SlideShare a Scribd company logo
1 of 13
Fungsi Kebudayaan Sebagai Penyaring :
Peranan Persepsi dalam KAB
• Salah satu fungsi kebudayaan ialah sebagai
penyaring yang selektif bagi manusia dalam
menghadapi dunia luar. Kebudayaan menentukan apa
yang perlu diperhatikan atau perlu dihindari oleh
manusia. Fungsi “screning” ini melindungi sistem
syaraf manusia dari kejenuhan informasi (“information
overload”)
• Information overload diterapkan pada sistem
pemrosesan informasi, yakni untuk menggambarkan
suatu situasi yang rusak atau macetnya sistem, karena
tidak mampu untuk menangani sedemikian besarnya
jumlah informasi yang masuk.
 Contoh dalam kehidupan: seseorang ibu yang berusaha
memenuhi segala kebutuhan anak-anaknya,
membereskan rumah, melayani suami, melayani
kegiatan-kegiatan sosial pada saat yang sama, sekaligus
akan mengalami ketegangan dalam hidupnya. Akibatnya
bisa bermacam-macam, menderita jantung, depressi,
darah tinggi, dll.
 Agar individu dapat berperan dengan baik dan maksimal,
perlu diadakan seleksi atas informasi atau stimuli yang
datang dari luar. Proses penyeleksian yang dipengaruhi
kebudayaan ini, disebut persepsi. Persepsi bersifat
subyektif (“subjective reality”) kemudian menentukan
tingkah laku termasuk tingkahlaku komunikasi.
Pokok-Pokok Tentang Persepsi
 Persepsi merupakan proses internal dalam menseleksi,
mengevaluasi, dan mengatur stimuli dari luar: cara
mendengar, melihat, mencium, meraba, merasa.
Kegiatan perseptual dalam persepsi ini dipelajari.
 Masing-masing individu mengadakan usaha untuk
memahami lingkungan melalui perkembangan:
(a) Struktur  kategorisasi (ukuran, bentuk, tekstur,
warna, intensitas) untuk mengklasifikasikan
lingkungan yang dapat berbeda pada diri setiap
individu.
(b) Stabilitas  dunia persepsi kita yang terstruktur
mempunyai kelanggengan, tidak selalu berubah.
Misalnya, pancaindera sangat sensitif, mampu secara
intern menghafal perbedaan atau perubahan dari input
sehingga dunia luar nampak tetap/tidak berubah.
(c) Makna  mengkategorisasikan peristiwa dan
menghubungkannya dengan peristiwa masa lain.
Dibutuhkan kemampuan berbahasa yang maksimal.
Dimensi-Dimensi Persepsi
Untuk memahami bekerjanya proses persepsi terdapat dua aspek dasar
dari persepsi :
1.Dimensi fisik (mengatur/mengorganisasi)
menggambarkan perolehan informasi tentang dunia luar, tahap ini
mencakup karakteristik stimulasi yang berupa energi, hakekat dan fungsi
mekanisme penerimaan manusia (mata, telinga, hidung, mulut, dan kulit)
serta transmisi data melalui sistem syaraf menuju otak, untuk kemudian
diubah ke dalam bentuk yang bermakna.
2.Dimensi psikologis (menafsirkan)
penanganan stimuli tentang keadaan individual (kepribadian,
emosi, kecerdasan, pendidikan, keyakinan, nilai, sikap, motivasi, dll).
Tahap ini, manusia menciptakan struktur, stabilitas dan makna bagi
persepsi dan memberikan sifat pribadi serta penafsiran dunia luar.
Kedua dimensi ini secara bersama-sama bertanggungjawab atas hasil-
hasil persepsi, sehingga pengertian tentangnya akan memberikan
gambaran ttg bagaimana persepsi terjadi.
Sifat Persepsi yang Selektif
(Samovar, Porter, Jain, 1981 ; 111-115)
(1) Selective exposure; secara sengaja mencari situasi yang
memudahkan untuk mempersepsikan beberapa hal tertentu.
Selective non exposure; menghindar untuk mempersepsikan
aspek-aspek tertentu dari lingkungan dengan cara tidak
menempatkan diri dalam posisi yang memungkinkan untuk
menghadapinya. Contoh : Orang yang baru membeli mobil,
cenderung membaca iklan mengenai mobil tersebut daripada
iklan tentang mobil lain yang tidak jadi dibeli. Contoh
penghindaran selektif : jika kita dapat mengira seseorang akan
menimbulkan kesulitan atau situasi yang tidak enak bagi kita,
maka sebelumnya kita lebih baik menghindar.
(2) Selective attention; kita hanya menaruh perhatian pada
beberapa informasi, karena lingkungan terlalu luas dan
kompleks untuk dapat memusatkan perhatian pada segala.
Sifat Persepsi yang Selektif
(Samovar, Porter, Jain, 1981 ; 111-115)
(3) Selective Retention ; beberapa informasi, walaupun telah dipersepsi
dan diproses, kemudian terlupakan, karena tidak dapat mempertahan
atau menyimpan semua. Pada umumnya, informasi yang kita simpan
dalam ingatan adalah yang menyenangkan, menunjang bayangan yang
baik tentang diri sendiri, atau yang dirasakan perlunya untuk digunakan
di kemudian hari. Contoh : kita akan tetap mengenang orang yang kita
sukai/cintai/ada minat khusus.
Hubungan Antara Persepsi dan Kebudayaan
 Pemberian makna subyektif / pribadi pada obyek-obyek dan peristiwa-
peristiwa di lingkungan tergantung pada pengalaman dan kebudayaan
masing-masing individu
 Semakin besar perbedaan orang, semakin lebar pula jurang perbedaan
persepsi antara mereka
 Latar belakang pengalaman yang tidak serupa mengakibatkan respons
yang berbeda terhadap obyek/peristiwa yang sama, sehingga pola-pola
perilaku mereka ikut berbeda.
Empat hal yang mempengaruhi selective attention yang sangat dipengaruhi
kebudayaan :
1.Kebutuhan Individu  contoh pada saat kita lapar, perhatian lebih banyak
diarahkan pada iklan-iklan mengenai makanan.
2.Latihan dan Pengalaman Individu  contoh dosen, karena latihan yang
telah diperolehnya, akan cepat melihat kesalahan pekerjaan mahasiswanya.
3.Harapan/Perkiraan  contoh dalam menilai seseorang, suatu hal yang
dapat terjadi ialah kalau kita mengharapkan dia sebagai orang ramah, maka
kita akan menyimpulkannya sebagai orang ramah.
4.Sikap  adalah kecenderungan untuk memberi respons secara khusus
terhadap orang, obyek dan gagasan. Sikap dipelajari dan karenanya
mencerminkan kebudayaan, dapat berubah, walau relatif konsisten.
Misalnya: sikap terhadap golongan wanita dan peranannya dalam
masyarakat di Arab dan Cina, berbeda.
Empat hal yang mempengaruhi selective attention yang sangat dipengaruhi
kebudayaan :
1.Kebutuhan Individu  contoh pada saat kita lapar, perhatian lebih banyak
diarahkan pada iklan-iklan mengenai makanan.
2.Latihan dan Pengalaman Individu  contoh dosen, karena latihan yang
telah diperolehnya, akan cepat melihat kesalahan pekerjaan mahasiswanya.
3.Harapan/Perkiraan  contoh dalam menilai seseorang, suatu hal yang
dapat terjadi ialah kalau kita mengharapkan dia sebagai orang ramah, maka
kita akan menyimpulkannya sebagai orang ramah.
4.Sikap  adalah kecenderungan untuk memberi respons secara khusus
terhadap orang, obyek dan gagasan. Sikap dipelajari dan karenanya
mencerminkan kebudayaan, dapat berubah, walau relatif konsisten.
Misalnya: sikap terhadap golongan wanita dan peranannya dalam
masyarakat di Arab dan Cina, berbeda.
Stereotip dan Prasangka
 Stereotip adalah suatu keyakinan yang terlalu digeneralisir dan terlalu dibuat
mudah, disederhanakan, dilebih-lebihkan, mengenai suatu kategori atau
kelompok orang tertentu (Samovar, Porter, jain, 1981 : 122)
 Misalnya ; “orang Batak kasar”, “orang Padang licik”, “orang Jawa lamban”,
“orang Sunda genit”, dll.
 Keyakinan ini, biasanya relatif bersifat kaku dan diwarnai emosi. Sedangkan
kategori merupakan konsep netral, faktual, dan tidak menilai, maka stereotip
muncul bila kategori telah dibebani oleh gambaran dan penilaian .
 Dimensi-dimensi stereotip :
 Arah (direction), yakni disenangi atau tidak disenangi, atau sesuatu penilaian
dianggap sebagai positif atau negatif.
 Intensitas, yaitu seberapa kuatnya keyakinan akan suatu stereotip. Misalnya;
“orang Betawi betul-betul pemalas”.
 Ketepatan, artinya ada stereotip yang betul-betul tidak menggambarkan
kebenaran, ada yang setengah benar, ada yang sebagiannya tidak tepat.
 Isi khusus, yaitu sifat khusus tertentu mengenai suatu kelompok. Isi stereotip
dapat berubah dengan berjalannya waktu.
Stereotip dan Prasangka
 Prasangka dirumuskan sebagai sikap kaku terhadap suatu kelompok
manusia, berdasarkan keyakinan atau prakonsepsi yang salah (Samovar,
Porter, Jain, 1981 : 123). Prasangka mengandung arti penilaian dini atau
pra-penilaian yang tidak mudah diubah, walaupun telah dihadapkan pada
pengetahuan baru tentang hal yang dinilai tadi. Bahkan orang cenderung
emosional, jika prasangkanya ternyata diancam oleh kenyataan
sebaliknya.
Karakteristik dari Prasangka
 Merupakan sikap yang ditujukan pada kategori tertentu, yakni pada
sekelompok atau kategori manusia tertentu, bukan terhadap orang
tertentu.
 Merupakan sikap tidak adil dan irrasional.
 Mempunyai sikap yang secara emosional kaku, artinya orang yang
mempunyai prasangka tidak mudah/ tidak mau mengubah sikapnya
walaupun ternyata kemudian prasangkanya salah
Stereotip dan Prasangka
Beda Stereotip dan Prasangka
Stereotip adalah suatu keyakinan sedangkan prasangka
merupakan sikap. Prasangka dapat mencakup gabungan yang
menyeluruh dan saling berkaitan dri sejumlah keyakinan.
Dimensi Prasangka
Prasangka berbeda-beda dilihat dari segi arah dan intensitas.
Prasangka bisa positif atau negatif. Biasanya prasangka memang
lebih berunsur negatif. Dilihat dari segi intensitas, beberapa orang
bisa mempunyai prasangka yang lebih keras/kuat dibandingkan
orang-orang lain. Dalam hal ini, maka prasangka positif atau
negatif dapat dilihat sebagai suatu continuum dari paling rendah
sampai paling tinggi intensitasnya. Biasanya stereotip yang lebih
keras juga menghasilkan prasangka yang keras.
Asal mula timbulnya stereotip dan prasangka
(1) Dari orang tua, saudara dan siapa saja yang berinteraksi dengan
kita.
(2) Dari pengalaman pribadi.
(3) Dari media massa.
Stereotip dan Prasangka
Manifestasi dari Prasangka Sesuai Intensitas
(1) Antilokusi; berbicara tentang sikap-sikap, perasaan-perasaan,
pendapat-pendapat, dan stereotip tentang kelompok tertentu,
dilakukan kebanyakan dengan teman-teman sendiri, walaupun
terkadang dilakukan dengan orang yang masih asing.
(2) Penghindaran diri dari orang-orang kelompok yang tidak
disukai.
(3) Diskriminasi; membuat perbedaan-perbedaan melalui tindakan-
tindakan aktif, misalnya : tidak memperbolehkan orang-orang
dari kelompok yang tidak disukai bekerja dalam bidang-bidang
pekerjaan tertentu, misalnya : hak-hak politik, perumahan,
pendidikan, hiburan, gereja, rumah sakit.
(4) Serangan fisik; dalam keadaan emosi, bisa mengakibatkan
kekerasan, misalnya pengusiran seluruh orang dari kelompok
yang tidak disenangi dari lingkungan tempat tinggal tertentu.
(5) Pemusnahan; hukum mati tanpa pengadilan, pembunuhan
massal. Maka dapat disimpulkan tentang berlakunya tahapan
sebgai berikut :
Stereotip  Prasangka  Perilaku Terbuka
Stereotip dan Prasangka
Pengaruh Stereotip dan Prasangka Terhadap KAB
(1) Stereotip dan prasangka dapat menyebabkan KAB tidak terjadi.
Karena stereotip dan prasangka negatif yang kuat menyebabkan
orang memilih unuk bertempat tinggal dan bekerja di tempat-
tempat yang mengurangi kemungkinan terjadinya kontak dengan
orang-orang dari kelompok-kelompok yang tidak disukai.
(2) Stereotip dan prasangka cenderung menghasilkan hal-hal negatif
selama terjadinya KAB, sehingga mempengaruhi kualitas interaksi.
(3) Jika steretip dan prasangka sangat mendalam, maka orang akan
terlibat dalam perilaku antikolusi dan diskriminasi aktif terhadap
kelompok yang tidak disukai, yang dapat dengan mudah
mengarah pada konfrontasi dan konflik terbuka.
Kemungkinan Perubahan pada Stereotip dan Prasangka
Ada beberapa situasi yang mendukung seperti status yang sama,
kontak pribadi yang lebih akrab, imbalan atau hasil yang
memuaskan, partisipasi bersama dalam kegiatan-kegiatan penting
menuju tujuan yang sama

More Related Content

Similar to Komunikasi-Antar-Budaya-Pertemuan-3.ppt

Bab 5 persepsi dan komunikasi_Novi Catur Muspita
Bab 5 persepsi dan komunikasi_Novi Catur MuspitaBab 5 persepsi dan komunikasi_Novi Catur Muspita
Bab 5 persepsi dan komunikasi_Novi Catur MuspitaUniversitas Islam Balitar
 
Komunikasi Antarpribadi 4_Persepsi dan Membangun Impresi Positif dalam Komuni...
Komunikasi Antarpribadi 4_Persepsi dan Membangun Impresi Positif dalam Komuni...Komunikasi Antarpribadi 4_Persepsi dan Membangun Impresi Positif dalam Komuni...
Komunikasi Antarpribadi 4_Persepsi dan Membangun Impresi Positif dalam Komuni...RintaArina
 
Cross-Cultural Psychology - Research and Applications (personality)
Cross-Cultural Psychology - Research and Applications (personality) Cross-Cultural Psychology - Research and Applications (personality)
Cross-Cultural Psychology - Research and Applications (personality) Bee_BQ
 
Pendidikan di Sekolah dalam Membentuk Karakter Peserta Didik
Pendidikan di Sekolah dalam Membentuk Karakter Peserta DidikPendidikan di Sekolah dalam Membentuk Karakter Peserta Didik
Pendidikan di Sekolah dalam Membentuk Karakter Peserta DidikNur Rizki
 
Psikologi modul 2 kb 3
Psikologi modul 2 kb 3Psikologi modul 2 kb 3
Psikologi modul 2 kb 3Uwes Chaeruman
 
Presentasi kepribadian (psikologi)
Presentasi kepribadian (psikologi)Presentasi kepribadian (psikologi)
Presentasi kepribadian (psikologi)Mustaqim Furohman
 
Pembentukkan Sikap (Attention dan Performance)
Pembentukkan Sikap (Attention dan Performance)Pembentukkan Sikap (Attention dan Performance)
Pembentukkan Sikap (Attention dan Performance)pjj_kemenkes
 
Gangguan Konsep Diri
Gangguan Konsep DiriGangguan Konsep Diri
Gangguan Konsep DiriSiti Maemunah
 
Psikologi sosial makalah sikap
Psikologi sosial makalah sikapPsikologi sosial makalah sikap
Psikologi sosial makalah sikapvidyatiara
 
Konsep diri bahan baca
Konsep diri   bahan bacaKonsep diri   bahan baca
Konsep diri bahan bacaAmir Khan
 
konsep kendiri personaliti perbezaan individu.pptx
konsep kendiri personaliti perbezaan individu.pptxkonsep kendiri personaliti perbezaan individu.pptx
konsep kendiri personaliti perbezaan individu.pptxZatiIwaniIsmahadi
 
AZ SISTEM KOMUNIKASI INTERPERSONAL.pdf
AZ SISTEM KOMUNIKASI INTERPERSONAL.pdfAZ SISTEM KOMUNIKASI INTERPERSONAL.pdf
AZ SISTEM KOMUNIKASI INTERPERSONAL.pdfashrafkhairulAzam
 
Perkembangan Kepribadian dan Perilaku Manusia
Perkembangan Kepribadian dan Perilaku ManusiaPerkembangan Kepribadian dan Perilaku Manusia
Perkembangan Kepribadian dan Perilaku Manusiapjj_kemenkes
 
Pb 2. perkembangan perilaku manusia. akbid paramata muna
Pb 2. perkembangan perilaku manusia. akbid paramata muna Pb 2. perkembangan perilaku manusia. akbid paramata muna
Pb 2. perkembangan perilaku manusia. akbid paramata muna Operator Warnet Vast Raha
 
Pb 2. perkembangan perilaku manusia. akbid paramata muna
Pb 2. perkembangan perilaku manusia. akbid paramata muna Pb 2. perkembangan perilaku manusia. akbid paramata muna
Pb 2. perkembangan perilaku manusia. akbid paramata muna Operator Warnet Vast Raha
 

Similar to Komunikasi-Antar-Budaya-Pertemuan-3.ppt (20)

Bab 5 persepsi dan komunikasi_Novi Catur Muspita
Bab 5 persepsi dan komunikasi_Novi Catur MuspitaBab 5 persepsi dan komunikasi_Novi Catur Muspita
Bab 5 persepsi dan komunikasi_Novi Catur Muspita
 
Komunikasi Antarpribadi 4_Persepsi dan Membangun Impresi Positif dalam Komuni...
Komunikasi Antarpribadi 4_Persepsi dan Membangun Impresi Positif dalam Komuni...Komunikasi Antarpribadi 4_Persepsi dan Membangun Impresi Positif dalam Komuni...
Komunikasi Antarpribadi 4_Persepsi dan Membangun Impresi Positif dalam Komuni...
 
Cross-Cultural Psychology - Research and Applications (personality)
Cross-Cultural Psychology - Research and Applications (personality) Cross-Cultural Psychology - Research and Applications (personality)
Cross-Cultural Psychology - Research and Applications (personality)
 
Presentation1
Presentation1Presentation1
Presentation1
 
PRILAKU ORGANISASI
PRILAKU ORGANISASIPRILAKU ORGANISASI
PRILAKU ORGANISASI
 
Pendidikan di Sekolah dalam Membentuk Karakter Peserta Didik
Pendidikan di Sekolah dalam Membentuk Karakter Peserta DidikPendidikan di Sekolah dalam Membentuk Karakter Peserta Didik
Pendidikan di Sekolah dalam Membentuk Karakter Peserta Didik
 
Psikologi modul 2 kb 3
Psikologi modul 2 kb 3Psikologi modul 2 kb 3
Psikologi modul 2 kb 3
 
Presentasi kepribadian (psikologi)
Presentasi kepribadian (psikologi)Presentasi kepribadian (psikologi)
Presentasi kepribadian (psikologi)
 
Pembentukkan Sikap (Attention dan Performance)
Pembentukkan Sikap (Attention dan Performance)Pembentukkan Sikap (Attention dan Performance)
Pembentukkan Sikap (Attention dan Performance)
 
Gangguan Konsep Diri
Gangguan Konsep DiriGangguan Konsep Diri
Gangguan Konsep Diri
 
Psikologi sosial makalah sikap
Psikologi sosial makalah sikapPsikologi sosial makalah sikap
Psikologi sosial makalah sikap
 
Konsep diri bahan baca
Konsep diri   bahan bacaKonsep diri   bahan baca
Konsep diri bahan baca
 
konsep kendiri personaliti perbezaan individu.pptx
konsep kendiri personaliti perbezaan individu.pptxkonsep kendiri personaliti perbezaan individu.pptx
konsep kendiri personaliti perbezaan individu.pptx
 
AZ SISTEM KOMUNIKASI INTERPERSONAL.pdf
AZ SISTEM KOMUNIKASI INTERPERSONAL.pdfAZ SISTEM KOMUNIKASI INTERPERSONAL.pdf
AZ SISTEM KOMUNIKASI INTERPERSONAL.pdf
 
Perkembangan Kepribadian dan Perilaku Manusia
Perkembangan Kepribadian dan Perilaku ManusiaPerkembangan Kepribadian dan Perilaku Manusia
Perkembangan Kepribadian dan Perilaku Manusia
 
Pb 2. perkembangan perilaku manusia. akbid paramata muna
Pb 2. perkembangan perilaku manusia. akbid paramata muna Pb 2. perkembangan perilaku manusia. akbid paramata muna
Pb 2. perkembangan perilaku manusia. akbid paramata muna
 
Pb 2. perkembangan perilaku manusia. akbid paramata muna
Pb 2. perkembangan perilaku manusia. akbid paramata muna Pb 2. perkembangan perilaku manusia. akbid paramata muna
Pb 2. perkembangan perilaku manusia. akbid paramata muna
 
Diri sosial
Diri sosialDiri sosial
Diri sosial
 
Teori personaliti
Teori personalitiTeori personaliti
Teori personaliti
 
Tugas pak junet, caca
Tugas pak junet, cacaTugas pak junet, caca
Tugas pak junet, caca
 

Recently uploaded

Edukasi Haji 2023 pembinaan jemaah hajii
Edukasi Haji 2023 pembinaan jemaah hajiiEdukasi Haji 2023 pembinaan jemaah hajii
Edukasi Haji 2023 pembinaan jemaah hajiiIntanHanifah4
 
MA Kelas XII Bab 1 materi musik mkontemnporerFase F.pdf
MA Kelas XII  Bab 1 materi musik mkontemnporerFase F.pdfMA Kelas XII  Bab 1 materi musik mkontemnporerFase F.pdf
MA Kelas XII Bab 1 materi musik mkontemnporerFase F.pdfcicovendra
 
PRESENTASI EEC social mobile, and local marketing.pptx
PRESENTASI EEC social mobile, and local marketing.pptxPRESENTASI EEC social mobile, and local marketing.pptx
PRESENTASI EEC social mobile, and local marketing.pptxPCMBANDUNGANKabSemar
 
Demonstrasi Kontekstual Modul 1.2. pdf
Demonstrasi Kontekstual  Modul 1.2.  pdfDemonstrasi Kontekstual  Modul 1.2.  pdf
Demonstrasi Kontekstual Modul 1.2. pdfvebronialite32
 
PELAKSANAAN + Link2 Materi TRAINING "Effective SUPERVISORY & LEADERSHIP Sk...
PELAKSANAAN  + Link2 Materi TRAINING "Effective  SUPERVISORY &  LEADERSHIP Sk...PELAKSANAAN  + Link2 Materi TRAINING "Effective  SUPERVISORY &  LEADERSHIP Sk...
PELAKSANAAN + Link2 Materi TRAINING "Effective SUPERVISORY & LEADERSHIP Sk...Kanaidi ken
 
Materi Lingkaran kelas 6 terlengkap.pptx
Materi Lingkaran kelas 6 terlengkap.pptxMateri Lingkaran kelas 6 terlengkap.pptx
Materi Lingkaran kelas 6 terlengkap.pptxshafiraramadhani9
 
Lembar Observasi Pembelajaran di Kelas.docx
Lembar Observasi Pembelajaran di  Kelas.docxLembar Observasi Pembelajaran di  Kelas.docx
Lembar Observasi Pembelajaran di Kelas.docxbkandrisaputra
 
AKSI NYATA MODUL 1.2-1 untuk pendidikan guru penggerak.pptx
AKSI NYATA MODUL 1.2-1 untuk pendidikan guru penggerak.pptxAKSI NYATA MODUL 1.2-1 untuk pendidikan guru penggerak.pptx
AKSI NYATA MODUL 1.2-1 untuk pendidikan guru penggerak.pptxWirionSembiring2
 
SILABUS MATEMATIKA SMP kurikulum K13.docx
SILABUS MATEMATIKA SMP kurikulum K13.docxSILABUS MATEMATIKA SMP kurikulum K13.docx
SILABUS MATEMATIKA SMP kurikulum K13.docxrahmaamaw03
 
PEMIKIRAN POLITIK Jean Jacques Rousseau.pdf
PEMIKIRAN POLITIK Jean Jacques  Rousseau.pdfPEMIKIRAN POLITIK Jean Jacques  Rousseau.pdf
PEMIKIRAN POLITIK Jean Jacques Rousseau.pdfMMeizaFachri
 
Kelompok 1_Karakteristik negara jepang.pdf
Kelompok 1_Karakteristik negara jepang.pdfKelompok 1_Karakteristik negara jepang.pdf
Kelompok 1_Karakteristik negara jepang.pdfCloverash1
 
UNGGAH PEGANGAN LOKAKARYA DAN PENDAMPINGAN INDIVIDU DALAM KEGIATAN PEMBEKALAN...
UNGGAH PEGANGAN LOKAKARYA DAN PENDAMPINGAN INDIVIDU DALAM KEGIATAN PEMBEKALAN...UNGGAH PEGANGAN LOKAKARYA DAN PENDAMPINGAN INDIVIDU DALAM KEGIATAN PEMBEKALAN...
UNGGAH PEGANGAN LOKAKARYA DAN PENDAMPINGAN INDIVIDU DALAM KEGIATAN PEMBEKALAN...jumadsmanesi
 
Materi Pertemuan 6 Materi Pertemuan 6.pptx
Materi Pertemuan 6 Materi Pertemuan 6.pptxMateri Pertemuan 6 Materi Pertemuan 6.pptx
Materi Pertemuan 6 Materi Pertemuan 6.pptxRezaWahyuni6
 
MATERI 1_ Modul 1 dan 2 Konsep Dasar IPA SD jadi.pptx
MATERI 1_ Modul 1 dan 2 Konsep Dasar IPA SD jadi.pptxMATERI 1_ Modul 1 dan 2 Konsep Dasar IPA SD jadi.pptx
MATERI 1_ Modul 1 dan 2 Konsep Dasar IPA SD jadi.pptxrofikpriyanto2
 
Panduan Substansi_ Pengelolaan Kinerja Kepala Sekolah Tahap Pelaksanaan.pptx
Panduan Substansi_ Pengelolaan Kinerja Kepala Sekolah Tahap Pelaksanaan.pptxPanduan Substansi_ Pengelolaan Kinerja Kepala Sekolah Tahap Pelaksanaan.pptx
Panduan Substansi_ Pengelolaan Kinerja Kepala Sekolah Tahap Pelaksanaan.pptxsudianaade137
 
Membuat Strategi Penerapan Kurikulum Merdeka di dalam Kelas
Membuat Strategi Penerapan Kurikulum Merdeka di dalam KelasMembuat Strategi Penerapan Kurikulum Merdeka di dalam Kelas
Membuat Strategi Penerapan Kurikulum Merdeka di dalam KelasHardaminOde2
 
Pembahasan Soal UKOM gerontik persiapan ukomnas
Pembahasan Soal UKOM gerontik persiapan ukomnasPembahasan Soal UKOM gerontik persiapan ukomnas
Pembahasan Soal UKOM gerontik persiapan ukomnasAZakariaAmien1
 
RENCANA + Link2 Materi Pelatihan/BimTek "Teknik Perhitungan & Verifikasi TKDN...
RENCANA + Link2 Materi Pelatihan/BimTek "Teknik Perhitungan & Verifikasi TKDN...RENCANA + Link2 Materi Pelatihan/BimTek "Teknik Perhitungan & Verifikasi TKDN...
RENCANA + Link2 Materi Pelatihan/BimTek "Teknik Perhitungan & Verifikasi TKDN...Kanaidi ken
 
MTK BAB 5 PENGOLAHAN DATA (Materi 2).pptx
MTK BAB 5 PENGOLAHAN DATA (Materi 2).pptxMTK BAB 5 PENGOLAHAN DATA (Materi 2).pptx
MTK BAB 5 PENGOLAHAN DATA (Materi 2).pptxssuser0239c1
 
Pertemuan 3-bioavailabilitas-dan-bioekivalensi.ppt
Pertemuan 3-bioavailabilitas-dan-bioekivalensi.pptPertemuan 3-bioavailabilitas-dan-bioekivalensi.ppt
Pertemuan 3-bioavailabilitas-dan-bioekivalensi.pptNabilahKhairunnisa6
 

Recently uploaded (20)

Edukasi Haji 2023 pembinaan jemaah hajii
Edukasi Haji 2023 pembinaan jemaah hajiiEdukasi Haji 2023 pembinaan jemaah hajii
Edukasi Haji 2023 pembinaan jemaah hajii
 
MA Kelas XII Bab 1 materi musik mkontemnporerFase F.pdf
MA Kelas XII  Bab 1 materi musik mkontemnporerFase F.pdfMA Kelas XII  Bab 1 materi musik mkontemnporerFase F.pdf
MA Kelas XII Bab 1 materi musik mkontemnporerFase F.pdf
 
PRESENTASI EEC social mobile, and local marketing.pptx
PRESENTASI EEC social mobile, and local marketing.pptxPRESENTASI EEC social mobile, and local marketing.pptx
PRESENTASI EEC social mobile, and local marketing.pptx
 
Demonstrasi Kontekstual Modul 1.2. pdf
Demonstrasi Kontekstual  Modul 1.2.  pdfDemonstrasi Kontekstual  Modul 1.2.  pdf
Demonstrasi Kontekstual Modul 1.2. pdf
 
PELAKSANAAN + Link2 Materi TRAINING "Effective SUPERVISORY & LEADERSHIP Sk...
PELAKSANAAN  + Link2 Materi TRAINING "Effective  SUPERVISORY &  LEADERSHIP Sk...PELAKSANAAN  + Link2 Materi TRAINING "Effective  SUPERVISORY &  LEADERSHIP Sk...
PELAKSANAAN + Link2 Materi TRAINING "Effective SUPERVISORY & LEADERSHIP Sk...
 
Materi Lingkaran kelas 6 terlengkap.pptx
Materi Lingkaran kelas 6 terlengkap.pptxMateri Lingkaran kelas 6 terlengkap.pptx
Materi Lingkaran kelas 6 terlengkap.pptx
 
Lembar Observasi Pembelajaran di Kelas.docx
Lembar Observasi Pembelajaran di  Kelas.docxLembar Observasi Pembelajaran di  Kelas.docx
Lembar Observasi Pembelajaran di Kelas.docx
 
AKSI NYATA MODUL 1.2-1 untuk pendidikan guru penggerak.pptx
AKSI NYATA MODUL 1.2-1 untuk pendidikan guru penggerak.pptxAKSI NYATA MODUL 1.2-1 untuk pendidikan guru penggerak.pptx
AKSI NYATA MODUL 1.2-1 untuk pendidikan guru penggerak.pptx
 
SILABUS MATEMATIKA SMP kurikulum K13.docx
SILABUS MATEMATIKA SMP kurikulum K13.docxSILABUS MATEMATIKA SMP kurikulum K13.docx
SILABUS MATEMATIKA SMP kurikulum K13.docx
 
PEMIKIRAN POLITIK Jean Jacques Rousseau.pdf
PEMIKIRAN POLITIK Jean Jacques  Rousseau.pdfPEMIKIRAN POLITIK Jean Jacques  Rousseau.pdf
PEMIKIRAN POLITIK Jean Jacques Rousseau.pdf
 
Kelompok 1_Karakteristik negara jepang.pdf
Kelompok 1_Karakteristik negara jepang.pdfKelompok 1_Karakteristik negara jepang.pdf
Kelompok 1_Karakteristik negara jepang.pdf
 
UNGGAH PEGANGAN LOKAKARYA DAN PENDAMPINGAN INDIVIDU DALAM KEGIATAN PEMBEKALAN...
UNGGAH PEGANGAN LOKAKARYA DAN PENDAMPINGAN INDIVIDU DALAM KEGIATAN PEMBEKALAN...UNGGAH PEGANGAN LOKAKARYA DAN PENDAMPINGAN INDIVIDU DALAM KEGIATAN PEMBEKALAN...
UNGGAH PEGANGAN LOKAKARYA DAN PENDAMPINGAN INDIVIDU DALAM KEGIATAN PEMBEKALAN...
 
Materi Pertemuan 6 Materi Pertemuan 6.pptx
Materi Pertemuan 6 Materi Pertemuan 6.pptxMateri Pertemuan 6 Materi Pertemuan 6.pptx
Materi Pertemuan 6 Materi Pertemuan 6.pptx
 
MATERI 1_ Modul 1 dan 2 Konsep Dasar IPA SD jadi.pptx
MATERI 1_ Modul 1 dan 2 Konsep Dasar IPA SD jadi.pptxMATERI 1_ Modul 1 dan 2 Konsep Dasar IPA SD jadi.pptx
MATERI 1_ Modul 1 dan 2 Konsep Dasar IPA SD jadi.pptx
 
Panduan Substansi_ Pengelolaan Kinerja Kepala Sekolah Tahap Pelaksanaan.pptx
Panduan Substansi_ Pengelolaan Kinerja Kepala Sekolah Tahap Pelaksanaan.pptxPanduan Substansi_ Pengelolaan Kinerja Kepala Sekolah Tahap Pelaksanaan.pptx
Panduan Substansi_ Pengelolaan Kinerja Kepala Sekolah Tahap Pelaksanaan.pptx
 
Membuat Strategi Penerapan Kurikulum Merdeka di dalam Kelas
Membuat Strategi Penerapan Kurikulum Merdeka di dalam KelasMembuat Strategi Penerapan Kurikulum Merdeka di dalam Kelas
Membuat Strategi Penerapan Kurikulum Merdeka di dalam Kelas
 
Pembahasan Soal UKOM gerontik persiapan ukomnas
Pembahasan Soal UKOM gerontik persiapan ukomnasPembahasan Soal UKOM gerontik persiapan ukomnas
Pembahasan Soal UKOM gerontik persiapan ukomnas
 
RENCANA + Link2 Materi Pelatihan/BimTek "Teknik Perhitungan & Verifikasi TKDN...
RENCANA + Link2 Materi Pelatihan/BimTek "Teknik Perhitungan & Verifikasi TKDN...RENCANA + Link2 Materi Pelatihan/BimTek "Teknik Perhitungan & Verifikasi TKDN...
RENCANA + Link2 Materi Pelatihan/BimTek "Teknik Perhitungan & Verifikasi TKDN...
 
MTK BAB 5 PENGOLAHAN DATA (Materi 2).pptx
MTK BAB 5 PENGOLAHAN DATA (Materi 2).pptxMTK BAB 5 PENGOLAHAN DATA (Materi 2).pptx
MTK BAB 5 PENGOLAHAN DATA (Materi 2).pptx
 
Pertemuan 3-bioavailabilitas-dan-bioekivalensi.ppt
Pertemuan 3-bioavailabilitas-dan-bioekivalensi.pptPertemuan 3-bioavailabilitas-dan-bioekivalensi.ppt
Pertemuan 3-bioavailabilitas-dan-bioekivalensi.ppt
 

Komunikasi-Antar-Budaya-Pertemuan-3.ppt

  • 1. Fungsi Kebudayaan Sebagai Penyaring : Peranan Persepsi dalam KAB • Salah satu fungsi kebudayaan ialah sebagai penyaring yang selektif bagi manusia dalam menghadapi dunia luar. Kebudayaan menentukan apa yang perlu diperhatikan atau perlu dihindari oleh manusia. Fungsi “screning” ini melindungi sistem syaraf manusia dari kejenuhan informasi (“information overload”) • Information overload diterapkan pada sistem pemrosesan informasi, yakni untuk menggambarkan suatu situasi yang rusak atau macetnya sistem, karena tidak mampu untuk menangani sedemikian besarnya jumlah informasi yang masuk.
  • 2.  Contoh dalam kehidupan: seseorang ibu yang berusaha memenuhi segala kebutuhan anak-anaknya, membereskan rumah, melayani suami, melayani kegiatan-kegiatan sosial pada saat yang sama, sekaligus akan mengalami ketegangan dalam hidupnya. Akibatnya bisa bermacam-macam, menderita jantung, depressi, darah tinggi, dll.  Agar individu dapat berperan dengan baik dan maksimal, perlu diadakan seleksi atas informasi atau stimuli yang datang dari luar. Proses penyeleksian yang dipengaruhi kebudayaan ini, disebut persepsi. Persepsi bersifat subyektif (“subjective reality”) kemudian menentukan tingkah laku termasuk tingkahlaku komunikasi.
  • 3. Pokok-Pokok Tentang Persepsi  Persepsi merupakan proses internal dalam menseleksi, mengevaluasi, dan mengatur stimuli dari luar: cara mendengar, melihat, mencium, meraba, merasa. Kegiatan perseptual dalam persepsi ini dipelajari.  Masing-masing individu mengadakan usaha untuk memahami lingkungan melalui perkembangan: (a) Struktur  kategorisasi (ukuran, bentuk, tekstur, warna, intensitas) untuk mengklasifikasikan lingkungan yang dapat berbeda pada diri setiap individu. (b) Stabilitas  dunia persepsi kita yang terstruktur mempunyai kelanggengan, tidak selalu berubah. Misalnya, pancaindera sangat sensitif, mampu secara intern menghafal perbedaan atau perubahan dari input sehingga dunia luar nampak tetap/tidak berubah. (c) Makna  mengkategorisasikan peristiwa dan menghubungkannya dengan peristiwa masa lain. Dibutuhkan kemampuan berbahasa yang maksimal.
  • 4. Dimensi-Dimensi Persepsi Untuk memahami bekerjanya proses persepsi terdapat dua aspek dasar dari persepsi : 1.Dimensi fisik (mengatur/mengorganisasi) menggambarkan perolehan informasi tentang dunia luar, tahap ini mencakup karakteristik stimulasi yang berupa energi, hakekat dan fungsi mekanisme penerimaan manusia (mata, telinga, hidung, mulut, dan kulit) serta transmisi data melalui sistem syaraf menuju otak, untuk kemudian diubah ke dalam bentuk yang bermakna. 2.Dimensi psikologis (menafsirkan) penanganan stimuli tentang keadaan individual (kepribadian, emosi, kecerdasan, pendidikan, keyakinan, nilai, sikap, motivasi, dll). Tahap ini, manusia menciptakan struktur, stabilitas dan makna bagi persepsi dan memberikan sifat pribadi serta penafsiran dunia luar. Kedua dimensi ini secara bersama-sama bertanggungjawab atas hasil- hasil persepsi, sehingga pengertian tentangnya akan memberikan gambaran ttg bagaimana persepsi terjadi.
  • 5. Sifat Persepsi yang Selektif (Samovar, Porter, Jain, 1981 ; 111-115) (1) Selective exposure; secara sengaja mencari situasi yang memudahkan untuk mempersepsikan beberapa hal tertentu. Selective non exposure; menghindar untuk mempersepsikan aspek-aspek tertentu dari lingkungan dengan cara tidak menempatkan diri dalam posisi yang memungkinkan untuk menghadapinya. Contoh : Orang yang baru membeli mobil, cenderung membaca iklan mengenai mobil tersebut daripada iklan tentang mobil lain yang tidak jadi dibeli. Contoh penghindaran selektif : jika kita dapat mengira seseorang akan menimbulkan kesulitan atau situasi yang tidak enak bagi kita, maka sebelumnya kita lebih baik menghindar. (2) Selective attention; kita hanya menaruh perhatian pada beberapa informasi, karena lingkungan terlalu luas dan kompleks untuk dapat memusatkan perhatian pada segala.
  • 6. Sifat Persepsi yang Selektif (Samovar, Porter, Jain, 1981 ; 111-115) (3) Selective Retention ; beberapa informasi, walaupun telah dipersepsi dan diproses, kemudian terlupakan, karena tidak dapat mempertahan atau menyimpan semua. Pada umumnya, informasi yang kita simpan dalam ingatan adalah yang menyenangkan, menunjang bayangan yang baik tentang diri sendiri, atau yang dirasakan perlunya untuk digunakan di kemudian hari. Contoh : kita akan tetap mengenang orang yang kita sukai/cintai/ada minat khusus. Hubungan Antara Persepsi dan Kebudayaan  Pemberian makna subyektif / pribadi pada obyek-obyek dan peristiwa- peristiwa di lingkungan tergantung pada pengalaman dan kebudayaan masing-masing individu  Semakin besar perbedaan orang, semakin lebar pula jurang perbedaan persepsi antara mereka  Latar belakang pengalaman yang tidak serupa mengakibatkan respons yang berbeda terhadap obyek/peristiwa yang sama, sehingga pola-pola perilaku mereka ikut berbeda.
  • 7. Empat hal yang mempengaruhi selective attention yang sangat dipengaruhi kebudayaan : 1.Kebutuhan Individu  contoh pada saat kita lapar, perhatian lebih banyak diarahkan pada iklan-iklan mengenai makanan. 2.Latihan dan Pengalaman Individu  contoh dosen, karena latihan yang telah diperolehnya, akan cepat melihat kesalahan pekerjaan mahasiswanya. 3.Harapan/Perkiraan  contoh dalam menilai seseorang, suatu hal yang dapat terjadi ialah kalau kita mengharapkan dia sebagai orang ramah, maka kita akan menyimpulkannya sebagai orang ramah. 4.Sikap  adalah kecenderungan untuk memberi respons secara khusus terhadap orang, obyek dan gagasan. Sikap dipelajari dan karenanya mencerminkan kebudayaan, dapat berubah, walau relatif konsisten. Misalnya: sikap terhadap golongan wanita dan peranannya dalam masyarakat di Arab dan Cina, berbeda.
  • 8. Empat hal yang mempengaruhi selective attention yang sangat dipengaruhi kebudayaan : 1.Kebutuhan Individu  contoh pada saat kita lapar, perhatian lebih banyak diarahkan pada iklan-iklan mengenai makanan. 2.Latihan dan Pengalaman Individu  contoh dosen, karena latihan yang telah diperolehnya, akan cepat melihat kesalahan pekerjaan mahasiswanya. 3.Harapan/Perkiraan  contoh dalam menilai seseorang, suatu hal yang dapat terjadi ialah kalau kita mengharapkan dia sebagai orang ramah, maka kita akan menyimpulkannya sebagai orang ramah. 4.Sikap  adalah kecenderungan untuk memberi respons secara khusus terhadap orang, obyek dan gagasan. Sikap dipelajari dan karenanya mencerminkan kebudayaan, dapat berubah, walau relatif konsisten. Misalnya: sikap terhadap golongan wanita dan peranannya dalam masyarakat di Arab dan Cina, berbeda.
  • 9. Stereotip dan Prasangka  Stereotip adalah suatu keyakinan yang terlalu digeneralisir dan terlalu dibuat mudah, disederhanakan, dilebih-lebihkan, mengenai suatu kategori atau kelompok orang tertentu (Samovar, Porter, jain, 1981 : 122)  Misalnya ; “orang Batak kasar”, “orang Padang licik”, “orang Jawa lamban”, “orang Sunda genit”, dll.  Keyakinan ini, biasanya relatif bersifat kaku dan diwarnai emosi. Sedangkan kategori merupakan konsep netral, faktual, dan tidak menilai, maka stereotip muncul bila kategori telah dibebani oleh gambaran dan penilaian .  Dimensi-dimensi stereotip :  Arah (direction), yakni disenangi atau tidak disenangi, atau sesuatu penilaian dianggap sebagai positif atau negatif.  Intensitas, yaitu seberapa kuatnya keyakinan akan suatu stereotip. Misalnya; “orang Betawi betul-betul pemalas”.  Ketepatan, artinya ada stereotip yang betul-betul tidak menggambarkan kebenaran, ada yang setengah benar, ada yang sebagiannya tidak tepat.  Isi khusus, yaitu sifat khusus tertentu mengenai suatu kelompok. Isi stereotip dapat berubah dengan berjalannya waktu.
  • 10. Stereotip dan Prasangka  Prasangka dirumuskan sebagai sikap kaku terhadap suatu kelompok manusia, berdasarkan keyakinan atau prakonsepsi yang salah (Samovar, Porter, Jain, 1981 : 123). Prasangka mengandung arti penilaian dini atau pra-penilaian yang tidak mudah diubah, walaupun telah dihadapkan pada pengetahuan baru tentang hal yang dinilai tadi. Bahkan orang cenderung emosional, jika prasangkanya ternyata diancam oleh kenyataan sebaliknya. Karakteristik dari Prasangka  Merupakan sikap yang ditujukan pada kategori tertentu, yakni pada sekelompok atau kategori manusia tertentu, bukan terhadap orang tertentu.  Merupakan sikap tidak adil dan irrasional.  Mempunyai sikap yang secara emosional kaku, artinya orang yang mempunyai prasangka tidak mudah/ tidak mau mengubah sikapnya walaupun ternyata kemudian prasangkanya salah
  • 11. Stereotip dan Prasangka Beda Stereotip dan Prasangka Stereotip adalah suatu keyakinan sedangkan prasangka merupakan sikap. Prasangka dapat mencakup gabungan yang menyeluruh dan saling berkaitan dri sejumlah keyakinan. Dimensi Prasangka Prasangka berbeda-beda dilihat dari segi arah dan intensitas. Prasangka bisa positif atau negatif. Biasanya prasangka memang lebih berunsur negatif. Dilihat dari segi intensitas, beberapa orang bisa mempunyai prasangka yang lebih keras/kuat dibandingkan orang-orang lain. Dalam hal ini, maka prasangka positif atau negatif dapat dilihat sebagai suatu continuum dari paling rendah sampai paling tinggi intensitasnya. Biasanya stereotip yang lebih keras juga menghasilkan prasangka yang keras. Asal mula timbulnya stereotip dan prasangka (1) Dari orang tua, saudara dan siapa saja yang berinteraksi dengan kita. (2) Dari pengalaman pribadi. (3) Dari media massa.
  • 12. Stereotip dan Prasangka Manifestasi dari Prasangka Sesuai Intensitas (1) Antilokusi; berbicara tentang sikap-sikap, perasaan-perasaan, pendapat-pendapat, dan stereotip tentang kelompok tertentu, dilakukan kebanyakan dengan teman-teman sendiri, walaupun terkadang dilakukan dengan orang yang masih asing. (2) Penghindaran diri dari orang-orang kelompok yang tidak disukai. (3) Diskriminasi; membuat perbedaan-perbedaan melalui tindakan- tindakan aktif, misalnya : tidak memperbolehkan orang-orang dari kelompok yang tidak disukai bekerja dalam bidang-bidang pekerjaan tertentu, misalnya : hak-hak politik, perumahan, pendidikan, hiburan, gereja, rumah sakit. (4) Serangan fisik; dalam keadaan emosi, bisa mengakibatkan kekerasan, misalnya pengusiran seluruh orang dari kelompok yang tidak disenangi dari lingkungan tempat tinggal tertentu. (5) Pemusnahan; hukum mati tanpa pengadilan, pembunuhan massal. Maka dapat disimpulkan tentang berlakunya tahapan sebgai berikut : Stereotip  Prasangka  Perilaku Terbuka
  • 13. Stereotip dan Prasangka Pengaruh Stereotip dan Prasangka Terhadap KAB (1) Stereotip dan prasangka dapat menyebabkan KAB tidak terjadi. Karena stereotip dan prasangka negatif yang kuat menyebabkan orang memilih unuk bertempat tinggal dan bekerja di tempat- tempat yang mengurangi kemungkinan terjadinya kontak dengan orang-orang dari kelompok-kelompok yang tidak disukai. (2) Stereotip dan prasangka cenderung menghasilkan hal-hal negatif selama terjadinya KAB, sehingga mempengaruhi kualitas interaksi. (3) Jika steretip dan prasangka sangat mendalam, maka orang akan terlibat dalam perilaku antikolusi dan diskriminasi aktif terhadap kelompok yang tidak disukai, yang dapat dengan mudah mengarah pada konfrontasi dan konflik terbuka. Kemungkinan Perubahan pada Stereotip dan Prasangka Ada beberapa situasi yang mendukung seperti status yang sama, kontak pribadi yang lebih akrab, imbalan atau hasil yang memuaskan, partisipasi bersama dalam kegiatan-kegiatan penting menuju tujuan yang sama