Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Sebagai salah satu bagian dari tatanan pelayanan kesehatan di Indonesia,
ruma...
900/434/Wako-PP/2012 tanggal 28 Desember 2012, RSUD Kota Padang Panjang
ditetapkan sebagai PPK - Badan Layanan Umum Daerah...
persediaan adalah kegiatan yang dilakukan untuk menjamin tersedianya barang dalam
jenis dan jumlah sesuai kebutuhan pada w...
atau keperawatan ke bidang pelayanan yang dilengkapi dengan referensi alat
kemudian diteruskan kebagian perencanaan Rumah ...
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas pokok permasalahan yang akan
dibahas dalam penelitian ini ...
1.4 Batasan Penelitian
Untuk menghindari ruang lingkup yang terlalu luas sehingga penelitian dapat
terarah dengan baik ses...
b. Bagi Pembaca : diharapkan dapat menambah wawasan mengenai
Sistem dan prosedur akuntansi persediaan obat-obatan pada
Ins...
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini berisi mengenai lokasi penelitian, jenis penelitian, jenis data dan
sumber data, tek...
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sistem dan Prosedur Akuntansi
2.1.1 Pengertian Sistem dan Prosedur Akuntansi
Sebelum kita memb...
seperti pemegang saham, kreditur dan lembaga-lembaga pemerintah untuk menilai
hasil operasi (Stettler dalam Baridwan, 1998...
untuk menghindari terjadinya kekosongan stok obat di gudang farmasi, sehingga
kebutuhan akan obat dapat di penuhi dengan b...
sangat penting karena pada proses ini kita dapat menyaring barang-barang yang tidak
bermutu dan tidak sesuai dengan spesif...
kebutuhan operasi dan kebutuhan obat BHP aenestesi.. Tujuan dari pendistribusian
adalah untuk memenuhi permintaan obat ses...
farmasi membuat terlebih dahulu usulan obat-obatan yang akan dimusnahkan dengan
informasi dari bagian gudang yang kemudian...
Komponen persediaan didalam struktur neraca termasuk dalam kategori
aktiva lancar. Dari sudut pandang ilmu pembelajaran (f...
2.2.3 Perhitungan Fisik Persediaan (stock opname)
Sistem perhitungan fisik persediaan umumnya digunakan oleh perusahaan
un...
1. Pemegang kartu perhitungan fisik
2. Penghitung
3. Pengecek
Dengan demikian fungsi yang terkait dalam sistem perhitungan...
melakukan adjusment tehadap kartu persediaan dan membuat bukti memorial, fungsi
gudang yang bertanggung jawab melakukan ad...
operasional instansi tersebut dalam jumlah yang tepat pada waktu yang dibutuhkan
dalam keadaan yang dapat dipakai, ke loka...
d. Fungsi penyimpanan dan penyaluran. Fungsi ini merupakan
penerimaan, penyimpanan dan penyaluran perlengkapan yang telah
...
2.3.3 Penilaian Mutu Logistik Rumah Sakit
Mutu pelayanan logistik diukur dari total biaya yang dikeluarkan dengan
prestasi...
yang sesuai. Dari segi manajemen modern (Aditama, 2007:116), maka tanggungjawab
manajemen logistik lebih diperluas, yaitu ...
mengembangkan dan menjaga hubungan baik dengan bagian lain, memantapkan
integrasi yang maksimal dengan bagian lain serta m...
Jadi pengendalian intern persediaan dapat mencapai efektifitas bila
diterapkan pencatatan yang cermat dan lengkap serta pe...
2. Penghitungan fisik setiap jenis persediaan dilakukan dua kali secara
independen, pertama kali oleh penghitung dan kedua...
Prosedur perencanaan dan penentuan kebutuhan obat-obatan, prosedur
pengadaan obat-obatan, prosedur penyimpanan obat-obatan...
Gambar 2.1
Kerangka Konseptual Pelaksanaan Sistem dan Prosedur
Akuntansi Obat-obatan
RSUD Kota Padang Panjang
Instalasi Fa...
Gambar 2.1
Kerangka Konseptual Penelitian
Sistem
Pengendalian
Intern (SPI)
Perencanaan
(X1)
Pengadaan(X2)
Penyimpanan
(X3)...
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis dan Objek Penelitian
Memilih metode yang tepat dalam penelitian, ditentukan oleh maksu...
dengan PSAP atau malahan belum sesuai karena persediaan obat-obatan berperan
sangat vital bagi masyarakat juga obat merupa...
(Indriantoro dan Supomo, 1999: 130). Dalam penelitian ini sampel yang digunakan
adalah kesemua pegawai yang bekerja pada I...
(X2), Prosedur penyimpanan obat-obatan (X3), Prosedur pendistribusian
obat-obatan (X4), Prosedur penghapusan obat-obatan (...
setiap item dengan skor total dihitung dengan korelasi product moment (Product
Moment pearson correlation).
2. Uji Reliabi...
3.5 Teknik Pengujian Hipotesis
1. Untuk mengetahui pengaruh sistem dan prosedur akuntansi dalam
sistem pengendalian intern...
3. Uji keberartian model regresi atau disebut uji F (uji Anova), digunakan
untuk melihat apakah model persamaan regresi ya...
persen ditentukan oleh variabel-variabel lain di luar model. Dua variabel
penjelas yang dipilih oleh peneliti sudah dapat ...
BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian
Kota Padang Panjang berada pada ketinggian 650 sampai 85...
Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, bahwa Kepada Daerah Kabupaten/Kota
telah diserahkan kewenangan agar daerah tersebu...
Visi, Misi dan Tujuan Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Daerah
a. Visi
“Pelayanan Farmasi profesional dari aspek manajeme...
6. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan di bidang farmasi.
7. Mengadakan penelitian dan pengembangan di bidang farmas...
e. Menerima perbekalan farmasi sesuai dengan spesifikasi dan
ketentuan yang berlaku.
f. Menyimpan perbekalan farmasi sesua...
Berdasarkan Kepmenkes No. 1197/MENKES/SK/X/2004 tentang Standar
Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit, tugas pokok farmasi Ruma...
1. Pemilihan
Merupakan proses kegiatan sejak dari meninjau masalah kesehatan
yang terjadi di rumah sakit, identifikasi pem...
murah, sediaan farmasi dengan kemasan yang lebih kecil, sedian farmasi
yang tidak tersedia dipasaran, sediaan farmasi untu...
4.3 Hasil Penelitian dan Pembahasan
4.3.1 Hasil Analisis Validitas dan Reliabilitas
Uji validitas berhubungan ketepatan al...
Butir Dimensi r-hitung r-tabel
Status
Butir
Keterangan Reliabilitas
12.
Sistem dan
Prosedur
Akuntansi
persediaan
obat-obat...
Tabel 4.5
Uji Validitas Dan Reliabilitas Sistem Pengendalian Intern (Y)
Butir r-hitung r-tabel
Status
Butir
Keterangan Rel...
4.3.2 Analisis Deskripsi Jawaban Responden
Untuk mengetahui kecenderungan tanggapan responden pada tiap variabel
dan Dimen...
4.3.2.1 Tanggapan Responden Terhadap Variabel Penerapan Prosedur
Akuntansi Persediaan Obat
Tabel 4.6
Tanggapan Responden T...
34 106 130 81,53 Positif
Total 2510 2990 83,94 Positif
TOTAL SKOR X 3701 4420 83,73 Positif
Sumber : Pengolahan data Penel...
tanggapan responden pada hal-hal yang berhubungan dengan sistem dan prosedur
akuntansi persediaan obat-obatan, juga bagus....
Dari tabel diatas, diperoleh gambaran kecenderungan jawaban responden
terhadap sistem pengendalian intern (Y) diketahui ta...
Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa nilai signifikansi untuk variabel
sistem pengendalian intern sebesar 0,369>0,05 y...
Dalam penelitian ini, variabel tak bebas (Y) adalah sistem pengendalian
intern, sedangkan variabel bebas (X) adalah Penera...
obat-obatatan (X6), serta bahwa semua variabel independen yang diajukan dapat
dimasukkan dalam penelitian ini atau tidak a...
pada Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Daerah Kota Padang
Panjang.
c. Koefisien regresi X3 (Penyimpanan obat-obatan). Bes...
Tabel 4. 7
Model Summary
Model R R
Square
Adjusted
R Square
Std. Error of the
Estimate
1 .914 (a) .835 .829 136.52991
a Pr...
H1 :  ≠ 0 (Tedapat pengaruh yang signifikan antara Penerapan Prosedur
Akuntansi Persediaan Obat-obatan dengan Sistem Peng...
Koefisien korelasi yang didapat di atas hanya menggambarkan seberapa kuat
hubungan dari antara Penerapan Prosedur Akuntans...
4.4.3 Uji t, pengujian Pengaruh Parsial (Secara Sendiri-Sendiri) Antara
Perencanaan (X1), Pengadaan (X2), Penyimpanan (X3)...
ke dalam interval korelasi yang sedang (0,40-0,599) bedasarkan pedoman interpretasi
koefisien korelasi menurut Sugiyono (2...
4.4.2.3 Pengujian Parsial Penyimpanan (X3) Dengan Sistem Pengendalian
Intern(Y).
Selanjutnya juga dilakukan pengujian kore...
Skripsi kak mila new
Skripsi kak mila new
Skripsi kak mila new
Skripsi kak mila new
Skripsi kak mila new
Skripsi kak mila new
Skripsi kak mila new
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Skripsi kak mila new

6,187 views

Published on

akuntansi

Published in: Government & Nonprofit
  • Be the first to comment

Skripsi kak mila new

  1. 1. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sebagai salah satu bagian dari tatanan pelayanan kesehatan di Indonesia, rumah sakit merupakan institusi yang kompleks, dinamis, kompetitif, padat modal dan padat karya yang multi disiplin, serta dipengaruhi oleh lingkungan yang selalu berubah. Rumah sakit menjadi tempat dan tumpuan masyarakat untuk memperoleh pelayanan, pertolongan, dan perawatan kesehatan. Kegiatan utama sebuah rumah sakit adalah menjual jasa perawatan, namun perawatan terhadap pasien tidak akan maksimal jika persediaan obat yang dimiliki rumah sakit tersebut tidak lengkap. Persediaan obat dalam suatu rumah sakit memiliki arti yang sangat penting karena persediaan obat merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas pelayanan suatu rumah sakit. Oleh karena itu, sistem persediaan obat yang baik harus diterapkan oleh pihak rumah sakit untuk membantu kelancaran dalam kegiatan operasionalnya. Tanpa adanya persediaan, rumah sakit akan dihadapkan pada risiko tidak dapat memenuhi kebutuhan para pengguna jasa rumah sakit atau pasien. Persediaan meliputi semua barang yang dimiliki dengan tujuan untuk dijual kembali atau dikonsumsi dalam operasi normal perusahaan (Harnanto, 2002:222). Rumah Sakit Umum Daerah Kota Padang Panjang adalah rumah sakit tipe C milik pemerintah daerah yang tingkat hunian dan angka kunjungan pasiennya cukup tinggi jika dibandingkan dengan rumah sakit daerah tipe C lainnya di Sumatera Barat, yang sudah dilengkapi dengan peralatan medis yang canggih dan moderen. Dan dengan diberlakukannya Peraturan Pemerintah No. 23 tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Keuangan Badan Layanan Umum, dan PERMENDAGRI No. 61 tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah, dan berdasarkan Keputusan Walikota Padang Panjang Nomor :
  2. 2. 900/434/Wako-PP/2012 tanggal 28 Desember 2012, RSUD Kota Padang Panjang ditetapkan sebagai PPK - Badan Layanan Umum Daerah dan diberi fleksibilitas dalam Tata Kelola Keuangan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Dengan fleksibilitas itu RSUD Kota Padang Panjang sangat tergantung pada pengelolaan persediaan obat- obatan yang memiliki tingkat perputaran obat-obatan yang cukup tinggi. Tingkat perputaran obat-obatan yang tinggi pada RSUD Kota Padang Panjang menyebabkan diperlukannya pengelolaan, pengawasan dan pengendalian yang baik terhadap persediaan obat-obatan. Tujuanya adalah untuk menjaga persediaan obat- obatan dari resiko kehilangan dan kerusakan, memeriksa ketelitian dan kebenaran data akuntansinya, meningkatkan efisiensi, menghindari terjadinya kesalahan- kesalahan dan penyimpangan-penyimpangan yang mungkin terjadi yang dapat merugikan rumah sakit, serta membantu menjaga dipenuhinya kebijakan manajemen yang telah ditetapkan. Karena itu, untuk mewujudkan diperlukan adanya sistem dan prosedur akuntansi yang baik dan memadai. Sistem dan prosedur akuntansi ini tidak dapat lepas dari adanya pengendalian intern yang baik pula. Pengelolaan dan pengendalian obat-obatan pada RSUD Kota Padang Panjang pada saat ini masih mempunyai beberapa kekurangan yang dapat merugikan RSUD Kota Padang Panjang. Beberapa diantaranya adalah adanya perangkapan tugas pegawai meskipun pelaksanaan stock opname yang sudah tergolong baik. Berdasarkan wawancara dengan Kepala Instalasi Farmasi RSUD Kota Padang Panjang, proses stock opname obat-obatan yang dilakukan di RSUD Kota Padang Panjang sudah tergolong baik dimana semua proses stock opname dilakukan secara manual dan telah adanya program komputer (software) yang mendukung pencatatan persediaan obat-obatan. Pengelolaan persediaan obat dimulai dari pembeliaan, penyimpanan (gudang), prosedur permintaan dan pengeluaran barang, sampai ke sistem perhitungan fisik dan prosedur pemusnahan persediaan obat. Pengendalian
  3. 3. persediaan adalah kegiatan yang dilakukan untuk menjamin tersedianya barang dalam jenis dan jumlah sesuai kebutuhan pada waktu dan tempat yang tepat serta bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara besarnya manfaat yang diperoleh dari persediaan dengan biaya yang dikeluarkan. Terdapat banyak metode pengendalian persediaan, diantaranya adalah metode pencatatan dengan kartu persediaan, metode pencatatan persediaan secara komputerisasi, metode persediaan minimum- maksimum, analisis ABC dan lain-lain. Saat ini Instalasi Farmasi RSUD Kota Padang Panjang telah melakukan pengendalian persediaan dengan beberapa metode, seperti pencatatan dengan kartu persediaan, pencatatan secara komputerisasi dengan program SIMRS (Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit ) dan metode persediaan minimum-maksimum. Instalasi Farmasi RSUD Kota Padang Panjang merupakan salah satu fasilitas pelayanan yang ada di RSUD Kota Padang Panjang. Jumlah item obat yang ada di Instalasi Farmasi pada tahun 2011 berjumlah sekitar 509 item yang digunakan untuk memenuhi pelayanan pasien, baik pasien rawat inap, rawat jalan serta Instalasi Gawat Darurat di RSUD Kota Padang Panjang. Instalasi Farmasi terdiri dari 2 bagian yaitu Gudang penerimaan dan penyimpanan obat juga alat kesehatan habis pakai/BHP yang didistribusikan langsung ke Apotik dan depo, dan Gudang penyimpanan untuk Bahan Kimia Labor dan BHP paket tindakan untuk kebutuhan penunjang medis ( Labor, radiologi, UTDRS, Fisioterapi, CSSD/Loundry, kesling dan IPRS ), poliklinik rawat jalan, IGD, ruang inap, kebutuhan operasi dan kebutuhan obat/BHP aenastesi. Perencanaan obat di RSUD Kota Padang Panjang direncanakan berdasarkan kunjungan resep/pola peresepan tahun sebelumnya dan usulan Komite Medik dan Komite Farmasi Terapi ( Pola kombinasi komsumsi dan epidemiologi (pola penyakit)) yang mengacu ke Formularium RS terbaru, DPHO terbaru, Formularium obat jamkesmas dan DOEN terakhir yang kemudian dimasukan kedalam Rencana Bisnis Anggaran (RBA) BLUD Rumah Sakit. Untuk alat kedokteran atas usulan user (dokter
  4. 4. atau keperawatan ke bidang pelayanan yang dilengkapi dengan referensi alat kemudian diteruskan kebagian perencanaan Rumah Sakit. Penyimpanan obat di gudang farmasi diawali dari penerimaan barang dan dokumen pendukung (faktur atau tanda terima), memeriksa barang, pengarsipan sesuai arsip masing-masing distributor yang dipisahkan antara obat, obat narkotika, BHP dan BKL, memasukan data ke komputer dan proses penyimpanan. Standar penyimpanan menggunakan metode FEFO dan FIFO dan dicatat ke kartu stok. Penyimpanan berdasarkan jenis dan bentuk sediaan, abjad dan berdasarkan kelas terapi untuk obat jantung dan mata. Pendistribusian harus sesuai dengan permintaan pada lembaran permintaan, dimana pada lembaran permintaan harus diisi berapa stok awal, pemasukan, persediaan, sisa stok dan permintaan. Kemudian bagian gudang menyiapkan kebutuhan tersebut. Dan mengurangi pada kartu stok dan SIM-RS. Mekanisme pengeluaran barang sesuai dengan prinsip FIFO dan FEFO tetapi diutamakan FEFO barang datang terakhir tetapi kadarluasanya dekat dikeluarkan lebih dahulu. Berdasarkan uraian diatas, jika Pengelolaan persediaan obat yang tidak benar atau lalai dalam pencatatan, dan semua kemungkinan lainnya dapat menyebabkan catatan persediaan berbeda dengan persediaan sebenarnya yang ada di gudang. Dan karena aktivitas keluar masuk obat yang cukup tinggi frekuensinya, maka diperlukan pemeriksaan persediaan secara periodik atas catatan persediaan dengan perhitungan yang sebenarnya, dengan ini peneliti bermaksud mengadakan penelitian pada Rumah Sakit Umum Daerah Kota padang panjang dengan judul “Analisis Pengaruh Penerapan Prosedur Akuntansi Persediaan Obat-obatan Terhadap Sistem Pengendalian Intern pada Instalasi Farmasi RSUD Kota Padang Panjang”.
  5. 5. 1.2 Perumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang di atas pokok permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini yaitu: 1. Bagaimanakah penerapan sistem dan prosedur akuntansi persediaan obat-obatan pada Instalasi Farmasi RSUD Kota Padang Panjang ? 2. Apakah penerapan pelaksanaan sistem dan prosedur akuntansi persediaan obat-obatan pada Instalasi Farmasi RSUD Kota Padang Panjang sudah sesuai dengan tujuan SPI (Sistem Pengendalian Intern)? 3. Apakah sistem dan prosedur akuntansi persediaan obat-obatan pada Instalasi Farmasi RSUD Kota Padang Panjang berpengaruh terhadap SPI (Sistem Pengendalian Intern)? 1.3 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: 1. Untuk mengetahui penerapan sistem dan prosedur akuntansi persediaan obat-obatan pada Instalasi Farmasi RSUD Kota Padang Panjang. 2. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai sudah sesuai atau tidaknya pelaksanaan sistem dan prosedur akuntansi pada Instalasi Farmasi RSUD Kota Padang Panjang dengan tujuan pengendalian intern, menganalisis masalah yang berhubungan dengan pelaksanaan sistem dan prosedur akuntansi persediaan obat-obatan pada Instalasi Farmasi RSUD Kota Padang Panjang. 3. Untuk mengetahui sistem dan prosedur akuntansi persediaan obat- obatan pada Instalasi Farmasi RSUD Kota Padang Panjang berpengaruh terhadap SPI (Sistem Pengendalian Intern).
  6. 6. 1.4 Batasan Penelitian Untuk menghindari ruang lingkup yang terlalu luas sehingga penelitian dapat terarah dengan baik sesuai tujuan penelitian serta dengan adanya keterbatasan waktu pengerjaan maka perlu adanya batasan penelitian. Batasan penelitian ini adalah: 1. Penelitian yang akan dilakukan hanya terbatas pada kegiatan yang berkaitan dengan persediaan obat-obatan pada Instalasi Farmasi RSUD Kota Padang Panjang. 2. Penelitian hanya dilakukan pada sistem persediaan obat-obatan yang ada Penelitian yang akan dilakukan hanya terbatas pada kegiatan yang berkaitan dengan persediaan obat-obatan pada Instalasi Farmasi RSUD Kota Padang Panjang. 1.5 Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini adalah : 1. Manfaat praktis : Dalam penelitian ini diharapkan dapat menambah masukan atau sebagai bahan pertimbangan bagi pihak Rumah Sakit Umum Daerah Kota Padang Panjang dalam penerapan sistem dan prosedur akuntansi persediaan obat-obatan yang lebih efektif dan efisien pada Instalasi Farmasi RSUD Kota Padang Panjang. 2. Manfaat teoritis : a. Bagi Penulis : diharapkan dapat menambah wawasan tentang Sistem dan prosedur akuntansi persediaan obat-obatan pada Instalasi Farmasi Rumah Sakit sehingga dapat memantapkan penerapan teori dengan praktik yang terjadi di lapangan.
  7. 7. b. Bagi Pembaca : diharapkan dapat menambah wawasan mengenai Sistem dan prosedur akuntansi persediaan obat-obatan pada Instalasi Farmasi RSUD Kota Padang Panjang, serta diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan referensi dalam penelitian masa yang akan datang. c. Bagi Akademis : Penelitian ini diharapkan dapat memberikan konstribusi yang positif serta gambaran yang jelas mengenai sistem dan prosedur akuntansi persediaan obat-obatan pada Instalasi Farmasi RSUD Kota Padang Panjang. Penelitian ini juga diharapkan dapat mengembangkan wawasan mahasiswa serta sebagai bahan referensi bagi peneliti lain yang berhubungan dengan masalah yang diteliti dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan. 1.6 Sistematika Penelitian Adapun sistematika penulisan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: BAB I PENDAHULUAN Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, batasan, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan. BAB II LANDASAN TEORI Bab ini berisi landasan teori yang digunakan untuk membahas masalah yang diangkat dalam penelitian. Mencakup teori-teori dan konsep-konsep yang relevan, serta penelitian terdahulu yang mendukung analisis pemecahan masalah dalam penelitian ini.
  8. 8. BAB III METODOLOGI PENELITIAN Bab ini berisi mengenai lokasi penelitian, jenis penelitian, jenis data dan sumber data, teknik pengumpulan data, metode analisis data serta responden. Bab ini merupakan landasan dalam menganalisis data. BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN Bab ini membahas tentang deskripsi penelitian berdasarkan data-data yang telah dikumpulkan dan pembahasan hasil penelitian, serta saran yang diajukan untuk pertimbangan selanjutnya. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Bab ini menjelaskan kesimpulan dari hasil analisis yang telah dilakukan dan saran-saran yang mungkin dapat diajukan dan dilaksanakan untuk penelitian berikutnya.
  9. 9. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sistem dan Prosedur Akuntansi 2.1.1 Pengertian Sistem dan Prosedur Akuntansi Sebelum kita membahas lebih lanjut mengenai sistem akuntansi, perlu dipahami terlebih dahulu mengenai pengertian sistem dan prosedur. Sistem secara umum merupakan suatu kesatuan yang terdiri dari unit-unit yang berkaitan secara fungsional dan mempunyai tujuan bersama yang sama. Dalam suatu organisasi, unit- unit atau bagian-bagian yang berkaitan secara fungsional adalah suatu kelompok kegiatan administrasi yang berhubungan erat yang merupakan suatu fungsi dari suatu sistem. Ada beberapa devinisi mengenai sistem dan prosedur. Berikut ini disajikan mengenai sistem dan prosedur. Sistem pada dasarnya adalah sekelompok unsur yang erat berhubungan satu dengan yang lainya, yang berfungsi bersama-sama untuk mencapai tujuan tertentu. Sistem juga dapat dikatakan sebagai suatu jaringan prosedur yang dibuat menurut pola yang terpadu untuk melaksanakan kegiatan pokok perusahaan (Mulyadi, 2001:2,5). Sistem akuntansi merupakan organisasi formulir, catatan dan laporan yang dikoordinasikan yang dibutuhkan oleh manajemen guna memudahkan pengelolaan manajemen perusahaan (Mulyadi, 2001:3). Pendapat lain yang menyatakan bahwa sistem akuntansi adalah formulir- formulir, catatan-catatan, prosedur-prosedur, dan alat-alat yang digunakan untuk mengelola data mengenai suatu usaha suatu kesatuan ekonomis dengan tujuan untuk menghasilkan umpan balik dalam bentuk laporan-laporan yang diperlukan oleh manajemen untuk mengawasi usahanya, dan bagi pihak-pihak yang berkepentingan
  10. 10. seperti pemegang saham, kreditur dan lembaga-lembaga pemerintah untuk menilai hasil operasi (Stettler dalam Baridwan, 1998:4) . Prosedur adalah suatu urutan kegiatan klerikal, biasanya melibatkan beberapa orang dalam suatu departemen atau lebih, yang dibuat untuk menjamin penanganan secara seragam transaksi perusahaan yang terjadi secara berulang-ulang (Mulyadi, 2001:5). Sedangkan pernyataan lain menyebutkan bahwa prosedur adalah suatu urutan-urutan pekerjaan kerani (clerical), biasanya melibatkan beberapa orang dalam suatu bagian atau lebih, disusun untuk menjamin adanya perlakuan yang seragam terhadap transaksi-transaksi perusahaan yang sering terjadi (Cole dalam Baridwan, 1998:3). Berdasarkan definisi-definisi mengenai sistem dan prosedur diatas, maka dapat diambil kesimpulan suatu sistem terdiri dari jaringan prosedur yang dibuat menurut pola yang terpadu untuk melaksankan kegiatan pokok perusahaan dimana prosedur itu sendiri merupakan suatu urutan-urutan pekerjaan kerani (clerical) yang terdiri dari kegiatan menulis, menggandakan, menghitung, memberi kode, mendaftar, memilih, memindah serta membandingkan yang dilakukan untuk mencatat informasi dalam formulir, buku jurnal dan buku besar. 2.1.2 Sistem dan Prosedur Akuntansi Persediaan Obat-obatan 2.1.2.1 Perencanaan dan Penentuan Kebutuhan Obat merupakan sarana penunjuang medis yang paling penting dan kebutuhan obat-obatan yang diperlukan harus di perhatikan dengan baik. Hal ini dikarenakan perputaran obat-obatan yang terjadi dengan cepat dan kebutuhan obat sulit ditentukan secara pasti. Karna itu diperlukan adanya perencanaan dan penentuan kebutuhan obat-obatan yang baik dengan memperhatikan situasi dan kondisi yang ada. Tujuan dari pelaksanaan perencanaan dan penentuan kebutuhan obat-obatan ini adalah terlaksananya kejelasan dan kelancaran sistem perencanaan dan perbekalan farmasi, terlaksananya monotoring serta pengendalian obat-obatan. Selain itu juga
  11. 11. untuk menghindari terjadinya kekosongan stok obat di gudang farmasi, sehingga kebutuhan akan obat dapat di penuhi dengan baik. Perencanaan dan penentuan kebutuhan obat-obatan di RSUD Kota Padang Panjang merupakan tanggung jawab dari bagian farmasi yang juga didukung oleh bagian gudang. Adapun perencanaan yang telah dilakukan meliputi pengumpulan laporan dari gudang mengenai jumlah dan jenis persediaan obat-obatan yang diperlukan, serta mempertimbangkan anggaran yang tersedia, situasi dan kondisi yang ada dengan menggunakan metode yang dapat di pertanggungjawabkan dan dasar-dasar perencanaan yang telah ditentukan. Hasil rekapitulasi yang masuk ini digunakan sebagai pedoman perencanaan dan penentuan kebutuhan yang akan dilakukan. 2.1.2.2 Pengadaan Pengadaan obat-obatan merupakan kegiatan pembelian yang meliputi pemesanan, penerimaan dan pembayaran obat-obatan. Tujuan dari pengadaan obat- obatan ini adalah untuk memenuhi kebutuhan perbekalan agar tidak kosong. Pembelian obat-obatan dilakukan secara tunai maupun kredit. Pengadaaan obat- obatan ini dilakukan oleh bagian farmasi yang melibatkan bagian gudang serta bagian keuangan. Pembayaran obat-obatan dilakukan oleh urusan keuangan dengan persetujuan dari pimpinan, hal ini di karenakan keuangan untuk pengadaan obat- obatan dipegang dan dikelola oleh bagian farmasi, penunjang medis, dan bagian keuangan dan disetujui oleh pimpinan. Penerimaan Kegiatan penerimaan merupakan kegiatan yang sangat penting. Jenis dan jumlah, kualifikasi, spesifikasi obat-obatan dan persyaratan lainnya dari barang yang diterima harus sesuai dengan persyaratan pembelakan farmasi. Proses penerimaan
  12. 12. sangat penting karena pada proses ini kita dapat menyaring barang-barang yang tidak bermutu dan tidak sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan. 2.1.2.3 Penyimpanan Penyimpanan adalah suatu kegiatan pengaturan perbekalan farmasi menurut persyaratan yang ditetapkan disertai dengan sistem informasi yang selalu menjamin ketersediaan perbekalan farmasi sesuai kebutuhan. Penyimpanan obat-obatan bertujuan untuk menjamin mutu dan keamanan obat-obatan dan juga mempercepat layanan. Selain itu penyimpanan juga bertujuan untuk menghindari penggunaan obat- obatan yang tidak diinginkan, memudahkan pencarian obat-obatan, serta digunakan untuk pengawasan obat. Penyimpanan obat-obatan yang ada di bagian gudang perbekalan farmasi ini pada umumnya dilakukan dengan menggunakan sistem FIFO (First In First Out, yaitu dengan mengeluarkan obat-obatan yang datang terlebih dahulu dan FEFO (First Expired First Out), yaitu dengan mengeluarkan obat-obat yang masa kadarluasanya dekat dikeluarkan terlebih dahulu. Penyimpanan obat-obatan yang dilakukan di gudang perbekalan farmasi menggunakan kartu persediaan atau biasa disebut kartu stelling. Kartu ini dicantumkan atau ditaruh pada masing-masing obat. Penggolangan obat berdasarkan jenis dan bentuk sediaan, abjad, dan berdasarkan kelas terapi. Dari kartu ini dapat di pantau jumlah persediaan obat-obatan yang keluar masuk gudang perbekalan farmasi. 2.1.2.4 Pendistribusian Pendistribusian obat-obatan di rumah sakit meliputi pendistribusian dari gudang farmasi langsung ke apotek, depo, dan gudang penyimpanan bahan kimia/BHP untuk kebutuhan penunjang medis (seperti : Labor, UTDRS, Fisioterapi, CSSD/Laundry, Kesling dan IPRS ), ke poliklinik rawat jalan, IGD, ruang inap,
  13. 13. kebutuhan operasi dan kebutuhan obat BHP aenestesi.. Tujuan dari pendistribusian adalah untuk memenuhi permintaan obat sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Prosedur pendistribusian dilaksanakan oleh bagian gudang. Pendistribusian harus sesuai dengan permintaan, tepat waktu, tepat jumlah, serta sesuai dengan spesifikasinya, dimana pada lembar permintaan harus diisi berapa stok awal, pemasukan, persediaan, sisa stok dan permintaan. Kemudian bagian gudang menyiapkan kebutuhan tersebut dan mengurangi pada kartu stok dan program SIM. Pengeluaran barang dalam pendistribusian harus dengan persetujuan pihak yang berwenang sesuai dengan perencanaan yang diterima oleh si pengguna. Mekanisme pengeluaran barang sesuai dengan prinsip FIFO dan FEFO, tetapi diutamakan prinsip FEFO walaupun barang datang terakhir tetapi kadarluasanya dekat dikeluarkan terlebih dahulu. 2.1.2.5 Penghapusan Penghapusan merupakan kegiatan dan usaha pembebasan barang dari pertanggung jawaban yang berlaku. Penghapusan obat-obatan dilakukan apabila obat- obatan tersebut sudah melampaui masa berlaku (tanggal kadarluwarsa) atau obat- obatan tersebut rusak. Instalasi Farmasi RSUD Kota Padang Panjang sampai saat ini belum pernah melakukan penghapusan obat-obatan, akan tetapi bagian farmasi yang berwenang melakukan penghapusan obat-obatan mempunyai prosedur penghapusan yang berlaku. Jika ditemukan adanya obat-obatan yang melampaui masa berlaku atau rusak, maka obat-obatan tersebut akan dimusnakan. Pemusnahan obat-obatan tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara, ada yang dilarutkan, dibakar, ditanam, dan lain-lain sesuai dengan jenis obat yang bersangkutan. Pemusnahan obat-obatan dilakukan oleh tim penghapusan yang terdiri dari apoteker dan asisten apoteker yang disaksikan oleh pimpinan. Selain itu dibuatkan berita acara pemusnahan obat-obatan. Sebelumnya apoteker dalam hal ini bagian
  14. 14. farmasi membuat terlebih dahulu usulan obat-obatan yang akan dimusnahkan dengan informasi dari bagian gudang yang kemudian diinformasikan kepada pimpinan rumah sakit. 2.1.2.6 Perhitungan Fisik Persediaaan Instalasi Farmasi RSUD Kota Padang Panjang mempunyai prosedur perhitungan fisik persediaan obat-obat telah cukup baik karena telah menggunakan program SIM-RS untuk persediaan obat-obatan . Namun secara manual penghitungan fisik persediaan ini dilakukan secara rutin satu kali dalam sebulan, yaitu setiap tgl 30 bulan atau akhir bulan tersebut. Penghitungan fisik dilakukan oleh staf farmasi dengan menghitung nilai persediaan obat yang ada di gudang dan tiap tiap raung rawat. Pada saat penghitungan fisik dilaksanakan, pergerakan obat dari gudang ke masing-masing rang rawat diminimalisir (Mulyadi, 2001:526). Prosedur penghitungan fisik persediaan adalah sebagai berikut : 1. Penghitungan mencocokan jumlah fisik persediaan dengan kartu persediaan. Apabila tidak cocok maka akan dihitung ulang, tetapi apabila cocok maka penghitung akan membarikan tanda check list pada kartu persediaan yang bersangkutan. 2. Kartu persediaan yang sudah dihitung, dicatat hasil penghitungannya pada laporan stock opname. 2.2 Persediaan 2.2.1 Definisi Persediaan Persediaan merupakan satu pos yang sangat penting bagi banyak perusahaan karena pos tersebut secara material dapat mempengaruhi perhitungan laba rugi dan neraca. Penjualan persediaan pada harga yang lebih tinggi dari total harga pokok merupakan sumber utama bagi perusahaan.
  15. 15. Komponen persediaan didalam struktur neraca termasuk dalam kategori aktiva lancar. Dari sudut pandang ilmu pembelajaran (finance) persediaan disebut sebagai unsur modal kerja (Samsul dan Mustofa, 1992:388). Istilah persediaan digunakan untuk menyatakan barang berwujud yang : a. Tesedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal b. Dalam proses produksi dan atau dalam perjalanan c. Dalam bentuk bahan atau perlengkapan (supplies) untuk digunakan dalam proses produksi atau pembelian jasa. Persediaan meliputi barang-barng diatas, baik yang ada dalam perusahaan, yang dititipkan pada pihak lain (SAK, 2007:14.1). Rumah sakit sebagai satu maupun unit usaha juga memiliki pesediaan, yakni persediaan obat-obatan yang dikelola oleh unit penunjang medis. Semua ini membantu rumah sakit dalam penyelengaraaan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Uraian tersebut menyatakan bahwa persedian merupakan salah satu pos yang sangat penting bagi banyak perusahaan karena pos tersebut secara material dapat mempengaruhi perhitungan laba rugi dan neraca serta termasuk dalam kategori aktiva lancar pada struktur neraca. 2.2.2 Metode Pencatatan Persediaan Ada dua macam pencatatan persediaan yaitu metode mutasi persediaan (perpetual inventory method) dan metode persediaan fisik (physical inventory method) (Mulyadi, 2001:556). Berdasarkan metode mutasi persediaan, setiap mutasi persediaan dicatat dalam kartu persediaan. Dalam metode persediaan fisik, hanya tambahan persediaan dari pembelian saja yang dicatat sedangkan mutasi berkurangnya persediaan karena pemakaian tidak dicatat dalam kartu persediaan. Untuk mengetahui harga pokok persediaan yang dipakai atau dijual, harus dilakukan dengan perhitungan fisik sisa persediaan yang masih ada digudang pada akhir periode akuntansi.
  16. 16. 2.2.3 Perhitungan Fisik Persediaan (stock opname) Sistem perhitungan fisik persediaan umumnya digunakan oleh perusahaan untuk menghitung secara fisik persediaan yang disimpan di gudang, yang hasilnya digunakan untuk meminta pertanggungjawaban bagian gudang mengenai pelaksanaan fungsi penyimpanan dan pertanggungjawaban Bagian Kartu Persediaan mengenai keandalan catatan persediaan yang diselenggarakannya, serta untuk melakukan penyesuaian (adjusment) terhadap catatan persediaan di Bagian Kartu Persediaan (Mulyadi, 2001:575). Teknik dari stock opname menurut Sambul dan Mustofa (1992:399) dibagi menjadi dua, yaitu insidentil dan rutin. Insidentil berarti dilakukan secara mendadak, secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan terlebih dulu kepada gudang sedangkan rutin berarti dilakukan secara periodik tertentu, misalnya pertiga bulan, pertahun. Catatan Akuntansi Menurut Mulyadi (2001:577) catatan akuntansi yang digunakan dalam sistem perhitungan fisik persediaan adalah : 1. Kartu Persediaan. Catatan akuntansi ini digunakan untuk mencatat adjusment terhadap data persediaan (kuantitas dan harga pokok total) yang tercantum dalam kartu persediaan oleh bagian kartu persediaan, berdasarkan hasil perhitungan fisik persediaan. 2. Kartu Gudang. Catatan ini digunakan untuk mencatat adjusment terhadap data persediaan (kuantitas) yang tercantum dalam kartu gudang yang diselengarakan oleh bagian gudang, berdasarkan hasil perhitungan fisik persediaan. Fungsi yang Terkait adalah Fungsi yang dibentuk untuk melakukan perhitungan fisik persediaan umumnya bersifat sementara, yang biasanya berbentuk panitia atau komite, yang anggotanya dipilihkan dari karyawan yang tidak menyelengarakan catatan akuntansi persediaan dan tidak melaksanakan fungsi gudang. Panitia perhitungan fisik persediaan terdiri dari (Mulyadi, 2001:558) :
  17. 17. 1. Pemegang kartu perhitungan fisik 2. Penghitung 3. Pengecek Dengan demikian fungsi yang terkait dalam sistem perhitungan fisik persediaan (Mulyadi, 2001:579) adalah : 1. Panitia Perhitungan Fisik Persediaan. Panitia ini berfungsi untuk melaksanakan perhitungan fisik persediaan dan menyerahkan hasil perhitungan tersebut kepada bagian kartu persediaan untuk digunakan sebagai dasar adjusment tehadap catatan persediaan dalam kartu persediaan. 2. Fungsi Akuntansi. Dalam sistem perhitungan fisik persediaan, fungsi ini bertanggung jawab untuk : (a) mencantumkan harga pokok suatu persediaan yang dihitung kedalam daftar hasil perhitungan fisik, (b) mengalikan kualitas dan harga pokok persatuan yang tercantum dalam daftar hasil perhitungan fisik, (c) mencantumkan harga pokok total dalam daftar hasil perhitungan fisik, (d) melakukan adjusment terhadap kartu persediaan berdasar daftar hasil perhitungan fisik persediaan, (e) membuat bukti memorial untuk mancatat adjusment data persediaan dalam jurnal umum berdasar hasil perhitungan fisik persediaan. 3. Fungsi Gudang. Dalam perhitungan fisik persediaan, fungsi gudang bertanggung jawab untuk melakukan adjusment data kuantitas persediaan yang dicatat dalam kartu gudang berdasarkan hasil perhitungan fisik persediaan. Jadi fungsi yang terkait dalam sistem perhitungan fisik persediaan adalah : panitia perhitungan fisik persediaan yang terdiri dari pemegang kartu perhitungan fisik, penghitung dan pengecek, fungsi akuntansi yang mencantumkan harga pokok persatuan, mencantumkan harga pokok total dalam daftar hasil perhitungan fisik,
  18. 18. melakukan adjusment tehadap kartu persediaan dan membuat bukti memorial, fungsi gudang yang bertanggung jawab melakukan adjusment data kuantitas persediaan dalam kartu gudang. 2.3 Manajemen logistik Rumah Sakit 2.3.1 Pengertian Logistik Pengertian logistik adalah merupakan suatu ilmu pengetahuan dan atau seni serta proses mengenai perencanaan dan penentuan kebutuhan, pengadaan barang, penyimpanan, penyaluran, dan pemeliharaan serta penghapusan material atau alat- alat (Subagaya, 1995:6). Logistik merupakan bagian dari instansi yang tugasnya adalah menyediakan bahan atau barang yang dibutuhkan untuk kegiatan operasionalnya instansi tersebut dalam jumlah, kualitas dan pada waktu yang tepat (sesuai kebutuhan) dengan harga serendah mungkin (Aditama, 2007:110). Definisi mengatakan bahwa logistik modern adalah proses pengelolaan yang strategis terhadap pemindahan dan penyimpanan barang, suku cadang dan barang-barang jadi dari para supplier, di antara fasilitas- fasilitas perusahaan dan kepada para langganan (Bowersox, 2002:13). Kegiatan logistik secara umum mempunyai tiga tujuan. Tujuan operasional adalah agar tersedia barang, serta bahan dalam jumlah yang tepat dan mutu yang memadai. Tujuan keuangan meliputi pengertian bahwa upaya tujuan operasional dapat terlaksana dengan biaya yang serendah-rendahnya. Sementara itu, tujuan pengamanan bermaksud agar persediaan tidak terganggu oleh kerusakan, pemborosan, penggunaan tanpa hak, pencurian dan penyusutan yang tidak wajar lainya, serta nilai persediaan yang sesunguhnya dapat tercemin di dalam sistem akuntansi (Aditama, 2007:111). Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa logistik merupakan suatu bagian dari instansi yang tugasnya menyediakan, menyimpan, memelihara, dan mendistribusikan bahan atau barang yang dibutuhkan untuk kegiatan
  19. 19. operasional instansi tersebut dalam jumlah yang tepat pada waktu yang dibutuhkan dalam keadaan yang dapat dipakai, ke lokasi dimana ia dibutuhkan dan dengan total biaya terendah. Dalam lingkup rumah sakit istilah logistik merupakan sub sistem dan menjadi lebih sempit pengertiannya yaitu suatu proses pengelolaan terhadap pengadaan, penyimpanan, pendistribusian serta pemantauan persediaan bahan serta barang yang diperlukan untuk pelayanan jasa di rumah sakit. 2.3.2 Fungsi Manajemen Logistik Untuk melaksanakan kegiatan penyediaan, penyimpanan, pemeliharaan dan penyaluran bahan-bahan untuk kebutuhan operasional, maka kegiatan logistik tidak dapat mengabaikan fungsi-fungsi dari manajemen logistik. Menurut Aditama (2001:115-116) fungsi-fungsi manajemen logistik merupakan suatu proses yang terdiri dari : a. Fungsi perencanaan dan penentuan kebutuhan. Fungsi perencanaan merupakan aktivitas dalam menetapkan sasaran-sasaran, pedoman, pengukuran penyelengaraan bidang logistik. Penentuan kebutuhan merupakan perincian (detailering) dari fungsi perencanaan bilamana perlu semua faktor yang mempengaruhi penentuan kebutuhan harus diperhitungkan. b. Fungsi penganggaran. Fungsi ini merupakan usaha-usaha untuk merumuskan perincian penentuan kebutuhan dalam suatu skala standar, yakni skala mata uang dan jumlah biaya dengan memperhatikan pengarahan dan pembatasan yang berlaku terhadapnya. c. Fungsi pengadaan. Fungsi ini merupakan usaha dan kegiatan untuk memenuhi kebutuhan operasional yang telah digariskan dalam fungsi perencanaan dan penentuan kepada instansi-instansi pelaksana.
  20. 20. d. Fungsi penyimpanan dan penyaluran. Fungsi ini merupakan penerimaan, penyimpanan dan penyaluran perlengkapan yang telah diadakan melalui fungsi-fungsi terdahulu untuk kemudian disalurkan kepada instansi-instansi pelaksana. e. Fungsi pemeliharaan. Adalah usaha atau proses kegiatan untuk mempertahankan kondisi teknis, daya guna dan daya hasil barang inventaris. f. Fungsi penghapusan. Adalah berupa kegiatan dan usaha pembebasan barang dari pertanggungjawaban dari yang berlaku. Dengan pekataan lain fungsi penghapusan adalah usaha untuk menghapus kekayaan karena kerusakan yang tidak dapat di perbaiki lagi, dinyatakan sudah tua dari segi ekonomis maupun teknis, kelebihan, hilang, susut dan karna hal-hal lain menerut peraturan perundang-undangan yang berlaku. g. Fungsi pengendalian. Fungsi ini merupakan fungsi inti dari pengelolaan perlengkapan yang meliputi usaha untuk memonitor dan mengamankan keseluruhan pengelola logistik. Dalam fungsi ini diantaranya terdapat kegiatan pengendalian inventarisasi. (inventory control) dan expediting yang merupakan unsur-unsur utamanya. Jadi manajemen logistik mempunyai beberapa fungsi yang terdiri dari fungsi perencanaan dan penentuan kebutuhan kebutuhan, fungsi penganggaran, fungsi pengadaan yang merupakan kegiatan untuk memenuhi kebutuhan operasional, fungsi penyimpanan dan penyaluran untuk menyimpan perlengkapan dan menyalurkanya pada instansi-instansi pelaksana. Fungsi yang lain adalah fungsi pemeliharaan untuk mempertahankan kondisi teknis, daya guna dan daya hasil barang inventaris dan fungsi penghapusan yang berupa kegiatan dan usaha pembebasan barang dari pertanggungjawaban yang berlaku. Yang terakhir adalah fungsi pengendalian yang meliputi usaha untuk memonitor dan mengamankan keseluruhan pengelola logistik.
  21. 21. 2.3.3 Penilaian Mutu Logistik Rumah Sakit Mutu pelayanan logistik diukur dari total biaya yang dikeluarkan dengan prestasi biaya yang dicapai. Pengukuran prestasi adalah menyangkut tersedianya barang, kemampuan dilihat dari waktu pengantaran dan konsistensi, dan mutu dari usaha (Aditama, 2007:119) jadi kunci bagi prestasi logistik yang efektif adalah mengembangkan usaha yang seimbang antara prestasi pelayanan yang diberikan dengan biaya yang dikeluarkan. Kunci keberhasilan pelayanan logistik dengan kualitas yang baik adalah dengan melakukanya secara terus menerus dalam berbagai keadaan dan sepadat mungkin mencapai hasil yang diharapkan. Untuk itu diperlukan tenaga yang terampil, sarana dan prasarana yang baik serta sistim monitoring berkala yang memadai. Koordinasi dan pengaturan waktu juga merupakan tugas penting yang harus dilakukan dalam pelayanan logistik. Selain itu ketersediaan bahan logistik selama 24 jam penuh sesuai kebutuhan pelayanan merupakan kebutuhan bagi rumah sakit. Uraian tersebut menyatakan bahwa mutu logistik dapat dinilai dari usaha yang seimbang antar prestasi yang didapat dengan biaya yang dikeluarkan. Sedangkan untuk mencapai prestasi yang baik adalah melalui pelayanan yang baik yang dapat diperoleh dari tenaga yang terampil, sarana dan prasaran yang baik, memonitoring berkala yang memadai, serta koordinasi dan pengaturan waktu yang baik. 2.3.4 Peran Logistik di Rumah Sakit Rumah sakit merupakan kegiatan suatu satuan usaha yang melakukan kegiatan produksi. Kegiatan produksi rumah sakit adalah produksi jasa tersebut, sehingga yang dimaksudkan kegiatan logistik disini menyangkut hanya persediaan barang serta peralatan yang dibutuhkan dalam rangka produksi jas tersebut. Pada definisi lama dinyatakan bahwa bagian logistik adalah bagian yang menyediakan barang dan jasa dalam jumlah, mutu dan waktu yang tepat dengan harga
  22. 22. yang sesuai. Dari segi manajemen modern (Aditama, 2007:116), maka tanggungjawab manajemen logistik lebih diperluas, yaitu : a. Menjaga kegiatan yang dapat memasok material dan jasa secara tidak terputus (uninterupted). b. Menggadakan pembelian inventaris secara bersaing (kompetitif). c. Menjadwal investasi barang pada tingkat serendah mungkin. d. Mengembangkan sumber pasokan yang dapat dipercaya dan alternatif pasokan lain. e. Mengembangkan dan menjaga hubungan baik dengan bagian-bagian lain. f. Memantapkan integrasi yang maksimal dengan bagian-bagian lain. g. Melatih dan membina pegawai yang kompeten dan termotifasi dengan baik. Tentu perlu dilakukan inventory control dalam logistik rumah sakit yang bertujuan menciptakan keseimbangan antara persediaan dan permintaan. Karena itu hasil stock opname harus yang seimbang dengan permintaan yang didasarkan atas suatu kesatuan waktu tertentu misalnya, satu bulan atau dua bulan atau kurang dari satu tahun. Secara tegas dapat disampaikan bahwa semua bentuk kegiatan dirumah sakit memerlukan pelayanan logistik. Keberhasilan dan mutu pelayanan dirumah sakit memang bergantung dari banyak faktor, tetapi tidak pelak lagi bahwa peran logistik merupakan salah satu kunci utama didalamnya. Berdasarkan uraian tersebut dapat dinyatakan bahwa logistik berperan dalam penyediaan barang dan jasa dalam jumlah, mutu dan waktu yang tepat dengan harga yang sesuai. Selain itu logistik juga bertanggungjawab untuk menjaga kegiatan yang dapat memasok material dan jasa secara tidak terputus, mengadakan pembelian inventaris secara bersaing, menjadwal investasi barang pada tingkat serendah mungkin, mengembangkan sumber pasokan dan alternatif pasokan lain,
  23. 23. mengembangkan dan menjaga hubungan baik dengan bagian lain, memantapkan integrasi yang maksimal dengan bagian lain serta melatih dan membina pegawai yang kompeten dan termotivasi dengan baik. 2.4 Pengendalian Intern 2.4.1 Sistem Pengendalian Intern Persediaan Pengendalian intern terhadap perusahaan dapat mencapai efektifitas yang maksimal dalam sistem apabila diterapkan pencatatan yang cermat dan lengkap serta pengkoordinasian kegiatan pada berbagai tingkat operasi. Menurut Wilson dan Cambell (1996:449) untuk menghindarkan kekurangan dan koreksi persediaan karena kelemahan pengendalian intern, maka dapat diterapkan cara-cara sebagai berikut : a. Memelihara tempat yang aman bagi bahan, semua bahan yang tinggi nilainya harus mendapat perhatian yang khusus. b. Pemindahan bahan dari suatu lokasi ke lokasi yang lainya harus dilakukan sesuai surat permintaan yang disetujui oleh yang berwewenang. c. Pemisahan tugas sehingga mereka yang menyelenggarakan catatan pembukuan tidak menangani penerimaan ataupun pengeluaran bahan. d. Mengadakan inventarisasi persediaan secara rotasi dan hasilnya direkonsiliasikan dengan catatan persediaan. e. Mengharuskan auditor intern untuk melakukan penilaian secara mandalam mengenai sistem pengendalian persediaan. f. Menganalisa catatan persediaan untuk menetapkan setiap kelemahan yang mungkin terjadi. g. Mengevaluasi tenaga kerja yang menangani persediaan dan mengecek latar belakang mereka. h. Melakukan survey periodik mengenai keamanan persediaan dan mengeliminasi kesempatan berbuat curang.
  24. 24. Jadi pengendalian intern persediaan dapat mencapai efektifitas bila diterapkan pencatatan yang cermat dan lengkap serta pengkoordinasian kegiatan pada berbagai tingkat operasi. 2.4.2 Pengendalian Intern Sistem penghitungan Fisik Persediaan Menurut Mulyadi (2001:581) unsur pengendalian intern dalam sistem penghitungan fisik persediaan digolongkan ke dalam tiga kelompok, yaitu : a. Organisasi 1. Penghitungan fisik persediaan harus dilakukan oleh suatu panitia yang terdiri dari fungsi pemegang kartu penghitungan fisik, fungsi penghitung, dan fungsi pengecek. 2. Panitia yang dibentuk harus terdiri dari karyawan selai karyawan fungsi gudang dan fungsi akuntansi persediaan karena karyawan di kedua fungsi inilah yang justru dievaluasi tanggungjawabnya atas persediaan. b. Sistem Otorisasi dan Prosedur Pencatatan 1. Daftar hasil perhitungan fisik persediaan ditangani oleh ketua panitia penghitungan fisik persediaan. 2. Pemindahan barang dari satu lokasi ke lokasi lainya harus dilakukan sesuai surat permintaan yang telah disetujui oleh yang berwewenang. 3. Harga satuan yang tercantum dalam daftar hasil perhitungan fisik berasal dari kartu persediaan yang bersangkutan. 4. Adjusment terhadap kartu persediaan didasarkan pada informasi (kuantitas maupun harga pokok total) tiap jenis persediaan yang tercantum dalam daftar penghitungan fisik. c. Praktek yang Sehat 1. Kartu penghitungan fisik bernomer urut tercetak dan penggunaanya dipertanggungjawabkan oleh fungsi pemegang kartu penghitungan fisik.
  25. 25. 2. Penghitungan fisik setiap jenis persediaan dilakukan dua kali secara independen, pertama kali oleh penghitung dan kedua kali oleh pengecek. 3. Kuantitas dan data persediaan yang lain yang tercantum dalam bagian ke tiga dan bagian ke dua kartu perhitungan fisik dicocokan oleh fungsi pemegang kartu penghitugan fisik sebelum data yang tercantum dalam bagian ke dua kartu penghitungan fisik dicatat dalam daftar hasil penghitungan fisik. 4. Peralatan dan metode yang digunakan untuk mengukur dan menghitung kuantitas persediaan harus dijamin ketelitiannya. Jadi uraian tersebut menyatakan bahwa unsur pokok pengendalian intern yang ada pada penghitungan fisik persediaan adalah adanya panitia penghitungan fisik persediaan yang dibentuk dari karyawan selain dari karyawan fungsi akuntansi dan fungsi gudang, sistem otorisasi yang jelas dan prosedur pencatatan yang benar, serta praktek yang sehat melalui penggunaan dokumen dan catatan yang dapat dipertanggungjawabkan dan pelaksanaan penghitungan fisik yang teliti. 2.5 Kerangka Konseptual Berkaitan dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian, RSUD Kota Padang Panjang khususnya Instalasi Farmasi RSUD Kota Padang Panjang menjadi fokus lokasi dalam penelitian ini. Penelitian ini di mulai dengan meneliti struktur organisasi, sistem akuntansi pesediaan obat-obatan, serta formulir dan dokumen yang digunakan. Dengan meneliti struktur organisasi yang ada diharapkan peneliti dapat mengetahui wewenang dan tanggung jawab serta rincian pekerjaan pada setiap bagian serta adanya pemisahan fungsi yang jelas supaya tidak terjadi perangkapan tugas.
  26. 26. Prosedur perencanaan dan penentuan kebutuhan obat-obatan, prosedur pengadaan obat-obatan, prosedur penyimpanan obat-obatan, prosedur pendistribusian obat-obatan, prosedur penghapusan obat-obatan, dan prosedur penghitungan fisik persediaan merupakan isi dari sistem akuntansi persediaan obat-obatan. Serta formulir dan dokumen yang dalam fungsinya menghasilkan informasi tentang otorisasi wewenang serta apakah pemakain formulir dan dokumen tersebut sudah memenuhi syarat pelaksanaan sistem pengendalian intern. Data-data di peroleh melalui sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer merupakan sumber data penelitian yang di peroleh secara langsung dari sumber data asli dengan melalui observasi dan wawancara secara langsung. Sedangkan sumber data sekunder merupakan data penelitian yang diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui media perantara seperti data dokumentasi. Melalui observasi, wawancara dan dokumentasi, dihasilkan data-data yang berhubungan dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian. Setelah itu di lakukan analisis dan triangulasi data sehingga dapat di simpulkan hasil analisis dan triangulasi data. Berdasarkan uraian tersebut, akan terlihat bagaimana sistem dan prosedur akuntansi persediaan obat-obatan di Instalasi Farmasi RSUD Kota Padang Panjang. Dan apakah sistem dan prosedur akuntansi persediaan obat-obatan tersebut sudah sesuai dengan sistem pengendalian intern yang ada di Instalasi Farmasi RSUD Kota Padang Panjang. Skema kerangka konseptual evaluasi pelaksanaan sistem dan prosedur akuntansi obat-obatan disajikan dalam gambar 2.1.
  27. 27. Gambar 2.1 Kerangka Konseptual Pelaksanaan Sistem dan Prosedur Akuntansi Obat-obatan RSUD Kota Padang Panjang Instalasi Farmasi Sistem Akuntansi Persediaan Obat-obatan Sumber Data Formulir dan dokumen Struktur Organisasi Sumber Data Primer Sumber Data Sekunder Wawancara Kuisioner Dokumentasi Data-data Analisis Data Triangulasi Data Kesimpulan Hasil Analisis SistemdanProsedurAkuntansi PersediaanObat-obatan
  28. 28. Gambar 2.1 Kerangka Konseptual Penelitian Sistem Pengendalian Intern (SPI) Perencanaan (X1) Pengadaan(X2) Penyimpanan (X3) Pendistribusian (X4) Penghapuan (X5) Perhitungan Fisik(X6)
  29. 29. BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Objek Penelitian Memilih metode yang tepat dalam penelitian, ditentukan oleh maksud dan tujuan penelitian. Berdasarkan tujuan penelitian, metode penelitian yang digunakan adalah penelitan kualitatif dengan objek penelitian pada Instalasi Farmasi RSUD Kota Padang Panjang. Penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan pada manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam peristilahannya (Kirk dan Miller dalam Moleong, 2002:3). Metode kualitatif ini digunakan karena beberapa pertimbangan, yaitu : (i) menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan ganda, (ii) metode ini menyajikan secara langsung hakikat hubungan antara peneliti dan responden, (iii) metode ini lebih peka dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan banyak penajaman pengaruh bersama terhadap pola-pola nilai yang dihadapi (Moleong, 2002:5). Sedangkan objek penelitian merupakan penelitian dengan karateristik masalah yang berkaitan dengan latar belakang dan kondisi saat ini dari subjek yang di teliti, serta interaksinya dengan lingkungan. Tujuan studi kasus adalah melakukan penyelidikan secara mendalam mengenai subjek tertentu untuk memberikan gambaran yang lengkap mengenai subjek tertentu (Indriantoro dan Supomo, 1999:26). Dalam penelitian ini, objek yang akan diteliti adalah perusahaan milik pemerintah yang bergerak di bidang kesehatan yaitu RSUD Kalisari yang berada di Kabupaten Batang Jawa Tengah.Pada penelitian ini, penulis mengambil salah satu objek pada RSUD tersebut, yaitu analisis perlakuan akuntansi persediaan obat-obatan yang di bandingkan dengan Pernyataan Standart Akuntansi Pemerintahan (PSAP) No.05. Karena penulis ingin mengetahui cara pencataan persediaan obat apakah sesuai
  30. 30. dengan PSAP atau malahan belum sesuai karena persediaan obat-obatan berperan sangat vital bagi masyarakat juga obat merupakan komponen pembiayaan yang termasuk besar dalam satu kali rawat inap pasien,dengan stretegi empaet tepat(tepat menenutukan penyakit pasien,tepat menutukan dosis, tepat menentukan obat,tepat menutukan pemberian) sehingga pelayanan pada pasien terjamin dan nama RSUDpun menjadi lebih baik lagi. 3.2 Populasi dan Sampel 3.2.1 Populasi Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas, obyek/subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Jadi populasi bukan hanya orang, tetapi juga benda-benda alam yang lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada obyek/subyek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh obyek atau subyek itu (Sugiyono, 2007: 55). Populasi yang akan di teliti adalah seluruh karyawan/pegawai pada Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Daerah Kota Padang Panjang yang berjumlah 26 (dua puluh enam) orang. 3.2.2 Sampel Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan diberlakukan untuk populasi, untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representatif atau mewakili (Sugiyono, 2007: 56). Untuk menentukan sampel dalam penelitian ini, penelitian menggunakan nonprobability sampling, dengan teknik convenience sampling, Metode ini memilih sampel dari elemen populasi (orang/kejadian) yang datanya mudah di peroleh peneliti
  31. 31. (Indriantoro dan Supomo, 1999: 130). Dalam penelitian ini sampel yang digunakan adalah kesemua pegawai yang bekerja pada Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Daerah Kota Padang Panjang yang berjumlah 26 (dua puluh enam) orang. 3.3 Sumber Data dan Jenis Data Sumber data penelitian merupakan faktor penting yang menjadi pertimbangan dalam penentuan metode pengumpulan data, yang terdiri atas sumber data primer dan sumber data sekunder (Indriantoro dan Supomo, 1999:146). Adapun penjelasan dari kedua sumber data tersebut adalah sebagai berikut: 1. Sumber Data Primer : merupakan sumber data penelitian yang di peroleh secara langsung dari sumber asli (tidak melalui perantara) dengan mengunakan metode Metode Kuisioner, yaitu pengambilan data dengan cara menyebarkan kuisioner kepada responden untuk diisi sesuai dengan peryataan-pernyataan yang termuat didalamnya. 2. Sumber Data Sekunder : merupakan data yang diperoleh dari sumber- sumber lain yang terkait dengan penelitian, yang diperoleh dari studi kepustakaan, dengan mengunakan dokumentasi dan literatur-literatur yang berkaitan dengan permasalahan. 3.4 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel Definisi operasional dan pengukuran variabel mencakup pengertian yang digunakan untuk memperoleh data yang dianalisa yang sesuai dengan tujuan penelitian. Dalam penelitian ini digunakan beberapa variabel yang dapat membantu perhitungan dalam memecahkan suatu masalah. Definisi operasional dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Sistem dan Prosedur Akuntasi sebagai variabel bebas (Independent Variabel), yaitu variabel X yang terdiri dari prosedur perencanaan dan penentuan kebutuhan obat-obatan (X1), Prosedur pengadaan obat-obatan
  32. 32. (X2), Prosedur penyimpanan obat-obatan (X3), Prosedur pendistribusian obat-obatan (X4), Prosedur penghapusan obat-obatan (X5) dan Prosedur pertihungan fisik obat-obatan (X6). Dimana sistem dan Prosedur Akuntasi adalah skor yang diperoleh dari penelitian melalui kuisioner terhadap Sistem dan Prosedur Akuntasi yang dilihat dari : Prosedur perencanaan dan penentuan kebutuhan obat-obatan, Prosedur pengadaan obat- obatan, Prosedur penyimpanan obat-obatan, Prosedur pendistribusian obat-obatan, Prosedur penghapusan obat-obatan, serta Prosedur perhitungan fisik persediaan obat-obatan. b. Sistem Pengendalian Intern ditentukan sebagai variabel tidak bebas (dependent variabel), yaitu variabel Y. Sistem Pengendalian Intern adalah skor yang diperoleh dari penelitian melalui kuisioner terhadap Sistem Pengendalian Intern pada Rumah sakit Umum Daerah Kota Padang Panjang dilihat dari kesesuaian tingkat kepentingan dan kinerja. 3.5 Teknik Pengujian kualitas Data Sebelum disebarkan kepada responden kuisioner terlebih dahulu diuji validitas, realibititas dan normalitas data, dari masing-masing variabel yang diteliti : 1. Uji Validitas Data Validitas menunjukkan seberapa jauh suatu tes dari operasi-operasi mengukur apa yang seharusnya diukur. Sebuah pengukuran dikatakan valid jika dapat mengukur tujuannya dengan nyata atau benar (Jogiyanto, 2004: 120). Validitas berhubungan dengan ketepatan alat ukur valid untuk melakukan tugasnya mencapai sasaran. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berbentuk kuisioner, sehingga pengujian validitas yang digunakan berupa validitas isi (content validity). Pengujian validitas isi dapat dilakukan dengan membandingkan antara sistem dan operasional akuntansi dengan sistem pengendalian intern. Nilai koefisien korelasi antara skor
  33. 33. setiap item dengan skor total dihitung dengan korelasi product moment (Product Moment pearson correlation). 2. Uji Reliabilitas Data Uji reliabilitas dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana hasil pengukuran tetap konsisten apabila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap pernyataan yang sama menggunakan alat ukur yang sama pula. Reliabilitas menunjukkan akurasi dan ketepatan dari pengukurannya. Besarnya tingkat reliabilitas ditunjukkan oleh nilai koefisiennya, yaitu koefisien reliabilias (Jogiyanto, 2004: 132). Uji reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan teknik Cronbach Alpha (α), di mana suatu instrumen dapat dikatakan handal (reliable), bila memiliki cronbach Alpha ≥ 0,6 3. Uji Normalitas Sebelum menentukan teknik analisis statistik yang digunakan dalam suatu penelitian perlu dilakukan uji normalitas. Uji normalitas ditujukan untuk memeriksa keabsahan sampel yang diterapkan dalam teknik statistik tertentu (Arikonto, 1997). Uji normalitas dilakukan untuk meyakinkan bahwa variabel yang dibandingkan rata- ratanya mengikuti sebaran atau distribusi normal. Tujuan uji normalitas adalah untuk membuktikan bahwa (1) sampel telah diambil secara proporsional dari populasinya; dan (2) variabel yang diteliti memenuhi kriteria distibusi normal. Salah satu pengujian normalitas adalah dengan menggunakan teknik Kolmogorov Smirnov. Uji Kolmogorov Smirnov merupakan pengujian normalitas yang banyak dipakai. Kelebihan dari uji ini adalah sederhana dan tidak menimbulkan perbedaan persepsi di antara satu pengamat dengan pengamat yang lain. Konsep dasar dari uji normalitas Kolmogorov Smirnov adalah dengan membandingkan distribusi data (yang akan diuji normalitasnya) dengan distribusi normal baku. Perhitungan uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan aplikasi SPSS untuk pengujian terhadap data sampel tiap variabel.
  34. 34. 3.5 Teknik Pengujian Hipotesis 1. Untuk mengetahui pengaruh sistem dan prosedur akuntansi dalam sistem pengendalian intern digunakan analisis regresi berganda, model regresi tersebut adalah sebagai berikut: Y = a + b1X1+ b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5 + b6X6 + e Di mana: Y = Nilai yang diprediksi untuk sistem pengendalian intern a = Konstanta (harga Y bila X = 0) b = Koefisien regresi masing-masing variabel independen X1 = Prosedur perencanaan dan penentuan kebutuhan obat-obatan X2 = Prosedur pengadaan obat-obatan X3 = Prosedur penyimpanan obat-obatan X4 = Prosedur pendistribusian obat-obatan X5 = Prosedur penghapusan obat-obatan X6 = Prosedur perhitungan fisik obat-obatatan 2. Uji keberartian koefisien regresi atau disebut uji T (uji parsial/koefisien regresi), digunakan untuk memperkuat keyakinan penulis tentang kesimpulan hasil yang diperoleh setelah dilakukan perhitungan analisis korelasi linear. Di samping itu, analisis juga dapat digunakan untuk mengetahui apakah bukti yang ada memadai atau tidak dengan signifikan sebesar 5 %, sehingga kesimpulan yang diambil jika pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen secara individual pada taraf 5 % berarti hipotesis diterima. Jika lebih besar dari 5 %, berarti hipotesis ditolak. Penentuan penerimaan hipotesis dengan uji t dapat dilakukan berdasarkan tabel t. Nilai t hitung hasil regresi dibandingkan dengan nilai t pada tabel. Jika t hitung > t tabel maka berarti terdapat pengaruh yang signifikan secara parsial, dan sebaliknya jika t hitung < t tabel maka tidak terdapat pengaruh yang signifikan secara parsial.
  35. 35. 3. Uji keberartian model regresi atau disebut uji F (uji Anova), digunakan untuk melihat apakah model persamaan regresi yang digunakan dapat menjelaskan pengaruh variabel independen secara bersama-sama terhadap variabel dependen. Tingkat signifikansi yang ditetapkan dalam uji F yaitu sebesar 5%. Untuk uji F, maka df dihitung dengan N – k – 1 dengan k adalah jumlah variabel bebas. Logika uji dua arah, adalah terdapat pengaruh antara variabel bebas terhadap variabel terikat, dan uji satu arah adalah terdapat pengaruh negatif/positif antara variabel bebas antara variabel bebas terhadap variabel terikat. 4. Koefisien Determinasi (R2 ) adalah perbandingan antara variasi Y yang dijelaskan oleh x1 dan x2 secara bersama-sama dibanding dengan variasi total Y. Jika selain x1 dan x2 semua variabel di luar model yang diwadahi dalam e dimasukkan ke dalam model, maka nilai R2 akan bernilai 1. Ini berarti seluruh variasi Y dapat dijelaskan oleh variabel penjelas yang dimasukkan ke dalam model. Contoh Jika variabel dalam model hanya menjelaskan 0,4 maka berarti sebesar 0,6 ditentukan oleh variabel di luar model, nilai diperoleh sebesar R2 = 0,4. Jika R2 semakin besar atau mendekati 1, maka model makin tepat. Untuk data survei yang berarti bersifat cross section data yang diperoleh dari banyak responden pada waktu yang sama, maka nilai R2 = 0,2 atau 0,3 sudah cukup baik. Semakin besar n (ukuran sampel) maka nilai R2 cenderung makin kecil. Sebaliknya dalam data runtun waktu (time series) dimana peneliti mengamati hubungan dari beberapa variabel pada satu unit analisis (perusahaan atau negara) pada beberapa tahun maka R2 akan cenderunng besar. Hal ini disebabkan variasi data yang relatif kecil pada data runtun waktu yang terdiri dari satu unit analisis saja. Contoh jika nilai R2 = 0,4 menunjukkan pemilihan variabel x1 dan x2 dalam (cross section data) menjelaskan variasi kinerja sebesar 40 persen, sisanya 60
  36. 36. persen ditentukan oleh variabel-variabel lain di luar model. Dua variabel penjelas yang dipilih oleh peneliti sudah dapat menjelaskan variasi variabel Y pada sampel yang besar. 5. Uji Multikolinearitas untuk mengetahui adanya hubungan antara beberapa atau semua variabel yang menjelaskan dalam model regresi. Jika dalam model terdapat multikolinearitas maka model tersebut memiliki kesalahan standar yang besar sehingga koefisien tidak dapat ditaksir dengan ketepatan yang tinggi. Salah satu cara mendeteksi ada tidaknya multikolinearitas adalah dengan uji Farrar-Glauber (perhitungan ratio-F untuk menguji lokasi multikolinearitas). Hasil dari Fstatistik (Fi) dibandingkan dengan F tabel. Kriteria pengujiannya adalah apabila F tabel > Fi maka variabel bebas tersebut kolinear terhadap variabel lainnya. Sebaliknya, jika F tabel < Fi, maka variabel bebas tersebut tidak kolinear terhadap variabel bebas yang lain. 6. Uji Heteroskedastisitas untuk terjadinya gangguan yang muncul dalam fungsi regresi yang mempunyai varian yang tidak sama sehingga penaksir OLS tidak efisien baik dalam sampel kecil maupun sampel besar (tapi masih tetap tidak bias dan konsisten). Salah satu cara untuk mendeteksi masalah heteroskedastisitas adalah dengan uji Park. Hasil perhitungan dilakukan uji t. Kriteria pengujiannya adalah apabila t hitung < t tabel, maka antara variabel bebas tidak terkena heteroskedastisitas terhadap nilai residual lain, atau varians residual model regresi ini adalah homogen. Demikian sebaliknya.
  37. 37. BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian Kota Padang Panjang berada pada ketinggian 650 sampai 850 meter di atas permukaan laut dengan luas wilayah 23 Km2 , yang membantang antara 1000 20’ sampai 1000 30’ Bujur Timur dan 00 27’ sampai 00 32’ Lintang Selatan, berbatasan dan dikelilingi oleh Kabupaten Tanah Datar, dan berada pada posisi silang lalu lintas antara Padang-Bukittinggi. Daerah ini dikelilingi Gunung Merapi, Gunung Singgalang dan Gunung Tandikat, beriklim sejuk dengan suhu udara maksimal 26,10 C dan suhu minimum 21,80 C serta dengan curah hujan cukup tinggi yaitu rata-rata 3.295 mm/tahun. Kota Padang Panjang untuk pertama kali dibentuk berdasarkan Undang- Undang No. 8 Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonomi Kota Kecil Dalam Lingkungan Daerah Propinsi Sumatera Tengah. Kemudian dengan lahirnya Undang- Undang No. 1 Tahun 1957 maka Kota Kecil Padang Panjang memiliki status yang sejajar dengan daerah Kabupaten/Kota lainnya. Menindak lanjuti dari Undang-Undang No. 1 Tahun 1957 tersebut maka DPRD Kota Padang Panjang menetapkan keputusan No. 12/K/DPRD-PP/57 tanggal 25 September 1957 tentang Peralihan Kota Praja Padang Panjang yang isinya membagi Padang Panjang atas 4 wilayah administratif yang disebut dengan Resort, yaitu Resort Gunung, Resort Lareh Nan Panjang, Resort Pasar dan Resort Bukit Surungan. Pada tahun 1982 berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 13 Tahun 1982 Kota Padang Panjang dibagi atas 2 (dua) Kecamatan yaitu Kecamatan Padang Panjang Barat dan Kecamatan Padang Panjang Timur dengan 16 kelurahan, dimana masing- masing kecamatan terdiri dari 8 kelurahan. Sesuai dengan Undang-undang Nomor 32
  38. 38. Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, bahwa Kepada Daerah Kabupaten/Kota telah diserahkan kewenangan agar daerah tersebut mampu melaksanakan otonomi. Untuk melaksanakan bidang kewenangan tersebut diperlukan organisasi pemerintah daerah yang dikenal dengan nama perangkat daerah. Pembentukan susunan organisasi dan tata kerja perangkat daerah tersebut ditetapkan dengan Peraturan Daerah (Perda) mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007. Untuk melayani kebutuhan kesehatan masyarakatnya, saat ini Kota Padang Panjang memiliki sebuah BLUD yaitu Rumah Sakit Umum Daerah Kota Padang Panjang, dimana RSUD Kota Padang Panjang memiliki 13 (tiga belas) instalasi dan salah satunya adalah instalasi farmasi yang menjadi objek pada penelitian ini. Pada sub bab berikut akan dijelaskan mengenai profil instalasi farmasi pada RSUD Kota Padang Panjang. 4.2 Tugas Pokok Dan Fungsi Instalasi Farmasi Pada RSUD Kota Padang Panjang Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) dapat didefinisikan sebagai suatu departemen atau unit di suatu rumah sakit di bawah pimpinan seorang apoteker dan dibantu oleh asisten apoteker yang memenuhi persyaratan peraturan perundang- undangan yang berlaku dan kompeten secara professional, tempat atau fasilitas penyelenggaraan yang bertanggung jawab atas seluruh pekerjaan serta pelayanan kefarmasian, yang terdiri dari pelayanan paripurna, mencakup perencanaan, mencakup perencanaan, pengadaan, produksi, penyimpanan perbekalan kesehatan atau sediaan farmasi; dispensing obat berdasarkan resep bagi penderita rawat inap dan rawat jalan; pengendalian mutu; dan pengendalian distribusi dan penggunaan seluruh perbekalan kesehatan di rumah sakit; pelayanan farmasi klinik umum dan spesialis, mencakup pelayanan langsung pada penderita dan pelayanan klinik yang merupakan program rumah sakit secara keseluruhan (Siregar, 2004:25).
  39. 39. Visi, Misi dan Tujuan Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Daerah a. Visi “Pelayanan Farmasi profesional dari aspek manajemen maupun klinik dengan orientasi kepada kepentingan sebagai individu, berwawasan lingkungan dan keselamatan kerja berdasarkan kode etik”. b. Misi 1. Bertanggung jawab atas pengelolaan Instalasi Farmasi Rumah Sakit yang berdaya guna dan berhasil guna. 2. Melaksanakan pelayanan kefarmasian yang berorientasi pada tercapainya hasil pengobatan yang optimal bagi pasien. 3. Berperan serta dalam program-program pelayanan kesehatan di rumah sakit untuk meningkatkan kesehatan seluruh lapisan masyarakat, baik pasien maupun tenaga kerja rumah sakit. IFRS dalam melaksanakan tugasnya berdasarkan Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan tahun 2004 dan eveluasinya mengacu pada Pedoman Survei Akreditasi Rumah Sakit yang digunakan secara rasional, di samping ketentuan maasing-masing rumah sakit. Tugas IFRS antara lain : 1. Melangsungkan pelayanan farmasi yang optimal. 2. Menyelenggarakan kegiatan pelayanan farmasi professional berdasarkan prosedur kefarmasian dan etik profesi. 3. Melaksanakan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE). 4. Memberi pelayanan bermutu melalui analisa, dan evaluasi untuk meningkatkan mutu pelayanan farmasi. 5. Melakukan pengawasan berdasarkan aturan-aturan yang berlaku.
  40. 40. 6. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan di bidang farmasi. 7. Mengadakan penelitian dan pengembangan di bidang farmasi. 8. Memfasilitasi dan mendorong tersusunnya standar pengobatan dan formularium rumah sakit. Fungsi IFRS antara lain : 1. Pengelolaan Perbekalan Farmasi a. Memilih perbekalan farmasi sesuai kebutuhan pelayanan rumah sakit yang merupakan proses kegiatan sejak meninjau masalah kesehatan yang terjadi di rumah sakit, identifikasi pemilihan terapi, bentuk dan dosis, menentukan kriteria pemilihan dengan memprioritaskan obat esensial, standarisasi sampai menjaga dan memparbaharui standar obat. b. Merencanakan kebutuhan perbekalan farmasi secara optimal yang merupakan proses kegiatan dalam pemilihan jenis, jumlah, dan harga perbekalan farmasi yang sesuai dengan kebutuhan dan anggaran, untuk menghindari kekosongan obat dengan menggunakan metode yang dapat dipertanggungjawabkan dan dasar-dasar perencanaan yang telah ditentukan antara lain konsumsi, epidemiologi, kombinasi metode konsumsi dan epidemiologi disesuaikan dengan anggaran yang tersedia. c. Mengadakan perbekalan farmasi berpedoman pada perencanaan yang telah dibuat sesuai ketentuan yang berlaku. d. Memproduksi perbekalan farmasi untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan di rumah sakit yang merupakan kegiatan membuat, mengubah bentuk, dan pengemasan kembali sediaan farmasi steril dan nonsteril untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan di rumah sakit.
  41. 41. e. Menerima perbekalan farmasi sesuai dengan spesifikasi dan ketentuan yang berlaku. f. Menyimpan perbekalan farmasi sesuai dengan spesifikasi dan persyaratan kefarmasian. g. Mendistribusikan perbekalan farmasi ke unit-unit pelayanan di rumah sakit. 2. Pelayanan Kefarmasian dalam Penggunaan Obat dan Alat Kesehatan a. Mengkaji instruksi pengobatan/resep pasien yang meliputi kajian persyaratan administrasi, persyaratan farmasi, dan persyaratan klinis. b. Mengidentifikasi masalah yang berkaitan dengan penggunaan obat dan alat kesehatan. c. Mencegah dan mengatasi masalah yang berkaitan dengan obat dan alat kesehatan. d. Memantau efektifitas dan keamanan penggunaan obat dan alat kesehatan. e. Memberikan informasi kepada petugas kesehatan, pasien atau keluarga pasien. f. Memberi konseling kepada pasien atau keluarga pasien. g. Melakukan pencampuran obat suntik h. Melakukan penyiapan nutrisi parenteral i. Melakukan penanganan obat kanker j. Melakukan penentuan kadar obat dalam darah k. Melakukan pencatatan setiap kegiatan l. Melaporkan setiap kegiatan
  42. 42. Berdasarkan Kepmenkes No. 1197/MENKES/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit, tugas pokok farmasi Rumah Sakit adalah sebagai berikut: a. Melangsungkan pelayanan farmasi yang optimal b. Menyelenggarakan kegiatan pelayanan farmasi profesional berdasarkan prosedur kefarmasian dan etik profesi c. Melaksanakan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) d. Memberi pelayanan bermutu melalui analisa, dan evaluasi untuk meningkatkan mutu pelayanan farmasi e. Melakukan pengawasan berdasarkan aturan-aturan yang berlaku f. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan di bidang farmasi g. Mengadakan penelitian dan pengembangan di bidang farmasi h. Memfasilitasi dan mendorong tersusunnya standar pengobatan dan formularium rumah sakit. Fungsi farmasi rumah sakit yang tertera pada Kepmenkes No. 1197/MENKES/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit adalah sebagai berikut : a. Pengelolaan Perbekalan Farmasi b. Pelayanan Kefarmasian dalam Penggunaan Obat dan Alat Kesehatan Menurut Kepmenkes No. 1197/MENKES/SK/X/2004, fungsi pelayanan farmasi Rumah Sakit sebagai pengelola perbekalan farmasi dimulai dari pemilihan, perencanaan, pengadaan, produksi, penerimaan, penyimpanan, dan pendistribusian, pengendalian, penghapusan, administrasi dan pelaporan serta evaluasi yang diperlukan bagi kegiatan pelayanan.
  43. 43. 1. Pemilihan Merupakan proses kegiatan sejak dari meninjau masalah kesehatan yang terjadi di rumah sakit, identifikasi pemilihan terapi, bentuk dan dosis, menentukan kriteria pemilihan dengan memprioritaskan obat esensial, standarisasi sampai menjaga dan memperbaharui standar obat. 2. Perencanaan Merupakan proses kegiatan dalam pemilihan jenis, jumlah, dan harga perbekalan farmasi yang sesuai dengan kebutuhan dan anggaran, untuk menghindari kekosongan obat dengan menggunakan metode yang dapat dipertanggung jawabkan dan dasar-dasar perencanaan yang telah ditentukan antara lain konsumsi, epidemiologi, kombinasi metode konsumsi dan epidemiologi disesuaikan dengan anggaran yang tersedia. Pedoman perencanaan berdasarkan DOEN, formularium rumah sakit, standar terapi rumah sakit, ketentuan setempat yang berlaku, data catatan medik, anggaran yang tersedia, penetapan prioritas, siklus penyakit, sisa persediaan,data pemakaian periode yang lalu, dan rencana pengembangan. 3. Pengadaan Merupakan kegiatan untuk merealisasikan kebutuhan yang telah direncanakan dan disetujui, melalui pembelian secara tender (oleh panitia pembelian barang farmasi) dan secara langsung dari pabrik/distributor/pedagang besar farmasi/rekanan, melalui produksi/pembuatan sediaan farmasi (produksi steril dan produksi non steril), dan melalui sumbangan/droping/hibah. 4. Produksi Merupakan kegiatan membuat, mengubah bentuk, dan pengemasan kembali sediaan farmasi steril atau nonsteril untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan di rumah sakit. Kriteria obat yang diproduksi adalah sediaan farmasi dengan formula khusus, sediaan farmasi dengan harga
  44. 44. murah, sediaan farmasi dengan kemasan yang lebih kecil, sedian farmasi yang tidak tersedia dipasaran, sediaan farmasi untuk penelitian, sediaan nutrisi parenteral, rekonstruksi sediaan obat kanker. 5. Penerimaan Merupakan kegiatan untuk menerima perbekalan farmasi yang telah diadakan sesuai dengan aturan kefarmasian, melalui pembelian langsung, tender, konsinasi atau sumbangan. Pedoman dalam penerimaan perbekalan farmasi yaitu pabrik harus mempunyai sertifikat analisa, barang harus bersumber dari distributor utama, harus mempunyai material safety data sheet (MSDS), khusus untuk alat kesehatan/kedokteran harus mempunyai certificate of origin, dan expire date minimal 2 tahun. 6. Penyimpanan Merupakan kegiatan pengaturan perbekalan farmasi menurut persyaratan yang ditetapkan menurut bentuk sediaan dan jenisnya, suhu dan kestabilannya, mudah tidaknya meledak/terbakar, dan tahan/tidaknya terhadap cahaya, disertai dengan sistem informasi yang selalu menjamin ketersediaan perbekalan farmasi sesuai kebutuhan. 7. Pendistribusian Merupakan kegiatan mendistribusikan perbekalan farmasi di rumah sakit untuk pelayanan individu dalam proses terapi bagi pasien rawat inap dan rawat jalan serta untuk menunjang pelayanan medis. Sistem distribusi dirancang atas dasar kemudahan untuk dijangkau oleh pasien dengan mempertimbangkan : a. Efisiensi dan efektifitas sumber daya yang ada b. Metode sentralisasi atau desentralisasi c. Sistem floor stock, resep individu, dispensing dosis unit atau kombinasi
  45. 45. 4.3 Hasil Penelitian dan Pembahasan 4.3.1 Hasil Analisis Validitas dan Reliabilitas Uji validitas berhubungan ketepatan alat ukur terhadap konsep yang di ukur, sehingga alat tersebut benar-benar dapat digunakan untuk mengukur apa yang hendak diukur dalam penelitian ini. Untuk validitas kuesioner, dapat diperoleh dengan cara mencari korelasi setiap pertanyaan dengan jumlah totalnya. Hal ini bisa diperoleh dengan menggunakan rumus korelasi Pearson Product moment seperti yang dijelaskan pada BAB III. Menurut Djamaludin Ancok (2009 : 137) bahwa : “untuk keperluan uji validitas maka instrumen dicobakan kepada 30 orang responden”. Selanjutnya menurut Masrun dalam Sugiono (2001 : 106) menyatakan bahwa :”biasanya syarat minimum untuk dianggap memenuhi syarat adalah kalau r 0,3”. Dalam penelitian ini, terlebih dahulu dilakukan pengujian terhadap alat ukur yang digunakan yaitu kuesioner, dengan analisis validitas dan reliabilitas agar data yang diperoleh dapat dipercaya atau diakui kebenarannya. Dengan menggunakan software SPSS 11.5 diperoleh nilai-nilai reliabilitas dan validitas yang ditunjukkan oleh nilai alpha cronbach’s dan corrected item total correlation. Hasil uji validitas dan reliabilitas untuk tiap-tiap variabel disajikan dalam tabel berikut : Tabel 4.3 Uji Validitas dan Reliabiltas Variabel Penerapan Prosedur Akuntansi Persediaan Obat-Obatan (X) Butir Dimensi r-hitung r-tabel Status Butir Keterangan Reliabilitas 1. Lingkungan Pengendalian dan Kompetensi .471 0,361 Valid Digunakan 0.9328 2. .398 0,361 Valid Digunakan 3. .511 0,361 Valid Digunakan 4. .578 0,361 Valid Digunakan 5. .439 0,361 Valid Digunakan 6. .452 0,361 Valid Digunakan 7. .513 0,361 Valid Digunakan 8. .394 0,361 Valid Digunakan 9. .375 0,361 Valid Digunakan 11. .390 0,361 Valid Digunakan
  46. 46. Butir Dimensi r-hitung r-tabel Status Butir Keterangan Reliabilitas 12. Sistem dan Prosedur Akuntansi persediaan obat-obatan .505 0,361 Valid Digunakan 0.7671 13. .703 0,361 Valid Digunakan 14. .587 0,361 Valid Digunakan 15. .489 0,361 Valid Digunakan 16. .754 0,361 Valid Digunakan 17. .525 0,361 Valid Digunakan 18. .734 0,361 Valid Digunakan 19. .669 0,361 Valid Digunakan 20. .461 0,361 Valid Digunakan 21. .468 0,361 Valid Digunakan 22.. .640 0,361 Valid Digunakan 23. .552 0,361 Valid Digunakan 24. .580 0,361 Valid Digunakan 25. .632 0,361 Valid Digunakan 26. .667 0,361 Valid Digunakan 27. .558 0,361 Valid Digunakan 28. .588 0,361 Valid Digunakan 29. .465 0,361 Valid Digunakan 30.. .375 0,361 Valid Digunakan 31. .596 0,361 Valid Digunakan 32. .770 0,361 Valid Digunakan 33. .470 0,361 Valid Digunakan 34. .561 0,361 Valid Digunakan Sumber : Pengolahan data Penelitian, 2014 Pada tabel diatas, terlihat bahwa semua item pertanyaan mempunyai nilai koefisien validitas >0.300. Ini berarti kesebelas item tersebut valid dan dapat digunakan dalam analisis selanjutnya. Dari kolom koefisien reliabilitas diperoleh hasil bahwa semua nilai koefisien reliabilitas untuk tiap sub-variabel X (penerapan prosedur akuntansi) lebih besar dari 0.700, sehingga dapat disimpulkan semua sub-variabel X yang terdapat dalam kuesioner yang dibuat reliabel dan cukup baik dijadikan sebagai alat penelitian untuk mengukur variabel penerapan prosedur akuntansi. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas untuk variabel Y (sistem pengendalian intern) disajikan dalam tabel berikut :
  47. 47. Tabel 4.5 Uji Validitas Dan Reliabilitas Sistem Pengendalian Intern (Y) Butir r-hitung r-tabel Status Butir Keterangan Reliabilitas 35. .404 0,361 Valid Digunakan 0.8202 36. .507 0,361 Valid Digunakan 37. .413 0,361 Valid Digunakan 38. .471 0,361 Valid Digunakan 39. .391 0,361 Valid Digunakan 40. .407 0,361 Valid Digunakan 41. .488 0,361 Valid Digunakan 42. .405 0,361 Valid Digunakan 43. .819 0,361 Valid Digunakan Sumber : Pengolahan data Penelitian, 2014 Pada tabel diatas, terlihat bahwa semua item pertanyaan mempunyai nilai koefisien validitas >0.300. Ini berarti kesembilan item tersebut valid dan dapat digunakan dalam analisis selanjutnya. Dari kolom koefisien reliabilitas diperoleh hasil bahwa semua nilai koefisien reliabilitas untuk tiap butir variabel Y (sistem pengendalian intern) lebih besar dari 0.700, sehingga dapat disimpulkan semua butir variabel Y yang terdapat dalam kuesioner yang dibuat reliabel dan cukup baik dijadikan sebagai alat penelitian untuk mengukur pengaruh variabel X terhadap Y sesuai dengan tujuan penelitian. Berdasarkan hasil keseluruhan dari uji validitas dan relibilitas yang dilakukan terhadap semua item pertanyaan dalam variabel penelitian diatas, diperoleh hasil bahwa dari 43 (empat puluh tiga) item yang digunakan dalam kuesioner, tidak satupun yang menunjukkan hasil tidak valid dan reliabel. Dengan demikian data yang diperoleh dari item-item pertanyan tersebut merupakan hasil pengukuran dari alat ukur yang baik sehingga mengakibatkan informasi yang didapat merupakan informasi baik pula. Untuk analisis selanjutnya, sebelum menghitung nilai koefisien korelasi multipel dan korelasi parsial, data yang ada mengalami proses transformasi menjadi data berskala interval dengan menggunakan Metode Succesive Interval.
  48. 48. 4.3.2 Analisis Deskripsi Jawaban Responden Untuk mengetahui kecenderungan tanggapan responden pada tiap variabel dan Dimensi digunakan analisis dekriptif yang dilakukan dengan menghitung terlebih dahulu skor uji dan skor maksimum setiap sub variabel, kemudian diperoleh rasio antara kedua skor tersebut dalam bentuk prosentase. Dari ukuran rasio tersebut dapat diketahui sikap dan tanggapan responden secara umum yang dibagi ke dalam 5 (lima) kategori, yaitu : sangat negatif (SN), negatif (N), sedang (S), positif (P), dan sangat positif (SP). Pengelompokkan tersebut dilakukan berdasarkan interval batasan dengan cara sebagai berikut : Rasio Minimum = 1 / 5 x 100 %= 20 % Rasio Maksimum = 5 / 5 x 100 %= 100 % Interval = Rasio Maksimum – Rasio Minimum = 100 % - 20 % = 80 % Jarak interval = Interval : Jenjang = 80 % : 5 = 16 % Dari perhitungan di atas, diperoleh batasan interval kategori tanggapan responden berdasarkan rasio skor uji dengan skor maksimum pada tiap sub-variabel yang disajikan dalam prosentase. 20.0 % - 36.0 % : Kategori tanggapan sangat negatif 36.1 % - 52.0 % : Kategori tanggapan negatif 52.1 % - 68.0 % : Kategori tanggapan sedang 68.1 % - 84.0 % : Kategori tanggapan positif 84.1 % - 100 % : Kategori tanggapan sangat positif Hasil perhitungan rasio skor uji dengan skor maksimum sebagai berikut :
  49. 49. 4.3.2.1 Tanggapan Responden Terhadap Variabel Penerapan Prosedur Akuntansi Persediaan Obat Tabel 4.6 Tanggapan Responden Terhadap Variabel Penerapan Prosedur Akuntansi Persediaan Obat-Obatan (X) No Indikator No. Item Skor Uji Skor Maksimum Rasio (%) Klasifikasi 1 Lingkungan Pengendalian dan Kompetensi 1 117 130 90 Sangat Positif 2 106 130 81,53 Positif 3 121 130 93,07 Sangat Positif 4 113 130 86,92 Sangat Positif 5 113 130 86,92 Sangat Positif 6 108 130 83,07 Positif 7 103 130 79,23 Positif 8 102 130 78,46 Positif 9 93 130 71,53 Positif 10 97 130 74,61 Positif 11 118 130 90,76 Sangat Positif Total 1191 1430 83,28 Positif Sistem dan Prosedur Akuntansi persediaan obat-obatan 12 110 130 84,61 Sangat Positif 13 113 130 86,92 Sangat Positif 14 114 130 87,69 Sangat Positif 15 101 130 77,69 Positif 16 110 130 84,61 Sangat Positif 17 108 130 83,07 Positif 18 107 130 82,30 Positif 19 108 130 83,07 Positif 20 104 130 80 Positif 21 107 130 82,30 Positif 22 114 130 87,69 Sangat Positif 23 115 130 88,46 Sangat Positif 24 113 130 86,92 Sangat Positif 25 119 130 91,53 Sangat Positif 26 118 130 90,76 Sangat Positif 27 104 130 80 Positif 28 108 130 83,07 Positif 29 112 130 86,15 Sangat Positif 30 111 130 85,38 Sangat Positif 31 114 130 87,69 Sangat Positif 32 92 130 70,76 Positif 33 102 130 78,46 Positif
  50. 50. 34 106 130 81,53 Positif Total 2510 2990 83,94 Positif TOTAL SKOR X 3701 4420 83,73 Positif Sumber : Pengolahan data Penelitian, 2014 Dari tabel diatas, diperoleh kecenderungan tanggapan responden terhadap Variabel Penerapan Prosedur Akuntansi Persediaan Obat-Obatan (X) berdasarkan 2 (dua) dimensi, yaitu Lingkungan Pengendalian dan Kompetensi (1) dan Sistem dan Prosedur Akuntansi persediaan obat-obatan (2). Akan diketahui tanggapan responden terhadap variabel Penerapan Prosedur Akuntansi Persediaan Obat-Obatan (X) secara umum. Diperoleh skor uji Pengakuan Atas Lingkungan Pengendalian dan Kompetensi (1) sebesar 1191 dengan rasio 83,28% dari skor maximum. Nilai tersebut berada pada interval berkategori positif (68.1% - 84.0%). Ini menunjukkan bahwa tanggapan responden terhadap pengakuan atas Lingkungan Pengendalian dan Kompetensi yang dirasakan dan dimiliki olehstaf pada Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Daerah Kota Padang Panjang baik. Artinya, sekaitan dengan pelaksanaan sistem dan prosedur akuntansi persediaan obat-obatan pada Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Daerah Kota Padang Panjang khususnya untuk indikator lingkungan pengendalian dan kompetensi yang memuat item-item seperti : peraturan lisan dan tulisan, sanksi pelanggaran, pendidikan dan keahlian pegawai, pelatihan, audit, koordinasi, pengurangan resiko dan lain sebagainya dapat dikatakan berada pada kategori baik. Hal ini tentunya harus dipertahankan dalam bekerlanjutan pelaksanaansistem dan prosedur akuntansi persediaan obat-obatan pada IFRSUD Kota Padang Panjang dikemudian hari. Skor uji untuk dimensi sistem dan prosedur akuntansi persediaan obat-obatan (2) adalah sebesar 2510 dengan rasio 83,94% dari skor maximum. Nilai tersebut berada pada interval yang berkategori positif (68.1% - 84.0%).. Ini menunjukkan bahwa
  51. 51. tanggapan responden pada hal-hal yang berhubungan dengan sistem dan prosedur akuntansi persediaan obat-obatan, juga bagus. Dari hasil diatas, dapat diperoleh gambaran/kecenderungan tanggapan responden terhadap penerapan prosedur akuntansi persediaan obat-obatan(X). Didapat skor uji total sebesar 3701 dengan rasio 83,73% dari skor maximum. Nilai tersebut berada pada interval yang berkategori positif (68.1% - 84%) Ini menunjukkan bahwa pelaksanaan/penerapan prosedur akuntansi persediaan obat-obatan pada Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Daerah Kota Padang Panjang ternyata sudah baik/positif, dimana sudah dilaksanakan pemeriksaan fisik atas persediaan obat- obatan secara berkala, perputaran persediaan obat sudah dapat dilihat dari laporan persediaan obat-obatan secara berkala, perencanaan pengadaan obat-obatan mempertimbangkan anggaran yang tersedia, pengadaan obat-obatan melibatkan bagian gudang dan bagian keuangan, kemudian adanya proses pengembalian pesanan obat yang tidak sesuai dengan pembekalan farmasi, cara penyimpanan obat- obatan yang memudahkan pencarian obat serta perhitungan fisik obat-obatan pun sudah dengan program/komputerisasi. 4.3.2.2 Tanggapan Responden Terhadap Sistem Pengendalian Intern Tabel 4.8 Tanggapan Responden Terhadap Sistem Pengendalian Intern (Y) No Indikator No. Item Skor Uji Skor Maksimum Rasio (%) Klasifikasi 1. Sistem Pengendalian Intern 35 111 130 85,38 Sangat Positif 36 104 130 80 Positif 37 106 130 81,53 Positif 38 103 130 79,23 Positif 39 111 130 85,38 Sangat Positif 40 105 130 80,76 Positif 41 103 130 79,23 Positif 42 105 130 80,76 Positif 43 112 130 86,15 Sangat Positif TOTAL SKOR Y Total 960 1170 82,05 Positif Sumber : Pengolahan data Penelitian, 2014
  52. 52. Dari tabel diatas, diperoleh gambaran kecenderungan jawaban responden terhadap sistem pengendalian intern (Y) diketahui tanggapan responden terhadap dimensi-dimensi dari sistem pengendalian intern secara umum. Diperoleh skor uji sebesar 960 dengan rasio 82.05% dari skor maksimum. Nilai tersebut berada pada interval yang berkategori positif (68.1%-84%). Ini menunjukkan bahwa tanggapan responden terhadap perilaku kerja yang mengacu pada ketaatan berkaitan dengan pengendalian intern pada instalasi farmasi Rumah Sakit Umum Daerah Kota Padang Panjang juga berada pada tingkat yang baik/positif. Artinya, sebagian besar pegawai/staf pada Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Daerah Kota Padang Panjang sudah baik dalam pelaksanaan pekerjaan dimana diketahui bahwa hal ini tentu saja sangat erat kaitannnya dengan adanya sistem pengendalian intern yang juga baik pada Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Daerah Kota Padang Panjang. 4.3.3 Uji Persyaratan Analisis 1. Uji Normalitas Dari hasil pengolahan data melalui uji normalitas Kolmogorov- Smirnov diperoleh angka normalitas distribusi data seperti pada tabel berikut : Tabel 4.5 Hasil Uji Normalitas Data Variabel Kolmogorov-Smirnov Df Sig. Sistem Pengendalian Intern 26 0,369 Perencanaan 26 0,445 Pengadaan 26 0,576 Penyimpanan 26 0,347 Pendistribusian 26 0,476 Penghapusan 26 0,569 Perhitungan Fisik 26 0,345 Sumber : Hasil olah data dengan SPSS, 2014
  53. 53. Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa nilai signifikansi untuk variabel sistem pengendalian intern sebesar 0,369>0,05 yang berarti bahwa distribusi frekuensi data variabel sistem pengendalian intern adalah normal. Untuk variabel perencanaan diperoleh angka signifikansi sebesar 0,445>0,05 yang berarti bahwa data variabel perencanaan berdistribusi normal. Uji normalitas variabel pengadaan diperoleh signifikansi sebesar 0,576>0,05 yang berarti data variabel pengadaan berdistribusi normal. Selanjutnya hasil uji normalitas variabel penyimpanan menunjukkan angka signifikansi sebesar 0,347>0,05, hal ini berarti distribusi data variabel penyimpanan adalah normal. Untuk variabel pendistribusian diperoleh angka signifikansi sebesar 0,476>0,05 yang berarti bahwa data variabel pendistribusian berdistribusi normal. Uji normalitas variabel penghapusan diperoleh signifikansi sebesar 0,569>0,05 yang berarti data variabel penghapusan berdistribusi normal. Serta hasil uji normalitas variabel penghitungan fisik menunjukkan angka signifikansi sebesar 0,345>0,05, hal ini berarti distribusi data variabel penyimpanan adalah normal. Berdasarkan uraian di atas, maka seluruh data yang dianalisis untuk setiap variabel penelitian memiliki distribusi normal. Hal ini berarti bahwa distribusi jawaban responden telah memenuhi asumsi normalitas sehingga dapat digunakan dalam pengujian selanjutnya. 4.4 Pengujian Hipotesis Korelasi adalah hubungan yang sifatnya kuantitatif yang menggambarkan kuat lemahnya hubungan antara dua atau lebih variabel yang diukur. Analisis Korelasi merupakan suatu metode yang digunakan untuk menggambarkan apakah terdapat hubungan yang signifikan antara suatu variabel dengan variabel lainnya. Dengan analisis korelasi, dapat diketahui derajat hubungan antara variabel-variabel tersebut yang dijelaskan oleh suatu nilai yang disebut koefisien korelasi. Dari koefisien korelasi, dapat dihitung besarnya nilai koefisien determinasi, yaitu nilai yang menjelaskan pengaruh dari variabel terhadap variabel lainnya dalam bentuk prosentase.
  54. 54. Dalam penelitian ini, variabel tak bebas (Y) adalah sistem pengendalian intern, sedangkan variabel bebas (X) adalah Penerapan Prosedur Akuntansi Persediaan Obat-obatan. Data yang diperoleh dari kuesioner telah melalui proses transformasi dengan metode succesive interval sehingga data sudah dalam skala pengukuran interval dan dapat digunakan untuk analisis selanjutnya. Dalam penelitian ini, ingin diketahui apakah terdapat hubungan antara Penerapan Prosedur Akuntansi Persediaan Obat-obatan dengan sistem pengendalian intern pada Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Daerah Kota Padang Panjang, jika terdapat hubungan maka dicari seberapa kuat hubungan tersebut berdasarkan nilai koefisien korelasi yang didapat. Sehingga dari koefisien korelasi dapat dicari koefisien determinasi yang akan menunjukan besarnya pengaruh. Untuk menguji signifikansi korelasi tersebut dilakukan pengujian secara simultan dengan uji statistik F dengan langkah-langkah yang sudah ditentukan sebelumnya. Selain itu, selanjutnya ingin diketahui derajat hubungan secara parsial dari variabel Faktor yang mempengaruhi dengan Sistem Pengendalian Intern (Y). Korelasi yang dicari adalah korelasi parsial yang menghubungkan satu variabel X dengan Y dengan menganggap bahwa variabel lainnya tetap/konstan. Untuk menguji signifikansi dari korelasi parsial tersebut dilakukan pengujian secara parsial dengan uji statistik t. Dengan demikian akan dilakukan metode pengujian, berupa pengujian secara simultan untuk meneliti hubungan sistem pengendalian intern dengan faktor yang mempengaruhi yaitu Penerapan Prosedur Akuntansi Persediaan Obat-obatan (X). 4.4.1 Analisis Regresi Linier Berganda Pada analisis regresi linier berganda terdapat 6 (enam) variabel independen yaitu perencanaan dan penentuan kebutuhan obat-obatan (X1), Prosedur pengadaan obat-obatan (X2), Prosedur penyimpanan obat-obatan (X3), Prosedur pendistribusian obat-obatan (X4), Prosedur penghapusan obat-obatan (X5), Prosedur perhitungan fisik
  55. 55. obat-obatatan (X6), serta bahwa semua variabel independen yang diajukan dapat dimasukkan dalam penelitian ini atau tidak ada yang dihilangkan salah satunya. Tabel 4.6 Coefficients Model Unstandardized Coefficients Standar dized Coefficeints T Sig B Std. Error Beta 1 (Constans) 2416.009 1208.583 1.999 .051 Perencanaan (X1) .003 .962 14.338 .000 Pengadaan (X2), .281 .150 .376 2.333 .024 Penyimpanan (X3) .390 .115 .232 2.435 .019 Pendistribusian (X4), .211 .118 .272 1.937 .020 Penghapusan (X5), .215 .092 .326 2.322 .025 Perhitungan Fisik (X6) .336 .113 .397 3.309 .002 a Dependent Variabel : Sistem Pengendalian Intern (Y) Prosedur Pada tabel coefficients akan didapat nilai konstanta persamaan linier yang akan dipergunakan di dalam penelitian ini. Setelah angka yang terdapat di tabel coefficient dimasukkan kedalam persamaan regresi linear berganda, maka di dapat rumus persamaan regresi linear berganda sebagai berikut : Y = 2416,099 + 0,003 X1 + 0,281 X2 + 0,390 X3 + 0,211 X4 + 0,215 X5 + 0,336 X6 + e Berdasarkan rumus persamaan regresi linear berganda diatas, maka dapat dtunjukkan koefisien regresi, sebagai berikut : a. Koefisien regresi X1 (perencanaan dan penentuan kebutuhan obat- obatan). Besarnya koefisien regresi adalah sebesar 0.003 ini menunjukkan bahwa setiap kegiatan perencanaan dan penentuan kebutuhan obat-obatan akan mempengaruhi terjadinya peningkatan pelaksanaan Sistem Pengendalian Intern pada Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Daerah Kota Padang Panjang. b. Koefisien regresi X2 (Prosedur pengadaan obat-obatan). Besarnya koefisien regresi adalah sebesar 0.281 ini menunjukkan bahwa peningkatan ketepatan pelaksanaan prosedur pengadaan obat akan mempengaruhi peningkatan pelaksanaan Sistem Pengendalian Intern
  56. 56. pada Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Daerah Kota Padang Panjang. c. Koefisien regresi X3 (Penyimpanan obat-obatan). Besarnya koefisien regresi adalah sebesar 0.390 ini menunjukkan bahwa peningkatan keteraturan penyimpanan obat akan mempengaruhi peningkatan pelaksanaan Sistem Pengendalian Intern pada Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Daerah Kota Padang Panjang. d. Koefisien regresi X4 (Pendistribusian obat-obatan). Besarnya koefisien regresi adalah sebesar 0.211 ini menunjukkan bahwa peningkatan ketepatan pelaksanaan prosedur pendistribusiam obat akan mempengaruhi peningkatan pelaksanaan Sistem Pengendalian Intern pada Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Daerah Kota Padang Panjang. e. Koefisien regresi X5 (Penghapusan). Besarnya koefisien regresi adalah sebesar 0.215 ini menunjukkan bahwa peningkatan ketepatan pelaksanaan prosedur penghapusan obat akan mempengaruhi peningkatan pelaksanaan Sistem Pengendalian Intern pada Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Daerah Kota Padang Panjang. f. Koefisien regresi X6 (Penghitungan Fisik obat-obatan). Besarnya koefisien regresi adalah sebesar 0.336 ini menunjukkan bahwa peningkatan ketepatan pelaksanaan penghitungan fisik obat-obatan pada instalasi farmasi Rumah Sakit Umum Daerah Kota Padang Panjang akan mempengaruhi peningkatan pelaksanaan Sistem Pengendalian Intern.
  57. 57. Tabel 4. 7 Model Summary Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .914 (a) .835 .829 136.52991 a Predictors : (Constant), Perencanaan (X1), Pengadaan (X2), Penyimpanan (X3), Pendistribusian (X4), Penghapusan (X5), Perhitungan fisik (X6), Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui besarnya kontribusi variabel yang didapat dari koefisien determinasi. Maka nilai R Square atau R2 (Koefisien Determinasi) hasil regresi adalah R Square sebesar 0,835, hasil tersebut menunjukkan bahwa pengaruh perencanaan dan penentuan kebutuhan obat-obatan, Prosedur pengadaan obat-obatan, Prosedur penyimpanan obat-obatan, Prosedur pendistribusian obat-obatan, Prosedur penghapusan obat-obatan, serta Prosedur perhitungan fisik obat-obatan, hanya sebesar R Square yaitu sebesar 83,5%, sedangkan sisanya sebesar 16,5% (100%-83,5%) merupakan nilai yang dapat dipengaruhi oleh variabel-variabel lainnya. 4.4.2 Uji F, pengujian Pengaruh Secara Simultan (Bersama–Sama) Antara semua dimensi pada variabel Penerapan Prosedur Akuntansi Persediaan Obat-obatan (X) dengan Sistem Pengendalian Intern (Y) secara Simultan. Untuk melakukan pengujian secara simultan antara perencanaan dan penentuan kebutuhan obat-obatan, Prosedur pengadaan obat-obatan, Prosedur penyimpanan obat-obatan, Prosedur pendistribusian obat-obatan, Prosedur penghapusan obat-obatan, dan Prosedur perhitungan fisik obat-obatatan dengan Sistem Pengendalian Intern, digunakan hipotesis sebagai berikut: Ho :  = 0 (Tidak tedapat pengaruh yang signifikan antara Penerapan Prosedur Akuntansi Persediaan Obat-obatan dengan Sistem Pengendalian Intern)
  58. 58. H1 :  ≠ 0 (Tedapat pengaruh yang signifikan antara Penerapan Prosedur Akuntansi Persediaan Obat-obatan dengan Sistem Pengendalian Intern). Kriteria uji : Dengan α = 5 %, Tolak Ho jika Fhitung > Ftabel. Ftabel = F0.05;2;71 = 3.125. Hasil analisis data diperoleh nilai F hitung dan signifikansi probability sebagaimana terlihat pada tabel 4.10 berikut : Sumber JK Dk RJK F  Regr. Linear 1574,456 3 524,819 39,006 0,000 Kekeliruan 537,558 47 11,437 Total 2112,015 50 Sumber : Hasil olah data dengan SPSS. Berdasarkan uji F, diperoleh nilai Fhitung sebesar 39,006 pada signifikansi probability = 0,000<0,01 yang berarti secara bersama-sama semua variabel X berpengaruh signifikan terhadap variabel Y. Dalam penelitian ini berarti variabel perencanaan (X1), Pengadaan, Penyimpanan (X3), Pendistribusian (X4), Penghapusan (X5), Perhitungan fisik (X6), secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Sistem Pengendalian Intern pada Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Daerah Kota Padang Panjang. Diperoleh nilai statistik uji Fhitung sebesar 39,006 Sedangkan dengan taraf signifikansi 5 % didapat Ftabel = 3.125. Karena Fhitung lebih besar daripada Ftabel maka Ho ditolak. Ini berarti terdapat hubungan yang signifikan antara sosialisasi dengan kebijakan pemotongan pajak yang dilakukan oleh bendaharawan SKPD. Tingkat keeratan hubungan tersebut digambarkan dengan nilai koefisien korelasi multipel sebesar 0.871. Nilai tersebut termasuk ke dalam interval korelasi yang sangat kuat (0,80-1,000) bedasarkan pedoman interpretasi koefisien korelasi menurut Sugiyono (2002 : 149).
  59. 59. Koefisien korelasi yang didapat di atas hanya menggambarkan seberapa kuat hubungan dari antara Penerapan Prosedur Akuntansi Persediaan Obat-obatan (X) dengan Sistem Pengendalian Intern (Y). Sedangkan, untuk mengetahui besar pengaruh dalam persen dari Penerapan Prosedur Akuntansi Persediaan Obat-Obatan (X) terhadap Sistem Pengendalian Intern (Y), digunakan nilai koefisien determinasi (KD), yaitu kuadrat dari koefisien korelasi yang didapat KD = r2 x 100% (Al Rasyid,2004 : 47). = 0.8712 x 100% = 75,8% Dengan menggunakan hasil perhitungan koefisien determinasi tersebut, dapat disimpulkan bahwa Sistem Pengendalian Intern pada Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Daerah Kota Padang Panjang dipengaruhi oleh faktro penerapan prosedur akuntansi persediaan obat-obatan sebesar 75,8%, sedangkan sisanya (24,2%) dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak dimasukkan dalam penelitian. Nilai pengaruh yang cukup tinggi (75,8%) menunjukkan bahwa Penerapan Prosedur Akuntansi Persediaan Obat-obatan cukup berpengaruh besar terhadap terlaksananya dengan baik Sistem Pengendalian Intern pada Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Daerah Kota Padang Panjang. Karena itu, makin baik Penerapan Prosedur Akuntansi Persediaan Obat-obatan, maka makin berjalan dengan baik pula Sistem Pengendalian Intern dan begitu sebaliknya.
  60. 60. 4.4.3 Uji t, pengujian Pengaruh Parsial (Secara Sendiri-Sendiri) Antara Perencanaan (X1), Pengadaan (X2), Penyimpanan (X3), Pendistribusian (X4), Penghapusan (X5), Perhitungan fisik (X6), dengan Sistem Pengendalian Intern(Y) 4.4.3.1 Pengujian Parsial Perencanaan(X1) dengan Sistem Pengendalian Intern(Y). Koefisien korelasi parsial adalah suatu nilai yang menggambarkan hubungan parsial antara satu variabel dengan varibel lainnya dengan menganggap variabel lain di luar kedua variabel tersebut tetap/konstan. Untuk melakukan pengujian secara parsial antara motivasi intrinsik dengan kinerja yang berorientasi pada kompetensi, digunakan hipotesis sebagai berikut: Ho :  = 0 (Tidak tedapat pengaruh yang signifikan antara perencanaan dengan Sistem Pengendalian Intern) H1 :  ≠ 0 (Terdapat pengaruh yang signifikan antara perencanaan dengan Sistem Pengendalian Intern) Dengan kriteria uji : Dengan α = 5 %, Tolak Ho jika thitung > ttabel atau thitung < - ttabel. ttabel = t0.025;71 = 1.994. Dengan bantuan software SPSS diperoleh nilai koefisien korelasi parsial antara X1 dengan Y yaitu sebesar 0.552. Nilai koefisien korelasi parsial tersebut belum dapat digunakan sebagai dasar kesimpulan, karena itu dilakukan pengujian signifikansi koefisien korelasi parsial dengan menggunakan statistik uji t. Diperoleh nilai thitung sebesar 5.578 Sedangkan dengan taraf signifikansi 5 % didapat ttabel = 1.994. Karena thitung lebih besar daripada ttabel maka Ho ditolak. Ini berarti terdapat hubungan yang signifikan antara Perencanaan (X1) dengan Sistem Pengendalian Intern (Y) yang digambarkan oleh nilai koefisien korelasi parsial sebesar 0.552. Nilai tersebut termasuk
  61. 61. ke dalam interval korelasi yang sedang (0,40-0,599) bedasarkan pedoman interpretasi koefisien korelasi menurut Sugiyono (2002 : 149). Dari nilai koefisien korelasi parsial tersebut, dapat diperoleh nilai koefisien determinasi sebesar 0.3047. Ini berarti Sistem Pengendalian Intern dipengaruhi oleh Perencanaan sebesar 30.5%, sedangkan sisanya (69.5%) dipengaruhi oleh faktor- faktor lain. 4.4.2.2 Pengujian Parsial Pengadaan (X2) Dengan Sistem Pengendalian Intern(Y). Langkah yang sama juga dilakukan untuk menguji korelasi parsial antara Pengadaan dengan Sistem Pengendalian Intern, dengan bantuan software SPSS versi 11.5 diperoleh nilai koefisien korelasi parsial antara X2 dengan Y yaitu sebesar 0.467. Nilai koefisien korelasi parsial tersebut belum dapat digunakan sebagai dasar kesimpulan, karena itu dilakukan pengujian signifikansi koefisien korelasi parsial dengan menggunakan statistik uji t. Diperoleh nilai thitung sebesar 4.458. Sedangkan dengan taraf signifikansi 5 % didapat ttabel = 1.994. Karena thitung lebih besar daripada ttabel maka Ho ditolak. Ini berarti terdapat hubungan yang signifikan antara Pengadaan (X2) dengan Sistem Pengendalian Intern (Y). Keeratan hubungan antara keduanya secara parsial digambarkan oleh nilai koefisien korelasi parsial sebesar 0.4676. Nilai tersebut termasuk ke dalam interval korelasi yang sedang (0,40-0,599) bedasarkan pedoman interpretasi koefisien korelasi menurut Sugiyono (2002:149). Dari nilai koefisien korelasi parsial tersebut, dapat diperoleh nilai koefisien determinasi sebesar 0.2186. Ini berarti Sistem Pengendalian Intern dipengaruhi oleh Penyimpanan sebesar 21.86 %, sedangkan sisanya (78.14 %) dipengaruhi oleh faktor- faktor lain.
  62. 62. 4.4.2.3 Pengujian Parsial Penyimpanan (X3) Dengan Sistem Pengendalian Intern(Y). Selanjutnya juga dilakukan pengujian korelasi parsial antara Penyimpanan dengan Sistem Pengendalian Intern, diperoleh nilai koefisien korelasi parsial antara X3 dengan Y yaitu sebesar 0.566. Nilai koefisien korelasi parsial tersebut belum dapat digunakan sebagai dasar kesimpulan, karena itu dilakukan pengujian signifikansi koefisien korelasi parsial dengan menggunakan statistik uji t. Diperoleh nilai thitung sebesar 3.428. Sedangkan dengan taraf signifikansi 5 % didapat ttabel = 1.994. Karena thitung lebih besar daripada ttabel maka Ho ditolak. Ini berarti terdapat hubungan yang signifikan antara Penyimpanan (X3) dengan Sistem Pengendalian Intern (Y). Keeratan hubungan antara keduanya secara parsial digambarkan oleh nilai koefisien korelasi parsial sebesar 0.566. Nilai tersebut termasuk ke dalam interval korelasi yang sedang (0,40-0,599) bedasarkan pedoman interpretasi koefisien korelasi menurut Sugiyono (2002:149). Dari nilai koefisien korelasi parsial tersebut, dapat diperoleh nilai koefisien determinasi sebesar 0.3203. Ini berarti Sistem Pengendalian Intern dipengaruhi oleh Penyimpanan sebesar 32,03 %, sedangkan sisanya (67,97%) dipengaruhi oleh faktor- faktor lain. 4.4.2.4 Pengujian Parsial Pendistribusian (X4) Dengan Sistem Pengendalian Intern(Y). Pengujian korelasi parsial juga dilakukan antara Pendistribusian dengan Sistem Pengendalian Intern, diperoleh nilai koefisien korelasi parsial antara X4 dengan Y yaitu sebesar 0.489. Nilai koefisien korelasi parsial tersebut belum dapat digunakan sebagai dasar kesimpulan, karena itu dilakukan pengujian signifikansi koefisien korelasi parsial dengan menggunakan statistik uji t. Diperoleh nilai thitung sebesar 2.425. Sedangkan dengan taraf signifikansi 5 % didapat ttabel = 1.994. Karena thitung lebih besar daripada ttabel maka Ho ditolak. Ini berarti

×