputusan Evaluasi Ranperda lasi/ m- 4 Jul Bersama Kepala SKPD APBD dan Ranpekada Politis Daerah dan m- 4 Mei DPRD thdp Penjabaran APBD oleh Ranperda APBD Gubernur m- 1 Des m- 2 Des Pembahasan Musrenbang Konsultasi dgn Delegasi Konsultasi Publik Forum SKPD Daerah/RKPD Peserta Musrenbang Ranperda APBD Proses Sosialisasi m- 1 Mar m- 3 Mar Ranperda (RAPBD) Partisi- kepada patif Musrenbang Masyarakat Kecamatan m- 3 Feb Musrenbang Desa/Kel. m- 4 Jan Bagan 2A. Alur Penyusunan RKPD, Renja SKPD, KUA, PPAS dan APBD Keterangan: m Batas waktu penyelenggaraan pada minggu ke..... -----> Konsultatif/Sosialisasi
  • 29.
    10 Bagan 2B. Proses Penyusunan Dokumen Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) dan Dokumen Rencana Kerja SKPD ( Renja SKPD)
  • 30.
    4. Tujuan, Sasarandan Ruang Lingkup Pedoman 4.1. Tujuan dan Sasaran Pedoman Pedoman ini dirancang untuk membantu Pemerintah Daerah dalam memenuhi kewajibannya yang ditentukan oleh peraturan perundangan tentang sistem perencanaan pembangunan nasional, khususnya dalam rangka penyusunan dokumen perencanaan dan penganggaran tahunan daerah provinsi/kabupaten/kota. Pedoman ini ditujukan untuk memperjelas tahapan, langkah-langkah, dan substansi untuk penyusunan RKPD dan Renja SKPD, termasuk pelaksanaan musyawarah perencanaan pembangunan mulai dari tingkat desa/kelurahan sampai dengan tingkat kabupaten/kota dan provinsi. Pedoman ini dirancang dengan pendekatan seluwes mungkin sehingga daerah dapat melakukan penyesuaian-penyesuaian sesuai dengan kondisi dan perkembangan kemampuan perencanaan di masing-masing daerah, namun tetap mengindahkan ketentuan- ketentuan yang bersifat prinsip sebagaimana terkandung dalam Undang-undang 25/2004, PP-8 tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah, serta prinsip-prinsip tata kelola kepemerintahan yang baik (good governance). 4.2. Ruang Lingkup dan Substansi Pedoman Pedoman penyusunan RKPD secara umum merupakan pedoman bagi daerah kabupaten/ kota maupun provinsi yang berisikan mengenai tata cara penyusunan dokumen RKPD mulai dari tahap persiapan, penyiapan dan penetapan RKPD dalam bentuk Peraturan Kepala Daerah, hingga proses pengintegrasian RKPD ke dalam proses penganggaran tahunan daerah. Penyelenggaraan musyawarah perencanaan pembangunan tahunan daerah (Musrenbangda) merupakan bagian dari proses penyusunan RKPD. Oleh karena itu pedoman ini mencakup juga hal-hal pokok/prinsip-prinsip dalam pelaksanaan musrenbang tahunan daerah mulai dari musrenbang desa/kelurahan sampai dengan musrenbang Provinsi. Pengaturan penyelenggaraan Musrenbang secara lebih lebih terinci akan diatur dalam Permendagri tersendiri tentang Musrenbang. 5. Sistimatika Pedoman Pedoman penyusunan RKPD ini secara garis besar terbagi menjadi 4 (empat) bagian, yaitu: A. UMUM Merupakan pengantar bagi pengguna pedoman untuk memahami filosofi dan latar belakang penyusunan RKPD, substansi utama RKPD, pendekatan perencanaan, serta keterkaitan dokumen RKPD dengan dokumen lainnya. 11
  • 31.
    B. PROSES PENYUSUNANRKPD Berisikan penjelasan singkat tentang tahapan-tahapan dalam penyusunan RKPD dilengkapi dengan bagan alir penyusunan RKPD. C. TEKNIS PENYUSUNAN RKPD Berisikan pedoman langkah-langkah dalam rangka menyusun dokumen, mulai dari tahap persiapan dan pengorganisasian para pemangku kepentingan, penyusunan rancangan RKPD/Renja SKPD, hal-hal pokok dan prinsip-prinsip penyelenggaraan Musrenbang, penyusunan Rancangan Akhir RKPD/Renja SKPD, penyiapan dan penetapan RKPD/Renja SKPD, dan pengintegrasian RKPD ke dalam proses penganggaran daerah. D. PENUTUP Berisikan kaidah-kaidah dalam menggunakan pedoman penyusunan dokumen RKPD. Pedoman teknis penyusunan RKPD diupayakan agar lebih bersifat operasional, sehingga mudah diikuti para pengguna, untuk keperluan itu juga dilengkapi dengan lampiran-lampiran teknis dan matriks/tabel-tabel untuk mempermudah kajian. 12
  • 32.
  • 33.
  • 34.
    BAGIAN B: PROSESPENYUSUNAN RKPD 1. PERSIAPAN DAN PENGORGANISASIAN PEMANGKU KEPENTINGAN K ualitas suatu perencanaan akan dipengaruhi oleh sejauhmana kematangan dalam tahap persiapan, sedangkan legitimasinya dari sisi partisipasi ditentukan oleh seberapa jauh keterlibatan para pemangku kepentingan. Tahapan persiapan dan pengorganisasian pemangku kepentingan meliputi : orientasi mengenai RKPD, identifikasi para pemangku kepentingan untuk dilibatkan dalam proses penyusunan RKPD, pembentukan Tim Penyusun RKPD, Penyusunan Rencana Kerja Penyiapan Dokumen RKPD, pengumpulan data dan informasi, serta penyusunan daftar isi RKPD. 1.1. Orientasi RKPD Kesamaan pemahaman merupakan salah satu syarat pencapaian kesepakatan untuk tujuan bersama. Oleh karena itu, maka dalam penyusunan RKPD perlu dilakukan orientasi bagi pihak-pihak yang terkait, baik yang menyangkut proses dan pendekatan perencanaan maupun berkaitan dengan substansi perencanaan itu sendiri. Adapun proses orientasi mengenai RKPD, adalah sebagai berikut: Langkah-1 : Membentuk tim inti penyusun RKPD yang anggotanya berasal dari unsur Bappeda Langkah-2 : Mempelajari peraturan perundangan yang terkait dengan penyusunan RKPD Langkah-3 : Menyusun jadwal/agenda, bahan presentasi dan narasumber untuk kegiatan orientasi RKPD (dari unsur Bappeda, atau bila dipandang perlu dapat mengundang narasumber dari luar daerah yang memahami betul tentang RKPD). Langkah-4 : Melakukan lokakarya/workshop orientasi dengan mengundang seluruh SKPD, DPRD, Perguruan Tinggi dan unsur LSM yang relevan untuk mengikuti orientasi. Langkah 5 : Menyusun kesepakatan bersama mengenai pokok-pokok yang perlu dilakukan dalam penyusunan RKPD, baik yang menyangkut proses penyusunan, substansi utama, pendekatan RKPD, maupun rancangan sementara agenda penyusunan dokumen RKPD. 1.2. Identifikasi Pemangku Kepentingan Identifikasi para pemangku kepentingan dimaksudkan untuk mencari siapa dan dari unsur mana yang memiliki kompetensi untuk dilibatkan secara aktif dalam proses penyusunan RKPD. Untuk itu, langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut: Langkah-1 : Menyusun inventarisasi daftar perguruan tinggi, asosiasi-asosiasi, LSM dan individu yang memiliki kompetensi dalam perencanaan pembangunan. Data dapat bersumber dari Bappeda sendiri, Kesatuan Bangsa, atau sumber lainnya. 15
  • 35.
    Langkah-2 : Melakukan kajian pengalaman dari institusi atau individu yang terdaftar dan selanjutnya menentukan siapa individu atau institusi yang cocok untuk dilibatkan sebagai tim penyusun, fasilitator, narasumber, advisor atau sebagai mitra diskusi, dan juga menentukan keterlibatan masing-masing dalam keseluruhan proses penyusunan RKPD. Langkah-3 : Menyiapkan surat permintaan resmi dari Bappeda atau Kepala Daerah untuk pelibatan para pemangku kepentingan dalam proses penyusunan RKPD sesuai peran yang dikehendaki. Langkah-4 : Mengundang para pemangku kepentingan yang relevan dan sesuai perannya dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka penyusunan dokumen RKPD. 1.3. Pembentukan Tim dan Rekrutmen Fasilitator Mengingat RKPD merupakan rencana tahunan daerah yang mencakup seluruh bidang pembangunan di daerah, maka tim penyusun sebaiknya juga melibatkan unsur para pemangku kepentingan di luar Bappeda, misalnya unsur perguruan tinggi, unsur asosiasi/ LSM, dan unsur SKPD lain yang sangat terkait dengan kepentingan RKPD. Untuk lebih efektifnya kerja tim, maka tim penyusun dibagi dalam kelompok-kelompok kerja (POKJA). Dengan demikian, tim penyusun akan terdiri atas Tim Inti dan Kelompok Kerja. Tim Inti sendiri terbagi habis di dalam POKJA. Pembagian pokja perlu diatur berdasarkan fungsi pemerintahan daerah atau gabungan beberapa fungsi yang mempunyai keterterkaitan erat, serta sesuai dengan kebutuhan daerah, sehingga setiap pokja-dalam proses pematangan konsepnya-dapat melakukan diskusi masing-masing secara terpisah. Langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut: Langkah-1 : Menentukan pilihan calon-calon anggota kelompok kerja/tim penyusun RKPD dan calon individu/kelompok mitra diskusi yang dinilai potensial berdasarkan hasil kajian identifikasi para pemangku kepentingan. Langkah-2 : Menyusun surat permintaan kesediaan kepada calon terpilih anggota kelompok kerja tim penyusun RKPD melalui atasan calon tersebut, untuk bergabung menjadi anggota kelompok kerja tim penyusun RKPD. Langkah-3 : Untuk hal yang sama, menyusun surat permintaan kesediaan pada calon individu/kelompok untuk dapat berperanserta dalam diskusi-diskusi terfokus yang akan dilaksanakan selama proses penyusunan dokumen RKPD. Langkah-4: Merekrut fasilitator yang kompeten dari unsur pemerintah/non pemerintah, guna memastikan terdapatnya kualitas hasil kesepakatan dan pengambilan keputusan dalam diskusi kelompok terfokus, konsultasi publik, dan musrenbang. Tabel 1 memperlihatkan contoh pengorganisasian dan susunan Tim Penyusun RKPD. 16
  • 36.
    1.4. Penyusunan AgendaKerja Penyiapan Dokumen Penyusunan rencana kerja perlu dilakukan sebagai acuan bagi tim penyusun dalam proses penyiapannya. Rencana kerja mengatur rincian kegiatan apa yang perlu dilakukan (termasuk seluruh kegiatan musrenbang dan forum SKPD), siapa yang melakukan, metoda pelaksanaannya bagaimana, serta kapan kegiatan tersebut akan dilakukan. Langkah-langkah penyusunan rencana kerja secara umum adalah sebagai berikut: Langkah-1 : Menyusun rincian agenda kegiatan yang harus dilakukan dalam proses penyusunan dokumen RKPD dan memberi catatan batas waktu (deadline) pada kegiatan-kegiatan yang telah ditentukan berdasarkan peraturan perundangan. Lihat Lampiran 1 Contoh Kalender Penyusunan RKPD dan Renja SKPD Langkah-2 : Merumuskan keluaran/output serta metoda pelaksanaan dari setiap rincian kegiatan tersebut. Langkah-3 : Menyusun matrik rencana kerja yang berisikan rincian kegiatan, keluaran, metoda dan jadwal pelaksanaan Langkah-4 : Menjabarkan rencana kerja penyusunan RKPD tersebut oleh masing-masing Pokja Tabel 2 memperlihatkan contoh Kalender Penyusunan RKPD dan Renja SKPD. 1.5. Pengumpulan Data dan Informasi Setiap usulan program dan kegiatan perlu didukung dengan data dan informasi yang memadai dan akurat dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Data/informasi yang dikumpulkan sedemikian rupa sehingga memperlihatkan secara jelas status, kedudukan, capaian kinerja penyelenggaraan urusan wajib/pilihan pemerintahan daerah. Langkah-1: Menyusun daftar data/informasi yang dibutuhkan bagi penyusunan RKPD dan menuangkannya dalam bentuk matrik (check list) untuk memudahkan pemantauan. Langkah-2: Melakukan pengumpulan data/informasi dari sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan Langkah-3: Menyiapkan tabel-tabel/matrik kompilasi data yang sesuai dengan kebutuhan analisis. Tabel 3 memperlihatkan contoh check list untuk inventarisasi sumber dan jenis data/ informasi yang diperlukan dalam penyusunan RKPD. 17
  • 37.
    1.6. Penyiapan DaftarIsi Dokumen RKPD merupakan dokumen yang menjabarkan rencana jangka menengah daerah ke dalam rencana tahunan dan mengimplementasikannya dalam program dan kegiatan tahunan, sehingga akan dijadikan acuan bagi proses penyusunan RAPBD, mulai dari perumusan Kebijakan Umum APBD, penetapan Prioritas dan Plafon Anggaran hingga penyusunan RKA-SKPD dan RAPBD. Oleh karena itu substansi RKPD seyogyanya mampu menjawab kebutuhan materi bagi proses perencanaan dan penganggaran selanjutnya. 2. PENYUSUNAN RANCANGAN AWAL RKPD Rancangan Awal RKPD merupakan kunci penting dalam menentukan kualitas seluruh proses penyusunan RKPD. Rancangan Awal menginformasikan rancangan kerangka ekonomi daerah, arah kebijakan keuangan daerah, arah prioritas pembangunan daerah dan rencana keja program dan kegiatan yang dilengkapi dengan rancangan pagu indikatif untuk setiap SKPD untuk tahun yang direncanakan sebagai acuan bagi setiap SKPD dalam menyiapkan rancangan Renja SKPD. Rancangan Awal RKPD berfungsi sebagai koridor perencanaan pembangunan indikatif untuk tahun yang direncanakan. Arah kebijakan keuangan daerah di dalam Rancangan Awal RKPD Provinsi memuat indikasi belanja bagi hasil pemerintah provinsi kepada pemerintah kabupaten/kota, indikasi belanja dana dekonsentrasi, indikasi belanja dana sektoral, serta indikasi belanja tugas pembantuan pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota dan kepada pemerintahan desa, sedangkan arah kebijakan keuangan daerah dalam Rancangan Awal RKPD Kabupaten/Kota memuat indikasi belanja bagi hasil pemerintah kabupaten/kota kepada pemerintah desa serta indikasi bantuan keuangan pemerintah kabupaten/kota kepada pemerintah desa. Informasi ini sangat berguna sebagai acuan desa dalam menyusun rancangan RKT (Rencana Kerja Tahunan) desa. Di dalam penyusunan rancangan awal RKPD dilakukan review RPJMD, review usulan program dan kegiatan SKPD dari usulan tahun lalu dan prioritas pembangunan untuk tahun rencana, kajian terhadap RKP, analisis isu strategis dan prioritas pembangunan daerah untuk tahun yang direncanakan bersama para pemangku kepentingan yang terkait, merumuskan rancangan awal RKPD, dan pembahasan rancangan awal RKPD dengan SKPD. Penyusunan Rancangan Awal RKPD merupakan tanggung jawab Kepala Bappeda, untuk itu Bappeda membentuk tim penyusun RKPD yang bertugas melaksanakan seluruh proses penyusunan dokumen RKPD. 2.1. Prinsip-prinsip Penyusunan Rancangan Awal RKPD Hal prinsip yang harus diperhatikan dalam penyusunan rancangan awal RKPD adalah: 1. Penyusunan Rancangan Awal RKPD berpedoman pada hasil review RPJMD dan capaian kinerja penyelenggaraan urusan wajib/pilihan pemerintahan daerah, hasil review terhadap usulan-usulan SKPD yang tertuang dalam prakiraan maju yang diajukan tahun sebelumnya, serta memperhatikan perkiraan kemampuan keuangan daerah . 18
  • 38.
    2. Substansi utamayang termuat dalam rancangan awal RKPD, meliputi a. Evaluasi pelaksanaan RKPD tahun lalu b. Rancangan kerangka ekonomi daerah c. Arah kebijakan keuangan daerah, termasuk indikasi belanja bagi hasil dan belanja bantuan keuangan. d. Prioritas dan sasaran pembangunan daerah e. Rencana program dan kegiatan prioritas serta pagu indikatif SKPD 3. Informasi pagu indikatif bagi setiap SKPD dan indikasi belanja bagi hasil serta belanja bantuan keuangan merupakan informasi yang harus disampaikan dalam rancangan awal RKPD. Ketersediaan informasi ini akan sangat dibutuhkan oleh setiap SKPD (dan desa untuk RKPD kabupaten/kota) sebagai acuan dalam merumuskan rancangan rencana kerja SKPD (dan rencana kerja tahunan desa). Pagu indikatif SKPD dan indikasi belanja hibah dan belanja bantuan keuangan tersebut juga berfungsi sebagai koridor pendanaan dalam pembahasan forum SKPD maupun dalam pelaksanaan musrenbang desa dan musrenbang kecamatan, sehingga proses pelaksanaan musrenbang menjadi lebih efektif dan efisien. 4. Pengalokasian besaran pagu indikatif berorientasi pada asas pemenuhan kebutuhan, efisiensi, keadilan, dan penilaian kinerja, serta sinergi sumber-sumber pendanaan. 5. Perhitungan pagu indikatif anggaran program dan kegiatan yang dialokasikan bagi setiap SKPD didasarkan pada kebutuhan SKPD untuk melaksanakan urusan wajib/pilihan pemerintah daerah prioritas sesuai tingkat dan sasaran pelayanan program dan kegiatan. 6. Penyusunan rancangan awal RKPD dilakukan oleh Tim Inti Penyusunan RKPD dibawah tanggung jawab Bappeda, yang prosesnya dilakukan secara partisipatif. 7. Penyusunan rancangan awal RKPD dapat dimulai segera setelah dicapainya persetujuan bersama DPRD dan Kepala Daerah terhadap Ranperda APBD untuk pelaksanaan tahun sebelumnya (sekitar bulan Desember). Selanjutnya, paling lambat pada Minggu ke-3 bulan Januari Rancangan Awal RKPD sudah selesai disusun dan disebarkan kepada setiap SKPD dan unit kegiatan. 2.2. Tata Cara Penyusunan Langkah-langkah yang dilakukan dalam penyusunan rancangan awal RKPD adalah sebagai berikut: 1. Bappeda melakukan review RPJMD untuk melihat seberapa jauh pencapaian target kinerja program; isu dan permasalahan yang dihadapi; dan indikasi prioritas program pada tahun rencana 2. Bappeda melakukan kompilasi rancangan program/kegiatan setiap SKPD untuk tahun rencana. Kompilasi rancangan program/kegiatan setiap SKPD ini diambil dari prakiraan maju RKA-SKPD tahun (n+1) dari usulan tahun sebelumnya untuk dikonfirmasi kembali kepada setiap SKPD. 3. Bappeda menyiapkan konsep Surat Edaran Kepala Daerah yang ditujukan kepada seluruh SKPD, berisikan permintaan agar setiap SKPD mengkonfirmasi, mereview atau memperbaiki usulan atas rencana program dan kegiatan tahun rencana yang diajukan pada tahun sebelumnya, dengan memperhatikan prioritas daerah. 4. Kepala Daerah mengeluarkan Surat Edaran untuk seluruh SKPD dengan dilengkapi dengan formulir-formulir isian/matriks rencana program dan kegiatan SKPD yang telah 19
  • 39.
    disiapkan Bappeda, disertaibatas waktu pengembalian formulir isian tersebut kepada Bappeda. 5. Bappeda menerima pengembalian formulir isian rencana program dan kegiatan yang telah dikonfirmasi/ direview/ dievaluasi atau usulan perubahan dari masing-masing SKPD. 6. Bappeda melakukan pengecekan dan perbaikan terhadap matriks-matriks program setiap SKPD berdasarkan pengembalian formulir isian dari SKPD yang disesuaikan dengan hasil review RPJMD, serta hasil monitoring dan evaluasi kinerja pencapaian tahun lalu. 7. Dalam melaksanakan langkah (1), (2), (3), (4) dan (5), secara simultan Bappeda melalui Tim Intinya menyiapkan dokumen Rancangan Awal RKPD secara lengkap dengan menggunakan pedoman sebagaimana dijelaskan dalam Bagian-C. 8. Bappeda bersama Sekda mengundang seluruh Kepala SKPD untuk pembahasan rancangan awal RKPD, guna disepakati sebagai pedoman penyusunan rancangan Renja-SKPD. 9. Bappeda mengirimkan rancangan awal RKPD yang disertai dengan jadwal kalender perencanaan daerah untuk tahun yang direncanakan kepada seluruh SKPD sebagai bahan bagi SKPD untuk menyusun Rancangan Renja SKPD. Rancangan awal RKPD Kabupaten/Kota juga merupakan bahan acuan bagi desa/kelurahan dan kecamatan untuk melakukan Musrenbang desa/kelurahan dan musrenbang kecamatan. 10. Pengiriman rancangan awal RKPD tersebut disertai dengan catatan agar setiap SKPD menyerahkan rancangan Renja SKPD kepada Bappeda sesuai dengan kalender perencanaan yang disampaikan. . Secara diagramatis dapat digambarkan sebagai berikut : Abalisis Kondisi dan Perkiraan Kemampuan Permasalahan Daerha Keuangan Daerah Mutakhir Review RPJMD Rumusan Kebijakan - Prioritas dan Target Penyiapan Rumusan Keuangan Daerah; Program Rancangan Awal Prioritas Program dan - Perkiraaan Capaian RKPD Kegiatan; serta Pagu Indikatif Review Usulan Program dan Kegiatan dari RKA-SKPD Tahun Sebelumnya Bagan 3. Proses Penyusunan Rancangan Awal RKPD Tabel 4 memperlihatkan contoh format yang dapat digunakan untuk mereview realisasi target capaian kinerja RPJMD. Format ini dapat digunakan untuk mengana- lisis kesenjangan pencapaian program/kegiatan, faktor-faktor penyebabnya, dan mengidentifikasi kebutuhan prioritas program dan kegiatan tahun rencana. Tabel 5 kolom 5, 6 dan 7 memperlihatkan contoh format yang dapat digunakan untuk mereview usulan program dan kegiatan SKPD serta prioritas tahun rencana berdasarkan prakiraan maju (n+1) RKPD tahun berjalan. 20
  • 40.
    3. PENYUSUNAN RANCANGANRENJA SKPD Rancangan Renja SKPD merupakan rancangan program dan kegiatan yang akan dilaksanakan oleh masing-masing SKPD pada tahun yang direncanakan sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya dalam rangka menunjang pencapaian visi dan misi kepala daerah terpilih. Program dan kegiatan dalam rancangan Renja SKPD masih bersifat indikatif yang diselaraskan dengan program dan kegiatan prioritas daerah. Pada tahap ini dilakukan kegiatan persiapan penyusunan, kegiatan analisis dan pengkajian dokumen terkait, dan kegiatan penyusunan Rancangan Renja SKPD. Penyusunan rancangan Renja SKPD merupakan tanggung jawab masing-masing kepala SKPD yang proses penyusunannya mengacu pada rancangan awal RKPD, untuk itu masing- masing SKPD perlu membentuk tim penyusun Renja SKPD yang bertugas melaksanakan seluruh proses penyusunan dokumen Renja SKPD sampai dengan penyusunan RKA-SKPD. 3.1. Prinsip-prinsip Penyusunan Rancangan Renja SKPD Prinsip-prinsip di dalam penyusunan rancangan Renja SKPD, adalah sebagai berikut: 1. Berpedoman pada Renstra SKPD dan mengacu pada rancangan awal RKPD. 2. Penyusunan Renja SKPD bukan kegiatan yang berdiri sendiri, melainkan merupakan rangkaian kegiatan yang simultan dengan penyusunan RKPD, serta merupakan bagian dari rangkaian kegiatan penyusunan APBD. 3. Substansi rancangan Renja SKPD memuat evaluasi status, kedudukan kinerja penyelenggaraan urusan wajib/pilihan SKPD terhadap Renstra SKPD; evaluasi pelaksanaan Renja SKPD tahun lalu; rumusan tujuan, sasaran, program dan kegiatan; dana indikatif serta sumber dananya dan prakiraan maju. 4. Penyusunan program dan kegiatan SKPD untuk tahun yang direncanakan mengacu pada ketentuan SPM (Standar Pelayanan Minimal) dan mempertimbangkan capaian kinerja SPM yang ada (jika SPM untuk kegiatan dimaksud tersedia). 5. Rumusan program/kegiatan di dalam renja SKPD didasarkan atas pertimbangan urutan urusan pelayanan wajib/pilihan pemerintahan daerah yang memerlukan prioritas penanganan dan mempertimbangkan pagu indikatif masing-masing SKPD. 6. Progam/kegiatan dalam RKPD Provinsi dirinci menurut sumber pendanaan yang diusulkan untuk didanai APBD Provinsi, APBN dan sumber lainnya, sedangkan untuk RKPD Kabupaten/Kota dirinci menurut sumber dana APBD Kabupaten/Kota, APBD Provinsi, APBN dan sumber dana lainnya. 7. Program dan kegiatan yang direncanakan memuat tolok ukur dan target capaian kinerja, keluaran, biaya satuan per keluaran, total kebutuhan dana, baik untuk tahun n dan tahun n+1. 8. Dibentuknya forum SKPD sebagai forum diskusi, tidak hanya ditujukan untuk pembahasan program dan kegiatan tahunan saja, melainkan juga sebagai sarana diskusi dalam pembahasan berbagai persoalan pembangunan yang terkait dengan bidang SKPD masing-masing. Untuk itu pemilihan peserta forum SKPD harus yang betul-betul memiliki komitmen, serta sesuai dengan kapasitas dan kompetensi menurut bidangnya. 9. Rancangan Renja SKPD Kabupaten/Kota selesai disusun dan disampaikan kepada Kepala Daerah melalui Bappeda paling lambat pada minggu ke-4 bulan Februari, sedangkan untuk Renja SKPD Provinsi paling lambat pada minggu pertama bulan Maret. 21
  • 41.
    10. Program dankegiatan di dalam Renja SKPD Kabupaten/Kota yang diusulkan untuk didanai melalui APBD Provinsi dan APBN, dan/atau usulan program/kegiatan dekonsentrasi, tugas pembantuan dan DAK. Tembusannya disampaikan oleh SKPD Kabupaten/Kota kepada SKPD Provinsi dan Kementerian/Lembaga yang sesuai. 11. SKPD Provinsi melakukan pengkajian terhadap usulan program/kegiatan yang disampaikan SKPD terkait dari kabupaten/kota yang ada di provinsi, selanjutnya dibahas bersama SKPD-SKPD kabupaten/kota tersebut dalam forum SKPD Provinsi untuk menentukan kesepakatan prioritas terhadap program/kegiatan yang diusulkan untuk didanai APBD Provinsi dan/atau APBN. Tabel 5 kolom 1, 2, 3, 4, 8 sampai dengan 14 memperlihatkan contoh format yang dapat digunakan untuk menyusun rancangan program dan kegiatan RKPD/Renja SKPD 3.2. Tata Cara Penyusunan 3.2.1. Kegiatan Persiapan: Kegiatan penyusunan rancangan Renja SKPD dapat dilakukan sebelum Rancangan Awal RKPD diterima SKPD, atau segera setelah RAPBD tahun sebelumnya disahkan menjadi APBD (awal Desember). Langkah-langkah pada Kegiatan Persiapan mencakup: 1. Melakukan identifikasi para pemangku kepentingan Identifikasi dan seleksi para pemangku kepentingan yang akan dilibatkan sebagai peserta forum SKPD, dan/atau yang akan dipilih sebagai anggota Tim Penyusun Renja SKPD, mencakup individu ataupun lembaga yang dinilai kompeten, relevan, dan representa- tive. Jika kegiatan ini telah dilakukan pada waktu penyusunan Renja tahun sebelumnya, maka pada langkah ini cukup mereview dan melakukan perubahan yang diperlukan berdasarkan masukan tahun sebelumnya. 2. Pembentukan Tim Penyusun Renja SKPD Pada langkah ini selain membentuk Tim Penyusun Renja SKPD disarankan pula untuk menetapkan fasilitator untuk membantu proses pelaksanaan perencanaan partisipatif yang efektif dan efisien. Tim yang dibentuk diusahakan melibatkan anggota dari unsur LSM yang memiliki kompetensi dan komitmen. Tim penyusun Renja SKPD, dapat dibentuk untuk masa waktu beberapa tahun, dan dapat juga sekaligus dirangkap/ merangkap Tim penyusun Renstra SKPD. Jika tim telah terbentuk pada tahun sebelumnya, maka jika diperlukan dapat direview kembali. 3. Penyiapan Kelembagaan Forum SKPD Pada langkah ini dilakukan penyiapan kelembagaan forum SKPD yang pesertanya merupakan perwakilan para para pemangku kepentingan yang memiliki relevansi dan kompetensi khusus serta punya komitmen dengan SKPD yang bersangkutan. Jika kelembagaan forum SKPD ini sudah terbentuk, maka tinggal dilanjutkan. 4. Pengisian Formulir (Isian) Pada langkah ini Tim Penyusun Renja SKPD melakukan konfirmasi terhadap formulir 22
  • 42.
    isian/matrik yang disampaikanoleh Kepala Daerah tentang usulan program dan kegiatan yang diajukan SKPD tahun sebelumnya dalam rangka prakiraan maju serta menyerahkan formulir isian yang telah dilengkapi dan telah direview kepada Bappeda. 5. Penyusunan Rencana Kerja Tim untuk Penyusunan Renja SKPD Tim Penyusun Renja SKPD menyusun rencana kerja untuk penyusunan Renja SKPD serta menyiapkan outline atau daftar isi Renja SKPD dengan lampiran berupa format kegiatan yang akan dianggarkan. Format kegiatan yang akan dianggarkan tersebut menggunakan format sesuai ketentuan yang diatur dalam PERMENDAGRI No 59/2007 tentang Perubahan atas Permendagri Nomor 13/2006. 6. Kompilasi Informasi/Konsultasi dengan Kementrian/Lembaga (K/L) Terkait Tim Penyusun Renja SKPD meminta/mengumpulkan informasi atau berkonsultasi dengan K/L sehubungan dengan rancangan Renja K/L untuk bidang/sektor terkait di provinsi dan kabupaten/kota. 7. Kompilasi Informasi/Konsultasi dengan Provinsi Terkait Tim Penyusun Renja SKPD kabupaten/kota meminta/mengumpulkan informasi atau berkonsultasi sehubungan dengan rancangan Renja SKPD Provinsi untuk bidang/sektor terkait. Tabel 6 memperlihatkan Prototype Daftar Isi Rancangan Renja SKPD 3.2.2. Kegiatan Analisis dan Pengkajian Dokumen: Merupakan kegiatan pengkajian terhadap dokumen program/kegiatan yang terkait langsung dengan penyusunan Renja SKPD dalam rangka koordinasi dan sinergi program/kegiatan SKPD. Kegiatan dapat dilaksanakan sebelum rancangan awal RKPD diterima. Langkah-langkah pada kegiatan analisis dan pengkajian dokumen ini mencakup: 1. Melakukan Kajian terhadap Rancangan Awal RKP Nasional (dan RKPD Provinsi) Langkah ini dimaksudkan untuk melihat arahan dan prioritas program/kegiatan yang terkait SKPD yang bersangkutan. 2. Review RPJM Nasional dan RPJM Provinsi Melakukan identifikasi arahan dan prioritas RPJM Nasional untuk diakomodasikan dalam penyusunan Renja SKPD Provinsi. Untuk Renja SKPD Kabupaten/Kota juga perlu mengidentifikasi arahan dan prioritas RPJM Provinsi atau dari Renja SKPD Provinsi tahun yang direncanakan (jika telah disusun), untuk diakomodasikan dan disinergikan dalam penyusunan Renja SKPD Kabupaten/Kota. Jika belum diperoleh informasi untuk tahun yang direncanakan, maka dapat diidentifikasi dari RKP/RKPD Provinsi tahun lalu. 3. Kajian terhadap RPJM Daerah dan Renstra SKPD Melakukan evaluasi status capaian kinerja penyelenggaraan urusan wajib/pilihan SKPD terhadap RPJM Daerah dan program dan kegiatan dalam Renstra SKPD pada tahun rencana, sesuai Tupoksi SKPD dalam rangka mencapai sasaran hasil pembangunan tahun rencana 4. Kajian dan Evaluasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan SKPD Melakukan kajian dan evaluasi pelaksanaan program dan kegiatan SKPD tahun lalu dan tahun berjalan, evaluasi pencapaian SPM serta review terhadap kebutuhan pro- 23
  • 43.
    gram dan kegiatanyang diusulkan tahun sebelumnya dalam rangka prakiraan maju pada program/ kegiatan (n + 1) 5. Meminta/menerima Rancangan Awal RKPD secara resmi dari Bappeda 3.2.3. Kegiatan Penyusunan Rancangan Renja SKPD: Kegiatan ini dilaksanakan setelah SKPD menerima secara resmi dokumen Rancangan Awal RKPD dari Bappeda. Langkah-langkah pada kegiatan penyusunan rancangan Renja SKPD mencakup: 1. Mengidentifikasi realisasi target capaian kinerja program dan kegiatan SKPD tahun lalu dan dibandingkan terhadap sasaran dan target Renstra SKPD dan RPJMD pada tahun bersangkutan. 2. Merumuskan program/kegiatan pelayanan wajib/pilihan SKPD sesuai skala prioritasnya untuk pencapaian sasaran dan target Renstra SKPD maupun RPJMD. 3. Mengkaji rancangan awal RKPD program/kegiatan apa saja yang sesuai dengan kebutuhan dan lakukan pengecekan apakan program/kegiatan yang merupakan kegiatan lanjutan dan/atau prioritas SKPD sudah termuat dalam rancangan awal RKPD. Jika belum termuat, maka perlu diberi catatan penting pada rancangan awal tersebut. 4. Mengidentifikasi program dan kegiatan RKPD yang bersifat lintas SKPD dan memerlukan koordinasi dalam penyusunan program dan kegiatan. 5. Memasukkan usulan kegiatan hasil Musrenbang Kecamatan yang terkait dengan SKPD ke dalam rancangan Renja SKPD Kabupaten/Kota, sedangkan untuk rancangan Renja SKPD Provinsi, dilakukan kajian atas usulan yang disampaikan dari SKPD kabupaten/ kota dengan mempertimbangkan hasil kesepakatan Musrenbang Kabupaten/Kota. 6. Merumuskan perubahan atau revisi atas program dan kegiatan SKPD yang tertulis dalam RKPD dengan merinci tambahan atau koreksi terhadap rencana kegiatan SKPD yang tercantum dalam rancangan awal RKPD. 7. Menyiapkan Forum SKPD atau Forum Gabungan SKPD untuk mendapatkan kesepakatan susunan prioritas kegiatan dan program dalam format rencana kerja RKPD bagi setiap SKPD. Dalam keadaan terdapat kegiatan usulan masyarakat yang mendesak dan tidak atau belum termasuk dalam salah satu program dan kegiatan RKPD yang sudah dirancang maka kepala SKPD menambahkan program dan kegiatan tambahan ke dalam Renja SKPD yang sudah dirancang tersebut. Hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan besaran pagu indikatif setiap SKPD yang ditentukan dalam rancangan awal RKPD. 8. Merumuskan kembali usulan program dan kegiatan SKPD untuk tahun yang direncanakan dalam bentuk rancangan Renja SKPD, dengan memperhatikan prioritas daerah, kesinambungan program dan kegiatan SKPD serta pagu indikatif yang telah dicanangkan dalam rancangan awal RKPD. Format usulan memperhatikan format RKA- SKPD. 9. Rancangan Renja SKPD Provinsi memuat hasil identifikasi program dan kegiatan, dirinci menurut kabupaten, kecamatan, dan desa/kelurahan serta perkiraan alokasi sumber pendanaan dari APBD kabupaten/kota, APBD Provinsi, APBN dan sumber pendanaan lainnya. 24
  • 44.
    10. Rancangan RenjaSKPD kabupaten/kota juga memuat hasil identifikasi program dan kegiatan SKPD Provinsi yang berasal dari RPJM Propinsi dan/atau dari Renja SKPD Provinsi untuk tahun rencana atau dari prakiraan maju APBD Provinsi tahun sebelumnya. 11. Tembusan rancangan Renja SKPD kabupaten/kota disampaikan kepada SKPD Provinsi dan Kementerian/Lembaga terkait, khususnya daftar program dan kegiatan prioritas yang diusulkan untuk ditangani dan/atau dibiayai provinsi dan pemerintah pusat melalui dana APBN (dana dekonsentrasi, dana tugas pembantuan, DAK dan Dana Otsus), dan/ atau APBD Provinsi. 12. Untuk Renja SKPD provinsi, tembusannya disampaikan kepada Kemeterian/Lembaga terkait, khususnya daftar program dan kegiatan prioritas yang diusulkan untuk ditangani dan/atau dibiayai pemerintah pusat melalui dana APBN (dana dekonsentrasi, dana tugas pembantuan, DAK dan Dana Otsus). Skematis proses penyusunan Rancangan Renja SKPD dapat digambarkan sebagai berikut : Review Rancangan Review Awal RKPD Renstra SKPD Identifikasi Program/ Kegiatan terkait SKPD Evaluasi Capaian Program/Kegiatan Kinerja Pelayanan SKPD Berdasarkan Rumusan Wajib/Pilihan Skala Prioritas Rancangan SKPD terhadap Renja SKPD Target Renstra SKPD Usulan Hasil Identifikasi Program Musrenbang dan dan Kegiatan yang Forum ditangani Pusat Bagan 4. Proses Penyusunan Rancangan Renja SKPD 25
  • 45.
    4. PENYUSUNAN RANCANGANRKPD Merupakan tahap lanjutan, berupa kajian dan pembahasan atas rancangan Renja SKPD yang diintegrasikan dengan Rancangan Awal RKPD untuk disperbaiki menjadi Rancangan RKPD, pembahasan dengan para pemangku kepentingan terkait untuk memperoleh masukan dan pertimbangan bagi rancangan RKPD, penyiapan ringkasan Rancangan RKPD sebagai bahan pembahasan dalam Musrenbang tahunan daerah. Ringkasan rancangan RKPD Provinsi disampaikan kepada Bappenas, sedangkan ringkasan RKPD Kabupaten/Kota disampaikan kepada Bappenas dan Bappeda Provinsi sebagai masukan dalam penyusunan RKP Nasional dan/atau RKPD Provinsi. Rancangan RKPD merupakan integrasi dan harmonisasi antara rancangan awal RKPD dengan rancangan Renja setiap SKPD yang telah mendapatkan konfirmasi dan review dari setiap SKPD. Penyusunan Rancangan RKPD merupakan tanggung jawab Kepala Bappeda, dan materi program/kegiatan yang termuat merupakan bahan utama dalam penyelenggaraan musrenbang tahunan daerah. 4.1. Prinsip-prinsip Penyusunan Rancangan RKPD Prinsip-prinsip penyusunan Rancangan RKPD mencakup: 1. Merupakan proses tindak lanjut dan kesinambungan dari penyusunan rancangan awal RKPD dan penyusunan Renja SKPD. 2. Substansi pokok rancangan RKPD meliputi : evaluasi pelaksanaan RKPD tahun sebelumnya; rancangan kerangka ekonomi daerah; arah kebijakan keuangan daerah; prioritas dan sasaran pembangunan daerah; rencana program dan kegiatan prioritas yang dilengkapi dengan pagu indikatif. 3. Menjamin konsistensi program dan kegiatan SKPD terhadap pencapaian visi dan misi Kepala Daerah dan prioritas pembangunan daerah. 4. Setiap prioritas pembangunan daerah memiliki maksud mencapai sasaran hasil pembangunan jangka menengah daerah yang terukur dan jelas indikatornya. 5. Menjamin kesinambungan, efisiensi dan efektifitas program/kegiatan yang telah dibangun pada tahun-tahun sebelumnya. 6. Penyelesaian dokumen Rancangan RKPD paling lambat pada minggu ke-2 bulan Maret. 4.2. Tata Cara Penyusunan Tata cara penyusunan Rancangan RKPD adalah sebagai berikut: 1. Bappeda menerima secara resmi naskah rancangan Renja-SKPD yang disampaikan oleh Kepala SKPD 2. Menilai dan membahas konsistensi rancangan Renja-SKPD dengan SKPD yang bersangkutan terhadap tugas dan fungsinya, serta terhadap prioritas pembangunan daerah yang sudah dicanangkan. 3. Mengidentifikasi program-program dan kegiatan-kegiatan yang merupakan lintas SKPD 26
  • 46.
    dan lintas wilayah,khususnya yang terkait dengan penanganan isu strategis daerah, kemudian memberi catatan agar program/kegiatan tersebut dapat bersinergi. 4. Mereview kembali besaran program, anggaran yang dibutuhkan, indikator kinerja, dan target kinerja yang hendak dicapai dari setiap program dan kegiatan. 5. Mengintegrasikan rancangan Renja-SKPD ke dalam rancangan awal RKPD menjadi rancangan RKPD, dengan memperhatikan prioritas daerah maupun nasional, prioritas program dan kegiatan SKPD, serta perkembangan informasi ketersediaan dana pembangunan. 6. Melakukan beberapa diskusi kelompok terfokus menurut bidang bahasan dengan berbagai kalangan para pemangku kepentingan yang relevan dalam rangka memperoleh masukan dan pertimbangan terhadap draft rancangan RKPD. 7. Menyelesaikan dokumen rancangan RKPD serta menyiapkan ringkasan (summary) atau pokok-pokok materi sebagai bahan pembahasan dalam kegiatan musrenbang tahunan daerah. 8. Menyampaikan tembusan ringkasan rancangan RKPD kepada Bappenas dan/atau Bappeda Provinsi sebagai masukan dalam penyusunan RKP Nasional dan/atau RKPD Provinsi. 5. MUSRENBANG Pelibatan masyarakat dalam penyusunan RKPD adalah melalui kegiatan musyawarah perencanaan pembangunan/Musrenbang, forum SKPD/Gabungan SKPD, serta kegiatan Diskusi Kelompok Terfokus (FGD). Musrenbang tahunan dan forum SKPD dilaksanakan pada setiap tahun perencanaan yang penyelenggaraannya merupakan tanggung jawab daerah, dan pelaksanaannya dikoordinasikan oleh Kepala Bappeda. Musrenbang tahunan daerah merupakan forum konsultasi dengan para pemangku kepentingan pembangunan untuk membahas rencana pembangunan daerah dan mengalokasikan kegiatan tersebut menurut prioritasnya kepada pihak yang berwenang atau bertanggungjawab pada kegiatan tersebut, maupun pihak-pihak yang berkomitmen untuk melaksanakannya, dibawah koordinasi Kepala Bappeda. Agar dalam pelaksanaan musrenbang dapat menghasilkan keluaran yang optimal serta menjamin keterlibatan masyarakat yang lebih intensif, maka dalam setiap tahapan musrenbang dari mulai persiapan sampai dengan paska musrenbang perlu difasilitasi oleh fasilitator yang memadai. Musrenbang tahunan atau musrenbang RKPD dan forum SKPD juga berfungsi untuk menjembatani kepentingan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dengan kepentingan masyarakat (top-down dan bottom-up approach), serta mendapatkan komitmen/ kesepakatan para pemangku kepentingan untuk penyempurnaan rencana kerja pembangunan daerah untuk tahun yang direncanakan. Panyelenggaraan musrenbang tahunan daerah dilakukan secara berjenjang mulai dari musrenbang desa/kelurahan, musrenbang kecamatan, forum SKPD atau forum gabungan SKPD Kabupaten/Kota, Musrenbang Kabupaten/Kota, Forum SKPD atau Gabungan SKPD 27
  • 47.
    Provinsi, dan MusrenbangProvinsi. Hasil Musrenbang Kabupaten/Kota sendiri menjadi masukan bagi provinsi dan pusat untuk bahan musrenbang provinsi, musrenbang pusat dan musrenbang nasional maupun dalam rangka penyusunan rancangan akhir RKPD. Penyelenggaraan musrenbang desa/kelurahan, musrenbang kecamatan, forum SKPD atau gabungan SKPD dan musrenbang kabupaten/kota dikoordinasikan dan difasilitasi oleh Bappeda Kabupaten/Kota yang pendanaannya dibebankan pada APBD Kabupaten /Kota, sedangkan forum SKPD/gabungan SKPD dan musrenbang provinsi dibebankan pada APBD Provinsi. Keseluruhan penyelenggaraan musrenbang tahunan yang berjenjang mulai dari tingkat desa sampai dengan tingkat nasional, dilaksanakan dengan jadwal sebagai berikut: 1) Musrenbang Desa/Kelurahan; dilaksanakan sepanjang bulan Januari, dan paling lambat akhir bulan Januari seluruh desa/kelurahan telah melaksanakannya. 2) Musrenbang Kecamatan; dilaksanakan sekitar bulan Februari, dan paling lambat akhir minggu ke-3 bulan Februari seluruh kecamatan sudah selesai melaksanakan musrenbang kecamatan. 3) Forum SKPD/Gabungan SKPD Kabupaten/kota; dilaksanakan antara minggu ke-2 Februari sampai dengan akhir minggu ke-1 bulan Maret. 4) Musrenbang Daerah Kabupaten/Kota dilaksanakan sepanjang bulan Maret. 5) Musrenbang Pusat (Musrenbangpus) dilaksanakan pada akhir bulan Maret. 6) Forum SKPD/Gabungan SKPD Provinsi dilaksanakan paling lambat minggu ke-2 bulan Maret. 7) Musrenbang Provinsi dilaksanakan paling lambat akhir bulan Maret. 8) Musrenbang Nasional (Musrenbangnas) dilaksanakan pada akhir bulan April. Musrenbang harus dilakukan dengan memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut: 1. Inklusif. Memastikan keterlibatan dan keterwakilan para pemangku kepentingan. 2. Relevan. Melibatkan para pemangku kepentingan yang relevan yaitu yang memiliki kepedulian, kompetensi serta peranan (termasuk pengaruh) dalam proses pemecahan permasalahan penyelenggaraan fungsi dan urusan wajib/pilihan pemerintahan daerah 3. Sensitif gender. Memastikan bahwa baik laki-laki maupun perempuan mempunyai akses yang sama pada pengambilan keputusan perencanaan daerah 4. Partisipatif dan interaktif; proses pembahasan melibatkan seluruh para pemangku kepentingan secara seimbang, baik dalam penyampaian informasi, analisis, interpretasi informasi, dan pengembangan kesepakatan untuk pengambilan keputusan. 5.1. Musrenbang Desa/Kelurahan Musrenbang Desa/Kelurahan merupakan forum musyawarah tahunan para pemangku kepentingan tingkat desa/kelurahan untuk menyepakati rencana kegiatan tahun anggaran berikutnya. Penyelenggaraan musrenbang desa/ kelurahan menjadi tanggung jawab kepala desa/lurah, dan difasilitasi/disupervisi oleh camat yang bersangkutan di bawah koordinasi kepala Bappeda. 28
  • 48.
    Prinsip-prinsip penyelenggaraan MusrenbangDesa/kelurahan: 1. Musrenbangdes/kel ditujukan untuk membahas seluruh rencana kegiatan pembangunan di wilayah desa/kelurahan untuk tahun rencana yang pendanaannya berasal dari berbagai sumber (PADes, ADD/dana bagi hasil, Bantuan desa/kelurahan, PPK/P2KP, swadaya masyarakat, dan sumber dana lainnya). 2. Untuk menjamin pemahaman dan kajian mendalam, maka bahan/materi musrenbang desa/kelurahan sudah dibagikan bersamaan ketika mengantarkan surat undangan kepada peserta yang memiliki kompetensi memadai. 3. Peserta mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengkaji, mendiskusikan, mengusulkan dan mengambil kesepakatan bersama terhadap rumusan hasil musrenbang desa/kelurahan. 4. Mekanisme pembahasan menggunakan fasilitator yang kompeten untuk memandu pembahasan dan penyepakatan hasil musrenbang desa/kelurahan, serta melibatkan narasumber yang sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan. 5. Adanya kejelasan informasi dari Pemda Kabupaten/Kota tentang indikasi Alokasi Dana Desa yang akan diberikan kepada desa untuk tahun anggaran direncanakan serta sumber pendanaan program/kegiatan lainnya. 6. Adanya kesepakatan urutan prioritas isu/permasalahan pembangunan desa/kelurahan dan urutan faktor penyebabnya 7. Adanya kesepakatan urutan prioritas fungsi/urusan wajib/pilihan pemerintahan daerah untuk menangani isu/permasalahan pembangunan desa/kelurahan 8. Adanya kesepakatan rancangan program dan kegiatan dengan memperhatikan rencana pembangunan jangka menengah desa/kelurahan (RPJMdes/RPJMkel). 9. Keluaran musrenbang desa/kelurahan berupa : a. Daftar prioritas kegiatan pembangunan skala desa/kelurahan dengan tolok ukur capaian kinerjanya, yang akan didanai melalui dana bagi hasil/Alokasi Dana Desa, bantuan keuangan desa/kelurahan, dana swadaya masyarakat, dan sumber dana program/ kegiatan lainnya. b. Daftar prioritas kegiatan pembangunan lengkap dengan tolok ukur capaian kinerjanya yang diusulkan untuk dilaksanakan melalui SKPD dan/atau kecamatan, namun masih akan dibahas dalam musrenbang kecamatan dan/atau forum SKPD dan musrenbang kabupaten/kota. c. Daftar nama delegasi untuk mengikuti musrenbang kecamatan d. Berita Acara Musrenbang Desa/Kelurahan 10. Paling lambat pada akhir bulan Januari seluruh desa dan kelurahan telah selesai melaksanakan musrenbang desa/kelurahan. 5.2. Musrenbang Kecamatan Musrenbang kecamatan merupakan forum musyawarah pembangunan bersama para pemangku kepentingan tingkat kecamatan. Penyelenggaraannya menjadi tanggung jawab Camat yang bersangkutan dan dikoordinasikan oleh Kepala Bappeda Kabupaten/Kota. 29
  • 49.
    Prinsip-prinsip penyelenggaraan MusrenbangKecamatan: 1. Sasaran musyawarah untuk menghasilkan kesepakatan didasarkan atas prinsip-prinsip transparansi, demokratis/partisipatif, akuntabilitas, efisiensi, efektivitas, fokus serta mengarah pada pemecahan masalah dengan kebersamaan. 2. Pelaksanaan musrenbang kecamatan perlu dipandu oleh fasilitator kecamatan yang memahami teknik-teknik fasilitasi dan mengerti tentang mekanisme perencanaan pembangunan di daerah. 3. Peserta musrenbang kecamatan sekurang-kurangnya terdiri atas: delegasi hasil musrenbang desa/kelurahan, institusi/lembaga/organisasi masyarakat tingkat kecamatan; pengusaha/ asosiasi dan lembaga pendidikan yang ada di kecamatan tersebut, serta tokoh-tokoh masyarakat kecamatan setempat. 4. Setiap peserta memperoleh bahan/materi yang lengkap, serta mempunyai kesempatan yang sama untuk menyampaikan pemikiran dan gagasannya terhadap materi bahasan. 5. Narasumber meliputi Bappeda, perwakilan SKPD kabupaten/kota, kepala-kepala cabang SKPD dan kepala unit pelayanan di kecamatan, anggota DPRD yang berasal dari daerah pemilihan kecamatan bersangkutan, camat, aparat kecamatan dan para ahli/profesional yang dibutuhkan. 6. Mekanisme pembahasan menggunakan fasilitator yang kompeten untuk memandu pembahasan dan penyepakatan hasil musrenbang kecamatan. 7. Pokok bahasan dalam musrenbang kecamatan adalah mensinergikan hasil musrenbang desa/kelurahan tentang usulan daftar prioritas kegiatan pembangunan yang akan dilaksanakan melalui SKPD dan/atau kecamatan, serta rancangan kerja pembangunan kecamatan. 8. Rumusan kesepakatan prioritas program dan kegiatan yang direncanakan harus terukur dan jelas indikator kinerjanya. 9. Adanya kesepakatan urutan prioritas isu/permasalahan pembangunan kecamatan dan urutan faktor penyebabnya 10. Adanya kesepakatan urutan prioritas fungsi/urusan wajib/pilihan pemerintahan daerah untuk menangani isu/permasalahan pembangunan kecamatan 11. Adanya kesepakatan rancangan program dan kegiatan dengan memperhatikan rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD). 12. Keluaran musrenbang kecamatan meliputi : a. Daftar prioritas kegiatan pembangunan di wilayah kecamatan menurut fungsi/SKPD yang siap dibahas pada forum SKPD dan Musrenbang Kabupaten/Kota, yang diusulkan untuk didanai melalui APBD Kabupaten /Kota maupun sumber pendanaan lainnya. b. Daftar delegasi kecamatan untuk mengikuti forum SKPD dan Musrenbang Kabupaten/ Kota. c. Berita Acara Musrenbang Tahunan Kecamatan 13. Adanya sosialisasi kembali oleh delegasi desa/kelurahan kepada masyarakat yang diwakilinya tentang hasil musrenbang kecamatan, sehingga masyarakat dapat mengetahui apa yang disepakati dan apa yang tidak disepakati di tingkat kecamatan. 14. Paling lambat pada minggu ke-3 bulan Februari seluruh kecamatan telah selesai melaksanakan musrenbang kecamatan. 30
  • 50.
    5.3. Forum SKPD/GabunganSKPD Kabupaten/Kota Merupakan wahana pembahasan dan konsolidasi program/kegiatan untuk memperoleh kesepakatan bersama mengenai program/kegiatan yang akan dilaksanakan pada tahun yang direncanakan termasuk prioritas dan cara penanganannya, dengan cara membahas dan mensinergikan antara prioritas kegiatan pembangunan hasil musrenbang kecamatan dengan rancangan Renja SKPD yang bersumber dari Renstra SKPD. Pada dasarnya setiap SKPD perlu mempunyai forum diskusi masing-masing, namun jika belum memungkinkan, maka beberapa SKPD yang bidang tugasnya saling mempunyai keterkaitan erat dapat juga membentuk forum gabungan SKPD. Prinsip-prinsip penyelenggaraan forum SKPD/gabungan SKPD Kabupaten/Kota: 1. Forum SKPD/gabungan SKPD merupakan forum pembahasan strategis yang mempertemukan pendekatan teknokratis dan top-down dengan pendekatan partisipatif dan bottom-up. 2. Forum SKPD/gabungan SKPD membahas daftar prioritas kegiatan pembangunan di wilayah kecamatan menurut fungsi/SKPD atau gabungan SKPD, yang akan didanai melalui APBD Kabupaten/Kota maupun sumber pendanaan lainnya. 3. Peserta terdiri dari para delegasi kecamatan, perwakilan institusi/organisasi/ perguruan tinggi atau kelompok masyarakat tingkat kabupaten/kota yang terkait langsung dengan fungsi/SKPD atau gabungan SKPD yang bersangkutan, serta anggota forum SKPD. 4. Narasumber meliputi kepala SKPD kabupaten/kota, kepala dan para pejabat Bappeda, anggota DPRD dari komisi pasangan kerja masing-masing SKPD, ahli/profesional baik yang berasal dari kalangan praktisi maupun akademisi. 5. Mekanisme pembahasan menggunakan fasilitator yang kompeten untuk memandu pembahasan dan penyepakatan hasil Forum SKPD. 6. Forum SKPD dapat digunakan DPRD baik secara perorangan maupun atas nama komisi terkait untuk menyampaikan pokok-pokok pikiran hasil kegiatan reses dan usulan pro- gram dan kegiatannya dalam forum SKPD/ gabungan SKPD untuk dibahas dan memperoleh kesepakatan bersama. 7. Keluaran forum SKPD/gabungan SKPD Kabupaten/Kota, meliputi: a. Rancangan Renja-SKPD berdasarkan hasil Forum-SKPD yang memuat kerangka regulasi dan kerangka anggaran SKPD. b. Prioritas kegiatan yang sudah dipilah menurut sumber pendanaan APBD setempat, APBD Provinsi maupun APBN yang termuat dalam rancangan Renja-SKPD disusun menurut kecamatan dan desa. Selanjutnya, hasil kesepakatan prioritas kegiatan per kecamatan disampaikan kepada masing-masing kecamatan oleh para delegasi kecamatan. c. Terpilihnya delegasi SKPD yang berasal dari organisasi dan/atau kelompok-kelompok masyarakat untuk mengikuti musrenbang daerah kabupaten/kota. 8. Penyelenggaraan Forum SKPD/gabungan SKPD paling lambat pada minggu ke-1 bulan Maret telah selesai dilaksanakan seluruhnya. 31
  • 51.
    5.4. Musrenbang Kabupaten/Kota Musrenbangkabupaten/kota adalah musyawarah para pemangku kepentingan di tingkat kabupaten/kota untuk mematangkan rancangan RKPD kabupaten/kota berdasarkan Renja- SKPD hasil forum SKPD dengan cara meninjau keserasian antara rancangan Renja-SKPD yang hasilnya digunakan untuk pemutakhiran rancangan RKPD. Prinsip-prinsip penyelenggaraan Musrenbang Kabupaten/Kota: 1. Musrenbang kabupaten/kota memperhatikan hasil pembahasan forum SKPD atau fo- rum gabungan SKPD, hasil musrenbang kecamatan, RPJMD atau Renstra Daerah (bagi daerah yang belum melakukan Pilkada), hasil evaluasi kinerja pembangunan tahun berjalan dan masukan dari para peserta. 2. Hasil musrenbang kabupaten/kota adalah prioritas kegiatan yang dipilah menurut sumber pendanaan dari APBD setempat, APBD Provinsi dan APBN sebagai bahan pemutakhiran rancangan RKPD Kabupaten/Kota untuk menjadi dasar dan rujukan utama dalam penyusunan anggaran tahunan (RAPBD). 3. Peserta musrenbang kabupaten/kota adalah delegasi dari musrenbang kecamatan, delegasi dari forum SKPD/gabungan SKPD dan perwakilan institusi/organisasi/ perguruan tinggi yang bekerja di kabupaten/kota. 4. Narasumber terdiri atas: SKPD kabupaten/kota, DPRD, Perguruan Tinggi, perwakilan Bappeda Provinsi, Tim Penyusun RKPD, Tim Anggaran Eksekutif maupun Panitia Anggaran DPRD. 5. Mekanisme pembahasan menggunakan fasilitator yang kompeten untuk memandu pembahasan dan penyepakatan hasil musrenbang kabupaten/kota. 6. Adanya kesepakatan urutan prioritas isu/permasalahan pembangunan kabupaten/kota dan urutan faktor penyebabnya 7. Adanya kesepakatan urutan prioritas fungsi/urusan wajib/pilihan pemerintahan daerah untuk menangani isu/permasalahan pembangunan kabupaten/kota 8. Adanya kesepakatan rancangan program dan kegiatan dengan memperhatikan rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD). 9. Keluaran dari pelaksanaan musrenbang kabupaten/kota adalah kesepakatan tentang rumusan yang menjadi masukan utama untuk memutakhirkan rancangan RKPD dan rancangan Renja-SKPD, yang meliputi: a) Penetapan arah kebijakan, prioritas pembangunan, dan pagu indikatif menurut fungsi/ SKPD. b) Daftar kegiatan prioritas dengan tolok ukur capaian kinerjanya yang sudah dipilah menurut sumber pembiayaan dari APBD kabupaten/kota, APBD Provinsi, APBN, dan sumber pendanaan lainnya. c) Daftar usulan kebijakan/regulasi pada tingkat pemerintah Kabupaten/Kota, Provinsi dan/ atau Pusat. d) Rancangan belanja bagi hasil pemerintah provinsi kepada pemerintah kabupaten/kota, serta indikasi belanja bantuan keuangan pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota dan kepada pemerintahan desa (untuk RKPD Provinsi). e) Rancangan belanja bagi hasil pemerintah kabupaten/kota kepada pemerintah desa serta indikasi bantuan keuangan pemerintah kabupaten/kota kepada pemerintah desa (untuk RKPD Kabupaten/Kota). 32
  • 52.
    f) Daftardelegasi musrenbang kabupaten/kota untuk mengikuti proses penyusunan APBD dan proses musrenbang provinsi. g) Berita Acara pelaksanaan musrenbang kabupaten/kota. 10. Paling lambat pada akhir bulan Maret, musrenbang kabupaten/kota sudah selesai dilaksanakan. 5.5. Forum SKPD/Gabungan SKPD Provinsi Merupakan wahana pembahasan dan konsolidasi untuk memperoleh kesepakatan bersama mengenai program/kegiatan yang akan dilaksanakan oleh SKPD Provinsi pada tahun yang direncanakan termasuk prioritas dan cara penanganannya, dengan cara membahas dan mensinergikan antara prioritas kegiatan pembangunan hasil forum musrenbang kabupaten/ kota dengan rancangan renja SKPD Provinsi yang bersumber dari Renstra SKPD Provinsi. Setiap SKPD perlu memiliki forum diskusi masing-masing, namun dapat pula membentuk forum gabungan SKPD untuk beberapa SKPD yang bidang tugasnya mempunyai saling keterkaitan erat. Prinsip-prinsip penyelenggaraan Forum SKPD/gabungan SKPD Provinsi: 1. Merupakan forum pembahasan strategis yang mempertemukan pendekatan teknokratis dan top-down dengan pendekatan partisipatif dan bottom-up. 2. Membahas daftar prioritas kegiatan pembangunan di wilayah provinsi menurut fungsi/ SKPD atau gabungan SKPD, yang akan didanai melalui APBD Provinsi, APBN maupun sumber pendanaan lainnya. 3. Peserta terdiri dari para delegasi kabupaten/kota, SKPD kabupaten/kota terkait se- provinsi, perwakilan institusi/organisasi/perguruan tinggi tingkat provinsi yang terkait langsung dengan fungsi/SKPD atau gabungan SKPD yang bersangkutan, serta anggota forum SKPD. 4. Narasumber meliputi kepala SKPD provinsi, kepala/pejabat Bappeda, anggota DPRD dari komisi pasangan kerja masing-masing SKPD, para ahli/ profesional baik yang berasal dari kalangan praktisi maupun akademisi. 5. Forum SKPD dapat digunakan DPRD baik secara perorangan maupun atas nama komisi terkait untuk menyampaikan pokok-pokok pikiran hasil kegiatan reses dan usulan pro- gram dan kegiatannya dalam forum SKPD/gabungan SKPD untuk dibahas dan memperoleh kesepakatan bersama. 6. Mekanisme pembahasan menggunakan fasilitator yang kompeten untuk memandu pembahasan dan penyepakatan hasil forum SKPD/gabungan SKPD provinsi. 7. Keluaran forum SKPD/gabungan SKPD provinsi, meliputi : a. Rancangan Renja-SKPD berdasarkan hasil forum-SKPD yang memuat kerangka regulasi dan kerangka anggaran SKPD. b. Prioritas kegiatan yang sudah dipilah menurut sumber pendanaan APBD Provinsi maupun APBN yang termuat dalam rancangan Renja-SKPD 7. Penyelenggaraan forum SKPD/gabungan SKPD provinsi paling lambat pada minggu ke-2 bulan Maret sudah selesai dilaksanakan seluruhnya. 33
  • 53.
    5.6. Musrenbang Provinsi Musrenbangprovinsi adalah musyawarah pemangku kepentingan di tingkat provinsi untuk menyempurnakan rancangan RKPD provinsi berdasarkan masukan hasil forum SKPD Provinsi dan hasil musrenbang kabupaten/kota. Prinsip-prinsip penyelenggaraan Musrenbang Provinsi: 1. Musrenbang provinsi membahas kesepakatan bersama prioritas program/kegiatan provinsi dengan memperhatikan hasil forum SKPD atau forum gabungan SKPD provinsi, hasil musrenbang kabupaten/kota, RPJMD/ Renstra Daerah Provinsi, hasil evaluasi kinerja pembangunan tahun berjalan dan masukan dari para peserta. 2. Peserta musrenbang adalah para delegasi kabupaten/kota, para kepala Bappeda dan perwakilan sekda kabupaten/kota se-provinsi, perwakilan institusi/ organisasi/ perguruan tinggi tingkat provinsi, dan anggota forum SKPD atau gabungan SKPD. 3. Narasumber terdiri atas: Kepala Bappeda dan para kepala SKPD provinsi, DPRD, Perguruan Tinggi, perwakilan Kementerian/Lembaga pusat, Tim Penyusun RKPD, Tim Anggaran Eksekutif maupun Panitia Anggaran DPRD. 4. Mekanisme pembahasan menggunakan fasilitator yang kompeten untuk memandu pembahasan dan penyepakatan hasil musrenbang provinsi. 5. Adanya kesepakatan urutan prioritas isu/permasalahan pembangunan provinsi dan urutan faktor penyebabnya 6. Adanya kesepakatan urutan prioritas fungsi/urusan wajib/pilihan pemerintahan daerah untuk menangani isu/permasalahan pembangunan provinsi 7. Adanya kesepakatan rancangan program dan kegiatan dengan memperhatikan rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD Provinsi). 8. Keluaran musrenbang berupa kesepakatan rumusan yang menjadi masukan utama untuk memutakhirkan rancangan RKPD dan rancangan Renja-SKPD, yang meliputi: a) Penetapan arah kebijakan, prioritas pembangunan, dan pagu indikatif menurut fungsi/ SKPD. b) Daftar kegiatan prioritas dengan tolok ukur capaian kinerjanya yang sudah dipilah menurut sumber pembiayaan APBD Provinsi, APBN, dan sumber pendanaan lainnya. c) Daftar usulan kebijakan/regulasi pada tingkat pemerintah Provinsi dan/atau Pusat. d) Rancangan belanja bagi hasil dari pemerintah provinsi kepada pemerintah kabupaten/ kota. e) Rancangan bantuan keuangan provinsi untukpemerintah kabupaten/kota dan untuk pemerintah desa. f) Daftar delegasi musrenbang provinsi untuk mengikuti proses penyusunan APBD Provinsi g) Berita Acara pelaksanaan musrenbang provinsi. 9. Paling lambat pada akhir bulan April, musrenbang provinsi sudah selesai dilaksanakan. 5.7. Diskusi Kelompok Terfokus (Focus Group Discussion/FGD) Pelibatan masyarakat dalam penyusunan RKPD/Renja SKPD juga dilakukan melalui serangkaian Diskusi Kelompok Terfokus (FGD/ Focus Group Discussion). Diskusi kelompok 34
  • 54.
    terfokus bertujuan untukmempertajam substansi Rancangan RKPD/Renja SKPD berdasarkan analisis dan kesepakatan para pemangku kepentingan yang ahli/berpengaruh. Pelaksanaan FGD menggunakan fasilitator yang kompeten untuk memandu pembahasan dan penyepakatan hasil FGD. 6. PENYUSUNAN RANCANGAN AKHIR RKPD Pada tahap ini dilakukan penyempurnaan atas Rancangan RKPD berdasarkan hasil kesepakatan dalam Musrenbang tahunan daerah dengan tetap mengacu pada rancangan RKP, sedangkan untuk RKPD Kabupaten/Kota juga memperhatikan rancangan RKPD Provinsi. Penyusunan rancangan akhir RKPD merupakan tanggung jawab Kepala Bappeda dengan masukan utama hasil kesepakatan Musrenbang Tahunan Daerah untuk disampaikan kepada Kepala Daerah, dan selanjutnya diproses untuk ditetapkan dalam Peraturan Kepala Daerah. 6.1. Prinsip-prinsip Penyusunan Rancangan Akhir RKPD Prinsip-prinsip penyusunan Rancangan Akhir RKPD meliputi: 1. Rancangan akhir RKPD wajib mengakomodasikan hasil-hasil kesepakatan musrenbang RKPD. 2. Dalam rancangan akhir RKPD tidak diperkenankan memasukkan program/kegiatan baru yang tidak melalui proses musrenbang, kecuali apabila setelah pelaksanaan musrenbang RKPD kemudian muncul kebutuhan program/kegiatan baru yang bersifat darurat, misalnya karena ada bencana alam, wabah, atau kerusuhan yang perlu segera ditangani. Untuk itu, maka perlu didiskusikan dan mendapat kesepakatan dengan delegasi musrenbang. 3. Rancangan Akhir RKPD merupakan dokumen final RKPD yang telah mengalami serangkaian proses sinergitas dan harmonisasi berbagai pendekatan perencanaan (teknokratis, politis, demokratis/patisipatif, bottom-up dan top-down). 4. Dokumen rancangan akhir yang kemudian ditetapkan menjadi PERKADA merupakan dokumen acuan dalam perumusan Kebijakan Umum APBD dan penetapan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (KUA dan PPAS), serta dalam penyusunan RAPBD. 5. Rancangan Akhir RKPD ditetapkan menjadi Peraturan Kepala Daerah, paling lambat pada akhir bulan Mei. 6. Nota kesepakatan KUA dan PPAS merupakan acuan bagi kepala daerah dalam menyusun pedoman penyusunan RKA-SKPD dan penyusunan RAPBD. 6.2. Tata Cara Penyusunan Rancangan Akhir RKPD Tata cara penyusunan Rancangan Akhir RKPD adalah sebagai berikut: 1. Penyusunan rancangan akhir RKPD Provinsi memuat kesepakatan hasil Musrenbang tahunan daerah dan memperhatikan rancangan RKP, sedangkan untuk RKPD kabupaten/kota harus memperhatikan juga rancangan RKPD Provinsi, khususnya 35
  • 55.
    tentang program dankegiatan K/L serta program dan kegiatan provinsi yang akan dilaksanakan di kabupaten/kota. 2. Menyusun naskah rancangan peraturan kepala daerah tentang RKPD dibantu oleh kepala SKPD yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan tugas dan fungsi hukum. 3. Menyampaikan rancangan akhir RKPD beserta naskah Perkada dan naskah kesepakatan hasil Musrenbang Tahunan Daerah kepada Kepala Daerah. 4. Menginformasikan secara luas rancangan akhir RKPD kepada masyarakat melalui media resmi pemerintah daerah 7. PENYUSUNAN RENJA SKPD Renja SKPD merupakan penyempurnaan dari rancangan Renja SKPD yang berisikan pro- gram dan kegiatan yang telah disepakati melalui pembahasan forum SKPD/gabungan SKPD dan musrenbang kabupaten/kota untuk dilaksanakan oleh masing-masing SKPD pada tahun yang direncanakan sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya dalam rangka menunjang pencapaian visi dan misi kepala daerah terpilih. Program dan kegiatan dalam Renja SKPD bersifat definitif. Penyempurnaan Renja SKPD merupakan tanggung jawab masing-masing kepala SKPD yang proses penyusunannya mengacu pada dokumen RKPD yang telah ditetapkan menjadi Peraturan Kepala Daerah. 7.1. Prinsip-prinsip Penyusunan Renja SKPD Prinsip-prinsip penyusunan Renja SKPD adalah sebagai berikut: 1. Mengacu pada RKPD yang telah ditetapkan menjadi Peraturan Kepala Daerah dan perlu dipastikan secara resmi bahwa RKPD yang diterima masing-masing kepala SKPD adalah dokumen resmi yang disampaikan oleh Kepala Daerah melalui bagian hukum; 2. Substansi Renja SKPD merupakan perbaikan dari materi Rancangan Renja SKPD yang disesuaikan dengan Perkada RKPD; 3. Program dan kegiatan dirinci menurut sumber pendanaan yang diusulkan (APBD Kabupaten/kota, APBD Provinsi, APBN dan sumber lainnya); 4. Program dan kegiatan yang direncanakan memuat tolok ukur kinerja keluaran, target capaian program/kegiatan, target keluaran kegiatan pada n dan pada n+1, biaya satuan per keluaran kegiatan pada n dan n+1, dan total dana yang diperlukan kegiatan pada n dan n+1. 5. Renja SKPD merupakan dokumen resmi program dan kegiatan SKPD yang akan dilaksanakan dalam tahun rencana dan merupakan acuan dalam penyusunan RKA- SKPD setelah memperhatikan nota kesepakatan Kebijakan Umum APBD (KUA) serta Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS). 6. Renja SKPD ditetapkan dengan Peraturan Kepala SKPD paling lambat sebelum pembahasan Kerangka Umum APBD dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah dan DPRD (atau sekitar akhir bulan Mei). Peraturan Kepala SKPD tentang Renja SKPD dapat juga menjadi dokumen pelengkap dalam kerjasama pembangunan antar daerah atau antar SKPD. 36
  • 56.
    7.2. Tata CaraPenyusunan Renja SKPD Tata cara penyusunan mencakup hal-hal sebagai berikut: 1. Menyempurnakan rancangan Renja SKPD menjadi Renja SKPD berpedoman pada Perkada RKPD serta memperhatikan Renja K/L. Untuk Renja SKPD kabupaten/kota memperhatikan juga RKPD Provinsi dan Renja SKPD Provinsi; 2. Memasukkan informasi judul kegiatan, kodefikasi, prakiraan maju, tolok ukur dan target kinerja masukan, keluaran, dan hasil program dan prioritas kegiatan kedalam format- format RKA-SKPD; 3. Menyusun prakiraan maju berdasarkan perhitungan biaya satuan per keluaran kegiatan (Activity Based Cost) dan dengan memperhatikan target capaian keluaran kegiatan pada tahun n dan tahun n+1. 4. Menyerahkan rancangan akhir Renja SKPD kepada Kepala Daerah, melalui Kepala Bappeda; Tabel 7 memperlihatkan contoh penyusunan prakiraan maju berdasarkan perhitungan biaya satuan per keluaran kegiatan (Activity Based Cost) 8. PENYIAPAN DAN PENETAPAN PERATURAN KEPALA DAERAH TENTANG RKPD DAN PERATURAN KEPALA SKPD TENTANG RENJA SKPD Pada tahap ini dilakukan penyiapan dan penetapan peraturan Kepala Daerah tentang RKPD serta penyiapan dan penetapan peraturan Kepala SKPD untuk Renja SKPD, sehingga dokumen RKPD menjadi dokumen resmi yang digunakan sebagai rujukan dalam penyusunan Renja SKPD maupun kelanjutannya dalam proses penyusunan APBD, demikian pula dokumen Renja SKPD menjadi dokumen resmi sebagai rujukan dalam penyusunan RKA- SKPD. 8.1. Penyiapan dan Penetapan PERKADA Prinsip-prinsip Perkada RKPD adalah sbb: 1. Substansi Perkada adalah rancangan akhir RKPD 2. Naskah Perkada mengacu pada ketentuan teknis dan legislasi yang berlaku. 3. Perkada RKPD adalah dokumen resmi yang menjadi acuan penyempurnaan rancangan renja SKPD dan pedoman dalam penyusunan KUA, PPAS dan RAPBD Dalam penyiapan dan penetapan Perkada tentang RKPD, langkah-langkahnya adalah sebagai berikut: 1. Kepala Daerah menerima secara resmi naskah Peraturan Kepala Daerah tentang RKPD 2. Kepala Daerah melakukan pengecekan atas substansi dan kebijakan pembangunan yang akan diterapkan pada tahun rencana; 3. Kepala Daerah melakukan pengecekan atas kesesuaian rancangan akhir RKPD dengan Berita Acara hasil musrenbang provinsi/kabupaten/kota. 4. Kepala Daerah memberikan pengantar dan arahan menggunakan RKPD; 37
  • 57.
    5. Kepala Daerahmenandatangani dan menyerahkan naskah kepada SKPD yang bertanggungjawab di bidang hukum untuk disebarluaskan kepada SKPD melalui Sekretariat Daerah. 6. Kepala daerah membentuk TAPD dengan memasukkan perwakilan delegasi musrenbang povinsi/kabupaten/kota sebagai mitra kerja TAPD. Kegiatan tindak lanjut pasca ditetapkannya RKPD dengan Peraturan Kepala Daerah mencakup: 1. Perwakilan delegasi musrenbang provinsi/kabupaten/kota membantu TAPD dalam mempersiapkan penyusunan Kebijakan Umum APBD (KUA) dan penyusunan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS), untuk dibahas bersama DPRD; 2. Pembahasan bersama KUA dan PPAS diikuti oleh perwakilan delegasi musrenbang. 8.2. Penyiapan dan Penetapan PERKA SKPD Supaya Renja SKPD menjadi dokumen resmi yang digunakan sebagai salah satu rujukan dalam penyusunan RKA-SKPD, maka Renja SKPD perlu ditetapkan dengan Peraturan Kepala SKPD. Prinsip-prinsip Perka SKPD tentang Renja SKPD adalah sebagai berikut: 1. Substansi Perka adalah Renja SKPD 2. Naskah Perka mengacu pada ketentuan teknis dan legislasi yang berlaku. 3. Perka SKPD adalah dokumen resmi yang menjadi acuan penyelenggaraan program dan kegiatan SKPD pada tahun rencana dan pedoman dalam penyusunan RKA-SKPD Langkah-langkah dalam penyiapan dan penyusunan Perka SKPD adalah sebagai berikut: 1. SKPD menyusun naskah rancngan Peraturan Kepala SKPD tentang Renja SKPD dibantu atau berkonsultasi dengan Kepala SKPD yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan tugas dan fungsi hukum 2. Bila diperlukan melakukan konsultasi naskah rancangan Peraturan Kepala SKPD tentang Renja SKPD kepada Bappeda dan Sekretaris Daerah 3. Menerbitkan Peraturan Kepala SKPD tentang Renja SKPD; 4. Menyampaikan Peraturan Kepala SKPD tentang Renja SKPD, beserta naskah kesepakatan hasil Forum SKPD kepada Kepala Daerah melalui Bappeda 9. PENGINTEGRASIAN RKPD KE DALAM PROSES PENGANGGARAN DAERAH Pengintegrasian RKPD ke dalam proses penganggaran tahunan daerah dilakukan melalui 3 (tiga) hal, yaitu: penyusunan KUA dan PPAS, penyusunan RKA-SKPD, dan penyusunan RAPBD. Penyusunan KUA dan PPAS, serta penyusunan RKA-SKPD memiliki fungsi penting dan sangat fundamental karena menjembatani proses penerjemahan rencana ke dalam penganggaran yang disusun untuk memastikan bahwa kesepakatan para pemangku kepentingan atas tujuan, sasaran, dan target perencanaan dapat direalisasikan. Oleh karena itu sangat perlu diperhatikan konsistensi dokumen perencanaan seperti RKPD dan Renja SKPD dengan KUA, PPAS, dan RKA SKPD. 38
  • 58.
    Uraian pada tahapini lebih ditujukan untuk menjelaskan hal-hal pokok/esensial dan prinsip- prinsip penyusunan KUA, PPAS, dan RKA SKPD serta penyusunan RAPBD. 9.1. Penyusunan KUA dan PPAS Penyusunan rancangan Kebijakan Umum APBD (KUA), serta rancangan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) merupakan tanggung jawab Kepala Daerah yang dalam penyusunannya dibantu oleh TAPD. Penyusunan rancangan KUA dan PPAS mengacu pada Peraturan Kepala Daerah tentang RKPD dan berpedoman pada Pedoman penyusunan APBD yang ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri setiap tahun. Prinsip-prinsip penyusunan KUA dan PPAS adalah sebagai berikut: 1. Rancangan KUA disusun mengacu pada dokumen RKPD 2. Rancangan KUA berisikan antara lain: a. Latar belakang penyusunan KUA, tujuan penyusunan KUA dan Dasar hukum KUA. b. Kerangka Ekonomi Makro Daerah, yang menguraikan perkembangkann indikator ekonomi makro daerah pada tahun sebelumnya dan rencana target ekonomi makro pada tahun perencanaan. c. Asumsi-asumsi dasar dalam penyusunan RAPBD yang mengacu pada asumsi dasar yang digunakan APBN, laju inflasi, pertumbuhan PDRB dan asumsi lainnya. d. Kebijakan Pendapatan, Belanja dan Pembiayaan daerah e. Format KUA diatur dalam Permendagri 59/2007 3. Rancangan PPAS disusun secara simultan dengan penyusunan KUA. 4. PPAS memuat substansi tentang latar belakang dan tujuan penyusunan PPAS, Rencana pendapatan dan penerimaan pembiayaan daerah, prioritas belanja daerah, serta plafon anggaran sementara berdasarkan urusan pemerintahan dan program/kegiatan. 5. Rancangan KUA dan PPAS tersebut disampaikan kepada DPRD untuk dibahas bersama. 6. Rancangan KUA dan PPAS dibahas bersama Pemda dengan DPRD 7. Pembahasan PPAS melalui langkah-langkah berikut : a. Menentukan skala prioritas dalam urusan wajib dan urusan pilihan. b. Menentukan urutan program dalam masing-masing urusan c. Menyusun plafon anggaran sementara untuk masing-masing program 8. Pembahasan KUA dan PPAS paling lambat dilaksanakan pada minggu kedua bulan Juli, yang setelah disepakati, kemudian dituangkan dalam Nota Kesepakatan Bersama Pemerintah dengan DPRD. 9.2. Penyusunan RKA SKPD RKA SKPD adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi rencana pendapatan, rencana belanja program, dan kegiatan SKPD serta rencana pembiayaan sebagai dasar penyusunan APBD. RKA SKPD disusun dengan prinsip-prinsip sebagai berikut: 1. Kepala SKPD dibantu tim penyusun Renja SKPD menyusun RKA-SKPD mengacu pada pedoman penyusunan RKA-SKPD yang ditetapkan Kepala Daerah termasuk lampirannya 39
  • 59.
    yang mencakup KUA,PPA, kode rekening APBD, format RKA-SKPD, analisis standar belanja, standar satuan harga, serta mempertimbangkan standar pelayanan minimal (SPM) 2. RKA SKPD yang disusun menggunakan pendekatan kerangka pengeluaran jangka menengah daerah, penganggaran terpadu dan penganggaran berdasarkan prestasi kinerja. 3. RKA-SKPD berisikan : • Ringkasan Anggaran Pendapatan, Belanja dan Pembiayaan SKPD; • Rincian anggaran pendapatan SKPD ; • Rincian anggaran biaya tidak langsung SKPD (periodik atau non kegiatan); • Rekapitulasi rincian anggaran belanja langsung menurut program dan kegiatan SKPD untuk tahun rencana dan tahun berikutnya (n+1); • Rincian penerimaan pembiayaan daerah; • Rincian pengeluaran pembiayaan daerah; Uraian lebih lengkap serta format yang digunakan diatur di dalam Permendagri 59/2007 9.3. Penyusunan RAPBD Penyusunan RAPBD merupakan tahap akhir dalam penyusunan perencanaan dan penganggaran tahunan daerah, yang disusun bersama TAPD dengan Panitia Anggaran DPRD sebagai bahan pembahasan paripurna DPRD untuk ditetapkan dalam Peraturan Daerah dan menjadi dasar pelaksanaan pembangunan daerah untuk tahun yang direncanakan. 40
  • 60.
    TEKNIS PENYUSUNAN DOKUMENRKPD (PROTOTYPE) 41
  • 61.
  • 62.
    BAGIAN C: TEKNISPENYUSUNAN DOKUMEN RKPD (PROTOTYPE) R KPD merupakan penjabaran dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah yang memuat rancangan kerangka ekonomi daerah, kebijakan keuangan daerah, prioritas pembangunan daerah, serta rencana kerja dan pendanaan. Penyusunan RKPD juga mengacu pada RKP Nasional, terutama dalam sinkronisasi dan sinergitas program dan kegiatan antara pembangunan nasional dengan pembangunan daerah. Adapun sistimatika/susunan serta garis besar isi dari dokumen RKPD dapat diuraikan sebagai berikut: BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Mengemukakan pengertian ringkas tentang RKPD, proses penyusunan RKPD, kedudukan RKPD tahun rencana dalam periode dokumen dokumen RPJMD, keterkaitan antara dokumen RKPD dengan dokumen RPJMD, Renstra SKPD, Renja SKPD serta tindaklanjutnya dengan proses penyusunan RAPBD. 1.2. Landasan Hukum Memberikan uraian ringkas tentang dasar hukum yang digunakan dalam penyusunan RKPD, baik yang berskala nasional, maupun lokal. Dalam hal ini kalau di daerah telah diterbitkan Peraturan Daerah atau Peraturan Kepala Daerah yang mengatur tentang perencanaan dan penganggaran ataupun tentang tata cara penyusunan dokumen perencanaan dan pelaksanaan musrenbang, perlu dicantumkan. Pada subbab ini tidak perlu semua peraturan- perundangan dicantumkan, melainkan cukup pada peraturan-perundangan yang memuat ketentuan secara langsung terkait dengan penyusunan RKPD 1.3. Maksud dan Tujuan Menjelaskan maksud dan tujuan penyusunan RKPD tahun rencana dalam kaitannya dengan dokumen RPJMD dan isu strategis serta kaitannya dengan Visi dan Misi Kepala Daerah. 1.4. Sistimatika Dokumen RKPD Mengemukakan organisasi penyusunan dokumen RKPD terkait dengan pengaturan bab serta garis besar isi setiap bab di dalamnya. BAB II. EVALUASI HASIL KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH 2.1. Visi dan Misi Pembangunan Jangka Menengah Daerah 43
  • 63.
    Mendeskripsikan kedudukan programdan kegiatan tahun rencana dalam rangka pencapaian visi dan misi pembangunan daerah jangka menengah sebagaimana tertuang dalam RPJMD. 2.2. Evaluasi Status dan Kedudukan Pencapaian Kinerja Pembangunan Daerah Mengemukakan tentang status dan kedudukan pencapaian kinerja pembangunan daerah berdasarkan indikator-indikator makro pembangunan daerah dan penyelenggaraan urusan wajib/pilihan pemerintahan daerah. Hal ini dilakukan untuk: 1) Mengetahui sejauh mana kemajuan yang telah dicapai terhadap target kinerja yang diharapkan menurut RPJMD, target pembangunan nasional (RPJM Nasional) maupun sektoral (Renstra K/L) 2) Mengetahui kendala dan tingkat pemanfaatan potensi yang ada 3) Menentukan langkah-langkah atau kebijakan yang diperlukan Tabel 8 memperlihatkan contoh format evaluasi status dan kedudukan pencapaian kinerja pembangunan provinsi/kabupaten/kota Di dalam bagian referensi dari pedoman ini, diberikan contoh indikator-indikator kinerja yang dapat juga digunakan oleh pemerintah daerah sebagai acuan untuk mengevaluasi kinerja pembangunan daerah. 2.3. Evaluasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan RKPD Tahun Lalu Mengemukakan hasil evaluasi pelaksanaan program dan kegiatan pembangunan daerah tahun lalu. Evaluasi meliputi seluruh program dan kegiatan yang dikelompokkan menurut kategori urusan wajib/pilihan pemerintahan daerah, menyangkut realisasi capaian target kinerja keluaran kegiatan dan realisasi target capaian kinerja program tahun lalu terhadap RPJMD. Evaluasi mencakup: 1) Realisasi program/kegiatan yang tidak memenuhi target kinerja keluaran yang diharapkan 2) Faktor-faktor penyebab tidak tercapainya target kinerja keluaran program/kegiatan 3) Implikasi yang timbul terhadap target capaian program RPJMD 4) Kebijakan/tindakan perencanaan dan penganggaran yang perlu diambil untuk mengatasi faktor-faktor penyebab tersebut. 2.4. Isu Strategis dan Masalah Mendesak Untuk RKPD Kabupaten/Kota, bagian ini mengemukakan isu strategis dan permasalahan tingkat daerah (hasil Musrenbang Desa/Kelurahan, Kecamatan, forum SKPD, dan Musrenbang Kabupaten/Kota) dan keterkaitannya dengan isu strategis dan permasalahan tingkat provinsi dan tingkat nasional. Untuk RKPD Provinsi, bagian bagian ini mengemukakan isu strategis dan permasalahan tingkat provinsi (hasil Musrenbang Kabupaten Kota, forum SKPD Provinsi, dan Musrenbang Provinsi) dan keterkaitannya dengan isu strategis dan permasalahan tingkat nasional. 44
  • 64.
    Tabel 9 memperlihatkancontoh format identifikasi isu strategis dan permasalahan mendesak BAB III. RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH Mengemukakan tentang kondisi ekonomi tahun lalu dan perkiraan tahun berjalan, yang antara lain mencakup: a) Indikator Pertumbuhan Ekonomi Daerah; b) Sumber-sumber Pendapatan dengan perincian, sumber pendapatan tahun lalu dan satu tahun sebelumnya, tahun berjalan, tahun rencana dan satu tahun setelah tahun rencana sebagai prakiraan maju pendapatan; dan c) Kebijakan Pemerintah Daerah yang diperlukan dalam Pembangunan Perekonomian Daerah meliputi Pendapatan Daerah, Belanja Daerah dan Pembiayaan Daerah, yang dituangkan dalam Kebijakan Umum Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. 3.1. Kondisi Ekonomi Daerah Tahun ...(tahun lalu) dan Perkiraan Tahun .... (tahun berjalan) Mengemukakan kondisi dan analisis data statistik Perekonomian Daerah, yang antara lain mencakup: Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), Tingkat Inflasi, Sumbangan Sektoral, Tingkat Investasi (termasuk PMA dan PMDN), Ekspor, dan Indikator Pembangunan Daerah Bidang Ekonomi yang tersedia di Daerah. Hasil analisis tersebut dapat diilustrasikan dalam grafik/bagan agar mudah dipahami. Tabel 10 memperlihatkan contoh format untuk mendokumentasikan perkembangan indicator makro ekonomi provinsi dan kabupaten/kota 3.2. Tantangan dan Prospek Perekonomian Daerah Tahun ..... dan Tahun ..... Mengidentifikasi tantangan dan prospek perekonomian daerah, khususnya pada tahun rencana (tahun n) dan 1 (satu) tahun setelah tahun rencana ( tahun n+1), dengan terlebih dahulu mengadakan analisis atas Kondisi Internal (kekuatan dan kelemahan) dan juga Kondisi Eksternal (peluang dan ancaman) terhadap pencapaian tujuan-tujuan pembangunan daerah. Hasil analisis digunakan sebagai masukan dalam menentukan arah kebijakan ekonomi daerah, misalnya dalam menentukan fokus pembangunan ekonomi, identifikasi sektor yang perlu dipercepat perkembangannya, tindakan apa yang perlu diperankan pemerintah daerah dalam mengatasi permasalahan dan mendorong pembangunan ekonomi daerah dan kebijakan ekonomi daerah lainnya. Tabel 11 memperlihatkan contoh format untuk menganalisis kondisi lingkungan internal dan eksternal provinsi/kabupaten/kota. 3.3. Arah Kebijakan Ekonomi Daerah Berisikan misalnya: arahan nasional di bidang ekonomi yang bersumber dari dokumen RKP (Nasional), RKPD Regional (Provinsi) dan juga kebijakan di bidang ekonomi dalam dokumen 45
  • 65.
    RPJMD. Berdasar padaberbagai dokumen tersebut diturunkan ke kebijakan pengembangan sektoral, regional dan sebagainya. Arah Kebijakan Ekonomi Daerah ditujukan untuk mengimplementasikan program dan mewujudkan visi dan misi kepala daerah, serta isu strategis daerah, sebagai payung untuk perumusan prioritas program dan kegiatan pembangunan yang akan dilaksanakan pada tahun rencana. 3.4. Analisis dan Perkiraan Sumber-sumber Pendanaan Daerah Pada dasarnya penyelenggaraan pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah dibiayai dari APBD, sedang penyelenggaraan kewenangan pemerintahan yang menjadi tanggung jawab Pemerintah dibiayai dari APBN, baik kewenangan Pusat yang didekonsentrasikan kepada Gubernur atau ditugaskan kepada Pemerintah Daerah dan/atau Desa atau sebutan lainnya dalam rangka Tugas Pembantuan. Sumber pendapatan daerah meliputi Pendapatan Asli Daerah (PAD), Pendapatan Transfer, dan Lain-lain Pendapatan Yang Sah. Sumber pendapatan daerah yang berasal dari PAD, meliputi : a. Pendapatan pajak daerah, b. Pendapatan retribusi daerah, c. Pendapatan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan , d. Lain-lain PAD yang sah, Sedangkan pendapatan transfer, meliputi : a. Dana perimbangan, yang terdiri : • Dana Bagi Hasil Pajak • Dana Bagi Hasil Bukan Pajak (Sumber daya Alam) • Dana Alokasi Umum • Dana Alokasi Khusus b. Transfer Pemerintah Pusat lainnya, terdiri : • Dana Otonomi Khusus (hanya untuk Provinsi Aceh dan Provinsi Papua) • Dana Penyesuaian Lain-lain Pendapatan yang sah, meliputi : a. Pendapatan Hibah b. Pendapatan dana darurat c. Pendapatan lainnya 3.4.1. Dana Desentralisasi / APBD Dana Desentralisasi adalah dana yang berasal dari APBD Provinsi / Kabupaten / Kota sebagai konsekuensi atas penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada Daerah Otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan sendiri dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. 46
  • 66.
    Dalam analisis danperkiraan sumber-sumber pendanaan daerah untuk RKPD provinsi, maka perkiraan belanja tidak langsung harus tergambarkan secara jelas indikasi besaran belanja bagi hasil pemerintah provinsi kepada pemerintah kabupaten/kota, dan besaran bantuan keuangan pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota dan kepada pemerintah desa, sedangkan dalam RKPD Kabupaten/Kota memuat perkiraan bagi hasil pemerintah kabupaten/kota kepada pemerintah desa, dan besaran bantuan keuangan pemerintah kabupaten/kota kepada pemerintah desa. 3.4.2. Dana Dekonsentrasi / APBN Dana Dekonsentrasi pada dasarnya adalah dana yang berasal dari adanya pelimpahan wewenang dari Pemerintah (Kementerian / Lembaga) kepada Gubernur sebagai wakil Pemerintah, yang dananya bersumber dari APBN, dengan demikian maka analisis dan perkiraan sumber dana dekonsentrasi hanya dilakukan dalam rangka penyusunan RKPD Provinsi. Informasi mengenai dana dekonsentrasi yang lokasi kegiatannya berada pada kabupaten/ kota, perlu diakomodasi dalam dokumen RKPD Kabupaten/Kota yang bersangkutan. 3.4.3. Dana Tugas Pembantuan / APBN Dana Tugas Pembantuan adalah dana yang berasal dari penugasan Pemerintah (Kementerian / Lembaga) kepada Daerah (Gubernur / Bupati / Walikota) dan/atau Desa atau sebutan lain dengan kewajiban melaporkan dan mempertanggungjawabkan pelaksanaannya kepada yang menugaskan, yang dananya bersumber dari APBN. 3.4.4. Dana Otonomi Khusus / APBN Dana Otonomi Khusus adalah dana yang berasal dari bagi hasil Minyak Bumi dan Gas Alam di 2 (dua) provinsi di Indonesia, yaitu Provinsi NAD (Nanggroe Aceh Darussalam) dan Provinsi Papua, sebagai konsekuensi dari penetapan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Propinsi Papua. Tabel 12 memperlihatkan contoh format yang dapat digunakan untuk: 1) Mendokumentasikan realisasi pendapatan, belanja, dan pembiayaan daerah dalam 3 tahun terakhir 2) Memproyeksikan pendapatan, belanja, dan pembiayaan daerah berdasarkan (a) 3) Memproyeksikan pagu anggaran RKPD pada tahun n dan tahun n+1 3.5. Arah Kebijakan Keuangan Daerah Berdasar pada hasil analisis dan perkiraan sumber-sumber pendanaan daerah, selanjutnya dirumuskan kebijakan di bidang keuangan daerah, yang pada dasarnya menjadi acuan/ kerangka dalam pengelolaan APBD. 47
  • 67.
    3.5.1. Arah KebijakanPendapatan Daerah Berisikan uraian mengenai kebijakan yang akan ditempuh oleh Pemerintah Daerah, mini- mal yang terkait langsung dengan pos-pos Pendapatan Daerah dalam APBD. Arah kebijakan pendapatan daerah meliputi : a. Kebijakan perencanaan pendapatan daerah yang akan dilakukan pada tahun anggaran berkenaan; b. Target pendapatan daerah meliputi Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Perimbangan, dan Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah; c. Upaya-upaya pemerintah daerah dalam mencapai target. Arah kebijakan pendapatan daerah dapat mempertimbangkan realisasi dan proyeksi pendapatan sebagaimana ditampilkan pada Bagian A Tabel 12. 3.5.2. Arah Kebijakan Belanja Daerah Berisikan uraian mengenai kebijakan yang akan dilakukan oleh Pemerintah Daerah, mini- mal yang terkait langsung dengan pengelolaan Belanja (Belanja Langsung maupun Belanja Tidak Langsung) dalam APBD. Informasi penting yang sangat dibutuhkan dari dokumen RKPD bagi proses penyusunan APBD pemerintahan lainnya, yang terkait dengan kebijakan Belanja Tidak Langsung adalah: • Besaran Belanja Bagi Hasil pemerintah provinsi kepada pemerintah kabupaten/kota, • Besaran Bantuan Keuangan pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota dan kepada pemerintah desa, • Besaran Belanja Bagi Hasil pemerintah kabupaten/kota kepada pemerintah desa, dan • Besaran Bantuan Keuangan pemerintah kabupaten/kota kepada pemerintah desa. Ketentuan yang berkaitan dengan besaran belanja bagi hasil pemerintah provinsi kepada pemerintah kabupaten/kota dan pemerintahan desa, maupun belanja bagi hasil pemerintah kabupaten/kota terhadap pemerintahan desa mengacu pada ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 55 tahun 2005 tentang Dana Perimbangan dan Peraturan Pemerintah Nomor 72 tahun 2005 tentang Desa. Kebijakan belanja daerah memprioritaskan terlebih dahulu pos belanja yang wajib dikeluarkan, antara lain belanja pegawai, belanja bunga dan pembayaran pokok pinjaman, belanja subsidi, serta belanja barang dan jasa yang wajib dikeluarkan pada tahun yang bersangkutan. Selisih antara perkiraan dana yang tersedia dengan jumlah belanja yang wajib dikeluarkan merupakan potensi dana yang dapat dialokasikan untuk pagu indikatif setiap SKPD. Arah kebijakan belanja daerah mencakup : a. Kebijakan terkait perencanaan belanja daerah meliputi total perkiraan belanja daerah; b. Kebijakan belanja pegawai, bunga, subsidi, hibah, bantuan sosial, belanja bagi hasil, bantuan keuangan; dan belanja tidak terduga; c. Kebijakan pembangunan daerah, kendala yang dihadapi, strategi dan prioritas pembangunan daerah yang disusun secara terintegrasi dengan kebijakan dan prioritas pembangunan nasional yang akan dilaksanakan di daerah. 48
  • 68.
    d. Kebijakan belanjaberdasarkan : - Urusan pemerintahan daerah (urusan wajib dan urusan pilihan) - Satuan kerja perangkat daerah (SKPD). Arah kebijakan belanja daerah dapat mempertimbangkan realisasi dan proyeksi belanja daerah sebagaimana ditampilkan pada Bagian D Tabel 12. 3.5.3. Arah Kebijakan Pembiayaan Daerah Berisikan uraian mengenai kebijakan yang akan dilakukan terkait dengan kondisi keuangan Daerah, apakah cenderung mengalami Defisit Anggaran ataukah dalam kondisi Surplus Anggaran. Dalam hal ada kecenderungan terjadinya Defisit Anggaran, harus diantisipasi kebijakan-kebijakan yang akan berdampak pada pos Penerimaan Pembiayaan Daerah, sebaliknya jika ada kecenderungan akan terjadinya Surplus Anggaran, harus diantisipasi kebijakan-kebijakan yang akan berdampak pada pos Pengeluaran Pembiayaan Daerah. Arah kebijakan pembiayaan daerah meliputi : a. Kebijakan penerimaan pembiayaan; b. Kebijakan pengeluaran pembiayaan. Berdasarkan kerangka dan arah kebijakan yang terkait dengan pengelolaan pembiayaan, selanjutnya dirumuskan target penerimaan pembiayaan dan target pengeluaran pembiayaan daerah, yang dituangkan dalam tabel berikut: Arah kebijakan pembiayaan daerah dapat mempertimbangkan realisasi dan proyeksi penerimaan dan pengeluaran pembiayaan daerah sebagaimana ditampilkan pada Bagian E dan Bagian F Tabel 12. BAB IV. PRIORITAS PEMBANGUNAN DAERAH TAHUN …. (Tahun Rencana) Mengemukakan secara eksplisit prioritas pembangunan daerah yang disusun berdasarkan evaluasi pembangunan tahunan, kedudukan tahun rencana dan capaian kinerja yang direncanakan dalam RPJMD, serta aspirasi masyarakat yang disepakati dalam hasil Musrenbang Tahunan Daerah. 4.1. Prioritas dan Sasaran Pembangunan Daerah Mengemukakan tentang prioritas dan sasaran pembangunan untuk tahun rencana, didasarkan atas hasil analisis atas capaian kinerja, masalah dan tantangan pembangunan, serta isu dan masalah mendesak di daerah. 4.2. Prioritas Program dan Kegiatan Pembangunan Daerah Mengemukakan program-program yang memerlukan prioritas, berdasarkan pada sasaran yang harus dicapai dalam dokumen RPJMD, pencapaian kinerja, masalah dan tantangan pokok pembangunan, serta tema, tujuan, dan arah kebijakan pembangunan daerah. 49
  • 69.
    Pada bagian inidirumuskan: - Kriteria Penyusunan Prioritas - Prioritas isu-isu pembangunan daerah untuk tahun rencana - Prioritas pembangunan daerah - Sasaran pembangunan daerah - Urutan prioritas urusan wajib/pilihan pemerintahan daerah - Urutan prioritas program pada masing-masing prioritas urusan wajib/pilihan pemerintahan daerah - SKPD yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan program Tabel 13 memperlihatkan contoh format penyusunan matriks prioritas program BAB V. RENCANA KERJA DAN PENDANAAN Mengemukakan rincian program dan kegiatan pokok RKPD tahun rencana, instansi pelaksana/SKPD, indikator capaian masing-masing program dan kegiatan serta pagu indikatifnya. Tabel 14 memperlihatkan contoh format yang dapat digunakan untuk menyusun rencana kerja dan pendanaan menurut bidang urusan pemerintahan daerah di provinsi/kabupaten/kota. BAB VI. KAIDAH PELAKSANAAN Bagian ini memuat arahan Kepala Daerah bagi SKPD dalam rangka menyusun dokumen Renja SKPD. Bagian ini dapat memuat antara lain: 1) Prinsip-prinsip penyusunan dan pelaksanaan Renja SKPD untuk mencapai tujuan-tujuan pembangunan daerah dalam RKPD 2) Keterpaduan dan sinkronisasi penyusunan program dan kegiatan di dalam dan di antara SKPD dengan memperhatikan peran/tanggung jawab/tugas SKPD 3) Keterpaduan dan sinkronisasi program dan kegiatan dilakukan melalui Musrenbang, FGD, dan forum-forum konsultasi publik 4) Peranan masyarakat dan dunia usaha dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi kebijakan, program, dan kegiatan RKPD 5) Penegasan RKPD sebagai acuan penyusunan Kebijakan Publik dan APBD 6) Penegasan tentang kewajiban pemerintah daerah untuk mengevaluasi pelaksanaan program RKPD 50
  • 70.
  • 71.
  • 72.
    BAGIAN D: PENUTUP P edoman ini disusun dengan tujuan untuk membantu Pemerintah Daerah dalam memenuhi kewajibannya yang ditentukan oleh peraturan perundangan tentang sistem perencanaan pembangunan nasional, khususnya dalam rangka penyusunan dokumen perencanaan dan penganggaran tahunan daerah provinsi/kabupaten/kota. Pedoman ini telah mencoba untuk memperjelas pengertian, ruang lingkup, pendekatan, proses, tahapan, langkah-langkah, dan substansi untuk penyusunan RKPD dan Renja SKPD, termasuk pelaksanaan musyawarah perencanaan pembangunan mulai dari tingkat desa/kelurahan sampai dengan tingkat kabupaten/kota dan provinsi. Pedoman ini telah dirancang dengan pendekatan seluwes mungkin sehingga daerah dapat melakukan penyesuaian-penyesuaian sesuai dengan kondisi dan perkembangan kemampuan dan kapasitas perencanaan di masing-masing daerah, namun tetap mengindahkan ketentuan- ketentuan yang bersifat prinsip sebagaimana terkandung dalam Undang-undang 25/2004 dan prinsip-prinsip tata kelola kepemerintahan yang baik (good governance). Agar pedoman ini dapat digunakan secara efektif, Pemerintah Daerah dapat (1) mensosialisasikan Pedoman ini di lingkungan SKPD, DPRD, dan Organisasi Masyarakat Sipil; (2) menyusun Peraturan Kepala Daerah tentang Penyusunan RKPD/Renja SKPD; (3) menyusun Kalender Perencanaan dan Penganggaran Tahunan Pembangunan Daerah. 53
  • 73.
  • 74.
    Tabel/Format berikut inidirancang untuk membantu Bappeda dan SKPD untuk mengorganisasikan penyusunan dokumen RKPD agar lebih efektif. Tabel/for- mat dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan daerah; ketersediaan data dan informasi; serta ketersediaan sumber daya dan dana untuk melaksanakannya. 55
  • 75.
  • 76.
    Tabel 1: ContohSusunan Tim Penyusun RKPD No Jabatan dalam Tim Nama Lembaga (1) (2) (3) (3) 1 Penanggung jawab .................................... Gubernur/Bupati/Walikota 2 Pengarah .................................... Sekretaris Daerah 3 Ketua Tim .................................... Kepala Bappeda 4 Sekretaris .................................... ............................ 5 Kelompok Kerja (Pokja) A : Fungsi 1. ............................... Pelayanan Umum, Ketertiban dan 2. ............................... Keamanan dst. ............................. 6 Pokja B : Fungsi Ekonomi 1. ................................ 2. ................................ dst. ............................. 7 Pokja C : Lingkungan Hidup, Perumahan 1. ............................... dan Fasilitas Umum 2. ............................... dst. ............................ 8 Pokja D : Fungsi Kesehatan 1. ............................... 2. ................................ dst. .............................. 9 Pokja E : Fungsi Pendidikan, Budaya dan 1. ................................ Pariwisata 2. ................................ dst. ............................. 10 Pokja F: Fungsi Perlindungan Sosial 1. ............................... 2. ............................... dst. ............................. Catatan: Pokja dapat merupakan gabungan beberapa fungsi 57
  • 77.
    Tabel 2. ContohKalender Penyusunan RKPD dan Renja SKPD 58
  • 78.
    Tabel 3. InventarisasiSumber dan Jenis Data/Informasi untuk Penyusunan RKPD Kode Dokumen Sumber Data/ Data yang dibutuhkan Tahun Data Sumber Keterangan Informasi 1 RPJMD Program untuk tahun Bappeda rencana Pencapaian kinerja program 2 RKPD tahun lalu Isu prioritas, prioritas pembangunan, sasaran pembangunan, dan target program prioritas 3 Laporan hasil evaluasi Evaluasi capaian program RKPD tahun lalu (LPPD, dan kegiatan LKPJ) pembangunan tahun lalu Perkembangan kinerja makro pembangunan daerah 4 APBD tahun lalu Realisasi capaian program dan kegiatan, pendapatan, belanja, dan pembiayaan pembangunan daerah 5 RKA SKPD tahun berjalan Kompilasi kegiatan dan belanja langsung untuk tahun n dan n+1 6 APBD tahun berjalan yang telah disahkan 7 Kabupaten/Kota dalam Data makro ekonomi BPS/Kantor Angka Statistik 8 Laporan SKPD Data realiasi program, SKPD kegiatan, dan anggaran Perkembangan kinerja penyelenggaraan urusan wajib/pilihan SKPD 9 10 dst * bagi daerah yang belum memiliki RPJMD dapat menggunakan Rencana Strategis Daerah yang masih berlaku 59
  • 79.
    Tabel 4. EvaluasiKinerja Program dan Kegiatan RKPD Tahun Lalu dan Review Pencapaian RPJMD No Bidang Urusan Pemerintahan Indikator/ Sasaran/ target Target kinerja Realisasi Tingkat Realisasi target Tingkat Realisasi Organisasi Daerah tolok ukur kinerja capaian keluaran Kegiatan Realisasi capaian program target capaian Pelaksana kinerja program kegiatan terhadap (RPJMD) sampai program (RPJMD) (RPJMD) (RKPD) target dengan tahun sampai dengan tahun kegiatan (%) lalu (tahun...) lalu (tahun...) (%) 1 2 3 4 5 6 7=6/5 8 9=8/4 10 1 PENDIDIKAN Program............... Kegiatan ............. Kegiatan .................. dst........... Program............... Kegiatan ......... dst.......... 2 KESEHATAN 60 Program............. Kegiatan ............. Kegiatan .................. dst........... Program ............ Kegiatan......... dst.......... 3 PEKERJAAN UMUM Program: Rehabilitasi/Pemeliharaan jalan/jembatan Kegiatan: Pemeliharaan jalan hotmix Km (panjang 500 km 100 km 85 km 85% 200 km 40% Dinas kabupaten/kota jalan) Pekerjaan Umum Kegiatan .................. dst...........
  • 80.
    Tabel 5. FormatDaftar Rancangan Program dan Kegiatan RKPD/Renja SKPD Review Usulan Kegiatan (n+1) Penyusunan Target Kinerja Keluaran Kegiatan dan Perkiraan Pagu Indikatif Program pada RKPD tahun berjalan dan Kegiatan pada tahun n dan n+1 Program Target Target Anggaran Kategori Target Target Biaya Biaya Pagu Pagu Organi- Code Tolok dan Kinerja Kinerja Kegiatan Prioritas** Kinerja Kinerja Satuan Per Satuan Per Indikatif Indikatif sasi Ukur Kegiatan* Kinerja Program Keluaran pada n+1 Keluaran Keluaran Keluaran Keluaran Pada Pada RPJMD Kegiatan RKPD tahun pada pada Kegiatan Kegiatan Tahun n Tahun pada n+1 berjalan (Rp) Tahun n Tahun n+1 pada Tahun pada (Rp) n+1 (Rp) RKPD tahun n (Rp Tahun n+1 berjalan (Rp) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 61 Jumlah Sumber: Tabel Target Pencapaian Kinerja yang Terukur dari Setiap Urusan Pemerintahan Daerah-Lampiran A-X Permendagri 13/2006 Catatan: * Dilengkapi dengan kode (B) sebagai kegiatan baru, (R) sebagai kegiatan replikasi, (L) sebagai kegiatan lanjutan ** Kategori prioritas: tinggi, sedang, rendah ditinjau dari tingkat relevansi terhadap pencapaian visi, misi RPJMD *** n adalah tahun rencana, n + 1 adalah satu tahun setelah tahun rencana
  • 81.
    Tabel 6. ContohPrototype Daftar Isi Renja SKPD BAB I. PENDAHULUAN BAB II. PERKEMBANGAN DAN PERMASALAHAN 2.1. Kondisi Umum Pelayanan SKPD 2.2. Kajian Renstra dan Prioritas Program Renstra SKPD 2.3. Evaluasi Pencapaian Program tahun Lalu dan Perkiraan Tahun Berjalan 2.4. Identifikasi Masalah (masalah dan tantangan utama pelayanan SKPD pada tahun rencana) 2.5. Identifikasi Program dan Kegiatan Pusat dan Provinsi Tahun Rencana 2.6. Hasil-hasil Forum SKPD BAB III. TUJUAN DAN SASARAN PEMBANGUNAN SKPD 3.1. Tujuan dan sasaran program jangka menengah (out come 5 tahun) 3.2. Sasaran dan indikator kinerja kelompok sasaran SKPD Tahun Rencana BAB IV. PROGRAM DAN KEGIATAN TAHUN RENCANA 4.1 Prioritas Program dan Kegiatan SKPD 4.2 Program dan Kegiatan SKPD, Target Kinerja Capaian Program, Target Kinerja Keluaran Kegiatan, Target Kinerja Hasil, dan Anggaran BAB V. PENUTUP 62
  • 82.
    Tabel 7 :Pengisian RKA-SKPD 2.2.1 dan Penyusunan Prakiraan maju Berdasarkan Biaya Satuan Per Keluaran Kegiatan Langkah Uraian 1 Isi kode urusan pemerintahan, kode organisasi, kode program dan kode kegiatan berdasarkan klasifikasi kode dan kegiatan yang telah ditentukan dalam Lampiran A.VII PERMENDAGRI 13/2006. 2 Isi tolok ukur dan target kinerja capaian program, keluaran, hasil dan masukan. Tolok ukur kinerja program adalah alat ukur spesifik secara kuantitatif dan/atau kualitatif untuk menggambarkan tingkat capaian kinerja suatu program. Tolok ukur kinerja keluaran adalah alat ukur spesifik secara kuantitatif dan/atau kualitatif untuk menggambarkan tingkat capaian kinerja keluaran Jumlah kegiatan. Keluaran Tolok ukur kinerja hasil adalah alat ukur spesifik Kegiatan secara kuantitatif dan/atau kualitatif untuk menggambarkan tingkat capaian kinerja hasil kegiatan. Tolok ukur kinerja masukan adalah jumlah dana yang dibutuhkan untuk mencapai target kinerja keluaran kegiatan. Target kinerja capaian program adalah total target keluaran yang akan dihasilkan selama program Jumlah tsb dilaksanakan. Belanja Target kinerja keluaran adalah keluaran yang Langsung diharapkan dari suatu kegiatan. Kegiatan Target kinerja hasil adalah hasil (short term outcome) yang diharapkan dicapai setelah keluaran kegiatan diperoleh.Target kinerja masukan adalah jumlah dana yang dibutuhkan untuk mencapai target keluaran kegiatan. 3 Isi tolok ukur kinerja penerima manfaat kegiatan. Tolok ukur kinerja penerima manfaat kegiatan adalah penjelasan tentang karakteristik kelompok sasaran penerima manfaat kegiatan. 4 Ini berkaitan dengan informasi tentang: (1) Komposisi dan jumlah sumber daya (personil, tenaga, peralatan, material) yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan dan menghasilkan keluaran kegiatan (2) Waktu kerja (jam orang, jam peralatan) yang digunakan (3) Biaya satuan masing-masing - sumberdaya (4) Total belanja kegiatan Untuk pelayanan wajib yang dilakukan berulang (kegiatan rutin pelayanan) diharapkan dapat dikembangkan : (1) Standar pelaksanaan kegiatan yang memuat informasi tentang standar komposisi sumber daya untuk menghasilkan keluaran kegiatan tertentu dan (2) Standar belanja kegiatan (perlu direview setiap tahun sesuai dengan perkembangan biaya satuan sumber daya) 5 Untuk dapat menyusun pagu indikatif kegiatan dan perkiraan maju diperlukan informasi tentang biaya per satuan keluaran kegiatan. Biaya per satuan keluaran kegiatan diperoleh dengan cara membagi total jumlah belanja langsung kegiatan terhadap jumlah keluaran kegiatan. 6 Apabila kegiatan berkesinambungan, maka untuk dasar penyusunan kebutuhan anggaran tahun n+1, dapat digunakan informasi yang disediakan pada langkah (5) diatas, dengan cara mengalikan target kinerja keluaran kegiatan pada n+ 1 dengan biaya per satuan keluaran kegiatan (setelah mempertim- bangkan eskalasi biaya dan inflasi) 63
  • 83.
    Tabel 8. EvaluasiStatus dan Kedudukan Pencapaian Kinerja Pembangunan Prov./Kab./Kota ................Tahun ..... dan Tahun...... No Urusan Wajib/Pilihan Indikator* Kondisi Kondisi Pemerintahan Daerah Tahun…. Tahun…. Perubahan 1 Indikator Makro Ekonomi • Pertumbuhan PDRB Daerah • Laju inflasi Prov/Kab/Kota • PDRB per kapita • Indeks Gini • Pemerataan pendapatan • Indeks ketimpangan regional • Persentase penduduk di bawah garis kemiskinan • dll 2 Urusan Pendidikan • Angka melek huruf • Angka rata-rata lama sekolah • Angka partisipasi murni dll 3 Urusan Kesehatan • Angka kelangsungan hidup bayi • Angka usia harapan hidup • Persentase balita gizi buruk dll 4 Urusan Pemberdayaan • Persentase jumlah tenaga kerja di Perempuan dan Anak bawah umur • Persentase jumlah perempuan di lembaga pemerintah dll 5 Urusan Ketenagakerjaan • Angka partisipasi angkatan kerja • Tingkat pengangguran terbuka dll 6 Urusan ........ Catatan : • Jenis indikator disesuaikan dengan ketersediaan data di daerah, namun yang dapat mencerminkan indikator kinerja pembangunan di daerah • Jenis indikator yang digunakan dapat mengacu pada bagian referensi pedoman ini. 64
  • 84.
    Tabel 9. IdentifikasiIsu dan Masalah Mendesak di Tingkat Nasional, Provinsi ..........dan Kab./Kota............. Tahun .............. Urutan Isu dan Masalah Mendesak No Tingkat Nasional* Tingkat Provinsi** Tingkat Kab/Kota*** (1) (2) (3) (4) Keterangan: * Dapat mengacu pada rancangan RKP yang, antara lain juga dapat diakses melalui situs resmi Bappenas: www.bappenas.go.id ** Dapat mengacu pada rancangan RKPD Provinsi *** Dapat mengacu pada RPJMD atau hasil-hasil pelaksanaan Musrenbang 65
  • 85.
    Tabel 10. PerkembanganIndikator Makro Ekonomi Prov./Kab./Kota ...... Tahun .... dan Tahun.... serta Perubahannya No Indikator Makro Tahun .... Tahun ..... Tahun ...... Perubahan (1) (2) (3) (4) (5) (6) Keterangan: Kolom (1) Diisi sesuai dengan nomor urut Indikator Makro Ekonomi yang tersedia. Kolom (2) Diisi dengan nama Indikator Makro Ekonomi Daerah yang diambilkan dari data yang tersedia di Daerah, yang antara lain mencakup: a. PDRB (Harga Berlaku dan Harga Konstan) b. Tingkat Pertumbuhan Ekonomi / PDRB Harga Konstan tahun tertentu c. Tingkat Inflasi d. Struktur PDRB Pendekatan Produksi atau Sektoral e. Produktivitas Sektoral, yang merupakan rasio antara Nilai Tambah Bruto (NTB) setiap sektor terhadap Jumlah tenaga kerja di sektor yang bersangkutan f. Struktur PDRB Pendekatan Pengeluaran (Konsumsi Rumah Tangga, Konsumsi Pemerintah, Investasi, dan Kegiatan Perdagangan Luar Negeri) g. Besaran ICOR (Incremental Capital Output Ratio) h. Jumlah Penduduk Miskin i. Tingkat Pengangguran j. Disparitas Pendapatan Regional yang dilihat dari perbedaan: - Pendapatan Perkapita - Kemampuan Investasi - Besaran Indeks Gini (Gini Ratio Index) - Besaran IPM (Indeks Pembangunan Manusia) - Dan sebagainya k. Berbagai macam besaran rasio dan perbandingan-perbandingan - Pajak Daerah terhadap PDRB - Biaya pendidikan, kesehatan, penelitian dan sebagainya terhadap PDRB - Perbandingan Penerimaan Pemerintah Daerah (PAD dan - Dana Perimbagan terhadap PDRB - Struktur Pembiayaan Pembangunan Daerah - Dan sebagainya. Kolom (3) Diisi dengan data tahun sebelumnya sesuai dengan Indikator Makro Ekonomi yang tersedia, Kolom (4) Diisi dengan data tahun sebelumnya sesuai dengan Indikator Makro Ekonomi yang tersedia, Kolom (5) Diisi dengan data tahun sebelumnya sesuai dengan Indikator Makro Ekonomi yang tersedia, Kolom (6) Diisi dengan rata-rata perubahan dari kolom 3, 4, dan 5. 66
  • 86.
    Tabel 11 .Analisis Kondisi Lingkungan Internal dan Eksternal Prov./Kab./Kota ...... Kondisi Internal Daerah Kondisi Eksternal Daerah No Kekuatan Kelemahan Peluang Ancaman (1) (2) (3) (4) (5) Faktor.............. Faktor.............. Faktor.............. Faktor.............. ANALISIS S W O T Analisis SWOT pada dasarnya ditujukan untuk mengembangkan ‘road map’ untuk memandu pemerintah daerah menuju masa depan. SWOT itu sendiri merupakan analisis atas keadaan internal pemerintahan daerah (kekuatan dan kelemahan) dan eksternal (peluang dan ancaman) Analisis SWOT mencakup: 1) identifikasi atas berbagai kekuatan (potensi) signifikan daerah (ekonomi, sosial dsb) yang dapat mendorong pencapaian tujuan-tujuan. Kekuatan lazimnya adalah yang sudah dilakukan dengan baik oleh daerah yang perlu dipelihara, ditingkatkan untuk menghasilkan ‘competitive advantage’ 2) identifikasi atas berbagai kelemahan signifikan utama daerah- dampak perkembangan eksternal yang dapat menghambat pencapaian tujuan-tujuan. Kelemahan adalah sesuatu yang tidak dapat dilakukan dengan baik dan memerlukan upaya untuk mengatasinya, untuk meminimalkan dampak negatifnya sehingga tidak akan mengurangi ‘competitive disadvantage’ 3) identifikasi berbagai peluang-peluang signifikan utama daerah-dampak perkembangan eksternal yang dapat mendorong pencapaian tujuan-tujuan. Peluang adalah potensi situasi yang menguntungkan yang perlu dioptimasikan dan diprioritaskan untuk mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya 4) identifikasi berbagai ancaman signifikan terhadap pengembangan daerah, dampak perkembangan eksternal yang dapat menghambat pencapaian tujuan-tujuan. Ancaman adalah potensi situasi yang kurang menguntungkan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan kesejahteraan. Ancaman perlu diatasi agar dapat menjamin kelangsungan perkembangan daerah Beberapa tips dalam melakukan SWOT: (1) ada dokumentasi informasi keadaan internal dan external (2) gunakan kerangka berfikir, checklist (3) ada masukan dari para pemangku kepentingan (4) pastikan bahwa SWOT mencerminkan keadaan/situasi sekarang (5) individu terlibat dalam analisis SWOT mengetahui posisi dan peranan masing-masing Langkah-langkah: (1) Review lingkungan internal dan eksternal (2) Identifikasi elemen-elemen penting/utama, baik internal maupun eksternal (3) Identifikasi kekuatan dan kelemahan internal- buat matrix dan isi kolom sejauh mungkin dengan fakta dan angka-angka (4) Identifikasi peluang dan ancaman eksternal (5) Libatkan semaksimal mungkin para pemangku kepentingan untuk mendapatkan masukan ’issues’ (6) Analisis masing-masing isu dan kategorikan kedalam isu penting dan isu ’mendesak’ (7) Fasilitasi terdapatnya konsensus atas 3-5 isu penting dan susun urutan prioritasnya (8) Issues sedemikian rupa sehingga tidak terlalu ‘sempit’ atau terlalu ‘luas’ (9) Tangani isu-isu yang diperkirakan dapat diselesaikan (10) Ubah isu menjadi tujuan (11) Identifikasi kemungkinan strategi untuk pencapaian tujuan 67
  • 87.
    Tabel 12 .Realisasi dan Proyeksi Pendapatan, Belanja, Pembiayaan Daerah, dan Pagu Anggaran RKPD Jumlah Bertambah/ (Berkurang) No Uraian Reali- Reali- Tahun Proyeksi Proyek- Rp % sasi sasi Berja- pada Tahun si pada (9) = Tahun Tahun lan (n-1) Renca-na Tahun (n-3) (n-2) (n) (n+1) (3) (4) (5) (6) (7) (8)= 6-5 100*(8)/(5) 1 PENDAPATAN DAERAH 1.1 Pendapatan asli daerah 1.1.1 Pajak daerah 1.1.2 Retribusi daerah 1.1.3 Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan 1.1.4 Lain-lain pendapatan asli daerah yang sah 1.2 Dana perimbangan 1.2.1 Dana bagi hasil pajak/ 1.2.2 Bagi hasil bukan pajak 1.2.3 Dana alokasi umum Dana alokasi khusus 1.3 Lain-lain pendapatan daerah yang sah 1.3.1 Hibah 1.3.2 Dana darurat 1.3.3 Bagi hasil pajak dari provinsi dan dari pemerintah daerah lainnya 1.3.4 Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus 1.3.5 Bantuan Keuangan dari provinsi pemerintah daerah lainnya A JUMLAH PENDAPATAN 2 BELANJA DAERAH 2.1 Belanja Tidak Langsung 2.1.1 Belanja pegawai 2.1.2 Belanja bunga 2.1.3 Belanja subsidi 2.1.4 Belanja hibah 2.1.5 Belanja bantuan sosial 2.1.6 Belanja bagi hasil kepada Provinsi/ Kabupaten/Kota dan Pemerintah Desa 2.1.7 Belanja Bantuan Keuangan kepada Provinsi/Kabupaten/Kota dan Pemerintahan Desa 2.1.8 Belanja tidak terduga B JUMLAH BELANJA TIDAK LANGSUNG 2.2 Belanja Langsung 2.2.1 Belanja pegawai 2.2.2 Belanja barang dan jasa 2.2.3 Belanja modal 68
  • 88.
    Lanjutan Tabel 12.............. Jumlah Bertambah/ (Berkurang) No Uraian Reali- Reali- Tahun Proyeksi Proyek- Rp % sasi sasi Berja- pada Tahun si pada (9) = Tahun Tahun lan (n-1) Renca-na Tahun (n-3) (n-2) (n) (n+1) (3) (4) (5) (6) (7) (8)= 6-5 100*(8)/(5) C JUMLAH BELANJA LANGSUNG D TOTAL JUMLAH BELANJA Surplus/(Defisit) 3 PEMBIAYAAN DAERAH 3.1 Penerimaan pembiayaan 3.1.1 Sisa lebih perhitungan anggaran tahun sebelumnya (SILPA) 3.1.2 Pencairan Dana Cadangan 3.1.3 Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan 3.1.4 Penerimaan pinjaman daerah 3.1.5 Penerimaan kembali pemberian pinjaman 3.1.6 Penerimaan piutang daerah E JUMLAH PENERIMAAN PEMBIAYAAN 3.2 Pengeluaran pembiayaan 3.2.1 Pembentukan dana cadangan 3.2.2 Penyertaan modal (Investasi) daerah 3.2.3 Pembayaran pokok utang 3.2.4 Pemberian pinjaman daerah F JUMLAH PENGELUARAN PEMBIAYAAN Pembiayaan neto G SISA LEBIH PEMBIAYAAN ANGGARAN TAHUN BERKENAAN (SILPA) H PAGU ANGGARAN RKPD = [G + A + E] – (B+F) Referensi: Permendagri 13/2006 69
  • 89.
    Tabel 13 .Contoh Matriks Prioritas Pembangunan No Isu Prioritas Prioritas Sasaran Urutan Prioritas Urusan Urutan Prioritas Daerah Pembangunan Pembangunan Wajib/Pilihan Program Pemerintahan Daerah 1 1. 1. 1. 2. 2. 1. 2. 2. 1. 1. 2. 2. 1. dst 2. Tabel 14 . Rencana Kerja dan Pendanaan Menurut Bidang Urusan Pemerintahan Daerah di Provinsi / Kab./Kota ............... Tahun ....... (tahun rencana) Kode Bidang Urusan Sasaran Program/ Target Biaya Satuan Pagu Organisasi Pemerintah Daerah Kegiatan (%) Per Keluaran Indikatif Kegiatan (Juta Rp) 1 2 3 4 5 6=3x5 7 1. Urusan Wajib 1. 01 Pendidikan Program Dikdas 9 200 unit ruang kelas Tahun selama x tahun Kegiatan 50 unit ruang kelas 50/200 Rp 25 juta 1,250 Dinas Penambahan Ruang atau 25% Pendidikan Kelas Dst……………… 2. Urusan Pilihan Jumlah 70
  • 90.
    Referensi berikut iniberisikan indikator/tolok ukur kinerja yang dapat digunakan untuk memperlihatkan dan menganalisis status, kedudukan dan kemajuan kinerja pembangunan daerah dan penyelenggaraan fungsi/urusan wajib dan pilihan pemerintahan daerah baik di tingkat provinsi/kabupaten/kota maupun di tingkat SKPD. 71
  • 91.
  • 92.
    Referensi R-1 Sasaran danIndikator Kinerja Pencapaian Pembangunan 2004-2009 Sasaran RPJM Nasional 2004-2009 Indikator Kinerja yang Berhubungan dengan Daerah AGENDA AMAN DAN DAMAI 1. Menurunnya konflik 1. Jumlah konflik etnis dan sosial 2. Menurunnya kriminalitas 2. HDI dan HPI wilayah konflik 3. Menurunnya kejahatan di lautan dan 3. Indeks kriminalitas dan rasio penyelesaian kasus lintas batas kriminalitas 4. Tertanganinya separatisme 4. Jumlah pecandu narkoba 5. Tertanganinya terorisme 5. Angka illegal logging dan illegal trading 6. Berperannya Indonesia dalam 6. Sosialisasi dan upaya perlindungan masyarakat menciptakan perdamaian dunia terhadap aksi terorisme 7. Terjaganya kedaulatan NKRI AGENDA ADIL DAN DEMOKRATIS 1. Meningkatnya keadilan hukum dan 1. Peraturan daerah yang spesifik mengenai penegakan hukum mekanisme dan koordinasi dana dekonsentrasi 2. Terciptanya sistem hukum yang 2. Perbaikan proses penyelenggaraan Musrenbang konsekuen dan tidak diskriminatif 3. Tingkat Partisipasi Politik Masyarakat dalam serta yang memberikan perlindungan Pilkada dan penghormatan terhadap hak 4. Angka Gender-related Development Index (GDI); asasi manusia dan 3. Meningkatnya pelayanan masyarakat 5. Angka Gender Empowerment Measurement 4. Meningkatnya penyelenggaraan (GEM) otonomi daerah 5. Terpeliharanya konsolidasi demokrasi Kesejahteraan anak 6. Angka Partisipasi Sekolah (APS) 7. Status gizi balita buruk 8. Persalinan bayi oleh tenaga kesehatan Perlindungan anak 9. Pekerja anak (%) 10. Jumlah anak yang memiliki akte Kelahiran AGENDA MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN RAKYAT 1. Menurunnya jumlah penduduk miskin Ekonomi menjadi 8,2% pada tahun 2009 1. Pertumbuhan PDRB 2. Terciptanya lapangan kerja untuk 2. Struktur PBRB dan PDRB per kapita mengurangi pengangguran terbuka 3. Kesempatan Kerja dan Tingkat Pengangguran menjadi 5,1 persen pada tahun 2009 Terbuka 3. Angka pertumbuhan rata-rata 6,6 4. Jumlah penduduk miskin persen pertahun 5. Investasi dan aktivitas ekspor impor 4. Berkurangnya kesenjangan 6. Peningkatan peran UKM pendapatan dan kesenjangan daerah 5. Meningkatnya kualitas manusia Pendidikan dengan terpenuhinya hak sosial 7. Angka Buta Aksara penduduk usia 15 tahun ke rakyat atas 6. Membaiknya mutu lingkungan hidup 8. Angka Partisipasi Kasar (APK) untuk setiap 7. Meningkatnya dukungan infrastruktur. jenjang pendidikan 73
  • 93.
    Lanjutan Referensi R-1....................................... Sasaran RPJM Nasional 2004-2009 Indikator Kinerja yangBerhubungan dengan Daerah 9. Angka Partisipasi Sekolah (APS) untuk setiap kelompok usia sekolah 10. Angka Melanjutkan Sekolah 11. Angka Putus Sekolah 12. Angka Mengulang Kelas 13. Rata-rata Lama Penyelesaian Pendidikan Kesehatan 14. Umur Harapan Hidup (UHH) 15. Angka Kematian Bayi (AKB) 16. Angka Kematian Ibu (AKI) 17. Prevalensi Gizi Kurang Kependudukan dan KB 18. Laju pertumbuhan penduduk (%) 19. Unmet need KB (%) 20. Total Fertility Rate/TFR (per perempuan) 21. Partisipasi laki-laki dalam ber-KB (%) 22. Contraceptive Prevalence Rate/CPR (%) Lingkungan Hidup 23. Kualitas air permukaan dan air tanah 24. Tingkat Pencemaran Pesisir dan Laut 25. Angka Illegal Logging 26. Luas lahan kritis Prasarana dan Sarana 27. Peningkatan kapasitas dan kualitas pelayanan berbagai prasarana dan sarana Sumber: Handbook SPPN RI, Bappenas 2006 74
  • 94.
    Referensi R-2 Indikator KemajuanOtonomi Daerah No Parameter Indikator Sub Indikator 1 Skala Kehidupan Pertumbuhan Pertumbuhan pendapatan Ekonomi Pertumbuhan investasi Pertumbuhan kesempatan kerja Pemerataan Distribuís pendapatan Pemerataan akses modal Kesinambungan Daya dukung lingkungan Daya dukung manusia berkeahlian Pemberdayaan Pemberdayaan ekonomi lemah Pemberdayaan ekonomi lokal 2 Layanan Publik Efisiensi Keterpaduan birokrasi Sanitari birokrasi Sufisiensi Ketersediaan kebutuhan dana sosial Ketersediaan infrastruktur Fasilitasi Fasilitasi partisipasi sosial Kesetaraan gender Fasilitasi resolusi konflik 3 Resiko-resiko Keamanan Keamanan hak sipil lokal Keamanan hak politik Keamanan hak ekonomi Stabilitas Kesinambungan politik Kesehatan makro ekonomi Integrasi sosial Demokrasi Supremasi hukum Kontrol dan pertimbangan Pertanggungjawaban politik Kebebasan pers Otonomi Kemandirian daerah Lokalisme lokal Sumber: Handbook SPPN RI, Bappenas 2006 75
  • 95.
    Referensi R-3 Pengukuran KinerjaPenyelenggaraan Otonomi Daerah No Parameter Umum Indikator 1 Derajat Ekonomi Pertumbuhan ekonomi daerahTingkat pendapatan rata-rata per kesejahteraan kapita per tahun (PDRB atau Net Income) umum Sosial - Penurunan angka pengangguran terbuka - Kenaikan angka partisipasi kerja - Penurunan Indeks Kemiskinan Manusia (IKM) - Kenaikan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 2 Derajat Infrastruktur Jaringan Jalan: Pelayanan - Rasio panjang jalan dengan luas wilayah Publik - Rasio panjang jalan dengan kondisi tidak rusak per panjang jalan keseluruhan - Rasio panjang jalan dengan jumlah kendaraan umum roda empat Sanitasi - Penurunan presentasi penduduk tanpa akses terhadap sanitasi Kebutuhan Kesehatan: dasar - Penurunan angka kematian bayi - Penurunan angka kematian ibu - Rasio jumlah penduduk dengan jumlah rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya Pendidikan: - Rasio jumlah murid per jumlah sekolah - Rasio jumlah murid per jumlah guru - Rasio jumlah guru per jumlah sekolah Angka partisipasi sekolah - Penurunan angka putus sekolah - Nilai rata-rata Ebta Murni/UAN Air bersih: - Akses terhadap air bersih Transportasi umum: - Rasio jumlah kendaraan umum roda 4 per 10.000 penduduk Pemerintahan Kepegawaian : Rasio jumlah penduduk dengan jumlah PNS PemdaKeuangan : - Rasio PAD dengan jumlah penduduk 3 Derajat Politik Pemilu: kehidupan - Rasio jumlah pemilih yang melakukan pemilihan dengan demokrasi jumlah penduduk yang mempunyai hak pilih lokal Komposisi partai politik dalam Pemilu - Rasio jumlah partai politik pemenang Pemilu Lokal yang memperoleh kursi di Legislatif dengan jumlah seluruh Partai Politik peserta Pemilu Lokal Angka Kejadian Politik Praktis - Kejadian politik praktis - Massa/demo dalam satu tahun Sumber: Handbook SPPN RI, Bappenas 2006 76
  • 96.
    Referensi R-4 Indikator KinerjaKunci yang digunakan untuk Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Otonomi Daerah A. ASPEK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT Parameter Umum Indikator 1. Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi Pertumbuhan ekonomi a. Pertumbuhan PDRB Laju Inflasi b. Laju inflasi provinsi Pendapatan per kapita c. PDRB per kapita Ketimpangan kemakmuran d. Indeks Gini Pemerataan pendapatan e. Pemerataan pendapatan versi Bank Dunia Ketimpangan regional f. Indeks ketimpangan Williamson (Indeks Ketimpangan Regional) 2. Kesejahteraan Sosial Pendidikan Pendidikan a. Angka melek huruf b. Angka rata-rata lama sekolah c. Angka partisipasi murni d. Angka partisipasi kasar e. Angka pendidikan yang ditamatkan Kesehatan f. Angka kelangsungan hidup bayi g. Angka usia harapan hidup h. Persentase balita gizi buruk Kemiskinan i. Persentase penduduk diatas garis kemiskinan Kepemilikan tanah j. Persentase penduduk yang memiliki lahan Kesempatan kerja k. Rasio penduduk yang bekerja Kriminalitas l. Angka kriminalitas yang tertangani 3. Seni Budaya dan Olah Raga Grup kesenian a. Jumlah grup kesenian Gedung kesenian b. Jumlah gedung kesenian Klub olahraga c. Jumlah klub olahraga Gedung Olah Raga d. Jumlah gedung olah raga 77
  • 97.
    B. ASPEK PELAYANANUMUM Parameter Umum Indikator 1. Pelayanan Dasar Pendidikan Pendidikan dasar: a. Angka partisipasi sekolah b. Rasio ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah c. Rasio guru/murid d. Rasio guru/murid per kelas rata-rata Pendidikan menengah: e. Angka partisipasi sekolah f. Rasio ketersediaan sekolah terhadap penduduk usia sekolah g. Rasio guru terhadap murid h. Rasio guru terhadap murid per kelas rata-rata Kesehatan i. Rasio posyandu per satuan balita j. Rasio puskesmas, poliklinik, pustu per satuan penduduk k. Rasio Rumah Sakit per satuan penduduk l. Rasio dokter per satuan penduduk m. Rasio tenaga medis per satuan penduduk Lingkungan hidup n. Persentase penanganan sampah o. Persentase penduduk berakses air minum p. Persentase luas permukiman yang tertata Sarana dan Prasarana q. Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik Umum r. Rasio jaringan irigasi s. Rasio tempat ibadah per satuan penduduk t. Persentase rumah tinggal bersanitasi u. Rasio tempat pemakaman umum per satuan pendudukv . Rasio tempat pembuangan sampah (TPS) per satuan penduduk w. Rasio rumah layak huni x. Rasio permukiman layak huni Penataan ruang y. Rasio ruang terbuka hijau per satuan luas wilayah ber HPL/HGB z. Rasio bangunan ber-IMB per satuan bangunan Perhubungan aa. Jumlah arus penumpang angkutan umum ab. Rasio ijin trayek ac. Jumlah uji kir angkutan umum ad. Jumlah pelabuhan laut/udara/terminal bis 2. Pelayanan Penunjang Penanaman modal a. Jumlah investor berskala nasional (PMDN/PMA) b. Jumlah nilai investasi berskala nasional (PMDN/PMA) c. Rasio daya serap tenaga kerja KUKM d. Persentase koperasi aktif e. Jumlah UKM non BPR/LKM UKM f. Jumlah BPR/LKM Kependudukan dan g. Rasio penduduk berKTP per satuan penduduk catatan sipil h. Rasio bayi berakte kelahiran i. Rasio pasangan berakte nikah Ketenagakerjaan j. Angka partisipasi angkatan kerja k. Angka sengketa pengusaha-pekerja per tahun Pemberdayaan l. Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah perempuan dan m. Partisipasi perempuan di lembaga swasta perlindungan anak n. Rasio KDRT o. Persentase jumlah tenaga kerja dibawah umur 78
  • 98.
    Parameter Umum Indikator KB dan KS p. Rata-rata jumlah anak per keluarga q. Rasio akseptor KB Komunikasi dan informatika r. Jumlah jaringan komunikasi s. Rasio wartel/warnet terhadap penduduk t. Jumlah surat kabar nasional/lokal u. Jumlah penyiaran radio/TV lokal Pertanahan v. Persentase luas lahan bersertifikat Pemberdayaan masyarakat w. Rata-rata jumlah kelompok binaan lembaga pemberdayaan dan desa masyarakat (LPM) x. Rata-rata jumlah kelompok binaan PKK y. Jumlah LSM Perpustakaan z. Jumlah perpustakaan aa. Jumlah pengunjung perpustakaan per tahun Penyelenggaraan Keamanan ab. Rasio jumlah Polisi Pamong Praja per 10.000 penduduk dan Ketertiban Masyarakat ac. Jumlah Linmas per Jumlah 10.000 Penduduk ad. Rasio Pos Siskamling per jumlah desa/kelurahan Pemuda dan olahraga ae. Jumlah organisasi pemuda af. Jumlah organisasi olahraga ag. Jumlah kegiatan kepemudaan ah. Jumlah kegiatan olahraga C. ASPEK DAYA SAING DAERAH Parameter Umum Indikator 1. Kemampuan Ekonomi Daerah Pengeluaran konsumsi a. Angka konsumsi RT per kapita rumah tangga per kapita Nilai tukar petani b. Perbandingan faktor produksi dengan produk Pengeluaran konsumsi c. Persentase Konsumsi RT untuk non pangan non pangan perkapita Produktivitas total daerah d. Dihitung produktivitas daerah setiap sektor pada 9 sektor: 1) Pertanian 2) Pertambangan dan penggalian 3) Industri pengolahan 4) Listrik 5) Bangunan 6) Perdagangan 7) Pengangkutan dan komunikasi 8) Keuangan 9) Jasa 2. Fasilitas Wilayah/Infrastruktur Aksesibilitas daerah a. Rasio panjang jalan per jumlah kendaraan b. Jumlah orang/ barang yang terangkut angkutan umum c. Jumlah orang/barang melalui dermaga/bandara/ terminal per tahun 79
  • 99.
    Parameter Umum Indikator Penataan wilayah d. Ketaatan terhadap RTRW e. Luas wilayah produktif f. Luas wilayah industri g. Luas wilayah kebanjiran h. Luas wilayah kekeringan i. Luas wilayah perkotaan Fasilitas bank dan non j. Jenis dan jumlah bank dan cabang-cabangnya bank k. Jenis dan jumlah perusahaan asuransi dan cabang-cabangnya Ketersediaan air bersih l. Persentase Rumah Tangga (RT) yang menggunakan air bersih Fasilitas listrik dan telepon m. Rasio ketersediaan daya listrik n. Persentase rumah tangga yang menggunakan listrik o. Persentase penduduk yang menggunakan HP/telepon Ketersediaan restoran p. Jenis, kelas, dan jumlah restoran Ketersediaan penginapan q. Jenis, kelas, dan jumlah penginapan/ hotel 3. Iklim Berinvestasi Keamanan dan ketertiban a. Angka kriminalitas b. Jumlah demo Kemudahan perijinan c. Lama proses perijinan Pengenaan pajak daerah d. Jumlah dan macam pajak dan retribusi daerah Perda e. Jumlah Perda yang mendukung iklim usaha Status desa f. Persentase desa berstatus swasembada terhadap total desa 4. Sumberdaya Manusia Kualitas tenaga kerja a. Rasio lulusan S1/S2/S3 Tingkat ketergantungan b. Rasio ketergantungan Sumber: Lampiran PP No 6/2008 tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah 80
  • 100.
    Referensi R-5 Contoh TolokUkur Kinerja Urusan Wajib dan Pilihan Pemerintah Daerah Menurut SKPD Kode Urusan Fungsi dan Tolok Ukur Kinerja sebagai Referensi Penilaian Kinerja Wajib/Pilihan: Urusan Penyelenggaraan Urusan 1. Urusan Pemerintah Wajib Daerah 2. Urusan Pilihan Pelayanan Umum 1 Perencanaan • Tingkat ketersediaan dan validitas informasi perencanaan Pembangunan pembangunan • Jumlah kerjasama pembangunan antar daerah • Tingkat disparitas pembangunan antar subwilayah • Tingkat kelengkapan rencana wilayah strategis • Tingkat kelengkapan rencana kawasan cepat tumbuh • Tingkat penanganan perencanaan wilayah tertinggal • Tingkat penanganan wilayah strategis • Tingkat penanganan wilayah cepat tumbuh • Tingkat penanganan perkembangan pusat-pusat kegiatan wilayah • Tingkat kesesuaian antara perencanaan pusat kegiatan dengan perkembangan actual • Tingkat penerapan perencanaan partisipatif • Tingkat partisipasi masyarakat dalam perencanaan daerah • Tingkat kapasitas kelembagaan perencanaan pembangunan daerah • Tingkat ketersediaan dokumen perencanaan daerah • Tingkat implementasi dokumen perencanaan daerah • Kualitas pelaksanaan Musrenbang* 1 Pemerintahan • Tingkat kapasitas aparatur Umum • Tingkat pelayanan penyelenggaraan administrasi daerah • Tingkat kapasitas pengelolaan keuangan daerah • Tingkat professionalisme dan kompetensi staff • Jumlah kasus penyalahgunaan wewenang • Jumlah kasus KKN • Tingkat pelayanan pengaduan masyarakat • Jumlah kerjasama antar pemerintah daerah • Jumlah peraturan daerah yang disusun • Tingkat partisipasi politik dalam Pilkada* • Peraturan Daerah mengenai mekanisme dan koordinasi dana dekonsentrasi* 1 Kepegawaian • Tingkat kapasitas sumber daya aparatur • Tingkat keterampilan dan aparatur • Tingkat profesionalisme aparatur 1 Statistik • Tingkat ketersediaan data/informasi dan statistic daerah • Tingkat penggunaan teknologi informasi untuk statistik daerah • Tingkat validitas dan kemutakhiran data dan informasi daerah • Tingkat kemudahan akses informasi 81
  • 101.
    Lanjutan Referensi R-5........... Kode Urusan Fungsi dan Tolak Ukur Kinerja sebagai Referensi Penilaian Kinerja Wajib/Pilihan: Urusan Penyelenggaraan Urusan 1. Urusan Pemerintah Wajib Daerah 2. Urusan Pilihan 1 Kearsipan • Tingkat kelengkapan administrasi kearsipan • Tingkat penerapan teknologi informasi dalam administrasi kearsipan • Tingkat penerapan teknologi informasi dalam pengelolaan pelestarian dokumen/arsip daerah • Tingkat pelayanan informasi kearsipan daerah • Tingkat keterbukaan informasi kearsipan daerah bagi masyarakat 1 Komunikasi dan • Tingkat perkembangan media lokal dalam penyebarluasan Informatika informasi pembangunan daerah • Tingkat perkembangan media lokal dalam penyebarluasan informasi penyelenggaraan pemerintah daerah • Tingkat kapasitas SDM bidang komunikasi dan informasi • Akses masyarakat kepada informasi publik Ketertiban dan Ketentraman 1 Kesatuan Bangsa • Tingkat kriminalitas dan Politik Dalam • Jumlah kasus kriminalitas yang dapat diselesaikan Negeri • Jumlah konflik etnis dan social* • HDI dan HPI wilayah konflik* • Sosialisasi dan upaya perlindungan masyarakat terhadap terorisme* • Tingkat ancaman konflik antar kelompok masyarakat • Jumlah kasus pelanggaran PERDA • Jumlah kasus peredaran narkoba • Jumlah kasus penyalahgunaan narkoba • Jumlah kasus illegal logging • Tingkat pendidikan politik masyarakat • Ada/tidaknya sistem penanggulangan korban bencana alam Ekonomi 1 Perhubungan • Pertumbuhan dan kontribusi PDRB sektor perhubunganq Tingkat ketersediaan prasarana dan sarana/fasilitas perhubungan • Tingkat pelayanan prasarana dan sarana/fasilitas perhubunganq Tingkat pelayanan prasarana dan fasilitas LLAJ • Tingkat pelayanan prasarana dan sarana angkutan umum • Tingkat pelayanan prasarana dan sarana angkutan penumpang dan barang (darat, laut, udara) • Tingkat keselamatan/keamanan lalu lintas transportasi (darat, laut, udara) • Tingkat kecelakaan lalu lintas transportasi 1 Tenaga Kerja • Tingkat pengangguran terbuka • Jumlah pekerja formal perdesaan/perkotaan • Jumlah pekerja pada lapangan kerja kurang produktif • Tingkat kesempatan kerja • Kapasitas Balai Latihan Kerja • Proporsi Tenaga Kerja Indonesia Terdidik • Jumlah kasus pelanggaran/penyimpangan regulasi ketenagakerjaan 82
  • 102.
    Lanjutan Referensi R-5............ Kode Urusan Fungsi dan Tolak Ukur Kinerja sebagai Referensi Penilaian Kinerja Wajib/Pilihan: Urusan Penyelenggaraan Urusan 1. Urusan Pemerintah Wajib Daerah 2. Urusan Pilihan 1 Koperasi dan • Pertumbuhan dan kontribusi PDRB sektor KUKM Usaha Kecil • Tingkat kepastian usaha dan perlindungan hukum Menengah • Laju pertumbuhan UMKM • Laju pertumbuhan nilai ekspor produk UMKM • Tingkat keterampilan SDM Usaha Mikro • Akses ke permodalan pasar • Kapasitas usaha dan keterampilan pengelolaan usaha kecil 1 Penanaman • Tingkat investasi dalam PDRB Modal • Laju pertumbuhan investasi • Ada/tidaknya sistem informasi penanaman modal • Jangka waktu pengurusan prosedur perijinan start up dan operasi bisnis 1 Pemberdayaan • Tingkat keberdayaan masyarakat perdesaan Masyarakat dan • Tingkat perkembangan lembaga ekonomi perdesaan Desa • Tingkat partisipasi masyarakat dalam pembangunan desa • Tingkat kapasitas aparatur pemerintahan desa • Tingkat kontribusi perempuan dalam pembangunan perdesaan 2 Pertanian • Pertumbuhan dan kontribusi PDRB sektor pertanian • Kualitas SDM pertanian di perdesaan • Cakupan bantuan beras bersubsidi pada keluarga miskin • Akses terhadap kredit usaha pertanian dan sumberdaya permodalan • Tingkat ketahanan pangan kelompok miskin • Tingkat produksi bahan pangan protein hewani dan hasil ternak dan ikan • Tingkat produksi padi/beras • Tingkat sarana hasil produksi pertanian • Cakupan lahan beririgasi • Kualitas pengelolaan Daerah Aliran Sungai • Cakupan sistem penyuluhan • Tingkat penggunaan teknologi tepat guna • Nilai tambah hasil pertanian, peternakan, dan perikananq Tingkat infrastruktur perdesaan 2 Kehutanan • Pertumbuhan dan kontribusi PDRB sektor kehutanan • Laju pertumbuhan luas hutan produksi • Laju pertumbuhan luas Hutan Tanaman Industri • Laju deforestasi • Nilai tambah hasil hutan kayu • Nilai tambah hasil hutan non kayu • Cakupan sistem pengelolaan hutan yang berkelanjutan • Cakupan penetapan kawasan hutan dalam tata ruang 2 Energi dan • Pertumbuhan dan kontribusi PDRB sektor listrik, gas (dan air Sumberdaya bersih) Mineral • Ketersediaan regulasi untuk pembinaan dan pengawasan bidang pertambangan • Ketersediaan sistem pengawasan dan penertiban kegiatan rakyat yang berpotensi merusak lingkungan • Cakupan pelayanan kelistrikan 83
  • 103.
    Lanjutan Referensi R-5............ Kode Urusan Fungsi dan Tolak Ukur Kinerja sebagai Referensi Penilaian Kinerja Wajib/Pilihan: Urusan Penyelenggaraan Urusan 1. Urusan Pemerintah Wajib Daerah 2. Urusan Pilihan 2 Kelautan dan • Pertumbuhan dan kontribusi PDRB sektor kelautan dan Perikanan perikanan • Tingkat perkembangan budidaya perikanan • Tingkat perkembangan perikanan tangkap • Ketersediaan sistem penyuluhan perikanan • Tingkat pengelolaan produksi perikanan • Tingkat pemasaran produksi perikanan • Tingkat perkembangan kawasan budidaya laut, air payau, dan air tawar • Tingkat illegal fishing 2 Perdagangan • Pertumbuhan dan kontribusi PDRB sektor perdagangan • Ketersediaan program perlindungan konsumen • Jumlah kerjasama perdagangan internasional/regional • Tingkat pertumbuhan nilai ekspor • Tingkat pertumbuhan nilai impor • Tingkat efisiensi dan efektivitas pelayanan ekspor-impor • Tingkat pertumbuhan realisasi omzet perdagangan per tahun • Ketersediaan sistem pembinaan pedagang sektor informal 2 Perindustrian • Pertumbuhan dan kontribusi PDRB sektor perindustrian • Tingkat kapasitas Iptek sistem Produksi • Tingkat penerapan standardisasi produk industri • Laju pertumbuhan industri kecil dan menengah • Tingkat penyerapan tenaga kerja sektor industri • Volume ekspor produk industri dalam total ekspor daerah • Ketersediaan kebijakan pengelolaan sentra-sentra industri potensial 2 Transmigrasi • Tingkat perkembangan areal transmigrasi • Jumlah transmigran yang berhasil dimukimkan • Akses transmigran kepada pelayanan pendidikan dan kesehatan • Ketersediaan program penyuluhan bagi transmigrasi lokal/ regional Lingkungan Hidup 1 Penataan Ruang • Tingkat kelengkapan Rencana Tata Ruang (mulai RTRW sampai dengan RDTR) • Tingkat pemanfaatan rencana tata ruang sebagai acuan koordinasi dan sinkronisasi pembangunan antar sektor dan antar subwilayah • Tingkat pengendalian pemanfaatan ruang • Jumlah konflik pemanfaatan ruang antar stakeholder setempat, antar instansi pemerintah, maupun antar kewenangan tingkatan pemerintahan • Perkembangan rasio luas kawasan lindung terhadap luas total wilayah • Proporsi rasio luas kawasan kritis terhadap luas total wilayah • Laju pertumbuhan luas kawasan bersifat kota • Tingkat penanganan kawasan terisolir • Tingkat partisipasi masyarakat dalam pengendalian pemanfaatan ruang 84
  • 104.
    Lanjutan Referensi R-5............ Kode Urusan Fungsi dan Tolak Ukur Kinerja sebagai Referensi Penilaian Kinerja Wajib/Pilihan: Urusan Penyelenggaraan Urusan 1. Urusan Pemerintah Wajib Daerah 2. Urusan Pilihan 1 Lingkungan Hidup • Tingkat pemanfaatan sumber daya alam • Cakupan sistem pengelolaan persampahan • Tingkat pencemaran lingkungan (air, tanah, udara) • Tingkat pelanggaran dan perusakan sumber daya alam dan lingkungan hidup • Tingkat rehabilitasi/pemulihan sumber daya alam • Jumlah kasus kebakaran hutan • Jumlah DAS berkondisi kritis • Cakupan kawasan konservasi laut • Tingkat pengelolaan ekosistem pesisir-laut • Ketersediaan Early Warning System/Pernyataan Dini Bencana) • Jumlah kasus illegal fishing • Jumlah kasus illegal sand mining • Jumlah kasus illegal logging • Kualitas air permukaan dan air tanah* • Tingkat pencemaran pesisir dan laut* • Luas lahan kritis* 1 Pertanahan • Luas daerah yang telah tercakup dalam sistem pendaftaran tanah • Cakupan informasi pertanahan • Tingkat penerapan teknologi informasi pertanahan • Jangka waktu penyelesaian administrasi pertanahan • Tingkat penyelesaian konflik-konflik pertanahan Perumahan dan Fasilitas Umum 1 Pekerjaan Umum • Tingkat aksesibilitas wilayah • Tingkat mobilitas orang/barang • Tingkat kondisi prasarana transportasi • Tingkat resiko dan periode genangan banjir • Jumlah kejadian bencana kekeringan • Tingkat ketersediaan jaringan prasarana dan pengelolaan air baku • Tingkat pemenuhan kebutuhan air untuk berbagai keperluan (rumah tangga, permukiman, pertanian, industri) • Tingkat pengelolaan dan konservasi sumber daya air • Tingkat pelayanan air minum • Tingkat pelayanan air limbah bagi masyarakat miskin • Tingkat pengendalian potensi konflik air • Tingkat pengendalian pemanfaatan air tanah • Tingkat perlindungan daerah pantai dari abrasi air laut • Tingkat kesiagaan penanganan bencana alam 1 Perumahan Rakyat • Pertumbuhan dan kontribusi PDRB sektor perumahan • Luas dan sebaran kawasan kumuh • Jumlah rumah tangga yang belum memiliki rumah • Tingkat kemampuan penyediaan prasarana dan sarana rumah • Tingkat kemantapan penyelenggaraan pembangunan perumahan dan permukiman • Tingkat pelayanan air bersih • Tingkat pelayanan sanitasi • Tingkat pelayanan penyehatan lingkungan (air limbah) • Tingkat kesiagaan dan pencegahan bahaya kebakaran • Tingkat ketersediaan sarana dan prasarana pemakaman 85
  • 105.
    Lanjutan Referensi R-5............ Kode Urusan Fungsi dan Tolak Ukur Kinerja sebagai Referensi Penilaian Kinerja Wajib/Pilihan: Urusan Penyelenggaraan Urusan 1. Urusan Pemerintah Wajib Daerah 2. Urusan Pilihan Kesehatan 1 Kesehatan • Umur harapan hidup • Angka kematian bayi • Angka kematian ibu melahirkan • Persalinan bayi oleh tenaga kesehatan* • Tingkat prevalensi/kejadian gizi kurang pada anak balita* • Angka kasus anemia gizi besi pada ibu hamil • Tingkat ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan • Tingkat pemerataan obat dan perbekalan kesehatan • Tingkat ketersediaan unit pelayanan kesehatan • Tingkat keterjangkauan pelayanan kesehatan • Jumlah kasus akibat pangan dan bahan berbahaya • Jumlah kasus/kejadian penyakit menular • Jumlah kasus penyakit malaria, DBD • Tingkat prevalensi HIV/AIDS • Persentase perilaku hidup sehat • Akses penduduk terhadap sanitasi dasar • Tingkat kunjungan penduduk miskin ke Puskesmas • Cakupan pelayanan kesehatan dasar masyarakat miskin • Akses masyarakat kawasan perbatasan pada pelayanan kesehatan • Proporsi tenaga dokter di Puskesmas • Pemerataan tenaga kesehatan • Tingkat pelayanan kesehatan Ibu dan bayi* • Tingkat pelayanan kesehatan anak pra sekolah dan usia sekolah* • Cakupan peserta KB aktif* • Cakupan pelayanan imunisasi* • Cakupan pelayanan kesehatan jiwa • Cakupan pelayanan gawat darurat • Tingkat pencegahan/pemberantasan penyakit polio, TB Paru, dan ISPA* • Jumlah institusi binaan untuk pelayanan kesehatan lingkungan* *beberapa contoh dari SPM bidang Kesehatan di Kab/kota. Selengkapnya dapat dilihat dalam KepMenKes No 1457/ MenKes/SK/X/2003 tentang Standard Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota 1 Keluarga • Laju pertumbuhan penduduk Berencana • Tingkat kelahiran • Total Fertility Rate/TFR (per perempuan)* • Tingkat pelayanan kontrasepsi • Kapasitas institusi daerah dalam pelaksanaan KB Pariwisata dan Budaya 1 Kebudayaan • Ketersediaan kebijakan tentang pelestarian budaya lokal daerah • Jumlah program pengembangan kesenian dan kebudayaan daerah 86
  • 106.
    Lanjutan Referensi R-5........... Kode Urusan Fungsi dan Tolak Ukur Kinerja sebagai Referensi Penilaian Kinerja Wajib/Pilihan: Urusan Penyelenggaraan Urusan 1. Urusan Pemerintah Wajib Daerah 2. Urusan Pilihan 2 Pariwisata • Pertumbuhan dan kontribusi PDRB sektor pariwisata • Tingkat perkembangan kontribusi sektor pariwisata dalam PDRB • Tingkat perkembangan jumlah obyek wisata • Tingkat perkembangan jumlah wisatawan • Tingkat perkembangan kerjasama/kemitraan pemasaran pariwisata Pendidikan 1 Pendidikan • Cakupan pelayanan pendidikan usia dini • Persentase penduduk yang selesai Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun • Angka partisipasi kasar penduduk yang mengikuti pendidikan menengah • Angka partisipasi kasar penduduk yang mengikuti pendidikan tinggi • Tingkat mutu pendidik dan tenaga kependidikan pada jalur pendidikan formal/non formal • Angka buta aksara penduduk usia >15 th* • Angka melanjutkan sekolah* • Angka putus sekolah* • Angka mengulang kelas* • Rata-rata lama menyelesaikan pendidikan* • Persentase penduduk miskin menyelesaikan Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun • Tingkat cakupan pendidikan formal terhadap penduduk miskin • Pemerataan pendidikan • Tingkat efektivitas manajemen berbasis sekolah • Jumlah anggaran pendidikan dari APBN/D • Tingkat partisipasi masyarakat dalam pembangunan pendidikan • Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan dasar 9 tahun* • Angka Partisipasi Sekolah (APS) pada pendidikan sekolahdasar/sederajat* • APS pada pendidikan sekolah menengah pertama/ sederajat* • APS pada pendidikan sekolah menengah atas/sederajat* *beberapa contoh dari SPM bidang Pendidikan. Selengkapnya dapat dilihat dalam KepMenDikNas No 129a/ U/2004 tentang Standard Pelayanan Minimal Bidang Pendidikan 1 Pemuda dan • Tingkat kualitas pemuda (15-35 tahun) Olah Raga • Sports Development Index (SDI) • Prestasi olahraga dalam event-event internasionalq Ada/tidaknya kebijakan pengelolaan prestasi olahraga daerah • Tingkat ketersediaan prasarana dan sarana olahraga 87
  • 107.
    Lanjutan Referensi R-5............ Kode Urusan Fungsi dan Tolak Ukur Kinerja sebagai Referensi Penilaian Kinerja Wajib/Pilihan: Urusan Penyelenggaraan Urusan 1. Urusan Pemerintah Wajib Daerah 2. Urusan Pilihan Perlindungan Sosial 1 Kependudukan • Ketersediaan system administrasi kependudukan dan Catatan Sipil • Jumlah anak yang memiliki akte kelahiran* • Akses mayarakat terhadap pelayanan administrasi dan kependudukan • Keterjangkauan biaya pelayanan administrasi dan kependudukan • Lama (waktu) pelayanan administrasi dan kependudukan • Tingkat ke-mutakhir-an data administrasi dan kependudukan 1 Pemberdayaan • Jumlah kebijakan daerah untuk peningkatan kualitas anak Perempuan dan perempuan • Tingkat kesenjangan antara HDI dan GDI* • Jumlah kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan • Akses perempuan terhadap pendidikan • Persentase penduduk perempuan berusia 10 th ke atas yang tidak/belum pernah sekolah • Persentase penduduk perempuan yang buta huruf • Akses perempuan terhadap layanan kesehatan • Angka Gender Empowerment Measurement* (mengukur ketimpangan gender di bidang ekonomi (perempuan dalam angkatan kerja dan rata-rata upah di sektor non-pertanian), politik (perempuan di parlemen) dan pengambilan keputusan (perempuan pekerja profesional, pejabat tinggi, dan manajer)) • Akses perempuan untuk terlibat dalam kegiatan public • Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan • Tingkat keterwakilan perempuan di lembaga legislatif • Persentase perempuan dalam jabatan publik (PNS) • Jumlah (persentase) pekerja anak* • Tingkat perlindungan perempuan 1 Keluarga • Tingkat kesehatan bagi ibu, bayi, dan anak Sejahtera • Tingkat/kualitas tumbuh kembang anak • Cakupan pelayanan pasangan usia subur yang tergolong masyarakat miskin 1 Sosial • Cakupan pembinaan gelandangan, pengemis, dan PMKS, anak jalanan, dan anak cacat • Akses kepada pelayanan sosial dasar bagi masyarakat miskin • Jumlah tenaga pelayanan social untuk berbagai jenis kecacatan • Peluang mengakses pelayanan umum • Persentase penurunan jumlah fakir miskin dan keluarga rentan social • Persentase jumlah penduduk miskin* Keterangan: 1 Kode Urusan Wajib 2 Kode Urusan Pilihan * Tolok ukur kinerja pencapaian pembangunan 2004-2009 Referensi: 1. Sasaran dan Indikator Kinerja Pencapaian Pembangunan 2004-2009, Handbook SPPN RI, Bappenas, 2006 2. Indikator Kemajuan Otonomi Daerah, Handbook SPPN RI, Bappenas, 2006 3. Lampiran A 1, Lampiran A VI, dan Lampiran A-VII Permendagri 13/2006 88