Tugas kuliah

720 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
720
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
9
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Tugas kuliah

  1. 1. KECERDASAN INTERPERSONAL DAN VISUAL SEPASIAL A. KECERDASAN INTERPERSONAL Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan untuk mengamati dan mengerti maksud, motivasi dan perasaan orang lain. Peka pada ekpresi wajah, suara dan gerakan tubuh orang lain dan ia mampu memberikan respon secara efektif dalam berkomunikasi. Kecerdasan ini juga mampu untuk masuk ke dalam diri orang lain, mengerti dunia orang lain, mengerti pandangan, sikap orang lain dan umumnya dapat memimpin kelompok. Kecerdasan interpersonal juga dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang berlangsung antar dua pribadi, mencirikan proses-proses yang timbul sebagai suatu hasil dari interaksi individu dengan individu lainnya. Kecerdasan interpersonal menunjukkan kemampuan seseorang untuk peka terhadap perasaan orang lain. Mereka cenderung untuk memahami dan berinteraksi dengan orang lain sehingga mudah bersosialisasi dengan lingkungan di sekelilingnya. Kecerdasan Interpersonal ini juga sering disebut sebagai kecerdasan sosial,selain kemampuan menjalin persahabatan yang akrab dengan teman, juga mencakup kemampuan seperti memimpin, mengorganisir, menangani perselisihan antarteman, memperoleh simpati dari peserta didik yang lain, dan sebagainya. Orang yang memiliki kecerdasan interpersonal yang rendah dapat memunculkan konflik interpersonal. Hal ini ditegaskan oleh Sullivan dalam Chaplin (2000:257) bahwa penyakit mental dan perkembangan kepribadian terutama sekali lebih banyak ditentukan oleh interaksi interpersonalnya daripada oleh faktor-faktor konstitusionalnya. Kecerdasan interpersonal, berhubungan dengan kemampuan untuk bisa mengerti dan menghadapi perasaan orang lain. Orang-orang ini seringkali ahli berkomunikasi dan pintar mengorganisasi, serta sangat sosial. Mereka biasanya baik dalam memahami perasaan dan motif orang lain. Cirri-ciri lain dari kecerdasan interpersonal adalah : suka bersosialisasi dengan teman seusianya, berbakat menjadi pemimpin, menjadi anggota klub, panitia, atau kelompok informal di antara teman seusianya, mudah bergaul , senang mengajari anak-anak lain secara informal, suka bermain dengan teman seusianya, mempunyai dua atau lebih teman dekat, memiliki empati yang baik atau memberi perhatian lebih kepada orang lain, banyak disukai teman dan dapat memahami maksud orang lain walaupun tersembunyi. Dr. Howard Gardner adalah tokoh yang mengembangkan tentang kecerdasan ganda. Yang salah satunya adalah tentang kecerdasan interpersonal, berikut ini akan di bahas tentang apa itu kecerdasan interpersonal. DEFINISI KECERDASAN INTERPERSONAL Kecerdasan interpersonal atau bisa dikatakan juga sebagai kecerdasan sosial, diartikan sebagai kemampuan dan keterampilan seseorang dalam menciptakan relasi, membangun relasi dan mempertahankan relasi sosialnya sehingga kedua belah pihak berada dalam situasi menang-menang atau menguntungkan.
  2. 2. Inteligensi Interpersonal adalah kemampuan untuk mengerti dan menjadi peka terhadap perasaan, intense, motivasi, watak, temperament orang lain. Kepekaan akan ekspresi wajah, suara. Isyarat dari orang lain juga masuk dalam inteligensi ini. Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan untuk berhubungan dengan orang-orang disekitar kita, kecerdasan ini adalah kemampuan kita untuk memahami dan memperkirakan perasaan, temperamen, suasana hati, maksud dan keinginan orang lain dan menanggapinya secara layak. Kecerdasan Sosial merujuk pada spectrum yang merentang dari secara instan merasa keadaan batiniah orang lain sampai memahami perasaan dan pikirannya. DIMENSI-DIMENSI KECERDASAN INTERPERSONAL Kecerdasan Interpersonal ini mempunyai tiga dimensi utama, yaitu a) social sensitivity, b) social insight, dan c) social communication (Anderson, 1999). Perlu di ingat bahwa ketiga dimensi tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dan ketiganya saling mengisi satu sama lainnya. Kecerdasan interpersonal ini merupakan kecerdasan yang lebih bersifat cristalized menurut konsep yang dikemukakan oleh Cattel (Azwar, 1973). Berikut ini tiga dimensi kecerdasan interpersonal : 1) social sensitivity (sensitivitas sosial). Kemampuan untuk mampu merasakan dan mengamati reaksi-reaksi atau perubahan orang lain yang ditunjukkannya baik secara verbal maupun non verbal. Anak yang memiliki sensivitas yang tinggi akan mudah memahami dan menyadari adanya reaksi-reaksi tertentu dari orang lain, entah reaksi tersebut positif ataupun negatif. 2) social insight Kemampuan seseorang untuk memahami dan mencari pemecahan masalah yang efektiff dalam satu interaksi sosial, sehingga masalah-masalah tersebut tidak menghambat apalagi menghancurkan relasi sosial yang telah di bangun. Di dalamnya juga terdapat kemampuan dalam memahami situasi sosial dan etika sosial sehingga anak mampu menyesuaikan dirinya dengan situasi tersebut. Fondasi dasar dari social insight ini adalah berkembangnya kesadaran diri anak secara baik. Kesadaran diri yang berkembang ini akan membuat anak mampu memahami keadaan dirinya baik keadaan internal maupun eksternal seperti menyadari emosi-emosinya yang sedang muncul, atau menyadari penampilan cara berpakaiannya sendiri, cara berbicaranya dan intonasi suaranya. 3) social communication Penguasaan keterampilan komunikasi sosial merupakan kemampuan individu untuk menggunakan proses komunikasi dalam menjalin dan membangun hubungan interpersonal yang sehat. Dalam proses menciptakan, membangun dan mempertahankan relasi sosial, maka seseorang membutuhkan sarananya. Tentu saja sarana yang digunakan adalah melalui proses komunikasi, yang mencakup baik komunikasi verbal, non verbal maupun komunikasi melalui penampilan fisik. Keterampilan komunikasi yang yang harus dikuasai adalah keterampilan mendengarkan afektif, keterampilan berbicara efektif, keterampilan public speaking dan keterampilan menulis secara efektif (Anderson, 1999).
  3. 3. KARAKTERISTIK KECERDASAN INTERPERSONAL Karakteristik anak yang memiliki kecerdasan interpersoanal yang tinggi yaitu : 1. Mampu mengembangkan dan menciptakan relasi sosial baru secara efektif, 2. Mampu berempati dengan orang lain atau memahami orang lain secara total, 3. Mampu mempertahankan relasi sosialnya secara efektif sehingga tidak musnah dimakan waktu dan senantiasa berkembang semakin intim/mendalam/penuh makna 4. Mampu menyadari komunikasi verbal maupun non verbal yang dimunculkan orang lain, atau dengan kata lain sensitive terhadap perubahan sosial dan tuntutan-tuntutannya. 5. Mampu memecahkan masalah yang terjadi dalam relasi sosialnya dengan pendekatan win-win solution serta yang paling penting adalah mencegah munculnya masalah dalam relasi sosialnya 6. Memiliki keterampilan komunikasi yang mencakup keterampilan mendengarkan efektif, berbicara efektif dan menulis secara efektif. Termasuk di dalamnya mampu menampilkan penampilan fisik yang sesuai dengan tuntutan lingkungan sosialnya. Cara mengembangkan Kecerdasan interpersonal pada anak usia dini, adalah sebagai berikut: A. Mengasah kepekaan simpati dan empati 1. Pilih siapa Merupakan permainan memilih teman yang paling di sukai dengan memberikan tanda pemilihan, seperti bunga atau tanda suka. Kegiatan ini bertujuan mengembangkan kemampuan bersimpati anak pada orang lain. 2. Diberi apa Permainan di beri apa merupakan kegiatan simbolis memberikan sesuatu yang dibutuhkan oleh orang lain. Kegiatan ini bertujuan mengembangkan kemampuan bersimpati kepada sesama. Selain itu, kemampuan berbagi dan berjiwa sosial juga turut di kembangkan melalui permainan ini. 3. Kalau aku jadi dia Kalau aku jadi dia merupakan kegiatan mengendalikan diri menjadi orang lain untuk melihat pikiran dan perasaan orang lain. Kegiatan ini bertujuan merangsang kemampuan berempati anak. Kegiatan ini juga menciptakan cikal bakal kemampuan melihat perspektif orang lain. 4. Apa maunya Apa maunya merupakan kegiatan menembak apa yang di butuhkan dan di inginkan oleh orang lain. Kegiatan ini bertujuan mengasah kepekaan dan empati anak serta mengembangkan kemampuan menangkap maksud dan motivasi orag lain. B. Bekerja sama 1. Mengangkat kardus besar Mengangkat kardus besar merupakan proyek sederhana memindahkan kardus besar (bekas televisi, magic jar, atu almari es) dari satu tempat ke tempat lain. Kegiatan ini bertujuan mengembangkan kemampuan bekerja sama anak.
  4. 4. 2. Selang bambu Selang bambu merupakan kegiatan menyirami tanaman atau menyirami halaman dengan menggunakan bambu yang di belah.Kegiatan ini bertujuan mengembangkan kemampuan bekerja sama anak dalam menyelesaikan suatu tugas. 3. Pasar-pasaran Pasar-pasaran merupakan bermain peran yang bertujuan mengembangkan kemampuan berinteraksi antar anak. 4. Kondektur-kondekturan Kondektur-kondekturan bertujuan mengembangkan kemampuan bermain peran dan berinteraksi antar anak dengan satu tujuan, yakni bekerja sama antara kondektur, sopir, dan penumpang. C. Berbagi Rasa Berbagi rasa merupakan salah satu indikator kecerdasan interpersonal yang melibatkan kemampuan bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain. 1. Cerita Pengalaman Menceritakan pengalaman merupakan kegiatan menyampaikan pikiran dan perasaan yang dialami dengan kata-kata di hadapan orang lain. Kegiatan ini bertujuan merangsang kemampuan anak berbagi rasa dengan orang lain. 2. Menghibur Teman Menghibur teman merupakan kegiatan memahami masalah orang lain dan memberikan perhatian atau menghiburnya agar tidak bersedih. Kegiatan ini bertujuan mengasah kemampuan bersimpati dan berbagi rasa. 3. Adil Tidak Prinsip keadilan terkandung dalam berbagi rasa. Peran pembicaraan dan pendengaran saling berganti, mencurahkan isi hati dan memahami masalah orang lain penting untuk diseimbangkan. Anak-anak perlu diyakinkan bahwa dalam berbagi rasa perlu ada keadilan. Adil tidak merupakan kegiatan memahamkan prinsipkeadilan pada anak melalui dialog dan bercakap-cakap. Kegiatan ini bertujuan merangsang kemampuan berbagi peran pada anak-anak. D. Menjalin Kontak Kemempuan menjalin kontak menunjukkan kecerdasan interpersonal yang tinggi. Anak-anak didorong untuk memiliki keberanian dan kemauan untuk menjalin kontak dan membina hubungan baik dengan orang. 1. Memuji Memuji merupakan tindakan memberikan apresiasi berupa kata-kata terhadap orang lain untuk menimbulkan rasa senang. Kegiatan ini bertujuan mengembangkan kemampuan menjalin kontakdengan anak-anak. E. Mengorganisasi Teman Anak mampu menempatkan teman-teman sebayanya sesai peran yang tepat. 1. Memimpin Proyek Kegiatan proyek bertujuan mengembangkan kemampuan anak mengorganisasi teman sebayanya melalui kegiatan merencanakan dan melaksanakan suau proyek.
  5. 5. 2. Permainan jurit Permainan jurit adalah kegiatan bermain dibawah pimpinan seorang anak dalam kelompok dan bertjuan mencapai suatu tujuan. Kegiatan ini bertujuan mengembangkan kemampuan anak memandu kelompok dan memupuk rasa percaya anak pada pemimpinnya. F. Menebak Suasana Hati Anak memiliki kemampuan menangkap suasana hati orang lain. 1. Hati Senang Hati Kacau Merupakan kegiatan belajar menebak suasana hati seseorang dengan memperhatikan ciri informasi yang diberikan. Kegiatan ini bertujuan menstimulasi kemampuan anak menangkap suasana hati orang lain. G. Memotivasi orang lain Anak dapat memotivasi orang lain. 1. Jadi Suporter Merupakan kegiatan memberikan dukungan berupa kata-kata untuk membangkitkan semangat kepada teman atau klub yang disukainya.Kegiatan ini bertujuan mengembangkan kemampuan anak dalam memotivasi orang lain. 2. Mendukung Teman Merupakan kegiatan memberikan dukungan berupa kata-kata atau tindakan untuk menimbulkan semangat pada orang atau keompok. Kegiatan ini bertujuan mengembangkan kemampuan memberikan motivasi kepada orang lain. Cara lain untuk mengembangkan kecerdasan interpersonal pada anak : 1. Mengembangkan dukungan kelompok 2. Menetapkan aturan tingkah laku 3. Memberi kesempatan bertanggung jawab dirumah 4. Bersama-sama menyelesaikan konflik 5. Melakukan kegiatan sosial dirumah 6. Menghargai perbedaan pendapat 7. Menumbuhkan sikap ramah dan memahami keragaman budaya lingkungan sosial 8. Melatih kesabaran menunggu giliran bicarra H. KECERDASAN VISUAL SPASIAL Kecerdasan ini merupakan kemampuan memahami bangun tiga dimensi (ruang secara tepat). Kecerdasan ini meliputi kepekaan pada warna, garis, bentuk, ruang dan hubungan antar unsur-unsur tersebut. Kecerdasan ini meliputi kemampuan membeyangkan, dan menyampaikan ide dalam bentuk gambar dua mapun tiga dimensi. Kemampuan yang terkait dengan kecerdasan visual-spasial adalah: 1) Mengenal bentuk, misalnya bentuk-bentuk geometri (bola, lingkaran, balok, wajik, segitiga, kubus, dll) 2) Mengenal warna
  6. 6. 3) Membuat bentuk atau rancang bangun Kecerdasan visual spasial Memuat kemampuan seorang anak untuk memahami secara lebih mendalam mengenai hubungan antara objek dan ruang. Anak-anak ini memiliki kemampuan menciptakan imajinasi bentuk dalam pikirannya, atau menciptakan bentuk-bentuk tiga dimensi. Setelah dewasa biasanya mereka akan menjadi pemahat, arsitek, pelukis, desainer, dan profesi lain yang berkaitan dengan seni visual. Psikolog perkembangan anak dari Klinik Anakku, Ike R Sugianto mengatakan cerdas visual spasial adalah kemampuan memahami, memproses, dan berpikir dalam bentuk visual. Anak dengan kecakapan ini mampu menerjemahkan bentuk gambaran dalam pikirannya ke dalam bentuk dua atau tiga dimensi. Pemahaman tata letak, arah dan posisi yang baik juga bagian dari kecerdasan ini. “Anak yang cepat menghapal jalan di usia 3-4 tahun bisa dikatakan cerdas visual spasial,” katanya. Anak dengan kecerdasan ini, lanjutnya, bisa terlihat anak mudah dan cepat memahami konsep visual-spasial serta terlihat antusias ketika melakukan aktivitas yang berkaitan dengan kemampuan ini seperti bermain puzzle, lego, balok-balok, menggambar dan mewarnai dan membuat peta. Misalnya ketika anak Anda berusia 4-5 tahun diminta membangun rumah-rumahan dari balok, jangan kaget melihatnya menyusun balok dengan tepat dan cepat tanpa bantuan pola atau contoh gambar. Menurut Howard Gardner, profesor pendidikan dari Harvard University, AS, dalam bukunya Multiple Intelligences, anak yang memiliki kepintaran visual akan dapat menyelesaikan masalah ruang (spasial). Anak mampu mengamati dunia spasial secara akurat, bahkan membayangkan bentuk-bentuk geometri dan tiga dimensi, serta kemampuan memvisualisasikan dengan grafik atau ide tata ruang (spasial). “Anak dengan kecerdasan visual spasial adalah pengamat dunia, mereka peka terhadap tanda-tanda alam dan mengamatinya secara menyeluruh,” ujarnya. Dari hasil penelitian yang dilakukan Gardner, orang-orang yang memiliki kepintaran visual spasial ini lebih banyak dipengaruhi otak kanan, yaitu bagian otak yang bertugas memproses ruang. Namun, sambung Gardner, kecerdasan ini bukan hanya anugerah semata dari Tuhan Yang Maha Esa tapi juga bisa ditumbuhkan. Asalkan orangtua bisa menstimulasi kemampuan ini melalui beragam kegiatan. Biasanya anak tipe ini sangat menggemari permainan-permainan ‘melihat melalui pikiran’ seperti menggambar atau membayangkan obyek dan permainan acting atau berpura-pura. “Latihan bisa diterapkan saat anak di usia balita awal lewat kegiatan sehari-harinya. Cara mengembangkan kecerdasan visual spasial pada anak : 1. Menggambar dan menulis 2. Mencoret-coret 3. Menyanyi, mengenal dan membayangkan suatu konsep 4. Membuat prakarya 5. Mengunjungi berbagai tempat 6. Melakukan permainan konstruktif dan kreatif 7. Mengatur dan merancang
  7. 7. Komponen Kecerdasan Visual Spasial Komponen inti dari kecerdasan visual spasial adalah kepekaan pada garis, warna, bentuk, ruang, keseimbangan, bayangan, harmoni, pola dan hubungan antar unsur tersebut. Komponen lainnya adalah kemampuan membayangkan mempresentasikan ide secara visual dan spasial, dan mengorientasikan diri secara tepat. Komponen inti dari kecerdasan visual spasial benar-benar bertumpu pada ketajaman melihat bdan ketelitian pengamatan. Indikator Kecerdasan Visual Spasial Anak Usia Dini 1. Anak menonjol dalam kemampuan menggambar, mampu menunjukkan detil unsur daripada anak-anak sebayanya. 2. Anak memiliki kepekaan terhadap warna, cepat mengenali warna , serta cepat dan mampu memadukan warna dengan lebih baik daripada anak-anak sebayanya. 3. Anak suka menjelajah lokasi di sekitarnya dan memperhatikan tata letakbenda-benda disekitarnya, sertacepat menghafal letak benda-benda. 4. Anak menyukai balok atau benda lain untuk membuat suatu bangun. 5. Anak suka melihat-lihat dan memperhatikan buku yang berilustrasi atau buku-buku penuh gambar. 6. Anak suka mewarnai berbagai gambar yang ada di buku, menebalkan garisnya dan menirunya. 7. Anak menikmati bermain kolase dari berbagai unsur 8. Anak memperhatikan berbagai jenis grafik, peta dan diagram. 9. Anak menikmati foto-foto dialbum 10. Anak senang bercerita tentang mimpinya. 11. Anak senang dengan profesi yang terkait dengan penggunaan kecerdasan visual spasial secara optimal seperti pelukis. 12. Anak dapat merasakan pola-pola sederhana dan mampu menilai pola mana yng lebih bagus dari pola lainnya.
  8. 8. BAB III PENUTUP Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan untuk mengamati dan mengerti maksud, motivasi dan perasaan orang lain. Cirri-ciri lain dari kecerdasan interpersonal adalah : suka bersosialisasi dengan teman seusianya, berbakat menjadi pemimpin, menjadi anggota klub, panitia, atau kelompok informal di antara teman seusianya, mudah bergaul , senang mengajari anak-anak lain secara informal, suka bermain dengan teman seusianya, mempunyai dua atau lebih teman dekat, memiliki empati yang baik atau memberi perhatian lebih kepada orang lain, banyak disukai teman dan dapat memahami maksud orang lain. Cara lain untuk mengembangkan kecerdasan interpersonal pada anak : 9. Mengembangkan dukungan kelompok 10. Menetapkan aturan tingkah laku 11. Memberi kesempatan bertanggung jawab dirumah 12. Bersama-sama menyelesaikan konflik 13. Melakukan kegiatan sosial dirumah 14. Menghargai perbedaan pendapat 15. Menumbuhkan sikap ramah dan memahami keragaman budaya lingkungan sosial 16. Melatih kesabaran menunggu giliran bicarra Kecerdasan visual spasial merupakan kemampuan memahami bangun tiga dimensi (ruang secara tepat). Kecerdasan ini meliputi kepekaan pada warna, garis, bentuk, ruang dan hubungan antar unsur-unsur tersebut. . Kemampuan yang terkait dengan kecerdasan visual-spasial adalah: 1) Mengenal bentuk, misalnya bentuk-bentuk geometri (bola, lingkaran, balok, wajik, segitiga, kubus, dll) 2) Mengenal warna 3) Membuat bentuk atau rancang bangun Cara mengembangkan kecerdasan visual spasial pada anak : 8. Menggambar dan menulis 9. Mencoret-coret 10. Menyanyi, mengenal dan membayangkan suatu konsep 11. Membuat prakarya 12. Mengunjungi berbagai tempat 13. Melakukan permainan konstruktif dan kreatif 14. Mengatur dan merancang
  9. 9. Daftar Pustaka http://tizarrahmawan.wordpress.com/2009/12/10/kecerdasan-interpersonal/ http://khairudicyber.blog.friendster.com/kecerdasan/kecerdasan-interpersonal/ http://belajarpsikologi.com/pengertian-kecerdasan-interpersonal-menurut-para-ahli/ http://didikz888.wordpress.com/tag/kecerdasan-visual-spasial-atau-cerdas-gambar/ http://duniaanak.lumbalumbi.com/2010/04/09/kecerdasan-visual-spasial/ Gardner, Howard. (1993). Multiple Intellegences: The Theory in Practice A Reader. New York: Basic Books Gardner, Howard. (2002). Kecerdasan Majemuk Teori dan Praktek. Jakarta : Indonesia Jasmine, Yulia. Teaching With Multiple Intellegancas. Teacher Created Material. Lwin, May,et,al. (2005). How to Multiply Your Child’s Intellegence: Cara Mengembangkan Berbagai Komponen Kecerdasan. Jakarta : Indeks.
  10. 10. BAB I PENDAHULUAN Akhir-akhir ini dunia pendidikan di Indonesia sedang memberbincangkan profesionalisme guru yang banyak menyedot perhatian dari berbagai kalangan. Mulai dari guru, akademisi, politisi, sampai wartawan menyoroti masalah profesionalisme guru. Kalangan guru menyambut gegap gempita seolah-olah mereka mendapatkan “durian runtuh” karena iming-iming mendapatkan tunjangan profesional tanpa adanya perlakuan yang beda antara guru negeri dan swasta. Para akademisi senantiasa memberikan perhatian bagaimana peningkatan profesionalisme guru. Para politisi dan wartawan senantiasa memberikan sorotan terhadap pelaksanaan sertifikasi di berbagai LPTK dan realisasi peningkatan kesejahteraan guru. Mutu pendidikan ditentukan oleh beberapa faktor penting yaitu: input, proses, dukungan ligkungan, sarana dan prasaranan. Berkaitan dengan faktor proses, guru menjadi faktor utama dalam penciptaan suasana pembelajaran. Guru dituntut dalam menjalankan tugasnya secara profesional. Upaya peningkatan kualitas pendidikan tidak mungkin terlaksana dengan baik apabila tidak dibarengi dengan upaya peningkatan standar kompetensi guru. Menurut Muchlas Samani, upaya peningkatan kualitas pendidikan harus dimulai dari aktor kuncinya, yaitu guru. Hasil studi yang dilakukan oleh Fasli Jalal dan Bahrudin Musthafa menyimpulakn bahwa guru merupakan kunci yang paling menentukan dalam keberhasilan pendidikan. Reformasi apapun yang dilakukan dalam pendidikan, seperti pembaharuan kurikulum, penyediaan sarana dan prasarana yang memadai, dan penerapan metode pembelajaran baru, tanpa guru yang bermutu, peningkatan mutu pendidikan tidak akan mencapai hasil yang maksimal. BAB II PROFESINALISME GURU SEBAGAI KEBUTUHAN Peranan guru sebagai pendidik profesional akhir-akhir ini telah dipertanyakan. Hal ini antara lain disebabkan oleh munculnya fenomena para lulusan pendidikan yang secara moral cenderung merosot dan secara intelektual akademik juga kurang siap untuk memasuki lapangan kerja. Semuanya ini terutama berkaitan erat peranan guru sebagai pendidik profesional. Bangsa Indonesia selama ini belum memberikan perhatian yang tinggi terhadap profesi guru. Profesionalisme guru di Indonesia sangat memprihatinkan. Di satu sisi masyarakat memberikan kedudukan yang tinggi pada guru, seperti pandangan masyarakat yang mengelu-elukan guru sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa” atau “sumber spiritualitas”. Namun, penghargaan ini tidak disertai dengan perhatian dan pemberian kesejahteraan yang memadai sehingga dalam realitas sosial sering ditemukan sosok guru yang “mengenaskan” seperti fakta guru yang menjalankan tugas sebagai guru di sekolah pada pagi hari dan sore hari berganti pekerjaan sebagai tukang ojek. Di satu sisi guru dijunjung tinggi, namun di sisi lain guru seolah “dicampakan” dan tidak dihargai sehingga seperti “tukang” dan pekerja “sambilan”. Selain itu, profesi guru di Indonesia selama ini sangat terbuka. Siapa saja bisa jadi guru. Meskipun tidak memiliki keahlian dan keterampilan padagogis, dengan niat saja seseorang bisa menjadi guru. Bahkan, yang lebih memprihatinkan profesi guru dianggap sebagai profesi “kecelakaan”. Seseorang terpaksa menjadi guru setelah sulit mendapatkan pekerjaan. Profesi guru dijadikan pelabuhan terakhir setelah kerepotan kesana kemari mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya tidak ditemukan. Tidak sedikit yang terjadi di sekolahsekolah di Indonesia, pengangkatan guru tanpa melalui seleksi. Tidak ada upaya penjaringan guru yang sesuai dengan bidang studi dan kualifikasi dan kebutuhan.
  11. 11. Siapa saja bisa menjadi guru. Bahkan, nepotisme sering mewarnai pengangkatan guru di sekolahsekolah. Kerena masih ada kedekatan atau kerabat dengan kepala sekolah, seseorang bisa diangkat menjadi guru meskipun tidak layak dan di bawah kualifikasi. Saat ini setidak-tidaknya ada empat hal yang berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi guru di Indonesia, yaitu: pertama; masalah kualitas/mutu guru. Kedua; jumlah guru yang dirasakan masih kurang. Ketiga; masalah distribusi guru dan masalah kesejahteraan guru. Kualitas guru di Indonesia, saat ini disinyalir sangat memprihatinkan. Realitas semacam ini, pada akhirnya akan mempengaruhi kualitas anak didik yang dihasilkan. Belum lagi masalah, dimana seorang guru sering mengajar lebih dari satu mata pelajaran yang tidak jarang, bukan merupakan corn (inti) dari pengetahuan yang dimilikinya, telah menyebabkan proses belajar mengajar menjadi tidak maksimal. Jumlah guru di Indonesia saat ini masih dirasakan kurang, apabila dikaitkan dengan jumlah anak didik yang ada. Oleh sebab itu, jumlah murid per kelas dengan jumlah guru yang tersedia saat ini, dirasakan masih kurang proporsional, sehingga tidak jarang satu ruang kelas sering diisi lebih dari 20 anak didik. Sebuah angka yang jauh dari ideal sebuah proses belajar mengajar yang dianggap efektif. Idealnya, setiap kelas didisi tidak lebih dari 15-20 anak didik untuk menjamin kualitas proses belajar mengajar yang maksimal. Masalah distribusi guru yang kurang merata, merupakan masalah tersendiri dalam dunia pendidikan di Idonesia. Di daerah-daerah terpencil, masing-masing kita dengar adanya kekurangan guru dalam satu wilayah, baik karena alasan keamanan maupun faktor-faktor lain, seperti masalah fasilitasi dan kesejahteraan guru yang dianggap masih jauh yang diharapkan. Sudah bukan menjadi rahasia umum, bahwa tingkat kesejahteraan guru sangat memprihatinkan. Penghasilan para guru, dipandang masih jauh dari mencukupi, apalagi bagi mereka yang masih berstatus sebagai guru bantu atau guru honorer. Kondisi seperi ini, telah merangsang sebagian para guru untuk mencari penghasilan tambahan, di luar dari tugas pokok meraka sebagai pengajar, termasuk berbisnis di lingkungan sekolah dimana mereka mengajar tenaga pendidik. Peningkatan kesejahteraan guru yang wajar, dapat meningkatkan profesionalisme guru, termasuk dapat mencegah para guru melakukan praktik bisnis di sekolah. Tidak dapat disangkal lagi bahwa profesionlisme guru merupakan sebuah kebutuhan yang tidak dapat ditunda-tunda lagi, seiring dengan semakin meningkatnya persaingan yang semakin ketat dalam era globalisasi seperti sekarang ini. Diperlukan orang-orang yang memang benar-benar ahli dibidangnya, sesuai dengan kapasitas yang dimiliki agar setiap orang dapat berperan secara maksimal, ternasuk guru sebagai sebuah profesi yang menuntut kecakapan dan keahlian tersendiri. Profesionalisme tidak hanya karena faktor tuntutan dari perkembangan zaman, tetapi pada dasarnya juga merupakan suatu keharusan bagi setiap individu dalam kerangka perbaikan kualitas hidup manusia. Profesionalisme menunut keseriusan dan kompetensi yang memadai, sehingga seseorang dianggap layak untuk melaksanakan sebuah tugas. Dalam era globalisasi, perkembangan informasi dan tekhnologi semakin canggih dan dunia kerja semakin kompleks sehingga menuntut adanya efisiensi, transparansi kualitas tinggi dan profesionalisme. Di samping itu masyarakat global akan semakin peka terhadap masalah-masalah demokrasi, hak asasi manusia, dan isu lingkungan hidup. Oleh karena itu sosok guru harus dipersiapkan sesuai dengan perkembangan zaman. Maka, peningkatan profesioalisme guru merupakan keniscayaan bagi guru dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Sosok guru saat ini harus mampu bekerja secara profional dalam melakukan proses tranformasi ilmu pengetahuan, teknologi, serta internalisasi etika dan moral.
  12. 12. BAB III STRATEGI PENINGKATAN KOMPETENSI GURU PROFISIONAL Kompetensi sering didefinisikan sebagai pengetahuan, ketrampilan, dan sikap nilai yang terwujud kebiasaan berfikir dan bertindak. Seorang guru dianggap kompeten jika secara konsisten mampu menampilkan/menunjukan kemampuan yang spesifik, yang sangat diamati, dan diukur. Seperti kemampuan guru dalam merancang perencanaan pembelajaran. Perencaan Pembelajran (RPP dan Silabus) adalah salah satu indikator dan wujud profesionalitas guru. Guru yang profesional adalah guru yang memiliki kemampuan menyusun perencaan pembelajaran yang bagus dan benar. Guru yang tidak mempersiapkan perencaan pembelajaran patut dipertanyakan profesionalismenya. Dalam Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasioal Pendidikan, pendidik atau guru merupakan salah satu aspek dalam pendidikan yang harus distandarkan untuk menjaga mutu pendidikan di Indonesia. Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kualifikasi akademik sebagaimana dimaksud di atas adalah tingkat pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik yang dubuktikan dengan ijasah dan/atau sertifikasi keahlian yang relevan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Sedangkan kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi kompetensi padagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan komptensi sosial. Selanjutnya, kompetensi guru profesional dijabarkan lebih detail melalui Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007. Menurut Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007, kompetensi profesional adalah penguasaan materi yang diampu, kemampuan mengembangkan materi yang diampu, serta kemampuan mengembangkan keprofesinalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif dengan memanfaatkan tekhnologi informasi. Sedangkan kompetensi padagogis guru adalah kemampuan yang terkait dengan kependidikan atau metodologis, seperti : 1. Menguasai karekteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, sosial, kultural, emosional, dan intelektual. 2. Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik. 3. Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan bidang pengembangan yang diampu. 4. Menyelenggarakan kegiatan pengembangan yang mendidik. 5. Memanfaatkan tekhnologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan penyelenggaraan kegiatan pengembangan yang mendidik. 6. Menfalisitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki. 7. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik. 8. Menyelenggarakan penilaiaan dan evaluasi proses dan hasil belajar. 9. Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran. 10. Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran. Dalam UU No. 14 Tahun 2005 ayat (5) menegaskan bahwa kompetensi kepribadian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurang-kurangnya mencakup kepribadian yang : 1. Mantap 2. Stabil 3. Dewasa 4. Arif dan bijaksana 5. Berwibawa 6. Berakhlaq mulia 7. Menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat 8. Secara objektif mengevaluasi kinerja sendiri, dan 9. Mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan. Ayat (16) menegaskan pula bahwa kompetensi sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat sekurang-kurangya meliputi kompetensi untuk : 1. Berkomunikasi lisan, tulisan, dan isyarat. 2. Mengggunakan tekhnologi komunukasi dan informasi secara fungsional. 3. Bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik; dan 4. Bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar. Noone Buchari, mengutip dari Tammy Belavek, menambahkan kiranya jika setiap guru yang ingin tampil terbaik seseorang guru seharusnya : 1. Memiliki misi 2. Memiliki suatu keyakinan positif bahwa dia mampu bekerja dengan sukses bersama-sama peserta didik. 3. Mengenal bahwa pilihan yang dibuat memiliki dampak yang mendalam terhadap keberhasilan dirinya. 4. Mengembangkan ketrampilan pemecahan masalah yang memungkinkan bagi guru untuk mengatasi setiap tantangan yang mereka hadapi. 5. Membangun hubungan positif dengan peserta didik. Mereka menyadari bahwa semakin banyak peserta didik percaya, semakin banyak keinginan peserta didik untuk belajar bersama guru. 6. Membangun hubungan yang positif dengan orang tua atau pengasuh. 7. Memelihara sikap positif. 8. Mengembangkan ketrampilan berkomunikasi yang membantu guru memotivasi dan meningkatkan efektifitas kegiatan kelas. 9.
  13. 13. Mengambil langkah yang diperlukan untuk menghindari guru. 10. Mengetahui penggunaan waktu dan usaha untuk memperoleh hasil yang terbaik dan kepuasan yang terbesar di luar mengajar. 11. Menjadi bagian dari keseluruhan tim sekolah. 12. Mengajar peserta didik dengan strategi pilihan, sehingga peserta didik dapat mencapai potensi yang tertinggi dan meraih keberhasilan. Mengigat posisi guru sebagai pekerjaan profesional, diperlukan beberapa strategi pengembangan profesionalisme agar guru memiliki kompetensi yang memadai dalam menjalankan tugas dan memberikan layanan pendidikan yang dapat dipertanggung jawabkan secara publik. Ada tiga level yang dapat dijadikan titik tolak sebagai strategi pengembangan profesionalsme, yaitu level personal , level sekolah, dan level pemerintah. Guru yang profesional selayaknya mencerminkan profil guru yang efektif (effective teacher) dan hebat (great teacher) yang bisa membangun kompetensi diri mulai dari kehidupan sehari-hari guru akan menjadi guru yang bermakna dan menjadi inspirasi bagi orang lain. Profil guru yang efektif dan hebat bisa mengembangkan tujuh kebiasaan (7th habits of highly affective family) dan delapan kebiasaan yang diterapkan dalam kehidupan baik di lingkungan sekolah ataupun di lingkungan sosial dimana mereka tinggal 7 (tujuh) habits/kebiasaan atau sering disebut dengan istilah (seven habits ) adalah terdiri beberapa kebiasaan sebagai berikut : 1. Proaktif. 2. Membangun visi (cita-cita). 3. Menyusun prioritas kehidupan. 4. Berusaha memahami orang lain lebih dulu baru mengharap orang lain memahami kita. 5. Saling menyenangkan dalam hubungan dengan orang lain. 6. Bersinergi dengan orang lain. 7. Memperbaharui kehidupan. Peningkatan profesionalisme guru di samping dimulai dari diri guru, juga didukung degan kebijakan di level sekolah. Sebagai organisasi yang di dalamnya terdiri dari orang yang mengurus atau mengelola dan atau dikelola, guru merupakan bagian yang harus dikelola dengan baik sehingga berdampak positif bagi sekolah. Peningkatan kompetensi guru dilevel sekolah melalui penerapan manajemen sekolah yang efektif dapat berupa ; 1. Pengembangan sekolah sebagai organisasi dan kaitannya dengan peningkatan kompetensi guru. 2. Pengembangan sekolah berbasis orientasi kesiswaan dengan melibatkan partisipasi aktif siswa dan guru. Dimensi berikutnya dalam meningkatkan kompetensi guru adalah melalui kebijakan dilevel pemerintah, yang meliputi ; 1. Pengembangan standar profesional. 2. Pengujian kompetensi, baik guru lama maupun guru baru. 3. Menekankan kualitas guru dari pada kuantitas. 4. Evaluasi kompetensi guru secara periodik. 5. Pengembangan profesional (Inservice Training). 6. Penegakan kode etik. BAB IV MENGUKUR PROFESIONALITAS GURU MELALUI SERTIFIKASI GURU Sertifikasi adalah proses pemberian sertfikat pendidik kepada guru yang telah memenuhi persyaratan dan kreteria profesionalisme guru. Menurut Muchslas Samani, sertifikasi diperlukan untuk menentukan tingkat kelayakan seseorang guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran di sekolah atau di madrasah dan sekaligus memberikan sertifikat pendidik bagi guru yang telah memenuhi syarat dan lulus uji sertifikasi. Jika guru telah memenuhi kreteria yang dipersyaratkan berhak mendapatkan “Sertifikat Pendidik” sebagai bukti penguasaan kompetensi minimal yang dilakukan melalui eveluasi yang cermat dan komprehensif dari aspek-aspek pembentukan sosok guru yang kompeten dan profesional. Oleh karena itu, sertifikasi diperlukan untuk menentukan tingkat kelayakan seseorang guru dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran di sekolah atau di madarasah dan sekaligus memberikan sertifikat pendidik bagi guru yang telah memenuhi syarat dan lulus uji sertifikasi. Lebih lanjut Muchlas Samani menjelaskan bahwa “sertifikasi guru” perlu dilaksanakan karena sebagai pertimbangan; pertama, melindungi profesi guru dari praktik-praktik layanan yang tidak kompeten sehingga dapat merusak citra profesi guru. Kedua; melindungi masyarakat dari praktik-praktik pendidikan yang tidak berkualitas dan profesional yang dapat menghambat upaya peningkatan kualitas pendidikan dan penyiapan sumber daya manusia di Indonesia. Ketiga; menjadi wahana penjaminan mutu bagi LPTK yang bertugas mempersiapkan calon guru dan berfungsi sebagai kontrol mutu bagi pengguna layanan pendidikan. Keempat; menjaga lembaga penyelanggara pendidikan dari keinginan internal dan tekanan eksternal yang potensial menyimpang dari ketentuan-ketentuan yang berlaku. Sertifikat pendidikan merupakan bukti kelayakan dan profesionalitas guru.sebagai konsekuensinya, guru yang dinyatakan layak dan mendapatkan legalisasi “sertifkat pendidik” akan mendapatkan tunjangan profesional untuk peningkatan kesejahteraan dan menunjang pengembangan profesionalitas guru.
  14. 14. Dalam hal ini, pemerintah mengambil peran dalam pembayaran tunjangan profesional guru dengan menyiapkan anggaran nasional. Namun perlu diwaspadai agar program sertifikasi tidak diselewengkan sekedar legalisasi untuk memperoleh tunjanngan profesi, tetapi lebih sebagai upaya meningkatkan kompetensi. Kompetensi guru diyakini tidak secara otomatis menjadi baik dengan menaikan remunerasi saja. Oleh sebab itu, diperlukan upaya mengubah motivasi dan kinerja guru secara terencana, terarah, dan bersinambungan. BAB V PENUTUP Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia adalah dengan adanya sertifikasi guru, namun yang harus mendapat perhatian adalah bagaimana pelaksaaan sertifikasi. Pelaksanaan sertifikasi tanpa diimbangi kompetisi akan berubah menjadi lembaga formalisasi profesi guru. Jika guru sudah mendapatkan “sertifikat pendidik” dan mendapatkan tunjangan profesinalitas, bagaimana menyiapkan mekanisme untuk mendorong “kinerja profesonal” guru. Tanpa mekanisme ini “setifikat pendidik” hanya akan menjadi formalitas bagi profesinalisme guru. Pemerintah mengeluarkan anggaran yang cukup besar akan sis-sia sehingga bukan profesinalime guru yang dicapai, tetapi pemborosan dan formalitas. Akibatnya, guru dan calon guru akan mengejar-ngejar “selembar kertas” hanya untuk mendapatkan tunjangan profesi dan kesejahteraan belaka tanpa diimbangai mutu, dedikasi, dan kinerja untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

×