Pembahasan

4,003 views

Published on

0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
4,003
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
104
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Pembahasan

  1. 1. 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kurikulum merupakan suatu hal yang penting karena kurikulum bagian dari program pendidikan. Tujuan utamanya adalah meningkatkan kualitas pendidikan dan bukan semata- mata hanya menghasilkan suatu bahan pelajaran. Kurikulum tidak hanya memperhatikan perkembangan dan pembangunan masa sekarang tetapi juga mengarahkan perhatian ke masa depan. Istilah kurikulum (curriculum), yang pada awalnya digunakan dalam dunia olahraga, berasal dari kata curir (pelari) dan curere (tempat berpacu). Pada saat itu kurikulum diartikan sebagai jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari mulai dari start sampai finish untuk memperoleh medali atau penghargaan. Kurikulum berasal dari bahasa Inggris “Curriculum” berarti Rencana Pelajaran. (S. Wojowasito-WJS. Poerwadarminta, 1980 : 36.). Secara istilah, kurikulum adalah “seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”. (Depag. RI. Dir. Jen. Kelembagaan Agama Islam, 2004 : 2). Dari pengertian tersebut kurikulum sangat besar pengaruhnya dalam proses belajar mengajar disekolah, yang merupakan jembatan untuk tercapainya suatu tujuan Pendidikan Nasional. Pada perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh perubahan global, perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi, serta seni dan budaya. Perkembangan dan perubahan yang secara terus menerus menuntut perlunya sistem Pendidikan Nasional termasuk penyempurnaan kurikulum untuk mewujudkan masyarakat yang mampu bersaing dan menyesuaikan diri dengan perubahan zaman tersebut. Pengertian pendidikan jasmani sering dikaburkan dengan konsep lain. Konsep. Itu menyamakan pendidikan jasmani dengan setiap usaha atau kegiatan yang mengarah pada
  2. 2. 2 pengembangan organ-organ tubuh manusia (body building), kesegaran jasmani (physical fitness), kegiatan fisik (physical activities), dan pengembangan keterampilan (skill development). Pengertian itu memberikan pandangan yang sempit dan menyesatkan arti pendidikan jasmani yang sebenarnya. Walaupun memang benar aktivitas fisik itu mempunyai tujuan tertentu, namun karena tidak dikaitkan dengan tujuan pendidikan, maka kegiatan itu tidak mengandung unsur-unsur pedagogik. Pendidikan jasmani bukan hanya merupakan aktivitas pengembangan fisik secara terisolasi, akan tetapi harus berada dalam konteks pendidikan secara umum (general education). Sudah barang tentu proses tersebut dilakukan dengan sadar dan melibatkan interaksi sistematik antar pelakunya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Penulisan makalah ini mempunyai alasan yaitu kurikulum merupakan komponen yang amat penting di dunia pendidikan, karena kurikulum merupakan suatu usaha yang menjembatani tercapainya Pendidikan Nasional maka perlu dilakukan kajian-kajian tentang perkembangan kurikulum. 1.2 Rumusan Masalah Masalah yang akan dibahas meliputi : 1. Apa yang dimaksud kurikulum? 2. Apa sajakah konsep dasar kurikulum ? 3. Apa sajakah dimensi-dimensi dalam kurikulum ? 1.3 Tujuan dan Manfaat Adapun Tujuan dan Manfaat yang didapat dari makalah ini antara lain : a. Memahami pengertian kurikulum b. Memahami penjelasan dan pemaparan tentang konsep dasar kurikulum c. Mengetahui dimensi-dimensi dalam kurikulum d. Menambah pengetahuan dan wawasan mengenai konsep dasar dan dimensi dalam kurikulum e. Memenuhi salah satu syarat tugas Mata Kuliah Kurikulum dan Pembelajaran
  3. 3. 3 BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Kurikulum Untuk mendapatkan rumusan tentang pengertian kurikulum, para ahli mengemukakan pandangan yang beragam. Dalam pandangan tradisional (klasik), kurikulum dipandang sebagai rencana pelajaran di suatu sekolah (Hilda Taba, 1962; Zais, 1976; Nana Sudjana, 1996; Nana S. Sukmadinata, 1997). Pelajaran-pelajaran apa yang harus ditempuh di sekolah, itulah kurikulum. Sedangkan dalam pandangan modern, arti kurikulum lebih dianggap sebagai suatu pengalaman atau sesuatu yang nyata terjadi dalam proses pendidikan (J. Galen Saylor & William M. Alexander,1956; Ronald C. Doll, 1974). Dalam hal ini, Hamid Hasan (1988) mengemukakan bahwa untuk mencari rumusan kurikulum dapat ditinjau dari empat dimensi, yaitu : (1) kurikulum sebagai suatu ide; (2) kurikulum sebagai suatu rencana tertulis, sebagai perwujudan dari kurikulum sebagai suatu ide; (3) kurikulum sebagai suatu kegiatan, yang merupakan pelaksanaan dari kurikulum sebagai suatu rencana tertulis; dan (4) kurikulum sebagai suatu hasil yang merupakan konsekwensi dari kurikulum sebagai suatu kegiatan. Dalam konteks pendidikan nasional, secara formal kurikulum lebih diartikan sebagai suatu rencana atau dokumen tertulis. Hal ini bisa dilihat dari pengertian kurikulum sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003, yang berbunyi bahwa “ kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Pengertian kurikulum senantiasa berkembang terus sejalan dengan perkembangan teori dan praktik pendidikan. Dengan beragamnya pendapat mengenai pengertian kurikulum maka secara teoritis agak sulit menentukan satu pengertian yang dapat merangkum semua pendapat. Namun, pemahaman konsep dasar mengenai kurikulum ini tetaplah penting adanya. Berikut ini adalah beberapa pengertian kurikulum ditinjau dari beberapa sudut pandang.
  4. 4. 4 Istilah kurikulum digunakan pertama kali pada dunia olahraga zaman Yunani kuno yang berarti “jarak yang ditempuh”. Semula dipakai dalam dunia olahraga. Pada saat itu kurikulum diartikan sebagai jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari mulai dari start sampai finish untuk memperoleh medali atau penghargaan. a. Pengertian Kurikulum Secara Tradisional Pertengahan abad ke XX pengertian kurikulum berkembang dan dipakai dalam dunia pendidikan yang berarti “sejumlah pelajaran yang harus ditempuh oleh siswa untuk kenaikan kelas atau ijazah”. Pengertian ini termasuk juga dalam pandangan klasik, dimana disini lebih ditekankan bahwa kurikulum dipandang sebagai rencana pelajaran di suatu sekolah yang mencakup pelajaran-pelajaran dan materi apa yang harus ditempuh di sekolah, itulah kurikulum. b. Pengertian Kurikulum Secara Modern Menurut Saylor J. Gallen & William N. Alexander dalam bukunya “Curriculum Planning” menyatakan Kurikulum adalah “Keseluruhan usaha sekolah untuk mempengaruhi belajar baik berlangsung dikelas, dihalaman maupun diluar sekolah”. Menurut B. Ragan, beliau mengemukakan bahwa “Kurikulum adalah semua pengalaman anak dibawah tanggung jawab sekolah”. Menurut Soedijarto, “Kurikulum adalah segala pengalaman dan kegiatan belajar yang direncanakan dan diorganisir untuk diatasi oleh siswa atau mahasiswa untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan bagi suatu lembaga pendidikan”. Dari berbagai pengertian kurikulum diatas dapat disimpulkan bahwa kurikulum ditinjau dari pandangan modern merupakan suatu usaha terencana dan terorganisir untuk menciptakan suatu pengalaman belajar pada siswa dibawah tanggung jawab sekolah atau lembaga pendidikan untuk mencapai suatu tujuan. c. Pengertian Kurikulum Dari Berbagai Ahli Istilah “Kurikulum” memiliki berbagai tafsiran yang dirumuskan oleh pakar-pakar dalam bidang pengembangan kurikulum sejak dulu sampai dewasa ini. Tafsiran-tafsiran tersebut berbeda-beda satu dengan yang lainnya, sesuai dengan titik berat inti dan pandangan dari pakar yang bersangkutan. Secara etimologi, kurikulum berasal dari bahasa Latin “curriculum” yang berarti bahan pengajaran. Ada yang mengatakan bahwa kata kurikulum berasal dari bahasa Perancis
  5. 5. 5 “courier” yang berarti berlari. Di samping itu, dijelasakan juga sebagai rel pacuan kuda ditengah lapangan yang harus dilewati dan tidak boleh dilangggar. Istilah kurikulum berasal dari bahas latin, yakni “Curriculae”, artinya jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari. Pada waktu itu, pengertian kurikulum ialah jangka waktu pendidikan yang harus ditempuh oleh siswa yang bertujuan untuk memperoleh ijazah. Dengan menempuh suatu kurikulum, siswa dapat memperoleh ijazah. Dalam hal ini, ijazah pada hakikatnya merupakan suatu bukti , bahwa siswa telah menempuh kurikulum yang berupa rencana pelajaran, sebagaimana halnya seorang pelari telah menempuh suatu jarak antara satu tempat ketempat lainnya dan akhirnya mencapai finish. Dengan kata lain, suatu kurikulum dianggap sebagai jembatan yang sangat penting untuk mencapai titik akhir dari suatu perjalanan dan ditandai oleh perolehan suatu ijazah tertentu. Adapun secara terminologis, kurikulum adalah a plan for learning yang disiapkan dan direncanakan oleh para ahli pendidikan untuk pelajaran anak didik baik berlangsung didalam kelas maupun diluar kelas. George A. Beauchamp (1986) mengemukakan bahwa : “ A Curriculun is a written document which may contain many ingredients, but basically it is a plan for the education of pupils during their enrollment in given school”. Dalam pandangan modern, pengertian kurikulum lebih dianggap sebagai suatu pengalaman atau sesuatu yang nyata terjadi dalam proses pendidikan, seperti dikemukakan oleh Caswel dan Campbell (1935) yang mengatakan bahwa kurikulum to be composed of all the experiences children have under the guidance of teachers. Dipertegas lagi oleh pemikiran Ronald C. Doll (1974) yang mengatakan bahwa : “the curriculum has changed from content of courses study and list of subject and courses to all experiences which are offered to learners under the auspices or direction of school. Untuk mengakomodasi perbedaan pandangan tersebut, Hamid Hasan (1988) mengemukakan bahwa konsep kurikulum dapat ditinjau dalam empat dimensi, yaitu: 1. kurikulum sebagai suatu ide, yang dihasilkan melalui teori-teori dan penelitian, khususnya dalam bidang kurikulum dan pendidikan. 2. kurikulum sebagai suatu rencana tertulis, sebagai perwujudan dari kurikulum sebagai suatu ide; yang didalamnya memuat tentang tujuan, bahan, kegiatan, alat-alat, dan waktu. 3. kurikulum sebagai suatu kegiatan, yang merupakan pelaksanaan dari kurikulum sebagai suatu rencana tertulis dalam bentuk praktek pembelajaran.
  6. 6. 6 4. kurikulum sebagai suatu hasil yang merupakan konsekwensi dari kurikulum sebagai suatu kegiatan, dalam bentuk ketercapaian tujuan kurikulum yakni tercapainya perubahan perilaku atau kemampuan tertentu dari para peserta didik. Untuk mengakomodasi perbedaan pandangan tersebut, Purwadi (2003) memilah pengertian kurikulum menjadi enam bagian : a. kurikulum sebagai ide b. kurikulum formal berupa dokumen yang dijadikan sebagai pedoman dan panduan dalam melaksanakan kurikulum c. kurikulum menurut persepsi pengajar d. kurikulum operasional yang dilaksanakan atau dioprasional kan oleh pengajar di kelas e. kurikulum experience yakni kurikulum yang dialami oleh peserta didik dan f. kurikulum yang diperoleh dari penerapan kurikulum. Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional sebagaimana dapat dilihat dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 menyatakan bahwa: “Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”. Sehubungan dengan banyaknya definisi tentang kurikulum, dalam implementasi kurikulum kiranya perlu melihat definisi kurikulum yang tercantum dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat (19) yang berbunyi: Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Lebih lanjut pada pasal 36 ayat (3) disebutkan bahwa kurikulum disusun sesuai dengan jenjang dan jenis pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan:  Peningkatan iman dan takwa;  Peningkatan akhlak mulia  Peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik  Keragaman potensi daerah dan lingkungan  Tuntutan pembangunan daerah dan nasional  Tuntutan dunia kerja
  7. 7. 7  Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni  Agama  Dinamika perkembangan global  Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan. Pasal ini jelas menunjukkan berbagai aspek pengembangan kepribadian peserta didik yang menyeluruh dan pengembangan pembangunan masyarakat dan bangsa, ilmu, kehidupan agama, ekonomi, budaya, seni, teknologi dan tantangan kehidupan global. Artinya, kurikulum haruslah memperhatikan permasalahan ini dengan serius dan menjawab permasalahan ini dengan menyesuaikan diri pada kualitas manusia yang diharapkan dihasilkan pada setiap jenjang pendidikan. Perubahan Paradigma pengembangan kurikulum di indonesia diawali dengan lahirnya peraturan No.19 Tahun 2005 tentang standar Nasional Pendidikan dan kemudian diikuti oleh Permendiknas No. 23 Tahun 2006 tentang Standar Kopetansi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Khususna pada pasal 17 ayat 2 dinyatakan bahwa “Sekolah dan komite sekolah, atau madrasah dan komite madrasah, mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan, di bawah supervisi dinas kabupaten/ kota yang bertanggung jawab di bidang pendidikan. Adanya kebijakan tersebut mengimplikasi bahwa kurikulum tidak lagi disusun oleh pemerintah sebagaimana yang terjadi pada penyusunan kurikulum terdahulu. Akan tetapi kurikulum dibuat oleh masing-masing satuan pendidikan yang dikenal dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pengertian kurikulum menurut para ahli inilah pengertian kurikulum secara terminologi. Ada banyak sekali para ahli yang berpendapat mengenai pengertian kurikulum, namun yang disebutkan pada artikel ini hanya ada beberapa, antara lain: a. Kurikulum adalah rancangan pengajaran atau sejumlah mata pelajaran yang disusun secara sistematis untuk menyelesaikan suatu program untuk memperoleh ijazah. (Crow and Crow). b. Kurikulum adalah kelompok pengajaran yang sistematik atau urutan subjek yang dipersyaratkan untuk lulus atau sertifikasi dalam pelajaran mayor, misalnya kurikulum pelajaran sosial, kurikulum pendidikan fisika (Carter V. Good dalam Oliva, 191:6).
  8. 8. 8 c. Kurikulum adalah seluruh pengalaman siswa di bawah bimbingan guru (Hollis L. Caswell and Doak S. Campbell dalam Oliva, 1991:6). d. Kurikulum adalah sebagai sebuah perencanaan untuk memperbaiki seperangkat pembelajaran untuk seseorang agar menjadi terdidik (J. Galen Saylor, William M. Alexander, and arthur J. Lewis dalam Oliva 1991:6). e. Kurikulum pada umumnya berisi pernyataan tujuan dan tujuan khusus, menunjukkan seleksi dan organisasi konten, mengimplikasikan dan memanifestasikan pola belajar mengajar tertentu, karena tujuan menuntut mereka atau karena organisasi konten mempersyaratkannya. Pada akhirnya, termasuk di dalamnya program evaluasi outcome (Hilda Taba dalam Oliva, 1991:6). f. Kurikulum sekolah adalah konten dan proses formal maupun non formal di mana pebelajar memperoleh pengetahuan dan pemahaman, perkembangan skil, perubahan tingkah laku, apresiasi, dan nilai-nilai di bawah bantuan sekolah (Ronald C. Doll dalam Oliva, 1991:7). g. Kurikulum adalah rekonstruksi dari pengetahuan dan pengalaman secara sistematik yang dikembangkan sekolah (atau perguruan tinggi), agar dapat pebelajar meningkatkan pengetahuan dan pengalamannnya (Danniel Tanner and Laurel N. Tanner dalam Oliva, 1991:7). h. Kurikulum dalam program pendidikan dibagi menjadi empat elemen yaitu program belajar, program pengalaman, program pelayanan, dan kurikulum tersembunyi (Abert I. Oliver dalam Oliva, 1991:7). i. Kurikulum mengandung konten (subject matter), pernyataan tujuan (terminal objective), urutan konten, pre-asesmen dari entri skill yang dipersyaratkan pada siswa ketika mulai belajar konten (Roert M. Gagne dalam Oliva, 1991:7). j. Kurikulum adalah sejumlah pengalaman pendidikan kebudayaan, sosial, olahraga, dan kesenian yang disediakan oleh sekolah bagi murid-murid di dalam dan di luar sekolah dengan maksud menolongnya untuk berkembang menyeluruh dalam segala segi dan merubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan-tujuan pendidikan (Dr. Addamardasyi dan Dr. Munir Kamil). Kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang harus di tempuh murid untuk memperoleh ijazah. Pengertian tadi mempunyai imflikasi sebagai berikut: a) kurikulum terdiri atas sejumlah mata pelajaran .mata pelajar sendiri hakikatnya adalah pengalaman nenek moyang di masa lampau.berbagai pengalaman tersebut di
  9. 9. 9 pilih,dianalisis,serta di susun secara sistematis dan logis,sehingga muncul mata pelajaran seperti searah, ilmu hayat,ilmu bumi dan sebagainya. b) mata pelajaran adalah sejumlah informasi atau pengetahuan,sehingga menyimpan mata pelajaranpada siswa akan membentuk mereka menadi manusia yang mempunyai kecerdasan berfikir. c) mata pelajaran menggambarkan kebudayaan masa lampau.adapun pengajaran berarti penyampaian kebudayaan kepada generasi muda. d) tujuan mempelajari mata pelajaran yang untuk memperoleh ijazah.ijazah di posisikan sebagai tujuan ,sehingga menguasai mata pelajaran berarti telah mencapai tujuan belajar. e) adanya aspek keharusan bagian setiap sisiwa untuk mempelajari yang sama.akibatnya,faktor minat dan kebutuhan siswa tidak di pertimbangakan dalam penyusunan kurikulum. f) sistem penyampaian yang di gunakan oleh guru adalah sistem penuangan(imposisi) akibatnya,dalam kegiatan belajar gurulah yang lebih banyak bersikap aktif,sedangkan siswa hanya bersifat pasif belaka. Implikasai perumusan di atas adalah sebagai berikut : a) tafsiran tentang kurikulum bersifat luas, karena kurikulum bukan hanya terdiri atas mata pelajaran (courses), tetapi meliputi semua kegiatan dan pengalaman yang menjadi tanggung jawab sekolah. b) Sesuai dengan pandangan ini,berbagai kegiatan di luar kelas (yang dikenal dengan ekstrakurikuler) sudah tercakup dalam pengertian kurikulum.oleh karena itu,tidak ada pemisahan antara intra dan ekstrakurikulum. 2.2 Konsep Dasar Kurikulum Kurikulum merupakan salah satu bagian terpenting dalam pendidikan. Kurikulum memuat tujuan dan konten pendidikan yang akan di sampaikan kepada peserta didik. Untuk dapat menyusun, melaksanakan, dan mengevaluasi kurikulum, terlebih dahulu kita harus memahami konsep dasar dari kurikulum itu sendiri. Kurikulum merupakan suatu rancangan pembelajaran yang berlandaskan pada tujuan pendidikan. Dalam proses belajar mengajar sendiri, kurikulum sangat dibutuhkan karena
  10. 10. 10 tanpa adanya kurikulum proses belajar mengajar tidak akan berjalan. Kurikulum digunakan sebagai acauan dalam proses belajar mengajar. Kata kurikulum berasal dari bahasa Yunani yaitu curriculum yang berarti jarak yang harus ditempuh. Dari dunia atletik istilah ini dipakai dalam dunia pendidikan dengan arti sejumlah mata pelajaran tertentu yang harus ditempuh atau sejumlah pengetahuan yang harus dikuasai untuk mencapai suatu tingkat atau ijazah (Nasution, 1986). Namun seiring dengan perkembangannya, pengertian kurikulum sekarang semakin luas, Ralph Tyler mengemukakan bahwa kurikulum sebagai semua pengalaman belajar yang direncanakan dan diarahkan oleh sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan. Sedangkan menurut Harnack, kurikulum meliputi semua pengalaman belajar dan mengajar yang terpimpin dan diarahkan oleh sekolah. Dari definisi dua ahli tersebut, dapat terlihat bahwa kurikulum bukan hanya rancangan pembelajaran di kelas, namun rancangan keseluruhan dari proses pembelajaran baik itu di kelas maupun di luar kelas. Seorang calon pendidik maupun yang sudah menjadi pendidik wajib mengetahui dan memahami konsep dasar kurikulum karena kurikulum merupakan inti dalam penyelenggaraan pendidikan. Sukmadinata dalam Dede Rosyada memiliki beberapa prinsip yang bisa dipegang, diantaranya: 1. Kurikulum sebagai substansi, yakni rencana kegiatan belajar para siswa di sekolah, mencakup rumusan-rumusan tujuan, bahan ajar, proses kegiatan pembelajaran, jadwal, dan hasil evaluasi belajar. Kurikulum tersebut merupakan konsep yang telah disusun oleh para ahli dan disepakati oleh para pengambil kebijakan pendidikan serta oleh masyarakat sebagai bagian dari hasil pendidikan; 2. Kurikulum sebagai sebuah sistem, yakni merupakan rangkaian konsep tentang berbagai kegiatan pembelajaran yang masing-masing unit kegiatan memiliki keterkaitan secara koheren dengan lainnya. Kurikulum itu sendiri memiliki korelasi dengan semua unsur dalam sistem pendidikan secara keseluruhan; 3. Kurikulum merupakan sebuah konsep yang dinamis, terbuka, dan membuka diri terhadap berbagai gagasan perubahan serta penyesuaian dengan tuntutan pasar atau tuntutan idealisme pengembangan peradaban umat manusia. Komponen-komponen dari kurikulum terdiri dari tujuan, isi/materi, metode/strategi yang di gunakan untuk menyampaikan isi/materi, dan evaluasi. Tujuan dalam kurikulum harus berlandaskan pada tujuan pendidikan. Sedangkan isi/materi dari kurikulum tersebut
  11. 11. 11 harus menunjang dan memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik secara optimal sesuai dengan tujuan yang telah di tetapkan. Metode/strategi yang di gunakan untuk menyampaikan isi/materi kurikulum harus relevan dengan tujuan yang ingin di capai. Sedangkan evaluasi dalam kurikulum bertujuan untuk mengetahui dan meninjau ulang apakah kurikulum tersebut perlu di pertahankan atau tidak. Seperti halnya para ahli ilmu sosial lainnya, para ahli teori kurikulum juga dituntut untuk : 1. mengembangkan definisi-definisi deskriptif dan preskriptif dari istilah-istilah teknis 2. mengadakan klasifikasi tentang pengetahuan yang telah ada dalam pengetahuan- pengetahuan baru 3. melakukan penelitian inferensial dan prediktif 4. mengembangkan subsubteori kurikulum, mengembangkan dan melaksanakan model-model kurikulum. Keempat tuntutan tersebut menjadi kewajiban seorang ahli teori kurikulum. Melalui pencapaian keempat hal tersebut baik sebagai subtansi,sebagai sistem, maupun bidang studi kurikulum dapat bertahan dan dikembangkan. Yaitu suatu konsep yang berkembang sejalan dengan perkembangan teori dan praktek dalam pendidikan. Konsep kurilukum dapat juga berarti suatu konsep konsep yang bervariasi sesuai dengan aliran atau teori pendidikan yang dianut. Menurut Sutrisno (2001, 12) disebutkan ada tiga konsep kurikulum, yaitu : (a) kurikulum sebagai substansi, (b) kurikulum sebagai sistem, dan (c) kurikulum sebagai bidang studi. Konsep pertama, adalah kurikulum sebagai suatu sistem/tujuan. Yaitu sistem kurikulum yang merupakan bagian dari sistem persekolahan, sistem pendidikan, bahkan sistem masyarakat. Suatu sistem kurikulum mencakup struktur personalia, dan prosedur kerja bagaimana cara menyusun suatu kurikulum, melaksanakan, mengevaluasi, dan menyem- purnakannya. Hasil dari suatu sistem kurikulum adalah tersusunnya suatu kurikulum, dan fungsi dari sistem kurikulum adalah bagaimana memelihara kurikulum agar tetap dinamis. Mauritz Johnson membedakan antara kurikulum dengan pengajaran. Yang membedakan antara keduanya yaitu pengajaran merupakan interaksi siswa dengan lingkungan sekitar, sedangkan kurikulum adalah rentetan hasil belajar yang diharapkan atau sebagai tujuan.
  12. 12. 12 Konsep kedua, kurikulum sebagai rancangan/rencana suatu kurikulum, dipandang orang sebagai suatu rencana kegiatan belajar bagi murid-murid di sekolah, atau sebagai suatu perangkat tujuan yang ingin dicapai. Suatu kurikulum juga dapat menunjuk kepada suatu dokumen yang berisi rumusan tentang tujuan, bahan ajar, kegiatan belajar-mengajar, jadwal, dan evaluasi. Suatu kurikulum juga dapat digambarkan sebagai dokumen tertulis sebagai hasil persetujuan bersama antara para penyusun kurikulum dan pemegang kebijaksanaan pendidikan dengan masyarakat. Suatu kurikulum juga dapat mencakup lingkup tertentu, suatu sekolah, suatu kabupaten, propinsi, ataupun seluruh negara Menurut Mac Donal, sistem persekolahan terbentuk atas 4 subsistem yaitu : 1. Mengajar merupakan kegiatan profesional guru. 2. Belajar merupakan suatu upaya siswa sebagai respon dalam sistem persekolahan. 3. Pengajaran merupakan interakasi belajar mengajar. 4. Kurikulum merupakan rencana sebagai pedoman. Teori yang lainnya juga dikemukakan oleh Beauchamp. Menurut Beauchamp, kurikulum dibedakan menjadi dua yaitu 1. Kurikulum bertindak sebagai rencana tertulis 2. Kurikulum fungsional. Sedang menurut Taba, perbedaan kurikulum dengan pengajaran terletak pada keluasan cakupan. Konsep ketiga, kurikulum sebagai suatu bidang studi : yaitu bidang studi kurikulum. Ini merupakan penerapan dari teori-teori kurikulum dan pengembangan para bidang ahli kurikulum/pendidikan dan pengajaran. Menurut Zais, kurikulum sebagai bidang studi mencakup batasan/jarak/cakupan subject matter dan prosedur pengembangan dan praktek.
  13. 13. 13 Teori yang lain dikemukakan oleh Beauchamp. Menurut Beauchamp, teori kurikulum adalah sekumpulan pernyataan yang berhubungan yang memberi arti terhadap kurikulum sekolah dengan titik beratnya pada hubungan antar elemen, perkembangan, penggunaan, dan evaluasi. Tujuan kurikulum sebagai bidang studi adalah mengembangkan ilmu tentang kurikulum dan sistem kurikulum. Mereka yang mendalami bidang kurikulum mempelajari konsep-konsep dasar tentang kurikulum. Melalui studi kepustakaan dan berbagai kegiatan penelitian dan percobaan, mereka menemukan hal-hal baru yang dapat memperkaya dan memperkuat bidang studi kurikulum. Seperti halnya para ahli ilmu sosial lainnya, para ahli teori kurikulum juga dituntut untuk : (1) mengembangkan definisi-definisi deskriptif dan preskriptif dari istilah-istilah teknis, (2) mengadakan klasifikasi tentang pengetahuan yang telah ada dalam pengetahuan- pengetahuan baru, (3) melakukan penelitian inferensial dan prediktif, (4) mengembangkan subsubteori kurikulum, mengembangkan dan melaksanakan model- model kurikulum. Keempat tuntutan tersebut menjadi kewajiban seorang ahli teori kurikulum. Melalui pencapaian keempat hal tersebut baik sebagai subtansi, sebagai sistem, maupun bidang studi kurikulum dapat bertahan dan dikembangkan. A. Perkembangan Teori Kurikulum Perkembangan teori kurikulum tidak dapat dilepaskan dari sejarah perkembangannya. Perkembangan kurikulum telah dimulai pada tahun 1890 dengan tulisan Charles dan McMurry, tetapi secara definitif berawal pada hasil karya Franklin Babbit tahun 1918. Bobbit Bering dipandang sebagai ahli kurikulum yang pertama, is perintis pengembangan praktik kurikulum. Bobbit adalah orang pertama yang mengadakan analisis kecakapan atau pekerjaan sebagai cara penentuan keputusan dalam penyusunan kurikulum.
  14. 14. 14 Dia jugalah yang menggunakan pendekatan ilmiah dalam mengidentifikasi kecakapan pekerjaan dan kehidupan orang dewasa sebagai dasar pengembangan kurikulum. Menurut Bobbit, inti teori kurikulum itu sederhana, yaitu kehidupan manusia. Kehidupan manusia meskipun berbeda-beda pada dasarnya sama, terbentuk oleh sejumah kecakapan pekerjaan. pendidikan berupaya mempersiapkan kecakapan-kecakapan tersebut dengan teliti dan sempurna. Kecakapan-kecakapan yang harus dikuasai untuk dapat terjun dalam kehidupan sangat bermacam-macam, bergantung pada tingkatannya maupun jenis lingkungan. Setiap tingkatan dan lingkungan kehidupan menuntut penguasaan pengetahuan, keterampilan, sikap, kebiasaan, apresiasi tertentu. Hal-hal itu merupakan tujuan kurikulum. Untuk mencapai hal-hal itu ada serentetan pengalaman yang harus dikuasai anak. Seluruh tujuan beserta pengalaman-pengalaman tersebut itulah yang menjadi bahan kajian teori kurikulum. Werrett W. Charlters (1923) setuju dengan konsep Bobbit tentang analisis kecakapan/pekerjaan sebagai dasar penyusunan kurikulum. Charters lebih menekankan pada pendidikan vokasional. Ada dua hal yang sama dari teori kurikulum, teori Bobbit dan Charters. Pertama, keduanya setuju atas penggunaan teknik ilmiah dalam memecahkan masalah-masalah kurikulum. Dalam hal ini mereka dipengaruhi oleh gerakan ilmiah dalam pendidikan yang dipelopori oleh E.L. Thorndike, Charles Judd, dan lain-lain. Kedua, keduanya bertolak pada asumsi bahwa sekolah berfungsi mempersiapkan anak bagi kehidupan sebagai orang dewasa. Untuk mencapai hal tersebut, perlu analisis tentang tugas-tugas dan tuntutan dalam kurikulum disusun keterampilan, pengetahuan, sikap, nilai, dan lain-lain yang diperlukan untuk dapat berpartisipasi dalam kehidupan orang dewasa. Bertolak pada hal-hal tersebut mereka menyusun kurikulum secara lengkap dalam bentuk yang sistematis. Cakupan bidang studi : 1. Konsep kurikulum 2. Penentuan 3. Penggunaan
  15. 15. 15 4. Pengembangan 5. Disain 6. Evaluasi Kurikulum sebagai rencana : 1. Tujuan 2. Bahan 3. Kegiatan 4. Alat 5. Waktu Sistem kurikulum : 1. Penentuan kebijakan 2. Susunan personalia 3. Prosedur pengembangan 4. Penerapan 5. Evaluasi dan penyempurnaan Fungsi : 1. Menghasilkan kurikulum sebagai dokumen tertulis 2. Menjaga kurikulum tetap dinamis Menurut Zais (1993:3), kurikulum mengindikasikan suatu rencana untuk mendidik siswa yang artinya kurikulum merupakan bagian dari ruang lingkup kajian kurikulum dan berisikan komponen-komponen kurikulum. Kurikulum juga suatu identifikasi ruang lingkup kajian yang meliputi dari 1. Merupakan substansi/subject matter dalam bidang kurikulum. 2. Berbagai proses yang terdapat dalam kurikulum seperti pengembangan kurikulum dan perubahan kurikulum.
  16. 16. 16 B. Fungsi dan Peranan Kurikulum 1. Fungsi kurikulum Fungsi kurikulum adalah sebagai pedoman dalam melaksanakan proses pembelajaran. Bagi kepala sekolah dan pengawasan. Bagi orang tua, kkurikulum berfungsi sebagai pedoman dalam membimbing anaknya belajar di rumah. Bagi masyarakat, kurikulum berfungsisebagai pedoman ubtuk memberi bantuan bagi penyelenggara proses pendidikan di sekolah. Bagi siswa itu sendiri, kuurikulum berfungsi sebagai pedoman belajar. Berkaitan dengan fungsi kurikulum bagi siswa sebagai subek didik, terdapat enam fungsi kurikulum, yaitu : a. Fungsi penyesuaian ( the adustive or adative function ) Kurikulum harus mampu mengarahkan siswa agar mampu menyesuaikan dirinya dengan lingkungan fisik maupun lingkungan sosial. b. Fungsi intergrasi ( the integrating function ) Kurikulum bermakna sebagai alat pendidikan harus mampu menghasilkan pribadi – pribadi yang utuh, untuk dapat hidup dan berintergrasi dengan masyarakat. c. Fungsi diferensiasi ( the differenting function ) Kurikulum bermakna sebagai alat pendidikan harus mampu memberikan pelayanan terhadap perbedaan individu. d. Fungsi persiapan ( the propedeutic function ) Kurikulum bermakna sebagai alat pendidikan harus mampu mempersiapkan siswa untuk melanjutkan studi kejenang pendidikan selanutnya. e. Fungsi pemilihan ( the selective function ) Kurikulum berrmakna sebagai alat pendidikan harus mampu memberi kesempatan kepada siswa untuk memilih program belaar yang sesuai dengan kemampuan dan minatnya. f. Fungsi diagnostik ( the selective function ) Kurikulum bermakna sebagai alat pendidikan harus mampu dan mengarahkan siswanuntuk dapat memahami dan menerima kekuatan ( potensi ) dan kelemahan yang di milikinya. 2. Peranan kurikulum Sebagai perogram pendidikan yang telah di rencanakan secara sistematis,kurikulum mengemban peranan yang sangat penting bagi pendidikan siswa.apa bila di analisis sifat dari masyarakat dan kebudayaan,dengan sekolah yang institusi sosial dalam melaksanakan
  17. 17. 17 operasinya,maka dapat di tentukan paling tidak tiga peranan kurikulum yang sangat penting yaitu : 1. Peranan konservatif Kebudayaan telah ada lebih dahulu daripada lahirnya sesuatu generasi tertentu dan tidak akan mati dan habisnya generasi yang bersangkutan 2. .Peranan kritis atau evaluatif Kebudayaan senantiasa berubah dan bertumbuh sejalan perkembangan zaman yang terus berputar. sekolah tidak hanya mewariskan kebudayaan yang ada melainkan juga menilai, memilih unsur–unsur kebudayaan yang akan diwariskan. 3. Peranan kreatif Kurikulum melakukan kegiatan-kegiatan kreatif dan konstruktif dalam arti menciptakan dan menyusun sesuatu yang baru sesuai dengan kebutuhan masa sekarang dan masa mendatang dalam masyarakat guna membantu setiap individu dalam mengembangkan potensi yang ada padanya. kurikulum menciptakan pelajaran, pengalaman, cara berpikir, berkemampuan dan keterampilan yang baru, dalam arti memberikan manfaat bagi masyarakat. Mulai tahun 1920, karena pengaruh pendidikan progresif, berkembang gerakan pendidikan yang berpusat pada anak (child centered). Teori kurikulum berubah dari yang menekankan pada organisasi isi yang diarahkan pada kehidupan sebagai orang dewasa (Bobbit dan Charters) kepada kehidupan psikologis anak pada saat ini. Anak menjadi pusat perhatian pendidikan. Isi kurikulum harus didasarkan atas minat dan kebutuhan siswa. pendidikan menekankan kepada aktivitas siswa, siswa belajar melalui pengalaman. Penyusunan kurikulum harus melibatkan siswa. Perkembangan teori kurikulum selanjutnya dibawakan oleh Hollis Caswell. Dalam peranannya sebagai ketua divisi pengembang kurikulum di beberapa negara bagian di Amerika Serikat (Tennessee, Alabama, Florida, Virginia), is mengembangkan konsep kurikulum yang berpusat pada masyarakat atau pekerjaan (society centered) maka Caswell mengembangkan kurikulum yang bersifat interaktif. Dalam pengembangan kurikulumnya, Caswell menekankan pada partisipasi guru-guru, berpartisipasi dalam menentukan kurikulum, menentukan struktur organisasi dari penyusunan kurikulum, dalam merumuskan
  18. 18. 18 pengertian kurikulum, merumuskan tujuan, memilih isi, menentukan kegiatan belajar, desain kurikulum, menilai hasil, dan sebagainya. Menurut Zais (1976:7-11), kurikulum diartikan beberapa macam antara lain : Curriculum As Program Of Studies Curriculum As Course Content Curriculum As Planned Learning Experience Curriculum As Experiences Had Under The Auspices Of The School Curriculum As A Structured Series Of Intended Learning Outcomes Curriculum As A Written Plan For Action Pada tahun 1947 di Univeristas Chicago berlangsung diskusi besar pertama tentang teori kurikulum. Sebagai hasil diskusi tersebut dirumuskan tiga tugas utama teori kurikulum: (1) mengidentifikasi masalah-masalah penting yang muncul dalam pengembangan kurikulum dan konsep-konsep yang mendasarinya, (2) menentukan hubungan antara masalah-masalah tersebut dengan struktur yang mendukungnya, (3) mencari atau meramalkan pendekatan-pendekatan pada masa yang akan datang untuk memecahkan masalah tersebut. Ralph W. Tylor (1949) mengemukakan empat pertanyaan pokok yang menjadi inti kajian kurikulum: 1. Tujuan pendidikan yang manakah yang ingin dicapai oleh sekolah? 2. pengalaman pendidikan yang bagaimanakah yang harus disediakan untuk mencapai tujuan tersebut? 3. Bagaimana mengorganisasikan pengalaman pendidikan tersebut secara efektif? 4. Bagaimana kita menentukan bahwa tujuan tersebut telah tercapai? Empat pertanyaan pokok tentang kurikulum dari Tylor ini banyak dipakai oleh para pengembangan kurikulum berikutnya. Dalam konferensi nasional perhimpunan pengembang
  19. 19. 19 dan pengawas kurikulum tahun 1963 dibahas dua makalah penting dari George A. Beauchamp dan Othanel Smith. Beauchamp menganalisis pendekatan ilmiah tentang tugas- tugas pengembangan teori dalam kurikulum. Menurut Beauchamp, teori kurikulum secara konseptual berhubungan erat dengan pengembangan teori dalam ilmu-ilmu lain. Hal-hal yang penting dalam pengembangan teori kurikulum adalah penggunaan istilah-istilah teknis yang tepat dan konsisten, analisis dan klasifikasi pengetahuan, penggunaan penelitianpenelitian preckktif untuk menambah konsep, generalisasi atau kaidahkaidah, sebagai prinsip-prinsip yang menjadi pegangan dalam menjelaskan fenomena kurikulum. Dalam makalah kedua, Othanel Smith menguraikan peranan filsafat dalam pengembangan teori kurikuklm yang bersifat ilmiah.Menurut Smith, ada tiga sumbangan utama filsafat terhadap teori kurikulum, yaitu dalam (1) merumuskan dan mempertimbangan tujuan pendidikan, (2) memilih dan menyusun bahan, dan (3) perluasan bahasa khusus kurikulum. James B. MacDonald (1964) melihat teori kurikulum dari model sistem. Ada empat sistem dalam persekolahan yaitu kurikulum, pengajaran (instruction), mengajar (teaching), dan belajar. Interaksi dari empat sistem ini dapat digambarkan dengan suatu diagram Venn. Melihat kurikulum sebagai suatu sistem dalam sistem yang lebih besar yaitu persekolahan dapat memperjelas pemikiran tentang konsep kurikulum. Penggunaan model sistem juga dapat membantu para ahli teori kurikulum menentukan jenis dan lingkup konseptualisasi yang diperlukan dalam teori kurikulum. Broudy, Smith, dan Burnett (1964) menjelaskan makalah persekolahan dalam suatu skema yang menggambarkan komponen-komponen dari keseluruhan proses mempengaruhi anak. Skema persekolahan dari Broudy dan kawan-kawannya dapat dilihat pada Bagan 2.4. Beauchamp merangkumkan perkembangan teori kurikulum antara tahun 1960 sampai dengan 1965. la mengidentifikasi adanya enam komponen kurikulum sebagai bidang studi, yaitu: landasan kurikulum, isi kurikulum, desain kurikulum, rekayasa kurikulum, evaluasi dan penelitian, dan pengembangan teori.
  20. 20. 20 Menurut Hilda Taba (1962) dilema tentang definisi kurikulum terjadi karena tidak dapat meletakkan posisi antara dua kutub. Thomas L. Faix (1966) menggunakan analisis struktural-fungsional yang berasal dari biologi, sosiologi, dan antropologi untuk menjelaskan konsep kurikulum. Fungsi kurikulum dilukiskan sebagai proses bagaimana memelihara dan mengembangkan strukturnya. Aspek-aspek yang lain dari kajian kurikulum yaitu : 1. Landasan kurikulum 2. Disain kurikulum 3. Pengembangan kurikulum 4. Implementasi kurikulum 5. Rekayasa kurikulum 6. Perbaikan / perubahan kurikulum 2.3 Dimensi–Dimensi Kurikulum S. Hamid Hasan (1988) mengemukakan bahwa pada saat sekarang istilah kurikulum memiliki empat dimensi pengertian, dimana satu dimensi lainnya saling berhubungan. Keempat dimensi kurikulum tersebut yaitu, (1) Kurikulum sebagai suatu ide/ gagasan, (2) Kurikulum sebagai suatu rencana tertulis yang sebenarnya merupakan perwujudan dari kurikulum sebagai suatu ide, (3) Kurikulum sebagai suatu kegiatan yang sering pula disebut dengan istilah kurikulum sebagai suatu realita atau implementasi kurikulum. Secara teoritis dimensi kurikulum ini adalah pelaksanaan dari kurikulum sebagai suatu rencana tertulis. (4) Kurikulum sebagai suatu hasil yang merupakan konsekuensi dari kurikulum sebagai suatu kegiatan. Selanjutnya bila kita merujuk pada dimensi pengertian yang terakhir, maka dapat dengan mudah mengungkap keempat dimensi kurikulum tersebut dikaitkan pengertian kurikulum.
  21. 21. 21 a. Pengertian kurikulum dihubungkan dengan dimensi ide Pengertian kurikulum sebagai dimensi yang berkaitan dengan ide pada dasarnya mengandung makna bahwa kurikulum itu adalah sekumpulan ide yang akan dijadikan pedoman dalam pengembangan kurikulum selanjutnya. Pengertian-pengertian kurikulum yang berkaitan dengan dimensi ini, diantaranya: 1) "… the content of instruction without reference to instructional ways or means" (henry C. Morrison, 1940). 2) " ,,, curriculum is the substance of the school program. It is the content pupils are expected to learn" (Donald E. Orlosky and B. Othanel Smith, 1978). 3) "… curriculum it self is a construct or concept, a verbalization of an extremely complex idea or set of ideas" (Olivia, 1997:12). b. Pengertian kurikulum dikaitkan dengan dimensi rencana Makna dari dimensi kurikulum ini adalah sebagai seperangkat rencana dan cara mengadministrasikan tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan Pendidikan tertentu. Pengertian kurikulum yang berkaitan dengan dimensi ini, diantaranya : 1) "… A curriculum is a plan for learning; therefore, what is known about the learning process and the development of the individual has bearing on the shaping of curriculum" (Hilda Taba, 1962). 2) "… all planned learning outcomes for which the school is responsible" (W. Popham and Eva L. Baker, 1970). 3) "…the Planned and guided learning experiences and intended learning outcomes, formulated through the systematic reconstruction of knowledge and experiences of the school, for learner's continuous and will full growth in personal-social competence" (Daniel Tanner and Laurel Tanner, 1975).
  22. 22. 22 c. Pengertian Kurikulum dikaitkan dengan dimensi aktifitas Pengertian kurikulum sebagai dimensi aktifitas memandang kurikulum merupakan segala aktifitas dari guru dan siswa dalam proses pembelajran di sekolah. Pengertian pengertian kurikulum berkaitan dengan dimensi ini, diantaranya : 1) "… The curriculum [is a design, made] by all of those who are most intimately concerned with the activities of the life of the children while they are in school. … a curriculum must be as flexible as life and living. It cannot be made beforehand and given to pupils and teachers to install. [Also , it] .. represents those learning each child selects, accepts, and incorporates into himself to act with, in, and upon subsequent experiences.(L. Thomas Hpkins, 1941). 2) [The curriculum is] … stream of guided activities that constitutes the life of young people and theirs elders. [In a much earlier book, Rugg disapprovingly spoke of the traditional curriculum as one" .. passing on descriptions of earlier cultures and to perpetuating dead languages and abstract techniques which were useful to no more than a negligible fraction of our population." (Harol Rugg, 1947) 3) "All of the activities that are provided for students by the school constitutes its curriculum" (Harold Alberty, 1953). d. Pengertian kurikulum dikaitkan dengan dimensi hasil Definisi kurikulum sebagai dimensi hasil memandang kurikulum itu sangat memperhatikan hasil yang akan dicapai oleh siswa agar sesuai dengan apa yang telah direncanakan dan yang menjadi tujuan dari kurikulum tersebut. Pengertian-pengertian kurikulum yang berkaitan dengan dimensi ini, di antaranya : 1) "… a structured series of intended learning outcomes" (Mauritz Johnson, Jr., 1967). 2) "Curriculum is defined as a plan for achieving intended learning outcomes: a plan concerned with purposes, with what is to be a learned and with the result of instruction" (Unruh and Unruh, 1984:96).
  23. 23. 23 3) "Segala usaha yang dilakukan oleh sekolah untuk memperoleh hasil yang diharapkan dalam situasi di dalam ataupun di luar sekolah" (Hilda Taba dalam Nasution, Azas-azas kurikulum). Pandangan atau anggapan yang sampai saat ini masih lazim dipakai dalam duni pendidikan dan persekolahan di negara kita, yaitu kurikulum sebagai suatu rencana tertulis yang disusun guna memperlancar proses pembelajaran. C. Landasan Kurikulum Lebih jauh sebelum kurikulum tersebut direncanakan atau dibuat ada 3 hal pokok yang menjadi landasan dalam pelaksanaan, pembinaan, dan pengembangan kurikulum, yakni: a. Landasan Filosofis b. Landasan Social Budaya c. Landasan Fsikologis a. Landasan Filosofis Filsafat Diartikan sebagai cara berfikir yang radikal dan menyeluruh, yakni suatu cara berfikir yang mengkaji tentang objek secara mendalam. Tahap berikutnya filsafat mempersoalkan tentang hidup manusia, sebagai makhluk beragama, makhluk social, dan makhluk yang bebudaya. Pendidikan sebagai upaya sadar dalam membina manusia (anak didik) tidak terlepas dari pandangan hidup dan asas pancasiala tersebut, oleh karena itu segala upaya sadar yang dilakukan oleh pendidik kepada anak didiknya harus mampu menjadikan manusia yang taqwa kepada tuhan yang maha esa. b. Landasan Sosial Budaya Pendidikan sebagai proses budaya adalah upaya membina dan mengembangkan daya cipta, karsa, dan rasa manusia menuju ke peradaban manusia yang lebih luas dan tinggi, yaitu manusia yang berbudaya. Semakin meningkatnya perkembangan social budaya manusia akibat majunya ilmu pengetahuan dan teknologi ( IPTEK ) yang merupakan bagian dari bidaya itu sendiri, akan menjadi tuntutan hidup manusia yang semakin tinggi pula. Kurikulum pendidikan harus dan sewajarnya dan disesuaikan dengan kondisi masyarakat saat ini, dan bahkan dapat mengantisipasi kondisi-kondisi yang terjadi.
  24. 24. 24 c. Landasan Psikologi Pendidikan adalah menyangkut perilaku manusia itu sendiri, mendidik berarti merubah tingkah laku anak menuju kedewasaan. Beberapa teori belajar yang dikenal antara lain : a. behaviorisme b. psikologi daya c. perkembangan kognitif d. teori lapangan ( teori gestalt ) e. teori kepribadian 1. Teori Behaviorisme Fungsi guru dalam kaitannya dengan teori ini adalah menyjikan stimulus tertentu yang dapat membangkitkan respon siswa berupa hasil belajar yang diinginkan. Untuk mengatur proses S-R secara sistematis, bahan pelajaran harus dipilah-pilahkan menjadi butir- butir informasi, lalu diurut secara tepat, dimulai dari yang sederhana sampai kepada yang paling kompleks. ( S ) = makanan ( R ) = rangsangan untuk memakannya ( O ) = menimbulkan reaksi keluarnya air liur. 2. Teori Psikologi Daya Belajar adalah mendisiplinkan dan menguatkan daya-daya mental dan daya fakir melalui latihan yang ketat. Contoh bila otak dikembangkan melalui studi mate-matika, maqka ia akan mampu mmentransfer pelajaran tersebut kepada bidang lainnya, hal ini disebabkan oleh kemampuan daya fikir dan mentalnya yang berkembang. 3. Teori Pengembangan Kognitif Menurut J. Pieget, ada 4 tahap perkembangan kognitif intelektual, yakni : a. Tahap senso-motoris ( umur 0-2 thn ) b. Tahap pra-operasional ( umur 2-7 thn ) c. Tahap operasional konkrit ( umur 7-11 thn ) d. Tahap operasional ( umur 11 thn keatas )
  25. 25. 25 4. Teori Lapangan ( Teori Gestalt ) Teori ini lebih mementingkan individu anak, oleh karena itu para penganutnya lebih cenderung kepada pendidikan yang bersifat humanistic dengan memupuk konsep diri yang positif pada diri anak didik. 5. Teori Kepribadian Menurut freud ada 5 tipe watak yang berpengaruh terhadap pola motivasi individu, antara lain : 1. Tipe a-moral ; anak sepenuhnya egosentris, ia memuaskan diri tanpa menghiraukan orang lain 2. Tipe expedient ; anak egosentris, patuh tanpa memiliki system moral internal dan dengan demikian dapat memuaskan kebutuhan diri, jadi ia diatur oleh control eksternal 3. Tipe konformis ; anak berusaha memenuhi tuntutan eksternal karena takut ia mendapat perhatian dan penghargaan, jadi anak masih belum mempunyai system moral internal 4. Tipe irasional conscientious ; artinya ia memiliki system moral internal tentang yang baik dan yang buruk, akan tetapi dalam pelaksanaannya ia sangat ketat dan kaku. 5. Tipe altruistic rational ; pada saat ini system moral anak telah sangat berkembang, ia menyadari kebutuhan dan keinginan orang lain dan ia sangat sensitive danrela berkorban untuk orang lain. D. Organisasi Kurikulum Ada tiga tipe atau bentuk kurikulum, yakni : a. Separated subject curriculum b. Correlated curriculum c. Integrated curriculum a. Separated Subject Curriculum Pada bentuk ini bahan dikelompokkan pada mata pelajaran yang sempit dimana antara mata pelajaran yang satu dengan yang lain menjadi terpisah-pisah, terlepas dan tidak mempunyai kaitan satu sama lainnya, sehingga banyak jenis mata pelajaran menjadi sempit ruang likupnya.
  26. 26. 26 b. Correlated Curriculum Suatu bentuk kurikulum yang menunjukkan adanya suatu hubungan antara satu sama lainnya, tetapi tetap memperhatikan cirri/ karkteristik tiap baidang studi tersebut. c. Integrated Curriculum Pelajaran dipusatkan pada suatu masalah topic tertentu, misalnya suatu masalah dimana semua mata pelajaran dirancang dengan mengacu pada topic tertentu.
  27. 27. 27 BAB III KESIMPULAN Kesimpulan dari makalah ini diantaranya : 1. Kurikulum merupakan sebuah salah satu alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Maka kurikulum merupakan alat penting dalam proses pendidikan. Kurikulum hendaknya berperan dan bersifat anticipatory dan adaptif dalam perubahan dan kemajuan ilmu pengetahuan serta teknologi. Kurikulum senantiasa berubah itu wajar dan untuk mengubahnya kearah yang lebih baik, maka kita perlu para ahli yang menguasai tentang kurikulum itu sendiri. 2. Tiga konsep kurikulum, kurikulum sebagai substansi, sebagai sistem, dan sebagai bidang studi. 3. Dimensi kurikulum menurut Hamid Hasan (1988), di antaranya: - Kurikulum sebagai suatu ide/gagasan (dimensi ide) Berkenaan dengan landasan filosofis dan berkaitan dengan: landasan teori (teori belajar, model dan desain kurikulum yang digunakan). Pengertian kurikulum sebagai dimensi berkaitan dengan ide pada dasarnya mengandung makna bahwa kurikulum itu adalah sekumpulan ide yang akan dijadikan pedoman dalam pengembangan kurikulum selanjutnya. - Kurikulum sebagai suatu rencana tertulis yang sebenarnya merupakan perwujudan dari kurikulum sebagai suatu ide (dimensi rencana) Makna dari dimensi kurikulum ini adalah sebagai perangkat rencana dan cara mengadministrasikan tujuan, isi, dan bahan ajar. - Kurikulum sebagai suatu kegiatan yang sering pula disebut dengan istilah kurikulum sebagai suatu realita atau implementasi kurikulum (dimensi aktivitas) Pelaksanaan pembelajaran perlu memperhatikan faktor-faktor yang berhubungan dengan implementasi kurikulum (SDM, fasilitas, lingkungan, pendanaan, kepemimpinan, sebagainya). - Kurikulum sebagai suatu hasil yang merupakan konsekuensi dari kurikulum sebagai suatu kegiatan (dimensi hasil) Berkaitan dengan Output dan outcome yang dihasilkan.

×