Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Indepth report klik aktivisme; melambungkan prita, menenggelamkan mbok jumik

482 views

Published on

  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Indepth report klik aktivisme; melambungkan prita, menenggelamkan mbok jumik

  1. 1. Indepth ReportKlik Aktivisme; Melambungkan Prita, Menenggelamkan Mbok Jumik oleh : Firdaus Cahyadi Yayasan Satudunia
  2. 2. Klik aktivisme, Apaan tuh? Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) begitu pesat di dunia, takterkecuali di Indonesia. Pesatnya perkembangan TIK ini menimbulkan perubahan carasesorang berekspresi dan berkomunikasi. Solidaritas sosial yang terkait dengan kasustertentu pun begitu mudah digalang di dunia maya. Sekali klik, kita dapat menjadi bagian dari orang-orang yang mendukung sebuah petisiatau tergabung dalam sebuah group terkait kasus tertentu. Hal itu memunculkan istilah baruberupa klik aktivisme. Mobilisasi dukungan yang begitu besar di dunia maya dalam kasusPrita Mulyasari dapat dijadikan contoh dalam hal ini.Kasus Prita Mulyasari Prita Mulyasari adalah seorang ibu rumah tangga. Pada suatu 7 Agustus 2008, ia menjadi pasien dari Rumah Sakit OMNI Internasional. Seperti ditulis di portal TVOne, Prita Mulyasari mengeluhkan pelayanan rumah sakit tersebut melalui pesan terbatas di email kepada teman- temannya, namun kemudian email tersebuttersebar. Pihak rumah sakit, seperti dilansir Antara, tidak menerima sikap Prita dan kemudianmengajukan gugatan pencemaran nama baik ke kepolisian. Kepolisian mengenakan Pasal 310 dan Pasal 311 dalam Kitab Undang-undang HukumPidana (KUHP) tentang pencemaran nama baik kepada Prita namun saat kasusnyadilimpahkan ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Banten, dakwaannya ditambahkan dengan Pasal 27Undang-undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dengan ancaman hukumanenam tahun penjara. Dengan dasar itulah, Prita yang memiliki dua anak berusia dibawah lima tahun kemudian ditahan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) PerempuanTangerang. Namun justru dari situlah sebuah perlawanan dimualai. Para pengguna internetmenggalang solidaritas di dunia maya. Dukungan terhadap Prita Mulyasari di sebuah causedi facebook meningkat tajam. Hingga kini tidak kurang 389 ribu facebooker menjadipendukung Prita Mulyasari.
  3. 3. Dukungan tidak berhenti di situ. Saat Prita Mulyasari diancam denda dalam kasusmelawan RS OMNI Internasional itu, para blogger kembali membangun solidaritasmasyarakat untuk mengumpulkan koin keadilan untuk Prita. Gerakan mendukung PritaMulyasari pun diperbesar dengan pemberitaan berbagai media mainsteram. Seperti ditulis oleh kompas.com, Bank Indonesia dan Bank Mandiri kini mengumumkanhasil jumlah koin sebesar Rp 615.562.043 pada Rabu (30/12/2009), di Bank Indonesia,Jakarta. Hasil ini merupakan gabungan dari koin yang bernilai Rp 589.073.143 dan uangkertas sejumlah Rp 26.488.900, yang dimuat dalam 21 kontainer. "Ini merupakan peristiwa unik, karena koin dikumpulkan dari seluruh pelosok negeri. Inimembuktikan bahwa masyarakat masih menghargai koin," ujar Deputi BI Budi Rochadi. Inilah adalah sebuah gerakan sosial baru yang diawali dengan gerakan di dunia maya.Tak heran Prita Mulyasari kemudian menjadi sebuah icon gerakan sosial digital (clickactivism) di Indonesia. Setelah kasus Prita itu, berbagai gerakan sosial digital mencobamengikuti jejaknya. Membangun solidaritas sosial di dunia maya.Kasus Mbok Jumik Jauh sebelum kasus Mbak Prita Mulyasari meledak, sebenarnya ada kasus lain yang agak serupa, yaitu kasus Mbok Jumik. Siapa itu Mbok Jumik? Mengapa pula ia dibandingkan dengan Mbak Prita Mulyasari? Mbok Jumik adalah perempuan yang tinggal di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Iasalah satu perempuan yang menjadi korban lumpur Lapindo. Usianya tidak lagi muda sepertiMbak Prita Mulyasari. Ia berusia 52 tahun. Lumpur Lapindo telah menghancurkan rumahMbok Jumik di Desa Renokenongo. Air yang telah menggenangi rumahnya sejak haripertama munculnya semburan lumpur memaksa keluarga Mbok Jumik menjadi pengungsi. Bulan Juni 2008 Mbok Jumik mulai merasakan sakit luar biasa di perutnya. Pada saatitu keluarga Mbok Jumik pun segera membawanya ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)Sidoarjo. Sekitar dua minggu Mbok Jumik dirawat di rumah sakit. Namun, karena tak mampu
  4. 4. membiayai ongkos rumah sakit, keluarga Mbok Jumik membawanya pulang ke tempatpengungsian korban Lapindo di Pasar Baru Porong. Keluarganya pun pasrah. Selanjutnya,Mbok Jumik dirawat dengan menggunakan pengobatan tradisional. Para relawan Posko Korban Lapindo di Porong pun segera menulis surat terbukapermohonan bantuan biaya perawatan bagi Mbok Jumik via internet (email, milis, forum dansebagainya). Bahkan mereka juga menulis surat khusus permohonan bantuan untuk MbokJumik kepada lembaga bantuan sosial yang ada di Indonesia via email. Berbeda dengan kasus yang menimpa Mbak Prita Mulyasari melawan RS OmniInternasional yang mampu menciptakan solidaritas sosial di kalangan pengguna internet.Dalam kasus Mbok Jumik ini solidaritas itu tidak muncul. Bahkan hingga Mbok Jumikmenghembuskan nafas terakhir pun, tidak ada bantuan yang datang. Jika dalam kasus Mbak Prita Mulyasari melawan RS Omni Internasional terkait denganhak konsumen yang tidak dipenuhi oleh sebuah industri jasa rumah sakit, maka dalam kasusMbok Jumik ini terkait dengan tidak dipenuhinya hak warga negara atas kesehatan. Meskipunbegitu kasus Mbok Jumik tidak cukup menarik simpati para pengguna internet di Indonesiauntuk melakukan solidaritas sosial seperti dalam kasus Mbak Prita Mulyasari.Klik aktivisme, Bias Kelas Sosial? Melihat kedua kasus itu, maka timbul sebuah pertanyaan, mengapa click activismgagal membangun solidaritas sosial dalam kasus Mbok Jumik, tidak seperti dalam kasusMbak Prita Mulyasari? Melambungnya Mbak Prita dan sebaliknya tenggelamnya Mbok Jumik dalam gelegargerakan sosial digital ini bisa disebabkan karena para pengguna internet di Indonesia terlaludidominasi oleh kelas menengah atas. Akibatnya, para pengguna internet tidak merasaberkepentingan dalam kasus Mbok Jumik, dan sebaliknya merasa dekat sertaberkepentingan dengan kasus Mbak Prita. Karena kelas menengah-atas itu mungkin samaseperti Mbak Prita, menjadi konsumen RS internasional atau paling tidak calon konsumenrumah sakit internasional. Namun pernyataan yang mengaitkan kasus Prita dan Mbok Jumik itu denganargumentasi kelas sosial dibantah. Bisa jadi para aktivis yang mengorganisir dukungan dalamkasus Mbok Jumik tidak seprofesional dalam kasus Prita Mulyasari. Jadi klaim mana yangbenar? Untuk melihat apakah gerakan sosial digital itu bias kelas atau tidak, kita perlu melihat
  5. 5. dukungan publik di dalam kasus-kasus lainnya. Dalam kasus dukungan kepada Nenek Minahdi facebook ternyata juga tidak sebesar dukungan terhadap kasus Prita. Di facebook, groupdukungan Nenek Minah hanya mampu mengumpulkan 3000-an anggota. Siapa Nenek Minah? Nenek Minah alias Ny Sanrudi adalah seorang perempuan, warga Desa Darmakradenan RT 4 RW 5 Kecamatan Ajibarang, Banyumas. Di Banyumas, ia harus merasakan pahitnya menjadi tahanan hanya karena didakwa mengambil tiga biji kakao seharga Rp 2.100. Dukungan yang agak lebih besar pada kasus yang menyangkut isu kelas bawah muncul di causefacebook, Dukung Korban Lapindo Mendapatkan Keadilan. Cause itu mampu menggalangdukungan sebanyak 17 ribuan facebooker. Namun tetap kalah dengan cause dalam kasusPrita Mulyasari VS RS OMNI Internasional. Pertanyaan berikutnya tentu saja adalah adakah data kuantitatif yang menunjukanbahwa pengguna internat di Indonesia didominasi kelas menenga-atas, sehinggamenenggelamkan isu kelas menengah bawah dalam gerakan sosial digital? Data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pada akhir 2004menunjukan, terdapat sekitar 1.087.428 pelanggan dan sekitar 11.226.143 penggunainternet. Dengan populasi 257,76 juta, berarti sekitar 4,6% masyarakat adalah penggunainternet dan 0,4% pelanggan internet. APJII juga mencatat bahwa sebanyak 75% pelanggandan pengguna internet berlokasi di Jakarta, 15% di Surabaya, 5% di daerah lain di pulauJawa dan 5% sisanya di propinsi lainnya. Sementara bila ditinjau dari jenjang pendidikan, menurut indikator telematika yangditulis iptek.net menyebutkan, tingkat sarjana adalah pengguna terbanyak (43%) selanjutnyatingkat SLTA (41%). Berdasarkan profesi menunjukkan bahwa mahasiswa yang palingbanyak menggunakan internet (39%). Kota adalah tempat kelas menengah-atas berada. Sementara jenjang pendidikan jugadapat menggambarkan kelas sosial yang ada di masyarkaat. Semakin tinggi pendidikansemakin tinggi pula kelas sosialnya di masyarakat. Dari data di atas menjadi salah satupendukung bahwa pengguna internet di Indonesia memang didominasi oleh kelas menengah-atas. Konten informasi dan pengetahuan yang tersebar di internet pun didominasi oleh kelasmenengah-atas. Begitu pula gerakan sosial yang coba diorganisir melalui internet.
  6. 6. Di sinilah letak kontroversinya, jika klik aktivisme di Indonesia ini menjadi bias kelasmenengah-atas. Padahal kelas menengah-bawah lah yang seringkali rentan ditinggalkandalam proses pembangunan dan juga menjadi korban penindasan. Pertanyaannya adalahmungkinkah gerakan sosial mampu memicu sebuah peruabahan sosial yang lebih baik bagikelas menengah-bawah?Bahan Bacaan. 1. Gerakan Rakyat Dukung Pembebasan Nenek Minah. http://www.facebook.com/home.php?sk=2361831622#!/group.php?gid=180415896573 2. Dukung Korban Lapindo Mendapatkan Keadilan, http://www.causes.com/causes/333125 3. DUKUNGAN BAGI IBU PRITA MULYASARI, PENULIS SURAT KELUHAN MELALUI INTERNET YANG DITAHAN, http://www.causes.com/causes/290597 4. Koin Prita Selesai Dihitung, http://megapolitan.kompas.com/read/2009/12/30/2338022/koin.prita.selesai.dihitung 5. Kronologi Kasus Prita Mulyasari, http://hukum.tvone.co.id/berita/view/15586/2009/06/08/kronologi_kasus_prita_mulyasa ri/ 6. Hak Asasi Manusia Pilar Utama Kebijakan Konten di Indonesia , Kertas Posisi Yayasan Satudunia tentang Kebijakan Konten Yayasan Satudunia, Satudunia, 2010 7. Di Tengah Kegelapan, Kami Nyalakan Lentera, Kertas Posisi Yayasan Satudunia tentang ICT di Indonesia, Satudunia, 2010 8. http://web.bisnis.com/sektor-riil/telematika/1id179371.html 9. http://www.iptek.net.id/ind/?mnu=5&ch=inti 10. http://www.satuportal.net/content/internet-pornogafi-dan-gerakan-sosial

×